The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabillaputriindrama2019, 2021-12-19 06:01:34

KUMPULAN ARTKEL TENTANG MINANGKABAU

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Keywords: KEMINANGKABAUAN

Artikel

Ikatan Kekerabatan Etnis Jurnal Analisa Sosiologi
Minangkabau dalam Melestarikan Nilai Oktober 2016, 5(2): 17-27
Budaya Minangkabau di Perantauan
sebagai Wujud Warga NKRI

Rahman Malik1

Abstract
This purpose of study is to discuss the bonds of ethnic Minangkabau kinship in
preserving and realizing their cultural values in the overseas as a from of
NKRI. This study used a qualitative approach with variants study case. This
results of this study imdicate that the ethnic of Minangkabau cultural values
that are planted from their ancestors (Ethnic Minangkabau Surakarta) since
the first or since they have not wandered into the city of Surakarta is still
embedded well and firmly held up the values of its sanctity. It can be seen from
the findings of research conducted that showed a sense of ethnic Minangkabau
kinship in the overseas as in the city of Surakarta not a little faded. It can be
demonstrated through the agendas that undertake by them, such as monthly
gatherings, monthly meetings on the prospect of a restaurant business for the
future, as well as other regional agendas that are still regional and upholding
the ethnic Minangkabau cultural values they hold. In addition, Minang
language is still used as communication among their ethnic. Minangkabau in
overseas shows how closely the relationship of ethnic Minangkabau kinship in
Surakarta. Surely this could indicate that the cultural capital they practice in
the overseas like in Surakarta is strongly influenced by the Minangkabau
cultural values they hold.

Keywords: Kinship Association, Minangkabau, Cultural Value, Overseas.

1 Program Studi Magister Sosiologi Universitas Sebelas Maret
Email: [email protected]

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk membahas ikatan kekerabatan etnis Minngkabau
di dalam melestarikan dan mewujudkan nilai-nilai budaya mereka di
perantauan sebagai wujud warga NKRI. Penelitian menggunakan jenis
pendekatan kualitatif dengan varian studi kasus. Hasil penelitian ini
menujukkan bahwa nilai-nilai budaya etnis Minangkabau yang ditanamkan
dari leluhur mereka (etnis Minangkabau Surakarta) sejak dahulu atau sejak
mereka belum merantau ke kota Surakarta masih tertanam baik dan dipegang
dengan teguh nilai-nilai kesakralannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil temuan
penelitian yang dilakukan yang menujukkan rasa ikatan kekerabatan etnis
Minangkabau di perantauan seperti di Kota Surakarta tak sedikitpun luntur.
Hal ini dapat ditunjukkan melalui agenda-agenda yang mereka lakukan seperti
arisan bulan, rapat bulanan membahas prospek usaha rumah makan untuk
kedepannya, serta agenda-agenda perkumpulan lainnya yang masih bersifat
kedaerahan dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya etnis Minangkabau yang
mereka pegang. Selain itu, penggunaan bahasa Minang yang masih mereka
lakukan sebagai alat komunikasi mereka antar sesama etnis Minangkabau di
perantauan ini menunjukkan betapa eratnya hubungan ikatan kekerabatan etnis
Minangkabau di Surakarta. Tentunya hal ini dapat menunjukkan bahwa modal
budaya yang mereka praktikkan di perantauan seperti di Kota Surakarta ini
sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya Minangkabau yang mereka junjung.

Kata Kunci: Ikatan Kekerabat, Minangkabau, Nilai Budaya, Perantauan.

19 Rahman Malik

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbesar yang ada di
dunia. Wilayah Indonesia terdiri atas 17.504 buah pulau yang berjajar dari
Sabang sampai Merauke. Rakyat negara kita ini telah berjumlah lebih dari
239 juta jiwa yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang ada di
dalam negara kita ini. Dengan keberagaman suku bangsa yang kita miliki di
dalam negara ini merupakan salah satu element terbentuknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu suku yang cukup memiliki
populasi terbesar dan memiliki historis nilai-nilai budaya di Indonesia ini
ialah suku Minangkabau. Suku Minangkabau merupakan suku yang berasal
dari Sumatra Barat. Suku ini mendiami wilayah Sumatra Barat bisa dibilang
cukup lama dan cukup melegenda.

Di dalam NKRI ini tentunya kita harus bangga bukan semata-mata
karena adanya alam tanah air Indonesia, melainkan juga karena nenek
moyang kita sudah mempunyai nilai-nilai kebudayaan yang tinggi menurut
ukuran waktu itu. Nenek moyang kita telah memiliki unsur-unsur budaya
yang tinggi, seperti bercocok tanam di sawah dan lading, membatik,
wayang, tatanan masyarakat yang teratur di bawah hukum adat, ilmu falak,
dan pelayaran. Unsur-unsur itu secara keseluruhan terjalin dan merupakan
pola kebudayaan Indonesia (Kansil, 2011).

Seperti yang sudah dijelaskan diatas terbentuk NKRI juga berasal
dari berbagai unsur-unsur budaya yang tinggi yang diwarisi oleh nenek
moyang kita. Salah satu dari unsur budaya itu adalah terbentuknya tatanan
masyarakat yang teratur di bawah hukum adat. Salah satu etnis yang
terbentuk dari tatanan masyarakat yang teratur dibawah hukum adat tersebut
adalah Etnis Minangkabau yang merupakan etnis yang tunduk dan taat pada
nilai-nilai budaya yang berasal dari nenek moyang mereka. Hal ini dapat
dilihat dari hasil kajian-kajian seperti halnya yang dilakukan oleh Rusli
(2005) menjelaskan bahwa etnis Minangkabau cukup memiliki paternalistik
dan loyal terhadap budaya dan pemimpinnya.

Berkaca dari apa yang sudah dijelaskan diatas penulis di dalam
penelitian ini sangat tertarik mengangkat ikatan kekerabatan etnis
Minangkabau di perantauan yang sangat menjunjung nilai-nilai budaya

Rahman Malik 20

mereka di tanah perantauan yang berasaskan nilai-nilai budaya yang mereka
(etnis Minangkabau) miliki sebagai salah satu nilai budaya mendorong
terbentuknya NKRI. Melihat kondisi tersebut masyarakat Minangkabau
dapat dikatakan salah satu suku bangsa Indonesia yang memegang teguh
rasa nasionalisme dengan berasaskan nilai-nilai yang terkandung di dalam
NKRI dan Pancasila. Fibrianto dan Bakhri (2018) mengemukakan bahwa
orientasi nasionalisme adalah Negara kebangsaan, cinta nasionalisme lebih
terarah kepada sesama bangsa, nasionalisme berarti bangsa yang bersatu
karena faktor kelahiran yang sama.

Etnis Minangkabau atau Minang merupakan salah satu kelompok
etnis Nusantara yang berbahasa dan menjunjung tinggi adat Minangkabau.
Wilayah geografis penganut kebudayaan ini meliputi Sumatera Barat,
separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, dan
bagian selatan Sumatera Utara. Orang Minangkabau seringkali disamakan
dengan orang Padang. Sama hal seperti ibukota provinsi Sumatera Barat
yang bernama kota Padang. Adat istiadat etnis Minangkabau mempunyai
kekhasan tertentu. yang dapat dilihat dari sistem kekeluargaannya yang
melalui jalur perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya juga
diwarnai kuat oleh ajaran agama Islam. Pada saat ini etnis Minangkabau
merupakan salah satu etnis penganut sistem matrilineal terbesar di dunia.
Selain itu juga dapat dilihat etnis ini juga telah menerapkan sistem proto-
demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan kerapatan adat untuk menentukan
hal-hal penting dan permasalahan hukum.

Aspek sosial masyarakat etnis Minangkabau sangat terjalin erat. Hal
ini dapat dilihat dari banyaknya orang Minang yang merantau keluar dari
daerah asal mereka ke daerah rantau. Perantauan merupakan istilah untu
etnis Minangkabau yang hidup diluar provinsi Sumatera Barat, Indonesia.
Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan menurut survey
diperkirakan tertinggi di seluruh Indonesia. Merantau pada etnis
Minagkabau merupakan suatu proses yang sudah berlangsung sejak lama.
Di dalam sejarah mencatat migrasi etnis Minangkabau pertama terjadi pada
abad ke-7, yang mana banyak pedagang-pedagang emas yang berasal dari
pedalaman Minangkabau melakukan perdagangan di Muaro Jambi.

Jurnal Analisa Sosiologi 5 (2) 21

Adanya penjelasan diatas terhadap fenomena ini, salah satu
penyebabnya ialah sistem kekerabatan yang matrilineal. Dengan sistem
yang seperti itu, penguasaan terhadap harta pusaka dipegang oleh kaum
perempuan sedangkan hak bagi para kaum laki-laki ialah dalam hal ini
cukuplah kecil. Hal inilah yang menyebabkan banyak para kaum laki-laki
yang berasal dari etnis Minangkabau memilih keluar Sumatera Barat untuk
merantau.

Dari apa yang sudah dijelaskan diatas, bahwa banyaknya kaum
masyarakat Minangkabau yang pergi merantau keluar Sumatera Barat.
Fenomena merantau tersebut saat ini sudah begitu menjamur dan menjadi
paham bagi etnis Minangkabau untuk memperbaiki hidupnya kearah yang
lebih baik. Begitu pula yang terjadi pada penjual Nasi Padang yang ada di
Kota Surakarta, mereka ada bagian dari masyarakat Minangkabau yang
merantau keluar Sumatera Barat dengan tujuan untuk memperbaiki jalan
hidupnya kearah yang lebih baik dan memajukan usaha bisnis atau
dagangannya diluar Sumatera Barat (Masruroh, dkk, 2018; Solikatun, dkk
2018).

Etnis Minangkabau dikenal sebagai etnis yang terpelajar, maka
sebab itu pula mereka menyebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan ada
yang sampai ke manca negara atau luar negeri. Keberhasilan masyarakat
etnis Minangkabau dapat dilihat dari keberhasilan mereka di perantauan
bahkan menetap di tanah rantau. Sejak dahulu mereka sudah pergi merantau
ke tanah Jawa, Sulawesi, Semenanjung Malaysia, Thailand, Brunei, hingga
Filipina. Sistem pendidikan yang maju di Minangkabau banyak melahirkan
para ahli dan aktivis yang cukup banyak berperan dalam proses
kemerdekaan di Indonesia umumnya dan wilayah Sumatera Barat
khususnya.

Kota Surakarta sendiri dapat menunjukkan bahwa ikatan solidaritas
masyarakat Minangkabau di kota ini cukuplah kuat hal ini dapat dilihat di
berbagai setiap pelosok kota Surakarta banyaknya ditemukan warung makan
Nasi Padang. Hal ini juga mungkin dapat membuktikan bahwa nilai-nilai
budaya etnis Minangkabau yang dipegang pada masyarakat etnis
Minangkabau yang merantau di kota Surakarta cukuplah terjaga nilai-
nilainya dan modal-modal budaya antar sesama mereka (etnis Minangkabau

Rahman Malik 22

penjual Nasi Padang) di Kota Surakarta. Sehingga kajian ini cukup menarik
untuk diteliti bagaimana nilai-nilai budaya Minangkabau yang merupakan
bagian dari NKRI bisa terus terjaga nilai-nilai kemurniannya ditengah-
tengah masyarakat Minangkabau yang merantau di Kota Surakarta terutama
pada mereka yang berdagang atau yang sedang menjadi pengusaha Nasi
Padang di Kota Surakarta.

Di dalam penelitian ini juga peneliti menganalisis kasus ini dengan
menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu yakni modal
budaya. Modal budaya yang dimaksud oleh Bourdieu yakni modal budaya
yang termasuk di dalamnya kualitas individu, pendidikan, pekerjaan,
kesamaan kultur dan pembawaan. Disarikan dari Halim (2014) dan Sjaf
(2014). Melihat penjelasan modal budaya dari Bourdieu diatas yang
mendefinisikan bahwa aktor yang memiliki modal budaya yang kuat dapat
dilihat dari kualitas si aktor itu sendiri, pendidikan dan pekerjaan dari aktor
itu sendiri, serta kesamaan kultur dan budaya aktor itu sendiri. Aktor di
dalam penelitian ini adalah para individu atau pengusaha warung Nasi
Padang yang berasal dari etnis Minangkabau yang merantau ke Kota
Surakarta. Dari merekalah(etnis Minangkabau yang menjadi pengusaha
warung Nasi Padang di Kota Surakarta) kita bisa melihat modal-modal
budaya dari ikatan kekerabatan antar sesama etnis Minangkabau di Kota
Surakarta.

Di dalam penelitian ini penulis memusatkan kajian pada penjual
Nasi Padang yang berada di Kota Surakarta. Di dalam penelitian ini penulis
ingin melihat ikatan kekerabatan etnis Minangkabau dalam hal ini para
penjual Nasi Padang di Kota Surakarta di dalam membangunan ikatan
kekerabatannya melalui modal-modal budaya yang mereka miliki dan
tentunya berasaskan nilai-nilai keberagaman budaya etnis Minangkabau
yang tertentunya tertuang di dalam NKRI. Sehingga dari fenomena inilah,
peneliti sangat tertarik mengangkat fenomena ini dengan judul, “Ikatan
Kekerabatan Etnis Minangkabau dalam Melestarikan Nilai Budaya
Minangkabau di Perantauan sebagai Wujud Warga NKRI”.

