The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by muhammadhashabi, 2022-07-19 02:26:08

2019_Wawacan Ningrumkusumah

2019_Wawacan Ningrumkusumah

Alih Bahasa

Wawacan Ningrumkusumah

Ruhaliah

Perpusnas Press
2020

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Data Katalog dalam Terbitan (KDT)

Wawacan Ningrumkusumah
Oleh: Ruhaliah - Jakarta: Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia, 2019
330 hlm. ; 16 x 23 cm,--(Seri Naskah Kuno Nusantara)
1. Manuskrip. I. Ruhaliah. II Perpustakaan Nasional. III. Seri
E-ISBN : 978-623-7871-05-7 (pdf)

Editor Isi & Bahasa
Tim Editor

Perancang Sampul
Irma Rachmawati

Tata Letak Buku
Yanri Roslana

Diterbitkan oleh
Perpusnas Press, anggota Ikapi
Jl. Salemba Raya 28 A, Jakarta 10430
Telp: (021) 3922749 eks.429
Fax: 021-3103554
Email: [email protected]
Website: http://press.perpusnas.go.id

perpusnas.press
perpusnas.press
@perpusnas_press

Sambutan

UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, mendefinisikan naskah
kuno sebagai dokumen tertulis yang tidak dicetak atau tidak diperbanyak
dengan cara lain, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri yang
berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, dan yang mempunyai nilai
penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dibanding
benda cagar budaya lainnya, naskah kuno memang lebih rentan rusak, baik
akibat kelembaban udara dan air (high humidity and water), dirusak binatang
pengerat (harmful insects, rats, and rodents), ketidakpedulian, bencana alam,
kebakaran, pencurian, maupun karena diperjual-belikan oleh khalayak umum.

Naskah kuno mengandung berbagai informasi penting yang harus
diungkap dan disampaikan kepada masyarakat. Tetapi, naskah kuno yang ada
di Nusantara biasanya ditulis dalam aksara non-Latin dan bahasa daerah atau
bahasa Asing (Arab, Cina, Sanskerta, Belanda, Inggris, Portugis, Prancis).
Hal ini menjadi kesulitan tersendiri dalam memahami naskah. Salah satu
cara untuk mengungkap dan menyampaikan informasi yang terkandung di
dalam naskah kepada masyarakat adalah melalui penelitian filologi. Saat ini
penelitian naskah kuno masih sangat minim.

Sejalan dengan rencana strategis Perpustakaan Nasional untuk
menjalankan fungsinya sebagai perpustakaan pusat penelitian juga pusat
pelestarian pernaskahan Nusantara, maka kegiatan alih-aksara, alih-bahasa,
saduran dan kajian naskah kuno berbasis kompetisi perlu dilakukan sebagai
upaya akselerasi percepatan penelitian naskah kuno yang berkualitas,
memenuhi standar penelitian filologis, serta mudah diakses oleh masyarakat.
Dengan demikian, Perpustakaan Nasional menjadi lembaga yang berkontribusi
besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya di
bidang pernaskahan.

Kegiatan ini wajib dilaksanakan Perpustakaan Nasional, karena
merupakan amanat Undang-Undang No.43 tahun 2007 Pasal 7 ayat 1 butir
d yang mewajibkan Pemerintah untuk menjamin ketersediaan keragaman
koleksi perpustakaan melalui terjemahan (translasi), alih aksara (transliterasi),
alih suara ke tulisan (transkripsi), dan alih media (transmedia), juga Pasal 7
ayat 1 butir f yang berbunyi “Pemerintah berkewajiban meningkatan kualitas
dan kuantitas koleksi perpustakaan”.

- iii -

Wawacan Ningrumkusumah

Sejak tahun 2015, seiring dengan peningkatan target dalam indikator
kinerja di Perpustakaan Nasional, kegiatan alih aksara, terjemahan, saduran dan
kajian terus ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pada tahun
2019, Perpustakaan Nasional menargetkan 150 judul penerbitan bagi hasil-
hasil karya tulis tersebut. Untuk meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas
hasil penelitian filologis, maka kegiatan Alih Aksara, Alih Bahasa, Saduran,
dan Kajian Naskah Kuno Nusantara Berbasis Kompetisi ini dilakukan.

Kegiatan ini dapat terlaksana berkat kontribusi karya para filolog dan
sastrawan. Oleh karena itu, Perpustakaan Nasional mengucapkan terima
kasih sebanyak-banyaknya kepada para filolog dan sastrawan yang telah
mengirimkan karya-karya terbaiknya. Secara khusus, Perpustakaan Nasional
juga mengucapkan terima kasih kepada Masyarakat Pernaskahan Nusantara
(Manassa) yang sejak awal terlibat dalam proses panjang seleksi naskah,
penyuntingan, proofreading, sampai buku ini dapat terbit dan dibaca oleh
masyarakat.

Besar harapan kami semoga fasilitasi terhadap karya tulis Alih Aksara,
Alih Bahasa, Saduran, dan Kajian Naskah Nusantara Berbasis Kompetisi ini
dapat meningkatkan kualitas penerbitan dan mendapatkan apresiasi positif
dari masyarakat, serta bermanfaat dalam upaya menggali kearifan lokal
budaya Indonesia.


Jakarta, 2019

ttd

Deputi Bidang Pengembangan Bahan
Pustaka dan Jasa Informasi

- iv -

Kata Pengantar

Wawacan Ningrumkusumah (selanjutnya disingkat WN) merupakan teks
yang menarik karena di dalamnya digambarkan seorang wanita yang memiliki
segalanya, yaitu kecantikan, kesetiaan, kekuatan, kesempurnaan, kegagahan,
kesaktian, dan kepemimpinan.

Ningrumkusumah merupakan istri Suryaningrat, yang juga nama judul
wawacan. Nama dan pengalaman Suryaningrat ini disebut-sebut dalam
“Wawacan Barjah”, digambarkan sebagai raja yang tidak dipersiapkan
sehingga mengalami kekalahan. Dengan demikian Wawacan Ningrumkusumah
dan Suryaningrat diperkirakan ditulis lebih dahulu daripada Wawacan Barjah.
Salah satu naskah Wawacan Barjah koleksi PNRI merupakan koleksi KF
Holle yang diperkirakan ditulis pada tahun 1800-an.

Naskah “Wawacan Ningrumkusumah” ditulis menggunakan aksara Pegon
dan Cacarakan. Informasi mengenai naskah didapat dari berbagai katalog.
Hasilnya tercatat sekurang-kurangnya berjumlah Wawacan Ningrumkusumah
38 naskah, yang terdiri dari naskah (asli) tetapi tidak lengkap, fotokopi naskah
lengkap dari PNRI dua buah, dari masarakat di Sukabumi, dan dalam bentuk
mikrofilm. Informasi dari berbagai katalog, baik koleksi dalam negeri maupun
luar negeri, menunjukkan bahwa naskah ini sering disalin.

Naskah yang ditransliterasi dan diterjemahkan untuk kepentingan buku
ini merupakan naskah yang berasal dari daerah Jampang Kulon. Transliterasi
selesai dilakukan pada tahun 2007, ketika teksnya masih lengkap. Laporan
penelitian tahun 2007 ini merupakan edisi teks dengan menggunakan metode
landasan sehingga terdapat catatan kaki, tetapi pada terbitan ini catatan kaki
dan halaman naskah dihilangkan agar tidak mengganggu pembaca.

Naskah ini telah selesai dikerjakan sejak tahun 2007 dalam bentuk
trasliterasi, edisi teks, terjemahan, dan analisis secara sekilas. Kegiatannya
saat itu untuk kepentingan kenaikan pangkat, jadi sampai sekarang belum
diterbitkan secara lengkap. Publikasi yang pernah dikerjakan baru pada
pembuatan makalah yang dimuat dalam Jumantara Vol. 6 No. 1 Tahun 2015
halaman 241-260 terbitan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Untuk kepentingan penerbitan ini, dilakukan pengeditan atas penulisan
terdahulu, baik dari segi format maupun ejaan, mengingat tulisan ini akan
diterbitkan dan dibaca oleh masyarakat umum.

-v-

Diterbitkannya transliterasi dan terjemahan teks ini merupakan langkah
yang sangat baik agar nilai-nilai yang ada dalam naskah dapat dikenalkan dan
disebarluaskan. Gambaran kesempurnaan Ningrumkusumah merupakan cita-
cita ideal yang diharapkan oleh masyarakatnya. Karena itu, saya menghaturkan
terima kasih yang tak terhingga kepada Perpustakaan Nasional RI bekerja
sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara yang telah mengadakan
program penerbitan buku bersumber dari naskah. Ucapan terima kasih juga
saya sampaikan kepada penulis naskah walaupun sampai saat ini saya tidak
pernah mengenalnya tetapi karyanya sangat berguna, dan pihak lain yang tak
tertulis.

Semoga penerbitan transliterasi dan terjemahan buku ini bermanfaat
bagi semua pihak.

- vi -

Daftar Isi

Sambutan....................................................................................................... iii
Kata Pengantar............................................................................................. v
Daftar Isi........................................................................................................ vii

Bab I Pendahuluan.................................................................................. 1
A. Latar Belakang......................................................................... 1
B. Tujuan Alih Aksara................................................................... 1

Bab Ii Inventarisasi Naskah Wawacan Ningrumkusumah.................. 3
A. Inventarisasi Naskah................................................................ 3
B. Deskripsi Naskah..................................................................... 5
C. Ringkasan Isi Cerita................................................................. 9
D. Pedoman dan Metode Alih Aksara dan Terjemahan................ 14

Bab Iii Teknik Penyajian Transliterasi dan Terjemahan....................... 19
A. Penyajian Transliterasi............................................................. 19
B. Pedoman dan Metode Terjemahan........................................... 20

Bab Iv Transliterasi dan Terjemahan Wawacan Ningrumkusumah... 23

Glosarium...................................................................................................... 317
Daftar Pustaka.............................................................................................. 321
Riwayat Hidup Penulis................................................................................. 322

- vii -

Daftar Singkatan

EFEO : École Française d’Èxtreme-Orient
ESE : Edi S. Ekadjati
FPBS : Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
LOr. : Leiden Oriental
PNRI : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
UBL : Universiteit Bibliotheek Leiden
UPI : Universitas Pendidikan Indonesia

- viii -

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Naskah merupakan kekayaan budaya yang menyimpan data masa lalu.
Di dalam naskah tertuang data mengenai konsep hidup, mata pencaharian,
religi, arsitektur dan berbagai hal yang berkaitan dengan masyarakat ketika
naskah itu ditulis. Pada masyarakat Sunda misalnya, naskah Sanghyang
Siksa Kandang Karesian merupakan gambaran budaya masyarakat Sunda
sekitar abad ke-16, karena di dalam teks naskah itu tergambar agama, mata
pencaharian, profesi, arsitektur, seni, dan lain-lain. Ganbaran budaya pada
naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian ini telah berkali-kali dibahas,
upamanya oleh Edi S. Ekadjati, Ayatrohaedi, Ruhaliah, dan lain-lain.

Di dalam naskah juga ada data “sejarah” seperti yang dikaji oleh
Hermansumantri, Edi S. Ekadjati, Dadan Wildan, dan peneliti lainnya. Bahkan
di dalam naskah-naskah karya Pangeran Wangsakerta data sejarah itu begitu
lengkap. Walaupun naskah sejarah tidak selalu berisi data sejarah yang tepat,
di dalamnya ada data yang bisa dipertimbangkan untuk kepentingan sejarah.

