The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabillaputriindrama2019, 2021-12-19 06:01:34

KUMPULAN ARTKEL TENTANG MINANGKABAU

E Book ini berisi kumpulan artikel tentang minangkabau

Keywords: KEMINANGKABAUAN

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

ialah perkawinan anak kemenakan dengan perhelatannya merupakan tugas kaum
anak kemenakan besan atau ipar yang telah kerabat. Seorang jejaka tidak dibiarkan
lama putus karena kematian. memilih jodoh sendiri. Tujuannya demi
2. Perkawinan Menurut Kerabat Laki- menjaga agar tidak sampai memperoleh
jodoh yang mempunyai cacat lahir,
Laki batin, atau turunan. Di samping itu juga
Seorang anak kemenakan laki-laki untuk menjaga agar perjodohan itu tidak
yang matang untuk menikah senantiasa menyebabkan anak kemenakan sampai
merisaukan pikiran kaum kerabatnya. lupa pada kewajibannya terhadap kaum
Kalau tidak ada orang yang datang kerabatnya kelak. Ibunyalah yang
meminang, pertanda bahwa pihaknya mempunyai peranan penting dalam
tidak mendapat penghargaan layak dari memilihkan jodoh bagi anaknya. Biasanya
orang lain. Memang pihak mereka dapat jejaka itu akan takluk oleh kehendak
mengambil prakarsa untuk memancing ibunya.
pinangan, tetapi andai kata pancingan itu
tidak mengena akan menambah jatuhnya Konsekuensi perkawinan atas pilihan
harga diri mereka. Jarang kerabat yang kerabatnya itu didukung kerabatnya pula.
mempunyai anak gadis yang mau melamar Segala kewajiban yang harus ia pikul bagi
jejaka yang tidak mempunyai mata istrinya akan disediakan kerabatnya selama
pencaharian. Kecuali apabila jejaka itu ia belum mampu. Tujuannya adalah agar
anak orang terkemuka karena hartanya, anak kemenakannya terpandang sebagai
jabatannya, atau karena ilmunya. Anak semenda yang dihormati kerabat istrinya.
orang kaya yang terkemuka pada umumnya Tentu saja dukungan atas konsekuensi itu
mempunyai masa depan yang lebih baik. mempunyai jangka waktu, yang pasti akan
Jejaka yang tidak mempunyai mata tiba waktunya, sesuai dengan kelaziman
pencaharian disarankan agar pergi yang manusiawi, muncul kemauan
merantau untuk memperoleh harta atau berusaha sendiri dan bertanggung jawab.
memperoleh ilmu. Seandainya ia sukses Suatu perkawinan yang tidak rukun
di rantau, maka “carano” akan pasti tetap menjadi urusan kerabat. Jika yang
datang bersilang ke rumah ibunya untuk menyebabkannya pihak anak kemenakan
meminangnya. Jika pun belum sukses, sendiri, maka mereka berusaha ikut
asal punya mata pencaharian, pinangan memperbaikinya. Akan tetapi, apabila
lambat laun tentu akan datang juga. yang menyebabkannya pihak besan atau
Mereka maklum bahwa bagi masyarakat menantunya, mereka pun akan ikut campur
yang berpola pada ajaran materialisme untuk membubarkannya. Demikian pula
itu meskipun mereka ingin memperoleh apabila perkawinan itu menyebabkan anak
semenda (pertalian keluarga karena kemenakan mereka lupa akan kewajiban
perkawinan dengan anggota suatu kaum) atas kerabatnya sendiri, mereka akan
yang jejaka, mereka lebih suka mempunyai berusaha merenggangkannya. Berbagai
semenda yang punya mata pencaharian cara akan mereka tempuh, yang paling
yang besar, walau berusia tua atau telah ampuh ialah mencarikan lagi seorang istri
menikah. Apalagi kalau duda yang masih yang lebih cantik dan lebih muda. Biasanya
muda. cara demikian sangat ampuh oleh sebab
Perkawinan seorang jejaka sama kodrat poligami yang umum serta tidak
pentingnya dengan seorang gadis. akan ada beban atau tanggung jawab berat
Menentukan atau memilihkan jodoh serta atas perkawinan yang dikehendaki kaum
membuat persetujuan dan mengadakan kerabat itu.

138 PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar)

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

Mamak bertanggung jawab apa-apa dalam keluarga istri kemudian

penuh terhadap kehidupan ekonomi berubah menjadi seorang suami yang

kemenakannya, apabila ayah dari penuh tanggung jawab terhadap kehidupan

kemenakannya sudah meninggal atau tidak anak dan istrinya. Apabila tanggung jawab

mampu lagi. Hal ini berlaku hanya dalam terhadap anak dan istri sudah penuh, maka

keadaan tertentu saja. Tanggung jawab yang demikian berarti bahwa waktu yang

sesorang laki-laki sudah beralih ke rumah dipergunakan di rumah istrinya bukan

istri dan anaknya, bahkan sudah ada yang hanya pada malam hari saja, tetapi sudah

memiliki rumah tangga yang berdiri sendiri menghabiskan sebagian besar waktunya

yaitu tanggung jawab utama seorang laki di rumah istrinya atau bahkan semua

adalah istri dan anak-anaknya. waktunya berada di rumah sendiri bersama

PENUTUP anak dan istrinya.
Kesimpulan
Masalah yang dihadapi dalam
Bentuk perkawinan di Minangkabau
telah mengalami perubahan. Menurut adat perkawinan dalam masyarakat
Minangkabau, perkawinan berlaku secara
eksogami ditinjau dari segi lingkungan Minangkabau dewasa ini pada masyarakat
suku dan endogami ditinjau dari lingkungan
nagari eksogami suku berarti bahwa Minangkabau apalagi yang berada di kota,
seseorang tidak boleh mengambil jodoh
dari kelompok sesukunya. Alasannya hanya tinggal bekas-bekasnya dalam arti
karena orang yang sesuku adalah
bersaudara, sebab masih dapat ditarik kata tidak ada lagi murni menurut hukum
garis hubungan kekerabatannya secara
matrilineal dan menurut asalnya mereka adat.
sama-sama serumah gadang. Perkawinan
endogami nagari berarti bahwa seseorang Sebagai ciri pokok dalam perkawinan
dalam mencari jodoh harus di antara orang
sesama nagari dan tidak boleh kawin masyarakat Minangkabau adalah dimana
ke luar dari nagari. Alasan keharusan
endogami nagari itu ialah karena seorang dalam perkembangan kedua suami istri
suami bertempat pada dua rumah. Sebagai
urang sumando ia tinggal dan bermalam sudah hidup bersama secara tetap dalam
di rumah istri. Ia juga mamak rumah
di rumah ibunya dan mempergunakan suatu rumah yaitu dalam rumah istrinya dan
waktu siangnya bekerja di rumah ibunya
untuk membantu kemenakannya dalam adanya kehidupan bersama antara suami
mengolah harta pusaka. Adanya tempat
yang ganda ini hanya mungkin berjalan istri sudah merupakan suatu kesatuan
baik bila rumah istrinya tidak berjauhan
dari rumah ibunya. Inilah di antara yang rumah tangga yang berdiri sendiri. Oleh
menyebabkan larangan kawin ke luar
nagari. karena itu, pada masa sekarang ini peranan

Seorang suami yang selama ini hanya yang menonjol dari seorang laki-laki
sebagai seseorang yang tidak berarti
dewasa adalah sebagai ayah, bila ia telah

menikah.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Bzn, B Ter Haar. Asas-Asas dan Susunan

Hukum Adat. Jakarta: Pradnya Paramita.
1999.
Hadikusuma, Hilman. Hukum Perkawinan
Indonesia. Bandung: Mandar Maju.
2007.
Navis, Ali Akbar. Alam Terkembang
Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan
Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers.
1984.

PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar) 139

Binamulia Hukum Vol. 7 No. 2, Desember 2018

Yaswirman. Hukum Keluarga: Karakteristik
dan Prospek Dokrin Islam dan Adat
Dalam Masyarakat Matrilineal
Minangkabau. Jakarta: Rajawali Pers.
2013.

Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan (LN No.1 Tahun
1974, TLN No. 3019).
Kompilasi Hukum Islam
Internet
Wikipedia. “Orang Minang.” https://
id.wikipedia.org/wiki/Orang_
Minangkabau#cite_note-Rice93-44.
Diakses 18 Januari 2019.

140 PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU... (Asmaniar)

View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk brought to you by CORE

provided by Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa -...

KEARIFAN LOKAL BUDAYA MINANGKABAU
DALAM SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL RANDAI
Local Wisdom of Minangkabau Culture in Traditional Performing Arts “Randai”

Iswadi Bahardur
STKIP PGRI Sumatera Barat
Pos el: [email protected]

Naskah Diterima 20 Agustus 2018—Direvisi Akhir 27 November 2018—Disetujui 30 November 2018
doi.org/10.26499/jentera.v7i2.932

Abstrak: Seni pertunjukan tradisional memuat beragam unsur kearifan lokal
masing-masing etnisnya. Demikian juga dengan seni pertunjukan tradisional randai dari
Minangkabau. Falsafah adat dan agama yang dianut masyarakat Minangkabau
terhimpun dalam randai. Namun, sampai saat ini kajian terhadap randai Minangkabau
masih dominan pada aspek etika dan estetika sebagai seni tari dan seni pertunjukan
teater. Kajian kearifan lokal budaya Minangkabau dalam randai masih sedikit
dieksplorasi. Dilatarbelakangi hal tersebut, penelitian ini bertujuan menggali dan
menganalisis unsur-unsur kearifan lokal budaya Minangkabau yang terdapat dalam seni
pertunjukan tradisional randai. Proses penelusuran literatur dan penelaahan kembali
berbagai hasil kajian randai, baik dari aspek estetika gerak dan tari, musik, gerak silat,
lakon, dan naskah cerita menghasilkan simpulan bahwa randai Minangkabau memuat
ragam unsur kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, adat, serta falsafah alam.
Temuan ini membuktikan bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang
kaya akan seni tradisi dan berkehidupan dilandasi oleh ajaran agama, adat, serta
kepedulian terhadap alam semesta.
Kata kunci: budaya, kearifan lokal, Minangkabau, randai, seni tradisi

Abstract: Traditional performing arts contain various elements of the local wisdom of
each ethnic group. Likewise with traditional Minangkabau randai performing arts. The
customary philosophy and religion adopted by the Minangkabau people are gathered
in randai. However, until now the study of Minangkabau randai is still dominant in the
aspects of ethics and aesthetics as dance and theater performance. The study of the
local wisdom of the Minangkabau culture in Randai is still little explored. Against this
background, this study aims to explore and analyze the local wisdom elements of
Minangkabau culture found in traditional randai performing arts. The literature search
process and a review of various results of smart studies, both from the aesthetic aspects
of motion and dance, music, martial arts movements, plays, and storytelling produce
conclusions that Minangkabau randai contains a variety of elements of local wisdom
originating from the teachings of religion, customs, and natural philosophy. This
finding proves that the Minangkabau community is a society that is rich in traditional
arts and life based on the teachings of religion, customs, and concern for the universe.
Keywords: culture, local wisdom, Minangkabau, randai, traditional arts.

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 145

How to cite: Bahardur, Iswadi (2018). Kearifan Lokal Budaya Minangkabau dalam
Seni Pertunjukan Tradisional Randai. Jentera: Jurnal Kajian Sastra, 7 (2), 145—160.
(https://doi.org/10.26499/jentera.v7i2.932)

PENDAHULUAN
Seni pertunjukan tradisional merupakan bagian dari budaya lokal yang memuat
beragam unsur kearifan budaya lokal. Di dalamnya terhimpun ilmu pengetahuan, baik
nilai-nilai ajaran moral, religi, pendidikan, maupun unsur-unsur yang bersifat
kebendaan sebagai sebuah warisan kebudayaan (Prayogi & Endang Danial, 2016: 63).
Dengan adanya muatan beragam nilai tersebut, seni pertunjukan tradisional berfungsi
sebagai penuntun dan pembawa pesan moral untuk masyarakat pemiliknya (Seha, et al,
2014: 112).

Dilihat dari sudut pandang estetika dan etika, seni tradisi turut menjadi alat
pengucapan komunikasi emosi estetis antarmanusia terkait dengan pengalaman dan
perasaan yang memiliki nilai seni untuk keselarasan hubungan sosial berlandaskan
keyakinan bersama (Murniati, 2015:26; Sedyawati, 2006:124). Seni tradisi etnis
Minangkabau, contohnya, memiliki keberagaman unsur estetika dan etika kultural yang
mencerminkan komunikasi manusia dengan alam yang bersifat normatif (Rustiyanti, at.
all, 2013; Hasanuddin, 2015).

Permasalahannya saat ini, perkembangan teknologi global mulai mengikis
nilai-nilai kearifan budaya lokal. Memang tidak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi
berpengaruh positif pada terbentuknya trend budaya berbasis teknologi digital, tetapi
fenomena tersebut memembawa dampak pada berkurangnya apresiasi masyarakat
terhadap seni tradisional (Ngafifi, 2014; Rustiyanti, 2014).

Seni tradisional sangat identik dengan kearifan budaya lokal. Melalui eksistensi
pertunjukannya, seni tradisi merepresentasikan kehidupan masyarakat lokal yang
ditopang oleh keluhuran budi yang arif, bijaksana, keteladanan, dan cendekia. Contoh
seni tradisional yang mencerminkan hal tersebut adalah randai Minangkabau.

Randai Minangkabau berasal dari permainan rakyat generasi muda (dalam istilah
di Minangkabau adalah anak nagari) zaman tradisional. Navis (2015: 276) menjelaskan,
istilah randai kemungkinan berasal dari kata andai-andai dengan awalan bar- sehingga
menjadi berandai-andai yang artinya berangkaian secara berturut-turut atau suara yang
bersahut-sahutan. Sumber lain, Kayam (dalam Zulkifli, 2013: 32) menyatakan, istilah

146 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

randai berasal dari bahasa Arab, yaitu rayan-li-da-I yang sangat dekat dengan kata da-I,
ahli dakwah dari gerakan tarekat Naqsyahbandiyah.

Randai adalah gambaran identitas masyarakat Minangkabau yang sangat kuat
dengan falsafah, etika, dan pelajaran hidup orang Minang yang berpusat pada alam
semesta (Primadesi, 2013: 179). Randai menggambarkan kearifan lokal masyarakat
Minangkabau, melekat pada fisik sekaligus batin individu yang membentuk keutuhan
masyarakat bernagari. Nilai-nilai kesenian tradisional dalam randai menjadi
representasi norma dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat Minang; kesenian
dianggap rancak (bagus, elok) apabila tidak menyimpang dari norma adat, dan
kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau (Arzul, 2015: 108). Unsur
dialog dalam randai, misalnya, menjadi satu unsur yang bermuatan nilai-nilai karakter
kerja sama komunikatif dan patut dipahami dan ditanamkan kepada generasi muda
(Arzul, 2015:113). Selain itu, kompleksitas unsur seni pertunjukan meliputi sastra,
kaba, musik, tari, gerak silat, tari, dan dendang menguatkan alasan perlunya untuk
dilestarikan (Primadesi, 2013; Wulandari, 2015).

Permasalahan lain yang penting dicermati, saat ini seni pertunjukan randai di
Minangkabau masih didominasi oleh eksplorasi dari segi seni hiburan saja. Pertunjukan
randai oleh kelompok-kelompok kesenian randai memang masih terus berlangsung,
namun masih berkisar sebagai seni pertunjukan saja. Demikian juga halnya dengan
kajian ilmiah akademis terhadap randai Minangkabau, saat ini masih dominan pada
aspek etika dan estetika seni tari dan teater saja. Kajian terhadap unsur-unsur nilai dan
kearifan budaya lokal Minangkabau dalam randai masih kurang. Fakta tersebut
menunjukkan perlunya langkah percepatan kajian ke arah tersebut sebelum randai
terdiskriminasi oleh budaya asing. Dengan asumsi, untuk membuka jalan ke arah
tersebut, maka penelitian ini bertujuan menggali dan menganalisis kearifan lokal
budaya Minangkabau yang terdapat dalam seni pertunjukan tradisional randai.
Diharapkan kajian ini akan menjadi bagian dari upaya akademik untuk menggali
kearifan lokal dalam seni pertunjukan tradisional serta langkah lanjut untuk
pelestariannya yang belum ada sebelumnya.

Relevan dengan permasalahan tersebut, beberapa peneliti lain telah mengkaji
randai dalam ragam konteks dan sudut pandang penelitian. Penelitian yang mengkaji
kesenian randai dilihat dari estetika tari Minangkabau dilakukan oleh Rustiyanti (2014),

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 147

yang menyatakan bahwa dilihat dari aspek estetika tari, randai bagi masyarakat
Minangkabau diartikan sebagai olah gerak dan rasa yang dikenal dengan istilah
pamenan (permainan).

Syuriadi dan Hasanuddin WS (2014) meneliti Nilai-nilai Pendidikan dalam Teks
Cerita Randai “Malangga Sumpah” Karya Lukman Bustami Grup Randai Bintang
Tampalo Kenagarian Padang Laweh Kabupaten Sijunjung. Hasil penelitian ini
menyimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan dalam naskah randai tersebut mencakup
nilai religius, nilai pendidikan ketangguhan, nilai pendidikan kepedulian, serta
nilai-nilai kejujuran. Selanjutnya Primadesi (2013) memfokuskan kajian penelitiannya
pada cara preservasi pengetahuan dalam pertunjukan randai Minangkabau. Preservasi
tersebut meliputi sosialisasi, kombinasi, eksternalisasi, dan internalisasi. Dari model
preservasi tersebut disimpulkannya bahwa pewarisan pengetahuan randai Minangkabau
dapat dilakukan dengan cara sosialisasi, yaitu interaksi antara anak randai dengan
tetua-tetua dalam kelompok randai. Kechot (2009) meneliti sejarah perkembangan
randai dan unsur-unsur randai Minangkabau di Negeri Sembilan Malaysia. Sementara
itu, Suryadi (2014) meneliti studi kasus Randai sebagai genre seni pertunjukan di
Minangkabau dalam konteks industri rekaman dan kebudayaan di Indonesia. Suryadi
menyimpulkan bahwa dalam perkembangannya randai merupakan satu di antara genre
seni tradisi yang dilestarikan melalui rekaman ke dalam bentuk cakram compact disk
(CD).

Terkait dengan penelitian yang telah ada tersebut, penelitian ini dilakukan dengan
fokus kajian kearifan lokal budaya Minangkabau. Penggunaan nama randai
Minangkabau didasari alasan bahwa randai juga terdapat di Negeri Sembilan, Malaysia
dan di Riau.

LANDASAN TEORI
Kearifan lokal (local wisdom) merupakan satu perangkat pandangan hidup, ilmu
pengetahuan, dan strategi kehidupan yang berwujud dalam aktivitas yang dilakukan
oleh masyarakat local, yang mampu menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan
kebutuhan mereka (Fajarini, 2014; Saputra, 2011; Cheng, 2002; Triyanto, 2017).
Kearifan lokal menjadi pengetahuan dasar dari kehidupan, didapatkan dari pengalaman
ataupun kebenaran hidup, bisa bersifat abstrak atau konkret, diseimbangkan dengan

148 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

alam serta kultur milik sebuah kelompok masyarakat tertentu (Mungmachon, 2012:
174). Kearifan lokal juga dapat ditemukan, baik dalam kelompok masyarakat maupun
pada individu.

Kearifan lokal digunakan oleh masyarakat sebagai pengontrol kehidupan
sehari-hari dalam hubungan keluarga, dengan sesama saudara, serta dengan
orang-orang dalam lingkungan yang lebih luas (Kamonthip & Kongprasertamorn, 2007:
2). Oleh karena cakupannya adalah pengetahuan, budaya, dan kecerdasan pengetahuan
lokal, maka kearifan lokal dikenal juga dengan istilah local knowledge, local wisdom,
atau genious local. Adapun karakteristik kearifan lokal, yaitu (1) harus menggabungkan
pengetahuan kebajikan yang mengajarkan orang tentang etika dan nilai-nilai moral; (2)
kearifan lokal harus mengajar orang untuk mencintai alam, bukan untuk
menghancurkannya; dan (3) kearifan lokal harus berasal dari anggota komunitas yang
lebih tua (Mungmachon, 2012:174).

Kearifan lokal dapat berbentuk nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat,
hukum, adat, aturan-aturan khusus. Selanjutnya, nilai-nilai yang relevan dengan
kearifan lokal, antara lain nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kreatif, serta kerja
keras (Haryanto, 2014: 212). Dalam karya seni, khususnya seni tradisional, kearifan
lokal akan tercermin dalam bahasa, baik secara lisan maupun tulis; pepatah, pantun,
nyanyian, atau petuah.

