Travellove Ainidi
1
Travellove Ainidi
Prolog
Entah sudah berapa kali gue periksa jam di tangan gue, jamnya sih nggak kemana-mana. Tapi,
jarum jamnya yang dari tadi bergerak berputar. Sudah tiga jam lebih gue tungguin dari tadi tapi,
meetingnya nggak juga selesai. Bagus kalau sudah ketemu hasilnya, ini yang diributkan dari tadi
itu-itu saja.
Kelana Media Ent adalah sebuah rumah produksi yang dibangun oleh gue, dan ke empat sahabat
gue. Awalnya kita berlima hobby traveling dari zaman kuliah.
Oke, gini aja. Sambil nungguin ke empat manusia ini selesai berdebat. Gue cerita sedikit deh soal
kita berlima. Kita kuliah di universitas yang letaknya di bilangan Depok. Dengan jurusan yang
berbeda.
Ada Elang Nirwasita, si anak orang kaya, Bapaknya duduk di bangku pemerintahan sebagai
dewan, sedangkan ibunya pengusaha sukses di bidang perhiasan. Ada juga Galuh Gumilang, si
bijak yang aktif nemenin adik juniornya lempar protes turun ke jalan, Galuh adalah manusia yang
kalau setiap mengerjakan sesuatu selalu penuh perhitungan (baca : pelit). Ada juga Mas Denny,
iya di panggil Mas soalnya dia lebih tua dua tahun di atas kita, si anak gunung yang jadi pelopor
kita jalan berkelana kemana saja. Ada juga Ayu Annisa si cantik yang judesnya luar biasa, by the
way Ayu lebih sering review makeup dari pada destinasi wisata gengs. Terakhir ada gue, Malaka
Prameswara tim penggembira bagi kita semua.
Terus gimana ceritanya kita bisa jadi kumpul bareng? Kalau gue bilang kita satu frekuensi pasti
kedengarannya basi. Tapi, memang benar begitulah adanya, waktu itu kita adalah mahasiswa
baru yang di hukum bareng, karena keseringan bikin salah.
Lima hari ospek di gelar, selama itu juga kita di hukum. Entah rambut yang ogah dicukur aneka
macam, atau ogah pakai seragam yang sudah di tentukan, berantem sama kaka senior yang
2
Travellove Ainidi
gayanya belagu setengah mati, yang paling sering adalah cuma kita berlima yang nggak pernah
bawa barang keperluan ospek yang di minta. Sejak saat itu, walaupun kita ambil jurusan yang
berbeda tapi, kita tetap satu jua, seperti bhineka tunggal ika.
Setiap satu bulan sekali kita rutin traveling, alasanya sih biar nggak pusing kebanyak tugas. Ada
atau nggak ada uang tetap jalan, kok bisa? Iya biasanya kalau ada yang nggak punya uang kita
patungan buat nambahin, dengan rasio tujuh puluh persen ditanggung Elang, tiga puluh persen
dibagi berempat. Perlu diingat gengs keadilan adalah visi kita saudara-saudara.
Awalnya, Si Galuh yang punya ide kalau jalan-jalannya biar nggak mubazir, lebih baik di buat blog
aja biar bisa balik modal.
Seiring perkembangan zaman, media digital bergerak pesat sekali. Ada banyak platforms yang
menyediakan berbagai hiburan. Nggak mau rugi Elang si otak paling tokcer ngajuin ide kalau kita
juga bisa manfaatin zaman.
Dan terbangunlah Kelana Media Ent, kita menjangkau semua media digital yang bergerak,
memberikan tayangan menghibur, dan mengasyikan. konten traveling yang di bungkus dengan
beraneka ragam. Entah vlog, variety show, konten parody, animasi, bahkan sampai ke mini series.
Pokoknya hampir semua kita jamah deh. Awalnya seru, tapi lama-lama ya rusuh juga.
Kayak sekarang ini. Mereka masih sibuk berdebat soal konten baru yang innovative. Karena ada
beberapa influencer di putus kontrak kerjasama bersama Kelana. Pasalnya Galuh menangkap
basah mereka menerima pekerjaan di luar management. Intinya mah melanggar kontraklah gitu
pokoknya, gue agak kurang paham juga isi pasal-pasal dalam kontrak itu. Tapi, sebagai public
Relation yang merangkap menjadi content marketer gue juga merasa di rugikan.
"gimana La? Lo setuju nggak?" waduh, kebanyakan cerita, sampai nggak tau udah Sampai mana
perdebatan mereka,
"apanya yang gimana?" tanya gue pura-pura bego,
3
Travellove Ainidi
"astaga Mala! Lo dari tadi dengerin nggak sih?!" ya jelas nggak dong Yu, gitu aja pakai ditanya.
"kita bikin konten, yang isinya kita berlima La, gue nggak setuju kalau kita audisi lagi," jelas Elang.
"kontennya tetap traveling tapi kan?"
"nggak La, konten masak!" tuh lihat sendiri kan? Memang judes banget si Ayu tuh, kalau
ngomong sama gue sukanya ngegas .
"iya tetap jalan-jalan La, lagian gue kangen banget pergi bareng lagi berlima," sama Mas Den gue
juga. Gue kira bangun perusahaan ini artinya gue bisa traveling sesuka hati. Taunya hanya
traveling dalam hati.
"kalau gitu gue setuju. Setuju banget!" gue menjawab dengan lantang.
Lalu riuh rendah tepuk tangan bergema, selain Ayu Annisa, dan Galuh Gumilang mereka semua
bertepuk tangan untuk voting yang gue berikan. Kelihatan sih, Galuh yang bertanggung jawab
pada semua legalitas perusahaan, juga aktif di beberapa lembaga sosial, dan Ayu sebagai Creative
Director, mereka pasti punya segunung kerjaan yang harus ditinggalakan.
"oke, selesai ya vote di menangkan oleh Elang. Jadi sekarang Tinggal lo La yang buat jadwal,"
akhirnya Mas Den menutup rapat yang rasanya kayak se-abad .
Gimana gengs? Ready for our new journey? Because I am ready!
4
Travellove Ainidi
5
Travellove Ainidi
1
Bahu Bidang
Bibirnya dekat dengan telinga, deru nafasnya menerpa wajah, senyumnya sangat
mendamba. Jantung gue berdebar kencang tak berirama. Kedua tangannya menyambut tangan
gue yang sedari tadi melekat erat pada pinggang kekar. Duh! Mas Adam kenapa ganteng banget
sih ? bikin gue susah move on aja. Kepalanya mulai di miringkan, ini artinya dia mau nyium gue
kan?
“La? Mala ” loh kok? Mas Adam suaranya kemayu ? tapi, bibir seksinya terus maju mencari-cari
bibir gue. Ya udahlah sikat aja. Eh! Kok bibirnya pedas?
“MALA!” muka Mas Adam tergantikan dengan muka Si Ayu.
Sial! Gue ketiduran. Tunggu dulu ini bibir gue kok menebal, rasanya kayak beneran habis ciuman.
begitu gue cecap rasa pedas menyengat yang gue rasain. Ini pasti kerjaannya si Ayu nih, dia pasti
nyolekin saus sambal sisa dia makan gorengan. Tuh bener kan! yang gue jutekin malah lagi asik
ketawa sama yang lain. Dasar cimol goreng!
Gue masih di ruang tunggu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pesawat yang akan
kami tumpangi pagi ini mengalami keterlambatan. Menurut informasi sih, pesawat mengalami
keterlambatan selama tiga puluh menit. Tapi, ini sudah lebih dari satu jam, bahkan sampai gue
ketiduran pun belum ada informasi lanjutan kalau pesawat sudah siap terbang.
“Jadi, gimana rasanya cipokan sama Mas Adam? Tiati ah La, nanti habis loh di gorok Mbak Inul.”
Rasa-rasanya pengin banget gue sumpel tuh mulut Ayu yang asik ketawa terbahak-bahak pakai
sepatunya Mas Den yang sebesar kaki gajah.
6
Travellove Ainidi
Gue menarik tissue dari tangan Elang yang kelihatan banget mukanya lagi nahan ketawa. “Sorry
kumis Mas Adam versi gue, nggak setebal kumis Mas Adamnya Mbak Inul. kita beda selara,” sebal
banget deh gue.
Suara perempuan kemudian bergema melalui pengeras suara, memanggil penumpang
pesawat dengan tujuan Padang, Sumatra Barat. Itu adalah pesawat yang akan gue tumpangi,
buru-buru gue bangkit, dan menarik koper gue menuju petugas yang memeriksa kelengkapan
tiket. Kepalang bete sama manusia di belakang yang nggak bisa banget liat gue istirahat dengan
nyaman.
Gue masih berdiri di selasar antar bangku penumpang di dalam pesawat, masih mikir
sama siapa gue mau duduk, harusnya sama si Ayu sih. Tapi, maleslah gue sama tuh anak, nggak
akan bisa gue lanjutin tidur kalau duduk sama dia. Sama Mas Den udah pasti nggak mungkin, dia
ogah berbagi tempat dan hobby makan tempat. Kalau sama Galuh yang ada nggak jadi tidur
beneran gue, dia pasti ngomong mulu sepanjang perjalanan, mana kalau nggak di dengerin suka
nempeleng sembarangan. Sama Elang?
Duh! Gila ya gue mau duduk aja ribet banget sih!
“La? Buruan doong! Macet nih di belakang!” ck! Belum aja ya lo gue sumpel beneran pake sepatu.
Gue menoleh ke arah Elang yang baru aja menepuk bahu gue , dagunya menunjuk bangku
penumpang di sebelah kanan gue, yang berada di dekat jendela. Gue ngerti sih maksudnya
‘duduk sama gue di pojok’ gitu lah kurang lebih. Ya udahlah duduk sama Elang aja, dari pada
duduk sama si irisan tempe kering itu.
Kenapa sih ribet banget mau duduk doang aja?
Buat gue, dengan siapa gue duduk dalam sebuah perjalanan, entah melalui jalur udara,
darat, atau laut sekalipun itu sangat penting untuk gue. Kenapa? Karena waktu luang sepanjang
perjalanan harus gue manfaatin sebaik-baiknya untuk memenuhi jam tidur gue. Rasanya waktu
24 jam dalam sehari kadang kurang buat gue yang kerja di dua bidang.
7
Travellove Ainidi
Bukan gue rakus dalam mengambil pekerjaan, juga bukan soal idealisme yang beberapa orang
gadang-gadangkan. Tapi, ini soal tagihan, dan kebutuhan hidup gue yang nggak gampang.
Percayalah meskipun gue bekerja dalam dua bidang, biaya kuliah kedua adik kembar gue itu
nggak murah. Gue juga nggak mungkin terus membiarkan Ibu yang sudah mulai renta tetap
bekerja sendirian mengurus kebutuhan gue yang sudah bangkotan ini. Betul, Bokap gue udah
nggak ada, beliau gugur saat sedang bertugas di ujung Negeri tepat di hari yang sama saat kedua
adik kembar gue lahir ke dunia. Kala itu usia gue masih lima tahun.
itu bukan luka yang harus gue tangisi, justru gue bangga sama hidup yang rumit ini.
Yang harus di khawatirkan itu situasi kaku sekaku kanebo¹ kering yang tercipta antara gue, dan
mantan pacar tiga bulan di sebelah gue ini. Iya. Gue sama Elang pernah pacaran setahun yang
lalu. Jangan berharap putusnya kita itu karena drama restu orang tua ya. Tante Rida, nyokapnya
Elang itu sayang sama gue melebihi rasa sayangnya sama anaknya sendiri.
Kita putus, karena buat gue yang belum pernah pacaran, sangat mengharapkan perhatian yang
di bagi oleh pasangan kebanyakan. Gue juga mau tau rasanya di cariin kalau nggak ada kabar
seharian. Gimana rasanya di cemburuin kalau gue jalan sama teman kerja berduaan. Gue juga
membayangkan laki-laki yang akan menyisakan waktunya barang semenit saja buat gue, walau
cuma sekedar nanya kapan gue akan makan.
Sama Elang, gue nggak merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik di perut gue seperti yang
perempuan lain ceritakan. Nggak ada perbedaan yang tercipta setelah kita resmi pacaran,
perlakuan Elang ke gue sama saja. Isi percakapan kita dalam ruang sebuah chat di dominasi sama
urusan pekerjaan. Setiap kali dia telepon gue, yang ditanyain bukan kabar gue, apakah gue sudah
makan, atau belum. Tapi, apakah gue sudah memasarkan konten yang ada dalam daftar hari itu
atau belum.
