The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabillaputriindrama2019, 2021-12-19 06:01:34

KUMPULAN ARTKEL TENTANG MINANGKABAU

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Keywords: KEMINANGKABAUAN

berwarna lebih gelap dari kepala, kapsul kepala bulat, antena dengan 13
simetris, dapat menutup dan tajam. artikel, dimana artikel kedua sedikit
lebih panjang dari keempat, ketiga
Nasutitermes merupakan rayap terpanjang, keempat lebih pendek dari
tanah (ground-dweller), yang bersifat kelima (Syaukani & Thompson, 2011).
arboreal. Jenis sarang yang dihuninya Ciri khas karakter tubuh yaitu
adalah sarang karton (carton-nest). bermandibula seperti alat penusuk
Sarang ini terbentuk dari campuran (nasut) yang meruncing pada ujungnya.
tanah, serasah kayu, saliva dan cairan Pada pengamatan karakter tubuh ketiga
feses. Sifat konstruksi sarang seperti spesies, terdapat perbedaan jelas pada
kertas, rapuh dan mudah patah (Thorne bentuk mandibula dan letak fontanelnya.
& Haverty, 2000). N. matangensis Fontanel pada M. gilvus dan
ditemukan di wilayah Solok, Solok Macrotermes sp., berada dibagian
Selatan dan Tanah Datar. Rayap ini tengah kepala sedangkan N.
umum dijumpai di dataran tinggi. N. matangensis terletak di ujung nasutnya.
matangensis tersebar luas dari
Semenanjung Malaya, Vietnam, Kehadiran rayap pada masing-
Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai masing rumah adat dapat dilihat pada
Nikobar dan Pulau Chrismas (Samudera Gambar 2. Dari tiga jenis rayap yang
Hindia) (Roonwall, 1970). Habitatnya ditemukan, ternyata M. gilvus memiliki
adalah hutan, terutama pada kayu Frekuensi Kehadiran yang paling tinggi
lembab atau permukiman yang dekat yakni 42,85%, diikuti oleh N.
dengan hutan (Tho, 1992). matangensis (35,72%) dan Macrotermes
sp. (21,41%). Hasil penelitian Primanda,
Prajurit N. matangensis Ischak dan Basukriadi (2003) di kampus
memiliki bentuk tubuh yang kecil, Universitas Indonesia mendapatkan
kepala dan rostrum berwarna cokelat enam jenis rayap, jenis M. gilvus paling
gelap, terdapat bulu (bristle) di sekitar sering dtemukan.
tubuh, ujung nasus dengan empat bulu,

Gambar 2. Frekuensi kehadiran jenis rayap pada rumah adat Minangkabau

Rayap Macrotermes merupakan rayap 4. KESIMPULAN
yang banyak tersebar di Asia Tenggara Dari penelitian yang telah dilakukan
terutama banyak ditemukan di dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis
Indonesia, Malaysia dan Thailand (Tho rayap yang menyerang rumah-rumah
1992), Oleh karena itu informasi adat Minangkabau ada tiga jenis yang
mengenai distribusi spasial dari rayap tergolong ke dalam dua genera dan dua
Macrotermes ini di habitat alaminya subfamili. Subfamili Macrotermitinae
penting untuk segera diketahui karena ditemukan dua jenis yaitu Macrotermes
belakangan ini telah tersebar diluar gilvus dan Macrotermes sp., sedangkan
habitat alaminya. subfamili Nasutitermitinae hanya

didapatkan satu jenis yaitu Nasutitermes Kluwer Academic. pp: 1- 23.
matangensis. Semua rumah adat yang Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003.
diperiksa terserang rayap, jenis M.
gilvus memiliki frekuensi kehadiran Rayap, Biologi dan
tertinggi. Pengendaliannya. Surakarta:
Muhammadiyah University
Ucapan Terima Kasih Press.
Primanda A, Ischak TM and Basukriadi
Penulis mengaturkan terima kasih A. 2003. Termite Species
kepada DP2M DIKTI atas biaya yang Richness On The Campus of
telah diberikan. Ucapan terima kasih Universitas Indonesia.
juga penulis sampaikan kepada Rektor, Makara, Sains 7(1): 9-14
Wakil Rektor III, Dekan FMIPA Riny SM. 2007. Identifikasi rayap kasta
Universitas Andalas atas bantuan dana prajurit di Wilayah Pusat
dan fasilitas yang diberikan. Juga Penelitian Ilmu Pengetahuan
kepada Prof. Dr. Dahelmi dan Dr. Henny dan Teknologi (PUSPIPTEK)
Herwina yang telah membimbing dan Serpong, Banten. Bogor:
memberi spirit kepada penulis dalam Institut Pertanian Bogor.
penyelesaian penelitian ini.
Roonwal ML. 1961. Termites
5. REFERENSI Macrotermes gilvus malayanus
(Haviland) (Termitidae) in
Ahmad M. 1965. Termites (Isoptera) of Burma. Proc. Nat. Inst. 2: 308-
316.
Thailand. Bull. Amer. Nat. His.
Roonwal ML. 1970. Termites of the
131: 33-195. Oriental Region. Di dalam:
Krishna K, Weesner FM,
Amir M. 2003. Rayap dan Peranannya. editor. Biology of Termites.
Vol. 2 : 315-391.
Dalam: M. Amir, Kahono. S.
Suharyon. 1987. Jenis-Jenis Rayap Yang
Serangga Taman Nasional Terdapat pada Tanaman
Cengkeh di Kebun Percobaan
Gunung Halimun Jawa Bagian Sub Balitro Laing, Solok. Tesis
Sarjana Biologi UNAND,
Barat. Biodiversity Padang.

Conservation Project. LIPI : Suin N. 1992. Rayap Kayu di Hutan
Pendidikan dan Penelitian
51-62. Biologi Universitas Andalas.
Jurnal MIPA, Vol. 1. No.2: 25-
Borror JD, Triplehorn AC. dan Johnson 35

FN. 1992. Pengenalan Syaukani. 2006. A Guide to the Nasus
Termites (Nasutitermitinae,
Pelajaran Serangga, Edisi Termitidae) of Kerinci Seblat
National Park Sumatra).
keenam. Gadjah Mada Yogyakarta: Mitra Barokah
Abadi.
University Press.
Syaukani, Thompson GJ. 2011.
Yogyakarta. Taxonomic notes on
Nasutitermes and Bulbitermes
Handru A. 2012. Jenis-Jenis Rayap (Termitidae, Nasutitermitinae)
from the Sunda region of
(Isoptera) Di Kawasan Hutan Southeast Asia based on
morphological and molecular
Bukit Tengah Pulau Dalam

Areal Perkebunan Kelapa

Sawit, Solok Selatan. Skripsi

Sarjana Biologi FMIPA

Universitas Andalas, Padang.

Kambhampati S, Eggleton P. 2000.

Taxonomy and phylogeny of

Termites. In Abe T, Bignell

DE, Higashi M. Termites

Evolution, Sociality,

Symbioses, Ecology. Dordecht:

characters. Zookeys 148: 135- Tho YP. 1992. Termites of Peninsular
160. Malaysia. Malayan Forest
Tarumingkeng R.C. 1971. Biologi dan Records. Forest Research
Pengendalian Rayap Perusak Institute Malaysia, Kepong.
Kayu. LPPK. No. 36, 224p.

Thorne BL, Haverty MI. 2000. Nest growth and survivorship in three species of
Neotropical Nasutitermes (Isoptera: Termitidae). Environ Entomol 29 (2): 256-
264.

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

RUMAH GADANG : RUANG DAN BUDAYA MAKAN DALAM
SIKLUS HIDUP MASYARAKAT MINANGKABAU

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
([email protected], [email protected])

Program Studi Desain Interior
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha No. 10. Lb Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Indonesia

ABSTRAK
Masyarakat Minangkabau terkenal dengan budaya makannya melalui makanan khasnya rendang di
berbagai restoran Padang. Adanya modernisasi dan media sosial menyebabkan terjadinya
perkembangan budaya makan. Akibatnya adalah memudarnya pemahaman realitas budaya makan asli
Minangkabau yang mengarah pada keseragaman bentuk desain, terutama pada elemen fisik dan
konfigurasi ruang bangunannya. Padahal di tempat asalnya masih dilaksanakan kegiatan makan dengan
aturan adat Minangkabau antara lain yaitu “Makan Bajamba”. Oleh karena itu, sebelum melihat
perkembangan desainnya, perlu dipelajari terlebih dahulu bentuk ruang dan budaya makan masyarakat
Minangkabau di tempat asalnya. Adapun masalah utama dari penelitian ini adalah bagaimana hubungan
antara ruang dan budaya makan dalam siklus hidup masyarakat Minangkabau yang dilakukan di rumah
Gadang. Metode yang digunakan adalah metode campuran dengan pendekatan kualitatif melalui studi
kasus pada Rumah Gadang Istano Rajo Alam Tuanku Disambah dan kuantitatif dengan menggunakan
analisis space syntax pada dimensi konektivitas dan integrasi. Data didapatkan dari studi literatur,
wawancara, dan pengamatan langsung di lapangan pada bagian ruang dan elemen fisik rumah Gadang
dalam memfasilitasi kegiatan makannya. Hasilnya adalah ruang-ruang di rumah Gadang secara efektif
digunakan dalam memfasilitasi budaya makan dalam siklus hidup masyarakat Minangkabau. Pembagian
ruang pada proses kegiatan makan berdasarkan peran wanita dan pria dalam sistem kekerabatan
matrilinieal. Area penyantapan terbagi menjadi kelompok-kelompok ruang yang lebih kecil sesuai
dengan aturan posisi tempat duduk para pria Minangkabau berdasarkan sistem kekerabatan matrilinieal,
ditandai oleh dinding, kolom, dan kain seprah alas makanan. Seluruh ruang tempat pelaksanaan
kegiatan makan merupakan ruang sosial tempat terjadinya interaksi yang mencerminkan pepatah adat
Minangkabau. Analisis space syntax memperjelas hubungan ruang dan kegiatan makan berdasarkan
sistem kekerabatan matrilinieal dan interaksi sosial yang terjadi dengan ruang yang digunakan Untuk
penelitian selanjutnya dapat menggunakan analisis space syntax sebagai sudut pandang dalam melihat
hubungan antara ruang dan budaya.

Kata Kunci: ruang; budaya makan; siklus hidup; masyarakat Minangkabau; rumah Gadang

ABSTRACT
Padang restaurants with specialty food rendang represent the Minangkabau's eating culture. The effect
of modernization and media social in the eating culture has indistinct the origin of Minangkabau's
eating culture and leads to the uniformity of design, mostly its space and physical elements in the
traditional building. Whereas in the roots, eating activities according to the Minangkabau custom still

81

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

carried out, such as Makan Bajamba. It is essential to study the origin of Minangkabau space and eating
culture before learning design development. The main problem is how the relationship between space
and eating culture in the life cycle of Minangkabau society carried out at Rumah Gadang. By using a
mix-method, a qualitative approach is a case study at Rumah Gadang Istana Rajo Alam Tuanku
Disambah and quantitative approaches using space syntax analysis on the dimensions of connectivity
and integrity. Data were from literature studies, interviews, and direct observations on how Rumah
Gadang facilitated eating activities. The result shows that Rumah Gadang effectively assisted the eating
culture in the life cycle of its people. The space configuration in the process of eating activities is
following the roles of women and men based on a matrilineal kinship system. The seat position rules
for Minangkabau men from the matrilineal kinship system divided Ruang Lepas into smaller areas,
marked by walls, columns, and seprah clothes. All space of eating activities is a social space where
interactions took place as a reflection of Minangkabau customs. The space syntax analysis clarifies the
relationship between space and eating activities based on the matrilineal kinship system and the social
interactions that occur with the space used. For future research, the space syntax analysis is useful as a
perspective to learn the relationship between space and culture.
Keywords: space; eating culture; life cycle; Minangkabau society; rumah Gadang

PENDAHULUAN

Salah satu faktor yang membuat masyarakat Minangkabau terkenal adalah budaya

makannya. Budaya makan ini dikenal melalui hidangan khasnya rendang di restoran

Padang yang tersebar di berbagai daerah dan tentunya dinikmati oleh berbagai kalangan
masyarakat (Lipoeto dkk, 2001 dan Franzia dkk, 2015). Padahal rendang sebenarnya

merupakan makanan adat sebagai kebanggaan dan kehormatan yang selalu hadir di setiap

upacara adat masyarakat Minangkabau (Andam dalam Nurmufida, 2017). Masyarakat

Minangakabau memaknai kegiatan makan sebagai bentuk penghormatan terhadap ritual

agama dan perayaan siklus hidup yang berperan penting dalam setiap upacara adat
(Lipoeto dkk, 2001). Namun, adanya modernisasi, perubahan sosial, dan perkembangan

media sosial berperan besar dalam perkembangan budaya makan terutama terkait tempat,

waktu, dan jenis makanan (Diaz-Mendez dan van den Broek, 2017, Goodman dkk, 2017,

dan Probyn, 2017).