Berdasarkan sejarahnya, seni pertunjukan tradisional berawal dari upacara dan
ritual keagamaan tradisional yang bersifat magis, disampaikan dalam bentuk
mantra-mantra secara berulang (Sastrowardoyo, 1995; Hasanuddin, 1996). Di
Indonesia, upacara dan ritual keagamaan tersebut menjadi cikal bakal seni pertunjukan
teater tradisional dengan adanya perpaduan unsur gerak dan musik. Pertunjukan
tersebut diyakini sebagai bentuk keyakinan batin pada alam dan pencipta, sekaligus
sebagai bentuk eksistensi berkesenian (Kayam, 1981; Ninuk, 2000). Awal menjadi seni
pertunjukan teater tradisional, dimulai sebagai teater tanpa naskah dan kuat unsur-unsur
kedaerahannya (Samidi, 2006: 237). Dalam perkembangannya, eksistensi teater
tradisional, seperti Makyong (Kepulauan Riau), Mendu (Kalimantan), Topeng Betawi
(Betawi), serta Randai (Sumatera Barat) dijadikan sebagai hiburan pelipur lara
(Hasanuddin, 1996: 27—29).

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 149

Di Sumatera Barat randai dikenal sebagai seni pertunjukan tradisional yang
memadukan unsur musik, tari, gerak, dan cerita. Esten (dalam Sedyawati, 1983)
menjelaskan randai adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional masyarakat
Minangkabau yang sering dipertunjukkan dalam acara profan seperti pesta panen, pesta
perkawinan, pesta perhelatan penghulu, serta acara serupa lainnya. Randai memiliki
unsur-unsur struktur yang esensial, yaitu (a) adanya unsur tarian atau improvisasi yang
berfungsi sebagai pemenggal adegan selanjutnya yang disebut galombang atau
gelombang; (b) dendang yang berfungsi untuk menyampaikan cerita, disebut gurindam;
serta (c) cerita sebagai rangkaian tubuh peristiwa yang dilakonkan. Dari segi fungsi,
randai berfungsi sebagai (a) alat pendidikan moral bagi masyarakat; (b) alat untuk
membina dan mengembangkan rasa solidaritas antarmasyarakat pemiliknya, (c) wadah
produktif untuk menciptakan kesegaran kondisi mentalitas anggota masyarakat, dan (d)
wadah untuk mengungkapkan problema perasaan.

Seni pertunjukan tradisional berawal dari upacara-upacara dan ritual keagamaan
masyarakat tradisional. Upacara-upacara dan ritual keagamaan tersebut bersifat magis,
disampaikan dalam bentuk mantra-mantra, secara berulang, dan dianggap memiliki
nilai magis (Hasanuddin, 1996: 28—29). Di Indonesia, upacara dan ritual keagamaan
tersebut menjadi cikal bakal seni pertunjukkan teater tradisional setelah ditambah
dengan unsur gerak dan musik. Pelaku pertunjukannya adalah orang tertentu yang
diyakini memiliki kekuatan batin dan supranatural, seperti pawang dalam pertunjukan
Makyong di Riau. Pertunjukan tersebut diyakini sebagai bentuk keyakinan batin pada
alam dan pencipta, sekaligus sebagai bentuk eksistensi berkesenian (Kayam, 1981;
Ninuk, 2000).

Ritual-ritual keagamaan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya seni pertunjukan
tradisional jenis teater tradisional di berbagai daerah di Indonesia. Teater tradisional
tersebut memulai sejarah kelahirannya sebagai taeter tanpa naskah yang sangat kuat
unsur-unsur kedaerahannya (Samidi, 2006: 237). Dalam masa awal, teater tradisional
tanpa naskah tersebut dijadikan unsur seni hiburan dan tujuan pelipur lara dalam
keterbatasan akses kebudayaan masyarakat tradisional (Oemarjati, 1991: 19). Dalam
pertumbuhan tersebut teater tradisional tanpa naskah memiliki beragam jenis di
Indonesia.

150 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

Esten (dalam Sedyawati, 1983) menjelaskan randai adalah salah satu bentuk seni
pertunjukan tradisional masyarakat Minangkabau yang sering dipertunjukan dalam
acara profan seperti pesta panen, pesta perkawinan, pesta perhelatan penghulu, serta
acara serupa lainnya. Selanjutnya, menurut Esten, randai memiliki unsur-unsur struktur
yang esensial, yaitu (a) adanya unsur tarian atau improvisasi yang berfumgsi sebagai
pemenggal adegan selanjutnya yang disebut galombang atau gelombang; (b) dendang
yang berfungsi untuk menyampaikan cerita yang tidak sempat dilakonkan di arena,
disebut gurindam; (c) cerita sebagai rangkaian batang tubuh peristiwa yang dilakonkan.
Jika dilihat dari segi fugsinya, randai berfungsi sebagai (a) alat pendidikan moral bagi
masyarakat; (b) alat untuk membina dan mengembangkan rasa solidaritas
antarmasyarakat pemiliknya, (c) wadah produktif untuk menciptakan kesegaran kondisi
mentalitas anggota masyarakat, dan (d) wadah untuk mengungkapkan problema
perasaan.

Navis (2015: 276) menyatakan bahwa randai dengan lakon dan cerita, pertama
kali muncul dimulai di daerah Payakumbuh, bertepatan setelah kemunculan
pementasan randai Cindur Mato. Pendapat lain, Zulkifli (2013; Wendy 2014)
menyatakan, secara etnodramaturgi randai terdiri dari dua aspek pagelaran, yaitu a) teks
pergelaran randai; dan b) teks lakon randai. Seturut dengan itu, menurut Wendy (2014:
42—44) dilihat dari teks pergelaran randai terdapat tiga aspek fundamental, yakni a)
aspek galombang; b) aspek dendang; dan c) aspek carito-buah kato.

Aspek galombang, yaitu komposisi gerak berkeliling dalam format lingkaran
yang disebut pamain galombang. Aspek dendang (gurindam), yaitu komposisi vokal
yang dilakukan oleh 2 sampai 3 orang yang disebut Tukang Dendang, sebagai
wujud menarasikan setiap bagian transisi sambungan (legaran tagak) dalam
penceritaan randai. Aspek carito-buah kato, yaitu tatanan pemeranan oleh sejumlah
pamain carito (sebutan untuk laki-laki) dan biduan (sebutan untuk perempuan). Buah
kato adalah daya tutur dalam format pantun dan gurindam sebagai upaya mewujudkan
penceritaan (carito) yang telah disusun menjadi bagian-bagian cerita (legaran
duduak) tertentu.

METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah library research (penelitian kepustakaan).
Penelitian ini tidak bersifat studi lapangan, tetapi dilakukan dengan literature review

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 151

atas data-data tertulis. Data-data tersebut adalah dokumen-dokumen hasil kajian
terhadap randai serta referensi-referensi tertulis lainnya yang terkait dengan
permasalahan tersebut. Posisi peneliti dalam library research ini bukan semata
membaca, mencatat, dan merangkum hasil-hasil kajian randai yang telah ada, tetapi
peran peneliti adalah merumuskan sebuah temuan baru terkait fenomena dan
gejala-gejala baru yang ditemukan berdasarkan hasil analisis. Data yang dikumpulkan
selanjutnya dikaji dan dianalisis kembali sehingga dihasilkan temuan baru. Maka dalam
konteks ini peneliti mengkaji hasil-hasil penelitian terdahulu serta referensi-referensi
tentang randai untuk menghasilkan sebuah temuan permasalahan baru terkait dengan
kearifan lokal budaya Minangkabau dalam randai.

PEMBAHASAN
Kearifan lokal adat Minangkabau merupakan warisan budaya yang ada di masyarakat,
yang mana pelaksanannya dilakukan secara turun-menurun oleh masyarakat yang
bersangkutan. Sumbernya adalah kebudayaan matrilineal yang dianut masyarakat
Minangkabau dan tertuang dalam beragam aturan adat. Kearifan lokal tersebut
umumnya berisi ajaran untuk memelihara dan memanfaatkan sumber daya alam
sehingga wajar masyarakat Minangkabau memiliki falsafah alam takambang jadi
guru. Kearifan lokal tersebut mengejawantah dalam karya seni, nilai moral, adat
istiadat, dan serangkaian pola hidup sehari-hari. Sebagai karya seni tradisional,
kearifan lokal budaya Minangkabau yang termuat dalam randai tercakup dalam unsur
gerak galombang, tari, silek (silat), dialog (naskah yang didasari oleh bentuk kaba
(kabar) yang berbentuk pantun berbahasa daerah Minangkabau), serta asal-usul
kelompok randai. Kearifan lokal tersebut seperti dibahas pada bagian berikut.

4.1 Sambah Silek sebagai Cermin Filosofi Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi
Kitabullah (ABS-SBK)

Seperti halnya kebudayaan dalam suku bangsa lain di berbagai daerah, kebudayaan di
Minangkabau juga terbentuk dari sistem religi, pengetahuan, sistem kemasyarakatan,
bahasa, kesenian, mata pencaharian, serta sistem teknologi peralatan. Hal mendasar
dalam ketujuh unsur tersebut dalam budaya Minangkabau adalah sistem religi.
Sistem religi menjadi penopang sistem pengetahuan dan unsur lain.

152 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

Kekerabatan Matrilineal yang diterapkan di Minangkabau juga didasari oleh
sistem religi Islam. Oleh karena itu, adat Minangkabau berjalan dengan pedoman
hidup adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah (ABS-SBK). Pengejawantahan
nilai-nilai dalam ABS-SBK tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Syarak yang
berarti hukum, khususnya hukum adat, menjadi landasan yang berjalan beririmgan
dengan hukum Islam (kitabullah). Itu sebabnya setiap aktivitas dalam sosial
kemasyarakatan dan berkesenian di Minangkabau senantiasa berhubungan dengan
penerapan ajaran Islam dan ajaran adat. Selaras dengan hal itu, gerak randai, pada
bagian tertentu adalah cerminan dari sistem religi Islam (kitabullah) yang dianut oleh
masyarakat Minangkabau.

Pertunjukan randai di Minangkabau selalu dibuka dengan sambah silek. Sambah
silek adalah gerak awal untuk sebuah penghormatan yang dilakukan oleh anak-anak
randai (sebutan untuk pemain randai) untuk Tuhan dan kepada penonton. Sambah silek
dilakukan sebelum anak randai membentuk gerak galombang dalam legaran. Sambah
silek yang dipertunjukkan oleh anak randai tergantung pada aliran silat yang dianut
oleh kelompok randai tersebut. Sebagai contoh, gerak silek kumango (silat Kumango).
Gerak silek Kumango dalam sambah silek berasal dari aliran silek Kumango. Silek
kumango adalah salah satu aliran ilmu silat yang berasal dari Kampung Kumango,
Kabupaten Tanah Datar. Aliran ini adalah aliran silat tua yang tumbuh dan berkembang
di lingkungan surau (mushalla), dikembangkan oleh Syekh Abdurahman Al Khalidi
yang dikenal sebagai Syekh Kumango (Saputra, 2011: 75).

Gambar 1: Pemain Teater Randai dalam Komposisi Galombang
(dokumentasi penulis saat pertunjukkan Randai kunjungan budaya)

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 153

Gerak sambah silek pada masing-masing kelompok randai tidaklah sama, selalu
memiliki ragam gaya dan aliran sendiri, seperti terungkap dalam pepatah petitih adaik
salingka nagari, pusako salingka kaum, lain guru lain ajaran. Maksudnya, setiap
daerah memiliki aturan adat sendiri, dan setiap guru silat memiliki pelajaran sendiri.
Filosofi dari sambah silek dalam randai mengandung nilai-nilai kearifan lokal budaya
Minangkabau alam takambang jadi guru yang menandakan bahwa adat dan laku
masyarakat Minangkabau tidak bisa dilepaskan dari tuntuan ajaran agama Islam. Kitab
suci Alquran sebagai kitab suci umat Islam menjadi landasan dalam menetapkan dan
menjalankan adat di Minangkabau. Sembah (hormat) yang ditujukan kepada Tuhan
adalah cermin nilai-nilai agama, sedangkan gerak silat Kumango adalah cermin bahwa
manusia di Minangkabau belajar dari fenomena dan berbagai unsur yang terdapat di
alam semesta. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat Minangkabau adalah suku
bangsa yang hidup dalam tuntunan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah
(ABS-SBK).

4.2 Carito Buah Kato sebagai Cermin Filosofi Kato Nan Ampek
Bagi masyarakat Minangkabau, adat adalah pegangan dalam bergaul dalam kehidupan
sehari-hari. Adat dijadikan sebagai peraturan hidup yang mengikat orang per orang dan
masyarakat untuk tunduk dan mematuhinya (Amir, 2007: 73). Selain adat istiadat yang
mengatur perihal kebiasaan dan tradisi di tiap daerah, komponen adat lainnya adalah
limbago nan sapuluah. Limbago nan sapuluah adalah sebuah aturan adat yang khusus
dan merupakan ketentuan yang berlaku umum, baik di ranah Minangkabau maupun di
rantau. Bagian aturan dalam limbago nan sapuluah tersebut adalah kato nan ampek.
Kato nan ampek adalah aturan tata krama dalam berkomunikasi antara sesama
masyarakat Minangkabau dari berbagai usia. Kato nan ampek meliputi kato-kato
mandaki, kato mandata, kato melereang, kato manurun (Amir, 2007: 76).

Dalam permainan randai kurenah kato nan ampek selalu menjadi bagian tata
krama berbicara yang diperankan oleh anak-anak randai. Biasanya kato nan ampek
mengejawantah dalam bentuk dialog dan pantun-pantun. Ciri khas dialog antartokoh
menggunakan bahasa yang santun, mencerminkan kesopanan dan sikap saling
menghormati antarsesama, baik antara orang yang lebih tua dengan orang yang berusia
lebih muda, atau sebaliknya. Hal ini adalah salah satu ciri identitas manusia

154 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

Minangkabau dalam bertutur kata. Berikut ini adalah contoh dialog berbentuk pantun
dalam randai yang mencerminkan kearifan lokal kato nan ampek.

Taleh karanji urang gagak
Bao barang ka tapian
Nak kanduang kamari tagak
Adoh nan barang dikatokan

Talas Karanji sarang gagak
dibawa ke tepian
Anak kandung mari berdiri
Ada sesuatu yang hendak disampaikan

Dialog tersebut adalah pantun yang disampaikan oleh tokoh Ayah kepada
anaknya. Konteks dialog tersebut adalah orang yang lebih tua dengan yang lebih muda
usianya, serta kedudukan orang tua dengan anaknya. Kurenah kato yang digunakan
adalah kato manurun. Dalam kato manurun biasanya pihak yang berusia lebih tua tetap
harus menyampaikan bahasa yang sifatnya membimbing dan memberi petunjuk tanpa
bahasa kasar. Prinsip kurenah kato manurun saat seseorang yang berusia tua kepada
yang lebih muda tergambar dari bahasa yang halus dan sangat menjunjung sikap
menghargai. Apabila sebuah pertunjukan randai telah menyajikan dialog tokoh
demikian dengan sendirinya telah mengajarkan pada penonton sikap saling
menghormati dan sopan santun dalam berkomunikasi dengan siapa saja.

4.3 Budi Bahasa Minang sebagai Cermin Identitas Diri Urang Minang
Bahasa Minangkabau adalah ciri identitas lokalitas Minangkabau. Bahasa daerah
Minangkabau adalah bahasa ibu masyarakat Minangkabau, digunakan sebagai
pengantar dalam komunikasi sehari-hari, di luar dari penggunaan bahasa nasional.
Sebagai bahasa ibu, suku Minangkabau memperoleh bahasa Minangkabau secara
alamiah tanpa proses belajar di sekolah seperti halnya bahasa kedua. Tentu sebagai
bahasa ibu, bahasa Minangkabau menjadi penciri identitas kolektif suku dan perekat
hubungan kekerabatan. Dalam konteks kultural, bahasa daerah Minangkabau adalah
satu bagian kearifan lokal suku Minangkabau. Dalam penerapannya di tengah
masyarakat Minangkabau, bahasa tersebut mengandung banyak ajaran falsafah
kehidupan, khususnya tentang tata cara berkomunikasi antarindividu dan
antarkelompok yang dilandasi kebijakan dan kearifan adat.

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 155

Randai Minangkabau adalah seni tradisi yang menggunakan bahasa Minangkabau
sebagai pengantar dalam naskah cerita. Dalam sejarah performansi randai, pertama kali
ditampilkan pada tahun 1930-an telah menggunakan bahasa daerah Minangkabau.
Sampai saat ini randai yang berkembang di Sumatera Barat tetap menggunakan bahasa
Minangkabau. Berdasarkan fakta tersebut dapat dianalisis bahwa terdapat nilai kearifan
lokal yang diajarkan dalam setiap pertunjukan randai. Nilai kearifan tersebut adalah
agar masyarakat Minangkabau senantiasa menjaga kelestarian bahasa daerah sendiri,
menggunakan untuk komunikasi antarsesama orang suku Minangkabau, serta
menyebarluaskannya untuk berbagai kepentingan bersama.

4.4 Falsafah Hidup Alam Takambang Jadi Guru sebagai Pedoman Hidup
Falsafah alam Minangkabau menempatkan manusia sebagai salah satu unsur yang
statusnya sama dengan unsur lainnya, seperti tanah, rumah, suku, dan nagari.
Persamaan status tersebut dilihat dari keperluan budi daya manusia itu sendiri. Setiap
manusia secara bersama-sama atau sendiri-sendiri memerlukan tamah, rumah, suku,
dan nagari sebagaimana mereka memerlukan manusia atau orang lain untuk
kepentingan lahir dan batinnya (Navis, 2015: 59). Filosofi inilah yang disebut dengan
alam takambang jadi guru.

Makna dari falsafah ini adalah kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari
alam dan segala unsurnya. Kehidupan manusia selalu berpasang-pasangan, seperti
halnya unsur-unsur di alam semesta yang selalu berpasangan; siang-malam, laut-udara,
langit-bumi, air-api, kehidupan-kematian, dan sebagainya. Sebagai bagian dari
ekosistem alam, manusia dituntut mampu bertahan dalam kehidupan dan menjaga alam.
Manusia juga dituntut cakap dalam membaca dan mempelajari semua tanda-tanda alam.
Demikian masyarakat Minangkabau memaknai alam dan kehidupan.

Dalam pertunjukan randai Minangkabau juga termuat falsafah alam takambang
jadi guru tersebut. Berbagai gerak silat dan galombang yang diperagakan oleh anak
randai merupakan bagian dari hasil olahan guru tuo silek dalam kelompok randai
setelah mempelajari berbagai fenomena kejadian alam beserta aktivitas makhluk hidup
lainnya. Hal ini menguatkan alasan munculnya berbagai aliran ilmu silat yang menjadi
dasar dalam gerak galombang randai. Seperti halnya gerak silat aliran Kumango, salah
satu gerak silat yang digunakan dalam randai, sedikit banyaknya terinspirasi dari alam.

156 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

4.5 Gerak Silek dalam Randai sebagai Cermin Identitas Anak Nagari1
Gerakan-gerakan galombang dan legaran dalam randai merupakan bagian dari gerakan
pencak silat. Gerakan pembuka yang disebut sambah silek, gerakan langkah silek
(balabek) dan gerakan akhir langkah silek pada dasarnya adalah representasi dari
gerakan dalam silat yang terus berkembang dengan memadukan pertunjukan jurus silat
yang dilengkapi dengan dendang dan musik. Melalui bentuk ini secara langsung randai
telah mencerminkan kearifan lokal masyarakat Minangkabau sebagai masyarakat yang
identik dengan silat.

Gambar 2: Komposisi Anak Randai dalam Gerak Silek dan Lakon
(Sumber: dokumentasi antaranews.com saat pertunjukkan randai SMA di Banuhampu)

4.6 Bakaba dalam Randai sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau
Sebelum tradisi tulis masuk ke dalam masyarakat Minangkabau, masyarakat tradisional
identik dengan tradisi lisan. Kaba (kabar) adalah tradisi lisan di Minangkabau,
dijadikan sebagai alat komunikasi, penyampai berbagai informasi berita di nagari.
Kaba pada masa tradisional berbentuk pantun dan berbahasa daerah Minangkabau.
Dalam ranah kesusasteraan lisan milik Minangkabau, kaba juga memiliki fungsi
sebagai pelipur lara. Fungsi tersebut sudah ada sejak kemunculan kaba di rantau pesisir
dan selanjutnya sampai ke daerah darek (darat).

Hal yang cukup unik di masa awal kemunculan kaba adalah hadirnya figur mamak
dalam hampir semua teks kaba. Figur mamak dalam setiap kaba menjadi sosok yang
membawa pesan-pesan kemuliaan sistem adat. Hal tersebut menjadi sebuah cerminan
bahwa kaba memang didukung oleh sistem sosial Minangkabau. Fakta-fakta tentang

1 Nagari merupakan kesatuan kelompok komunal masyarakat Minangkabau, yang ruang lingkupnya
lebih besar dari korong atau kampung

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 157

substansi dan fungsi kaba di masa tradisional ternyata juga menjadi bagian penting
dalam randai. Unsur teks lisan, figur mamak, pesan-pesan budaya dan agama yang
semula terdapat dalam kaba saat ini juga menjadi unsur pembentuk keutuhan dalam
pertunjukkan randai.

Bakaba dalam pertunjukan randai dapat ditemukan dalam bagian dendang dan
carito kato. Susunan bait-bait dendang dalam randai yang sarat dengan pantun serta
dialog antartokoh, juga berbentuk pantun merupakan bagian dari kaba. Dikaitkan
dengan fungsi kaba dalam masyarakat tradisional Minangkabau, maka kearifan lokal
yang termaktub dalam kaba berkonteks randai adalah pesan moral agar masyarakat
Minangkabau selalu saling berkomunikasi dengan sesama etnis Minangkabau. Hal itu
selaras dengan mamangan orang Minangkabau yang berbunyi, kaba baik bahimbauan,
kaba buruak bahambauan.

