saja. Cerita bapak padaku kalau suami kakakku
yang bekerja di perusahaan tempat bapak juga
bekerja menjadi koordinator demo buruh. Waktu
itu bapak setelah pensiun bekerja kembali menjadi
kepala personalia. Bapak menyampaikan kebijakan
pimpinan perusahaan pada buruh di pabrik.
Rupanya para buruh dikomandoi suami kakakku
melakukan unjuk rasa terusik menerima kebijakan
itu. Tentu saja bapak tidak terima dengan
perbuatan menantunya ini apalagi suami kakakku
ini bekerja karena bapak yang memasukkannya di
pabrik itu. Bapak dan kakak iparku itu bertengkar
hebat. Kakak iparku mengancam akan
meninggalkan kakakku. Tentu saja bapak semakin
berang. Bapak mengusir kakak iparku dari pabrik
dan dari rumah.
―Silakan pergi, bawa istri dan anakmu kalau
kamu merasa mampu.‖ Kata-kata bapak menohok
kakakku yang terdiam.
Maksud perkataan bapak yang tegas itu
ingin menekankan bahwa kakak iparku harus
membawa istri dan anaknya dan berusaha mencari
pekerjaan sendiri. Selama ini yang aku tahu
walaupun sudah berumah tangga, kakak iparku
selalu bergantung dengan orang tuaku. Pekerjaan
selalu dicarikan bapak. Bagus juga sebenarnya biar
kakak iparku itu berusaha sendiri jangan
tergantung orang.
142 | Malaikat Pemberi Jiwa
Maksud bapak ditanggapi berbeda oleh
kakak iparku. Hari itu kakak iparku pergi dan
meninggalkan istri serta kedua anaknya. Kakakku
yang baru melahirkan anak keduanya dua bulan
yang lalu yaitu Rendi tentu saja tidak mau
berspekulasi ikut dengan suaminya yang tidak
memiliki pekerjaan. Selain kondisi tubuhnya yang
belum sehat pasca melahirkan juga karena
mamahku menangis sambil mengendong Rendi
agar kakakku tinggal tidak usah ikut suaminya.
―Sus, jangan ikut yah kasihan anak-anak
mau makan apa kalau bapaknya tidak bekerja.
Lihat Rendi dan Fajar masih butuh susu darimana
nanti beli semua keperluan anak kamu. Di sini
semua keperluan kamu dan anak kamu disediakan
bapak.‖ Kata mamah membujuk kakakku yang
juga bingung memutuskan jalan hidup yang akan
dia lalui. Waktu itu aku belum mengerti, aku
belum berumah tangga. Aku sayang dengan kedua
keponakanku yang wajahnya mewarisi wajah
keluarga kami berkulit putih dan tampan.
―Susi bingung Ma, ikut suami terancam gak
makan, ikut dengan Bapak dan Mamah di sini
berarti Susi durhaka sama suami.‖ Tangis kakakku
pecah saat itu.
Akhirnya keputusan terbaik yang diambil
kakakku adalah tinggal bersama orang tuaku.
Keputusan yang membuat lega bapak dan mamah
Seni Asiati Basin | 143
juga kami adik-adiknya. Tak bisa kami bayangkan
bagaimana kehidupan kakakku bersama anak-
anaknya jika pergi bersama suaminya. Bisa saja
kehidupan mereka baik atau malah terlantar hanya
Tuhan yang tahu garis hidup seseorang.
Semenjak ditinggal suaminya kakakku
mengasuh kedua anaknya dibantu mamah. Ketika
kedua anaknya besar dan dapat ditinggal Susi
bekerja di sebuah perusahaan kosmetik di Jakarta
juga. Kabar yang kami dengar suami Susi atau
ayah Fajar dan Rendi sudah menikah lagi di Bogor.
Kata bapak sudah bukan urusan kita lagi. Toh
kedua anaknya tidak pernah sepeserpun menerima
uang dari bapaknya. Kakakku sendiri sudah
menikah lagi dengan seorang pemuda yang mau
menerimanya sebagai seorang janda dengan dua
anak kemudian tinggal di Cikampek. Kata kakakku
meninggalkan cerita masa lalu di Jakarta dan
membuka lembaran baru di Cikampek
Bapakku memang keras dalam mendidik
anak dan cucunya. Salat lima waktu dan tepat
waktu selalu diajarkan oleh bapak. Hal ini berkali-
kali ditekankan bapak karena anak-anak dan
cucunya selalu malas mengerjakan yang lima
waktu. Apalagi kakakku Susi entah apa yang ada
dipikirannya untuk melaksanakan perintah Yang
Maha Kuasa saja susah sekali. Padahal dari kecil
144 | Malaikat Pemberi Jiwa
bapak dan mamah selalu mengajarkan keutamaan
menjalankan perintah-Nya.
―Salat itu kewajiban muslim dan membuka
rezeki kita.‖ Kata-kata bapak yang selalu aku ingat.
Sifat dan karakter Rendi memang berbeda
dengan semua cucu orang tuaku. Rendi jarang
bergaul dan berkumpul dengan semua saudara-
saudaranya. Bahkan dengan kakaknya saja Fajar
kurang akur. Ada saja yang jadi pertengkaran
―Bapak kemana Mah.‖ Tanyaku pagi itu,
Persoalan ini semakin ruwet kalau bapak sampai
pergi dan tak ada yang tahu.
―Kalau mamah tahu gak telepon Nuri.‖
Wajah mamah tertunduk sedih. Aku tahu mamah
menyesal atas kepergian bapak.
―Maksud Nuri, bapak pergi pasti ada
sebabnya kan?‖ kataku lagi. Sebenarnya aku sudah
tahu pasti karena ulah Rendi bapak pergi.
―Mamah hanya bilang, bapak kalau marah-
marah jangan terus saja menyalahkan Rendi.‖
Mulailah mamah bercerita asal mula bapak sampai
pergi meninggalkan rumah. Benar saja tebakanku
ini semua karena Rendi. Sudah satu minggu ini
Rendi selalu pulang malam bahkan sampai pagi.
Semua nasihat bapak tidak mempan. Bahkan
kakaknya Fajar yang menegurnya diajak
bertengkar dan sampai melakukan kekerasan fisik.
Hari itu rupanya puncak kekesalan bapak karena
Seni Asiati Basin | 145
Rendi pulang pagi. Tidak itu saja pintu rumah
tidak dikuncinya. Amarah bapak tidak sampai
disitu saja Rendi yang dimarahi malah melawan.
Hampir saja melayang tangan bapak sebelum
mamah melerai.
―Sudah sih pak, marah terus tidak bisa apa
bicara baik-baik dengan Rendi. Sudah tua juga
masih saja senang marah.‖ Kata mamah
―Kamu tahu apa, ini rumah saya, harus tahu
aturan yang saya terapkan. Selama ini sudah sering
saya nasihati, lihat mana didengar dengan cucu
kesayanganmu itu, belum juga punya rumah
sendiri masih menumpang seenaknya!‖ suara
bapak memecahkan suasana yang semakin
memanas.
Mamah yang mendengar kata-kata bapak
menjadi berang. Mamah menganggap bapak
menyindir mamah yang juga ikut menumpang di
rumah itu. Perkataan bapak ini membuat suasana
hati mamah yang tadinya sudah sedih semakin
menjadi-jadi. Keluarlah kata-kata yang semestinya
tidak dikeluarkan mamah.
―Aku memang hanya lulusan SD tidak
sekolah hanya menumpang gak bisa cari uang
hanya bisa menghabiskan uang suami.‖ Mamah
membanting pintu kamar dan menangis di kamar.
Bapak yang melihat kelakuan mamah dan merasa
146 | Malaikat Pemberi Jiwa
tidak ada kata-kata yang salah menjadi kesal bukan
main.
―Oh semua orang di rumah ini sudah berani
melawan saya yah, mentang-mentang saya sudah
pensiun tidak ada lagi yang menghargai saya.‖
Bapak semakin marah.
Cerita selanjutnya sudah bisa diterka. Bapak
pergi membawa tas kecil yang selalu ia bawa kalau
menginap di rumahku. Bapak pergi tanpa
memberitahu mamah hendak kemana ia. Iyalah
kalau bilang-bilang mamah pasti tidak khawatir
seperti sekarang.
―Mamah kan hanya bilang seperti itu Nuri.
Memang mamah menumpang kok selama ini.‖
Suara mamah tercekat memendam tangis.
―Iya, Mah tapi tidak usahlah mamah
mengeluarkan kata-kata seperti itu. Suasana hati
bapak sedang tidak bagus.‖ Kataku lagi.
―Jadi Nuri juga menyalahkan mamah, Nuri
pikir selama ini mamah hanya menumpang saja.
Darimana uang buat kalian kuliah kalau bukan
mamah jualan nasi di warung. Mamah juga tahu
diri biarpun hanya tamatan SD.‖
Waduh kok malah melebar kemana-mana
sih. Aku dan adik-adikku memang terbantu
dengan usaha warung nasi mamah. Kami
menghargai mamah yang sudah berjuang untuk
kami agar bisa mendapat pendidikan yang layak.
