The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Novel sejarah tentang perjuangan seorang bapak dan kisah Jakarta tahun 80-an

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by seniasiati, 2020-09-25 20:10:24

Novel

Novel sejarah tentang perjuangan seorang bapak dan kisah Jakarta tahun 80-an

Keywords: Novel

kapan pun dengan setulus hatiku.‖Aldo
menatapku yang masih tertunduk malu.
―Aku juga berjanji akan selalu ada untuk kamu,‖
gumamku dalam hati kecilku yang rasanya sudah
meluas diisi oleh cinta.
―Kamu berharap apa?‖ tanyaku terdengar
bergema, melihat ke atas langit yang ternyata
hanya ada satu bintang.
―Ahh… Kamu kepo deh,‖ ledeknya sambil
menjulurkan lidahnya.
Ah, rasanya bersama Aldo hidupku semakin indah
dan berwarna. Warga kampung bahkan semakin
sering mengolok aku, kalau aku pergi sendiri. Aku
yakin bapak tahu. Mamah saja ikut menggodaku.
―Ri, ada Aldo tuh.‖ Mamah membangunkan aku
siang itu dari tidur nyenyak.
Aku buru-buru bangun dan membasuh muka
berlari ke depan dan tak ada siapa pun di teras
rumahku. Aku dengar mamah tertawa.
―Makanya jangan tidur kebanyakan Ri, udah pergi
tuh pujaan hati.‖ Mamah menggodaku.

**** Cinta Putus Sambung
―Nuri, kalau dia sayang dengan kamu, pasti

tidak akan membuat malu kamu apalagi bapak.‖
Hari itu bapak menemukan Aldo, pujaan hatiku
mabuk karena minum-minuman keras di
poskamling. Pemuda pujaan hatiku, subuh itu

92 | Malaikat Pemberi Jiwa

tergeletak di pos kamling dengan bau alkohol dari
mulutnya. Aku yang melihat keadaan Aldo seperti
itu menjadi jengkel, marah, sakit hati. Benar kata
bapak, pemuda itu tidak mencintaiku. Ia tidak tahu
menjaga diri dan juga perasaanku. Sedih memang
tapi aku harus mengambil sikap, masa remaja yang
indah harus diperhitungkan. Hari itu juga aku
memutuskan tali kasih kami. Toh aku masih SMA
belum cukup untuk lebih serius menjalin
hubungan.

―A.‖ Pagi itu seperti biasa aku dan Aldo
berangkat sekolah bersama.

―Iya Yang.‖ Aldo punya panggilan
kesayangan untukku.

―Nanti pulang sekolah makan bakso yah.‖
Aku mengajak Aldo makan bakso. Aku akan
menanyakan padanya peristiwa malam itu.

Ternyata bukan hanya malam itu yang
membuat hubunganku dan Aldo tak bisa bersama.
Aku harus memutuskan hubungan dengan Aldo
karena pengkhianatan yang dilakukan di depan
mataku. Benar kata bapak, kalau dia sayang
padaku, tak akan dia menyakiti hatiku apalagi
menghianatiku. Aku harap aku sedang tertidur
saat ini. Aku harap semua yang aku rasakan ini
hanya bagian dari mimpi dan bisa kapan saja aku
lari dari sana. Tapi ternyata, semuanya sangat
nyata untuk disebut sebagai sebuah bunga tidur.

Seni Asiati Basin | 93

Hangatnya air dari mata ini terasa sangat nyata
dan tentu saja basah. Tuhan, seandainya aku diberi
satu permintaan untuk bisa segera dikabulkan,
jadikan semua ini hanya mimpi saja. Cukup itu saja
Tuhan, sisanya aku akan berusaha lebih keras. Aku
ingin semua yang indah bersama Aldo kembali
lagi. Tetapi pengkhianatan yang dilakukannya
menorehkan luka yang teramat dalam.

Pikiranku melayang kepada masa-masa
beberapa bulan lalu ketika aku masih bersamanya.
Aku ingin lepas. Masa itu menjadi masa yang
kelam bagiku. Aku hanya mengenal satu pria
hingga ku tahu tak pantas mempertahankan yang
memang bukan milik kita. Aku ingin bangun dan
mendapatkan bahwa semua ini hanya mimpi.
Sekali lagi aku tidak sedang bermimpi. Jadi begini
rasanya patah hati? Begini rasanya ketika tau
bahwa sesuatu akan segera lenyap esok hari. Dan
malam ini akan jadi malam terakhir dimana aku
bisa merasakan hangatnya tangan itu.

―Kita berpisah, A.‖ Kataku malam itu di
teras masjid. Tempat ini menjadi saksi cintaku
dimulai tempat ini pula yang menjadi saksi cintaku
harus berakhir.

Aku mulai sibuk menata hati dan
mendulang prestasi. Aku ikut kegiatan yang aku
suka dengan dorongan bapak. Bapak tahu

94 | Malaikat Pemberi Jiwa

kepedihan hatiku. Rasanya tak ada tempat
mengadu yang lebih baik selain bersama bapak.
―Ri, ada lomba baca puisi mau ikut gak?‖ bapak
menyodorkan brosur.
―Di mana Pak?‖ aku baca brosur lomba baca puisi
di Gelanggang. ―Duh, Nuri bisa gak yah Pak?‖
Terus terang aku kurang percaya diri.
―Nih, baca deh.‖ Bapak menyodorkan penggalan
puisi aku ingat puisi karya Chairil Anwar yang
disodorkan bapak. Aku baca di depan bapak dan
bapak mengajarkanku bagaimana membaca puisi
yang baik.
―Kok, Bapak tahu sih baca puisi?‖ aku bertanya
pada bapak.
―Wah ... gak tahu yah, gini-gini bapak pernah jadi
juri baca puisi di kantor.‖ Bapak menepuk
dadanya. ―Udah Nuri ikut, bapak yakin Nuri bisa.‖
Aku lihat bapak percaya diri sekali memotivasiku.
Hari itu aku tahu kemampuanku. Aku berhasil
menjuarai lomba baca puisi, bahkan salah seorang
juri dari sanggar teater memintaku bergabung
karena mereka membutuhkan pemain untuk ikut
rekaman di stasiun TV.

Sejak saat itu hari-hariku disibukkan dengan
rekaman dan pentas teater dari panggung ke
panggung. Hanya satu pesan bapak harus
diimbangi dengan prestasi sekolah. Aku buktikan
pada bapak kalau aku mampu. Sayangnya

Seni Asiati Basin | 95

kesibukanku harus dibalas dengan hilangnya
kebersamaanku bersama teman-teman di sekolah.
Namun, rasa kasihku pada Aldo tak surut jua.
Beberapa bulan kemudian aku menerimanya
kembali, kali ini Aldo berjanji akan mengubah
sifatnya dan mau menuruti aku. Aku tahu bapak
tak akan menyetujui, apalagi bapak melihat aku
masih sekolah dan kisah kasihku akan membuat
prestasiku semakin terpuruk, karena aku mulai
disibukkan dengan berbagai acara rekaman dan
teater. Aku sembunyi-sembunyi agar dapat terus
bersama Aldo.

96 | Malaikat Pemberi Jiwa

Bapak dan Cerita Cintaku

Sejak pemuda pujaanku ketahuan oleh
bapak mabuk di depan rumah kami.
Sejak itu pula, aku berusaha tidak
terlalu mencolok dekat dengannya. Menjaga
martabat bapak di depan orang kampung yang
terus terang menghormati bapak. Aku berusaha
meyakinkan bapak bahwa pujaanku itu akan
berubah,
―Nuri, kalau dia sayang dan cinta dengan
kamu, pasti ia tidak akan memberi kamu malu.‖
Kata bapak melihatku termenung di kamar.
―Nuri coba memperbaiki kelakuannya boleh
Pak?‖ kataku masih berharap bapak merestui.
Malam itu senja masih menapak bapak
seperti biasa menyalakan lampu petromax yang
kami punya. Ironis memang bila di Jakarta kami
belum mendapat listrik. Sebagai penerangan utama
di dalam rumah, lampu petromax menjadi andalan
keluargaku. Apalagi bila banyak pekerjaan rumah
yang harus aku dan saudara-saudaraku kerjakan.
Sebenarnya, kata bapak petromax adalah mereka
dagang resmi, yang lalu latah dipakai secara
umum untuk lampu sejenis meskipun jelas-jelas

Seni Asiati Basin | 97

mereknya berbeda. Kalau lampu sudah mulai
meredup, bergantian aku dan bapak memompa
petromax. Awalnya aku tidak bisa mengoperasikan
lampu ini. Aku selalu memeprhatikan bapak
menyalakan lampu petromax, kalau bapak pergi
kerja malam, aku yang menggantikan bapak
menyalakan lampu.