Perkembangan ini dapat menyebabkan memudarnya pemahaman budaya makan asli

Minangkabau, perkembangan desain yang menuju ke arah keseragaman bentuk, dan

bahkan hilang (Sari, 2000, Rekarti, 2003, dan Nurti, 2013), terutama pada elemen fisik dan

82

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

konfigurasi ruang dari bangunan tradisional yang memfasilitasi kegiatan makan. Padahal
masyarakat Minangkabau masih melaksanakan kegiatan makan berdasarkan adat
istiadatnya. Salah satunya adalah Makan Bajamba yang biasanya dilakukan sebagai
perayaan pada upacara adat. Oleh karena itu, sebelum melihat perkembangan desainnya,
perlu dipelajari terlebih dahulu bentuk ruang dan budaya makan Minangkabau di tempat
asalnya. Adapun masalah utama dari penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara
ruang dan budaya makan masyarakat Minangkabau. Penelitian ini membahas lebih lanjut
hubungan tata ruang dan elemen-elemen nonfisik dan fisik bangunan tradisional
Minangkabau yaitu Rumah Gadang sebagai tempat tinggal dalam memfasilitasi budaya
makannya.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan pendekatan kualitatif dan
kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis space syntax pada dimensi konektivitas
dan integrasi (Siregar, 2014). Fokus dari penelitian ini yaitu ruang dan elemen fisik lainnya
pada Rumah Gadang yang berperan dalam proses pelaksanaan budaya makan masyarakat
Minangkabau dalam siklus hidupnya dan hubungan keduanya. Pengamatan dilakukan di
Rumah Gadang Istano Rajo Alam Daulat Tuanku Disambah, Sungai Pagu, Solok Selatan,
Sumatera Barat, Indonesia (lihat gambar 1). Adapun bangunan tradisional Minangkabau ini
dipilih karena merupakan bangunan cagar budaya yang memiliki sejarah dan di daerah
tersebut masih kental penerapan adatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar 1. Lokasi rumah gadang objek penelitian
Sumber: Google.maps dan dokumentasi pribadi, 2020

83

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Penelitian ini menggunakan data dari kajian pustaka, wawancara tentang budaya makan
Minangkabau dan pengamatan langsung di lapangan pada bagian ruang dan elemen fisik
rumah Gadang dalam memfasilitasi kegiatan makannya. Data yang terkumpul
diklasifikasikan berdasarkan kegiatan makan sebagai perayaan siklus kehidupan
masyarakat Minangkabau dan dalam kehidupan sehari-hari. Upacara adat yang dipilih
merupakan representasi dari ketiga fase siklus hidup masyarakat Minangkabau terutama
yang dilakukan di Rumah Gadang yaitu Upacara Turun Mandi (K1) perayaan fase kelahiran,
Baralek Pernikahan (K2) perayaan fase tumbuh berkembang, dan Mendoa (K3) bagian dari
upacara kematian. Kegiatan makan dalam kehidupan sehari-hari terdapat dua yaitu
kegiatan makan bersama keluarga (K4) dan menjamu tamu (K5). Data yang telah
dikumpulkan kemudian dianalisis dalam beberapa tahap yaitu sebagai berikut.

Tahap 1 : Analisis dari kajian pustaka dan wawancara terhadap elemen-elemen nonfisik
budaya makan Minangkabau yang berpengaruh pada ruang-ruang di Rumah Gadang
dalam memfasilitasi kegiatan makan, yang meliputi waktu pelaksanaan, orang yang
memasak, menyajikan, dan menyantap, tata cara duduk dan makan, jenis makanan utama,
dan perannya dalam kehidupan sosial. Tahap 2 : Analisis dari kajian pustaka, wawancara,
dan pengamatan langsung di lapangan tentang bagian ruang dan elemen fisik lainnya di
Rumah Gadang dalam pelaksanaan kegiatan makan. Tahap 3 : Selanjutnya dilakukan
analisis dengan menggunakan teknik space syntax meliputi convex space dan justified
graph ketika kegiatan makan berlangsung dengan menggunakan konsep jarak, step depth,
untuk menghitung nilai konektivitas dan nilai integrasi (Siregar, 2014). Berdasarkan tahapan
tersebut, terdapat beberapa teori-teori yang digunakan sebagai landasan dalam
melakukan penelitian, menyusun data hasil penemuan, dan analisis untuk menjawab
pertanyaan penelitian.

Kegiatan Makan dalam Budaya Minangkabau

84

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Kegiatan makan selain sebagai kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup juga merupakan
kegiatan yang berhubungan dengan perilaku manusia dan menjadi dasar utama dalam
kegiatan sosial (Newman, 2009). Menurut Maximillian (2013), makan memiliki tiga fungsi
utama yaitu fungsi biologis dalam memenuhi rasa lapar, fungsi sosial sebagai bagian dari
kehidupan bersosialisasi, dan fungsi psikologis yang dipengaruhi oleh emosi dan perasaan.
Pada pelaksanaan kegiatan makan memiliki tata cara menggunakan peralatan-peralatan
dan ruang tertentu. Pada masyarakat dengan perkembangan tinggi maka segala tata cara
makan pun akan mempunyai aturan yang kompleks, serta peralatan yang lebih baik
dibandingkan dengan masyarakat sederhana yang pola serta aturannya pun cenderung
lebih sederhana (Mintosih dan Widiyanto 1996).

Budaya makan masyarakat Minangkabau tentunya tidak lepas dari falsafah adatnya yaitu
“Alam Takambang Jadi Guru” dan “Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah”, di
dalamnya juga diatur tata cara pelaksanaan upacara adat dalam siklus hidup mereka.
Berdasarkan falsafah tersebut, terdapat pepatah terkait budaya makan yaitu “Bicara selepas
haus, berunding sesudah makan”. Hal ini membentuk masyarakat Minangkabau untuk
menyuguhkan minum dan makanan ringan sebagai layanan menyambut tamu (Rekarti,
2003). Selain itu, pepatah ini juga memiliki arti sebagai dalam melakukan musyawarah
harus dalam keadaan kenyang dan tidak lapar. Pepatah ini menjadi landasan pentingnya
kegiatan makan pada kehidupan masyarakat Minangkabau bahwa dalam setiap
kesempatan dan acara biasanya selalu melibatkan jamuan makan.

85

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Gambar 2. Diagram ilustrasi hubungan kekerabatan matrilinieal di Minangkabau
Sumber: Surya dan Gabe, 2015

Masyarakat Minangkabau menggunakan sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu
atau matrilinieal (gambar 2) yang juga dilihat berdasarkan sistem perkawinan di dalam
masyarakat (Suarman, 2000, Surya dan Gabe, 2015). Pada sistem ini perempuan memiliki
peran penting dalam kehidupan masyarakat dan bertanggung jawab atas segala urusan di
dalam keluarga serta penyambung garis keturunan. Laki-laki berperan sebagai mamak
untuk memelihara harta pusaka serta menjadi penasihat dan pendengar bagi
kemenakannya. Sistem kekerabatan matrilinieal ini menjelaskan peran ninik-mamak,
bundo kanduang, dan anak-kemanakan di dalam kehidupan masyarakat. Sistem ini juga
menjadi landasan dalam pembagian peran dan tugas mereka dalam proses pelaksanaan
kegiatan makan.

Gambar 3. Diagram ilustrasi upacara adat sebagai perayaan siklus hidup pada masyarakat Minangkabau
Sumber: Suarman dkk, 2000

86

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Pada masyarakat Minangkabau terdapat upacara adat sebagai rasa syukur dalam perayaan
siklus kehidupan (kelahiran, tumbuh berkembang, dan kematian) dan ritual agama.
Upacara dalam memperingati kelahiran adalah upacara Turun Mandi, Aqiqah, dan
Manjapuik jo Maanta Anak. Sunatan, Khatam Quran, Baralek Pernikahan, dan Batagak
Pangulu merupakan upacara-upacara adat dalam merayakan ritual agama dan tumbuh
berkembangnya kehidupan seorang manusia. Upacara terakhir merupakan upacara
memperingati kematian yang juga biasa disebut dengan mendoa yaitu membacakan doa
untuk orang yang telah meninggal. Adapun perayaan siklus kehidupan dalam budaya
masyarakat Minangkabau dapat dilihat pada gambar 3.

Tabel 1. Hubungan kegiatan makan di dalam perayan siklus hidup dan kehidupan sehari-hari masyarakat
minangkabau berdasarkan adat istiadatnya

87

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Selain pada perayaan siklus kehidupan, kegiatan makan juga mengambil peran penting
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Kegiatan makan dilakukan
bersama-sama di dalam keluarga sebagai bentuk sarana bertukar informasi tentang
kehidupan masing-masing anggota. Selain itu, menjamu tamu juga merupakan sebuah
keharusan, tata krama sopan santun dalam pergaulan masyarakat Minangkabau. Tabel 1
88

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

menujukkan hubungan kegiatan makan sebagai bentuk perayaan siklus hidup masyarakat
Minangkabau dan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari berdasarkan adat istiadatnya.

Rumah Gadang Bangunan Tradisional Minangkabau
Menurut Amos Rapoport (1997) terdapat lima syarat yang harus dipenuhi dalam
menentukan sebuah lingkungan efektif dalam memfasilitasi sebuah kegiatan. Syarat-syarat
tersebut adalah (1) kesesuaian pengaturan sistem perilaku terhadap ruang, (2) kesesuaian
definisi ruang sebagai aspek fisik ruang yang harus ada terhadap kegiatan, (3) kesesuaian
dengan tata cara perilaku pada kegiatan, (4) aspek-aspek tersembunyi lainnya pada
kegiatan, (5) relasi ruang terhadap lingkungan sekitarnya.

Suarman dkk (2000) menyatakan bahwa seperti namanya gadang yang artinya besar,
rumah ini memiliki ukuran yang besar, bentuk yang khas, fungsi yang beragam, dan ukiran
yang memiliki arti. Rumah gadang merupakan rumah panggung, memiliki bentuk persegi
panjang, beratap gonjong dan beberapa memiliki anjuang di kanan dan kiri rumah. Bagian
dalam terbagi menjadi ruang dan lanjar yang ditandai dengan tiang dengan beragam
ukuran sesuai dengan kemampuan masing-masing suku. Lanjar paling belakang terdiri dari
bilik-bilik yang merupakan kamar tidur. Pada bagian ruang dibagi lagi menjadi ujung dan
pangkal, pangkal merupakan bagian yang terdekat dengan pintu masuk ke dalam rumah.

Pada lanjar di bagian depan rumah terdapat ruang terbuka yang disebut dengan ruang
lepas yang biasanya digunakan saat perayaan upacara adat. Selain itu, ruang lepas terbagi
menjadi dua area yang dipisahkan oleh kolom, dimana area setelah kolom di depan bilik
biasanya digunakan untuk menjamu tamu. Penempatan penghuni dari bilik-bilik memiliki
aturan yaitu paling ujung merupakan anggota keluarga paling muda dan semakin ke
pangkal milik anggota keluarga yang tertua. Pada rumah gadang tertentu juga terdapat
ruang dalam yang merupakan ruang menuju ke dapur. Pada area ini biasanya para wanita
menyimpan makanan sebelum dihidangkan ketika dilakukan upacara adat dan kenduri di

89

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

rumah gadang. Selain itu, di beberapa rumah juga memiliki serambi yaitu ruangan sebelum
memasuki rumah. Tangga terhubung ke serambi dan dari serambi dapat ditemui akses
pintu masuk menuju ke dalam rumah. Serambi merupakan perkembangan variasi dari
berbagai jenis rumah Gadang. Di daerah lainnya, penamaan serambi digunakan untuk
menyebut posisi tangga menuju ke dalam rumah. Berikut ini gambaran dari prinsip dasar
rumah Gadang.

Gambar 4. Contoh rumah gadang dan prinsip dasar tata ruangnya
Sumber: Dokumentasi pribadi, 20202 dan Suarman dkk, 2000

Dalam adat Minangkabau juga diatur tata krama di dalam rumah Gadang yang harus
dipenuhi berdasarkan sistem kekerabatan matrilinieal, khususnya tata cara duduk. Tata cata
duduk ini kemudian yang menjadi acuan ketika dilaksanakannya berbagai jenis upacara
adat di Rumah Gadang. Gambar 5 ini menunjukkan aturan posisi tempat duduk di dalam
Rumah Gadang.

90

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Gambar 5. Tata cara duduk sesuai adat sopan santun minangkabau di dalam rumah gadang
Sumber: Suarman dkk, 2000

Adapun pedoman tata cara duduk di dalam rumah Gadang (Suarman dkk, 2000) adalah
sebagai berikut. (1) Duduk beradat yaitu duduk bersila untuk laki-laki dan duduk bersimpuh
untuk wanita. (2) Tempat duduk untuk mamak berada di pangkal mengarah ke bilik
kemenakan. (3) Orang sumando harus duduk di depan kamarnya dan menghadap ke
jendela depan. (4) Seseorang tidak boleh duduk dekat mamak atau laki-laki sesuku dengan
isterinya. (5) Saat perjamuan, di sepanjang dinding bilik merupakan tempat duduk
sumando. (6) Tamu-tamu yang tidak ada hubungan dengan pemilik rumah duduk di depan
jendela sebelah kiri tangga terus ke ujung. (7) Saat perjamuan di pangkal sebelah kanan
tangga merupakan tempat duduk ninik mamak dan pihak yang mengadakan acara. (8) Raja
Janang (pelayan) yang bertugas ketika acara merupakan anak lelaki dari mamak di rumah
itu.

PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini akan dijabarkan terlebih dahulu hasil penelitian sesuai tahapan
penelitian yang telah dijabarkan pada metode penelitian. Setelah itu dilanjutkan dengan
diskusi dari hasil penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya.

