38 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tujuan pendidikan Islam dalam tataran konsepteoritis mengarah pada tujuan umum untuk membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah atau mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan diciptakannya manusia oleh Allah Subhanhuwata’ala, yaitu supaya beriman kepada Allah dan tunduk patuh secara total kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. 51, Az-Zariat ayat 56: و ِن ل د ل ب أ ع ِِلَ َّ َِل َس إ ن ِ أ ٱۡل َ و َّ ِن أ ٱۡل تل أ ق َ ل َ ا خ َ م و ٥٦َ Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Dalam tataran praktis, tujuan pendidikan Islam sejak masa klasik (750-1350 M) hingga masa kontemporer telah mengalami disorientasi yang disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan. Para ahli pendidikan Islam telah merumuskan tujuan pendidikan secara berbeda, namun tetap mengarah kepada tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an dan AlSunnah. Al-Ghazali, “menetapkan tujuan pendidikan yang mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia”.39 Menurut Ibn Khaldun (732-794H/1332-1406 M), dalam Muqaddimah Ibn Khaldun, karya monumentalnya menetapkan tujuan pendidikan dibagi kedalam tiga ranah pendidikan, sebagai berikut: 39 Muhammad Athiyah al-Abrasyi. Al-Tarbiyah al-Islamiyah wa falsafatuhu, Kairo: Isa al-Babiy, 1975, hlm. 238.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 39 1. Tujuan peningkatan pemikiran. Tujuan ini dimaksudkan memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan melakukan aktivitas. 2. Tujuan peningkatan kemasyarakatan. Ilmu dn pengetahuan adalah lumrah bagi peradaban manusia. Ilmu dan pengetahuan sangat diperlukan bagi meningkatkan taraf hidup msyarakat manusia ke arah yang lebih baik. 3. Tujuan pendidikan dari segi kerohanian. Untuk meningkatkan kerohanian manusia dengan menjalankan praktek ibadah, zikir, khalwat dan mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi.40 Ibn Sina (380-428 H/980-1036 M), merumuskan tujuan pendidikan sepeti dikutif oleh Abuddin Nata dalam Konsep Pendidikan Ibn Sina, “untuk mengarahkan pertumbuhan individu baik dari segi jasmani maupun rohaninya secara sempurna”. “Selain itu juga pendidikan bertujuan mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat dan berinteraksi dengannya melalui pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya”.41 Tujuan pendidikan seperti dikemukakan oleh Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan Ibn Sina tersebut di atas diarahkan kepada kesempurnaan akhlak, niat yang ikhlas karena mengharapkan ridha Allah SWT. Selain itu juga untuk meningkatkan berfikir dan kesalehan sosial dan keseimbangan antara perkembangan jasmani dan rohani. Pendidikan semacam ini sesungguhnya akan melahirkan 40 Abdullah Abd. Al-Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn Khaldun. Muqaddimah Ibn Khaldun, Tahqiq ali Abd. al-Wahid Wafi, Cairo: Dar alNahdhah, tt, Jilid I, hlm. 10-11. 41 Abuddin Nata. Konsep Pendidikan Ibn Sina, Jakarta, UIN JAKARTA PRESS, 2006, hlm. 145.
40 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional manusia sempurna (insan kamil) yang memiliki kearifan berfikir dan kecerdasan bertindak dalam hubungannya dengan Tuhan dan antar manusia. Demikian juga , para pemikir pendidikan kontemporer merumuskan tujuan pendidikan Islam yang lebih cenderung menyeimbangkan antara ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Al-Thahthawi merumuskan tujuan pendidikan tidak hanya untuk kecerdasan tetapi juga untuk pembentukan kepribadian”. 42 Menurut Ahmad Surkati, tujuan pendidikan, pada hakekatnya untuk melindungi manusia dari keangkuhan dan ketebelakangan dirinya sebagai makhluk Allah yang ditugaskan sebagai Khalifah Allah”. 43 Tujuan Pendidikan Islam menurut Al-Qabisi “untuk membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia”.44 Hasan Al-Banna, seperti dikutip Muhammad Fadhil al-Jamali. Filsafat Pendidikan Islam dalam al-Qur’an, merumuskan tujuan pendidikan Islam, sebagai beriut: 1. Menjelaskan posisi manusia di antara makhluk lain dan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini; 2. Menjelaskan hubungan manusia dengan masyarakat dan tanggugjawabnya dalam tatanan hidup bermasyarakat; 3. Menjelaskan hubungan manusia dengan alam datugasnya dan mengatahui hikmah penciptaan dalam rangka memakmurkan alam semesta; 42 Albert Hourani. Arabic Thought in the Liberal Age, 1798-1939, London: Oxford University Pres, 1962, hlm. 81. 43 Bisri Afandi. Syekh Ahmad Surkati: Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1992, hlm. 120. 44 Ali al-Jumbulati. Perbandingan Pendidikan Islam, Jakarta, Rineka Cipta, 1994, hlm. 80.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 41 4. Menjelaskan hubungan manusia dengan Allah sebagai pencipta alam semesta.45 Tujuan pendidikan Islam juga telah dirumuskan kedalam berbagai model. Abu Ahmad, dalam buku Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, membagi tujuan pendidikan Islam menjadi empat bagian: (1) tujuan tertinggi/terakhir, (2) tujuan umum, (3) tujuan khusus, dan (4) tujuan sementara. Tujuan tertinggi pendidikan Islam dapat dirumuskan untuk membentuk Insan Kamil (manusia paripurna) sesuai dengan tujuan hidup manusia dan tugas manusia sebagai khalifah di bumi agar manusia: 1. Menjadi hamba Allah untuk beribadah hanya kepada Allah sesuai dengan diciptakannya sebagai manusia; 2. Mengantarkan subyek didik menjadi khalifah Allah yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya untuk mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya sesuai dengan penciptaannya; 3. Untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat baik sebagai individu maupun masyarakat 46 Pendapat lain dari tujuan tertinggi/terakhir seperti disampaikan oleh Muhammad Athiyah al-Abrasyi dalam versi lain menyatakan bahwa tujuan umum pendidikan Islam berlaku bagi setiap manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu termasuk di dalamnya bagi peserta didik. Ia merumuskan lima tujuan umum pendidikan Islam untuk: 1. Membentuk akhlak yang mulia; 45 Muhammad Fadhil al-Jamali. Filsafat Pendidikan Islam dalam alQur’an, (terjemahan Asmuni S.), Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1995, hlm. 17. 46 Abu Ahmad. Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogykarta, Aditya Media, 1992, hlm. 65.
42 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional 2. Persiapan kehidupan dunia dan akhirat; 3. Persiapan mencari rezeki dan pemeliharaan manfaat; 4. Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keingintahuan dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri; dan 5. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknikal dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu.47 Sekaitan dengan pendapat Abu Ahmad dan Abrasyi, Abd. Al-Rahman al-Nahlawy menyatakan dalam bukunya Usul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Thuruq Tadrisuha, merumuskan tujuan umum pendidikan Islam kedalam empat tujuan sebagai berikut: 1. Pendidikan akal dan persiapan pikiran; 2. Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pda anak-anak; 3. Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya, baik lakilaki maupun perempuan; 4. Berusaha untuk menyumbangkan segala potensi-potensi dan bakat-bakat mereka.48 Tujuan khusus pendidikan disampaikan oleh Ramayulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, adalah “pengkhususan atau operasional tujuan tertinggi/terakhir dan tujuan umum. Tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan diadakan perubahan seperlunya sesuai tuntutan dan kebutuhan”. Tujuan khusus didasarkan pada: kultur dan cita-cita bangsa, minat, bakat, dan kesanggupan 47 Muhammad Athiyah al-Abrasyi. Al-Tarbiyah..., ibid, hlm. 71. 48 Abd. Al-Rahman al-Nahlawy. Usul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Thuruq Tadrisuha, Dar el Nahdhah al-Arabiyah, 1965, hlm. 7
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 43 subyek didik, dan tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu.49 Selain adanya tujuan umum/tertinggi, tujuan khusus pendidikan, ada juga tujuan sementara pendidikan yang merupakan tujuan-tujuan yang dikembangkan dalam rangka menjawab segala tuntutan kehidupan. Karena itu tujuan sementara itu bersifat kondisional, tergantung faktor di mana peserta didik itu tinggal atau hidup. Menurut Zakiah Daradjat, seperti dikutif oleh Ramayulis, bahwa tujuan sementara itu merupakan tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.50 Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam dalam konsep al-Qur’an dan alSunnah untuk membentuk manusia sebagai khalifatullah agar menjadi makhluk yang tetap menjalankan perintah Allah sesuai dengan fitrah yang dibawanya sejak dalam kandungan. Dalam tatanan teoritis-praktis, tujuan pendidikan Islam yang disampaikan oleh para pemikir pendidikan telah mengalami disorientasi kearah yang lebih kompleks sesuai dengan pandangan masing-masing, namun tetap mengacu kepada tujuan pendidikan untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan akhlakulkarimah. C. Kewajiban Mendidik Dalam sistem pendidikan nasional, kewajiban mendidik harus dilakukan oleh tenaga kependidikan atau pendidik. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang 49 H. Ramayulis. Ilmu…, ibid, hlm. 139-140. 50 H. Ramayulis. Ilmu...., ibid, hlm. 142.
