| 243
b) Mendorong aktivitas inisiatif serta
kreatifitas anak agar berpartisipasi dalam
kegiatan, memahami isi cerita dan ikut
memainkannya.
c) Membantu anak menghilangkan rasa
rendah diri, murung, malu dan segan untuk
tampil didepan teman-temannya
d) Anak mengerti dan merasakan perasaan dan
pikiran orang lain bila berhubungan dengan
sesame teman.
e) Anak dapat menempatkan diri terhadap
orang lain dan memperdalam pengertian
tentang teman lain (Haryanti, 2014).
6. Kelebihan Metode Sosiodrama
Menurut Abu Ahmadi dalam (Cahyono, 2017)
terdapat kelebihan dan kekurangan dalam metode
sosiodrama, diantaranya:
a) Melatih anak untuk mendramatisasikan
sesuatu serta melatih keberanian
b) Metode ini akan menarik perhatian anak
sehingga suasana kelas menjadi hidup
c) Anak-anak dapat menghayati suatu
peristiwa sehingga mudah mengambil
| 244
kesimpulan berdasarkan penghayatan
sendiri
d) Anak dilatih untuk menyusun pikirannya
dengan teratur
e) Memperjelas situasi sosial yang dimaksud
f) Menambah pengalaman tentang situasi
sosial tertentu
g) Mendapat pandangan mengenai suatu
tindakan dalam suatu situasi sosial dari
berbagai sudut.
7. Kekurangan Metode Sosiodrama
Adapun kekurangan dari metode ini menurut
Abu Ahmadi ialah, diantaranya:
a) Metode ini memerlukan waktu yang cukup
banyak
b) Memerlukan persiapan yang teliti dan
matang
c) Kadang-kadang siswa tidak mau
mendramatisasikan suatu adegan karena
malu
d) Tidak bisa mengambil kesimpulan apa-apa
jika pelaksanaan dramatisasi itu gagal
| 245
e) Situasi dalam kelas berbeda dengan situasi
yang sebenarnya ada dimasyarakat.
Berdasarkan keempat metode yang penulis
sampaikan pada tulisan ini, sejatinya penggunaan
metode dalam mengembangkan nilai moral dan agama
anak usia dini tetap saja harus menyesuaikan dengan
perkembangan anak. Metode apapun yang digunakan
memerlukan varian dengan kegiatan bermain. Setiap
anak usia dini cenderung lebih gemar dalam bermain.
Sehingga kegiatan pembelajaran dan pengembangan
moral dan agama anak usia dini dapat dikemas dengan
berbagai metode pembelajaran yang diriingi dengan
kegiatan bermain.
| 246
| 247
BAB VII
PENGGUNAAN MEDIA
PEMBELAJARAN DALAM
PENGEMBANGAN NILAI MORAL
DAN AGAMA ANAK USIA DINI
A. Urgensi Media Pembelajaran dalam
Penyelenggaraan Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk
membimbing dan mengembangkan anak didik dari
makhluk yang alamiyah menjadi makhluk budaya.
Dalam arti lain, pendidikan merupakan pendewasaan
peserta didik agar dapat mengembangkan bakat,
potensi dan keterampilan yang dimiliki secara nyata.
Oleh karena itu sudah seharusnya pendidikan di
desain guna memberikan pemahaman dan
meningkatkan prestasi belajar peserta didik (anak).
Prestasi belajar anak ketika di sekolah sering
dihubungkan dengan kemampuan memahami materi
ketika di sekolah. Pemberian materi yang disampaikan
oleh guru ketika di sekolah, tentunya akan
berpengaruh besar dengan prestasi belajar anak. Anak
yang merasa kesulitan dengan materi yang
| 248
disampaikan oleh guru akan memiliki motivasi belajar
yang rendah, bisa disebabkan karena materi
pembelajaran yang rumit, bahasa yang terlalu sulit
dipahami, atau bisa juga karena bosan dengan
pembelajaran yang monoton.
Kecenderungan pembelajaran yang kurang
menarik merupakan hal yang wajar yang sering
dialami guru. Bahkan, banyak dijumpai bukan hanya
anak yang merasa bosan, namun guru pun merasa
bosan dengan pembelajaran yang hendak ia ajarkan
kepada anak didik. Dengan alasan bahwa guru
bingung harus dengan cara yang bagaimana untuk
menarik perhatian anak didik supaya materi bisa
tersampaikan dengan baik.
Beragam pemahaman menyelimuti pemikiran
para akademisi mengenai peran seorang guru sebagai
pengembang ilmu sangat besar dengan memberikan
pembelajaran yang tepat dan efisien bagi anak. Peran
guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator,
mediator dan pembimbing. Guru hanya dapat
membantu proses perubahan pengetahuan di kepala
anak melalui perannya menyiapkan scaffolding dan
guiding. Dengan cara ini anak dapat mencapai
pemahaman yang lebih sempurna dibandingkan
| 249
dengan pengetahuan sebelumnya. Dengan istilah lain,
guru menyiapkan tangga yang efektif, dan siswa
sendiri yanag memanjat melalui tangga itu untuk
mencapai pemahaman yang mendalam (Daryanto,
2012).
Di era digital, proses pembelajaran harus dipadu
padankan dan diperkaya dengan sumber dan media
pembelajaran, seperti buku teks, modul, film, video,
televisi, slide dan juga web. Guru profesional dituntut
mampu untuk menggunakan berbagai jenis media
pembelajaran yang ada disekitarnya.
Menurut Khadijah, media adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga
dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan
perhatian anak usia dini sedemikian rupa sehingga
proses belajar terjadi. Education Association (NEA)
mengartikan media sebagai benda yang dimanipulasi,
dilihat, didengar, dibaca dan dibicarakan beserta
instrument yang digunakan baik dalam kegiatan
belajar mengajar yang dapat mempengaruhi efektivitas
program istruksional (Dewi, 2017). Bisa dipahami
bahwa media berarti alat yang memudahkan seorang
guru untuk memberikan materi kepada anak didik.
| 250
Dengan menggunakan media, pembelajaran dapat
berjalan dengan baik, lebih menarik perhatian dan
antusias belajar peserta didik, dan media membuat
suasana pembelajaran menjadi lebih menarik.
Media pembelajaran untuk anak usia dini tentu
cakupannya sangat luas. Bukan hanya media yang
sengaja dirancang oleh guru, juga bukan hanya media
langsung jadi yang didapat dari beli. Namun, semua
benda bisa dijadikan media dalam proses pembelajaran
selagi benda itu memiliki nilai edukasi untuk
memudahkan anak dalam memahami materi
pembelajaran yang dalam buku ini akan dibahas tuntas
bagaimana penggunaan media dalam pengembangan
nilai moral dan agama AUD.
