88 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Telah menceritakan kepada kami, Abu Nu’man, telah menceriakan kepada kami, Hammad, dari Abu ‘Imran al-Juniy, dari Jundab bin Abdillah, dari Nabi SAW, ia bersabda: bacalah al-Qur’an yang dapat mempersatukan (melembutkan) hati kalian. Jika kalian berselisih maka luruskanlah. (HR. Muslim).110 Berkenaan dengan pendidikan keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik disampaikan oleh Ibn Khaldun, yaitu: pertanian, arsitektur, pertukangan, menyulam dan menjahit, kebidanan, kedokteran, kaligrafi dan seni menulis, menyanyi, dan menghitung. 111 Pendidikan keterampilan yang disampaikan Ibn Khaldun sangat diperlukan oleh warga belajar guna mendapatkan keterampilan yang bersifat produktivitas agar warga belajar dapat hidup di masa depan tidak bergantung pada orang lain. 4. Pendidikan Seks dan Kesehatan Jasmani Al-Qur’an dan al-Sunnah ternyata tidak hanya merumuskan kurikulum sebagaimana tersebut di atas melainkan juga menyentuh pendidikan seks dan kesehatan jasmani. Namun demikian, pendidikan seks yang diisyaratkan tidak berkenaan langsung dalam praktek seksualitas, tetapi dalam bentuk pendidikan seks yang berkaitan dengan moralitas seksual, yaitu memisahkan tempat tidur anak-anak yang mulai menginjak dewasa di antara mereka dan orang tuanya. 110 Muhammad Nashiruddin al-Albany, Shahih Jami’ ash-Shaghir, Jilid I, Beirut: Maktab al-Islami, 1408/1988, hlm. 258. 111 Ibn Khaldun. Muqaddimah…, hlm. 484-519.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 89 ِس ٍٍ َر ِض َي هللاُ َع نَ َ َع هُ ْن أ نَّ َ أ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ِ ِّي َصل نْهُ َع ِن النَّب َذا ِ َذى فَإ ْألَ َعنْهُ ا َماطُ َويُ َس َّمى َويُ ِ ِع ال َّساب َ ُم يُ َع ُّق َعنْهُ يَ ْوم ُغالَ ْ ل قَا َل: اَ َغ َذا بَلَ ِ َغ تِ ْس َع ِسنِ ْي َن ُع ِّز َل َع ْن فِ َرا ِش ِه فَإ َذا بَلَ ِ َب َوإ ذِّ ُ َغ ِس َّت ِسنِ ْي َن أ بَلَ َك ْمتُ ِّ َك َو َعل َّدْيتُ َ ِة َوقَا َل قَ ْد أ َب َعلَى ال َّصالَ ِ ُضر َسنَةٌ ثَالَ َث َع ْش َرةَ ِي اآل ِخ َرِة. َك ف ِ َو َعَذاب يَا دنْ ِي الُّ نَتِ َك ف اهللِ ِم ْن فِتْ ِ ب ُع ْوذُ َ َك أ َوانْ َك ْحتُ }رواه ابن حبان{. Artinya: Dari Anas ra. dari Nabi SAW, sesungguhnya beliau telah bersabda: anak itu diaqiqahi pada hari ketujuh, dinamai, dan disingkirkan dari padanya penyakit (dicukur rambutnya), jika ia sudah berumur enam tahun didiklah, jika sudah berumur sembilan tahun pisahkanlah tempat tidurnya. Jika sudah berumur tiga belas tahun, pukullah bila enggan melaksanakan shalat dan puasa. Jika sudah berumur enam belas tahun hendaknya ayahnya mengawinkannya. Kemudian nabi memegang tangannya dan bersabda: Aku telah mendidikmu, akau telah mengajarimu, dan aku telah menikahkanmu. Aku berlindung kepada Allah SWT dari fitnahmu di dunia dan adzab yang disebabkan olehmu di akhirat. (HR. Ibn Hibban).112 Kerangka dasar kurikulum pendidikan Islam yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-hadits dapat dijadikan sebagai pedoman operasional dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Kerangka dasar kurikulum pendidikan Islam seperti dijelaskan di atas, dalam prakteknya telah mengalami perkembangan. Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah bersifat integrated dan komprehensif serta 112 HR. Ibnu Hibban.
90 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional menjadikan al-Qur’an dan hadits sebagai sumber utama dalam penyusunan kurikulum. Kurikulum pada masa klasik yang dipraktekan di Makkah meliputi pelajaran: menulis, membaca al-Qur’an, keimanan, ibadah, akhlak, dasar ekonomi, dasar politik dan kesatuan.113 Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan telah mengalami perubahan signifikan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Pada masa klasik, pakar pendidikan Islam menggunakan kata al-maddah untuk pengertian kurikulum. Karena pada masa itu kurikulum identik dengan serangkaian mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat tertentu. Al-Ghazali membagi mata pelajaran kedalam dua bagian yaitu: 1. Ilmu syari’at sebagai ilmu yang terpuji meliputi: a. Ilmu ushul terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, pendapat-pendapat shabat dan ijma’; b. Ilmu furu’ terdiri dari fiqh, ilmu hal ihwal hati dan akhlak; c. Ilmu pengantar teridiri dari ilmu bahasa dan gramatika; d. Ilmu pelengkap terdiri dari ilmu qiraat, makhrij al huruf wa al-Alfadz, ilmu tafsir, nasikh dan mansukh, lafadz umum dan khusus, lafadz nash dan zahir serta biografi dan sejarah perjuangan sahabat. 2. Ilmu bukan syari’at meliputi: a. Ilmu kedokteran; b. Ilmu berhitung; 113 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1992, hlm. 53
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 91 c. Ilmu perusahaan.114 Ibn Khaldun membagi klasifikasi ilmu sebagai kurikulum pendidikan kedalam tiga bagian yaitu: 1. Kelompok ilmu lisan terdiri dari gramatika, sastra dan puisi; 2. Kelompok ilmu naqli terdiri dari ilmu yang bersumber pada al-Qur’an dan al-Sunnah, yaitu: al-Qur’an dan alSunnah, ulum al-Qur’an, ulum al-Hadits, ushul fiqh, fiqh, ilmu kalam, ilmu al-tasawuf, dan ilmu ta’bir al-ra’yu; 3. Kelompok ilmu aql terdiri dari ilmu yang diperoleh melalui proses berfikir, yaitu: ilmu logika, fisika, metafisika, dan matematika.115 Ibn Sina menawarkan kurikulum pendidikan yang “berbasis pada akhlak, yang bersumber pada al-Qur’an. Dalam mempelajari al-Qur’an dengan mengenali huruf-huruf hijaiyah. Kemudian pendidikan yang yang diminati oleh warga belajar sesuai kemampuannya”.116 Selain itu juga Ibn Sina membagi kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan kelompok umur, yaitu: 1. Kelompok usia anak 3 s.d. 5 tahun, ilmu yang sejalan dengan kelompok usia ini adalah gerak badan, budi pekerti dan perasaan 2. Kelompok usia anak 6 s.d. 14 tahun, ilmu yang sesuai dengan kelompok ini adalah pelajaran membaca dan 114 H. Ramayulis dan Sansu Nizar. Ensiklopedi Tokoh pendidikan Islam, Jakarta, Quantum Teaching, 2005, hlm. 7. 115 Muhammad Munir Mursyi. Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Thathawwuruha fi al Bilad al-Arab, Qahirah: Alam al-Kitab, 1982, hlm. 286, (dalam Ramayulis, dan Samsu Nizar, Ensiklopedi..., hlm. 22-24) 116 H. Ramayulis, dan Samsu Nizar. Ensiklopedi..., ibid, hlm. 33.
92 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional menghafal al-Qur’an, pelajaran agama, bahasa Arab, syair, dan olah raga; 3. Kelompok usia anak 14 tahun keatas, ilmu yang sesuai denan kelompok usia ini adalah pendidikan keahlian sesuai dengan bakat dan minat.117 Secara praktis dan teoritis, bahwa pengertian kurikulum, tidak hanya sebatas pada program pendidikan atau mata pelajaran seperti telah disampaikan di atas, namun juga dapat diartikan menurut fungsi, prinsip-prinsip, komponen, dan dasar-dasar kurikulum. Fungsi kurikulum sebagai, yaitu: 1. Kurikulum sebagai program studi. Pengertiannya adalah seperangat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah atau di instansi pendidikan lainnya. 2. Kurikulum sebagai konten. Pengertiannya adalah data dan informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informs lainnya yang memungkinkan timbulnya belajar. 3. Kurikulum sebagai kegiatan berencana. Pengertiannya adalah kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan hasil yang baik. 4. Kurikulum sebagai hasil belajar. Pengertiannya adalah seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil-hasil itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan. 117 Abuddin Nata. Konsep...., ibid., hlm. 149-156.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 93 5. Kurikulum sebagai reproduksi kultural. Pengertiannya adalah transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan difahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut. 6. Kurikulum sebagai pengalaman belajar. Pengertianya adalah keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah. 7. Kurikulum sebagai produksi. Pengertiannya adalah seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu. 118 Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum sebagai berikut: ruh islamiyah, universal, balancing, sesuai dengan perkembangan psikologis, dan memperhatikan lingkungan sosial.119 prinsip penyusunan kurikulum sebagai berikut:120 prinsip berasaskan islam termasuk ajaran dan nilai-nilainya, prinsip mengarah pada tujuan, prinsip integritasi, prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip integritas, prinsip efisiensi, prinsip kontinuitas dan kemitraan, prinsip individualitas, prinsip memperoleh kesempatan dan demokratis, prinsip kedinamisan, prinsip keseimbangan, dan prinsip efektifitas. Komponen kurikulum, menurut Hasan Langgulung dijelaskan dalam bukunya Asas-asas Pendidikan Islam sebagai berikut: 118 Muhaimin dan Abd. Mujib. Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung, Trigenda Karya, 1993, hlm. 12. 119 Syahraini Tambak. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, (Abuddin Nata, hlm. 16-17 120 H. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam, ibid. 161-162, lihat Iskandar Wiyokusumo,dkk, ibid, hlm. 520-522, Zakiah Daradjat, dkk. hlm. 125, Asma Hasan Fahmi. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, hlm. 88-103, E. Mulyasa. Kurikulum Berbasis Kompetensi.
