The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Novel sejarah tentang perjuangan seorang bapak dan kisah Jakarta tahun 80-an

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by seniasiati, 2020-09-25 20:10:24

Novel

Novel sejarah tentang perjuangan seorang bapak dan kisah Jakarta tahun 80-an

Keywords: Novel

ii

Novel

Malaikat Pemberi
Jiwa

iii

Malaikat Pemberi Jiwa

copyright© 2020, Tidar Media

Penulis: Seni Asiati Basin

ISBN: 978-623-604-16-8

Layout: Matahari Agung
Editor: Christina Tulalessy
Cover: Galuh C
Ilustrasi Cover: Bara Hasta

Penerbit: Tidar Media
Cetakan: I, September 2020

Redaksi
Jalan Kyai Asrof
Sengon, Trasan, Bandongan, Magelang. RT03/RW03. 56151.
email: [email protected]
FB: www.facebook.com/tidarmedia
IG: www.instagram.com/tidar_media
web: www.tidarmedia.com

hak cipta dilindungi undang-undang
dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk apapun

tanpa izin tertulis dari penerbit

iv

Sebilah Kata

Sebilah kata terangkum indah
Pada sampul berwarna biru
Tak putus terangkai indah
Tentang kisah sebuah rumah

Tentang selaksa sedih
Yang membuncah
Tak berkesudahan

Kukuh bahumu
Tempatku berteduh

Mata katamu
Tempat kumengeluh

bisik hatimu
tempat kuterisak

ah sudahlah
sudah pergi
tak akan kembali
hanya sebait doa
untuk malaikat
pemberi jiwa

SAB
Ramadhan 15

v

Prakata

Buku ini adalah kisah sederhana
persembahan seorang anak kepada ayahnya. Kisah
sehari-hari yang sering dijumpai di setiap keluarga.
Harapannya novel ini dapat mengisnpirasi
pembaca karena dikemas dengan cara seorang
guru bertutur. Ada pembelajaran bahwa Belajar
Dari Rumah menjadi pondasi seorang anak untuk
melangkah. Kisah Jakarta di tahun 80-an
terangkum indah dalam tutur kisah perjuangan
seorang bapak dari seorang anak yang belum
memberikan apa-apa.

Buku ini dapat terbit karena peran serta
dukungan dari keluarga dan sahabat terutama
penulis menyampaikan terima kasih kepada
Yayasan Maju Tapian Nauli (Yayasan Matauli)
yang turut mendukung pencetakan naskah novel
ini secara terbatas. Semoga novel ini dapat
menginspirasi dan memajukan literasi untuk anak-
anak bangsa.

Penulis

Seni Asiati Basin

vi

Daftar Isi

 Prolog .................................................... 1
 Rumah Masa kecil ................................ 6
 Cerita dari Rumah ................................ 17
 Keluarga Anugerah Terindah............. 36
 Ini Cara Bapak....................................... 43
 Duka Keluarga ...................................... 51
 Tak Cukup Hanya Rumah .................. 58
 Sepenggal Hati ...................................... 85
 Bapak dan Cerita Cintaku ................... 97
 Malaikat Pemberi Jiwa........................ 110
 Bapak dan Cita-cita Anakku .............. 120
 Pinjaman Tanpa Jantung .................... 135
 Kemana Bapak ..................................... 141
 Pulang Kampung................................. 155
 Tempat Terindah untuk Bapak ........ 187
 Epilog .................................................... 200

vii

viii

Prolog

Semua orang pasti mempunyai bapak.
Setiap orang mempunyai cerita tentang bapak.
Setiap cerita tentang bapak pastilah bermakna.
Bapak bagi kami adalah sosok inspiratif yang
selalu ada berbagi dengan segala ide dan
candanya. Ajaran bapak tertanam di hati agar
kami berani, jujur, dan disiplin baik dalam waktu
maupun kebiasaan. Disiplin yang diterapkan di
rumah, menjadikan kami pribadi yang tangguh
dan bergerak cepat. Bapak meminta kami untuk
tidak menunda pekerjaan. Bapak juga mendidik
kami seperti yang layaknya sekolah militer.
Kenangan bersama bapak pasti akan selalu
menjadi kisah yang teramat indah. Untuk anak-
anaknya tak ada yang terlewat dari sosok bapak.

Waktu itu bulan Ramadhan cuaca panas
terik. Bapak baru pulang dari dinasnya, masih dua
jam lagi waktu berbuka. Waktu itu aku dan adikku
masih berusia 9 dan 8 tahun, kami berbaring saja di
sofa depan. Lapar dan haus yang melanda karena
sudah seharian berpuasa membuat kami malas
untuk bergerak, bahkan bermain saja kami enggan.
Seperti anak-anak lain, hanya jam di dinding yang
selalu kami tengok.

Seni Asiati Basin | 1

―Anak bapak, puasa semua nih?‖ tanya
bapak pada kami yang lemas tanpa tulang. Aku
mengangguk dan melanjutkan dengan mengambil
bantal sofa. ―Puasa kok lemas terus, yuk kita cari
kerang di pantai Cilincing,‖ kata bapak pada kami
yang langsung melompat kegirangan. Kegiatan di
pantai Cilincing kalau sore apalagi di bulan puasa
menjadi kegiatan yang mengasyikan. Biasanya aku
dan adikku yang selalu diajak bapak, kata bapak
karena kami berdua yang muat di boncengan
motor. Kali ini bapak mengajak kakakku ikut.

Bapak baru pulang dari dinas harusnya
bapak istrahat, tapi melihat buah hatinya lemas
karena puasa, bapak mengajak kami ‗ngabuburit‘
alias jalan-jalan menunggu waktu berbuka di
pantai dekat rumah. Pakaian kebesaran bapak
sudah berganti dengan kaos dan celana pendek,
khas bapak.

Pantai Cilincing tidak begitu jauh dari
rumah kami dan selalu ramai oleh pengunjung
apalagi kalau bulan Ramadhan. Kadang saja sih
bapak mengajak kakakku sehingga motor bapak
penuh dengan anak-anak bapak. Motor bapak akan
memuat empat orang penumpang. Aku, adikku,
dan kakakku dengan bapak yang mengemudikan
memenuhi sadel motor dengan tubuh kami yang
sudah mulai besar.

2 | Malaikat Pemberi Jiwa

Sambil menunggu waktu berbuka aku dan
adikku akan diajak bapak mencari kerang yang
banyak bertebaran di pantai. Kakakku sibuk
mengukir nama di pantai. Sesekali bapak
mengangkat adikku yang memang badannya kecil
ke udara dan memutar seolah-olah akan
melempar. Kenangan itu terekam jelas olehku
karena permainan itu membuat aku berebut untuk
ikut diangkat. Sesekali bapak mengangkatku, tapi
adikku pasti akan berteriak untuk diangkat juga.

Malam takbiran atau sehari sebelum
lebaran, malah lebih seru lagi, bapak akan
mengajak kami berkeliling kompleks sambil
bertakbir. Bapak selalu ada untuk kami sesibuk
apapun. Aku dan saudara-saudaraku akan ikut
kemana saja bapak mengajak kami tinggal. Tidak
heran kalau kami merasakan pindah rumah
sebanyak empat kali. Bukan karena habis
kontrakan, melainkan tugas bapak yang membuat
kami harus ikut bapak. Bapak ingin keluarga kami
berkumpul walaupun harus sering berpindah
tempat tinggal.

―Dimanapun kita, kalau keluarga
berkumpul semua, masalah akan baik-baik saja.‖
Kata bapak ketika kami harus pindah untuk yang
ketiga kalinya. Kalau kami mengeluh, bapak pasti
akan bercerita pengalamannya pertama kali harus
keluar dari rumah nenek hingga terdampar di

Seni Asiati Basin | 3

pulau Jawa. Perjuangan bapak hingga bisa ada di
ibukota merupakan kisah yang sungguh
menginspirasi. Aku selalu senang mendengar kisah
bapak si anak kampung yang merantau.

