The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Pra-POP PT Hasnur Riung Sinergi Site AGM

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Riski Ayu Rosami, 2023-07-13 16:40:34

MODUL PRA-POP

Modul Pra-POP PT Hasnur Riung Sinergi Site AGM

Langkah-Langkah Penyusunan Job Safety Analysis HRS-FRM-IMS-015_Job Safety Analysis


1. Inventarisasi Tugas yang belum ada JSA nya 2. Identifikasi Tugas - tugas yang Kritis. 3. Mengurai Tugas menjadi langkah atau aktifitas. 4. Menganalisa dengan tepat potensi kerugian dan bahaya. 5. Menyusun pengendalian dan prosedur. 6. Penggunaan pada pekerjaan. Pembuat JSA : Pengawas Pekerjaan dengan meminta masukan dari Pekerja LANGKAH DASAR PEMBUATAN JSA


4 Faktor untuk menentukan suatu tugas kritis atau tidak : • Faktor Tingkat Keparahan / Severity • Faktor Tingkat Kekerapan / Frekuensi • Faktor Peluang / Probability • Faktor tugas baru Faktor Tugas Baru Suatu tugas yang baru, harus dianggap sebagai tugas kritis dan akan menjadi target dari analisa dengan atau tanpa sejarah kerugian yang ditimbulkan. Tugas yang baru dilakukan akan diperlakukan sebagai suatu tugas kritis sampai terjamin aman dalam mengerjakannya dengan suatu cara tertentu yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu standard. IDENTIFIKASI TUGAS KRITIS


Setiap tugas dapat diurai menjadi urutan langkah – langkah yang harus dilakukan, suatu perintah yang khusus dari langkah adalah cara yang terbaik untuk melakukan tugas dengan effektif, dan pada akhirnya akan menjadi prosedur kerja. Contoh uraian tugas : Dumping OB di Disposal dengan HD 785 • HD 785 memasuki Lokasi Disposal. • HD 785 Mendekati Dumping Point • Melakukan Manuver di Disposal. • HD 785 Bergerak Mundur. • Melakukan Dumping OB • Menurunkan Vessel • HD 785 bergerak maju untuk keluar disposal Uraian tahapan pekerjaan harus dibuat menurut normal pelaksanaan pekerjaan tersebut. MENGURAI TUGAS JADI LANGKAH


ISI lah dengan langkah tugas dari suatu pekerjaan minimal 7 langkah tugas dan maxsimal 15 langkah tugas MENGURAI TUGAS JADI LANGKAH


4M 1L Adalah melakukan identifikasi dan analisa untuk menentukan keterpaparan dari kerugian yang ada pada setiap langkah tersebut pada saat melakukan tugas. Faktor untuk identifikasi potensi kerugian meliputi : • Faktor Manusia • Faktor Mesin / peralatan • Faktor Material • Metode • Faktor Lingkungan/Environment Setiap langkah harus dianalisa untuk menentukan apa saja kerugian yang mungkin timbul mencakup aspek keselamatan, kualitas dan produksi. MENGANALISA POTENSI KERUGIAN


Faktor Manusia : ❖ Apakah dapat menyebabkan cidera, penyakit,dll. ❖ Apakah pekerja dapat terjepit, terjatuh, terbentur ❖ Apakah tindakannya dapat menurunkan tingkat keselamatan, produksi atau kualitas. Faktor Mesin/Peralatan : ❖ Apa bahaya yang ditimbulkan oleh peralatan. ❖ Apa saja kondisi Kedaruratan dari peralatan tsb. ❖ Apakah peralatan dapat menyebabkan kerugian terhadap Keselamatan, Produksi atau kualitas. Faktor Material : ❖ Apa bahaya dari bahan kimia yang terpapar. ❖ Apa masalah yang spesifik dari penanganan Material. ❖ Bagaimana kemungkinan material dapat menyebabkan kerugian terhadap Keselamatan, produksi dan kualitas kerja. Faktor Lingkungan : ❖ Masalah Tata Griya/Housekeeping. ❖ Masalah kebisingan, temperatur, getaran, ventilasi, penerangan, radiasi. ❖ Kerugian terhadap Keselamatan, Produksi dan Kualitas Kerja. MENGANALISA POTENSI KERUGIAN Faktor Metode : ❖ Apa bahaya yang ditimbulkan oleh Metode yg digunakan ❖ Apa kekurangan dari metode yang digunakan. ❖Apakah terdapat metode yang lebih aman.


