The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by komsos, 2021-10-15 01:58:46

E-Book Walking with Inigo isi

E-Book Walking with Inigo isi

menjadi seorang peziarah seperti mereka. Ia bergabung dengan para Yesuit pada 1538.
Ia menjadi orang yang pertama meninggal di antara mereka.

Inigo lalu menjadi begitu yakin dengan dampak positif Latihan Rohani sehingga pada
saat terakhirnya di Venesia ia menulis:

“Latihan Rohani adalah cara terbaik yang saya ketahui dalam hidup ini untuk
membantu seseorang untuk membawa keuntungan bagi dirinya, serta
membawa pertolongan, keuntungan dan kebaikan bagi banyak orang lain.”

Pada akhir hidupnya, Inigo menulis kepada Pater Androzzi:

“Anda mengetahui bahwa ada sebuah sarana luar biasa dari antara semua
sarana-sarana yang bertujuan untuk menolong orang lain. Saya
mengingatkan Anda untuk menggunakan senjata ini, yang merupakan
bagian khas Serikat kita.”

93. penganiayaan kembali muncul – sahabat-sahabat Inigo tiba di Venesia

Di Venesia Si Peziarah mengalami kesukaran lain lagi. Ada yang mengatakan bahwa di
Spanyol dan di Paris gambarnya dibakar orang. Soal itu begitu berkembang, akhirnya dibuat
perkara dan dijatuhkan vonis yang menguntungkan Si Peziarah. Kesembilan teman tiba di
Venesia awal 1537. Mereka membagikan diri untuk pelayanan di pelbagai hospital. Sesudah
2 atau 3 bulan, mereka semua pergi ke Roma untuk minta izin pergi ke Yerusalem. Si Peziarah
tidak ikut, karena soal Doktor Ortiz, dan juga karena kardinal Theatin yang baru. Teman-
teman kembali dari Roma dengan cek untuk 200 atau 300 scudi, yang diberikan kepada
mereka sebagai sedekah untuk pergi ke Yerusalem. Mereka hanya mau menerimanya dalam
bentuk cek, dan ketika ternyata tidak dapat pergi ke Yerusalem mereka mengembalikannya
kepada orang yang memberikannya.

Teman-teman kembali ke Venesia seperti ketika pergi, yaitu dengan berjalan kaki dan
mengemis, tetapi mereka terbagi dalam tiga kelompok dan orang dalam kelompok berbeda
kebangsaannya. Di Venesia mereka yang belum tertahbis ditahbiskan menjadi imam. Mereka
mendapat izin-karya dari nuntius yang waktu itu ada di sana dan yang kemudian menjadi
Kardinal Verallo. Mereka ditahbiskan ad titulum paupertatis (atas dasar kemiskinan) dan
semua mengikrarkan kaul selibat dan kemiskinan.

235

Hidup di Venesia tidak selalu berjalan tenteram bagi Inigo. Di sini, dan nanti di
Roma, derita yang telah dimulai di Alcala belum akan berhenti. Ada tuduhan-tuduhan
yang dikhawatirkan oleh Inigo akan mengganggu karya kerasulan kelompoknya. Orang
yang ditunjuk untuk melakukan investigasi adalah Gasper de Doctis, yang sebelumnya
pernah menjalani Latihan Rohani di bawah bimbingan Inigo. Vonis terakhir, yang
dikeluarkan pada 13 Oktober 1538, beberapa bulan setelah Inigo menerima tahbisan
imamat, mengatakan bahwa “ajaran dan teladan” Inigo telah membawa perbaikan bagi
Venesia dan ia adalah seorang imam “… yang hidupnya baik dan religius, ajarannya suci,
gaya hidup dan reputasinya luar biasa.”

Pada 8 Januari 1537, sahabat-sahabat Inigo tiba di Venesia. Dari enam yang pertama
(Faber, Xaverius, Lainez, Salmeron, Rodrigues dan Bobadilla), ada tiga lagi, (Jean Codure,
Claude le Jay dan Paschase Broet).

Supaya tidak menarik perhatian, mereka meninggalkan Paris dalam dua kelompok.
Mereka telah menjadi termahsyur di antara banyak orang dan mereka khawatir bahwa
orang-orang ini mau menahan mereka supaya tetap di Paris. Di kota Meaux, kira-kira 45
kilometer dari Paris, mereka bergabung kembali untuk melanjutkan perjalanan
bersama-sama.

Inigo sebelumnya telah menulis kepada Dona Maria, seorang wanita Spanyol yang
kaya (bdk. [92]) untuk meminta uang bagi sahabat-sahabatnya agar mereka dapat
melewati masa ujian akhir dan perjalanan menuju Venesia. Surat ini sudah terlambat
karena teman-temannya sudah meninggalkan Paris dua bulan sebelumnya akibat
perang antara Francis I dan Kaisar Karl V. Perang ini menjadikan perjalanan mereka
berbahaya. Mereka lalu membuat kesepakatan bahwa jika mereka bertemu tentara
Perancis orang Perancis di grup mereka akan berbicara dan mengatakan bahwa “Kami
adalah mahasiswa-mahasiswa dari Paris yang sedang berziarah menuju tempat ziarah
St. Nikolas”, dan kalau mereka berjumpa dengan tentara Kaisar, mereka akan berkata,
“Kami adalah mahasiswa-mahasiswa Spanyol dari Universitas Paris dalam perjalanan
menuju Gua Maria Loreto.” Selain berbahaya, kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi
dalam perjalanan juga mengerikan. Mereka harus berjalan jauh melalui cuaca dingin dan
basah, serta salju musim dingin hanya mengenakan jubah mahasiswa mereka yang
sudah usang dan tipis. Mereka mengenakan topi lebar dan bulat, serta tas kulit yang
berisi buku ibadat harian, buku-buku dan catatan-catatan. Masing-masing dari mereka
membawa tongkat peziarah di tangan dan mengalungkan rosario di leher mereka.

236

Mereka harus berhati-hati terhadap kaum reformis dan pada saat-saat tertentu di
penginapan mereka terlibat dalam perdebatan seru dengan umat Protestan baru.
Mereka mengakui bahwa dibandingkan Inigo, mereka masih dikategorikan pemula
dalam hal berjalan kaki.

Dalam suratnya pada Juli 1537 kepada Juan de Verdolay, Inigo memberi gambaran
perjalanan mereka, meskipun tidak secara rinci:

“Pada pertengahan Januari, sembilan sahabat saya dalam Tuhan tiba di sini
dari Paris. Semuanya Magister dan cakap dalam Teologi. Empat dari
antaranya orang Spanyol, dua orang Perancis, dua orang Savoya dan
seorang lainnya orang Portugis. Setiap orang melewati dan menghadapi
pelbagai situasi sulit baik karena perang maupun karena berjalan kaki
terlalu jauh serta musim dingin yang menusuk tulang.”

Dalam surat ini, Inigo menggunakan ungkapan “sahabat-sahabat dalam Tuhan”
(amigos en el Señor) yang kemudian menjadi terkenal. Ternyata, ia hanya menggunakan
ungkapan ini sekali ini, tetapi ini adalah gambaran sempurna untuk kelompok kecil
mereka. Masing-masing ingin menjadi seorang peziarah seperti Inigo dan mengikuti cara
hidupnya yang didasarkan pada Injil. Maka, setelah menerima tahbisan imamat, mereka
menyebut diri mereka sebagai “imam-imam peziarah.”

Tidak lama setelah tiba di Venesia, mereka berpisah. Mulai saat ini, mereka tidak
akan bersama-sama secara fisik untuk jangka waktu yang lama, tetapi hati mereka akan
bersatu erat selama sisa hidup mereka. Kesatuan mereka adalah untuk disebar: “tubuh”
adalah untuk “perutusan.”

Dalam suratnya kepada Verdolay, Inigo menjelaskan bahwa:

“Di sini mereka masuk ke dua buah rumah sakit dan terbagi menjadi dua
kelompok, yaitu untuk melayani orang miskin yang sakit dengan mengambil
pekerjaan-pekerjaan rendah, serta tugas-tugas yang berla-wanan dengan
selera kedagingan.”

Kelima dari mereka pergi ke Rumah Sakit St. Yohanes dan Paulus dan lima lainnya
pergi ke Rumah Sakit Incurabili. Inigo sendiri tetap tinggal di rumah untuk melanjutkan
studinya. Di rumah sakit, mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dan tidak

237

menyenangkan seperti menyapu kamar, menyiapkan tempat tidur, dan memandikan
serta menyuapi pasien. Mereka bahkan menggali lubang dan menguburkan orang mati.

Bagi para lulusan Universitas Paris, pekerjaan seperti ini pasti merupakan
pengalaman baru dan sangat menantang. Lainez menyebut bahwa ini adalah
konsekuensi lebih lanjut dari keputusan mereka untuk memeluk “Cara Hidup Inigo”, yang
berarti meninggalkan hal-hal duniawi dan percaya hanya kepada Tuhan.

Agar mereka dapat melakukan peziarahan ke Tanah Suci, mereka membutuhkan
berkat Paus. Untuk itu, pada 16 Maret 1537, kesembilan sahabat ini memulai perjalanan
mereka ke Roma. Ini bukan sebuah perjalanan yang mudah karena mereka ingin
bergantung sepenuhnya pada derma. Seringkali mereka merasa lapar dan bahkan bisa
berjalan satu hari penuh tanpa makan. Mereka berjalan kaki di bawah guyuran hujan
sampai akhirnya keletihan pada malam hari. Mereka tidur di mana pun mereka
mendapat tempat. Mereka akhirnya tiba di Roma pada Minggu Palma, 25 Maret 1537.

Berdasarkan diskresinya, Inigo memutuskan untuk tidak pergi bersama mereka. Dr.
Ortiz marah besar kepada Inigo sewaktu di Paris karena menyaksikan dampak Latihan
Rohani atas diri Peralta, yang masih kerabatnya [77-78]. Kardinal Theatin yang baru
adalah Gian Pietro Caraffa dan Inigo tidak mempunyai hubungan yang baik dengannya
[92].

Sekali lagi, dalam suratnya kepada Juan de Verdolay, Inigo menceritakan perjalanan
sahabat-sahabatnya:

“Mereka didera oleh kemiskinan, tanpa uang dan dukungan dari
akademikus yang berpengaruh atau lainnya. Dengan ini, mereka menaruh
semua kepercayaan dan harapan mereka pada Tuhan, yang menjadi
alasan kepergian mereka. Maka, tanpa kesulitan mereka mendapatkan
apa yang mereka inginkan dan bahkan lebih dari itu.”

238

Di Roma, Dr. Ortiz banyak membantu mereka. Mereka pun mendapatkan waktu
untuk beraudiensi dengan Paus. Paus sendiri bersikap amat baik terhadap mereka. Ia
tidak hanya memberikan berkatnya kepada mereka, tetapi ia juga memberinya izin
mengunjungi dan tinggal di Tanah Suci, serta kembali ke sana kapanpun mereka mau.

Lalu, berbeda dengan pengalaman Inigo empat belas tahun sebelumnya, Paus kali
ini menyatakan bahwa wakil Gereja tidak dapat memaksa mereka untuk pergi. Bagi
mereka yang bukan imam, ia memberi izin untuk menerima tahbisan imamat oleh Uskup
mana pun tanpa perlu menunda-nunda lagi. Mereka juga tidak terikat pada sebuah
keuskupan tertentu atau tergantung dari beneficium. Mereka yang sudah imam juga
diberi kekuasaan untuk mendengarkan pengakuan dosa dan mengampuni dosa,
termasuk dosa yang biasanya hanya dapat diabsolusi oleh uskup. Terakhir, Paus
memberi mereka 60 dukat untuk membiayai perjalanan mereka ke Yerusalem, yang
masih ditambah 150 dukat lagi oleh beberapa kardinal dan anggota kuria.

Mereka kembali ke Venesia pada awal Mei dengan berjalan kaki dan mengemis. Ini
adalah cara Inigo melakukan perjalanan dan mereka ingin mengikuti praktik kemiskinan
dan cara hidup Inigo. Mereka begitu menghayati ini sampai-sampai mereka tidak mau
membawa uang. Mereka membawanya dalam bentuk cek, sehingga tidak dapat
dipergunakan dalam perjalanan pulang karena ini telah diberikan kepada mereka untuk

239

suatu tujuan khusus. Ketika nanti mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat pergi
ke Yerusalem, mereka mengembalikan uang tersebut kepada para donatur. Di dalam
perjalanan, mereka membagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang masing-masing
terdiri atas orang-orang dari kebangsaan yang berbeda supaya mereka dapat lebih
memahami satu sama lain dan memperkuat ikatan di antara mereka.

Pada 24 Juni 1521 Inigo diberitahu oleh para dokter bahwa ia akan mati akibat luka
yang dideritanya di Pamplona. Sekarang, pada hari yang sama pada 1537, Inigo bersama
kelima sahabatnya ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Vincenzo Nigusanti dari Arbe
di sebuah kapel di rumahnya (tiga dari mereka sudah menerima tahbisan imamat dan
Salmeron masih terlalu muda untuk ditahbiskan). Kitab Hukum Kanonik waktu itu
menetapkan bahwa seorang imam baru harus mempunyai dukungan finansial dari
uskupnya atau seorang donatur pribadi. Akan tetapi, ini dapat diganti dengan
“kemiskinan suka rela” atau “pengetahuan yang mencukupi.” Mereka memilih untuk
ditahbiskan dalam keduanya, yaitu kemiskinan suka rela dan pengetahuan yang
mencukupi. Mereka adalah orang-orang terpelajar, tetapi mereka tidak melihat
pengetahuan atau status imamat mereka sebagai cara untuk mendapatkan kekayaan
dan status. Uskup Nigusanti berkata bahwa ia belum pernah merasakan konsolasi
seperti ini sewaktu memimpin upacara penahbisan.

Sebagai ungkapan keinginan mereka untuk menghidupi ajaran Injil secara
sempurna dan untuk memberikan kesaksian kepada orang lain, sebelum ditahbiskan
mereka mengucapkan kaul kemiskinan dan kemurnian di hadapan Nuntio Kardinal
Verallo. Ia memberi mereka izin untuk berkotbah, mengajar dan menjelaskan Kitab Suci
di seluruh wilayah Venesia. Mereka juga dapat mendengarkan pengakuan dan memberi
absolusi dosa, “yang umumnya hanya terbatas pada uskup, uskup agung, dan patriakh.”

Apakah makna tahbisan imamat bagi Inigo? Tidak mudah untuk menebaknya, tetapi
sepertinya ia mempunyai pemahaman yang berbeda dengan banyak imam lain pada
zamannya. Pengalaman Inigo bersama Gereja, dan pemahaman yang didapatnya dalam
doa tampaknya telah memberi unsur mistik dalam cara Inigo mengerti imamat:

• Sebagian dari ini dilakukan untuk memastikan bahwa kerasulannya diterima
oleh Gereja dan terhindar dari pernyataan-pertanyaan dan penyelidikan-
penyelidikan.

240

• Walaupun sebagai awam Inigo masih dapat memberikan Latihan Rohani,
sakramen imamat menambah kemungkinan merasul menyelamatkan jiwa-
jiwa dan memperkaya karyanya.

