Identifikasi Bahaya Menilai Risiko Menentukan Pengendalian A. Sumber (4M1E) B. Jenis 1. Orang (Man) 2. Bahan (Material) 3. Mesin (Machine) 4. Metode Kerja (Method) 5. Lingkungan (Environtment) 1. Fisika 2. Kimia 3. Biologis 4. Ergonomis 5. Psikososial 1. Kemungkinan (likelihood) 2. Konsekuensi (Consequence) 1. Menghilangkan (Eliminasi) 2. Mengganti dengan yang memiliki nilai risiko rendah (Substitusi) 3. Rekayasa (Engineering) 4. Administrasi 5. APD Prosedur Identifikasi Bahaya
Prosedur Penetapan Tingkat Risiko Tingkat Risiko ditentukan dengan menilai tingkat keparahan (Severity) dan Tingkat Kemungkinan (Probability) kemudian dibandingkan dengan matriks Penilaian Risiko HRS-SOP-IMS-001 HRS-STD-IMS-001 Keparahan (severity) adalah potensi konsekuensi terburuk jika resiko terjadi yang ditunjukkan dengan tingkat cedera, kerusakan, waktu terbuang, dan/atau kerugian finansial. Kemungkinan (Probability) adalah besarnya peluang ketidakpastian terjadinya resiko, yang diperkirakan berdasarkan data historis frekuensi keseringan dari kejadian yang serupa
dibagi menjadi 3 jenis : 17 Metode semi kuantitatif menggunakan nilai yang telah ditentukan untuk skala deskriptif faktor kemungkinan dan konsekuensi dan dikombinasikan untuk menghasilkan level resiko menggunakan formula atau rumus. Metode Kualitatif menggunakan bentuk uraian kata atau skala deskriptif untuk menggambarkan besarnya konsekuensi potensial dan kemungkinan konsekuensi tersebut akan terjadi. Metode Kuantitatif menggunakan nilai numerik dalam mendeskripsikan skala faktor kemungkinan dan konsekuensi yang dapat berasal dari berbagai sumber data melalui pemodelan dari rangkaian data hasil suatu kejadian ataupun ekstrapolasi data terdahulu.
Prosedur Penetapan Tingkat Risiko
Penetapan Tingkat Benefit
20 Matriks Konsekuensi Benefit
Terdapat 2 variable penting didalam membuat penilaian risiko yaitu kemungkinan dan dampak Angka yang diberikan merupakan Best Professional Judgement dengan mempertimbangkan: 1. Worst Case Scenario 2. Efektifitas Pengendalian yang telah ada Efektifitas Pengendalian yang telah ada (semakin efektif, semakin kecil kemungkinan / keparahannya) 3. Konsensus dari Tim Pertimbangan dalam Penilaian Risiko
Adalah merupakan proses yang digunakan untuk menentukan prioritas manajemen risiko dengan membandingkan tingkat risiko terhadap standar yang telah ditentukan, tingkat risiko target atau kriteria lain Evaluasi Risiko
Eliminasi Substitusi Engineering Administrasi Alat Pelindung Diri Menghentikan Pekerjaan Barang beda Fungsi sama Desain ulang Membuat prosedur Mengurangi Paparan HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
PENGENDALIAN SEMENTARA KRITIKAL TINGGI PENGENDALIAN PERMANEN SEDANG RENDAH 1 ELIMINASI 2 SUBSTITUSI 3 ENGINNERING 4 ADMINISTRATIF 5 APD HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
25 HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
Adalah pengendalian dari sisi orang yang akan melakukan pekerjaan,dengan dikendalikan metode kerja,diharapkan orang akan mematuhi,memiliki kemampuan dan kahlian cukup untuk menyelesaikan pekerjaan secara aman Jenis pengendalian ini antara lain seleksi karyawan,adanya standar operasi baku (SOP/IBPR/JSA/JSI),pelatihan,pengawasan,modifikasi prilaku,jadwal kerja,rotasi kerja,pemeliharaan,manajemen perubahan,jadwal istirahat,investasi dll. PENGENDALIAN REKAYASA