Nggak jarang juga dia menanyakan keberadaan gue bukan karena rasa khawatirnya, melainkan
karena akan ada rapat kerja yang segera dimulai, dan hanya gue yang belum hadir. Jadi, walaupun
8
Travellove Ainidi
gue nggak ada kabar seharian sekalipun, kalau nggak ada kepentingannya sama pekerjaan dia
nggak akan repot mengirimkan sepatah kata ke gue walau hanya untuk sekedar menanyakan
kabar.
Bahkan waktu dia pertama kali mengajak gue pacaran, nggak ada momen yang gue bayangin
kayak di drama Korea. Setelah rapat bulanan dia nyamperin gue, dan bilang ‘La gue sayang sama
lo, kita pacaran ya’ kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkan gue di ruang rapat. Pas gue
cerita momen itu sama Si Ayu, tuh anak malah mengomel, dan bilang kalau gue ini kekanak-
kanakan.
Yang lebih epic adalah saat gue kasih tahu alasan ini kepada Elang sewaktu meminta putus, dia
cuma kasih respon ketawa sambil geleng-geleng kepala aja. Jadi, gue merasa kalau hubungan kita
nggak bisa dilanjutkan. kayak percuma aja nggak sih?
Terus apakah setelah putus gue mendapatkan itu dari laki-laki lain? Dapet sih walau cuma sedikit.
Kalau Si Elang memang belum pacaran lagi sejak sama gue terakhir kali. Memang dia nggak bakat
pacaran sih kayaknya. Sedangkan gue, gue dekat sama beberapa pria dong tentunya. Haha!
Nggak! Nggak ! gue bohong. Bukan beberapa cuma satu tapi, ya gitu deh. Gue di ajarin sama Ayu
trick tarik ulur waktu pendekatan sama laki-laki. Katanya biar kita nggak kelihatan gampangan
tapi, waktu gue aplikasikan trik itu ternyata hasilnya zonk! Ketika gue ulur, benang gue ternyata
kepanjangan. saat gue berusaha tarik lagi, benang gue malah di babat sama benang gelasan² milik
orang lain. Jadilah dia terbang entah kemana.
“nggak mau lanjutin tidur aja?” gue menoleh kepada laki-laki yang barusan aja kita omongin.
Tuhkan. kebanyakan curhat gue jadi nggak sadar kalau pesawatnya sudah take off,
“tidur lagi aja, lumayankan kalau bisa tidur satu jam,” kalau boleh jujur suaranya Elang ini selalu
bikin gue deg-deg kan, suaranya yang cenderung rendah, dan berat terdengar seperti suara Ayah
di telinga gue.
9
Travellove Ainidi
Dulu, karena tugas Ayah mengabdi pada bangsa. dia nggak punya banyak waktu untuk di
habiskan bareng gue, dan ibu. Lalu beliau menebusnya melalui sambungan telepon hanya untuk
menceritakan dongeng pengantar tidur untuk gue. Kalau kata Ibu, Ayah itu harus susah payah
mendapatkan waktu dan sinyal kala itu. Jadi, gue menyimpan baik suara Ayah dalam kepala. Dan
melalui Elang lah rasa rindu gue pada beliau sedikit banyak terobati. Yaaah. Meskipun isi
percakapannya berbanding terbalik ya.
“La,” panggil Elang sekali lagi, dia mengedikan bahunya ke arah gue. Itu maksudnya gue disuruh
tidur di bahunya gitu nggak sih?
Bahunya yang agak bidang terlihat sangat menggiurkan sih sebenarnya. Si Elang nggak ada niat
mau narik kepala gue biar bersandar di bahunya aja apa ya? Maksudnya biar gue nggak malu-
malu banget gitu kalau mau bersandar.
Nggak deh. gue akan mengadopsi kalimatnya Ayu aja kalau gitu, ‘biar nggak kelihatan
gampangan’ jadi gue memilih memejamkan mata, dan bersandar pada bangku pesawat tempat
gue duduk. Barangkali kalau gue tidurnya kepulasan, gue jadi nggak sadar kalau kepala gue
beneran jatuh bersandar di bahunya dia, biar malunya nggak kebangetan.
***
Gue merapikan poni gue yang sedikit kepanjangan, gue memang belum menemukan waktu untuk
memotong rambut gue sih. Waktu buat tidur aja gue paksain apalagi waktu untuk pergi ke salon.
Biasanya Ibu yang rajin merapikan rambut gue, dan kedua adik kembar gue kalau sudah terlihat
bercabang atau kepanjangan. Tapi, sejak Ibu pindah ke kampung halaman kami yaitu Yogyakarta,
demi menemani si kembar menempuh pendidikan, nggak ada lagi yang perhatiin hal-hal detail
pada diri gue.
10
Travellove Ainidi
By the way gue belum bilang ya kalau si kembar ini perempuan. Gue tiga bersaudara, dan kami
perempuan semua. Ditambah nyokap isi rumah gue di huni oleh empat perempuan yang kalau
pagi rumah gue berubah menjadi panggung konser band metalica.
Kalau ngomong ngegas semua, biasanya sih suara si kembar yang paling banyak mengisi. Entah
rebutan catokan, rebutan hairdryer, rebutan sisir, kaca, lipstick dan jenis makeup lainnya. nggak
ada satupun dari mereka yang berani masuk kamar gue buat pinjam barang-barang itu kalau
nggak mau kena lempar sepatu milik gue.
Dan suasana itu hilang sejak dua tahun lalu saat Si kembar di terima di salah satu Universitas di
Yogyakarta. Gue berhasil membujuk Ibu untuk menjual rumah di Jakarta agar bisa membeli
rumah yang lebih kecil tapi cukup untuk tinggal kita berempat di sana, lalu sisa uang hasil
penjualan bisa Ibu gunakan untuk membuka toko bunga yang seperti Ibu impikan. sementara gue
pindah ke indekos di Jakarta Selatan.
Lagi pula gue nggak bisa melepas adik-adik gue merantau sendirian tanpa pengawasan.
Nggak! Gue nggak mengambil peran Ayah di rumah, kehadiran gue tetap sebagai anak pertama.
Jangan mikir urusan ganti lampu yang rusak, atau benerin atap yang bocor itu gue yang kerjain
ya. Untuk urusan-urusan itu kita alihkan ke Pak Budi, seorang pekerja kasar yang dulu membantu
merenovasi rumah kami. Dan semua keputusan penting di rumah diambil melalui diskusi
bersama, bukan dari keputusan satu orang yang menganggap dirinya adalah kepala keluarga.
Nggak ada yang mengambil peran Ayah, peran itu tetap milik Ayah gue seorang, dan nggak ada
yang lebih pantas selain beliau.
Suara seorang pramugari terdengar melalui pengeras suara di dalam pesawat, memberitahu
kepada penumpang bahwa pesawat siap mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.
Perkiraan gue meleset. Waktu gue kebangun tadi kepala gue nggak jatuh ke bahu Elang
melainkan ke jendela. Dan bukan belaian lembut di pipi yang gue rasakan tapi, dinginnya
minuman kaleng yang dia tempelkan di leher gue.
11
Travellove Ainidi
See ? Elang nggak bisa gue harapkan untuk jadi lelaki yang gue dambakan.
***
Kanebo¹ jadi kata yang merujuk sebuah barang yang tak asing di dunia otomotif. Bentuknya
berupa lap kain elastis berbahan polimer karet. Jika dibiarkan terkena sinar matahari lap kain ini
akan mengeras, dan kaku.
Benang gelasan² adalah benang yang digunakan untuk adu layangan, dibuat dari benang biasa
yang diberi lem dan gelas bubuk. Dalam adu layangan, benang gelasan ini dapat memotong
benang lain, dan pemilik layangan yang memotong benang layangan lain dianggap sebagai
pemenang.
12
Travellove Ainidi
2
Drama lima sekawan
Gue kembali berusaha menggeser badan Mas Den yang nggak kecil di sebelah gue, seperti yang
gue bilang Mas Den memang paling ogah berbagi tempat, kerjaannya makan tempat. Gue
terjebak di antara Mas Den, dan Ayu sementara Galuh duduk di barisan paling belakang bersama
tumpukan koper-koper.
Dan Elang duduk sama tak nyamannya di samping driver karena kaki panjangnya harus tertekuk
akibat terganjal ransel lain yang di letakan di bawah kaki. Di luar dugaan mobil yang bisa
menjemput kami di bandara hanya satu saja, karena mobil satunya dipakai oleh teman-teman
yang lain untuk survei lokasi yang akan dipakai shooting besok pagi.
Bersama dengan enam orang lainnya yang sudah lebih dulu berangkat dua hari sebelum kita,
total kru yang berangkat berjumlah sebelas orang. Nah, tiga orang yang lain sedang menjalankan
tugasnya untuk melihat-lihat tempat mana yang bagus untuk di kunjungi, apakah ramah bila
dipakai untuk pengambilan gambar kebutuhan konten atau tidak.
Minimnya kendaraan yang kita dapat memaksa gue duduk berhimpitan di mobil ini sekarang.
Menahan badan Mas Den yang ukurannya dua kali lipat dari gue, agar nyonya di samping gue ini
nggak menjerit di telinga gue karena kenyamanan duduknya terganggu.
Sebenarnya dari pada menahan badan Mas Den sekuat tenaga, gue sekarang sedang sangat
berusaha mati-matian agar tak menjedotkan kepala si Ayu ke jendela. Memang dia pikir badan
gue ini terbuat dari baja, bisa sampai sanggup menjadi penyekat untuk mereka berdua.
Entah ini sudah ke berapa kali gue sibuk memposisikan badan gue agar tak jatuh merosot ke
kolong jok mobil. Dan entah sudah berapa kali juga Elang menoleh ke arah gue yang kepalanya
agak sedikit menyembul persis di samping bahunya.
13
Travellove Ainidi
Kalau sampai dia ikutan protes juga karena kehadiran kepala gue ternyata buat dia semakin nggak
nyaman, Gue bersumpah gue akan tarik ini tuas handbreak di hadapan gue, agar mobil ini
berhenti mendadak, jadi gue bisa mengusir makhluk-makhluk sialan ini keluar dari mobil.
Mata gue nggak lepas dari layar kecil yang menunjukan gambar garis berliku berwarna ungu yang
terpajang di atas dashboard mobil dengan keterangan jarak tempuh juga lama waktu kita sampai
tujuan.
Persis seperti yang Mbak gugel bilang, lima menit kemudian kami tiba di Pangeran Beach Hotel
Padang. Gue langsung menghambur ke luar mobil dan berlari ke dalam hotel, mengabaikan
teriakan Ayu yang badannya terhimpit karena gue memaksa keluar lebih dulu.
Gue merenggangkan kedua kaki gue yang rasanya kebas karena digigit semut-semut kecil tak
kasat mata, juga meluruskan tulang punggung gue yang terlalu banyak membungkuk sepanjang
perjalanan tadi, pada sebuah sofa Panjang yang terletak di ujung lobby hotel.
Seorang laki-laki tinggi berdiri menjulang di samping gue menatap dengan heran, “La, kok lo
malah rebahan sih? Itu check in dulu lah, semakin cepat lo kerjain semakin cepat juga lo bisa
istirahat di kamar kan?”
Beruntung nggak ada gelas isi air panas di tangan gue sekarang. Kalau nggak, bisa jadi wajah
tampan Elang sekarang sudah basah kuyup, dan memerah karena gue guyur. Nggak bisa yah liat
gue istirahat barang sejenak aja?
Gue menarik nafas panjang demi melonggarkan sesak yang bergumul di dada,
“maaf Pak Elang, tapi lo nggak butuh gue lagi untuk melakukan proses itu, semua sudah gue
kerjakan dari Jakarta, dan semua tagihan sudah dibayar oleh Mbak Nila, jadi lo hanya perlu
menyebut nama perusahaan, dan menyerahkan tanda pengenal agar petugas hotel bisa
memberikan kunci kamar yang sudah di sediakan,”
14
Travellove Ainidi
gue mencoba dengan sekuat tenaga agar nada yang keluar dari bibir gue sama persis dengan
boneka susan yang sedang bernyanyi. Yang di nyanyiin malah berkedip seperti orang cacingan,
dan berbalik meninggalkan gue menuju meja resepsionis. Mungkin kalau gue yang nyanyi jadinya
seperti boneka anabel di bandingkan susan.
Drama anak malang yang hampir terbuang ini belum selesai sampai di situ, pintu kamar gue baru
terbuka satu jam kemudian. Tahu kenapa? karena Ibu kanjeng ratu sibuk berendam di bathup di
dalam kamar yang akan kami huni untuk seminggu kedepan. Perempuan yang lagi nyengir di
depan gue ini mengabaikan bunyi bel yang gue tekan dari pelan hingga kencang seperti debt
collector penagih hutang, karena dia sibuk bernyanyi bersama penyanyi yang suaranya dia putar
dengan volume paling kencang.
