| 93
C. Mengatur Penggunaan Gadget Pada Anak Usia
Dini
Intensitas pengguna gadget dapat dilihat dari
seberapa seringnya anak menggunakan gadget dalam
satu hari atau jika dilihat dari setiap minggunya
berdasarkan dari beberapa harinya dalam seminggu
seorang anak menggunakan gadget. Intensitas
penggunaan gadget yang terlalu sering dalam sehari
atau seminggu pasti akan mengarah pada kehidupan
anak yang cendrung hanya mempedulikan gadgetnya
saja ketimbang dengan bermain diluar rumah.
(Hurlock, 1993: 54)
Menurut Sari dan Mitsalia (2016), pemakaian
gadget dikategorikan dengan intensitas tinggi jika
menggunakan gadget dengan durasi lebih dari 120
menit/hari dan dalam sekali pemakaiannya berkisar
>75 menit. Selain itu, dalam sehari bisa berkali-kali
(lebih dari 3 kali pemakaian) pemakaian gadget dengan
durasi 30–75 menit akan menimbulkan kecanduan
dalam pemakaian gadget. Selanjutnya, penggunaan
gadget dengan intensitas sedang jika menggunakan
gadget dengan durasi lebih dari 40-60 menit/hari dan
intensitas penggunaanan dalam sekali penggunaan 2 –
3 kali /hari setiap penggunaan. Kemudian,
| 94
penggunaan gadget yang baik adalah dengan kategori
rendah yaitu dengan durasi penggunaan < 30
menit/hari dan intensitas penggunaan maksimal 2 kali
pemakaian. Selain itu, Trinika dkk. (2015)
menambahkan bahwa pemakaian gadget dengan
intensitas yang tergolong tinggi pada anak usia dini
adalah lebih dari 45 menit dalam sekali pemakaian per
harinya dan lebih dari 3 kali pemakaian per harinya.
Pemakian gadget yang baik pada anak usia dini adalah
tidak lebih dari 30 menit dan hanya 2 kali pemakaian
per harinya Berdasarkan uraian-uraian tersebut terlihat
jelas bahwa penggunaan gadget memang harus
memiliki batasan-batasan dan kriteria tertentu dalam
pemakaian gadget untuk menghindari tingkat
kecanduan anak dalam menggunakan gadget.
Pada anak usia dibawah 5 tahun boleh saja diberi
gadget. Akan tetapi harus diperhatikan durasi
pemakaiannya. Misalnya boleh bermain tapi hanya
setengah jam dan hanya pada saat senggang, kenalkan
gadget seminggu sekali, misalnya hari sabtu dan
minggu. Lewat dari itu ia harus tetap berinteraksi
dengan orang lain. Karena jika penggunaan gadget
lebih dari dua jam sehari akan mempengaruhi
psikologi anak. (Feliana, 2016)
| 95
Cara untuk meminimalisir anak agar tidak
mengakses konten negatif yakni dengan peranan orang
tua yang harus selalu ikut mengontrol penggunaan
gadget pada anak dan memberikan batasan waktu
bermain gadget. Seorang pakar psikologi
mengemukakan bahwa “seorang anak diberikan
batasan waktu bermain gadget selama 1 jam. Akan
tetapi, waktu penggunaan tidak 1 jam full, misalnya
dibagi 15 menit pagi 15 siang dan seterusnya, supaya
anak tidak kecanduan. (Supriyatna., kompas
online,2017)
Putri Fitria (dalam the Asian parent Indonesia)
cara mengatasi kecanduan gadget pada anak yaitu:
1. Membatasi penggunaan
Batasi penggunaan gadget sesuai dengan
rekomendasi usia anak. The American Academy of
Pediatrics (2013) dan Canadian Paediatric Society
(2010) telah menerbitkan pedoman screen time seperti
berikut ini:
a. Anak-anak di bawah usia 2 tahun: sebaiknya tidak
dibiarkan bermain gadget sendirian, termasuk
TV, smartphone dan tablet.
b. Anak-anak usia 2 sampai 4 tahun: kurang dari
satu jam sehari.
| 96
c. Usia 5 tahun ke atas: sebaiknya tidak lebih dari
dua jam sehari untuk penggunaan rekreasional
(di luar kebutuhan belajar).
2. Pemberian Jadwal
Orang tua harus menjadwalkan waktu yang tepat
untuk bermain gadget dan harus menyiapkan kegiatan-
kegiatan lain sebagai alternatif agar anak tidak bosan
dan beralih menggunakan gadget lagi.
3. Jangan beri akses penuh
Letakkan tv atau komputer di ruang keluarga.
Sehingga setiap anak menggunakannya, dia tidak
sendirian dan masih dalam pengawasan
anggotakeluarga lainnya. Biarkan anak meminta izin
terlebih dahulu jika ingin menggunakannya, dan ambil
kembali setelah selesai.
4. Tetapkan wilayah-wilayah bebas gadget
Buat peraturan tidak boleh menggunakan gadget
di tempat-tempat tertentu. Misalnya di meja makan, di
kamar tidur, dan di mobil.
| 97
5. Ajarkan anak pentingnya menahan diri
Pastikan untuk memberikan pujian pada anak
ketika ia berhasil menahan diri untuk tidak bermain
game dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
6. Berikan contoh yang baik
Sudah jadi pengetahuan umum bahwa anak
meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Untuk itu,
Parents juga harus menjadi contoh yang baik, letakkan
HP dan bermainlah bersama anak-anak.
Selain itu terdapat juga kendala yang dihadapi
orangtua dalam menanggani anak yang kecanduang
gadget. Menurut penelitian Yuli Irmayanti (2018)
bebrapa kendala yang dialami oleh orangtua yaitu
perilaku temper tantrum pada anak, latar belakang
pendidikan orangtua, keterbatasan waktu orangtua
karena sibuk bekerja, dan tidak dapat setiap saat
memantau kondisi anak.
D. Mengembangkan Nilai Moral dan Agama Anak
Usia Dini melalui Gadget
Pengembangan Nilai-nilai Agama dan Moral
adalah salah satu bidang
| 98
pengembangan/pembelajaran bagi anak-anak pada
lembaga pendidikan usia dini. Pengembangan Nilai-
nilai Agama dan Moral adalah kegiatan yang dilakukan
secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari
anak sehingga anak menjadi kebiasaan yang baik,
mengembangkan kemampuan sosial, emosional, dan
kemandirian sehingga terbentuk anak yang bertakwa
kepada Allah dapat berinteraksi dengan sesama dan
orang dewasa dengan baik dan dapat menolong diri
sendiri dalam rangka kecakapan hidup. Tujuannya
agar anak didik kokoh dalam memeluk Agama Islam
dan berakidah Islam yang lurus. (Nurani Musta’in,
2013: 7)
Strategi Pengembangan Nilai-nilai Agama dan
Moral merupakan pola-pola umum kegiatan guru dan
murid dalam mempermudah, mempercepat, lebih
efektif dalam perwujudan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam bidang
Pengembangan Nilai-nilai Agama dan Moral. Agar
kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik
dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara
maksimal, orang tua dan guru harus dapat
menentukan strategi yang tepat untuk dilaksanakan
dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Penerapan
| 99
strategi yang tepat tentu saja memberikan pengaruh
yang sangat berarti dalam kegiatan pembelajaran
walaupun dengan menggunakan gadget. Dalam
pembelajaran strategi bertujuan untuk lebih
meningkatkan kualitas anak didik menuju terbinanya
insan yang handal dan mampu. Tentunya untuk tujuan
ini maka strategi pembelajaran termasuk dalam
mengidentifikasi segala bentuk kegiatan dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar.
