The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by homi.suck, 2021-12-04 22:49:33

Nia Dhesti

Nia Dhesti

LAPORAN
AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS MELALUI

OPTIMALISASI PEMBINAAN FISIK
PADA WARGA BINAAN SOSIAL MELALUI
OLAH GERAK BADAN DI MASA PANDEMI
(OBAMA) DI PANTI SOSIAL BINA LARAS

HARAPAN SENTOSA 2 CIPAYUNG

Disusun Oleh:
Nia Dhesti Arindita
NIP. 199302172020122016

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL ANGKATAN 91
TAHUN 2021









ABSTRAK

Nia Dhesti Arindita S.K.M, NIP 199302172020122016, Angkatan 91 Tahun 2021, Dinas
Sosial Provinsi DKI Jakarta.
Laporan Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar PNS melalui Optimalisasi Pembinaan Fisik
Pada WBS Melalui Olah Gerak Badan di Masa Pandemi (Obama) di Panti Sosial Bina
Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung.

Mentor : Khomsiatun, S.Sos., M.Si.
Coach : Haris Iriyanto, S.Sos., M.Pd.
Penguji : Dr. Sopan Adrianto, S.E., M.Pd.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) menerangkan
bahwa dalam rangka mewujudkan pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan
negara, perlu diselenggarakan diklat prajabatan CPNS yang mampu untuk
mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ANEKA yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika
Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi. Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung
memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial pada Warga Binaan Sosial yang menderita
gangguan jiwa dengan tujuan mendorong pemulihan kesadaran Warga Binaan Sosial
(WBS) untuk hidup layak, mandiri, dan normatif. Namun dalam implementasinya,
pembinaan fisik yang ada saat ini, belum mendukung stimulasi perkembangan kesehatan
fisik dan mental pada WBS dikarenakan adanya pembatasan jenis kegiatan,
ketidaktersediaan instruktur akibat kurangnya anggaran pembinaan selama pandemi. Ide
inovasi program senam kesehatan bertujuan untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan yang prima pada WBS guna mencapai kualitas hidup optimal, meningkatkan
daya tahan tubuh serta mencegah timbulnya komplikasi penyakit. Survey pendamping
mengatakan 90% kegiatan pembinaan fisik (senam jantung sehat, senam otak) diperlukan
untuk meningkatkan ketahanan fisik WBS yang sebagian besar merupakan usia pra lansia
(45-60 tahun). Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, maka disusunlah judul
aktualisasi Optimalisasi Pembinaan Fisik pada WBS melalui Olah Gerak Badan Masa
Pandemi (Obama). Capaian kegiatan yang diikuti sebanyak 10 orang WBS selama sebulan
menunjukkan bahwa sebesar 50% memiliki hasil evaluasi baik, 40% cukup baik, dan
kurang 10% selama mengikuti program. Berdasarkan hasil survei kepuasan terhadap para
pendamping menyatakan 87,5% pendamping menilai keefektivitasan program pembinaan
fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan dan ketahanan fisik WBS yang menderita
penyakit kronis hipertensi dan diabetes selama masa pandemi Covid-19 sudah
memuaskan.

Kata Kunci: pembinaan fisik, WBS, kesehatan, pandemi

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat-
Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Aktualisasi pada
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III Angkatan
91 yang berjudul “Optimalisasi Pembinaan Fisik Pada Warga Binaan Sosial
Melalui Olah Gerak Badan di Masa Pandemi (Obama)” yang dilaksanakan
di tempat penulis bertugas di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2
Cipayung.

Penulis menyadari bahwa selesainya laporan rancangan aktualisasi
ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Premi Lasari, AP., M.Si., selaku Kepala Dinas Sosial Provinsi DKI

Jakarta.
2. Bapak Mochamad Miftahulloh Tamary, S.STP., M.T., M.Sc., selaku

Kepala BPSDM Provinsi DKI Jakarta.
3. Ibu Indang Muminingsih, S.Pd., M.M., selaku Kepala Bidang

Pengembangan Kompetensi Dasar, Manajerial, dan Fungsional
BPSDM Provinsi DKI Jakarta yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk membuat laporan rancangan aktualisasi nilai-
nilai dasar PNS, kedudukan dan peran PNS.
4. Ibu Fitrianda, S.Psi., M.Si., selaku Kepala Sub Bidang Pengembangan
Kompetensi Dasar dan Kader BPSDM Provinsi DKI Jakarta.
5. Ibu Tuti Sulistyaningsih, M. Si., selaku Kepala Panti Sosial Bina Laras
Harapan Sentosa 2 yang telah memberikan kesempatan dan motivasi
kepada kami agar terus dapat berkarya.
6. Ibu Khomsiatun, S.Sos., M.Si., selaku mentor dan Kasubag Tata
Usaha PSBL Harapan Sentosa 2 yang membimbing dan memberikan
masukan kepada rancangan aktualisasi ini.
7. Bapak Dr. Sopan Adrianto, S.E., M.Pd., selaku penguji yang telah
sabar membimbing, membantu, memberikan arahan dan saran
selama kegiatan aktualisasi Latsar CPNS.

vi

8. Bapak Haris Iriyanto, A.Md., S.Sos., M.Pd., selaku coach yang telah
banyak membantu, membimbing dan memberikan perbaikan dalam
penyusunan rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN, Kedudukan
dan Peran ASN.

9. Ibu Titin Sumarni, S. AP, selaku Kepala Satuan Pelaksana Pelayanan
Sosial PSBL Harapan Sentosa 2 Cipayung.

10. Bapak Hanny Desto, S.E., selaku Kepala Satuan Pelaksana
Pembinaan Sosial PSBL Harapan Sentosa 2 Cipayung.

11. Seluruh pegawai di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2
Cipayung.

12. Rekan-rekan peserta Latihan Dasar CPNS Golongan III di lingkungan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2021.
Penulis menyadari penyusunan kegiatan aktualisasi ini masih belum

sempurna karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki
penulis. Saran dan kritik membangun dari segala pihak sangat diharapkan
demi kegiatan aktualisasi yang lebih baik lagi. Penulis berharap kegiatan
aktualisasi ini dapat memberikan manfaat, menjadi solusi masalah, dan
menambah pengetahuan dalam berbagai pihak terutama di Panti Sosial
Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung.

Jakarta, 18 Oktober 2021
Penulis

Nia Dhesti Arindita

vii

DAFTAR ISI

COVER.......................................................................................... ……….i
LEMBAR PERSETUJUAN SEMINAR………. ........................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN…..…………………………………….iii
SURAT PERNYATAAN ORIGINAL…..………………………………………iv
ABSTRAK…..……………………………………………………………………v
KATA PENGANTAR….………………………………………………………..vi
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….viii
DAFTAR TABEL…..…………………………………………………………….x
DAFTAR GAMBAR…..…………………………………………………………xi
DAFTAR LAMPIRAN…..………………………………………………………xv
BAB I : PENDAHULUAN… ..................................................................1

A. Latar Belakang……. .............................................................1

B. Tujuan Aktualisasi ................................................................6
C. Manfaat Aktualisasi ..............................................................6

BAB II : PROFIL INSTANSI TEMPAT AKTUALISASI ..........................8
A. Visi dan Misi………………………………………………………8

B. Nilai-nilai Organisasi.............................................................9
C. Tugas Organisasi….……………………………………………10
D. Uraian/ Rincian Tugas Jabatan Peserta………............... …11
BAB III : ANALISIS ISU DALAM PELAKSANAAN TUGAS DAN
FUNGSI………. ............................................................................... …...13
A. Identifikasi dan Analisis Isu Aktual................................. ….13
B. Penyebab Isu dan Keterkaitannya dengan Kedudukan dan

Peran PNS .........................................................................23

C. Alternatif Pemecahan Isu sebagai Gagasan Kreatif ...........28
BAB IV : RENCANA AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS ..........31

A. Rancangan Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar PNS ....................31

B. Rekapitulasi Rencana Penerapan Nilai-nilai Dasar PNS ..106
C. Penjadwalan.....................................................................107
D. Aktor yang terlibat dan Perannya dalam Aktualisasi ..... …110
BAB V : PELAKSANAAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR

viii

PNS……………………………………………………………………..….….112
A. Deskripsi Proses Aktualisasi Nilai-nilai dasar PNS……….112
B. Capaian Pelaksanaan Aktualisasi Nilai-nilai Dasar PNS…189
C. Kualitas dan Kemanfaatan Aktualisasi...…………………...211

BAB VI : RENCANA TINDAK LANJUT…………………………………216
A. Penetapan Isu Lanjutan/ Alternatif………………………….216
B. Gagasan Kreatif Pemecahan Isu Lanjutan…..…………….216
C. Rencana Aktualisasi Nilai-nilai Dasar PNS Lanjutan..……217

BAB VII : PENUTUP………………………………………………………..223
A. Kesimpulan...………………………………………………….223
B. Saran..………………………………………………………….224

