The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PENDIDIKAN ISLAM; Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by g-p19193258, 2023-06-24 07:25:52

PENDIDIKAN ISLAM; Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional

PENDIDIKAN ISLAM; Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional

PENDIDIKAN ISLAM Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Dr. H. A. Rahmat Rosyadi, S.H., M.H. Penerbit UIKA Press Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas ibn Khaldun Bogor Bogor, 1439 H/2017 M


ii PENDIDIKAN ISLAM Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Copyright 2017: Dr. H. A. Rahmat Rosyadi, S.H., M.H. Desain Sampul & Tata Letak : Raziv Akbar, ST. Cetakan Ke-1 November 2017 Diterbitkan Oleh: UIKA PRESS Universitas Ibn Khaldun Bogor Jalan KH. Sholeh Iskandar Km. 2 Kota Bogor 16162 Bogor-Jawa Barat-Indonesia Tlp./Faks. +62 251 8356884 Email: [email protected] Website: www.uikapress.uika-bogor.ac.id ISBN: 978-602-9908-81-1 Anggota IKAPI No.: 295/JB/2016 Anggota APPTI No.: 001.023.1.10.2017 Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang, Dilarang memperbanyak buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit


iii KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita sekalian. Shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, kepada Keluarganya, Sahabatnya dan kepada umat Islam sampai akhir zaman. Berkat izin-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan buku dengan judul: PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN PENDIDIKAN NASIONAL. Buku ini merupakan salah satu Mata Kuliah di Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Program Studi Pendidikan Islam (Kode Mata Kuliah MPI640). Topik buku ini mempunyai nilai strategis dalam upaya peningkatan dan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Pada masa otonomi daerah, pemerintah memberikan kewenangan pada pemerintah daerah untuk membentuk peraturan perundang-undangan sebagai regulasi dalam menentukan kebijakan pembangunan di daerahnya. Salah satu sektor pembangunan yang dianggap penting adalah sektor pendidikan/pendidikan Islam, karena pendidikan berkaitan dengan kebutuhan hak dasar manusia untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhak mulia serta kecerdasan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah di bidang pendidikan Islam perlu mendapat apresiasi dari berbagai pihak yang mempunyai komitmen dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tidak dapat dilaksanakan seadanya tanpa sentuhan pihak pemerintah


iv dan pemerintah daerah yang mempunyai otoritas dibidang pendidikan. Apalagi pendidikan madrasah diniyah yang bersifat nonformal tidak pernah mendapatkan perhatian sebelumnya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, sehingga tidak dapat diharapkan akan mampu mendidik anak-anak Indonesia ke arah yang lebih baik. Harapan penulis sangat besar, bahwa buku ini dapat memperkaya khaszanah ilmu dan pengetahuan dalam pendidikan Islam di Indonesia. Selain itu pula buku ini dapat menjadi model pengembangan pendidikan Islam di daerah lain di Indonesia yang pemerintah daerah dan masyarakatnya kurang peduli terhadap pendidikan Islam. Misalnya dalam program Wajib Belajar Madrasah Diniyah semestinya menjadi bagian program bagi kepala daerah sebagai upaya kepedulian terhadap pendidikan Islam. Dengan terbitnya buku ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu secara langsung maupun tidak langsung yaitu: 1. Dr. H. Ending Bahruddin, M.Pd, selaku Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor; 2. Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS, selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Ibn Khldun Bogor; 3. Dr. H. Affandi Muchtar, MA, dari Kementerian Agama RI; 4. Dr. Endin Mujahidin, M.Si, Dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor selaku; 5. Dr. H. Adian Husaini, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor; 6. Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati Bandung; 7. Prof. Dr. H. Nanang Fattah, M.Pd., Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung;


v 8. Isteriku tercinta Hj. Susilowati, S.IP, dan anak-anakku tersayang Aditya Rahmadhony, A.Md,. SH,. MH., dan Resty Rahmawaty, S.Pd., M. Pd., 9. H. Otong Rosyadi dan Hj. Maskah (Allahuyarhamha), selaku orangtua penulis yang telah mendidik keagamaan. Kepada semua pihak yang telah memberi bantuan da sumbangan pemikiran dalam penyelesaian buku ini. Demikian ucapan terima kasih ini penulis sampaikan, semoga Allah SWT mencatatnya sebagai amal kebaikan dan membalasnya atas segala kebaikannya di dunia hingga ke akhirat. Amin…tahiyyatuhum fi ha salam waaikhiru da’wahum walhamdulillahi rabbil’alamin. Bogor, 20 September 2016 Penulis,


vi PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – INDONESIA 1. Konsonan bersyaddah ditulis rangkap, seperti kata: “ اَنَّرب ,” َ ditulis = Rabbanâ. 2. Vokal panjang (madd) fathah (baris di atas), kasrah (baris di bawah) dan dhammah (baris di depan), ditulis a, i, u, misalnya kata: َم َسا ِكْي ُن ْ لَا ditulis : al-masâkîn ِل ُحْو َن ُمفْ ْ لَا ditulis : al-muflihûn. Arab Latin Arab Latin Arab Latin L ل S س A ا M م Sy ش B ب N ن Sh ص T ت W و D ض TS ث H ه Th ط J ج ` ء Zh ظ H ح Y ي ’ ع Kh خ Gh غ D د F ف Dz ذ Q ق R ر K ك Z ز


vii 3. Diftong ditulis : وْ َ ْو ,aw = أ ُ ْي ,u = أ َ ِ ْي , ay = أ i = إ 4. Kata sandang alif dan lam ( ال ,( baik diikuti oleh huruf Qamariyah maupun huruf Syamsiyah, ditulis “al” di awalnya, misal: ُء نِ َسا ْ لَا ditulis : al-Nisâ’. ُمْؤ ِم ُن ْ لَا ditulis : al-mu’minu. 5. Ta’ al-marbuthah (ة (bila terletak di akhir kalimat ditulis: h, seperti البقرة ditulis: al-Baqarah. Bila terletak di tengah kalimat, ditulis “ t “, misalnya: ُكاة َز َلِ َما ل ْ ا ditulis: zakât al-mâl. 6. Penulisan kalimat Arab di dalam kalimat Indonesia ditulis menurut tulisannya, misal: وَ َخْي ُر َوهُ ِز ال قِ ْي َن ْ را َditulis: wa huwa khair al-râziqîn.


viii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................ iii PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB - INDONESIA..... vi DAFTAR ISI........................................................................... viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................... 1 B. Hubungan Kebijakan Publik dengan Pendidikan Islam...... 11 C. Studi Kebijakan Tentang Pendidikan Islam........................ 16 D. Kerangka Berfikir ............................................................... 23 BAB II KONSEP DAN TEORI PENDIDIKAN ISLAM A. Pengertian Pendidikan Islam............................................... 27 B. Tujuan Pendidikan Islam ................................................... 32 C. Kewajiban Mendidik........................................................... 43 D. Kewajiban Belajar............................................................... 68 E. Kurikulum Pendidikan Islam .............................................. 75 F. Metode dan Media Pendidikan Islam.................................. 97 G. Proses Pembelajaran ........................................................... 103 H. Lembaga Pendidikan Islam................................................. 106 I. Pembiayaan Pendidikan Islam ............................................ 116 J. Pengelolaan Pendidikan Islam ............................................ 121 K. Evaluasi Pendidikan Islam.................................................. 128 BAB III TEOARI KEBIJAKAN PUBLIK DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN A. Pengertian Kebijakan dan Publik....................................... 135 B. Peraturan Kebijakan........................................................... 138 C. Kebijakan Publik dan Partisipasi Masyarakat.................... 145 D. Tipologi Kebijakan Publik................................................. 150 E. Strata Kebijakan................................................................. 153 F. Implementasi Kebijakan .................................................... 156


ix G. Faktor Penentu Dilaksanakan atau Tidaknya Kebijakan Publik ................................................................................ 176 BAB IV KEBIJAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM A. Kebijakan Belanda dan Jepang Terhadap Pendidikan Agama di Indonesia ........................................................... 180 B. Kebijakan Pemerintah tentang Pendidikan Agama........... 183 BAB V IMPLEMENTASI KBIJAKAN PENDIDIKAN AGAMA DAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN A. Pendidikan Agama ............................................................. 225 1. Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama ...... 225 2. Penyelenggaraan Pendidikan Agama ............................ 226 3. Pelaksanaan Pendidikan Agama.................................... 229 4. Peserta Didik Pendidikan Agama .................................. 234 5. Kurikulum Pendidikan Agama ...................................... 238 B. Pendidikan Keagamaan...................................................... 302 1. Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Keagamaan .................................................................... 302 2. Penyelenggaraan Pendidikan Keagamaan..................... 305 3. Pelaksanaan Pendidikan Keagamaan Islam................... 308 DAFTAR PUSTAKA............................................................. 322 RIWAYAT HIDUP


x TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) DAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) MATA KULIAH KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DESKRIPSI Mata Ajar/ Kuliah ini dibagi ke dalam lima Bab yaitu: Bab I. Pendahuluan, Bab II. Konsep dan Teori Pendidikan Islam, Bab III. Studi Kebijakan Publik dan Implementasi Kebijakan, Bab IV. Konsep Dan Teori Pendidikan Islam, Bab V. Kebijakan Pemerintah Pendidikan Agama Islam. TIU Mata Ajar/Kuliah Kebijakan Pendidikan nasional di Indonesia bertujuan untuk memahami, menganalisis, dan mengimplementasikan kebijakan pendidikan nasional dengan salah satunya yang disebut subsistem pendidikan Islam. TIK Bab I. Pendahuluan, Latar Belakang, Hubungan Kebijakan Publik dengan Pendidikan Islam, Studi Kebijakan Tentang Pendidikan Islam, Kerangka Berfikir. Bab II. Konsep dan Teori Pendidikan Islam, Pengertian Pendidikan Islam, Tujuan Pendidikan Islam, Kewajiban Mendidik, Kewajiban Belajar, Kurikulum Pendidikan Islam, Metode dan Media Pendidikan Islam, Proses Pembelajaran Pendidikan Islam, Lembaga Pendidikan Islam, Pembiayaan Pendidikan Islam, Pengelolaan Pendidikan Islam, Evaluasi Pendidikan Islam.


xi Bab III. Studi Kebijakan Publik dan Implementasi Kebijakan, Pengertian Kebijakan dan Publik, Peraturan Kebijakan, Kebijakan Publik dan Partisipasi Masyarakan, Tipologi Kebijakan Publik, Strata Kebijakan, Implementasi Kebijakan, Faktor Penentu Dilaksanakan atau Tidaknya Kebijakan Publik Publik. Bab IV. Konsep Dan Teori Pendidikan Islam, Kebijakan Belanda dan Jepang Terhadap Pendidikan Agama di Indonesia, Kebijakan Pemerintah tentang Pendidikan Agama berdasarkan: Dalam Undang-Undang Nomor 4Tahun 1950 tentang Dasar-DasarPendidikan dan Pengajaran di Sekolah, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab V. Kebijakan Pemerintah Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Agama: Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama, Penyelenggaraan Pendidikan Agama, Pelaksanaan Pendidikan Agama, Peserta Didik Pendidikan Agama, Kurikulum Pendidikan Agama. Pendidikan Keagamaan: Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Keagamaan, Penyelenggaraan Pendidikan Keagamaan, Pelaksanaan Pendidikan Keagamaan Islam (Pendidikan Diniyah Formal, Pendidikan Diniyah Nonformal, dan Pendidikan Pondok Pesantren.


xii


Pendahuluan 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konsep1 pendidikan Islam yang bersumber dari alQur’an dan al-Sunnah melahirkan berbagai teori dan sistem pendidikan yang bersifat komprehensif, integralistik dan holistik. Pendidikan Islam bersifat komprehensif diartikan melingkupi seluruh ranah pendidikan. Pendidikan Islam bersifat integralistik diartikan tidak mengenal dikhotomi antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Pendidikan Islam bersifat holistik dalam pengertian meliputi seluruh aspek kehidupan dengan prinsip pendidikan seumur hidup (life long education) yang dimulai sejak hidup dalam kandungan hingga berakhirnya kehidupan; min al- mahdi ila al-lahdi. Dimensi pendidikan Islam meliputi pendidikan untuk kebahagiaan hidup di dunia sampai keselamatan hidup di akhirat. Berdasarkan konsep itu pendidikan Islam sebagai teori untuk menjadi reference sistem pendidikan lainnya. Pendidikan Islam wajib diselenggarakan dan wajib diikuti secara individual maupun secara kolektif dengan tujuan untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah 1 Menurut Harsya W. Bachtiar, seperti dikutif oleh Abuddin Nata, Konsep Pendidikan Ibn Sina, Jakarta, UIN Pres, 2006, hlm. 14, bahwa antara istilah konsep dan konsepsi terdapat perbedaan dari segi ruang lingkup penggunaannya. Konsep mengacu kepada pengertian tentang sesuatu yang terkait dengan obyek tertentu, sedangkan konsepsi mengacu pada pengertian abstrak yang didasarkan atas seperangkat konsep. Jika pendapat tersebut dikembangkan, maka secara rinci dapat dinyatakan bahwa konsep meliputi hal-hal yang bersifat universal, mendasar, filosofis dan teoritis.


2 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Subhanahuwata’ala serta membentuk akhlak al-karimah agar manusia sebagai khalifah tetap dalam fithrahnya. Penyelenggaraan pendidikan Islam secara makro dalam lingkup negara menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah wajib membuat kebijakan salah satunya dalam bentuk regulsi dan implementasikannya. Pendidikan Islam selain menjadi tanggung jawab pemerintah juga menjadi tanggung jawab masyarakat sebagai bagian dari negara. Pelaksanaan pendidikan Islam secara mikro sesungguhnya menjadi tanggung jawab utama dan pertama dalam lingkup keluarga adalah orangtua. Siapa dan pihak mana pun yang melaksanakan pendidikan Islam dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana diamanahkan oleh Allah SWT yaitu untuk mempertahankan dan meningkatkan fitrah keimanan yang telah dianugerahkan kepada manusia sejak dalam kandungan. 2 Pendidikan Islam di Indonesia pada tataran praktis telah mengalami perubahan yang sangat mendasar. Perubahan berkaitan dengan kelembagaan pendidikan yang diselenggarakan melalui pendidikan umum dan pendidikan agama. Hal ini dapat mempengaruhi terhadap orientasi dan aspek pendidikan secara keseluruhan terutama dalam menetapkan tujuan dan mendisain kurikulum pendidikan. Pendidikan Islam sebagai sistem3 mempunyai subsistemnya 2 Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. 3 Omar Hamalik. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2002, Cet. I, hlm. 1, sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.


Pendahuluan 3 sendiri dalam bentuk pendidikan agama Islam dan pendidikan keagamaan Islam. Posisi pendidikan Islam dalam perspektif pendidikan nasional merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional untuk mendukung tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia peserta didik, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar 1945, bahwa: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. (Pasal 31 ayat (3) Keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam undang-undang dasar tersebut menjadi inti dari tujuan pendidikan nasional. Untuk melaksanakan amanat itu, pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan nasional bidang pendidikan dengan memberlakukan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,


4 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Pasal 3) Fungsi dan tujuan pendidikan nasional seperti dinyatakan dalam peraturan perudang-undangan itu sangat relevan dengan fungsi dan tujuan pendidikan Islam sebagai upaya sadar yang dilakukan secara sistematis untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan ketaqwaan serta memiliki akhlak mulia supaya manusia dapat melaksanakan ajaran agamanya secara kaffah dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu cara untuk mencapai tujuan pendidikan itu dilaksanakan melalui pendidikan Islam. Kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan Islam secara legalitas-normatif diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Peraturan Pemerintah ini sebagai pelaksanaan dari Pasal 12 ayat (4), Pasal 30 ayat (5), dan Pasal 37 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dalam Peraturan Pemerintah tersebut dinyatakan, bahwa: Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. (Pasal 1 angka 1) Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. (Pasal 1 angka 2)


Pendahuluan 5 Fungsi dan tujuan pendidikan agama dinyatakan dalam peraturan pemerintah, yaitu: Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. (Pasal 2 ayat 1) Pendidikan agama tujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. (Pasal 2 ayat 2) Fungsi dan tujuan pendidikan keagamaan dinyatakan dalam peraturan pemerintah, yaitu: Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. (Pasal 8 ayat 1) Pendidikan keagamaan bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilainilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. (Pasal 8 ayat 1) Pendidikan Islam di jalur, jenjang dan jenis pendidikan umum diselenggakan dalam bentuk mata pelajaran agama Islam/mata kuliah agama Islam sebagai bagian inti kurikulum pendidikan nasional dari jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan agama


6 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional dan pendidikan keagamaan yang dimaksud dalam peraturan pemerintah meliputi pendidikan agama Islam dan pendidikan keagamaan Islam. Pendidikan keagamaan Islam berbentuk pendidikan diniyah dan pesantren. Dalam peraturan pemerintah tersebut dinyatakan bahwa pendidikan diniyah dapat dikategorikan kedalam pendidikan diniyah formal dan pendidikan diniyah nonformal. Pendidikan diniyah formal menyelenggarakan pendidikan ilmu-ilmu yang bersumber dari ajaran agama Islam pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan diniyah nonformal diselenggarakan dalam bentuk Pengajian Kitab, Majelis Taklim, Pendidikan Al Qur’an, Diniyah Takmiliyah, atau bentuk lain yang sejenis. Pesantren menyelenggarakan pendidikan dengan tujuan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta tradisi pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin) dan/atau menjadi muslim yang memiliki keterampilan/keahlian untuk membangun kehidupan yang Islami di masyarakat. Pesantren menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah, dan/atau pendidikan tinggi. Peserta didik dan/atau pendidik di pesantren yang diakui keahliannya di bidang ilmu agama tetapi tidak memiliki ijazah pendidikan formal dapat menjadi pendidik mata pelajaran/kuliah pendidikan agama di semua jalur, jenjang, dan jenis


