The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by faiznurfaizah21, 2022-10-26 03:52:04

PENGEMBANGAN NILAI MORAL DAN AGAMA ANAK USIA DINI

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Keywords: Nilai Moral,Agama,anak usia dini

| 193

menyampaikan informasi bahwa dalam satu tim
harus saling bersinergi, bekerja sama, saling
tolong menolong untuk menyelesaikan suatu
persoalan.
c. Guru harus menjelaskan bahwa peserta didik
harus saling bekerjasama di dalam kelompok

Penyelesaian tugas kelompok merupakan
tujuan kelompok. Tiap anggota kelompok
memiliki akuntabilitas individual untuk
mendukung tercapainya tujuan kelompok.
d. Guru mendampingi tim-tim belajar

Guru harus mendampingi dan
mengingatkan tentang tugas-tugas yang harus
dikerjakan peserta didik. Pada fase ini guru dapat
memberikan petunjuk, pengarahan, atau
meminta beberapa peserta didik untuk
mengulangi halyang sudah ditunjukkannya.
e. Guru memberikan evaluasi dengan
menggunakan strategi evaluasi yang konsisten
dengan tujuan pembelajaran.
f. Guru mempersiapkan struktur reward yang akan
diberikan kepada peserta didik. Variasi struktur
penghargaan bersifat individualistis, kompetitif
dan kooperatif. Struktur penghargaan

| 194

individualis terjadi apabila sebuah penghargaan
dapat dicapai tanpa tergantung pada apa yang
dilakukan orang lain. Struktur penghargaan
kompetitif adalah jika peserta didik diakui usaha
individualnya berdasarkan perbandingan dengan
orang lain. Struktur penghargaan kooperatif
diberikan kepada tim eskipun anggota tim-
timnya saling bersaing.

D. Penggunaan Strategi Quantum Learning dalam
Pengembangan Nilai Moral dan Agama Anak
Usia Dini
Quantum learning adalah ilmu pengetahuan dan

metodologi yang digunakan dalam rancangan,
penyajian, dan fasilitas Supercamp yang diciptakan
berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated
Learning (Luzanov), Multiple Intelligence (Gardner),
Neuro-Linguistic Programming (Ginder dan Bandler),
Experiental Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative
Learning (Johnson and Johnson).(Abuddin Nata,
2009:231) Selain itu, quantum learning juga dapat
diartikan sebagai pendekatan pembelajaran untuk
membimbing peserta didik agar mau belajar.
Menjadikan sebagai kegiatan yang dibutuhkan peserta

| 195

didik. Di samping itu untuk memotivasi, menginspirasi
dan membimbing guru agar lebih efektif dan sukses
dalam mengasup pembelajaran sehingga lebih menarik
dan menyenangkan. Dengan demikian, diharapkan
akan terjadi lompatan kemampuan peserta didik
setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang
dilakukan.

Quantum learning merangkaikan yang paling baik
dari yang terbaik menjadi sebuah paket multi sensori,
multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak yang
pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru
untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk
berprestasi. Sebagai sebuah pendekatan belajar yang
fresh, mengalir, praktis dan mudah diterapkan,
Quantum learning menawarkan suatu sintesis dari hal-
hal yang dicari, atau cara-cara baru untuk
memaksimalkan dampak usaha pengajaran yang
dilakukan guru melalui perkembangan hubungan
penggabungan belajar dan penyampaian kurikulum.

Kehadiran quantum learning telah menjadi topik
yang hangat dalamwacana pendidikan diberbagai
dunia termasuk Indonesia. Berbagai kalangan selama
ini mendambakan hal yang baru dalam pembelajaran,
terutama mereka yang bergerak dalam bidang bisnis

| 196

training dan sekolah-sekolah nasional plus, sangat
mengapresiasi keunggulan dari quantum learning ini.
Quantum learning memang menawarkan sesuatu yang
baru dalam proses belajar mengajar. Melalui bahasa
persuasif yang kuat dan kiat-kiat praktis. Quantum
learning telah mampu menyadarkan berbagai pihak
tentang pentingnya paradigma baru dalam
pembelajaran. Penerapan quantum learning bertujuan
menciptakan suasana belajar menjadi sangat menarik,
menyenangkan (fun) dan efektif, sehingga setiap siswa
atau peserta didik termotivasi untuk belajar.

Dalam quantum learning, menyenangkan adalah
suatu kondisi yang bisa diciptakan, diamati dan
dirasakan oleh siapa saja. Situasi yang nyaman dan
menyenangkan adalah satu cara belajar yang
ditekankan dalam quantum learning. Pembelajaran yang
menyenangkan (joy fuul instruction) merupakan suatu
proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat suatu
koherensi yang kuat antara pendidik dan pesertadidik,
tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under
pressure).

Dengan hadirnya quantum learning dinilai sebagai
sebuah tawaran alternatif baru dalam sistem
pembelajaran nasional. Sebagai kreasi baru yang

| 197

inovatif, pendekatan pembelajaran ini dinilai mampu
menciptakan kegiatan pembelajaran efektif. Selain
merupakan kajian lapangan melalui pendekatan teori
fisika, pendekatan ini juga sudah melewati evaluasi
dari sejumlah uji coba lapangan selama kurun waktu
yang cukup lama. Namun yang menjadi pertanyaan,
apakah keberhasilan penerapan quantum learning sama
sekali lepas dari faktor lingkungan dan latar belakang
sosiokultural masyarakat? Selain itu, apakah
penerapan pendekatan ini sama sekali terlepas dari
kebijakan pendidikan serta ketersediaan anggaran
yang bakal menopangnya? Kemudian bagaimana
pendekatan pembelajaran ini dipahami dalam
perspektif pendidikan Islam dan pendidikan anak usia
dini?

Dalam kaitannya dengan nilai-nilai ajaran Islam,
pengembangan individu tidak dapat dilepaskan dari
kejadian manusia sebagai makhluk ciptaan, pengabdi
Allah dan statusnya sebagai khalifah-Nya, yang
diamanatkan untuk memakmurkan kehidupan dimuka
bumi. Secara fitrah potensi individu berintikan
kesucian yang terdiiri dari tiga komponen utama, yakni
benar, baik dan indah. Selain itu sebagai makhluk yang
eksploratif, manusia juga dianugrahi potensi untuk

| 198

dikembangkan berupa instinktif (ghoriziyyah), inderawi
(hissiyah), aqal (aqliyyah), dan keberagaman (diniyyah).
1. Konsep Strategi Quantum Learning

Quantum learning yang dibangun berdasarkan
teori-teori tersebut mencakup petunjuk spesifik untuk
menciptakan lingkungan belajar yang efektif,
merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan
memudahkan proses belajar. Quantum learning
bersandar pada konsep Bawalah Dunia Mereka ke Dunia
Kita dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Inilah asas
utama, alasan dasar yang berada di balik segala
strategi, pendekatan, dan keyakinan quantum learning.