DAFTAR PUSTAKA..………………………………………………………..226
LAMPIRAN : .……….………………………………………………………..228
1. Data Pendukung..………………………………………………………...228
2. Dokumentasi Kegiatan….………………………………………….........233

ix

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Data Kondisi WBS Berdasarkan Usia ..........................................2
Tabel 2. Identifikasi Isu Permasalahan ....................................................19
Tabel 3. Penilaian Kualitas Isu.................................................................20
Tabel 4. Analisis Penyebab Masalah Menggunakan Alat Analisa USG ...24
Tabel 5. Alternatif Solusi dengan Mc Namara ..........................................28
Tabel 6. Kegiatan dan Tahapan Kegiatan Rancangan Aktualisasi ...........38
Tabel 7. Rekapitulasi Rencana Penerapan Nilai-nilai Dasar PNS ..........105
Tabel 8. Jadwal Kegiatan Aktualisasi.....................................................107
Tabel 9. Pihak-pihak yang terlibat dan Peran dalam Kegiatan Aktualisasi
..............................................................................................................109
Tabel 10. Penilaian Program Obama “Senam Jantung Sehat”...............174
Tabel 11. Kriteria Penilaian Program Obama “Senam Jantung Sehat” ..175
Tabel 12. Kriteria Penilaian Program Obama “Senam Otak”..................176
Tabel 13. Kriteria Penilaian Program Obama “Senam Otak”..................176
Tabel 14. Perbandingan Rekapitulasi Nilai-nilai Dasar PNS ..................189
Tabel 15. Rencana Tindak Lanjut Penerapan Nilai-Nilai Dasar PNS .....212

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Data riwayat penyakit yang diderita WBS.................................2
Gambar 2. Bagan Struktur Organisasi Panti Sosial Bina Laras Harapan
Sentosa 2 Cipayung ................................................................................11
Gambar 3. Kegiatan bimbingan fisik yang kurang efektif .........................13
Gambar 4 Durasi waktu istirahat WBS yang panjang...............................13
Gambar 5. Persentase Data WBS Berdasarkan Daerah Asal ..................15
Gambar 6. Grafik Data Penyaluran WBS ke keluarga/Daerah Asal
(Reunifikasi) Tahun 2017 sd Tahun 2020 ................................................16
Gambar 7. Grafik Data Rujukan WBS ke Lembaga Pelayanan Lain ........16
Gambar 8. Ruang isolasi WBS gangguan penyakit kulit ..........................18
Gambar 9. Kegiatan penyalepan pada WBS berpenyakit kulit .................18
Gambar 10. Diskusi penentuan isu bersama rekan sejawat.....................19
Gambar 11. Diagram fishbone belum optimalnya kegiatan pembinaan fisik
................................................................................................................24
Gambar 12. Rekapitulasi literatur, referensi, dan sumber informasi
mengenai pembinaan fisik yang dapat diterapkan .................................114
Gambar 13. Diskusi dengan psikolog klinis mengenai program terapi fisik
bagi WBS ..............................................................................................117
Gambar 14. Rekapitulasi rancangan kegiatan yang dapat diadopsi pada
program pembinaan fisik........................................................................118
Gambar 15. Konsultasi dengan mentor mengenai Kerangka Acuan
Kegiatan program pembinaan fisik WBS................................................121
Gambar 16. Revisi Kerangka Acuan Kegiatan pembinaan fisik .............123
Gambar 17. Konsultasi dengan Kasatpel Pembinaan Sosial mengenai
persetujuan jadwal pembinaan fisik .......................................................126
Gambar 18. Jadwal pelaksanaan program Obama yang sudah disetujui
..............................................................................................................127
Gambar 19. Konsultasi dengan mentor untuk melakukan sosialisasi
program Obama pada pendamping .......................................................130
Gambar 20. Screenshoot undangan sosialisasi disampaikan oleh Kasatpel

xi

Pembinaan Sosial kepada pendamping melalui grup whatsapp ............132
Gambar 21. Materi paparan video sosialisasi program pembinaan fisik.134
Gambar 22. Daftar hadir sosialisasi program pembinaan fisik ...............135
Gambar 23. Sosialisasi program Obama kepada pendamping ..............138
Gambar 24. Menyampaikan peran dan tugas pendamping saat sosialisasi
program pembinaan fisik........................................................................140
Gambar 25. Notulensi kegiatan sosialisasi program Obama kepada
pendamping ...........................................................................................142
Gambar 26. Melakukan konsultasi mengenai pelaksanaan program
pembinaan fisik......................................................................................144
Gambar 27. Identifikasi dan Klasifikasi Warga Binaan Sosial Sesuai
Kriteria Program Obama ........................................................................146
Gambar 28. Identifikasi dan Klasifikasi Warga Binaan Sosial Klaster I dan
II Terpilih Sesuai Kriteria Program .........................................................147
Gambar 29. Identifikasi dan Klasifikasi Warga Binaan Sosial Klaster III
Terpilih Sesuai Kriteria Program Obama................................................148
Gambar 30. Melakukan identifikasi dan klasifikasi kriteria WBS yang
menjadi sasaran program dengan tim perawat ......................................149
Gambar 31. Melaksanakan program Obama pada WBS yang terpilih
secara kelompok ...................................................................................151
Gambar 32. Melaksanakan program Obama senam jantung sehat dan
senam otak pada WBS ..........................................................................152
Gambar 33. Daftar hadir program Obama pada WBS yang terpilih secara
kelompok ...............................................................................................152
Gambar 34. Daftar tim pendamping WBS..............................................152
Gambar 35. Meminta feedback dari pendamping WBS .........................154
Gambar 36. Meminta feedback dari pendamping WBS, rekan penyuluh
sosial, dan pekerja sosial.......................................................................155
Gambar 37. Hasil notulensi kegiatan feedback dari pendamping WBS..155
Gambar 38. Konsultasi dengan mentor dan Kasatpel Pembinaan Sosial
mengenai laporan aktualisasi minggu ketiga pelatihan program Obama

xii

pada pendamping ..................................................................................158
Gambar 39. Hasil notulensi konsultasi mengenai pelatihan program
pembinaan fisik......................................................................................158
Gambar 40. Jadwal instruktur senam pelatihan program Obama...........161
Gambar 41. Melaksanakan kegiatan pelatihan kepada para pendamping
WBS ......................................................................................................164
Gambar 42. Rekap hasil analisis survei kepuasan kepada pendamping
setelah mengikuti pelatihan program pembinaan fisik ............................166
Gambar 43. Lanjutan analisis hasil survei kepuasan kepada pendamping
setelah mengikuti pelatihan program pembinaan fisik ............................166
Gambar 44. Meminta testimoni kepada pendamping WBS ....................168
Gambar 45. Analisis hasil analisa survei kepuasan kegiatan kepada
pendamping ...........................................................................................164
Gambar 46. Lanjutan analisis hasil rekap survei kepuasan kegiatan
kepada pendamping ..............................................................................171
Gambar 47. Laporan penilaian perkembangan WBS dalam program
Obama “Senam Jantung Sehat” ............................................................173
Gambar 48. Laporan penilaian perkembangan WBS dalam program
Obama “Senam Otak”............................................................................173
Gambar 49. Diagram persentase hasil penilaian WBS dalam program
Obama “Senam Jantung Sehat” ............................................................175
Gambar 50. Penilaian perkembangan WBS dalam program Obama
“Senam Jantung Sehat” .........................................................................173
Gambar 51.Diagram persentase hasil penilaian WBS dalam program
Obama “Senam Otak”............................................................................177
Gambar 52. Penilaian perkembangan WBS dalam program Obama
“Senam Otak” ........................................................................................178
Gambar 53. Laporan evaluasi program pembinaan fisik Obama ...........181
Gambar 54. Rekapitulasi testimoni pendamping WBS...........................183
Gambar 55. Rekapitulasi testimoni WBS ...............................................183
Gambar 56. Melaporkan hasil evaluasi kegiatan program pembinaan fisik

xiii

WBS kepada mentor..............................................................................185
Gambar 57. Jumlah WBS yang mengikuti bimbingan fisik sebelum
program Obama ....................................................................................187
Gambar 58. Jumlah WBS yang mengikuti bimbingan fisik setelah program
Obama...................................................................................................188
Gambar 59. Perbandingan jumlah WBS yang mengikuti bimbingan fisik
sebelum dan setelah program Obama ...................................................188

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Pendukung Hasil Survei Awal Kepada Pendamping
WBS Mengenai Pelaksanaan Kegiatan Silabi Pembinaan Fisik
Selama Pandemi.................................................................223

Lampiran 2. Bukti Dokumentasi Kegiatan 1 ...........................................228
Lampiran 3. Bukti Dokumentasi Kegiatan 2 ...........................................228
Lampiran 4. Bukti Kegiatan 2. Sosialisasi Program Obama ke

Pendamping ........................................................................229
Lampiran 5. Bukti Kegiatan 3. Pelaksanaan Program Obama Pada WBS

............................................................................................232
Lampiran 6. Bukti Kegiatan 3. Pelaksanaan program pembinaan fisik