“soalnya gue kira lo nggak sekamar sama gue La, habis tadi lo pulas banget gitu tidur di sofa
lobby.” Cih! Pembelaan macam apa itu? Jadi maksudnya gue nggak sekamar sama lo tapi, tidur
di sofa lobby?
Pertanyaan itu gue simpan dalam hati karena rasanya gue sudah nggak punya tenaga untuk
meladeni kanjeng Ratu satu ini. Gue melengos ke dalam, dan meletakan koper ke dalam lemari
yang di sediakan juga tas ransel gue di atas meja di sebrang lemari.
Gue melirik tajam Ayu setelah menatap twinbed berukuran queen di hadapan gue, “terus kalau
nggak sekamar sama gue, ini Kasur dua biji mau lo pake tidur sama siapa? Gunawan?” tuh gitu
tuh dia kalau gue judesin, langsung pasang tampang memelas dengan kedua tangan yang di
tangkupkan ke depan dada.
“Mau gue siapin air hangat yang baru nggak La? Mau mandi kan?” buat ngeladenin lo aja gue
nggak punya tenaga, apalagi buat mandi.
“Nggak deh, gue mau cuci muka sama ganti baju aja terus mau lanjut tidur. Boleh minta tolong
bangunin gue pas jam makan malam aja nggak Yu?” dia mengacungkan jempolnya sebelum
menaraik lepas handuk yang bertengger di kepala, dan melemparnya ke atas Kasur.
15
Travellove Ainidi
“BOLEH NGGAK, INI HANDUK BASAH DI JEMUR DI TEMPATNYA!” Ayu terlonjak mendengar gue
teriak. Dia buru-buru menyambar handuk yang tadi dia lempar, dan berlari kembali ke kamar
mandi sambil memegang dadanya.
Huh! Gue yakin seminggu ini akan gue jalani dengan sangat lambat. Sorry bukan seminggu tapi,
dua minggu. Karena setelah selesai menjelajahi Sumatra Barat kita akan melanjutkan perjalanan
menuju Mentawai yang masih bagian dari Sumatra Barat hanya saja letaknya berada di sebrang
pulau. Berapapun lamanya semua akan berjalan lambat kalau berurusan sama si kanjeng Ratu
satu itu, tampilan luarnya aja terlihat bersih padahal jorok dan sembrono sekali.
***
“tidur jam berapa sih semalam? Apa jangan-jangan lo nggak tidur lagi?” tanya Mas Den setelah
meletakan piringnya yang penuh dengan nasi juga lauk pauk khas minang.
Kami makan malam di sebuah restaurant kapau di bilangan… Mana tadi ya? Sorry gue lupa nama
daerahnya. Pokoknya nggak jauh lah dari hotel tempat kami menginap, yang gue ingat kita tadi
sempat melewati jembatan Siti Nurbaya terlebih dahulu.
“Menurut lo gue bakal bisa tidur tenang, dan nyenyak saat dua selebgram itu membuat
kegaduhan?” iya gue sibuk memperbaiki citra Kelana setelah dua influencer itu membuat
postingan yang menggegerkan dunia digital ini. mereka curhat di akun sosial media masing-
masing, menyebutkan bahwa mereka telah sakit hati kepada Kelana yang sudah memfitnah
mereka karena berselingkuh pada agensi lain.
Padahal gimana bisa disebut fitnah kalau Kelana belum mengeluarkan statement apapun. Jelas
netizen bertanya kepada mereka kenapa lebih sering terlihat di kantor agensi tersebut di
bandingkan di kantor kelana. Setelah kegaduhan itu siapa yang terkena imbas? Jelas gue, dan
dua karyawan di bawah naungan gue sebagai public relation.
Gue sibuk meyakinkan kembali para klien yang sudah menjalin kerjasama dari awal Kelana di
bangun, juga meyakinkan kembali para sponsor yang ingin mengiklankan produknya di konten-
konten milik Kelana. malam-malam gue dihabiskan untuk menghasut netizen Kelana, agar tak
16
Travellove Ainidi
meninggalkan kanal kami yang sudah memiliki pelanggan dan pengikut lebih dari sepuluh juta
akun. dan itu jelas akan menyita jam tidur gue juga tim.
Jangan lupa, kalau gue juga bekerja di dua bidang selain public relation gue juga berdiri sebagai
content marketer yang juga sama sibuknya. Sibuk menunda tayangan yang sudah terjadwal,
membuat ulang jadwal tayang, juga mempublikasikan bahwasanya ada beberapa konten yang
akan hilang, dan di gantikan dengan tayangan baru. Semua itu harus gue kemas semenarik
mungkin agar penikmat konten Kelana semakin tertarik lagi.
Tenang aja, gue nggak lagi mengeluhkan pekerjaan gue yang menyita waktu. Gue justru
bersyukur atas dua pekerjaan yang gue tangani saat ini. karena mungkin kepala gue akan lebih
pusing lagi karena nggak bekerja. Gue hanya sedang menyanjung tinggi Loyalitas sahabat-
sahabat gue ini yang berusaha menjaga kenyamanan istirahat gue disela waktu yang sulit gue
dapatkan.
Iya itu sarkas.
Gue menatap gelas berisi jeruk hangat yang baru saja di letakan oleh Elang tepat di hadapan,
“ kok hangat? Bukannya tadi gue mintanya es jeruk ya Lang?”
“es batunya habis, udah yang hangat aja.” Dia menarik gelas miliknya sendiri dan meneguk habis
es teh di dalamnya. gue yakin dia meneguk habis minumannya karena takut gelasnya gue sambar,
Liatkan ? mereka sungguh bisa diandalkan.
“Si ayu kok nggak nyampe-nyampe sih, nyasar kali ya? Coba lo tanya Den,” tanya Galuh pada Mas
Den, mengabaikan perang yang terjadi di antara gue, dan Elang melalui tatapan sengit.
“Atau sengaja dibuat nyasar? Dia tadi bilang mau berangkat sama Gunawan.” Gue setuju nih
sama Mas Den, emang sengaja di nyasarin tuh anak.
17
Travellove Ainidi
Tadi sebelum jalan dia nyuruh gue berangkat duluan, tapi gue pura-pura tak mendengar, dan
tetap berbaring di atas Kasur sambil memainkan ponsel. Karena jengkel gue abaikan akhirnya dia
yang lebih dulu keluar kamar sambil misuh-misuh kekanakan.
Gue yakin, kenapa dia nyuruh gue duluan itu supaya bisa berduaan dengan Gunawan di dalam
kamar. Enak aja! Gue ogah tidur dengan kamar bau polutan sisa mereka bercumbu mesra
berduaan. Padahal awalnya dia yang paling bete ketika konten baru ini tercetus dengan alasan
pekerjaanya yang menumpuk, begitu tahu Elang meminta Gunawan yang mendirect konten ini,
girangnya bukan kepalang.
Ayu dan Gunawan sudah menjalin hubungan sepanjang Kelana di dirikan. Waktu acara peresmian
kantor Kelana dulu, Elang datang bersama Gunawan yang di kenalkan sebagai sepupuh Elang,
dan baru saja lulus dari sekolah perfilman.
Nggak pakai intro, selesai bersalaman Ayu yang memang nggak bisa lihat cowok blasteran
langsung aja minta bertukar nomor dengan Gunawan. Sejak itu kepala gue pusing melihat
mereka kemana-mana menempel, dan menampilkan kemesraan taktahu tempat.
Mereka yang pacaran gue yang mual. Gue cuma bersyukur karena sepertinya Gunawan bermain
aman. Sampai saat ini gue belum melihat Ayu mual-mual beneran, dan menangis di pojokan
kamar dengan alat test kehamilan di tangan.
“Nanti batuk kalau minum dingin terus,” suara Elang tiba-tiba menggema di telinga gue.
“Biarin aja kenapa sih Lang, lagian kan Mala bukan bocah lima tahun.” Gue menyambar tangan
Galuh yang terangkat mengacungkan kelima jarinya.
“Lagian gue yakin Mala sengaja biar sakit, supaya bisa diperhatiin sama lo,” tambahnya. Kali ini
alih-alih tanganya yang gue sambar, tangan gue, mendarat di kepalanya.
18
Travellove Ainidi
“Nggak usah pake sakit juga udah gue perhatiin,” eh Gimana? Gimana? Coba Mas Elang bisa di
ulang nggak itu ya barusan. Perasaan gue sepanjang tiga bulan itu nggak ada perhatian satupun
yang kau sematkan. Ini lagi pencitraan ya?
“Rundown nya nggak ada perubahan kan La? Besok kita tetap berangkat ke kelok 44 untuk scene
pembukaan?” yaelah dasar basi, gue tahu kok ini si Elang sedang berusaha mengalihkan topik
pembicaraan karena takut gue timpalin dengan jawaban-jawaban menyakitkan gendang
telinganya.
“Udah gue kasih ke si Ringga, dan nggak ada yang berubah kalau cuaca bersahabat,”
“Den, cabut yuk. Gue jijik mendengar malu-malu bau tai dari mereka berdua.” Gue denger ya ini
bisikan toa ala Galuh yang minta banget di siram pake jeruk hangat dari gelas gue.
Kalau kayak gini gue jadi kangen Ayu, biar begitu dialah yang akan menjadi tameng gue kalau
berurusan sama Manusia yang punya lidah panjang satu ini. Karena sejatinya dia yang akan jadi
bulan-bulanan Galuh bukan gue.
19
Travellove Ainidi
3
Duh, Monyet!
“Nggak gitu La! Jangan dilempar. Lo tahan biar dia datang nyamperin.” Duh nih monyet! Nggak
tahu ini monyet yang sama atau beda. Yang jelas pisang di tangan gue sudah hampir habis cuma
buat ngasih kawanan monyet yang datang di luar dugaan.
Setelah mengambil beberapa scene di kelok 44 tadi, gue dan tim bergerak menuju lembah Anai,
sebuah object pariwisata air terjun yan terletak di tepi jalan raya Padang-Bukittinggi di kaki
Gunung Singgalang. Menurut Rundown yang gue buat bersama Mas Den, hari ini kita dijadwalkan
untuk memburu tempat-tempat pariwisata air terjun yang ada.
Saat pengambilan gambar di depan air terjun, nggak di duga ada seekor monyet yang datang
menyambar pisang dari tangan Mas Den yang sedang duduk di atas batu besar, hingga membuat
dia hampir jatuh terjengkang. Mulanya gue berpikir teriakan yang di keluarkan Ayu itu karena dia
ketakutan. Tapi, justru dia melontarkan ide yang menjebloskan gue bersama Monyet-Monyet ini
sekarang.
Dia meminta scene di mana gue memberi makan kawanan Monyet liar yang ada di sekitar lembah
Anai, yang ternyata nggak mudah. Monyet pertama datang, dan pergi secepat kilat setelah
mendapatkan pisang. Lalu kemudian datang monyet yang lebih besar, karena takut gue refleks
melempar pisangnya jauh-jauh. Begitu saja terus sampai sesisir pisang di tangan gue hampir
habis.
“tuh La, datang lagi. Di tahan sebentar ya La biar dia nggak langsung kabur,” gue melirik Monyet
yang di maksud Ayu. Postur tubuhnya lebih besar dari monyet yang lain, warna bulunya juga lebih
gelap, gue curiga kalau monyet ini adalah rajanya. Nggak deh kalau gitu skip aja, nanti kalau gue
tahan bukan pisang yang di sambar malah muka gue yang kena cakar.
20
Travellove Ainidi
Gue mengabaikan Ayu, dan melempar pisang untuk sang Raja, agar dia pergi berlalu, “astaga
Mala, kenapa di lempar lagi sih! Ayo dong La biar cepat selesai.” Teriak Ayu sekali lagi dari balik
badan Gunawan.
“kenapa nggak lo aja sih?” tahan Mala, tahan. Jangan sampai lepas kendali di tempat orang, gue
menarik nafas panjang untuk menenangkan emosi gue yang mulai membuncah, tapi mata gue
nggak bisa menahan untuk tidak menatap tajam si Ayu.
“gue takut,” cicit Ayu.
“Ya lo pikir gue berani? Lagian ngapain ngasih makan monyet aja pake harus di tahan di tangan
gue, emang nggak bisa kalau sambil di lempar? kan sama aja, tinggal kameranya aja yang
ngikutin!” ternyata emosi ini nggak bisa di tahan, gue melirik ketiga laki-laki yang berdiri berjajar
dengan mata yang melirik bergantian ke arah Ayu dan gue.
