―Biasa sayur pepaya tuh. ― sayur pepaya
muda buatan mamah memang enak sekali. Pedas,
manis, dan gurih santan kelapa rasanya pecah di
mulut. Wah gawat membayangkan masakan perut
jadi semakin menjerit tak karuan. Kulirik jam yang
ada di depan mobil baru pukul 9 pagi.
―Ya udah Bu, buatkan yang ultah sayur
pepaya yah, nanti Nuri beli buah dan gorengan.
Rasanya sudah semua yang aku bicarakan dengan
mamah sampai aku lupa menanyakan keadaan
bapak dan sop ikan yang dipesannya.
Pagi itu aku berangkat ke sekolah karena
ada rapat kerja selain itu ada sahabatku yang
sudah menjadi pejabat diminta menjadi
narasumber berkenaan dengan pendidikan di
sekolahku. Masih aku ingat benar berarti dari
permintaan sop ikan hingga hari ini aku belum
bertemu bapak. Aku smamahk dengan semua
dunia kerjaku. Penyesalan yang tak pernah habis
dalam diri ini.
―Bu Eva, Bu... ada apa?‖ jerit Bu Tami yang
tubuhnya tertimpa tubuh Bu Eva yang tiba-tiba
sudah pingsan di sampingnya.
Pagi itu kami baru memulai rapat guru. Bu
Eva adalah temanku yang mengajar juga di SMA
tempatku mengajar. Aku yang juga berada di
samping Bu Tami sama terkejutnya. Apalagi Bu
Eva tidak ada tanda-tanda sakit sebelumnya.
192 | Malaikat Pemberi Jiwa
Karena belum siuman dari pingsannya aku dan Bu
Tati yang hari itu membawa mobil membawa bu
eva ke RSUD yang dekat dengan sekolah. Masuk
ruang UGD setelah lapor sana sini akhirnya Bu Eva
bisa ditangani dokter dengan kondisi belum juga
siuman. Aku tentu saja khawatir. Aku tahu eva
sakit. Eva adalah teman kuliahku dan kuajak
mengajar karena dia membutuhkan biaya untuk
membesarkan anak-anaknya. Seharian itu aku
menemani Eva yang masih belum sadarkan diri.
Kedua anaknya yang di Bandung aku telepon
untuk ke Jakarta maksudku agar mereka nanti
yang bergantian menjaga ibunya.
Sore sebelum waktu berbuka aku
sempatkan pulang dulu ke rumah mamah sekadar
menyampaikan bahwa aku akan berbuka di rumah
sakit tidak bersama keluarga. Keinginan itu karena
kedua anak Eva belum datang juga dari Bandung.
Aku tinggalkan Eva dengan menitip pada
teman sekamar dan Eva juga sudah siuman walau
belum sadar benar. Kupacu motorku ke rumah
mamah. Hidangan sudah tergelar di atas karpet.
Pesta ulang tahun untuk adikku secara sederhana
akan dirayakan. Biasanya bapak yang membaca
doa sebelum masakan mamah yang lezat kami
santap. Hari ulang tahun adikku bertepatan
dengan pertengahan Ramadhan atau 15
Ramadhan. Setiap tahun setiap pertengahan
Seni Asiati Basin | 193
Ramadhan mamah pasti menyiapkan masakan
yang sama dengan hidangan lebaran. Kata bapak
masakan itu sebagai wujud rasa syukur karena
sudah melewati hampir separuh Ramadhan. Bapak
akan memberikan petuah pada kami anak-anaknya
dan juga semua cucu bapak.
―Jaga tali silaturahmi, sering-seringlah
menelepon kakak kalian yang jauh.‖ Kata-kata itu
selalu aku ingat. Hanya kakakku nomor satu yang
tinggal tidak di Jakarta. Kakakku tinggal di
Cikampek bersama suami dan seorang anaknya.
Sedangkan ada dua anaknya tinggal dengan orang
tuaku. Dua orang anak kakakku itu laki-laki dan
sudah bekerja. Lumayan sebagai penjaga orang tua
kami jika kami anak-anaknya tidak bisa menemani.
―jangan karena kakak bukan orang yang
punya, kemudian kalian lupakan.‖ Kulihat semua
adik-adikku Tita dan Awan menunduk. Kedua
adikku ini kurang akur dengan kakakku. Kakak
nomor satu memang temperamental dan agak
lebay. Adikku Tita sifatnya lugas tidak suka yang
basa-basi. Maklum lama bekerja dengan orang
bermata sipit jadi semua serba pasti tidak dibuat-
buat. Adikku awan lebih banyak mendengarkan
saja.
