The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by faiznurfaizah21, 2022-10-26 03:52:04

PENGEMBANGAN NILAI MORAL DAN AGAMA ANAK USIA DINI

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Keywords: Nilai Moral,Agama,anak usia dini

PENGEMBANGAN
NILAI MORAL DAN AGAMA

ANAK USIA DINI



PENGEMBANGAN
NILAI MORAL DAN AGAMA

ANAK USIA DINI

Penulis :
Mhd. Habibu Rahman, M.Pd
Rita Kencana, M.Pd
Nur Faizah, S.Pd

ISBN : 978-623-7640-90-5

Editor :
Ria Astuti, M.Pd

Desain Sampul :
Abu Kafkaylea

Penerbit :

EDU PUBLISHER

Jl. Tamansari Km. 2,5 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat
Email : [email protected]
Instagram : @edupublisher1
Whatsapp : 0812 1496 6550 (WAonly)
Anggota IKAPI No. 352/Anggota Luar Biasa/JBA/2020

Cetakan pertama, November 2020

@ Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa
ijin tertulis dari penerbit.



KATA PENGANTAR

Prof. Dr. Anita Yus, M.Pd

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Usia dini yang dikenal juga dengan usia emas

sebagai masa potensial dan vital dalam
perkembangan individu. Masa ini memberi peluang
kepada lingkungan untuk membantu anak
mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki.
Anak usia dini memiliki karakteristik yang unik,
memiliki kecenderungan selalu ingin tahu dan
mengamati segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Selain itu, anak usia dini sebagai individu yang suka
meniru, sehingga dikenal juga sebagai peniru
unggul. Dengan kecenderungan tersebut anak
cenderung meniru segala hal yang dilihat dan
didengar di sekitarnya.

Pendidikan moral dan agama merupakan dua
terma yang menarik untuk dibahas secara
mendalam. Membangun moralitas generasi emas
bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah,
dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai

i|

dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak.
Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap
manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan
agama yang menghantarkan pada dimensi
ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk
mentransfer nilai yang terkandung dalam agama
pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan
strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai
dengan cara belajar anak yakni bermain sambil
belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan
memahami suatu konsep baik moral maupun
agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang
penting dalam penanaman nilai yang membangun
moralitas agama dan budaya pada anak usia dini.

Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu
Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu
para guru, orang tua dan para pembaca untuk
melihat betapa pentingnya mengembangkan moral
sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan
manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua
aspek yang hakiki dalam pengembangan moral
dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini
dengan pemberian stimulasi yang positif dan
berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara
pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar

ii |

guru, kemudian peran lingkungan bermain
merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam
mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada
anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di
atas, saya menyambut baik penerbitan buku ini dan
mengajak kita semua untuk membaca serta
mendiskusikannya secara lebih mendalam sebagai
upaya menangkap makna dan pesan yang
terkandung di dalamnya. Hal ini dilakukan untuk
pengembangan kajian-kajian keilmuan pendidikan
anak usia dini yang lebih komprehensif, efektif dan
efisien.

Medan, 05 November 2020
Prof. Dr. Anita Yus, M.Pd

iii |

iv |

PENGANTAR PENULIS

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas segala limpahan berkat, nikmat, dan karunia
yang telah diberikan kepada penulis, sehingga buku
ini dapat terselesaikan dengan baik. Buku ini
disusun untuk menjadi pegangan bagi mahasiswa,
guru, pendidik, dan orangtua dalam
mengembangkan dunia PAUD (Pendidikan Anak
Usia Dini).

Dalam penulisan buku ini, tentu masih banyak
kekurangan dan kelemahan, baik dari segi materi
maupun pembahasan. Oleh karenanya, saran dan
kritik yang sifatnya membangun sangat penulis
harapkan demi kesempurnaan dalam penulisan
buku selanjutnya.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada
keluarga dan kepada semua pihak yang telah
membantu dalam terselesainya penulisan buku ini.
Akhirnya, harapan penulis semoga buku yang
sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi dunia
pendidikan khususnya anak usia dini.

Medan, November 2020
Penulis

v|

vi |

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kedua
Orangtua, keluarga, para guru dan Dosen, serta
teman-teman dan orang yang tercinta.

vii |

viii |

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ..................................................................... i
UCAPAN TERIMA KASIH .........................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................iii

BAB I KECERDASAN MORAL DAN AGAMA ANAK
USIA DINI..........................................................................................1

A. Menyelami Kecerdasan Anak Usia Dini ..............1
B. Teori Perkembangan Moral dan Agama

Anak Usia Dini..................................................................4
C. Karakteristik Nilai Moral dan Agama

Anak Usia Dini............................................................... 21
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai

Moral dan Agama AUD............................................. 32
E. Pentingnya Mengembangkan Nilai Moral

dan Agama Anak Usia Dini..................................... 37

ix |

BAB II PENGARUH PENGASUHAN TERHADAP
PERKEMBANGAN MORAL DAN AGAMA ANAK USIA
DINI................................................................................................... 41

A. Apa itu Pengasuhan? ................................................. 41
B. Jenis-Jenis Pengasuhan............................................. 48
C. Kriteria Pengasuh yang Harus Ada

dalam Kehidupan Anak ............................................ 58
D. Pengasuhan yang Baik dalam Islam ................... 63
E. Budaya Pengasuhan Mempengaruhi

Perkembangan Moral dan Agama AUD............. 67

BAB III GADGET & PERKEMBANGAN MORAL DAN
AGAMA ANAK USIA DINI...................................................... 81

A. Paradigma Penggunaan Gadget Pada
Anak Usia Dini............................................................... 81

B. Dampak Positif dan Negatif
Penggunaan Gadget untuk Anak Usia Dini...... 88

C. Mengatur Penggunaan Gadget Pada
Anak Usia Dini............................................................... 93

D. Mengembangkan Nilai Moral dan Agama
AUD melalui Gadget ................................................... 98

x|

BAB IV PERAN LINGKUNGAN DALAM
PERKEMBANGAN MORAL DAN AGAMA ANAK USIA
DINI................................................................................................... 97

