The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Blurb



Memulai kembali perjalanan bersama keempat sahabatnya untuk menjelajahi keindahan Indonesia. Memaksa Malaka mengulang kembali kisah yang lama tertidur lelap. Perjalanan ini menyadarkannya kalau kisahnya bersama Elang belumlah usai. Mana yang harus Mala nikmati? Indahnya tempat yang dia kunjungi atau indahnya rasa yang Elang bagi?
“Buat gue yang belum pernah pacaran, sangat mengharapkan perhatian yang dibagi oleh pasangan kebanyakan. Gue juga mau tahu rasanya dicariin kalau nggak ada kabar seharian. Gimana rasanya dicemburuin kalau gue jalan sama teman kerja berduaan. Gue juga membayangkan laki-laki yang akan menyisakan waktunya barang semenit saja buat gue, walau cuma sekedar nanya kapan gue akan makan.”
“Sama Elang, gue nggak merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik di perut gue seperti yang perempuan lain ceritakan.”
– Malaka Prameswara –

“Maafin gue.”
“Ayo kita coba lagi, ayo kita mulai lagi dari awal. Dengan benar, gue mungkin sudah terlalu sering menyakiti hati lo di masa lalu. Tapi, percayalah di masa depan gue akan berusaha memberi lo kebahagian dengan cara yang benar.”
“Waktu yang kita lewati sudah terlalu lama untuk menyiksa diri sendiri, gue mungkin nggak akan sanggup lagi menahan lebih lama. Gue nggak bisa janji kalau tidak melibatkan urusan pekerjaan pada hubungan ini. Tapi, gue janji akan menjadikan lo prioritas utama dibandingkan pekerjaan terpenting apapun di dalam hidup gue.”
– Elang Nirwasita –

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ainidijourney, 2022-02-24 23:31:41

Travellove

Blurb



Memulai kembali perjalanan bersama keempat sahabatnya untuk menjelajahi keindahan Indonesia. Memaksa Malaka mengulang kembali kisah yang lama tertidur lelap. Perjalanan ini menyadarkannya kalau kisahnya bersama Elang belumlah usai. Mana yang harus Mala nikmati? Indahnya tempat yang dia kunjungi atau indahnya rasa yang Elang bagi?
“Buat gue yang belum pernah pacaran, sangat mengharapkan perhatian yang dibagi oleh pasangan kebanyakan. Gue juga mau tahu rasanya dicariin kalau nggak ada kabar seharian. Gimana rasanya dicemburuin kalau gue jalan sama teman kerja berduaan. Gue juga membayangkan laki-laki yang akan menyisakan waktunya barang semenit saja buat gue, walau cuma sekedar nanya kapan gue akan makan.”
“Sama Elang, gue nggak merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik di perut gue seperti yang perempuan lain ceritakan.”
– Malaka Prameswara –

“Maafin gue.”
“Ayo kita coba lagi, ayo kita mulai lagi dari awal. Dengan benar, gue mungkin sudah terlalu sering menyakiti hati lo di masa lalu. Tapi, percayalah di masa depan gue akan berusaha memberi lo kebahagian dengan cara yang benar.”
“Waktu yang kita lewati sudah terlalu lama untuk menyiksa diri sendiri, gue mungkin nggak akan sanggup lagi menahan lebih lama. Gue nggak bisa janji kalau tidak melibatkan urusan pekerjaan pada hubungan ini. Tapi, gue janji akan menjadikan lo prioritas utama dibandingkan pekerjaan terpenting apapun di dalam hidup gue.”
– Elang Nirwasita –

Keywords: Travellove

Travellove Ainidi

bagaimana pernikahan mereka berakhir, yang jelas si asshole ini berhasil menjatuhkan
kepercayaan gue kepada laki-laki.

***

“La, boleh minta tolong panggilin Mas Pramusajinya nggak? Gue kayaknya mau nambah nih.”
Tangan gue mengepal dan menatapnya sebal. yang satu ini juga sepertinya minta disiram dengan
kopi, Galuh dan lidah panjangnya nggak pernah berhenti menyindir gue.

Begitu gue ceritakan kejadian itu kepada mereka, mereka sama marahnya dengan gue. Bukan
hanya marah dengan Pramuadji, tapi, juga marah dengan kebodohan gue. mulanya gue nggak
berniat mencertikan ini kepada mereka, karena sudah tau reaksi apa yang akan gue dapat. Tapi,
ketika gue jatuh tersungkur saat isterinya Pramuadji menghubungi gue, ada Hanum di dalam
ruangan. Dia mengadu kepada Galuh, dan memaksa gue bercerita apa yang sebenarnya terjadi.

Reaksi kemarahan mereka berbeda, selain Ayu yang terus mengoceh bahkan ketika gue sampai
di kosan. Ketiga sahabat gue yang lain hanya diam mendengarkan dengan wajah tegang seperti
siap berperang. Keheningan yang mencekam cukup lama hadir di tengah makan malam kami,
sampai akhirnya Mas Den membuka suara, dia memberi semangat dan juga himbauan agar gue
lebih hati-hati lagi di kemudian hari. Tangannya membelai pundak gue yang menangis dalam
diam seolah sedang menyalurkan kekuatan.

Galuh mengomel tak kalah sengit seperti Ayu, karena kecorobohan itu gue hampir saja terjerat
hukum pidana karena sudah merebut suami orang lain. Sementara Elang hanya diam seribu
bahasa dengan muka memerah seperti menahan amarah, dia bahkan masih mendiamkan gue
sampai detik ini juga. Pun gue, gue juga sama marahnya pada diri gue sendiri. Sangat memalukan
untuk ukuran perempuan dewasa seperti gue, melupakan pertanyaan dasar yang harusnya gue
lakukan sejak awal.

51

Travellove Ainidi

“La, boleh nggak sih gue nanya kenapa lo ngebet banget pengin punya pacar sampai bodoh
banget ambil tindakan?” selain Galuh, Ayu juga nggak berhenti mengingatkan gue pada
penyesalan. Walaupun gue mengharapkan sebuah pembelaan yang datang dari mereka, karena
gue tahu ini salah. Apa nggak bisa mereka marah sekali aja kemudian memberi gue semangat
agar gue nggak terus menerus meratapi kebodohan?

Gue melirik Elang yang meletakan sendok dan garpu sebelum bersandar dengan kedua tangan
yang terlipat di dada. Gue menarik nafas pelan, setelah mendiamkan gue mungkin sekarang dia
akan melontarkan kalimat tajamnya untuk gue.

“gue ralat pertanyaanya Ayu, apa yang lo cari? Apa yang lo minta dalam menjalin hubungan
dengan laki-laki? Sampai buat lo mikir secetek itu dalam bertindak,” entah kenapa pertanyaan
Elang, memilin hati gue sampai terasa sakit. Di telinga gue pertanyaan Elang terdengar seperti
sebuah hinaan buat gue.

Gue tahu dan sangat paham kenapa mereka marah sama gue, siapa sih yang nggak marah kalau
orang paling lo sayang dan peduliin melakukan kesalahan? Tapi, kesalahan yang gue buat murni
karena kecerobohan gue sendiri. Apa semua itu gue lakukan dengan sengaja? Kan nggak. Mau
sampai kapan mereka memojokan gue seperti ini? kalau begini rasanya gue seperti di hakimi
secara sepihak oleh orang yang nggak kenal gue sejak lama.

“apa hanya untuk sebuah perhatian dan kopi setiap pagi lo perlu menjual diri lo serendah itu?”
apa begini rasanya di sambar petir di siang bolong? Rasanya seperti ada seseorang yang melilit
gue dengan kabel yang mengaliran listrik bertegangan tinggi.

Gue menatap secara bergantian kepada empat orang di hadapan gue, menatap Mas Den, yang
sedang sibuk memotong daging di piring dan melahapnya, orang yang dulu rela menjemput gue
tengah malam saat gue mengeluh hampir mati kebosanan mengikuti malam keakraban
mahasiswa di fakultas gue. Galuh yang sekarang sedang sibuk mengaduk isi cangkirnya, yang dulu
sibuk memberi gue petuah, yang dulu sibuk melindungi gue dari laki-laki bermulut kurang ajar di
luar sana.

52

Travellove Ainidi

Gue menatap Ayu yang ternyata juga menatap gue, tatapan yang sekarang sulit untuk gue
artikan. Dulu hanya dengan saling bertukar pandang aja gue sudah bisa menyimpulkan apa yang
sedang dia pikirkan begitu pula sebaliknya. Kepala gue sedikit menunduk demi menghilangkan
sesak dan bunyi yang bergema di dalam kepala.

“karena haus belaian dan kasih sayang sekarang lo merubah diri lo menjadi perempuan
gampangan?” gue menoleh kepada Elang, apa dia baru aja menampar gue dengan gagang pisau?
Kenapa telinga gue rasanya sakit sekali. Cukup. Sudah cukup, gue nggak akan membiarkan
siapapun menyakiti apalagi merendahkan gue seperti itu, terlebih dari mereka yang
mengikrarkan diri sebagai orang terdekat di hidup gue.

Gue menahan nafas demi menghalau air yang tergenang di pelupuk mata gue jatuh, gue lantas
mengeluarkan beberapa lembar uang dan gue letakan di atas meja.

“gue nggak di lahirkan untuk mendapatkan penghinaan, gue cabut.” Air mata itu jatuh juga saat
gue berdiri dan berbalik. Gue bergegas berlari menuju lapangan parkir tempat gue meninggalkan
mobil, mengabaikan panggilan Ayu dan suara derit bangku yang saling bersahutan.

Setibanya di mobil, gue nggak lantas melajukan mobil gue untuk segera keluar dari area
restaurant. Kaki gue kehilangan tenaga untuk mengijak pedal gas. Air mata yang jatuh semakin
deras, kepala gue tertunduk di atas kemudi mobil. Gue menangis sejadi-jadinya menghilangkan
rasa sesak di dada, menangisi kebodohan gue, menangisi rasa sesal gue, menangisi
ketidakhadiran keempat sahabat gue disaat gue sedang butuh mereka, menangisi rasa sepi yang
hinggap berhari hari.

Gue mengangkat kepala saat suara ketukan terdengar dari sisi penumpang, Ayu Annisa. Dia
kembali mengetuk kaca mobil gue saat melihat gue hanya diam tak lantas membuka kunci pintu
mobil dan mempersilahkan dia masuk. Gue butuh waktu sendiri, gue nggak perlu di maki sekali
lagi hanya untuk menyadari betapa menyedihkannya hidup yang sedang gue jalani. Gue
menggeleng pelan, lalu kaki gue seperti menemukan kembali kekuatanya hingga mampu
menginjak pedal gas kencang.

53

Travellove Ainidi

8
Pulang

Gue menghidu aroma khas sayur asem dan sambal terasi ala Ibu yang di sajikan di atas meja, iya
gue memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta. Gue butuh istirahat, butuh menjauh dari keempat
sahabat gue sejenak, yang paling penting gue butuh Ibu. Jadi di sinilah gue sekarang sedang
menikmati sarapan di minggu pagi pada pukul sebelas siang, Gue tiba di yogyakarta pukul dua
dini hari tadi menggunakan kereta. Tindakan impulsif ini gue ambil saat isi kepala gue nggak
berhenti mendrama dan emosi di dalam dada tak kunjung mereda.

Jumat malam setelah harga diri gue di jatuhkan dengan semena-mena oleh Elang, mobil Elang
sudah lebih dulu terparkir di depan gerbang kosan gue bahkan sebelum gue sampai. Dengan
emosi yang semakin bertumpuk gue memutar balik mobil gue dan berkendara sambil menunggu
mobilnya pergi dari sana. Saat gue kembali lewat tengah malam mobilnya masih tetap terpajang
ditempat yang sama, hingga membuat gue memutuskan untuk menginap di hotel.

Setelah gue kembali ke kosan pada sabtu siang, mobil Elang seperti tak bergerak dari tempatnya
semula. Kali ini gue nggak langsung memutar balik, gue hanya diam di ujung gang, mulanya gue
memutuskan untuk menemuinya dan mendengarkan penjelasan si manusia kepala batu itu. Tapi
ketika dia keluar dari mobil, dan berdiri menghadap ke mobil gue dengan kedua tangan yang
dimasukan ke dalam saku celananya. suara cerek yang berdesis saat air di dalamnya mendidih,
bergema kembali di dalam kepala gue. Gue kembali memutar balik mobil gue dan berkendara
tak tentu arah.

Setelah lelah berkendara, gue memutuskan untuk memarkirkan mobil gue di stasiun kereta api
Gambir, dan tibalah gue disini sekarang. Berbalut daster Ibu yang gue pinjam, menghabiskan isi

54

Travellove Ainidi

piring yang Ibu siapkan. Belum ada satupun pertanyaan yang Ibu ajukan, beliau hanya terkejut
saat gue mengetuk pintu rumah di bawah langit gelap tanpa memberitahu terlebih dahulu. Entah
karena Ibu melihat penampilan anaknya yang kusut atau karena rasa terkejutnya. Tapi, Ibu
bergegas menarik gue dalam pelukan dan saat itulah tangis gue kembali pecah bahkan lebih
parah.

“Andien sama Andita kemana bu?” gue belum bertemu dengan kedua adik kembar gue sejak gue
datang.