―Perhatikan Nuri kamu bapak andalkan
yah,‖ kata bapak sore itu. Kami baru seminggu
tinggal di rumah baru dan hanya dibantu nyala
lilin. Tentu saja pemborosan karena harus selalu
beli lilin. Kadang mamah menggunakan lampu
teplok hanya tidak menyala terang. Bapak
mengandalkan aku, selain tentu saja mamah.
Kakakku Susi seperti biasa tak mungkin
melakukan pekerjaan ini.

―Aku ikut yah Pak.‖ Kata Awan yang sore
itu sudah selesai mandi dengan bedak tebal di
mukanya. Biasanya aku akan mencubitnya dan
mengendong Awan menggantikan mamah yang
salat.

―Boleh, Awan kan anak laki-laki jadi harus
pinter nyalakan petromax.‖ Jawab bapak sambil
mengendong Awan dan menenteng petromax ke
luar rumah.

Di teras inilah rutinitas menyalakan
petromax kami mulai. Ingat petromax, aku selalu
terkenang saat-saat menjelang senja, saat bersama

98 | Malaikat Pemberi Jiwa

bapak menyalakan lampu itu. Aku hafal betul cara
bapak menyalakan lampu itu. Bapak
mengajarkanku dengan hati-hati. Kata bapak aku
anak perempuan jadi usahakan jangan sampai
minyak tanah merusak kulitku.

Pelajaran bapak untukku dan adikku selalu
kuingat, senja yang merona jadi saksi bagaimana
bapak membuatku mandiri. Kata bapak letakkan
petromax di lantai. Angkat kacanya, tuang spiritus
pada mangkuk logam di dalamnya,. Di dalam
tabung petromax ada kaos lampu. Nah, kata bapak
kaos lampu itu harus dibakar. Nyalakan dengan
korek api, biarkan sebentar. Spiritus akan
membakar kaos lampu sebelum lenyap menjadi
gas, menghasilkan pijar di kaos lampu seperti
bohlam. Saat kaos lampu menyala, Awan segera
berebut di belakang bapak, memegang pinggang
bapak lalu ketika bapak mulai memompa, aku dan
Awan pun menirukan gerakan papa, mendut-
mendut naik…turun…. Hahahaha, nanti akan
muncul bayangan kami di dinding. Seru dan
menjadi permainan sore hari yang tak akan
terlupakan.

Untuk mempertahankan agar pijar
petromax itu terus menyala terang, petromax harus
dipompa. Kemudian, petromax akan menyala
terang dan berbunyi zheeeng… lembut. Itulah
tanda petromax telah menyala sempurna.

Seni Asiati Basin | 99

Aktivitas memompa membuat keringat berjatuhan.
Aktivitas inilah yang menjadi andalanku. Setelah
bapak memasang kap lampu agar sinarnya
terfokus. Bapak akan menggantungkan petromak
pada kait besi yang dipasang pada reng atap di
ruang tamu. Pada ketinggian itu, petromax mampu
menerangi seisi ruang tengah keluarga kami.

―Nah, selesai deh lampu kita.‖ Awan
berteriak kegirangan dan minta bapak
menggendongnya agar dapat mencapai tinggi
petromax. Kenangan tentang petromax memang
cukup indah. Karena petromax membantu kisah
kasihku. Biasanya pujaan hatiku membantu
menyalakan petromax. Aktivitas menyalakan
petromax kami lakukan bersama kalau bapak dinas
sore. Hehehehe, masih belum berani mengingat
pujaanku ini pernah salah yang membuat bapak
marah. Hanya menyalakan petromax bersama-
sama saja rasanya sudah melayang jiwa ini.

Listrik menyala di kampung kami itu
tandanya aktivitas petromax tak ada lagi. Aku tak
bisa lagi pura-pura meminta pujaan hatiku yang
resmi aku panggil AA untuk datang di sore hari
sekadar membantuku menyalakan petromak.
Sebenarnya aku senang, rumahku, dan semua
rumah di daerahku menjadi terang benderang.
Tapi aku tak bisa menatap AA ketika membantuku
menyalakan petromax dari dekat.

100 | Malaikat Pemberi Jiwa

Hubungan yang aku jalani bersama pujaan
hatiku ini sudah cukup lama. Bagiku ia adalah
cinta pertama dan terakhir. Perkara putus
sambung sudah biasa, maklumlah usia kami masih
sangat muda perbedaan usiaku terpaut hanya 1
tahun. Jiwa muda masih sering melanda. Sedikit
cemburu sedikit marah bila tidak diperhatikan
menjadi bumbu penyedap dalam hubungan kami.

Perlakuan buruk pujaanku ini dipicu oleh
uang yang ia dapatkan. Yah, pujaanku mendapat
uang dari warisan orang tuanya. Ayahnya yag
biasa dipanggil babe adalah seorang juragan tanah.
Kekayaan dan luas tanahnya melebihi kepunyaan
Haji Gopur. Ibunya seorang wanita Sunda tepatnya
orang Bogor. Pujaanku ini biasa aku panggil ―AA‖.
Katanya panggilan itu sangat khas dan ia suka
panggilan itu daripada ―abang‖ yang biasa jadi
panggilan orang Betawi.

Ayahnya meninggal ketika aku baru
sebulan menempati rumah ini. Tanah orang tuanya
dibeli oleh pengusaha untuk dijadikan pabrik.
Masa itu uang yang diterima orang pujaanku
cukup membeli rumah di perumahan mewah di
Jakarta. Sayangnya uang itu ia habiskan di meja
judi dan minum-minuman keras. Pujaanku tidak
melanjutkan kuliah. Aku sudah membujuknya
untuk kuliah. Tapi katanya, kuliah bikin cape mikir
dan terkekang.

Seni Asiati Basin | 101

Cita-citanya ingin jadi polisi. Masa itu
menjadi polisi adalah kebanggaan apalagi kalau
orang tua bukan polisi. Sayangnya AA memliki
penyakit yang membuatnya gagal masuk polisi.
Kerja pun AA tidak mau baginya uang yang
diwariskan orang tuanya cukup membuat dirinya
hidup berkecukupan.

―Yang, menikah denganku biar aku tidak
kuliah dan tidak kerja, tapi uang warisan bisa
menghidupi kita tujuh turunan.‖ Pujaanku
meminangku ketika itu ia main ke rumah kosku.
Setiap hari Senin, AA selalu mengantarku ke kos.
Hari Jumat sore AA akan menjemput ke kos karena
Sabtu-Minggu aku libur kuliah.

―Bapak gak akan ijinkan A.‖ Aku tahu
komitmen yang harus aku pegang. Bapak meminta
aku tidak menikah sebelum aku lulus kuliah.
Bapak ingin aku memakai toga didampingi bapak
dan mamah bukan dengan suami.

Pinangan itu belum aku setujui, mengingat
bapak pasti tidak memberi ijin. Bapak
menginginkan aku menyelesaikan kuliah. Apalagi
pujaanku belum bekerja. Kata bapak laki-laki itu
harus punya pegangan bukan uang tapi pekerjaan.
Pendapat bapak bisa aku terima karena orang akan
bertanya ―kerja dimana?‖ bukan ―punya uang
berapa?‖. Walaupun uang warisan AA banyak tapi
aku tak pernah meminta sepeser pun.

102 | Malaikat Pemberi Jiwa

Pinangan itu tidak aku tolak, aku meminta
AA sabar tinggal selangkah lagi aku menjadi
sarjana. Bagiku AA adalah pilihanku karena
cintaku pada AA cukup besar. Bagiku ia adalah
pilihan hati. Aku hanya menjalin cinta dengannya
padahal banyak yang mencoba mencuri hatiku.
Aku memang begitu setia pada AA hingga suatu
hari kesetiaanku hancur. Benar kata bapak, AA
belum berubah. Kali ini benar-benar menusuk hati
menikam jantung.

Subuh itu Ramadhan hari ke-21 aku ingat
sekali Subuh yang membiru. Subuh yang
menggoreskan luka begitu dalam di hati ini.
Setelah sahur aku bergegas menyambut Subuh
berkunjung ke rumah AA yang rumahnya tidak
jauh dari rumahku. Seperti subuh-subuh di bulan
Ramadhan yang kami lalui. Hari ini aku yang ke
rumahnya. Tadi malam aku tidak melihat AA di
masjid untuk taraweh. Kata teman AA, dari pagi
AA tidak ada di rumah. Subuh yang dingin aku
mengajaknya untuk pergi ke masjid sama-sama.
Biasanya aku yang menunggu di masjid. Kali ini
aku ke rumahnya mengajaknya berangkat ke
masjid bersama. Entah karena tidak bertemunya
semalam atau karena aku rindu.

Rumah itu masih tertutup hanya terdengar
suara pelan pasti suara ibu AA. Aku sudah biasa
ke rumah itu. Rumah itu seperti rumahku. Setiap

Seni Asiati Basin | 103

lekuk rumah aku hapal. Kadang aku membantu
ibu memasak atau sekadar ngobrol.