Berkenaan dengan hal-hal yang telah peneliti utarakan sebelumnya,
ditemukan pokok permasalahan yang berkenaan dengan penelitian yang
akan dilakukan. Oleh karena peneliti mengangkat rumusan masalah yaitu,

Jurnal Analisa Sosiologi 5 (2) 23

bagaimana proses pemahaman dan pengimplementasian nilai-nilai budaya
Minangkabau yang tercermin dari modal budaya etnis Minangkabau di
perantauan sebagai perekat ikatan kekerabatan mereka di Kota Surakarta?

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam varian studi kasus.
Model penelitian studi kasus terjadi ketika peneliti melakukan eksplorasi
terhadap entitas atau fenomena tunggal (the case) yang dibatasi oleh waktu,
aktivitas dan pengumpulan detail informasi dengan menggunakan berbagai
prosedur pengumpulan data selama waktu tersebut (Cresswel, 1994). Tujuan
studi kasus adalah memberikan gambaran secara mendetail tentang latar
belakang, sifat-sifat, serta karakter yang khas dari kasus (Hidir, 2002).

Lokasi Penelitian dilakukan di Kota Surakarta sebagai Kota terbesar
kedua di Provinsi Jawa Tengah. Di Kota ini juga terdapat Perkumpulan
Etnis Minangkabau yang berdagang dan menjadi pengusaha penjual Nasi
Padang di Kota Surakarta. Oleh karena luas dan sebaran subyek
penelitiannya yang besar. Maka locus kajiannya ditentukan secara purposive
yaitu di Kota Surakarta sebagai barometer pusat perkumpulan etnis
Minangkabau yang melakukan kegiatan berdagang dan membuka usaha di
kawasan provinsi Jawa Tengah.

Fokus penelitian ini diarahkan kepada etnis Minangkabau di Kota
Surakarta di dalam membangun ikatan kekerabatannya melalui nilai-nilai
budaya nenek moyang mereka dan modal-modal budaya yang mereka miliki
yang berada di perantauan dalam hal ini etnis Minangkabau yang menjadi
pengusaha Nasi Padang di Kota Surakarta. Unit analisisnya di dalam
penelitian ini adalah mereka (etnis Minangkabau) yang merantau ke Kota
Surakarta yang beprofesi sebagai pengusaha Nasi Padang di Kota Surakarta.

Dalam penelitan ini, peneliti menggunakan teknik penentuan
informan purposive sampling.
1. Informan kunci di dalam penelitian ini adalah ketua paguyuban etnis

Minangkabau di Kota Surakarta ini merupakan orang yang mengetahui
banyak tentang gambaran umum masyarakat Minangkabau di perantauan
terutama di Kota Surakarta. Selain itu juga, beliau juga banyak
mengetahui profesi-profesi etnis Minangkabau yang merantau ke Kota

Rahman Malik 24

Surakarta. Tentunya informan kunci nanti akan mengarahkan peneliti
kepada informan utama.
2. Informan utama di dalam penelitian ini adalah masyarakat etnis
Minangkabau yang merantau ke Kota Surakarta. Selain itu juga,
masyarakat etnis Minangkabau yang mencari nafkah hidup di negeri
perantauan dengan cara membuka usaha warung makan Nasi Padang atau
berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha.
3. Informan tambahan di dalam penelitian ini adalah komunitas atau
paguyuban-paguyuban terkait yang melakukan kerjasama atau kegiatan
bersama dengan para anggota komunitas etnis Minangkabau yang ada di
Kota Surakarta.

Di dalam penelitian ini juga teknik pengumpulan data yang
dilakukan adalah melalui teknik wawancara dan studi dokumentasi. Dalam
penelitian ini digunakan teknik analisis data yang digunakan yaitu
penjodohan pola. Penggunaan logika penjodohan pola karena dalam
penelitian ini menggunakan studi kasus deskriptif. Logika penjodohan pola
digunakan untuk membandingkan pola yang didapatkan di lapangan dengan
pola yang diprediksikan (atau dengan beberapa prediksi alternatif). Apabila
kedua pola ini ada persamaan, hasilnya dapat menguatkan derajat akurasi
desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Apabila studi kasus tersebut
deskriptif maka penjodohan pola akan relevan dengan pola-pola spesifik
yang diprediksi dan ditentukan sebelum pengumpulan data dilakukan oleh
peneliti (Yin, 2009).

Dalam penelitian kualitatif triangulasi ini penting, karena
bagaimanapun juga subyek penelitian sebagai manusia biasa pastilah
memiliki berbagai subyektifitas dan kepentingannya masing-masing dan
bahkan tidak mustahil mereka sebagian ada yang berbohong (Bernard,
1994), maka triangulasi adalah salah satu cara yang mungkin dapat
dilakukan untuk antisipasi keadaan seperti itu.Teknik yang dipilih adalah
menggunakan teknik validasi responden (informan), yaitu menggunakan cek
silang (cross check) dengan antar subyek penelitian untuk melihat keakurat
data yang terkumpul.

Jurnal Analisa Sosiologi 5 (2) 25

HASIL DAN PEMBAHASAN
Nilai-nilai dan kepercayaan yang ada didalam kebudayaan Minangkabau
tentunya sangat mengalir dan mengakar dikalangan etnis Minangkabau. Hal
ini dapat dilihat dari adat istiadat etnis Minangkabau mempunyai kekhasan
tertentu yang dapat dilihat dari sistem kekeluargaannya yang melalui jalur
perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya juga diwarnai kuat oleh
ajaran agama Islam. Pada saat ini etnis Minangkabau merupakan salah satu
etnis penganut sistem matrilineal terbesar di dunia. Selain itu juga dapat
dilihat etnis ini juga telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa
pra-Hindu demham kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan
permasalahan hukum.

Kepercayaan etnis Minangkabau yang mengajarkan mereka harus
berpegang teguh pada nilai-nilai adat istiadat mereka baik itu di daerah
sendiri dan diperantauan sampai saat ini masih terlihat terjelas
pengimplementasian dari nilai-nilai budaya tersebut terutama dari
masyarakat etnis Minangkabau yang merantau keluar daerah. Hal ini dapat
dilihat dari hasil wawancara peneliti dengan salah satu dari seorang etnis
Minangkabau yang merantau ke kota Surakarta bernama Erwan. Erwan
menjelaskan kepada peneliti nilai-nilai budaya Minangkabau yang masih
sering mereka lakukan saat ini adalah seperti mengadakan rapat bulan,
mengadakan iuran-iuran sosial untuk komunitas Minangkabau diperantauan,
arisan keluarga paguyuban etnis Minangkabau, dan yang paling penting
mereka setiap bulannya mengadakan agenda untuk membahas
pengembangan bisnis rumah makan Padang untuk berkembang maju dan
lebih baik tentunya berlandaskan dari budaya-budaya Minangkabau.

Hasil temuan lainnya peneliti dapatkan ketika peneliti
mewawancarai salah satu pengusaha rumah makan Nasi Padang di Kota
Surakarta bernama Jamal. Didalam penelitian ini peneliti menemukan
beberapa dari nilai-nilai kepercayaan etnis Minangkabau diperantauan yang
masih dipegang teguh oleh masyarakat etnis Minangkabau terutama etnis
Minangkabau yang merantau dan membuka usaha rumah makan nasi
Padang di kota Surakarta. Nilai-nilai kepercayaan etnis Minangkabau yang
pertama peneliti temukan didalam penelitian ini adalah nilai kepercayaan
etnis Minangkabau yang mengharuskan mereka menikah sesama etnis

Rahman Malik 26

Minangkabau yang dalam artian ( mereka menikah harus sesama etnis
Minangkabau meskipun merantau keluar daerah).

Dapat dilihat dari apa yang sudah dijelaskan oleh Jamal diatas
menjelaskan bahwa adanya peran dari kontrol sosial yang tertuang pada
ajaran adat istiadat Minangkabau yang diajarkan ke masyarakat etnis
Minangkabau. Hal ini mengajarkan kepada seluruh etnis Minangkabau baik
itu yang berada didaerah Sumatra Barat sendiri maupun yang merantau
untuk selalu memegang teguh ajaran adat istiadat mereka termasuk didalam
tentang hal perjodohan. Selain itu nilai-nilai kepercayaan lainnya yang
masih dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau diperantuan adalah
etnis Minangkabau sangat merahasiakan resep masakan Minangkabau yang
mereka miliki agar hal tersebut tidak dapat diketahui oleh masyarakat atau
etnis lainnya. Hal ini juga disampaikan oleh Jamal ketika peneliti
mewawancarainya. Didalam wawancara dengan Jamal menjelaskan kepada
peneliti bahwa ia dan kerabat-kerabat Minangkabau yang berasal dari
Minangkabau sangat menjaga resep-resep masakan Minangkabau karena hal
itu merupakan ajaran dari nilai-nilai adat mereka.

Selain itu penggunaan bahasa Minang bagi masyarakat Etnis
Minangkabau merupakan salah satu penanda atau ciri khas dari masyarakat
Minangkabau yang menanda diri mereka dengan suku lain. Bahasa Minang
juga digunakan masyarakat Minangkabau sebagai media untuk perekat antar
sesama mereka dimanapun mereka berada baik itu masyarakat etnis
Minangkabau yang berada di Sumatra Barat sendiri maupun etnis
Minangkabau yang pergi merantau.Hal ini begitu menunjukkan bahwa
budaya-budaya orang Minangkabau ditanah perantauan tidak luntur
sedikitpun. Mereka beranggapan bahwa jika ditanah rantau harus
menunjukkan rasa solidaritas yang cukup tinggi dengan menujukkan rasa
kekeluargaan mereka. Hal ini dapat dilihat dengan rutinnya mereka
mengadakan pertemuan dan membentuk rasa solidaritas yang sulit atas
dasar kesamaan kultur yang ditunjukkan dengan cara penggunaan bahasa
Minang diantara mereka sebagai penunjukkan identitas mereka sesama
warga etnis Minangkabau diperantauan.

Jurnal Analisa Sosiologi 5 (2) 27

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat menujukkan kita bahwa nilai-nilai budaya
etnis Minangkabau yang ditanamkan dari leluhur mereka sejak dahulu atau
sejak mereka belum merantau ke kota Surakarta masih tertanam baik dan
dipegang dengan teguh nilai-nilai kesakralannya. Hal ini dapat di lihat dari
hasil temuan penelitian yang dilakukan yang menujukkan rasa ikatan
kekerabatan etnis Minangkabau di perantauan seperti di Kota Surakarta tak
sedikitpun luntur. Hal ini dapat di lihat dengan agenda-agenda yang mereka
lakukan yang masih bersifat kedaerahan dan menjunjung tinggi nilai-nilai
budaya etnis Minangkabau yang mereka pegang. Tentunya hal ini dapat
menunjukkan bahwa modal budaya yang mereka praktikkan di perantauan
seperti di Kota Surakarta ini sengat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya
Minangkabau yang mereka junjung.

DAFTAR PUSTAKA

Bernard, Russell. (1994). Research Method in Anthropologi. Thousand
Oaks London-New Delhi: Sage Publication.

Creswell, J. H. (1994). Research Design: Qualitative and Quantitative
Approaches. Thousand Oaks London-New Delhi: Sage Publication.

Fibrianto, A. S., & Bakhri, S. (2018). Pelaksanaan Aktivitas Ekstrakurikuler
Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera) dalam Pembentukkan Karakter,
Moral dan Sikap Nasionalisme Siswa SMA Negeri 3 Surakarta. Jurnal
Moral Kemasyarakatan, 2(2), 1-19.

Halim, Abdul. Politik Lokal: Pola, Aktor dan Dramatikalnya. Yogyakarta:
Lembaga Pengkajian Pembangunan Bangsa (LP2B).

Hidir, Achmad. (2002). Metode Etnografi. Riau: Pusbangdik Universitas
Riau.

Kansil, C. S. T. (2011). Sistem Pemerintahan Indonesia, (Edisi Revisi).
Jakarta: Bumi Aksara.

Masruroh, Y., Haryono, B., & Demartoto, A. (2018). Pemaknaan Bong Pay
Pada Warga Keturunan Tionghoa Di Kelurahan Sudiroprajan
Surakarta. Jurnal Analisa Sosiologi, 4(1).

Rusli, Zaili. (2005). Majelis Tigo Tungku Sajorangan: Budaya
Minangkabau dalam Perubahan. Pekanbaru: Alaf Riau.

Sjaf, Sofyan. (2014). Politik Etnik: Dinamika Politik Lokal Kendari.
Jakarta: Buku Obor.

Solikatun, S., Kartono, D. T., & Demartoto, A. (2018). Perilaku Konsumsi
Kopi Sebagai Budaya Masyarakat Konsumsi: Studi Fenomenologi
Pada Peminum Kopi Di Kedai Kopi Kota Semarang. Jurnal Analisa
Sosiologi, 4(1).