B. Efektivitas Media dalam Mengembangkan Nilai
Moral dan Agama Anak Usia Dini
Masalah moral dan agama menjadi sebuah isu
yang selalu hangat untuk dibicarakan dan
membutuhkan penanganan yang serius karena
mempengaruhi seluruh elemen masyarakat mulai dari
orang dewasa sampai pada anak-anak. Masalah ini
harus segera mendapat penanganan yang tepat sejak
dini. Karena seperti yang kita tahu di usia dini perlu
| 251
ditanamkan nilai-nilai moral yang baik sehingga anak
mampu memiliki perilaku yang baik pula dimasa
depannya. Faktor yang mempengaruhi perkembangan
moral dan agama anak diantaranya tingkat
harmonisasi hubungan orang tua dan anak, seberapa
banyak tokoh yang bisa dijadikan model dalam
kehidupan anak sebagai gambaran tokoh yang ideal,
seberapa bagus lingkungan dalam perwujudan dari
suatu nilai-nilai tertentu khususnya moral agama anak,
tingkat penalaran anak tentang nilai moral dan agama,
dan juga interaksi sosial yang memberikan kesempatan
kepada anak untuk bisa mempelajari perilaku yang
bisa diterima oleh masyarakat luas mulai dari keluarga,
sekolah dan lingkungan.
Dalam penanaman nilai agama dan moral, tentu
membutuhkan beberapa alat pendukung dalam
pelaksanaannya supaya nilai yang ditanamkan dapat
berkembang dengan baik pada pribadi anak usia dini.
Salah satu pendukung yang akan memudahkan
penyampaian materi dalam hal agama dan moral anak
adalah media pembelajaran. Secara umum penggunaan
media pembelajaran yang belum maksimal dapat
mempengaruhi dalam pelaksanaan suatu
pembelajaran. Materi pembelajaran yang akan
| 252
disampaikan akan mudah diterima oleh anak dengan
bantuan media pembelajaran, sebab anak-anak akan
sangat antusias dan semangat untuk belajar sehingga
motivasi belajar yang tumbuh karena melihat media
itulah yang memudahkan guru dalam menanamkan
moral agama yang baik pada anak. Pembelajaran yang
dilakukan tanpa adanya media dalam pelaksanaannya
akan membuat proses belajar mengajar menjadi
membosankan dan kurang efektif, dikarenakan guru
hanya ceramah saja dan anak hanya melihat suatu
tulisan dan kebanyakan anak usia dini belum mampu
memahami makna dari suatu tulisan tersebut.
Efektivitas dalam KBBI dimaknai sebagai taraf
tercapainya suatu tujuan. Efektivitas bisa diartikan
seberapa besar tingkat keberhasilan yang diraih dari
suatu usaha dengan tujuan yang hendak dicapai.
Efektivitas tidak hanya dilihat dari sisi produktivitas,
tetapi dilihat dari persepsi seseorang. Demikian dalam
pembelajaran, efektivitas tidak hanya diartikan hanya
dari tingkat keberhasilan anak dalam menguasai materi
yang diajarkan namun juga dilihat dari respon anak-
anak terhadap proses pembelajaran yang ia ikuti. Dari
sini bisa kita pahami bahwa efektivitas pembelajaran
adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi
| 253
antara anak dengan guru, atau anak dengan anak
dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat
dari aktivitas anak selama pembelajaran berlangsung,
mulai dari respon anak terhadap pembelajaran yang
diajarkan dan juga penguasaan konsep anak.
Penggunaan media pembelajaran adalah suatu
hal yang penting dilakukan oleh guru dalam
memudahkan anak didiknya menerima materi yang
disampaikan. Akan tetapi pada kenyataannya tidak
semua efektif digunakan untuk menyampaikan materi
kepada anak, untuk itu diharapkan sebelum
menggunakan atau membuat suatu media, seorang
guru perlu memperhatikan keefektifan media tersebut
dalam proses pembelajaran, agar pembelajaran yang
akan dilakukan bisa berjalan dengan baik dan dengan
hasil yang optimal.
1. Pemilihan Media Pembelajaran
Pemilihan media pembelajaran didasarkan pada
beberapa hal (Daryanto, 2012), diantaranya:
a. Tujuan yang ingin dicapai, hal ini penting
diperhatikan sebagai langkah awal dalam
pemilihan media supaya bisa signifikan antara
media dengan materi yang akan disampaikan.
| 254
Misalnya, ketika ingin mengembangkan bahasa
anak usia dini maka media yang digunakan juga
harus sesuai dengan tema pembelajarannya, bisa
dengan pengenalan konsep huruf, dll.
b. Karakteristik siswa/sasaran. Ini merupakan
langkah kedua dalam pemilihan media, jika
dirasa dalam suatu kelas itu anak didik memiliki
karakteristik yang aktif, maka media yang
digunakan sebaiknya yang menarik dan tentunya
bisa membuat anak tidak merasa bosan. Bisa
dengan merancang kelas menjadi beberapa
kelompok berdasarkan basis kemampuannya
sehingga anak yang aktif akan mempengaruhi
anak yang pasif untuk ikut aktif, sehingga dengan
penggunaan media yang baik dan melihat dan
mengelompokkan karakteristik siswa yang tepat
akan memudahkan materi tersampaikan dengan
baik.
c. Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio,
visual, gerak). Dalam pemilihan jenis media yang
akan membantu proses pembelajaran perlu
disesuaikan dengan perkembangan apa yang
hendak dikembangkan dan diajarkan kepada
anak. Dalam hal ini media yang dipilih haruslah
| 255
yang paling efektif untuk digunakan dan yang
paling sesuai dengan materi yang hendak
disampaikan. Misalnya, jika ingin
mengembangkan tatacara mencuci tangan untuk
fisik motorik anak, maka pemilihan media yang
tepat adalah audio visual, sebab anak tidak hanya
mendengarkan namun juga bisa melihat tatacara
yang baik dalam mencuci tangan seperti apa.
d. Keadaan lingkungan setempat. Dalam hal ini
perlu dilihat dalam penggunaan media
pembelajaran, karena penggunaan media dapat
mempengaruhi pihak lain. Misal ketika
menggunakan media audio terlalu keras dalam
satu kelas sedang kelas yang lain tidak
menggunakan audio sebagai materi ajar, maka
akan sangat mengganggu kelas lain untuk
berkonsentrasi.
e. Luasnya jangkauan yang ingin dilayani. Jika
cakupan pembelajaran hanya segelintir siswa
maka penggunaan media juga bisa disesuaikan.
Misalnya jika ingin mengajarkan kepada anak
dengan media audio visual untuk suatu
pembelajaran bisa hanya dengan menggunakan
laptop untuk menampilkan gambar. Namun jika
| 256
cakupannya terlalu luas dengan jumlah murid
yang banyak, maka perlu adanya bantuan
proyektor sebagai layar besar untuk bisa
dijangkau oleh semua mata yang memandang.