―Iya pak, pesan bapak diingat deh,‖ kataku
menimpali ucapan bapak.
194 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Jangan diingat aja, lakukan, trus satu lagi
nih,‖ wah kata itu aku tahu apa yang mau
dibicarakan pada kami jadi sebelum bapak bicara
aku sudah memotong dengan nada menyindir
adik-adikku dan semua yang hadir terutama
keponakanku.
―Jadi kalian anak-cucuku jangan tinggalkan
yang lima, karena yang lima itu perkaranya dunia
dan akherat.‖ Kataku tanpa menunggu bapak
bicara. Aku lihat bapak tersenyum karena memang
itulah petuah penutup sebelum beduk magrib
untuk berbuka berbunyi.
―Mamah tahu aja apa yang mau diomongin
nek anang.‖ Kata anakku Tasha. Nek anang adalah
panggilan kesayangan semua cucu untuk bapakku.
Bahasa Palembang menyebut kakek laki-laki
dengan sebutan nenek lanang disingkat ―Nek
Anang‖.
Ritual pertengahan puasa yang rutin kami
lakukan, suasana berebut opor ayam atau kadang
mamahku masak rica-rica ayam jadi pemandangan
biasa. Yah, mamah hanya membeli satu ekor ayam
yang disantap untuk empat belas mulut. Kadang
satu ekor itu mamah potong dua belas. Sebenarnya
cukup karena dua keponakanku tidak suka ayam.
Tapi itulah serunya saling berebut makanan.
Kembali pada ceritaku ketika hari itu aku
harus bilang tak bisa berbuka bersama.
Seni Asiati Basin | 195
―Buka dulu nanti kembali lagi ke rumah
sakit!‖ kata mamahku sore itu ketika aku sibuk
membungkus makanan untuk berbuka di rumah
sakit dan untuk kedua anak Eva.
―Kasihan Eva Mah, ga ada yang jaga, Nuri
pulang nanti kalau anak Eva sudah datang yang?‖
pintaku pada mamah.
―Kamu tuh sama dengan bapak, selalu
mementingkan orang lain.‖ Mamah sedikit
menggerutu. Itulah aku yang selalu berbelas
kasihan pada orang lain sama dengan bapak.
―Bapak, ga ikut makan Mah?‖ tanyaku yang
melihat di sekeliling permadani hanya ada anakku
dan keponakan. Adikku Awan dan istrinya belum
datang. Sayangnya moment itu tidak aku
manfaatkan dengan baik. Harusnya aku ke kamar
bapak dan melihat bapak dulu. Waktukku banyak
kalau aku punya rasa untuk menengok bapak dan
mengenggam tangannya seperti biasa aku lakukan.
Kalau aku menengok bapak di kamar
biasanya bapak sedang tidur sambil memeluk
guling kesayangannya. Herannya bapak selalu
tahu kehadiranku. Padahal aku sudah mengendap-
endap ke kamar bapak kemudian melihat bapak
diam-diam. Bapak pasti mengagetkanku.
―Ri, sudah pulang?‖ tanya bapak sambil
menangkap tanganku yang memang aku letakkan
di pundak bapak yang tidur miring.
196 | Malaikat Pemberi Jiwa
―Hahahaha, Bapak tahu aja, Nuri yang
datang.‖ Tawaku lepas karena tangan bapak masih
kokoh menangkap tanganku. Aku duduk di tepi
tempat tidur dan menanyakan keadaannya.
Seperti biasa bapak akan mengangkat
tangannya dan mengepalkan kelima jarinya sambil
berkata, ―SEHAT DONG.‖
Yah aku memang sudah buta, mengapa tak
terpikirkan tidak menengok bapak di kamarnya
hari itu. Yang ada di kepalaku adalah Eva yang
terbaring sendirian di rumah sakit.
―Berangkat yang Mah.‖ Kucium tangan
mamah yang sepertinya berat mengijinkan aku
pergi. Di teras aku bertemu Awan dan istrinya
yang baru datang.
―Yu Ri mau kemana?‖ tanya Lina istri
Awan.
Aku ceritakan Eva yang terbaring di rumah
sakit. Adikku Awan sedikit protes karena hari ini
adalah ulang tahunnya dan juga bertepatan
dengan pertengahan puasa.
―Ya udah sama mamah dan bapak aja yah
potong kuenya.‖ Kataku meledek Awan.