44 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional penyelenggaraan pendidikan. 51 Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaran pendidikan.52 Pendidik sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang sistem pendidikan itu mengandung arti perlunya kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik. Hal ini bersesuaian dengan sistem pendidikan Islam, bahwa kewajiban mendidik dibebankan kepada setiap individu, masyarakat dan negara yang memiliki otoritas dalam mendidik sebagai tanggung jawabnya sesuai Al-Qur’an dan al-Sunnah. Kedua sumber itu syari’at Islam itu telah memberikan petunjuk kepada manusia (hudan al-nas) dan menginspirasi para pemikir dalam berbagai aspek kehidupan termasuk di dalamnya aspek pendidikan. Kewajiban mendidik sebagaimana dinyatakan dalam Firman Allah dalam S. 66, Al-Tahrim: 6, sebagai berikut: اس ل َّ ا ٱنل َ ه ل ِنود ل ق َ ا و ار َ ن أ م لِيكل أ ه َ أ َ و أ م سَ كل ل نف َ أ ْ ا ٓ ِنو ل ق ْ ِنوا ل ن َ ام َ ء ِينَ َّ ا ٱَّل َ ه ُّ ي َ أ َٰٓ َ ي أ م ل ه َ ر َ م َ أ ٓ ا َ م ََّ ٱَّلل َ ِنون صل أ ع َ ي َّ َل ٞ اد َ ِشد ٞ ظ َ ِغَل ٌ ة َ ِك ئ َٰٓ َ ل َ ا م َ ه أ ي َ ل َ ع ل ة َ ار َ ِج أ ٱۡل َ و َ ون ل ر َ م أ ؤ ل ا ي َ م َ ِنون ل ل َ ع أ ف َ ي و ٦َ Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, 51 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 angka 5. 52 Ibid, Pasal 1 angka 6.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 45 keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Rasulullah SAW sebagai manusia pilihan telah mendapatkan pendidikan khusus dari Allah SWT melalui wahyu yang diajarkan oleh malaikat Jibril ‘Alaihish-shalatu was-salam. Proses pendidikan awal telah dipraktekkannya oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW saat menerima wahyu pertama, yaItu lima ayat dari Al-Qur’an, S. 96, Al- ‘Alaq: 1-5. َ ق َ ل َ ِي خ َّ ٱَّل ِكَ ِ ب َ ِم ر أ ِٱس ب أ أ َ ر أ ٱق ١ ٍ ق َ ل َ ع أ ِمن َٰنَ نسَ ِ أ ٱۡل َ ق َ ل َ خ ٢ كَ ُّ ب َ ر َ و أ أ َ ر أ ٱق ل م َ ر كأ أ َ ٱۡل ٣ِ م َ ل َ ق أ ِٱل ب َ م َّ ل َ ِي ع َّ ٱَّل ٤ أ م َ ل أ ع َ ي أ م َ ا ل َ م َٰنَ نسَ ِ أ ٱۡل َ م َّ ل ع ٥َ Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,(2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.(3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,(4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam53 (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Kata “iqra” 54 inilah yang simbolisasi dari proses pedidikan tidak langsung (direct learning) dari Allah SWT 53 Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. 54 Abuddin Nata. Konsep Pendidikan..., ibid, 2006, hlm. 1-2. Kata iqra sebagai akar kata dari qira’ah yang terdapat dalam ayat tersebut diulang sebanayak dua kali. Kata tersebut oleh al-Raghib al-Ashfahani diartikan merangkai huruf atau kalimat sebagian dan membacanya dengan tertib. Pengertian secara linguistik ini sudah menunjukan kegiatan belajar. Selain itu kata iqra pula berarti: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri dan sebagainya, yang kesemuanya dapat dikembalikan pada hakikat menghimpun yang merupakan akar kata tersebut. Semua aktifitas tersebut merupakan kegiatan pendidikan. Selain itu ayat tersebut juga mengandung aspek pendidik, yaitu: guru yang dalam hal ini Allah; aspek murid, yang dalam hal ini Nabi Muhammad SAW, dan aspek
46 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional kepada Rasulullah SAW atau dapat disebut juga proses pendidikan langsung (indirect learning) Malaikat Jibril AS kepada Rasulullah SAW dalam transfer wahyu pertama. Berdasarkan itu, Rasulullah SAW melaksanakan misi kenabiannya untuk menyempurnakan akhlak bagi umat manusia melalui proses pendidikan dan pembelajaran. Proses pendidikannya dilakukan sendiri secara langsung di dalam keluarganya dan di lingkungan masyarakat terdekatnya selama di Makkah maupun di Madinah. Rasulullah SAW sendiri telah mengklaim dirinya sebagai “guru” yang mempunyai kewajiban mendidik. Oleh karena itu, setiap orang tua agar memberikan pendidikan kepada keluarganya. Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga akan menentukan karakter, sikap dan perilaku anaknya di masa mendatang. Orang tualah yang menyebabkan pula anak itu menjadi beriman atau kafir terhadap Allah SWT. Kewajiban orangtua sebagai pendidik banyak dinyatakan dalam berbagai sabda Rasulullah SAWsebagai berikut: ْي قَا َل: ِ ز ْهر ُس َع ِن ال ُّ َ ْخبَ َرنَا يُ ْونُ َ ْخبَ َرنَا َعْب ُد هللاِ: أ َحَّدثَنَا َعْبَدا ُن: أ َر ِض َي هللاُ َعنْهُ َرْي َرةَ بَا هُ َ َّن أ َ ِن: أ َمةَ ْب ُن َعْبِد ال َّر ْحم بُ ْو َسلَ َ َ ْخبَ َرنِ ْي أ أ قَا َل: قَا َل َر ْو ٍد يُ ْولَ ُد َعلَى ُ َما ِم ْن َمْول :َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ُس ْو ُل هللاِ َصل تِ ُج َم ِّج َسانِ ِه، َكَما تُــنْ ْو يُ َ ْويُنَ ِّص َرانِ ِه أ َ بَ َواهُ يُهَ ِّو َدانِ ِه أ َ ْط َرِة، فَأ فِ ْ ال ُ َء؟ ث ُّس ْو َن فِ ْيهَا ِم ْن َجْد َعا ِح َء، هَ ْل تُ َج ْمَعا َمةً بَ ِهْي َمةُ بَ ِهيْ ال بُو ْ َ ْو ُل أ َّم يَقُ ْيهَا، َر النَّا َس َعلَ تِ ْي فَطَ َّ ِهللا ال ْط َرةَ َر ِض َي هللاُ َعنْهُ: )فِ َرْي َرةَ هُ قَيِّ ُم(. }رواه البخاري{. ْ ِق هللاِ، َذالِ َك ال ِّدْي ُن ال ْ الَتَ ْبِدْي َل لِ َخل materi pelajaran yang dalam hal ini segala sesuatu yang belum diketahui manusia”. Penulis menambahkan, bahwa ayat tersebut juga mengandung aspek metode, media dan proses pembelajaran dalam bentuk membaca teks dan menulis dengan qalam (alat tulis).
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 47 Artinya: Menceritakan kepada kami ‘Abdan, menghabarkan kepada kami ‘Abdullah, menghabarkan kepada kami Yunus dari al-Zuhri, berkata: telah mengahabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, sesungguhnya Abu Hurayrah berkata: Rasulullah SAW bersabda: “tidak ada anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi seperti binatang ternak yang melahirkan anaknya yang banyak, adakah engkau menganggapnya ada yang hidungnya cacat? Kemudian berkata: Fithrathallahillati fatharannasa ‘alaiha la tabdila likhalqillah, dzalikaddinulqayim.(HR. Bukhari).55 َو ْرِد َّي( ل َّد َرا )يَ ْعنِ ْي اَ ِ ْيز ِ َعز ْ ْب ُن َس ِعْيٍد، َحَّدثَنَا َعبْ ُد ال ـــتَيْــبَةُ َحَّدثَنَا قُ ْي ِه َّى هللاُ َعلَ َّن َر ُس ْو َل هللاِ َصل َ َرْي َرةَ أ ِ ْي هُ ب َ ْي ِه َع ْن أ ِ ب َ ِء َع ْن أ َعالَ ْ َع ِن ال ٍن َسا ِنْ َ قَا َل: ُك ُّل إ م َو َسل ِ ِه َّ بَ َواهُ، بَ ْعُد، يُهَ ِّو َداِن َ ْط َرِة َوأ فِ ْ ُّمهُ َعلَى ال ُ ُدهُ أ تَلِ ُّمهُ ُ ُدهُ أ ٍن تَلِ َسا ِنْ ُم ْسلٌِم ُك ُّل إ َمْي َن فَ ْن َكا َن ُم ْسلِ ِ َم ِّج َسانِ ِه فَإ َويُنَ ِّص َرانِ ِه َويُ َ َوابْنَهَا. }رواه مسلم{. َم ْريَم ِالَّ ِي ِح ْضنَ ْي ِه إ ُك ُزهُ ال َّشْيطَا ُن ف ْ يَل Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Said, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz (yakni al-Darawardi) dari ‘Ala dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: setiap orang dilahirkan ibunya atas dasar fitrah maka orang tuanyalah yang menjadikannya penganut Yahudi, Nasrani atau Majusi, jika kedua orang tuanya muslim maka anaknya menjadi muslim. Setiap 55 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-Janaiz, Bab Idza Mâta asShabiyyi famâta…, No. 79/1359, hlm. 267.
48 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan tertusuk (oleh syaithan) kecuali Maryam dan anaknya. (HR. Muslim).56 ِن َعْب َح ِد َّدثَنَا آ َمةَ ْب ِ ْي َسلَ ب َ ِّي َع ْن أ ِ ز ْهر ٍب َع ْن ال ُّ ِ ْي ِذئْ ب َ َدُم َحَّدثَنَا اْب ُن أ َّى َر ِض َي هللاُ َعنْهُ قَا َل: قَا َل َر ُس ْو ُل هللاِ َصل َرْي َرةَ ِ ْي هُ ب َ ِن َع ْن أ ال َّر ْحم بَ َو َ ْط َرِة، فَأ ِف ْ ْوٍد يُ ْولَ ُد َعلَى ال ُ َ: ُك ُّل َمْول م َّ ْي ِه َو َسل ْو َ َ هللاُ َعل اهُ يُهَ ِّو َدانِ ِه أ َرى فِ ْيهَا َمةَ، هَ ْل تَ بَ ِهْي ْ تَ ُج ال َمِة تُنْ بَ ِهْي ْ ِل ال َم ِّج َسانِ ِه، َكَمثَ ْو يُ َ يُنَ ِّص َرانِ ِه أ َء؟ }رواه البخاري{. َجْد َعا Artinya: Menceritakan kepada kami Adam, menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dza’bi dari Zuhri dari Abi Salamah bin ‘Abdirrahman dari Abu Hurayrah ra. ia berkata: bersabda Nabi SAW: “setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti binatang ternak melahirkan anaknya, apakah engkau melihatnya ada yang hidungnya potong (cacat)? (HR.Bukhari).57 Kewajiban mendidik juga dibebankan kepada para pendidik, masyarakat dan negara terhadap warga belajar atau peserta didik agar menjadi masyarakat pembelajar. Kewajiban mendidik selain bersifat individual (fardhu’ain) juga bersifat kolektif (fardhu kifayah) dalam menyelenggarakan dan melaksanakan pendidikan. Para pendidik diwajibkan mengajarkan agama dan mentransfer 56 Al-Imam Abi Husain Muslim bin Hajjaz al-Qusyairi al-Naisabury. Shahih Muslim, (Pensyarah Muhammad Fuad Abdu al-Baqy), al-Qahirah, Juz IV, cet. I, 1997, Kitab al-Qadar, Bab Ma’na Kullu Mauludin…, no. 25, hlm. 352. 57 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-Janaiz, Bab Ma Qîla fi aulad alMusyrikin, No. 92/1385, hlm. 272.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 49 ilmu pengetahuan serta keterampilan bagi peserta didik atau warga belajar supaya menjadi manusia yang memiliki akhlakulkarimah dan mempunyai kemampuan hidup. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut: َ ْخبَ َرنِ ْي َ ْخبَ َرنَا َعْبُد هللاِ قَا َل: أ ي قَا َل: أ ُّ ِ َم ْر َوز ْ ْش ُر ْب ُن ُم َح َّمٍد ال ِ َحَّدثَنَا ب َر ُس َع ِن ُع َم يُ ْونُ َ ْخبَ َرنَا َسالِ ُم ْب ُن َعْبِد هللاِ، َع ِن اْب ِّي قَا َل: أ ِ ز ْهر ِن ال ُّ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َما قَا َل َس ِمْع ُت َر ُس ْو َل ِهللا َصل َر ِض َي هللاُ َعنْهُ ِن ُس.... َع ْن َعْبِد هللاِ ْب ْي ُث: قَا َل يُ ْونُ َّ َو َزا َد الل ٍع". ُّ ُكْم َرا ْو ُل: " ُكل يَقُ ُّ ُك َع ْم َ قَا َل: ُكل م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َّن َر ُس ْو َل ِهللا َصل َ ٍر َر ِض َي هللاُ َعنْهُ أ ْم ِت ِه، ٍع َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّ ِإل َماُم َرا ْ َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّتِ ِه: ا ُّ ُكْم ٍع َو ُكل َرا ْ َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّتِ ِه، َوال ْهلِ ِه َوهُ َ ِي أ ٍع ف ِي َوال َّر ُج ُل َرا ف َرا ِعيَةٌ ةُ َ َم ْرأ ِل َسيِِّدِه ِي َما ٍع ف َخاِدُم َرا ْ َع ْن َر ِعيَّتِهاَ، َوال َو َم ْس ُؤلَةٌ بَْي ِت َز ْو ِجهَا ِي ٍع ف ْن قَ ْد قَا َل: َوال َّر ُج ُل َرا َ َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّتِ ِه. قَا َل: َو َح ِسْب ُت أ ُّ ُكْم َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّتِ ِه، َو ُكل ْي ِه َوهُ ِ ب َ ِل أ َما ِت ِه. ٍع َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّ َرا }أخرجه البخاري{. Artinya: Menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad al-Marwazy, dia berkata: Dari Abdullah bin ‘Umar ra. sesungguhnya Rasulullah SAW berkata: setiap kamu adalah pemimpin maka akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, penguasa yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpnannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang isteri adalah pemimpin rumah suaminya serta anaknya dan ia akan dimintai atas kepemimpinannya, seorang pelayan adalah pemimpin atas harta majikannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, begitu pun kamu
50 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional semua adalah pemimpin, maka akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya. (HR. Bukhari).58 ي، َحَّدثَنِ ْي َح َّسا ُن ْب ُن َع ِطيَّةَ، ُّ ْو َزا ِع ْألَ َ ْخبَ َرنَا ا َولِ ْيُد ْب ُن ُم ْسلٍِم، أ ْ َحَّدثَنَا ال ِو َّن َعْبَد هللاِ ْب َن َع ْمر َ ي، أ ْولِ ُّ ُ بُو َكْب َشةَ ال َّسل َ َح هُ، َّدثَنِ ْي أ ِص، َحَّدثَ َعا ْ ِن ال ْب ْي ِّ ُغْوا َعنِّ ْو ُل: بَل َ، يَ ْعنِ ْي يَقُ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ نَّهُ َس ِم َع َر ُس ْو َل هللاِ َصل َ أ َّي َّ َب َعل َح َر َج، َو َم ْن َكذَّ ْس َرآئِْي َل َوالَ ِ ْوا َع ْن بَنِ ْي إ ُ َو َحِّدث ْو آيَةً َولَ َعَدهُ َمقْ ْ يَتَبَ َّوأ ْ ُمتَ حمد{. َعِّمًدا فَل . }رواه أ ِ ِم َن النَّار Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-‘Ash, ra, bahwa Nabi SAW bersabda: sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat dan ceritakanlah apa yang berasal dari Bani Israil, itu tidak apa-apa, dan barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersiaplah ia ke neraka. (HR. Ahmad).59 ُم ْب ُن َج ِمْي ٍل، َحَّدثَنِ ْي َع ْم ُرو بْ ُن لهَيْثَ ْ ، َحَّدثَنَا ا ِ ْألَ ْزهَر ْح َمُد ْب ُن ا َ َحَّدثَنَا أ ْو ُل: َس ْب َن َمالِ ٍك يَقُ نَ َ َ قَا َل، َس ِمْع ُت أ ْب َرا ِهْيم ِ َسلِ ْيٍم، َحَّدثَنَا يُ ْو ُس ُف ْب ُن إ َس ِم ٍم ْع ُت ْ َم ْن ُسئِ َل َع ْن ِعل ْو ُل: يَقُ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َر ُس ْو َل هللاِ َصل . }رواه ابن ماجه{. ِ ِم ِم ْن نَار لِ َجا ِ َمِة ب قِيَا ْ ال َ يَ ْوم َ ِجم ْ ل ُ َمهُ، أ فَ َكتَ Artinya: Ahmad bin al-Azhari menceritakan kepada kami, Haitsam bin Jamil menceritakan kepada kami, Amr bin Salim menceritakan kepada kami, Yusuf bin Ibrahim menceritakan kepada kami, bahwasanya dia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik 58 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab Al-Jum’ah, Bab Al-Jumu’atu fi al-Qura wa al-Mudun, No. 11/893, hlm. 176-177. 59 Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Al-Musnad, Riyadh: Baitul Afkar ad-Dauliyah, 1998, 2/159, No. 6486, hlm. 491.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 51 berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda, barangsiapa ditanya suatu ilmu kemudian menyembunyikannya, maka Allah akan mengikatnya dengan belenggu dari api neraka pada hari kiamat kelak. (HR. Ibn Majah).60 َ ْخبَ َرنَا َعْبُد هللاِ ْب ُن ي، أ ُكْوفِ ُّ ْ ي ال يَا ِم ُّ ْ ل ٍش اَ َرْي ِل ْب ُن قُ ْح َمُد ْب ُن بَُدْيب َ َحَّدثَنَا أ ِن َزا َذا َن َع ْن ٍر، َع ْن ُمَما َرةَ ْب ْي َمْي نُ ِ ب َ َح َكِم َع ْن َعطَا ِء، َع ْن أ ْ ِن ال َعلِ ِّي ْب َ: " َم ْن ُسئِ َل َع ْن م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َرْي َرةَ قَا َل: قَا َل َر ُس ْو ُل هللاِ َصل هُ ِ". }رواه أبو داود{. لِ َجاٍم ِم َن النَّار ِ َمِة ب قِيَا ْ ال َ يَ ْوم َ ِجم ْ ل ُ َمهُ، أ ٍم فَ َكتَ ْ ِعل Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Ahad bin Budail bin Quraisy al-Yamy al-Kufy, telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Numair, dari Mumarah bin zadzana dari Ali bin Hakam dari Atha’ dari Abi Khurayrah, ia berkata: telah bersabda Rasulullah SAW: barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu, kemudian ia tidak mau menjawabnya (menyembunyikan ilmu tersebut), maka ia akan dikendalikan oleh suatu kendali dari api neraka pada hari kiamat. (HR. Abu Dawud).61 ِن ِم ْب ٍس قَا َل: َحَّدثَنِ ْي َمالِ ٌك، َع ْن ِه َشا َويْ ُ ِ ْي أ ب َ َحَّدثَنَا إ ْس َما ِعيْ ُل ْب ُن أ َعا ِصي قَا َل: َس ِمْع ُت ْ ِن ال ِو ْب ْن َع ْمر ِ ْي ِه َع ْن َعْبِد هللاِ ب ِ ب َ ُع ْر َوةَ َع ْن أ ُض ِ ب َّن هللاَ الَيَقْ ِ ْو ُل: إ يَقُ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ تِ َزا ًع َر ُس ْو َل هللاِ َصل ا ِنْ إ َ م ْ ِعل ْ ال ْم َذا لَ ِ َما ِء، َحتَّى إ ُعلَ ْ ِض ال قَبْ ِ ب َ م ْ ِعل ْ ُض ال ِ ب ِك ْن يَقْ ِعبَاِد، َولَ ْ ِم َن ال ُعهُ ِ تَز يَنْ 60 Imam al-Hafidz abi Abdillah Muhammad bin Yazid ar-Rob’iyyi, Sunan Ibn Majah, Arab Saudi: Darussalam, 1999, Bab Muqaddamah No. 24/264, hlm. 40-41. 61 Abu Dawud Sulaiman. Sunan Abi Dawud, (Pensyarah Sayyid Muhammad Sayyid) Al-Qahirah, Dar al-Hadits, 1999, Kitab al-iImi, hlm. 1576
52 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional ْوا ُّ َضل ٍم فَ ْ ِعل ِ َغْير ِ تَ ْوا ب فْ َ ْوا فَأ ُ ُسئِل ِتَّ َخَذ النَّا ُس ُر ُؤ ًسا ُجهَّاالً، فَ يَْب َق َعالٌِم إ ْوا. }أخرجه البخاري{ ُّ َضل َ َوأ . Artinya: Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash berkata: saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba mencabut dari hambaNya, tetapi mengambil ilmu dengan cara mengambil para ulama (mematikan mereka), sehingga tidak tersisa orang berilmu; akhirnya orang-orang mengambil pemimpin yang bodoh, maka mereka ditanya, mereka memberi fatwa dengan tidak berdasarkan ilmu, maka mereka tersesat dan menyesatkan orang lain. (HR. Bukhari).62 Berdasarkan penjelasan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa pendidik dalam pendidikan Islam mempunyai konotasi yang berbeda dengan pendidik atau tenaga kependidikan dalam pengertian umum. Kategori tenaga pendidikan dalam pendidikan Islam adalah setiap idividu yang mempunyai kewenangan dan tanggung jawab dalam lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan alam raya yang lebih luas. Dalam kaitannya dengan kategori kependidikan, para ahli pendidikan menyimpulkan bahwa pendidik itu adalah Allah, Nabi, Orangtua, Guru/Dosen. 1. Allah SWT. sebagai Pendidik Alam Allah SWT sebagai Maha Pendidik dapat difahami dalam al-Qur’an sebagai pendidik bagi seluruh alam (rabb al- ‘alam). Allah mengajarkan (allama) segala macam nama 62 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab Al-Jum’ah, Bab Al-‘Ilmu, No. 34/100, hlm. 27.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 53 kepada Nabiyullah Adam AS. Rasulullah SAW bersabda: “Tuhanku telah mendidikku (addabani) sehingga menjadi baik pendidikanku” (HR. Asyhari).63 Allah SWT sebagai Maha Pendidik dinyatakan dala al-Qur’an S.1, Al-Fatihah: 2: ِمنيَ َ ل َٰ َ ع أ ٱل ِ بِ َ ِ ر َّ َِّلل ل د أ م َ أ ٱۡل ٢ Artinya: Segala puji64 bagi Allah, Tuhan semesta alam.65 Allah SAW sebagai Maha Pendidik yang mengajarkan (allama) kepada Nabiyullah Adam AS pada awal penciptaannya sebagai khalifah dinyatakan Al-Qur’an, S. 2, Al-Baqarah: 31: ضَ َ ر َ ع َّ م ل ا ث َ ه لَّ ُك َ ء ٓ ا َ م أ س أ َ ٱۡل َ م َ اد َ ء َ م َّ ل َ ع و ۢنِب َ َ أ َ ال َ ق َ ةِ ف َ ِك ئ َٰٓ َ ل َ م أ ٱل أ لَع ََ م ل ِي ه ِنو ِدقِنيَ َٰ صَ أ م ل نت ل ِن ك ءِ إ َٓ َل ل ؤ َٰٓ َ ءِ ه ٓ ا َ م أ س َ ب ٣١ِ أ Artinya: “...dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (bendabenda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada 63 Muhammad Dahlan. Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut alQur’an serta Implementasinya, Bandung, CV. Diponegoro, 1991, hlm. 43. 64 Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji. 65 Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, bendabenda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.