• Sakramen imamat semakin menjadikan Inigo mirip dengan para rasul yang
berkumpul di sekeliling Kristus dan diutus oleh Dia untuk mewartakan Pesan Injil
dalam kesederhanaan dan ketidaklekatan. Ia melihatnya sebagai sebuah
pemberian dan ia berkeinginan untuk memberikan secara cuma-cuma apa yang
telah ia terima secara cuma-cuma dengan berkotbah dalam kemiskinan. Bagi
Inigo, ini adalah sebuah bentuk imamat ministerial dengan segala kekayaan
maknanya.

• Sakramen imamat memiliki unsur persatuan mistis dengan Kristus yang
melalui Imamat-Nya mempersembahkan diri sepenuhnya bagi sesama. Inigo
ingin berada bersama Yesus dengan mempersembahkan dirinya sebagai
kurban.

• Sakramen imamat menjadi pusat hidup dan kerohanian Inigo dan
terintegrasikan ke dalam keduanya. Inigo mempunyai devosi besar terhadap
misa harian dan ketika menulis Konstitusi, misa menjadi sarana utama dalam
berdiskresi.

Dari sini jelas terlihat bahwa Inigo merasa bahwa tangan Tuhan selalu bersama dia
dan sahabat-sahabatnya. Maka, mereka selayaknya menunjukkan rasa syukur mereka
dengan bermurah hati dalam pelayanan kepada Tuhan. Dalam surat kepada Juan de
Verdolay, setelah menuliskan semua rahmat yang telah diterimanya bersama
kelompoknya, Inigo mengatakan,

“Saya menyebutkan semua ini … untuk menunjukkan kepadamu bahwa
beban kami sekarang jauh lebih berat, pun pula rasa malu kami kalau kami
gagal memanfaatkan kebaikan setelah Tuhan telah begitu bermurah hati
kepada kami. Tanpa mempertanyakan atau merencanakan, semua yang
dapat kami inginkan diberikan ke dalam tangan kami. Semoga kebaikan ilahi
mencurahkan rahmat-Nya agar kami tidak mengubur dalam tanah
pemberian dan kebaikan yang tak henti-hentinya dicurahkan kepada kami,
dan kami juga berharap agar ia senantiasa memberikannya kepada kami
apabila kami melaksanakan bagian kami.”

Kalau Inigo melihat hidupnya saat menjadi seorang peziarah yang seorang diri, ia
pasti menyadari betapa Tuhan telah memperhatikan dia. Sekarang, ketika ia melihat

241

perhatian yang sama dicurahkan kepada kelompoknya, hatinya pasti dipenuhi dengan
keinginan menanggapi Kebaikan Ilahi ini bersama-sama sebagai sebuah kelompok.

Saat mereka berada di Venesia, beberapa orang muda lain berminat bergabung
dengan mereka. Akan tetapi, Inigo menolak mereka karena percaya bahwa mereka
nantinya akan merasa bahwa cara hidup mereka terlalu sulit.

94. tidak ada kapal menuju Tanah Suci – 40 hari berkanjang dalam doa

Tahun itu tidak ada kapal pergi ke Asia Kecil, sebab orang Venesia putus hubungan
dengan orang Turki. Dengan demikian, karena mereka melihat bahwa makin tipis harapan
untuk dapat naik kapal, mereka berpencar di daerah Venesia dengan maksud mau menunggu
satu tahun, sebagaimana mereka putuskan. Seandainya habis tahun itu belum juga ada
kapal, mereka akan pergi ke Roma. Si Peziarah mendapat teman Faber dan Lainez dan
mereka pergi ke Vicenza. Di situ mereka menemukan sebuah rumah di luar kota, yang tidak
punya pintu atau jendela. Mereka tinggal di situ dan tidur di atas sedikit jerami yang mereka
bawa. Dua di antara mereka selalu pergi mencari sedekah di daerah itu, dua kali sehari dan
membawa begitu sedikit makanan sehingga hampir tidak cukup untuk hidup. Biasanya
mereka makan sedikit roti panggang, kalau ada, dan itu dipersiapkan oleh orang yang tinggal
di rumah. Mereka hidup dengan cara demikian selama 40 hari dan tidak melakukan hal lain
daripada berdoa.

Mereka sebenarnya berharap agar dapat berlayar pada Juni 1537. Akan tetapi,
desas-desus tentang perang dan ancaman dari Bangsa Turki membuat orang tidak
berani berlayar ke Timur.

Mereka menjadi kecewa, terlebih karena para imam baru berkeinginan untuk
merayakan Misa Perdana mereka di Tanah Suci. Namun, inilah kenyataan yang harus
mereka hadapi dan mereka memutuskan untuk menanti selama satu tahun sambil
melakukan karya-karya kerasulan. Teman-teman mereka telah memberi saran tentang
tempat-tempat yang cocok bagi mereka untuk bekerja. Pada 25 Juli mereka berpencar
ke sekitar Venesia dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas dua atau tiga orang.
Seperti biasa, kelompok mereka terdiri atas kebangsaan yang berbeda untuk
memperdalam persahabatan mereka.

242

Untuk mempersiapkan Misa Perdana dan awal kerasulan, mereka sepakat untuk
menyediakan empat puluh hari khusus untuk berdoa, sebagaimana yang dilakukan oleh
Yesus sebelum Ia memulai hidup karya-Nya. Pekerjaan mereka tidak memberi mereka
cukup waktu untuk berdoa dan mereka merasa perlu meningkatkan devosi mereka.
Maka, hari-hari ini dihabiskan dalam doa dan praktik matiraga keras dalam hal
kemiskinan makanan dan tempat tinggal, sebagaimana dilakukan oleh Yesus di padang
gurun.

Inigo bercerita bahwa ia tinggal dengan Faber dan Lainez dan mereka mendapat
tempat di sebuah biara kosong yang tidak memberikan cukup perlindungan terhadap
cuaca. Mungkin, saat tidur di atas jerami mereka lalu teringat bagaimana Tuhan
dibaringkan di atas jerami dalam palungan saat kelahirannya. Mereka hanya menerima
roti dalam jumlah yang sangat sedikit sewaktu mengemis. Roti ini juga kemungkinan
hanya dijadikan bahan sup. Inigo sendiri bertugas sebagai juru masak karena ia
mempunyai masalah dengan matanya. Pada waktu ini, Inigo menulis kepada Pater
Contarini:

“Kami telah menemukan sebuah biara di dekat Vicenza … bernama San
Pietro … Biara ini tidak ditempati dan para rahib Santa Maria della Grazia
mempersilahkan kami untuk tinggal di sini selama kami mau. Kami
menerimanya dan akan tinggal di tempat ini selama beberapa bulan, kalau
Tuhan berkenan. Maka, kami tidak ada pekerjaan lain selain menjadi baik
dan sempurna karena Tuhan tidak pernah mengecewakan kita.”

Dari pengalaman studinya di Paris, Inigo telah belajar bahwa konsentrasi pada
pelajaran dapat mengeringkan devosi seseorang. Bertahun-tahun kemudian, pada 1554,
ia menggunakan pemahamannya dalam soal ini dalam suratnya kepada Pater
Bartolomeo Hernandez, yang bertugas memperhatikan para Yesuit muda dalam studi:

“Tidaklah mengherankan apabila semua skolastik tidak merasakan
keinginan untuk berdevosi sebagaimana yang diharapkan … Selama studi …
tampaknya Kebijaksanaan Ilahi menghentikan kunjungan-kunjungan seperti
itu … Lagipula, tugas studi dalam pengajaran ilmu biasanya memang
menghasilkan kekeringan batin.”

Sekarang, karena ia memiliki waktu yang tenang untuk berdoa selama berjam-jam,
ia mulai merasakan lagi “kunjungan adikodrati” yang luar biasa, seperti pada waktu di

243

Manresa. Salah satu dampak dari devosi ini ialah air mata dan ini berpengaruh pada
penglihatannya.

95. karya kerasulan – hidup rohani Inigo – perhatiannya pada orang miskin

Sesudah 40 hari datang Mag. Jean Codure, dan mereka berempat mengambil keputusan
pergi berkotbah. Mereka berempat pergi ke lapangan yang berbeda-beda, namun mulai
berkotbah pada hari dan jam yang sama, berteriak dahulu dengan keras dan memanggil
orang dengan melambaikan topi. Dengan kotbah-kotbah itu terjadi huru-hara besar di kota
dan banyak orang tergerak hatinya dengan devosi besar. Untuk keperluan hidup sehari-hari
sekarang mereka punya dengan sedikit lebih cukup.

Waktu di Vicenza ia mengalami banyak penglihatan rohani dan banyak penghiburan,
hampir setiap hari. Kebalikannya daripada waktu ia di Paris. Paling banyak dialami waktu
mempersiapkan diri untuk tahbisan imam di Venesia dan ketika mempersiapkan diri untuk
misa. Dalam semua perjalanan itu ia mengalami banyak kunjungan adikodrati yang besar,
seperti yang biasanya dia alami waktu di Manresa. Waktu masih tinggal di Vicenza ia
mendapat kabar bahwa satu dari temannya [yaitu Simon Rodrigues] yang tinggal di Bassano,
jatuh sakit sampai hampir mati. Dia sendiri juga sakit panas badan. Kendati demikian, ia
tetap berkeinginan pergi ke sana. Ia berjalan begitu cepat sehingga Faber, temannya tidak
dapat mengejarnya. Pada perjalanan itu ia mendapat kepastian dari Allah dan
mengatakannya kepada Faber bahwa teman yang sakit itu tidak akan mati karena penyakit
itu. Ketika sampai di Bassano, Si Sakit amat terhibur dan dengan segera membaik.

Kemudian semua kembali ke Vicenza, dan beberapa lama mereka bersepuluh tinggal di
sana. Beberapa pergi mencari sedekah di desa-desa sekitar Vicenza.

Setelah menjalani retret selama 40 hari, mereka memulai karya kerasulan. Codure
tiba dari Travis dan mereka berempat memutuskan apa yang akan mereka perbuat.
Sejak kaul di Montmartre, salah satu dari cara bertindak mereka adalah membuat
keputusan dalam kelompok. Mereka berempat, tetapi keputusan mereka sama. Mereka
akan pergi berkotbah pada hari dan jam yang sama. Tidak ada yang mendahului yang
lain.

Mereka pergi ke berbagai pusat atau taman kota dan menarik perhatian publik
dengan teriakan dan lambaian topi. Meskipun mereka kurang mahir berbahasa Italia,

244

mereka dapat berkomunikasi dengan orang-orang dan meninggalkan kesan mendalam
di dalam diri para pendengar mereka. Pada masa lalu, ketika di Alcala, Salamanca dan
Paris, Inigo seringkali menjadi bahan pembicaraan yang membuatnya bermasalah
dengan pihak berwenang. Sekarang, pembicaraan orang-orang tentang mereka justru
menguntungkan mereka dan karena orang-orang merasa amat terbantu dengan
kotbah-kotbah Inigo dan sahabat-sahabatnya, mereka memberikan lebih banyak
daripada apa yang dibutuhkan oleh kelompok ini untuk hidup. Ini persis apa yang
dikatakan oleh Inigo kepada Caraffa tentang apa yang akan didapatkan oleh Ordo
Theatin apabila mereka mengerjakan karya amal kasih.

Dalam Catatan Harian Rohaninya, Inigo mengatakan bahwa ia sering mendapat
penampakan rohani. Ini tidak berarti “visiun” di mana ia melihat sesuatu di hadapannya,
tetapi perasaan bahwa Tuhan menguasai dirinya dan masuk ke dalam batinnya dengan
cara yang begitu khusus sehingga memberi dia konsolasi rohani. Fakta bahwa ia
menjalani ini ketika di Vicenza memberi tanda adanya pertumbuhan dalam kehidupan
rohani Inigo, di mana ia dapat merasakan sebuah kedekatan dengan Tuhan pada suatu
tingkatan yang baru dan misterius. Inilah alasan mengapa ia kerap menangis sampai
matanya menjadi kurang sehat.

Penampakan-penampakan ini memiliki hubungan khusus dengan imamat Inigo dan
Sakramen Ekaristi karena datang persis pada saat ia sedang menyiapkan diri untuk
tahbisan dan sekarang saat ia sedang menyiapkan diri untuk Misa Perdana. Tampaknya,
Inigo memahami imamat sebagai sebuah rahmat khusus yang membawanya pada
persatuan erat dengan Tuhan (bdk. [93]). Di Manresa, ia mendapat kesadaran khusus
akan kehadiran Kristus dalam Sakramen Maha Kudus [29]. Di sini, ia mendapat
pencerahan lebih lanjut karena ia menjadi amat sadar akan Kristus yang
mempersembahkan diri dalam pelayanan kepada Bapa dan sesama. Ini akan menjadi
“Cara Bertindak Inigo”, yaitu persembahan utuh demi pelayanan kepada Tuhan dan
keselamatan jiwa-jiwa. Seperti yang di atas (bdk. [93]), Perayaan Ekaristi adalah momen
khusus dalam diskresi dan pengalaman-pengalaman Mistik.

Ada kesan bahwa bagi Inigo Kristus dalam Ekaristi telah menggantikan Kristus di
Tanah Suci.

Perjalanan Inigo sejauh ratusan kilometer, yang biasanya ditempuh dengan berjalan
kaki secara fisik memang luar biasa. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa ini juga adalah
saat-saat rohani berahmat. Ia tidak hanya mengingat kesulitan-kesulitan yang

245

dialaminya, tetapi juga pengalaman kehadiran Tuhan dan konsolasi rohani [41, 44, dan
79], sebagaimana dialaminya ketika di Manresa.

Dua dari perjalanannya ini juga memiliki makna khusus karena menunjukkan bukti
konkret perhatiannya pada orang lain. Ia telah mengisahkan kepada kita secara
terperinci ketika ia berjalan kaki ke Rouen. Sekarang, ia melakukan perjalanan serupa.

Suatu hari, Simon Rodrigues sakit keras sampai hampir meninggal. Meskipun Inigo
sendiri sedang terserang demam, saat ia mendengar bahwa Simon sakit, ia langsung
pergi menjenguknya. Roh bekerja di dalam diri Inigo sedemikian kuat sehingga dalam
perjalanan sejauh 35 kilometer itu Faber sampai tidak dapat mengimbangi kecepatan
langkah Inigo. Ketika ia mengunjungi orang Spanyol yang sakit di Rouen [79] dan orang
yang terjangkiti wabah di Paris [83], ia memberi mereka kenyamanan dan hidup baru
dalam Tuhan yang datang sebagai “penghibur” setelah kebangkitan-Nya. Ia melakukan
hal yang sama terhadap Simon yang dengan cepat sembuh setelah dikunjungi Inigo.
Dalam perjalanan, ia mengatakan sesuatu yang amat janggal kepada Faber. Ia berkata
bahwa ia menerima kepastian dari Tuhan “bahwa Simon tidak akan mati.” Pada
kesempatan-kesempatan sebelumnya, seperti saat sedang berada dalam perjalanan
menuju Yerusalem, Inigo merasakan keyakinan dalam jiwanya tentang dirinya dan masa
depannya. Ini adalah pertama kalinya Inigo berbicara tentang kepastian mengenai apa
yang akan terjadi pada orang lain. Tuhan mengunjungi dia dengan sebuah pengalaman
rohani yang berbeda.

Setelah beberapa lama melakukan karya kerasulan, kesepuluh sahabat berkumpul
Vicenza pada Oktober 1537 untuk memutuskan tentang apa yang akan diperbuat
dengan rencana mereka untuk berziarah ke Yerusalem.