Elemen Nonfisik pada Ruang dan Budaya Makan Minangkabau

91

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Tahap ini merupakan penjabaran penemuan elemen-elemen nonfisik budaya makan
Minangkabau yaitu proses kegiatan makan, tata cara duduk, jenis makan, dan peran
kegiatan makan (tabel 2). Adapun elemen-elemen ini berdasarkan aturan adat istiadat
masyarakat Minangkabau yang cenderung lebih kompleks sehingga ruang dan peralatan
yang digunakan juga lebih banyak (Mintosih dan Widiyanto, 1996). Selain itu, pada elemen-
elemen nonfisik ini juga ditemukan peran dan fungsi kegiatan makan sebagai kegiatan
sosial (Newman, 2009 dan Maximillian 2013) sesuai dengan pepatah adat Minangkabau
tentang kegiatan makan (Rekarti, 2003). Berdasarkan tabel 2, elemen-elemen non fisik pada
kegiatan makan ketika Upacara Turun Mandi (K1) adalah sebagai berikut. (1) Wanita
memiliki peran dalam proses memasak dan menyiapkan makanan, serta menyajikan
makanan sebelum acara. (2) Pria bertanggung jawab dalam melaksanakan seluruh
rangkaian acara termasuk jamuan makan (Ninik Mamak dan Sumando), dan
menghidangkan makanan ketika acara berlangsung (Raja janang yang merupakan anak
pisang). (3) Kegiatan makan dilakukan dengan duduk lesehan dengan alas kain seprah dan
menggunakan tangan. (4) Makanan yang dihidangkan merupakan makanan adat yang
harus ada dalam upacara adat yaitu olahan daging sapi/kerbau (rendang). (5) Jamuan
makan merupakan sarana interaksi sosial antara pihak yang mengadakan acara dan tamu
undangan, serta antar masing-masing anggota keluarga yaitu Bundo Kanduang, Ninik
mamak, Sumando, dan anak-anak.

Tabel 2. Kegiatan makan berdasarkan elemen-elemen nonfisik budaya minangkabau

92

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Pada elemen-elemen nonfisik ketika Upacara Baralek Pernikahan (K2) sama dengan dengan
Upacara Turun Mandi (K1). Upacara Mendoa (K3) memiliki sedikit perbedaan dengan kedua
upacara sebelumnya K1 dan K2. Perbedaannya adalah jenis makanan yang dihidangkan
hanya kue-kue dan minuman berupa teh manis. Hal ini karena pada upacara mendoa (K3)
merupakan kegiatan yang memperingati kematian, bukan sebuah berita baik seperti pada
K1 dan K2. Di kehidupan sehari-hari, hasil elemen-elemen non fisik pada makan bersama
keluarga (K4) adalah sebagai berikut. (1) Peran wanita sangat dominan dalam keseluruhan
tahapan proses kegiatan makan yaitu memasak, menyajikan makanan, dan ikut serta
menyantap makanan bersama. (2) Pria sebagai kepala keluarga berperan dalam memimpin
dan memulai kegiatan makan. (3 )Kegiatan makan dilakukan menggunakan meja dan kursi
makan dan menggunakan tangan. (4) Tidak ada makanan khusus, hanya makanan yang
telah disiapkan sebelumnya. (5) Jamuan makan sebagai sarana interaksi sosial antara
anggota keluarga yaitu orang tua dan anak-anak. Pada kegiatan makan ketika menjamu
tamu (K5) terdapat dua perbedaan dibandingkan dengan makan bersama keluarga (K4)
yaitu sebagai berikut. (1) Kegiatan makan dilakukan lesehan di depan bilik dari yang
menerima tamu, duduk lesehan beralaskan kain seprah dan menggunakan tangan. (2)

93

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Jamuan makan merupakan sarana interaksi sosial antara pemilik rumah dan tamu.

Elemen Fisik dan Data Space Syntax pada Ruang dan Budaya Makan Minangkabau
Rumah Gadang Istano Rajo Alam Daulat Tuanku Disambah ini memiliki persegi panjang
dengan dua anjuang di ujung dengan dua level ketinggian lantai dan satu anjuang di
pangkal rumah, dimana bagian ini merupakan bangunan utama. Selain itu terdapat
bangunan tambahan terletak di belakang yang terhubung melalui ruang dalam. Bangunan
tambahan ini berfungsi sebagai ruang makan, dapur, dan toilet. Berikut ini gambaran dari
Rumah Gadang Istano Rajo Alam Tuanku Disambah.

Gambar 6. Denah bangunan dan potret Rumah Gadang Istano Rajo Alam Tuanku DisambahTata
Sumber: Dokumentasi dan ilustrasi pribadi, 2020

Penjabaran hasil pada tahap 2 dan 3 dilakukan bersamaan berdasarkan perayaan siklus
hidup dan dalam kehidupan sehari-hari. Elemen fisik meliputi tata ruang ketika acara
berlangsung, sirkulasi pada proses kegiatan makan, pengaturan dan arah posisi tempat
duduk, dan tata letak makanan. Hasil data pada tahap 2 digunakan sebagai dasar analisis
tahap 3 dengan menggunakan teknik space syntax yaitu convex space dan j-graph ketika
kegiatan makan berlangsung untuk mendapatkan data nilai konektivitas dan integrasinya.

1. Upacara Turun Mandi (K1)
Berdasarkan gambar 7 terdapat beberapa penemuan penting terkait hubungan ruang dan
budaya makan masyarakat Minangkabau. (1) Ruang lepas dan anjuang pertama di ujung

94

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

rumah pada bangunan utama digunakan sebagai area persajian dan penyantapan. (2)
Tahapan memasak dan menyiapkan makanan dilakukan di bangunan tambahan yang
terletak di bagian belakang. (3) Anjuang di pangkal rumah digunakan sebagai area
peletakan bayi. (4) Ruang dalam sebagai area penyimpanan merupakan ruang
penghubung dan sirkulasi dari area persiapan menuju area persajian dan persantapan. (5)
Luasan area persiapan lebih besar dari pada area penyantapan, sedangkan area
penyimpanan lebih kecil dari kedua area tersebut. (6) Pada area penyantapan terbentuk
kelompok ruang sesuai dengan aturan posisi duduk di rumah Gadang yang ditandai oleh
posisi dinding, kolom, dan kain seprah alas makan serta adanya dan perbedaan ketinggian
lantai di anjuang (Suarman dkk, 2020). Pada gambar 7 ini merupakan hasil data tahap 2
pada upacara Turun Mandi (K1) serta hasil perhitungan pada tahap 3.

95

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Gambar 7. Elemen-elemen fisik dan hasil perhitungan space syntax pada upacara turun mandi
Sumber: Ilustrasi pribadi, 2020

Dari data tersebut, hasil perhitungan nilai konektivitas dan integrasinya Upacara Turun
Mandi (K1) sebagai berikut. (1) Nilai konektivitas tertinggi adalah ruang B yang terhubung
langsung dengan tiga ruang lainnya yaitu ruang lepas tempat penyajian dan penyantapan
makanan. (2) Ruang A, C, dan H yang merupakan ruang terbuka di bagian depan akses
menuju ke rumah, anjuang tempat peletakan bayi, dan ruang terbuka di belakang rumah
tempat menyiapkan makanan, merupakan ruang-ruang yang memiliki nilai konektivitas
96

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

terendah. (3) Ruang D yaitu ruang dalam area penyimpanan dan ruang E merupakan ruang
makan area persiapan adalah ruang-ruang yang memiliki nilai integrasi tertinggi. (4) Nilai
integrasi terendah adalah ruang H kemudian terendah kedua adalah ruang A dan C dengan
nilai yang sama.
2. Upacara Baralek Pernikahan

Gambar 8. Elemen-elemen fisik dan hasil perhitungan space syntax pada upacara baralek pernikahan
Sumber: Ilustrasi pribadi, 2020

Berdasarkan gambar 8, temuan-temuan penting terkait hubungan ruang dan budaya
makan masyarakat Minangkabau pada upacara Baralek Pernikahan (K2) tidak berbeda

97

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

dengan jamuan makan pada upacara Turun Mandi (K1). Perbedaannya adalah (1)
penggunaan anjuang hanya satu yaitu anjuang pertama di ujung rumah sebagai tempat
pelaminan dari pengantin. (2) Walaupun demikian, anjuang ini tetap digunakan ketika
jamuan makan berlangsung sebagai tempat duduk Raja dan tamu penting lainnya, karena
ketika jamuan makan ini kedua mempelai belum boleh duduk di pelaminan.

Terdapat dua hasil perhitungan nilai konektivitas pada K2 yaitu sebagai berikut. (1) Ruang
A (ruang terbuka akses menuju rumah) dan ruang H (ruang terbuka di belakang rumah)
memiliki nilai konektivitas terendah dan terhubung dengan hanya satu ruang. (2) Nilai
konektivitas tertinggi, terhubung dengan dua ruang lainnya adalah ruang B merupakan
ruang lepas area persantapan, ruang D merupakan ruang dalam area penyimpanan, ruang
E, F, G merupakan area persiapan. (3) Ruang E yaitu ruang dalam memiliki nilai integraso
tertinggi dan tepat berada di tengah-tengah sistem. (4) Nilai integrasi terendah dimiliki
ruang A dan H, sama seperti pada K1.

3. Upacara Mendoa

98

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Gambar 9. Elemen-elemen fisik dan hasil perhitungan space syntax pada upacara mendoa
Sumber: Ilustrasi pribadi, 2020

pada upacara Mendoa - K3 (lihat gambar 9) tidak terlalu berbeda dengan jamuan makan
pada kedua upacara sebelumnya. Perbedaannya adalah (1) Anjuang yang digunakan hanya
satu seperti pada upacara K2 dan hanya digunakan sebagai tempat duduk Raja dan tamu
penting lainnya. (2) Pada area persiapan terdapat pengurangan jumlah ruang yang
digunakan karena makanan yang dihidangkan lebih sederhana hanya kue-kue dan
minuman teh.
Dari data tersebut, berikut ini beberapa hasil yang ditemukan. (1) Ruang yang memiliki nilai
konektivitas tertinggi adalah ruang B, D, dan E sama seperti pada K2. (2) Nilai integrasi
tertinggi dimiliki ruang D, ruang dalam area penyimpanan yang tepat berada di tengah

99

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

sistem. (3) Nilai konektivitas terendah dimiliki ruang A dan F yang berubah menjadi di
pinggir sistem yaitu ruang terbuka akses menuju rumah dan dapur area persiapan.

4. Kehidupan Sehari-hari
Adapun temuan-temuan penting pada makan bersama keluarga – K4 (lihat gambar 10)
adalah sebagai berikut. (1) Dapur merupakan area persiapan dan ruang makan sebagai
area penyajian dan penyantapan juga area penyimpanan. Ruang makan pada K4 ini
merupakan area persiapan pada K1, K2, dan K3. (2) Luasan area persiapan lebih kecil dari
area penyantapan karena kegiatan makan hanya untuk anggota keluarga. (3) Kegiatan
makan dilakukan dengan menggunakan meja dan kursi sehingga posisi tempat duduk
cenderung menempatkan orang yang dituakan di ujung meja makan (Surya dan Gabe,
2015).

Hasil penemuan ketika menjamu tamu (K5) sedikit berbeda dengan K4 dan memiliki
beberapa kesamaan dengan K1, K2, dan K3. (1) Dapur tetap digunakan sebagai area
persiapan, ruang makan beralih fungsi menjadi area penyimpanan, dan area penyajian dan
penyantapan menggunakan ruang lepas. (2) Luasan area persiapan dan penyimpanan lebih
besar dari pada area penyajian berbeda dengan ketika perayaan siklus hidup karena hanya
sebagian area di ruang lepas yang digunakan dan orang yang mengikuti kegiatan makan
lebih sedikit. (3) Kegiatan makan dilakukan lesehan dengan menggunakan kain seprah di
depan kamar tidur (bilik) dari orang yang menerima tamu dan menggunakan tangan (5)
Posisi tempat duduk sesuai dengan aturan sopan santun di rumah Gadang (Suarman dkk,
2000) yaitu sumando (pemilik rumah) duduk membelakangi dinding bilik dan tamu duduk
di seberang sumando.

100

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Gambar 10. Elemen-elemen fisik dan hasil perhitungan space syntax pada pada kehidupan sehari-hari ketika
makan bersama keluarga dan menjamu tamu
Sumber: Ilustrasi pribadi, 2020

Pada kegiatan makan bersama keluarga terjadi kembali pengurangan ruang, adapun hasil
tahap 3 adalah sebagai berikut. (1) Nilai konektivitas tertinggi adalah ruang D dan E yang
berada di tengah sistem dan terhubung dengan dua ruang lainnya. (2) Nilai konektivitas
terendah adalah ruang B dan F yang berada di pinggir sistem yang terhubung hanya
dengan satu ruang lainnya, sekaligus juga memiliki nilai integrasi terendah. (3) Nilai
integrasi tertinggi adalah ruang E merupakan ruang makan tempat berlangsungnya
kegiatan menyantap makanan. Hasil nilai konektivitas dan integrasi pada kegiatan makan
menjamu tamu tidak memiliki perbedaan dengan K3 karena (1) ruang yang digunakan
sama namun memiliki perbedaan fungsi. (2) Fungsi ruang D dengan nilai integrasi tertinggi
hanya sebagai ruang sirkulasi dari area penyimpanan (ruang E) menuju area penyantapan
(ruang B).

