134
Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016
reka bentuk ini akan dapat memberi penjelasan bahawa adat dan persekitaran daerah atau
kawasan telah mempengaruhi rumah tradisional Negeri Sembilan. Walau bagaimanapun,
rumah tradisional Negeri Sembilan mempunyai ciri-ciri keunikan tersendiri apabila seni
binanya sering dikaitkan dengan adat perpatih bersistemkan kekerabatan matrilineal. Reka
bentuk ini dapat memberi kesejahteraan dan keharmonian setiap individu, kekeluargaan dan
kemasyarakatan. Keseragaman reka bentuk rumah tradisional Negeri Sembilan dapat dilihat
di mana-mana, tidak terjadi secara kebetulan tetapi dirancang dan difahami menerusi sudut
pandang yang mempunyai falsafah yang serupa.
Oleh itu, warisan dan imej adalah gambaran berkaitan pembentukan sesuatu rupa
muka dan reka bentuk rumah tradisional. Faktor kedaerahan atau faktor alam sekeliling telah
memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk reka bentuk rumah selain dari
pengaruh kedudukan sosial dan adat istiadat. Seni bina rumah Melayu tradisi telah dicipta
dan dibangunkan oleh orang Melayu daripada modul yang mudah sehinggalah kepada
kesempurnaan dan keselesaan ini dapat dilihat dari zaman ke zaman, generasi ke generasi
dengan penyesuaian kepada kehendak, budaya dan persekitarannya.
RUJUKAN
Abdul Halim Nasir. 1996. The traditional Malay house. Shah Alam: Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd..
Hajeedar Abdul Majid. 2014. Penerapan identiti seni bina Negeri Sembilan dalam arus perkembangan
seni bina moden. Simposium Antarabangsa Muafakat Minang: Sejarah, Budaya, Teknologi &
Senibina, 98. Johor: Pusat Kajian Alam Bina Dunia Melayu.
Ibrahim. 2012. Tambo alam Minangkabau: Tatanan adat warisan nenek moyang orang Minang. Bukit
Tinggi: Kristal Multimedia.
135
Noor Hayati Ismail, Shahrul Kamil Yunus and Mastor Surat
Kosman K. A. and Nik Lukman Nik Ibrahim. 2007. Identiti seni bina Malaysia: Masalah dan
penyelesaiannya. Sari 25: 279–290.
Norhalim Ibrahim. 2007. Sejarah kewujudan adat perpatih. Adat Perpatih-Esei Pilihan, 1–24. Kuala
Lumpur: Jabatan Warisan Negara. heritage.gov.my/index.php/ms/penerbitan/buku-terbitan-jwn/250.
. 1997. Peranan kepimpinan dalam adat perpatih. Jurnal Persatuan Sejarah Malaysia
Cawangan Negeri Sembilan 8–42.
. 1993. Adat Negeri Sembilan melalui masa. Warisan, 17: 7–51.
. 1988. Sistem masyarakat Negeri Sembilan. Jurnal Persatuan Sejarah Malaysia
Cawangan Negeri Sembilan, 13: 50–62.
Mochtar Naim. 2014. Minangkabau dan dunia Melayu : Simposium Antarabangsa Muafakat Minang:
Sejarah, Budaya, Teknologi & Senibina, 1–8. Johor: Pusat Kajian Alam Bina Dunia Melayu.
Mastor Surat, Rosdan Abdul Manan and Mohamad Tajuddin Mohamad Rasdi. 2007. Krisis profesion
senibina – profesionalisme etika & halatuju. Serendah, Selangor: Saahifah Global Resources.
Mastor Surat, H. Othman and A. R. Musa. 2009. Pendekatan dasar pemikiran senibina warisan Melayu
bagi mendapatkan keselesaan hawa serta penyelesaian masalah iklim dan persekitaran dalam
senibina masa kini. Prosiding Simposium Alam Bina Serantau 2009, FKAB, UKM.
Rais Yatim. 2007. Adat perpatih common law equity suatu perbandingan. Adat perpatih: Esei Pilihan.
25–63. Kuala Lumpur: Jabatan Warisan Negara. heritage.gov.my/index.php/ms/penerbitan/buku-
terbitan-jwn/250.
136
Wacana Seni Journal of Arts Discourse. Jil./Vol.15. 2016
Raja Nafida Raja Shahminan. 2007. Senibina rumah bumbung panjang Negeri Sembilan. Adat Perpatih
- Esei Pilihan, 191–197. Kuala Lumpur: Jabatan Warisan Negara. heritage.gov.my/index.php/ms/
penerbitan/buku-terbitan-jwn/250.
Sudirman Is. 2000. Kajian nilai-nilai budaya pada ekspresi tata ruang dalam rumah Adat Minangkabau:
Kes kajian: Luhak Tanah Datar Sumatera Barat. Tesis diss., Universiti Teknologi Malaysia, Johor.
Sudirman Ismael. 2007. Arsitektur traditional Minangkabau, nilai-nilai budaya dalam arsitektur rumah
adat. Padang: Bung Hatta University Press.
Syamsul Asri. 2004. Prinsip-prinsip pembinaan rumah Adat Minangkabau. Tesis diss., Universiti
Teknologi Malaysia, Johor.
Yaakub Idrus. 1996. Rumah tradisional Negeri Sembilan. Shah Alam: Fajar Bakti.
Zulkifli Hanafi. 1985. Kompedium sejarah seni bina Timur. Penang: Universiti Sains Malaysia.
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
Kedudukan dan Peran Perempuan dalam Perspektif Islam dan Adat Minangkabau
Irawaty
Universitas Negeri Jakarta
[email protected]/[email protected]
Zakiya Darojat
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
[email protected]/[email protected]
Naskah diterima: 04-12-2018, direvisi: 07-01-2019, disetujui 28-01-2019
Abstract
This article aims to analyse positions and roles of Minangkabau women based on
their adat and Islam in terms of: 1) inheritance; 2) decision makers in the family; 3)
in taking care of children; and 4) in solving problems in the community. By
implementing qualitative analysis approach with the method of analyzing QDA data,
the results of the study are as follows: 1) women in Islam should be given half of
their inheritance from men, whereas in based on adat Minangkabau women could get
inheritance from ancestral inheritance and from her parents; 2) in Islam, women
could give opinion in deciding matters in the family, while according to adat
Minangkabau, decision makers in the family are women; 3) in Islam, the role of a
mother is very large in educating their children, whereas according to adat
Minangkabau the role of mother is very absolute even the role of father can be said
to be almost non-existent; and 4) in Islam it is possible for women to play a role in
social politics without forgetting their role in the family, while in the adat
Minangkabau Bundo Kanduang acts as an intellectual actor in resolving
communities‟ issues.
Keywords: Position and role of women, Adat Minangkabau, Islamic Perspective
Abstrak
Artikel ini mengkaji bagaimana kedudukan dan peran perempuan Minangkabau
berdasarkan adatnya dan Islam dalam hal: 1) waris; 2) pengambil keputusan dalam
keluarga; 3) dalam mengurus anak-anak dan 4) di dalam menyelesaikan persoalan-
persoalan yang ada di masyarakat. Melalui pendekatan analisis kualitatif dengan
metode menganalisis data QDA didapatkan jawaban hasil kajian sebagai berikut: 1)
perempuan di dalam Islam mendapatkan warisan separuh dari bagian anak laki-laki,
sedangkan di dalam adat Minangkabau perempuan mendapatkan warisan dari harta
pusaka nenek-moyang selain warisan dari harta kedua orang tuanya; 2) di dalam
Islam perempuan dapat berperan di dalam pengambil keputusan dalam keluarga,
sedangkan menurut adat Minangkabau pengambil keputusan dalam keluarga adalah
perempuan; 3) di dalam Islam peran seorang ibu sangat besar dalam mendidik anak-
anaknya, sedangkan menurut adat Minangkabau peran ibu sangat mutlak bahkan
peran ayah dapat dikatakan hampir tidak ada; dan 4) di dalam Islam dimungkinkan
perempuan berperan dalam sosial politik tanpa melupakan perannya di dalam
keluarga, sedangkan di dalam adat Minangkabau Bundo Kanduang yang berperan
sebagai aktor intelektual di dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Kata Kunci: Kedudukan dan peran perempuan, Adat Minangkabau, Perspektif Islam
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 59
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
Pendahuluan
Perempuan di nusantara, terlepas dari stigma masyarakat terhadap keterbatasannya,
selalu memberikan kontribusi terhadap perjuangan untuk mewujudkan kehidupan yang
lebih baik. Perjuangan perempuan di nusantara antara lain telah dilakukan oleh R.A Kartini
yang memperjuangkan kedudukan perempuan sejak abad ke-19. Tokoh perempuan yang
memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia untuk dapat mengenyam pendidikan
tidak hanya R.A Kartini, tapi sejarah mencatat Dewi Sartika juga melakukan perjuangan
yang serupa (Amar, 2017, hal. 106-118). Kontribusi pahlawan perempuan Aceh dalam
melawan kolonial antara lain dilakukan oleh Cut Nyak Dien dan Cut Meutia (Samad, 2016,
hal. 193). Pada sekitar tahun 1912-an, perjuangan perempuan terhadap penjajah dilakukan
oleh beberapa jurnalis perempuan Minangkabau, yaitu: Siti Rohana Kudus binti Maharadja
Soetan, Siti Zubaidah binti Datoek Soetan Maharadja. Selanjutnya, Rasuna Said menjadi
wartawan perempuan Minangkabau yang tulisannya banyak dimuat di surat kabar pada
tahun 1930-an (Samry & Omar, 2012, hal. 25-26).
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) batas usia
minimal perempuan untuk dapat menikah adalah 15 tahun dan batas usia seseorang
dinyatakan dewasa adalah 21 tahun. Secara umum dapat dinyatakan bahwa perempuan di
Indonesia tidak pernah setara dengan laki-laki. Hal ini dapat disimpulkan karena dulu rata-
rata perempuan di nusantara menikah sebelum mencapai usia dewasa (21 tahun).
Penyetaraan kedudukan perempuan dengan laki-laki di dalam hukum nasional baru
dinyatakan melalui Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia (SEMA) Nomor 3
Tahun 1963 Perihal Gagasan menganggap Burgerlijk Wetboek tidak sebagai Undang-
undang. SEMA tersebut menyatakan tidak berlaku lagi Pasal 108 dan Pasal 110 Kitab
Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) yang mengatur bahwa seorang isteri
tidak dapat melakukan perjanjian dan tampil di pengadilan sehubungan dengan hartanya
tanpa bantuan atau izin suaminya. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk
Wetboek) tersebut merupakan warisan kolonial, yang masih diberlakukan agar tidak terjadi
kekosongan hukum, berdasarkan Pasal di dalam Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar
1945. Kedudukan perempuan yang telah kawin untuk hal tertentu yang telah diatur dalam
UU sebagai orang yang tidak cakap untuk membuat persetujuan secara tegas dinyatakan di
dalam Pasal 1330 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek). Tahun
1974, Pemerintah Indonesia menyatakan dengan tegas penyetaraan kedudukan perempuan
Page 60 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
yang telah kawin dengan suaminya melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan. Di dalam Pasal 31 dinyatakan bahwa:
(1) Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami
dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.
(2) Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
(3) Suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga.
Berdasarkan pasal tersebut, perempuan bersuami tidak lagi menjadi subjek hukum
yang kedudukannya lebih rendah baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat
dibandingkan suaminya.
Sampai saat ini peran dan kedudukan perempuan di Indonesia baik di dalam keluarga
dan masyarakat tidak berhenti didiskusikan. Selain penting mengetahui perkembangan
peran dan kedudukan perempuan di Indonesia saat ini, penting sekali untuk mengetahui
bagaimana ajaran agama dan tradisi adat mengatur mengenai hal tersebut. Dalam sejarah
perjalanan manusia, wanita seringkali ditempatkan sebagai makhluk yang lemah dan
terkadang dilemahkan. Hal-hal seperti itulah yang membuat perempuan seringkali perlu
mendobrak stigma yang sudah terbentuk dan masih terus ada. Di dalam Islam, wanita
dibahas di dalam satu surat khusus, yakni Surat An Nisa. Sedangkan di dalam adat yang
ada di Indonesia, posisi perempuan beragam—tergantung adatnya.
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kedudukan dan peran perempuan di
dalam keluarga dan masyarakat. Untuk menghasilkan kajian yang komprehensif maka
tulisan ini memfokuskan pada perspektif Islam dan Adat Minangkabau. Pengkajian
berdasarkan perspektif Islam dipilih karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama
Islam. Sedangkan pengkajian berdasarkan adat Minangkabau dipilih dengan dasar
pemikiran masyarakat adat Minangkabau merupakan masyarakat adat yang menganut
sistem keluarga matrilineal padahal mayoritasnya memeluk agama Islam. Matrilineal
seringkali dipandang bertentangan dengan Islam yang menerapkan garis keturunan
patrilineal. Hamka (1984) menyatakan bahwa sejak Islam masuk ke Minangkabau, maka
masyarakat Adat Minangkabau menyelaraskan kehidupannya dengan ajaran Islam yang
diekspresikan sebagai berikut: “Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah. Syara’
mengata, adat memakai. Mesjid sebuah, balairung seruang”.
Secara detail, tulisan ini mengkaji mengenai kedudukan dan peran perempuan
Minangkabau berdasarkan adatnya dan Islam dalam hal: 1) waris; 2) pengambil keputusan
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 61
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
dalam keluarga; 3) seberapa besar peran seorang Ibu di dalam mengurus anak-anak; dan 4)
bagaimana peran wanita di dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di
masyarakat/sosial.
Metode Penelitian
Tulisan ini menerapkan pendekatan analisis kualitatif. Data didapatkan dari dokumen
berupa Alquran, buku-buku, artikel jurnal, dan peraturan perundang-undangan yang
relevan dengan hal-hal yang dikaji. Berdasarkan data yang didapatkan dilakukan analisis
dengan menerapkan QDA (Qualitative Data Analysis). QDA dilakukan dengan cara:
mengidentifikasi dan mereduksi data mentah terhadap data yang bias; kemudian data yang
relevan dikumpulkan dan dikategorikan berdasarkan hal-hal yang dikaji; kemudian dikaji
berdasarkan teori dan temuan penelitian sebelumnya sampai didapatkan jawaban terhadap
hal-hal yang dikaji; dan langkah terakhir adalah mengidentifikasi kesimpulan (O‟Leary,
2010).
Perempuan dalam Lintas Sejarah Manusia; Sebuah Pengantar
Agama Islam hampir selalu dijadikan kambing hitam sebagai agama yang
menjadikan perempuan sebagai makluk yang menduduki posisi subordinat dan inferior
dibanding laki-laki. Perintah berhijab atau menutup aurat, perintah untuk tidak keluar
rumah kecuali harus minta izin suami atau harus didampingi mahram, bagian hak waris
yang lebih sedikit dari laki-laki, poligami, dan sebagainya, adalah sedikit contoh dari
argumen-argumen yang diajukan kalangan yang menuduh Islam sebagai agama penindas
perempuan. Padahal sejarah menarasikan betapa hampir di seluruh belahan dunia
manapun, perempuan memiliki kisah derita yang sama di semua tempat. Mari kita lihat
fakta sejarah bagaimana dunia memperlakukan wanita.
Dalam Kode Hammurabi, sebuah peraturan hukum yang dibuat oleh penguasa
Mesopotamia yaitu Raja Hammurabi (wafat kurang lebih 1750 SM), ditemukan pemberian
hak-hak istimewa kepada laki-laki, dan sebaliknya, pembatasan-pembatasan kepada
perempuan. Dalam struktur masyarakatnya, perempuan berada dalam the second sex, jenis
kelamin kedua. Dalam kehidupan keluarga, ayah atau suami memegang peran utama dan
kewenangan tak terbatas. Hak laki-laki lebih diutamakan dari pada perempuan. James
Baike dalam The Life of The Ancient East seperti yang dikutip Nasaruddin Umar
menjelaskan bahwa jika perempuan gagal menjadi istri yang baik, melalaikan tugas-
Page 62 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
tugasnya di rumah, dan sebagainya, maka perempuan itu harus dilemparkan ke dalam air
(Umar, 2001 , hal. 97).
Di Tiongkok, kebiasaan mengubur hidup-hidup wanita bersama mayat suaminya
berlaku sejak 580 SM. Ketika Kaisar pertama meninggal dunia pada tahun 210 SM,
istrinya dikubur bersama dengan jasad sang kaisar. Begitu juga dalam tradisi Hindu
dikenal tradisi dawuri, yaitu kepercayaan menyucikan wanita dengan membakar hidup-
hidup dirinya bersama suaminya. Berikutnya Syahnameh, (Hikayat Raja-Raja), adalah
sebuah wiracarita dalam bentuk syair panjang yang digubah oleh penyair Persia bernama
Firdausi antara tahun 977 sampai 1010 Masehi, dan merupakan wiracarita kebangsaan
Iran Raya. Syahnameh terdiri atas sekitar 60.000 bait dan lebih banyak meriwayatkan
mitos serta sejarah masa lampau Kekaisaran Persia mulai dari penciptaan dunia sampai
dengan ditaklukkannya Persia oleh kaum Muslim pada abad ke-7 M. Pandangannya yang
miring terhadap perempuan nampak dalam satu baitnya yang mengatakan, “Lebih baik
membenamkan wanita dan naga ke dalam bumi. Dunia akan menjadi lebih baik andaikata
tersucikan dari keberadaan mereka” (Mutahthahari, 1987, hal. 1986:99).
Sementara peradaban Barat dan Kristen kuno memandang wanita sebagai penyebab
timbulnya bencana. Pendeta John Chrijsostom (349-407 M) berujar, “Karena wanitalah
setan memperoleh kemenangan, dan karena itu pula surga menjadi hilang. Dari segala
binatang buas, perempuanlah yang paling berbahaya”. Begitu juga St. Agustinus (354-
430 M) yang berharap, “Semoga perempuan tidak lagi terlahir ke dunia. Hendaklah dijaga
keras, jangan sampai para pemuda diperdaya oleh keturunan Eva (Hawa)”. Selain itu,
konsep keperawanan, penindasan dan superioritas laki-laki atas perempuan juga sangat
melekat dalam pandangan agama Yahudi dan Nasrani. Sejarah juga membuktikan bahwa
pemakaian cadar merupakan tradisi yang lahir sebelum Islam, sebagai konsekuensi system
perbudakan dan masyarakat patriarchie yang dianut oleh seluruh peradaban manusia masa
lampau.