Konten edukasi bisa berupa film, lagu maupun
game edukasi yaitu permainan disertai pembelajarn.
Game edukasi digunakan untuk menjadikan proses
belajar menjadi lebih mmengasyikan dan tidak
menjenuhkan. Dalam batas-batas ini, maka gadget
masih memberikan manfaat positif bagi anak. Menurut
Dr. Larry Rosen dari California State University D.
Hills, mengatakan menggunakan gadget seperti
smartphone dan tablet untuk edukasi, masih punya
dampak positif bagi anak-anak. Layar sentuh dapat
berperan sebagai media pemmbelajaran sentuh
menyentuh, aplikasi dan game edukasi, bisa embantu
kemampuan komunikasi non- verbal anak-anak
berkebang cepat. Bukan cuma untuk anakanak normal,
bagi anak-anak yang mmenderita mental disorder pun
| 100
dapat bermnfaat, sebagai alat terapi yang menarik.
Meskipun ia mengingatkan agar orang tua tidak
membiarkan anaknya bermain gadget sendiri, selain
itu penggunaan gadget jangan sampai menjauhkan
anak-anak dari bersosialisasi dengan lingkungan
sekitarnya, baik teman maupun keluarga. Penggunaan
aplikasi gadget yang tepat untuk mendidik anak juga
sangat dianjurkan, jangan sampai salah pilih aplikasi.
Pengembangan Nilai-nilai Agama dan Moral
pada anak usia TK harus disesuaikan dengan
karakteristik dan kemampuan mereka. Untuk itu harus
ada strategi yang tepat agar tujuan dapat tercapai.
Karena salah fungsi strategi diantaranya adalah untuk
mempermudah, mempercepat, lebih menikmati lebih
memahami secara langsung, lebih efektif dan lebih
mudah ditransfer ke dalam situasi baru (Trianto, 2007:
86)
Kegiatan Stimulasi yang dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan nilai agama dan akhlak
anak adalah “Melihat Alam Semesta”. Proses
Pelaksanaan Stimulasi dapat dilakukan dengan
anakanak diajak untuk karya wisata, kemudian anak-
anak di kenalkan dengan benda-benda langit seperi
bulan, planet-planet, bintang danlain-lain. kemudian
| 101
juru guide menjelaskan tentang alam semesta mulai
dari perputaran bumi, terjadinya siang dan malam dan
lain sebagai hal, lalu anak-anak dipersilahkan untuk
menonton tentang fenomena alam semesta, setelah itu
guru bertanya tentang benda-benda di langit, dan guru
meminta anak untuk menceritakan ulang vidio yang
telah ditayangkan, setelah itu guru menjelaskan
tentang kekuasaan Allah dan menjelaskan cara
bagaimana bersyukur kepada Allah”.
Salah satu kegiatan stimulasi yang dilakukan
untuk meningkatkan kemampuan nilai agama dan
akhlak anak adalah “Khataman Naik Al-Qur’an”.
Adapun proses dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah
Pertama tes. Anak-anak telah khatam Iqra’ terlebih
dulu. Kemudian masingmasing membawa Al-Quran
dan berkumpul dan membaca Surah Al-Fatihah, Surah
Luqman ayat 12-15, surah-surah pendek seperti Al-
Fatihah, Al-Kafirun, Al-Ikhlash, Al-Falaq, Al-Kautsar
dan Al-Lahab, An-Nas secara berjama’ah. Peningkatan
kemampuan nilai agama dan moral anak, aspek yang
dikembangkan antara lain anak-anak dapat membaca
Al-Quran dan anak-anak menegenal huruf Hijaiyyah.
Hasil yang diharapkan dalam upaya perkembangan
kreatifitas anak antara lain: anak dapat mengenal Al-
| 102
Quran sebagai kitab suci umat Islam, dapat membaca
Al-Quran walaupun belum fasih tajwidnya,
kognitifnya anak dapat menghafal ayat-ayat pendek.
Upaya pelaksanaan kegiatan stimulasi ini orang tua
sangat mendukung dan ada kerjasama antara orang tua
dengan pihak sekolah. Karena pihak sekolah membuat
kartu prestasi membaca Al-Quran kepada anak. Upaya
pelaksanaan kegiatan stimulasi ini orang tua sangat
mendukung dan ada kerjasama antara orang tua
dengan pihak sekolah. Karena pihak sekolah membuat
kartu prestasi membaca Al-Quran kepada anak.
(Masganti, dkk.,2016: 84)
Selanjutnya, Masganti, dkk., (2016: 85) menyebut
kegiatan Stimulasi yang dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan nilai agama dan moral
anak usia dini melalui gadget adalah “Melihat Alam
Semesta”. Proses Pelaksanaan Stimulasi dapat
dilakukan dengan anakanak diajak untuk karya wisata,
kemudian anak-anak di kenalkan dengan benda-benda
langit seperi bulan, planet-planet, bintang dan lain-lain.
kemudian juru guide menjelaskan tentang alam
semesta mulai dari perputaran bumi, terjadinya siang
dan malam dan lain sebagai hal, lalu anak-anak
dipersilahkan untuk menonton tentang fenomena alam
| 103
semesta, setelah itu guru bertanya tentang benda-
benda di langit, dan guru meminta anak untuk
menceritakan ulang vidio yang telah ditayangkan,
setelah itu guru menjelaskan tentang kekuasaan Allah
dan menjelaskan cara bagaimana bersyukur kepada
Allah”. Alat ataupun bahan yang digunakan antara
lain: Teropong, Film atau video tentang fenomena alam
semesta dengan menggunakan media elektronik
seperti laptop, smartphone, Gambar dan mitasi alam
semesta. Dalam proses pelaksanaannya dapat
dilakukan dalam durasi waktu 3 jam. Karya wisata
bertujuan untuk melihat fenomena alam semesta
melalui observasi dan karya wisata. Peningkatan
kemampuan nilai agama dan akhlak anak, aspek yang
dikembangkan aspek kognitif, bahasa dan aspek nilai
agama dan moral anak.
| 104
| 105
BAB IV
PERAN LINGKUNGAN DALAM
PERKEMBANGAN MORAL DAN
AGAMA ANAK USIA DINI
A. Pengaruh Pemilihan Jodoh dalam Membentuk
Moral Dan Agama Anak
Setiap manusia tentu menginginkan hal terbaik
dalam hidupnya, sama halnya dengan jodoh. Menurut
Adonai Filisia Arumdina (2013: 162) filter theory
menjelaskan bahwa pemilihan pasangan hidup
merupakan serangkaian dari proses seleksi dan
penyaringan yang dilalui seseorang dalam
menentukan pasangan hidupnya dari beberapa calon
yang telah memenuhi kriteria tertentu. Menurut
DeGenova dalam (Dian Wisnuwardhani dan Sri
Fatmawati Mashoedi, 2012: 79) ada beberapa teori
pemilihan pasangan hidup yaitu:
1. The Stimulus-Value-Role Theory
Pemilihan pasangan merupakan proses di mana
seseorang tertarik pada calon pasangannya
berdasarkan stimulus tertentu. Stimulus tersebut
| 106
mendorong mereka untuk menjalin hubungan yang
dekat. Tentu, hubungan tersebut akan berlanjut pada
proses dimana pasangan saling menilai dan
membandingkan satu sama lain. Agama, politik,
kecenderungan terhadap uang, pekerjaan, pemilihan
gaya hidup, dan perasaan mengenai karakter dan
kepribadian satu sama lain (Dian Wisnuwardhani dan
Siti Fatmawati Mashoedi, 2012: 80).