A. Pengaruh Pemilihan Jodoh dalam
Membentuk Moral dan Agama Anak............... 105

B. Lingkungan Keluarga Membentuk Moral
dan Agama Anak Usia Dini................................... 114

C. Lingkungan Sekolah Membentuk Moral
dan Agama Anak Usia Dini................................... 129

D. Lingkungan masyarakat Membentuk
Moral dan Agama Anak Usia Dini ..................... 143

BAB V STRATEGI PENGEMBANGAN NILAI MORAL
DAN AGAMA ANAK USIA DINI........................................ 161

A. Urgensi Strategi Pembelajaran Bagi
Anak Usia Dini............................................................ 161

B. Penggunaan Strategi Contextual
Teaching & Learning dalam Pengembangan
Nilai Moral dan Agama Anak Usia Dini .......... 170

C. Penggunaan Strategi Cooperatif
Learning dalam Pengembangan Nilai
Moral dan Agama Anak Usia Dini ..................... 189

D. Penggunaan Strategi Quantum
Learning dalam Pengembangan Nilai

xi |

Moral dan Agama Anak Usia Dini ..................... 200

BAB VI METODE PENGEMBANGAN NILAI MORAL
DAN AGAMA ANAK USIA DINI........................................ 223

A. Metode Bercerita ...................................................... 223
B. Metode Keteladanan ............................................... 229
C. Metode Karyawisata ............................................... 239
D. Metode Sosiodrama................................................. 242

BAB VII PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
DALAM PENGEMBANGAN NILAI MORAL DAN
AGAMA ANAK USIA DINI................................................... 255

A. Urgensi Media Pembelajaran
dalam Penyelenggaraan Pendidikan............... 255

B. Efektivitas Media dalam Mengembangkan Nilai
Moral dan Agama Anak Usia Dini ..................... 258

C. Media Audio ................................................................ 279
D. Media Visual................................................................ 287
E. Media Audio Visual.................................................. 294

DAFTAR PUSTAKA................................................................ 301
BIODATA .................................................................................... 313

xii |

|1

BAB I
Kecerdasan Moral dan Agama

Anak Usia Dini

A. Menyelami Kecerdasan Anak Usia Dini
Setiap manusia memiliki kecerdasan yang telah

Tuhan titipkan sebagai salah satu kelebihan yang harus
dioptimalkan dan dimanfaatkan dengan baik. Dengan
adanya kecerdasan, menjadikan manusia mampu
bertahan hidup dan meningkatkan kualitas hidupnya
semakin komprehensif. Untuk mengembangkan
kecerdasan yang dimiliki manusia perlu adanya stimulasi
positif dan berdaya ubah.

Sebagai upaya menghadapi tantangan zaman di era
digital, setiap manusia perlu mengoptimalkan dan
mengeksplor kemampuan yang dimiliki. Karena pada
dasarnya sejak manusia lahir, mereka sudah memiliki
potensi kecerdasan dalam menghadapi perubahan
zaman. Potensi tersebut akan semakin meningkat jika
sudah menjadi habituasi sejak usia dini.

Pendidikan di era modern cenderung memberikan
pengaruh kepada pemahaman setiap manusia bahwa
target dari pendidikan adalah kecerdasan intelektual. Hal

|2

tersebut berdampak pada pemahaman praktisi
pendidikan yang selalu memiliki asumsi bahwa
keberhasilan anak didik hanya dilihat dari perolehan nilai
melalui angka. Hal ini yang menjadikan seluruh elemen
pendidikan, seperti orang tua dan anaknya berfikir
praktis dan matrealistis sehingga menjadikan para orang
tua melupakan unsur yang paling esensial dalam dirinya
yakni sebagai manusia yang mempunyai dua tugas
penting dalam hidup yakni mengabdi dan menjadi
khalifah di bumi, dalam hal ini adalah aspek moral dan
spiritual.

Pendidikan moral dan spiritual perlu dikenalkan
kepada anak sejak usia dini sebagai upaya pembentukan
generasi yang kokoh secara spiritual dan santun dalam
hal moral. Sejatinya setiap manusia sejak lahir membawa
potensi kecerdasan moral dan spiritual. Kecerdasan moral
merupakan kemampuan manusia memahami sesuatu
yang benar dan yang salah dengan keyakinan etika yang
kuat dalam ucapan dan tindakan, sehingga berdasarkan
keyakinan tersebut menghantarkan sebuah sikap yang
benar dan terhormat.(Borba, 2008:7) Kecerdasan moral
perlu dikembangkan sejak usia dini agar generasi bangsa
kedepan bukan hanya cerdas secara intelektual, namun
juga memiliki keperibadian yang berbudi luhur,

|3

berakhlak karimah serta mampu memfilterasi
perkembangan kebudayaan luar yang masuk ke
Indonesia.

Kecerdasan spiritual menurut (Danah Zahar, 2002)
merupakan pusat paling mendasar dari semua
kecerdasan yang dimiliki manusia, kecerdasan spiritual
merupakan navigator yang memiliki nilai fundamental
dari dimensi kehidupan manusia. Kecerdasan spiritual
merupakan potensi yang harus dimiliki oleh anak, karena
pengaruhnya sangatlah besar dalam kehidupan anak
kelak dimasa depan. Sungguh sangat menyedihkan jika
anak-anak sekarang kurang dalam spiritualitasnya. Tanpa
disadari, saat ini banyak orangtua yang terus berlomba
dalam mendorong anak untuk mencapai kesuksesan
intelektual, kepuasan materi, popularitas, namun
menyisihkan nilai-nilai spiritualitas terhadap anak.
Akibatnya anak hanya akan memikirkan bagaiamana dia
mencapai keinginannya dengan cara apapun, serta hanya
mementingkan egoisme semata tanpa menghiraukan
aturan agama.(Triantoro Safaria, 2007:11-12)

Dalam memahami kecerdasan yang dimiliki anak
usia dini, dibutuhkan totalitas pikiran, tindakan yang
bermuara pada kebahagiaan. Dalam hal moral dan
spiritual, metode yang komprehensif dan variatif mampu

|4

menghantarkan anak usia dini pada kecerdasan moraldan
spiritual, sehingga akhirnya anak akan cerdas secara
intelektual, santun secara moral, dan cerdas spiritual.

