Biasanya kalau sudah ramai perebutan kamar
mandi, aku selalu lari ke bor panas.
Keberadaan ―bor panas‖ menjadi salah satu
kenikmatan tersendiri selain jernih, air yang keluar
juga hangat makanya disebut ―bor panas‖. Sampai
keluarga kami keluar dari kompleks itu atau tidak
tinggal di kompleks lagi, aku tidak tahu mengapa
ada air hangat di wilayah kami. Padahal wilayah
kami ada di teluk Jakarta atau dekat dengan pantai
jauh dari gunung berapi atau hal yang berbau
kehangatan air dari sumber alam. Bapak pernah
bercerita bahwa air tersebut adalah hasil
pemanasan dari dasar laut. Loh kok bisa? Ah
bapak ada-ada saja.
42 | Malaikat Pemberi Jiwa
Ini Cara Bapak
Rumah masa kecil adalah sebuah
potret panjang bagaimana aku dan
saudara-saudaraku menghabiskan
cerita masa kecil kami. Di kompleks inilah bapak
mengajarkan aku dan keempat saudaraku untuk
mandiri, percaya diri, dan selalu menjaga diri.
Setiap hari bapak selalu mewajibkan kami anak-
anaknya melaporkan apa saja kegiatan yang kami
lakukan. Cara ini membuat kami anak-anak bapak
jadi percaya diri bila berbicara di depan orang.
―Sekarang Nuri!‖ kata bapak malam itu.
Bapak baru pulang dari dinasnya. Seperti biasanya
bapak selalu meminta kami anak-anaknya
melaporkan semua kegiatan yang kami lakukan
satu hari itu. Bapak akan duduk di kursi sambil
melepaskan semua atribut pakaian dinasnya mulai
dari ikat pinggang dengan ujung berwarna emas
berlogo kesatuan tempat bapak bekerja. Pangkat-
pangkat yang ada di bahu dan kantung baju bapak.
Bukan hanya itu dengan gayanya bapak
mengeluarkan pistol berukuran sedang yang tentu
saja berat yang dikeluarkan dari sarungnya. Bapak
akan mengusap pistol itu dengan lap hingga
Seni Asiati Basin | 43
mengilap sebelum meletakkannya. Aku dan
saudaraku tak ada yang berani menyentuhnya
karena kami mengerti bahayanya kalau ikut
memegang. Rasanya seram membayangkan pistol
itu ada di tangan bapak. Hingga bapak pensiun
dari pekerjaannya aku belum pernah memegang
pistol bapak.
―Nuri dulu Pak?‖ tanyaku pelan nyaris tak
terdengar. Aku takut dengan pistol yang bapak
letakkan di meja kecil sebelah bapak. Padahal aku
yakin tak mungkin pistol itu melukaiku. Sikapku
itu malah membuat bapak jengkel. Bapak paling
tidak suka bila sudah diperintah dan jelas kalimat
perintahnya masih bertanya. Aduh, pasti aku kena
marah bapak lagi nih. Benar saja belum sempat aku
bicara lagi bapak sudah berbicara dengan
kerasnya.
―Iya kamu? Tidak dengar tadi siapa yang
bapak suruh laporan duluan?‖ kata-kata bapak
membuatku tanpa sadar menggulung-gulung
ujung kaosku. Kalau suara bapak sudah keras itu
tanda kelelahan dan jengkel bapak.
Adikku Tita bersembunyi di belakang
tubuhku. Situasi seperti itu sebenarnya biasa,
setiap malam rutinitas demikian akan kami
lakukan selama masih ada bapak. Kadang aku dan
adikku Tita suka berdoa semoga bapak lupa.
Rasanya tak mungkin lupa karena bapak adalah
44 | Malaikat Pemberi Jiwa
orang dengan daya ingat luar biasa. Belakangan
baru aku sadari didikan bapak ini membuat aku
dan saudaraku lebih percaya diri dibandingkan
teman-teman lain.
―Hari ini Nuri ikut kegiatan senam Pak
untuk lomba senam kesegaran jasmani.‖ Aku
ceritakan bagaimana aku jadi kapten atau orang
yang paling depan di kegiatan senam itu. Akhirnya
lega bisa menyampaikan kegiatanku hari ini. Aku
sempat melirik Tita yang seperti biasa sudah siap
dengan catatannya. Tita tidak sepertiku yang
langsung melaporkan tanpa menyiapkan catatan.
Tita adikku ini sungguh tertib administrasi.
Laporan Tita biasanya runtun dan jelas. Hari ini
Tita melaporkan PR matematika yang berhasil
diselesaikannya dengan sempurna. Aku yakin Tita
akan mendapat nilai sempurna untuk matematika.
Kakakku Susi dan Iwan mendapat giliran
selanjutnya. Susi selalu melaporkan tidak sampai
tuntas. Laporan Susi hanya mengatakan kalau hari
ini Susi membantu mamah menjaga Awan. Aduh
itu bukan laporan memang kewajiban apalagi Susi
anak pertama. Yang aku senang mendengar
laporan Iwan. Kakakku ini pasti akan banyak yang
diceritakan. Aku belajar banyak dari kakakku Iwan
dalam hal bercerita.
Seni Asiati Basin | 45
―Mulai besok di kompleks kita ada latihan
karate.‖ Kata bapak setelah semua anak-anak
bapak menyampaikan laporannya.
―Siape nak melatih budak-budak ni, Pak?
Biasanya orang tuaku akan menggunakan bahasa
daearah kami untuk berbincang-bincang bila ada
hal yang khusus. Aku tahu dari nada suara mamah
yang terlihat keberatan dengan laporan bapak.
Aku mengerti sedikit Bahasa yang digunakan.
―Pak Dibyo, Ma. Pagian tadi bapak temu Pak
Dibyo di kantor, uji die kasihan nginak budak-budak
asrama dide ade gawe. ― kata bapak.
Di kompleks kami ada lapangan bola yang
berada di tengah-tengah kompleks. Lapangan bola
ini sering juga dimanfaatkan oleh warga untuk
berkumpul selain untuk berlatih bola. Kalau
malam hari lapangan bola hanya digunakan untuk
berkumpul atau anak-anak berlari-larian saja tidak
ada aktivitas yang ada manfaatnya.
―Tanyekah, titu bayar dide?.” Mamah bertanya
apa laihan karate nanti harus bayar. ―Ngatek duit
kalo bayar gale anak beranak.‖ Mamah sudah
memperhitungkan berapa biaya untuk empat
orang anaknya.
―Dide bebayarr, gratis titu.‖ Kata bapak.
Latihan karate gratis untuk anak asrama. Bapak
sudah mendaftarkan aku dan kedua saudara
perempuanku dan tentu saja kakakku Iwan untuk
46 | Malaikat Pemberi Jiwa
belajar beladiri karate. Latihan mulai diadakan
setiap malam Selasa dan malam Sabtu. Sebenarnya
aku tidak suka karate, aku senang menari bukan
ilmu beladiri.
―Perempuan itu harus punya kepandaian
ilmu beladiri biar bisa menjaga dirinya dari
gangguan manapun dan dari siapapun.‖ Kata
bapak pada aku dan kedua saudariku Susi dan
Tita.
―Tapi Pak, Nuri mau kursus tari saja.‖
Kataku sambil menunduk. Aku dan saudara-
saudaraku tak pernah memandang wajah bapak
kalau menolak. Bapak tidak suka penolakan tanpa
argumentasi yang jelas. Kali ini aku belum
menemukan jawaban yang pas untuk menolak
karena itu aku tak berani menentang bapak.
―Aku mau les matematika saja Pak, gak mau
ikut karate. ― kata Tita sambil memainkan ujung
gaunnya. Suara Tita tercekat, antara takut dan
malu.
Aku menunggu apa yang akan dikatakan
Susi untuk menolak perintah bapak. Hampir lima
menit suasana pada saat itu sunyi sampai bapak
berdiri dari tempat duduknya dan menunjukkan
koran pagi itu yang baru dibacanya. Bapak tak
banyak bicara hanya menyuruh aku membaca
dengan suara keras.
Seni Asiati Basin | 47
―Seorang pelajar SMP ditemukan tewas di
tepi kali dengan luka lebam diduga dianiaya.‖ Aku
serahkan koran pada bapak dan aku mengerti
mengapa bapak meminta kami semua anak
perempuannya untuk belajar beladiri. Bapak
menatap semua anak perempuannya dan matanya
berhenti pada kakakku Susi yang hanya sibuk
melihat ke televisi, ada acara kesukaan Susi pada
jam itu.
―Bapak tahu kalian keberatan, tapi di
kompleks ini ada yang mau melatih karate dan
semua latihan yang kalian lakukan dibiayai oleh
pemerintah yang menaungi kompleks ini, jadi
sayangkan kalau kalian tidak ikut.‖ Bapak
menjelaskan mengapa bapak ingin semua anaknya
belajar karate.
―Iya Pak.‖ Serempak aku dan dua
saudaraku menjawab.