Seni Asiati Basin | 147
Kata mamah kalau mengandalkan gaji dari bapak
tidak cukup. Rutinitas mamah selama berjualan
luar biasa hebatnya. Pukul 3 pagi aktivitas mamah
sudah dimulai. Mamah sudah ke pasar untuk
berbelanja keperluan warung nasi. Pulang ke
rumah waktu subuh dan mulailah memasak semua
makanan siap saji yang akan dijual di warung nasi.
―Mamah yang baik,Nuri tidak menyalahkan
Mamah. Nuri hanya menyayangkan gara-gara
perkataan itu saja bapak dan mamah sampai
bertengkar. Satu lagi ini gara-gara Rendi jugakan?‖
Mamah hanya terdiam saja kali ini, mamah
benar-benar menangis. Aku tak tahu mamah
menangis karena bapak pergi atau karena kata-
kataku yang mengena yah?
―Mamah tahu mamah salah, tapi harusnya
bapak jangan bilang begitu dong. MENUMPANG,
Rendi juga gak tahu diri sudah MENUMPANG
masih melawan terus.‖ Mamahku menangis. Kalau
sudah begini jangan harap kita memberikan
pendapat atau ikut bicara masalah ini. Seperti yang
sudah-sudah apapun perkataan anak-anaknya
mamah tidak akan mau disalahkan. Padahal aku
dan adikku tidak menyalahkan hanya ingin
meluruskan bahwa penyelesaian masalah ini
disikapi dengan kepala dingin.
―Awan, cepat ke rumah bapak yah.‖
Kutelepon adik bungsuku yang tinggal di daerah
148 | Malaikat Pemberi Jiwa
lain tapi masih di Jakarta. Semenjak menikah
Awan tinggal di rumah orang tua istrinya. Istri
Awan adalah anak bungsu dan kedua kakaknya
sudah menikah dan tinggal di rumah masing-
masing sehingga rumah orang tua istri Awan tidak
ada yang mendiami. Orang tua istri awan sendiri
sudah lama meninggal dunia.
―Ada apa sih?‖ tanya Awan,
―Sudah ke rumah dulu kita bicarakan untuk
cari bapak.‖ Jawabku yang tentu saja membuat
Awan bingung.
―Bapak kenapa kok dicari? Bapak hilang?‖
pertanyaan Awan kusambut dengan menutup
telepon.
Kemana yah bapak? Semua tempat yang
biasa disinggahi bapak dan orang-orang yang
mungkin akan bapak datangi sudah aku telepon.
Semua menjawab kalau bapak tidak ada di rumah
mereka. Kakakku yang di Cikampek, adik sepupu
bapak yang di Halim, keponakan bapak di Depok
sudah aku telepon. Aku belum mendatangi
kediaman mereka sih hanya melalui telepon, masa
mereka akan membohongiku. Apalagi aku katakan
pada mereka kalau mamah menangis terus
memikirkan bapak. Padahal mamah menangis
karena mengingat perkataan bapak yang menyakiti
hatinya. Hanya satu kata sih ―menumpang‖ dan
aku sudah bilang pada mamah bahwa kata
Seni Asiati Basin | 149
tersebut untuk Rendi. Eh malah aku dituduh
mamah membela bapak dan tidak berempati pada
mamah.
Hari itu mamah ditemani Awan dan istrinya
di rumah. Rendi sendiri tidak pulang ke rumah.
Kelakuannya memang membuat jengkel seisi
rumah. Adikku mencari keberadaan Rendi yang
ternyata malah menikmati hari-harinya di sebuah
warnet. Rendi tidak tahu akibat perbuatannya
berimbas pada kakeknya yang sudah dua hari ini
belum pulang. Mamah diam saja tak banyak bicara
bahkan makan pun tidak banyak. Aku dan adik-
adikku khawatir dengan bapak juga mamah.
Susahnya menjaga perasaan orang tua.
Sore itu ketika aku masih mengajar di kelas
ponselku berbunyi. Nomor telepon yang tidak ada
di daftar kontakku. Mulanya aku tak mau
mengangkat takut telepon yang salah sambung.
Untung keinginan itu mengalahkan
keingitahuanku, siapa tahu dari bapak atau orang
yang menolong bapak.
―Halo dengan siapa ini?‖ tanyaku.
Terdengar suara orang berdebat di telepon dan
suara itu sangat aku kenal.
―Ini Nuri yah?‖ ujar suara di telepon.
―Iya ini dengan siapa? Tanyaku dengan
harap-harap cemas.
150 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Ini Kak Dadi, Ri.‖ Jawab suara di seberang
telepon. Dadi adalah kakak sepupuku. Ayahnya
kakak pertama bapakku. Kak Dadi tinggal di
Tangerang dan aku tidak tahu tepatnya di daerah
mana rumah kak Dadi.
Kami jarang berhubungan dengan Kak
Dadi. Aku memang mendengar kalau Kak Dadi
yang sewaktu muda dulu tinggal bersama kami
sekarang sudah menetap di Tangerang dan
menjadi supir ojek. Bapak sudah beberapa kali
mengajakku silaturahmi ke rumah Kak Dadi, tapi
itulah ada saja kesibukanku yang melanda.
―Ada apa kak, tumben
menelepon?‖tanyaku. Aku berharap ada berita
gembira yang akan disampaikan Kak Dadi.
―Bapak ada di rumah saya sudah dua hari.‖
Tak sadar aku menjerit gembira dan mengucap
syukur karena keberadaan bapak sudah jelas ada
dimana.
―Terus sekarang bapak ada di dekat Kak
Dadi kan?‖ aku tak sabar ingin mendengar suara
bapak karena aku tahu tadi itu suara bapak di
dekat Kak Dadi. Aku ingin bicara dengan bapak
menanyakan kabar dan kesehatannya.
―Ri.‖ Suara bapak memanggilku singkat.
Walaupun singkat rasanya panggilan bapak sudah
membuatku melayang terbang gembira sekali.
Bapak sehat!
Seni Asiati Basin | 151
―Bapak!‖ seruku segera. ―Bapak sehat,
bagaimana keadaan Bapak? Sedang apa Bapak
sekarang? Sudah makan belum?‖ pertanyaanku
berbondong-bondong keluar.
―Walah Ri, tanya kok borongan
hahahahaha.‖ Suara tawa bapak yang sudah dua
hari hilang terdengar merdu sekali. Tawa yang
sungguh sangat kurindukan, kalau ingat bapak
tertawa sambil memamerkan gigi depannya yang
sudah tanggal. Belum lagi alisnya yang hampir
memutih naik turun. Alis bapak sama dengan
alisku tebal kata orang seperti semut beriring.
Banyak cerita bapak di telepon sore itu.
Bapak menanyakan rumah, menanyakan mamah
dan tentu saja menanyakan semua cucunya. Aku
dapat membayangkan kerinduan bapak karena
berpisah dengan semua cucunya walaupun baru
dua hari.
―Ternyata bapak kalah yah Ri.‖ Kata bapak
lagi.
―Kalah kenapa Pak?‖ tanyaku bingung
―Bapak gak bisa pisah dengan kalian
terutama semua cucu bapak. Hidup bapak itu
semangat, sehat, dan bahagia kalau kumpul
dengan kalian.‖ Kata-kata bapak membuatku tak
terasa meneteskan air mata. Peristiwa itu terlihat
oleh anak muridku di kelas. Yah aku masih
mengajar di kelas ketika Kak dadi menelepon.
152 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Bapak gak kalah Pak, di sini gak ada yang
menang atau kalah.‖ Kataku sambil menyeka air
mata.
Aku habiskan obrolanku dengan bapak dan
permintaan bapak agar aku tak mengatakan pada
mamah kalau bapak ada di rumah Kak Dadi. Besok
pagi bapak minta dijemput dan menjadi kejutan
terindah buat mamah. Aku pesan pada bapak agar
tidak lagi bertengkar dengan mamah untuk hal-
hal sepele yang bisa diselesaikan bersama.
Kepergian bapak dua hari sudah
menimbulkan luka di hati bapak dan tentu saja
mamah. Aku tahu banyak yang belum aku berikan
pada mereka berdua. Kasih sayang tulus yang
dilimpahkan mereka untuk merawatku kemudian
merawat cucu-cucunya merupakan harga yang tak
ternilai.
Pagi itu aku izin tidak mengajar dan
menjemput bapak di rumah Kak Dadi. Rupanya di
rumah Kak Dadi sudah membuat bapak menyadari
kesalahannya dan kerinduannya pada kami. Pagi
itu masih sepi. Jalanan belum banyak lalu lalang
kendaraan. Aku bersama Ray menjemput bapak.
Semalaman Ray tidak bisa tidur memikirkan
pertemuan hari ini dengan bapak. Kata Ray sepi
tidak ada Nek Anang. Walau bapak sering marah,
tapi cerita-cerita bapak mampu membangkitkan
kerinduan terhadap sosok seorang kapten polisi
Seni Asiati Basin | 153
yang ramah. Aku sudah mengemudikan mobil
selama dua jam untuk sampai ke rumah Kak Dadi.