Nasib perempuan di Timur Tengah kuno, tidak berbeda dengan perempuan lainnya.
Di Mesir kuno, di zaman raja-raja Fir‟aun telah dibangun kuburan-kuburan besar
berbentuk pyramid untuk menyemayamkan raja-raja yang meninggal beserta harta dan
wanita mereka. Demikian juga di masa Arab jahiliyah. Kebiasaan mengubur bayi
perempuan hidup-hidup bahkan terekam dalam kitab Alquran surat An-Nahl (16):58-59,
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak
perempuan, maka merah padamlah mukanya, dan dia sangat marah. Ia
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 63
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang
disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung
kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah hidup-hidup? Ketahuilah
alangkah buruk apa yg mereka tetapkan itu”.
Dari fakta sejarah ini membuktikan bahwa perlakuan dan pandangan negatif yang
diterima perempuan sesungguhnya merupakan sebuah fenomena global masa lampau. Tak
aneh jika kemudian gerakan feminisme yang mewacanakan ide kesetaraan dan
memperjuangkan hak-hak perempuan tidak hanya menjadi fenomena dunia Islam modern,
tetapi juga bahkan lebih vulgar terjadi di dunia Barat.
Perempuan dalam Perspektif Islam
Munculnya gerakan feminisme yang memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-
laki dan perempuan di beberapa negara sesungguhnya adalah bentuk protes terhadap
struktur sosial yang menempatkan perempuan selalu dalam posisi inferior di atas
superioritas laki-laki. Agenda kerja gerakan feminis yang utama adalah menumbuhkan
kesan yang kuat bahwa secara individu, perempuan dan laki-laki adalah sama.
Argumentasi yang mereka bangun didasarkan pada filsafat eksistensialisme yang digagas
Satre yang menyatakan bahwa eksistensi diri manusia bukanlah bawaan dari lahir,
melainkan merupakan pilihan. Karena itu hak setiap individu untuk memilih identitas
dirinya. Oleh karena itu, dikembangkanlah konsep pendidikan androgini, yaitu konsep
pendidikan yang memperkenalkan konsep bebas gender kepada anak laki-laki dan
perempuan. Konsep ini berasumsi bahwa laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang
sama untuk menjadi maskulin ataukah feminim, oleh karena itu harus diperlakukan sama.
Meski begitu, di antara gerakan feminism ini ada yang masih mempertimbangkan peran
gender antara laki-laki dan perempuan yang bagaimanapun, berbeda, dan karena itu
pembagian bidang tugasnya menjadi berbeda. Namun gerakan feminism lainnya
menunjukkan gejala yang sungguh vulgar dan radikal.
Dalam pandangan feminism liberal, perempuan pada dasarnya memiliki persamaan
dengan laki-laki dalam hal hak dan potensi rasionalitasnya. Namun karena wanita selalu
ditempatkan dalam posisi inferior terutama di wilayah domestic, maka yang lebih dominan
berkembang adalah aspek emosionalnya. Oleh karena itu, mereka berpandangan perlu
diberikan payung hukum yang kuat agar kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki ini
lebih bisa terjamin. Di Indonesia, kaum feminis modern mengkritik UU Perkawinan
Indonesia No. I tahun 1974 yang bernuansa timpang karena lebih memberikan keleluasaan
kepada pihak suami jauh kebih besar dibanding kepada perempuan sebagai istri.
Page 64 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
Sedangkan dalam pandangan feminism radikal, keluarga dipandang sebagai suatu
institusi yang menindas. Kaum feminis Marxis misalnya, mengutuk keluarga sebagai
sebuah unit ekonomi, bukan sebagai unit emosional. Wanita menjadi buruh yang tidak
dibayar dan sumber ideologis borjuis dalam keluarga. Sungguhpun wanita bisa melakukan
pekerjaan upahan di luar rumah, kewajiban mereka untuk tetap bekerja di dalam rumah
tetap melekat agar memberikan manfaat pada aktivitas laki-laki. Oleh karena itu, untuk
membuat perempuan lebih produktif, mereka mengajak kaum perempuan untuk memasuki
sektor publik. Dengan memiliki materi, posisi tawar perempuan akan sama kuat dengan
laki-laki (Ollenberger, 1996: 40).
Lalu bagaimana Islam menempatkan perempuan? Secara umum, terdapat dua
kelompok utama dalam memberikan tafsir terhadap doktrin Islam tentang perempuan.
Pertama, kelompok yang berpandangan bahwa Islam memang membedakan antara laki-
laki dan perempuan, baik secara biologis maupun secara gender. Perbedaan-perbedaan ini
sudah pasti akan berimbas pada perbedaan peran dan fungsi perempuan dan laki-laki.
Biasanya kelompok ini kemudian akan menjadikan beberapa doktrin dalam Islam sebagai
argumentasi theologis bagi mereka untuk memberikan legitimasi dominasi laki-laki yang
harus dipatuhi perempuan. Seperti pembatasan gerak perempuan di ruang publik, masalah
keharaman kepemimpinan perempuan, penerapan hukum keluarga yang membatasi peran
perempuan, dan sebaliknya memberi keluasan wewenang kepada laki-laki, dan sebagainya.
Kelompok kedua adalah mereka yang berpandangan bahwa secara substantif, Islam
tidak membedakan kedudukan perempuan dengan laki-laki. Islam menempatkan
perempuan dalam posisi yang terhormat. Kelompok ini mengajak untuk memahami ayat-
ayat waris, poligami, kepemimpinan, dan sebagainya - yang sering dijadikan argumentasi
bagi pembatasan peran perempuan - sesuai dengan kontekstualitas social dan struktur
budaya masyarakat pada masa turunnya ayat-ayat tersebut. Penafsiran kontekstual terhadap
ayat-ayat Alquran akan membangun karakter pemikiran Islam yang progresif berkaitan
dengan relasi kesetaraan perempuan dan laki-laki. Beberapa intelektual Muslim yang
bergerak dalam usaha pemberdayaan perempuan antara lain Aminah Wadud Muhsin,
Fatimah Mernissi, Nawal el-Saadawi, dan sebagainya.
Nawal el-Saadawi, aktivis perempuan asal Mesir, banyak menyuarakan ide-idenya
tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki antara lain melalui karya tulis baik fiksi
maupun non-fiksi. Perempuan di Titik Nol, Catatan Harian dari Penjara, Memoar Seorang
Dokter Perempuan, dan sebagainya, adalah sedikit contoh dari novelnya yang mendapat
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 65
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
sambutan hangat dan menjadi inspirasi bagi pegiat perempuan di Indonesia. Penelitiannya
tentang bagaimana agama-agama besar memperlakukan perempuan ia lakukan dengan
membandingkan tema-tema perempuan yang dibahas dalam kitab suci mereka, seperti Al-
Qur‟an, Injil, Perjanjian Lama, dan Bhagavad Gita. Hasilnya ia menyimpulkan bahwa
Islam lah agama yang paling baik memperlakukan perempuan. Konsep keperawanan,
penindasan dan superioritas laki-laki atas perempuan begitu melekat dalam agama Yahudi
dan Nasrani. Memang tema-tema ini juga muncul dalam Islam, tapi lebih minimal. Nabi
Muhammad SAW sangat progresif dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan
mendudukannya dalam posisi terhormat, bahkan lebih mulia dari pada laki-laki. (Islamika,
1993).
Mari kita lihat betapa revolusioner Alquran serta Nabi Muhammad SAW dalam
memuliakan perempuan. Dalam Alquran surat An-Nahl 97 dijelaskan:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan
sedangkan ia beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang lebih baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan atas apa yang telah
mereka kerjakan”. Demikian juga dengan surat At-Taubah 31, “Dan orang-orang
yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi
sebagian yang lain. Mereka menganjurkan yang ma’ruf, mencegah kemungkaran,
mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana”.
Ayat-ayat ini, dan banyak ayat lain yang serupa menegaskan betapa Allah SWT
memberikan porsi yang sama antara perempuan dan laki-laki, baik dalam potensi maupun
dalam berkompetisi menjadi insan terbaik. Bagi mereka akan diberikan reward yang sama
tanpa membedakan jenis kelamin mereka. Apalagi Alquran juga menjelaskan bahwa
keduanya diciptakan juga dari jiwa yang satu (min nafsiwwahidah QS An-Nisa 1). Dalam
Islam, relasi antara perempuan dan laki-laki adalah partnership, “sebagian kamu adalah
bagian dari sebagian yang lain”. (QS Ali Imran 195). Atau “sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain”.
Dalam konteks masyarakat Arab saat ayat tentang waris, poligami dan sebagainya
turun, apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW merupakan sesuatu yang revolusioner.
Ayat tentang waris, yang memberi bagian perempuan separoh dari bagian laki-laki (An-
Nisa 7-11) merupakan pengakuan terhadap hak-hak perempuan ketika perempuan saat itu
mengalami proses domestikasi luar biasa. Jangankan mendapatkan bagian waris, justru
perempuan menjadi barang yang bisa diwariskan ke anaknya ketika sang suami meninggal
Page 66 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
(An-Nisa 19). Begitu juga ayat tentang poligami (An-Nisa 3) yang membatasi pernikahan
hanya maksimal kepada empat perempuan saja dengan syarat mampu berbuat adil, adalah
ketika dalam masyarakat terdapat tradisi harem, yang membolehkan laki-laki menikahi
perempuan sebanyak yang ia mau. Bentuk lain dari memuliakan perempuan adalah
penegasan Nabi Muhammad SAW perihal penghormatan anak kepada ibu tiga kali lipat
dibandingkan kepada ayahnya, statemen bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu, ibu
adalah sekolah bagi anak-anaknya, (Al-Hadits), dan sebagainya.
Maka sejarah membeberkan fakta bahwa perempuan di masa awal Islam sungguh
berada dalam posisi yang mulia dan dimuliakan. Perempuan bisa berkiprah di ranah publik
tanpa melupakan kewajiban domestiknya. Khadijah binti Khuwailid (w.619 M/3 tahun
sebelum hijrah) adalah istri Rasululllah, wanita pertama yang masuk Islam. Ia dikenal
sebagai konglomerat Mekkah yang hartanya ia gunakan untuk menyokong dakwah Islam.
Istri Rasulullah yang lain, „Aisyah (613-678 M), dikenal sebagai guru para sahabat, orator
ulung, politikus, dan kritikus yang handal. Berikutnya ada As-Syifa (w. 640 M), guru
wanita pertama dalam Islam. Saat kekhalifahan Umar bin Khattab, ia ditugasi menjadi
kepala administrasi pasar Madinah. Juga ada Rufaidah, pendiri rumah sakit dan palang
merah pertama dalam Islam yang menampung pasukan yang terluka dalam peperangan.
Ahli hadits, Imam Bukhori merekam aktivitas perempuan-perempuan Islam ini dalam bab-
bab haditsnya seperti: Bab Keterlibatan perempuan dalam Jihad, Bab Peperangan
Perempuan di Lautan, Bab Keterlibatan Perempuan Merawat Korban, dan sebagainya
(Syihab, 1993, hal. 10).
Kiprah perempuan Islam terus berlanjut hingga masa kedaulatan Islam di beberapa
wilayah. Zubaidah (w.216 H/831 M) adalah istri Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti
Abbasiyah yang mempelopori pembangunan saluran air dari Sungai Tigris di Baghdad
hingga ke Arafah di Mekkah dengan biaya 1,5 juta dinar. Kini mata air ini dikenal dengan
nama “Ain Zubaidah” (mata air Zubaidah). Bazmi „Alim, istri Sultan Muhammad II Al-
Fatih, penakluk Konstantinopel pada 29 Mei 1453 M, adalah seorang sosiawan yang
terkenal, dan banyak membangun masjid dan sekolah. Begitu juga dengan Nur Jihan
Begum, permaisuri Sultan Jahangir (1605-1628 M) dari Kerajaan Mughol, adalah seorang
admininstratur yang cakap, seorang pujangga dan perempuan pemberani. Bukti cinta sang
sultan kepadanya, diwujudkan dalam bentuk bangunan Taj Mahal yang masih berdiri
kokoh di India. Qara Fatimah Khanum juga adalah profil perempuan Islam yang
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 67
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
pemberani. Ia menjadi pemimpin resimen tentara Kurdistan dalam peperangan Krimea
antara Turki melawan Rusia pada tahun 1854 M.
Masih banyak lagi perempuan Islam yang mampu membuktikan diri sebagai manusia
yang memiliki potensi tak kalah dengan laki-laki. Sejarah Islam Nusantara juga
menjelaskan betapa perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam
hal berpolitik. Tercatat ada empat sultanah (ratu) yang sempat memerintah Kerajaan Aceh
Darussalam. Mereka adalah Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam yang bergelar Paduka Sri
Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-‟Alam Shah Johan Berdaulat Zillu‟llahi fi‟l-‟Alam binti
al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Shah (1641-1675 M ), Sri Ratu Naqi
al-Din Nur al-Alam yang bergelar Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1675-1678
M), Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah yang bergelar Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah
(1678-1688 M)dan Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din yang bergelar Sultanah Zinatuddin
Kamalat Syah (1688-1699 M).
Begitu mulia dan terhormatnya kedudukan perempuan dalam Islam, seorang ulama
kontemporer dari Al-Azhar Mesir, Muhammad al-Ghazali menuturkan seperti yang dikutip
Quraish Syihab menuturkan:
“Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita
akan menemukan perempua menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan
sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di lima benua. Keadaan
mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan
Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak
dijadikan sebagai bahan perbandingan”. (Syihab, 1993, hal. 3).
Dalam pandangan ahli tafsir Indonesia, Quriash Syihab, munculnya pandangan
miring yang seakan-akan membatasi peran perempuan serta mengaburkan keistimewaan
dan memerosotkan kedudukan perempuan antara lain disebabkan karena kedangkalan
pengetahuan keagamaan dan kesalahan penafsiran teks atau nash keagamaan, sehingga
sering kali agama dijadikan alat untuk membenarkan pandangan yang salah ini (Syihab,
1993, hal. 4). Keterikatan yang sangat kuat dengan adat dan tradisi juga ikut menyumbang
lahirnya distorsi pemahaman terhadap peran dan kedudukan perempuan dalam masyarakat.
Jadi, agama Islam yang semula lahir dengan membawa missi liberasi, membebaskan
perempuan dari keterkungkungan dan ketertindasan dan mendudukannya pada posisi
terhormat, lambat laun berubah justru menjadi alat justifikasi bagi terulangnya
pemasungan hak-hak perempuan akibat dari keterbatasan pengetahuan agama dan
misinterpretasi terhadap teks-teks kitab sucinya.
Page 68 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
Maka, yang terjadi adalah apa yang kemudian kita bisa lihat dalam kehidupan
masyarakat tradisional. Perempuan hanya diperbolehkan berkiprah dalam wilayah privat,
khususnya 3 r, yaitu sumur, dapur dan kasur, dan sangat dibatasi berkiprah dalam ranah
publik. Perempuan adalah konco wingking (teman belakang) bagi laki-laki. Tidak ada hak
mendapat pendidikan yang layak bagi perempuan, tidak ada hak menyatakan pendapat, apa
lagi memiliki cita-cita menjadi seseorang yang ia kehendaki. Dalam keluarga suami adalah
penentu, sementara perempuan hanya sebagai pelengkap saja, sehingga muncul ungkapan
suarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka terbawa). Public life adalah dunianya
laki-laki, sementara perempuan hanya memiliki privat life.
Kebangkitan Tanpa Protes; Studi Kasus ‘Aisyiyah
Dalam sejarah nasional Indonesia modern, kebangkitan perempuan ditandai dengan
lahirnya beberapa organisasi perempuan. „Aisyiyah yang berdiri di Yogyakarta pada 27
Rajab 1335 H/19 Mei 1917 oleh Nyai Walidah dan suaminya, Kyai Ahmad Dahlan adalah
organisasi perempuan Indonesia tertua yang lahir karena keprihatinan terhadap kondisi
perempuan saat itu. Nama „Aisyiyah sendiri terinspirasi dari nama istri Rasulullah SAW,
yaitu „Aisyah. Nama ini diambil bukan karena „Aisyah adalah istri Nabi, tetapi juga untuk
menunjukkan cita-cita Muhammadiyah tentang perempuan. „Aisyah, seperti yang sudah
ditulis di atas, adalah wanita yang aktif. Selain sebagai istri nabi, sebagai penutur hadits
dan menjadi guru para sahabat dalam menimba ilmu, „Aisyiyah juga bekerja menenun bulu
domba dalam rangka membantu perekonomian keluarga. Maka bagi Muhammadiyah,
perempuan adalah yang berilmu dan beramal, perempuan yang aktif.
Selain itu, kelahiran „Aisyiyah juga didasari oleh sebuah kesadaran bahwa tugas
kekhalifahan tidak cukup dijalankan hanya oleh kaum laki-laki. Dakwah social
kemasyarakatan juga harus dilakukan oleh perempuan. Tak heran jika kemudian dalam
perkembangannya, organisasi perempuan Muhammadiyah ini mampu menunjukkan
kirahnya di tengah masyarakat Indonesia secara luas. Pada tanggal 22 Desember 1926,
„Aisyiyah mempelopori diselenggarakannya Kongres Wanita Indonesia pertama. Lalu di
usianya yang kini memasuki abad kedua, „Aisyiyah telah memiliki 34 Pimpinan Wilayah
“Aisyiyah (setingkat propinsi), 370 Pimpinan Daerah „Aisyiyah (setingkat kabupaten),
2332 Pimpinan Cabang „Aisyiyah (setingkat kecamatan) dan 6924 Pimpinan Ranting
„Aisyiyah (setingkat Kelurahan). Begitu juga amal usaha di berbagai bidang, baik
pendidikan, kesehatan, social, hukum dan HAM, dan sebagainya. Di bidang pendidikan,
„Aisyiyah memiliki 23.772 Amal Usaha Pendidikan Dasar dan Menengah „Aisyiyah,
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 69
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
terdiri dari 1.385 Kelompok Bermain, 1.607 Satuan PAUD sejenis, 5.717 TK, 8.816
PAUD, 72 Tempat Pengasuhan Anak (TPA) , 1.579 Taman Pedidikan Al Qur‟an, 18 SD, 5
MI, 4 SMP, 8 Mts, 5 SMK, 3 SMU, 5 MA, 229 Madrasah Diniyah Awaliyah Putri, 3
pesantren, 18 Sekolah Luar Biasa, Pendidikan non formal sejumlah 4.280, 18 Sekolah
Berkebutuhan Khusus dan Kelompok Pendidikan Keaksaraan Fungsional sejumlah 3.904.