―Dulu untuk sekolah saja bapak harus ke
kota kabupaten, jalan kaki 15 km.‖ Kenang bapak.
Ketika itu aku mendapat nilai raport yang tidak
memuaskan. Aku sedih dan mengurung diri. Aku
merasa aku sudah belajar dengan giat bahkan rela
waktu bermainku aku gadaikan demi nilai yang
memuaskan. Hal itulah yang membuatku patah
semangat. Cerita bapaklah yang membuatku
bangkit.

Bapak bercerita kalau sekolah dasar saja
jauh, harus melewati 5 dusun. Jarak setiap dusun
1-3 km. Dusun atau kampung bapak masih hutan.
Wah, terbayang seramnya melewati daerah itu.
Setelah tamat SMP, bapak bekerja di kebun sawit
milik saudara. Waktu itu pendidikan SMP saja
sudah bagus karena jarang anak kampung yang
bersekolah. Hingga suatu hari ada kabar gembira
datang, bapak ditawari menjadi agen polisi (dulu
namanya seperti itu). Syaratnya mendaftar di
ibukota provinsi. Itu artinya bapak harus merantau
dan jauh dari kampung lagi.

Keinginan untuk maju dan membuat
bangga orang tua, yang membuat bapak
mengambil kesempatan itu.

4 | Malaikat Pemberi Jiwa

―Kesempatan harus dicoba dan tidak akan
datang dua kali.‖ Itu prinsip bapak yang aku
rekam jelas di hatiku.

Jadilah bapak polisi negara dan ditempatkan
pertama kali di tanah Jawa atau di daerah Jawa
Barat tepatnya di Cipanas, Cianjur. Tempat yang
jauh dari pulau Sumatera membuat ibu dari bapak
atau nenekku menangis tak henti. Jarak antarpulau
yang dulu terbilang cukup jauh membuat hati
nenek tak tega. Transportasi ke pulau Jawa masih
minim. Jarak tempuh bisa 24 jam bahkan lebih
tergantung kapal feri yang bersandar. Belum ada
orang di kampung bapak yang merantau ke tanah
Jawa. Nenek berusaha menghalangi niat bapak dan
tak membolehkan bapak pergi keluar dari
kampung. Jarak yang teramat jauh apalagi
transportasi dan komunikasi dulu yang tidak
sebagus sekarang, membuat nenek tak rela hati
melepas bapak pergi merantau jauh. Bapak
berjuang untuk hidupnya, susah dan jauh dari
orang tua membuat bapak ditempa disiplin dan
percaya diri. Bapak menjadi sosok inspiratif untuk
perjalanan hidupku dan saudara-saudaraku.

Seni Asiati Basin | 5

Rumah Masa Kecil

Perkenalkan aku Nuri Hayati. Aku
anak ketiga dari lima bersaudara. Ini
ceritaku bersama bapak. Tentu kalian
pun banyak punya cerita dengan bapak.
Rumah masa kecil memang menorehkan
kesan yang dalam. Aku dan keluargaku pindah ke
rumah ini tahun 1976. Sebenarnya rumah ini bukan
rumah masa kecil, karena aku dilahirkan di
Cipanas, Jawa Barat. Kemudian bapak pindah
tugas ke Jakarta dan tinggal di kompleks
perumahan yang disediakan pemerintah.
Mambo, begitu orang menyebut wilayah
tempat aku tinggal. Entah mengapa orang
menyebut begitu tidak jelas benar. Pastinya
teringat mambo teringat es mambo. Mungkin
dinamakan ―mambo‖ karena banyak yang menjual
es mambo di kompleks kami. Yah, es yang yang
selalu dibuat mamahku dengan plastik panjang
diikat karet. Kulkas kami tak pernah sepi dengan
es ini. Mamah membuat hanya untuk anak-
anaknya, kata mamah kalau dibuat sendiri
kebersihannya lebih terjamin, yang pasti aku dan
saudara-saudaraku tak perlu merengek minta

6 | Malaikat Pemberi Jiwa

dibelikan es mambo. Di zamanku dulu tahun 80-
an, es ini sangat terkenal dan aku selalu berebut
dengan adikku sepulang sekolah. Bahkan, karena
seringnya kami minum es mambo, mamah
mengajari kami membuat dan menjualnya.
Mungkin kalau di daerah Jawa Barat dikenal
dengan nama ‗es lilin‘. Nah, kalau es lilin ada
lagunya kalau es mambo aku belum dengar
lagunya.

―Ri, bantu mamah yah?‖ kata mamah
sepulang aku sekolah.

―Bantu apa Mah? Aku menaruh tas dan
berganti pakaian siap untuk makan. Sudah
terbayang sedapnya sayur asam buatan mamah.
Aku lihat mamah mengangkat baskom berisi air
berwarna merah, harum sirop merasuk lubang
hidungku. ―Mamah mau membuat es mambo?‖
tanganku sudah menjangkau centong yang ada di
baskom dan mengaduk-aduk isi baskom.

―Iya, ini mamah kasih selasih dan biji
mutiara.‖ Mamah menaruh selasih dan biji mutiara
di baskom. Sekarang air merah itu sudah ramai
dengan bertambahnya pasukan selasih dan biji
mutiara berwarna-warni dan tentu saja menggoda.
Wah, pasti enak yang pasti aku akan membawa ke
sekolah dua dan menyimpan dua untuk siang.

Seni Asiati Basin | 7

―Aku bantu tuang ke plastik ya, Mah.‖
Mulutku masih penuh nasi dan tangan kiriku
menjangkau plastik es.

―Makan dulu nanti bantunya habis Nuri
makan.‖ Mamah menjauhkan tanganku dari
plastik es.

―Asyik, bikin es mambo.‖ Adikku Tita
berseru sambil memegang baskom air merah.
Tangan mungilnya sibuk menyendok air dan
mengangkat biji mutiara dengan sendok. Sambil
tertawa Tita memakan biji mutiara. Matanya
mendelik-delik merasakan biji mutiara. Aku heran
mengapa harus mendelik seperti itu. Kalau kata
anak sekarang adikku ini lebay.

―Yah, kurang manis Mah.‖ Seru Tita. Muka
kecilnya mendadak mengerut. Mulutnya
dimonyongkan tanda penilaiannya pasti akurat.

―Masa sih kurang manis.‖ Mamah
mengambil air sirop dengan ujung tangannya. Tak
lama sesendok gula pasir yang putih sudah
tertuang di baskom. Adikku tersenyum bangga
karena penilaiannya tentang rasa es mambo
diapresiasi mamah. ―Es memang harus lebih manis
dari minuman, karena kalau sudah mengeras rasa
itu akan perlahan berkurang.‖ Itu alasan mamah
mengapa es yang dibuat harus manis berbeda
dengan minuman.

8 | Malaikat Pemberi Jiwa

Aku ingat benar hari dimana kamu
memulai usaha es mambo. Aku dan adikku Tita
tentu saja jadi pengusahanya hahahahaha. Es
mambo ini resmi menjadi dagangan aku dan adik.
Kenangan masa kecil tentang es mambo dan cara
kami berjualan begitu terpatri. Aku dan Tita tidak
berdagang keliling kompleks hanya menaruh
termos es di depan rumah dan iklan jualan kami
hanya omonganku pada teman-teman kalau kami
berjualan es mambo. Pelanggan kami tentu saja
teman-teman kami sendiri, tetangga kiri-kanan di
kompleks. Bahkan aku ingat untuk menarik
perhatian pembeli aku dan Tita pernah berebut es
mambo. Teman-teman yang melerai ikut
penasaran mengapa es tersebut jadi rebutan.
Ahaaa, taktik jualan kami berhasil semakin banyak
yang membeli, bahkan jenis es mambo yang
tadinya hanya berwarna mulai bervariasi. Mamah
memang selalu punya ide. Ada es mambo rasa
coklat yang dibuat dari susu coklat dan diberi
meisis, ada es kacang hijau, ada es ketan hitam,
bahkan ada es teh susu. Dagangan kami selalu
habis apalagi di samping rumah ada lapangan
tempat anak-anak bermain.