Yin, R. K. (2009). Metode Studi Kasus. Jakarta: PT. Rajagrasindo Persada.

View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk brought to you by CORE

provided by Jurnal Filsafat

ESTETIKA SIMBOLIS
DALAM BUSANA PENGANTIN
ADAT MINANGKABAU DI PADANG

Oleh : Anggia Maresa1

Abstract
Minangkabau's wedding dress is one of traditional arts in
Minangkabau's society. The symbols at wedding dress are founded
punishment and sense of morality about human deportment.
Although the era have changed, the wedding dress still exists at
wedding ceremonies of Minangkabau, especially in Padang. The
wedding dress shows many great aesthetic things which are
combined by shapes and symbols containing morals and advices for
the meaningful marriage. It is a heritage from the ancestor.

Keyword: wedding dress, symbols, aesthetics, Minangkabau.

A. Pendahuluan
Busana menjadi ukuran dari kualitas martabat dan

kesopanan pemakainya. Desain atau pola dalam busana itu
mengandung nilai keserasian dan keindahan. Perkembangan rasa
estetika manusia kemudian menyebabkan perkembangan busana
yang beraneka ragam. Hal ini juga berkaitan dengan pandangan
hidup, corak kebudayaan suatu bangsa atau kelompok. Seperti
halnya dalam busana adat, busana adat merupakan cerminan dari
suatu kebudayaan yang berasal dari pandangan hidup
masyarakatnya Dalam adat Minangkabau, busana berkembang
berdasarkan pandangan hidup yang terjadi karena kemampuan
masyarakat Minang berpikir dan mengenal lambang akibat dari
proses adaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Motif-motif yang digunakan dalam busana maupun
perhiasan di Minangkabau disesuaikan dengan alam sekitarnya
yang sesuai dengan falsafah hidup orang Minangkabau yaitu alam
takambang jadi guru (alam yang terbentang dijadikan guru). Hal
itulah penyebab kenapa busana Minangkabau ditaburi ornamen dan
simbol yang mempunyai arti sendiri. Dalam kebudayaan
Minangkabau, busana adat merupakan salah satu aspek yang sangat
penting. Busana adat bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh,

1 Alumni Fakultas Filsafat UGM, tinggal di Jakarta.

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. Busana adat
yang dimaksud adalah pakaian serta tata rias pada kepala dan
aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti dalam
upacara pernikahan. Pada dasarnya busana adat pada suatu upacara
tertentu memiliki simbol-simbol yang diyakini dan dipatuhi oleh
masyarakat sekitarnya. Di Sumatra Barat yang dikenal dengan
ranah Minang, terdapat beberapa variasi busana adat. Busana adat
itu, umumnya dipakai pada hajad pernikahan pasangan mempelai.
Perbedaan ragam busana ini berdasarkan pembagian beberapa
daerah di Sumatra barat. Secara administratif Provinsi Sumatera
Barat meliputi enam buah kotamadya dan delapan buah kabupaten.
Daerah Sumatera Barat dapat pula dibagi berdasarkan
perkembangan dan penyebaran suku bangsa Minangkabau yaitu
daerah Minangkabau asli yang disebut ”Luhak” dan daerah
”Rantau” (Ibrahim, 1984:6-7).

Padang merupakan daerah Rantau Pesisir yang merupakan
Ibukota provinsi Sumatera Barat. Kota Padang terletak di pantai
barat pulau Sumatera dan merupakan pusat perekonomian,
pendidikan, dan pelabuhan di Sumatera Barat. Busana pernikahan
atau busana pengantin kota Padang memiliki kekhasan tersendiri
dibandingkan busana daerah lain di Minangkabau. Busana
pengantin kota Padang dalam sejarahnya selain dipengaruhi oleh
budaya Minangkabau juga dipengaruhi oleh kebudayaan busana
negara-negara Eropa dan Tiongkok yang dapat terlihat dari segi
corak dan pemilihan warnanya. Busana yang dipakai oleh pengantin
adat Minang juga memiliki simbol-simbol yang menyatu di dalam
satu busana yang dapat menampilkan kekhasan dan ciri budaya
masyarakatnya dan perpaduan dari semua unsur dalam busana
menampilkan keindahan. Simbol yang terdapat di dalam busana
tersebut tidak hanya mencerminkan keindahan tetapi juga
mengandung pesan/ makna tentang pernikahan itu sendiri.

Makna pernikahan bagi masyarakat Minangkabau di Padang
tidak berbeda dengan suku bangsa Minangkabau lainnya.
Pernikahan tidak hanya sekedar untuk membentuk keluarga yang
akan melahirkan anak guna menyambung keturunan tetapi
pernikahan bagi masyarakat Minangkabau sangat penting karena
pernikahan telah dianggap sebagai adat yang harus ditempuh oleh
setiap manusia, maka pernikahan itu menjadi suatu keharusan.
Pentingnya pernikahan di Minangkabau dapat terlihat dalam
pepatah, yaitu: Tak aia talang di pancuang, tak kayu janjang di
kapiang, tak ameh bungka diasah (Tak ada air talang di pancung,

256

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

tak ada kayu tangga di keping, tak ada emas bungkal diasah)
(Azami,1977:22-26). Maksud dari pepatah di atas adalah untuk
masalah pernikahan tidak boleh berkata tidak ada karena apa yang
tidak ada harus diadakan. Jika tidak ada uang maka harta pusaka
boleh digadaikan, karena masalah pernikahan tidak hanya masalah
orang yang bersangkutan saja tetapi sudah menjadi tanggung jawab
bersama. Jika di dalam suatu rumah memiliki anak gadis yang tidak
bersuami atau anak bujang yang tidak beristri maka ini akan
menjadi aib bagi seluruh keluarganya. Masyarakat akan
menganggap mamak, orangtua dan saudara-saudara yang
bersangkutan tidak memenuhi tanggung jawabnya seperti yang
diharuskan oleh adat.

Bentuk pernikahan di Minangkabau adalah exogami atau
dilarang menikah dengan sesama suku. Masyarakat dari suatu suku
di Minangkabau harus menikah dengan orang di luar sukunya. Hal
ini karena orang yang berada di dalam suatu suku dianggap
bersaudara. Oleh karena itu jika mereka menikah dengan orang
yang mempunyai suku yang sama dianggap incest (Azami,1977:
26).

B. Busana Pengantin Adat Minangkabau di Padang
Kata ’busana’ oleh S. Woyowasito dikatakan berasal dari

bahasa Sansekerta ’busana’, dalam bahasa Indonesia kata ’busana’
berarti pakaian (yang indah-indah) (Murwani, 1998;60). Secara
harfiah ’busana’ juga berarti pakaian yang lengkap, pakaian yang
mulia. Dengan kata lain busana berfungsi untuk memperindah dan
menambah kesan mulia kepada seseorang yang menggunakannya.
Busana merupakan segala sesuatu yang kita pakai mulai dari kepala
sampai ke ujung kaki. Dalam hal ini termasuk : (1) semua benda
yang melekat di badan seperti baju, sarung dan kain panjang, (2)
semua benda yang melengkapi dan berguna bagi si pemakai seperti
selendang, topi, sarung tangan, kaos kaki, sepatu, tas, ikat pinggang,
di dalam istilah asing disebut millineris, (3) semua benda yang
gunanya menambah keindahan bagi si pemakai, seperti hiasan
rambut, giwang, kalung, bros, gelang dan cincin, di dalam istilah
asing lebih dikenal dengan istilah accessories (Jalins dan Mamdy,
1997:11).

Fungsi dari busana adalah: (1) memenuhi kebutuhan
kesusilaan dan kebudayaan suatu bangsa yang berkebudayaan dan
menunjang tinggi kesusilaan, pasti menempatkan busana sebagai

257

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

kebutuhan utama, (2) memenuhi kebutuhan kesehatan Busana
gunanya untuk melindungi badan dari udara dingin, panas, angin
(artinya sesuai dengan iklim), (3) memenuhi kebutuhan keindahan,
artinya busana dapat membuat diri seseorang kelihatan indah, dapat
menutupi bagian-bagian badan yang kurang ideal (Sofia, 2006:
http://www.pemkab-tanjungjabungbarat.go.id).

Berdasarkan sejarahnya, pakaian pengantin pada awalnya
merupakan pakaian kebesaran raja Pagaruyung dan pakaian
kebesaran para pemangku-pemangku adat seperti penghulu (niniak
mamak) dan bundo kanduang. Untuk melestarikan budaya
Minangkabau oleh karena itu pakaian adat tersebut dipakai pada
saat upacara pernikahan oleh kedua pengantin. Pakaian pengantin
tersebut antara lain:

1) Pakaian Pengantin Wanita
Pengantin wanita di daerah Padang memakai baju kurung

yang longgar pada acara pernikahannya. Bahan baju kurung ini
terbuat dari saten atau beledru merah. Hiasan yang terdapat pada
baju kurung ini adalah sulaman kapalo samek atau kepala peniti
yang merupakan sulaman khas Minangkabau. Motif dari hiasan ini
terdiri dari bunga-bungaan atau binatang dan dilingkari dengan
benang emas (Ibrahim, 1984:116). Pada bagian bawah pengantin
wanita menggunakan kain songket tenunan Pandai Sikat Padang
Panjang. Songket adalah salah satu kekayaan tradisi di
Minangkabau. Beragam rupa corak songket berkembang dengan
baik di tengah masyarakat tradisi Minangkabau. Songket
merupakan karya seni yang sangat kaya kadar filosofi, ajaran, dan
nilai-nilai kehidupan.

Berdasarkan sejarahnya songket adalah sebuah nama dari
bahasa Melayu untuk kain brocade yang ditenun di Indonesia dan
Malaysia. Hingga Perang Dunia II, kain itu dikenal dengan nama
kain Makau. Tenun songket adalah seni kerajinan yang cukup tua di
Nusantara dan masih bertahan ingá sekarang. Di Sumatra Barat,
faktor yang membuat tenun songket masih bertahan adalah karena
masyarakat Minangkabau hingga kini masih kuat mempertahankan
adat dan budayanya dan kain songket menjadi properti yang wajib
dalam setiap pelaksanaan upacara adat (Bart, 2006:
http://songketminang. com/) Dalam upacara adat, kain songket ini
memang merupakan pasangan baju kurung tradisional
Minangkabau.

258

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

Cara pemakaian kain songket ini tidak berbeda dengan
pemakaian sarung lainnya. Kain ini dibelitkan pada badan dengan
kepala sarung boleh terletak pada bagian depan atau pada bagian
belakang. Dalam upacara adat pernikahan, pada umumnya motif
songket yang digunakan untuk pengantin wanita adalah rencong
ajik dan pada kepala kainnya mempunyai motif pucuk rebung.
Perlengkapan lain dalam pakaian pengantin wanita di Padang
adalah tokah. Tokah adalah sejenis selendang yang panjang,
dibelitkan pada bagian atas, mulai dari bagian belakang. ara
pemasangannya yaitu ujung sebelah kanan melalui ketiak,
kemudian diteruskan ke dada dan diselempangkan pada bahu
sebelah kiri. Ujung selendang sebelah kiri, melalui ketiak kemudian
diteruskan ke dada dan diselempangkan ke bahu sebelah kanan.
Terakhir ke dua ujung selendang ini dilepaskan sedemikian rupa
pada badan bagian belakang. Tokah yang terletak pada bagian
depan tidak boleh dihiasi atau disulam, sedangkan bagian belakang
boleh disulam dan diberi renda-renda (Ibrahim, 1984:116).

2) Pakaian Pengantin Pria
Pakaian pengantin pria di daerah Padang di pengaruhi oleh

unsur-unsur dari luar yaitu pakaian matador dari Spanyol. Pakaian
pengantin tersebut bernama roki. Baju roki terbuat dari bahan
beledru yang ditaburi dengan benang emas dan pada pinggir jahitan
juga memakai benang emas. Pada ujung lengan baju diberi renda
dan pada bagian bahu atau kerahnya diberi renda yang disebut renda
batanti. Kemudian celana dan rompi (Ibrahim, 1985:120). Sebelum
memakai roki terlebih dahulu di pakai kemeja putih. Di atas kemeja
di pasang rompi yang sama bahan dan warnanya dengan celana.
Rompi dan celana terbuat dari bahan beledru hijau. Panjang celana
pengantin pria hanya sampai pertengahan betis, dan kaki diberi kaus
putih sampai ke lutut. Di atas celana dan rompi dipasang samping
yang terbuat dari kain balapak tenunan tradisional Pandai Sikat
Padang Panjang. Samping dipasang diatas lutut dengan sudutnya
sejajar dengan empu kaki (Ibrahim, 1984:111- 112).

Selain pakaian juga digunakan tata rias pada kepala atau
aturan berdandan atau berhias pada kepala. Pada pernikahan, tata
rias tidak hanya sekedar menarik perhatian orang, tapi juga dapat
menciptakan suasana resmi dan khidmat sehingga perujudannya
tidak hanya mewah dan meriah saja, namun mengandung lambang-
lambang dan makna tertentu sebagai pengungkapan pesan-pesan
hidup yang hendak disampaikan. Apabila tata rias pengantin tampak

259

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

mewah dan meriah, hal ini tidak terlepas dari tujuan utama
penyelenggaraan upacara pernikahan, yaitu dapat menarik perhatian
dari semua yang hadir, dan diharapkan pengakuan sosial secara
syah sebagai suami isteri (Ibrahim, 1984:3).

