The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Sapto Winarno Santoso, 2024-03-19 09:26:36

AMI_ebook_19Maret

AMI_ebook_19Maret

(19.3.2024) 233 2. Ke Singapore Kalau tidak salah di awal tahun 1989, ketika saya harus iku pelatihan di Singapore selama beberapa hari dan kebetulan Bayu dan Galuh libur, maka kami ajak Ami ikut ke Singapore sehingga bisa nemenin anak². Mas Kongko waktu itu juga sedang bertugas di Batam dan menyusul ke Singapore. Karena jadwal Ami yang tidak bisa berangkat bareng ke Singapore (nyusul)


(19.3.2024) 234 Kesan Mas Soni Wibisono Dik Ami adikku yang cantik, Sholehah dan baik hati.. Sosok seorang ibu yang tangguh dan sangat sabar.. Sosok wanita yang penuh kreatifitas dan karya.. Banyak kenangan terindah di rumah kami.. Taman depan yang tertata apik.. Dekorasi yang indah saat acara siraman Aryo dan Ira.. Dik Ami .. semoga Husnul khatimah dan berbahagia disurga Nya Allah


(19.3.2024) 235 3) Kenangan Tentang Ami (Sumber : Sri Widiati) Saya masih ingat ketika Dodi & Dik Ami dikaruniai putera kembar, saya selalu ingin ikut merasakan kebahagiaan mereka, sehingga seringkali kalau sedang berlibur dirumah alm ibu, kami berdua suka diajak menginap kerumah Dodi dan melihat kesibukan Dik Ami merawat putra kembarnya dg penuh kasih sayang dan kesabaran, tidak pernah sekalipun saya melihat perubahan mukanya, selalu tampak riang dan penuh kasih kalau sedang memanggil anak-anaknya; seorang ibu yang kuat, sangat memperhatikan dan menikmati pertumbuhan putra kembarnya. Luar biasanya lagi, Dik Ami selalu tidak melalaikan & sangat perhatian kepada alm. ibu mertuanya yaitu ibu kami Dan ternyata Dik Ami bukan orang lain bagi keluarga kami, karena satu almamater dengan keponakan kami, Lisa Luniarti di SMP XIII (dari kel. besar alm ayah kami, bpk Iman Supoyo Wongsodirejo) dan merupakan "kakak kelas" putri kami yang bernama Tia (di FAL Trisakti), yang tadinya mengenal sebagai "Mbak Ami" berubah jadi "Tante Ami" . Dik Ami yang penuh perhatian, setiap akhir tahun ia akan mengajak keluarga kecilnya mengunjungi kami di Solo. . Begitu ada berita gembira ini, kami sekeluarga (saya bersama anakanak dan cucu-cucu) selalu merasa bahagia. Kami sangat merindukan kehadirannya yang selalu memberi warna keceriaan dalam keluarga. Harihari yang membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga kami, menikmati kebersamaan di lokasi-lokasi wisata yang selalu berbeda, didaerah pedesaan sampai tempat-tempat kuliner dan yang tidak pernah terlupakan oleh dik Ami menikmati aneka macam "bakso" kesukaannya, sampai anak-anak tidak lupa pasti sudah siap dengan menawarkan warung bakso yang terkenal, khusus untuk Tante Ami. Bakso Kadipolo Solo


(19.3.2024) 236 4) Kesan & Kenangan Tentang Almarhumah (Sumber : Siti Widiastuti) Kesan pertama kali mengenal Ami…. Orangnya ramah, sangat care dan cepat bisa membaur dengan siapa saja. Uniknya walaupun katanya sudah lama tinggal di Jakarta, tetapi logat Jawanya tetap masih kental, dan humornya bisa membuat kami tertawa geli. Sebetulnya saya dan Ami masih satu alumni SMP XIII jakarta, tapi angkatannya jauh karena beda umurnya 17 tahun. Karena ramahmya Ami, di keluarga kami (Kel. jl.Pati) Ami malah lebih akrab dengan sepupu-sepupu kami baik dari pihak ibu maupun bapak , kebetulan ada yg satu sanggar lukis ...... padahal kami dengan sepupu-sepupu kadang-kadang ketemunya pas lebaran saja . Yang menarik, Ami sangat kreatif dan penuh dengan ide-ide , apa saja yang dikerjakan menjadi punya nilai yg artistik, saya dan Maxima (keponakan) pernah jadi muridnya kursus kilat tentang decoupage dengan segala ketrampilannya, Di keluarga kami pun setiap ada hajatan pernikahan pasti Ami ikut jadi seksi repotnya terutama menghias dan merangkai seserahan yg hasilnya sangat indah, Oh ya ... Ami juga yang mempelopori tradisi bagi-bagi angpao setiap lebaran dikeluarga kami yang tadinya tidak ada, keponakankeponakan jadi merasa senang. Kebetulan adik kami Dodi, adalah anak bontot yang tinggal cukup lama dan sangat dekat dengan ibu kami, kebetulan sekali dapat isteri yang bisa mengimbangi kedekatan dengan ibu. Ibu merasa sangat cocok dengan menantunya yang dengan penuh perhatian dan sangat telaten , menemani dan mengantar ibu untuk belanja bulanan atau sekedar cuci mata di mall-mall, kebetulan ibu juga masih senang jalanjalan walaupun dengan kursi rodanya.


(19.3.2024) 237 Saya dan kakak saya mbak Wied dulu pernah rasan-rasan, wah kalau Bapak masih ada pasti senang sekali punya menantu yang baik dan perhatian sayangnya Bapak nggak sempat mengenalnya. Sampai-sampai di hari-hari terakhir ibu saya (10 hari sebelum meninggal) beliau ingin menginap dirumah Dodi & Ami, kebetulan ibu 3 tahun terakhir tinggal bersama saya di Rawamangun, sampai dilakoni naik ambulans ke Cinere karena beliau sudah tidak bisa duduk lama. Kesan yang mendalam bagi saya setelah pindah dari Rawamangun ke Cinere (rumah kami berdekatan) sering sekali Ami mengirim makanan, terutama setelah lahir cucu kembar saya hampir setiap minggu kirim makanan dari teman-teman, saudarasaudara atau bikinan sendiri, " mbak...mau kirim makanan , paro edang yo buat si kembar”. Mungkin untuk Ami itu hal yg biasa, tapi untuk saya sangat berkesan sekali untuk perhatian dan kepeduliannya bagi keluarga saya. Terima kasih ya Allah karena memilih dan memberi kesempatan Ami menjadi adik kami yang sangat baik dan menjadi Tante idola bagi keponakan2 keluarga jl Pati. Terus terang kami keluarga besar sangat kehilangan dengan kepergiannya dan belum sepenuhnya rela ditinggal Ami namun Allah SWT kiranya lebih mencintainya . Kami yakin dan percaya Almarhumah banyak amal ibadahnya dan mendapat tempat terbaik disisiNya. Selamat jalan adikku sayang ..... doa kami akan selalu menyertaimu di alam keabadian. Aamiin , Aamiin Ya Rabbal Aamiin .