94 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional 1. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut. 2. Pengetahuan. Informasi-informasi, data-data, aktifitasaktifitas dan penglaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran. 3. Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guruguru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka kea rah yang dikehendaki oleh kurikulum. 4. Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut. 121 Komponen kurikulum menurut H. Ramyulis terdiri dari berbagai aspek meliputi: tujuan, isi, media, strategi, proses, dan evaluasi dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Tujuan yang ingin dicapai meliputi: (a) tujuan akhir, (b) tujuan umum, (c) tujuan khusus, dan (d) tujuan sementara. 2. Isi kurikulum. Berupa mata pelajaran yang diprogram untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. 3. Media (sarana dan prasarana). Media sebegai sarana perantara dalam pembejaran untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik. 4. Strategi. Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar yang digunakan. Dalam strategi termasuk juga komponen penunjang lainnya seperti (a) 121 Hasan Langgulung. Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta, Pustaka Al Husna, 1988, hlm. 303.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 95 sistem administrsi, (b) pelayanan Bimbingan dan Konsultasi, (c) remedial, (d) pengayaan dan sebagainya. 5. Proses pembelajaran. Melalui proses pembelajaran akan terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik sebagai indicator keberhasilan pelaksanaan kurikulum. 6. Evaluasi. Dengan evaluasi (penilaian) dapat diketahui cara mencapaian tujuan. Dasar-dasar dalam penyusunan kurikulum menurut Iskandar Wiryokusumo dan Usman Mulyadi: 122 Dasar Agama, Dasar Falsafah, Dasar Psikologis, Dasar Sosial, dan Dasar organisatoris. Menurut Herman H. Home, dasar-dasar kurikulum pendidikan Islam meliputi dasar psikologis, sosiologis, dan filosofis dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Dasar Psikologis, yang digunakan untuk memenuhi da mengaetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children); 2. Dasar Sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang sah dari masyarakat (the legitimate demands of society); 3. Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengtahui keadaan semesta/tempat kita hidup (the kind of universe in wich we live). 123 Abdurrahman Saleh Abdullah mengelompokan ilmu pengetahuan untuk dijadikan materi kurikulum kedalam tiga bagian, yaitu: 122 Iskandar Wiryokusumo dan Usman. Mulyadi, Dasar-dasar Pengembngan Kurikulum, Jakarta, Bina Aksara, 1988, hlm. 265-266. 123 Herman H. Home dalam Muhaimin dan Abd. Mujib. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung, Trigenda Karya, hlm. 32.
96 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional 1. Kategori pertama adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan al-Qur’an dan Hadits, atau biasa dikenal dengan istilah materi pelajaran agama. 2. Kategori kedua dalam bidang llmu pengetahuan yang termasuk dalam isi kurikulum pendidikan Islam adalah ilmu-ilmu tentan kemanusiaan (al-insaniyah), kategori ini meliputi bidang-bidang psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain. 3. Kategori ketiga yaitu ilmu-ilmu kealaman (al-Ulum alKauniyah), termasuk dalam kategori ini Biologi, Fisika, Botani, Astronomi dan lain-lain.124 Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa pengembangan kurikulum dalam bentuk mata pelajaran yang pada prinsipnya hanya berpangkal pada pendidikan agama, aqidah, akhlak, ibadah, membaca, menulis, keterampilan, seks dan kesehatan telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh para pemikir ahli pendidikan ini tentu saja disesuaikan dengan kemampuan, pertumbuhan wargabelajar pada masanya. Karakteristik kurikulum seperti itulah yang dikehendaki dalam proses pendidikan yang senantiasa harus sejalan dengan perubahan sepanjang bersesuaian dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Rumusan kurikulum hanya sebuah konsep pemelajaran itu harus dapat dioperasionalkan dengan menggunakan metode-metode tertentu. Oleh karena itu metode pembelajaran menjadi sesuatu yang amat penting dalam proses belajar mengajar. 124 Abdurahman Saleh Abdullah. Teori..., ibid, 1990, hlm. 46.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 97 F. Metode dan Media Pendidikan Islam Pendidikan agama tidak cukup dilaksanakan seadanya, tetapi memerlukan perencanaan, metode dan media yang memadai untuk mencapai tujuan pendidikan. Kata metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu: “metodos”, yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.125 Dalam bahasa Arab metode disebut “thariqat”. Menurut kamus bahasa Indonesia, “metode” adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud. Dari berbagai pengertian tersebut dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pelajaran. Pendidkan merupakan usaha membimbing dan membina serta bertanggung jawab untuk mengembangkan inteletual pribadi peserta didik kearah kedewasaan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai khalifah terhadap Allah s.w.t., sesama manusia dan makhluk lainnya berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Beberapa metode pendidikan Islam yang ditunjukkan dalam al-Sunnah sebagai berikut: قَا َل: ٍر قَا َل: َحَّدثَنَا يَ ْحيَى قَا َل: َحَّدثَنَا ُش ْعبَةُ َّشا َحَّدثَنَا ُم َح َّمُد ْب ُن بَ َ قَا َل: م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ِ ِّي َصل ٍس َع ِن النَّب نَ َ َع ْن أ ِ بُو التَّيَاح َ َحَّدثَنِ ْي أ يَ ِّس ُر ْو ُر ْوا. }رواه البخاري{. َوالَ تنَفِّ ِّش ُر ْوا َع ِّس ُر ْوا، َوبَ َوالَتُ ا 125 Muhammad Yunus. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Hidakarya Agung, tt, cet. Ke-6, hlm. 7.
98 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Artinya: Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata Syu’bah menceritakan kepada ku dari anas, dari Nabi SAW ia bersabda: hendaklah ia mempermudah urusan orang lain dan janganlah mempersulitnya, juga hendaklah kalian memberikan kabar gembira dan janganlah membuat (mereka) lari (dari ajaran Islam). (HR. Bukhari).126 ْي ٌر، ِ ِ ْي َشْيبَةَ قَا َل: َحَّدثَنَا َجر ب َ َما ُن ْب ُن أ ْ ُص ْو ٍر، َع ْن َحَّدثَنَا ُعث َع ْن َمنْ ٍس، فَقَا َل لَهُ ِي ُك ِّل َخ ِمْي ِ ْي َوائِ ٍل قَا َل: َكا َن َعْبُد هللاِ يَُذِّك ُر النَّا َس ف ب َ أ ِنَّهُ َما إ َ َك َذ َّك ْرتَنَا ُك َّل يَ ْوٍم، قَا َل: أ نَّ َ َوِدْد ُت أ بَا َعْبِد ال َّر ْح َم َن، لَ َ َر ُج ٌل: يَاأ َ ْك ْي أ نِّ َ ِة َكَم يَ ْمنَ ُعنِ ْي ِم ا ْن َذالِ َك أ َمْو ِعظَ ْ ال ِ ُ ُكْم ب تَ َخ َّو ل َ ْي أ ِنِّ َّ ُكْم، َوإ ِمل ُ ْن أ َ َرهُ أ ْينَا. َمِة َعلَ َم َخافَةَ ال َّسآ ِهَا نَا ب ُ يَتَ َخ َّول َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ي َصل ُّ ِ َكا َن النَّب }أخرجه البخاري{. Artinya: Dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Mansur, dari Abi Wail berkata: Bahwasanya Abdullah mengajar orang-orang setiap hari kamis. Seorang berkata: wahai Abu ‘Abd alRahman, aku sangat mengharapkan agar engkau mengajar kepada kami setiap hari. ‘Abdullah menjawab: sesungguhnya aku tidak dapat melakukan hal tersebut karena aku tidak ingin membuat kalian merasa bosan, dan aku sengaja melakukannya secara berselang seperti yang biasa dilakukan 126 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-Al-Ilmu, Bab Maa Kaana anNabi…, No. 11/69, hlm. 20.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 99 oleh Nabi SAW kepada kami (para sahabat) karena beliau khawatir membuat kami merasa bosan. (HR. Bukhari).127 َح ِل َّدثَنَا طفَيْ ُّ ِ ْي ال ب َ ِن َخ ْربُ ْوٍذ َع ْن أ ُعبَْيُد هللاِ ْب ُن ُمْو َسى َع ْن َمْع ُر ْو ِف ْب َب هللاُ ْن يُ َكذِّ َ ُّ ْو َن أ ِحب تُ َ ْو َن أ فُ ِ ِ َما يَ ْعر ْوا النَّا َس ب ُ ي قَا َل: َحِّدث َع ْن َعلِ ٍّ ُهُ؟ }رواه البخاري{. َو َر ُس ْول Artinya: “‘Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, dari Ma’ruf bin Harbudzin dari Abu Thufail, dari Ali, ia berkata: hendaklah kalian mengajar seseorang sesuai dengan pengetahuan mereka. Apakah kalian menghendaki tanggapan yang salah tentang Allah dan Rasul-Nya”.(HR. Bukhari).128 ْب ُن َعْبِد هللاِ قَا َل: َحَّدثَنَا َعْبُد ال َّص َمِد قَا َل: َحَّدثَنَا َعْبُد َح ِهللا َّدثَنَا َعْبَدةُ َّى ِ ِّي َصل ٍس َع ِن النَّب نَ َ ْب ُن َعْبِد هللاِ، َع ْن أ َمةُ َما ُ ُمثَنَّى قَا َل: َحَّدثَنَا ث ْ ْب ُن ال َع َ َمٍة أ َكلِ ِ ب َ م َّ َذا تَ َكل ِ نَّهُ َكا َن إ َ َ: أ م َّ ْي ِه َو َسل إ َذا َ فهَ ُم، َوِ ا َحتَّى تُ ْ هللاُ َعل اَدهَا ثَالَثً ا. }رواه البخاري{. ِهْم ثَالَثً ْي َعلَ َ م َّ ِهْم َسل ْي َعلَ َ م َّ َسل ْوٍم فَ تَى َعلَى قَ َ أ Artinya: Abdah bin ‘Abdillah menceritakan kepada kami, ‘Abd alShamad, menceritakan kepada kami,ia berkata: ‘Abdullah bin al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Tsumamah bin Abdillah telah menceritakan kepada kami dari Anas, dari Nabi SAW: sesungguhnya apabila berbicara sampai tiga kali sehingga orang mengerti yang dimaksudnya. Dan 127 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-Al-Ilmu, Bab Man Ja’ala li alAhli al-‘Ilmi…, No. 12/70, hlm. 20. 128 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-Al-Ilmu, Bab Man Khosso bi al- ‘Ilmi qouman…, No. 49/127, hlm. 33.
100 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional apabila Nabi mendatangi suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka sampai tiga kali. (HR. Bukhari).129 Al-Ghazali menyampaikan metode pembelajaran tidak boleh monoton sehingga membosankan warga belajar. Ia menekankan menggunakan “metode mujahadah dan riyadhah, kedisiplinan, pembiasaan, penyajian dalil naqli dan aqli serta bimbingan dan nasehat. Selain itu juga ia menyetujui metode pujian dan hukuman”.130 Ibn Khaldun, dalam hal metode pendidikan hanya menyarankan agar para pendidik mengajar siswa dengan cara yang baik dan mengetahui mnfaat yang diajarkannya. 131 Ibn Sina menawarkan metode pembelajaran diskusi (mujahadah) melalui aktivitas siswa. 132 Metode pendidikan yang dikemukakan oleh Ibn Sina adalah talqin, demonstrasi, penguasaan dan magang, pembiasaan dan penteladanan, dan diskusi.133 Muhammad Abduh menawarkan cara cara memperoleh ilmu dengan metode hafalan dan metode rational dan pamahaman. Siswa disamping menghafal sesuatu juga harus memahami tentang materi yang dihafalnya. Ia juga menghidupkan kembali metode munazharah dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan metode taklid buta terhadap para ulama. Ia juga mengembangkan kebebasan ilmiah dikalangan. Abduh juga membuat sebuah metode yang 129 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-Al-Ilmu, Bab Man A’âda alHadits tsalatsan, No. 30/95, hlm. 26. 130 Ramayulis dan Samsu Nizar. Ensiklopedi..., ibid, hlm. 14. 131 Ibid, hlm. 26. 132 Ibid, hlm. 34. 133 Abuddin Nata. Konsep..., ibid., hlm. 170-177.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 101 sistemtatis dalam menafsirkan al-Qur’an yang didasarkan kepada lima prinsip, yaitu: 1. Menyesuaikan peristiwa-peristiwa yang ada pada masanya denan nash-nash al-Qur’an; 2. Menjadikan al-Qur’an sebaai satu kesatuan; 3. Menjadikan surat sebagai dasar untuk memahami ayat; 4. Menyederhanakan bahasa dalam penafsiran; 5. Tidak melalaikan peristiwa-peristiwa sejauh untuk menafsirkan ayat-ayat yang turun pada waktu itu. 134 Al-Qabisi, mengajukan dua metode dalam proses pembelajaran, yaitu: menghafal, melakukan latihan-latihan dan demonstrasi. Menurutnya dua metode tersebut merupakan metode pengejaran yang efektif untuk dapat diterapkan dalam mengajar anak-anak.135 Hasan al-Banna menggunakan metode pembelajaran dengan metode kisahkisah. Metode ini digunakan pada pendidikan luar sekolah dengan cara: Para remaja di perdsaan ia kumpulkan dua jam sebelum shalat jum’at dan kepada mereka disajikan kisah-kisah al-salaf al-Salih. Mereka juga diberi latihan olah raga dan nasyid. Bila waktu shalat hampir tiba, dengan berbaris mereka keluar menuju masjid. Di sana mereka seorang pendidik memperkenalkan praktek cara berwudhu.proses pembelajaran selesai setelah shalat jum’at. 136 Ia juga mengguakan metode ketauladanan sebagai acuan dalam ide pendidikannya. Melalui metode ketauldanan yang diterapkannya dalam mendidik umat 134 Harun Nasution. Pembaharuan Dalam Isam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta, Bulan Bintang, 1975, hlm. 65. 135 H. Ramayulis dan H. Samsul Nizar. Ensiklopedi…, ibid, hlm. 81. 136 Abdul al-Mutaal al-Jahari. Pembunuhan Hasan al-Banna, (terj. Afif Muhammad), Bandung, Pustaka Salman, 1989, hlm. 109.
