The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabillaputriindrama2019, 2021-12-19 06:01:34

KUMPULAN ARTKEL TENTANG MINANGKABAU

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Keywords: KEMINANGKABAUAN

Vol. 1 Nomor 2 Th. 2019
ISSN: Online 2657-0599 (online)
http://musikolastika.ppj.unp.ac.id/index.php/musikolastika
Email: [email protected]
https://doi.org/10.7592/musikolastika.v1i2.26

SENI TRADISI DAN KREATIVITAS DALAM KEBUDAYAAN MINANGKABAU

TRADITIONAL ART AND CREATIVITY IN MINANGKABAU CULTURE

Hengki Armez Hidayat1, Wimrayardi2, Agung Dwi Putra3

1,2,3Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Padang
(*) (e-mail) [email protected], [email protected], [email protected]

Abstract

Masyarakat Minangkabau menganut falsafah-falsafah sebagai konsepsi yang di-implikasikan
ke dalam kebudayaannya, salahsatunya yaitu dengan kehadiran kesenian. Kesenian dalam
kebudayaan masyarakat Minangkabau hidup dan berkembang bersama perjalanan waktu serta daya
kreativitas masyarakatnya dinamis. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan
melakukan pengamatan terhadap kesenian, khususnya yang berhubungan dengan tradisi dan
kreativitas dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau dengan menggunakan pendekatan
Hermeneutik dan studi literatur. Penelitian dilakukan dengan pengamatan mengenai bentuk-bentuk
seni tradisi Minangkabau khususnya musik tadisi dan perkembangannya pada masyarakat
Minangkabau. Hasil dan pembahasan dari penelitian ini antara lain mengenai; bentuk-bentuk
kesenian tradisi Minangkabau dan kesenian dalam kebudayaan Minangkabau.

Kata kunci: Seni tradisi, kreativitas, kebudayaan, masyarakat Minangkabau.

Abstract

Minangkabau people believe on some cultural concepts in their society, such as the presence
of art. Their culture is developed through the dynamic creativity of its people during decades. This
research is a type of qualitative research by observing the arts, especially those related to tradition
and creativity in the culture of the Minangkabau community by using the Hermeneutic approach and
literature studies. It is conducted by observing the traditional forms of Minangkabau traditional music
and its development. The results and discussion of this research include; Minangkabau traditional
forms of art and arts in the Minangkabau culture.

Keywords: Traditional arts, creativity, culture, Minangkabau people.

Received: 23 November 2019 Revised: 3 Desember 2019 Available Online: 8 Desember 2019

1 Hengki Armez Hidayat adalah Staff Pengajar di Jurusan Sendratasik FBS UNP
2 Wimrayardi adalah Staff Pengajar di Jurusan Sendratasik FBS UNP
3 Agung Dwi Putra adalah Staff Pengajar di Jurusan Sendratasik FBS UNP

65

Pendahuluan

Salah satu kebudayaan yang identik di Nusantara ini ialah kebudayaan Minangkabau.
Minangkabau memiliki berbagai macam bentuk kesenian sebagai unsur pelahiran
kebudayaan masyarakatnya. Sebagai anggota masyarakat, tidak ada seorang pun manusia di
dunia ini yang hanya menghabiskan waktunya untuk memenuhi kebutuhan pokok saja. Ada
kekuatan naluriah lain yang seringkali dilupakan oleh pengamatan masyarakat, yakni
kebutuhan rasa keindahan dan hiburan yang mewujudkan lahirnya berbagai bentuk kesenian.
Kesenian-kesenian yang hidup dan berkembang pada masyarakat Minangkabau dari dahulu
hingga saat ini merupakan kesenian yang mampu bertahan dan memenuhi kebutuhan
masyarakatnya.

Kehidupan seni adalah sebuah wacana tentang segala sesuatu yang dapat menunjukkan
bahwa apa yang disebut seni dapat dan berkembang jika di dalamnya terdapat seniman/
pelaku seni, karya seni dan masyarakat seni, sehingga seni merupakan produk sosial (Wolff,
1993, p. 26-27). Pelaku seni merupakan subjek utama yang menentukan hidup dan
berkembangnya sebuah kesenian, yang kedua yaitu masyarakat seni. Masyarakat seni seperti
halnya masyarakat pendukung kesenian itu sendiri diluar pelaku seni, baik itu masyarakat
pemilik, penikmat, pengamat, peneliti maupun praktisi seni atau partisipan yang mampu
memberi daya kehidupan dan berkembangnya kesenian. Yang ketiga yaitu karya seni sebagai
objek dalam bentuk material bunyi/ musik yang dapat dikembangkan dalam berbagai
pendekatan untuk melakukan kreativitas seni.

(Ardipal, 2015, p. 19) mengatakan bahwa, pengembangan musik tradisional atau musik
kebudayaan tertentu ke arah musik kreasi baru cenderung dilakukan oleh partisipan seni yang
kreatif dan berlatar belakang pendidikan formal dan non formal. Umumnya pengembangan
berangkat dari musik tradisi yang digarap berdasarkan gagasan partisipan seni setelah
memahami konsep-konsep berbagai musik yang dilibatkannya kedalam komposisi musiknya.

Pertunjukan seni tradisi biasanya disajikan dengan bentuk yang belum tersentuh oleh
pengaruh teknologi/ perkembangan zaman, namun syarat akan nilai dan makna yang sangat
bergantung kepada alam dan lingkungan, penuh penghayatan dan ungkapan ekspresi. Musik
tradisi yang hidup dimasyarakat merupakan karya seni yang dimiliki secara bersama dan
bukan hanya dimiliki oleh satu orang saja. Ia menjadi cerminan dan mencirikan kebudayaan
masyarakat sebagai lokal genius4.

Masyarakat khususnya generasi muda saat ini biasa disebut generasi millenial. Mereka
berada pada zaman dimana teknologi berkembang pesat dan mampu menembus ruang-
ruang geografis dengan hadirnya internet. Menebarnya informasi tentang pola kehidupan
budaya Barat, maupun budaya Timur serta berbagai macam sumber dan bentuknya, seakan
meretas dan membongkar akar budaya bangsa Indonesia dengan notabene budaya Timur. Ini
merupakan tantangan bagi seluruh masyarakat untuk tidak terjebak oleh euforia semata.
Yang akhirnya bisa berdampak kepada hilangnya identitas kebudayaan yang telah dimiliki
sebelumnya sebagai warisan budaya. Sehingga menjadi suatu yang sangat penting untuk
ditekankan bahwa mencintai kebudayaan sendiri dan bukan kemudian mengatakan
kebudayaan sendiri sebagai suatu yang kuno dan ketinggalan zaman.

4 Local genius berarti segala nilai, konsep dan teknologi yg telah dimiliki suatu bangsa sebelum mendapat
‘pengaruh asing’.

66

Namun, dilain sisi pola fikir masyarakat juga terus berkembang seiring dengan
berjalannya waktu berkembangnya zaman. Arus globalisasi harus mampu ditanggapi secara
cerdas, yaitunya dengan memiliki cara pandang bahwa perkembangan zaman juga dapat
memberi dampak positif terhadap pola fikir suatu masyarakat apabila dilakukan secara
selektif, terarah, dan terencana untuk perubahan yang lebih kreatif dan inovatif sebagai
bentuk perkembangannya. Dalam hal ini bentuk seni sebagai produk fikiran/ ide-ide dan
gagasan dari suatu masyarakat. (Perterson, 1977, p. 11) mengatakan bahwa; pada
hakekatnya kehidupan perkembangan seni berhubungan erat dengan lingkungan
masyarakat. Seni akan berkembang seiring dengan pola fikir masyarakat setempat, sehingga
faktor lingkungan berpengaruh sekali dalam pembentukan seni. (Yeni, 2012, p. 83) juga
mengatakan bahwa, dalam perjalanannya seni tradisi telah mengalami persentuhan dengan
berbagai gejala yang berkembang dalam kehidupan masyarakat yang dinamis. Kemudian
(Murgiyanto, 2004, p. 12-16) juga mengatakan bahwa di dalam tradisi memang ditemui
aturan-aturan yang ketat dan mengikat, tetapi aturan-aturan itu bukanlah perangkap atau
jerat. Seni tradisi memang tidak berlimpah dengan inovasi seperti halnya seni modern, tetapi
tidaklah berarti bahwa seni tradisi tidak memberikan kesempatan pada perkembangannya
daya kreasi. Dengan begitu memelihara tradisi bukanlah sekedar memelihara “bentuk” tetapi
lebih pada jiwa dan semangat atau nilai-nilai.

Mengenai bentuk-bentuk kesenian yang ada pada masyarakat Minangkabau dari
dahulu hingga sekarang, merupakan perjalanan kebudayaan masyarakat yang terus berulang
sebagai kreativitas yang berkelanjutan dan yang utama pada perjalanan tersebut adalah
mengenai tradisi dalam menjaga dan mewariskan jiwa, semangat serta nilai-nilai. Maka untuk
penelitian ini perlu dilakukan studi literatur serta penafsiran terhadap subjek yaitu kesenian
melalui pengamatan terhadap gejala-gejala yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat
Minangkabau sebagai fenomena dalam seni tradisi.

Metode

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan melakukan pengamatan
terhadap gejala-gejala kesenian, khususnya mengenai seni tradisi dan kreativitas dalam
kebudayaan masyarakat Minangkabau dengan menggunakan pendekatan Hermeneutik5 dan
studi literatur.

Hermeneutik mempersyaratkan suatu aktivitas konstan dari interpretasi antara bagian
keseluruhan yang merupakan suatu proses tanpa awal dan juga tanpa akhir. Oleh karena itu
dalam penelitian kualitatif, peneliti dapat menyajikan suatu interpretasi atas interpretasi
subyek yang diteliti, juga penelitian didasarkan atas nilai, minat, tujuan dari peneliti sendiri
(Gadamer.1976, p. 23). Hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam
sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan
tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. Adanya simbol, mengundang kita untuk
berfikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali pada maknanya
yang sebenarnya (Thompson. 1982, p 72).

5 Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Nama hermeneutika
diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani hermeneuein yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau
menerjemahkan,

67

Hasil dan Pembahasan

Bentuk - Bentuk Kesenian Tradisi di Minangkabau

Tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan atau bentuk prilaku manusia yang diwariskan oleh
orang-orang terdahulu/ nenek moyang manusia dan menjadi identitas serta jati diri yang
mencirikan masyarakatnya. (Murgiyanto, 2004, p. 10) juga mengatakan, bahwa tradisi
biasanya didefinisikan sebagai cara mewariskan pemikiran, kebiasaan, kepercayaan, kesenian
dari generasi ke generasi/ dari leluhur ke anak cucu secara lisan.

Cirikhas dari suatu masyarakat terbentuk oleh kebudayaannya. Adapun 7 unsur dari
kebudayaan manusia yang universal yaitu bahasa, system pengetahuan, sitem
kemasyarakatan/ organisasi sosial, system peralatan dan teknologi, system mata pencarian
hidup, system religi dan kesenian.

Seni dan tradisi merupakan cerminan budaya masyarakat, khususnya di Minangkabau.
Kesenian sebagai salahsatu unsur kebudayaan dan dimunculkan dari prilaku masyarakat
manusianya. Masyarakat Minangkabau memegang falsafah “alam takambang jadi guru”
(alam terkembang menjadi guru), artinya segala sumber pengetahuan dan prilaku manusia
merujuk kepada alam, segala sesuatu dipelajari dengan mengamati serta melihat kepada
“alam”. Sebagai contoh, untuk memberikan nama/ judul sebuah karya seni yang dilihat dan
menjadi kebiasaan dari peristiwa masa lampau dalam kesenian tambua dan tassa misalnya.
“oyak tabuik” diberi judul kepada satu bentuk penyajian permainan gandang tambua dan
tassa yang memang digunakan pada prosesi “maarak tabuik”, pada memperingati Asyura
pada 10 Muharam atau memperingati peristiwa peperangan antara pasukan cucu Nabi
Muhammad, Husain bin Ali melawan pasukan Umar bin Sa’ad. “Tabuik” sebagai simbol dua
kubu pasukan yang berperang yang disebut perang “karbala”.

Ada juga penamaan dari sifat makhluk hidup dan benda bergerak yang ada di alam
seperti judul; “kureta mandaki”, “si ontong tabang”, “kudo manjompak”, “tupai bagaluik” dan
lain sebagainya. Serta, penamaan bentuk kesenian sesuai dengan dari mana daerah asal
kesenian itu hidup dan berkembang, seperti; “rabab pariaman” dari daerah Pariaman, “rabab
Darek” dari daerah Darek atau “rabab pasisia” dari daerah Pasisia dan lain sebagainya.
Maupun penamaan bentuk kesenian berdasarkan prilaku pelaku seninya. Alam bagi
masyarakat Minangkabau adalah segalanya, bukan hanya sebagai tempat lahir, hidup dan
berkembang secara fisik, tetapi juga dianggap sebagai hal yang mempunyai makna filosofis
(Navis, 1986, p. 59).

Kebiasaan berguru kepada “alam” membuat masyarakat Minangkabau kaya akan seni
budayanya. Kesenian yang hidup pertamanya pada masyarakat Minangkabau merupakan
kesenian tradisi yang erat hubungannya dengan ritual, hiburan serta upacara adat. Sangat
banyak bentuk-bentuk kesenian yang ada dan hidup pada masyarakatnya terutama dalam
bentuk seni musik. Baik itu kesenian musik yang dimainkan dengan cara “digesek” (digesek),
“digua”/ “diguguah” (dipukul), “diambuih” (ditiup), “dipatiak” (dipetik) serta “didendangan”
(didendangkan).

Bentuk kesenian musik yang dimainkan dengan cara “digesek” (digesek) yang ada di
Minangkabau antara lain;

• Rabab Pasisia/ Biola, berkembang dari daerah Pasisia.
• Rabab Darek, dari berkembang daerah Darek Minangkabau/ dataran tinggi Sumatera

Barat.

68

• Rabab Piaman, berkembang dari daerah Pariaman.
• Rabab Badui, dari daerah Sijunjung.

Bentuk kesenian musik yang dimainkan dengan cara “digua”/ “diguguah”(dipukul),
yang ada di Minangkabau antara lain;

• Tassa dan Gandang Tambua, berkembang dari daerah Pariaman, Maninjau dan
sekitarnya.

• Gandang Duo/ Gandang Silek, berkembang dari daerah Muaro Labuah.
• Talempong dan Canang, berkembang dari daerah Darek.
• Talempong Batu, berkembang dari daerah Batu Sangka.
• Talempong Kayu, berkembang dari daerah Darek.
• Indang, berkembang dari daerah Pariaman.
• Rabana/ Rabanea/ Barzanzi, berkembang di daerah Darek dan Rantau.
• Adok, berkembang dari daerah Pasisia.
• Salawaik Dulang/ Salawaik Talam, berkembang dari daerah Tanah Datar.

Bentuk kesenian musik yang dimainkan dengan cara “diambuih” (ditiup), yang ada di
Minangkabau antara lain;

• Saluang Darek, berkembang dari daerah Darek.
• Saluang Panjang, berkembang dari daerah Muaro Labuah.
• Bansi, berkembang dari daerah Darek dan Pasisia.
• Sarunai, Pupuik Gadang, Pupuik Tanduak, Pupuik Batang Padi berkembang dari daerah

Darek.
• Sampelong dan Saluang Sirompak berkembang dari daerah Payokumbuah.
• Saluang Pauah, berkembang dari daerah Pauh Padang.
• Katumbak, berkembang dari daerah Padang Pariaman.

Bentuk kesenian musik yang dimainkan dengan cara “dipatiak” (dipetik), yang ada di
Minangkabau adalah; Kucapi Payokumbuah, berkembang dari daerah Payokumbuah.

Bentuk kesenian musik yang dimainkan dengan cara “didendangan” (didendangkan)
secara penyajiannya biasanya berkolaborasi bersama instrument yang bersifat melodis dan
perkusif, serta dalam pertunjukan yang menyerupai gerak silat. Alat musik yang bersifat
melodis yang dikolaborasikan menjadi satu bentuk kesenian yang “didendangan”
(didendangkan) yaitu pada kesenian Rabab, Kucapi, Saluang, Sampelong, Katumbak dan alat
musik perkusif yang dikolaborasikan menjadi satu bentuk kesenian yang “didendangan”
(didendangkan) yaitu pada kesenian Salawaik Dulang/ Salawaik Talam, Indang, Rabana, dan
Adok. Sedangkan kehadiran bentuk kesenian “didendangan” (didendangkan) dalam
pertunjukan yang menyerupai gerak silat yaitunya pada kesenian Luambek yang berkembang
dari daerah Pariaman. Pertunjukan Luambek terpusat pada gerakan menyerang dan
menangkis yang merupakan inti gerakannya dengan tanpa bersentuhan secara fisik.

Bahkan satu bentuk kesenian yang dibangun oleh empat elemen sekaligus yang ada
dalam penyajiannya adalah kesenian Randai. Adapun elemen yang dihadirkan yaitu; naskah
cerita (drama), gerak (legaran), gurindam (sastra lisan) dan musik tradisional Minangkabau.
Naskah Randai biasanya diangkat dari peristiwa masa lampau dan memang pernah terjadi
pada suatu masyarakat menjadi suatu narasi yang diceritakan. Randai sebagai satu bentuk

69

kesenian bisa dikatakan hidup dan berkembang diseluruh wilayah Minangkabau, baik itu di
daerah Darek maupun Rantau/ Pasisia.

Semua bentuk kesenian di atas merupakan seni tradisi yang hidup dan berkembang di
wilayah kebudayaan masyarakat Minangkabau. Setiap daerah di Minangkabau memiliki
kesenian yang khas sebagai hasil dari prilaku manusia yang membudayakan seni tradisi
sebagai unsur yang mencirikan identitas dan jati diri kebudayaan masyarakatnya.

Kesenian Dalam Kebudayaan Masyarakat Minangkabau

Masyarakat adalah wadah kebudayaan. masyarakat membentuk kebudayaan dan
kebudayaan mengatur masyarakat. Dalam pembentukan itu masyarakat Islam merujuk
prinsip-prinsipnya pada Qur-an dan Hadis, selanjutnya dengan akalnya mereka merumuskan
konsepsi-konsepsinya dan dengan tangannya mereka mengimplumentasikannya (Gazalba.
1983, p. 93). Hal ini sesuai dengan filosofi masyarakat Minangkabau yang menganut falsafah
“adaik basandi syarak. syarak basandi kitabulllah” yang artinya tatanan norma yaitunya nilai-
nilai adat berpedoman kepada agama Islam sebagai prinsip kehidupan yang merujuk kepada
Kitabullah (Al-Qur’an) yang diterapkan sebagai konsepsi dalam kehidupan masyarakat
Minangkabau. Sehingga apa yang ada dalam tradisi masyarakat Minangkabau termasuk
kesenian sebagai salahsatu unsur kebudayaannya merupakan perwujudan yang sesuai
dengan alur/ konsepsi yang berlaku dan tetap dalam nilai kepatutan dan kewajaran.

Untuk membicarakan seni tradisi juga dapat diacu pada pendapat Kasim Ahmad dalam
Lindsay yang dikutip oleh Ediwar dkk. menyatakan: “Kesenian tradisional adalah suatu bentuk
seni yang bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat
lingkungannya. Pengolahannya didasarkan atas cita-rasa masyarakat lingkungannya. Cita-rasa
disini mempunyai pengertian yang luas, termasuk nilai kehidupan tradisi, pandangan hidup,
pendekatan budaya lingkungan. Hasil kesenian tradisional biasanya diterima sebagai tradisi,
pewarisan yang dilimpahkan dari angkatan tua kepada angkatan muda ( Ediwar, Dkk, 2001, p.
14). Pendapat di atas mengungkapkan tentang hubungan seni tradisi dengan masyarakat
pendukungnya, cara pewarisannya dan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang ada didalamnya
yaitu cita rasa masyarakat lingkungannya. Berbagai gejala terjadi pada beberapa bentuk-
bentuk kesenian yang ada pada masyarakat Minangkabau. Hal tersebut sebagai fenomena
dari keberlanjutan dan perubahan seni-seni tradisi kepada seni yang lebih kreatif dan inovatif.
Cita rasa atau “taste” dimaksud masih terasa pada kehadiran musik-musik kreasi hasil dari
kerja inovatif para pelaku-pelaku seni angkatan tua dan kemudian diwariskan kepada
angkatan muda sebagai usaha pengkaderan.

Musik dengan wujudnya bunyi-bunyian diselaraskan sesuai cita rasa Minangkabau.
Perubahan bisa saja terjadi pada bentuk-bentuk maupun teknik penyajiannya sebagai
keberlanjutan, namun nilai-nilai serta maknanya tetap mengandung budaya Minangkabau.
Sebagaimana juga dikatakan oleh Purwanto bahwa, berbagai pengalaman makhluk manusia
dalam rangka kebudayaannya, akan diteruskan kepada generasi berikutnya atau dapat
dikomunikasikan dengan individu lainnya karena ia mampu mengembangkan gagasan-
gagasannya dalam bentuk lambang-lambang vokal berupa bahasa, serta dikomunikasikan
dengan orang lain melalui kepandaiannya berbicara, tulisan maupun karya seni (Purwanto,
2000, p. 88).

Susanne K. Langer dalam Lauer, juga mengatakan bahwa unsur keindahan itu seolah-
olah mutlak harus ada dalam segala macam seni. Seni selalu dihubung-hubungkan dengan

70

unsur keindahan. Tetapi apa yang dapat diselami tentang arti “keindahan seni itu?. Pertama-
tama, biasanya menunjuk pada keteraturan susunan bagian dari bentuk seni atau “aspek
bentuk”, kemudian keselarasan unsur-unsur maupun pola yang mempersatukan bagian-
bagiannya atau “aspek teknik”. Tetapi di samping itu, yang lebih penting adalah sesuatu yang
bersangkutan dengan “aspek isi”, atau makna, nilai, maupun pesan yang dikandungnya
(Lauer, 1993, p. 103).

Berkaitan dengan makna, nilai, maupun pesan (aspek isi) yang ada dalam seni secara
implisit mengandung artian “baik”, berguna, berfungsi, atau bermanfaat. Arti “kebaikan” atau
“kemanfaatan” dalam konteks moral atau tidak bertentangan dengan norma-norma yang
berlaku dimasyarakat. Sedangkan melalui aspek bentuk dan aspek teknik berupa simbol-
simbol seni dapat dicerna melalui cita rasa yang dimaksud sebelumnya.

Sehubungan dengan permasalahan simbol seni, adalah pernyataan kehendak manusia
mengenai sesuatu dalam bentuk atau wujud karya seni, dan mempunyai arti sesuai dengan
maksud dari pernyataan itu. Sebagai sebuah bentuk simbolis, karya seni tentunya sudah
mengalami transformasi, yaitu dari pengalaman manusia penciptanya yang diperdapat
melalui perenungan-perenungan, untuk kemudian membuatnya menjadi suatu pengalaman
umum yang bisa dicerna orang lain. Dalam masyarakat tradisi, bentuk kesenian demikian
diakui sebagai salahsatu ungkapan kreativitas masyarakat secara kolektif. Oleh karenanya,
masyarakat tersebut akan menganggap bahwa kesenian itu adalah milik mereka yang dapat
mewakili keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan yang beraneka ragam. Dengan
demikian mereka akan memberi peluang untuk kesenian itu tumbuh dan berkembang,
sekalipun pada awalnya diciptakan oleh seorang dari anggota masyarakatnya.

Maka untuk mewujudkan suatu perubahan terhadap karya seni dengan mutu yang
sesuai dengan cita rasa masyarakat saat ini/ “kekinian” dapat diupayakan dengan melakukan
inovasi terhadap objek karya seni itu sendiri. Untuk itu dijuga dibutuhkan “usaha yang
kreatif”/ kreativitas, sehingga musik sebagai karya seni yang berbentuk symbol itu memiliki
potensi untuk bertransformasi sesuai dengan pengalaman manusia yang melakukan
kreativitas. Sehingga, hasil kreativitas yang berupa simbol-simbol seni dengan cita rasa dan
“mutu baru” terutama musik, dapat diamati pada kebudayaan Minangkabau yang saat ini
sebagai pelahiran bentuk-bentuk karya seni yang secara utuh dipandang sebagai “musik
kreasi”.

Salah satu bentuk musik kreasi yang merupakan pelahiran kreativitas angkatan tua yang
ada di Minangkabau adalah talempong kreasi. Musik talempong kreasi mulai tumbuh dan
berkembang pada akhir tahun 1970-an. Hal ini didasarkan pada pernyataan Murad St. Saidi,
yang mengemukakan bahwa talempong kreasi lahir pada bulan Agustus tahun 1968 (Bahar,
2009, p 179). Pendapat ini didukung oleh (Margaret J. Kartomi, 1979, p. 24) dalam Yeni, yang
dimaksud dengan musik talempong kreasi adalah musik yang dimainkan dengan “ansambel
talempong” menggunakan system nada diatonik dan komposisi musik tersebut niscaya diolah
berdasarkan pada system ilmu harmoni. Alat musik pada ansambel ini adalah talempong dan
canang, disamping gandang dan alat musik tiup, yaitu saluang, bansi atau serunai.