B. Teori Perkembangan Moral dan Agama Anak Usia
Dini

1. Perkembangan Moral Anak Usia Dini
Setiap anak memiliki perkembangan moral yang

berbeda-beda, ada yang memiliki perkembangan moral
sangat baik dan ada pula yang memiliki perkembangan
moral kurang baik. Hakekat dari perkembangan itu
sendiri menurut (Abu Ahmadi, 2005) adalah suatu proses
yang menuju ke depan dan tidak dapat diulang kembali.
Sedangkan pendapat yang lain menyebutkan bahwa
perkembangan merupakan proses perubahan dari psikis
dan fisik pada diri manusia yang dipengaruhioleh faktor
lingkungan dan proses belajarpada waktu tertentu.
(Jamaris, 2006) Hal yang senada diungkapkan Rita Eka
Izzaty (2005:9) menyatakan bahwa perkembangan
merupakan pola gerakan atau perubahan yang secara
dinamis dimulai dari pembuahan atau konsepsi dan terus
berlanjut sepanjang siklus kehidupan manusia.
Berdasarkan tiga pendapat tersebut menjadi sebuah

|5

kesimpulan umum bahwa perkembangan adalah suatu
proses perubahan yang terjadi sepanjang hidup manusia.

Sedangkan moral berasal dari kata latin mores berarti
tata cara, kebiasaan, adat istiadat, cara tingkah laku dan
kelakuan. Moral dapat diartikan sebagai nilai dan norma
yang menjadi pegangan bagi seseorang dalam mengatur
tingkah lakunya. Sebagimana pendapat Atkinson yang
dikutip oleh (Sjarkawi, 2006:28) berpendapat bahwa,
moral merupakan pandangan tentang baik dan buruk,
benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat
dilakukan. Selain itu juga moral merupakan seperangkat
keyakinan dalam suatu masyarakat berkenaan dengan
karakter atau kelakuan dan apa yang seharusnya
dilakukan oleh manusia.

Istilah moral selalu terkait dengan kebiasaan, aturan,
atau tata cara suatu masyarakat tertentu. Termasuk pula
aturan-aturan atau nilai-nilai agama yang dipegang
masyarakat setempat. Dengan demikian perilaku moral
merupakan perilaku manusia yang sesuai dengan
harapan, aturan, kebiasaan suatu kelompok masyrakat
tertentu. Dalam agama Islam, moral dikenal dengan
sebutan al-akhlak al-karimah, yaitu kesopanan yang tinggi
yang merupakan bentuk dari keyakinan terhadap baik

|6

dan buruk, pantas dan tidak pantas yang tergambar
dalam perbuatan lahir manusia.(Abdul Karim, 2013:28)

Sehingga perkembangan moral merupakan sebuah
perubahan yang berkaitan dengan aturan mengenai apa
yang seharusnya dilakukan dalam berinteraksi kepada
sesama manusia dengan menjunjung tinggi nilai kebaikan
selama menjalani hidup. Perkembangan moral anak usia
dini merupakan perkembangan perilaku anak dari tidak
baik menjadi lebih baik yang akan membentuk
keperibadian anak di masa depan.

Mengembangkan moral anak usia dini perlu adanya
sinergitas seluruh elemen pendidikan, baik lingkungan
keluarga, sekolah, ataupun masyarakat. Anak usia dini
akan mengamati segala yang terjadi di hadapannya,
sehingga sebagai orang dewasa perlu adanya kesadaran
dalam bersikap, memberikan teladan yang baik di
hadapan anak usia dini. Dengan usia yang masih labil,
tentu pembiasaan yang baik menjadi salah satu cara untuk
menstabilkan nilai moral yang dimiliki anak.

Pada hakikatnya setiap anak yang dilahirkan
membawa potensi kecerdasan. Tingkat kecerdasan pada
anak mempengaruhi kemampuan perkembangan moral,
karena dengan kecerdasan yang matang anak dapat
mudah memahami dan mengerti konsep benar-salah.

|7

Piaget (dalam Hurlock, 1978: 79) mengatakan
perkembangan moral terjadi dalam dua tahapan yaitu
tahap realisme moral dan tahap moralitas otonomi.
a. Tahap Realisme Moral

Dalam tahapan ini, perilaku anak ditentukan
pada peraturan perilaku yang spontan atau tidak
disadari. Pada tahapini ada asumsi bahwa orangtua
dan orang dewasa adalah sebagai pemimpin dan
anak hanya mengikuti peraturan yang diberikan
tanpa mempertanyakan kebenarannya. Dalam tahap
perkembangan moral ini, anak menilai tindakan
sebagai “benar” atau “salah” atas dasar
konsekuensinya dan bukan berdasarkan motivasi di
belakangnya. Mereka tidak mengerti tentang tujuan
dari tindakan tersebut. Contohnya, suatu tindakan
dianggap “salah” karena mengakibatkan hukuman
dari orang lain atau dari kekuatan alami atau
adikodrati.
b. Tahap Moralitas Otonomi

Pada tahapan ini, anak menilai perilaku atas
dasar tujuan yang mendasarinya. Tahap ini biasanya
dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut
hinga usia 12 atau lebih. Antara usia 5 dan 7 atau 8
tahun, konsep anak tentang keadilan mulai berubah.

|8

Konsep benar-salah yang telah dipelajari dari orang
tua, secara bertahap dimodifikasi. Akibatnya, anak
mulai mempertimbangkan suatu keadaan tertentu
yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral.
Anak akan melihat masalah tertentu dari berbagai
sudut pandang dan mempertimbangkan semua cara
atau berbagai faktor dalam memecahkan
masalahnya.

