The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by faiznurfaizah21, 2022-10-26 03:52:04

PENGEMBANGAN NILAI MORAL DAN AGAMA ANAK USIA DINI

Pendidikan moral dan agama merupakan dua terma yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Membangun moralitas generasi emas bangsa dan agama bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan totalitas berpikir dan bertindak sesuai dengan tahap perkembangan yang dimiliki anak. Begitu pula dengan aspek keagamaan, setiap manusia akan selalu bersinggungan dengan aturan agama yang menghantarkan pada dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Untuk mentransfer nilai yang terkandung dalam agama pada anak usia dini maka dibutuhkan metode dan strategi yang variatif dan menyenangkan sesuai dengan cara belajar anak yakni bermain sambil belajar, tanpa ada paksaan untuk mengenal dan memahami suatu konsep baik moral maupun agama. Selain itu, pembiasaan menjadi bagian yang penting dalam penanaman nilai yang membangun moralitas agama dan budaya pada anak usia dini. Buku yang ditulis Saudara Mhd. Habibu Rahman, Rita Kencana, dan Nurfaizah ini membantu para guru, orang tua dan para pembaca untuk melihat betapa pentingnya mengembangkan moral sebagai hal yang paling esensial dari kehidupan manusia. Kecerdasan moral dan agama sebagai dua aspek yang hakiki dalam pengembangan moral dapat dioptimalkan dengan baik sejak usia dini dengan pemberian stimulasi yang positif dan berdaya ubah. Selain itu, sinergitas antara pengasuhan orangtua, metode dan strategi mengajar guru, kemudian peran lingkungan bermain merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini menjadi satu bagian kajian buku ini

Keywords: Nilai Moral,Agama,anak usia dini

| 35

Pentingnya nilai agama dan moral bagi anak usia
dini. dalam hal ini tentu orang tualah yang paling
bertanggung jawab, karena pendidikan yang utama dan
pertama adalah pendidikan dalam keluarga. Keluarga
tidak hanya sekedar berfungsi sebagai persekutuan sosial,
tetapi juga merupakan lembaga pendidikan. oleh sebab
itu kedua orang tua bahkan semua orang
dewasa memiliki tugas penting dalam membantu,
merawat, membimbing dan mengarahkan anak-anak
yang belum dewasa di lingkungannya dalam
pertumbuhan dan perkembangan mencapai kedewasaan
masing-masing dan dapat membentuk kepribadian,
karena pada masa usia dini adalah masa peletakan dasar
pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, moral
dan agama.

Selain itu, dengan mengembangkan nilai moral dan
agama pada anak sejak usia dini merupakan langkah yang
tepat untuk menghentikan dekadensi moral yang terjadi
di tanah air. Pembahasan mengenai moral dan agama
pada anak usia dini bukan hanya sebatas kajian teori saja,
melainkan dibutuhkan adanya figur yang mampu
menyampaikan dengan nuansa yang menyenangkan.
Sehingga anak usia dini akan mengenal dan memahami

| 36

agamanya serta tingkah lakunya sesuai dengan syariat
agama.

Pada aspek moral anak usia dini, anak mulai
mengenal konsep sederhana tentang baik-buruk, benar-
salah, boleh-dilarang, dan lainnya. Biasanya perilaku
moral anak didorong oleh akibat dari perilaku tersebut,
baik dalam bentuk reward maupun punishment. Apabila
perilaku moral anak mendapatkan hadiah atau ganjaran,
mereka akan mengulanginya. Sebaliknya apabila perilaku
moral anak justru mendatangkan hukuman, mereka akan
menghindarinya.

Dapat dipahami bahwa anak usia ini merupakan
masa yang fundamental dalam kehidupan seorang. Oleh
sebab itu, dalam periode kehidupan ini sangat
memerlukan peran aktif orang dewasa di sekitarnya
sebagai teladan dalam hal ini terutama orangtua dan guru
untuk memberikan berbagai stimulasi dalam proses
perkembangan mereka. Salah satu bentuk stimulasi dalam
perkembangan moral anak adalah dengan memberikan
dan menjadi contoh atau model yang positif dalam upaya
memberikan pendidikan moral dan akhlak anak usia dini.
Figur keteladanan penting bagi anak karena salah satu ciri
khas anak usia dini adalah imitasi atau meniru baik pada
sikap, perilaku, cara berbicara, dan lain sebagainya.

| 37

BAB II
PENGARUH PENGASUHAN TERHADAP

PERKEMBANGAN MORAL DAN
AGAMA ANAK USIA DINI

A. Apa itu Pengasuhan?
Selain guru di sekolah, orang tua adalah pendidik

yang berperan penting dalam mengembangkan
berbagai aspek perkembangan pada anak usia dini.
Orang tua juga wajib memahami berbagai pola
perilaku yang dimiliki masing-masing anak, bisa
dilihat dari gaya bicaranya, bahasa yang digunakan,
bergaul dengan lingkungan yang seperti apa, dan
masih banyak hal yang bisa dilihat secara langsung
oleh orang tua. Mengenai pentingnya stimulasi,
pengasuhan yang baik akan membangun kekuatan
anak dalam situasi sosial sehingga anak dapat
menemukan jati dirinya sendiri secara perlahan.

Pengasuhan dalam KBBI ialah proses, cara atau
perbuatan mengasuh. Sedangkan menurut kamus
Oxford, pengasuhan adalah “the activity of bringing up a
child as a parent” (proses membesarkan anak yang
dilakukan oleh orang tua). Pengasuhan menurut

| 38

Lestari merupakan sebuah proses kegiatan yang
bertujuan untuk meningkatkan atau mengembangkan
kemampuan anak dan dilakukan dengan didasarkan
pada kasih sayang dan tanpa pamrih. Menurut
Hoghoughi Pengasuhan diartikan pula sebagai
kegiatan yang memiliki tujuan agar dapat membuat
anak bertahan menghadapi tantangan dari lingkungan
serta dapat berkembang. Potensi anak dapat
berkembang melalui serangkaian stimulus psikososial
dari orang tua dan lingkungan (Mulyana et al., 2018).

Konteks pengasuhan, keluarga menjadi pusat
proses sosialisasi bagi anak dalam perilaku dan
pembentukan disiplin. Dalam hal ini anak-anak secara
bertahap dari waktu ke waktu akan mengalami proses
internalisasi sesuai dengan harapan dan standar sosial
yang telah ditetapkan yang pada gilirannya akan
membuat anak berusaha secara mandiri untuk
mengatur kehidupannya. Oleh karena itu, orang tua
harus mendukung dan melakukan hal yang efektif dan
konstruktif saat pengasuhan anak dalam masa-masa
tumbuh kembangnya termasuk dalam hal penanaman
moral dan agama anak.

Berangkat dari pemaparan tersebut, yang menjadi
pusat utama pengasuhan dalam membentuk perilaku
anak adalah keluarga. Sebagai seorang anak, terutama

| 39

anak usia dini mereka akan meniru gaya bahasa dan
tingkah laku dari budaya keluarganya. Pola asuh yang
diberikan oleh orang tua kepada anak memberikan
pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan
anak termasuk moral agama anak. Pernah dikatakan
pula oleh seorang psikolog dan konsultan keluarga,
Bunda Ely Risman beliau berkata, “Anak butuh Ibunya,
anak usia 0-8 tahun itu membutuhkan asuhan langsung
dari Ibunya. Peran Ibu semestinya dipegang langsung
oleh Ibu sang anak sebenarnya, bukan diserahkan ke
pembantu.” Efektivitas pengasuhan harus di dukung
oleh segenap keluarga melalui bentuk-bentuk
kedisiplinan orang tua dan keluarga. Selain itu,
diperlukan hubungan yang kuat antara orangtua dan
anak. Hubungan tersebut dapat diwujudkan dalam
bentuk komunikasi efektif dan relasi emosional dan
motivasi.