Aku sudah membayangkan pelukan hangat bapak
jika aku tiba nanti di rumah Kak Dadi. Untungnya
jalan yang kami lalui masih sepi belum banyak lalu
lalang kendaraan. Alamat dan rute yang harus aku
lewati benar-benar jelas dan dapat menuntun
mobilku kesana.
―Gimana sih, lama amat kalau bangun
jangan kesiangan jadi habis sallat Subuh bisa
langsung jalan. Kalau sudah siang begini lihat
panas, belum lagi macet.‖ Berderet kata-kata bapak
begitu mobilku sampai rumah kak dadi.
―Bapakkkkk!‖ gerutuku.
Bukan pelukan yang kuterima tapi ceramah
bapak yang luar biasa panjang.
154 | Malaikat Pemberi Jiwa
Pulang Kampung
Ruangan serba putih itu dengan tirai
hijaunya adalah tempat keluargaku
berkumpul. Pendingin ruangan
yang mampu menghalau bakteri, tak mampu
menghalau resah dan risau dari kerut wajah
mamah dan keluargaku. Siang itu pakaian yang
dikenakan bapak juga hijau, sama dengan
penghuni kamar lainnya. Bapak sudah tiga hari
menempati ruangan kecil itu sendiri hanya
ditemani alata-alat yang menempel di tubuhnya.
Rasanya sedih melihat bapak hanya berteman
dengan semua alat itu.
―Nuri, lebaran nanti kita pulang kampung
yah.‖ Suara bapak pelan hampir berbisik, tetapi
telinggaku serasa mendengar pengumuman dari
ujung mikrofon jelas dan menggelegar.
―Apa Pak?‖ tanyaku untuk memastikan apa
yang kudengar. Aku ingin memastikan apa kali ini
bapak sedang dalam taraf bergurau tingkat dewa.
Duh, semoga hanya fatamorgana. Hari ini
jadwalku menjaga bapak.
Kupandangi semua peralatan medis yang
menempel di tubuh bapak. Lebaran memang
Seni Asiati Basin | 155
masih lama masih tiga bulan lagi. Puasa Ramadhan
saja belum kami jalani. Sebenarnya bukan masalah
pulang kampung. Bapak masih terbaring lemah di
ruangan kecil itu, orang-orang menyebutnya ICCU.
Ruangan ini setingkat lebih rendah dari ICU atau
lebih mengkhawatirkan kalau bapak harus
ditangani di ICU. Pasien yang menenpati kamar ini
memiliki tingkat penyakit yang cukup
mengkhawatirkan bukan lebih mengkhawatirkan.
Ibarat hotel kamar bapak bintang empat belum
semahal bintang lima dan bapak ada di ruang itu
sudah tiga hari.
Bapak memintaku lebih mendekat kali ini
tanganku digenggam erat oleh bapak. Hidung
bapak yang masih dibantu oksigen dan peralatan
medisnya yang begitu banyak,membuatku harus
berhati-hati mendekat.
―Lebaran kita pulang yah, Nak.‖ Jleeeep
banget deh kali ini. Kutatap bapak ingin melihat
kesungguhan ucapannya.
―Iya Pak, sekarang Bapak harus semangat,
Bapak harus sembuh dulu yah.‖ Aku tak bisa
menjanjikan apakah bapak akan bisa sampai
kampung halamannya atau tidak dengan kondisi
seperti ini. Aku lihat mamah yang duduk di
samping temnpat ridur bapak ingin protes dengan
perkataan bapak. Aku kedipkan mata sebagai
tanda bukan saatnya Mah.
156 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Harusnya tadi Nuri bilang, memang
jantungnya bisa diajak jalan jauh. Jangan suka
menjanjikan bapak gak bisa dijanjikan, kayak gak
tahu bapaknya aja.‖ Sepanjang jalan pulang dari
rumah sakit mamahku mengerutu. Mamah benar,
jantung bapak akan digunakan untuk melakukan
kerja yang hebat. Perjalanan jauh, euforia bertemu
kerabat yang tentunya dilanjutkan dengan
bincang-bincang hangat yang tak pernah putus hal
itu akan memaksa kerja jantung bapak lebih ekstra.
Kampung halaman bapak terletak di sebuah
dusun kecil di kabupaten Lahat Sumatera Selatan.
Transportasi ke kampung agak sulit kalau musim
penghujan. Jalan yang harus dilalui masih tanah
liat yang dapat membolak-balik roda motor
maupun mobil. Transportasi lain adalah perahu
motor yang biasa digunakan oleh warga dusun
untuk beraktivitas ke kota membawa hasil kebun.
Mereka memanfaatkan Sungai Pangi sebuah
sungai yang melingkari dusun bapak. Perahu
motor ini praktis selain waktu tempuh yang cepat
juga akses ke dusun mudah ditempuh. Akan
tetapi, kalau musim kemarau akses ini tak bisa
dilalui karena tak ada air yang melajukan perahu
motor itu.
Seperti kebanyakan kampung –kampung di
Sumatera Selatan, rumah nenekku berada di salah
satu anak Sungai Musi. Zaman dahulu nenek
Seni Asiati Basin | 157
moyang kami memperhitungkan pemilihan
pendirian kampung dengan saksama. Kata bapak
selain memudahkan transportasi melalui sungai
juga kebutuhan akan air dapat terpenuhi
dibandingkan kalau mereka harus menggali
sumur. Sunggai tidak pernah kering selalu ada
airnya. Tapi itu dulu ketika hutan-hutan belum
ditebang untuk pembukaan ladang-ladang para
transmigran. Kini sungai di kampung bapak kering
bila musim kemarau. Bahkan dapat dilalui dengan
berjalan kaki di tengah sungai. Kalau sudah seperti
ini biasanya warga kampung mengambil air
hingga ke hulu sungai bahkan tak jarang bergotong
royong menggali sumur untuk keperluan air warga
satu kampung, sehingga banyak sumur yang
cukup dalam bertebaran di sekitar rumah warga.
Sumur itu ada airnya tapi warga lebih senang
melakukan aktivitas mencuci, mandi, dan buang
hajat di sungai. Hal itu dilakukan karena dalamnya
dasar sumur sehingga untuk menggambil air
diperlukan tali panjang yang diikatkan di ember
pengambil air. Waktu untuk menarik juga lama
walaupun sudah dibantu dengan alat penggerek
yang ada. Biasanya air yang bisa terambil juga
hanya sedikit. Maka tak heran sumur-sumur warga
hanya digunakan apabila musim kemarau melanda
dusun. Kalau musim kemarau warga dusun hanya
mandi satu kali sehari bahkan tidak mandi bisa
158 | Malaikat Pemberi Jiwa
satu hingga dua hari. Mereka akan mengalah
dengan ternak dan kebutuhan lain, seperti
memasak dan mencuci piring.
Rencana bapak pulang kampung jadi isu
hangat di keluarga besarku. Semua ragu selain
kesehatan bapak yang utama, juga keuangan anak-
anak bapak. Yah keuangan kami, anak-anak bapak
yang memang belum siap. Harusnya rencana
pulang kampung setelah aku menunaikan ibadah
haji. Itu berarti masih dua tahun lagi kalau estimasi
keberangkatanku tidak tertunda. Keinginan bapak
terus menjadi perbincangan kami di sela-sela
menjenguk bapak.
―Kayaknya gak bisa deh Ri,‖ kata adikku
Tita hari itu, kami berkumpul di rumah sakit. Hari
ini berarti sudah empat hari bapak menempati
ruang ICCU, dokter belum mengijinkan untuk
pindah ke ruang perawatan. Kata dokter jantung
bapak belum stabil.
―Pikirkan deh, ini keinginan bapak.‖
Jawabku pada Tita yang meragukan keinginan
bapak pulang kampung.
―Yah, gini aja deh Ri, lihat dong alat-alat di
badan bapak, ingat bapak masih sakit, sekarang
aja masih di ICCU, terus mau kita paksakan bapak
pulang kampung yang waktu tempuh ke sana bisa
12 jam, walaupun naik pesawat.‖ Tita
mengemukakan alasan keberatannya.
Seni Asiati Basin | 159
Aku benar-benar tidak tahu mau bilang apa.
Keinginan bapak memang tidak muluk-muluk.
Bahkan waktu bapak sehat dan kami ngobrol di
rumah dan aku berkhayal seandainya aku punya
uang maukah bapak pergi umroh bersamaku.
Perbincangan itu sungguh aku ingat karena bapak
tak punya keinginan lain selain pulang kampung.
―Bapak sudah pernah melihat dan
menjejakkan kaki ke Tanah Haram, bila masih ada
waktu, bapak ingin mengajak kalian pulang
kampung dengan semua cucu-cucu bapak.‖
Keinginan bapak yang selalu diutarakan padaku.
Bapak selalu punya diksi yang pas jika
diminta untuk komentar. Bapak juga yang tahu
kalau tulisanku itu bagus dan menyuruhnya ikut
lomba. Seperti biasa doa bapak untukku tak pernah
muluk-muluk.
―Pak, doakan Nuri yah mau lomba nih.‖
Kataku pagi itu minta doa restu bapak karena aku
akan mengirim tulisanku dalam lomba karya tulis.