Adalah metode ini dilakukan sebagai pelengkap atau langkah terakhir dari hirarki pengendalian PENGENDALIAN ADMINISTRASI
28 PENGENDALIAN PRAKTEK KERJA
❖ Perusahaan harus menetapkan cara untuk melakukan pemantauan dan peninjauan terhadap proses penilaian risiko dan pengendaliannya. ❖ Pemantauan dan peninjauan harus dilakukan secara periodik, atau apabila: a. terjadi kecelakaan atau kejadian berbahaya; b. terjadi penyakit akibat kerja; c. terjadi perubahan dalam peralatan, instalasi, dan/atau proses serta aktivitas perusahaan; dan d. ada aktivitas dan proses baru dalam perusahaan. Pemantauan dan Peninjauan
Tata Cara Penyusunan IBPR HRS-FRM-IMS-001_Identifikasi dan Penilaian Risiko HRS-STD-IMS-001 Standar matriks Risiko dan Peluang
Konsekuensi Kekerapan Kombinasi KRITIKAL TINGGI SEDANG RENDAH Risiko
Semua area yang diidentifikasi. Sumber-sumber bahaya dan aspek lingkungan Bahaya-bahaya yang timbul baik dari dalam tempat kerja maupun luar tempat kerja. Aktivitas yang melibatkan seluruh personel yang mempunyai akses ke tempat kerja (termasuk kontraktor dan visitor). Aktivitas rutin dan tidak rutin yang berhubungan K3 Aktivitas normal dan abnormal yang berhubungan dengan lingkungan maupun emergency. Perilaku manusia, kemampuan dan faktor-faktor manusia lainnya Prasarana, peralatan dan material di tempat kerja baik yang disediakan oleh organisasi ataupun pihak lain Rancangan area-area kerja, proses-proses, instalasi-instalasi, mesin/peralatan, prosedur operasional dan organisasi kerja, termasuk adaptasi kepada kemampuan manusia dan mencakup Quality/mutu suatu proses. Adanya kewajiban perundangan yang relevan terkait penilaian risiko dan dampak Lingkungan dan penerapan pengendalian yang dibituhkan Identifikasi Bahaya K3 dan Identifikasi Aspek Lingkungan mencakup :
1) Nomor 2) Area kerja 3) Daftar operasional dan proses 4) Rincian Aktivitas 5) Kondisi situasional (rutin, non rutin, normal, abnormal atau emergency) 6) Kegiatan yang berhubungan dengan K3/Lingkungan/Quality 7) Rincian Bahaya ,ancaman proses dan Aspek Lingkungan 8) Rincian potensi resiko Risiko,kegagalan proses dan Dampak 9) Isu – isu internal dan Exsternal 10) Interseted parties 11) Kebutuhan,harapan kewajiban,kepatuhan 12) Risiko K3 / Risko lain 13) Peluang K3 / peluan lain 14) Penilaian risiko dan dampak dengan kondisi / situasi tanpa pengendalian, mencakup : Tingkat Konsekuensi, Tingkat Kekerapan dan Tingkat Risiko (Kritikal, Tinggi, Medium atau Rendah). 15) Pengendalian yang ada 16) Verifikasi 17) Pengendalian tambahan / Tindakan yang diambil 18) Remark ( OTP/KPI ) Pencatatan proses Risk Assessment dalam formulir standar memuat :
Urutan Langkah pekerjaan Minmal 7, maksimal 15 R : Rutin NR : Non Rutin N : Normal AN : Abnormal E : Emergency Pilih satu diantara 3 jenis bahaya yaitu K3, lingkungan atau mutu