(19.3.2024) 238 5) TULISAN (ALM) MAS MAMAM TENTANG AMI Ditulis tahun 2019 menjelang Ultah Ami ke 50 Ami dan Kucing Saat Ami masih duduk di bangku SD/SMP, dia sangat senang dan sayang dengan Kucing. Sehari-hari Kucing kesayangan itu dibawa/dibopong kemanapun Ami pergi termasuk diajak menemani tidur diranjang, sambil beberapa kali diciuminya kepala binatang itu, entah baunya kaya apa ya..?! Saya sangat benci dengan Kucing yang diberi nama Munthel itu, sampai suatu hari saya berencana mau membuangnya ketengah makam di TPU Kober (saat Ami lagi sekolah), tapi urung saya laksanakan karena mengingat pasti Ami akan sangat kehilangan 'kekasihnya' itu dan bisa2 Ami sedih dan menangis sepanjang hari. Si Munthel Ada sahabat saya yang bernama Mas Arief menyampaikan kepada saya, bahwa kalau suka mencium Kucing itu sangat berbahaya karena bila ada bulunya yang masuk kedalam tubuh manusia akan berakibat salah satunya yaitu sulit mempunyai keturunan/anak.. Saya tidak paham hubungan antara bulu Kucing dan sulit mempunyai keturunan itu. Tapi nyatanya kelak dikemudian hari setelah Ami menikah dengan pemuda pilihannya, alhamdulillah malah dikaruniai putra kembar 2 orang yang dinamai Irfan dan Ican..


(19.3.2024) 239 Kucing yang ada di rumah Pancoran sekarang ini adalah salah satu cicit dari Munthel itu, yang mana kucing terakhir ini sudah tampak tua dan agak kurus, walau makannya cukup lahap.. Kuwi siji2né sisa keturunan seka Munthel, kucingé Ami biyèn... Wis sepuh, awaké kuru, ning mangané lahap, tur nèk kelimpé nyolongan...!


(19.3.2024) 240 Ami dan Buku Sejak kecil Ami memang gemar membaca buku dan menulis. Untuk mensupport hal ini, maka saya sering membelikan adik saya yang bontot ini yaitu: Setip/penghapus karet yang warna-warni dan beraroma harum bak permèn karet itu setiap saya mampir di Toko Buku terutama di Blok M atau Pasar Tebet.. Disamping itu tidak lupa saya membelikan buku cerita bergambar atau komik tentang cerita anak2 terjemahan penulis Jacob Grims atau HC Anderson, dan komik local seperti "Lembah Permit" dan yang lain. Paling menyenangkan ialah saat Ami menerima olèh2 itu dan dengan semangat segera dibukanya bungkusan itu langsung dibaca kisah2 didalamnya.. Kalau Ami sudah mulai membaca dengan tengkurep diranjangnya saya segera ngelus-elus kepala dan mencium rambutnya dengan kasihsayang... Sungguh bangga dan mengharukan bisa membuat adik kita gembira dan bahagia.. Memang waktu itu saya sering mengisi rubrik/kolom kartun diberbagai media cetak, al: Kompas, Suara Pembaruan, Gadis, Nova, dll.. Sehingga bisa 'mentraktir' Ami yaitu buku bacaan, alat tulis, dll..


(19.3.2024) 241 Meneruskan kisah kejar2an mobil dengan Pak Hari Respati di Banjarmasin yang ditulis oleh Om Adah beberapa waktu yang lalu, saya jadi teringat kembali bahwa saat kejadian itu, Pak Hari Respati sempat marah dan ngomèl serta berteriak dari mobilnya : "Nantang yaa...!!!" Tiba2 Ami kecil yang duduk dibangku belakang diapit antara Aduk dan Yayah malah mungkin saking takutnya atau karena lugu saja, spontan njawab : "He - eh..!!!" Saya tidak tahu apakah Pak Hari Respati mendengar kata-kata Ami atau tidak, karena mobil langsung saya pacu menjauhi Pak Hari yang terbengong karena merasa dilèdèk oleh saya, hehe..! Fiat 124S T 1972 vs Toyota Corona 1972 Sebenarnya lebih cepat Fiat tapi tergantung Drivernya..


(19.3.2024) 242 6) BAMBANG SARDJONO 1. Cilik-Cilik Wis Numpak Montor Mabur Bola-Bali Putri bapak ibu yang bontot ini sangat istimewa. Dilahirkan di sebelah rumah, yaitu Klinik Bidan Liauw Ging Hwa, pada tanggal 30 Juni 1967. Yang istimewa adalah 5 hari setelah kelahirannya, ibu mendampingi bapak untuk sidang terbuka disertasi Doktor di Pagelaran Siti Hinggil Keraton Yogyakarta. Kami para putra-putri bapak alias semua kakaknya Ami ikut menghadiri promosi bapak ini. Keistimewaan yang kedua, mengingat Ami harus dekat-dekat ibu, maka ke mana pun ibu tindak mendampingi bapak bertugas, Ami selalu nderek. Walhasil sejak bayi Ami sudah sering naik pesawat terbang. Mungkin penerbangan pertama Ami adalah Yogyakarta–Jakarta pada awal tahun 1968. Kemudian naik pesawat lagi bersama ibu, bapak, Mbak Niek, dan Yayah ke Padang. Setelah itu ke mana pun ibu tindak, Ami selalu nderek. Karena Ami paling kecil di keluarga, pastilah tak kekurangan kasih sayang dari para mbakyu dan kangmasnya. Semua pasti senang ndolani Ami. Atau mbebeda menggoda Ami dan selalu paling banyak mendapatkan oleh-oleh baik dari bapak ibu dan para kakaknya. Ami pula yang sering mendampingi ibu di mana-mana, mengingat Ami tinggal di ndalem Pancoran. Saya tidak tahu, apakah Ami merasa diistimewakan ya?


(19.3.2024) 243 2. Dadah Lawut Pada suatu saat di Bukittinggi sekitar bulan April 1968, saya didawuhi nderek bapak ibu untuk tourney ke Pekan Baru - Rengat dan Tembilahan di Riau. Saya nderek bukannya apa-apa, tapi karena harus momong Yayah dan Ami. Tapi saya senang sekali karena nderek tour Sumatera ini pasti menyenangkan dan saya membayangkan seperti petualangan dalam buku “Matahari Terbit”. Sementara itu Mbak Meniek, Dik Adah, dan Dik Aduk tinggal di Gedung Tri Arga dikawani Yu Udahono. Kami berangkat pagi hari sekali dengan supir Pak Darnis dengan mobil Jeep Fiat kanvas warna Putih. Dalam perjalanan ke Pekanbaru, kami melewati kota Payakumbuh kemudian harus menyeberangi sungai Kampar, dan harus menggunakan pelantingan (penyebrangan dengan rakit), karena jembatannya belum ada. Selain itu sungainya cukup lebar di Rantau Berangin. Singkat kata, sampai di kota Pekan Baru sudah pukul 5 sore dan kami menginap di Guest House perusahaan minyak Caltex di Rumbai. Kalau makan siang, sarapan, atau makan malam di Club makanannya enak-enak. Hari kedua kami naik motorboat ke Rengat. Di dalam motorboat itu muat untuk 10 orang, yang diisi oleh ketua pengadilan negeri Pekanbaru dan beberapa staf. Lha menuju Rengat ini saya bergantian dengan ibu menggendong Ami. Dan tidak tahu kok Ami senang sekali melihat air sungai dan banyak rumah terapung di atas air (rumah rakit). Dan Ami karena adanya angin semilir, dia sering membuka mulutnya dan bergumam “Aaaaaaaa”. Ibu, bapak, dan kami di mobil tertawa melihat tingkah Ami kecil. Ibu sendiri heran kok Ami bisa begitu. Pak Jaksa Siregar bilang, “Mungkin Ami hatinya senang.” Dan di situlah kami mulai mengenalkan “Dadah lauuuut“ kepada Ami. Saya sendiri lupa bagaimana pekerjaan momong kedua adik perempuan saya ini. Yang saya ingat jelas di Rumbai itu ibu ndulang (menyuapi) Ami dengan pisang ambon yang dihaluskan. Serpertinya roti atau biskuit untuk bayi masih belum banyak seperti di jaman sekarang ini.