Pada paragraf ini dan selanjutnya, selain menceritakan satu pengalaman yang unik
dan penting, Inigo memberi kita gambaran tentang perkembangan kedalaman hidup
rohaninya dalam hal-hal biasa yang terjadi dalam hidup sehari-hari.

96. Keputusan untuk pergi ke Roma – La Storta

Kemudian, pada akhir tahun ketika belum ada kemungkinan naik kapal, mereka
mengambil keputusan untuk pergi ke Roma, termasuk Si Peziarah. Sebab ketika teman-teman
pergi, kedua orang yang ditakutinya itu, ternyata tampak sangat baik hati.

246

Mereka pergi ke Roma terbagi atas tiga atau empat kelompok. Dan Si Peziarah bersama
dengari Faber dan Lainez. Pada perjalanan itu ia dikunjungi amat khusus oleh Allah.

Ia telah mengambil keputusan, bahwa satu tahun sesudah menjadi imam ia tidak akan
mempersembahkan misa, sambil mempersiapkan diri dan mohon kepada Santa Perawan
sudilah kiranya menempatkan dia pada Putranya. Ketika mereka pada suatu hari masih
beberapa mil dari Roma, di sebuah gereja, waktu ia sedang berdoa, ia mengalami begitu
banyak gerakan dalam hatinya dan melihat dengan begitu jelas bahwa Allah Bapa
menempatkan dia bersama dengan Kristus, Putranya. Ia sungguh tidak berani meragukan
bahwa Allah Bapa menempatkan dia bersama dengan Putranya.

Di Montmartre mereka memutuskan untuk menunggu selama satu tahun di
Venesia untuk mendapatkan kapal yang dapat mengantar mereka ke Yerusalem. Tidak
jelas apakah satu tahun ini dihitung mulai dari Januari 1537 ketika mereka tiba di Venesia
atau dari musim berlayar yang baru dimulai beberapa bulan setelahnya. Faktanya,
kebanyakan dari mereka bertahan hingga Mei 1538. Namun, tidak ada kapal peziarah
yang berlayar dalam rentang waktu kaul mereka. Ini adalah sesuatu yang luar biasa
karena untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 40 tahun tidak ada satu kapal peziarah
pun yang berlayar. Beberapa tahun sebelumnya, ketika suasananya kurang lebih sama,
kapal peziarah tetap berlayar. Sekarang, mereka sebenarnya dapat memperoleh tempat
di kapal lain kalau mereka sanggup membayar. Kapal peziarah ini tidak berlayar karena
rumor bahwa akan segera terjadi perang dengan bangsa Turki. Mengetahui hal ini, Paus
sendiri sudah ragu apakah mereka akan mendapat kapal yang dapat membawa mereka
ke Tanah Suci.

Inigo pasti bertanya-tanya apakah Tuhan sedang memberinya tanda lain bahwa
Yerusalem tidak akan menjadi tanah tempat kerasulannya.

Sembari menunggu, mereka memutuskan untuk pergi dan berkotbah di kota-kota
di luar wilayah Venesia. Mereka memilih kota-kota di mana ada universitas, seperti
Padua, Ferrara, Bologna dan Sienna. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan
sahabat-sahabat baru dari universitas-universitas ini dan memeriksa persebaran
Lutheranisme di daerah-daerah ini.

Tiba-tiba, Inigo memutuskan untuk pergi ke Roma pada akhir Oktober 1537
bersama dengan Faber dan Lainez. Faber menulis bahwa mereka telah dipanggil ke
Roma, tetapi ia tidak memberitahu siapa yang memanggil mereka. Menarik untuk dicatat

247

bahwa Inigo mengatakan “mereka memutuskan.” Ia sekali lagi menekankan bahwa ia
hanya anggota kelompok dan keputusan diambil oleh kelompok melalui proses
pembicaraan bersama. Seperti St. Paulus, Inigo akan memulai perjalanan terakhirnya ke
Roma. Inigo pasti lebih memilih ke Yerusalem, tetapi Roma akan menjadi “Yerusalem”
bagi Inigo di mana ia akan menemukan Tuhan. Dalam perjalanannya dengan Faber dan
Lainez, ia mungkin bercerita tentang masa mudanya, impian-impiannya dan bagaimana
Tuhan mengubah dia.

Inigo semula ragu-ragu untuk pergi ke Roma karena ia takut dengan beberapa orang
di sana [93]. Namun, sahabat-sahabatnya menemukan bahwa mereka diterima dengan
baik di sana. Mungkin saja Inigo juga teringat kata-kata seorang wanita di Manresa yang
memperingatkan dia bahwa mereka yang pergi ke Roma “tidak mendapat banyak
manfaat rohani” [36].

Pada perjalanan terakhirnya inilah Inigo mendapat kunjungan dari Tuhan secara
jauh lebih khusus daripada saat berada di Vicenza. Ini terjadi di sebuah kapel kecil di La
Storta, kira-kira 16 kilometer dari Roma. Ia berharap dapat merayakan Misa Perdana di
Yerusalem sehingga ia menunda selama 18 bulan sebelum akhirnya merayakannya pada
Natal 1538 di Gereja St. Maria Maggiore di mana terdapat replika palungan Bethelem.
Pada awal 1539, Inigo menulis kepada kerabatnya:

“Pada Natal kemarin di Gereja St. Maria Maggiore di kapel yang menyimpan
palungan tempat kelahiran Kanak-Kanak Yesus dengan rahmat dan
pertolongannya, saya merayakan Misa Perdana.”

Penundaan yang tidak umum ini serta persiapan panjang menunjukkan peranan
Misa dalam kehidupan mistik Inigo dan rasa hormatnya yang mendalam kepada
keagungan ilahi. Sebagai bagian dari persiapannya, Inigo berpaling kepada Maria,
perantaranya kepada Tuhan untuk mendapatkan rahmat yang ia mohonkan.

Secara khusus, Inigo memohon agar Santa Maria sudi “menempatkan dirinya
bersama Putranya.” Ada sesuatu yang sangat khusus dalam caranya meminta ini.
Dengan kerendahan hati yang besar dan kesadaran bahwa ia meminta pemberian yang
amat berharga, Inigo memohon kepada Bunda Kristus agar ia sudi menempatkannya
dengan Putranya. Bagi Inigo, meminta bantuan Maria bukan sesuatu yang sederhana
karena seperti yang ia tuliskan dalam Catatan Harian Rohaninya, Maria mungkin malu
untuk melakukannya karena banyaknya kesalahan Inigo.

248

Sewaktu berdoa di Gereja, Inigo merasa bahwa doanya terjawab. Ia melihat secara
jelas dan penuh keyakinan dalam dirinya hingga tidak ada keraguan bahwa “Allah Bapa
telah menempatkannya dengan Putra-Nya.”

Kita dapat mengetahui secara lebih rinci tentang pengalaman Inigo ini melalui
sebuah presentasi yang disampaikan oleh Lainez kepada sebuah komunitas Yesuit. Inigo
ditempatkan bersama Sang Putra, yaitu Yesus yang memanggul Salib dan di sampingnya
ialah Allah Bapa yang berkata, “Saya ingin kamu mengambil orang ini sebagai abdi-Mu.”

Yesus lalu berpaling kepada Inigo dan berkata, “Kehendak-Ku ialah agar engkau
mengabdi Kami” dan “Kami” merujuk kepada Allah Tritunggal. Dari pengalaman ini Inigo
lalu mengerti bahwa ia menerima tugas dari Allah Tritunggal untuk menjadi Sahabat
Kristus. Pada waktu itu, panggilan yang ia rasakan untuk melayani dan berada bersama
Kristus yang menderita mendapat peneguhannya.

Inigo adalah orang yang memiliki kepekaan luar biasa. Empat belas tahun
sebelumnya, di Manresa, seorang wanita suci berdoa bahwa suatu hari Yesus Kristus
sudi menampakkan diri kepada Inigo [21]. Ia tidak paham maksud wanita itu dan
menduga bahwa ini akan berarti penampakan Yesus secara lahiriah. Sekarang, Maria
“sudi” menjadikan semuanya jelas bagi Inigo bahwa Yesus yang “menampakkan” diri
kepada Inigo adalah Yesus yang sedang memanggul salib dan mempersembahkan diri
seutuhnya untuk melakukan kehendak Bapa. Dengan Yesus yang seperti inilah Inigo
ditempatkan.

249

Dalam sebuah catatan tambahan, da Camara menceritakan kepada kita bahwa
detail-detail yang diceritakan oleh Lainez itu benar. Bagi Inigo pengalaman ini begitu kuat
sampai-sampai ia bahkan tidak dapat mengingatnya secara detail. Apa yang ia yakini
adalah ia telah menerima rahmat khusus dari Bapa, yaitu kedekatan yang baru dengan
Putra. Pengalaman “ditempatkan bersama Putra” ini begitu kuat sehingga mempunyai
pengaruh besar selama sisa hidupnya. Kita dapat melihat bahwa beberapa tahun
kemudian Inigo kembali ke pengalaman ini dalam catatan rohaninya.

Dengan cara-cara tertentu, La Storta menyajikan benang-benang merah dalam
hidup Inigo:

• Peran Maria dalam peziarahan Inigo:
❖ Pada hari-hari awal pertobatannya di Loyola, Maria bersama Putra-Nya datang
mengunjungi Inigo dan membawa perubahan mendasar dari cara hidupnya
yang sebelumnya [10]. Sekarang, ia menjadi perantara bagi Inigo untuk
mendapatkannya peneguhan cara hidupnya yang baru.
❖ Di Montserrat, dalam sebuah vigili, Inigo menempatkan hidup ksatrianya yang
baru di bawah perlindungan Maria. Sekarang, sebagai imam yang baru
ditahbiskan, ia menempatkan imamat dan perayaan ekaristinya di bawah
perlindungan Maria.

250

❖ Inigo menunda misa perdana karena ia ingin melakukannya di tempat Kristus
dilahirkan. Dalam Latihan Rohani, ia menyatakan bahwa momen St. Maria
melahirkan Yesus adalah awal penderitaan yang memuncak pada Salib (LR 116).
Ia ingin Maria ambil bagian dalam mempersatukan imamatnya dengan
imamat Putranya.

• Semangat pelayanan: sejak awal peziarahannya, pelayanan mempunyai arti penting
bagi Inigo walau ia tidak dapat selalu menunjukkannya. Sekarang, Kristus
mengundangnya untuk bersama-sama Dia melayani Allah Tritunggal.

• Berada bersama Kristus yang direndahkan dan menderita: inti Latihan Rohani
adalah Meditasi Dua Panji (LR 147) dan Tiga Kerendahan Hati (LR 168); di dalamnya
kita memohon rahmat ditempatkan bersama Kristus yang miskin, dipermalukan dan
“dianggap bodoh dan tak berguna.” Inigo menginginkan rahmat ini dan sekarang
merasa bahwa ini telah diberikan melalui perantaraan St. Maria.

• Ekaristi sebagai persembahan diri dan misi: pencerahan yang ia dapatkan di
Manresa tentang Ekaristi dan kemanusiaan Kristus sekarang telah terhubung dengan
pencerahan baru yang memberinya pemahaman lebih mendalam tentang imamat
dan Ekaristi sebagai ruang ia mempersembahkan diri untuk diutus.

• Yesus sebagai Rajanya: Pilihannya di Loyola untuk memilih Yesus sebagai Raja
barunya dan Tuhannya sekarang terbukti benar karena Yesus telah memilih Inigo
menjadi abdi-Nya.

Ia sadar bahwa ada perubahan besar dalam jiwanya. Ia memahami ini sebagai
penegasan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu yang telah terjadi padanya sejak di
Pamplona. Sekarang ia merasa bahwa Kristus telah menguasai dirinya dan ia telah
dipersatukan dengan Allah Tritunggal dengan cara baru.

Maka, kita dapat mengatakan bahwa La Storta menjadi tanda peneguhan atas
pilihan-pilihan yang telah dibuat oleh Inigo:

• Memberikan diri seutuhnya bersama dengan Kristus melayani Allah Tritunggal
• Berada bersama Kristus yang menderita dan dipermalukan
• Hidup menghayati kemiskinan Injili secara khusus
• Membaktikan dirinya bagi pelayanan menyelamatkan jiwa-jiwa
• Mengumpulkan sahabat-sahabat untuk tujuan yang sama
• Ketika ditanya para kelompok sahabat ini akan menyebut dirinya sebagai

“sahabat-sahabat Yesus.”

251

Lainez memberi informasi tambahan tentang apa yang dikatakan oleh Inigo dalam
perjalanan mereka ke Roma:

“Ia mengatakan kepada saya bahwa Allah Bapa telah menanamkan kata-kata
ini dalam hatinya, ‘Aku akan berkenan kepadamu di Roma.’ Karena Bapa kita
tidak mengerti maksud kata-kata ini, ia mengatakan kepada saya: Saya tidak
tahu apa yang akan terjadi pada kita. Mungkin kita akan disalibkan di Roma.”

Memang ketika tiba di sana, mereka akan menghadapi tuduhan terburuk yang
pernah mereka hadapi. Namun, Tuhan juga akan berkenan terhadap karya mereka.

97. peringatan untuk berhati-hati di Roma – beberapa masalah kecil

Ketika sampai di Roma, ia berkata kepada teman-temannya bahwa ia melihat jendela-
jendela tertutup, maksudnya bahwa di situ mereka akan mengalami banyak perlawanan. la
berkata juga, "Kita harus sangat hati-hati dan jangan bercakap-cakap dengan wanita kecuali
kalau mereka punya kedudukan tinggi.” Hal ini di kemudian hari terjadi di Roma, Magister
Franciscus [Xaverius] menerima pengakuan dari seorang wanita, dan beberapa kali
mengunjunginya berkaitan dengan bimbingan rohani. Ternyata wanita itu hamil. Akan tetapi
atas kehendak Tuhan orang yang berbuat tidak baik itu ditemukan. Hal yang serupa terjadi
pada Jean Codure dengan salah seorang anak rohaninya yang ditangkap basah dengan
seorang laki-laki.

Inigo memasuki Roma bersama Faber dan Lainez pada akhirNovember 1537. Inigo
merasa bahwa mereka tidak akan diterima sebaik saat mereka berada di kota-kota
sekitar Venesia dan mereka akan ditentang. Ia memperingatkan teman-temannya untuk
berhati-hati dan hanya melakukan percakapan rohani dengan perempuan terpandang
di Roma. Ia pasti teringat akan pengalamannya di Alcala ketika keinginannya untuk
membantu semua orang membawanya pada sebuah masalah. Inigo telah belajar
tentang pentingnya bersikap secara bijaksana dan menghindari rumor (bdk. [59 dan 91].
Peringatannya terbukti benar karena Xaverius dan Codure terlibat dalam situasi pelik
dengan wanita-wanita yang mereka bimbing secara rohani. Akan tetapi, Tuhan berkenan
pada mereka dan kebenaran terungkap pada masing-masing situasi.

252

Akan tetapi, ini tidak dapat dibandingkan dengan apa yang akan terjadi. Mereka
tidak hanya akan menjadi korban dari tuduhan-tuduhan penuh fitnah, tetapi juga harus
berjuang keras untuk menemukan celah saat mereka sedang mengupayakan pengakuan
resmi untuk Serikat mereka. Dalam surat-suratnya pada 1538, Inigo beberapa kali
merujuk pada kontradiksi-kontradiksi yang terjadi di Roma. Sebagai contoh, dalam
suratnya kepada Diego de Gouvea, ia merujuk pada surat lain dan berkata

“Di sana, kamu akan melihat ujian-ujian yang harus kami lewati di Roma
demi Kristus dan kami dapat melewatinya tanpa luka. Di Roma, orang-orang
tidak menginginkan mereka yang tidak mencintai cahaya kebenaran dan
hidup yang diajarkan oleh Gereja.”

