The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by faiznurfaizah21, 2022-10-26 03:52:04

PENGEMBANGAN NILAI MORAL DAN AGAMA ANAK USIA DINI

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Keywords: Nilai Moral,Agama,anak usia dini

| 143

pengamanan alat komunikasi milik Instasi atau
lembaga pemerintah dari pertunjukan film, video,
permainan, gambar dan pementasan yang
bertentangan dengan jiwa Pancasila. Hal tersebut
dilakukan untuk meminimalisir penyimpangan
yang diakibatkan oleh tayangan-tayangan televisi
yang tidak sesuai dengan norma yang ada.
2. Pelarangan Permainan Kekerasan

Sebaiknya pemerintah melarang permainan
atau pertunjukan yang bersifat kekerasan seperti
mengadu binatang ataupun permainan matador
dari Spanyol yang pernah dipertunjukkan di
Jakarta, dimana permainan tersebut melukai
binatang yang digunakannya.
3. Pengawasan Terhadap Penerbitan Media Cetak.

Pengawasan terhadap penertiban media
cetak yang beredar penertiban dan pengawasan
harus dilakukan yaitu terhadap tulisan, gambar,
dan cerita yang dimuat di surat-surat kabar,
majalah, dan sebaginya. Sehingga moral Pancasila
dapat diamankan dan dipelihara dari unsur
kebudayaan asing yang bertentangan dengan
Pancasila.

| 144

4. Peningkatan Pendidikan Agama
Setelah penempatan jiwa agama

dilaksanakan dalam keluarga dan dikembangkan
dalam sekolah, maka hendaknya dalam
masyarakat dapat terpelihara dan terjamin
hidupnya jiwa agama. Misalnya dalam
kehidupan masyarakat hendaknya terjamin
kesempatan untuk melakukan ibadahnya,
misalnya tempat untuk melaksanakan ibadah
harus ada di setiap kantor, stasiun dan mall.
5. Meningkatkan Pembinaan Mental

Dalam pembahasan karakter adalah
kondisi atau wajah dari kondisi mental. Maka dari
itu dalam lingkungan dalam lingkungan
masyarakat harus diadakan secara periodik dan
teratur kegiatan pembinaan mental terutama
pada calon suami/istri. Kegiatan ini bertujuan
untuk memberikan pemahaman tentang syarat
keluarga bahagia termasuk bagaimana cara
mendidik dan memelihara anak dengan cara yang
diajarkan oleh agama.
6. Menciptakan Rasa Aman dalam Masyarakat

Rasa aman merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi karakter anak. Diantara

| 145

faktor yang menyebabkan timbulnya kerusakan
moral adalah perasaan gelisah dan kurang aman.
Salah satu hal yang sangat penting demi
terciptanya keamanan dalam masyarakat adalah
berjalannya kepastian hukum, apabila undang-
undang peraturan dan ketentuan hukum pada
umumnya dijamin pelaksanaannya secara adil
dan jujur, maka rasa aman masyarakat akan
terjamin.

Masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga
sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan
fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan
batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk
kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.
Masalah pendidikan di keluarga dan sekolah tidak bisa
lepas dari nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung
tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Setiap
masyarakat, dimanapun berada pasti punya
karakteristik sendiri sebagai norma khas di bidang
sosial budaya yang berbeda dengan masyarakat yang
lain. Norma-norma yang terdapat di Masyarakat harus
diikuti oleh warganya dan norma-norma itu
berpengaruh dalam pembentukan kepribadian

| 146

warganya dalam bertindak dan bersikap. Dan norma-
norma tersebut merupakan aturan-aturan yang
ditularkan oleh generasi tua kepada generasi
berikutnya. Penularan-penularan itu dilakukan dengan
sadar dan bertujuan, hal ini merupakan proses dan
peran pendidikan dalam masyarakat.

Ada bermacam-macam tingkatan peran serta
masyarakat dalam pembangunan pendidikan yang
dapat diklasifikasikan dimulai dari tingkat terendah ke
tingkat lebih tinggi, yaitu;
1. Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan

yang tersedia. Jenis ini adalah jenis tingkatan yang
paling umum, pada tingkatan ini masyarakat
hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk
pendidikan anak.
2. Peran serta secara pasif. Artinya, menyetujui dan
menerima apa yang diputuskan lembaga
pendidikan lain, kemudian menerima keputusan
lembaga tersebut dan mematuhinya.
3. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana,
bahan, dan tenaga. Pada jenis ini, masyarakat
berpartisipasi dalam perawatan dan
pembangunan fisik sarana dan prasaranan

| 147

pendidikan dengan menyumbangkan dana,
barang atau tenaga.
4. Peran serta dalam pelayanan. Masyarakat terlibat
dalam kegiatan belajar mengajar, misalnya
membantu sekolah dalam bidang studi tertentu.
5. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang
didelegasikan misalnya, sekolah meminta
masyarakat untuk memberikan penyuluhan
pentingnya pendidikan, dan lain-lain.
6. Peran serta dalam pengambilan keputusan.
Masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah
pendidikan anak, baik akademis maupun non
akademis. Dan ikut dalam proses pengambilan
keputusan dalam rencana pengembangan
pendidikan

Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu
diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh
seluruh manusia sebagai anggota masyarakat. Karena
itu, sesuatu dikatakan memiliki nilai apabila berguna
dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetika),
baik (nilai moral atau etis), dan religious (nilai agama).
JenjangJenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak
merupakan tahap untuk memperkenalkan kepada

| 148

anak akan realitas lingkungan hidup yang lebih luas
dibandingkan lingkup keluarga. Dalam kehidupan
bersama ada nilai-nilai hidup yang akan diperjuangkan
supaya hidup bersama, dan hidup sebagai manusia
menjadi semakin baik. Nilai-nilai ini akan mulai
diperkenalkan kepada anak usia dini melalui proses
memperkenalkan dan membiasakan diri pada tatanan
kehidupan bersama yang didasari nilai-nilai hidup
manusia

Lingkungan masyarakat luas jelas memiliki
pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman
nilai-nilai estetika dan etika untuk pembentukan
karakter. Dari perspektif Islam, menurut Shihab (1996:
321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang
dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang
masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan
pandangan mereka terbatas pada “kini dan di sini”,
maka upaya dan ambisinya terbatas pada kini dan di
sini pula. Peran serta Masyarakat (PSM) dalam
pendidikan memang sangat erat sekali berkait dengan
pengubahan cara pandang masyarakat terhadap
pendidikan. ini tentu saja bukan hal yang ,mudah
untuk dilakukan. Akan tetapi apabila tidak dimulai
dan dilakukan dari sekarang, kapan rasa memiliki,

| 149

kepedulian, keterlibatan, dan peran serta aktif
masyarakat dengan tingkatan maksimal dapat
diperolah dunia pendidikan.