Gambar 3: Anak randai dalam komposisi berdialog
(Sumber: dokumentasi penulis)

Apabila di masa awal pertumbuhannya teks kaba dalam randai tidak dituliskan,
pada masa selanjutnya naskah pertunjukan randai yang berbentuk kaba telah dituliskan.
Meskipun demikian, patut dipahami bahwa secara tidak langsung unsur kaba dalam
randai menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Minangkabau yang
mencerminkan identitas setempat.
PENUTUP
Randai merupakan seni pertunjukan tradisi dalam kebudayaan masyarakat
Minangkabau. Meskipun tergolong sebagai seni tradisional, randai memiliki nilai-nilai

158 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

sejarah kebudayaan yang sangat penting untuk dikenal generasi muda. Di samping

nilai-nilai sejarah, randai juga sarat dengan unsur kearifan lokal yang mencerminkan

identitas budaya Minangkabau. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, disimpulkan

kearifan lokal budaya Minangkabau yang terdapat dalam randai meliputi a) sambah

silek sebagai cermin filosofi adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah; b) carito

buah kato dalam randai sebagai cermin filosofi kato nan ampek; c) bahasa

Minangkabau dalam randai sebagai cermin identitas diri; d) falsafah hidup alam

takambang jadi guru sebagai pedoman hidup; e) gerak silek randai sebagai cermin

identitas anak nagari, dan f) bakaba dalam randai sebagai identitas sosial berpedoman

pada pentingnya muatan nilai kearifan lokal tersebut patut dilakukan pelestarian dan

pemertahanan randai di tengah pesatnya berbagai seni budaya modern yang masuk ke

dalam lapisan kehidupan masyarakat Minangkabau.

DAFTAR PUSTAKA

Arzul. (2015). “Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Randai Bujang Sampai”.
Jurnal Peradaban Melayu, (10), 108—122.

Cheng, Yin Cheong. (2002). “Foster Local Knowledge and Wisdom In Globalized
Education: Multiple Theories”. Proceeding International Conference on
Globalization and Localization Enmeshed: Searching For Balance In
Education. Faculty of Education of Chulalongkorn University. 18—21
November 2002. Thailand. 1—36.

Fajarini, Ulfah. (2014). “Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter”.
Jurnal Sosio Didaktika, 1 (2), 123—130.

Haryanto, Triu Joko. (2014. “Kearifan Lokal Pendukung Kerukunan Beragama Pada
Komunitas Tengger Malang Jatim”. Jurnal Analisa, 21 (02), 201-213

Hasanuddin. (1996). Drama Karya dalam Dua Dimensi, Kajian Teori, Sejarah dan
Analisis. Jakarta: Angkasa.

Hasanuddin. (2015). “Kearifan Lokal dalam Tradisi Lisan Kepercayaan Rakyat
Ungkapan Larangan Kanak-kanak Masyarakat Minangkabau Wilayah Adat Luhak
Nan Tigo”. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 1
(2), 198—204.

Kamonthip dan Kongprasertamorn. (2007). “Local Wisdom, Environmental Protection
and Community Development: The Clam Farmers In Tambon Bangkhunsai,
Phetchaburi Province Thailand. Manusya: Journal of Humanities, 10 (1), 1—10.

Kayam, Umar. (1981). Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.
Kechot, Abd. Samad Bin. (2009). “Kajian Randai Warisan Masyarakat Minang
Negeri Sembilan: Meneroka Perkembangan dan Taburannya”. Jurnal Melayu. 4,
161—172.

M. S, Amir. (2007). Adat Minangkabu, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang.
Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018 | 159

Mungmachon, Mmiss Roikhwanput. (2012). “Knowledge and Local Wisdom:
Community Treasure”. International Journal of Humanities and Social Science, 2
(13), 174—181.

Murniati. (2015). “Dekonstruksi Estetika dan Makna Musik Gamat di Sawahlunto,
Sumatera Barat”. Jurnal Resital, 16 (1), 25—35.

Navis, A.A. (2015). Alam Takambang Jadi Guru. Padang. Grafika Jaya sumbar.
Ngafifi, Muhammad. (2014). “Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia
dalam Perspektif Sosial Budaya”. Jurnal Pembangunan Pendidikan, 2 (1),
33—47.

Ninuk, Kleden. (2000). “Teater Tradisional sebagai Dokumen Komunitas”. Jurnal
Antropologi Indonesia, 62 (2), 23—32.

Primadesi, Yona. (2013). “Preservesi Pengetahuan dalam Tradisi Lisan Seni
Pertunjukan Randai di Minangkabau Sumatera Barat”. Jurnal Kajian Informasi
dan Perpustakaan, 1 (2), 179—187.

Prayogi, Ryan dan Endang Danial. (2016). “Pergeseran Nilai-nilai Budaya pada Suku

Bonai Sebagai Civic Culture di Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan
Hulu Provinsi Riau”. Jurnal HUMANIKA, 23 (1), 61—79.
Rustiyanti, Sri, at. all. (2013). “Estetika Tari Minang dalam Kesenian Randai Analisis
Tekstual Kontekstual”. Jurnal Seni dan Budaya Panggung, 23 (1), 42—55.
Rustiyanti, Sri. (2014). “Seni Tradisi Randai dengan Pembacaan Masa Kini”. Prosiding

Seminar Nasional Riset Inovatif II.
Samidi. (2006). “Teater Tradisional di Surabaya1950—1965”. Jurnal Humaniora, 18

(3), 23—33.
Saputra, Isral. (2011). “Silek Kumango: Keberadaan, Pewarisan, dan Kearifan Lokal

Minangkabau”. Wacana Etnik; Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2 (1), 73—94.

Sedyawati, Edi dan Sapardi Djoko Damono (Editor). (1983). Seni dalam Masyarakat

Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

Sedyawati, Edi. (2006). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah.

Jakarta: PT RAJA Grafindo Persada.
Seha, Nur, et al. (2014). “Fungsi Teater Rakyat Ubrug Bagi Masyarakat Banten”.

Atavisme, 17 (1). 107-120.
Syuriadi, Helki dan Hasanuddin WS. (2014). “Nilai-nilai Pendidikan dalam Teks Cerita

Randai “Malangga Sumpah” Karya Lukman Bustami Grup Randai Bintang
Tampalo Kenagarian Padang Laweh Kabupaten Sijunjung”. Jurnal Bahasa,
Sastra dan Pembelajaran, 2 (2), 60—74.
Suryadi. (2014). The Recording Industry And ‘Regional’ Culture In Indonesia The

Case of Minangkabau. Disertasi. Universiteit Leiden.
Triyanto. (2017). “Art Education Based on Local Wisdom”. Proceeding of 2nd

International Conference of Arts Languange And Culture. Universitas Sebelas
Maret, 33—39.
Wendy. (2014). “Dramaturgi Teater Rakyat Randai di Minangkabau”. Jurnal Kajian
Seni. 01 (01), 42—52.
Wulandari, Yosi. (2015). “Randai sebagai Komunikasi Sastra Daerah di Minangkabau
Sebuah Gagasan Melestarikan Budaya Indonesia”. Prosiding Konferensi

Nasional Bahasa dan Sastra III.
Zulkifli. (2013). “Randai sebagai Teater Rakyat Minangkabau: Alternatif Pembinaan

dan Pengembangan”. Jurnal Garak jo Garik, I (9), 32—32.

160 | Jentera, 7 (2), 145—160, ©2018

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

Kori Lilie Muslim
Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi

[email protected]

Diterima: 04 April 2017 Direvisi :03 Mei 2017 Diterbitkan:15 Juni 2017

Abstract

This paper aims to analyze the influence of Islamic values in Indonesia in the form of culture and local
wisdom of the Minangkabau people. We will discover the extraordinary fact that Minangkabau local culture
and wisdom has a very high Islamic value. Culture is something very important in society, because culture is
identity. Culture makes a society different from another society. In society, culture has its own value, just like
the Arabic culture and Indonesian culture. The different from Arabic culture and Indonesian culture is
influenced by desert. The arabic live in difficult way whereas the Indonesian live in prosperous area. The
prosperous area. will create an extraordinary culture. Besides, the local wisdom in Indonesia is influenced by
the sharia value. That is because of Islam has become the majority that affects everyone in Indonesia, espe
cially Minangkabau people. The presence of Islam in Malay brought new concepts and values that replace the
mystical values toward rational thinking. Islam also capable in solving unresolved problems in previous
Malay beliefs. The deep influence makes Malay culture identicl with Islam. This is due to the proverb
mention “ "syarak mengata adat memakai", which implies that custom is an operational of Islamic values.
In addition, Malay culture are sourced from Islam and there is nothing opposite to Islam, if there is a conflict
among the custom, the custum must succumb. This is expressed in “tradition be upon the religion, the religion
be upon the Qur’an”

Keyword: Islamic value, culture, local wisdom

Abstrak

Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai Islam di Indonesia
dalam Budaya dan kearifan lokal orang Minangkabau. Kita akan menemukan fakta yang luar
biasa, bahwa budaya dan kearifan lokal Minangkabau memiliki nilai Islam yang sangat tinggi.
Berbicara tentang budaya, budaya adalah Sesuatu yang sangat penting dalam masyarakat,
karena budaya adalah identitas. Budaya membuat suatu masyarakat berbeda dengan
masyarakat lainnya. Dalam masyarakat, budaya memiliki nilai, tapi itu berbeda disetiap
masyarakat. Kalau kita bandingkan dengan budaya Arab, penyebab budaya Indonesia
berbeda dengan budaya Arab adalah budaya Arab dipengaruhi oleh padang pasir, jadi mereka
hidup dalam kehidupan yang sulit sedangkan kehidupan orang Indonesia, mereka hidup pada
daerah subur. Kawasan subur akan menciptakan budaya yang luar biasa. Kearifan lokal dalam
masyarakat bisa dipengaruhi oleh Agama. Di Indonesia, kearifan lokal dipengaruhi oleh nilai
syariah. Itu terjadi, karena Islam telah menjadi mayoritas yang mempengaruhi setiap orang di
Indonesia, masyarakat Minangkabau khususnya. Kehadiran Islam di dunia Melayu membawa
konsep-konsep dan nilai-nilai baru yang menggeser nilai-nilai yang berbau mistis ke arah
pemikiran yang rasional. Islam juga mampu memecahkan persoalan-persoalan yang tak
terpecahkan dalam keyakinan orang Melayu sebelumnya. Begitu dalamnya pengaruh Islam
dalam kebudayaan Melayu sehingga banyak kalangan mengatakan bahwa Melayu identik
dengan Islam. Hal ini disebabkan karena adanya pepatah adat yang menyebutkan “syarak
mengata adat memakai”, yang mengandung arti bahwa adat merupakan operasional dari nilai-
nilai Islam. Di samping itu adat dalam kebudayaan Melayu bersumber dari Islam dan tidak
boleh ada pertentangan adat dengan Islam, jika terdapat pertentangan maka adatlah yang

Kori Lilie Muslim 48 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

mengalah. Hal ini diungkapkan dalam pepatah adat “adat bersendi syarak, syarak bersendi
kitabullah”.

Kata kunci: Nilai Islam, Budaya, Kearifan Lokal

A. PENDAHULUAN teknologi, pendidikan, organisasi sosial, dan
kesenian. Kearifan lokal bermula dari ide
Kearifan lokal (local wisdom) telah atau gagasan, yang kemudian diaplikasikan
membentuk nilai-nilai sosial yang menjadi dalam tahapan praktik, dan penciptaan
bagian dari kehidupan sehari-hari material kebudayaan. Ia akan terus
masyarakat Indonesia. Misalnya, gotong berkembang sesuai dengan perkembangan
royong, kekeluargaan, musyawarah untuk zaman, intensitas pergaulan sosial, dan
mufakat, dan tepa selira (toleransi). enkulturasi sosiobudaya.
Hadirnya kearifan lokal ini tak bisa
dilepaskan dari nilai-nilai religi yang dianut Berbicara mengenai budaya dan
masyarakat Indonesia sehingga nilai-nilai kearifan lokal kita pahami terlebih dahulu
kearifan lokal ini makin melekat pada diri bahwa budaya dan kearifan lokal adalah
mereka. Tak mengherankan, nilai-nilai gagasan-gagasan setempat yang bersifat
kearifan lokal ini dijalankan tak semata- bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik,
mata untuk menjaga keharmonisan yang tertanam dan diikuti oleh
hubungan antar manusia, tetapi juga anggota masyarakatnya. Dalam kearifan
menjadi bentuk pengabdian manusia lokal terkandung pula kearifan budaya lokal
kepada Sang Pencipta. Kearifan dapat juga yaitu pengetahuan lokal yang sudah
dikatakan sebagai kebijaksanaan yang sedemikian menyatu dengan sistem
didambakan umat manusia di dunia ini. kepercayaan, norma, dan budaya serta
Kearifan dimulai dari gagasan-gagasan diekspressikan dalam tradisi dan mitos yang
suatu individu yang kemudian bertemu dianut dalam jangka waktu yang lama.
dengan gagasan individu lainnya, seterusnya
berupa gagasan kolektif. Jadi dapat diketahui unsur yang
membentuk budaya dan kearifan lokal
Kearifan lokal ini biasanya dicipta terdiri dari: manusia, gagasan yang bernilai
dan dipraktikkan untuk kebaikan komunitas baik, kebenaran yang telah mentradisi dan
yang menggunakannya. Ada kalanya diakui oleh masyarakat. Dengan
kearifan lokal itu hanya diketahui dan menggunakan empat unsur tersebut dalam
diamalkan oleh beberapa orang dalam memahaminya, dapat dipahami bahwa
jumlah yang kecil, misalnya desa. Namun dalam budaya dan kearifan lokal nilai agama
ada pula kearifan lokal yang digunakan oleh tidak terpisahkan. Gagasan yang bernilai
sekelompok besar masyarakat, misalnya baik kemudian menjadi kebenaran yang
kearifan lokal etnik. Kearifan lokal ini juga mentradisi dan diakui oleh masyarakat
tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan merupakan prinsip dasar dari semua agama,
masyarakat yang mendukungnya. Kearifan wabil khusus agama Islam. Manusia adalah
lokal di peringkat etnik juga bisa pelaku dan pencipta budaya dan kearifan
bermacam-macam bidang. Misalnya untuk karena hakikat dari manusia itu sendiri
merespons alam sekitar manusia. dalam pandangan al-Qur`an atau al-Kitab
terbangun dari jasad dan ruh.
Kearifan lokal, biasanya mencakup
semua unsur kebudayaan manusia, yang Manusia tanpa ruh hanyalah
mencakup: sistem religi, bahasa, ekonomi, jasmaniah yang tak bernyawa.

Kori Lilie Muslim 49 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

Manusia akal budinya disinari oleh sinar ruh B. TINJAUAN UMUM TENTANG
melahirkan budaya dan kearifan luhur dan KEARIFAN LOKAL
menjadi penuntun masyarakatnya. Budaya
dan kearifan yang dilahirkan dalam 1. Pengertian kearifan lokal
masyarakat lokal tertentu menjadi warisan Secara etimologi, kearifan lokal (local
secara turun temurun dan menjadi budaya
dan kearifan lokal atau local wisdom. Budaya wisdom) terdiri dari kata: kearifan (wisdom) dan
kearifan lokal meskipun berlaku sebelum lokal (local). Dalam Kamus Inggris-Indonesia
hadirnya agama di masyarakat lokal Purwono Sastro Amijoyo dan Robert K.
setempat, akan tetapi kearifan lokal sarat Cunningham, local berarti setempat1, sedangkan
dengan nilai-nilai agama, karena beberapa wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan2.
faktor.
Dalam kearifan local terkandung pula
Adapun faktor pertama yaitu dari kearifan budaya lokal. Secara umum makna
segi asal-usulnya, budaya kearifan lokal local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami
merupakan proses cipta rasa manusia yang sebagai gagasan setempat (local) yang bersifat
berpusat dari hati nurani yang jujur, ikhlas, bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang
amanah dan cerdas yang memancar di akal tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat.
pikiran manusia, dan dilaksanakan dengan Bisa dikatakan kearifan lokal (local wisdom)
tindakan dan perbuatan. Kedua segi adalah kebenaran yang telah mentradisi dalam
kehadirannya, budaya dan kearifan lokal suatu daerah. Kearifan lokal merupakan
menjadi budaya kearifan lokal karena telah perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan
teruji dan melalui proses seleksi dari dan berbagai nilai yang ada.
penilaian anggota-anggota masyarakat yang
mendambakan hal yang sama. Ketiga, dari Kearifan lokal terbentuk sebagai
segi kegunaannya, kearifan lokal terbukti keunggulan budaya masyarakat setempat
menjadi barometer dari tindakan dan maupun kondisi geografis dalam arti luas.
perbuatan masyarakat lokal bersangkutan. Kearifan maupun produk budaya masa lalu
Tindakan yang bernilai budi luhur dan yang yang patut secara terus-menerus dijadikan
diakui secara bersama. pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi
nilai yang terkandung di dalamnya dianggap
Dari penjelasan tersebut dapatlah sangat universal.
diketahui titik temu antara nilai agama
dengan budaya dan kearifan lokal. Pada bagian lain, secara
Menurut pandangan Ali Syahbana konsepsual, kearifan lokal dan keunggulan
mengatakan bahwa sebenarnya budaya lokal merupakan kebijaksanaan manusia
hanya satu yaitu kebudayaan manusia. yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika,
Tidak ada budaya Timur atau budaya Barat. cara-cara dan perilaku yang melembaga
Budaya dan kearifan Barat juga budaya dan secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai
kearifan kita semua. Budaya Islam adalah yang dianggap baik dan benar sehingga
budaya umat manusia. Ada tidaknya nilai dapat bertahan dalam waktu yang lama dan
Islam dalam sebuah budaya dan peradaban bahkan melembaga.Jadi, dapat kita pahami
dapat diukur dari sisi kearifan lokal bahwa Kearifan lokal merupakan perpaduan
masyarakat setempat, termasuk budaya dan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan
kearifan lokal masyarakat Minangkabau. berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal
terbentuk sebagai keunggulan budaya

1Amijoyo, Purwono Sastro.2007. Kamus
Inggris-Indonesia. Semarang: Widya Karya.h, 226

2Amijoyo, Purwono Sastro.2007. Kamus
Inggris-Indonesia. Semarang: Widya Karya.h, 354.