Naskah yang paling banyak ditemukan saat ini adalah naskah yang berisi
teks sastra, terutama wawacan (Ruhaliah, 2018) yang jumlahnya mencapai
ratusan judul. Dari satu judul teks bisa menghasilkan berbagai varian dan
versi.

Salah satu naskah yang ditemukan datanya dalam jumlah banyak
adalah Wawacan Ningrumkusumah, yang kadang-kadang disebut Wawacan
Suryaningrat, Wawacan Surya Ningrum, dan Wawacan Suryakanta. Datanya
dikemukakan pada bagian selanjutnya.

Dilihat dari segi isinya, diperkirakan teks ini ditujukan kepada para
wanita karena pada pupuh terakhir disampaikan bagaimana seorang istri sejati
itu. Nasihat ini juga digambarkan dalam bentuk perilaku dan perjuangan
Ningrumkusumah. Teksnya termasuk panjang tetapi menarik untuk dibaca,
dahulunya dibacakan dalam pergelaran beluk.

B. Tujuan Alih Aksara

Alih aksara merupakan salah satu upaya mengenalkan isi naskah
kepada masyarakat luas. Hal ini sangat penting dilakukan karena naskah
umumnya ditulis menggunakan aksara bukan Latin. Begitu pula Wawacan
Ningrumkusumah. Baik naskah secara fisik maupun dalam bentuk mikrofilm,

-1-

saat ini yang didapat ditulis dalam aksara Pegon dan Cacarakan, sebagaimana
tertera pada tabel inventarisasi naskah. Jadi, dengan dilakukan alih aksara,
maka:
a. Pembaca yang tidak bisa atau kurang lancar membaca aksara Pegon dan

Cacarakan bisa mudah memahami teks;
b. Penelitian mengenai struktur dan pendekatan sastra lainnya mudah

dilakukan apabila teks sudah ditransliterasi.
c. Pembaca bisa memahami konsep ideal seorang wanita pada masa lalu.

-2-

Bab Ii
Inventarisasi Naskah Wawacan Ningrumkusumah

Wawacan Ningrumkusumah seringkali disebutkan sebagai cerita siklus
karena berkaitan dengan Wawacan Suryaningrat dan Wawacan Suryakanta.
Bahkan ada naskah yang berjudul Wawacan Surya Ningrum. Ketiga nama
tersebut berkaitan karena Suryaningrat adalah suaminya Ningrumkusumah
dan Suryakanta adalah anak Suryaningrat dan Ratnawulan.

A. Inventarisasi Naskah

Cerita mengenai ketiga pelaku ini terhitung banyak karena didapat
dalam berbagai media, baik naskah, fotokopi, maupun mikrofilm koleksi Edi
S. Ekadjati. Bahkan dalam berbagai katalog pun ketiga judul di atas tersebar
dengan luas. Hal ini menunjukkan bahwa cerita ini termasuk disukai karena
itu disalin berkali-kali. Akibat penyalinan tersebut menimbulkan varian dan
versi sehingga sangat menarik untuk dikaji secara filologis. Selain itu, teks
Wawacan Ningrumkusumah juga ada yang ditulis dalam aksara Cacarakan,
seperti pada koleksi Museum Sri Baduga Bandung.

Penyebaran cerita mengenai Suryaningrat, Ningrumkusumah, dan
Suryakanta, sebagian tergambar pada tabel berikut.

Tabel 1
Inventarisasi Naskah

No. Judul Kode Aksara Jumlah Lokasi Keterangan
Halaman PNRI
1. Carios Pada awal naskah
Ningrumkusumah SD 9 Pegon 130 PNRI tertulis B.G.K.W

2. Carita SD 42 Pegon 183 Museum Sri No. 9 Carita
Ningrumkusumah Baduga Ningrum
Pegon 139
3. Wawacan Pada awal naskah
Suryaningrat tertulis Carita
Ningrumkusumah
Ningrumkusumah
4. Wawacan
Ningrumkusumah Penyalin Ita
Sutadimaja

- Pegon 205 Jampang Penulis Sudar

Kulon Sunjana,

Mulai malam

Ahad

-3-

No. Judul Kode Aksara Jumlah Lokasi Keterangan
Halaman UBL
5. Wawacan LOr. 7842/
Suryakanta Mal. 2061

6. Wawacan LOr. 7832/ UBL
Suryaningrat Mal. 2051

7. Nngrumkusumah Mikrofilm Pegon EFEO Teks tidak jelas
Rol 43-1
8. Wawacan
Suryaningrat 139 Museum Sri Penyalin: Ita
Ningrumkusumah
Baduga Sutadimaja
9. Ningrum
10. Ningrumkusumah Pegon 40 Ruhaliah Gadobangkong,
Pegon Ruhaliah tidak lengkap
11. Carios 78 (tidak
Ningrumkusumah lengkap) Ruhaliah Cilame,
Tidak Padalarang
12. Suryakanta lengkap Ruhaliah
Banjaran
13. Wawacan 323 Ruhaliah
Suryaningrat
365 Usin (60 Saeroji (alm),
14. Wawacan Surya taun) Mulai hari Jum’at
Ningrum
Kampung bulan Mulud
15. Wawacan Tugu, Désa
Suryaningrat Cipeundeuy,
Kacamatan
16. Suryaningrat (10
naskah) Suradé,
Kabupaten
Sukabumi

Cacarakan, 41 Museum Sri Ditransliterasi

bahasa Baduga oleh Sri Mulyati

Jawa

Cirebon

EFEO/KBN-
190; 298;
806; 003;
220; 109;
220b; 370;
493; 349;

-4-

No. Judul Kode Aksara Jumlah Lokasi Keterangan
Halaman

17. Carios EFEO/KBN-
Suryaningrat (2 245; EFEO/
naskah) KBN-493

18. Ratna Ningrum EFEO/KBN-
(Suryaningrat) 809

19. Ningrumkusumah EFEO/KBN-
137; EFEO/
KBN-454;
EFEO/KBN-
349; EFEO/

KBN ?);

20. Ningrumkusumah- EFEO-

Suryaningrat (3 KBN-820;

naskah) EFEO/

MKB-454;

EFEO/KBN-

220;

21. Suryaningrat- EFEO/KBN-

Ningrumkusumah 245

Suryakanta (5 EFEO/KBN-
naskah) 330; -483;
285; 73; 331;

Catatan : Naskah yang diberi kode EFEO berarti datanya terdapat dalam katalog
yang dikerjakan oleh Vivianne-Sukanda Tessier, dan diperkirakan
duplikasi naskahnya terdapat dalam kelompok mikrofilm yang dikerjakan

oleh EFEO tersebut.

Dari data di atas tergambar betapa banyaknya cerita mengenai
Ningrumkusumah tersebut. Dari tabel di atas tercatat sebanyak 38 buah
dengan jumlah halaman yang sangat bervariasi. Dengan demikian, teksnya
pun diperkirakan bervariasi pula.

B. Deskripsi Naskah

Teks yang disajikan dalam transliterasi ini naskahnya berasal dari
Jampang Kulon. Naskahnya berjudul Wawacan Ningrumkusumah, yang
ditulis menggunakan aksara Pegon. Naskah ini pada tahun 1987 dimiliki oleh
Ibu Salsih yang beralamat di Kampung Cijami Desa Padajaya Kecamatan
Jampangkulon. Aksaranya mudah dibaca walaupun termasuk kecil. Tebal
naskah sebanyak 205 halaman, ditulis pada buku bergaris berukuran 16 X 21 cm.

-5-

Rubrikasi yang digunakan yaitu untuk ganti larik (padalisan),

untuk ganti bait (pada), dan untuk ganti pupuh. Nomor halaman

ditulis menggunakan angka Arab, yang ditulis di kiri atas atau kanan

atas pada setiap halaman.

Transliterasi dan terjemahan selesai dikerjakan pada tahun 2007 tetapi
untuk penerbitan ini dilakukan pengeditan sehingga ada beberapa perbedaan.

Pada kolofon naskah disebutkan bahwa naskah ini bersumber dari
hikayat, dengan demikian ceritanya merupakan saduran dari bahasa Melayu.

Naskah PNRI tidak dijadikan bahan transliterasi karena naskahnya
didapat setelah transliterasi naskah Jampang ini selesai dikerjakan. Tetapi
apabila ada kesempatan, naskah Wawacan Ningrumkusumah koleksi PNRI
sangat penting untuk dikerjakan.

Naskah ini ditulis dalam bentuk pupuh. Rinciannya disajikan pada tabel
berikut ini.

Tabel 2
Penggunaan Pupuh pada Wawacan Ningrumkusumah

No. Urut Nama Pupuh No. Bait (Pada)
Pupuh
1-25
1. Asmarandana 26-45
46-65
2. Sinom 66-95
96-110
3. Dangdanggula 111-134
135-156
4. Kinanti 157-164
165-187
5. Durma 188-197
198-225
6. Pucung 226-251

7. Pangkur

8. Gambuh

9. Sinom

10. Wirangrong

11. Pangkur

12. Magatru

-6-

No. Urut Nama Pupuh No. Bait (Pada)
Pupuh
252-267
13. Maskumambang 268-283
284-307
14. Dangdanggula 308-321
322-349
15. Kinanti 350-380
381-404
16. Durma 405-436
437-481
17. Asmarandana 482-504
505-527
18. Sinom 528-548
549-588
19. Dangdanggula 589-602
603-612
20. Pangkur 613-629
630-652
21. Durma 653-673
674-695
22. Pucung 696-707
708-723
23. Pangkur 724-727
728-773
24. Asmarandana 774-787
788-817
25. Maskumambang

26. Dangdanggula

27. Jurudemung

28. Wirangrong

29. Kinanti

30. Asmarandana

31. Sinom

32. Mijil

33. Maskumambang

34. Lambang

35. Kinanti

36. Dangdanggula

37. Asmarandana

-7-

No. Urut Nama Pupuh No. Bait (Pada)
Pupuh
818-848
38. Pucung 849-856
857-882
39. Jurudemung 883-902
903-933
40. Sinom 934-960
961-979
41. Pangkur 980-990
991-1015
42. Magatru 1016-1031
1032-1046
43. Durma 1047-1065
1066-1083
44. Kinanti 1084-1102
1103-1117
45. Lambang 1118-1133
1134-1145
46. Pangkur 1146-1154
1155-1167
47. Asmarandana 1168-1179
1180-1197
48. Sinom 1198-1217
1218-1233
49. Asmarandana 1234-1244
1245-1253
50. Magatru

51. Dangdanggula

52. Mijil

53. Sinom

54. Kinanti

55. Mijil

56. Dangdanggula

57. Asmarandana

58. Pangkur

59. Sinom

60. Magatru

61. Dangdanggula

62. Kinanti

-8-

C. Ringkasan Isi Cerita

Ringkasan cerita disusun berdasarkan urutan pupuh. Jadi nomor yang
ada pada tanda kurung merupakan nomor urutan pupuh.

Teks dimulai dengan kolofon, berisi titimangsa penulisan dan doa.
Dikisahkan negeri Banurungsit rajanya bernama Suriyanagara, patihnya
bernama Salyanagara. Raja Suriyanagara memiliki seorang anak bernama
Suryaningrat, berusia empat belas tahun. Suryaningrat dijodohkan dengan
seorang putri cantik bernama Ningrumkusumah (1).