Selain itu, „Aisyiyah juga mengelola 13 sekolah tinggi dan universitas di seluruh
Indonesia. Untuk sekolah tinggi dan akademi dalam bidang kesehatan berjumlah 8 buah.
Bahkan „Aisyiyah tercatat sebagai satu-satunya organisasi perempuan yang memiliki
universitas, yaitu Universitas „Aisyiyah yang diresmikan pendiriannya di Yogyakarta pada
tanggal 10 Maret 2016 melalui Surat Keputusan (SK) Kemenristek Dikti nomor
109/KPT/I/2016. Sebelum menjadi universitas, ia adalah sekolah bidan, lalu berubah
menjadi Akper, STIKES „Aisyiyah, dan kemudian universitas.
Di bidang kesehatan dan sosial, „Aisyiyah mengelola RS Umum „Aisyiyah sejumlah
15 buah, Rumah Bersalin sejumlah 64 buah, Rumah Sakit Ibu dan Anak sejumlah 7 buah,
Balai Pengobatan sejumlah 27 buah, Balai Kesehatan Ibu dan Anak sejumlah 44 buah,
Apotik sejumlah 18 buah, Posyandu Lansia sejumlah 52 buah, dan Lembaga Kesejahteraan
Sosial Anak (Panti Asuhan) 185 buah. Di bidang ekonomi, „Aisyiyah mengelola Koperasi
sebanyak 568 buah, juga ada program BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga
„Aisyiyah). Dalam pembinaan keluarga, „Aisyiyah memiliki program Keluarga Sakinah
dan Qoryah Thoyibah, sebagai model dan wujud cita-cita keluarga ideal. Selain itu,
„Aisyiyah juga sangat concern dengan isu-isu perlindungan anak dan perempuan. Untuk
itu, organisasi ini memiliki pusat bantuan hukum (pusbakum) yang bertugas melakukan
advokasi bagi permasalahan anak dan perempuan. Satu terobosan terbesar Muhammadiyah
dan „Aisyiyah di bidang ini adalah dengan diluncurkannya buku pedoman Fikih
Perlindungan Anak yang dihasilkan dalam Munas Tarjih Muhammadiyah di Makasar
bulan Januari 2018 yang lalu.
Apa yang dilakukan oleh „Aisyiyah ini adalah salah satu bentuk kebangkitan
perempuan, kebangkitan tanpa harus protes, lebih tepatnya reborn, mengembalikan lagi
perempuan ke posisinya yang sejati, dari kondisi yang selama ini telah menghempaskannya
ke jurang nestapa akibat hegemoni tradisi dan ideologi yang keliru. Dalam amatan
sejarawan Kuntowijoyo, apa yang dilakukan „Aisyiyah ini sekaligus menjadi penegasan
kedudukan perempuan di tengah dunia laki-laki, penegasan ruang gerak dan hak-hak
perempuan, penegasan perempuan sebagai pembina dan tiang keluarga, juga penegasan
Page 70 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
peran perempuan dalam pembangunan (Kuntowijoyo, 1993, hal. 131). Perempuan kini tak
lagi sekedar konco wongking, the other atau non-being, tetapi bisa menjadi dirinya sendiri.
Berdasarkan diskusi di atas, dapat dinyatakan bahwa kedudukan dan peran
perempuan berdasarkan perspektif Islam adalah sebagaimana dituliskan di dalam tabel 1
berikut ini:
Tabel 1. Kedudukan dan Peran Perempuan berdasarkan Perspektif Islam
Perspektif Dalam hal waris Pengambil Besarnya peran Peran dalam
Islam keputusan dalam sebagai Ibu untuk menyelesaikan
mendapatkan separuh
dari bagian anak laki- keluarga anak-anaknya persoalan di
laki (QS An-Nisa 7- dalam
11) dapat berperan Berperan sangat
besar. Ibu adalah masyarakat
sekolah bagi anak-
anaknya. dapat berperan
dalam sosial politik
tanpa melupakan
perannya di dalam
keluarga.
Hegemoni Perempuan dalam Sistem Matrilineal Minangkabau
Di dalam literatur hukum Adat dinyatakan bahwa hubungan anak dengan orang
tuanya dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu matrilineal, patrilineal, dan parental. Secara
eksplisit dinyatakan bahwa masyarakat matrilineal menempatkan perempuan di posisi yang
lebih kuat dibandingkan laki-laki. Kedekatan hubungan anak lebih dekat dengan keluarga
ibu. Sedangkan masyarakat patrilineal menerapkan hubungan yang sebaliknya. Anak-anak
memiliki hubungan yang lebih dekat dengan ayah dan saudara-saudara ayahnya. Posisi
laki-laki lebih kuat dibandingkan posisi perempuan. Sedangkan masyarakat parental
memposisikan anak memiliki kedekatan yang sama dengan ibu dan bapaknya. Juga
memiliki kedekatan yang sama dengan keluarga ayah-ibunya. Posisi laki-laki dan
perempuan sama derajatnya (Samosir, 2013).
Sehubungan dengan penjelasan mengenai matrilineal yang dikemukakan oleh
Samosir tersebut di atas, Debevec (n.d) menyatakan makna yang berbeda terhadap
matrilineal. Konstruksi masyarakat adat yang memberikan kedudukan dan peran yang kuat
pada perempuan disebut matriakhat. Sedangkan masyarakat matrilineal merupakan
masyarakat yang memberikan hak dan akses atas hak milik pada perempuan. Namun,
masyarakat yang matrilineal belum tentu menerapkan matriarkhi.
Samosir (2013) menyatakan bahwa masyarakat adat Minangkabau menerapkan
hubungan kekerabatan matrilineal. Namun tidak terdapat penjelasan apakah adat
Minangkabau juga menerapkan matriakhat.
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 71
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
Terdapat 3 terminologi yang digunakan ketika mengkaji mengenai perempuan
berdasarkan adat Minangkabau, yakni: perempuan; bundo kanduang; dan padusi. Di dalam
adat Minangkabau, terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan mengenai perempuan,
yaitu:
1. Istilah perempuan bukan merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk kepada
perempuan yang memiliki karakter yang ideal (Yanti, 2005, hal. 110 dan Idris,
2012, hal. 110);
2. Perempuan Minangkabau seharusnya memiliki karakteristik sebagai Bundo
Kanduang. Istilah ini merupakan terminologi yang digunakan untuk merujuk
perempuan yang ideal. Bundo Kanduang adalah sosok perempuan Minangkabau
yang religius, cerdas secara intelektualitas; menerapkan nilai-nilai kebaikan yang
konstruktif-komprehensif dalam bertindak dan berkata-kata—sehingga tidak hanya
menjadi panutan di dalam keluarga namun juga di masyarakat. (Zulkarnaini dalam
Yusrita Yanti: 2005)
3. Terdapat istilah padusi yang memiliki arti “padu dan isi artinya berkepribadian yang
kuat dengan unsur kepemimpinan, dan mulia” (Hakymi dalam Idris, 2012: 111).
Berdasarkan karakteristik tersebut, maka seharusnya perempuan Minangkabau dapat
menjadi Bundo Kanduang dan padusi. Erianjoni (2011, hal. 225) menyatakan bahwa
terdapat kecenderungan perempuan Minangkabau yang melupakan identitasnya sehingga
bisa jadi semakin sedikit perempuan Minangkabau yang termasuk kategori Bundo
Kanduang dan padusi.
Ibu dalam Adat Minangkabau diposisikan sebagai tokoh sentral dalam keluarga.
Selain karena anak-anak mengikuti garis keturunan Ibu (anak mengikuti suku ibunya
bukan suku ayahnya), perempuanlah yang mendapatkan harta pusaka tinggi dari garis
keluarga ibu. Harta tersebut dapat berupa sawah, ladang dan/atau perhiasan. Tradisi
tersebut dapat terpelihara meskipun masyarakat adat Minangkabau sebagian besar
penganut Islam karena harta pusaka tinggi dianggap berbeda dengan pusaka rendah.
Pusaka tinggi merupakan warisan nenek-moyang yang bukan termasuk di dalam harta hasil
pencarian orang tua yang di dalam Islam merupakan harta warisan untuk anak-anaknya. Di
dalam adat Minangkabau, harta hasil pencarian orang tua tersebut digolongkan sebagai
Pusaka rendah. Pusaka rendah inilah yang diwariskan baik ke anak laki-laki dan
perempuan yang dapat diterapkan penghitungan pembagian berdasarkan hukum Islam
(Hamka, 1984; (Amar, 2017; Irawaty & Diyantari, 2017, hal. 22). Sehubungan dengan
tradisi Minangkabau yang mengatur harta pusaka tinggi jatuh ke perempuan secara turun-
Page 72 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
temurun seringkali ditemui persepsi perempuan Minangkabau merupakan perempuan yang
memiliki karakteristik mendominasi. Hamka menyatakan mengenai kedudukan dan peran
perempuan sebagai berikut:
Yang menjadi puncak di dalam rumah ialah nenek yang perempuan. Harta-benda
dicari dan diusahakan ialah untuk mempergemuk harta kepunyaan suku. Orang laki-
laki takluk kepada hukum ibu. Meskipun dia berusaha, bersawah, berladang,
meneruka, gunanya bukanlah buat anaknya dia hanya menjadi orang semanda. Pada
adat yang asal, suami tidak wajib memberi nafkah kepada istrinya. Dan sampai
sekarang, di tempat yang kuat memegang adat, amat malu isteri yang meminta belanja
kepada suami, memberi malu kepada mamak dan perkaumannya, yang memberi
belanja anak itu telah ada, bukan ayahnya, tetapi mamaknya pula (Hamka, 1984, hal.
23).
Berbeda dengan perempuan yang kedudukannya sangat kuat di dalam keluarga, seorang
suami memiliki peran yang besar di keluarga ibunya. Perannya sangat besar dalam
kehidupan keponakan-keponakannya karena yang memberi nafkah anak-anaknya adalah
istri dan saudara laki-laki istrinya (mamak). Bahkan bagi perempuan Minangkabau yang
masih memegang adat yang asli bukan merupakan hal yang fitrah untuk meminta nafkah
materi dari suaminya.
Peran ibu kepada anaknya juga sangat besar ketika mengawinkan anak-anaknya.
Ibu lebih banyak melibatkan mamak dalam proses perkawinan anak-anaknya. Terkadang
suami hanya diberitahu saja tanpa diperbolehkan memberi suara tidak setuju. Peran laki-
laki di dalam keluarganya dapat dikatakan tidak ada. Perannya hanya di luar rumah untuk
menjaga hubungan eksternal di masyarakat. Namun, tugas utamanya adalah mendidik
keponakan-keponakannya dan saudaranya yang perempuan. Sebagaimana dinyatakan di
dalam pepatah “Anak dipangku, kemenakan dibimbing” (Hamka, 1984, hal. 24).
Mengenai peran dan kedudukan perempuan di luar rumah atau di dalam pergaulan
masyarakat, Pandiangan menyatakan bahwa masyarakat Minangkabau merupakan
masyarakat yang mengapresiasi perempuan peran sebagai elemen masyarakat yang
memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Perempuan dapat diberikan peran dan
bersuara di dalam pengambilan keputusan (Pandiangan, 2017, hal. 150). Lebih lanjut Idris
(2012, hal. 110) menyatakan perempuan yang memiliki peranan yang sangat besar di
dalam hukum adat Minangkabau adalah perempuan yang disebut Bundo Kanduang
(penjelasan mengenai makna istilah Bundo Kanduang sudah dikemukakan dalam paragraf
sebelum ini). Berbeda dengan Pandiangan yang berpendapat perempuan memiliki
kedudukan yang sama dengan laki-laki, Idris menyatakan bahwa memiliki kedudukan yang
lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Bahkan penghulu (saudara laki-laki yang dipilih
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 73
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
menjadi pemimpin nagari) ketika duduk di dalam rumah gadang, posisi duduknya lebih
rendah daripada posisi duduk saudara-saudara perempuan dan Bundo Kanduang. Laki-laki
adalah eksekutor sedangkan Bundo Kanduang merupakan key person yang memiliki
peranan sebagai aktor intelektual. Ketika terdapat sesuatu hal yang harus
dimusyawarahkan di balai desa maka penghulu harus bertanya kepada Bundo Kanduang
mengenai pendapatnya tentang masalah tersebut. Setelah musyawarah selesai maka
penghulu harus melaporkannya kepada Bundo Kanduang di rumah gadang. Sedangkan
Zakia (2011, hal. 41) menyatakan bahwa adat Minangkabau memberikan kedudukan dan
peran yang berbeda. Namun, keduanya memiliki arti penting dan tidak dapat dihilangkan
salah satunya. Konstruksi gender perempuan di dalam adat Minangkabau menempatkan
perempuan tidak hanya berperan di dalam urusan domestik saja namun juga di luar rumah.
Bahkan perempuan harus juga mencari nafkah. Ternyata, adat Minangkabau bukan hanya
memberikan akses harta benda (properti) dan penghitungan garis keturunan melalui garis
perempuan (matrilineal), tetapi juga memberikan kedudukan dan posisi yang kuat dan
lebih tinggi kepada perempuan (matriakhat).
Berdasarkan uraian di atas, dapat dinyatakan bahwa kedudukan dan peran
perempuan berdasarkan perspektif Adat Minangkabau adalah sebagaimana dituliskan di
dalam tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Kedudukan dan Peran Perempuan berdasarkan Adat Minangkabau
Perspektif Dalam hal waris Pengambil Besarnya peran Peran dalam
keputusan dalam sebagai Ibu untuk menyelesaikan
keluarga anak-anaknya persoalan di
dalam masyarakat
Adat - mendapatkan sangat berperan Peran ibu sangat Bundo Kanduang
Minangkabau sebagai pemegang
harta pusaka besar karena suara kunci dalam
pengambilan
tinggi dan harta menganut sistem keputusan.
pusaka rendah; matrilineal.
- mewariskan suku
kepada anak-
anaknya;
Kesimpulan
Perempuan Minangkabau yang mayoritas beragama Islam sebaiknya dapat secara
bijaksana menempatkan dirinya kapan harus berpikir dan bertindak berdasarkan Islam dan
kapan harus bertindak dan berpikir berdasarkan adatnya. Di dalam perspektif Islam,
perempuan memiliki hak dalam mewaris yang besarnya setengah dari besar warisan laki-
laki; perempuan dapat berperan di dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga;
Page 74 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol.3, No.1, Januari 2019
DOI:https://doi.org/10.21009/hayula.003.1.04
memiliki peran yang besar dalam mendidik anak-anaknya; dan memiliki hak untuk
berperan serta di dalam masyarakat selama tidak mengorbankan kepentingan keluarga.
Sedangkan berdasarkan adat Minangkabau yang menerapkan matrilineal sekaligus
matriakhat, perempuan memiliki kedudukan dan peran yang sangat kuat, bahkan dalam
mewaris yang memberikan hak waris pusaka tinggi kepada perempuan dan juga hak waris
atas pusaka rendah; pengambilan keputusan dalam keluarga; peran dalam mendidik anak-
anak; dan peran di dalam memutuskan persoalan di masyarakat.
Daftar Pustaka
‘Abd al-Mu’thi, F. F. (2010.). Nisa fi al-Hayat al-Anbiya (terj). Jakarta: Zaman.
Abdullah, T. (1993). Kilasan Sejarah Pergerakan Wanita Islam di Indonesia, dalam
Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual. Jakarta: INIS.
Amar, S. (2017). Perjuangan Gender dalam Kajian Sejarah Wanita Indonesia Pada Abad
XIX. Fajar Historia, 105-119.
Anwar, C. (1997). Hukum Adat Indonesia Meninjau Hukum Adat Minangkabau . Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Debevec, L. (2015.). Setting the Record Straight: Matrilineal Does Not Equal
Matriarchal. Retrieved from , https://wle.cgiar.org/thrive/2015/10/15/setting-
record-straight-matrilineal-does-not-equal-matriarchal
(1995). The Encyclopedia of Religion. In M. Eliade. New York: Simon dan Schuster.
Erianjoni. (n.d.). Pergeseran Citra Wanita Minangkabau: dari Konsepsi Ideal-Tradisional
ke Realitas .
Hamka. (1984). Islam dan adat Minangkabau. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Idris, N. (2012). Kedudukan Perempuan dan Aktualisasi Politik dalam Masyarakat
Matrilinial Minangkabau. http://journal.unair.ac.id/downloadfull/MKP4480-
0b9a73df4efullabstract.pdf.
Indomo, H. D. (1984). Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta: PT. Pustaka Panjimas.
Indonesia, P. R. (n.d.). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Indonesia, P. R. (n.d.). Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 1963 Perihal
Gagasan menganggap Burgerlijk Wetboek tidak sebagai Undang-undang .
Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860 Page 75
Irawaty & Zakiya Kedudukan dan Peran Perempuan...
Indonesia, P. R. (n.d.). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Irawaty, & Diyantari. (2017, July 31). Inheritance Laws in Indonesia. Hayula: Indonesian
Journal of Multidisciplinary Islamic Studies,
https://doi.org/https://doi.org/10.21009/hayula.001.2.05, 1(2), 225.
Kuntowijoyo. (1993). Arah Pengembangan Organisasi Wanita Islam Indonesia, dalam
Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual. Jakarta: INIS.
Mutahthahari, M. (1987). Nizam Huquq al-Mar’ah fi al-Islam. Teheran: Sachar.