Tangan gue terangkat menunjuk ketiga laki-laki yang sekarang terlihat dungu, “kenapa nggak
meraka aja? Ngasih makan monyet doang nggak perlu di lakukan perempuan kan?” nggak lama
Mas Den melangkah maju dengan senyuman sedikit merayu,
“udah lah Yu nggak usah pakai kasih makan monyet juga nggak masalah, lagian stockshoot
barusan juga sudah cukup kok,” kalian pikir dia akan menyerahkan diri untuk menggantikan gue?
Mas Den ini badannya aja yang gede,tapi nyalinya hanya sepanjang kuku palsu yang tertempel di
jari-jarinya Ayu.
“oke teman-teman kita bungkus untuk scene di lembah Anai ya, kita pindah ke tempat
berikutnya,” badan gue dipaksa berbalik pergi oleh Elang tepat saat gue hendak melempar pisang
ke Mas Den yang sedang berteriak memberi perintah kepada teman-teman kru, yang berdiri tak
kalah jauh.
Gue melepaskan tangan Elang yang bertengger di bahu gue, berjalan menyusul Ringga menuju
mobil Ford Ranger yang dipakai oleh kru. Ogah deh gue kalau harus satu mobil sama mereka,
kalau lagi emosi gini mulut gue suka nyebelin.
21
Travellove Ainidi
Lain dengan mobil Fortuner yang terparkir di depan, Ford Ranger ini walau sama besarnya tapi,
hanya memiliki bangku untuk lima penumpang saja, karena bagian belakang mobil merupakan
bak terbuka untuk membawa barang-barang. Galuh mendebat gue waktu gue bilang ini adalah
mobil pickup, menurutnya mobil ini adalah truck double cabin. Versi keren dari mobil pickup
padahal menurut gue fugsinya ya sama aja, buat angkut barang.
Gue memanjat cabin yang di sebut-sebut Galuh di bagian belakang mobil, duduk lesehan di
samping tumpukan hardcase kamera dan bersandar pada dinding mobil. Nggak lama Elang
muncul di belakang mengejutkan gue, “La, lo di dalem aja, biar gue yang disini. Lo kerempeng
gitu, kalau ketiup angin gue yang repot.” Boleh gue tabok sekali aja nggak sih mukanya Elang ini?
Elang berdecak kesal saat gue melengos mengabaikan dia yang berdiri menunggu gue, yang
nggak lantas bangkit dari tempat gue duduk. Gue mendorong tubuh Elang yang hendak
memanjat mobil hingga hampir terjatuh, dia mencoba memanjat lagi, gue dorong lagi. “La!” dia
membentak dengan wajah kesal yang nggak dibuat-buat.
“ya lo mau ngapain? Gue nggak mau pindah. Ribet banget sih kayak emak-emak!” ketukan lain
datang dari Mas Den yang juga ikut menyusul, kalau dia mau ikutan ribet kayak Elang gue tusuk
tuh udelnya biar kempes.
“kalian bisa percepat nggak berantemnya? udah jam berapa nih, nanti malah nggak keburu ke
tempat yang lain.” Dengusan tak percaya datang dari gue dan Elang secara bersamaan. Kemudian
Elang melirik gue sebal sebelum berputar ke sisi lain mobil, meminta Bagas yang sudah lebih dulu
duduk di sebrang gue untuk bertukar tempat dengannya.
***
Gue diam menopang dagu menatap piring Ayu, menunggu yang punya selesai mengunyah. Mata
gue nggak pernah lepas dari pergerakan tangannya yang naik turun memasukan sesuap demi
sesuap makanan ke dalam mulut. Rasanya bagai seabad si Ayu makan nggak selesai-selesai juga,
gue yakin sih nih anak pasti sengaja biar gue nunggu makin lama.
22
Travellove Ainidi
“nggak bisa lo keletekin dulu terus kasih ke gue Yu?” kepala gue lantas bergerak mengikuti ayam
di tangan Ayu yang di goyangkan ke kanan dan ke kiri. Tak lama ada potangan tulang dengan sisa
daging yang lumayan banyak di lempar ke piring kosong depan gue, gue melirik Galuh yang punya
ulah.
“wuuk … wuuukkk..” dia menjulurkan lidahnya dengan nafas berderu yang di buat-buat.
Nggak jadi berterima kasih, tuh ayam gue lempar tepat ke muka Galuh yang sekarang sedang
tertawa terbahak-bahak hingga berguling di lantai rumah makan.
Saat ini kami sedang menghabiskan makan siang di jam empat sore, di sebuah kedai makan kapau
lainnya yang kami temui saat dalam perjalanan kembali ke hotel. Ini bukan perkara matahari akan
bergeser hingga kami kembali ke hotel pada sore hari, ini perkara kaki Elang yang terkilir lumayan
parah. Saat kami tiba di wisata Air terjun lainnya, Air terjun yang berada di pedalaman hutan
Bukit Sarasah di sebuah Desa bernama Koto Baru. Mereka bilang namanya Air terjun Sarasah Uli
Gadut, sebuah Air terjun dengan bentuk unik yaitu tumpukan batu yang menyerupai piramida.
Maksud hati gue ingin mendaki batu di tingkat ketiga, nggak di sangka batunya ternyata licin. Gue
yang nggak siap malah terpeleset dari batu dan hampir terjatuh. Lalu kenapa justru kaki Elang
yang terkilir? Bukan, bukan karena dia ingin sok pahlawan menangkap gue dari bawah. Tapi, saat
gue mendaki batu itu ada Lensa Sony Distagon T Fe 35mm di tangan gue. Elang yang melihat
lensa itu terlepas dari tangan gue, lantas terbang menyelamatkan lensa yang harganya nggak
murah. Begitulah kisah kaki Elang yang terkilir parah akibat pendaratan yang tak tepat.
Karena rasa bersalah yang besar gue jadi kehilangan nafsu makan, bukan hanya rasa bersalah
pada Elang saja tapi, pada semua tim. Perjalanan dua setengah jam yang nggak mudah jadi sia-
sia, karena belum sempat kita ambil gambar gue sudah keburu bikin ulah. Meminimalisir
terjadinya pembengkakan pada pergelangan kaki Elang, kami memutuskan untuk keluar dari
pedalaman hutan. Di bantu dengan bapak driver, beliau berhasil menemukan ahli pijat lokal.
23
Travellove Ainidi
Jadi, konten wisata Air terjun Sarasah Uli Gadut, kemungkinan besar akan Ayu ganti jadi konten
behind the scene yang berisi Elang teriak-teriak karena kakinya di urut.
Kehilangan nafsu makan bukan berarti nggak lapar kan gengs? Waktu liat ayam bakar di atas
piring ayu dan Galuh perut gue benyanyi merdu saat itu juga. Kepalang malu karena gue sempat
bilang nggak nafsu makan dengan nada yang memelas. Gue tetap nggak memesan makanan, tapi
mengharapkan tulang ayam milik Ayu yang mungkin akan dia hibahkan.
Ini kebiasaan lama kami, kalau makan ayam dalam bentuk masakan apa saja. Ayu akan
menyerahkan tulang ayamnya dengan sedikit daging yang menempel, pada gue. Dia nggak bisa
makan Ayam sampai kelihatan tulangnya kalau nggak mau memuntahkan kembali isi perut yang
baru saja terisi. Dia bilang trauma karena pernah memakan Ayam yang belum matang, saat di
gigit ada sedikit darah yang menempel pada tulang. Sementara gue nggak bisa berhenti kalau
tulang Ayam milik gue nggak ada lagi yang bisa di gerogoti. Exactly. Gue adalah tim makan ayam
sampai ketulang-tulang.
Lalu kemana sekarang perginya Elang? Apakah dia pulang duluan? Nggak. Tuh anaknya lagi duduk
bersandar di atas bak mobil yang kami duduki dari awal perjalanan. Si kepala batu itu ngotot
tetap duduk di sana sama gue, karena dengan begitu kakinya bisa di luruskan dengan leluasa.
Padahal kami sudah berdiskusi kalau bangku pada baris belakang mobil akan di kosongkan hanya
untuk dia seorang, biar Elang bisa duduk lebih nyaman. Sisanya akan duduk bersama gue di bak
mobil belakang, lalu urat di lehernya sedikit menonjol saat dia bilang kalau dia lebih nyaman
duduk di bak belakang. kalau sudah begitu kita semua nggak bisa apa-apa selain diam atau urat-
urat di tangannya juga akan ikut menyembul keluar.
Karena kesal dengan keras kepalanya Elang, gue membalas tingkahnya. Sewaktu dia menyuruh
gue duduk di dalam mobil gue ikutan ngotot duduk di bak karena gue yang jadi penjahat. Kalau
Elang punya urat yang di tonjolkan di lehernya, gue punya air mata yang gue keluarkan deras dari
mata gue. Elang diam, semua ikut diam, dan gue keluar sebagai pemenang.
24
Travellove Ainidi
Gue kembali menoleh kepada korban yang sedang makan bersama bapak driver di atas bak
mobil, memeriksa kembali apakah piring di tangannya sudah kosong atau belum. Tepat saat gue
menoleh dia sedang mengangkat kedua tangannya, dan mengacungkan kesepuluh jarinya sambil
menyengir. Gue balas dengan mengangkat tangan dengan gelas di tangan, yang kembali di balas
dengan gelengan kepala di ujung sana dengan tangan yang kembali terangkat menunjukan botol
air mineral.
Acara berbincang dengan bahasa tubuh bersama Elang terputus karena Mas Den mengejutkan
gue, “La mau rendang nggak?” yang ini bikin gue kaget beneran, seorang Mas Den menawarkan
makanan yang ada di piringnya? Ini orang kesurupan apa gimana?
“nggak! gue curiga itu daging udah jatuh ke lantai, dan nggak sengaja ke injak makanya lo kasih
ke gue kan Mas?” tanya gue curiga yang mendapatkan sambutan gelak tawa seisi meja.
“Astagaaaa! Kagaa! Gue beneran kenyang, ini rendang belom gue apa-apain sumpah.”
Tangan Galuh memukul meja pelan sambil tertawa terbahak-bahak tanpa suara,
“ini….”
Tertawa
“rendang…”
Tertawa
“kelima dia..”
25
Travellove Ainidi
Kemudian tertawa kembali, kali ini lebih terbahak sampai ada sedikit air mata yang menyembul
di ujung matanya.
Setelah huru-hara yang terjadi kami melanjutkan perjalanan kembali menuju hotel, yang lain
pulang dengan perut kenyang sedangkan gue keroncongan. Apa kabar rendang milik Mas Den?
Piring itu kembali di tarik, dan isinya lenyap masuk ke dalam perut empunya yang sebal karena
di curgai.
Pinggang gue dicolek oleh Elang yang duduk di sebelah kanan gue, dia duduk tepat di tengah bak.
“La, sini dong duduk agak rapetin. Gue ngantuk banget, boleh tolong sanggah badan gue nggak?
biar nggak bergerak jatuh.” Gue bergerak seperti yang Elang inginkan, karena badan gue jauh
lebih kecil dari Elang nggak ada cara lain untuk menyanggah badan Elang selain melingkarkan
tangan gue pada lengannya.
Kayaknya gue ikutan mengantuk karena tertepa angin sepoi-sepoi. langit senja di hadapan gue
perlahan menggelap karena mata gue tertutup rapat. Dalam mimpi, gue merasakan kepala gue
tertarik jatuh ke bahu bidang yang nyaman, di susul rasa hangat di dahi yang terhalang poni.
Rasanya seperti pulang kembali ke dalam pelukan Ayah.
26
Travellove Ainidi
4
Babby Sitter
Gue kembali meletakan ponsel di samping laptop gue, entah sudah ke berapa kali gue mengirim
pesan pada Elang hanya untuk menanyakan hal yang sama ‘perlu sesuatu nggak?’. Dari belasan
pesan yang gue kirim hanya dua kali dia membalas dengan kalimat yang sama ‘nggak’, sisanya
hanya dua centang biru. Kalau tahu begitu, buat apa dong gue tinggal di hotel kalau dia nggak
perlu apa-apa?
Hari ini tim berangkat ke Lubuak Rantiang sebuah wisata Air terjun lainnya yang berada di Sungai
Angah, Bangek, Balai Gadang, Koto Tangan, Kota Padang. Air terjun ini biasa di kenal dengan air
terjun Ngalauan. untuk mengambil scene lanjutan yang kemarin sempat tertunda di sana, hanya
saja kali ini tanpa Elang, dan gue. Tadi malam setelah briefing dengan teman-teman kami
memutuskan untuk meninggalkan Elang di hotel. Meskipun kakinya sudah di tangani oleh dokter
ahli, dan dia dapat berjalan sendiri dengan bantuan kruk, kita nggak mau ambil resiko yang lebih
parah lagi, karena medan menuju kesana lebih sulit dari yang sebelumnya.