102 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional merupakan salah satu kunci mngantarkannya ke gerbang kesuksesan.137 Hasan Langgulung, menyampaikan metode pembelajaran pada sudut filsafatnya, dan bukan pada prakteknya. Pada dasarnya ia hanya menawarkan asas-asas metode pendidikan Islam, bukan pada bentuk konkrit yang mengacu pada metode pendidikan tertentu. Untuk itu tawaran yang dimaksud Langgulung sesungguhnya mengacu pada demokratisasi dan dinamisasi pendidik dalam memilih metode pendidikan yang akan digunakan”. 138 Oleh karenanya apa pun metode yang digunakan oleh pendidik hendaknya mengacu pada asas-asas tersebut. Hanya saja dalam bukunya ia lebih banyak menjelaskan bentuk metode ganjaran dan hukuman. Beberapa metode pendidikan Islam yang biasanya digunakan di berbagai lembaga pendidikan disampaikan oleh Armai Arief dalam buku Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam adalah: “pembiasaan, keteladanan, pemberian ganjaran, pemberian hukuman, ceramah, tanya jawab, diskusi, sorogan, bandongan, mudzakarah, kisah, pemberian tugas, karya wisata, eksperimen, Dril/Latihan, sosiodrama, simulasi, kerja lapangan demonstrasi, dan kerja kelompok”.139 Dalam dunia belajar-mengajar pada pendidikan formal dikenal dengan istilah proses belajar mengajar (PBM). Terdapat sebuah ungkapan bahwa: “metode jauh lebih penting dari pada materi pembelajaran”. Demikian pentingnya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran 137 Charles Michael Stanton. Higher…, Ibid., hlm. 122. 138 Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan, Jakarta, Pustaka alHusna, 1985, hlm. 41. 139 Armai Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pres, Jakarta, 2002, hlm. 108-196
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 103 akan menjadi ukuran keberhasilan PBM. Dengan demikian seorang pendidik dituntut kecermatannya dalam memilih metode pendidikannya saat akan menyampaikannya di ruangan belajar. G. Proses pembelajaran Proses pembelajar dikenal dalam dunia pendidikan dengan istilah kegiatan belajar mengajar (KBM) sebagai bagian dari pendidikan. Dalam hal ini, Al-Ghazali menyarankan tentang proses belajar mengajar adanya “pengintegrasian antara materi, metode dan media atau alat pengajarannya”. 140 Seluruh komponen tersebut harus diupayakan semaksimal mungkin, sehingga dapat menumbuhkembangkan segala potensi fitrah anak, agar nantinya menjadi manusia yang hidup penuh keutamaan. Materi yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak, baik dalam hal usia, intelegensia, maupun minat dan bakatnya. Jangan sampai anak diberi materi pelajaran yang justeru merumbah dan merusak akhlak dan akidahnya. Anak yang dalam taraf kondisi akalnya belum matang, hendaknya diberi materi pelajaran yang dapat mengarahkan kepada akhlak mulia. Sejalan dengan di atas, Ibn Khaldun menganjurkan agar setiap pendidik bersikap sopan dan bijaksana terhadap peserta didiknya. Dalam proses belajar mengajar ia menganjurkan untuk mempergunakan jalan konsentris untuk mata pelajaran tertentu. Langkah pertama yang harus ditempuh adalah peserta didik diberi pelajaran tentang soalsoal mengenai setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya. Keterangan terhadap materi pelajaran yang 140 Ramayulis dan Samsu Nizar. Ensiklopedi..., ibid, hlm. 14.
104 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional diberikan hendaknya bersifat umum, yaitu “memperhatikan kekuatan fikiran peserta didik dan kesaggupannya memahami apa yang diberian kepadanya”.141 Dalam proses pembelajaran, Ibn Sina telah melatakkan dasar psikologi pendidikan. Hal ini terlihat bahwa ia sangat memperhatikan psikologi peserta didik. Sikap yang demikian terlihat dari uraiannya mengenai pendidikan peserta didik bila dari ditingkat usia, bakat, dan kemauan peserta didik. Dengan mengetahui latar belakang bakat, dan kemauan peserta didik, maka bimbingan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik akan lebih berhasil.142 Menurut Bisri Affandi, diantara pendekatan yang dilakukan Surkati terhadap peserta didiknya adalah: 1. Ia sangat memperhatikan murid-muridnya, baik dari segi budi pekerti maupun dari segi kemampuan intelektualnya. Sifat yang demikian meupakan kunci untuk mengetahui kepribadian dan daya piker peserta didik; 2. Ia mampu meraih kaidah-kaidah berfikir yang dimilikinya untuk dikaitkan dengan akal anak didiknya, sehingga anak didik dengan tidak terasa terbuka akalnya memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai permasalahan; 3. Konsep sikap dan tingah laku yang didasari pandanganpandangan dari ajaran agama dapat diwujudkan hingga menjadi daya tarik dan pengaruh tersendiri yang 141 Ibid., hlm. 26. 142 Jalaluddin dan Usman Said. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, tt, hlm. 138.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 105 mampu mendorong orang lain untuk menggali lebih jauh ilmu pengtahuan.143 Menurut Al-Qabisi, bahwa “pembelajaran tidak mensyaratkan adanya batasan usia”.144 Ia menekankan bahwa kedua rangtua bertanggungjawab untuk mengajari agama semenjak anak sudah dapat berbicara fasih. Pandangan yang seperti itu mengandung maksud bahwa tanggungjawab pendidikan anak berlaku terus menerus. Pendidikan anak di kuttab hanya merupakan kelanjutan tugas pendidikan yang wajib ditunaikan oleh kedua orang tua. Oleh karena itu walau anak telah dikirimkan ke sekolah, mereka harus tetap aktif mengawasi dan mendidiknya.145 Proses pembelajaran yang disampaikan oleh para ahli pemikir dan praktis pendidikan di atas sangat beragam. Ia harus terlaksana sesuai dengan tujuan, desin kurikulum dan metode pelajaran yang telah disiapkan sebelumnya. Karena itu proses pembelajaran tidak bisa diabaikan dalam pelaksanaanya. Dengan sebab itulah proses pembelajaran tidak dapat distandarisasi melainkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa. Para pendidik terlebih dahulu mengetahui keadaan siswa dan materi pelajaran apa yang akan disampaikan dalam kelas. Namun begitu, apa yang dikemukakan oleh para ahli itu dapat dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran setelah melalui penyesuaian dengan keadaan masing-masing di lembaga pendidikan. 143 Bisri Afandi. Syekh Ahmad Surkati: Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta, Pustaka Alkautsar, 1999, hlm. 120. 144 Ali al-Jumbulati. Perbandingan Pendidikan Isam, Jakarta, Rineka Cipta, 1994, hlm. 81. 145 Ibid., hlm. I72.
106 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Kelembagaan pendidikan sebagai tempat belajar atau menuntut ilmu mempunyai peranan amat penting dalam upaya proses belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik. Karenanya Nabi SAW memberikan petunjuk kepada sekolompok orang yang berkumpul di rumah, di masjid atau di lingkungan masyarakat agar mengajarkan al-Qur’an. Petunjuk Nabi SAW ini telah menginsprasi para penyelenggara pendidikan untuk menyiapkan atau memanfaatkan tempat di mana saja terdapat orang yang dapat menjangkaunya untuk belajar agama dan ilmu pengetahuan lainnya, sebagaimana dinyatakan dalam alSunnah sebagai berikut: َ َح بُ ْو َّدثَنَا أ َ ي اْب ُن ُم َح َّمٍد قَاالَ: َحَّدثَنَا أ َو َعلِ ُّ ِ ْي َشْيبَةَ ب َ ْب ُن أ ِ ْكر بُ ْو بَ َرْي َرةَ قَا َل: قَا َل ِ ْي هُ ب َ ٍح، َع ْن أ ِ ْي َصالِ ب َ ِش، َع ْن أ ْع َم ْألَ يَةَ، َع ِن ا ِ ُمَعاو ِي بَْي ْوٌم ف َم َع قَ َو َما ا ْجتَ ..." :َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ٍت ِم ْن َر ُس ْو ُل هللاِ َصل َكةُ َمالَئِ ْ ُم ال تْهُ َحفَّ ِالَّ ْو َن ِكتَا َب ِهللا َويَتَ َدا َر ُس ْونَهُ بَْينَهُْم إ ُ ل بُيُ ْو ِت ِهللا يَتْ َدهُ، و َم ْن َم ْن ِعنْ ُم هللاُ فِ ْي ُم َوَذ َك َرهُ َو َغ ِشيَتْهُ ِهُم ال َّس ِكْينَةُ ْي َونَ َزلَ ْت َعلَ َسبُ ِ ِه نَ ْع ب ِ ْم يُ ْسر ُهُ لَ ِ ِه َع َمل ب َ ْبطَأ َ أ هُ. }رواه ابن ماجه{. Artinya: Yahya bin Yahya al-Tamimi dan Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin al-‘Ala’i al-Hamdani telah menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah telah menghabarkan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abi shalih, dari Abi Huarayrah ia berkata: telah bersabda Rasulullah SAW: dan apabila sekelompok orang berkumpul di dalam rumah, dari rumahrumah yang diserukan Allah, untuk membaca kitab Allah dan mempelajarinya, pasti akan dikerumuni para Malaikat, akan turun kepada mereka ketenangan, dan diliputi penuh rahmat, H. Lembaga Pendidikan Islam
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 107 , dan selalu diingat oleh Allah, seolah-olah mereka berada pada sisi-Nya. (HR.Muslim).146 ْس َح َق ِ بُ ْو إ َ َس، َحَّدثَنَا ُزهَْي ٌر. َحَّدثَنَا أ ِن يُ ْونُ ْح َمُد ْب ُن َعْبِد ِهللا ْب َ َحَّدثَنَا أ ْس َوَد ْألَ َل ا َ َسأ ْي ُت َر ُجالً َ ِي قَا َل: َرأ ْرآ َن ف قُ ْ ال َ م ِّ َو يُ َعل ْيَد، َوهُ ِ ْب َن يَز ْم َذاالً؟ َ أ َداالً َ ِ؟ أ ْآليَةَ؟ فَهَ ْل ِم ْن ُمَّد ِكر هَِذِه ا ُ َرأ َم ْس ِجِد، فَقَا َل: َكْي َف تَقْ ْ ال ْو ُل: َس ِمْع ُت َر ُس ْو َل ِهللا قَا َل: بَ ْل َداالً. َس ِمْع ُت َعْبَد هللاِ ْب َن َم ْس ُعْوٍد يَقُ َّى هللاُ َع َصل . }رواه مسلم{. ٍر" َداالً ْو ُل " ُمَّد ِك يُقُ َ م َّ ْي ِه َو َسل لَ Artinya: Ahmad bin Abdillah bin Yunus telah bercerita kepada kami, Zuhair telah bercerita kepada kami, Ishaq telah bercerita kepada kami, dia berkata: aku melihat seorang laki-laki bertanya kepada Aswad bin Yazid dan dia sedang mengajarkan al-Qur’an di masjid, dia berkata bagaimana anda membaca ayat ini…..apakah “dal” atau “dzal”. Dia menjawab “dzal”. Saya telah mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata: saya mendengar Rasullah berkata “dal. (HR. Muslim).147 Kelembagaan pendidikan Islam dalam bentuk lembaga madrasah menjadi sesuatu yang amat penting dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan. Pada umumnya lembaga pendidikan Islam sebelum madrasah di masa klasik diklasifikasikan atas dasar muatan kurikulum yang diajarkan yang meliputi pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Charles Michael Stanton, 146 Imam al-Hafidz abi Abdillah Muhammad bin Yazid ar-Rob’iyyi, Sunan Ibn Majah, Arab Saudi: Darussalam, 1999, Bab Muqaddamah No. 17/220, hlm. 34-35. 147 Ibid. Al-Imam Abi Husain Muslim bin Hajjaz al-Qusyairin alNaisabury. Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir Bab Ma Yata’allaqu bi alQiraat, Beirut: Daar el-Fikr, 1988, no. 280, hlm. 364.