“Andien sedang jaga toko, Andita sedang pergi sama Aji ke pasar Pasty untuk beli beberapa bibit
bunga,” Ibu terlonjak kaget melihat gue membanting gelas saat mendengar nama Aji.

“kenapa sih kak? Aji itu yang kerja sama Ibu di toko. bukan pacarnya Dita, lagian memang kenapa
kalau adikmu punya pacar? Ibu juga kan nggak memberi larangan ke kamu, nggak usah heboh
gitu reaksinya.” Gue hanya menyengir kaku, belum menemukan keberanian untuk bercerita.

“Bu, Lala belum mandi sejak kemarin siang.” Nggak usah tanya ya bau gue kayak apa sekarang,
bahkan gue sendiri mau muntah mencium aroma tak sedap yang menguar.

“iya ibu tahu, tadi waktu Ibu buka pintu kamar kamu, bau kaporit langsung tercium di mana-
mana. Sudah habis makan mandi dulu sana, nanti Ibu yang siapkan baju kamu, pakai bajunya
Andien atau Andita saja dulu.” Beruntung kita berempat memiliki satu ukuran untuk baju dan
sepatu, itu salah satu alasan gue nggak menyimpan baju di rumah ini, alasan lainnya adalah takut
di pakai sama si kembar.

“Nggak mau deh Bu, pakai daster Ibu aja boleh nggak? kalau pakai baju mereka nanti Lala di
jambak lagi.” Ibu hanya menggeleng kepala sambil berdecak.

Gue melirik laki-laki paruh baya yang menatap gue dari ujung kepala sampai kaki, Si Mbah adalah
orang kesekian yang menatap gue penuh arti. Setelah mandi dan membersihkan diri gue pergi ke

55

Travellove Ainidi

toserba dan swalayan untuk membeli beberapa baju ganti, underwear, skincare juga beberapa
kebutuhan lainnya dengan mengenakan daster tanpa lengan milik Ibu. Bahkan Mbak-Mbak yang
melayani gue saat membeli skincare saja seperti tak yakin dan percaya kalau gue beneran mau
beli.

Si Mbah baru menyengir menampilkan beberapa giginya yang sudah tanggal, setelah gue
memberikan selembar uang berwarna biru. Gue meminta Si Mbah untuk menyimpan saja
kembaliannya karena sudah lelah mengayuh becak demi mengantar gue dari toserba sampai ke
rumah.

“kakak!” gue menoleh kepada Andita yang baru saja tiba dengan seorang laki-laki. Dia mematikan
mesin sepedah motornya dan ikut menghampiri gue, gue menyembunyikan tangan gue di balik
punggung saat dia juga ingin mencium tangan gue seperti yang Dita lakukan.

“kak ini Aji, yang bantu Ibu di toko.” Gue menyunggingkan senyum, dan mendapatkan tepukan
pada bahu.

“kakak dari mana?” tanya Dita setelah menepuk bahu gue kali ini dia menatap gue seperti orang-
orang menatap gue saat di toserba tadi.

Gue mengangkat tas belanjaan di tangan, “belanja,”

Mata Dita membesar dan tangannya terangkat menutup mulutnya yang terbuka, rasanya pengin
gue masukin lalat ke dalam mulutnya itu.

“pakai baju kayak gini,” dia mengangkat jari telunjuknya naik turun ke arah gue. Ya memangnya
kenapa sih? Kan gue nggak telanjang.

“Mas Aji, aku masuk dulu ya? Terima kasih sudah di antar.” Dia berdiri di hadapan gue
menghalangi pandangan, sebelum melambai pada Aji yang bergegas pergi.

Gue menjambak rambut Dita yang tergerai mengelitik di wajah gue, “ngapain sih!” lalu
menggeser badannya dengan kasar dan berbalik hendak masuk ke dalam rumah.

56

Travellove Ainidi

Dita berlari menyusul dan mendahului gue dengan tergesa-gesa sebelum berteriak, “Ibuuuuuu!
Kak Lala pergi belanja nggak pakai baju.” Eh! dasar adik kurang ajar.

***

117 panggilan tak terjawab

625 pesan dari delapan ruang chat

5 pesan suara

Berbekal kabel charger yang gue pinjam susah payah dari Andien. Gue akhirnya menyalakan daya
ponsel gue setelah di tegur Ibu sore tadi. Ketika gue pergi ke toserba, Ibu sulit menghubungi gue
karena ada keperluan dapur yang ingin Ibu titip beli.

Gue membuka notifikasi panggilan tak terjawab, semua panggilan tak terjawab di dominasi oleh
nomor Elang, Ayu, Mas Den dan Galuh. Beberapa dari orang kantor dan klien, dan ada satu
panggilan tak terjawab dari nomor yang nggak gue kenal. Sementara pesan yang masuk berasal
dari grup chat Kelana, grup chat ‘kapan lembur’, grup chat jastip, grup chat 404 not found, dan
tiga chat pribadi dari sahabat gue minus Elang juga satu chat dari Dhea yang menanyakan
bagaimana keadaan gue.

Gue membuka grup chat Kelana Isinya beberapa info pekerjaan, selebihnya hanya pamer stiker
dari karyawan yang lain. Beralih ke grup chat ‘kapan lembur’ dari kedua divisi di bawah naungan
gue, berisi daftar konten yang segera di tayangkan dan harus segera di pasarkan, jadwal meeting
dengan beberapa Investor untuk minggu depan, dan jadwal terbang untuk vlog traveling
berikutnya. Gue menarik nafas pelan sebelum membuka grup chat 404 not found, grup chat
khusus untuk gue dan keempat sahabat gue.

Isinya di dominasi dengan pertanyan keberadaan gue, permintaan maaf juga rayuan gombal
Galuh untuk membuat gue luluh tak ada kontribusi Elang di dalamnya. Gue mengabaikan chat

57

Travellove Ainidi

pribadi dan beralih ke pesan suara, kelimanya berasal dari Elang. Gue sampai memeriksanya dua
kali karena tak ada suara apapun yang gue dengar, selain suara helaan nafas dan deru angin.

Gue kembali ke grup chat ‘kapan lembur’ dan memberikan tanggapan mengenai beberapa
pekerjaan sebelum beralih ke 404 not found

Mengetik

Hapus

Mengetik

Hapus

Mengetik

Malaka P : gue pulang ke Yogyakarta kemarin malam, don’t worry about me I’m okay hanya
butuh liburan dan hiburan. Sampai bertemu minggu depan.

Tak butuh waktu lama ponsel gue bergetar

Elang N is calling …

Belum sempat gue angkat, Ibu sudah lebih dulu mengetuk pintu kamar gue dengan cangkir berisi
hot chocolate kesukaan gue. Gue bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang menerima
cangkir yang Ibu sodorkan, Ibu duduk di pinggir ranjang menatap gue dengan senyuman yang
gue hafal banget artinya ‘ayo kita bicarakan’. Gue mengangkat cangkir dan menenggak isinya
perlahan, dengan maksud mengulur waktu karena tak tahu harus mulai dari mana.

“tadi Andien pulang bawa wafel kekinian sama Gelato kesukaan kamu,” kedua alis gue berkerut
menatap Ibu.

“Kok tumben?” biasanya gue nyicipin sedikit makanan mereka aja pasti mereka langsung heboh
mengamuk kesetanan.

58

Travellove Ainidi

Ibu tertawa renyah sambil mencubit lengan gue dengan gemas, “jangan begitu, Adik-adikmu itu
sebenarnya senang kakaknya pulang setelah berbulan-bulan.”

“tadi malah Andien sempat nanya ke Ibu, kakak pulangnya lama ya bu? Kok tumben minggu sore
masih di rumah?” gue hanya menyengir merasa bersalah, karena memang gue kalau pulang
paling hanya sebentar-sebentar saja. Datang Jumat malam , minggu pagi sudah terbang lagi ke
Jakarta.

“maaf ya bu, pekerjaan Lala di Jakarta nggak bisa ditinggal lama-lama,”

“lalu, kenapa sekarang bisa ditinggal lama-lama?” gue menunduk menatap cangkir, demi
menghindari tatapan mata Ibu.

Setelah terdiam cukup lama, gue akhirnya menceritakan semua kepada Ibu. Dari awal mula
kecerobohan gue yang sembarangan memberikan nomor, merasa hina dan jijik pada diri sendiri
karena ternyata ada seorang perempuan dan bayi yang tersakiti karena gue, sampai respon
keempat sahabat gue yang menyakiti hati. Setelah mendengar penuturan gue, kali ini Ibu yang
terdiam cukup lama dengan menghela nafas berkali-kali.

“Kak.” Tangan Ibu meraih tangan gue sebelum menariknya ke dalam genggaman.

“kalau Ibu ada di sana kemarin, mungkin Ibu juga akan sama marahnya dengan mereka, bukan
karena status laki-laki itu yang jelas kamu nggak tahu. Tapi, karena kamu yang gegabah dan
terlalu terbuai dengan mulut manis dia.” Mendengar itu air mata gue tumpah untuk yang
kesekian kalinya.

“tapi kak, itu bukan kesalahan kamu sepenuhnya. Berhenti menganggap diri kamu hina, jangan
juga merasa jijik pada diri sendiri, kamu tidak seperti itu. Ibu tau anak-anak Ibu, Ibu tidak
melahirkan dan membesarkan anak-anak Ibu tanpa rasa malu.

Bukan kamu penyebabnya, kesalahan kamu hanya ceroboh saja, lagipula kamu kan sudah minta
maaf dan berani datang untuk menjelaskan kepada keluarganya,” kedua tangan Ibu menangkup

59

Travellove Ainidi

pipi gue dan memaksa gue memandang tepat ke matanya “dan Ibu bangga sama kamu untuk hal
itu,” tambahnya sebelum menarik gue dalam pelukan untuk menangis bersama.

Ibu mengecup kening gue dan menghapus sisa-sisa air mata setelah tangis yang mengharu biru
mereda.

“soal teman-teman kamu, kalian ini kan sudah sama-sama dewasa bicarakanlah layaknya orang
dewasa Kak, jangan main kabur seperti remaja tanggung begini. Memang kamu nggak malu sama
umur? kamu nggak ingat bagaimana mereka menemani dan mendukung kamu saat kamu
mengalami kesulitan dulu? Ibu saja ingat masa kamu lupa.”

Gue mengangguk setuju “ tapi, Lala mau istirahat dan liburan sebentar dulu di sini ya bu? Baru
Jumat pagi Lala kembali ke Jakarta.”

Ibu berdecak sebelum akhirnya mengangguk juga, “Boleh istirahat, tapi liburannya di toko Ibu aja
ya? Senin sampai Jumat kan adikmu kuliah, selain Aji nggak ada lagi yang bantu Ibu. Sudah ayo
ke meja makan kita lihat adikmu itu bawa apa saja.” Gue lantas mengacungkan kedua jempol gue
kepada Ibu.

Belum sempat gue berdiri, ponsel gue kembali bergetar.

AyuAN is calling….

“hallo?” tak ada jawaban, hanya ada suara Ayu yang menangis di sebrang sana.

“Yu?” gue menghela nafas saat suara tangisnya semakin kencang

“Malaaa…..”

Menangis.

“Ma…. Maafin gu… guhee..”

Menangis

60

Travellove Ainidi

“gue nggak ada maksud menyinggung perasaan lo….”

Menangis lagi kali ini lebih kencang, seperti anak lima tahun yang merengek minta di belikan
permen tapi gagal. Gue menghela nafas dan hanya diam mendengarkan dia menangis sambil
bangkit dan berjalan menuju ruang makan. Gue menyingkap tudung saji, melihat wafel, eclair,
dan Gelato aneka rasa tersaji di atas meja, menarik kursi gue mulai mencicipi satu persatu setiap
makanan yang tersaji. Sambil mendengarkan tangis Ayu yang sedikit demi sedikit mulai mereda.

Setelah tangisnya mulai mereda baru gue menyampaikan kalau gue baik-baik aja hanya butuh
waktu dan rindu Ibu. Gue juga beralasan kalau ponsel gue kehabisan daya dan lupa mengisinya,
jadi dia nggak perlu khawatir berlebihan seperti itu.

“gue nyusul boleh deh, kayaknya gue juga butuh liburan,”

“nggak! Kalau lo nyusul gue malah nggak jadi istirahat, yang ada malah dibuat sibuk sama Ibu
untuk menjamu ‘tamu’ yang datang dari jauh.” Ini benar, Ibu itu selalu heboh kalau mereka
datang apa saja disajikan. Masalahnya yang disajikan itu pasti masak sendiri bukan beli, kalau
sudah begitu tenaga gue pasti ikut terkuras habis.

“okedeh, gue jemput aja kalau gitu hari rabu,”

“gue pulang jumat Ayu, bukan rabu,”

“yakan gue jemputnya langsung kerumah nyokap lo Mala.” Gue berdecak dan tertawa sinis
mendengar Ayu yang terus saja memohon dan mencari-cari alasan untuk datang. Ini anak kalau
sudah punya mau suka susah diberi bujuk rayu.

“lagian gue akan terus kepikiran kalau belum sampai bertemu langsung La, gue janji deh nggak
baka – “

“iya! iya! datang deh, tapi sendiri aja jangan ajak yang lain,” potong gue sebelum dia
mengeluarkan jurus andalannya.

61

Travellove Ainidi

“nah gitu dong! See u soon babe.” Lalu suara kecupan yang dibuat-buat menggelitik di telinga
gue.