Perkembangan keagamaan yang baik akan
berpengaruh pada perilaku sosial yang baik pula. Oleh
karena itu, pola pendidikan agama pada anak tidak
boleh dipisahkan dari nilai-nilai moral yang berlaku di
masyarakat setempat. Atas dasar ini, pendidikan
agama pada anak perlu diaktualisasikan dalam
kehidupan sehari-hari, seperti berbakti kepada orang
tua, suka menolong, rela berbagi mainan, menghormati
yang lebih tua, dan sebagainya.

Lingkungan masyarakat dalam hal ini yaitu
situasi atau kondisi interaksi sosial dan sosio kultural
yang secara potensial berpengaruh terhadap
perkembangan fitrah beragama atau kesadaran
beragama individu.(Syamsu Yusuf, 2012:141).
Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah
pentingnya dalam upaya pembentukan karakter anak
bangsa. Dalam hal ini yang dimaksud dengan
masyarakat disini adalah orang yang lebih tua yang
tidak memiliki ikatan kekeluargaan dengan anak tetapi
saat itu ada di lingkungan sang anak atau melihat
tingkah laku si anak. Orang-orang inilah yang dapat

| 150

memberikan contoh, mengajak, atau melarang anak
dalam melakukan suatau perbuatan.

Contoh-contoh perilaku yang dapat diterapkan
oleh masyarakat, sebagai berikut:
1. Membiasakan gotong royong, misalnya:

membersihkan halaman rumah masing-masing,
membersihkan saluran air, menanami
pekarangan rumah.
2. Membiasakan anak tidak membuang sampah dan
meludah di jalan, merusak atau mencoret-coret
fasilitas umum.
3. Menegur anak yang melakukan perbuatan yang
tidak baik.

Kendala-kendala yang dihadapi dimasyarakat:
1. Tidak ada kepedulian
2. Tidak merasa bertanggung jawab
3. Menganggap perbuatan anak adalah hal yang

sudah biasa
Perkembangan moral anak dapat ditandai dengan
kemampuan anak untuk memahami aturan, norma,
dan etika yang berlaku. Masganti mengemukakan
bahwa “perkembangan moral adalah perkembangan
yang berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

| 151

mengetahui baik dan buruk suatu perbuatan dan
kesadaran untuk melakukan perbuatan baik,dan rasa
cinta terhadap perbuatan baik. (Masganti, 2012: 149)

Menurut Yusuf moral merupakan keinginan
untuk menerima dan melakukan perbuatan, nilai- nilai
dan prinsip-prinsip moral. Prinsip moral yang
dimaksud Yusuf adalah sebangai berikut:
1. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain,

memelihara ketertiban dan keamanan, dan
melindungi hak orang lain.
2. Larangan untuk mencuri, berzina, membunuh,
minum-minuman keras dan berjudi.
3. Perkembangan moral ditandai dengan
kemampuan anak untuk memahami aturan,
norma, dan etika yang berlaku.

Mengigat moral merupakan faktor penting dalam
kehidupan manusia maka manusia sejak dini harus
mendapatkan pengeruh yang positif untuk
menstimulasi perkembangan moralnya. Seseorang
dapat dikatakan bermoral apabilah tingkal laku orang
tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung
tinggi oleh kelompok sosialnya. Standar moral suatu
kelompok tidak akan berlaku pada kelompok sosial

| 152

lain. Akan tetapi, apabila seseorang memasuki suatu
kelompok sosial baru, maka orang tersebut harus
mengikuti nilai-nilai moral yang dibuat oleh kelompok
sosial yang dimasukinya. ( Hidayat, 2007: 7-9)

Perkembangan moral pada program pendidikan
anak usia dini (PAUD) merupakan pondasi yang kokoh
dan yang sangat penting keberadaanya, dan jika hal itu
sudah tertanam serta tertepati dengan baik dalam
setiap insan sejak dini, hal tersebut merupakan awal
yang baik bagi pendidikan anak bangsa untuk
menjalani pendidikan selanjutnya. kerangka
kehidupan dalam tatanan masyarakat kita dengan
dasar yang mengakui adanya tuhan yang maha esa
pada sila pertama Pancasila. Gambaran itu
membuktikan bahwa Bangsa Indonesia merupakan
bangsa yang secara nyata berfalsafah Ketuhanan yang
mampu mewarnai gerakan langkah kehidupan didunia
ini. Berakar pada hari nurani, akal sehat dan kenyataan
rasional maka bangsa indosesia mengharapkan cita-
cita bangsa ini mampu memiliki bangsa yang beriman,
bertakwa dan berakhlak mulia. Utnuk itulah benar
kiranya bahwa para guru dan orang tua seyogyanya
sangat memperhatikan masalah pendidikan nilai-nilai

| 153

keagamaan menjadi skala prioritas dalam berbagai

sendi kehidupan anak didik kita semua.

Menurut undang-undang sistem pendidikan

nasional tahun 2003 Bab II pasal 3 pendiidkan nasional

berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang

bermartabat dalam rangka mencerdaskan

kehidupannya bangsa, bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi

manusia beriman dan bertakwa kepada tuhan yang

maha esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap

kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang

demokratis serta bertanggung jawab (sisdiknas, 2003,

hal. 6.). Pendidikan nilai-nilai keagamaan ini

merupakan pondasi yang kokoh dan sangat penting

keberadaanya, dan jika hal itu telah tertanam dan

terparti dalam setiap insan sejak dini, berarti ini adalah

awal yang baik bagi pendidikan anak bangsa untuk

menjalani jenjang pendidikan selanjutnya. Lingkungan

yang merangsang merupakan salah satu pendorong

tumbuh-kembang anak, khususnya dalam hal

kemampuan atau kecerdasan. Bercakap-cakap dengan

bayi atau menunjukkan gambar cerita pada anak usia

dini dapat mendorong minat dalam belajar berbicara

| 154

dan keinginan untuk membaca. Oleh karena itu,
lingkungan yang merangsang dapat mendorong
perkembangan fisik dan mental anak secara baik,
sedangkan lingkungan yang tidak merangsang dapat
menyebabkan perkembangan anak berada di bawah
kemampuannya.