―Assalamulaikum, Bu, sudah sahurkah?‖
teriakku pelan sambil mengetuk pintu rumah. Aku
tahu ibu pasti sudah bangun. Lampu ruang tamu
sudah terang.

Suara sahutan terdengar dari dalam, suara
sandal yang diseret terdengar mendekat. Pintu
tidak terkunci jadi karena sudah ada sahutan aku
membuka pintu. Niatku hanya memudahkan ibu
yang harus menyeret sandal untuk mencapai
pintu. Ibu memang sedang sakit.

―AA sudah bangun Bu?‖ tanyaku sambil
aku cium tangan ibu. Tapi wajah ibu kelihatan
tegang dan takut. Aku pikir karena ibu sakit.

―Eh, eh...‖ suara ibu tercekat. Aku duduk di
ruang tamu. Di depan ruang tamu itu adalah
kamar AA. Kamar itu masih tertutup. Waktu sahur
tinggal sepuluh menit aku bangkit dan menuju
kamar AA. Terdengar dari depan pintu suara
melenguh berkepanjangan seperti ada pertarungan
dua insan yang berhasil melepaskan nikmatnya.
Aku tertegun siapa di dalam. Apa ibu kedatangan
tamu?

Sebelum tanganku menjangkau pegangan
pintu, seorang wanita dengan rambut basah dan
berkeringat keluar dari kamar. Pakaian yang
dikenakan hanya kaos tanpa lengan dan celana

104 | Malaikat Pemberi Jiwa

pendek yang menonjolkan lekuk tubuh dan
gunung yang membuncah.

Aku benar-benar kaget. Siapa wanita yang
keluar dari kamar AA. Kulihat ibu tertunduk
mungkin malu atau risih. Aku masih berprasangka
baik mungkin ada keluarga ibu, suami istri yang
menginap. Wanita itu tersenyum dan menyapaku.
Sambil mengambil handuk dan berlalu ke kamar
mandi.

―Ada sabun sama sampo ya, Mak? Suaranya
terdengar jelas di telingaku. Siapa dia kok
memanggil ibu dengan ‗Mak‘. Aku masih
termangu berdiri di samping ibu yang tak kuasa
berbicara. Ibu memang kurang dihormati oleh
anak-anaknya. Ibu terlalu sabar dan juga pasrah
dengan kelakuan anak-anaknya yang nakal. Sejak
suaminya atau bapak AA meninggal, ibu semakin
ditinggalkan anak-anaknya.

Belum habis rasa terkejutku, AA keluar dari
kamar dengan bertelanjang dada dan hanya
mengenakan sarung. Wajahnya kulihat letih seperti
habis bertarung. Kali ini aku benar-benar lemas.
Hatiku tercabik pisau belati, perih sekali. Pujaan
hatiku yang kucintai sampai dasar hati keluar dari
satu kamar dengan seorang wanita yang tidak aku
kenal. Suara lenguhan kenikmatan tadi… Ya,
Tuhan aku benar-benar syok. Orang yang aku
cintai di depan mata melakukan…

Seni Asiati Basin | 105

―A...‖ hanya satu huruf itu yang keluar dari
mulutku. Aku sudah kehabisan kata-kata.

―Ibu gak tahu kalau Nuri mau kesini.‖ Kata
ibu yang kali ini memegang tanganku yang sudah
berkeringat.

Aku tertunduk ingin rasanya menangis
melihat peristiwa di depan mataku. Selama ini aku
hanya mendengar kabar miring tentang pujaan
hatiku ini yang sering mengunjungi tempat
hiburan malam. Bagiku kalau belum melihat
sendiri aku tidak percaya dan aku masih setia.

―Yang, ngapain ke sini.‖ Kalimat itu yang
keluar dari mulut pujaanku. Ia mendekatiku dan
memegang pundakku. Aku benar-benar jijik. Aku
berlari pulang dengan luka yang teramat dalam.
Kesetiaanku harus dibalas dengan pengkhianatan.
Aku berlari langsung ke rumah tak ke masjid aku
ingin menangis menumpahkan air mata di
kamarku. Teganya dia melakukan pengkhianatan
di depan mataku.

Hatiku sakit bukan kepalang, kesetiaan
yang aku gadang-gadangkan hanya untuk
pujaanku dibalas seperti itu. Aku memang keras
kepala padahal bapak sudah menasihati agar
menyudahi percintaanku dengan pujaan hatiku.
Selama ini aku menunggu dan percaya pujaanku
akan berubah. Peristiwa itu membuat aku harus

106 | Malaikat Pemberi Jiwa

menyudahi kisah kasihku walaupun berat karena
ia cinta pertamaku.

Hatiku memang tak bisa menerima. Warga
di kampungku sudah mengetahui percintaanku
dengan AA. Cinta yang tumbuh dari aku remaja
hingga aku menjadi mahasiswa, kini remuk tak
berkeping. Bagi orang kampung kami adalah
pasangan yang sangat cocok dan akan melangkah
ke jenjang pernikahan. Orang-orang kampung
selalu berkata, ―Mba Nuri sama abang cocok.‖
Keluarga AA sudah menyetujui dan menunggu
hingga aku selesai kuliah. Itu yang selalu aku
katakan. Ketika itu, ibu dan kakak AA ke rumah
ingin meminangku. Apa yang salah dengan diriku.
Aku tak pernah berpaling ke lain hati. Banyak
teman kampus yang naksir, aku selalu bilang aku
sudah punya pujaan hati. Bagiku kesetian itu
mahal.

Ternyata aku harus mengalami luka, benar
kata bapak kalau ia sayang padaku tentu tak akan
memberiku rasa sakit ini. Luka yang ditorehkan
AA benar-benar membuatku sakit. Beberapa kali
hubungan kami memang diuji. Aku mampu
membawa AA untuk bangkit. Kali ini aku memang
harus memilih. Kenyataan yang tak bisa aku
lawan. AA tak pernah mencintaiku. Selama ini aku
telah dibutakan oleh cinta.

Seni Asiati Basin | 107

Berulang kali AA mengatakan padaku
menyayangiku, sangat menyayangiku. Tapi
percuma, ia telah menorehkan luka kembali ke
hatiku dengan apa yang telah ia lakukan. Apa AA
tahu apa yang sangat aku takutkan? Bapak pasti
akan mendengar pengkhianatan ini dan kembali
aku akan terpuruk.

Pagi Subuh yang menggigit, aku sudahi
kisah kasihku. Aku melihat tangan bapak masih
memegangi ada untukku, kali ini aku harus siap.
Aku harus tegar. Masa lalu boleh dikenang tetapi
tidak untuk dihayati.

Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Ungkapkan segala
apa yang kurasa dengan kata-kata, supaya tak habis kau baca jka
suatu saat kita tak lagi bersama. Sebab kutau memoriku tak cukup
banyak mengingat yang telah lalu.

―Gak diantar AA?‖ tanya Susi kakakku
yang melihatku pagi-pagi buta sebelum subuh
sudah berangkat kuliah.

―AA, lagi sibuk.‖ Jawabku sambil
berpamitan pada bapak dan mamah.

―Sibuk apa yah, perasaan tuh anak gak kerja
yah.‖ Kali ini komentar Susi membuatku kesal.

―Nuri, mau ikut bapak?‖ tanya bapak
memutus ocehan Susi.

108 | Malaikat Pemberi Jiwa

Pagi itu aku pergi kuliah berboncengan
motor dengan bapak. Sepanjang jalan aku terdiam.
Biasanya ada saja ceritaku dan cerita bapak. Kali
ini bapak paham arti diam anaknya. Bapak
menurunkan aku di terminal. Dari terminal aku
akan melanjutkan perjalanan ke terminal lagi tapi
ini Terminal Senen. Aku memang kos di daerah
dekat kampusku. Biasanya tugas AA yang
mengantar dan menjemputku. Senin pagi AA akan
mengantarku dan Jumat sore setelah aku pulang
kuliah AA sudah ada di depan kampus dengan
senyumnya yang selalu kurindukan.

―Harus biasa dan bisa.‖ Kali ini aku
bergumam sendiri karena sepanjang jalan aku
harus bergelantungan tidak duduk di bus yang aku
tumpangi. Hari ini sudah dua minggu aku tak
bersama AA dan tak ada lagi niatku menemuinya.
Aku tahu beberapa kali AA mencegatku dan
memohon. Luka itu sudah teramat dalam. Hatiku
sudah membeku. Aku teramat sakit. Aku lihat AA
pun semakin asyik dengan kebejatannya.
Wajahnya di Subuh itu terekam jelas di pikiranku.
Wajah kotor sehabis bertarung melampiaskan
nafsunya.