―Sudah dengar tadi yang dibaca Nuri?‖ kata
bapak lagi. Aku dan Tita mengangguk dan tahu ke
arah mana pembicaraan bapak. Bapak sungguh
khawatir dengan kami tiga anak perempuannya.
Kekhawatiran bapak yang memang sangat wajar
mengingat lingkungan kota besar yang memang
rawan. Apalagi bapak kerap mendapat laporan
tindak kriminal.
―Latihannya di lapangan depan kompleks
kan, Pak?‖ tanyaku pada bapak.
48 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Iya, di lapangan jangan lupa jadwal latihan
dan jangan terlambat.‖ Bapak selalu menekankan
untuk disiplin dalam waktu itu yang akhirnya
mengajarkan kami di kehidupan.
Aku menatap pakaian putih-putih yang
kami kenakan. Pakaian karate dengan ikat
pinggang putih. Katanya kalau naik tingkat ikat
pinggang akan berganti warna. Aku hanya
merasakan sampai warna coklat selanjutnya tak
mengikuti lagi.
Usiaku dan Tita hanya terpaut satu tahun.
Sewaktu bapak meminta kami berlatih karate
usiaku baru 10 tahun berarti Tita 9 tahun.
Sedangkan kakakku Susi sudah kelas 2 SMP.
Kakakku Iwan kelas 1 SMP. Tahun itu Jakarta
sudah semakin rawan dengan tindak kejahatan.
Berita kriminal di televisi dan di koran, membuat
bapak dan mamah khawatir keselamatan kami,
anak-anaknya. Aku yakin apa yang diminta bapak
karena bentuk sayang bapak pada kami anak-
anaknya. Aku hanya berdoa semoga bapak nanti
mengijinkan aku ikut kursus tari. Selama ini aku
menari dengan diam-diam. Biasanya kakakku
Iwan yang mengajak ikut latihan tari.
Setelah malam itu, aku dan Tita berlatih
karate seminggu dua kali. Tanganku yang gemulai
karena terbiasa menari harus mengikuti irama
karate yang menghentak dan keras. Kakakku Susi
Seni Asiati Basin | 49
tidak berminat untuk ikut berlatih dengan alasan
sering sakit perut. Bapak tidak memaksa Susi ikut.
Bapak memang tidak pernah memaksakan
kehendak pada Susi. Tapi tidak demikian halnya
dengan aku dan Tita. Bapak cenderung memaksa.
―Kalian harus tahu kenapa bapak dan
mamah gak pernah memaksa Susi untuk
mengikuti kemauan kami.‖ Mamah bercerita
padaku sore itu ketika aku mengadu pada mamah
mengapa bapak tidak pernah menyuruh Susi
mengikuti keinginan Bapak.
―Susi dari kecil sering sakit-sakitan, bapak
dan mamah sangat khawatir.‖ Kata mamah lagi.
―Apalagi kalian tahu watak kakak kalian itu.‖
Aku tahu ke arah mana mamah akan
bercerita. Susi kakakku ini memang sering sakit-
sakitan. Selain itu Susi cenderung perasa. Kakakku
ini mudah menangis. Aku dan saudaraku memang
berbeda watak, tapi kami dididik untuk saling
menjaga dan menyayangi.
Cara bapak mendidik kami memang tak
akan pernah kami lupa. Aku menajdi pribadi yang
berani begitu pula dengan adikku. Bagaiamana
dengan kakakku? Hemmm cara bapak yang tidak
diikuti oleh kakakku membuatnya tak seberani
kami.
50 | Malaikat Pemberi Jiwa
Duka Keluarga
Kabar duka datang menimpa
keluarga kami. Waktu itu aku
sudah kelas 1 SMP dan aku satu
sekolah dengan kakakku Iwan. Seorang polisi
menyampaikan berita duka pagi itu ketika aku
selesai mandi dan mamah baru saja pulang dari
pasar. Aku bersekolah siang hari sementara Susi
dan Tita serta kakakku Iwan bersekolah pagi hari.
Polisi memberi kabar kalau kakakku Iwan
mengalami kecelakaan motor. Kakakku harus
meregang nyawa karena motor yang
dikendarainya bertabrakan dengan sebuah mobil.
Iwan kecelakaan akibat benturan yang keras antara
motor kakakku dan mobil yang belakangan
diketahui dikemudikan oleh seorang polisi.
Kakakku meninggal di tempat kejadian.
Sedangkan teman yang diboncenginya masih
sempat dilarikan di rumah sakit namun beberapa
saat kemudian meninggal dunia juga.
Berita duka itu membuat mamah terpukul
dan bapakku sedih berkepanjangan. Mamah masih
belum menerima anak kesayangannya harus
meninggal seperti itu. Aku ingat peristiwa itu
Seni Asiati Basin | 51
karena aku ada di rumah. Pagi itu ketika aku
sedang mengerjakan PR, Iwan yang sudah
berangkat sekolah pulang lagi ke rumah. Pagi itu
hari Senin, siswa sekolah akan melaksanakan
upacara bendera. Iwan pulang ke rumah bukan
karena perlengkapan sekolahnya belum lengkap.
Aku mengenal kakakku yang selalu rapi dan siap
bila pergi sekolah.
―Ri, Mamah mana? Tanya Iwan yang pagi
itu kembali ke rumah. Tadi Iwan berangkat
sekolah, mamah di kamar mandi sehingga ia tidak
pamit langsung pada mamah hanya berteriak dari
luar pintu kamar mandi kalau ia mau berangkat
sekolah. Kali ini pulang ke rumah mamah sudah
pergi ke pasar. Hal itu aku katakan pada Iwan.
―Ri, topi sekolahmu mana?‖ tanya Iwan
padaku lagi.
―Ada memang kenapa?‖ mataku tidak lepas
dari soal yang aku kerjakan.
―Pinjam. Ini teman kakak gak punya topi.‖
Di belakang Iwan sudah berdiri Johan sahabat
karib kakakku. Wajahnya meringis takut aku tidak
pinjami topi.
―Cepat ambil ntar keburu upacara, tambah
dihukum deh.‖ Kata Iwan lagi. Kakakku ini sangat
disiplin untuk urusan sekolah. Aku berikan topi
sekolahku pada Johan. Kedua sahabat itu melesat
dengan motor yang dikemudikan oleh kakakku
52 | Malaikat Pemberi Jiwa
Iwan. Masih sempat aku lihat motor yang
membawa mereka. Sebuah vespa tua yang aku
yakin dipinjam Iwan pada temannya di sekolah.
Bapak tak pernah membolehkan anak-anaknya
mengendarai motor karena menurut bapak belum
cukup usia. Kalau bapak tahu Iwan pulang
mengendarai motor, nanti malam pulang bapak
dinas pasti banyak petuah bapak untuk kami. Pada
akhirnya bapak tak sempat memberikan petuahnya
pada kakakku, karena Iwan tak bisa mendengar
petuah bapak lagi.
Tangis mamah pecah setelah berita duka
yang disampaikan polisi membangunkan seisi
kompleks. Berita kematian kakakku yang tragis
dimuat di harian ibukota yang isinya memang
berita mengenaskan. Berhari-hari mamah dilanda
kesedihan yang mendalam. Adik bungsuku jadi
ikut tak terurus. Tinggallah kami kakak-kakaknya
yang mengasuh. Mamah mengurung diri di kamar
tak mau makan sampai harus dipaksa. Keadaan itu
membuat sedih semua anak mamah.
Bapakku adalah orang yang demokratis.
Kejadian yang membuat anaknya meninggal dunia
pun masih diperhitungkan dengan penuh
demokratis. Sementara mamah menuntut si
penabrak di hukum seberat-beratnya. Bapak malah
mencabut semua tuntutan. Bapak sadar nyawa
yang pergi tak mungkin diminta lagi pada Tuhan.
Seni Asiati Basin | 53
Bapak mengikhlaskan kepergian kakakku bukan
karena polisi penabrak adalah rekan sesama polisi.
Mamah tak menyadari jiwa besar bapak dengan
mengikhlaskan kepergian anak kesayangannya
yang diharapkan dapat mengantikan dirinya kelak,
merupakan keputusan yang sungguh berat untuk
bapak.
Keputusan ini memang membuat mamah
marah. Bahkan berhari-hari mamah tak berbicara
dengan bapak. Bapak memikirkan keluarga polisi
itu. Polisi yang menabrak kakakku memiliki anak
yang jumlahnya sama dengan keluarga kami. Kata
bapak akan banyak manusia yang kehilangan
kalau tuntutan itu tetap dilanjutkan. Akan ada
enam orang yang kehilangan dan pasti dampak
berikutnya banyak. Mereka akan kelaparan karena
tulang punggung keluarganya masuk bui. Bapakku
memang hebat, tak kubayangkan jika ini terjadi
padaku.
Awalnya mamah tidak terima tetapi
akhirnya mamah juga mengikhlaskan. Mamah
menyadari apalagi semenjak mamah terpuruk
dalam kesedihan anak-anaknya tak terurus. Anak-
anak mamah terutama Awan adikku yang masih
butuh kehadiran mamah selama mamah berduka
diurus oleh kakak-kakaknya saja. Sesekali bapak
mengurus Awan yang juga rewel mungkin tahu
kalau ibunya berduka.