Tata rias yang digunakan dalam Pernikahan adat Minangka-
bau di Padang adalah:

1) Tata rias Pada Kepala Pengantin Wanita
Tata rias pada kepala pengantin wanita dinamakan sunting

(suntiang). Di daerah Padang sunting yang dipakai dinamakan
Suntiang Sarai Serumpun. Motif-motif yang digunakan sebagai
unsur-unsur dari suntiang tersebut di sesuaikan dengan keadaan
alam sekitarnya. Motif yang di gunakan tidak hanya berbentuk
bunga-bunga tetapi juga menggunakan motif-motif yang ada di
lautan karena berpedoman pada alam sekitar yaitu daerah pesisir.
Hal ini sesuai dengan pandangan hidup suku bangsa Minangkabau
alam takambang jadi guru, yaitu di dalam tata rias pengantin alam
sekitar dijadikan sebagai pedoman dalam menciptakan motif-motif
untuk tata rias pengantin (Ibrahim,1984:107). Sunting ini memiliki
fungsi untuk memukau atau menarik perhatian para tamu yang hadir
dalam upacara pernikahan, agar mendapat pengakuan sebagai suami
istri. Bahan yang dipergunakan untuk sunting adalah emas, perak
atau imitasi yang berwarna kuning emas (Ibrahim, 1984:117).

2) Tata rias Pada Kepala Pengantin Pria
Di daerah Padang tata rias pada kepala pengantin pria

dinamakan deta atau saluak. Deta atau saluak merupakan penutup
kepala pengantin pria yang terbuat dari kain balapak yaitu kain
tenun dari Pandai Sikat Padang Panjang (Ibrahim,1984:116). Di atas
saluak di pasang ikek atau ikat yang terbuat dari emas atau perak.
Bentuk ikek dibuat seperti mahkota raja pada zaman kerajaan
dahulu (Ibrahim, 1984:116).

Dalam upacara pernikahan, perhiasan tidak sekedar
berfungsi untuk memperindah penampilan saja tetapi juga
mempunyai makna yang tersimpan di dalamnya. Perhiasan yang
digunakan dalam upacara pernikahan adalah:

1) Perhiasan Pengantin Wanita.
Perhiasan yang digunakan pengantin wanita dalam upacara

pernikahan adat Minangkabau di Padang adalah: a) Anting-anting,
pengantin wanita di Padang memakai hiasan anting-anting
bertingkat dua yang terbuat dari emas; b) Kalung, Kalung yang di

260

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

pakai oleh pengantin wanita di daerah Padang sebanyak lima buah.
Kalung ini mempunyai motif yang berbeda-beda diantaranya motif
rumah adat Minangkabau, dukuah pinyaram atau kalung pinyaram
dengan motif pinyaram yaitu sejenis makanan di Minangkabau,
selain itu ada pula kalung yang bernama kalung cekik leher; c)
Gelang, Gelang yang dipakai oleh pengantin wanita di Padang
terdiri dari bermacam-macam jenis seperti, gelang gadang, gelang
kunci maniak, gelang ula dan gelang rago-rago; d) Alas Kaki Alas
kaki pada pengantin wanita di Padang terbuat dari beledru yang
dihiasi dengan manik-manik (Ibrahim, 1984: 117).

2) Perhiasan Pengantin Pria.
Pengantin Pria di daerah Padang memakai perhiasan yang

terdiri dari: a) Kalung, pada pengantin pria mempunyai tiga tingkat
dengan motif pacat kenyang; b) Pending, adalah ikat pinggang yang
terbuat dari emas atau perak. Selain sebagai perhiasan pending ini
berguna sebagai tempat untuk menyisipkan keris; c) Keris,
diselipkan pada pinggang bagian depan dengan tangkai menghadap
ke kiri; d) Alas Kaki, pengantin pria memakai kaos kaki putih dan
sepatu. Kaus kaki dan sepatu berfungsi sebagai pelindung (Ibrahim,
1984:118).

C. Simbol Busana Pengantin Adat Minangkabau di Padang
dalam Pandangan Estetika
Estetika dalam busana pengantin adat Minangkabau di

Padang diwujudkan dengan adanya bentuk struktur busana yang
terdiri dari tiga bagian yaitu pakaian, tata rias pada kepala dan
perhiasan. Selain itu busana pengantin adat Minangkabau di Padang
juga memiliki makna yang menjadi acuan dan pegangan dalam
hidup. Kesemuanya ini merupakan unsur pokok dalam busana
pengantin adat Minangkabau yang mencerminkan bentuk dari
busana pengantin adat Minangkabau di Padang.

Pakaian pengantin terdiri dari pengantin wanita dan
pengantin pria. Pengantin wanita di Padang atau disebut juga anak
daro memakai baju kurung yang merupakan bentuk dari pakaian
pengantin yang dilengkapi dengan kain songket sebagai
bawahannya dan tokah sebagai selendangnya. Pengantin pria di
Padang atau yang di sebut marapulai memakai baju roki yaitu
menyerupai pakaian matador dengan kemeja putih, rompi dan
celana serta samping. Pada kepala anak daro dipasang suntiang
sebagai bentuk tata rias pada kepala sedangkan marapulai memakai

261

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

saluak. Bentuk perhiasan dalam busana pengantin anak daro terdiri
dari anting, kalung, dan gelang sedangkan marapulai memakai
perhiasan yang terdiri dari kalung, pending, keris (Ibrahim,
1984:115-118). Keseluruhan bagian yang terdapat dalam busana
tersebut merupakan bentuk busana pengantin adat Mianangkabau di
Padang. Selain unsur-unsur bentuk dalam busana pengantin adat
Minangkabau di Padang juga memiliki unsur-unsur desain, karena
dalam busana pengantin adat Minangkabau juga memiliki desain
yang indah yang terdapat di dalam motif busana pengantin tersebut,
antara lain; Unsur Garis, Unsur Shape (Bangun), Unsur Texture
(Rasa Permukaan Bahan), Unsur Warna, Ruang dan Waktu
(Dharsono, 2007: 70-79). Unsur garis dalam busana pengantin adat
Minangkabau tercermin dalam motif yang ada dalam busana
tersebut. Garis yang menyatu antara dua titik yang dihubungkan dan
tergores di dalam busana pengantin di Padang menjadikan busana
pengantin tersebut tampak indah. Unsur garis yang terdapat dalam
motif busana pengantin adat Minangkabau di Padang adalah garis
yang bersifat non formal karena garis tersebut merupakan garis non
geometrik bersifat tidak resmi dan cukup luwes, lembut, dan lemah-
gemulai (Dharsono, 2007:70). Garis yang lembut dan luwes dalam
busana pengantin adat Minangkabau tersebut sesuai dengan sikap
hidup masyarakat Minangkabau di Padang yang mengutamakan
keluwesan, lemah lembut dan santun dalam bergaul agar tidak
terjadi perselisihan. Motif yang terdapat dalam busana pengantin
adat Minangkabau di Padang memiliki bentuk penggambaran secara
stilisasi yaitu untuk mencapai keindahannya dengan cara
menggayakan setiap kontur pada objek, hal ini sesuai dengan unsur-
unsur desain yang kedua yaitu Unsur Shape (Bangun).

Objek dalam motif busana pengantin adat Minangkabau di
Padang bersumber pada alam yaitu seperti motif bunga-bunga dan
binatang karena sesuai dengan pandangan hidup masyarakat
Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam yang
terbentang dijadikan guru) yaitu memanfaatkaan alam sebagai
sarana belajar baik yang tersirat maupun yang tersurat. Manfaat
belajar kepada alam adalah 1. Orang yang belajar dari alam
memanfaatkan kecerdasannya dengan baik 2. Orang yang belajar
dari alam pada dasarnya belajar langsung dari Allah 3. Alam
Takambang Jadi Guru membuat manusia jadi kreatif 4. Alam
Takambang Jadi Guru mendekatkan manusia dengan Allah 5.
Orang yang belajar dari alam akan mampu mengelola konflik
dengan baik 6. Berguru pada alam membuat manusia lebih

262

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

memahami hakikat dirinya 7. Orang yang berguru pada alam,
berarti telah menerapkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi
Kitabullah (Reisha, 2007: http://reisha.wordpress.com)

Unsur Texture (rasa permukaan bahan) dalam busana
pengantin adat Minangkabau di Padang merupakan artificial texture
(tekstur buatan). Busana pengantin di Padang memakai kain yaitu
kain beledru dan logam sebagai bahan yang memang sengaja di
buat untuk memberikan rasa tertentu pada permukaan bahan
(Dharsono, 2007: 75). Dalam busana pengantin adat Minangkabau
di Padang terdapat unsur tekstur pada baju yang lembut dari kain
beledru mencerminkan sifat masyarakat Minangkabau yang lembut
dalam bersikap dan mengutamakan sikap saling menghormati dan
menghargai. Unsur Warna yang terdapat dalam busana pengantin
adat Minangakabau di Padang merupakan satu elemen yang sangat
penting karena pada pakaian, tata rias kepala, dan perhiasan pada
busana tersebut memiliki warna. Warna dalam busana pengantin
adat Minangkabau di Padang tidak hanya berfungsi untuk
memperindah tampilan busana saja, tetapi juga memiliki peran
penting karena dalam warna tersebut terdapat simbol. Warna merah
pada busana merupakan simbol kegembiraan pengantin yang
sedang mengadakan pesta pernikahan, warna hijau simbol dari budi
luhur pengantin, dan warna emas merupakan simbol kebesaran dan
keagungan bagi pengantin (Ibrahim, 1984:107). Unsur yang terakhir
dalam unsur desain adalah unsur ruang dan waktu. Ruang dalam
busana pengantin adat Minangkabau di Padang merupakan ruang
nyata karena bentuk dan ruang dalam busana pengantin di Padang
benar-benar dapat dibuktikan dengan indera peraba. Selain unsur
ruang, waktupun dibutuhkan untuk menikmati dan memahami suatu
karya seni, sebab dalam menghayati suatu karya seni tidak dapat
hanya berlangsung secara simultan tetapi secara bertahap untuk
mencapai kedalaman estetika (Dharsono, 2007:79).

Pemahaman sangat diperlukan dalam menilai suatu karya
seni, pentingnya pemahaman dalam menilai segala sesuatu juga
diyakini oleh masyarakat Minangkabau, dalam memahami sesuatu
seseorang akan memerlukan waktu untuk berpikir. Keindahan pada
busana pengantin adat Minangakabau di Padang juga memiliki ciri-
ciri estetis seperti yang dikemukakan oleh DeWitt H. Parker antara
lain: asas kesatuan utuh (the principle of organic unity), asas tema
(the principle of theme), asas variasi menurut tema (the principle of
thematic variation), asas keseimbangan (the principle of balance),

263

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

asas perkembangan (the principle of evolution), asas tatajenjang
(the principle of hierarchy) (Gie, 1976: 46).

Dalam busana pengantin adat Minangakabau di Padang
semua unsur yang terdapat di dalam busana tersebut merupakan
satu kesatuan yang utuh karena semua unsur tersebut saling
melengkapi dan sama-sama dibutuhkan untuk kesempurnaan busana
pengantin ini, hal ini sesuai dengan asas kesatuan utuh (the
principle of organic unity).

Busana pengantin di Padang juga memiliki makna yaitu
berupa tuntunan dalam hidup. Makna tersebut merupakan tema
pokok dalam busana pengantin di Padang yang menjadi kunci
pemahaman orang terhadap busana pengantin adat Minangkabau di
Padang, sesuai dengan asas tema (the principle of theme). Selain
sebagai tuntunan hidup yang menjadi tema pokok yang ada di
dalam busana pengantin di Padang juga terdapat tema-tema lain
seperti mengenai cara bersikap, aturan hidup, keagungan dan sifat
religius dari diri pengantin. Makna-makna lain itu menjadi tema-
tema lain dalam busana pengantin di Padang hal ini sesuai dengan
asas variasi menurut tema (the principle of thematic variation).
Dalam busana pengantin di Padang terdapat unsur-unsur yang
bertentangan seperti motif dan warna yang terdapat dalam busana
tersebut tetapi walaupun berlawanan keduanya saling memerlukan
dalam menciptakan suatu kebulatan. sehingga dapat menimbulkan
keindahan sebab keindahan tersusun tidak hanya dari berbagai
keselarasan saja tetapi juga dari perlawanan dari garis, warna, dan
bentuk (Gie, 1976:35) , ini sesuai dengan asas keseimbangan (the
principle of balance).

