The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabillaputriindrama2019, 2021-12-19 06:01:34

KUMPULAN ARTKEL TENTANG MINANGKABAU

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Keywords: KEMINANGKABAUAN

Siti Aisyah 43

islamisasi di Minangkabau. Burhanuddin menggantinya

Dahulu selama menjalankan dengan beras pulut yang bisa
bertahan sampai beberapa hari.35
dakwahnya di Minangkabau,

Syekh Burhanuddin selalu Semenjak itu makanan lamang

dijamu oleh penduduk, tetapi mulai menjadi makanan

Syekh Burhanuddin tidak tradisional mayarakat
Minangkabau.
memakannya karena

dikawatirkan alat yang Tradisi membuat

digunakan untuk memasak makanan lamang dilakukan

makanan ini bekas memasak masyarakat Padang Pariaman

makanan yang tidak halal, dianggap suatu kewajiban yang

seperti daging babi, ular dan dilakukan selaku umat

lainnya. Walaupun beragama Islam, terutama

masyarakatnya sudah memeluk masyarakat penganut tarikat

agama Islam, tetapi mereka Syatariyah. Biasanya tradisi

belum bisa membedakan Malamang (membuat lemang)

makanan halal dan haram. dilakukan pada bulan Rabiul
Awal36, bulan Syakban37 dan
Melihat kondisi tersebut Syekh memperingati hari kematian,38

Burhanuddin menyarankan

kepada masyarakat mencari mulai dari satu hari, tiga hari,

bambu dan dilapisi dengan daun tujuh hari, empat puluh hari dan

pisang yang muda, kemudian sampai seratus hari kematian.

mengisinya dengan beras, lalu Bagi masyarakat Minangkabau

memasaknya dengan cara upacara kematian termasuk

dibakar. Ternyata lamang dari bagian dari upacara keagamaan,

bahan beras tidak tahan lama, sebab upacara ini termasuk

dan mudah basi, lalu Syekh salah satu amalan yang

35Siti Aisyah dkk., h. 32 daerab yang masyarakatnya mayoritas menganut
36Dalam upacara tersebut dibuat lemang tarikat Syathary. Acara ini berlansung selama sebulan
makanan tradisional, pada saat itu kegiatan ini penuh dengan bergiliran, setiap hari tersebut ada satu
diadakan sehari semalam dengan membaca zikir yang sampai tiga rumah yang melaksanakan acara ini.
dikenal dengan istilah sarafal anam yaitu salawat Tujuannya untuk mendoakan orang tuanya agar
kepada nabi yang sudah disusun dala bentuk puisi, mereka mendapat berkah dalam kehidupannya.
acara maulid ini dilakukan tidak saja di buan Rabiul Lamang itu dibuat sebagai simbol tongkat karena orang
awal, tetapi sampai bulan jumadil akhir, 4 bulan tua butuh tongkat, dan pelaksanaan doa itu sebagai
lamanya.Acara Maulid Nabi ini dilakukan di masjid ujud kesalehan anak yang selalu mendoakan orang
dan surau di wilayah tersebut. Lihat Duski Samad, h. tuanya. Lihat Siti Aisyah dkk. h. 52-61
170
37Dalam rangka menyambut Ramadhan sudah 38Mengajikan setiap orang meninggal mulai
menjadi tradisi masyarakat Minangkabau berziarah ke dari satu hari sampai dengan seratus hari kematian
kubur orang tua yang telah meninggal, dan di Padang termasuk suatu upacara yang dilakukan berdasarkan
Pariaman juga dilakukan dengan cara melaksanakan keyakinan masyarakat, Ditinjau dari sejarahnya
doa di rumah masing-masing dengan menghadirkan berdasarkan penuturan lisan upacara kematian ini
Tuanku setempat beserta labai dan petugasnya, Pada merupakan tradisi orang Hindu dengan menyanyikan
membuat makanan lamang,sebagai penganan kudapan kebaikan orang yang telah mati, lalu Syekh
untuk para tuanku dan rombongannya sekalian untuk Burhanuddin menukar syair nyanyinya dengan do’a
bawaan mereka untuk pulang nantinya. Selain itu dan bacaan salawat yang dilagukan dan dibuat
lamang tersebut juga dihantar ke rumah mertua, ipar berbalas-balasan antara dua orang tuanku, Labai,
besan dan tetangga sekitarnya. Pelaksanaan acara ini Khatib dan petugas agama nagari (pelaksana utama
hampir diakukan oleh seluruh masyarakat terutama dari kegiatan tersebut), lihat Duski Samad, h, 171

Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

44 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau

dianggap bersumber dari Syekh bambu yang di dalamnya
dilapisi dengan daun pisang
Burhanuddin.39. Bentuk muda. Setelah itu dibakar
dengan api kayu dan sabut
pelaksanaannya diisi dengan kelapa dengan cara disandarkan
pada tonggak kayu yang telah
kegiatan zikir yang dinyanyikan disiapkan sebelumnya. Bahan
oleh orang alim, para tuanku dan dasar membuatnya dari beras
ketan putih yang dicampur
lebai serta pelaksana kegiatan dengan santan, ada juga dari
bahan pisang yang dihancurkan
tersebut. Dalam upacara dan campur dengan beras dan
tersebut selain membuat lamang santan dan ada juga dengan
bahan dasar tepung singkong
sebagian daerah juga makanan yang dicapu dengan gula merah
dan sebagainya. Nama lamang
khas Minangkabau termasuk tersebut sesuai dengan bahan
yaitu pinyaram. Membuat kue dasar yang digunakan untuk
membuat lamang, dan jenis
pinyaram ini tidak seluruh lamang yang dibuat juga sesuai
dengan bentuk upacara
daerah Padang Pariaman yang keagamaan yang dilakukan
membuat pinyaram pada acara masyarakat.
2) Sambareh
kematian, hanya sebagian
Foto Sambareh
daerah yang membuatnya https://www.google.co.id
seperti Kiambang, Sicincin
Sambareh nama lain dari
Kayu Tanam dan lainya, sarabi penganan tradisional
yang terdapat di Minangkabau.
sedangkan daerah Ulakan dan Sebutan nama sambareh ini
sekitarnya tidak membuat terdapat di daerah Kabupaten
Padang Pariaman, termasuk
pinyaram di upacara kematian. juga kota Pariaman. Makanan
ini termasuk jenis kuliner
Makanan lamang dibuat tradisional yang selalu dibuat
masyarakat Padang Pariaman
di Padang Pariaman ada dalam upacara keagamaan,
karena membuatnya dalam
berbagai macam, namanya

sesuai dengan bahan yang

digunakan untuk membuatnya.

Ada lamang pulut, lamang

pisang, lamang kanji, lamang

kuniang, tetapi tidak semua jenis

lamang ini yang dibuat dalam

upacara tersebut. Untuk upacara
maulid Nabi dan bulan Sya’ban,

jenis lamang yang dibuat tidak

berbeda, hanya saja pada acara

bulan maulid jumlah lamang

yang dibuat lebih banyak dari
bualan Sya’ban. Sedang pada

acara mengaji di acara kematian

selain dari lamang pulut dan

lamang pisang juga dibuat

lamang kanji dan lamang

kuning.

Cara memasak lamang ini

termasuk istimewa dibanding

makanan lain, karena

memasaknya menggunakan

39Duski Samad, Syekh Burhanuddin dan Bantuan Yayasan Pengembangan Ekonomi dan
Islamisasi Minangkabau, (Syarak Mandaki Adat Kesejahteraan Masyarakat, 2002, h. 171
Manurun), Jakarta, The Minangkabau Foundation Atas

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 45

rangka memperingati perayaan Islam oleh syekh Burhanuddin.
Makanan ini juga dibuat dalam
Isra Mikraj dibulan rajab, rangka merayakan Isra’ Mikraj
Nabi Muhammad Saw.
sehingga bulan rajab disebut
Bagi masyarakat Padang
oleh masyarakat Padang Pariaman bulan Rajab termasuk
bulan yang istimewa sehingga
Pariaman dengan sebutan bulan nama bulan Rajab ini disebut
dengan nama bulan sambareh.
sambareh. Keberadaannya juga Ulakan salah satu daerah yang
dimulai semenjak adanya terdapat Padang Pariaman yang
melaksanakan tradisi ini
islamisasi di Minangkabau yang menyebut bulan Rajab itu
dengan sebutan bulan sambareh
dibawa oleh Syekh juga katakan bulan ini bulan
kanak-kanak, karena tujuan
Burhanuddin. mereka melaksanakan tradisi ini
selain mendoakan orang tua
Ditinjau dari waktu mereka juga mendoakan anak-
anak yang sudah meninggal
pelaksanaan tradisinya, diusia masih kanak-kanak.41

makanan sambareh ini hampir Cara membuatnya terbuat
mirip dengan khanduri apam40 dari tepung beras yang yang
dicampur dengan santan kental
yang dilaksanakan dibulan rajab dan garam serta satu butir telur
lalu diaduk dalam satu wadah
di Aceh dalam rangka dan diamkan selama 30 menit.
memperingati Isra’ Mikraj Nabi Kemudian tuang ke loyang atau
suatu wadah yang sengaja
Muhammad Saw. Kemiripan

bentuk acara dan makanan yang

dibuat dapat dikatakan bahwa

budaya membuat makanan ini

mengikuti tradisi Aceh. Hal ini

dengan proses islamisasi yang

dibawa oleh Syekh

Burhanuddin di Minangkabau

yang berasal dari gurunya

Abdurrauf di Aceh. Di Padang

Pariaman tradisi ini dimulai juga

semenjak adanya penyebaran

40Dalam tradisi masyarakat Aceh serabi Rajab malaikat-malaikat kubur munkar Nakir dan hukuman-
disebut dengan Khanduri Apam, hingga bulan rajab
mereka sebut dengan bulan Apam. Menurut tradisi hukuman yang mereka jatuhkan, ia berpura-pura mati
masyarakat di sana kenduri apam ini adalah berasal
dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci dan dikuburkan hidup-hidup. Segera ia diperiksa oleh
Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab
adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama malaikat mengenai agama dan amalnya, karena banyak
Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal
tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan kekurangan maka orang tersebut dipukul dengan
orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya.
Keadaan yang menghibakan/menyedihkan hati itu; pentungan besi. Tetapi pukulan tersebut tidak dapat
ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang
sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan mengenainya, sebab ada sesuatu yang tidak dapat
masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit
kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka dilihatnya dengan jelas dalam kegelapan dan
memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang
lain. Itulah ikutan tradisi toet Apam (memasak Apam) mempunyai bentuk seperti bulan seolah-olah
yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat
Aceh. HC Snouck Hurgronje dalam buku Aceh di Mata melindunginya dari pukulan. Ia berhasil keluar dari
Kolonial mengemukakan pula versi yang berbeda
mengenani latar belakang pelaksanaan kenduri apam tempatnya yang sempit (kuburan) dan segera menemui
ini. Menurut kisah pernah ada seorang aceh yang ingin
mengetahui nasib orang di dalam kubur, terutama anggota keluarganya dan terkejut melihatnya kembali.
tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh
Ketika pengalaman ini diceritakan, diketahuilah bahwa

yang menolongnya sewaktu dipukul di kubur bulat

seperti bulan adalah kue apam yang sedang dibuat oleh

keluarganya. Mutakharijin Assunniyah, Serabi di

Bulan Rajab, http://mutakhorij-

assunniyyah.blogspot.co.id/2013/05/, Kamis 14 Sep

2017
41 Wawancara dengan Jusmiati salah seorang

penduduk Ulakan yang selalu mengadakan tradisi ini

setiap di bulan Rajab tahin 2016

Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

46 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau

dibuat sebagai cetakan yang dalam acara adat, seperti rendang, nasi
kunyik, lapek bugih, pinyaram, juadah
telah dipanaskan telebih dahulu. dan sebagainya. Sedangkan aneka
kuliner yang dibuat dalam upacara
Setelah masak lalu diangkat dan keagamaan seperti lamang dan
sambareh. Keberadaan kuliner dalam
dimakan dengan kuah yang pelaksanaan upacara tersebut dapat
dijadikan sebagai penentu dan identitas
terbuat dari santan bercampur terlaksananya upacara tersebut.

gula merah dan garam ***

secukupnya. Lalu ditambah Daftar Kepustakaan

dengan daun pandan sebagai Aisyah, Siti, dkk., 2015, Tradisi Malamang
Bagi Masyarakat Padang Pariaman,
pewangi aromanya. Biasanya (Kajian Sosial Budaya), Penelitian ,
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora
dalam rangka memperingati hari IAIN Imam Bonjol Padang, Padang,
Isra’ Mikraj di bulan Rajab Tahun

masyarakat Padang Pariaman Azami, dkk., 1978, Adat dan Upacara
Perkawinan Daerah Perkawinan
merayakannya dengan berdoa Sumatera Barat, Jakarta, CV. Eka
Dharma
yang dipimpin oleh tuanku
Lestari, Devi Setya, Food Story, Sabtu, 8 Juli
(ulama) setempat. Hidangan 2017, http://lifestyle.okezone.com,
Senin, 11 September 2017
khas yang dibuat ketika itu
Nova, Asra Hayati Syahrul, Yuk, Membuat
adalah sambareh, sebagai Pinyaram!, Genta Andalas, Media
Peduli Bangsa, Damai Dan Bermoral,
penganan hidangan penutup 3 September 2013,
http://www.gentaandalas.com/yuk-
setelah menyantap hidangan. membuat-pinyaram, Senin, 11 Sep
2017
Selain itu setiap menantu
Post Views, Juadah Pariaman, Tradisi Spesial
perempuan menghantar Hantaran Pengantin, https://aet.co.id

penganan sambareh ini ke Rahman, Fadly, 2016, Jejak Rasa Nusantara,
Sejarah Makkanan Indonesia, Jakarta,
rumah mertuanya. PT. Gramedia Pustaka Utama

D. Kesimpulan ______, Fadly, 2016, Rijsttafel, Budaya
Kuliner Di Indonesia Masa Kolonial
Salah satu yang menjadikan 1870-1942, Jakarta, PT Gramedia
kebesaran nama Minangkabau berkat Pustaka Utama
kekayaan kulinernya. Masakan
“rendang” sampai sekarang masih Rony, Aswil , 2001, Aneka Ragam Makanan
mendapat posisi nomor satu terlezat Tradisional Minangkabau, Padang:
dibanding beberapa makanan dari Departemen Pendidikan Nasional
berbagai negara. Kuliner tradisional yang Direktorat Jenderal Kebudayaan
terdapat di Minangkabau tersebut ada
yang khusus dibuat pada moment tertentu
berdasarkan budaya dan keyakinan
masyarakat. Keberadaan kuliner tersebut
sejalan dengan tuntutan kondisi
masyarakatnya dan selaras dengan
kekayaan sumber daya alamnya.

Padang Pariaman termasuk daerah
yang memiliki masyarakat yang masih
kental dengan tradisi adatnya dan kuat
dengan keyakinan agamanya sehingga
dalam masa rentang waktu dari awal
sampai akhir tahun selalu menjalankan
rutunitas upacara tradisi masyarakat. Ada
yang berbentuk tradisi kuliner dalam
upacara adat dan ada juga tradisi kuliner
dalam upacara keagamaan. Aneka
kuliner Padang Pariaman yang dibuat

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 47

Museum Negeri Propinsi Sumatera
Barat “Aditiyawarman”

Sjarifoedin, Amir, Tj. A. , 2011,
Minangkabau, dari Dinasti Iskandar
Zulkarnain sampai Tuanku Imam
Bonjol, Jakarta, PT. Gria Media Prima

Tanjung, Armaidi, Kalender Piaman di Mata
Armaidi Tanjung, MinangkabauNews,
Selasa 06 Oktober 2015 ,

Wempi, Yohanes, Budaya Minang, “Maanta
Pabukoan” 29 Juni 2014, Diperbarui:
18 Juni 2015,
http://www.kompasiana.com.

Zed, Mestika, 2017, Saudagar Pariaman
Menerjang Ombak Membangun
Maskapai, Jakarta: LP3ES

Zubir, Zusneli, (T, Th.), Kuliner Pantai Barat
Sumatera: Studi Kasus Masakan
Tradisional Khas Padang Pariaman
Dalam Perspektif Sejarah, Makalah,
Padang, Balai Pelestarian Nilai Budaya
(BPNB), Dirjen Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan

Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

Citra Perempuan ...

CITRA PEREMPUAN DALAM
PERIBAHASA MINANGKABAU

Gusna Ronsi

Abstract
This paper describes woman image in peribahasa Minangkabau.
Data research were obtained from interview and literature
observation. The peribahasa forms which contain woman image
are gurindam, mamang, pepatah petitih, and seloka. The
woman image in this forms are firm, kind, wise, deligent, and polite.

Key word: peribahasa, citra perempuan, Minangkabau

Pengantar
Kedudukan perempuan di Minangkabau dalam gambaran idealnya

adalah kukuh, kuat dan angggun. Perempuan Minangkabau dilambangkan
dengan predikat bundo kanduang. Dia adalah figur sentral dalam keluarga.
Semua persoalan keluarga diserahkan kepadanya, dia adalah penentu
kebijaksanaan dalam keluarga.

Figur bundo kanduang pada hakikatnya adalah nilai-nilai ideal
perempuan Minangkabau itu sendiri. Terhadap bagaimana setiap
perempuan Minangkabau dalam bersikap dan berperilaku. Berusaha
menyesuaikan diri dan merupakan lambang dari kebudayaan Minangkabau
itu sendiri, yang sifat dan ciri khasnya matrilineal.