Melalui quantum learning ini, seorang guru yang
akan mempengaruhi kehidupan murid. Guru
memahami sekali, bahwa setiap murid memiliki
karakter masing-masing. Bagaimana setiap karakter
dapat memiliki peran dan membawa sukses dalam
belajar, merupakan inti ajaran dalam pembelajaran
kuantum. Menurut Bobby DePorter quantum learning
merupakan bagian dari cara belajar, namun mencakup
aspek-aspek penting dari Neuro Linguistic
Programming (NLP). Neuro adalah saraf otak,
linguistic adalah cara berbahasa, baik verbal maupun
non verbal yang dapat mempengaruhi sistem pikiran,

| 199

perasaan, dan perilaku. Program NLP sangatlah unik,

yaitu melakukan mental building untuk membuang

kebiasaan dan keyakinan lama yang menghasilkan

kegagalan, pesimisme, kurang percaya diri,

menggantikannya dengan program baru yang dapat

mengoptimalkan semua fungsi otak,

mengidentifikasikan hal-hal yang memicu pola

berpikir positif.(Deporter & Hernacki, 2016:14)

Quantum learning merupakan interaksi yang terjadi

dalam proses belajaryang mampu mengubah berbagai

potensi yang ada dalam diri manusia menjadi pancaran

atau ledakan-ledakan gairah (dalam memperoleh hal-

hal baru) yang dapat dimanifestasikan kepada orang

lain.

Strategi quantum learning lebih mengutamakan

keaktifan peran serta siswa dalam berinteraksi dengan

situasi belajarnya melalui panca inderanya baik melalui

penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan

pengecapan, sehingga hasil dari penggunaan

pendekatan ini terletak pada quote “Katakan dan

Lakukan”. Proses quantum learning mengutamakan

keaktifan siswa, siswa mencoba mempraktekkan media

yang tersedia melalui kelima inderanya dan kemudian

melaporkannya dalam laporan praktikum. Semakin

| 200

banyak indera yang terlibat dan berperan dalam
interaksi belajar, maka materi pelajaran akan semakin
bermakna.

Selain itu dalam proses pembelajaran
meggunakan model quantum yang mengusung
pembelajaran yang menyenangkan, maka perlu
diperdengarkan musik untuk mencegah kebosanan
dalam pembelajaran. Pemilihan jenis musik dalam
pembelajaran juga penting untuk diperhatikan, karena
harapannya musik tersebut mampu menstimulasi
daya, rasa sehingga akan terbangun konsentrasi belajar
siswa. Konsep yang diusung dalam model quantum
learning dapat digunakanguru dalam menciptakan
suasana pembelajaran yang menyenangkan, suasana
kelas menjadi kondusif, dan siswa merasakan
nikmatnya belajar dengan penuh kegembiraan.
Adapun konsep dalam quantum learning tersebut yaitu:
a. Bawalah dunia anak ke dalam dunia kita, dan

hantarkan dunia kita selaku pendidik ke dalam
dunia mereka selaku peserta didik.

Berkaitan dengan konsep tersebut,
memberikan pemahaman bahwa setiap bentuk
interaksidengan anak didik, setiap rancangan
kurikulum, dan setiap metode pembelajaran

| 201

harus menyesuaikan dengan minat dan dunia
anak. Konsep pertama ini dijadikan sebagai
konsep utama yang menuntut pendidik untuk
memasuki dunia anak secara kompleks dan
komprehensif dalam proses pembelajaran. Selain
itu, konsep ini juga mengharuskan pendidik
untuk membangun jembatan otentik memasuki
kehidupan anak didik. Untuk itu, pendidik dapat
memanfaatkan pengalaman-pengalaman yang
dimiliki anak didik sebagai titik tolaknya. Dengan
jalan ini, tentu pendidik akan mudah
membelajarkan anak didik baik dalam bentuk
fasilitator, motivator, dan bahkan memudahkan
anak didik menuju kesadaran akan indahnya
belajar dan nikmatnya menelisik ilmu yang lebih
luas.

Ringkasnya, jika konsep pertama ini dapat
dilaksanakan dengan baik dan dan menyeluruh,
maka baik pendidik ataupun anak didik akan
sama-sama memperoleh pemahaman baru. Dunia
belajar anak didik diperluas, disamping itu, dunia
pendidik juga akan semakin luas. Hal inilah yang
disebut dengan dunia bersama dalam koridor
belajar.

| 202

b. Pembelajaran harus membawa keunggulan
Pembelajaran yang dimaksud membawa

keunggulan artinya kegiatan belajar yang
diwujudkan melalui quantum learning memiliki
target membentuk keunggulan. Beberapa kunci
keunggulan yang dimaksud dalam quantum
kearning yaitu:
1) Menerapkan hidup berintegritas dalam

pembelajaran
Dengan menerapkan hal tersebut,

maka anak didik akan terbiasa berlaku apa
adanya, membeningkan hati, tulus, dan
penuh dengan nilai yang positif. Hal ini akan
mampu meningkatkan motivasi belajar anak
didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
2) Mengakui kegagalan mengantarkan pada
kesuksesan

Dalam pembelajaran, kita harus
memahami bahwa kegagalan atau kesalahan
yang kita lakukan dapat memberikan
informasi kepada kita mengenai kekurangan
kita, dan mampu mengantarkan kita untuk
berbenah. Kegagalan yang dilakukan jangan
sampai menjadikan kita cemas, karena

| 203

adanya kegagalan menunjukkan tanda

bahwa kita telah belajar, dan harapannya

mau belajar lebih giat.

3) Berbicaralah dengan niat yang baik dalam

pembelajaran

Dalam pembelajaran perlu

mengembangkan keterampilan bicara yang

positif dengan niat yang tulus ikhlas serta

mampu bertanggung jawab atas komunikasi

yang dibangun. Menanamkan niat yang baik

dan positif dalam berkomunikasi dapat

meningkatkan rasa percaya diri dalam

pembelajaran.

4) Ketegasan komitmen dalam pembelajaran

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan

baik guru ataupun siswa harus mengikuti

visi-misi dan tujuan pembelajaran tanpa

ragu-ragu, sesuai dengan rambu-rambu

yang telah ditetapkan. Sehingga perlu

adanya slogan seperti Saya harus

menyelesaikan pekerjaan yang memang harus

saya selesaikan dengan hati yang senang.

| 204

5) Bertanggung jawab dalam pembelajaran

Dengan menerapkan rasa bertanggung

jawab dalam pembelajaran, maka ini

merupakan bekal yang dapat memuaskan

dalam mengarungi kehidupan yang

bermakna. Tanpa tanggung jawab, maka

tidak akan mungkin tercipta pembelajaran

yang penu makna.