54 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! Al-Razi, seperti dikutip oleh Muhammad Dahlan, dalam buku: Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut al-Qur’an, “membuat perbandingan antara Allah sebagi pendidik dengan manusia sebagai pendidik sangatlah berbeda. Allah sebagi pendidik mengetahui segala kebutuhan orang yang didiknya sebab Dia adalah zat Maha Pencipta. Perhatian Allah tidak terbatas hanya terhadap sekelompok manusia saja, tetapi memperhatikan dan mendidik seluruh alam.”66 Firman Allah SWT tersebut telah menunjukan telah terjadinya proses transfer knowladge antara Allah SWTsebagai Maha Pendidik terhadap Nabiyullah Adam AS untuk mengenali alam semesta. Demikian juga proses pendidikan ini dipraktekkan oleh Nabiyullah Adam AS terhadap para Malaikat AS. Nabiyullah Adam AS mengetahui sesuatu itu melalui proses pengajaran langsung dari Maha Pendidik sehingga ia menjadi sosok khalifah yang pandai. 2. Para Nabi sebagai Pendidik Umat Nabi Muhammad SAW menindentifikasikan dirinya sebagai pendidik (muallim) yang menerima wahyu al-Qur’an untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia melalui proses pendidikan. Hal ini pada intinya menegaskan bahwa kedudukan nabi sebagai pendidik ditunjuk langsung oleh Allah SWT kepada umatnya masing-masing sesuai zamannya.67 66 Ibid. 67 Ibid.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 55 Dalam kaitan ini seluruh nabi adalah dapat disebut sebagai pendidik, karena misinya untuk menyampaikan ajaran-ajaran dari Allah SWT yang harus disampaikannya kepada manusia. Nabi Muhammad telah mengemban misi ini dari mulai peride Makkah hingga ke periode madinah. Mengajarkan umatnya dengana cara berda’wah, mendidik, mencontohkan dan bahkan mempraktekkan ajaran-ajaran yang diwahyukan dari Allah SWT kepada umatnya. 3. Orangtua sebagai Pendidik Keluarga Orangtua adalah sebagai pendidik pertama dan utama di dalam lingkungan keluarga. Al-Qur’an menyebutkan sifatsifat yang dimiliki oleh orangtua sebagai guru, yaitu memiliki kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio dapat bersyukur kepada Allah SWT. Menasihati anaknya agar tidak menyekutukan tuhan, memerintahkan anaknya agar menjalankan perintah shalat, sabar dalam menghadapi penderitaan. Itulah sebabnya orangtua disebut “pendidik qudrati” yaitu pendidik yang telah diciptakan oleh Allah qudratnya menjadi pendidik. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an S. 31, Luqman, ayat 12-19 sebagai berikut: ل ر ل ك أ ش َ ا ي َ م َّ ِن إ َ ف أ ر ل ك أ ش َ ن ي َ م َ ِۚ و َّ َِّلل أ ر ل ك أ ِن ٱش َ أ َ ة َ م أ ِك أ ٱۡل َٰنَ َ م أ ق ل ا ل َ ن أ ي َ ات َ ء أ د َ ق َ ل َ و ٞ ِيد ِِنٌّ َحَ َ غ ََّ ٱَّلل َّ ِن إ َ ف َ ر َ ف ن كَ َ م َ ۖٗۦ و ِسهِ أ ف ِنل ١٢ِ ل َ َٰنل َ م أ ق ل ل َ ال َ ق أ ِإَوذ نِهِۦ أ ب ٞ ِظيم َ ع ٌ م أ ل ل ظ َ ل َ ك أ ِ ٱلَّش ِ َّ ِن إ ِٗۖ َّ ِٱَّلل ب أ ِك َّش أ ل ت َ َّ َل ِن َ ل ب َٰ َ ۥ ي ل ه ل عِظ َ ي َ ِنو ل ه َ و ١٣ ا َ ن أ ي َّ ص َ و َ و ِن َ أ ِ ني أ َ م َ ۥ ِِف َع ل ه ل ل َٰ فِصَ َ و ٖ ن أ ه َ و َٰ ا لَع ََ ً ن أ ه َ ۥ و ل ه ُّ م ل أ ل ه أ ت َ ل هِ َحََ أ ي َ ِل َٰ َ ِو ب َٰنَ نسَ ِ أ ٱۡل ِصيل َ م أ ٱل َّ َ ِِل إ كَ أ ي َ ِل َٰ َ لِو َ ِِل و أ ر ل ك أ ٱش ١٤ ا َ ِِب م َ ِك َّش أ ل ن ت َ أ َٰٓ َ لَع ََ اك َ د َ ه َٰ ِإَون جَ
56 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional أ ِع ب َّ ٱت َ و ٗۖ ا وف ل ر أ ع َ ا م َ ي أ ن ُّ ِِف ٱل ا َ م ل ه أ ا ِحب صَ َ و ٗۖ ا َ م ل ه أ ِطع ل ت َ َل َ ف ٞ م أ ِهِۦ ِعل ب كَ َ أ َس ل ي َ ل َ ِنون ل ل َ م أ ع َ ت أ م ل نت ل ا ك َ ِم م ب لكل ِئ ِ ب َ ن ل أ َ ف أ م لكل ِجع أ ر َ م َّ َ ِِل إ َّ م ل ث ۚ َّ َ ِِل إ ابَ َ ن َ أ أ ن َ م َ ِيل ب َ س َّ ١٥ ِن َ ل ب َٰ َ ي أ و َ ٍة أ َ ر أ خ ن ِِف صَ َكل ت َ ٖل ف َ د أ ر َ خ أ ِن ِ ةٖ م َّ ب َ ح َ ال َ ق أ ِمث كل َ ِن ت إ ٓ ا َ ه َّ ِن إ ِيٞ ب َ خ ٌ ِطيف َ ل ََّ ٱَّلل َّ ِن إ ۚ َّل ا ٱَّلل َ ِه ِت ب أ أ َ ۡر ِض ي أ َ ِِف ٱۡل أ و َ ِت أ َٰ َ و َٰ َ م ِِف ١٦ ٱلسَّ ٱصأ َ ِ و ر َ نك ل م أ ٱل ِ ن َ ع َ ه أ ٱن َ و ِف و ل ر أ ع َ م أ ِٱل ب أ ر ل م أ أ َ و َ ة َٰ ِنو َ ل َّ قِِم ٱلص َ أ َّ ِن َ ل ب َٰ َ ي ٓ ا َ م َٰ ِِبأ لَع ََ ِ ِنور ل م أ ل ِم ٱۡل أ ز َ ع أ ِمن لِكَ َٰ َ ذ َّ ِن إ ٗۖ كَ َ اب صَ َ أ ١٧ َ َل َ ا ِس و َّ لِلن َ ك َّ د َ خ أ ِر ِ ع صَ ل ت َ َل َ و أ م َ ت ٖ ِنور ل خ َ ٖل ف ا َ ت لأ ُم لَّ ُك ُّ ِب ل ُي َ َل ََّ ٱَّلل َّ ِن إ ٗۖ ا ً ح َ ر َ ۡر ِض م أ َ ِِف ِش ١٨ِِ ف ٱۡل أ ِصد أ ٱق َ و أ َ ٱۡل َ ر نكَ َ أ َّ ِن إ ۚ تِكَ أ ِنو ِمن صَ ض أ ضل أ ٱغ َ و ِكَ ي أ ش َ ِميِ م َ أ ٱۡل تل أ ِنو صَ َ ِت ل َٰ َ و ص ١٩ أ Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (ayat 12). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (ayat 13). Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambahtambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 57 kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. (ayat 14). Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepadaKulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (ayat 15). (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. (ayat 16) Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (ayat 17). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (ayat 18). Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (ayat 19).
58 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Pendidik dilembaga pendidikan umum memilki banyak istilah, antara lain Guru, Dosesn, Tutor, Fasilitator, atau Widyaiswara. Derajat para pendidik sangat dimuliakan dan dihargai di oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun demikian para pendidik mempunyai konsekuensi sebagai amanah agar menyampaikan ilmu dan pengetahuannya kepada peserta didik. Sebagaimana firman Allah SWT S, 4, Al-Nisa, ayat 8: ل ِنوه ل ق ل ز أ ٱر َ ف ِكنيل َٰ سَ َ م أ ٱل َ ََمَٰ و َٰ َ ت َ أ ٱِل َ و َٰ َ َب أ ر ل ق أ ٱل ْ ِنوا ل ل ْ و ل أ َ ة َ م أ قِس أ ٱل َ ََضَ ا ح َ ِإَوذ ل ه أ ِن ِ م م ا وف ل ر أ ع َّ م َل أ ِنو َ ق أ م ل ه َ ل ْ ِنوا ل ِنول ل ق و ٨َ Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. Kewajiban mendidik secara mikro utamanya ditunjukan kepada orang tua sebagai orang pertama dan utama untuk memberikan pendidikan kepada keluarganya (anak) di dalam keluarga agar setiap anggota kelurga mendapatkan kesejahteraan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat. Ayah memiliki kedudukan yang sangat penting dan mulia, karena ia sebagai pemimpin dalam keluarga terhadap isteri dan anak-anaknya. Ayah bertanggung jawab terhadap mereka dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Begitu pula isteri sebagai pendidik di dalam keluarga ikut bertaggungjawab terhadap pendidikan anaknya. 4. Guru/Dosen/Tutor/Fasilitator/Widyaiswara sebagai Pendidik Umum di Lembaga pendidikan
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 59 Berdasarkan pesan al-Qur’an dan al-Sunnah tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa pendidikan secara mikro yang dilakukan di dalam keluarga bersifat informal. Penyelenggaraan pendidikan secara makro oleh masyarakat bersifat nonformal dalam bentuk badan hukum yayasan atau tidak berbentuk badan hukum yang dilaksnakan secara mandiri dan/atau atas bantuan pemerintah. Pendidikan Islam yang dilaksanakan oleh negara bersifat formal dalam bentuk badan hukum negara dalam sebuah sistem pendidikan yang diatur oleh sebuah regulasi peraturan perundang-undangan. Pendidik dalam konteks pendidikan Islam menggunakan tiga term, yaitu murabbi, muallim dan muaddib. Ketiga term tersebut mempunyai makna yang berbeda walaupun dalam konteks lain mempunyai kesamaan makna. Istilah murabbi sering dijupai dalam kalimat yang orientasinya lebih mengarah pada “pemeliharaan yang bersifat jasmani dan rohani. 68 Istilah muallim pada umumnya dipakai untuk membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemberian dan pemindahan ilmu pengetahuan dari seseorang yang lebih tahu kepada seseorang yang tidak tahu.69 Sedangkan istilah muaddib lebih luas dari istilah muallim dan lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam.70 Terminologi pendidik Islam disampaikan oleh para ahli pendidikan antara lain: Muchammad Fadhil al-Djamil, dalam buku Tarbiyah al-Insan al-Jadid, menyatakan bahwa “pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan 68 H. Ramayulis. Ilmu…, hlm. 56. 69 Syed Muhammad al-Naquib al-Atas. The Consept of Education in Islam, Kuala Lumpur, Muslim Youth Nen of Malaysia, ABM, 1980, hlm. 63. 70 Ibid.
60 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional yang baik sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki manusia”.71 Marimba mengartikan “pendidik sebagai orang yang memikul pertanggung-jawaban sebagai pendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggungjawab tentang pendidikan peserta didik”.72 Sutari Imam Barnadib, berpendapat, bahwa “pendidik adalah setiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaan peserta didik”.73 Zakiah Daradjat, menyatakan bahwa “pendidik adalah individu yang akan memenuhi pengetahuan, sikap dan tingkah laku peserta didik”.74 Ahmad Tafsir, mengemukakan, bahwa “pendidik dalam Islam sama denga teori barat, yaitu siapa saja yang bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik”.75 Kepribadian seorang pendidik dikemukakan oleh AlGhazali yang mengkhususkan guru dengan sifat-sifat kesucian dan kehormatan dan menempatkan guru langsung sesudah kedudukan Nabi dengan menyatakan, bahwa: Seseorang yang berilmu dan kemudian mengamalkan ilmunya itu dialah yang disebut dengan orang besar di semua kerajaan langit, dia bagaikan matahari yang menerangi alam sedangkan ia mempunyai cahaya dalam dirinya, seperti minyak kasturi yang mengharumi orang 71 Muhammad Fadhil al-Djamil. Tarbiyah al-Insan al-Jadid, AlTunisiyah al-Syarikah, tt, hlm. 74 72 Ibid. 73 Sutari Imam Barnadib. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Yogyakata, Andi Ofset, 1993, hlm. 61. 74 Zakiah Daradjat. Islam untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, Jakarta, Bulan Bintang, 1987, hlm. 19. 75 Ahmad Tafsir. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Rosda Karya, 2007, hlm. 45.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 61 lain karena ia harum. Seseorang yang menyibukkan dirinya dalam mengajar berarti dia telah memilih pekerjaan yang terhormat. Oleh karena itu hendaklah seorang guru memperhatikan dan memilihara adab dan sopan santun dalam tugasnya sebagai seorang pendidik.76 Abdurrahman Al-Nahlawi, dalam buku Lingkungan Pendidikan Islam, Rumah, Sekolah dan Masyarakat, “menggambarkan orang yang berilmu diberi kekuasaan menundukkan alam semesta demi kemaslahatan manusia. Oleh itu dalam kehidupan social masyarakat, para ilmuan (pendidik) dipandang memiliki harkat dan martabat tinggi”.77 Tugas Umum pendidik sebagai warasatul anbiya, yang pada hakikatnya mengemban misi rahmatan lil’alamin, yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Kemudian misi ini dikembangkan kepada pemebentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal saleh dan bermoral tinggi. Abdurrahman al-Nahlawi, mengatakan bahwa: Tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Allah, dengan tugas sebagai berikut: pertama, fungsi penyucian, yakni berfungsi sebagai pembersih, pemelihara, dan pengembang fitrah manusi. Kedua, fungsi pengajaran yakni meng-internalisasikan pengetahuan dan nilai-nilai agama kepada manusia.78 76 Abu Muhammad Ibn Muhammad Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin (seluk beluk Pendidikan al-Ghazali), Jakarta, 1990, hlm. 50 77 H. Ramayulis. Ilmu..., Ibid, hlm. 62. 78 Abdurrahman al-Nahlawi. Lingkungan Pendidikan Islam, Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Bairut, Libanon, Dar al-Fikri al-M’asyir, 1983, cet ke-2, hlm. 41
62 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Masih menurut al-Nahlawi, bahwa pendidik mempunyai tugas khusus dalam menyelenggarakan sebagai pengajar, pendidik dan pemimpin. Ketiga tugas ini harus terlaksana di dalam kelas ketika belagsungnya proses belajar mengajar antara guru dengan murid, dalam hal: 1. sebagai pengajar (instruktur) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun, dan penilaian setelah program itu dilaksanakan; 2. sebagai pendidik (educator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian insane kamil, seiring dengan tujuan Allah menciptakan manusia; 3. sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait. Menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas program yang dilakukan itu.79 Pendidik juga mempunyai tanggung jawab terhadap peserta didik kearah yang lebih baik sebagaimana dikemukakan oleh al-Nahlawi, bahwa: Mendidik individu supaya beriman kepada Allah dan melaksanakan syari’atnya, mendidik diri supaya beramal shaleh, dan mendidik masyarakat untuk saling menasehati dalam melaksanakan kebenaran, saling menasehati agar tabah dalam menghadapi kesusahan beribadah kepada Allah serta menegakkan kebenaran. Tanggugjawab itu bukan hanya sebatas tanggung jawab 79 Ibid.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 63 moral seorang pendidik terhadap peserta didik, akan tetapi lebih jauh dari itu. Pendidikan akan mempertanggungjawabkan atas segala tugas yang dilaksnakannya kepada Allah.80 Para pendidik, selain memiliki kewajiban yang dilaksanakannya juga dibekali dengan kode etik pendidikan. Kode etika dalam menyelenggarakan pendidikan Islam, disampaikan oleh Al-Kanani, yaitu: kode etik pendidik berkaitan dengan (1) dirinya sendiri, (2) pelajaran, dan (3) murid. Kode etik guru seperti dikutif oleh Ramayulis sebagai berikut: 1. Kode etik berkaitan dengan diri guru adalah: a. Hendaknya guru seantiasa insyaf akan pengawasan Allah terhadapnya dalam segala perkataan dan perbuata bahwa ia sedang memegang amanat ilmiah yang diberikan Allah kepadanya. Karena itu ia tidak menghianati amanat itu, mlah ia tunduk dan merendahkan diri kepada Allah SWT; b. Hendaknya guru memelihara kemuliaan ilmu. Salah satu bentuk pemeliharaannya ialah tidak mengajarkannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, yaitu orang-rang yang menuntut ilmu untuk kepentingan dunia semata; c. Hendaknya guru bersifat zuhud. Artinya ia mengambil dari rezeki dunia hanya yang sekedar memenuhi kebutuhan poko dari dan keluarganya secara sederhana. Ia hendaknya tidak tamak terhadap kesenangan dunia, sebab sebgai orang 80 Ibid.