Namun, kita perhatikan kondisi perempuan Minangkabau hari
ini mulai berubah. Kekuatan perombak pertama adalah ekonomi dan
pendidikan. Kehidupan masyarakat yang dulunya agraris, sekarang perlu
adanya pelengkap. Hasil sawah dan harta kaum ternyata tidak mencukupi
lagi dalam memelihara anggota kaum perempuan. Sehingga, sebahagian
juga harus pergi meninggalkan kampung untuk mencari penghidupan di
daerah lain. Hal ini didukung pula oleh tuntutan kehidupan yang semakin
tinggi, baik itu faktor pendidikan maupun tuntutan kehidupan modern

WACANA ETNIK, Jurnal Ilmu SosiaWl AdaCnAHNuAmaEnTiNorIKa. VISoSl.N12N09o8.2-8-74369.

Volume 2, Nomor 1, April 2011. Halaman 39 - 58.
Padang: Pusat Studi Informasi dan Kebudayaan Minangkabau (PSIKM)

dan Sastra Daerah FIB Universitas Andalas

Gusna Ronsi

lainnya. Anak-anak perempuan Minangkabau diperkenalkan dengan
berbagai pendidikan formal yang makin berkembang.

Melalui pendidikan formal tersebut, sebagian orang Minangkabau
makin tidak tergantung lagi kepada sawah. Hasil sawah hanya bisa
bertahan untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan semata. Masyarakat
Minangkabau, tentu tidak ingin kehilangan kebudayaannya. Walaupun
pada hakikatnya mengembalikan kepada bentuk awal tentulah sangat
sulit. Pencitraan ideal perempuan Minangkabau perlu ditata kembali
sesuai dengan semangat kembali ke adat asli. Salah satu sumber rujukan
citra ideal perempuan Minang adalah peribahasa.

Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas, padat yang berisi
perbandingan, perumpamaan dan nasehat (KBBI, 1995: 265). Sehingga citra
adalah gambaran, rupa yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi,
perusahaan, organisasi atau produk, kesan mental atau bayangan visual
yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase atau kalimat.

Sebuah contoh peribahasa yang terdapat dalam cerita klasik
Minangkabau (Kaba Sabai Nan Aluih).

samuik tapijak indak mati
‘semut terinjak tidak mati’
alu tataruang patah tigo
‘alu tersandung patah tiga’
(DT-KSN 2004)

Semut adalah jenis serangga yang hidup di tanah, terkadang semut
juga merayap di jalur jalan manusia, besar kemungkinan ketika manusia
berjalan dan menginjak semut maka semutnya akan mati terinjak. Akan
tetapi, gambaran sosok perempuan Minangkabau yang dilukiskan
dalam peribahasa di atas, begitu lembutnya perempuan Minangkabau
melangkahkan kakinya semut yang kecil saja tidak mati.

Akan tetapi, alu yang tertarung akan patah tiga. Alu adalah sejenis
kayu pilihan yang diambil dari dalam hutan, alu terbuat dari kayu yang
lurus dan berat, dimana fungsinya untuk penumbuk padi secara tradisional
oleh masyarakat Minangkabau. Alu, terbuat dari kayu yang berat saja, bisa
patah tiga ketika tersandung oleh perempuan Minangkabau yang berjalan.

Dari uraian di atas terlihat dua karakter yang saling berseberangan,
disatu sisi digambarkan karakter yang sangat lembut, semut terinjak tidak

40 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

mati dan disisi lain karakter yang sangat keras, alu yang tersandung patah
tiga. Peribahasa tersebut menggambarkan sosok perempuan yang lembut
dalam keperibadian dan tegas soal hukum dan prinsip hidup.

Pada peribahasa tersebut digambarkan bahwa etnis Minangkabau
menjadikan alam sebagai tempat belajar. Inspirasi berbahasa, lahir dari
fenomena yang terjadi di alam. Hal ini sejalan dengan pendapat Duranti
(1997:25) yang menyatakan bahwa bahasa mengkategorisasi realitas budaya,
yaitu bagaimana melihat budaya suatu etnis dari cara berbahasanya.

Bertolak dari paparan di atas, kajian ini perlu dilakukan dan diharapkan
dapat mengungkapkan berbagai aspek citra diri perempuan Minangkabau
seutuhnya, sebagai cerminan realitas kehidupan masyarakat Minangkabau.
Penulis berharap semoga dengan diangkatkan permasalahan ini, selesailah
satu persatu dari tugas kita sebagai generasi pewaris tongkat estafet para
pendahulu kita.

Landasan Teori

Hubungan bahasa dan kebudayaan sangat erat sekali, kebudayaan
suatu etnis tidak akan bisa dipahami, sebelum mempelajari bahasanya dan
begitu juga sebaliknya. Bahasa yang digunakan oleh suatu suku bangsa
akan mencerminkan budaya pemilik bahasa tersebut.

Oktavianus (2006:118) mengatakan bahwa nilai budaya yang dimiliki
suatu etnis, dapat ditelusuri melalui berbagai bentuk lingualnya. Dengan
demikian, jelaslah bahwa bahasa dan budaya merupakan satu paket yang
tidak bisa terpisahkan.

Bahasa merupakan bagian yang membentuk kebudayaan. Sibarani
(2004:8) mengatakan ada tujuh unsur yang membentuk kebudayaan secara
universal, (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) sistem
peralatan hidup, (5) sistem mata pencaharian, (6) sistem religi, (7) kesenian.
Bahasa ditempatkan pada posisi pertama karena manusia sebagai makhluk
biologis harus berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok sosial.
Untuk berinteraksi dan berkomunikasi memerlukan bahasa.

Pada hakikatnya kebudayaan sangat kompleks sehingga para ahli
selalu memberikan pengertian, pemahaman dan batasan yang bervariasi
terhadap kebudayaan. Dalam pengertian yang sangat luas, Wilson
(dalam Sibarani 2004:2) menyatakan bahwa kebudayaan pertama kali
didefinisikan Taylor pada tahun pada tahun 1871, sebagai keseluruhan
bidang yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral hukum,

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 41

Gusna Ronsi

adat dan kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai
anggota masyarakat. Batasan di atas, tampaknyabersifat penjumlahan
dengan menyebutkan unsur-unsur kebudayaan itu sendiri, tetapi
tidak menyebutkan sifat atau karakteristik umum semua unsur-unsur
kebudayaan tersebut. Wilson (dalam Sibarani 2004:2) mengatakan bahwa
kebudayaan adalah pengetahuan yang ditransmisi dan disebarkan secara
sosial, baik bersifat eksistensial, normatif maupun simbolis yang tercermin
dalam tindakan (act) dan benda-benda hasil karya manusia (artifact).

Perbedaan pandangan itu menjadi dasar berfikir dua paradigma besar
tentang kebudayaan, yakni paradigma kognitif dan paradigma behavioris.
Paradigma kognitif atau idesional melihat kebudayaan sama dengan pikiran
(mind) manusia, sehingga sifatnya abstrak karena ada di kepala manusia baik
berupa nilai-nilai, ide-ide pengetahuan maupun norma-norma. Menurut
pandangan kognitif adanya tindakan berpola atau wujud fisik hanya sebagai
akibat dari adanya kebudayaan manusia. Sehingga paradigma behavioris
lebih mengartikan kebudayaan sebagai wujud tindakan (perilaku) berpola
manusia yang dapat diamati secara kongkrit.

Kedua paradigma itu kemudian digabungkan, sehingga kebudayaan
diartikan sebagai ide, tindakan dan hasil karya manusia. Pandangan itu
diikuti oleh Koentjraningrat (dalam Sibarani 2004:3) yang mengatakan
bahwa kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri
manusia dengan belajar.

Lebih jelasnya Murdock (dalam Sibarani 2004:4) mengatakan bahwa
kebudayaan harus dipelajari. Artinya, kebudayaan harus ditransmisi dari
orang yang lebih tua ke yang lebih muda, dari satu generasi kepada generasi
yang lain. Duranti (1997:25) menyatakan bahwa bahasa mengkategorisasi
realitas budaya, yaitu bagaimana melihat budaya suatu etnis dari cara
berbahasanya. Bila diamati secara cermat, segala cipta karsa manusia
tidaklah akan berkembang dengan baik apabila tidak diekspresikan dan
disebarluaskan melalui bahasa.

Demikian pula, segala cipta dan karsa manusia tidak akan terbaca baik
oleh manusia lainnya dari kelompok etnis yang sama atau oleh kelompok
etnis lainnya dari kelompok yang berbeda. Bahasa dan budaya tampaknya
erat kaitannya. Oleh sebab itu, sejalan dengan perkembangan ilmu, kajian
tentang kebudayaan manusia tidak dapat dilepaskan dari kajian terhadap
bahasanya. Demikian pula sebaliknya, kajian terhadap bahasa manusia

42 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

tidak bisa dilepaskan dari kajian terhadap kebudayaan. Oktavianus
(2006:53) mengatakan bahwa kajian bahasa dan budaya manusia ibarat dua
sisi mata uang logam yang satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan.

Dalam berbahasa, masyarakat dikategorikan menjadi dua: pertama
masyarakat leksikal atau masyarakat yang cenderung bertutur secara
langsung, kedua masyarakat metafora atau masyarakat yang cenderung
bertutur tidak langsung. Salah satu masyarakat pengguna bahasa yang
bertutur secara tidak langsung adalah masyarakat Minangkabau. Errington
(dalam Oktavianus 2006:74) mengatakan bahwa salah satu ciri-ciri orang
Minangkabau adalah mereka tidak berterus terang. Dengan kata lain,
masyarakat Minangkabau cenderung memakai ujaran-ujaran yang
mengandung makna implisit, atau dalam bahasa Minangkabau disebut
dengan bahasa kias untuk mengungkapkan sesuatu. Tentu saja hal ini tidak
terlepas dari latar belakang budaya Minangkabau itu sendiri.

Kridalaksana dalam Kamus Linguistik (2001:169) menyatakan bahwa
peribahasa adalah kalimat atau penggalan kalimat yang telah membeku
bentuk makna dan fungsinya dalam masyarakat, bersifat turun temurun
dan dipergunakan untuk menghias karangan atau percakapan, penguat
maksud karangan, pemberi nasihat, pengajaran atau pedoman hidup;
mencakup bidal, pepatah, perumpamaan, ibarat dan pameo. Dari
pengertian peribahasa menurut Kridalaksana di atas, jelas terlihat bahwa
sebuah peribahasa baru dapat dimaknai dan dipahami secara utuh apabila
berada dalam konteks atau latar budaya yang mengelilinginya, dalam hal
ini budaya Minangkabau.

Navis (1984) mengatakan bahwa peribahasa di Minangkabau
terdiri atas beberapa bentuk yakni, petatah-petitih, mamang, seloka dan
gurindam. Mamang adalah peribahasa yang bentuk kalimatnya berupa
dua bagian kalimat yang masing-masing terdiri dari dua atau empat buah
kata. Kalimatnya mengandung arti sebagai pegangan hidup, suruhan,
anjungan dan larangan. Gurindam adalah bentuk peribahasa yang tidak
mempunyai sampiran, langsung berisikan saripati kata yang tersusun dari
dua atau empat baris. Gurindam langsung masuk pada maksud dan isinya.
Seloka adalah pantun empat baris yang terdiri dari beberapa untai. Tiap
untai berhubungan erat dengan untaian berikutnya.

Metode Penelitian

Metode dan teknik yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 43

Gusna Ronsi

metode dan teknik penelitian bahasa yang dikemukakan oleh Sudaryanto
(1993). Sudaryanto (1993: 9) membagi metode dan teknik penelitian
bahasa ini menjadi 3, yaitu (1) metode dan teknik pengumpulan data atau
penyediaan data, (2) metode dan teknik analisis data, (3) metode dan teknik
penyajian hasil analisis data.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua sumber data yaitu
data tulis dan data lisan. Metode yang digunakan adalah metode simak dan
metode cakap. Sesuai dengan namanya, metode simak dilakukan dengan
menyimak penggunaan peribahasa Minangkabau. Metode simak yang
penulis gunakan ini mempunyai seperangkat teknik, yakni teknik dasar
dan teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik sadap. Peneliti dengan
segenap kemampuan menyadap penggunaan peribahasa Minangkabau.
Kemudian dilanjutkan dengan teknik lanjutan, Teknik Simak Libat Cakap
(SLC). Kegiatan menyadap pertama-tama dilakukan dengan berpartisipasi
sambil menyimak, penulis menyimak dan melibatkan diri dalam
pembicaraan atau terlibat langsung dalam dialog baik aktif maupun reseptif
(Sudaryanto:133-137). Teknik SLC adalah teknik dimana peneliti sendiri
yang menjadi alatnya, yaitu penulis melibatkan diri secara langsung dalam
membentuk dan memunculkan calon data. Metode dan teknik ini dilakukan
untuk pengumpulan data lisan. Selanjutnya penulis menggunakan Teknik
Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), penulis tidak melibatkan diri dalam
percakapan akan tetapi penulis hanya menyimak penggunaan peribahasa
Minangkabau yang terdapat dalam berbagai sumber, dan dilanjutkan
dengan teknik catat. Teknik SBLC ini digunakan untuk pengumpulan data
tulis.

Sudaryanto (1993:137) mengatakan bahwa metode cakap adalah
metode yang digunakan dalam pengumpulan data, dengan cara peneliti
melakukan percakapan dan terjadi kontak dengan nara sumber. Pada
metode cakap juga digunakan seperangkat teknik, yaitu teknik dasar dan
teknik lanjutan. Teknik dasar dalam metode cakap adalah teknik pancing
yakni, peneliti berusaha memancing orang yang dijadikan narasumber
untuk berbicara, sehingga orang tersebut dapat memberikan data yang
diinginkan peneliti. Kemudian dilanjutkan dengan teknik lanjut. Teknik
lanjut terbagi atas dua, pertama Teknik Cakap Semuka (TCS), yakni
peneliti mengarahkan pembicaraan sesuai dengan kepentingannya untuk
memperoleh data selengkap-lengkapnya. Teknik lanjutan yang kedua
adalah dengan teknik rekam dan teknik catat. Ketika teknik cakap semuka
dilakukan, maka dilakukan pula perekaman dengan tape recorder dan

44 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

pencatatan.

Informan dipilih berdasarkan kriteria tertentu dan dari latar belakang
yang berbeda. Kriteria tersebut adalah (1) Berusia 30 tahun ke atas, (2)
Penutur asli bahasa Minangkabau (3) Tempat tinggal di Minangkabau (4)
memahami peribahasa dan ungkapan Minangkabau (5) memahami budaya
Minangkabau (6) berdasarkan dari latar belakang yang berbeda-beda
seperti tokoh adat, seniman, ulama (7) penyabar dan dinamis. Parameter
lain yang digunakan untuk memilih informan adalah lokasi tempat
tinggal, pekerjaan dan jenis kelamin. Ini sejalan dengan pendapat Samarin
(dalam Oktavianus 2005:71) yang mengemukakan bahwa sejumlah orang
yang dijadikan informan bahasa dipilih berdasarakan keriteria tertentu
berdasarkan substansi, sifat dan tujuan penelitian.

Metode yang penulis gunakan dalam menganalisis data adalah metode
padan. Alat penentu metode padan ini berada diluar, terlepas dan tidak
menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Metode padan yang penulis
gunakan adalah metode padan translasional dan metode padan pragmatik.
Metode padan translasional adalah metode dengan alat penentunya berupa
hasil translit (terjemah) ke dalam hasil bahasa yang diinginkan, dalam hal
ini adalah bahasa Minangkabau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
sehingga apa yang dimaksud dan yang dibicarakan dapat dipahami.
Metode padan pragmatik adalah metode yang menggunakan alat penentu
berupa mitra wicara (konteks dan situasi) atas penggunaan peribahasa,
dalam hal ini adalah budaya Minangkabau.

Dalam penyajian hasil analisis data, metode yang digunakan adalah
metode informal. Metode informal adalah perumusan hasil analisis data
dengan menggunakan kata-kata biasa. Metode informal juga merupakan
interpretasi yang mendalam berupa pendeskripsian secara sistematis,
faktual dan akurat mengenai data.

Metodeinformaljugamemuatpembahasanatassifat-sifatdanhubungan
fenomena-fenomena yang diteliti, yaitu dengan mengimplikasikan teori
yang digunakan, sebagaimana yang diungkapkan Sudaryanto (1993:145)
bahwa penyajian data dengan menggunakan metode informal, hasil
analisisnya akan terasa lebih rinci dan terurai. Deskripsi tentang fungsi dan
makna dipaparkan secara deskriptif.

Citra Perempuan dalam Peribahasa Minangkabau

Perempuan mempunyai kedudukan yang penting dan istimewa

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 45

Gusna Ronsi

dalam tataran adat Minangkabau. Keistimewaan yang diberikan kepada
perempuan adalah suatu hal yang wajar, karena di Minangkabau menganut
sistem matrilineal, suatu sistem yang memperhitungkan garis keturunan
menurut garis ibu. Keberadaan suku, kaum, paruik tergantung pada
eksistensi peran perempuannya dalam menjaga kaumnya.

Adat sebagai lembaga hukum dalam kebudayaan Minangkabau,
mengatur perempuan menjadi figur ideal dalam menjalankan beberapa
peran dan fungsinya. Begitu istimewanya keberadaan perempuan di
Minangkabau, maka muncul berbagai ungkapan yang khusus untuk
perempuan.

Berikut adalah peribahasa yang merangkum secara lengkap tentang
peran sekaligus fungsi ideal perempuan Minangkabau. Hal tersebut dapat
dilihat pada rangkaian peribahasa di bawah ini.