Langkah yang selanjutnya setelah melihat
keefektifan dari suatu media untuk menyampaikan
materi pembelajaran kepada anak, maka ada beberapa
manfaat yang didapat, diantaranya:
a. Diharapkan seorang guru dapat membuat media
yang bagus dan bernilai guna, karena tidak semua
media yang bagus serta mahal itu sesuai dengan
materi yang akan diajarkan, oleh karena itu
prinsip dari suatu media harus bernilai guna.
b. Diharapkan guru bisa membuat media
pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan
tujuan pembelajaran. Semakin banyak tujuan
pembelajaran yang dapat dirangkum dalam suatu
media, maka hal itu menunjukkan kualitas yang
baik pada media yang digunakan.
c. Diharapkan anak mudah menerima materi dari
media yang digunakan oleh guru. Sebab, tidak
semua media yang dibuat dan digunakan oleh
| 257
guru bisa memahamkan anak dengan materi
pembelajaran.
d. Diharapkan setelah mengetahui tingkat
keefektifan dari suatu media, seorang guru bisa
menciptakan media yang lain yang lebih efektif
dan bernilai guna dalam proses pembelajaran.
e. Diharapkan anak dapat mencapai tingkat
perkembangan yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran dengan hasil yang baik setelah
menerima materi yang disampaikan oleh guru.
2. Prinsip Membuat Media Pembelajaran
Membuat media pembelajaran bukanlah hal yang
mudah, dibutuhkan kreatifitas dan imajinasi yang baik
dan menyesuaikan kebutuhan pada anak didik. Dalam
membuat media pembelajaran menurut Mansur dalam
(Dewi, 2017), ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam membuat media, diantaranya:
a. Media pembelajaran yang dibuat hendaknya
dapat digunakan untuk mengembangkan
berbagai aspek perkembangan anak dan dapat
dijadikan sebagai media pembelajaran secara
berulang dengan tema dan sub tema yang
berbeda. Tidak harus guru yang membuat media
| 258
pembelajaran, namun anak juga bisa ikut andil
dalam membuat media dengan bahan di sekitar
kita sehingga akan banyak manfaat lagi untuk
anak karena aspek perkembangan anak bisa
terlatih.
b. Bahan mudah didapat di lingkungan lembaga
PAUD dan mudah dibuat dari bahan bekas atau
sisa. Keuntungannya akan menghemat biaya
pengeluaran untuk itu, sebab banyak sekali
bahan-bahan bekas yang bisa dimanfaatkan
untuk dijadikan media pembelajaran. Misalnya,
bekas susu bubuk bisa digunakan untuk kapal-
kapalan, tutup botol plastik yang disusun rapih
dan ditempel dengan lem bisa dibentuk untuk
bunga, dan masih banyak benda lainnya yang bisa
dibuat untuk media pembelajaran. Dalam hal ini
tentu ada nilai pendidikan yang ditanamkan
kepada anak yakni anak dilatih untuk hidup
sederhana dan kreatif.
c. Tidak menggunakan bahan yang berbahaya bagi
anak. Aspek keselamatan anak merupakan salah
satu yang harus selalu mendapat perhatian dari
guru sebagai pembuat media pembelajaran.
Bahan-bahan tertentu yang mengandung bahan
| 259
kimia yang berbahaya perlu dihindari oleh guru.
Misalnya penggunaan jenis cat yang digunakan
untuk mewarnai alat permainan tertentu
sebaiknya yang tidak membahayakan dan tidak
mengandung bahan kimia bagi anak.
d. Dapat menimbulkan kreativitas, dapat dimainkan
sehingga akan menambah kesenangan bagi anak.
menimbulkan daya khayal dan daya imajinasi
serta dapat digunakan untuk bereksperimen dan
bereksplorasi. Alat permainan konstruktif seperti
balok-balok kayu yang merupakan contoh alat
permainan yang cukup menarik dan menantang
anak untuk berkreasi.
e. Sesuai dengan tujuan dan fungsi sarana. Setiap
media pembelajaran sudah memiliki fungsi yang
berbeda antara yang satu dengan yang lain. Guru
harus menjadikan tujuan dan fungsi sarana
sebagai bagian yang penting untuk diperhatikan.
f. Dapat digunakan secara individual, kelompok
dan klasikal. Media pembelajaran yang dirancang
harus memungkinkan anak untuk
menggunakannya baik secara individual,
digunakan dalam kelompok atau secara klasikal.
| 260
g. Dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan
anak. Sebab, tingkat perkembangan setiap anak
tentu berbeda-beda dan akan berpengaruh
dengan jenis permainan yang akan dibuat oleh
guru. Misalnya dalam permainan puzzle
(kepingan gambar). Tingkat kesulitan dan jumlah
kepingan gambar yang harus disusun oleh anak
akan berbeda antara kelompok usia satu dengan
kelompok usia lainnya.
Berdasarkan beberapa prinsip dalam membuat
media yang disebutkan di atas, meskipun
pembuatannya bisa dari bahan apa saja, namun
ternyata proses pembuatan media untuk bahan ajar
perlu adanya batasan-batasan yang boleh dan tidak
boleh digunakan, aman dan tidak aman bagi anak, serta
pertimbangan lainnya. Sehingga diharapkan dengan
pembuatan media pembelajaran yang baik akan
memudahkan guru dalam menyampaikan materi
kepada peserta didik tanpa adanya hal-hal yang
membuat was-was dan membahayakan bagi peserta
didik.
| 261
3. Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang digunakan oleh guru
tentu memiliki fungsi sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Menurut Kemp & Dayton (Dewi, 2017),
bahwa media pembelajaran dapat memenuhi tiga
fungsi utama apabila media itu digunakan untuk
perorangan maupun kelompok, yaitu:
a. Memotivasi minat
Media pembelajaran memiliki banyak jenis,
warna, bentuk serta ukuran yang beragam. Dalam
proses bermain sambil belajar media bisa
disesuaikan dengan karakteristik dan proses
tahapan tingkat perkembangan anak, supaya
pembelajaran yang diajarkan dapat diterima
dengan baik oleh anak sehingga anak akan
merasa tertarik dan muncul rasa ingin tahu yang
lebih sehingga munculah motivasi belajar anak
yang meningkat.
b. Menyajikan informasi
Melalui media pembelajaran, informasi yang
disampaikan akan lebih mudah dipahami oleh
anak. Seperti yang kita tahu bahwa tingkat
konsentrasi anak sangatlah singkat, oleh karena
waktu yang singkat itu alangkah baiknya jika
| 262
kegiatan bermain sambil belajar dilakukan
dengan menggunakan media yang nyata
sehingga anak akan lebih mudah menerima
informasi yang disampaikan dengan cepat dan
tepat.
c. Memberikan intruksi
Dengan adanya media mampu memberikan
intruksi yang akurat pada anak usia dini. Media
mampu menjelaskan semua hal yang tidak bisa
dibawa kedalam kelas, seperti gunung. Anak usia
dini tidak akan mampu melihat gunung meletus
secara nyata namun dengan adanya media
pembelajaran anak mampu melihat gunung
meletus dengan menggunakan eksperimen dari
tepung, soda dan pewarna.