Pendapt Fari Ulfa (2014: 86) menyatakan
Masyarakat juga memiliki peran terhadap pendidikan
dan sekolah antara lain:
1. Pengawasan masyarakat terlebih juga dalam

pengawasan terhadap sekolah (Sosial control).
Pengawasan ini terhadap segala gerak-gerik
sekolah selaku lembaga pendidikan. Pengawasan
dapat secara langsung atau lewat Badan
Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) atau
lewat media masa, demikian juga masukan hasil
pengawasan.
2. Bantuan-bantuan yang berupa pembiyaan
sekolah (gedung, sarana, prasarana) lewwat BP3
atau secara langsung perorangan/kelompok.
3. Penyediaan tempat untuk mendirikan sekolah
atau lapangan sekolah dan lain-lain yang
diperlukan sekolah.
4. Penyediaan narasumber (resorce person).

| 155

5. Masyarakat sebagai laboratorium atau sumber
belajar yang sangat membantu proses belajar
mengajar.
Selanjutnya Fari Ulfa juga menjelaskan bahwa

masyarakat sebagai lembaga pendidikan ke tiga
sesudah sekolah dan keluargajuga memiliki peran
terhadap pendidikan, yaitu:
1. Masyarakat berperan serta dalam mendirikan dan

membiyai sekolah,
2. Masyarakat berperan dalam mengawasi

pendidikan agar sekolah teta membantu dan
mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat.
3. Masyarakat itu menyiadakan berbagai sumber
untuk sekolah.
4. Masyarakat itu menyediakan tempat peddidkan
serta gedung-gedung pembelajran, museum,
perpustakaann, panggung-panggung kesenian,
dan lain-lain.
5. Masyarakat sebagai sumber pelajaran atau
laboratorium tempat belajar.
6. Dengan demikian, jelas bahwa peran masyarakat
sangatlah besar terhadap pendidikan sekolah.
Pendidikan kehidupan manusia. dalam
pengembangan nilai-nilai kehidupan manusia.

| 156

dalam penegembangan nilai, tersirat pengertian,
manfaat yang ingin dicapai oleh manusia dalam
hidupnya. Jadi apa yang ingin dikembangkan
merupakan apa yang dapat dimanfaatkan dari
arah pengembangan itu sendiri.

Manusia tidak bisa lepas dari kehidupan sosial
atau masyarakat, maka tindakan sosial atau hubungan
sosial adalah tindakan yang penuh arti dari individu,
oleh sebab itu, fungsi dan peran masyarakat dalam
pembentukan nilai-nilai keagamaan akan sangat
tergantu dari seberapa jauh lingkungan masyarakat
tersebut menjunjung nilai-nilai dan norma keagamaan.
Dengan begitu, pengaruh masyarakat terhadap
pertumbuhan jiwa keagamaan, pembentukan nilai-
nilai yang berkaitan dengan aspek spiritual akan lebih
baik apabila anak berada dalam lingkungan yang juga
menjunjung nilai-nilai tersebut.

| 157

BAB V
STRATEGI PENGEMBANGAN NILAI

MORAL DAN AGAMA ANAK USIA
DINI

A. Urgensi Strategi Pembelajaran Bagi Anak Usia
Dini
Pengembangan Nilai-nilai kehidupan pada anak

usia dini seperti nilai moral dan agama harus
disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan
mereka. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi jitu yang
efektif dan menyenangkan dalam mengenalkan dan
memberikan pemahaman kepada anak usia dini.
Pemilihan strategi pembelajaran sangat bermanfaat
dalam keberlengsungan kegiatan pembelajaran.
Karena salah fungsi strategi diantaranya adalah untuk
mempermudah, mempercepat, lebih menikmati lebih
memahami secara langsung, lebih efektif dan lebih
mudah ditransfer ke dalam situasi baru.(Trianto,
2007:86) Agar kegiatan pembelajaran dapat
berlangsung dengan baik dan tujuan pembelajaran
dapat tercapai secara maksimal, guru harus dapat

| 158

menentukan strategi yang tepat untuk dilaksanakan
dalam kegiatan pembelajaran tersebut.

Penerapan strategi yang tepat tentu saja
memberikan pengaruh yang sangat berarti dalam
kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran strategi
bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas anak
didik menuju terbinanya insan yang handal cerdas
intelektual spiritual, dan santun dalam moral.
Tentunya untuk tujuan ini maka strategi pembelajaran
termasuk dalam mengidentifikasi segala bentuk
kegiatan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa dengan
adanya strategi pembelajaran, ini merupakan suatu
langkah berupa pengorganisasian komponen-
komponen pembelajaran yang dilakukan untuksuatu
tujuan tertentu.(Umi Zulfa, 2009:16) Artinya strategi
pembelajaran adalah pola-pola umum kegiatan guru
dan murid dalam mempermudah, mempercepat, lebih
efektif dalam perwujudan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Dalam pendidikan anak usia dini, strategi
pembelajaran yang digunakan harus dengan suasana
yang menyenangkan, diselimuti dengan kegiatan
bermain. Karena pada dasarnya orientasi dari

| 159

pembelajaran anak usia dini masih dalam tahap
mengenalkan, jika memang ingin memberikan
pemahaman kepada anak, terkait kognitif mereka
harus dibarengi dengan kegiatan bermain yang
menyenangkan.

Pengembangan nilai moral dan agama
merupakan salah satu aspek perkembangan yang harus
senantiasa di stimulasi sebagai persiapan masa depan
anak yang lebih baik. Untuk mewujudkan moralitas
bangsa di masa yang akan dating, maka ditentukan
oleh landasan awal ketika generasi bangsa berada pada
usia dini. Begitu pula halnya, untuk menjaga eksistensi
keberagamaan, toleransi beragama, pemahaman ajaran
agama dan lain sebagainya terkait spiritualitas, maka
yang menjadi penentunya adalah generasi emas
agama. Oleh sebab itu pemilihan strategi jitu dan
handal sangat diperlukan untuk mewujudkan itu
semua.

Pengembangan Nilai-nilai Agama dan Moral
adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus
dalam kehidupan anak, sehingga menjadi suatu
kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter
keberagamaan yang karimah, terbentuk generasi yang
bertakwa kepada Allah dan dapat menjalin komunikasi

| 160

yang baik kepada sesama manusia. Tujuan dari
pengembangan nilai moral dan agama agar anak didik
kokoh dalam memeluk Agama Islam dan berakidah
Islam yang lurus.