O’Leary, Z. (2010). The Essential Guide to Doing Your Research Project. London: Sage.
Pandiangan, L. V. (2017). Perempuan Politisi Minangkabau Dalam Dunia Politik: Studi
Tentang Alasan Perempuan Memaknai Politik.
http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jpm700e6419dffull.pdf.
Pribadi, A. d. (2002). Post Islam Liberal. Jakarta: Gugus Press.
Samad, S. A. (2016). Peran Perempuan Dalam Perkembangan Pendidikan Islam di Aceh
(Kajian Terhadap Kontribusi Wanita dalam Tinjauan Sejarah. Jurnal Al-Maiyyah,
9(2).
Samosir, D. (2013). Hukum Adat Indonesia: Eksistensi dalam Dinamika Perkembangan
Hukum di Indonesia. Bandung: CV. Nuansa Aulia.
Samry, W., & Omar, R. (2012, December). Gagasan dan Aktiviti Wartawan Wanita
Minangkabau pada Masa Kolonial Belanda,. Jebat: malaysian Journal of History,
Politics and Strategy,, 39, 29.
Syihab, M. Q. (1993). Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Umar, N. (2001 ). Argumen Keseteraan Jender; Perspektif Al-Qur’an. Jakarta:
Paramadina.
Yanti, Y. (2005). Peran dan Kedudukan Perempuan dalam Kebudayaan Minangkabau.
Retrieved from , https://bunghatta.ac.id/artikel-107-peran-dan-kedudukan-
perempuan-dalam-kebudayaan-minangkabau.html.
Zakia, R. (2011). Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Adat Minangkabau. Jurnal
Ilmiah Kajian Gender, http://kafaah.org/index.php/kafaah/article/view/39/23, 1(1).
Page 76 Hayula, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
PENERAPAN HUKUM ADAT MINANG KABAU DALAM PEMBAGIAN
WARISAN ATAS TANAH (Studi di : Suku Chaniago di Jorong Ketinggian
Kenagarian Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh
Kota, Ibu Kota Sarilamak)
Ulfa Chaerani Nuriz*,Sukirno, Sri Wahyu Ananingsih
Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
E-mail : [email protected]
Abstrak
Hukum Waris menurut hukum adat Minangkabau dalam suku Chaniago di Nagari Guguak VIII
Koto di Minangkabau sejak dahulu sampai sekarang berlaku sistem matrilineal. Menurut hukum
adat Minangkabau, seseorang atau satu kaum mendapat warisan dari neneknya atau dari
mamaknya, yang merupakan harta pusaka tinggi, menurut hukum adat hanya sekedar menguasai
atau memakai harta pusaka, akan tetapi tidak dibolehkan menjual atau menghibahkan harta kepada
siapapun. Akan tetapi seiring dengan berjaannya waktu, penggunaan harta puasaka tinggi ini
mengalami pergeseran, karena beberapa faktor seperti, pendidikan, perantauan, ekonomi dan
lainnya. Sehingga harta pusaka tinggi dapat dijual akan tetapi harus atas persetujuan mamak
kepala kaum dan seluruh kaum.
Kata kunci : Pergeseran, Harta Pusaka Tinggi, hukum adat Minangkabau
Abstract
Matrilineal system has been existed since long time ago in Chaniago tribe in Nagari Guguak VIII
Koto hereditary law according to Minangkabau customary law. According to Minangkabau
customary law, someone or group will get inheritance from their grandmother or their uncle from
mother that called the high legacy and they are not allowed to sell or just give it to anyone, they
are just allowed using and controlling this high legacy. However, as time goes by, the use of the
high legacy is changed because of several factors such as, education, overseas, economic and
others. So, that the high legacy can be sold but must be approved by the head of mamak of the clan
and the whole clan.
Keywords : Changed, High Legacy, Minangkabau Customary Law
I. PENDAHULUAN barat Jambi, bahagian selatan
Di Sumatera Barat Sumatera Utara, barat daya
Aceh, dan juga Negeri
dikenal suatu suku atau Sembilan di Malaysia.
kelompok etnik nusantara Kebudayaan Masyarakat
yang bernama Minangkabau. Minangkabau adalah bersifat
Orang Minangkabau atau keibuan (matrilineal), dengan
Minang adalah kumpulan harta dan tanah diwariskan
etnik Nusantara yang dari ibu kepada anak
berbahasa dan menjunjung perempuan, sementara urusan
adat Minangkabau. Wilayah agama dan politik merupakan
penganut kebudayaannya urusan kaum lelaki
meliputi Sumatera Barat, (walaupun sesetengah wanita
separuh darat Riau, bahagian turut memainkan peranan
utara Bengkulu, bahagian
1
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
penting dalam bidang ini).1 terjadi dalam sistem
Tidak ada data dan kekerabatan matrilineal ini
adalah:3
dokumentasi yang cukup
tersedia mengenai latar
belakang orang Minangkabau 1. Termasuk dalam
memilih dan bertahan dengan keluarga seseorang adalah;
budaya sistem kekerabatan ibu, saudara kandung,
matrilineal. Koentjaraningrat, saudara seibu, anak dari
mengatakan bahwa sistem ini saudara perempuan ibu,
sekarang jarang sekali saudara kandung ibu, saudara
digunakan di dunia ini. Dari seibu dengan ibu, ibu dari ibu
hasil penelitian, dokumentasi beserta saudara-saudaranya
tentang 19 lingkungan dan anak dari saudaranya
masyarakat hukum adat yang yang perempuan, anak-anak
digolongkan oleh Van dari saudara perempuannya,
Vollenhoven atau pakar dan anak dari saudara sepupu
hukum adat lainnya seperti atau saudara seneneknya
Ter Harr dan lain-lain, yang perempuan.
termasuk juga dari bahan 2. Sama sekali tidak
sejarah Minangkabau punya hubungan kekerabatan
maupun tambo adat dengan anak saudara
Minangkabau sendiri, tidak laki-lakinya, anak dari
terdapat keterangan mengapa saudara laki-laki ibunya,
sistem ini diterapkan oleh saudaranya yang seayah,
masyarakat Minangkabau.2
bahkan juga dengan ayah
kandungnya sendiri.
Penelusuran nenek Dalam suatu keluarga,
moyang serta ketentuan tanggung jawab lebih banyak
hubungan keluarga dalam berada di tangan
sistem matrilineal (atau ninik-mamak (saudara
unilineal) agak mudah dan laki-laki ibu atau saudara
penempatan keluarga inti laki-laki dari ibunya ibu).
dalam struktur hubungan Ninik-mamak wajib
kekerabatan yang lebih luas mengurusi kemenakannya
menjadi lebih sederhana. dan mengawasi segala
Menurut T.O. Ihromi, sesuatu yang berhubungan
hubungan-hubungan yang dengan harta pusaka dan
warisan. Hal yang sama juga
1 Josselin de Jong, P.E. Minangkabau and menjadi peranan seorang
Negeri Sembilan : Socio-Political Structure
in Indonesia, Jakarta: Bhartara. 1960, Hlm. suami di dalam keluarganya
20
sendiri, yaitu mengawasi
2http://www.boyyendratamin.com/2013/02/a
ntara-adat-minangkabau-dan-hukum-adat. saudara perempuan dan
html
3 T.O. Ihromi, Pokok-pokok Antropologi
Budaya, PT Gramedia, Jakarta, 1981, hlm.
83.
2
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
kemenakan-kemenakannya. Di dalam sebuah paruik
Namun pada masa sekarang, yang memegang peranan
peranan ninik-mamak penting juga seorang laki-laki
semakin kecil karena ia dari garis ibu yang
cenderung untuk mengurusi dinamakan kapalo paruik
istri dan anak-anaknya atau biasa juga dikenal
sendiri dan seorang suami dengan sebutan penghulu
pun lebih banyak berperan andiko. Kapalo paruik
dalam rumahtangganya. melindungi dan mengurus
Perubahan ini terutama segala kepentingan paruiknya
terlihat pada keluarga yang dikuasakan
Minangkabau di perantauan.4
kepadanya.Biasanya kapalo
Pada masyarakat paruik dipilih dari jurai tertua
Minangkabau, sistem dari paruik tersebut. Kapalo
kekerabatan yang paruik atau penghulu andiko
berdasarkan sistem keibuan tersebut terhadap jurainya
atau matrilineal dipakai sendiri merupakan seorang
sebagai dasar dimana orang mamak bagi para
yang seasal dan seketurunan kemenakannya.
berkumpul dalam suatu Garis keturunan ibu di
tempat tinggal bersama. Minangkabau erat kaitannya
Tempat tinggal tersebut dengan sistem kewarisan
berupa rumah adat yang sako dan pusako. Seandainya
besar dan biasanya disebut garis keturunan mengalami
dengan Rumah Gadang. Di perubahan maka akan terjadi
dalam rumah gadang tersebut suatu perubahan dari
yang memegang peranan sendi-sendi adat
penting serta bertanggung Minangkabau sendiri. Oleh
jawab atas seluruh karena itu bagi orang
penghuninya adalah saudara Minangkabau garis keturunan
laki–laki ibu yang disebut
bukan hanya sekedar
dengan mamak. Jadi dapat menentukan garis keturunan
dilihat disini, walaupun anak-anaknya melainkan erat
organisasi masyarakat sekali hubungannya dengan
Minangkabau berdasarkan adatnya. Sistem kekerabatan
atas garis keturunan ibu, ini tetap dipertahankan
namun yang memegang masyarakat Minangkabau
peranan penting dalam sampai sekarang. Bahkan
kesatuan tersebut selalu selalu disempurnakan sejalan
orang laki-laki dari garis ibu, dengan usaha
biasanya saudara laki-laki ibu menyempurnakan sistem
yang paling tua.5
adatnya. Pada dasarnya
sistem matrilineal bukanlah
untuk mengangkat atau
4Ibid. memperkuat peranan
5Ibid.
perempuan, tetapi sistem itu
3
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
dikukuhkan untuk menjaga, III. HASIL DAN
melindungi harta pusaka PEMBAHASAN
suatu kaum dari kepunahan, A. Penerapan Hukum
baik rumah gadang, tanah
pusaka dan sawah ladang.6
Adat Minangkabau Terkait
II. METODE Dengan Masalah
Penelitian ini merupakan Pembagian Warisan Atas
penelitian hukum empiris. Tanah.
Penelitian hukum dengan Harta Pusaka merupakan
metode empiris, penulis harta yang diurus dan
terjun langsung ke suku diwakili oleh ninik mamak
Chaniago yang bertempat kepala waris diluar dan di
tinggal di Jorong Ketinggian dalam peradilan dan berlaku
Kenagarian Guguak VIII hukum adat, sedangkan Harta
Koto, Kecamatan Guguak, Pencaharian diwarisi oleh
Kabupaten Lima Puluh Kota, ahli waris menurut hukum
Ibu Kota Sarilamak, yang faraidh yaitu hukum Islam
berada di bagian Timur yang mengatur mengenai
Sumatra Barat, sekitar 124km pembagian harta secara
dari Kota Padang. Cara agama Islam. Kedudukan
pengumpulan data harta pusaka di Minangkabau
sekundernya dilakukan secara garis besar, mengenal
melalui studi kepustakaan beberapa harta pusaka, yaitu:
(library research) dan 1. Harta Pusaka Tinggi.
Internet. Upaya untuk Harta pusaka tinggi
mendapatkan bahan hukum (harato pusako tinggi) adalah
primer, sekunder, dan non hak milik bersama dari pada
hukum dilakukan dengan suatu kaum yang mempunyai
penelusuran, baik melalui pertalian darah dan diwarisi
teknologi elektronik (situs secara turun temurun dari
internet). Penelusuran dengan nenek moyang terdahulu, dan
teknologi elektronik harta ini berada di bawah
dilakukan dengan cara pengelolahan mamak kepala
mengunduh situs internet waris (lelaki tertua dalam
yang terkait dengan objek kaum). Proses pemindahan
penelitian. Sedangkan kekuasaan atas harta pusaka
penelusuran secara ini dari mamak kepada
konvensional dilakukan kemenakan. Mengenai harta
dengan mengunjungi atau pusaka tinggi, maka berlaku
mendatangi perpustakaan. ketentuan adat Tajua indak
dimakan bali, tasando indak
6 Hamka, Adat Minangkabau dan Harta dimakan gadai. Hal tersebut
Pusakanya, dalam Mochtar Naim (Ed.),
Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris, berarti bahwa harta pusaka
Center For Minangkabau Studies Press,
Padang, 1968, hal. 46. tinggi tidak dapat diperjual
beli dan digadaikan. Namun
4
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
demikian dalam praktek saja setelah mamak
mengenai gadai dapat meninggal dunia.
dilakukan dengan beberapa 4. Hak Ulayat
syarat tertentu. Untuk tanah
pusaka tinggi misalnya, gadai Hak ulayat menurut
hanya dapat dilakukan atas konsep adat adalah hak yang
kesepakatan anggota kaum dimiliki oleh suatu kerabat
sebagai pemilik tanah pusaka masyarakat adat yang
tinggi yang bersangkutan. bersangkutan. Pada dasarnya
objek tanah ulayat bukan
2. Harta Pusaka Rendah. monopoli bidang-bidang
tanah tetapi juga air atau
Harta pusaka rendah perairan, berikut kekayaan
alam yang terkandung
(harato pusako randah) didalamnya, ikan, pasir, dll,
serta tumbuh-tumbuhan dan
adalah warisan yang binatang yang hidup secara.
Hak tanah ulayat merupakan
ditinggalkan oleh seseorang hak tertinggi di Minangkabau
yang dipegang dalam tangan
pada generasi pertama, yang penghulu, nagari, kaum atau
federasi beberapa nagari.
statusnya masih dipandang
rendah, karena disamping
ahli warisnya masih sedikit,
juga karena cara
memperolehnya yang tidak
berasal dari pewarisan
kerabatnya. Mereka dapat Hukum waris adat
melakukan kesepakatan Minangkabau merupakan
bersama untuk memanfaat- salah satu pembahasan yang
kannya, baik dijual atau cukup penting dalam
dibagi-bagi antara mereka. Masyarakat Minangkabu,
Pusaka rendah berarti harta tetapi akhir-akhir ini banyak
pencaharian suami istri dalam faktor-faktor yang
rumah tangga atau dengan mempengaruhi kewarisan
kata lain merupakan segala adat Minangkabau termasuk
harta hasil pencaharian dari dalam kasus tanah, antara
bapak bersama ibu (suami lain perubahan dalam faktor
istri) sewaktu masih hidup pendidikan, perantauan,
dalam ikatan perkawinan, hidup berdasarkan sistem
harta pusaka rendah ini bisa keluarga, ekonomi, teknologi,
juga berupa tanah dan harta hidup di kota-kota besar, dan
lainnya. pengaruh agama islam yang
3. Sako dianut oleh sebagian besar
Sako adalah warisan masyarakat Minangkabau.
yang menurut sistem Perlu dicatat bahwa
matrilineal yang bukan perubahan penting terhadap
berbentuk benda atau materi bidang lain. Hal ini perlu
tetapi berupa gelar adat yang dikaji dan dipertanyakan
diwariskan kepada bagaimana dampak dan
kemenakannya yang laki-laki pengaruhnya terhadap sistem
5
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
kepemilikan harta pewarisan dipakai oleh sang anak.
dan bagaimana pula pola dari
sistem pewarisan dari harta Begitu pula semua harta
pencaharian tersebut.
pusaka yang dipakai atau
Waris menurut adat
Minangkabau yang dianut yang dikuasai oleh Datuk
oleh suku Chaniago tidak ada
istilah “putus” karena dalam Sati, Sutan Sati dan
warisan ini adat
menggariskan adanya waris sebagainya itu turut dipusakai
yang bertali adat, bertali
buek, bertali budi dan hal ini oleh kemenakannya. Oleh
bila ada kesepakatan kaum,
apabila kaum itu punah, karena itu, tidak heran kalau
warisan jatuh kepada waris
yang bertalian dengan suku di daerah Minangkabau
dan bila yang sesuku tidak
ada pula, maka harta pusaka banyak sekali terjadi perkara
kaum yang punah itu jatuh
pada nagari dan ninik mamak antara satu kaum dengan satu
nagarilah yang menentukan.
kaum yang lainnya kalau
B. Pergeseran Penerapan
Hukum Adat Terkait dengan akan memakai gelar pusaka.
Tanah di Suku Chaniago di
Jorong Ketinggian Kenagarian Hakikatnya bukanlah gelar
Guguak VIII Koto
pusaka itu yang diperebutkan
Menurut pepatah adat
Minangkabau, pusaka itu dari tetapi adalah harta pusaka
nenek turun ke mamak, dari
mamak turun ke kemenakan, yang dikuasai oleh gelar
baik pusaka itu mengenai
gelar pusaka ataupun pusaka itu.
mengenai harta pusaka.
Sebab itu kalau ada Hingga saat ini
seseorang Datuk Sati
(penghulu) atau Sutan Sati permasalahan turun temurun
(pemuda), maka gelar Datuk
Sati dan lain sebagainya itu gelar atau sako masih
apabila dia meninggal dunia
akan turun kepada berjalan dengan sebagaimana
kemenakannya, yaitu anak
dari saudara perempuan. mestinya yang telah terjadi
Tidak sah kalau gelar itu
dan diturunkan oleh nenek
moyang, akan tetapi untuk
pemasalahan rumah tempat
tinggal suatu keluarga, suku
Chaniago Kenagarian
Guguak Koto VIII ada sedikit
pergeseran yang terlihat
dibandingkan dengan
terdahulu. Seiring dengan
berjalannya waktu terdapat
pergeseran adat atau
perubahan dengan tempat
tinggal, jika dahulu suami
dan istri tinggal dirumah atau
rumah gadang sang istri, lain
halnya dengan sekarang ini.