Pendahuluan 7 pendidikan yang memerlukan, setelah menempuh uji kompetensi. Penyelenggaraan pendidikan Islam secara fungsional tetap menjadi tugas Kementerian Agama. Kementerian Agama sebagai instansi vertikal bertanggung jawab dalam pembinaan, pengembangan, pemberian bantuan dan pengawasan terhadap pendidikan Islam dari pusat hingga di daerah. Pada masa otonomi daerah, tanggung jawab Kementerian Agama mengalami hambatan dan keterbatasan dalam melaksanakan pendidikan Islam. Penyelenggaraan pendidikan Islam mengalami kendala dan kekurangan dana, sarana dan manajemen pendidikan. Kondisi ini berlangsung sejak lama yang mengakibatkan keberadaan pendidikan Islam di Indonesia kurang kondusif sebagai lembaga pendidikan. Pemerintah daerah di masa otonomi daerah ini menunjukan kurang perhatian terhadap pendidikan Islam, karena dianggap masih menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Agama. Berdasarkan situasi dan kondisi tersebut, di beberapa daerah di Indonesia muncul gerakan ”Wajib Belajar Madrasah Diniyah”. Gerakan tersebut sebagai terobosan kebijakan pendidikan di daerah yang melibatkan banyak elemen dan tokoh masyarakat yang peduli terhadap pendidikan Islam. Studi kebijakan dan implemtasi tentang pendidikan Islam berkaitan dengan fenomena terbitnya Peraturan Daerah di berbagai daerah di Indonesia yang perlu dilakukan kajian secara intensif. Kebijakan wajib belajar madrasah dalam bentuk peraturan daerah itu, secara legalformal mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi semua elemen masyarakat. Pemerintah Daerah dapat memberikan


8 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional perhatian sepenuhnya dalam menyelenggarakan dan melaksanakan pendidikan Islam. Kebijakan wajib belajar madrasah diniyah tersebut juga menjadi motivasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pendidikan Islam di lingkungannya. Demikian juga orangtua harus memberikan kesempatan kepada anak-anak usia belajar agar mengikutsertakan dalam pendidikan agama. Munculnya gerakan wajib belajar madrasah di beberapa daerah di Indonesia ini sangat ironis bagi masyarakat mayoritas beragama Islam. Orangtua/siswa sekolah dasar ditengah kehidupan modern dengan segala tantangan budaya yang bersifat global ini justeru adanya kecenderungan meninggalkan pendidikan agama di madrasah yang sudah menjadi tradisi sejak berabad-abad sebelumnya. Kondisi dan situasi inilah yang melatarbelakangi adanya gagasan dan gerakan masyarakat untuk melakukan tekanan bahkan demonstrasi terhadap Pemerintah Daerah untuk mengeluarkan kebijakan wajib belajar diniyah. 4 Pada masa pemerintahan yang bersifat desentralisasi ini pemerintah daerah mempunyai kebebasan (freies ermessen) 5 untuk 4 Daerah Kabupaten/Kota yang telah menerbitkan Perda Wajib Belajar MDA, yaitu: Kabupaten Lebak Perda No. 1 Tahun 2005, Serang, Perda No. 1 Tahun 2006, Pandeglang, Perda No. 27 Tahun 2007, Cilegon, Perda No. 1 tahun 2008, Indramayu Perda No. 2 tahun 2005, Ciamis Perda No. 1 tahun 2008, Lampung Perda No. 03 Tahun 2008, Cianjur Perbup No. 12 Tahun 2006, Kuningan Perda No. 2 Tahun 2008. 5 Ridwan HR. Hukum Administrasi Negara, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2006, hlm.17, menyatakan, bahwa pemberian freies ermessen kepada pemerintah atau administrasi negara mempunyai konsekuensi terntentu dibidang legislasi. Dengan bersandar pada freies ermessen, administrasi negara mempunyai kewenangan yang luas untuk melakukan berbagai tindakan hukum dalam rangka melayani kepentingan masyarakat atau mewujudkan kesejahteraan umum, dan untuk melakukan tindakan itu diperlukan instrumen hukum, artinya bersamaan dengan kewenangan yang


Pendahuluan 9 bertindak dalam melakukan pengaturan bagi kepentingan publik. Studi kebijakan tentang wajib belajar diniyah di kabupaten Pandeglang merupakan salah satu contoh menarik untuk diteliti lebih lanjut. Penyelenggaraan wajib belajar madrasah diniyah bagi setiap warga negara untuk menempuh jenjang pendidikan minimal atas tanggungjawab Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat. Pelaksanaannya melalui madrasah diniyah takmiliyah/awaliyah sebagai satuan pendidikan keagamaan pada jalur pendidikan nonformal setingkat pendidikan dasar. Wajib belajar madrasah diniyah berfungsi untuk memenuhi masyarakat terhadap pendidikan Agama Islam bagi peserta didik yang beragama Islam di Sekolah Umum. Selain itu juga kebijakan wajib belajar madrasah diniyah untuk memberikan bekal kemampuan Agama Islam kepada warga belajar dalam mengembangkan kehidupannya sebagai warga muslim yang beriman, bertaqwa dan beramal soleh serta berakhlak mulia. Untuk mengembangkan pendidikan Islam dapat menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan yang dilakukan oleh para pemegang otoritas. Aplikasi pendidikan Islam yang bersifat normatif tersebut perlu diberi legitimasinya dalam bentuk peraturan perundangundangan sebagai pendekatan Ilmu Hukum. Dalam kaitan ini Abuddin Nata, mengemukakan bahwa: “Ilmu pendidikan dengan pendekatan ilmu hukum dapat diartikan sebagai sebuah konsep pendidikan dengan menggunakan fiqih sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan berbagai aspek dan komponennya. Visi, misi, tujuan, proses belajar luas untukbertindak diberikan pula kewenangan membuat instrumen hukumnya.


10 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional mengajar, pendidik, peserta didik, hubungan pendidik dan peserta didik, pengelolaan, sarana prasarana, pembiayaan, lingkungan, dan evaluasi pendidikan dirancang dengan mempertimbangkan hukum”.6 Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat dua jenis peraturan yang dapat berlaku secara berdampingan, yaitu peraturan perundang-undangan dan peraturan kebijakan. Mengenai peraturan perundangundangan yang menjadi sumber kewenangan pembentukannya, jenisnya, fungsinya dan materi muatannya adalah kekuasaan pemerintahan. Peraturan kebijakan dapat berasal dari kebebasan bertindak pemerintah/pemerintah daerah untuk menerobos kebekuan atau menghadapi kendala dalam menjalankan fungsi pemerintahan oleh pemeintah maupun pemerintah daerah. Dilihat dari kajian kebijakan publik, maka wajib belajar diniyah merupakan kebijakan pemerintah daerah dalam upaya mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional. Studi pendidikan Islam dari segi kebijakan, teknis dan empiris belum banyak dilakukan baik dalam bentuk litelatur maupun penelitian lapangan. Kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah dalam bidang pendidikan Islam ini dianggap progresif sebagai terobosan perlu mendapatkan apresiasi. 7 Studi ini mempunyai nilai researchable dan 6 Abuddin Nata. Ilmu Pendidikan Islam Dengan pendekatan Multidisipliner, Normatif Perenealis, Sejarah, Filsafat, Psikologi, Sosiologi, Manajemen, Teknologi, Informasi, Kebudayaan, Politik, Hukum, Jakarta, Rajawali Press, 2009, hlm. 328. 7 H. Mahmud Yunus. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Mutiara, 1979, hlm. 223, seperti dikutif oleh Zuhairini, dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, disebutkan bahwa untuk memajukan pendidikan Islam di wilayah Kerajaan Mataram, pada zaman Sultan Agung Mataram itu memerlukan campurtangan pemerintah walaupun tanpa adanya peraturan perundang undangan wajib belajar.