Seperti biasanya bapak akan berkata,‖ Kamu
pasti bisa‖ bukan ―Kamu pasti menang.‖ Kalimat
itu selalu diulang setiap aku ikut lomba.
Pernah aku tanyakan mengapa bukan
―Kamu pasti menang.‖ Jawaban bapak sungguh
menusuk jantungku membuatku malu karena
sudah sombong.
160 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Kok, jawaban Bapak pasti bisa aja sih,
doakan menang dong biar kalau menang uangnya
bisa buat umroh. Nanti kita umroh bareng yah
Pak,‖ kataku pada bapak. Hadiah lomba kali ini
memang cukup besar bisa umroh berdua.
―Nuri, sebuah kemenangan yang
dibebankan ke pundakmu, malah akan menjadi
kamu lelah karena merasa yakin menang. Kamu
akan berusaha sekuat tenaga tidak
memperhitungkan apa saja bahkan yang logis
sekalipun,‖ bapak menasihatiku kala aku tanyakan
kalimat itu. Menurut bapak lagi cukup, ―Kamu
pasti bisa‖ dapat memotivasi diri untuk lebih baik.
Perkara menang itu bonus, kata bapak.
Pada akhirnya aku tahu bapak mengajarkan
aku agar tidak terlena dan jumawa. Bapak
mengajarkanku untuk selalu tahu diri jangan
memaksakan diri. Bonus dari tahu diri pastinya
indah.
―Bapak mau pulang kampung. Mekah
sudah pernah bapak lihat, cukup sekali saja. Itu
kewajiban muslim, biar rukun Islamnya lengkap.‖
Bapak menjawab dengan tersenyum. Akhirnya
memang aku tak dapat mengajak bapak umroh
hingga akhir hayat bapak.
Akhirnya rencana besar untuk pulang
kampung pun aku matangkan dan rundingkan
bersama kedua adikku Tita dan Awan. Kakakku
Seni Asiati Basin | 161
Susi tidak kami libatkan. Aku dan kedua adikku
tahu, kakakku Susi pastinya tidak bisa secara
materi. Susi ditugaskan menjaga rumah orang
tuaku selama kami pulang kampung. Bukan
karena Susi tidak bisa menyumbang materi maka
ia tidak kami ajak tapi lebih baik Susi di Jakarta
saja karena Susi juga tak bisa naik kendaraan jauh.
―Aku gak ikut yah.‖ Kata Susi waktu aku
utarakan keinginan bapak pulang kampung.
―Kenapa gak ikut?‖ tanyaku. ―Kalau biaya
gak usah dipikirkan, semua tahu keadaan kak
Susi.‖ Kataku di ujung telepon. Aku harus
mengabarkan rencana pulang kampung walau
kakakku ini jarang kami libatkan untuk diskusi.
Susi harus tahu karena ia anak bapak dan mamah
juga.
―Aku gak bisa lama-lama di mobil, ntar
mabuk gimana?‖ Jawaban Susi memang masuk
akal. Selama ini Susi selalu tidak ikut acara kami.
Bukan karena tak mau tapi karena badannya yang
ringkih sering sakit. Susi dan anaknya Bagas dari
suaminya yang sekarang selalu mabuk bila naik
kendaraan. Hal berbeda justru pada anak Susi dari
suami terdahulu Fajar dan Rendi yang selalu
semangat pergi menggunakan kendaraan bahkan
kendaraan umum juga.
Diputuskanlah kalau bapak akan naik
pesawat dan bersamaku. Mengapa bukan dengan
162 | Malaikat Pemberi Jiwa
mamah? Yah, mamah tidak ikut naik pesawat
bukan karena bapak lebih percaya padaku untuk
menjaganya bukan karena itu. Mamah akan
berziarah dulu di makam orang tuanya atau nenek
dan kakekku. Letak makam kedua orang yang
kami cintai itu ada di dusun yang tak dilewati bila
naik pesawat dan menuju dusun bapak. Tempat
kedua orang tua mamah hanya bisa dilalui dengan
kendaraan pribadi. Makam kedua orang tua
mamah ketika menyeberang dari pulau Jawa ke
pulau Sumatera akan dilewati. Bila mamah naik
pesawat, tempat ini tidak dilewati. Hasil rembukan
ini pasti akan buat bapak senang.
Berita gembira tentang rencana pulang
kampung, aku sampaikan pada bapak. Suasana
ruangan bapak di rumah sakit menjadi cerah.
Wajah bapak berseri-seri, senyum terkulum di
sudut bibirnya. Mata bapak menahan butiran
kristal, aku tahu bapak tak sabar ingin pulang
kampung. Bapak pasti rindu, atau ini pertanda
saatnya bapak pulang. Ah, singkirkan Nuri.
―Nuri sudah atur semuakan?‖ tanya bapak
memastikan rencana pulang kampung nanti.
―Pokoknya beres Kapten, siap tempur deh!‖
kataku sambil memeluk bapak. Ah, kebahagian
terbesar yang indah hanya untuk bapak.
Bapak sudah bisa dipindahkan ke ruang
perawatan. Kepastian pulang kampung dapat
Seni Asiati Basin | 163
memompa semangat bapak untuk sembuh.
Jantungnya sudah stabil. Bahkan bapak sudah
sering berkelakar dengan beberapa perawat yang
memeriksanya. Masa-masa kritisnya sudah
berlalu. Berita yang menjadi trending topik di
keluargaku kalau bapak sudah dipindahkan ke
ruang perawatan membawa perasaan lega.
Biasanya setelah dari ruang perawatan satu atau
dua hari kemudian bapak boleh pulang. Semangat
untuk sembuh pada diri bapak memang luar biasa.
Ini pasti karena „Balek Kampung.‟
Mulailah aku browsing mencari tiket
pesawat tentunya dengan harga yang terjangkau.
Hasil rundingan dengan bapak dan mamah, kami
akan pulang kampung sehari setelah Idul Fitri atau
2 Syawal. Selain lalu lintas sudah tidak begitu
padat, juga kami bisa silaturahmi lebih dahulu
dengan tetangga di sekitar. Bapak hanya mau naik
maskapai penerbangan kepunyaan pemerintah
yang kredibilitasnya teruji. Katanya biar tidak
menyusahkan dan ga di delay. Bersyukurnya dua
minggu sebelum hari keberangkatan aku dapat
tiket dengan harga yang masih bisa terjangkau
kantongku.
Berita tiket menjadi kabar gembira yang
kembali jadi santapan sejuk di keluargaku.
Senangnya bapak sepulang mengajar kusodorkan
164 | Malaikat Pemberi Jiwa
tiket pulang kampung naik pesawat yang
diinginkannya.
―Pak, ini tiket sudah didapat, kita pulang
kampung nih,‖ aku berikan tiket pada bapak untuk
disimpan sampai hari keberangakatan kami.
―Tiket pulangnya mana?‖ bapak malah
bertanya tiket lain. Sengaja tidak aku berikan. Kali
ini aku menggoda bapak.
―Wah kalau pulang, nanti aja yah Pak,
perjalanan ke kampung tuh jauh, masa bapak mau
pulang buru-buru.‖ Aku tersenyum menggoda
bapak. Aku putuskan akan membeli tiket pulang
di Palembang
Wajah bapak terlihat ceria. Senangnya bisa
membuat bapak melupakan penyakitnya dan
bahagia seperti ini.Terbayarlah semua lelah, penat,
bobol kantong. karena kocek berkurang untuk
mewujudkan semua keinginan bapak (apapun
untuk bapak). Masih terbayang bagaimana bapak
di ruang ICCU, malah aku sempat berpikir tak
akan bertemu bapak. .
Menunggu waktu pulang kampung, rasanya
lama sekali buat Bapak. Setiap hari Bapak
menunggu sambil selalu bercerita dengan semua
cucunya tentang masa kecilnya di kampung
tercinta. Sepanjang Ramadhan cerita kami
sekeluarga adalah "PULKAM".
******
Seni Asiati Basin | 165
―Nanti Bang kalau di kampung Nek Anang,
ada sungai, namanya Sungai Pangi.‖ Bapak terlihat
asyik bercerita dengan anakku Naldi.
―Airnya jernih gak, Nang?‖ tanya anakku.
Rasa penasarannya tentang sungai yang
mengaliri dan menghidupi warga dusun kakeknya.
Aku sendiri mengenal dari dekat Sungai Pangi
atau melihat Sungai Pangi baru satu kali itupun
sudah lama sekali. Waktu itu aku masih berusia 12
tahun. Bapak mengajak kami pulang kampung.
Ketika pulang kampung itulah, aku mandi di
Sungai Pangi. Dulu airnya jernih hingga dasar
sungai terlihat jelas. Sungai itu berarus deras hanya
di tepi sungai airnya melambat karena warga
menahannya dengan beberapa batang kayu dan
ada gundukan pasir yang menahan laju sungai.
―Wah air di Sungai Pangi deras dan jernih.‖
Jawab bapakku dengan mata berbinar. Aku yakin
pikiran bapak sudah sampai ke dusun, ke
kampung halamannya yang mengalir Sungai
Pangi.
―Boleh mandi Nang?‖ tanya anakku lagi.