6) Tetap Fleksibel dalam pembelajaran

Dalam pembelajaran, tentu seorang

guru harus mampu mempertahankan

rancangan pembelajaran dengan baik,

namun harus memahami dan membaca

suasana belajar secara cermat. Sehingga

sangat memungkinkan ada perubahan

lingkungan dan suasana bilamana

diperlukan. Artinya, demi keberhasilan

siswa-siswanya seorang guru dapat saja

mengubah rencana pembelajaran apabila

diperlukan, jangan terus-terusan

mempertahankan rencana pembelajaran

yang telah dibuat.

| 205

2. Prinsip Dasar Strategi Quantum Learning

Strategi quantum learning dapat diterapkan

dengan maksimal jika sebagai guru memahami prinsip

dasar dalam pendekatan quantum tersebut. Adapun

prinsip-prinsip dasar tersebut menurut (Hernacki,

1992) yaitu.

a. Segala sesuatu di lingkungan belajar dapat

berbicara

Dalam strategi quantum learning, segala

sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai

dengan bahasa tubuh pendidik, penataan ruang

belajar, sikap guru, media pembelajaran, sarana

prasarana belajar, rancangan pembelajaran dan

lain sebagainya, kesemuanya memberikan dan

mengirim pesan tentang makna pembelajaran.

b. Ketahuilah bahwa segalanya memiliki tujuan

Semua yang terjadi dalam

prosespengubahan energi menjadi cahaya

mempunyai tujuan. Tidak ada kejadian yang

tidak bertujuan. Baik anak didik ataupun

pendidik harusmenyadari bahwa kejadian yang

dibuatnya selalu berimplikasi dan memiliki

tujuan. Sehingga dari pemahaman ini, setiap

aktivis pendidikan akan lebih berhati-hati dalam

| 206

ucapan, gerakan, tindakan, dan kebijakan yang
diambil.
c. Perlu ada kesadaran bahwa pengalaman
mendahului penamaan

Proses pembelajaran yang baik terjadi ketika
anak didik telah memperoleh dan mengalami
informasi sebelum mereka memperoleh sesuatu
yang akan merekapelajari. Hal tersebut dapat
berupa stimulasi-stimulasi yang membangkitkan
gairah dan potensi naluri anak didik. Dikatakan
demikian karena otak manusia berkembang pesat
dengan adanya stimulan yang kompleks, yang
selanjutnya akanmenggerakkan rasa ingin tahu
yang kompleks.

d. Perlu ada legitimasi atas setiap usaha yang
dilakukan dalam pembelajaran
Proses kegiatan belajar mengajar selalu
mengandung risiko positif dan negatif yang besar.
Dikatakan demikian karena pembelajaran berarti
melangkah keluar dari kenyamanan dan
kemapanan di samping berarti membongkar
pengetahuan sebelumnya. Pada waktu
pembelajar melakukan langkah keluar ini, mereka

| 207

patut memperoleh pengakuan atas kecakapan
dan kepercayaan diri mereka. Bahkan sekalipun
mereka berbuat kesalahan, perlu diberi
pengakuan atas usaha yang mereka lakukan.
e. Perlu ada kesadaran bahwa sesuatu yang layak
dipelajari maka layak pula dirayakan

Segala sesuatu yang layak dipelajari oleh anak
didik sudah pasti layak pula dirayakan
keberhasilannya. Artinya sebagai pendidik harus
memberikan apresiasi atas usaha dan keinginan
anak dalam proses belajar. Perayaaan atas apa yang
telah dipelajari dapat memberikan balikan mengenai
kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif
dengan pembelajaran.

3. Langkah-Langkah Mengembangkan Nilai
Moral dan Agama Anak Usia Dini melalui
Strategi Quantum Learning
Dalam mengembangkan nilai moral dan agama

pada anak usia dini dibutuhkan keseriusan dan
perhatian penuh. Pasalnya anak usia dini merupakan
anak dengan sejuta imajinasi. Oleh sebab itu untuk
mewujudkan suasana yang menyenangkan dalam
pembelajaran anak usia dini terutama pengembangan

| 208

moral dan agama, dibutuhkan pendekatan, salah
satunya adalah pendekatan quantum learning. Seorang
guru sebagai fasilitator harus menciptakan aktivitas
pembelajaran agar anak didik dapat terlibat langsung
dalam proses pendidikan sekaligus terlibat dalam
keseluruhan proses pembelajaran.

Secara sengaja, fasilitator menggabungkan dari
berbagai unsur pokok dari penyelengaraan pendidikan
agar proses belajar partisipatif menjadi efektif bagi
seluruh partisipan melalui proses interaksi antar
peserta, juga antar peserta dengan fasilitator. Murid
hendaknya diberikan kesempatan yang bebas dan adil,
tidak mendikotomi kemampuan dan karakter belajar
anak, tidak mengantarkannya mencapai jenjang
kehidupan yang sama seperti orang-orang lain
semuanya, melainkan mengembangkan semua
kemampuan dan sifat-sifat khusus yang dimiliki.

Berpijak pada konsep dan prinsip dalam strategi
quantum, maka dapat disusun kerangka rancangan
dalam pengembangan nilai moral dan agama dengan
mengacu pada “TANDUR”.(Kholidah, 2009:120)
Teknik ini memberikan penekanan bagaimana sebisa
mungkin guru menghadirkan dalam diri siswa bahwa
apa yang mereka pelajari akan memberikan manfaat

| 209

yang besar dalam hidup setiap siswa. Berikut
penjelasan dari “TANDUR” tersebut.
1. T: Tumbuhkan

Pada tahapan ini, seorang guru perlu
menumbuhkan minat siswa dengan memuaskan
rasa penasaran dan ingin tahu siswa dengan
memberikan sebuah gambaran tentang materi
yang diajarkan. Seorang guru tidak hanya
mentransfer ilmu pengetahuan saja, melainkan
bisa menjadi fasilitator, mediator, dan motivator
bagi siswa. Dalam kegiatan belajar dan bermain
anak usia dini, guru harus menjelaskan
pentingnya mempelajari agama, namun guru
menjelaskannya dengan kegiatan bernyanyi,
tepuk dan sebagainya. Selain itu guru memotivasi
anak untuk selalu melakukan perbuatan baik,
membantu teman yang lain, saling berbagi. Proses
menumbuhkan ini diperlukan kerjasama dengan
orantua, sehingga harapannya anak juga
melakukannya disaat di rumah. Karena dengan
pembiasaan yang dilakukan akan menguatkan
nilai-nilai moralitas dan spiritualitas dalam
kehidupan anak pada masa sekarang dan masa
yang akan datang.

| 210

2. A: Alami
Pada tahap ini, dalam menyampaikan

materi pelajaran, guru harus mampu
menciptakan pengalaman umum yang sering
dialami anak. Sehingga anak akan lebih mudah
dalam mengeksplor pengalamannya masing-
masing. Artinya, guru harus bisa menghadirkan
suasana alamiah yang tidak mendikotomi
kemampuan anak yang satu dengan yang lain.
Pada dasarnya kemampuan setiap anak tentu
berbeda, namun guru harus memperlakukan
semua anak dengan perlakuan yang sama.
3. N: Namai