1. Tetapkan area cakupan 2. Cermati, semua : - Aktifitas Rutin dan Non Rutin - Semua Alat dan Peralatan - Semua Material dan bahan 3. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar 4. Perhatikan kegiatan yang berhubungan dengan MUTU 5. Termasuk prilaku orang yang berada di area tsb, tanya tentang pemikiran dan pertimbangan mereka. 5. Cermati informasi tertulis (ex. manual, MSDS) 6. Cermati semua hal, tetapi fokus pada bahaya berpotensi serius 7. Gunakan format standard penulisan IBPR Tata Cara melakukan Idenfitikasi Bahaya K3
Bahaya (sumber,situasi,kondisi,segala sesuatu (zat, kondisi, perilaku) yang dapat mengakibatkan kecelakaan ASPEK : aktivitas ,produk atau jasa yang berintraaksi dengan lingkungan peluang/kemungkinan terpaparnya resiko yang berakibat/ kecelakaan/ lingkungan / mutu
Kegiatan/aktivitas proses yang berhubungan dengan isu Internal atau isu exsternal (prilaku,proses dll) Berhubungan dengan pihak terkait (Management dan custumer untuk internal) + (Management, Government dan Customer untuk External) Berhubungan dengan persyaratan perundang-undangan /peraturan – pertauran yang terkait
Lakukan penilaian risiko berdasarkan matriks penilaian risiko, kemudian tentukan tingkat risikonya Peluang K3 ditujukan untuk : 1.Mengatasi identifikasi bahaya 2.Cara penggunaan metode komunikasi 3.Analisis mitigasi bahaya yang diketahui
Contoh : ✔ Peningkatan fungsi pemeriksaan dan audit; ✔ Peningkatan analisis bahaya kerja (Job safety Analysis) dan penilaian terkait tugas; ✔ Meningkatkan kinerja K3 dengan mengurangi pekerjaan monoton atau bekerja pada tingkat pekerjaan yang berpotensi berbahaya yang telah ditentukan sebelumnya; ✔ Izin untuk bekerja dan metode pengenalan dan pengendalian lainnya; ✔ Investigasi insiden dan ketidaksesuaian dan tindakan korektif; ✔ Penilaian terkait pencegahan cedera ergonomis dan lainnya; ✔ Peluang untuk adaptasi kerja, organisasi kerja dan lingkungan kerja untuk pekerja; ✔ Peluang untuk menghilangkan bahaya dan menurunkan risiko K3. ✔ Contoh peluang lainnya yang difokuskan untuk peningkatan kinerja sistem manajemen K3, ✔ Mengintegrasikan persyaratan K3 pada tahap paling awal dalam siklus hidup fasilitas, peralatan atau perencanaan proses untuk relokasi fasilitas, desain ulang proses atau penggantian mesin dan pabrik; ✔ Menggunakan teknologi baru untuk meningkatkan kinerja k3; ✔ Meningkatkan budaya K3, seperti meningkatkan kompetensi pic yang berkaitan dengan K3 diluar persyaratan atau mendorong pekerja untuk melaporkan insiden secara tepat waktu; ✔ meningkatkan visibilitas dukungan Top Manajemen untuk sistem manajemen K3; ✔ meningkatkan proses investigasi insiden; ✔ meningkatkan proses untuk konsultasi dan partisipasi pekerja; ✔ benchmark, termasuk pertimbangan kinerja masa lalu organisasi sendiri maupun organisasi lain; ✔ berkolaborasi dalam forum yang fokus pada topik yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja. Peluang K3/ Peluang lain
Tujuan Pengendalian Resiko : 1. Meminimalkan dilakukannya suatu aktifitas berbahaya 2. Menurunkan kemungkinan terjadinya kecelakaan 3. Mengurangi tingkat keparahan jika terjadi kecelakaan Metode Pengendalian Resiko : Metode pengendalian resiko dipilih berdasarkan urutan – urutan Pengendalian resiko. Satu atau lebih metode pengendalian resiko Dapat dilakukan terhadap setiap bahaya yang teridentifikasi, Sesuai dengan tingkat resikonya. Pengendalian Risiko