Ibu-ibu kompleks yang memiliki kulkas
pastinya juga membuat es ini. Banyak yang
menitipkan di warung-warung. Tahun 80-an
kulkas masih barang langka hanya satu dua

Seni Asiati Basin | 9

keluarga yang memiliki. Bapak yang mengajarkan
untuk menggunakan kulkas dengan bijak. Es
mambo buatan mamah dan cara kami menjajakan
memang berbeda dengan es mambo yang dibuat
ibu-ibu di kompleks. Aku tak tahu mengapa
mamah begitu pandai meramu es mambo. Kini es
mambo jarang dijumpai sesekali mamah masih
membuat untuk anak-anakku. Rindu es mambo
dan rindu masa kecilku.

Yang pasti aku bahagia menghabiskan masa
kecilku di rumah yang kami sebut ―rumah
mambo‖. Rumah inilah pertama kalinya keluarga
kami tinggal dan menginjakkan kaki di ibukota
Jakarta. Padahal aku lebih senang tinggal di kota
kelahiranku yang sejuk dan hijau di daerah
Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Rumah mambo
mengisahkan masa kecilku di belantara ibukota
yang bernama Tanjung Priuk.

Rumah mambo wilayahnya persis dekat
dengan pelabuhan Tanjung Priuk. Hanya karena
tidak banyak yang aku ingat di rumah Cipanaslah,
sehingga rumah mambo menjadi rumah masa
kecil dari ingatanku tentang sebuah rumah. Aku
dan ketiga saudaraku dilahirkan di Cipanas, tapi
tumbuh dan menghabiskan masa kecil di rumah
mambo. Sebenarnya ini kompleks perumahan
untuk para pengawal keamanan masyarakat.

10 | Malaikat Pemberi Jiwa

Sebuah rumah kompleks ―anak kolong‖, itu
julukan untuk kami anak kompleks.

Pindah ke Jakarta tidak ada dalam benakku
sebagai seorang anak. Kami anak-anak bapak
pastinya harus ikut kemana orang tua akan
membawa. Pindah ke Jakarta siapa yang tidak
mau, tetapi pindah ke daerah pantai dari daerah
pegunungan, sungguh jauh dari keinginan mamah.
Aku dan saudara-sadaraku masih kecil belum
mengerti apa yang diinginkan. Aku pernah
bertanya pada bapak mengapa harus pindah ke
Tanjung Priuk dan tidak meminta ke wilayah
selatan yang katanya lebih sejuk dan tidak gersang.
Bapak bilang tempat inilah yang cocok dengan
bapak. Kompleks ini dekat dengan tempat bapak
bekerja.

―Nuri mau tahu gak mengapa dinamakan
Tanjung priuk?‖ malam itu bapak menemani aku
dan saudaraku belajar. Kami diharuskan membaca
apa saja bacaan yang ada di rumah. Aku paling
senang membaca buku cerita terutama cerita
sejarah.

―Cerita Pak, ayo cerita!‖ aku memeluk
bapak meminta bapak cerita. kalau bapak bercerita
pastinya seru karena bumbu cerita bapak selalu
sayang untuk dilewatkan.

Seni Asiati Basin | 11

―Asyikkk, kita dengar cerita yah Pak?‖
adikku ikut bergelayut di pundak bapak yang
duduk santai di sofa.

Kakakku yang sedang membaca novel di
kamar ikut bangkit dan mengambil posisi di
sebelahku. Mulailah bapak bercerita. Bapak
bercerita tentang asal-usul nama Tanjung Priok,
yang antara lain konon berasal dari kata tanjung
dan priok. Kata bapak kata tanjung artinya daratan
yang menjorok ke laut dan kata priok (periuk)
yakni semacam panci masak dari tanah liat yang
merupakan komoditas perdagangan sejak zaman
prasejarah.
―Jadi panci itu namanya periuk yah Pak?‖ tanya
kakakku.
―Katanya seperti itu.‖ Bapak menyerumput teh
hangat yang diberikan mamah.
―Loh, kok bisa disandingkan dengan Periuk? Kalau
Tanjung aku tahu karena di Ancol aku melihat, tapi
mengapa Periuk Pak? Memang di Tanjung itu ada
pabrik pembuatan Periuk?‖ tanyaku masih belum
paham mengapa harus kata Periuk.
―Jadi dinamakan periuk, karena orang-orang yang
bekerja di perahu atau para nelayan selalu
membawa periuk untuk menanak nasi, selama
mereka di laut periuk nasi itulah yang menemani
untuk memasak.‖ Penjelasan bapak mulai masuk

12 | Malaikat Pemberi Jiwa

akal. Bapak melanjutkan lagi cerita daerah yang
menjadi tempat kami tinggal.
Belanda mengembangkan kawasan Tanjung Priok
sebagai pelabuhan baru Batavia pada akhir abad
ke-19 untuk menggantikan pelabuhan Sunda
Kelapa yang berada di sebelah baratnya. Sebab,
pelabuhan tersebut sudah menjadi terlalu kecil
untuk menampung peningkatan lalu lintas
perdagangan yang terjadi akibat pembukaan
Terusan Suez. Pembangunan pelabuhan baru
dimulai pada 1877 oleh Gubernur Jendaral Johan
Wilhelm van Lansberge (1875-1881). Beberapa
fasilitas dibangun untuk mendukung fungsi
pelabuhan baru, diantaranya stasiun kereta api
Tanjung Priok pada 1914.

―Oh pantas, ada rel kereta api yang melintas
di kompleks kita yah pak.‖ Kali ini mamah
menyahut sambil menidurkan adikku. Waktu itu
kadang-kadang ada kereta barang yang melintas di
kompleks kami.

―Ada lagi cerita tentang asal usul Tanjung
Priuk ini, mau dengar gak?‖ tanya bapak melihat
adikku sudah menguap. Mataku masih terang
benderang. Cerita yang disampaikan bapak
membuat aku seperti berada di Jakarta ketika
masih Batavia. Kalau ini yah pastinya lebay banget
yah.

Seni Asiati Basin | 13

―Mauuuuu, aku teriak lebih dahulu, Dek
jangan ngantuk yah, nanti gak selesai cerita
bapak.‖ Aku membujuk adikku yang mulai
meredup kedua matanya. Aku lihat adikku
mengangguk. Tita paling takut tidak kebagian
cerita bapak, karena bapak tak akan mengulang
kembali cerita yang sudah disampaikan. Adikku
ini badannya kecil dan orang kompleks sering
memanggilnya cingir alias kecil

―Mah, masih ada teh gak yah.‖ Bapak
berjalan ke dapur. Sebelum bapak sampai dapur
mamah sudah membawakan teh hangat. Bukan
hanya untuk bapak, tapi empat gelas teh hangat
mamah bawa. Yang pasti bapak akan dapat satu
gelas, aku, adikku, dan kakakku.

―Mah, berdua yah.‖ Kata Tita dengan mata
setengah mengantuk. Rambutnya yang berponi
dan hidung kecilnya yang mengendus membuat
mamah tertawa dan mengusap muka Tita.

Bapak melanjutkan ceritanya mengenai
sejarah Tanjung Priuk. ―Versi lain menyatakan,
nama daerah ini bermula dari nama pohon tanjung
(mimusops elengi) yang tumbuh menandai makam
Mbah Priok (Habib Ali Al-Haddad). Versi yang
lebih lengkap tentang sejarah Tanjung Priuk,
dikisahkan bahwa Mbah Priok yang biasa
dipanggil Habib, adalah seorang ulama kelahiran
Palembang pada 1727. Dia kemudian ke pulau

14 | Malaikat Pemberi Jiwa

Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Bersama
pengikutnya, Habib berlayar menuju Batavia
selama dua bulan. Lolos dari kejaran perahu
Belanda, kapalnya digulung ombak besar.
Sehingga semua perlengkapan di dalam kapal
hanya di bawah gelombang. Akibatnya, yang
tersisa hanya alat penanak nasi dan beberapa liter
beras yang berserakan. Habib sendiri ditemukan
tewas di sebuah semenanjung yang saat itu belum
punya nama.‖ Bapak mengendong Awan yang
bangun dari tidurnya.