Hal ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti
pendidikan, ekonomi maupun
kebutuhan hidup manusia
yang lambat laun berubah
seiring dengan berjalannya
waktu. Banyak keluarga
6
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
sekarang yang tidak lagi saudara-saudaranya yang
tinggal di rumah sang perempuan.
wanitanya/istri, karena Dalam penelitian yang
keluarga tersebut berpindah dilakukan di suku Chaniago,
rumah kerumah harta perselisihan dan perkara yang
bersama suami istri tersebut timbul bersumber dari
karena faktor kebutuhan persengketaan dan
hidup ataupun demi perselisihan itu yang
pendidikan sang anak dan disebabkan oleh masalah
pekerjaan/karir sang suami waris harta pusaka yakni
yang mana rumah dari harta menyangkut dengan tanah.
bersama tersebut lokasinya Hal ini membuktikan kepada
lebih startegis dibandingkan kita perlu adanya daya upaya
rumah yang sebelumnya. yang terus menerus, terutama
Menurut adat diharapkan dari ninik mamak
Minangkabau, seseorang atau pemangku adat, Kerapatan
satu kaum mendapat warisan Adat Nagari (KAN), maupun
dari neneknya atau dari Pengadialan Negri, agar
mamaknya menurut adat selalu dapat mencari jalan
hanya sekedar menguasai musyawarah untuk mufakat
atau memakai harta pusaka dalam permasalahan waris
mewaris yang terjadi.7
itu, tetapi tidak dibolehkan
menjual atau menghibahkan Suatu saat jika yang
harta kepada siapa pun, meninggal atau pewaris
kecuali kalau disepakati oleh adalah seorang perempuan
semua keluarga dalam kaum maka warih nan dakok ialah
itu. Hanya yang dibolehkan anaknya (laki-laki dan
menguasai hasilnya atau buah perempuan), di sini bertemu
dari harta pusaka itu. Hanya dengan prinsip warih batali
hasil atau buah itulah yang darah, yang terdekat
dapat dijual dan dihibahkan hubungan darah menutup
kepada siapa juga yang warih batali jenis lainnya.
dikehendakinya. Biasa di Akan tetapi jika pewaris
daerah Minangkabau ini, seorang laki-laki, maka
dengan hasil harta pusaka warihnya nan dakok ialah
itulah seorang laki-laki dapat saudara-saudaranya (laki-laki
menolong anak istrinya dan perempuan), seterusnya
selama ia masih hidup, kemenakannya, dari segi
dengan harta pusaka itulah ia perempuan selaku pewaris,
dapat menebus, membeli, berlakulah adat: waris yang
membangun rumah untuk terdekat menurut hubungan
anak isterinya. Apabila ia darah, dan mengutamakan
telah meninggal dunia maka garis ke bawah kepada
semua harta pusaka itu
kembali kepada 7Husni Fery, Wawancara, Masyarakat, Suku
Chaniago, Kecamatan Guguak, Kabupaten
Lima Puluh Kota, Juma’t, 6 Mei 2016.
7
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
anak-anaknya, cucunya, konkret akan isi dan praktek
melalui anak perempuannya. dari fatwa tersebut. Fatwa
Barulah dari samping, yakni begitu baik, tetapi akibat dan
saudara-saudaranya, tetapi pelaksanaannya tidak
jika laki-laki yang pewaris, seirama, tidak selaras dengan
fatwa tersebut.8
bukanlah dekat atau tidaknya
hubungan darah yang Kembali kepada
menentukan siapa warisnya, lingkungan pewaris dan harta
karena secara darah, dia warisan atau peninggalan
dekat kepada anak-anaknya, tadi, waris artinya “yang
tetapi anaknya di sini meneruskan”, “orang yang
tidaklah waris, tidak ahli berhak meneruskan”,
waris baginya, oleh karena meneruskan, melanjutkan,
tidak sesuku, tidak sekaum, mengembangkan sesuatu,
tidak sewaris. Hal ini baik harta ataupun martabat
menyangkut harta pusaka, dari pewaris oleh waris atau
lain halnya jika mengenai ahli waris. Lazimnya hal ini
harta pencarian, yang diartikan dalam arti tetap,
merupakan jerih payahnya tidak boleh mengurangi,
sendiri. tidak boleh mengalihkan atau
Demikian juga, apabila memindahkan, menjualnya,
terhadap harta pencarian dari dan lain-lain, kecuali dalam
pewaris laki-laki diutamakan hal sangat darurat dan
atau menjadi penting terpaksa. Harta pencarian
kedudukan anak-anaknya, lebih penting arti dan
walaupun tidak satu suku kedudukannnya dari pada
dengan pewaris, maka baik harta pusaka sendiri.
dalam hal: hidup bersama Timbulnya harta pencarian
secara menetap dan pada awalnya ialah upaya
mempunyai rumah sendiri untuk membebaskan dan
dengan isteri dan anak memperluas daya gerak dan
anaknya, atau selaku mamak ruang lingkup harta pusaka.
kepala waris atau ninik Karena yang pindah, atau
mamak dalam kaumnya, diteruskan dalam harta
ataupun buah atau hasil harta peninggalan atau waris pada
pusaka yang dipergunakan dasarnya ialah ganggam
atau dipakai untuk beruntuk, sedangkan anggota
membangun atau modal di kaum, orang-orang sewaris
rumah isterinya yang semakin berkembang biak,
menimbulkan harta dan lama kelamaan ganggam
pencarian. Adanya fatwa: tadi semakin kecil berhubung
anak dipangku, kemenakan pertambahan harta pusaka
dibimbing, dalam praktik
banyak menimbulkan 8Kurnia Edi, Wawancara, Masyarakat yang
Melakukan Pewarisan, Suku Chaniago,
sengketa antara anak dan Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh
Kota, Juma’t, 6 Mei 2016.
kemanakan, karena kurang
8
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
tidak sejalan gelar-gelar adat atau
perkembangannya dengan martabat yang ada di
harta pencarian atau harta dalamnya, supaya jelas
suarang. Ditambah lagi makna dan arti hukumdari:
dengan wewenang dan warih nan dijawek, Pusako
pengawasan dari mamak nan ditolong, akan menjadi
kaum telah semakin kecil pedoman atau bukti ke dalam
dalam hal harta pusaka ini. suku atau kaum itu, begitu
Belum lagi disebut juga terhadap Pengadilan dan
anggota-anggota kaum yang badan-badan pemerintahan
rezekinya, harta pencariannya lainnya. Dengan adanya surat
agak baik sehingga dapat keterangan semacam ini akan
menebus harta-harta kaum meniadakan,
yang tergadai atas nama sekurang-kurangnyaakan
kaum, yang berarti memperkecil,
berkumpul dan kericuhan-kericuhan dalam
bertumpuknya bagian-bagian hal waris dan warisan ini.
dari harta pusaka di Sewaktu-waktu catatan atau
tangannya dan dirasakan silsilah ini akan ditambah
anggota kaum lainnya diperlukan, sesuai dengan
sebagai sesuatu yang kurang perkembangan kaum dan
harta pusaka.9
adil. Semakin pentinglah
penetapan luasnya Harta pusako nan tagadai
lingkungan sewaris, pada prinsipnya dapat ditebus
lingkungan kaum tersebut. oleh kaum atau anggota
Berkembangnya anak kaum, yakni yang sewaris
kemanakan dalam kaum dan atas nama kaum. Jika kaum
terdapat pulalah sewaris nan selaku kesatuan waris yang
manyimpang, warih nan menebus, maka
babalah, dan jika ada timbul: peruntukannya ditentukan
harta pusako nan tagadai, oleh mamak kepala waris
waris dan pewaris nan dalam lingkungan kaum itu.
punah; harto nan Sedangkan jika waris selaku
bapasalangkan; (harta anggota kaum yang
pusaka yang tergadai, waris menebusnya, hendaklah
pewaris yang punah, harta setahu mamak kepala waris
yang dipinjamkan) maka dan menjadi ganggam bentuk
perlulah adanya silsilah, bagi waris yang menebusnya,
tambo, ranji atau keterangan dengan pengertian bahwa
secara tertulis yang dibuat uang penebus tali menjadi
sengaja oleh kaum yang beban atau hutang bagi waris
sewaris itu yang isinya siapa lainnya kepada si penebus
yang sewaris dalam kaum itu,
dan harta-harta apasaja 9Anwar Chairul, Wawancara, Datuak Batang,
Suku Chaniago, Kecamatan Guguak,
masuk bilangan kaum itu, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kamis, 5 Mei
2016.
termasuk sako dan
9
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
secara merata dan seimbang dibelakang hari akan
bagi seluruh waris atau
anggota kaum yang harus mengundang suatu pertikaian
dibayarnya kepada si
penebus. Sedangkan hasil karena ada nama yang pada
harta tebusan itu menjadi
harta bersama dalam kaum. saat diterbitkan tidak
Adanya sengketa baik termasuk nama anggota kaum
intern kaum maupun antara
kemenakan dengan anak lainnya. Maka dengan
kandung terjadi tidak terlepas
dari andil pemerintah dalam pencantuman hanya beberapa
menerbitkan sertipikat atas
tanah adat di Sumatera Barat. nama dalam sertipikat tanpa
Badan Pertanahan tidak
membedakan penerbitan menyebut kedudukannya,
sertipikat hak atas tanah
milik peribadi dengan bisa saja suatu saat pihak
penerbitan hak atas tanah hak
adat/kaum. Seharusnya ada yang nama-namanya ada
pemberdaan penulisan nama
pemilik yang berhak atas dalam sertipikat itu
tanah hak peribadi dengan
tanah hak kaum/adat. Selama mengalihkan hak atas tanah
ini perbedaan itu hanya
dimuat dalam asal usul tanah itu pada pihak lain seperti
saja dimana tanah kaum
disebut berasal dari tanah menjual, padahal dalam
adat.10
hukum adat Minangkabau
Seringkali
mencantumkan nama dalam tidak dikenal adanya
sertipikat tanah kaum hanya
beberapa orang nama saja penjualan atas tanah kaum,
bahkan sering hanya memuat
satu orang nama saja tidak atau anak-anak dari nama
menyebut kedudukan dalam
kaum suatu suku yang yang tertulis disertipikat
memiliki hak adat atas tanah
tersebut. Suatu kaum suatu merasa tanah itu adalah tanah
saat akan berkembang, maka
jika hanya mencantumkan bapaknya sehingga si anak
beberapa nama orang saja
dalam sertipikat hak atas itu menguasainya, dan oleh
tanah kaum/ adat maka
anggota kaum merasa itu
adalah tanah kaumnya akan
terjadilah permasalahan
antara kemenakan dalam
kaum dengan anak-anak dari
mamak kaum karena nama
yang tertulis dalam sertipikat
tidak menyebut
kedudukannya sebagai
mamak kepala waris dalam
kaumnya. Kondisi ini
diperparah lagi dengan
dangkalnya pengetahuan
datuak (pimpinan kaum) atas
masalah hukum pertanahan di
Minangkabau (Sumatera
Barat).11
Andil pemerintah dalam
perselisihan hak atas tanah
10ibid. 11Kurnia Edi, Wawancara, Masyarakat yang
Melakukan Pewarisan, Suku Chaniago,
Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh
Kota, Juma’t 6 Mei 2016.
10
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
kaum itu adalah dikarenakan Guguak Koto VIII, terkait
politik pemerintah dalam dengan masalah warisan atas
bidang pertanahan yang tidak tanah memakai sistem
menyebutkan kedudukan matrilineal. Pergeseran
nama pihak yang tercantum mengenai sistem terhadap
dalam sertipikat tanah hak pembagian warisan atas tanah
milik kaum, seharusnya ini yang merupakan tanah
khusus di Sumatera Barat pusaka pada suku Chaniago,
penerbitan sertipikat hak yang mana sejak jaman
milik atas tanah kaum/ nenek moyang dahulu harta
pusaka tinggi cukup hanya pusaka tidak boleh dijual.
mencantumkan satu orang Akan tetapi pada jaman
nama saja yaitu mamak sekarang ini harta pusaka
kepala warisnya dengan yakni yang berupa tanah
mencantumkan tersebut, dapat dijual hanya
kedudukannya sebagai dalam keadaan mendesak dan
mamak kepala waris didalam dikarenakan oleh beberapa
kaum suku tertentu, dengan faktor tertentu, seperti
mencantumkan kedudukan ekonomi, pendidikan dan
selaku mamak kepala waris lainnya. Apabila pemindah
dalam sertipikat tanah tidak tanganan tersebut harus
akan menimbulkan terjadi, maka harus atas
permasalahan dibelakang kepentingan bersama dan
hari, karena berapa kalipun mendapat persetujuan dari
mamak kepala waris berganti seluruh anggota kaum dan
kedudukan tanah tidak akan izin dari mamak kepala
berobah, dan jika tanah yang waris.
bersangkutan akan dibalik 2. Penerapan
nama akan tetap digantikan mengenai sebuah tempat
oleh seorang mamak kepala tinggal oleh suku Chaniago,
waris sesuai zamannya, ada sedikit pergeseran yang
dengan pencantuman terjadi dibandingkan dengan
kedudukan seseorang yang yang terdahulu yang
yang namanya tercantum mengedepankan kemakmuran
dalam sertipikat hak atas dalam negeri. Seeiring
tanah kaum tidak akan dengan berjalannya waktu
muncul permasalahan baik di telah terdapat pergeseran adat
intern kaum maupun dengan atau perubahan dengan
pihak anak-anakdari nama tempat tingga, jika dahulu
yang tercantum dalam suami dan istri tinggal
sertipikat. dirumah gadang yakni yang
merupakan rumah sang istri
IV. KESIMPULAN yang berasal dari keluarga
1. Penerapan hukum sang wanita akan tetapi, lain
adat Minangkabau suku halnya dengan sekarang ini.
Chaniago Kenagarian Hal ini dipengaruhi oleh
11
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
beberapa faktor, seperti
ekonomi, pendidikan, Hamka, Adat Minangkabau
maupun kebutuhan hidup dan Harta Pusakanya,
manusia yang mana lambat dalam Mochtar Naim
laun pasti berubah seiring (Ed.), Menggali
dengan berjalannya waktu. Hukum Tanah dan
Banyak keluarga yang tidak Hukum Waris, (Center
lagi tinggal dirumah sang For Minangkabau
wanitanya/istri, karena Studies Press, Padang,
keluarga tersebut berpindah 1968);
rumah kerumah harta HanitijioSoemitro, Roni.
bersama suami istri tersebut Metodelogi Penulisan
karena faktor kebutuhan hukum, (Ghalia
hidup ataupun demi Indonesia, Jakarta,
pendidikan. 1990);
Idrus, Hakimy. Buku
V. DAFTAR PUSTAKA Pegangan Penghulu di
Minangkabau,
BUKU (Bandung : Rosda,
1978);
Ali, Achmad. Menguak Teori Hukum Ihromi, T.O. Pokok-pokok
dan Teori Peradilan
Vol.1 (Jakarta: Kencana, 2010); Antropologi Budaya, (PT
Anwar, Chaidir. Hukum Adat Gramedia, Jakarta, 1981);
Indonesia : Meninjau Hukum
Adat Minangkabau. (1997. Mukti, Fajar ND dan
Jakarta : Rineka Cipta);
Yulianto, Achmad,
Bushar, Muhammad, Pokok-pokok
Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Dualisme Penelitian
Paramita, 1995);
Hukum Normatif &
De Jong, P.E, Josselin. Minangkabau and
Negeri Sembilan : Socio-Political Empiris, (Pustaka
Structure in Indonesia, (Jakarta:
Bhartara. 1960); Pelajar, Yogyakarta,
Djamaran, Datoek Toeah, Tambo 2013);
Alam Minangkabau, (Bukittinggi:
Pustaka Indonesia, 1985); M.S, Amir. Adat
Hadikusuma, Hilman. Metode Minangkabau : Pola
Pembuatan Kertas Kerja atau
Skripsi Ilmu Hukum, dan Tujuan Hidup
(Bandung : Mandar Maju,
1995); Orang Minang, (Jakarta
: PT.Mutiara Sumber
Widya, 2003);
Naim, Muchtar. Menggali
Hukum Tanah dan
Hukum Waris
Minangkabau, (Padang
: Center For
Minangkabau Studies,
1968);
.Pengantar Ilmu Hukum Adat . Merantau Pola
Indonesia, (1992. Bandung :
Migrasi Suku
Mandar Maju);
Minangkabau, (Gadjah
12
DIPONEGORO LAW JOURNAL
Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Website : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr/
Mada University Press,
Yogyakarta, 1984);
Nasroen, M. Dasar Falsafah PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
Adat Minangkabau.
Putusan Mahkamah Agung RI,
(Jakarta : Pasaman); tanggal 22 Januari 2013 No.
439 K/Pdt/2012. Mengenai
Projodikoro, Wirjono. Hukum posisi mamak kepala waris
dalam sistem waris adat yang
Warisan di Indonesia. menganut sistem matrilineal.
(Sumur, Bandung,
1991);
Rianto, Adi, Metodologi
Penelitian Sosial dan
Hukum, (Granit,
Jakarta, 2004);
Rofiq, Ahmad, Hukum Islam WAWANCARA
Di Indonesia, (Jakarta: Anwar, Chairul, Wawancara,
Raja Grafindo Persada, Datuak Batang, Suku
2003); Chaniago, Kecamatan
Soekanto, Soerjono. Guguak, Kabupaten
Kedudukan dan Lima Puluh Kota, Kamis, 5
Peranan Hukum Adat Mei 2016.
di Indonesia (1982. Husni, Fery, Wawancara,
Jakarta : kurnia Esa); Masyarakat, Suku Chaniago,
Soekanto, Soerjono dan Kecamatan Guguak,
Soleman, B. Taneko, Kabupaten Lima Puluh Kota,
Juma’t, 6 Mei 2016.
Hukum Adat Indonesia,
(Jakarta, 1986); Kurnia, Edi, Wawancara,
Suardi, Mahyudin, Dinamika Masyarakat yang Melakukan
Sistem Hukum Adat Pewarisan, Suku Chaniago,
Minangkabau dalam Kecamatan Guguak,
Yurisprudensi Kabupaten Lima Puluh Kota,
Mahkamah Agung, Juma’t, 6 Mei 2016.
(penerbit PT.Candi
Cipta Paramuda,
Jakarta : 2009);
Summa Muhammad, Amin.