Menurut Hanefi dkk, talempong kreasi lahir di Sumatera Barat sebagai hasil kerja
bersama beberapa seniman musik Minangkabau di era 70-an. Kelahirannya tidak terlepas
dari peran, diantaranya, Akhyar Adam, Yusaf Rahman, Murad St. Saidi, dan Irsyad Adam.
Beliau-beliau merupakan seniman Minangkabau yang bertugas pada lembaga pendidikan
seni di Sumatera Barat sekaligus menentukan talempong kreasi sebagai mata pelajaran dan

71

mata kuliah ditempat mereka mengabdikan diri (Hanefi dkk, 2004, p. 68). Dengan begitu
talempong kreasi saat ini dalam konteks “tradisi” (mewariskan nilai-nilai, jiwa dan semangat)
masih tumbuh subur, hidup dan berkembang hingga ke generasi Milenial sebagai angkatan
muda pada saat ini.

Kesimpulan

Pada hakikatnya masyarakat Minangkabau senantiasa berpegang pada falsafah yang
dianutnya sebagai konsepsi dalam mewujudkan kebudayaan. Kesenian dalam kebudayaan
masyarakat Minangkabau hidup dan berkembang bersama perjalanan waktu serta daya
kreativitas masyarakatnya dinamis. Seni tradisi Minangkabau sangat tergantung kepada alam
dan lingkungan masyarakatnya. Namun dalam perjalanannya sebagai subjek dalam
kebudayaan pada akhirnya mampu hidup dan berkembang bersama daya kreatifitas
masyarakat seni kesenian itu sendiri.

Sedangkan sebagai objek dalam kesenian yaitu mengenai karya seninya. Pada
pandangan “tekstual” (aspek bentuk, aspek teknis dan aspek isi) merupakan suatu
keberlanjutan dan perubahannya. Sedangkan dalam pandangan “kontekstual” (aspek
fungsional) kesenian dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau tetap mewariskan
mewariskan nilai-nilai, jiwa dan semangat sebagai identitas yang mencirikan musik
Minangkabau. Talempong kreasi salahsatu produk kreativitas seniman masa lampau adalah
salah satu bentuk keberlanjutan dan perubahan kesenian yang dimaksud.

Keberlanjutan dan perubahan seni tradisi sebagai bentuk kesenian dalam perjalanan
dan perkembangan pada kebudayaan masyarakat Minangkabau yang dinamis telah dimulai
pada era 70-an. Hal tersebut ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh seniman Minangkabau
serta lahirnya lembaga-lembaga formal pendidikan seni, seperti ASKI (ISI sekarang), SMKI
Padang, serta IKIP Padang (UNP sekarang).

References

A.A. Navis. (1986). Alam Takambang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta.
PT. Mutiara Sumber Widya.

Ardipal, A. (2015). Peran Partisipan sebagai Bagian Infrastruktur Seni di Sumatera Barat:
Perkembangan Seni Musik Talempong Kreasi. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 16(1), 15–
24.

Bahar, Mahdi. 2009. Musik Perunggu Nusantara. Perkembangan Budayanya di Minangkabau.
Bandung: Sunan Ambu STSI Bandung Press

Gazalba, Sidi. 1983. Islam dan Perobahan Sosiologi Kajian Islam Tentang Perobahan
Masyarakat. Penerbit; Pustaka Alhusna.

Gadamer, H.G. 1976. Philosophical Hermeneutics. Barkeley: University of Calivornia Press.

J.B, Thompson. 1982. Hermeneutics & the Human Sciences. New York: Combridge University
Press.

Purwanto, Hari. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi.
Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Lauer, Robert H. 1993. PERSPEKTIF TENTANG PERUBAHAN SOSIAL. Terjemahan: Alimandan
S.U Jakarta: PT. Rineka Cipta.

72

Sal Murgianto, (2004). Tradisi dan Inovasi: Beberapa Masalah Tari di Indonesia. Jakarta:
Wedatama Widya Sastra.

Yeni, I. (2012). Perkembangan Instrumentasi dan Lagu Talempong Kreasi di Sumatera Barat.
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, Dan Seni, 11(2).
https://doi.org/10.24036/komposisi.v11i2.80

Wolff, Janet, 1993. The Sosial Production of Art. New York: New University Press.

73

PELESTARIAN PENGETAHUAN SENI UKIR

MASYARAKAT MINANGKABAU

Hanifah Isnan*), Yuli Rohmiyati

Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro,
Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Pelestarian Pengetahuan Seni Ukir Masyarakat Minangkabau”. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pelestarian pengetahuan seni ukir pada masyarakat Minangkabau. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif deskripitif dengan menggunakan pendekatan studi kasus, teknik pemilihan informan yang
digunakan adalah Snowball Sampling dengan memilih seorang informan kemudian mendapatkan informan lain dari
informan pertama. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa proses pelestarian dan tansfer pengetahuan seni ukir Minangkabau telah
berlangsung sejak seni ukir Minangkabau lahir. Pelestarian pengetahuan dilakukan dengan dua cara yaitu pemilihan
dan pengumpulan. Kendala dalam pelestarian pengetahuan yaitu: kebiasaan masyarakat dengan adat istiadat secara
lisan, kebiasaan masyarakat bakaba babarito (berkabar berberita), tidak semua adat istiadat Minangkabau dapat
diketahui banyak orang, tidak adanya standarisasi, kurangnya minat masyarakat dalam melestarikan kebudayaan,
dan tidak adanya database pengetahuan budaya.

Kata kunci: Manajemen Pengetahuan, Pelestarian Pengetahuan, Seni Ukir Minangkabau

ABSTRACT

This research entitles "The Carving Knowledge Preservation of Minangkabau Society". The purpose of this study
was to determine the knowledge of sculpture conservation in Minangkabau society. This study used a descriptive
qualitative method by using a case study approach, the technique of informant selection used is Snowball Sampling
by choosing an informant then gets another informant from the first informant. The data collection techniques used
observation, interviews and documentation study. The results of this research show that the process of preservation
and tansfer of Minangkabau sculpture knowledge has been going on since the Minangkabau sculpture were born.
The preservation of knowledge was done in two ways: the selection and aggregation. The constraints in the
knowledge preservation, were: people’s customs with the orally traditions, people's habits of bakaba babarito
(berkabar berberita), not all of Minangkabau costums are knonw by many people, lack of standardization, lack of
public interest in preserving the culture, and the absence of a database of cultural knowledge.

Keyword: Knowledge Management, Preservation Knowledge, Carving of Minangkabau

*) Penulis Korespondensi.
E-mail: [email protected]

I. Pendahuluan aset utama. Manajemen pengetahuan tersebut
merupakan suatu pengorganisasian pengetahuan yang
Pengetahuan berkembang pesat dalam aspek dimiliki oleh individu dalam suatu organisasi. Dengan
manajemen pengetahuan maka pengetahuan akan
kehidupan. Pengetahuan merupakan kemampuan dapat dikelola dengan baik, sehingga pengetahuan
individu yang beragam menjadi mudah dipadukan
manusia yang dihasilkan dari informasi yang agar dapat menjadi pengetahuan organisasi.

ditafsirkan. Pemahaman tersebut mengakar pada Pengetahuan asli (Indigenous Knowledge)
merupakan pengetahuan yang asli dari masyarakat
kombinasi data, informasi, pengalaman, dan yang bersifat tradisi. Pengetahuan asli merupakan
pengetahuan yang bersifat lokal. Pengetahuan tersebut
interpretasi individu. Pengetahuan yaitu penggunaan dilahirkan dan dikembangkan oleh komunitas
masyarakat tertentu dan didalamnya mengatur banyak
potensial, kompetensi, ide atau pikiran, komitmen dan hal yang berhubungan dengan komunitas tersebut.
Pengetahuan asli bersifat unik, yakni hanya dimiliki
motivasi seseorang. Atau dengan kata lain dan dikuasai oleh komunitas pemilik pengetahuan.
Transfer pengetahuan pada umumnya dilakukan
pengetahuan merupakan pemahaman manusia secara lisan atau oral dari satu generasi ke generasi
selanjutnya.
terhadap sesuatu yang telah didapatkan melalui proses
Pengetahuan asli berhubungan erat dengan
pembelajaran dan pengalaman (Tan, 2010: 54). Dari aktifitas, hubungan, serta kebiasaan anggota
komunitas atau kelompok masyarakat. Biasanya
pengalaman itulah manusia dapat memperoleh pengetahuan hanya dimiliki dan dikuasai oleh orang-
orang atau kelompok tertentu saja. Mereka yang
informasi dan keterangan mengenai suatu hal. menguasai pengetahuan memiliki kedudukan dan
peranan yang lebih, terutama untuk pemecahan
Pengetahuan merupakan milik atau isi pikiran manusia permasalahan dalam keseharian komunitas.

yang merupakan hasil dari proses usaha manusia UNESCO merumuskan sebuah pengertian
pengetahuan asli:
untuk tahu. Tanpa pengetahuan seseorang tidak dapat
“Indigenous knowledge or local knowledge
menemukan jati dirinya karena pengetahuan dapat refers to a complete body of knowledge, know-
how and practice maintained and development
menunjukkan jalan yang terbaik untuk ditempuh oleh peoples, generally in rural areas, who have
extended histories of interaction with the
seseorang. natural environment. These set of
understandings, interpretations, and meanings
Pengetahuan (Knowledge) sebagai hasil refleksi are part of cultural complex that encompasses
language, naming and classification systems,
dan pengalaman seseorang yang dipunyai oleh practice for using resources, ritual, spiritually
and worldview. It provides the basic for local-
individu atau kelompok. Pengetahuan adalah level decision making about many fundamental
aspects of day-to-day life. Non-formal
campuran dari pengalaman yang dibingkai, nilai-nilai, knowledge to formal knowledge is handed over
orally, from generation to generation, and is
informasi kontekstual, dan wawasan ahli yang therefore seldom documented” (Boven and
Morohashi, 2002: 6).
memberikan kerangka untuk mengevaluasi dan
Pendapat lain yang mengemukakan tentang
menggabungkan antara pengalaman baru dan pengertian pengetahuan asli dikemukakan oleh
Warren, yakni:
informasi. Semua itu berasal dan diterapkan oleh
“Indigenous Knowledge has been defined as
peneliti (Wallace dalam Primadesi, 2012:9-10). the local knowledge knowledge that is unique
to a given culture or society. It is basis for
Pengetahuan merupakan informasi terhadap suatu locallevel decision making in agriculture,
health care, food preparation, education,
obyek yang diperoleh berdasarkan pengalaman dari natural resource management, and a host of
other activities in total communities” (Warren,
lingkungan sekitar masyarakat. Perkembangan 1991, as cited in World Bank, 1998)

teknologi informasi juga berpengaruh besar terhadap

pengetahuan dan perkembangan pengetahuan.

Pengetahuan ada dua golongan yaitu pengetahuan

yang tersembunyi (Tacit Knowledge) dan pengetahuan

yang sudah ada (Explisit Knowledge). Dalam

pengetahuan yang tersembunyi terdapat pengetahuan

asli (Indigenous Knowledge) (World Bank dalam

Olaide, 2013: 88) atau biasanya disebut pengetahuan

kedaerahan yang hanya dimiliki oleh orang atau

golongan tertentu saja, dan proses transfer yang

dilakukan secara lisan sangat memungkinkan

terjadinya penyimpangan, pengurangan bahkan

hilangnya pengetahuan dalam proses

penyebarluasannya. Sehingga berpengaruh terhadap

generasi selanjutnya. Oleh sebab itu pengetahuan asli

perlu dilestarikan, pelestarian pengetahuan tersebut

dikelola dalam manajemen pengetahuan (Knowledge

Management) (Tan, 2010: 55).

Pengetahuan perlu adanya pelestarian agar

pengetahuan tidak punah begitu saja dan dapat

dimanfaatkan oleh generasi seterusnya. Dalam

manajemen pengetahuan ada istilah yang disebut

preservasi pengetahuan (Knowledge Preservation).

Preservasi pengetahuan ini yang akan membahas

bagaimana proses pengetahuan itu dipertahankan

keutuhannya (Karsono, 2010: 157).

Dalam manajemen pengetahuan dilakukan suatu

pengelolaan yang menggunakan pengetahuan sebagai

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli individuals communities, organizations, or indistries.”
di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan asli (Mazour, 2010: 5)
merupakan pengetahuan non-formal yang diperoleh
masyarakat dari interaksi dengan lingkungan alam Salah satu cara orang mendapatkan
yang diperoleh secara turun-temurun. Pengetahuan pengetahuan yaitu dari pengalaman, pengalaman yang
asli juga merupakan dasar pengambilan keputusan berasal dari seseorang yang suka mengembangkan
diberbagai bidang kegiatan masyarakat. rutinitas untuk memecahkan masalah. Pengalaman
merupakan pengetahuan tacit yang sulit untuk
Pengetahuan asli merupakan pengetahuan yang dilestarikan.
unik dipertahankan untuk pembangunan masyarakat
terutama pada pedesaan, telah menambah sejarah Proses dasar preservasi pengetahuan menurut
interaksi pada lingkungan alam. Pengetahuan asli Romhardt ada 3 yaitu:
bagian dari kompleks budaya yang meliputi bahasa, Bagan 2 : The main processes of knowledge
penamaan dan sistem klasifikasi, praktik untuk preservation (Proses utama pelestarian
menggunakan sumber daya, ritual spiritual dan pengetahuan)
pandangan dunia. Pengetahuan non formal untuk
pengetahuan formal disajikan secara lisan, dari selecting storing actualizing
generasi ke generasi
Sumber: Romhard, 1997
Preservasi pengetahuan merupakan upaya agar
pengetahuan tetap ada dalam organisasi dan tidak Namun, ada yang lebih rinci lagi rangkaian
hilang karena anggota organisasi meninggalkan preservasi pengetahuan mencakup:
organisasi tersebut. Dengan adanya preservasi
pengetahuan harapannya tidak terjadi organizational 1 Pemilihan (Selecting)
memory loss (kehilangan kenangan organisasi), agar Proses pemilihan dari mana asal atau dari
organisasi mampu melestarikan kapasitasnya demi siapa pengetahuan akan disajikan dan jenis
keefektifan. Preservasi pengetahuan mencakup dua apa yang akan dipreservasi, setelah
kegiatan utama yaitu mencakup menangkap (capture) pengetahuan tersebut dipilih kemudian
pengetahuan dan menyimpan pengetahuan ke tandon dipetakan untuk dikumpulkan (Collecting)
pengetahuan (knowledge respository).
2 Pengumpulan (Collecting)
Mazour berpendapat bahwa “Knowledge Proses pengumpulan pengetahuan yang telah
preservation is a process for maintaining knowledge dipilih, setelah terkumpul makan
important to an organization’s mission that stores pengetahuan disimpan (Storing)
knowledge or information overtime and provides the
possibility of recall for the future” (Mazour, 2010: 5) 3 Penyimpanan (Storing)
Proses penyimpanan pengetahuan yang telah
Preservasi pengetahuan merupakan sebuah disimpan menjadi bentuk yang sesuai dengan
kegiatan untuk menjaga, mempertahankan dan kebutuhan, kemudian diaktulisasikan
melestarikan pengetahuan yang ada dalam organisasi (Actualizing)
atau komunitas agar informasi tidak hilang termakan
zaman dan dapat dimanfaatkan untuk masa depan. 4 Aktualisasi (Actualizing)
Hilangnya pengetahuan disebabkan oleh banyak Kegiatan aktualisasi dapat dilakukan melalui
faktor, seperti rusaknya media penyimpanan mentoring dari pemilik pengetahuan kepada
pengetahuan, perginya individu yang menguasai peserta mentoring. Kemudian pengetahuan
pengetahuan tertentu dari organisasi tersebut dan harus dijaga dan dilindungi (Protecting)
faktor lainnya.
5 Perlindungan (Protecting)
Informasi adalah data yang telah terorganisir Banyak penyimpangan yang mengakibatkan
dalam konteks dan diterjemahkan kedalam bentuk hilangnya pengetahuan, oleh karena itu
yang memiliki struktur dan makna. Sementara kegiatan menjaga dan melindungi
pengetahuan adalah kapasitas untuk tindakan yang pengetahuan perlu dilakukan.
efektif; memperoleh, memahami dan menafsirkan dari
informasi. Pengetahuan terbagi 2 yaitu Pengetahuan 6 Pengaksesan (Accsessing)
eksplisit dan pengetahuan tacit, pengetahuan eksplisit Pengetahuan yang telah disimpan harus bisa
yaitu pengetahuan yang tertanam dalam dokumen, dimanfaatkan oleh komunitas atau organisasi
gambar, perhitungan, desain, database, prosedur atau yang menyimpan dengan memudahkan
manual dan Pengetahuan tacit yaitu pengetahuan yang aksesnya. (Romhardt, 1997: 6)
ada dalam pikiran seseorang dan telah biasanya belum
ditangkap atau ditransfer dengan cara formal (jika itu Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa
maka pengetahuan eksplisit) yang ada di Indonesia yang memiliki bahasa, budaya,
kawasan dan suku. Masyarakat Minangkabau
Pengetahuan sangat ditentukan oleh proses merupakan kelompok masyarakat yang masih
transfer dan preservasi pengetahun. Menurut Mazour: menjunjung tinggi adat dan kebudayaannya,
“Knowledge transfer the transfer of knowledge in a disamping itu juga mencintai seni. Berbagai macam
broad array of settings: between individuals, grops of seni yang ada di Minangkabau ini, memiliki sejarah
berdasarkan jenisnya masing–masing.

Salah satu seni di Minangkabau adalah seni ukir Ukiran merupakan produk akhir dari seni ukir
(Ukia). Seni ukir merupakan bagian dari arsitektur yang merupakan bagian dari seni keterampilan
Minangkabau yang tak kalah menarik dari seni kerajinan. Ukiran adalah gambar ragam hias timbul,
Minangkabau yang lainnya, yang mana tiap ukirannya yang tercipta dari kreasi seni manusia dengan jalan
memiliki lambang ajaran yang tersirat. Makna yang mengorek bagian tertentu dari permukaan sebuah
terkandung dalam seni ukir Minangkabau benda, sehingga membentuk satu kesatuan ragam hias
membicarakan tentang kehidupan. Jadi penempatan yang indah dan harmoni (Azrial, 1995: 7-8).
ukiran tradisional Minangkabau ini tidaklah
sembarangan, setiap motif ukiran memiliki makna dan Selanjutnya, ukiran tradisional Minangkabau
fungsi yang berbeda yang akan mempengaruhi adalah gambaran ragam hias timbul, yang tercipta dari
penempatannya. kreasi seni orang Minangkabau dengan jalan
mengorek bagian tertentu dari permukaan sebuah
Ukiran Minangkabau ini biasanya diterapkan benda, sehingga membentuk suatu kesatuan ragam
pada bangunan adat Minangkabau yang biasa disebut hias yang indah dan harmoni, yang biasanya juga
Rumah Gadang, balai adat dan kantor. Selain itu juga mengandung makna tertentu (Azrial, 1995: 8).
pada perabotan rumah tangga seperti lemari, kursi
tamu dan meja. Pada perkembangan selanjutnya motif Motif - motif yang berasal dari nama makhluk
ukiran banyak digunakan pada masjid, toko, bahkan hidup lantas dideformasi sehingga tidak dapat dikenali
hingga saat ini diterapkan pada pakaian dan kain yang lagi bentuknya sesuai dengan motifnya seperti motif
biasanya diberi motif seperti motif ukiran yang biasa kuciang manyusui anak tidak di jumpai lagi motif
disebut songket, kain songket ini terkenal di daerah tersebut, motif yang digambarkan justru lebih
Pandai Sikek yang merupakan daerah pertama di cenderung mendekati bentuk - bentuk dari tumbuh-
Sumatera Barat yang mencetuskan seni ukiran ini. tumbuhan.

Bentuk motif ukiran Minangkabau pada Nama-nama motif Minangkabau diambil sesuai
umumnya bersumber kepada falsafah Alam dengan bentuk dasar motif yang di ubah. Motif
Takambang Jadi Guru yang maksudnya adalah bahwa tersebut barasal dari nama-nama tumbuhan, binatang,
alam yang luas dapat dijadikan guru. Seluruh motif atau benda-benda lainnya. Nama-nama motif tersebut
yang diciptakan dikembalikan pada sifat dan bentuk juga dikaitkan dengan kata kata adat yang menjadi
alam. Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ragam pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan
hias tidak diungkapkan secara realistis atau masyarakat sehari-hari.
naturalistik, tapi bentuk-bentuk tersebut distalisasikan
sedemikian rupa sehingga menjadi motif-motif yang Bergesernya penempatan ukiran tradisional
dekoratif. Beberapa ahli berpendapat bahwa Minangkabau menyebabkan menurunnya nilai ukiran
perkembangan motif seni ukir Minangkabau dimulai itu sendiri. Ukiran yang pada awalnya ditempatkan
dari corak yang realistis kemudian setelah melewati pada Rumah Gadang dan benda atau peralatan
masa-masa yang panjang mencapai perubahan tradisional dengan pertimbangan makna tiap motifnya
sebagaimana yang ditemukan sekarang. sekarang penempatannya berubah menjadi pada
furnitur yang dalam penempatannya tidak lagi
Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan mempertimbangkan makna yang ada pada motif ukir.
perkembangan zaman, tradisi kebudayaan termasuk Jika kondisi ini terus berlanjut motif ukir
seni ukir telah terlupakan oleh masyarakat Minangkabau hanya akan dipandang sebagai hiasan
Minangkabau. Salah satu contoh kasusnya yaitu, atau dekorasi saja. Untuk itu perlu diinformasikan
pembangunan kembali Istano Basa Pagaruyuang jenis-jenis ukiran Minangkabau menurut klasifikasi
(Istana Basa Pagaruyung) yang telah terbakar. objek acuannya serta makna yang dikandung tiap
Pembangunan tersebut membutuhkan ahli ukia (ukir) motifnya.
untuk menjadikan Istano Basa Pagaruyuang persis
sama seperti bentuk semula. Sangat disayangkan Motif ukir tradisonal Minangkabau yang
sekali saat ini sudah menipisnya generasi penerus seni diterapkan pada bangunan pemerintahan dan museum
ukir tersebut, sehingga pihak penyelenggara hanya mendokumentasikan motif ukirnya saja,
pembangunan harus mencari orang yang dulu pernah sedangkan makna motif tidak. Bahkan pengunjung
mengukir istana yang lama, maka penulis menjadikan museum sendiri pun tidak mendapat penjelasan
pengukir tersebut sebagai informan dalam penelitian mengenai motif ukir tersebut.
ini.
Pada masa sekarang dengan munculnya bahan
Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti bangunan yang lebih murah dan efisien, Rumah
tertarik untuk mengambil permasalahan yang Gadang pun sudah jarang ditemui. Secara otomatis
berkaitan dengan pelestarian pengetahuan seni ukir ukiran Minangkabaupun mulai tidak digunakan lagi
pada kebudayaan Minangkabau. Preservasi atau bahkan dilupakan keindahannya. Begitu juga halnya
pelestarian pengetahuan kebudayaan suatu daerah dengan benda-benda atau peralatan tradisional
mengenai tradisi dan seni manapun jika tidak berbahan dasar kayu, tempurung atau dan lain
dilaksanakan maka akan habis ditelan waktu dan sebagainya yang tadinya juga merupakan media
zaman modern karena banyaknya kebudayaan luar penerapan ukiran, telah tergantikan oleh peralatan atau
(asing) masuk ke Indonesia. benda yang lebih modern yang sudah tidak lagi dihiasi
ukiran.

Keistimewaan dari rumah adat Minangkabau Penelitian yang ketiga yaitu “Rumah Tuo Kampai nan
tidak saja terletak pada bentuknya yang anggun dan Panjang: Kajian Nilai-nilai Budaya dan
tinggi, tetapi juga berbagai ragam hias yang Pemanfaatannya” penelitian ini dilakukan oleh Dr.
dipahatkan (ukir) pada dinding dan bagian–bagian Wiwin Djuwita Sudjana Ramelan, M.Si dan Yoka
lain dari bangunan tersebut. Ukiran ditempatkan pada Febriola S.Hum pada tahun 2013 termasuk merupakan
seluruh tubuh bagunan. Dinding, pintu, jendela yang pelestarian pengetahuan lokal masyarakat
dihiasi dengan ukiran yang terdiri dari beberapa motif. Minangkabau. Penelitian ini membahas tentang rumah
tradisional suku Minangkabau yang menunjukkan
Semua jenis ukiran menunjukkan bahwa unsur tingkat kemahiran manusia lampau dalam seni
penting pembentuk budaya Minangkabau bangunan. Penelitian ini juga sama-sama membahas
bercerminkan kepada apa yang ada di alam. Budaya tentang pelestarian pengetahuan lokal masyarakat
Minangkabau adalah suatu budaya yang berguru Minangkabau, sama berhubungan dengan seni dan
kepada alam dengan istilahnya Alam Takambang Jadi bangunan. Perbedaan penelitian ini terdapat pada
Guru. Pernyataan ini memiliki pengertian bahwa objek penelitian. Objek penelitian pada penelitian ini
hampir semua aspek kehidupan masyarakat adalah pelestarian pengetahuan Rumah Tuo nan
Minangkabau berinspirasikan kepada alam. panjang.