(19.3.2024) 244 Selanjutnya kalau dalam perjalanan naik mobil melewati pantai pesisir atau laut, ibu ngendika “ Dadah lauuuut...”. Pantai Padang di waktu sore


(19.3.2024) 245 3. Balapan Salat Suatu hari di tahun 1976 saya sangat senang karena sedereksederek dari Jakarta berlibur ke Yogyakarta termasuk Ami, Yayah, dan Naning. Sewaktu di rumah pas lagi tidak bepergian, mereka sering bermain di kamar saya di kamar listrik bagian belakang. Kadang di kamar saya, kadang di kamar mas Kongko untuk menggambar. Ketika tiba waktu salat dzuhur, kami segera mengambil air wudhu dan menggelar kelasa (tikar) di kamar Mbak Meniek. Saat itu saya menjadi imam. Setiap kali gerakan takbir, rukuk, dan sujud, Ami tidak mengikuti saya tetapi ngepas alias bareng atau bersamaan. Saat tahiyat akhir Ami masih bersamaan, tetapi sejenak kemudian dengan cepat Ami mengucap salam terlebih dulu. Ami bukan menyalami saya , tapi bergumam, “Menang Ami!“ sambil membenahi mukenahnya. Lho... Iki salat apa balapan? Di dalam batin saya. 4. Kress… Kress Pada suatu siang kami makan di ruang makan ndalem Pancoran. Lawuhe saat itu enak dan ada sayur lodehnya. Ami yang mungkin masih kelas 2 SD, Yayah, saya, dan beberapa orang makan siang dengan nikmat. Beberapa yang dahar sudah mengakhiri makan siangnya, tinggal saya dan Ami yang belum. Saya lihat Ami menyisihkan butiran petai di tepi piringnya. Eman-eman banget, Ami ora doyan sajake. Saya bilang "Mi, kuwi petene aja dibuang, kene nggo aku wae." Ami menjawab, "Eeee, enak ajaaa... iki nggo Ami." Saya baru tahu, rupanya Ami menggunakan petai untuk “gong” makan. Kriuk… kriuk... kress... kress.


(19.3.2024) 246 5. Rambut Ajaib Suatu saat saya di Yogya diberitahu melalui telpon oleh saudarasaudara kami di Pancoran, bahwa Ami kecelakaan rambut. Saya kaget dan setengah bertanya apa itu kecelakaan rambut? Rupanya begini, Ami setelah mandi mengeringkan rambutnya dengan kipas angin. Rupanya ada sebagian rambutnya yang masuk ke baling-baling kipas dan tergulunglah sebagian rambut Ami dan tercabut dari kulitnya. Pasti Ami sedih sekali dengan kejadian ini. Yang saya ingat Ami kemudian dirawat oleh rekan ibu yaitu Ibu Titi Purwosunu, ahli kecantikan di Jakarta. Pengobatannya kalau tidak salah dengan ramuan khusus. Beberapa lama kemudian tumbuh dan rambut Ami sudah kembali normal lagi. Alhamdulilah. 6. Arsitek dan Lansekaper Adik saya Ami ini sedari kecil hobinya menggambar. Rupanya bakatnya mirip Mas Mamam, saya, Oom Adah, dan Oom Aduk. Oom Aduk pernah menjadi juara menggambar tingkat taman kanak-kanak seYogyakarta. Hadiahnya mobil-mobilan bentuk bemo, ini terjadi sekitar tahun 1966. Pada perkembangannya, Ami kalau ke Yogya juga senang sekali menggambar. Mas Kongko dan Mbak Niek selalu menyediakan kertas dan pensil/pensil warna atau spidol. Ami akhirnya kuliah di Fakultas Arsitektur dan Lansekap Universitas Tri Sakti yang berati hobi menggambarnya tersalurkan, tetapi oleh Ibu dijuluki sekolah “tukang kebon”. Ami lulus tahun 1991, alhamdulillah. Seandainya saat itu bapak masih sugeng betapa bahagianya bapak, karena puteri ragilnya sukses dalam sekolah. Hal ini membahagiakan ibu dan Ami tentunya.


(19.3.2024) 247 Hobi menggambar itu juga diteruskan di kala senggangnya, yaitu sebagai pelukis. Khususnya bunga, walau juga melukis yang lain. Bahkan Ami ikut persatuan kelompok pelukis dengan guru khusus. Saya mengoleksi dua buah lukisan cat minyak Ami, lukisan bunga Dahlia dan satu lagi lukisan bunga Alamanda yang bagus sekali. Di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, momong Ikhsan dan Irfan, Ami juga membuat galeri yaitu Omah Padma dan membuat blank-card dengan nama produk Omah Padma. Saya sesekali ikut mengisi gerai Omah Padma dengan kartu kosong blank card made in Bamsar juga. Semoga usaha Omah Padma semakin berkembang sukses dan diberkahi. Aamiin. 7. Ami Telat Dijemput Saat itu saya baru kuliah tingkat 1 di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Tahun 1974 saya berlibur ke Jakarta. Pagi-pagi para adik sudah diantar pak supir ke sekolahan masing-masing, yaitu: Rayi Ami di SD Yasporbi Pancoran, Rayi Aduk dan Yayah di SMP XIII, Rayi Adah di SMA 11 Kebayoran Baru. Saya juga ikut nganter sekalian cuci mata lihat-lihat Jakarta menaiki mobil Valiant. Pada pukul 07:30 sudah sampai di Pancoran, dan pak supir langsung siap-siap nderekke bapak ke kantor. Saya matur bapak bahwa saya mau sowan Mbak Nuk di Rawamangun. Saya dipesani bapak ibu supaya nanti pukul 10 njemput Ami di SD Yasporbi, saya matur siyaaaap. Sekitar pukul 08:00 saya berangkat ke rumah Mbak Menuk di Rawamangun naik mobil bapak, yaitu Hillman hijau muda, dengan rute: MBAU, tugu Pancoran, Cawang, Polonia/Perfini, jembatan Jatinegara, lapangan golf Rawamangun, baru ke RS Persahabatan.