Pendapat yang lain diungkapkan Kohlberg (dalam
Hurlock, 1978: 80) bahwa terdapat tiga tingkatan
perkembangan moral dan masing-masing tingkatan
terdapat dua tahapan yaitu,
a. Moralitas Prakonvesional

Pada tahapan ini, perilaku anak tunduk pada
kendali eksternal. Pada moralitas prakonvesional
terdapat dua tahapan. Pada tahap pertama, anak
berorientasi pada kepatuhan dan hukuman,
moralitas suatu tindakan dinilai atas dasar akibat
tindakannya sendiri. Sedangkan pada tahap yang
kedua, anak menyesuaikan tindakannya pada
kelompok sosialnya untuk memperoleh
penghargaan. Mereka mulai ada respon dan mau
berbagi terhadap kelompoknya, tetapi tindakannya

|9

lebih mempunyai dasar tukar-menukar daripada
perasaan keadilan yang sesungguhnya.
b. Moralitas Konvesional

Pada moralitas konvesional terdapat dua
tahapan. Dalam tahap pertama, “Moralitas Anak
yang Baik,” anak menyesuaikan dengan peraturan
untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan
untuk dapat bertahan atau menjalin hubungan yang
baik dengan kelompoknya. Dalam tahap kedua,
anak meyakini bahwa jika kelompok sosialnya
menerima peraturan yang sesuai untuk anggota
kelompoknya, maka mereka harus melakukan
tindakan sesuai dengan peraturan yang dibuat
sehingga mereka terhindar dari ancaman atau
ketidaksetujuan kelompok sosialnya.
c. Moralitas Pascakonvesional

Pada tingkat ke tiga ini terdapat dua tahapan.
Dalam tahap pertama, anak yakin bahwa harus ada
kenyamanan dalam hal moral yang dapat
memungkinkan adanya perubahan standar moral,
jika hal ini terbukti maka akan menguntungkan bagi
kelompoknya. Dalam tahap yang kedua, orang
menyesuaikan diri dengan standar sosial dan
keinginan internal terutama untuk menghindari rasa

| 10

tidak puas dengan diri sendiri dan bukan untuk
menghindari ancaman sosial. Ini merupakan
perilaku moral yang lebih banyak berlandaskan
pada penghargaan terhadap orang lain daripada
keinginan pribadi.

Perkembangan moral anak dapat dilakukan melalui
beberapa cara, yaitu dengan pendidikan langsung,
identifikasi dan trial & error. Pada pendidikan langsung
bahwa anak dapat belajar secara langsung atau secara
nyata. Dalam belajar berperilaku biasanya anak akan
mengikuti dan melihat sesuai dengan tuntutan
masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Mereka akan
mematuhi peraturan yang dibuat oleh orang tua atau
orang dewasa. Jika anak melihat berbagai situasi itu
serupa, maka anak akan mengalihkan pola perilaku yang
telah dipelajarinya dalam satu situasi ke situasi yang
sama. Sebaliknya, jika anak melihat berbagai siituasi yang
ada itu berbeda, maka anak akan mengalami kesulitan
dalam menerapkan situasi tersebut ke situasi yang lain.

Melalui identifikasi atau dengan modeling juga
merupakan teknik yang bagus dalam membiasakan
perilaku. Jika kita melihat dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya adik kita mereka sering mengikuti perilaku

| 11

kakaknya atau ibunya bahkan ayahnya. Jika disekolahan
pun mereka biasa mengikuti perilaku gurunya dan
biasanya diterapkan dirumah. Hal ini terjadi karena
mereka mengagumi sosok idolanya sebagai sesuatu yang
harus diikuti sehingga mereka melakukan hal yang sama
seperti idolanya Biasanya anak tanpa sadar dan tanpa
paksaan meniru penampilan dan perilaku seseorang yang
dia kagumi. Seperti orang tua, guru, kakak dan orang
dewasa yang dianggap menjadi idolannya. Dengan
memiliki seseorang yang diidolakannya, maka akan
memberikan pengaruh yang besar untuk pembentukan
perkembangan moralnya.

Pada saat anak melakukan suatu aktivitas, sering
kita melihat anak melakukan dengan mencoba perilaku
yang baik maupun yang buruk. Ketika anak melakukan
perilaku yang baik dan mendapat pujian atau
penghargaan, maka mereka akan melakukan secara terus
menerus. Tetapi jika ketika anak melakukan perilaku yang
buruk dan mendapatkan hukuman, maka mereka akan
menghentikan perilaku tersebut secara spontan dan
bukan karena direncanakan. Teknik ini sering kita sebut
dengan trial and error atau proses coba-coba.

Moral berkaitan erat dengan perilaku dan
kepribadian. Kepribadian yang baik dan sesuai dengan

| 12

adat akan diterima pada masyarakat atau lingkungannya,
sedangkan pribadi yang buruk akan ditolak oleh
lingkungannya. Perkembangan moral sangat penting
diajarkan pada anak usia dini, supaya anak memiliki
pribadi yang unggul dan dapat diterima oleh
lingkungannya. Pendidikan dalam keluarga dan
disekolah mempengaruhi perkembangan moral pada
anak. Menurut Hurlock ada sejumlah faktor penting yang
mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu yang
pertama, peran hati nurani atau kemampuan untuk
mengetahui apa yang benar dan salah apabila anak
dihadapkan pada situasi yang memerlukan pengambilan
keputusan atas tindakan yang harus dilakukan.Yang ke
dua, peran rasa bersalah dan rasa malu apabila bersikap
dan berperilaku tidak seperti yang diharapkan dan
melanggar aturan.Sedangkan yang ke tiga, peran interaksi
sosial dalam memberi kesepakatan pada anak untuk
mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang
disetujui masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam
pergaulan dengan orang lain.

2. Perkembangan Agama Anak Usia Dini
Agama memiliki makna ikatan yang harus dipegang

dan di patuhi manusia. Ikatan dimaksud berasal dari

| 13

suatu kekuatan yang lebih dari manusia sebagai kekuatan
yang gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indera,
namun berpengaruh besar dalam kehidupan
manusia.(Rahmat, 2002:12) Untuk menanamkan nilai-
nilai agama pada manusia, dimulai sejak usia dini. Agama
pada anak usia dini merupakan suatu keyakinan yang
dimiliki anak melalui perpaduan antara potensi bawaan
sejak lahir dan pengaruh lingkungan luar.

Sejak anak menghirup udara di bumi, anak sudah
membawa potensi spiritual, yang kelak menjadi perilaku
keagamaannya ketika dewasa. Oleh sebab itu
perkembangan agama pada anak usia dini menjadi ikhtiar
yang harus diperjuangkan bersama oleh setiap elemen
pendidikan, baik keluarga, sekolah ataupun masyarakat.
Adanya sinergisitas yang baik akan mengahntarkan pada
kemajuan peradaban yang berbasis spiritual integritas.