Kupacu motorku membelah jalan menuju
rumah sakit. Sepanjang jalan kulihat banyak
penjual makanan tajil untuk berbuka puasa. Ada
bakwan jagung yang menggiurkan, risoles yang
terlihat menggoda. Beberapa pembeli aku kenal
Seni Asiati Basin | 197
sebagai tetangga mamahku. Kusapa dari balik
helm yang aku kenakan. Baru separuh jalan
ponselku berbunyi karena susah untuk
mengangkat ponsel di jalan aku biarkan ponsel
berbunyi. Pikirku nanti di rumah sakit baru aku
balik menelepon.
Sampai rumah sakit setelah memarkir motor
dan naik ke lantai delapan tempat Eva dirawat,
magrib pun tiba. Aku berbuka puasa dulu dan
sholat magrib. Aku benar-benar lupa akan bunyi
ponsel sepanjang jalan tadi.
Selepas sholat aku masih menengok
keadaan Eva dan menanyakan kondisinya. Ponsel
masih aku lupakan. Aku baru teringat karena mau
menelepon anak Eva yang belum sampai rumah
sakit juga. Kulihat di layar ponsel adikku Awan
menelepon sepuluh kali, belum suamiku
menelepon, juga anakku. Aku tersentak ada apa
mereka meneleponku semua. Buru-buru aku balik
menelepon adikku karena tidak biasanya Awan
meneleponku.
Awan tak bisa kuhubungi, begitupun
dengan suami dan anakku. Firasatku sudah tidak
enak. Aku bereskan tas dengan sedikit melamun,
telepon dari anakku membuyarkan lamunanku.
―Mamah pulang yah, Nek Anang sakit.
Hati-hati di jalan jangan ngebut bawa motornya.‖
Telepon langsung ditutup. Aku tak sempat
198 | Malaikat Pemberi Jiwa
bertanya lain dan memang aku mulai gelisah.
Bapak sering sakit dan sering pula hanya sakit
yang bisa ditangani seketika oleh mamahku.
Banyak orang memasang tenda di teras
rumah mamah. Bangku-bangku sudah dijejer rapi.
Hatiku sudah tak nyaman apalagi belum
kustandarkan motor dengan sempurna, aku sudah
disambut oleh seorang ibu yang kutahu tetangga
mamahku.
―Sabar, Mba Nuri iklaskan Bapak.‖ Suara
pelan yang kudengar di telingaku seperti suara
dengan mikrofon yang menghentakkan dadaku.
Perih sakit rasanya hari ini aku kehilangan bapak
tak ada di samping bapak.
Bapak pergi dengan sejuta kenangan indah
untuk kami anak-anaknya dan semua cucunya.
Rasa sedih semakin menjadi ketika anakku yang
ditempa oleh bapak untuk menjadi abdi negara
berhasil lulus dan menempuh pendidikan seperti
kakeknya dulu. Pembelajaran yang aku dapatkan
dari bapak adalah untuk terus berkarya karena
dari karya maka kita dapat tahu sejauh mana
kemampuan kita.
Malaikat pemberi jiwa itu telah pergi. Aku
akan selalu mengenangnya. Semua memang terasa
sepi karena tak ada lagi celoteh, canda tawanya,
yang pasti tak ada teriaknya….
Nuri…. Bangun!!!
Seni Asiati Basin | 199
Epilog
Setelah kepergian bapak semua terasa
berbeda. Bagiku tak ada lagi lawan untuk berdebat
mengenai gosip sehat politik dan ekonomi. Tak ada
kritikus tulisanku yang luar biasa bernas dan tegas.
Terkadang aku suka berpikir darimana bapak
mendapatkan ilmu kritik tulisan. Ah… bapak
kepergianmu memberi aku waktu untuk terus
belajar tanpa batas.
―Belum dikirim Ri, tulisannya, gak mepet
tuh?batas pengirimankan besok!‖ Sapaan bapak
sore itu ketika aku mampir ke rumah bapak, yang
ditanya adalah karya tulisku yang akan aku
ikutkan lomba bukan keadaan aku atau cucuku.
Salahku tadi pagi aku diskusi tulisanku lewat
telepon dengan bapak. Pastinya bapak
menanyakan tulisanku dulu. Hemmm …. Bapak.