253

Bab 11

Roma [98-100]

98. memberikan Latihan Rohani – tuduhan-tuduhan berat

Waktu di Roma Si Peziarah pergi ke Monte Cassino untuk memberikan Latihan Rohani
kepada Doktor Ortiz, dan tinggal di sana 40 hari. Waktu itu sesekali ia melihat bacalaureus
Hoces naik ke surga. Waktu itu ia mengalami penghiburan rohani yang besar dengan banyak
air mata. Ia melihat hal itu begitu jelas, seandainya ia mengatakan yang sebaliknya ia merasa
berkata bohong. Dari Monte Cassino ia membawa Franciscus de Strada. Ketika kembali di
Roma ia mencoba membantu orang. Mereka masih tinggal dalam rumah di kebun anggur. Ia
memberikan latihan Rohani kepada beberapa orang pada waktu yang sama; dari mereka
satu tinggal di Santa Maria Maggiore, yang lain di Ponte Sixto.

Sesudah itu mulai timbul kesulitan, Mikael mulai membikin onar dan menjelek-jelekkan
Si Peziarah. Si Peziarah membuat Mikael dipanggil oleh gubernur, dengan memperlihatkan
dahulu kepada gubernur sepucuk surat dari Mikael, di mana ia amat memuji Si Peziarah.
Gubernur memeriksa Mikael, dan kesimpulannya ia diusir dari Roma.

Kemudian Mudarra dan Barreda mulai membikin soal terhadap dia dengan berkata
bahwa Si Peziarah dan teman-temannya melarikan diri dari Spanyol, Paris, dan Venesia.
Akhirnya di muka gubernur dan Kardinal Legat, yang waktu itu di Roma, mereka berdua
mengaku bahwa mereka tidak dapat mengatakan sesuatu yang jelek mengenai mereka, baik
mengenai perilaku maupun mengenai ajaran mereka. Legat menyuruh supaya seluruh
persoalan didiamkan saja. Akan tetapi Si Peziarah tidak menerima itu dan berkata bahwa ia
menghendaki suatu keputusan definitif. Legat tidak senang dengan itu, juga gubernur, bahkan
juga mereka yang dahulu memihak Si Peziarah tidak senang. Akhirnya, sesudah beberapa
bulan, datang Sri Paus di Roma. Si Peziarah menemui beliau di Frascati dan mengemukakan
beberapa alasan. Sri Paus memahaminya dan menyuruh supaya dibuat vonis mengenai hal
itu, dan itu dibuat untuk mendukung si peziarah, dan seterusnya.

Dengan bantuan Si Peziarah dan teman-temannya di Roma dibuat beberapa karya
kerasulan yang baik, seperti pengajaran untuk para katekumen, rumah Marta, rumah yatim-
piatu, dan seterusnya.

Paragraf di atas menceritakan bagian akhir dari perjalanan Inigo. Namun, Inigo tetap
menyebut dirinya “Si Peziarah.” Meskipun secara geografis ia tidak lagi berziarah, Inigo
tetaplah seorang peziarah yang hidup seturut bimbingan Roh. Tuhan tetap akan terus
mengajarkan Inigo dan secara rohani Inigo akan terus bertumbuh.

Kita dapat melihat hal ini dalam Catatan Harian Rohani Inigo. Walaupun sebagian
besar isinya sudah tidak ada, apa yang tersisa cukup untuk meyakinkan kita bahwa di
Roma Inigo akan semakin masuk ke dalam Mistik Keheningan di hadapan Tuhan. Ia
menjadi semakin sensitif dan reseptif dalam mendiskresikan apa yang menjadi
kehendak Tuhan bagi dirinya. Sama seperti Kristus, satu-satunya keinginan Inigo adalah
menjalankan kehendak Bapa.

Tuhan membawa Inigo ke Roma untuk beberapa tujuan. Walau mereka menyebut
diri mereka sebagai imam-imam peziarah (bdk. [93]), di Vicenza mereka telah membuat
keputusan seandainya ada yang bertanya tentang identitas mereka, mereka akan
menjawab bahwa mereka adalah “Sahabat-Sahabat Yesus.” Mereka akan meminta
peneguhan dari Gereja untuk nama ini.

Sejak dari Yerusalem, Inigo semakin lama semakin menyadari bahwa ia
membutuhkan pengakuan Gereja untuk segala aktivitasnya. Ia khawatir diperdaya oleh
roh jahat dan setiap kali ia dan sahabat-sahabatnya diperiksa, ia meminta supaya
otoritas Gereja menunjukkan seandainya ada kesalahan dalam cara hidup dan ajaran
mereka.

Ketika Lainez, Faber dan Inigo pertama kali tiba di Roma, Quirino Garzoni
memberikan mereka sebuah rumah kecil dekat Gereja di kaki lembah. Tempat ini
dikelilingi oleh kebun anggur sehingga mereka terus diingatkan bahwa mereka adalah
pekerja-pekerja di Kebun Anggur Tuhan (bdk. [92]). Gambaran sebagai pekerja di kebun
anggur Tuhan ini digunakan oleh Inigo di dalam Konstitusi Serikat Yesus. Mereka masih
tinggal di “kebun anggur” ini ketika semua sahabat datang ke Roma seusai Paskah 1538.

255

Lainez, Faber dan Inigo akan langsung mulai bekerja di kebun anggur Tuhan. Faber
dan Lainez mengajar Teologi di Collegio Romano, sementara Inigo memberikan Latihan
Rohani kepada orang-orang penting.

Seperti yang ditulis kepada Isabel Roser, ini dilakukan

“supaya ada beberapa orang terpelajar dan penting di pihak kita atau
tepatnya di pihak Tuhan demi kehormatan dan kemuliaan-Nya, karena
kemuliaan kita tidak lain adalah pujian dan pelayanan kepada keagungan
ilahi.”

Salah satu dari orang penting ini adalah Dr. Ortiz, yang ketika di Paris pernah
berbeda pendapat dengan Inigo. Ia ternyata terkesan dengan kelompok ini ketika
mereka pertama kali pergi ke Roma. Sekarang, ia meminta Inigo memberi dia Latihan
Rohani. Karena Dr. Ortiz sangat sibuk, mereka memutuskan untuk menyepi ke sebuah
biara di Monte Cassino. Di tempat ini, Dr. Ortiz merasakan bagaimana Latihan Rohani
sungguh mengubahnya. Ia sangat tersentuh sampai-sampai mengatakan bahwa ia telah
belajar sebuah Teologi baru. Ia mengatakan bahwa ini bukan jenis Teologi yang dipelajari
supaya dapat mengajar, melainkan yang dipelajari untuk hidup. Pada akhir retret ini, ia
berkeinginan mengikuti Inigo. Menurut Polanco, ia tidak diterima karena kelebihan berat
badan dan kurang sehat sehingga tidak akan sanggup mengikuti aktivitas kelompok ini
yang tidak ada habisnya. Akan tetapi, alasan yang lebih mungkin ialah ia tidak mungkin
meninggalkan posisi penting yang dipercayakan oleh Karl V kepadanya. Nantinya, ia akan
terus menjadi sahabat dan pelindung Serikat Yesus.

Dalam perjalanan pulang dari Monte Cassino, Inigo mengajak satu orang muda dari
Spanyol. Ia bernama Fransesco de Strada, yang sebelumnya bekerja di bawah Kardinal
Gian Pietro Caraffa, pendiri Ordo Theatin [92]. Fransesco nantinya akan bergabung
dengan Serikat Yesus dan menjadi seorang pengkotbah ulung dan memegang beberapa
posisi penting.

Orang lain yang menjalankan Latihan Rohani di bawah bimbingan Inigo adalah
Kardinal Gaspar Contarini. Ia sangat tersentuh oleh pengalaman ini sehingga pada akhir
retretnya ia meminjam salinan manuskrip Latihan Rohani dari Inigo dan membuat
salinannya demi kepentingan pribadinya (ini adalah orang kedua yang kita ketahui
pernah meminta salinan Latihan Rohani). Gaspar Contarini inilah yang
mempresentasikan draf pertama Serikat Yesus kepada Paus Paulus III. Paus sangat

256

senang dan langsung memberikan persetujuan lisan sambil menyatakan bahwa Serikat
ditakdirkan untuk menjadi “penyebab reformasi besar di dalam Gereja.”

Pada saat yang bersamaan, ia juga memberikan Latihan Rohani kepada orang-orang
lain di Roma. Karena rumah mereka jaraknya cukup jauh dan Inigo harus mengunjungi
mereka satu per satu, ia lalu merasa menghabiskan terlalu banyak waktu di jalan. Ini
adalah salah satu alasan mengapa mereka kemudian memutuskan untuk pindah ke
rumah lain yang terletak lebih dekat dengan pusat Kota Roma.

Pada saat Inigo sedang memberikan Latihan Rohani kepada Dr. Ortiz, Hoces
meninggal dunia [92]. Ia menceritakan kepada kita bahwa ia melihat “Bacalaureus Hoces
masuk surga.” Ini adalah salah satu pengalaman yang tidak umum tetapi terjadi dalam
diri Inigo. Ini mirip ketika ia mendapat “kepastian dari Tuhan” bahwa Rodrigues tidak
akan mati [95]. Ia menegaskan bahwa ia melihat semuanya ini dengan begitu jelas
sehingga ia tidak dapat meragukan kebenarannya, sama seperti pada waktu ia berada
di La Storta. Hoces adalah pengikut pertama dari Italia yang direkrut oleh Inigo dan ia
adalah anggota pertama kelompok ini yang meninggal dunia. Kulitnya agak gelap dan
Codure mengatakan bahwa pada saat ia meninggal kulitnya menjadi putih. Pada tahap
ini, Inigo memandang “penampakan” sebagai penegasan rencananya. Penampakan
Hoces memasuki surga dan air mata serta konsolasi rohani yang ia rasakan pasti
dilihatnya sebagai penegasan lebih lanjut dari keputusannya untuk mengumpulkan
sahabat dan pergi ke Roma. Ia pasti yakin bahwa ia sedang mengikuti jalan yang
diinginkan oleh Tuhan bagi dirinya. Kini, Inigo tidak lagi menggantungkan diskresinya
pada keledainya.

Sewaktu masih di Paris, Dr. Frago pernah mengungkapkan keterkejutannya bahwa
Inigo tidak dianiaya. Inigo menjawab bahwa “alasannya ialah saya tidak berbicara soal
hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan dengan sembarang orang” [82]. Saat ini, Inigo dan
kelompoknya berbicara tentang Tuhan kepada banyak orang dengan memberi kotbah
dan kuliah, mendengarkan pengakuan dosa, memberikan Latihan Rohani dan katekese
kepada anak-anak laki.

Seperti yang dikatakan oleh Inigo, “saat inilah penganiayaan dimulai.”

Penganiayaan mereka dimulai ketika mereka mengkritisi kotbah seorang biarawan
Agustinian, Mainardi de Saluzzo. Kotbah-kotbahnya amat populer di kalangan orang-
orang penting dan kaya di Roma, termasuk di antaranya adalah anggota-anggota Kuria.

257

Akan tetapi, sewaktu Inigo dan sahabat-sahabatnya mendengarkan kotbah-kotbah ini,
mereka menemukan kesalahan-kesalahan di dalamnya. Perlu diketahui bahwa para
pengikut bawah tanah dari gerakan Luther sering menggunakan ungkapan-ungkapan
yang ambigu dan menyesatkan saat berkotbah. Mereka telah mencermati taktik ini
sewaktu berada di Italia bagian Utara.

Mereka lalu menemuinya secara pribadi untuk menunjukkan kesalahannya.
Namun, karena tidak ada perubahan, mereka mulai mengoreksinya di dalam kotbah-
kotbah mereka. Mudarra dan Barreda, yang merupakan anggota Kuria dan pendukung
Mainardi tidak senang dengan tindakan Inigo dan sahabat-sahabatnya. Mereka pun lalu
menyebut kelompok ini termasuk dalam kalangan bidah di dalam Kuria. Dalam hal ini
mereka dibantu oleh Miguel Landivar.

Miguel telah mengenal Inigo dan sahabat-sahabatnya sejak di Paris. Namun,
hubungannya dengan Inigo tidak selalu mulus. Ia sebelumnya bekerja sebagai pelayan
Fransiskus Xaverius dan ketika Xaverius mengikuti Inigo di Paris, Miguel kehilangan posisi
dan dukungannya. Ia menjadi amat marah dengan Inigo dan bahkan pernah sampai
berniat membunuh Inigo. Ia lalu berubah dan pada 1536, Inigo bisa menulis bahwa ia
mengikuti “arah hidup yang baru.”

Ia lalu bertemu dengan kelompok ini di Venesia dan ingin mengikuti mereka
berziarah ke Yerusalem. Ia menemani mereka dalam perjalanan mereka ke Roma untuk
meminta berkat Paus. Ia bahkan mendapat izin untuk ditahbiskan bersama yang lain.
Namun, ia lalu menghilang dalam perjalanan pulang ke Venesia. Tampaknya, ia memang
bukan orang yang cukup stabil.

Ia muncul di Roma dan menyebarkan informasi sesat tentang Inigo dan
kelompoknya. Miguel memberikan Mudarra dan Barreda informasi yang sedikit benar,
tetapi telah diputarbalikkan sehingga mereka dapat membuat tuduhan-tuduhan bahwa
Inigo dan sahabat-sahabatnya adalah anggota Lutheran yang menyamar dan
sebelumnya diadili untuk hidup yang tidak bermoral dan penuh bidah di Spanyol, Paris
dan Venesia. Sekarang, mereka melarikan diri ke Roma untuk membuat sebuah Ordo
baru tanpa persetujuan Paus. Mereka mengatakan bahwa Inigo dikenal telah melakukan
banyak perbuatan-perbuatan memalukan dan ia membuat klaim bahwa jika ia masuk ke
surga, ia akan memiliki kemuliaan yang lebih besar daripada St. Paulus.

258

Miguel merasa bahwa ia telah ditolak oleh Inigo dan sahabat-sahabatnya. Maka, ia
berkeinginan untuk balas dendam sembari mencari simpati dari orang-orang kaya
Spanyol yang menjadi anggota Kuria.

Dampak dari tuduhan-tuduhan palsu ini dapat langsung dirasakan oleh Inigo dan
kelompoknya. Anak-anak berhenti mengikuti kelas-kelas mereka dan para Kardinal serta
banyak orang menyerang mereka secara publik. Mereka dengan cepat kehilangan
reputasi baik mereka. Inigo dan sahabat-sahabat menyaksikan betapa mudahnya
mereka kehilangan efektivitas rasuli mereka. Inigo langsung berdiskusi dengan sahabat-
sahabatnya untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Mereka sepakat bahwa
masalah ini membutuhkan tanggapan yang serius.