(19.3.2024) 248 Sesampainya di sana, saya dan Mbak Nuk mengobrol sampai lupa bahwa saya harus menjemput Ami. Saya langsung njenggirat dan buru-buru pamitan. Ndilalahe, jalan tidak lancar. Sampai di lampu merah pertigaan Cawang, Halim, dan Cillitan, saya mau rem mobil Hillman. Ternyata remnya agak blong dan mobil meluncur terus, sementara kendaraan mobil dan motor dari arah Cililitan mulai bergerak. Saya sempat panik karena polisi lalu lintas yang berjaga melangkah ke jalan dan meniup pluitnya. Saya langsung tancap gas dan ngebut ke Pancoran. Sampai di depan Yasporbi sudah jam 10.05. Terlihat Ami sedang menunggu di luar, thingakthinguk kebingungan. Saya klakson dan langsung tersenyum melihat saya. Saya langsung turun dan membimbing Ami ke mobil dan terus ke ndalem Pancoran. Ami, mohon dimaafkan kangmasmu ini ya. 8. Salah Satu Ahli Surga Itu Adik Kami Ami Wajah Ami tak lepas dari pelupuk mata saya. Terus terngiangngiang di telinga saya dan bayangan di kepala saat bersama Ami 3 atau 2 minggu terakhir Rayi Ami sebelum Ami berpulang. Adik kami, Ami, adik paling kecil yang mendapat kasih sayang dari orangtua dan kedelapan kakaknya.


(19.3.2024) 249 Ami dilahirkan ibu tanggal 30 Juni 1967 di rumah bidan Liauw Ging Hwa, tetangga sebelah kiri kami di Jl. Merbabu 1, Kotabaru, Yogya. Kelahiran itu tepat 6 hari setelah ayahanda kami Bapak Santoso Poedjosoebroto dinyatakan lulus promosi Doktorat dalam ilmu hukum di Pagelaran Sitihinggil, Keraton Yogyakarta. Ami sebagai sosok terkecil anak kesembilan dalam keluarga kami, mendapatkan kasih sayang yang luar biasa besar dari ibu, bapak dan kakak- kakaknya. Ami selalu menjadi tumpuan kesayangan kakak-kakaknya. Rasanya tidak pernah membuat masalah di dalam keluarga. Para kakanda pasti mempunyai banyak kisah/cerita yang spesial tentang Ami. Sebagai adik terkecil kami, dia selalu dalam penjagaan dan pengawasan semua kakaknya. Sedari kecil banyak temannya yang main ke rumah. Yang saya kenal antara lain: Melva, Rika, Shanti, Hanny, Sahir, dan banyak lagi. Tentu saya tak bisa menafikan teman sekaligus kakaknya paling dekat yaitu Rayi Yayah dan Naning, sang keponakan (puterinya Mbak Menuk). 9. Ketabahan menghadapi ujian Ami setelah lulus dari Fakultas Arsitektur Lanskap Universitas Trisakti, berkenalan dan semakin akrab dengan Widodo Mulyono (Dik Dodi), mereka menikah pada tanggal 14 Pebruari 1993 di ndalem Pancoran. Hari pernikahan dipilih sendiri oleh Ami pada tanggal yang sama seperti tanggal pernikahan Ibu dan Bapak Santoso, yakni 14 Februari 1946 di Purwokerto. Pernikahan ini diselenggarakan dengan sederhana di kediaman bapak


(19.3.2024) 250 ibu di Pancoran, namun tamu yang hadir luar biasa banyak katanya. Saya sendiri tidak bisa hadir, karena sedang mengikuti tugas belajar di Royal Tropical Kit (KIT), Amsterdam. Dik Mieke bersama Ira dan Aryo dari Yogya hadir mewaklli saya. Yang saya ingat adalah mereka kemudian bertempat tinggal di rumah yang disiapkan Dik Dodi di daerah Pekayon. Ibu sering menamakan rumah itu Villa Bontot. Setelah menikah, Ami dan Dik Dodi diuji dengan lamanya penantian untuk diparingi momongan. Setelah menanti 9 tahun Allah yang Maha Pencipta mengaruniai anak kembar, yaitu: Irfan Abi Prasasto (Irfan) dan Ihsan Abi Satrio (Ihsan). Dengan dikaruniai dua putera ini, Ami dan Dik Dodi diuji lagi karena ananda Ihsan yang memerlukan perhatian dan sekolah khusus. Di tengah kesibukan Dik Dodi sebagai pegawai PT PLN dan Ami sebagai pegawai suatu perusahaaan di Tebet dan freelancer, mereka berdua berupaya terus bahu-membahu untuk menegakkan rumah tangga. Tahun 2021 di mana COVID-19 sedang melanda di mana-mana, diketahui bahwa Rayi Ami menderita Ca Mamae. Ami awalnya kaget tetapi kemudian pasrah, demikian juga kami keluarga besar. Saya sebagai tenaga dokter menyadari bahwa di dalam keluarga besar kami ada genetik kanker. Ami menjalankan pemeriksaan demi pemeriksaan sampai kemudian harus chemoterapy dan operasi. Agustus Tahun 2023 Ami menjalani pemeriksaan laboratorium Pet CT-scan dan MRI. Dan hasilnya dinyatakan bersih. Bulan Oktober 2023, hasil lab Ami menunjukkan penurunan fungsi ginjal, dan tim dokter RSPI menganjurkan Ami harus di opname di RSPI tanggal 8 Desember 2023. Pada tanggal 20 Desember 2023 harus masuk ICU. Kami semua, suaminya, anaknya, serta kami para saudaranya berupaya untuk berdoa dan menghibur. Demikian juga para dokter dan civitas


(19.3.2024) 251 hospitalia berupaya menyembuhkan. Namun Allah Subhanawata’ala berkehendak lain. Pada hari Jumat tanggal 30 Desember 2023 pukul 17.23 dokter menyatakan bahwa Rayi Ami telah wafat. Kesedihan menyeruak di ruangan ICU, ruang tunggu ICU, di ruang jenazah sampai di rumah Grha Cinere. Dirumah duka tempat almarhumah disemayamkan arus tamu mengalir tak henti- hentinya dari para tetangga, handai taulan, kerabat, tukang kebun, para teman Ami, teman-teman Dik Dodi, serta teman-teman Irfan berdatangan tak henti-hentinya untuk memberikan penghormatan terakhir. Saya melihat ketiga ekor kucing kesayangan keluarga Ami di dalam kandang yang nampak diam bersedih ditinggalkan pengasuhnya. Malam itu saya tuguran menemani Dik Dodi dan Irfan di ruang tamu tempat di mana jenazah Ami disemayamkan, dan Ihsan bersama Pak Syaiful (Guru Ihsan) di lantai atas sementara Mbak Pitut (kakanda Dik Dodi) di ruang tidur utama, dan Mang Ewod tukang kebon Ami juga beberapa satpam di luar rumah. Tengah malam saya naik ke lantai dua dan mengamati suasana rumah seni ekstrak ini dengan berbagai karya Ami berupa lukisan, kartu-kartu, sketsa, dan ada beberapa karya Ami yang berupa unfinished paintings. Saya meneteskan air mata. Inilah jejak/bukti karya-karya adik kami Ami menjalankan profesionalismenya dan menegakkan rumah tangganya sebagai pendamping Dik Dodi. Saat itu saya sempat membuat beberapa sketsa. Saya baru bisa tertidur pukul 02.30 pagi. Pada pagi harinya saat memandikan jenazah, mengalami, mendoakan, dan shalat jenazah dilaksanakan di rumah duka juga di mesjid Al Ikhsan komplek Graha Cinere. Acara pemakaman berlangsung dengan lancar, khidmad, dan penuh keharuan.