2. Teori Psikodinamika
Teori ini mengatakan bahwa pengalaman masa
kecil dan latar belakang keluarga berpengaruh
terhadap pemilihan pasangan (Dian Wisnuwardhani
dan Siti Fatmawati M, 2012: 80). Ada dua teori yang
mendasari teori psikodinamika. Parent Image Theory
dan Ideal Mate Theory, Parent Image Theory berdasarkan
pada konsep psikoanalis Oedipus Complex dan Electra
Complex milik Freud yang mengatakan bahwa pria
cenderung akan menikah dengan orang yang
cenderung mirip mengan ibunya dan wanita
cenderung akan menikah dengan orang yang mirip
dengan ayahnya. Ideal Mate Theory mengatakan
bahwa seseorang membentuk kriteria mengenai
| 107
pasangan yang ideal bersadarkan pada masa awal
kanak-kanak mereka.
3. Teori Kebutuhan
Konsep Hierarki Kebutuhan yang diungkapkan
Maslow beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di
level rendah harus terpenuhi atau cukup terpenuhi
terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di level
yang lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi. (Feist
dan Feist, 2010: 331).
4. Exchange Theory
Dian Wisnuwardhani dan Sri Fatmawati
Mashoedi (2012: 81) mengatakan bahwa pada teori ini
sumber daya seseorang adalah hal penting dalam
menjalin hubungan dengan orang lain. Sumber daya
tersebut dapat berupa pendapatan yang baik dan
kepandaian. Karena dengan adanya kepandaian dan
pendapatan yang baik orang tersebut akan dihargai
oleh orang lain, itu menjadikan pasangannya juga ikut
dihargai oleh orang lain. Pasangan ini akan saling
menghargai dan tertarik satu sama lain karena adanya
persetujuan mengenai apa yang dapat diberi dan apa
yang dapat didapatkan dari pasangannya.
| 108
5. Filter Theory
Menurut Kerkchoff dan Davis (dalam Dian
Wisnuwardhani dan Sri Fatmawati Mashoedi, 2012: 81)
bahwa dalam teori ini seseorang memilih pasangan
hidup menggunakan pertimbangan atau kriteria
tertentu untuk mendapatkan calon pasangan. Perlu
adanya proses untuk saling mengenenal satu sama lain
ketika seseorang melakukan pemilihan pasangan
hidup. Sebuah proses di antara dua orang yang di
mulai dengan ketertarikan awal secara fisik
berdasarkan kecantikan atau ketampanan, selanjutnya
menjadi perkenalan biasa dan berlanjut kehubungan
yang lebih serius.
Selanjutnya dalam pandangan Islam kriteria
dalam memilih pasangan ialah dengan
mempertimbangkan empat hal, yaitu harta, keturunan,
kecantikan, dan Agama. Menurut Zakiah Daradjat
(1978: 74) faktor Agama sangat diutamakan dalam
pemilihan pasangan, karena Agama dapat
mempertinggi akhlak dan menjaga rasa malu serta
mendapatkan kebahagiaan. Zakiah menjelaskan secara
umum fungsi Agama dalam kehidupan, sebagai
berikut:
1. Agama memberikan bimbingan dalam kehidupan
| 109
Agama yang berbentuk keyakinan diajarkna
kepada anak sejak dini, sehingga menjadi suatu
unsur yang membentuk kepribadian anak.
Keyakinan pada Agama akan mengatur sikap dan
prilakku anak secara otomatis dari dalam, karena
Agama memberikan bimbingan dalam semua
tingkatan kehidupan.
2. Agama sebagai penolong dalam kesukaran,
seperti kekecewaan yang sering dialami sebagian
manusia
Jika manusia sering mengalami kekecewaan,
maka akan membawa pada keadaan rendah diri,
pesimis dalam hidupnya. Jika dilihat dari segi
Agama, maka aka nada perbedaan antara orang
yang beragama dan tidak, yang dilihat dari
bagaimana orang tersebut mengatasi kekecewaan
tersebut.
3. Agama mententramkan batin
Tidak sedikit manusia mengalami
kegelisahan dalam jiwanya, Agama akan
memberikan jalan setelah mengenal dan
menjalankan Agama dan ketenangan jiwa akan
| 110
dating, karena agama memiliki fungsi sebagai
penentram dan penenang jiwa dan mampu
mengendalikan sikap.
Zakiah Daradjat (1993: 44) menyebutkan ada tiga
syarat pembentukan keluarga termasuk juga dalam hal
memilih pasangan sebagai berikut:
1. Larangan menikah dengan wanita yang memiliki
hubungan darah
2. Larangan menikah dengan yang berbeda agama
3. Larangan menikah dengan orang yang berzinah
Justru dalam Islam disarankan memilih wanita
yang bertaqwa dan solehah dimaksudkan adalah
wanita yang beragama, kerana wanita tersebut mampu
menenangkan hati apabila memandangnya, banyak
mengetahui hal agama, mengingatkan kepada hal-hal
baik, mampu mendidik anak-anak serta menguruskan
rumahtangga dengan sempurna. Selaras fungsi isteri
untuk menenangkan suami, untuk disukai, hidup
bersama, membina rumahtangganya, ibu kepada anak-
anaknya. Zakiah Daradjat (1978: 1-2) menyebutkan ada
beberapa ciri calon istri yang baik, sebagai berikut:
| 111
1. Menjadikan rumah tangga sebagai tempat yang
paling nyaman dan aman bagi suaminya.
2. Menjadi teman baik yang memberikan
kebahagiaan dan ketenangan bagi suaminya
3. Dapat meredam hati suami yang sedang dalam
keadaan marah.
4. Menjadikan dirinya sebagai tempat penumpahan
segala emosi, sehingga suami merasakan
ketenangan kembali.
5. Menjaga kehormatan keluarga
6. Menerima dengan senang hati segala pemberian
dari suaminya
7. Memberikan ketenangan kepada suaminya dalam
bekerja
8. Pandai mengatur kehidupan sesuai dengan
kemampuan suaminya.
Zakiah Daradjat (1995: 44) menyebutkan, Jika
telah mendapatkan suami atau istri yang baik dan
terbentunya sebuah keluarga, maka berdoalah kepada
Allah SWT agar dikaruniai keturunan yang baik saleh
dan shalihah. Memohon dikaruniai keturunan yang
saleh dan shalihah jjuga berfungsi untuk memberikan
kedamaian kepada kedua orang tua. Fakta menunjukan
bahwa tidak sedikkit wanita hamil yang mengalami
| 112
berbagai macam kesusahan saat mengandung. Pada
kondisi tersebut sebaiknya disikapi dengan sabar,
dengan kata lain setiap doa yang dilakukan tersebut
dapat menjadi penawar untuk mengobatingya.