RESIKO SISA Apabila tingkat risiko dan dampak setelah pengendalian masih dalam tingkat yang tidak bisa diterima (kritikal dan tinggi) harus dilakukan pengendalian tambahan (additional control) sampai kepada tingkat risiko yang bisa diterima dan menjadi program di OTP Risiko Diterima (Acceptable Risk) Risiko yang telah diturunkan sampai ke tingkat yang dapat ditolerir
Tingkat resiko yang belum dikendalikan Tindakan pengendalian Resiko dan dampak dilakukan sesuai dengan hierarki pengendalian K3L. Yaitu Eliminasi, Substitusi, Eng, Adm,training dan APD Tingkat resiko yang sudahdikendalikan Dilakukan apabila pengendalian masih dalam tingkat yang tidak bisa diterima (kritikal/ tinggi) Ref: catatan insiden, tingkat kepatuhan dan pelanggaran, hasil inspeksi & observasi dan hasil audit Memberikan keterangan bahwa program menjadi project unggulan/skala prioritas
Memastikan proses RAO telah dilakukan di wilayah area tanggung jawabnya dan menunjuk orang yang kompeten untuk menyusun RAO Melakukan verifikasi & mengevaluasi efektifitas RAO yang telah dilakukan dengan mempertimbangkan; catatan insiden, tingkat kepatuhan dan pelanggaran, hasil inspeksi & audit Memastikan bahwa proses RAO dilaksanakan di Jobsitenya.
Setiap orang yang telah ditunjuk melakukan peninjauan ulang atau perubahan hasil identifikasi tanpa menunggu jatuh tempo periode identifikasi dan penilaian (setiap 6 bulan sekali) jika terjadi: • Penambahan proses kerja baru • Penambahan alat kerja baru • Perubahan peraturan K3L • Terjadi insiden dengan kategori serius atau potensi serius. Kategori insiden mengacu kepada Pelaporan dan Penyelidikan Insiden. Setiap orang yang telah ditunjuk, melakukan proses Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko dan Identifikasi Aspek dan Dampak Lingkungan (IADL) setiap 6 (enam) bulan sekali. Peninjauan Ulang IBPR
SANGGAHAN (DISCLAIMER) Dokumen ini merupakan dokumen Perusahaan yang bersifat rahasia dan diperuntukkan serta dipergunakan hanya untuk kepentingan HASNUR RIUNG SINERGI. Dokumen ini tidak untuk didistribusikan ke luar HASNUR RIUNG SINERGI baik keseluruhan dokumen maupun sebagian dokumen tanpa persetujuan dari pihak HASNUR RIUNG SINERGI yang berwenang. Segala bentuk pelanggaran dan penyalahgunaan dokumen ini akan ditindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. TERIMA KASIH 45
PT Hasnur Riung Sinergi Modul Diklat POP “Analisa Keselamatan Pekerjaan”
PROFILE INSTRUKTUR Foto profile Nama : Profile kompetensi pengajar Ex: training
DAFTAR ISI Perbedaan SOP dan JSA Definisi Metode Pembuatan JSA Tools Penilaian Risiko Langkah Penyusunan JSA Implementasi Pengendalian Identifikasi Bahaya Tinjauan Kecukupan dan Review JSA 1 2 3 4 5 6 7 8
Dasar Hukum Perlindungan Lingkungan Dasar Hukum Keselamatan Pertambangan Pertemuan Keselamatan Pertambangan Terencana Tugas & Tanggung Jawab Pengawas Operasional Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko Investigasi Kecelakaan Analisa Keselamatan Pekerjaan Inspeksi dan Observasi K3 1 2 3 4 5 6 7 8
Dasar Hukum Perlindungan Lingkungan Dasar Hukum Keselamatan Pertambangan Pertemuan Keselamatan Pertambangan Terencana Tugas & Tanggung Jawab Pengawas Operasional Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko Investigasi Kecelakaan Analisa Keselamatan Pekerjaan Inspeksi dan Observasi K3 1 2 3 4 5 6 7 8