“Malaka, tolong berhenti berpikir yang aneh-aneh. Itu bukan salah lo, itu nggak seperti yang lo
pikirkan,” tambahnya.

“dasar sotoy!” gue lantas memutus sambungan, sebelum mendengar kalimat Ayu yang mungkin
akan memicu air mata gue kembali keluar. sudah cukup menangisnya, rasanya badan gue lelah
luar biasa hanya karena menangis aja,

“Kakaaak! Jangan makan Gelato yang greentea ya, itu punya Andita!”

gue berkedip menatap cup berisi Gelato rasa greentea yang hampir tandas gue makan.

62

Travellove Ainidi

9
Penyogokan

“nggak! Dari kemarin gue disuruh ngalah terus! Gue juga udah telat Dita, gue ada kelas pagi!”

“ya sama! Gue juga ada urusan pagi-pagi! Gue ada janji temu sama kating buat event dies
Natalis!”

“nggak penting banget, itu kan bisa nunggu. Gue kalau telat nggak bisa masuk kelas.”

Biasanya gue akan menutup kepala gue dengan bantal sambil menggerutu pada suara alarm pagi
yang adik kembar gue ciptakan. Tapi, kali ini suara mereka terdengar merdu seperti suara
instruktur senam pagi yang menggebu-gebu demi membakar semangat dalam tubuh.

Tepat setelah gue membuka pintu kamar, Ibu datang dengan spatula dalam genggaman sambil
bertolak pinggang. Nggak ada satupun kalimat yang Ibu keluarkan, cara Ibu menegur dengan
matanya yang tajam sudah cukup membuat mereka terdiam. Senyum gue mengembang, rasanya
sudah sangat lama sekali gue melewatkan momen pagi seperti ini. gue berjalan melalui ketiganya
dan masuk ke dalam kamar mandi yang sedari tadi mereka perebutkan dengan sia-sia.

“Kakaaaaaaaak!” gue hanya tertawa mendengar kekompakan mereka berteriak bersamaan.

Setelah mengakhiri perdebatan kedua adik gue di depan kamar mandi, gue kembali menghampiri
mereka yang sedang menyantap sarapan dalam diam. Nasi goreng teri sambal hijau, ayam goreng
dan dadar telur tersaji di atas meja makan. Dulu waktu Ibu masih tinggal di Jakarta, gue selalu
protes dengan menu pagi yang nggak pernah berubah. Tapi, sekarang menu ini seperti menu
wajib yang nggak boleh gue lewatkan setiap kali gue pulang ke rumah.

63

Travellove Ainidi

“hari ini gue aja yang bawa mobil, parkir di FIB aja. Gue nggak ada kelas cuma meeting sama
kating aja, nanti lo gue jemput setelah selesai.” Gue kembali melirik kedua adik kembar yang
mungkin sebentar lagi akan memulai perdebatan lainnya.

Gue memang membekali mereka satu mobil untuk di pakai bersama-sama saat pergi kuliah,
hanya saja gue nggak memperhitungkan kalau keduanya mengambil jurusan yang berbeda.
Andien mengambil jurusan Biologi sementara Andita jurusan Sastra Asing. Ibu pernah mengomel
pada gue karena memberi mereka satu mobil, harusnya gue cukup membelikan motor untuk satu
orang satu agar tak menambahkan keributan lain pada mereka.

“nggak, lo itu nggak bisa di percaya, gue kapok nunggu lo sampai malam cuma karena lo sibuk
rapat dengan kakak tingkat lo, hari ini parkir di FMIPA.” Gue menghela nafas sebelum meletakan
sendok gue di atas piring, gue melipat tangan gue di depan dada.

“Kakak aja yang antar, hari ini mobilnya kakak yang pakai buat jemput ka Ayu di Bandara, dan
akan terus kakak pakai sampai dua hari ke depan.” Kedua alis gue tarangkat saat keduanya
kompak menyodorkan tangan ke arah gue,

“mana? minta uang jajan tambahan untuk bayar taksi online,” gue berdecak heran pada tingkah
mereka, entah dari mana sikap menyebalkan ini mereka dapatkan.

“iya nanti.” Gue kembali meraih sendok dan menyuapkan nasi goreng.

“Sekarang aja kak, kalau di nanti-nanti kakak pasti sengaja buat lupa.” Kali ini gue mendengus
kasar tak terima sebelum menatap mereka berdua secara bergantian, tapi sayangnya gue bukan
Ibu.

Tatapan gue ini nggak berlaku untuk mereka. Bukannya menciut takut, keduanya malah lebih
mendekatan tangan yang disodorkan tepat di depan wajah gue. Gue menggaruk kepala sebelum
mengeluarkan beberapa lembar kertas untuk mereka. Tanpa berterima kasih keduanya
berhambur meninggalkan meja makan dan berpamitan pada Ibu yang hanya tertawa renyah
menatap gue yang dibuat kesal bukan kepalang.

64

Travellove Ainidi

“Ayo kak cepetan kita udah telat!” eh. Sudah di kasih uang jajan masih saja tetap menagih untuk
diantar?

***

Yogyakarta Internasional Airport terlihat ramai di hari kerja, gue melirik jam di pergelangan
tangan gue. Masih ada waktu satu jam setengah sampai pesawat yang ditumpangi Ayu tiba,
karena harus mengantar si kembar gue jadi berangkat terlalu pagi ke bandara. gue berjalan
memasuki kedai kopi yang terletak di pelataran bandara. Setelah memesan kopi juga makanan
pendamping, gue mengirim pesan kepada Ayu kalau akan menunggunya di sini saja.

Gue mulai membuka halaman website yang menampilkan informasi tempat liburan di Kulon
Progo. Yogyakarta International Airport (YIA) menjadi bandar udara baru di Yogyakarta, yang
menggantikan Bandar Udara Internasional Adisutjipto. Bandara ini Terletak di kapanéwon
Temon, Kulon Progo. Jaraknya satu jam dari rumah Ibu yang terletak di daerah Bantul. Yang gue
tahu, sejak Bandara ini beroperasi, Bandara Adisucipto juga masih tetap beroperasi hanya saja
untuk penerbangan jarak pendek dan pesawat tertentu saja.

Karena letak Bandara ini berada di Kulon Progo gue yakin sih si Ayu pasti langsung nodong minta
jalan-jalan dulu sebelum pulang kerumah. Lihat saja ya, besok gue buat dia sibuk seharian di toko
bunga Ibu. By the way dua hari membantu Ibu menjaga toko yang di beri nama The Twinnies itu,
gue jadi tahu kalau toko bunga ibu walau tidak terlalu besar. Tapi, mampu menjual beraneka
ragam jenis tanaman hingga ramai pelanggan.

The Twinnies nggak hanya menjual bunga hias, tapi juga tanaman hias yang kekinian juga bibit
sayuran organik sebagai pilihan. Kata Ibu jaman sekarang orang banyak yang sedang keranjingan
bercocok tanam, dari tanaman hias sampai yang hobi menanam bibit sayuran sendiri di rumah.
Gue bahkan nggak jarang melihat pemuda-pemudi yang sepantar adik gue sibuk keluar masuk

65

Travellove Ainidi

toko untuk memberi beberapa tanaman hias. Mulanya Andien yang memberi ide untuk
menambah tanaman Kaktus hias yang berbentuk mini untuk di jual.

Menurutnya kaktus hias seperti Kaktus Zebra, Mammillaria, dan jenis kaktus mini lainnya yang
gue nggak paham namanya. Mampu menghasilkan profit besar dan dapat menarik lebih banyak
pelanggan muda karena bentuknya yang aesthetic. betul saja The Twinnies mampu meraup
keuntungan tiga kali lipat dari biasanya. Sebenarnya nggak hanya dari kaktus mini toko Ibu
meraih lebih banyak keuntungan, karena nggak mau kalah dengan Si Andien.

Andita juga menambah ide untuk menambah tanaman hias daun lain untuk mencangkup pasar
Ibu-Ibu muda yang sekarang juga banyak keranjingan tanaman itu. Dari Kadaka, Keladi Red Star,
Spider Plant, puring, dan nama yang membuat gue tertawa terbahak-bahak saat Aji menyebut
Kuping Gajah, Lidah mertua, dan Monstera yang namanya di ubah menjadi janda bolong.

Sementara gue yang tidak tahu menahu mengenai ilmu pertanaman, hanya menyumbang ide
menjual bibit sayuran organik saja, itupun gue tahu karena Ayu menanam berbagai jenis sayuran
di rumahnya. Lima bulan tak pulang kerumah The Twinnies yang terakhir kali gue lihat hanya
memajang jenis-jebis bunga hias saja kini ramai dengan jenis tanaman lainnya. Belum lagi Si
Kembar sedang mencoba merambah pasar online, agar bisa menjamah pelanggang yang berada
di luar daerah.

Walau begitu gue akan tetap terus mengirim uang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-
hari, biar saja uang yang Ibu dapat dari menjual tanaman di tabung untuk masa depan si kembar.
Mulanya Ibu menolak mentah-mentah, beliau marah dan ngotot menyuruh gue menggunakan
semua uang gue untuk kebutuhan gue pribadi. Karena menurut Ibu selama belum menikah
artinya gue masih tanggung jawab penuh beliau. Tapi, Ibu lantas luluh karena gue memohon pada
Ibu untuk tetap menerima, karena dengan begitu gue nggak akan merasa menjadi anak yang
nggak berguna.

Sebuah cokelat silverqueen kecil tergeletak tepat di hadapan gue, kepala gue lantas menoleh
pada seorang perempuan bertubuh mungil dengan mata yang sedikit berkaca-kaca berdiri di

66

Travellove Ainidi

samping gue. Wajahnya memelas bibirnya sedikit di buat maju ke depan, iya ini Si Ayu Annisa
yang dari tadi gue tunggu akhirnya datang juga. Gue kembali melirik jam di pergelangan tangan
gue, tepat satu jam lebih sepuluh menit. Tatapan gue bergeser pada cokelat kecil yang tadi dia
letakan.

“ini maksudnya mau nyogok ya?” dia menggeleng kekanakan, saat gue melihat setitik air mata
jatuh ke pipinya saat itu juga gue membuka lebar kedua tangan gue untuk sebuah pelukan.

Sebuah pelukan yang sekarang malah gue sesalkan, ini anak malah nangis sejadi-jadinya dalam
pelukan gue. Dan membuat semua mata tertuju pada gue, walau mungkin mereka nggak mengira
guelah pelakunya. Tapi, suara tangisnya Ayu yang sangat kencang, hingga benar-benar membuat
gue malu.

“Yu, udah dong gue malu gila.” Semakin gue coba melepaskan tubuhnya, dia malah semakin erat
menarik baju gue. Gue menginjak kakinya dengan kencang sampai dia melepas pelukan gue dan
mengaduh kesakitan. Dia menatap gue dengan sebal sebelum menarik bangku di hadapan gue,
gue kembali memesan minuman dan makanan pendamping untuk nyonya besar.

Gue mengangkat cokelat dari atas meja, “kenapa kecil banget sih? nggak niat minta maaf ya?”

“Asataga Malaka, masih untung gue kasih. Itu aja gue sempetin lari ke mini market sebelum
terbang ke sini. Bukannya terima kasih malah ngomel.” Kemudian nama gue kembali di panggil
karena kopi yang tadi gue pesan sudah jadi.

Gue melatakan satu gelas besar ice hazelnut signature chocolate dan piring berisi croissant milik
Ayu, “nih harga minuman sama makanan lo aja lebih mahal dari cokelat yang lo kasih.”

Dia menyengir dan mengucapkan terima kasih sebelum meminumnya, gue melirik paperbag yang
tersangkut di pegangan koper whale carrier milik Ayu. Tangan gue terangkat dan menunjuk
paperbag yang gue maksud, “itu buat siapa? Gue?” dia kemudian mengambil dan
menyerahkannya kepada gue. Sial. Harusnya gue sudah bisa menebak kalau Ayu nggak mungkin

67

Travellove Ainidi

membelikan gue barang branded. Ini sih bungkusnya saja yang punya merk ternama isinya hanya
tumpukan box plastik berisi makanan matang yang dia bawa dari Jakarta.

“buat Ibu,” gue berdecak kesal saat dia menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.

Di luar dugaan, sewaktu gue menawari Ayu sebuah perjalanan wisata yang lokasinya tak jauh dari
bandara, dia malah menolak dan meminta gue untuk mengajaknya langsung pulang kerumah
saja. Alasanya sih karena capek akibat tak tidur semalaman, jadi gue membawa mobil gue melaju
menuju rumah.

Sepanjang jalan Ayu bercerita kehebohan apa yang terjadi saat gue kabur begitu saja ketika kami
makan pada jumat malam. Sepeninggalan gue dari restaurant Galuh dan Mas Den sibuk
membentak dan memaki Elang yang sudah lancang menghina gue sembarangan. Sejak itu Elang
kelabakan mencari gue ke sana kemari, nggak berhenti menghubungi mereka dan bertanya
apakah sudah mendapat kabar dari gue atau belum.

“dia bahkan pergi ke kosan lo dan nggak pulang sampai hari minggu La,” gue memang melihat
dengan mata kepala gue sendiri kalau Elang datang ke Kosan gue. Tapi, kalau nggak pulang
sampai hari minggu apa nggak berlebihan?