Pada saat wanita sedang hamil, sikap dan
emisinya akan mempengaruhi pertumbuhan janin
yang ada didalam kandungannya, terkadang saat
wanita sedang mengandung tidak jarang mengalami
kegelisahan dan kecemasan karena sedang mengalami
suatu perubahan pada tubuhnya, hal tersebut dapat
mempengaruhi keseimbangan dan tidak jarang dapat
menimbulkan kegaduhan antara suami istri, karena
pada saat wanita mengandung keduanya dianjurkan
untuk memperbanya bacaan Al-Qur’an dan selalu
berdoa.
Bentuk emosi yang dialami oleh ibu hamil dapat
dirasakna langsung oleh anak dan akan membekas
dalam diri anak. Oleh sebab itu janin yang sejak dalam
kandungan ibunya telah mendapatkan pengaruh yang
positif akan membekas pada dirinya dan akan
berpengaruh pada kepribadianya kelak (Zakiah
daradjat, 1995: 53). Dari hal tersebut apad dipahami
bahwa saat anak masih dalam kandungan ibu ia sudah
dapat diberikan pendidikan yang bertujuan untuk
| 113
membentuk karakternya. Berdasarkan tinjauan
psikologi, semua penngalaman yang dilalui seseorang,
baik melalui sentuhan, lewat pendengaran,
pengliharan, pencicipan, penciuman dan perlakuan
yang diterima ioleh anak dapat membentuk
karakternya.
Zakiah Daradjat (1995: 47) menjelaskan
bahwajanin yang ada dalam kandungan ibu mendapat
pengalaman melalui saraf-saraf di dalam Rahim
ibunya, hal tersebut menunjukkan bahwa emosi pada
ibu hamil dapat mempengaruhi perkembangan jiwa
janin yang dikandungnya. Apabila seorang ibu selalu
merasa bahagia saat mengandung, maka syaraf-syaraf
pada janin yang dikandungnya akan bekerja dengan
baik. Akan tetapi apabila sewaktu ibu mengandung
mengalami perasaan kecewa, marah dan sebagainya,
maka saraf-saraf janin yang ada didalam
kandungannya mengalami benturan saraf yang
dialami ibunya. Hal tersebut akan membawa pengaruh
negatif bagi janin, dan akan terbawa dalam
perkembangan pribadinya serta akan terbawa pada
kehidupan selanjutnya.
| 114
B. Lingkungan Keluarga membentuk Moral dan
Agama Anak Usia Dini
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan
pertama yang memberikan pengaruh terhadap aspek
perkembangan anak. Kondisi dan tata cara kehidupan
keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi
anak. Komponen keluarga yang terdiri dari ayah,
ibu,anak-anak dan yang lainnya merupakan hasil dari
sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat
membentuk sebuah keluarga. Keluarga dalam Islam
adalah kesatuan masyarakat terkecil yang dibatasi oleh
nasab (keturunan) yang hidup dalam suatu wilayah
yang membentuk suatu struktur masyarakat sesuai
syari‟at Islam, atau dengan pengertian lain yaitu suatu
tatanan dan struktur keluarga yang hidup dalam
sebuah sistem berdasarkan agama Islam.( Hasan
Langgulung, 1995: 46)
Menurut Zakiah Daradjat (1995: 47) keluarga
adalah wadah utama bagi perkembangan anak, jika
suasana keluarga baik dan menyenangkan, maka anak
akan mengalami pertumbumbuhan yang baik. Dalam
Islam, Pengalaman keagamaan pertama ketika anak
lahir ia dibisikkan azan atau iqomahyang mengandung
kalimat syahadat yang menjadi unsur pembentuk
| 115
karakternya. Zakiah Daradjat (2005: 56) menegaskan
keluarga yakni dengan elemen pentingnya yaituorang
tua merupakan pendidik pertama dan sangat
berpengaruh pada proses perkembangan anak.
Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidupnya
merupakan unsur-unsur pendidikan yang dengan
sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak yang
sedang tumbuh. Orangtua mempunyai tiga fungsi
yang sama dengan keluarga. Adapun fungsi-fungsi
tersebut antara lain:
1. Fungsi Agama
Fungsi agama dilaksanakan melalui
pemahaman nilai-nilai keyakinan berupa iman
dan takwa. Penanaman keimanan dan takwa
mengajarkan kepada anggota keluarga untuk
selalu menjalankan perintah Tuhan Yang Maha
Esa dan menjauhi larangan-Nya.(Helmawati,
2014: 4). Berdasarkan penjelasan diatas, orangtua
menjadi tokoh inti yang berperan menciptakan
suasana religius dalam keluarga dengan
mengajak seluruh anggota keluarga untuk
memahami, menghayati, dan mengamalkan
ajaran-ajaran agama.
| 116
2. Fungsi Biologis
Fungsi biologis adalah fungsi pemenuhan
kebutuhan agar keberlangsungan hidupnya tetap
terjaga termasuk secara fisik. Yaitu pemenuhan
kebutuhan jasmani manusia. (Amirulloh
Syarbini., 2016: 86)
3. Fungsi Ekonomi
Fungsi ini berhubungan dengan bagaiman
pengaturan penghasilan yang diperoleh untuk
memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga.
(Helmawati, 2014: 45)
4. Fungsi Kasih Sayang
Fungsi ini menyatakan bagaimana setiap
anggota keluarga harus menyayangi satu sama
lain, menunjukan dan mencurahkan kasih sayang
kepada anaknya secara tepat. Kasih sayang bukan
berupa materi saja tetapi perhatian, kebersamaan
yang hangat sebagai keluarga, saling memotivasi
dan mendukung untuk kebaikan Bersama.
| 117
5. Fungsi Perlindungan
Perlindungan fisik melindungi anggotanya
agar tidak kelaparan, kehausan, kedinginan,
kepanasan dan sebagainya. Perlindungan mental
agar anggota keluarga memiliki ketahanan psikis
yang kuat supaya tidak frustasi ketika mengalami
problema hidup. Perlindungan norma supaya
anggota keluarga mampu menghindarkan diri
dari perbuatan buruk dan mendorong untuk
dapat melakukan perbuatan baik sesuai dengan
nilai, norma, tuntunan masyarakat dimana
mereka tinggal. Dengan demikian orangtua harus
menumbuhkan rasa aman, nyaman dan
kebahagiaan kepada anak-anak mereka.(Syaikh
Muhammad Said Mursi, 2003: 24)
6. Fungsi Sosialisasi Anak
Sejak dini ketika berkomunikasi hendaknya
anak mulai diajarkan mampu mendengarkan,
menghargai dan menghormati orang lain,
sertapeduli dengan lingkungan sekitar. Anak
hendaknya bertanggung jawab, bersikap jujur,
saling membantu dan saling menyayangi.