(1) limpapeh rumah nan gadang,
‘kupu-kupu di rumah yang besar’
umbun puro pagangan kunci,
‘bendahara pegangan kunci’
pusek jalo kumpulan tali,
‘pusat jala ikatan tali’
sumarak di dalam kampuang
‘semerbak didalam kampung’
hiasan dalam nagari,
‘perhiasan di dalam negeri
ka pai tampek batanyo
‘ketika akan pergi tempat bertanya’
ka pulang tampek babarito
‘ketika sudah pulang tempat becerita’
kok hiduik tampek banasa
‘tempat bernazar ketika hidup’
kok mati tampek baniaik
‘ketika mati tempat berniat’
kaunduang-unduang kamadinah
‘jadi kerudung ke Medinah’
kapayuang panji kasarugo
‘jadi payung ke surga’
(DT-KTM 2010)

Peribahasa di atas disampaikan dalam bentuk petatah-petitih.

46 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

Berdasarkan hasil wawancara dengan Musra Dahrizal Dt Katik Mangkuto,
seorang Budayawan Minangkabau pada tanggal 27 Juli 2010 yang lalu,
beliau menyampaikan bahwa secara falsafah, perempuan di Minangkabau
dikenal dengan sebutan limpapeh rumah nan gadang ‘kupu-kupu di rumah
yang besar’. Dalam Kamus Umum Bahasa Minang (Abdul Kadir Usman,
2002:370) mengatakan bahwa limpapeh ‘kupu-kupu’ hiasan yang membuat
semarak kaum keluarga dalam rumah. Sebutan khusus terhadap kemenakan
perempuan dalam kaum pada masyarakat Minangkabau karena sejak kecil
telah dididik sopan santun dan keterampilan mengerjakan urusan rumah
tangga.

Menurut keterangan Musrah Dahrizal, dalam tradisi Minangkabau
kehidupan kaum perempuan mengalami beberapa fase yang menyangkut
status dan haknya dalam rumah tangga dan masyarakat. Sebelum sampai
pada istilah limpapeh ‘kupu-kupu’, ada beberapa tahapan kata yang dipakai
di Minangkabau untuk menggambarkan seorang perempuan.

Pertama, anak gadih ‘anak gadis’. Istilah anak gadih ini digunakan mulai
sejak lahir sampai batasan menikah, pada tahapan ini kehadirannya belum
memberikan arti bagi lingkungannya. Perempuan Minangkabau menjalani
persiapan sebagai calon pewaris tradisi yang berlanjut hingga ia remaja
dan berakhir ketika menikah.

Kedua, padusi ‘perempuan’. Secara falsafah, kata padusi berasal
dari perlakuan orang tua kepada anak perempuan yang sudah menikah,
disediakan sebuah kamar untuknya, tempat memadu kasih sayang
dengan suaminya. Asal kata padusi berasal dari kata padu maka disebutlah
dengan istilah padusi. Apabila perempuan Minang telah menikah, dalam
adat Minangkabau sudah dianggap pantas untuk diperhitungkan
keberadaannya. Ia telah mulai menjalankan beberapa fungsi dan peran
serta mendapatkan hak-hak yang selayaknya dimiliki. Status sebagai
istri merupakan pertanda bahwa seorang perempuan telah menjalankan
kehidupan selengkapnya. Hal demikian juga sebagai lambang kepercayaan
kepada seorang perempuan bahwa, ia telah dewasa dan mampu menjalani
kehidupan masyarakat yang lebih luas dari rumah gadangnya, yakni
menjadi menatu dalam keluarga besar suaminya.

Ketiga, parampuan ‘perempuan’. Tempat berhimpunnya segala suka
duka dan keluh kesah keluarga dihimpunkan pada ibu (mandeh). Oleh sebab
itu, disebutlah dia perempuan. Di dalam rumah gadangnya, perempuan
yang sudah menikah mendapatkan hak-hak yang menunjukkan bahwa

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 47

Gusna Ronsi

ia telah berhak memakaikan adat dalam menyelesaikan segala persoalan
keluarganya.

Keempat bundo kanduang. Dari kumpulan banyak perempuan
ditunjuklah penghulu perempuan dan dialah yang dikenal dengan istilah
bundo kanduang. Sebagai orang dewasa, perempuan berhak menjadi penentu
dalam kebijaksanaan yang diambil di atas rumah gadang. Ketika ada lima
atau enam orang mamak rumah ‘laki-laki’ yang sedang bermusyawarah
di rumah gadang, kemudian datang bundo kanduang duduk di bagian
belakang, maka sifatnya itulah yang dikenal dengan istilah limpapeh rumah
nan gadang. Dalam bermasyarakat, ia mempunyai hak pula untuk bersuara
memberikan pendapat selaku duta utama keluarga besarnya.

Kedudukan perempuan yang menjamin keberadaan suku atau kaum
menyebabkan perempuan disimbolkan sebagai limpapeh rumah nan gadang.
Karena keberadaan perempuan sebagai penjamin keberadaan suku (kaum),
perempuan berkuasa atas harta benda kaumnya yang dinamakan sebagai
umbun puro pagangan kunci ‘bendahara pegangan kunci’ bagi rumah gadang,
yang akan memelihara harta benda itu dengan sebaik-baiknya demi jaminan
hidup anak-anak serta kaumnya. Pusek jalo kumpulan tali, merupakan simbol
yang menerangkan bagimana peran perempuan Minangkabau di dalam
rumah tangganya. Sebagai pusat tempat berhimpunnya segala bentuk
polemic yang dihadapi kaumnya, baik ditataran keluarga inti ataupun
keluarga sepersukuan diserahkan kepadanya.

Ka pai tampek batanyo, ‘jika pergi tempat bertanya’ ka pulang tampek
babarito ‘jika pulang tempat berbagi cerita’, maksudnya perempuan dijadikan
mitra musyawarah. Mandeh kanduang adalah tempat berhimpunnya
segala persoalan keluarga, sebelum sebuah perasalahan sampai ditataran
musyawarah kaum, terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan bundo
kanduang. Citra ideal perempuan yang digambarkan dalam peribahasa
Minagkabau di atas, menjelaskan bahwa perempuan di Minangkabau
seharusnya diperlakukan sesuai dengan tuntutan adat tersebut.

Bentuk peribahasa Minangkabau yang mencitrakan perempuan.
Terdapat dalam bentuk Pepatah-petitih, Mamang, Seloka, Gurindam.
Pepatah-petitih merupakan ketentuan-ketentuan yang dinyatakan secara
langsung dan tidak langsung, mengandung pengertian tersurat maupun
tersirat atau kiasan (Hakimi, 1986:2). Mamang lazim juga disebut mamangan
yang berarti pegangan (Navis, 1984:259). Kalimatnya mengandung arti
sebagai pegangan hidup, sebagai suruhan, anjunran dan larangan. Bentuk

48 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

kalimatnya berupa dua bagian kalimat yang yang masing-masing terdiri dari
dua sampai empat buah kata. Navis (1984:237) mengatakan bahwa seloka
adalah pantun empat baris yang terdiri dari beberapa untai. Tiap-tiap untai
berhubungan dengan untai berikutnya. Pada penelitian ini ditemukan dua
buah bentuk seloka. Navis (1984:238) mengatakan bahwa gurindam tidak
mempunyai sampiran. Kalimatnya langsung masuk kepada maksud dan
isinya.

Berikut merupakan penjabaran yang akan tentang citra perempuan
Munangkabau dalam peribahasa.

1. Tegas dan Lembut

Tegas merupakan sikap yang senantiasa harus dimiliki oleh setiap
manusia, tidak terkecuali perempuan. Ketegasan karakter perempuan
Minangkabau, digambarkan dalam peribahasa. Ketegasan yang dimaksud
adalah bagaimana ia menyikapi sebuah permasalahan yang timbul dalam
kehidupan. Ketegasan perempuan Minangkabau dapat kita cermati pada
peribahasa di bawahini.

(2) bajalan siganjua lalai
‘berjalan siganjur lalai’
pado pai suruik nan labiah
‘pada pergi surut yang lebih’
samuik tapijak indak mati
‘semut terinjak tidak mati’
alu tataruang patah tigo
‘alu tertarung patah tiga’
tibo di lasuang rampuak rampai
‘tiba di lesuang rumpuk rampa’
(DL-KTM 2010)

Peribahasa pada data 2 ini berbentuk gurindam, tidak mempunyai
sampiran dan langsung berisikan saripati kata serta terdiri atas lima baris.
Peribahasa bajalan siganjua lalai ‘berjalan siganjur lalai’ pado pai suruik
nan labiah ‘pada pergi surut yang lebih’ samuik tapijak indak mati ‘Semut
terinjak tidak mati’ alu tataruang patah tigo’ alu tersandung patah tiga’ tibo di
lasuang rampuak rampai ‘sampai di lesung rempuk rampa’ menggambarkan
sosok ideal perempuan Minangkabau. Rangkaian peribahasa tersebut
menyatakan bahwa perempuan Minangkabau memiliki kepribadian yang

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 49

Gusna Ronsi

lembut dan sangat kuat secara prinsip, tegas dan bijaksana. Melangkah
dengan langkah yang tenang, tidak tergesa-gesa dan bukan berarti lambat.
Peribahasa ini menjelaskan ketangkasan dan ketinggian budi seorang
perempuan Minangkabau, tidak menindas yang kecil dan juga tidak lemah
ketika dihadapkan dengan permasalahan yang besar.

Dari data 2 di atas, tercermin bahwa perempuan dalam budaya
Minangkabau memiliki sifat yang tegas dan lembut. Kelembutannya dapat
dilihat pada peribahasa samuik tapijak indak mati, ‘semut terinjak tidak
mati’ dan ketegasannya dilihat dari alu tataruang patah tigo, ‘alu tertarung
patah tiga’. Pada dasarnya untaian peribahasa tersebut lebih mengacu
pada sifat dan kepribadian perempuan Minang yang dituntut dalam adat
Minangkabau untuk memiliki sifat lembut dalam kepribadian dan tegas
soal prinsip.

2. Sopan Santun

Sikap sopan santun merupakan karakter yang disukai dalam
masyarakat. Dalam percakapan sehari-hari ada sepenggal kalimat yang
sering kita dengar, anda sopan kamipun segan. Artinya, sifat sopan santun
akan menjadikan seseorang dihargai dan disegani oleh orang lain. Sebagai
panutan dan representasi dari sebuah kaum, sudah sejatinya perempuan
Minangkabau mencerminkan sifat sopan dan santun tersebut. Peribahasa
Minangkabau menggambarkan sifat sopan santun ini seperti terlihat di
bawah ini.

(3) panggalak jago lalok
‘tersenyum ketika bangun tidur’
panyanang diurang tibo
senang ketika tamu datang’
(DT-KTM)

Data 3 berbentuk mamang, yakni peribahasa yang bentuk kalimatnya
berupa dua bagian kalimat yang masing-masing terdiri dari dua kata.
Kalimatnya mengandung arti sebagai pegangan hidup, suruhan, anjuran
dan larangan. Suasana ketika bangun tidur adalah saat-saat dimana
seseorang masih belum stabil kondisinya, belum bisa mencerna suasana
dengan baik. Biasanya, orang yang baru bangun tidur akan memasang
wajah cemberut dan tidak banyak bicara. Maksud yang ingin disampaikan

50 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

dalam peribahasa panggalak jago lalok ‘tersenyum disaat bangun tidur’ adalah
perempuan Minang walaupun, dalam kondisi sulit dan pada suasana yang
susah masih bisa tersenyum. Peribahasa selanjutnya menegaskan panyanang
di urang tibo ‘senang ketika tamu datang’, maksudnya adalah perempuan
Minang akan selalu memasang wajah yang ceria ketika ada orang yang
berkunjung ke rumahnya. Sepahit dan sesempit apapun kondisi hidup
yang sedang dialalaminya. Sebisa mungkin ia akan berusaha menutupi
apapun masalah yang sedang dihadapi keluarganya. Budaya sopan santun
yang dimiliki perempuan Minangkabau, terlihat jelas dari cara berbahasa
mereka. Sikap sopan santun ini juga bisa kita lihat dalam peribahasa lain
seperti di bawah ini.

(4) muluik manih,
‘bermulut manis’
kucindan murah
‘suka bercanda’
(DT-Hakimi 1978)

Bentuk peribahas data 4 adalah mamang. Peribahasa ini
menggambarkan kecerdasan perempuan Minang dalam memilih dan
memilah penggunaan katakata, agar mitra tutur tidak tersinggung
karenanya. Muluik manih ‘bermulut manis’ maksudnya bertutur kata
dengan kata-kata yang manis. Seseorang yang mempunyai tutur sapa yang
manis dan sopan sangat disukai orang. Baik itu berbicara kepada orang
yang lebih tua, sesama besar maupun kepada yang lebih kecil. Dalam
Kamus Bahasa Minang (Erwina Burhanudin, dkk, 2009) kuncindan berarti
canda. Kucindan murah ‘mudah bercanda’, maksudnya adalah perempuan
Minangkabau dalam tuntutan adat adalah pandai bercanda, memiliki rasa
humor dan tidak kaku. Ketika berbicara, canda juga diperlukan untuk agar
lawan bicara senang dengan kita, bisa menghidupkan suasana pertuturan.
Perempuan yang suka bercanda sewajarnya merupakan sosok idola orang
tua-tua untuk generasinya.

Kemampuan berkata-kata adalah bagian kesopan santunan dalam
budaya Masyarakat Minangkabau. Perempuan yang memiliki sifat muluik
manih, kucindan murah akan lebih disenangi banyak orang.

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 51

Gusna Ronsi

3. Teguh Pendirian

Teguh pendirian merupakan perilaku konsisten yang tidak mudah
terpengaruh oleh lingkungan maupun pengaruh yang datang dari luar.
Sikap teguh pendirian ini sangat bergantung kepada setiap individu yang
memaknai berbagai pengaruh yang datang. Perempuan di Minangkabau
harus peka terhadap berbagai pengaruh yang datang, ia tidak boleh
terpengaruh dengan berbagai fenomena yang ada, apalagi pengaruh itu
merusak atau bahkan menghilangkan nilai-nilai yang telah tertanam bagi
perempuan Minangkabau.

Peribahasa ini menggambarkan keteguhan pendirian yang harus
dimiliki oleh perempuan Minangkabau.

(5)diam di banda tak maniru
‘tinggal di kali tidak meniru’
diam di lauik masin tidak
‘tinggal di laut tidak asin’
(DT-OK 2010)

Data 5 berbentuk gurindam yaitu, peribahasa yang tidak mempunyai
sampiran lansung berisikan saripati kata yang tersusun dalam dua atau
empat baris. Gurindam lansung masuk pada maksud dan isi. Peribahasa di
atas, merupakan implikasi dari falsafah orang Minang Alam Takambang Jadi
Guru. Alam bagi orang Minangkabau tidak hanya sebagai tempat hidup,
akan tetapi alam juga sebagai tempat untuk belajar. Peribahasa diam di banda
tak maniru ‘tinggal di kali tidak meniru’ diam di lauik masin tidak ‘tinggal di
laut tidak asin’.

Ikan adalah makhluk yang hidup di air. Ikan yang hidup dalam air laut
yang asin, tidak mempengaruhi dagingnya juga ikutan asin. Danging ikan
tetap terasa tawar, artinya adalah walaupun lingkungan disekelilingnya
tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak membuatnya melebur dengan
suasana yang ada.

Data 5 di atas, merupakan gambaran perempuan Minangkabau
dalam mempertahankan prinsip hidupnya, dalam menghadapi tantangan
zaman. Maksudnya adalah dalam kondisi bagaimanapun, perempuan
Minangkabau dalam tuntutan peribahasa tidak mudah terbawa arus
zaman, mereka berbaur tapi tidak melebur dengan suasana yang ada.

52 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

4. Arif dan Bijaksana

Bijaksana merupakan suatu sikap yang arif. Sikap arif membuat
seseorang dihargai dan disegani, baik di lingkungan kaum maupun
masyarakatt. Sikap bijaksana lebih dekat pada keadilan dalam menyelesaikan
sebuah permasalahan, tidak ada satu pihakpun yang merasa dirugikan.
Sikap bijaksana ini di gambarkan dalam peribahasa Minangkabau berikut.

(6) pandai mambuhua tak mangasan
‘pandai membual tidak tampak’
pandai mauleh tak babuku
‘pandai menyambung tidak berbuku’
(DT-Hakimi 1978)

Data 6 juga berbentuk gurindam. Peribahasa di atas, menggambarkan
sikap bijaksana dengan pandai mambuhua tak mangasan, ‘pandai membual
tidak tampak’ maksudnya adalah walupun ada keganjilan maupun sedikit
rasa tidak senang terhadap orang lain, tapi tetap bisa disembunyikan
seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Biasanya buhua ini digunakan untuk tali
yang sudah putus kemudian disambung kembali, akan tetapi hasil buhua
tersebut tidak berbekas sehingga terkesan tidak ada buhua ‘bualan’ dari
sambungan tali yang putus. Jadi pandai mambuhua tak mangasan maksudnya
adalah kebijaksanaan yang diambil oleh seorang perempuan Minangkabau,
dalam memutuskan sebuah permasalahan sehingga tidak ada pihak yang
merasa dirugikan. Hal ini sejalan dengan peribahasa berikutnya, pandai
mauleh tak babuku, ‘pandai menyambung tidak berbuku’. Buku adalah
batasan antara ruas dengan ruas. Maksudnya ketika menyambungkan tali,
hasil sambungan ini tidak meninggalkan bekas.

Begitu bijaksananya perempuan Minangkabau, ketika mendamaikan
perselisihan antaranggota keluarga maupun kaum, tidak ada pihak yang
merasa dirugikan. Hal ini tidak menimbulkan rasa kecemburuan dari
kedua belah pihak yang berselisih.