Strategi Pengembangan Nilai-nilai Agama dan
Moral merupakan pola-pola umum kegiatan guru dan
murid dalam mempermudah, mempercepat, lebih
efektif dalam perwujudan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam bidang
Pengembangan Nilai-nilai Agama dan Moral.

Sebelum membahas lebih jauh terkait strtegi apa
saja yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini.
Terlebih dahulu penting adanya untuk memahami
perbedaan-perbedaan mendasar dalam pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah
yang memiliki kemiripan makna, sehingga sering kali
guru, mahasiswa, dan praktisi pendidikan merasa
bingung untuk membedakan istilah-istilah seperti
pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran,
metode pembelajaran, teknik pembelajaran, model
pembelajaran.

Adapun penjelasan mengenai beberapa istilah
tersebut sebagai berikut:

| 161

1. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran adalah sudut

pandang atau asumsi dasar guru terhadap siswa.
Pendekatan pembelajaran juga bisa dimaknai
sebagai sudut pandang guru terhadap proses
belajar mengajar.(Umi Zulfa, 2009:21) Secara garis
besar bisa dibedakan menjadi dua, yaitu a) sudut
pandang siswa dan b) sudut pandang proses
pembelajaran.

2. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan

pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan
siswa secara bersama untuk mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif dan efisien.(Wina
Sanjaya, 2008:126) Sederhananya strategi
pembelajaran merupakan perencanaan yang
berisi rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan
untuk mencapai suatu tujuan.

3. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan langkah

operasional dan implementatif dari strategi
pembelajaran yang dipilih guru dalam mencapai

| 162

tujuan belajar. Ketepatan penggunaan suatu
metode akan menunjukkan berfungsinya suatu
strategi pembelajaran. Dengan kata lain, metode
adalah a way in achieving something.(Wina Sanjaya,
2008) diperlukan pemilihan metode pembelajaran
yang sesuai dengan jenjang pendidikan dan
perkembangan siswa.

4. Teknik Pembelajaran

Teknik pembelajaran dapat diartikan

sebagai cara yang dilakukan guru dalam

mengimplementasikan suatu metode

pembelajaran secara spesifik. (Hamruni, 2012:8)

Misalnya dalam penggunaan metode ceramah

dengan jumlah siswa yang banyak maka

membutuhkan teknik tersendiri. Teknik tersebut

tentuakan berbeda jika dilakukan di kelas yang

jumlah siswanya sedikit.

5. Taktik Pembelajaran
Taktik pembelajaran adalah gaya seseorang

dalam melaksanakan metode atau teknik
pembelajaran tertentu yang sifatnya
individual.(Hamruni, 2012:8) Terkait dengan

| 163

taktik pembelajaran, sederhananya misalkan,
terdapat dua orang sama-sama menggunakan
metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat
berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam
penyajiannya, yang satu cenderung banyak
diselingi dengan humor karena memang dia
memiliki sense of humor yang tinggi, sementara
yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor,
tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu
elektronik karena dia memang sangat menguasai
bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan
tampak keunikan atau kekhasan dari masing-
masing guru, sesuai dengan kemampuan,
pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang
bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran
merupakan ilmu dan seni.

6. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah pola yang

digunakan guru untuk menyusun kurikulum,
mengatur materi, mewujudkan teknik, taktik,
strategi, dan pendekatan dalam
pembelajaran.(Kokom Komalasari, 2013:57)
Sederhananya model pembelajaran adalah

| 164

bingkai dari semua kegiatan yang akan dilakukan
dalam pembelajaran.

Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat agar
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan
mempunyai beberapa kriteria. Banyak sedikitnya
kriteria yang terpenuhi akan menentukan keefektifan
penggunaan strategi pembelajaran dalam mencapai
tujuan. Kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik peserta didik
2. Tujuan dan materi pembelajaran
3. Ketersediaan waktu dan media
4. Familiaritas strategi

Pendapat yang lain dikemukan oleh Hidayat
(2008:10.17) bahwa hal-hal yang menjadi bahan
pertimbangan dalam memilih strategi pembelajaran
khususnya dalam pengembangan nilai agama dan
moral pada anak usia dini adalah dengan
memperhatikan beberapa prinsip, yaitu:
1. Prinsip developmentally appropriate practise (DAP)

Merupakan pengambilan keputusan secara
profesional tentang pengakuan terhadap
keberadaan anak dan pendidikan yang

| 165

didasarkan atas pengetahuan tentang
perkembangan dan belajar anak, kekuatan, minat
dan kebutuhan anak di dalam kelompok, dan
konteks sosial budaya dimana anak hidup.
Kesesuaian dengan kebutuhan anak alam
lingkungan hidupnya.

2. Prinsip enjoyable
Merupakan prinsip menciptakan suasana

pembelajaran yang menyenangkan. Karena
sesungguhnya mereka dilahirkan dengan potensi
awal yang tidak mengetahui hakikat beragamnya
permasalahan orang dewasa. Mereka berhak
menikmati hidup dengan persaan senang dan
tanpa menghadapi beban. Anak usia dini juga
merupakan anak dengan usia ceria, penuh
kebahagiaan.

B. Penggunaan Strategi Contextual Teaching &
Learning dalam Pengembangan Nilai Moral dan
Agama Anak Usia Dini
Contextual Teaching and Learning (CTL)

merupakan salah satu pendekatan dari beragam
pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran anak

| 166

usia dini. CTL diterjemahkan oleh pakar pendidikan
Indonesia dengan berbagai versi, misalnya: Ahmad
Zayadi dan Abdul Majid, menerjemahkannya dengan
“pembelajaran dan pengajaran kontekstual”.(Majid,
2005:12) Sedangkan Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP) dan Balitbang Depdiknas, serta
beberapa pakar pendidikan Indonesia menerjemahkan
Contextual Teaching and Learning(CTL) dengan
pembelajaran kontekstual.