Diskusi Hasil Penelitian
Hasil dari analisis elemen nonfisik, bagian ruang, dan elemen fisik, serta space syntax
terhadap ruang dan budaya makan ditemukan bahwa terdapat pembagian area pada
ruang-ruang di rumah Gadang berdasarkan proses kegiatan makan. Pada area
penyantapan menunjukkan temuan yang paling khusus tentang aturan posisi tempat

101

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

duduk ketika makan sesuai dengan tata sopan santun di dalam rumah Gadang (Suarman
dkk, 2020). Setiap area pada tahapan proses kegiatan makan ditemukan berfungsi sebagai
ruang sosial dengan peran berbeda-beda. Hasilnya juga memenuhi syarat lingkungan
efektif yang dikemukakan oleh Rapoport (1977).
1. Pembagian ruang dalam proses kegiatan makan
Ruang-ruang di rumah Gadang terbagi sesuai dengan proses kegiatan makan dalam siklus
hidup masyarakat Minangkabau yaitu area persiapan, area penyimpanan, dan area
penyajian dan penyantapan. Pembagian ruang ini juga didasari oleh pembagian peran
antara wanita dan pria dalam melaksanakan proses berlangsungnya kegiatan makan pada
siklus hidup mereka (lihat gambar 11). Wanita berperan penting pada proses menyiapkan
makanan melakukan kegiatan memasak di ruang-ruang pada bangunan tambahan di
bagian belakang rumah, sebagaimana wanita Minangkabau yang bertugas mengasihi dan
mengayomi keluarganya (Suarman dkk, 2000). Area persiapan yaitu ruang terbuka di
belakang rumah (H) pada K1 dan K2 dan ruang dapur (F) pada K3, K4, dan K5 memiliki nilai
j- graph terendah 3 dan tertinggi 6. Selain itu, juga memiliki nilai integrasi semakin rendah.
Posisi ruang-ruang ini dimulai dekat dari tengah sistem dan menuju pinggir sistem (Siregar,
2014). Selain itu, posisinya yang terletak di bangunan tambahan pada bagian belakang
rumah menyebabkan ruang-ruang ini berada di akhir sistem. Artinya ruang-ruang di area
persiapan memilki tingkat aksesibilitas yang rendah dan tingkat privasi yang tinggi karena
sulit dijangkau dan harus melewati ruang-ruang sebelumnya. Hal ini sebagaimana peran
wanita dalam mengayomi keluarganya juga memiliki hak untuk dijaga dan diistemewakan,
sehingga ruang-ruang yang digunakan oleh wanita Minangkabau harus dapat menjaga
privasi mereka.

102

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Gambar 11. Pembagian ruang berdasarkan peran wanita dan pria ketika proses kegiatan makan dan jenis
bangunan pada rumah gadang
Sumber: Ilustrasi pribadi, 2020

Area penyimpanan pada K1, K2, dan K3 terletak di ruang dalam sedangkan pada K4 dan
K5 menggunakan ruang makan. Berdasarkan nilai j-graph, kedua ruang ini memiliki nilai
yang kecil yaitu 2. Sementara itu, pada nilai integrasi memiliki hasil nilai yang cukup tinggi
dengan nilai RRA paling rendah pada K1 dan K3, serta nilai RRA terendah kedua pada K3,
K4,dan K5. Ruang dalam sebagai area penyimpanan ini terletak tepat di tengah dan dekat
dengan pusat sistem (Siregar, 2014). Artinya ruang ini dapat dengan mudah diakses dari
ruang-ruang lainnya yang menjadi ruang sirkulasi dan penghubung dengan ruang-ruang
lainnya dalam sistem. Pada konteks ruang dan budaya makan ini, ruang ini
menghubungkan area persiapan dan area penyantapan dan sebagai penghubung antara
wanita pemilik rumah (induak bako) dan raja janang atau anak lelaki (anak pisang). Hal ini
dikarenakan sebagai area penyimpanan hanya dapat diakses oleh wanita pemilik rumah
(induak bako) dan raja janang atau anak lelaki (anak pisang). Karena raja janang atau anak
lelaki (anak pisang) yang menghidangkan makanan yang telah disiapkan oleh wanita
pemilik rumah (induak bako) ketika sedang berlangsungnya kegiatan makan.

Lain halnya pada proses penyantapan pada perayaan siklus hidup yang dilakukan di ruang

103

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

lepas dan anjuang di bagian depan rumah pada bangunan utama. Berdasarkan nilai j-graph
kedua ruang ini menjadi satu bagian dan memiliki nilai 1. Sementara itu, nilai integrasinya
cukup rendah dengan nilai RRA tertinggi kedua. Artinya ruang ini terletak juga di pinggir
sistem (Siregar, 2014) namun pada bagian awal karena posisinya di bagian depan dan
merupakan ruang pertama dan kedua yang langsung dapat diakses dari pintu masuk ke
dalam rumah. Namun, pada kehidupan sehari hari ketika kegiatan makan bersama yang
dilakukan di ruang makan dan menjamu tamu di sebagian area ruang lepas, wanita juga
ikut serta dalam menyantap makanan. Hal ini sesuai dengan peran pria dalam proses
kegiatan makan yaitu berperan penting dan bertanggung jawab dalam menjamu tamu
ketika acara berlangsung. Karena dalam aturan adat Minangkabau, pria memiliki tanggung
jawab yang besar dalam memelihara keluarganya (Suarman dkk, 2000) yang artinya ikut
berperan aktif dalam kegiatan urusan keluarga.

Secara keseluruhan tugas wanita dan pria dalam masyarakat Minangkabau diatur
berdasarkan sistem kekerabatan matrilinieal, garis keturunan ibu (Suarman dkk, 2000, Surya
dan Gabe, 2015), yang terlihat jelas pada pembagian ruang berdasarkan proses
pelaksanaan kegiatannya. Ruang-ruang di dalam rumah Gadang pada pelaksanaan
kegiatan makan memenuhi salah satu syarat efektif sebuah lingkungan yaitu sesuai dengan
“a behavior setting system” yang dikemukakan oleh Rapoport (1997). Ruang-ruang di
dalam rumah Gadang ditata sesuai dengan aturan adat istiadat yang berlaku di dalam
masyarakat Minangkabau. Penataan ruang dilakukan berdasarkan peran wanita dan pria
dalam kehidupan berkeluraga dan bermasyarakat, termasuk dalam menjalankan budaya
makannya.

2. Tata cara duduk ketika makan
Pada area penyantapan di ruang lepas terdapat tata aturan posisi tempat duduk yang
diatur dalam tata sopan santun di dalam rumah Gadang (Suarman dkk, 2000). Pengaturan

104

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

posisi tempat duduk ini membagi ruang lepas dalam beberapa kelompok sesuai dengan
pengelompokkan pria di keluarga berdasarkan garis keturunan matrilinieal di
Minangkabau (lihat gambar 12). Pengelompokkan ruang ini ditandai oleh elemen fisik
dinding, kolom, dan kain seprah alas makanan serta perbedaan ketinggian lantai. Namun,
hasil data dengan analisis space syntax pada nilai konektivitas dan integrasi belum dapat
menggambarkan terjadinya kelompok-kelompok ruang pada area penyantapan ini. Aturan
posisi tempat duduk ini hanya berlaku pada kegiatan makan K1, K2, K3, dan K5 yang
menggunakan ruang lepas sebagai area penyantapan dengan duduk lesehan di lantai.
Pada K4 yang melaksanakan kegiatan menyantap makanan di ruang makan dengan
menggunakan meja dan kursi hanya memiliki kecenderungan menempatkan orang yang
dituakan di ujung meja makan (gambar 11). Kecenderungan ini juga didasarkan pada
aturan adat Minangkabau untuk menghormati orang yang dituakan sehingga biasanya
diposisikan di bagian ujung meja makan (Surya dan Gabe, 2015).

Kegiatan makan ketika perayaan siklus hidup tata aturan posisi tempat duduk ini tidak
memiliki perbedaan sama sekali. Ninik mamak duduk di bagian pangkal dekat dengan
pintu rumah bersandar ke dinding halaman yang mengarah ke bilik kemanakan. Sumando
harus duduk di depan biliknya membelakangi dinding kamar dan menghadap ke jendela.
Tamu yang tidak ada hubungannya dengan keluarga yang mengadakan perayaan tidak
boleh duduk dekat dengan ninik mamak. Anak lelaki yang merupakan kemenakan dari
ninik mamak dan raja janang anak lelaki dari ninik mamak dapat duduk di depan dan
menghadap ke ninik mamak. Aturan ini juga berlaku ketika menjamu tamu yaitu sumando
tetap harus duduk di depan biliknya dan tamu duduk di hadapannya.

105

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Gambar 12. Pengaturan posisi tempat duduk pada kegiatan makan ketika perayaan siklus hidup dan
kehidupan sehari-hari

Sumber: Ilustrasi pribadi, 2020

Dalam aturan hubungan sistem garis keturunan ibu, ninik mamak dapat menjadi datuak
kepala suku dari keluarga yang juga bertanggung jawab meningkatkan kesejahteraan serta
menjaga kerukunan dan ketentraman (Suarman dkk, 2000). Posisi tempat duduk ninik
mamak dapat melihat seluruh kondisi di dalam rumah dan menjaga pintu masuk.
Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi peran ninik mamak dalam mengawasi sumando
dan mengajari kemenakan serta menjaga kerukunan keluarga. Sumando merupakan tamu
di dalam keluarga dan tidak memiliki tanggung jawab di dalam keluarga istrinya tetapi
diminta untuk ikut berperan aktif dalam permasalahan kaum (Suarman dkk, 2000). Oleh
karena itu sumando duduk berada di depan biliknya dan menghadap ke pintu masuk
rumah, jika sumando bermasalah harus menghadapi ninik mamak yang menjaga keluarga.
Anak-anak lelaki duduk dihadapan ninik mamak untuk mendapatkan nasihat-nasihat dan
belajar mengenai urusan keluarga.

Pada rumah Gadang lainnya, anjuang digunakan untuk tempat duduk tamu kehormatan.
Namun, di rumah Gadang Istano Rajo Tuanku Alam Disambah ini, anjuang khusus dapat
digunakan hanya ketika raja dan ratu hadir dalam perayaan dan sebagai tempat pelaminan

106

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

pernikahan anak-anaknya. Berdasarkan hasil wawancara, adapun raja dan ratu ditempatkan
di anjuang yang posisinya satu tingkat lebih tinggi dari ruang lepas, sebagaimana raja dan
ratu yang memiliki tugas untuk bertanggung jawab pada kaumnya dan membawahi
kepala-kepala suku. Peran besar raja dan ratu inilah yang menyebabkan mereka
dikhususkan duduk di anjuang pada rumah Gadang untuk dapat mengawasi seluruh
anggota kaumnya. Pengaturan posisi tempat duduk membagi ruang lepas sebagai area
penyantapan menjadi kelompok-kelompok peran ninik mamak, sumando, dan kemenakan
di dalam keluarga berdasarkan sistem kekerabatan matrilinieal (Suarman dkk, 2000).
Pembentukan kelompok ruang pada ruang lepas ketika proses penyantapan makanan
memenuhi syarat lingkungan yang efektif yaitu “congruence with appropriate rules for
behavior” (Rapoport, 1997). Ruang lepas yang merupakan ruang terbuka dapat
memfasilitasi aturan adat yang berlaku yaitu tata cara duduk berdasarkan peran anggota
keluarga sesuai dengan sistem kekerabatan matrilinieal. Elemen-elemen fisik dari
bangunan rumah Gadang dan peralatan makan memenuhi syarat lingkungan efektif “cues
in setting” (Rapoport, 1997) yang menjadi penanda terbentuknya pengelompokkan ruang
pada area menyantap di ruang lepas. Pengelompokkan ruang ini terlihat dengan jelas
ketika pelaksanaan kegiatan menyantap makanan terjadi.

3. Peran kegiatan makan sebagai ruang sosial
Sesuai dengan pepatah adat Minangkabau tentang budaya makan (Rekarti, 2003) yang
telah disebutkan pada studi literatur, jamuan makan selalu diikutsertakan dalam
musyawarah dan kesempatan lainnya. Hal ini menyebabkan jamuan makan sebagai saran
komunikasi dan interaksi sosial bagi masyarakat Minangkabau. Interaksi sosial yang
terbentuk terbagi sesuai dengan pembagian ruang-ruang dalam proses kegiatan makan
dan orang yang berkegiatan di dalamnya.

Pada proses menyiapkan makanan pada setiap jenis kegiatan yang berlokasi di bagian

107

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

belakang rumah terjadi interaksi sosial utama yaitu interaksi antara Bundo Kanduang
dengan anak kemenakan perempuan dalam menuntun dan mengajarkan perihal
permasalahan rumah tangga. Selain itu, juga terdapat interaksi sosial antara wanita di
dalam keluarga dan tetangga yang ikut membantu dalam persiapan jamuan makan
perayaan siklus hidup. Sedangkan pada proses menyantap makanan di ruang lepas sesuai
dengan posisi tempat duduk berdasarkan hubungan para pria di dalam kekerabatan
matrilinieal (Suarman dkk, 2000) ketika perayaan siklus hidup dan menjamu tamu di
kehidupan sehari-hari, interaksi sosial antara pihak yang mengadakan acara dan para tamu
adalah bentuk interaksi yang utama. Terdapatnya juga interaksi sosial antara Ninik Mamak
dan anak kemenakan serta antara Ninik Mamak dan Sumando. Interaksi sosial yang
terbentuk pada kedua area ini sesuai dengan pembagian peran wanita dan pria dalam
jamuan makan dan tidak terjadi pencampuran interaksi sosial antara pria dan wanita.