Hukum Keluarga Islam
Di Dunia Islam,
(Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2005);
Syahmunir, Eksistensi Tanah
Ulayat dalam
Perundang-undangan
di Indonesia, (Padang:
Pusat Pengkajian Islam
dan Minangkabau,
2005);
13
HARTA DALAM KONSEPSI ADAT MINANGKABAU
Oleh: Mohamad Sabri bin Haron* Iza Hanifuddin**
Abstract: Minangkabau, with all of its aspects, has attracted academician to conduct researches
about it. In terms of wealth, this tribe has a great detailed concepts. Comprehensive
descriptions upon wealth center around the systems of kinship, power, and land
ownership which is known as suku, sako and pusako. Social value of wealth is
realized through communal wealth ownership. The authority of wealth is socialized by
presenting tribal address to other people through the concept of sasongko. This wealth is
supposed to inherit from generation to generation by means of communal authority
system. However, some external systems, such as Islam, have given fundamental change
which is considered too intervening. Consequently, the community cannot fully accept the
change but, in other hand, do not want to reject it.
Kata kunci: matrilineal, sako, pusako, sangsoko, harta pencarian, harta perkawinan
PENDAHULUAN maan. Falsafah ini benar-benar telah
memposisikan Minangkabau sebagai
M inangkabau atau juga dikenal wilayah yang dipandang sarat dan
dengan sebutan Ranah Mi-
nang sudah sejak lama terkenal se- kental nuansa keislamannya dan
bagai negeri yang memegang kuat seakan telah merasuk dalam setiap
adat dan syarak. Bahkan, komitmen lini kehidupan sosialnya.
tersebut oleh para leluhurnya di-
tuangkan dalam falsafah Adaik Predikat Ranah Serambi Mekah
Basandi Syarak, Syarak Basandi terhadap Minangkabau juga sudah
Kitabullah, Syarak Mangato, Adaik begitu melekat dalam berbagai pem-
Mamakai. Filsafat ini lahir dari proses bicaraan yang seakan tengah men-
konflik antara kaum adat dan kaum sejajarkannya dengan Aceh Darus-
agama yang bermuara pada adanya salam. Oleh karena itu, berbagai
kesepakatan pada akhir masa perang pengkajian soal Minangkabau dan
paderi. Kemenangan nampaknya Sumatera Barat sulit sekali untuk
berpihak pada kaum agama, meski- dilepaskan dari penglihatan sisi ke-
pun pada akhirnya persoalan ke- islamannya. Hampir saja tema sosial
adatan tetap juga harus diper- yang lahir dari negeri ini adalah
tahankan dengan dialektika keaga- Islam itu sendiri. Saat ini kota
Padang Panjang dijadikan ikon Kota
* Penulis adalah Pensyarah Ekonomi Islam Pada Pusat Pengajian Umum (PPU) Universiti Kebangsaan
Malaysia
**Penulis adalah Lektor Kepala dalam Mata Kuliah Fiqh pada STAIN Batusangkar
1
2 JURIS Volume 11, Nomor 1 (Juni 2012)
Serambi Mekah karena kota ini Minangkabau, interaksi penguasaan
dipandang sebagai basis kekuatan tanah, interaksi kepemilikan tanah,
Islam, khususnya yang dikenal proses dan bentuk pewarisan tanah,
dengan Gerakan Kaum Muda dan di hingga ke persoalan tanah sebagai
kota ini segala proses gerakan Islam objek bisnis seperti sewa, bagi hasil,
yang mewarnai Sumatera Barat pagang gadai, dan tanah sebagai objek
secara menyeluruh diawali. filantropi, seperti numpang karang,
wakaf, hibah, dan waris. Semua ini
Dalam banyak suku, tanah me- akhirnya membentuk suatu konsepsi
rupakan inti simbolitas keberadaan tentang harta di kalangan masya-
komunitas tersebut. Tanah akan me- rakat adat Minangkabau. Tulisan ini
lekat dengan suku yang mendiami- mencoba untuk menguraikan secara
nya seperti tanah Jawa, tanah Sunda, detil konsepsi tersebut.
tanah Minang, tanah Madura. Ranah
Minang salah satunya juga dapat BASIS KONSEPSI ADAT
dimaknai dengan tanah Minang da-
lam berbagai aspeknya. Istilah ba- MINANGKABAU TENTANG
kampung banagari, bakorong bajurai
HARTA DAN JENIS-JENISNYA
adalah wujud interaksi orang
Minang dengan tanahnya. Interaksi Sejarah tradisional Minang-
ini menandakan betapa strategisnya kabau menyebutkan bahwa dengan
posisi tanah bagi komunitas yang prinsip garis keturunan ibu
menguasainya. (matriarchaat), satu payung, satu
nenek, satu perut, nenek moyang
Tanah sebagai sebagai salah dahulu membuka tanah dengan
satu pendukung sosialnya hampir cara: “mencancang melateh, membuka
tidak pernah terlepas dari peng- kampung dan halaman” dan dengan
kajian pakar dalam perspektif Islam. semakin banyak jumlah anak ke-
Muchtar Naim telah mengawalinya turunan, nagari pun diperluas
pada tahun 1968 dan mendudukkan (bakalebaran). Sejak itu, muncul isti-
masalah pewarisannya (Mochtar lah suku yang tidak bisa dipisahkan
Naim, 1968). Pada masa-masa be- dengan sako (gelar kesukuan). Untuk
rikutnya, interaksi masyarakat adat menjamin kehidupan anak sukunya,
Minangkabau dengan tanahnya da- mereka menetapkan adanya pusako
lam konteks tanah sebagai objek (harta pusaka) dengan prinsip pe-
bisnis juga tidak luput dari peng- milikan komunal. Pada harta pusako
kajian orang. Pagang gadai adalah yang berupa tanah ditetapkan
tema yang paling sering dibahas bahwa tidak boleh dijual dan tidak
orang karena sampai kini praktek boleh digadai, “dijual indak dimakan
tersebut masih tetap eksis diterapkan bali, digadai indak dimakan sandera”.
orang. Mamak (saudara ibu yang laki-laki)
ialah penjaga tanah wilayah (ulayat),
Banyak interaksi yang dilaku- ibu ialah pemegang kunci ampang
kan oleh masyarakat Sumatera Barat puruik dan lumbung (tempat cadang-
yang dikenal sebagai suku Minang- an harta dan bahan makan) yang
kabau terhadap tanahnya. Interaksi tidak boleh dibuka kecuali dalam
tersebut dimulai dari sejarah asal keadaan yang diakui secara adat,
suku Minangkabau, batas wilayah
yang masuk dalam kategori bersuku
Mohamad Sabri bin Haron dan Iza Hanifuddin, Harta dalam Konsepsi Adat… 3
yaitu rumah gadang katirisan (bocor), ternak peliharaan, sedangkan harta
adat pusaka tidak berdiri, mayat kekuasaan adat adalah berupa wila-
terbujur di tengah rumah, dan gadis yah teritorial (ulayat) yang berupa
besar belum berlaki (Hamka, 1985: 98- hutan tanah, sawah ladang, pandam
99). Melalui konsep ini, setiap suku pakuburan, lebuh tapian (pemandian),
rumah tangga, dan korong kampung dan
di Minangkabau pasti mengenal isinya yang dibatasi oleh kawasan
istilah sako, pusako, dan sangsoko batas tanah. Hamka menyebut harta
sebagai gambaran utuh konsep adat
tentang harta yang mereka jadikan jenis ini dengan istilah harta tua
(Hamka, 2006: 126).
praktek kehidupan beradat.
Sako ialah gelar kebesaran adat Amir Syarifuddin mengartikan
atau seumpamanya yang diberikan harta pusaka ialah sesuatu yang
bersifat material (benda) yang ada
kepada keturunan mengikut tali pada seseorang yang mati dan dapat
darah matrilineal. Ungkapan adat me- beralih kepada orang lain disebab-
nyebutkan “adat sako turun temurun”.
Menurut Amir M. S. sako berarti kan kematiannya. Dikatakan bersifat
material (benda) juga karena ter-
kekayaan asal atau harta tua yang dapat sako yang dapat dipindahkan
tidak berwujud atau juga disebut dari orang yang mati kepada yang
sebagai hak. Yang dapat dikategori-
kan sebagai sako ialah gelar peng- hidup. Sako ini bukan bersifat benda,
tapi berupa gelar yang dipusakai.
hulu yang diwariskan (dipusaka- Dikatakan dengan sebab kematian
kan/diturunkan) kepada kamanakan
(anak saudara yang berjenis ke- bisa berlakunya perpindahan harta
lamin) laki-laki secara turun te- pusaka, maka gelar pusaka juga
turut berpindah kepada waris
murun, garis keturunan matrilineal seperti juga hibah juga dapat di-
(suku indu) yang diwariskan kepada
perempuan, pepatah petitih, hukum alihkan, tetapi semasa hidup (Amir
Syarifuddin, 1984: 212). Antara sako
adat, tatakrama, dan sopan santun dengan pusako tidak dapat dipisah-
yang diwariskan kepada seluruh kan dan berlaku ketentuan adat hak
warga adat, anak kamanakan seluruh berpunya (sako), harta bermilik (pusako)
nagari di seluruh ranah Minang (Amir M.S., 2003: 93).
(Amir M.S., 2003: 92). Dalam adat Dalam ungkapan lain disebut-
Minangkabau, harta pusaka akan di-
turunkan atau dipusakakan kepada kan hak bapunyo, harato bamilik,
anak perempuan menurut garis ke- ganggam bauntuk. Pemegang gelar
kebesaran adat (sako) akan diserah-
turunan ibu, manakala sako (gelaran
adat) akan diturunkan kepada anak kan amanat untuk menjaga dan
laki-laki tertua juga dalam garis mempertahankan keutuhan dan sifat
keturunan ibu, bukan bapa (matri- komunalistik harta pusako untuk se-
lamanya, terus menerus, dan turun
lineal). Semua ini dilakukan untuk
mendukung sistem adat komunal, temurun yang diistilahkan dengan
bukan individu. pusako bersalin (Amir M.S., 2003: 93).
Dalam berbagai buku dan pem-
Pusako ialah harta pusaka adat bicaraan sehari-hari banyak di-
yang terdiri dari harta kekayaan dan
harta kekuasaan adat. Harta kekaya- jumpai perkataan “sako” ini ditulis
an adalah berupa emas, perak, dan atau disebut dengan “gelar pusako”.
4 JURIS Volume 11, Nomor 1 (Juni 2012)
Hal ini mengandung maksud bahwa sebagai suatu ruang masuknya
antara sako dan pusako itu memang doktrin waris Islam yang akan
tidak dapat dipisahkan. memperkuat kedudukan laki-laki di
mana selama ini mereka tidak
Menurut A. A. Navis, alam memiliki kekuasaan atas harta di
pikiran Minangkabau memiliki Minangkabau. Dalam berbagai sum-
konsep tentang harta di mana harta ber awal disebutkan bahwa hanya
selalu dimaksudkan barang tak ada harta pusaka di Minangkabau
yang secara hukum disebut sebagai
bergerak saja, yaitu tanah, sawah, tanah ulayat. Nampaknya apa yang
dan ladang (A. A. Navis, 1986: 157). berlaku di sini adalah adanya gerak-
Dulu, adat Minangkabau hanya an gender yang tidak selalu di-
mengenal istilah harta pusaka saja, maksudkan untuk memperjuangkan
hak-hak perempuan, tetapi justru
tidak ada yang lain. Pusaka di- untuk memperjuangkan laki-laki
maksudkan ialah barang sako dan Minangkabau yang tidak mendapat
harta pusako tersebut. Akhir-akhir tempat dalam harta adat Minang-
ini, Sidi Bandaro menjelaskan per- kabau. Pusaka tinggi adalah sesuatu
yang jika dijual indak dimakan bali
kembangan harta pusaka. Harta (tidak boleh dibeli), jika digadai
pusaka pun kemudiannya dibagi indak dimakan sando (tidak boleh
menjadi dua, yaitu pusako tinggi disandera/diambil sebagai jaminan).
Pusaka tinggi ialah tiang agung
(pusaka tinggi) dan pusako randah Minangkabau (Hamka, 2006: 115).
(pusaka rendah). Pusaka tinggi ada-
lah semua harta pusaka yang sudah Kedudukan pusaka tinggi
lama diwarisi, salin bersalin, turun sangat kuat dan tidak dapat berubah
menjadi pusaka rendah kecuali
temurun dalam keadaan yang sama, sangat jarang sekali, yaitu dengan
yaitu diturunkan daripada mamak sebab terkikisnya adat sedikit demi
kepada kamanakan (anak-anak dari sedikit. Begitu kuatnya kedudukan
saudara perempuan) (Darwis Thaib ini, harta pusaka tinggi tidak dapat
dipengaruhi oleh perkawinan, baik
Dt. Sidi Bandaro, 1967) sebagaimana orang dalam ataupun orang luar
disampaikan dalam banyak ungkap- suku Minangkabau. Semua harta
an adat, yaitu: “Birik-birik tabang ka tersebut berada di bawah kuasa
sasak, dari sasak turun ke halaman, dari kesukuan perempuan, yaitu pihak
ninik turun ka mamak, dari mamak ka istri.
kamenakan”.
Pusako tinggi (pusaka tinggi)
Harta pusaka tinggi juga ialah harta pusaka berupa tanah
disebut dengan istilah harta tinggi ulayat, sawah, ladang, tanah kubur-
an, dan rumah gadang yang diwarisi
atau harta bersalin karena diwariskan dan dimiliki secara bersama oleh
secara turun temurun, dari generasi beberapa keluarga (periuk) dalam
ke generasi. Pusaka tinggi diperoleh satu jurai (satu garis kekeluargaan)
sebuah kaum atau suku dalam garis
melalui cara tembilang besi (iron
spade), yaitu melalui cara membuka
hutan oleh orang-orang tua dahulu,
sedangkan pusaka rendah diperoleh
melalui cara tembilang emas (golden
spade), yaitu dengan cara membeli
atau menggadai sawah. Pembagian
harta menjadi dua jenis ini sangat
mungkin dipengaruhi oleh Islam
Mohamad Sabri bin Haron dan Iza Hanifuddin, Harta dalam Konsepsi Adat… 5
matrilineal (Amir, MS., 2007: 1; Sjafnir tunggak dan ai yang dalam penutur-
Aboe Nain Dt. Kando Marajo, 2008: an Minangkabau menjadi tungganai
26). Dalam harta pusaka ini biasanya yang maksudnya laki-laki tertua
berlaku ketentuan tidak dapat di- atau yang dituakan dalam sebuah
pindahmilikkan dengan cara apa paruik atau sebuah rumah gadang
pun, tidak terdapat pemilikan dalam satu unit yang disebut sebagai
peribadi, berlaku pada barang yang samande yang terdiri dari nenek, ibu,
tak bergerak, pusaka saparuik (se- saudara ibu baik perempuan mau-
perut atau keluarga satu ibu/nenek) pun laki-laki, dan anak-anak. Suami
dikuasai dan diatur oleh tungganai dalam susunan unit ini dianggap
atau mamak rumah (laki-laki tertua bukan sesuku di mana biasa disebut
dalam rumah gadang), hak peman- dengan istilah sumando (semenda
faatan melalui ganggam bauntuak yang datang melalui ikatan per-
(genggam beruntuk bagi masing- kawinan). Contoh lain yang serupa
masing keluarga seperut), dan rumah dengan ungkapan ini ialah denai dan
adat dan kolam ikan termasuk amai yang berasal dari perkataan
dalam kawalan dan kategori harta aden dan amak yang mendapat im-
pusaka (Tsuyoshi Kato, 1982: 51). buhan ai yang maksudnyadiri saya
Selain itu, harta pusaka dikuasai dan saudara ibu saya (A. A. Navis,
oleh penghulu, dimiliki oleh masya- 1986: 131).
rakat adat, dan semua masyarakat
boleh mengambil manfaatnya (Amir Dalam perkembangannya, pu-
Syarifuddin, 1984: 215). saka rendah diartikan sebagai harta
yang diberikan melalui cara hibah,
Ada beberapa cara untuk men- pewarisan oleh orang tua kepada
dapatkan harta dalam alam pikiran anak-anaknya yang disebabkan dari
Minangkabau melalui pusako, yaitu harta perkawinan atau sepencarian
menerima warisan (pusaka) dari kedua orang tua (Sofjan Thalib, 1999:
mamak kepada kamanakan, tembilang 255). Harta sepencarian suami istri
besi, yaitu mencari tanah dengan cara ini dapat berbentuk sawah ladang
manaruko atau menerokai sawah dan yang dibeli atau hasil tebusan tanah
mencancang melateh (menebas) hutan adat yang tak mampu ditebus oleh
dengan usaha dan tenaga sendiri, kaumnya (Julius Dt. Malako Nan
tembilang emas, yaitu mencari harta Putiah, 2007: 119), rumah, kedai,
dengan cara membeli yang pelak- pabrik, kendaraan, dan sebagainya.
sanaannya melalui cara praktek
pagang gadai karena tanah di Semua pusaka rendah itu
Minangkabau tidak boleh dijualbeli disebut sebagai tembilang emas
dan hibah (A.A. Navis, 1986: 158). (golden spade) dalam istilah adat.
Sawah ladang hasil pembukaan
Pusako randah (pusaka rendah) hutan ulayat kaum yang kemudian
adalah segala harta pusaka yang di-taruko termasuk kategori harta
diterima oleh kamanakan dari mamak pusaka rendah dalam masa yang
kandung atau tungganai rumah yang tidak lama. Setelah diwariskan
disebabkan dari pekerjaannya, bu- dalam dua keturunan harta tersebut
kan hasil dari pusaka tinggi. akan berubah menjadi pusaka tinggi
Tungganai berasal dari perkataan kembali. Termasuk dalam hal ini
6 JURIS Volume 11, Nomor 1 (Juni 2012)
ialah tanah yang dalam status pagang tokoh adat dan agama (A. A. Navis,
gadai (Julius Dt. Malako Nan Putiah, 1986: 164).
2007: 117).