Dari pernyataan tersebut, kita bisa sama-sama
tahu bahwa ternyata peran keluarga terutama Ibu amat
sangat berperan penting diusia emas ini. Maka,
merujuk dari pendapat tersebut, mengapa pengasuhan
harus keluarga yang bertindak khususnya Ibu
kandung? Karena, seorang Ibu memiliki jiwa yang
penyayang dengan anaknya, memiliki ikatan batin
yang kuat, sehingga jika orangtua terutama Ibu yang

| 40

mengasuhnya dalam masa usia emas ini, akan lebih
memudahkan dalam memasukkan nilai-nilai agama
dan moral pada anak, anak juga akan tumbuh sesuai
dengan ajaran yang Ibunya ajarkan, baik secara
perkataan/nasehat maupun praktik langsung (melihat
kepribadian Ibu).

Selain itu, kelekatan dengan ibu dianggap sangat
penting untuk mengembangkan sosialisasi awal dan
pengembangan kepekaan terhadap orang lain atau
empati. Perilaku ibu yang responsive, peka dan
memiliki kontrol konsisten juga dapat meningkatkan
kepatuhan dari anak. Kelekatan adalah ikatan
emosional yang dibentuk seorang individu dengan
orang lain yang bersifat spesifik dan mengikat dalam
suatu kedekatan yang bersifat kekal sepanjang waktu.
Ikatan kelekatan (attachment) dalam (Wijirahayu et al.,
2016), memiliki beberapa elemen , yaitu:

1. Ikatan tersebut adalah hubungan emosi dengan
seseorang yang spesial. Artinya derajat ikatan
emosi tersebut dapat dilihat dan diukur dari
bagaimana hubungan emosinya.

2. Hubungan tersebut menimbulkan rasa aman,
nyaman, dan kesenangan. Artinya semua rasa itu
akan muncul bila dekat dengan seseorang yang
dirasa lekat dengan dirinya.

| 41

3. Ketiadaan ikatan akan menimbulkan perasaan
kehilangan atau meningkatkan penyesalan,
kekecewaan. Artinya apabila sudah ada kelekatan
maka ketika seseorang yang dirasa lekat
dengannya tidak berada disampingnya maka ia
akan merasa kehilangan.

Begitu pentingnya peran orang tua terhadap
perkembangan anak dimasa emasnya. Ketika orang tua
tidak konsisten dalam disiplin mereka dan mengalami
kesulitan dalam memantau kegiatan mereka, maka
anak akan beresiko memiliki masalah pada perilaku
moralnya. Brooks dalam (Mulyana et al., 2018),
menjabarkan tujuan dari pengasuhan diantaranya:

1. Menjamin kesehatan fisik (gizi dan kesehatan)
dan kelangsungan hidup anak.

2. Menyiapkan agar anak menjadi orang dewasa
yang mandiri dan bertanggung jawab baik secara
ekonomi, sosial dan moral.

3. Mendorong perilaku individu yang positif,
termasuk cara penyesuaian diri, kemampuan
berinteraksi sosial dengan orang lain agar dapat
bertanggung jawab dan bermanfaat bagi
lingkungan sekitar.

| 42

Teknik parenting merupakan metode dalam
menanggapi tindakan anak dalam upaya memfasilitasi
perilaku yang dapat diterima secara sosial menurut
Hastuti dalam (Mulyana et al., 2018), ialah:

1. Pemberian reward/penghargaan kepada anak
asuh biasanya dalam bentuk mainan, uang,
makanan. Bentuknya dapat berupa waktu main
yang lebih banyak, memperbolehkan anak untuk
meminjam mainan yang disukainya. Pemberian
rewards ini sesuatu yang sepontan sebagai
penghargaan atas tindakan anak.

2. Disiplin pada anak dapat menentukan
kepercayaan diri sehingga mereka memiliki
kontrol yang ada dalam dirinya.

3. Time-out adalah proses bagi anak untuk
menenangkan diri dan menyadari kesalahannya.

4. Role modeling yaitu anak belajar dari mengamati
tingkah laku, perbuatan, persepsi, pemikiran, cara
komunikasi dari pengasuh yang ada disekitarnya,
sehingga perilaku positif dan cara komunikasi
orang tua dapat ditiru oleh anak.

5. Encouragement merupakan dorongan dari orang
tua untuk memperoleh perilaku positif pada anak
asuh.

| 43

6. Attention Ignore dapat dilakukan orang tua
dengan memfokuskan pada perbuatan baik yang
dilakukan oleh anak, sehingga akan mengulangi
perbuatan tersebut.

B. Jenis-Jenis Pengasuhan
Anak usia dini adalah anak yang polos, mereka

belum bisa membedakan segala hal yang boleh
dilakukan atau tidak dilakukan, oleh karenanya perlu
diperhatikan jenis pengasuhan yang diterapkan pada
anak usia dini. Ada beberapa jenis pola asuh,
diantaranya:
1. Pola asuh otoriter

Merupakan bentuk pola asuh yang bersifat keras,
memaksakan kehendak serta mengekang anak. Dalam
pengertian lain, jenis pola asuh ini, orang tua berperan
sebagai orang yang keras dalam mendidik, orang tua
akan memaksakan anak agar mau melakukan semua
hal yang menjadi kehendaknya meskipun kendatinya
sang anak keberatan/menolak kemauan orang tuanya.
Dalam jenis pengasuhan ini, anak tidak mendapatkan
kesempatan dalam mengungkapkan keinginan yang ia
miliki terlepas dari keinginan orang tua tersebut. Ciri-
ciri pola asuh tersebut dalam (Anisah, 2011), adalah:

a. Orang tua berupaya untuk membentuk,
mengontrol, dan mengevaluasi sikap dan tingkah

| 44

laku anaknya secara mutlak sesuai dengan aturan
orang tua.
b. Orang tua menerapkan kepatuhan/ketaatan
kepada nilai-nilai yang terbaik menuntut
perintah, bekerja dan menjaga tradisi.
c. Orang tua senang memberi tekanan secara verbal
dan kurang memperhatikan masalah saling
menerima dan memberi diantara orang tua dan
anak.
d. Orang tua menekan kebebasan (independent)
atau kemandirian (otonomi) secara individual
kepada anak.

Kelebihan dari jenis pola asuh otoriter ini,
diantaranya ialah anak akan menjadi lebih disiplin dan
teratur, serta akan menguntungkan jika orang tua dan
pondasi agamanya kuat. Kelemahan dari pola asuh ini
ialah memungkinkan anak berbuat kekerasan diluar
lingkungan keluarga meningkat, kemudian anak
merasa takut terhadap figure orang tua, serta anak
tumbuh menjadi individu yang rigid dan kaku.
Sedangkan tipe anak yang akan dihasilkan ialah
mudah tersinggung, penakut, pemurung dan tidak
bahagia, mudah terpengaruh dan stres.

| 45

2. Pola Asuh Lunak (Permissive)
Merupakan jenis pola asuh yang sifatnya longgar

dalam mengasuh anak, serba menerima, dan pasif
dalam pembiasaan disiplin. Memang pada dasarnya
kita sebagai orang tua tidak boleh memberikan
kekerasan pada anak khususnya anak usia dini. Pola
pengasuhan ini identik dengan orang tua yang tidak
menuntut anaknya harus begini dan begitu, mereka
yakin bahwa anaknya bisa berkembang dengan baik
sesuai dengan kecenderungan alamiah dalam dirinya.
Orang tua yang menggunakan pola asuh ini cenderung
lebih membebaskan anaknya untuk melakukan apapun
sesuai kehendaknya tanpa melarang. Tipe ini juga
memiliki ciri-ciri:

a. Umumnya dianut oleh masyarakat tingkat
menengah keatas/sibuk

b. Biasanya melanda keluarga yang dasar agamanya
kurang

c. Keluarga yang berpaham liberal
d. Memberi kebebasan kepada anak untuk

menyatakan dorongan dan keinginannya
e. Membuat anak merasa kuat dan diterima

Pola asuh ini merupakan kebalikan dari pola asuh
otoriter. Kelebihan pola asuh ini antara lain kebutuhan

| 46

anak tercukupi, karena hampir semua kemauannya
dikabulkan oleh orang tua, serta anak akan merasa
nyaman berada dilingkungan keluarga. Kelemahan
dari pola asuh ini ialah: akibat fatal adalah anak
menjadi rusak badan dan akhlaknya, anak menjadi
overacting, anak menjadi penentang dan tidak suka
diatur, anak menjadi sombong. Sedangkan anak yang
dihasilkan dari pola ini adalah penuntut dan tidak
sabaran, non kooperatif dan suka mendominasi,
percaya diri, sukar mengendalikan diri, pandai
mengendalikan diri, prestasi rendah.