Penelitian yang berhubungan dengan tradisi II. Metode Penelitian
lisan dan preservasi pengetahuan dalam ukiran Desain penelitian adalah kerangka kerja yang
Minangkabau telah banyak dilakukan. “Preservasi digunakan untuk melaksanakan penelitian. Pola desain
Pengetahuan Ttradisi Lisan: Studi Kasus Seni penelitian dalam setiap disiplin ilmu memiliki
Pertunjukan Randai Minangkabau” dilakukan oleh kekhasan masing-masing, namun prinsip-prinsip
Yona Primadesi pada tahun 2013 merupakan contoh memiliki banyak kesamaan. Berdasarkan
penelitian yang berhubungan dengan preservasi seni permasalahan yang akan diteliti, maka jenis penelitian
ukir. Penelitian ini berangkat dari permasalahan tidak yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Menurut
adanya catatan khusus sejarah yang dapat disajikan Poerwandari dalam Afifudin dan Saebani (2009:130)
petunjuk kapan seni randai muncul dan siapa pencipta penelitian kualitatif adalah penelitian yang
kesenian tersebut. Penelitian ini sama-sama membahas menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya
tentang pelestarian pengetahuan lokal kesenian yang deskriptif, seperti transkripsi wawancara, catatan
ada di Minangkabau Sumatera Barat, sementara lapangan, gambar , foto, rekaman video, dan lain-lain.
perbedaannya terdapat pada objek penelitian. Objek
penelitian pada penelitian ini adalah preserasi Pada penelitian kualitatif dengan jenis
pengetahuan tradisi lisan yaitu pertunjukan Randai. penelitian studi kasus dipilih karena peneliti ingin
memahami pelestarian pengetahuan seni ukir
Selain itu juga ada Penelitian yang berjudul Minangkabau. Menurut Cresswell penelitian studi
“Preservasi Pengetahuan Masyarakat Minangkabau kasus adalah pendekatan kualitatif yang penelitinya
tentang Tradisi Lisan Pasambahan melalui kegiatan mengeksplorasi kehidupan nyata, sistem terbatas
Exchange of Indigenous Knowledge” yang dilakukan kontemporer (kasus) atau beragam sistem terbatas
oleh M. fadli, Wina Erwina, Nurma prahatmaja pada (berbagai kasus), melalui pengumpulan data yang
tahun 2012 juga merupakan penelitian berikutnya detail dan mendalam yang melibatkan beragam
yang berbicara tetang preservasi pengetahuan tradisi sumber informasi atau sumber informasi majemuk
lisan. Mereka berbicara tentang keberadaan tradisi (misalnya, pengamatan, wawancara, bahan
lisan dalam masyarakat Minangkabau. Dalam audiovisual, dokumen dan berbagai laporan), dan
penelitian ini dijelaskan bahwa tradisi pasambahan melaporkan deskripsi kasus dan tema kasus. (2015:
merupakan salah satu tradisi lisan dalam bentuk dialog 135-136)
antara tamu (si alek) dan tuan rumah (si pangka)
menggunakan dialek Minangkabau dengan Objek penelitian pada penelitian ini adalah
menggunakan pantun, ungkapan dan perumpamaan. pelestarian pengetahuan seni ukir (ukia)
Namun, sudah jarang generasi muda yang dapat Minangkabau. Sedangkan yang menjadi subjek
melakoni tradisi ini karena terbatasnya pemahaman penelitian pada penelitian ini adalah informan dan
tentang pengetahuan tradisi tersebut dan generasi masyarakat Minangkabau yang masih mempelajari
muda yang dipengaruhi oleh berbagai hiburan modern seni ukir. “Subyek penelitian adalah orang yang
yang membuat kurangnya minat belajar generasi muda berada dalam situasi sosial yang ditetapkan sebagai
akan kebudayaan yang dirasa kuno dan tidak menarik pemberi informasi dalam sebuah penelitian atau
sehingga fenomena ini sangat berpengaruh terhadap dikenal dengan informan” (Mukhtar, 2013: 89).
eksistensi tradisi kebudayaan Minangkabau hingga Dalam penelitian ini subyek yang dimaksud adalah
masa akan datang. Hampir sama dengan penelitian di pemberi informasi yang dibutuhkan untuk penelitian.
atas, penelitian ini sama-sama membahas tentang
pelestarian pengetahuan lokal masyarakat Teknik pengumpulan data perlu dilakukan
Minangkabau. Namun, objek penelitian ini yaitu dengan tujuan agar mendapatkan data-data yang valid
mengenai tradisi lisan pasabahan adat perkawinan di dalam penelitian. Untuk memperoleh pemahaman
Sumatera Barat. tentang kegiatan preservasi pengetahuan seni ukir
Minangkabau, maka dilakukan proses pengumpulan
data melalui:

A. Observasi budaya Minangkabau yang masuk menjadi kriteria
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara informan.
sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam
suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian Tabel 4. Daftar Informan Penelitian
(Nawawi & Martini dalam Afifuddin dan Saebani,
2009: 134). Peneliti mengumpulkan data melalui Informan Nama Status
internet, jurnal online dan penelitian lain yang
berhubungan. Jenis observasi yang digunakan peneliti Pertama Zupeno St Rajo Tim Ahli serta
dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan. Manih pengawas ukiran
Observasi non partisipan merupakan observasi yang Istano
tidak melibatkan peneliti dalam kegiatan yang diteliti,
peneliti terpisah dari kegiatan yang diobservasi, Kedua Djafri Dt. Pencipta kata
peneliti hanya mengamati dan mencatat apa yang Bandaro Lubuak dalam motif
terjadi di lapangan. (Sulistyo-Basuki, 2006: 151) Sati ukiran
Minangkabau
Observasi dilakukan terhadap perilaku dan
aktivitas masyarakat pemilik tradisi, meliputi tata cara Ketiga Yuwandri. St. Pengukir Istano
pelaksanaan, proses transfer dari generasi tua kepada Bagindo Basa
generasi selanjutnya, serta aktivitas lainnya dalam Pagaruyuang
lokasi penelitian yang berhubungan dengan seni ukir.
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang 1. Zupeno St Rajo Manih (Informan Pertama)
paling awal dilakukan dalam penelitian. Akan tetapi, Informan pertama dalam penelitian ini adalah Zupeno
observasi tetap dilakukan sepanjang penelitian karena St (Singkatan dari Sutan yang merupakan salah satu
data melalui wawancara perlu didukung oleh data gelar bagi lelaki Minangkabau yang telah beristri)
yang diperoleh melalui observasi atau pengamatan Rajo Manih atau yang lebih dikenal dengan Mak Peno
langsung dilapangan. (informan pertama). Mak Peno dipilih sebagai
B. Wawancara informan sesuai dengan kriteria informan dan
Wawancara adalah metode pengambilan data dengan pertimbangan-pertimbangan lain yaitu:
cara menanyakan sesuatu kepada seseorang yang
menjadi informan atau responden (Afifuddin dan a Merupakan salah satu pengukir Istano Basa
Saebani, 2009: 131). Dalam penelitian ini Pagaruyuang sebelum peristiwa kebakaran.
menggunakan wawancara tidak terstruktur.
Wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara b Penerus pengukir Istano Basa Pagaruyuang
yang dilakukan tanpa struktur yang jelas (Sulistyo- setelah meninggalnya Malin Kuniang (Malin
Basuki, 2006: 173). Hasil wawancara peneliti gunakan kuniang merupakan pemilik pengetahuan
sebagai sumber data utama dalam penelitian ini. seni ukir dan juga guru seni ukir.)

Peneliti melakukan wawancara secara langsung c Ditunjuk sebagai tim ahli pengawas ukiran
(face-to-face interview) dengan teknik wawancara Istano Pagaruyuang yang baru.
mendalam. Peneliti menyiapkan rancangan pertanyaan
yang menjadi acuan dalam melakukan wawancara d Masih menggeluti dunia seni ukir hingga saat
dengan informan. Wawancara dilakukan dalam bahasa ini.
Indonesia dan Minangkabau. Untuk menghindari
kesalahan dan kehilangan data, maka proses e Saat ini beliau berprofesi sebagai kepala
wawancara ditulis secara manual dan disertai proses tukang yang bergerak di bidang ukir.
perekaman wawancara.
C. Studi Kepustakaan atau Studi Dokumentasi f Beliau memiki arsip asli seni ukir hingga
Selain dengan observasi dan wawancara, teknik denah Istano Pagaruyuang yang baru dan
pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dapat yang lama sebelum terbakar.
dilakukan dengan metode Studi Kepustakaan, yaitu
studi literatur dan studi dokumentasi. Peneliti Informan pertama lebih dikenal dengan Zupeno.
menggunakan studi dokumentasi yaitu pengumpulan Beliau lahir di Koto Hilalang, Kecamatan Canduang,
data dengan cara mencari dokumen yang terkait Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, pada
dengan penelitian. Dokumen dalam penelitian ini tanggal 4 April 1952. Informan pertama mulai
dapat berupa gambar, dan dokumen-dokumen lainnya mengenal seni ukir sejak tahun 1965 dan mempelajari
yang dapat membantu proses penelitian. seni ukir pada tahun 1975 di canduang. Informan
pertama mengenal seni ukir dari Malin Kuniang.
III. Hasil dan Pembahasan Setelah pandai mengukir maka informan satu
A. Informan Penelitian dipercayai mengukir Istano Basa Pagaruyuang yang
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data pertama di Minangkabau, selanjutnya beliau
berupa observasi dan wawancara kepada tiga orang dipercayai sebagai pengawas ukiran Istano Basa
informan yang merupakan pengukir dan pemerhati Pagaruyuang.

Tahun 1981 informan satu ditunjuk sebagai
perencana bentuk Rumah Minang (bahasa Negri
Sembilan) atau Rumah Gadang di Rembau Negri
Sembilan, Malaysia. Selanjutnya informan pertama
banyak mengukir di kantor bupati bahkan museum
Adityawarman yang merupakan museum tertua di
Sumatera Barat.

2. Djafri Dt. Bandaro Lubuak Sati (Informan pertama. Informman ketiga diajarkan langsung oleh
Kedua) Malin Kuniang dengan cara memperhatikan langsung
orang yang sedang membuat ukiran. Informan ketiga
H. Djafri Dt (Dt merupakan singakatan dari Datuak hingga saat ini masih berprofesi sebagai pengukir dan
yang merupkan gelar untuk kepala adat tiap suku mempunyai home indutri ukiran Minang di kampung
Minangkabau) Bandaro Lubuak Sati (informan dua) halaman Malin Kuniang, yaitu Kecamatan Canduang,
biasa dipanggil mak Datuak merupakan salah seorang Kabupaten Agam.
panitia pembangunan pertama kalinya Istano
Pagaruyuang pada tahun 1975. Informan dua Home industry ukiran milik informan ketiga
merupakan penasehat ‘Am (umum) khusus tentang menerima pemesanan ukiran. Namun, ukiran yang
adat budaya Minangkabau di Negeri Sembilan dibuat bukan merupakan ukiran tradisional
Malaysia sehingga diberi gelar Datok Paduka Haji berdasarkan ajaran Malin Kuniang. Hal itu
Djafri Datuak Bandaro Lubuak Sati. Informan dua dikarenakan ukiran tradisional Minangkabau proses
lahir di Limbanang, Kecamatan Suliki, Kota pengerjaannya sangat lama dan nilai jualnya tinggi.
Payakumbuah, Provinsi Sumatera Barat pada tanggal Sehingga informan ketiga hanya dapat membuat
21 maret 1934. Informan dua anak dari seorang petani ukiran moderen yang menyesuaikan dengan
dan berdagang kain, Syaidan Dt. Bandaro Sati dengan kebutuhan dan keadaan ekonomi masyarakat saat ini.
Syafia. Informan kedua juga merupakan ketua LKAM
(Lembaga Kerapatan Adat Minangkabau) pada tahun Informan ketiga memberikan pembelajaran
1981. ukir kepada pemuda yang putus sekolah dan beberapa
kepada anak sekolah yang mau belajar seusai
Informan kedua mengenal seni ukir pada sekolahnya. Informan ketiga tidak membuka kelas
pembangunan Istano Basa Pagaruyuang pada tahun belajar secara khusus. Informan ketiga hanya
1975. Pada saat itu informan dua menjadi panitia mengajarkan sepintas sambil mengerjakan ukiran
pembangunan pertama Istano Basa Pagaruyuang. pesanan, karena menurut informan ketiga jika
Sebelumnya, telah ada yang mengukir Istano Basa diajarkan secara khusus jarang sekali yang fokus pada
Pagaruyuang tersebut. Namun ukiran tersebut tidak ukiran dan jarang sekali yang benar-benar bisa.
terletak seperti semestinya. Kemudian informan dua
bertemu dengan informan satu untuk merumuskan Ukiran yang dibuat informan ketiga saat ini
peletakan ukiran Istano Basa Pagaruyuang. merupakan ukiran Minang yang diringkas, guna
Berdasarkan kasus tersebut, informan kedua memperoleh harga yang lebih ekonomis dan dapat
berinisiatif menelusur seluruh daerah Minangkabau dikerjakan dalam waktu singkat. Untuk ukiran tersebut
yang memiliki ukiran untuk didokumentasikan. informan ketiga juga menggunakan kayu yang
Ukiran dari berbagai daerah Minangkabau tersebut, sekadarnya dan dibeli dengan harga yang jauh lebih
oleh informan kedua dilengkapi dengan arti dan murah. Hal tersebut berbeda dengan ukiran tradisional
makna kata dalam ukiran Minangkabau. asli Minangkabau yang menggunakan kayu dengan
kualitas tinggi dan waktu pengerjaan yang lebih lama.
Malin Kuniang sebagai pengukir pertama yang
mengetahui nama, makna bahkan letak dari ukiran. B. Hasil Analisis
Hal itulah yang menjadi landasan bagi panitia 1. Pelestarian pengetahuan seni ukir
pembangunan Istano Basa Pagaruyuang untuk
merujuk ukiran yang ada pada Rumah Gadang di Minangkabau
Taman Puti Bungsu Bukittinggi yang dibuat oleh Seni ukir bagi masyarakat Minangkabau merupakan
Malin Kuniang. Ukiran Malin Kuniang juga dapat satu-satunya seni yang ditempatkan pada arsitektur
ditemukan di Kabupaten Agam hingga kabupaten Minangkabau. Selain itu, makna yang terkandung
Lima Puluh Kota. Awalnya ukiran Malin Kuniang dalam nama motif dan peran kata yang terkandung di
tidak terarsipkan terdokumentasikan, tidak memiliki dalam seni ukir Minangkabau juga merupakan media
regenerasi. Hasil karya tersebut dapat dijumpai di pendidikan dan pengajaran tentang falsafah, etika dan
Rumah Gadang yang telah beliau buat. Pengukir dan adat bagi masyarakat. Setiap motif ukiran memiliki
pencipta ukiran sebelum Malin Kuniang tidak makna dan nilai hidup yang dapat dijadikan pedoman
terdeteksi karna keterbatasan pengetahuan masyarakat bagi masyarakat Minangkabau.
Minangkabau.
Seni ukir Minangkabau dikerjakan oleh
3. Yuwandri. St. Bagindo (Informan Ketiga) pengukir yang memiliki keahlian khusus. Masyarakat
Informan ketiga yaitu Yuwandri. St. Bagindo yang khususnya Pemuda Minangkabau mempelajari seni
merupakan generasi ketiga dari Malin Kuniang. ukir Minangkabau di surau (Masjid atau mushola
Informan ketiga lahir di Bukittinggi, 14 Juni 1955. yang digunakan oleh pemuda Minangkabau sebagai
Bermula dari mendengar bahwa Malin Kuniang tempat untuk mempelajari kebudayaan Minangkabau,
mengukir Rumah Gadang yang ada di Taman Puti biasanya tempat ini juga digunakan untuk menginap
Bungsu Bukittinggi, hal tersebut yang membuat bersama). Surau merupakan lembaga pendidikan
informan ketiga tertarik untuk mempelajari ukiran informal dalam masyarakat Minangkabau yang dapat
Minangkabau. Informan ketiga mempelajari ukiran diperuntukkan bagi pemuda untuk mempelajari
pada tahun 1979, sama halnya dengan informan kebudayaan Minangkabau selain fungsinya untuk
tempat ibadah, adat Minangkabau mewajibkan anak
laki-laki yang telah remaja untuk tidur di surau. Hal

tersebut dimaksudkan untuk melatih kedisiplinan dan terjadi dalam masyarakat. Semakin menurunnya
kemandiriannya serta sarana untuk mempelajari ilmu
agama dan adat istiadat. Informan pertama merasa kemampuan berbahasa Minang serta kesulitan dalam
tradisi di Surau ini sangat efektif dalam mempelajari
seni ukir Minangkabau. Tradisi surau sangat berperan mengidentifikasi dan kodifikasi pengetahuan yang
penting dalam transfer pengetahuan terutama
pengetahuan budaya, khususnya seni ukir sangat bervariasi menjadi kendala dalam proses
Minangkabau.
pelestarian pengetahuan. Banyak dari pengetahuan
Hingga saat ini belum ada catatan sejarah
yang dapat dijadikan petunjuk, kapan seni ukir tersebut yang kemudian hilang pada saat pemilik
Minangkabau lahir serta siapa pencipta seni ukir
tersebut. Malin Kuniang merupakan guru pertama seni pengetahuan meninggal dunia, termasuk Malin
ukir Minangkabau yang diketahui secara luas oleh
masyarakat Minangkabau. Orang yang pertama Kuniang dan beberapa generasi setelahnya.
mengukir adalah Malin Kuniang, karena tidak
ditemukan pengukir sebelum Malin Kuniang. Selain itu, tidak semua pengetahuan adat dan

Sayangnya, sebelum Malin Kuniang budaya Minangkabau secara umum boleh diketahui
meninggal tidak ada yang meneliti bahkan menulis
tentang Malin Kuniang. Hal ini disebabkan oleh masyarakat luas. Pengetahuan budaya yang tidak
kebiasaan masyarakat dengan bakaba babarito
(berkabar berberita) sehingga masyarakat lupa akan boleh diketahui oleh masyarakat umum, biasanya
pentingnya pengarsipan kebudayaan. Tradisi ini
sangat memberikan pengaruh besar terhadap hanya orang tertentu yang berhak mengetahuinya.
keberlangsuangan pengetahuan di masyarakat
terutama pengetahuan kebudayaan. contohnya kebudayaan yang berhubungan dengan

Seni ukir Minangkabau merupakan salah satu mistis.
kebudayaan yang mudah sekali punah. Hal ini tidak
saja dikarenakan pembangunan Rumah Gadang yang Hal yang dikawatirkan adalah bagaimana jika
semakin berkurang dan juga persepsi masyarakat yang
menganggap bahwa seni ukir hanya diperlukan dalam pemilik pengetahuan tidak meregenerasikan kepada
proses pembangunan Rumah Gadang. Masyarakat
hanya memandang ukiran untuk rumah gadang bukan yang semestinya menerima pengetahuan. Infoman
merupakan kebudayaan yang perlu untuk dilestarikan.
kedua menyampaikan bahwa inilah kelemahan
Berdasarkan isu yang didapatkan peneliti dari
cerita-cerita mahasiswa IKAMMI Semarang masyarakat Minangkabau dalam melestarikan
(IKAMMI Semarang singkatan dari ikatan mahasiswa
Minang Semarang merupakan perkumpulan budayanya. Sehingga timbullah ide dari informan
mahasiswa yang berkuliah di kota semarang) bahwa kedua untuk menulis buku yang berjudul “tutua
seni ukir Minangkabau berasal dari daerah Pandai bakato warih bajawek” (tutur berkata waris dijawab)
Sikek Kabupaten Tanah Datar, disanggah oleh ketiga
informan, karena menurut informan pandai sikek dimana buku ditulis untuk menyadarkan masyarakat
terkenal hanya karena mendapat perhatian pemerintah
dari bidang kesenian. Sehingga semua seni yang ada Minangkabau akan pentingnya untuk pengarsipan
di pandai sikek terkenal sejak tahun 1976. Seni ukir
Minangkabau bukan berasal dari Pandai Sikek dan budaya.
kemungkinan terbesar seni ukir Minangkabau berasal
dari kabupaten Agam. Minimnya tindakan untuk

Permasalahan paling utama dalam seni ukir mengeksternalisasikan pengetahuan menjadi
Minangkabau saat ini bahwa pemilik pengetahuan
sudah mulai berusia lanjut serta minimnya kegiatan kelemahan masyarakat dalam melaksanakan transfer
regenerasi. Hal ini ditakutkan akan menyebabkan
hilangnya pengetahuan tersebut. Selain itu yang ilmu pengetahuan yang bersifat tersembunyi (tacit
menjadi masalah lagi bagi pelestarian seni ukir
Minangkabau adalah anggapan masyarakat terhadap knoweledge) yang hanya dimiliki oleh orang-orang
seni ukir yang bersifat kuno dan tidak perlu
dilestarikan. tertentu. Kesadaran mengeksternalisasikan

Komunikasi masyarakat Minangkabau juga pengetahuan kebudayaan bagi masyarakat
menjadi permasalahan pelestarian seni ukir
Minangkabau, karena pengetahuan tidak optimal Minangkabau masih sangat kurang. Jadi sudah tidak
ditransfer dalam segala bentuk komunikasi lisan yang
diragukan lagi jika masyarakat Minangkabau sulit

menemukan literatur atau rujukan yang berhubungan

dengan budaya Minangkabau. Sesuai dengan

pernyataan Faust (2010: 2) pengetahuan eksplisit

harus diubah dalam pengetahuan tacit agar

keterampilan kognitif untuk mengembangkan. Dalam

hal ini yang dimaksud Faust mengeksternalisasikan

pengetahuan memiliki keterampilan kognitif.

Untuk mengakaji proses pelestarian seni ukir

Minangkabau, peneliti menggunakan langkah

pelestarian pengetahuan menurut Romhardt. Sebagai
“pisau bedah” penelitian, yakni:

a Pemilihan (Selecting) pelestarian pengetahuan

seni ukir Minangkabau

Langkah pertama dalam proses pelestarian

pengetahuan yaitu pemilihan. Dalam analisis

pemilihan pengetahuan seni ukir Minangkabau,

peneliti lebih fokus pada membahas mengenai pemilik

pengetahuan, pengetahuan apa yang akan dilestarikan

dan kepada siapa pengetehuan tersebut diberikan.

1) Pemilik pengetahuan

Seni ukir tradisional Minangkabau merupakan

pengetahuan asli masyarakat Minangkabau yang

harus dilestarikan sebelum hilangnya pengetahuan

tersebut.

Pemilik pengetahuan seni ukir Minangkabau tinggi proses transfer pengetahuan ini tidak dapat
berjalan dengan baik.
adalah Malin Kuniang, beliau juga mendapat kemauan merupakan hal yang paling utama sebelum
sebutan “orang tua ukir” karena beliau mengukir mempelajari seni ukir.

rumah gadang tertua di Sumatera Barat. Sebelum Pemuda Minangkabau yang ingin belajar
mengukir mengikuti tradisi Surau merupakan tradisi
Malin Kuniang, tidak dapat diketahui siapa pemuda Minangkabau yang menginap bersama di
Surau. Biasanya proses transfer pengetahuan
pertama kali yang mengukir di Sumatera Barat, dilakukan setelah sholat isya di Surau sekitar
lingkungan tersebut.
bahkan guru dari mak Malin Kuniang sendiri
Mempelajari seni ukir Minangkabau
tidah diketahui. Hal ini disebabkan karena membutuhkan waktu yang lama karena harus melalui
proses yang panjang dalam mempelajarinya. Sehingga
masyarakat yang terbiasa dengan bakaba murid yang ingin mempelajari seni ukir Minangkabau
harus meluangkan waktunya untuk mempelajari seni
babarito seolah semua pengetahuan lokal budaya ukir Minangkabau ini.

dapat diketahui hanya dengan kabar dan berita Sebelum mempelajari ukir secara mendalam,
murid yang ingin mempelajari ukir harus mengikuti
yang disampaikan dari mulut ke mulut. dan melihat secara langsung pengukir yang sedang
bekerja. Untuk mempelajari sendiri teknik ukir yang
Informan pertama dan informan kedua yang dilihat langsung oleh murid tersebut.

masih memilki pengetahuan asli seni ukir Setelah mengamati proses pengerjaan ukiran,
murid ukir tersebut ikut membantu pekerjaan yang
tradisional Minangkabau, membuat dalam sekiranya mudah dan dapat dikerjakan oleh seorang
pemula. Hal ini sesuai juga dengan yang diterapkan
bentuk buku motif-motif ukiran tersebut. Hal ini oleh informan kedua dalam mengajarkan seni ukir
Minangkabau
dimaksud agar pengetahuan tersebut tidak hilang.
Kemudian barulah murid mulai membuat
Sedangkan informan ketiga, hanya mengukir lukisan yang akan diukir oleh pengukir ke kayu.
Untuk membuat lukisan ini, guru memberikan intruksi
ukiran moderen karena nilai jual yang sesuai tata cara membuat lukisan serta mengukir. Melukis
bahkan membuat ukiran itu diibaratkan seperti menari,
dengan proses pengerjaan ukirannya. lenggak lenggok dan lemah gemulai agar hasil luksan
tersebut lentur dan halus.
2) yang dilestarikan
Selanjutnya, Jika murid bisa melukis barulah
Dalam penelitian ini, pengetahuan yang lukisan tersebut dipindahkan ke kayu yang akan
diukir. Kemudian hasil lukisan yang dipindahkan ke
dilestarikan yaitu seni ukir Minangkabau. Dalam kayu yang telah disediakan. Kemudian diukir oleh
pemula atau murid yang sedang belajar. Mengukir
melestarikan seni ukir Minangkabau masyarakat dengan teknik mengcongkel.