4. Manfaat Media Pembelajaran
Dengan adanya media dalam pembelajaran,
ternyata mempunyai banyak manfaat yang bisa
diambil, diantaranya:
a. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalitas.
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan
daya indra.
| 263
c. Menimbulkan gairah belajar, berinteraksi secara
langsung antara peserta didik dan sumber belajar.
d. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai
dengan bakat dan kemampuan visual, auditori
dan kinestetiknya.
e. Memberi rangsangan yang sama,
mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan
persepsi yang sama.
f. Proses pembelajaran mengandung lima
komponen komunikasi, yaitu guru
(komunikator), bahan pembelajaran, media
pembelajaran, peserta didik (komunikan) dan
tujuan pembelajaran. Jadi, media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran)
sehingga dapat merangsang perhatian, minat,
pikiran, dan perasaan peserta didik dalam
kegiatan belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Selain itu, kontribusi media pembelajaran
menurut Kemp and Dayton dalam (Daryanto, 2012)
adalah sebagai berikut:
| 264
a. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih
berstandar. Artinya penyampaian pembelajaran
akan menjadi lebih baku.
b. Pembelajaran dapat lebih menarik. Maksudnya
dengan penggunaan media dalam pembelajaran
akan membuat antusias belajar anak menjadi
lebih tinggi dan bersemangat untuk belajar , serta
anak akan larut dan mempelajari materi yang
akan disampaikan oleh guru dengan sangat
menyenangkan ditambah dengan warna warni
dari media yang digunakan akan membuat daya
tarik tersendiri bagi anak.
c. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan
menerapkan teori belajar. Artinya dengan
penggunaan media dalam proses belajar
mengajar akan memancing interaksi aktif antara
anak dan guru, sehingga pembelajaran tidak
bersifat kaku.
d. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat
diperpendek. Maksudnya dengan penggunaan
media pembelajaran tentu selain bermanfaat
untuk anak juga bermanfaat untuk guru. Sebab
guru tidak perlu menjelaskan bahan ajar yang
| 265
terlalu panjang karena adanya media
pembelajaran.
e. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.
Dengan adanya media pembelajaran tentu akan
membuat anak semakin semangat dalam belajar
sehingga dampak positifnya anak akan mudah
mencapai aspek perkembangan. Sehingga
semakin cepat anak dalam mencapai aspek
perkembangannya menunjukkan semakin baik
kualitas pembelajarannya.
f. Proses pembelajaran dapat berlangsung
kapanpun dan dimanapun diperlukan. Dalam
pemanfaatan media pembelajaran seperti yang
kita ketahui bersama bahwa media tidak harus
yang bersifat modern, namun bisa kita buat
sendiri. Nah, mengapa disana dijelaskan dapat
berlangsung dimana pun dan kapanpun? Karena,
proses pembelajaran bisa saja dilakukan didalam
maupun diluar kelas, dan penggunaan media
pembelajaran bisa menyesuaikan tempat. Jika
pembelajaran dilakukan diluar ruangan, maka
bahan dari alam sekalipun bisa dijadikan bahan
ajar yang tentunya disesuaikan dengan tema yang
akan diajarkan pada hari tersebut.
| 266
g. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran
serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
h. Peran guru mengalami perubahan ke arah yang
positif. Artinya dalam hal ini, adanya media
pembelajaran membuat guru bukanlah sebagai
satu-satunya sumber belajar.
Pendapat yang lain diungkapkan oleh Khadijah
dalam (Dewi, 2017), menjelaskan bahwa manfaat media
pembelajaran dapat dirasakan langsung bagi peserta
didik, diantaranya:
a. Meningkatkan motivasi
b. Memberikan dan meningkatkan variasi belajar
anak
c. Memberikan struktur materi pembelajaran
d. Memberikan inti informasi kepada anak
e. Merangsang anak untuk berpikir dan beranalisis
f. Menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa
paksaan.
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah
dikemukakan memberikan sebuah asumsi bahwa
sejatinya penggunaan media pembelajaran bukan
hanya memberikan manfaat bagi anak didik,
| 267
melainkan juga memberikan manfaat bagi guru dalam
keberlangsungan pembelajaran, diantaranya:
a. Memberikan pedoman, arahan untuk mencapai
tujuan. Dalam proses belajar mengajar sebagai
pendidik tentu harus memiliki pedoman
pembelajaran, sehingga konsep pembelajaran
yang akan dirancang berpatokan pada pedoman
pembelajaran dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
b. Menjelaskan struktur dan urutan pengajaran
dengan baik. media yang hendak digunakan
mampu menjelaskan secara detail struktur atau
urutan proses pembelajaran yang akan dilakukan
dalam suatu hari.
c. Memberikan kerangka sistematis secara baik.
d. Memudahkan kembali pengajaran terhadap
materi pembelajaran dan memberikan keringanan
pada guru dalam mengajar.
e. Membantu kecermatan, ketelitian dalam
penyajian pembelajaran.
f. Membangkitkan rasa percaya diri seorang
pengajar/guru, menghilangkan rasa gugub
dalam mengajar.
g. Meningkatkan kualitas pembelajaran.
| 268
5. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Peran guru dalam memilihkan media
pembelajaran yang tepat untuk anak akan sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan anak. Pemilihan
media bisa menyesuaikan dengan tingkat
perkembangan anak seperti usia misalnya, lalu dengan
memperhatikan tingkat kesulitan dalam media, dan
juga kualitas dari media pembelajaran itu sendiri.
Media pembelajaran harus mampu menstimulasi
semua aspek perkembangan anak dan harus mampu
mengatasi rasa bosan pada anak sehingga
pembelajaran berjalan dengan efektif. Ketika guru
melakukan kesalahan dalam pemilihan media yang
kurang tepat, maka dampak yang akan dirasakan oleh
anak adalah mereka akan sulit untuk konsentrasi
dengan materi yang diajarkan, tidak tertarik dengan
pembelajaran yang diajarkan oleh guru dan bahkan
anak akan cepat merasa bosan dan menjadi malas
untuk mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, guru
harus mampu menyesuaikan antara materi yang
hendak diajarkan dengan media yang akan digunakan.