Kori Lilie Muslim 50 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

masyarakat setempat maupun kondisi menghormati tamunya, memiliki solidaritas

geografis dalam arti luas. Kearifan lokal sosial yang tinggi, memiliki tradisi

merupakan produk budaya masa lalu yang “musyawarah” dalam mengambil keputusan,

patut secara terus-menerus dijadikan menjunjung tinggi kejujuran, dan budaya

pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal positif lainnya. Tradisi ini mendapat apresiasi

tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dari Rasulullah dengan penyempurnaan.

dianggap sangat universal. Budaya lokal Arab berupa solidaritas

Bentuk-bentuk kearifan lokal dalam sosial suku disempurnakan dengan solidaritas

masyarakat dapat berupa: nilai, norma, keumatan dan kemanusiaan. Serta kedaan

etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum geografis yan g keri n g d an g ers an g s e rt a

adat, dan aturan-aturan khusus. Oleh keh i dup an y an g mul an y a s uk a

karena bentuknya yang bermacam-macam b erp eran g , h i n g g a akh i rn y a da p at

dan ia hidup dalam aneka budaya h idup damai dan meninggalkan perang.

masyarakat maka fungsinya menjadi Bukan saja dalam aspek kehidupan

bermacam-macam. sosial, dalam aspek ibadah ritual pun yang telah

ada sebelumnya berlanjut sepanjang sebuah

2. Agama Islam dan kearifan lokal budaya ritual itu memiliki nilai pembentukan

Minangkabau akhlak dan akidah islami. Ritual ber-haji atau

Agama Islam yang diemban oleh menunaikan ibadah haji yang telah berlangsung

Nabi Muhammad saw. diperuntukkan bagi di kalangan Arab setiap tahun sebagai warisan

seluruh umat manusia pada umumnya. dari Nabi Ibrahim as. dikekalkan bagi umat

Oleh sebab itu, Islam dikenal sebagai Islam dengan berbagai perubahan dalam

agama yang bersifat universal. Agama Islam pelaksanaannya. Kalau sebelumnya, tawaf

dan budaya serta kearifan lokal mempunyai mengelilingi ka`bah, para jamaah haji

hubungan titik temu yang kuat. Nabi melaksanaannya dengan tidak memakai

Muhammad saw., dalam sejarah pakaian, lalu oleh Rasulullah disyariatkannya

pengembangan nilai-nilai Islam dalam dengan menggunakan pakaian ihram. Segala

dakwahnya, baik di Mekkah maupun di tradisi atau syariat puasa bagi umat-umat

Madinah tidak serta merta meninggalkan terdahulu sebagai upaya membangun

seluruh apalagi menghancurkan budaya karakter “bertakwa” diteruskan oleh Nabi

kearifan lokal yang ada dan berlaku dalam Muhammad SAW.Ketika Nabi Muhammad di

masyarakat sebelumnya. Madinah, beberapa sistem adat sebelum Islam

Saat Nabi Muhammad saw datang dilanjutkan dengan pemberian muatan nilai-

masyarakat Mekkah maupun Madinah nilai Islam yang bersifat kerahmatan. Lembaga

berada dengan berbagai budaya kearifan perang tetap diteruskan dengan muatan

lokalnya masing-masing. Budaya kearifan kemanusiaan.

lokal yang baik diteruskan dan Dalam perang yang dilakukannya,

disempurnakan. Budaya yang tidak sesuai Nabi Muhamad melarang menggangu

lagi dengan kondisi zaman di sesuaikan orang-orang lemah seperti anak-anak,

dengan pemuatan nilai-nilai iman, Islam, perempuan, orang lanjut usia, bahkan para

tauhid dan makrifah yang melahirkan orang-orang yang sedang menjalankan

perilaku akhlak mulia (akhlakul karimah). ibadah agamanya. Tempat-tempat ibadah

Dalam bidang sosial, Nabi dilarang untuk diganggu apalagi

Muhammad dating di Mekkah di tengah diruntuhkan. Musuh yang sudah kalah

masyarakat Arab yang gemar menerima dan

Kori Lilie Muslim 51 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

dalam perang, dimaafkan sebelum minta Islam dengan merek “tahun hijriyah”.

maaf.3 Budaya menulis dan kodifikasi riwayat

Setelah Islam bertemu dengan budaya lisan di atas kertas digunakan oleh Khalifah

dan kearifan lokal di luar Jazirah Arab, Usman bin Affan untuk menulis al-Qur`an

Islam sama sekali tidak membuang sebagai suatu bentuk “bid`ah hasanah” atau

keseluruhan atau mengambil keseluruhan “pembaruan yang baik”.

budaya dankearifan lokal. Islam Penerimaan Islam terhadap budaya

memberikan muatan prinsip-prinsip dan lokal setempat pada masa Bani Umayyah,

nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, keadilan, Penguasa Bani Umayyah mengambil budaya

kemanusiaan, kesamaan, dan bernegara dengan sistem monarchi heredity yang

disesuaikannya yang tidak sesuai. digunakan oleh kerajaan Romawi sebelumnya

Pengangkatan Abu Bakar, Umar, menggantikan budaya Arab yang menggunakan

Usman, Ali sebagai umara (jamaknya amir sistem kesenioran dalam memilih

yang berarti “pemimpin”) yang dilakukan pemimpinnya. Budaya “kerajaan” dengan

dengan pertimbangan kesenioran dan istananya serta pengawal kerajaannya warisan

personal capability, merupakan sistem budaya Romawi juga dipakai.

budaya dan kearifan lokal dalam sistem Masa Bani Abbas sebagai masa

kesukuan masyarakat Arab. Sedangkan Bani kebanggaan kejayaan sejarah peradaban Islam

Umayyah yang dalam masa tidak terlepas dari sumbangan budaya dan

pemerintahannya selama sekitar 90 tahun, peradaban masyarakat Yunani, Romawi, atau

mengikuti budaya local Romawi Persia. Bani Abbas meneruskan budaya ilmu

sebelumnya yang menggunakan sistem pengetahuan yang telah ada di Persia

monarchi heredity atau aristokrasi. sebelumnya dan menjadi budaya dan

Demikian pula Dinasti Bani Abbas, peradaban Islam. Semua yang dikemukakan

meraka menggunakan system budaya tersebut merupakan contoh kongkrit bahwa

kerajaan Persia sebelumnya. Dalam konsep Islam lahir dalam wilayah yang tidak hampa

kenegaraan Budaya Persia, raja adalah budaya dan kearifan lokal.

turunan Dewa yang menjelma di bumi. Islam mulai bertemu dengan budaya

Oleh Bani Abbas para raja mereka Arab, kemudian masuk budaya Persia, Turki,

dipandang sebagai ‫( ظﻞﷲ ﻰﻓاﻻضر‬bayang- seterusnya Bar-Bar, India, Cina, dan Melayu di

bayang Tuhan di Bumi), dengan gelar Asia Tenggara, serta Barat. Dalam budaya

ketuhanan seperti al-hadibillah atau al- lokal yang didatangi Islam itu juga tidak hampa

mutawakkil billah. dari muatan nilai Islam. Karena itu, Islam tidak

Penggunaan lembaga Baital Mal bisa hanya di identikkan dengan budaya Arab,

sebagai tempat penyimpanan uang yang atau sebaliknya. Islam memasuki budaya lokal

merupakan warisan Romawi juga dan menjadikannya sebagai budaya dan

digunakan oleh Umat Islam sejak Khalifah kearifan lokal yang sekaligus menjadi

Umar bin Khattab. Tarikh atau penaggalan kebudayaan Islam, termasuk budaya dan

Arab yang menggunakan perhitungan kearifan Minangkabau.

tahun qamariyyah digunakan oleh Umar dan Dalam membicarakan kebudayaan

dijadikannya sebagai penanggalan umat Islam di Minangkabau terlebih dahulu

dibahas kapan Islam tersebut masuk ke

3Nabi Muhamad melakukannya dalam daerah Minangkabau. Islam masuk
Penaklukan Mekah. Orang-orang Quraisy dimaafkan diperkirakan oleh para sejarawan sudah
setelah mereka kalah. berlangsung mulai pada abad ke 7 M.

Kori Lilie Muslim 52 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

Kedatangan ini melalui jalur Timur Sumber lain menyebutkan Pada tahun 100
Sumatera atau Minangkabau Timur yang Hijriyah (718 Masehi) Maharaja Sriwijaya
terhubung dengan selat Malaka. Sementara bernama Sri Indrawarman mengirimkan
melalui jalur pantai barat sejarawan baru sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin
memperkirakan pada abad 16/17 M Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah,
walaupun dibantah oleh beberapa ahli yang berisi permintaan kepada Khalifah
karena tidak sesuai dengan beberapa fakta untuk mengirimkan ulama yang dapat
yang diungkap oleh temuan penelitian para menjelaskan ajaran dan hukum Islam
sejarawan. kepadanya. Dalam surat itu tertulis:

Teori jalur timur didasarkan " Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah
kepada intensifnya jalur perdagangan keturunan ribuan raja, yang isterinya pun
melalui sungai-sungai yang mengalir dari adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun
gugusan bukit barisan ke selat Malaka yang binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang
dilayari oleh para pedagang termasuk wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai
pedagang Arab untuk mendapatkan yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah
komoditi lada dan emas. Intensifnya jalur wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma
dagang ini malah dipandang sudah harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada
berlangsung berabad-abad bahkan sebelum Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan
kelahiran agama Islam. Pelayaran ke selat lain selain Allah. Aku telah mengirimkan
Malaka ditempuh melalui lembah Sinamar kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai
di sekitar Buo dan Sumpur Kudus, tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi
melintasi Silukah, Durian Gadang menuju mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran
sungai Indragiri atau melintasi Padang Sarai Islam dan segala hukum-hukumnya
yang terletak di jalur anak sungai Kampar kepadaku.". (Surat Maharaja Sriwijaya, Sri
Kiri.4 Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul
Aziz)7.
Perebutan monopoli perdagangan
lada antara kekhalifahan Umayyah dan Sumber di atas menggambarkan
Dinasti T’ang mendorong pedagang- bahwa hubungan diplomatik Nusantara
pedagang muslim untuk mengambil dengan Dinasti Umayyah sudah terjalin
langsung komoditi lada dari wilayah mulai dari abad ke 8 M atau bahkan sudah
Minangkabau Timur.5 Kesimpulan mulai dari abad ke 7 M. Sebagaimana ditulis
masuknya Islam ke Minangkabu pada abad Mas’ud Abidin, awal abad ke-7 M atau abad
ke 7 M ini juga lahir pada seminar I Hijriah rantau timur Minangkabau telah
masuknya Islam ke Minangkabau yang menerima dakwah Islam. Bahkan J.C. Van
diadakan di Padang pada tahun 1969.6 Vanleur dalam bukunya Indonesian Trade &
Socety (1955) menyatakan bahwa pada
4Irhash A. Shamad dan Danil M. Chaniago,
Islam dan Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau, Zuber Usman, Muhammad Rajab, MD. Mansoer, dll.
(Jakarta: Tintamas, 2007), Lihat Irhash A. Shamad , op cit., h. 26

5Mansoer, dkk., Sejarah Minangkabau, 7Azyumardi Azra, Islam in the Indonesian
(Jakarta: Bhratara, 1970), h. 44-45 world: an account of institutional formation. Mizan
Pustaka. 2006.
6Seminar diselenggarakan atas kerjasama
Center for Minangkabau Studies, LKAAM dan
BKPUI di IAIN Imam Bonjol Padang yang dihadiri
oleh 268 peserta. Peserta yang hadir di antaranya
Hamka, Zakiyah Darajat, Mukti Ali, Sidi Gazalba,
Ibrahim Buchari, Amura, M.O Parlindungan, Alfian,

Kori Lilie Muslim 53 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

permulaan tahun 674 Pantai Barat Sumatera (pelanjut kekuasaan Samudera Pasai) sangat
telah dihuni koloni Arab. 8 besar. Intensifnya perkembangan Islam
pada masa inilah dinilai oleh beberapa kajian
Sedangkan asumsi masuknya Islam peneliti dijadikan sebagai dasar kajian
ke Minangkabau melalui pesisir barat masuknya Islam ke Minangkabau yang
didasari oleh intensifnya kegiatan sering dihubungkan dengan Syekh
perdagangan pantai barat Sumatera pada Burhanuddin Ulakan (1066 H/ 1646 M –
abad 16/ 17 M sebagai akibat dari kejatuhan 1111 H/ 1691 M) yang merupakan murid
Malaka ke tangan Portugis. Pada masa ini Syekh Abdurrauf Singkel yang telah belajar
pengaruh kekuasaan Aceh Darussalam di Aceh selama 10 tahun. 9

8Ketika itu Kerajaan Sriwijaya yang Syekh Burhanuddin Ulakan meninggal
berpusat di Palembang telah menyebarkan agama + dalam usia 45 tahun dan dipandang sebagai
Hindu ke Nusantara dari abad ke-7 hingga ke-13 M. penggagas pendidikan dengan menjadikan
Kemaharajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai Surau sebagai model dan sentralnya. Dalam
dengan catatan I Tsing, dari prasasti Kedukan konteks peranan Burhanuddin Ulakan sebagai
Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di pembawa agama Islam ke Minangkabau ini,
bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Di abad ke-7 melalui fakta-fakta sejarah telah dibantah oleh
ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua Mahmud Yunus. Pertama, Mahmud Yunus
kerajaan yaituMalayu dan Kedah menjadi bagian mengemukakan alasan bahwa sebelum belajar
kemaharajaan Sriwijaya. Masuknya Islam pada masa di Aceh kepada Abdurrauf Singkel,
itu menimbulkan persaingan perdagangan sekaligus Burhanuddin telah terlebih dahulu belajar di
pengaruh untuk mengembangkan agama masing- kampung halamannya kepada beberapa orang
masing. Sebagaimana pernah terjadi persaingan sengit guru. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sudah
antara angkatan Laut Sriwijaya dengan pedagang berkembang sebelum Burhanuddin. Fakta
Islam di Malaka. Pedagang muslim Arab dan Parsi kedua menjelaskan bahwa ada tiga muballig
akhirnya menuju pesisir timur dan barat Sumatera. Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk
Kemudian akibat ‘perkawinan politik’ antara saudagar Patimang, dan Datuk ri Tiro pergi menyiarkan
Islam dengan putri kerajaan setempat, maka Islam ke Sulawesi pada tahun 1603 M yang
terbentuklah kerajaan Islam Perlak dengan sultan pada saat itu Burhanuddin belum lahir.
pertamanya Syekh Maulana Abdul Aziz Syah yang
menganut Islam Syiah (840 M-888/913 M). Namun Fakta ini menunjukkan bahwa
akhirnya di Perlak juga berkembang aliran Sunni. Islam sudah berkembang di Mingkabau
Sriwijaya kembali menyerang Perlak namun kemudian sebelum Burhanuddin. Berdasarkan ini,
dimenangkan oleh Perlak. Setelah itu Perlak dipimpin Mahmud Yunus berkesimpulan bahwa
oleh seorang Sunni yaitu Sultan Makhudum Alaiddin Burhanuddin Ulakan bukanlah pembawa
Malik Ibrahim Syah Johan berdaulat (1006 M). Islam pertama ke Minangkabau, namun
Sriwijaya kemudian berhadapan dengan Kerajaan diakuinya bahwa Burhanuddin adalah orang
Darma Wangsa di Pulau Jawa, setelah itu dengan yang pertama mendirikan lembaga
Majapahit, dan Majapahit menang sejak tahun 1477 pendidikan Surau secara teratur dan
M. Seluruh Pantai Timur Minang jatuh ke tangan tersistem sebagaimana mengikuti pola dan
Majapahit sampai akhirnya Majapahit lemah setelah sistem pendidikan gurunya Abdurrauf
raja Hayam Wuruk meninggal. Semenjak itu pula Singkel di Aceh.10
kerajaan Pagarruyung diperintah oleh Adityawarman.
Sementara itu tahun 1400 Malaka dan Samudera Pasai, 9Irhash A. Shamad, ibid.,
masing-masingnya menjadi kota dagang dan kerajaan 10Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan
Islam. Pengaruh Islam berkembang sampai ke Pantai
Barat Minang. Akan tetapi, dinamika perkembangan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1979) cet.
dakwah Islamiyah agak lamban di sana, sebab sering II.,
terjadi pertentangan mazhab Syiah dengan Sunni di
Aceh dan masalah perebutan Selat Malaka.
Kemudian rantau Alam Minang sudah mulai
didominasi pemeluk Islam. Sementara Yang Dipertuan
Adityawarman masih memeluk Budha. Baca, Mas’ud
Abidin, Piagam Sumpah Sati Bukik Marapalam,
http://www.pandaisikek.net/ , (Download tgl. 30
Agustus 2017).

Kori Lilie Muslim 54 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

Ketiga, Mahmud Yunus juga hubungan manusia dengan Khaliqnya,
mengungkapkan tentang adanya tokoh aturan tentang membina persatuan, aturan
Burhanuddin di Kuntu Kampar Kiri yang tentang memegang teguh prinsip
wafat pada tahun 610 H/ 1191 M yang musyawarah atau mufakat, dan tujuan yang
dipandang jauh lebih awal dari pada hendak dicapai dengan mempergunakan
Burhanuddin Ulakan. Menurut Mahmud ajaran yang empat macam sebagai pegangan
Yunus, Burhanuddin Kuntu mula-mula dan pedoman.12
mengajar di Batu Hampar dan menetap di
sana selama 10 tahun, kemudian pindah ke Berdasarkan paparan di atas proses
Kumpulan (dekat Bonjol) dan menetap masuknya Islam ke Minangkabau dan Al-
selama 5 tahun, dari Kumpulan beliau pergi Qur’an sebagai pedoman hidup bagi orang
ke Ulakan Pariaman dan mengajar selama Minang merupakan konstitusi tertinggi bagi
15 tahun, sampai akhirnya pergi ke Kuntu budaya dan masyarakat. Karenanya tidak
Kampar dan mengajar selama 20 tahun masuk akal jika ada orang Minang yang
sampai beliau meninggal pada tahun 1191 beragama selain Islam. Dan tidak pula keliru
M dan dimakamkan di Kuntu.11 menyebut bahwa orang Minang yang pindah
agama tidak lagi berada dalam koridor ke-
Berdasarkan fakta sejarah tersebut, Minangkabauannya. Karena itu aib besar bagi
kehadiran Islam bagi masyarakat seorang Minang dikatakan tidak beradat dan
Minangkabau merupakan suatu rahmat, tidak beragama (Islam).13
karena dengan ajaran Islam adat
Minangkabau semakin kokoh dan Bagaimana dengan budaya dan
sempurna. Sehubungan dengan itu, Islam kearifan lokal Minangkabau? Budaya dan
menjadi agama masyarakat Minangkabau, kearifan lokal yang ada, ketika Islam datang
adatnya mengandung ajaran-ajaran yang tetap menjadi bagian dari corak kebudayaan
bersamaan dalam bidang sosial. Dengan Islam dengan penambahan nilai-nilai baru serta
begitu adat Minangkabau juga mengandung sistem baru yang sesuai dengan nilai-nilai
ajaran tentang aturan yang mengatur tentang Islam. Dalam kebudayaan Minangkabau adat
hubungan antara sesama manusia, dikonsepkan sebagai adat basandikan syarak,
syarak basandikan kitabullah, syarak mangato, adat
11Sebagai peninggalan Burhanuddin Kuntu, mamakai.
didapati sampai sekarang sebuah stempel dari
tembaga dengan tulisan Arab, sebelah pedang, Dalam konsep kearifan lokal (adat)
sebuah kitab yang bernama Fathul Wahab Melayu. Menurut Lah Husni adat pada
karangan Abi Yahya Zakaria Anshari. Mahmud etnik Melayu tercakup dalam empat
Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, ragam, yaitu adat yang sebenar adat; adat
Ibid.,. Pada sumber lain juga dijelaskan bahwa yang diadatkan; adat yang teradat, dan
Burhanuddin Kuntu sebagaimana hasil penelitian adat istiadat. Dalam adat Melayu kearifan-
Darusman yang dikutip Irhash Shamad diceritakan kearifan lokal dalam konteks membentuk
bahwa Burhanuddin Kuntu sering mengunjungi kepribadian dan kebangsaan, sangat lekat
pemuka massyarakat untuk kepentingan dengan konsep adat yang diadatkan. Bahwa
dakwahnya. Diceritakan juga, mula-mula orang Melayu sangatlah menghargai
Burhanuddin Kuntu menetap di rumah seorang
pemuka masyarakat yang bergelar Datuk 12 Bakhtiar, dkk., Ranah Minang Di Tengah
Makhudum. lihat Irhash A. Shamad, Islam dan Cengkeraman Kristenisasi, Bumi Aksara, 2005, id,
Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau, op cit., hlm. 19-20.
Baca juga, Darusman, Syekh Burhanuddin dan
Pengembangan Islam di Kuntu Kampar Kiri Abad 13 Bakhtiar, dkk., Ranah Minang Di Tengah
XIII, (Skripsi), (Padang: Jurusan Sejarah dan Cengkeraman Kristenisasi, Bumi Aksara, 2005, id,
Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN IB Padang, hlm. 31-33.
1994),

Kori Lilie Muslim 55 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

pemimpin seperti sultan, raja, perdana Hal ini disebabkan karena adanya pepatah

menteri, menteri, panglima, penghulu, ketua adat yang menyebutkan “syarak mengata

mukim, dan lain-lainnya. adat memakai”, yang mengandung arti

Orang Melayu perlu memiliki bahwa adat merupakan operasional dari

pemimpin yang adil, bijaksana, bisa nilai-nilai Islam. Adat akan mengalah jika hal

diperaya (amanah), selalu berusaha untuk tersebut bertentangan dengan Islam.

benar dalam hidup, dan lain-lainnya.

Pemimpin menjadi sebuah kewajiban dalam D. KESIMPULAN

tata pemerintahan dan politik dalam Sebagai penutup makalah ini, penulis

kebudayaan Melayu. Seperti tercermin dapat mengambil beberapa kesimpulan bahwa

dalam ajaran adat: Apa tanda Melayu jati/ kerafian lokal sebagai warisan budaya nenek

mengangkat pemimpin bijak bestari/ Apa moyang yang mempunyai nilai luhur, hampir

tanda Melayu jati/ Pemimpin dan ulama setiap-kalau tidak dapat dikatakan semua-suku

mesti bersebati. Dengan adanya pemimpin di Indonesia memiliki acuan norma-norma dari

dan rakyat yang dipimpin menjadikan umat budaya lokal masing dalam berinteraksi baik

Melayu memiliki tata pemerintahnya dan secara individu maupun kelompok dari sesama

selanjutnya ketika nasionalisme muncul suku atau dengan suku lain dalam kehidupan

mereka membentuk negara bangsa. Ini sosial-keagamaan, baik intern (sesama

salah satu karakter kepemimpinan yang bisa penganut agama yang sama) maupun ekstern

diterapkan dalam konteks menuju karakter (antar penganut agama yang berbeda)

bangsa. Dapat diketahui bahwa nilai Islam

Dalam adat Melayu juga dikenal dalam budaya dan kearifan lokal orang

kearifan lokal, bahwa hidup dikandung Minangkabau ditemukan fakta yang luar biasa,

adat, biar mati anak asal jangan mati adat. bahwa budaya dan kearifan lokal Minangkabau

Artinya bahwa orang Melayu sangatlah memiliki nilai Islam yang sangat tinggi.

memperhatikan kesinambungan dan Kehadiran Islam di dunia Melayu membawa

pendidikkan kebudayaan. Bila adat itu konsep-konsep dan nilai-nilai baru yang

lestari maka akan lestarilah kebudayaan menggeser nilai-nilai yang berbau mistis ke arah

Melayu. Jika keturunan kita berbuat salah pemikiran yang rasional. Islam juga mampu

maka kita jangan segan memberikan memecahkan persoalan-persoalan yang tak

hukuman atau sangsi sosial sebagaimana terpecahkan dalam keyakinan orang Melayu

yang berlaku sebelumnya.