―Bolehlah, kalau gak boleh orang dusun
mandi, mencuci, dan buang hajat dimana?‖
jawaban bapakku membuat anakku terkejut.
―Buang hajat? Kok boleh?‖ anakku rupanya
penasaran bagaimana warga dusun memanfaatkan
begitu banyak aktivitas di Sungai Pangi.
166 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Bolehlah, bahkan orang dusun yang punya
kerbau, yah memandikan kerbau di sungai juga.‖
Penjelasan bapak membuat anakku bergidik jijik.
―Ah, gak mau mandi di sungai kalau ada
yang buang hajat.‖ Kata anakku sambil memeluk
kakeknya. Suasana seperti ini membuat rindu bila
masa itu tiba. Ah, aku tak mau mengandaikan.
Kemarin saja beberapa kali bapak anfal dan harus
berhari-hari menginap di rumah sakit. Kami sudah
pasrah apalagi melihat semua alat terpasang di
badan bapak. Mamah, aku, dan semua saudaraku
sudah mengikhlaskan, tapi takdir Allah belum
waktunya menjemput bapak. Setelah berjuang
dengan maut, bapak sehat kembali.
*******
Akhirnya penantian panjang pun usai
sudah. Hari pertama lebaran Idul Fitri, rombongan
pertama yang menggunakan dua mobil berangkat
hari itu pagi itu seusai sholat Ied dan bermaaf-
maafan dengan tetangga. Mobil pertama adalah
mobilku, dan mobil kedua adikku Tita.
―Anak-anak di mobil Tita yah. ― adikku
sudah mengomandoi pembagian anggota
rombongan.
―Ada fasilitas apa di mobil Tita?‖ kata
anakku Naldi.
Seni Asiati Basin | 167
―Pokoknya maknyosss deh banyak makanan
tuh,‖ adikku memengaruhi anakku Naldi yang
sudah bersiap naik ke mobilku.
Akhirnya pembagian anggota rombongan
dapat diselesaikan dengan iming-iming makanan
dan fasilitas. Adikku Tita memang pintar
bernegosiasi. Suasana heboh meramaikan
keberangkatan keluargaku untuk pulang
kampung. Bagi warga di tempat tinggal mamah,
peristiwa pulang kampung keluargaku memang
luar basa, mengingat kondisi bapak yang
belakangan ini mengkhawatirkan.
―Nek, semoga lancar yah.‖ Kata tetangga
sebelah rumah Mamah Shopi. Tetangga ini akan
menjadi tempat penitipan rumah selama kami
sekeluarga pulang kampung.
―Iya Mamah Shopi tolong titip rumah dan
Rendi yah.‖ Kata mamah. Yah Rendi tidak ikut
dalam rombongan. Rendi tidak mendapat cuti
panjang untuk libur ke kampung. Rumahku dan
rumah adikku Tita dijaga oleh kakakku Susi. Susi
tidur di rumahku tidak di rumah Tita. Tidak
masalah karena rumah Tita ada di sebelah
rumahku.
―Mah, hati-hati yah. Salam buat semua,
kalau Susi gak mabuk kendaraan dan sakit, mau
rasanya ikut kalian pulang kampung.‖ Kakakku
168 | Malaikat Pemberi Jiwa
Susi meneteskan airmata. Hanya Susi dan anaknya
Bagas yang tidak ikut dalam rombongan.
―Ayo, nangis biar direkam deh,‖ kata
anakku Tasha. Hari itu Tasha mengabadikan
momen pulang kampung dengan kamera. Melihat
apa yang dilakukan Tasha, kakakku makin
menangis dan biasanya makin lebay kata orang sih.
Kalau sudah begini , bapak pasti akan membentak
Susi untuk diam.
Bapak memimpin doa sebelum
keberangkatan rombongan pulkam. Tinggallah aku
dan Bapak di rumah karena kami akan berangkat
besok menggunakan pesawat.
―Dah, Nek Anang sampai bertemu di Lahat
yah,‖ anakku Tasha melambaikan tangannya dari
mobil yang membawa mereka berangkat.
―Jangan ketiduran yah Nang, ntar
ketinggalan pesawat loh, batal deh pulkam,‖
adikku Tita meledek bapak yang pura-pura
bersedih.
Akhirnya rombongan bermobil berangkat
juga dengan beragam celoteh. Aku dan bapak
melepas kepergian mereka dengan pesan hati-hati,
karena masih musim hujan. Jalan yang akan
mereka lewati pastinya licin. Senangnya melihat
semua bergembira, apalagi bapak yang tak henti-
hentinya bergaya seperti menangis sedih
ditinggalkan rombongan.
Seni Asiati Basin | 169
―Pak, Nuri mau ambil pesanan kue dulu
yah,‖ kataku pada bapak. Untuk oleh-oleh, aku
memesan kue untuk keluarga di kampung.
―Di mana ambil pesanan?‖ tanya bapak.
―Di Depok.‖ Jawabku, ada temanku yang
bisnis kue. ―Bapak Nuri tinggal yah, sebentar lagi
Rendi datang.‖ kataku pada bapak.
Hari itu aku menginap di rumah bapak.
Sepanjang malam banyak cerita tentang kampung
halaman. Koper-koper sudah siap diangkut. Aku
tahu bapak tak sabar menunggu esok pagi. Malah
mungkin bapak tidak tidur hahahahaha.
―Kita boarding jam berapa Ri?‖ tanya bapak.
Sudah malam sudah pukul 22, aku tidur di kamar
bapak tempat tidurku bersebelahan dengan bapak.
Biasanya ruangan inilah favorit kami. Semua anak-
anak bapak dan cucu-cucu bapak senang
berkumpul di kamar ini. Seperti sudah aku
ceritakan kalau rumah perjuangan ini memiliki
kamar yang cukup luas 5 x 5 M2. Kamar ini
memiliki 2 tempat tidur besar dan dua lemari
pakaian. Ada lagi kasur yang diletakkan di bawah
di samping lemari. Kasur ini untuk tidur
keponakanku Fajar. Sedangkan Rendi tidur di
kamar sebelah sendiri dengan kamar yang sama
luasnya dengan kamar bapak. Dulu kamar yang
ditempati Rendi adalah kamarku dan Tita.
170 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Boarding jam 9 Pak, kita berangkat jam 6
yah, sekarang bapak tidur sudah malam,‖ aku
mengingatkan bapak dengan malam yang sudah
bergelayut semakin gelap.
―Taksi sudah dipesan belum Ri?‖ tanya
bapak lagi.
―Sudah.‖
Aku yang sudah mulai tertelap jadi
terbangun lagi untuk menjawab pertanyaan bapak.
Tadi sepulang dari mengambil pesanan kue, aku
naik taksi dan supir taksi sudah aku pesan untuk
mengantar kami besok pagi.
―Pastikan Ri, gak ada yang tertinggal yah!‖
―Beres, Pak.‖ Suaraku sudah semakin
melemah, rasa kantuk semakin menemani. Bapak
masih bercerita yang entah apa ceritanya. Raganya
di sini tapi jiwanya sudah terbang di aliran Sungai
Pangi.
*******
Subuh aku dan Bapak sudah siap. Sengaja
aku tak menyiapkan sarapan untuk aku dan bapak.
Selain pastinya ada perabotan yang kotor, juga
makanan sisa akan membuat sampah saja. Rendi
sudah pasti tak akan makan di rumah.
―Pak, kita makan di bandara yah.‖ Kataku
menenangkan bapak yang memang harus makan
pagi ada obat yang harus diminum bapak.
Seni Asiati Basin | 171
―Mahal kali Ri makan di bandara,‖ kata
bapak.
―Tenang pak, ada sarapan gratis buat kita,―
kataku. Aku punya kartu anggota dari maskapai
penerbangan. Senangnya dapat fasilitas makan di
salah satu ruang tunggu bandara.
Bandara seperti biasa sudah ramai, apalagi
masih suasana lebaran tentunya masih ada yang
ketinggalan mudik, yah seperti aku dan bapak.
Koper-koper sudah masuk bagasi. Aku ajak bapak
ke ruang tunggu untuk sarapan.
―Hallo,‖ sapa bapak dengan ramahnya pada
pelayan di ruang tunggu. Seperti bisa bapak
dengan ramahnya menyapa orang yang menunggu
keberangkatan di ruang tunggu bandara.
―Ini gratis, Ri?‖ tanya bapak padaku
―Iya Pak, gratis.‖
―Semua?‖ tanya bapak lagi.
―Iya semua yang bisa dimakan di sini gratis
Pak,‖ kataku lagi.
Bapak mencoba semua menu yang
dihidangkan, mulai nasi goreng, lontong sayur,
sampai menu-menu yang jarang bapak jumpai.
Aku ingatkan jangan banyak-banyak karena
keterbatasan perut bapak. Bapak lahap sekali
menyantap hidangan yang tersedia.
172 | Malaikat Pemberi Jiwa
Sampai di Palembang, adik sepupuku
Izwan sudah menjemput di bandara Soeltan
Badarudin II.
―Apo kabar bakwo.‖ Sapa Izwan. Panggilan
untuk kakak bapaknya adalah bakwo atau bapak
tuo. Malam itu kami menginap di rumah adik
Bapak. Kami memanggilnya Mamang Rahim
rumahnya di daerah RS Siti Khodijah. Besok
perjalanan ke kampung akan dimulai.