64 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional yang berilmu, ia lebih tahu ketimbang rang awam bahwa kesenangan itu tidak abadi; d. Hendaknya guru tidak berorientasi duniawi dengan menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai keudukan, harta, prestise, atau kebanggaan atas orang lain; e. Hendaknya guru mencari pencaharian yang hina dalam pandangan syara’, dan menjauhi situasi yang dapat menjatuhkan harga dirinya di mata orang banyak; f. Hendaknya guru memelihara syiar-syiar Islam, seperti melaksanakan shalat berjamaah di masjid, mengucapkan salam, serta menjalankan amr ma’ruf dan nahi munkar. Dalam melakukan semua itu hendaknya ia bersabar dan tegar dalam menghadapi celaan dan cobaan; g. Guru hendaknya rajin melakukan hal-hal yang disunatkan oleh agama, baik dengan lisan maupun perbuatan, seperti membca Al-Qur’an, berzikir, dan shalat tengah malam; h. Guru hendaknya memelihara akhlak yang mulia dalam pergaulannya dengan orang banyak dan menghindarkan diri dari akhlak yang buruk. Sebagai pewaris Rasulullah SAW sudah sepantasnya seorang pendidik untuk memperlihatkan akhlak yang terpuji, sebagaimana peran yang dimaikan Rasulullah SAW dalam menghadapi umatnya (sebagai teladan atau panutan); i. Hendaknya guru mengisi waktu-waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti beribadah, membaca dan mengarang. Iniberartibahwa, seorang pendidik haru selalu
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 65 pandai memanfaatkan segala kondisi sehingga hari-harinya tidak ada yang terbuang; j. Hendaknya guru selalu belajar dan merasamalu untuk menerima ilmu dari orang lain yang lebih rendah dari padanya, baik secara kedudukan ataupun usianya. Artinya seorang pendidik hendaknya selalu bersikap terbuka terhadap masukan apapun yang bersifat positif dan dari manapun datangnya; k. Hendaknya guru rajin meneliti, menyusun, dan mengarang dengan memperhatikan keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk itu.81 2. Kode etik pendidik yang berhubugan dengan pelajaran (paedagogis) sebagai berikut: a. Sebelum keluar rumah untuk mengajar, hendaknya guru bersuci dari hadas dan kotoran serta mengenakan pakaian yang baik dengan maksud mengagungkan ilmu dan syariat; b. Ketika keluar dari rumah, hendaknya guru selalu berdo’a agar tidak sesat dan menyesatkan, dan terus berzikir kepada Allah SWT hingga sampai ke majelis pengajaran. Ini menegaskan bahwa sebelum mengajarkan ilmunya, seorang guru sepantasnya untuk menyucikan hati dan niatnya; c. Hendaknya guru mengambil tempat pada posisi yang membuatnya dapat terlihat oleh semua murid. Artinya ia harus berusaha agar apa yang disampaikannya hendaklah diperkirakan dapat dinikmati oleh seluruh siswanya dengan baik; d. Sebelum mulai mengajar, guru hendaknya membaca sebagian dari ayat Al-Qur’an agar 81 H. Ramayulis. Ilmu..., ibid, hlm. 69-71
66 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional memperoleh dari berkah dalam mengajar, kemudian membaca basmallah; e. Guru hundaknya mengajar bidang studi sesuai dengan hierarki niai kemuliaan dan berkepentingannya, yaitu tafsir Al-Qur’an, kemudian Hadits, Usuluddin, Ushul Fikih, dan seterusnya. Barangkali untuk seorang guru pemegang mata pelajaran umum,hendaklah selalu mendasarkan materi pelajaran dengan Al-Qur’an dan Hadits, dan kalau perlu mencoba untuk meninjaunya dari kaca mata Islam; f. Hendaknya guru selalu mengatur volume suaranya agar tidak terlalu keras, hingga membisingkan ruangan, tidak pula terlalu rendah hingga tidak terdengar leh murid atau siswa; g. Hendaklah guru menjaga ketertiban majelis dengan mengarahkan pembahasan pada objek tertentu. Artinya dalam memberikan materi pelajaran, seorang guru memperhatikan tata cara penyampaian yang baik (sistimatis), sehingga apa yang disampaikan akan mudah dicerna oleh murid; h. Guru hendaknya menegur murid-murid yang tidak menjaga sopan santun dalam kelas, seperti menghina teman, tertawa keras, tidur, berbicara dengan teman atau tidak menerima kebenaran. Ini berarti bahwa seorang guru atau pendidik dituntut untuk selalu menanamkan dasar-dasar akhlak terpuji dan sopan santum baik di dalam ruangan ataupun di luar ruangan belajar; i. Guru hendaknya bersifat bijak dalam melakukan pembahasan, menyampaikan pelajaran, dan menjawab pertanyaan;
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 67 j. Terhadap murid baru, guru hendaknya bersikap wajar dan menciptakan suasana yang membuatnya merasa telah menjadi bagian dari kesatuan temantemanya. Dengan kata lain guru berusaha mempersatukan hati siswanya antara satu dengan lainnya; k. Guru hendaknya menutup setiap akhir kegiatan belajar mengajar denagn kata-kata wallahu a’lam (Allah Maha Tahu) yang menunjukan keikhlasan kepada Allah SWT. Hal ini bermaksud agar setelah proses belajar mengajar berlangsung, seorang guru hendaknya menyerahkan kembali segala urusannya kepada Allah SWT; l. Guru hendaknya tidak mengasuh bidang studi yang tidak dikuasainya. Hal ini agar tidak terjadi pelecehen ilmiah dan sebaliknya akan terjadi hal yang sifatnya untuk memuliakan ilmu dalam proses belajar mengajar.82 3. Kode etik pendidik berkenaan dengan muridnya sebagai berikut: a. Guru hendaknya mengajar dengan niat mengharapkan ridha Allah, meyebarkan ilmu, menghidupkan syaraa’, menegakkan kebenara, dan melenyapkan kebatilan serta memelihara kemaslahatan umat; b. Guru hendaknya tidak menolak untuk mengajar murid yang tidak mempunyai niat tulus dalam belajar; c. Guru hendaknya mencintai muridnya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Artinya seorang guru 82 Ibid.
68 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional hendaknya mengannggap bahwa muridnya itu adalah merupakan bagian dari dirinya sendiri; d. Guru hendaknya memotivasi murid untuk menuntut ilmu seluas mungkin; e. Guru hendaknya menyampikan pelajaran dengan bahasa yng mudah dan beusaha agar muridnya memahami pelajaran; f. Guru hendaknya melakukan evaluasi tehadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya; g. Guru hendaknya bersikap adil terhadap semua muridnya; h. Guru hendaknya berusaha membantu memenuhi kemasalahatan murid, baik dengan kedudukan ataupun hartanya; i. Guru hendaknya terus memantau perkembangan murid, baik intelektual maupun akhlaknya.83 Kode etika seperti disebutkan di atas perlu difahami oleh para pendidik agar dalam melaksanakan pendidikan selalu berpegang pada moralitas. Dalam kode etik itu, guru bagaimana menjaga dirinya, menghargai peserta didiknya dan memberikan pelajaran selama di lembaga pendidikan dalam proses belajar mengajar. Kode etik bukan regulsi yang mempunyai sanksi hukum tertentu, melainkan merupakan rambu-rambu yang secara inhern harus melekat dengan kepribadian seorang pendidik. D. Kewajiban Belajar Kewajiban belajar dalam sistem pendidikan nasional ditujukan kepada peserta didik. Peserta didik adalah “Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada 83 Ibid.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 69 jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu”. 84 Belajar (tholabul-ilmi) merupakan bagian dari sistem pendidikan Islam yang wajib dilakukan oleh peserta didik secara individual maupun kolektif dengan prinsip pendidikan minalmahdi ilallahdi (life long education). Kewajiban belajar ini, hanya dibebankan kepada manusia sebagai makhluk Allah SWT yang terbaik, karena kelebihannya pada fungsi aql. “Aql mengandung pengertian yang jelas atau verifikasi bukti-bukti, dengan kata jadiannya hanya digunakan kata kerja mudhari maupun madhi”.85 Dengan aql (akal) yang membentuk pemifikiran itulah manusia diwajibkan belajar dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan dalam menjalankan kekhalifahannya. Namun demikian, dengan keterbatasan akal manusia untuk memahami ayat-ayat kauniyah yang berlaku pada dirinya dan alam semesta, maka manusia memerlukan bimbingan Allah dalam bentuk wahyu sebagai proses pembelajarannya. Al-Qur’an telah memberikan motivasi bagi manusia agar senantiasa belajar, bertanya, meneliti dan menuliskan pemikirannya supaya karyanya dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya, seperti dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an, S. 20, Thaha, ayat 114 sebagai berikut: أ ََضَٰٓ ق ل ن ي َ أ ِ ل أ ب َ ِن ِمن ق ا َ ء أ ر ل ق أ ِٱل ب أ ل َ ج أ ع َ ت َ َل َ و ُّۗ ُّ ق َ أ ٱۡل لِكل َ م أ ٱل َّل ٱَّلل َ ََٰل َ ع َ ت َ ف ا م أ ِّن ِعل أ ِد ِ ز بِ َّ ل ر ل ق َ ۖٗۥ و ل ه ل ي أ ح َ و أكَ َ إ ١١٤ِِ ل 84 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 angka 4. 85 Abdurrahman Saleh Abdullah. Teori..., ibid, hlm. 97.