Kesatuan proses dari awal sampai akhir yang menciptakan
suatu makna yang menyeluruh tercermin dalam busana pengantin di
Padang yaitu pada bagian-bagian yang terdapat dalam busana
seperti pada pakaian , tata rias pada kepala dan perhiasan, antar
bagian yang satu dengan bagian yang lain memiliki kesinambungan
yaitu berisi tuntunan kehidupan bagi manusia, ini sesuai dengan
asas perkembangan (the principle of evolution). Asas yang terakhir
adalah asas tata jenjang (the principle of hierarchy) maksudnya satu
unsur yang memegang kedudukan penting dan mendukung tema
dalam busana pengantin adat Minangkabau di Padang yaitu berupa
makna. Dalam setiap bagian busana pengantin di Padang selalu
memiliki makna penting. Makna dikatakan suatu unsur utama
dalam busana pengantin ini. Adapun unsur-unsur lain yang
merupakan pendukung dari busana pengantin adat Minangkabau di

264

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

Padang sendiri yaitu bentuk busana yang tersusun secara harmonis
sesuai dengan ketentuan-ketentuannya.

Adat Minangkabau di Padang Masayarakat Minangkabau
kaya akan simbol yang berisi mengenai pesan dan tata cara atau
aturan dalam bersikap yang diamalkan oleh masyarakatnya. Dalam
busana pengantin adat Minangkabau di Padang juga terdapat
berbagai simbol yang memiliki makna tertentu yang ada di dalam
suatu masyarakat. Simbolisme yang terdapat dalam busana
pengantin adat Minangkabau di Padang menggambarkan bahwa
dalam setiap unsur yang ada dalam busana yang dipakai oleh kedua
pengantin mulai dari kepala sampai kaki memiliki makna-makna
berupa ajaran bagi tingkah laku manusia, sehingga orang yang
melihat busana tersebut secara keseluruhan tidak hanya menikmati
susunan, bentuk dan warnanya saja tetapi mengerti juga mengenai
makna yang terkandung di dalamnya. Simbolisme tersebut dapat
terlihat dari pakaian, tata rias pada kepala dan perhiasan.

1. Simbolisme pada Pakaian

a) Pakaian Pengantin Wanita
Pengantin wanita di daerah Padang memakai: (1) baju

kurung, dengan sulaman kapalo samek. Motif dari hiasan ini terdiri
dari bunga-bungaan atau binatang dan dilingkari dengan benang
emas, merupakan penyimbolan dari kemurnian wanita yang menjadi
pengantin (Ibrahim, 1984:110). Seorang wanita di Minangkabau
selalu menjaga dirinya dari segala sesuatu yang dapat
mencermarkan nama baiknya dan selalu menempatkan dirinya pada
aturan adat. yang bersendikan kepada ajaran agama Islam. (2) Kain
songket sebagai bawahan baju kurung, merupakan simbol dari
segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya serta
melambangkan sifat religius si pemakainya (Ibrahim, 1984:110).
Setiap kaum wanita di Minangkabau selalu menjaga sifat
religiusnya karena apabila seorang wanita menikah maka ia akan
menjadi ibu dan mengajarkan agama Islam kepada anak-anaknya
oleh karena itu wanita di Minangkabau harus paham mengenai
agama. (3) Tokah, yaitu selendang yang dililitkan menutupi dada
dan kedua ujungnya menghadap ke belakang, serta pada bagian
depannya tidak boleh disulam dan pada bagian belakangnya boleh
di sulam, merupakan simbol dari ada bagian tubuh wanita yang
tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain atau yang merupakan
rahasia bagi seorang wanita dan tidak boleh diketahui orang lain

265

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

(Ibrahim, 1984:111). Kemurnian seorang wanita di Minangkabau
tercermin dari tingkah lakunya yang tidak bertentangan dengan
ajaran adat dan agama dan hal ini dapat tercermin pula dari
pakaiannya.

b) Pakaian Pengantin Pria.
Pengantin pria didaerah Padang memakai: (1) baju roki,

terbuat dari bahan beledru yang ditaburi dengan benang emas dan
pada pinggir jahitan juga memakai benang emas. Pada ujung lengan
baju diberi renda dan pada bagian bahu atau kerahnya diberi renda
yang disebut renda batanti, merupakan simbol dari kebesaran dan
keagungan pengantin yang bersangkutan (Ibrahim, 1984:111).
Seorang pria yang sedang melaksanakan pernikahan diperlakukan
seperti raja sehari, oleh karena itu kebesaran dan keagungannya
tercermin pada renda batanti yang terdapat pada pakaian
pengantinnya. (2) Kemeja putih pada pakaian pengantin pria
merupakan simbol dari kesucian pernikahan (Ibrahim, 1984:111).
Pernikahan merupakan suatu ikatan yang suci yang terjalin antara
pria dan wanita karena telah disahkan oleh adat dan agama.
Kesucian dalam suatu pernikahan harus tetap dijaga, oleh karena itu
kedua pengantin harus tahu hak dan kewajibannya sebagai suami
isteri. (3) Rompi dan celana yang terbuat dari bahan beledru hijau,
merupakan simbol budi luhur seorang pria yang menjadi pengantin
(Ibrahim, 1984:111). Seorang pria di Minangkabau harus memiliki
budi luhur karena ia tidak hanya akan membimbing dan mengawasi
anak dan keluarganya saja tetapi juga membimbing kemenakannya
karena fungsi seorang pria di Minangkabau tidak hanya sebagai
bapak yang baik bagi anaknya tetapi juga sebagai mamak bagi
kemenakannya. (4) Samping, dipasang diatas lutut dengan sudutnya
sejajar dengan empu kaki, merupakan simbol dari empu kaki yang
merupakan petunjuk dalam berjalan, oleh karena itu jangan
menjalankan apa yang dilarang adat (Ibrahim, 1984:111). Dalam
bersikap dan bertingkah laku seseorang dalam masyarakat
Minangkabau harus sesuai dengan ajaran adat dan agama Islam,
jangan sampai menyalahi agama. (5) Kaus kaki, dipakai sampai ke
lutut merupakan simbol dari semua tindakan harus ada ukurannya
(Ibrahim, 1984:111). Pesan yang dapat diambil dari simbol ini
adalah bahwa dalam bertindak harus dapat mengukur diri dan
kemampuan sehingga jangan suka memaksakan diri karena akan
merugikan diri sendiri.

266

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

2. Simbolisme Tata rias Pada Kepala

a) Tata rias Pada Kepala Pengantin Wanita
Sunting/ suntiang berarti pengantin wanita yang

dilambangkan dengan bunga yang sedang mekar. Ini merupakan
simbol dari pengantin wanita yang dipersunting oleh pengantin pria.
Sunting ini memiliki fungsi untuk memukau atau menarik perhatian
para tamu yang hadir dalam upacara pernikahan, agar mendapat
pengakuan sebagai suami istri. Bahan yang dipergunakan untuk
sunting adalah emas, perak atau imitasi yang berwarna kuning
emas. Pemakaian warna ini simbol dari kebesaran dan keagungan
bagi pengantin (Ibrahim, 1984:115). Keagungan pengantin wanita
dikarenakan bahwa pernikahan tersebut sangat penting dan agung
bagi seorang wanita di Minangkabau, seorang wanita belum merasa
lengkap hidupnya apabila belum bersuami atau menikah, begitu
pentingnya pernikahan bagi wanita di Minangkabau sehingga untuk
melaksanakan upacara pernikahanpun diperbolehkan untuk menjual
harta pusaka keluarga, karena apabila seorang wanita di
Minangkabau belum bersuami maka tidak hanya menjadi aib bagi
dirinya sendiri tetapi bagi seluruh keluarga besarnya, oleh karena itu
pesta pernikahanpun diselenggarakan semeriah mungkin.
Keagungan pengantin wanitapun terlihat pada simbol warna emas
yang terdapat pada suntiang yang dipakai oleh pengantin wanita.

b) Tata rias Pada Kepala Pengantin Pria
Pengantin pria di Padang memakai: (1) Deta atau salauak,

merupakan simbol dari aturan hidup masyarakat Minangkabau
(Ibrahim, 1984:116). Hidup tanpa aturan bagi masyarakat
Minangkabau berarti sama saja dengan tidak beradat karena aturan
itulah adat dan adat itulah yang jadi pedoman dalam hidup sehari-
hari. Masyarakat Minangkabau harus mematuhi adat karena adat
tersebut sesuai dengan ajaran agama Islam yang dianut oleh
masyarakat Minangkabau. (2) Ikek atau ikat, merupakan simbol dari
seorang pria yang sudah diikat oleh suatu pernikahan. Ikek tersebut
terbuat dari emas atau perak yang merupakan simbol dari kekayaan
materi dari yang punya hajat. Bentuk ikek dibuat seperti mahkota
raja pada zaman kerajaan dahulu yang melambangkan pengantin
sebagai raja sehari (Ibrahim, 1984:116). Pesta pernikahan dibuat
semeriah mungkin, hal ini karena pengantin sedang merayakan hari
besarnya sebagai pasangan yang baru. Kemeriahan serta keagungan
pesta tersebut membuat pengantin pria diibaratkan sebagai raja
sehari. Hal ini dimaksudkan agar pengantin pria dapat mencontoh

267

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

sikap seorang raja sebagai pemimpin yang harus bertanggung jawab
dan mempunyai budi pekerti yang luhur

3. Simbolisme pada Perhiasan

a) Perhiasan Pengantin Wanita
Perhiasan pengantin wanita meliputi: (1) Anting-anting,

sepasang anting-anting merupakan simbol dari sepasang pengantin
(Ibrahim, 1984:117). Pernikahan merupakan disahkannya secara
agama maupun adat hubungan antara pria dan wanita dalam suatu
ikatan suami isteri. Sepasang anting yang dipakai oleh pengantin
wanita di Padang merupakan simbol dari pria dan wanita yang
sedang melakukan pernikahan tersebut. (2) Kalung, di pakai oleh
pengantin wanita di daerah Padang sebanyak lima buah merupakan
simbol dari rukun Islam (Ibrahim, 1984:117). (3) Gelang
merupakan simbol dari isyarat dalam menjangkau sesuatu ada
batasnya (Ibrahim, 1984:118). Gelang adalah perhiasan yang
melingkari tangan dan tangan dipergunakan untuk menjangkau dan
mengerjakan sesuatu. Terhadap gelang ini diibaratkan bahwa
semuanya itu ada batasnya. Terlampau jauh jangkauan maka akan
tersangkut oleh gelang. Maksudnya dalam mengerjakan sesuatu
harus disesuaikan dengan batas kemampuan.

b) Perhiasan Pengantin Pria
Perhiasan pengantin pria meliputi: (1) Kalung, simbolisasi

dari perasaan gembira, bahwa pengantin tersebut sedang
bergembira, serta suatu simbol bahwa telah terjadi ikatan antara
pengantin pria dengan pengantin wanita serta keluarga besar
(Ibrahim, 1984:118). Pernikahan bukanlah hanya urusan individu
yang bersangkutan saja tetapi dalam pernikahan akan melibatkan
seluruh keluarga. Seperti yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya bahwa suatu pernikahan akan membentuk suatu
hubungan khusus antar keluarga yang bersangkutan yang disebut
dengan bakarib (berkarib). (2) Pending, merupakan simbol dari
pertahanan atau perisai dalam menghadapi musuh (Ibrahim,
1984:118). Dalam menghadapi berbagai tantangan atau musuh,
sebagai bagian dari masyarakat Minangkabau dengan filosofi adat
basandi syarak syarak basandi Kitabullah mampu berpegang pada
sikap istiqamah dan selalu hidup dalam bimbingan agama Islam.
Bimbingan agama dalam kehidupan akan membawa diri pada
perdamaian sehingga sikap persaudaraan dapat terjalin baik. (3)
Keris, dipakai menghadap condong ke kiri merupakan simbol

268

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

kehati-hatian, agar si pemakai harus berpikir terlebih dahulu
sebelum melakukan tindakan (Ibrahim, 1984:118). Berdasarkan
simbol ini terdapat pesan yaitu bahwa dalam melakukan segala
sesuatu jangan gegabah, tetapi harus dipikirkan terlebih dahulu
sebab dan akibatnya karena apa yang dipikirkan adalah apa yang
dilakukan dan apa yang dilakukan adalah apa yang akan didapatkan,
dengan kata lain pikiran yang baik akan menghasilkan sesuatu yang
baik dan pikiran yang buruk akan menghasilkan yang sesuatu yang
buruk pula, sehingga pikiran itu sangat berpengaruh pada kehidupan
seseorang.

Keseluruhan unsur dalam busana pengantin di Padang
memiliki nilai keindahan. Hal ini didapatkan dengan adanya
bentuk–bentuk dan susunan yang terangkum dalam busana
pengantin Minangkabau di Padang. Dasar–dasar estetis mengarah
pada penyusunannya yang memiliki makna serta maksud yang akan
disampaikan untuk dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia.
Simbolisme yang terdapat pada busana pengantin adat
Minangkabau di Padang membawa pada pemahaman akan maksud
dari pesan yang termuat di dalamnya. Keindahan dalam busana
pengantin adat Minangkabau di Padang didapatkan dengan
memahami adanya keserangkuman simbol–simbol yang
dikandungnya. Makna simbol yang ada dalamnya keindahan yang
ada dalam busana pengantin tersebut.