Area penyimpanan di ruang dalam yang menghubungkan area persiapan di bagian
belakang dan area penyantapan di depan rumah ditemukan memiliki nilai integrasi paling
tinggi pada kegiatan makan K1 dan K3 serta pada K2, K4, dan K5 memiliki nilai integrasi
tertinggi kedua. Hal ini menandakan bahwa ruang dalam terletak di tengah sistem sesuai
dengan fungsinya sebagai ruang sirkulasi dan penghubung area-area lainnya. Pada ruang
dalam ini pula ditemukan pencampuran interaksi sosial antara wanita dan pria, lebih
tepatnya antara Bundo Kanduang dan Anak Pisang yang merupakan Raja Janang. Dari
ruang dalam ini anak pisang akan mengambil makanan dengan arahan Bundo Kanduang
dan menyajikannya ketika acara sedang berlangsung. Hal ini sesuai dengan aturan
hubungan sistem kekerabatan matrilinieal di Minangkabau (Suarman dkk, 2000) yaitu
Bundo Kanduang bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan kemenakan lelaki dari
saudara laki-lakinya.

Secara keseluruhan dengan bersumber dari pepatah adat Minangkabau dan sistem
kekerabatan matrilinieal, ruang-ruang dalam budaya makan merupakan ruang sosial

108

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

tempat terjadinya hubungan sosial antar pelaku tiap tahapan proses kegiatan makannnya.
Hubungan ruang dan budaya makan pada masyarakat Minangkabau sebagai ruang sosial
memenuhi syarat efektif lingkungan fisik (Rapoport, 1977) yaitu “consideration of latent
aspect of activities” dan “relation to other settings lead to the greater use”. Kegiatan makan
sebagai kegiatan sosial merupakan aspek tersembunyi dapat terfasilitasi dengan baik di
dalam ruang-ruang di rumah Gadang. Selain itu, terbentuknya ruang sosial ini terjadi di
seluruh area proses kegiatan makan yang sesuai dengan peran wanita dan pria dalam
sistem kekerabatan Minangkabau. Hubungan antar ruang-ruang di rumah Gadang yang
digunakan saling terhubung dengan baik sehingga mempermudah ruang gerak dalam
melakukan proses kegiatan makan.

PENUTUP
Penelitian ini menemukan bahwa tata ruang pada Rumah Gadang telah dengan efektif
memenuhi syarat-syarat dalam memfasilitasi budaya makan pada perayaan siklus hidup
dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Terdapat beberapa hubungan antara ruang dan
budaya makan dalam siklus hidup masyarakat Minangkabau berdasarkan adat istiadatnya
yaitu sebagai berikut.

a. Pembagian ruang dalam proses pelaksanaan kegiatan makan disesuaikan
dengan peran wanita dan pria berdasarkan sistem kekerabatan matrilinieal.
Hal ini didukung oleh hasil perhitungan dengan menggunakan teknik
analisis space syntax.

b. Ruang lepas sebagai area penyantapan terbagi menjadi kelompok-
kelompok ruang yang lebih kecil sesuai dengan pengaturan posisi tempat
duduk para pria Minangkabau berdasarkan sistem kekerabatan matrilinieal.
Kelompok-kelompok ruang ini ditandai oleh dinding, kolom, dan kain seprah
alas makanan.

c. Seluruh ruang-ruang tempat pelaksanaan kegiatan makan merupakan ruang

109

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

sosial tempat terjadinya interaksi sosial yang mencerminkan pepatah adat
Minangkabau.

Selain itu, penggunaan teknik analisis space syntax terbukti dapat digunakan dalam
mempelajari dan memperjelas hubungan antara ruang dan kegiatan berbudaya. Namun,
pada konteks ruang yang lebih kecil dan spesifik seperti pada pengelompokan ruang yang
lebih kecil pada satu ruang besar dan perbedaan ruang karena ketinggian lantai, teknik
analisis space syntax yang digunakan belum dapat menguraikan fenomena yang terjadi
sehingga perlu ditambahkan pada dimensi-dimensi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Díaz-Méndez, C., van den Broek, H. (2017). Eating out in modern societies: An overview of

a heterogeneous habit. Appetite, 119, 1-4.
https://doi.org/10.1016/j.appet.2017.05.003
Franzia, E., Piliang, Y., Saidi, A. (2015). Rumah Gadang as a Symbolic Representation of
Minangkabau Ethnic Identity. International Journal of Social Science And Humanity,
5(1), 44-49. https://doi.org/10.7763/ijssh.2015.v5.419
Goodman, M., Johnston, J., Cairns, K. (2017). Food, media and space: The mediated
biopolitics of eating. Geoforum, 84, 161-168.
https://doi.org/10.1016/j.geoforum.2017.06.017
Lipoeto, N., dkk (2001). Contemporary Minangkabau food culture in West Sumatra,
Indonesia. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition, 10(1), 10-16.
https://doi.org/10.1046/j.1440-6047.2001.00201.x
Maximillian, A. (2013). Korelasi Interior Restoran Italia dengan Restoran dan Cafe Bergaya
Italia di Bandung. Tesis Jurusan Desain Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Mintosih, S., Widiyanto, Y. (1996). Tradisi dan Kebiasaan Makan pada Masyarakat
Tradisional di Kalimantan Barat. Ed. 1, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional,
Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

110

Serat Rupa Journal of Design, January 2021, Vol.5, No.1: 80 - 105
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v5i1.2984 | Received: 25- 09- 2020, Accepted: 17 -01 - 2021

Vania Dwi Amanda Surya, Gregorius Prasetyo Adhitama
Rumah Gadang : Ruang dan Budaya Makan dalam Siklus Hidup Masyarakat Minangkabau
________________________________________________________________________________________________________

Newman, J. (2009). The linguistics of eating and drinking. John Benjamins Pub. Co.
Nurmufida, M., Wangrimen, G., Reinalta, R., & Leonardi, K. (2017). Rendang: The Treasure

of Minangkabau. Journal of Ethnic Foods, 4(4), 232-235.
https://doi.org/10.1016/j.jef.2017.10.005
Nurti, Y. (2013). Perubahan Budaya Makan pada Orang Minangkabau : Suatu Kajian Kasus
pada Acara Baralek Gadang di Kota Padang. Disertasi Jurusan Antropologi
Universitas Indonesia, Depok.
Probyn, E. (2017). Eating/space/media. Geoforum, 84, 243-244.
https://doi.org/10.1016/j.geoforum.2017.06.020
Rapoport, A. (1977). Human Aspects of Urban Form. Pergamon Press.
Rekarti, E. (2003): Hiper-Realitas pada Rumah Makan Padang Kecenderungan Konsumen
Tidak Lagi Memperhatikan Keaslian Suatu Produk, Diunduh 14 April 2014 dari
http://portal.kopertis3.or.id/bitstream/123456789/1093/1/HIPERREALITAS%20PAD
A%20RUMAH%20MAKAN%20PADANG%20Kecendrungan%20konsumen%20tidak
%20lagi%20memperhatikan%20keaslian%20suatu%20produk.pdf.
Sari, N. (2000). Alat Santap – Kajian Desain dalam Konteks Budaya Makan Orang Sunda
Masa Kini di Bandung, Tesis Jurusan Desain Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Siregar, J. (2014). Metodologi Dasar Space Syntax dalam Analisis Konfigurasi Ruang.
Diunduh 28 Juni 2020 dari http://johannes.lecture.ub.ac.id/files/2014/03/Modul-
01-space-syntax-metodologi-dasar-sapace-syntax.pdf.
Suarman., Arifin, B., Chan, S. (2000). Adat Minangkabau – Nan Salingka Hiduik
Surya, V., Gabe, R. (2015). In Dwelling : The Tradition of Eating Activities on Urban
Minangnese. Dipresentasikan pada International Conference on Dwelling Form,
Lombok, Indonesia.

111



Serat Rupa Journal of Design, January 2020, Vol.4, No.1: 01-15
E-ISSN: 2477-586X, ISSN: 2338-3348 | https://doi.org/10.28932/srjd.v4i1.2012 | Received: 30- 10- 2019,

Accepted: 16- 01- 2020
Mahimma Romadhona, Aileena Solicitor Costa Rica El Chidtian, Roziana Febrianita

Kajian Bela Negara Pada Desain Kostum dan Atribut Superhero Panca Satria
________________________________________________________________________________________________________

DOI: https://doi.org/10.15548/tabuah.v21i2.65

TRADISI KULINER MASYARAKAT MINANGKABAU:

Aneka Makanan Khas Dalam Upacara Adat dan Keagamaan

Masyarakat Padang Pariaman

Siti Aisyah
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

e-mail:

Abstrak

Minangkabau daerah yang kaya dengan aneka kuliner terkenal kelezatannya. Di
setiap daerahnya juga memiliki tradisi yang berbeda dalam menyajikan kuliner
tersebut sehingga terbentuk sebuah tradisi tersendiri dalam masyarakat. Padang
Pariaman bagian dari daerah rantau Minangkabau memiliki aneka ragam kuliner
(makanan) khas yang menjadi budaya masyarakatnya. Ada makanan khas yang
dibuat dalam upacara adat dan ada juga dalam upacara keagamaan masyarakat.
Keberadaan makanan tersebut dianggap penting dalam upacara tersebut, karena
apabila dalam pelaksanaan upacara tersebut tidak membuat makanan tradisi yang
biasa dilakukan, maka pelaksanaan upacara dianggap kurang lengkap. Umumnya
makanan khas tersebut berbahan dasar beras ketan (pulut) dan santan kelapa,
karena Padang Pariaman dikenal dengan sebagai daerah penghasil kelapa yang
kental santannya. Diantara makanan yang dihidangkan dalam upacara dalam
pelaksanaan tradisi adat seperti rendang, lapek bugis, juadah. Makanan tersebut
disajikan dalam upacara perkawinan, batagak penghulu dan batagak rumah.
Sedangkan dalam upacara keagamaan, makanan yang disajikan adalah lemang dan
sambareh. Penyajian kedua jenis makanan ini menjadi tradisi bagi masyarakat
Padang Pariaman. Munculnya tradisi ini seiring dengan penyebaran agama Islam
di Minangkabau yang dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin. Makanan lemang
disajikan dalam upacara maulid nabi setiap bulan Rabiul Awal dan bulan Sya’ban
dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, bahkan nama bulan sya’ban bagi
masyarakat Padang Pariaman lebih dikenal dengan istilah bulan lamang. Demikian
juga halnya dengan makanan sambareh disajikan setiap bulan Rajab sehingga bulan
ini dikenal dengan sebutan bulan Sambareh.

Kata Kunci: Makanan/Kuliner, Minangkabau, Adat dan keagamaan

Abstract

Minangkabau area rich with various famous culinary delights. In each region also
has a different tradition in serving the culinary so that formed a separate tradition
in society. Padang Pariaman part of Minangkabau rantau area has a variety of
culinary (food) that is typical of the culture of the community. There are typical
foods made in traditional ceremonies and there are also in the religious ceremonies
of the community. The existence of such food is considered important in the
ceremony, because if in the implementation of the ceremony does not make the
traditional food tradition is usually done, then the implementation of the ceremony
is considered incomplete. Generally these typical foods made from sticky rice
(pulut) and coconut milk, because Padang Pariaman is known as a coconut
producer region that thick coconut milk. Among the food served in the ceremony
in the implementation of traditional traditions such as rendang, lapis bugis,
juadah. The food is served in a marriage ceremony, the tradition of inaugurating

29

30 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau
penghulu and the tradition of building a house. While in religious ceremonies, food
made to serve is lemang and sambareh. Presentation of these two types of food
became a tradition for the people of Padang Pariaman. The presence of this
tradition along with the spread of Islam in Minangkabau spread by Sheikh
Burhanuddin. Lemang food is served in the Prophet's mawl each month Rabiul
Beginning and Sha'ban month in order to welcome Ramadan, even the name of the
moon of sha'ban for Padang Pariaman society better known as the term lamang.
Likewise with sambareh food served every month Rajab so this month known as
the month of Sambareh.
Key Words: Food / Culinary, Minangkabau, Custom and religious