(19.3.2024) 252 Ya Allah, Engkau telah memberikan begitu banyak ujian, cobaan, namun juga memberikan kemampuan untuk menyatukan para kakaknya. Berarti engkau telah memberikan kekuatan dan kemampuan dalam diri adik kami untuk mempersatukan keluarga, mempersatukan teman-temannya dan handai taulan. Iya, mempersatukan kita semua. Masyaa Allah. Saat itu saya langsung membisikkan doa, kalimat tayibbah, dan doa- doa di telinga Ami. Menciumi kening, hidung, tangan, dan ujung kakinya. Ya Allah, engkau tunjukkan kepada kami semua inilah ahli surga itu. Subhanallah. Sebagai penutup, saya sertakan falsafah orang Jawa, anggitanipun RMP Sosrokartono, yang mengajarkan: ”Ikhlas ingkang sampun kelampahan, trimah ingkang nembe dipun lampahi , pasrah ingkang dereng kelampahan”. Semoga rayi Ami husnul khatimah. Amin Ya Rabbal Alamiiien. Jakarta, 5 Januari 2024. Bertepatan dengan hari kelahiran (wiyosanipun) Bapak Santoso Poedjosoebroto


(19.3.2024) 253 Putra 7,8 dan 9 nyuwun pitedah Kangmas Broto Husodo


(19.3.2024) 254 7) BAGAS HAPSORO 1. Ami Sang Adik Bontot Kreatif Ini cerita awal, lima dasawarsa lalu, saat adik bungsu kami Ami (Padmi Nawestri) masih balita. Saya yakin kakak-kakak dan adik-adik masih ingat juga. Ami ketika masih balita Tahun 1969. Saat itu adikku ini masih berumur 2 tahun, dia plesir ke Yogyakarta. Tentu tidak sendirian. Bapak dan ibu menitipkan ke Mas Kongko. Terakhir saya ketemu si bontot 10 bulan sebelumnya di Bukittinggi. Bapak ketika itu ngasto di Padang. Baru satu hari di Yogyakarta, Ami sudah akrab dengan saya. Ami suka melihat iring-iringan semut merah di tanaman alamanda di Jalan Merbabu. Matanya berbinar-binar kalau melihat barisan semut jalan. Tetapi selalu saya jauhkan dari binatang kecil itu karena kalau menggigit pasti sakit. Ami juga senang buah kersen dan murbei di gereja Batak depan rumah.


(19.3.2024) 255 Setiap pulang sekolah selalu saya sempatkan untuk melihat kelucuan adikku yang masih imut-imut. Umur 2 tahun terlihat lucu dan menggemaskan, kelihatannya dia cepat akrab meski baru mengenali seseorang. Saya ingat waktu itu kelas 5 SD. Suatu saat di sore hari adikku yang berumur 2 tahun itu ketakutan saat melihatku. Gimana nggak takut, saya ikut karnaval menjadi buto ijo. Tampangku saja sudah menakutkan begini, apalagi sudah pakai topeng raksasa. Hampir tiap hari adikku ini tertawa saat melihatku, apalagi saat saya cium kedua pipinya. Matanya blalak-blalak dan sangat indah. Ibu menjuluki Ami ”bal cethuk”. Sebab bentuk dahinya mirip bola tennis dan lucu sekali kalau ngomong-ngomong. 2. SD di Jalan Nagasari Banjarmasin Kami nderek bapak ibu saat bapak bertugas di Kalimantan. Ketika saya di SMP Negeri I Banjarmasin, Ami sekolah di SD Pelabuhan, di Jalan Nagasari. Sekolahnya dekat sekali, mung 150 meter. Kelihatan dari rumah Bapak. 3. Tiru-Tiru Yayah Menari Alkisah di Banjarmasin itu adik-adikku: Aduk, Yayah dan Ami bersekolah di SD Nagasari. Hobi saya main gitar. Kalau sudah berkumpul, saya nggenjreng gitar, Aduk dan Yayah bisa ikut menyanyi. Jarak umur Ami dengan saya terpaut jauh, jadi nyanyinya terpisah saja. Ada sesi tersendiri. Jadi bagaimana? Cuman boleh melihat dari jauh saja. Padahal kalau kami menyanyi, saya melihat Ami ikut umak-umik. Dia tahu lagunya, tetapi mungkin sungkan untuk bernyanyi bareng kakakkakaknya. Lama-kelamaan saya amati Ami punya bakat terpendam. Suka menari.


(19.3.2024) 256 Saya pernah melihat Ami dan Yayah menari di depan kaca. Ami nari pakai selendang mengikuti Yayah. Waah, hebat adikku yang bontot ini. Semangat menarikan lagu Banjar ”Kotabaru Gunungnya Bamega”. Hobi Yayah menari ini diteruskan sampai SMA ketika dia ikut kursus menari di Jalan Kimia, dekat Bioskop Megaria. Ami sering juga ikut. Kadang tari Sumatra atau tari Bali. Ami dengan setia juga selalu bareng Yayah. Pokoknya sulit dipisah. 4 .Hobi Menyanyi Bakat Ami terlihat sejak SMP. Suka menyanyi sejak kelas 1 SMP Negeri XIII Jakarta, bahkan menjadi penyanyi paduan suara. Dan suaranya nggak fals. Ketika kuliah di Universitas Trisakti, Ami terpilih menjadi anggota paduan suara. Menurut Ami ada seleksinya. Umumnya paduan suara terdiri atas empat bagian suara (misalnya sopran, alto, tenor, dan bas), walaupun dapat dikatakan bahwa tidak ada batasan jumlah suara yang terdapat dalam paduan suara. Selain empat suara, jumlah jenis suara yang paling lazim dalam paduan suara adalah tiga, lima, enam, dan delapan. Ami tau semua teori ini. Bohemian Rhapsody (Queen) adalah salah satu lagu favorit Ami. Ami pernah menyanyi bersama koor dengan cara acappella. Tanpa iringan musik. Pada penampilan acappella atau dengan iringan piano, umumnya pria ditempatkan di belakang dan wanita di depan; penempatan kelompok bas di belakang kelompok sopran disukai oleh beberapa dirijen dengan alasan bahwa kedua bagian suara ini harus saling menyesuaikan nada. Karena menjadi patokan untuk temantemannya, dia ditempatkan di depan tengah. Mengingat bakat Ami dan Yayah inilah yang membuat kami sepakat membentuk paduan suara De Santos. Mas Kong main gitar, Mas Bambang meniup flute, saya main piano, Aduk main bass. Yayah dan Ami