Setelah Suryaningrat dan Ningrumkusumah menikah, Ratu Banurungsit
menyerahkan kerajaan kepada Suryaningrat. Tidak lama kemudian Raja
Suriyanagara sakit dan akhirnya meninggal dunia. Raja Duryan menginginkan
Ningrumkusumah untuk menjadi istrinya. Mulanya ia mengirim surat dan
memerintahkan supaya Suryaningrat selalu mengirim upeti (2). Suryaningrat
bersedia memenuhi permintaan tersebut dan menyatakan takluk. Raja Duryan
mengirim lagi surat yang isinya meminta Ningrumkusumah. Suryaningrat
berunding dengan Ningrumkusumah (3).

Raja Duryan menerima surat bahwa Suryaningrat tidak bersedia
menyerahkan istrinya. Raja Duryan dengan sepuluh raja bawahannya dan
bala tentaranya datang menyerang. Suryaningrat bersiap untuk bertahan (4).
Suryaningrat kalah karena panahnya terlepas, terbawa angin ke Nusantara.
Suryaningrat lalu dipenjara oleh Raja Salkam dan Ningrumkusumah pura-
pura bersedia bersuamikan Raja Duryan tetapi meminta syarat (4).

Raja Duryan tinggal di Banurungsit dan mengadakan pesta
kemenangan. Ningrumkusumah baru tahu bahwa Suryaningrat dipenjara.
Ningrumkusumah memantrai semuanya sehingga yang terkena sirep tertidur
pulas. Ningrumkusumah lalu mengeluarkan suaminya dari penjara dan
memanggulnya, serta terus melarikan diri. Setelah jauh baru Ningrumkusumah
membuka sirepnya (6).

Diceritakan Raja Duryan, Raja Salkam, dan semua yang disirep sudah
terbangun. Mulanya mereka saling meledek karena mukanya digambari oleh
Ningrumkusumah. Tetapi akhirnya menjadi marah dan memerintahkan agar
Ningrumkusumah dan Suryaningrat dikejar (7).

Dikisahkan negara Durselan, rajanya bernama Raja Jenggi. Ia
memerintahkan patihnya yang bernama Demang Langlaung dan Indrabumi
untuk mencari calon istri. Keduanya lalu berangkat sendiri-sendiri. Demang
Langlaung tiba di hutan yan jarang dilewati (pupuh 7).

-9-

Ningrumkusumah dan Suryaningrat terus berjalan, lalu bertemu
dengan Indrabumi. Ketika ditanya, Ningrumkusumah menyebutkan bahwa
Suryaningrat adalah kakaknya. Indrabumi memaksa Ningrumkusumah
agar mau menjadi istri Raja Jenggi. Setelah tiba di keraton, diadakan pesta
pernikahan. Ningrumkusumah meminta agar Raja Jenggi minum arak, dan
Ningrumkusumah yang membuatnya. Arak itu lalu dibubuhi racun sehingga
raja dan patih menjadi pingsan. Ningrumkusumah dan Suryaningrat melarikan
diri (9).

Keduanya bertemu dengan berbagai binatang, seolah-olah memberitahukan
adanya marabahaya (10). Mereka tiba di tempat Raja Salkam, yang sudah
lama menunggu. Raja Salkam lalu memanah Suryaningrat dari belakang
hingga Suryaningrat terjatuh. Raja Salkam lalu memaksa Ningrumkusumah
agar menjadi istrinya. Dengan tipu muslihatnya Ningrumkusumah berhasil
membunuh Raja Salkam. Suryaningrat ditemukan tergeletak tak sadarkan
diri terpanggang panah. Ningrumkusumah berhasil mencabutnya tetapi darah
mengalir terus. Ningrumkusumah kebingungan, lalu datang ular cinde dan
ular sutra yang berkejaran. Salah satunya mati dipatuk. Ular yang satunya
mengobati dengan kayu singawalang. Ningrumkusumah meniru kelakuan
ular, dan Suryaningrat sembuh kembali (11).

Keduanya melanjutkan perjalanan, hingga tiba di tempat Ki
Demang Langlaung menunggu orang yang mau menyeberang. Langlaung
ditugaskan mencari perempuan cantik untuk calon istri Raja Jenggi. Ketika
Ningrumkusumah dan Suryaningrat datang, ia menyebutkan bahwa perahu
hanya kuat membawa dua orang sehingga Ningrumkusumah diseberangkan
nanti. Lalu Suryaningrat naik perahu, tetapi oleh Langlaung dibawa ke hilir,
dipukul kepalanya, dan diceburkan ke sungai. Sedangkan Ningrumkusumah
dibawa ke hulu. Ketika Ningrumkusumah menanyakan suaminya, Langlaung
menyebutkan bahwa Suryaningrat sudah meninggal. Ningrumkusumah
meminta Langlaung untuk naik ke atas pohon loa. Langlaung akhirnya tewas
karena pohon loa dipasangi berbagai duri dan dahan yang runcing (12).

Ningrumkusumah berjalan terus hingga tiba di sebuah gua yang didiami
oleh Syeh Rukmin (13). Oleh Syeh Rukmin ia diberi benda pusaka dan
diharuskan mengubah wujud, menyamar menjadi laki-laki yang diberi nama
Rukmantara (14).

Rukmantara melanjutkan perjalanan hingga tiba di negeri Erum. Di
perjalanan ia bertemu dengan prajurit Banurungsit yang sedang mencari
Ningrumkusumah. Rukmantara memanas-manasi, menyebutkan bahwa

- 10 -

Ningrumkusumah sudah menjadi istrinya (15). Prajurit marah dan menyerang
tetapi Rukmantara berhasil mengalahkan mereka hingga hanya tersisa satu
orang. Rukmantara mengenakan pakaian prajurit yang gugur dan melanjutkan
perjalanan. Ia kembali bertemu dengan ular yang membawa kulit kayu
singawalang. Kulit kayu itu dijatuhkan dan diambil oleh Rukmantara (16).

Diceritakan negeri Erum, dipimpin oleh Raja Mangkurat. Raja memiliki
seorang puteri yang sangat cantik yang bernama Ratnawulan. Banyak raja yang
melamarnya tetapi belum ada yang diterima. Suatu saat Ratnawulan terserang
sakit dan tidak ada yang bisa mengobatinya. Maka diadakanlah sayembara
(17). Rukmantara berhasil menyembuhkan Ratnawulan dengan menggunakan
kayu singawalang. Maka ia berhak menikahi putri dan menerima tahta
kerajaan (18). Rukmantara mengatakan bahwa ia sedang bertapa jadi tidak
bisa bergaul bersama Ratnawulan.

Raja-raja yang melamar Ratnawulan marah dan menyerang Erum (19-
20) tetapi Rukmantara berhasil mengalahannya dengan bantuan pusaka
pemberian Syeh Rukmin (21). Karena kalah, Raja Usam minta dibunuh karena
malu tetapi ditolak. Ia dicikrak dan kemudian dipenjara (22). Tiga raja lainnya
datang hendak membantu Raja Usam tetapi dapat dikalahkan dan menyatakan
takluk (23-24).

Dikisahkan Suryaningrat yang hanyut, terkubur lumpur lebih dari
lima bulan. Hanya kepalanya yang terlihat hingga penyu bertelur di kepala
Suryaningrat. Suatu hari ada sepasang naga bergumul di kepalanya. Karena
merasa sakit, Suryaningrat memotong salah satu ekor naga tersebut, yaitu
Nagawarna. Nagawarna melaporkan kejadian itu sehingga Nagagiri,
pasangannya menjadi marah (25). Suryaningrat menyampaikan alasannya,
dan Nagagiri ingin membantu Suryaningrat membawanya menyeberangi
lautan hingga ke negeri Erum (26-27).

Suryaningrat tiba di tempat bekas pertempuran. Ia melihat banyak mayat.
Ia mengambil salah satu pakaian mayat yang harum dan mengenakannya.
Sedangkan mayat lainnya sangat bau busuk. Suryaningrat lalu berjalan ke
kampung dan mengemis makanan tetapi tidak ada yang memberi. Ia disangka
mengambil makanan hingga dipukuli (28).

Ratnawulan mulai mengeluh karena ia tidak pernah digauli Rukmantara.
Rukmantara memintanya bersabar karena akan meminta petunjuk dulu
(29). Rukmantara lalu bertapa, mendapatkan petunjuk untuk mengadakan
sayembara. Rukmantara lalu memerintahkan membuat gambar dirinya dan

- 11 -

gambar itu disimpan di alun-alun. Barang siapa yang menangis melihat gambar
tersebut maka orangnya harus ditangkap. Banyak orang mentertawakan
gambar itu. Tetapi suatu hari Suryaningrat melihat gambar itu dan menangis.
Maka Suryaningrat ditangkap dan dibawa ke keraton (30).

Suryaningrat menceritakan pengalamannya. Rukmantara tidak
memberitahukan siapa dirinya. Ia lalu memerintahkan Ratnawulan untuk
mengurusi Suryaningrat. Walaupun terpaksa, Ratnawulan menurut. Setelah
dimandikan dan pakaiannya diganti, tampaklah ketampanan Suryaningrat.
Suryaningrat kebingungan, apalagi disuruh mengenakan pakaian kerajaan.
Akhirnya Ratnawulan jatuh hati kepada Suryaningrat (31).

Di dalam kamar, Rukmantara menceritakan kepada Ratnawulan bahwa
ia bukan laki-laki. Rukmantara mengajak semua berkumpul. Yang hadir
terkesima melihat ketampanan Suryaningrat (32)

Rukmantara menanyai Suryaningrat di hadapan orang banyak,
bagaimana bila bertemu dengan istrinya (33-34). Rukmantara lalu masuk
kamar dan kembali menjadi Ningrumkusumah. Suryaningrat menyampaikan
kerinduannya. Ningrumkusumah menceritakan keadaan sebenarnya kepada
yang sedang berkumpul. Ningrumkusumah memberikan mahkota kerajaannya
kepada Suryaningrat serta menjodohkannya dengan Ratnawulan (35-36).

Dikisahkan di Nusantara, rajanya bernama Jembawati. Suatu malam
Jembawati bermimpi didatangi Eyang Manduta yang memberinya petunjuk.
Jembawati menuruti petunjuk itu dan menemukan panah di tamannya. Pada
panah tersebut terdapat tulisan pusaka Banurungsih. Jembawati mencobanya
dan tanaman menjadi roboh. Di Banurungsih Ningrumkusumah bermimpi
bahwa panahnya yang hilang ada di Nusantara dan dipegang Jembawati (37).

Mereka lalu berangkat, menyebrangi lautan menuju Nusantara (38-
39). Raja Kanjung diutus untuk menemui Jembawati tetapi tidak berhasil
membawa panah. Suryaningrat memerintahkan bersiap menyerang (40).

Jembawati menggunakan mantra sehingga Raja Kanjung dan pasukannya
terkalahkan. Jembawati lalu menantang pasukan Erum dan menyamar menjadi
laki-laki (41). Mulanya prajurit Erum terkalahkan (42). Suryaningrat lalu
maju berperang dan mengalahkan patih Erum. Suryaningrat lalu berhadapan
dengan Jembawati yang kembali kepada wujud aslisnya (43). Karena
menggunakan mantra pengasih, Suryaningrat malah jatuh hati. Melihat hal
itu Ningrumkusumah menjadi marah (44). Ningrumkusumah lalu berhadapan
dengan Jembawati (45). Karena sama saktinya, maka ketika perang mereka

- 12 -

sering berganti wujud. Lama-lama Ningrumkusumah kalah, dan dilemparkan
dari angkasa. Tetapi ditangkap oleh burung garuda serta diletakkan di pinggir
gua Bandaruta. Tali yang mengikat tangannya lepas sendiri (46). Ternyata
yang ada di dalam gua adalah Syeh Rukmin, yang kemudian memberinya
kaos pusaka yang khasiatnya bisa terbang (47). Ningrumkusumah lalu terbang
mencari Jembawati (48).