Inigo lalu mendatangi Gubernur Roma, Benedetto Conversini karena orang inilah
yang bertanggung jawab atas keadilan di kota ini. Inigo menunjukkan kepadanya surat
yang ditulis oleh Miguel kepadanya pada 12 September 1537. Dalam surat ini, ia
meminta Inigo memaafkannya atas ketidaksetiaannya. Ia juga berjanji untuk menjaga
hubungan dengan Inigo. Ini tidak dilakukannya. Dalam suratnya yang panjang (dan
memuat beberapa kesalahan), ia menulis:

“Kepada yang terkasih dalam Kristus, Ynigo de Oyola [sic] di Vizentia … Saya
meninggalkan tempat kediamanmu dengan niat kembali beberapa hari
kemudian, atau setidaknya menulis secara terperinci tentang kegiatan-
kegiatan saya. Tampaknya saya juga berjanji kepadamu bahwa saya akan
melakukan ini. Seperti yang engkau ketahui, janji-janji saya, baik itu di masa
sekarang atau di masa lalu, kurang dapat dipegang. Hidup saya bergulir
seperti sebuah tragedi setiap harinya. Saya memulai dengan baik, tetapi
berakhir bagai tentara malang. Semoga Tuhan kita memberi saya rahmat
dan kekuatan untuk memasuki ketenangan demi kehormatan-Nya dan
keselamatan jiwa saya dan membuat saya menang atas makhluk-makhluk
buas yang mencengkeram saya di bawah panjinya: dunia, daging dan iblis.”

Di akhir suratnya, Miguel menulis:

“Di mana pun saya berada, saya senantiasa mempersembahkan diri saya
kepadamu dan saya berharap bahwa melalui doa-doamu dan sahabat-
sahabatmu Tuhan akan mengasihani saya dan menerangi budi saya apabila
saya salah. Kalau Anda ingin menulis kepada saya, itu akan menjadi sebuah

259

konsolasi bagi saya dan membuat saya semakin berhutang budi kepada
Anda … Saya menyerahkan diri saya kepada sahabat-sahabat saya yang
terhormat dalam Kristus.”

Sewaktu Miguel dipanggil menghadap Gubernur, ia terbukti sebagai orang yang
tidak dapat dipercaya dan pembohong. Ia lalu diusir selamanya dari Kota Roma.

Akan tetapi, Mudarra dan Barreda tetap melanjutkan propaganda mereka dengan
bantuan teman-teman mereka yang kaya dan memegang jabatan penting. Pada 7 Juli,
Inigo, dengan pendiriannya yang kokoh menemui Gubernur dan duta Paus, Vincenzo
Caragga (saat itu Paus sedang tidak berada di Roma) dan meminta agar diadakan
pengadilan secara formal. Apa yang Inigo inginkan adalah sebuah investigasi yang layak
dan diikuti dengan sebuah putusan pengadilan. Seketika itu juga musuh-musuh Inigo
menarik tuduhan-tuduhan mereka dan Inigo beserta sahabat-sahabatnya dinyatakan
bebas dari tuduhan-tuduhan apa pun. Walaupun sebenarnya sahabat-sahabat Inigo
sudah puas dengan hal ini, Inigo tetap meminta sebuah keputusan formal dari
pengadilan. Akan tetapi, Gubernur Roma tidak mau membuat keputusan tertulis. Saat
Paus sudah kembali ke Roma, Inigo mendatanginya dan meminta investigasi secara
menyeluruh.

Inigo lalu diterima dalam audiensi yang lama dengan Paus. Ia ingin agar Paus
mempunyai data-data yang akurat tentang fakta-fakta yang terjadi. Inigo juga
memberitahunya soal proses pengadilan yang sebelumnya ia lewati di Alcala, Salamanca
dan Paris, serta saat ia dipenjara. Secara kebetulan, orang-orang yang sebelumnya
memeriksa dia, yaitu Figueroa (Alcala) dan Matthieu Ory (Paris), sedang berada di Roma
pada waktu itu dan mereka memberi kesaksian untuk Inigo. Lebih jauh lagi, saat
penganiayaan dimulai, sahabat-sahabat Inigo telah menulis surat kepada para penguasa
kota di daerah-daerah di Italia yang pernah menjadi tempat kerasulan mereka untuk
meminta mereka memberikan kesaksian tertulis tentang cara hidup dan karya mereka.
Inigo memberikan semua laporan yang bernada positif ini kepada Paus, beserta
kesaksian dari para Kardinal dan Uskup.

Pada 18 November 1538, Gubernur mengeluarkan keputusan formal dan tertulis
yang memberi dukungan kepada Inigo dan sahabat-sahabatnya. Sewaktu Xaverius
berada di Lisbon pada 1540, ketika dalam perjalanannya menuju India, ia menulis
kepada Inigo untuk meminta salinan dokumen ini supaya ia dapat memberikannya
kepada Raja Portugal.

260

Dua tahun kemudian, Mainardi memeluk Protestantisme secara penuh dan
membuat komunitas reformasi. Beberapa tahun kemudian, Mudarra mendapat
masalah dengan pihak Inkuisisi dan terpaksa meninggalkan Roma tanpa membawa
harta bendanya. Ia meminta bantuan Putri Eleonora, yang lalu meminta Inigo untuk
membantunya. Inigo pun berusaha keras untuk melepaskan Mudarra dari cengkeraman
Inkuisisi. Nantinya, ia akan menerima surat ucapan terima kasih yang panjang dari
Mudarra. Inigo dapat memaafkan musuh-musuh, termasuk mereka yang pernah
mengancam masa depan kerasulannya.

Dalam sebuah surat kepada Isabel Roser pada 1538, Inigo menceritakan kesulitan
dan penderitaan yang dialaminya pada waktu ini:

“… selama delapan bulan kami menghadapi tentangan dan penganiayaan
yang paling berat sepanjang hidup ini … Dengan menyebarkan gosip di
antara orang-orang dan menyebarluaskan laporan-laporan yang tidak jelas,
mereka menjadikan kami tersangka yang dibenci orang-orang, lalu
membuat skandal besar sehingga kami terpaksa menemui duta Paus dan
gubernur kota ini … mereka menghasut para Kardinal dan orang-orang
penting lain di Kuria dan akibatnya mereka membuat kami harus
menghabiskan banyak waktu untuk meluruskan masalah ini.”

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Inigo menunjukkan sikap yang begitu keras
dan gigih dalam meminta surat pernyataan tak bersalah secara formal ketika musuh-
musuhnya sudah menarik tuduhan-tuduhan mereka. Inigo dapat menerima dan
bergembira jika dipermalukan secara pribadi. Namun, ketika ini sesuatu yang akan
merusak efektivitas rasuli dirinya dan kelompoknya, ia akan meminta kebenaran dan
ortodoksi ajaran mereka, serta cara hidup mereka diumumkan secara publik.

Beberapa hari setelah pengumuman resmi dari Gubernur, mereka
mempersembahkan diri mereka kepada Paus seturut kaul mereka di Montmartre untuk
menyerahkan diri di dalam tangannya. Itulah mengapa berdirinya dan penerimaan
Serikat Yesus oleh publik tergantung oleh hasil penyelidikan ini. Faber menceritakan
momen ini dengan kata-kata sebagai berikut:

“Adalah sebuah rahmat besar dan seperti landasan bagi seluruh Serikat kita
bahwa pada tahun yang sama (1538), setelah kami menerima dekret yang

261

menyatakan bahwa kami tidak bersalah dan mempersembahkan diri
sebagai kurban kepada Bapa Suci, Paulus III, sehingga beliau dapat
menentukan bagaimana kami dapat melayani Kristus dengan membawa
semua yang hidup di bawah naungan Takhta Suci, dengan hidup miskin
selamanya dan siap diutus di bawah ketaatan kepadanya, bahkan sampai
ujung India. Bapa Suci ingin Tuhan menerima kami dan senang dengan
permohonan kami.”

Janji Allah Bapa bahwa Ia akan berkenan kepada Ignasius di Roma sedang dipenuhi.
Namun, Inigo selalu sadar bahwa kalau mereka akan menjadi seperti Kristus, mereka
akan selalu rentan untuk penganiayaan yang lebih jauh.

Pada Oktober 1538 Inigo dan kelompoknya pindah ke rumah yang lebih besar milik
Antonio Frangipani. Tempatnya kurang begitu baik, tetapi dekat dengan pusat kota dan
tidak jauh dari gedung dewan rakyat. Tempat ini memiliki makna khusus bagi mereka
karena beberapa alasan berikut ini:

• Mereka menerima keputusan bebas dari segala tuduhan pada 18 November
1538.

• Mereka mendeliberasikan masa depan mereka dan akhirnya memutuskan pada
1539 untuk membentuk sebuah ordo religius.

• Xaverius mengucapkan selamat tinggal pada sahabat-sahabatnya dan berangkat
menuju tanah misi pada Maret 1540.

• Mereka menerima persetujuan Paus pada September 1540 untuk membentuk
sebuah ordo religius.

262

Dalam jangka waktu yang lebih pendek, rumah ini bermanfaat karena mereka lalu
mempunyai tempat untuk mengumpulkan banyak orang miskin dan gelandangan (400
orang) pada musim dingin 1538 yang begitu dingin sehingga membuat banyak orang di
Roma dan daerah sekitarnya meninggal akibat kelaparan atau kedinginan. Dengan terus
meminta bantuan orang-orang kaya, Inigo dan kelompoknya dapat membantu lebih dari
3.000 orang selama musim dingin itu.

Pada tahun-tahun berikutnya, Inigo dengan bantuan sahabat-sahabatnya dapat
melibatkan diri pada karya-karya amal kasih lainnya, walaupun ia sibuk dengan urusan
administrasi Serikat Yesus yang baru lahir dan penulisan Konstitusi. Namun, ia selalu
menjaga kontak dengan orang miskin, entah itu dengan mengemis untuk mereka atau
dengan berupaya mengubah kondisi sosial mereka seperti yang ia lakukan di Azpeitia
[88-89]. Tiga karya yang ia sebutkan secara khusus adalah:

1. Katekumen: ini diberikan bagi orang-orang Yahudi yang tidak diterima dengan
mudah oleh Gereja. Pada waktu itu bahkan ada peraturan yang mengatakan
bahwa dengan masuk agama Katolik seluruh barang-barang yang mereka miliki
akan disita dan anak-anak mereka diambil. Inigo memberi perhatian khusus

263

kepada mereka dengan membantu mereka untuk dibaptis dan mengupayakan
agar peraturan yang tidak adil tersebut dihapus. Dengan bantuan dua temannya
yang kaya, ia mendapat dua rumah untuk orang-orang Yahudi sedang menjalani
katekumenat ini.

2. Rumah Santa Marta: ini adalah rumah bagi para wanita tuna susila yang ingin
mengubah hidup mereka. Sebelumnya, sudah ada sebuah rumah bagi para
wanita tuna susila yang berkeinginan untuk hidup bersama dan mengikrarkan
kaul-kaul hidup religius. Rumah yang Inigo dirikan bertujuan untuk membantu
wanita, baik yang sudah menikah atau belum, yang telah memutuskan untuk
meninggalkan gaya hidup mereka yang sebelumnya dan sekarang ingin
menikah. Untuk mendanai rumah ini, Inigo memerintahkan agar benda-benda
antik yang ditemukan sewaktu proses penggalian untuk membangun rumah
Yesuit yang baru dijual. Beberapa di antaranya berasal dari zaman Kekaisaran
Romawi. Uang dari hasil penjualan benda-benda ini diberikan kepada Rumah St.
Marta.

3. Panti Asuhan: perang, wabah dan bencana kelaparan telah menyebabkan
banyak anak-anak kehilangan orang tuanya dan hidup sendirian di jalanan Kota
Roma. Kardinal Gian Pietro Caraffa telah mengusulkan agar sesuatu dilakukan
untuk membantu mereka dan Paus akhirnya mendirikan dua rumah, satu untuk
laki-laki dan satu untuk perempuan. Meskipun tidak memulainya, Inigo memberi
dukungannya untuk karya ini.

Ini adalah beberapa bentuk karya amal kasih yang dilakukan oleh Inigo. Kita juga
bisa mendapatkan beberapa pelajaran dengan mencermati cara bertindaknya dalam
karya-karya ini:

• Ia memulai karya kerasulan bagi sebuah kelompok yang membutuhkan
perhatian khusus dan mendirikan rumah bagi mereka.

• Ia mencari uang untuk menghidupi mereka dan mengumpulkan orang-orang
berpengaruh untuk memberi perhatian pada rumah itu dan penghuninya.

• Ia menjadikan karya ini sebagai sebuah yayasan sehingga mendapatkan
pengakuan dan dukungan Gereja.

• Ia akan mundur apabila karya itu sudah berjalan dengan baik.
• Ia juga menawarkan dukungan dan bantuannya untuk membantu karya-karya

amal kasih yang telah dimulai oleh orang lain.

264

Inigo menutup kisah hidupnya dengan sebuah komentar singkat, “Nadal dapat
menceritakan sisanya.” Menurut Inigo, kisah personalnya telah usai dan mulai sekarang
semuanya akan menjadi bagian dari “kisah Serikat Yesus.” Sebagaimana tertulis di atas,
Inigo telah menjadi anggota sebuah kelompok dan kelompok itulah yang mengambil
keputusan. Inilah yang menjadi alasan mengapa Nadal dapat menceritakan sisanya
karena mulai dari sini semuanya akan menjadi bagian dari sejarah panjang Serikat Yesus.

Paragraf-paragraf terakhir ini adalah tanggapan Inigo atas pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan oleh da Camara kepadanya.

99. Latihan Rohani – ia hanya menyampaikan fakta-fakta – kemudahan dalam
menemukan Tuhan

Sesudah semua hal itu diceritakan, pada 20 Oktober, saya bertanya kepada Si Peziarah
mengenai Latihan Rohani dan Konstitusi, karena saya ingin mendengar bagaimana ia
menuliskannya. Dia berkata bahwa Latihan Rohani ditulis tidak dalam satu saat saja.
Beberapa hal yang diobservasi dalam hatinya sendiri dan yang dipandang berguna, dia
anggap dapat berguna untuk orang lain pula, begitu ia menuliskannya, misalnya
pemeriksaan batin dengan cara memakai garis-garis dan seterusnya. Khususnya, bagian
mengenai pemilihan, katanya, diperoleh dari perbedaan dalam roh dan pikirannya, yang
dialami waktu di Loyola, ketika masih sakit kakinya. Ia mengatakan bahwa mengenai
Konstitusi dia akan berbicara pada sore harinya.

Hari itu juga, sebelum makan malam, ia memanggil saya dengan roman muka seseorang
yang lebih sadar diri daripada biasanya. Ia membuat semacam pernyataan kepada saya yang
pada pokoknya mau menyatakan maksud dan kesungguhan dalam menceritakan semua itu,
dan ia berkata bahwa sungguh yakin, tidak menambah-nambah. Banyak kali ia bersalah
terhadap Tuhan kita sejak ia mulai mengabdi-Nya tetapi tidak pernah ia berbuat dosa besar.
Malah ia selalu berkembang dalam devosi, maksudnya makin mudah menemukan Allah, dan
sekarang lebih daripada kapan juga dalam seluruh hidupnya. Setiap kali, setiap waktu, ia
mau menemukan Allah, ia dapat menemukan-Nya. Sekarang ia juga seringkali mengalami
visiun, terutama seperti yang disebut di atas, yaitu melihat Kristus bagaikan matahari. Hal itu
seringkali terjadi padanya bila mulai berbicara mengenai hal-hal yang penting. Pengalaman
itu datang sebagai peneguhan baginya.