(19.3.2024) 257 vokalisnya. Lagu yang pernah kami bawakan antara lain adalah: Sio Mama, Tanah Air, dan sebagainya. Dulu sewaktu Mas Mamam masih sugeng beliau main perkusi latin, cajon. 5 .Suka Merawat Tanaman Semasa saya masih kuliah, Ami pernah memberi tahu saya tentang cara merawat tanaman. Yaitu dimulai dari pengambilan tanah, lalu diberi pupuk, kemudian menanam tumbuh-tumbuhan tersebut, selanjutnya menyiram, membuang daun-daun yang layu. Semua momen itu tidak akan terlupa dari ingatan saya. Kebetulan saya punya ”keahlian” sejak SD: menyapu kebun. Tapi hal yang terlebih penting Ami memberi tahu saya lewat tindakan nyata. Jangan lupa untuk menyirami kembang. Ami tidak pernah menasihati. Mungkin passion ini yang membawa dia memilih jurusan lansekap. Air bekas cucian beras memang Ami tampung di beberapa baskom siap untuk diguyurkan ke tanaman-tanaman itu. "Supaya tumbuh subur," begitu kata Ami. Sewaktu mahasiswa, saya perhatikan Ami tetap disiplin menyiram tumbuhan tersebut dengan air bekas cucian beras. Disiplin, tanpa disuruh, tanpa tapi dan nanti. Beberapa waktu yang lalu kalau saya ke Grha Cinere, di rumah Mas Dodi dan Ami, saya selalu memandangi berbagai tumbuhan hijau dan menyegarkan diri dengan angin semilir di sekitarnya. Indah sekali rumah Ami. Terkadang saya juga memetik beberapa daun yang layu di ranting dan memotong lidah buaya yang kering di ujungnya.


(19.3.2024) 258 Menyiram untuk memberi sejumlah asupan air bagi semua tumbuhan membutuhkan kesabaran. Menjaga keindahan tumbuhan, merawat mereka dari gangguan hewan semisal kucing dan tikus, juga sama pentingnya. Merasakan udara segar dari merawat tumbuh-tumbuhan yang saya sebutkan di awal tadi adalah kebiasaan yang selalu kami rasakan saat kami tinggal di Pancoran. Saya ingat betul sewaktu tahun 1976 saya, adikadik, dan kakak-kakak punya kebiasaan duduk bersama saat pagi dan sore di hari Minggu. Sangatlah berkesan. Terkadang Bapak Santoso mengajak bal-balan pakai bola di rumput belakang nan hijau. Beliau mengenakan sarung yang digulung sampai lutut. Woooh, lucu tenan. Beberapa minggu setelah saya menempati rumah di jalan Flamboyan, Ami mengenalkan kami kepada Pak Ewod. Jagonya menanam bunga dan tanduran. Kalau kami minta datang untuk merawat tanaman, kadangkadang Pak Ewod ditemani anaknya. Datangnya selalu pagi, jam 6.30 sudah siap mbabati tanamen yang awut-awutan. Saya pernah ”disidak” (inspeksi mendadak) oleh Ami. Dia bilang mau lihat tanaman di depan dan di belakang rumah saya. Komentarnya menggembirakan, “Woooh apik iki... gendut-gendut tanemane”. 6. Rumah Ami yang asri Memiliki tanah yang ideal di jaman sekarang tak membuat Ami dan Mas Dodi menghabiskan lahannya untuk membangun rumah. Dari tanah seluas 206 meter persegi yang ia miliki, rumahnya hanya dibangun dengan luas 160 meter persegi dengan memiliki dua lantai. Rumah Ami ini di Grha Cinere, Depok, Jawa Barat. Di sekitar rumahnya terdapat rumput hijau dan pepohonan yang sangat menyejukkan mata. Halaman ini ia manfaatkan untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya.


(19.3.2024) 259 Di teras samping ada sofa malas yang diletakkan Ami. Di sini Ami biasa menghabiskan waktu pagi dan sorenya untuk menikmati udara segar. Masuk ke dalam rumahnya, kesan luas sangat jelas terlihat. Lantai satu rumahnya dibiarkan terbuka tanpa sekat. Ruang tamu, ruang menonton keluarga, ruang makan tak terbatas oleh tembok atau sekat lainnya. Menariknya, rumah Ami memiliki jendela yang cukup. Ini berguna agar udara dari luar dapat masuk leluasa ketika jendela terbuka lebar. Naik ke lantai dua, terdapat dua ruangan. Kedua kamar ini menyenangkan dan sangat cocok untuk tetirah dan belajar. Setelah itu, terdapat sebuah ruang baca milik Ami. Di sini terdapat puluhan koleksi buku milik Ami serta beberapa piagam penghargaan. Yang menarik di lantai dua ini adalah studio Ami. Ada tempat untuk melukis dan membuat sketsa, dan sebagainya. Dijamin betah duduk disitu sambil menikmati karya-karya yang arstistik. Benarbenar menginspirasi. Pokoknya kalau keluar dari kamar itu pasti ada saja ide untuk menulis atau menggambar. j


(19.3.2024) 260 7. Karya Ami Digemari Pebisnis Australia Tanggal 19 Oktober 2023, kami dari para putera mantu Bapak Ibu Slameto ada acara reunian di Bali. Sejak lama kami merencanakan untuk ketemu dan nginepnya di rumah keluarga Mbak Wati dan Mas Yoyon di Denpasar. Setelah ditunda beberapa kali akhirnya baru bisa terlaksana bulan Oktober itu. Sebelum berangkat ke Bali kami pamitan ke Ami. Dia bilang sama isteri saya, Dik Ning, ”Kalau tidak merepotkan bolehkan Mbak Ning mampir ke Biku Cafe di Bali? Alamatnya di Jl. Raya Peritenget 888, Badung, Bali.” Setelah itu dia menambahkan, ”high tea-nya menyenangkan lho, Mbak Ut pasti suka.” Saat di Bali kami menyempatkan diri ke Biku Cafe. Tempatnya asyik. Tidak jauh dari pantai Kuta. Meski agak macet tetapi oke lah. Sampai di sana, kopinya top banget. Bali Kintamani Arabica.


(19.3.2024) 261 Saya dikasih tahu Dik Ning bahwa di Cafe itu ada barang-barang suvenir termasuk kartu pos. Yang unik adalah bahwa ilustrator kartu pos itu adalah Ami. Saya bangga melihat gambar-gambar yang dibuat Ami seperti bunga, tanaman, tea-pot, teko, dan rumah lucu-lucu. Berikut gambarnya: Saya kirim berita itu melalui WA ke Ami, ”Rayi Ami, aku benar-benar bangga melihat kartu-kartumu yang dipajang di tempat display!” Terus jawabannya sangat spontan, ”Masya Allah matur nuwun, Mas Bagas, Mbak Ning. Ami senaaang sekali lihatnya. Matur nuwun sampun mengupayakan mampir dan merekam tempatnya.” Memang bagus lokasi café ini. Banyak turis asing yang betah ngobrol dan minum. Menurut Ami, yang punya café itu Bu Asri Kerthyasa. Sosok Asri Kerthyasa selama ini jarang tersorot oleh publik. Perempuan anggun asli Australia dan sudah lama menetap di Bali setelah menikah dengan ayah mertua Happy Salma, Tjok Raka Kerthyasa. Singkat kata, begitu pengunjung memasuki café, langsung melihat display kartu yang dipajang di ruang depan. Kata petugas café di situ orang- orang bule suka lukisan yang artistik karya Ami itu.