Ningrumkusumah tiba di tempat pertempuran dan melihat pasukannya
sedang di dalam penjara dan meratapinya. Ia lalu merusak penjara dan
memerintahkan agar menyerang Nusantara tetapi jangan memberi tahu bahwa
dirinya masih hidup (49). Ningrumkusumah lalu menemui Suryaningrat
dan kembali bertarung dengan Jembawati. Keduanya saling mengeluarkan
kesaktiannya (50).

Ningrumkusumah menyembuhkan orang-orang yang lumpuh
karena mantra, kemudian mengejar Jembawati dan menaklukkan raja-
raja bawahan Nusantara (51). Jembawati menuju kerajaan ayahnya, yaitu
Madintara. Jembawati diperintahkan untuk bersembunyi di taman. Tetapi
Ningrumkusumah berhasil menemukan dan mengalahkannya. Jembawati
akan dinikahkan dengan Suryaningrat tetapi diperintahkan mengalahkan Raja
Duryan dahulu (52). Suryaningrat ingin kembali dulu ke Banurungsih (53).

Karena Raja Duryan tergila-gila kepada Ningrumkusumah maka kerajaan
tidak terurus, dan dengan mudah Jembawati mengalahkannya (54).

Dikisahkan di Erum Ratnawulan melahirkan. Bayinya diurus oleh
Ningrumkusumah dan diberi nama Suryakanta. Semua orang menyukainya (55).

Suryaningrat dengan rombongannya berangkat ke Banurungsih dengan
menggunakan kapal laut (56). Di Banurungsih Patih Sombali sedang
kebingungan dan merencanakan menyerang Erum. Tetapi Suryaningrat
sudah datang. Kemudian terjadi pertempuran dan Suryakanta terluka.
Ningrumkusumah mengobatinya dengan kayu singawalang sehingga kembali
sembuh.

Ningrumkusumah berhasil membunuh Sombali dan menaklukkan
semua musuhnya (57). Semua rakyat Banurungsih menyambut kedatangan
rombongan Suryaningrat. Suryaningrat lalu mengumumkan bahwa Suryakanta
dicalonkan jadi Raja Banurungsih. Tetapi karena masih kecil maka sementara
diwakili Patih Darussalam. Suryaningrat menanyakan kelemahan Raja Duryan
karena tidak bisa dibunuh (58).

- 13 -

Dikisahkan di Durselan. Raja Jenggi masih tergila-gila kepada
Ningrumkusumah. Ia mendapat berita bahwa Suryaningrat dan
Ningrumkusumah sudah kembali, karena itu memerintahkan Patih
Indrabumi untuk menculiknya. Saat itu di Banurungsih sedang diadakan
pesta kemenangan. Patih Indrabumi membaca sirep. Semua tertidur kecuali
Ningrumkusumah. Ningrumkusumah berhasil menyelamatkan Jembawati
yang diculik. Indrabumi dicukur sebelah dan diperintahkan membawa surat
tantangan kepada Raja Jenggi (59).

Raja Jenggi menerima surat tantangan. Tiba-tiba datang Ningrumkusumah
dan Jembawati dan mengalahkan Indrabumi (60). Ningrumkusumah
mengusulkan untuk menjodohkan para raja taklukan dan semua setuju.
Seluruh raja taklukan kembali ke negerinya masing-masing sebagai bawahan
Banurungsih (62). Cerita diakhir dengan uraian berbagai teladan dari
Ningrumkusumah (63).
D. Pedoman dan Metode Alih Aksara dan Terjemahan
1) Pedoman dan Metode Alih Aksara

Untuk kepentingan pedoman alih aksara, dibuat berdasarkan naskah yang
dijadikan penetlian ini. Contohnya diambil dari halaman 147 sebagai berikut.

- 14 -

Naskah Wawacan Ningrumkusumah yang ditransliterasi ini ditulis
menggunakan aksara Pegon, yaitu aksara Arab (Huruf Hijaiyyah) yang sudah
dimodifikasi, disesuaikan dengan ejaan dalam bahasa Sunda. Aksara-aksara
yang digunakan pada naskah tersebut ada yang sama dengan Huruf Hijaiyyah,
ada juga yang berbeda.

Naskah-nakah Wawacan Ningrumkusumah ada yang bersumber dari
naskah Melayu, karena itu aksara yang digunakannya pun memiliki beberapa
kesamaan dengan aksara Arab Melayu, di samping perbedaan karena kekhasan
ejaannya. Oleh karena itu, untuk kepentingan transliterasi naskah digunakan
sistem transliterasi aksara Arab untuk naskah Melayu dan aksara Arab untuk
naskah Sunda. Pedoman transliterasi aksara Pegon sudah dikemukakan dalam
Ruhaliah (2012 hlm. 22-25).

Ada beberapa perbedaan antara naskah Sunda dengan naskah Melayu,
yaitu sebagai berikut.

a) Aksara Arab (Pegon) pada naskah Sunda menggunakan tanda vokal
sedangkan pada naskah Melayu umumnya tidak diberi tanda vokal
(harakat);

- 15 -

b) Konsonan /ny/ pada naskah Melayu menggunakan huruf ‫ ن‬/nun/ yang
diberi tambahan titik sedangkan pada naskah Sunda menggunakan huruf
‫ ﻲ‬/ya/ yang diberi tambahan titik.

c) Pada naskah Melayu dibedakan antara fa ( ‫ ) ف‬dengan pa ( ‫) ف‬,
sedangkan pada naskah Sunda ditulis sama, yaitu (‫) ف‬.
Untuk kepentingan transliterasi aksara yang khas digunakan dalam
ejaan bahasa Sunda, digunakan pedoman sebagai berikut.


Tanda Vokal
a. _᷄_____ sebagai bunyi /a/;
b. ‫ ِ◌ ؚ‬sebagai bunyi /i/;
c. ‫ …… ﻲ‬sebagai bunyi /é/ ;

d. ‫……ﻭ‬.. sebagai bunyi /o/;

e. .....‫ ؙ‬sebagai bunyi /u/

f. .....˜ sebagai bunyi /e/ (pepet) dan /eu/. ,

Untuk tanda vokal mandiri, yaitu a, i, dan u, digunakan aksara alif dan
hamzah (١ ) dan ‫ ﻉ‬, misalnya (aya), (deui eta). Di samping itu, juga
terdapat kekhasan di dalam penulisan suku kata. Suku kata yang terdiri satu
buah vokal kadang ditulis menggunakan aksara ‫ ﻱ‬kadang ‫ﻭ‬. Penggunaan kedua
aksara tersebut tergantung kepada pelafalannya, misalnya ‫( ﺎﻴﻨﺮﻛ‬kurniya), ‫ﺎﻳﺍ‬
((iyeu ‫ ﺱﻮﻳﺮﺟ‬, (cariyos), ‫( ﻱﺭ‬rayi), ‫( ﻦﻴﻳ‬nyiyeun), ‫( ﺎﻴﺳ‬siya), ‫( ﺍﻭﺩ‬duwa),
‫( ﺱﻮﻳﻮﺳ‬sawiyos), dan sebagainya. Kata-kata yang ditulis seperti itu (kurniya,
iyeu, cariyos, rayi, nyieun, siya, duwa, sawiyos), pada edisi teks ditulis kurnia,
ieu, carios, rai, nyieun, sia, dua, sawios.

- 16 -

Tanda Konsonan

Tabel 2
Tanda Konsonan Dalam Naskah-Naskah

Wawacan Ningrumkusumah

No Aksara Contoh pada Naskah Dibaca
Latin Bopati

1b

c Cangkalak

d Darussalam

g Siger
h Musuh

j Dipanjara

k Cangkalak

l Darussalam
m Darussalam

n Dipanjara

- 17 -

No Aksara Contoh pada Naskah Dibaca
Latin

ng Cangkalak

ny Nyangkalakna

p Dipanjara

r Darussalam
s Darussalam, rusuh
t Jurit

y Raray

Dari keseluruhan aksara yang digunakan dalam naskah-naskah WN,
terlihat bahwa tidak semua aksara Pegon termasuk ke dalam huruf Hijaiyyah.
Aksara yang tidak termasuk ke dalam huruf Hijaiyyah yaitu /c/ ( ‫ چ‬,‫)ﭼ‬, /g/

(‫)ﻛ‬, /ng/ ( ‫ﭭ‬,‫ڠ‬, ‫) ﭫ‬, dan /ny/ ( ‫) پ‬. Misalnya pada kata (cangkalak)

nyangkalakna), , ‫ﺎﭙﻧﺩﺩ‬ (di dunnya). Sedangkan huruf Hijaiyyah yang

tidak digunakan dalam penulisan naskah WN yaitu /dz/ (‫ )ظ‬dan /sy/ ( ‫) ش‬.

Huruf wau ( ‫ ) و‬dan ra (‫ ) ر‬di dalam huruf Hijaiyyah tidak boleh
ditulis di tengah kata, namun pada teks naskah WN (dan naskah Sunda
lainnya) wau dan ra ini banyak ditulis di tengah kata, biasanya bila wau

dan ra ini diikuti dengan ha (‫) ه‬, misalnya (rusuh).

- 18 -

Bab Iii
Teknik Penyajian Transliterasi dan Terjemahan

A. Penyajian Transliterasi

Transliterasi naskah Wawacan Ningrumkusumah disajikan ke dalam
huruf Latin dan penulisannya menggunakan pedoman Palanggeran
Ejahan Basa Sunda. Kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis
sebagaimana aslinya, tidak diubah berdasarkan bahasa Sunda yang digunakan
sekarang. Selain itu, dibedakan juga é teleng (misalnya tétéla) dan e pepet
(misalnya seger) agar tidak salah membaca.

Trasliterasi naskah disusun berurutan ke bawah per larik, tidak sejajar
(menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber. Maksudnya adalah
untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. Selain itu, karena
teks Wawacan Ningrumkusumah disusun dalam bentuk pupuh, yang terikat
oleh guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra, maka penulisan ke bawah
memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. Transliterasi ini dilengkapi
tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. Walaupun penerapan
tanda baca ini agak sulit dan sering kurang tepat, tetapi sekurang-kurangnya
mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut. Karena
mengejar guru wilangan dan guru lagu, struktur teks sering dilanggar.

Nama pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi misalnya I
Pupuh Asmarandana. Bait-bait yang berada dalam tiap-tiap pupuh diberi
nomor urut dengan angka Arab. Nomor urut bait bersambung dari awal hingga
akhir teks. Jadi nomor bait pada pupuh berikutnya merupakan lanjutan dari
pupuh sebelumnya.

Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam edisi
teks.

1. Nomor dengan angka Romawi

Nomor ini menunjukkan urutan pupuh.

2. Nomor dengan angka Arab

Nomor dengan angka Arab digunakan dua kali yaitu untuk menunjukkan
nomor bait dan nomor halaman. Nomor halaman ditulis sejajar dengan
tanda // pada teks.