Obama ................................................................................233
Lampiran 7. Bukti Tahapan Kegiatan 3.4 Meminta feedback dari

pendamping WBS, Kasubbag TU, dan Kasatpel Pembinaan
Sosial ..................................................................................234
Lampiran 8. Bukti Kegiatan 3.3 Pelaksanaan Program Obama Daftar Tim
Pendamping WBS...............................................................236
Lampiran 9. Bukti Tahapan Kegiatan 4. Pelatihan Program Obama ......238
Lampiran 10. Bukti Tahapan Kegiatan 4.4 Mengadakan survei kepuasan
kepada pendamping setelah mengikuti pelatihan ................239
Lampiran 11. Bukti Tahapan 5.3 Laporan perkembangan WBS (Terlampir)
dan Bukti Tahapan Kegiatan 5.4 Menganalisis hasil kegiatan
dan evaluasi dengan metode kualitatif pada WBS dan
pendamping WBS ...............................................................242
Lampiran 12. Bukti Tahapan 5.3 Laporan perkembangan WBS (Terlampir)
............................................................................................244
Lampiran 13. Bukti Tahapan Kegiatan 6.2 Merekapitulasi testimoni dan
evaluasi dari WBS dan pendamping WBS ..........................245
Lampiran 14. Bukti Tahapan Kegiatan 6.2 Merekapitulasi testimoni dan
evaluasi dari WBS dan pendamping WBS .............................................250
Lampiran 15. Bukti Belajar Bimbingan Aktualisasi Mentor………………252

xv

Lampiran 16. Bukti Belajar Bimbingan Aktualisasi Coach……………….253
Lampiran 17. Jadwal Pelaksanaan Program Obama…………………….254
Lampiran 18. Kerangka Acuan Kegiatan Program Obama……………...255
Lampiran 19. Bahan Tayang Sosialisasi Program Obama………………256
Lampiran 20. Daftar Hadir Sosialisasi Program Obama…………………257
Lampiran 21. Notulensi Sosialisasi Program Obama…………………….258
Lampiran 22. Bahan Tayang Seminar Rancangan Aktualisasi Program
Obama…………………………………………………………………………259
Lampiran 23. Bahan Tayang Seminar Aktualisasi Program Obama……260

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil

Negara (ASN) menerangkan bahwa dalam rangka mewujudkan
pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara, perlu
dibangun Aparatur Sipil Negara yang memiliki integritas, profesional,
netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi,
kolusi dan nepotisme, mampu menyelenggarakan pelayanan publik
bagi masyarakat, serta mampu menjalankan peran sebagai unsur
perekat pemersatu bangsa dan kesatuan Negara Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.

Berdasarkan pertimbangan tersebut disusunlah sistem
pembelajaran pada pendidikan dan pelatihan (Diklat) Prajabatan yang
dilakukan secara terintegrasi untuk membangun integritas moral,
kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan,
karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, dan
memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. Pedoman
penyelenggaraan Diklat dituangkan dalam Peraturan Kepala
Lembaga Administrasi Indonesia No. 1 Tahun 2021 dimana
kompetensi yang dibangun dalam diklat prajabatan CPNS diukur
berdasarkan kemampuan menunjukkan sikap perilaku bela negara;
mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas
jabatannya; mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan menunjukkan
penguasaan Kompetensi Teknis yang dibutuhkan sesuai dengan
bidang tugas. Sementara terintegrasi berarti penyelenggaraan
Pelatihan Dasar CPNS memadukan antara pelatihan klasikal dengan
nonklasikal; dan Kompetensi Sosial Kultural dengan Bidang.

0

Sesuai Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 20
Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Sosial
mempunyai fungsi menyelenggarakan pemerintahan bidang sosial
salah satunya menyelenggarakan fungsi pelayanan dan rehabilitasi
sosial kepada penyandang psikotik terlantar. Menurut hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2019 menunjukkan bahwa
sekitar 1 juta penduduk mengalami gangguan jiwa berat. Jumlah
tersebut sekitar 0,46 persen dari total populasi Indonesia atau setara
dengan 1.093.150 penduduk Indonesia berisiko mengalami gangguan
jiwa berat. Dari jumlah tersebut 11,6% menderita gangguan mental
emosional diatas 15 tahun atau sekitar 19 juta penduduk. Dari jumlah
tersebut prevalensi terbanyak ada di DKI Jakarta dengan jumlah 2,03
%. Dari sekitar satu juta penduduk tersebut, hanya 38.260 orang yang
terlayani dengan perawatan memadai di Rumah Sakit Jiwa, Rumah
Sakit Umum, maupun Pusat Kesehatan Masyarakat.3

Orang dengan gangguan jiwa membutuhkan pelayanan yang
tepat untuk membantu menangani penderitaan mereka. Jumlah yang
tidak seimbang antara layanan kesehatan jiwa membuat banyak
penderita gangguan jiwa terlantar. Melihat hal tersebut Dinas Sosial
mendirikan panti sosial dalam rangka membantu layanan bagi orang
dengan gangguan jiwa yang terlantar di Provinsi DKI Jakarta yang
semakin meningkat setiap tahunnya.1 Peningkatan jumlah penderita
gangguan jiwa tersebut disebabkan karena kondisi ekonomi yang
menimbulkan stress dan depresi, urbanisasi dan ketidaksiapan
keluarga dan masyarakat untuk mendukung upaya penanganan
gangguan jiwa.4 Dengan mendirikan panti sosial juga sebagai bentuk
tanggung jawab pemerintah dalam penanganan kesehatan jiwa bagi
masyarakat sesuai misi kedua Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk
menjadikan Jakarta kota yang memajukan kesejahteraan umum
melalui terciptanya lapangan kerja, kestabilan dan keterjangkauan
kebutuhan pokok, meningkatnya keadilan sosial, percepatan

1

pembangunan infrastruktur, kemudahan investasi dan berbisnis, serta
perbaikan pengelolaan tata ruang.

Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung adalah
Unit Pelayanan Teknis Dinas Sosial dalam memberikan perawatan
pada orang gangguan jiwa terlantar di provinsi DKI Jakarta untuk
dapat memiliki kehidupan yang layak dan normatif.1 Orang dengan
gangguan jiwa yang dirawat di panti sosial ini berasal dari rujukan
rumah sakit, Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, dan keterangan yang
berasal dari laporan masyarakat.1,4 Tujuan pelayanan Panti Sosial
Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung adalah untuk pemulihan
kesadaran WBS agar mampu mengurus diri sendiri, terwujudnya
kemampuan WBS untuk hidup layak dan normatif sehingga
mengurangi beban keluarga, serta terwujudnya dukungan masyarakat
terhadap program panti sekaligus menunjang pemulihan WBS.
Berdasarkan data per bulan September Tahun 2021, terdapat 420
Warga Binaan Sosial PSBL HS 2 Cipayung yang keseluruhannya
adalah perempuan dengan rentang usia sangat variatif mulai 16 tahun
sampai dengan >60 tahun. Dari sekian banyak orang dengan
gangguan kejiwaan di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2
Cipayung, 97% Warga Binaan Sosial merupakan penderita
skizofrenia.1 Skizofrenia merupakan suatu gangguan kejiwaan
kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses
berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir
dan berbicara atau perilaku yang tidak biasa (dikenal sebagai gejala
psikotik).

Berdasarkan data profil panti, per bulan September Tahun 2021
menunjukkan sebanyak 19 orang merupakan warga binaan yang
termasuk usia lansia, dan 260 orang warga binaan termasuk usia pra
lansia. Sebagian besar Warga Binaan Sosial yaitu sekitar 64% adalah
kategori usia pra lansia yaitu usia antara 45 sampai dengan 60 tahun.
Salah satu bentuk pelayanan publik yang diselenggarakan di Panti

2

Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung adalah pelayanan
kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan salah satu hak
mendasar yang dimiliki oleh masyarakat khususnya Warga Binaan
Sosial yang direhabilitasi di panti. Berdasarkan data Profil panti per
bulan September 2021 mengenai riwayat kesehatan WBS, sebanyak
24 orang menderita penyakit yang terdiri dari penyakit menular
misalnya kusta sebanyak 1 orang, TBC sebanyak 2 orang, hepatitis
sebanyak 1 orang, epilepsi sebanyak 6 orang, dan B20 sebanyak 4
orang. Sedangkan untuk penyakit tidak menular seperti Diabetes
Melitus sebanyak 6 orang dan hipertensi sebanyak 3 orang.

Salah satu upaya yang dilakukan panti untuk peningkatan
kemampuan WBS adalah melalui kegiatan pembinaan meliputi
pembinaan fisik, bimbingan mental, spiritual, sosial dan keterampilan.
Namun dalam implementasinya, pelaksanaannya terkendala adanya
pandemi covid-19. Selama masa pandemi covid-19, WBS tetap
mendapatkan pembinaan silabi namun beberapa silabi ditiadakan
sementara waktu dan karena ketidaktersediaan instruktur untuk
pembinaan akibat refocusing anggaran sehingga kegiatan yang
berjalan dirasa kurang optimal. Sebagian besar waktu WBS pada
kegiatan silabi ini banyak diisi waktu dengan istirahat sehingga
belum mendukung stimulasi perkembangan fisik maupun
kesehatan WBS. Ketika mengikuti kegiatan silabi tingkat partisipasi
WBS rendah karena banyak WBS yang mengantuk, kurang
bersemangat, melamun, tidak fokus, halusinasi dan berbicara
sendiri.

Setelah WBS mendapatkan pelayanan rehabilitasi berupa
pelayanan perawatan dan pembinaan, perkembangan WBS akan
dievaluasi dalam laporan perkembangan WBS dan dilakukan
penapisan menggunakan Instrumen Skrining Psikotik, sebagai dasar
pertimbangan untuk dilakukan resosialisasi, penyaluran kembali
kepada keluarga atau di rujuk ke lembaga pelayanan (panti) lain.