Seni Asiati Basin | 109

Malaikat Pemberi Jiwa

Pada akhirnya aku memang harus
meninggalkan cinta pertamaku untuk
menikah lebih dahulu daripada dia.
Pilihan hidupku ini memang di luar dugaan. Aku
tak menjalin kasih yang lama tidak seperti dengan
Aldo. Kisah kasih kami terbentang dari aku remaja
piyik sewaktu aku masih di kelas 2 SMP hingga
aku menjadi mahasiswa semester 5.
Akhirnya aku menerima pinangan si Abang. Lelaki
yang justru tinggal di kontrakan rumah Aldo.
Awalnya memang pilihan yang cukup sulit apalagi
bapak tidak setuju dengan pilihanku. Abang tidak
seiman dengan keluargaku. Selain itu umur abang
yang jaraknya cukup jauh denganku. Bahkan Tita
saja marah dengan pilihanku.
―Memang tidak ada yah pria seiman yang
mau sama kamu?‖ tanya bapak padaku yang hari
ini sedang mengerjakan tugas kuliah.
Kuliahku belum rampung tinggal
menjemput impian saja. Semester 7 baru
berlangsung dua bulan ketika aku kemukakan
keinginanku untuk menikah. Aku tahu bapak pasti
tidak menyetujui, selain terpaut usiaku yang cukup

110 | Malaikat Pemberi Jiwa

jauh dari si Abang juga Abang dan keluarganya
tidak seiman dengan keluarga kami.

Bapak tahu masalahku dengan AA. Hatiku
yang sakit tak luput dari pengamatan bapak.
Pilihanku ini memang disayangkan oleh bapak.
Satu persatu aku tuntaskan, aku suruh abang
menentukan pilihan keimanannya dahulu baru
bisa meminangku. Hal itu kulakukan tanpa
sepengetahuan bapak. Aku cari masjid untuk
mengislamkan abang. Semua yang aku lakukan
agar dapat izin bapak. Entahlah apa yang
merasukiku sehingga aku ngotot ingin menikah
dengan abang padahal baru aku kenal.

Setelah abang seiman denganku, baru aku
bilang pada bapak kalau abang sudah seiman.
Bapak geleng-geleng kepala begitu kukuhnya aku
ingin menikah dengan abang.

―Nuri, yang melangkah, Nuri juga yang
akan menjalankan, bapak bisa apa.‖ Wajah tua
bapak tertunduk. Aku benar-benar sudah
menyakiti hatinya.

Pada akhinya aku tahu mengapa bapak dulu
tak menyetujui pernikahanku. Satu-satunya anak
perempuan bapak yang tidak langsung dinikahkan
bapak adalah aku. Sedih rasanya tapi ini adalah
pilihan hidupku. Aku buktikan pada bapak bahwa
aku tak akan mengubur impian bapak.

Seni Asiati Basin | 111

Aku anak ketiga yang akhirnya harus naik
pangkat menjadi anak kedua karena kakak
keduaku meninggal dunia. Tapi aku anak pertama
bapak yang akan menjadi sarjana. Pernikahanku
hampir mengubur impian bapak menyaksikan
anaknya menjadi sarjana.

―Kamu harus jadi sarjana.‖ Sore itu bapak
menyapaku melihatku sedang mengerjakan tugas
kuliah.

Kristal bening mengenangi mataku. Begitu
hebatkah seorang sarjana. Mengapa bapak sangat
menginginkannya. Setelah menikah aku tinggal di
rumah bapak. Si Abang kerja dekat rumah bapak.
Yah, perkenalanku dengan Abang karena si Abang
adalah pelanggan setia warung nasi mamah. Untuk
menguliahi aku dan adik-adik, mamah berjualan
nasi di warung dan si abang adalah pelanggan
setia. Setiap pulang kuliah aku sering membantu
mamah dari situlah aku berkenalan dengan si
Abang.

―Kenapa sedih Dek?‖ tanya si Abang yang
hari itu mampir ke warung. Warung nasi mamah
masih buka hingga pukul 9 malam. Biasanya
pelanggan mamah adalah pekerja pabrik yang
dekat dengan warung. Lumayan dari penghasilan
warung, aku dan adikku dapat terbantu biaya
kuliah. Bapak adalah abdi negara yang benar-benar
jujur, jadi hanya gaji yang digunakan untuk

112 | Malaikat Pemberi Jiwa

memberi kami makan. Padahal setahuku, teman-
teman bapak yang pangkatnya di bawah bapak,
hidup berkecukupan bahkan ada yang berlebihan.

―Nuri, apa yang bapak berikan pada kalian
itu dari keringat bapak dan halal,‖ kata bapak
waktu aku tanya mengapa kami tak punya mobil.

Karena itulah mamah yang memang melihat
peluang, menyewa lahan kosong untuk warung
makan. Lahan itu sendiri kepunyaan keluarga AA.
Setelah aku tak bersama AA, warung itu harus
ditinggalkan, dan untungnya aku dan adikku
sudah selesai kuliah.

Abang adalah pelanggan setia mamah.
Menu yang diminta selalu nasi dan telur dadar.
Kalau si abang ingin mie rebus, telurnya selalu
didadar. Aku hapal kebiasaannya. Usianya terpaut
12 tahun denganku. Sifatnya yang penyabar dan
selalu mau mendengar ceritaku, membuat aku
bisa nyaman berkeluh kesah. Biasanya aku selalu
bercerita tentang kisah kasihku dengan Aldo.
Abang mengontrak di rumah Aldo. Hari itu aku
sendiri yang jaga warung, mamah pulang untuk
shalat magrib. Aku bercerita tentang kuliahku dan
kisah kasihku yang harus berakhir karena lagi-lagi
pujaan hatiku ini menyakitiku.

Seperti biasa Abang akan datang dengan
gayanya santun dan sabar mendengarkan semua
ceritaku. Lama kelamaan tumbuh benih kasih di

Seni Asiati Basin | 113

antara kami. Aku sebenarnya hanya kasihan
karena Abang begitu sabar dan mau mendengar
ceritaku. Hal ini jarang aku temui pada diri Aldo
yang selalu dipenuhi emosi. Abang mampu
membuatku nyaman dan tenang. Emosiku yang
kadang suka meledak-ledak dapat reda di samping
Abang.

Kata orang kampung pamali menolak
lamaran. Aku sudah menolak tiga kali lamaran
pria. Lamaran pertama dari Aldo yang terpaksa
ditolak bapak, karena ia belum bekerja selain itu
bapak ingin aku merampungkan kuliah dulu.
Lamaran kedua dari seorang guru. Aku
mengenalnya di tempat aku magang dari kampus.
Kalau ini memang benar-benar keterlaluan. Aku
tak tahu kalau hari Minggu pagi ia datang bersama
rombongan keluarganya ke rumah untuk
meminang. Padahal aku dan dia tak pernah
menjalin kasih. Katanya ia melihatku pasti cocok
jadi pendamping hidupnya, jadi pertemuan
keluarga ini sekalian silaturahmi dan meminta aku
jadi istrinya. Alamak mana bisa seperti itu kenal
saja baru itu pun di tempat aku magang. Tentu saja
lamaran itu aku tolak.

Ketika Abang datang dan melamarku, aku
ingat perkataan orang kampung kalau menolak
untuk yang ketiga kalinya alamat jauh jodohku
waduh bisa perawan tua aku nih. Abang datang

114 | Malaikat Pemberi Jiwa

ketika aku gelisah dan jiwa remajaku yang mulai
tumbuh untuk dewasa perlu bimbingan. Abang
datang dengan semua itu walau belakang hari ada
yang ia sembunyikan padaku dan keluargaku.
Bahkan setelah bapak tiada pun aku
menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupku.
Namun, ada yang paling tidak bisa diterima bapak.
Abang tidak seiman denganku. Waktu itu, aku tak
peduli kata bapak dan kata mamah, bahkan aku
sudah buta akan semua nasihat untuk tidak
menjalin cinta dengan orang yang tidak seiman.

―Nanti kamu susah sendiri Nuri, karena
keluarganya tidak seiman dengan kita,‖ Bapak
masih membujukku agar memikirkan pernikahan
yang akan aku jalani.

Ternyata menikah dengan keluarga yang
tidak seiman dengan kita memang banyak sekali
toleransinya. Aku memang tidak memikirkan itu
semua. Aku hanya berpikir menikah lebih dahulu
daripada Aldo. Aku ingin membalas perlakuan
Aldo padaku.

Aku tahu bapak sudah aku lukai hatinya
dengan mengesampingkan sarjanaku. Hal yang
membanggakan untuk bapak belum aku
persembahan. Keinginan bapak untuk
mendampingiku ketika wisuda tanpa kehadiran
lelaki lain akan punah. Aku tak memikirkan
perasaan bapak. Aku hanya berjanji tak akan

Seni Asiati Basin | 115

membuat luka lagi di hati bapak. Namun, pada
akhirnya bapak harus juga merasakan bagaimana
hati anaknya tersakiti karena pernikahan yang
dijalani. Abang membohongiku, membohongi
bapak, menyakiti perasaan mamahku. Sudah ada
orang lain sebelum aku dan memberinya anugerah
yang hidup. Seeorang anak jadi hadiah pernikahan.