70 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu 86 dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. Kewajiban belajar dalam Islam disamakan dengan jihad fisabilillah sehingga Allah SWT memerintahkan, bahwa tidak sepatutnya semua orang pergi ke medan perang. Sebagian lain sebaiknya menjadi masyarakat pembelajar untuk pergi mempelajari ilmu dan tekonologi, khususnya ilmu dang pengetahuan agma. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, S. 9, At-Taubah: 122, َ ون ل ِجد َٰ ٱلسَّ َ ِنون ل َٰكِع َّ ٱلر َ ِنون ل ِح ئ َٰٓ ٱلس َّ َ ون ل ِمد َٰ حَ أ ٱل َ ون ل ِد ب َٰ َ ع أ ٱل َ ِنون ل ِب ئ َٰٓ َّ ٱلت ودِ ل د ِۡلل َ ِنون ل فِظ َٰ حَ أ ٱل َ ِ و ر َ نك ل م أ ٱل ِ ن َ ع َ ِنون ل اه َّ ٱنل َ و ِف و ل ر أ ع َ م أ ِٱل ب َ ون ل ٱٓأۡل ِمر ُِّۗ َّ ٱَّلل ِمنِنيَ أ ؤ ل م أ ٱل ِ ِ َّش ِ َ ب و ١١٢َ Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. Berkenaan dengan wajib belajar, Rasulullah SAW memberikan motivasi kepada setiap individu maupun 86 Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu. Artinya:
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 71 kelompok supaya belajar dengan penuh semangat dan mengerahkan segenap kemampuan berfikir yang dilandasi dengan niat ikhlas untuk mendapatkan keridhoan Allah SAW. Para peserta didik agar belajar kepada para pendidik yang memiliki kualifikasi keilmuan tertentu. Hal ini dinyatakan dalam sabda Rasulullah sebagai berikut: ي: َحَّدثَنَا َعْب ُد هللاِ ْب ُن َدا ُو َد َع ْن َج ْه َض ِم ُّ ْ ي ال َحَّدثَنَا نَ ْص ُر ْب ُن َعلِ ٍّ ِن َر َج َعا ِصِم ْو ُل: ْب يَقُ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ا ٍء.... َس ِمْع ُت َر ُس ْو َل هللاِ َصل ِة، َجنَّ ْ لَى ال ِ ا إ ْيقً ِ ًما َسهَّ َل هللاُ لَهُ طَر ْ ِم ُس فِ ْي ِه ِعل تَ ْ ا يَل ْيقً ِ َك طَر َم ْن َسلَ َّن طَالِ َب ِ ِم َوإ ْ ِعل ْ ًضا لِطَالِ ِب ال ِ ْجنِ َحتَهَا ر َ َض ُع أ َكةَ لَتَ َمالَئِ ْ َّن ال ِ َو ِم إ ْ ِعل ْ ال َما ِء... ْ ِي ال ِن ف ِحْيتَا ْ ِض، َحتَّى ال ْر ْألَ ِي ال َّس َما ِء َوا َم ْن ف يَ ْستَ ْغفِ ُر لَهُ }رواه ابن ماجه{. Artinya: Nasr bin Ali al-Jahdhomy menceritakan kepada kami; Abdullah bin Dawud dari ‘Asim bin Raja…. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa yang berjalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga, sedangkan Malaikat rela membuka sayapnya bagi orang yang mencari ilmu. Dan segala yang ada di langit dan bumi, sampai ikan di lautan pun memohonkan ampunan bagi orang yang mencari ilmu…”. (HR. Ibn Majah).87 ي ِك ُّ َعتْ ْ ْيِد ال ِ ي قَا َل: َحَّدثَنَا َخالِ ِدْب ُن يَز ِ َح ْي َّدثَنِ ْي نَ ْص ُرْب ُن َعلِ ٍّ ب َ َع ْن أ ِن َمالِ ٍك قَا َل: قَا َل ِس ْب نَ َ ٍس، َع ْن أ نَ َ ِن أ ْب ِ ْيع ِ ي، َع ِن ال َّرب ُّ ِ ال َّراز ِ َج ْعفَر َو ِم فَهُ ْ ِعل ْ ِب ال لَ ِي طَ َ: " َم ْن َخ َر َج ف م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َر ُس ْو ُل هللاِ َصل ِل هللاِ َحتَّى يَ ْر ِج َع". }رواه الترمذي{. ْي ِ ِي َسب ف 87 Imam al-Hafidz abi Abdillah Muhammad bin Yazid ar-Rob’iyyi, Sunan Ibn Majah, Arab Saudi: Darussalam, 1999, Bab Muqaddamah No. 27/223, hlm. 34.
72 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Artinya: Nasru Ibn ‘Ali telah menceritakan kepada kami, sesungguhnya ia telah berkata kepada Khalid Ibn Yazid al-‘Atkiyyu telah menceritakan kepada kami dari Abi Za’far al Razy, dari Roby’ Ibn Anas, dari Anas bin Malik, ia telah berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda: barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu maka ia berada dalam fisabilillah sampai ia kembali. (HR. Tirmizi).88 ٌر ِ ُم ْستَ ْكب َ ُم ْستَ ْح ٍي َوالَ م ْ ِعل ْ ُم ال َّ َعل ي: الَيَتَ ِ ِع ُّ التَّاب ِ قَا َل ُم َجا ِه ُد ْب ُن ُجبَ ْير َسا ُء نِ َسا ُء النِّ َ : نِ ْعم َشةُ ْن َوقَالَ ْت َعائِ َ َحيَا ُء أ ْ ْم يَ ْمنَ ْعهُ َّن ال لَ ِ َصار تْ ْألَ ا ِن. }رواه البخاري{. ِي ال ِّدْي ْه َن ف يَتَفَقَّ Artinya: Berkata Mujahid bin Jubair al-Tabi’iy: ilmu tidak akan dapat dipahami oleh orang yang malu dan sombong; ‘Aisyah berkata: sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar yang tidak merasa malu untuk memperdalam ilmu agama (belajar pengetahuan agama). (HR. Bukhari).89 ُس بْ ُن ُم َح َّمٍد َو) ُس َرْي ُج( بْ ُن َحَّدثَنَا يُ ْونُ ِ ْي َشيْبَةَ ب َ ِن أ ْب ِ ْكر بُ ْو بَ َ َحَّدثَنَا أ ْي ُح ْب ُن ُسلَيْ لَ ِن. قَاالَ: َحَّدثَنَا فُ َعْبِد ْعَما ُّ ِن الن َما َن، َع ْن َعْبِد هللاِ ْب ِ ْي ب َ ٍر، َع ْن أ ِن يَ َسا َوالَةَ، َع ْن َس ِعْيِد ْب ِ ْي طُ ب َ ٍر، أ ِن َمْعَم ِن ْب ال َّر ْح َم ًما ْ َ ِعل م َّ َعل َم ْن تَ :َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َرْي َرةَ قَا َل: قَا َل َر ُس ْو ُل هللاِ َصل هُ ِ ِه َو ْجهَ هللاِ تَ ِ ِه َع ْر ِمَّما يَبْتَ ًضا ِم َن ِغ ْي ب ِصْي َب ب لِيُ ِالَّ ُمهُ إ َّ َعل َعالَى الَيَتَ 88 Abi Isa Muhmmad bin Isa bin Surah al-Tirmidzy. Sunan al-Tirmidzi, (Khalid Abdu al-Ghany Mahfudz), Beirut, Libanon, Dar al-Kutub Alilmiyah, Cet. I, 2003, hlm. 624-631. 89 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-‘Ilmu, Bab al-Hayau fi al-Ilmi, No. 50, hlm. 34.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 73 ْي َحهَا. }راه ابن ِ َمِة يَ ْعنِ ْي: ر قِيَا ْ ال َ ِة يَ ْوم َجنَّ ْ ْم يَ ِجْد َع ْر َف ال يَا لَ دنْ الُّ ماجه{. Artinya: Telah berbicara kepada kita Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah berbicara kepada kita Yunus bin Muhammad dan Suraij bin al-Nu’man, telah bericara kepada kita Fulaikh, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar, Abu Thuwalah, dari Said bin Yasar, dari Abi Hurayrah, dia berkata: Rasulullah bersabda: Rasulullah bersabda: barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dapat memperoleh keridhoan Allah, (tetapi) ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat. (HR. Ibnu Majah) 90. Berdasarkan penjelasan dalan al-Qur’an dan al-Sunnah tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa wajib belajar merupakan bagian dari sistem pendidikan Islam yang ditujukan bagi setiap individu maupun kelompok. Prinsip belajar dalam pendidikan Islam dilakukan sejak dalam kandungan hingga akhir hayat dengan niat ikhlas untuk mencari keridhoan Allah SWT. Selama dalam perjalanan mencari ilmu, peserta didik masuk ke dalam jalan Allah. Selain itu juga, para peserta didik mendapatkan kemuliaan dalam pandangan Allah dibandingkan dengan ahli ibadah. Menjadi individu atau masyarakat pembelajar diperlukan sejumlah persayaratan. Hal ini dikemukakan oleh Al-Ghazali, bahwa persyaratan untuk menjadi peserta didik yang baik supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat sebagai berikut: 90 Imam al-Hafidz abi Abdillah Muhammad bin Yazid ar-Rob’iyyi, Sunan Ibn Majah, Arab Saudi: Darussalam, 1999, Bab Muqaddamah No. 23/252, hlm. 38-39.
74 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional 1. Peserta didik harus memuliakan pendidik dan bersikap rendah hati atau tidak takabbur; 2. Peserta didik harus merasa satu bangunan dengan peserta didik lainnya dan sebagai satu bangunan maka peserta didik harus saling menyayangi dan menolong serta berkasih saying sesamanya; 3. Peserta didik harus menjauhi diri dari mempelajari bebagai mzhab yang dapat menimbulkan kekacauan pikiran; 4. Peserta didik harus mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang bermanfaat, melainkan ia harus mempelajari berbagai ilmu lainnya dan berupaya sungguh-sungguh mempelajarinya sehingga tujuan dari setiap ilmu tersebut tercapai.91 Peserta didik secara formal adalah orang yang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikhis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan cirri dari seorang pendidik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Syamsul Nizar, seperti dikutif oleh Ramayulis, mendiskripsikan peserta didik sebagai berikut: 1. Peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri; 2. Peseta didik memiliki periodisasi perkembangan dan pertumbuhan; 3. Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktr bawaan maupun lingkungan di mana ia berada; 4. Peserta didik merupakan dua unsure utama jasmani dan rohani, unsure jasmani memiliki daya fisik dan unsure rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu; 91 Muhammad Athiyah al-Abrasyi. Al-Tarbiyah...., ibid, hlm. 238.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 75 5. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis. 92 Asma’ Hasan Fahmi mengemukakan etika peserta didik yang harus diketahui, difahami dan dimiliki oleh peserta didik supaya dia dapat belajar dengan baik dan dapat keridhoan dari Allah SWT, sebagai berikut: 1. Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu; 2. Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi roh dengan berbagai sifat keutamaan; 3. Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu diberbaai tempat; 4. Setiap peserta didik wajib menghormati pendidiknya; 5. Peserta didik hendaknya belajar secara sungguhsungguh dan tabah.93 Berdasarkan uraian di atas dapt disimpulkan bahwa dalam perspektif pendidikan Islam, belajar secara individual maupun kolektif menjadi sesuatu yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Derajat para pembelajar dianggap lebih tinggi daripada ahli ibadah. Supaya mendapat ilmu yang bermanfaat, untuk menjadi pembelajar diperlukan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Para pembelajar sebaiknya niat ikhlas Karena Allah, memelihara kebersihan diri, menghormati para pendidik dan belajar mengutamakan pendidikan agama sebelum pengetahuan lainnya. E. Kurikulum Pendidikan Islam Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu Curir, artinya pelari. Kata Curere artinya tempat berpacu. 92 H. Ramayulis. Ilmu...., Ibid, hlm. 77-78. 93 Ibid,. hlm. 119.