54 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Ayo, Mah makan.‖ kata bapak yang hari
itu terlihat lesu dan muka bapak terlihat lelah.
Bapak akan berangkat dinas yang pasti tidak akan
pulang semalaman. Beberapa minggu ini, aku dan
saudara-saudaraku di urus oleh keponakan bapak
yang memang datang ke rumah untuk mengurus
kami. Saudara bapak di kampung melihat
kesedihan mendalam yang dirasakan mamah
hingga aku dan saudaraku tidak terurus. Besok
keluarga bapak yang menjaga kami akan pulang ke
kampung. Pastinya bapak bingung siapa yang
akan menjaga anak-anaknya terutama Awan yang
masih kecil.
―Pak, Nuri kan masuk siang.‖ Aku berbicara
hati-hati kulihat bapak masih membujuk mamah
makan. ―Nuri bisa jaga Awan sebelum sekolah.‖
―Aku pulang sekolah Pak.‖ Adikku Tita
yang sekolah pagi juga menyodorkan diri untuk
menjaga Awan. Tita merelakan waktu bermainnya
demi menjaga Awan.
―Aku sore yah, Pak.‖ Kakakku Susi yang
biasanya tidak peduli dengan keadaan keluarga,
tergerak hatinya juga melihat keadaan mamah.
Kami sudah berkumpul di kamar
mengelilingi mamah yang terbaring lemah. Aku
lihat ada air bening di ujung mata mamah. Bapak
duduk di ujung tempat tidur masih memegang
Seni Asiati Basin | 55
piring. Perlahan mamah bangkit dan duduk
bersandar di tempat tidur.
―Sini, Ta dekat mamah.‖ Mamah memanggil
Tita dan memeluk Tita. Awan yang duduk dekat
Mamah merengek minta dipeluk juga. Aku dan
kakakku Susi ikut mendekat dan memeluk mamah.
Jadilah pagi itu kami berpelukkan. Kudengar
mamah terisak tangan mamah sudah penuh
dengan tubuh kami anak-anaknya. ―Maafkan
mamah yah, sayang.‖ Kali ini aku tak kuat juga
ikut menangis. Melihat aku menangis Tita pun ikut
menangis. Di antara anak mamah, aku memang
yang paling mudah menangis. Bahkan bercerita
saja aku acap kali tanpa terasa sudah tergenang
airmata.
―Nah, Mamah sudah pahamkan kalau
masih banyak anak-anak Mamah yang butuh
Mamah, ayo Mamah makan dan ikhlaskan
almarhum.‖ Bapak meminta mamah makan.
Dengan lahapnya mamah makan dan sesekali Tita
dan Awan mengambil baso di sayur capcay yang
dimakan mamah. Hari itu mamah menjadi pribadi
yang luar biasa sehabis makan, mamah bangun
dari tempat tidur dan mulai beraktivitas seperti
biasa. Pakaian dinas bapak yang masih teronggok
di bak cucian mulai direndam. Mamah melepas
kepergian bapak dan kami dengan senyum cerah
sambil menggendong Awan. Aku tahu hari ini aku
56 | Malaikat Pemberi Jiwa
akan makan sayur asam buatan mamah lagi dan
bapak dapat berdinas dengan tenang.
Kesedihan akibat kehilangan membuat
orang tuaku mengajak kami anak-anaknya
meninggalkan kehidupan kompleks yang ramai.
Kami pindah ke daerah dimana listrik dan air
belum terjamah tetapi masih dalam lingkup daerah
yang sama, kelurahan yang sama, kecamatan yang
sama di Jakarta. Kami harus meninggalkan teman-
teman yang sudah teramat akrab dengan kami.
Meninggalkan bor panas yang sudah menjadi
bagian dari diri kami. Yang pasti kami ingin
melihat mamah tersenyum dan melupakan duka
itu.
Seni Asiati Basin | 57
Tak Cukup Hanya Rumah
―Kumpul semua di ruang tamu, yah.‖ Kata
bapak selepas bapak makan malam. Waktu itu
kami masih tinggal di rumah asrama, seingatku
tiga bulan setelah kakakku Iwan meninggalkan
kami bapak memutuskan untuk pindah rumah.
―Ada apa Pak?‖ tanya Susi yang memang
sedang asyik dengan radio yang memutar
sandiwara radio yang kata Susi cukup seru dan
sayang ditinggalkan. Aku pernah mencuri dengar
sandiwara radio itu sewaktu tidur malam. Hanya
saja kalau aku dan Tita mencuri dengar, kakakku
Susi akan marah dan buru-buru mematikan radio.
―Hari Minggu kita pindah rumah, kalian
harus membereskan semua barang-barang kalian
sendiri, sementara bapak dan mamah
membereskan barang-barang yang ada di rumah
ini.‖ Bapak memberitahu dengan jelas dan tegas
bahwa semua barang kepunyaan aku dan
saudaraku harus dikemas sendiri. Bapak dan
mamah sudah menyiapkan beberapa kardus bekas
yang bisa kami pakai.
―Ri, itu semua barang-barangku kamu sama
Tita yang mengemas yah. Aku gak enak badan
58 | Malaikat Pemberi Jiwa
nih.‖ Kakakku Susi sudah memberi perintah dan
jangan harap aku dan Tita menolak. Pernah aku
menolak dan Susi marah sambil berteriak-teriak
yang membuat malu bapak dan mamah. Kejadian
itu sering terjadi dan jadi senjata Susi agar kami
menuruti perintahnya. Aku tentu saja malu kalau
harus bertengkar dengan Susi dan mendengar
teriakan Susi. Tetangga sebelah rumah orang Jawa
yang tutur katanya selalu lembut. Kadang tetangga
ikut menenangkan Susi untuk diam.
Rumah Dongkelan ini adalah obat untuk mamah
melupakan kesedihannya. Rumah yang
mengantarkan cinta buat hatiku. Rumah yang
meluluhlantakkan hatiku juga. Rumah ini adalah
rumah keluargaku yang penuh perjuangan. Bukan
karena rumah yang lain tidak ada perjuangan.
Rumah ini semua cerita terbangun dengan penuh
warna. Tahun 1980 daerah pinggiran di Jakarta
masih belum terjamah listrik. Sebenarnya rumah
dongkel atau kami menyebutnya rumah
perjuangan ini tidak jauh dari kompleks yang kami
tinggali masih dalam satu kecamatan bahkan satu
kelurahan. Hanya saja rumah inilah rumah yang
tidak termasuk dalam kompleks rumah negara
alias hasil perjuangan orang tua kami untuk
membangunnya. Sebuah rumah di lingkungan
masyarakat yang bukan berprofesi sama dengan
bapak. Bapak membeli tanah dari tuan tanah asli
Seni Asiati Basin | 59
Betawi. Luas tanah dan rumah lebih luas dari
rumah kompleks yang kami tempati.
Daerah rumah dongkel terletak agak jauh
dari jalan raya dan memang masih sepi. Tahun
1980 daerah rumah ini masih banyak sawah, jalan
belum beraspal, listrik belum masuk, dan air bersih
belum tersedia. Akses jalan menuju ke rumah
perjuangan masih sulit. Jalan yang harus dilalui
dari tanah yang licin bila musim hujan dan kering
berdebu jika kemarau. Warga juga harus berjalan
jauh untuk naik angkutan umum. Transportasi
menuju jalan raya tidak ada dan hanya tersedia
setelah kami berjalan kaki sejauh 2 km. Tidak
seperti rumah di kompleks yang pernah kami
tempati yang sama semua baik bangunan maupun
luas tanah. Bahkan warna cat rumah juga sama
tidak boleh beda maklumlah rumah pemberian
pemerintah. Rumah dongkelan berbeda bentuk
dan warna cat rumah. Ada yang rumahnya megah
luas dan penuh tanaman, ada yang rumahnya kecil
tanpa kamar. Bahkan masih ada rumah yang
beratap rumbia.
Awalnya aku dan saudaraku takut tinggal
di rumah yang dibangun bapak. Biasanya kami
selalu tinggal di kompleks. Rumah dongkelan
belum ada penerangan walaupun masih wilayah
Jakarta. Bukan itu saja sekeliling rumah ini masih
60 | Malaikat Pemberi Jiwa
sawah. Rasanya seperti tinggal di kampung bukan
di kota Jakarta.
―Aduh, Ri kok Lo bisa yah tidur di tempat
gelap gini.‖ Susi sudah mulai mengeluh.
―Udah ngantuk mah bisa ajalah.‖ Kataku
mantap. Keluhan Susi memang membuat sebal.
―Yah, Lo mah bisa ajalah emang tukang
molor.‖ Kali ini Susi menjawab sambil meledekku.
Aku tutup telingaku tak mau mendengar omongan
Susi. Kalau Susi diladeni omongan bisa-bisa
tidurku akan lama dan telinga ini siap-siap
mendegarkan keluh kesahnya. Padahal mamah
sudah mengingatkan bahwa rumah baru yang
akan kami tempati adalah rumah yang belum
berlistrik dan nyaman karena tidak bising dengan
suara anak-anak kompleks yang sudah malam pun
masih bermain. Kami akan senang karena rumah
kami dekat dengan masjid. Beberapa keunggulan
rumah baru sudah didengungkan mamah. Bagiku
ini adalah istana, aku harus membiasakan diri
dengan keadaan rumah.