- 19 -

B. Pedoman dan Metode Terjemahan

Berkaitan dengan penerjemahan teks Wawacan Ningrumkusumah,
yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah:

a) Teks Wawacan Ningrumkusumah ditulis menggunakan bahasa Sunda
dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karena bahasa yang
berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda, maka perbedaan ini
harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati.
Pada teks Wawacan Ningrumkusumah terdapat ungkapan (babasan
dan paribasa), wawangsalan, dan paparikan. Apabila artinya sama atau
mendekati, maka ungkapan tersebut diterjemahkan, tetapi apabila tidak
maka maknanya disajikan pada bagian lain.

b) Bahasa yang digunakan dalam Wawacan Ningrumkusumah adalah
bahasa Sunda lama, sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia.
Karena itu kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia
“modern”. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami
teks tersebut;

c) Teks Wawacan Ningrumkusumah ditulis dalam bentuk wawacan, yaitu
puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. Walaupun bentuknya
pupuh, teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati
prosa. Karena itu, penerjemahannya pun dilakukan dengan cara
paraphrase, di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi, dengan
menggunakan tanda khusus, agar mempermudah proses membaca.
Tanda (...) artinya didtambah sedangkan [...] artinya teks dalam kurung
tersebut tidak usah dibaca. Walaupun demikian, tanda kurung digunakan
seminimal mungkin, tidak seperti pada edisi teks awal;

d) Dialog dalam terjemahan diapit dengan tanda kutip (“) sebagaimana
dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam transliterasi tidak digunakan tanda
khusus;

e) Di antara kosa kata yang digunakan dalam Wawacan Ningrumkusumah,
ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus, atau merupakan
ungkapan (babasan, peribahasa), karena itu penerjemahannya hanya
dapat dilakukan berdasarkan konteks larik;

f) Undak-usuk basa (tingkatan berbahasa) seringkali merupakan salah
satu penyebab kerancuan dalam menerjemahkan. Selain itu, di dalam
teks wawacan seringkali tingkatan berbahasa itu dilanggar karena
mengejar guru wilangan dan guru lagu. Untuk teks yang demikian

- 20 -

penerjemahannya dilakukan berdasarkan kesesuaian tingkatan berbahasa
di dalam bahasa Indonesia.
g) Hasil terjemahan diletakkan berdampingan dengan transliterasi agar
memudahkan dalam memeriksanya.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka hasil penerjemahan teks
“Wawacan Ningrumkusumah” tidak selalu sama persis dengan teks bahasa
Sunda, karena larik yang merupakan ungkapan (babasan dan paribasa) dan
pantun (sisindiran) ada yang diterjemahkan dan ada yang langsung dituliskan
maknanya.

- 21 -

- 22 -

Bab Iv
Transliterasi dan Terjemahan
Wawacan Ningrumkusumah

No. No. Edisi Teks Terjemahan
Bait Hal. Bismillahirrohmaanirrohiim

1 //Bismillaahirrohmaanirrohiim

I. ASMARANDANA I. ASMARANDANA

Sim kuring mimiti nulis, Saya mulai menulis,
di wengi éta Ahad, pada malam Ahad,
di waktu pukul dalapan. di waktu jam delapan.
Ari dina tanggalna mah Sedangkan tanggalnya,
duka sabaraha tanggal entah tanggal berapa,
basa nulad bulan Rewah puguh, ketika menyalin bulan Rewah,
ku kuring anu kaétang. yang teringat oleh saya.

Perkawis hijrahna nabi, Mengenai hijrahnya nabi,
ku kuring henteu diétang, oleh saya tidak dihitung,
ngan mugi dima’lum baé, hanya mohon dimaklum saja,
sabab kuring kahilapan, karena terlupakan.
yaktosna mah hanteu terang, Yang pasti tidak tahu,
perkawis hijrahna taun, mengenai tahun hijriah,
tina langkung kajahilan. karena sangat bodoh.

Ari ieu nu ditulis Sedangkan ini yang ditulis,
carios Ningrumkusumah, cerita Ningrumkusumah,
sadayana dicarios semuanya dikisahkan,
beunang nurun na hikayat, hasil menyalin dari hikayat,
éwed pisan nya pikiran bingung sekali pikiran,
carios basa Malayu, cerita bahasa Melayu,
disalin ku basa Sunda. disalin ke dalam bahasa Sunda.

Tuna hina jisim kuring, (Walaupun) bodoh (dan) hina diriku,
nyundakeun ieu carita, menerjemahkan cerita ini ke dalam
lain beunang sim kuring téh, bahasa Sunda, (yang) bukan hasil
pekerjaan saya,
beunang nu ahli bujangga, (melainkan) karya ahli bujangga.
jadi teges mawa Sunda, Jadi pastinya membawa Sunda.
jisim kuring nyusul maksud, Saya melanjutkan keinginan,
digurit dijieun tembang menciptakan menjadi nyanyian.

- 23 -

2 Sugan dipareng Yang Widi. Mudah-mudahan dikabulkan oleh
Yang Maha Kuasa.
Sanés kuring sabab bisa, Bukan dikarenakan (saya) bisa,
awahing niat //nu hayang, (hanya) karena sangat menginginkan,
nurutan anu bujangga, mengikuti (para) bujangga,
bisa mah teu pisan-pisan, (walaupun) sesungguhnya tidak bisa.
tamba ngajentul teu puguh, Daripada diam tak menentu,
taya pisan pakasaban. tidak ada pekerjaan sama sekali.

Ari ieu nu digurit, Sedangkan ini yang dikarang,
purwana ieu carita, awalnya cerita ini,
nagri gedé sarta ramé, (mengisahkan) negara besar serta
ramai,
raja jembar jeung adina, raja besar dengan adiknya.
ari nu jeneng raja, Sedangkan yang menjadi raja,
digjaya kaliwat langkung, sangat gagah sekali,
nyangking salikur nagara. menguasai dua puluh satu negara.

Ngaran nagri Banurungsit, Nama negara (itu) Banurungsit,
ari kakasihna raja, sedangkan nama raja,
Suryanagara ngaraton, Suryanagara rajanya.
ari nu jadi patihna, Sedangkan yang menjadi patih,
jadi rayi Kangjeng Raja, adalah adiknya raja,
maréntah para tumenggung, (yang) memerintah para tumenggung,
Dén Patih Salyanagara. (bernama) Den Patih Salyanagara.

Nu dijieun sénapati, Yang dijadikan senapati,
ku Raja Suryanagara, oleh Raja Suryanagara,
hiji raja langkung kahot, (yaitu) seorang raja (yang) sudah tua,
ngaran hiji raja Duryan, bernama Raja Duryan.
anu salikur nagara, Dua puluh satu negara (bawahan),
ngan raja Duryan nu ngurus, hanya Raja Duryan yang mengurus,
sénapati Kangjeng Raja. (yaitu) senapati raja.

3 Kocap raja Banurungsit, Diceritakan Raja Banurungsit,
kagungan sahiji putra, memiliki seorang anak,
berbudi sartana kasép, berbudi serta tampan.
pameget bujang jengléngan, Pemuda tampan (tersebut),
jenengan Suriyaningrat, namanya Suryaningrat,
umur opat belas taun. berusia empat belas tahun.
Raja kalangkung //asihna. Raja sangat menyayanginya.

- 24 -

Wantu putra ngan sahiji, Apalagi putra(nya) hanya seorang,
éta ibuna geus wapat. (dan) ibunya sudah meninggal.
Kocap deui patihna téh, Dikisahkan patihnya,
kagungan sahiji putra, memiliki seorang anak
istri kalangkung geulisna, perempuan yang sangat cantik,
umur opat belas taun, berusia empat belas tahun,
sami jeung Suriyaningrat. sama (usianya) dengan Suryaningrat.

Istri putra Radén Patih, Putri Raden Patih,
jenengan Ningrumkusumah, bernama Ningrumkusumah,
ngalénghoy jeung ana angkat, gemulai ketika berjalan,
kawas macan nu teu nangan, lemah gemulai,
taktakna timbang taraju, pundaknya seperti timbangan mas,
perwatek hampang salira, wataknya ringan tangan,
salamet bahya negara. menyelamatkan bahaya negara.

Centik galing biwir, Bibirnya bak delima merekah,
perwatekna gancang lampah, pertanda gesit,
pon ka pameget ku saé, juga baik kepada laki-laki,
pinter réa pangartina, pintar banyak ilmunya,
Dén Putri Ningrumkusumah, Den Putri Ningrumkusumah,
keur geulis terus jeung lungguh, sudah cantik ditambah tidak
banyak tingkah,
cacakan putra patih mah. meskipun anak patih.

4 Lenggik ramping ayu kuning, Lenggik ramping ayu kuning,
taya cawadeunana, tidak ada kekurangannya.
sagala anu diaos, Segala dibaca,
teu aya anu kaliwat, tidak ada yang terlewat.
kana basa jeung aksara, Terhadap basa dan aksara,
//paham sakur nu dimaksud, dimengerti semua yang
ku Radén dimaksudkan, oleh Raden
Ningrumkusumah. Ningrumkusumah.

Kacarios Kangjeng Gusti, Diceritakan Raja,
keur linggih di serimaha, sedang duduk di srimanganti,
nu ngadeuheus ngabérés, (Semua) yang menghadap berjajar,
sareng Radén Patih Salya, dengan Raden Patih Salya,
ngaréndéng jeung Raja Duryan, berdampingan dengan Raja Duryan.
kebat sang raja ngadawuh, Lalu raja bersabda,
Éh Patih Salyanagara. “Eh Patih Salyanagara.

- 25 -

Ayeuna Dén Ningrumsari, Sekarang Den Ningrumsari,
urang jodokeun ka Ningrat, kita jodohkan dengan Ningrat,
urang pésta masing ramé, kita pestakan ramai-ramai.
jeung deui niat kaula, Lagi pula niatku,
arék nyérénkeun nagara, akan menyerahkan negara,
ka Radén Ningrat tumurun, diturunkan kepada Raden Ningrat,
badé nyangking karajaan. (yang) akan memimpin kerajaan.

Boh mangsa teu katingali, Karena waktu (kita) tidak tahu,
hirup katungkul ku wapat, hidup diakhiri mati.
ayeuna sing ngeunah nénjo, Sekarang (aku) ingin senang melihat,
ka Ningrat keur jadi raja, ketika Ningrat menjadi raja.
diri kula tangtu hampang, Diriku tentu (merasa) tenang,
mun dikersakeun Yang Agung, jika ditakdirkan Yang Agung,
beurang peuting diri kula. siang malam diriku.

Geus kula ningali, Aku sudah melihat,
mun ngantos diri kaula, bila menanti diriku,
réa omong séjén, banyak perkataan (orang) lain,
tina kula geus mendak, karena aku sudah menemukan,
mun teu dijeneng heula.” kalau tidak dinobatkan dulu.”
Cédok nyembah patih matur. Patih menyembah lalu berkata,
“Leres pisan satimbalan. “Betul sabda Baginda.