ANALISA KESELAMATAN PEKERJAAN PT. HASNUR RIUNG SINERGI | POP | RANTAU | SEPTEMBER 2022
NO KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI SK 1 PMB.PO02.001.01 Melaksanakan Peraturan Perundang-undangan terkait Keselamatan Pertambangan POP 2 PMB.PO02.002.01 Melaksanakan Tugas dan Tanggung Jawab Keselamatan Pertambangan pada area yang menjadi Tanggung Jawabnya POP 3 PMB.PO02.003.01 Melaksanakan pertemuan Keselamatan Pertambangan Terencana POP 4 PMB.PO02.004.01 Melaksanakan Investigasi Kecelakaan POP 5 PMB.PO02.005.01 Melaksanakan Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko POP 6 PMB.PO02.006.01 Melaksanakan Peraturan Perundang-undangan terkait Perlindungan Lingkungan POP 7 PMB.PO02.007.01 Melaksanakan Inspeksi POP 8 PMB.PO02.008.01 Melaksanakan Analisis Keselamatan Kerja POP SKKK – Unit Kompetensi POP Peraturan & Perundangan MINERBA
NO KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI SK 8 PMB.PO02.008.01 Melaksanakan Analisis Keselamatan Kerja POP SKKK – Unit Kompetensi POP KU : PMB.PO02.008.01 ELEMEN KOMPETENSI : 1. Menginventaris tugas-tugas yang belum mempunyai analisis keselamatan pekerjaan; 2. Menentukan metode analisis keselamatan pekerja; 3. Menentukan pekerjaan yang akan dianalisis; 4. Menguraikan potensi bahaya; 5. Mengidentifikasi potensi bahaya; 6. Menentukan tindakan pencegahan/pengendalian. Peraturan & Perundangan MINERBA
Adalah menyusun atau melakukan inventarisasi tugas yang kritis, yaitu membuat suatu daftar yang sistematis dari semua jabatan pekerjaan, kemudian membagi setiap jabatan pekerjaan ke dalam tugas – tugas sehingga setiap tugas dapat diteliti dengan seksama untuk menentukan tugas mana yang kritis. Cara melakukan identifikasi tugas kritis atas inventarisasi tugas yang effektif adalah: • Mengumpulkan dan mengkaji kecelakaan yang pernah terjadi, baik berakibat cidera pada manusia maupun kerusakan harta benda serta kerugian produksi. • Tugas yang mempunyai potensi kerugian besar walaupun belum pernah terjadi kecelakaan. DEFINISI Inventaris Tugas ? Tugas-tugas yang telah diidentifikasi kemudian dituangkan dalam SOP, IK ataua JSA
Panduan hasil kerja yang diinginkan serta proses kerja yang harus dilaksanakan. SOP dibuat dan didokumentasikan secara tertulis yang memuat alur proses kerja secara rinci dan sistematis. Alur kerja tersebut haruslah mudah dipahami dan dapat diimplementasikan dengan baik dan konsisten oleh pelaku. STANDARD OPERATING PROCEDURE DEFINISI
Uraian pekerjaan seseorang, namun jika ingin diperjelas lagi, maka WI menguraikan bagaimana satu Langkah dalam suatu prosedur dilakukan. Misalnya Langkah-Langkah pengemasan produk, Langkah-Langkah perbaikan mesin, Langkah-Langkah rekrutmen dan lain-lain. Oleh karena ini dalam WI penekanannya adalah kata bagaimana melakukanknya WORK INSTRUCTION (INSTRUKSI KERJA) DEFINISI
JOB SAFETY ANALYSIS Sebuah metode yang digunakan untuk menentukan bahaya dalam setiap langkah/ tahapan pekerjaan dan pengendalian terhadap bahaya tersebut. DEFINISI