5. Rajin dan Ulet

Rajin merupakan sifat positif yang harus dimiliki oleh seseorang.
Tidak terkecuali perempuan Minangkabau. Untuk mendapatkan apa yang
kita citacitakan, terlebih dahulu kita harus menanamkan prinsip rajin di
dalam diri kita. Etos kerja yang tinggi dalam berusaha akan menumbuhkan

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 53

Gusna Ronsi

sikap yang baik pada setiap individu. Peribahasa berikut menggambarkan
etos kerja dan keuletan perempuan Minangkabau dalam menjalani
kehidupannya. Hal tersebut dapat dilihat dalam peribahasa di bawah ini.

(7) hari sahari di parampek
‘satu hari di bagi empat’
malam samalam di patigo
‘satu malam dibagi tiga’
(DT-Hakimi 1978)

Data 7 berbentuk mamang, hari sahari diparampek ‘satu hari dibagi
empat’. Maksudnya adalah memanfaatkan waktu yang tersedia dengan
sebaikbaiknya, dengan cara menuntaskan semua pekerjaan sesuai dengan
target waktu yang desediakan. Selanjutnya malam samalam dipatigo ‘satu
malam dibagi tiga’ maksudnya adalah, malam tidak semata digunakan
untuk waktu istirahat atau tidur saja, akan tetapi sebagian waktu dimalam
hari juga dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.

Peribahasa di atas menjelaskan bahwa dalam Budaya Minangkabau,
penggunaan waktu sangat diperhatikan. Tidak hal yang sia-sia, setiap saat
dan keadaan pasti ada hal yang bisa diperbuat. Pemanfaatan setiap kondisi
dan keadaan dapat kita lihat pada ungkapan adat yang mengatakan bahwa,
nan buto paambiuh lasuang ‘orang buta peniup lesung’, nan pakak palapeh
badiah ‘orang tuli pelepas bedil’, nan lumpuah paunyi rumah ‘orang lumpuh
penghuni rumah’.

Ungkapan di atas, menjelaskan bahwa dalam etnis Minangkabau
segala kondisi dan keadaan pasti ada manfaatnya. Pendapat ini, sejalan
dengan pernyataan Duranti (1997:25) yang menyatakan bahwa bahasa
mengkategorisasi realitas budaya, yaitu bagaimana melihat budaya suatu
etnis dari cara berbahasanya. Dari peribahasa di atas, dapat dilihat kategori
masyarakat Minangkabau, digambarkan etnis yang rajin dan ulet.

6. Waspada

Kewaspadaan identik dengan kehati-hatian. Orang yang hati-hati
dalam bertindak biasanya memiliki kewaspadaan dan demikian pula
sebaliknya. Seperti halnya kehati-hatian, kewaspadaan juga membentuk
pencitraan diri seseorang. Kewaspadaan digambarkan melalui ungkapan
berikut:

54 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

(8) ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih,
‘ingat sebelum kena, hemat sebelum habis’
(DT-OK 2010)

Data 8 juga berbentuk mamang. Peribahasa ingek sabalun kanai ‘ingat
sebelum kena’ merupakan nasehat yang berisi peringatan agar waspada
dalam berbagai hal. Melalui teknik parafrase yang dikemukakan oleh
Wierzbicka (dalam oktavianus 2006:59) kanai ‘kena’ secara leksikon dapat
diartikan tertimpa atau menderita sesuatu kerugian dan kesusahan akibat
suatu perbuatan. Jadi, ungkapan ingek sabalun kanai ‘ingat sebelum kena’
dapat diberlakukan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Ungkapan ini
sejalan dengan kulimek sabalun abih ‘berhemat sebelum habis’. Peribahasa
di atas memberikan isyarat agar orang tidak boros sehingga dia tidak
mengalami kesusahan pada hari-hari berikutnya. Peribahasa di bawah ini
menjelaskan bagaimana perempuan Minang di rumah gadangnya.

(9) umbun puro pagangan kunci.
‘bendahara pegangan kunci’
(DL-KTM 2010)

Sama dengan beberapa data di atas, data 9 juga berbentuk mamang.
Sebagai umbun puro pagangan kunci ‘bendahara pegangan kunci’ di rumah
gadang, perempuan Minangkabau dituntut untuk bersikap hemat dan
teliti dalam mengelola harta kaum. Seluruh bentuk pengelolaan harta
kaum diserahkan kepada perempuan sepenuhnya. Peribahasa lain yang
menggambarkan konsep kewaspadaan, terlihat seperti di bawah ini.

(10) kana rantiang nan ka mancucuak
‘ingat ranting yang akan menusuk’
duri nan ka mangaik
‘duri yang akan menyangkut’
(DT-OK 2010)

Data 10 berbentuk gurindam. Dari peribahasa di atas, terlihat adanya
kewaspadaan terhadap semua kemungkinan yang terjadi. Kana rantiang
nan ka mancucuak ‘ingat ranting yang akan menusuk’, ranting adalah bagian

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 55

Gusna Ronsi

dari pohon yang terdapat di dahan pohon, kalau tidak hati-hati berjalan
di bawah pohon maka mata akan ditusuk ranting. Begitu juga dengan
peribahasa berikutnya, duri nan ka mangaik ‘duri yang akan menyangkut’.
Ketika berjalan, kalau tidak hati-hati maka akan tersangkut duri. Artinya
adalah kapan dan dalam kondisi bagaimanapun kita harus selalu waspada
terhadap apapun yang akan terjadi. Jangan sampai karena tidak waspada
kita celaka.

Begitu cermatnya peribahasa Minangkabau menggambarkan sosok
perempuan yang dituntut dalam budaya Minang, bersikap waspada dan
hati-hati terhadap setiap kemungkinan yang akan mencelakai. Sebelum
semuanya terjadi, sudah di waspadai terlebih dahulu.

Penutup

Dalam budaya Minangkabau perempuan digambarkan dengan
tuturan tidak langsung. Gambaran tentang mereka diungkapkan dengan
bentuk bahasa khusus yaitu kias. Bentuk bahasa kias yang mereka gunakan
adalah peribahasa.Masyarakat Minangkabau termasuk suatu etnis yang
tidak terus terang dalam berbahasa. Mereka cenderung bertutur tidak
langsung dan peribahasa merupakan salah satu model berbahasa orang
Minangkabau.

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa peribahasa Minangkabau
yang mencitrakan perempuan terdiri atas beberapa bentuk yakni, mamang,
gurindam, pepatah-petitih, dan seloka. Pada penelitian ini ditemukan
citra perempuan dalam peribahasa sebagai orang tegas dan lembut, sopan
santun, teguh pendirian, arif dan bijaksana, rajin dan ulet serta waspada.
Perlakuan yang dituntut peribahasa terhadap perempuan Minangkabau
adalah sebagai orang yang dihormati dan dihargai, orang yang dijaga dan
dilindungi serta orang yang diteladani.

Secara budaya, perempuan di Minangkabau merupakan sosok
sentral dalam kaum. Ini terbukti dengan adanya peribahasa khusus
tentang perempuan. Bagaimana perempuan seharusnya menempatkan
diri dan berperilaku ditataran kaum maupun masyarakat. Ditataran kaum,
perempuan merupakan teladan bagi kaumnya, baik buruknya sebuah
kaum dilihat dari perilaku perempuannya dalam masayarakat. Dari analisis
terhadap peribahasa pada bab sebelumnya, terlihat juga bahwa emansipasi
ada dalam kebudayaan Minangkabau. Perempuan melibatkan diri dalam
urusan kemasyarakatan, sama halnya dengan laki-laki. Merekamempunyai

56 - WACANA ETNIK Vol. 1 No.2

Citra Perempuan ...

wewenang pada tataran kaum di rumah gadang juga sebagai penentu
keputusan kaumnya.

Daftar Pustaka
Burhanudin, Erwina,dkk. 2099. Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia.

Padang : Balai Bahasa.
Duranti, Alessandro. 1997. Rangkuman terjemahan Linguistik Antropologi.

Combridge: University Press.
Irfah. 1993. “Wanita dalam Petatah-Petitih Minangkabau” (skripsi). Padang:

Universitas Andalas.
Kridalasana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia

pustaka Utama.
Naim, Mochtar. 2006. Perempuan Minangkabau di Persimpangan Jalan. Jakarta:

Hasanah.
Navis, A. A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru. Jakarta: Grafiti Pers
Nurhayati. 2005. “Analisis Wacana Pertengkaran di kenagarian Aie Dingin

Kecamata Lembah Gumanti Kabupaten Solok: Studi Kasus” (skripsi).
Padang: Universitas Andalas.
Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang: Andalas University
Press.
Oktavianus. 2005. “Kias dalam Bahasa Minangkabau” (disertasi). Program
pasca sarjana Universitas Udayana.
Parera, J. D. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga
Revita, Ike. 2007. “Permintaan dan Penolakan dalam Bahasa Minangkabau”
(disertasi). Program pasca sarjana Universitas Gajah Mada.
Rizal. Y. 2003. 3000 Peribahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia
Rizal. Y. 1996. Hubungan antara pantun dengan peribahasa Minangkabau-
Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Saleh, Abd, dkk. 1999. Ungkapan Minangkabau. Padang: laporan penelitian
oleh lembaga kerapatan Adat Alam Minangkabau.
Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: Poda.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Sumarsono. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA
Usman, Abdul Kadir. 2002. Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia.
Padang: Anggrek Media
Yuskanedi. 1996. “Moralitas Perempuan Minangkabau dalan Novel Wrisan
Karya Khairul Harun” (skripsi). Padang: Universitas Andalas.

DAFTAR SINGKATAN

DL-KTM : Data Lisan Wawancara dengan Katik Mangkuto Juli 2010DT-

IDRUS : Data Tulis dalam Buku Idrus Hakimi 1978

DT-RIZAL : Data Tulis dalam Buku Yose Rizal 1996

DT-OK : Data Tulis Oktavianus 2010
DT-KSN : Data Tulis Kaba Sabai Nan Aluih 2004

WACANA ETNIK Vol. 1 No.2 - 57



HUBUNGAN MINANGKABAU
DENGAN NEGERI SEMBILAN

Mestika Zed

Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE)
Fakultas llmu Sosial Universitas Negeri Padang

Makalah untuk Dialog Kesejarahan Ill Antara Organisasi Profesi Sejarah Indonesia (MSI) Dan PSM
Malaysia, Johor Baru, Malaysia Oktober, 2010

HUBUNGAN MlNANGKABAU
DENGAN NEGERI SEMBILAN

Makalah untuk "Dialog Kesejarahan Ill"
antara organisasi profesi sejarah Indonesia (MSI)dan PSM Malaysia,

Johor Baru, Malaysia, Oktober 2010.

Keratau madang di hulu
Berbunga, berbuah belum

Ke rantau bujang dahulu
Di kampung berguna belum

(PepatahMinang).

Oleh :Mestika Zed
Jurusan Sejarah, FIS, Universitas Negeri Padang

PENGANTAR

MEMORl kolektif yang terekam dalam kronik dan naskah-naskah lama
di kebanyakan negara-negara Asia Tenggara, biasanya berisi pel-
bagai macam inforrnasi seperti wacana tentang ajaran adat dan
agama, dasar-dasar kekuasaan dan ideologi, peperangan, per-
gantian penguasa, wacana intelektual dan lain-lain. Seringkali juga
terdapat di dalamnya penilaian tentang penguasa yang berhasil dan yang
tidak berhasil. Beberapa penguasa menyibukkan dirinya untuk membangun
candi atau kuil, penaklukan dan pembuatan undang'undang, tetapi ada
pula yang terperangkap dalam suasana ketidakstabilan atau kekalahan
yang memalukan (Reid, 2004: 112). Dalam kasus Minangkabau memori
kolektif semacam itu juga lazim ditemukan. Namun yang agak lebih spesifik
di antaranya ialah wacana tentang merantau dan kompetisi dalam dunia
niaga. Sudah umum dikenal bahwa orang Minangkabau di Sumatera Barat
memiliki tingkat mobalitas individual yang tinggi; mereka terbiasa
melakukan perjalananjauh untuk berniaga, bahkan sampai ke pantai timur
Afrika dan di sana mereka bergabung dalam kelompok pemukiman Melayu
Madagaskar (Graves, 2007). Tidak jarang pula terdapat koalisi dalam
kompetisi berebut pengaruh di rantau. Orang Minangkabau di Sumatera
Barat menganggap diri mereka sebagai pewaris terhomat dari tradisi yang
sudah sangat tua ini.

Dalam risalah sederhana ini saya akan berupaya melacak perantauan
orang Minangkabau ke Negeri Sembilan di Semenanjung Malaysia
sekarang. Pada halam'an-halamanberikut akan dibentangkan bagaimana
cikal-bakal perantauan orang Minangkabau yang mula-mula dan gelom-
bang perantauan pada periode-periode kemudian, sehingga terciptanya
hubungan spesifik antara Minangkabau dengan Negeri Sembilan sampai
dewasa ini. Tesis utama risalah ini ialah, bahwa merantau sebagai tipologi
migrasi khas Minangkabau pada dasarnya bukan berorientasi pada politik
kekuasaan, seperti yang lazim ditemukan dalam kebanyakan kelompok et-
nik di Indonesia, melainkan pada pembentukan komunitas sosial-budaya di
luar daerah asli mereka tanpa perlu memutuskan hubungan dengan negeri
asal di satu pihak, dan kebutuhan untuk penyesesuaian diri dengan
keadaan rantau di lain pihak. Atas dasar itu hubungan-hubungan historis
don kebudayaan relatif langgeng dan ini juga membantu mengintegrasi-
kan antara daerah asal dan rantau di antara bangsa serumpun di nusan-
tara.

Alam Minangkabau dan Kerajaan Pagaruvung di Masa Lalu.

Wilayah asli alam Minangkabau terletak di bagian tengah Pulau Sumatera.
Kosmologi Alam Minangkabau, sebagaimana direkam Tombo, terdiri dari

tiga kawasan utama , yaitu apa yang disebut Luhak Nan Tigo, masing-
masing terdiri dari (i)Luhak Tanah Datar, (ii)Luhak Agam don (iii)Luhak 50
Kota).' Nagari-nagari (desa)Minangkabautersebar di ketiga kawasan "inti"
(core region) tersebut. Mereka percaya, bahwa nenek rnoyang mereka
berasal dari keturunan lskandar Zulkamaen (Alexander the Great) dari Be-
nua Ruhun, yang kemudian mendirikan pemukiman pertama di lereng
bagian selatan Gunung Merapi, simbol ketinggian Alam Minangkabau. Dari
titik pemukiman pertama inilah nenek moyang menaruka pemukiman baru,
lalu memecah din' ke dalam sejumlah unit komunitas, yang masing-
masingnya berpusat di suatu wilayah yang mereka sebut dengan Luhak.
Luhak Tanah Datar adalah 'luhak nan tuo' don dari sini menyebar ke
seluruh kawasan Luhak Agam, yang terletak di bagian utara Gunung
Merapi, berhadap hadapan dengan Gunung Singgalang. Sedangkanyang
ketiga, Luhak Limapuluh Kota, (yang semula terdiri sekifar limo puluh kepala
keluarga) mendirikan pernukirnan baru di bagian utara Gunung Sago?

Dalam teori, nagari-nagari tradisional Minangkabau yang beragam itu,
hidup bagaikan republik-republik kecil yang otonom, dalam ha1ini, menca-
kup entitas geografis, tradisi adat don sistem politik yang berbeda-beda.
Pepatah adat mengatakan adat selingkaran nagari. Artinya masing-
masing nagari berlain-lain adai istiadatnya. Perbedaan itu juga tercermin
dalam tanatan adatnya (i)Kelarasan Bodi-Caniago yang menganut adat
keperpatihan don (ii) Kelarasan Koto Piliang, yang menganut adat kete-
manggungan. Yang pertama dianggap lebih demokratis, sedang yang
kedua lebih aristokratik don hierarkhis.3

Di luar kawasan inti (Luhak) terdapat kawasan rantau. Perbedaan antara
kedua kawasan ini lebih kontras sebagaimana terungkap dalam pepatah
adat Minangkabau: nagan' bapenghulu, ranfau barajo (nagari seperintah
penghulu, rantau diperintah raja). Artinya nagari-nagari tradisional Minang-
kabau berada di bawah otoritas penghulu, sementara daerah rantau
diperintah oleh bangsawan-bangsawan setempat, diistilahkan dengan
"raja", yang menurut tradisi adalah juga keturunan raja-muda yang dikirim
dari keluarga Kerajaan Pagaruyung.

1 Dewasa ini ketiga luhak (distrik) tersebut menjadi nama kabupalen (Tanah Datar, Agam
don 50 Kota) di antara 1 1 kabupaten dan 7 pemerintahan kota di Sumatera Barat. Luas Su-
matera Barat deawas ini hanyalah sekitar 18.000 km penegi: atau sekitar 11% dari total luas
Pulau Sumatera dan kurang dari 3%dari total luas Indonesia. Kecuali kawasan pantai, seba-
gaian besar kawasan Minangkabauterletak pada dataran tinggi dengan ketinggian sekitar
1500 kaki di atas permukaanlout.

Ahmad, Dt. Batuah don A. Dt. Madjoindo, Tornbo Minangkabau don Adotnjo [Djakarta:
Balai Pustaka, 1956). hal. 14-16.

Sebagai contoh rnisalnya, nagari-nagari yang rnenganut adat perpatih ditemukan di Luhak
Agam, tidak mengenal gelar penghulu pucuk [Datuk Pucuk) Nagari, melainkansuatu kelom-
pok Dewan Penghulu yang memiliki kedudukan yang sederajat dan sebaliknya di 50 Koto
yang menganut adat ketemanggung, mengenal hiermki penghulu adat menurut jenjang
don kedudukannya dalam negari. Sementara Tanah Datar adalah tipe campuran. Perbe-
daan keduanya terlihat tidak hanya dalam tatatan adat masing-masingnya,melainkan juga
dalam arsitektur (interior)rumah adatnya.