Menurut Bagas, Ringga, dan Gunawan yang sudah lebih dulu mendatangi lokasi tersebut
sebelumnya, untuk mencapai lokasi Air terjun tim masih harus melewati sungai sebanyak empat
kali, melewati perbukitan, dan memasuki hutan tropis yang basah. Situasi itu jelas tidak baik
untuk kondisi kaki Elang yang terkilir lumayan parah.
Tapi, Elang bersikeras untuk tetap ikut pergi ke Lubuak Rantiang, menurutnya itu adalah
tanggung jawab yang harus diselesaikan apapun resikonya. Kemudian Mas Den menyampaikan
kalau itu bukan tanggung jawab dia sepenuhnya tapi, tanggung jawab kita berlima, dan juga
seluruh tim. Kalau yang satu tumbang masih ada empat dan tim lainnya yang bisa menyelesaikan.
Kali ini gue sependapat dengan Mas Den, mungkin bukan hanya gue tapi semua. Mendengar itu
Elang kembali ngotot tak terima, membuat Mas Den yang awalnya tenang menjadi lepas kendali
27
Travellove Ainidi
juga. Dan terjadilah adu urat yang berkepanjangan di antara mereka berdua. Gue nggak pernah
sekalipun lihat Mas Den semarah itu, dia adalah orang yang paling kalem di antara kita berlima.
Pembawaanya selalu tenang dalam menghadapi masalah apapun, dia adalah penengah bagi kita
semua. Saat melihat dia berteriak membentak Elang sambil menggebrak meja, saat itu juga
rasanya jantung gue berhenti berkerja.
Melihat pertengkeran mereka yang seperti tak ada ujungnya, gue yang sudah bersimbah air mata
akhirnya angkat bicara. Mengatakan kepada Elang, bagaimana bisa dia bertanggung jawab pada
tugasnya kalau dia saja tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Dia tertunduk diam
cukup lama, sampai akhirnya mengangkat kepala, dan menatap gue penuh arti. Dia setuju untuk
tetap tinggal dengan syarat gue juga ikut tinggal di hotel, dengan dalih buat apa tinggal sendirian
di hotel kalau nggak ada yang bantu menjaganya. Jadi, setelah adu urat yang panjang antara Mas
Den juga Elang gue kembali keluar sebagai pemenang.
Maka di sinilah gue sekarang, sepanjang hari hanya rebahan di kamar. Iya Elang memang
meminta gue menjaganya. Tapi, sejak pagi hingga menjelang sore ini, nggak ada tanda-tanda dia
ingin membukakan pintu kamarnya untuk gue. Jangankan buka pintu kamar, pesan gue aja nggak
ada yang dia balas. Sedikit banyak gue mengerti sih kalau Elang ini sedang ngambek, Egonya yang
selangit itu pasti robek juga karena kalah debat semalam. Yang gue nggak ngerti kenapa
ngambeknya sama gue? Kan dia adu uratnya sama Mas Den.
Gue kembali melirik jam tangan yang tergeletak di atas nakas, sudah pukul tiga sore. Nggak heran
perut gue rasanya sedikit perih, sudahlah gue skip sarapan, jam segini belum juga makan siang.
Bodo amat deh sama Elang si tukang ngambek itu, umurnya aja tua, tapi kelakuannya kayak
bocah TK. Gue kembali menarik ponsel untuk kesekian kalinya, gue kirim pesan sakali lagi, ini
percobaan terakhir.
‘gue laper perut gue perih, kalau lo masih mau ngambek nggak jelas silahkan. Tapi jangan
mengeluh kalau gue nggak kasih makan. Kering lambung gue nungguin lo doang!’
28
Travellove Ainidi
Kalau pesan ini nggak dia balas juga, sudah. peduli setan dengan Elang. Hilang sudah rasa bersalah
gue sama dia, kelakuannya cuma bisa bikin sakit perut gue aja. Lima menit berlalu nggak ada
getaran yang gue rasakan dari ponsel gue, kembali gue cek pesan yang baru aja gue kirim. Sudah
centang biru, pun tak ada keterangan typing… pada statusnya. Oke!
Tepat saat pintu lift terbuka, ada getaran pada ponsel yang gue genggam. Iya dari Elang, dia cuma
balas ‘jemput’ sudah gitu doang nggak ada basa-basinya, nggak minta maaf pulak tuh anak. Liat
aja yaa, gue jegal nanti tuh kruk pas lagi jalan, biar terkilir semua tuh kaki. Heran bisanya cuma
bikin keki aja.
waktu gue ketuk pintu kamarnya, gue nggak langsung mendapatkan jawaban, pintu yang gue
ketuk dari pagi kembali tak memberikan jawaban. Membuat gue hampir saja mengamuk saat
pintu itu akhirnya terbuka tapi, belum sempat tuh anak gue sembur dengan seribu makian dia
sudah lebih dulu menyelak,
“tunggu sebentar gue susah jalan.” Kalimat itu sukses buat telinga gue sakit, itu benar bukan
lebay. Rasanya seperti nggak sengaja tercolok cuttonbud saat telinga sedang di bersihkan. Jadi,
rasa perih di perut gue ini bukan di akibatkan karena Elang sedang ‘ngambek’. Bisa jadi karena
gue yang nggak sabaran, walau begitu dia seharusnya balas pesan gue kan? Atau bisa mengirim
pesan kalau gue harus menunggu sebentar karena dia susah jalan. Jadi ini bukan sepenuhnya
salah gue dong.
Gue masih menatap Elang yang berjalan lambat di depan gue, mungkin karena belum terbiasa
menggunakan kruk.
“lo beneran nggak mau pake kursi roda aja?” gue tahu tuh dia pasti pura-pura nggak dengar.
“Lang?” Elang berdecak dan menarik nafas sebelum berbalik ke gue,
“ lo jalan duluan deh! Pesen taksi sana.” Dari tadi kek! Kan gue jadi nggak perlu ikutan berjalan
lambat di belakang. orang yang dari tadi sibuk ngelirik ke arah gue pasti mengira kalau sendal
yang gue pakai putus, karena sepanjang jalan gue hanya sibuk menyeret-nyeret kaki.
29
Travellove Ainidi
***
Gue mendengar suara berbisik seliweran di telinga gue. Oh bukan, ini bukan suara berbisik tapi
suara ketawanya Galuh yang cempreng seperti tukang tahu bulat keliling. Tunggu dulu! Seingat
gue tadi setelah makan siang gue memutuskan untuk mendekam di dalam kamar Elang sampai
jam makan malam, untuk menghindari miss komunikasi. Sial gue malah ketiduran lagi.
Gue membuka sebelah mata gue,
“ngapain ngintip, bangun mah bangun aja,” emang kampret ya si Galuh ini kalau ngomong.
Kedua mata gue terbuka dengan sempurna, tangan gue lantas menarik selimut lebih rapat, dan
mengintip ke dalamnya. Iya baju gue memang masih utuh terpakai, hanya sedikit kusut. Gue
cuma mau ngeledek mereka aja kok.
“nah, ngapain lagi pakai ngintip ke dalam selimut sok cantik gitu?”
“jelas, gue takut tubuh suci gue ternistakan oleh kalian bertiga,” nggak gengs, mereka semua
adalah pria baik-baik. Sebaliknya gue lah yang lebih sering menistakan mereka, dulu kalau kita
berkemah. Untuk gue yang tidur nggak bisa anteng, tangan gue ini sudah hinggap di tempat-
tempat yang membuat mereka merasa ternistakan.
“cih, kau pikir badan macam ikan asin yang di jemur kelamaan itu bisa meningkatkan nafsuku?”
gue menendang tubuh Galuh yang berselonjor di ujung Kasur dekat kaki gue hingga jatuh
berguling.
“La boleh nggak lo langsung balik ke kamar lo aja? Gue ngantuk banget, belum lagi besok kita
berangkat pagi-pagi ke Sikuai.” Gue menoleh pada Mas Den yang sudah duduk di atas Kasur
tambahan di depan Kasur utama.
Berbeda dengan kamar yang gue tempati dengan Ayu, kamar mereka ini hanya memiliki satu
Kasur berukuran besar. Walaupun kasurnya besar mereka masih tetap butuh Kasur tambahan
kalau mau tidur nyaman tanpa merasa kesempitan.
30
Travellove Ainidi
“besok ke Sikuai?” tanya gue yang teringat kembali perjalanan besok. Tangan gue terangkat, dan
menunjuk ke arah Elang di sebelah gue “besok gue nggak mau ya jagain ini anak lagi, gue mau
ikut ke Sikuai.” Elang mendengus kasar dan meletakan ponselnya.
“nggak perlu, gue besok juga ikut ke Sikuai.”
“lo jangan gila ya Lang, jalan aja tadi lo susah banget gitu, apalagi ikut nyebrang naik kapal sih?”
Badan gue tiba-tiba bergeser kencang karena kaki gue di tarik oleh Galuh, yang mencoba kembali
naik ke atas Kasur.
“udah malem nggak usah teriak-teriak bisa nggak? Biarin aja si Elang besok ikut, dia bisa duduk
anteng di tepi pantai, dan nggak perlu jalan banyak. Lagian gue liat-liat kayaknya lo yang di jagain
Elang, bukan dia.” Gue kembali melayangkan kaki gue kepada Galuh tapi, meleset.
Gue mengintip ponsel Elang yang tak terkunci tepat di depan wajah gue, lalu mendongak
menatap Elang yang ternyata juga sedang menatap gue. Yang di liatin hanya berkedip salah
tingkah, mungkin karena merasa tertangkap basah tengah mengambil foto gue yang sedang
terlelap dengan mulut terbuka, dan sedikit air liur yang menetes.
Tapi bukan foto gue yang bikin gue terkejut, itu sih udah biasa. Manusia-manusia ini sudah
kelewat sering mengerjai gue. Tapi, jam yang bertengger pada ujung layarnya dengan angka
menunjukan pukul satu dini hari yang mengagetkan gue.
“kenapa lo nggak bangunin gue?”
“ha?” nah dia sekarang malah melongo,
“emang kenapa kalau lo nggak di bangunin?” pertanyaan ini datang dari Galuh yang sedang
berdiri sambil tolak pinggang seperti ultra man yang siap berperang.
“ya terus gimana sama makan malamnya dooong.” Suara gue bergetar sambil mencak-mencak
di atas Kasur seperti bocah lima tahun.
31
Travellove Ainidi
“gue udah makan kok tadi, pesan ke bawah.” ya itu kan lo! Gue beneran pengin nangis,
mengasihani perut gue yang lagi-lagi akan keroncongan sepanjang malam.
“tapi kan gue belum makan Elang,”
“tadi Si Elang udah pesan juga buat lo, cuma lo tidurnya kebo banget. Kebetulan Si Denny pulang
pas lagi lapar, liat piring makanan nganggur mah ya pasti dia sikat lah.” Gue menatap Mas Den
yang lagi ngorok di bawah sana, berani-beraninya dia ngembat makanan gue. Giliran dia punya
makanan aja pelitnya bukan main.
“gue cabut!” gue meraih ponsel gue di atas nakas, dan mendaratkan kaki gue kencang di atas
paha Mas Den. Gue membanting pintu kamar mereka mengabaikan Mas Den yang berteriak
kesakitan.
Ayu langsung membukakan pintu kamar ketika gue bahkan belum sempat menekan bel, tumben.
Tahu dari mana nih anak gue mau balik ke kamar. Dia langsung berbalik masuk ke dalam kamar
mandi, nggak tahu lagi mandi atau baru selesai mandi tapi, yang jelas itu bikin gue jadi curiga.
Gue menghidu setiap sudut ruangan, menyibak selimut dan memeriksa setiap detail seprei.
“Lo ngapain sih?!” gue menoleh pada teriakan Ayu tepat di belakang gue.
“mencari bukti yang mungkin aja lo lakukan saat gue nggak ada,” Ayu hanya berdecak kesal
menatap gue, di susul melemparkan handuk basah tepat ke gue wajah gue.
“gue nggak ngapa-ngapain ya! Harusnya gue yang marah sama lo! Ngapain lo malah nginep di
sarang penyamun itu? Gue juga baru bisa masuk kamar ini setelah gue minta Galuh mencarikan
kunci kamar yang ternyata lo simpan di dalam case ponsel lo, sepanjang malam gue nungguin lo
di loby tahu nggak!” gue menahan nafas saat ada air mata yang ikut jatuh di sela kemarahannya.