Pernikahanku digelar di rumah. Penghulu
kecamatan tempat tinggalku yang menikahkan.
Aku cukup terkejut dengan keputusan bapak. Aku
menyadari hati bapak masih terluka karena aku
menikah dengan pria yang baru saja seiman
denganku selain itu aku tidak menepati janji. Aku
belum menyerahkan toga sarjanaku pada bapak.
Aku malah menyerahkan tugas bapak pada laki-
laki yang akan menjadi imamku.

―Silakan Bapak penghulu menikahkan anak
saya,walikan saya,― kata-kata bapak menohok
jantungku. Hanya aku anak perempuan bapak
yang tidak dinikahkan secara langsung oleh bapak.
Hatiku menangis, tega sekali bapak menyerahkan
aku pada wali hakim. Setelah menikah, aku tinggal
dengan orang tuaku. Bapak yang meminta katanya
sampai aku punya rumah sendiri.

―Uangnya ditabung, Nuri.‖ Kata bapak,
―Nanti kalau cukup bisa beli rumah, kalau
mengontrak, percuma uang habis dikasihkan orang
saja.‖ Nasihat bapak padaku. Sebenarnya aku tahu

116 | Malaikat Pemberi Jiwa

mengapa bapak meminta aku untuk tinggal
bersamanya. Bapak ingin aku menyelesaikan
kuliahku. Kalau aku tidak tinggal di rumah bapak,
pastinya bapak tidak bisa mengontrol kuliahku.
Bapak memang masih belum percaya dengan
Abang, dan sampai menutup matapun bapak
masih belum percaya.

―Nuri, bangun kuliah kamu!‖ pagi itu
bapak mengetuk pintu kamarku.

―Iya, Pak ini sudah mandi kok.‖ Aku
mencium tangan bapak dan pamit berangkat
kuliah. Kaki ini terasa ringan karena obor yang
disulut bapak padaku.

Setiap pagi selalu suara bapak yang
membangunkan aku. Begitu besar harapan bapak
agar aku merampungkan sarjanaku membuatku
malu. Cambuk bapak setiap hari menghantamku.
Allah tahu yang terbaik untuk umatnya. Dua tahun
pernikahan aku belum memperoleh momongan.
Setiap malam kesibukan merampungkan skripsi
dengan bermodalkan mesin tik tua pemberian
bapak. Hebatnya bapak selalu menemaniku untuk
mengetik. Bapak menemani sambil menonton
televisi sementara si abang karena lelah sepulang
kerja sudah tertidur lelap. Kadang hingga tengah
malam aku baru menyelesaikan ketikanku. Itupun
karena bapak yang meminta. Bapak melihat aku
sudah lelah dan banyak salah tulis yang aku ketik.

Seni Asiati Basin | 117

―Nuri, sudah malam, tidur besok
dilanjutkan.‖ Suara bapak mengantar aku menutup
pekerjaanku malam itu. Sebenarnya tinggal sedikit
lagi skripsiku. Bapak menemaniku hingga larut
dengan kain sarung dan kaos putihnya. Sekarang
kalau aku lelah karena merampungkan tulisanku
aku selalu bapak dan sarungnya.

―Tanggung Pak, tinggal ketik bab 5 trus
beres deh.‖ Sahutku sambal menguap.

―Sudah menguap masih lanjut aja, besok
lagi biar segar dulu tuh otak.‖ Bapak ikut
membereskan semua perabotan skripsiku. Kertas-
kertas yang berserakan dan buku-buku yang
tumpukannya sudah berantakan. Bapak lakukan
hampir setiap malam sepanjang skripsiku belum
rampung. Ah, bapak … malu rasanya.

Perjuanganku untuk menyelesaikan kuliah
memang luar biasa. Selama perjalanan itu bapak
menemaniku memberi ruhnya yang ekstra.
Malaikat pemberi jiwa ada di bapak. Aku tak tahu
jika saja bapak lelah dan tak menjagaku, tak akan
aku seperti sekarang. Hingga aku meraih gelar
sarjana bapaklah yang langsung bersorak dan
memelukku hangat. Kulihat kristal bening di mata
bapak. Aku anak ketiga bapak yang naik peringkat
jadi anak kedua, akhirnya mempersembahkan
togaku pada bapak.

118 | Malaikat Pemberi Jiwa

Maafkan aku, Pak. Seandainya aku tahu
begitu hebatnya pengaruh toga untuk bapak. Aku
tak akan menikah dulu. Foto wisudaku ada dua
orang laki-laki. Yah, bapak dan abang.

Bapak
tunas yang kau tanam dulu
kini telah tumbuh
siraman kasihmu
membuatnya subur
cambukmu melecutkan
semangat juangnya
Bapak
Teruslah menyiram
Teruslah melecutkan
Agar bisa terus subur
Agar selalu bersemangat

Sepenggal puisi yang aku tulis di halaman
persembahan skripsiku. Bagiku bapak adalah
Malaikat Pemberi Jiwa dan motivator hidupku.

Seni Asiati Basin | 119

Bapak dan Cita-cita Anakku

―Pak, bisa ikut Nuri ke rumah?‖ tanyaku
pada bapak sore itu.

Aku lihat bapak sedang asyik menonton
televisi. Seperti biasa bapak tidak duduk manis
menonton pertandingan sepak bola kegemarannya.
Entah kesebelasan mana yang diteriaki bapak
dengan semangatnya. Yah bapak selalu seperti itu
kalau menonton pertandingan bola, siapapun
kesebelasan yang tampil gaya bapak selalu begitu.
Berdiri di depan televisi sambil sesekali berteriak
―Aduh, alamak, yahhh, hajar!‖

Gaya bapak memang membuat yang
melihat geleng-geleng kepala. Kalau tidak pemain
sepak bola melakukan kesalahan (ini menurut
bapak padahal bapak sendiri tidak bisa main
sepakbola) dengan teriakan lantang bapak akan
memecah suasana rumah kadang malah memaki.
Tinggallah mamahku yang geleng-geleng kepala
sambil menutup telinga mendengar teriakan
bapak. Kali ini mamah menyingkir ke kamar dan
diam di kamar sambil berbaring.

―Tuh, suara bapak buat kuping pekak deh.‖
Gerutu mamah padaku yang sore itu datang untuk

120 | Malaikat Pemberi Jiwa

menjemput bapak. Mamah mengajakku
menyingkir ke kamar. Mamah tahu aku datang
dengan maksud yang lain, apalagi kalau bukan
urusan Ray dan si Mbak. Keinginan mengajak
bapak ke rumah seperti biasa harus bersabar
menunggu bapak menyelesaikan teriakannya.
Biasanya aku sudah paham maksud mamah.

―Kenapa, Ri si Mbak pulang yah?‖ tebakan
mamah memang jitu sekali. Yah kalau Mbak
pengasuh anakku pulang kampung biasanya
bapak yang aku sandera untuk menjaga anakku.
Selama lima hari dari hari Senin sampai hari Jumat,
bapak akan tinggal di rumahku untuk menjaga
anakku. Itulah susahnya bila tidak ada si Mbak.
Untungnya bapak bisa membantuku. Mengapa
bukan mamah? Pertanyaan itu selalu dilontarkan
teman-teman kerjaku. Mamah juga dititipi adikku
anak-anaknya yang memang bersekolah di dekat
rumah mamah. Keponakanku itu sepulang sekolah
akan menunggu mamahnya sepulang kerja di
rumah mamahku.

Sudah lima tahun aku dan adikku pindah
dari rumah bapak dengan maksud membangun
rumah tangga dengan rumah sendiri. Rumah yang
aku bangun tak jauh dari rumah bapak masih
dalam satu kecamatan berjarak 2 kilometer. Rumah
bapak akan selalu aku lewati jika aku pergi bekerja
atau pergi ke pusat perbelanjaan. Istilahnya rumah

Seni Asiati Basin | 121

bapak tempat yang strategis untuk dilewati dan
disinggahi. Makanya adikku menyekolahkan
anaknya di dekat rumah bapak. Selain hemat tidak
perlu menggaji asisten rumah tangga juga anaknya
aman bersama orang tuaku.

Rumah mewah sekali, itu julukan bapak
untuk rumahku. Bapak selalu ada kata yang indah
untuk julukan yang ia berikan. Ketika kutanya
kenapa bapak memberi julukan demikian untuk
istanahku. Waktu itu rumahku belum sepenuhnya
selesai, selama proses pembangunan, bapak yang
menjadi mandor atau istilah bapak ‗tukang pelotot‘
hehehe. Bapak memang selalu ada istilah untuk
apa yang dilakukan.