Raja pertama, Pagaruyung yaitu Aditiyawarman, yang berkuasa antara ta-
hun 1347-1375 adalah keturunandarah rantau, campuran Minang don Mo-
jopahit (Jawa) yang pulang kampung ke Minangkabau pada tahun 1339.
Kala itu sistem pemerintahan keluarga di bawah penghulu don organisasi
yang independen itu sudah berdiri mapan di nagari-nagari. Setelah meme-
luk agama Islam, raja-raja Pagaruyung sepeninggal Adityawarman mulai
membangun struktur kerajaan yang memilki kaki ke bawah. Terutama lewat
lembaga Basa Ampek Balai yaitu empat orang besar ('big man') yang ber-
tanggung jawab dalam urusan adat, agama, militer don perekonomian.
Masing-masing dipegang oleh (i) Datuk Bandaharo, berkedudukan di
Sungai Tarab (urusan adat); (ii)Tuan Kadi di Padang Ganting (urusan
agama): (iii).Datuk Makhudum di Sumanik (Urusan keamanan (militer)den-
gan Tuan Gadang di Batipuah sebagai panglima angkatan perang; (iv)Da-
tuk lndomo di Saruaso (urusan ekonomi). Keempat lembaga inilah yang
mengurus perkara-perkara di bidangnya masing-masing di sleuruh kawasan
di Luhak don Rantau.

Dinamika sejarah Minangkabau sepanjang masa, termasuk irama don
proses merantau sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi sosial budaya don
politik setempat di satu pihak don rangsangan-rangsangan yang datang
. dari luar di lain pihak.4 Halaman-halamanberikut ini akan menjelaskan kon-
teks perantauan orang Minang ke NegeriSembilan.

Menaruka Rantau NegeriSembilan.

Studi klasik oleh de Josselink de Jong Minangkabau and Negen Sembilan
(1952 [1980: 123]), menunjukkan bahwa perantau Minangkabau sudah
menyeberang ke Semenanjung Melayu setidaknya sejak awal abad ke-16
don bahkan jauh sebelumnya. Keterangan ini diperkuat dengan mengutip
studi R.A. Kern (1938) yang menerangkan bahwa penguasa Portugis di
Malaka, Albuquerque (1912) telah menyebut kehadiran orang Minang di
kota pelabuhan itu. Sumber lokal yang lebih tua menyebut migrasi orang
Minang ke sana telah berlangsung tahun 1388, beberapa tahun setelah
meninggalnya Raja Adityawarman. Bukti-bukti dalam bentuk inskripsi (batu
bersurat) di sebuah makam di Sungai Udang, Linggi (sekitar 23 mil dari
Seremban) dihubungkan dengan nama tokoh ulama, Syeikh Ahmad Ma-
jnun, yang berasal Minangkabau. Beliau wafat tahun 872 H (1467M) (Abdul
Samad (1970: 15).

Penjetasan tentang gejala merantau orang Minang dari sudut sosial budaya Minangkabau
sudah dikaji dengan baik oleh Mochtar Naim dalam studi klasiknya bejudul Merantau. Polo

Migrasi Suku Minangkabau ( 1980),terutama dalam kaitannya dengan sistem sosial Minang-

kabau yang bercorak matdineal. Dalam sistem ini kaum lelaki tidak mendapat tempat yang
leluasa dalam kekuasaan don kepemilikan keluarga. Ruang gerak yang relatif terbuka bagi
mereka justru terletak di ranah rantau, di rnana sifat kompetisi dan kelenturan (fleksibilitas)
dalam berinteraksi dengan dunia luar membuat mereka lebih kreatif dan dinamis. Sikap
hidup semacam inijuga dikuatkan oleh ungkapan lokal sebagaimana dikutip pada awal tuli-
son ini.

Pada abad ke-15 don ke-16 gejala perpindahan orang Minang ke Se-
menanjung semakin pesat. Ini berlangsung bersamaan dengan lalu-lintas
perdagangan emas Minangkabau ke Malaka (Dobbin 1977) don pada
abad berikutnya semakin pesat sejalan dengan meningkatnya perdagan-
gan komoditi lada Minangkabau.s Jadi, walaupun migrasi suku Minangka-
bau ke Semenanjung diperkirakan sudah berlangsung sejak abad ke-11-12,
gejala itu baru dapat diidentifikasisecara agak ebih jelas pada abad-abad
ke-17-18. Tentu saja nama Negeri Sembilan tidak terbentuk dengan sekali
jadi, melainkan sebuah proses yang panjang.

Sebelum Negeri Sembilan bernama demikian di Tanah Semenanjung
Melaka sudah berdiri sebuah kerajaan besar yang terkenal dalam sejarah,
Malaka. Di pelabuhan Melaka inilah kebanyakan perantau Minang yang
mula-mula menetap. Dari sini terbuka pintu gerbang, untuk menyusup ke
daerah pedalaman tanah Semenanjung itu. Maka sebulum mendirikan
Negeri Sembilan h rombongan demi rombongan dari Minangkabau tinggal
berdagang di sini.

Menurut catatan sumber lokal, sebagaimana dipaparkan oleh Abdul
Samad Idris (1970), seperti juga oleh Mohd. Zain dalam Website
Perpustakaan Awam Negeri Sembilan, Malaysia (2008), ado beberapa
gelombang perpindahan generasi pertama yang menaruka pemukiman
baru di Negeri Sembilan.

Mula-mula datanglah sebuah rombongan di bawah pimpinan seorang
datuk yang bergelar Datok Raja dengan isterinya Tok Seri (Tuo Sari?).Ti-
dak diketahui dari mana daerah asal mereka ini di Minangkabau, tetapi
menurut riwayat, dalam dalam perjalanan ke Negeri Sembilan, mereka
sebelumnya singgah di Siak. Dari sana kemudian meneruskan perjalanan
menyeberang Selat Melaka menuju ke Johor. Dari Johor mereka pergi ke
Naning dan terus ke Rembau. Dan akhirnya menetap disebuah tempat
yang bernama Londar Naga, sekarang tempat itu bernama Kampung
Galau.

Rombongan kedua berasaal dari kelompok Luhak Tanah Datar. Mereka
dipimpin oleh bergelar seorang datuk dari keluarga Datuk Bandaro Pen-
ghulu Alam dari Sungai Tarab. Rombongan ini menetap disebuah tempat
yang kemudian terkenal dengan Kampung Sungai Layang.

Rombongan ketiga ini datang dari Batusangkar juga, yakni dari keluarga
Datuk Makudum Sati di Sumanik. Mereka disertai pula oleh duo orang
benaudara: Sutan Sumanik don Johan Kebesaran. Rombongan ini dalam
perjalanannya singgah juga di Siak, Melaka, don Rembau. Kemudian
membuat sebuah perkampungan yang bernama Tanjung Alam yang
kemudian berganti dengan Gunung Pasir.

5 Sebuah memori kolektif yang dikompilasi oleh G.J.W. Drewes berjudul De Biografie
van Een Minangkabause Peperhandelaorin de Lampungs ( 1967) berkaitan dengan
perkembanganpada abad ke 17118.

Rombongan keempat datang dari Sarilamak (Payakumbuh), diketuai
oleh Datuk Putih don mereka menepat pada Sutan Sumanik yang sudah
duluan membuka perkampungan di Negeri Sembilan ini. Datuk Putih
terkenal sebagai seorang pawang atau bomoh yang ahli ilmu kebatinan.
Beliaulahyang memberi nama Seri Menanti bagi tempat istana raja yang
sekarang ini. 6

Rombongan selanjutnya don puak Luhak Limapuluh Kota yang mula-
mula datang ke Negeri Sembilan berasal dari Nagari dari Batuhampar
(Payakumbuh) dengan pengiringnya tidak hanya terdiri dari orang Batu-
hampar sendiri. melainkan juga dari Mungka, Simalanggang, Payakum-
buh don beberapa nagari lain di sekitarnya. Rombongan ini dipimpinan
oleh Datuk Lelo Bolang dari Batuhampar. Mereka membuka perkampun-
gan di Rembau. Tidak lama kemudian menyusul Datuk Lout Dalam, adik
Datuk Lelo Bolang dari Batuhampar. la ternyata tidak bergabung dengan
saudaranya, melainkan mendirikan pemukiman tersendiri di Kampung
Tigo Nenek. Disebutkan bahwa orang Minang pertama yang tiba di
Negeri Sembilan menetap di Rembau sekitar tahun 1467. Mereka
dipimpin Datuk Lelo Balang don sejumlah pengiringnya dari nagari-nagari
Batuhampar, Limapuluh Kota.

Sewaktu jumlah pendatang baru terus bertambah, perantau Minang yang
sudah m e n a ~ k aperkampungan pertama di Naning, Rembau, Tanjung
Alam don Gunung Pasir mulai mengelompok ke dalam suku-suku. Ada 12
suku yang mula-mula,7 tetapi berbeda dengan tradisi di negeri asal mereka,
nama suku di Negeri Sembilan diambilkan dari nama nagari asal mereka
maing-masing. Umumnya di 50 Koto seperti Suku Batuhampar, Suku
Payakumbuh, Suku Mungkal (Mungkar), Suku Tiga Nenek, Suku Sen
Melenggang (Simalanggang), Suku Seri Lemak (Sarilamak), Suku Batu
Belong don Suku Tiga Batu, (Tiga Batur Situjuah), Suku Tanah Datar;
semuanya berasal dari Kabupaten 50 Kota don Tanah Datar. Selain itu, ado
lagi suku campuran dengan penduduk asli (Suku Jakun); mereka
mengelompok dalam kelompok Suku Biduanda, Suku Anak Acheh don Suku
Anak Melaka; namanya ini tentunya mengacu ke daerah asal mereka.

Dapat dilihat.bahwa para pendatang pertama ke Negeri Sembilan umum-
nya berasal dari 50 Koto don Tanah Datar, tetapi tidak ado dari Agam se-
bagaimana terlihat dari nama-ama suku yang ado. Salah satu alasannya
ialah karena memang kedua luhak itulah (50 Kota don Tanah Datar) yang
secara tradisional memiliki akses paling langsung ke sungai-sungai yang
mengalir ke pantai timur Sumatera. Ada beberapa jalur sungai yang yang
lazim dapat ditempuh menuju pantai timur ini, seperti Batang Mahat, Sina-
mar, Kampar, Tapung Kiri don Tapung Kanan, Siak. Dari sini menyeberang ke
Selat Melaka. Menurut Norhalim lbrahim (2007: 8), dari pantai timur Su-

Nama Sri Menanti ditafsirkan berasaldari kata Sri, atau DewiSri, sebutan untuk spesies padi -
- jadi Sri Menanti berartipadi menanti. Bdul Samad ( 1 970: 19): Fachrul Rasyid, HF (2008: 54).

Sekarang jumlah sukutersebut sudah bertambah sampai 19 buah. Jodi perkem-
bangan ini paralel dengan pemekaran nagari-nagari di Sumatera Barat.

matera, ado limo rute yang dapat ditempuh untuk mencapai Negeri Sembi-
Ian: (i)lewat Tumasik (Singapura), (ii)lewat Sungai Linggi, (iii)Sungai Muar
don Jalan Penarikan (iv) Segenting Lengkap dan Sungai Teriang don (v)
Sungai Langat (lihat peta).

Pembukaan pemukiman bow di Negeri Sembilan tidak mesti langsung dari
perantau negeri asal, Minangkabau, tetapi sangat mungkin dibuka oleh
perantau-perantau yang sudah menetap pada pemukiman-pemukiman
pertama. Bagaimanapun NegeriSembilan sudah terbentuk sejak zaman ke-
jayaan Malaka atau sekitar penghujung abad ke-15-16. Pada mulanya ko-
munitas perantau Minangkabau terdiri komunitas-komunitas kecil yang ke-
mudian membentuk penekutuan negeri-negeri yang terdiri dari sembilan

negeri (luak atau luhak don sub-luak - atau distrik) seperti (i)Jelebu, (ii)Inas,

(iii) Johol, (iv) Rembau, (v)Sungai Ujong, (vi)Tampin, [vii) Jempol (viii),Ulu
Muar don (ix) Gunung Pasir. Tentu saja kesembilan negeri ini terbentuk se-
cara bertahap dan dalam perkembangan sejarahnya mengalami peruba-
han dari waktu ke waktu.8 Pada fase menaruka, federasi negeri-negeri yang
sembilan itu merupakan komunitas-komunitas longgar yang belum memiliki
kedaulatan politik terpusat, kecuali berdasarkan ikatan Adat Perpatih yang
dipimpin oleh Undang, yakni para datuk yang mengepalai masing-masing
negeri (luak).

Secara politik kewilayahan, Negeri Sembilan berada di bawah pengaruh
kekuasaan yang bergonta ganti dari waktu ke waktu. Mula-mula Malaka,
kemudian Portugis, lalu Johor sebagai penerus Kerajaan Melayu Malaka
don baru pada masa Kerajaan Johor ini, khususnya penghujung abad ke-18
kedaulatan kerajaan Negeri Sembilan memiliki raja sendiri, yang dikirim dari
Minangkabau. Sampai sekarang. memori kolektif penduduk Negeri Sembi-
Ian masih mengenal ungkapan lokal dari abad ke-17, yang mengatakan,
bahwa Negeri Sembilan,

Berajake Johor
Bertalike Siak
Bertuanke Minangkabau.

Ungkapan itu mengacu pada pengertian historikal, bahwa mereka menga-
kui kedaulatan Johor sebagai 'entitas politik' don bahwa mereka juga
mengakui ado pertalian keluarga dengan Siak karena Siak tadinya juga
merupakan rantau timur Alam Minangkabau yang sudah berlangsung sebe-
lum dibangunnya Candi Muara Takus pada abad ke- 12 (sekarangterma-
suk bagian propinsi Riau).Siak juga merupakan terminal don sekaligus batu
loncatan untuk menyeberang ke Semenanjung. Sementara pengertian

Jumlah luak di Negeri Sembilan ini berubah-ubahdari waktu ke waktu. Jelas bukan sembi-
Ian jumlahnya pada awal pembentukannya. Federeasi negeri-negeri yang sembilan itu
sekarang tinggal enam don sebagiannya (sub-luak)berada di bawah kedaulatan negara
bagaian lain. Misalnya Negeri Naning dimasukkan ke Maloka. Demikian pula Kelang ke ne-
gara bagian Selangor dan Segamat ke negara bagian Johor. Jelai ke negara bagian Pa-
hang. Dari segi ukuran luasnya, Negeri Sembilan sekarang lebih kecil berbanding dengan
NegeriSembilan di masa lalu.

"Bertuan Ke Minangkabau" adalah tempat mengadu pada tempat/ orang
yang patut dijadikan "Yamtuan" atau Yang Dipertuan, lambang "keadilan"
di Negeri Sembilan, tidak lain ialah kembali ke tanah asal, Minangkabau
(NorhalimIbrahim, 2007: 13).

Gelombang Berikutnya: Daulat Raja.

Sampai pertengahan abad ke-18, Negeri Sembilan, hanyalah berupa distrik

(luak) yang terdiri dari kampung-kampung (negeri) yang diperintahi oleh

Undang (para datuk-datuk) yang menerima pengakuan dari yang
dipertuan, Sultan Johor (Naim 1984: 70; Nonalim, 1984). Namun karena
pengaruh perantau dari Minangkabau yang terus mengalir don. menjadi
mayoritas di sana, maka keinginan untuk menggantikan undang-undang
Johor dengan hukum adat Minangkabau menjadi masuk akal. Lagi pula,
Johor waktu itu makin lemah. Dengan terbunuhnya Raja Johor Sultan
Mahmud II pada tahun 1699 terjadi ketidakstabilan politik di Dunia Melayu
yang berlanjut dengan masa ketidakpstian yang panjang sampai tahun
1725. Panggung sejarah lalu dikuasai oleh kekuatan luar: Aceh, Bugis, dan
Minangkabau yang berbasis di Siak. Peseteruan antara kekuatan ini mem-
buat kedaulatan Johor semakin merosot. Pengganti Mahmud II ialah Datuk
Bendahara yang lemah, sehingga kemudian diusir don digantikan oleh Raja
Kecil; seorang perantau petualang asal Minangkabau yang dibesarkan di
istana Pagaruyung, kemudian mendirikan Kerajaan Siak. la menyatakan dir-
inya sebagai putra Sultan Mahmud II, yang lahir setelah beliau terbunuh.
Karena itu, atas bantuan orang Bugis yang "berkhianat", Raja Kecil dapat
menduduki takhta Johor?

Dalam pada itu, keturunan Datuk Bendahara tidak puas dengan kenyataan
ini. Maka dengan bantuan orang Bugis di bawah pimpinan Daeng Kam-
boja, putera-putera Datuk Bendahara akhirnya berhasil mengusir Raja Kecil.
Namun dalam prakteknya waktu itu orang Bugislah yang berkuasa. Musuh
utamanya adalah kelompok Minangkabau. Negeri Sembilan kemudian
jatuh ke tangan orang Bugis yang memaksa rakyatnya tunduk kepada
penguasa Bugis itu. Namun datuk-datuk Negeri Sembilan, bagaimanapun,
menolak untuk berlutut kepada Johor yang berada di bawah bayang-
bayang orang Bugis itu. Karena alasan itu diam-diam mereka memohon
kepada Sultan Johor (Sultan Abdul Jalil IV) untuk mengizinkan mengangkat
putera mahkota sendiri untuk memerintah Negeri Sembilan don mengusir
orang Bugis keluar. Sultan rupanya tidak dapat memberi mereka seorang
putra mahkota dan untuk sekian lama Negeri Sembilan terkatung-katung
sampai beberapa puluh tahun sebelum benar-benar diizinkan Johor untuk
mendatangkan seorang putra mahkota don' tanah leluhur mereka,
Minangkabau. Sampai di sini ceritanya, menurut Wilkinson (1934).keadaan
pemerintahan di Negeri Sembilan tidak banyak diketahui.