Harta pusaka rendah boleh
Hakekatnya, adat Minang-
kabau hanya mengenal harta pusaka menjadi harato susuak (harta pe-
saja yang dimiliki secara bersama nambah) jika suatu ketika nanti
oleh kaum dalam adat matrilineal dijadikan sebagai penambah harta
dan tidak mengenal istilah harta pusaka tinggi yang dianjurkan oleh
sepencarian. Munculnya istilah harta
sepencarian bermula dari hubungan adat agar harta pusaka tinggi selalu
dagang yang semakin erat antara ditambah menurut kemampuan
orang Minangkabau dengan sauda- mamak. Menurut Datuk B. Nurdin
gar India di kawasan pesisir barat Yacub, pusaka rendah akan berubah
Sumatera Barat pada abad ke-17.
Pada tahun 1761, ajaran Islam yang menjadi pusaka tinggi jika diwaris-
dianut oleh orang-orang pesisir kan menurut garis keturunan kaum
mulai digunakan untuk menyelesai- (pihak ibu) secara terus menerus (Dt.
kan masalah waris berkaitan harta B. Nurdin Yakub, 1989, Buku 2).
perniagaan ini. Bagaimana pun harta
sepencarian masih boleh berubah Harta pusaka rendah yang
menjadi harta pusaka (pusaka tinggi) diusahakan oleh sebuah keluarga
setelah melalui proses pewarisan. dan dijadikan sepencarian suami
Caranya, tahap yang terjadi dimulai
dari harta pusaka rendah, harta susuk, istri untuk bekal hidup berumah-
dan akhirnya menjadi harta pusaka tangga pada dasarnya masih ter-
tinggi (Amir, MS., 2007: 1; Sjafnir golong dalam kategori pusaka tinggi
Aboe Nain Dt. Kando Marajo, 2008: karena harta-harta lain pasti ada dan
26).
diusahakan di atas tanah pusaka
Harta sepencarian bukanlah tinggi oleh sebuah keluarga tersebut
produk lembaga adat Minangkabau. (Norhalim Ibrahim, 1993: 53). Harta
Praktek ini mulai dikenal sejak pusaka rendah yang dihasilkan dari
hadirnya ekonomi uang yang ada
melalui perniagaan dan jasa per- harta pusaka tinggi ini sering diakui
buruhan. Akibatnya, hubungan ke- sebagai harta sepencarian. Padahal,
kerabatan pun terjadi perubahan. maksud harta sepencarian sendiri
Hubungan ayah-anak pada masa ini
menjadi rapat dalam sistem keluarga ialah harta yang diperoleh oleh
inti. Dimana-mana timbul keinginan suami istri selama masa perkawinan,
ayah untuk mewariskan harta se- bukannya dari hasil tanah pusaka
pencariannya ini kepada anak dan tinggi.
istri, bukan kepada kamanakan.
Perubahan sosial inilah yang akhir- Sangsoko atau sangsako ialah
nya menimbulkan perselisihan in- gelar kehormatan yang diberikan
tern yang cukup lama karena feno- berdasarkan persetujuan para peng-
mena ini dirasakan oleh banyak hulu dalam kerapatan adat (musya-
warah adat) kepada seseorang dise-
babkan oleh jasa dan peranan besar
yang diberikan kepada suku atau
kaum. Ketentuan adat menyebutkan
adat sangsako pakai mamakai, manurut
barih balabeh, serta mungkin dan patut
yang maksudnya gelar ini hanya
dapat diberikan kepada orang yang
secara adatnya dipandang patut dan
Mohamad Sabri bin Haron dan Iza Hanifuddin, Harta dalam Konsepsi Adat… 7
layak (Idrus Hakimy Datuk Rajo Bangkit, seorang tokoh Kaum Adat
Penghulu, 1982: 41 dan 64). Sangsoko yang dikenal sebagai Bapak War-
juga disebut dengan istilah adat tawan Indonesia (Soewardi Idris Dt.
gadang balega atau adat giliran kepe- Bandaro Panjang, 2004: 22). Bagai-
mimpinan pada suku-suku pecahan, manapun, pemberian gelar sangsoko
khususnya orang-orang besar atau ini dapat dianggap sebagai simbol
orang-orang penting dalam suku kekuasaan dalam sebuah sistem
tersebut (Norhalim Ibrahim, 1993: pemerintahan adat yang otonom.
72). Suku Bodi Caniago yang ber-
corak demokratis diakui sebagai Sebagian pihak telah mem-
suku yang paling banyak memberi persoalkan gelar sangsoko yang di-
gelar sangsoko ini, termasuk kepada berikan kepada beberapa tokoh
orang luar adat Minangkabau se- nasional karena lebih bernuansa
bagaimana pernah diberikan kepada politik. Sangsoko hari ini banyak
Prof. Koesnadi Hardjosumantri (Rek- dijadikan sebagai alat untuk mem-
tor Universitas Gajah Mada Yogya- perkokoh feodalisme di Minang-
karta) pada tahun 1987 (Herwandi & kabau yang secara filsafat adat tidak
Zaiyardam Zubir, 2006: 90). dikenal. Selain itu, terdapat sebagian
pejabat yang menerima sangsoko
Gelar urang kayo nan baka- sebagai usaha mengikatkan dirinya
basaran juga dapat dianggap sebagai dengan keturunan Pagaruyung ha-
gelar sangsoko yang diberikan kepada nya untuk mempertahankan kedu-
orang yang memiliki kepedulian dukan politiknya (Herwandi &
terhadap adat dan keadaan sosial Zaiyardam Zubir, 2006: 118). Me-
masyarakat. Penerima gelar ini nurut Amir M. S., sangsoko sebaiknya
biasanya orang kaya yang mau tidak diberikan oleh masing-masing
memberikan sumbangan besar un- kerapatan adat. Oleh karena itu,
tuk kesejahteraan masyarakat adat perlu dibentuk suatu organisasi
dengan ikhlas. Gelar ini dapat supra nagari untuk menggantikan
digunakan oleh orang tersebut tanpa LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat
dapat diwariskan kepada generasi Alam Minangkabau) yang hakekat-
berikutnya. Ungkapan adat menye- nya dibentuk oleh pemerintah be-
butkan, lapuk tangguk lapuklah bing- kerjasama dengan KODAM (Koman-
kai, mati ayam matilah hama yang do Daerah Militer) setelah berlaku-
maksudnya dengan matinya pene- nya perang PRRI (Pemerintah
rima gelar, habis pula pemakaian Revolusioner Republik Indonesia),
gelar (Soewardi Idris Dt. Bandaro bukan oleh masyarakat adat yang
Panjang, 2004: 11). Menurut cerita- diwakili oleh KAN (Kerapatan Adat
nya, Nagari Sulit Air Solok sudah Nagari). Organisasi supra nagari ini
sejak dahulu biasa memberikan gelar nantinya secara selektif dapat
adat ini kepada warga yang ber- memberikan gelar sangsoko kepada
pengaruh dan berprestasi sebagai- tokoh masyarakat pilihan. Amir MS.
mana pernah diberikan kepada juga pernah mengusulkan dibentuk-
Mahjoedin pada tahun 1904 dengan nya Majelis Masyarakat Adat Mi-
gelar Datuk Sutan Maharajo dan nangkabau (MMAM), Dewan
terkenal dengan panggilan Datuk Masyarakat Adat Minangkabau
8 JURIS Volume 11, Nomor 1 (Juni 2012)
(DMAM), dan Kongres Masyarakat sako tetap diwariskan kepada pe-
Adat Minangkabau (KMAM) di megang gelar kebesaran adat, yaitu
tingkat kecamatan, kabupaten, dan keturunan laki-laki karena sako harus
propinsi yang dibentuk melalui diwariskan kepada yang bertali darah
kesepakatan KAN di setiap nagari (bertalian darah), manakala pusako
(Amir, MS., 2007: 81). Perbedaan tidak dapat diwariskan kepada ke-
pandangan dalam menerima turunan laki-laki menurut adat
LKAAM sebagai lembaga resmi adat matrilineal.
yang membawahi KAN terus ber-
lanjut hingga hari ini. Harta pusaka suku atau kaum
yang punah garis keturunan matri-
KAN adalah satu-satunya lineal-nya harus diserahkan kepada
institusi adat di mana keberada- kaum atau suku lain yang memiliki
annya benar-benar lahir dari ke- hubungan kekerabatan yang ter-
inginan masyarakat adat. Beberapa dekat (seperut atau sepayung). Selain
ketua KAN meng-anggap LKAAM disebabkan punah, harta pusaka juga
tidak mengakar dalam sistem adat. dapat berpindah ke tangan pihak
Di Batusangkar sendiri berdiri lain dengan cara gadai atau hibah.
MTKAAM (Majelis Tinggi Kerapatan Perpindahan ini dapat dilaksanakan
Adat Alam Minangkabau) untuk selagi masih bertali adat (terdapat
mendampingi dan mengontrol ke- pertalian adat) dan mengikuti ke-
bijaksanaan adat yang dilakukan tentuan adat. Akad perpindahan ini
oleh LKAAM. Berdirinya MTKAAM dalam adat diistilahkan sebagai adat
di Batusangkar ini ditolak oleh pusako jawek bajawek. Ketika masih
LKAAM Tanah Datar karena di- ada yang bertali darah, pusako dijawek
anggap tidak mempunyai dasar (diterima) oleh anak keturunan pe-
secara undang-undang, di antara rempuan mengikut garis matrilineal,
pengurusnya terdapat yang tidak ketika terjadi punah, pusako dijawek
bergelar datuk, dan institusi ini ber- (diterima) oleh suku atau kaum lain
diri berseberangan dengan LKAAM yang terdekat menurut tali adat
secara politik. (Idrus Hakimy Datuk Rajo
Penghulu, 1982: 40).
NILAI SOSIAL HARTA DALAM
DOKTRIN ADAT MINANG- Dalam masyarakat matrilineal,
KABAU pusaka diwarisi dari mamak kepada
kamanakan agar keutuhan pusaka
Dalam konteks terjadi punah tetap dijaga untuk mempertahankan
atau musnah secara sistem, yaitu kukuhnya kekerabatan suku. Ung-
ketika tidak dijumpai lagi keturunan kapan adat menyebutkan warih
yang berjenis kelamin perempuan dijawek, pusako ditolong. Ungkapan ini
dalam sebuah suku atau kaum yang mempunyai maksud bahwa waris
akan menjadi pewaris harta pusaka akan diterima dari mamak dan akan
secara adat matrilineal. Apabila tidak diusahakan (ditolong) oleh kamana-
ada waris perempuan dalam garis kan setelah dipusakakan. Dengan
matrilineal pada sebuah suku atau demikian, kamanakan berkewajiban
kaum, maka adat menetapkan: “Sako menjaga keutuhan peninggalan ter-
tetap, pusako beranjak”. Maksudnya, sebut sebagai pusaka. Tugas kama-
Mohamad Sabri bin Haron dan Iza Hanifuddin, Harta dalam Konsepsi Adat… 9
nakan laki-laki adalah mengusaha- tambo ini yang dapat dijadikan
kan, jika kamanakan perempuan sumber mengapa mesti berlaku
adalah memiliki. Bagi kamanakan pewarisan pusaka tinggi kepada
laki-laki yang sudah kaya, tugas kamanakan, bukan kepada anak. Oleh
utamanya adalah memegang sawah Amir Syarifuddin Kapal tersebut
(mencari sawah yang digadai) untuk dimaksudkan sebagai simbol adat
diberikan kepada saudara perem- matrilineal. Maksudnya, anak-anak
puan yang akan meneruskan ke- tidak mau ikut (tidak setuju) dengan
turunan sukunya (A. A. Navis, 1986: konsep atau gagasan tentang adat
159). Pemilikan di sini bersifat tidak (kapal) matrilineal. Kamanakan setuju
nyata disebabkan pihak perempuan untuk ikut gagasan adat (kapal)
tidak boleh berjualbeli tanah yang matrilineal tersebut karena mendapat
dimilikinya, kecuali hanya mewaris- warisan harta pusaka. Bagi Tsuyoshi
kan kepada anak perempuannya se- Kato, kisah tambo ini sukar dicari
cara turun temurun tanpa berjualbeli hubungan logis antara konsep adat
juga. matrilineal dengan pewarisan kepada
kamanakan (Datoek Batoeah Sango,
Kisah tambo menjelaskan me- 1955: 53; Tsuyoshi Kato, 1982: 50;
ngapa harta pusaka di Minangkabau Amir Syarifuddin, 1984: 240; Datuk
dipusakakan kepada kamanakan. Sangguno Dirajo, 1987: 112).
Ketika kapal Datuk Katumang-
gungan sedang kandas, para anak KONSEP HARTA PERKAWINAN
tidak ada yang mau membantu me-
narik kapal tersebut. Para kamanakan Selain konsep harta dalam adat
justru yang mau membantunya. di luar perkawinan di atas, terdapat
Oleh karena itu, sebagai ketetapan, juga konsep harta di dalam per-
pewarisan adat pusaka tinggi di- kawinan. Adat menjelaskan, harta
berikan kepada kamanakan. Kisah ini tepatan tinggal, harta pembawaan
telah meninggalkan persoalan me- kembali, suarang dibagi, sekutu dibelah.
ngapa adat Minangkabau yang Ungkapan ini menjelaskan tentang
dikatakan elok dan agung itu tidak adanya konsep adat tentang harta
dapat mengajarkan adat sopan dalam perkawinan. Sebagai suami,
santun dan budi pekerti kepada seorang laki-laki dalam adat
anak-anak. Datuk Katumanggungan Minangkabau diizinkan tinggal dan
dan Datuk Perpatih Nan Sabatang bekerja di tanah milik istrinya untuk
sepertinya tidak dapat mengajar menghidupi keluarganya. Suami
keluhuran budi pada anak-anaknya tidak mempunyai apa-apa di rumah
sendiri. Padahal, beliau merupakan istrinya di mana semua harta meru-
ahli dan pencetus adat yang di- pakan hak milik istri secara komunal
katakan agung itu. Kisah ini juga (A. M. Datuk Maruhum Batuah & D.
menyisakan persoalan lain, yaitu H. Bagindo Tanameh, t.th.: 52).
adakah kedua datuk tersebut me-
miliki keturunan yang berjenis Harta sepencarian ialah harta
kelamin laki-laki yang memung- yang diperoleh suami istri selama
kinkannya kuat untuk menarik masa perkawinan dan harta-harta
kapal. Bagaimana pun, hanya kisah lain yang diperoleh bukan dari ta-
nah pusaka tinggi. Perceraian me-
10 JURIS Volume 11, Nomor 1 (Juni 2012)
mastikan harta sepencarian ini akan persuarangan. Demikian juga jika
dibagi dua antara mereka berdua tanah istrinya, tidak disebut sebagai
tanpa melibatkan bagian kaumnya. harta persuarangan. Di Minangkabau,
harta suarang yang dibawa ke dalam
Harta Pencarian juga dimaksudkan perkawinan tidak tergolong sebagai
sebagai segala harta yang diperoleh harta bersama (Amir Syarifuddin,
oleh pemilik harta disebabkan oleh 1984: 333). Harta bersama tidak
hasil usaha sendiri atau hasil pem- dikenal di Minangkabau pada masa
itu karena seorang laki-laki selalu
berian orang lain. Jika hasil usaha- hidup dan tinggal di tempat istri
nya diperoleh dari harta pusaka, (matrilokal) dan cenderung mendapat
seperdua harta dalam ketentuan nafkah mengikut sistem kekerabatan
adat harus digunakan untuk me- isteri secara adat melalui harta kaum
istri sebagai modal.
nambah luas harta pusaka. Seandai-
nya usahanya dengan cara menebus Harta bawaaan ialah harta
harta gadai kaum, maka harta boleh seperti sawah yang dibawa oleh
kembali kepada kaumnya jika sudah suami ke dalam rumahtangganya
pada ketika berkeluarga yang diper-
ditebus pula oleh kaumnya. oleh mengikut harta kaumnya. Harta
Harta suarang (harta surang ini akan dibawa kembali oleh suami
kepada kaumnya dan tidak boleh
atau sewarang) ialah harta yang diambil oleh isteri apabila terjadi
perceraian. Harta tepatan ialah harta
diperoleh oleh laki-laki atau perem- yang diketahui suami sudah ada di
puan sebelum perkawinan. Harta ini rumah istrinya ketika berumah-
merupakan milik masing-masing tangga sebagai harta turun temurun
dan mereka bebas untuk member- dalam garis matrilineal istri. Harta ini
harus ditinggal, tidak boleh dibawa
kan atau mewariskannya kepada oleh suami apabila terjadi perceraian
siapa saja yang mereka inginkan. dengan istrinya. Harta sekutu ialah
Ungkapan adat menyebutkan, harta yang diperoleh dari modal
suarang beragih, pencaharian (sepen- suami atau istri yang digunakan
untuk membuat perusahaan secara
carian) dibagi. Di tempat lain ada bersama. Harta ini juga diperoleh
juga yang menyebutkan, suarang dari perniagaan secara bersama.
diagih, sekutu dibelah, sepadan dilantak, Hasilnya akan dibagi bersama ter-
harta tepatan tinggal, harta pembawaan lebih atau terkurang. Apabila terjadi
kembali (Agustiar Syah Nur, 2002: 25; perceraian, harta akan dibagi me-
nurut bagian masing-masing antara
Norhalim Ibrahim, 1993: 111). Harta suami dengan istri. Jika terjadi
suarang maksudnya hasil masing- kematian pada salah satu di antara
masing suami istri yang diperoleh mereka, bagian harta ini akan
melalui kerjasama seperti menerokai diambil atau diserahkan kepada
keluarga dalam garis matrilineal
hutan atau kerja perusahaan dengan masing-masing (A. M. Datuk
modal tenaga. Jika terjadi perceraian,
harta ini akan dibagi sama rata (A.
M. Datuk Maruhum Batuah & D. H.
Bagindo Tanameh, t.th.: 52). Suami
istri yang keduanya sama-sama
berusaha dan bekerja akan memiliki
harta persuarangan. Jika suami saja
yang bekerja, suami bekerja dan
mendapatkan hasil, daripada mana-
kala istri tidak, maka tidak ada harta
Mohamad Sabri bin Haron dan Iza Hanifuddin, Harta dalam Konsepsi Adat… 11
Maruhum Batuah & D. H. Bagindo dijual dan digadaikan. Tanah ini bisa
Tanameh, t.th.: 52). menjadi miliknya secara merdeka
setelah mendapat izin dari penghulu
KONSEP HAK MILIK ATAS atau raja dengan cara mengisi adat
HARTA dan menuang lembaga (Datuk
Sangguno Dirajo, 1987: 210-218).