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 31

A. Pendahuluan makanan dalam acara ritual upacara adat
dan menyambut hari besar keagamaan
Pembahasan tentang kuliner adalah masyarakat. Bahkan keberadaan
persoalan yang berkaitan dengan makanan itu sangat menentukan
makanan, baik proses memasaknya, cara terlaksananya kegiatan upacara
menyajikannya dan cita rasa yang masyarakat dan menjadi identitas dalam
dihasilkannya. Sedangkann makanan upacara tersebut, baik dalam upacara adat
adalah bahan yang dikonsumsi manusia maupun upacara keagamaan. Apabila
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. dalam upacara tersebut tidak terdapat
Cara mengkosumsinya ada yang dengan makanan khas itu, mereka merasa
cara dimasak, difrementasi dan ada juga upacaranya tidak lengkap dan merasa
yang dimakan lansung. Pada umumnya khawatir dianggap tidak menghormati
setiap makanan dikosumsi setelah jalannya upacara. Bahkan demi untuk
melalui proses dimasak, ada yang diolah menghadirkan makanan tersebut dalam
dulu menjadi tepung baru setelah itu pelaksanaan upacara tersebut, sebagian
diolah menjadi makanan, dan ada juga masyarakat ada yang sudah menabung
yang melalui proses produksi energi dari beberapa bulan sebelumnya dan ada
dalam sel yang ditempatkan dalam ruang juga yang berhutang kepada tetangga
tanpa oksigen dalam beberapa waktu demi mewujudkan makanan tersebut,
sehingga menghasilkan makanan dengan karena merasa malu khawatir akan
cita rasa tersendiri yang disebut melalui dipergunjingkan tetangga. Itulah
proses difrementasi. Namun ada juga sebabnya budaya makanan di
makanan yang didapat setelah dipetik Minangkabau khususnya Padang
dari dahannya bisa lansung dimakan, hal Pariaman masih bertahan sampai
ini biasanya makanan berupa buah- sekarang. Padang Pariaman sebagai
buahan. daerah rantau Minangkabau yang
termasuk bagian wilayah kawasan
Masing-masing daerah memiliki Melayu, termasuk memiliki masyarakat
keunikan dan cita rasa tersendiri dalam yang masih kental dengan tradisinya dan
membuat makanan sesuai dengan kondisi kuat keyakinan dalam bidang agama.
dan budaya masyarakat masing-masing
daerah. Seiring dengan perkembangan B. Metode Penelitian
zaman kemampuan masyarakat masing-
masing daerah mengolah makanan Penelitian mengenai tradisi kuliner
khasnya semakin meningkat dan cita rasa masyarakat Minangkabau: aneka
yang dihasilkan pun semakin sempurna makanan khas dalam upacara adat dan
dan semakin bervariasi serasi dengan keagamaan masyarakat Padang Pariaman
selera masyarakatnya, sehingga mampu menggunakan jenis penelitian deskriptif
menjadi daya tarik orang untuk kualitatif dengan lokasi penelitiannya di
menikmatinya. Ada makanan tersebut Padang Pariaman. Bentuk penelitiannya
yang dibuat dalam bentuk makanan yang menggambarkan kebiasaan masyarakat
mengenyangkan dan minuman yang dalam melaksanakan tradisi upacara adat
menyegarkan dan ada juga berupa dan keagamaan yang berlansung setiap
makanan penganan yang menjadi ciri tahun, karena dalam pelaksanaan upacara
khas daerahnya. Semua makanan yang tersebut ditemukan beberapa jenis
diolah tersebut tercipta berdasarkan makanan yang dianggap penting yang
tuntutan kondisi masyarakat dan dan memiliki nilai bagi masyarakat
berdasarkan bahan yang terdapat di dalam pelaksanaannya. Teknik
daerah tersebut. pengumpulan data dilakukan melalui
kajian kepustakaan (library research),
Diantara beberapa makanan pengamatan (observation) dan
tersebut ada yang khusus dibuat untuk

Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

32 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau

wawancara (interview) yang tidak lebih cenderung kepada persatuan dan
terstruktur. Setelah semua data kesatuan dalam bermasyarakat,
terkumpul, kemudian data tersebut diolah sedang upacara keagamaan lebih
dan dianalisis dengan menggunakan cenderung orientasinya terhadap
metode penelitian deskriptif kualitatif. hubungan manusia dengan Maha
Pencipta.2 Melalui kegiatan upacara
C. Pembahasan bagi sebagian masyarakat merupakan
wujud dari sikap manusia yang
1. Kuliner Tradisional Masyarakat mematuhi tadisi adat dan ketaatan
Minangkabau terhadap keyakinannya. Oleh sebab
itu dalam setiap upacara, baik dalam
Minangkabau dikenal kaya upacara adat maupun upacara
keagamaan selalu dilengkapi dengan
dengan makanan tradisional, baik berbagai macam hidangan makanan
untuk menjamu orang yang telah
dalam bentuk dalam bentuk makanan menghadiri upacara tersebut karena
orang yang telah hadir itu dianggap
khas dalam tradisi upacara ikut serta mendoakan keselamatan dan
harapannya.
kebudayaan masyarakat, maupun
Moertjipto menjelaskan dalam
dalam bentuk makanan khas wisata tulisannya Fadly Rahman bahwa
tradisi makan menjadi ciri khas aspek
kulinernya. Selain itu kuliner religi dalam tradisi selamatan.
Selamatan itu diadakan untuk
Minangkabau juga terkenal dengan kepentingan individual, menyangkut
siklus hidup seseorang sejak masa
kelezatan rasanya, hal ini terbukti sebelum lahir hingga meninggal
makanan “rendang” salah satu kuliner dunia, diyakini sampai seribu hari
sesudah orang meninggal dunia masih
yang berasal dari Minangkabau, dilansungkan, dan selamatan, yang
diadakan untuk kepentingan suatu
sampai sekarang tetap menjadi kelompok.3 Bentuk makanan yang
disajikan biasanya merujuk kepada
makanan terlezat di dunia. kebiasaan leluhurnya, karena upacara
yang dilakukan juga merupakan
Berdasarkan poling bertajuk World 50 warisan tradisi nenek moyangnya.

Best Foods, CNN Go tahun 2011 Dalam konsep sejarah
Minangkabau lama keadaan wilayah
merilis poling tersebut ternyata alam Minangkabau itu terbagi kepada
hasilnya “rendang” menduduki urutan dua bagian yaitu darek dan rantau4.
Daerah darek di Minangkabau dikenal
pertama sebagai makanan terlezat di

dunia dengan mengalahkan
berbagaimakanan dari negara lain.1

Realita ini menjadi fakta bahwa

masyarakat Minangkabau memiliki

kemampuan yang luar biasa dalam

mengolah makanan. Selain itu

kenyataan tersebut juga

mencerminkan kepada dunia betapa

kayanya kuliner yang terdapat di

Minangkabau, baik makanan khas

sehari-hari, maupun makan yang

disajikan dalam upacara adat dan

keagamaan.

Pelaksanaan upacara adat bagi
masyarakat Minangkabau sifatnya

1Fadly Rahman, Jejak Rasa Nusantara, 3Fadly Rahman, Rijsttafel, Budaya Kuliner Di
Indonesia Masa Kolonial 1870-1942, Jakarta, PT
Sejarah Makkanan Indonesia, Jakarta, PT. Gramedia Gramedia Pustaka Utama, 2016, h. 104

Pustaka Utama, 2016, h.1 4Menurut tulisan Mestika Zed istilah rantau
2Aswil Rony, Aneka Ragam Makanan
pada daerah pesisir Minangkabau itu disebutkan karena
Tradisional Minangkabau, Padang: Departemen
daerah ini sebagai tempat merantau orang
Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan
Minangkabau. Mestika Zed, Saudagar Pariaman
Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat
“Aditiyawarman” 2001, h. 1

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 33

dengan sebutan luhak nan tigo: yaitu mereka dalam memenuhi kebutuhan
luhak Tanah Datar, luhak Agam, dan sehari-harinya.
luhak Lima puluh Kota5. Ketiga
daerah luhak disebut sebagai daerah Keberadaan kuliner itu pada
aslinya Minangkabau, sebab dari
daerah tersebut tersebarnya hakikatnya untuk memenuhi
masyarakat sampai ke daerah rantau
Minangkabau. Daerah Padang kebutuhan hidup dan bagian dari
Pariaman, dahulunya dikenal dengan
nama Piaman atau Pariaman yang budaya, demikian juga halnya dengan
posisinya terdapat di daerah rantau
Minangkabau. Ditinjau dari sejarah keberadaan kuliner di Minangkabau
Islam di Minangkabau daerah ini
dikenal sebagai pusat penyebaran yang memiliki cita rasa yang terkenal
Islam yang dibawa oleh Syekh
Burhanuddin dengan pusatnya di dengan kelezatannya. Antara daerah
Ulakan, kemudian terus menyebar ke
seluruh wilayah alam Minangkabau. darek dan rantau pada hakikatnya

Posisi daerah rantau terdapat di memiliki kesamaan dalam
bagian pesisir dari wilayah darek yang
berdekatan dengan pantai. Sumber pelaksanaan upacaranya, demikian
daya alam dari kekayaan dari laut dan
pantai ikut mempengaruhi bentuk juga halnya dalam mengolah makanan
kuliner yang dihasilkannya. Daerah
Piaman, (Kota Pariaman dan Padang baik dalam menggunakan bumbu dan
Pariaman) termasuk bagian daerah
rantau Minangkabau dikenal dengan bentuk pengolahannya juga tidak
makanan spesifik ikan dan berbagai
makanan yang bersumber dari laut. berbeda baik dalam namanya,
Selain itu daerah ini sejak dahulu
sampai sekarang juga dikenal sebagai jenisnya, jenis peralatannya, maupun
sumber penghasil kelapa yang
memiliki santan berkualitas baik tata cara pelaksanaannya.6 Seiring
dibanding daerah darek, sehingga
berbagai makanan yang menggunakan dengan perkembangan zaman budaya
bumbu santan di daerah ini lebih lezat
rasa dan penghasil minyak kelapa makanan itu terus berlanjut diturunkan
yang baik. Itulah sebabnya kelapa
yang berasal dari Padang Pariaman kepada anak cucunya, sehingga
selalu diekspor ke daerah darek guna
memperlezat cita rasa makanan yang diyakini sebagai sebuah tradisi yang

oleh generasi penerusnya.

Masing-masing daerah di
Minangkabau juga memiliki makanan
khas yang serasi dengan selera
masyarakatnya dan keberadaan
sumber daya alamnya. Meskipun
antara daerah darek dan rantau pada
dasarnya memilik kesamaan dalam
membuat makanan khas. Daerah
rantau memiliki makanan khas yang
terbuat dari sumber alam dari laut
seperti ikan udang dan lainnya.
Semenjak penyebaran Islam yang
dilakukan oleh Syekh Burhanuddin
masyarakat Padang Pariaman mulai
beralih mengolah makanan dari
daging sehingga sejak saat itu Padang
Pariaman memiliki kuliner khas yang
berasal dari daging.

Menerjang Ombak Membangun Maskapai, Jakarta: terletak di sebelah utara dan barat gunung Sago, Lihat
LP3ES, 2017, h. 16-17 Amir Sjarifoedin Tj. A., Minangkabau, dari Dinasti
Iskandar Zulkarnain sampai Tuanku Imam Bonjol,
5Luhak Tanah Datar terletak di kaki gunung Jakarta, PT. Gria Media Prima, 2011, h.10-11
Merapi dan gunung Sago, luhak Agam terletak di
sebelah barat gunung Merapi dan sebelah utara gunung 6Aswil Rony dkk., h. 2
Singgalang , sedangkan luhak Lima Puluh Kota
Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

34 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau

Fadly Rahman mengemukakan masing-masing upacara tersebut
bahwa nilai religi itu berkaitan dengan terdapat kuliner khas yang selalu
hal apa saja yang boleh dimakan dan disajikan pada saat upacara tersebut
apa saja yang tidak boleh dimakan.7 seperti upacara perkawinan, upacara
Selain nilai tradisi, nilai religi juga kematian, upacara kelahiran, batagak
turut melandasi budaya makanan penghulu, dan batagak kudo-kudo.
suatu daerah sehingga masyarakat Diantara kuliner yang sering disajikan
menjadi lebih selektif dalam memilih dalam upacara adat tersebut
makanan. Syekh Burhanuddin diantaranya nasi kunyik, nasi lamak,
mengajarkan masyarakat untuk selalu pinyaram, lapek bugih dan
memakan makanan yang halal melalui sebagainya. Sedangkan bentuk kuliner
tradisi yang berkembang di daerah yang sering ditemui dalam upacara
tersebut. Dahulunya masyarakat keagamaan seperti lamang, sambareh
Padang Pariaman hanya mengolah (serabi), pinyaram, dan hidangan
makanan dari laut, seiring dengan lainnya. Masing-masing upacara
proses islamisasi yang dijalankan oleh tersebut diawali doa yang dipimpin
Syekh Burhanuddin, mereka mulai tokoh ulama dibarengi dengan
mengenal makanan yang terbuat dari makanan jamba dan ada pula yang
daging. hanya dengan diletakan diatas dulang
dan hidangan saparah saja. Biasanya
Keberadaan islamisasi setiap upacara tersebut selalu dihadiri
pemimpin atau tokoh adat, alim
membawa imbas terhadap pola ulama, cadiak pandai dan urang
sumando serta tokoh pemuda dan para
komsumsi masyarakat Minangkabau undangannya.

dalam mengkomsumsi daging.8 2. Tradisi Kuliner Masyarakat
Padang Pariaman
Semenjak itu Pariaman memiliki
Padang Pariaman9 merupakan
makanan khas yang berasal dari daerah rantau Minangkabau yang
terkenal kental tradisi budaya
olahan daging, seperti sate daging, daerahnya dan kaya dengan kuliner
tradisional. Kekayaan kuliner ini
katupek gulai tunjang, gulai jangek, didukung oleh sumber daya alamnya
dan kemampuan masyarakatnya
kalio jengkol dan daging dan gulai dalam mengolah makanan menjadi
penganan yang bercita rasa lezat.
bagar. Sebagai buktinya kuliner sate Kekayaan sumber daya alam laut di
Padang Pariaman menjadikan daerah
Piaman dan Sate Ajo merupakan ini memiliki jenis kuliner khas
spesifik dari laut yang sangat digemari
makanan khas yang berasal dari oleh wisatawan pantainya, sehingga
disepanjang pantai tesebut terdapat
Pariaman sudah tersebar sampai ke beberapa warung makan yang

seluruh daerah di Indonesia. Ada juga

yang menyebutnya sebagai Sate

Padang, karena Padang Pariaman

terdapat di Propinsi Sumatera Barat

dengan ibu kota Propinsinya Padang.