―Ri, rumah kamu ini luar biasa.‖ Kata bapak
sambil tersenyum, aku tahu arah pembicaraan
bapak, kalau bukan menggoda. Daerah sekitarku
ini memang berlokasi di Jakarta, ibukota negara
Indonesia, namun masih terbentang sawah di
sekeliling rumahku. Pagi hari masih dapat
menikmati kabut dan semilir angin sawah
bercampur angin laut yang hanya berjarak 2 km
dari rumahku.

―Ah, pasti Bapak ngejek rumah Nuri nih.‖
―Lah, ini rumah memang luar biasa,
enaknya di luar daripada di dalam.‖ Kata bapak
masih menggoda. Angin di luar memang lebih
nyaman dibandingkan di dalam rumah.

122 | Malaikat Pemberi Jiwa

―Tuh, apa kataku, Bapak pasti ngejek deh,
ntar Nuri beli AC biar adem di dalam rumah.‖
Kataku sambil memeluk bapak yang sedang
melihat sekeliling depan rumahku yang masih di
keliling sawah yang baru selesai panen.

―Yah, rumah mewah sekali ini memang luar
biasa.‖

―Tuh, apalagi deh istilah bapak.‖
Kulepaskan pelukanku, kali ini aku minta
dukungan mamah yang diam saja melihat anak
dan suaminya berdebat.

―Bapak tuh bangga, Ri‖ kata mamah
padaku. Mamah juga luar biasa tahu kalau aku
minta dukungan. Walaupun mamah ibu rumah
tangga tapi kiprahnya di masyarakat atau di
lingkungan sungguh luar biasa. Mamah hanya
tamatan SD, tapi mamah selalu dipercaya untuk
mengurus semua aktivitas sosial di lingkungan
bahkan semua saran dan usulan mamah selalu
menjadi acuan untuk melakukan kegiatan sosial
bahkan keagamaan. Kata mamah, seorang istri
harus mengimbangi langkah suaminya agar tidak
tertinggal jauh.

Julukan untuk rumahku yang diciptakan
bapak ternyata berasal dari keadaan lingkungan
rumahku yang masih banyak sawah. Kata bapak
rumahku ini ‗Mewah Sekali‘ alias ‗Mepet Sawah
Sedikit ke Kali‟. Sejak itu bila aku ditanya di mana

Seni Asiati Basin | 123

rumahku, akan aku katakan bahwa rumahku di
perumahan Mewah Sekali. Bapak... bapak ada saja
istilah seru untuk kami.

Awalnya bapak dan mamah tidak setuju
aku dan adikku pindah dari rumah bapak. Kata
mereka rumah bapak besar kamarnya banyak Aku
dan adikku berusaha meyakinkan bahwa kami
harus mandiri. Ternyata tidak bisa mandiri juga
yah. Aku selalu menyandera bapak kalau tidak
punya asisten rumah tangga. Adikku menitipkan
kedua anaknya di rumah bapak.

Rumahku memang tidak besar di tanah
kavling yang kami beli dengan mencicil pada
seorang tuan tanah asli Betawi. Sedikit demi sedikit
kami membangun rumah mulai dari satu kamar
hingga menjadi rumah yang utuh ada ruang tamu,
kamar tiga, ruang keluarga, kamar mandi, dan
dapur mini. Uang pembangunan tentu saja dari
hasil mengambil di bank dengan menitipkan SK
PNS-ku. Miris sekali kalau ingat surat berharga
yang mengesyahkan aku sebagai pegawai negeri
itu selalu dititipkan di bank. Keyakinanku bahwa
kami dapat hidup dari pendapatan suamiku dan
pendapatanku mengajar di sekolah swasta.

―Pak, ikut yah ke rumah Nuri.‖ Kataku
sambil memegang tangan kiri bapak yang masih
berdiri di depan televisi dengan berkacak
pinggang.

124 | Malaikat Pemberi Jiwa

―Alahhhhh.‖ Tangan kanan bapak melayang
ke udara itu artinya terjadi kesalahan pada
pertandingan sepak bola dan pertandingan
berakhir dengan meninggalkan ketidakpuasan
pada penontonnya siapa lagi kalau bukan bapak.
Bapak menengok aku yang berdiri di belakangnya.
Sebelum bapak bicara, aku sudah menyodorkan
selembar surat dan menyerahkan pada bapak
sambil tersenyum.

―Ini surat kontrak kerjanya yah Pak
Kapten.‖ Kataku menggoda bapak yang selalu
menanyakan kontrak kerja selama bapak tinggal di
rumahku. Padahal bapak dan aku tahu kertas itu
tidak ada isi apa-apa alias kosong. Tentu saja aku
ambil dari lembar kertas di buku anakku.

―Dengan ini saya: Dra. Nuri akan
memperkerjakan Kapten Mochamad Basin selama
lima hari kerja, menjemput pada hari minggu sore
dan mengantar kembali pada hari jumat sore.‖
Suara bapak lantang sekali membacakan kertas
kosong yang aku sodorkan pada bapak.

Aku dan mamah serta anakku yang
mendengar bapak membaca surat perjanjian
kontrak kerja kosong itu jadi tertawa geli. Bapak
selalu punya cara untuk membuat kami semua
merasa bangga memiliki bapak. Ada saja ulah
bapak untuk menghangatkan suasana.

Seni Asiati Basin | 125

―Mulai deh Bapak gaya.‖ Seru mamah yang
sore itu tak berhenti tertawa.

―Payah nih Mah, kerja lima hari tak
berhonor.‖ Bapak duduk dengan wajah memelas
dan mulut dimajukan ke depan. Tingkah bapak ini
semakin membuat kami tertawa. Anakku memeluk
kakeknya dengan manja.

―Yuk, Pak bereskan pakaian dan sarung
Bapak.‖ Kataku sambil mendorong pinggang
Bapak ke kamar.

―Asyik, aku dijaga Nek Anang.‖ Kata
anakku Ray yang sore itu harus aku ajak
menjemput bapakku. Nek Anang adalah panggilan
cucu-cucu untuk bapakku.

Hebatnya lagi bapaklah yang
membocengkan aku dan Ray dengan motor.
Bapakku memang masih gagah untuk
mengendarai motor padahal usia bapak sudah 70
tahun. Kalau aku minta aku saja yang
memboncengkan bapak, pastinya bapak akan
marah dan bilang bahwa bapak masih kuat.
Sebagai pensiunan polisi, stamina bapak memang
luar biasa.

―Mau kemana Kek.‖ Kata seorang ibu
melihat bapak dan aku akan pergi.

Seperti biasa bapak akan mempersiapkan
aksi teaterikal sambil mendekap tas berisi bajunya
ke depan dada. Wajahnya disedih-sedihkan seperti

126 | Malaikat Pemberi Jiwa

anak yang diusir dari rumah. Tangan bapak
menunjuk mamahku yang masih berdiri di depan
pintu pagar. Kalau hal ini kami semua anak-
anaknya sudah hapal kelakuan bapak. Semakin
ditanya bapak akan membuat si penanya semakin
penasaran dengan wajah sedih dan isak tangis
yang dibuat-buat. Bapak akan berkata kalau
dipaksa berpisah dengan mamahku.

Ah, bapak ada-ada saja. Biasanya si penanya
akan menyadari bahwa bapak sedang bergurau.
Bapak memang penuh canda bahkan dengan siapa
saja. Sore itu bapak berhasil kuboyong. Berpisah
lima hari dengan mamahku sebenarnya tak tega
juga aku, tapi apa boleh buat tanpa si Mbak aku
benar-benar bingung bagaimana harus bekerja.

―Ri, masak apa hari ini?‖ tanya bapak pagi
itu yang melihat aku sudah sibuk di dapur. Seperti
biasa kalau bapak tinggal denganku, aku akan
menyiapkan masakan untuk bapak dan anakku
sarapan serta makan siang.

Sekolah anakku dekat dengan rumah hanya
berjarak lima ratus meter saja sebuah sekolah dasar
Islam. Sarapan untuk bapak dan kedua anakku
sudah siap berikut makanan untuk mereka makan
siang nanti. Pagi itu aku antar Ray kesekolahnya
dan aku berangkat bekerja. Suami dan anak
sulungku tidak bersama kami. Suamiku bekerja di
luar kota seminggu sekali baru pulang. Sedangkan

Seni Asiati Basin | 127

si sulung bersekolah di pondok pesantren yang
mengharuskannya menetap di pondok. Biasanya
hari Minggu kami menengok sulungku.

―Wah sedapnya.‖ Seru bapak melihat
masakan yang aku masak. Iga sapi kesukaan
bapak.

―Nanti kalau Bapak mau makan,
dihangatkan saja yah Pak.‖ Kataku sambil
menutup panci sop iga. Bapak mengacungkan
jempolnya tanda menegerti.