―Nanti malam aku kirim, Pak.‖ Kataku
sambil kucium tangannya dan mencomot sepotong
singkong rebus di piring dekat bapak. Sore itu aku
memang sengaja mampir ke rumah bapak, seperti
biasa mohon doa agar karya lombaku mampir jadi
finalis. Yah, cukup finalis saja sudah membuatku
bangga. Seperti kata bapak kalau sampai juara itu
BONUS. Istilah bapak yang maknanya memang
200 | Malaikat Pemberi Jiwa
luar biasa. Aku bisa mengikuti lomba tanpa beban
dan benar-benar hanya ingin mengeluarkan semua
upayaku dalam menulis. Bagiku yang penting apa
yang aku tulis keluar dari laptopku bukan
penghuni abadi di laptop tanpa dinikmati orang
banyak.
―Jangan biasakan mepet waktu, nanti kalau
ada yang kurang repot sendiri, usahakan dua atau
tiga hari dari batas pengiriman.‖ Bapak menasihati
sambil diseruputnya kopi hitam yang masih
mengepul.
―Tuh, kan masih aja minum kopi sudah
dibilang dokter jangan minum kopi.‖ Aku
habiskan kopi yang masih mengepul tak aku
gubrik teriakan bapak untuk berhenti karena masih
panas. Akhirnya memang lidahku jadi sariawan,
hahahahahaha biarlah yang penting kopi pekat itu
tak mampir di tengorokan bapak.
―Hadewwwww, Nuriiiiiiii……‖ teriakan
bapak membuatku ngacir ke dalam. Kopi yang
ingin dinikmati dengan singkong rebus habis
olehku. Mamah hanya bisa geleng-geleng kepala
menyaksikan perseteruan kopi yang terjadi.
Apa yang lebih indah selain mengenang bapak
dengan hati yang indah. Semua tentang bapak
memang sangat indah.
Bagi kami anak-anaknya bapak adalah
malaikat pemberi jiwa. Ketika banyak duka aku
Seni Asiati Basin | 201
dan saudara-saudaraku torehkan, bapak malah
tersenyum dan menguatkan agar kami selalu
tersenyum dan ikhlas. Pelajaran bapak yang selalu
aku ingat adalah kalau banyak pekerjaan yang
harus kita selesaikan jangan mengeluh, sekali kita
mengeluh Allah tak akan lagi memberi kita
pekerjaan. Benar yang dikatakan bapak, selama
pekerjaan mampir ke kita berarti orang percaya
kepada kita bukan orang lain dan campur tangan
Allah yang memilih mengapa aku yang mendapat
pekerjaan itu bukan orang lain yang pasti lebih
mumpuni daripadaku.
Bapak bagi kami anak-anaknya adalah
semangat hidup yang tak pernah putus. Ocehan
bapak agar kami tak lalai lima waktu menjadi
kunci pembuka rezeki. Tak putus doa kami
panjatkan untuk bapak dan hanya itu dialog indah
aku dan anak-anak bapak di untaian doa yang
kami panjatkan.
Allaahummaghfirlahu warhamhu wa‟aafihii
wa‟fu anhu wa akrim nuzu lahu wa wassi‟ madkhalahu
waghsilhu bilmaai wats-tsalji walbaradi wanaqqihi
minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu
minaddanasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa
ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaajihi
wa adkhilhuljannata wa „aidzhu min „adzaabilqabri
wafitnatihi wamin „adzaabinnaari.
202 | Malaikat Pemberi Jiwa
Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa
wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa
wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana.
Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi „alal
islaami waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu „alal
iimaani.
Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa
tudhillanaa ba‟dahu birahmatika yaa arhamar
raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil „aalamiin.
―Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah,
bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah
tempat tinggalnya, luaskan lah dia. Dan
muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah jalan
masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi
sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan
bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan
gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik
daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang
lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami atau
istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya
pula. Masukkanlah dia kedalam surga, dan
lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnah nya,
dan dari siksa api neraka.
Ya Allah, berikanlah ampun, kami yang
masih hidup dan kami yang telah meninggal
dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami
yang kecil – kecil kami yang dewasa, kami yang
laki – laki maupun perempuan.
Seni Asiati Basin | 203
Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan
dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan
iman.
Ya Allah janganlah Engkau menghalangi
kami, akan pahala beramal kepadanya dan
janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal
dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Allah
yang lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah
Tuhan semesta alam.‖
Aamiin ya Rabbalalamiin.