5 Kakuping ku dua cepil, Terdengar oleh sepasang telinga,
//katampi ku asta dua, diterima oleh kedua tangan,
beurang peuting seja éstu, siang malam hendak taat,
kana lahiran Gamparan. terhadap ucapan Baginda.
Sadaya ngadangu warta, Semua mendengar berita.
Raja Duryan nyembah matur, Raja Duryan menyembah dan
Sim abdi nya kitu pisan. berkata, “Saya juga begitu.

seja éstu lahir Gusti. Hendak mentaati kehendak Baginda.”
Catur deui Kangjeng Raja, Dikisahkan Kangjeng Raja,
Ayeuna gancangkeun baé, Sekarang dipersingkat saja,
réndéngan ayeuna pisan, pernikahan saat ini juga,
masing kumpul tatabeuhan! “Kumpulkan alat kesenian!”
Cédok nyembah patih mundur, Patih menghaturkan sembah lalu
geus sumping ka kapatihan. mundur, sudah tiba di kepatihan.

- 26 -

Sadaya enggeus tarapti, Semua sudah sedia,
anggo-anggo geus sadia, pakaian sudah siap.
Nyi Emban enggeus ngaranggo. Para emban sudah berdandan.
karéta béndi geus pasang, Kareta, bendi, sudah dipasang,
lawéronték tumbak bonang, lawerontek, tumbak. bonang,
kareta kuda ngaliud, kereta kuda berkumpul,
pajeng agungna sadia. payung agung sudah sedia.

Kacarios Nyi Putri, Dikisahkan Nyi Putri,
keur linggih di kapatihan, sedang duduk di kepatihan,
jeung Suriyaningrat. dengan Suriyaningrat.
Ratna Ningrum seug haturan, Ratna Ningrum lalu berkata,
“Aduh Gusti Radén Ningrat “Aduh Kanda Raden Ningrat,
akang téh enggeus ngadangu, (Apakah) sekarang kanda sudah
perkawis ieu ayeuna. mendengar, [masalah] keadaan
sekarang?”

Dén Ningrat enggal ngalahir, Den Ningrat sudah berkata,
Yayi engkang geus uninga. “Dinda Kanda sudah tahu.”
Énggal baé nyarios, Lalu berkata,
sumping Radén Patih Salya. datang Raden Patih Salya,
Mangga ka pamengkang, “Mari kita ke pamengkang,
disaur ku rama perbu, dipanggil oleh ayahanda,
Radén badé dirapalan. Raden hendak dinikahkan.

6 Jeung kudu anggo sakali. Serta harus berdandan.”

Énggal //dangdan Radén Ningrat, Lalu Raden Ningrat berdandan.

anggo-anggona parantos, Setelah selesai berpakaian,

enggeus anggona tuluy angkat, selesai berdandan lalu berangkat,

sumping ka payuneun raja, tiba di hadapan raja.

ari demang jeung panghulu, Demang dan penghulu,

kantenan ponggawa hémpak. tentu saja ponggawa juga sudah

hadir.

Sadaya enggeus caralik, Semua sudah duduk.
Suryaningrat dilapadan, Suryaningrat (lalu) dinikahkan.
barangna éta parantos, Ketika sudah selesai,
ipekahna uang emas, maskawinnya uang mas,
dibagikeun ka sadaya. dibagikan kepada semua orang.
Cédok nyembah patih mundur, Patih lalu menyembah dan
geus sumping ka kapatihan. mundur, tiba di kepatihan.

- 27 -

Nyai Putri geus tarapti, Nyai Putri sudah siap,
anggo-anggo geus sadia, berpakaian sudah lengkap,
Nyi Emban enggeus ngaranggo, Nyi Emban sudah berpakaian,
Karéta béndi geus pasang, kereta bendi sudah dipasang,
tatabeuhan enggeus warna, alat musik bermacam-macam,
eukeur badé kasinoman. akan menuju kasinoman.

II. Sinom II. Sinom

Jedur mariem disada, Meriam berbunyi nyaring,
der tatabeuhan tararik, alat musik berbunyi keras,
leugeudeut ti kapatihan, Beriringan dari kepatihan,
Nyi Putri geus tunggang béndi, Nyi Putri sudah menunggang bendi,
lawéronték geus ngabaris, lawerontek sudah berbaris,
umbul-umbulna melengkung, umbul-umbul sudah dipasang,
kudana pating haroang, kuda meringkik keras.
kocap Radén Ningrat deui, Dikisahkan Raden Ningrat,
jeung Nyi Putri ngaréndéng dina dengan Nyi Putri bersanding dalam
karéta. kereta.

7 Karéta nu dua belas, Kereta berjumlah dua belas,
pangiringna Nyai Putri, pengiring Nyai Putri,
//anu ngobéng para raja, yang mengelilingi raja,
kasinoman para mantri, kasinoman para mentri.
pada numpak kuda sami, Semuanya menunggang kuda,
helaran di alun-alun, berbaris di alun-alun,
tinggelebur panganggona, pakaiannya berkilauan,
pakasép paginding-ginding, saling bertanding ketampanan,
badawangna tiheula badawangnya di sebelah depan.
kokoloyongan.

Marawa képang daluang, Membawa untaian kertas,
bebegig pating rarigig, orang-orangan berjoget.
geus meunang tilu ideran, (Ketika) sudah tiga kali putaran,
miang ka srimanganti, berbaris menuju srimanganti,
para raja geus caralik, para raja sudah duduk,
nyawérna mah teu dicatur, sawernya tidak diceritakan,
sadaya hémpak ngajajar, semua rapi berjajar,
Ningrum jeung Ningrat na korsi, Ningrum dan Ningrat di kursi,
Kangjeng Raja ngadeg jeung Raja berdiri dan mengambil
nyandak makuta. mahkota.

- 28 -

Éh ayeuna sadayana, “Hai sekarang semuanya,
anu gedé anu leutik, yang besar yang kecil,
ayeuna kula saksian, sekarang saksikanlah.
ieu dék dibikeun nagri, Negri ini akan diserahkan,
saantéro Banurungsit, seluruh Banurungsit,
ka Suriyaningrat turun, diturunkan kepada Suriyaningrat.
jadi raja mangkudenda, Jadi raja yang berkuasa,
Suriyaningrat nagari, Suriyaningrat raja,
reujeung deui Raja Duryan serta Raja Duryan di bawahnya.
paréntaha
Harus menerima diperintah,
8 Kudu tarima kabawah, menjadi senapati negri,
jadi sénapati nagri, upeti setiap negara,
upeti unggal nagara, serahkan Ke Banurungsit.
sanggakeun ka Banurungsit. Serta yang menjadi patih,
Reujeung nu jadi papatih, putra Duryan yang diangkat.
putra Duryan nu dijungjung. Semua menghaturkan sembah,
Cédok nyembah sadayana, menerima perintah raja,
Nampi timbalan Jeng Gusti, “Siang malam akan ditaati”.
beurang //peuting sumeja
ngéstokeun pisan. Lalu mahkota kerajaan diserahkan,
kepada Raden Ningrat raja,
Sok makuta karajaan, meriam dibunyikan,
ka Radén Ningrat nagari, layar dipasang, tambur dan beri
geledug dur mariyemna, semua gamelan berbunyi,
bér layar tambur jeung béri, suaranya menggelegar.
tatabeuhan kabéh muni, Para raja bersukaria,
eundeur sowara ngaguruh, Dikisahkan sudah malam,
para raja suka-suka. pukul tujuh pesta meriah diadakan.
Kacaturkeun enggeus peuting,
pukul tujuh ngadeg pésta ramé Semua bersenang-senang,
pisan. yang menonton lalu lalang,
yang jauh berdatangan
Suka-suka sadayana, berdesak-desakan (untuk) melihat,
anu nongton balawiri, suara anak yang menangis,
anu anggang pada datang, terjepit penonton,
pasedek-sedek ningali, lampu terang benderang,
ngung ngéng budak anu ceurik, istolop bergelantungan,
kadempét nu nongton pinuh, lampu terang sangat benderang.
rapang damar lantérana,
istolop pating garawing,
damar seuneu marakbak nu
leuwih caang.

- 29 -

Urang kocapkeun carita, Dikisahkan cerita,
caturkeun isukna deui, keesokan harinya,
geus bubar sakabéh raja, telah bubar semua raja,
pada mulih masing-masing, pulang ke tempat masing-masing.
Raja Duryan ogé mulih, Raja Duryan juga kembali,
ngan putrana anu kantun, hanya anaknya yang tinggal,
jadi patih di nagara, menjadi patih di negeri,
jenengan patih Sumbali, namanya Patih Sombali.
kacaturkeun Perbu Anom Diceritakan Raja Muda
Suryaningrat. Suryaningrat.

9 Ngaraton di padaleman, Tinggal di keraton,
sareng garwa Ningrumsari, dengan istrinya Ningrumsari.
kira lamina sabulan, Kira-kira (setelah) satu bulan lamanya,
ratu sepuh anggeus nyingkir, Raja Sepuh sudah pergi (bertapa),
di panyingkiran jeung patih, di Panyingkiran dengan patih.
kira bulan dua tilu, (Setelah) kira-kira dua tiga bulan,
di panyingkiran lamina, di panyingkiran lamanya,
pinasti kersa Yang Widi, sudah kehendak Yang Kuasa,
//Ratu Sepuh jeung patih Raja Sepuh dan patih diserang
datang kasawat. penyakit.

Teu damang kénging sabulan, Sakit selama sebulan,
asa pitanggeleun teuing, rasanya sulit sembuh,
dongkap ka pupus ajalna. sampai tiba ajalnya,
Éar sadaya nu nangis, semuanya menangis.
panakawan lumpat gasik, Panakawan cepat lari,
nguninga ka payun ratu. memberitahukan ke hadapan raja.
Panakawan enggeus tepang, Panakawan sudah bertemu
unjukan ka Kangjeng Gusti, melaporkan kepada raja,
Prabu Anom jeung garwana Raja Muda dan istrinya jatuh
kapaéhan. pingsan.

Diréyang ku sadayana, Dipangku oleh semua,
geus lami lajengna éling, setelah lama lalu tersadar,
seug ngaos alhamdulillah, lalu mambaca alhamdulillah,
geus tepi ka ajal tulis, sudah tiba pada ajalnya,
sing sobar tawekal Nyai, “Cobalah sabar tawakkal,
geus pasti kersa Yang Agung, sudah kehendak Yang Kuasa,
jeung rama pada papisah, dengan ayah berpisah,
anggur hayoh geuwat Nyai, sekarang marilah Nyai.”
kocap angkat jeung garwa ka Diceritakan berangkat dengan
panyingkiran. istrinya ke Panyingkiran.

- 30 -

Nu ngiring mantri ponggawa, Yang mengiringi mantri ponggawa,
ka panyingkiran geus sumping, ke Panyingkiran sudah tiba.
gancangna dipulasara, Tidak banyak cerita,
teu loba carios deui, dipercepat supaya singkat,
dibujeng baé nu gasik, almarhum sudah dikuburkan,
parantos mayit geus lulus, tinggal anaknya yang ada.
kantun putra anu tinggal, Prihatin Jeng Putri Ningrum.
prihatin Jeng Ningrum putri, Kangjeng Raja sudah pulang ke
Kangjeng Raja geus mulih ka keraton.
padaleman.

13 Pada nangis jeung garwana, Menangis dengan istrinya,

dasar ratu murangkalih. karena raja masih kanak-kanak.

Sinigeug Suriyaningrat, Tunda Suryaningrat

anu keur pada pirhatin. yang sedang prihatin.