265

Pertanyaan pertama terkait dengan penulisan buku Latihan Rohani. Meskipun buku
Latihan Rohani sangat penting bagi Inigo dan ia kerap kali menyatakan bahwa ia
menggunakan buku ini, ia tidak bercerita tentang kapan dan bagaimana ia
menyusunnya. Mungkin, ia menganggap bahwa jawabannya sudah jelas bagi siapa saja
yang membaca kisah hidupnya.

Dalam Autobiografi, Inigo menyebut bahwa selama di Loyola ia secara teliti mencatat
hal-hal penting dalam sebuah buku yang dibawanya [11 dan 18].

Ketika di Loyola, sewaktu membaca Riwayat Hidup Kristus dan Riwayat Para Kudus,
Inigo pasti telah mulai mengumpulkan elemen-elemen dari dua meditasi kunci Latihan
Rohani, yaitu Panggilan Raja dan Dua Panji.

Di Montserrat, selagi ia merenungkan kedua bacaan ini dalam terang sejarah
hidupnya sebagai seorang ksatria dan kecanduannya terhadap heroisme Amadis de
Gaula dan tokoh-tokoh lainnya, ia mulai merumuskan dua meditasi ini.

Di Manresa, pengalaman pribadi, refleksi dan bacaan rohaninya memberikan dia
bahan inspirasi lebih jauh untuk dicatatnya dalam buku ini [26].

Dari pekerjaannya di Alcala, sangat jelas bahwa catatan-catatannya telah
mempunyai sebuah bentuk tertentu dan ia dapat memberikan “latihan-latihan
sederhana” kepada orang-orang yang datang kepadanya untuk meminta bantuan [57].

Di Paris, ia memberikan Latihan Rohani secara penuh dan mempunyai salinan dari
manuskripnya yang dapat ditunjukkannya kepada pihak Inkuisisi [86].

Oleh karena itu, buku Latihan Rohani disusun secara perlahan-lahan dan berasal
dari pengalaman rohani pribadi Inigo yang dikumpulkan selama bertahun-tahun karena
setiap kali ia menemukan bahwa sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, “ia berpikir
bahwa ini juga bisa bermanfaat bagi orang lain, maka ia lalu menuliskannya.”

Dalam suratnya kepada Isabel Roser pada 1532, kita dapat mendengar gema dari
pengalamannya sendiri dan teks Latihan Rohani:

“Karena begitu kamu mempunyai mengarahkan untuk mengarahkan setiap
upaya untuk memberi pujian, hormat dan pelayanan kepada Tuhan Allah

266

kita, kamu menyatakan perang terhadap dunia dan meninggikan panjimu di
hadapan wajahnya dan siap untuk menolak apa yang baik dengan memeluk
apa yang rendah, untuk menerima kehormatan atau ketidakhormatan
secara lepas bebas, kekayaan dan kemiskinan, afeksi dan kebencian,
peneriman dan penolakan …”

Buku ini tidak ditulis sebagai sebuah buku bacaan, melainkan sebagai sebuah
pedoman praktis untuk memampukan seseorang membantu orang lain dengan
memberikan mereka latihan-latihan. Polanco menulis: “Ignasius mulai dengan
menjalankan latihan-latihan rohani yang sekarang ada dalam bukunya dan lalu
menulisnya sebagai instruksi bagi yang lain.”

Oleh karena itu, dalam arti tertentu, latihan-latihan rohani ini adalah ringkasan kisah
peziarahan rohani dan pengalaman religius Inigo sendiri. Kalau Autobiografi adalah
catatan yang lebih lengkap tentang cara Tuhan memperhatikan Inigo, maka asal usul
Latihan Rohani tersirat di dalam apa yang telah diungkapkan oleh Inigo kepada kita. Buku
ini telah berupaya memperlihatkan hubungan-hubungan antara pengalaman Inigo dan
isi Latihan Rohani.

Inigo memang selalu siap dengan tantangan-tantangan yang mengejutkan. Ia
memberi kepada da Camara dua contoh latihan rohani yang bermanfaat bagi dirinya:
Examen Conscientiae dengan model garis dan eleksi.

Meskipun orang-orang merasa terbantu dengan pemeriksaan batin, “model dengan
garis” tidak terlalu banyak menarik perhatian orang. Dengan “model bergaris”, Inigo
merujuk pada sebuah latihan yang diberikannya dalam Latihan Rohani untuk
menaklukkan dosa atau kekurangan yang kita rasakan dalam diri kita. Ia menyarankan
agar kita dua kali sehari menghitung banyaknya jumlah kita melakukan kesalahan ini dan
mencatat angkanya. Dengan doa mohon rahmat dan konsentrasi pada kesalahan ini,
maka kekurangan ini bisa dihilangkan. Latihan ini diberikan di bagian sangat awal dalam
Latihan Rohani dan mungkin Inigo melihatnya sebagai latihan persiapan (LR 27-31).

Akan tetapi, juga sangat mungkin bahwa Inigo sedang menekankan pentingnya
mengembangkan kesadaran yang jauh lebih besar tentang apa yang sedang terjadi di
dalam hidup kita. Pemeriksaan kesadaran jelas membantu kita dalam hal ini dengan
menjadikan kita lebih sadar tentang kehadiran Tuhan dalam hidup kita selama sehari.
Namun, kita tahu bahwa Inigo memeriksa kesadarannya setiap jam dan ini meliputi

267

sebuah pencarian penuh kerendahan hati akan kesalahan-kesalahannya selama waktu
itu. Kita juga tahu bahwa dalam upayanya menghilangkan semua dosa dalam hidupnya
ia membandingkan “minggu demi minggu, bulan demi bulan, hari demi hari.” Ia
menggabungkan upaya manusiawi “membuat garis” dengan pemberian rahmat luar
biasa untuk memastikan perkembangan hidup rohaninya.

Contoh yang kedua juga menantang. Proses eleksi mengandung jauh lebih banyak
dari apa yang Inigo pelajari di Loyola. Satu hal yang khusus dari Loyola ialah timbulnya
kesadaran bahwa ada roh-roh yang bekerja dalam hidup kita. Ini adalah pelajaran
pertamanya dalam hal diskresi dan mungkin ia sedang mengatakan bahwa ini adalah
yang paling penting. Kalau kita tidak menerima bahwa kita digerakkan oleh Roh Baik dan
roh jahat, serta “kemerdekaan dan kehendak bebas” kita [32], penegasan rohani tidak
mungkin dilakukan. Akan tetapi, proses eleksi membutuhkan jauh lebih banyak daripada
sekedar kesadaran bahwa ada berbagai macam roh. Penegasan rohani membutuhkan
kemampuan untuk mendiskresikan roh mana yang sedang bekerja dalam hati kita.

Sebelum menjawab pertanyaan kedua, terkait penulisan Konstitusi, Inigo menunda
dan mengatakan bahwa ia akan menanggapi saat malam hari. Ini penting untuk dicatat.
Tampaknya, Inigo merasa bahwa ia perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan Tuhan
tentang bagaimana ia harus menjawab pertanyaan ini dan seberapa banyak yang harus
ia ungkapkan kepada da Camara. Sesuatu yang khusus pasti terjadi sewaktu Inigo
berdoa karena saat mereka bertemu lagi, da Camara memperhatikan bahwa Inigo
terlihat sangat tenang.

Sebelum menjelaskan bagaimana ia menulis Konstitusi, Inigo membuat sebuah
pernyataan pengantar yang panjang. Di dalam pernyataan ini, kita dapat mencermati
hal-hal berikut ini:

• Ia berbicara dengan intensi yang sederhana. Inigo sadar bahwa godaan untuk
memuliakan diri masih ada dan ia perlu berhati-hati. Sikap waspada seperti ini
amat dibutuhkan dalam hal ini karena ia akan menceritakan kepada da Camara
rahmat-rahmat luar biasa yang diberikan Tuhan kepadanya.

• Ia amat menekankan pentingnya kebenaran, sebagaimana telah dikatakannya
berulang kali dalam Autobiografi. Apa yang ia ungkapkan kepada da Camara
bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan, melainkan fakta apa adanya.

• Rahmat-rahmat ini diberikan kepadanya terlepas dari banyaknya dosa
yang telah ia perbuat sejak ia mulai mengabdi Tuhan. “Pengabdian” bagi Inigo

268

berarti menjadikan kehendaknya sama dengan apa yang dikehendaki oleh
Tuhan bagi dirinya.
• Akan tetapi, ia tidak pernah melakukan dosa berat yang membuatnya
meninggalkan Tuhan seperti hidupnya sebelum peristiwa di Pamplona.
• Devosi Inigo atau kemudahannya dalam menemukan Tuhan terus
bertumbuh sampai-sampai ia dapat menemukan Tuhan kapanpun ia mau.
• Ia sering mendapat penampakan Kristus seperti yang ia dapatkan di Manresa,
di mana Ia tampak seperti “tubuh putih” atau matahari.
• Penampakan-penampakan ini merupakan penegasan yang ia dapatkan saat
ia sedang mengurus hal-hal penting.

100. menulis Konstitusi – penampakan dan perantaraan – Catatan Harian Rohani

Bila mempersembahkan misa ia juga mendapat banyak visiun. Ketika menyusun
Konstitusi juga amat sering. Sekarang ia memang bisa mengatakan hal itu dengan lebih
mudah, sebab setiap hari ia mencatat apa yang terjadi dalam hatinya. Sekarang semua itu
sudah tertulis. Begitu ia memperlihatkan kepada saya sebuah bendel tulisan yang cukup
tebal, bagian yang cukup besar dibacakan untuk saya. Kebanyakan memang visiun, yang
dipandang olehnya sebagai peneguhan dari bagian tertentu dari Konstitusi. Kadang-kadang
ia melihat Allah Bapa, lain kali ketiga pribadi Trinitas kudus, lain kali lagi Santa Perawan yang
berdoa untuknya atau lain kali meneguhkannya.

Khususnya ia berbicara kepada saya mengenai beberapa ketegasan, untuknya ia
membuat misa 40 hari; dan setiap kali dengan banyak air mata, yaitu perihal apakah gedung
gereja dapat mempunyai masukan dan apakah itu boleh dipakai oleh Serikat.

Setelah memberikan pengantar, Inigo lalu mulai menjelaskan bagaimana ia menulis
Konstitusi secara pelan-pelan dan mungkin ada kesan bahwa ia sebenarnya tidak ingin
mengungkapkannya. Setiap kali ia mengerjakan satu bagian, ia akan
mempersembahkan Misa, mendoakannya secara serius dan mencari pencerahan dan
petunjuk dari Tuhan (bdk. [93]).

Pencerahan ini didapatnya melalui “penampakan” dan “air mata.” Inigo menafsirkan
keduanya ini sebagai penegasan bahwa apa yang telah ia tulis sesuai dengan apa yang
Tuhan kehendaki. Dengan penuh kecermatan ia mengamati “apa yang terjadi dalam
jiwanya” dan mencatatnya secara hati-hati. Dengan merenungkan apa yang telah ia tulis,

269

ia dapat mendiskresikan kehendak Tuhan bagi Serikat Yesus yang baru saja berdiri ini.
(Tampaknya pengamatan secara teliti dan pencatatan setiap gerak roh secara akurat ini
mirip dengan “model bergaris” yang ia sebutkan sebelumnya).

Inigo sendiri memperlihatkan kepada da Camara catatan-catatannya ini dan
diperbolehkan membaca beberapa. Inilah alasan mengapa di awal Inigo ragu untuk
menjawab pertanyaan da Camara tentang bagaimana ia menulis Konstitusi. Kertas-kertas
ini menunjukkan bagaimana Tuhan secara khusus dan penuh keintiman menjalin relasi
dengan Inigo, dan ia tahu bahwa ia tidak dapat menjawab pertanyaan ini tanpa
menunjukkan kertas-kertas tersebut kepada da Camara. Namun, dengan melakukan ini,
Inigo mengambil risiko memuliakan dirinya karena memperlihatkan rahmat luar biasa
yang telah ia terima sebagaimana tampak dalam kertas-kertas ini. Nantinya, Inigo akan
menghancurkan kumpulan tulisan ini sehingga hanya da Camara yang mendapat
privilese untuk membacanya. Kita sendiri harus puas dengan sebagian kecil yang
tersimpan dan sekarang dikenal sebagai Catatan Harian Rohani Ignasius atau catatan
harian rohani.

Bagian ini membahas pertanyaan penting soal kemiskinan dalam Serikat Yesus.

Kita pun lalu terdorong untuk bertanya apakah Inigo sengaja meninggalkan kita
tulisan ini, dan kalau memang begitu, apa alasannya. Apakah ini untuk menekankan
pentingnya kemiskinan dalam Serikat Yesus? Apakah untuk memberitahu kita bahwa
lama setelah 1538 ketika kisah Autobiografi berakhir Inigo masih tetap harus belajar
mencari dan menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan? Atau, apakah ini untuk
memberikan kita pengetahuan lebih jauh tentang relasinya dengan Tuhan?

Tidak semua penampakan yang dialami oleh Inigo sama. Terkadang ia melihat Allah
Bapa, terkadang Allah Tritunggal dan pada waktu lain Santa Maria yang menjadi
perantara baginya atau meneguhkan dia. Namun, umumnya, semua penampakan ini
datang sebagai penegasan hasil diskresi atau keputusan yang telah dibuatnya dan
dituangkannya dalam Konstitusi.

Gambaran terakhir yang kita dapatkan tentang Inigo di akhir Autobiografi-nya adalah
seseorang yang diserap oleh Allah Bapa dan Allah Tritunggal. Seseorang yang dapat
menemukan Tuhan kapanpun dan selalu siap untuk mendengarkan apa yang
disampaikan kepadanya. Seseorang yang tidak hanya melayani Kristus, tetapi juga dapat

270

merasakannya secara mendalam. Seseorang yang tidak pernah lupa bahwa ia
mempunyai St. Maria sebagai pengantaranya.

271



Lampiran 1

Diskresi dan Pengambilan Keputusan
dalam Autobiografi St. Ignasius

A. Loyola

“Sedikit demi sedikit ia mulai menyadari perbedaan roh-roh yang
menggerakkannya…”[8] Dalam pernyataan yang sangat biasa ini, Inigo telah menjelaskan
sebuah pengalaman yang tentu mengejutkannya.

Inigo muda adalah orang yang sibuk berbuat sesuatu dan tidak pernah
merenungkan hidup batinnya. Kalau ia berpikir soal Tuhan, pikirannya itu berkisar soal
“pengabdian” dan apa yang ia dapat lakukan bagi Tuhan.

Sewaktu melewati masa penyembuhannya di Loyola, ia mulai merenungkan
tidak hanya masa lalunya, tetapi juga apa yang sedang terjadi di dalam batinnya. Apa
yang ia temukan pasti mengejutkannya. Ternyata, Tuhan bertindak dalam hidupnya dan
sangat terlibat dalam perjalanannya.

Ia mulai menyadari bahwa aneka gerak batin yang ia alami berasal dari berbagai
sumber dan salah satunya adalah Tuhan. Pikiran-pikiran untuk pergi berjalan kaki ke
Yerusalem dan rasa puas dan bahagia yang muncul daripadanya berasal dari Tuhan.