“halah, gue nggak percaya.” Ayu berdecak sebal mendengar keraguan gue

“lo boleh tanya sama bapak satpam yang jaga kosan lo sana, kalau memang nggak percaya. Dia
beneran kelabakan nyari lo La, gue yakin dia ngerasa bersalah banget sih. Kalau gue jadi lo
mungkin gue akan melakukan hal yang lebih parah dari yang lo lakukan.”

Sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan Elang, walaupun gue juga sangat menyayangkan
ucapannya yang terdengar menyakitkan. tapi, gue yakin Elang seperti itu karena merasa kecewa
terhadap tingkah laku gue.

“Senin kemarin ada laki-laki yang datang ke kantor bawa sebuket mawar putih untuk lo.” Gue
menoleh pada Ayu sebelum mengembalikan tatapan gue ke jalanan di depan.

68

Travellove Ainidi

“Iya, itu si Pramusaji, sayang dia lagi ketiban sial. Waktu dia datang pas banget sama Elang yang
juga baru aja sampai kantor. Lo mau tau nggak apa yang selanjutnya terjadi?” gue meilirk Ayu
yang kini mengubah posisinya jadi sepenuhnya menghadap ke arah gue dengan antusias.

Gue menggeleng, karena gue tahu apa yang selanjutnya terjadi. Itu kenapa gue nggak mau lagi
mendengar, gue nggak mau merasa bahagia di atas penderitaan orang lain. Gue mungkin akan
merasa senang setengah mati mendengar kelanjutan cerita Ayu, tapi disisi lain ada orang yang
sedang tersakiti dan bisa jadi menyimpan dendam dalam hati.

Ayu mendorong bahu gue tak puas sebelum melanjutkan ceritanya mengabaikan penolakan gue.
“Dia habis babak belur di pukuli oleh Elang sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena nggak
sadarkan diri.” Gue menoleh cepat dan menginjak rem secara mendadak karena terkejut pada
lampu lalu lintas yang berganti warna menjadi merah.

“Malaka!” Ayu mengelus bahunya yang terpantuk dashboard,

“sorry, sorry. Sakit banget nggak? Kaget gue, Si Elang bisa aja di tuntut kan Yu, itu anak nggak
mikir ya?”

“untuk yang satu itu sudah di urus Galuh, di berhasil membungkam mulutnya juga mulut
keluarganya.”

Ayu diam seribu bahasa saat mobil kembali jalan. Katanya sih dia nggak mau ngomong lagi
sebelum sampai di rumah, takut mengganggu konsentrasi gue saat menyetir. Ada yang aneh saat
gue berhasil memarkirkan mobil di dalam garasi rumah Ibu yang tak terlihat sunyi di siang hari
seperti biasa. Kedua alis gue menyatu dan menatap Ayu dengan penuh curiga, yang di curigain
malah melengos keluar mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.

Benar saja, gue berdecak dan berjalan sambil tolak pinggang menuju ruang makan. Yang kini di
penuhi ketiga laki-laki yang sepanjang jalan kami bicarakan tadi, nggak ada yang menghiraukan
kedatangan gue mereka malah sedang sibuk menyantap makanan yang Ibu sajikan di atas meja.
Kecuali Elang, dia kini menatap gue dalam diam seperti menunggu dengan penuh harapan.

69

Travellove Ainidi

Senyumnya baru mengembang saat gue berteriak kepada mereka, yang berani-beraninya
menganggu waktu istirahat gue yang penuh kenyamanan.

Elang bangkit berdiri dari kursi menghampiri gue dan menarik gue ke dalam pelukan. Erat tapi
juga nyaman.

70

Travellove Ainidi

10
Dream Time

Gue bergegas berlari menghampiri Mbak Nila, saat rombongan terlihat di pintu keluar
penjemputan di Bandara Dewadaru Karimunjawa. Gue dan keempat sahabat gue lebih dulu
sampai pada hari minggu kemarin, berangkat dari Yogyakarta menggunakan mobil Travel menuju
Jepara, lalu menyebrang dengan kapal express menuju Karimunjawa.

Kata Mas Den karena perjalanan berikutnya adalah ke Karimunjawa yang letaknya di sebrang
pulau Jawa, mereka berinisiatif untuk ikut dengan Ayu menjemput gue, katanya sih sekalian
silahturahmi dengan Ibu, walau gue tahu itu hanya alasan mereka saja.

Niat gue pulang hari Jumat itu karena nggak ada satupun barang yang gue bawa dari Jakarta.
Bahkan charger untuk ponsel gue sendiri saja, gue harus mengemis pada Andien dan Andita agar
dipinjamkan. Lalu mereka dengan santai menyampaikan kalau kita akan berangkat ke
Karimunjawa dari Yogyakarta tanpa persetujuan dari gue sebelumnya. Dasar manusia nggak
berperasaan.

Hari jumat kemarin gue yang gagal pulang menjadi sibuk menghubungi Dhea dan pemilik kosan
juga bapak yang bertugas menjaga kosan. Gue meminta tolong pada Dhea untuk menyiapkan
barang-barang yang gue butuhkan dan dititipkan kepada rombongan yang berangkat dari
Jakarta.

karena kunci kosan gue bawa pulang ke Yogyakarta, gue harus menghubungi pemilik kosan untuk
meminta persetujuan agar bapak penjaga kosan mau meminjamkan kunci cadangan.

Sebenarnya gue kesal bukan kepalang kepada mereka yang seenaknya saja mengintrupsi waktu
istirahat gue dirumah Ibu. Sejak kedatangan mereka nggak ada waktu walau sebentar saja untuk
gue sekedar duduk santai.

71

Travellove Ainidi

Ibu terus menerus membuat aneka macam masakan yang menurut gue nggak mudah untuk
dimasak, setelah acara makan besar gue sibuk membersihkan piring dan peralatan masak yang
kotor. Belum selesai gue membersihkannya, Ibu kembali bereksperimen di dapur dengan dalih
ingin menyiapkan makanan pendamping teh yang akan di sajikan untuk mereka. Karena gue
nggak mau Ibu kelelahan jadilah gue yang mengambil alih dan mengerjakan semua hal.

Mereka ini bak Raja besar yang datang kerumah rakyat jelata, Ibu menyambut dan melayani
mereka habis-habisan seolah lupa siapa yang menjadi dalang dari kepulangan gue dengan
keadaan kacau balau. Saat gue berhasil membuat Ayu membantu gue di dapur, Ibu akan datang
memaksa dan mendorong Ayu untuk keluar dari dapur dan menyuruhnya beristirahat di dalam
kamar.

Jangan tanya bagaimana senangnya hati ketiga laki-laki nggak tahu diri itu, karena tahu gue yang
dibuat repot. Mas Den dengan semena-mena menyampaikan rasa rindunya pada menu-menu
makanan juga makanan ringan khas daerah yang dulu sering Ibu buatkan. Memang dasar Ibu
yang nggak bisa kepancing sedikit, beliau langsung saja membuat keributan di dapur saat itu juga.

Selama di Yogyakarta mereka nggak gue ajak kemana-mana selain ke The Twinnies. Gue
menyuruh si kembar kembali menggunakan mobilnya agar gue punya alasan untuk tak menjadi
supir dan pemandu wisata dadakan. Mereka boleh berlaku seperti Raja di rumah, tapi begitu
sampai Toko gue membalas mereka dengan mempekerjakan mereka semena-mena. Gue
menodong Mas Den untuk mendesign ulang website The Twinnies sekelas website papan atas
dengan menggunakan hosting Domain yang harganya nggak murah. Walaupun mengomel tapi
tetap di kerjakan juga, dengan Elang sebagai donator utama.

Sementara Galuh gue jadikan sales dadakan di toko, dia melayani pembeli yang sebagian besar
Ibu-Ibu muda yang datang. Nggak salah juga gue menempatkan Galuh sebagai Sales dadakan,
banyak Ibu-Ibu yang rajin keluar masuk toko dengan alasan membeli tanaman dan juga bunga.
Padahal gue tahu itu hanya alasan mereka saja, sebelumnya gue nggak sengaja mencuri dengar

72

Travellove Ainidi

perbincangan mereka. Menurut mereka wajah Galuh itu sebelas dua belas dengan wajah bintang
film India. Sungguh sulit dipercaya.

Gue meminta Ayu untuk menggantikan tugas Andien sebagai kasir sekaligus admin, walaupun
kebanyakan nanya dari pada kerjanya sih. Dan Elang, selain sebagai donatur utama gue meminta
dia membantu Aji mengantarkan tanaman yang dipesan secara online. Mengepaknya dan
menyerahkan pada jasa pengiriman barang. Gue masih menjadi bos yang senantiasa memberikan
perintah pada empat karyawan dadakan itu, sebelum mereka mengadu pada Ibu dan berakhir
menjadikan gue pelayan pengantar makanan sepanjang hari.

Walaupun jarak dari rumah ke toko hanya seratus meter saja, kalau gue harus membantu Ibu
memasak dan bersih-bersih, sebelum tangan gue ini dipenuhi oleh bungkusan makanan yang
dibuat. Rasa lelah berjalan kaki menuju toko seperti sama dengan lari marathon dengan jarak
sepuluh kilometer.

Kalau ada yang bertanya kemana perginya rasa bersalah mereka pada gue sebelumnya, tidak
perlu ditanyakan lagi, rasa itu hanya bertahan selama sepuluh menit sejak mereka melihat
kedatangan gue di rumah. Mereka menarik gue ke dalam pelukan secara bergantian, dan rasa
bersalah itu menguap seiring pelukan itu mereka lepaskan.

Apa kabar dengan si kembar? Mereka hanya bertemu dengan si kembar saat malam datang.
Andien sibuk menyelesaikan tugas kelompok yang harus selesai sebelum ujian tengah semester
dua minggu lagi, sementara Andita sibuk menjadi panita event di fakultasnya, selain itu dia juga
sibuk sebagai sutradara sebuah pertunjukan dalam kelompoknya yang akan tampil pada acara
tersebut. Si kembar dibantu Galuh juga Ayu telah berhasil mengalahkan argumen gue yang
mencurigai mereka kalau kegiatan itu hanyalah fiktif belaka.

Tapi, dari perdebatan itu gue jadi tahu ada sesuatu yang terjadi antara Andita juga Galuh, entah
apa itu yang jelas saat wajah Dita berubah ketika Galuh mendebat gue saat itu gue tahu kalau
Dita menaruh rasa pada Galuh. Gue nggak mau ikut campur dengan urusan mereka sih tapi,

73

Travellove Ainidi

sebagai kakak kalau sampai Galuh berani menyakiti hati adik gue. Gue bersumpah akan
menyunat habis dia dengan pisau dapur milik Ibu yang tumpul.

***

Setibanya di cottage yang akan gue huni bersama Ayu dan Mbak Nila, tanpa membuang waktu
gue mengabsen kehadiran barang-barang gue yang tadi Mbak nila berikan, semuanya lengkap
tanpa ada yang tertinggal. Thanks to Dhea.

Karimunjawa terletak di Laut Jawa, utara Jepara, Jawa Tengah. Kalau Jakarta punya Kepulauan
seribu, Jawa tengah punya Karimunjawa. Jelas keduanya memiliki keindahannya tersendiri yang
sama cantiknya, tapi pengalaman yang mereka bagi seperti memiliki ruang masing-masing di
dalam memori. Ini kali kelima gue datang ke Karimunjawa, yang pertama dan kedua gue datang
bersama keempat sahabat gue saat kami masih duduk di perguruan tinggi. Yang ketiga gue
datang hanya berdua saja dengan Elang, Menggantikan kedua orangtua Elang memenuhi
undangan seorang petinggi. Yang keempat gue datang sendiri untuk mengurus kerjasama Kelana
bersama Omah Alchy.

Itu kenapa kami akrab dengan para staff yang bekerja di Omah Alchy, salah satu penginapan
cottage yang berada di pinggir pantai. Satu hal yang paling gue suka dari Omah Alchy di Pulau
Karimunjawa adalah tempatnya yang juga sangat tenang, tidak bising, tidak ramai. Karena
Lokasinya yang berada sedikit jauh dari pusat desa Karimunjawa.

Selain itu Omah Alchy memiliki pantai pribadi yang dapat digunakan untuk bersantai para tamu
yang menginap di sana. Selain pantai, Omah Alchy juga memiliki dermaga kecil yang terdapat
tempat santai meja dan kursi pada bagian ujung dermaga Omah Alchy, yang biasanya akan gue
pakai untuk menikmati pemandangan Matahari terbenam setiap kali gue datang.

Perjalanan kali ini hanya kami habiskan selama lima hari saja, karena berbeda dengan daerah
yang kami datangi sebelumnya. kami tak perlu mengambil jarak yang jauh untuk menjangkau

74

Travellove Ainidi

tempat wisata yang satu ke tempat wisata yang lainnya. selain bermalam di Omah Alchy kami
akan berkeliling pulau Karimunjawa dengan menggunakan Alcheringga 2.0 Sailing Catamaran.

Alcheringa 2.0 Sailing Catamaran menjadi Catamaran pertama yang dibangun dan dibuat di
Karimun Jawa, Indonesia. Kata kakaknya Mas Koko, Kata "Alcheringa" berasal dari bahasa
Aborigin (suku asli Australia) yang kira-kira berarti "Dreamtime", suatu saat dimana leluhur
menciptakan semesta alam.