(19.3.2024) 262 Kartu-kartu pos dengan gambar karya Ami dipajang di restoran dan Cafe Biku, di Badung, Bali. (Doc Oct 2023) Jl. Raya Peritenget 888, Badung, Bali Biku Cafe


(19.3.2024) 263 8) TULISAN ADUK TENTANG AMI ( SAPTO WINARNO ) Tuuuut...... tuuuut.......: “Assalamualaikum warahmatulah wabarakatuh, SAADUUUK, apa kabar...?, baik-baik saja ya, Amiin Allahuma Aamiin” Begitulah suara Ami di pagi hari saat menyapaku melalui handphone, Suaranya begitu riang dan menyejukkan dan sangat ngangeni ......... Sekarang tentunya suara itu hanya ada dalam memori saat mengingatnya. Ami, damailah dalam keharibaan Surga Allah Subhana Wata’ala Aamiin yaa Rabbal Aalamiin...


(19.3.2024) 264 AMI , ADIK BONTOTKU YANG SANGAT BAIK 1. Mbak Menuk adiknya Ami. Dulu Ami saat kecil di dalem Pancoran selalu digoda oleh kakak mbarepku almarhumah mbak Menuk, karena Ami selalu menanyakan urutan kakak2nya di urut dari yang yang sulung yaitu Mbak Menuk kakaknya Mas Kongko, mas Kongko kakaknya Mas Mamam, mas Mamam kakaknya Mbak Menik, mbak Menik kakaknya Mas Bambang, mas Bambang kakaknya mas Adah (mas Bagas), mas Adah kakaknya mas Aduk (Sapto), mas aduk kakaknya Yayah, dan Yayah kakaknya Ami. Terus Ami tanya “ Lho kalo Ami kakaknya siapa ?”. Mbak Nuk sambil tertawa berkata bahwa Ami kakaknya Mbak Menuk. Ami sambil sedikit bingung terus bergumam “ Ooo, Mbak Menuk itu adiknya Ami too…”. Sejak itu kalo mbak Nuk guyon dengan Ami selalu menyatakan kalo Mbak Nuk adiknya Ami. Amipun puas dan tidak bertanya-tanya lagi, tapi tentunya bingung dan lama lama tahu juga…


(19.3.2024) 265 2. AMI , Panggilan rayi Padmi Nawestri Dimulai seko endi yo..? Aku sangat sependapat karo sedulur liyane yen Ami kuwi pancen pinter, smart, prigel,perduli sesamanya lan muslimah sing apik.. Eh, boso Jowo to..? Aku sangat sependapat dengan saudara lainnya bahwasanya Ami itu memang pinter, cerdas, trampil, perduli dengan sesamanya dan Muslimah yang baik. Itu semua karena didikan orangtua kita dan Ami menjalankan dengan baik ditambah Ami suka belajar apa saja untuk mengembangkan dirinya. Yang jelas Ami nama panggilan dari Padmi Nawestri yang kata alm Bapak namanya diambil dari bunga kesukaan Ibu yaitu Teratai atau Padma, putri kesembilan/Nawa dan estri yang berarti wanita/putri. Yang secara keseluruhan menjadi Anak putri nomor sembilan yang diharapkan nantinya berkembang seperti bungai teratai yang indah dan selalu indah... Karena Teratai atau Padma adalah bunga, yang identik dengan keindahan, keharuman dan feminisme.


(19.3.2024) 266 Lihatlah, tak peduli seberapa kotornya kolam yang mengelilingi bunga teratai ini, bunga ini tetap mekar dengan keindahan, kotoran yang menyebar di perairan sekitarnya tidak mengurangi keindahan dari teratai itu sendiri. Bunga teratai ini masih tetap bisa tumbuh dan berkembang di atas kolam yang sangat kotor, tanpa tersentuh dan ternoda dengan kotoran itu sendiri. Lalu, jadikan ini sebagai pembelajaran hidup, tak peduli seberapa negatif lingkungan di sekitar kita, kita harus tetap bisa menjadi bunga teratai yang berkembang dan tumbuh dengan indah tanpa ternoda. Maka dari itu, ketika kita sedang dalam kegelapan, sedang dalam kesengsaraan, yakinlah kita bisa seperti bunga teratai, yang tumbuh keluar dari dalam lumpur yang kotor tanpa terpengaruh dan tersentuh oleh kotoran itu. Makanya almarhumah Ibu semasa hidupnya sangat suka dengan bunga Teratai sehingga menciptakan lagu Banjarmasin dimalam Purnama yang menceritakan tentang keindahan Bunga Teratai. Memang luar biasa orangtua memberi nama putra-putrinya yang penuh makna dan harapan untuk kebahagiaan dimasa mendatang. Al Fatehah untuk Bapak, Ibu, mbak Menuk, Mas Mamam, mbak Meniek dan Ami yang telah meninggalkan kita……..


(19.3.2024) 267 Tanaman Teratai di depan rumah dinas bapak di Jl. Pelabuhan Timur no. 10 Banjarmasin Kembali ke nama untuk Ami, dulu Ibu suka memberi nama lain untuk putra-putrinya tidak terkecuali untuk Ami, yang suka dipanggil ibu dengan Athuk. Karena sewaktu kecil Ami lucu banget, kepalanya bundar kecil seperti bola cethuk (seperti apa ya? Opo koyo bal bekel?) yang diberi titik pake pensil dan hidungnya tidak ada alias tidak kelihatan. Maka dipanggil Bal Cethuk… Memang waktu kecil, Ami kalo dipanggil Ami tidak nengok, tapi kalo dipanggil Athuk pasti nengok dan ketawa. Jadi kami suka memanggilnya Athuk. Hanya suatu saat Bapak negur kami supaya jangan dipanggil Athuk lagi, tapi Ami, dan sekarang semua kami memanggilnya Ami…… dan mau nengok kalo dipanggil…hehehehe..


(19.3.2024) 268 AMI JADI SUBJEK LATIHAN HIPNOTERAPI Semasa SMA aku suka belajar apa saja, terutama ilmu untuk kedigdayaan, belajarnya dari mBah Doellah Prawiro Soemarto (mbah Cilik Wojo), buku-buku Kejawen, juga beladiri yang menggunakan tenaga dalam dan mantera atau bacaan yang harus dirapalkan, juga laku mulai puasa mutih, ngerowot (makan buah saja) sampai patigeni. Suatu saat aku tertarik mempelajari ilmu Hipnotisme dan hipnoterapi yang disusun oleh Purnawijaya terbitan Magic Center Djakarta. Dalam buku itu ada cara2 penyembuhan kebiasaan2 yang tidak baik dengan memberikan sugesti-sugesti untuk Subjek (orang yang dihipnotis). Setelah sekian lama mempelajari dari buku itu dengan latihan konsentrasi, kini giliran praktek aku mencari sasaran untuk uji coba. Kebetulan adikku Ami punya kebiasaan ngenyut dengan ibu jari tangan serta harus pegang selimut yang bukan main ambune . Dan mau untuk dihipnotis.. Ami kucoba dihipnoterapi dengan sugesti-sugesti yang diberikan berulang-ulang supaya kebiasaan itu hilang karena rasa ibu jari setelah dihipnotis menjadi pahit dan semakin pahit sehingga tidak mau ngenyut lagi.. Luarbiasa....., ternyata setelah itu Ami tidak mau ngenyut lagi dan selimut yang bau itu boleh dicuci. Aku sendiri kaget melihat kelinci percobaan itu berhasil. Syukur Alhamdulillah.. rupanya Allah memberikan kesembuhan kebiasaan ngenyut dari coba-coba belajar Hipnoterapi dari buku.