―Mending tidur ajalah, cape kalau bahas
gelap dan terang.‖ Aku menjawab sambil menarik
selimut. Rumah ini memang berbeda dengan
rumah-rumah yang pernah kami tinggali. Selain
bukan rumah kompleks lagi, juga kami harus
membaur dengan anak-anak dari berbagai profesi
orang tuanya. Banyak juga pendatang seperti kami.
Seni Asiati Basin | 61
Rumah ini dibangun oleh bapak dan mamah
tiga kali lipat lebih luas daripada rumah mambo
dan rumah asrama. Proses pembangunan juga
membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kata
mamah semua perhiasan mamah habis dijual demi
mewujudkan rumah impian keluarga. Aku yang
pada waktu itu sudah bisa mengendarai motor,
sering ditugaskan mamah mengantar makanan
untuk tukang yang mengerjakan pembangunan
rumah.
Ada satu cerita yang aku ingat ketika aku
mengatarkan makanan. Hari itu sepulang
mengantar makanan, aku pulang ke rumah sendiri.
Mamah tidak ikut tinggal di rumah yang sedang
dibangun Motor yang aku kendarai melewati
rumah teman sekolahku. Temanku melihat aku
melintas kemudian berteriak memanggil namaku.
Aku yang mendengar panggilan itu menoleh dan
melambaikan tangan. Rupanya aku melaju cukup
kencang tangan kiri melambai dan tangan kanan
tetap pada gas motor, wajahku berpaling ke kanan
ke sumber suara yang memanggil. Ketika aku
sadari di depanku sudah ada sebuah becak yang
terparkir dengan abang becak yang tertidur di
dalamnya. Aku tak mampu mengelak dan
mengerem. Akhirnya becak aku tabrak dan atap
becak patah, patahan besi menusuk punggung
tukang becak. Peristiwa itu membuat orang yang
62 | Malaikat Pemberi Jiwa
melintas menepikan kendaraannya untuk
menolong. Para penolong itu mengeluarkan caci
maki yang memerahkan telingga.
―Makanya kalau belum bisa naik motor
jangan sok.‖
―Ngebut sih bawa motornya.‖
Beragam suara yang keluar. Hal itu tidak
membuatku gentar padahal usiaku baru 12 tahun.
Bapak mengajarkanku untuk bertanggung jawab.
Seketika itu pula abang becak aku bawa ke rumah
sakit dan becak yang aku tabrak aku titipkan pada
temanku yang bergegas datang ke lokasi kejadian.
Aku minta becak dibawa ke bengkel terdekat.
―Pak, Nuri salah maafkan Nuri yah. Mulai
sekarang Nuri gak mau bawa motor lagi.‖ Sore itu
aku menghadap bapak yang baru pulang dinas.
―Tukang becak bagaimana, Ri?‖ tanya
bapak yang sedang melepas kaos kaki.
―Tukang becak masih di rumah sakit Pak.‖
Jawabku tertunduk.
―Trus becaknya bagaimana? Rusak parah
atau rusak sekali?‖ bapak bertanya lagi. Kali ini
sambil melepaskan ikat pinggang yang sudah
menyesakkan badannya seharian.
―Becak sudah Nuri bawa ke bengkel sepeda
Pak. Tapi Nuri belum tahu berapa biayanya. Nanti
uang jajan Nuri bapak potong aja yah.‖ Kataku.
Kali ini keringat sudah membajiri sebagian
Seni Asiati Basin | 63
tubuhku. Aku tahu hukuman apa yang akan aku
terima dari bapak.
―Besok pulang sekolah kita bezuk tukang
becak itu.‖ Kata bapak sambil merebahkan diri di
sofa. Aku lihat betapa lelahnya bapak dan aku
sudah mengusik istirahat bapak dengan
masalahku. Suasana hening tiba-tiba hanya
terdengar suara televisi dan nyanyian dari kamar
Susi. Bapak terlihat memejamkan mata. Aku yang
melihat bapak seperti itu semakin merasa bersalah.
Bapak pasti pusing karena apa yang aku lakukan.
Terbayang susahnya bapak karena ulah anaknya
ini.
―Pak, mau teh manis.‖ mamah datang
dengan segelas teh manis.
―Boleh, Mah masih panaskan?‖ Bapak
bangun dan meminum teh yang dibawa mamah.
―Ah, segarnya, manisnya pas.‖ Bapak puas
dengan suguhan mamah.
Aku berdiri saja terpaku tak tahu harus
berbuat apa sampai bapak menyuruhku duduk di
sampingnya.
―Ri, kamu tuh hebat.‖ Ucapan bapak
membuatku terkejut.
―Wah, hebat apanya Pak, sudah
menyusahkan tuh dibilang hebat.‖ Tiba-tiba Susi
kakakku muncul dari kamar dan berdiri di pintu
kamar sambil memegang radio di tangannya.
64 | Malaikat Pemberi Jiwa
Rupanya suara nyanyian itu berasal dari radio
yang disetel Susi.
―Hebat itu bukan karena salah, hebatnya
Nuri bisa bertanggung jawab terhadap apa yang
sudah dilakukan. Untuk anak seumur kamu kelas 1
SMP perbuatan kamu tuh sudah hebat.‖ Kata-kata
bapak membuatku lega.
―Nuri hanya melakukan apa yang harus
Nuri lakukan, tukang becak itu harus segera
ditolong Pak.‖ Kataku sambil memandang bapak.
Kali ini bapak merangkul bahuku. Rasanya tuh
mau nangis, dada yang sesak karena bersalah dan
badan yang lelah harus mondar-mandir ke rumah
sakit terbayar sudah.
―Kamu anak bapak yang hebat. Tapi
kesalahan kamu dapat jadi pelajaran kalau bawa
kendaraan jangan sembarangan yah.‖ Aku
mengangguk tersenyum. Bapak mengacak-acak
rambutku dan mendekapku erat. Tak terasa air
mata mengalir dari pipiku.
―Wah, ga bisa gitu Pak. Nuri harus dipotong
uang jajannya.‖ Susi keluar dari kamar dan duduk
di depan bapak.
―Oh, itu pastilah. Nuri harus bertanggung
jawab terhadap biaya yang dikeluarkan untuk
pengobatan abang becak, perbaikan becak, dan
uang harian anak-anak tukang becak yang tentu
saja selama sepuluh hari bapaknya tidak bisa
Seni Asiati Basin | 65
menarik becak.‖ Penjelasan bapak membuatku
menjauh dan keluar dari dekapan bapak. Baru saja
senang sudah harus sedih memikirkan semua
biaya yang harus kutanggung. Berapa lama uang
jajanku harus dipotong bapak.
Susi yang mendengar penjelasan bapak
tertawa senang dan mengejekku. Aku tertunduk
kali ini air mata sudah membanjiri pipiku. Bukan
sedih memikirkan uang jajan yang tidak aku terima
entah selama berapa bulan melainkan mengapa
bapak tidak punya solusi dari masalahku. Katanya
aku anak kelas satu SMP yang bertanggung jawab,
akukan anak bapak masa bapak tidak mau
membantu. Jadi buat apa artinya orang tua bagi
anak seumur aku. Memikirkan itu tangisanku
berubah menjadi isakan yang akhirnya terdengar
oleh bapak.
―Rasakan tuh makanya jangan gaya-
gayaan.‖ Susi mengejekku dan berlari ke kamar.
Rasanya Susi puas melihat aku seperti itu. Padahal
Susi tidak pernah membantu mamah mengantar
makanan. Susi tidak bisa mengendarai motor.
Kalau diminta mamah naik becak mengantarkan
makanan untuk tukang, banyak alasan Susi untuk
menolak. Senjata paling ampuh adalah sakitnya.
―Mulai sekarang, Nuri harus menggosok
kepala ikat pinggang bapak dan menyemir sepatu
bapak sampai mengilap. Itu hukumannya dan
66 | Malaikat Pemberi Jiwa
dilakukan selama dua bulan.‖ Ucapan bapak
membuatku tersentak. Selama ini tugas itu tidak
pernah dilakukan oleh siapa pun. Kata mamah
kalau dilakukan orang lain, bapak tidak puas
kurang bersih, kurang mengilap, dan kurang pas
untuk ukuran bapak. Kali ini bapak mempercayai
padaku. Mamah saja tidak pernah dipercaya untuk
melakukan tugas itu. Bapak memang luar biasa.
Maafkan Nuri pak, sudah berburuk sangka.
―Bapak gak memotong uang jajanku?‖
tanyaku sambil memandang bapak. Kali ini bapak
tersenyum dan mengacak-acak rambutku lagi.
―Upah pekerjaan itu sepadan dengan semua
tanggung jawab yang sudah kamu lakukan.‖ Kata
bapak lagi.