Penyajian makanan khas
tradisional dalam upacara adat dan
keagamaan di Minangkabau baik di
daerah darek maupun daerah rantau
ada beberapa daerah yang masih
bertahan sampai sekarang. Pada

7Fadly Rahman, Rijsttafel, Budaya Kuliner Di 9Salah satu kabupaten yang terdapat di
Indonesia Masa Kolonial 1870-1942, h. 28 Sumatera Barat yang dahulunya dikenal dengan sebitan
Piaman laweh (Pariaman Luas), karena termasuk Kota
8Fadly Rahman, Jejak Rasa Nusantara,

Sejarah Makanan Indonesia, h. 31 Padang sampai tahun 1980 dan Mentawai sampai tahun

1999 dan dan Kota Pariaman sampai tahun 2002.

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 35

membuat berbagai macam masakan suatu tradisi yang harus selalu
dari ikan dan udang dan lainnya. dilaaksanaakan, karena melalui
Selain itu Zusneli Zubir juga upacara tersebut sebagai bukti
menambahkan bahwa kelezatan rasa keberadatan dan ketaatan mereka
masakan daerah ini terletak pada terhadap tradisi dan agama yang
santan kelapa yang pekat dan kental,10 dianutnya. Tradisi Malamang bagi
sehingga setiap makanan yang masyarakat Padang Pariaman yang
menggunakan santan menjadi terasa dilaksanakan dibulan Sya’ban bagi
lebih lezat dibanding derah lain. penganut tarikat Syatary memiliki
makna yang bernilai tinggi dimata
Di daerah ini terdapat beberapa masyarakatnya. Melalui tradisi
rutinitas tradisi upacara yang selalu tersebut tergambar wujud seorang
ditemani dengan aneka kuliner anak yang berbakti kepada orang
tradisional. Aktifitas ini selalu tuanya, karena biasanya menjelang
dijalankan masyarakat secara rutin Ramadhan si anak selalu meminta
setiap tahun, baik dalam berupa maaf kepada orang tuanya dengan
upacara adat, maupun upacara cara berdoa yang bersama yang
keagamaan masyarakat. Dalam hal ini dipimpin oleh Tuanku di daerah
mereka seperti memiliki kalender tersebut.12
tersendiri yang menjadi acuan dalam
aktifitas mereka dalam setahun. Setiap melaksanakan upacara
Menurut Armaidi Tanjung kalender
tersebut dijadikan bagi masyarakat tersebut, masyarakat Padang Pariaman
Piaman (Kabupaten Padang Pariaman
dan Kota Pariaman) sebagai tanda membuat makanan khas yang menjadi
penentu umur dan acuan rencana kerja
kedepan, seperti dalam menentukan identitas pelaksanaan upacara
kapan dilansungkan kapan waktu
dilansungkan acara pertunangan, pesta tersebut. Semua makanan yang
perkawinan, batagak kudo-kudo,
maangkek gala (datuak), maacah-an dimasak berdasarkan tradisi yang
batu (pemasangan pondasi
rumah/bangunan) dan kegiatan diwariskan dari nenek moyangnya
lainnya.11
secara turun temurun, baik proses
Bagi masyarakat Padang
Pariaman pelaksanaan upacara memasaknya, bahan yang
tradisional sebagai warisan budaya
dari nenek moyang mereka dahulu digunakannya, penyajiannya dan cita

rasanya. Itulah sebabnya kebiasaan

tersebut tetap berlansung sampai

sekarang di Padang Pariaman ada

beberapa jenis makanan yang selalu

dibuat dalam setiap upacara adat dan

keagamaan.

a. Kuliner dalam Upacara Adat

10Zusneli Zubir, Kuliner Pantai Barat Sumatera: bulan dalam kalender Piaman tersebut nama-nama
Studi Kasus Masakan Tradisional Khas Padang bulan secara berurutan disebut bulan Tabuik, Sapa,
Pariaman Dalam Perspektif Sejarah, Makalah, Muluik, Adiah Muluik, Adiak Muluik nan Kaduo,
Padang, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Carai, Sambareh, Lamang, Puaso, Rayo, Adiak Rayo
Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (T, dan Haji. Kalender Piaman ini sejalan dengan tahun
Th.), h. 10 Hijriyah.

11Armaidi Tanjung, Kalender Piaman di Mata 12Siti Aisyah dkk., Tradisi Malamang Bagi
Armaidi Tanjung, MinangkabauNews, Selasa 06 Masyarakat Padang Pariaman, (Kajian Sosial
Oktober 2015 , Seorang penulis warga Piaman yang Budaya), Penelitian , Dosen Fakultas Adab dan
tinggal di nagari Sintuak, Kecamatan Sintoga, Humaniora IAIN Imam Bonjol Padang, Padang,
Kabupaten padang Pariaman, Minangkabaunews.com., Tahun 2015, h. 36
Senin, 11 September 2017, Diantara nama-nama nama
Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

36 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau matang sehingga berwarna
coklat kehitaman agar tidak
Padang Pariaman termasuk cepat basi, karena dahulu itu
bagian daerah rantau Minangkabau orang Minang suka berpergian
memiliki tradisi dan budaya yang menempuh perjalanan selama
tidak jauh berbeda dengan tradisi beberapa hari dan bahkan ada
daerah darek yang merupakan yang sampai seminggu lamanya
daerah asalnya Minangkabau. dapat dijadikan bekal sambal
Begitu juga dalam pelaksanaan dalam perjalanan.
tradisi upacara tradisionalnya,
penyajian kuliner antara daerah Bahan dasar yang dibuat
darek dan rantau memilik banyak untuk rendang ini biasanya
kesamaan. baik dalam tata cara dan berasal dari daging, ada daging
penyajian makanannya. Hanya saja sapi, daging kerbau, daging
ada yang waktu penyajian ayam tetapi ada juga yang
makanannya yang berbeda, dan ada membuat rendang jengkol dan
pula memberi nama hidangan. telur puyuh yang dimasak
1) Rendang dengan menggunakan santan
kelapa. Bumbu yang digunakan
Rendang Daging untuk memasak rendang ini
https:///www.google.co.id antara daerah darek dan rantau
Minangkabau tidak jauh
Rendang dikenal sebagai berbeda dalam mengolahnya,
diantaranya lengkuas/laos, jahe,
kuliner khas masyarakat kemiri, bawang putih, bawang
merah, cabe giling halus, serai,
Minangkabau yang sampai daun jeruk purut, daun kunyit,
dan salam serta garam
sekarang masih disebut sebagai secukupnya. Semua bumbu
tersebut digiling halus kecuali
makanan terlezat di dunia. daun-daunan dan serai yang
hanya dimemarkan saja, lalu
Seluruh masyarakat diaduk ke dalam santan yang
dimasak dengan api sedang.
Minangkabau mulai dari Setelah santannya mendidih
sampai keluar minyaknya lalu
Sumatera Barat sampai ke dimasukkan daging yang sudah
dipotog-potong. Kemudian
Negeri Sembilan pandai santan dan daging terus diaduk
sampai santannya mengering
mengolah masakan rendang. dan mengeluarkan minyak
sampai warnanya sudah
Munculnya masakan kehitaman dan berdedak.14

rendang ini sangat erat Biasanya rendang itu
disajikan dalam upacara adat,
kaitannya dengan kebiasaan terutama dalam pelaksanaan
upacara perkawinan, karena
masyarakat Minang yang suka pelaksanaan acara perkawinan

berpergian/ merantau, karena

menurut Fadly Rahman bahwa

sifat awet rendang ini disukai

untuk dibawa sebagai bekal,

baik kala berniaga maupun

merantau.13 Rendang itu dibuat

dengan sengaja dimasak sampai

13Fadly Rahman, Jejak Rasa Nusantara, 14Aswil Rony dkk., h. 68

Sejarah Makkanan Indonesia, h. 51

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 37

itu dahulunya tidak hanya satu dan upacara kematian
hari saja tetapi ada yang tiga hari
bahkan ada yang sampai sedangkan di kawasan daerah
seminggu lamanya. Rendang ini
termasuk makanan istimewa rantau ditambah dengan upacara
yang tahan lama yang tahan
sampai berbulan lamanya, turun mandi.
sehingga dapat dijadikan
sebagai bekal persiapan sambal Memasak nasi kunyik di
yang sering disajikan untuk
persedian sambal dalam pesta daerah Padang Pariaman
perkawinan dan hari raya.
Bentuk pengoalahannya ada biasanya terdapat dalam upacara
yang dibuat tidak sampai kering
sehingga disebut rendang basah, perkawinan dan upacara turun
sebab isi dan bumbu yang sama
dengan memasak rendang mandi. Nasi kunyik dianggap
kering. Nama rendang ini lebih
dikenal dengan nama gulai sebagai makanan tradisi dan
kalio, baik kalio daging atau ada
juga kalio jengkol. simbol makanan adat yang

2) Nasi Kunyik / Kunik dihidangkan untuk menjamu

para tokoh adat yang hadir

dalam acara perkawinan

tersebut, selain itu nasi kunyik

juga dijadikan sebagai makanan

penganan untuk oleh-oleh atau

tanda terima pelaksana acara

kepada para undangan yang

telah hadir dalam acara

perkawinan tersebut. Nasi

kunyik tersebut dibungkus

dengan daun pisang

digabungkan dengan irisan kue

bolu atau lapek bugih.

Sedangkan dalam upacara turun

mandi nasi kunyik itu dibuat

untuk dibagikan kepada anak-

anak yang hadir dalam acara

tersebut.

Nasi Kunyik Bahan nasi dari nasi
https:///www.google.co.id
kunyik ini adalah beras pulut,

Nasi kunyik merupakan santan garam dan kunyit. Cara

suatu makanan penganan yang membuatnya dengan mencuci

biasa disajikan dalam upacara beras pulut terlebih dahulu,

adat Minangkabau. Budaya kemudian beras tersebut

membuat kuliner nasi kunyik ini direndam sebentar. Setelah

hampir seluruh wilayah di selesai direndam beras tersebut

Minangkabau yang dimasak dengan cara dikukus

membuatnya, hanya waktu dalam dandang15. Ketika beras

penyajiannya ada yang berbeda. pulut ini setengah masak lalu

Di kawasan daerah darek diangkat dan dinginkan,

Minangkabau membuat kemudian kunyit ditumbuk

makanan nasi kunyik ini untuk diambil airnya yang

biasanya dalam pelaksanaan nantinya dicampur dengan

upacara adat seperti apacara santan untuk dimasak pula.

perkawinan, batagak penghulu Kemudian adukan air kunyit

15Dandang itu berupa periuk yang diberi batas untuk bisa masuk uap panas air yang dipanaskan
dari alumuniun yang sudah diberi banyak lobang, dibawah alas tiris tersebut.

Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

38 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau

dengan santan ini diaduk dengan Pinyaram
beras pulut yang didinginkan https://www.google.co.id
sampai rata sampai semuanya
berrwarna kuning. Setelah itu Pinyaram adalah sejenis
adukan beras pulut dengan kue adat yang selalu ada dalam
kunyit ini sehingga jadilah nasi upacara adat pernikahan dan
kunyit/nasi kunyik.16 Ada juga pesta datuak, dan upacara
masakan dari beras pulut ini keagamaan di Minangkabau
disebut dengan nasi lamak atau tertama di daerah darek ketika
nasi lemak. Cara memasaknya menyambut bulan-bulan yang
juga sama dengan nasi kunyik, dianggap baik seperti bulan
tetapi tidak menggunakan Maulid Nabi Saw, menyambut
adukan air kunyit. Biasa bulan puasa Ramadhan, hari
makanan ini dibuat dalam tradisi raya Idul Fitri, Idul Adha
Padang Pariaman dalam upacara termasuk hari Isra Mi’raj. Di
Khatam Qur’an17, upacara Padang Pariaman, kue pinyaram
khitan (sunat) dan upacara ini juga disajikan dalam upacara
Batagak Rumah18 untuk dibuat khatam Qur’an untuk
penganan Jamba Tukang19. dihidangkan bersama nasi
Pada upacara ini juga dihadiri lamak, kanji dan pisang dan
para ninik mamak, urang disusun memanjang dihadapan
sumando serta sanak famili. peserta upacara. Selain itu ada
juga sebagian tempat di daerah
3) Pinyaram kabupaten Padang Pariaman
yang menghidangkan kue ini
pada upacara kematian20.