Pada tahap ini guru membuat pengantar
dalam menjelaskan materi pelajaran, kemudian
membuat kata kunci terhadap hal-hal yang
dianggap sulit. Dengan kata lain guru
memberikan nama yang mudah dipahami anak
terkait penamaan yang sulit.
4. D: Demonstrasi

Pada tahap ini guru harus tanggap dan
memberikan kesempatan kepada anak untuk
menunjukkan potensi dan kreasi yang dimiliki
anak. Memberikan kesempatan kepada anak

| 211

untuk menunjukkan bahwa mereka bisa
melakukan dan pernah melakukan. Terkadang
banyak siswa yang memiliki beragam potensi
namun tidak memiliki keberanian untuk
menunjukkannya.
5. U: Ulangi

Pada tahap ini guru memberikan klarifikasi
terhadap materi yang disampaikan. Pengulangan
materi ini dapat dilakukan dengan bertanya
kepada anak secara random. Hal ini akan sangat
membantu siswa mengingat materi telah
dipelajari.
6. R: Rayakan

Pada tahap ini guru memberikan apresiasi
terkait keberhasilan dan prestasi siswa.
Keberhasilan dan prestasi siswa sekecil apapun
harus diberi apresiasi. Apresiasi tersebut sifatnya
beragam. Bagi siswa perayaan ini akan
mendorong mereka meningkatkan rasa tanggung
jawab, kepercayaan diri dan perasaan bahagia.

Berdasarkan rancangan pembelajaran dalam
pendekatan quantum, untuk mengoptimalkan dan
mengembangkan nilai moral dan agama anak usia dini,

| 212

Sumarna D (2013:92) menyebutkan bahwaterdapat
beberapa langkah-langkah yang dapat diterapkan
sebagai berikut:
1. Teknik “AMBAK”
a. A: Apa yang dipelajari

Dalam kegiatan belajar anak usia dini,
misalnya sasaran capaian pembelajaran tentang
akhlak terpuji. Seorang guru hanya menetapkan
prinsip dari akhlak-akhlak tersebut. Anak
didiklah yang menentukan berbagai tema
pelajaran yang akan dipelajari. Seorang guru bisa
saja mengajak anak mengunjungi pasar, lalu
membiarkan anak mengamati segala interaksi
yang dilakukan pengunjung di pasar. Mengamati
perilaku pembeli dan penjual yang ada di pasar.
Sehingga anak akan mengeksplor imajinasi
mereka terkait apa yang anak amati.
b. M: Manfaat

Dalam menyampaikan materi pelajaran,
seorang guru perlu menjelaskan manfaat apa
yang diperoleh dari pelajaran yang akan
dipelajari oleh siswa. Dengan menjelaskan
manfaat, akan membangun kreasi dan daya
fantasi anak, sehingga anak akan semakin

| 213

termotivasi dan memahami pelajaran yang

disampaikan guru. Misalnya tentang pelajaran

berwudhu, guru tidak hanyamenjelaskan definisi,

rukun, dan syarat sah wudhu, tetapi lebih dari itu

guru harus bisamenjelaskan kepada siswa apa

hikmah yang bisa diambil dari berwudlu. Intinya

guru harus mendorong siswa bisa memahami

sesuatu situasinya yangsebenarnya (insight),

sehingga siswa tertantang untuk mempelajari

semua haldengan lebih mendalam.

c. B: Bagiku

Setelah mengetahui apa yang dipelajari, dan

manfaat yang terkandung di dalamnya,

selanjutnya manfaat apa yang akan saya dapat di

kemudian hari dengan mempelajari ini semua.

Misalnya, pelajaran bersuci dengan tayammum.

Mungkin bagi siswa yang berada di daerah

dengan pasokan air melimpah, mungkin

pelajaran tayammum tidak banyak memberikan

arti. dalam kondisiini, guru harus bisa

menjelaskan kepada siswa bahwa suatu ketika

model bersuci dengan tayammum pasti akan

bermanfaat, terlebih ketika dalam

suatuperjalanan tidak menemukan air atau ketika

| 214

sakit yang tidak diperkenankan terkena
air.(Hernowo, 2015:23)

Berdasarkan pemaparan mengenai teknik
AMBAK tersebut, memberikan pemahaman dan
menunjukkan kepada kita betapa quantum learning
lebih menekankan pada pembelajaran yang sarat
makna dan system nilai yang bisa dikotribusikan
kepada anak dalam mengarungi bahtera kehidupan
dengan segala dinamika yang menyelimutinya.

Melalui quantum learning, anak akan diajak belajar
dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan,
sehingga anak didik akan lebih bebas dalam
menemukan berbagai pengalaman baru dalam
belajarnya. Dengan pendekatan ini diharapkan dapat
tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan
dengan kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain
terciptalah interaksi edukatif.(Hernacki, 1992:50)
Interaksi edukatif akan mewujudkan berbagai potensi
yang dimiliki anak didik.

Guru dapat menciptakan suasana yang dinamis
dan menggairahkan dalam belajar melalui penataan
lingkungan belajar. Penataan lingkungan diperlukan
dengan tujuan membuat peserta didik merasa betah

| 215

dalam belajarnya. Dengan penataan lingkungan belajar
yang tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri
peserta didik.

Setiap peserta didik memiliki kemampuan dan
kecerdasan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu dalam
pembelajaran quantum (quantum learning), guru
hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada
peserta didik. Biarkan peserta didik belajar dengan
gayanya masing-masing, tetapi tetap menjaga
kekondusifan dalam belajar.

Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran mereka.
Peserta didik yang kreatif adalah pesera didik yang
ingin tahu, suka mencoba, dan senang bermain.
Dengan kesempatan yang diberikan kepada pesera
didik, mereka akan mampu menghasilkan ide-ide yang
segar dalam belajarnya.

| 216

| 217

BAB VI
METODE PENGEMBANGAN
NILAI MORAL DAN AGAMA

ANAK USIA DINI

Mengembangkan nilai-nilai moralitas dan
spiritualitas pada diri anak, diperlukan berbagai
macam metode dan pendekatan. Metode dan
pendekatan ini berfungsi sebagai cara untuk mencapai
tujuan dari nilai spiritual yang diperoleh anak. Setiap
orang tua dan guru harus menggunakan metode dan
pendekatan yang sesuai dengan perkembangan dan
kondisi anak. Berikut adalah beberapa metode yang
dapat digunakan dalam mengembangkan nilai-nilai
moral dan agama pada anak usia dini.