―Kalau yang Nuri kerjakan kurang bersih
dan tidak kilap bagaimana Pak?‖ tanyaku hati-hati
kali ini aku takut salah karena semua atribut bapak
harus benar-benar kinclong.
―Nuri sanggup gak?‖ sebelum bapak
membatalkan niatnya, buru-buru aku mengangguk
setuju. Kata bapak. Aku sudah bisa diberi
kepercayaan merawat semua atribut pakaian
bapak. Pekerjaanku yang suka menolong mamah
ternyata diperhatikan bapak. Tak kuasa rasanya
membendung perasaan ini. Aku berteriak dan
memeluk bapak.
Seni Asiati Basin | 67
Bapak memang hebat bukan aku yang
hebat. Bapak tahu pelajaran apa yang bisa aku
ambil dari musibah ini. Susi yang tahu kalau
hukuman bapak adalah membersihkan atribut
pakaian dinas bapak, tidak terima. Kata Susi
pekerjaan itu hanya sepele saja dan iapun bisa
melakukan. Bapak menegaskan kalau keputusan
bapak harus dihormati. Hebatnya bapak untuk
meredam marah Susi, bapak menjanjikan kalau di
rumah baru nanti, Susi akan mendapat satu kamar
yang besar. Kali ini Susi menyetujui dan senang
sekali karena akan mendapat ruang kamar sendiri.
Adikku Tita senang karena uang jajanku
masih utuh, itu berarti aku dan Tita bisa makan
bakso sepulang sekolah. Aku dan Tita selalu
menyisihkan uang jajan setiap hari. Uang tersebut
kami gunakan untuk makan bakso mini di dekat
sekolah setiap hari Jumat. Kalau uang jajanku
dipotong pastinya aku akan minta bakso Tita dan
itu membuat Tita harus makan bakso sedikit.
Kejadian itu membuatku berhati-hati
berkendaraan.
Bapak benar, bersama itu akan
menyenangkan dan saling menguatkan. Berapa
kalipun kami pindah, jika bersama pasti akan
saling menguatkan. Itulah mengapa bapak harus
mengajak keluarganya mengikuti kemana bapak
bertugas. Ingatkan rumah pertama tempat aku
68 | Malaikat Pemberi Jiwa
dilahirkan di daerah sejuk dan dingin Cipanas,
Jawa Barat. Rumah itu tepat di depan istana
Presiden Cipanas. Bapak bertugas di istana waktu
itu menjadi penjaga istana Cipanas. Kami biasa
menyebut rumah Cipanas. Kemudian kami pindah
ke Jakarta dan tinggal di rumah mambo. Rumah
asrama menjadi rumah masa kecilku juga. Bapak
adalah abdi negara sehingga aku dan keluarga
harus mengikuti kemana bapak bertugas. Setiap
rumah memiliki cerita yang berkisah berbeda.
Aku tahu bapak sendiri terkesan dan
terkenang dengan rumah Cipanas. Kata bapak
rumah Cipanaslah awal kaki bapak berpijak di
tanah Jawa. Kami anak-anak bapak hanya
menyimpan memori sedikit mengenai tanah
kelahiran kami, yang teringat hanya hawa sejuk,
cemara berdaun hijau, delman, dan istana yang
berdiri megah di depan kompleks. Tidak demikian
dengan bapak, yang memiliki kisah indah di
rumah Cipanas. Bapak memiliki cerita sendiri
dengan rumah Cipanas. Kenangan bapak banyak
sekali di rumah Cipanas. Bapak memulai karier
pekerjaannya di daerah ini. Bapak mengawali
kisah hidupnya di bumi priyangan setelah
menempuh jalan berliku di kampung halamannya.
Perjuangan bapak inilah yang selalu diulang
dan menjadi sejarah indah buat kami anak-
anaknya untuk bertahan hidup. Rumah Cipanas
Seni Asiati Basin | 69
selalu diceritakan bapak bila kami berkumpul.
Sebuah kompleks untuk para pengawal yang
bekerja di Istana Cipanas. Sebagian orang
Indonesia tahu Istana Cipanas ini. Sewaktu aku
kecil pelataran depan istana bisa kami masuki, itu
pun bila keluarga istana tidak ada yang
berkunjung atau tidak ada acara di istana. Bahkan
kelahiranku menurut mamah dibantu oleh ibu
bidan istana, atau yang biasa membantu persalinan
anak-anak pegawai istana.
Rumas Cipanas adalah saksi sejarah
bagaimana bapak membangun karirnya. Setiap
sudut kompleks istana dan perumahan menjadi
sudut-sudut indah untuk dikenang bapak. Bapak
selalu mengajak berlibur ke Cipanas. Tidak ada
sanak saudara yang bisa kami datangi. Biasanya
aku akan memesan hotel atau villa. Bapak selalu
semangat bila diajak berlibur ke Cipanas. Ada saja
cerita bapak bila diajak berkunjung ke Cipanas.
―Ini dulu tempat bapak latihan.‖ Kata bapak
ketika kami berlibur ke Cipanas. Bapak akan
semangat bercerita pada anakku Naldi. Mata
bapak akan berbinat mengenang kisah di Cipanas,
tak heran kalau cita-cita Naldi anakku ingin
mengikuti jejak bapak.
Kenangan bapak akan Cipanas dan
kebanggaan bapak menaklukan tanah Jawa.
70 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Semoga ini rumah terakhir kita,‖ kata
bapak sambil mengikat dus-dus berisi perabotan
dapur mamah.
Rumah yang dibangun memang besar
daripada rumah yang di Cilincing, untuk ukuran
keluargaku yang biasa menempati rumah
kompleks. Luas tanah di rumah ini 15 x 20 M2.
Kamar tidur di rumah baru ini ada empat. Ini
berarti ada perubahan dalam pembagian kamar.
Kamar di rumah baru ini sangat luas dibandingkan
rumah kami di kompleks. Ada tiga kamar
berukuran 5 x 5 M2 , terbayangkan luasnya kamar
yang akan kami tempati. Satu kamar lagi
berukuran 3 x 3 M2 kata mamah kamar itu buat
adik bungsuku Awan. Bapak dan mamah pasti
menempati kamar tidur paling depan. Itu berarti
ada dua kamar lagi dan aku bisa membaca pikiran
bapak untuk menepati janjinya, pastinya satu
kamar buat kakakku Susi dan satu lagi buat aku
dan adikku Tita. Tebakanku tak meleset, aku tahu
jalan pikiran bapak. Susi tak mungkin bersamaku
atau Tita apalagi bapak sudah menjanjikan sebuah
kamar untuk Susi. Selain itu bapak melihat bahwa
semakin beranjak remaja, Susi sibuk dengan
dunianya. Kerjanya hanya di kamar mendengarkan
musik dan menonton televisi tanpa mau diganggu.
Dunia Susi memang berbeda dengan aku dan Tita.
Selama ini tak ada teman Susi yang berkunjung ke
Seni Asiati Basin | 71
rumah kami. Tidak seperti aku dan Tita, teman-
teman selalu berkunjung ke rumah. Sekadar main
atau belajar bersama.
Rumah ini juga rumah masa kecil walaupun
aku sudah beranjak remaja ketika menempati
rumah ini. Di depan rumah baru ini ada masjid
kecil hasil wakaf dari seorang juragan tanah.
Seiring perjalanan waktu dan pertambahan
penduduk masjid ini melebar. Ada jalan yang
lumayan lebar bisa dilalui dua mobil yang
berselisihan. Di depan pagar masjid ada pohon
buah kawista yang menempel dengan tembok pos
kamling. Pohon ini selalu berbuah tak mengenal
musim. Bila buahnya yang berkulit keras ini
matang pasti jatuh dan meninggalkan harum buah
yang sungguh nikmat. Sayangnya aku tak
menemukan pohon ini di daerah lain bahkan di
daerah di Indonesia yang kusinggahi.
Sejalan dengan pelebaran masjid, pohon
kawista ditebang. Sungguh disayangkan karena
buah ini sangat langka. Bentuk buah yang
termasuk kelompok jeruk-jerukan ini, seukuran
buah apel bersama kulit yang kuat dan juga tebal
mirip dengan batok kelapa serta bersisik semisal
kulit melon. kulit buah kawista ini memiliki warna
cokelat muda saat matang dan juga putih
kekuningan saat masih muda, lagi dagingnya
memiliki warna cokelat bersama biji-biji yang
72 | Malaikat Pemberi Jiwa
berukuran kecil 5 sampai 6 mm, berlendir dan
karena banyak maka biji-bijian ini sudah menyatu
dengan rasa buahnya. Daging buahnya lembut dan
masam namun legit berwarna coklat seperti dodol.
Harumnya buah kawista dapat tercium ketika
angin membawa harum buah yang matang dari
atas pohon. Konon, buah kawista ini berasal dari
india namun sudah menyebar luas ke wilayah Asia
Tenggara dan termasuk ke Indonesia.