Gue nggak tahu mereka sampai hotel jam berapa, tapi kalau si Ayu sampai nangis begini artinya
memang nunggu lama banget. Walau begitu dia nggak pernah marah sampai nangis seperti ini
32
Travellove Ainidi
sama gue, dia pernah menangis di bahu gue, pernah juga marah sama gue. Tapi, tidak di waktu
yang bersamaan, lagi-lagi rasa bersalah datang menyesakan dada gue.
Gue memejamkan mata sembari menarik nafas dalam, sebelum menarik Ayu masuk ke dalam
pelukan. Saat kedua tangannya ikut meraih pinggang gue dan mendekapnya erat, tangisannya
semakin menjadi-jadi. Gue yakin ini bukan hanya perkara gue yang membuat dia menunggu
kelamaan, pasti ada kaitannya dengan Gunawan, atau bisa jadi karena Ibunya yang kembali
menghubungi dia untuk urusan yang sama.
33
Travellove Ainidi
5
Tolong Tahu Diri
Kedua tangan gue bergerak acak ke atas berusaha menggapai permukaan air, entah ulah siapa
ini tapi, seseorang yang mungkin akan mendapatkan tendangan dari gue ini, sudah mendorong
gue yang berdiri tak siap, hingga terjun dari atas dermaga tempat kapal kecil kami bersandar.
Setelah berhasil menggapai permukaan gue terbatuk karena rasa asin dari air laut menyengat di
tenggorokan. Kepala gue mendongak ke atas dermaga menatap sebal pada Galuh dan Ringga
yang sedang tertawa sambil memegangi perutnya. Lihat aja ya gue akan balas lebih parah nanti.
Tadi pagi-pagi sekali kami menyebrang ke Pulau Sikuai Pulau yang terletak di Kawasan Bungus.
Kami menempuh perjalanan laut selama satu jam dari Pelabuhan Muara dengan menyewa kapal
Nelayan setempat. Setelah mendapatkan footage mendaki bukit dan berjalan mengitari Pulai
Sikuai, yang lagi-lagi gue nggak ikut karena menemani Elang di bibir pantai saja. Sebenarnya sih
Elang nggak minta di temani, tapi kan dia begitu karena ulah gue. Rasanya seperti ada kewajiban
menjaga dia, kalau nggak mau isi kepala gue mikir yang aneh-aneh.
Sebelum terjadinya pertengkaran yang lain, Mas Den menyarankan agar tim di bagi menjadi tiga.
Tim satu yaitu Galuh, Mas Den, Ringga dan Mbak Nila pergi Hiking ke atas bukit di belakang
pantai, sementara tim dua Ayu,Gunawan, dan Bagas pergi berkeliling mengitari pulau, ini murni
idenya Ayu, memang dasar tuh anak bisa-bisanya mencari kesempatan, gue jadi kasihan sama
Bagas yang udah pasti cuma jadi obat nyamuk doang. Sisanya gue, Elang, dan bapak driver
mengambil footage di pantai.
Elang mengambil gambar gue snorkeling dari tepi pantai, dia yang mengatur kamera gue yang
kelelahan duluan melihatnya. Meskipun di bantu oleh bapak driver, tetap saja melihat dia kesana
kemari dengan kaki yang pincang, buat gue jadi senewen sendiri. Setelah semua footage di rasa
sudah cukup, kami semua kembali ke bibir pantai di dekat dermaga untuk menyantap makan
34
Travellove Ainidi
siang yang di bawakan bapak nelayan. Kebetulan bapak nelayan juga memiliki warung di Muara,
jadi pagi tadi sebelum berangkat kami menyempatkan diri untuk membeli sarapan juga
perbekalan untuk makan siang.
Kata Mbak Nila dan Ringga tadi di tengah jalan saat hampir sampai di kaki Bukit, Mas Den nggak
sengaja menyenggol buntut Biawak yang sedang bersembunyi, Mas Den yang kaget dan juga
takut Reflek berlari. Karena kakinya sedikit pincang akibat injakan gue semalam, badannya yang
besar ternyata nggak seimbang dan terjatuh menimpa Galuh yang sedang berdiri nggak jauh di
belakangnya. Cerita itulah yang membuat gue sedikit menyesali kenapa nggak mengindahkan
saran Elang untuk tetap ikut berkeliling bersama yang lain.
Gue berenang ketepian, dan terduduk di bibir pantai di dekat dermaga, saat jatuh tadi gue sedikit
merasakan sakit dan perih di lutut kiri gue. Benar saja darah mengalir lumayan banyak, kayaknya
sih terkena karang mati di bawah dermaga. Yang punya ulah berlarian dari dermaga ke arah gue
dengan wajah sedikit panik, nahkan giliran gue udah terluka aja baru deh panik.
“Yah Mbak Mala, maaf ya. Itu tadi Mas Galuh loh yang menyenggol Mbak, bukan saya. Saya cuma
ikutan tertawa.” Gue hanya diam mengabaikan Ringga, gue nggak marah kok. Lagian ini hanya
goresan kecil, ya memang sedikit perih, dan menimbulkan panas. Rasa panasnya seperti nggak
sengaja kesenggol pemantik api yang masih panas, efek kejutnya hanya sebentar aja. Gue sengaja
diam hanya untuk mengerjai balik mereka, Galuh datang menyusul dengan membawa tas kecil
berisi perlengkapan untuk pertolongan pertama.
Dia kemudian berjongkok di hadapan gue, menyiram luka gue dengan Rivanol, dan
mengeringkanya sebelum dia mengeluarkan plester berwarna coklat dari dalam tas.
“jangan manja ini cuma luka kecil doang,” dasar kurang ajar, nggak ada rasa bersalahnya banget
ini orang memang. Gue mendorong Galuh dengan satu kaki gue yang nggak terluka hingga
membuatnya terguling ke dalam air. Dan lantas mengacungkan jempol sambil menyengir saat dia
menoleh ke arah gue dengan sebal. satu sama.
35
Travellove Ainidi
Gue pergi meninggalkan mereka berdua, dan berlari menghampiri Elang yang duduk di tumpukan
tembok yang runtuh, dia menggeleng pelan. Mungkin dia melihat tragedy di dermaga tadi, gue
menyerahkan plaster kepadanya. Mengerti yang gue maksud dia menempelkan plester untuk
luka di lutut kiri gue, Elang terkejut saat gue melonjak tiba-tiba.
Sementara gue terkejut karena saat gue menoleh ke dalam bangunan tua yang hampir runtuh
nggak jauh di belakang kita, gue melihat dua manusia sedang asik ‘bersilat lidah’. Gue sih
berharapnya melihat setan beneran aja dari pada Ayu, dan Gunawan. Elang yang mengikuti arah
pandang gue malah tertawa melihatnya, gue mengambil ranting kecil yang sudah mengering, dan
melemparkannya kepada dua manusia yang tak tahu malu di dalam sana.
Sedikit cerita mengenai kenapa ada runtuhan tembok dan bangunan tua di Pulau Sikuai yang
cantik ini, menurut cerita bapak yang mengantar kami dengan perahunya tadi, di Pulau Sikuai
terdapat sebuah resort yang bernama New Sikuai Island Resort, yang memberikan fasilitas
layaknya hotel bintang lima. Namun karena sebuah masalah, saat ini fasilitas di pulau ini tidak
berfungsi. Semuanya masih lengkap namun tidak terurus sama sekali. Walau ada beberapa
bangunan yang runtuh temboknya karena terkikis air laut yang terkadang pasang, beberapa
lainnya dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar. Fasilitas yang ada hanya fasilitas standar seperti
pantai pada umumnya.
“malu sama setan woy!” tanpa ada rasa malu Ayu hanya tertawa sambil menjulurkan lidah
sebelum mengecup ringan bibir Gunawan, dan berlalu pergi. Walau sebal tapi, senyum gue ikut
mengembang juga, rasanya sedikit lega karena air mata yang dia tumpahkan semalam bukan
karena Gunawan melainkan karena Ibunya yang lagi-lagi mengirmkan pesan.
Ayu lahir dari keluarga yang tidak sempurna, sejak kecil dia tinggal bersama Neneknya. Orang
tunya sudah bercerai saat dia duduk di bangku sekolah dasar. Terakhir kali dia bertemu dengan
Ayahnya adalah ketika Ayahnya datang bersama perempuan lain, dan ingin menjemputnya
pulang. Permintan itu tak di indahkan oleh Neneknya, Ayahnya di usir dengan makian.
36
Travellove Ainidi
Sejak bercerai Ibunya pergi merantau ke Negeri orang, dan tak pernah pulang apalagi memberi
kabar. Bahkan ketika Neneknya meninggal dunia, Ibunya tak juga kembali. Baru dua tahun
belakangan Ibunya datang dengan dua adik sambungnya yang lain. Tapi, bukan pelukan yang dia
dapat malah makian sang Ibu yang hinggap. Ibunya menuduh Ayu telah memakan semua harta
warisan sang Nenek. Nyatanya tak ada harta yang di tinggalkan Nenek, selain hutang untuk
membiayai hidup mereka. Gue adalah saksi hidup bagaimana Ayu bejuang membayar semua
hutang yang di tinggalkan.
Sejak saat itu, Ibunya tak pernah berhenti mengirimkan pesan kepada Ayu untuk menuntut uang
yang dia gadang-gadangkan kembali.
Tiba-tiba gue merasakan tangan Elang di bahu gue, tepat saat itulah gue teringat kalau gue tadi
tanpa sadar menyembunyikan wajah di dalam dadanya yang bidang demi menyembunyikan
senyuman untuk Ayu Annisa. Beruntung Galuh datang menyalamatkan, dia datang dengan
menarik rambut gue sedikit kencang.
“lo mengusir dua orang kasmaran itu, supaya bisa menikmati tempat ini berduaan kan? Sadar
Mala ini tempat terbuka, kalau lo bermesraan di sini keliatan sama orang-orang, masalahnya
kalau lo yang berperan mereka bukannya Iri malah jijik.” Nggak jadi beruntung gue tapi, buntung.
Enaknya diapain nih orang.
Gue mengadahkan tangan ke arah Elang, kedua alisnya berkerut heran, “mana minta sisa plaster
yang tadi, buat plasterin mulut manusia kurang ajar satu ini.” bukan plaster yang dia berikan gelak
tawa yang keluar. Tangannya kemudian terjulur mengacak rambut gue gemas.
***
Kantuk datang bersamaan dengan alunan suara Gitar yang Mas Den petik, di depan api unggun
yang tadi dibangun oleh teman-teman dibantu warga lokal yang bekerja untuk menjaga Pulau.
Kami memutuskan untuk berkemah di Pulau Pamutusan, karena matahari sudah bergeser ke ufuk
37
Travellove Ainidi
Barat. Dan Mas Den yang mabuk laut memaksa kita berkemah di sini, ya nggak masalah sih. Malah
menambah footage untuk scene bermain dengan biota laut di pualu-pulau kecil nan cantik.
Pulau Pamutusan memiliki bentuk yang memanjang. Awalnya gue mengira tidak ada yang
istimewa dari pulau dan pantai ini, terlihat tak ada beda dengan Pulau Sikuai. Tapi, ketika air laut
pasang tadi, pantai berpasir putih ini ikut tergenang air hingga tidak terlihat lagi. Daratan panjang
Pulau Pamutusan pun seakan terbelah menjadi dua. Buat gue itu keren banget sih, Rasanya kaya
tiba-tiba punya Pulau sendiri.
Beruntung, di Pulau Pamutusan ini ada warga lokal yang bekerja untuk mejanga pulau. mereka
juga menyewakan alat kemah, dan beberapa peralatan menyelam lainnya, ada dapur umum yang
di sediakan, juga sebuah warung sederhana. Pulau Pamutusan hanya berjarak tiga puluh menit
dari pulau Sikuai.
Sebenarnya berkemah ini tidak ada di agenda kami, yang artinya akan ada revisi pada rundown
yang gue kerjakan. Menurut agenda sih, hari ini kita harusnya menyinggahi empat pulau kecil
sekaligus, yaitu Pulau Sikuai, Pulau Pamutusan, dan Pulau Panyumpahan.
Tapi, karena tadi terlalu asik menonton Bagas, Ringga, dan Galuh lomba berenang ke pulau kecil
di sebrang Pulau Sikuai kita malah jadi lupa waktu. Jadi, Pulau Sikuai ini masih di kelilingi oleh
pulau-pulau kecil lainnya yang berjarak tak kurang dari satu kilometer. Itu kenapa tadi Bagas
spontan mengajak Ringga berenang ke Pulau kecil di seberang. Seperti nggak mau kehilangan
spotlight, Si Galuh juga ikut berpartisipasi. Yang lucunya pertandingan ini berhenti di tengah jalan,
karena belum sempat sampai ke garis finish kaki Galuh malah keram duluan.