(Helmawati, 2014: 48)
| 118
7. Fungsi Rekreasi
Rekreasi merupakan salah satu hiburan
yang baik bagi jiwa dan pikiran. Rekreasi dapat
menyegarkan pikiran, menenangkan jiwa, dan
lebih mengakrabkan tali keluarga. Dalam hal ini
orangtua harus mempunyai fungsi rekreasi
terhadap anak-anak mereka. Orangtua harus
menciptkan suasana yang tenang, damai, jauh
dariketeguhan batin, segar dan santai dalam
kehidupan mereka. (Helmawati, 2014: 49)
Pendapat yang senada diungkapkan Phillips
(2000: 11) menyebutkan bahwa rumah tangga dan
keluarga sebagai lingkungan pembentukan watak dan
pendidikan karakter pertama dan utama mestilah
diberdayakan kembali. Sebagaimana disarankan
Phillips, keluarga hendaklah kembali menjadi “school
of love”, sekolah untuk kasih sayang. Dalam perspektif
Islam, keluarga sebagai “school of love” dapat disebut
sebagai “madrasah mawaddah wa rahmah, tempat
belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.
Menurut Gunarsa (2014:34), pengaruh orangtua
terhadap kehidupan psikis anak pada tahun-tahun
pertama setelah kelahiran sangat besar dan sangat
| 119
menentukan terhadap perkembangan anak
selanjutnya. Orangtua mempunyai pengaruh yang
sangat besar bagi perkembangan anak salah satunya
perkembangan moral, karena anak memandang
orangtua sebagai sosok model yang paling sempurna
untuk ditiru Anak akan meniru apapun yang
dilakukan oleh orangtuanya, segala perilaku yang
dilakukan oleh orangtua, biasanya akan ditiru oleh
anak. Selain di rumah, anak juga meniru orang yang
dianggapnya paling benar di lembaga pendidikan.
Sama halnya dengan orangtua, terkadang guru
mendapat perhatian lebih dari anak-anak. Anak-anak
juga menganggap guru merupakan sosok yang paling
benar dan sosok yang bisa melakukan semua hal. Anak
akan meniru apapun yang dilakukan dan melakukan
apapun yang dikatakan oleh guru mereka. Selain
orangtua dan guru, teman sebaya dan lingkungan
masyarakat juga memiliki peran dalam pembentukan
moralitas pada anak usia dini.
Nilai moral pada dasarnya adalah mengupayakan
anak mempunyai kesadaran dan berperilaku taat
kepada moral yang secara otonom berasal dari dalam
diri sendiri. Dasar otonomi nilai moral adalah
identifikasi dan orientasi diri. Pola hidup keluarga
| 120
(Ayah dan Ibu) merupakan “Model Ideal” bagi
peniruan dan pengindentifikasian perilaku dirinya
(Yusransyah, 2014). Bandura dan Walters (Gunarsa,
2014:34) mengemukakan bahwa peranan imitasi sangat
penting. Proses sosialisasi terjadi langsung maupun
tidak langsung pada anak-anak dalam interaksinya
dengan lingkungan sosial. Orang dewasa bisa menjadi
model bagi anak-anak untuk ditiru sebagian bahkan
seluruh kepribadiannya. Anak dengan fungsi
persepsinya, menerima, mengenal, dan menirunya
untuk diperlihatkan sebagai bagian kepribadiannya.
Gagne (dalam Gunarsa, 2014:40) mengemukakan
bahwa perkembangan anak adalah hasil proses
mempelajari sesuatu yang diperoleh dari luar. Hal ini
didasarkan pada ditemukannya anak-anak yang hidup
terpencil di tengah hutan yang tidak memperoleh
rangsangan yang sesuai, karena tidak hidup di tengah
masyarakat; maka anak-anak tersebut tidak bisa
memperlihatkan tingkah laku yang wajar sesuai
dengan hakekatnya sebagai anak manusia. Karena
tidak adanya rangsangan dari luar, maka timbullah
Perbedaan sikap dalam suatu kelompok sosial
menunjukkan adanya pengaruh tertentu dari norma-
| 121
norma dalam lingkungan hidupnya yang
mempengaruhi terbentuknya sikap individu.
Yudrik Jahja (2011: 51) menjelaskan beberapa
sikap orang tua yang perlu diperhatikan sehubungan
dengan perkembangan moral pada anak usia dini
antara lain:
1. Perlakuan yang sama antara ayah dan ibu dalam
melarang atau membolehkan tingkah laku
tertentu kepada anak.
Apabila anak melakukan suatu perbuatan
yang dilarang maupun dianggap salah oleh orang
tua maka pada suatu waktu harus juga dilarang
apabila dilakukan kembali pada waktu yang lain.
Hal tersebut dapat diperkuat dengan beberapa
alasan yang logis dan contoh yang dapat
dimengerti anak untuk mengantisipasi hal-hal
yang tidak diinginkan.
2. Sikap orang tua dalam keluarga
Sikap orang tua terhadap anak, sikap ayah
dan ibu, atau sebaliknya sangatlah berpengaruh
karena melalui proses peniruan. Proses peniruan
ini yang menjadikan anak melakukan, melahirkan
perilaku yang nantinya diterapkan dalam
| 122
kehidupannya di lingkungan keluarga maupun
masyarakat.
3. Penghayatan dan pengalaman agama yang dianut
Orang tua merupakan suri tauladan dan
pendidikan pertama bagi anak. Peran orang tua
dalam menciptakan iklim religius (agamis)
dengan cara memberikan ajaran atau bimbingan
tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka anak
akan mengalami perkembangan moral yang baik
mengembangkan moral anak. Berikut adalah
beberapa faktor orang tua yang mempengaruhi
pekembangan moral anak:
a. Konsisten dalam mendidik anak
Perlakuan yang sama antara ayah dan
ibu dalam melarang atau membolehkan
tingkah laku tertentu kepada anak. Apabila
anak melakukan suatu perbuatan yang
dilarang maupun dianggap salah oleh orang
tua maka pada suatu waktu harus juga
dilarang apabila dilakukan kembali pada
waktu yang lain. Hal tersebut dapat
diperkuat dengan beberapa alasan yang
logis dan contoh yang dapat dimengerti
| 123
anak untuk mengantisipasi hal-hal yang
tidak diinginkan.
b. Sikap orang tua dalam keluarga
Sikap orang tua terhadap anak, sikap
ayah dan ibu, atau sebaliknya sangatlah
berpengaruh karena melalui proses
peniruan (imitasi). Proses peniruan ini yang
menjadikan anak melakukan, melahirkan
perilaku yang nantinya diterapkan dalam
kehidupannya di lingkungan keluarga
maupun masyarakat.
c. Penghayatan dan pengalaman agama yang
dianut
Orang tua merupakan suri tauladan
dan pendidikan pertama bagi anak. Peran
orang tua dalam menciptakan iklim religius
(agamis) dengan cara memberikan ajaran
atau bimbingan tentang nilai-nilai agama
kepada anak, maka anak akan mengalami
perkembangan moral yang baik.