Busana pengantin adat Minangkabau di Padang memiliki
simbol-simbol yang berisi pesan tentang tuntunan dalam kehidupan
yang dapat memberikan arah yang baik dalam hidup. Tujuan dari
tuntunan kehidupan tersebut adalah menjaga segala bentuk perilaku
agar mencapai kehidupan yang bahagia dengan mengutamakan
symbol dan yang mengamalkan ada budi pekerti yang baik. Adat
Keserangkuman di dalam busana pengantin Minangkabau di
Padang memperkuat unsur keindahan yang ada dalam busana
pengantin tersebut. Perwujudan bentuk busana pengantin adat
Minangkabau di Padang dengan menekankan pada bentuk busana
dan motif serta adanya permainan warna yang membuat busana
pengantin adat Minangkabau di Padang memiliki nilai estetis yang
tinggi. Keindahan dalam busana pengantin adat Minangkabau di
Padang memanfaatkan medium yang berbeda-beda, seperti: garis,
bentuk, warna, dan makna, maka keindahan akan timbul setelah
terjadi mekanisme antar hubungan di antara medium, hakikat dan
unsur-unsur keindahan tersebut. Perbedaan medium dalam busana

269

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

pengantin adat Minangkabau di Padang mengacu pada hakikat yang
pada dasarnya sama yaitu keindahan.

D. Penutup
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di depan, ada

beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini. Hal–hal
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Semua unsur dalam busana pengantin adat Minangkabau di

Padang merupakan hasil karya dari pengrajin tradisional yang
ada di Minangkabau mulai dari pakaian, tata rias pada kepala,
serta perhiasan yang digunakan oleh pengantin merupakan
karya seni tradisional.
2. Keindahan pada busana pengantin adat Minangakabau di
Padang dianalisis melalui ciri-ciri estetis yang dikemukakan
oleh DeWitt H. Parker antara lain: (Asas Kesatuan Utuh)
tercermin dari keseluruhan unsur yang terdapat dalam busana
dan saling memerlukan antara satu unsur dengan unsur yang
lainnya untuk mencapai keindahan, (Asas tema) dalam busana
pengantin adat Minangkabau di Padang yaitu mengenai
tuntunan hidup, Tema pokok tersebut diturunkan menjadi
beberapa tema (Asas variasi menurut tema), keharmonisan dari
unsur- unsur yang berbeda dalam busana adat Minangkabau di
Padang merupakan (Asas keseimbangan) kesatuan dari proses
yang bagian- bagiannya menciptakan suatu makna yang
menyeluruh dalam busana adat Minangkabau di Padang
merupakan (Asas perkembangan), meskipun unsur-unsur yang
terdapat dalam busana pengantin adat Minangkabau
bertentangan tetapi unsur ini mendukung tema yang pokok
dalam busana pengantin yang merupakan (Asas tatajenjang).
Keindahan bentuk dalam busana pengantin adat Minangkabau
di Padang tercermin dari tersusunnya hubungan-hubungan dari
berbagai keselaran dan perlawanan dari unsur-unsur dalam
busana tersebut.
3. Busana pengantin Minangkabau di Padang merupakan busana
adat yang kaya akan makna yang terkandung didalamnya.
Makna-makna tersebut terwujud dalam simbol pada busana
pengantin adat Minangkabau di Padang yang berisi tentang
tuntunan kehidupan yaitu cara bersikap dan bertingkah laku
yang baik dalam hidup.

270

Anggia Maresa, Estetika Simbolis dalam Busana…

4. Simbol–simbol yang ada dalam busana pengantin adat
Minangkabau di Padang memperkuat unsur keindahan yang ada
dalam busana pengantin tersebut.

5. Keindahan dalam busana pengantin adat Minangkabau di
Padang terangkum dalam kesatuan antara simbol dan bentuk.
Bentuk busana yang tersusun secara sistematis mulai dari
pakaian, tata rias pada kepala, dan perhiasan menunjukan
adanya nilai estetis yang dikandunganya. Penekanan pada
bentuk yang berbeda antar bidang dan pengolahan warna–warna
membuat busana pengantin adat Minangkabau di Padang
memiliki nilai keindahan yang tinggi. Perpaduan dari
ketersusunan simbol yang berisi mengenai tuntunan hidup
menambah indah busana pengantin adat Minangkabau di
Padang ini.

E. Daftar Pustaka
Azami, dkk, 1977, Adat dan Upacara Perkawinan daerah

Sumatera Barat, Depdikbud.
Bart, Bernhard, 2006, Revitalisasi Songket Lama Minangkabau,

http://songketminang.com/page.php?2, up date 31 Maret
2009, 09:45 WIB.
Dharsono, Sony Kartika, 2007, Estetika, Rekayasa Sains,
Bandung.
Gie, The Liang, 1976, Filsafat Seni: Sebuah Pengantar, PUBIB,
Yogyakarta.
Ibrahim, Anwar, dkk, 1984, Arti Lambang Dan Fungsi Tata Rias
Pengantin dalam Menanamkan Nilai-nilai Budaya
Provinsi Sumatera Barat, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta.
_____________, 1985, Pakaian Adat Tradisional Daerah
Sumatera Barat, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta.
Jalins, Mis M & Mamdy, Ita A, 1997, Unsur-unsur Pokok Dalam
Seni Pakaian, Penerbit Miswar, Jakarta.
Murwani, Christina Siti, 1998, Makna Estetis Yang Terkandung
Dalam Tata Rias Perkawinan Adat Surakarta,
Skripsi Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
Reisha, 2007, Alam Takambang Jadi Guru, http://reisha.
wordpress. com, up date 2 September 2009, 20:00 WIB.

271

Jurnal Filsafat Vol.19, Nomor 3, Desember 2009

Sofia, 2006, Keserasian Busana, http://www.pemkab-tanjung
jabungbarat.go.id/artikel/?artikel=&id=16, Up date 15
desember 2008, 1015 WIB.

272

Reka Bentuk Rumah Tradisional Negeri
Sembilan Dipengaruhi oleh Adat dan
Kedaerahan
The Design of the Negeri Sembilan Traditional
House that is Influenced by Customs and
Regional Factors

Noor Hayati Ismail1*, Shahrul Kamil Yunus2 and Mastor Surat3
1,3Faculty of Engineering and Built Environment, Universiti Kebangsaan Malaysia,
MALAYSIA
2Department of Engineering, Politeknik Port Dickson, MALAYSIA
*Corresponding author: [email protected]

Published online: 15 November 2016

To cite this article: Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat. 2016. Reka bentuk
rumah tradisional Negeri Sembilan dipengaruhi oleh adat dan kedaerahan. Wacana Seni Journal of Arts
Discourse, 15: 113–136. http://dx.doi.org/10.21315/ws2016.15.5

To link to this article: http://dx.doi.org/10.21315/ws2016.15.5

ABSTRAK

Keunikan reka bentuk rumah tradisional Negeri Sembilan melambangkan masyarakat adat
perpatih atau sistem kekerabatan matrilineal yang diamalkan oleh masyarakat di Negeri
Sembilan. Selain itu, reka bentuk bumbung panjang yang lentik dengan kedua-dua hujung
bumbungnya naik ke atas sedikit telah menjadi identiti seni bina di Negeri Sembilan yang
tersendiri. Adat perpatih dan faktor kedaerahan telah mempengaruhi reka bentuk rumah
tradisional ini. Namun keaslian konsep dan falsafah reka bentuk seni bina rumah ini sering
dikatakan menyamai reka bentuk rumah adat di Minangkabau. Oleh itu, penyelidikan
dijalankan bertujuan untuk mengenal pasti perbezaan dan menganalisis beberapa rumah
yang terdapat di Sumatera Barat, Indonesia dan Negeri Sembilan, Malaysia. Kajian ini

© Penerbit Universiti Sains Malaysia, 2016

114

Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

akan melihat kepada evolusi reka bentuk rumah tradisional Negeri Sembilan yang berasal
dari Minangkabau. Lokasi kajian melibatkan beberapa buah kampung iaitu rumah-rumah
tradisional di Padang, Bukit Tinggi, Kampar Kiri, di Sumatera Barat, Indonesia dan Rembau,
Kuala Pilah, Tampin di Negeri Sembilan, Malaysia.
Kata kunci: adat perpatih, sistem kekerabatan matrilineal, kedaerahan dan Minangkabau.

ABSTRACT

The unique design of Negeri Sembilan traditional houses represents the indigenous perpatih
custom or matrilineal kinship system practiced by the society in Negeri Sembilan. In fact,
the design of the roof with its long tapering ends raised slightly at both sides has become the
unique architectural identity of Negeri Sembilan. Although customs and regional factors have
influenced the designs of the traditional houses, nevertheless the originality of the concept
and philosophy of the architectural design of the house are often said to match the design of
customary house in Minangkabau, Indonesia. This research aims to identify and analyse some
of the differences in the traditional house designs in West Sumatera, Indonesia and Negeri
Sembilan, Malaysia. This study will look at the evolution of the Negeri Sembilan traditional
house design that originated from Minangkabau. Location studies involve several villages of
traditional houses in Padang, Bukit Tinggi, Kampar Kiri, in West Sumatra, Indonesia and
Rembau, Kuala Pilah, Tampin in Negeri Sembilan, Malaysia.
Keywords: Perpatih custom, matrilineal kinship system, regional and Minangkabau

115

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

PENGENALAN

Masyarakat di Negeri Sembilan terdiri daripada penghijrahan dan kedatangan masyarakat
Minangkabau. Terdapat dua kumpulan penghijrahan Minangkabau yang datang ke Negeri
Sembilan iaitu yang datang dari daerah pedalaman Sumatera mengamalkan sistem Adat
Perpatih sementara kumpulan kedua datang dari daerah persisiran Sumatera dan mengamalkan
Adat Temenggung. Di samping orang Minangkabau yang menduduki Negeri Sembilan,
terdapat juga etnik-etnik lain yang menetap lebih awal di Negeri Sembilan seperti orang
Melayu yang menetap di sekitar Sungai Linggi, Sungai Ujong dan Rembau di mana daerah
ini terletak berdekatan dengan Melaka. Orang Melayu yang menduduki kawasan tersebut
merupakan penduduk kerajaan Melayu Melaka yang melarikan diri setelah Melaka ditawan
oleh Portugis pada tahun 1511. Kedatangan orang Minangkabau ke Negeri Sembilan berlaku
sewaktu Melaka dikuasai oleh Portugis. Sungai Ujong dijadikan sebagai jalan masuk ke
kawasan-kawasan persekitaran serta menetap di daerah Sungai Ujong, Rembau, Naning, Inas
dan Jempol. Penawanan Melaka oleh Portugis telah menyebabkan Kesultanan Melayu Melaka
berpindah ke Johor. Ungkapan adat Negeri Sembilan yang berbunyi "Beraja ke Johor, Bertuan
ke Minangkabau, Bertali ke Siak" membuktikan bahawa Negeri Sembilan menerima pelbagai
pengaruh serta mempunyai budayanya tersendiri seperti dalam Rajah 1.

Adat merupakan satu garis panduan kehidupan yang merangkumi peraturan adab dan
amalan yang diamalkan oleh sesuatu kelompok masyarakatnya di dalam menjalani kehidupan
seharian. Negeri Sembilan mempunyai keunikannya tersendiri yang terletak pada adat yang
diamalkan oleh masyarakatnya iaitu adat perpatih. Adat perpatih ini merupakan kehidupan
seharian yang lengkap dan sistematik, mempunyai sosial dan kebudayaannya tersendiri. Adat
dan kebudayaan ini sering dikaitkan dengan masyarakat Minangkabau kerana ia merujuk
kepada Dato' Perpatih Nan Sebatang yang berasal dari Sumatera Barat, Indonesia seorang
pengasas ideologi adat Perpatih dan pembesar di Tanah Minang kira-kira 500 tahun dahulu.

116
Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

Rajah 1  Penghijrahan dan kedatangan masyarakat Minangkabau dari Sumatera
Barat, Indonesia ke Malaysia.

117

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

Adat perpatih merupakan satu struktur sosial yang melibatkan perhubungan dan
proses-proses sosial dan ekonomi berasaskan nasab ibu sebagai dasar utama. Sehubungan
dengan ini, pengaruh rumah di Negeri Sembilan dapat dilihat berlainan dengan rumah
tradisional di negeri-negeri lain di mana ia mempunyai identiti yang tersendiri sebagai
lambang kebudayaan masyarakatnya. Menurut Raja Nafida (2007), seni bina dan ciri-ciri
reka bentuk rumah tradisional Negeri Sembilan berkait rapat dengan adat Perpatih. Lambang
keagungan sesebuah budaya masyarakat suatu ketika dahulu adalah terletak pada keunikan
seni bina rumah tradisionalnya. Menurut Norhalim (2007), pada umumnya adat bersistemkan
kekerabatan matrilineal mengamalkan sistem adat yang unik dan berbeza dengan sistem
adat lain. Unsur-unsur dalam sistem kekerabatan matrilineal seperti sistem ekonomi, sosial
dan kepimpinan telah menjadikan kehidupan masyarakat Negeri Sembilan sebagai sebuah
kehidupan yang lengkap dan sempurna. Sistem adat ini telah memberikan keharmonian dan
kesejahteraan kepada masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu dan pengaruhnya dapat dilihat
pada seni bina rumah tradisional masyarakatnya hingga kini.