Sekarang menjadi nama kabupaten

Pertanyaannya ialah apakah benar bahwa raja pertama yang dikirim dari
Minangkabau adalah Raja Malewar, seperti yang umum dipercayai,
ataukah ado sejumlah raja Minangkabau sebelum Malewar. Sebab, kata
Wilkinson, terdapat selang waktu yang cukup panjang (sekitar 56 tahun)
antara waktu persetujuan oleh Sultan Abdul Jalil IV (sekitar 1717) don
kedatangan Raja Malewar yang menduduki menduduki takhta sejaktahun
1773? Walaupun demikian, teka-teki ini tampaknya terpecahkan oleh
laporan Sungai Ujung, yang menyebutkan bahwa ado tiga orang Raja
yang diberangkatkandari Minangkabausebelum Raja Malewar, yaitu: Raja
Kasah, Raja Adil don Raja Khatib (dikutip dari Naim 1984: 70). Dikatakan,
bahwa ketiga raja itu ternyata tidak mampu menegakkan wibawanya don
hukum adat Minangkabau sebagaimana diinginkan rakyat Negeri Sembi-

Ian. Barulah pada masa Raja Mahmud atau Raja Malewar - atau Raja

Malewa (De Jong 1980: 10)yang berkuasa antara tahdn 1773- 1795 Negeri
Sembilan berhasil menerapkan secara resmi hukum adat perpatih a la
Minangkabau don sekaligus mengusir orang Bugis dad sana.

Duo orang raja Pagaruyung lainnya yang dijemput ke Minangkabau
sesudah Raja Malewar ialah Raja Hitam (1795-1808) don Raja Malenggang
Alam atau Raja Lenggang (1808-1824). Raja Lenggang menyeberang ke
Negeri Sembilan beberapa tahun sebelum terjadinya pembantaian terha-
dap keluarga raja Pagarruyungoleh kaum Paderi pada tahun 1815. Setelah
ia mangkat tahun 1824, tidak ado lagi pengiriman rajadari Minangkabau.
Hal jelas erat kaitannya krisis di kerjaan versus Gerakan Paderi, yang disusul
dengan intervensi kolonial Belanda terhadap Minangkabau. Sejak itu tidak
ado lagi pengiriman raja Minangkabauke NegeriSembilan. Raja Lenggang
digantikan oleh putranya, Raja Radin. Beliaulah raja Negeri Sembilan yang
pertama, yang lahir don diangkat menjadi Yang Dipertuan Besar Negeri
Sembilan, yang bertakhta di istana Seri Menanti Sampai sekarang terdapat
sebelas orang raja Negeri Sembilan yang menjalankan pemerintahan
secara turun-temurun. Mereka adalah sebagai berikut,

1. Raja Melewar -Yam Tuan NegeriSembilan 1 (1773-1795)-dikirim dari

MK.

2. Raja Hitam-Yam Tuan NegeriSembilan 11 (1 795-1808) -dikirim dari

MK.

3. Raja Lenggang -Yam Tuan NegeriSembilan 111 ( 1808-1824) --dikirim

dari MK.

4. Yam Tuan Raden -Yam Tuan Negeri Sembilan IV (1 824-1861).

5. Yam Tuan Imam -Yam Tuan Negeri Sembilan V (1861-1869).

6. Tengku Ampuan lntan (Janda Raja Raden)-sbg Pemangku Pejabat

( 1869-1872)
7. Tengku Antah ibni Yam Tuan NegeriSembilanISri Menanti VI (1872-

1888).
8. Tuanku MuhammadShah ibni Almarhum Tuanku Antah, Yang Di Pertuan

Besar VII Sri MenantiINegeriSembilan (1888-1933)

9. Tuanku Abdul Rahman ibni Almarhum Tuanku Muhammad - Yang Di

Pertuan Besar Negeri Sembilan Vlll (1888-1933) dengan gelar Yang di-
Pertuan Agong I

10. Tuanku Munawir ibni Almarhum Tuanku Abdul Rahman-Yang di Per-

tuan Besar NegeriSembilan IX 11933-1960)

11. Tuanku Ja'afar ibni Almarhum Tuanku Abdul Rahman- Yang di Per-

tuan Besar Negeri Sembilan X (1960-2008).

12. Tuanku Muhriz ibni Almarhum Tuanku Munawir -Yang di Pertuan Besar
NegeriSembilan XI (2008- sekarang).

Sebagai sebuah kerajaan yang otonom Negeri Sembilan memiliki raja don
sistem pemerintahannya sendiri. Namun dalam perjalanan sejarahnya
mereka tidak selalu aman dari intervensi pengaruh kekuasaan luar. Mula-
mula di bawah Kerajaan Melayu Malaka, Malaka Portugis don kemudian
Johor sebagai penerus kerajaan Melayu Malaka. Pada tahun 1760 Johor
mulai mendapat tekanan dari Belanda yang telah berkuasa di Malaka sejak

.1641 Pada abad ke-19, khususnya sejak 1873, Inggrismulai berkuasa di Selat

Malaka don Negeri Sembilan kemudian digabungkan di bawah Federasi
Negeri Malaya ciptaan Inggris, dengan seorang Residen lnggris sebagai
kepala pemerintahannya.Selama Perang Dunia 11 (1941-1945) NegeriSembi-
Ian teneret dengan suasana perang yang diletuskan Jepang. Paska PD II
( 1948) terbentuk PersekutuanTanah Melayu (FederasiMalaya) ciptaan Ing-
gris terdiri dari Malaysia, Singapura don Serawak. Tahun 1965 federasi ini
bubar don sejak itu masing-masing memerdekakan diri dari Inggris. Negeri
Sembilan menjadi salah satu dari negara bagian Malaysia.

Negeri Sembilan Dewasa ini.

Negeri Sembilan dewasa ini merupakan salah satu di antara tiga belas ne-
gara bagian (provinsi) di Malaysia. Jumlah negeri yang bergabung dengan
Negeri Sembilan saat ini tidak lagi berjumlah sembilan, melainkan tinggal
enam, karena sebagian sudah bergabung ke negara bagian yang lain,
meskipun mereka tetap memegang adat Perpatih. Luas Negeri Sembilan
sekarang jauh menyusut dari,.semulajadi; hanya sekitar 2.580 mil penegi
(6,645 km2)atau sekitar 1/28 (3%)dari luas Sumatera Barat dewasa ini, yang
mencapai 186.500 km persegi. Penduduknya berjumlah sekitar satu juta jiwa
lebih sedikit, atau seperempat penduduk Sumatera Barat, yang berjumlah
4.5 juta jiwa (2005). Jumlah ini tentu tidak termasuk perantau Minang yang
menetap di luar daerah mereka. Seperti halnya dengan nagara bagian
lainnya di Malaysia, pemerintahan resmi Negeri Sembilan berada di bawah
seorang MENTERI BESAR, yang bertanggung jawab kepada pemerintah
pusat (PerdanaMenteri) di Kuala Lumpur, tepatnya di Petrajaya.

Di samping itu, Negeri Sembilan, seperti halnya dengan negara-nagara
bagian lainnya, memiliki seorang raja dengan gelar "Duli Yang Maha Mulia
Yang Dipertuan Besar" Negeri Sembilan". Jabatan raja diwariskan secara tu-
run termurun. Saat ini dipegang oleh Duli Yang Maha Mulia Tuanku Muhriz
ibni Almarhum Tuanku Munawir (lahir 14 Januari 1948). Beliau adalah Raja
Negeri Sembilan yang ke-11, menggantikan ayahnya, Tuanku Munawir ibni
Tuanku Abdul Rahman.

' Kedudukanraja di sini lebih bersifat simbolis, dan kewenangannya pun terba-
tas pada urusan adat-istiadat dan agama Islam saja. Meskipun demikian,
dalam kasus-kasus tertentu, peran don wibawa raja sebagai 'orang besar' di
daerahnya tetap diperhitungkan. Terutama karena kedudukannya sebagai
Ketua "Dewan Keadilan dan Undang", sebuah badan yang mengurus ma-
salah-masalah adat don agama yang sudah terbentuk jauh sebelum berdir-
inya Malaysia. Dalam Dewan itu, raja dibantu oleh empat orang Datuk Un-
dang sebagai anggotanya, antara lain Tengku Besar Tampin, Datuk Sha-
hbandar Sunga Ujung, Tengku Besar Seri Menanti.lo Sejak dulu sampai
sekarang, "Dewan Keadilan don Undang", merupakan lembaga adat dan
agama yang terpelihara dari masa ke masa.

Meskipun Negeri Sembilan saat ini sudah menjadi bagian dari sejarah masa
kini, hubungan-hubungan kesejarahan dan kebudayaannya dengan negeri
asal masih tetap terpelihara. Negeri Sembilan, seperti halnya dengan negeri
induknya, Minangkabau, menganut sitem matrilineal (nasab ibu). Sampai
saat ini Negeri Sembilan memakai adat Perpatih yang sudah disesuaikan
dengan kondisi setampat. Kebanyak generasi baru masa kini tidak lagi men-
genal asal usul mereka don juga kurang mempedulikannya. Namun be-
berapa kaum intelektual don petinggi Malaysia asal Negeri Sembilan masih
amat mahum dengan sejarah asal usul nenek moyang mereka don perbe-
daan yang terdapat antara negeri induk dan rantau. Bagi mereka dan juga
bagi Minangkabau di Sumatera Barat, hubungan kesejarahan dan kebu-
dayaan antara keduanya harus dipelihara don dipupuk terus menerus, se-
hingga memberi makna atas keduanya. Salah satu instrumen peneguhan
hubungan ini antara lain dengan pemberian gelas "sang sako" oleh ahli
waris Kerajaan Paaghruyung kepada Raja Negeri Sembilan, dalam ha1 ini,
Tuanku Ja'far pada 22 Agustus 1985. Selain itu banyak bentuk kerja sama
yang dirintis antara keduanya, baik di bidang ekonomi, maupun pendidikan.
Di masa datang hubungan kedua negeri serumpun ini bisa menjadi modal
sosial yang penting dalam menjalin

Penutup.

Risalahsederhana ini telah berupaya melacak cikal-bakal perantauan orang
Minangkabau yang mula-mula ke Negeri Sembilan dan gelombang peran-
tauan pada periode-periode berikutnya, sehingga terciptanya hubungan
spesifik antara Minangkabau dengan Negeri Sembilan sampai dewasa ini.
Tidak begitu meragukan lagi, bahwa hubungan kedua negeri serumpun itu
tidak dimulai dari istana, melainkan lewat anak-nagari di LimapuluhKota dan
Tanah Datar. Ini mirip dengan proses lslamisasi di Minangabau itu sendiri
yang dimulai dari bawah, kemudian dipatrikan(di1egitmasikan)lewat struktur
resmi kerajaan, Proses ini berlangsung selama kurang lebih duo abad sebe-
Ium Minangkabaumengirim pangeran kerajaan untuk menjadi raja di Negeri
Sembilan pada pengujung abad ke-18.

'0 Diskusi tentang kedudukan Dewan ini lihat Abdul Samad bin ldris (1970: 13; M.D.

Mansoer, 1974: 46ff).

Oleh karena hubungan keperantauan ini tidak mengandung moti-motif
politik kekuasaan, melainkan hanya peneguhan hubungan sosio-kultural
.antara negeri-induk dan rantau, maka tidak perlu ada ketegangan-
ketagang politik antara keduanya. Ini sangat beda polanya dengan
ekspansi teritorial Jawa ke luar Jawa atau orang Bugis ke Dunia Melayu. Di
sini orang Minangkabau mampu memerankan dirinya sebagai bagian dari
sitem tempatan dan pada saat yang sama memiliki akar ke negeri asalnya.
Akr inilah yang perlu disiram dan dipupuk sehingga makin subur dan mem-

beri buah yang ber,manfaat bagi ekdua negeri di masa datang. ***

KEPUSTAKAAN

Abdul Samad bin Idris, Hubongan Minangakbau dengan Negerri Sembilan
dunsegiSejarah dun Kebudayaan. Seremban: PustakalAsasNegeri, 1970.
Bernard, Timothy P. Raja Kecil dun Mitos Pengabsahannya. Pekan Baru: Sen'
Marpoyan2, Pusat PengajianMelayu, Universitas Riau, 1994.
De Josselink de Jong, P.E. Minangkabau and Negeri Sembilan. S-
Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1980 [I9521.
Dobbin, Chnitine, Economic Change in Minangkabauas a Factor in the Rise of
teh PadriMovement, 1784-1830" dalam Indonesia No. 23 (Oct.1977): 1-38.
Fachrul Rasyid, HF, Refleksi Sejarah Minangkabau dun' Pagaruyung sampai
Semenanjung. Padang: Museum Adityawarman, 2008.
Grave, Elizabeth E. Asal Usul Eilit Minangkabau Modern. Respons terhadap
Kolonial Belanda Abad ke-19-20. Terjemahan. Jakarta: Yayasan Obor, 2007.
"History behind Negri's unique selection of Ruler, The New Straits Times, De-
cember 29,2008.
Mansor, M.D. "Minangkabau dan Negeri Sembilan. Pertalian Sejarah",
dalam Majalah Kebudayaan Minangkabau, No. 3-4 (Th10 ( 1974).
Norhalim Hj Ibrahim, "Sejararh Kewujudan Adat Perpatih", dalam Adat Per-
patih. Esei Pilihan. Kuala Lumpur: Jabatan Warisan Negara, Kementerian
Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, 2007.
Mochtar Naim. Merantau. Polo Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta:
~adjamhmadaUniversity Press, 1984.
Reid, Sejarah Modrn Awal Asia Tenggara. Terjemaha. Jakarta: LP3ES, 2004.
Wilkinson, R.J. "Negeri Sembilan: The History, Polity and Beliefs of Nine States",
JMBRAS, 12,3 ( 1934).

BIODATA SINGKAT

Mestika Zed, lahir di Batuhampar, Payakumbuh, 19 ~eptember1955, adalah dosen Jurusan
Sejarah, FIS, Universitas Negeri Padang (UNP) sejak 1982 dan pernah Ketua Jurusan Sejarah Univ.
Andalas. Padang (1992-1995). Menyelesaikan kuliah S1 (Drs.) pada Jurusan Sejarah Univ.
Gadjahmada (1980),kemudian melanjutkan kuliah Post-Garuduate Programme (M.A.) di bidang

Sejarah pada Vriie Univeniteit, Amsterdam (1981-1983) dan program penyetaraan 52 (M.A.)

-Pascasarjana Univ. Indonesia, Jakarta (1983-1984). Meraih gelar Doktor di bidang Sejarah -

dengan spesialisasi sejarah sosial don ekonomi pada Jurusan Niet-Westerse Geschiedenis
(Juwsan Sejarah Non-Barat), Faculteit der Sociaalculturele Wetenschappen (Fakultas llmu-llmu
, Sosial dan Budaya),Vrije Univeniteit, Amsterdam (1991).

I Pernah mengikuti seminar di dalam dan di luar negeri (Belanda, Inggris, Swedia, Amerika Serikat),
menjadi Dewan Redaksi Jambatan, Tijdschrift voor de Geschiedenis van lndonesie (Amsterdam,
1987-1991); Ketua Dewan Redaksi Journal Forum Pendidikon IKlP Padang (1993-1995). Sekarang

1 -Ketua Redaksi Tingkap, Jurnal Ilrnu-llrnu Sosial, FIS, Univ. Negeri Padang (1996 s.d. sekarang).

Visiting Scholar, Fulbnght pada Southeast Asia Program, Cornell University, Ithaca, NY, USA (1996).
Beberapa tulisannya antara lain diterbitkan dalam Journal Sejarah (Jakarta, 1986), Journal of
Asian and African Studies, (Tokyo, 1989). Prismo (Jakarta, 1995). Jurnal Budoya Genta Budaya,
(Padang, 1996). dan menjadi Editor dan Penulis buku Perubahan Sosial di Minangkabau (1994).
Salah satu tulisannya "Dualistic Economy of Palembang in the Late Colonial Period" .diterbitkan
I dalam T. Lindblad (ed.). HistoricalFoundationof A National Economy in Indonesia ( 1 996). Bukunya
Somewhere in the Jungle. Sejaroh PDRI. Sebuah Matarantai Sejarah yong Terlupakan (Grafiti,
1997) mendapat penghargaan dari Buku Utama, Jakarta (1999). Publikasi terakhir ialah Co-
Authon buku Sumatera Borat di PonggungSejarah Indonesia Merdeka, 1945-1995 (1998).Pendiri
dan sekaligus mantan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI),Cabang Sumatera Barat un-
tuk dua periode (1993-2000),juga aktif sebagai penggiat LSM; sejak 1996 sampai sekarang men-
jabat sebagai Ketua Pusat Kajian Sosial-Budaya dan Ekonomi (PKSBE), Fakultas Ilmu-llmu Sosial

(FIS),UnivenitasNegeriPadang. '"

Peta I: Minangkabau dan Negeri Sembilan

i

--.-I
Minangka- I -\..

bau

P e t a II: Sumatera Barat d a n d o n NegeriSembilan

Daerah PengamalAdat Perpatihdi NegeriSembilan

IU

Peta Ill: Gerak Rantau daru Luhak ke berbagai daerah

'rrc . .
,i..-. K . ~ . t. .~ ~ ..~ d... i t. . ~. tr.u. k&~ d a t . Persamaan

..

Hierarki PemimpinAdat Perpatih

Sumber: Khalid Bonget (2007:1450.