Minangkabau melakukan Job Shadowing. Seni Pelaksanaan pembalajaran ukir tidak hanya
dilakukan pada malam hari seperti tadisi di surau, juga
ukir Minangkabau perlu dilestarikan karena pada siang hari pada saat pengukir lain sedang
bekerja. Murid ukir memperhatikan tata cara
kurangnya perhatian pemerintah terhadap ukiran pengerjaan ukir dan terkadang membantu mulai dari
pekerjaan yang mudah hingga mencoba untuk
tradisional Minangkabau, tidak pahamnya mengukir itu sendiri. Selain itu juga sering mengikuti
Malin Kuniang kemana saja beliau mengukir,
pengukir tentang filosofi ukiran dan masyarakat termasuk ke Jakarta pada saat pembuatan Rumah
Gadang yang ada di TMII Jakarta.
hampir melupakan ukiran tradisional
Selain cara pelaksaan seni ukir Minangkabau,
Minangkabau. pengumpulan lainnya yaitu pengumpulan motif ukir
Minangkabau, teknik ini dilakukan langsung oleh
3) Sasaran Pelestarian Pengetahuan informan kedua, informan kedua menyusuri setiap
daerah di Sumatera Barat yang memiliki ukiran.
Pemilik pengetahuan melakukan pelestarian Kemudian beliau kumpulkan dan beliau masukkan
kata dan beri nama motif yang belum diberi nama.
pengetahuan untuk mepertahankan pengetahuan
Pelestarian Seni ukir tradisional Minangkabau
yang ada dalam masyarakat sekitar pengetahuan yang dilakukan oleh informan pertama dan informan
kedua dengan mengumpulkan motifnya kemudian
berada. Hal ini berkaitan dengan seni ukir

Minangkabau yang dilestarikan untuk masyarakat

Minangkabau dalam upaya mempertahankan

kebudayaan lokal.

pelestarian pengetahuan dilakukan untuk

pengetahuan kebudayaan masyarakat

Minangkabau agar masyarakat Minangkabau

paham akan budaya-budaya yang ada di

Minangkabau terutama budaya kesenian ukir. Hal

ini sesuai dengan peraturan mentri pendidikan dan

kebudayaan republik Indonesia nomor 10 tahun

2014 tentang pedoman pelestarian tradisi.

Peraturan tersebut menyebutkan dalam pasal 3

poin b bahwa meberdayakan peran serta

masyarakat dalam pelestarian tradisi.

b Pengumpulan (Collecting) pelestarian
pengtahuan seni ukir Minangkabau

Dalam tahap pelestarian yang kedua yaitu
pengumpulan, pengetahuan yang dikumpulkan dengan
mengetahui cara pelaksanaan dalam upaya pelestarian
pengetahuan seni ukir Minangkabau

Masyarakat terutama pemuda Minangkabau
yang ingin mempelajari seni ukir Minangkabau harus
memiliki kemauan yang tinggi, tanpa kemauan yang

disimpan. Penyimpanan yang beliau lakukan saat ini b Pendokumentasian
dengan membuat buku yang berjudul “Ragam Ukir Pendokumentasian seni ukir Minangkabau dibuat
Minangkabau” dan telah dilakukan penerbitan ulang, berbentuk buku oleh informan kedua yang berjudul
disimpan dalam file di Flashdisk dan media digital Ragam Ukir Minangkabau. Kegiatan
lain. pendokumentasian ini merupakan salah satu bentuk
ekternalisasi pengetahuan seperti yang dikemukakan
Pembuatan buku “Ragam Ukir Minangkabau” oleh Nonaka. Buku ini akan dipinjamkan dan boleh
yang dilaksanakan oleh informan pertama dan digunakan untuk orang yang benar-benar
informan kedua dengan cara pengumpulan ini. membutuhkan. Informan tidak ingin buku ini dipinjam
Informan pertama yang mencari kembali motif ukiran untuk kebutuhan komersil.
Malin Kuniang dan informan kedua yang membuat
kata yang terkandung dalam ukiran tradisional pendokumentasian merupakan salah satu upaya
Minangkabau. dalam pelestarian pengetahuan seni ukir
Minangkabau.
Jelas sekali bahwa pelestarian pengetahuan seni
ukir Minangkabau dalam tahap pengumpulan \
dilakukan langsung oleh informan pertama dan kedua c Memperkenalkan Kesenian Tradisi melalui
dengan cara pendokumentasian dalam bentuk buku.
Jenjang Pendidikan Tinggi
Penyimpanan ini dilakukan untuk dokumen ASKI (Akademi Seni Karawitan) yang telah bernama
jika suatu saat dibutuhkan akan digunakan kembali. menjadi ISI (Institut Seni Indonesia) Padang Panjang
Seperti kasus Istano Basa Pagaruyuang terbakar, dan UNP (Universitas Negri Padang) merupakan dua
untuk pembangunan kembali Istano Pagaruyuang yang institusi pendidikan tinggi di Sumatera Barat yang
baru dibutuhkan motif tradisional ukiran yang memperkenalkan seni ukir Minangkabau. Universitas
disimpan oleh informan pertama dan kedua dalam Negri Padang melalui jurusan Seni Rupa
bentuk buku yang berjudul “Ragam Ukir memperkenalkan seni ukir kedalam mata kuliahnya
Minangkabau” tersebut. sedangkan Institut Seni Indonesia Padang Panjang
juga memperkenalkan seni ukir dalam jurusan seni
2. Upaya pelestarian pengetahuan seni ukir rupa dalam mata kuliah seni kriya yaitu kriya kayu.
Minangkabau
seni ukir Minangkabau juga dikenalakan
Masyarakat Minangkabau mulai memikirkan melalui jenjang pendidikan tinggi.
kebudayaan seni ukir Minangkabau. Hal ini dapat
dilihat dari berbagai kegiatan pelestarian yang sedang d Job Shadowing Pengetahuan
dilakukan oleh beberapa masyarakat Minang yang Kegiatan job shadowing mulai dilakukan mengingat
peduli akan kebudayaan. Bentuk kegiatan pelestarian bervariasinya motif seni ukir Minangkabau dalam
pengetahuan yang telah dilakukan sehubungan dengan masyarakat serta semakin terbatasnya para pemilik
pelestarian pengetahuan seni ukir Minangkabau dan pengetahuan tersebut di masyarakat. Umumnya
pengetahuan yang terdapat di dalamnya, antara lain: kegiatan job shadowing dilakukan melalui home
industi seni ukir uyang ada pada saat ini. Setiap home
a Menghidupkan kembali kebudayaan seni ukir industri ukir umumnya memiliki satu atau dua orang
Minangkabau dengan Home Industry yang akan mewarisi atau generasi penerus
pengetahuan tersebut secara keseluruhan. Proses
Mak Djafri Dt. B. Lubuak Sati (informan kedua) pemilihan dilakukan berdasarkan kemauan dan
selaku pengarang buku Ragam Ukir Minangkabau anggota keluarga yang ingin meneruskan seni ukir
bersama tim ahli pengukir Istano Pagaruyuang Minangkabau ini.
(informan pertama) berusaha menghidupkan kembali
kebudayaan seni ukir Minangkabau mulai dari tahun e Melayankan koleksi buku tentang seni ukir
1976. Informan kedua beserta timnya menyusuri Minangkabau di perpustakaan
setiap wilayah di Sumatera Barat yang memilki ukir
untuk dikumpulkan dengan tujuan untuk Perpustakaan merupakan tempat masyarakat
memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan seni menemukan informasi yang dibutuhkannya. Seiring
ukir dikalangan masyarakat. perkembangannya, perpustakaan khususnya
Perpustakaan Daerah masih berfungsi sebagai pusat
Saat ini, seni ukir yang berkembang dalam sumber informasi berupa teks yang ada di masyarakat,
masyarakat yaitu seni ukir moderen yang dibentuk baik teks yang berasal dari budaya tulis maupun teks
dalam home industri. Salah satu home industri yang yang merupakan hasil eksternalisasi budaya seni ukir,
masih aktif di Kecamatan Canduang, Kabupaten salah satunya seni ukir Minangkabau.
Agam yaitu ukiran informan ketiga (generasi ketiga Pendokumentasian yang dilakukan baik berupa buku
Malin Kuniang). Informan ketiga masih mengukir dalam tulisan-tulisan yang berisi pengetahuan tentang
hingga saat ini dan menerima pesanan ukiran gedung seni ukir Minangkabau hanya dikumpulkan oleh
pemerintah, stasiun hingga rumah-rumah warga. perpustakaan. Perpustakaan menyimpan menyimpan
Selain itu, informan ketiga juga menerima anak didik tersebut sebagai bagian dari koleksi perpustakaan.
yang ingin belajar ukir dengan beliau.

Saat ini home industri ukir saat ini yang berada
di Sumatera Barat menggunakan ukiran moderen.

Untuk menjaga keberadaan dan keberlangsungan Sehingga mengakibatkan sulitnya proses
pengetahuan seni ukir Minangkabau yang lahir di pendokumentasian dari seni ukir
masyarakat, fungsi perpustakaan harus beralih dari Minangkabau tersebut.
repository menjadi layanan koleksi kebudayaan. 5. Tidak adanya standarisasi maupun patokan
dalam seni ukir Minangkabau yang bisa
konsep layanan yang tersedia di perpustakaan dijadikan sebagai acuan dalam membuat
sehubungan dengan keberadaan pengetahuan ukiran Minangkabau.
khususnya seni ukir Minangkabau yang dimiliki oleh 6. Adat istiadat Minangkabau yang membatasi
masyarakat. Pustakawan dalam hal ini tidak hanya kebudayaan untuk diketahui orang banyak
berperan sebagai “penunjuk arah” dimana dan tidak dapat disebarluaskan dengan begitu
pengetahuan tersebut disimpan di perpustakaan, akan saja.
tetapi lebih kepada pusat informasi yang mengetahui 7. Tidak adanya database pengetahuan
segala sesuatu tentang pengetahuan. Pustakawan harus sehubungan dengan seni ukir Minangkabau
menguasai pengetahuan, baik dari segi sejarah, yang bisa diakses oleh masyarakat
keberadaan, informasi yang terkandung didalam 8. Pengetahuan masyarakat bahwa ukiran hanya
media penyimpanan, serta informasi lain yang muncul untuk Rumah Gadang membuat ukiran jarang
seiring kemunculan seni ukir Minangkabau. diminati untuk kebutuhan lain
Perpustakaan pun harus gencar mengkampanyekan 9. Kurangnya pemasaran dan promosi dalam
kegiatan dalam rangka pelestarian pengetahuan seni bidang ukiran tradisional
ukir Minangkabau.
IV. Simpulan
Selain itu, hal terpenting dalam era mode Berdasarkan hasil analisis penelitian terhadap jawaban
informasi adalah pemanfaatan teknologi informasi dari seluruh pertanyaan yang diajukan dalam
dalam proses pemerolehan, penyimpanan, maupun wawancara mendalam yang telah dilakukan kepada
berbagi informasi. Pangkalan data yang berisi tentang tiga informan seni ukir Minangkabau. Selanjutnya,
segala hal yang berhubungan dengan budaya dapat disimpulkan bahwa proses pelestarian dan
Minangkabau, khususnya seni ukir dalam bentuk web tansfer pengetahuan seni ukir Minangkabau telah
dan terhubung dengan jaringan internet, akan berlangsung sejak seni ukir Minangkabau lahir. Hal
memberikan peluang yang lebih besar dalam ini terjadi karena kebiasaan masyarakat yang memiliki
memperkenalkan kebudayaan Minangkabau tersebut. tradisi bakaba babarito, sehingga semua pengetahuan
Tidak hanya kepada masyarakat Minangkabau akan kebudayaan Minangkabau dilestarikan dengan cara
tetapi juga kepada masyarakat dunia. bercerita kepada generasi penerusnya.

3. Kendala dalam Kegiatan Pelestarian Seni Ukir Pelestarian pengetahuan dilakukan dengan
Minangkabau cara pemilihan yaitu dengan mengetahui siapa pemilik
pengetahuan, pengetahuan yang akan dilestarikan dan
Kendala yang akan dihadapi dalam kegiatan kepada siapa pengetahuan akan dilestarikan. Pemilik
pelestarian pengetahuan seni ukir Minangkabau adalah pengetahuan seni ukir Minangkabau yaitu Malin
sebagai berikut: Kuniang karena tidak diketahuinya pengukir sebelum
beliau. Pengetahuan yang akan dilestarikan yaitu seni
1. Masyarakat Minangkabau yang terbiasa ukir, karena pengetahuan ini kurang diperhatikan
dengan adat istiadatnya yang secara lisan masyarakat, sementara pelestarian pengetahuan ini
tanpa mengatur hal-hal yang berhubungan dilakukan kepada masyarakat Minangkabau.
dengan tansfer ilmu pengetahuan. Tidak
semua hal dapat dieksplisitkan dalam Selain pemilihan, pelestarian pengetahuan
masyarakat Minangkabau. Hal ini seni ukir Minangkabau juga dilaksanakan dengan
mengakibatkan semakin terbatasnya jumlah pengumpulan. Dalam tahap pengumpulan ini dapat
pemilik pengetahuan. diketahui bagaimana proses transfer pengetahuan seni
ukir Minangkabau. Hal yang terutama sekali yaitu
2. Kebiasaan masyarakat Minangkabau bakaba kemauan masyarakat dalam memperlajari seni ukir
babarito (berkabar berberita) membuat Minangkabau. Proses pembelajaran dilaksanakan pada
masyarakat lalai dalam melestarikan malam hari di Surau. Dalam mempelajari seni ukir
pengetahuan yang ada membutuhkan waktu yang lama, sehingga diharapkan
masyarakat yang ingin mempelajari seni ukir harus
3. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang arti meluangkan waktunya. Kemudian masyarakat
pentingnya kebudayaan terutama seni ukir melakukan job shadowing, mengikuti dan mengamati
Minangkabau. Seni ukir dianggap sebagai pengukir melakukan pekerjaannya untuk dipelajari
suatu hal yang tidak penting karena sudah sebelum diajarkan secara langsung. Setelah itu,
tidak adanya pembangunan Rumah Gadang. masyarakat yang ingin mempelajari seni ukir ikut serta
membantu agar mudah dipahami. Setelah memahami
4. Kebudayaan seni ukir Minangkabau sangat teknik mengukir barulah pemula diajarkan melukis
banyak dan bervariatif sehingga berkendala ukiran dan memindahkannya ke papan ukiran lalu
dalamrangka pendokumentasiannya. Seni
ukir antara daerah satu dengan daerah
lainnya berbeda-beda. Perbedaan tersebut
dapat dilihat dari motif, nama dan bentuknya.

mengukirnya. Librarianship: an International Electronic
Kegiatan eksternalisasi pegetahuan seni ukir sudah
Journal. Tersedia di http://www.white-
dilaksanakan dalam bentuk dokumentasi serta
menuliskan kembali kedalam bentuk buku yang clouds.com/iclc/cliej/cl35IO. df [Diakses
berjudul “Raga Ukir Minangkabau”. Buku ini dapat
menjadi pedoman bagi masyarakat Minangkabau. Seni tanggal 3 oktober 2015]
ukir Minangkabau juga diperkenalkan di perguruan
tinggi melalui jurusan seni rupa, biasanya mata kuliah Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan
seni kriya dalam kriya kayu.
Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2014

tentang Pedoman Pelestarian Tradisi

Primadesi, Yona. 2012. Preserving of Information

Value in Oral Tradition of Minangkabau

society, West Sumatera, Indonesia. Tersedia

Daftar Pustaka di
Afifuddin, H., dan Beni Ahmad Saebani. 2009.
Metodologi Penelitian Kualitatif. http://eprints.rclis.org/17983/1/Preserving%

Bandung: Pustaka Setia. 20of%20Value%20in%20Oral%20Traditions.p
Azrial, Yulfian. 1995. Keterampilan Tradisional
Minangkabau. Angkasa df [Diakses tanggal 20 Desember 2015]

Raya: Padang Ramelan, Wiwin Djuwita Sudjana dan Yoka Febriola.
Boven, Karin and Jun Morohashi, ed. 2002. Best
2013. Rumah Tuo Kampai nan Panjang:
Practices using Indigenous Knowledge.
Paris:Nuffic. Tersedia di Kajian Nilai-Nilai Budaya dan
http://www.unesco.org/most/Bpikpub2.pdf
[Diakses tanggal 4 oktober 2015] Pemanfaatannya. Jakarta: FIB UI. Tersedia

di

http://www.lib.ui.ac.id/naskahringkas/20160

4/S47753Yoka%20Febriola [diakses tanggal

Cresswell, Jhon W. 2015. Penelitian kualitatif & 15 November 2016]
desain riset: memilih diantara lima Romhardt, Kai. 1997. “Process of knowledge
pendekatan. Pustaka belajar: Yogyakarta
preservation: away from a tecnology

dominated approach. Switzerland. University
of geneva”. Dalam artikel knowledge

Fadli. Dkk. 2012. “Preservasi Pengetahuan management. Tersedia di
Masyarakat Minangkabau tentang Tradisi
Pasambahan melalui Kegiatan Exchange of http://www.dfki.unikl.de/~aabecker/Final/R
Indigenous Knowledg”. Bandung :
Universitas Padjajaran. Dalam jurnal vol.1 omhardt/romhardt.html [Di akses tanggal 5
no.1 tersedia di
http://jurnal.unpad.ac.id/ejournal/arti oktober 2015]
cle/view/1089 [Diakses tanggal 1
oktober 2015] Sulistyo-Basuki. 2006. Metode Penelitian. Jakarta :

Wedatamma Widya Sastra

bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Indonesia.
Tan, Robby. 2010. “Perancangan Model Manajemen

Faust, B. Implementation of Tacit Knowledge Pengetahuan menggunakan Model Nonaka

Preservation and Transfer Methods. Takeuchi (Studi Kasus Administrasi
Akademik)”. Bandung : Universitas Kristen
Switzerland: Nuklearforum Schweiz.
Maranatha. Dalam jurnal informatika vol.6
Tersedia di
no.1 juni 2010. Tersedia di
http://www.fraserhealth.ca/media/Impleme
http://repository.maranatha.edu/366/1/Per
ntation-of-Tacit-Knowledge-Presevation-and-
ancangan%20Model%20Manajemen%20Pen
Transfer-Methods.pdf [Diakses tanggal 4
getahuan.pdf [Diakses tanggal 2 oktober
oktober 2015]
Karsono. 2010. “Preservasi Pengetahuan Nuklir”. 2015]

Dalam Seminar Nasional VI SDM Teknologi World Intellectual Property Organization.

Nuklir. Yogyakarta, 18 November 2010. Documentation of Traditional knowledge and

Mazour, Tom. Knowledge Preservation and Transfer: Traditional Cultural expressions.

Issues and Terminology. International Atomic Switzerland: World Intellectual Property

Energy Agency. Tersedia di Organization. Tersedia di

https://www.iaea.org/km/documents/17_W http://www.wipo.int/export/sites/www/tk/e

_Mazour_2226Aug05.pdf [diaksestanggal 9 n/resources/pdf/tk_brief9.pdf [Diakses

oktober 2015] tanggal 17 Desember 2015]

Mukhtar. 2012. Metode Praktis Penelitian Deskriptif

Kualitatif. Jakarta Selatan: GP Press Group

Olaide, Iyoro Abiodun and Ogungbo Wakilu Omolere.
2013. “Management of Indigenous

Knowledge as a Catalyst towards Improved

Information Accessibility to Local
Communities: A Literature Review”. Chinese

PERUBAHAN ISTILAH KEKERABATAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN
SISTEM KEKERABATAN PADA MASYARAKAT MINANGKABAU

Sri Meiyenti, Syahrizal1

Abstract

This article talks about the changes that occur in the Minangkabau kinship. Aspect of
concern is about the kinship term system in relate with term of reference and term of
address. Kinship term system have consequence in the rights and obligations. Changes
in the kinship term system causes changes to the rights and obligations of kinship in the
Minangkabau society.

Key words: Kinship, Term System of Kinship, Changes, Minangkabau Society

A. Pendahuluan kekerabatan matrilineal menghitung

Sistem kekerabatan mempunyai arti hubungan kekerabatan melalui perempuan
penting dalam banyak masyarakat baik
masyarakat sederhana maupun dalam sistem kekerabatan patrilineal
masyarakat yang sudah maju, hubungan
dengan nenek moyang dan kerabat adalah menetapkan garis keturunan dihitung menurut
kunci hubungan dalam struktur sosial.
Hubungan dengan kerabat tersebut menjadi garis ayah atau laki-laki. Sistem kekerabatan
poros dari berbagai interaksi, kewajiban-
kewajiban, loyalitas, dan sentimen-sentimen. lainnya adalah sistem kekerabatan non
Dalam masyarakat di mana loyalitas
kekerabatan sangat penting pada kerabat unilineal yaitu bilineal dan bilateral. Sistem
menggantikan loyalitas pada yang lain.
Artinya sistem kekerabatan sangat erat kekerabatan bilineal menghitung hubungan
kaitannya dengan struktur sosial yang
dibangunnya lebih lanjut. Sistem kekerabatan kekerabatan melalui laki-laki saja untuk
menentukan posisi seseorang dalam
masyarakat, yaitu posisi laki-laki dan posisi sejumlah hak dan kewajiban tertentu dan
perempuan (Robin Fox:14, dalam Syahrizal,
2012:914). Pada kekerabatan patrilineal melalui perempuan saja untuk sejumlah hak
posisi laki-laki lebih penting daripada posisi
perempuan dan sebaliknya pada kekerabatan dan kewajiban tertentu. Sedangkan sistem
matrilineal posisi perempuanlah yang lebih
penting, terutama terkait dengan kekerabatan bilateral menghitung hubungan
keberlangsungan kekerabatan tersebut.
kekerabatan melalui laki-laki maupun
Beberapa bentuk sistem kekerabatan
di dunia adalah unilineal, bilateral, dan sistem perempuan (Koentjaraningrat: 129-130).
keturunan ganda. Sistem kekerabatan
matrilineal bersama dengan patrilineal Pada sistem keturunan unilineal, baik
termasuk ke dalam sistem kekerabatan yang
menetapkan garis keturunan berdasarkan yang matrilineal maupun yang patrilineal,
satu garis atau unilineal. Kalau dalam sistem
terdapat tiga prinsip yang bisa dikatakan

secara teoritis berlaku universal (Schneider

dan Gough dalam Amri Marzali 2000:2)

prinsip-prinsip tersebut adalah : 1) wanita

bertanggung jawab memelihara anak-anak; 2)

pria dewasa mempunyai wewenang terhadap

wanita dan anak-anak; dan 3) perkawinan

eksogami kelompok merupakan suatu

keperluan.