Perilaku keagamaan adalah suatu pola keyakinan
yang ditunjukkan seseorang pada kemampuan,
perbuatan serta kebiasaan seseorang baik jasmani, rohani,
emosional, dan religi. Pendapat yang lain menyebutkan
bahwa perilaku keagamaan adalah pemahaman para
penganut agama terhadap kepercayaan atau ajaran Tuhan
yang tentu saja menjadi bersifat religi dan sudah pasti
kebenarannya pun bernilai keagamaan. Singkatnya,

| 14

perilaku keagamaan adalah perilaku yang didasarkan
atas dasar kesadaran tentang adanya aktifitas
keagamaan.(Muhammad Sholikin, 2008:75)

Perilaku keagamaan juga bisa diartikan seberapa
jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa
sering pelaksanaan ibadah dan kaidah serta seberapa
dalam penghayatan atas agama yang dianut setiap
manusia. Perilaku keagamaan tersebut ditunjukkan
dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa,dan
membaca kitab suci.(Siti Naila Fauzia, 2015:304-305)
Perilaku keagamaan yang ada dalam diri manusia terkait
banyak atau sedikitnya kepercayaan seseorang kepada
Tuhan, kepercayaan akan keberadaan Tuhan tersebut
membuktikan bahwa seseorang memiliki keyakinan
beragama, terdorong untuk melaksanakan perintah
dalam agama, berperilaku moral sesuai tuntunan agama,
dan aktifitas keagamaan lainnya.

Berdasarkan beberapa pengertian perilaku
keagamaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
perilaku keagamaan adalah suatu pola penghayatan
kesadaran seseorang tentang keyakinannya terhadap
adanya Tuhan yang diwujudkan dalam pemahaman akan
nilai-nilai agama yang dianutnya, dalam mematuhi

| 15

perintah dan menjauhi larangan agama dengan
keikhlasan hati serta dengan seluruh jiwa dan raga.

Menyikapi perkembangan agama pada anak usia
dini, maka ada dua teori yang mengungkapkan hadirnya
keagamaan pada anak usia dini yaitu: Rasa
Ketergantungan (sense of depend) dan Instink Keagamaan.
a. Ketergantungan (sense of depend)

Manusia dilahirkan kedunia ini memiliki
empat kebutuhan, yakni keinginan untuk
perlindungan (security dan safety), keinginan akan
pengalaman baru (new experience), keinginan untuk
mendapatkan tanggapan (respone) dan keinginan
untuk dikenal (recognition). Berdasarkan kenyataan
dan kerjasama dari keempat keinginan itu, maka
manusia sejak dilahirkan hidup dalam
ketergantungan. Melalui pengalaman-pengalaman
yang diterimanya dari lingkungan itu kemudian
terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.
b. Instink Keagamaan

Sejak dilahirkan, setiap manusia sudah
memiliki beberapa instink, diantaranya instink
keagamaan. Belum terlihatnya tindak keagamaan
pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan
yang menopang kematangan berfungsinya insting

| 16

itu belum sempurna.(Mansur, 2007:47-48) Dengan
demikian pendidikan agama perlu diperkenalkan
kepada anak jauh sebelum usia 7 tahun. Artinya,
jauh sebelum usia tersebut, nilai-nilai keagamaan
perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Nilai
keagamaan itu sendiri bisa berarti perbuatan yang
berhubungan antara manusia dengan tuhan atau
hubungan antar manusia.

Kedua teori tersebut dapat dijadikan sebagai
landasan bagi orang tua, pendidik, dan praktisi
pendidikan anak usia dini untuk pengembangan nilai
agama anak usia dini. Perkembangan nilai agama pada
anak usia dini sendiri sangat dipengaruhi oleh sikap
orang tua terhadapnya sejak ia dilahirkan. Berikut
beberapa sikap orang tua yang perlu diperhatikan dalam
menentukan perkembangan nilai agama anak usia dini
antara lain:
a. Konsisten dalam mendidik anak

Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan
perlakuan yang sama dalam melarang atau
membolehkan tingkah laku tertentu kepada anak.
Satu perbuatan anak yang dilarang oleh orangtua

| 17

pada suatu waktu, harus juga dilarang apabila
dilakukan kembali pada waktu lain.
b. Sikap orangtua dalam keluarga

Sikap orang tua terhadap anak dapat
mempengaruhi perkembangan nilai agama anak,
yaitu melalui proses peniruan (imitasi). Sikap orang
tua yang keras (otoriter) cenderung melahirkan
sikap disiplin semua pada anak, adapun sikap yang
acuh tak acuh, atau sikap masa bodoh cenderung
mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab
dan kurang memperdulikan norma pada diri anak.
Sikap yang sebaliknya dimiliki oleh orang tua yaitu
sikap kasih 17eligi, keterbukaan, musyawarah
(dialogis), konsistem serta memberikan teladan yang
baik.
c. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut

Orang tua merupakan panutan (teladan) bagi
anak, orangtua harus mampu menjadi contoh dan
memberikan contoh, termasuk disini panutan dalam
mengamalkan ajaran agama. Orang tua yang
menciptakan iklim yang 17eligious (agamis) dengan
cara memberikan ajaran atau bimbingan tentang
nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan

mengalami perkembangan nilai agama | 18
baik.(Syamsul Yusuf LN, 2011:133)
yang

Pada anak usia dini, perilaku keagamaan harus
benar-benar diperhatikan oleh orang tua, keluarga, guru
dan lingkungan masyarakat. Perilaku keagamaan harus
dikenalkan dan ditanamkan kepada anak sejak dini
sebagai upaya menjadikan anak pribadi yang berakhlak
mulia. Adapun penanaman perilaku keagamaan kepada
anak dapat dilakukan dengan cara mengenalkan Tuhan,
Malaikat, Nabi, perbedaan perbuatan baik dan buruk
serta ganjaran keduanya dan lain sebagainya.

Sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga,
orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar
perilaku bagi anak-anaknya. Sikap, perilaku, dan
kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai dan ditiru oleh
anaknya yang kemudian semuanya itu secara sadar atau
tidak sadar diresapi anak dan kemudian menjadi
kebiasaan pula bagi anak-anaknya. Oleh karena itu untuk
mewujudkan seorang anak yang berperilaku keagamaan
atau berperilaku sesuai dengan ajaran agama Islam, maka
terlebih dahulu orangtua harus mampu menjadi contoh
dan memberikan contoh yang baik kepada anaknya
terkait perilaku beragama.

| 19

C. Karakteristik Nilai Moral dan Agama Anak Usia
Dini
Nilai moral dan agama yang dimiliki setiap anak

mampu menghantarkan kepada kebeningan dan
keindahan dalam hidup. Nilai-nilai tersebut perlu
ditanamkan sejak usia dini sebagai bekal mengahadapi
tantangan hidup di zaman berikutnya. Sebelum anak
memasuki lingkungan sosialyang lebih besar, orangtua
dan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam
mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan
kepada anak. Pembelajaran yang diberikan orang tua
hanya akan diserap anak dengan baik jika orangtua
mampu menciptakan situasi dan kondisi yang
menyenangkan sesuai dengan keinginan dan potensi
yang dimiliki anak.(Ibung, 2009:67)

Berikut beberapa karakteritik nilai moral dan agama
yang harus dikenalkan dan ditanamkan oleh orangtua,
keluarga, guru, dan praktisi kepada anak usia dini:
1. Kejujuran

Kejujuran merupakan suatu kemampuan
seseorang untuk mengakui perasaan, paradigma,
serta tindakan pada orang lain. Kejujuran
merupakan nilai kehidupan yang harus ditanamkan
kepada setiap manusia sejak usia dini. Dengan

| 20

mengenalkan kejujuran kepada anak, maka kita
akan membantu generasi emas bangsa dan agama
menjadi generasi yang benar, terhindar dari rasa
bersalah dikarenakan ada kebohongan dalam hidup.
2. Disiplin

Disiplin merupakan salah satu cara untuk
membentuk anak agar dapat mengembangkan
pengendalian diri. Dengan disiplin, anak dapat
memperoleh batasan untuk memperbaiki tingkah
lakunya yang salah. Disiplin mendorong,
membimbing, dan membantu anak agar
memperoleh perasaan puas karena kesetiaan dan
kepatuhan yang anak tersebut lakukan. Selain itu
disiplin yang sudah tertanam pada anak sejak usia
dini mengajarkan kepada anak bagaimana berpikir,
dan berbuat secara teratur. Bahkan dijelaskan bahwa
disiplin dapat memenuhi kebutuhan anak dalam
banyak hal karena dengan disiplin, anak dapat
berpikir dan menentukan sendiri tingkah laku
sosialnya sesuai dengan lingkungan sosialnya.
3. Kepedulian Sosial

Sebagai makhluk sosial, sikap hidup mau
berbagi, saling memperhatikan, saling menyadari,
dan saling melengkapi satu sama lain perlu

| 21

ditanamkan kepadaanaksejakusia dini. Sebagai

penguat dan motivasi kepada anakyang mau

berbagi, sebagai orangtua, guru harus memberikan

pujian pada anak-anak yang mau berbagi, mau

memperhatikan dan saling memberi dan menerima

dari teman-teman bermainnya, bahwa apa yang

dilakukan adalah baik dan perlu dilakukan secara

terus-menerus dalam kehidupan ini. Sebaliknya,

sikap egois dan mau menang sendiri harus

ditinggalkan dan dijauhi agar kondisi masyarakat

tertib, aman, dan terkendali. Anak diajak untuk lebih

bersikap terbuka, rendah hati, saling menerima dan

memberi, tidak bersikap egois dan mau menang

sendiri. Sebagai langkah awal yang bisa dilakukan

berupa sikap dan perilaku mau berbagi mainan

dengan teman, mau bergantian dengan teman, serta

mau bermain bersama teman, tidak asik dengan

kepentingan dan dirinya sendiri.(Nurul Zuriah,

2008:19)

4. Empati

Empati merupakan kemampuan

menempatkan diri pada posisi lain, untuk mengerti

dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal

ini perlu diterapkan kepada anak sejak usia dini

| 22

sebagai upaya menerapkan rasa bersyukur terhadap
apa yang dimiliki. Dan para ahli mengatakan bahwa
dengan empati, anak dapat menghindarkan diri dari
melakukan perbuatan keji karena paham efek
negatif yang ditimbulkan dari perbuatan tidak
bermoral tersebut. Anak yang memiliki empai yang
baik akan mempunyai kemampuan tenggang rasa
terhadap orang lain dan peka terhadap situasi orang
lain.
5. Kontrol diri

Setiap manusia memiliki beragam karakter.
Karakter yang dimiliki mencerminkan bagaimana
seseorang tersebut menyikapi persoalan kehidupan.
Pengendalian diri atau kontrol diri merupakan salah
satu hal yang penting dimiliki setiap manusia.
Terutama bagi anak usia dini, control diri adalah
ekspresi emosi yang diluapkan oleh anak tersebut.
Bagaimana anak mengekspresikan emosinya erat
kaitanya dengan kontrol diri yang ia lakukan.
Ekspresi emosi termasuk pada ketrampilan moral
anak yang berhubungan dengan relasi anak dengan
lingkungan sosialnya. Ekspresi emosi erat kaitannya
dengan penerimaan lingkungan. Anak menyalurkan
perasaan dalam beragam ekspresi sesuai dengan

| 23

perasaanya. Bahkan mungkin saja seorang anak
memiliki berbagai ekspresi untuk menyatakan suatu
perasaan. Berdasarakan beberapa cara yang dapat
dilakukan seorang anak untuk menyalurkan
emosinya, anak harus memilih untuk melakukannya
dalam cara yang dapat diterima lingkungan dengan
tetap mampu membuat dirinya nyaman.
6. Menghormati Orang Lain

Menghormati orang lain merupakan upaya
untuk mempperlakukan orang lain dengan baik.
Sikap saling menghormati, tidak tumbuh secara
statis, melainkan dinamis sesuai dengan lingkungan
yang memberikan pengaruh. Sikap menghargai dan
menghormati orang lain tidak tumbuh begitu saja
dalam diri seorang anak. Sikap ini muncul ketika
anak sudah tumbuh besar dan sudah mulai dapat
mengerti hal-hal yang sifatnya abstrak. namun
proses pembelajaran kemampuan moral ini dapat
dimulai sejak dini, yaitu dengan memberi teladan
pada anak, mengenai apa yang disebut dengan
menghargai dan menghormati orang lain.
7. Religiusitas