JSA SOP Analisa keselamatan kerja untuk pekerjaanpekerjaan khusus yang tidak rutin Analisa keselamatan kerja yang dibuat untuk pekerjaan-pekerjaan rutin atau sering dilakukan Fungsi sebagai tatacara kerja yg aman Berfungsi sebagai prosedur Membuat JSA bisa dibuat langsung Idealnya sblm membuat SOP didahului oleh JSA Urutan tugas lebih lengkap terperinci cara bekerja yang aman Tidak terlalu lengkap namun bisa dipakai untuk cara kerja yg aman Hasil analisanya dpt ditemukan type bahaya yang ada Tdk ada penjelasan type-type bahaya Dpt dipakai untuk mengevaluasi SOP Tidak dpt dipakai mengevaluasi JSA PERBEDAAN SOP DAN JSA
• Metode kerja berbeda? • Perbedaan kondisi kerja? • Perbedaan tool, peralatan? Apakah terdapat perbedaan? Apakah pekerjaan berdampak kepada yang lain? • Berdampak ke pekerjaan lain? • Berdampak ke orang sekitar? • Berdampak ke lingkungan? • Diminta oleh SPV? Apakah JSA dipersyaratkan? • Tercantum dalam permit? • Diminta dalam program kerja? • Diminta dalam SOP? Buat JSA • Pekerjaan non rutin?? High Risk ? • Hazard? NO NO NO YES YES YES YES • Perubahan frekuensi ? KAPAN JSA DIPERLUKAN
Karena dalam JSA Setiap bahaya yang yg akan terjadi pada setiap tahapan pekerjaan telah dianalisa tingkat resiko dan cara penanganannya. JSA merupakan salah satu bagian dari Analisa Manejemen Resiko yg paling efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan. MENGAPA JSA DIPERLUKAN ?
1. Mengidentifikasi dan mengeliminasi bahaya sebelum kecelakaan terjadi 2. Pekerja berpengalaman akan membantu mengarahkan/guide pekerja dengan pengalaman terbatas 3. Menyediakan ruang untuk ide dan menyediakan peluang untuk improvement 4. Menilai tugas tahap demi tahap 16 JSA DINILAI EFEKTIF KARENA
✔ Setiap terjadinya kecelakaan selalu ada penyebabnya. ✔ Setiap tugas dalam suatu pekerjaan dapat diuraikan kedalam suatu urutan tahapan yang sederhana. ✔ Setiap tahapan pekerjaan dapat dikenali potensi kerugiannya ✔ Setiap potensi kerugian dalam tahapan pekerjaan dapat dikendalikan atau diatasi. Persyaratan agar seseorang dapat bekerja dengan aman : 1. Harus mengetahui pekerjaan yang akan dilakukan 2. Harus mengetahui potensi bahaya – bahaya yang dapat timbul pada aktifitas pekerjaan tersebut DASAR PEMIKIRAN
Beberapa tools/ alat yang dapat digunakan untuk menilai resiko, diantaranya adalah: • HAZOB – Hazard Observation Card • JSA – Job Safety Analysis • HAZAN – Hazard Analysis • HAZOP – Hazard and Operability Study • SIMOP – Simultaneous Operations Assessment Dari beberapa Tools di atas, masing-masing memiliki tujuan dan area penerapan berbeda-beda, namun JSA adalah Tool yang paling bisa diterapkan dihampir semua bidang pekerjaan TOOLS PENILAIAN RESIKO
1. Observasi dan Diskusi : ● Seleksi pekerja ● Beri penjelasan ● Observasi setiap langkah ● Periksa dengan pekerja ● Ulang dengan pekerja lain ● Identifikasi bahaya dan risiko (potensi kerugian) ● Membuat tindakan pengendalian untuk setiap potensi bahaya yang sudah diidentifikasi 2. Diskusi • Cari beberapa orang yg berpengalaman • Lakukan pertemuan satu kali atau lebih • Jelaskan penggunaan dan cara pendekatannya • Tentukan langkah yang signifikan dan aktifitas yang kritis • Identifikasi bahaya dan risiko • Membuat tindakan pengendalian untuk setiap potensi bahaya yang sudah diidentifikasi 19 METODE PEMBUATAN JSA