3

Kriteria WBS dapat disalurkan ke panti rujukan adalah WBS sudah
bisa melakukan Activity Daily Living dan sudah baik dalam
perkembangan salah satunya dari sisi fisik. Oleh karena itu,
permasalahan tersebut apabila tidak ditindaklanjuti dapat
memperlambat upaya panti dalam melakukan penyaluran dan
reunifikasi.

Hal ini sejalan dengan misi Panti Sosial Bina Laras Harapan
Sentosa 2 Cipayung yaitu menyelenggarakan pelayanan fisik sebagai
bimbingan pertama karena untuk mengembalikan fungsi sosial WBS
diperlukan fisik yang sehat. Hal ini juga sejalan dengan fungsi
manajemen ASN dan pelayanan publik berkaitan tugas ASN untuk
dapat memberikan pelayanan prima secara profesional dan
berkualitas sehingga WBS dapat hidup normatif. Keterkaitan isu
dengan Whole of Government, dimana diperlukan adanya kerjasama
koordinasi dan kolaborasi antar bagian untuk terlibat selama
pelaksanaan silabi pembinaan sosial. Berdasarkan peran saya
sebagai seorang penyuluh sosial, maka saya tertarik untuk
memecahkan isu dengan membuat gagasan rancangan aktualisasi
yang berjudul “AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS MELALUI
OPTIMALISASI PEMBINAAN FISIK PADA WBS MELALUI OLAH
GERAK BADAN DI MASA PANDEMI DI PANTI SOSIAL BINA LARAS
HARAPAN SENTOSA 2 CIPAYUNG.”
B. Tujuan Aktualisasi

Tujuan umum penyusunan kegiatan aktualisasi ini yaitu
menjadi PNS yang profesional dan berkarakter dengan penerapan
nilai-nilai ANEKA yaitu nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu dan Anti Korupsi, kedudukan serta peran ASN dalam
NKRI dalam melaksanakan setiap tahapan kegiatan penyelesaian isu
sehingga menjadi habituasi yang baik sehingga dapat menciptakan
karakter ASN yang unggul dan mampu menjalankan tugas sesuai
kompetensi bidangnya.

4

Sedangkan tujuan khusus penyusunan kegiatan aktualisasi ini
adalah:
1. Mengimplementasikan nilai-nilai dasar profesi ASN yang

mencakup Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen
Mutu dan Anti Korupsi dalam setiap kegiatan yang dilakukan di
bidang pelayanan rehabilitasi sosial Panti Sosial Bina Laras
Harapan Sentosa 2 Cipayung.
2. Sebagai bentuk kepedulian peserta terhadap misi panti dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terjadi di
lingkungan kerja, baik pada level organisasi, unit kerja, maupun
pelaksanaan tugas jabatan.
3. Sebagai bentuk kontribusi dan inovasi dengan melakukan
optimalisasi pembinaan fisik yang memberikan manfaat bagi
ketahanan tubuh WBS selama masa pandemi sesuai dengan
kondisi lingkungan kerja.
C. Manfaat Aktualisasi
Manfaat yang diharapkan akan diperoleh dengan adanya
penyusunan aktualisasi Nilai-nilai Dasar Profesi PNS adalah:
1. Bagi Peserta
a. Kegiatan aktualisasi ini bermanfaat meningkatkan

pemahaman dan pengaktualisasian nilai-nilai dasar, peran
dan kedudukan PNS.
b. Meningkatkan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas
pelayanan dan rehabilitasi sosial khususnya bidang
pembinaan sosial di PSBL Harapan Sentosa 2 Cipayung.
2. Bagi Organisasi
a. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan Warga Binaan
Sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2
Cipayung.
b. Meningkatkan partisipasi dan minat WBS dalam mengikuti
kegiatan pembinaan fisik selama masa pandemi.

5

c. Mendukung Warga Binaan Sosial agar mampu hidup mandiri
dan normatif sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.

3. Bagi Masyarakat
Meningkatkan upaya rehabilitasi sosial penyandang psikotik

terlantar sehingga mempercepat pelaksanaan resosialisasi,
penyaluran kembali kepada keluarga dan rujukan ke lembaga
pelayanan lain sehingga meningkatkan kualitas hidup Warga
Binaan Sosial.
4. Bagi Rekan Sejawat
a. Menambah informasi mengenai variasi kegiatan bimbingan

fisik yang dapat diimplementasikan di panti sosial selama
masa pandemi.
b. Mempermudah rekan sejawat dalam menentukan prioritas
permasalahan di bidang pembinaan sosial.

6

BAB II
PROFIL INSTANSI TEMPAT AKTUALISASI

A. Visi dan Misi
Dinas Sosial sebagai salah satu Organisasi perangkat Daerah

(OPD) mendukung visi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yaitu
mewujudkan Jakarta kota maju, lestari, dan berbudaya yang
warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan, dan
kesejahteraan bagi semua. Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa
2 juga mendukung misi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai
berikut:
1. Menjadikan Jakarta kota yang aman, sehat, cerdas, berbudaya,

dengan memperkuat nilai-nilai keluarga dan memberikan ruang
kreativitas melalui kepemimpinan yang melibatkan,
menggerakkan dan memanusiakan.
2. Menjadikan Jakarta kota yang memajukan kesejahteraan
umum melalui terciptanya lapangan kerja, kestabilan dan
keterjangkauan kebutuhan pokok, meningkatnya keadilan
sosial, percepatan pembangunan infrastruktur, kemudahan
investasi dan berbisnis, serta perbaikan pengelolaan tata
ruang.
3. Menjadikan Jakarta tempat wahana aparatur negara yang
berkarya, mengabdi, melayani, serta menyelesaikan berbagai
permasalahan kota dan warga, secara efektif, meritokratis dan
berintegritas.
4. Menjadikan Jakarta kota yang lestari, dengan pembangunan
dan tata kehidupan yang memperkuat daya dukung lingkungan
dan sosial.
5. Menjadikan Jakarta ibukota yang dinamis sebagai simpul
kemajuan bercirikan keadilan, kebangsaan dan kebhinekaan.
B. Nilai-nilai Budaya Kerja
Nilai- nilai Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2

7

mendukung nilai budaya kerja dan perilaku utama yang ditetapkan di
lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah:
1. Berintegritas

Berkomitmen untuk menyelesaikan serta menanggulangi
suatu masalah dengan situasi terbaik, bekerja dengan tulus
melayani dan berdedikasi tinggi sehingga dapat memberikan
suatu kebermanfaaatan yang diterima oleh orang lain maupun
lingkungan organisasi.
2. Kolaboratif

Mampu melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan
lembaga lain menunjukkan sikap saling percaya dan
menghormati dengan kalangan manapun, sehingga pekerja
selalu produktif maupun kreatif dalam menyelesaikan
pekerjaannya.
3. Akuntabel

Organisasi berprinsip agar pekerja memiliki budaya kerja
transparan, sehingga target tercapai sesuai aturan, dapat
diandalkan dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya
secara professional.
4. Inovatif

Menggambarkan sebagai seorang pekerja yang mampu
menciptakan ide-ide orisinal, berpikir terbuka terhadap
masukan/kritik dan ide-ide baru agar bisa menjadi kreatif dan
visioner.
5. Berkeadilan

Budaya kerja yang proporsional dan objektif untuk saling
mendorong demi kemajuan bersama, mengedepankan
kesetaraan, dan berkeadilan untuk kesamaan hak dalam
bekerja menggambarkan sistem kerja berkembang
menyesuaikan eranya.

8

C. Tugas Organisasi
Sesuai dengan Pergub No. 358 Tahun 2016 tentang

Pembentukan, Organisasi Dan Tata Kerja Panti Sosial Bina Laras

Harapan Sentosa, tugas dan fungsi Panti Sosial Bina Laras Harapan

Sentosa 2 sebagai berikut:1

1. Penyusunan Rencana Strategis dan Rencana Kerja dan

anggaran Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa;

2. Pelaksanaan rencana strategis dan dokumen

pelaksanaan anggaran Panti Sosial Bina Laras Harapan

Sentosa;

3. Penyusunan standar operasional dan prosedur teknis pelayanan

dan rehabilitasi sosial penyandang psikotik terlantar;

4. Pelaksanaan penjangkauan dan pendekatan awal yang meliputi

observasi, identifikasi, seleksi dan motivasi;

5. Pelaksanaan penerimaan meliputi registrasi, persyaratan

administrasi dan penempatan dalam Panti;

6. Pelaksanaan asessment meliputi penelaahan, pengungkapan

dan pemahaman masalah dan potensi;

7. Pelaksanaan perawatan meliputi pemenuhan kebutuhan

sandang, pangan dan pemeliharaan kesehatan;

8. Pelaksanaan pembinaan meliputi pembinaan fisik, bimbingan

mental, spiritual, sosial dan keterampilan;

9. Pelaksanaan penyaluran kerja, magang dan/atau kerja sama

pembinaan ketrampilan dengan lembaga lain;

10. Pelaksanaan pemberian bantuan advokasi, bantuan sosial dan

perlindungan sosial;

11. Pelaksanaan resosialisasi, penyaluran kembali kepada keluarga

dan rujukan ke lembaga pelayanan lain;