Unik sekali buah kawista ini saat masih
muda. Buah kawista ini rasanya begitu pekat dan
asam segar sampai banyak yang menjadikannya
sebagai bahan untuk rujak. Aku sering membuat
rujak dengan adikku bila tanpa sengaja melintas
dan buah kawista mengejek minta untuk dipetik
padahal masih muda. Saat telah matang, buahnya
akan terasa manis legit sekali dan lezat serta
memiliki kandungan sensasi cola walaupun zat
sodanya tidak tinggi. kalau matangnya pada
pohon, buah kawista akan mengeluarkan aroma
yang begitu harum dan tidak jarang buahnya akan
jatuh sendiri ke tanah. kalau ini terjadi daging
buah kawista akan tetap aman sebab kulitnya yang
begitu tebal cukup dapat melindungi buah yang
ada di dalamnya.
Rumah ini juga menjadikan aku semakin
mengenal sosok bapak. Jalan menuju rumah kami
bila musim hujan pasti tidak bisa dilewati motor
Seni Asiati Basin | 73
apalagi mobil. Seperti kembali ke kampung yang
jauh dari Jakarta. Tanah liat dan hamparan sawah
yang membentang layaknya bermukim di
kampung. Belum lagi listrik yang belum menjamah
daerah rumahku ini yang membuat aku harus
selalu ada di rumah bila malam tiba. Setiap malam
aku dan adik-adikku belajar menggunakan
petromak yang bergantian dipompa bila nyala
sinarnya meredup. Kadang aku berpikir,
sebenarnya aku tinggal di Jakarta atau di kampung
yah? Bapak bercerita bahwa masih ada binatang
melata yang akan membuat kami takut. Awalnya
aku tak percaya, setelah menyaksikan sendiri
binatang ini melata di depanku ketika aku asyik
tidur di lantai. Binatang melata ini membuatku
menjerit dan jijik.
―Aduh, bapak seram banget sih. Gak ada
lampu, banyak ular, sepi lagi.‖ Itu protes Susi di
hari pertama kami tinggal.
―Pak, balik lagi yah ke rumah asrama.‖
Pinta adikku Tita.
―Kemana-mana susah, Pak. Masih Magrib
aja sudah gak bisa kemana-mana.‖ Aku ikut
menimpali.
Keluhan hari pertama di rumah baru ini
hanya ditangapi bapak dengan senyum dan
ucapan ―sabar pasti ada waktunya.‖ Teman-
temanku tak banyak yang berkunjung ke rumah
74 | Malaikat Pemberi Jiwa
baru ini. Selain jauh dari kendaraan umum, juga
jalan rumah kami yang sulit dilalui oleh sepeda
sekalipun.
Jalan tanah yang dijadikan jalan menuju
kampung rumah kami adalah tanah liat yang
melekat di sepatu atau sandal yang kami kenakan.
Kadang aku dan adikku tak memakai sepatu untuk
berangkat ke sekolah. Di ujung jalan beraspal, baru
aku dan adikku memakai sepatu setelah mencuci
terlebih dahulu kaki kami yang belepotan tanah.
Keadaan yang amat menyiksa terjadi apabila
musim hujan tiba. Selain tanah menempel di kaki
dan sepatu, juga aku dan warga kampung suka
terpeleset karena licinnya jalan yang kami lalui.
Kalau sudah demikian aku sering belepotan tanah
sampai sekolah bahkan karena malu aku sering
bolos tidak masuk sekolah, pulang lagi ke rumah.
Melihat situasi jalan yang sering merugikan
warga, bapak memiliki ide untuk bergotong
royong membangun jalan agar mudah dilalui.
Bapak mengumpulkan para tetua kampung dan
para pemuda dan secara swadaya dan swadana
dimulailah pembangunan jalan.
―Pak Haji, kita harus perbaiki akses jalan
biar mudah semua urusan.‖ Aku dengar bapak
ngobrol dengan pak Haji Gofur seorang sesepuh
kampung. Bapak meminta dukungan agar rencana
memperbaiki jalan bisa didukung oleh warga asli.
Seni Asiati Basin | 75
Keluarga kami adalah kaum pendatang, kata
bapak tidak etis kalau melangkahi warga asli yang
memang sudah sangat dikenal masyarakat. Proses
yang kata bapak lobi dilakukan di masjid sambil
berbincang hangat selepas sholat magrib sambil
menunggu waktu isya.
―Wah repot banget yak kalo suruh
kumpulin duit, kan Lo tahu sendiri warga pada
males kalo disuruh sumbangan.‖ Kata haji Gopur
dengan logat Betawinya yang kental.
―Usaha dulu pak Haji, siapa tahu banyak
yang mau menyumbang, kan kita gak tahu
bagaimana antusias warga kalau jalan sudah
dibangun.‖ Penjelasan bapak membuat pak Haji
Gofur mengangguk-anggukkan kepala.
―Ya udah, Lo jelasin dah ape aja yang mau
kite bikin buat nih kampung.‖ Kali ini terdengar
suara pak Haji Gofur mantap dan semakin percaya
dengan potensi bapak. Bapak membeberkan usul
tentang pembangunan jalan dengan detail. Aku
ikut mendengar karena kebetulan selepas magrib,
aku ikut pengajian oleh pak Ustad Ali. Banyak
anak-anak yang ikut pengajian, namun aku yakin
mereka tidak sepertiku yang suka menguping
pembicaraan orang dewasa. Sebenarnya kalau
bukan karena ada bapak dan aku dengar usualan
bapak, aku pun tak akan menguping pembicaraan
orang dewasa.
76 | Malaikat Pemberi Jiwa
Usulan bapak bisa diterima oleh para
sesepuh kampung terutama Haji Gopur. Aku
belajar dari bapak, Haji Gopur adalah sesepuh
kampung, kalau Haji Gopur setuju pastinya warga
asli kampung akan mengikuti Haji Gopur. Ah,
politik berbisnis bapak memang luar biasa. Jadi tak
perlu merayu semua warga. Cukup ambil hati Haji
Gopur. Setelah usulan diterima, bapak dengan
semangat mulai menyusun rencana apa yang lebih
dahulu menjadi prioritas untuk kampung ini. Kata
teman-teman sekolahku walau aku tinggal di
Jakarta, tetapi wilayah daerahku termasuk
kampung, sehingga mereka menyebutnya
Kampung Pedongkelan.
―Ri, sini deh.‖ Bapak memanggilku pagi itu.
Aku sudah siap berangkat sekolah. Aku pikir
bapak akan menyuruhku berangkat sekolah sendiri
naik becak seperti biasa kalau bapak tidak bisa
mengantarku.
―Apa Pak?‖ Aku mendekati bapak dan siap
menyalami.
―Ini tolong Nuri baca surat untuk warga,
apa yang kurang yah, nanti malam bapak pulang
kamu kasih tahu apa yang kurang. Biar bisa diketik
rapi dan dibagikan ke warga.‖ Bapak
menyodorkan kertas berisi tulisan tangan bapak.
Aku senang sekali dilibatkan dalam proyek yang
disusun bapak. Bapak tahu aku suka membaca
Seni Asiati Basin | 77
segala bacaan akan aku lahap dengan nikmat. Kali
ini aku diminta melihat kekurangan surat yang
ditulis bapak. Tulisan tangan bapak memang khas
sekali. Seperti tulisan orang tua zaman dahulu latin
bersambung dan sangat tegas. Tugas pertama dari
bapak ternyata nantinya membuatku paham
menyunting tulisan.
Mulailah pembangunan jalan di kampung
kami. Warga yang memiliki materi
menyumbangkan uang untuk membeli bahan
material. Warga yang tidak memiliki materi, bapak
minta membantu pembangunan jalan dengan
tenaga. Selama tiga bulan setiap hari Sabtu dan
Minggu para warga bahu-membahu membangun
jalan kampung.
―Pak Kapten, sisa adukan semen belum
datang.‖ Kata seorang warga pagi itu yang
menyapa bapak di teras rumah. Aku sudah bersiap
berangkat sekolah dengan bapak. Adukan semen
diperlukan untuk menguruk jalan yang akan
dilalui warga. Selama ini tanah yang dilalui adalah
tanah liat. Jika hujan tiba, terbayang beratnya kaki
melangkah karena tanah akan ikut.
―Nanti saya tanyakan pada mandor Pei
yah.‖ Bapak menenangkan warga. Besok hari Sabtu
pembangunan jalan tidak dapat dilakukan jika
adukan semen belum datang. ―Kalau sampai besok
pagi belum datang juga, kita ratakan jalan yang
78 | Malaikat Pemberi Jiwa
sudah ada adukan semen Pak. Nanti bapak bilang
ke warga yah.‖ Bapak benar-benar tahu apa yang
harus dilakukan dan pekerjaan dapat dikerjakan
dengan lebih teratur. Warga yang mengeluh
terlihat berseri-seri dan semakin yakin dengan
kepemimpinan bapak.
Akhirnya jalan kampung bisa dilalui dengan
nyaman walau hanya dari adukan semen dan
sampah besi. Jalan rumahku sudah nyaman dan
tidak kotor bila dilalui. Walaupun jalan belum
mulus seperti jalan aspal di kompleks kami,
namun sudah bisa dilalui tanpa harus berjuang
membuang tanah liat yang menempel di sepatu.