Jenis media dalam kegiatan bermain sambil
belajar pad ataman kanak-kanak menurut Thoiruf
dalam (Dewi, 2017), antara lain:
| 269
a. Media audio biasa disebut dengan media dengar
yang dapat menyampaikan pesan melalui suara
dan bunyi seperti suara bahasa, musik, dan sound
effect dapat dikombinasikan untuk menguatkan isi
pesan.
b. Media visual yaitu media yang dapat digunakan
untuk menyampaikan pembelajaran atau
informasi melalui penglihatan yang berbentuk
symbol-simbol visual.
c. Media audio visual adalah media yang dapat
menyampaikan pesan melalui suara, gambar, dan
tulisan. Media audio visual dibagi menjadi dua
macam, yaitu media televise dan film.
d. Media lingkungan, menurut Mariyana
lingkungan adalah suatu tempat atau suasana
(keadaan) yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.
Dalam kata lain lingkungan yang digunakan
adalah lingkungan yang mampu mempengaruhi
tumbuh kembang anak. Misalnya berupa
perkebunan, taman sekolah, museum maupun
ketempat wisata yang mempunyai nilai
pendidikan lainnya. lingkungan bagi anak usia
dini dapat diartikan sebagai laboratorium
| 270
percobaan, tempat bereksplorasi, bereksperimen
dan mengekspresikan diri untuk mendapatkan
konsep dan informasi baru sebagai wujud dari
hasil belajar.
C. Media Audio
Salah satu bentuk media dalam pembelajaran
adalah media audio. Daryanto menyebutkan bahwa
Audio berasal dari kata audible yang artinya suara yang
dapat didengarkan secara wajar oleh telinga manusia.
Menurut Munadi dalam (Innayah, 2012), media audio
adalah media yang isi pesannya hanya bisa diterima
melalui indera pendengaran. Dengan kata lain, media
audio ini adalah jenis media yang hanya melibatkan
indera pendengaran untuk memanipulasi unsur bunyi
dan suara semata. Sedangkan istilah pembelajaran
lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat
belajar para siswanya. Oleh karena itu jika dikaitkan
dengan media pembelajaran, maka yang dimaksud
media audio pembelajaran adalah sarana yang
digunakan untuk menyampaikan pesan atau rangkaian
pesan materi pembelajaran melalui suara.
Media audio dalam dunia pembelajaran diartikan
sebagai bahan pembelajaran yang dapat disajikan
| 271
dalam bentuk auditif yang dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa/anak
sehingga terjadi proses belajar mengajar. Berdasarkan
pengembangan pembelajaran, media audio dianggap
sebagai bahan ajar yang ekonomis, menyenangkan, dan
mudah disiapkan dan digunakan oleh guru maupun
siswa. Materi pembelajaran dapat diurutkan
penyajiannya, serta bersifat tetap, pasti, dan juga dapat
digunakan untuk media intruksional belajar secara
mandiri.
Secara fisik, media audio dapat berupa kaset
audio, radio, phonograph (piringan hitam), tape
recorder,CD dan VCD player, MP3, compact disk,
audio card, dll. Dengan beberapa alat itu, guru dapat
menyajikan materi ajar kepada anak yang dikemas
sedemikian rupa sehingga merangsang anak untuk
belajar. Dengan meggunakan media audio, hal ini
dapat menumbuhkan imajinasi anak. Media audio
dengan konsep nyanyian biasanya adalah yang sering
digunakan dalam lembaga PAUD.
Pemberian materi pembelajaran yang
menggunakan media audio dalam pendidikan anak
usia dini biasa dikemas dalam bentuk lagu-lagu
anak/nyanyian yang disesuaikan dengan tema ajar
| 272
(Innayah, 2013). Dalam kaitannya dengan
pengembangan nilai agama dan moral, lagu anak yang
biasa diperdengarkan pun juga banyak. Misalnya lagu
“bangun tidur”, dalam lagu ini terkandung pesan
moral untuk anak ketika bangun tidur yang harus
dilakukan ialah mandi, menjaga kebersihan badan dan
setelah itu membantu pekerjaan ibu dengan
membersihkan/merapihkan tempat tidurnya.
Meskipun itu hanya nyanyian, bukan hanya asyik dan
menarik untuk di dengarkan dan dinyanyikan namun
juga mengajarkan sejak dini kepada anak untuk
berperilaku yang baik. Pesan moral selalu bisa
dikaitkan dengan pengajaran agama sekaligus. Bagi
umat beragama khususnya islam, bisa diselipkan
penambahan nilai agama dalam perilaku anak ketika
bangun tidur. Seperti mengajarkan doa sebelum dan
sesudah bangun tidur, lalu ketika hendak masuk dan
keluar wc diajarkan doanya, ketika sudah
membersihkan badan juga bisa dibiasakan untuk
wudhu dan melaksanakan sholat subuh, dan ketika
hendak melakukan suatu kegiatan diawali dengan
bismillah dan diakhiri dengan hamdallah.
Meskipun kelihatannya mudah, namun justru
sebagai pendidik kita harus peka dengan apa yang
| 273
menjadi bekal anak dimasa depan. Karena apa yang
kita tanamkan dimasa kecil pada anak, maka akan
menjadi suatu kebiasaan dimasa-masa mendatang.
Lalu mungkin banyak pertanyaan, bagaimana bisa
seorang guru melihat aktivitas anak dirumah sedang
tugas guru adalah bertugas mengajar disekolah?
Bagaimana proses pengajaran pembiasaan itu? Jadi,
sebagai pendidik pemberian bekal yang baik terutama
nilai moral agama anak bisa diajarkan ketika disekolah.
Caranya dengan memberikan pengajaran kolaboratif
antara media audio dan juga pengajaran secara
langsung. Media audio kita posisikan sebagai alat
bantu dalam menghidupkan suasana pembelajaran,
sedang makna dari suatu kata/lirik yang
diperdengarkan kepada peserta didik adalah tugas
guru dalam menjelaskan makna yang terkait.
Perkembangan kognitif, komunikasi dan bahasa,
serta perkembangan nilai moral dan agama pada anak
usia dini, dapat ditunjang menggunakan media audio
pembelajaran. Jika diawal pembahasan media audio
pada anak biasa digunakan untuk suatu nyanyian atau
lagu, pada bagian ini media audio dikatakan dapat
mengembangkan nilai moral dan agama dengan
menautkan nilai moral dan agama dalam ceita yang
| 274
terdapat dalam media audio. Bagian akhir dari cerita
dalam media audio dapat berupa kesimpulan materi
serta penanaman konsep nilai moral dan agama yang
menjadi pesan pokok bahasan dari cerita.
Effiana Yuriastien dalam (Putra, 2018),
menyatakan bahwa mendengarkan cerita akan
menumbuhkan dan mengembangkan imajinasi anak.