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa CTL
adalah adalah suatu sistem belajar yang menyeluruh,
yang terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung.
Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka
akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang
diberikan bagian-bagiannya secara terpisah.(Ibnu
Setiawan, 2007:65) Strategi CTL dapat diterapkan di
semua jenjang pendidikan, namun terlebih dahulu
perlu memahami konsep, prinsip dasar dan bagaimana
langkah penerapannyasesuai dengan jenjang
pendidikan.
1. Konsep Contextual Teaching & Learning

Strategi Contextual Teaching & Learning membawa
konsep belajar dan mengajar yang memudahkan guru
memadukan materi dengan dunia nyata anak didik.

| 167

Materi yang akan disampaikan guru harus
menyesuaikan kehidupan sehari-hari anak
didik.(Kokom Komalasari, 2013:6) Dalam pembelajaran
kontekstual, anak didik menemukan hubungan penuh
makna antara ide-ide yang abstrak dengan
mengaplikasikan secara praktis dalam dunia nyata.
Sederhananya konsep dari strategi ini adalah
mengarahkan kepada belajar bermakna dan
mengkonstruk pemikiran secara nyata.

Berdasarkan konsep dari CTL tersebut, maka
menurut Wina Sanjaya (2008:110) ada beberapa hal
yang harus dipahami terkait strategi CTL ini:
a. CTL menekankan kepada proses keterlibatan

peserta didik untuk menemukan materi, artinya
proses belajar diorientasikan pada keterlibatan
peserta didik untuk menemukan secara langsung.
Proses belajar dalam konteks CTL tidak
mengharapkan agar peserta didik hanya
menerima pelajaran, akan tetapi diharuskan
mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran.
b. CTL mendorong peserta didik dapat menemukan
hubungan antara materi yang dipelajarinya
dengan situasi kehidupan nyata, artinya peserta

| 168

didik dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajarnya di
sekolah dengan kehidupan nyata dilingkungan
mereka berada. Hal ini sangat penting, sebab
dengan dapat mengorelasikan materi yang
ditemukan dengan kehidupan nyata, maka materi
itu akan bermakna (meaningful) secara fungsional
serta tertanam erat dalam memori peserta didik,
sehingga tidak akan mudah dilupakan.
c. CTL mendorong peserta didik untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL
bukan hanya mengharapkan peserta didik dapat
memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi
bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai
perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya materi pelajaran dalam konteks CTL
bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian
dilupakan akan tetapi sebagai bekal mereka
dalam mengarungi kehidupan nyata mereka di
masyarakat.

Sebagai salah satu strategi pembelajaran, CTL
tentu memerlukan perencanaan pembelajaran yang
mencerminkan konsep dan prinsip CTL. Adapun

| 169

komponen utama CTL yang harus dikembangkan oleh

guru, yaitu:

a. Kontruktivisme

Merupakan proses membangun atau

menyusun pengetahuan baru dalam struktur

kognitif siswa berdasarkan

pengalamannya.(Wina Sanjaya, 2008:264)

Pengetahuan bukanlah fakta atau konsep yang

siap diingat, sehingga siswa harus membangun

pengetahuan itu melalui pengalamannya. Batasan

kontruktivisme di atas menekankan bagaimana

konsep atau pengetahuan yang dimiliki siswa itu

dapat memberikan pedoman nyata terhadap

siswa untuk diaktualisasikan dalam

kehidupannya.

b. Inkuiri
Merupakan proses pembelajaran yang

didasarkan pada pencarian dan penemuan
melalui proses berpikir secara sistematis. Proses
pembelajaran inkuiri diawali dengan pertanyaan
yang dapat menumbuhkan keingintahuan siswa
dalam melihat fenomena alam (Ahmad Susanto,
2013). Penerapan asas inkuiri dalam pembelajaran

| 170

CTL dimulai dari adanya kesadaran siswa akan
masalah yang ingin dipecahkan. Menurut
Rusman (2013:114) siklus inkuiri ini terdiri dari:

1) Observasi
2) Bertanya
3) Mengajukan dugaan
4) Mengumpulkan data
5) Penyimpulan

c. Bertanya

Pengetahuan yang dimiliki seseorang

bermula dari bertanya. Bertanya dapat dipandang

sebagai refleksi dari keingintahuan setiap

individu. Bertanya dalam pembelajaran

merupakan kegiatan untuk mendorong,

membimbing dan menilai kemampuan berpikir

siswa.(Trianto, 2007:115) Kegunaan bertanya

dalam pembelajaran adalah untuk menggali

informasi tentang kemampuan siswa dalam

penguasaan materi pembelajaran,

membangkitkan motivasi belajar siswa,

merangsang keingintahuan siswa, memfokuskan

siswa pada sesuatu yang diinginkan,

| 171

membimbing siswa untuk menemukan dan
menyimpulan sesuatu.

d. Masyarakat belajar

Merupakan suatu kegiatan yang

dimaksudkan untuk membiasakan siswa

melakukan kerja sama dan memanfaatkan

sumber belajar dari teman-teman

belajarnya.(Rusman, 2013:109) Dalam

pembelajaran CTL asas masyarakat belajar

dilakukan melalui kelompok belajar. Siswa dibagi

ke dalam kelompok yang anggotanya heterogen.

Dalam kelompok belajar ini siswa akan saling

belajar. Siswa yang terlibat dalam masyarakat

belajar akan memberikan informasi yang

diperlukan temannya sekaligus meminta

informasi dari teman belajarnya. Kegiatan saling

belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak

yang dominan dalam komunikasi. Setiap pihak

harus merasa bahwa setiap anggota memiliki

pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan

yang berbeda yang perlu dipelajari. Jika setiap

siswa mau belajar dari siswa lain, maka setiap

| 172

siswa bisa menjadi sumber belajar sehingga siswa
akan kaya dengan pengetahuan dan pengalaman.

e. Pemodelan
Merupakan proses pembelajaran dengan

memperagakan sesuatu sebagai contoh yang
dapat ditiru oleh siswa.(Hamruni, 2012:177)
Dalam pembelajaran CTL, guru bukan satu-
satunya model. Pemodelan dapat dirancang
dengan melibatkan siswa yang dianggap
mempunyai kemampuan. Selain itu, guru juga
dapat mendatangkan seorang yang ahli dalam
bidangnya atau menampilkan hasil karya siswa.
Pemodelan ini merupakan asas yang cukup
penting karena dengan pemodelan siswa akan
mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana
sesuatu harus dilakukan serta dapat terhindar
dari pembelajaran yang teoritik-abstrak.

f. Refleksi

Merupakan proses pengendapan

pengalaman yang telah dipelajari dengan cara

mengurutkan kembali kegiatan-kegiatan

pembelajaran yang telah dipelajarinya. Melalui

| 173

proses refleksi, pengalaman belajar akan
dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang
pada akhirnya menjadi bagian dari pengetahuan
yang dimiliki siswa. Pada akhir kegiatan
pembelajaran CTL siswa diberi kesempatan untuk
merenung atau mengingat kembali apa yang telah
dipelajarinya dan menafsirkan pengalamannya
sehingga siswa dapat menyimpulkan materi yang
telah dipelajari. Dalam pembelajaran CTL
pengalaman belajar bukan hanya dimiliki siswa
ketika di dalam kelas, tetapi jauh lebih penting
adalah ketika siswa dituntut untuk
menyelesaikan permasalahan nyata yang
berkaitan dengan materi yang dipelajari dalam
kehidupan sehari-hari.