Dalam langkah mengidentifikasi bahaya perlu diperhatikan: • Pengalaman dari pembuat • Level training dari pembuat (Kompetensi) ISI lah kemungkinan BAHAYA terbesar yang akan timbul (sesuai dengan urutan 4M + 1L) IDENTIFIKASI BAHAYA


Pengendalian Adalah tindakan dan pencegahan yang akan mencegah terjadinya potensi kerugian dan akan memastikan bahwa pekerjaan dilakukan dengan aman dan effisien. Rekomendasi Pengendalian akan dibuat sebagai : • Prosedur Kerja 1. Harus Singkat, Jelas, benar dan lengkap 2. Dimulai dengan pernyataan perlu dan gunanya tugas ini 3. Menghadirkan langkah demi langkah uraian & prosesnya 4. Mengungkapkan langkah yang positip. 5. Dibuat dalam format yang sederhana. • Instruksi Kerja MENYUSUN PENGENDALIAN


Isi dengan pengendalian bahaya yang sesuai dengan urutan hierarki pengendalian dan terukur


Setelah menetapkan pengendalian, maka: Implementasi kontrol yang telah ditetapkan JSA harus diikuti oleh seluruh pekerja Pastikan dokumen JSA telah diketahui dan dimengerti oleh seluruh pekerja Pastikan dokumen JSA disimpan dengan baik sebagai evidence Pekerja dapat mengajukan keberatan jika JSA tidak sesuai/ relevan lagi Secara reguler JSA harus ditinjau kembali Meninjau kembali JSA yg telah jadi adalah penting untuk mengetahui apakah JSA masih memadai untuk waktu sekarang ataukah tidak, karena jika ada perubahan terhadap metode, peralatan dan lingkungan kerja maka JSA yg telah dibuat kemungkinan besar perlu dirubah atau diperbaharui IMPLEMENTASI PENGENDALIAN


1. 2. Pekerja terkait dilatihkan JSA yang sudah disetujui Lakukan pengamatan terencana pelaksanaan JSA 3. Bahas di P5M sebelum mengerjakan tugas tersebut 4. 5. Jika terjadi kecelakaan/perubahan kerja = Tinjau ulang JSA Usahakan form dan isian JSA mudah didapat PENGGUNAAN JSA PADA PEKERJAAN


DENGAN: Pengamatan Langsung dan Diskusi Kelompok Kerja PENGKAJIAN DAN PERSETUJUAN Group Leader bertanggung jawab pada pembuatan JSA Setelah JSA telah diselesaikan maka Group Leader melakukan korrdinasi dengan pihak Section Head untuk dilakukan review atau pengkajian sebelum mendapat persetujuan akhir Departement Head akan melakukan review akhir sebelum di Approved/disetujui Ingat...!! TIDAK ADA PEKERJAAN YANG DILAKUKAN SEBELUM JSA DI APPROVAL.. CARA PENYUSUNAN JSA


1. 2. Dilakukan dengan proses Job Safety Observation (JSO); Setiap hasil JSO yang dilaksanakan dapat dipakai sebagai dasar penilaian apakah prosedur yang ditetapkan sudah memadai atau tidak; Kapan JSA kemudian di Review/Ditinjau Ulang: 1. Terjadi perubahan proses/prosedur tugas; 2. Terjadi kecelakaan yang terjadi pada atau terkait pekerjaan tersebut; 3. Hasil JSO menunjukkan bahwa prosedur yang ditetakan tidak memadai/tidak efektif untuk dilakukan. 1. 2. 3. 4. 5. Deskripsi tugas terlalu detail & dikerjaan sendiri; Terlalu umum; Mencatat “bagaimana” bukan “apa” yang dilakukan (Mencatat kegiatan atasi bahaya) Mengunakan kata “hati-hati” Tidak di approval serta sosialisasi ke karyawan Beberapa kebiasaan penyimpangan saat membuat JSA: Tinjauan Kecukupan & Review JSA


SANGGAHAN (DISCLAIMER) Dokumen ini merupakan dokumen Perusahaan yang bersifat rahasia dan diperuntukkan serta dipergunakan hanya untuk kepentingan HASNUR RIUNG SINERGI. Dokumen ini tidak untuk didistribusikan ke luar HASNUR RIUNG SINERGI baik keseluruhan dokumen maupun sebagian dokumen tanpa persetujuan dari pihak HASNUR RIUNG SINERGI yang berwenang. Segala bentuk pelanggaran dan penyalahgunaan dokumen ini akan ditindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. TERIMA KASIH 34


PT Hasnur Riung Sinergi Modul Diklat POP “Investigasi Kecelakaan”