d. Sikap orang tua dalam menerapkan norma
Sikap orang tua dalam penarapan
norma tidak hanya diperuntukan oleh anak
saja, akan tetapi sikap orang tua juga harus
| 124
dilakukan pada dirinya sendiri. Penerapan
norma yang tidak didasari oleh penerapan
orang tua itu sendiri menjadikan anak hanya
menuruti sekali dua kali saja, dikarenakan
anak akan berpikir bawa kenapa dirinya
melakukan sedangkan orang tua yang
membuat dan mengajarkan norma tersebut
tidak melakukannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sikap dan
perilaku orang tua sangat berpengaruh terhadap
penanaman nilai agama moral pada anak. Begitu juga
sikap dan perilaku guru, karena guru merupakan
orang tua kedua bagi anak-anak ketika berada di
sekolah. Sikap dan perilaku guru harus dapat
diteladani oleh anak-anak sehingga penanaman nilai
agama dan moral pada anak dapat berjalan dengan
baik. Pembinaan ketaatan beribadah pada anak lebih
efektif dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan
dari orang tua (Suyadi, 2010: 135). Dengan demikian,
yang diajarkan kepada anak adalah praktik langsung
setahap demi setahap, kemudian biasakan anak untuk
beribadah tepat pada waktunya, agar anak mudah
mengerti waktu-waktu beribadah. Membiasaan
| 125
beribadah tepat waktu, serta meminta anak untuk
menirukan gerakan ibadah tersebut, maka semakin
sering anak akan semakin terbiasa, dan dalam jangka
waktu tertentu anak akan menghafal gerakan ibadah.
Pada hakikatnya pembentukkan karakter anak
tahap awal ini masih diarahkan pada orang tua, oleh
karena itu apa yanh dilakukan oleh orang tua melalui
perlakuan dan pelayanannya (pola asuh) kepada anak
merupakan bagian dari pembentukan karakternya.
Orang tua yang penyanyang, lemah lembut, adil, dan
bijaksana akan menumbuhkan sikap sosial yang
menyenangkan pada anak. Ia akan terlihat ramah,
gembira, dan akrab dengan orang lain. Karena ia
merasa disayangi orang tuanya maka akan tumbuh
rasa percaya driri dan percaya terhadap lingkungannya
hal ini akan menjadi karakternya sebagai orang yang
menyenangkan dan mudah bergaul (Zakiah Daradjat,
1995: 56)
Mursid, (2015: 73) menyatakan Pola asuh yang
dilaksanakan dalam keluarga sangat berperan dalam
pembentukan pribadi anak. Hubungan emosional
muncul karena hubungan cinta kasih sayang ada dalam
keluarga merupakan unsur yang paling mendasar bagi
| 126
perkembangan anak. Pola asuh dalam keluarga di
antaranya:
a. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh yang ditadai dengan cara
pengasuhan anak dengan aturan-aturan yang
ketat, seringkali memaksa anak untuk berprilaku
sama seperti orang tuanya, selalu dibatasi
kebebasannya, jarang diajak berkomunikasi,
orang tua tidak memberikan anak kesempatan
untuk bertukar fikiran. Pola ini juga ditandai
dengan hukuman yang diberikan dengan keras
kepada anak.
b. Pola asuh yang demokratis
Pola asuh demokratis ditandai dengan
pengakuan orang tua terhadap anak, orang tua
memberikan kesempatan kepada anak untuk
mandiri an tidak selalu bergantung kepadanya.
Misalnya anak dilibatkan berpartisifasi dalam
hidupnya agar lebih bias bertanggung jawab,
diberikan kebebasan untuk memilih apa yang
disukai dan diinginkan tapi tetap tidak terlepas
dari pengawasan orang tua.
| 127
c. Pola Asuh Laisses Fire
Pola asuh dengan cara orang tua
mendidik secarabebas, anak dianggap sedah
dewasa. Control terhadap anak sangat lemah,
juga tidak ada bimbingan yang diberikan
kepada anak dan selalu membenarkan apa yang
dilakukan oleh anak.
Anak usia dini mengalami suatu proses
perkembangan yang fundamentalis dalam arti bahwa
dalam pengalaman perkembangan pada usia dini
dapat memberikan pengaruh yang membekas dan
berjangka waktu lama sehingga melandasi
perkembangan anak selanjutnya. Stimulasi dini sangat
diperlukan guna memberikan rangsangan terhadap
seluruh aspek perkembangan anak, yang mencakup
penanaman nilai-nilai agama dan moral, pembentukan
sikap dan pengembangan kemampuan dasar (Soegeng
Santoso, 2009: 9-11). Pemberian stimulasi yang
dilakukan secara dini dan berkelanjutan akan
mendorong terbentuknya perilaku yang akan dibawa
anak sampai dewasa, karena latihan dan pembiasaan
pada anak usia dini akan menjadi perilaku atau
karakter yang permanen.
| 128
Anak sejak usia muda telah melihat, mempelajari
hal-hal yang berada di luar diri mereka. Mereka telah
melihat dan mengikuti apa yang dikerjakan dan
diajarkan orang dewasa dan orang tua tentang sesuatu
hingga masalah agama. Orang tua mempunyai
pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip
eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian
ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan
yang mereka pelajari dan para orang tua maupun guru
mereka bagi mereka sangat mudah untuk menerima
ajaran dari orang dewasa walaupun ajaran itu belum
mereka sadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut
(Ramayulis, 2011: 56-57)
C. Lingkungan Sekolah Membentuk Moral dan
Agama Anak Usia Dini
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal
yang mempunyai program yang sistematik dalam
melaksanakan bimbingan, pengajaran dan pelatihan
pada siswa agar bekembang sesuai dengan potensinya.
Menurut Hurlock pengaruh sekolah terhadap
perkembangan kepribadian anak sangatlah besar,
karena sekolah merupakan substitusi dari keluarga dan
guru-guru substitusi dari orang tua dalam kaitannya
| 129
dengan upaya mengembangkan fitrah beragama, guru
mempunyai peranan yang sangat penting dalam
mengembangkan wawasan pemahaman, pembiasaan
mengamalkan ibadah atau akhlak yang mulia dan
sikap apresiatif terhadap ajaran agama (Syamsu Yusuf,
2012: 136-141)
Elizabeth Flyn (dalam Yudha M. Saputra &
Rudyanto, 2005:179) menyatakan bahwa guru memiliki
peran penting dalam upaya pengembangan nilai dan
moral pada anak. Kesadaran nilai seorang guru
bertumpu pada lima hal, yaitu:
1. Sadar akan sistem nilai
2. Sadar akan pentingnya memiliki sistem nilai
3. Sadar akan keinginan untuk menganut atau
memiliki sistem nilai tersebut
4. Sadar akan keharusan membina dan
meningkatkan sistem nilai
5. Sadar untuk mencobakan dan membakukannya
dalam amal perbuatan seharihari
Untuk mampu mencapai hal tersebut, menurut
Piaget (dalam Yudha M. Saputra & Rudyanto, 2005:
179) memerlukan tahapan pengkajian sebagai berikut:
| 130
1. Tahap akomodasi, dimana anak memiliki
kesempatan untuk mempelajari dan
menginternalisasikan nilai atau moral.
2. Tahap asimilasi atau menginternalisasikan nilai
tersebut dengan sistem nilai lain yang telah ada
dalam dirinya.
3. Tahap equilibrasi atau membina keseimbangan
atau membakukannya sebagai sistem nilai baru
yang baku.
Agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung
dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara maksimal, guru harus dapat menentukan
strategi yang tepat untuk dilaksanakan dalam kegiatan
pembelajaran tersebut. Penerapan strategi yang tepat
tentu saja memberikan pengaruh yang sangat berarti
dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran
strategi bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas
anak didik menuju terbinanya insan yang handal dan
mampu. Tentunya untuk tujuan ini maka strategi
pembelajaran termasuk dalam mengidentifikasi segala
bentuk kegiatan dalam pelaksanaan proses belajar
mengajar. Strategi Pengembangan Nilai-nilai Agama
dan Moral merupakan pola-pola umum kegiatan guru
| 131
dan murid dalam mempermudah, mempercepat, lebih
efektif dalam perwujudan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam bidang
Pengembangan.
Sebagai pendidikan pada umumnya, pendidikan
moral dilakukan di sekolah dan diluar sekolah, bahwa
segala yang di programkam sekolah bertujuan untuk
membantu anak berfikir tentang isu-isu, yang benar
dan salah, baik dan buruk, mengharapkan perbaikan
sosial serta membantu siswa agar mampu berprilaku
sesuai nilai moral. (Sarkawi, 2008: 45). Menurut
Thomas Lickona (2013), ada beberapa langkah untuk
mengajarkan nilai-nilai moral melalui kurikulum
sebagai berikut:
1. Mengajari cara menghormati dan bertanggung
jawab pada binatang
Salah satu pendekatan lingkungan dengan
topik penyelamatan binang adalah tema yang
menarik, untuk pembelajaran nilai moral. karena
dengan adanya binatang akan menyita perhatian
peserta didik khususnya pada anak usia dini.
Karena hapis setiap anak memiliki sifat empati
yang memang alamiah.
| 132
2. Pendekatan kurikulum berpusat pada nilai
Memberikan saran kepada semua guru mata
pelajaran dengan pendekatan yang harus
dilakukan oleh komite penyulihan.
3. Memilih materi yang baik
Setelah guru mengidentifikasi langkah
pembuka dalam kurikulum untuk meneksplorasi
nilai moral, langkah selanjutnya guru
merencanakan pembelajaran yang sesuai untuk
nillai moral.
4. Memilih strategi mengajar yang efektif
Setelah memilih berbagai materi yang efektif
untuk pembelajaran nilai moral, guru harus
mempersiapkan pula strategi yang tepat dalam
mengajar agar tersampaikan dengan baik pada
peserta didik
5. Menjadikan etika sebagai tema persatuan
Dalam hal ini dapat dilakukan pengenalan –
pengenalan tentang kehidupan yang dapat
membantu anak sikap tanggung jawab,
melindungi, dan menghormati semua bentuk
kehidupan yang jelas melalui proses belajar
mengajar.
| 133
Upaya guru dalam meningkatkan perkembangan
moral yaitu dengan menggunakan bergabai metode,
seperti metode pembiasaan. Dalam metode ini orang
tua atau guru orang tua mau pun guru harus
melaksanakan sholat tepat waktu, karena guru atau
orang tua menjadi contoh atai teladan bagi peserta
didik, karena ketika anak melihat teladan dari orang
tua mapun guru yang selalu mengerjakan sholat akan
menjadi sebuah kebiasaan dalam perilakunya.
Muhammad Najib, (2016: 137) menyebutkan ada 4
syarat yang harus dilakukan orang tua ataupun guru
pendidikan Islam Anak Usia Dini dalam melakukan
metode pembiasaan ini. Sebagai berikut:
1. Pembiasaan mulai dilakukan sejak anak masih
bayikarna pada masa bayi anak mempunyai daya
ingat yang kuat dalam menerima pengaruh yang
ada di lingkungannya. Maka akan sangat tepat
apabila diterapkan saat masih bayi.
2. Pembiasaan sebaiknya dilakukan dengan teratur,
berlanjutan, dan terjadwal sehingga terbentuk
sebuah kebiasaan yang permanen dan konsisten.
3. Pembisaan sebaiknya diawasi dengan sangat
ketat dan konsisten pada tugas.
| 134
4. Pembiasaan yang bersifat mekanis berangsung-
angsur harus dirubah menjadi kebiasaan yang
verbalistik dan menjadi kebiasaan yang disertai
dengan kata hati anak.
Menurut Raths (dalam sarkawi, 2008: 42) sekolah
harus lebih sensitive dalam hal berfikir moral. Sekolah
bukan saja harus memperhatikan secara khusus aspek
intelektual dan perilaku moral tetapi lebih dari itu,
yaitu seluruh fungsi dan isi pendidikan di sekolah
harus didasarkan pada suatu rencana kerja suatu
kurikulum yang mengarah kepada usaha nyata demi
tercapainya peningkatan moral. Durkheim
menekankan agar pendidikan moral dari lingkungan
rumah kesekolah karena sekolah mempunyai tugas
khusus dalam hal moral.
Pendapat yang lain diungkapkan Lickona, dalam
bukunya Educating for Character “penekanan
pentingnya memperhatikan tiga unsur dalam
menanamkan perkembangan moral, yaitu pengertian
atau pemahaman moral, perasaan moral, dan tindakan
moral. Ketiga unsur ini saling berkaitan. Guru perlu
memperhatikan ketinga unsur tersebut agar moral,
dapat ditanamkan tidak sekedar pengetahuan saja,
| 135
tetapi benar-benar menjadi tindakan yang bermoral.
Adapun penjelasan dari ketiga unsur tersebut yaitu
penalaran, perasaan, dan tindakan sangatpenting
diterapkan dan sangat berkesinambungan.
1. Pemahaman moral adalah kesadaran moral,
rasionalitas moral atau alasan mengapa seseorang
harus melakukan hal tersebut, suatu pengambilan
keputusan berdasarkan nilai-nilai moral. Ini
sering kali disebut dengan penalaran moral atau
pemikiran moral atau pertimbanganmoral, yang
merupakan segi kognitif dari nilai moral. Segi
kognitif ini sangat penting untuk diajarkan
kepada siswa.
2. Perasaan moral lebih menekankan kesadaran
akan hal-hal baik dan tidak baik. Perasaan
mencintai kebaikan dan sikap empati terhadap
orang lain merupakan ekspresi dari perasaan
moral. Perasaan moral ini sangat mempengaruhi
seseorang untuk berbuat baik. Oleh sebab itu,
perasaan moral perlu diajarkan kepada anak sejak
usia dini dan dikembangkan dengan memupuk
perkembangan hati nurani dan sikap empati.
3. Tindakan moral yaitu kemampuan untuk
melakukan keputusan dan perasaan moral
| 136
kedalam perilaku- perilaku nyata. Tindakan-
tindakan moral ini perlu difasilitasi agar muncul
dan berkembang dalam pergaulan sehari-hari.
Lingkungan sosila yang kondusif untuk
memunculkan tindakan-tindakan moral, ini
sangat diperlukan dalam pembelajaran moral.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh guru
sebagai pendidik disekolah untuk mempraktekkan
disiplin moral, sebagai berikut:
1. Guru memproyeksikan pengertian kewenangan
moral secara jelas dan tegas hak dan kewajiban
untuk mengajarkan niali-nilai moral seperti
bertanggung jawab.
2. Guru memandang kedisplinan, termasuk
pembuatan peraturan sebagai yang lebih besar
dari pengembangan komunitas moral yang ada
dikelas
3. Guru membangun dan menegakkan
konsekuaensi dengan cara mendidik membuat
peserta didik menghargai tujuan peraturan.