Satu hal yang melekat pada gue dan keempat sahabat gue sampai saat ini adalah sikap dari tim
yang membangun dan mengoperasikan Alcheringa 2.0 dan Omah Alchy. Mereka mampu
menciptakan dan menyediakan sebuah tempat yang tidak hanya nyaman tapi bisa memberikan
keadaan layaknya surga atau rumah dimana kita bebas bermimpi dan menikmati hidup. Ini bukan
berlebihan, tapi karena merekalah walau seribu kali sekalipun kembali ke Pulau ini nggak akan
terasa membosankan.

By the way please meet Mas Koko, Kakak, Abang , Teman, Partner, I don’t know You Named It.
Tapi laki-laki berkulit cokelat dan berparas pribumi ini yang akan menemani tim Vlog Kelana
berkeliling. Iya namanya aja Koko, tapi paras, kulit, logat, dan sikapnya sangat kental seprti
keturunan Pribumi Asli. Kami masih menjalin komunikasi yang baik bersama Mas Koko sampai
saat ini sejak pertama kali kami datang ke Karimunjawa bahkan sebelum Kelana didirikan. Berkat
beliau dan timnya, Karimunjawa seperti memiliki tempat sendiri di hati kami.

Mas Koko dan timnya nggak hanya menemani tim kami, berbeda dengan pemandu wisata di
tempat lainnya. Pembawaan Mas Koko dan Timnya dalam menjamu tamu seperti teman. Mampu
menghilangkan Batasan-batasan yang biasanya tercipta di antara pemandu dan tamu. Rasanya
kami tidak seperti sedang bertamu, melainkan seperti pulang ke rumah setelah lama berkelana
di luar pulau.

Pintu kamar gue diketuk, dan Elang muncul dari balik daun pintu yang terbuka.

75

Travellove Ainidi

“La, udah siap belum? Mesin kapal sudah di nyalain. Sekoci pertama udah nyebrang ke
Alcheringa.” Gue menjawab Elang dengan sebuah gelengan dengan wajah yang memelas. Gue
bahkan belum mandi dan menyiapkan alat menyelam yang harus di bawa.

Dia menghela nafas lelah, “sepuluh menit,”

“tiga puluh menit Lang, gue belum mandi,”

“lima belas menit atau lo gue tinggal.”

Gue melayang kepalan tangan ke udara tepat saat Elang menutup pintu kamar. Biar saja kalau
gue sampai di tinggal kapal sekoci, gue bisa pinjam kayak¹ buat nyebrang ke Alcheringa sendiri.
Kalau nggak ya berenang aja sekalian. Itu Sailing nggak bakal jalan juga kalau gue belum ada.

Karena Sailing Catamaran merupakan kapal yang besar, dia di parkir agak sedikit jauh ketengah
laut, jadi dari dermaga pribadi milik Omah Alchy kami harus menyebrang menggunakan sekoci,
atau kapal kecil lainnya. nah, Omah Alchy juga menyediakan kayak¹ agar para tamu bisa
menikmati olahraga air menggunakan kapal kecil seukuran badan dan di dayung secara manual.
Atau nama kerennya kayaking.

Tiga puluh menit gue beneran meleset menjadi empat puluh lima menit, semua tim sudah
berangkat kecuali gue, tapi Alcheringa masih diam terparkir di tempatnya. Dasar manusia-
manusia tak berperasaan. Gue menghampiri Mas Lanang, salah satu tim Mas Koko untuk
meminjam Kayak¹.

“Loh, tadi mas Elang sudah pinjam kok Mbak, katanya tadi mau menunggu Mbak Malaka di
pinggir pantai tempat Kayak¹ diletakan. Mbak sudah tahu kan tempatnya?” oh? Mas Lanang
memiringkan kepalanya sambil tersenyum lebar melihat gue berkedip, mungkin terlihat seperti
orang dungu. Gue mengucapkan terima kasih dan berpamitan pergi sebelum berbalik dan
berjalan menuju tempat yang dimaksud.

76

Travellove Ainidi

Benar saja, Elang sedang berdiri pongah. Tangan kirinya menggengam dua alat dayung sementara
tangan kanannya bertengger di pinggang seolah siap menyemburkan amarah. Gue tahu ini anak
pasti mau mengomel karena menunggu gue yang terlalu lama. Tapi, kalau dipikir-pikir ini kan
bukan salah gue dia menunggu lama, kan gue tadi nggak minta.

“lama banget sih La? Ngapain dulu sih, luluran?” tuhkan bener ngomel, malas menjawab gue
menjulurkan tangan meminta agar satu dayung yang dia gengam di berikan.

Di luar dugaan dia malah menarik tangan gue hingga tubuh gue tertarik masuk ke dalam pelukan.
Hembusan nafasnya menggelitik leher gue, tangan gue terangkat dan memukul bahunya
kencang,

“Lang, ngapain sih?” dia tak latas melepaskan pelukan saat gue mencoba melepaskan diri, seperti
yang gue lakukan pada Ayu, gue menginjak kakinya dengan kecang hingga membuatnya berteriak
kesakitan.

“Sakit La!”

“ya lo ngapain? Gue minta dayung bukan minta dipeluk!” gue bergegas mengambil dayung yang
terlepas dari genggaman Elang. Tangan gue kembali ditarik oleh Elang, kalau sampai dia menarik
gue ke dalam pelukannya lagi. Gue getok tuh kepala pake gagang dayung.

“Gue minta maaf soal kemarin.”gue diam melihat wajah Elang yang terlihat sangat serius dengan
rahang yang mengeras.

“gue nggak ada maksud nyinggung perasaan lo, walaupun yang gue lakukan justru malah
sebaliknya. Gue kelepasan karena terlalu marah waktu itu. Sorry La. Gue tahu gue brengksek.”
Gue berdecak kencang sebelum melepaskan tangannya dengan kasar.

“Lo nggak brengsek, tapi gue yang brengsek. Gue yang jadi penjahat kenapa lo yang meminta
maaf?” gue mengangkat tangan dan mengacungkan telunjuk memintanya untuk diam sebelum
dia memotong.

77

Travellove Ainidi

“bisa nggak kita lupain saja kejadian ini? semakin lo meminta maaf semakin sulit buat gue keluar
dari lubang penyesalan.” Dia mengangguk setuju, matanya masih diam menatap gue seperti ingin
berkata sesuatu.

“Jangan seperti itu lagi ya La?” duh kok kelihatannya malah gue seperti anak remaja tanggung
yang baru saja tertangkap basah karena melanggar aturan.

Gue menunjuk Kayak yang masih berada di atas tumpukan batu, ”udah buruan turunin tuh, nanti
Mas Den keburu ngambil jatah makan siang gue.”

“jangan lari ke laki-laki lain lagi,” dia berbisik dan berbalik, menarik Kayak¹ turun ke air sebelum
menaikinya. Kedua alis gue menyatu melihat dia terus saja mendayung seorang diri menjauh dari
tepian, mata gue beralih pada kayak¹ satunya yang masih bertengger di atas bebatuan.

“Elang! Woy! Ini punya gue belum di turunin. Kok gue malah ditinggalin?” benar-benar deh nih
anak!

“dorong sendiri, jangan manja!”

duh! dasar cumi asin, kalau gue juga yang nurunin sendiri ngapain pakai di tungguin segalah sih?

***

Kayak¹ adalah sebuah perahu kecil bertenaga manusia, biasanya dengan bagian depan dan
belakang tertutup, sehingga hanya menyisakan lubang seukuran awak. Desain yang tertutup ini
bertujuan untuk mencegah masuknya air ke dalam perahu. Kayak dilengkapi dengan dayung
berkepala tunggal atau ganda. Perahu ini pada umumnya dibuat untuk satu pengendara, tetapi
bisa didesain untuk menampung dua orang.

78

Travellove Ainidi

11
Aram Temaram

Apa yang paling nggak di sukai dari menikmati indahnya pemandangan matahari terbenam dari
atas Sailing Catamaran? Nggak ada, kecuali kalau lo memiliki teman yang nggak bisa banget lihat
teman lainnya duduk santai. Gue sedang duduk bersandar pada railing bagian depan kapal saat
perjalanan pulang kembali ke penginapan, menunggu matahari terbenam.

Sebelum Elang datang menginterupsi, meminta gue berkoordinasi dengan tim gue di Jakarta
untuk menyelesaikan daftar pekerjaan hari ini yang harus selesai sebelum pukul tujuh malam.
Sebelum konten berikutnya tayang.

Kami baru kembali setelah Snorkeling dan free diving di Pulau tanjung Gelam dan Pulau Cilik, ini
sudah hari ketiga kami di Pulau Karimunjawa. Hari pertama kami habiskan hanya mengambil
konten di sekitaran Omah Alchy saja, dan hari kedua kami habiskan di hutan mangrove, juga
Penakaran Hiu. Pengambilan gambar di penakaran Hiu hanya dua puluh persen saja, sisanya
habis di pakai untuk bermain water sport yang di sediakan oleh pengelola.

Bahkan footage bermain dan memberi makan bersama ikan hiu hanya di lakukan gue seorang,
karena yang lain takut tiba-tiba menjadi santapan oleh ikan hiu. Karena Karimunjawa terkenal
dengan keindahan bawah lautnya, sebagian besar konten di Karimunjawa akan di penuhi oleh
konten Snorkeling, free diving, dan scuba diving.

Selama tiga hari berada di Karimunjawa belum sekalipun gue menikmati Sunset dari laut
Karimunjawa dengan tenang dan nyaman. Kalau bukan untuk kebutuhan konten ya di interupsi
seperti sekarang, mana ini bos besar sekarang duduk di samping gue. Mengawasi gue
mengerjakan pekerjaan yang dia pinta, katanya kalau nggak di tungguin nggak akan langsung gue
kerjakan.

79

Travellove Ainidi

Gue mengabaikan kaki Elang yang berselonjor bersisian dengan kaki gue, yang terus saja
menyenggol dan menendang-nendang kecil. Saat gue sedang sibuk memasarkan konten milik tim
kuliner yang tadi siang sudah tayang, biar saja tadi gue disuruh cepat-cepat sekarang malah
digangguin. Mungkin karena kesal gue abaikan, dagu gue lantas diangkat untuk menatap langit
di hadapan gue.

“Sabur Limbur,” bisik gue menatap takjub Warna langit yang mulanya berwarna biru dan putih
berubah warna menjadi orange pekat dan bercampur pink juga ungu yang hampir menggelap,
matahari memang sudah bergeser sepenuhnya. Tapi, masih sedikit menyisakan cahaya pada
langit sebelum menggelap dan tergantikan cahaya bintang yang bertaburan.

“Aram temaram,” gue bahkan dapat merasakan senyuman Elang dari suara takjub yang dia
keluarkan, gue tahu ini adalah langit favorit Elang dibanding langit senja saat matahari terbenam,
the magic hour sky. Gue menoleh pada wajah yang kini terpantul oleh warna cahaya langit,
matanya yang tajam kini berbinar senang, senyumnya terus mengembang nggak pernah lepas.
Hangatnya senyuman Elang kini menular, gue bahkan dapat merasakan rasa hangat itu menjalar
ke dalam dada.

Iya rasa untuk Elang memang masih ada, bahkan selalu ada. Tapi, hubungan yang dulu pernah
kita coba gagal di awal, gue nggak mau mengulang hal yang sama terjadi lagi. Tiga bulan kami
menjalani hubungan isinya hanya pertengkaran, dan mengorbankan ketiga teman gue yang lain.
Yang membuat gue menyadari bahwa hubungan gue dan Elang nggak baik untuk kesehatan
pertemanan kami berlima.

Elang mengangkat tangan gue dan meminta melambaikan tangan pada drone yang kini terbang
melintasi kami. Entah dari mana Gunawan mengendalikan drone, yang jelas suara teriakan
samar-samar terdengar jauh di belakang.

“Lang, cium dikit buat konten,” dasar otak mesum, dia pikir gue sama dengan Ayu dan dirinya
sendiri apa? Yang gemar berbagi bibir nggak lihat tempat. Elang hanya tertawa dan meletakan
tangannya ke bahu gue lain mencium.

80

Travellove Ainidi

Gue lantas tertawa saat suara teriakan Mas Koko terdengar menyusul, “Malaka habis makan
pete.”

Kapal Alcheringa sudah terparkir, tapi mesinnya tak dimatikan. Kami akan menghabiskan makan
malam di dalam kapal dan mengambil beberapa konten setelahnya di bawah langit malam yang
bertabur bintang. Langit malam di atas laut jelas sangat berbeda. Aktivitas malam di Karimunjawa
tidak seramai di Kota jadi tidak menghasilkan polusi cahaya seperti di tengah Kota.

Terlebih di tengah laut seperti ini tempat yang benar-benar jauh dari tempat yang banyak
menghasilkan cahaya, cukup mematikan penerangan pada kapal, maka langit hitam yang di
penuhi cahaya dari bintang akan terlihat terang benderang.

***

Gue meletakan kedua tangan pada pinggang, menahan kesal sambil menatap ekor putri duyung
yang panjangnya hampir sama dengan tinggi badan gue. Kenapa sih isi kepala Ayu itu selalu ada-
ada saja? Brilliant sih tapi kebanyakan gue yang menjadi bahan percobaan.