―Wah, seru juga yah.‖ Komentarku
ditanggapi Tita dengan suara mendengkur.

―Di samping jenazahnya ditemukan pula
periuk dan sebuah dayung. Kemudian oleh warga,
sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa
dayung, sedangkan periuk diletakkan di sisi
makam itu. Konon, dayung tersebut tumbuh
menjadi pohon tanjung. Sedangkan priuknya
hanyut terbawa ombak. Tetapi, setelah empat
tahun, periuk itu konon kembali lagi ke sisi makam
Habib.Nah, cerita ini bapak baca di buku tentang
sejarah Jakarta loh.― Bapak menjelaskan darimana
bapak mendapat cerita ini.

―Aku mau baca bukunya, Pak.‖ Kataku
antusias. Tak ada yang membuatku penasaran
selain harus membacanya sendiri.

Seni Asiati Basin | 15

―Nanti bapak pinjamkan dari perpustakaan
kota tua yah, Ri.‖ Jawaban bapak membuat aku
semangat. ―Sekarang bapak lanjutkan cerita bapak
yah.‖ Kami semua mengangguk dengan
menyeruput teh hangat yang disediakan mamah.

―Kisah periuk nasi dan dayung yang
menjadi pohon tanjung itulah yang kemudian
diyakini sebagai asal usul nama Tanjung Priok.
Sedangkan panggilan Mbah Priok merupakan
penghormatan untuk Habib, yang makamnya kini
masih ada di daerah Tanjung Priuk dan sering
diziarahi warga.‖ Bapak menghabiskan teh yang
tersisa di cangkir.

―Dimana Pak, makam Mbah Priuk?‖
Mamah antusias sekali menanyakan bapak.
Rupanya mamah ikut juga mendengarkan cerita
bapak.

―Nanti kita berkunjung ke sana yah,
sekarang karena sudah malam, seperti biasa sikat
gigi, cuci kaki dan ti........

―Durrrrr,‖ serempak kami melanjutkan
kata-kata bapak. Berebutan aku dan saudaraku ke
kamar mandi. Celotehan kami masih nyaring
terdengar. Malam ini ada cerita yang bisa aku
banggakan pada teman-temanku kalau aku tahu
sejarah Tanjung priuk. Tapi sampai kami pindah
dari rumah mambo, bapak belum mengajak kami
pergi ke makam Mbah Pri.

16 | Malaikat Pemberi Jiwa

Cerita dari Rumah

Cerita bapak membawa kami untuk
lebih mencintai di mana kami
tinggal. Jakarta tahun 80-an, masih
sepi belum ada kemacetan yang kerap terjadi.
Kami masih bebas menggunakan jalan. Aku dan
teman-teman sering menggowes sepeda melintasi
jalan raya tanpa takut kendaraan yang melintas.
Bahkan jalan raya di depan kompleks perumahan
kami, yang lebar itu kami pergunakan untuk
bermain ―gobak sodor‖. Kami akan memberi garis
dengan kapur tulis yang diambil dari sekolah dan
menandai dengan garis wilayah permainan untuk
memainkan ―gobak sodor‖. Permainan anak-anak
yang seru dan perlu kekompakan tim. Permainan
yang kini jarang dilakukan anak-anak milenial.
Suara yang acap kami dengar dari rumah
mambo adalah klakson mobil besar pengangkut
barang atau kontener. Kalau pergantian tahun
suara terompet kapal dari pelabuhan menjadi
tradisi yang sayang untuk dilewatkan. Seingatku
bapak tak membolehkan kami menunggu malam
pergantian tahun. Pukul 21.00 setelah menonton
acara di televisi, bapak berpesan agar kami tidur.

Seni Asiati Basin | 17

Biasanya mamah yang menyuruh katanya disuruh
bapak yang sudah dari pagi pergi dinas. Perintah
mamah aku tahu kalau ini pasti kekompakkan
orang tua untuk menyuruh anaknya tidur.

Bapak setiap pergantian tahun tak pernah
pulang. Jawaban yang aku dengar dari mamah
kalau aku tanya mengapa bapak tidak pulang
setiap malam pergantian tahun, katanya bapak
harus menjaga keamanan Jakarta. Aku dan adikku
sering terbangun bahkan menunggu bunyi
terompet kapal dengan sembunyi-sembunyi.
Terompet itu bersahut-sahutan dan berirama
indah, yang mampu membuat kami bersorak tanpa
sadar karena ingat besok sudah berganti tahun
(padahal tak ada bedanya ganti tahun atau tidak
hahahaha).

―Mah, kenapa bapak selalu tidak pulang
kalau tahun baru?‖ tanyaku pada mamah. Pagi itu
di awal tahun mamah selalu masak enak. Biasanya
juga enak. Nah, enak menurutku karena mamah
memasak ayam yang super pedas dan sayur sop
yang penuh telur puyuh. Sedapkan! Biasanya
menu ayam hadir kalau hari istimewa misalnya
ada yang berulang tahun. Walaupun kami tidak
dibiasakan merayakan tetapi sebagai wujud syukur
mamah akan memasak menu yang tidak biasa.

―Bapak sibuk menjaga keamanan Jakarta.‖
Jawab mamah sambil menggendong adikku yang

18 | Malaikat Pemberi Jiwa

bungsu. Aku membantu mamah membersikan
cangkang telur puyuh, sambal kuhitung ada
berapa kali ini telur puyuhnya. Adik bungsuku ini
satu-satunya keluarga kami yang lahir di rumah
mambo dan kini menjadi satu-satunya anak laki-
laki di dalam keluarga kami setelah kepergian
kakakku.

―Kenapa bapak terus, kan banyak anggota
keamanan yang lain?‖ tanya kakak sulungku.
Tangannya mengambil dua butir telur puyuh yang
sudah aku lepas cangkangnya. Mataku mendelik,
mau marah sih tapi mata teduh mamah
membuatku tak melanjutkan marahku.

―Semua punya tugas masing-masing, dan
bapak bertugas setiap pergantian tahun.‖ Kata
mamah menjelaskan. Kakakku hanya mengangguk
entah setuju entah tak peduli dengan penjelasan
mamah. Mulutnya masih penuh telur puyuh,
sebelum tangannya menjangkau telur puyuh yang
kelima mamah sudah menyingkirkan tangannya.
Aku tersenyum meledek.

―Tapi kenapa bapak selalu bertugas di
malam pergantian tahun, jadi kami tak pernah
dengan bapak. Aku mau lihat bunyi kapal dari
dekat Mah.‖ Kataku dengan nada protes. Aku
sudah siap dengan pekerjaan melepas cangkang
telur. Mamah mengangsurkan adikku untuk
kugendong. Tangan mamah dengan cekatan

Seni Asiati Basin | 19

menghaluskan cabai yang lumayan banyak. sudah
terbayang pedasnya ayam buatan mamah dan
sedapnya sop telur puyuh nanti.

―Kembang api dari Ancol, pasti bagus deh
kalau kita lihatnya dari dekat.‖ Adikku Tita yang
baru bangun tidur menambahkan. Pergantian
tahun di Jakarta setelah kepindahan kami dari
Cipanas, memang tak pernah bersama bapak,
walaupun kenangan pergantian tahun di Cipanas
juga tak ada yang aku ingat. Biasanya pergantian
tahun di Cipanas selalu diguyur hujan dan kami
sudah menarik selimut, selain karena udara yang
dingin, juga suasana Cipanas yang sepi.

Kali ini mamah hanya diam saja. Mamah
mungkin tak mau ribut apalagi adikku yang
bungsu rewel. Pertanyaan yang tak bisa dijawab
itulah yang membuat kami bisa berwisata tepat
tanggal 1 setiap awal tahun. Bapak pulang dinas
hampir jam makan siang setelah salat bapak akan
mengajak kami berwisata ke Ancol atau Taman
Mini. Bapak menebus apa yang tidak bisa
diberikan di malam pergantian tahun dengan
kami, anak-anaknya.