―Sambalnya bikin ga Ri?‖
―Sudah dong, sambal tomat.‖ Aku tahu
tanpa sambal makanan apapun menurut bapak
hambar.
Seperti biasa aktivitas bapak menunggu Ray
pulang di rumah saja sambil menonton televisi
atau membersihkan rumah. Pekerjaan rumah yang
senang dilakukan bapak adalah mencuci. Bukan
mencuci baju dengan sikat kemudian
membilasnya. Bukan aktivitas itu melainkan
aktivitas mencuci menggunakan mesin cuci. Sambil
menunggu cucian selesai dicuci, bapak akan
menonton televisi.
Ray pulang sekolah menjelang zuhur.
Biasanya Ray pulang sendiri tanpa dijemput
bapak, karena dekat dengan rumah. Ray berjalan
kaki dengan teman sekolah yang rumahnya tepat

128 | Malaikat Pemberi Jiwa

di depan rumahku. Tapi kali ini karena tahu ada
bapak ia merengek.

―Mah, aku pulang dijemput Nek Anang
yah.‖

―Kok dijemput, adek biasanya pulang
dengan Ipin.‖ Aku memasukkan bekal Ray di
tasnya. Walau sudah makan aku tetap membekali
Ray makanan yang sederhana, mie goreng
kesukaannya.

―Terus, Nek Anang ngapain di rumah kalau
gak jemput aku.‖ Ray protes sambil minum susu
cokelatnya. Bibirnya kotor karena susu yang
diminumnya mengotori pinggiran bibirnya. Aku
ambil tisu dan membersihkan bibir Ray. Anakku
ini memang sangat ceriwis. Ray dan bapak sangat
kompak. Ada saja cerita bapak tentang perjuangan
dan kecintaan bapak dengan pekerjaanya sebagai
polisi. Pernah satu ketika ada karnaval di
sekolahnya dan Ray memilih mengenakan pakaian
polisi. Kata Ray waktu itu karena kelak kalau
sudah besar ingin menggantikan bapakku menjadi
polisi.

―Nek Anang di rumah saja yah Dek, kasihan
biar istirahat. Nanti sore antar adek les.‖ Penjelasan
aku ini memang sungguh jitu karena sore Ray
harus les dan biasanya bapak yang akan
mengantar.

Seni Asiati Basin | 129

Urusan les juga jadi urusan bapak ketika
putri sulungku menghadapi ujian nasional. Tasha
putri sulungku yang waktu itu kelas VI SD, harus
bimbingan belajar setiap hari secara intensif di
sebuah bimbingan belajar di dekat rumah bapak.
Anak sulungku ini pendiam susah menghadapi
situasi baru. Istilahnya anakku ini kurang ramah.
Tasha akan susah membuka pembicaraan dengan
orang. Karena bapaklah anakku ini mendapat
teman banyak di tempat bimbingan belajarnya.
Kok bisa yah? Pertanyaan itu yang aku tanya pada
anakku ketika di suatu kesempatan menjemput
Tasha.

Tasha sedang menungguku di tempat les
dengan beberapa teman lesnya dan asyik
mengobrol. Aku benar-benar terkejut karena sudah
beberapa kali les, Tasha selalu menyendiri. Belum
ada teman yang dikenal dan mengenal anakku.

―Yu, sekarang sudah banyak teman yah?‖
aku memanggil anakku Yu atau Ayu. Panggilan
untuk kakak di Palembang. Bapak dan ibuku asli
Palembang jadi kami membiasakan memanggil
Tasha dengan Ayu Tasha agar adiknya
membiasakan memanggil dengan sebutan Ayu
Tasha.

―Mamah mau tahu kenapa?‖ jawaban
anakku ini membuatku melambatkan motor yang
aku kendarai agar bisa mendengar cerita Tasha.

130 | Malaikat Pemberi Jiwa

―Ada ceritanya yah?‖ tanyaku. Aku lihat
dari kaca spion, Tasha yang masih sibuk dengan
permen lolipop di mulutnya tersenyum
menggodaku.

―Nanti yah Mah di rumah biar Nek Endut
juga dengar.‖ Tasha ingin neneknya atau ibuku
yang biasa dipanggil Nek Endut mendengar
ceritanya.

Mamahku bukan bernama ―Endut‖ akan
tetapi karena bentuk tubuh mamahku yang gemuk
membuat cucu-cucunya memanggilnya Nek
Endut. Kalau anakku sudah berkata seperti itu
pastinya tidak mau diganggu dari aktivitas
lolipopnya.

―Ayu, katanya mau cerita.‖ Aku menagih
janji anakku.

―Idih kok mamah jadi kepo sih.‖ Ada-ada
saja istilah Tasha.

―Siapa sih si Kepo.‖ Kugoda Tasha.
―Nek Endut!‖ Tasha memeluk mamahku
yang dijumpainya di teras. Kalau sudah seperti ini
bapak pasti akan menarik rambut Tasha dan
merengek minta dipeluk juga. Aku mengambil tas
les Tasha.
―Nah ini dia si tukang cerita.‖ Tasha
menunjuk bapakku yang sudah siap
membentangkan tangan minta dipeluk. Tasha
menggoda bapakku yang malah erat memeluk

Seni Asiati Basin | 131

neneknya. Bapakku makin berekspresi sedih.
Bapak duduk tanda protes tak dipeluk Tasha.

―Nek Endut tahu gak, teman les aku tuh
lebih banyak kenal Nek Anang daripada kenal
sama aku.‖ Tasha memulai ceritanya.

―Kok bisa?‖ tanya mamahku sambil
melepaskan pelukan Tasha dan mengajak Tasha
duduk di kursi teras.

―Gini loh Nek, jadi kalau Nek Anang dapat
tugas jemput aku, nah dia selalu datang lebih cepat
dari jadwal pulang les aku.‖

―Terus apa hubungannya nih?‖ aku
penasaran dengan cerita Tasha. Bapak kok
dilibatkan. Memang biasanya bapak menggantikan
aku menjemput Tasha di tempat lesnya.

―Iya apa hubungan Nek Anang dengan les
Tasha.‖ Kali ini mamahku ikut penasaran.

―Yah ada hubungannya Nek. Jadi semua
teman les ku yang sekelas maupun yang gak
sekelas selalu diajak ngobrol sama Nek Anang.
Cerita Tasha semakin seru.

―Lalu apa masalahnya.‖ Kali ini bapak yang
bertanya.

―Tidak ada masalah sih, malah aku
beruntung Mah, gara-gara Nek Anang semua
teman tanya gini. Tasha itu kakek kamu yah? Terus
aku jawab iya kenapa? Kata teman-temanku kakek

132 | Malaikat Pemberi Jiwa

kamu lucu yah.‖ Ucap Tasha sambil memeluk
bapak.

Rupanya karena bapak yang selalu
mengajak ngobrol dan suka bercerita, akhirnya
teman-teman Tasha terhibur dengan cerita bapak.
Imbasnya semua teman les Tasha jadi ikut
mengenal Tasha. Karena menurut cerita teman
Tasha, bapakku sebelum dan sehabis cerita selalu
berkata.‖Kakek punya cerita nih, sebelum cucu
kakek Tasha keluar kelas.‖ Atau ―Nak Tasha cucu
kakek sudah mau keluar kelas, cerita diakhiri yah.‖

Bisa kebayang itulah yang membuat semua
siswa les di bimbingan belajar itu jadi mengenal
Tasha, awalnya dari nama akhirnya mengenal
karena kakek pulang membonceng Tasha.

―Dah kakek, dah Tasha. Besok cerita lagi
yah.‖ Tuh teman-temanku selalu begitu kalau aku
pulang dibonceng Nek Anang. Pelukan Tasha
semakin erat ke bapakku.

Aku lihat mata mamahku yang memerah.
Ada kristal bening di ujung mata mamahku.
Suaminya yang sering diajak berdebat dengan
kebiasaan mendidik cucu ternyata bisa membuat
cucunya memiliki teman dan tidak dijauhkan dari
pergaulan..

Kali ini giliran Ray yang diantar jemput
bapak les, bahkan kali ini supaya tidak mondar-
mandir selama dua jam Ray les, bapak menunggu

Seni Asiati Basin | 133

di tempat les. Kasihan kalau bapak harus mondar-
mandir pulang terus datang lagi untuk menjemput.
Bapak senang dengan aktivitas ini. Kata bapak bisa
ikut belajar dengan guru-guru les Ray. Rupanya
bapak selalu banyak bertanya dengan semua guru
les Ray. Pastinya anakku juga ikut dikenal, kali ini
dengan semua guru les. Hahahahahaha.

134 | Malaikat Pemberi Jiwa

Pinjaman tanpa Jantung

―Ri, pulang cepat!‖ suara bapak di ujung
telepon terdengar marah. Sudah empat hari bapak
di rumah. Hari ini kamis yang tentu saja aku ingat.
Karena peristiwa ini mengubah semua cerita
dengan bapak.