3. Pola Asuh Demokratis (otoritatif)
Merupakan jenis pola pengasuhan yang

dilandaskan pengertian, dan rasa cinta pada anak.
Orang tua dalam jenis pengasuhan ini menyadari sikap
yang harus mereka terapkan menyesuaikan dengan
usia perkembangan anak, orang tua juga menghargai
sikap disiplin dan tingkah laku yang baik pada anak.
Jenis pola asuh ini, tidak melulu mengekang anak,
namun juga tidak membiarkan anak mengambil
jalannya sendiri. Karakteristik pola asuh demokratis ini
ialah:

| 47

a. Orang tua menerapkan standar aturan dengan
jelas dan mengharapkan tingkah laku yang
matang dari anak

b. Orang tua menekankan peraturan dengan
menggunakan sanksi apabila diperlukan

c. Orang tua mendorong anak untuk bebas dan
mendorong secara individual

d. Orang tua mendengarkan pendapat anak,
meninjau pendapatnya kemudian memberikan
pandangan atau saran. Adanya saling memberi
dan menerima dalam pembicaraan diantara
keduanya dan berkomunikasi secara terbuka.

e. Hak kedua belah pihak baik orang tua maupun
anak.

Kelebihan dari tipe pola asuh demokratis ini
adalah, pendapat anak menjadi tertampung, anak
belajar menghargai perbedaan, pikiran anak menjadi
optimal, pola hidup anak menjadi dinamis. Sedangkan
kelemahannya adalah lebih kompleks, sehingga rawan
konfliks, jika tidak terkontrol anak bisa
menyalahartikan pola demokratis untuk hal-hal yang
destruktif.

Berdasarkan ketiga pola pengasuhan yang sudah
dipaparkan, ada beberapa problem yang selalu hadir di

| 48

lingkungan keluarga dalam hal pengasuhan,
diantaranya adalah problematika orangtua karir dalam
pengasuhan.

Problematika berasal dari kata problem yang
dapat diartikan sebagai permasalahan atau masalah.
Masalah disini adalah kendala yang harus di uraikan
dengan kata lain masalah ialah kesenjangan antara
kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik,
agar tercapai hasil yang maksimal. Orang tua terdiri
dari ayah dan ibu yang menanamkan pendidikan awal
sebelum anak memulai pendidikan dimanapun.
Sedangkan orang tua karir ialah orang tua yang
bekerja, memiliki harapan baik, menduduki jabatan
yang ada, harapan untuk naik ke jenjang yang lebih
tinggi. Dari pengertian tersebut, problematika orang
tua karir ialah masalah-masalah yang dihadapi orang
tua yang memiliki kewajiban ganda yakni kewajiban
atas anak dan kewajiban atas pekerjaannya.

Idealnya seorang Ibu bertugas sebagai orang yang
sering dirumah untuk mengasuh anak, mengurus
suami, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Di
zaman yang sekarang ini, ketika sudah marak wanita
karier dalam bidangnya masing-masing dirasa sangat
sulit untuk mengambil cuti apalagi sampai 8 tahun
untuk mengasuh anak, tidak memungkinkan juga bagi

| 49

wanita yang pekerja kantoran jika harus mengajak
anaknya kerja. Hal ini pastinya membuat para kaum
wanita merasa gundah karena disatu sisi mereka harus
tetap bekerja, namun di sisi lain ia juga harus
bertanggung jawab dalam menemani tumbuh
kembang buah hatinya. Problematika ini disebut juga
dengan dualisme karir atau karir ganda, dimana suami
istri sama-sama bekerja dan mengurus rumah tangga
secara bersama-sama pula. Dalam hubungannya
dengan posisi masing-masing, suami istri tentulah
memiliki cara tersendiri dalam mengatur perannya
untuk pekerjaannya dan rumah tangganya.

Verulyin mengemukakan ada 3 tugas dan
panggilan orang tua karir terhadap anak yang dikutip
dalam (Ahmadi, 2002), yaitu:
1. Mengurus keperluan material anak

Tugas pertama orang tua adalah
memberikan sandang, pangan, dan papan untuk
anak, termasuk memberikan nafkah yang halalan
thoyyiban yang berarti nafkah yang halal dan baik.
Nafkah tersebut diperoleh dengan cara yang halal
dan materi nafkah pun ialah materi yang halal
dan baik pula. Keadaan ekonomi dalam hal ini
juga mempengaruhi sikap orang tua ke anak,
misalnya jika orang tua berpenghasilan cukup,

| 50

maka seorang anak akan banyak mendapatkan
banyak kesempatan untuk memperkembangkan
macam-macam kecakapan.

Keadaan ekonomi keluarga erat
hubungannya dengan belajar anak. Anak akan
merasa nyaman jika kebutuhan belajarnya
tercukupi seperti alat tulis yang lengkap,
kebutuhan makan minum yang tercukupi, dan
ruangan belajar yang memadai.

2. Menciptakan suasana Home bagi anak
Home disini diartikan bahwa dalam

keluarga anak-anak dapat berkembang dengan
subur, merasakan kemesraan dan kasih sayang
dari orang tuanya, ramah tamah, merasa
terlindungi, dll. Dalam rumah perlu diciptakan
suasana yang nyaman bagi anak. Bagi orang tua
karir yang memiliki keterbatasan waktu untuk
dekat dengan anak, bisa menggunakan waktu
liburnya untuk berkomunikasi lebih dekat
dengan anak.

3. Tugas pendidikan terhadap anak
Tugas mendidik utamanya adalah orang

tua. Fungsi pendidikan ini erat kaitannya dengan

| 51

tanggung jawab orang tua sebagai madrasah
pertama bagi anak. Keluarga bertanggung jawab
atas anak dalam membantu tumbuh kembang
anak yang dilahirkan dala keluarga tersebut
untuk berkembang menjadi orang yang
diharapkan oleh nusa, bangsa dan negaranya.
Bisa dengan mengajarkan anak-anak untuk
belajar ilmu umum, bagi anak usia dini berawal
dari pengenalan warna, huruf, angka. Dan ilmu
agama seperti cara berwudhu, praktik sholat, dan
belajar mengaji.