“Ai, ngape ceruguk gale.” Pagi-pagi kami
sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Lahat
(kota kabupaten yang dekat dengan kampung),
bapak melihat anak-anak adiknya masih belum
siap. Jarak Palembang-Lahat bila ditempuh dengan
mobil pribadi + 6 jam. Yah lumayanlah buat bapak
(tapi bapak terlihat senang tuh), aku sempat
khawatir bapak tidak kuat mengingat kondisi jarak
yang ditempuh.
“Sape nak nginak,” suara bapak memecah
kesunyian mobil yang diam melaju ke dusun,
tangan bapak menunjuk ke depan. Ada sebuah
bukit yang selalu dilalui bila akan ke Lahat.
Namanya bukit tunjuk, Dulu waktu kecil, nenek
selalu bercerita kisah bukit tunjuk. Kisah Si pahit
Lidah (legenda Palembang). Bukit itu yang
menandakan kami sudah akan sampai ke kota
Lahat. Sebelumnya rombongan aku dan Bapak
yang naik mobil adik sepupuku Dahlan bersama
Seni Asiati Basin | 173
adik bapak, Mang Rahim dan Bibi Cik Imah (adik
Bapak juga) akan bertemu rombongan adik-adikku
dan anak-anakku di rumah kakak sepupuku Ayuk
Darmi di daerah Muara Enim. Jadilah pukul 14
waktu Muara Enim kami berjumpa di rumah Ayuk
Darmi (mantan Camat). Ayuk Darmi sudah
menghidangkan semua makanan khas daerah
kami. Mata berbinar-binar melihat tumpukan gulai
tempoyak dengan ikan mas yang memang jarang
kami temukan di Jakarta. Anak-anak berebut
mangkok untuk makan mpek-mpek yang ini sudah
pasti asli.
“Makan kudai.” Kata bapak menyendok nasi
dan lauk yang benar-benar kesukaan bapak.
Rumah Ayuk Darmi memang strategis pas sekali
di jalan penghubung antara kota Lahat dan kota
Muara Enim. Kebiasaan orang dusun, makanan
sudah siap dihidangkan, apalagi ada tamu dari
Jakarta yang jarang pulang. Lengkaplah
rombongan ‗Balek Dusun.‘
―Ai, cak nyo sedap nian, titu masakan Kau.‖
Mang Rahim yang tinggal di Palembangs aja sudah
menyerbu makanan yang terhidang. Katanya
jarang masak makanan kampung. Tanpa perintah
komandan, kami serbu hidangan masakan daerah
bapak dengan lahap. Ada pais ikan patin, sambal
tempoyak (dari buah durian), jehing alias jengkol
muda, tihau sejenis jamur dan kali ini dimasak
174 | Malaikat Pemberi Jiwa
dengan santan. Bapak makan dengan lahap
senangnya kami bisa berkumpul.
Berita kedatangan kami ke dusun sudah
menjadi berita hangat. Malah jadi trending topik
(mengutip bahasa kekinian) Nama kami sekeluarga
ada di papan pengumuman di halaman balai desa.
Wah, benar-benar luar biasa penyambutan.
“Ngape ndindak singgah ke hume kami?‖
saudara sepupuku yang tinggal di Lahat protes
karena kami tidak ke rumahnya.
―Didelah purik, kagek kami singgah, di umeh
Darmi lah ngumpul-ngumpul jeme kite gale.” Kata
bapak pada saudaraku.
Dusun atau kampung pertama yang akan
kami sambangi adalah Dusun SP. Dusun ini adalah
dusun orang atau dusun adik sepupu mamahku.
Dusun mamahku sendiri namanya Tanjung Bindu
dekat juga dengan Dusun SP. Setelah rombongan
berkumpul semua akhirnya kami putuskan setelah
ini mampir dulu di kota Lahat di rumah Ayu Sus.
Bapak akan istirahat sedangkan kami melanjutkan
ke dusun mamah di SP.
―Kami anak beranak,batak gale cucung balek
dusun, biar keruan sape sanak kite.” Kata bapak pada
keluarga kami di dusun SP. Malam itu semua
warga dusun berkumpul di rumah adik sepupu
mamah. Setiap bertamu , bapak selalu bilang niat
pulang kampung agar anak dan cucu-cucunya tahu
Seni Asiati Basin | 175
akar kerabat. Malam kedua kami menginap di
dusun SP sambil menyusun rencana untuk esok
hari untuk syukuran bahwa kami datang ke dusun
setelah sekian lama. Mamah terpaksa mengadakan
syukuran di dusun SP bukan dusun tempat
mamah dilahirkan yaitu Tanjung Bindu, karena di
Tanjung Bindu, mamah sudah tidak punya
keluarga. Keluarga mamah sudah pindah atau
bahasa setempat 'ngaleh' ke dusun SP. Satu persatu
akhirnya keluarga yang dulu tidak pernah kami
temui akhirnya dapat berjumpa.
“Sape dide kruan bada jeme ini mak ini enjuk
tau, bada kami di Jakarta gahi jangan dide kalo nak
midang cari gawe, enjuk tahu, itu gunenya sanak.”
Pesan terakhir bapak sebelum pulang kampung.
Setelah keluarga kami pulang kampung hendaklah
tahu siapa diri kita siapa saudara kita, saling
mengunjungi. Balek dusun atau pulang kampung
adalah keinginan terakhir bapak, bapak sudah
mandi di Sungai Pangi. Sungai yang sudah
membesarkannya. Sungai yang memberikan
penghidupan untuk dusun Lubuk Seketi tempat
bapak dilahirkan.
Bapak bangga sekali mengenalkan anak-
anaknya dan semua cucu. Bangga menjadi orang
dusun Kikim kata bapak. Orang Kikim adalah
salah satu kelompok sosial, penduduk asli yang
bermukim di sekitar aliran sungai Kikim di
176 | Malaikat Pemberi Jiwa
Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan.
Wilayah persebarannya adalah di Kecamatan
Kikim, namun sebagian kecil juga menetap di
Kecamatan Kota Lahat. Kecamatan Kikim
merupakan kecamatan yang terluas di Kabupaten
Lahat, namun persebaran penduduknya adalah
yang terjarang.
Cerita bapak sepanjang perjalanan yang luar
biasa serunya. Jalan yang liat karena semalam
habis hujan dan teriakan penghuni mobil setiap
tubuh mobil terguncang-guncang persis seperti
naik roller coarter di dufan. Terkadang mobil kami
harus diangkat untuk mengeluarkan tanah yang
menumpuk di ban mobil. Orang Kikim pada
umumnya hidup sebagai petani. Tanaman
pokoknya padi, tanaman palawija, sayur-sayuran,
dan buah-buahan. Penduduk yang bermukim di
sekitar wilayah hutan umumnya masih melakukan
perladangan hutan. Tempat tinggal mereka banyak
di tepian aliran sungai. Kata bapak agar
memudahkan untuk kebutuhan akan air. Air
memang sangat penting untuk kehidupan.
Orang Kikim tersebar di beberapa dusun.
Yang aku kenal baru dusun yang kami datangi.
Tempat tinggal orang-orang dusun ini aku
perhatikan berbentuk rumah panggung.
―Daerah ini masih termasuk hutan
Sumatera, masih banyak binatang buas, kata
Seni Asiati Basin | 177
bapak, kalau gak dibuat rumah panggung,
binatang buas akan masuk rumah dan memangsa
yang hidup,‖ muka bapak dibuat takut.
―Ah, Nek Anang nakut-nakutin aja deh.‖
Anakku memelukku. Kulihat bapakku tersenyum
senang bisa membuat cerita yang luar biasa.
Malam ketiga ‗balek dusun,‘ kami menginap
di dusun bapak di Lubuk Seketi. Rumah nenek
yang kami tempati selama ‗balek dusun‘ masih
kokoh berdiri. Hari pertama datang ke dusun
bapak, semua orang dusun sudah berkumpul di
sepanjang jalan menyambut kami. Bahkan semua
warga dusun, tidak hanya tua, muda, dan anak-
anak semua berkumpul di rumah nenek.
―Mah, roboh gak nanti rumah nenek?‖
tanya anakku khawatir melihat begitu banyak
warga dusun yang berkumpul. Rasa kerinduan
terhadap kami dan juga begitu besarnya
kekeluargaan diantara mereka membuat semua
ingin dekat dengan kami. Semua menanyakan
keadaan kami dan sesekali memeluk anak-anak
dan cucu bapak. Mata mereka terlihat penuh
kegembiraan, bahkan kulihat ada seseorang yang
memeluk bapak dengan erat dan menangis.
“Udemlah, ngape nak nangis, doakan bae Basin
sehat pacak balek dusun lagi.‖ Adik bapak meminta
yang memeluk bapak untuk mendoakan bapak.