Selanjutnya menurut Marzali (2000)

ciri-ciri khas sistem matrilineal adalah sebagai

berikut: 1) keturunan ditelusuri melalui garis

wanita; 2) anggota kelompok keturunan

direkrut melalui garis wanita; 3) pewarisan

harta dan suksesi politik disalurkan melalui

garis wanita. Ciri-ciri sistem parilineal adalah

1 Penulis adalah dosen tetap jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas, Padang
2 Penulis adalah dosen tetap jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas, Padang

57 | P a g e

sebaliknya semuanya berdasarkan garis laki- antara suami istri dan menguatnya hubungan

laki. antara ayah dengan anak. Kemudian, ada

Sementara itu Muhammad Rajab juga beberapa penulis yang membicarakan

(1969:17) menjelaskan sistem matrilineal tentang pemegang kekuasaan di

Minangkabau mempunyai delapan ciri yaitu : Minangkabau di antaranya seperti Rajab

1) keturunan dihitung menurut garis ibu; 2) (1969), Koentjaraningrat (1983), Kato (1982),

suku terbentuk menurut garis ibu; 3) tiap dan Heider (1997) mengatakan bahwa dalam

orang harus kawin di luar sukunya; 4) sistem matrilineal Minangkabau walaupun

pembalasan dendam merupakan kewajiban garis keturunan berdasarkan perempuan

bagi seluruh suku; 5) kekuasaan di dalam tetapi yang berkuasa adalah laki-laki, laki-laki

suku , menurut teori terletak di tangan “ibu” bertindak sebagai pemimpin kaumnya dan

tetapi jarang sekali dipergunakannya, menjadi wakil kaum dalam masyarakat nagari

sedangkan; 6) yang sebenarnya berkuasa atau masyarakat yang lebih luas. Sedangkan

adalah saudara laki-laki ibu;7) perkawinan Peggy Reeves Sanday (1998) mempunyai

bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi pendapat lain dia menjelaskan bahwa

rumah istrinya; 8) hak-hak dan pusaka sebenarnya masyarakat Minangkabau

diwariskan oleh mamak kepada matriarkhat karena perempuan mempunyai

kemenakannya, dari saudara laki-laki ibu kekuasaan. Menurut Sanday dalam hubungan

kepad anak dari saudara perempuan. sosial posisi perempuan sama dengan “titik

Sistem kekerabatan matrilineal pusat dari satu jaring”. Perempuan senior

terbilang langka karena hanya beberapa suku diasosiasikan dengan tiang utama dari rumah

bangsa di dunia yang mempunyai sistem gadang, dikatakan tiang paling utama karena

kekerabatan seperti ini. Heider (1997: 182) pertama didirikan. Sanday menjelaskan

menyebutkan beberapa contoh masyarakat bahwa matriarkhi dalam masyarakat

matrilineal di dunia seperti masyarakat Navajo Minangkabau adalah tentang perempuan

dan Hopi di Amerika Utara, beberapa suku sebagai pusat asal usul, dan dasar dari tidak

bangsa di sub sahara Afrika, beberapa hanya kehidupan tetapi juga tatanan sosial

kebudayaan di India khsusnya adalah di (dalam Syahrizal dan Sri Meiyenti, 2012:917).

selatan negara bagian Kerala dan menurut Tentu jika diurai lebih lanjut masih banyak lagi

dia populasi masyarakat matrilineal yang penulis-penulis lain yang mengangkat tentang

terbesar adalah suku bangsa Minangkabau di tema masyarakat Minangkabau.

Indonesia.

Oleh karena sistem kekerabatan Pada kesempatan ini kami juga

matrilineal termasuk langka dan juga dikaitkan mengupas tentang masyarakat matrilineal

dengan masyarakat Minangkabau yang Minangkabau. Topik yang kami angkat adalah

memegang teguh agama Islam yang lebih “Perubahan Sistem Istilah kekerabatan yang

bersifat patriarkhi banyak ilmuan dan Berpengaruh pada Perubahan Sistem

pemerhati sosial dan budaya yang tertarik Kekerabatan”. Topik ini merupakan bagian

untuk menelitinya dan membicarakannya. dari hasil penelitian kami yang didanai DIKTI

Seperti Hamka (1984:13), berbicara bahwa dari Skim Hibah Bersaing pada tahun

adat Minangkabau dapat dilengkapi dengan anggaran 2009 dan 2010 yang berjudul

ajaran Islam tanpa harus “Sistem Kekerabatan Minangkabau

mempertentangkannya. Hal ini ditulis karena Kontemporer: Suatu kajian Perubahan dan

ramainya orang mengatakan adat Keberlangsungan Sistem Kekerabatan

Minangkabau yang matrilineal bertentangan Matrilineal Minangkabau”. Penelitian ini

dengan Islam tertutama terkait dengan dilakukan di dua lokasi yang mewakili daerah

pewarisan. Sejalan dengan Hamka, Amir darek (dianggap wilayah asli Minangkabau)

Syarifuddin (1984) berpendapat bahwa ada dan daeah rantau (daerah perluasan wilayah

kompromi antara adat dan agama. Minangkabau). Di daerah darek penelitian

Selanjutnya ada Tsuyoshi Kato (1982) yang dilakukan di Nagari Sumpur Kabupaten

bicara tentang perubahan pada siitem Tanahdatar dan di daerah rantau penelitian

kekerabatan Minangkabau. Menurut Kato dilakukan di Nagari Sungai Asam di

sebenarnya sejak awal abad ke 20 sudah Kabupaten Padang Pariaman.

mulai terjadi perubahan dalam sistem Sebelum mengurai tentang

kekerabatan matrilineal. Hal itu ditandai perubahan pada sistem istilah kekerabatan

dengan menguatnya ikatan perkawinan Minangkabau perlu diuraikan dulu seperti apa

58 | P a g e

sistem istlah kekerabatan Minangkabau asli. merupakan suatu sistem yang tali temali,
Setelah itu baru dibicarakan tentang
perubahannya. Perubahan yang dibicarakan suatu pola pertalian yang mendasari
meliputi perubahan sistem istilah kekerabatan
dan pengaruhnya pada sistem kekerabatan pandangan tertentu mereka tentang pertalian
itu sendiri.
keluarga. Aspek-aspek penghubung keluarga

yang ditegaskan dalam terminologi pertalian

keluarga bisa tidak selalu menjadi aspek

paling penting dalam arti keadaan pertalian

B. Sistem Istilah Kekerabatan keluarga yang sebenarnya namun tetap

Minangkabau Asli mempunyai arti penting tertentu.

Menurut Geertz bentuk dasar sistem

Sistem istilah kekerabatan mempunyai terminologi Jawa adalah bilateral dan
sangkut paut yang erat dengan sistem
kekerabatan dalam masyarakat. generasional, bersisi dua dan turun temurun.

Artinya bahwa istilah-istilah keluarga tersebut

Hubungan antara sistem istilah kekerabatan sama, apakah saudara perangkainya ibu

dalam suatu bahasa dengan sistem ataukah ayah, dan bahwa semua anggota

kekerabatan dari suku bangsa yang dari setiap generasi digabungkan dengan

mengucapkan itu adalah suatu hal yang mula- kata-kata. Semua anggota generasi sendiri,

mula ditemukan oleh LH Morgan. Dalam hal misalnya saudara-saudara ibu dan saudara

memperhatikan sistem istilah kekerabatan itu sepupu, disebut dalam istilah-istilah yang

Morgan mendapatkan suatu cara untuk sama atau mirip, semua anggota dari

mengupas semua sistem kekerabatan dari generasi orang tua misalnya ayah ibu, kakak,

beribu-ribu suku bangsa di dunia yang satu adik, serta saudara sepupu mereka, disebut

dengan yang lain berbeda-beda bentuknya. dengan sekelompok istilah lainnya yang

Cara itu berdasarkan gejala kesejajaran yang serupa, semua anggota dari generasi kakek

sering ada antara sistem istilah kekerabatan nenek termasuk adik kakak mereka disebut

(system of kinship terminology) dengan dengan istilah tersendiri, dan lain-lainnya.

sistem kekerabatannya (kinship system) Hasilnya adalah suatu stratifikasi horizontal

(Koentjaraningrat 1985:133) atas semua anak saudara tersebut. Setiap

L.H Morgan mencontohkan orang Jawa melihat dirinya sendiri ada

perbedaan antara sistem istilah kekerabatan ditengah-tengah tata sebuah jajaran “kakek

dalam masyarakat Inggris dengan masyarakat nenek”, “ayah ibu”, “kakak adik”, anak-anak”,

Indian Iroquis. Dalam masyarakat Inggris ada dan “cucu-cucu”.

perbedaan istilah untuk ayah dan saudara Sistem istilah kekerabatan

laki-laki ayah. Ayah dalam bahas Iggris Minangkabau berbeda dengan sistem istilah

disebut dengan father dan paman saudara kekerabatan Jawa, hal ini dipengaruhi oleh

laki-laki ayah disebut dengan uncle. Dalam sistem kekerabatan itu sendiri yakni

masyarakat Indian Iroquis panggilan untuk Minangkabau matrilineal dan Jawa bilateral.

ayah dan saudara laki-laki ayah sama yaitu Sistem kekerabatan bilateral seperti yang

hanih (dalam Syahrizal dan Sri Meiyenti, disebutkan Geertz bersisi dua tidak

2012:919). Ini menurut LH Morgan berkaitan membedakan saudara perangkainya ayah

dengan sistem kekerabatan dalam hal hak atau ibu. Sedangkan sistem istilah

dan kewajiban orang yang terkait dengan ego kekerabatan Minangkabau berbeda istilah

itu. Dalam masyarakat Inggris hak dan kekerabatan untuk kerabat yang saudara

kewajiban ayah berbeda dengan saudara laki- perangkainya ibu sebagian berbeda dengan

laki ayah terhadap seorang anak (ego), istilah kekerabatan yang saudara

sedangkan dalam masyarakat Iroquis hak dan perangkaianya ayah. Ini sejalan dengan teori

kewajiban ayah dan saudara laki-laki ayah L.H.Morgan di atas bahwa perbedaan istilah

sama terhadap seorang anak (ego). berkaitan dengan peran serta hak dan

Hildred Geertz (1983:19) kewajiban seseorang terhadap ego. Atau

menguraikan sistem pertalian keluarga Jawa merupakan konsekuensi logis dari sistem

dengan dengan mengalisis sitem terminologi matrilineal itu sendiri yang merupakan sistem

atau sistem istilah kekerabatan dalam kekerabatan unilineal di mana garis

masyarakat Jawa tersebut. Menurut Geertz kekerabatan dihitung melalui garis ibu atau

istilah yang digunakan oleh seseorang untuk perempuan. Artinya ada perbedaan antara

membeda-bedakan sanak saudaranya kerabat ayah dan kerabat ibu, kerabat ayah

59 | P a g e

dianggap berada di luar kelompok kerabatnya di masyarakat, apabila ada seorang anak
sedangkan kerabat ibu adalah termasuk yang berbuat tidak baik, maka yang akan
dalam kelompok kerabatnya. ditanya adalah “kemanakan siapa itu?” bukan
ditanyakan “anak siapa itu?”. Kemudian,
Istilah kekerabatan untuk menyebut secara ekonomi adalah terjamin atau tidak
saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki kehidupan sehari-hari serta biaya pendidikan
ibu dalam istilah kekerabatan Jawa tetap kemenakan itu adalah tanggung jawab
dipanggil pak yang tidak membedakan mamak. Sedangkan saudara laki-laki ayah
kerabat ayah dan ibu, kemudian ditentukan tidak mempunyai hak dan kewajiban yang
oleh tingkatan usia dari ayah atau ibu yang khusus terhadap ego, interaksi mereka hanya
lebih tua dipanggil pak de dan yang lebih pada suasana-suasana formal bahkan kalau
muda dipanggil pak lik. Dalam masyarakat jarak mereka terpisah karena saudara laki-laki
Minangkabau saudara laki-laki ayah di panggil ayah ini merantau misalnya mereka tidak
bapak atau pak dan saudara laki-laki ibu akan pernah bertemu dan bahkan bisa tidak
dipanggil dengan mamak. Saudara saling mengenal. Apabila si ego pergi
perempuan ibu dan saudara perempuan ayah merantau, maka di rantau yang mereka cari
juga disebut dengan istilah yang berbeda. untuk menumpang sementara waktu ia bisa
mandiri adalah saudara laki-laki ibunya
Dari gambaran garis besar kerangka (mamak), bukan saudara laki-laki ayahnya
sistem istilah kekerabatan tersebut poin yang (bapak).
membedakan antara kerabat ayah dan
kerabat ibu adalah pada istilah untuk saudara Perbedaan istilah antara saudara laki-
laki-laki ibu dan saudara laki-laki ayah. Kalau laki ayah dengan saudara laki-laki ibu itu juga
saudara laki-laki ibu dipanggil mamak menandakan perbedaan hak dan kewajiban
saudara saudara laki-laki ayah dipanggil antara keduanya terhadap seorang ego.
dengan bapak. Perbedaan istilah ini Seorang saudara laki-laki ayah tidak
mengingatkan kita pada analisis LH Morgan mempunyai tanggung jawab yang sebesar
tentang perbedaan antara istilah kekerabatan tanggung jawab seorang saudara laki-laki ibu
Inggris dan Iroquis yang menjelaksan adanya atau mamak terhadap ego. Saudara laki-laki
perbedaan hak dan kewajiban berkaitan ayah jarang bertemu dengan ego, dia tinggal
dengan perbedaan itu. di rumah istrinya yang mungkin jauh, mereka
bertemu hanya pada waktu-waktu tertentu
Seorang saudara laki-laki ibu secara seperti lebaran atau upacara-upacara life
ideal bertanggung jawab pada ego, dia cycle. Sedangkan saudara laki-laki ibu lebih
bertanggung jawab secara ekonomi atau sering bertemu dengan ego dia menganggap
moral terhadap kemenakannya. Hubungan rumah ego adalah rumah orang tua dan
antara mamak dan kemenakan bahwa rumah keluarga luas matrilinealnya, hal itu
mamak bertanggung jawab kepada membuat dia sering berkunjung.
kemenakan secara moral artinya baik buruk
perilaku kemenakan itu adalah hasil didikan
dari mamaknya. Hal ini terlihat dari ungkapan

60 | P a g e

Tabel 1
Sistem Istilah Kekerabatan Minangkabau

Sdr.Perangkai Sdr.Perangkai

Ayah Ibu

Naik Dua ke Kakek angku Angku
Atas
Naik ke Atas Nenek anduang anduang
Pertama
kakak laki-laki ayah/ibu pak tuo mak adang
Diri
Saudara muda adik laki-laki ayah/ibu pak etek mak etek

kakak perempuan ayah/ibu mak tuo mak tuo

adik perempuan ayah/ibu etek etek

istri kakak laki-laki ayah/ibu mak tuo mintuo

istri adik laki-laki ayah/ibu etek etek

suami kakak perempuan ayah/ibu pak tuo pak tuo

suami adik perempuan ayah/ibu pak etek pak etek

kakak laki-laki uda, tuan, ajo

kakak pr uni,akak,

uniang,one

adik

Turun Ke Anak anak
bawah anak saudara perempuan kemenakan
Pertama anak sdr laki-laki anak

Perbedaan istilah untuk menyebut sekarang telah berubah menjadi ayah, ibu
saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki atau bunda, papa dan mama dan pada akhir-
ibu juga berakibat pada perbedaan menyebut akhir ini kecenderungan anak-anak muda
untuk istri masing-masingnya. Istri dari yang merupakan keluarga baru yang banyak
saudara laki-laki ayah dipanggil amak (mak terpengaruh oleh ajaran Islam ada perubahan
tuo) untuk yang lebih tua dan etek untuk yang untuk memanggil ayah ibu dengan panggilan
lebih muda. Sedangkan istri saudara laki-laki abah dan umi. Perubahan lainnya, untuk
ibu dipanggil mintuo. Istilah mintuo adalah istilah menyebut dan menyapa adik
istilah yang sama untuk menyebut ibu dari perempuan ibu dan ayah berubah dari etek ke
istri, mintuo dalam bahasa Indonesia berarti tante. Terjadi juga perubahan dalam istilah
mertua. Istilah ini besar kemungkinan muncul untuk mamak, sebagian anak-anak sekarang
karena terkait dengan perkawinan ideal dalam memanggilnya dengan om. Istilah untuk
masyarakat Minangkabau adalah perkawinan kakek yaitu ayah dari ibu atau ayah dari ayah
cross cousin, perkawinan antara seorang sekarang telah berubah dari istilah
kemenakan dengan anak mamaknya sebelumnya inyiak atau angku menjadi kakek
merupakan suatu yang lazim terjadi. Dengan dan untuk nenek yaitu ibu dari ibu atau ibu
kata lain, istri mamak sudah lazim juga dari ayah yang sebelumnya anduang atau uci
menjadi mertua bagi kemenakannya baik menjadi nenek. Sebagian keluarga
yang laki-laki maupun yang perempuan. Minangkabau terutama di kota-kota juga
menggunakan istilah kekerabatan yang
C. Sistem Kekerabatan Minangkabau dianggap lebih modern yaitu opa dan oma
Setelah Terjadi Perubahan yang sebenarnya berasal dari istilah
kekerabatan orang Belanda.
Hal yang menarik istilah kekerabatan
yang terjadi sekarang di Minangkabau Perubahan ini menarik untuk
sudah mulai berubah dipengaruhi oleh dianalisa karena seperti yang disebut oleh LH
bahasa Indonesia atau istilah kekerabatan Morgan bahwa istilah kekerabatan berkaitan
yang berlaku di kota-kota di Indonesia. dengan sistem kekerabatan itu sendiri.
Perubahan itu misalnya untuk menyebut ayah Perubahan panggilan dari mamak menjadi om
dan ibu kalau sebelumnya amak dan apak, misalnya apa yang terjadi kelihatannya adalah
perubahan itu seiring dengan perubahan

61 | P a g e

peran mamak itu sendiri. Mamak lebih terikat laki-laki ibu juga berhubungan dengan
kepada peran tradisional sebagai pembimbing perubahan dari istilah mamak ke istilah om.
kemenakan dan juga pembimbing Perubahan panggilan dari mamak ke om
keberlangsungan adat kemudian sekarang untuk saudara laki-laki ibu membawa
perannya semakin berkurang. Om dalam konsekuensi terhadap hak dan kewajiban
bahasa Indonesia lebih ditujukan pada saudara laki-laki ibu terhadap anak-anak
saudara laki-laki ibu atau ayah, jadi bisa saudara perempuannya.
dikatakan bahwa perubahan peran saudara

Tabel 2
Perubahan Yang Terjadi pada Sistem istilah kekerabatan Minangkabau

Sdr.Perangkai Sdr.Perangkai

Ayah Ibu

Naik Dua ke Kakek Kakek, Opa Kakek, Opa
Atas
Naik ke Atas Nenek Nenek, Oma Nenek, Oma
Pertama
kakak laki-laki ayah/ibu pak tuo Om
Diri
Saudara muda adik laki-laki ayah/ibu pak etek om
Turun Ke bawah
Pertama kakak perempuan ayah/ibu mak tuo mak tuo

adik perempuan ayah/ibu tante tante

istri kakak laki-laki ayah/ibu mak tuo mintuo

istri adik laki-laki ayah/ibu tante tante

suamikakak perempuan ayah/ibu pak tuo om

suami adik perempuan ayah/ibu pak etek om

kakak laki-laki uda, abang

kakak pr uni,

kakak,uniang,

one

Anak Adik
anak saudara perempuan Anak
anak sdr laki-laki kemenakan
anak

Perubahan istilah menyebut dan anak-anak menyebut ayahnya dengan istilah
menyapa untuk ayah, ibu atau paman menjadi bapak atau apak uang jajannya cukup Rp
fenomena yang menarik dalam percakapan di 1000,- perhari tetapi kalau anak-anak
warung yang melahirkan anekdot-anekdot memanggil ayahnya dengan papa tidak bisa
yang lucu. Bagi sebagian masyarakat uang jajannya Rp 1000,- per hari tetapi harus
penggunaan istilah mama dan papa kurang Rp 5000,- per hari (Syahrizal dan Sri meiyenti,
cocok untuk diterapkan pada keluarga yang 2012:920).
bekerja sebagai petani atau orang biasa,
istilah tersebut cocok untuk orang-orang Tetapi istilah mama dan papa sudah
berada atau kaya. Menurut mereka kurang menjadi istilah yang lazim untuk pasangan
pantas orang yang pekerjaan di sawah atau di muda dan yang telah memiliki anak usia
ladang dipanggil oleh anak-anak mereka remaja sekarang baik di nagari Sumpur
dengan papa dan mama. Nanti kalau ada maupun di nagari Sungai Asam. Penggunaan
yang bertanya pada anaknya, kemana istilah ini tidak tergantung kelas sosial dan
mamanya atau papanya, anaknya misalnya pekerjaan mereka. Banyak pasangan yang
menjawab mama dan papa ke sawah, hal itu bekerja seb agai petani di Sumpur dan Sungai
bagi mereka dianggap kurang cocok atau Asam, atau nelayan di danau Singkarak anak-
kurang pantas. Anekdot lain mengatakan anak mereka menggunakan istilah papa dan
kalau anaknya memanggil papa,nanti uang mama untuk memanggil orang tuanya. Orang-
jajan untuk anaknya lebih mahal, contoh kalau orang yang mencemooh memang kebetulan
yang tidak menggunakan istilah tersebut,
62 | P a g e

mereka masih tetap menggunakan istilah itu, perubahan juga terjadi karena pengaruh
amak apak, atau sebagian ayah dan ibu, televisi dan banyaknya orang yang pulang
istilah ayah dan ibu dianggap lebih netral. dan pergi dari rantau. Mereka mengadopsi
sistem istilah kekerabatan yang umumnya
Perubahan penggunaan istilah ini berlaku di kota-kota besar di Indonesia dan
bisa diartikan indikasi perubahan yang terjadi bahkan luar negri. Sebagian orang
dalam sistem kekerabatan itu sendiri. Minangkabau di perkotaan – tetapi tidak
Semakin melemahnya keluarga luas dan ditemukan di lokasi penelitian – juga
menguatnya keluarga inti. Perubahan dari menggunakan istilah papi dan mami untuk
istilah mamak menjadi om bisa menandakan menyebut dan menyapa ayah dan ibunya.
perubahan dari peran mamak tradisional ke Kemudian juga ada pengaruh dari agama
peran saudara laki-laki ibu yang tidak terlalu Islam sendiri yang notabene menggunakan
terikat dengan nilai-nilai tradisional lagi. istilah Arab sebagian masyarakat juga
menggunakan istilah dari Arab tersebut yaitu
Menurut salah seorang mamak di buya, abi untuk ayah dan umi untuk ibu.
Sumpur kelihatannya memang seperti itu, Biasanya digunakan oleh keluarga yang
Azwar seorang laki-laki yang bekerja sebagai berasal dari kalangan pesantren atau
PNS di kota Padang dan sekali-sekali pulang madrasah kalau seorang laki-laki seorang
kampung menceritakan hal seperti itu. Dia ustadz atau guru agama anak-anak
memiliki anak-anak dari saudara memanggil buya pada dia dan memanggil umi
perempuannya yang masih tinggal di pada istrinya.
kampung. Anak-anak dari saudara
perempuannya itu memanggil dia dengan D. Kesimpulan
panggilan om. Bagi dia panggilan tersebut
tidak masalah dan panggilan om tersebut Perubahan sistem istilah kekerabatan ini
membuat dia merasa lebih dekat dengan dapat disimpulkan memang
kemenakannnya. Hubungan dengan
kemenakannya lebih bersifat bersahabat berhubungan dengan perubahan
mesra dan bersenda gurau. Berbeda dengan
hubungan mamak kemenakan masa lampau sistem kekerabatan itu sendiri. Semakin
yang lebih bersifat formal dan kaku. Dia
sering bercanda kalau bertemu dengan menguatnya keluarga inti yang dipengaruhi
kemenakannya saat pulang kampung
(Syahrizal dan Sri Meiyenti, 2012:921). oleh banyak faktor mengakibatkan

Ada perbedaan sedikit dalam istilah berkurangnya peran mamak dan menguatnya
kekerabatan antara darek dan rantau di
nagari Sungai Asam yang mewakili daerah peran ayah. Mamak tidak lagi harus
rantau panggilan untuk kakak laki-laki adalah
ajo. Sedangkan dalam masyarakat merupakan orang yang bertanggung jawab
Minangkabau lainnya panggilan untuk kakak
laki-laki adalah uwan atau uda. Demikian juga terhadap kemenakannya sehingga kalau
dengan panggilan untuk kakak perempuan di
Sungai Asam panggilannya uniang dan di istilah menyebut untuk mamak berubah
Sumpur panggilannya uni. Istilah-istilah ini
juga sudah mengalami perubahan karena menjadi om bukan masalah. Karena om
pengaruh kehidupan kota. Istilah untuk ajo
atau uda untuk kakak laki-lakinya sebagian adalah istilah netral yang dipakai secara
anak-anak berubah memakai istilah abang.
Sedangkan istilah uniang dan uni untuk nasional bukan hanya oleh orang
kakak perempuan sebagian anak
menggantikannya dengan kakak (Syahrizal Minangkabau tetapi juga dipakai oleh suku-
dan Sri meiyenti, 2012:921).
sukubangsa lain di Indonesia. Hubungan
Perubahan yang terjadi dalam sistem
istilah kekerabatan pada untuk sebagian antara kemenakan dengan saudara laki-laki
masyarakat Minangkabau kelihatannya
karena adanya keinginan untuk dikatakan ibu dengan panggilan om menjadikan
lebih modern atau tidak kampungan. Selain
hubungan mereka tidak sakral lagi. Hubungan

mereka mungkin lebih akrab, bisa saling

bercanda dan tidak kaku lagi. Hanya saja

kadang-kadang karena terlalu akrab

menyebabkan wibawa seorang laki-laki

sebagai mamak juga memudar di hadapan

kemenakannya.

Perubahan ini lebih lanjut juga

berakibat perubahan fungsi dan peran

mamak sebagai penjaga moral dan

penanggung jawab ekonomi kemenakan.