108 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional menggolongkan lembaga pendidikan Islam ke dalam dua bentuk, yaitu “lembaga pendidikan formal yang mengajarkan pengetahuan agama, dan pendidikan nonformal yang mengajarkan pendidikan umum termasuk filsafat”. 148 George Makdisi, dalam hal yang sama menyebutnya “sebagai lembaga pendidikan eksklusif (tertutup) yang hanya mengajarkan pengetahuan agama, dan lembaga pendidikan inklusif (terbuka) yang mengajarkan pengetahuan umum”.149 Lembaga pendidikan Islam pada masa klasik sebelum kebangkitan madrasah mempunyai banyak nama antara lain: Shuffah, Kuttab/Maktab, Halaqah, Majelis, Masjid, Khan, Ribath, Rumah Ulama, Tokok Buku, Rumah Sakit dan Badi’ah. Lembaga pendidikan Islam ini mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan Islam di masa itu. Oleh karena itu keberadaan lembaga ini untuk kajian kelembagaan pendidikan Islam sejak awal penyebaran Islam selalu menjadi kajian yang amat serius sebagai pijakan teori yang danggap mapan. Lembaga pendidikan shuffah, “pada pasa Rasulullah SAW menjadi suatu tempat berlangsungnya aktivitas pendidikan”.150 Lembaga ini menyediakan pemondokan bagi masyarakat miskin untuk belajar menbaca dan menghafal Al-Qur’an. Pada masa itu diperkirakan terdapat sembilan shuffah yang tersebar di Madinah, salah satunya berada di samping masjid Nabawi. Rasulullah SAW mengangkat Ubaid ibn Al-Samit sebagi guru pada lembaga ini. “Dalam 148 Charles Michael Stanton. Higher…, Maryland, 1990,hlm. 122. 149 George Makdisi. Typology of Institutions of Learning, (An Antology Studies), Issa J. Boulatta, Montreal: McGill Indonesia IAIN Development Project, 1992, hlm. 16. 150 Abuddin Nata. (terj.), Pemikiran Pendidikan Islam pada Abad Pertengahan, Canada, Montreal, 2000,hlm. 12.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 109 perkembangan berikutnya lembaga shuffah menawarkan juga ilmu-ilmu umum yang berkaitan dengan dasar-dasar berhitung, kedokteran, astronomi, geneologi dan ilmu fonetik”.151 Kuttab/Maktab merupakan lembaga pendidikan Islam tingkat dasar yang mengajarkan membaca dan menulis, kemudian meningkat pada pengajaran Al-Qur’an dan pengetahuan agama tingkat dasar. Abdullah Fajar membedakan kedua istilah itu dengan mengatakan, bahwa “maktab istilah untuk zaman klasik, sedangkan kuttab istilah untuk zaman modern”.152 Philip K. Hitti mengatakan bahwa “kurikulum pendidikan di kuttab ini berorientasi pada AlQur’an sebagai suatu textbook. Hal ini mencakup pengejaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa Arab, sejarah Nabi khususnya yang berkenaan dengan Nabi Muhammad SAW.”153 Lembaga pendidikan halaqah, sebagai sarana pendidikan yang digunakan dalam posisi murid melingkar melingkari gurunya. “Kegiatan halaqah ini biasanya dilakukan oleh guru bersama muridnya di masjid atau di rumah-rumah”.154 Dalam prakteknya kegitan di halaqah ini tidak hanua mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama melainkan juga pengetahuan umum termasuk filsafat.oleh karena itu, halaqah dikelompokkan ke dalam lembaga pendidikan terbuka terhadap ilmu pengetahuan umum. “Dilihat dari segi ini, halaqah dikategorian ke dalam lembaga 151 Susari. Lembaga-lembaga Pendidikan Islam Sebelum Madrasah, (Abuddin Nata, (Ed), Jakarta, PT. TajaGrafindo Persada, 2004, hlm. 32. 152 Abdullah Fajar. Perdaban dan Pendidikan Islam, Jakarta, Rajawali Pres, 1996, hlm. 16. 153 Ahmad Syalabi. Sejarah Pendidikan Islam, (terj.) Muchtar Yahya dan Sanusi Latif, Jakarta, Bulan Bintang, 1973, hlm. 17. 154 Hanun Asrohah. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, hlm. 51.
110 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional pendidikan tingkat lanjutan yang setingkat dengan college”.155 Lembaga pendidikan Majelis dipakai sebagai tempattempat pelaksanaan belajar mengajar juga diartikan sebagai aktivitas pengajaran. Contoh: Majelis al-Nabi, artinya majelis yang digunakan oleh Nabi atau majelis Al-Syafi’i, artinya majelis yang digunakan untuk mengajar fiqih Syafi’i. Majelis mengalami perkembangannya sebagai lembaga untuk mentransfer ilmu pengetahuan sehingga mempunyai ragam bentuk. Menurut Muniruddin Ahmed, seperti dikutif Harun Asrohah, bahwa “ada 7 (tujuh) macam majelis sebagai berikut: majelis al-Hadits, majelis al-Tadris, majelis alMunazharah, majelis al-Muzakarah, majelis al-syu’ara, majelis al-Adab, majelis al-Fatwa, dan majelis al-Nazar”.156 Lembaga pendidikan Khan difungsikan sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memilki banyak toko, seperti khan al-Nasri yang berlokasi di alun-alun Karkh di Bagdad. Khan juga berfungsi sebagai asrama untuk murid-murid dari luar kota yang hendak belajar hukum Islam di suatu masjid seperti khan yang dibangun oleh Di’lij ibn Ahmad ibn Di’lij pada akhir abad ke-10 M di Suawiqat Ghalib dekat maqam Suraij. “Di samping fungsi di atas, khan juga digunakan sebagai sarana untuk belajar privat”.157 Lembaga pendidikan Ribath adalah “tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengosentrasikan diri untuk semata-mata ibadah”. 158 Juga 155 Susari. Pendidikan..., Ibid, hlm. 35. 156 Hanun Asrohah. Sejarah..., Ibid. 51. 157 Ibid. 64. 158 Susari. Lembaga..., Ibid, hlm. 39-40.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 111 memberikan perhatian terhadap kegiatan keilmuan yang dipimpin oleh seorang syekh yang terkenal dengan ilmu dan kesalehannya. Pada perkembangan lebih lanjut, setelah munculnya madrasah, banyak madrasah yang dilengakapi dengan ribath-ribath. Sejak masa dinasti saljuk, madrasah dan ribath diorganisir dalam satu garis kebijakan yang sama, yaitu kembali kepada ortodoksi sunni. Menurut Ahmad Syalabi, “rumah-rumah Ulama sering digunakan sebagai lembaga pendidikan untuk kegiatan belajar mengajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan”. 159 Hal ini dikarenakan ulama yang bersangkutan tidak memungkinkan memberikan pelajaran di masjid, sedangkan para pelajar banyak yang berminat memperdalam ilmu dari diri ulama yang bersangkutan. Misalnya yang dilakukan oeh Al-Ghazali ketika ia memilih kehidupan sufi. Demikian juga Ali ibn Muhammad Al-fashihi ketika ia dipecat dari madrasah Nizamiyah karena dituduh syi’ah dan juga Ya’kub ibn Killis. Toko-toko Buku dan Perpustakaan, memiliki peranan penting sebagai lembaga pendidikan Islam. Sarana ini tidak hanya menjual buku dan tempat membaca buku kemudian dijadikan sebagai sarana untuk berdiskusi. Bahkan pertemuan ini dijadikan kegiatan rutin untuk melakukan debat keilmuan bidang tertentu. Dalam catatan Ahmad Syalabi, disebutkan bahwa “seorang pelopor pendiri perpustakaan adalah Khalifah Al-Ma’mun dari dinasti Abbasiyah, kemudian diikuti oleh penguasa setelahnya”.160 “Rumah Sakit pada zaman klasik tidak hanya digunakan sebagai sarana berobat dan perawatan juga difungsikan sebagai pendidikan”161. 159 Ahmad Syalabi. Sejarah...,Ibid, hlm. 29-30. 160 Ibid, hlm. 26. 161 Susari. Pendidikan....., Ibid, hlm. 41.