A. Metode Bercerita
Metode bercerita adalah metode yang

mengisahkan suatu kejadian baik nyata maupun
hayalan yang dikemas dalam bentuk cerita yang
menarik, dengan tujuan untuk menyampaikan suatu

| 218

pesan baik tersurat maupun tersirat kepada orang lain.
Metode ini digunakan supaya seseorang dapat
mengambil hikmah dari suatu kejadian dari isi cerita
yang dibawakan, yang tentunya mengandung banyak
nilai-nilai kebaikan. Pada pembelajaran anak usia dini,
biasanya menggunakan nama tokoh hewan dalam
ceritanya, bisa juga dengan nama tokoh kartun
kesayangannya, ataupun dengan mengambil nama
dari siswa dikelas. Tujuannya, supaya anak tertarik
dengan tokoh yang dipilih, kemudian mau
mendengarkan kisah cerita yang dibawakan sehingga
pesan yang ingin kita sampaikan melalui cerita bisa di
simak dengan baik oleh anak-anak usia dini.

Metode bercerita juga tidak melulu hanya
ditujukan pada anak usia dini. Bagi umat islam,
ternyata metode bercerita ini sudah tidak asing dan
sering digunakan Nabi untuk menyampaikan kisah
dari berbagai peristiwa dimasa lampau agar bisa
menjadi pelajaran untuk umatnya pada masa itu dan
juga masa sekarang serta pelajaran di masa depan.
Kisah yang dibawakan Nabi adalah kisah-kisah yang
benar-benar nyata yang terjadi di masa lalu yang jauh
dari kata mitos. Dalam surah Al-A’raf ayat 176, Allah
berfirman:

| 219

Artinya: “…Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah
itu agar mereka berfikir.”

Kisah dalam Al-quran bisa juga dikemas dalam
bentuk cerita untuk anak usia dini, yang tentunya
dengan gaya bahasa yang indah dan menarik. Kisah-
kisahnya pun beragam, misal tentang para Nabi dan
Rasul yang berhati mulia, kisah-kisah orang yang
pemberani dalam menegakkan kebenaran, kisah
tentang kebaktian pada orang tua, kisah orang-orang
yang durhaka, dan masih banyak kisah yang lain yang
bernilai pendidikan untuk mengiringi tumbuh
kembang anak, khususnya anak usia dini.

Metode bercerita, bisa dilaksanakan dimanapun,
kapan pun dan dengan siapa pun. Ketika dirumah,
orang tua menjadi guru utama bagi anak-anaknya.
Ketika kita sebagai orang tua ingin membentuk
karakter anak menjadi orang yang jujur, maka kita bisa

| 220

mengarang suatu cerita yang menarik atau
membacakan anak kita suatu kisah, misalnya tentang
kejujuran. Tidak usah terlalu bertele-tele karena anak
usia dini belum mahir dalam memahami suatu
kejadian yang ruumit, cukup dengan mengenalkan
tokoh jahat dan baik, dampak yang ditimbulkan ketika
tidak berkata jujur, serta manfaat dari kejujuran.

Perlu kita sadari bahwa ketika anak usia dini
banyak diatur oleh orang tua khususnya, mereka akan
mudah bosan, akan mudah memberontak ketika
dilarang tidak boleh ini dan itu, itulah sebabnya
metode bercerita ini dirasa efektif dalam semua
kejadian kehidupan yang dikemas dalam bentuk cerita
yang menarik. Anak usia dini belum bisa berfikir
tentang sebab akibat dari suatu yang ia lakukan, belum
bisa merenungi konsep ajaran agama yang mereka
anut, oleh karena itu untuk menanamkan nilai-nilai
tentang moral dan agama anak bisa dengan
menggunakan cara yang menyenangkan dan disukai
oleh anak termasuk dengan metode cerita.

| 221

1. Manfaat Metode Bercerita/kisah
Menurut Moeslichatoen dalam (Darmila et al.,

2018), ada beberapa manfaat dari metode bercerita
untuk anak usia dini, diantaranya:

a. Melatih daya serap atau daya tangkap anak TK,
artinya anak usia dini bisa dirangsang dengan
memahami isi atau ide pokok dalam cerita secara
keseluruhan

b. Melatih daya fikir, seperti belajar memahami isi
cerita, proses cerita dan hubungan sebab akibat
dalam cerita

c. Melatih daya konsentrasi anak untuk
memusatkan perhatiannya pada keseluruhan
cerita

d. Mengembangkan daya imajinasi anak, artinya
dengan menceritakan suatu kisah, maka akan
membangkitkan imajinasi anak untuk
membayangkan suatu situasi sesuai alur cerita

e. Menciptakan situasi yang menyenangkan serta
membangun hubungan akrab sesuai dengan
tahap perkembangan anak

f. Membantu perkembangan bahasa anak dalam
komunikasi secara efektif dan efisien sehingga
proses percakapan menjadi komunikatif.

| 222

2. Kelebihan dan Kekurangan Metode Bercerita
Setiap metode pembelajaran sejatinya memiliki

kelebihan dan kekurangan yang harus dipahami,
diantisipasi, dan dievaluasi. Untuk metode bercerita,
menurut Dheini dalam (Prihanjani et al., 2016), ada
beberapa kelebihan dan kekurangan dalam metode
bercerita, diantaranya:

a. Dapat menjangkau jumlah anak yang relative
banyak

b. Waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan
efektif dan efisien

c. Pengaturan kelas menjadi lebih sederhana
d. Guru dapat menguasai kelas dengan mudah
e. Secara efektif tidak banyak memerlukan biaya.

Adapun kekurangan metode bercerita menurut
Dheini, diantaranya:

a. Anak didik menjadi pasif, karena lebih banyak
mendengarkan atau menerima penjelasan dari
guru

b. Kurang merangsang perkembangan kreativitas
dan kemampuan anak untuk mengutarakan
pendapatnya

| 223

c. Daya serap atau daya tangkap peserta didik
berbeda-beda dan masih lemah, sehingga sukar
memahami tujuan pokok isi cerita

d. Cepat menumbuhkan rasa bosan terutama jika
penyajiannya tidak menarik.

B. Metode Keteladanan
Metode keteladanan biasa disebut juga dengan

modeling (Penokohan). Metode ini cukup sangat
berhasil dalam membentuk berbagai aspek
perkembangan pada anak termasuk didalamnya moral
dan agama anak. Seperti yang kita ketahui bersama
bahwa anak usia dini belum bisa memahami suatu
bacaan atau kalimat-kalimat yang rumit penuh makna
yang mendalam, oleh karenanya anak usia dini akan
belajar segala sesuatu dengan semua hal yang ada
dilingkungannya. Anak usia dini adalah peniru ulung,
mereka akan menirukan berbagai hal yang dilihat,
didengar dan dilakukan oleh orang lain yang terjadi
secara berulang-ulang, kemudian baik secara sadar
maupun tidak sadar akan melekat pada diri anak usia
dini. Ditambah pula dengan sikap yang positif dari
orang tua dan orang-orang terdekatnya terhadap
perilaku yang telah dilakukan akan memperkuat

| 224

aktivitas anak dalam berperilaku yang baik sesuai
dengan moral agama yang berlaku. Itulah yang
menjadi alasan bahwa memang keteladanan menjadi
faktor utama dalam membentuk baik buruknya
tumbuh kembang anak usia dini.