Hubungan mamak dan kemenakan menjadi

63 | P a g e

hubungan yang bersifat informal dari pada Kami sebagai peneliti mengucapkan
sebelumnya bersifat formal di mana mamak terima kasih kepada Direktorat
lebih disegani. Tanggung jawab sebagai Pembinaan Penelitian dan Pengabdian
penjaga moral dan ekonomi anak-anak atau kepada Masyarakat (DP2M), Direktorat
seorang ego sudah dipegang sepenuhnya Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah
oleh seorang ayah. bersedia membiayai penelitian ini. Ucapan
E. Ucapan Terima Kasih terima kasih juga dipersembahkan kepada
Lembaga Penelitian Universitas Andalas yang
telah banyak membantu terlaksananya
penelitian ini.

Daftar Pustaka

Amir, M.S. 2001. Adat Minangkabau. Pola dan Tujuan Hidup Orang Minangkabau. PT. Mutiara
Sumber Widya. Jakarta.

Bahar, Saafroedin dan M. Zulfan Tadjoedin, 2004. Masih Ada Harapan, Posisi Sebuah Etnik
Minoritas dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara. Yayasan Sepulug Agustus,
Jakarta.

Fox, Robin, 1966. Kinship and Marriage, Penguin Books Ltd. Harmondsworth, England.
Geertz, Hildred, 1982. Keluarga Jawa, Grafiti Pers. Jakarta
Heider, Karl G. 1996. Seeing Anthropology, Cultural Anthropology Through Film, Allyn and

Bacon. Boston.
----------, 1991. Landscapes of Emotion, Mapping Three Cultures of Emotion in Indonesia,

Cambridge University Press. New York.
Ihromi, T.O, (ed).1990. Pokok-Poko Antropologi Budaya, Gramedia, Jakarta.
Koentjaraningrat, 1985. Beberapa Pokok Anropologi Sosial, Dian Rakyat. Jakarta
Marzali, Amri, 2000. “Dapatkah Sistem Matrilineal Bertahan di Kota Metropolitan” dalam

Antropologi Indonesia, Th XXIV, NO. 61 Jan – Apr.
Meiyenti dan Syahrizal. 2005. Gerakan perempuan dan keterlibatan Perempuan dalam

Pembangunan nagari di Era Kembali ke Nagari. Laporan Penelitian. Kajian Wanita.
Dikti.
Naim, Mochtar, 1984. Merantau Pola Mingrasi Suku Minangkabau, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Navis, A.A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru. Adat dan Kebudayaan Minangkabau, Grafiti
Pers. Jakarta.
Kato, Tsuyoshi, 1982. Matriliny and Migration, Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia,
Cornell University Press, Ithaca and London.
-----------. 1989. Nasab Ibu dan Merantau, Tradisi Minangkabau yang Berketerusan di Indonesia.
Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia. Kuala Lumpur.
Malaysia
Radjab, Muhammad. 1969. Sistem Kekerabatan di Minangkabau. Center for Minangkabau
Studies. Padang.
Sanday, Peggy Reeves. 1998. Matriarchy as a Sociocultural Form ( Paper Presented at The
16th Congress of The Indo-Pacific Prehistory Association, Melaka, Malaysia, 1-7
July, 1998). An Old Debate in a New Light.
Sairin, Syafri. 1995. Demokrasi dalam Perspektif Kebudayaan Minangkabau, dalam Humaniora
No. 1. Fakultas Sasara Universitas Gadjah mada. Yogyakarta.
Syahrizal dan Sri Meiyenti, 2012. Sistem Kekerabatan Minangkabau Kontemporer: Suatu Kajian
Perubahan dan Keberlangsungan Sistem Kekerabatan Matrilineal Minangkabau.
Prosiding: International Conference on Indonesian Studies ISSN 2087-0019. Unity,
Diversity and Future, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Bali, 9-10 Februari 2012.

64 | P a g e

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau
pada Masa Pendudukan Jepang

=================================================

Oleh: Siti Fatimah

ABSTARCT

As an ethnic group Minangkabau people was influenced by many
conditions developed around them, like scio-cultural, value system
they had, beliefs and religious, and status and roles they played.
Based on those conditions, Minangkabau people has been well-
known with their unique community structure and leadership pattern
in the past. This condition had been running in harmony until the
coming of Japanese colonialism in 1943. This pattern of leadership
had been changed and tended to be disfunctional. In their
colonialism era, Japanese tried to use the Tungku Tigo Sajarangan
(the pattern of Minangkabau traditional leadership) as a tool for
maintaining their power over Minangkabau colony.

Kata Kunci: Kepemimpinan, pola dan sistem kepemimpinan,
kepemimpinan tradisional, Minangkabau,

I. PENDAHULUAN sosial budaya yang serba kompleks,
suku minangkabau sudah dikenal
Telaah tentang pola-pola dan sistem mempunyai struktur masyarakat yang
kepemimpinan adalah suatu hal yang teratur pada masa lalu. Dalam
menarik, karena konsep mengenai berbagai sumber yang terdapat, baik
kepemimpinan seringkali sangat erat tertulis maupun tidak, masyarakat
hubungannya dengan kondisi-kondisi minangkabau telah diperkenalkan
politik, perubahan-perubahan sosial, dengan sistem pola kemasyarakatan/
pergeseran dinamika-dinamika lain- pemerintahan yang secara umum
nya yang berlaku di tengah-tengah dikenal yaitu; Bodhi Caniago dan
suatu masyarakat. Di sisi lain pola- Koto Piliang. Di Minangkabau sering
pola kepemimpinan yang berlangsung dikenal ”orang yang dituakan”,
di tengah-tengah suatu masyarakat kalaulah istilah orang yang dituakan
tertentu tidak pula terlepas dari ini tidak identik, tetapi konsep ini
berbagai faktor yang mendukung biasa diberikan terhadap seseorang
masyarakat itu sendiri, umpamanya yang dianggap sebagai pemimpin,
kondisi sosial budaya, sistem nilai apakah itu dalam kelompok
yang dimiliki, agama dan kepercayaan (communal) terkecil maupun kelom-
yang dianut, peranan dan status yang pok yang lebih luas.
diembannya.
Dalam perkembangan sejarah
Minangkabau sebagai salah satu Minangkabau, pola-pola kepemim-
kelompok etnis tertentu, tidak terlepas pinan tradisional terlihat berjalan
dari persoalan di atas. Dengan kondisi

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau.... 75

dengan harmonis sampai dengan berbeda, dalam segi-segi apakah ia
masuknya pengaruh-pengaruh luar berbeda dan bagaimanakah perbedaan
atau kekuatan-kekuatan asing. Namun tersebut khusus terhadap sistem
setelah dominasi kekuatan asing, pola kepemimpinan tradisional yang
kepemimpinan masyarakat tradisio- berlaku di Minangkabau?
nal menjadi rusak. Reaksi terhadap itu
ditunjukkan oleh terjadinya berulang Masalah utama adalah me-
kali pergolakan sosial dan intelektual.1 nyangkut sekitar sistem kepemim-
pinan tradisional masyarakat Minang-
Anthoni Reid dalam bukunya kabau. Karena begitu luasnya
”The Japanese and Rival Indonesian persoalan ini, maka penulis mem-
Elite: Sumatera 1942-1949”2 menje- batasinya sekitar pada periode Jepang
laskan bahwa inovasi yang sungguh (1942-1945). Dalam hal ini ditekan-
luar biasa dari pemerintahan Jepang kan pada persoalan sejauh mana
adalah diajaknya semua sumber- pengaruh Jepang menimbulkan
sumber kepemimpinan yang ada perubahan-perubahan terhadap kepe-
untuk masuk ke dalam berbagai badan mimpinan tradisional masyarakat
administratif, penasehat, propaganda, Minangkabau pada masa itu.
tempat mereka sedikit banyaknya Bagaimanapun juga, tulisan ini
harus bekerjasama. Bertitik tolak dari bertujuan untuk: (1) memahami
pendapat Reid dapat diduga bahwa secara lebih jelas bagaimana persisn-
Jepang yang dikenal dengan promosi ya pola-pola kepemimpinan tradi-
3Anya (Jepang cahaya Asia, Jepang sional masyarakat Minangkabau
Pemimpin Asia dan Jepang Pelindung sebagai suatu proses sejarah pada
Asia) ternyata tidak jauh berbeda tingkat mikro; (2) mengungkapkan
dengan pendatang sebelumnya dalam pengaruh Jepang terhadap pergeseran-
pelaksanaan politik kolonialnya. pergeseran pola kepemimpinan
Hanya yang menjadi persoalan adalah masyarakat Minangkabau; dan (3)
apakah dalam penerapannya model- membandingkan pola kepemimpinan
model yang diterapkan Jepang tradisional masyarakat Minangkabau
berbeda dengan sebelumnya? Bila pada masa Jepang dengan periode
sebelumnya.
1 Taufik Abdullah. 1972. Modernization in
the Minangkabau World; West Sumatera In II.BEBERAPA KONSEPSI TENTANG
Early of the twentienth Century. London, TEORI KEPEMIMPINAN
Ithaca, London: Cornel University Press;
Taufik Abdullah. 1972. Schools and Guna memperjelas konsep ”Kepe-
Politics: The Kaum Muda Moyement in mimpinan Tradisional” maka dicoba
West Sumatera. New York: Ithaca Cornell meminjam tipologi Weber mengenai
University Press; Taufik Abdullah. 1966. konsepsi kepemimpinan itu sendiri.
“Adat and Islam An examination of Menurut Weber ada tiga tipe
conflict in Minangkabau” dalam Indonesia, kepemimpinan umat manusia:
No. 2 Oktober 1966; Schrieke. 1973. tradisional, rasional-legal, dan kharis-
Pergolakan Agama di Sumatera Barat: matik3. Tipologi Weber ini dilihat
Sebuah Sumbangan Bibliografi (terjemahan
oleh: Soergata Poerbakawatja. Jakarta: 3 Max Weber. 1947. The Theory of Social and
Bharata. Economic Organization (translated by A.M

2 Dalam Schrieke. 1973. Ibid.

76 TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011

berdasarkan bentuk-bentuk aksi sosial Pada masyarakat Minangkabau
dan dengan hubungan-hubungan bentuk kepemimpinan tradisional dapat
sosial yang menjadi ciri khas berbagai dilihat dalam institusi-institusi adat
masyarakat tertentu. yang ada. Berbeda dengan di Jawa, di
Minangkabau pemimpin tertinggi tidak
Kepemimpinan tradisional me- terletak di tangan raja melainkan di
nurut Weber adalah orde sosial yang tangan penghulu, sekalipun di daerah
bersandar kepada kebiasaan- Minangkabau pernah terdapat suatu
kebiasaan kuno dengan mana status kerajaan di masa lalu. Kepemimpinan
dan hak-hak pemimpin juga sangat tradisional ini adalah berdasarkan
ditentukan oleh adat kebiasaan4. stelsel martilinial menurut tingkatannya
Kepemimpinan tradisional juga masing-masing. Pada umumnya
memerlukan unsur-unsur kesetiaan pemimpin rumah tangga disebut
pribadi yang menghubungkan hamba tungganai, pemimpin kaum disebut
dengan Tuhannya. Berbeda dengan mamak kaum, pemimpin suku adalah
tipe rasional-legal dimana semua penghulu.7
peraturan tertulis dengan jelas dan
diundangkan dengan tegas, maka Di sisi lain, dalam konsepsi
batas wewenang para pejabat kepemimpinan Minangkabau dikenal
ditentukan oleh aturan main; apa yang disebut dengan Tungku Tigo
kepatuhan dan kesetiaan tidak Sajarangan, yang erat kaitannya
ditujukan kepada pribadi para pejabat dengan pengelompokan sistem
melainkan kepada lembaga yang kepemimpinan masyarakat Minang-
bersifat impersonal.. Sedangkan kabau, yaitu kepemimpinan ninik
analisis Weber tentang kepemimpinan mamak, kepemimpinan alim ulama,
’karismatik” adalah seorang pemim- dan kepemimpinan cerdik pandai.8
pin atau raja yang mempunyai sifat
keramat.5 III.STRUKTUR KEPEMIMPINAN
TRADISIONAL MASYARAKAT
Adakalanya sulit memberikan MINANGKABAU
batasan yang tegas antara tipe
tradisional dengan karismatik, karena Struktur sosial Minangkabau tradi-
dalam realitasnya tidak jarang seorang sional dapat dibagi dalam dua sistem
pemimpin yang memiliki tipologi
tradisional, sekaligus mengemban tipe Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin” dalam
karismatik. Untuk ini dapat ditemu- A.A. Navis (Ed). 1983. Dialektika
kan dalam beberapa kasus di Jawa Minangkabau dalam Kemelut Sosial.
dan Minangkabau. 6 Padang:Genta Singgalang Press.
7 Di Jawa umpamanya kepemimpinan sunan-
Henderson and Talcott Parsons). New sunan, di mana mereka bertipe tradisional
York: Oxford University Press. sekaligus juga bertipe kharismatik, di
4 April Carter. 1985. Otoritas dan Demokrasi. Minangkabau bisa terdapat pada
Jakarta: Rajawali. kepemimpinan Penghulu dan kepemim-
5 Koentjaraningrat. 1986. ”Kepemimpinan pinan para ulama seperti sech-sech di
dan Kekuasaan Tradisional, Masa Kini, Sumatera Barat. Untuk lebih jelasnya, baca
resmi dan Tak Resmi” dalam Miriam Sartono Kartodirdjo. 1984. Ratu Adil
Budiarjo. Aneka Penulisan tentang Kuasa Jakarta: Sinar Harapan.
dan Wibawa. Jakarta: Sinar Harapan. 8 A.A Navis. 1984. Alam Takambang Jadi
6 Herman Sihombing. 1983. ”Hukum Adat Guru:Adat dan Kebudayaan Minangkabau.
Minangkabau mengenai Tungku Tigo Jakarta: Grafiti Press.

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau.... 77

yang berbeda, yaitu: The Royal sebuah lembaga kampung yang
Family System (Sistem keluarga biasanya adalah Primus Interpares.
penguasa kerajaan/bangsawan) dan Tidak terdapat kaitan struktur secara
The Commoners (rakyat biasa). formal antara nagari dengan nagari
Bentuk pertama adalah sistem lainnya11. Oleh karena itu setiap nagarai
patrilinial yang tak dapat dipisahkan berdiri sendiri di mana nagari satu
dari alam Minangkabau. Ini juga terlepas dari nagari yang lainnya12.
dapat dianggap sebagai perwakilan Dengan demikian orang sering
dari The male principle. Sedangkan menyebutnya dengan republik Nagari.
yang kedua dapa dikatakan mewakili
model sistem matrilinial (the fame Kampung biasanya dikepalai
principle). Namun kedua bentuk ini oleh kepala kampung. Disamping itu
disatukan ke dalam a sacral marrige.9 juga terdapat kepala dari masing-
masing suku. Biasanya ada beberapa
Berdasarkan bukti-bukti sejarah buah suku yang termasuk ke dalam
setelah abad ke-16, setelah peme- sebuah kampung. Kepala suku yang
rintahan Adityawarman, terdapat tiga tertua di antara kepala suku yang ada
raja di Minangkabau, yaitu raja Alam, dalam kampung yang bersangkutan
raja Ibadat, dan Raja Adat. Ketiga dipilih untuk menjadi kepala
raja tersebut disebut Rajo Tigo Selo. kampung, mereka dimuliakan dengan
Yosselin De Jong menyebutkan raja istilah Datuk yang dipusakai13.
adat adalah simbol kewanitaan, oleh
karena itu kadang-kadang disebut Pada mulanya terdapat empat
dengan Tuan Gadis 10. Raja ini boleh suku pokok di Minangkabau yang
laki-laki dengan syarat harus terdapat dari dua kelarasan. Suku
memanjangkan rambutnya. Sedang- Koto dan Suku Pilliang termasuk
kan raja ibadat adalah simbol kaum kelarasan Koto Piliang. Sedangkan
laki-laki. Keduanya disebut Rajo Duo Suku Bodhi dan Caniago termasuk
Selo. Namun kekuasaan raja tidak kelarasan Bhodi Caniago.
pernah berfungsi sebagai kepala
pemerintahan di Minangkabau. Dewasa ini menurut L.C.
Westenenk telah berkembang cabang-
Wilayah ini terdiri dari Dua cabang suku, lebih kurang 96 suku
laras dan Tiga Luhak. Luhak itu yang menyebar di seluruh nagari di
sendiri wilayahnya amorfik dan bukan Minangkabau14.
merupakan unit politik dalam
pengertian tradisional. Organisasi 11 Masalah antara satu nagari dan nagari
sosial politik tertinggi sebelum lainnya sering terjadi perkelahian. P.E. de
masuknya pengaruh asing adalah Josselin de Jong. 1980. Minangkabau and
Nagari yang terdiri dari beberapa Negeri Sembilan: Sosio Political Structure
kampung yang saling berdekatan in Indonesia. Den Haag: Martinus Nijhoft
nagari biasanya diperintahi oleh Iletgeverij.

9 Taufik Abdullah. 1966. “Adat dan Islam: 12Ahmad Dt. Batuah A. Dt. Madjoindo.
An Examination of Conflict in Tanpa Tahun. Tambo Alam Minangkabau.
Minangkabau” dalam Indonesia, No 2 Jakarta: Balai Pustaka.
Oktober 1966.
13Mochtar Naim. 1984. Merantau Pola
10 Ibid Migrasi Minangkabau. Yogyakarta: Gajah-
mada University Press.
78
14 P.E de Josselin de Jong. 1980. Op cit..

TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011

Suku atau matriclan adalah unit olahraga dan tempat hiburan17.
utama dari struktur sosial masyarakat Bahkan nagari seharusnya juga
Minangkabau, dan seseorang tidak memiliki sawah, perkebunan dengan
dapat dipandang sebagai orang berbagai jenis tumbuhan yang ada di
Minangkabau kalau tidak mempunyai dalamnya.18
suku. Tiap suku biasanya terdiri dari
beberapa parui’. Parui’ dapat dibagi Pada masa pemeintahan Belanda
ke dalam Jurai, dan jurai terbagi terdapat istilah laras. Laras dibentuk
kedalam Samande15. Cara pembagian bila nagari mempunyai adat yang
suku seperti demikian adalah ke sama dalam bentuk federasi
dalam berbagai tingkat jenis (gabungan) yang sering diistilahkan
keturunan (lineage), namun dapat dengan koto, seperti sebutan IV koto,
berbeda antara satu daerah dengan VI koto, XIII koto dan seterusnya.
daerah lainnya. Sebagai mana yang Pada masa kedatangan Belanda tahun
dikatakan de Jong, Jurai adalah istilah 1937 di Tanah Datar terdapat empat
yang kabur yang mungkin menun- belas kelarasan dan di Agam dua
jukkan persamaan consangulinealitas belas kelarasan. 19 di dalam sukunya
saja atau pertalian kelompok di bawah penghulu paling berkuasa. Ada-
atau di atas tingkatan parui’. kalanya penghulu bersama penghulu
Sebaliknya samande sukar dipandang lainnya mengadakan rapat di balai
sebagai unit yang berdiri sendiri oleh adat nagari bila ada masalah-masalah
karena dua atau tiga samande bisa dalam penduduk nagari. Sedangkan
sama mendiami rumah yang satu. penghulu pada dasarnya tidak bekerja
sendiri: dia dibantuk oleh penghulu
Sebuah nagari biasanya dapat kecil.20 di daerah lain adakalanya
berisikan empat sampai sepuluh suku. terdapat istilah atau sebutan yang
Bahkan lebih, di padang tahun 1933 berbeda untuk tujuan dan maksud
terdapat delapan sampai seppuluh yang sama.
suku di Koto Tangah16. Jadi suku
bukanlah merupakan unit teritorial,. Kadang-kadang terdapat perbe-
Oleh karena itu kesatuan teritorial daan penamaan yang menolak untuk
yang merupakan daerah otonom maksud yang sama di beberapa
adalah nagari. Terdapat beberapa daerah. Di Bukittinggi masing-masing
tingkat bentuk Unit teritorial, dari keluarga atau parui’ dikepalai oleh
rumah adat, berikut taratak, dusun, penghulu Andiko. Di Payakumbuh
koto, sampai pada nagari sebagai kepala purui’ juga disebut penghulu
puncaknya. Setiap nagari memiliki Andiko. Di Suliki disebut penghulu
sebuah balai adat, masjid, jalan-jalan nan VI suku, tapi penghulu Andiko
raya atau setapak, pandan pakuburan, tetap kepala parui’. Sedangkan
medan laga, tepian mandi, lapangan menurut informasi Ronket dan

15Mochtar Naim. 1984. Opcit.; Lilat juga 17 Bahasan tentang Nagari pada awal abad ke
Josselin de Jong. 1980. Op cit. -20, lihat L.C. Westenenk. 1918. De
Minangkabau Sche Nagari Edisi ke-3.
16Chistine Dobbin. 1975. The Exercice of Welstervreder.
Authority in Minangkabau in Late Century.
Kuala Lumpur. 18 S. Raffles (ed). “Memoir of the Live and
Public Service of Sir Thomas Stamford”
dalam, Cibidristine Dobbin. 1975. Op cit.

19 Ibid
20 Ibid.

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau.... 79

Pmuncak, sendangkan orang yang Singkarak sama dengan di Solok yang
terkemuka mengepalai nagari disebut berbeda hanya keluarga tidak disebut
pucuak, di rantau pucuak sering suku tetapi kampuang.
disebut raja.21 Data memperlihatkan
kelompok geneologis dibentuk oleh IV.STRUKTUR KEPEMIMPINAN
nagari. Setiap nagari berbentuk TRADISIONAL MASYARAKAT
republik kecil, begitu juga di rantau, MINANGKABAU
kecuali Indragiri disebut berbeda.
Pada tanggal 14 Maret 1942 Belanda
Unsur-unsur Koto Piliang dan meninggalkan Batavia. Keesokan
Bodhi Caniago mungkin ditemukan harinya penduduk kota menerima
dalam nagari yang sama. Sekalipun pengumuman yang dikeluarkan
nagari tersebut terdapat suku yang bersama oleh Residen Mr.C.W.A.
berlainan. Akan tetapi biasanya Abbentunis dan wali kota Ir. E.A.
ditandai dengan suku yang dominan. Voorneman.25 Pada hari itu juga 5
Oleh karena itu orang biasanya Maret 1942. ibu kota Hindia Belanda
ditandai mengatakan bahwa Luhak jatuh ke tangan tentara Jepang.
Agam lebih didominasi oleh Bodhi Wilayah Hindia Belanda yang
Caniago, Luhak Lima Puluh Koto pertama-tama jatuh ke tangan Jepang
oleh Koto Piliang dan Tanah datar adalah kepulauan Tambelan di Laut
campuran di antara keduanya.22 Cina Selatan yang diduduki Jepang
Sedangkan keluarga kerajaan lebih pada tanggal 27 Desember 1941. Tak
didominasi oleh Koto Piliang.23 lama kemudian mendarat di Taratak
(Kalimantan Timur) dan Manado
Luhak Tanah Datar yang meru- (Sulawesi Utara). Balikpapan
pakan gabungan antara adat Koto diduduki tanggal 24 Januari, Ambon
Piliang dengan Bodho Caniago, tiga tanggal 2 Februari, Palembang pada
daerahnya yang terpenting adalah tanggal 15 Februari bersama dengan
Solok, Singkarak dan Batu Sangkar. jatuhnya Singapura, dan demikian
Di Solok keluarga disebut sesuku juga daerah-daerah sumber minyak di
yang dikepalai oleh penghulu Andiko. daerah Kalimantan Timur dan
Bila suku atau keluarga menempati Sumatera Selatan sudah berada di
beberapa rumah, maka penghulu bawah tangan Jepang. Timor diduduki
Andiko mengepalai beberapa mamak, tanggal 20 Februari. Pendaratan di
sedangkan nagari dikepalai oleh Sumatera Utara dan Timur tanggal 12
penghulu pucuak. Tetapi ia adalah Maret dan pada tanggal 17 Maret
seorang penghulu Andiko yang Kota Padang jatuh ke tangan Jepang.
dianggap Primus Interpares. 24 Di
Berdasarkan kenyataan itu,
21P.E, de Josselin de Jong. 1980. Op cit. jelaslah bahwa intensitas pendudukan
22Elizabeth E. Graves. 1981. The Minang- Jepang di seluruh Nusantara dirasakan

kabau Response to Duch Colonial. Rule in 25Arsip nasional Republik Indonesia, di
the Ninetcenth Century. New York: Ithaca: bawah pendudukan Jepang: kenangan
Cornell University Press. Empat puluh dua orang yang
23Christine Dobbin. 1977. “Economic Change mengalaminya, penerbit Sejarah Lisan
in Minangkabau as a Factor in the Rise No.4.1988.
Padri”, dalam Indonesia. 1977.
24P. E. de Josselin de Jong.. 1980. Op cit.