4. Relasi Orang tua-anak
Interaksi dan waktu merupakan dua

komponen mendasar bagi relasi orang tua dan
anak. ada beberapa prinsip pokok relasi orang
tua-anak, yaitu:
a. Interaksi

Orang tua dan anak berinteraksi pada
suatu waktu yang menciptakan suatu
hubungan. Interaksi tersebut bisa
membentuk kenangan pada interaksi masa
lalu dan juga masa yang akan datang.
b. Kontribusi Mutual

| 52

Orang tua dan anak memiliki
sumbangan dan peran dalam interaksi,
demikian juga relasi keduanya.
c. Keunikan

Setiap relasi orang tua-anak bersifat
unik yang melibatkan dua pihak, dan
karenanya tidak dapat ditirukan dengan
hubungan orang tua dan anak lainnya.
d. Pengharapan masa lalu

Interaksi orang tua-anak yang telah
terjadi membentuk suatu cetakan pada
penghargaan keduanya. Berdasarkan
pengamatan dan pengalaman, orang tua
akan memahami bagaimana anaknya
bertindak pada situasi tertentu, demikian
juga dengan anak pada orang tuanya.
e. Antisipasi masa depan

Relasi orang tua-anak bersifat kekal,
masing-masing membangun pengharapan
yang dikembangkan dalam hubungan
keduanya.

| 53

C. Kriteria Pengasuh yang Harus Ada dalam
Kehidupan Anak
Mengasuh anak tidaklah mudah, perlu seorang

yang memahami kebutuhan anak, baik itu kebutuhan
sosialnya maupun perkembangannya. Pengasuhan
anak dilakukan dengan tujuan untuk melindungi,
membimbing, merawat dan memahami semua
kebutuhan anak. Dalam kehidupan keluarga tidak
sepenuhnya semua pengasuhan menjadi tanggung
jaawab seorang Ibu, tentu perlu usaha bersama dari
pihak lain agar anak dapat tumbuh kembang dengan
optimal. Ayah, ibu, kakak, kakek, nenek, paman, bibi,
asisten rumah tangga, babysitter ataupun orang yang
ada didalam suatu rumah menjadi pengasuh anak.
Oleh karena itu, kita harus paham dengan sosok yang
dibutuhkan seorang anak, diantaranya:
1. Sosok teladan yang baik, anak akan menirukan

semua hal yang ia lihat termasuk orang-orang
yang ada disekitarnya. Jika yang ia lihat adalah
suatu kebiasaan yang baik maka anak
kedepannya akan berperilaku yang baik, begitu
juga sebaliknya. Oleh karenanya, orang dewasa
yang ada disekitar anak, perlu menyadari untuk
selalu memberikan keteladanan yang baik bagi
anak.

| 54

2. Peduli pada anak, anak akan sangat suka jika ia
diperhatikan. Walaupun hanya dengan suatu hal
yang menurut kita biasa, namun anak akan
memandang hal itu menjadi istimewa. Misalnya
dengan bermain bersamanya, mendengarkan
cerita yang ia sampaikan dan lain sebagainya.
Meskipun terlihat sederhana, namun yang kita
lakukan akan berpengaruh besar pada diri
seorang anak. Jika kita sebagai orang dewasa
terbiasa memperhatikan anak, peduli dengan
aktivitas mereka maka secara tidak sadar mereka
akan merespon balik dengan baik apa yang kita
sampaikan kepada anak. Anak tidak akan merasa
keberatan dengan suatu hal yang kita perintahkan
untuknya terutama dalam pembentukan nilai
agama dan moral anak.

3. Berpengalaman, dalam pengasuhan anak
memang aspek berpengalaman tidak
memposisikan menjadi hal terpenting. Namun,
jika pengasuhan anak dilakukan oleh seseorang
yang berpengalaman tentunya akan lebih mudah
dalam memahami apa yang anak inginkan.
Berpengalaman dalam konteks ini adalah orang
yang pernah mengasuh anak sebelumnya,
minimal mengasuh adiknya, mengasuh anaknya

| 55

sendiri, atau mengasuh anak orang lain.
Pengetahuan yang ia dapatkan dalam
pengalaman mengasuh anak dimasa lalu akan
menajdi pembelajaran yang baik dalam
mengasuh anak selanjutnya. Dalam suatu
penelitian, seorang Ibu lebih mahir dalam
memahami bahasa tubuh seorang anak. oleh
karenanya, banyak pengasuh anak (babysitter)
khususnya pada anak usia dini adalah seorang
perempuan. Namun, tetap saja didikan orangg
tua akan lebih baik, karena anak akan lebih
merasa nyaman dan bahagia saat orang tuanya
yang mengasuhnya di setiap harinya (Laely,
2019).

Salah satu program yang juga diaplikasikan
untuk sebuah program dalam peningkatan
keterampilan pengasuhan adalah Triple-P (Positive
Parenting Program) yang dipopulerkan oleh Sanders
dalam (Jazariyah & Maemonah, 2017), dalam program
ini menerapkan program yang positif antara orang tua
dan anak dalam pengasuhan. Keterampilan
manajemen positif orang tua dengan interaksi anak
dapat memunculkan peran positif orang tua seperti
pemberian harapan dan kepercayaan terhadap anak.

| 56

Dalam penyelenggaraan Triple-P terdapat lima
prinsip yang harus diperhatikan, yakni:

1. Ensuring a safe and engaging environment, yaitu
memberikan penyediaan lingkungan yang aman
bagi anak untuk bereksplorasi, berekspresimen
dan bermain. Prinsip ini penting untuk mencapai
perkembangan yang sehat dan mencegah
terjadinya luka dan kecelakaan.

2. Creating a positive learning environment, yakni
orang tua menjalani peran sebagai guru pertama
bagi anak yang harus merespon secara positif dan
konstruktif ketika berinteraksi dengan anak
(seperti minta tolong, memberikan informasi,
memberi nasihat dan memberi perhatian),
mendorong anak belajar menyelesaikan masalah
mereka sendiri, belajar keterampilan sosial dan
komunikasi dengan bahasa yang baik.

3. Using assertive discipline, yang merupakan
pengganti bagi disiplin yang menggunakan
paksaan dan disiplin praktis yang tidak efektif
seperti teriakan, ancaman, atau menggunakan
hukuman secara fisik. Strategi yang digunakan
untuk mengubah perilaku dalam disiplin asertif
ini meliputi pemilihan aturan dasar untuk situasi
tertentu, mendiskusikan aturan dengan anak,

| 57

memberikan instruksi dan permintaan yang jelas
dan tenang sesuai dengan usia anak,
mengenalkan konsekuensi logis dan pengabaian
terencana.
4. Having realistic expectations, yaitu orang tua
mengeksplorasi harapan-harapan, kepercayaan
dan asumsi-asumsi tentang penyebab perilaku
anak kemudian memilih tujuan yang tepat dan
realistis sesuai dengan perkembangan anak.
5. Taking care of oneself as a parents, yaitu
mengajarkan keterampilan pengasuhan praktis
yang dapat diterapkan oleh kedua orang,
keterampilan mengeksplorasi keadaan emosional
orang tua, dan mendorong orang tua
mengembangkan strategi koping untuk
mengelola tekanan dan emosi negative berkaitan
dengan pengasuhan, termasuk stress, depresi,
kemarahan, dan kecemasan.

D. Pengasuhan yang Baik dalam Islam
Keberhasilan pengasuhan pada masa usia dini

akan menentukan keberhasilan anak dimasa
mendatang. Dalam Islam, eksistensi anak melahirkan
adanya hubungan vertical dengan Allah Penciptanya,
dan hubungan horizontal dengan orang tua dan
masyarakatnya yang bertanggung jawab untuk

| 58

mendidiknya menjadi manusia yang taat beragama.
Kaitannya dengan pengasuhan anak, ajaran Islam yang
tertulis dalam Al-Qur’an, Hadits, maupun ijtihad para
ulama telah menjelaskan secara rinci mengenai pola
pengasuhan anak pra kelahiran maupun pasca
dilahirkan.

Sehubungan dengan hal tersebut, pola
pengasuhan yang baik sudah tertuang dalam islam,
(Jannah, 2015) mulai dari:

1. Pembinaan kepribadian dari calon pasangan
suami istri, melalui pengajaran penghormatan
kepada kedua orang tuanya.

2. Memilih dan menentukan pasangan hidup yang
sederajat/ kaffah. Dalam artian lain, calon suami
sebanding dengan calon istrinya misalnya sama
dengan agama yang dianutnya, sebanding
dengan tingkat sosialnya, dsb. Hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadi pertimpangan
sosial yang nantinya akan menimbulkan masalah
baru dalam suatu keluarga.