PERMASALAHAN

Antara isu yang menjadi persoalan adalah tafsiran, istilah, kefahaman dan perspektif telah
diberikan kepada rumah tradisional yang berbeza mengenai identiti reka bentuk rumah
tradisional Negeri Sembilan, Malaysia dengan Rumah Minangkabau di Sumatera Barat,
Indonesia seperti dalam Rajah 2(a) dan (b).

Rumah tradisional Negeri Sembilan sering dikaitkan dengan rumah adat Minangkabau
di Sumatera Barat. Menurut Hajeedar (2014), identiti ciri-ciri seni bina Minang pada rumah
tradisional Negeri Sembilan harus diwarisi dan difahami sebagai satu identiti budaya yang
bernilai, agar tidak menjadi kekeliruan kepada masyarakat. Pada satu masa yang lalu,
kebanyakan masyarakat umum lebih mengenali rumah tradisional Negeri Sembilan dengan
rumah Minangkabau Negeri Sembilan (Yaakub 1996; Raja Nafida 2007). Menurut Zulkifli

118
Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

(a)  Rumah Gadang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat, Indonesia

(b)  Rumah Tradisional Negeri Sembilan, Malaysia
Rajah 2  Persepsi rumah Minangkabau bergonjong dan Rumah Negeri Sembilan melentik.

119

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

(1985), reka bentuk bumbung rumah tradisional Negeri Sembilan yang melentik seakan
bergonjong menyerupai bentuk rumah adat Minangkabau di Sumatera Barat. Reka bentuk
fizikal secara umum rumah tradisional Negeri Sembilan dikatakan menyerupai bentuk rumah
adat Minangkabau telah mempengaruhi kepada masyarakat umum. Kepelbagaian jenis dan
istilah telah diberikan pada rumah tradisional ini mengikut kefahaman masyarakat sendiri.
Identiti asal rumah tradisional tempatan semakin dipinggirkan disebabkan oleh perubahan
zaman dan pelbagai campuran budaya dalam masyarakat (Zulkifli 1985). Terkesan dari
isu ini, pelbagai krisis identiti seni bina rumah tradisional telah muncul dalam kalangan
masyarakat secara umum dan ahli akademik secara khusus (Kamarul Afizi 2007). Oleh itu,
penyelidik telah membuat kajian reka bentuk beberapa buah rumah dari Sumatera Barat,
Indonesia dengan rumah tradisional di Negeri Sembilan, Malaysia melalui evolusi dan
perkembangan reka bentuknya.

OBJEKTIF DAN METODOLOGI KAJIAN

Matlamat kajian adalah untuk meneliti reka bentuk rumah Negeri Sembilan yang mempunyai
seni bina rumah kesan dari pengaruh Minangkabau. Kajian penyelidikan reka bentuk adalah
berdasarkan beberapa faktor yang menyebabkan berlakunya evolusi dan perkembangan
rumah Melayu tradisional yang terdapat di Negeri Sembilan. Antara faktor-faktor yang
mempengaruhi reka bentuk ini adalah adat dan kedaerahan yang menyebabkan reka bentuk
rumah Negeri Sembilan mempunyai identitinya yang tersendiri. Objektif kajian penyelidikan
ini adalah untuk mengenal pasti rumah asal Minangkabau dengan rumah tradisional yang
terdapat di Negeri Sembilan. Selain itu, penyelidikan ini adalah untuk mengkaji dengan
mengklasifikasikan rumah Minangkabau dengan rumah tradisional Negeri Sembilan. Aspek
ini melibatkan kajian mengenai pengaruh adat dan kedaerahan yang mempengaruhi rumah
tradisional Negeri Sembilan. Adaptasi rumah tradisional Negeri Sembilan dapat dilihat pada
bumbung yang bergonjong atau reka bentuk bumbung panjang yang bersifat Minangkabau

120

Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

atau mempunyai lentik yang bervariasi. Ia melambangkan keunikan masyarakat adat
perpatih yang diamalkan oleh orang-orang Negeri Sembilan. Kajian ini merupakan kajian
pembentukan, perkembangan dan pembangunan bagi membuktikan bahawa adat dan faktor
persekitaran serta kedaerahan telah mempengaruhi reka bentuk rumah tradisional Negeri
Sembilan. Untuk mencapai objektif kajian, metodologi kajian berkaitan melalui pengumpulan
data menerusi proses pemerhatian, literatur, temu bual dan pengambilan foto-foto yang
berkaitan. Selain itu, kajian lapangan dilakukan pada reka bentuk rumah-rumah tradisional
di Padang, Bukit Tinggi, Kampar, Sumatera Barat, Indonesia dan beberapa daerah di Negeri
Sembilan seperti Rembau, Kuala Pilah dan Tampin. Analisa perbandingan mengenai reka
bentuk rumah mengikut evolusi Minangkabau melalui gambar foto, lakaran "sketch" di tapak
serta sesi temu bual telah dijalankan terhadap beberapa penduduk tempatan, tukang rumah
dan ketua adat untuk dijadikan sebagai dokumen kajian ini.

ADAT DAN KEDAERAHAN

Penghijrahan awal masyarakat Minangkabau ke Rembau pada awal abad ke-15 dan
kedatangan Raja Melewar telah menambahkan lagi ramainya orang-orang Minangkabau
berhijrah ke Negeri Sembilan dan menjadikan negeri kedua bagi masyarakat Minangkabau
(A. Samad 1994). Penghijrahan masyarakat Minangkabau ke Negeri Sembilan sedikit
sebanyak telah mempengaruhi reka bentuk rumah tradisional di Negeri Sembilan. Menurut
Yaakub (1996), rumah Melayu adalah rumah tradisionalnya yang terbentuk di dalam
masyarakat Melayu bersama-sama dengan evolusi kebudayaan Melayu itu sendiri. Walau
bagaimanapun reka bentuk rumah tradisional seperti pada (Rajah 2b), telah diasimilasikan
dengan budaya tempatan mengikut kesesuaian persekitaran, pengaruh budaya dan adat
resam. Masyarakat kini telah menyalahertikan rumah tradisional Negeri Sembilan dengan
mengatakan rumah Minangkabau atau bumbung Minangkabau seperti pada (Rajah 2a).
Rumah Negeri Sembilan merupakan satu-satunya rumah bumbung panjang yang melentik di

121

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

Semenanjung Malaysia. Ciri-ciri inilah yang membezakan rumah Negeri Sembilan dengan
yang lain, unik yang melambangkan keunikan masyarakat adat perpatih yang diamalkan oleh
masyarakatnya.

Adat bersistem nasabkan ibu atau sistem kekerabatan matrilineal merupakan sistem
adat yang diamalkan oleh masyarakat adat perpatih di Negeri Sembilan. Sistem kekerabatan
matrilineal dalam adat perpatih ini telah menjadi sistem kehidupan masyarakat Minangkabau
di Negeri Sembilan sejak dari nenek moyang ratusan tahun yang lalu (Rais 2007). Adat
perpatih telah dibawa dan dikembangkan oleh masyarakat Minangkabau dari Sumatera Barat
yang datang bermigrasi (merantau) ke Negeri Sembilan mempunyai ciri penting dalam sistem
kekerabatan matrilineal ialah hak keturunan dan pewarisan harta diserahkan kepada kaum
ibu dan perempuan. Sistem seperti sosial, ekonomi dan organisasi kepimpinan merupakan
ciri penting yang diutamakan dalam sistem kekerabatan matrilineal. Walau bagaimanapun,
sesuatu yang unik dalam sistem kekerabatan matrilineal ini ialah kaum ibu, anak perempuan
dan keturunan kaum kerabatnya telah diberi kelebihan dan keistimewaan untuk menguasai
keturunan, harta pusaka, dan kekuasaan pemerintahan (Norhalim 2007).

Kebudayaan orang Melayu agak tersendiri dalam banyak perkara termasuk bahasa,
adat resam, pemakaian, pemakanan, persenjataan, pertahanan diri, pengangkutan dan
sebagainya. Orang Melayu berjaya membangunkan tamadunnya menurut acuan tersendiri
sehingga menyerlahkan identitinya dalam kalangan masyarakat antarabangsa (Mastor, Rosdan
& Mohamad Tajuddin 2007). Menurut beliau lagi ramai masyarakat yang tidak mengetahui
dan masih kabur dengan latar belakang rumah Melayu tradisional kerana ia dianggap usang,
ketinggalan zaman dan kekampungan. Walaupun tipologinya kelihatan berbeza menurut
kedaerahan tetapi konsep ruangnya adalah sama kerana berhasil menggunakan prinsip asas
dan pemikiran yang sama. Faktor-faktor alam seperti iklim dan alam persekitaran merupakan
faktor yang mempengaruhi bentuk seni bina rumah Melayu tradisional pada bumbungnya
yang condong, cucur atap yang lebar untuk mengalirkan air hujan turun dengan cepat. Selain
itu, terdapat bukaan pada lantai, dinding dan juga bumbung bagi sistem pengudaraan silang

122

Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

yang baik bagi mengatasi masalah keselesaan terma. Rumah awal yang mula-mula digunakan
oleh orang-orang Melayu adalah dengan bentuk bumbung panjang dan bertebar layar
mengikut alam persekitaran atau kedaerahannya. Perkembangan reka bentuk dan gaya rumah
Melayu seterusnya berlaku melalui proses asimilasi antara satu sama lain apabila mereka
saling berhubung merentasi daerah dan kawasan kediaman mereka.

ANALISA REKA BENTUK RUMAH TRADISIONAL NEGERI SEMBILAN

Reka bentuk rumah tradisional Melayu boleh dilihat beberapa jenis dan tipologi di seluruh
Malaysia. Setiap negeri-negeri di Malaysia mempunyai bentuk-bentuk rumah tradisionalnya
yang tersendiri. Permasalahan rumah Minangkabau sering dikaitkan dengan rumah tradisional
di Negeri Sembilan oleh masyarakat adalah disebabkan pengaruhnya yang hadir dalam sistem
pemerintahan di Negeri Sembilan. Budaya bangsa itu mempengaruhi bentuk seni binanya.
Pengertian kebudayaan adalah sangat luas, merangkumi segala aspek hidup sesuatu kelompok
manusia atau masyarakat, merangkumi sistem-sistem atau amalan hidup sehari-hari, sistem
kepercayaan dan agama, adat istiadat, pendidikan, kesenian dan sosiopolitik masyarakat itu.
(Yaakub 1996). Seni bina Melayu di semenanjung adalah di daerah Riau jelas serumpun
dengan rumah-rumah tradisional suku bangsa Melayu yang lain seperti suku-suku bangsa
Aceh, Minangkabau, Bugis, Banjar dan lain-lain di seluruh Kepulauan Nusantara. Faktor-
faktor ini telah mempengaruhi reka bentuk awal rumah tradisional Melayu (Rajah 3) seperti
bertiang serta lantai yang tinggi, bentuk bumbung panjang yang mempunyai tebar layar selain
menggunakan bahan seperti kayu dan tumbuhan yang terdapat pada alam persekitarannya.
Walau bagaimanapun bentuk bumbung di Negeri Sembilan yang melentik adalah pengaruh-
pengaruh yang datang kemudian mengikut evolusi yang berlaku dalam pembentukan rumah
tradisional pada masyarakat di Negeri Sembilan.

123

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

Rajah 3  Reka bentuk rumah tradisional Negeri Sembilan berumur lebih 100 tahun di Kg. Penajis
Bandar, Nerasau, Rembau.

124

Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

Evolusi merupakan perkembangan, pembangunan dan perubahan yang berlaku
akibat faktor-faktor yang tertentu seperti faktor budaya, tempat dan juga kedaerahan.
Kehidupan sesuatu tempat dan adat resam juga telah mencorakkan perubahan yang berlaku
di sekelilingnya. Menurut Raja Nafida (2007), evolusi merupakan pembangunan yang berlaku
kepada corak kehidupan manusia, haiwan, flora dan fauna. Corak kehidupan manusia adalah
pengaruh yang datangnya dari asal usul di mana berlakunya kehidupan harian. Masyarakat
Minangkabau adalah etnik yang sering dikatakan orang merantau. Menurut Mochtar (2014),
orang Minangkabau yang merantau sangatlah tinggi, bahkan tertinggi di Indonesia. Mereka
bergerak di seluruh negara mencari kehidupan yang lebih baik, pendidikan, dan pengalaman.
Melalui aktiviti merantau, masyarakat Minangkabau membawa budaya dan tradisi mereka.
Apabila seseorang merantau dari tempat asal usulnya, mereka membawa budaya, adat yang
diamalkan di tempat yang baru, kehidupan mereka telah berubah dan berlakunya evolusi.
Adat yang diamalkan oleh orang Minangkabau adalah adat perpatih dan kebudayaan
bersifat keibuan (matrilineal), masyarakat matrilineal yang terbesar di dunia di mana
harta dan tanah diwariskan dari ibu kepada anak perempuan, sementara agama dan politik
merupakan urusan kaum lelaki. Adat ini dikatakan yang menyebabkan tradisi ramai kaum
lelaki Minangkabau sebagai perantau. Tradisi ini berhasil mendirikan beberapa masyarakat
"perantau Minangkabau" di tempat-tempat lain di Indonesia hinggakan budaya dan reka
bentuk kediaman telah mempengaruhi kawasan yang didiami mereka dengan mengamalkan
adat serta budaya Minangkabau seperti di Kampar-Siak, Jambi, Riau dan telah membawa
evolusi tipologi rumah hinggalah ke Negeri Sembilan.