Jika menginginkan seorang anak untuk menjadi
baik, maka perlu disuguhkan pula perbuatan yang
baik, yakni dengan menjadi contoh teladan yang baik
bagi mereka. Sangat mudah bagi orang dewasa untuk
memberikan berbagai materi, nasihat/petuah dan lain
sebagainya kepada anak usia dini untuk melakukan
berbagai kegiatan yang baik, namun amat sangat sulit
bagi mereka (anak usia dini) untuk melakukan apa
yang diperintahkan kepadanya jika ia melihat orang
yang memberikan pengajaran tidak melaksanakan apa
yang diperintahkan.

Berbeda halnya jika seorang pendidik, keluarga
dan masyarakat mampu menyuguhkan berbagai hal
positif, misalnya bertutur kata yang baik, berakhlak
yang baik, sopan santun, selalu melaksanakan segala
perintah dan larangan Allah swt, maka segala hal yang
baik itu jika dilihat oleh anak usia dini akan
membentuk kepribadian yang baik pula pada anak.
Anak tidak akan merasa sulit dan tidak akan merasa

| 225

terbebani dengan pengajaran-pengajaran atau suatu
perintah jika yang memberikan pengajaran kepada
mereka juga ikut andil dalam melaksanakan dan
mengamalkan perbuatan yang baik pula. Sebab, yang
menjadi lebih penting bagi anak adalah figure yang
mampu memberikan keteladanan dalam menerapkan
berbagai prinsip, sehingga sebanyak apapun prinsip
yang diberikan tanpa disertai dengan contoh teladan,
itu hanya akan menjadi suatu kumpulan resep yang
tidak ada maknanya.

Perlunya pengembangan moral dan nilai-nilai
agama sejak dini, bisa dilakukan orang tua atau guru
misalnya dengan membiasakan anak berperilaku
sopan seperti mencium tangan orang tua ketika
berjabat tangan, mengucapkan salam ketika akan
berangkat dan pulang, mau berbagi, mudah
memaafkan dan meminta maaf, dan masih banyak hal
baik lainnya yang bisa dicontohkan kepada anak usia
dini sehingga akan mudah melekat pada diri mereka
kebiasaan-kebiasaan yang baik itu (Fitriyah, 2019).
Keteladanan tidak hanya melulu menjadi tugas untuk
orang tua semata, dimanapun, kapan pun serta dengan
siapapun. Keteladanan bisa melekat pada setiap orang,
mulai dari pendidik disekolah (guru), masyarakat,

| 226

orang tua, bahkan teman sebaya sekalipun. Itulah
sebab pentingnya kita sebagai orang dewasa
menanamkan semua hal yang baik pada diri kita,
karena tanpa disadari kita menjadi contoh bagi semua
orang terutama anak usia dini.

Banyak perilaku manusia dibentuk dan dipelajari
dari orang lain. Islam telah memberikan contoh teladan
yang baik melalui kepribadian nabi dan rasul-Nya.
Islam juga tidak menyajikan keteladanan ini hanya
untuk dikagumi atau hanya untuk direnungi dan
menghayal dalam bayangan abstrak. Namun, Islam
menyajikan riwayat keteladanan semata-mata untuk
diterapkan dalam diri setiap individu muslim baik
anak-anak maupun orang dewasa (Mulya, 2016).

Allah swt berfirman dalam surah Al-ahzab ayat
21:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan
dia banyak menyebut Allah.”

| 227

Ayat di atas dapat dipahami bahwa Islam telah
mengutus nabi Muhammad Saw menjadi suri tauladan
yang baik bagi umat muslim sepanjang zaman. Semua
hal yang Rasulullah ucapkan pada umatnya, pasti
Rasulullah pun ikut mengamalkan dan menjadi contoh
dalam melaksanakan apa yang ia ajarkan pada
umatnya. Rasulullah mengajak umat terdahulu untuk
menyembah Allah, rasul pun mencontohkan
bagaimana cara sholat. Rasulullah memerintahkan
umatnya untuk bersabar, Rasul pun ikut
mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan
masih banyak peristiwa lainnya yang tidak mungkin
disebutkan satu persatu sebab begitu banyak
kemuliaan yang ada dalam diri Rasulullah.

Allah berfirman kembali dalam surah Al-
Mumtahanah ayat 4:

| 228

Artinya: Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan
umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-
orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan
pada) hari kemudian. dan Barangsiapa yang berpaling, Maka
Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha
Terpuji.

Dari ayat tersebut jelas bahwa Allah menyebut
nabi Ibrahim sebagai teladan yang baik. sebagai
pendidik, Nabi Ibrahim tampil sebagai Nabi yang
mengedepankan kasih sayang dan lemah lembut.
Kaitannya dengan pendidikan, hendaknya seorang
pendidik baik itu orang tua maupun guru tidak boleh
berlaku kasar dengan muridnya. Kasih sayang dan
lemah lembut yang ditunjukkan seorang guru tersebut
tentunya sejalan dengan psikologi manusia. Sebab,
kegairahan seorang murid dalam belajar sangat
bergantung kepada hubungan antara murid dan guru
(Taklimudin, 2018).

Kemudian Allah kembali menegaskan firmannya
dalam surah Al-Baqarah ayat 44:

| 229

Artinya: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengajarkan)
kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu
sendiri. Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat) Maka
tidaklah kamu berpikir?”

Dari penjelasan tersebut, kita bisa memahami jika
para Nabi dan Rasul Allah selalu memberikan contoh
dan menjadi figure terbaik dalam segala peristiwa,
bukan hanya serta merta menyuruh ini dan itu pada
umatnya, namun juga ikut memberikan contoh yang
baik dalam setiap pengajaran lalu ikut
melaksanakannya.

Menurut pendapat Barlow sebagian besar upaya
belajar manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan
penyajian contoh perilaku (modeling) (Syah, 2010). Dari
penjelasan diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa
Anak usia dini merupakan tingkat usia yang dalam
tumbuh kembangnya amat sangat ditentukan oleh
keteladanan dari pihak luar dirinya, mulai dari belajar
bertingkah laku, gaya bicara, gaya hidup, dan juga
khususnya moral agama. Oleh karena itu, keteladanan
yang baik akan memberikan pengaruh besar yang baik
pada diri anak, begitu juga sebaliknya.

| 230

1. Kelebihan Metode Keteladanan
a. Akan memudahkan peserta didik dalam
menerapkan ilmu yang ia pelajari
b. Akan memudahkan pendidik dalam
mengevaluasi hasil belajar peserta didik
c. Dengan keteladanan, diharapkan dapat
menumbuh kembangkan jiwa taqwa dan
berilmu pengetahuan pada peserta didik
d. Bila keteladanan dalam lingkungan sekolah,
keluarga, dan masyarakat baik, maka akan
tercipta situasi yang baik
e. Akan tercipta hubungan yang harmonis
antara pendidik dan peserta didik
f. Secara tidak langsung, pendidik dapat
menciptakan ilmu yang diajarkannya
g. Mendorong pendidik/orang yang lebih tua
dari anak usia dini untuk selalu berbuat
baik, sebab tingkah lakunya akan ditiru oleh
anak.