(19.3.2024) 269 Putra no 8,9 dan 7, selalu disempatkan berfoto kalo berjumpa


(19.3.2024) 270 3. Kebersamaan ku dengan Ami sekeluarga di Jogja tahun 2022. Bulan September 2021, aku menyampaikan kabar ke keluarga besar Santoso Poedjosoebroto bahwa kami akan ngunduh mantu anak ragil kami Imok (Bisma Haryo Raditya) dengan calonnya Chika (Ayu Laksita Dewi) pada tanggal 26 Februari 2022 di Tara Hotel Yogyakarta. Saat itu masih epidemi Covid 19. Saat itu pemerintah membatasi jumlah suatu kegiatan yang dalam jumlah besar, sehingga keluarga dekat saja yang kami undang dari kedua belah pihak. Keluarga besar yang dapat hadir adalah keluarga mas Bambang Sarjono, keluarga Jose Rizal dan keluarga Ami (Widodo Mulyono). Dari bulan sebelum hari-Hnya, Ami sekeluarga sangat ingin hadir dan sudah memesan tempat untuk acara tersebut dan aku sangat berterimakasih kepada nya bahwa ditengah epidemi Covid19, Ami masih berusaha untuk hadir dan katanya sambil berlibur bersama keluarga. Menjelang acara, rayi Ami dan rayi Yayah (adik no.8) turut menata ruang acara di Hotel Tara, tentunya dengan sentuhan seni Ami yang senang tanaman, ruangan resepsi menjadi lebih indah dan akan terasa khidmat dalam pelaksanaan nantinya. Ami, yang ada dibenakku adalah seseorang yang selalu tersenyum dan selalu riang. Kalo marah malah kelihatan lucu dan itupun tidak pernah ditampakkan. Karena kalo marah, sepertinya yang dimarahi takut


(19.3.2024) 271 tersinggung. Itulah Ami, yang selalu ringan tangan seperti juga adikku yang no. 8. Yayah. Kalo di Jogja rasanya waktunya kurang untuk pingin jalan2 dengan karena waktu berliburnya juga terbatas dan ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tapi selalu disempatkan untuk bertemu dengan keluargaku. Pernah ada kejadiaan lucu saat setelah makan siang di rumah makan tempo doeloe dari jaman bapak-ibu kalo nostalgia ke Wonosari yaitu Rumah Makan Sego Abang Sayur Lombok Ijo Njirak di samping jembatan Semanu Wonosari Gunung Kidul, kami dengan keluarga Ami dan mas Bambang dengan kendaraan Hiace mau menuju Kopi Panggang. Nah, dalam perjalanannya dengan berbekal panduan dari Google Map, kami diarahkan menuju tempat tersebut, tapi menerobos jalan2 kecil di pegunungan (sebenarnya aku mau bilang tersesat, tapi malu). Hari itu masing siang namun karena didalam hutan sehingga kesannya sudah sore. Dalam situasi ini Ami itu ternyata malah senang dan turun dari mobil untuk


(19.3.2024) 272 mengambil foto-foto dihutan tersebut. Wah memang Ami itu seperti Ibu/Utik yang kalo jalan-jalan dan kesasar tapi malah senang (Utik :”Soyo seneng yen disasar2ke..”). Akhirnya dalam perjalanan mendaki jalan2 kecil di bukit2 di Gunung Kidul itu, kami sampai juga ke Kopi Panggang. (Mas Dodi, kalo masih menyimpan foto hasil bidikan Ami, tolong ditampilkan ya, karena waktu itu saya nyopir dan keringat dingin gak sempat moto). Foto keluarga di Kopi Panggang dan Resto, Gunung Kidul Aku saat ini memang belum bisa menulis tentang Ami, karena saat menulis selalu ingat Ami, mengenang adikku yang selalu ceria dan memberi inspirasi untuk selalu berbuat baik dan yang terbaik. Berikut ini hanya aku unggah foto0foto dengan Ami saat bertemu dan saat di Jogja, dan tentunya sangat banyak sekali.


(19.3.2024) 273


(19.3.2024) 274 Di Floating Resto, Sleman


(19.3.2024) 275


(19.3.2024) 276 Hadir di acara Resepsi Pernikahan Putra pertama Hanggoro Pandu NugrohoDi Madiun, tanggal 28 Desember 2019 9, 8 & 7


(19.3.2024) 277 Acara Lebaran 2022 di dalem Pancoran


(19.3.2024) 278 Ami dan burung Kakak Tua.


(19.3.2024) 279 Kata terakhir saat ku telepon September 2023, Saduuuk, Ami pingin bahwa putra-putri bapak podo bersatu sing kompak ya, Ami sedih yen ana sing rame. Aku jawabnya ya bilang : “Iya Mi, kita selalu bersatu dan kompak kok, ngono iki kan saat menyampaikan lan tujuanne kuwi kanggo kebaikan kita semua......” “Iya Saduuuuk....... “ jawab Ami maneh. Kata terakhir ditulisan ini, Ketahuilah, aku bersaksi bahwa Ami adalah insan yang baik dan selalu ingin membahagiakan orang lain, tanpa pernah berkeluh kesah. Hubungan dengan sesama selalu dijaga, sedangkan untuk Allah, tidak pernah ditinggalkan sholat dan kewajiban2 lainnya. Yakinlah aku bahwa Ami sekarang Damai disisi Allah Subha Wataala, Semoga, Aamiiiin Allahuma Amin……


(19.3.2024) 280 Sarapan Soto Slamet, di Gamping, Sleman, DIY Rumah Makan Nila Pepes Mbah Jalal, Tempel Sleman DIY


(19.3.2024) 281 9) Dyah Astarini Ami Sejak Kecil Berjiwa Sosial Ami sewaktu di kelas 1 SD Pelabuhan, Banjarmasin sering tidak mau mengerjakan PR. Pekerjaan rumah yang seharusnya dikumpulkan ke ibu gurunya setiap pagi malah diserahkan ke teman sebangkunya. Namanya Wahida. Oleh Wahida pekerjaan itu diselesaikan dengan seksama. Temannya itu baik. Tetapi Ami waktu itu sadar bahwa di mana pun tidak ada yang gratis. Oleh karena itu Ami memberikan balas jasa berupa pakaian Ami. Itu tidak sekali… beberapa kali. Suatu hari ibu mencari pakaian-pakaian Ami kok pada nggak ada? Setelah ditanya ke Ami, akhirnya Ami mengaku sering ”menolong” temannya itu. Ndilalah temannya itu memang hidupnya sederhana sekali. Jiwa sosial ternyata melekat sejak Ami kecil.


(19.3.2024) 282


Click to View FlipBook Version