Inigo mencatat apa yang ia temukan ini dalam Latihan Rohani (LR 15), di mana ia
menulis Pencipta dan Tuhan bertindak secara langsung pada masing-masing individu
dan berkomunikasi dengan “jiwa yang saleh.” Ini kemudian menjadi sebuah kepercayaan
yang mendasar dalam cara Inigo berelasi dengan orang lain. Ia meyakini bahwa Tuhan
datang kepada kita, dan bukan sebaliknya. Tuhan datang kepada kita dengan sebuah
cara yang unik sesuai dengan masing-masing pribadi. Pandangan baru ini adalah

273

perubahan paling penting dalam pemahaman Inigo tentang hubungannya dengan
Tuhan.

Matanya tidak hanya telah dibuka [8], tetapi hatinya juga telah disentuh oleh
Tuhan. Ia pun dipenuhi dengan kemurahan hati.

Ia telah diajari mengenai prinsip pertama Pembedaan Roh. Ia memang masih
harus banyak belajar, tetapi tanpa kesadaran bahwa ada berbagai macam roh yang
bekerja dalam batin seorang manusia, diskresi Ignasian tidak mungkin dilakukan. Inigo
menyadari bahwa ia penting tidak saja bagi Tuhan, tetapi juga bagi setan,dan keduanya
ini akan terus bertarung untuk menguasai hatinya. Nanti, ia akan memahami bahwa
pengalamannya merasakan pertarungan berbagai jenis roh dirasakan juga oleh orang-
orang lain dan ia akan merasakan panggilan untuk membantu mereka. Ia telah
menemukan sebuah pertempuran baru yang akan menggantikan pertempuran di
Pamplona. Pertempuran rohani ini akan sangat menyerap dirinya.

Akan tetapi, untuk saat ini, Inigo belum siap untuk melakukan sebuah diskresi. Ia
masih sangat dipenuhi oleh keinginannya sendiri untuk melakukan sebuah peziarahan
dan matiraga sehingga ia tidak mau berhenti dan bertanya apa yang sungguh-sungguh
Tuhan inginkan daripadanya. Orang yang sangat tertarik pada penampilan ini akan
kembali memegang kendali dan “ia merasa sudah tiba waktunya untuk berangkat” [12].

B. Orang Moor

Inigo lalu pergi meninggalkan Puri keluarga Loyola untuk memulai
peziarahannya ke Tanah Suci. “Pada perjalanan itu terjadi sebuah peristiwa yang
sebaiknya dicatat di sini, supaya menjadi jelas bagaimana Tuhan kita membimbing jiwa
yang masih buta itu. Ia memang punya keinginan besar untuk mengabdi kepada-Nya
dalam segala hal yang dapat dipahaminya”[14]. Dalam cerita ini, Inigo berjumpa dengan
orang Moor dan lalu berdiskusi dengannya tentang keperawanan Maria.

Inigo telah memperingatkan kita bahwa meskipun ia sudah mempunyai
keinginan yang besar untuk mengabdi Tuhan, ia masih tidak tahu bagaimana caranya.
Kita pun menjadi lebih siap untuk menerka apa yang akan terjadi berikutnya. Idenya
tentang pengabdian adalah melakukan perbuatan-perbuatan lahiriah yang besar tanpa
memperhatikan “situasi-situasi khusus.” Ia bukanlah seseorang yang bisa berdiskresi
karena ia “tidak memperhatikan hal-hal yang batiniah” [14]. Ia masih tidak peduli soal

274

apa yang nantinya ia sebut sebagai “keutamaan-keutamaan yang sejati”, yang menjadi
kriteria kedekatan seseorang dengan Tuhan.

Orang Moor tersebut sangat terbuka untuk mengakui bahwa Maria tetaplah
seorang perawan setelah mengandung. Akan tetapi, ia tidak dapat menerima bahwa
Maria tetaplah seorang perawan “waktu melahirkan” [15]. Sementara itu, dengan penuh
keyakinan Inigo mengatakan bahwa Maria selamanya tetap perawan. Akhirnya mereka
lalu berpisah.

Inigo kemudian mulai merenungkan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Ia
menyadari bahwa pertama-tama ia merasa tidak senang. Ia berpikir bahwa sebagai
seorang ksatria ia telah gagal melakukan tugasnya mempertahankan kehormatan
putrinya. Pikiran-pikiran seperti ini kemudian menimbulkan rasa marah yang diikuti oleh
keinginan untuk membunuh orang Moor tersebut.

Kita lalu bisa dengan penuh perhatian memperhatikan bagaimana ia menjadi
sadar dengan perasaannya dan hubungan antara pikiran dan perasaannya, bagaimana
mereka saling memengaruhi. Ia merasa, ia berpikir, ia mendapat perasaan-perasaan
baru! Di balik semua ini adalah sebuah keyakinan bahwa ia harus melaksanakan
kewajibannya. Namun, ia tidak tahu seperti apa persisnya arti melaksanakan
kewajibannya itu.

Permasalahan yang dihadapinya adalah bagaimana ia harus bertindak.
Keputusan apakah yang harus ia ambil. Ia sudah menyadari ada berbagai gerakan Roh
yang saling bertentangan, tetapi situasi yang dihadapinya sekarang jauh lebih kompleks
daripada apa yang dihadapinya sewaktu berada di Loyola. Kini ia juga tidak lagi punya
waktu hening berbulan-bulan yang dapat digunakannya untuk berefleksi secara lebih
mendalam. Ia pun menjadi semakin putus asa dan membutuhkan beberapa ”prinsip
penuntun”, prinsip disreksi yang lebih maju [15].

Akhirnya, ia membiarkan keledainya yang mengambil keputusan. Untungnya,
keledai tersebut mengambil jalan yang benar.

Sepertinya Inigo sudah mempunyai konsep yang masih kasar tentang diskresi,
tetapi ia belum dapat melihatnya dalam sebuah kerangka yang jelas. Secara singkat, ia
telah memiliki empat langkah:

275

• Pertama, ia memiliki ide tentang apa yang tampaknya sebagai perbuatan yang
harus dilakukan.

• Lalu, ia mengambil waktu untuk menimbang-nimbang dan merenungkan
keputusannya.

• Berikutnya, ia merasakan perasaannya dan apakah perasaan ini memberi
konsolasi dan “devosi” (rasa perasaan akan kehadiran Tuhan).

• Akhirnya, membuat keputusan tentang langkah apa yang harus diambil.

Dalam ceritanya, Inigo bergulat dengan “keinginan-keinginan yang saling
bertentangan satu sama lain.” Dalam situasi seperti ini, tidaklah mudah baginya untuk
merasakan konsolasi atau kehadiran Tuhan, terlebih mengingat sedikitnya waktu yang
dimilikinya.

C. Manresa

Walaupun Inigo semula berniat untuk pergi ke Tanah Suci, ia meninggalkan jalan
utama dan singgah di sebuah kota kecil bernama Manresa. Ia akhirnya menghabiskan
waktu selama sebelas bulan di kota kecil ini. Selama waktu ini, ia melakukan doa dan
matiraga secara luar biasa dan Tuhan mengajarkannya banyak hal-hal “batin”, termasuk
di antaranya adalah prinsip-prinsip penegasan rohani.

Pengalaman pertamanya adalah penampakan sebuah obyek yang mengambang
di udara di hadapannya. Obyek ini “berbentuk seperti ular dan di seluruh tubuhnya
mempunyai kilatan-kilatan bagaikan mata walaupun sebetulnya bukan.” Ia tidak tahu
bagaimana harus menyikapinya karena benda ini sangat indah dan memberinya “banyak
penghiburan dan konsolasi” [19]. Fakta bahwa “ia menjadi sedih” sewaktu obyek ini
menghilang mungkin mengingatkan dia tentang sebuah perasaan serupa di Loyola,
tetapi ia tidak mengatakannya. Baru setelah beberapa lama kemudian ketika ia sedang
berdoa di hadapan Salib dan obyek itu muncul kembali ia mengerti bahwa obyek ini
berasal dari roh jahat. Obyek ini telah kehilangan warnanya yang biasa dan ia yakin
”bahwa itu setan” [31].

Bagaimana persisnya ia mendiskresikan ini hingga ia akhirnya bisa mendapat
“persetujuan kehendak yang kuat” tidak dijelaskan oleh Inigo. Mungkin ia menyarankan
bahwa dengan meletakkan sebuah pengalaman di hadapan Kristus yang tersalib kita
terbantu untuk melihat segala sesuatunya secara lebih jelas.

276

Walaupun selama hari-hari awalnya di Manresa Inigo merasa damai dan bahagia,
ia diganggu oleh sebuah pikiran yang mengatakan kepadanya, “Bagaimana dapat
menanggung hidup semacam itu kalau akan hidup tujuh puluh tahun?" [20]. Ia berhasil
mengalahkan godaan ini dan ia belajar bahwa roh jahat dapat membuatnya sedih
dengan menimbulkan “pikiran-pikiran” tertentu. Ia juga memberi indikasi bahwa ia telah
menjadi semakin sensitif terhadap gerak roh karena ia mengatakan kepada kita bahwa
ia “merasa” (Sp. sentir) bahwa ini berasal dari musuh [20].

Akan tetapi, kedamaian yang ia rasakan tidak akan bertahan lama karena setelah
itu ia berada dalam sebuah situasi di mana ia diganggu oleh berbagai roh. Pada satu saat
ia merasa dipenuhi kegembiraan dan devosi dalam doanya dan pada saat berikutnya ia
merasa semua latihan rohaninya tidak bermakna apa-apa [21]. Ia tidak dapat memahami
apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Nantinya, ia akan melihat apa yang sedang terjadi
ini sebagai kasus klasik konsolasi dan desolasi dan gerakan-gerakan berbagai macam
roh. Akan tetapi, pada saat ini ia masih “tidak tahu apa-apa mengenai hidup rohani” [21].

Satu pengalaman lain yang juga terjadi di Manresa adalah kebimbangan batin
yang berlangsung selama berbulan-bulan. Ia mencari saran dari bapa pengakuannya,
tetapi ini tidak membantunya dan pada saat-saat tertentu malah menjadikan skrupelnya
lebih parah. Ia menjadi sangat putus asa sampai-sampai ia berkata pada Tuhan bahwa
ia akan mengikuti seekor anjing kecil kalau itu bisa membawanya pada ketenangan batin
yang sebelumnya ia rasakan (apakah ia teringat akan proses diskresi keledainya?) Apa
yang telah ia pelajari sebelumnya tidak membantunya dalam berdiskresi kali ini.

Akhirnya, berkat “belas kasih” Tuhan kita, kebimbangan batin itu menghilang
secepat pada saat itu datang. Melalui pengalaman yang sangat menyakitkan dan
membingungkan ini, ia mendapat “… sedikit pengalaman mengenai perbedaan roh-roh
…” [25]. Secara khusus, ia mulai memikirkan bagaimana roh-roh ini masuk ke dalam
hatinya. Tampaknya kecenderungan Inigo untuk merenungkan dosa masa lalunya
secara terus-menerus membuka pintu masuk bagi roh jahat, yang masuk ke dalam
hatinya dengan gaduh “seperti setetes air yang jatuh di atas batu” (LR 335). Kesadaran ini
membawanya pada sebuah keputusan bulat untuk tidak mengakukan dosa masa
lalunya lagi. Mencari tahu bagaimana roh-roh dapat memengaruhikita, apa sumbernya,
dan membuat keputusan yang kokoh akan menjadi prinsip-prinsip yang dipegang Inigo
dalam pembedaan roh.

277

Ia kemudian akan menggunakan secara lebih jauh “pelajaran yang telah
diberikan Tuhan kepadanya” dalam hal pembedaan roh [25]. Setelah kebimbanganbatin
meninggalkannya, ia menghabiskan sepanjang hari memikirkan Tuhan dan berdoa. Akan
tetapi, ketika ia pergi tidur, ia sering mendapat “pemikiran yang hebat, hiburan rohani
yang besar” [26]. Akibatnya, ia kekurangan waktu tidur. Ia lalu merenungkan apa yang
sedang terjadi pada dirinya ini. Ia pun mulai meragukan “asal” dari “pencerahan” ini. Oleh
karena itu, ia memutuskan untuk tidak menghiraukannya dan menggunakan seluruh
waktu yang telah ia rencanakan untuk tidur. Ketika Inigo menghubungkan pengalaman
ini dengan saat ia melihat obyek yang melayang-layang di udara [19], ia menemukan
sesuatu yang baru dan mengejutkan. Ternyata, tidak semua penghiburan rohani atau
perasaan konsolasi datang dari roh baik.

Apabila Inigo dikejutkan oleh pengalaman sebelumnya tentang konsolasi,
pengalaman berikutnya dalam berdiskresi mengejutkan bapa pengakuannya. Ketika
berada di Manresa, ia tidak pernah makan daging. Ia cukup yakin bahwa ini adalah hal
yang tepat untuk dilakukan dan tidak ada alasan untuk mengubahnya. Akan tetapi, suatu
pagi ia bangun dan memutuskan untuk makan daging walaupun ia tidak memiliki
keinginan untuk itu. Ia membuat pilihan ini dengan “terdorong oleh kehendak yang kuat”
[27] dan walaupun bapa pengakuannya mengatakan kepadanya untuk lebih berhati-hati
dalam memikirkan hal tersebut, ia tetap berkata bahwa ia tidak khawatir dengan
pilihannya ini. Di manakah terjadi proses pembedaan roh? Di manakah cerita soal gerak-
gerak roh dalam batinnya? Ia rupanya akan menggunakan ungkapan yang sama, yaitu
“persetujuan kehendak yang kuat” untuk menjelaskan keyakinannya mengenai objek
yang melayang-layang di udara itu merupakan kerja setan [31].

Tampaknya, akan ada saat-saat di mana Inigo sungguh diberi rahmat dan
digerakkan oleh roh sehingga ia tidak perlu menerapkan metode diskresi apa pun.
Pengalaman ini sangat mirip dengan apa yang ia sebut sebagai Pemilihan Waktu I (LR
175).

D. Barcelona

Inigo meninggalkan Manresa untuk melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem.
Untuk itu, ia harus berlayar dengan kapal dari Barcelona ke Gaeta, Italia. Salah satu
nakhoda dari kapal-kapal itu setuju untuk membawanya tanpa biaya, tetapi menyatakan
bahwa Inigo harus membawa bekal makanannya sendiri. Inigo setuju, tetapi ketika ia
pergi untuk mengemis roti, ia merasakan kebimbangan batin sebab ia sudah

278

memutuskan untuk menggantungkan seluruh nasibnya “di tangan Allah, sebagai satu-
satunya penolong” [35]. Membawa bekal roti bersamanya tampak seperti sikap kurang
percaya bahwa Allah akan memeliharanya. Perasaan-perasaan ini berhubungan dengan
gerak-gerak roh. Akan tetapi, apakah ini berasal dari roh baik atau roh jahat?

Walaupun ia mempertimbangkan dengan teliti “berbagai alasan baik itu sisi
positif dan negatif dari masing-masing alternatif” [36], ia tidak dapat memperoleh
kejelasan. Ia akhirnya pergi kepada bapa pengakuannya untuk menjelaskan situasi
tersebut. Ia menjelaskan alasan-alasan bagi masing-masing sisi dan menyerahkan
keputusannya kepada bapa pengakuannya. Ini adalah sebuah tahap lebih lanjut dari
membiarkan keledai memutuskan untuk dirinya. Bapa pengakuannya kemudian
menyarankan dia untuk mengemis sebanyak yang ia butuhkan untuk perjalanannya.