Jalan kampung kami kini terbentang di depan mata
dengan rapi. Semua warga senang, mereka
berterima kasih pada bapak. Sejak saat itu bapak
menjadi orang yang menjadi panutan juga tempat
berkeluh kesah warga.
Acara peresmian jalan kampung sengaja
diadakan walau hanya makan-makan kecil. Setiap
keluarga membawa tampah yang berisi nasi, lauk
(ada ikan dan telur rebus), dan sambal. Mamah
dan beberapa ibu membuat sayur asem yang
katanya sayurnya orang Jakarta. Semua makanan
digelar di sepanjang jalan waktu itu sudah sore.
Kami duduk beralas tikar yang sengaja digelar. Ide
bapak ini benar-benar luar biasa. Aku bisa
Seni Asiati Basin | 79
mengenal setiap warga kampung tanpa harus
susah payah mendatangi satu persatu.
―Ini anak pak Kapten nomor satu yah.‖ Kata
seorang warga yang melihatku mengangkat bakul
nasi.
―Bukan, ini anak saya nomor tiga yang naik
peringkat jadi nomor dua.‖ Bapak menjelaskan
mengapa aku menjadi nomor dua. Beberapa warga
ada yang mengangguk dan beberapa ada yang
masih sempat berbelasungkawa.
―Oh, jadi pak Kapten pindah karena ada
musibah yah.‖ Seorang warga bertanya pada
bapak. Aku yang mendengar kalimat itu kaget
karena kalimat itu akan membuka luka lama
mamahku yang duduk tak jauh dari bapak.
―Bukan musibah Pak Toto.‖ Kudengar
mamah bersuara. Aku yang tertarik dengan
perbincangan itu pura-pura sibuk membersihkan
tempat duduk.
―Iya Pak Toto, semua yag datang dari Allah
bukan musibah.‖ Kudengar Haji Gofur ikut
bersuara.
―Kami pindah karena dua tahun lagi bapak
pensiun, dan kami cukup tahu diri bahwa kami
tidak layak tinggal di kompleks itu.‖ Kata mamah
memberi penjelasan.
80 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Loh, memang kalau pensiun kagak boleh
ape lo pade tinggal di sono?‖ kali ini kudengar Haji
Gofur berbicara.
―Bukan tidak boleh pak haji, sebenarnya
perumahan itu untuk yang masih aktif, kalau
sudah pensiun yah harus tahu diri untuk keluar
dari kompleks. Cukuplah memanfaatkan
perumahan negara, selama ini harus menabung
agar dapat membeli rumah sendiri. Kalau kami
yang pensiun tidak keluar dari perumahan itu,
kasihan aparat yang masih aktif tidak dapat
rumah.‖ Bapak menjelaskan dengan panjang lebar.
―Nah, ape kata gue, keluarga pak Kapten
tuh tahu diri dah.‖ Kata Haji Gofur dengan
menyeruput kopi hitam.
―Iye Pak Haji, banyak noh yang kagak tahu
diri udah pengsiun masih ade aje yang ngejokrok
di situ‖. Kata pak Mirta.
Perbincangan terus berlanjut dengan
beragam cerita warga. Perjuangan bapak
mewujudkan jalan yang layak bagi kampung
Pedongkelan ini, membuat kami anak-anaknya
semakin kagum. Kami harus berjiwa sosial seperti
bapak. Bapak menjadi tokoh panutan setelah
pembangunan jalan, ada saja warga yang berselisih
datang ke rumah kami untuk meminta bapak
membantu perselisihan mereka. Ada masalah
utang piutang, masalah pertengkaran
Seni Asiati Basin | 81
antartetangga, bahkan pertengkaran suami istri.
Aku semakin kagum pada bapak yang mampu
menyelesaikan semua persoalan dengan bijak.
― Pak Kapten, maaf nih aye mau ngomong.‖
Sore itu rumah kami kedatangan suami istri. Aku
sudah kenal pasangan suami istri itu, mereka
tinggal di belakang rumah. Aku mengantarkan
minuman dan melihat Mpok Diyah sang istri
menangis.
―Ada apa ini.‖ Kudengar bapak bertanya.
―Ini Pak Kapten, aye punya istri kagak bisa
dibilangin.‖ Bang Apit terlihat marah dan
menunjuk-nunjuk istrinya.
―Kenapa istri kamu?‖ tanya bapak lagi.
―Dimane-mane dia punya utang, udah tahu
suaminya Cuma supir eh dia asyik bae ngutang
terus.‖
―Udah ditanya kenapa istri kamu ngutang.‖
Bapak bertanya lagi.
―Ah, die mah ngutang cuma buat foya-foya
aje pak Kapten.‖ Jawab Bang Apit. ―Coba aje Pak
Kapten, segale makanan die utang sama yang
ngider, belon lagi kulkas yang belon dicicil tiap
bulan, emang aye punya gaji, udah lah aye mau
cerein aje die, biar tahu rasa cari duit suseh.‖ Bang
Apit bercerita tanpa jeda.
―Wah, jangan gegabah dan emosi gitu. Ingat
loh kata-kata kamu itu doa.‖ Bapak mengingatkan
82 | Malaikat Pemberi Jiwa
bang Apit. Bapak menanyakan pada Mpok Diyah,
apa yang telah dilakukan oleh Mpok Diyah seperti
yang diceritakan suaminya.
―Iye, Pak Kapten, anak aye kalo ada tukang
jual kue yang ngider minta beli terus, kalo kagak
punya uang kate abang yang jual boleh ngutang
aye, ya udahlah biar anak adem seneng yang aye
ambil tuh Pak Kapten.‖ Mpok Diyah tidak
membela diri karena apa yang dilakukan semata-
mata untuk menyenangkan buah hatinya.
―Kan kagak mesti lo turutin kemauan anak
lo terus.‖ Kata Bang Apit masih belum puas
dengan jawaban Mpok Diyah.
―Gini aja yah persoalan kalian itu mudah,
kan Mpok Diyah gak kerja, bang Apit sudah
belikan kulkas, nah dimanfatkan tuh, buat es
mambo jual di depan rumah pasti laku.‖ Bapak
memberi jalan keluar yang bijak.
―Aye, kagak bise bikin es mambo, Pak
Kapten.‖ Mpok Diyah menjawab dengan
menunduk.
―Ntar saya yang ajarin, Mpok.‖ Aku yang
mendengar perbincangan itu ikut-ikutan bersuara.
Bapak menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku
sudah takut, pasti bapak marah karena aku sudah
ikut menguping pembicaraan dan ikut menyela
pembicaraan.
Seni Asiati Basin | 83
―Nah, ini Nuri mau mengajarkan, Mpok.‖
Kata-kata bapak membuatku mengangkat wajahku
dan tersenyum menengok ke bapak. Bapak
mengusap-usap kepalaku.
―Wah, boleh tuh ntar duit dari jualan es
mambo bisa buat nyicil kulkas dan kue ye.‖ Bang
Apit terlihat senang.
Akhirnya persoalan Mpok Diyah dan Bang
Apit dapat terselesaikan tanpa ada kata bercerai.
―Kamu hobi nguping yah?‖ Bapak
menjentik kupingku setelah suami istri itu pergi.
―Maaf, pak habis Nuri gak sengaja dengar
sih.‖ Aku mencoba membela diri.
―Gak, apa lain kali bapak justru minta
tolong Nuri yah kalau ada persoalan warga
kampung.‖ Aku mengangguk dan mengacungkan
jempol. ―Tugas Nuri mengajarkan Mpok Diyah
buat es mambo.‖
―Siap pak pokoknya ntar es mambo Mpok
Diyah paling laris deh.‖ Aku menyombongkan
diri, bapak tertawa melihat optimisme aku. Hari
itu aku belajar lagi dari bapak tentang menangani
sebuah persoalan dengan lembut dan sabar.
84 | Malaikat Pemberi Jiwa
Sepenggal Hati
Pohon kawista di depan rumah
menjadi saksi juga perkenalanku
dengan seorang pemuda kampung
yang mampu menggetarkan hatiku. Kepindahan
kami ke rumah ini membuat kampung menjadi
bertambah penghuni. Pemuda itu anak ketua RT
dan juga juragan tanah. Sikapnya yang santun dan
baik menjadi aku terpana. Usiaku masih 15 tahun
ketika hatiku mulai merasakan dawai cinta. Masih
bau kencur kata bapak jadi tak usah macam-
macam. Waktu itu bapak melihat kedekatanku
dengan pemuda itu. Kisah cinta yang kurasakan
indah dan penuh warna. Selama pembangunan
jalan, pemuda itu yang usianya lebih tua dariku
hanya terpaut dua tahun turut serta menyukseskan
pembangunan jalan. Badannya yang tegap dan
gagah mampu mencuri hatiku. Pemuda ini juga
yang membantu kepindahan keluargaku ke
kampung ini.
Saat itu aku memandang wajahnya karena
memang aku lihat ia cukup sigap membantu
kepindahan kami. Di antara banyak orang yang
membantu, aku hanya melihatnya. Aku lihat
Seni Asiati Basin | 85
lesung pipi indah, biasanya perempuan yang
memiliki lesung pipi indah. Saat itu aku tak
berpikir untuk mengenalnya.