MASYARAKAT SEJARAWAN INDONESIA

Jakarta; 30 Juni,2. 010

No : Ol/PPMSI/VI/lO
Lamp : 1 (satu) berkas
Perihal : Permohonan Sebag2i Pembicara
pada Kegiatan Semipar Kesejarahar. Indonesia-Malaysia

Kepada Yth.
Bapakmu Pembicara Seminar Indonesia-Malaysia
Di Tempat
(Nama dan bahasan terlampir)

Dengan hormat, . .. . .

.. ...

Pasang surut hubungan Indonesia - Malaysia dari waktu kewaktu secara alami berjalan dzngan

penuh emosional seperti layaknya kehidupan bertetanggi Ketegangan yang dipicu oleh

pengakuan beberapa warisan bvdaya antar kedua bangsa telall mewarnai dinamika hubui~gan

itu. Salah satu penyebabnya adalah karena putusnya benang ~nerahpengecahuan keseJarahan

generasi muda kedua bangsa. Oleh sebab itu dirasa perlu memberikan pemahaman kesejarahan

mengenai hubungan kedua bangsa yang sesungguhnya sudah b~.rlangsungsejak lsma. Untuk itu

Masyarakat Sejarawan lndonesia (MSI) bersama-sama dengsn Persatuan Sejarah ldsrlaysia

(PSM) akar! m e ~ g s d a k a ~<;la!;g kesejzrabran yang kciiza di J o l i ~ rBarn, hlala:aysia, pada a w a l

Oktober 2010.

r., , -

Sehubungan dengan itu, kami menghanp kesediaan Saudara seoagai pernbicara dzilam
kegiatan tersebut. Karena makalah Saudara aKan digandalian vleh PSM Malaysia, mohon
kiranya makalah dapat kami ~GI-impaa l i ~ glambat tanggal 35 September 2010 melalui en~ail:
restu_gunawan@yahoo. corm.

I Atas perhatian Saudara, kami ucapkan t x i m a kasih.

!.

Ketua U.nun?

Dr. Mukhlis PaEni

Daftar Pembicara Seminar Indonesia Malaysia

7. Prof Dr. Darwis Sulaiman Dinamika Hubungan Aceh - SemenanjungDalam

Lintasan Sejarah

8. Dr. Ninuk Kleden Karakteristik Melayu Betawi

9. Dr. Inyo Fernandes Lamaholot, Komunitas Melayu di Nusa Tenggara

Timur

10. Prof Dr. Syarif Ibrahim Keunikan Melayu Kalimantan

Alqaderi

11. Prof. Dr. I Gede Parimarthe Karakteristik Komunitas Melayu Negare di Bali

12. Dr. PudentiaMPSS Mak Nyong Seni Tradisi Melayu Lintas Negara

13. Dr. Restu Gunawan i Kampung Melayu di Jakarta: Segregasi,

Landscape dan Perebutan Ruang Kota

14. Prof. Suwardi, MS Hubungan Kesejarahan dan Kebudayaan Melayu

Riau dan Malaysia

15. Prof Munandjar Widiyatmika Sinan Mutin Malaka Pendiri Kerajaan Wesei

Wehali di Belu Selatan, Timor

198 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/
kembara/index
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Oktober 2015,
Volume 1, Nomor 2, hlm 198-204
PISSN 2442-7632 EISSN 2442-9287

KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI LISAN
KEPERCAYAAN RAKYAT UNGKAPAN LARANGAN
TENTANG KEHAMILAN, MASA BAYI, DAN KANAK-KANAK

MASYARAKAT MINANGKABAU
WILAYAH ADAT LUHAK NAN TIGO

Hasanuddin WS

Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Padang
[email protected]

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal dalam tradisi lisan kepercayaan rakyat
ungkapan larangan masa kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak masyarakat Minangkabau wilayah adat Luhak
Nan Tigo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif.
Sumber data adalah masyarakat Miangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo. Data dalam penelitian ini berupa
kata, kalimat, dan tradisi lisan masyarakat Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo. Hasil penelitian ini
berupa (1) nilai tradisi Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo yang memiliki pengetahuan tentang alam
yang nyata (natural) dan alam taknyata (supranatural) dan hubungan sebab-akibat, (2) nilai tradisi Minangkabau
wilayah adat Luhak Nan Tigo dalam hal mendidik dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi
penerusnya dilakukan sejak masih di dalam kandungan dengan mengutamakan pendekatan contoh atau
ketauladanan, dan (3) nilai tradisi Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo yang menjadikan keluarga
sebagai basis pendidikan.

Kata kunci: kearifan lokal, kepercayaan rakyat, masyarakat Minangkabau, Luhak Nan Tigo

Abstract: This study aimed to describe the local wisdom in the oral tradition of folk beliefs in forbidden
expressions of pregnancy, infancy, and childhood of Minangkabau indigenous territories Luhak Nan Tigo.
This qualitative study used descriptive analysis method. The data were in the form of words, sentences, and
oral traditions of Miangkabau indigenous communities. The data source was the Miangkabau indigenous
living in Luhak Nan Tigo territory. The results of this study were: (1) the value of indigenous Minangkabau
tradition of Luhak Nan Tigo territory who have both natural and supernatural knowledge and their causal
relationships, (2) the value of indigenous Minangkabau tradition of Luhak Nan Tigo territory in educating and
inculcating the values ??of life to future generations from womb by prioritizing modeling approach, and
(3) the value of indigenous Minangkabau tradition Luhak Nan Tigo territory which makes family as a basis
of education.

Keywords: local wisdom, people belief, Minangkabau community, Luhak Nan Tigo

PENDAHULUAN bersifat moral-spiritual. Dari warisan kebudayaan
yang bersifat moral-spiritual didapatkan informasi
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berharga tentang konsep dan pola pemikiran, pola
memiliki kebudayaan tinggi. Kenyataan ini tidak tingkah laku, adat-istiadat, sistem peribadatan dan
dapat dipungkiri karena adanya bukti-bukti berupa kepercayaan, pendidikan dan tradisi budaya, serta
peninggalan-peninggalan lama yang sangat berharga hal-hal lainnya dari kehidupan nenek moyang bangsa
yang masih dapat ditemukan. Peninggalan- Indonesia (Danandjaja, 1984: 45).
peninggalan yang membuktikan tingkat peradaban
bangsa Indonesia itu tidak hanya berwujud material, Di dalam upaya mencapai tujuan pembangunan
seperti bangunan-bangunan candi, prasasti-prasasti, nasional, usaha-usaha untuk menggali, mengenali,
ornamen-ornamen pada rumah adat atau lumbung mendokumentasikan, serta melestarikan warisan
padi, alat-alat perlengkapan kehidupan sehari-hari, positif dari kebudayaan nenek moyang bangsa
melainkan juga berupa peninggalan-peninggalan yang Indonesia perlu dilakukan. Hal ini dapat memperkaya

198

KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Volume 1, Nomor 2, Oktober 2015, hlm 198-204

199

dan mempertebal rasa kebanggaan generasi penerus nilai-nilai tradisi yang dapat ditemukan pada tradisi
terhadap warisan berharga bangsa sendiri (Teeuw, lisan kepercayaan rakyat masyarakat Minangkabau
1984: 65). Di samping itu, pengenalan yang baik berupa ungkapan pantang dan larang (Udin, 1993:
terhadap warisan kebudayaan oleh generasi penerus 78).
dapat memperteguh tradisi bangsa dalam menjawab
tantangan masa depan yang semakin berat dalam Di dalam kondisi yang benar dan konstruktif,
era globalisasi ini. nilai-nilai tradisi dapat membantu dinamika kehidupan
masyarakat tempat nilai-nilai mendasar itu hidup
Warisan kebudayaan yang berupa warisan dan berkembang; menumbuhkan dan
moral-spiritual, satu di antaranya didapatkan dan mengembangkan integritas masyarakat, menciptakan
diketahui melalui tradisi keyakinan atau kepercayaan solidaritas sosial, menumbuhkan kebanggaan akan
suatu masyarakat. Menurut Navis (1984: 4), nilai- identitas kelompok, dan berguna pula untuk
nilai budaya tradisi sebagai suatu tipe pengucapan mengukuhkan keharmonisan komunal. Oleh sebab
merupakan suatu sistem dalam berkomunikasi. itu, pada hakikatnya setiap masyarakat, baik
Kehidupan manusia, dan dengan sendirinya hubungan masyarakat tradisional maupun masyarakat modern
antarmanusia, dikuasai atas keyakinan-keyakinan memerlukan nilai-nilai kehidupan yang didasari atas
atau kepercayaan-kepercayaan. Jika tumbuh dan keyakinan atau kepercayaan atas hal-hal tertentu
berkembang, keyakinan atau kepercayaan diterima untuk menjalani perikehidupan bersama yang
sebagai kebenaran. Keyakinan masyarakat akan harmonis.
sesuatu hal mungkin saja melewati batas logika
umum, tetapi keyakinan yang semacam itu menurut Orang Minangkabau menyebut negerinya
Barthes (2003: 124) tidak dapat dipersalahkan. Hal dengan Alam Minangkabau dan kebudayaannya
yang harus diperhatikan dari keyakinan masyarakat dengan Adat Minangkabau. Penyebutan alam itu
bukanlah persoalan benar atau tidak benar, melainkan mengandung makna bahwa alam adalah segala-
sejauh mana hal tersebut berfungsi di dalam galanya bagi masyarakat Minangkabau. Alam bukan
memenuhi fungsi-fungsi sosial kehidupan masyarakat saja tempat tinggal (hidup, berkembang, dan mati),
tersebut. Oleh sebab itu, pada kondisi di mana melainkan juga dasar filsafat kehidupan. Masyarakat
masyarakat mempercayai suatu nilai-nilai tradisi menyebutkan fungsi alam dengan alam takambang
sebagai suatu kebenaran dan hal yang diyakini itu jadi guru (alam yang terbentang dijadikan guru)
memungkinkan munculnya solidaritas komunal, maka (lihat juga Navis, 1984: 28).
keyakinan semacam itu dapat berfungsi sebagai
dalil sebagaimana ilmu pengetahuan, aturan yang Dari sifat dan bentuk alam itu, dua tokoh adat
diwariskan, dan diamalkan pergenerasi, merupakan Minangkabau, Datuak Parpatih Nan Sabatang dan
suatu bentuk ingatan dan kenangan, ide, ataupun Datuak Katumanggungan merumuskan pola hidup
keputusan yang diyakini. masyarakat. Alam Minangkabau dipilah menjadi dua
wilayah, yaitu (1) wilayah darek (darat; pegunungan)
Masyarakat Minangkabau merupakan salah satu sebagai wilayah utama pendukung adat Minangkabau
etnik yang kukuh dan eksis di Nusantara. Identitas yang terdiri atas Luhak Agam, Luhak Tanah Datar,
etnisitas Minangkabau telah ikut memberikan dan Luhak Limo Puluah Koto; wilayah darek ini
sumbangan kepada bentuk kebudayaan nasional, dianggap sebagai wilayah awal dan asal tempat
antara lain melalui bahasa, kesenian, dan berbagai masyarakat Minangkabau bermula; dan (2) wilayah
aspek tradisi lainnya. Masyarakat yang kukuh dan rantau (pesisir; pendukung), yaitu wilayah di luar
dapat memberikan sumbangan kebudayaannya luhak yang tiga tadi. Wilayah darek sebagai wilayah
adalah masyarakat yang kuat, kompak, dan bangga utama dan relatif di pedalaman menjadi basis penjaga
pada identitasnya. Masyarakat semacam ini tumbuh adat Minangkabau. Wilayah rantau adalah wilayah
karena memiliki “perekat.” Perekat itu tentulah yang berbatasan dan beririsan dengan kebudayaan
berupa nilai-nilai mendasar yang dapat masyarakat lain yang tentu saja persoalan pengaruh
mengintegrasikan masyarakat Minangkabau pada dan perbauran merupakan bagian yang tidak
suatu kesatuan pola hidup (pandangan dan nilai-nilai terhindarkan (lihat juga Navis, 1984: 42).
kehidupan, dan falsafah hidup sebagai suatu kearifan
lokal di dalam menyelesaikan berbagai persoalan Artikel ini berisi pengkajian persoalan tradisi
kehidupan). Satu di antara perekat yang lisan kepercayaan rakyat ungkapan larangan fase
dipergunakan itu dapat dikatakan bersumber dari awal dari sekitar kehidupan manusia, yaitu fase
kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak masyarakat
Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo dalam

Hasanuddin WS, Karifan Lokal dalam Tradisi Lisan K1ep9er9cayaan Rakyat Ungkapan Larangan Tentang Kehamilan, Masa Bayi,
dan Kanak-Kanak Masyarakat Minangkabau Wilayah Adat Luhak Nan Tigo

200

kerangka penelitian sastra lisan dan folklor. tentang tradisi lisan kepercayaan rakyat ungkapan
Kepercayaan rakyat ungkapan larangan tentang larangan masyarakat Minangkabau wilayah adat
kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak secara Luhak Nan Tigo direkam dengan menggunakan alat
teoretis merupakan salah satu subkategori dari perekam. Hasil rekaman tuturan lisan kepercayaan
kategori kepercayaan rakyat sekitar kehidupan rakyat ungkapan larangan masyarakat Minangkabau
manusia. Subkategori lainnya adalah subkategori wilayah adat Luhak Nan Tigo ditranskripsi ke
tentang manusia dan obat-obatan rakyat; rumah dan dalam bentuk tulisan. Selanjutnya hasil transkripsi
pekerjaan rumah tangga; mata pencaharian dan (alih aksara) akan ditransliterasi (alih bahasa) dari
hubungan sosial; perjalanan dan perhubungan; bahasa daerah Minangkabau ke dalam bahasa
percintaan, pertunangan, dan perkawinan; dan Indonesia. Tahap kedua, pengumpulan data tentang
subkategori kematian dan adat pemakaman. Melalui lingkungan penuturan/penceritaan (pandangan dan
pembahasan hasil penelitian ini, khususnya falsafah hidup, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat
pembahasan tentang nilai-nilai kearifan lokal yang penutur yang berhubungan dengan kepercayaan
terkandung di dalam kepercayaan rakyat ungkapan rakyat ungkapan larangan kehamilan, masa bayi,
larangan ini akan dapat diketahui sejumlah rumusan dan kanak-kanak). Data tentang lingkungan
tentang perilaku sosial masyarakat Minangkabau. penuturan/penceritaan ini dikumpulkan melalui teknik
Rumusan tersebut dapat dipandang sebagai nilai- pencatatan, pengamatan, dan wawancara.
nilai dasar yang telah “merekat” masyarakat etnik
Minangkabau menjadi etnik yang kukuh dan eksis di HASIL DAN PEMBAHASAN
Nusantara.
Data Kepercayaan rakyat ungkapan larangan
METODE masyarakat Minangkabau yang dapat diinventarisasi
dan dikelompokkan sebagai data kepercayaan rakyat
Penelitian ini menggunakan pendekatan ungkapan larangan subkategori kehamilan, masa
kualitatif, pengolahan data mengutamakan bayi, dan kanak-kanak sebagian besar dituturkan
penghayatan peneliti terhadap interaksi antar konsep oleh penutur yang berada di tiga wilayah adat. Data
yang sedang dikaji secara empiris. Suatu penelitian ungkapan larangan Indak buliah urang
yang dilakukan dengan maksud memahami fenomena manganduang malilikan salendang ka lihie, beko
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian talilik anak dek tali pusek (Tidak boleh orang
misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan secara yang sedang hamil melilitkan selendang di leher,
holistik dengan suatu konteks khusus yang alamiah, nanti bayi yang dikandung terbelit oleh tali pusar
dan dengan memanfaatkan metode ilmiah. (plasenta)) misalnya, dituturkan oleh semua penutur/
informan di semua wilayah adat (Luhak Limo Puluah
Penelitian ini adalah penelitian yang Koto, Luhak Agam, dan Luhak Tanah Datar). Data
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis lainnya, yaitu Indak buliah urang manganduang
atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat baparangai buruak, beko pindah parangai tu
diamati, bergantung dari pengamatan pada manusia, ka anak (Tidak boleh orang yang sedang hamil
baik dalam kawasannya maupun dalam berperilaku buruk, nanti pindah perilaku buruk itu
peristilahannya. Penelitian ini mengutamakan latar kepada anak) adalah data yang juga dituturkan oleh
alamiah dan dilakukan untuk menyajikan dunia semua penutur/informan di semua wilayah adat
sosial, dan perspektifnya di dalam dunia dari segi (Luhak Limo Puluah Koto, Luhak Agam, dan Luhak
konsep, perilaku, persepsi, dan persoalan tentang Tanah Datar). Belum dapat dipastikan apakah
manusia yang diteliti. kesamaan data di ketiga wilayah adat ini disebabkan
oleh proses monogenesis atau poligenesis. Diperlukan
Data Penelitian ini adalah data tradisi lisan penelitian pendalaman lebih jauh untuk mengetahui
kepercayaan rakyat ungkapan larangan masyarakat hal tersebut mengingat tingginya tingkat mobilitas
Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo kategori masyarakat yang berada di tiga wilayah adat tersebut
sekitar kehidupan manusia, subkategori masa untuk pergi dan datang melintasi wilayah geografis
kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak. adat luhak yang satu dengan lain.
Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap. Tahap
pertama, tahap perekaman tradisi lisan kepercayaan Data kepercayaan rakyat ungkapan larangan
rakyat ungkapan larangan masyarakat Minangkabau tentang kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak
wilayah adat Luhak Nan Tigo. Tuturan informan

KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Volume 1, Nomor 2, Oktober 2015, hlm 198-204