80 TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011

berbeda-beda, demikian pula pene- Sumatera. Di Sumatera Barat pendaf-
trasi kekuasaan dan kebudayaan taran tahap pertama dimulai pada
Jepang tidak merata. Daerah yang bulan November 1943, kemudian
masuk front pertempuran lebih diikuti oleh Aceh, lalu Sumatera
menderita dibanding dengan daerah Timur dan seterusnya baru keresi-
yang tidak masuk. Sementara itu denan atau Shu lainnya. Akan tetapi
pemerintahan penduduk (Jepang) sebelum Giyugun dibentuk di
lebih banyak mendapat kesempatan Sumatera Barat, sudah dibentuk
untuk melaksanakan policy (kebijak- ”Membangun Gerakan Rakyat” Juli
sanaan) penduduk sesuai dengan 1943 dipimpin oleh Muhammad
rencananya. Syafe’i dan Chatib Sulaiman.26
Gerakan ini cukup berpengaruh,
Wilayah yang diduduki Jepang karena rakyat telah memberikan
dibagi dalam dua bagian besar. Pulau tanggapan yang positif tentang
Sumatera dan jawa berada di bawah Giyugun Sumatera sebelum Sumatera
kekuasaan militer Angkatan Darat Gunseikanbu mengumumkan secara
(Rikugun), dan Kalimantan serta resmi.27
wilayah yang dahulu dikenal sebagai
daerah Timur Besar dikuasai oleh Antara pejabat militer Jepang
pemerintahan militer Angkatan Laut yang berkedudukan di Jawa dengan
(Kaigun). Dalam pelaksanaan kebi- mereka yang berkedudukan di
jaksanaan pemerintah, penguasa Sumatera hanya ada kontak yang
militer berperang kepada tiga prinsip terbatas. Masing-masing pusat
utama, yaitu 1) Mengusahakan agar pemerintahan lebih banyak menja-
dapat dukungan rakyat untuk meme- lankan tugas sendiri-sendiri.
nangkan perang; 2) Memanfaatkan
sebanyak mungkin struktur peme- Namun demikian, tetap ada
rintahan yang telah ada; 3) mele- kemiripan pengaturan seperti cara-
takkan dasar agar wilayah yang cara mobilisasi calon-calon pemuda
bersangkutan dapat memenuhi kebu- untuk menjadi militer. Jika di Jawa
tuhannya sendiri. Jepang mengadakan pendekatan
melalui kantor Shumubu (Kantor
Laskar rakyat Sumatera atau Urusan Agama), maka di Sumatera
Giyugun Sumatera adalah semacam juga berlaku cara seperti ini. Bahkan
tentara yang direkrut Jepang dari di Sumatera barat jauh sebelum
kalangan Pemuda Indonesia pada pengumuman resmi Giyugun dike-
tahun kedua setelah pendudukan luarkan, para pejabat militer Jepang
Jepang. Di Jawa mereka lebih dikenal
dengan PETA (Pembela Tanah Air). 26 Nugroho Notosusanto. 1979. Tentara Peta
Keduanya dibentuk atas kebijak- pada Zaman Pendudukan Jepang di
sanaan pemerintah yang berkedu- Indonesia. Jakarta: Gramedia. Pola
dukan di Dallat (Vietnam). Setelah Kebijaksanaan Jepang antara lain adalah
PETA di Jawa diresmikan, Gunseibu menuju sasaran sumber strategis di
Sumatera yang berkedudukan di Indonesia yaitu penguasaan sumber-sumber
Bukittinggi baru mengeluarkan minyak dan karet.
pengumuman tentang Giyugun.
Pelaksanaan pembentukan pun sama 27Aiko Korushawa. 1988. “Mobilization and
sekali tidak serentak untuk seluruh Training of Youth in Sumatera, during the
Japanese Occupation 1943-1945”. (paper
yang di tulis untuk sebuah tugas di Cornell
University), dalam arsip nasional RI, 1988.

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau.... 81

yang mengurus pemerintahan untuk tanggal 15 Oktober 1945 memasuki
masing-masing Shu, telah meng- Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
adakan pembicaraan dengan para Sebagian besar di antara mereka
pemimpin Agama setempat. memperoleh tempat tertentu dalam
hierarki kemiliteran pada masa
Para pemimpin agama yang revolusi kemerdekaan. Di antara
berpengaruh dan para tokoh perwira Giyugun yang memegang
Nasionalis mulai memprogandakan jabatan komando dan resimen pada
tujuan pembentukan tentara suka rela masa revolusi adalah Sjarief Usman,
dalam berbagai dakwah dan tempat Dahlan Ibrahim, dan Ismail Lengah.
umum28. Sentimen-sentimen agama Semuanya dari Giyugun Padang.
seperti perang Jihad menjadi alat Sedangkan Hasan Basri dan Abdul
propaganda yang paling ampuh untuk Halim dari Giyugun Bukittinggi29.
mempengaruhi para pemuda di
Sumatera. Di Sumatera Barat Pada umumnya orang-orang
misalnya, Ulama Shekh Jamil Jambek Jepang yang pertama sampai ke
dan seorang tokoh Nasionalis Khatib Sumatera Barat adalah para militer
Sulaiman adalah dua orang tokoh yang tidak berpengalaman di
progaganda Giyugun yang terkenal. lapangan pemerintahan sipil seperti
Belanda sebagai pendahulunya. Oleh
Bagi Jepang penggemblengan karena itu pemerintahan Jepang lebih
pemuda secara militer dengan bercorak militer, tidak seperti
memakai semangat Nippon Seisin pemerintahan Hindia Belanda yang
merupakan suatu proses untuk men- bercorak pemerintahan sipil. Karena
jepang-kan pemuda Indonesia, akan dalam keadaan perang, maka orang-
tetapi dalam banyak hal tidak banyak orang Jepang yang datang pertama ke
yang diharapkan Jepang dalam proyek Sumatera Barat adalah orang-orang
semacam ini. Semangat membela militer yang tidak mempunyai ilmu
tanah air yang ditanamkan Jepang dan pengalaman di lapangan
justru memperkuat perasaan pemerintahan sipil. Sekalipun tenaga
Nasionalisme di kalangan pemuda. ahli pemerintahan yang didatangkan
Maka pada tanggal 15 Agustus 1945, kemudian tidak pernah sampai ke
setelah pemboman Hiroshima dan Indonesia, karena kapalnya diteng-
Nagasaki, Jepang menyerah kepada gelamkan oleh terpedo sekutu30.
sekutu dan sekaligus awal lenyapnya
kekuasaan militer Jepang di daerah Oleh karena itu pada awal
pendudukan di Asia Tenggara, kekuasaannya Pendudukan Jepang di
termasuk Indonesia. Oleh karena itu, Sumatera Barat terpaksa memper-
sewaktu perang kemerdekaan Indo- gunakan orang-orang Sumatera Barat
nesia meletus, maka para Seinendan,
Heiho, Keibodan, dan Giyugun inilah 29 Giyugun angkatan pertama adalah Giyugun
yang berbalik menyerang Jepang dan Padang, sebelum Giyugun Bukittinggi
Sekutu. Sebagian besar mereka pada dibuka, Giyugun Padang sudah melantik
Perwira antara lain; Mohammad Dahlan
28Akira Oki. 1977. Social Change in The Jambek, Ismael Lengah, Syarif Usman dan
West Sumatera, 1908-1945, (disertasi Abdul Muthalib (Laporan Hasan Basri tgl,
Doktor di ANU, Camberra. 23 Juli 1986).

82 30 Akira Oki, 1977. Op cit.

TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011

yang sebelumnya telah duduk juga sebanyak-banyaknya bagi wilayah
dalam administrasi pemerintahan tersebut. Anggotanya kadang-kadang
Hindia Belanda, dengan syarat tidak terdiri dai 10 sampai 20 orang, yang
melanggar otoritas Jepang. Jadi, diwakili dari setiap distrik, subdistrik,
terpaksa struktur pemerintahan Jepang kepala nagari, kepala adat, para
mengiktui struktur pemerintahan ulama, pemuda dan kaum terpelajar33.
Hindia Belanda. Hanya saja semua
nama-nama diganti dengan bahasa V.ORGANISASI KEMASYARAKATAN
Jepang, dan seluruh posisi penting DAN DAMPAK KEDATANGAN
dalam pemerintahan dipegang oleh JEPANG DI MINANGKABAU
orang-orang Jepang31.
Pendudukan Jepang (1942-1945)
Sebagai pemimpin di Sumatera sering disebut sebagai garis pemisah
Barat, Kenzo Kano sampai di Padang dalam sejarah Indonesia modern.
tanggal 9 Agustus 1942 bersama Politik pemerintahan Jepang pada
dengan 68 orang pegawai sipil tahun-tahun ini dianggap penting
lainnya. Sumatera Barat yang ber- dalam memecahkan hubungan sosial
nama Sumatera West Kust diganti tradisional pada tingkat lokal, serta
dengan nama Sumatera Neishi Kaigun menyiapkan tradisi bagi terciptanya
Shu. Afdeeling yang dikepalai oleh latar belakang revolusi nasional dan
Asisten Residen diganti dengan nama sosial tahun 1945-1949. Di masa
Bun, yang dikepalai oleh Bun Shu pendudukan Jepang organisasi-
Cho. Onder Afdeeling yang dikepalai organisasi pedesaan secara langsung
oleh kontroler dirubah menjadi Baku dihubungkan dengan dunia luar dalam
Bun Cho. Distrik yang dikepalai oleh pengertian politik, ekonomi, dan
demang dirubah menjadi Gun dan spiritual. Dalam hal ini diperkenal-
dikepalai oleh Gun Cho. Onder kannya lembaga-lembaga sosial yang
District yang dikepalai oleh Asisten baru kepada masyarakat desa atau
Demang diganti dengan nama Fuko setidak-tidaknya bagaimana Jepang
Gun (Kecamatan) yang dikepalai oleh dapat memanfaatkan lembaga-
Fuko Gun Cho unit pemerintahan lembaga sosial politik yang telah ada
yang terkecil yaitu Negara tetap bagi kepentingan politik Asia Timur
dikepalai oleh seorang kepala nagari32. Rayanya.

Disamping lembaga Admi- Sebagaimana halnya pemerin-
nistrasi pemerintahan terdapat lagi tahan Hindia Belanda, orang-orang
beberapa lembaga administrasi yang juga menyandarkan terhadap orang-
bergerak dibidang lainnya. Diantara orang setempat yang berpengaruh
koperasi bentuk baru Kumiai dan dalam kelembagaan tradisional lokal,
Rukun tetangga Tonariguni. Pada seperti: Raja di Sumatera Timur,
tanggal 1 Oktober 1942 Yano penghulu atau ninik mamak di
mendirikan majelis Kerukunan Minangkabau. Uleebelang di Aceh
Minangkabau yang bertujuan bagi dan kelompok-kelompok serupa
Jepang untuk memperoleh informasi

31Mardjani Martamin. 1978. Sejarah 33 Kita Sumatera Simbun, 23 September, 18
dan 11 November 1943, dalam Akira Oki.
Kebangkitan Nasional di Sumatera Barat. 1977. Op cit.

Jakarta: Depdikbud.1977/1978.
32 Ibid

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau.... 83

lainnya di daerah-daerah34. Oleh Jepang; 3) Meyakinkan bahwa
karena itu tidak sedikit dampak dan perkumpulan tersebut semata-mata
reaksi yang timbul dari perlakuan untuk kepentingan umat Islam.
Jepang terhadap masyarakat, baik
dalam bentuk positif maupun negatif. Dalam konferensi tersebut
seolah-olah Jepang sangat memberi-
Di Minangkabau, pemerintahan kan perhatian kepada golongan Islam
telah bekerjasama dengan golongan dan bagaimana hendaknya dengan
adat, ulama dan kaum terpelajar. Pada bekerjasama dengan pihak Jepang
lembaga adat dicoba mendirikan suatu dalam perang Asia Timur Raya. Hal
lembaga yang bernama ”Balai ini dapat dilihat dari beberapa hasil
Penyelidikan Masyarakat Minang- pidato yang dilontarkan Marquisto
kabau” pada tahun 1943 dengan Tokugawa dalam konferensi tersebut,
anggota terdiri dari  56 orang ”Allah telah menciptakan 13 juta
dengan penguasa-penguasa adat dari orang muslim untuk bekerjasama
berbagai daerah agar dapat dengan Jepang. Orang-orang Islam
mempelajari seluk beluk adat bagi baik hidup maupun matinya adalah
kepentingan pemerintahan admi- bersama Jepang demi membangun
nistrasi Jepang. Begitu juga memberi Asia Baru dan orang-orang Islam
kesempatan bagi golongan terpelajar hendaklah menerima uluran tangan
khususnya para pemuda memasuhi yang demikian. Hendaklah disampai-
pendidikan di bidang militer seperti kan kepada penduduk yang beragama
Muhammad Syafe’i dan Khatib Islam oleh para tokoh Agama. Oleh
Sulaiman. Di sisi lain, Jepang juga karena itu setelah konferensi di
memberikan kebebasan terhadap umat Singapura, maka pada bulan
Islam untuk memperingati hari-hari September 1943 dibentuklah Majelis
besarnya, puasa pada bulan Islam Tinggi Minangkabau, yang
Ramadhan dan sebagainya, walaupun anggotanya terdiri dari para ulama
pada awalnya agak dibatasi. Sumatera Barat. Kemudian atas
gagasan Yano lembaga ini digabung
Di pihak lain, seperti halnya ke dalam Lembaga Studi Adat yang
dalam kelompok adat, Jepang juga bernaung di bawah satu wadah
berusaha mengumpulkan para ulama, Kebudayaan Minangkabau.
yang terlihat dengan diadakannya
konferensi Islam I di Singapura pada Di sisi lain Jepang berusaha pula
tanggal 5 sampai 6 Maret 1943. menghimpun para kaum terpelajar
Sumatera mengirim 44 orang wakil, dan pemuda untuk dilatih jadi
sementara Malaya mengirim 47 orang Giyugun dan tentara sukarela, lewat
wakil. Arahan dan konferensi tersebut inisiatif dari para penghulu kaum.
adalah: 1) Menjelaskan gambaran Dalam awal oktober 1943 para
tentang dunia Jepang; 2) Menjadikan penghulu membuka kantor Barisan
orang Islam supaya memahami Sukarela di Padang atau kantor
pentingnya bekerjasama dengan Giyugun yang pertama di Sumatera
Barat. Pada waktu yang bersamaan
34M.C. Ricklefs. 1982. A History of Modern para ulama yang di Bukittinggi juga
Indonesia. London and Basingktoke: The mendirikan kelompok-kelompok yang
Macmilland Press.
TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
84

sama35. Dorongan yang besar bagi dalam kenyataannya semua praktek-
perkembangan Giyugun diberikan praktek yang dilakukan Jepang tidak
oleh Yano dalam suatu rapat besar kurang pahitnya dari apa yang pernah
pada tanggal 20 November 1943 di dilaksankan oleh pemerintahan
Bukittinggi. Terakhir ia mampu kolonial Belanda. Ternyata lembaga-
mempengaruhi para penghulu, yang lembaga tradisional yang ada telah
setidak-tidaknya telah dapat merekrut merupakan saluran-saluran yang
20.000 prajurit dari setiap anggota digunakan dan dimanfaatkan Jepang
keturunannya. Seruan penghulu ini untuk kepentingannya. Dari beberapa
mendapat sambutan yang baik dari hasil informasi, baik lewat wawancara
kelompok kaumnya. Propaganda maupun studi arsip, dapat
Jepang semakin intensif dalam tahun disimpulkan bahwa penderitaan
1944. Berbagai macam kelompok rakyat sungguh sangat luar biasa
yang ada disatukan dalam Hokokai, selama masa pendudukan Jepang.
yang dipimpin oleh Muhammad
Syafe’i dan Khatib Sulaiman dari Ada beberapa hal yang dapat
golongan gerakan Nasionalis atau dikemukakan pada bagian ini yang
terpelajar. Datuk parpatih Baringek sehubungan dengan keganasan-
dan Datu Majo Uang dari kelompok keganasan Jepang terhadap wilayak
adat dan Sech Djamil Djambek dan taklukannya, khususnya di Sumatera
Sutan Mansur dari kelompook agama. Barat. Lewat saluran-saluran tradi-
Sedangkan Muhammad Syafe’i sional, seperti para penghulu, kepala-
merupakan figur sentral dari kepala kampung/desa, Jepang
keseluruhan kelompok gabungan ini. berusaha merekrut para tenaga-tenaga
Disamping itu para kepala kampung kerja paksa untuk pembuatan-
diberikan latihan militer yang intensif pembuatan jalan raya, jalan kereta api,
dengan menanamkan semangat Asia dan jembatan-jembatan. Praktek-
Timur Raya. praktek demikian yang dikenal
dengan Romusha. Kemudian ada satu
Bila dihubungkan dengan pola hal yang sangat erat kaitannya dengan
kepemimpinan tradisional yang politik ekonomi Jepang, yaitu
dikemukakan pada bagian terdahulu, penyerahan padi dan hasil-hasil panen
jelaslah bahwa pemerintahan Jepang lainnya secara paksa, sehingga
berusaha untuk memanfaatkan ketiga kehidupan di pedesaan sangat
saluran tersebut, seperti halnya dipengaruhi oleh politik beras selama
pemerintahan Hindia Belanda dalam pendudukan Jepang.
kepentingan politik daerah jajahan
mereka. Penumpukan-penumpukan hasil
panen melalui pimpinan tradisional,
Sekalipun Jepang, secara ideal sementara rakyat diracuni dengan
telah berusaha membentuk berbagai kemiskinan dan kelaparan akibat hasil
organisasi kemasyarakatan dan panen yang tidak dapat mereka
melatih para pemuda dalam nikmati. Di antara dokumen-dokumen
pendidikan militer dengan dalih demi yang ditemukan di dalam arsip,
kepentingan Asia bersama, namun terdapat laporan yang berisikan
masalah-masalah yang diakibatkan
35 Kita Sumatera Simbun, 28 Oktober 1945, oleh pungutan padi dan situasi umum
dalam Akira Oki. 1977. Op cit. yang sehubungan dengan kesejah-

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau.... 85

teraan sosial di pedesaan. Di samping pengaruh Islam dan pengaruh Barat,
itu, kekejaman-kekejaman yang konsep ideal kepemimpinan tradi-
dilakukan oleh para pejabat militer sional Minang-kabau mulai bergeser
Jepang terutama terhadap kaum menjadi Tungku Tigo Sajarangan
perempuan. Tidak sedikitnya para yang terdiri dari; kepemimpinan Alim
perempuan atau gadis-gadis desa yang Ulama, Cerdik Pandai, dan Penghulu.
menjadi korban tentara Jepang. Gadis- Sampai pada masa Jepang bahkan
gadis di pedesaan direkrut untuk sampai saat ini, masyarakat
dijadikan wanita-wanita penghibur Minangkabau masih tetap mengakui
terutama di kamp-kamp atau markas- keberadaan pola kepemim-pinan
markas tentara Jepang36. Dari Tungku Tigo Sajarangan.
beberapa hasil wawancara, para orang Kedua: Pada masa pemerintahan
tua terpaksa mengawinkan anak pendudukan Jepang, Jepang berusaha
gadisnya pada usia yang sangat muda menggunakan ke tiga saluran ini
(11-15 tahun) dan diperhentikan dari untuk kepentingannya di wilayah
sekolah bila ada yang masih pendudukannya, seperti; mensponsori
bersekolah, karena takut selalu akan dan mendirikan berbagai corak
digoda oleh tentara Jepang. Di sisi organisasi yang bernafaskan Islam
lain pemerintahan militer juga dengan memanfaatkan para tokoh dan
membanjiri Indonesia dengan pemuka agama Islam, mengumpulkan
sejumlah mata uang. Akibatnya pada para pemuda untuk dilatih menjadi
masa selama pendudukan Jepang di tentara sukarela lewat parapenghulu
Indonesia, khususnya Sumatera Barat di daerah-daerah, dan memanfaatkan
mengalami penderitaan yang luar para cendekiawan untuk melakukan
biasa, inflasi, kekerasan, pencatutan, dan meyakinkan propaganda-propa-
korupsi, pasar gelap dan tingkat ganda Jepang.
kematian yang paling tinggi.
TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
VI. PENUTUP

Sesuai dengan pokok persoalan yang
dibicarakan oleh tulisan ini dapat
diambil suatu konklusi sebagai
berikut.

Pertama: Pada masa sebelum masuk-
nya pengaruh Islam, kepemimpinan
tradisional dapat dikatakan identik
dengan kepemimpinan penghulu yang
berakar dari datuak Parpatiah Nan
Sabatang dan Datuak Katumang-
gungan. Namun, setelah masuknya

36 Tempo No. 21 Tahun XXIII. 1992. “Yang
jatuh di kaki Tentara Jepang” edisi 25 Juli
1992.

.

86

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A.A Navis. 1984. Alam Takambang Jadi Guru:Adat dan Kebudayaan
Minangkabau. Jakarta: Grafiti Press.

Ahmad Dt. Batuah A. Dt. Madjoindo. Tanpa Tahun. Tambo Alam Minangkabau.
Jakarta: Balai Pustaka.

Aiko Korushawa. 1988. “Mobilization and Training of Youth in Sumatera, during
the Japanese Occupation 1943-1945”. (paper yang di tulis untuk sebuah
tugas di Cornell University), dalam arsip nasional RI, 1988.

Akira Oki. 1977. Social Change in The West Sumatera, 1908-1945, (disertasi
Doktor di ANU, Camberra.

April Carter. 1985. Otoritas dan Demokrasi. Jakarta: Rajawali.

Arsip nasional Republik Indonesia, di bawah pendudukan Jepang: kenangan
Empat puluh dua orang yang mengalaminya, penerbit Sejarah Lisan
No.4.1988

Chistine Dobbin. 1975. The Exercice of Authority in Minangkabau in Late
Century. Kuala Lumpur.

_______. 1977. “Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise
Padri”, dalam Indonesia. 1977.

Elizabeth E. Graves. 1981. The Minang-kabau Response to Duch Colonial. Rule
in the Ninetcenth Century. New York: Ithaca: Cornell University Press.

Herman Sihombing. 1983. ”Hukum Adat Minangkabau mengenai Tungku Tigo
Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin” dalam A.A. Navis (Ed). 1983.
Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial. Padang:Genta
Singgalang Press.

Koentjaraningrat. 1986. ”Kepemimpinan dan Kekuasaan Tradisional, Masa Kini,
resmi dan Tak Resmi” dalam Miriam Budiarjo. Aneka Penulisan tentang
Kuasa dan Wibawa. Jakarta: Sinar Harapan.

L.C. Westenenk. 1918. De Minangkabau Sche Nagari Edisi ke-3. Welstervreder.

M.C. Ricklefs. 1982. A History of Modern Indonesia. London and Basingktoke:
The Macmilland Press.

Mardjani Martamin. 1978. Sejarah Kebangkitan Nasional di Sumatera Barat.
Jakarta: Depdikbud.1977/1978.

Max Weber. 1947. The Theory of Social and Economic Organization (translated
by A.M Henderson and Talcott Parsons). New York: Oxford University
Press.

Mochtar Naim. 1984. Merantau Pola Migrasi Minangkabau. Yogyakarta: Gajah-
mada University Press.

Nugroho Notosusanto. 1979. Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang di
Indonesia. Jakarta: Gramedia. Pola Kebijaksanaan Jepang antara lain
adalah menuju sasaran sumber strategis di Indonesia yaitu penguasaan
sumber-sumber minyak dan karet.

Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Minangkabau.... 87

P.E. de Josselin de Jong. 1980. Minangkabau and Negeri Sembilan: Sosio
Political Structure in Indonesia. Den Haag: Martinus Nijhoft Iletgeverij.

Sartono Kartodirdjo. 1984. Ratu Adil Jakarta: Sinar Harapan.
Schrieke. 1973. Pergolakan Agama di Sumatera Barat: Sebuah Sumbangan

Bibliografi (terjemahan oleh: Soergata Poerbakawatja. Jakarta: Bharata.
Taufik Abdullah. 1966. “Adat and Islam An examination of conflict in

Minangkabau” dalam Indonesia, No. 2 Oktober 1966.
_______. 1972. Modernization in the Minangkabau World; West Sumatera In

Early of the twentienth Century. London, Ithaca, London: Cornel
University Press.
_______. 1972. Schools and Politics: The Kaum Muda Moyement in West
Sumatera. New York: Ithaca Cornell University Press.
Tempo No. 21 Tahun XXIII. 1992. “Yang jatuh di kaki Tentara Jepang” edisi 25
Juli 1992.

88 TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU

Asmaniar
Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana

[email protected]

ABSTRAK
Minang atau Minangkabau adalah kelompok kultur etnis yang menganut sistem adat yang
khas, yaitu sistem kekeluargaan menurut garis keturunan perempuan yang disebut sistem
matrilineal. Dalam budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting
dalam siklus kehidupan dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam membentuk
kelompok kecil keluarga baru penerus keturunan. Bagi masyarakat Minangkabau yang
beragama Islam, perkawinan dilakukan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan. Ragam perkawinan masyarakat adat Minangkabau ada 2
(dua), yaitu: 1) Perkawinan ideal yaitu perkawinan antara keluarga dekat seperti anak dari
kemenakan; 2) Kawin pantang yaitu perkawinan yang tidak dapat dilakukan seperti anak
seibu atau seayah. Tata cara perkawinan masyarakat adat Minangkabau ada 2 (dua), yaitu: 1)
Perkawinan menurut kerabat perempuan yaitu pihak perempuan yang menjadi pemrakarsa
dalam perkawinan dan dalam kehidupan rumah tangga, dari mulai mencari jodoh hingga
pelaksanaan perkawinan; 2) Perkawinan menurut kerabat laki-laki, yaitu pihak laki-laki yang
menjadi pemrakarsa dalam pernikahan dan rumah tangga, dari mulai mencari jodoh hingga
pelaksanaan perkawinan dan biaya hidup sehari-hari. Bentuk perkawinan di Minangkabau
telah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Sebelumnya, seorang
suami tidak berarti apa-apa dalam keluarga istri, kini suamilah yang bertanggungjawab
dalam keluarganya.