―Ada apa Pak?‖
―Pulang ajalah gak usah tanya.‖ Kali ini
nada bicara bapak semakin dalam. Aku benar-
benar bingung. Bapak tak pernah marah seperti ini
dan menyembunyikan berita.
―Iya Pak, Nuri izin dulu yah.‖ Aku minta
izin dengan guru piket dan meninggalkan tugas
untuk kelas yang kutinggalkan. Bapak pasti
mempunyai alasan menyuruhku pulang.
Sampai di rumah ada beberapa orang
berpakaian seperti petugas bank duduk di ruang
tamu. Bapak juga duduk di ruang tamu tapi wajah
bapak terlihat tegang. Tangan bapak terkepal
menahan amarah.
Aduh ada apa ini. Kok jadi terlihat tegang.
Aku merutuk dalam hati. Kusandarkan motor dan
ikut duduk di samping bapak.

Seni Asiati Basin | 135

―Ada apa Pak?‖ tanyaku pada seorang
petugas.

―Begini Bu, kami dari...‖ belum sempat
petugas itu berkata bapak berdiri dan mengambil
jaket yang biasa dikenakan jika ingin menjemput
anakku les. Padahal hari ini Ray tidak les, jadi mau
kemana bapak?

―Bapak mau kemana?‖ tanyaku menatap
bapak. ―Nuri gak tahu ini ada apa.‖

―Masa kamu gak tahu Nuri! Malu-maluin
aja, kalau gak bisa bayar jangan utang!‖. Suara
bapak seperti petir di siang bolong di telingaku.

―Loh, siapa yang utang Pak.‖ Kali ini aku
berdiri menghampiri bapak yang bersiap pergi
dengan motor yang biasa dipakai untuk mengantar
Ray.

Melihat keadaan itu membuatku jadi
mengesampingkan tamu yang ada di hadapanku.

―Maaf, bapak-bapak ini siapa dan ada
keperluan apa?‖ nada bertanyaku sudah meninggi.

―Kami dari petugas bank, Bu.‖ Seru seorang
petuags.

―Iya petugas bank yang hari ini mau
menyegel rumah kamu!‖ kali ini kalimat bapak
benar-benar menghantam jantungku. Kulihat juga
bapak duduk di teras sambil mendekap dadanya.
Aku hampiri bapak untuk memintanya pindah ke

136 | Malaikat Pemberi Jiwa

ruang tamu. Tapi bapak tidak mau dan
menyuruhku kembali ke ruang tamu.

―Kami mau menagih tunggakan rumah
yang belum dibayar selama lima bulan. Pada
tunggakan ketiga kami sudah memberikan surat
teguran.‖ Petugas itu menyodorkan surat
penagihan dan surat penyegelan rumah.

Aku benar-benar syok mendengar
penjelasan petugas bank. Aku membaca surat
penagihan dan surat penyegelan. Aku
mengkhawatirkan bapak yang masih duduk di
teras.

―Apa tidak ada penyelesaian lain Pak?‖
tanyaku berharap ada jalan keluar selain
penyegelan.

―Ada Bu.‖ Jawaban itu membuat aku agak
lega.

―Bagaimana caranya Pak?‖ tanyaku lagi
―Ibu lunasi tunggakan di bank dalam tempo
seminggu agar tidak disegel. Untuk itu ibu
hubungi pihak bank besok untuk memohon
penyelesaian.‖ Penjelasan petugas itu sudah
membuat lega hatiku.
Aku benar-benar tidak menyangka.
Suamiku menggadaikan rumah kami untuk bisnis
bersama adiknya. Rencana mereka cicilan kredit
ditanggung berdua. Ternyata bisnis mereka
mengalami kemerosotan bahkan bangkrut. Uang

Seni Asiati Basin | 137

menjalankan bisnis ini dari patungan suamiku dan
adiknya. Suamiku yang seorang karyawan
pastinya tidak punya uang yang banyak untuk
bisnis. Uang pinjaman dari bank dengan
mengagunkan sertifikat rumah terpaksa ia lakukan
dan tanpa sepengetahuanku. Hatiku benar-benar
sedih, kok tidak memperthitungkan akibat yang
ditimbulkan. Untungnya Ray sedang pergi mengaji
di mushola jadi tidak menyaksikan insiden ini.

Rupanya sudah lima bulan ini mereka tidak
mencicil pinjaman tersebut. Penagihan melalui
telepon sudah dilakukan tapi menurut pihak bank
suamiku dan adikknya tidak bisa dihubungi.
Sesuai perjanjian dengan bank, bila dalam tempo
lima bulan menunggak maka bank berhak menyita
aset sesuai agunan dari pihak peminjam. Apapun
alasannya suamiku sudah membuat bapak menjadi
seperti ini.

Urusan dengan pihak bank dapat aku atasi
dengan kembali meminjam di bank ibaratnya gali
lobang tutup lobang. Namun akibat dari peristiwa
itu bapak harus masuk rumah sakit karena
penyakit jantungnya. Aku benar-benar sedih,
selain terluka hatiku karena suamiku
menggadaikan satu-satunya harta kami yang
berharga juga akulah penyebab bapak sakit.
Semenjak itu berulang kali bapak keluar masuk
rumah sakit dengan penyakit yang sama yaitu

138 | Malaikat Pemberi Jiwa

jantung. Beberapa rumah sakit sudah menjadi
langganan bapak hingga suatu ketika bapak harus
masuk ICU. Rumah sakit pertama yang jadi rumah
sakit untuk pertolongan pertama bapak
menyarankan ke rumah sakit jantung nasional.
Selain itu rumah sakit ini menerima asuransi yang
dimiliki bapak.

Bapak memang tak menyusahkan kami
anak-anaknya bila masuk rumah sakit. Bapak
punya asuransi sehingga tagihan pengobatan
bapak dapat dibayar dari asuransi tersebut.
Namun demikian tetap saja jadi pikiranku dan
adik-adik. Aku merasa bapak pasti memikirkan
aku dan anak-anakku dengan utang yang suamiku
buat. Aku sudah katakan pada bapak kalau kami
bisa hidup walau dengan sedikit penghasilan yang
kami punya.

Anakku Ray dekat sekali dengan kakeknya.
Ray selalu menemani bapak di rumah sakit
sepulang sekolah. Sesekali bergantian dengan
keponakanku yang lain. Ray selalu datang dengan
cerita-cerita yang lucu juga cerita yang
membesarkan hati bapak tentang cita-cita menjadi
polisi pengganti bapak.

Sejak saat itu penilaian bapak terhadap
suamiku berbeda. Bahkan cerita dan sikap kepada
ayah anak-anakku semakin menjaga jarak. Bagi
bapak kesalahan itu merupakan kesalahan yang

Seni Asiati Basin | 139

cukup memalukan. Untungnya sikap bapak dan
tabiat bapak tetap sama ceria. Bapak sering
menggoda suster kalau dirasa hatinya senang.
Namun, aktivitas bapak sudah tak sama harus
dibatasi, itu menurut dokter. Jantung bapak tidak
boleh dipaksa untuk bekerja ekstra terutama
berbicara banyak. Padahal bapak senang sekali
bercerita.

Bapak harus pasang ring di jantungnya
upaya pencegahan mengurangi penyumbatan di
jantungnya. Aku memang sangat menyesal dengan
apa yang terjadi. Seandainya si Mbak tidak pulang
tentu bukan bapak yang mendengar berita
rumahku yang tergadai dan jantung bapak akan
baik-baik saja. Aku tahu semua ini memang harus
terjadi sebagai pelajaran berharga buat kami agar
hati-hati melangkah.

Sejak itu beberapa kali bapak keluar masuk
rumah sakit. Jantung bapak semakin bermasalah.
Semua gara-gara pinjaman sialan yang tak
berujung. Andai waktu bisa kuputar rasanya ingin
aku bilang mengapa tak ada kompromi.

140 | Malaikat Pemberi Jiwa

Kemana Bapak?

Pagi itu aku masih di sekolah dan
sedang menjalani tugas sebagai
pengajar ketika suara mamah di
telepon membuatku tersentak.
―Ri, dimana?‖ suara mamah terdengar lirih
di telepon.
―Nuri di sekolah, Ma ada apa? Tanyaku.
―Bapak pergi.‖ kata mamah.
Dua kata yang mampu membuatku
tersentak. Pasti ada yang terjadi yang
menyebabkan bapak pergi. Sudah seminggu ini
memang suasana memanas di rumah mamah.
Penyebabnya apalagi kalau bukan gara-gara
pengasuhan cucunya yang berbeda.
Keponakanku Rendi dan Fajar anak
kakakku Susi, semenjak kecil tinggal dengan orang
tuaku. Hanya waktu Rendi yang bermasalah ketika
bersekolah di SMK harus menyingkir ke rumah
ibunya di Cikampek. Rendi adalah cucu kedua
orang tuaku dan anak kedua kakakku. Ayahnya
meninggalkan kakakku sewaktu Rendi berusia dua
bulan. Kejadian itu menyebabkan kakakku harus
bercerai. Sebenarnya gara-gara yang sangat sepele

Seni Asiati Basin | 141


Click to View FlipBook Version