Sebenarnya, hampir semua kalau tidak Begitu dalamnya pengaruh Islam

bisa dikatakan seluruh- masyarakat memiliki dalam kebudayaan Melayu sehingga banyak

kebijakan lokal (local wisdom) sendiri- kalangan mengatakan bahwa Minngkabau

sendiri yang bersumber dari kebudayaan identik dengan Islam. Hal ini disebabkan

masing-masing. Di Minangkabau sangat karena adanya pepatah adat yang

jelas Etnik ini mempunyai ungkapan : Adat menyebutkan “syarak mengata adat

basandi syarak, syarak basandi kitabullah, memakai”, yang mengandung arti bahwa

syarak mangato adat mamakai. Artinya : “adat adat merupakan operasional dari nilai-nilai

tidak bisa dilepaskan dari agama (Islam), apalagi Islam. Di samping itu adat dalam

saling bertentangan”. Begitu dalamnya kebudayaan Melayu bersumber dari Islam

pengaruh Islam dalam kebudayaan Melayu dan tidak boleh ada pertentangan adat

sehingga banyak kalangan mengatakan dengan Islam, jika terdapat pertentangan

bahwa Minangkabau identik dengan Islam. maka adatlah yang mengalah. Hal ini

Kori Lilie Muslim 56 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 1, No. 1, Januari- Juni 2017

diungkapkan dalam pepatah adat “adat Cet.XX; Jakarta: PT. Gramedia
bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”. Pustaka Utama, 2008.

DAFTAR PUSTAKA Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah.
Cet.I; Yogyakarta: Bentang,
Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian 1995
Sejarah. Cet.I; Jakarta: PT. Logos Wacana
Purwono Sastro Amijoyo. Kamus
Ilmu,1999. Inggris-Indonesia. Semarang:
Widya Karya. 2007.
Alfian,(ed). Persepsi Masyarakat tentang
Kebudayaan. Cet.I; Jakarta: PT.Gramedia, Ritzer. Sosiologi Ilmu Pengetahuan
Berparadigma Ganda. Jakarta:
1985. Rajawali Press. 1992.

Alisjahbana,S. Takdir.AntropologiBaru: Sastrosupono, M. Suprihadi.
Nilai-nilai sebagai Tenaga Integrasi Menghampiri Kebudayaan. Cet. I;
dalam Pribadi, Masyarakat dan Bandung: Alumni, 1982.
Kebudayaan. Jakarta :Universitas
Nasional dan PT. Dian Setiawan, B. Ensiklopedi Nasional
Rakyat,1986. Indonesia, JilidVIII. Cet.I;
Jakarta: PT.CiptaAdi
Endarswara, Suwandi. Metodologi Penelitian Pustaka,1990.
Kebudayaan. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 2006. Silfia Hanani, dalam surau aset lokal
Minangkabau. Bandung, Humaniora,
Fyzee, A.A.A.Kebudayaan Islam: Asal- 2002
Usul dan Perkembangannya.
Yogyakarta: Bagus Arafah, Soebadio, Haryati, et. al. Budaya dan
1982. Manusia Indonesia.Cet. I; Yogyakarta:
PT.
Gazalba, Sidi. Asas-asas Kebudayaan Hanindita, 1985.
Islam.Cet.I; Jakarta: PT. Bulan
Bintang, 1978. Soerjono, Soekanto. Sosiologi Suatu
Pengantar. Cet.II; Jakarta: CV.
Hans J, Daeng. Manusia, Kebudayaan Rajawali, 1986.

dan Lingkungan: Tinjauan Said Agil Husin Al-Munawar. Fikih
Antropologi, Hubungan Antar Agama. Jakarta :
Yogyakarta:PustakaPelajar,2008 Ciputat Press. 2003.
.
Wigjodipoero, Soerojo. Pengantar dan
Hasjmy,A. Sejarah Kebudayaan Islam. Asas-Asas Hukum Adat. Jakarta:
Cet.I; Jakarta: PT. Bulan Gunung
Bintang, 1975.
Agung,1984.
Irwan Abdullah, Dkk. Agama dan

Kearifan Lokal dalam Tantangan

Global. Yogyakarta : Pustaka

Pelajar. 2008.

Koentjaraningrat, Kebudayaan,

Mentalitas dan Pembangunan.

Kori Lilie Muslim 57 Nilai-nilai Islam Dalam Budaya...........

Asal Usul Sumatera Barat-Sejarah Minangkabau

Sumatera Barat adalah Propinsi yang mempunyai sejarah panjang, dimana setiap sejarahnya
mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Minangkabau?

Asal Usul Sumatera Barat

Siapa yang tidak mengenal suku minang? Suku ini merupakan salah satu suku yang terkenal
dengan cerita rakyatnya yang begitu melegenda di seluruh tanah air. Suku Minang berada di
Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi yang terletak di sepanjang pesisir pulau Sumatera.
Padang sebagai ibu kota Sumatera Barat dikenal dengan masakannya yang khas dan
dominan bumbu asli dari rempah-rempah Indonesia. Provinsi dengan jumlah penduduk
4.846.909 jiwa ini memang dominan di huni oleh masyarakat yang beretnis Minang, karena
itu wajar saja jika Sumatra Barat dikenal lewat suku Minangkabau. Namun provinsi yang
begitu elok ini tentu memiliki sejarah tersendiri. Bagaimana asal-usul Sumatra Barat?

Awal Mulanya Minangkabau

Sejarah bermula pada masa kerajaan Adityawarman, yang merupakan tokoh penting di
Minangkabau. Seorang Raja yang tidak ingin disebut sebagai Raja, pernah memerintah di
Pagaruyung, daerah pusat kerajaan Minangkabau. Adityawarman adalah seoranga Raja yang
berjasa memberi sumbangsih bagi alam Minangkabau, selain itu beliau juga orang pertama
yang memperkenalkan sistem kerajaan di Sumatera Barat. Sejak pemerintahan Raja
Adityawarman tepatnya pertengahan abad ke-17, Propinsi ini lebih terbuka dengan dunia luar
khususnya Aceh. Karena hubungan dengan Aceh yang semakin intensif melalui kegiatan
ekonomi masyarakat, akhirnya mulai berkembang nilai baru yang menjadi landasan sosial
budaya masyarakat Sumatera Barat. Agama Islam sebagai nilai baru tersebut berkembang di
kalangan masyarakat dan berangsur-angsur mendominasi masyarakat Minangkabau yang
sebelumnya didominasi agama Buddha. Selain itu sebagian kawasan di Sumatera Barat yaitu
pesisir pantai barat masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Pagaruyung, namun kemudian
menjadi bagian dari kesultanan Aceh.

Melirik sejarah singkat Minangkabau, merupakan salah satu desa yang berada di kawasan
Kecamatan Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat. Desa tersebut awalnya merupakan
tanah lapang. Namun karena adanya isu yang berkembang bahwa Kerajaan Pagaruyung akan

di serang kerajaan Majapahit dari Provinsi Jawa maka terjadilah peristiwa adu kerbau atas
usul kedua belah pihak. Kerbau tersebut mewakili peperangan kedua kerajaan. Karena kerbau
Minang berhasil memenangkan perkelahian maka muncul kata manang kabau yang
selanjutnya di jadikan nama Nagari atau desa tersebut. Upaya penduduk setempat mengenang
peristiwa bersejarah tersebut, penduduk Pagaruyung mendirikan sebuah rumah loteng
(rangkiang) dimana atapnya mengikuti bentuk tanduk kerbau. Menurut sejarah, rumah
tersebut didirikan di batas tempat bertemunya pasukan Majapahit yang di jamu dengan
hormat oleh wanita cantik Pagaruyung. Situasi masyarakat saat itu umumnya hidup dengan
cara berdagang, bertani sawah, hasil hutan dan mulai berkembang pertambangan emas.
Beberapa pernyataan timbul bahwa alat transportasi yang digunakan untuk menelusuri
dataran tinggi Minangkabau adalah kerbau. Alasan menggunakan kerbau karena agama yang
dipercaya pada waktu itu di ajarkan untuk menyayangi binatang gajah, kerbau, dan lembu.
Karena ajaran tersebut mereka menggunakan kerbau sebagai masyarakat dengan adu kerbau.

Bukti arkeolog mengatakan bahwa daerah kawasan Minangkabau yaitu Lima puluh Koto
merupakan daerah yang dihuni pertama kali oleh nenek moyang orang Minang. Di daerah
tersebut mengalir sungai-sungai yang dijadikan sarana transportasi pada zaman dulu. Nenek
moyang orang Sumatera di perkirakan berlayar melalui rute ini dan sebagian diantaranya
menetap dan mengembangkan peradabannya di sekitar Lima puluh Koto tersebut.
Terbukanya provinsi Sumatera Barat terhadap dunia luar menyebabkan kebudayaan yang
semakin berkembang oleh bercampurnya para pendatang. Jumlah pertumbuhan penduduk
yang semakin bertambah menyebabkan persebaran penduduk ke berbagai lokasi Sumatera
Barat. Sebagian menyebar ke selatan dan sebagian ke bagian barat Sumatera.

Jatuhnya kerajaan Pagaruyung dan terlibatnya negara Belanda di Perang Padri, menjadikan
daerah pedalaman Minangkabau menjadi bagian dari Pax Nederlandica oleh pemerintah
Hindia Belanda. Kemudian daerah Minangkabau di bagi menjadi Residentie Padangsche
Bovenlanden serta Benedenlanden. Pada zaman VOC, Hoofdcomptoir van Sumatra's
westkust merupakan sebutan untuk wilayah pesisir barat Sumatera. Hingga abad ke-18,
Provinsi Sumatera Barat semakin terkena pengaruh politik dan ekonomi akhirnya kawasan ini
mencakup daerah pantai barat Sumatera. Kemudian mengikuti perkembangan administratif
pemerintahan Belanda, kawasan ini masuk dalam Pemerintahan Sumatra's Westkust dan di
ekspansi lagi menggabungkan Singkil dan Tapanuli. Pada 1905, wilayah Singkil dialihkan ke
Residen Aceh, dan Tapanuli dijadikan residen Tapanuli. Memasuki tahun 1914,
pemerintahan Sumatera’s Westkust statusnya diturunkan menjadi Residen Sumatera’s
Westkust. Kemudian wilayah Mentawai di tambahkan di Samudera Hindia menjadi bagian
dari Residen Sumatera. 21 tahun berikutnya tepatnya 1935 kawasan Kerinci dimasukkan juga
ke bagian Residen Sumatera. Setelah perpecahan pemerintahan Sumatra’s Ootkust, kedua
wilayah yaitu Kuantan Singingi dan Rokan Hulu dimasukkan ke Residen Riouw, dan dengan
waktu yang hampir sama dibentuk Residen Djambi.

Selanjutnya masa pendudukan Jepang di kawan ini, Residen Sumatera’s Westkust berganti
nama dengan bahasa Jepang yaitu Sumatora Nishi Kaigan Shu. Karena alasan strategi militer,
wilayah Kampar akhirnya dikeluarkan dari Residen Sumatera’s Westkust atau Sumatora
Nishi Kaigan Shu kemudian digabung ke wilayah Rhio Shu. Sampai awal kemerdekaan
negara Indonesia tahun 1945, daerah Sumatera Barat digabungkan dalam Provinsi
Sumatera yang berdomisili di Bukittinggi. Tahun 1949 Provinsi Sumatera mengalami
perpecahan menjadi 3 kawasan, yakni provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan
Sumatera Tengah yang mencakup Sumatera Barat, Jambi dan Riau.

Wilayah, Suku dan Bahasa yang digunakan Sumatera Barat

Penduduk Sumatera Barat dihuni oleh mayoritas suku Minangkabau. Selain suku Minang,
di wilayah Pasaman di huni oleh suku Mandailing dan suku Batak. Awal munculnya
penduduk suku tersebut pada abad ke-18 masa Perang Paderi. Daerah Padang Gelugur,
Lunang Silaut, dan Sitiung yang merupakan daerah transmigrasi terdapat juga suku Jawa.
Sebagian di daerah tersebut terdapat penduduk imigran keturunan Suriname yang kembali
memilih pulang ke Indonesia pada akhir 1950-an. Para imigran tersebut di tempatkan di
daerah Sitiung. Mayoritas penduduk suku Mentawai juga berdomisili di kepulauan Mentawai
dan sangat jarang di temui penduduk suku Minangkabau. Beberapa suku lainnya seperti etnis
Tionghoa memilih menetap di kota-kota besar seperti Bukittinggi, Padang, dan Payakumbuh.
Suku Nias dan Tamil sendiri berada di daerah Pariaman dan Padang walaupun dalam jumlah
yang sedikit.

Di masa PRRI, provinsi Sumatera Tengah mengalami perpecahan yang di sebabkan adanya
peraturan perundangan nomor 19 tahun 1957. Sumatera Tengah di jadikan 3 provinsi yaitu
Riau, Jambi, dan Provinsi Sumatera barat. Kerinci yang sebelumnya masuk dalam bagian
Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci, dimasukkan ke dalam Provinsi Jambi menjadi kabupaten
sendiri. Untuk wilayah Rokan Hulu, Kampar, dan Kuantan Singingi digabungkan ke wilayah
Riau. Bahasa yang umumnya di gunakan bagi penduduk Sumatera Barat adalah bahasa
Minangkabau. Bahasa tersbut dipakai dalam percakapan sehari-hari yang memiliki dialek
seperti, dialek Pariaman, dialek Payakumbuh, dialaek Pesisir Selatan, dan dialek Bukittinggi.
Sementara itu bahasa Mentawai mayoritas digunakan di kepulauan Mentawai juga. Bahasa
batak yang berdialek Mandailing digunakan di wilayah Pasaman Barat dan Pasaman
perbatasan Sumatera Utara. Berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Barat tahun 1958, ibu
kota Sumatera Barat yang dulunya di Bukittinggi kemudian dipindahkan ke daerah Padang.

Saat ini Sumatera Barat atau Minangkabau terdiri dari 19 kota dan kabupaten, dimana setiap
daerah mempunyai ciri khas masing-masing. Namun, Minangkabau tetap pada pepatahnya
“Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” atau “Adat yang didasari oleh hukum
Islam, dan mengacu kepada Kitabullah. Artikel by Rusdi Chaprian dan dikutip dari berbagai sumber.

(eve)

POTRET BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU
BERDASARKAN KEENAM DIMENSI BUDAYA HOFSTEDE

Portrait of The Minangkabau Culture According to Hofstede’s Six Cultural Dimensions

Dwi Rini Sovia Firdaus1), Djuara P.Lubis2), Djoko Susanto2), Endriatmo Soetarto2)

1)Dosen Ilmu Komunikasi FISIB – Universitas Pakuan
2)Dosen Fakultas Ekologi Manunisa - IPB

*)Email: [email protected]

ABSTRACT

The shifting local cultural values often become a discourse in discussing the effects of globalization influx. But in Minangkabau
these concerns can still be ruled out, thanks to the power of ‘study to nature’ philosophy. This is a custom rule that should not be
changed. This study raises the popularity of the Hofstede’s concept and uses the six cultural dimensions to map out the differences in
parental characteristics based on rural versus semi-urban areas, family typology and life experiences. It also analyzes the response
of adolescents towards culture inheritance based on their birthplace. This quantitative study uses a simple summation operation with
106 sample respondents. Each respondent is a family unit consisting of a father, a mother, and adolescent(s) aged 10-19 years. The
low score of LTO indicates that the inheritance of Minangkabau cultural values has been going on for some time by parents to their
teenagers. Low UAI and IVR scores do not conflict with Minangkabau cultural tenet, although according to Hofstede this condition
needs a revamping. Supposedly the value of matrilineal culture is taught by a Minang mother and her brother. However, anomalies
were found in non-Minang father and Minang mother (nMF+MM) due to the absence of the mother’s brother in educating his nephew.

Keywords: Hofstede’s six cultural dimensions, core value, cultural inheritance

ABSTRAK

Peristiwa pergeseran nilai budaya lokal sering menjadi wacana dalam membahas akibat dari masuknya pengaruh globalisasi. Namun
di Minangkabau kekuatiran ini masih bisa dikesampingkan berkat kekuatan dari penerapan filosofi berguru pada alam. Ini merupakan
aturan adat yang tidak boleh berubah. Penelitian ini mengangkat kembali kepopuleran konsep Hofstede dan menggunakan keenam
dimensi budayanya untuk memetakan perbedaan karakteristik orang tua berdasarkan daerah tempat tinggal, tipologi keluarga dan
pengalaman. Penelitian juga menganalisis respon remaja terhadap pewarisan budaya berdasarkan tempat lahirnya. Penelitian
kuantitatif ini menggunakan operasi penjumlahan sederhana dengan 106 sampel responden. Masing-masing responden merupakan
satu unit keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan remaja berusia 10-19 tahun. Ukuran LTO yang rendah merupakan indikator telah
berjalannya upaya pewarisan nilai budaya Minangkabau selama beberapa saat oleh orang tua kepada anak remajanya. Namun skor UAI
dan IVR yang rendah tidak bertentangan dengan ajaran budaya Minangkabau, meskipun menurut Hofstede kondisi ini memerlukan
pembenahan. Seharusnya nilai budaya matrilineal diajarkan oleh seorang ibu Minang dan saudara laki-lakinya. Namun ditemukan
anomali pada keluarga ayah non-Minang dan ibu Minang (AnM+IM) karena terjadi kevakuman peran dari saudara laki-laki ibu dalam
mendidik keponakannya.

Kata kunci: keenam dimensi budaya Hofstede, nilai inti, pewarisan budaya

PENDAHULUAN merupakan konsepsi yang secara eksplisit dan implisit menjadi
milik khusus seseorang atau ciri khusus suatu masyarakat.
Keunikan masyarakat matrilineal Minangkabau telah menarik Oleh karena sifatnya yang berharga, ‘nilai’ berkaitan dengan
perhatian banyak peneliti dari seluruh dunia. Koeksistensi sesuatu hal yang diinginkan bersama. yang pada gilirannya
antara struktur keluarga matrilineal dan sistem pewarisan dari mempengaruhi pemilihan cara, alat dan tujuan sebuah tindakan
garis keturunan ibu di satu sisi, serta cara hidup secara Islami (Attubani 2017). Sistem nilai budaya ini memberikan arah dan
di sisi lain, telah memikat para peneliti. Namun kebanyakan berfungsi sebagai pedoman perilaku manusia dalam hidup.
penelitian hanya ingin berfokus pada satu elemen kehidupan
masyarakat saja. Hal ini cukup menggambarkan betapa Masyarakat tradisional Minangkabau menjadikan alam
kompleksnya budaya matrilineal Minangkabau yang selama sebagai pedoman hidupnya dan sebagai sumber analogi dalam
ini dijalankan sejak zaman nenek moyang. Nilai inti dari adat melahirkan norma-norma yang mengatur kehidupan, juga
Minangkabau yang sejak dulu telah disusun oleh para pemuka menuntun dalam berpikir dan bertindak. Falsafah alam ini
adat, masih dijunjung tinggi sampai sekarang oleh masyarakat tercantum dalam ajaran alam takambang jadi guru. Belajar
Minangkabau sebagai adat nan sabana adat, yaitu adat yang dari alam serta dari pengalaman hidup sendiri dan orang lain
tidak boleh mengalami perubahan, diantaranya seperti adat merupakan orientasi berpikir yang dominan dalam masyarakat
basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat berdasarkan Minangkabau (Navis 1984).
hukum Islam, hukum Islam berdasarkan Alquran).
Masyarakat Minangkabau percaya bahwa sebagian adat yang
Dalam pembicaraan sehari-hari, sering muncul istilah mereka miliki tidak dapat berubah, meskipun sebagian lainnya
perubahan nilai, pergeseran nilai, krisis nilai, dan lain-lain. dapat mengalami perubahan karena beradaptasi dengan
Namun makna dari nilai ini sulit untuk diidentifikasi karena perkembangan zaman. Errington (1984) mengistilahkannya
merupakan bagian abstrak dari suatu kebudayaan. Sebuah nilai sebagai adat yang memiliki bagian inti (core element) dan