178 | Malaikat Pemberi Jiwa
Sampai malam hari itu hanya diisi dengan
berbincang dan menceritakan masa kecil bapak di
kampung halamannya. Aku sendiri kurang
mengerti dengan bahasa dusun yang memang
halus. Anak-anakku beberapa kali menguap. Tapi
bapak masih semangat sekali bercerita. Kulihat
mamahku beberapa kali mengingatkan bapak agar
tidak semangat sekali bercerita ingat jantungnya.
Waktu berjalan dengan cepat beberapa dari kami
sudah tertidur. Kulihat anakku sudah tertidur di
samping adikku.
Rumah nenek memang tanpa sekat, ruangan
ruang tamu yang cukup luas kira-kira berukuran 8
x 7 M2 bisa menampung 100 orang. Rumah
panggung ini terbuat dari papan, sementara tiang
setinggi 2 meter itu dibuat dengan kayu gede.
Rumah nenek dibuat menjulang tinggi untuk
menghindari binatang buas (ini cerita bapak).
Apalagi, masyarakat dusun tinggal di perairan di
dekat sungai, sewaktu sungai meluap, mereka bisa
terhindar dari banjir. Sama seperti rumah-rumah
lainnya, rumah nenek hanya memiliki satu kamar
saja dan sisa ruangan dipakai untuk
bersilaturahmi, seperti menjamu tamu atau
kegiatan adat lainnya. Orang dusun kerap
mengadakan jamuan atau acara adat seperti
pernikahan, khitanan, bahkan kalau ada sanak
saudara yang datang mereka tanpa diundang akan
Seni Asiati Basin | 179
datang untuk sekadar menengok dan menanyakan
kabar. Bentuk atapnya agak melengkung
sedangkan bagian depannya berbentuk
segitiga lancip mengarah ke atas. Sumur ada
di bawah rumah panggung, tapi hanya beberapa
yang memiliki sumur. Biasanya orang dusun
mengambil dan melakukan aktivitas dengan air di
sungai yang mengaliri dusun. Banyak filosofi
dalam bentuk dan bagaimana penggunaan kayu
dalam rumah nenek ini.
“Ayo siapa nak galak, miluk mancing.‖
Terdengar seruan Nubi adik sepupuku
membangunkan kami yang tertidur pulas.
―Waduhhh, kok banyak orang.‖ Anakku
yang duluan terbangun kaget melihat begitu
banyak orang yang tidur di ruangan tempat
keluargaku tidur. Subuh tadi aku juga sama
terkejutnya dengan anakku. Kulihat hampir
separuh orang dusun tidur di rumah nenek. Kata
bapak seperti kebiasaan dan adat dusun, kalau ada
yang datang tanpa diundang semua warga akan
ikut menginap bersama. Katanya pula biar masih
tercium aroma kota. Alamakkkk bisa begitu yah.
Mereka akan berhari-hari tidur di rumah ini, dan
sudah terbayang setiap malam banyak cerita yang
akan kami dengarkan. Warga dusun akan
bergotong royong memasak. Sarapan, makan
siang, bahkan makan malam semua warga dusun
180 | Malaikat Pemberi Jiwa
akan di rumah ini. Pantas saja mamahku sebelum
ke dusun mampir di pasar yang terletak di
kabupaten Lahat membeli keperluan selama kami
di dusun.
―Mah, banyak beli beras sampai satu
karung.‖ Aku sempat bingung yang dibeli mamah.
Bukan hanya beras, mamah juga membeli gula,
kopi, teh, susu, makanan kaleng, sayur-sayuran,
cabai, dan banyak lagi hingga memenuhi mobil
yang sudah tak ada ruang.
―Aku ikut mancing yah.‖ Kata anakku.
―Aku juga lah.‖ Keponakanku ikut
menimpali.
―Jauh, gak sungainya dari sini?‖ tanya
anakku Naldi.
Akhirnya ada 7 orang yang ikut memancing
di Sungai Pangi. Rencana adik sepupuku itu,
mereka akan menyeberang dan memancing di
seberang sungai. Karena musim kemarau, air
sungai tak seberapa deras jadi dapat menyeberang.
Itu penjelasan ponakanku.
―Nuri, cepat ke sini.‖ Teriak mamah padaku
yang sedang membantu membersihkan ayam.
Kami akan masak gulai ayam. Semua bahan sudah
disiapkan. Yang khas adalah nanas. Yah gulai
ayam kami akan pakai nanas. Rasanya gurih dan
asam. Tak perlu membeli kelapa, karena dusun
sudah menyediakan kelapa. Bahkan minyak
Seni Asiati Basin | 181
gorengpun warga kampung memanfaatkan
kelapa yang banyak bertebaran di pekarangan.
―Ada apa, Ma.‖ Kulihat wajah mamah
pucat.
―Naldi hanyut.‖ Kalimat yang diucapkan
mamah pelan namun membuat jantungku berhenti
sedetik.
―Ha, kok bisa Ma.‖ Suaraku sudah
bercampur dengan air mata.
Rupanya perjalanan memancing anakku
Naldi dan saudara-saudaraku menorehkan kisah.
Mungkin kisah duka kalau boleh dibilang.
―Ai, hampir hanyut anak Ayuk Nuri tu.‖
Nubi mengawali cerita.
―Iya, Mah, hampir aku hanyut.‖ Kata
anakku yang masih gemetaran dengan
petualangannya itu.
―Mangkenye, kalo nak lewati Sungai Pangi,
janganlah sombong.‖ Cerita adik bapakku.
―Ngape, mak itu Mang.‖ Kataku tak paham
hubungan memancing dengan sombong.
―Tanyekah, ngape dia dewek hanyut. Yang
lain idak.‖
Anakku menyeberangi sungai sambil
berseloroh dengan keponakanku, kalau ada buaya
di sungai. Anakku terpeleset dan jatuh ke sungai
hanyut hingga 150 meter. Enam orang yang ikut
memancing berusaha mengejar anakku yang
182 | Malaikat Pemberi Jiwa
sudah melambaikan tangan tanda terbawa air
cukup jauh. Cerita itu membuatku gemetar tak
kuasa membayangkan bagaimana anakku
berjuang untuk menaklukkan sungai. Untungnya
ada penduduk dusun yang juga menjala ikan
sedang ada di tengah sungai dan buru-buru
berenang dan berhasil menarik baju anakku. Baju
yang menyelamatkan anakku. Sebelum berangkat,
Naldi bersikeras tidak mau memakai baju.
Bapakku yang menasihati Naldi.
―Pakai kaosmu, Di.‖ Kata bapak.
―Malas, Nang gerah kan mau basah-
basahan.‖
―Banyak lintah di sungai, mau gak dihisap
lintah badannya.‖
Hi..hi... gak, mau ah.‖ Naldi menyambar
kaos yang sudah dia letakkan di gantungan.
Bapakku mungkin sudah punya firasat, sesuatu
akan terjadi dan kaos hanyalah alat untuk
menyiasati.
*****************
Peristiwa Naldi menjadi trending topik di
seluruh kampung. Malam itu kami berkumpul di
teras sehabis makan. Suasana santai dan sesekali
cerita Naldi ikut hadir. Ada yang bilang anakku
diselamatkan oleh penjaga sungai karena tahu
anakku masih ada hubungan darah dengan
kampung dan sungai.
Seni Asiati Basin | 183
Malam itu juga jadi ajang pemberian oleh-
oleh. Selain beberapa helai jilbab yang sengaja aku
bawa dari Jakarta. Aku dan adikku juga membawa
pakaian keluarga kami yang sudah sempit. Hal itu
sudah menjadi kebiasaan aku dan keluargaku
untuk menyimpan baju yang sudah sempit dan
masih layak. Baju-baju itu diberikan pada saudara
kami di dusun. Pulang kampung kali ini mamah
menyuruhku menyimpan baju-baju layak pakai di
koper-koper besar. Koper yang aku gunakan
adalah koper bekas haji yang ukurannya lumaya.
Ada empat koper yang kami bawa. Sampai di
kampung setiap singgah, mamah akan menyuruh
menurunkan satu koper. Ada empat persinggahan
dan jumlah koper itu memang pas. Mamah sudah
memperhitungkan kampung mana saja yang akan
kami singgahi.
Pembagian baju yang dilakukan di teras,
menjadi momen yang indah. Sebenarnya mereka
dapat membeli baju di kota. Tetapi kata mereka,
bau khas badan kami akan melekat pada mereka
yang memang rindu. Selama tiga hari di dusun
sudah menjadi energi buat bapak yang kembali
bersemangat. Selama di kampung, aku tak pernah
lihat bapak mengeluh karena sakitnya. Padahal,
kegiatan bapak yang membutuhkan kerja jantung
lumayan banyak. Selain mengobrol dengan teman-
temannya waktu kecil dan masih hidup, juga
184 | Malaikat Pemberi Jiwa
aktivitas naik turun rumah. Rumah nenek punya
12 anak tangga. Bapak dalam sehari tiga kali turun
naik tangga. Sehabis sholat Subuh, sehabis sholat
Zuhur, sehabis sholat Isya. Aku pernah
menyarankan bapak untuk sholat di rumah. Kata
bapak, banyak kenangan indah di masjid di
kampung bapak.
―Dulu, bapak belajar mengaji di sini Ri.‖
Cerita bapak ketika Subuh pertama di kampung
dan bapak berjalan bersisian denganku.