3. Melaksanakan pernikahan sebagaimana
diajarkan oleh Islam.

4. Berwudhu dan berdoa saat akan melakukan
hubungan sebadan antara suami istri.

| 59

5. Menjaga, memelihara dan mendidik bayi (janin)
yang ada dalam kandungan ibunya.

6. Membacakan dan mendengarkan adzan ditelinga
kanan, dan iqomat ditelinga kiri bayi.

7. Mentahnik anak yang baru dilahirkan. Tahnik
artinya meletakkan bagian buah kurma yang
sudah dilumat dengan jari, lalu dimasukkan dan
digerakkan ke kiri dan kekanan secara lembut.
Hikmah dari tahnik ini ialah untuk memperkuat
otot-otot rongga mulut dengan gerakan lidah dan
langit-langit serta kedua rahangnya agar siap
menyusu dan menghisap ASI dengan kuat dan
alami. Tahnik juga merupakan sunnah yang
diajarkan oleh Rasulullah.

8. Menyusui anak dengan air susu ibu dari usia 0
bulan sampai usia 24 bulan (2 tahun).

9. Pemberian nama yang baik.

Pada setiap muslim, diberikan jaminan bahwa
setiap anak dalam keluarga akan mendapat
pengasuhan yang baik, adil, bijaksana yang merupakan
suatu kewajiban orang tua. Jika pengasuhan terhadap
anak sekali saja diabaikan, maka anak akan tumbuh
dan berkembang tidak sempurna.

| 60

Dalam Islam, ada enam model pola asuh yang
bisa dijadikan pedoman dalam mendidik anak (Anisah,
2011), diantaranya:

1. Metode dialog Qurani dan Nabawi
Pengertian dialog disini ialah pembicaraan

antara dua orang atau lebih melalui Tanya jawab
yang didalamnya ada kesatuan pembicaraan.
Dengan kata lain, dialog merupakan penghubung
pemikiran antar manusia. Adapun dialog al-
quran sendiri, seperti kitab/seruan Allah,
ta’abudi.
2. Metode kisah al-Quran dan Nabawi

Yaitu mendidik anak dengan cara
menceritakan kisah-kisah keteladanan yang ada
dalam al-quran maupun kisah-kisah yang terjadi
pada masa Nabi dan umat Islam generasi awal.
3. Metode keteladanan

Maksudnya ialah mendidik anak dengan
cara memberi teladan yang baik atas perilaku
yang ingin ditanamkan ke anak.
4. Metode praktek dan perbuatan

Metode ini ialah mendidik anak dengan cara
mengajari anak secara langsung tanpa member
teori yang bertele-tele.

| 61

5. Metode Ibrah dan Mau’izah
Merupakan metode mendidik anak dengan

cara mengajari anak mengambil setiap pelajaran,
hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya.
6. Metode targhib dan tarhib

Targhib adalah janji pasti yang diberikan
untuk menunda sebuah kesenangan, sedangkan
tarhib adalah intimidasi yang dilakukan melalui
hukuman karena berkaitan dengan pelanggaran
larangan Allah.

E. Budaya Pengasuhan Mempengaruhi

Perkembangan Moral dan Agama Anak Usia

Dini

Mengajarkan nilai-nilai agama dan moral pada

anak usia dini, tentunya tidak terlepas dari nilai-nilai

yang ada dalam lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Santrock pengasuhan dapat dipengaruhi oleh

budaya, etnisitas, dan status sosial ekonomi. Budaya

memiliki nilai-nilai yang digunakan sebagai tolak ukur

yang menentukan baik buruk, boleh dan tidak boleh,

serta benar dan salah dalam ekspresi perilaku anak

(Majdi & Ekawati, 2018). Budaya dari suatu lingkungan

belum tentu sama dengan budaya daerah lain,

pengasuhan dari satu keluarga belum tentu sama

dengan keluarga yang lain. Oleh karenanya, nilai-nilai

| 62

agama dan moral anak akan terbentuk dari kebiasaan
suatu budaya yang berlaku.

Menurut Stephenson dalam (Musi et al., 2015)
nilai budaya dipandang sebagai suatu hal yang
diperlukan untuk mengkonstruk kehidupan. Nilai
budaya menjadi sarana fungsional terhadap identitas
suatu masyarakat. Pada akhirnya nilai budaya
merupakan suatu kebutuhan nilai-nilai yang dimiliiki
oleh sekelompok masyarakat, atau yang diberikan
legitimasi melalui sosial dan diterima sekaligus sebagai
suatu pendekatan untuk mendapatkan nilai. Misalnya,
anak-anak usia sekolah disuatu daerah setiap sore hari
harus mengaji sampai dengan waktu maghrib. Hal ini
akan menjadi suatu tuntutan bagi suatu keluarga untuk
mampu menyesuaikan budaya islam di keluarganya.
Apabila mereka tidak menerapkan disiplin mengaji
pada anak mereka, tentunya akan sulit bisa diterima
dalam lingkup sosialnya, namun apabila mereka bisa
menerapkan disiplin mengaji itu pada anak mereka,
tentu suatu keluarga akan dianggap sebagai kelompok
dari suatu lingkungan budaya islam.

Berkaitan dengan hal tersebut, Awde dalam (Musi
et al., 2015) mengatakan bahwa budaya mempengaruhi
setiap aspek pendidikan anak sebagai manusia yang
tumbuh melalui keyakinan dan praktik yang dirancang

| 63

untuk mempromosikan adaptasi sehat. Hal ini akan
memberikan pengalaman dalam hidup sehingga dalam
kajian perkembangan anak, nilai-nilai budaya tidak
boleh diabaikan terutama pada masyarakat yang
menjunjung tinggi nilai-nilai budaya tradisional.

Nilai budaya dipandang sebagai nilai-nilai
penting yang menjadi pedoman dalam kehidupan
kelompok atau masyarakat. Menurut Gutterman dalam
(Musi et al., 2015) mengatakan bahwa konsep nilai
budaya sebagai system yang berisi nilai-nilai yang
dianggap penting dalam kehidupan manusia. Nilai-
nilai inilah yang nantinya dianggap sebagai suatu
batasan yang mengatur dan mengontrol pola
kehidupan masyarakat khususnya dalam hubungan
satu manusia dengan manusia yang lain.

Kedudukan pengasuhan dalam kehidupan anak
dapat dilihat dengan jelas dalam perspektif ekologi.
Dalam perspektif ekologi, pengasuhan dari orang tua
merupakan sistem dilingkungan terdekat atau
microsystem anak. Sebagai microsystem anak,
pengasuhan berada dibawah pengaruh sistem
lingkungan yang lebih luas (macrosystem) yaitu budaya
dan nilai-nilai yang dihidupi oleh masyarakat
setempat. Dalam perspektif ekologi, keseluruhan
sistem yang melingkupi kehidupan anak akan berubah

| 64

seiring dengan perkembangan zaman. Perubahan
zaman inilah yang disebut sebagai chronosystem.
Perspektif ekologi menempatkan konsep pengasuhan
secara kontekstual, baik secara cultural maupun waktu.
Dengan demikian, pengukuran pengasuhan
semestinya sesuai dengan budaya setempat dan juga
sesuai dengan perkembangan zaman (Etikawati et al.,
2019).

Pola asuh yang diterapkan orang tua tidak
terlepas dari pengaruh nilai dan budaya tertentu
terutama budaya lokal tempat suatu keluarga itu
tinggal. Terlepas dari lingkungan keluarga, masyarakat
yang tinggal disekitarnya baik teman sebaya maupun
orang dewasa lainnya juga ikut berperan dalam
menentukan nilai-nilai moral dan agama sesuai budaya
setempat, karena nilai-nilai yang terbentuk merupakan
gabungan dari pola keyakinan dan pola perilaku dari
sekelompok orang yang mengatur kehidupan sehari-
hari. Oleh karena adanya proses masuknya beberapa
budaya ke dalam satu daerah para keluarga
mengkombinasikan budaya tersebut kedalam nilai-
nilai dalam mendidik anak.