12. Pelaksanaan pembinaan lanjut meliputi monitoring, konsultasi,

asistensi, pemantapan dan terminasi;

13. Pelaksanaan penyediaan, pemeliharaan dan perawatan

9

prasarana dan sarana Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa
14. Pelaksanaan koordinasi dan pengembangan kerja sama serta

kemitraan dengan lembaga lainnya;
15. Pelaksanaan pengembangan pelayanan luar Panti Sosial Bina

Laras Harapan Sentosa;
16. Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan dan kerumahtanggaan

Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa;
17. Pelaksanaan pengelolaan kepegawaian, keuangan dan barang

Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa;
18. Pelaksanaan pengelolaan informasi pelayanan publik;
19. Pelaksanaan publikasi kegiatan dan pengaturan acara
20. Pelaksanaan pelaporan dan pertanggungjawaban tugas

dan fungsi Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa.
D. Uraian/rincian Tugas

Uraian tugas yang menjadi tanggung jawab seorang penyuluh
sosial yang disesuaikan dengan arahan pimpinan, visi misi organisasi,
serta tugas dan fungsi organisasi adalah:
a. Melaksanakan penjangkauan dan pendekatan awal yang

meliputi observasi, identifikasi, seleksi dan motivasi.
b. Melaksanakan pembinaan meliputi pembinaan fisik, bimbingan

mental, spiritual, sosial dan keterampilan.
c. Melaksanaan perawatan meliputi pemenuhan kebutuhan

sandang, pangan dan pemeliharaan kesehatan.
d. Melaksanakan resosialisasi, penyaluran kembali kepada

keluarga dan rujukan ke lembaga pelayanan lain.
e. Menyusun administrasi rencana kerja dan anggaran panti.

10

Berikut adalah Struktur Organisasi Panti Sosial Bina Laras Harapan
Sentosa 2 Cipayung :

Gambar 2. Bagan Struktur Organisasi Panti Sosial Bina Laras Harapan
Sentosa 2 Cipayung

11

BAB III
ANALISA ISU DALAM PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI

A. Identifikasi dan Analisis Isu Aktual
Selama 3 bulan peserta bertugas di PSBL Harapan Sentosa 2

Cipayung, peserta menemukan beberapa masalah/isu yang sangat
mendesak untuk dibahas, dianalisis, dan ditindaklanjuti (Urgency),
permasalahan yang harus segera dibahas karena terkait akibat yang
ditimbulkan (Seriousness), dan permasalahan yang memungkinkan
untuk memburuk jika tidak ditangani segera (Growth), yang
menyangkut uraian tugas peserta.

Peserta juga melakukan konsultasi kepada mentor mengenai
uraian tugas yang bermasalah. Setelah melalui diskusi, beberapa
uraian tugas yang bermasalah yaitu:
1. Pelaksanaaan pembinaan meliputi pembinaan fisik, bimbingan

mental, spiritual, sosial dan keterampilan;
2. Pelaksanaan penjangkauan dan pendekatan awal yang meliputi

observasi, identifikasi, seleksi dan motivasi;
3. Pelaksan aan resosialisasi, penyaluran kembali kepada keluarga

dan rujukan ke lembaga pelayanan lain;
4. Pelaksanaan perawatan meliputi pemenuhan kebutuhan

sandang, pangan, dan pemeliharaan kesehatan.
Berdasarkan uraian tugas tersebut, melalui analisa uraian tugas
peserta menemukan beberapa isu/ masalah yang didukung dengan
informasi dan data sebagai berikut, yaitu:
a. Belum optimalnya pembinaan fisik pada WBS di panti
selama pandemi covid-19

Dalam upaya meningkatkan efektivitas layanan terhadap
WBS psikotik di PSBL Harapan Sentosa 2 Cipayung, disusun
pembinaan yang disebut dengan silabi. Silabi merupakan
kumpulan kegiatan terapi bagi WBS baik jasmani, rohani,

12

maupun mental. Namun, sejak awal tahun 2020, pelaksanaan
kegiatan silabi pembinaan terutama fisik terkendala dengan
adanya pandemi covid-19. Hal tersebut menyebabkan adanya
pembatasan jenis kegiatan fisik seperti aktivitas olahraga dan
ketidaktersediaan instruktur bimbingan pembinaan karena
refocusing anggaran untuk penanganan covid-19. Sebagian
besar waktu WBS banyak dihabiskan untuk beristirahat pada
jadwal kegiatan silabi sehingga belum mendukung stimulasi
perkembangan WBS dari aspek fisik. Tingkat partisipasi WBS
pada saat mengikuti pembinaan fisik yang rendah karena
sebagian besar WBS memasuki usia pra lansia cenderung
menjadi kurang bersemangat, sering melamun, halusinasi, tidak
fokus dan berbicara sendiri.

Gambar 1. Kegiatan bimbingan fisik yang kurang efektif

Gambar 2. Durasi waktu istirahat WBS yang panjang

13

Kendala terbesar dalam proses reunifikasi berasal dari
dalam diri WBS. Penelusuran keluarga akan sangat bergantung
pada daya ingat dari WBS, sehingga jika WBS belum dapat
berkoordinasi dengan baik maka akan sangat sulit dilakukan
identifikasi dan observasi. Kegiatan silabi yang efektif akan
bermanfaat dalam perkembangan WBS khususnya kemampuan
psikososial yang mana menjadi kriteria penilaian agar bisa naik
tingkatan (klaster) untuk mendapat pembinaan lebih baik.

Isu ini berkaitan dengan Manajemen ASN dimana peran
ASN seharusnya memberikan pelayanan yang optimal sehingga
mendukung WBS agar dapat melakukan Activity Daily Living
dengan mandiri dan mampu hidup normatif. Isu ini juga berkaitan
dengan Pelayanan Publik dimana pemberian pelayanan prima
kepada WBS sehingga dapat hidup normatif yang merupakan
kewajiban aparatur negara sebagai abdi masyarakat. Kegiatan
pembinaan sosial dalam hal ini pelayanan fisik juga merupakan
hak dari WBS. Sedangkan pada Whole of Government berkaitan
kolaborasi dan koordinasi antar bidang dan petugas yang ada di
panti dalam penyelenggaraan pembinaan sosial.
b. Belum lengkapnya identitas data Warga Binaan Sosial di
panti

PSBL Harapan Sentosa 2 Cipayung merupakan panti yang
memberikan layanan rehabilitasi sosial kepada penyandang
psikotik terlantar yang diperoleh melalui penjangkauan Dinas
Sosial, P3S, dan Satpol PP. Mayoritas Warga Binaan Sosial
sebanyak 90% berasal dari jalanan dari mereka mengalami
gangguan kejiwaan sehingga hal tersebut membuat peran
petugas cukup kesulitan dalam memberikan layanan
dikarenakan sulitnya berkomunikasi dengan mereka.

14

Persentase Data WBS

Jawa Timur Luar Pulau DKI Jakarta
1% Jawa 45%

Jawa Tengah22%

12%

Jawa Barat
20%

Gambar 3. Persentase Data WBS Berdasarkan Daerah Asal
Berdasarkan Data Panti per bulan Juli 2021, hasil pemetaan

sebagaimana diagram di atas menunjukkan bahwa sebesar 55%
Warga Binaan Sosial berasal dari luar DKI Jakarta yaitu dari Jawa
Barat sebesar 20%, Jawa Tengah sebesar 12%, dan Jawa Timur
sebesar 1%, sedangkan luar Pulau Jawa sebesar 22%. Sehingga
pada proses penerimaan awal, sebagian besar tidak memiliki
dokumen kependudukan seperti KTP, KK, dan kartu BPJS.
Belum lengkapnya identitas dan data pribadi WBS menyebabkan
akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan menjadi
terhambat karena penyandang psikotik harus segera
penanganan kejiwaan dan mengonsumsi obat secara rutin dari
psikiatri.

Isu ini berkaitan dengan pelayanan publik yaitu peran ASN
dalam memberikan pelayanan dengan berkualitas dan
profesional secara bertanggung jawab untuk memudahkan
identifikasi dan asesmen WBS pada saat penerimaan awal.
Adanya data WBS yang belum lengkap menunjukkan kaitannya
dengan isu Whole of Government karena melibatkan koordinasi
dengan Dukcapil dan BPJS Kesehatan sebagai pemenuhan
tugas kelengkapan persyaratan pelayanan WBS.

15

c. Minimnya cakupan jumlah penyaluran reunifikasi dan jumlah
rujukan WBS ke lembaga pelayanan lain
Pembinaan yang dilakukan di panti bertujuan agar WBS
dapat hidup normatif bahkan lebih baik berada di tengah
keluarga. Namun, keterbatasan anggaran untuk melakukan
kunjungan di luar wilayah Jabodetabek juga menjadi kendala
mengingat tidak semua WBS adalah penduduk asli Jakarta dan
sekitarnya, terlebih di tengah pandemi covid-19 dimana mobilitas
juga terbatas. Pada pada tahun 2020, terdapat penurunan angka
penyaluran WBS ke keluarga (reunifikasi) yang signifikan
sebesar 50% sebagaimana pada grafik di bawah ini.