2. Prinsip Dasar Contextual Teaching & Learning
Pembelajaran kontekstual bertujuan untuk

membekali siswa dengan pengetahuan yang
secara fleksibel dapat diterapkan dari satu
permasalahan ke permasalahan yang lain dan
dari satu konteks ke konteks lainnya. Oleh karena
itu, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan

| 174

dalam pembelajaran kontekstual (Ngainun Naim,
2013: 194), yaitu:
a. Belajar tidak sekedar menghafal, tetapi

siswa mengalami dan harus mengkontruksi
pengetahuan.
b. Anak belajar dari apa yang dialami bukan
begitu saja pemberian oleh guru.
c. Pengetahuan yang dimiliki siswa
terorganisasi dan mencerminkan
pemahaman yang mendalam tentang suatu
persoalan.
d. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan,
tetapi mencerminkan keterampilan yang
dapat diterapkan.
e. Setiap siswa memiliki keaneka ragamancara
berpikir, dan sikap yang berbeda dalam
menghadapi situasi baru.
f. Siswa dibiasakan untuk menemukan
sesuatu yang dapat digunakan dalam
memecahkan masalah dalam kehidupannya.

Belajar secara kontinu dapat membangun
struktur otak sejalan dengan perkembangan
pengetahuan dan keterampilan yang diterima.

| 175

Pada pendidikan anak usia dini, belajar secara
kontinu merupakan suatu pembiasaan yang
harus dioptimalkan. Pembiasaan yang diterapkan
pada anak usia dini memiliki korelasi dengan
perkembangan otak anak dan dengan sendirinya
anak akan mengkonstruk pemikirannya.

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa
dalam strategi pembelajaran kontekstual ini,
prinsip yang mendasarinya yaitu:
a. Adanya keterkaitan atau relevansi

Dalam setiap proses pembelajaran,
hendaknya ada relevansi dengan
pengalaman yang dimiliki anak didik dan
bekal pengetahuan yang telah ada pada diri
setiap anak. Setiap anak memiliki segudang
potensi yang disebut dengan faktor internal
dalam kegiatan belajar dan harus ada
relevansinya dengan factor eksternal yang
menyelimuti keseharian anak seperti
lingkungan belajar, media, alat permainan
dan sebagainya.

| 176

b. Pengalaman langsung

Dalam proses pembelajaran siswa

perlu mendapatkan pengalaman langsung

melalui kegiatan eksplorasi, penemuan

discovery, inventory, investigasi, dan

penelitian. Pengalaman yang dimiliki anak

didik dianggap sebagai jantung

pembelajaran kontekstual. Proses

pembelajaran dan kegiatan bermain pada

anak usia dini akan berlangsung dengan

baik jika anak diberi kesempatan untuk

memanfaatkan seluruh sarana dan

prasarana belajar peralatan, memanfaatkan

sumber belajar, dan melakukan kegiatan

bermain yang sifatnya memicu dan memacu

intensitas rasa ingin tahu anak.

c. Aplikasi
Menerapkan fakta, konsep, prinsip,

dan prosedur yang dipelajari dalam situasi
dan konteks yang lain merupakan
pembelajaran tingkat tinggi, lebih daripada
sekedar hafal. Kemampuan anak usia dini
untuk mengimplementasikan kegiatan yang

| 177

dilakukan di sekolah perlu ada kerjasama
dengan orangtua. Sehingga kegiatan yang
telah dilaksanakan di sekolah dapat
diterapkan pada kondisi dan situasi
lingkungan yang berbeda.

d. Kerjasama
Kerjasama dalam konteks saling tukar

pikiran, mengajukan dan menjawab
pertanyaan, komunikasi interaktif antar
sesama siswa, antar siswa dengan guru,
antar siswa dengan nara sumber,
memecahkan masalah dan mengerjakan
tugas bersama merupakan strategi
pembelajaran pokok dalam pembelajaran
kontekstual. Pengalaman bekerjasama tidak
hanya membantu siswa belajar menguasai
materi pembelajaran tetapi juga sekaligus
memberikan wawasan pada dunia nyata
bahwa untuk menyelesaikan suatu tugas
akan lebih berhasil jika dilakukan secara
bersama-sma ata kerjasama dalam bentuk
tim kerja.

| 178

Menurut Jhonson (2010:69-82) terdapat tiga
prinsip dalam CTL (Contextual Teaching and
Learning), yaitu:
a. Prinsip Kerja sama

Bekerja sama akan membantu mereka
mengetahui bahwa saling mendengarkan
akan menuntun pada keberhasilan. Para
pendidik yang bertindak menurut prinsip
ini akan mengadopsi praktik CTL dalam
menolong para siswa membuat hubungan-
hubungan untuk menemukan makna.
b. Prinsip Diferensiasi

Kata diferensiasi merujuk pada
dorongan terus-menerus dari alam semesta
untuk menghasilkan keragaman yang tak
terbatas, perbedaan, berlimpahan, dan
keunikan.
c. Prinsip Pengorganisasian Diri

Prinsip pengaturan diri menyatakan
bahwa setiap entitas terpisah di alam
semesta memiliki sebuah potensi bawaan,
suatu kewaspadaan atau kesadaran yang
menjadikannya sangat berbeda. Sasaran
utama sistem CTL adalah menolong para

| 179

siswa mencapai keunggulan akademik,
memperoleh keterampilan karier, dan
mengembangkan karakter dengan cara
menghubungkan tugas sekolah dengan
pengalaman serta pengetahuan pribadinya.

Berdasarkan ketiga prinsip tersebut, dalam

pendidikan anak usia dini, strategi pembelajaran

kontekstual dapat diterapkan dengan baik

dengan ketentuan tetap memegang asas

pembelajaran yang menyenangkan,

membangkitkan semangat anak untuk menikmati

kehidupan dan membangkitkan perasaan cinta

kepada anak baik kepada orangtua, keluarga,

guru, teman sebaya, dan kepada semesta.