Bahan dasar dari
pinyaram ini terbuat dari tepung
beras putih , gula (gula pasir
atau gula aren) vanille, garam,
garam dan air atau santan dan
minyak goreng. Cara

16Aswil Rony dkk, h. 63 20Suatu upacara peringatan tiga hari, tujuh hari,
17Upacara yang dilakukan untuk merayakan empat puluh hari dan sampai seratus hari kematian
anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur’an telah yang tujuannya mendoakan leluhur mereka dahulu
berhasil menamatkan al-Qur’an. Biasanya pada yang telah meninggal yang diyakini dapat memberikan
upacara ini jenis sambal yang disajikan gulai kambing keberkahan dalam menjalani kehidupan nantinya.
untuk dimakan bersama dihadiri guru mengaji dan para Beberapa daerah di Padang Pariaman yang membuat
orang tuanya. Tempat pelaksanaannya dilaksanakan di pinyaram dalam upacara kematian itu seperti
surau atau di mesjid dengan mengarak anak-anak Kiambang, Kayu Tanam, Sicincin dan beberapa daerah
tersebut dari tempat belajar mengaji sampai ke mesjid yang posisinya berdekatan dengann daerah darek
tempat pelaksanaan khatam. Minangkabau. Menurut anggapan mereka ketika
18Suatu upacara yang dilakukan oleh suatu ditanya kepada masyarakat Kiambang (wawancara
keluarga yang hendak mendirikan rumah untuk tempat dengan Bu Erna bulan Juli 2015 (ketika penulis
tinggal mereka sekeluarga. menghadiri upacara kematian mertuanya), bahwa
19Suatu penganan yang disajikan di atas dulang makanan lamang dan Pinyaram itu dibuat sebagai
dengan isi nasi lamak, agar-agar dan kue dalam piring, simbol payung bagi orang yang telah meninggal,
disertai dengan nasi dan lauk pauk dan disusun dalam lamang yang dibuat berbentuk batang dianggap
bentuk jamba. Sajian ini dibuat khsusus untuk Tukang sebagai tangkai, pinyaram yang bulat itu dianggap
Tuo atau ketua tukang sebagai payungnya.

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 39

membuatnya dengan Lapek Bugih merupakan
penganan kudapan atau
memasukkan tepung beras hidangan kue tradisional
Minangkabau yang bercita rasa
putih, gula yang sudah dingin manis. Lapek Bugih ini
termasuk aneka kue yang
(apabila dengan gula aren) ke disukai masyarakat sehingga
sampai sekarang masih bertahan
dalam suatu wadah, lalu diaduk menjadi makanan tradisional
Minangkabau, terutama daerah
sampai rata dan ditambah air Pariaman dan Padang Pariaman.
Penyajian penganan ini lebih
atau santan jika masih terasa banyak terdapat di daerah
Pariaman dan Padang Pariaman.
keras dan diaduk sampai kental, Bentuk makanannya segitiga
dan berbungkus dengan daun
lalu dimasukkan gula dan pisang yang rasanya lengket tapi
manis rasanya. Biasanya
vanille21, tetapi juga yang disajikan dalam upacara adat
seperti Upacara Perkawinan dan
memasukkan air kunyit untuk Batagak Rumah (membuat
pondasi rumah) untuk
menambah airnya. Setelah itu pelengkap sajian dalam Jamba
Tukang dan ada juga disajikan
baru digoreng dengan minyak dalam upacara keagamaan
seperti upacara khitan (sunat)
yang sudah panas sampai dan termasuk aneka kue yang
dibuat dalam acara maanta
berwarna kekuning-kuningan pabukoan23 bagi menantu
perempuan kepada mertua di
baru diangkat untuk disajikan.22 bulan Ramadhan.

Warnanya ada yang kehitaman Padang Pariaman yang
dianggap sebagai daerah yang
dan ada yang putih atau pertama mengenal penganan
kue ini menjadikan lapek bugih
kekuningan, sesuai dengan ini sebagai makanan tradisional
dalam upacara adat dan upacara
selera pembuatnya. Warna itu keagamaan. Ditinjau dari
sejarahnya, keberadaan lapek
dihasilkan dari bahan gulanya, bugih ini di Minangkabau ini

yang agak kehitaman itu dari

gula aren, merah, dan warna

kuning itu dari campuran air

kunyik atau gula agak

kekuningan, dan yang putih itu

dari gula pasir yang putih.

4) Lapek Bugih

Foto Lapek Bugih
https://www.google.co.id

21Asra Hayati Syahrul Nova, Yuk, Membuat itu terdiri dari makanan sehari-hari lengkap lauknya
dan disertai dengan kue atau makanan pencuci
Pinyaram!, Genta Andalas, media peduli bangsa, mulutnya. Di antaranya ada lapek bugih, lapek
kampuang aro, katupek tapai katan, mangkuak badeta,
damai dan bermoral, 3 September 2013, ondeh-ondeh dan ada juga gulai ayam, goreng
ikan balado, gulai kambiang, pangek dagiang dan
http://www.gentaandalas.com/yuk-membuat- lainya yang. Semua dikemas dalam bentuk bungkusan,
rantang atau jamba, Lihat Yohanes Wempi, Budaya
pinyaram, Senin, 11 Sep 2017 Minang, “Maanta Pabukoan” 29 Juni 2014, Diperbarui:
22Aswil Rony dkk, h. 67 18 Juni 2015http://www.kompasiana.com.
23Suatu tradisi menantu perempuan di daerah
Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017
Pariaman dan Padang Pariaman, mengantarkan
makanan khas tardisional untuk berbuka puasa kepada
mertua di Bulan Ramadhan. Makanan dari pabukoan

40 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau

memang berasal dari Bugis, dan dibungkus dengan daun
pisang kemudian dikukus
Makassar. Pada masa Pariaman dengan air yang disiram dengan
air santan. Nanti setelah masak
menjadi pusat pelabuhan para santannya menjadi kental dan
melengket pada pembukus daun
pedagang dari berbagai daerah pisangnya.27

dan antar negara yang hendak

membeli sumber daya alam di

Minangkabau, ada seorang

pelayar Bugis yang

memperkenalkan kue ini pada

masyarakat Minang.24 Akhirnya

sampai sekarang kue menjadi

kue tradisional yang masih

populer sampai sekarang

sebagai makanan pencuci

mulut25 dalam hidangan makan

bajamba26 sebagai hidangan

penutup sesudah makan.

Bahan dasarnya terbuat
dari tepung pulut/ketan, kelapa,
gula enau/gula pasir, kacang
tanah, vanile, dan santan kelapa.
Ada juga yang membuat lapek
bugih menggunakan bahan
dasar tepung pulut hitam dan
ada juga yang membuat
mengolah dengan menggunakan
keduanya. Cara mengolahnya
tepung pulut diaduk dengan air
sadah/kapur sirih, garam, vanile.
Semua bahan tersebut diaduk
sampai menjadi adonan itu
dapat dibentuk, lalu dibuat
bulat-bulat sebesar bola
pimpong. Kemudian bulatan itu
ditipiskan diatas pucuk daun
pisang yang sebelumnya diolesi
dengan minyak kelapa dan diisi
dengan campuran gula pasir,
kacang tanah yang sudah
dipecah, dan vanile. Kemudian
isi dalamnya ditutup kembali

24 Devi Setya Lestari, Food Story, Sabtu, 8 Juli memberikan rasa manis pada makanan penutup
2017, http://lifestyle.okezone.com, Senin, 11 tersebut.
September 2017
26Menghidangkan makanan yang disusun
25Aneka kue yang sengaja disajikan sebagai diatas dulang yang ditutup dengan tudung saji yang di
dalamnya terdapat makanan pokok dan berbagai
hidangan penutup setelah makan, kalau di Padang macam sambal yang dilengkapi dengan kue pencuci
mulutnya.
Pariaman ada juga yang menyebutnya dengan istilah
27Aswil Rony dkk, h. 63
makanan parabuangan, maksudnya suatu makanan

untuk menyatukan rasa makanan sebelumnya dengan

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora

Siti Aisyah 41

5) Juadah bio, dan aneka kue bolu pada

tingkatan paling atas. Jika

susunan ini diganti, bentuknya

tidak jadi unik, karena tingkatan

susunan itu menampilkan aneka

warna yang terlihat antik

melambangkan keunikan

tradisinya.

Pemberian hantaran

juadah di Padang Pariaman

Juadah merupakan buah tangan dari
(Foto: Digital sumbar.com)
pihak pengantin perempuan

yang menjalang ke rumah

Juadah adalah tradisi mertua pada waktu hari pesta

hantaran makanan pengantin perkawinan. Makanan tersebut

yang unik terdapat di Padang disusun sedemikian rupa diatas

Pariaman. Makanan ini biasanya balumbuang (usungan) dan

dibawa oleh pengantin wanita jarak lebih kurang 100 meter

saat acara manjalang ke rumah dari rumah pihak pengantin laki-

mertua pada hari acara pesta laki sudah menyonsong anak

perkawinan/ pernikahan,28 daro (pengantin perempuan)

sebelum pestanya dimulai yang untuk dibawa masuk ke rumah

fungsinya sebagai makanan mertuanya untuk acara bertegur

cemilan atau sebagai makanan sapa dalam bentuk berbalas

pelengkap di pesta perkawinan pantun. Setelah acara selesai

di rumah pengantin laki-laki. pengantin perempuan pulang

Juadah ini berisi segala jenis bersama pengantin laki-laki

makanan tradisional dengan membawa impik

Minangkabau seperti kanji juadah30, yaitu suatu pemberian

(gelamai), wajik (nasi manih) dari keluarga suaminya.

kipang, kue sangko jala bio, Bahan dasar untuk
membuat makanan juadah
kareh-kareh, pinyaram dan tersebut terbuat dari beras ketan
dan olahan beras. Cara
segala macam kue bolu. membuatnya berbagai macam,
ada yang dikukus, direbus,
Semua jenis makanan ini digoreng dan ada juga yang
disusun sedemikian rupa digoreng. Cita rasanya yang
sehingga membentuk sebuah dihasilkan juga beragam, ada
anjungan yang terlihat menarik. yang gurih, manis dan legit.
Aturan susun makanan tersebut Awalnya makan tersebut dibuat
sudah terbentuk sejak dahulu dalam bentuk besar kemudian
dan tidak boleh ditukar-tukar dicetak berbentuk segitiga
posisinya29. Tingkatan bawah
mulai dari kanji, wajik, kipang,
kue sangko, kareh-kareh, jala

28Aswil Rony dkk, h. 17 seperti emas, kain, seprai, pakaian dan sebagainya yang
29Post Views, Juadah Pariaman, Tradisi Spesial nilainya kadang-kadang melebihi jumlah uang
Hantaran Pengantin, https://aet.co.id jemputan. Lihat, Azami, dkk. Adat dan Upacara
30Di daerah Toboh salah satu daerah di Padang Perkawinan Daerah Perkawinan Sumatera Barat,
Pariaman disebut dengan istilah paragiahan Jakarta, CV. Eka Dharma, 1978, h. 93
(pemberian). Biasanya hadiah yang diberikan tersebut
Volume 21 No. 2, Edisi Juli-Desember 2017

42 Tradisi Kuliner Masyarakat Minangkabau

kemudian disusun diatas pelaksanaannya ditandai dengan
talam.31 Susunan yang paling makanan khas yang sudah menjadi
bawah makanan yang agak tradisi semenjak tersebarnya agama
padat dan semakin ke atas Islam di Minangkabau.
makanannya yang agak ringan.
Pada waktu pesta berlansung Ada dua jenis nama kuliner
juadah ini dipajangkan agar para yang diistimewakan bagi
undangan dan family bisa masyarakat Padang Pariaman dan
melihat keindahan susunan selalu menjadi ciri khas dalam
juadah. Setelah pestanya tradisi keagamaan masyarakatnya.
berakhir penganan ini potong Munculnya tradisi kuliner ini
kecil-kecil dihidangkan dan ada seiring dengan berlansungnya
juga dibagi-bagikan kepada islamisasi di Minangkabau yang
sanak family dan tetangga dibawa oleh tokoh Syekh
disekitarnya dengan tujuan Burhanuddin. Armaidi Tanjung
untuk berbagi rasa buah tangan menjelaskan dalam tulisannya di
yang dibawa oleh pengantin Minang New bahwa masyarakat
perempuan. Piaman (kota Pariaman dan
kabupaten Padang Pariaman
b. Kuliner dalam Upacara memiliki sistem penanggalan yang
Keagamaan unik untuk acuan langkah kegiatan
mereka dalam masa perjalanan
Padang Pariaman merupakan setahun.33 Kegiatan acara tradisi
pusat penyebaran Islam di mereka mengikuti hitungan bulan
Minangkabau yang dikembangkan yang berbeda dari nama bulan biasa
oleh Syekh Burhanuddin yang digunakan masyarakat secara
bercorak tarikat Syathariyah32 umum. Salah satu dari nama
dengan pusat penyebarannya bulannya tersebut ada yang
terdapat di daerah Ulakan menggunakan nama makanan,
Kabupaten Padang Pariaman. seperti bulan lamang dan bulan
Sebagai daerah pusat penyebaran sambareh.
Islam di Minangkabau, sebagian 1) Lamang
besar masyarakatnya selalu
menjalankan amalan yang Lamang
dianggap berasal dari Syekh Lamang34 merupakan
Burhanuddin sampai akhirnya suatu penganan tradisional yang
menjadi tradisi yang khas bagi muncul semenjak adanya
masyarakat Padang Pariaman.
Tradisinya bercorak upacara
keagamaan karena menyangkut
persoalan keyakinan masyarakat
yang orientasinya kepada Maha
Pencipta dan setiap

31Lihat Aswil Rony dkk, h. 66-67 tentang cara pusatnya di daerah Ulakan Kabupaten Padang

memasaknya dan lihat juga, Febrianti, Juadah, Antaran Pariaman.
33Armaidi Tanjung, MinangkabauNews,
Khas Pengantin Padang Pariaman,
Selasa 06 Oktober 2015 ,
http//m.tempo.co./news/2011/11 34Atau lemang yaitu suatu makanan khas yang

32Salah satu aliran tarikat yang berkembang di

Padang Pariaman selain dari tarikat Nasqsabandi. dimasak dalam buluh bambu dengan cara dibakar.

Ajaran tarikat ini berkembang di Minangkabau dengan

Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora


Click to View FlipBook Version