2. Kelemahan dari Metode Keteladanan
a. Jika dalam proses belajar mengajar figure
yang diteladani kurang baik maka anak
akan menjadi tidak baik

| 231

b. Jika dalam proses pengajaran hanya
menyuguhkan teori saja tanpa diikuti
dengan pengimplementasian maka tujuan
pendidikan yang disampaikan pada anak
akan sulit dicapai

c. Orang tua maupun pendidik adalah orang
yang diidolakan oleh anak, untuk itu harus
memiliki sifat yang baik, jika yang dimiliki
pendidik/orang tua sifat yang kurang baik
maka akan ditiru oleh anak untuk
melakukan dan mempunyai sifat yang
kurang baik pula

d. Jika seorang pendidik hanya memberikan
pelajaran dan pengajaran yang baik di
dalam kelas tanpa praktik yang baik diluar
kelas maka akan mengurangi rasa hormat
dari peserta didik (Taklimudin, 2018).

C. Metode Karya Wisata
Moeslichatoen dalam (Hendriyani, 2015)

mengatakan bahwa karyawisata taman kanak-kanak
merupakan salah satu metode melaksanakan kegiatan
pengajaran di taman kanak-kanak dengan cara
mengamati dunia sesuai dengan kenyataan yang ada

| 232

secara langsung yang meliputi manusia, hewan,

tumbuhan dan benda-benda lainnya. Pembelajaran

diluar kelas dapat membantu anak dalam

mengembangkan, merespon, mengapresiasi,

memahami tentang flora dan fauna, dan pemahaman

akan lingkungan secara alami. Selain itu metode karya

wisata disebut juga dengan field trip yaitu suatu metode

pengajaran yang dilaksanakan dengan cara mengajak

anak-anak untuk keluar kelas agar dapat

memerhatikan banyak hal atau peristiwa yang ada

hubungannya dengan bahan pengembangan yang

sedang dibahas dikelas. Metode karyawisata

digunakan sebagai pelengkap materi pokok yang

dipelajari di kelas atau dari buku-buku. Dari sudut

deduktif karyawisata mengandung banyak kebaikan

seperti minta, aktivitas dan lain sebagainya.

Karyawisata/ fieldtrip dapat berupa keliling sekolah

atau ke tempat-tempat yang lebih jauh (Ifadah, 2020).

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa

metode karyawisata ialah cara belajar yang dilakukan

diluar kelas, tidak hanya guru disekolah, orang tua pun

juga bisa mengajarkan anak-anak dengan metode ini.

Banyak hal yang bisa diperhatikan ketika

menggunakan metode karya wisata, mulai dari

| 233

mengetahui keadaan alam, jenis-jenis hewan, jenis-jenis
tanaman, aktivitas orang-orang sekitar, dan tentunya
juga sebagai sarana yang efektif dalam mengenalkan
berbagai macam ciptaan tuhan. Metode ini juga
diharapkan mampu memenuhi rasa keingintahuan
seorang anak dengan fakta-fakta yang dilihatnya secara
langsung. Menurut Sagala dalam (Nashrudin &
Damayanti, 2013).
1. Kelebihan Metode Karyawisata

a. Siswa dapat melihat secara langsung
kegiatan yang dilakukan ditempat
kunjungan.

b. Siswa mendapatkan pemantapan teori-teori
yang pernah mereka pelajari baik dengan
guru disekolah maupun dari pengajaran
orang tuanya.

c. Siswa dapat menghayati pengalaman
praktek suatu ilmu yang yang telah
diperolehnya.

d. Siswa bisa mendapatkan tambahan ilmu
yang didapat dari petugas setempat, dan
siswa bisa mendapatkan banyak ilmu dan
pengetahuan baru sekaligus.

| 234

2. Kelemahan Metode Karyawisata
a. Memerlukan persiapan yang melibatkan
banyak pihak.
b. Jika karyawisata sering dilakukan akan
mengganggu kelancaran rencana pelajaran,
apalagi jika tempat yang dikumjungi jauh
dari sekolah.
c. Kadang-kadang mendapat kesulitan dalam
bidang pengangkutan.
d. Jika tempat yang dikunjungi itu sukar
diamati, akibatnya siswa menjadi bingung
dan tidak akan mencapai tujuan yang
diharapkan.
e. Perlu pengawasan yang ketat.
f. Memerlukan biaya yang relative tinggi.
Menurut Sagala dalam (Nashrudin &
Damayanti, 2013).

D. Metode Sosiodrama
Sosiodrama menurut Sternberg & Garcia, 2010

dalam (Suryani & Solichah, 2016) adalah sebuah
metode tindakan dimana orang-orang meniru situasi
sosial sebagai cara untuk memahami situasi lebih
lengkap. Metode sosiodrama dan bermain peran

| 235

merupakan dua metode mengajar yang mengandung
pengertian sama karenanya dalam pelaksanaan sering
disilih gantikan. Istilah sosiodrama berasal dari kata
sosio atau sosial dan drama. Kata drama berarti suatu
kejadian peristiwa dalam kehidupan manusia yang
mengandung konflik kejiwaan, pergelokan, benturan
antara dua orang atau lebih. Bermain peran berarti
memainkan atau menjiwai karakter orang yang
dimainkannya, misal berperan sebagai dokter, anak
yang baik, orang yang jahat, dan sebagainya. Kedua
metode tersebut biasanya disingkat menjadi metode
sosiodrama yang merupakan metode mengajar dengan
cara mempertunjukkan suatu masalah hubungan sosial
yang ditujukan untuk siswa. Masalah hubungan sosial
tersebut di dramatisasikan oleh siswa yang dipandu
oleh guru.

Metode sosiodrama menurut Sagala adalah
bentuk metode mengajar dengan mendramakan atau
memerankan tingkah laku didalam hubungan sosial
dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dan
penghayatan serta mengembangkan kemampuan anak
untuk memecahkannya. Kemudian diperjelas dengan
Sugiyono bhawa, metode sosiodrama adalah suatu
bentuk kegiatan yang dapat dimanfaatkan sebagai

| 236

sarana pengajaran dengan cara memperagakan
masalah dalam situasi tertentu dengan gerak dan
dialog. Tahap-tahapannya pun diantaranya
penyampaian situasi maslaah, pemeragaan situasi dan
masalah, dan pembahasan situasi dan masalah,
(Sumandri et al., 2017).