3. Langkah-Langkah Mengembangkan Nilai
Moral dan Agama Anak Usia Dini melalui
Strategi Contextual Teaching & Learning
Dalam menerapkan strategi Contextual
Teaching and Learning (CTL) perlu adanya proses
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat
menemukan materi menghubungkannya dengan
situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam Dari

| 180

konsep tersebut ada tiga hal yang CTL
menekankan kepada proses untuk menemukan
materi, artinya proses belajar diorientasikan pada
proses pengalaman secara langsung.

Dalam mengembangkan nilai moral dan
agama anak usia dini, strategi CTL ini menurut
(Wina Sanjaya, 2008) dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Guru memotivasi siswa

Sebelum anak didik memulai kegiatan
pembelajaran, guru perlu memotivasi siswa
dengan diawali menanyakan kegiatan apa
saja yang dilakukan ketika di rumah,
kemudian apakah mereka membantu
orangtuanya, apakah mereka ikut orangtua
ketika sholat dan sebagainya. Setelah
menanyakan lantas guru memotivasi siswa
untuk selalu tolong menolong, membantu
kedua orangtuanya. Sederhananya guru
harus selalu menstimulasi anak dengan baik.

b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
Anak didik diajak untuk mempelajari

sebuah materi ajar yang sesuai dengan

| 181

standar kompetensi dengan kegiatan
bermain. Contohnya materi berwudhu
disampaikan dengan kegiatan bernyanyi
dan tepuk wudhu, kemudian nilai saling
berbagi terhadap sesame disampaikan
kepada anak melalui kegiatan mewarnai.
Tujuan pembelajaran disampaikan dengan
bahasa sederhana yang mudah dikenal dan
dipahami anak.

c. Guru membuat kelompok kecil
Anak didik dibagi ke dalam beberapa

kelompok sesuai dengan jumlah anak.
Selanjutnya guru mengintruksikan anak
untuk membangun sebuah rumah dengan
menggunakan balok. Anak diintruksikan
untuk saling bekerjasama dalam satu
kelompok untuk membangun rumah
idaman mereka. Kegiatan ini akan
membangun sikap toleransi, kebersamaan
dan akan menghasilkan keindahan moral.

| 182

d. Melakukan percobaan

Untuk memperoleh pembelajaran

yang syarat makna, anak didik diajak

melakukan percobaan dengan membangun

rumah istimewa untuk diberikan kepada

orangtuanya. Anak didik diharapkan

mampu menyesuaikannya dengan fantasi

yang dimiliki masing-masing anak.

.

Dalam mengembangkan nilai moral dan

agama anak usia dini menggunakan strategi CTL,

guru berperan dalam memilih, menciptakan, dan

menyelenggarakan pembelajaran yang

menggabungkan seberapa banyak bentuk

pengalaman anak termasuk aspek sosial, fisikal,

dan psikologikal untuk mencapai hasil

pembelajaran yang diinginkan. Dalam

lingkungan sekitar, anak menemukan hubungan

yang bermakna antara ide abstrak dan aplikasi

praktikal dalam konteks nyata. Anak didik akan

memproses informasi atau pengetahuan baru

sedemikian rupa sehingga dirasakan masuk akal

dengan kerangka berpikir yang dimilikinya

(ingatan, pengalaman, dan tanggapan).

| 183

Sehubungan dengan langkah-langkah
penerapan tersebut, akan berjalan dengan
maksimal jika memahami lima karakteristik
penting dalam proses pembelajaran yang
menggunakan strategi CTL.
a. Dalam CTL, pembelajaran merupakan

proses pengaktifan pengetahuan yang
sudah ada (activiting knowledge), artinya apa
dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan
yang sudah dipelajari, dengan demikian
pengetahuan yang akan dipoleh siswa
adalah pengetahuan yang utuh yang
memiliki keterkaitan satu sama lain.
b. Pembelajaran yang kontekstual adalah
belajar dalam rangka memperoleh dan
menambah pengetahuan baru (acquiring)
Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara
deduktif, artinya pembelajaran dimulai
dengan mempelajari sccara kemudian
memerhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan (understanding
knowledge), artinya pengetahuan yang
diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk
dipahami dan diyakini, misalnya dengan

| 184

cara meminta tanggapan dari yang lain

tentang pengetahuan yang diperolehnya

dan berdasarkan tanggapan tersebut baru

pengetahuan itu dikembangkan.

d. Mempraktikkan pengetahuan dan

pengalaman tersebut (appliying knowledge),

pengetahuan dan pengalaman yang

diperolehnya harus dapat diaplikasikan

dalam kehidupan siswa, sehingga tampak

perubahan perilaku siswa.

e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge)

terhadap strategi pengetahuan. Hal ini

dilakukan sebagai umpan balik untuk

proses perbaikan dan penyempurnaan

strategi.

C. Penggunaan Strategi Cooperative Learning
dalam Pengembangan Nilai Moral dan Agama
Anak Usia Dini
Cooperative Learning adalah pembelajaran yang

dilakukan secara berkelompok. Pada anak usia dini,
kegiatan belajar dan bermain yang dilakukan secara
berkelompok atau kerjasama, akan membentuk suatu
sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau

| 185

membantu sesama dalam struktur kerja sama yang
teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang
atau lebih dan bersifat heterogen di mana keberhasilan
kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap
anggota kelompok itu sendiri baik secara individual
maupun secara kelompok.(Isjoni, 2012:23)

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan
strategi pembelajaran yang banyak digunakan dan
menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli
pendidikan. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian
yang dilakukan Slavin dinyatakan bahwa penggunaan
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil
belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan
sosial, menumbuhkan sikap toleransi, menghargai
pendapat orang lain, membuat siswa berfikir kritis,
mampu memecahkan masalah, serta mengintegrasikan
pengetahuan dan pengalaman.(Rusman, 2011:205)
sederhananya strategi pembelajaran kooperatif
dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama
dalam pembelajaran yang menekankan terbentuknya
hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya,
terbentuknya sikap dan prilaku yang demokratis serta
tumbuhnya produktivitas kegiatan belajar siswa.