Anak akan belajar merasakan empati dari apa yang
dialami oleh tokoh dan akan berimajinasi menjadi
tokoh tersebut, dengan demikian hati nurani anak akan
terasah. Imajinasi merupakan suatu hal yang efektif
untuk mengembangkan kemampuan intelektual,
sosial, bahasa dan kreativitas anak. imajinasi anak
dapat mengembangkan daya piker tanpa dibatasi
kenyataan dan realitas sehari-hari. Imajinasi juga akan
membantu kemampuan berfikir fluency, fleksibility, dan
originality pada anak.
Fluency ialah kemampuan anak untuk
mencetuskan banyak ide, banyak jawaban, dan banyak
penyelesaian masalah. Kaitannya dengan audio ialah
ketika anak mendengarkan suatu cerita misalnya maka
ia akan membayangkan sesuai keadaan tokoh yang ada
dalam cerita tersebut. fleksibility ialah kemampuan anak
untuk mengubah cara pandang mereka terhadap suatu
| 275
hal, mampu menghasikan gagasan, jawaban atau
pertanyaan yang bervariasi. Originality ialah
kemampuana anak untuk melahirkan gagasan baru
yang unik. Itulah tiga kemampuan anak yang didapat
dari berimajinasi melalui media audio pembelajaran.
Dalam proses penggunaan media audio sebagai
alat yang digunakan untuk mempermudah
penyampaian pembelajaran pada anak usia dini
menurut Wina Sanjaya dalam (Abid, 2017), tentu
memiliki kelebihan dan kelemahan. Diantara kelebihan
itu ialah:
1. Dengan menggunakan alat perekam, program
audio digunakan sesuai dengan kebutuhan
pendengar.
2. Media audio dapat melatih siswa untuk
mengembangkan daya imajinasinya.
3. Media audio dapat merangsang partisipasi aktif
para pendengar/siswa.
4. Program audio dapat menggugah rasa ingin tahu
siswa tentang sesuatu sehingga dapat
merangsang kreativitas.
5. Media audio dapat menanamkan nilai dan sikap
positif terhadap pendengar yang sulit dicapai
dengan media lain.
| 276
6. Media audio dapat menyajikan laporan yang
actual dan orisinil yang sulit dicapai dengan
media lain.
7. Program audio dapat mengatasi batasan waktu
serta jangkauan yang sangat luas.
Setiap media dalam pembelajaran selain memiliki
kelebihan, tentu memiliki kekurangan. Adapun
kekurangan atau kelemahan media audio adalah:
1. Sifat komunikasinya satu arah. Siswa sebagai
pendengar akan merasa sulit mendiskusikan hal-
hal yang sulit dipahami.
2. Media audio lebih banyak menggunakan suara
dan bahasa verbal.
3. Media audio hanya akan mampu melayani secara
baik untuk mereka yang mampu berpikir abstrak.
4. Penyajian materi melalui audio dapat
menimbulkan verbalisme pendengar.
5. Media audio yang menggunakan siaran radio,
biasanya dilaksanakan serempak dan terpusat,
sehingga sulit melakukan pengontrolan.
| 277
D. Media Visual
Media visual bisa diartikan sebagai media
pemberi pesan antara gagasan dan fakta secara kuat,
jelas dan terpadu, melalui kombinasi menyampaikan
kata-kata dan gambar. Dalam pembelajaran anak usia
dini media visual bisa berupa karikatur dan kartun
yaitu garis yang dicoret dengan simple yang
mengarahkan kepada suatu hal yang penting.
Sedangkan kartun ide utamanya yaitu mengupload
rasa lucu dan kesan utamanya yaitu senyum dan tawa.
Kesan pesan dan humor yang disampaikan dari kartun
dan karikatur mengakibatkan pesan yang diberikan
awet dalam ingatan anak.
Ada empat fungsi media visual, menurut Levied
dan Lents dalam (Puji lestari & Susila, 2020), yaitu:
1. Fungsi atensi media visual yaitu inti, yang
mengarahkan dan membawa perhatian siswa
untuk berkonsentrasi kepada pelajaran yang
berhubungan dengan makna visual yang
menyertai atau ditampilkan teks isi materi
pembelajaran. Gambar yang ditampilkan dalam
media visual akan memudahkan anak dalam
mengingat materi yang diajarkan.
| 278
2. Media gambar yang diproyeksikan lewat
overhead projector bisa menarik siswa pada mata
pelajaran, sehingga fungsi kognitif media visual
mengenai lambang visual atau gambar
mempermudah pencapaian tujuan untuk
mengingat materi atau informasi pada gambar.
3. Fungsi afektif media visual bisa tampak dari
tingkat kenyamanan siswa ketika sedang belajar
dan membaca teks yang bergambar.
4. Fungsi kompensatoris media visual yang
menyampaikan konteks untuk dapat mengerti
teks yang lemah dalam membaca untuk
menggunakan informasi dalam teks dan bisa
mengingat kembali.
Dalam media visual ini, anak usia dini belum
pandai untuk membaca dan mengartikan suatu kata
bahkan kalimat yang ada dalam gambar yang
ditampilkan. Oleh karenanya perlu pemaknaan dari
guru supaya lebih menguatkan definisi dari gambar
yang dilakukan oleh anak. Media visual dalam hal ini
dapat meningkatkan semangat belajar anak, sehingga
tujuan pembelajaran akan mudah tercapai dengan baik.
apalagi ditambah dengan suatu gambar yang menarik,
| 279
bisa juga dengan gambar kartun yang anak sukai di
animasikan dalam bentuk pembelajaran, pastilah anak
lebih antusias lagi dalam pembelajaran.
Kaitannya dengan agama dan moral aud, apakah
bisa kalau media visual diaplikasikan untuk
pengembangan moral agama anak? perlu kita ketahui,
media visual berfungsi sebagai alat yang memudahkan
pendidik dalam menyampaikan materi kepada peserta
didik dalam mengembangkan berbagai aspek
perkembangan yang termasuk didalamnya ada moral
agama anak. Materi yang disampaikan melalui media
visual pun juga beragam, bisa menampilkan beberapa
gambar yang kemudian guru memberikan penjelasan
terhadap itu. Apalagi dizaman yang serba modern ini,
tentu media visual tidak hanya monoton dari buku
bergambar. Sebagai seorang guru di zaman yang serba
canggih ini tentu tidak akan merasa kesulitan dalam
memberikan materi bahan ajar yang menggunakan
media visual, karena gambar-gambar berupa kartun,
karikatur, gambaran secara nyata sekalipun bisa
dengan mudah didapatkan dari internet.