4. Guru menunjukkan sikap peduli dan hormat
kepada peserta didik dan mencoba mencari tau
| 137
penyebab timbulnya persoalan kedisiplinan dan
solusinya.
Program pengembangan moral dan nilai-nilai
agama diharapkan dapat meningkatkan ketaqwaan
anak terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan membantu
terbinanya sikap anak yang baik. Contoh-contoh
perilaku yang dapat diterapkan di sekolah sebagai
berikut:
1. Membiasakan siswa berbudaya salam, sapa dan
senyum.
2. Tiba di sekolah mengucap salam sambil salaman
dan cium tangan guru.
3. Menyapa teman, satpam, penjual dikantin atau
cleaning servis di sekolah
4. Menyapa dengan sopan tamu yang datang ke
sekolah
5. Membiasakan siswa berbicara dengan bahasa
yang baik dan santun
6. Mendidik siswa duduk dengan sopan di kelas
7. Mendidik siswa makan sambil duduk di tempat
yang telah disediakan, tidak sambil jalan- jalan
| 138
Menurut Lickona (2015: 79-104), lingkungan
keluarga dan lingkungan sekolah harus saling
bekerjasama dan saling mendukung untuk
mensukseskan pendidikan karakter. Untuk membantu
orang tua untuk memenuhi peran utama sebagai
pendidik moral pertama, usaha yang bias dilakukan
oleh sekolahadalah sebagai berikut:
1. Menegaskan keluarga sebagai pendidik karakter
pertama dan paling utama.
2. Memberikan intensif bagi partisipan orang tua.
3. Mengharapkan orang tua untuk berpartisifasi
dalam kegiatan pendidikan.
4. Menyiakan program untuk parenting.
5. Melibatkan orang tua dalam perencanaan
program pendidikan.
6. Membentuk forum yang sedang berlangsung
untuk orang tua
7. Membentuk komite orang tua mengenai
pendidikan karakter atau moral.
8. Membuat perjanjian moral dengan orang tua
9. Menjadi responsive terhadap keluhan orang tua
10. Menghormati orang tua seputar pendidikan seks
anak
| 139
11. Mengingkatkankan komunikasi positif antara
sekolah dan rumah
12. Memberi tahu orang tua tentang tujuan dan
mengirimkan laporan regular
13. Menyediakan pusat bantuan komunikasi
keluarga dan sekolah.
Selanjutnya efektivitas proses pembentukan
moral anak didik di lingkungan sekolah sebaiknya
dimulai dari yang paling rendah atau paling kecil.
Karena semakin kecil umur si anak, maka semakin
besar pengaruh kepribadian guru terhadapnya. Pada
usia Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar
merupakan kesempatan yang sangat baik untuk
membina karakter. Seandainya guru-guru di sekolah
tersebut memliki persyaratan kepribadian dan
kemampuan untuk membina pribadi anak, maka
pembentukan karakter anak di sekolah menjadi
sempurana. Zakiah menambahkan bahwa sekolah
taman kanak-kanak dan dasar merupakan dasar
pembinaan pribadi anak. Apabila pembinaan pribadi
anak terlaksana dengan baik, maka anak tersebut akan
memaski masa remaja dengan mudah, dan pembinaan
| 140
pribadinya di masa remaja tersebut tidak akan
mengalami kesulitan.
Usaha pembentukan watak melalui sekolah,
secara berbarengan dapat pula dilakukan melalui
pendidikan nilai dengan langkah-langkah sebagai
berikut: Pertama, menerapkan pendekatan
“modelling” yaitu membiasakan lingkungan sekolah
untuk menghidupkan dan menegakkan nilai-nilai
akhlak dan moral yang benar melalui model atau
teladan. Setiap guru dan tenaga kependidikan lain di
lingkungan sekolah hendaklah mampu menjadi
“uswah hasanah” yang hidup bagi setiap peserta didik.
Mereka juga harus terbuka dan siap untuk
mendiskusikan dengan peserta didik tentang berbagai
nilai-nilai yang baik tersebut.
Tujuan sekolah untuk mengembangkan nilai
Agama dan moral akan tercapai jika semua guru
mempunyai kepribadian yang sejalan dengan tujuan
sekolah tersebut, misalnya tujuan pendidikan karakter
hendak menciptakan jiwa yang demokratis pada anak
didik. Tidak akan tercapai jika guru yang menagjar
disitu berjiwa dictator, karena sikap mental guru
tercermin dalam caranya memperlakukan dan
menghadapi anak didik. Semakin kecil umur anak
| 141
didik semakin mudah ia terpengaruh oleh kepribadian
gurunya. Guru yang masuk kelas membawa seluruh
unsur kepribadian, agamanya, pemikirannya,
sikapnya, dan ilmu pengetahuan yang dimilkinya.
Penampilan guru, pkainnya, caranya berbicara,
bergaul, memperlakukan anak, emosi, dan keadaan
kejiwaan yang sedang dialaminya, bahkan idiologi,
dan paham yang dianutnya terbawa tanpa disengaja
ketika ia berhadapan dengan anak didik dan
seluruhnya itu akan terserap oleh si anak.
D. Lingkungan Masyarakat Membentuk Moral dan
Agama Anak Usia Dini
Masyarakat dapat diartikan sebagai kumpulan
individu dan kelompok yang dihimpun oleh kesatuan
negara, kebudayaan, agama. setiap masyarakat
mempunyai cita-cita, peraturam-peraturan. Dan sistem
kekuasan tertentu, yang tidak kalah pentingnya adalah
bahwa masyarakat turut serta memikul tanggung
jawab pendidikan, terutama para pemimpin
masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya.
Dalam lingkungan masyarakat terdapat berbagai
peluang bagi anak-anak untuk memperoleh berbagai
pengalaman empiris yang kelak sangat berguna bagi
kehidupan mereka. Bahkan dilingkungan masyarakat
| 142
itu terdapat organisasi, perkumpulan, yayasan dan
sebagainya. Di dalam berbagai perkumpulan tersebut
setiap anak dapat memperoleh berbagai hal yang
mereka inginkan. Misalnya perkumpulan tentang
kepemudaan, kepramukaan, pencinta lingkungan,
perbatasan buta huruf, dan lain-lain. Mereka yang mau
menfaatkan lingkungan masyarakat tersebut niscaya
akan dapat menimba berbagai pengalaman yang baik.
(Zakiah Daradjat, 2009).
Lebih lanjut Zakiah (1979:13) melanjutkan bahwa
semakin besar anak maka semakin besar pula pengaruh
lingkungan masyarakat terhadapnya dirinya.
Lingkungan masyarakat yang dimaksud adalah
seluruh lingkungan selain lingkungan rumah dan
sekolah, bisa berupa teman bermain, orang-orang yang
berhubungan dengannya, tokof masyarakat, pemuka
agama, penguasa setempat, pemerintah, dan segala alat
dan media massa serta masyarakat pada umumnya.
Usaha yang sangat penting itu hendaklah
dilakukan oleh masyarakat dalam pendidikan karakter,
usaha itu antara lain;
1. Penyaringan Terhadap Kebudayaannya Asing
Penyaringan terhadap kebudayaan asing
tersebut melalui berbagai cara diantaranya,