Sikap keberagamaan yang dimiliki anak
bersifat imitasi, diperoleh melalui pengamatan anak

| 24

terhadap lingkungan sekitarnya. Membiasakan diri
untuk berterima kasih dan bersyukur akan
membawa pengaruh pada suasana hidup yang
menyenangkan, ceria, dan penuh warna yang sehat
dan seimbang. Memperkenalkan kebiasaan berdoa
sebelum dan sesudah selesai pelajaran, sebelum dan
sesudah makan, serta sebelum dan sesudah bangun
tidur. Selain berdoa nilai religiusitas juga dapat
ditanamkan melalui kegiatan bernyanyi yang
sederhana dan mempunyai nilai hidup. Anak dapat
diajak untuk membahas arti syair nyanyian dan
diperkenalkan kepada keagungan Tuhan melalui
berbagai macam ciptaan dalam lingkungan hidup
yang termuat dalam syair lagu tersebut. Lagu anak
yang berkaitan dengan keindahan alam dan hidup
manusia akan menjadi wahana paling baik untuk
memperkenalkan akan kebesaran dan keagungan
Tuhan bagi hidup manusia.
8. Gender

Sikap, kondisi, situasi, serta suasana yang
dibentuk dan dikondisikan sejak dini yang
membedakan secara tajam antara laki-laki dan
perempuan terus berlangsung dan diterima secara
turun-temurun dalam sebagian besar masyarakat

| 25

Indonesia yang kental dengan ideologi patriarki.
Pembedaan yang ada bukanlah menunjukkan
perbedaan yang esensial, tetapi pembedaan
berdasarkan kebiasaan belaka. Secara esensial
perempuan sebenarnya bukanlah makhluk yang
lemah dan perlu dikasihani, melainkan sebaliknya ia
adalah makhluk yang kuat dan memiliki potensi
yang bisa dioptimalkan eksistensinya. Paradigma
dan pandangan yang demikian harus ditanamkan
pada diri anak sejak usia dini di lingkungan keluarga
dan berlanjut ketika di sekolah. Begitu juga laki-laki,
bukanlah identik dengan kasar dan hanya
mengandalkan otot. Hal ini pun harus
disosialisasikan sejak kecil melalui permainan dan
kegiatan bersama yang tidak membedakan antara
laki-laki dengan perempuan.
9. Demokrasi

Demokrasi bisa ditanamkan kepada anak sejak
dini melalui kegiatan menghargai perbedaan yang
tahap demi tahap harus diarahkan pada
pertanggungjawaban yang benar dan sesuai dengan
nalar. Untuk memulainya di lingkungan sekolah
dapat dilakukan melalui kegiatan menggambar.
Biarkan imajinasi dan kreativitas anak muncul

| 26

dengan leluasa. Apapun yang dihasilkan anak perlu
diberikan pujian, sekaligus ditanya untuk mendapat
penjelasan dan kesempatan agar dapat memahami
cara berpikirnya. Melalui interaksi dan dialog kecil
tersebut anak-anak dilatih untuk berani
menceritakan imajinasinya kepada orang lain.
Apapun yang dihasilkan anak, perlu mendapat
apresiasi dari guru. Apresiasi yang diberikan guru
tersebut merupakan bagian dari penghargaan akan
perbedaan.
10. Kemandirian

Melalui kegiatan bermain bersama, anak diajak
untuk terbiasa dan senang bermain dengan teman
sebayanya. Dengan perasaan senang bermain
bersama teman sebayanya, perlahan anak-anak
mulai siap untuk sekolah tanpa harus ditunggui.
Pada tahap berikutnya yang perlu dilakukan oleh
guru adalah membiasakan anak menjaga permainan
yang digunakan, diajar, dan diajak untuk
membereskan dan mengembalikan permainan ke
tempat yang sudah ditentukan. Anak dibiasakan
hidup tertib dan teratur serta bertanggung jawab
terhadap kegiatan yang telah dilakukan.

| 27

11. Tanggung Jawab
Nilai tanggung jawab di sekolah dapat

dilakukan melalui permainan atau tugas-tugas yang
menggunakan alat. Hal ini dapat menjadi sarana
untuk memperkenalkan dan melatih tanggung
jawab pada diri anak. menjaga agar alat permainan
tidak mudah rusak, berani melaporkan apabila alat
permainan rusak merupakan awal pembentukan
sikap dan perilaku bertanggung jawab. Melalui
kegiatan dan kebiasaan yang seperti itu, anak-anak
diajarkan untuk mengetahui bagaimana menjaga
dan memelihara permainan serta peralatan yang
digunakannya.

Karakteristik nilai moral dan agama pada anak usia
dini, merupakan sesuatu yang harus dipahami oleh setiap
praktisi PAUD sebagai langkah percepatan
perkembangan moral dan agama anak. Pada dasarnya,
perkembangan dan pertumbuhan anak merupakan hal
yang penting untuk kita pelajari dan kita pahami selaku
calon pendidik. Banyak para pendidik yang belum
memahami perkembangan-perkembangan anak.
Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem
pembelajaran tanpa melihat perkembangan anak

| 28

didiknya. Hal ini akan berakibat adanya
ketidakseimbangan antara sistem pembelajaran dengan
perkembangan anak yang akan menyulitkan anak didik
mengikuti sistem pembelajaran yang ada. Dengan
mengetahui proses, faktor, dan konsep perkembangan
anak didik kita akan mudah mengetahui sistem
pembelajarn yang efektif, efisien, terarah dan sesuai
dengan perkembangan anak didik.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Moral
dan Agama AUD
Nilai moral dan agama yang dimiliki anak usia dini

diperoleh melalui berbagai dimensi dan cara. Beberapa
faktor yang mempengaruhi nilai moral dan agama pada
anak usia dini terdiri dari faktor perkembangan awal, dan
faktor penghambat.
1. Perkembangan awal

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa
perkembangan awal (0-6 tahun) adalah masa-masa
kritis yang akan menentukan perkembangan
adanya perbedaan tumbuh-kembang antara anak
yang satu dengan yang lainnya dipengaruhi oleh
hal-hal sebagai berikut.

| 29

a. Fakor lingkungan sosial yang menyenangkan

anak

Hubungan anak dengan masyarakat yang

menyenangkan terutama dengan anggota

keluarga akan mendorong anak

mengembangkan kecenderungan menjadi

terbuka dan menjadi lebih berorientasi kepada

orang lain karakteristik yang mengarah ke

penyesuaian pribadi dan sosial yang lebihbaik.