―Pak Kapten, lemari mau ditaruh di mana?‖
seorang pemuda menegur bapak. Terlihat dua
orang pemuda berdiri di kiri kanan lemari
pakaianku. Pemuda itu sempat mencuri pandang
denganku yang sibuk membawa keranjang berisi
pakaian.
―Oh, itu lemari Nuri, bawa ke kamar yang
di depan yah Do. Aku dengar bapak menyapa
pemuda itu. Ternyata bapak sudah mengenal
pemuda itu, bahkan panggilannya saja bapak tahu.
Aku menebak kira-kira siapa nama pemuda itu.
Anto, Dodo, Dodi, Doli, Dido ada gak yah nama
lainnya yang berawalan dan berakhiran Do?
―Mbak, maaf jangan berdiri di pintu gak
bisa lewat nih.‖ Lamunanku dibuyarkan oleh
sapaan pemuda itu yang sibuk mengangkat lemari
dibantu dua orang pemuda. Tempatku berdiri
menghalangi jalan mereka.
Akhirnya aku tahu namanya, dia Aldo anak
ketua RT di daerah ini. Wajahnya yang tegas
dengan rahang yang kuat dan rambutnya yang
berombak memberi kesan kuat di hatiku. Hari itu
masih sempat aku mengucapkan terima kasih
karena sudah membantu kepindahan kami. Sejak
itu aku sering berjumpa dengannya di masjid
86 | Malaikat Pemberi Jiwa
untuk sholat magrib berjamaah. Mulanya hanya
sebatas menyapa, lama-kelamaan kami sering
berangkat sekolah bersama.
―Mbak, mau ke sekolah yah?‖ pagi itu aku
lewat depan rumah Aldo dan kulihat Aldo sudah
siap dengan motor besarnya dan baju seragam
dengan tangan yang digulung. Masa itu baju
dengan tangan digulung menjadi tren bagi kami
anak sekolah. Aku belum tahu di mana Aldo
sekolah kalau searah tentunya aku mau ikut.
―Iya, nih Bang.‖ Aku menunduk malu. ―Yuk
Bang kesiangan nih, ntar telat.‖ Aku menjawab,
sebenarnya aku menunggu jawaban Aldo yang
pastinya akan mengajakku. Berharap Aldo
mengerti kode yang aku kirimkan.
―Bareng yuk.‖ Kata-kata yang aku tunggu
akhirnya terucap juga. Dengan malu-malu aku
mengangguk dan duduk di boncengan dengan
perasaan campur aduk. Tanganku memegang besi
pinggiran motor. Baru kali ini aku diantar laki-laki
yang bukan bapakku. Rasanya sampai ke sekolah
lebih cepat dari sebelumnya. Usiaku sudah 15
tahun, mungkin ini yang dinamakan cinta. Sejak
hari itu Aldo sering mengajakku berangkat sekolah
bersama. Hingga suatu hari Aldo mengirim surat
padaku. Caranya cukup unik, ketika magrib tiba
aku lihat Aldo ikut pengajian Ustad Ali. Biasanya
Aldo tidak pernah ikut.
Seni Asiati Basin | 87
―Ri, pinjam Al Quran Kamu, yah.‖ Aku
memberikan Al Quran yang sudah aku baca.
―Lain kali bawa Al Quran sendiri, yah.‖
Kudengar Ustad Ali mengingatkan Aldo. Teman-
temanku masih sibuk dengan bacaannya dengan
khusu. Aku sibuk mengajarkan adik-adik yang
usianya di bawahku.
―Ri, terimakasih yah Al Qurannya.‖
Sepulang pengajian Aldo menjejeri langkahku.
Aku tersenyum dan bergegas jalan menyusul
teman-teman. Padahal rumahku searah dengan
rumah Aldo.
―Suitt ... suitt ada yang pedekate nih.‖ Yani
mengodaku.
―Apa, sih Yan.‖ Aku menunduk malu. Aku
menerima Al Quran yang disodorkan Aldo dengan
hati tak karuan.
Kisah cintaku yang kata bapak masih bau
kencur hanya sebatas curi-curi pandang saja. Setiap
lewat depan rumahnya aku selalu mencari alasan
agar dapat berhenti dan memandang rumahnya.
Setiap aku disuruh mamah ke pasar, aku akan
lewat depan rumah Aldo. Sekarang Aldo ikut
pengajian bersamaku. Itu tandanya Aldo pun
punya perasaan yang sama denganku. Pulang
pengajian aku berbaring mengingat momen
romantis tadi walau pun hanya meminjam Al
Quran. Kupandangi Al Quran yang tadi dipinjam
88 | Malaikat Pemberi Jiwa
Aldo. Tanpa sengaja aku balik Al Quran mencari
tahu apa yang dibaca oleh Aldo.
―Apa nih.‖ Aku lihat kertas putih
menyembul di antara Al Quran. Dengan hati tak
menentu aku buka lembaran putih. Surat dengan
tulisan yang rapi. Kubuka perlahan tulisan di
kertas putih dengan perasaan yang luar biasa.
Nuri, yang cantik
...
Kata-kata pertama yang kubaca di surat
sudah menggetarkan hatiku. Aku jadi tahu, tadi itu
hanya siasat Aldo untuk meminjam Al Quran
padaku. Karena aku lihat di lemari masih ada Al
Quran yang tersisa. Aku tersenyum karena
ternyata bisa juga Aldo Romantis. Biasanya kami
pergi sekolah bersama hanya sekadar duduk di
boncengan dan melambaikan tangan.
Mungkin Nuri bingung kenapa aku
menulis surat ini. Pertama kali melihatmu, aku
sudah jatuh hati. Aku tahu kita baru berkenalan,
tetapi hatiku tidak bisa dibohongi. Aku jatuh hati
pada Nuri.
Semoga Nuri, tidak marah dan masih mau
berangkat sekolah bersama. Sudah yah, kita ngaji
lagi yuk.
Aldo
Surat cinta yang begitu singkat tapi mampu
memporakporandakan hatiku. Kalau ingat
Seni Asiati Basin | 89
bagaimana caraku membaca surat cinta pertamaku
jadi geli sendiri. Surat cinta yang aku terima kala
itu sungguh romantis dan menakutkan. Yah
memang romantis karena aku baru menerima surat
dari seorang pria. Menakutkan karena aku
membaca surat di kamar mandi hanya diterangi
oleh nyala lilin.
Sampai aku duduk di bangku SMA atau
satu tahun tinggal di rumah dongkelan, listrik
belum masuk, masih diperjuangkan bapak. Hal itu
aku lakukan karena aku tak sabar membacanya
menunggu matahari esok sangatlah lama.
Pujaanku itu memberikan surat ketika kami
bertemu sehabis shalat magrib.
Ternyata selain aku yang penasaran
membaca surat, ada makhluk lain yang juga ikutan
membaca surat. Ia melata tepat di depan kakiku
yang tegak berdiri. Aku tahu ada binatang itu
ketika aku rasakan benda licin menyentuh kakiku.
Karena aku fokus pada surat di tangan hingga
kehadiran makhluk itu tak aku rasakan. Aku
menjerit lari keluar kamar mandi setelah tahu
makluk tanpa ekor yang licin dekat di kakiku.
Rupanya makhluk itu masuk lewat lubang air di
kamar mandi.
Malam itu menjadi malam yang spesial. Aku
tersenyum sambil mengenggam erat surat cinta
dari Aldo. Esok menjadi sesuatu yang indah karena
90 | Malaikat Pemberi Jiwa
aku jadi tahu perasaan hati Aldo padaku. Rasanya
tak sabar menunggu esok hari.
Sejak malam itu dan hari-hari berikutnya
aku sudah sibuk dengan hatiku. Bapak pasti
melihat perubahan sikapku. Aku mulai jarang
ngobrol dengan bapak. Bahkan bermain bersama
adikku Tita sudah jarang aku lakukan. Malam itu
di teras masjid kami duduk sambil menatap langit
bersama Aldo. Malam itu pengajian ditiadakan
karena Ustad Ali sakit.
―Kamu lihat gak bulan di atas itu?‖ tanya Aldo
sambil jari telunjuknya mengacung ke arah bulan
yang bersinar terang yang menggantung di atas
langit malam.
―Lihat lah, emang kenapa?‖ aku balik bertanya.
―Ya kali aja kamu gak lihat, mata kamu itu kan
selalu menunduk ke bawah. Haha…‖ godanya
dengan tawa lepas.
―Yehh… Kamu ngeledek ya? Huuu,‖ aku merajuk
cemberut.
―Hmm… indah ya?‖ ujarnya.
―Iya, eh bintang jatuh tuh!‖ sahutku sambil
menunjuk ke arah sinar bintang jatuh.
―Iya Ri,‖ sambungnya. Lalu ku lihat matanya
terpejam dan mengepalkan kedua tangannya di
atas dadanya.
―Aku beruntung banget punya pacar seperti kamu.
Aku janji Ri, akan selalu menyayangi kamu sampai
Seni Asiati Basin | 91