Data Reunifikasi WBS Tahun 2017-2020

Jumlah WBS 105
223

207
203

0 50 100 150 200 250
Tahun 2020 Tahun 2019 Tahun 2018 Tahun 2017

Gambar 4. Grafik Data Penyaluran WBS ke keluarga/Daerah Asal
(Reunifikasi) Tahun 2017 sd Tahun 2020

Data Rujukan WBS Tahun 2017- 2020

Jumlah 59
WBS 89

212
226

0 50 100 150 200 250
Tahun 2020 Tahun 2019 Tahun 2018 Tahun 2017

Gambar 5. Grafik Data Rujukan WBS ke Lembaga Pelayanan Lain
Pada grafik jumlah rujukan WBS ke lembaga pelayanan

16

lain terjadi penurunan angka penyaluran WBS yang signifikan
pada tahun 2020 sebanyak 59 jiwa yang sebelumnya sebanyak
89 jiwa pada tahun 2019 dan sebanyak 212 jiwa pada tahun
2018. Hal tersebut dikarenakan adanya pandemi Covid-19 yang
membuat kegiatan pembelajaran silabi menjadi kurang optimal
demi meminimalisir penyebaran kasus Covid-19. Hal ini menjadi
salah satu faktor yang menghambat perkembangan WBS
sehingga kurang optimal dalam melakukan penyaluran.

Sebaik-baiknya pembinaan yang dilakukan di panti, yang
terbaik bagi WBS adalah berada di tengah keluarga sehingga
kegiatan kembali ke keluarga merupakan hak WBS dan
kewajiban aparatur negara dalam menelusuri keberadaan
keluarganya. Selain itu, rujukan ke panti lain juga dilakukan untuk
memaksimalkan pembinaan WBS ke tingkatan klaster yang lebih
baik sesuai penerapan aspek Pelayanan Publik. Isu ini juga
berkaitan dengan Whole of Government dimana diperlukan
koordinasi dan kolaborasi dengan panti lain serta melibatkan
TKSK/Dinas Sosial setempat untuk penelusuran keluarga
sehingga target yang menjadi indikator penilaian kinerja setiap
bulannya dapat tercapai.
d. Belum optimalnya kegiatan pemeliharaan kesehatan pada
WBS yang menderita penyakit kulit

Kapasitas panti yang menampung sebanyak 414 Warga
Binaan Sosial merupakan kondisi yang padat hunian karena
berisiko menyebarkan penularan penyakit yang semakin besar.
Adapun penyakit menular yang banyak ditemukan saat ini adalah
penyakit kulit seperti scabies, kudis, jamur, dan koreng.1 Menurut
data Panti per bulan Juni 2021, saat ini terdapat sebanyak 120
WBS atau 30,2% yang mengalami gangguan penyakit kulit.1
Minimnya perilaku Penerapan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
menjadi faktor penyebaran penyakit akan sangat cepat dan masif

17

karena penyakit kulit dapat menular melalui sentuhan,
penggunaan alat makan bersama, kebiasaan tidak mencuci
tangan, kebiasaan tidur di lantai dan kebiasaan lain pada saat
hidup di jalanan yang masih terbawa di panti dan sulit
dihilangkan.

Gambar 6. Ruang isolasi WBS gangguan penyakit kulit
Pada gambar di atas menunjukkan tersedianya ruang
isolasi sebagai upaya preventif untuk memisahkan WBS yang
memiliki gangguan penyakit kulit (koreng, scabies, jamur) demi
meminimalisir angka penularan penyakit. Ruang isolasi
merupakan kamar perawatan WBS yang diberi sirkulasi udara
cukup untuk menjaga kelembapan udara dimana terdapat
fasilitas kamar mandi, tempat tidur pallete yang dapat dihuni
dengan kapasitas maksimal 30 orang.

Gambar 7. Kegiatan penyalepan pada WBS berpenyakit kulit
Isu ini berkaitan dengan Manajemen ASN dan Pelayanan

18

Publik dimana tugas ASN dalam memberikan pelayanan pada
WBS secara professional dan berkualitas. Kesehatan merupakan
hak pelayanan dasar bagi semua orang sehingga sudah
seharusnya setiap pelayan publik menyediakan layanan
kesehatan yang paripurna. Isu ini juga dapat dikaitkan dengan
Whole of Government dalam koordinasi dan kolaborasi dengan
fasilitas kesehatan untuk pemeliharaan kesehatan WBS.

Setelah mengidentifikasi beberapa masalah diatas, langkah
selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan pisau
analisis yang diajarkan pada agenda 1 untuk mendapatkan isu
prioritas atau isu yang diangkat. Peserta juga melakukan Focus
Group Discussion dengan melibatkan pihak yang terkait seperti
Satuan Pelayanan Pembinaan Sosial, Pekerja Sosial, para
pendamping WBS, dan rekan Penyuluh Sosial dalam melakukan
tapisan isu.

Gambar 8. Diskusi penentuan isu bersama rekan sejawat

Isu prioritas diperoleh dengan Alat Analisa USG sebagaimana tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Identifikasi Isu Permasalahan

Kriteria

No Isu Total Ran

USG k

1 Belum optimalnya pembinaan fisik 4 4 5 13 1
WBS di panti selama pandemic

2 Belum lengkapnya identitas data 4 3 3 10 4
WBS di panti

19

Kriteria

No Isu Total Ran

USG k

3 Minimnya cakupan jumlah 4 4 4 12 2
penyaluran reunifikasi (kembali ke
keluarga) dan rujukan ke lembaga
pelayanan lain

4 Belum optimalnya kegiatan 3 4 4 11 3
pemeliharaan kesehatan pada
WBS yang menderita penyakit kulit

Keterangan : 1 = sangat rendah ; 2 = rendah ; 3 = sedang ; 4 = tinggi ; 5 = sangat
tinggi

U : Urgency
S : Seriousness
G : Growth

Dari keempat permasalahan di atas kemudian dipilih salah satu
permasalahan prioritas dengan menggunakan Teknik analisis USG.
Isu terpilih berdasarkan analisis USG adalah belum optimalnya
kegiatan pembinaan fisik WBS selama masa pandemi di Panti Sosial
Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung. Peserta membuat kuesioner
dan menyebarkan kepada pendamping WBS yang berjumlah 20
responden. Pendamping WBS selaku fasilitator kegiatan pembinaan
sangat berperan dalam memonitor perkembangan WBS yang menjadi
dampingannnya. Selanjutnya, hasil kuesioner tersebut dijadikan
sebagai data dukung untuk memperkuat kualitas isu yang dipilih (lihat
Lampiran Data Pendukung). Penilaian terhadap kualitas isu adalah
sebagaimana tabel 2 berikut :

Tabel 2. Penilaian Kualitas Isu

No Analisis USG Kualitas ISU Data/Fakta

1. Urgensi: Jenis kegiatan silabi Sejak awal tahun 2020,

Seberapa pembinaan fisik kurang pelaksanaan kegiatan

mendesak suatu mengakomodir dalam pembinaan sosial terkendala

isu harus dibahas, meningkatkan adanya pandemi Covid-19,

dianalisis dan perkembangan sehingga ada pembatasan

ditindaklanjuti kemampuan psikososial jenis kegiatan dan anggaran

dan ketahanan fisik pada pembinaan.

masa pandemi Hasil kuesioner

menunjukkan penilaian

pendamping terhadap

efektivitas kegiatan

bimbingan fisik selama

pandemi, sbb:

• 90% pendamping menilai

20

No Analisis USG Kualitas ISU Data/Fakta

kegiatan bimbingan fisik

(senam jantung sehat,

senam otak, senam

lainnya) diperlukan untuk

meningkatkan ketahanan

fisik WBS terutama usia pra

lansia (45-60 tahun) pada

masa pandemi

• 65 % pendamping menilai

kegiatan bimbingan fisik

efektif diterapakan ke

pada WBS usia pra lansia

pada masa pandemi

• 95% pendamping menilai

bimbingan fisik seperti

senam bermanfaat

menyehatkan WBS

menjadi lebih bugar dan

upaya preventif terhadap

penyakit degeneratif

• 36,8 % pendamping

menilai kegiatan

bimbingan fisik yang

sudah berjalan di panti

belum cukup

meningkatkan

kemampuan kognitif dan

motorik WBS

Selama pandemi, yang

menjadi kendala

pendamping sebaagi

fasilitator kegiatan

pembinaan:

• 45.8 % karena

keterbatasan sarana

prasarana

• 29.2 % karena tingkat

partisipasi WBS rendah

• 16.7 % karena kurangnya

variasi kegiatan

2. Seriuosness: Silabi pembinaan yang Gangguan psikotik WBS

Seberapa serius monoton dapat mengurangi seperti halusinasi, melamun,

isu harus dibahas ketertarikan WBS untuk tidak fokus, berbicara sendiri,

dikaitkan dengan berpartisipasi dalam sedih dan mudah marah,

akibat yang kegiatan dan menghambat dapat diminimalisir melalui

ditimbulkan upaya WBS agar mampu partisipasi WBS dalam

hidup normatif dan melatih kegiatan pembinaan fisik

kemandirian. yang efektif.

Hasil kuesioner

menunjukkan 91,7 %

pendamping menilai

partisipasi WBS dalam

kegiatan silabi sangat

21

No Analisis USG Kualitas ISU Data/Fakta

berperan dalam peningkatan

perkembangan aspek fisik,

psikologis, sosial, mental

spiritual dan keterampilan

WBS.