Dalam suatu keluarga, harus mampu
menyesuaikan dengan nilai-nilai budaya yang berlaku.
Perubahan nilai budaya yang berlangsung akan

| 65

menumbuhkan berbagai kebutuhan baru dalam
kehidupan. Ketika seorang keluarga hidup dalam
lingkungan yang memegang kebudayaan yang islami,
maka fungsi keluarga berubah fungsi menjadi pusat
penerusan norma yang mengantarkan anak untuk bisa
menghargai nilai-nilai dan budaya keislaman yang
berlaku untuk mempersiapkan anak menjadi seorang
yang bermoral dan paham agama. Dalam buku ini kita
ambil 2 contoh budaya pengasuhan, yakni budaya
pengasuhan masyarakat Jawa dan budaya pengasuhan
masyarakat Medan.

1. Budaya Pengasuhan Masyarakat Jawa
Setiap kebudayaan, tentu akan ditemui pola

pengasuhan dalam keluarga yang berbeda. Bagi orang
jawa, maka budaya yang dominan adalah budaya jawa,
budaya yang sejak kecil mereka tinggal. Bagi orang tua
jawa, bagaimana mereka mendidik anak tentunya akan
disesuaikan dengan budaya yang mereka yakini, yakni
budaya jawa. Bagi orang tua jawa, mereka tidak hanya
menjelaskan kepada anak apa dan bagaimana sikap
perilaku yang baik yang harus anak miliki, namun
mereka para orang tua jawa juga berusaha untuk
menjalankannya. Bagi masyarakat jawa, pituduh
(wejangan) tidak akan berhasil jika hanya diucapkan

| 66

saja, tanpa dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan
adagium yang muncul dengan istilah “gedhang awoh
pakel, ngomong gampang ngelakone angel” (Ibarat pisang
berbuah mangga, bicara mudah tetapi menjalankannya
susah).

Tentunya bagi para orang tua jawa, hal ini tidak
mereka ingini. Wujud keberhasilan orang tua jawa
dalam membentuk moral, karakter anak-anaknya
ditandai dengan kemampuan anak dalam berinteraksi
dengan masyarakat disekitarnya. Dalam masyarakat
jawa, bagi seseorang yang sudah berhasil dan mampu
berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya akan
menyebutnya dengan istilah njawani, sedangkan
sebaliknya jika belum berhasil mengamalkan budaya-
budaya yang ada dalam masyarakat setempat
(masyarakat jawa) menyebutnya dengan istilah durung
jawa (perilakunya, karakter dan etika belum sesuai
dengan nilai agama dan moral).

Nilai-nilai luhur yang sudah menjadi karakter
bangsa dimasa lalu perlu diwariskan oleh generasi tua
(para orang tua) kepada generasi muda (anak-
anaknya). Para orang tua jawa memiliki model
pengasuhan yang berbeda dengan yang biasa dikenal
dalam masyarakat barat. Geertz dalam (Idrus, 2012)
mengindikasikan beberapa model pengasuhan yang
yang diterapkan oleh orang tua jawa diantaranya:

| 67

a. Membelokkan dari tujuan yang tak diinginkan.
Biasanya para orang tua jawa akan mengalihkan
perhatian anak dengan maksud agar anak terbiasa
dengan apapun keinginannya tidak harus serta
merta dituruti seketika itu.

b. Memberi perintah terperinci dan tidak emosional
tanpa ancaman hukuman, orang tua jawa
membiasakan komunikasi yang baik pada anak
tentunya dengan bahasa yang mudah dipahami
oleh anak.

c. Menakut-nakuti anak dengan ancaman tentang
nasibnya yang mengerikan ditangan orang lain
atau makhluk halus. Para orang tua jawa
mengajarkan pada anak mereka untuk tidak
mudah percaya dengan orang asing atau orang
yang baru dikenal. Model pengasuhan ini dengan
tujuan untuk selalu waspada dan selalu hati-hati.

d. Jarang memberikan hukuman yang akan
menghilangkan kasih sayang. Jarang bukan
berarti tidak pernah, biasanya para orang tua jawa
hanya akan mengancam memberikan hukuman
apabila melakukan suatu kesalahan, namun
kadang-kadang akan benar-benar menghukum
jika mereka benar-benar marah. Hukuman tidak
selamanya berupa fisik, ataupun ungkapan verbal

| 68

lainnya. mencaci maki dalam pandangan jawa
adalah suatu hal yang buruk, hukuman yang
ditakuti anak-anak jawa adalah disisihkan dalam
sosial, tidak diajak bermain, atau tidak diajak
bicara.
e. Mengajarkan kepatuhan dan kesopanan. Sejak
bayi, orang tua jawa selalu mengajarkan
bagaimana sopan santun. Misalnya membiasakan
ketika mengambil dan memakan harus
menggunakan tangan kanan, dan juga ketika ada
orang lain yang menyapa anak mereka, maka para
orang tua akan mengajarkan menjawab dengan
bahasa yang halus (bahasa kromo), untuk
berbicara kepada orang yang lebih dewasa
darinya.

Tidak hanya itu, Koentjaraningrat menambahkan
model pengasuhan yang biasa dilakukan oleh para
orang tua jawa pada anaknya, yaitu:

a. Menyuap anak dengan menjanjikan hadiah-
hadiah serta makanan yang enak-enak, apabila
seorang anak berjanji tidak nakal

b. Menghukum anak
c. Memenuhi harapan-harapan si anak secara

berlebihan, atau menyuruh anak untuk berbuat

| 69

yang dilarang (dipunlulu) yang sebenarnya
dimaksudkan sebagai anti perangsang
d. Menyisihkan anak dengan cara tidak diajak
bermain dan berbicara (dipunsatru, dipunjothak).

Pola asuh dalam keluarga jawa memegang teguh
dua prinsip penting dalam nilai kejawen tentang tata
krama yaitu hormat dan kerukunan, sikap hormat
tersebut dibagi lagi dalam khas jawa yakni wedi, isin
dan sungkan yang berarti takut, malu, dan sungkan.
Dua prinsip hormat tersebut harus dipelajari seorang
anak sejak fase pertumbuhan anak hingga menuju
dewasa (Baiduri & Yuniar, 2017).

2. Budaya Pengasuhan Masyarakat Medan
Medan merupakan kota metropolitan di Sumatera

yang memiliki penduduk heterogen yang diantaranya
adalah suku Batak.

Batak menganut sistem kekerabatan yang bersifat
patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah). Pada
keturunan etnis Batak, anak laki-laki memiliki
tanggung jawab untuk bisa meneruskan keturunan
sehingga dituntut untuk hidup mandiri dan
bertanggungjawab (Rahayu & Amanah, 2010). Suku
batak kerap merantau disegala penjuru dunia dan

| 70

memang terkenal dengan berbagai profesi. Pada
hakikatnya orang batak tidak gengsi dalam
mengerjakan pekerjaan apapun, mereka terlatih untuk
hidup keras supaya bisa menghidupi dirinya sendiri
dan keluarganya.

Suku batak selain mengajarkan akan pentingnya
pendidikan juga memiliki prinsip dasar dalam hidup
yang dikenal dengan filosofi (Dalihan Natolu) yang
artinya tungku dengan tiga penyangga. Diantaranya
filosofi tersebut, yaitu:

a. Somba marhula-hula. Hula-hula dalam adat suku
Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri.
Dalam hidup beradat, seseorang harus
menghormati hula-hulanya, tidak boleh bersikap
sesuka hati

b. Manat mardongan tubu. Dongan tubu adalah
sekelompok masyarakat dalam satu marga.
Dalam filosofi ini seseorang diajarkan untuk
mengasihi saudaranya dan saling membantu satu
sama lain, jangan sampai ada pertikaian yang
dapat merusak persaudaraan

c. Elek Marboru. Pada istilah ini diajarkan untuk
saling mengasihi agar hidup ini diberikan berkat
(Nur et al., 2019).

| 71

Filosofi diatas menjelaskan bahwa suku batak
penuh dengan nilai-nilai yang kental dan sakral. Yang
tentunya mengandung dan menjunjung nilai moral
yang tinggi yang harus tertanam dalam diri seseorang
muali dari tidak boleh berbuat sesuka hati, saling
membantu satu sama lain dan juga saling mengasihi.