PROFILE INSTRUKTUR Foto profile Nama : Profile kompetensi pengajar Ex: training


DAFTAR ISI Istilah dan Definisi Investigasi Kecelakaan Dasar Hukum Tujuan investigasi Kecelakaan Kecelakaan Tambang Tahapan Investigasi kecelakaan Metode Investigasi Analisis Kecelakaan Metode I-CAM 1 2 3 4 5 6 7 8


Dasar Hukum Perlindungan Lingkungan Dasar Hukum Keselamatan Pertambangan Pertemuan Keselamatan Pertambangan Terencana Tugas & Tanggung Jawab Pengawas Operasional Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko Investigasi Kecelakaan Analisa Keselamatan Pekerjaan Inspeksi dan Observasi K3 1 2 3 4 5 6 7 8


Dasar Hukum Perlindungan Lingkungan Dasar Hukum Keselamatan Pertambangan Pertemuan Keselamatan Pertambangan Terencana Tugas & Tanggung Jawab Pengawas Operasional Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko Investigasi Kecelakaan Analisa Keselamatan Pekerjaan Inspeksi dan Observasi K3 1 2 3 4 5 6 7 8


INVESTIGASI KECELAKAAN


NO KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI SK 1 PMB.PO02.001.01 Melaksanakan Peraturan Perundang-undangan terkait Keselamatan Pertambangan POP 2 PMB.PO02.002.01 Melaksanakan Tugas dan Tanggung Jawab Keselamatan Pertambangan pada area yang menjadi Tanggung Jawabnya POP 3 PMB.PO02.003.01 Melaksanakan pertemuan Keselamatan Pertambangan Terencana POP 4 PMB.PO02.004.01 Melaksanakan Investigasi Kecelakaan POP 5 PMB.PO02.005.01 Melaksanakan Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko POP 6 PMB.PO02.006.01 Melaksanakan Peraturan Perundang-undangan terkait Perlindungan Lingkungan POP 7 PMB.PO02.007.01 Melaksanakan Inspeksi POP 8 PMB.PO02.008.01 Melaksanakan Analisis Keselamatan Kerja POP SKKK – Unit Kompetensi POP Peraturan & Perundangan MINERBA


NO KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI SK 4 PMB.PO02.004.01 Melaksanakan Investigasi Kecelakaan POP SKKK – Unit Kompetensi POP 1. Mempersiapkan investigasi kecelakaan 2. Melakukan pemeriksaan lokasi kecelakaan 3. Melakukan wawancara terhadap saksi 4. Mengumpulkan data peralatan dan/atau pendukung lainnya 5. Menganalisa data kecelakaan 6. Menyimpulkan status kecelakaan tambag 7. Menyimpulkan penyebab kecelakaan 8. Membuat rekomendasi tindakan perbaikan 9. Membuat laporan investigasi kecelakaan tambang KU : PMB.PO02.004.01 ELEMEN KOMPETENSI : Peraturan & Perundangan MINERBA


1 PENDAHULUAN Dasar Hukum & Terminologi KECELAKAAN Kriteria Kecelakaan Tambang: Kategori Cedera Akibat kecelakaan tambang; Biaya Kecelakaan 2 INVESTIGASI Definisi, Tujuan, Peralatan Penunjang, Investigasi, Alat Ukur atau Alat Uji, Tim Penyelidik 3 TAHAPAN INVESTIGASI Persiapan; Pelaksanaan; ANalisis; Pelaporan & Tindak Lanjut 4 ANALISA KECELAKAAN Teori Kecelakaan 5 STUDI KASUS 6


PENDAHULUAN


11 Format Laporan (Kepmen ESDM No. 1806 Tahun 2018) Penyelidikan Kecelakaan dan Kejadian Berbahaya (Kepdirjen Minerba No. 185 Tahun 2019) Halaman 809 - 819 (kecelakaan tambang) Halaman 816 - 818 (kejadian berbahaya) Halaman 1659 - 1660 (kejadian akibat penyakit) Halaman 1661 (penyakit akibat kerja) Halaman 32 - 33 Pemegang IUP, IUPK, IUP Operasi Produksi khusus untuk Pengolahan dan/atau Pemurnian, dan IPR menyusun, menetapkan, menerapkan, dan mendokumentasikan prosedur penyelidikan kecelakaan dan Kejadian Berbahaya. Prosedur tersebut paling sedikit terdiri dari: 1) pelaporan awal; 2) pengamanan lokasi dan barang bukti di tempat kejadian; 3) pembentukan tim penyelidikan; dan 4) tahapan penyelidikan. Dalam hal kepentingan penyelidikan kecelakaan atau Kejadian Berbahaya maka KTT atau PTL: 1) tidak mengubah keadaan ternpat atau kondisi perbaikan sarana, prasarana, instalasi dan peralatan Pertambangan akibat kecelakaan atau Kejadian Berbahaya, kecuali untuk memberikan pertolongan pertama korban dari kecelakaan. 2) dalam hal dianggap perlu untuk kepentingan keberlangsungan pekerjaan, keadaan di tempat kecelakaan hanya dapat diubah dengan persetujuan KaIT atau Kepala Dinas atas nama KaIT sesuai dengan kewenangannya Dasar Hukum