bagian luar inti (peripheral elements). nilai demokratis pada masyarakat Minangkabau. Kehidupan
pergaulan di surau memungkinkan laki-laki Minangkabau
“The peripheral elements can usually be allowed to change mendapatkan kebebasan yang lebih dibandingkan mereka
as long as the core elements remain fundamentally the same” yang berasal dari budaya lain. Kebebasan ini dimungkinkan
(Errington 1984). karena kehidupan di surau membuat mereka tinggal jauh dari
kungkungan orang tua, dan menjalani hidup dengan teman-
Masyarakat Minangkabau menamakan adat yang tidak boleh teman sebayanya, namun tetap berada di bawah bimbingan para
mengalami perubahan sebagai adat nan sabana adat yang pemuka adat. Selain menumbuhkan semangat kebersamaan,
mengandung arti kebaikan. Adat yang didasari atas ungkapan saling melindungi dan mempengaruhi di antara teman sebaya,
adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini dipegang sistem ini juga menumbuhkan rasa percaya diri. Pola semacam
teguh dan ada dalam pandangan hidup serta perilaku orang ini menjadikan pemuda Minangkabau lebih memiliki sikap
Minangkabau. Ungkapan tersebut jelas merupakan peleburan demokratis dan bebas mengemukakan pendapat. Hubungan
dari ajaran adat dan ajaran agama Islam. Pandangan ini bersifat dengan guru dan pemimpin mereka lebih rasional daripada
universal, contohnya: api membakar dan air membasahi. dengan orang tua yang cenderung lebih otoriter atas anaknya
Pandangan tentang kedamaian, keindahan, ketuhanan, (Zuhro et.al 2009).
kejujuran, keadilan, kasih sayang, kerjasama, dan empati adalah
nilai-nilai universal yang ada dalam pandangan ideal masyarakat Pola didikan surau ini ikut memberi pengaruh terhadap
Minangkabau. Disamping pandangan hidup universal ini, juga karakteristik sosial anak. Inisiatif anak relatif kurang
terdapat pandangan hidup khas Minangkabau yang menjadi mendapatkan halangan dari imam & khatib di surau. Dengan
ciri dari adat nan sabana adat, salah satunya adalah alam demikian, inisiatif dan pemikiran anak berkembang dengan bebas
takambang jadi guru (Navis 1984, Stark 2013, Attubani 2017), saat bertukar pikiran dan berdebat. Kondisi ini menumbuhkan
adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (Schrijvers & sikap demokratis serta luwes dalam mengemukakan pendapat,
Postel-Coster 1977), dan falsafah alam (Attubani 2017). juga menumbuhkan rasa percaya diri. Selain kebiasaan hidup
secara komunal di surau, karakter masyarakat Minangkabau
Di samping itu, terdapat tiga jenis adat lainnya yang boleh yang demokratis juga dibangun oleh falsafah alam (Attubani
mengalami perubahan: (1) adat nan diadatkan; yaitu sumber 2017).
dari pandangan hidup yang merupakan penjabaran terhadap
nilai universal, lalu kemudian diadatkan atau dijadikan Namun apa jadinya jika orang tua berasal dari budaya yang
sebagai patokan hidup. Misalnya: tentang nilai kerjasama, berbeda. Tidak mudah untuk memahami budaya orang lain
perlindungan terhadap anak dan perempuan, dan lainnya.. Jika karena menyangkut pemahaman tentang realitas budaya mereka.
nan diadatkan tersebut berubah, maka perubahan itu juga terjadi Dalam proses memahami ini, tidak jarang terjadi prasangka
pada pandangan hidup masyarakat yang merubahnya. (2) adat terhadap suku yang berbeda yang kadang dipicu oleh prasangka
istiadat; yaitu suatu perilaku yang sama-sama dipandang baik, dari kebudayaannya sendiri (Evalina 2007). Biasanya sikap
disepakati untuk dilaksanakan, dan terjadi pengulangan tanpa yang muncul adalah meremehkan masyarakat dan kebudayaan
penolakan dan bentuknya khas karena sesuai dengan kreativitas lain. Prasangka etnik di dalam suatu masyarakat bisa dilihat
masyarakatnya. Misalnya: pidato adat, ritual pasambahan melalui ada tidaknya stereotip etnis negatif yang berkembang
untuk tamu, dan sebagainya. (3) adat nan teradatkan, yaitu di masyarakat (Myers 2008). Prasangka buruk ini biasanya
perilaku yang disenangi untuk dilakukan secara berulang- diperoleh anak melalui proses sosialisasi oleh orang tuanya.
ulang, serta memperoleh dukungan dari seluruh masyarakat. Anak memahami stereotip dan perilaku antar kelompok ini
Nan teradatkan adalah kesukaan anak nagari seperti kuliner bukan hanya dari orang tuanya, tetapi juga dari teman sebaya
dan pakaian daerah, olah raga, kesenian, pencak silat, randai, dan media massa. Biasanya orang sangat fanatik terhadap suku
dan talempong. Termasuk juga karya seni ruang: ukiran, yang ia anut1. Kefanatikan terhadap suku cenderung lebih
marawa, umbua-umbua, pelaminan, dsb. Sebenarnya semua tinggi dibandingkan kefanatikan terhadap ras (Myers 2008).
nan teradatkan merupakan penjabaran atau pengembangan Di samping faktor budaya, ayah dan ibu sebagai manusia yang
dari pandangan universal tentang keindahan, kedamaian, dan berbeda jenis juga memiliki perbedaan dalam pola pikir, gaya
kebahagiaan (Navis 1984). berkomunikasi, dan pola asuh terhadap anaknya.

Dari keempat jenis adat di atas, maka adat nan sabana adat Penelitian ini memotret bagaimana konfigurasi tipologi keluarga
yang diakui sebagai yang paling tinggi dan paling utama. yang berbeda-beda ini mengajarkan kebaikan kepada anaknya.
Setiap perilaku orang Minangkabau dipengaruhi oleh Terdapat perbedaan respon antara masyarakat rural versus semi-
keempat adat tersebut. Khusus bagi adat istiadat dan adat nan urban, perbedaan antara tipologi keluarga yang mengalami
teradatkan, pemaknaannya sering tertukar. Peluang terjadinya perkawinan campur ataupun yang tidak, perbedaan antara
penyimpangan dengan syarak sangat besar pada kedua jenis adat pengalaman hidup ayah ibu yang menetap ataupun ayah yang
ini, karena merupakan pengembangan dari nilai atau pandangan merantau, dan perbedaan antara keluarga dengan anak yang
universal. Pengembangan yang berlebihan sering menimbulkan lahir di Minang versus yang lahir di rantau. Semua indikator
kritik dari pengkaji syarak. Tapi kritik yang timbul hanya pada ini diukur dengan keenam dimensi budaya Hofstede. Adapun
penampilan dari adat istiadat ataupun dari adat nan teradatkan. keenam dimensi tersebut adalah power distance, individualism
Jarang kritik yang berusaha menggali nilai atau pandangan vs collectivism, uncertainty avoidance, masculinity vs femininity,
hidup yang terkandung di dalamnya (Navis 1984). long term orientation vs short term orientation, dan indulgence
vs restraint (Hofstede 2010). Pada awalnya indikator ini dipakai
Dalam kehidupan sehar-hari, orang Minangkabau cenderung oleh Hofstede untuk penelitian tentang budaya organisasi
lebih demokratis dan terbuka. Menurut Sutan Takdir perusahaan IBM di seluruh dunia. Namun serangkaian kritikan
Alisyahbana, pembentukan karakter demokratis pada kaum laki- datang silih berganti dari para peneliti budaya sejak awalnya
laki Minangkabau dimulai dari pola kehidupan di surau yang model ini dikembangkan oleh Hofstede.
merupakan langgar tempat anak-anak dan remaja Minangkabau
belajar membaca Alquran (Zuhro dkk 2009). Hal ini 1. Kondisi ini diistilahkan sebagai etnosentrisme yaitu suatu sikap
menegaskan adanya pengaruh Islam dalam pembentukan nilai- mengidentifikasikan diri sendiri dan kelompoknya berdasarkan garis
keturunan yang dianggap sama.

122 | Firdaus Dwi Rini Sovia. et. al. Potret Budaya Masyarakat Minangkabau berdasarkan Keenam Dimensi Budaya Hofstede

Kritikan yang muncul adalah tentang model yang dikembangkan ini tidak berlaku di China. Penelitian Froholdt & Knudsen
oleh Hofstede terlalu samar, kontradiktif, dan kurang memiliki (2007) membuat penelitian tentang kritik-kritik populer ini
landasan teori yang kuat (Cray & Mallory 1998). Kritikan lain dan menemukan hasil yang sama dengan Fang. Sementara itu,
mengatakan bahwa data yang dikumpulkan Hofstede pada Catalin (2012) berpendapat bahwa kebanyakan kritikan yang
tahun 1968 dan 1972 tersebut tidak representatif karena diambil ditujukan kepada Hofstede membahas seringnya Hofstede
dari satu organisasi multinasional dengan menggunakan menjelaskan tentang perbedaan budaya. Bahkan ia kurang
sampel terbatas yaitu staf pemasaran dan penjualan (Smith memperhatikan tentang persamaan budaya. Catalin juga
2002). Kritikan berat telah juga diajukan terhadap konsepsi mengkritisi model Hofstede yang menghasilkan skor yang
esensialistik budaya nasional yang menganggap negara sebagai sama antara negara timur dan negara barat, atau mungkin hanya
sebuah “komunitas imajiner“ (Anderson 1983) sehingga kebetulan saja.
menggambarkan mereka sebagai entitas yang ditentukan secara
historis, bersifat homogen, dan statis (Cray & Mallory 1998; Kekeliruan Hofstede dengan tidak menggali secara mendalam
Kwek 2003). Sebuah kritik yang berhubungan langsung dengan domain sosiologi dan antropologi mengundang kritikan dari
konsepsi statis dari budaya, menekankan kenyataan bahwa studi Baskerville (2003). Baskerville mengatakan bahwa persamaan
yang dilakukan oleh Hofstede mengangkat persepsi nilai dan antara bangsa dan budaya yang secara tradisional ditolak dalam
perilaku yang diamati dalam konteks budaya nasional sebagai sosiologi dan atropologi adalah karena: (1) perbedaan persentase
dasar perbandingan. Keputusan ini telah diperdebatkan karena poin tidak selalu dapat dianggap sebagai bukti; (2) tidak dapat
menurut Bartholomew & Adler (1996); Holden (2002); dan diterima oleh semua individu yang diminta dalam suatu
Fougere (2007) berfokus langsung pada ‘interaksi’ akan lebih wilayah tertentu untuk dikelompokkan bersama berdasarkan
relevan. variabel yang berlabel “negara“; (3) sering timbul kesulitan
dalam membuat perbedaan antara variabel terikat dan variabel
Kelemahan utama lainnya dalam kerangka Hofstede, adalah bebas; (4) Sifat terukur tidak selalu dicirikan oleh stabilitas.
sifatnya yang sangat fungsional dan kuantitatif serta berfokus Selanjutnya, struktur “dimensi budaya“ yang diusulkan oleh
pada mengukur fenomena yang seharusnya tidak dapat Hofstede tidak menyiratkan adanya pertimbangan heterogenitas
dikuantifikasi (Dimitrov 2014). Selain itu, beberapa ilmuwan potensial atau dugaan kurangnya independensi unit analisis.
lain mengklaim bahwa studi Hofstede tidak menyangkut budaya
seperti yang disampaikan selama ini, melainkan persepsi Meskipun telah mengalami serangkaian kritikan, sampai saat
anggota organisasi tentang nilai dan perilaku (Bartholomew & ini diakui bahwa pengukuran cultural distance dan national
Adler 1996; Robert & Boyacigilier 1984). Keberatan lain yang culture model menggunakan dimensi budaya Hofstede masih
signifikan disorot oleh peneliti lain adalah bahwa studi Hofstede diminati. Beberapa dimensi budaya mengalami beberapa kali
berkontribusi pada reproduksi etnosentrisme (Hampden-Turner penyesuaian, seperti:
& Trompenaars 1997; McSweeney 2002; Kwek 2003). Selain
itu, daerah yang berbeda atau subkultur dari suatu negara dapat 1. Power Distance Index (PDI); individu di dalam suatu
memiliki nilai budaya yang berbeda secara signifikan (Huo kelompok yang menganut PDI yang tinggi akan menerima
& Randall 1991; Coon & Kemmelmeier 2001; Lenartowicz, adanya hierarki dan mengakui bahwa setiap orang secara
Johnson & White 2003). kodrati berada pada posisi-posisi tertentu tanpa harus
dipersoalkan.
Pengelaborasian tahap lanjut tentang model Hofstede senantiasa
diiringi oleh berbagai kritikan yang berorientasi pada asumsi 2. Individualism (IDV) versus Collectivism; kondisi di mana
yang dibangun oleh tim kontributor (Hofstede; Hofstede; seseorang terintegrasi di dalam suatu grup atau tidak.
Minkov 2010). Beberapa kritikan yang disampaikan oleh para
peneliti terkemuka setidaknya sebagian kehilangan relevansinya 3. Uncertainty Avoidance Index (UAI); individu yang berasal
dengan periode keberadaan kerangka pemikiran Hofstede dari budaya dengan UAI yang tinggi lebih cenderung
karena telah dilakukan perubahan demi perubahan terhadap emosional karena dia biasa ingin meminimalisir suatu
doktrin tersebut (Minkov & Hofstede 2011). Sampai pada kondisi yang serba tidak jelas dan tidak biasa, dan pelan-
batas tertentu, perubahan ini diabaikan ataupun diselesaikan pelan menuju kepada suatu perubahan yang lebih pasti
sesuai dengan sikap subjektif yang dimiliki oleh masing-masing dengan mengimplementasikan peraturan, hukum dan
kritikus (Dimitrov 2014). regulasi.

McSweeney (2002) adalah salah seorang kritikus yang 4. Masculinity (MAS) versus Femininity; budaya maskulin
menonjol dan memiliki penemuan mendalam tentang kekeliruan mengedepankan kompetisi, ketegasan, material, ambisi
metodologi Hofstede. McSweeney mengkritik penggunaan dan kuasa. Sementara budaya feminin mengutamakan
pendapat responden dari berbagai negara yang bekerja pada satu hubungan yang baik dan kualitas hidup. Schwartz dan
induk perusahaan, sebagai pendapat yang merepresentasikan Rubel (2005) dalam suatu penelitian lintas budaya
budaya negaranya masing-masing. Sementara Myers dan menemukan bahwa laki-laki lebih memiliki pengarahan
Tan (2003) memfokuskan kritikannya pada temuan Hofstede diri dibandingkan perempuan. Sebaliknya, perempuan
tentang budaya nasional. Menurut mereka, Hofstede gagal lebih menghargai kebajikan dibandingkan laki-laki.
dan terlalu sederhana menjelaskan hubungan tentang nilai Akibatnya, tanggapan laki-laki lebih terfokus saat mereka
budaya nasional dengan nilai dan sikap kerja yang dipengaruhi semakin dekat dengan nilai budaya, sehingga hubungan
oleh budaya masing-masing. Fang (2003) memilih dimensi antara nilai dan kesesuaian hasil akhir akan lebih kuat pada
kelima yaitu long versus short term orientation sebagai target laki-laki daripada perempuan.
kritikannya. Fang membantah pendapat Hofstede yang secara
tidak sadar menciptakan hubungan antara nilai short term 5. Long-Term Orientation (LTO); berhubungan dengan suatu
orientation dengan nilai negatif dan long term orientation kepentingan yang melekat pada masa depan versus masa
dengan nilai positif. Fang menganggapnya sebagai pelanggaran lalu dan masa kini. Dalam masyarakat yang berorientasi
keras terhadap prinsip Yin Yang dari Negara China. Hal ini jangka panjang, mereka lebih menghargai sifat pragmatis
mengakibatkan bipolarisasi nilai sepanjang dimensi kelima yang berorientasi pada penghargaan terhadap masa depan
karena merupakan suatu penghematan, mereka menghargai
ketekunan dan adaptasi terhadap keadaan yang berubah.
Dan pada masyarakat yang berorientasi jangka pendek,
mereka lebih menghargai tradisi, lebih bangga terhadap

Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan | Vol 6 No 2 Agustus 2018, hal 121-130 | 123

negaranya, lebih ingin melestarikan keaslian, lebih dipilih secara klaster di wilayah Sumatera Barat yang dapat
menghargai kewajiban sosial, serta mereka lebih senang merepresentasikan tipikal masyarakat Minangkabau. Dipilihnya
membalas suatu pemberian dan bantuan dari orang lain Kecamatan Tanjung Raya bukan hanya karena keterbatasan
(Hofstede & Bond 1984; Hofstede & Bond 1988; Hofstede sumber daya penelitian, tapi juga karena adanya objek wisata
1991; Minkov 2007). Dimensi budaya LTO merupakan Danau Maninjau. Dengan adanya atraksi wisata ini, penelitian
adaptasi Hofstede (1990) terhadap dimensi budaya timur dapat menganalisis perbedaan antara karakteristik masyarakat
yang terdiri dari empat komponen yang merepresentasikan yang terpapar kegiatan wisata (daerah semi-urban) dengan
nilai Konfusius dalam masyarakat China, yaitu: (1) susunan masyarakat yang tinggal terpencil di pedalaman (daerah rural).
dari suatu hubungan; (2) penghematan; (3) ketekunan; Maka, dipilihlah lokasi penelitian di dua nagari, yaitu Nagari
(4) memiliki rasa malu (Wu 2006). Dimensi ini menjadi Maninjau sebagai representasi daerah semi-urban, dan Nagari
dimensi budaya kelima dan dinamai kembali sebagai long Sungai Batang yang memiliki banyak jorong (dusun) yang
term orientation (Hofstede 2001). terpencil, merepresentasikan daerah rural. Masing-masing
6. Indulgence versus Restraint (IVR); Budaya ini menyangkut jorong terletak di kaki bukit dan dihuni oleh beberapa keluarga
sejauh mana anggota masyarakat berusaha mengendalikan saja. Hasil survei kemudian diolah dengan operasi penjumlahan
keinginan dan dorongan mereka. Indulgence merupakan sederhana, sehingga memerlukan skala Likert untuk membaca
ciri khas sebuah masyarakat yang menginginkan kepuasan reaksi responden. Populasi penelitian merupakan jumlah
diri dan kehidupan yang relatif bebas, berkaitan dengan kepala keluarga yang tinggal di Nagari Maninjau dan Nagari
menikmati hidup dan bersenang-senang. Restraint lebih Sungai Batang. Pemilihan responden di kedua nagari ini
menekan tingkat kebutuhan dan mengaturnya dengan dilakukan secara cluster sampling. Penentuan jumlah sampel
menggunakan norma sosial yang ketat (Hofstede, Hofstede menggunakan rumus Taro Yamane karena jumlah populasi
& Minkov 2010; Minkov 2007). melebihi 500 orang (Ardial 2014). Presisi yang ditetapkan
adalah 10% dengan tingkat kepercayaan 95%.
Sementara itu, Jones (2007) memiliki pandangan lain tentang
dimensi masculinity versus femininity dan uncertainty Jumlah kepala keluarga di Nagari Sungai Batang adalah sekitar
avoidance. Jones berpendapat bahwa kedua dimensi ini saat 2000 kepala keluarga dan di Nagari Maninjau sekitar 1700
digunakan pada penelitian Hofstede, hasilnya dipengaruhi kepala keluarga. Oleh karena responden merupakan satuan unit
oleh pengaruh politik dominan dan kenangan tentang perang keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, maka populasi
dunia kedua, perang dingin yang sedang berlangsung, dan untuk penelitian ini adalah sebanyak 3700 kepala keluarga.
pemberontakan komunis di Asia, Afrika dan Eropa. Hal ini Anak merupakan remaja dengan usia 10-19 tahun2. Jumlah
adalah karena sampel yang dibangun tidak ada yang berasal dari sampel adalah 97,37, kemudian mengalami pembulatan dan
negara sosialis dan negara-negara dunia ketiga. Menurut Jones, penambahan menjadi 106 jiwa untuk mendapatkan hasil yang
survei yang dilakukan oleh Hofstede saat itu tidak menambah lebih baik. Adapun uji validitas (menggunakan Pearson’s
nilai apa-apa pada dunia modern. product moment) dan reliabilitas kuesioner (menggunakan alpha
cronbach), dilakukan pada 30 unit keluarga selain responden.
Mayoritas peneliti yang tetap memegang rekomendasi Hofstede Data akhir ditampilkan dalam bentuk grafik cobweb.
tentang tingkat analisis yang tepat, menunjukkan ketertarikan
yang lebih besar pada bidang aplikasi untuk dimensi budaya Data dari lapangan kemudian diolah dengan menggunakan
sebagai entry mode, kerjasama antara karakteristik dan kinerja, uji beda untuk menentukan: (1) perbedaan karakteristik
hasil yang berdampak pada masyarakat, dan sikap yang orang tua di daerah rural versus semi-urban, (2) perbedaan
berhubungan dengan pekerjaan. Sementara kelompok ilmuwan karakteristik orang tua yang merantau versus menetap, dan
yang senantiasa mencari aplikasi baru dari model Hofstede pada (3) perbedaan antara remaja yang lahir di rantau versus yang
tingkat individu menunjukkan ketertarikan tentang perilaku yang lahir di Minangkabau. Sementara perbedaan karakteristik orang
berkatian dengan proses dan kepribadian kelompok, negosiasi, tua berdasarkan tipologi keluarga ayah Minang + ibu Minang
alokasi penghargaan, dan sikap yang berhubungan dengan (AM+IM), ayah Minang + ibu non-Minang (AM+InM), ayah
pekerjaan. Itulah sebabnya mengapa tidak mengherankan jika non-Minang + ibu Minang (AnM+IM), dan ayah non-Minang +
perubahan tertentu dalam kerangka Hofstede diusulkan agar ibu non-Minang (AnM+InM), dianalisis dengan menggunakan
hal ini tetap dapat diterapkan tanpa membiarkan “kekeliruan uji anova.
ekologis” terjadi pada tingkat analisis individual (Grenness
2012). HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini mengangkat kembali kepopuleran konsep Uji Beda Antara Karakteristik Masyarakat Rural Versus
Hofstede dan menggunakan keenam dimensi budayanya untuk Semi-Urban
memetakan perbedaan karakteristik orang tua berdasarkan
daerah tempat tinggal (rural versus semi-urban), berdasarkan Dari tabel uji beda, diketahui bahwa jumlah responden yang
tipologi keluarga (mengalami perkawinan campur atau tidak) berdomisili di daerah semi-urban sebanyak 54 keluarga
dan berdasarkan pengalaman hidup (merantau atau menetap). dan yang berdomisili di daerah rural sebanyak 52 keluarga.
Juga menganalisis karakteristik remaja berdasarkan tempat Secara keseluruhan, nilai rataan responden rural lebih
lahirnya (lahir di rantau atau di Minangkabau). besar dibandingkan responden semi-urban. Untuk menarik
kesimpulan dalam pengujian hipotesis, selain membandingkan
METODE PENELITIAN
2. Dipilihnya rentang usia 10-19 tahun adalah karena pada usia sekitar
Penelitian ini menggunakan paradigma positivisme karena 10 tahun, anak secara berimbang mendapatkan values sekaligus prak-
memiliki cara pandang yang bersifat terukur, logis, empiris dan tik-praktik (practices) di sekolah (Hofstede 2010). Selain itu, menurut
tidak memihak. Juga, hanya menganut satu macam kebenaran data Kementrian Kesehatan RI tahun 2014, kategori usia remaja
dan tidak mengenal spekulasi teoritis dalam menarik kesimpulan dibedakan atas dua macam, yaitu: remaja awal (berusia 10-14 tahun)
(Ardial 2014). Penelitian kuantitatif ini menggunakan dimensi dan remaja akhir (berusia 15-19 tahun) – Profil Kesehatan Indonesia
budaya Hofstede sebagai parameter. Lokasi penelitian (2014), maka kategori usia remaja yang digunakan untuk penelitian
ini adalah 10-19 tahun.