Ada tiga hal yang dapat dicatat tentang peristiwa ini:
• Pertama, pilihannya untuk menuliskan alasan-alasan dari setiap pilihan yang
berlawanan, yang dalam hal ini adalah membawa atau tidak membawa biskuit.
Metode untuk mengambil keputusan semacam ini akan muncul secara lebih
matang dalam Latihan Rohani ketika ia menjelaskan Pemilihan Waktu III (LR
[177]).
• Kedua, kesediaannya untuk menerima keputusan orang lain sebagai jalan terbaik
yang harus diambilnya.
• Ketiga,niatnya untuk menggantungkan seluruh kepercayaannya pada “Tuhan
sendiri” akan menjadi norma penuntun dalam keputusan-keputusan yang akan
diambil Inigo selanjutnya.

E. Perjalanan Sepanjang Italia

Inigo menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Italia selama ia bepergian
dari Roma menuju Venesia. Nantinya, dari Kota Venesia inilah ia akan berlayar ke Tanah
Suci. Tema yang konstan dari berbagai peristiwa ini adalah kepercayaan pada Tuhan,
dan ia juga diberikan “keyakinan yang besar dalam hati” [40, 42] bahwa ia dapat sampai
di Yerusalem. Ini tampaknya adalah sebuah gerakan dari Roh Baik yang memberinya
penegasan bahwa keputusan-keputusannya dituntun oleh Tuhan.

279

F. Yerusalem

Berada di Tanah Suci merupakan sukacita dan konsolasi yang besar bagi Inigo.
“Ia mempunyai niat yang kuat untuk tinggal di Yerusalem dan senantiasa mengunjungi
tempat-tempat suci. Selain berdevosi, ia juga mempunyai niat untuk menyelamatkan
jiwa-jiwa” [45]. Di Loyola, “satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah pergi ke
Yerusalem segera setelah ia sembuh” [9]. Selama ia berada di Manresa, keinginannya
semakin menguat karena ia tidak lagi hanya ingin pergi Yerusalem, tetapi juga tinggal di
sana. Selama lebih dari satu tahun pikiran ini tumbuh di dalam dirinya dan diterimanya
sebagai jalan pengabdian yang ditunjukkan Tuhan kepadanya. Semuanya tampak amat
jelas. Akan tetapi, dalam sebuah momen, keyakinannya akan “tujuannya”
dijungkirbalikkan oleh pernyataan provinsial bahwa “beliau punya kuasa dari Takhta Suci
untuk menyuruh orang pergi dari situ atau membiarkannya tinggal, menurut
pendapatnya sendiri” [46]. Di sini, Inigo menemukan sebuah metode baru dalam
berdiskresi, dalam menemukan kehendak Tuhan: otoritas Gereja. (Ia akan menemui hal
serupa di kemudian hari, seperti ketika ia berada di Alcala dan Salamanca).

Dalam peristiwa ini, Inigo tidak ragu-ragu. Ia menaatinya dan pergi meninggalkan
Tanah Suci.

Kepergiannya dari tanah Suci menandai sebuah perubahan besar dalam tujuan
hidup Inigo. Ia pun mungkin merenungkan apa yang telah dipelajarinya tentang
penegasan rohani pada tahap ini. Walaupun ia belum dapat merumuskan sebuah
sistem, ia telah memiliki elemen-elemen berikut ini:

• kita digerakkan oleh berbagai jenis roh yang berbeda: roh baik dan roh jahat.
• kita perlu memberi perhatian khusus pada perasaan dan pikiran kita selama kita

melakukan penegasan rohani.
• penting bagi kita untuk menyadari keyakinan dan keinginan kita yang paling

mendasar karena keduanya akan memengaruhiproses diskresi kita.
• kita perlu mencari asal dari roh-roh yang menggerakkan kita, bahkan pada saat

roh tersebut memberi kita konsolasi.
• kita harus siap menghadapi gerakan roh yang berlawanan manakala kita

bersikap murah hati dan bertujuan untuk mendekatkan hubungan kita dengan
Tuhan.
• akan sangat membantu apabila kita mengetahui bagaimana roh-roh, khususnya
roh jahat, masuk ke dalam hati kita.

280

• dalam proses diskresi kita umumnya perlu menimbang-nimbang pengalaman
kita dan membayangkan keputusan yang benar.

• adalah sangat berguna untuk menimbang-nimbang alasan pro dan kontra dalam
sebuah keputusan.

• ada kalanya kita sangat digerakkan oleh Tuhan sehingga kita tidak dapat
meragukan keputusan benar apa yang harus diambil.

• ketika kita sudah mendapatkan kejelasan, kita harus mengambil sebuah
keputusan yang tegas dan melaksanakannya.

• apabila keputusan yang benar tampaknya tidak jelas, kita perlu mencari bantuan
dan bahkan membiarkan orang lain, khususnya Gereja, mengambil keputusan
untuk kita.

G. Kembali ke Italia

Dalam perjalanannya kembali dari Yerusalem, Inigo merenungkan apa yang
sedang diminta Tuhan dari dirinya. Ia merasa sungguh yakin bahwa ia akan
menghabiskan hidupnya di Tanah Suci, tetapi perintah Provinsial agar ia pergi
membuatnya menjadi bingung. “… ia terus berefleksi dan berpikir apa yang akan
dilakukannya” [50]. “Akhirnya ia lebih cenderung untuk belajar beberapa waktu supaya
dapat membantu orang” [50]. Keinginan/kepercayaan mendasar bahwa ia dipanggil
untuk “menyelamatkan jiwa-jiwa” memberi arah pada proses penegasan rohaninya.
Keinginan itu telah muncul dalam dirinya ketika ia pertama kali pergi ke Yerusalem dan
ia menyadari bahwa keinginan ini masih ada di dalam dirinya saat ini ketika ia sedang
dalam perjalanan kembali ke Italia. Sejak ia berada di Loyola, ia telah belajar lebih banyak
mengenai gerak-gerak roh dan proses pembedaan roh dan sekarang ia merasa dapat
menerapkan pengalamannya ini untuk membantu sesama.

Semakin ia merenungkan hal ini, semakin ini tampak kepadanya sebagai jalan
yang benar. ”Ia akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke Barcelona” [50]. Hal ini
tampaknya merupakan pengalaman melakukan Pemilihan Waktu II (LR [176]). Dengan
terus menyadari keinginannya yang paling dalam, ia merenungkan bagaimana ia dapat
memenuhinya. Ia memperhatikan berbagai gerakan roh yang ada di dalam batinnya dan
mengikuti gerakan-gerakan yang memberinya penghiburan rohani lebih besar.

Dalam perjalanannya dari Venesia ke Genoa untuk kemudian berlayar ke
Barcelona, ia mengalami beberapa peristiwa menarik, seperti ketika ia ditangkap dan
ditanyai oleh pihak-pihak yang sedang berperang. Pada suatu kesempatan, ia merasa

281

tergoda untuk mengubah gaya bicaranya yang biasa dan berbicara secara lebih sopan
dan formal kepada kepala pasukan. Ia mengatakan bahwa ia takut jika ia melakukan
sebaliknya ia akan disiksa [52]. Akan tetapi, pada waktu ini, ia sangat dekat dengan
Kristus yang menderita dan dipermalukan. Ia juga memiliki keinginan yang besar untuk
dekat dengan Dia dan menjadi seperti Dia. Sekali lagi, keinginan paling dalam menjadi
panduan dalam proses penegasan rohaninya dan ia menyadari bahwa keinginan untuk
mengubah gaya bicaranya adalah godaan dari roh jahat. Ia pun merasa senang bahwa
ia diperlakukan sebagai seorang bodoh dan gila [53].

H. Barcelona

Pada tahap ini, “kecenderungan” Inigo lebih terarah pada studi tentang realitas
hal-hal rohani, daripada studi yang bersifat akademik. Diskresinya untuk studi mendapat
klarifikasi dan fokus ketika ia mengetahui bahwa biarawan yang kepadanya ia ingin
belajar tentang hal-hal rohani telah meninggal. Dari peristiwa ini, ia menyimpulkan
bahwa Tuhan mengarahkannya pada studi akademik. Ia kemudian memulai proses studi
Bahasa Latin selama dua tahun. Peristiwa hidup sehari-hari yang biasa rupanya dapat
menjadi petunjuk rencana Tuhan bagi hidup kita.

Namun, studi Inigo terganggu oleh “pengertian baru mengenai hal-hal rohani”
yang didapatnya [54]. Ini membuat orang menduga bahwa ia akan menghubungkan
pengalaman ini dengan apa yang terjadi padanya ketika berada di Manresa ketika
pemahaman serupa mengganggu waktu tidurnya. Akan tetapi, ia mengatakan bahwa
“sedikit demi sedikit ia mulai mengerti bahwa itu suatu godaan” [55]. Mungkin, ini adalah
sebuah peringatan pada kita bahwa diskresi itu tidak selalu mudah dan jelas, dan
seringkali hanya dapat dicapai secara perlahan-lahan. Terasa mengherankan bahwa
Inigo merasa harus memberitahu gurunya tentang apa yang sedang terjadi dalam
dirinya dan berjanji kepadanya bahwa ia tidak akan pernah gagal mengikuti
pelajarannya. Mungkin ia melihat bahwa dalam keterbukaannya kepada gurunya ini
adalah sebuah cara untuk secara habis-habisan menghancurkan roh jahat. Untuk
meneguhkan dirinya sendiri dalam janji ini, ia berkata, “Setelah membuat janji itu dengan
tegas sekali, tidak pernah ada godaan itu lagi” [55].

I. Alcala dan Salamanca

Apakah yang akan dilakukan oleh Inigo setelah ia menyelesaikan studi Bahasa
Latinnya selama dua tahun di Barcelona? Ia disarankan untuk melanjutkan ke Universitas

282

Alcala. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pilihan pertamanya setelah kembali
dari Tanah Suci adalah mempelajari hal-hal rohani. Akibatnya, ia agak ragu untuk
mengikuti saran untuk melanjutkan studi akademik ini. Ia pun mencari pendapat yang
lain. Seperti yang akan kita catat nanti, ia seringkali tampak siap untuk mengikuti saran
yang telah ia minta sebelumnya, daripada mengikuti saran yang diberikan kepadanya
secara cuma-cuma. Dalam hal ini, ia berkonsultasi dengan seorang Doktor Teologi dan
mengikuti sarannya.

Namun, semuanya tidak berjalan dengan baik di Alcala. Inigo terlilit masalah
dengan otoritas Gereja dan dimasukkan ke dalam penjara untuk beberapa waktu.
Teman-temannya menawarkan bantuan untuk keluar, tetapi ia membalas:”Dia, yang
karena cinta saya kepada-Nya saya masuk, akan membawa saya keluar juga kalau itu
demi pengabdian kepada-Nya” [60]. Di samping sebuah kepercayaan yang mendalam
pada Tuhan, tanggapan seperti ini memperlihatkan sebuah tahapan baru dalam
penegasan rohani: ketika ia merasa dekat dengan Tuhan yang menderita, ia akan
menunggu dan membiarkan rangkaian peristiwa terjadi. Keinginan yang semakin
mendalam untuk dekat dengan Yesus yang dipermalukan dan ditolak adalah sebuah
keinginan/kepercayaan paling dalam lainnya yang akan menjadi penuntun Inigo dalam
berdiskresi. Akan tetapi, ketika pihak berwenang dalam Gereja memutuskan bahwa ia
dan sahabat-sahabatnya tidak boleh “berbicara mengenai hal-hal yang menyangkut
iman; harus belajar empat tahun dahulu karena belum punya pengetahuan” [62], ia
kembali berada dalam sebuah situasi di mana ia harus membuat sebuah keputusan:
tetap tinggal di Alcala dan taat, atau pindah ke sebuah universitas lain. “Dia ragu-ragu
dengan apa yang akan ia lakukan …” Sekali lagi, ia melihat keinginannya yang paling
dalam untuk mendapatkan bimbingan dalam membuat keputusan. Sekarang semuanya
telah menjadi jelas baginya bahwa ia sedang dipanggil untuk “menyelamatkan jiwa-jiwa”
[63] dan keinginan ini akan menentukan diskresinya. Ia pertama-tama meminta nasihat
dari Fonseca, Uskup Agung Toledo, yang menyadari bahwa Inigo “ingin pergi ke
Salamanca” [63].

Akan tetapi, Salamanca tidak lebih damai daripada Alcala karena dalam waktu
singkat Inigo akan segera kembali terlibat masalah dengan otoritas Gereja di sana.

Amatlah penting untuk dicatat bahwa diskresi tidak serta merta berarti kita telah
menemukan di mana Tuhan ingin kita menetap. Inigo berdiskresi sebaik yang bisa ia
lakukan, dan ia belajar bahwa ini hanya memperlihatkannya langkah berikut yang harus
diambilnya. Ini jelas berarti bahwa apa yang diambilnya merupakan langkah yang

283

terakhir. Melalui proses penegasan rohani yang dilakukan oleh Inigo, Tuhan
membimbingnya melewati sebuah jalan yang tidak dapat dilihatnya secara jelas. Hanya
dengan melihat kembali ke belakang di kemudian hari Inigo dapat memahami
bagaimana Tuhan telah selalu berhubungan dengan dia dan mengajarnya.

Inigo kembali dimasukkan ke dalam penjara dan dilarang untuk mengajar bahwa
“ini merupakan sebuah dosa besar atau dosa ringan.” Ia merasa mulutnya telah “ditutup”
dan ia tidak lagi dapat “membantu sesamanya sejauh yang ia mampu” [70]. Ia lalu harus
memecahkan masalahnya dengan melakukan diskresi:

• Keinginannya yang paling dalam tetaplah menolong jiwa-jiwa dan ia percaya
bahwa Tuhan memanggilnya untuk melakukan hal ini.

• Ia melihat bahwa tampaknya “pintu telah ditutup” [70] baginya untuk melakukan
hal ini di Salamanca.

• Ia “menyerahkan dirinya kepada Tuhan” sambil berdoa bahwa ia dapat melihat
sebuah pintu baru terbuka baginya.

• Ia mulai “berpikir tentang apa yang sebaiknya ia lakukan” dan merenungkan
berbagai kemungkinan yang dapat ia ambil pada langkah selanjutnya.

• Dalam permenungannya ini, ia menyadari bahwa ia tidak perlu meragukan
“keinginan yang dimilikinya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, dan untuk alasan
itu, ia perlu melakukan studi terlebih dahulu” [71]. Ia juga menyadari bahwa
keinginan untuk mengumpulkan sahabat-sahabat, yang lahir di Barcelona, masih
tetap ada di dalam dirinya. Ia merasakan kehadiran Tuhan dalam keinginan-
keinginan ini karena keduanya telah ada di dalam dirinya dalam jangka waktu
yang panjang dan “tidak meninggalkannya” [71].

• Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Paris untuk studi dan mengumpulkan
sahabat-sahabat.

Oleh karena itu, proses yang pertama kali muncul dalam perjumpaannya dengan
orang Moor [15] kini telah menjadi semakin rinci sehingga ia dapat mengambil sebuah
keputusan akhir.

Sebelum Inigo meninggalkan Salamanca, “banyak orang-orang terkemuka amat
mendesak supaya [ia] jangan pergi”, dan ketika Inigo sudah berada dalam perjalanan
dan tiba di Barcelona, “semua orang yang mengenal dia menganjurkan supaya jangan
pergi ke Perancis” [72]. Akan tetapi, Inigo tidak meminta saran mereka dan tidak
mengikutinya.

284


Click to View FlipBook Version