Mamah akan membawa tikar yang cukup
lebar sehingga bapak dapat beristirahat sambil
menunggu aku dan saudara-saudaraku mandi di
laut Ancol. Kadang malah bapak tak bisa istirahat
ada saja keusilan kami mengajak bapak bermain.

20 | Malaikat Pemberi Jiwa

Laut ancol yang selalu saja ramai, masih bersih
belum banyak sampah seperti sekarang. Air laut
masih jernih belum tercemar.

―Ayo bangun, mau ikut gak berenang?‖
bapak membangunkan aku dan adikku yang
tertidur sehabis makan siang. Kami tertidur karena
menunggu kepulangan bapak. Tapi mendengar
kata ‗berenang‘ dengan segera aku bangun dan
teriak membangunkan adikku. Tempat tidur yang
kami tempati adalah tempat tidur dengan ranjang
besi bertingkat dua. Aku dan adikku tidur satu
tempat tidur di atas. Tempat tidur bawah kakak
perempuanku. Kakak laki-lakiku tidur di kamar
lain.

Kawasan ancol memiliki pantai yang bersih
dan landai yang dapat digunakan untuk bermain
air atau berenang dan aman bagi orang dewasa
maupun anak - anak. Di sekitar pantai terdapat
pepohonan rindang yang dapat digunakan untuk
berteduh dari terik matahari ketika waktu siang,
ada juga tenda - tenda pantai dan alas tikar yang
disewakan di sekitar pantai ancol bagi yang
membutuhkannya. Tempat wisata ini dekat
dengan rumah kami hanya berjarak 2 km. Bapak
selalu mengajak wisata kesini. Kata bapak
membiasakan untuk mencintai laut. Setelah
semalaman dipenuhi lautan manusia, siang hari ke
Ancol memang kenikmatan tersendiri. Biasanya

Seni Asiati Basin | 21

kami akan menghabiskan waktu sampai matahari
terbenam. Menikmati matahari yang malu-malu
terbenam merupakan kenikmatan tersendiri.

Setelah aku dewasa aku mengerti lelahnya
bapak setelah semalaman menjaga keamanan
Jakarta pulang ke rumah kemudian masih sempat
mengajak anak-anaknya berwisata. Lelah bapak
tak pernah ditampakkan, malah kadang adikku
meminta bapak menemaninya berenang. Sampai
di rumahpun, bapak masih membantu mamah
membereskan rumah, entah kompor yang
sumbunya pendek, atau kran kamar mandi yang
rusak gara-gara ulah kami yang berebut mandi.
Maafkan kami pak.

Kompleks kami disebut daerah Pos 9. Dekat
sekali dengan terminal Tanjung Priuk dan
pelabuhan Tanjung Priuk. Daerah kami sangat
ramai dan menjadi sentral perindustrian yang
sibuk dengan lalu lalang angkutan barang impor
dan ekspor ke berbagai negara. Angkutan umum
yang melintas masih bisa dihitung. Aku ingat
pada tahun itu, ada transportasi yang sering kami
gunakan bila bepergian yaitu oplet. Kalau ingat
atau pernah menonton sinetron di salah satu
televisi swasta tentu tahu jenis angkutan ini. Yah,
angkutan ini adalah transportasi andalan dalam
sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”. Oplet masa kini
digantikan oleh kendaraan yang lebih layak atau

22 | Malaikat Pemberi Jiwa

angkutan penumpang kota. Pada 1960-an dan
1970-an oplet menjadi kendaraan umum paling
populer di Jakarta. Tak terkecuali daerah Priuk
yang menjadi target operasi oplet.

Anak-anak zaman sekarang bila melihat
oplet akan menganggap kendaraan kuno. Waktu
itu kalau mamah mengajak naik oplet, aku dan
saudaraku senang bukan kepalang. Kami tahu
akan diajak pergi jauh dan pastinya ke tempat
wisata atau ke pasar. Oplet memang kendaraan
yang unik dan sekarang menjadi antik. Oplet
memiliki lampu sen—lampu tanda penunjuk
belok—yang sangat unik, berada di luar sisi kanan
dan kiri. Kalau akan berbelok ke kanan, maka
tongkat kecil berwarna kuning jreng akan naik
seperti portal. Begitu juga yang sebelah kiri.
Klakson oplet juga unik karena terdapat di bagian
luar. Memakainya harus dipencet-pencet karena
terbuat dari karet. Bunyinya teot-teot-teot. Wahhh
kalau semua oplet berpapasan jalan akan riuh
bunyinya.

Rumah mambo inilah masa kecilku di kota
Jakarta dimulai. Di seberang jalan kompleks rumah
mambo atau dekat dengan pasar Koja, letak
sekolahku dan saudara-saudaraku. Sekolah dasar
Sulawesi 02 namanya. Ingatanku melayang ke
tahun 80-an, ketika petinju legendari Muhammad
Ali bertarung dan kami siswa sekolah diliburkan.

Seni Asiati Basin | 23

Sampai sekarang aku tak tahu mengapa harus
diliburkan. Pada saat itu merupakan hari yang
sungguh menyenangkan bagi para murid. Aku dan
teman-temanku bisa bermain ‗gobak sodor‘
sepuasnya di jalan raya Pelabuhan. Jalanan sepi
hanya sorak sorai para penonton televisi yang
menyaksikan pertandingan petinju Muhammad
Ali.

Bapak menjadi orang yang paling sibuk bila
ada siaran tinju Muhammad Ali di televisi. Kata
bapak, di kantor semua mata tertuju pada benda
kotak ajaib hanya demi melihat pertarungan
petinju legendari itu. Bahkan cerita dan berita
setelah pertandingan menjadi bahan perbincangan
di mana-mana. Aku cukup menyimak bagaimana
bapak mengajak mamah yang hanya mengangguk-
angguk setuju ketika bapak dengan gayanya
mendemonstrasikan bagaimana pukulan Ali yang
berhasil meng-KO lawannya. Masa itu sebuah
berita menjadi santapan yang murah untuk bahan
perbincangan.

Rumah mambo dan kenangan yang
membalutnya menjadi saksi bahwa kaki kami
anak-anak bapak siap bertarung dengan buasnya
Ibu kota. Tak lama kami tinggal di rumah mambo,
karena daerah tempat tinggal kami harus menjadi
bagian perluasan dari area pelabuhan Tanjung
Priuk, kami harus pindah. Rumah mambo

24 | Malaikat Pemberi Jiwa

mengisyaratkan bahwa kami sudah menjadi bagian
dari warga Jakarta. Kami sudah di kota Jakarta
dengan ragam masyarakat dan lingkungan yang
mungkin tak ramah. Polusi dan panasnya udara
laut membuat kulit kami menjadi sedikit demi
sedikit menjadi coklat. Aku yang belum terbiasa
tinggal di daerah berhawa panas jatuh sakit selama
sebulan. Kata dokter yang merawat, seiring waktu
aku akan beradaptasi dengan lingkungan.

―Ri, kok sedikit makannya?‖ tanya bapak
sepulang dari berdinas. Sudah tiga hari aku sakit,
makanpun sedikit yang masuk ke perutku. Pagi itu
bapak membelikan bubur ayam, makanan
kegemaranku.‖Makan Ri, bapak beli bubur ayam
nih.‖ Bapak menunjukkan kantong plastik yang
dibawanya. Bapak yang baru pulang setelah piket
semalaman masih sempat mampir untuk membeli
bubur makanan kegemaran anaknya.

―Nuri lagi gak mau makan pak, tadi sudah
makan roti dengan teh hangat.‖ Kataku dengan
malas. Kulihat bapak malah menuangkan bubur ke
mangkok dan menggoda dengan menyendok
bubur seolah-olah akan memakannya.

―Wihhh enak banget yah buburnya.‖ Bapak
terus menggoda.