“La kalau sampai lo tidur di bahu gue dan ngiler di baju gue. Sumpah mati gue tinggalin lo tidur
di luar tenda, dan gue selimutin pakai pasir sekalian.” Mata gue yang sayup-sayup hampir
meredup, kembali menyalang mendengar Galuh berbicara sedikit kencang tepat di telinga Gue.
Nggak ada lagi tenaga yang gue punya untuk ngelawan nih orang. Gue bergerak bergeser di
samping Elang, meluruskan kaki dan menyadarkan kepala di bahunya. Baru ingin melingkarkan
38
Travellove Ainidi
tangan gue pada lengannya. Tangannya sudah bergerak melingkar di bahu gue, menarik gue lebih
erat.
Tangan Elang yang bergerak naik turun memberi kenyamanan, membuat kantuk gue semakin
susah hilang. Sebenarnya keinginan gue untuk masuk ke tenda, dan melanjutkan tidur disana
sangat besar. Tapi, niat itu gue urungkan saat Gunawan menyusul Ayu masuk ke dalam tenda.
Kalau sudah begitu selamat tinggal tidur nyenyak. Ada Mbak Nila juga sih di dalam tenda, tapi
gue yakin dia sudah tertidur pulas, sampai nggak sempat mendengar sepasang kekasih itu beradu
mesra.
“Mala, gue nggak keberatan sih kalau lo ketiduran di bahu gue walau di ilerin sekalipun. Tapi,
tolong tahu diri kalau kaki gue ini susah di pakai jalan apalagi buat gendong orang.” Astaga! Nggak
bisa ya mereka kasih gue ketenangan walau sebentar?
Gue mengangkat kepala gue dengan kesal, dan menarik paksa tangan gue yang melingkar. Belum
sempat bergeser tangan gue kembali di tarik oleh Elang, memaksa gue kembali merapatkan
badan.
“jangan nyender ke Mas Den, dia lagi main gitar. Emang mau di getok pake gitar?” siapa sih yang
bilang gue pengin nyender sama Mas Den? Walau bahu nya kelihatan lebih nyaman di banding
yang lain. Tapi, mulutnya itu sebelas dua belas sama Galuh.
“gue mau masuk ke tenda!” gue berdiri dan berlalu meninggalkan kelima lelaki ini, lalu masuk
kedalam tenda yang lebih besar, nggak ada Ayu di dalam. Penghuni tenda ini sedang asik bermain
gitar-gitaran di luar, samar- samar gue mendengar suara Galuh sedang mengomel,
“Den, sewa tenda lagi deh, nanti gue sama Bagas yang bangun lagi. Nggak mau gue tidur sama Si
Mala, tangannya suka hinggap kemana-mana.
Suara Galuh tergantikan dengan suara Ayah yang bernyanyi di telinga gue, bahu gue di tepuk
berulang mengiringi lagu Nina bobo ala Ayah. Gue merapatkan badan, Ayah menarik kepala gue
ke dalam dekapan, rasanya Hangat, dan nyaman.
39
Travellove Ainidi
6
Dari Hilir ke Hulu
“mau sampai tuh kaca pecah juga nggak bakal bisa buat kulit lo kembali putih Mala,” Ayu berdiri
di belakang gue, tangannya juga bersarang di pinggang mengikuti gue. Dia kesal mendengarkan
gue meratapi nasib kulit gue yang menggelap.
“udah ayo buruan beresin kopernya, terus kita turun ke bawah gue lapar nih. Atau gue duluan
ya?” Kamar ini sejak sore sudah sangat ribut sekali padahal penghuninya hanya kita berdua, isinya
gue yang mengeluh nggak ada habisnya juga, Ayu yang mengomel nggak berhenti karena baju
dan koper gue berserakan di setiap sudut kamar. Setelah pulang dari Mentawai siang tadi kami
kembali ke hotel Pangeran beach karena penerbangan kembali ke Jakarta tertunda sampai besok
pagi.
Ini bukan kesalahan maskapai tapi kesalahan kami, karena jadwal ke Mentawai yang mulanya di
pangkas menjadi tiga hari, meleset satu hari. Kenapa di pangkas? waktu seminggu aja kurang
untuk menjelajah tempat-tempat indah lainnya di Sumatera Barat. Untuk ke Maninjau saja kita
menghabiskan waktu satu hari untuk satu tempat karena jarak dengan kota Padang bisa
menghabiskan waktu sampai tiga jam.
Sementara kami masih harus pergi ke Pulau Pagang, ke lubang Jepang di Bukit Tinggi. Dan yang
paling penting Jam Gadang sebagai land mark Padang untuk melengkapi scene opening yang
sudah lebih dulu kita ambil di kelok 44. cuaca yang beberapa kali mendung dan turun hujan serta
situasi yang tidak mendukung juga kondisi kaki Elang yang mudah kelelahan membuat
pergerakan kami juga melambat.
Beberapa scene di Pulau Mentawai di hilangkan, dan kami hanya fokus untuk mengambil gambar
dengan Suku Asli Mentawai di pedalaman hulu sungai yang terletak di Pulau Siberut. Ada tiga
40
Travellove Ainidi
pulau besar di kepulauan Mentawai. Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara dan Selatan serta Pulau
Sipora. Siberut menjadi Pulau terbesar dan banyak dihuni Suku Mentawai.
Kami membutuhkan waktu selama sepuluh jam untuk sampai kesana, dengan menggunakan
kapal cepat. Sedangkan untuk sampai ke tempat tinggal para Suku Mentawai itu sendiri kami
harus menggunakan kapal lain untuk menyusur sungai, dan masuk ke dalam hutan selama dua
jam dari hilir Mentawai.
Berbeda dengan hutan yang kami lewati saat menjelajah wisata Air terjun, Hutan di Hulu sungai
masih sangat asri. Tak ada sentuhan tangan manusia di sana. Tak ada jembatan untuk melewati
parit, tak ada batu sebagai pijakan untuk menghindari tanah licin apalagi jalanan beraspal, gue
bahkan hampir terjeblos ke dalam lumpur hidup. meskipun nggak bertemu macan apalagi
beruang. Tapi, gue yakin kalau kita berjalan lebih dalam lagi pasti ada banyak hewan liar di sana.
Belum lagi kami tak sempat melakukan survei lokasi terlebih dahulu, pengambilan gambar ke
pedalaman hulu sungai ini kami lakukan secara spontan. Berpegang pada arahan warga lokal
yang tinggal di hilir Pulau Mentawai, mereka memang sudah terbiasa mengantar para tamu yang
ingin berkunjung. Selain mebawa perlengkapan yang rumit ada Elang yang butuh penangan
khusus untuk melewati medan yang sulit. Manusia kepala batu itu lagi-lagi nggak mau di tinggal
di kota Padang.
Yang jelas pengalaman ke Mentawai ini nggak akan pernah gue lupain, bukan hanya sulitnya
perjalanan menuju kesana, tapi ramahnya Suku Mentawai kepada kami, walaupun pada awal
kedatangan kami di sambut dengan dua laki-laki dewasa dengan tato yang memenuhi tubuh
mereka sambil memegang panah, dan membuat gue hampir pingsan saat itu juga.
Menurut Bapak yang menjadi pemandu kita, panah itu disebut Silougui terbuat dari batang
ribung yang telah diolesi racun panah khas Mentawai. Kata bapak pemandu, racun anak panah
ini sangat hebat, walau hanya menggores tangan saja bisa menyebabkan kematian. Tidak ada
binatang yang dapat bertahan lama setelah terkena racun panah itu meskipun hanya ekornya
41
Travellove Ainidi
yang terkena. Gue baru berani bergerak setelah bapak selesai berkomunikasi dengan mereka dan
menyampaikan maksud kedatangan kami.
Setelah pendekatan yang cukup lama barulah gue tahu kalau mereka baru saja pulang berburu
babi hutan, itu kenapa ada Silougui di tangan. Mereka membiarkan kami menginap di tempat
mereka Uma, nama untuk rumah tradisional suku Mentawai. Uma terbuat dari kayu dengan atap
daun. Ukurannya luas, memanjang ke belakang dengan branda yang luas pula. Di pintu masuknya
terdapat tempat menggantungkan tengkorak monyet, babi, dan burung hasil perburuan.
Di tengah uma ada tungku perapian terbuat dari batu, disebut Abut Kerei. Fungsinya untuk
penerangan di malam hari, tempat memanaskan gajeuma atau gendang pada saat dukun dan
ahli pengobatan atau mereka biasa menyebutnya Sikerei, menari dalam acara ritual. Tungku itu
juga tempat memasak hasil buruan, seperti monyet dan rusa. Selain itu juga jadi tempat acara
ritual menginjak bara api dalam upacara pengangkatan Sikerei baru.
Di dalam uma bagian belakang ada ruang luas yang berdinding, tempat untuk tidur malam hari.
Antar kamar tidur dibatasi kelambu. Di ruang paling belakang ada dapur dengan tungku batu
untuk ruang masak sehari-hari. Uma ini bentuknya seperti rumah panggung, di bagian bawah
Uma mereka pakai untuk menyimpan hewan ternak. Bukan Ayam atau bebek seperti di rumah
eyang gue ya, tapi beberapa babi hutan, yang biasanya baru akan mereka sembelih saat upacara
yang hanya dilakukan pada awal pentatoan pertama pada laki-laki dewasa.
Gue benar-benar belajar bertahan hidup di sana, walaupun hanya satu hari satu malam tapi
rasanya waktu berjalan sudah berhari-hari. Sandang, pangan dan tempat tinggal mereka
dapatkan dari hutan. Suku Mentawai menganut kepercayaan Arat Sabulungan. Mereka
menganggap hutan, tumbuhan dan satwa memiliki roh dan jiwa. Semakin dekat dengan hutan,
kekuatan spiritual mereka semakin kuat. Ketika roh tidak dirawat dengan baik, maka akan
membuat kesialan bagi mereka. , dan itu buat gue takjub, betapa berbeda sekali dengan
kehidupan di Kota besar. Banyak yang menganggap hutan dan hewan di anggap tak bernyawa,
penebangan di mana-mana.
42
Travellove Ainidi
Mereka mempunyai makanan pokok sendiri. Sagu dan keladi menjadi makan mereka sehari-hari.
Uniknya, padi bagi mereka hanyalah makanan sekunder. Ya mau di mana mereka mendapatkan
padi? hutan belantara itu habitat alami bagi sagu dan keladi. Dan dari merekalah gue belajar
bagaimana mengolah sagu dan keladi menjadi makanan, rasanya memang tak seperti Steak di
restaurant bintang lima. Tapi, pengalaman yang mereka bagi ke gue harganya melebihi permata
termahal di dunia. Satu hari satu malam tinggal di sana sudah cukup buat gue merasakan
nikmatnya jadi bintang survivor televisi.
Ini kali pertama gue pergi ke sebuah pedalaman hingga membekas dan melekat di hati.
“Malaka! Astaga! Buruan dooong gue lapar, emangnya lo nggak laper?” Suara Ayu kembali
bergema dari belakang gue,
“udah duluan aja deh,” Nih anak kalau udah lapar suka rese.
Dia menarik rambut gue gemas dari belakang, nggak sakit sih tapi, tetap aja buat gue jadi hampir
jatuh terjengkang. Gue menepis tangannya dan menatapnya sebal, nggak terpengaruh dengan
tatapan sinis gue, dia malah meletakan kedua tangannya di pinggang bersiap perang.
“Gunawan udah keburu jalan, sekarang lo nyuruh gue duluan? Buruan beresin, gue tungguin lima
menit.”
***
43
Travellove Ainidi
Gue mulai mengintsal Tinder dua minggu lalu, setelah kepulangan gue dari Sumatera Barat.
Berawal dari Dhea, teman satu tim gue di Public Relation. Gue dan Dhea baru aja selesai meeting
dengan perusahaan produsen pangan yang ingin membangun kerja sama dengan Kelana di
daerah Bekasi. Nggak di sangka mobil gue yang memang sudah tua itu mogok, Dhea bilang
kebetulan pacarnya tinggal di Bekasi, dan bersedia membantu. Sebagai rasa terima kasih gue
karena sudah di bantu, gue inisiatif mengajak mereka makan, saat itulah gue tahu kalau mereka
kenal dari sebuah aplikasi dating.
Ke esokan harinya Dhea mulai mengajari gue cara menggunakan aplikasi tersebut, setelah swipe
kiri berkali-kali. Sampailah gue pada foto seorang Pria berparas tampan. Rambutnya hitam dan
sedikit panjang, matanya kecil tapi tidak sipit, dan yang membuat gue berhenti pada foto ini
adalah dua lubang yang bersarang di pipinya.