Rumah Minangkabau mempunyai bumbung ditarik balik sebagai bentuk tanduk
kerbau dan lebih dikenali sebagai "Rumah Gadang" serta dipanggil sebagai rumah adat kerana
rumah yang dijadikan tempat menjalankan kegiatan tempat muafakat dan tempat upacara
adat. Menurut Sudirman (2007), rumah adat ialah rumah yang didiami menurut aturan dan
norma-norma adat yang disebut ''babiliak ketek, babiliak gadang" (berbilik kecilnya, berbilik
besar). Rumah gadang adalah dalam bahasa Minangkabau yang bermakna rumah besar bagi

125

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

etnik orang Minangkabau dikenali juga sebagai rumah adat Minangkabau yang mengikut
sistem kekerabatan matrilineal. Menurut Sudirman (2007), seni bina tradisional Minangkabau
terutama rumah gadang atau juga rumah adat dapat disebut sebagai bangunan vernakular yang
lahir dari budaya masyarakat yang mengamalkan sistem kekerabatan matrilineal.

Rumah adat ini dikenali juga rumah gonjong atau "rumah bagonjong" (rumah
bergonjong), kerana bentuk atapnya yang bergonjong runcing menjulang, mempunyai struktur
bumbung melengkung dramatik (Rajah 4) dengan tebar layar dan rabung melengkung serta
terdapat juga prinsip-prinsip tertentu dalam pembinaan rumah adat Minangkabau (Syamsul
2004). Walau bagaimanapun reka bentuk rumah Minangkabau di Kampar-Siak melalui
perkembangan reka bentuk yang hampir sama dengan rumah di Negeri Sembilan rumah
di seperti dalam Rajah 5. Reka bentuk rumah selain dari tipologinya ruang seperti serambi,
ruang-ruang lain seperti rumah ibu (tengah rumah dan bilik) serta loteng (peran) juga terdapat
pada rumah tradisional Negeri Sembilan dan mempunyai fungsi yang sama seperti pada
rumah induk dan Kampar-Siak.

Reka bentuk dan tipologi ini berlaku adalah disebabkan pengaruh dan budaya
masyarakat setempat yang datang dari pelbagai unsur. Setiap struktur binaan yang dihasilkan
mempunyai nilai dan falsafahnya yang tersendiri seiring dengan gaya hidup masyarakatnya.
Secara umumnya, istilah atau bahasa panggilan bagi nama rumah-rumah tradisional Melayu
dapat dikenal pasti mengikut bentuk elemen-elemen seni bina seperti bumbung, dan tiang
(Zulkifli 1985). Menurut Raja Nafida (2007), rumah tradisional Negeri Sembilan lebih
dikenali dengan Rumah Bumbung Panjang Negeri Sembilan (Rajah 6). Pada awal sejarahnya,
rumah ini lebih dikenali dengan nama rumah Minangkabau Negeri Sembilan. Oleh itu, boleh
dikatakan Negeri Sembilan mempamerkan secara keseluruhan reka bentuk bumbung panjang
yang melentik sedikit bersifat Minangkabau. Reka bentuk atap yang bertingkat seperti pada
Rajah 6(a) yang dialas daun rumbia mempunyai rumah yang sama dengan rumah induk,
serambi, dapur yang bergabung dengan rumah ibu. Berpanggung serta dikaitkan dengan 12,
16 dan 20, tiang berlantai tinggi dari tanah dan bertangga kayu merupakan imej dan elemen

126

Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

yang kuat yang diperkatakan sebagai rumah Melayu adat Negeri Sembilan. Menurut Yaakub
(1996) rumah Negeri Sembilan, bumbungnya kelihatan sedikit rendah dan lentik sedikit,
mempunyai bumbung bertingkat antara atap bumbung rumah ibu dan atap serambi. Lazimnya
rumah beranjung bagi rumah ketua-ketua adat dan pembesar-pembesar (Raja Nafida 2007)
yang lain mempunyai saiz dan gaya seni bina yang berbeza dan ini dapat dilihat dengan jelas
pada ruang serambinya (Rajah 6b).

Reka bentuk bumbung rumah tradisional Negeri Sembilan selain melentik kiri dan
kanan sedikit, mempunyai dua kecerunan dan tebar layar di kedua-dua hujung bumbung
(Rajah 6a). Rumah bumbung panjang atau rumah perabung panjang merupakan warisan
seni bina Melayu tradisional dan reka bentuk terawal. Evolusi bumbung telah berubah dari
zaman-ke zaman dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya etnik Melayu mengikut daerah atau
kedaerahan. Kedaerahan adalah kehidupan atau cara hidup harian seseorang terhadap komuniti
setempat yang di pengaruhi oleh persekitaran atau lingkungan kawasan yang diduduki. Jadual
1 menunjukkan perkaitan adat dan kedaerahan di mana suku, status, kategori dan peletakan
rumah tradisional Negeri Sembilan di tanah adat. Adat yang diamalkan oleh suku di tanah
adat sedikit sebanyak mempengaruhi rumah yang di diami berbanding dengan rumah yang
terdapat di Sumatera Barat. Suku Biduanda merupakan suku asal yang terdapat di Negeri
Sembilan (Norhalim 2007). Kajian mendapati pengaruh kedaerahan orang Melayu biasa
antara teramai dari suku biduanda dan rumah berserambi satu merupakan reka bentuk rumah
tradisional. Ini membuktikan bahawa masyarakat dan suku asal telah mempengaruhi reka
bentuk rumah tradisional di Negeri Sembilan. Kehidupan orang Melayu terhadap persekitaran
sentiasa bertindak balas dengan meminda, mengubah dan memperbaiki melalui adaptasi
agar bersesuaian (Zulkifli 1985). Keperluan ruang bagi kehidupan harian orang Melayu
telah menambahkan serambi hujung atau pangkal dan juga anjung pada reka bentuk rumah
tradisional Melayu di Negeri Sembilan.

127

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

Rajah 4  Rumah gonjong atau "rumah bagonjong" (rumah bergonjong),
kerana bentuk atapnya yang bergonjong runcing menjulang.

128
Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

Rajah 5  Rumah tradisional, Kg. Lipat Kain, Kampar Kiri mengalami evolusi
reka bentuk rumah Minangkabau.

129

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

(a)  Reka bentuk serambi: gaya dan saiz serambi

(b)  Reka bentuk rumah yang beranjung
Rajah 6  Reka bentuk rumah tradisional Negeri Sembilan mengikut adat dan kedaerahan – Reka

bentuk dua serambi dan reka bentuk berserambi dua beranjung bagi yang berstatus melakukan
aktiviti adat.

130
Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

Jadual 1  Pengaruh adat dan kedaerahan melalui suku, status, kategori rumah dan peletakan rumah
tradisional di tanah adat

Suku Bil % Status Bil % Kategori Bil % Tanah adat Bil %

Biduanda 58 61.1 Biasa 86 90.5 1 Serambi 45 47.3 Ya 94 98.9

Anak Melaka 4 4.2 Berada 7 7.4 1 Serambi dan 37 39 Tidak 1 1.1
Tiga Batu
6 6.3 Bangsawan 2 2.1 anjung

Batu Hampar 1 1.1 2 Serambi 4 4.2

Paya Kumboh 5 5.3 2 Serambi dan 4 4.2
Mungkal 16 16.8 anjung

Seri Melenggang 4 4.2 Serambi tengah 5 5.3

Tanah Datar 1 1.1

Total 95 100 Total 95 100 Total 95 100 Total 95 100

Reka bentuk rumah Melayu dengan adat tempatan yang dilaksanakan telah
mempengaruhi pelan dan aktiviti yang berlaku di dalam ruang yang menyebabkan
perkembangan dan pembesaran ruang rumah Melayu melalui status seseorang. Di samping
itu, rumah tradisional Melayu sering dikaitkan dengan alam persekitaran iaitu pakej pada
rumah tradisional Melayu yang tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu reka bentuk rumah
ini mempunyai serambi hadapan dan anjung serta tingkapnya rendah dari aras lantai agar
dapat mengadaptasi persekitaran serta direka untuk paras orang duduk dan bukannya berdiri.
Serambi dihiasi ukiran kerawang yang bercorak silang-menyilang. Variasi hiasan ukiran dan
ornamennya dipengaruhi oleh agama serta budaya tempatan atau kedaerahan itu sendiri.

Reka bentuk rumah Negeri Sembilan mempunyai beberapa tipologi (Rajah 7) seperti
rumah serambi satu, rumah serambi satu dan beranjung dan serambi dua beranjung seperti
dalam (Rajah 8). Menurut Raja Nafida (2007) reka bentuk rumah Negeri Sembilan adalah

131

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

Rajah 7  Reka bentuk rumah tradisional yang banyak terdapat pada daerah Rembau.
mengikut ruang serambi di mana serambi yang dekat dengan tangga dipanggil serambi
pangkal dan serambi yang jauh dengan tangga dipanggil serambi hujung. "Pangkal untuk
orang adat, hujung untuk orang syarak dan penghulu". Reka bentuk pelan lantai, tingkap
dan gerbang pada rumah itu jelas menampakkan prinsip reka bentuk berdasarkan fungsi.
Budaya dan adat serta aktiviti semasa penghuninya menjadi tunjang kepada reka bentuk pelan
lantainya. (Kamarul Afizi & Ibrahim 2007). Rumah ibu mempunyai ruang yang terluas dan
tertinggi. Terdapat bilik di rumah ibu dan tangga menghala ke loteng. Loteng ini mengambil
lebihan ketinggian dan tingkat atap yang diberi ruang oleh struktur rumah ini. Rumah ibu

132
Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016

bersifat terbuka dan disambung ke rumah dapur melalui pintu yang menghala ke selang.
Selang tidak berdinding dan merupakan pelantar kepada sebahagian fungsi dapur. Ianya
berperanan sebagai ruang bagi kaum perempuan untuk bersembang. Pengasingan dan ruang
privasi lelaki dan perempuan dapat dilihat dalam ruang rumah tradisional Melayu di Negeri
Sembilan.

Rajah 8  Pengaruh adat dan kedaerahan melalui reka bentuk rumah Minangkabau dengan tradisional
Negeri Sembilan mengikut perkembangan dan evolusinya.

133

Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat

Rumah tradisional Negeri Sembilan telah dikenal pasti evolusinya pada bumbung
yang bergonjong atau reka bentuk bumbung panjang yang mempunyai lentik yang bervariasi.
Ia melambangkan keunikan masyarakat adat perpatih yang diamalkan oleh orang-orang
Negeri Sembilan. Rumah Melayu tradisional adalah warisan orang Melayu dan merupakan
salah satu keperluan asas dalam kehidupan orang Melayu. Reka bentuk rumah Melayu
tradisional banyak dipengaruhi oleh keadaan persekitaran, cara hidup, taraf ekonomi,
keadaan iklim dan sebagainya yang dikenali sebagai kedaerahan. Rumah awal yang dibina
di Minangkabau sedikit sebanyak telah mempengaruhi reka bentuk rumah tradisional Negeri
Sembilan. Pengaruh seni bina yang berlaku pada rumah dan kediaman masyarakat di Negeri
Sembilan telah bermula dengan kedatangan perantau dari Sumatera hinggalah sampai ke
Negeri Sembilan adalah dipengaruhi oleh faktor adat dan kedaerahan yang menyebabkan
terbentuknya identiti yang unik dan tersendiri.

KESIMPULAN

Reka bentuk rumah di Negeri Sembilan telah mengalami perubahan atau evolusi yang
dipengaruhi oleh adat iaitu adat perpatih yang dibawa oleh masyarakat Minangkabau dari
Sumatera. Penghijrahan orang-orang Minangkabau telah membawa adat dan budayanya ke
Negeri Sembilan walaupun reka bentuk rumah awal di Negeri Sembilan telah wujud. Apabila
seseorang berhijrah atau merantau dari tempat asal usulnya, mereka membawa budaya, adat
yang diamalkan di tempat yang baru, kehidupan mereka atau kedaerahan yang ada pada
sekelilingnya telah berubah dan berlakunya evolusi. Berpindah atau penghijrahan dari sebuah
lokasi geografi yang satu kepada yang lain telah mengubah kehidupan. Perubahan reka
bentuk rumah tradisional telah berlaku mengikut sejarah, budaya, sosial dan juga kedaerahan
sesuatu tempat tersebut. Tempias perubahan reka bentuk rumah tradisional Negeri Sembilan
berlaku dari Tanah Minangkabau ke Kampar-Siak dan hinggalah ke Negeri Sembilan. Evolusi


Click to View FlipBook Version