Dari penelitian yang dilakukan oleh (Rahayu &
Amanah, 2010), menunjukkan bahwa pola asuh yang
sering digunakan adalah pola asuh demokratis lalu
otoriter. Dan yang jarang digunakan adalah pola asuh
permisif. Namun, dalam kecenderungan bisa dilihat
bahwa keluarga yang dengan latar belakang budaya
Batak, Mandailing, Nias, Minang, Melayu dan Jawa
memiliki kecenderungan yang sama dengan keluarga
berlatar belakang budaya aceh yakni cenderung
menggunakan pola asuh demokratis-otoriter. Maksud
dari demokratis-otoriter adalah orang tua lebih
dominan demokratis, namun dalam kondisi tertentu
akan muncul pola asuh otoriter. Lain halnya dengan
keluarga yang berlatar belakang suku budaya Karo
yang memiliki pola asuh demokratis-permisif. Maksud
dari pola asuh ini adalah orang tua dominan
demokratis namun dalam kondisi tertentu juga akan
muncul pola asuh permisif.

| 72

Bagaimana pola pengasuhan suatu keluarga
diterapkan, akan sangat dipengaruhi oleh adat dan
istiadat keturunan dari keluarga itu berasal, dan juga
pengaruh dari adat dan istiadat suatu keluarga itu
tinggal.

| 81

BAB III

Gadget dan Perkembangan

Moral dan Agama Anak Usia Dini

A. Paradigma Penggunaan Gadget Pada Anak Usia
Dini
Gadget merupakan suatu alat atau instrumen yang

lebih canggih dan praktis dibanding teknologi
sebelumnya, salah satu jenis gadget adalah smartphone
yang berisi berbagai macam aplikasi dan informasi
yang ada di dunia ini. (Dewanti, 2016: 127). Menurut
Agoeng Noegroho (2010:15) gadget adalah sebuah
benda (alat atau barang eletronik) teknologi kecil yang
memiliki fungsi khusus, tetapi sering diasosiasikan
sebagai sebuah inovasi atau barang baru. Gadget selalu
diartikan lebih tidak biasa atau didisain secara lebih
pintar dibandingkan dengan teknologi normal pada
masa penemuannya.

Jadi, gadget merupakan teknologi baru yang lebih
canggih dari teknologi sebelumnya, salah satu jenis
gadget yang paling canggih yaitu smartphone yang
memiliki banyak kelebihan yang didisain secara lebih

| 82

pintar dibandingkan dengan teknologi normal salah
satunya dengan berbagai macam aplikasi mulai dari
komunikasi hingga media sosial dengan berbagai
macam fitur yang dapat mempermudah manusia
dalam berbagai hal.

Gadget adalah inovasi teknologi terkini, dengan
fungsi baru yang lebih baik, yang dapat memenuhi
tujuan dan fungsi yang lebih praktis dan berguna pada
saat yang bersamaan. Dengan berkembangnya konsep
gadget, mereka kerap menganggap smartphone
sebagai gadget dan juga menganggapnya sebagai
teknologi komputer atau laptop saat meluncurkan
produk baru. Kini gadget bukan lagi benda asing,
hampir semua orang memilikinya. Bukan hanya
masyarakat perkotaan, tapi juga gadget milik
masyarakat pedesaan. Saat ini, berapapun usianya,
setiap orang dalam setiap kelompok dapat
mengoperasikan gadget mereka dengan baik.

Keberadaan gadget merupakan kemajuan di
bidang teknologi baru, membuat masyarakat yang
dapat menggunakannya merasa selangkah lebih maju
dari kondisi sebelumnya, karena keberadaannya
membuat hidup lebih mudah dan berdampak besar
pada kehidupan. Berkat hadirnya gadget, komunikasi

| 83

menjadi lebih mudah. Semua orang membutuhkan
komunikasi dan kebutuhan informasi. Salah satunya
adalah perkembangan gadget yang semakin marak.
Gadget memang bisa berdampak sedemikian besar,
karena seluruh dunia ada di gadget, termasuk
informasi, hiburan, pertemanan, bisnis, pembelajaran,
serta permainan edukatif dan religi, maka permainan,
kekerasan dan pornografi perlu diwaspadai, yang
mungkin saja perlu diwaspadai. Akan berdampak
negatif. Kebanyakan anak-anak mengunakan gadget
untuk menonton film, mendengarkan lagu, bermain
game, maupun aplikasi lainnya. Beberapa fungsi
gadget, sebagai berikut:
1. Mengakses Internet

Internet merupakan salah satu fitur yang
paling banyak digunakan pada gadget, karena
dengan internet dapat dengan mudah mengakses
informasi yang dapat menambah wawasan,
memperlancar komunikasi seperti mengirimkan
pesan, mengerjakan tugas-tugas sekolah dan
banyak hal lain didapat dengan menggunakan
internet.

| 84

2. Mengakses Informasi
Salah satu fungsi gadget adalah

mempermudah untuk mengakses informasi,
dengan mudah dapat mengetahui perkembangan
informasi yang berkembang saat ini dalam
berbagai bidang, seperti pendidikan, social,
ekonomi dan lain sebagainya, terlebih lagi saat ini
bukan hanya orang dewasa bahakan anak-anak
sangat banyak menggunakan gadget sebagai
sarana untuk memperoleh informasi yang
berkenaan dengan pembelajaran.
3. Wawasan Bertambah

Perpaduan antara kelancaran komunikasi
dan informasi yang diperoleh dengan mudah
untuk menambah wawasan merupakan
keunggulan gadget. Kita tahu bahwa komunikasi
dan informasi merupakan salah satu elemen yang
dapat menambah wawasan. Oleh karena itu dapat
disimpulkan dari penjelasan di atas bahwa kita
harus bijak, karena dalam menggunakan gadget
harus mengetahui waktu dan tidak terlalu sering
menggunakannya, akan berdampak positif
bahkan negatif bagi kesehatan.

| 85

Dampak Gadget seringkali ditujukan untuk anak-
anak usia sekolah atau remaja. Mereka sangat familiar
dengan teknologi ini sekarang. Memang berbagai
kemudahan dan kerumitan dapat dengan mudah
diberikan melalui perangkat elektronik tersebut, yang
seolah tak pelak membuat orang ketagihan dengan
perangkat elektronik tersebut. Pada awalnya gadget
lebih menitikberatkan pada sarana komunikasi, namun
seiring dengan perkembangan zaman, alat ini telah
disempurnakan dengan berbagai fungsinya, sehingga
memudahkan pengguna dalam menggunakan gadget
untuk berbagai aktivitas, seperti mengirim pesan dari
ponsel, Kirim email, kirim foto. Selfie atau memotret
objek, jam, dan lain sebagainya. Terlepas dari itu
semua, gadget juga memiliki dampak positif dan
negatif bagi siapa saja penikmatnya. Terlebih lagi bagi
anak-anak yang sudah mulai menggunakan gadget
dalam setiap aktifitasnya, dampak negatif dan positif
juga pasti akan terjadi. Orang tua harusnya mampu
memantau anak-anak dalam menggunakan gadget
dengan baik agar tidak menimbulkan dampak negatif.
(Hafiz Al-Ayouby, 2017:65)