112 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Demikian juga Badiah (Padang Pasir, Dusun Tempat Tinggal Baduy) dijadikan sebagai lembaga pendidikan bahasa Arab yang asli dan murni, sehingga banyak anakanak khalifah, ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan bahasa dan kesusastraan Arab. “Dengan begitu, badiahbadiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan”.162 Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan Islam dalam bentuk pengajaran agama dan pengetahuan ilmu umum pada masa klasik telah dilakukan secara formal dan informal melalui berbagai lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan formal memberikan pelajaran agama, sedangkan pendidikan informal memberikan pendidikan umum. Terjadinya dikhotomi pengetahuan antara pendidikan agama dan pendidikan umum itu akibat pengaruh dari bersentuhannya kebudayaan Islam dan helenisme. Padahal sistem pendidikan Islam sesungguhnya tidak mengenal dikhotomi tersebut. Setelah masa klasik berlalu (antara 650-1200 M) kemudian berkembang lembaga pendidikan Islam dalam konsep kelembagaan madrasah. Madrasah merupakan isim makan dari fi’ik madhi dari darasa mengandung arti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran. “Secara teknis madrasah menggambarkan proses pembelajaran secara formal dan memiliki konotasi spesifik. Madrasah itu sendiri merupakan institusi peradaban Islam yang sangat penting”.163 Hasan As’ari, “mengasumsikan cirri- 162 Zuhairini. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1997, hlm. 97. 163 Zianuddin Alavi. Muslim Education Thought ini The Middle Age, (terj.) Abuddin Nata, Canada Montreal, 2000, dikutif oleh Ahmad Kurtubi,
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 113 ciri madrasah tidak dapat dikonotasikan dengan lembaga pendidikan yang ada sekarang dan kesulitan basar menerjemahkan kata madrasah itu sendiri”.164 Sedangkan Nakosteen dan beberapa sarjana lain menerjemahkan madrasah dengan university. Walaupun hal ini tidak terlalu tepat namun mendekati dengan alasan sebagai berikut: Terdapat tiga perbedaan mendasar antara madrasah dengan universitas, yaitu: pertama, kata universitas dalam pengertian yang paling awal mengacu pada civitas akademika, sedangkan madrasah mengacu pada sarana dan prasarana. Kedua, universitas bersifat hierarkis, sedangkan madrasah bersifat individualitas dan personal. Ketiga, izin mengajar pada universitas dikeluarkan komite, sedangkan pada madrasah ijazah diberikan oleh syaikh secara personal.165 Dalam perkembangan kelembagaan madrasah sebagai lembaga pendidikan, ada tiga teori berkaitan dengan sejarah dan motivasi berdirinya madrasah. Namun demikian, mana yang terlebih dahulu berdirinya lembaga keagamaan dalam bentuk madrasah seperti yang disebutkan di atas tetap mengundang perdebatan. Teori perkembangan madrasah dimaksu adalah: 1. Madrasah selalu dikaitkan dengan nama Nizam al-Mulk (W. 485 H/1092 M). Salah satu wazir Dinasti Saljuk dalam Pertumbuhan Madrasah pada Periode Awal Sebelum Lahirnya Madrasah Nizhamiyah, hlm. 50. 164 Hasan Asari. Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Bandung, Mizan, 1996, hlm. 48. 165 Ahmad Qurtubi. Pertumbuhan Madrasah Pada Periode Awal Sebelum Lahirnya Madrasah Nizamiyah, (dalam, Abuddin Nata, (Ed.) Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik dan Pertengahan, ibid, hlm.50-51.
114 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional sejak 456 H/1068 M sampai dengan wafatnya dengan membangun Madrasah Nizamiyah di berbagai kota utama daerah kekuasaan Saljuk.166 2. Menurut al-Makrizi, ia berasumsi bahwa madrasah pertama adalah madrasah Nizamiyah yang didirikan tahun 457 H.167 3. Madrasah sudah eksis semenjak awal Islam seperti Bait al-Hikmah yang didirikan al-Makmun di Baghdad abad ke-3 H.168 Dalam kajian ini yang terpenting adalah berdirinya lembaga pendidikan madrasah sebagai batas yang dapat memperjelas, bahwa pendidikan Islam telah berkembang sebelum dan sesudah periode madrasah. Kelembagaan madrasah ini sebagai bentuk pergerakan pendidikan Islam dari informal yang dilaksanakan di rumah-rumah, masjid dan sejenisnya ke formal yang dilakukan oleh lembagalembaga yang sengaja diperuntukan bagi pendidikan. Menurut Hasan Asari, “madrasah merupakan hasil evolusi dari masjid sebagai lembaga pendidikan dan Khan sebagai asramanya”.169 Makdisi, mempekuat pendapat ini, bahwa “Masjid Khan yang menjadi cikal bakal madrasah dan fiqih merupakan bidang studi utamanya”. 170 Maksum, bependapat proses transformasi dari masjid ke madrasah secara tidak langsung, yakni melalui perantara Masjid 166 Hasan Asari. Menyingkap..., ibid, hlm. 48. 167 Maksum. Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, Logos, Jakarta, 1999, hlm. 60. 168 Ahmad Qurtubi. Pertumbuhan..., ibid, hlm. 53. 169 Hasan Asari. Ensiklopedi Islam, RajGrafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm. 240. 170 Ibid, hlm. 45.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 115 Khan”. 171 Ahmad Syalaby, perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara langsung. Menurutnya madrasah sebagai konsekuensi logis semakin ramainya pengajian di masjid yang fungsi utamanya adalah ibadah”.172 Zuhairini, mengemukakan alasan-alasan berdirinya madrasah di luar masjid sebagai berikut: 1. Halaqah-halaqah (kelompok studi) yang diselenggarakan di masjid-masjid mengganggu terutama terhadap orang-orang yang akan beribadah; 2. Berkembangnya ilmu pengetahuan melahirkan halaqahhalaqah banyak yang tidak tertampung di masjid; 3. Ketika bangsa Turki mulai berpengaruh dalam pemerintahan Bani Abasiyah dan dalam rangka mempertahankan status quo. Mereka berusaha menarik hati dengan berusaha memperhatikan pendidikan dan pengajaran guru-guru digaji dan diberi fasilitas yang layak; 4. Sebagai kompensasi dari dosa yang mereka lakukan juga berharap ampunan dan pahala dari Tuhan karena mereka sering melakukan maksiat; 5. Ketakutan akan tidak dapat mewariskan harta kepada anak-anaknya. Dengan demikian, mereka membuat wakaf pribadi yang dikelola oleh keluarga; 6. Usaha mempertahankan dan mengembangkan aliran keagamaan dari para pembesar agama. 173 Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa konsep madrasah yang berkembang pada masa klasik 171 Maksum. Madrasah..., Ibid. hlm. 57. 172 Ahmad Syalaby. Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, Al-Qahirah, li alNasr wa al-Thiba’ah wa al-Tauzi’, 1954, ibid. hlm. 97. 173 Zuhairini. Sejarah..., Ibid, hlm. 100
116 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional merupakan madrasah dalam pengertian pendidikan formal. Lembaga pendidikan itu mengajarkan berbagai mata pelajar/mata kuliah yang berlangsung secara berjenjang dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan tersebut ada yang dibangun dengan sentuhan pihak penguasa pada waktu itu dan ada juga yang berdiri di luar kekuasaan para penguasa. Pendidikan yang dibangun dengan sentuhan para penguasa atau pemerintahan setempat ternyata secara meyakinkan lebih populer dan sangat pesat perkembangannya dibanding lainnya. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan konsep madrasah yang terjadi di Indonesia dalam pengertian tradisional. Namun demikian pendidikan madrasah di Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat drastis dari tradisional kearah modern. Dengan pengembangan ini justeru penyelenggaraan madrasah di Indonesia banyak mengalami kendala dan masalah dalam berbagai aspek pendidikan, khususnya dibidang manajemen pendidikan. Untuk mempertahankan keberadaan madrasah di Indonesia dikembangkan pola pendidikan madrasah formal, informal dan nonformal. I. Pembiayaan Pendidikan Islam Dalam Undang-undang tentang Guru dan Dosen mengatur Gaji dan Penghasilan. “Gaji adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen atas pekerjaannya atas penyelenggaraan pendidikan atau satuan pendidikan dalam bentuk finansial secara berkala sesuai peraturan perundangundangan”.174 “Penghasilan adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen dalam bentuk finansial sebagai imbalan 174 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 angka 15.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 117 melaksanakan tugas keprofesionalan yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru atau dosen sebagai pendidik profesional”.175 Dalam kaitannya dengan pemberian Honorarium/ insentif/ upah mengajar dan dana pendidikan ternyata mendapatkan perhatian dari Rasulullah SAW. Dalam beberapa sabdanya pemberian upah mengajar dan biaya pendidikan dapat berbentuk sesuatu hal yang menyenangkan bagi si penerima, barter, dan infak di jalan Allah, sebagaimana sabdanya sebagai berikut: ي َع ِن َس ٍّ ِن نُ يَاٍد، َع ْن ُعبَا َدةَ ْب ِ ْب ُن ز ، َحَّدثَنَا ُمِغْي َرةُ ٍ َو ِكْيع َحَّدثَنَا ِن ال َّصا ِم ِت. قَا َل: َع ْن ُعبَا َدةَ ْب ْعلَبَةَ ِن ثَ ْس َو ِد ْب ا ْم ُت نَا ًسا ِم ْن ْألَ َّ َعل ُت: ْ ل ْو ًسا فَقُ َّي َر ُج ٌل ِمنْهُ ْم قَ لَ ِ ْه َدى إ َ ْرآ َن، فَأ قُ ْ َوال ِكتَابَةَ ْ ِة ال ْه ِل ال ُّصفَّ َ أ َعالَى، ِل هللاِ تَبَا َر َك َوتَ ْي ِ ِي َسب ْر ِم ْي َعنْهَا ف َ ِ َما ٍل، َوأ ْي َس ْت لِ ْي ب لَ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ ِ َّي َصل ُت النَّب ْ ل َ ِ فَ هَا َسأ َّو َف ب ْن تُطَ َ ْن َس َّر َك أ ِ فَقَا َل: إ هَا. }رواه أحمد {. ْ بَل قْ َ ٍر فَأ ا ِم ْن نَا ْوفً طَ Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waqi’, telah menceritakan kepada kami Mughirah ibnu Ziyad dari Ubadah Ibnu Nasyi, dari Aswad ibn Tsa’labah, dari Ubadah ibn Shamit, ia telah berkata: aku telah mengajar menulis dan membaca al-Qur’an kepada kelompok ahli shuffah seorang dari mereka memberiku busur panah, kugunakan busur itu untuk berperang fi sabilillah, kemudian aku bertanya kepada Nabi SAW dan nabi menjawab: “kalau itu membahagiakan dirimu dan kamu 175 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 angka 16.