―Sini, Pak kalau Nuri gak mau aku mau.‖
kata kakakku Susi yang bersiap berangkat sekolah.
Susi mengambil mangkok bubur dari tangan bapak

Seni Asiati Basin | 25

dan memakan bubur dengan lahapnya. Aku hanya
tersenyum, paling tidak bubur yang dibeli bapak
tidak sia-sia masih dapat nyaman masuk ke dalam
perut walaupun bukan perutku.

―Yah, sudah habis Ri.‖ Kata bapak
menunjukkan mangkok yang kosong. ―Nanti kalau
Nuri pengen, biar bapak pergi beli lagi yah.‖
Tangan bapak mengusap kepalaku. Aku hanya
tersenyum aku tahu kalaupun aku mau, rasanya
tak tega membiarkan bapak yang pastinya sudah
semalaman tidak tidur untuk pergi ke pasar lagi.

―Gak, Pak, Nuri sudah kenyang, nih lihat
perut Nuri sudah gendut kekenyangan.‖ Aku
tunjukkan perutku yang pastinya bapak tahu tak
banyak makanan yang masuk. Anak bapak yang
terlahir gendut yah aku. Waktu tinggal di Cipanas,
karena badanku yang gendut dan kulitku yang
putih banyak ibu-ibu kompleks yang gemas dan
selalu mencubit pipiku. Bahkan ada julukan ibu-
ibu komplek Cipanas untukku yaitu ―Mpok‖.
Mereka akan menggodaku setiap pulang sekolah
dengan badan yang gendut dan tas di punggung
berjalan tertatih-tahih membawa beban badan yang
besar.

―Mpok, kembangnya jatuh, Mpok.‖ Bu Yani
menggodaku sambil mencubit pipiku. Aku
meringis walaupun tidak sakit aku kesal dipanggil
―Mpok.‖ Kata bapak mereka banyak yang

26 | Malaikat Pemberi Jiwa

menonton film Benyamin. Aku hanya mengangguk
tak mengerti siapa Benyamin. Setelah tinggal di
Jakarta dan di lapangan dekat rumah ada
pertunjukkan film dengan layar lebar yang orang
bilang ―layar tancap‖ baru aku paham ada bintang
film namanya Benyamin S dengan lagu yang sering
dinyanyikan ibu-ibu kompleks. Panggilan ―Mpok‖
melekat di diriku hingga aku sekolah. Kadang aku
malu kalau teman-teman mamah yang main ke
rumah atau bertemu di jalan memanggilku
―Mpok.‖ Seiring berjalannya waktu panggilan itu
aku rindukan.

Tak lama rumah mambo harus kami
tinggalkan. Kawan-kawan masa kecil harus
terpisah, karena pemerintah menyediakan tiga
kompleks yang bisa dipilih. Bapak memilih
kompleks di Cilincing tak jauh dari rumah mambo,
berjarak 5 km. Tetapi panggilan ―Mpok‖ masih
melekat di diriku, bahkan orang rumah dan
saudara-saudaraku di kampung lebih mengenal
nama ―Mpok‖ ketimbang nama asliku.

Rumah Cilincing adalah rumah ketiga
keluargaku ini sama dengan rumah mambo,
kompleks khusus untuk pasukan keamanan.
Masyarakat sekitar menyebut kompleks rumah
kami ini dengan sebutan ‗rumah asrama‘. Daerah
rumah kami dekat dengan pantai Cilincing. Bapak
bercerita bahwa daerah Cilincing dahulu adalah

Seni Asiati Basin | 27

daerah perniagaan yang cukup ramai. Daerah
Cilincing sejak dahulu hingga sekarang menjadi
termpat transit yang paling dekat bagi para awak
kapal serta pekerja pelabuhan. Mengapa daerah itu
diberi nama demikian? Bapak pernah bercerita
mengenai asal usul nama Cilincing. Menurut
kisahnya, Cilincing diambil dari nama anak sungai
yang mengalir dari selatan ke utara, yaitu ―Ci‖
merupakan bahasa Sunda yang artinya sumber
atau aliran air atau sungai. Selain itu nama
Cilincing juga berasal dari nama jenis pohon yang
tumbuh di daerah tersebut pada masa itu, yang
diperkirakan mirip dengan pohon belimbing
wuluh (averhrhoa carambola). Pohon buah tersebut
banyak tumbuh di tepi dan sekitar sungai. Jadi,
nama Cilincing adalah kombinasi atau gabungan
dari nama sungai dan nama pohon buah sejenis
belimbih wuluh.
Sedangkan dalam sejarah kota Batavia, kawasan
Cilincing memegang peranan cukup penting. Di
daerah itulah pada 4 Agustus 1811 pasukan
balatentara Inggris yang jumlahnya hampir 12.000
mendarat. Pasukan balatentara Inggris mendarat
tanpa perlawanan dari pihak Belanda, yang pada
masa itu berada di bawah kekuasaan Prancis.
Demikianlah sejarah Cilincing tempat kami akan
menghabiskan waktu. Dari tempat yang dingin

28 | Malaikat Pemberi Jiwa

dan sejuk, keluargaku harus pindah ke tempat
yang panas dan sibuk.

Kompleks perumahan ini masih dihuni oleh
para pasukan pengaman masyarakat. Masyarakat
masih tetap menyebut anak-anak penghuni
kompleks sebagai ―anak kolong,‖ entahlah
mengapa kami disebut ―anak kolong‖. Kata
masyarakat karena orang tua kami adalah pasukan
keamanan yang biasa menjaga hingga kolong-
kolong daerah, ah aku tak paham maksudnya.
Hari itu sepulang sekolah aku ditanya teman
sekolah dimana tinggal.

―Ri, pulang bareng yah?‖ kata Heni
sepulang sekolah. ―Oh, ya rumahmu di mana?‖

―Aku tinggal di kompleks asrama Hen.‖
Jawabku sambil membereskan buku-buku.‖

―Oh, anak kolong rupanya.‖ Aku langsung
berhenti memasukkan buku-buku.

―Kok, anak kolong sih Hen.‖ Kali ini aku
benar-benar tidak suka Heni yang baru aku kenal
mengatakan kalau aku anak kolong. Aku harus
minta jawaban apa alasan Heni menyebut anak
kolong padaku.

―Yah, kata orang sini kalau anak yang
tinggal di kompleks asrama yah anak kolong, itu
sebutannya.‖ Aku tetap tak puas dengan jawaban
Heni. Tanpa menghiraukan Heni , aku bergegas
jalan pulang. Aku harus cepat sampai rumah,

Seni Asiati Basin | 29

bapak pulang tadi pagi setelah semalaman tidak
pulang. Akan aku tanyakan pada bapak arti anak
kolong.

Aku masuk pintu gerbang kompleks dengan
bergegas, bahkan Tita adikku setengah berlari
mengejarku. Rumah kami ada di barak sebelah
selatan menghadap ke utara. Setiap barak ada
tujuh rumah dan setiap barak saling berhadap-
hadapan. Rumah kami paling ujung atau biasa
disebut rumah huk. Kata orang kompleks, keluarga
yang menempati rumah huk adalah para anggota
pasukan yang sudah berpangkat lebih tinggi
daripada penghuni rumah lainnya. Pangkat bapak
saja aku tidak tahu.

―Assalamualaikum, Mah.‖ Aku sampai
rumah dan bergegas berganti pakaian.

―Adiknya mana, Ri?‖ mamah keluar dari
kamar sambil menggendong adikku.

―Tuh, Tita di depan langsung main
dempkrak.‖ Aku menunjukkan tas Tita yang aku
bawa. Kebiasaan Tita kalau ada temannya di
lapangan depan rumah pasti langsung main.

―Kebiasaan deh Tita.‖ Mamah ke depan
rumah dan berteriak memanggil Tita yang
bermain. Demprak adalah permainan yang seru.
Kalau aku bermain demprak sore, karena aku tak
tahan lapar. Aku tengok bapak masih tidur.
Rasanya jahat kalau aku ganggu hanya karena

30 | Malaikat Pemberi Jiwa

pertanyaan sepele. Sambil menunggu bapak, aku
ambil piring dan kutata di atas meja makan.
Mamah belum sempat menata hidangan gara-gara
Tita yang bermain.