Kata Kunci: perkawinan, minangkabau, matrilineal, eksogami, endogami.

ABSTRACT
Minang or Minangkabau is an ethnic cultural group that adheres to a distinctive system of
customs, namely a family system according to the female lineage called the matrilineal system.
In Minangkabau culture, marriage is one of the important events in the life cycle and is a
very significant transition in forming a small group of new descendants. For Minangkabau
people who are Muslims, the marriage is conducted in accordance with the provisions of
Law Number 1 of 1974 concerning marriage. Various marriages in Minangkabau custom
are 2 (two), namely: 1) Ideal marriage is the marriage between a close family like a child
of a nephew; 2) Abstinence Marriage is a marriage that cannot be done such as marrying
with siblings. The marriage procedures of the Minangkabau indigenous people are 2 (two),
namely: 1) Marriage according to female relatives is a woman who is the initiator in marriage
and domestic life, from the start of finding a mate to the implementation of marriage. 2)
Marriage according to male relative parties men who become the initiator in marriage and
households, or start looking for a mate until the implementation of the marriage and cost
of everyday life. The form of marriage in Minangkabau has begun to change according to
the times. Formerly, a husband meant nothing in his wife’s family, now a husband who is
responsible for his family.

Keywords: marriage, minangkabau, exogamy, endogamy.

PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar) 131

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

PENDAHULUAN di bidang perniagaan, sebagai profesional,
Latar Belakang dan intelektual. Mereka merupakan pewaris
terhormat dari tradisi tua Kerajaan Melayu
Minangkabau sering lebih dikenal dan Sriwijaya yang gemar berdagang
sebagai bentuk kebudayaan daripada sebagai dan dinamis. Hampir separuh jumlah
bentuk negara atau kerajaan yang pernah keseluruhan anggota masyarakat ini berada
ada dalam sejarah. Hal itu mungkin karena dalam perantauan. Minang perantauan pada
dalam catatan sejarah yang dapat dijumpai umumnya bermukim di kota-kota besar,
hanyalah hal pergantian nama kerajaan yang seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan,
menguasai wilayah itu. Tidak ada suatu Batam, Palembang, dan Surabaya. Di luar
catatan yang dapat memberi petunjuk tentang wilayah Indonesia, etnis Minang banyak
sistem pemerintahan yang demokratis terdapat di Negeri Sembilan, Malaysia, dan
dengan masyarakatnya yang ber-stelsel Singapura.
matrilineal serta tidak ada catatan sejarah
kelahiran sistem matrilineal ini sebagaimana Masyarakat Minang juga dikenal
yang dikenal orang seperti sekarang.1 akan aneka masakannya. Dengan cita
rasanya yang pedas, membuat masakan ini
Minang atau Minangkabau adalah populer di kalangan masyarakat Indonesia,
kelompok etnis Nusantara yang berbahasa sehingga dapat ditemukan di hampir
dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah seluruh Nusantara.3
penganut kebudayaannya meliputi Sumatera
Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Dalam adat budaya
Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Minangkabau, perkawinan merupakan salah
Sumatera Utara, Barat Daya Aceh, dan satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan
juga Negeri Sembilan di Malaysia. Dalam dan merupakan masa peralihan yang sangat
percakapan awam, orang Minang seringkali berarti dalam membentuk kelompok kecil
disamakan sebagai orang Padang, merujuk keluarga baru penerus keturunan. Bagi lelaki
kepada nama ibukota propinsi Sumatera Minang, perkawinan juga menjadi proses
Barat yaitu kota Padang. Namun masyarakat untuk masuk lingkungan baru, yaitu pihak
ini biasanya akan menyebut kelompoknya keluarga istrinya. Sementara bagi keluarga
dengan sebutan urang awak (bermaksud pihak istri, menjadi salah satu proses dalam
sama dengan orang Minang itu sendiri). penambahan anggota di komunitas Rumah
Gadang mereka.
Menurut A.A. Navis, Minangkabau
lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Dalam prosesi perkawinan adat
melayu yang tumbuh dan besar karena Minangkabau, biasa disebut baralek,
sistem monarki serta menganut sistem adat mempunyai beberapa tahapan yang
yang khas, yang dicirikan dengan sistem umum dilakukan. Dimulai dengan
kekeluargaan melalui jalur perempuan atau maminang (meminang), manjapuik
matrilineal, walaupun budayanya juga sangat marapulai (menjemput pengantin pria),
kuat diwarnai ajaran agama Islam. Saat ini sampai basandiang (bersanding di
masyarakat Minang merupakan masyarakat pelaminan). Setelah maminang dan muncul
penganut matrilineal terbesar di dunia.2 kesepakatan  manantuan hari (menentukan
hari pernikahan), kemudian dilanjutkan
Orang Minangkabau sangat menonjol

1. Ali Akbar Navis, Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau, (Jakarta: Grafiti Pers, 1984),
hlm. 1.

2. Ibid.
3. Wikipedia, “Orang Minang,” https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minangkabau#cite_note-Rice93-44, diakses 18

Januari 2019.

132 PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar)

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

dengan pernikahan secara Islam yang menurut hukum Islam adalah pernikahan,
biasa dilakukan di masjid, sebelum kedua yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon
pengantin bersanding di pelaminan. gholiidhan untuk mentaati perintah Allah
Pada  nagari (pembagian wilayah dan melaksanakannya merupakan ibadah.7
administratif sesudah kecamatan di
provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Istilah Tujuan perkawinan menurut kompilasi
nagari menggantikan istilah desa, yang hukum Islam adalah untuk mentaati perintah
digunakan di seluruh provinsi-provinsi lain Allah serta memperoleh keturunan di dalam
di Indonesia) tertentu setelah ijab kabul di masyarakat, dengan mendirikan rumah
depan penghulu atau tuan kadi, mempelai tangga yang sakinah, mawaddah dan
pria akan diberikan gelar sebagai panggilan warrahmah.
pengganti nama kecilnya.4 Kemudian
masyarakat sekitar akan memanggilnya Teori yang dikemukakan oleh Van
dengan gelar tersebut. Panggilan gelar itu den Berg, hukum adat yang berlaku pada
tergantung dari tingkat sosial masyarakat masyarakat Minangkabau adalah hukum
yaitu sidi (sayyidi), bagindo atau sutan Islam.8 Sehingga perkawinan pun harus
di kawasan pesisir pantai. Sementara itu berdasarkan hukum Islam, namun pada
di kawasan Luhak Limopuluah Koto, kenyataannya tidak demikian. Hal ini terlihat
pemberian gelar ini tidak berlaku. pada sistem kekerabatan Minangkabau yang
terkenal dengan sistem matrilineal.
Pengertian perkawinan adalah ikatan
lahir batin antara seorang pria dengan PEMBAHASAN
seorang wanita sebagai suami istri dengan Pelaksanaan Perkawinan Menurut
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) Masyarakat Adat Minangkabau
yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.5 Tujuan suatu Perkawinan menurut hukum adat bagi
perkawinan adalah membentuk suatu masyarakat hukum adat di Indonesia pada
keluarga. Keluarga mempunyai peranan umumnya bagi penganut agama tergantung
penting dalam kehidupan manusia sebagai agama yang dianut masyarakat adat yang
makhluk sosial dan merupakan kesatuan bersangkutan. Maksudnya apabila telah
masyarakat yang kecil. dilaksanakan menurut tata tertib hukum
agamanya, maka perkawinan itu sudah sah
Selain itu perkawinan juga harus menurut hukum adat kecuali bagi mereka
didasarkan pada hukum agama masing- yang belum menganut hukum agama yang
masing pihak yang hendak menikah. diakui pemerintah.
Perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut masing-masing agamanya dan Hukum adat adalah hukum yang tidak
kepercayaannya itu.6 Dari uraian ini dapat tertulis yang menjadi pedoman atau aturan
kita ketahui perkawinan tidak hanya yang mengatur kehidupan masyarakat.
hubungan antara seorang pria dengan seorang Hukum yang tidak tertulis mempunyai
wanita saja, tetapi juga hubungan dengan sifat dinamis dan berubah mengikuti
Tuhan atau agama. Sedangkan Perkawinan perkembangan zaman.

Sahnya perkawinan menurut hukum adat
Minangkabau sesuai dengan ketentuan yang

4. Ibid.
5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (LN No.1 Tahun 1974, TLN No. 3019) Pasal 1.
6. Ibid., Pasal 2.
7. Kompilasi Hukum Islam, Pasal 2.
8. Yaswirman, Hukum Keluarga: Karakteristik dan Prospek Dokrin Islam dan Adat Dalam Masyarakat Matrilineal

Minangkabau, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 66.

PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar) 133

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

dinyatakan oleh Undang-Undang Nomor 1 Dengan demikian, jelaslah bahwa
Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 2 ayat perkawinan dalam hukum adat bukan
(1), yaitu sahnya perkawinan berdasarkan hanya menyangkut masalah pengantin
agama masing-masing dan kepercayaannya. laki-laki dan perempuan tetapi juga
Bagi masyarakat Minangkabau yang masalah keluarga dari kedua pihak dan
beragama Islam, sahnya perkawinan sesuai sistem masyarakatnya yang berlaku.
dengan apa yang ditentukan oleh hukum
Islam mengenai syarat sah dan rukun Dalam hal batas umur untuk
perkawinan. melangsungkan perkawinan, hukum
adat pada umumnya tidak mengatur
Perkawinan menurut hukum adat adalah tentang batas umur untuk melangsungkan
urusan kerabat, urusan keluarga, urusan perkawinan, dimana hukum adat
masyarakat, urusan pribadi satu sama lain membolehkan perkawinan di usia
dalam hubungannya yang sangat berbeda- berapapun.10
beda.9 Jadi perkawinan menurut hukum adat
adalah merupakan tanggung jawab bersama Kedewasaan seseorang di dalam
dari masyarakat hukum adat. hukum adat diukur dengan tanda-tanda
bagian tubuh. Apabila seorang anak
Manusia dalam perjalanan hidupnya perempuan sudah haid, buah dada sudah
akan melalui masa-masa tertentu, dimulai menonjol, berarti ia sudah dewasa. Bagi
dari masa balita, masa kanak-kanak, masa anak laki-laki ukuran kedewasaan hanya
remaja, masa pancaroba, masa perkawinan, dilihat dari perubahan suara, bagian
masa berkeluarga, masa usia senja, dan tubuh dan sudah mengeluarkan air mani
masa tua. Setiap peralihan dari suatu masa atau sudah mempunyai nafsu seks.11 Jadi,
berikutnya mempunyai arti tersendiri dalam kedewasaan menurut hukum adat tidak
kehidupan setiap manusia. Salah satu dilihat dari umur seorang anak, melainkan
masa peralihan yang sangat penting adalah diukur dari perubahan fisik seorang anak
pada saat menginjak masa perkawinan, saja. Jika perubahan fisik sesuai dengan
karena masa perkawinan merupakan masa apa yang dicirikan di atas telah ada, maka
permulaan bagi seseorang melepaskan seorang anak dalam hukum adat sudah
dirinya dari masa-masa sebelumnya dianggap dewasa. Seseorang yang sudah
dan mulai membentuk kelompok kecil dianggap dewasa dalam hukum adat
(keluarga) miliknya sendiri yang tidak boleh melangsungkan perkawinan, tanpa
lepas dari kelompok hidupnya semula. melihat batas umur dari pihak yang akan
Dengan perkataan lain, perkawinan dapat menikah. Baik umur dari calon mempelai
juga disebut sebagai titik awal dari proses laki-laki maupun calon mempelai
pemekaran kelompok. perempuan.

Dalam hukum adat, perkawinan Pada masyarakat yang menganut
bukanlah hanya masalah pribadi-pribadi sistem matrilineal seperti di Minangkabau,
yang melakukan perkawinan tersebut, masalah perkawinan adalah masalah
melainkan juga termasuk masalah keluarga- yang dipikul oleh mamak (paman).
keluarga yang bersangkutan, mulai dari Seorang mamak (paman dari pihak ibu)
mencarikan pasangan, pertunangan, bahkan peranannya yang sangat besar sekali
sampai pada akibat-akibat dari perkawinan terhadap kemenakannya yang akan
tersebut. melakukan perkawinan.

9. B Ter Haar Bzn, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1999), hlm. 159.
10. Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 2007), hlm. 49.
11. Ibid., hlm. 50.

134 PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar)

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

Sistem Kekeluargaan Masyarakat dianut suku Minangkabau menempatkan
Minangkabau perkawinan menjadi persoalan dan urusan
1. Hubungan antara Anak dengan kaum kerabat. Mulai dari mencari pasangan,
membuat persetujuan, pertunangan dan
Orang Tua perkawinan, bahkan sampai kepada
Dalam susunan masyarakat matrilineal segala urusan akibat perkawinan itu.
Minangkabau, seorang anak yang Perkawinan bukanlah masalah sepasang
dilahirkan menurut hukum adat hanya insan yang hendak membentuk keluarga
akan mempunyai hubungan hukum dengan atau membentuk rumah tangganya saja.
ibunya. Dengan demikian, anak akan Oleh karena falsafah Minangkabau telah
menjadi atau masuk klan/suku ibunya menjadikan semua orang hidup bersama-
sedangkan terhadap ayahnya anak secara sama, maka rumah tangga menjadi urusan
lahiriah tidak mempunyai hubungan apa- bersama, sehingga masalah pribadi dalam
apa walaupun secara alamiah dan rohaniah hubungan suami istri tidak terlepas dari
mempunyai hubungan darah. Begitu masalah bersama.
pula sebaliknya, seorang ayah tidak akan
mempunyai keturunan yang menjadi anggota Pola perkawinan mereka bersifat
keluarganya. Oleh sebab itu, seorang ayah eksogami. Kedua belah pihak atau salah satu
tidak perlu bertanggung jawab terhadap istri pihak dari yang menikah itu tidak lebur ke
dan anak-anaknya untuk memelihara anak- dalam kaum kerabat pasangannya. Oleh karena
anak dan membesarkannya, juga wewenang menurut struktur masyarakat mereka setiap
untuk mengawinkan. Hubungan-hubungan orang adalah kaum dan suku mereka masing-
pewarisan terjalin dengan ibu beserta masing yang tidak dapat dialihkan. Setiap
mamak dari anak-anak tersebut sebagai orang tetap menjadi warga kaumnya masing-
kehidupan modern yang berpengaruh dari masing, meskipun telah diikat perkawinan
kebudayaan barat. Keadaan ini telah banyak dan telah beranak-pinak. Anak yang lahir
mengalami perubahan. Perubahan mamak akibat perkawinan itu menjadi anggota
rumah dalam lingkungan kemenakannya kaum sang istri, sehingga ayah tidak perlu
yang menyangkut kehidupan keluarga telah bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-
diserahkan mamak (saudara laki-laki dari anaknya bahkan terhadap rumah tangganya.
ibu) rumah kepada ipar/menantu dari pihak Kelihatannya hubungan mereka sangat rapuh,
laki-laki (urang sumando). Di samping itu, tetapi para istri mempunyai daya pemikat
ia pun telah menghadapi jabatan seperti itu yang khusus, yaitu resep kuno “cinta melalui
di rumah istrinya walaupun dari kesukuan perut suami” dengan kepintarannya memasak
ia tetap asing. Jadi dalam keadaan ini di samping itu para istri pantang mengeluh
perubahan bukan berarti menghilangkan kepada suaminya sehingga para suami tidak
peranan yang berlaku selama ini. Perubahan mempunyai beban pikiran yang berat di rumah
yang terjadi ialah perubahan peranan dari tangganya.
rumah kemenakannya ke rumah istrinya.
Perubahan ini terjadi karena adanya Perkawinan eksogami meletakkan para
kecenderungan untuk hidup dalam keluarga istri pada status yang sama dengan suaminya.
inti yang anggotanya terbatas pada anak- Stelsel matrilineal serta pola hidup komunal
anak beserta ayah dan ibunya. menyebabkan mereka tidak bergantung kepada
2. Aneka Ragam Perkawinan suaminya. Walaupun suami sangat dimanjakan
Masyarakat Adat Minangkabau di dalam rumah tangga, ia bukanlah pemegang
Stelsel matrilineal dengan sistem kuasa atas anak dan istrinya. Jika ia ingin terus
kehidupan yang komunal, seperti yang dimanjakan, maka ia harus pandai-pandai pula
menyesuaikan dirinya.

PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar) 135

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

3. Perkawinan Ideal keluarga pula. Bahkan dapat pula laki-laki
Menurut alam pikiran orang itu akan menjadi ‘anak hilang’ dari kaum
kerabatnya karena kepintaran perempuan itu
Minangkabau, perkawinan yang paling merayu suaminya. Sebaliknya, perkawinan
ideal adalah perkawinan antara keluarga perempuan mereka dengan laki-laki luar
dekat, seperti perkawinan antara anak dan tidaklah akan mengubah struktur adat,
kemenakan. Perkawinan demikian lazim karena anak yang lahir tetap menjadi suku
disebut sebagai pulang ka mamak atau bangsa Minangkabau.
pulang ka bako. Pulang ka mamak berarti 4. Kawin Pantang
mengawini anak mamak, sedangkan pulang
ka bako berarti mengawini kemenakan ayah. Selain untuk memenuhi kebutuhan
Tingkat perkawinan ideal berikutnya adalah biologis dan perkembangan anak cucu,
perkawinan ambil-mengambil, artinya kakak perkawinan juga untuk mempererat dan
beradik laki-laki dan perempuan A menikah memperluas hubungan kekerabatan. Oleh
secara bersilang dengan kakak beradik laki- karena itu, hukum perkawinan selain
laki dan perempuan B. Urutan selanjutnya mempunyai larangan juga mempunyai
ialah perkawinan sakorong, sekampung, pantangan. Pengertian larangan ialah
senagari, seluhak, dan akhirnya sesama perkawinan tidak dapat dilakukan, yang
Minangkabau. Perkawinan dengan orang berupa pantangan, perkawinan dapat
luar kurang disukai meskipun tidak dilarang. dilakukan dengan sanksi hukuman. Di
samping itu, ditemui pula semacam
Dengan kata lain, perkawinan ideal perkawinan sumbang, yang tidak ada
bagi masyarakat Minangkabau antara “awak larangan dan pantangannya, akan tetapi
samo awak”. Itu bukan menggambarkan tidak dilakukan. Perkawinan yang dilarang
mereka menganut sikap yang eksklusif. Pola ialah perkawinan yang terlarang menurut
perkawinan awak samo awak itu berlatar hukum perkawinan yang telah umum seperti
belakang sistem komunal dan kolektivisme mengawini ibu, ayah, anak saudara seibu
yang dianutnya. Sistem yang dianut mereka dan sebapak, saudara ibu dan bapak, anak
itu barulah akan utuh apabila tidak dicampuri adik dan kakak, mertua dan menantu, anak
orang luar. Dalam pola perkawinan eksogami istri dan ibu atau bapak tiri, saudara kandung
yang menjadikan ikatan suami istri begitu istri atau suami, dan anak saudara laki-laki
semu itu diperlukan modus agar lembaga ayah.
perkawinan tidak menjadi rapuh. Modus
ialah perkawinan “awak samo awak”. Perkawinan pantang ialah perkawinan
Tambah dekat hubungan awaknya, tambah yang akan merusak sistem adat mereka, yaitu
kukuhlah hubungan perkawinan itu. perkawinan orang yang setali darah menurut
stelsel matrilineal, sekaum, dan juga sesuku
Perkawinan dengan orang luar, terutama meskipun tidak ada hubungan kekerabatan
mengawini perempuan luar dipandang dan tidak sekampung halaman.
sebagai perkawinan yang dapat merusak
struktur adat mereka. Pertama-tama, karena Perkawinan sumbang yang akan
anak yang lahir dari perkawinan itu bukanlah merusak kerukunan sosial lebih bertolak
suku bangsa Minangkabau. Di samping itu, pada menjaga harga diri orang tidak
kehidupan istri akan menjadi beban bagi tersinggung atau merasa direndahkan. Oleh
suaminya, padahal setiap laki-laki bertugas karena ajaran mereka yang terpenting ialah
utama bagi kepentingan sanak saudaranya, memelihara harga diri, maka untuk hal
kaumnya, dan nagarinya. Oleh karena itu, itu diagungkan ajaran raso jo pareso (rasa
kehadiran seorang istri yang orang luar dan periksa) atau tenggang raso (tenggang
dipandang sebagai beban bagi seluruh rasa) sebagaimana yang diungkapkan ajaran

136 PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar)

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

falsafah mereka. Pantangan perkawinan asosial. Mempunyai gadih gaek (perawan
untuk memelihara kerukunan sosial itu ialah tua) dalam suatu rumah tangga merupakan
(1) mengawini orang yang telah diceraikan aib yang akan menjadi beban sepanjang
kaum kerabat, sahabat, dan tetangga dekat; hidup kerabat itu sendiri dan juga harga diri
(2) mempermadukan perempuan yang kaum akan jatuh dalam masyarakat.
sekerabat, sepergaulan, dan setetangga;
(3) mengawini orang yang tengah dalam Oleh karena itu, untuk memperoleh
pertunangan; (4) mengawini anak tiri saudara jodoh bagi anak gadis mereka, setiap
kandung. Sanksi hukum ditetapkan kepada keluarga akan bersedia mengadakan segala-
pelanggar tergantung kepada keputusan galanya atau akan berusaha dengan segala
yang ditetapkan musyawarah kaumnya. cara yang dapat mereka lakukan. Sekiranya
Tingkatannya antara lain: membubarkan dianggap patut memperoleh jodoh itu
perkawinan itu, hukum buang dengan dengan cara memberi harta benda, mereka
diusir dari kampung atau dikucilkan dari akan menyediakan. Untuk itu, harta pusaka
pergaulan, juga dapat dilakukan dengan kaum boleh digadaikan. Dalam suasana
hukum denda dengan cara meminta maaf yang paling mendesak, mereka hampir dapat
kepada semua pihak pada suatu perjamuan mempertimbangkan berbagai calon tanpa
dengan memotong seekor sampai dua ekor memandang usia atau telah menikah, dan
binatang ternak. lainnya, asal sepadan dengan martabat sosial
Tata Cara Perkawinan Masyarakat Adat mereka.
Minangkabau
1. Perkawinan Menurut Kerabat Perkawinan seorang gadis dapat pula
digunakan untuk menaikan martabat kerabat
Perempuan atau kaum. Caranya dengan menjodohkan
Jika dipandang dari segi kepentingan, anak gadis mereka dengan sesorang dari
maka kepentingan perkawinan lebih berat kalangan yang lebih mulia dari mereka, baik
kepada kerabat pihak perempuan. Oleh mulia karena uangnya, pangkatnya, ilmunya,
karena itu, pihak mereka yang menjadi atau karena kewenangannya. Terjadinya
pemrakarsa dalam perkawinan dan perkawinan demikian berarti mereka telah
kehidupan rumah tangga. Mulai mencari mempunyai hubungan kerabat dengan orang
jodoh, meminang, menyelenggarakan terkemuka, sehingga mereka akan mendapat
perkawinan, lalu mengurus dan menyediakan tempat yang lebih baik dari sediakala dalam
segala keperluan untuk membentuk rumah pandangan masyarakatnya. Jika perkawinan
tangga, sampai kepada memikul segala itu membuahkan turunan, maka dengan
yang ditimbulkan perkawinan itu. Tujuan sendirinya mereka telah mempunyai anak
perkawinan bagi pihak mereka serba kemenakan yang berdarah turunan dan
rangkap. Pertama-tama ialah melaksanakan mulia pula.
kewajiban, yang merupakan beban hidup
yang paling berat, untuk menjodohkan Perkawinan juga dapat digunakan
kerabat mereka yang telah menjadi gadih sebagai pengukuhan hubungan sosial
gadang atau gadis dewasa, yang tidak antara kerabat, antara sahabat, atau untuk
segera mendapat jodoh, akan menimbulkan menyambung pertalian yang telah lama putus
aib seluruh kaum. Masyarakat juga akan atau hubungan yang telah lama renggang.
memandang bahwa gadis itu mungkin
menderita cacat turunan, cacat lahir atau Contoh pertama ialah perkawinan anak
batin, atau orang enggan berkerabat dengan dengan kemenakan, perkawinan dengan
kaum itu karena tingkah laku mereka yang anggota kerabat besan. Contoh yang kedua
ialah perkawinan anak kemenakan dengan
anak kemenakan sahabat atau dengan anak
kemenakan tetangga. Contoh yang ketiga

PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar) 137


Click to View FlipBook Version