Sebanyak 85 % setuju untuk

dilakukan kegiatan

bimbingan fisik (senam

jantung sehat, senam otak)

yang sesuai sasaran dan

kapasitas WBS untuk

meningkatkan partisipasi

WBS dan menghilangkan

kejenuhan. Sebanyak 73,7%

setuju bimbingan fisik

diikutkan dalam kegiatan

silabi sehingga

meningkatkan kualitas hidup

WBS

3. Growth: Kegiatan pembinaan yang Rata-rata WBS mengalami

Seberapa besar kurang optimal berdampak peningkatan nilai pada

kemungkinan pada lambatnya laporan perkembangan WBS

memburuknya perkembangan aspek fisik/ baik dari aspek fisik/

isu tersebut jika psikologis/ sosial/ mental psikologis/ sosial/ mental

tidak ditangani spiritual/ ketrampilan WBS, spiritual/ ketrampilan setelah

sebagaimana sehingga menjadi salah menerima pembinaan lebih

mestinya satu faktor minimnya jumlah dari 1 tahun.

penyaluran, sehingga Hasil kuesioner

berdampak pada penuhnya menunjukkan 95 %

kapasitas panti. pendamping menilai kegiatan

pembinaan fisik yang

disusun secara teratur

sangat bermanfaat untuk

menyehatkan WBS menjadi

lebih bugar dan sebagai

upaya deteksi dini terhadap

penyakit degeneratif;

Meminimalisir gangguan

psikotik WBS seperti

halusinasi, melamun, tidak

fokus, berbicara sendiri,

sedih dan mudah marah; dan

agar WBS memenuhi kriteria

untuk disalurkan ke panti lain

B. Penyebab Isu dan Keterkaitannya dengan Kedudukan dan Peran
PNS
Berdasarkan analisa diatas maka rumusan isu prioritas adalah
Belum optimalnya kegiatan pembinaan fisik pada WBS selama masa
pandemi di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa (PSBL HS) 2

22

Cipayung. Masalah ini disebabkan oleh beberapafaktor yang dapat
diuraikan dalam bentuk Fishbone Diagram sebagai berikut:
a. Man

1) Kurang aktifnya peran pendamping
2) Tidak adanya instruktur kegiatan silabi pembinaan fisik
3) Rendahnya tingkat partisipasi WBS
4) Terbatasnya jumlah pendamping
5) Banyaknya pendamping yang rangkap jabatan
b. Method
1) Kurang adanya variasi kegiatan pembinaan fisik (monoton)
2) Terbiasa menggunakan cara lama
3) Kurangnya pengawasan pendamping
4) Penempatan waktu kegiatan bimbingan fisik dalam jadwal

silabi kurang pas
c. Material

1) Minimnya pelatihan kegiatan bimbingan fisik
2) Keterbatasan sarana prasana olahraga untuk kegiatan

bimbingan fisik
3) Belum ada pembedaan kegiatan bimbingan fisik sesuai

kapasitas WBS
d. Environment

1) Minimnya anggaran pembinaan selama pandemi
2) Kurang partisipasi lintas sektor
3) Pembatasan kegiatan silabi karena pandemi covid-19
4) Jadwal WFH WFO sebagai dampak kebijakan akibat

pandemi Covid

23

Berdasarkan penyebab tersebut, gagasan pemecahan masalah
dan keterkaitaannya dengan Agenda 3 yaitu Manajemen ASN,
Pelayanan Publik, dan Whole of Government dapat dilihat pada
diagram fishbone berikut ini.

Gambar 9. Diagram fishbone belum optimalnya pembinaan fisik

Setelah diidentifikasi penyebab-penyebab di atas kemudian
dilakukan penapisan penyebab untuk menentukan penyebab yang
paling prioritas dengan menggunakan teknik USG sesuai dengan
tabel di bawah ini:
Tabel 3. Analisis Penyebab Masalah Menggunakan Alat Analisa USG

KRITERIA

No PENYEBAB Tota Peri

U S Gl ngk

at

1 Kurang aktifnya peran pendamping, tidak 4 4 4 12 2

adanya instruktur kegiatan silabi pembinaan

fisik, rendahnya tingkat partisipasi WBS,

terbatasnya jumlah pendamping,

banyaknya pendamping yang rangkap

jabatan (Man)

2 Kurang adanya variasi kegiatan 4 4 5 13 1

pembinaan fisik, terbiasa menggunakan

cara lama, kurangnya pengawasan

pendamping, penempatan waktu kegiatan

bimbingan fisik yang kurang pas (Method)

24

KRITERIA

No PENYEBAB Tota Peri

U S Gl ngk

at

3 Minimnya kegiatan pelatihan bimbingan 3 3 4 10 3
fisik, keterbatasan sarana prasarana
olahraga bimbingan fisik, belum ada
pembedaan kegiatan bimbingan fisik sesuai
kapasitas WBS (Material)

4 Pembatasan kegiatan silabi bimbingan fisik, 3 3 3 9 4
minimnya anggaran pembinaan selama
pandemi, jadwal WFH WFO akibat
kebijakan pandemi, kurang partisipasi lintas
sektor (Environment)

Keterangan : 1 = sangat rendah ; 2 = rendah ; 3 = sedang ; 4 = tinggi ; 5 = sangat
tinggi

U : Urgency
S : Seriousness
G : Growth

Dari hasil analisis fishbone di atas, terlihat akar-akar masalah
penyebab. Pertama adalah sisi manusia yaitu kurang aktifnya peran
pendamping, tidak adanya instruktur kegiatan silabi pembinaan,
rendahnya partisipasi WBS, terbatasnya jumlah pendamping,
banyaknya pendamping yang rangkap jabatan sehingga kurang
mendukung perkembangan WBS dari hal fisik, kesehatan, dan
psikososial. Kemudian yang kedua dari sisi metode kurangnya variasi
kegiatan silabi pembinaan fisik, terbiasa menggunakan cara lama,
kurangnya pengawasan pendamping, dan penempatan waktu
kegiatan bimbingan fisik yang kurang pas dalam jadwal silabi. Ketiga
berkaitan dengan minimnya pelatihan, keterbatasan sarana
prasarana olahraga bimbingan fisik, dan belum ada pembedaan
kegiatan bimbingan fisik sesuai kapasitas WBS. Keempat dari sisi
lingkungan yaitu pembatasan kegiatan silabi bimbingan fisik,
minimnya anggaran pembinaan selama pandemi, jadwal WFH WFO
akibat kebijakan pandemi, kurang partisipasi lintas sektor. Beberapa
permasalahan tersebut selanjutnya akan dilakukan proses penapisan,
bertujuan untuk menentukan prioritas permasalahan. Proses
penapisan akan dilakukan menggunakan metode USG (Urgency,
Seriousness, dan Growth). Permasalahan dengan total skor terbesar

25

akan ditetapkan sebagai prioritas masalah yang akan diselesaikan
dahulu. Setelah prioritas akar masalah ditentukan, maka langkah
selanjutnya adalah mencari alternatif solusi. Dimana akar masalah
adalah dari sisi metode yang digunakan dalam kegiatan pembinaan
fisik WBS. Berdasarkan penyebab tersebut, gagasan pemecahan
masalah dan keterkaitannya dengan Agenda 3 sebagai berikut :
1. Manajemen ASN

a. Melibatkan peran serta seluruh ASN dan pendamping WBS
dalam kegiatan silabi dengan menjadikan salah satu
indikator penilaian kinerja setiap bulannya.

b. Salah satu kewajiban ASN adalah melaksanakan tugas
kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab sehingga sebagai bentuk
tanggung jawab pada tugas yang telah diberikan maka perlu
setiap pegawai memiliki jiwa untuk terus berinovasi dalam
pemenuhan tugas dan fungsinya.

2. WoG (Whole of Government)
a. Berkoodinasi dengan Ka Panti, Ka Satpel Pembinaan
Sosial, Pekerja Sosial, Kasubag TU dan tenaga ahli
(psikolog), fasilitas kesehatan yang terlibat dalam
pelaksanaan program kegiatan.
b. Berkolaborasi dengan pendamping WBS selama
pelaksanaan kegiatan pembinaan fisik.

3. Pelayanan Publik
a. Kualitas pelayanan publik juga ditentukan oleh kompetensi
petugas pendamping, harus ditetapkan dengan tepat
berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap,
dan perilaku yang dibutuhkan. Menyusun kegiatan yang
mampu meningkatkan kemampuan WBS dari aspek fisik
sehingga bentuk inovasi untuk mengatasi kurang
optimalnya kegiatan pembinaan fisik selama pandemi

26

covid-19.
b. Meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan

melaksanakan silabi sesuai kapasitas WBS agar tercipta
kegiatan pembinaan yang interaktif dan meningkatkan
partisipasi WBS.
c. Meminta feedback dari WBS sebagai penerima pelayanan
berupa testimoni pengaruh atau dampak yang diterima
setelah pelaksanaan kegiatan silabi sehingga sebagai
bahan masukan program berikutnya.
Peralatan dan sarana yang kurang memadai tidak memenuhi salah
satu prinsip pelayanan publik yaitu kelengkapan sarana dan prasarana.
Sarana prasarana yang lengkap akan memudahkan kegiatan yang
tentunya akan jauh berkualitas demi kepuasan pelanggan dalam hal ini
adalah WBS yang sedang direhabilitasi di panti sosial. Jika
permasalahan ini tidak segera dipecahkan, maka akan menyebabkan
hal-hal sebagai berikut :
a. Tingkat partisipasi dan ketertarikan WBS dalam kegiatan
pembinaan fisik yang rendah dapat menghambat upaya WBS
agar mampu hidup mandiri dan normatif.
b. Pembatasan kegiatan silabi pembinaan menyebabkan
perkembangan aspek psikososial WBS menjadi lambat. WBS
yang terhambat perkembangan fisik dan psikisnya akan sulit
untuk dilakukan reunifikasi atau penyaluran ke panti lain sehingga
jumlah WBS masuk lebih banyak daripada yang keluar. Hal
tersebut mengakibatkan terjadinya kelebihan kapasitas/ daya
tampung panti.