204 | Malaikat Pemberi Jiwa
Bahasa Kikim Lahat
Dide : tidak
Galak : mau
Titu : itu
Nak : akan
Budak : anak-anak
Ceruguk : Duduk diam
Cucung : Cucu
Gawe : Pekerjaan
Karut : Jelek
Sape : siapa
kruan : tahu
bada : tempat
jeme : orang
mak ini : sekarang
enjuk tau : beritahu
Terjemahan percakapan bahasa daerah Palembang (Lahat)
-“Ai, ngape ceruguk gale.”
(Ai,kenapa diam saja)
-“sape nak nginak,”
(siapa ingin lihat)
-gulai tempoyak
makanan khas palembang terbuat dari daging durian yang
didiamkan
“Makan kudai.”
(makan dulu)
-Balek Dusun
pulang ke kampung
-“Ngape ndindak singgah ke hume kami”
(kenapa tidak mampir ke rumah kami)
Seni Asiati Basin | 205
-―Didelah purik, kagek kami singgah, di umeh Darmi lah ngumpul-
ngumpul jeme kite gale.”
(Janganlah marah, nanti kami mampir di rumah Darmi
kumpul semuanya.)
-―Kami anak beranak,batak gale cucung balek dusun, biar keruan
sape sanak kite.”
(Kami sekeluarga pulang kampung biar semua kenal
keluarga kita)
-ngaleh': pindah
-“Sape dide kruan bada jeme ini mak ini enjuk tau, bada kami di
Jakarta gahi jangan dide kalo nak midang cari gawe, enjuk tahu, itu
gunenya sanak.”
(Siapa tidak tahu sekaran diberitahu tempat tinggal kami di
Jakarta, kalau ingin main sekaranglah kami beritahu agar
berguna untuk keluarga.)
-“Udemlah, ngape nak nangis, doakan bae Basin sehat pacak balek
dusun lagi.”
(Sudahlah jangan menangis. Doakan sakan Basin sehat dan
dapat pulang kampung lagi.)
-“Ayo siapa nak galak, miluk mancing‖
(Ayo, siapa yang ikut memancing)
Referensi
-https://tirto.id/kenakalan-anak-kolong-dan-sejarahnya-
csTk.
-https://jakarta-tempo-doeloe-inilah-asal-usul-nama-
tanjung-priok-jakarta-utara
206 | Malaikat Pemberi Jiwa
Biodata Penulis
Nama : Seni Asiati Basin,M.Pd
Tempat/tgl lahir : Cipanas, 10 Maret 1969
Alamat : Jalan Karang Kendal Rt 01/08
Hobi No.109 Cilincing Rorotan Jakarta
Utara
: Menulis dan Wisata Kuliner
Pendidikan :
1. Sarjana Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia.
2. Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia
Pekerjaan : Guru Bahasa Indonesia SMPN
231 Jakarta
Pos-el : [email protected]
Ponsel : 081806867897
Riwayat pekerjaan:
Guru SMPN 231 Jakarta (2018- sekarang)
Guru SMAN Yappenda Jakarta (1990 -2015)
Dosen Bahasa Indonesia Politeknik Media Kreatif
Jakarta (2013-2016)
Seni Asiati Basin | 207
Dosen Bahasa Indonesia STIKES Mitra Keluarga
(2016-2020)
Pengalaman Organisasi
Ketua Divisi Humas Keluarga Program
Persahabatan Indonesia-Jepang
Sekretaris Umum Himpunan Pembina Bahasa
Indonesia
Sekretaris Umum Forum Komunikasi Pelaku
perbukuan
Karya Buku Pelajaran
Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi
(Polimedia Publishing)
Pelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks
(Polimedia Publishing)
Piawai Berbahasa Indonesia (Literasi untuk semua)
Buku Pengajaran ASEAN Kerjasama Kemenlu dan
kemendikbud
Buku Model Pengajaran Bahasa Indonesia (Badan
Bahasa)
Buku tematik SD Kelas 1 dan 2
Buku Fiksi
Buku seri cerita anak: Beni Sakit Gigi, Beni Lupa
Sekolah
Novel : Bapak, Langit akan Terbang, Nara, ―Korea
Bukan Rumahku‖
Kumpulan Cerpen
208 | Malaikat Pemberi Jiwa
Karier
Instruktur literasi nasional
Editor Buku Teks Pusbuk Kemdikbud 2013 - 2020
Penilai Buku Pelajaran Pusbuk
Kurator Belajar Dari Rumah (BDR) TVRI dan
Kemdikbud
Delegasi Indonesia Program Persahabatan
Indonesia-Jepang Regional Leader Forum to
Vietnam dan Cambodya.
Seni Asiati Basin | 209