118 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional jadikan dengan busur itu kekuatan untuk menghindar dari api neraka, terimalah. (HR. Ahmad).176 ِن َع ِن ا ْب ِ َمةُ ي ْب ُن َعا ِصٍم قَا َل: قَا َل َدا ُو ُد: َحَّدثَنَا ِع ْكر َحَّدثَنَا َعلِ ُّ ْألَ ٍس قَا َل: َكا َن نَا ٌس ِم َن ا َعبَّا هُ ْم فِ َدا ٌء، ُك ْن لَ ْم يَ ٍر لَ ْد بَ َ ْس َرى يَ ْوم َد ْوالَ َ ُمْوا أ ِّ ْن يُ َعل َ ْم أ َءهُ َ فِ َدا م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َج َع َل َر ُس ْو ُل هللاِ َصل فَ ْي ِه، فَقَا َل: ِ ب َ لَى أ ِ ٌم يَ ْب ِك ْي إ َء يَ ْو ًما ُغالَ َجا ِكتَابَةَ، قَا َل: فَ ْ ال ِ َصار نْ ْألَ ا َك، قَا َل: نُ ْ َما َشأ ٍر!! ْد َذ ْح ِل بَ ِ ُب ب ُ ْطل ُث، يَ يْ ِ َخب ْ ل ِم ْي، قَا َل: اَ ِّ َض َربَنِ ْي ُمَعل بَ ًدا. }رواه أحمد{. َ تِ ْي ِه أ ْ َوهللاِ الَتَأ Artinya: Ali ibnu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, sesungguhnya ia berkata bahwa Dawud telah berkata bahwa: Ikrimah telah menceritakan kepada kami dari ibnu Abbas, ia berkata: pada suatu hari ada seorang tawanan perang Badar yang belum menyerahkan tebusan bagi dirinya, rasul menyuruh ia mengajarkan menulis kepada anak-anak kalangan Anshar. Kemudian datang suatu hari anak yang menangis, Rasul berkata mengapa? Anak itu menjawab aku dipukul guruku, Rasul berkata itu perbuatan tercela dia ingin menjadi tawanan perang Badar lagi, kau jangan datang lagi untuk selamanya. (HR. Ahmad).177 ــتَيْبَةُ ي َوقُ ال َّز ْه َرانِ ُّ ِ ْيع ِ بُ ْو ال َّرب َ َما َع ْن َحَّدثَنَا أ بْ ُن َس ِعْيٍد، ِكالَهُ ِ ْي ب َ يُ ْو ُب َع ْن أ َ : َحَّدثَنَا َح َّماٌد. َحَّدثَنَا أ ِ ْيع ِ بُ ْو ال َّرب َ ِن َزْيٍد قَا َل أ َح َّماِدْب َّى هللاُ ْوبَا َن قَا َل: قَا َل َر ُس ْو ُل هللاِ َصل َء، َع ْن ثَ ْس َما َ ِ ْي أ ب َ قِالَبَةَ، َع ْن أ َض ُل ِدْينَ فْ َ َ: )أ م َّ ْي ِه َو َسل َعل ى ِعيَالِ ِه َ ٍر يُنْفِقُهُ ال َّر ُج ُل ِدْينَا ٌر يُنْفِقُهُ َعلَ ا 176 Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Al-Musnad, Riyadh: Baitul Afkar ad-Dauliyah, 1998, 5/315, No. 23065, hlm. 212. 177 Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Al-Musnad, Riyadh: Baitul Afkar ad-Dauliyah, 1998, 1/247, No. 2216, hlm. 212.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 119 ِل هللاِ َوِدْينَا ٌر يُنْفِقُهُ َعلَى ْي ِ ِي َسب َوِدْينَا ُر يُنْفِقُهُ ال َّر ُج ُل َعلَى َدابَّتِ ِه ف ِل هللاِ. }رواه مسلم{. ْي ِ ِي َسب ِ ِه ف ْص َحاب َ أ Artinya: Abu Rabi’ al-Zahroni dan Qutaibah Ibnu Sa’id telah menceritakan kepada kami, keduanya dari Hamid ibn Zayid, Abu Robi’ telah berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abi Qilabah, dari Abi Asma’, dari Tsauban bahwasanya ia telah berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda: sebaik-baik uang yang diinfaqkan seseorang adalah uang yang dipakai untuk membiayai keluarganya, uang yang dipakai untuk membiayai kendaraan fi sabilillah, uang yang dipakai untuk menghidupi hewan yang dipakai berjuang di jalan Allah, dan uang yang dipakai untuk membiayai sahabatnya fi sabilillah. (HR. Muslim).178 Pendidik dalam pendidikan Islam, selain mempunyai tugas dan kewajiban juga mempunyai hak yang mesti diberikan kepada pendidik, walaupun masalah ini selalu megundang kontrersial di antara pendidik. Hak-hak para pendidik antara lain: hak mendapatkan gaji, dan hak mendapatkan penghargaan serta kode etika sebagai panduan saat mereka melakukan tugas dan perannya. Berkenaan dengan hak gaji terdapat perbedaan di antara kalangan pra pendidik. Para ahli fikir dan filosof berpendapat tentang boleh tidaknya dalam hal pendidik menerima gaji atau menolaknya. Penolakan paling keras dalam menerima gaji 178 Al-Imam Abi Husain Muslim bin Hajjaz al-Qusyairi al-Naisabury. Shahih Muslim, Beirut: Daar el-Fikr, 1988, Kitab Zakat, Bab Fadlu anNafaqah ala al-‘Iyal wa al-Mamluk…, no. 38/994, hlm. 441.
120 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional adalah Socrates.179 Kemudian diikuti oleh filosof muslim, yaitu al-Ghazali dengan mengaharamkan gaji.180 Sementara al-Qabisi mempunyai pendapat yang berbeda. Ia memandang gaji itu tak dapat tidak harus diadakan. Alasan al-Qabisi guru menerima gaji karena pendidik telah menjadi jabatan profesi, tentu berhak untuk mendapatkan kesejahteraan dalam kehidupan ekonomi, berupa gaji ataupun honorarium.181 Profesionalitas guru adalah abu al-ruh (bapak rohani) bagi peserta didiknya. Guru-lah yang memberikan santapan rohani dan memperbiki tingkah laku peserta didik. Justeru itu profesi guru itu wajib dimuliakan, mengingat peranannya yang sangat signifikan dalam menyiapkan generasi mendatang. Muhammad Athiyah al-Abrasi, bahwa “menghormati guru berarti penghormatan terhadap anakanak kita”.182 Pada masa sekarang nampaknya hak menerima gaji bagi para pendidik menjadi sesuatu hal yang dianggap wajar, bahkan telah mendapatkan legitimasinya dalam bentuk peraturan. Gaji yang diterima para pendidik menjadi hak yang harus diterimanya setelah mereka melaksanakan kewajibannya dalam mendidik. Guru menjadi sebuha profesi yang layak dihargai oleh siapa pun yang menggunakan jasanya sebagai tenaga pendidik. Saat ini hak pendidik dikelompokan kedalam penghasilan yang didasarkan pada kompetensi dan kualifikasi pendidik. 179 Musthafa Sa’i al-Khin, dkk. Mazhab al-Muttaqin Syarh Riyadh alShalihin, Beirut, Muassah al-Risalah, 1972, hlm. 298. 180 A. Piet Sahertian. Profil Pendidik Profesional, Yogyakarta, Andi Ofset, 1994, hlm. 20 181 A. Bustani. A. Gani. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, hlm. 130-131. 182 Piet Sahertian. Profil…, hlm. 20.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 121 J. Pengelolaan Pendidikan Islam Secara terminologis, istilah “pengelolaan” identik dengan “manajemen” yang memiliki makna “pengelolaan”, “ketatalaksanaan”, atau “tata pimpinan” sebagai terjemahan langsung dalam kamus bahasa Inggeris dari kata management. Management berakar dari kata kerja to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, atau mengelola.183 James H. Donelly, dalam bukunya: Fundamental of Management, mendefinisikan manajemen sebagai “sebuah proses yang dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk mengatur kegiatan-kegiatan melalui rang lain sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang tidak mungkin dilaksanakan satu rang saja”. Sondang P. Siagian, mendefinisikan manajemen sebagai “kemampuan atau keterampilan untuk meperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain”.184 Pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak dijumpai dalam Al-Qur’an, S. 32, Al-Sajdah: 05, dan S. 10, Yunus: 31, sebagai berikut: َ ن َ ٖم َك أ ِنو َ ِِف ي هِ أ َ ِِل إ ل ج ل ر أ ع َ ي َّ م ل ۡر ِض ث أ َ ٱۡل َ ِِل ءِ إ ٓ ا َ م ٱلسَّ ِمنَ َ ر أ م أ َ ٱۡل ل ِر ِ ب َ د ل ي َ ون ُّ د ل ع َ ا ت َّ ِم ِ ةٖ م َ ن َ س ف َ أ ل َ أ ٓ ۥ ل ه ل ار َ د أ ِمق ٥ 183 John M. Echol dan Hasan Shadily. Kamus Inggeris Indonesia, Jakarta, Gramedia, 1993, hlm. 362. 184 Sondang P. Siagian. Filsafat Administrasi, Jakarta, CV. Masagung, 1980, hlm. 5
122 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Artinya: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. َ ر َٰ صَ أ ب أ َ ٱۡل َ و َ ع أ م ٱلسَّ لِكل أ م َ ن ي َّ م َ ۡر ِض أ أ َ ٱۡل َ ءِ و ٓ ا َ م ٱلسَّ ِنَ ِ م م كل ل ق ل ز أ ر َ ن ي َ م أ ل ل ق ٱ ل ِج ر أ خ ل ي َ ِ ِت و ِ ي َ م أ ٱل ِمنَ َّ َح َ أ ٱل ل ِج ر لأ ن ُي َ م َ و ل ِر ِ ب َ د ل ن ي َ م َ ِ و ِ َح َ أ ٱل ِمنَ ِتَ ِ ي َ م أ ل َ ِنون ل ق َّ ت َ ت َ َل َ ف َ أ أ ل ل ق َ ف ۚ َّل ٱَّلل َ ِنون ل ِنول ل ق َ ي سَ َ ف ۚ َ ر أ م أ َ ٱۡل ٣١ Artinya: Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka Katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? Dua ayat di atas mengungkapkan kata yudabbiru alamra yang berarti mengatur urusan. Ahmad al-Syahwi menafsirkan kedua ayat tersebut, bahwa “Allah adalah pengatur alam (manajer)”. Keteratutan alam raya merupakan suatu bukti kebesaran Allah SWT dalam mengelola alam ini. Namu karena manusia yang telah diciptakan Allah SWT telah dijadikan khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaikbaiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya.185 185 H. Ramayulis. Imu…, Ibid., hlm. 260.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 123 Sebagai aplikasinya, manajemen dapat berjalan sebagaimana mestinya melalui fungsi-fungsi manajemen yang dilaksanakan oleh semua pihak. Fungsi manajemen ini pula yang menentukan berjalan efektif atau tidaknya kinerja manajemen. Fungsi-fungsi manajemen tersebut meliputi: perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan. Fungsi menajemen dari aspek perencanaan dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, S. 59, Al-Hasyr: 18, S. 2, Al-Baqarah: 201 sebagai berikut: ْ ِنوا ل ق َّ ٱت َ و ٖۖ ٖد َ لِغ تأ َ م َّ د َ ا ق َّ أ ٞس م ف َ ن أ ر ل نظ َ أ ۡل َ و ََّ ٱَّلل ْ ِنوا ل ق َّ ٱت ْ ِنوا ل ن َ ام َ ء ِينَ َّ ا ٱَّل َ ه ُّ ي َ أ َٰٓ َ ي َ ِنون ل ل َ م أ ع َ ا ت َ ِم ب ۢ ِيل ب َ خ ََّ ٱَّلل َّ ِن إ ۚ ٱَّلل ١٨ََّ Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. َ ن ي َّ م م ل ه أ ِمن َ و ا َ قِن َ و ة َ ن سَ َ ةِ ح َ ِِف ٱٓأۡل ِخر َ و ة َ ن سَ َ ا ح َ ي أ ن ُّ ِِف ٱل ا َ اتِن َ ء ٓ ا َ ن َّ ب َ ر ل ِنول ل ق ِ ار َّ ٱنل ابَ َ ذ ع ٢٠١َ Artinya: “....dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka. Aspek pengorganisasian, yaitu musyawarah dapat ditemukan dalam Al-Qur’an S. 3, Ali Imran: 159:
124 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional ْ ِنوا ُّ ض َ نف َ ِب ل أ ل َ ق أ ٱل َ لِيظ َ ا غ ًّ ظ َ ف نتَ ل ك أ ِنو َ ل َ و ٗۖ أ م ل ه َ ل ِ ِنلتَ َّ ٱَّلل ِنَ ِ ةٖ م أَ َح َ ا ر َ ِم ب َ ف أ فِر أ غ َ ت أ ٱس َ و أ م ل ه أ ن َ ع ف ل أ ٱع َ ف ٗۖ لِكَ أ ِنو َ ح أ ِٖۖ ِمن ر أ م أ َ ِِف ٱۡل أ م ل ه أ ِر او َ ش َ و أ م ل ه َ ل ِِنيَ ِ ّك َ ِنو َ ت ل م أ ٱل ُّ ِب ل ُي ََّ ٱَّلل َّ ِن ِۚ إ َّ ٱَّلل لَع ََ َّأ َّك َ ِنو َ ت َ ف تَ أ م َ ز َ ا ع َ ِذ إ َ ف ١٥٩ Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Aspek pengawasan dalam manajemen dapat ditemukan dalam al-Qur’an, Surat 3, Ali Imran : 29: ِِف ا َ م ل م َ ل أ ع َ ي َ و ُّۗ َّل ٱَّلل ل ه أ م َ ل أ ع َ ي ل وه ل د أ ب ل ت أ و َ أ أ م ل ك ِ ور ل د ِِف صل ا َ م ْ ِنوا ل ف أ ل ِن ُت إ أ ل ل ق ٱ ٞ ِدير َ ءٖ ق أ ِ َش َ لِ َٰ ُك َّل لَع ََ ٱَّلل َ ض و ۡر ِ ِۗ أ َ ِِف ٱۡل ا َ م َ ِت و َٰ َ و َٰ َ م لس ٢٩َّ Artinya: Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disebutkan bahwa manajemen merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Tujuan bersama ini dapat berbentuk organisasi, sekelompok orang atau badan hukum tertentu untuk
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 125 melakukan kegiatan tertentu dengan sasaran dan tujuan tertentu pula. Pendidikan Islam melalui Madrasah Diniyah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang mempunyai fungsi, tugas dan peran masing-masing perlu dikelola secara baik supaya mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen pendidikan Islam harus dilakukan berdasarkan prinsip pertanggungjawaban setiap individu atau kolektif yang mempunyai tugas dan fungsi mengelola. Prinsip manajemen dinyatakan secara implisit dalam alSunnah sebagaimana Rasulullah SAW bersabda di bawah ini. َ ْخبَ َرنِ ْي َ ْخبَ َرنَا َعْب ُد هللاِ قَا َل: أ ي قَا َل: أ ُّ ِ َم ْر َوز ْ ْش ُر ْب ُن ُم َح َّمٍد ال ِ َحَّدثَنَا ب ِي ز ْهر َر ُس َع ِن ال ُّ ِن ُع َم يُ ْونُ َ ْخبَ َرنَا َسالِ ُم ْب ُن َعْبِد هللاِ، َع ِن ا ْب قَا َل: أ َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى هللاُ َعلَ َما قَا َل َس ِمْع ُت َر ُس ْو َل ِهللا َصل َر ِض َي هللاُ َعنْهُ ٍع َو َم ْسؤ ٌل ِإل َماُم َرا َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّتِ ِه: ا ُّ ُكْم ٍع، َو ُكل ُّ ُكْم َرا ْو ُل: ُكل يَقُ َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َع َر ِعيَّتِ ِه، ْن َر ِعيَّتِ ِه ْهلِ ِه َوهُ َ ِي أ ٍع ف ، َوال َّر ُج ُل َرا َخاِدُم ْ َع ْن َر ِعيَّتِهَا، َوال َو َم ْس ُؤلَةٌ ِي بَْي ِت َز ْو ِجهَا ف َرا ِعيَةٌ ةُ َ َم ْرأ ْ َوال ْن قَ ْد قَا َل: َ ِل َسيِّ ِدِه َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّتِ ِه. قَا َل: َو َح ِسْب ُت أ ِي َما ٍع ف َرا ُّ ُكْم َراعٍ " َوال َّر ُج َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَّتِ ِه، َو ُكل ْي ِه َوهُ ِ ب َ ِل أ ِي َما ٍع ف ُل َرا َو َم ْس ُؤ ٌل َع ْن َر ِعيَتِ ِه". }أخرجه البخاري{. Artinya: Dari Bisyr bin Muhammad al-Marwazy berkata: “Abdullah telah menceritakan kepada kami, ia berkata:…… dari Abdullah bin ‘Umar ra. sesungguhnya Rasulullah SAW berkata: setiap kamu adalah pemimpin maka akan dimintai pertanggung-jawaban tentang kepemimpinannya, seorang imam (penguasa yang memimpin manusia) adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas
126 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional kepemimpnannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang isteri adalah pemimpin rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang pelayan adalah pemimpin atas harta majikannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Dikatakan, bahwa saya kira: “Seorang anak laki-laki adalah pemimpin (bertanggungjawab) terhadap harta ayahnya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, begitu juga kamu semua adalah pemimpin, maka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. (HR. Bukhari).186 Syed Naquib al-Attas, dalam bukunya: The Consept of Educational in Islam: a Frame Work for an Islamic Philosophy of Education, bahwa “pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebagahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat”. Berdasarkan pendapat tersebut, Ramayuls menyimpulkan bahwa: Manajamen pendidikan Islam dapat didefinisikan sebagai proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (umat Islam, lembaga pendidikan, atau lainnya) baik perangat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut melalui kerja sama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagian dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat.187 186 Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Darussalam, 1997, Kitab al-Jum’ah, Bab al-Jum’ah fi alQura wa al-Mudun, No. 11/893, hlm. 176-177. 187 H. Ramayulis. Ilmu...,Ibid., hlm. 260.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 127 Manajemen pendidikan Islam, disampaikan oleh Pade Pidarta dalam buku Manajemen Pendidikan di Indonesia, meliputi: (1) institusi (kelembagaan), (2) struktural, (3) personalia, (4) informasi, (5) teknik, dan (6) lingkungan. Penjelasannya sebagai berikut: Institusi pendidikan bersifat formal, nonformal, dan informal. Struktur pendidikan adalah: organisasi, analisis unit kerja, deskripsi tugas dengan spesifikasi tugasnya, hirarkhi dan wewenang, perubahan lingkungan, dan kemantapan struktur. Personalia yang dimaksud adalah para pengambil kebijakan, kepala sekolah, pendidik, pegawai, peserta didik, dan para alumni. Manajemen informasi pendidikan Islam merupakan sesuatu yang sangat penting untuk memberikan persebaran informasi. Teknik pendidikan yang menunjang proses pendidikan yang memberdayakan sekolah, masyarakat, sumber belajar, lembaga dan alumni. Lingkungan pendidikan pada dasarnya yang berhubungan dengan sekeliling proses pendidikan. 188 Kajian konsep dan teori pendidikan Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah serta dari hasil para pemikir dan praktisi pendidikan sangat komprehensif meliputi seluruh prinsip, komponen dan aspek pendidikan. Konsep itu sampai saat ini masih dijadikan rujukan oleh para penyelenggara pendidikan Islam di seluruh dunia, walaupun telah mengalami banyak modifikasi sesuai dengan masanya. Demikian juga teori-teori pendidikan yang dikembangkan oleh para pemikir dan praktisi pendidikan 188 Pade Pidarta. Manajemen Pendidikan di Indonesia, Jakarta, Bina Aksara, 1983, hlm. 23.
Evaluasi Pendidikan Islam 128 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional sejak jaman klasik hingga sekarang tetap masih relevan dalam pelaksanaan pendidikan Islam. K. Rangkaian akhir dari suatu proses pendidikan Islam yakni melaksanakan evaluasi pendidikan189. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses pendidikan berdasarkan standar kelulusan mata pelajaran pendidikan agama. “Evaluasi pendidikan Islam adalah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan dalam proses pendidikan Islam”.190 Dalam pengertian lain evaluasi pendidikan Islam adalah “suatu kegiatan untuk menentukan fatarf kemajuan suatu pekerjaan di dalam pendidikan Islam”.191 189 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1, Angka 21 menyebutkan “Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan trhadap berbagai komponen pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan”. Pasal 57 menyatakan, ayat (1) Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan; ayat (2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan. Pasal 58 menyetakan, ayat (1) Evaluasi belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk menentukan proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinabungan; ayat (2) Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikandilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan. Pasal 59, menyatakan, ayat (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; ayat (2) Masyarakat dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58. 190 Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I,Jakarta, Ciputat Press, 2002, hlm., 77. 191 Zuhairini. Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya, Usaha Nasional, 1981, hlm., 139.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 129 Tujuan evaluasi pendidikan Islam secara prinsip untuk mengetahui tingkat kemampuan dan pemahaman peserta didik dari aspek kognitif, psikomotorik maupun afektif.192 Namun demikian dalam pendidikan Islam, evaluasi lebih ditekankan pada aspek afektif dan psokomotorik dari pada aspek kognitif. Hal ini untuk mengetahui sikap dan perilaku peserta didik dalam empat aktivitas, yaitu: 1. Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhan-Nya. 2. Sikap dan pengalaman terhadap hubungan dirinya dengan masyarakat. 3. Sikap dan pengalaman terhadap hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya. 4. Sikap dan pengalaman terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah Swt.193 Dengan demikian, evaluasi pendidikan Islam secara fungsional untuk membantu anak didik agar dapat mengubah dan mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta member bantuan cara meraih keberhasilan. Fungsi evaluasi juga dapat membantu seorang pendidik dalam mempertimbangkan baik tidaknya metode dan media pengajaran serta membantu mempertimbangkan administrasinya. Dalam pendidikan Islam evaluasi pendidikan harus bersifat rasional filosofis dalam upaya membantu insan kamil agar bersikap, berperilaku dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam. 192 Ibid., hlm. 80. 193 Arifuddin Arif. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Kultura, 2008, hlm., 118.