b. Faktor emosi

Tidak adanya hubungan atau ikatan

emosional akibat penolakan anggota keluarga

atau perpisahan dengan orang tua, dapat

menimbulkan gangguan kepribadian pada

anak. Sebaiknya pemuasan emosional

mendorong perkembangan kepribadian anak

semakin stabil.

c. Metode mendidik anak

Anak-anak yang dibesarkan dalam

keluarga permisif, diprediksikan kelak ketika

besar cenderung kehilangan rasa tanggung

jawab, mempunyai kendali emosional yang

rendah dan sering berprestasi rendah dalam

melakukan sesuatu, sedangkan mereka yang

| 30

dibesarkan oleh orang tua secara demokratis

penyesuaian pribadi dan sosialnya lebih baik.

d. Beban tanggung jawab yang berlebiihan

Anak pertama seringkali diharapkan

bertanggung jawab terhadap rumah, termasuk

menjaga adiknya yang lebih kecil. Memang, hal

ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri dan

tanggung jawab yang lebih besar daripada

adik-adiknya. Akan tetapi, ia berpotensi

memiliki kecenderungan untuk

mengembangkan kebiasaan memerintah

sepanjang hidupnya. Artinya anak terlalu dini

untuk diberi tanggung jawab atas adik-

adiknya.

e. Faktor keluarga di masa anak-anak

Anak yang tumbuh dan berkembangan di

tengah-tengah keluarga besar akan bersikap

dan berperilaku otoriter. Demikian pula

dengan anak yang tumbuh dan berkembang di

tengah keluarga yang cerai kemungkinan besar

ia akan menjadi anak yang cemas, tidak mudah

percaya, dan sedikit kaku.

| 31

f. Faktor rangsangan lingkungan

Lingkungan yang merangsang

merupakan salah satu pendorong tumbuh-

kembang anak, khususnya dalam hal

kemampuan atau kecerdasan. Bercakap-cakap

dengan bayi atau menunjukkan gambar cerita

pada anak usia dini dapat mendorong minat

dalam belajar berbicara dan keinginan untuk

membaca. Oleh karena itu, lingkungan yang

merangsang dapat mendorong perkembangan

fisik dan mental anaksecara baik, sedangkan

lingkunganyang tidak merangsang dapat

menyebabkan perkembangan anak berada di

bawah kemampuannya.

2. Faktor penghambat
Adapun beberapa faktor penghambat dalam

nilai moral dan agama anak usia dini yaitu:
a. Gizi buruk yang mengakibatkan energi dan
tingkat kekuatan menjadi rendah.
b. Cacat tubuh yang mengganggu perkembangan
anak.

| 32

c. Tidak adanya kesempatan untuk belajar apa
yang diharapkan kelompok sosial dimana anak
tersebut tinggal.

d. Tidak adanya bimbingan dalam belajar
(PAUD)

e. Rendahnya motivasi dalam belajar.
f. Rasa takut dan minder untuk berbeda dangan

temannya dan tidak berhasil.

Menurut Darajat (2011: 192), pengajaran agama
dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat, setiap
apa yang dijarkan mempunyai nilai. Empat nilai
pokok dalam pengajaran agama yakni pertama nilai
material adalah jumlah nilai agama yang diajarkan,
keduanilai formal adalah nilai pembentukan yang
bersangkut dengan daya serap siswa atas segala
bahan yang telah diterimanya, ketiga nilai
fungsional adalah relevansi bahan dengan
kehidupan sehari- hari, keempat nilai esensial
adalah nilai hakiki agama mengajarkan kehidupan
yang hakiki jadi kehidupan itu tidak berhenti
didunia saja melainkan kehidupan itu berlangsung
terus diakhirat.

| 33

Konsep keagamaan pada diri anak dipengaruhi
oleh beberapa faktor dari luar diri mereka. Mereka
telah melihat dan mengikuti apa- apa yang
dikerjakan dan diajarkan orang dewasa dan orang
tua mereka tentang sesuatu yang berhubungan
dengan kemaslahatan agama. Begitu halnya
moralitas anak usia dini juga terbangun berdasarkan
pengamatan anak terhadap lingkungannya.
Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang
mampu menghantarkan generasinya kepada
kemajuan peradaban yang santun.

E. Pentingnya Mengembangkan Nilai Moral dan
Agama Anak Usia Dini
Anak usia dini merupakan anak yang memiliki

kecenderungan mengamati dan meniru apa saja yang
dilakukan orangtua, keluarga, teman, dan
lingkungannya. Dalam hal moralitas dan spiritualitas,
sejatinya anak memiliki segudang potensi. Hanya saja
potensi tersebut dapat berkembang dengan maksimal jika
stimulasi yang diberikan sesuai dengan perkembangan
anak. Setiap anak memiliki kebebasan dalam berpikir,
menuangkan segalaide yang ia miliki dalam kegiatan-
kegiatan yang menyenangkan. Sehingga konsep belajar
dalam pendidikan anak usia dini, harus mengusung

| 34

konsep belajar yang menyenangkan, tidak ada tekanan
dan paksaan.

Berbicara masalah Agama sudah tentu
membicarakan tentang kepercayaan, keyakinan dan
akidah yang dianut oleh manusia sebagai pandangan
hidupnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam
kehidupan manusia ada norma-norma atau aturan-aturan
dan undang-undang yang sifatnya mengikat dan
mengatur manusia itu sendiri supaya ia tidak terombang-
ambing dalam mengisi kehidupannya sehari-hari.
Disamping itu adanya norma-norma sosial masyarakat
yang mengatur hubungan antara sesama manusia yang
disebut dengan “hablum minannas” dan norma-norma
yang mengatur hubungan antara khalik dengan makhluk-
Nya yang disebut dengan “hablum minaallah”.

Untuk mewujudkan keseimbangan norma sosial
masyarakat dan norma dengan Tuhan, maka penting
adanya pendidikan moral dan agama yang baik sejak usia
dini. Dibutuhkan sinergitas semua pihak dalam
mewujudkan keseimbangan tersebut. Dengan berjalan
baiknya keseimbangan tersebut, harapannya akan terlahir
generasi yang akan cerdas intelektual, moral serta
spiritual.


Click to View FlipBook Version