―Mamah sudah bilang kalau pulang sekolah
ganti baju, makan tidur siang Tita.‖ Kudengar
mamah memarahi Tita sambil mengandeng tangan
Tita. Aku lirik Tita dengan ujung mataku hemmm
pasti Tita akan marah padaku.

―Mah, Tita main di depan rumah kok gak
jauh-jauh.‖ Tita menjawab dengan menunduk.
Adikku ini perawakannya kurus dan kecil.

―Ganti baju dan makan, lihat Nuri langsung
makan bukan main.‖ Mamah menurunkan adikku
dari gendongan dan membuka baju Tita. Walau
mamah marah tahu bagaimana memperlakukan
adikku Tita yang kalau merajuk pasti tidak akan
membuka bajunya.

―Ri, tadi aku sudah hampir menang loh.‖
Tita menjelaskan permainan yang dia lakukan.
―Aku sedang melempar, eh mamah datang.‖ Aku
mendengar cerita Tita sambil tersenyum. Kalau
sudah main Tita suka lupa waktu. Apalagi
permainan demprak, Tita paling mahir. Anak-
sekarang mungkin tidak tahu permainan demprak.
Untuk Memainkan Permainan ini kita
membutuhkan alat berupa : 1. Kapur jika bermain
di semen atau aspal , Jika Bermain di tanah hanyan

Seni Asiati Basin | 31

membutuhkan bite/Keramik . Fungsi dari kapur
tersebut untuk menggambarkan permainan ini. 2.
Pecahan Bite/Keramik untuk meleparkan ke arah
tempat yang bertujuan. Sebenarnya inti dari
permainan ini adalah kebersamaan. Permainan
tradisional yang nyaris punah. Adikku mungkin
bangga bila menang. Pemenang dalam permainan
ini adalah pemain yang terbanyak mendapatkan
bintang .

―Nanti sore, Ta lanjutkan lagi, aku ikut yah.‖
Aku sorongkan piring ke Tita yang tentunya masih
sibuk akan cerita. Tita senang sekali karena nanti
sore permainan lebih semarak karena aku akan
ikut.

―Asyik, ntar kita bikin kelompok kita
kalahkan Ajeng sama Ninuk.‖ Mata bulat Tita
semakin membelalak kalau bercerita. Tita bagiku
adalah Adik sekaligus teman. Wajah kami saja
hampir serupa. Kalau tidak karena tinggi badan,
warga di kompleks sulit membedakan.

―Eh, anak-anak bapak sudah pulang
sekolah.‖ Bapak keluar dari kamar dan
mengangkat Tita dari kursi. Tita tertawa senang
karena bapak mengangkatnya lebih dahulu
daripada Awan adik bungsu kami. ―Nuri juga
mau?‖ bapak menurunkan Tita dan mendudukkan
di kursi.

32 | Malaikat Pemberi Jiwa

―Ah, gak pak udah besar.‖ Aku tahu diri
badanku lebih besar dari Tita, pastinya bapak
kepayahan mengangkatku.

―Yuk, kita makan.‖ Bapak duduk di kursi
dan meminta piring padaku. Hari ini kami makan
berempat. Kedua kakakku belum pulang. Mereka
selalu pulang lebih lama karena jadwal
pelajarannya lebih banyak. Kulihat Tita sudah
sibuk dengan ayam goreng kesukaannya.
Mulutnya penuh. Sayur bayam yang dicampur
jagung memang nikmat sekali.

―Pak, Nuri mau tanya nih.‖ Aku membuka
percakapan setelah piring-piring bekas makan aku
letakkan di dapur.

―Mau tanya apa?‖ jawab bapak. ―Ada PR
yah?‖ kali ini bapak menyuruhku duduk di
sebelahnya. ―Mah, kopi yah enak nih habis makan
minum kopi.‖

―Kenapa teman-teman menyebut aku anak
kolong.‖ Akhirnya pertanyaan yang mengusik
hatiku aku luapkan pada bapak. Bapak
mengajakku duduk di sofa. Meja makan akan
dibereskan mamah.

―Lah, kenapa ga tanya ke mamah.‖ Jawab
bapak. Aku memang lebih condong bertukar
pikiran dengan bapak. Bukan karena mamah
hanya ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa.

Seni Asiati Basin | 33

Aku menganggap jawaban bapak adalah hasil
kajian dari luar.

Sebutan "anak kolong" sudah begitu melekat
bagi mereka yang orang tuanya dari kalangan
militer. Bapak menjelaskan apa yang aku tanyakan
lengkap dengan cerita. Hal inilah yang berbeda jika
aku tanyakan pada mamah. Istilah anak kolong
lahir dari proses yang panjang dan barangkali tak
pernah terbayangkan oleh mereka yang senang
dapat julukan anak kolong. Sebutan ini sudah ada
sejak era Koninklijk Nederlandsche Indische Leger
(KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Sebuah angkatan darat kolonial yang eksis sejak 4
Desember 1830 hingga 26 Juli 1950. Sekitar 75
persen anggotanya adalah orang-orang Indonesia
dari berbagai suku di Indonesia seperti Jawa,
Ambon, Minahasa, dan lainnya. Di masa kolonial,
sebutan anak kolong belum seumum sekarang.
Pada masa itu, sebutan anak kolong hanya
ditujukan kepada anak-anak serdadu rendahan,
alias anak serdadu yang berpangkat di bawah
kopral seperti soldaat, fuselier atau infanteris.
Intinya, anak kolong adalah serdadu-serdadu
bergaji paling cekak se-Hindia Belanda.

―Jadi seperti itu ceritanya Ri.‖ Bapak
menepuk pundakku dan mengangkat tanganku
untuk bangga menjadi anak kolong. Penjelasan
bapak membuatku tahu bahwa tidak selamanya

34 | Malaikat Pemberi Jiwa

anak kolong itu bermakna negatif. Tidak apalah
mereka menyebutku anak kolong yang penting
aku punya bapak yang sudah berjuang juga untuk
negara.

―Siap pak, Nuri bangga kok jadi anak
kolong.‖ Aku berdiri dan mengangkat tanganku
dan meletakkan di pinggir kening tanda hormat.

―Ayo, Ri kita tidur kata adikku Tita yang
sudah membawa buku cerita.‖ Aku tahu Tita akan
memintaku membacakan buku cerita yang tadi
malam baru setengahnya aku bacakan.

―Kita anak kolong yang hebat, Ta.‖ Kataku
pada Tita. Adikku hanya mengangguk tak
mengerti apa yang aku bicarakan.

Tinggal di kompleks asrama dengan sebutan
anak kolong sudah tak menjadi beban lagi buatku.
Layaknya rumah-rumah di kompleks ada tiga
kamar di rumah kami. Bapak dan mamah
menempati kamar di depan dekat dengan ruang
tamu. Aku bertiga dengan kakak dan adikku yang
perempuan di kamar kedua. Ada satu kamar
mandi yang selalu berebut kami gunakan di pagi
dan sore hari apalagi kalau berangkat sekolah.
Tempat tidur tingkat kami gunakan, kata mamah
agar kami anak perempuan satu kamar karena satu
kamar buat kakakku yang laki-laki. Aku dan
adikku mendapat bagian tempat tidur di atas.
Bagian bawah ditempati kakakku.

Seni Asiati Basin | 35

Keluarga Anugerah Terindah

Bapak yang masih aktif berdinas
menjadi roda penggerak di keluarga
kami. Mamah menjadi ibu rumah
tangga yang siap mendukung semua kebutuhan
suami dan anak-anaknya. Orang tuaku memiliki
lima orang anak. Aku anak ketiga berarti ada dua
kakakku dan dua adikku. Kakak pertamaku
perempuan bernama Susi. Kakak keduaku laki-
laki, walaupun laki-laki ia memiliki hobi sama
denganku ‗menari‘ namanya Iwan. Kami sering
tampil dalam acara-acara tujuh belasan atau
undangan dari organisasi remaja.
―Ri, besok kita latihan yah.‖ Kakakku Iwan
mengajak latihan menari. Sudah beberapa hari
kami latihan untuk acara ulang tahun kompleks
kami.
―Latihan di mana?‖ tanyaku.
―Di rumah Mbak Retno, itu loh yang
rumahnya dekat empang.‖ Kakakku Iwan memang
sering mengajakku ikut kegiatan menari.
Tangannya lemah gemulai ketika lagu terdengar.
Aku senang juga menari. Lewat musik aku dapat
bergerak bebas. Kenangan menari ini adalah

36 | Malaikat Pemberi Jiwa

kenangan terakhir dengan kakakku Iwan. Tetapi
warisan menarinya membawaku yang akhirnya
jadi tahu hobiku dan bisa berbagi dengan orang
lain.