130 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Evaluasi pendidikan merupakan sesuatu yang amat penting dalam proses belajar mengajar untuk mengetahui capaian prestasi siswa dan program pembelajarannya. Atas dasar itulah maka dalam proses pelaksanaannya harus memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi sebagai berikut: 1. Evaluasi hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif, yaitu pengukuran yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik; 2. Evaluasi harus dibedakan antara penskoran dengan angka dan evaluasi dengan kategori. Pensekoran berkenaan dengan aspek kuantitatif (dapat dihitung) dan evaluasi kedua berkenaan dengan aspek kualitatif; 3. Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan dua macam evaluasi, yakni evaluasi yang norm referenced dan yang oriention referenced. Yang pertama berkenaan dengan hasil belajar, sedangkan yang kedua berkenaan dengan penempatan; 4. Pemberian nilai hendaknya merupakan integred belajar mengajar; 5. Evaluasi hendaknya dibandingkan antara satu tahap evaluasi dengan tahap evaluasi lainnya; 6. System evaluasi yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri sehingga tidak membingungkan.194 Sistem evaluasi pendidikan Islam harus mengacu pada system evaluasi yang telah digariskan Allah Swt dalam alQur’an sebagaimana telah dilakukan oleh RasulNya dalam proses pembinaan Islamiyah. Secara umum system evaluasi 194 Abuddin Nata. Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta, Ditjen Bimbingan Islam, 1995, hlm., 12.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 131 pendidikan Islam sebagai implikasi paedagogik al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai berikut: 1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai problem kehidupan yang dihadapi. QS. 2, Al-Baqarah: 155. ِل َٰ َ و أ م أ َ ٱۡل ِنَ ِ ٖص م أ ق َ ن َ ِنو ِع و ل أ ٱۡل َ ِف و أ ِنو َ أ ٱِل ِنَ ِ ءٖ م ََشأ ِ م ب كل َّ ن َ ِنو ل ل أ ب َ َ نل َ و ِِبِ َٰ َّ ٱلص ِ ِ َّش ِ َ ب َ ت و ِِۗ َٰ َ ر َ م َّ ٱثل َ ِس و ل نف أ َ ٱۡل َ و ين ١٥٥َ Artinya: dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 2. Untuk mengetahui sejauhmana atau sampai di mana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan Rasulullah SAW kepada umatnya. Q.S. 27, Al-Naml: 40. ن َ أ َ ل أ ب َ ِهِۦ ق ب اتِيكَ َ ء ۠ ا َ ن َ ِب أ َٰ َ ِكت أ ٱل ِنَ ِ م ٞ م أ ۥ ِعل ل ه َ ِي ِعند َّ ٱَّل َ ال َ ق ِ ل أ ض َ ا ِمن ف َ َٰذ َ ه َ ال َ ۥ ق ل ه َ ا ِعند ًّ قِر َ ت أ س ل م ل اه َ ء َ ا ر َّ م َ ل َ ف ۚ كَ ل ف أ ر َ ط أكَ َ ِِل إ َّ د َ ت أ ر َ ي َ ِنل ل ر ل ك أ ش َ ا ي َ م َّ ِن إ َ ف َ ر َ ك َ ن ش َ م َ و ٗۖ ل ر ل ف كأ َ أ أ م َ أ ل ر ل ك أ ش َ أ َ ء ِيٓ َ ِنو ل ل أ ب ِِلَ ِ ِ َب َ ۖٗۦ ر ِسهِ أ ف ٞ يم ِ ر َ ك ِِنِٞ َ ِ غ ِ َب َ ر َّ ِن إ َ ف َ ر َ ف ن كَ َ م و ٤٠َ Artinya: berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-
132 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. 3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang, seperti evaluasi Allah SWT terhadap Nabi Ibrahim AS yang menyembelih putranya Ismail yang dicintainya. Q.S. 37, Al-Shaafft: 103-107. ِ ِني ب َ ج أ ۥ لِل ل ه َّ ل َ ت َ ا و َ م َ ل أ س َ أ ٓ ا َّ م َ ل َ ف ١٠٣ ل َٰهِيم َ ر أ ب ِ إ َٰٓ َ ن ي َ أ ل َٰه َ ن أ ي َ َٰد َ ن و ١٠٤َ أ د َ ق ِسِِنيَ أ ح ل م أ ِي ٱل ز أ َ َن لِكَ َٰ َ ذ َ ا ك َّ ِن إ ۚ ٓ ا َ ي أ ء ُّ ٱلر تَ أ ق َّ د ص ١٠٥َ َ ِنو ل ه َ ا ل َ َٰذ َ ه َّ ِن إ ِنيل ب ل م أ ٱل ْ ا ل َٰٓؤ َ ل َ أ ٱۡل ١٠٦ِ ظيٖم َ ٍح ع أ ِ ِذب ب ل َٰه َ ن أ ي َ د َ ف و ١٠٧َ Artinya: tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi ituSesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 4. Untuk mengukur daya kognisi hafalan dan pelajaran yang telah diberikan kepadanya, seperti evaluasi Allah SWT terhadap Nabi Adam AS untuk menyebutkan asmaasma yang diajarkan kepadanya dihadapan para malaikat. Q.S. 2, Al-Baqarah: 31.
Konsep dan Teori Pendidikan Islam 133 َ ال َ ق َ ةِ ف َ ِك ئ َٰٓ َ ل َ م أ ٱل أ لَع ََ م ل ه ضَ َ ر َ ع َّ م ل ا ث َ ه لَّ ُك َ ء ٓ ا َ م أ س أ َ ٱۡل َ م َ اد َ ء َ م َّ ل َ ع َ و ۢنِب َ أ ِدقِنيَ َٰ صَ أ م ل نت ل ِن ك ءِ إ َٓ َل ل ؤ َٰٓ َ ءِ ه ٓ ا َ م أ س َ ِأ ِنو ٣١ِ ي ب Artinya: dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (bendabenda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orangorang yang benar! 5. Memberikan semacan tabsyir (berita gembira) bagi yang beraktivitas baik dengan memberikn pahala dan bagi yang beraktivitas buruk diberikan siksa. Q.S. 99, AzZalzalah: 7-8. ۥ ل ه َ ر َ ا ي أ ي َ ٍة خ َّ ر َ ذ َ ال َ ق أ ِمث أ ل َ م أ ع َ ن ي َ م َ ف ٧ أ ل َ م أ ع َ ن ي َ م َ و ۥ ل ه َ ر َ ا ي ةٖ ش َ ِ َّ ر َ ذ َ ال َ ق ِمث ٨ أ Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya pula. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pendidikan Islam harus bersifat menyeluruh yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga aspek tersebut harus dimiliki oleh siswa secara seimbang agar siswa dapat bersikap, berperilaku dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam. Keseimbangan ilmu dan amal serta iman dan taqwa agar terbentuk insan kamil yang berakhlak mahmudah. Evaluais pendidikan Islam
134 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional secara teknis pragmatis dapat dilakukan melalui berbagai test formatif, sumatif, penempatan (placement test), dan diagnostik yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan.
Teori Kebijakan Publik dan Implementasi Kebijakan 135 BAB 3 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN A. Pengertian Kebijakan dan Publik Istilah kebijakan dan kebijaksanaan sebagai sebuah peraturan dalam pengertiannya seringkali dipertukarkan atau dipersamakan. Dalam kepustakaan di Indonesia, istilah tersebut dapat ditemukan kata beleidsregel yang diartikan sebagai peraturan kebijakan. Pseudowetgeving diartikan sebagai “peraturan perundang-undangan semu”.1 A. Hamid S. Attamimi, menggunakan istilah “Hukum Tata Pengaturan”. 2 Bagir Manan, menyebutkan “Ketentuan Kebijakan.3 Dari berbagai istilah di atas dapat dikatakan bahwa dalam praktek penggunaannya istilah “kebijakan” identik dengan istilah “kebijaksanaan”.4 Namun demikian secara akademis, kedua istilah tersebut dapat dibedakan dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintahan. Istilah “kebijakan” bermakna perilaku atau tindakan yang mencerminkan 1 A. Hamid S. Attamimi. Hukum Tentang Peratutan Perundangundangan dan Peraturan Kebijakan (Hukum Tata Pengaturan), Pidato Purna Bakti Guru Besar Tetap Fakultas Hukum UI, tidak diterbitkan), 20 september 1993, hlm. 11. 2 Ibid. 3 H. Abdul Latief. Hukum dan Peraturan Kebijakan pada Pemerintahan Daerah, UII Pres, Yogyakarta, 2005, Hlm. 2. 4 Ibid. dijelsakan bahwa dalam perpustakaan Belanda, terdapat berbagai nama untuk perturan kebijaksanaan (Van der Hoeven, 1965) menyebutnya pseudo-wetgeving, pseudo wettwlijk regels. Selain itu juga ada istilah voorschriften, richt-lijnen, regelingen, circulaires, beleidsnota’s, reglementen, bekenmakingen. Di Jerman terdapat istilah verwaltungsveordernungen dan verwaltungsvorscriften. Di Inggeris, muncul istilah administrative rules, atau polisy rules.
136 Pendidikan Islam Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional kebajikan bagi setiap pribadi pejabat. Sedangan istilah “kebijaksanaan” dalam pengertian hukum mempunyai makna sebagai tindakan yang mengarah pada tujuan sebagai pelaksanaan dari kekuasaan pejabat atau organ pemerintah. Bagir Manan mengemukakan bahwa: Dalam pengertian lain, istilah kebijaksanaan itu muncul sebagai akibat dari adanya kewenangan bebas dalam bidang penyelenggaraan pemerintahan. Kebijaksanaan (policy; beleid), merupakan kata atau istilah yang penggunaannya dipertukarkan dengan istilah lain seperti tujuan (goals), program, keputusan (decision), undang-undang, ketentuan-ketentuan, usulan-usulan dan rancangan-rancangan besar. Bahkan seringkali dipersamakan antara policy (kebijaksanaan) dan politics (politik).5 Istilah “publik” dalam rangkaian kata publik policy mengandung tiga konotasi: pemerintah, masyarakat, dan umum. Hal ini dapat dilihat dalam dimensi subyek, bahwa kebijakan publik adalah kebijakan dari pemerintah. Salah satu ciri kebijakan adalah “what government do or not do”. “Hanya kebijakan dari pemerintahlah yang dianggap kebijakan resmi, karena mempunyai kewenangan yang dapat memaksa masyarakat untuk mematuhinya”.6 Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa pengertian publik dalam dimensi lingkungan kebijakan adalah masyarakat. Keputusan seorang pejabat pemerintah yang mewajibkan stafnya aple pagi pada setiap hari kerja tidak termasuk kebijakan publik melainkan sebagai instruksi 5 Bagir Manan. Pengujian Yustisial Peraturan Perundang-undangan dalam Perbuatan Administrasi Negara Indonesia (makalah tidk diterbitkan), 1994. 6 H. Abdul Latief. Hukum…, hlm.22
Teori Kebijakan Publik dan Implementasi Kebijakan 137 atasan kepada bawahan. Keputusan pejabat pemerintah dapat dianggap kebijakan publik, jika keputusan atau kebijakan itu berlaku bagi semua orang dalam hubungannya dengan bidang tugas pejabat pemerintah yang bersangkutan, misalnya peraturan daerah yang mewajibkan belajar bagi setiap penduduk usia sekolah atau kebijakan wajib belajar MDA. Pengertian umum dari istilah publik dalam kebijakan terdapat strata kebijakan. Suatu kebijakan publik biasanya tidak bersifat spesifik dan sempit, tetapi luas dan berada pada strata strategis. Karena itu, kebijakan publik berfungsi sebagai pedoman umum untuk kebijakan dan keputusankeputusan khusus di bawahnya. Presiden membuat kebijakan yang bersifat umum, Menteri membuat kebijakan pelaksanaan, dan para pejabat eselon I dan II membuat kebijakan teknis dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) atau Petunjuk Teknis (Juknis). Kebijakan umum berada pada jenjang pimpinan umum, kebijakan pelaksanaan ada pada jenjang ke dua, dan kebijakan teknis ada pada jenjang ketiga. Pada masa desentralisasi daerah saat ini, pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dapat bertindak sebagai pembuat kebijakan publik di wilayahnya. Dalam teori kebijakan publik maka gubernur maupun bupati/walikota berada dalam strata satu mempunyai kewenangan membuat kebijakan publik. Strata kedua dan ketiga di bawahnya dapat membuat kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis. Di bidang pendidikan, pembuat kebijakan pelaksanaan adalah Dinas Pendidikan dalam implementasinya dapat dilakukan oleh bawahannya yang dapat membuat kebijakan teknis dan seterusnya.