Pendahuluan 11 berdampak positif terhadap pengembangan pendidikan Islam di era otonomi daerah yang berkaitan dengan komponen inti pendidikan Islam. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang sangat luas untuk mengelola berbagai aspek pembangunan termasuk pembangunan di bidang pendidikan Islam. B. Hubungan Kebijakan Publik dengan Pendidikan Islam Hubungan kebijakan publik dan pendidikan Islam dapat menjelaskan; bagaimana sebuah konsep dirumuskan menjadi kebijakan dan bagaimana implementasinya? Perumusan berkaitan dengan pengertian operasional, tujuan, sumberdaya, kinerja dan dampaknya. Demikian juga dalam implementasinya; apakah kebijakan tersebut dapat dilaksanakan atau tidak oleh para pelaksana yang diberikan kewenangan untuk mencapai tujuan dan dampak yang diinginkannya. Konsep pendidikan Islam yang bersifat idealistik itu tidak ada artinya jika tidak diselenggarakan oleh pemegang otoritas kekuasaan. Ia hanya akan menjadi konsep, teori dan cita-cita yang tidak bermakna apabila tidak dilaksanakan oleh orang yang kompeten di bidang pendidikan. Dalam tataran praktis upaya penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan Islam itu perlu dikaji dari segi kebijakan publik dan implementasi kebijakannya. Kebijakan publik memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) kebijakan publik adalah kebijakan yang ditetapkan oleh Negara dalam hal ini dilakukan oleh lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, (2) kebijakan publik adalah kebijakan yang mengatur kehidupan bersama atau kehidupan publik, (3) kebijakan publik mengatur pada wilayah publik dan


12 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional lembaga publik, (4) kebijakan publik mengatur masalah bersama atau mengatur masalah pribadi atau golongan yang menjadi masalah publik, dan (5) kebijakan publik memiliki tingkat eksternalitas yang tinggi yang berarti pemanfaat tidak hanya pengguna langsung melainkan juga pengguna tidak langsung.8 Berdasarkan kajian tersebut maka hubungan kebijakan publik dengan kebijakan pendidikan Islam dapat dilihat dari segi konsep dan tujuannya. Konsep kebijakan publik mengagendakan terlaksananya kepentingan penyelenggaraan publik (Negara) dan terpenuhinya kepentingan publik (masyarakat) dalam kehidupan bersama. Dalam kehidupan bersama ini diperlukan regulasi yang berlaku untuk semua yang disebut “kebijakan publik”. Dengan memahami fakta ini, maka dapat dikatakan bahwa kebijakan publik menentukan keberhasilan dan/atau kegagalan pembangunan setiap Negara, karena kebijakan publik berada pada sisi hulu dari kehidupan bersama tersebut. 9 Dalam kebijakan publik adanya tujuan yang akan dicapai untuk kepentingan Negara dan juga pemenuhan kebutuhan masyarakat. “Sebagai sebuah keputusan Negara, maka tujuan dari kebijakan publik adalah membangun tertib kehidupan publik. 10 Mengikuti istilah Samuel Hatington, 8 Rian Nugroho. Kebijakan Pendidikan yang Unggul, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008, hlm. 32. 9 Ibid. 10 Pemikiran ini dikembangkan dari konsep “otoritas legal formal” dari Max Weber dalam bukunya: Authority and Legitimacy, dikutif oleh Rian Nugroho, ibid., hlm. 34. Menurut Weber Negara mempunyai kekuasaan paksa yang bersifat legal untuk mengatur kehidupan bersama”.


Pendahuluan 13 kebijakan publik bertujuan untuk mengembangkan “tertib politik”. 11 Pemikiran ini dikembangkan dari pandangan Negara dari sisi hukum, di mana Negara bekerja untuk menegakkan hukum dan keadilan untuk publik. Kebijakan publik yang berkembang di Negara-negara berkembang mempunyai dimensi yang khas, lebih luas dari pemahaman hukum tersebut, yaitu untuk melakukan pembangunan sebagai upaya ketertinggalannya”.12 Kebijakan publik merupakan keputusan yang dibuat oleh institusi penyelenggara Negara dalam upaya pemenuhan kepentingan pemerintah dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Keputusan yang lakukan oleh pihak eksekutif dengan/maupun legislatif yang berkiatan dengan kepentingan publik sifatnya dapat berupa regulatif maupun normatif. Seperti halnya kebijakan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan merupakan kebijakan publik dibidang pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah sifatnya dapat regulatif dan/atau normatif. Bersifat regulatif dalam arti mengatur tentang penyelenggaraan pendidikan sesuai ketentuan, sedangkan bersifat normatif dalam arti menentukan nilai-nilai moral apa yang diinginkan sebagai hasil pendidikan. Dalam Ensiklopedia Wikipedia yang dikutip oleh Diant Nugroho menyebutkan bahwa kebijakan pendidikan berkenaan dengan kumpulan hukum atau aturan yang mengatur pelaksanaan sistem pendidikan yang memuat di dalamnya tujuan pendidikan dan bagaimana mencapai 11 Samuel Hatington. Tertib Politik di Tengah Pergeseran Kepentingan Masa, Jakarta, Rajawali, 1986, dikutif oleh Rian Nugroho, ibid. 12 Angke Hoogvelt. Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, Jakarta, Rajawali, 1986, dikutif oleh Rian Nugroho, ibid.


14 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional tujuan tersebut. Selengkapnya dikemukakan di bawah ini, bahwa: “Education policy refers to the collection of laws and rules that govern operation of education system. It sek to answer question about the purpose of education, the obyektive (social and personal) that it is designed to attain, the metode of attaining them and the tools for measuring thei success or failure”.13 Mark Olsen, John Codd, dan Anne-Marie O’Neil mengemukakan bahwa kebijakan pendidikan merupakan kunci bagi keunggulan, bahkan eksistensi bagi Negarabangsa dalam persaingan global, sehingga kebijakan pendidikan perlu mendapat perhatian utama dalam era globalisasi. Salah satu argumen utamanya bahwa globalisasi membawa nilai demokrasi. Demokrasi yang memberikan hasil yaitu demokrasi yang didukung oleh pendidikan. Selengkapnya mereka mengatakan, bahwa: “…education policy in the twenty-frst century is the key to global security, sustainability and survival…education polices are central to such goal mission…a deep and robust democracy and national level requaires strong civil society based on norm of trust and active response citizenship and that education control to such a goal. Thus, a strong education state is necessary to sustain democracy at the national level so that strong democratic nation-state can butters forms of international governance and ensure that globalization becomes a force for global sustainability and survival…”14 13 Riant Nugroho. Kebijakan…,hlm. 36. 14 Mark Olsen. dkk. Education Policy: Globalization, Citizenship and Democracy, London: Sage, 2000, hlm. 1-2 dalam Rian Nugroho, Kebijakan Pendidikan yang Unggul, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008, hlm. 36.


Pendahuluan 15 Pendapat lain disampaikan oleh Margaret E. Goertz menyatakan bahwa kebijakan pendidikan berkenaan dengan efisiensi dan efektivitas anggaran pendidikan. Isu ini sangat penting dengan meningkatnya kritis publik terhadap biaya pendidikan gratis yang berkaitan dengan program wajib belajar. Program ini memberikan akses kepada setiap usia belajar untuk mengikuti pendidikan secara gratis dan berkesinambungan sesuai dengan kebijakan pemerintah. Diasumsikan bila setiap pemerintah dapat memenuhi anggaran pendidikan di negaranya. 15 Selanjutnya Goertz menyatakan bahwa: “…An increased emphasis on educational adequacy and the public’s concern over the high cost of education is focusing policy makers’ attention on the efficiency and effectiveness of educational spending…”16 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kebijkan publik mempunyai hubungan sangat erat dengan konsep pendidikan agama dan pendidikan keagamaan untuk melaksanakan dan mengembangkan pendidikan di suatu Negara. Dengan argumentasi bahwa pendidikan Islam memerlukan dukungan pihak pemerintah/pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan publik. Melalui kebijakan 15 Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum mampu mengalokasikan biaya pendidikan sebanyak 20% dari APBN untuk penyelenggaraan pendidikan nasional. Bila biaya ini dapat dipenuhi, maka pendidikan dapat dilaksanakan lebih murah, atau bahkan pendidikan gratis dapat terealisasi terutama bagi wajib belajar. 16 Margaret E. Goertz. The Finance of American Public Education: Challenges of Equity, Adequacy, and Efficiency, dalam Gregory J. Cizek, ed., Hndbook of Educational Ploicy, San Diego, Academic Press, 2001, hlm. 45, dalam Rian Nugroho, Kebijakan Pendidikan yang Unggul, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008, hlm. 37.