Kocap ratu Duryan nagri, Dikisahkan Raja Duryan

Ratu Sepuh wartos //pupus (ketika) Raja Sepuh meninggal

sarengna téh patih pisan, dengan patihnya.

atoheun kaliwat saking, (Ia) sangat gembira,

ituh dia Raja Salkam ayeuna mah. Raja Salkam sekarang

Ratu Sepuh anggeus tilar, “Raja sepuh sudah meninggal,
jeung patih kasieun kami, dan patihnya yang kutakuti.
ngembang beureum ayeuna mah, jelas sekarang,
ngolécérna ati kami. hatiku pusing seperti baling-baling.
Eukeur mah hayang ti tadi, Keinginan(ku) sejak lama,
ka putri Dén Siti Ningrum, (menginginkan) Den Siti Ningrum,
pinasti ayeuna beunang, sekarang sudah pasti berhasil
raga dapet ka Nyi Putri, mendapatkan badan Nyi Putri,
teu sacéngék pisieuneun ku si Ningrat tidak perlu ditakuti.”
Ningrat.

Raja Salkam seug haturan, Raja Salkam lalu berkata,
kakang yén tétéla sidik, “Kanda ternyata sudah jelas,
Salya jeung Suryanagara, Salya dan Suryanegara.”
Raja Duryan seug ngalahir, Raja Duryan lalu menjawab,
atuh puguh rayi sidik, “Sudah jelas Dinda,
moal béja henteu puguh, bukan berita bohong.”
Raja Salkam teh haturan, Raja Salkam lalu berkata,
kumaha galih Jeng Gusti, “Bagaimana pertimbangan Tuan?
nyieun surat eukeur ka (apabila) membuat surat untuk
Suriyaningrat. Suryaningrat.

- 31 -

11 Supaya beunang garwana, Supaya istrinya diboyong,
anu santen Ningrum Sari, yang hitam manis Ningrum Sari,
kadeuleu baé imutna, senyumnya terbayang-bayang,
eukeur basa dina béndi, ketika di atas kereta.
kilangbara teuing diri, Apalagi diri(ku),
jeung Suriyaningrat musuh, dengan Suryaningrat bermusuhan.”
Raja //Duryan seug ngandika, Raja Duryan lalu berkata,
sapirana budak leutik, “(dia) hanyalah anak kecil,
ayeuna mah nyieun surat sekarang (akan) membuat surat
kaeréhan taklukan.

Supaya taluk ka urang, Supaya takluk kepada kita,
coba baé geura nulis, cobalah cepat menulis.”
Raja Salkam enggeus nyerat, Raja Salkam sudah menulis,
panjang saeusining tulis, panjang isinya
ari anggeus sok ka Gusti, Setelah selesai diberikan kepada raja,
ditingal cocog kalangkung, dilihat cocok sekali.
Raja Duryan seug nimbalan, Raja Duryan lalu memerintahkan,
miwarang ka hiji mantri, menyuruh seorang mentri.
mantri nyembah geus iang Mentri menyembah sudah ada di
payuneun raja. hadapan raja.

Hanteu kocap di jalanna, Tidak diceritakan di jalannya,
utusan raja geus sumping, utusan raja sudah tiba
ka Banurungsit nagara, di Banurungsit
geus kasondong kangjeng Gusti, Sudah tiba di hadapan raja,
keur linggih di srimanganti, (yang) sedang duduk di srimanganti.
mantri nyembah payun ratu, Mentri menyembah ke hadapan raja,
Prabu Anom seug mariksa, Raja Muda memeriksa,
utusan ti mana mantri, “Utusan dari mana, Mentri?”
cedok nyembah abdi utusan ti Lalu menyembah, “Hamba utusan
Duryan. dari Duryan.

Sumeja nyanggakeun serat, Hendak menyampaikan surat.”
énggal dipundut ku Gusti, (Surat) lalu diambil oleh raja,
Sang Raja lajeng nimbalan, Raja lalu memerintahkan,
Coba waca Radén Patih. “Bacalah Raden Patih!”
Gancang si Patih Sombali, Dengan cepat Patih Sombali
ngaos serat payun ratu, membaca surat di hadapan raja.
dina salebeting serat, Di dalam surat (tertulis)
Kang Putra di Banurungsit, “Putraku di Banurungsit,
réhna ieu nyanggakeun pandu (Saya) sampaikan surat ini kepada
ka raja. raja.

- 32 -

Ayeuna kersa Kang Putra, Sekarang kehendak(ku), ananda
ka Raja Duryan nya ngabdi, mengabdi kepada Raja Duryan,
maréntah kabawah raja, menjadi raja bawahan,
jeung kudu bijil upeti, dan harus mengirimkan upeti,
saban-saban taun misti, harus setiap tahun
jeung amdeling ulah kantun, dan wilayah tidak ketinggalan,
nu dua puluh nagara, yang dua puluh negara,
éta mah geus sidik abdi, harus mengabdi.
mun teu ngabdi nu manis ménta Kalau tidak mengabdi yang manis
walonan. minta dijawab.”

III. DANGDANGGULA III. DANGDANGGULA

12 Ngan sakitu salebeting tulis, Begitulah isi surat.
geus kadangu ku Suryaningrat. Sudah terdengar oleh Suryaningrat.
Ngahuleng Perebu //Anom, Raja Muda termenung,
nyaur salebeting kalbu. berbicara di dalam hati,
Na bet Paman Duryan malik, “Mengapa Duryan berubah,
semu teu daék saé manah, sepertinya tidak bermaksud baik.
ieu éling pitutur, Lalu (ia) tersadar,
muji Alhamdulillah, Memuji (mengucapkan)
“Alhamdulillah,
moal saé mun dilawan ngadu tidak baik kalau dilawan keras
pelit, sapiraan diri nunggal. karena diri(ku) seorang diri.

Sakieu gé geus bagjaning diri, Begini juga sudah bahagia
jadi raja balikan sang paman, menjadi raja,
sebaliknya Paman (tidak).
mun kitu ka anu anom, Kalau begitu kepada yang muda,
anggeus mangsabodo sepuh, sudah terserah orang tua,
ngadoja téh kana diri, menguji kepada diri(ku),
ku rama dipercaya, Dipercaya oleh ayahanda,
ka rama kapungkur, oleh ayah dahulu,
ayeuna ku musawarah, Sekarang dengan musyawarah,
ka nu anom bisi baé lamun teh oleh yang muda, dikuatirkan kalau
mikir, dipikirkan,
yén bodo diri sorangan. bodoh diri sendiri.”

- 33 -

Geuwat nyerat ayeuna Dén Patih, “Cepat tulis sekarang Raden Patih,

Paman Duryan ayeuna walonan, Paman Duryan sekarang jawab,

masrahkeun diri kula téh, saya menyerahkan diri,

tandakeun ayeuna taluk, menandakan sekarang takluk.”

énggal nyerat Dén Sombali, Lalu Den Sombali menulis,

ku gancangna éta nyerat, menulis dengan cepat,

dicap geus tutup, (lalu) dicap sudah selesai.

Radén Sumbali haturan, Raden Sumbali lalu berkata,

saha baé nu dipiwarang ku Gusti, “Siapa yang akan disuruh oleh

Raja Ningrat seug ngandika. Gusti?” Raja Ningrat lalu berkata,

13 Patih baé angkat ka nagri, “Patih yang berangkat ke negri,

sabab urang nyieun tata hormat, karena kita menghormati

nyebut tandakeun taluk téh, menandakan takluk

basana yén abdi nurut, artinya saya menurut.

reujeung ulah tunggang béndi, Serta jangan naik kereta,

kudu nitih kuda bodas, harus naik kuda putih

jeung réncang ti pungkur, dan pelayan di belakang

acungkeun //bandéra bodas mengacungkan bendera putih.”

hatur mangga Radén Patih lajeng Raden Patih mengangguk lalu

indit berangkat.

geus sumping ka kapatihan. Sudah tiba di kepatihan.

Seug nimbalan panakawan indit, Lalu memerintahkan panakawan
dangdan kuda panakawan (untuk) berangkat.
gancang, “Cepat panakawan siapkan kuda!”
dangdan kudana parantos, Kuda sudah disiapkan,
ti istal enggeus ditungtun, dari istal sudah dituntun,
jeung nganggo bandéra putih. serta mengibarkan bendera putih.
Radén Patih geus sadia, Raden Patih sudah sedia,
ka latar geus lungsur, sudah turun ke halaman,
énggal baé nitih kuda, lalu menunggang kuda.
panakawan seug nganggo Panakawan lalu mengibarkan
bandera putih, bendera putih,
semprung angkat ti nagara. berangkat dari keraton.

- 34 -

Henteu kocap di jalanna patih, Tidak dikisahkan di jalan,
kacaturkeun geus sumping ka diceritakan sudah tiba di Duryan.
Duryan
ramana enggeus kasondong, “Ayahnya” sudah nampak.
kagét Raja Duryan ratu, Raja Duryan terkejut (lalu berkata),
aduh bagéa anak aing, “Selamat datang anakku,
coba éta bawa surat, coba bawalah surat itu,
tandana yén takluk, tandanya takluk.”
Sumbali nyanggakeun surat, Sombali menyerahkan surat,
cédok nyembah Radén Patih lalu menyembah. Raden Patih lalu
lajeng indit, berangkat,
seratna enggeus kacandak. suratnya sudah diberikan.

Seug dibaca ku Salkam dipati, Lalu dibaca oleh Raja Salkam.
lebet serat sayogya kang rama, Di dalam surat (tertulis), “Selamat
Ayahanda,
baktos salam mugi baé, (Saya) haturkan salam,
sukma raga ka nu agung, jiwa raga kepada Yang Agung,
kembang soca jayagiri, panutan di Jayagiri
nu lenggah di nagri Duryan, yang tinggal di negri Duryan.
abdi sujud takluk, Hamba sujud takluk,
lillah diri palamarta, iklas jiwa raga,
dampal dua kaki kersa Gusti, di bawah duli kaki Baginda.
abdi yaktos kahilapan. Saya mengakui kekhilafan.

14 Da ngan rama pamuntangan sim Hanya ayahanda yang menjadi

kuring, panutan hamba.

saé awon timbalan kang //rama Baik buruk titah ayahanda

welas asih mikasaé, (yang) menyayangi mengasihi,

anu murukan pitutur, yang memberi nasihat.

taya larangan sim kuring, Tidak ada salahnya,

gegentos rama nagara, pengganti ayahanda raja,

paman Duryan ratu, (adalah) Paman Duryan ratu.

beurang peuting diri kula, Siang malam hamba,

ngantos-ngantos diri paman ka hamba menanti Paman,

sim kuring

di Banurungsit nagara. di negara Banurungsit.”

- 35 -

Ngan sakitu lebeting tulis, Hanya itu yang tertulis.
Raja Duryan gumujeng Raja Duryan tertawa,
ngagikgik,
Suryaningrat héngkér, “Suryaningrat lemah,
kabéh geus nyanggakeun taluk, semua menyatakan takluk,
sukur bagja untung diri, diriku sangat beruntung.
ayeuna mah urang pénta, Sekarang akan diminta,
garwana Nyi Ningrum, istrinya, Nyi Ningrum,
anu santen denok lenjang, yang hitam manis dan langsing,
aduh modél mustika di Aduh, permata di Banurungsit,
Banurungsit,
hiap Yayi ka engkang Duryan. mari Yayi kepada Kanda Duryan.