―Tangannya yang tinggi, tekuk ke dalam
telapak tangan.‖ Kakakku melatihku menari.
Musik tarian dari lagu ―Sakura‖ yang dinyanyikan
Fariz RM. Iwan memberiku kipas besar untuk
berlatih. Malam minggu besok, kami akan tampil
di acara ulang tahun kompleks perumahan ini.

―Wan, gak ada apa hobi lain selain menari?‖
Mamah memang keberatan dengan hobi kakakku.
Kesannya kakakku kurang jantan bukan laki-laki.

―Mah, penari itu banyak loh yang laki-laki,
dengan menari kita peka terhadap suara yang
indah dan yang tidak enak didengar,‖ jawaban
kakakku membuatku tahu bahwa kepekaan suara
itu milik siapa saja.

Adikku nomor empat perempuan menurut
guru-guru di sekolah, adikku ini sangat pandai
matematika. Setiap tahun menjuarai lomba cerdas
cermat antar-SD namanya Tita. Adikku ini selalu
dipuji oleh guru kebetulan aku satu sekolah
dengan Tita. Bapak sengaja menyamakan tempat
sekolahku dengan Tita selain beda umur kami
hanya satu tahun, bapak juga tidak perlu repot
pindah sekolah kalau waktu pembagian raport.
Karena perbedaan kelas yang dekat itulah pergi

Seni Asiati Basin | 37

dan pulang sekolah aku selalu bersama. Bahkan
kata orang wajah kami hampir sama. Adikku Tita
senang jika aku ikut dia bermain bersama teman-
temannya.

Adik paling bungsu kami laki-laki namanya
Awan. Perbedaan usia kami dengan Awan cukup
jauh sehingga kami sering bergantian menjaga
Awan ketika mamah sibuk atau pergi ke pengajian.
Ada cerita yang aku ingat tentang Awan ketika aku
harus ke pasar disuruh mamah membeli sayur.

―Ri, ke pasar yah beli sayur sop, tadi di
tukang sayur kehabisan. Kata mamah waktu itu
aku sedang main lempar bola dengan Awan. Aku
letakkan bola dan mengambil uang yang diberikan
mamah. Belum sempat aku ambil uang dari
mamah. Awan menangis dan menunjuk aku.
Mamah mengendong Awan dan menyuruhku
pergi. Akan tetapi Awan tetap menangis dan
tangannya mengarah ke arahku. Akhirnya aku ajak
Awan ke pasar, untungnya Awan tidak rewel dan
mau jalan tanpa kugendong.

―Wah, Nuri hebat banget bisa ajak adiknya.‖
Bu Karti penjual sayur memujiku. Rasanya aku
merasa hebat masih kecil bisa menjaga adik.

Waktu itu bulan puasa. Awan merengek
minta dibelikan arum manis atau gulali. Uang ibu
cukup membelikan adikku gulali. Warnanya yang
menggoda hampir meruntuhkan puasaku. Pulang

38 | Malaikat Pemberi Jiwa

dari pasar Awan minta digendong dengan tangan
kecilnya yang sibuk menguraikan gulali. Salivaku
sudah turun naik melihat awan makan gulali tepat
di depan wajahku.

Kompleks dengan pasar tidak begitu jauh
tetapi karena sambil mengendong adikku jadi
terasa jauh dan godaan gulali membuatku tersiksa.

―Kak, gak mau lagi.‖ Awan memasukkan
sisa gulali ke mulutku yang langsung aku sambar
sebelum akhirnya tersadar kalau aku lagi puasa.

―Aduh, Dek kakak lagi puasa kok dijejelin
gulali.‖ Aku ludahkan gulali yang terlanjur
merangsek ke tengorokan. Rasanya mau nangis
aku tak bisa menggenapkan puasaku.

―Kalau gak sengaja gak batallah.‖ Kata
bapak waktu aku ceritakan masalahku.

―Mana bisa begitu Pak, Nuri pasti udah
menelan tuh gulali, orang kaya dia mana tahan
godaan.‖ Aku hampir menangis mendengar
celoteh kakakku.

Di keluarga kami kalau puasa satu bulan
penuh, bapak akan mengabulkan permintaan
kami. Tahun lalu aku dan kakakku Iwan yang
penuh puasanya. Adikku Tita belum sanggup
penuh puasa. Kakakku Susi seperti wanita lainnya
ada halangan. Aku meminta bapak membelikan
aku buku cerita bergambar. Tahun ini aku akan

Seni Asiati Basin | 39

minta kotak pinsil berwarna merah jambu yang
aku lihat di toko Bu Woto.

―Sudah… sudah hanya Allah yang bisa
menilai puasa kita, ingat yah ibadah puasa itu
hanya Allah dan yang menjalankan puasa yang
tahu apakah ia berpuasa atau tidak.‖ Bapak
menyudahi perdebatan gulali dengan bijaknya.
Bapak tetap membelikan aku tempat pensil dan
kakakku Susi tentu saja marah.

Rumah kami ada di blok W atau ada di
bagian belakang dari pintu masuk kompleks. Barak
di kompeks berjajar berdasarkan abjad mulai dari
gerbang kompleks barak blok A dan di akhiri
dengan kompleks di barak paling belakang blok Z.
Di depan rumah kami ada lapangan badminton
yang selalu ramai setiap malam oleh para pemain
lokal alias bapak-bapak para keamanan negara
yang berolah raga selepas berdinas. Bapak adalah
orang yang memunculkan ide pembangunan
lapangan badminton walaupun hanya diberi
adukan semen saja, diratakan dan jadilah lapangan
yang cukup nyaman. Di dekat lapangan
badminton ada sebuah bangunan berbentuk
persegi panjang. Bangunan ini berupa tembok
tinggi dua meter. Ukuran bangunan ini kira-kira 6
x 4 M2 dan terbagi dua. Bangunan ini merupakan
salah satu kebanggaan kompleks kami.

40 | Malaikat Pemberi Jiwa

Orang-orang kompleks menyebutnya ―bor
panas‖. Ada air hangat mengalir di tengah –
tengah bangunan dan ditampung dalam sebuah
bak besar. Banyak warga kompleks yang
memanfaatkan air hangat untuk mandi dan
mencuci pakaian, maklum air bersih tidak tersedia
di rumah. Air bekas mandi dari bos panas akan
mengalir ke penampungan air yang mirip empang.
Empang itu mengelilingi beberapa blok rumah,
sayangnya empang tersebut kotor dan tidak di
pagar. Beberapa anak pernah terjebak di empang,
untungnya tidak sampai tenggelam. Eceng gondok
penyebab anak tersebut terjebak, karena mengira
masih tanah yang dijejaki. Bapak mengerahkan
bapak-bapak kompleks untuk bekerja bakti
membersihkan empang. Sebulan sekali ada yang
membersihkan empang sehingga terlihat mana
yang masih tanah dan mana yang sudah tergenang
air.

Keberadaan bor panas paling tidak sudah
banyak membantu warga kompleks. Daerah
kompleks rumah kami ada di daerah pantai dekat
dengan pantai Cilincing, sehingga air tanah pun
susah. Kalaupun ada sumur warga airnya keruh
dan berwarna coklat tidak jernih untuk
menjernihkan para warga kompleks membuatnya
dengan bantuan pasir, batu bata, dan sapu ijuk.

Seni Asiati Basin | 41


Click to View FlipBook Version