Jadi, dari beberapa pengertian diatas bisa
dipahami bahwa metode sosiodrama adalah metode
mengajar dengan memerankan suatu peran untuk
memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan
fenomena sosial yang menyangkut hubungan satu
manusia dengan makhluk hidup lainnya. Jika dikaitkan
dengan moral dan agama anak usia dini maka peran
yang dimainkan seputar dengan tahapan usia mereka,
permasalahan yang terjadi dilingkup tumbuh kembang
mereka, seperti memerankan seseorang yang baik,
perilaku yang ditampilkan, dan manfaat dari perilaku
tersebut, begitu juga sebaliknya. Dalam metode ini
tidak ada salahnya menampilkan 2 karakter yang
berbeda, supaya anak mempunyai pertimbangan jika
mempunyai karakter yang kurang baik maka akan
mendapat akibat balasan yang seperti apa. Sehingga,
diharapkan anak mampu menghindari perbuatan yang

| 237

menyimpang dan tertanam karakter yang baik pada

diri mereka.

1. Jenis Metode Sosiodrama

Adapun jenis-jenis metode sosiodrama,

diantaranya:

a. Permainan penuh, permainan ini biasanya

dilakukan untuk suatu proyek dalam mengatasi

masalah yang kompleks dan kelompok yang

berhubungan dengan masalalu. Permainan ini

pula tidak dibatasi waktu dan sumber.

b. Pementasan situasi atau kreasi baru. Teknik ini

mungkin setingkat dengan permainan penuh,

namun hanya dirancang untuk memainkan

sebagian masalah atau situasi tertentu.

c. Playlet. Ialah jenis permainan yang ketiga

meliputi kegiatan berskala kecil untuk menangani

masalah kecil atau hanya menampilkan bagian

kecil dari masalah besar. Serangkaian playlet

dapat digunakan bersama untuk

menggambarkan perkembangan masalah secara

bertahap.

d. Blackout, jenis permainan drama yang ke empat.

Jenis ini biasanya hanya meliputi dua atau tiga

orang dengan dialog singkat mengembangkan

| 238

latar belakang secukupnya dalam pementasan
yang cepat berakhir.

2. Bentuk Pelaksanaan Dramatisasi
Menurut buku Didaktik Metodik TK dalam

(Khoiroh & Kristanto, 2014) terbagi menjadi dua
bagian, antara lain:

a. Dramatisasi Bebas
Dramatisasi bebas adalah drama yang

dilakukan anak sesuai dengan kehendaknya
sendiri dan dengan caranya sendiri. Pada
dramatisasi bebas anak-anak dibebaskan pula
untuk memainkan peran dan menghindari dialog
atau aktivitas yang mengganggu kegiatan
dramatisasi. Pelaksanaan dramatisasi bebas ini
tergantung dengan keterampilan setiap anak
untuk berbicara, berekspresi, dan melakukan
gerakan sesuai perannya. Dalam hal ini, guru
mengamati jarak yang tidak Nampak atau dari
jarak jauh supaya anak tidak merasa malu,
sehingga guru dapat pula melakukan evaluasi
terhadap kemampuan berbahasa anak dalam
berbicara.

| 239

Menurut Depdikbud langkah-langkah
dramatisasi bebas, yaitu:

1) Guru mempersiapkan situasi dan media
atau alat yang diperlukan untuk memulai
kegiatan.

2) Guru memberikan penjelasan kepada anak
tentang apa yang diharapkan dari kegiatan
sosiodrama yang akan dimainkan mereka

3) Guru memberikan tugas untuk anak untuk
memerankan peran tertentu pada setiap
anak sesuai dengan arahan dan peran
masing-masing

4) Anak diberikan kesempatan untuk
melaksanakan dramatisasi sesuai dengan
keinginannya

5) Anak-anak melakukan dramatisasi atau
memainkan perannya dengan cara dan
percakapn sendiri

6) Guru memperhatikan anak-anak yang
sedang berbicara dengan teman-temannya
pada waktu dramatisasi bebas

7) Bagi anak yang sudah berbicara lancer diberi
pujian, dan yang belum lancer diberikan
dorongan motivasi.

| 240

b. Dramatisasi Terpimpin
Dramatisasi terpimpin yaitu dramatisasi

yang dilakukan oleh anak dengan bimbingan
guru. Dalam hal ini guru menyiapkan cerita yang
akan diperankan oleh anak berdasarkan tema
atau sub tema dalam pembelajaran yang sedang
dibahas pada minggu tertentu. Didalam
dramatisasi terpimpin waktu yang digunakan
kurang lebih 15 menit. Hal ini untuk membatasi
peran anak yang sesuai dengan program
pembelajaran, serta agar anak bermain dan yang
menonton tidak jenuh.

Adapun langkah-langkahnya menurut
Depdikbud, yaitu:

1) Guru menyiapkan alat peraga yang akan
digunakan

2) Guru menceritakan kepada anak-anak,
cerita apa yang akan didramatisasi

3) Guru membagikan peran-peran diantara
anak-anak menurut pilihan mereka sendiri

4) Jika anak-anak sudah mulai lupa dengan isi
dan jalan cerita, maka guru mengulangi lagi
dengan mencontohkan dialog (percakapan)
antara tokoh-tokoh dalam cerita tersebut

| 241

5) Guru membagikan pakaian dan alat yang
sesuai dengan peran-peran yang akan
dimainkan

6) Anak-anak mendramatisasikan.

Agar metode sosiodrama dapat berjalan
dengan lancar dan sesuai dengan tujuan yang
akan dicapai, maka pendidik perlu
mempertimbangkan teknik pelaksanaan
dramatisasi yang akan digunakan dalam
pembelajaran.

3. Ciri-ciri Sosiodrama
Diantara ciri-ciri sosiodrama ialah sebagai

berikut:
a) Merupakan dari peniruan dari situasi yang
sebenarnya
b) Membahas masalah sosial
c) Adanya peranan yang dimainkan oleh
peserta didik
d) Adanya pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan.

| 242

4. Tujuan Sosiodrama
Tujuan pelaksanaan sosiodrama bagi peserta

didik, yaitu:
a) Peserta didik berani mengungkapkan
pendapat secara lisan
b) Memupuk kerja sama diantara peserta didik
c) Peserta didik menunjukkan sikap berani
dalam memerankan tokoh yang diperankan
d) Peserta didik memberikan tanggapan
terhadap pelaksanaan jalannya sosiodrama
yang telah dilakukan, melatih cara
berinteraksi dengan orang lain.

5. Manfaat Sosiodrama
Manfaat sosiodrama serupa dengan bermain

peran. Vygotsky, seorang ahli terkemuka, percaya
bahwa fungsi mental yang lebih tinggi berakar pada
hubungan sosial dan kegiatan kerja sama. Manfaat
sosiodrama dalam perkembangannya menurut
Suprapto yang dikutip dalam buku Depdiknas,
didaktik metode ditaman kanak-kanak antara lain:

a) Menyalurkan ekspresi anak dalam kegiatan
menyenangkan


Click to View FlipBook Version