12 Nearmiss Kejadian Berbahaya Terminologi Kecelakaan Tambang Kecelakaan kejadian tidak terduga/tidak terencana yang tidak menimbulkan kerusakan atau cedera tetapi berpotensi terjadinya kecelakaan (SNI 7081:2016) kejadian yang dapat membahayakan jiwa atau terhalangnya produksi (Kepdirjen Minerba KESDM 185/2019) Suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang menimbulkan korban manusia dan/atau harta benda (Kepdirjen Minerba KESDM 185/2019) Kecelakaan yang memenuhi 5 (lima) kriteria sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan (Lampiran III KESDM No. 1827.K/MEM/2018)


13 Ilustrasi Nearmiss & Incident


14 Penyakit Akibat Kerja Terminologi Kejadian Akibat Penyakit Tenaga Kerja penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja sesuai dengan peraturan perundangan (Kepdirjen Minerba KESDM 185/2019) kejadian meninggalnya Pekerja yang disebabkan oleh penyakit ketika Pekerja melakukan kegiatan ertambangan atau pengolahan dan/atau pemurnian, terjadi pada jam kerja, atau terjadi dalam wilayah kegiatan usaha Pertambangan, pengolahan dan/atau pemurnian atau wilayah proyek (Kepdirjen Minerba KESDM 185/2019)


15 Saksi Langsung Saksi Orang yang: ● menjadi korban dan masih hidup, ● melihat, mendengar, dan/atau merasakan langsung kecelakaan tambang atau kejadian berbahaya Saksi Tidak Langsung Orang yang mengetahui: ● Korban, ● Pekerjaan atau profesi korban, ● Cedera korban, dan ● Peralatan atau material yang terlibat kecelakaan tambang atau kejadian berbahaya


KECELAKAAN TAMBANG


17 Kriteria Kecelakaan Tambang Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018, Lampiran III 1 Benar-benar terjadi, tidak diinginkan, tidak direncanakan, tanpa unsur kesengajaan 2 Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberi izin oleh KTT/PTL 3 Akibat kegiatan usaha pertambangan atau pengolahan dan/atau pemurnian atau akibat kegiatan penunjang 4 Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera atau setiap saat orang yang diberi izin 5 Terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek


*Kepmen ESDM No 1827 K 30 MEM 2018 1 2 3 CIDERA RINGAN lebih 1 hari s/d kurang 3 minggu CIDERA BERAT 1. Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula selama ≥ 3 minggu termasuk hari minggu dan hari libur 2. Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang cacat tetap 3. Cidera akibat kecelakaan tambang tidak tergantung dari lamanya pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula, tetapi mengalami seperti salah satu dibawah ini: keretakan tengkorak, tulang punggung, pinggul, lengan bawah sampai ruas jari, lengan atas, paha sampai ruas jari kaki, dan lepasnya tengkorak bagian wajah; pendaharan di dalam/pingsan disebabkan kekurangan oksigen; luka berat atau luka terbuka/terkoyak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan tetap;atau persendian lepas sebelumnya belum terjadi MATI Kecelakaan tambang yang mengakibatkan pekerja tambang mati akibat kecelakaan tersebut Penggolongan cidera


Kategori Kecelakaan Kerja secara umum adalah : 1. Fatality Incident (Insiden Fatal atau menyebabkan kematian). 2. LTI (Loss Time Injury) atau LTA (Loss Time Accident), Kecelakaan yang menimbulkan adanya hari hilang bagi korban yang mengalami kecelakaan. 3. PDC ( Property Damage Casess) 4. FAC ( First Aid Casess) 5. MTIC (Medical Treathment Injury Casess) 6. MIC ( Minor Injury Casess) 7. MAC ( Major Injury Casess) 8. FC (FIRE Casess) 9. PLIC ( Pencemaran Lingkungan Casess) 10. PLC ( Prematur Loss Casess) 11. Near Miss