Kami sedang berada di salah satu perairan Pulau Genting, ini adalah hari terakhir kami berwisata
di Pulau Karimunjawa, setelah kemarin kami menghabiskan hari untuk Snorkeling di Pulau
Menjangan Besar juga Menjangan Kecil untuk footage bermain bersama ikan kecil di antara
karang, dan free diving pada kedalaman air tujuh meter di perairan dekat Pulau Cemara untuk
footage berenang bersama penyu.

Dan perjalanan hari ini akan kami tutup untuk scuba diving di perairan dalam Pulau Karimunjawa,
setiap kali kami menyelam di Pulau ini tak sekalipun kami absen untuk menyambangi kapal
karam. Kapal yang berumur lima puluh tahun itu kini di tumbuhin banyak karang dan di huni oleh
berbagai jenis ikan termasuk ikan hiu.

81

Travellove Ainidi

Dari sanalah ide Ayu berangkat, dia telah meminjam kostum putri duyung pada temannya dan
disimpan di dalam koper perlengkapan Bagas dan Ringga. Gue menatap sebal Ayu yang kini
sedang menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang memelas.

“nggak ada. Gue nggak mau!” dia maju satu langkah dan menarik tangan gue ke dalam
genggaman. Genggamannya erat, seperti genggaman seseorang yang sedang memohon
pertolongan terakhir. Tapi, gue nggak akan termakan rayuannya mentah-mentah.

“Cuma lo yang nafasnya seperti ikan La,” gue berdecak kencang, nggak percaya sama apa yang
baru saja gue dengar.

“Gue bernafas pakai paru-paru Ayu, bukan insang. Lo gila nyuruh gue menyelam sedalam dua
puluh meter tanpa alat menyelam? Nyawa gue bisa melayang karena paru-paru gue terendam
air.” Kali ini Ayu yang menghela nafas lelah.

“Ya nggak sampai sedalam dua puluh meter Malaka, paling di kedalaman lima meter doang.
Lagian nanti dijagain sama Mas Koko dan Pedro.” Kepala gue menggeleng menolak untuk
kesekian kali.

“belum tentu di kedalaman lima meter tuh hiu muncul kan? Dan gue yakin lo nggak bakal
berhenti sampai mendapatkan gambar gue berenang bareng Si hiu.”

“Nggak kok, lo berenang sendirian juga nggak masalah. Gue janji deh, kalau nggak dapet nanti
biar jadi urusan Mas Den yang edit.” Gue melengos ke arah Gunawan yang sedang menyiapkan
Housing nauticam dan strobe light underwater untuk kamera yang akan di pakai menyelam.

“nanti lo boleh pakai roadbike punya gue deh,” tunggu dulu, roadbike trek domane milik Ayu
memang sudah lama gue incar. Sejak Ayu memenangkan sepedah itu dari Mas Den karena kalah
taruhan, nggak pernah sekalipun tuh anak pakai kemana-mana, sepedah itu hanya terpajang
pada dinding garasi rumahnya. Gue hampir berhasil menawar sepedah Ayu dengan harga murah,
kalau saja Galuh dan mulut embernya tidak mengacau dengan membeberkan harga aslinya.

82

Travellove Ainidi

“oke, tapi sepedah itu jadi hak gue sepenuhnya dengan harga yang pernah gue tawarkan. Take it
or leave it.” Ayu terdiam nampak berpikir sebelum berdiri meninggalkan gue masuk ke dalam
kapal. Sudah gue duga kalau sudah urusan uang, teman-teman gue ini paling cepat balik badan
dan menghilang.

Setelah gue selesai memakai baju menyelam, gue kembali duduk di belakang kapal untuk
menyiapkan kamera Aquatic milik gue. Kamera ini memang model lama tapi fungsinya tetap
sama, kamera underwater pertama dan terakhir yang gue punya. Gue berpura-pura menyibukan
diri dengan menyiapkan housing untuk kamera milik gue, saat ayu datang menghampiri.

“Loh kok lo malah pakai baju menyelam sih La? Pakai baju Mermaid dulu!” gue tetap diam pura-
pura tak mendengar.

“Yaudah oke deal, lagian Mas Den sama Elang juga udah deal sama gue.” Gue menatapnya
bingung,

“kok bawa-bawa Elang dan Mas Den?” Ayu mengangguk dengan senyum yang mengembang.

“Mereka berhasil gue rayu untuk patungan, menambal kekurangan biaya pembelian sepedah
buat lo,” Astaga, ini anak bisa-bisanya mencari donator untuk gue, lagian sepedah itu gratis.
Dasar nggak mau rugi. Gue menggeleng tak percaya tapi, tangan gue tetap terangkat menyambut
tangannya.

Ayu berbalik, sambil bertepuk tangan sebelum berteriak kepada teman-teman yang lain, “oke
guys Malaka setuju jadi Mermaid, jadi kita ambil scene Si putri duyung kurang gizi ini sebelum
menyelam ya.” Gue melemparkan Neoprene Snorkeling Gloves milik gue yang mendarat tepat di
kepalanya.

Satu jam lebih gue menjadi Mermaid dadakan dan kami lanjut menyelam sedalam dua puluh
meter untuk menelusuri ‘kuburan’ bangkai kapal dari Cina, penduduk lokal sering mengaitkan
kapal tenggelam ini dengan makam Cina kuno yang ada di Karimunjawa. Pada lambung bangkai
kapal ini gue dapat melihat ada banyak pecahan keramik kuno.

83

Travellove Ainidi

Tanpa di duga kami bertemu dengan hiu paus tutul yang melintas di antara bangkai kapal.
Mulanya Mas Den yang melihat, dengan heboh dia menunjuk-nunjuk ke arah dua hiu paus tutul.
Kali ini bukan hanya gue yang menjadi bahan percobaan, melainkan kami semua berebut ingin
mendapatkan gambar berenang bersama hiu paus tutul itu.

Sebenarnya selain bangkai kapal Cina ini, masih ada bangkai kapal lainnya di Pulau Kemujan.
Berbeda dengan bangkai kapal Cina yang sedang gue telusuri ini, bangkai kapal di Pulau Kemujan
adalah bangkai kapal Panama Indono yang tenggelam pada tahun 1955, bangkai kapal itu
terbelah menjadi dua dan panjangnya hampirnya menyamai kapal fery yang ada di Indonesia.
Karena gue dan tim pernah menelusuri bangkai kapal itu sebelumnya, maka kami memillih untuk
wreck diving di Pulau Genting.

Setelah semua footage di rasa terpenuhi, kami kembali ke penginapan sebelum matahari
bergeser kembali. Karena malam ini adalah malam terakhir kami menginap di Omah Alchy, Mas
Koko dan timnya telah menyiapkan makan malam istimewa untuk kami. Ini kebiasaan beliau
setiap kali kami datang, katanya pesta kecil-kecilan sebelum pulang sebagai ucapan terima kasih
mereka kepada kami. Walau sesungguhnya Kamilah yang harus berterima kasih karena banyak
dibantu dan dijamu oleh Omah Alchy.

***

Gue memutar gelas ketiga gue yang isinya hampir kosong, kepala gue belum berputar tapi ada
rasa panas yang gue rasakan dari dalam tubuh. Ayu dan Gunawan sudah menghilang saat gelas
pertama gue datang, Mbak Nila sudah melayang di dalam kamar, sementara Mas Den, Galuh,
Ringga, dan Bagas sudah tertidur berjejer di Aula yang berbentuk seperti rumah pondok milik
Omah Alchy.

Gue berusaha menahan mata gue yang sudah mulai memberat, demi menangkap figur wajah
Elang yang duduk tepat di hadapan gue. Gue menelusuri wajahnya dengan mata gue, kedua

84

Travellove Ainidi

Alisnya yang tebal, kedua matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, dan bibir gelapnya
yang ranum.

Saat kedua mata gue tertutup sempurna, wajah yang tadi gue telusuri, hadir menghiasi mimpi
gue. Wajah Elang berada dekat dengan wajah gue dengan senyuman yang selalu gue dambakan.

“Don’t wake me up,” gue berbisik pelan,

“why?” ada getaran yang aneh datang dalam tubuh, saat hembusan napas Elang yang pelan dan
hangat menyapu lekuk leher gue.

“Because only in my dream I can hold you tight,” dia lantas menggigit pelan telinga gue, saat gue
berbisik di telinganya. Ketika Elang mengangkat kepalanya dan menatap gue dalam dengan
matanya yang tajam, saat itu gue merasakan jantung gue bekerja terlalu kencang.

Bibir gue terbuka menyambut bibir Elang yang terasa nyata. Ciuman Elang di dalam mimpi dan di
dunia nyata tak terasa berbeda dari yang pernah gue ingat. Rasanya seperti meminum kopi di
pagi hari, rasa pahit yang datang membuat gue ingin terus mencecapnya berulang-ulang.

“did you still love me?” gue mengangguk dan tersenyum,

“you love me and still running from me?” gue membelai hidungnya dengan hidung gue, saat
mendengar nada kecewa pada pertanyaanya.

“I’m not running, I’m just hiding” ada geraman tertahan dari Elang saat tangan gue terangkat dan
berkelana di sekujur tubuhnya.

Stop talking and hold me tight Elang, please hold me tight. And don’t wake me up.

85

Travellove Ainidi

12
Garis Dua

Gue baru tahu kalau menunggu lima menit rasanya seperti menunggu berjam-jam, gue nggak
berhenti merapal doa dalam hati agar tak ada garis lain yang muncul pada stick yang gua gunakan.
Ini adalah alat tes kehamilan ke tiga yang gue gunakan dalam dua hari terakhir.

Mulanya gue nggak terlalu panik setelah tujuh puluh persen hasil riset gue mengatakan kalau
satu kali berhubungan kemungkinan hamil sangatlah kecil, kecuali ketika itu dilakukan pada masa
subur. Dan setelah gue ingat, itu terjadi bukan pada masa subur gue. Sampai kemarin gue sadar
kalau tamu bulanan gue talat datang satu minggu dari biasanya, Dasar Elang sialan! Gue bisa
habis dijadikan pupuk oleh ibu kalau dia tahu anaknya gagal menjaga malu.

Pagi itu, gue terbangun dengan panik saat sebuah kecupan tak berhenti hinggap di bahu dan
kepala gue. Berharap bahwa semua yang gue rasakan dalam mimpi bukanlah sebuah kenyataan.
Tapi, harapan itu menguap seiring terbukanya mata gue dan melihat tangan kekar yang gue kenal
melingkar pada pinggang. Gue terbangun dalam pelukan Elang, di bawah selimut tanpa sehelai
benang.

Mata gue kembali terpejam dan berusaha mengulang semua kejadian, dari gelas pertama sampai
gelas yang sudah nggak bisa lagi gue hitung jumlahnya. Gue mabuk, Elang marah dan
menggendong gue yang sudah tak punya tenaga untuk berdiri masuk ke dalam kamarnya. Dan
sialnya gue baru ingat kalau gue lah yang menahan Elang untuk tetap tinggal, gue yang
merayunya lebih dulu.

Saat itu, perut gue bergejolak hebat akibat rasa jijik pada diri sendiri, gue berlari masuk ke dalam
kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras. Mengabaikan Elang yang terkejut dan terus
berteriak bertanya ada apa dengan gue. Sejak itu gue terus mengabaikan Elang sepanjang
perjalan pulang ke Jakarta, dengan alasan pengar datang menyarang. Yang jelas nggak dia

86

Travellove Ainidi

percaya karena bahkan sampai saat ini gue masih terus mendiamkannya dan menghindarinya,
setelah tiga minggu kami kembali dari Pulau Karimunjawa.

Gue kembali melirik pada stick yang tadi gue pakai, tak ada garis lain yang keluar. kembali gue
memeriksa jam tangan, sepuluh menit berlalu dan hanya ada satu garis saja. Rasa lega luar biasa
keluar bersamaan dengan air mata yang datang. Gue nggak pernah merasa lebih bersyukur dari
sekarang, mungkin karena saking leganya air mata gue seperti ngga mau berhenti dan tangis gue
semakin menjadi.

Ponsel gue terus bergetar, kali ini bukan dari Ayu yang sejak jumat lalu nggak berhenti
menghubungi gue atau dari Elang yang kini sudah berhenti meneror. Melainkan dari Dhea, gue
yakin sekarang dia sedang kesal bukan kepalang menunggu gue yang tak kunjung datang. Pagi ini
kami ada janji temu dengan pihak maskapai yang akan bekerja sama dengan Kelana. Karena gue
nggak berangkat ke kantor terlebih dahulu, gue memintanya untuk menunggu gue langsung di
lokasi janji temu.

“Iya Dhe, gue sudah on the way kok.” Kata gue bohong, nyatanya gue masih di dalam kamar
mandi merapihkan kembali riasan wajah gue yang tadi sempat berantakan akibat menangis.

Dia berdecak pelan, “Mbak Malaka nggak bawa mobil? Soalnya aku masih lihat mobil Mbak di
kosan.” Walau gue tahu Dhea ngga akan melihatnya, gue tetap memasang senyum dengan wajah
yang sedikit memelas.

“Hehehe, iya sebentar ini tinggal pakai lipstick saja nih”

gue meminta Dhea untuk menyetir, sementara gue masih sibuk memakai eyeliner dan maskara.
Dia mengomel sebentar karena gue berbohong dan terlihat belum siap berangkat padahal waktu
sudah mepet. Kalau Dhea ini atasan gue, yakin sih dia bukan lagi mengomel tapi sudah memaki.

“Kenapa nggak bawa mobil sendiri sih Dhe?” beruntung rumahnya nggak jauh dari kosan gue.