201

masyarakat Minangkabau di wilayah adat Luhak rambut bayi yang sedang basah, nanti buruk/
Nan Tigo dapat diidentifikasi dan dikelompokkan berpenyakit kulit anak).
sebagaimana pengelompokan menurut teori foklor
tentang kategori kepercayaan rakyat. Pengelompokan Hasil inventarisasi dan identifikasi data tentang
data tersebut adalah sebagai berikut ini. lingkungan penuturan memperlihatkan masyarakat
Minangkabau di wilayah adat Luhak Nan Tigo
Kepercayaan Rakyat Ungkapan Larangan Masa sebagian besar mempercayai dan melaksanakan
Kehamilan/Kelahiran keyakinannya atas ungkapan larangan kehamilan,
masa bayi, dan kanak-kanak yang terdapat di wilayah
Bentuk kepercayaan rakyat ungkapan larangan tempat tinggal mereka. Perempuan hamil dan ibu
masa kehamilan/kelahiran antara lain (1) Urang yang memiliki bayi pada umumnya mematuhi berbagai
manganduang ndak buliah duduak di batu atau larangan yang ditujukan kepada mereka atau bayi
di lantai semen, beko lakek kakak anak (Orang mereka, bahkan suami yang istrinya sedang hamil
hamil tidak boleh duduk di atas batu atau di lantai juga cenderung mematuhi dan meyakini larangan
semen, nanti lekat plasenta); (2) Urang tersebut karena khawatir jika dilanggar akan
manganduang ndak buliah masak jo puntuang berpengaruh buruk kepada bayi yang sedang
kayu, beko tompel muko anak (Orang hamil tidak dikandung istrinya. Ungkapan yang berbunyi Laki
boleh memasak dengan punting kayu, nanti tompel urang nan sadang manganduang jan maaniayo
wajah anak); (3) Urang manganduang ndak buliah binatang, beko anak nan lahie cacat bantuak
makan pisang kamba, beko kamba pulo anak binatang nan dianiayo (Suami orang yang sedang
(orang hamil tidak boleh makan pisang kembar, nanti hamil jangan menganiaya binatang, nanti anak yang
anak yang lahir kembar); (4) Urang manganduang dikandung istrinya itu cacat pula sebagaimana
ndak buliah baujan-ujan, beko kataguran binatang yang dianiaya) dipatuhi oleh suami yang
(Orang hamil tidak boleh mandi hujan, nanti diganggu istrinya sedang hamil. Mereka tidak berani melanggar
makhluk halus); (5) Laki urang nan manganduang larangan ini karena mereka khawatir akibat dari
indak buliah sumbarang mambunuah jo pelanggaran larangan itu akan terbukti kelak.
mancilakoi binatang beko cacat anak nan lahie
bantuak binatang nan dicilakoi (Suami dari Keyakinan atau kepercayaan suatu kelompok
perempuan yang hamil jangan membunuh dan masyarakat tertentu pada kurun waktu tertentu
menganiaya binatang tanpa alasan yang jelas, nanti harus dipahami berdasarkan kondisi kelompok
anak yang lahir akan cacat sebagaimana yang dialami masyarakat tersebut dan kurun waktu yang sama
binatang yang dianiaya). pula. Pemahaman oleh kelompok masyarakat yang
berbeda dan kurun waktu yang berbeda tidak akan
Kepercayaan Rakyat Ungkapan Larangan Masa Bayi menghasilkan makna, bahkan akan menimbulkan
dan Kanak-Kanak kesalahpahaman. Temuan penelitian atas
kepercayaan rakyat ungkapan larangan tentang
Bentuk kepercayaan rakyat ungakapan larangan kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak masyarakat
masa bayi dan kanak-kanak antara lain (1) Di Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo di atas
rabuik sanjo paja ketek ndak buliah ditinggaan harus dipahami tidak dengan mengujinya sebagai
surang, beko dipamenan antu (Di pergantian sesuatu yang benar atau salah, sesuatu yang logis
sore dan malam hari bayi tidak boleh ditinggalkan atau tidak logis, melainkan harus dilihat dari berfungsi
sendirian, nanti diganggu hantu); (2) Indak buliah tidaknya keyakinan atau kepercayaan tersebut di
paja ketek indak balakekan dasun tungga, basi dalam kehidupan kelompok masyarakat tersebut.
barani, jo guntiang ketek, beko kanai dek Keyakinan atau kepercayaan masyarakat tersebut
palasik (Tidak boleh bayi tidak dilekatkan bawang harus dilihat apakah mampu menjadi nilai-nilai
putih tunggal, besi magnet, dan gunting kecil, nanti kehidupan berupa nilai-nilai kearifan dan berfungsi
terkena gangguan palasik (makhluk halus yang membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial
jahat)); (3) Indak buliah maidu-idu tangan paja dan kehidupan masyarakat itu sendiri.
ketek, beko alah gadang suko mamintak-mintak
(Tidak boleh mencium-cium tangan bayi, nanti setelah Unsur tradisi, kepercayaan umpamanya,
besar suka meminta-minta); (4) Indak buliah selayaknya dianggap sebagai suatu sistem komunikasi
manyikek abuak paja ketek sadang basah, yang memberikan pesan berkenaan dengan aturan
beko dek sisik anak dek e (Tidak boleh menyisir masa lalu, ide, ingatan, kenangan, atau keputusan-

Hasanuddin WS, Karifan Lokal dalam Tradisi Lisan K2ep0er1cayaan Rakyat Ungkapan Larangan Tentang Kehamilan, Masa Bayi,
dan Kanak-Kanak Masyarakat Minangkabau Wilayah Adat Luhak Nan Tigo

202

keputusan yang diyakini. Oleh sebab itu, sebagaimana kalangan masyarakat luas. Kepercayaan atas hal
dikatakan oleh Barthes (2003: 14) bahwa keyakinan tersebut akan semakin kokoh apabila semakin banyak
terhadap sesuatu hal (mitos) yang terdapat di dalam kenyataan yang mendukungnya, termasuk kisah-
karya sastra sebagai suatu unsur tradisi, bukanlah kisah yang dibentuk oleh karya sastra. Kepercayaan
suatu benda, konsep, atau gagasan, melainkan suatu semacam itu mungkin diwariskan secara lisan dan
lambang dalam bentuk wacana. Lambang-lambang berkelanjutan, tetapi mungkin juga melalui saluran
semacam ini tidak selalu dalam bentuk tertulis, media massa seperti koran, majalah, televisi, dan
tetapi dapat juga berupa tuturan, benda, atau film.
peralatan-peralatan tertentu. Pada masyarakat
urban lambang itu dapat dalam bentuk gambar, film, Tradisi sastra lisan merupakan salah satu sarana
dan lain-lain. Unsur ini bukanlah benda, tetapi dapat yang dapat mengukuhkan kepercayaan yang ada di
dilambangkan dengan benda. dalam masyarakat. Sebaliknya tidak tertutup pula
kemungkinan justru karya sastra menciptakan
Pembicaraan tentang mitos akan selalu kepercayaan baru di dalam masyarakat. Di dalam
berkaitan dengan keyakinan, sedangkan keyakinan masyarakat yang lebih modern, anggota masyarakat
berhubungan erat dengan kepercayaan, dan sering tidak menyadari telah berhadapan dengan
kepercayaan bertolak dari tradisi dan kebiasaan. mitos, padahal mitos itu berpengaruh terhadap
Kesemuanya itu terangkum pada dua hal pokok, perilaku hidupnya. Di dalam masyarakat Indonesia
yaitu kebudayaan dan ideologi. Dengan demikian, modern, motto program KB Nasional, “Dua anak
keyakinan masyarakat Minangkabau terhadap cukup, laki-laki dan perempuan sama saja” dan
ungkapan larangan tentang kehamilan, masa bayi, “Keluarga kecil keluarga bahagia” sudah dapat
dan kanak-kanak mungkin saja melewati batas logika dikatakan sebagai mitos yang penerimaannya tidak
umum, tetapi keyakinan yang semacam itu menurut disadari. Orang mulai malu jika banyak anak. Padahal
Barthes (2003: 124) tidak dapat dipersalahkan. itu adalah mitos yang diciptakan melalui terpaan
informasi secara terus-menerus. Orang takut beranak
Berhadapan dengan mitos, termasuk mitos-mitos banyak karena takut tidak mampu membiayainya.
di dalam ungkapan larangan haruslah ditempatkan Kondisi ini menggeser mitos masa lampau, “Banyak
pada suatu kerangka bahwa persoalannya bukanlah anak banyak rezeki”.
kepada apakah hal itu dapat dibuktikan atau tidak,
benar atau salah, melainkan pada bagaimanakah Ungkapan larangan tentang kehamilan, masa
mitos yang terkandung di dalam ungkapan larangan bayi, dan kanak-kanak yang tumbuh dan berkembang
kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak masyarakat di wilayah adat Luhak Nan Tigo berhubungan dengan
Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo keyakinan masyarakatnya. Keyakinan masyarakat
berfungsi secara sosial di dalam masyarakatnya. Minangkabau terhadap hal ini tumbuh dan
Kepercayaan rakyat ungkapan larangan kehamilan, berkembang dan diterima sebagai kebenaran.
masa bayi, dan kanak-kanak di wilayah adat Luhak Masyarakat Minangkabau wilayah adat Luhak Nan
Nan Tigo mampu mengembangkan integritas, alat Tigo tidak dapat dipersalahkan dengan keyakinan
kontrol sosial, memadukan kekuatan bersama yang mereka tersebut karena tidak ada kelompok
terpecah untuk solidaritas sosial, identitas kelompok, masyarakat lain yang dirugikan, bahkan dapat
dan harmonisasi komunal masyarakat Minangkabau dijadikan sebagai pembentuk solidaritas dan integritas
yang berdomisili di wilayah adat Luhak Nan Tigo. kelompoknya. Oleh sebab itu, persoalan mitos
bukanlah persoalan logis atau tidak, bukanlah
Kepercayaan rakyat ungkapan larangan tentang persoalan benar atau salah.
kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak yang hidup
dan berkembang di dalam masyarakat Minangkabau Jika di dalam suatu teks tuturan ungkapan
wilayah adat Luhak Nan Tigo belum tentu berterima larangan disebutkan Di rabuik sanjo paja ketek
di dalam masyarakat lain. Namun, sebagai sesuatu ndak buliah ditinggaan surang, beko dipamenan
yang universal, tidak tertutup kemungkinan bahwa antu (Di pergantian sore dan malam hari (waktu
suatu kepercayaan tersebut dapat diterima oleh maghrib) bayi tidak boleh ditinggalkan sendirian,
kelompok masyarakat yang lebih luas. Kepercayaan nanti diganggu hantu), maka persoalannya bukan
rakyat ungkapan larangan “Tidak boleh orang yang pada logis tidaknya tuturan itu, atau bukan pada soal
sedang hamil berperilaku buruk, nanti pindah perilaku benar atau salahnya ucapan itu, melainkan pada
buruk itu kepada anak” mungkin dapat diterima oleh bagaimana fungsi sosial yang dapat diperankan dari

KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Volume 1, Nomor 2, Oktober 2015, hlm 198-204

203

ungkapan larangan itu. Hal tentang dipatuhinya untuk Kepercayaan rakyat ungkapan larangan
tidak meninggalkan bayi sendirian menyebabkan di kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak masyarakat
waktu senja hari itu kondisi bayi akan terpantau Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo
orang tuanya. Orang tua tidak akan melakukan berhubungan dengan masalah keyakinan. Jika
pekerjaan yang lain selain memantau dan menemani tumbuh dan berkembang, kepercayaan atau mitos
bayinya. Pekerjaan lain pasti telah diselesaikan diterima sebagai kebenaran. Masyarakat tidak dapat
sebelum waktu senja hari itu. Ketika semua ibu yang dipersalahkan dengan keyakinan mereka tersebut
memiliki bayi melakukan keyakinan untuk tidak karena tidak ada kelompok masyarakat lain yang
meninggalkan bayinya sendirian ketika senja hari itu, dirugikan, bahkan kepercayaan rakyat atau mitos
di dalam masyarakat akan terjadi keteraturan dan tersebut dapat dijadikan sebagai pembentuk
keharmonisan. Ungkapan larangan itu telah berfungsi solidaritas dan integritas kelompoknya. Pada tahap
untuk memunculkan sikap saling memperhatikan dan ini, tradisi lisan kepercayaan rakyat ungkapan
saling menjaga di antara anggota keluarga. larangan sekitar kehidupan manusia masyarakat
Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo telah
Di pihak lain, jika ada ibu yang memiliki bayi berfungsi sebagaimana dalil di dalam ilmu
tidak memperhatikan larangan untuk menemani pengetahuan.
bayinya pada waktu senja, maka akan ada anggota
masyarakat lain yang akan mengingatkan. Ibu atau KESIMPULAN
ayah yang meninggalkan bayinya sendirian pada
senja hari tanpa alasan darurat akan dinilai sebagai Nilai-nilai tradisi yang terkandung di dalam
ibu dan ayah yang kurang bertanggung jawab. Pada tradisi lisan kepercayaan rakyat ungkapan larangan
posisi ini, ungkapan larangan tersebut telah bersungsi kategori sekitar kehidupan manusia subkategori
sebagai alat kontrol sosial, mengembangkan kehamilan, masa bayi, dan kanak-kanak masyarakat
integritas, menjaga identitas kelompok, dan Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo sebagai
harmonisasi komunal masyarakat Minangkabau yang bentuk nilai-nilai kearifan lokal mampu berfungsi
berdomisili di wilayah adat Luhak Nan Tigo. dalam mengembangkan integritas masyarakat, alat
kontrol sosial, memadukan kekuatan bersama yang
Berdasarkan kenyataan tersebut, dapat dipahami terpecah untuk solidaritas sosial, identitas kelompok,
jika berhadapan dengan kepercayaan rakyat, dan harmonisasi sosial. Nilai-nilai tradisi yang
masyarakat pemiliknya akan mempercayainya terkandung di dalam tradisi lisan kepercayaan rakyat
sebagai suatu kebenaran. Sejalan dengan hal itu, ungkapan larangan kategori sekitar kehidupan
menjadi hal yang tidak aneh jika pada banyak manusia masyarakat Minangkabau wilayah adat
tuturan masyarakat tradisional atau dalam tuturan Luhak Nan Tigo yang berfungsi sebagai nilai-nilai
tradisi lisan berupa sastra lama/klasik ditemukan kearifan lokal tersebut adalah (1) nilai tradisi bahwa
mitos yang mengukuhkan hal-hal yang telah kolektif Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo
dipercayai masyarakat karena tuntutan harus memiliki pengetahuan tentang alam yang nyata
masyarakatnya memang demikian. Sejumlah mitos (natural) dan alam taknyata (supernatural) dan
dan unsur supernatural diperlukan untuk legitimasi. hubungan sebab-akibat; (2) nilai tradisi bahwa
Bahkan pada zaman yang lebih modern pun hal kolektif Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo
semacam itu masih tetap dibutuhkan. dalam hal mendidik dan menanamkan nilai-nilai
kehidupan kepada generasi penerusnya dilakukan
Kehidupan manusia, dan dengan sendirinya sejak masih di dalam kandungan dengan
hubungan antarmanusia, dikuasai oleh kepercayaan- mengutamakan pendekatan contoh atau
kepercayaan. Sikap seseorang terhadap sesuatu ketauladanan; dan (3) nilai tradisi bahwa kolektif
ditentukan oleh kepercayaan, keyakinan, atau mitos Minangkabau wilayah adat Luhak Nan Tigo harus
yang ada di dalam dirinya. Akan tetapi, persentuhan menjadikan keluarga sebagai basis pendidikan.
dan perkenalan dengan sesuatu dapat menghasilkan
mitos baru berdasarkan mitos yang ada. Ia mungkin Berdasarkan temuan ini, disarankan agar
saja berbeda dengan yang sebelumnya dan tidak perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga
tertutup kemungkinan mitos baru itu menentang pemerintah lainnya perlu menggalakkan penelitian,
mitos yang ada sebelumnya. Mitos atau keyakinan penggalian, serta perumusan nilai-nilai tradisi yang
tertentu hanya berfungsi sesuai situasi dan kondisi hidup dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat.
masyarakatnya.

Hasanuddin WS, Karifan Lokal dalam Tradisi Lisan K2ep0er3cayaan Rakyat Ungkapan Larangan Tentang Kehamilan, Masa Bayi,
dan Kanak-Kanak Masyarakat Minangkabau Wilayah Adat Luhak Nan Tigo

204

Hal ini penting karena nilai-nilai tradisi pada titik DAFTAR PUSTAKA
tertentu mampu berfungsi sebagaimana dalil di dalam
ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi, pemerintah Barthes, Roland. 2003. Mitologis (terjemahan
daerah, dan lembaga pemerintah lainnya, serta Christian Ly). Bandung: Dian Aksara Press.
masyarakat pada umumnya untuk tidak mengabaikan
dan memandang rendah tradisi lisan yang hidup dan Danandjaja, James. 1984. Folklor Indonesia: Ilmu
tumbuh di dalam masyarakat. Setiap masyarakat, Gosip, Dongeng, Dan Lain-lain. Jakarta:
semodern apa pun masyarakat tersebut Grafiti Pers.
sesungguhnya memerlukan mitos (keyakinan) dalam
bentuk apapun mitos tersebut. Mitos atau keyakinan Navis, A.A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru:
itulah yang akan menggerakkan masyarakat di dalam Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta:
mengembangkan integritas, melakukan kontrol sosial, Grafiti Press.
memadukan kekuatan bersama yang terpecah,
membentuk identitas kelompok, serta menciptakan Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra:
harmonisasi komunal. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Udin, Syamsuddin. 1993. Seri Tradisi Lisan
Nusantara: Rebab Pesisir Selatan Malin
Kundang. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.

KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Volume 1, Nomor 2, Oktober 2015, hlm 198-204


Click to View FlipBook Version