Gue lantas membuka profilnya. Namanya Pramuadji, berusia dua puluh enam tahun, dan bekerja
sebagai marketing di sebuah perusahaan developer perumahan. Berondong, nggak masalah kan
hanya beda satu tahun dengan gue. Ada dua foto lainnya di sana, satu saat dia tengah meminum
kopi di sebuah kedai kopi ternama, dengan senyum yang hampir aja buat gue terkena diabetes
saking manisnya. Sementara foto kedua menampilkan dirinya yang sedang berenang dengan
ikan-ikan kecil dekat terumbu karang. Foto terakhirnyalah yang membuat gue memutuskan
untuk swipe kanan. Nggak menunggu lama gue langsung mendapatkan notifikasi
It’s a match !
Sontak gue langsung belingsatan lari ke arah Dhea yang sedang fokus pada layar monitor di
hadapannya, dan menyodorkan ponsel gue tepat di depan wajah.
“Ya ampun Mbak Mala ngapain sih?” Dhea menjauhkan kepalanya dari layar monitor.
44
Travellove Ainidi
“it’s a match” kata gue berbisik, takut terdengar oleh Hanum.
Hanum ini adiknya Galuh yang berkeja di bawah naungan gue sebagai public relation. Gue takut
kalau dia dengar nanti akan diadukan ke abangnya yang bermulut ember itu, bisa habis gue jadi
bahan perundungan berbulan-bulan.
“Ya terus kenapa Mbak?” Tanya Dhea dengan bisikan yang sama.
“terus gimana? Gue nggak ngerti lagi?” bisikan gue semakin pelan karena Hanum sudah mulai
melirik kami.
“Dia ada chat Mbak Mala ngg – ?” gue buru-buru menutup mulut Dhea yang mulai lupa berbisik.
“gimana bisa dia chat gue sih? Kan dia nggak punya nomor gue?” Dhea menepis tangan gue yang
bertengger di mulutnya.
“Chat di aplikasinya Mbak.” Ya kalau gue ngerti gue nggak akan nanya lo Dhe.
Gue kembali menyodorkan ponsel gue ke wajah Dhea, yang membuat dia berdecak kesal, “ yang
mana?”
Dia meraih ponsel gue dari tangan dengan tak sabar, gue hanya mengintip sambil
memperhatikan, takut di getok.
“Nih dia ada chat Mbak Mala, katanya hello,” gue mengeryit,
kepala gue maju ke dapan layar karena chat yang dimaksud Dhea tak terbaca. Dhea mendengus
kencang dan menggeser badan gue dengan kasar. Dia lantas menyerahkan kembali ponsel gue
dan membelai dagunya yang tadi sedikit tersundul kepala gue. Tangannya terangkat dan
melambai di udara, gue ngerti sih maksudnya ‘udah sana, lo ganggu gue kerja aja’ mungkin gitu
kurang lebih. kalau gue bukan atasannya pasti dia sudah menambahkan sumpah serapah.
Jari gue mulai mengetikkan sepatah dua kata untuk membalas sapaan Mas Pramuadji yang
tampan di sebrang sana. Gue kembali ke bean bag yang sebelumnya gue duduki, menggeser meja
45
Travellove Ainidi
berkaki rendah sampai rapat dinding, dan mulai merebahkan badan gue sampai mendapat posisi
ternyaman.
Kelana memberikan kebebasan setiap divisi untuk mendesign ruangan seperti yang mereka
inginkan, ruangan gue sebagai contohnya, tak ada Meja dan kursi dengan skat di tengah. Kami
semua bekerja lesahan dalam ruangan. Di atas karpet berwarna biru muda dengan bean bag
untuk setiap karyawan, kami hanya menggunakan meja berkaki rendah untuk menyanggah
laptop. Terkadang beberapa dari mereka berkerja dengan berselonjor tanpa menggunakan meja.
Tentu ini ide gue, nggak ada batasan yang gue bangun kepada mereka. selama nggak ada yang
kurang ajar, selama itu kedudukan kita sama. Gue menjadikan satu ruangan public relation dan
conten marketer, kalau yang ini murni untuk kepentingan gue sendiri. Memudahkan gue dalam
mengerjakan segala hal, maka di sinilah mereka, menumpuk dalam satu ruangan bekerja dengan
posisi ternyaman.
Ada dua ember besar bekas cat pewarna tembok yang di sulap menjadi bangku dan satu krat
kayu yang di poles ulang, krat itu dialihfungsikan sebagai meja. Ketiganya di letakan di pojok
ruangan dan baru akan terpakai jika ada tamu atau teman dari divisi lain yang ingin main ke
ruangan kami. Sementara jika ada tamu penting yang mengadakan janji temu di kantor Kelana
biasanya akan gue arahkan ke salah satu ruang rapat di lantai yang berbeda. Sedangkan gedung
kantor Kelana sendiri berupa dua rumah pertokoan berlantai empat yang di jadikan satu.
Percakapan gue dan Pramuadji ini berjalan halus, dia bertanya di mana gue tinggal dan bekerja
vice versa.
“Mbak jangan dulu di kasih nomor Mbak Mala ya, cari tahu dulu orangnya lewat akun media
sosial dia.” Teriak Dhea dari sebrang gue, kenapa baru di kasih tahu sekarang?
“pasti udah ya Mbak?” tebak Dhea yang seratus persen benar.
46
Travellove Ainidi
Gue hanya berkedip-kedip seperti orang cacingan, yang di sambut gelak tawa Hanum dan seisi
ruangan. Iya juga ya, kenapa nggak kepikiran sama gue buat cari tahu dulu. Kalau Ayu tahu bukan
tawa yang dia semburkan tapi makian.
47
Travellove Ainidi
7
T.G.I.F
Thanks god it’s Friday!
Jumat adalah hari yang gue tunggu sebelumnya, mungkin nggak hanya gue tapi untuk sebagian
orang yang sudah mulai penat dengan pekerjaan mereka. Setelah lulus kuliah jadwal berkumpul
dengan keempat sahabat gue berubah dari hampir setiap hari, jadi satu minggu sekali. Bekerja
dalam satu perusahaan bukan jaminan kita jadi bertemu setiap hari. Kalau bukan harus pergi
bersama untuk keperluan konten mereka lebih sering tak terlihat batang hidungnya.
Menghabiskan waktu untuk makan siang bersama saja adalah hal yang sangat langka terjadi.
Karena kita semua berbeda divisi, padatnya jadwal masing-masing membuat kita sulit bertemu
satu sama lain. Galuh contohnya, dia itu jarang banget ada di kantor, dalam satu bulan mungkin
hanya beberapa kali dia datang. Nggak ada beda dengan Elang, sebagai Founder dia sering sekali
berlalu lalang ke sana kemari untuk bertemu dengan klien, atau datang ke lokasi yang di pakai
teman-teman untuk shooting di program yang lain, juga mengurus hal-hal krusial yang
menyangkut perusahaan.
Dan Mas Den walaupun dia nggak pernah keluar kantor tapi, jabatannya sebagai Editor In chief
menahan dia untuk mendekam di dalam ruang editor sepanjang hari. Pernah sekali gue main ke
sana mengantar makan siang yang di titip Mas Den karena dia nggak sempat makan keluar, baju
yang dia pakai ternyata masih sama dengan yang kemarin. Gue juga sering menginap sih di kantor
karena tertahan pekerjaan, tapi setidaknya gue masih punya waktu untuk berganti baju atau
mandi.
Lain hal dengan Ayu, dia itu layaknya kutu lompat, lompat dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
bersama tim kreatif yang menurut gue sih, dia itu yang paling banyak punya tantara di timnya.
48
Travellove Ainidi
Banyak konten yang di produksi, maka banyak juga tim kreatif yang dia pegang. Sebagai satu
contoh kemarin saat kita berangkat ke Sumatera Barat untuk pembuatan konten Vlog traveling
yang di isi oleh kita berlima. Entah dalam sehari berapa kali dia melakukan zoom meeting dengan
tim kreatif yang memproduksi konten lain. Bahkan di dalam mobil sekalipun.
Itu kenapa pertemuan di Jumat malam itu wajib kita lakukan demi keharmonisan isi kepala, tapi
nggak untuk jumat ini. sebenarnya nggak hanya jumat ini saja sih tapi juga jumat malam yang
lalu, gue rasanya ingin ijin atau beralasan sakit perut atau apalah untuk menghindari pertemuan
rutin ini. Setelah mereka tahu hubungan gue dengan Pramuadji berakhir mengenaskan, gue
nggak berhenti jadi bulan-bulanan lidah tajam keempat manusia ini.
Setelah genap satu bulan pendekatan dengan Pramuadji, gue menutup malam minggu gue
dengan makan malam bersama seorang wanita dengan seorang bayi dalam gendongan. Iya. he
is married. Dan itu membuat gue merasa gue adalah perempuan paling hina dan kejam di jagad
raya. Gue sama sekali nggak mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin itu juga salah gue
karena gue tidak memastikannya sejak awal perkenalan kita.
Gue terlalu terbuai oleh mulut manis sang Don Juan, dia nggak berhenti menghubungi sejak
secara nggak sengaja gue memberikan nomor gue begitu aja. Awalnya gue tak menyesali
kebodohan gue itu, bahkan gue sangat menikmati. Dia rajin menjemput gue di kantor dan
mengantar gue pulang ke rumah, walau dengan menggunakan motor.
Tapi, dari Pramuadji gue tahu kalau berboncengan dengan laki-laki menggunakan motor itu
rasanya seperti kembali ke masa remaja. Dari dia juga gue tahu kalau diboncengi naik motor bisa
dapat bonus dibantu pakai helm, dirapihkan rambutnya setelah berkendara, dan dielus-elus
lututnya kalau lagi di lampu merah.
Dia rajin menghubungi gue, mengingatkan gue makan, memberikan pujian saat gue mengeluh
lelah setelah melakukan pekerjaan. Dia juga nggak pernah absen mengirimi gue kopi juga
makanan ringan ke kantor setiap pagi, dengan kalimat pengantar yang biasanya suka bikin gue
senyum-senyum sendiri. Bahkan ketika gue bercerita gue berhasil mendapatkan kerjasama
49
Travellove Ainidi
dengan perusahaan yang memproduksi pakaian dan peralatan alam, dia nggak segan mengirimi
gue sebuket besar bunga yang menghebohkan orang kantor.
Sampai tiba saat di mana gue mendapatkan pesan berupa ancaman dan makian, rasanya seperti
dunia gue di jungkir balikan. Sebuah makian berisi kalimat pelakor, perempuan murahan, jalang ,
dan hinaan lainnya gue terima di hari yang sama. Gue bingung, kesal, dan marah sekaligus pada
si pengirim pesan karena gue nggak tahu dari mana asalnya.
Ketika gue mengancam balik akan memperkarakan pesan itu ke jalur hukum, ponsel gue
bergetar. Sebuah nomor yang berbeda lainnya menghubungi gue, namun bukan hinaan dan
makian yang gue dengar. Melainkan suara seorang perempuan yang menangis tersedu-sedu
memohon agar suaminya di kembalikan.
Karena gue tidak merasa mengambil, merebut apalagi merusak suami orang, dengan marah gue
bertanya kepada si perempuan siapa suami yang dia maksud. Begitu nama Pramuadji terdengar,
kuping gue berdenging kencang, tubuh gue jatuh ke lantai karena kaki gue tak lagi memilik tenaga
untuk menopang, dan seluruh tubuh gue gemetar. Itu bukan refleksi dari rasa patah hati karena
di tinggal laki-laki, tapi refleksi dari rasa jijik untuk diri sendiri.
Setelah itu gue membuat janji temu dengan si perempuan juga Pramuadji di waktu yang
bersamaan. Bisa di tebak, dia kaget bukan kepalang dan nggak bisa berkata-kata. Kepala gue
berdenyut mendengarkan sepasang suami isteri yang saling melontarkan kesalahan masing-
masing. Tapi, apapun alasan yang di keluarkan Pramuadji, itu tidak membenarkan perlakuan dia.
Pramuadji pergi meninggalkan kami di restaurant dengan muka memerah dan baju yang penuh
noda hitam akibat kopi hitam panas yang gue siram.
Emosi gue meledak saat dia memberi tahu alasan kenapa dia menyeleweng. Dia berkata kepada
isterinya kalau pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan karena isterinya menjebak dia
dengan kehamilan. asshole. Gue meminta maaf pada isterinya, gue bahkan datang kepada
keluarganya untuk meminta maaf dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Nggak tahu
50