87

Travellove Ainidi

“Di pinjam sama adik buat ke kampus, katanya sih dia mau ikutan bazar jadi perlu mobil untuk
membawa barang-barang. Jadi mobilnya dia yang pakai selama tiga hari.”

Gue tertawa mendengar dia menjelaskan panjang lebar, padahal tinggal bilang saja kalau dia mau
menebeng dengan gue selama tiga hari ke depan.

“kan bisa naik ojek atau taksi online neng,” gue bukan pelit loh, ini hanya menggodanya saja kok.

“Sayang uangnya Mbak, aku kan mau nikah tahun depan?”

“memang sudah dilamar?” yang gue tahu Dhea dan kekasihnya memang sudah lama menjalin
hubungan, kalau kata nih anak LDR adala kunci awetnya hubungan mereka. Gue bingung apa
jarak Jakarta Selatan dan Bekasi masih masuk hitungan long distance?

“belum sih, tapi kan masih tetap butuh persiapan.” Gue mengangguk membenarkan.

“tapi, kalau bareng gue kemungkinan lo juga jadi jarang di kantor loh. Nggak masalah memang?”
gue memukul bahunya menegur karena dia menoleh ke gue dengan sempurna tanpa
memperhatikan jalan.

“Ya nggak masalah dong, aku malah senang. Tapi, kalau boleh tahu kenapa Mbak jadi jarang ke
kantor sih? Hampir nggak pernah malah.”

Sejak tragedi itu gue memang selalu mencari alasan meeting di luar seharian. Kalau menurut
Dhea sejak pulang dari Karimunjawa gue berubah menjadi atasan yang gila kerja. Gue bahkan
berhasil meyakinkan sebuah hotel bintang lima untuk bekerja sama dengan Kelana hanya dalam
waktu dua minggu saja. Gue belum menemukan keberanian untuk menemui Elang. Rasa malu
yang membuat gue jijik pada diri sendiri masih terus bergelayut dalam diri.

***

Senayan City pada jam sepuluh pagi, masih sedikit terlihat renggang. Gallery sebuah Maskapai
yang akan kami temui memang berada di lantai enam. Tapi, kami nggak bertemu di sana
melainkan di sebuah restaurant yang juga masih di lokasi yang sama. Karena kami masih memiliki

88

Travellove Ainidi

waktu kurang lebih empat puluh lima menit lebit awal, gue dan Dhea memutuskan untuk singgah
di sebuah kedai kopi untuk menyiapkan dan mengecek ulang keperluan meeting nanti.

Saat gue sedang membaca ulang sebuah dokumen yang tetlah disiapkan oleh Dhea, bahu gue
ditepuk dari belakang oleh seseorang. Dahi gue berkerut saat menoleh, mencoba mengingat
kembali siapa laki-laki berpostur tubuh tinggi, kulit putih, dengan mata kecilnya namun tidak sipit,
dan rambut hitam mengkilap yang disisir ke belakang.

“Malaka kan?” mungkin gue sekarang terlihat dungu dengan mata yang mebesar dengan mulut
yang menganga lebar.

“Ka Satria bukan sih?” gila sih. Gue hampir nggak mengenali kakak tingkat gue semasa kuliah
dengan pakaiannya yang super metroseksual ini. Jas hitam yang terlihat mewah dan sepatu yang
nggak kalah mengkilapnya dengan man clutch bag yang bermerk. Membuat penampakan laki-
laki ini terlihat berbanding terbalik dari yang terakhir gue ingat.

Dia mengangguk sebentar sebelum menunjuk sebuah kursi kosong di meja kami, “boleh ikutan
kan?”

Belum sempat gue jawab dia sudah lebih dulu menarik kursi dan mendudukinya, bahkan sudah
mengulurkan tangan pada Dhea untuk berkenalan.

“Nggak nyangka banget bisa ketemu di sini, tapi sayang banget sih gue ada meeting sebentar lagi
kak.” Matanya hanya menyisakan segaris saat dia tertawa mendengar gue.

“gue juga ada meeting sebentar lagi kok, kalian meeting di mana?” lalu dia melirik beberapa
dokumen yang tergeletak di atas meja.

“Loh, Kalian ini dari Kelana? Meeting di lantai lima pasti ya? Di Ramboelan?”

Kali ini Dhea yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja kini mulai bersuara, “Kok Mas Satria
tahu? Jangan bilang kita meeting sama Mas ya?”

89

Travellove Ainidi

Dia mengangguk sebelum menyebutkan nama Maskapai yang memang memiliki janji temu
dengan kami.

“harusnya kalian bertemu dengan Mas Randi kan? Dia berhalangan hari ini karena Isterinya
melahirkan semalam, terus diganti sama gue.” Kemudian dia bercerita kalau project ini memang
seharusnya dia yang pegang dari awal, namun karena sebuah alasan yang nggak bisa dia sebutkan
makanya dia menolak,

“Aku nggak tahu kalau ternyata berhubunganya langsung sama kamu, tahu gitu nggak aku tolak,”

“jadi gimana kak? Kita mau lanjut di sini saja atau pindah ke tempat yang kakak tentukan
sebelumnya?” dia nampak sedikit berpikir, sebelum melirik Tag Hauer yang bertengger di
pergelangan tangannya. Sebuah jam tangan yang sama dengan yang pernah menguras tabungan
gue tahun lalu, demi membelikan hadiah ulang tahun untuk Elang. Mungkin untuk orang kaya
harga jam tangan itu nggak seberapa. Tapi, untuk rakyat jelata macam gue delapan juta bisa
dipakai untuk makan berbulan-bulan.

“Dhea sudah sarapan atau belum?” kini dia beralih ke Dhea yang sejak tadi seperti lupa berkedip.

“Belum, gue belum sarapan sih kak. Walau ini masuknya sudah ke brunch.” Jawab gue
menggantikan Dhea yang kehilangan suaranya.

Dia berdecak sebelum akhirnya tertawa juga, kemudian mengajak kami berpindak ke tempat
yang sejak awal sudah di tentukan. Sepanjang jalan menuju Remboelan Satria nggak berhenti
bicara bagaimana gue nggak berhenti melawannya saat masa orientasi dulu, dan bagaimana gue
menolaknya mentah-mentah ketika dia menyatakan perasaannya di depan khalayak banyak.
Ketika itu gue mengartikan pernyataanya hanyalah sebuah dendam yang ingin dia balas ke gue
karena gue sempat memakinya dan menghinanya di depan teman-teman seangkatan gue kala
itu.

Bahkan daia nggak berhenti bercerita setibanya kami di Restaurant, kalau saja Dhea tak
menggerutu dia nggak akan ingat kalau pertemuan kami bertujuan untuk kelancaran sebuah

90

Travellove Ainidi

pekerjaan bukannya kelancaran hubungan tali kasih antara mantan gebetan dan adik tingkat
yang nggak punya minat.

Kami menyelesaikan pertemuan yang meleset sampai tiga jam dari estimasi waktu yang gue dan
Dhea perkirakan. Biasanya kalau meeting di lakukan di pagi hari, pertemuan akan selesai sebelum
jam makan siang, karena kali ini kami melakukan pertemuan dengan Satria pertemuan baru
selesai pada jam tiga sore. Gue mencoba nggak menggerutu karena pertemuan ini membuahkan
hasil yang baik. Satria menyetujui kalau Maskapai tempatnya bekerja akan meberikan support
sepenuhnya untuk perjalanan dengan program-program traveling yang Kelana produksi,
memang nggak semua. Tapi, yang dia berikan lebih dari ekspektasi kami.

Dengan hasil itu, gue nggak berani menolak ajakan Satria untuk sebuah makan malam nanti.
Bersama dengan Dhea tentunya. Karena kami harus pergi untuk mengrus beberapa kontrak yang
sudah berjalan, dan bekerja sama dengan Kelana sebelumnya. Maka kami berpisah dan berjanji
akan menemuinya di restaurant Jepang di bilangan Jakarta Selatan.

Setelah berpamitan dengan cara nggak biasa oleh Satria, kami bergegas bergerak menuju Bekasi
untuk menyelesaikan daftar pertemuan hari ini. kami akan memperbaharui kontrak dengan
perusahaan yang memproduksi makanan di Bekasi.

Pertemuan yang hanya memakan waktu tak sampai satu jam ini berjalanan lancar, karena
memang keperluannya hanya perpanjangan kontrak saja. Hanya saja, pertemuan yang
menghabiskan waktu di jalan ini justru di manfaatkan dengan baik oleh Dhea, dia bilang dia akan
pulang sendiri karena sudah janjian dengan pacarnya. Dasar cumi goreng. Kalau dia pacaran kan
artinya gue harus kembali ke Jakarta Selatan sendirian, bukan takut sih. Tapi. Kalau melakukan
perjalanan panjang ini dengan kemacetan yang menyebalkan seorang diri kok rasanya emosi gue
akan bertumbuh secara signifikan ya.

***

91

Travellove Ainidi

Saat gue membuka gerbang kosan gue, gue melongok ke dalam dan melihat sosok laki-laki tinggi
menjulang berdiri di depan teras dengan tangan yang bersidekap di dada. Elang. Seperti
namanya, Elang menatap gue dengan tajam, yang bahkan dari kejauhan berhasil membuat bulu
halus di leher gue berdiri serempak. Entah bagaimana caranya anak itu bisa sampai di kosan gue,
padahal gue nggak melihat mobilnya terparkir di depan gerbang seperti biasa.

Gue berlama-lama dalam mobil yang berhasil gue parkiran, maksudnya sih mau mengulur waktu
untuk mencari sebuah alasan. Gue berjalan sambil menunduk, berpura-pura mencari kunci
kamar di dalam tas demi menghindari tatapan tajam Elang yang berkilat marah.

“Kok baru pulang, tadi kata Dhea kalian sudah selesai sejak jam lima sore.” Dia menyambut gue
dengan pertanyaan yang dingin.

Setelah berpisah dengan Dhea tadi, gue memang memenuhi janji makan malam bersama Satria
yang nggak berhenti mengirimi gue pesan sepanjang sore untuk mengingatkan gue soal makan
malam ini. sesuai permintaanya gue menemui Satria di retauran Jepang di bilangan Kemang.

Dia kembali mengulangi kisah tali kasih yang tadi siang ditunda oleh Dhea, dan berharap gue tidak
memutus komunikasi dengannya di masa yang akan datang. Nggak perlu diminta gue juga nggak
akan memutus komunikasi dengan Satria, demi melancarkan hubungan kerja Kelana dengan
Maskpai tempanya berkeja.

“Naik apa tadi? kok mobilnya nggak kelihatan?” tanya gue mengalihkan.

“Kenapa? Biar bisa putar balik dan kabur lagi kalau lihat mobil gue terparkir di luar?” dari nadanya
gue tahu sekarang gue sedang dalam masalah besar.

92

Travellove Ainidi

13
Ice Cream

Gue menahan nafas mendengar nada marah dari Elang, Pun kaki gue rasanya seperti tertanam
ke dalam tanah karena gue nggak mampu menggerakannya. Kepala gue semakin menunduk malu
saat matanya menyalang tajam, dan rahangnya mengeras.

Cepat atau lambat gue tahu ini akan terjadi juga, hanya gue yang terlalu lama mengulurnya hinga
lupa kalau Elang tak punya tali kesabaran sepanjang yang gue ulurkan. Sudut mata gue
menangkap tangan milik Elang yang mulanya beresedekap kini bertengger di pinggang, kalau
begini gue yakin dia terlihat seperti seorang Ayah yang sedang memarahi anak gadisnya karena
pulang terlalu malam.

Dia menarik nafas panjang dengan suara dramatis yang gue tahu itu dibuat-buat, “Ayo temenin
gue makan, gue laper nungguin lo dari sore di sini.” Gue mengangkat kepala dengan heran,
suaranya kini terdengar sepertia biasa saja, seolah kemarahan yang tadi dia tahan menguap
entah kemana.

“Gue udah makan,” gue berbisik takut dia mengamuk lagi.

“Astaga Malaka! emang nggak bisa ya lo bilang iya, terus duduk diam nemenin gue mengisi perut
yang lapar, karena terlalu lama nungguin lo pulang?” tuhkan mengamuk beneran, gue udah
pernah bilang belum sih, Elang ini kalau mengomel lebih menyebalkan dari Ayu dan Ibu.

Gue buru-buru menangkupkan kedua tangan ke depan dada dengan memasang muka yang
memelas, dan langsung mengajaknya keluar untuk mencari makan. Bukannya bergerak
mengikuti Elang hanya diam di tempat dengan menjulurkan tanganya ke arah gue seperti
meminta sesuatu. Ini maksudnya minta uang buat beli makan apa gimana sih? “kunci mobil lo La,
gue ke sini tadi naik taksi online.”

93

Travellove Ainidi

kini kedua alis gue terangkat sempurna, bersiap menggantikan dia untuk mengomel tapi gue
tahan karena gue tahu bukan waktunya untuk gue menceramahi Elang. Gue lantas menyerahkan
kunci mobil yang tadi dia minta, dia menggeleng pelan dan berjalan mendahului gue menuju
mobil yang masih panas mesinnya.

Sepeti yang Elang minta, gue hanya duduk diam tak mengeluarkan komentar ketika Elang
membawa mobil gue berkeliling memutari Jakarta selatan, dari Fatmawati berjalan menuju
cilandak kemudian berputar menuju Pondok Indah dan kembali lagi ke Fatmawati.