C. Alternatif Pemecahan Isu sebagai Gagasan Kreatif
Setelah melihat faktor-faktor penyebab tersebut diatas maka akar

masalah dari isu adalah sehingga alternatif penyelesaian dengan
analisa tapisan Mc Namara untuk menentukan solusi prioritas, maka
gagasan penyelesaian isu yang terpilih adalah kurangnya variasi
kegiatan pembinaan fisik pada WBS selama pandemi. Maka alternatif
penyelesaian masalah dapat dilakukan sebagai berikut :

27

Tabel 4. Alternatif Solusi dengan Mc Namara

TAPISAN

No Alternatif Solusi Pemecahan Masalah Total Pering
kat
Kemu Efek Biaya
93
d ti
12 1
ahan vitas

1 Menjalin kerjasama dengan lembaga 3 33

pelayanan lain untuk pelatihan bimbingan

fisik pada WBS

2 Optimalisasi pembinaan fisik pada WBS 4 44
melalui olahraga senam kesehatan

3 Pengembangan variasi kegiatan 3 44 11 2
bimbingan fisik melalui terapi aktivitas
kelompok

Keterangan : 1 = sangat rendah ; 2 = rendah ; 3 = sedang ; 4 = tinggi ; 5 = sangat
tinggi

Setelah melihat faktor-faktor penyebab tersebut diatas, maka
gagasan penyelesaian isu yang terpilih adalah optimalisasi pembinaan
fisik pada WBS melalui olahraga senam kesehatan di Panti Sosial Bina
Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung. Gagasan ini dipilih karena penulis
menyadari bahwa selama masa pandemi ini dengan adanya kebijakan
pembatasan kegiatan silabi membuat kegiatan bimbingan silabi
khususnya bimbingan fisik belum berjalan optimal. Selain sebagai
upaya untuk meningkatkan kualitas hidup Warga Binaan Sosial,
diperlukan suatu inovasi kegiatan yang sesuai dengan kapasitas WBS
sehingga dapat mengembalikan fungsi sosial untuk hidup mandiri dan
normatif menjalankan Activity Daily Living di panti. Selain karena
memang memenuhi syarat dalam analisa tapisan Mc Namara dari segi
kemudahan, biaya, dan efektivitas, peserta mengambil inisiatif bahwa
kegiatan senam akan menggunakan gerakan-gerakan mudah,
sederhana yang mudah dipahami dengan kapasitas WBS sebagai
penyandang psikotik dan meningkatkan partisipasi WBS menjadi lebih
bersemangat, gembira, merasa rileks, melatih regulasi emosi sehingga
bisa meningkatkan ketahanan fisik pada masa pandemi. Kendala
terbesar dalam kegiatan reunifikasi dan penyaluran WBS ke lembaga
pelayanan lain berasal dalam diri WBS. Diharapkan dengan
meningkatkan perasaan senang dan merasa sehat membuat WBS

28

perlahan-lahan bisa mengingat identitasnya, keluarganya, keberadaan
dirinya sehingga mempercepat perkembangan kemampuan
psikososialnya yang lebih baik dan bisa segera disalurkan ke rujukan
lembaga pelayanan lain serta mempercepat terjadinya reunifikasi.

29

BAB IV
RENCANA AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS

A. Rancangan Aktualisasi Nilai-nilai Dasar PNS
Pendekatan Obama yang akan diterapkan kepada WBS

dimulai dengan kegiatan pertama untuk menyusun program
pembinaan fisik sehingga terususunnya Kerangka Acuan Kegiatan
(KAK) sebagai panduan program. Tahapan kedua program
Obama adalah sosialisasi kepada para pendamping yaitu
memberikan edukasi terlebih dahulu mengenai kegiatan
bimbingan fisik yaitu gerakan senam, tujuan dan manfaat senam
jantung sehat, tujuan manfaat senam otak, media/metode yang
digunakan dalam kegiatan senam, durasi/intensitas pelaksanaan
kegiatan, waktu pelaksanaan kegiatan, dan identifikasi pemilihan
kapasitas WBS sesuai kriteria sasaran program. Pelaksanaan
program Obama sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:
1. Senam Jantung Sehat

Senam jantung sehat merupakan senam aerobik yang
disusun dengan mengutamakan kemampuan jantung,
gerakan otot besar dan kelenturan sendi, serta upaya untuk
memasukkan suplai oksigen sebanyak mungkin yang dapat
dilaksanakan secara mudah, murah, meriah, massal dan
sangat bermanfaat serta aman. Kegiatan senam jantung
sehat akan dilakukan secara berkelompok khususnya kepada
WBS yang menderita penyakit kronis dengan risiko tinggi
yaitu hipertensi dan diabetes melitus. Senam jantung sehat
juga dapat dijadikan kegiatan bimbingan fisik rutin setiap hari
bagi WBS karena sebagai upaya preventif terhadap penyakit
degeneratif.
a. Tujuan

• Meningkatkan perasaan sehat dan meningkatkan

30

kemampuan seseorang mengatasi stres.
• Menyehatkan jantung, memperbaiki denyut nadi,

menurunkan tekanan sistolik dan diastolik.
b. Tahapan kegiatan

• Sesi I latihan pemanasan gerakannya
menggunakan musik yang pelan dan tidak rumit (5 -
10 menit). Tujuan sesi I adalah menyiapkan fisik dan
psikologis WBS sebelum memulai berolahraga.
Pemanasan juga dilakukan untuk meregangkan otot
dan sendi, agar tidak kaget saat digerakkan
sehingga mengurangi risiko cedera atau menambah
parah penyakit persendian.

• Sesi II latihan inti dimana gerakan yang dilakukan
agak cepat tetapi masih sederhana (20 – 30 menit).
Tahapan senam ini dilakukan untuk melatih
kekuatan dan pengencangan otot serta
meningkatkan keseimbangan.

• Sesi III latihan pendinginan/ pemulihan/ penerangan
dimana gerakan diiringi dengan musik yang lebih
cepat dan gerakannya mulai bervariasi (5 - 10
menit). Gerakan senam jantung sehat ini ditujukan
untuk menurunkan suhu tubuh, denyut jantung, dan
tekanan darah. Gerakan ini merupakan bentuk
peregangan otot yang mirip dengan pemanasan
atau dengan melakukan gerakan berjalan pelan.

c. Durasi dan instensitas kegiatan
Durasi lamanya aktivitas senam jantung sehat

adalah selama 30 menit dan dilakukan secara rutin
seminggu 3 kali.
2. Senam Otak
Senam latih otak adalah serangkaian latihan berbasis

31

gerakan tubuh sederhana. Dimensi pemusatan dapat
meningkatkan aliran darah ke otak, meningkatkan
penerimaan oksigen sehingga dapat membersihkan otak
(menghilangkan pikiran-pikiran negatif, iri, dengki dan lain-
lain). Dimensi lateralis akan menstimulasi koordinasi kedua
belahan otak yaitu otak kiri dan kanan (memperbaiki
pernafasan, stamina, melepaskan ketegangan, mengurangi
kelelahan dan lain-lain). Dimensi pemfokusan untuk
membantu melepaskan hambatan fokus dari otak
(memperbaiki kurang perhatian, kurang konsentrasi dan lain-
lain). Gerakan itu dibuat untuk merangsang otak kiri dan kanan
(dimensi lateral), meringankan atau merelaksasi belakang otak
dan bagian depan otak (dimensi pemfokusan), merangsang
sistem yang terkait dengan perasaan/emosional yakni otak
tengah (limbik) serta otak besar (dimensi pemusatan).
(Herlambang, 2006)
a. Tujuan

Terapi senam latih otak dapat mengurangi kondisi
depresi. Pada prinsipnya dasar senam latih otak adalah
melatih otak agar tetap bugar dan mencegah pikun.
Kegiatan senam latih otak ditujukan untuk merelaksasi
(dimensi pemusatan), menstimulasi (dimensi lateralis)
dan meringankan (dimensi pemfokusan). Dengan
senam latih otak diharapkan WBS yang mempunyai
pikiran negatif dapat dihilangkan dan yang berperilaku
tidak bersemangat, kurang konsentrasi, tidak melakukan
aktivitas sehari-hari dapat termotivasi kembali untuk aktif
dalam pemenuhan kebutuhan fisik maupun
psikososialnya. (Dennison, 2009)
b. Manfaat

Manfaat senam latih otak, yaitu stres emosional

32


Click to View FlipBook Version