- DU PONT PIRAMIDA Kecelakaan


1 10 30 600 20.000 PROPERTY DAMAGE UNSAFE ACTION/UNSAFE CONDITION FATALITY MINOR INJURY NEAR MISS - Frank E Bird.Jr (1969) PIRAMIDA Kecelakaan


- HSE UK (1993) UK Ratio Study 1 7 189 Over three day injury or ilnes Minor Injury Non Injury / illness incident PIRAMIDA Kecelakaan


FAKTOR KECELAKAAN MENURUT DU PONT


Fokus Elemen Sistem manajemen K3LH Manusia Harta Benda Proses Lingkungan Konsekuensi – konsekuensi Insiden


Kerugian terhadap Manusia / Cidera Kerugian terhadap harta benda Kerugian terhadap Proses Kerugian terhadap Lingkungan Kerugian yang nyata Trauma nyata karena cidera, cacat tubuh, dll Kerugian yang tidak nyata Penderitaan, Kesakitan, Turunnya keyakinan diri Kerusakan peralatan, material, bangunan, dan bagian – bagian alat yang lain Gangguan produksi, peningkatan tingkat kerusakan, cacat produk. dll Gangguan terhadap masyarakat sekitar, kerusakan atmosfir, tanah, air, flora dan fauna Kerugian Akibat Kecelakaan


Biaya Kecelakaan


Faktor yang memperngaruhi Kecelakaan Pekerja (Man) Peralatan (Machine) Material (Material) Metode kerja (Methode) Lingkungan kerja (Environment)


INVESTIGASI


Definisi Penyelidikan Kecelakaan Tambang/Kejadian Berbahaya Kegiatan mengumpulkan data, melakukan analisis terhadap data, membuat simpulan, serta memberikan tindakan koreksi terhadap suatu kecelakaan tambang atau kejadian berbahaya di pertambangan. (SNI708:20611 - Penyelidikan Kecelakaan Tambang dan Kejadian Berbahaya di Pertambangan )


Tujuan Investigasi 1 Mencari fakta-fakta kecelakaan 2 Mencari penyebab kecelakaan 3 Mengambil tindakan pencegahan 4 Mencegah kecelakaan yang sama terulang kembali


Peralatan penunjang investigasi ● Kotak P3K ● Buku Catatan Bukti ● Kaca Pembesar ● Pita (high-visibility) ● Kamera & film ● Scotch Tape ● Penggaris & Pita pengukur ● Clipboard, kertas & pensil ● Audio dan videocassette recorders & tapes ● Kertas grafik ● Kantong Plastik ● Label untuk barang bukti ● Kompas


Alat ukur / uji ● Alat ukur jarak ● Alat ukur suhu ● Alat ukur kualitas dan kuantitas udara ● Alat ukur kebisingan suara ● Alat ukur uji ketebalan, dll


Siapa yang seharusnya menjadi bagian dalam tim penyelidikan/investigasi kecelakaan atau kejadian berbahaya dari internal Perusahaan? 1. Perwakilan bagian keselamatan 2. Penanggung jawab area 3. Perwakilan manajemen yang memiliki kewenangan dalam bidang operasional dan perwakilan bagian keselamatan pertambangan 4. Dokter atau tenaga ahli yang berkompeten dalam melakukan analisa sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam penyelidikan apabila diperlukan


PENGAWAS 1. Pengawas memiliki kepentingan sendiri 2. Pengawas mengetahui jelas kondisi tempat kerja dan pekerja 3. Pengawas harus mengetahui detail informasi 4. Pengawas adalah orang pertama yang mengambil tindakan terkait kecelakaan 5. Pengawas dapat mempelajari penyebab kecelakaan dan melakukan upaya perbaikan 6. Pengawas dapat memperoleh keuntungan: a. Menunjukan perhatian pengawas terhadap K3 b. Meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan peralatan c. Mengurangi biaya akibat kecelakaan d. Membuktikan kendali terhadap kegiatan K3 MANAGER Terkadang dilibatkan, karena: 1. Berpotensi tinggi menimbulkan kerugian besar atau kecelakaan berat 2. Berhubungan dengan pengawas wilayah/area lain 3. Tindakan perbaikan memiliki jangkauan luas atau biaya yang tinggi Catatan: Solusi-solusi yang harus dihasilkan berada diluar kemampuan pengawas


TAHAPAN INVESTIGASI


Click to View FlipBook Version