Mobil gue belum juga dia parkirkan di kedai makan manapun. Gue melirik jam di pergelangan
tangan gue sudah jam sebelas malam, kalau dia berencana makan malam di restaurant atau kafe
nggak akan ketemu kalau hanya berputar di Fatmawati saja. Padahal dia tahu jam segini di
Kemang masih banyak rumah makan yang buka.

“Mau makan di mana sih? Kalau lo nyari restaurant jam segini nggak ada yang buka di daerah sini
Lang, kecuali kalau mau makan di kedai pinggir jalan.” Gue menatapnya dengan sengit, gagal
menahan kesabaran yang sejak tadi gue telan. Bukan apa-apa, yang dia pakai buat berkeliling itu
mobil gue yang mudah lelah.

Ini mobil sudah gue paksa berkendara ke segala penjuru arah Jakarta dan sekitarnya, kalau
sampai dia mogok lagi di tanggal kritis begini sama saja Elang memaksa gue berpuasa sampai
tanggal pembagian gaji. Dan gue nggak mungkin mengharapkan uang pembagian Dividen yang di
lakukan setahun sekali pada awal tahun itu, sementara sekarang baru sampai pertangahan saja.
Belum lagi gue baru saja mengirimi uang untuk membayar uang kuliah Si kembar beserta uang
jajan mereka untuk satu bulan.

Elang mulai mengarahkan mobil gue memasuki halaman rumah makan cepat saji yang letaknya
nggak jauh dari kosan gue. Tahu gitu ngapain tadi pakai muter-muter segala, buang-buang bensin
mobil gue saja. Nggak langsung memarkiran mobil Elang terus mengarahkan mobil ke area drive
thru, kalau sampai dia berniat memakannya di kosan, gue rontokin tuh semua janggut dan
kumisnya biar semakin menipis.

94

Travellove Ainidi

“Makan di sini, tapi gue maunya di dalam mobil. Di dalam kayaknya banyak remaja labil,” katanya
seperti mengerti kenapa gue menoleh ke jendela dan menghela nafas lelah. Walau sesungguhnya
gue lebih ingin menyampaikan bahwa dialah yang labil lain anak remaja yang sedang hikmat
menyantap makanannya masing-masing.

Dia memesan paket nasi ayam juga double cheese burger dengan ekstra kentang goreng dan ice
cream cone, dia mengabaikan peringatan gue yang sudah kenyang dan tetap membayar. Setelah
mendapatkan semua pesanan yang dia minta dia menyerahkan ice cream cone ke gue dan
menyimpan kantong makanan di atas pangkuannya.

“Gue beneran lapar, nggak makan sejak pagi,” Gue nggak nanya. Lagian dia bukan bayi yang
setiap saat harus selalu di ingatkan makan.

Gue menghabiska ice cream yang sudah mulai meleleh dengan diam, dan membiarkan dia
menghabiskan semua makanan yang dia pesan dengan tenang. Hingga ice cream milik gue hilang
tertelan dia belum juga selesai dan rasa kantuk mulai datang menyapa ingin mengucapkan
selamat malam.

Tidak seperti di film kebanyakan, sang wanita akan terbangun di parkiran rumahnya. Lain hal
dengan gue, gue terbangun terkejut akibat suara bising motor yang melintas, dan mobil masih
terparkir rapih di lapang parkir milik rumah makan cepat saji. Entah berapa lama dia makan. Tapi,
saat gue melongok ke dalam rumah makan, remaja yang tadi ramai sekarang sudah bisa di hitung
dengan lima jari milik gue.

Gue menoleh pada Elang yang juga sedang menatap remaja yang sama, kedua tanganya kembali
terlipat di depan dada. Mungkin dia sedang memikirkan nasib sang remaja yang akan kena tegur
orang tuanya karena pulang lewat tengah malam, entahlah itu hanya tebakan random gue saja
sih.

Keheningan yang di ciptakan Elang membuat gue berpikir ulang tentang kejadian yang telah kami
lalui, dan berhasil membuat rasa bersalah dan juga rasa malu kembali merayapi isi kepala gue.

95

Travellove Ainidi

“Lang, soal Karimunjawa gue sebe – “

“Nggak Stop!” dia memotong gue begitu saja, sebelum kemudian memutar badannya hingga
menghadap gue dengan sempurna.

“Gue datang malam ini dan mengajak lo makan bukan untuk memaksa lo membicarakan
kebodohan lo dan sikap gue yang seperti bajingan. Gue paham dan berusaha mengerti kenapa lo
terus menghindari gue dan mencari alasan agar nggak sempat datang ke kantor. I know I get it.

Tapi bisa nggak lo berhenti main petak umpet kayak gini? Gue akan tetap berdiri di tempat yang
lo minta, gue nggak akan menuntut lo dengan permintaan yang akan memberatkan lo.

Gue akan kembali menjadi Elang yang lo harapkan, tapi tolong kembalilah menjadi Malaka seperti
yang orang lain kenal. Gue datang malam ini untuk meminta lo kembali bekerja lewat kantor La,
karena terus-menerus bersembunyi menyebabkan banyak pekerjaan yang tertunda karena
mereka sulit menemui lo.”

Gue mantap gamang kelima jari gue, rasa berasalah juga rasa malu yang selama ini bergelayut
runtuh dan tergantikan oleh sesak yang menghimpit dada gue. Harusnya gue bersyukur karena
Elang mengerti, tapi rasa sakit yang berdenyut di hati gue setelah mendengar rentetan kalimat
yang keluar dari mulutnya tadi seperti nggak bisa gue tahan lagi. Air mata itu tumpah lagi, gue
menangis sama hebohnya dengan tadi pagi mengeluarkan rasa sesak dan lega bersamaan.

***

Gue kembali bertanya kepada Hanum hari apa sekarang, sambil menatap bingung kehadiran
Galuh di ruangan gue pada senin pagi. Yang ditanya hanya diam seribu bahasa, karena sibuk
mendorong Galuh yang kini duduk berselonjor di samping Hanum. Untuk seorang Galuh datang
ke kantor satu minggu sekali saja sudah seperti datang ke nikahan mantan. Apalagi datang pada
senin pagi di awal bulan, rasanya seperti melihat Bang Adam Levine yang sengaja meluangkan
waktu untuk menemui gue di kantor Kelana.

96

Travellove Ainidi

“La, udah sarapan?” gue menggeleng penuh antisipasi,

“katanya bubur ayam di belakang enak?” nahkan curiga mau di rampok deh gue.

“Katanya, tapi nyatanya sih gue nggak tahu ya,” rasanya benar enak kok, gue adalah pelanggan
tetap bubur ayam yang Galuh maksud. Ini hanya trick gue untuk menghindari ajakan Galuh yang
penuh maksud.

Seperti mengerti, dia berdecak dan menatap gue sebal, “Gue yang traktir, ayok temenin gue
sarapan.” Tunggu dulu sebentar, ini anak datang di senin pagi mau traktir gue sarapan?

“lo kesurupan?” tanya gue heran, yang di jawab oleh suara tawa tertahan seisi ruangan.

Gue nggak sanggup lagi menahan senyum melihat mulut Galuh yang komat-kamit seperti ingin
memaki gue tapi dia tahan demi wibawa di depan tim gue.

“Mau nggak nih?”

“ya mau dong, ini mungkin akan terjadi sepuluh tahun lagi. Jadi nggak boleh gue sia-siakan.” Gue
tertawa tebahak saat sebuah pensil yang dia lemparkan mendarat di kepala gue. Dia hampir saja
mengumpat kalau tak tertahan oleh suara gelak tawa yang kini tak lagi mereka tahan.

Gue mengaduk isi mangkuk bubur gue menjadi satu, tapi kadang juga gue makan bubur tanpa di
aduk sih. Jadi, gue bisa masuk tim makan bubur mana saja tergantung mood. Ini adalah mangkuk
bubur kedua gue, si Manusia nggak mau rugi ini mengajak taruhan. Katanya kalau gue mampu
menghabiskan dua mangkuk bubur sekaligus dia akan membayar seluruh tagihan makan gue
seharian, tapi kalau gue kalah terjadi sebaliknya.

Karena Galuh hanya menemui gue pada saat kami traveling saja, dia nggak tahu kalau setiap kali
gue memesan bubur si mamang selalu minta ekstra setengah porsi. Gue memasang wajah penuh
tekanan yang terlihat jelas di buat-buat. Ya namanya juga Galuh, dia terlalu obsessed untuk
menang sampai nggak sadar kalau mangkuk kedua gue hampir tandas.

97

Travellove Ainidi

Setelah dia membayar bubur sambil mendumal karena kemenangan gue, sama seperti Elang dia
meminta gue untuk tetap diam tak keluar mobil yang belum bergerak dari tempat parkir.
Harusnya gue tahu ajakan Galuh yang nggak biasa ini pasti penuh maksud.

“Malaka Prameswara,” nahkan benar, dia itu selalu memanggil gue dengan nama lengkap kalau
sedang ingin mengajak bicara serius. Karena sudah paham gue hanya dia mentap Galuh,
menunggunya mengeluarkan pertanyaan yang mungkin sekarang sedang dia susun di dalam
kepala.

“Kata Hanum, setiap pagi nggak ada lagi kopi yang datang. Tapi, kalau siang pasti ada yang datang
menjemput lo makan di luar, kalau malam memang nggak ada yang menjemput lo pulang. Tapi,
kalau lo sedang terpaksa menginap karena lembur pasti ada laki-laki yang datang tengah malam.
siapa?” dasar Hanum ember bocor.

Sejak makan malam bersama terakhir kali, Satria memang rajin menghubungi gue, kali ini gue
nggak mau kembali salah langkah. Jadi, saat dia mengajak gue keluar makan siang untuk kedua
kalinya. Gue langsung menanyakan maksud dan tujuan Satria mengajak gue makan siang dan
melakukan wawancara lebih dalam mengenai kehidupan personalnya.

Setelah melakukan riset melalui media sosial juga teman-temannya sejak kuliah yang kebetulan
juga gue kenal. Akhirnya gue mengijinkan Satria untuk mengenal gue lebih jauh lagi, kami belum
menjalin hubungan secara resmi, tapi dia sudah bertanya apakah gue keberatan atau tidak kalau
dia melanjutkan pendekatan yang dulu sempat tertunda.

Jadi gue yakin yang dimaksud Galuh itu pasti Satria, walau sebenarnya ingin sekali gue
mengoreksi argumennya mengenai Satria yang datang tengah malam saat gue menginap di
kantor. Kok kedengaranya jadi negative sekali di telinga gue.

Satria nggak datang saat tengah malam, dia datang jam sepuluh malam karena ketika itu dia
mengajak gue makan malam di luar sepulang kerja. Tapi, gue tolak karena harus menyelesaikan
pekerjaan bahkan kemungkinan besar harus sampai menginap. Mendengar gue harus sampai

98

Travellove Ainidi

menginap dia berinisiatif mengantarkan makan malam yang kami makan berdua di kantor
Kelana. Setelahnya dia pulang tak ikut menginap karena besok dia masih harus bekerja.

“Gue cuma memastikan kalau lo main aman sekarang.” Gue hanya memutar mata karena jengah,

“nggak usah begitu mukanya bisa nggak? Lagian gue mengomel kayak emak-emak gini hanya
sama Hanum, Ayu dan lo.”

Gue menghela nafas lelah, “Satria, kakak tingkat gue dulu. Kalau lo ketemu langsung pasti lo ingat
yang mana. Dan semua aman, gue sudah melakukan riset dan bertanya langsung dengan orang
terdekatnya, jadi lo nggak perlu khawatir berlebihan gitu. Biarkan gue terbang menikmati
indahnya belaian kasih sayang yang sejak lama gue dambakan.” Dia mengeluarkan suara seperti
orang yang sedang memuntahkan isi perutnya.

“Jijik gue dengarnya,” katanya sambil terbahak.

“lagian, kurang hangat apa sih belaian Elang sampai lo repot banget main kucing-kucingan.” Gue
menatap Galuh horror. Jangan bilang dia tahu tragedy di Karimunjawa. Tawanya semakin
menjadi saat mata gue terbelalak dan gagal mengeluarkan komentar pada pernyataanya.

“kenapa bisa tahu?” dia bertanya di sela-sela tawanya. G

ue mengangguk kaku.

“Selama dua minggu lo menghilang dan sibuk menghindar, setiap malam gue sama Denny terus
bergantian menjemput tuh anak di kelab malam. Karena nggak sanggup pulang sendirian.
Mabuknya Elang itu bikin pusing, setiap gue jemput dia pasti meracau nggak karuan sambil meluk
gue yang dia kira itu lo, dua kali dia menangis sambil memohon maaf sama gue yang dia kira
adalah lo. Sampai terakhir dia mengoceh panjang lebar dan mendetail soal kegiatan panas yang
kalian lakukan after party di Karimunjawa.”

Perut gue bergejolak hebat, rasanya sekarang gue beneran pengin muntah.

99

Travellove Ainidi

14
Aku dan Kamu?

Karena sibuk meladeni Satria Video Call semalam, gue bangun terlalu siang dan terlambat datang
ke Bandara. Hari ini adalah jadwal penerbangan kami menuju Nusa tenggara Barat. Sialnya

100


Click to View FlipBook Version