Berkaitan harta-harta di atas,
berlaku pula ketentuan tentang Di Negeri Sembilan Malaysia,
berbagai jenis hak milik ke atas masyarakat Minangkabau juga me-
harta. Hak milik di Minangkabau miliki konsep harta sebagaimana
tidak dimaksudkan sebagai milik yang praktekkan oleh masyarakat
individu, tetapi milik komunal. Oleh Minangkabau di Indonesia. Sedikit
karena itu, hak milik biasanya perbedaan hanya pada nama, bukan
diartikan segala harta, dalam hal ini pada hakikat harta. Harta di sana
tanah yang dikuasai oleh perut dibagi menjadi dua,yiaitu harta
(keluarga) melalui apa yang disebut pusaka dan harta carian. Harta pusaka
sebagai ganggam bauntuk (genggam ada dua pula, yaitu pusaka benar dan
beruntuk). Berbeda dengan hak pusaka sendiri. Pusaka benar terdiri
milik, terdapat istilah milik merdeka dari tanah, sawah, ladang, dusun,
dan milik tidak merdeka. Milik dan rumah yang diwarisi secara
merdeka ialah harta pribadi yang turun temurun kepada pihak
diperoleh melalui usaha sendiri, perempuan. Jika tidak ada anak
harta warisan, dan harta hibah dari perempuan, pusaka benar diserahkan
orang lain. Milik tidak merdeka ada kepada perut dan sukunya. Pusaka
beberapa jenis, yaitu milik bertali sendiri berupa pusaka pakaian diri
emas ialah milik orang lain yang sendiri seperti pakaian kebesaran,
disewa tanpa memperhitungkan keris, tombak, lembing yang diwarisi
harga dan jangka waktu sewa se- oleh anak-anak laki-laki dari orang
bagai pemberian manfaat yang tuanya sendiri. Pusaka sendiri ini juga
ikhlas dari pemilik. Milik bertali akal disebut sebagai cendorong mata.
ialah membalas jasa atas budi baik
seseorang dengan mengizinkannya Harta carian terbagi dua pula,
untuk menggunakan dan mengerja- yaitu carian bujang dan carian suami
kan tanahnya. isteri. Dalam harta carian ini
terdapat harta suarang atau harta
Milik bertali tulang ialah yang dimiliki bersama suami istri
mengusahakan tanah milik orang atau harta carian suami istri, harta
lain dengan mendapat imbalan sekutu atau harta pembawaan masing-
tertentu seperti mem-pasaduo-kan masing dalam rumahtangga yang
atau mem-patigo-kan (berbagi hasil baru dibina, dan harta dapatan yang
seperdua atau sepertiga). Manakala diperoleh oleh istri dari warisan
milik anugerah penghulu atau raja orang tuanya. Dalam harta pusaka
ialah pemberian tanah yang bersifat benar juga berlaku larangan jual beli
sementara oleh penghulu atau raja dan gadai kecuali jika terpaksa dan
kepada seseorang karena berbagai itu pun hanya terjadi dalam
alasan untuk memenuhi kebutuhan kalangan perut dan suku saja (Abdul
hidupnya. Tanah ini tidak boleh
12 JURIS Volume 11, Nomor 1 (Juni 2012)
Rahman bin Hj. Mohammad, 1964: kabau pada tahun 1968 (A. A. Navis,
61-63). 1986: 169; Agustiar Syah Nur, 2002:
25).
Masyarakat Minangkabau sen-
diri pada hari ini nampaknya hanya PENUTUP
mengenal istilah harta pusaka tinggi
dan pusaka rendah saja berdasarkan Demikian detil konsepsi harta
pengetahuan dan pembicaraan me- yang dapat Penulis paparkan se-
reka. Padahal, secara prakteknya bagaimana hasil penelitian. Meski-
masyarakat masih mempraktekkan pun demikian, konsepsi harta di
empat macam harta, yaitu pusaka Minangkabau bisa berubah sesuai
tinggi, pusaka rendah, harta se- adat masing-masing daerah. Bagai-
pencarian, dan harta suarang. mana pun, perbedaan tersebut tidak
Kenyataan ini juga dengan jelas telah mengurangi gambaran umum kon-
digambarkan oleh kesimpulan per- sepsi harta yang telah Penulis
temuan ninik mamak tahun 1952 di uraikan.
Bukittinggi dan seminar Hukum
Tanah dan Hukum Waris Minang- Minang. Jakarta: PT. Mutiara
Sumber Widya.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, M. S. 2007. Masyarakat Adat
A. A. Navis. 1986. Alam Takambang Minangkabau Terancam Punah.
Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Jakarta: PT. Mutiara Sumber
Minangkabau. Jakarta: PT. Widya.
Pustaka Grafitipers.
Darwis Thaib Dt. Sidi Bandaro. 1967.
A. M. Datuk Maruhum Batuah & D. Seluk Beluk Adat Minangkabau.
H. Bagindo Tanameh. t.th. Bukittinggi: NV. Nusantara.
Hukum Adat dan Adat Minang-
kabau, Luhak Nan Tiga Laras Nan Datoek Batoeah Sango. 1955. Tambo
Dua. Jakarta: NV. Poesaka Alam Minangkabau. Paya-
Aseli. kumbuh: Pertjetakan Limbago.
Abdul Rahman bin Hj. Mohammad. Datuk Sangguno Dirajo. 1987.
1964. Dasar-dasar Adat Perpateh. Curaian Adat Alam Minang-
Kuala Lumpur. Pustaka Antara. kabau. Bukittinggi: CV. Pustaka
Indonesia.
Agustiar Syah Nur. 2002. Kredibilitas
Penghulu dalam Kepemimpinan Datuk Sangguno Dirajo. 1987.
Adat Minangkabau. Padang: Curaian Adat Alam Minang-
Lubuk Agung. kabau. Bukittinggi: CV. Pustaka
Indonesia.
Amir Syarifuddin. 1984. Pelaksanaan
Hukum Kewarisan Islam dalam Dt. B. Nurdin Yakub. 1989. Minang-
Lingkungan Adat Minangkabau. kabau Tanah Pusaka: Tambo
Jakarta: PT. Gunung Agung. Minangkabau. Bukittinggi: CV.
Pustaka Indonesia. Buku 2.
Amir, M. S. 2003. Adat Minangkabau,
Pola dan Tujuan Hidup Orang
Mohamad Sabri bin Haron dan Iza Hanifuddin, Harta dalam Konsepsi Adat… 13
Hamka. 1985. Islam dan Adat Norhalim Ibrahim. 1993. Adat
Minangkabau. Jakarta: Pustaka Perpatih, Perbezaan dan Per-
Panjimas. samaannya dengan Adat Temeng-
Hamka. 2006. Islam dan Adat gung. Kuala Lumpur: Fajar
Minangkabau. Selangor Darul
Ehsan: Pustaka Dini, Sdn. Bhd. Bakti, Sdn. Bhd.
Sjafnir Aboe Nain Dt. Kando Marajo.
Herwandi & Zaiyardam Zubir. 2006. 2008. Tuanku Imam Bonjol,
Sejarah Intelektual Islam Di
Menggugat Minangkabau.
Minangkabau (1784-1832).
Padang: Andalas University
Padang: Penerbit Esa.
Press.
Soewardi Idris Dt. Bandaro Panjang.
Idrus Hakimy Datuk Rajo Penghulu. 2004. Sekitar Adat Minangkabau.
1982. Pegangan Penghulu Di Jakarta: Kulik-Kulik Alang dan
Minangkabau. Jakarta: Depar- Pustaka Dian.
temen Pendidikan dan Kebu-
dayaan. Sofjan Thalib. 1999. Pembahagian
harta pusaka menurut Adat
Julius Dt. Malako Nan Putiah. 2007. Perpatih: Pengalaman Indo-
Mambangkik Batang Tarandam nesia. Dlm. Abdul Monir
dalam Upaya Mewariskan dan Yaacob & Mohd. Fauzi
Melestarikan Adat Minangkabau Mustaffa (pnyt.). Pentadbiran
Menghadapi Modernisasi Ke- harta menurut Islam. Kuala
Lumpur: Institut Kefahaman
hidupan Bangsa. Bandung: Citra Islam Malaysia.
Umbara.
Mochtar Naim (pnyt.). 1968. Meng- Tsuyoshi Kato. 1982. Matriliny and
gali Hukum Tanah dan Hukum Mingration, Evolving Minang-
kabau Traditions In Indonesia.
Waris Minangkabau. Padang:
Centre For Minangkabau Ithaca New York: Cornell
Studies.
University Press.
1
RAYAP KAYU (ISOPTERA) PADA RUMAH-RUMAH ADAT
MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT
1)Deffi Surya Ningsih, =D¶D]L]D 5LGKD -XOLD, Larissa Hilmi dan Leo Darmi
1)Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Andalas, Padang
e-mail: [email protected]
ABSTRACT
Minangkabau traditional houses in West Sumatra has a high historical value, but it has
the serious damage caused by termite infestation. The purpose of this research was to
determine the types of termites that attack Minangkabau traditional houses in West
Sumatra, Research the wood termites (Isoptera) in Minangkabau traditional houses in
West Sumatra have been conducted in March and July 2013. Direct sampling methods
used for collecting termites on mikrosite. Three species of termites were found that
belong to two subfamilies, those are Macrotermes gilvus Hagen, Macrotermes sp.
(Macrotermitinae) and Nasutitermes matangensis Haviland (Nasutitermitinae).
Keywords: Isoptera, Termitidae, Minangkabau traditional houses, Macrotermitinae,
Nasutitermitinae.
1. PENDAHULUAN Rayap merupakan serangga
sosial dengan sistem kasta polimorfik,
Bangsa Indonesia adalah bangsa pemakan selulosa dan tinggal di dalam
multikultural. Beragam corak budaya sarang atau termitarium yang
bisa ditemui di Indonesia, salah satunya dibangunnya. Serangga ini memiliki
adalah keberagaman rumah adat yang ukuran tubuh yang relatif kecil (Borror,
sejalan dengan keberagaman etnis suku Triplehorn & Johnson, 1992), sepintas
bangsa yang ada di nusantara. Rumah mirip dengan semut, dijumpai di banyak
adat Minangkabau merupakan salah satu tempat, di hutan, pekarangan, kebun,
rumah tradisional Indonesia yang terbuat dan bahkan di dalam rumah. Sarang
dari kayu. Namun, seiring berjalannya rayap terdapat di tempat lembab di
waktu, jumlah rumah adat Minangkabau dalam tanah dan batang kayu basah,
semakin berkurang. Hal ini dikarenakan tetapi ada juga yang hidup di dalam
usia bangunan yang semakin tua dan kayu kering. Makanan utamanya adalah
minimnya renovasi sehingga bangunan kayu dan bahan-bahan dari selulosa lain
ini sering diserang oleh rayap. serta jamur (Amir, 2003).
Rayap merupakan bagian yang Rayap berperan penting dalam
sangat penting di dalam daur ulang dekomposisi, perputaran unsur hara dan
nutrisi tanaman melalui proses proses di dalam tanah. Rayap memiliki
disintegrasi dan dekomposisi material kepekaan terhadap perubahan
organik dari kayu dan serasah tanaman. penggunaan lahan dan tingkat kerusakan
Namun demikian, rayap seringkali juga habitat sehingga dapat digunakan
merusak kayu sebagai bagian dari sebagai bioindikator (Tarumingkeng,
konstruksi bangunan dan material 1971). Hasil penelitian selama ini
berselulosa lainnya di dalam bangunan menunjukkan bahwa beberapa jenis
gedung atau menyerang pohon dan rayap yang mampu menyebabkan
tanaman hidup sehingga menjadi hama kerusakan yang berarti pada bangunan
yang potensial. gedung, adalah rayap dari genus
Coptotermes dan Macrotermes (Nandika Pengkoleksian Sampel Rayap
et al. 2003).
Pengoleksian rayap dilakukan secara
Penelitian mengenai rayap di langsung (direct collecting) pada
Sumatera masih sedikit. Suin (1992) masing-masing wilayah. Penangkapan
melakukan penelitian mengenai Rayap dilakukan pada tiang-tiang kayu, pintu,
Kayu di Hutan Pendidikan dan dinding, lantai, basement rumah yang
Penelitian Biologi Universitas Andalas berbatasan dengan tanah dan tiang
yang mana ditemukan lima jenis rayap. penyangga rumah. Sampel rayap yang
Suharyon (1987) menemukan dua jenis terkoleksi dimasukan kedalam botol
rayap pada Tanaman Cengkeh di Kebun sampel (vial) yang telah diberi alkohol
Percobaan Sub Balitro Laing, Solok. 70%. Semua sampel diberi label.
Ada sekitar 30 jenis rayap yang
ditemukan Syaukani (2006) dari Taman Identifikasi Rayap
Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. Rayap diidentifikasi sampai tingkat
Kemudian Handru (2012) melakukan spesies dengan menggunakan acuan
penelitian mengenai Jenis-jenis Rayap Syaukani (2006), Rini (2007). Sampel
(Isoptera) di Kawasan Hutan Bukit yang diperoleh dibuatkan fotonya.
Tengah Pulau dan Areal Perkebunan
Kelapa Sawit, Solok Selatan dan Analisis Data
ditemukan lima jenis. Sampai saat Data dianalisis seara deskriptif. Untuk
penelitian mengenai jenis-jenis rayap mengetahui kehadiran rayap pada rumah
kayu yang menyerang rumah-rumah adat digunakan rumus:
adat Minangkabau di Sumatera Barat
belum pernah dilakukan. Tingginya nilai Frekuensi Kehadiran (FK) = Jumlah
sejarah yang dimiliki rumah adat maka rumah yang ditempati suatu jenis x
keberadaannya perlu dilestarikan. Untuk 100%
itu, perlu adanya informasi tentang jenis
rayap yang menyerang rumah-rumah Total rumah
adat Minangkabau, Sumatera Barat. yang diperiksa
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui jenis-jenis rayap yang ada 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
pada rumah-rumah adat Minangkabau di
Sumatera Barat dan dapat menjadi Dari penelitian yang telah dilakukan
informasi bagi perkembangan ilmu pada beberapa rumah-rumah adat
Entomologi terutama pada rayap serta Minangkabau Sumatera Barat
dapat menjadi acuan bagi penelitian didapatkan tiga jenis rayap (famili
selanjutnya. Termitidae) yang tergolong kedalam dua
genera dua subfamili (Tabel 1, Gambar
2. METODE 1). Subfamili Macrotermitinae memiliki
dua jenis yaitu Macrotermes gilvus dan
Lokasi Penelitian Macrotermes sp., sedangkan subfamili
Nasutitermitinae hanya terdapat satu
Penelitian ini dilakukan di tujuh wilayah jenis yaitu Nasutitermes matangensis.
yang memiliki rumah adat di Sumatera Menurut Roonwal (1961), Macrotermes
Barat. Wilayah tersebut adalah (1) Solok merupakan rayap tanah (ground-
Selatan, (2) Solok, (3) Tanah Datar, (4) dweller), yang menghuni sarang
Sijunjung, (5) Padang, (6) Pesisir berbentuk bukit (mound-nest). Mound-
Selatan dan (7) Dhamasraya. Pada nest memiliki konstruksi gundukan
masing-masing wilayah diwakili 2 buah seperti bukit, yang menjulang di atas
rumah adat. permukaan tanah. Struktur penyusunnya
adalah saliva, partikel tanah yang
mengandung tanah liat tinggi sehingga
konstruksinya sangat kuat.Berdasarkan matangensis hanya ditemukan di tiga
Kambhampati & Eggleton (2000), famili lokasi. Hal ini sesuai dengan pendapat
Termitidae merupakan famili terbesar Roonwall (1970) dan Tarumingkeng
dalam Ordo Isoptera dan mencakup tiga (1971) yang menyatakan bahwa M.
perempat spesies yang diketahui dan gilvus adalah spesies yang banyak
merupakan kelompok rayap yang paling ditemukan di habitat yang terbuka serta
maju. berasosiasi dengan permukiman
(sebagai ciri habitat yang sudah
Jenis yang paling banyak terganggu). Rayap ini dapat ditemukan
ditemukan pada penelitian ini adalah dari dataran rendah sampai ketinggian
Macrotermes gilvus. Rayap jenis ini 800 m dpl.
ditemukan di empat lokasi yaitu di
wilayah Padang, Sijunjung, Pesisir
Selatan dan Dhamaraya. Sedangkan
Macrotermes sp. dan Nasutitermes
Tabel 1. Jenis-jenis rayap(Isoptera) dan kehadirannya pada rumah-rumah adat di
7 wilayah Sumatera Barat
Subfamili Lokasi
Spesies I II III IV V VI VII
Macrotermitinae -- - ¥ ¥ ¥ ¥
1. Macrotermes gilvus ¥- - - ¥ ¥ -
2. Macrotermes sp.
Nasutitermitinae ¥¥ ¥ - - - -
Nasutitermes matangensis
Ket : I. Solok Selatan, II. Solok, III. Tanah Datar, IV. Sijunjung, V. Padang, VI. Pesisir
Selatan, VII. Dhamasraya
Gambar 1. Jenis-jenis rayap kayu yang ditemukan rumah-rumah adat
Minangkabau Sumatera Barat.
Rayap prajurit M. gilvus terdiri tereduksi, antena 17 segmen, memiliki
dari dua bentuk yaitu rayap prajurit sebaran rambut dan pronortum
mayor dan rayap prajurit minor. berbentuk pelana kuda (saddle shape).
Identifikasi rayap prajurit M. gilvus Salah satu ciri khas saat
menggunakan prajurit mayor. Menurut mengidentifikasi rayap prajurit M. gilvus
Ahmad (1965), M. gilvus mayor yaitu terlihat adanya sepasang
berfontanel pada bagian atas kepala, mandibula yang berukuran besar
ujung labrum berhyalin, gigi marginal