Cara penyampaian materi kepada anak didik pun
bisa dengan menggunakan slide power point, dengan
tampilan gambar, warna yang menarik sehingga hal itu
| 280
akan menarik perhatian anak untuk focus dengan
materi pembelajaran. Dalam proses pembelajaran
berlangsung, siswa dilatih untuk menafsirkan gambar
yang ditampilkan dengan ide pikirannya berdasarkan
gambar yang tersedia. Hal ini tentu akan membuat
pembelajaran menjadi aktif antara anak dan guru. Baru
setelah anak selesai menafsirkan gambar sesuai dengan
pikirannya, maka tugas guru menanggapi serta
meluruskan penafsiran-penafsiran pada anak. Cara
yang dilakukan guru pun juga tidak hanya monoton
sekedar menafsirkan suatu gambar, namun bisa di
modifikasi dalam bentuk pengamatan terhadap
gambar dan juga cerita yang lebih menarik.
Peran penggunaan media visual dalam
pembelajaran adalah memberikan sebuah kesan nyata
kepada anak dan membantu guru dalam memudahkan
menyampaikan materi kepada anak sehingga
pembelajaran mudah untuk dipahami. Media visual
mempunyai banyak manfaat yang bisa dirasakan
langsung oleh guru dan juga anak, diantaranya;
menarik perhatian anak, memudahkan guru dalam
memberikan materi, menumbuhkan semangat belajar
aktif pada anak dan berakhir pada kualitas hasil belajar.
| 281
Adapun manfaat dalam menggunakan media
visual dalam pembelajaran (Pujilestari & Susila, 2020),
diantaranya:
1. Metode pengajaran akan lebih bervariatif. Artinya
metode yang digunakan oleh guru dalam
menyampaikan materi ajar tidak hanya
menggunakan metode ceramah saja namun bisa
menerapkan metode pengajaran yang lain supaya
pembelajaran pun tidak membuat siswa menjadi
bosan.
2. Bahan pengajaran lebih nampak jelas. Artinya,
media visual dilengkapi dengan tampilan-
tampilan gambar dan sejenisnya yang akan lebih
membantu daya pikir siswa dengan belajar secara
nyata, melihat bentuk, warna serta keindahan
variasi yang memanjakan mata.
3. Bahan yang dibuat sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Media visual bisa dipilih
disesuaikan dengan tema dan disesuaikan dengan
ranah mana yang mau dikembangkan, jika yang
dipilih ialah moral agama maka media visual
yang ditampilkan juga mengandung bahan ajar
tentang moral agama supaya pembelajaran bisa
lebih efektif dan focus.
| 282
4. Pengajaran bisa menumbuhkan perhatian siswa
sehingga bisa meningkatkan semangat belajar.
Dengan media yang bervariasi, media yang
menarik tentu akan mengundang perhatian anak
ketika proses pembelajaran, sehingga akan
menumbuhkan semangat mengajar bagi guru
ketika melihat anak didiknya semangat dan
antusias, dan akan menumbuhkan semangat
belajar bagi anak, ketika melihat guru membawa
atau mengenalkan materi pembelajaran
menggunakan media visual yang menarik.
5. Siswa lebih banyak melaksanakan aktivitas
belajar. Maksudnya disini jika dalam proses
pembelajaran menggunakan media visual maka
akan banyak aktivitas yang dilakukan oleh anak.
Misalnya, anak mengamati, menafsirkan maksud
dari gambar, mengenal bentuk dan lain-lain.
6. Kualitas hasil belajar bisa ditingkatkan. Hal ini
bisa terjadi apabila adanya integrasi kata dan
gambar sebagai media pembelajaran bisa
memberi pesan elemen pengetahuan melalui cara
yang tersusun dengan baik, spesifik dan jelas.
Ditambah pula dengan guru yang turut serta
| 283
membantu dalam proses pemaknaan daari hasil
gambar yang ditampilkan.
Dalam pembelajaran anak usia dini, media visual
yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran
adalah kartun. Dan media ini tentu memiliki kelebihan
dan kelemahan (Rusby et al., 2017), diantara kelebihan
itu ialah:
1. Penggunaan simbolis yang singkat dan langsung
mengena pada sasaran.
2. Mengemukakan suatu idea tau pesan, peristiwa
secara estetis, menggembirakan, lucu, menyindir
dan mengejek
3. Mengemukakan idea tau pesan peristiwa secara
stereotipe mudah dikenal umum
4. Tidak memerlukan banyak penjelasan atau kata-
kata.
Sebagaimana kelebihan yang telah disebutkan
diatas, media visual kartun yang digunakan pada
pembelajaran anak usia dini juga memiliki kelemahan,
diantaranya:
1. Proses stereotipe ini justru dapat menyebabkan
terjadinya salah arti.
| 284
2. Sering menyederhanakan ide/peristiwa sehingga
dapat salah mewakili sesuatu
3. Apabila guru salah memanfaatkan dan
memberikan penjelasan, maka akan
membingungkan peserta didik.
E. Media Audio Visual
Media audio visual adalah kombinasi dari media
audio dan media visual. Adanya unsur audio
memungkinkan siswa untuk dapat menerima pesan
pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur
visual memungkinkan penciptaan pesan belajar
melalui bentuk visualisasi. Menurut Anderson dalam
(Fitria, 2014), media audio visual adalah merupakan
rangkaian gambar elektronis yang disertai unsur suara
audio yang juga mempunyai unsur gambar yang
dituangkan melalui pita video. Rangkaian gambar
elektronis tersebut kemudian diputar dengan suatu alat
yaitu video cassette recorder atau video player. Jenis media
audio visual terdiri dari film, televisi, video,
computer/laptop, dan proyektor.
Tujuan dari penggunaan media audio visual
untuk mengembangkan kemampuan kognitif dengan
memberikan rangsangan berupa gambar bergerak dan
| 285
suara, serta menyampaikan pesan untuk
mempengaruhi sikap dan emosi. Manfaat dari media
audio visual itu sendiri ialah menarik perhatian peserta
didik dalam menyampaikan materi ajar,
menumbuhkan motivasi belajar, dan memberikan
pengalaman belajar dengan menyimpulkan
pembelajaran dari sebuah video yang disajikan.
Tanpa disadari dalam kehidupan saat ini, kita
sering menggunakan audio visual dalam memenuhi
kebutuhan kita. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan
hiburan yang sekarang bisa dengan mudahnya diakses
melalui tayangan televisi, menonton video-video
melalui handphone ataupun laptop. Dalam
pembelajaran anak usia dini, dengan adanya media
audio visual tentu pengaruhnya sangat besar terhadap
motivasi belajar anak. Sebab, pada kenyataannya anak
akan merasa lebih betah menonton tayangan layar kaca
daripada belajar/ hanya sekedar melihat-lihat isi
gambar dalam buku. Dengan alasan inilah, tidak ada
salahnya jika media audio visual diaplikasikan dalam
pembelajaran anak khususnya dalam penanaman nilai-
nilai moral agama.
Sebagai seorang guru pendidikan anak usia dini,
memilihkan tayangan video yang sesuai dengan
| 286
tingkat perkembangan anak adalah tugas utamanya
dalam pembelajaran melalui media audiovisual ini.