| 186

1. Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif tidak hanya sekedar

belajar dalam kelompok. Ada konsep dasar dalam

strategi ini yang membedakannya dengan pembagian

kelompok yang dilakukan secara random. Menurut

Roger dan David Johnson dalam (Rusman, 2011:212),

tidak semua belajar kelompok bisa dianggap

pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif

sesuai untuk semua jenjang pendidikan, termasuk

untuk taman kanak-kanak (TK), karena anak-anak usia

dini merupakan usia bermain, sehingga anak usia dini

biasanya lebih menyukai belajar dengan suasana aktif

dan menyenangkan seperti pada pembelajaran

kooperatif.(Rahman & Kencana, 2020) Untuk mencapai

hasil yang maksimal, lima unsur dalam pembelajaran

kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut

antara lain:

a. Saling ketergantungan positif (positinve

interdependence)

Keberhasilan dalam pembelajaran

kelompok ditentukam penyelesaian tugas pada

usaha kelompok. Keberhasilan kerja kelompok

ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota.

| 187

Oleh karena itu, semua anggota kelompok akan
merasakan saling ketergantungan.

b. Tanggung jawab masing-masing individu
(Personal responsibility)
Keberhasilan kelompok sangat tergantung
dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh
karena itu, setiap anggota kelompok memiliki
tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan
dalam kelompok tersebut.

c. Interaksi promotif (face to face promotive interaction)
Pembelajaran kooperatif memberikan

kesempatan yang luas kepada anggota kelompok
untuk melakukan interaksi dan diskusi untuk
saling memberi dan menerima informasi dari
anggota kelompok lain.

d. Partisipasi dan komunikasi (participation
communication)
Pembelajaran kooperatif melatih siswa
untuk dapat berpartisipasi aktif dan
berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran
yang lebih baik.

| 188

e. Evaluasi proses kelompok
Menjadwalkan waktu khusus bagi

kelompok untuk mengevaluasi proses kerja
kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar
selanjutnya dapat bekerja sama dengan lebih
efektif.

2. Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif

Strategi pembelajaran kooperatif berbeda dengan

strategi pembelajaran yang lain. Setiap strategi

pembelajaran memiliki karakteristik dan cirri yang

harus dipahami, agardapat tereaslisasi dengan baik

dalam pembelajaran. Adapun karakteristik dari

strategi pembelajaran kooperatif adalah:

a. Pembelajaran Secara Tim

Pembelajaran kooperatif adalah

pembelajaran yang dilakukan secara tim. Tim

merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh

karena itu, tim harus mampu membuat setiap

siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling

membantu untuk mencapai tujuan

pembelajaran.(Wina Sanjaya, 2008:207) Untuk

itulah kriteria, keberhasilan pembelajaran

ditentukan oleh keberhasilan tim. Setiap

kelompok bersifat heterogen. Artinya, kelompok

| 189

terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan
akademis, jenis kelamin, dan latar sosial yang
berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap
anggota kelompok memberi dan menerima,
sehingga diharapkan setiap anggota dapat
memberikan kontribusi terhadap keberhasilan
kelompok.

b. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif

Dalam setiap strategi pembelajaran, perlu

adanya manajemen sebagai pengontrol

keberhasilan dalam pembelajaran. Sebagaimana

pada umumnya, manajemen mempunyai empat

fungsi pokok, yaitu:

1) Fungsi manajemen sebagai perencanaan

pelaksanaan menunjukkan bahwa

pembelajaran kooperatif dilaksanakan

sesuai dengan perencanaan danlangkah-

langkah pembelajaran yang sudah

ditentukan.

2) Fungsi manajemen sebagai organisasi,

menunjukkan bahwa pembelajaran

kooperatif memerlukan perencanaan yang

| 190

matang agar proses pembelajaran berjalan
dengan efektif.
3) Fungsi manajemen sebagai control,
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran
kooperatif perlu ditentukan kriteria
keberhasilan baik melalui bentuk tes
maupun nontes.
4) Fungsi manajemen sebagai pelaksanaan,
menunjukkan bahwa pembelajaran
kooperatif harus dilaksanakan sesuai
dengan perencanaan, melalui langkah-
langkah pembelajaran yang sudah
disepakati bersama.

c. Kemauan untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif

ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok,
oleh karenanya prinsip keberhasilan atau kerja
sama perlu dilaksanakan pada pembelajaran
kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik,
pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai
hasil yang optimal.(Rusman, 2013:207) Oleh sebab
itu, dalam mengembangkan potensi yang dimiliki
setiap siswa dibutuhkan kerjasama yang baik.

| 191

d. Ketrampilan Bekerja Sama

Kemampuan bekerja sama itu dipraktikkan

melalui aktifitas dalam kegiatan pembelajaran

secara kelompok. Dengan demikian peserta didik

perlu didorong untuk mau dan sanggup

berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota

lain dalam mencapai tujuan pembelajaran yang

telah ditetapkan.(Sanjaya, 2008:107) Pembelajaran

kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan

dan penghaargaan kooperatif. Peserta didik yang

bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif

didorong atau dikehendaki untuk bekerja sama

pada suatu tugas bersama dan mereka harus

mengoordinasikan usahanya untuk

menyelesaikan tugasnya, dalam pembelajaran

kooperatif dua atau lebih individu saling

tergantung satu sama lain untuk mencapai satu

penghargaan bersama.

3. Langkah-Langkah Mengembangkan Nilai
Moral dan Agama Menggunakan Strategi
pembelajaran Kooperatif

| 192

Menyikapi pelaksanaan pembelajaran kooperatif,

maka pertanggungjawaban individu menitik beratkan

pada aktivitas anggota kelompok yang saling

membantu dan bekerjasama dalam belajar. Setelah

proses belajar ini diharapkan para peserta didik akan

mandiri dan siap menghadapi tes-tes selanjutnya. Oleh

karena itu mereka berusaha tampil maksimal dengan

kelompoknya.(Agus Supriyono, 2010:65) Dalam

kelompok anak usia dini, guru memberikan kebebasan

kepada anak dengan tetap mengontrol kegiatan anak.

Untuk mengembangkan nilai moral dan agama pada

anak usia dini, langkah strategi pembelajaran

kooperatif dilakukan dengan beberapa tahapan.

a. Guru mengklarifikasi maksud pembelajaran

kooperatif

Hal ini penting dilakukan karena peserta

didik harus memahami dengan jelas prosedur

dan aturan dalam pembelajaran.

b. Guru menyampaikan informasi

Informasi merupakan isi akademik yang

harus disampaikan kepada anak didik, agar anak

mengenali dan memahami apa yang akan ia

lakukan selama pembelajaran. Dalam

mengembangkan nilai moral, guru


Click to View FlipBook Version