―Siapa yang mengajar, Pak?‖ tanyaku
karena kulihat tak banyak penduduk di kampung
bapak.
―Yah, kakekmulah. Kan bapaknya bapak
tuh imam masjid ini.‖ Bapak terlihat bangga ketika
cerita yang diuraikan tentang bapaknya.
Terbayang rindu bapak pada sosok kakekku yang
tinggi besar dan suka sekali tertawa yah, persis
bapaklah.
Masjid itu tidak besar, mungkin hanya
memuat 100 jamaah. Di depan masjid ada beduk
yang ukurannya pun hanya seperti ember bekas
kaleng cat. Jangan berharap ada AC atau lantai
dari keramik. Lantai masjid menggunakan ubin
yang digunakan pada rumah-rumah zaman
dahulu. Tak ada tiang karena memang tak perlu.
Mimbar imam untuk khotbah Jumat pun tidak
ada.yang membedakan imam dan makmun hanya
Seni Asiati Basin | 185
sajadah yang ditempatkan sendiri. Di masjid inilah
bapak pertama kali belajar menjadi imam.
Tiga hari di kampung dan dua hari di
Lahat, akhirnya rombongan kecil kami harus
kembali ke Jakarta. Isak tangis mengiringi
kepergian kami anak beranak. Sehabis Subuh
rombongan mobil sudah bergerak. Gelap masih
menyelimuti ditambah semalam turun hujan.
Pastinya jalan yang masih beralas tanah akan
lengket. Warga kampung dengan bersenjatakan
obor menjadi penerang perjalanan kami. Mereka
berbaris dengan jarak 20 meter dan obor yang
diarahkan ke depan. Pasukan lampu yang benar-
benar membantu. Berkat obor itulah perjalanan
kami menjadi mudah.
Balek dusun yang akan menjadi kenangan.
Tanpa bapak akankah obor akan menerangi jalan
kami ke dusun. Anak-anak bapak dan keturunan
bapak tetap menjadi bagian dari dusun ini.
186 | Malaikat Pemberi Jiwa
Tempat Terindah untuk Bapak
Pagi itu adalah pagi yang akan selalu
kuingat. Bapak selalu meneleponku
untuk sekadar menanyakan kabar
atau menyampaikan berita yang sebenarnya tidak
penting menurutku. Tapi aku yakin menurut
bapak, kabar yang ia dengar di kampung tempat
tinggalnya penting untuk diberitahukan padaku.
―Kemarin, motor pak Saiful hilang Ri?‖ kata
bapak padaku yang mampir sehabis pulang kerja.
Sebenarnya aku tidak kenal pak Saiful dan apa
urusannya motor yang hilang dari orang yang
tidak aku kenal denganku.
Tapi bapak semangat bercerita. Kata bapak
motor pak Saiful hilang tadi malam di teras rumah
pak Saiful. Sehabis subuh bapak selalu berolahraga
dengan berjalan kaki keliling kampung bahkan
hingga ke jalan raya. Nah sewaktu jalan pagi itu,
bapak yang malamnya mendengar motor pak
Saiful hilang, melihat seseorang memarkir motor di
sebuah rumah kosong di ujung jalan kampung
yang hampir keluar jalan raya. Naluri polisi yang
dimiliki bapak langsung bekerja. Bapak mengamati
motor itu dan meneliti setiap detail dari motor.
Seni Asiati Basin | 187
Kemudian bapak menelpon mamahku yang
ada di rumah untuk memberitahu pak Saiful.
Sudah bisa ditebaklah kalau itu memang motor
pak Saiful yang ternyata kehabisan bensin oleh
pencuri motor mungkin aksinya kesiangan sudah
Subuh. Maling motor itu meninggalkan motor pak
Saiful di depan rumah kosong.
Hari itu cerita bapak seputar penemuan
motor menjadi perbincangan hangat di kampung.
Bapak sendiri bangga karena setelah pensiun dari
polisi baru ini katanya ada peristiwa yang
membawa naluri polisinya yang seperti detektif itu
kata bapak. Aku tersenyum dan juga senang
melihat bapak begitu senangnya bisa membantu
orang.
Rumah bapak memang selalu aku lewati
bila aku akan pulang ke rumah dari tempat kerja.
Biasanya aku akan mampir untuk sekadar
menanyakan kabar dan membelikan makanan
untuk bapak. Akhir-akhir ini karena penyakit
jantung yang dideritanya bapak kerap tidak lahap
makan. Kalau disimak sih itu bukan sifat bapak.
Dalam keadaan sakit, bapak akan selalu lahap
makan. Kata bapak obat sakit itu yah makan. Kalau
bapak sudah tidak lahap makan, ada saja yang ia
pesan padaku maupun adikku entah martabak,
bubur kacang hijau, ataupun sate ayam.
188 | Malaikat Pemberi Jiwa
Kami lima bersaudara. Namun sekarang
tinggal empat. Kakakku nomor dua sudah
meninggal di usia yang masih muda karena
tabrakan motor. Tinggal kami berempat. Aku
nomor tiga harus naik ke urutan kedua. Kata orang
kampung dan teman-temanku, sifat bapak persis
dengan sifatku. Yah cerminan bapak itu ada di
diriku. Aku mudah menerima orang dan selalu
mau berkorban.
―Ri, pulang ngajar Nuri lewat restoran sop
ikan yah?‖ suara bapak di ujung telepon.
―Iya bapak, tapi hari ini Nuri tidak
mengajar, ada pelatihan yang pulangnya tidak
melewati daerah itu?‖ kataku dengan sedikit
menyesal. Kalau aku sengaja melewati jalan tempat
restoran itu ada aku pasti tidak mendapat magrib
atau buka puasa bersama anak-anakku di rumah.
Pada akhirnya jawaban penolakan aku ini
menjadi senjata ampuh yang menggores luka yang
dalam di hatiku.
―Oh, gitu. Ya udahlah nanti bapak minta
Tita yang membelikan.‖ Kata bapak sambil
menutup telepon. Tita adalah adikku yang juga
bekerja.
Dua hari berlalu dari permintaan bapak
padaku untuk dibelikan sop ikan kesukaannya.
Hari itu sabtu aku kuat mengingat hari itu, karena
aku lmamahr dan aku sudah ada janji dengan
Seni Asiati Basin | 189
teman untuk menghabiskan hari lmamahr itu
dengan karaoke di sebuah tempat karaoke
langganan kami bila sedang suntuk. Sudah
kulupakan keinginan bapak sop ikan kesukaannya.
Padahal hari itu bisa saja aku membelikan sop ikan
dan melihat bapak di rumahnya.
Aku tak mampir ke rumah bapak karena
kupikir tak ada yang penting yang harus
kusampaikan pada bapak atau mamah, besok saja
Minggu aku mampir.
―Ri, dah dimana lo?‖ tanya Wati temanku.
Wati hobi nyanyi jadi aku selalu menghabiskan
waktu bersama wati di tempat karaoke bersama
Laila temanku satu lagi. Kami sama-sama menjadi
guru selepas kuliah di kampus yang sama.
Pertemanan aku, Wati dan Laila tak tergusur oleh
waktu dan usia. Kadang kami mengajak anak-anak
kami pergi bersama berwisata walau hanya
sekadar nonton bersama.
―Sudah dekat nih, Laila bagaimana jadi
ikut?‖ kataku di ujung telepon
―Wah, ga tahu deh. Bukannya kalau tiap
Sabtu si Laila job nya banyak yah? Tanya Wati
dengan tawa khasnya di telepon.
―Ohhh, ga tahu tuh, job apa dia?‖ tanyaku
bingung karena setahuku Laila tak pernah dapat
job.
190 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Hahahaha,‖ suara tawa Wati membuatku
jadi ikut tertawa. Ternyata aku yang telmi nih.
Laila setiap sabtu memang penuh job, dari mulai
mencuci, menyetrika, beres-beres rumah yang
hanya bisa dia lakukan di hari sabtu. Maklum Laila
yang juga mengajar sama denganku dan wati
tempat tinggalnya jauh dari tempat kerja.
―Tunggu aja tempat biasa aku jemput Laila
dulu yah.‖ Kututup telepon.
―Ri, dimana?‖ suara mamahku di ujung
telepon.
―Ri, lagi di jalan Bu mau ada acara dengan
teman.‖ Jawabku
―Hari senin, adikmu ulang tahun tuh.‖
―Iya Nuri tahu, Bu pas juga dengan
pertengahan puasa yah Bu.‖ Kataku lagi
―Iya, bapak minta kumpul dan buka puasa
bersama di rumah .‖
―Baik Bu, besok sepulang ngajar Nuri
langsung ke rumah mamah, anak-anak juga nanti
Nuri pesankan pulang kuliah langsung ke rumah
mamah yah.‖ Kataku
―Iya deh, masak apa yah besok buat sayur
ketupat?‖ tanya mamah. Wah mamah bertanya
disaat yang tidak tepat perutku juga keroncongan.
Tadi malam sahur tak banyak yang aku makan.
―Awan yang ultah minta dimasakkan apa
Bu?‖ tanyaku lagi.
Seni Asiati Basin | 191