124 | Firdaus Dwi Rini Sovia. et. al. Potret Budaya Masyarakat Minangkabau berdasarkan Keenam Dimensi Budaya Hofstede

nilai t hitung dengan t tabel, di SPSS juga bisa menggunakan terlalu menyukai adanya hierarki diantara sesama individu. Hal
nilai Sig. Jika Sig > 0,05 maka Ho diterima dan jika Sig < ini disebabkan karena adanya keberagaman suku yang hidup
0,05 maka Ho ditolak. Data menjelaskan bahwa keluarga yang di daerah ini. Tidak ada yang ingin menjadi suku yang lebih
berada di daerah rural senang dengan besarnya jarak antara rendah dari yang lainnya. Mereka hidup secara terintegrasi
yang berkuasa dengan yang tidak berkuasa. Mereka lebih sehingga satu dengan yang lain mengalami interaksi yang cukup
individual, lebih menghindari ketidakpastian, lebih maskulin, intens dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini ditunjang oleh
dan lebih berorientasi jangka panjang, serta lebih restraint jika tingkat kepadatan penduduk di daerah semi-semi-urban yang
dibandingkan dengan masyarakat semi-urban. cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan daerah rural.
Keadaan yang serba tidak pasti direspon dengan sikap yang
Gambar 1. Grafik Cobweb dimensi Hofstede berdasarkan biasa-biasa saja. Mereka tidak terbiasa mengimplementasikan
tempat tinggal peraturan-peraturan yang sifatnya domestik sehingga tidak
memiliki rambu-rambu tentang apa yang harus diprioritaskan
Tabel Independent-Sample T Test yang pertama menguji apakah dan apa yang tidak perlu. Berikut adalah grafik cobweb yang
kedua kelompok memiliki varian yang sama. Hipotesis tentang menggambarkan potret masyarakat rural dan semi-urban.
Ho, berarti kedua kelompok memiliki varian yang sama, dan
H1 berarti kedua kelompok tidak memiliki varian yang sama. Uji Anova untuk Empat Tipologi Keluarga
Maka, diketahui bahwa semua variable memiliki nilai Sig >
0,05 (Ho diterima). Artinya kedua kelompok data memiliki Tipologi yang dimaksud adalah: (1) ayah Minang + ibu Minang
varian yang sama. Data menjelaskan bahwa masyarakat rural (AM+IM); (2) ayah Minang + ibu non-Minang (AM+InM);
dan semi-urban tidak berbeda nyata dalam segala hal (PDI, IDV, (3) ayah non-Minang + ibu Minang (AnM+IM); (4) ayah non-
LTO, IVR, MAS, UAI). Tabel Independent-Sample T Test yang Minang + ibu non-Minang (AnM+InM). Dari table descriptives
kedua menguji apakah kedua kelompok memiliki rata-rata yang tampak bahwa responden ayah non-Minang + ibu Minang
sama. Hipotesis tentang Ho, berarti kedua kelompok memiliki memiliki rataan persepsi PDI, IDV dan LTO paling besar. Ayah
persepsi yang sama, dan H1 berarti kedua kelompok tidak Minang dan ibu non-Minang memiliki rataan persepsi UAI
memiliki persepsi yang sama. Pada output diketahui bahwa paling besar. Ayah Minang dan ibu Minang memiliki rataan
variable memiliki nilai Sig (2-tailled) > 0,05 maka Ho ditolak, persepsi MAS paling besar.
artinya kedua kelompok memiliki persepsi yang berbeda
tentang variable PDI, IDV, LTO, IVR. Hanya pada variabel UAI Dalam pengujian dengan menggunakan asumsi Anova, semua
dan MAS saja kedua kelompok memiliki persepsi yang sama. varians haruslah sama. Dari tabel Test of Homogeneity of
Variance terlihat bahwa hasil uji menunjukkan bahwa varian
Di daerah rural (Nagari Sungai Batang), orang tua cenderung keenam kelompok tersebut sama-sama memiliki Sig > 0,05,
menerima adanya hierarki dan mengakui bahwa setiap orang sehingga uji Anova bisa dilakukan untuk menguji hubungan ini.
secara kodrati berada pada posisi-posisi tertentu tanpa harus Selanjutnya tabel Anova digunakan untuk melihat perbedaan
dipersoalkan. Mereka lebih senang tidak terintegrasi dalam suatu persepsi dari keempat kelompok tersebut. Nilai Sig PDI = 0,727,
kelompok karena pada kenyataannya mereka memang tinggal IDV = 0,769, UAI = 0,795, MAS = 0,384, LTO = 0,776, dan
terpisah-pisah, saling berjauhan dari tetangga sekitar. Oleh IVR = 0,580. Dari table ini diperoleh nilai Sig > 0,05. Dengan
karena itu, orang tua terbiasa dengan sikap ingin meminimalisir demikian, pada taraf nyata = 0,05, Ho diterima, sehingga
suatu kondisi yang serba tidak pasti dan tidak biasa. Mereka kesimpulan yang didapatkan adalah tidak ada perbedaan
secara pelan-pelan merubahnya sehingga mendapatkan yang nyata perihal persepsi berdasarkan keempat kelompok
kepastian. Hal ini dilakukan dengan mengimplementasikan tipologi keluarga tersebut. Jika hasil uji menunjukkan Ho gagal
beberapa peraturan, hukum, dan regulasi di rumah. Orang tua ditolak (tidak ada perbedaan), maka uji lanjut (Post Hoc Test)
di daerah rural memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu perlu tidak perlu dilakukan. Sebaliknya, uji lanjut (Post Hoc Test)
diatur oleh norma-norma yang ketat. Mereka mengedepankan harus dilakukan jika hasil uji menunjukkan Ho ditolak (ada
kompetisi, ketegasan, material, ambisi dan kekuasaan. Hal perbedaan).
ini merupakan imbas dari betapa mereka menginginkan suatu
kepastian dalam mendapatkan sumber mata pencaharian. Orang Pada keluarga dengan konfigurasi ayah Minang dan ibu Minang
tua lebih berorientasi pada masa depan, dengan menjunjung (AM+IM) diajarkan pentingnya berkompetisi secara sehat
nilai-nilai pragmatis dan berorientasi pada penghargaan yang kepada anak. Keluarga ini cukup tegas dan memperkenalkan
didapatkan kelak. Ini termasuk persistensi, tabungan masa bahwa dalam hidup perlu memiliki cukup materi untuk
depan dan kapasitas untuk beradaptasi dengan suatu keadaan mencapai kesuksesan. Orang tua pada konfigurasi ini
yang baru. mengajarkan optimisme dalam bekerja karena pada akhirnya
sikap ini dapat menyiapkan dan menghantarkan anak masuk
Di daerah semi-urban (Nagari Maninjau), orang tua tidak ke dunia yang lebih kompetitif. Ayah Minang dan ibu Minang
mengajarkan anak tentang perlunya memiliki kepercayaan diri
dan menghargai orang lain. Dengan nilai power distance yang
rendah, keluarga ini tidak setuju dengan adanya hierarki yang
datang secara kodrati. Bagi mereka kalaupun hierarki tetap ada,
ini adalah berdasarkan prestasi-prestasi yang telah dicapai. Oleh
karena itu, anak dididik untuk selalu berprestasi.

Nilai-nilai kebersamaan selalu dipupuk dalam keluarga ini.
Nilai kesetiakawanan merupakan sesuatu yang harus dijaga
oleh anak mereka karena semakin banyak teman maka semakin
luas pergaulan anak. Dengan itu, orang tua semakin merasa
aman untuk menitipkan anaknya di tengah-tengah masyarakat
kelak karena jaringan pertemanan inilah yang akan melindungi
anaknya. Keluarga ini beranggapan bahwa rezeki sudah ada yang

Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan | Vol 6 No 2 Agustus 2018, hal 121-130 | 125

mengatur, maka tidak perlu memikirkannya. Nilai uncertainty Uji Beda Tentang Pengalaman Hidup Ayah Ibu Menetap vs
avoidance yang rendah membuat keluarga ini merasa tidak Ayah Merantau
perlu terlalu ketat mengajarkan anaknya untuk menabung.
Mereka membiarkan anaknya untuk menikmati hidup walau Untuk orang tua merantau yang pada awalnya ada tiga kelompok,
masih dalam batas kewajaran. Mereka lebih longgar dalam yaitu: (1) ayah ibu menetap; (2) ayah saja yang merantau; (3) ibu
mengendalikan keinginan anak yang bersifat konsumtif karena saja yang merantau; tidak bisa dihitung menggunakan Anova
rezeki bisa dicari lagi nanti. karena data kelompok ibu merantau hanya ada 1 data sehingga
tidak bisa diolah. Maka dari itu, pengolahan data menggunakan
Pada keluarga dengan ayah Minang dan ibu non-Minang uji beda tentang ayah ibu menetap dan ayah saja yang merantau.
(AM+InM), anak diajarkan untuk selalu waspada dengan situasi Dari tabel uji beda, diketahui bahwa jumlah responden ayah
yang tidak menentu melalui penerapanan berbagai peraturan ibu menetap ada 96 keluarga, dan ayah saja yang merantau
yang mengikat di rumah. Anak diajarkan untuk lebih sistematis sejumlah 9 keluarga. Secara keseluruhan nilai rataan persepsi
dalam berpikir dan bertindak karena dengan demikian mereka ayah ibu menetap lebih besar pada UAI dan LTO. Sedangkan
jadi paham akan resiko yang terjadi jika nanti mereka hidup pada ayah merantau memiliki nilai rataan lebih besar pada PDI,
dalam ketidakpastian. Seperti halnya keluargaAM+IM, keluarga IDV, MAS, IVR dan bersifat secara keseluruhan.
ini juga tidak setuju dengan hierarki di dalam masyarakat yang
datang secara kodrati, bukan atas dasar prestasi. Mereka juga Disamping pembandingan nilai t hitung dengan t tabel untuk
mengajarkan kepada anak tentang pentingnya bersosialisasi menarik kesimpulan dalam pengujian hipotesis, di SPSS juga
dan memiliki banyak teman, tapi tidak untuk berkompetisi. bisa menggunakan nilai Sig. Jika Sig > 0,05 maka Ho diterima,
Bagi keluarga ini, hidup gotong royong perlu diajarkan kepada dan jika Sig < 0,05 maka Ho ditolak. Tabel Independent-Sample
anak supaya mereka tidak menjadi egois sepanjang hidupnya. T Test yang pertama menguji apakah kedua kelompok memiliki
Orang tua tidak ketat mengajarkan persistensi dalam hidup, oleh varians yang sama. Hipotesis Ho menunjukkan kedua kelompok
karena itu anak diajarkan untuk mensyukuri berapapun rezeki memiliki varian yang sama, dan H1 menunjukkan kedua
yang sudah didapat. kelompok tidak memiliki varian yang sama. Dari table uji beda,
diketahui bahwa semua variabel memiliki nilai Sig > 0,05 (Ho
Pada keluarga dengan ayah non-Minang dan ibu Minang diterima), berarti kedua kelompok data memiliki varian yang
(AnM+IM), anak diajarkan agar mudah beradaptasi dengan sama. Artinya, ayah dan ibu menetap serta ayah merantau tidak
lingkungan. Mereka menyiapkan anak agar kuat menghadapi ada yang berbeda nyata dalam menjawab pertanyaan tentang
situasi sebagai kaum minoritas, suatu keadaan yang mungkin UAI, LTO, PDI, IDV, MAS, IVR. Tabel Independent-Sample T
saja memaksa anak berada pada hierarki terbawah. Untuk itu, Test yang kedua menguji apakah kedua kelompok memiliki rata-
keluarga ini sangat menganjurkan agar anak rajin menabung rata yang sama. Hipotesis Ho menunjukkan kedua kelompok
mempersiapkan dirinya untuk hari esok. Namun oleh karena memiliki persepsi yang sama, dan H1 menunjukkan kedua
anak diajarkan juga bagaimana caranya bersosialisasi dengan kelompok tidak memiliki persepsi yang sama. Pada output
baik, ada kecenderungan keluarga ini lebih senang melihat diketahui semua variabel memiliki nilai Sig (2-tailled) > 0,05
anaknya tidak perlu dikungkung dengan regulasi yang ketat (Ho diterima). Artinya pada ayah dan ibu menetap serta pada
agar mereka bisa menikmati masa remajanya. ayah merantau memiliki persepsi yang sama tentang UAI, LTO,
PDI, IDV, MAS, IVR.
Pada keluarga dengan kombinasi ayah non-Minang dan ibu
non-Minang (AnM+InM), anak diajarkan bahwa jika ingin Pada keluarga dengan ayah ibu menetap, anak diajarkan agar
meraih suatu kesuksesan, dibutuhkan prestasi. Kesuksesan menghindari kondisi yang serba tidak jelas dan tidak biasa,
tidaklah datang dengan sendirinya dan status sosial tidak bersifat daripada nantinya anak tersesat dan tidak menemukan panduan
kodrati. Anak diajarkan agar selalu bisa menjaga pertemanan dari orang yang dapat diandalkan. Untuk itu, anak diberi
dengan baik, mengutamakan hubungan yang baik dengan peraturan-peraturan agar ia terhindar dari keadaan yang akan
sesama agar mendapatkan kualitas hidup yang diinginkan. membahayakannya. Orang tua kategori ini mempersiapkan
Namun di sisi lain, anak diajarkan tentang betapa pentingnya anak untuk masa depannya yang lebih baik. Anak diajarkan
belajar dari pengalaman orang tuanya, yaitu tentang kegagalan agar menabung dan berprestasi dalam segala hal, serta dapat
dan kemapanan orang tuanya. Tapi juga membebaskan anak lebih mudah beradaptasi dengan hal-hal yang baru. Hal ini
mengeksplorasi minatnya agar terjadi keseimbangan antara dikarenakan orang tua tidak setuju dengan pencapaian sesuatu
kewajiban dan yang merupakan haknya. secara instan. Jika ingin unggul harus berprestasi. Di sisi
lain, anak diajarkan tentang kesetiakawanan dan memelihara
Gambar 2. Grafik Cobweb dimensi Hofstede berdasarkan hubungan yang baik dengan sesama, serta menikmati hidup apa
tipologi keluarga adanya karena pada hakikatnya manusia perlu bahagia.

Pada keluarga dengan ayah merantau, hal yang paling penting
ditanamkan adalah bahwa anak harus bisa menerima keadaan
jika pada suatu hari ia harus berada pada posisi yang tidak
menguntungkan. Ia tidak perlu mempersoalkan jika ada orang
yang lebih berkuasa dari dirinya karena yang penting adalah
anak harus bisa puas dengan apa yang telah dicapainya. Anak
harus berusaha semaksimal mungkin, barulah nanti ia harus
ikhlas menerima konsekuensi apapun yang menyertai usahanya
tersebut. Berkompetisi dan memiliki ambisi itu penting untuk
mendapatkan imbalan materi yang sepadan. Anak juga perlu
menyadari bahwa segala sesuatu itu perlu diatur oleh norma-
norma yang ketat agar bisa mendapatkan hasil yang terukur.
Keluarga dengan ayah merantau cenderung menerapkan
learning by doing pada anaknya, karena dengan cara itu anak

126 | Firdaus Dwi Rini Sovia. et. al. Potret Budaya Masyarakat Minangkabau berdasarkan Keenam Dimensi Budaya Hofstede

memahami konsekuensi atas kesalahan yang ia perbuat, bukan remaja yang lahir di Minang ini memiliki persepsi yang sama
dengan melarangnya dari awal. dan tidak berkeberatan dengan adanya perbedaan antara hak
orang yang berkuasa dengan yang tidak memiliki kekuasaan.
Gambar 3. Grafik Cobweb dimensi Hofstede berdasarkan Mereka juga sama-sama senang dan tidak merasa terganggu
keberadaan orang tua dengan berkumpul-kumpul dan hidup berdekatan. Bagi
keluarga tipe ini, kompetisi dan ambisi atas kekuasaan dilihat
Uji Beda tentang Tempat Lahir Remaja di Minang vs di sebagai sesuatu yang lumrah dan dapat diterima oleh semuanya.
Rantau Keluarga ini lebih mementingkan kejadian dan kemapanan
masa lalu dan sekarang, mereka juga lebih menghargai tradisi.
Dari tabel uji beda, diketahui bahwa jumlah responden yang Keluarga dengan remaja yang lahir di rantau lebih tidak
memiliki remaja yang lahir di Minang sebanyak 85 keluarga senang terintegrasi di dalam suatu kelompok karena mereka
dan yang memiliki remaja lahir di rantau sebanyak 21 keluarga. lebih individual. Mereka lebih emosional karena biasa ingin
Secara keseluruhan nilai rataan persepsi tidak terlalu berbeda. meminimalisir suatu kondisi yang serba tidak jelas dan
Adapun nilai rataan remaja yang lahir di Minang lebih besar tidak biasa. Mereka cenderung secara pelan-pelan merubah
pada PDI dan MAS, sedangkan remaja yang lahir di rantau segala sesuatu ke arah yang lebih pasti dengan mengimple-
memiliki nilai rataan lebih besar pada IDV, UAI, LTO dan IVR. mentasikan peraturan, hukum dan regulasi. Walaupun tidak
Ini artinya keluarga yang memiliki remaja yang lahir di Minang semuanya menerapkan aturan-aturan yang kaku tentang
memiliki power distance yang lebih besar dan lebih maskulin. bagaimana caranya menghindari ketidakpastian, namun, semua
Sementara keluarga yang memiliki remaja yang lahir di rantau, sependapat bahwa ketidakpastian haruslah dihindari. Keluarga
lebih individual, lebih menghindari ketidakpastian, lebih ini lebih peduli pada masa depan. Mereka menjun-jung nilai-
berorientasi jangka panjang, dan lebih restraint. nilai pragmatis, mementingkan penghargaan yang akan
didapatkan, termasuk persistensi, tabungan dan kemampuan
Diketahui bahwa hanya pada UAI dan IVR yang memiliki nilai untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Oleh karena itu,
sig < 0,05 (Ho ditolak). Dengan kata lain, kedua kelompok keluarga ini memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu perlu
data tidak memiliki varian yang sama, sedangkan yang lainnya diatur oleh norma-norma yang ketat. Keluarga tipe ini sama-
memiliki varian yang sama. Ini artinya sig < 0,05 menunjukkan sama tidak suka adanya jarak kekuasaan antara sesama warga.
bahwa untuk pertanyaan tentang UAI dan IVR, jawaban yang Tidak ada yang terlalu berkuasa dan kemiskinan bukan berarti
didapatkan dari responden berbeda nyata. membuat mereka merendahkan dirinya terhadap yang lebih
berkuasa. Individualisme dipahami sebagai hak asasi dan
Pada output diketahui bahwa semua variabel memiliki nilai tidak perlu dipermasalahkan. Sementara keluarga tipe ini lebih
sig (2-tailled) > 0,05 (Ho diterima). Artinya kedua kelompok mengutamakan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar
memiliki persepsi yang sama. Keluarga dengan remaja yang dan kualitas hidup yang layak. Hal ini dikarenakan mereka
lahir di rantau dan di Minang memiliki persepsi yang sama adalah warga pendatang dan harus pintar untuk membawa diri
tentang power distance, individualism vs collectivism, maskulin ke masyarakat Minang yang berdomosili di lokasi.
vs feminine, dan long term orientation vs short term orientation.
Lainnya seperti menghindari ketidakpastian atau tidak, serta Gambar 4. Grafik Cobweb dimensi Hofstede berdasarkan
indulgence vs restraint, kedua kelompok memiliki jawaban tempat lahir remaja
yang berbeda.
Perbedaan karakteristik orang tua berdasarkan daerah
Keluarga dengan remaja yang lahir di Minang lebih menerima tempat tinggal (rural versus semi-urban), berdasarkan
adanya hierarki dan mengakui bahwa setiap orang secara kodrati tipologi keluarga (mengalami perkawinan campur atau
berada pada posisi-posisi tertentu tanpa harus dipersoalkan. tidak) dan berdasarkan pengalaman hidup (merantau atau
Mereka juga lebih mengedepankan kompetisi, ketegasan menetap).
material, ambisi dan kekuasaan. Keluarga ini cenderung tidak
terganggu dengan ketidakpastian hidup dan menjalaninya Jumlah angka pengangguran di Nagari Maninjau semakin
dengan tidak perlu banyak kuatir dengan kondisinya keesokan meningkat karena keadaan danau tidak memungkinkan lagi
harinya. Perencanaan masa depan termasuk keuangan tidak dijadikan sebagai sumber penghidupan yang layak. Namun
terlalu dipikirkan untuk jangka yang panjang. Mereka senang kondisi ini tidak merubah sikap masyarakat dalam mencari
hidup berkelompok dan sehari-hari berkumpul-kumpul serta kepastian tentang sumber mata pencaharian lain yang lebih
memiliki kecenderungan untuk memenuhi kepuasannya yang menjanjikan. Masyarakat masih menggantungkan nasibnya pada
relatif bebas sesuai dengan keinginan dasar manusia. Mereka kegiatan mencari ikan di danau walaupun hasilnya sedikit. Bagi
cenderung lebih ingin menikmati hidup dan bersenang-senang mereka yang gigih, akan melakukan kegiatan lainnya seperti
dengan apa yang sudah didapatkan. Semua keluarga dengan mengojek, berjualan di pasar, dan lain-lain. Masyarakat seperti

Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan | Vol 6 No 2 Desember 2018, hal 121-130 | 127

ini mudah beralih pekerjaan walaupun belum tentu menjanjikan. mamak (saudara laki-laki ibu) dalam mendidik keponakannya,
Mereka lebih mengutamakan hubungan yang baik dengan sehingga ibu pada keluarga AnM+IM tidak mendapatkan
sesama sehingga mengenyampingkan sifat kompetitif dan dukungan yang semestinya dari keluarga besar dalam
ketegasan. Mereka juga tidak terlalu berminat untuk memiliki melestarikan budaya Minangkabau.
kekuasaan di tengah masyarakat. Masyarakat semi-urban ini
memiliki kecenderungan untuk memenuhi kepuasannya yang Tabel 1. Matriks perbandingan antara karakteristik masyarakat
relatif bebas sesuai dengan keinginan dasar manusia yang ingin rural dan semi-urban
bersenang-senang. Namun mereka cukup menghargai kejadian-
kejadian masa lalu dan sekarang, termasuk kemapanan yang Dilihat dari skor LTO yang rendah, maka konfigurasi keluarga
menyertainya. Mereka juga menghargai tradisi sehingga Nagari dengan ayah merantau lebih berkomitmen dalam mengajarkan
Maninjau sering menjadi lokasi diadakannya berbagai ritual nilai budaya Minangkabau kepada anaknya. Walau dengan
adat, disamping karena statusnya sebagai Ibukota Kecamatan skor UAI yang rendah, namun menurut budaya Minangkabau
Tanjung Raya. keluarga ayah merantau yang cenderung tidak menghindari
ketidakpastian sudah sesuai dengan ketentuan adat.
Digunakannya ukuran long term orientation (LTO) yang rendah
sebagai indikator telah berjalannya upaya pewarisan nilai “masyarakat yang potensial merantau untuk
budaya Minangkabau oleh orang tua kepada anak remajanya, jangka yang panjang. Sisanya adalah masyarakat
didasarkan atas beberapa fakta di lapangan. Orang tua dengan yang tidak potensial“ (wawancara dengan mamak
LTO rendah memiliki kecenderungan ingin mengajarkan Yu, seorang mamak pusako di Nagari Maninjau).
anak-anaknya tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa
sekarang karena kebanyakan anaknya bisa menghargai tradisi. Kutipan tersebut merupakan wujud kefrustrasian seorang mamak
Dilihat dari nilai LTOnya yang rendah, masyarakat di daerah pusako dalam melihat keadaan saat ini dimana warga yang
semi-urban lebih setia mengajarkan nilai budaya Minangkabau merantau dalam jangka waktu yang cukup lama (tidak dijelaskan
kepada anaknya dibandingkan dengan masyarakat di daerah berapa tahun), justru lebih membawa dampak yang baik bagi
rural. Dengan konfigurasi PDI, IDV, UAI, MAS, dan IVR kampungnya dibandingkan dengan warga yang merantau
yang juga rendah, maka daerah semi-urban cenderung lebih untuk jangka waktu yang singkat. Mereka yang lama merantau
mementingkan hubungan yang baik karena akan menghasilkan memiliki sopan santun yang terjaga dan tercermin dalam
kualitas hidup yang lebih baik. Di samping itu, mereka lebih pengajaran kepada anak remajanya. Kondisi di rantau membuat
mengedepankan prestasi dan kecakapan yang mumpuni jika orang tua lebih setia mengajarkan nilai budaya Minangkabau
anak ingin menjadi pemimpin. Anak juga diajarkan memiliki kepada anak-anaknya agar menimbulkan kerinduan untuk selalu
kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Oleh karena pulang kampung. Apalagi sejak diselenggarakannya kegiatan
komponen-komponen ini justru menunjang upaya pewarisan rutin tahunan 1 Muharram di Nagari Maninjau. Kegiatan
nilai budaya, maka pendekatan terhadap masyarakat semi-urban ini menggali seni budaya Minangkabau sebagai atraksi bagi
menjadi lebih mudah dibandingkan dengan masyarakat rural turis domestik dan mancanegara. Hal ini membuat momen 1
dalam upaya pelestarian nilai budaya Minangkabau. Namun, Muharram menjadi sangat ditunggu-tunggu bagi para perantau
nilai UAI dan IVR yang rendah mengindikasikan bahwa orang untuk pulang ke kampung, atau yang disebut sebagai kegiatan
tua tidak terlalu ketat mengajarkan langkah antisipatif kepada pulang basamo.
anak (seperti menabung) dan cenderung membiarkan anak
bersenang-senang yang berpotensi menjadikan anak menjadi Karakteristik Remaja berdasarkan Tempat Lahirnya (lahir
hedon dan konsumtif. di rantau atau di Minangkabau).

Dari segi tipologi keluarga, kebanyakan konfigurasi AM+IM, Definisi dari remaja lahir di rantau adalah mereka yang
AM+InM, dan AnM+InM telah dan sedang menjalani upaya lahir dan mengalami sosialisasi saat masih anak-anak di
pewarisan nilai budaya kepada anaknya. Menurut Hofstede, perantauan. Sementara remaja yang lahir di Minangkabau
skor UAI dan IVR yang rendah mengindikasikan bahwa orang adalah mereka yang sejak lahir sampai usia remaja tinggal di
tua tipe ini tidak mau menghindari ketidakpastian dan lebih suka Kecamatan Tanjung Raya. Remaja yang lahir di Minangkabau
bersenang-senang yang cenderung bersifat konsumtif. Kedua cenderung lebih senang mendapatkan pelajaran tentang budaya
komponen kontra-produktif ini dimiliki oleh keluarga AM+IM, Minangkabau dari orang tuanya. Didukung oleh kurikulum
AM+InM dan AnM+InM. Jelas jika mengacu pada definisi- di sekolah yang mengajarkan kearifan lokal (mata pelajaran
definisi yang dibuat oleh Hofstede untuk UAI dan IVR yang Budaya Alam Minangkabau), maka remaja yang lahir (dan
rendah, perlu dilakukan pembenahan substansi pengajaran orang besar) di Minangkabau secara langsung terpapar oleh informasi
tua kepada remajanya tentang nilai “kepastian dan kehidupan
yang terencana”. Namun di dalam filosofi alam Minangkabau
tentang “hidup bertahan dan mempertahankan hidup” (Navis
1984) jelas dinyatakan bahwa pada dasarnya masyarakat
Minangkabau lebih mengutamakan konsep kesetiakawanan
(awak samo awak), karena jika habis, rezeki bisa dicari kembali.
Jadi skor UAI dan IVR yang rendah tidak bertentangan dengan
ajaran budaya Minangkabau, meskipun menurut Hofstede
kondisi ini memerlukan pembenahan.

Di lapangan, keluarga matrilineal yang seharusnya menjadikan
seorang ibu memiliki peran sentral dalam mendidik anaknya
sesuai dengan nilai budaya Minangkabau, tidak ditemukan pada
keluarga AnM+IM (ayah non-Minang + ibu Minang).

Anomali ini disebabkan karena kevakuman peran seorang

128 | Firdaus Dwi Rini Sovia. et. al. Potret Budaya Masyarakat Minangkabau berdasarkan Keenam Dimensi Budaya Hofstede

yang menunjang pelestarian atas budaya Minangkabau. Ritual- yang akan mencari aktor pewaris nilai budaya Minangkabau
ritual adat, seperti: silek taralak, randai, dan tambua tansa, serta di dalam keluarga, agar menggunakan kombinasi ibu Minang
perayaan 1 Muharram dan 17 Agustusan, membuat remaja dengan ayah Minang atau non-Minang. Meskipun dalam
memiliki kegiatan-kegiatan yang mengikat sehingga mereka penelitian ini terdapat anomali pada keluarga ayah non-Minang
menjadi akrab dengan ritual-ritual yang memperkenalkan dan ibu Minang (AnM+IM).
nilai-nilai budaya Minangkabau. Disamping itu, sekarang
sudah dirutinkan penyelenggaraan arisan suku setiap bulan, DAFTAR PUSTAKA
untuk mensosialisasi cara berpakaian yang baik, cara bertutur
kata yang baik, menjelaskan peran mamak yang sebenarnya, Anderson, B. 1983. Imagined Communities: Reflections on the
dan mengenalkan istilah-istilah kekerabatan pada budaya Origins and Spread of Nationalisms. London: Verso.
Minangkabau kepada seluruh anak nagari, tidak hanya remaja
tapi juga para orang tuanya. Namun peran riil seorang mamak Ardial. 2014. Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi.
yang sudah mulai bergeser dan digantikan oleh ayah adalah Jakarta: Bumi Aksara
akibat kurangnya sosialisasi dari para orang tua kepada
anak remajanya. Di dalam program nagari, sekarang upaya Attubani, Riwayat. 2017. Pepatah Petitih danAdat Minangkabau.
pelestarian budaya sudah ada anggarannya, sehingga lebih Padang: Createspace
memicu semangat masyarakat agar tetap mewariskan nilai
budaya Minangkabau kepada generasi muda. Misalnya dengan Bartholomew, S. & N.J. Adler. 1996. Building Networks
adanya upah untuk guru silek taralak sebesar Rp 35.000/latihan and Crossing Borders: The Dynamics of Knowledge
dan lain-lain. Generation in a Transnational World. In P. Joynt & M.
Warner (eds) Managing Across Cultures: Issues and
KESIMPULAN DAN SARAN Perspectives. London: International Thompson Business
Press.
Berdasarkan keenam indikator dimensi budaya Hofstede, maka:
1. Jika dilihat dari karakteristik orang tua yang tinggal Baskerville, R.F. 2003. Hofstede Never Studied Culture,
Accounting, Organizations and Society 28, pp. 1-14.
di daerah rural dan semi-urban, maka orang tua di
daerah semi-urban lebih rajin dan berkomitmen dalam Catalin, P. 2012. A Critical Approach to Hofstede’s Model on
mengajarkan norma budaya Minangkabau kepada anak Cultural Dimensions, “Ovidius” University Annals. Eco-
remajanya. nomic Sciences Series, Vol.XII, Issue 1/2012, pp.644-
2. Jika dibandingkan antara keempat tipologi keluarga yang 649.
ada, maka keluarga dengan konfigurasi ayah Minang+ibu
Minang (AM+IM), ayah Minang+ibu non-Minang Coon, H.M. & M. Kemmelmeier. 2001. Cultural Orientations
(AM+InM), dan ayah non-Minang+ibu non-Minang in the United States: (Re)examining Differences Among
(AnM+InM) lebih setia mewariskan budaya Minangkabau. Ethnic Groups. Journal of Cross-Cultural Psychology
3. Jika diukur berdasarkan pengalaman merantau orang tua 32. Pp.348-364.
(terutama ayah), maka keluarga dengan ayah merantau
lebih sering dan serius mengajarkan budaya Minangkabau Cray, D. & G.R. Mallory. 1998. Making Sense of Managing
kepada anak remajanya. Culture. London: International Thompson Business
4. Jika diantara orang tua yang merantau terdapat remaja yang Press.
lahir di rantau dan lahir di Minang, maka remaja yang lahir
di Minang lebih senang mendapatkan dan menerapkan Dimitrov, K. 2014. Geert Hofstede et al’s Set of National
norma budaya Minangkabau yang diterimanya dari orang Cultural Dimensions: Popularity and Criticisms.
tua. Paparan nilai budaya yang didapatkannya di sekolah Economic Alternatives, Issue 2.
maupun melalui ritual-ritual adat yang sedang digalakkan
oleh pemerintah lokal terbukti dapat membantu orang tua Errington, F.K. 1984. Manners and Meaning in West Sumatra.
dalam mengajarkan nilai budaya Minangkabau di rumah. The Social Context of Consciousness. New Haven,
London: Yale University Press.
Bergesernya peran seorang mamak (saudara laki-laki ibu) dan
digantikan oleh ayah merupakan wujud adaptasi masyarakat Evalina. 2007. Perkawinan Pria Batak Toba dan Wanita Jawa
Minangkabau dengan budaya lain. Hal ini terbukti tidak Di Kota Surakarta Serta Akibat Hukumnya Dalam
merusak perkembangan psikologis anak remaja Minangkabau Pewarisan. Semarang. Sumber dari : http://eprints.undip.
dewasa ini. Terkikisnya nilai budaya bukan disebabkan oleh ac.id/17269/1/EVALINA.pdf. Diakses 7 September
pergeseran ini, melainkan oleh minimnya sosialisasi dari orang 2017.
tua. Jika hal ini ditunjang oleh lingkungan sekitar yang juga
tidak mendukung, maka nilai budaya Minangkabau semakin Fang, T. 2003. A Critique of Hofstede’s Fifth National Culture
tidak dapat dipertahankan. Penelitian ini menyarankan agar Dimension. International Journal of Cross Cultural
adanya sosialisasi yang aktif dari orang tua mengenai nilai Management 2003; 3, pp 347-368.
budaya Minangkabau dan selalu mendekatkan anak pada
paparan informasi tentang Miangkabau, baik melalui kesenian Fougere, M. 2007. The Construction of the Modern West and the
daerah, lagu-lagu daerah, maupun penggunaan bahasa Minang Backward Rest in Hofstede’s Culture’s Consequences.
dalam keseharian di rumah. Journal of Multicultural Discourses. Vol 2(1). Pp.1-19.

Sebagai daerah yang berbudaya matrilineal, yaitu daerah yang Froholdt, L & F. Knudsen. 2007. The Human Element in
menjunjung tinggi peran perempuan dalam keberlangsungan Maritime Accidents and Disasters – A Matter of
pewarisan nilai budaya di dalam keluarga, maka indikator Communication, IMEC, pp.303-308.
pewarisan seharusnya dimulai dari keberadaan ibu Minang di
rumah. Maka dari itu, disarankan bagi penelitian selanjutnya Grenness, T. 2012. Hofstede Revisited: Is Making the Ecological
Fallacy When Using Hofstede’s Instrument on Individual
Behavior Really Unavoidable? International Journal of
Business and Management. Vol 7 No.7. April 2012. Pp
75-84.

Hampden-Turner, C & F. Trompenaars. 1997. Responses to
Geert Hofstede. International Journal of Intercultural
Relations Vol 21(1). Pp. 149-159.

Hofstede, G & M.H. Bond. 1984. Hofstede’s Culture
Dimensions: An Independent Validation Using
Rokeach’s Value Survey. Journal of Cross-Cultural
Psychology 15(4): 417-433

Hofstede, G & M.H. Bond. 1988. The Confucius Connection:
From Cultural Roots to Economic Growth.

Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan | Vol 6 No 2 Agustus 2018, hal 121-130 | 129

Organizational Dynamics Journal 16(4):5-21. and Its Persistence Throughout History: A Structural
Hofstede, G. 1990. Cultures and Organizations: Software of the Perspective. Southeast Asia: A Multidisciplinary Journal,
vol 13, 2013, pp 1-13. Universiti Malaysia Kelantan.
Mind. New York: McGraw-Hill. Wu, Ming-Yi. 2006. Hofstede’s Cultural Dimensions 30
Hofstede, G. 1991. Cultures and Organizations: Software of the Years Later: A Study of Taiwan and The United States.
Intercultural Communication Studies XV:1.
Mind. London: McGraw-Hill Zuhro, R.S; Sumarno; Wenny Pahlemy; Nurul Rochayati;
Hofstede, G. 2001. Culture’s Consequences: Comparing Values, Lilis Mulyani; Israr Iskandar. 2009. Demokrasi Lokal:
Perubahan dan Kesinambungan Nilai-Nilai Budaya
Behaviors, Institutions, and Organizations Across Politik Lokal di Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi
Nations. Thousand Oaks, CA: Sage. Selatan dan Bali. Yogyakarta: Ombak.
Hofstede, G; G.J. Hofstede & M. Minkov. 2010. Cultures and
Organizations: Software of the Mind (Rev. 3rd ed). New Sumber Online:
York: McGraw-Hill. Profil Kesehatan Indonesia (2014) Kementerian Kesehatan
Hofstede, G. 2010. Cultures and Organizations: Software of the RI.http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/
Mind. London: McGraw-Hill. profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.
Holden, N.J. 2002. Cross-Cultural Management – A Knowledge pdf. Diakses pada Agustus 2017.
Management Perspective. London: FT. Prentice Hall.
Huo, Y.P. & D.M. Randall. 1991. Exploring Subcultural
Differences in Hofstede’s Value Survey: The Case of the
Chinese. Asia Pacific Hournal of Management, 8. Pp.
159-173.
Jones, M.L. 2007. Hofstede – Culturally Questionable? Oxford
Business & Economics Conference. Oxford, UK, 24-26
June 2007.
Kwek, D. 2003. Decolonizing and Re-Presenting Culture’s
Consequences: A Postcolonial Critique of Cross-
Cultural Studies in Management. In Prasad, A. (eds)
Postcolonial Theory and Organizational Analysis: A
Critical Engagement. New York: Palgrive MacMillan.
Lenartowicz, T.; J.P. Johnson & C.T. White. 2003. The Neglect
of Intracountry Cultural Variation in International
Management Research. Journal of Business Research,
56. Pp. 999-1008.
McSweeney, B. 2002. Hofstede’s Model of National Cultural
Differences and Their Consequences: A Triumph of
Faith A Failure of Analysis. Human Relations Journal
Vol.55(1) pp.89-118. The Tavistock Institute, SAGE
Publications.
Minkov, M. 2007. What Makes Us Different and Similar: A New
Interpretation of the World Values Survey and Other
Cross-Cultural Data. Sofia, Bulgaria: Klasika I Stil.
Minkov, M & G. Hofstede. 2011. The Evolution of Hofstede’s
Doctrine, Cross Cultural Management: An International
Journal, Vol.18 no.1. pp.10-20. Emerald Group
Publishing Limited.
Myers, M.D & F.B.Tan. 2003. Beyond Models of National
Culture in Information Systems Research, pp. 14-29
(edited by) Felix B.Tan Advanced Topics in Global
Information Management. PA, USA: IGI Publishing
Hershey.
Myers, David G. 2008. Social Psychology.9th  ed. New York:
McGraw-Hill.
Navis, A.A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru: Adat Dan
Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: PT. Temprint.
Roberts, K. & N. Boyacigillier. 1984. Cross-National
Organizational Research: The Grasp of the Blind Man.
In B.M. Staw and LL. Cummings (eds) Research in
Organizational Behavior. Stamford, CT: JAI Press.
Schrijvers J & Postel-Coster E. 1977. Minangkabau Women:
Change in a Matrilineal Society. Archipel vol 13, 1977
pp 79-103.
Schwartz, S.H.& T. Rubel. 2005. Sex Differences in Value
Priorities: Cross-Cultural and Multimethod Studies.
Journal of Personality and Social Psychology, 89,
pp.1010-1028.
Smith, P.B. 2002. Culture’s Consequences: Something Old and
Something New. Human Relations. Vol 55(1). Pp. 119-
135.
Stark A. 2013. The Matrilineal System of the Minangkabau

130 | Firdaus Dwi Rini Sovia. et. al. Potret Budaya Masyarakat Minangkabau berdasarkan Keenam Dimensi Budaya Hofstede


Click to View FlipBook Version