Pemakaian gadget pada anak-anak akan memiliki
pengaruh yang kuat, pengaruhnya akan nyata jika anak

| 86

mengalami tanda-tanda kecanduan. Pengasuhan yang
terdapat membuat seseorang anak bisa membedakan
mana yang baik dan yang tidak, sehingga pengaruh
gadget bagi komunitas lain berpengaruh sedangkan
bahkan kuat, dalam penelitian ini memiliki pengaruh
rendah. Gadget memang berpengaruhi perilaku
dengan kuat, bahkan dengan ciri-ciri yang sama
dengan orang kecanduan. Namun dalam seorang
pribadi yang memiliki gambar diri yang baik, akan
memiliki perilaku yang baik. apalagi jika orang tuanya
mendidik dengan benar. (Jarot Wijanarko dan Ester
Setiawati 2016:9-10)

Pendapat yang lain Iswidharmanjaya (2016)
menjelaskan banyaknya anak yang sudah
menggunakan internet melalui gadgetmereka masing-
masing tentu dapat memberikan hal yang positif
ataupun negatif. Hal positif ini bias dirasakan oleh anak
ketika anak menggunakan gadget untuk bermain atau
menonton film yang edukatif dan tak luput dari
pengawasan dari orang tua. Ketika anak tidak diawasi
oleh orangtua yang ditakutkan ialah ketika anak tak
sengaja melihat konten negatif. Seorang anak akan
mengakses gambar-gambar tersebut, apalagi di dorong
dengan sifat anak yang memiliki rasa ingin tahu yang

| 87

tinggi dikhawatirkan akan membuat anak melakukan
ataupun mencari tahu lebih lanjut konten negatif atau
kekerasan tersebut.

Gadget juga dapat memengaruhi perilaku sosial
seseorang, bergantung pada cara orang tersebut
menggunakan gadget tersebut. Jika orang ini dapat
memanfaatkannya dengan baik, gadget mungkin
sangat membantu permudah semuanya, tapi kalau
menyalahgunakan tujuannya, fungsi gadget
seharusnya mempromosikan hubungan sosial
seseorang dan bahkan komunikasi hanya karena
mereka tidak memperburuk hubungan sosial ini.
Pengasuhan orang tua yang tepat, menurut Yee-Jin
Shin (2014:153-175) menumbuhkan karakter dan
perilaku yang baik, sehinga anak bisa memilih mana
yang baik dan tidak, sekalipun di usia anak-anak.
Karena itu sebenarnya orang tua tidak perlu ekstrim
atau radikal anaknya melarang menggunakan gadget,
tetapi harus diimbangi dengan interaksi yang baik
dengan anak-anak, memberikan teladan dan mendidik
dengan benar dan bijak. Membentuk prilaku anak
dalam usia anak dini, yang terpenting adalah
mengenalkan kepada Tuhan, apalagi dalam mendidik

| 88

anak usia dini, dimana hal ini memang merukan hal
terpenting.

B. Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Gadget
Pada Anak Usia Dini

1. Dampak Positif Penggunaan Gadget Pada Anak
Usia Dini
Dalam penggunaan gadget terdapat dampak

positif jika digunakan dengan baik. Menurut Indiana
Sunita, dkk (2017: 66), Berikut ini beberapa dampak
postif dari pengunaan gadget bagi anak:
a. Menambah Pengetahuan

Anak-anak dapat memperoleh informasi
dengan mudah dan cepat. Misalnya ingin
browsing internet kapanpun dan dimanapun,
karena melalui internet bias menambah ilmu
pengetahuan dari berbagai sumber.
b. Memperluas Jaringan Persahabatan

Salah satu dampak positif gadget adalah
dapat memperluas jaringan persahabatan atau
pertemanan karena dapat bergabung di media
social dengan mudah dan cepat, karena itu, dapat
berbagi dengan mudah bersama keluarga, dan
teman-teman dimanapun dan kapanpun.

| 89

c. Mempermudah Komunikasi
Gadget merupakan salah satu alat yang

memiliki teknologi yang canggih. Jadi, semua
orang dapat dengan mudah berkomunikasi
dengan orang lain dari seluruh penjuru dunia.
d. Melatih Kreativitas Anak

Kemajuan teknologi telah menciptakan
beragam permainan yang kreatif dan menantang.
Banyak anak yang termasuk kategori ADHD
diuntungkan oleh permainan ini oleh karena
tingkat kreativitas dan tantangan yang tinggi.
ADHD adalah Attention Deficit Hyperactivity
Disorder yang merupakan gangguan
perkembangan dalam peningkatan aktivitas
motorik anak-anak hingga menyebabkan
aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan
cenderung berlebihan (Nanang Sahriana, 2001).
e. Beradaptasi dengan zaman

Dampak postif gadgetakan membantu
perkembangan anakagar bisa menyesuaikan diri
dengan keadaan lingkungan sekitar dan
perkembangan zaman, karena perkembangan
zaman sekarang muncul gadget, maka anak pun

| 90

harus tahu cara menggunakannya diiringi dengan
pengawasan yang dilakukan oleh orang tua.
f. Berkembangnya imajinasi

Berkembangnya imajinasi anak dengan
melihat berbagai jenis gambar kemudian
menggambarnya sesuai imajinasinya yang
bertujuan untuk melatih daya anak sesuai dengan
perkembangannya.

2. Dampak Negatif Penggunaan Gadget
Selain membawa dampak positif, tentu

penggunaan gadget pada anak usia dini juga
berdampak negatif. Berikut ini beberapa dampak
negatif dari pengunaan gadget bagi anak:
a. Mengganggu perkembangan anak

Gadget memiliki fitur canggih, misalnya
kamera, permainan, video dan lainnya. Fitur
tersebut akan mengganggu proses pembelajaran
sekolah, karena siswa dapat menggunakan gadget
tidak semestinya dan akan berdampak pada
perkembangannya
b. Menggangu kesehatan

Gangguan kesehatan yang dapat
ditimbulkan dari memainkan gadget, seperti pada

| 91

mata saat menggunakannya yang dapat
menimbulkan efek radiasi yang diakibatkan
pencahayaan yang berlebihan saat anak
memainkannya. Oleh karena itu penggunakan
gatget khususnya anak usia dini harus dibatasi
sesuai dengan kebutuhannya saja, untuk
mengantisifasi hal-hal yang akan merugkan
kesehatannya.
c. Ketergantungan

Secara tidak sadar, saat ini anak-anak sudah
mengalami ketergantungan menggunakan
gadget. Ketergantungan inilah yang sangat
berpengaruh pada prilaku anak bahkan
perkembangan yang laiinya. (Eko prasetyo, 2013).
d. Anak kurang bersosialisasi

Sebagaimana menurut Ebi (2017) anak-anak
dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk
bermain gadget sehingga mereka kurang
bersosialisasi dengan lingkungan yang ada
disekitarnya. Memainkan gadget yang berlebihan
membuat anak menjadi malas melakukan
aktivitas dan kurang tidak peduli dengan
lingkungan sosialnya.

| 92

e. Mengganggu waktu istirahat
Berbagai fitur yang ada seperti game, video

dan lainnya membuat anak-anak hanya memiliki
sedikit waktu untuk memperhatikan dirinya
sendiri, karna disuguhi dengan berbagai fitur-
fitur yang mengasyikan, apalagi tidak ada batasan
dan bahkan kurangnya perhatian yang diberikan
orang tua dan lingkungan sekitar terhadap
penggunaan gadget. (Kusuma, Yuliandi dan D.
Ardhy Artanto, 2011: 71)

Beberapa penjelasan diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa gadget memiliki berbagai bentuk
dampak postif bahkan negatif yang sangat
berpengaruh pada perkembangan anak. Akan tetapi,
gadget sangat mempengaruhi kehidupan manusia baik
orang dewasa maupun anak-anak. Oleh karena itu
diperlukan pengawasan orang tua terhadap
penggunaan gadget dengan berbagai fitur-fitur
yangada didalamnya.


Click to View FlipBook Version