16 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional publik maka pendidikan Islam dapat diselenggarakan secara teratur dan berkesinambungan. Dalam catatan sejarah, bahwa pendidikan Islam itu berkembang secara pesat karena adanya keterlibatan otoritas publik (kekuasaan) yang dapat memaksa pihakpihak lain untuk melaksanakannya. Tanpa kebijakan yang bersifat publik suatu program termasuk di dalamnya pendidikan Islam sulit untuk berkembang. Oleh karena itu hubungan kebijakan publik dangan konsep pendidikan Islam diperlukan sinergitas yang tinggi untuk mencapai tujuan tujuan pembangunan pendidikan yang lebih luas. Dalam masa otonomi daerah, pemerintah daerah diberi kesempatan sangat terbuka dan luas dalam mengembangkan kebijakan publik sebagai upaya memenuhi kepentingan masyarakat luas. C. Studi Kebijakan Tentang Pendidikan Islam Studi kebijakan tentang pendidikan Islam yang dianggap relevan dengan kajian ini antara lain: Muhammad Sirozi; Politik Kebijakan Pendidikan di Indonesia (Disertasi, 1998), Abd. Rahman Assegaf; Politik Pendidikan Nasional: Pergeseran Kebijakan Pendidikan Agama Islam dari Praproklamasi ke Reformasi (2005), Wawan Wahyuddin; Kebijakan Politik Pendidikan Era Orde Baru dan Era Reformasi Dalam Penyelenggaraan Madrasah (Disertasi, 2010), dan Abdul Munir; Kebijakan Orde Baru Terhadap Pendidikan Islam di bidang Madrasah (Tesis, SPs IAIN Syahid Jakarta. Maksum; Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya (Disertasi, SPs Syahid Jakarta, 1999), 2000), Abdurrasyid; Madrasah Nizamiyah Studi Tentang Hubungan Pendidikan Islam dan Politik, (SPs IAIN Syahid Jakarta, 1994), Husni


Pendahuluan 17 Rahim; Madrasah dalam Politik Pendidikan di Indonesia (2005), Amidhan; Telaahan Tentang Pendidikan Agama dalam RUU Sistem Pendidikan Nasional (Makalah, 2003), dan Azyumardi Azra; Sejarah Perkembangan Madrasah (Dokumen, 1999), Abdul Rachman Saleh; Pendidikan Agama dan Keagamaan (2000), Karel A Steenbrink; Pesantren, Madrasah, dan Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern (1994). Berbagai studi tersebut membahas tentang pendidikan Islam dari sisi kebijakan, politik, hukum, dan kelembagaan madrasah sebagai upaya memosisikan pendidikan Islam dalam perspektif sistem pendidikan nasional. Berikut ini dijelaskan berkaitan dengan politik pendidikan Islam (Muhammad Sirozi, Disertasi, 1998 dan Wawan Wayuddin, Disertasi, 2010) dan eksistensi madrasah dalam perspektif pendidikan nasional (Husni Rahim, Orasi Guru Besar UIN Syahid, 2005). Muhammad Sirozi, ”Politik Kebijakan Pendidikan di Indonesia (Peran Tokoh-tokoh Islam dalam Penyusunan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistim Pendidikan Nasional”. Disertasi dengan judul: Politics of Educational Policy Production in Indonesia: A Case study of The Rules of Muslim Leaders in the Establishment of the Number 2 Act of 1989, diterbitkan oleh Indonesian – Netherlands Cooperation in Islamic Studies-INIS, 2004, Sirozi melakukan kajian tentang keterlibatan tokoh-tokoh Muslim dalam penyusunan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Fokus kajiannya tentang peran pemimpin muslim dalam perumusan Rancangan Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional (RUU-SPN) yang difokuskan pada: (1) peran


18 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional tradisional para pemimpin dalam proses pembentukan kebijakan pendidikan di Indonesia, (2) tanggapan terhadap peluncuran dan isi RUU-SPN, (3) pembentukan partisipasi kelompok selama perdebatan, (4) pilihan strategi dan taktik pengaruh. Dalam kajiannya Sirozi menyimpulkan bahwa: 1. Pembentukan partisipasi pemimpin muslim dalam penyusunan RUU-SPN, dibentuk ”berdasar masalah” atau dibentuk atas dasar gambaran masalah khusus. Kelompok tidak didasarkan atas struktur khusus atau minat profesional. Juga tidak eksklusif atau terutama kegiatan menekan. Sebaliknya kelompok bersifat ”parsial” dalam arti bahwa para pemimpin tidak terikat dengan keaggotaan yang tetap atau mengarahkan semua keinginannya untuk melakukan tekanan politik. 2. Strategi pengaruh para pemimpin muslim, meskipun terpisah dari pemerintah, mereka bermitra erat dengan pemerintah. Akses mereka kepada para pembuat kebijakan dijamin dengan secara sadar menghindari penggunaan strategi yang non-kooperatif dan menganut strategi yang kooperatif. Strategi kooperatif mencakup pembentukan opini publik, kontak dengan legislatif, dan kontak dengan birokrasi. Ini adalah strategi utama yang dipakai. 3. Untuk mencapai kepentingan pemimpin muslim mengembangkan tujuh tingkatan konflik non-hierarkhis: antara pembuat kebijakan pendidikan pemerintah dan legislatif, antara legislatif fraksi yang berbeda, antara pembuat kebijakan dan kelompok kepentingan pendidikan di masyarakat, antara kelompok kepentingan, antara pemimpin muslim, dan di dalam organisasi muslim. Melihat arenanya, konflik bisa


Pendahuluan 19 digolongkan sebagai konflik ”internal” dan ”eksternal” pemimpin muslim. 4. Tanggapan pemimpin muslim terhadap RUU-SPN unsur utama mereka bersifat formalis hukum. Keterlibatan mereka dalam perdebatan RUU-SPN menyangkut niat untuk mengesahkan dan meniadakan nilai pendidikan tertentu berdasarkan persepsi khusus tentang hak agama dan ideologi nasional. 5. Keterlibatan kelompok kepentingan dalam proses kebijakan dikontrol ketat oleh pemerintah. RUU-SPN termasuk satu dari hanya tiga kebijakan publik yang dihasilkan selama era Orde Baru dan disini peran kelompok kepentingan tampak jelas. Kebanyakan kebijakan publik yang dihasilkan pada era ini diprakarsai dan didominasi oleh pemerintah.17 Penelitian yang dilakukan oleh Sirozi tersebut di atas berkaitan dengan proses Rancangan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistim Pendidikan Nasional. RUU-SPN tersebut sebagai kebijakan publik dibidang pendidikan nasional atas inisiatif pemerintah Orde Baru. Di dalamnya ditengarai banyak pasal-pasal pendidikan yang kontroversial bagi kalangan yang berkepentingan terutama yang membela pendidikan agama dan keagamaan yang tidak terakomodasi dalam RUU-SPN tersebut. Di situlah konflik muncul dan para pemimpin Islam tampil untuk melakukan perjuangan sekaligus perdebatan dalam arena politik 17 Muhammad Sirozi. Politik Kebijakan Pendidikan di Indonesia (Peran Tokoh-tokoh Islam dalam Penyusunan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistim Pendidikan Nasional, (Disertasi), Indonesian – Nertherlands Cooperation in Islamic Studies-INIS), 2004, hlm. 281-287.


20 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional pendidikan di Indonesia dan akhirnya berhasil secara kompromistis. Wawan Wayuddin, membahas tetang politik pendidikan seperti halnya Muhammad Sirozi, Perbedaan keduanya terletak pada masa pendidikan yang bersifat sentralistik dan desentralistik. Wawan memberikan penekanan politik pendidikan pada masa desentralistik dengan membandingkan antara politik pendidikan masa Orde Baru dan masa Reformasi. Hasil penelitiannya Wawan menyimpulkan bahwa: 1. Pada masa Orde Baru pendidikan yang diselenggarakan di sekolah/madrasah bersifat sentralistik. Sedangkan pada masa reformasi kebijakan politik pendidikan bersifat desentralistik seiring dengan semangat otonomi daerah. Namun demikian untuk pendidikan di bawah Kementerian Agama masih tetap bersifat sentralistik; 2. Pada masa Orde Baru, perhatian pemerintah terhadap mendidikan madrasah baru muncul setelah diterbitkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri (Dalam Negeri, Pendidikan Nasional, dan Agama) yang menyatakan bahwa perbandingan antara pelajaran umum 70% dan pelajaran agama 30%. 3. Posisi lembaga/pendidikan madrasah secara legal formal setara dengan lembaga/pendidikan sekolah umum. Namun secara realitas terjadi perbedaan antara madrasah dengan sekolah dalam hal tuntutan 8 (delapan) standar yang harus dipenuhi oleh madrasah berkaitan dengan dana, sumber daya manusia, sarana dan prasarananya.18 18 Wawan Wahyuddin. Kebijakan Politik Pendidikan Era Orde Baru dan Reformasi Dalam Penyelenggaraan Madrasah, Disertasi, UIN Syarif Hidayatullah, 2010, hlm. vii.


Pendahuluan 21 Husni Rahim, melakukan kajian tentang: Madrasah Dalam Politik Pendidikan di Indonesia, diterbitkan Logos, 2005. Kajian ini merupakan materi pengukuhan Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2005. Ia menjelaskan posisi tawar keberadaan madrasah dalam memasuki otonomi daerah yang berdampak pada pengelolaan madrasah, bahwa: Madrasah merupakan institusi pendidikan yang tumbuh dan berkembang oleh dan dari masyarakat. Jumlah madrasah sebagian besar berstatus swasta yang kebanyakan mengandalkan sumber pembiayaan pendidikan dari masyarakat. Dari segi substansi, mayoritas madrasah telah otonom dan bahkan terkesan sebagai institusi yang dibiarkan hidup dengan sendirinya. Persoalan krusial adalah performa mutu pengetahuan umum secara umum masih tertinggl dari sekolah-sekolah Depdiknas. Kasus-kasus profesionalitas guru seperti kasus mismatch (salah kamar) dan underkualified (tidak layak) masih sering dijumpai.19 Kajian madrasah yang disampaikan oleh Husni ini berkaitan dengan madrasah sebagai pendidikan umum dengan ciri khusus agama pada masa otonmi daerah. Madrasah dimaksud adalah Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Apakah pengelolaannya akan diserahkan kepada pemerintah daerah atau tetap di bawah tanggung jawab Departemen Agama dengan mempertimbangkan untung dan ruginya. Kajian tersebut tidak termasuk madrasah diniyah 19 Husni Rahim. Madrasah Dalam politik pendidikan di Indonesia, Jakarta, Logos, 205, hlm. 1.


22 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional (MD) yang selama ini dikelola oleh masyarakat sebagai pendidikan nonformal. Selain kajian madrasah secara umum tersebut, Husni, menyampaikan juga kebijakan Madrasah Wajib Belajar (MWB) yang pernah digagas oleh KH. Moh. Ilyas (Pejabat Kementrian Agama, 1958/1959) sebelum wajib belajar digagas oleh Mendiknas.20 ”Kebijakan MWB ini bagi warga belajar diselenggarakan selama 8 (delapan) tahun dengan pertimbangan bahwa pada usia 6 tahun anak sudah berhak sekolah dan pada usia 15 tahun sesuai dengan undangundang yang berlaku, anak telah diizinkan mencari nafkah”.21 Kurikulum Madrasah Wajib Belajar dikembangkan secara terpadu antara aspek pengetahuan agama, pengetahuan umum dan keterampilan. Konsep kurikulum seperti ini dirancang untuk menyeimbangkan otak atau akal, hati dan perasaan, dan tangan atau kecekatan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Sirozi maupun Husni, keduanya membahas tentang kebijakan pendidikan Islam. Sirozi mempersoalkan peran serta para tokoh ulama dan cendikiawan muslim yang terlibat dalam perumusan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 supaya pendidikan Islam terakomodasi. Husni, mengkaji tentang transisi madrasah dalam peralihan kebijakan undangundang tersebut menuju Undang-Undang Nomor 20 Tahun 20 Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar yang diundangkan pada tanggal 4 Juli 2008, sebagai pelaksanaan ayat 34 ayat (4) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa: Wajib Belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. 21 Husni Rahim. Ibid., hlm. 182.


Pendahuluan 23 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai penggantinya. Kajian Muhmmad Sirozi, Wawan Wahyuddin, dan Husni Rahim membahas masalah madrasah sebagai bagian pendidikan Islam yang selama ini termarjinalkan oleh politik kekuasaan pemerintah dari zaman penjajahan hingga pemerintahan Orde Baru. Pada masa reformasi pendidikan madrasah disamakan posisinya dengan sekolah. Studi kebijakan ini membahas tentang aplikasi pendidikan Islam pada pendidikan formal, nonformal dan informal yang memperkuat eksistensi pendidikan Islam yang diatur secara tersendiri melalui Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. D. Kerangka Berfikir Kerangka berfikir dalam studi kebijakan tentang pendidikan Islam didasarkan pada peraturan perundangundangan. Analisis kebijakan dan implementasinya untuk mengetahui pelaksanaannya oleh para penyelenggara dan pelaksana serta stakeholder. Kerangka berfikir tersebut dapat dijelasakan pada gambar: 1.1., sebagai berikut: 1. Pendidikan Islam dalam bentuk konsep dan teori yang bersumber pada al-Qur`an dan al-Hadits menjadi asas dan prinsip dalam mengembangkan pendidikan agama Islam dan pendidikan keagamaan Islam pada jenjang, jenis dan satuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang dapat meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Pendidikan Islam pada tataran konsep dan teori ini bersifat universalistik dan idealistik perlu


24 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional diaplikasikan secara pragmatik oleh negara atau pemerintah. 2. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional negara telah mengamantkan kepada pemerintah untuk menyelenggarakan sistem pendidikan nasional, seperti dinyatakan pada Pasal 31 ayat (3) bahwa: ”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kebijakan umum yang menetapkan satu sistem pendidikan nasional dalam Negara Kesatuan RepublikIndonesia. 3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai pelaksanaan dari undangundang dasar telah mengatur pada Pasal 1 ayat (1) dan ayat (2) menyebutkan: Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”. “Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional”. Undang-undang sistem pendidikan dalam strata kebijakan ini merupakan kebijakan pelaksanaan. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam


Pendahuluan 25 strata kebijakan peraturan pemerintah ini merupakan kebijakan teknis operasional. Kebijakan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan diatur dalam peraturan pemerintah tersebut sebagai berikut: a. Pendidikan Agama: Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 7; b. Pendidikan Keagamaan: Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13; c. Pendidikan Keagamaan Islam: Pasal 14; d. Pendidikan Diniyah Formal: Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20; e. Pendidikan Diniyah Nonformal: Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25; f. Pesantren: Pasal 25. 5. Peraturan Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota dalam strata kebijakan ini sebagai pelaksana kebijakan teknis. Berdasarkan strata tersebut, Pemerinta Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota dapat menyelenggarakan urusan pemerintahannya secara otonom sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Kabupaten/Kota). Dalam peraturan pemerintah tersebut, agama menjadi urusan dan kewenangan pemerintah. Namun demikian pemerintahan daerah diberi kewenangan untuk menyelenggarakan dan melaksanakan pendidikan agama dan pendidikan kegamaan berdasarkan kebijakan daerah dalam bentuk regulasi untuk penyediaan sarana, prasarana dan pembiayaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


26 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional 6. Implementasi dari kebijakan pemerintah daerah dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan/atau dengan melibatkan peranserta masyarakat. Dalam hal penyelenggaraan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan di daerah dilaksanakan oleh kantor Kementerian Agama berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Nasional dan/atau melibatkan peranserta masyarakat di daerah. 7. Lembaga pendidikan pada jenjang, jenis dan satuan pendidikan di lingkungan pendidikan umum dan pendidikan agama melaksanakan pendidikan agama Islam dan pendidikan keagamaan Islam sesuai dengan kurikulum Standar Pendidikan Nasional. Gambar: 1.1 Struktur Kebijakan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Keagamaan Islam


Konsep dan Teori Pendidikan Islam 27 BAB 2 KONSEP DAN TEORI PENDIDIKAN ISLAM A. Pengertian Pendidikan Islam Secara etimologis, pendidikan diartikan sebagai perbuatan (hal, cara, dan sebagainya mendidik; dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau pemeliharaan (latihan-latihan dan sebagainya) badan, bathin dan sebagainya.22 Pengertian pendidikan secara terminologis, disebutkan dalam Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Pasal 1 angka 1, bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pengertian pendidikan dalam konteks pendidikan Islam sinonim dengan kata tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim. Namun secara umum kata tarbiyah sering digunakan untuk pengertian pendidikan Islam. Menurut H. Ramyulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, “dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata al-tarbiyat, namun terdapat istilah lain yang 22 W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, Cet. II, 191, hlm. 250.


28 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional seakar dengannya, yaitu al-rabb, rabbayani, murabby, yurby dan rabbany. Dalam al-Sunnah ditemukan kata rabbaniy”. 23 Abul A’la al-Maududi, seperti dikutif Ramayulis berpendapat, bahwa kata rabbun (raba) terdiri dari dua huruf “ra” dan “ba” tasydid. Kedua kata itu merupakan pecahan dari kata tarbiyah yang berarti “pendidikan, pengasuhan, dan sebagainya”. Kata tersebut juga memiliki beragam arti antara lain: “kekuasaan, perlengkapan, pertanggungjawaban, perbaikan, penyempurnaan, dan lainlain”. 24 Musthafa al-Maraghy, menyatakan kata itu merupakan predikat bagi suatu “kebesaran, keagungan, kekuasaan, dan kepemimpinan”.25 Pengertian secara etimologis dari tarbiyat seperti dikemukakan oleh para ahli pendidikan tersebut di atas memiliki keragaman arti yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan dan perkembangan secara fisik serta peningkatan kemampuan, pemeliharaan secara psikhis peserta didik yang harus dilakukan melalui proses pendidikan. Pengertian itu menunjukkan bahwa proses altarbiyat yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dari berbagai jalur, jenjang dan jenis pendidikan dapat membawa para peserta didik kearah yang lebih baik sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan melalui desain kurikulum. Hal ini sesuai dengan pengertian al-tarbiyah secara terminologi. Menurut MustHafa al-Maraghy, pengertian al-tarbiyat secara terminologis dibagi kedalam dua bagian, yaitu: 23 H. Ramyulis. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia, 2008, Cet. Ke-7, hlm. 14. 24 Ibid. 25 Musthafa Al-Maraghi. Tafsir Al-Maraghi, Bairut: Dar Fikr, tt, juz ke1, hlm. 30.


Konsep dan Teori Pendidikan Islam 29 1. Tarbiyah khalqiyah, yaitu penciptaan, pembinaan, dan pengembangan jasmani peserta didik agar dapat dijadian sebagai sarana bagi pengembangan jiwanya; 2. Tarbiyah diniyah tahzibiyah, yaitu pembinaan jiwa manusia dan kesempurnaannya melalui petunjuk wahyu ilahi.26 Kata lain dari istilah pendidikan adalah ta’lim sebagai masdar dari kata ‘allama yang berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan keterampilan. Penunjukkan kata ta’lim pada pengertian pendidikan sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. 2, Al-Baqarah ayat 31, sebagai berikut: ۢنِب َ أ َ ال َ ق َ ةِ ف َ ِك ئ َٰٓ َ ل َ م أ ٱل أ لَع ََ م ل ه ضَ َ ر َ ع َّ م ل ا ث َ ه لَّ ُك َ ء ٓ ا َ م أ س أ َ ٱۡل َ م َ اد َ ء َ م َّ ل َ ع َ ِي و ِنو ِدقِنيَ َٰ صَ أ م ل نت ل ِن ك ءِ إ َٓ َل ل ؤ َٰٓ َ ءِ ه ٓ ا َ م أ س َ ب ٣١ِ أ Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (bendabenda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! Berdasarkan pengertian at-ta’lim yang terdapat dalam surah al-Baqarah tersebut mengandung pengertian pendidikan yang sempit. Menurut Samsul Nizar dalam buku, Peserta Didik Dalam Perspektif Islam, bahwa pengertian ta’lim hanya sebatas proses transfer seperangkat nilai antar manusia dengan ranah kognitif dan psikomotorik, tetapi tidak 26 Ibid. hlm 27.


30 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional ke ranah afektif”.27 “Pengertian tersebut hanya memberi tahu atau memberi pengetahuan, tidak mengandung arti pembinaan kearah pembentukan kepribadian yang disebabkan pemberian pengetahuan”. 28 Menurut Rasyid Ridha, ta’lim adalah “proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Pemaknaan ini didasarkan pada Q.S. AlBaqarah ayat 31 tentang ‘allama Tuhan kepada Nabi Adam AS”.29 Selain kata tarbiyat dan ta’lim, terdapat kata lain dari istilah pendidikan adalah ta’dib yang diartikan sebagai “pelatihan atau pembiasaan”. Dalam kamus Bahasa Arab “AlMu’jam al-Wasith” kata ta’dib mempunyai makna sebagai berikut: 1. Ta’dib berasal dari kata dasar “addaba-ya’dubu” yang berarti memilih untuk berperilaku yang baik dan sopan santun; 2. Ta’dib berasal dari kata “adaba-ya’dibu” yang berarti mengadakan pesta atau perjamuan yang berarti berbuat dan berperilaku sopan; 3. Kata “addaba” sebagai bentuk kata kerja “ta’dib” mengandung pengertian mendidik, melatih, memeperbaiki, mendisiplin, dan memberi tindakan.30 Kata “addaba” yang berarti mendidik menurut Ibnu Manzhur merupakan padanan kata ‘allama dan oleh Al- 27 Samsul Nizar. Peserta Didik Dalam Perspektif Islam, (Sebuah Pengantar Filsafat Pendidikan Islam), Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 1999, hlm. 47. 28 Abdul Rahman Abdullah. Usus al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Thuruq Tadrisi ha, Damaskus: Dar al-Nahdhah al-Arabiyah, 1965, hlm. 27. 29 Rasyid Ridha. Tafsir al-Manar, Mish, Dar al-manar, 1373 H, Juz, I, hlm. 262. 30 Al-Mu’jam Al-Wasith. Kamus Arab, Bandung, Angkasa, tt, hlm. 19.


Konsep dan Teori Pendidikan Islam 31 Zajjaz dikatakan sebagai cara Tuhan mengajar nabi-Nya. Masdar “addaba” yaitu “ta’dib” yang diterjemahkan sebagai pendidikan mempunyai arti yang sama dan rekanan konseptualnya dalam istilah ta’lim”. 31 Menurut Al-Attas, kata al-ta’dib adalah: Pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu yang di dalam tataran penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakaun kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya.32 Al-Ghazali (450-478 H/1059-1111 M), seperti dikutif oleh Hussein Bahreis dalam buku Ajaran-ajaran Akhlak Imam al-Ghazali, “menawarkan istilah pendidikan dengan kata“alriyadhah” sebagai proses pelatihan individu pada masa kanak-kanak”.33 Istilah ini hanya diterapkan oleh al-Ghazali dalam proses pendidikan pada fase anak-anak, untuk fase lainnya tidak termasuk dalam istilah ini. Dari sekian banyak istilah atau kata yang memiliki pengertian pendidikan Islam, nampaknya kata “tarbiyah” paling popular dan banyak digunakan dalam lembagalembaga atau jurusan-jurusan pendidikan. Hal ini menunjukan bahwa kata al-tarbiyat meliputi keseluruhan kegiatan pendidikan yang mempersipkan individu untuk kehidupan yang lebih sempurna, sedangkan istilah lain 31 Abdul Rahman Abdullah. Usus al-Tarbiyah..., ibid, hlm. 31. 32 Muhammad Naquib al-Attas. Konsep Pendidikan Islam, Bandung, Mizan, hlm. 66. Pengertian ini didasarkan atas sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: “Tuhan telah mendidikku, sehingga menjadi baik pendidikanku”. 33Hussein Bahreis. Ajaran-ajaran Akhlak Imam al-Ghazali, Surabaya, alIkhlas,1981,hlm. 66.


32 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional merupakan bagian dari kegiatan tarbiyah. Dengan demikian, istilah pendidikan Islam di Indonesia disebut Tarbiyah Islamiyah. Pengertian pendidikan, secara etimologis maupun terminologis banyak kata yang berbeda dengan pengertian yang berbeda pula. Namun dalam konteks pengertian pendidikan secara sempit kata tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan riyadhah dapat diartikan sebagai pengertian pendidikan sebagai proses transfer pengetahuan, kemampuan dan perilaku yang disampaikan oleh pendidik kepada peserta didik. Dalam pembahasan ini tidak memperdebatkan istilah atau kata mana yang digunakan sebagai arti pendidikan. Semua istilah itu dapat digunakan sebagai teori yang menjadi dasar dalam kajian pendidikan Islam. B. Tujuan Pendidikan Islam Terminologi “tujuan” dibidang pendidikan terdapat berbagai istilah yang berasal dari bahasa Inggeris, yaitu: aims, goals, dan objective. Ketiga istilah itu menunjukkan indikator sebagai hasil akhir suatu proses pendidikan yang dicita-citakan atau yang diinginkan. Dalam kamus The Oxford English Dictionary, mendefinisikan aims sebagai perbuatan yang menentukan cara berkenaan dengan tujuan yang diharapkan”. Hirs dan Peters, seperti dikutif oleh Abdurrahman Saleh Abdullah. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, menegaskan bahwa: Konsep aims ini diperoleh melalui penekanan target khusus yang terdapat pada suatu distansi tertentu. Pernyataan ini secara implisit menyatakan, bahwa jangkauan goals tidak mungkin bisa dicapai melainkan dengan upaya yang dikerahkan sekuat tenaga. Upaya yang harus dikerahkan ini termasuk juga dalam


Konsep dan Teori Pendidikan Islam 33 karakteristik pokok goals. Hal ini menunjukan bahwa kata goals dan aims adalah dua kata yang bermakna sinonim.34 Menurut para ahli pendidikan, bahwa penggunaan kata aims dan goals berbeda dengan istilah objective. Kata objective mempunyai pengertian yang lebih sederhana dan lebih ringkas menuju kearah aims dan goals. Namun sebagian ahli pendidikan menyebut istilah objectives ini sebagai tujuan antara menuju kearah tujuan umum. Mereka menggunakan istilah aims dalam referensi hasil khusus. Maka hasil pendidikan tidak dapat dikatakan objective kecuali dikhususkan dan ditempatkan pada bentuk-bentuk yang dapat diamati. Aims dipandang oleh sebagian ahli pendidikan sebagai tujuan umum, sedangkan objectives digunakan untuk menyebut tujuan khusus. Mengenai istilah purposes dalam kamus The oxford English Dictionary, mendefinisikan sebagai salah satu ketentuan berkenaan dengan hal-hal yang ingin dilakukan atau yang akan dicapai. Definisi purposes adalah: “Rujukan yang dibuat menuju tanggung jawab seseorang dalam seperangkat maksud-maksud yang menyiratkan istilah ini tidak bisa dipaksakan bagi seseorang”.35 Dalam bahasa Arab, istilah “tujuan” berpadanan dengan kata maqashid yang menunjukkan kepada jalan lurus. Kata ini merupakan kata jadian dari qashada yang tersebar dalam Al-Qur’an yang memberi arti pokok. Dalam S. al-Nahl: 9 ada kata qashdu alsabil yang ditafsirkan kepada “jalan yang lurus”. 34 Abdurrahman Saleh Abdullah. Teori..., ibid, hlm. 131. 35 Ibid.


34 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Berdasarkan berbagai istilah tersebut di atas, maka tujuan pendidikan (maqashid al-tarbiyah) dalam Islam mengacu pada tujuan umum (aims) yang mengarah kepada tujuan akhir (goals) melalui tujuan antara (objectives). Tujuan pendidikan Islam bertitik tolak dari konsep penciptaan manusia sebagai khalifah dan fitrah manusia. Manusia dalam al-Qur’an menempati posisi yang sangat istimewa, karena ia diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifatan fil’ardhi (wakil Tuhan) dengan tugas dan fungsi untuk ibadah hanya kepada-Nya.36 Hal ini dinyatakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa manusia merupakan pilihan Maha Pencipta untuk menguasai jagat raya ini. Untuk menjadikan manusia terbaik itu, maka Allah sendirilah sebagai “pendidik” secara langsung kepada manusia pertama, yaitu Nabiyullah Adam ‘Alaihissalam. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an, S. 2, Al-Baqarah: 30, ل ل َ ع أ َ َت َ أ ْ ا ٓ ِنو ل ال َ ق ٗۖ ة َ لِيف َ ۡر ِض خ أ َ ِِف ٱۡل ٞ ا ِعل َ ِ ج ِ ِّن ةِ إ َ ِك ئ َٰٓ َ ل َ م أ لِل كَ ُّ ب َ ر َ ال َ ق أ ِإَوذ ِس ل ِ د َ ق ل ن َ و َ ِدك أ م َ ِِب ل ِح ِ ب سَ ل ن نل أ َ َن َ و َ ء ٓ ا َ ِم ِ ٱل فِكل أ س َ ي َ ا و َ فِيه ل ِسد أ ف ل ن ي َ ا م َ فِيه َ ِنون ل م َ ل أ ع َ ت َ ا َل َ م ل م َ ل أ ع َ أ ٓ ِ ِ ِّن إ َ ال َ ق ٗۖ كَ َ ل ٣٠ Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di 36 Ibid., hlm. 47, menyatakan bahwa: “kata khalifah diambil dari kata kerja khalafa yang berarti “mengganti dan melanjutkan”. Menurut pandangan Razi, Thabari dan Qurtubi, bahwa pengertian khalifah tidak secara sederhana menggantikan lainnya sebagai khalifah Allah. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah apabila perilaku dan sikap manusia mengikuti ajaran Allah”.


Konsep dan Teori Pendidikan Islam 35 muka bumi. mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Pendidikan Islam harus diselenggarakan dan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk dan membina karakter manusia supaya menjadi insan kamil yang beriman, bertakwa dan berakhlak kepada Allah SWT berdasarkan fitrah yang dibawanya sejak lahir. Fitrah yang dibawa manusia sejak dalam kandungan merupakan perwujudkan komitmen antara manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai Khaliknya. Komitmen yang sudah terbentuk itu harus diperkuat agar manusia tetap lurus mengikuti perintah Allah sebagai tujuan dalam penciptaanNya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an, S. 30, Ar-Rum: 30,37 َ َل ۚ ا َ ه أ ي َ ل َ ع اس َ َّ ٱنل َ ر َ ط َ ِِت ف َّ ِ ٱل َّ ٱَّلل َتَ ر أ فِط ۚ ا نِيف َ ِ ح ِين لِلِ كَ َ ه أ ج َ و أ قِم َ أ َ ف َ ا ِس َل َّ ٱنل َ َ َث كأ َ أ َّ ِكن َٰ َ ل َ و ل ِم ِ ي َ ق أ ٱل ِينل ِ ٱل لِكَ َٰ َ ِۚ ذ َّ ِق ٱَّلل أ ل ِِلَ َ ِديل أ ب َ ت َ ِنون ل م َ ل أ ع ي ٣٠َ 37 Ibid., hlm. 57, bahwa: “ayat di atas menghubungkan makna fitrah dengan agama (din)”. Hubungan fitrah dengan din tidak bertentangan, malah sebaliknya saling melengkapi. Penekanan mengenai hakikat fitrah seperti tercantum dalam Q.S. 30: 30 tersebut yang sesungguhnya secara lebih rinci mempunyai hubungan dengan Q.S. 7: 172, bahwa Allah membuat perjanjian dengan manusia dalam keimanan (tauhid).


36 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.38 Fitrah keislaman manusia yang sudah terbentuk sejak dalam kandungan ibunya merupakan suatu kontrak akidah. Allah telah mempersaksikan-Nya sendiri secara langsung dihadapan makhluk-Nya yang direspon secara positif, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, S. 7, Al-‘Araf: 172: َٰٓ أ لَع ََ م ل ه َ د َ ه أ ش َ أ َ و أ م ل ه َ ت َّ ي ِ ِ ر ل ذ أ ِهِم ِنور ل ه ل ِمن ظ َ م َ اد َ ء ِِنٓ َ ۢن ب مِ كَ ُّ ب َ ر َ ذ َ خ َ أ أ ِإَوذ ا َّ ِن ةِ إ َ َٰم َ قِي أ ٱل َ م أ ِنو َ ي ْ ِنوا ل ِنول ل ق َ ن ت َ ۚ أ ٓ ا َ ن أ ِد ه َ َٰ ش َ َل َ ب ْ ِنوا ل ال َ ق ٗۖ أ م ِكل ِ ب َ ِر ب تل أ س َ ل َ أ أ ِم ِسه ل نف َ أ أ ن َ ا ع َّ ن ل ك فِلِنيَ َٰ َ ا غ َ َٰذ ه ١٧٢َ Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak 38 Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. Artinya:


Konsep dan Teori Pendidikan Islam 37 mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Firman Allah tersebut mengisyaratkan, bahwa penciptaan manusia yang memerankan sebagai khalifatullah supaya tetap komitmen dalam fitrahnya. Namun demikian, Allah menciptkan manusia itu diberikan hak untuk memilih atas kehendak bebas manusia. Apakah manusia akan memilih jalan yang baik atau ke jalan yang buruk. Sebagaimana Allah berfirman Q.S. 18, Al-Kahfi: 29: ٓ ا َّ ِن إ ۚ أ ر ل ف َكأ ي أ ل َ ف َ ء ٓ ا َ ن ش َ م َ ِمن و أ ؤ ل ي أ ل َ ف َ ء ٓ ا َ ن ش َ م َ ف ٗۖ أ م ِكل ِ ب َّ ِمن ر ُّ ق َ أ ٱۡل ِ ل ل ق َ و ءٖ ٓ ا َ ِم ب ْ ِنوا ل اث َ غ ل ي ْ ِنوا ل غِيث َ ت أ س َ ِإَون ي ۚ ا َ ه ل أ ل َُسادِق ِم ِه ب اطَ َ ح َ ا أ ً ار َ ن لِ ِمنيَ َٰ َّ ا لِلظ َ ن أ د َ ت أ ع َ أ تأ َ ء ٓ ا َ س َ و ابل َ َّ َس ٱلَّش أ ِئ ب ۚ َ ِنوه ل ج ل ِنو أ ِي ٱل ِنو أ ش َ ي ِ ل أ ه ل م أ ٱل َ ك ا ً ق َ ف َ ت أ ر م ٢٩ ل Artinya: Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. Firman Allah SWT menyatakan secara tegas tentang kebenaran itu datangnya dari Tuhan. Manusia dapat memilih siapa yang ingin beriman atau kafir. Tentu saja, hal ini mempunyai implikasi terhadap kewajiban mendidik dan melaksanakan pendidikan oleh berbagai pihak yang mempunyai otoritas dibidang pendidikan untuk mencapai


Click to View FlipBook Version