Hé Sombali manéh ulah balik, Hai Sombali kamu jangan pulang,
sabab aing arék ngamusuhan, sebab aku akan memusuhi,
rék direbut garwana téh, akan merebut istrinya,
hayang ngaraton di ditu, ingin bertahta di sana,
ayeuna seratan deui. sekarang surati lagi!”
Raja Salkam énggal nyerat, Raja Salkam cepat menulis.
sakedap geus putus, sebentar sudah selesai.
hulubalang mawa serat, Hulubalang membawa surat.
masing gasik ka nagari cepatlan he Banurungsit,
Banurungsit,
sanggakeun ka Raja Ningrat. Sampaikan kepada Raja Ningrat!

15 Cédok nyembah hulubalang indit, Hulubalang menyembah lalu pergi,

tumpak kuda ditegerkeun menunggang kuda cepat-cepat.

gancang,

buru gancangna carios, Singkat cerita,

ka Banurungsit geus jebul, sudah tiba di Banurungsit.

kebat ka srimanganti, Lalu menuju srimanganti,

geus kasondong raja, raja sudah nampak,

hulubalang diuk, hulubalang duduk.

Prabu Anom seug mariksa, Prabu Anom lalu memeriksa,

nu ti mana utusan //semu gasik “Utusan dari mana seperti dikejar

waktu?”

hulubalang cédok nyembah. Hulubalang lalu menyembah.

- 36 -

Nun sumuhun ti Duryan sim “Hamba dari Duryan
kuring,
dipiwarang ku rama Gamparan. diutus oleh ayahanda paduka.
Utusan raja ngaraton, Utusan raja yang bertahta,
nyanggakeun serat piunjuk, menyampaikan surat permintaan.”
énggal dipundut ku Gusti, Lalu surat diminta raja,
sartana raja mariksa, serta raja memeriksa,
ka éta piutus, kepada utusan.
mana Ki Patih Sombali, “Mana Patih Sombali?”
hulubalang cédok nyembah seug Hulubalang lalu menyembah serta
ngalahir, berkata,
kasuhun diandeg jengkar. “Diperintahkan jangan dulu pergi.”

Gancang serat diaos ku Gusti, Surat lalu dibaca oleh raja.
kocap dina lebeting serat, Surat berbunyi:
dumateng Suriya katong, “Setibanya (kepada) Raja Surya,
ieu serat kula ratu, surat aku ini,
ayeuna perkara abdi, mengenai pengabdian,
ku kula enggeus katampa, sudah aku terima.
nanging kula aya maksud, Tapi aku bermaksud,
sampéan suka teu suka, kamu suka atau tidak,
ayeuna teh sing pasrah mun sekarang harus pasrah apabila
ngalawan abdi, mengabdi,
garwa sampéan dipénta. istrimu kuminta.

Anu ngaran Ratnaningrum putri, Yang bernama Ratnaningrum Putri,

gancang pisan saupama nahan, harus cepat (diberikan), seandainya

menolak,

teu mikeun Ratnaningrum téh, tidak memberikan Ratnaningrum,

sampéan bakal dirurug, kerajaanmu bakal diserang,

diboyong di Banurungsit, ditaklukkan di Banurungsit.

lamun harayang waluya, Jika ingin selamat,

tumuluy ngaratu, terus menjadi ratu,

ka dieukeun Ningrum téa, Berikan Ningrum,

ku kula teh ayeuna arek dikawin, akan kunikahi.

lamun henteu mikeun sia. Bila kamu tidak memberikan,

- 37 -

16 Misti tugel mastaka dipeuncit, Kepalamu akan dipenggal,

siksik walang mastaka dijara, dipancung serta dipotong kecil-kecil,

ku kula paké parépéh. akan dijadikan tumbal.

Mun sampéan //mikeun Ningrum, Bila kamu memberikan Ningrum,

salamet bagjaning diri, kamu akan selamat,

sarta tumuluy ngaraja, serta tetap menjadi raja,

Ningrat masing purun, Ningrat harus mau.

coba pilih mending mana, Coba pilih yang mana,

Suryaningrat nyokot hurip nyokot Suryaningrat memilih hidup memilih

pati, mati?

coba seug geura walonan. Coba cepat jawab!”

Ngan sakitu salebeting tulis. Hanya itu isi surat,

Perbu Anom Radén Suryaningrat, Prabu Anom Raden Suryaningrat,

mindel salebeting raos, termenung di dalam hati,

sareng garwana Dén Ningrum, bersama istrinya Den Ningrum,

muringkak ku keueung teuing, merasa takut.

na bet kitu Paman Duryan, “Mengapa Paman Duryan begitu,

jadi goréng kalbu, buruk hatinya,

ngabokong lampah nu nista. curang tidak baik.”

Suryaningrat ngalahir jeung Suryaningrat berkata sambil

semu nangis, menangis.

Nyai kumaha petana. “Nyai apa yang harus kita lakukan?

Ana kitu Paman Duryan dengki, Kalau begitu Paman Duryan dengki,
diri Kakang geus tinangtu tiwas, diri Kanda tentu celaka,
sabab Akang jeung Nyai téh, sebab Kanda dengan Nyai,
geus takdir kersa Yang Widi, sudah ditakdirkan Yang Kuasa,
kapiduriat jeung Nyai, berjodoh dengan Nyai,
lalaki mah geus jamakna, laki-laki sudah sewajarnya,
ngan paéh jeung hirup, hanya mati dan hidup.
tiap-tiap jadi raja, Selama menjadi raja,
nya gawéna diri can manggih belum menemukan keprihatinan.
prihatin,
ngan duka manah Rai mah. Entah diri Nyai.”

- 38 -

17 Ratnaningrum ngalahir jeung Ratnaningrum berkata sambil
nangis, menangis,
mung Engkang panutan abdi mah, “Hanya kanda pujaan hamba,
éta pikir abdi ogé, itulah yang terpikirkan.
abdi ulah hayang kantun, Hamba tidak ingin ditinggalkan,
raga sukma nu sajati, jiwa raga yang sejati,
mun meunang nawar téa mah, jika boleh menawar,
pupus ogé réla milu, mati juga rela ikut,
Engkang perang //abdi perang Kanda perang saya ikut perang,
kilangbara tina kaparengan kuring, apapun nasibku,
duriat nu dibélaan. jodoh yang dibela.”

Énggal nyerat Prabu Anom negri, Lalu Prabu Anom menulis,

eukeur badé ngawalonan ka hendak menjawab (surat) Raja

Duryan, Duryan,

sakedap éta parantos, sejenak telah selesai.

hulubalang seug disaur, Hulubalang lalu dipanggil,

geus dongkap ka payun, sudah tiba di hadapan (raja).

cédok nyembah nampi serat. (Hulubalang) menyembah (dan)

menerima surat.

Hulubalang ti payun enggeus Hulubalang sudah berangkat dari

jung indit, hadapan (raja).

sinigeug nu mawa serat. Tunda yang membawa surat.

Kocap deui Ratnaningrum putri, Dikisahkan putri Ratnaningrum,
sareng raka Prabu Anom dengan suaminya Prabu Anom
Ningrat, Ningrat,
eukeur nimbang-nimbang raos, sedang mempertimbangkan,
aya rék maju rék mundur, pikirannya bimbang.
énggal baé nyaur mantri, Lalu (raja) memanggil mentri,
sarengna para ponggawa, serta para ponggawa.
kocap geus karumpul, Dikisahkan sudah berkumpul,
di payuneun Kangjeng Raja, di hadapan Kangjeng Raja,
sadayana demang araya Semua demang datang berbaris,
ngabaris, menunggu perintah raja.

nganti-nganti dawuh raja.

- 39 -

IV. KINANTI IV. KINANTI

Prabu Anom seug ngadawuh, Prabu Anom lalu bersabda,
sadaya ponggawa mantri, “Semua ponggawa mentri,
mandalagiri jeung demang, mandalagiri dan demang.
ayeuna datang balahi, Sekarang datang bencana,
kaula rék diperangan, kita akan diperangi,
ku Paman Duryan nu dengki. oleh paman Duryan (yang) dengki.

Ayeuna kabéh serdadu, Sekarang semua serdadu,
saaya-aya di nagri, di negri seadanya,
jeung kudu pada sadia, serta harus bersiap,
saparabot perang jurit, perlengkapan perang.”
mandalagiri haturan, Mandalagiri bertanya
naon perkawisna Gusti. “Apa masalahnya Paduka?”

18 Radén Suryaningrat //nyaur Raden Suryaningrat berkata,
ka sadaya para mentri, kepada semua para mentri,
diwartoskeun perkawisna, dikemukakan masalahnya,
asal jadi musuh jurit, asal mula (terjadinya) permusuhan.
kadangu ku sadayana, Terdengar oleh semuanya.
ngahuleng ponggawa mantri. termenung ponggawa mentri.

Na bet paman Duryan kitu, “Mengapa Duryan begitu,
asa pitanggeleun teuing, tidak disangka,
ngabokong teu kira-kira, curang tidak kepalang.
parandéné kitu deui, Meskipun begitu,
kapalang nempuh nagara, sudah tanggung bersiap,
reujeung abdi-abdi Gusti. Paduka bersama semua.”

Cédok nyembah sami mundur, (Ponggawa) menyembah lalu mundur,
ngumpulkeun kabéh perjurit, mengumpulkan semua prajurit,
nakol bendé geus ngungkulan, memukul bende lebih (keras),
bedug locéngna geus nitir, bedug loceng sudah berbunyi,
guyur jalma sadayana, semua orang ramai,
tina geus uninga deui. sebab semua sudah tahu.

- 40 -

Nu deukeut reujeung nu jauh, Yang dekat dan yang jauh,
jebul ka nagara sumping, tiba di negara,
sadaya kaperjuritan, semua prajurit,
pakotrék perjurit baris, berbaris rapi.
tumbak bedilna sadia, Tumbak (dan) bedil tersedia,
sakur jago di nagri. semua laki-laki (yang ada) di negara.

Sinigeug heula serdadu, Tunda serdadu
nu aya di Banurungsit, yang ada di Banurungsit.
kocap di nagri Duriyan, Dikisahkan di negri Duryan
kumpulan kabéh bupati, berkumpul semua bupati,
sakur anu kaparéntah, semua yang diperintah
tadina ku Banurungsit. tadinya oleh Banurungsit.

19 Ayeuna ka Duryan taluk, Sekarang takluk ke Duryan,
nu jago sapuluh nagri, sepuluh negri yang gagah,
sadaya nyarandak balad, semua membawa tentara.
jeung parabot perang jurit, dengan perlengkapan perang.
kocap anu keur maséban, Dikisahkan yang sedang berkumpul
di paseban,
gegedugna Duryan //nagri pemimpin nergi Duryan.

Kocap hulubalang jebul, Dikisahkan hulubalang tiba
walon serat Banurungsit, (membawa) surat jawaban
Banurungsit.
tuluy marek hulubalang, Lalu hulubalang mendekat
ku Duryan geus katingali, sudah terlihat oleh (raja) Duryan.
hulubalang nyanggakeun serat Hulubalang menyerahkan surat,
ku Raja Salkam dicangking. oleh Raja Salkam sudah dipegang.

Raja Duryan seug ngadawuh, Raja Duryan lalu berkata,
coba serat baca deui, “Coba baca surat!”
Raja Salkam maca serat, Raja Salkam membaca surat.
dina salebeting tulis, Dalam tulisannya
ieu serat Suryaningrat, “Ini surat Suryaningrat
Ratu Anom Banurungsit. Raja Muda Banurungsit.

- 41 -


Click to View FlipBook Version