76 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Currikulum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Pada masa itu kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mendapatkan ijazah. “Rumusan kurikulum tersebut mengandung makna bahwa isi kurikulum tidak lain adalah sejumlah mata pelajaran (subjek Matter) yang harus dikuasai oleh siswa agar siswa memperoleh ijazah”. 94 Dimaksud dengan kurikulum dalam sistem pendidikan nasional adalah “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.95 Salah satu aspek kurikulum tersebut di atas adalah bahan pelajaran. Penyusunan kurikulum dalam prinsip pendidikan Islam harus mengacu pada pencapaian tujuan pendidikan. Bahan pelajaran yang diprogramkan oleh para pendidik dapat mendukung pencapaian tujuan pendidikan; dan tidak sebaliknya tujuan pendidikan mengikuti bahan pelajaran. Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan pengertian kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah diartikan sebagai seperangkat perencanaan 94 Charles Michael Stanton. Pendidikan Tinggi Dalam Islam, Logos, Jakarta, 1994, hlm. 83. Hasani Asro, Kurikulum Pendidikan Islam Klasik, 750-1350 M (dalam Abuddin Nata), menyebutkan, bahwa pada masa klasik, pakar pendidikan Islam menggunakan kata al-maddah untuk pengertian kurikulum. Karena pada waktu itu kurikulum lebih identik dengan serangkaian mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat tertentu. 95 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , Pasal 1 angka19.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 77 dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.96 M. Arifin, mendefinikan kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistim institusional pendidikan.97 Zakiyah Daradjat mendefinisikan kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu. 98 Addamardasyi Sarhan dan Munir Kamil seperti dikutif Al-Syaibani, mendefinisikan kurikulum, sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi muridmuridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuantujuan pendidikan.99 Kurikulum yang ditawarkan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dalam bentuk pengelompokan mata pelajaran pokok meliputi: (1) pendidikan agama, (2) Pendidikan aqidah, akhlak, dan ibadah, (3) pendidikan baca al-Qur’an, menulis, membaca, halalharam, dan keterampilan, dan (4) pendidikan seks dan kesehatan jasmani. 1. Pendidikan Agama 96 Hasan Langgulung. Manusia...., ibid, hlm. 176. 97 M. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, hlm. 183. 98 Zakiyah Daradjat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1992, hlm. 121. 99 Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani. Falsafah Pendidikan Islam (terjemahan Hasan Langgulung), Jakarta, Bulan Bintang, 1979, hlm. 485. Al-Qur’an dan al-Sunnah telah memberikan pedoman dalam penyusunan bahan pelajaran dimulai dengan memberikan pemahaman tentang agama. Oleh karena itu,
78 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional “prioritas pendidikan yang wajib diberikan oleh pemegang otoritas pendidikan dan para pendidik kepada peserta didiknya yaitu pendidikan agama. 100 Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an, S. 2, Al-Baqarah: 131-132 di bawah ini: َ ال َ ق أ ِذ إ ِمنيَ َ ل َٰ َ ع أ ٱل ِ َبِ لِر تل أ م َ ل أ س َ أ َ ال َ ق ٗۖ أ لِم أ س َ أ ٓ ۥ ل ه ُّ ب َ ۥ ر ل َ َل ١٣١ Artinya: Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. ِه َٰ َ ر أ ِب إ ٓ ا َ ِه ب َّصَٰ َّ َ و َ و ِينَ ِ ٱل ل م كل َ ل َٰ َ َ َ ط ٱصأ ََّ ٱَّلل َّ ِن إ ِِنَّ َ ب َٰ َ ي ِنوبل ل ق أ ع َ ي َ ِِيهِ و َ ب ل م َ ِنون ل لِم أ س ُّ م م ل نت َ أ َ و َّ َِل إ َّ ن ل ِنوت ل م َ ت َ َل َ ف ١٣٢ Artinya: Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anakanaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. 100 Abdullah Nasih Ulwan, berpendapat bahwa “kebanyakan para pendidik mengatakan bahwa yang terpenting dalam pendidikan adalah: keimanan, akhlak, fisik, intelektual, psikhis, sosial dan seksual. Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatu ‘l-Aulad fi ‘l-Islam, Juz I (Kairo: Daru ‘s-Salam Li ‘th-Thiba’ah wan “n-Nasyar wa “t-Tauzi, Cet III, 1981), Edisi B. Indnesia, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, Penerjemah Drs. Saifullah Kamalie, Lc dan Drs. Hery nor Ali, Penerbit Asy-Syifa’, Semarang, hlm. 149.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 79 َ ه أ ي َ ل َ ع اس َ َّ ٱنل َ ر َ ط َ ِِت ف َّ ِ ٱل َّ ٱَّلل َتَ ر أ فِط ۚ ا نِيف َ ِ ح ِين لِلِ كَ َ ه أ ج َ و أ قِم َ أ َ ف َ َل ۚ ا َ ا ِس َل َّ ٱنل َ َ َث كأ َ أ َّ ِكن َٰ َ ل َ و ل ِم ِ ي َ ق أ ٱل ِينل ِ ٱل لِكَ َٰ َ ِۚ ذ َّ ِق ٱَّلل أ ل ِِلَ َ ِديل أ ب َ ت َ ِنون ل م َ ل أ ع ي ٣٠َ Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Rasulullah SAW memperkuat terhadap pendidikan agama dan keagamaan yang wajib diberikan kepada peserta didik dan masyarakat disekitarnya. Pendidikan agama menjadi prioritas sebelum pendidikan atau pelajaran lainnya diberikan kepada peserta didik. Dengan pemahaman peserta didik terhadap agamanya diharapkan manusia itu dapat tampil sebagai khalifatullah yang senantiasa mengikuti perintah Allah SWT dan Rasul-Nya sesuai dengan fitrahnya yang dibawa sejak dalam kandungan. Pentingnya pendidikan agama dinyatakan dalam sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: ِه َّى هللاُ َعلَيْ َر ِض َي هللاُ َعنْهُ قَا َل: قَا َل َر ُس ْو ُل هللاِ َصل يَةَ ِ َع ْن ُمَعاو ِن. }رواه البخاري{. ِي ال ِّدْي ِ ِه َخْي ًرا يُفَقِّهُ ف ِد هللاُ ب ِ َم ْن يُر :َ م َّ َو َسل Artinya: Dari Mu’awiyah, ra Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka akan Al-Qur’an, S. 30, Ar-Rum: 30.
80 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional diberikan Allah kepadanya pemahaman tentang agama. (HR. Bukhari).101 َ ْخبَ َرنَا َجْبلَةُ َمةَ، قَا َل: أ ا ُن قَا َل: َحَّدثَنَا َح َّماٌد يَ ْعنِ ْي ا ْب َن َسلَ َحَّدثَنَا َعفَّ يَ ْب ُن َع ِطيَّةَ، َع ا َن ْن ِ ْي ُسفْ ب َ ِن أ يَةَ ْب ِ ٍز، َع ْن ُمَعاو ْي ِ ِن ُم َحْير َعْبِد هللاِ ْب ِ َعْبٍد َخْي ًرا فَقَّهَهُ َرا َد هللاُ ب َ َذا أ ِ َ قَا َل: إ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ِ َّي َصل َّن النَّب َ أ ِن. }رواه أحمد{. ِي ال ِّدْي ف Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, Hammad yakni ibn Salamah, Jablah bin ‘Atiyah dari Abdillah bin Muhairizin dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Nabi SAW bersabda, jika Allah menghendki seorang hamba kebaikan maka Allah akan memberikan pemahaman tentang agama. (HR. Ahmad).102 Pendidikan agama dalam konteks ini adalah pendidikan agama yang dapat difahami oleh peserta didik secara konfrehensif yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan warga belajar. Pendidikan agama ini bersifat umum yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari warga belajar. Untuk pembelajaran agama yang bersifat sepesifik untukmemperuat keimanan, perilaku yang baik dan pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan tuntutan Allah dan Rasul-Nya diperlukan pendidikan aqidah, akhlak dan ibadah. 2. Pendidikan Aqidah-Akhlak dan Ibadah Pendidikan aqidah, akhlak dan ibadah merupakan aspek dari pendidikan agama dan keagamaan Islam. Ketiga subject 101 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab Al-‘Ilmu, Bab Man Yuridillahu bihi khairan…, No. 13/71, hlm. 20-21. 102 Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Al-Musnad, Riyadh: Baitul Afkar ad-Dauliyah, 1998, 4/92, No. 16959, hlm. 1209.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 81 matter ini harus diberikan secara paralel dan integratif yang disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan peserta didik. Pendidikan aqidah sebagai bahan pelajaran yang menanamkan keyakinan kepada Allah SAW dapat memperkuat dan melandasi pendidikan akhlak dan ibadah. Pendidikan akhlak diberikan untuk membentuk karakter peserta didik supaya memiliki akhlakulkarimah. Selanjutnya peserta didik diberikan pendidikan ibadah secara bertahap. Ketiga pelajaran itu harus diberikan kepada peserta didik sejak dini agar membekas dan menjadi pembiasaan. Hal ini telah dibuktikan oleh seorang manusia bernama Lukman ketika mendidik anaknya, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an, S. 31, Lukman: 16-17, sebagai berikut: ِِف أ و َ ٍة أ َ ر أ خ ن ِِف صَ َكل ت َ ٖل ف َ د أ ر َ خ أ ِن ِ ةٖ م َّ ب َ ح َ ال َ ق أ مِث كل َ ِن ت إ ٓ ا َ ه َّ ِن إ َّ ِن َ ل ب َٰ َ ي ِيٞ ب َ خ ٌ ِطيف َ ل ََّ ٱَّلل َّ ِن إ ۚ َّل ا ٱَّلل َ ِه ِت ب أ أ َ ۡر ِض ي أ َ ِِف ٱۡل أ و َ ِت أ َٰ َ و َٰ َ م ٱلس ١٦َّ Artinya: (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. َ ع َ ه أ ٱن َ و ِف و ل ر أ ع َ م أ ِٱل ب أ ر ل م أ أ َ و َ ة َٰ ِنو َ ل َّ قِِم ٱلص َ أ َّ ِن َ ل ب َٰ َ ي ٓ ا َ م َٰ ِِبأ لَع ََ ٱصأ َ ِ و ر َ نك ل م أ ٱل ِ ن ِ ِنور ل م أ ل ِم ٱۡل أ ز َ ع أ ِمن لِكَ َٰ َ ذ َّ ِن إ ٗۖ كَ َ اب صَ َ أ ١٧ Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
82 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Al-Qur’an, S. 20, Thaha: 132, س أ َ ن َ َل ٗۖ ا َ ه أ ي َ ل َ ع ِِبأ َ ط ٱصأ َ ةِ و َٰ ِنو َ ل َّ ِٱلص ب كَ َ ل أ ه َ أ أ ر ل م أ أ َ ُّۗ و كَ ل ق ل ز أ ر َ ن نل أ َّ َن ٗۖ ا ق أ ِز ر كَ ل ل َٰى َ ِنو أ ق َّ لِلت ل ة َ قِب َٰ َ ع أ ٱل و ١٣٢َ Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. Al-Qur’an, S. 19, Maryam: 55, ا ِ ِضي أ ر َ ِهِۦ م ِ ب َ ر َ ِعند َ ن َ َك َ ةِو َٰ ِنو َ ك َّ ٱلز َ ةِو َٰ ِنو َ ل َّ ِٱلص ۥ ب ل ه َ ل أ ه َ أ ل ر ل م أ أ َ ي َ ن َ َك و ٥٥َ Artinya: Dan ia menyuruh ahlinyauntuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. Pentingnya pendidikan aqidah, akhlak dan ibadah juga ditunjukkan dalam al-Sunnah yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah. Dalam sabdanya dapat dipelajari bagaimana hubungan aqidah, akhlak dan ibadah yang saling memperkuat. Seseorang tidak dikatakan beriman bila akhlak dan ibadahnya tidak baik. Demikian juga, bila seseorang ibadah dianggap tidak mempunyai nilai ibadah manakala tidak beriman dan berakhlak. Hal ini dinyatakan dalam alSunnah sebagai berikut:
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 83 ْي ُث قَا َل َحَّدثَ َّ ِن يُ ْو ُس ُف َحَّدثَنَا الل ي َّدثَنَا َعْب ُد هللاِ ْب ُّ َح ِ بُر َمقْ ْ نِ ْي َس ِعْي ُد ال ْب َص َر ْت َعْينَا َي ِحْي َن َ نَا َي، َوأ ذُ ُ ِّي قَا َل َس ِمَع ْت أ ِ َعَدو ْ ٍح ال ِ ْي ُش َرْي ب َ َع ْن أ يَ ْوِم ْ اهللِ َوال ِ َ فَقَا َل َم ْن َكا َن يُ ْؤ ِم ُن ب م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ي َصل ُّ ِ النَّب َ م َّ تَ َكل ْم َجا َرهُ. َحَّد ِ ْكر يُ ْ فَل ِ ا بُ ْو ْآل ِخر َ َحَّدثَنَا أ ِ ْي َشيْبَةَ ب َ ِن أ ٍر ْب ْك بُ ْو بَ َ ثَنَا أ ِص ْح َو ْألَ بُ ْو ا َ َحَّدثَنَا أ ِ ْي َشيْبَةَ ب َ ِن أ ٍر ْب ْك بُ ْو بَ َ ِص َجا َرهُ، َحَّدثَنَا أ ْح َو اَألَ َرْي َرةَ قَا َل، قَا َل َر ُس ْو ُل ِ ْي هُ ب َ ٍح َع ْن أ ِ ْي َصالِ ب َ ٍن َع ْن أ َح ِصْي ِيْ ب َ َع ْن أ ْآل ِخ ِر َّى هللاُ ليَ ْوِم ا ْ اهللِ َوا ِ َم ْن َكا َن يُ ْؤ ِم ُن ب َم: َّ ْي ِه َو َسل هللاِ َصل َعلَ ْم َضْيفَهُ ِ ْكر يُ ْ فَل ِ يَ ْوِم اآل ِخر ْ اهللِ َوال ِ فَالَيُ ْؤِذ ْي َجا َرهُ َو َم ْن َكا َن يُ ْؤ ِم ُن ب ْو لِيَ ْس ُك ْت. } َ ْل َخْي ًرا أ يَقُ ْ فَل ِ ْآل ِخر يَ ْوِم ا ْ اهللِ َوال ِ َو َم ْن َكا َن يُ ْؤ ِم ُن ب رواه مسلم{. Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Laits, ia berkata: telah menceritakan kepada saya Said al-Maqburiy dari Abi Syuraih al-‘Adawiy, dia telah berkata: telah endengar kedua telinga saya, telah melihat kedua mata saya tatkala Nabi SAW bersabda: barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tetangganya. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari Abi Hashin dari Abi Shalih dari Abi Hurayrah ra. ia SAW telah bersabda: barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya jangan menyakiti tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya, barangsiapa yang beriman kepada
84 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Allah dan hari akhir, maka hendaknya berkata baik atau diam. (HR. Muslim).103 َح – َّدثَنَا ُم َح َّمُد ْب ُن ِعْي َسى ِ بَّاع ِ يَ – ْب َرا ِهْيُم ْب ُن ْعنِ ْي ا ْب َن الطَّ َحَّدثَنَا إ ِن َمالِ ِك ْب ْ َس ا َل: ْعٍد، َع ْن َعْبِد ال ْي ِه َع ْن َجِّدِه قَ ِ ب َ ِن َسْب َرةَ َع ْن أ ْب ِ ْيع ِ ال َّرب َذا ِ ِة إ ال َّصالَ ِ ِ َّي ب َ: ُم ُر ْوا ال َّصب م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ قَا َل َر ُس ْو ُل هللاِ َصل بُ ْواهُ َعلَيْهَا. }رواه أبي ِ َغ َع ْش َر ِسنِ ْي َن فَا ْضر َذا بَلَ ِ َغ َسْب َع ِسنِ ْي َن فَإ بَلَ داود{. Artinya: Dan ‘Abd al-Mâlik bin al-Rabi’ bin Sabrah dan ayahnya dan kakeknya ia berkata: bersabda Rasulullah Saw “Perintahlah anakmu melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun dan apabila berumur sepuluh tahun pukullah bila tidak melaksanakan shalat. (H.R. Abi Dâwud).104 ِ ْيع ِ ِن ال ِّرب ْب ِ ْيز ِ َعز ْ َع ْن َعْبِد اال َ ْخبَ َرنَا َح ْر َملَةُ ِن َح ِج ٍر أ َحَّدثَنَا َعلِ ِّي ْب ِن ْب ِ ْيع ِ ِن ال َّرب َملِ ِك ْب ْ ِد ال ُجهَنِ ِّي َع ْن َع ِّمِه َعبْ ْ ِن َمْعبَ ِد ال ِن َسْب َرةَ ْب ْب ْي ِه َع ْن َجِّدِه قَا َل: قَا َل ِ ب َ َ َس : ْب َرةَ َع ْن أ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َر ُس ْو ُل هللاِ َصل ْي ِه ا ْب َن َع ْش ٍر. بُ ْوهُ َعلَ ِ ِ َّي ال َّصالَةَ ا ْب َن َسْب َع ِسنِ ْي َن َوا ْضر ُمْوا ال َّصب ِّ َعل }رواه أحمد والترمذي والطبراني والحاكم{. Artinya: Telah menceritakan kepada kami, ‘Ali bin Hajar, telah menghabarkan kepada kami, Harmalah, dan ‘Abd al-’Aziz bin al-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad alJauhani, dan pamannya, Abd 103 Al-Imam Abi Husain Muslim bin Hajjaz al-Qusyairin al-Naisabury. Shahih Muslim, (Syarah Muhammad Fuad Abdulbaqy), al-Qahirah, Juz IV, cet. I, 1997, Kitab al-Ilmi, hlm. 358-365. 104 Abu Dawud Sulaiman. Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab Matâ Yûmaru al-Ghulâmu bi ash-Shalat, No. 26/494, Juz I, Kairo: Daar al-Hadits, 1999, 242.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 85 al-Malik bin al-Rabi’ bin Dabrah, dan bapaknya dan kakeknya, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw: Ajarilah anakmu mengerjakan shalat ketika berusia 7 tahun, dan pukullah dia ketika ia berusia 10 tahun. (H.R. Ahmad).105 : َحَّدثَنَا َر ْو ُح ْب ُن ٍ ْي ُد ْب ُن ُز َرْيع ِ ْسطَاٍم: َحَّدثَنَا يَز ِ ْب ُن ب َميَّةُ ُ َحَّدثَنَا أ ِن َصْي ِن َعْبِد هللاِ ْب َميَّةَ، َع ْن يَ ْحيَى ْب ُ ِن أ ْس َما ِعْي َل ْب ِ قَا ِسِم، َع ْن إ ي ال ، ْ فِ ٍّ َّن َر ُس ْو َل هللاِ َ َما أ ٍس َر ِض َي هللاُ َعنْهُ ِن َعبَّا ِ ْي َمْعبَ ٍد، َع ِن ا ْب ب َ َع ْن أ َدُم َك تَقْ ِنَّ ِن قَا َل: إ َم يَ ْ ا َعلَى ال َّما بَ َع َث ُمَعاذً لَ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َصل ْي لَ ِ ْم إ َّو َل َماتَ ْد ُعوهُ َ ُك ْن أ يَ ْ ْه ِل ِكتَا ٍب فَل َ ْوٍم أ َذ َعل ا َى قَ ِ ِه ِعبَا َدةُ هللاِ فَإ ِي َوا ٍت ف ِهْم َخ ْم َس َصلَ ْي َر َض َعلَ َّن هللاَ قَ ْدفَ َ ْم أ ْرهُ ِ َ ْخب ْوا هللاَ فَأ َع َرفُ ِهْم ْي َر َض َعلَ َّن هللاَ قَ ْد فَ َ ْم أ ْرهُ ِ َ ْخب ْوا ال ّصالَةَ فَأ ُ َعل َذا فَ ِ ْيلَتِ ِهْم فَإ يَ ْو ِم ِهْم َولَ ْمَوالِ ِهْم َوتُ َ ِم ْن أ َز َكاةً تُ ْؤ َخذُ ِهَا فَ ُخذْ َطَا ُع ْوا ب َذا أ ِ َرائِ ِهْم فَإ قَ د َعلَى فُ ُّ َر ِس. }رواه البخاري{. ِل النَّا ْمَوا َ أ َ َو َّف َك َرائِم ِمنْهُ ْم َوت Artinya: Dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwasanya Rasulullah SAW, ketika mengutus Mu’adz ra. ke Yaman beliau bersabda: sesunggugnya kamu akan datang kepada orang ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali kamu ajarkan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah adalah mewajibkan shalat lima kali sehari semalam. Apabila mereka telah mengejarkannya maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat dari harta-harta mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Apabila mereka memenuhi semuanya, 105 Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Al-Musnad, Ibid., hlm. 498.
86 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional maka sambutlah mereka dan janganlah sekali-kali mengambil harta-harta kesayangan mereka. (HR. Bukhari).106 Berkenaan dengan pendidikan akhlak, al-Ghazali berpendapat, bahwa “induk segala akhlak ada empat yaitu: bijaksana (hikmah), keberanian (syaja’ah), memelihara diri dari maksiat (‘iffah), dan keadilan (‘adl)”. 107 Ibn Sina berpendapat mengenai perlunya pendidikan akhlak, bahwa akhlak adalah kecakapan dalam bentuk perbuatan yang timbul dari dorongan jiwa yang dilakukan dengan mudah, tanpa didahului oleh pemikiran dan perbuatan.108 Pendidikan akhlak Adnan Hasan Shalih Baharits, harus diarahkan pada tujuan yang tinggi, yaitu meliputi penerapan akhlak yang mulia dalam kehiduapn sehari-hari, yaitu: 1. Meraih keridhoan Allah Azza wa Jalla dan berpegang teguh pada perintah-Nya; 2. Menghormati manusiakarena harkat dan kepribadiannya; 3. Membina potensi dan mengembangkan berbagai sifat yang baik dan mulia; 4. Mewujudkan keinginan yang baik dan kuat; 5. Memelihara kebiasaan yang baik dan bermanfaat; 106 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab az-Zakat, Bab Lâ tu’khodzu karâimu…, No. 41/1458, hlm. 291-292. 107 Al-Ghazali. Iyha Ulum al-Din, Juz III, Beirut: Dar al-Fikr, tt, hlm. 112 (dalam Abuddin Nata, Konsep Pendidikan Ibn Sina, Jakarta, UIN JAKARTA PRESS, 2006, hlm. 126 108 Abuddin Nata. Konsep Pendidikan Ibn Sina, Jakarta, UIN JAKARTA PRESS, 2006, hlm.123
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 87 6. Mengikis perilaku yang tidak baik pada manusia dan menggantinya dengan semangat kebaikan dan keutamaan.109 Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan aqidah, akhlak dan ibadah sebagai bagian dari kurikulum pendidikan Islam harus dilakukan secara integrtif. Mata pelajaran tersebut diberikan kepada warga belajar disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangannya yang disesuaikan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Pendidikan Baca Al-Qur’an, Menulis, Membaca, Halal-Haram dan Keterampilan Pendidikan baca al-Qur’an, menulis, membaca, halalharam dan keterampilan merupakan pelengkap kurikulum pendidikan Islam yang diperintahkan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Simbolisasi belajar membaca termasuk di dalamnya telah diperankan oleh malaikat Jibril AS kepada Nabi SAW atas perintah Allah SAW melalui wahyu S. Al-‘Alaq ayat 1-5. Perintah pendidikan baca al-Qur’an, menulis, membaca, halal-haram dan keterampilan tercantum dalam al-Sunnah, sebagaimana Rasululah SAW sebagai berikut: َد ِب ُج ْونِ ِّي َع ْن ُجنْ ْ ِ ْي ِع ْم َرا َن ال ب َ ْعَما َن َحَّدثَنَا َح َّماُد َع ْن أ ُّ بُو الن َ َحَّدثَنَا أ َر ُؤا ِقْ َ قَا َل: إ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ِ ِّي َصل ْب ْرآ َن ِن َعْبِد هللاِ َع ِن النَّب قُ ْ ال ْو ُمْوا. }رواه مسلم{. ْم فِ ْي ِه فَقُ تُ َذا ا ْختَلَفْ ِ ُكْم فَإ ْو بُ ُ ل ْي ِه قُ ــتَلَفَ ْت َعلَ َماائْ Artinya: 109 Adnan Hasan Shalih Baharits. Mas’uuliyatul Abilmuslimin fi Tarbiyatil Waladi fi Marhalati Aththufuulah, Darul Mujtama, Jeddah, Saudi Arabia, Cet. II, 1412 H/1991 M, Penerjemah Drs. Syihabuddin, Edisi B. Indonesia, Mendidik Anak Laki-laki, Gema Insani, Depok, Cet. II, 2008.