Penting juga untuk pemilihan materi yang disesuikan
dengan aspek perkembangan yang ingin
dikembangkan. Di zaman yang serba modern ini,
dirasa tidak akan mengalami kesulitan dalam mencari
materi bahan ajar karena bisa dengan mudah
mengakses video dari youtube dan sebagainya.
Mungkin yang menjadi kendala adalah jaringan
internetnya.
Dalam memilihkan video/film yang hendak
dikenalkan kepada peserta didik bisa menampilkan
tokoh-tokoh animasi kartun yang identik dengan
kesukaan anak, seperti tayangan nusa dan rara, upin
dan ipin, dan masih banyak film kartun lainnya yang
tidak hanya memberikan suasana yang menyenangkan
bagi anak, namun juga mengandung nilai-nilai moral
dan agama anak. Menampilkan video dalam
pembelajaran bukan berarti guru lepas tangan dengan
kegiatan anak. Perlu adanya pembatasan waktu dalam
menonton suatu tayangan supaya bisa lebih efektif
dalam pembelajaran. Setelah menonton suatu
film/video, tugas guru adalah merangsang anak untuk
berfikir tentang apa yang mereka dapat dari tayangan
| 287
video, misalnya bagaimana sikap tokoh si A, lalu sikap
baik seperti apa yang ditampilkan, manfaat
mempunyai sikap yang baik apasaja, apa yang
dilakukan tokoh sebelum melakukan kegiatan, dan
masih banyak segudang pertanyaan untuk diberikan
kepada anak didik supaya mereka berfikir dan bisa
mengambil contoh yang baik dari video/film yang
mereka lihat. Dengan begitu, proses penanaman nilai
moral dan agama anak akan berkembang dengan baik
dalam diri anak.
Pada penggunaan media audio visual,
dibutuhkan persiapan yang matang dan berdaya ubah.
Media audio visual memiliki kelebihan yaitu:
1. Media audio visual memperjelas penyajian pesan
agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan). Sebab dalam
media audio visual ini adalah media yang
menampilkan gambar dan juga disertai suara,
sehingga lebih memudahkan anak dalam
menangkap pesan pembelajaran.
2. Mengatasi perbatasan ruang, waktu dan daya
indera. Dalam media audiovisual memudahkan
seorang pendidik dalam menyampaikan materi
bahan ajar kepada peserta didik/anak dalam
| 288
waktu yang relatif singkat namun efektif dalam
menyampaikan materi bahan ajar dengan cara
yang menyenangkan.
3. Dapat melengkapi pengalaman-pengalaman
dasar anak. Dalam hal ini, anak akan belajar
secara nyata, bisa melihat dan mendengar secara
langsung dari video yang ditampilkan sehingga
dapat menyempurnakan pengalaman belajar
anak, bisa belajar sebab akibat dari suatu perilaku,
dan sebagainya.
4. Anak dapat melihat praktek langsung dari hal-hal
yang selama ini sulit terlihat. Dengan
menggunakan media audio visual ini, tentu
merupakan wujud nyata dari cerita yang
mungkin selama ini di dapat dari hasil cerita yang
dibawakan atau disampaikan oleh guru/orang
tua.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan media
audio visual dalam mengembangkan nilai moral dan
agama anak usia dini yaitu:
1. Media audio visual tidak dapat digunakan
dimana saja dan kapan saja, karena media
audiovisual cenderung tetap ditempat. Dalam hal
| 289
ini, kita bisa sama-sama melihat jika dalam suatu
kelas terdiri dari banyak siswa maka
pembelajaran tidak cukup hanya ditampilkan
lewat tayangan dari handphone atau laptop.
Butuh layar yang dan sound yang lebih besar
untuk menunjang kegiatan ini, dan ini hanya bisa
dilakukan didalam ruangan supaya gambar yang
ditampilkan jelas.
2. Memerlukan biaya mahal. Tidak semua sekolah
memiliki fasilitas yang memadai dalam hal audio
visual ini, seperti halnya laptop dan proyektor
sebagai penunjang aktivitas media audiovisual.
3. Memerlukan tenaga listrik (Oktaviani & Kamtini,
2017). Mungkin jika dari laptop masih bisa
menyimpan daya baterai, namun untuk alat yang
lain seperti sound dan proyektor tidak akan bisa
menyala tanpa adanya aliran listrik.
| 290
| 291
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Karim. (2013). Islam Nusantara. Yogyakarta.
Gama Media.
Abid, M. N. (2017). Kelebihan dan Kelemahan Media
Pembelajaran Audio Beserta Referensinya. In
Dosenmuslim.com.
Abu Ahmadi, M. S. (2005). Psikologi Perkembangan.
Jakarta. Rineka Cipta.
Abuddin Nata. (2009). Perspektif Islam tentang Strategi
Pembelajaran. Jakarta. Kencana.
Adonai Filisia Arumdina. 2013. Pengaruh Kesepian
terhadap Pemilihan Pasangan Hidup pada
Dewasa Awal yang Masih Lajang. Jurnal Psikologi
Universitas Airlangga. Vol.2, No.03.
Agus Supriyono. (2010). Cooperative Learning : Teori dan
Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Al-Ayouby, Hafiz. Skripsi Dampak Penggunaan
Gadget Pada Anak Usia Dini (Studi Di Paud Dan
Tk.Handayani Bandar Lampung) , Bandar
Lampung: Universitas Lampung, 2017
Ameliola & Nugraha. (2013). Perkembangan media
| 292
informasi dan tekhnologi terhadap anak dalan era
globalisasi. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2020,
dari
http://icssis.files.wordpress.com/2013/09/2013-
0229.
Amirulloh Syarbini. 2016. Pendidikan Karakter
Berbasis Keluarga. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Anisah, A. S. (2011). Pola asuh orang tua dan
implikasinya terhadap pembentukan karakter
anak. Jurnal Pendidikan Universitas Garut, 05(01).
Bagir, Zainal Abidin dkk. 2005. Integrasi Ilmu dan
Agama, Interpretasi dan Aksi. Bandung: Mizan
Pustaka.
Baiduri, R., & Yuniar, A. (2017). Pola Pengasuhan
Keluarga Etnis Jawa Hasil Pernikahan Dini Di Deli
Serdang. Jurnal Antropologi Sumatera, 15(1).
Borba, M. (2008). Membangun Kecerdasan Moral (p. 7).
Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Cahyono, H. (2017). Peningkatan prestasi belajar siswa
dengan menerapkan metode sosiodrama. 1(2).
D, K. & S. (2013). Pembelajaran Quantum dan Optimalisasi
Kecerdasan. Bandung. Alfabeta.
Danah Zahar, I. M. (2002). SQ Memanfaatkan Kecerdasan
Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik