The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Blurb



Memulai kembali perjalanan bersama keempat sahabatnya untuk menjelajahi keindahan Indonesia. Memaksa Malaka mengulang kembali kisah yang lama tertidur lelap. Perjalanan ini menyadarkannya kalau kisahnya bersama Elang belumlah usai. Mana yang harus Mala nikmati? Indahnya tempat yang dia kunjungi atau indahnya rasa yang Elang bagi?
“Buat gue yang belum pernah pacaran, sangat mengharapkan perhatian yang dibagi oleh pasangan kebanyakan. Gue juga mau tahu rasanya dicariin kalau nggak ada kabar seharian. Gimana rasanya dicemburuin kalau gue jalan sama teman kerja berduaan. Gue juga membayangkan laki-laki yang akan menyisakan waktunya barang semenit saja buat gue, walau cuma sekedar nanya kapan gue akan makan.”
“Sama Elang, gue nggak merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik di perut gue seperti yang perempuan lain ceritakan.”
– Malaka Prameswara –

“Maafin gue.”
“Ayo kita coba lagi, ayo kita mulai lagi dari awal. Dengan benar, gue mungkin sudah terlalu sering menyakiti hati lo di masa lalu. Tapi, percayalah di masa depan gue akan berusaha memberi lo kebahagian dengan cara yang benar.”
“Waktu yang kita lewati sudah terlalu lama untuk menyiksa diri sendiri, gue mungkin nggak akan sanggup lagi menahan lebih lama. Gue nggak bisa janji kalau tidak melibatkan urusan pekerjaan pada hubungan ini. Tapi, gue janji akan menjadikan lo prioritas utama dibandingkan pekerjaan terpenting apapun di dalam hidup gue.”
– Elang Nirwasita –

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ainidijourney, 2022-02-24 23:31:41

Travellove

Blurb



Memulai kembali perjalanan bersama keempat sahabatnya untuk menjelajahi keindahan Indonesia. Memaksa Malaka mengulang kembali kisah yang lama tertidur lelap. Perjalanan ini menyadarkannya kalau kisahnya bersama Elang belumlah usai. Mana yang harus Mala nikmati? Indahnya tempat yang dia kunjungi atau indahnya rasa yang Elang bagi?
“Buat gue yang belum pernah pacaran, sangat mengharapkan perhatian yang dibagi oleh pasangan kebanyakan. Gue juga mau tahu rasanya dicariin kalau nggak ada kabar seharian. Gimana rasanya dicemburuin kalau gue jalan sama teman kerja berduaan. Gue juga membayangkan laki-laki yang akan menyisakan waktunya barang semenit saja buat gue, walau cuma sekedar nanya kapan gue akan makan.”
“Sama Elang, gue nggak merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik di perut gue seperti yang perempuan lain ceritakan.”
– Malaka Prameswara –

“Maafin gue.”
“Ayo kita coba lagi, ayo kita mulai lagi dari awal. Dengan benar, gue mungkin sudah terlalu sering menyakiti hati lo di masa lalu. Tapi, percayalah di masa depan gue akan berusaha memberi lo kebahagian dengan cara yang benar.”
“Waktu yang kita lewati sudah terlalu lama untuk menyiksa diri sendiri, gue mungkin nggak akan sanggup lagi menahan lebih lama. Gue nggak bisa janji kalau tidak melibatkan urusan pekerjaan pada hubungan ini. Tapi, gue janji akan menjadikan lo prioritas utama dibandingkan pekerjaan terpenting apapun di dalam hidup gue.”
– Elang Nirwasita –

Keywords: Travellove

Travellove Ainidi

“Stop! Stop! Jijik gue dengarnya, lo urus sendiri deh gue ogah kepo.” Kepalanya yang tadi
menggengam tangan gue terangkat dan menoyor kepala gue.

“Heh! Pasien loh gue ini.” bukannya meminta maaf dia malah menarik sejumput rambut gue.
Yang disusul suara tawa kami yang mengisi ruangan.

***

Selasa Pagi, gue menyerahkan kunci mobil kepada petugas kargo yang akan mengirim mobil gue
kembali ke Yogya. Bersama dengan barang-barang gue yang nggak sedikit itu. Setelah berdiskusi
panjang dengan Ayu, dia meminta gue untuk tetap tinggal di Jakarta sampai mendapatkan
penyewa yang akan menempati rumahnya. Nggak sampai dua hari gue memasang iklan, gue
sudah mendapatkan penyewa.

Itu kenapa gue buru-buru mengirimkan mobil juga barang-barang milik gue ke Yogya. Sebagian
barang milik Ayu gue bawa, sebagiannya lagi gue lelang ke teman-teman kuliah juga kantor
Kelana. Dan langsung mengirimkan uang hasil penjualan langsung gue ke yang punya hak.

Setelah gue bercerita tentang kondisi rumahnya setelah berbulan-bulan nggak di tempati. Ayu
memutuskan untuk menyewakan rumahnya, sampai dia kembali lagi ke Jakarta kapan-kapan
katanya. Meski due date kelahirannya masih dua bulan lagi, dia nggak bisa menjamin akan segera pulang
setelahnya. Mengingat keluarga Mas Den sudah sangat menuntut mereka untuk segera melangsungkan
pernikahan setelah melahirkan. Dia jadi nggak punya kepastian kapan bisa pulang.

Gue masih punya waktu dua hari sampai serah terima kunci rumah pada penyewa, dan baru akan
pulang di akhir minggu bersama Galuh. Bagaimana dengan Elang? Gue sudah mencoba ratusan
kali untuk mengajaknya bicara.

Semua pesan gue diabaikan.

Gue datang ke apartemennya, menurut security Elang sudah dua minggu nggak kelihatan.

251

Travellove Ainidi

Sampai nekat datang ke Menteng, malah berakhir mendengarkan tante Rida menangis dan
menyesali keputusan kami berdua.

Gue bertanya pada Angkasa, jawbannya masih sama. Dia hanya tahu kalau Elang masih di
Apartemennya.

Sampai gue mendaptkan sebuah pesan balasan dari Elang. Dua huruf yang berhasil membawa
gue kembali berdiri menatap pintu unitnya.

ElangN : Ok

Gue masih terdiam cukup lama, mengumpulkan keberanian untuk menekan bel unitnya. Tapi,
jari gue menggantung di udara dan belum sempat menekan belnya, pintu itu sudah terbuka.

Elang berdiri di ambang pintu.

Matanya terlihat sayu ada lingkar hitam yang terlihat jelas di bawah matanya. Rambutnya sedikit
gondrong dari yang terakhir gue lihat. Janggutnya semakin lebat. Kondisinya terlihat berantakan
tapi menawan.

Elang menggeser tubuhnya dan mempersilahkan gue masuk, tapi langkah gue terhenti di
hadapannya setelah mencium bau Alkohol yang sangat menyengat dari tubuhnya. Sial. Baunya
sangat pekat sampai membuat gue merasa mual.

“kenapa?” tanya Elang dengan suara yang sangat serak.

Tanpa menjawab gue mengangkat punggung tangan gue dan menempelkannya pada kening
Elang.

Panas.

“Badanmu panas,” kata gue berbisik,

Kedua alisnya berkerut menyatu, “kamu ke sini mau bicara sama aku atau mau main dokter-
dokteran?”

252

Travellove Ainidi

Gue menelan ludah dengan getir dan melangkah masuk ke dalam. Mata gue memindai seluruh
sudut ruangan yang dulu sering gue sambangi. Dan mendapatkan jawaban kenapa dua minggu
ini Elang tak terlihat.

Botol dan kaleng minuman bekas memenuhi meja makannya, tempat tidurnya rapih tapi sofanya
terlihat sangat berantakan oleh remahan dan bungkus makanan ringan. Elang menarik kursi
makan dan mempersilahkan gue duduk sebelum membuka kulkas dan mengambil botol air
mineral.

“Sorry cuma ada air putih,” dia menarik kursi makan lainnya dan di letakan tepat di hadapan gue.

Dia menyandarkan punggungnya pada kursi dan melipat tangannya ke dada, ini jadi terlihat
seperti seorang penjahat yang sedang di interogasi.

“jadi?” tanya Elang membuka suara.

Semua rangakaian kalimat yang sudah gue susun di dalam kepala mendadak lenyap saat mata
gue bertemu dengan tatapannya yang tajam.

Gue memejamkan mata dan berusah mengatur napas gue teratur agar tak bergetar saat
berbicara.

“Aku… mau minta maaf sebelum kembali ke Yogya,” kata gue berbisik.

Ada sebuah kilatan yang melintas di dalam matanya namun hanya sesaat karena dia kembali
menelan gue dengan tatapannya yang dingin. Elang hanya diam tak memberi jawaban.

“Karena sebelumnya aku pergi tanpa pamit. Maaf.”

Diam

“Setelah mendengar sepotong percakapan antara kamu dan Angkasa, aku nggak bisa mikirin apa-
apa lagi selain pulang ke Yogya.”

Diam

253

Travellove Ainidi

“Belakang baru aku tahu yang sebenarnya terjadi saat nggak sengaja bertemu Angkasa di Yogya.”

Gue kembali menatapnya lurus, “maaf.”

“Maaf karena aku nggak bisa mengartikan maksud kamu.”

“Maaf karena aku nggak pandai bercerita mengenai isi kepalaku, aku nggak bermaksud seperti
itu. terserah kamu mau percaya atau nggak, tapi aku nggak pernah mengesampingkan kamu
sebagai prioritasku.”

“Waktu itu… nggak, bahkan sampai sekarang aku nggak bisa ngebayangin menikah dengan laki-
laki lain selain kamu. Aku cuma nggak siap Lang, keadaannya yang belum tepat. Suasana di
rumahku masih sangat dingin karena Dita masih belum rela membiarkan ibu menikah dengan
Om Dody, di tambah saat itu Ayu juga sedang mendapat masalah yang nggak main-main. Aku
nggak mungkin ngebiarin mereka menderita, sementara aku dengan egoisnya mengukir
kebahagiaan aku sendiri kan?”

“Maaf aku minta maaf,”

Gue masih nggak mendapatkan jawaban karena Elang masih terdiam, kali ini dia menunduk
cukup lama, suara napasanya pun nggak terdengar. Sampai sebuah nama muncul pada layar
ponselnya yang tergeletak di atas meja makan di samping gue.

Bunga Is calling….

Elang melirik ponselnya yang mati dan kembali menyala beberapa saat kemudian dengan nama
yang sama.

Gue tersenyum getir menerima kekalahan.

“Aku hanya ingin memperbaiki yang salah, aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama
dengan pergi begitu aja meninggalkan masalah yang terus menggantung di antara kita.” Gue
menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.

254

Travellove Ainidi

“Meski tahu sudah terlambat, aku cuma mau kamu tahu kalau perasaan aku ke kamu masih
sama.”

Gue mengunci tatapan Elang,

“I do love you Elang Nirwasita, and will be always loving you,” bisik gue serak bersamaan dengan
setetes air mata yang jatuh.

“Aku akan terus mendoakan kebahagiaan kamu dalam menjalani hidup bersama dengan – “

Yang gue sadari selanjutnya adalah Elang menarik kepala gue dan membawa bibirnya pada bibir
gue.

“I love you too, welcome back home Malaka,” bisiknya di bibir gue.

33
Untold

“Ayo ke dokter,” kata gue untuk yang keseribu kalinya.
Elang hanya tersenyum, mencium pipi gue sebelum kembali menyerukkan kepalanya di leher
gue. Adegan tali kasih kami berakhir di atas tempat tidur Elang. Nggak ada yang kami lakukan
selain bergelung di bawah selimut sambil berpelukan dan sedikit kecupan-kecupan ringan yang
diberikan Elang.
“Lang,” kata gue sambil berusaha menarik kepalanya.

255

Travellove Ainidi

“Nggak mau, selama kamu nggak lepas pelukannya nanti sore juga sehat lagi.” Gue berdecak dan
memukul punggungnya dengan gemas.

“Pelukanku bukan obat.” Dia mengangkat kepalanya lalu mebelai hidung gue dengan hidungnya.

“Bukan, kamu itu semacam virus dan antivirus yang diciptakan secara bersamaan.”

“Ngomong apasih?” kata gue menggoda.

“ELAAAANNGG!!” Gue reflek berteriak karena dia menggigit hidung gue sampai terasa sakit dan
memeluk gue terlalu erat.

Elang sedikit melerai pelukannya untuk mencium bahu dan kepala gue, “you smell like a dream
come true,” bisiknya di telinga gue. Gue yakin kalau suhu badan Elang sekarang berpindah ke gue
karena wajah gue sekarang terasa sangat panas.

“You smell like a shit,” bisikan gue di telinganya dan berhasil membuat dia mendorong tubuh gue
menjauh.

“Jahat banget itu mulut.” Sulit bagi gue untuk menyembunyikan senyum ketika melihat Elang
yang merajuk.

“Memang beneran bau, nggak mandi berapa hari sih? Bau orang mabuk banget tahu nggak?” dia
mengangkat bahu tak acuh.

Gue berguling menelungkupan badan di samping Elang yang terlentang menatap langit-langit.
Tanpa gue sadari tangan gue sudah terangkat dan menelusuri seluruh wajah Elang yang lebat
oleh janggut dan kumisnya.

“Aku lapar, sambil nunggu aku pesan makanan. Kamu mandi ya sayang.” Dia terkekeh sebelum
mengambil tangan gue yang bertengger di pipinya dan memberikan kecupan lain di telapak
tangan.

“Coba ulang lagi,” katanya sambil menoleh menatap gue.

256

Travellove Ainidi

Dengan senyuman yang setia menghiasi wajah gue sejak tadi, gue bangkit dan duduk bersila di
sampingnya. Dengan wajah menahan geli, gue mulai membelai-belai rambutnya sedikit
berlebihan.

“Anak ganteng, anak baik, anak rajin, mandi ya cekep. Biar bersih, biar banyak temannya kalau
main. Ayo sayang pinter deh.” lalu dia meleparkan sebuah bantal pada wajah gue.

“Berisik,” katanya sebal tapi tetap bangkit dan berjalan menuju drawer untuk mencari pakaian.

Sambil tertawa gue ikut bangkit dari tempat tidur dan berjalan mengambil ponsel dari dalam tas
yang tadi gue letakan di atas meja makan. Untuk memesan makanan buat kita berdua. Sedikit
terkejut karena layar ponsel Elang menyala karena mendapatkan pesan. Iseng melirik notifikasi
yang baru saja masuk.

15 pesan dari 4 chat
6 panggilan tak terjawab
Belum sempat layarnya mati, ada panggilan yang masuk dari nama yang sama yang sejak tadi gue
lihat.
Bunga is calling…
Gue menoleh pada Elang yang masih sibuk mengambil pakaian ganti dari dalam drawernya.
“Angkat aja,” katanya tanpa menoleh.
“Nggak mau,”jawab gue pura-pura tak peduli padahal ya sebal juga.
Elang berdiri menghampiri gue meraih ponselnya yang masih terus berdering. Dia menekan
tombol jawab sebelum meletakan ponselnya di telinga gue.

257

Travellove Ainidi

“Hallo mas?” sapa bunga dari seberang sana.
Gue diam tak menjawab berusaha mengelak, tapi Elang ngotot menarik tangan gue untuk
mengambil kendali ponselnya.
“Hallo?” kata gue pada akhirnya,
Gue menatap Elang yang kini berdiri bersidekap di depan gue.
“ini … siapa?” sumpah ya, gue aja sebagai perempuan merinding dengar suaranya Bunga yang
super lembut dan seksi ini.
“Malaka.”

Gue sampai harus lebih menekan ponsel Elang pada telinga gue karena nggak ada sama sekali
jawabanya yang gue dengar, gue cek kembali layar ponselnya. Sambungannya belum terputus.

“Hallo?”

Beberpa saat kemudian gue mendengar suara seperti orang yang tersenyum sinis sebelum
sambungan dimatikan. Dengan bingung gue mengembalikan ponsel kepada Elang.

“Dimatikan,” kata gue masih heran. Elang mengangguk, meraih pakaian yang dia letakan di kursi
makan sebelumnya kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.

Aneh.

Tunggu sebentar, gue kembali menatap layar ponsel Elang dan menemukan foto gue yang duduk
di bawah pohon rindang dengan wajah yang penuh dengan coretan. Gue ingat momen ini, ketika
gue sedang dihukum oleh kakak tingkat karena berteriak pada salah satu senior yang membully
mahasiswa baru lainnya.

258

Travellove Ainidi

Sebelumnya gue nggak memperhatikannya dengan jelas karena gambar pohon dan mobil yang
terparkir lebih mendominasi, sementara gambar diri gue tertutup oleh tumpukkan aplikasi.
Bohong kalau gue nggak merasa tersentuh, tapi juga jengkel kenapa foto gue yang lagi nggak
banget ini yang dipasang?

Setelah memesan dua porsi nasi lemak, gue menambahkan catatan untuk driver, meminta tolong
untuk mampir ke Apotek agar dibelikan Analgetik.

Sambil menunggu Elang selesai mandi gue mulai memasukan botol dan kaleng minuman yang
berhamburan ke dalam kantong sampah besar, membersihkan remahan dan debu di segala
penjuru ruang, juga merapihkan kembali tempat tidur yang seprei dan selimutnya mulai kusust.

Tepat saat gue berdiri di depan bak cuci piring Elang keluar dari kamar mandi, nggak mau
menoleh karena takut menemukan Elang berbalut handuk lagi, gue mulai menyibukan diri
dengan piring dan gelas-gelas yang kotor.

“Wah, kenapa nggak dari kemarin aja ya kamu datang, biar rapih terus tempatku,” katanya sambil
menarik cerek kosong dari atas kompor. Ternyata hanya pikiran gue aja yang kemana-mana Elang
keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Dia menggeser gue dengan tubuhnya
untuk mengisi air ke dalam cerek.

“Dikatakan oleh seseorang yang nggak pernah mau diajak ketemu, boro-boro ketemu balas
pesanku aja nggak mau.” Elang terkekeh, mungkin karena malas menjawab dia juga pura-pura
menyibukan diri, setelah menerjang air dia sibuk wara-wiri menyiapkan cangkir, sampai terdiam
dengan kedua tangan yang menggantung pada pintu rak yang terbuka.

“Kamu udah pesen makanan belum La?”

“Udah, aku pesan nasi lemak. Kamu mau makan apa memangnya?” dia menghela napas sambil
cemberut.

259

Travellove Ainidi

“Mau titip kopi, aku kehabisan stok ternyata.” Dia menutup kembali pintu rak dan
mengembalikan cangkir yang tadi dia ambil. Sebagai gantinya dia membuka kulkas dan menarik
kedua kaleng minuman bersoda.

Melihat itu gue lantas berteriak dan mengomel,

“Kalau mau ngerusak ginjal sini biar aku koyak-koyak pakai pisau sekalian.” Elang menoleh dan
menatap gue dengan ngeri. Dia kembali meletakan kaleng dan menarik botol air mineral sebelum
berjalan menghampiri gue untuk mencuri sebuah ciuman pada sudut bibir.

“Gila kangen banget aku sama kegalakan kamu ini.”

Mendengar itu, gue membilas tangan gue yang di penuhi oleh sabun cuci, sebelum melangkah
dan memeluk Elang. Gue nggak bisa menggambarkan perasaan gue sekarang. Kembali berdiri lagi
di sini di dalam pelukan Elang.

Gue bisa merasakan kebingungan Elang tapi tangannya tetap terangkat membalas pelukan gue,
sebelah tanganganya membelai kepala gue.

“Maaf.” Bisik gue sedikit serak,

“terima kasih,” tambah gue.

Gue sedikit merenggakan pelukan tanpa melepaskannya, dan mengecup bibirnya.

“Terima kasih karena masih mau menerima aku kembali,” kata gue penuh keyakinan.

Apa gue sudah pernah bilang kalau selain tatapannya yang mampu menelan gue bulat-bulat, gue
juga sering terhipnotis oleh senyumannya yang super manis itu. Kalau diperhatikan dengan
seksama ada lubang pada kedua pipinya yang tersamarkan oleh janggut. wajahnya masih dihiasi
oleh janggut, tapi tak selebat sebelumnya. Sudah sedikit rapih dan terlihat segar.

Dia memajukan wajahnya untuk membalas kecupan gue dengan sebuah ciuman hangat yang
rasanya seperti kopi itu.

260

Travellove Ainidi

“Terima kasih sudah mau kembali,” katanya. Bibirnya kini bergeser mengecup kening gue, kedua
mata gue, lalu turun ke hidung dan bergeser pada kedua pipi gue sebelum beralih ke telinga gue.

“Cucian piring kotornya belum habis,” bisiknya di telinga gue kemudian.

Bukannya mengaduh kesakitan karena kakinya gue injak, dia malah tertawa terbahak. Gue
mendorong tubuhnya, sebelum kembali meraih piring kotor di dalam bak cuci. Kepala gue
kembali di tarik oleh Elang dan memberi kecupan di sisi kepala gue.

“I love you Malaka,” katanya lantang.

***

Sendok di tangan Elang mengambang di udara, dengan wajah yang menatap gue bingung. Nggak
lama kedua alisnya berkerut nampak berpikir. Kami tengah menghabiskan makan malam sambil
duduk mengemper di depan sofa sambil menonton serial Netflix. Salah serial Netflix yang
menonton kami, karena sejak di putar kita malah sibuk mengbrol bukannya menonton.

“Kapan sih?” tanya Elang sekali lagi, setelah gue beritahu kalau gue sempat bertemu dengan
tante Rida berbelanja bersama dengan Bunga juga ibunya.

“Tiga hari sebelum aku masuk rumah sakit,”jawabku dengan mulut yang penuh.

“Haa?”

Gue berdecak tak sabar, “Sehari sebelum kamu nampar aku pakai paperwork. Hari di mana
dengan kejamnya kamu mengusir aku dari Kelana.”

“Bahas aja teroooss.” Lah kan dia yang maksa gue menyebut tragedy itu, padahal gue udah alihin
ke mana-mana tetap aja nggak nyambung.

“Udah ingat belum kapan?” tanya gue di sela tawa.

261

Travellove Ainidi

“GI,” tambah gue.

Gue mendesah lelah saat akhirnya dia menepuk pahanya seperti memberitahu kalau dia sudah
ingat.

“itu sih bukan ibunya Bunga, itu teman arisannya mamah. Malah nggak kenal sama sekali sama
Bunga.” Jelasnya melanjutkan makan.

Gue meletakan piring gue yang separuh isinya hampir habis. Seperti mengerti, Elang
memindahkan sebagian nasi dan lauknya ke piringnya.

“Habisin,” katanya sambil menunjuk piring gue.

“Aku juga kaget waktu dia datang nyamperin aku bareng mamah dan temannya, padahal
agendanya itu meeting lanjutan mengenai kerja sama antara Kelana dan Kemendikbudristek.”

“Kok Bunga bisa kenal Mamah?” tanya gue lagi dan mulai menghabiskan makanan dalam piring
kalau nggak mau mendapatkan pelototan lain dari Elang.

“Dulu Mamahku sama Mamahnya dia aktif sebagai anggota Komite di Sekolah.”

“Sekolahmu dulu ada komitenya segala?” dia mengangguk tak peduli.

“Memangnya nggak ada OSIS?”

“Oh, bukan. Aku belum cerita ya? Aku sama Bunga itu bukan cuma teman SMA, tapi dari SD nah
mamah dan mamahnya dia Komite waktu SD,” Jelasnya kini giliran Elang yang meletakan
piringnya yang sudah kosong tak bersisa.

Gue menatap piring gue yang rasanya isinya tak berkuarang sama sekali padahal dari tadi sudah
gue makan.

“Pokoknya habisin sendiri aku beneran udah kenyang, emang banyak banget sih ini porsinya.”

262

Travellove Ainidi

“Terus kamu ngapain nggak masuk aja waktu itu ke kamar rawatku, padahal sudah datang.” Gue
baru tahu kalau ternyata Elang sempat datang ke rumah sakit, hari di mana dia dan Galuh saling
memberi salam dengan kepalan tangan.

“Udah kok, kalian aja yang nggak sadar karena lagi asik pegangan tangan,” jawab Elang sebal.

Gue lantas tertawa terbahak-bahak mendengarnya, yang benar aja deh. Ya masa iya cemburunya
sama si Galuh.

“Kamu tahu nggak sih kalau Galuh dan Dita itu udah jalan bareng?”

“Jalan bareng?” Elang menatap bingung tangannya meraih botol air milik gue karena botolnya
sudah kosong.

“Pacaran.”

Berikutnya yang terjadi adalah gue sudah basah kuyup karena Elang menyemburkan air yang dia
minum ke wajah gue.

“Iiiuuwhh Elang!” kata gue jijik.

“Eh, maaf sayang. Sengaja. Eh maksudya nggak sengaja.” Dia buru-buru mengusap wajah dan
rambut gue yang basah dengan kaos oblong yang dia kenakan. Gue segera menepis tanganya
yang dilapisi kaos.

“Nggak ada tisu.” Gue menunjuk kotak tisu yang bertengger di atas meja makan.

“Jauh. Males. Ganti baju aja nanti,” katanya tanpa rasa bersalah.

“Ganti pakai baju apa? Baju aku udah kamu kembaliin semua gitu.” Elang kembali menatap gue
dengan wajah yang semakin bingung.

“Kenapa bingung? Kamu kan yang kirim kardus besar berisi baju dan barang-barang aku?” dia
menggeleng pelan sebelum bangkit dan berjalan menuju drawer kecil yang terletak di samping
pintu kamar mandi. Drawer dengan empat laci itu biasa di gunakan Elang untuk menyimpan

263

Travellove Ainidi

handuk bersih juga seprai-seprai. Karena gue sering meninggalkan baju ganti dia jadi
mengosongkan dua laci teratas untuk gue.

Gue menatap Elang yang menoleh ke arah gue dengan kaget.

“Kok nggak ada?” katanya dengan wajah terkejut yang tidak dibuat-buat.

Ya manalah gue tahu, kan bukan gue yang tinggal di sini, karena malas main tebak-tebakan gue
hanya mengangkat bahu berlagak tak peduli. Kemudian gue mendengar Elang mengumpat pelan
dan berjalan untuk kembali duduk di dekat gue.

“Kamu ingat waktu kamu datang lagi ke sini untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan?”

“Waktu kamu datang bareng Bunga? Hari di mana kamu mengabaikan aku dan menganggap aku
tak kasat mata?”

“Aku nggak mengabaikan kamu ya. aku udah minta tolong sama Bunga untuk menyuruh kamu
masuk, sebelum aku masuk kamar mandi buat menyembunyikan tangan dan kaki aku yang
gemetar.” Sebenarnya besar keinginan gue untuk bertanya kenapa dia gemetar.

“Menurut kamu ajalah Lang,” kata gue kemudian malas mendebat.

“Aku ketemu Bunga di bar dalam kondisi yang sudah mabuk, dia juga yang mengantar aku palang
ke sini, karena mabuk parah aku jadi nggak sengaja muntahin bajunya. Nah dia datang buat ambil
baju yang aku muntahin itu.”

“Dan intinya adalah?” tanya gue mulai tak sabar.

“Karena aku sibuk nenangin diri di kamar mandi, aku meminta Bunga untuk mencari pakaianya
sendiri, aku nggak sadar berapa lama aku diam di dalam. Tapi begitu keluar Bunga sudah nggak
ada, nggak ada lagi siapa-siapa termasuk kamu.” Tutupnya sedih.

Gue diam saja tanpa lanjut bertanya karena sudah bisa menebak siapa yang mengirimkan barang-
barang gue dengan tidak sopan itu.

264

Travellove Ainidi

Gue meletakan piring gue yang isinya nggak habis-habis itu,
“Udah kena air liur kamu, nggak mau. Aku jijik.” Elang mencebik nggak percaya.
“Alasan, paling cuma kecipratan sedikit doang itu.” gue membalasnya dengan cengiran tanpa
dosa.
“Galuh juga bilang kalau dia mau pindah kerja Yogya, karena Dita nggak ada niatan buat pindah
ke sini,” kata gue mengalihkan percakapan kami.
Elang menghela napas sebelum kembali bersandar pada sofa, menatap tivi yang masih
menayangkan serial yang sama.
“Kalau kamu?” tanya Elang dalam diam tanpa menoleh.
“Tergantung,” jawab gue yang kembali mendapat perhatian Elang.
“Tergantung kamu jadi nikahin aku atau nggak.”

34
Sunrise Between Us

265

Travellove Ainidi

“Tapi aku udah keburu laper loh.” Sebuah kalimat yang terus dia ulang-ulang sepanjang jalan.

Kami sedang dalam perjalan, menuju rumah Ayu untuk menyerahkan kunci kepada penghuni
yang yang akan menempati rumah itu selama setahun ke depan. Gue meminta Elang untuk
mengantar gue ke supermarket saja, dari pada makan siang di luar. Bukan apa-apa, gue nggak
bisa tinggal di tempat Elang, sementara dapurnya kehabisan bahan pangan.

Elang mengomel setelah tahu kalau gue berniat menetap di hotel sementara waktu sampai
waktunya pulang Yogya. Mengabaikan informasi kalau gue akan pulang akhir pekan ini, dengan
santainya dia bilang kalau gue tidak diijinkan tinggal di manapun selain di tempatnya.

Walau sudah menerima kartu akses apartementnya bukan berarti gue menyetujui ajakan dia
untuk tinggal bersama untuk waktu yang lama tanpa ikatan apa-apa. Kalau ibu tahu gue bukan
cuma diusir tapi bisa jadi langsung di kebumikan hidup-hidup. Lagipula gimana bisa dia mengajak
gue tinggal bersama sementara pertanyaan gue soal pernikahan aja dia nggak jawab. Kan bikin
gue jadi curiga kalau sebenarnya dia masih mau balas dendam sama gue perihal menikah.

“Ya udah kalau nggak kita drive thru, nanti kamu makan di mobil sambil nunggu aku belanja.”
Elang semakin berdecak sebal dan melirik gue dengan kesal.

“Ya kenapa nggak makan dulu aja baru habis itu kamu belanja? Ribet,” katanya tambah sewot.

“Memang kamu nggak ada kerjaan apa hari ini?” tanya gue yang mulai ikutan sebal.

“Ada.”

“Nah, kan kamu kerja biar hemat waktu loh. Lagian kan tadi aku udah bilang aku naik taksi online
juga nggak masalah.”

“Nemenin pacar.”

“haa?”

266

Travellove Ainidi

“kerjaanku hari ini sampai seminggu ke depan nemenin pacar, sekalian mau ngerayu pacarku ini
supaya mau balik lagi kerja di Kelana.”

“Oh, ya kalau itu mau kamu rayu pakai berlian sekalipun aku tetap nggak mau.”

“Kok gitu sih La, memangnya kamu nggak ingat sama perjuangan kita bareng-bareng dulu waktu
ngebangun Kelana dari nol.”

“Ya justru karena aku ingat makanya aku nggak mau.” Gue diam menarik napas, supaya nggak
ada emosi yang tersirat pada suara gue kemudian.

“Karena Kelana bukan kebun binatang, aku nggak mau seenak udel keluar masuk.” Elang tiba-
tiba mengarahkan mobilnya ke pinggir dan berhenti di bahu jalan. Gue diam saja merutuki mulut
gue yang nggak bisa ngerem ini.

Elang nggak melakukan apapun, dia hanya diam menatap jalanan tapi, kalau di lihat dari kedua
tangannya mencengkram erat setir mobil, gue tahu pasti kalau gue benar-benar sudah
menyinggung dia.

“Maaf,” bisik gue kemudian.

Dia menggelang, senyumnya terukir sedih, baru kemudian terkekeh.

“Kenapa minta maaf?” tanya Elang kemudian yang kini sudah berbalik menatap gue lekat.

Gue menelan kegetiran dengan susah payah, sebelum menarik napas dan menghembuskannya
berulang kali. Sialnya ketenangan hati yang gue butuhkan sekarang nggak kunjung datang dan
terganti oleh emosi yang perlahan bangkit. Gue memang secinta itu sama Elang, tapi cara dia
memperlakukan gue di Kelana waktu lalu tetap menyakiti hati dan menyinggung perasaan gue
setengah mati.

Seperti yang sudah Elang katakan, karena gue teringat perjuangan kami untuk mewujudkan dan
membangun mimpi yang kami cita-citakan. Elang nggak berhak untuk bersikap kejam dengan
menjatuhkan gue seperti itu, terlebih di depan orang lain. Hanya karena dia memiliki saham yang

267

Travellove Ainidi

lebih besar, dia nggak bisa mengambil keputusan secara sepihak, tanpa lebih dulu berdiskusi
dengan yang lain apalagi di dasari oleh rasa sakit hati yang gue patahi.

Entah sudah berapa lami kami berdiam diri dalam pemikiran masing-masing, sampai gue
merasakan tangan gue di genggam erat oleh Elang, bahkan terlalu erat sampai terasa sakit.

“Maaf,” katanya parau dengan air mata yang sudah menggenangi pelupuk mata.

“Harusnya aku yang minta maaf karena sudah sebrengsek itu kemarin.” Gue sangat ingin
meghapus setetes air mata yang baru saja tumpah, tapi tertahan karena Elang kini sudah
mengambil alih kedua tangan gue.

“Nggak seharusnya aku ngejatuhin kamu sekejam itu, aku benar-benar minta maaf La,”
tambahnya.

Gue menarik sebelah tangan gue keluar dari genggaman untuk menarik tisu dan menghapus
mata Elang yang kini basah. Mungkin akan sulit bagi gue untuk melupakan kejadian itu, gue juga
masih butuh waktu yang nggak berbatas untuk menyiapkan muka yang sudah terlanjur malu.

Sejak kejadian itu pula gue berusaha menghindari Dhea saking malunya. Menolak semua ajakan
dia untuk bertemu, membalas pesannya seadanya dan melewatkan panggilan telepon dari
nomornya.

“Udah dimaafkan, lagipula sudah lewat juga kan?” jawab gue pada akhirnya.

Gue berusaha memberika senyum tulus pada Elang agar dia percaya, mungkin gagal karena Elang
nggak berhenti menatap gue seperti sedang mencari sesuatu yang nggak kunjung dia temukan.
Kemudian gue maju untuk memberikan ciuman agar dia teralihhkan. Bukan ciuman panjang,
hanya sebuah kecupan yang mengisyaratkan kalau gue sekarang sudah baik-baik saja.

“Kamu nggak cuma punya hutang maaf sama aku, tapi juga sama yang lain. Mereka juga sama
kesalnya sama kamu.” Keningnya berkerut dan merubah emosi dalam matanya, yang jujur aja
nggak bisa gue artikan.

268

Travellove Ainidi

“Jadi simpan penyesalan kamu untuk yang lain. Karena untuk sekarang sampai waktu yang lama
aku cuma minta cintanya Elang aja, boleh?” tambah gue cepat-cepat.

Berhasil, senyumnya kini sudah mengembang. Dia kemudian menarik gue dalam pelukan,
meninggalkan kecupan pada bahu sebelum kembali melepaskan pelukan kami. Tepat saat itu,
ponsel gue bergetar, ada panggilan masuk dari calon penghuni rumah Ayu.

“Katanya dia sudah sampai,” kata gue pada Elang, dia sudah kembali menjalankan mobilnya
keluar dari bahu jalan.

“Aku jadi nggak enak deh, padahal kan tadi niatnya mau datang duluan supaya bisa bersih-bersih
sedikit. Kamu sih,” Elang mengalihkan pandangan dari lalu lintas yang mulai padat untuk menatap
gue sebentar dengan raut wajah yang sedikit cemberut sebelum kembali lagi ke jalan.

“Pakai acara nangis segala lagi, jadi berasa lagi main film india,” kata gue terus menggerutu.
Kemudian Elang mengulurkan tangannya untuk membesarkan volume pada radio. Gue tahu tuh
maksudnya pasti mau nyuruh gue diam tapi takut tambah kena semprot.

“Dasar!”

***

Tahu nggak rasanya terjebak diantara dua orang yang pernah saling berselisih dan belum sempat
kembali berdamai? Awkward banget! Itu yang lagi gue rasain sekarang. Gue duduk di antara
Galuh dan Elang pada sebuah ruang tunggu bandara, sambil menunggu jadwal penerbangan kami
ke Yogya.

269

Travellove Ainidi

Karena sudah terlanjur mengirim mobil juga barang-barang lebih dulu, gue menjelaskan dengan
penuh drama pada Elang kalau gue nggak bisa reschedule penerbangan gue. Selain sayang uang,
gue juga harus lebih dulu ijin sama ibu kalau mau kembali tinggal di Jakarta.

Pada akhirnya Elang mengalah dan ikut memesan tiket dengan penerbangan yang sama, walau
harganya yang beda, dia dapat kursi bisnis sementara gue dan Galuh duduk di kelas ekonomi.

Sebentar,

Sebuah ide terlintas di dalam kepala, gue menarik ponsel gue dari kantong celana dan
mengirimkan pesan pada Elang.

Me: Lang, kamu nggak mau duduk bareng aku aja?

My Sayang : ya maulah kenapa masih nanya?

Iya nama kontak Elang berubah, tapi bukan gue yang merubah melainkan Elang sendiri yang
merubahnya dengan tak tahu malu.

Me : coba minta tuker Galuh, mau nggak dia.

My Sayang : ini kita ngapain ngobrol lewat chat sih? Kan sebelahan.

Ya menurut ngana ajalah!

Gue bangkit dengan tiba-tiba, mengejutkan keduanya. Dan berpamitan ke toilet untuk
memberikan ruang bagi mereka demi mencairkan kebekuan yang membatasi keduanya.

Setelah beberapa saat kembali, gue sudah menemukan mereka duduk saling bersisian sambil
memegang ponsel denga posisi sama miring. Iya lagi main game.

Boys always be boys.

Kalau sudah begini gue yakin sih kalau Galuh setuju untuk bertukar kursi, mana kelas bisnis
lagikan. Masa mau di tolak.

270

Travellove Ainidi

Salah.

Elang memang sudah menukar kursi, tapi bukan pada Galuh tapi pada gue. Jadi gue yang duduk
sendiri di kelas bisnis sementara mereka duduk berdua di ekonomi. Yang baru gue ketahui kalau
kesempatan itu akan dia gunakan untuk berbicara dan meluruskan banyak hal dengan Galuh. Ya
biarlah, toh gue juga nggak akan menolak malah bersyukur bisa tidur sepanjang perjalanan.

Apakah setelah kembali menjalin hubungan dengan Elang sudah mewujudkan khayalan gue
untuk di bangunkan dengan sebuah kecupan? Nggak juga. Memang sudah tidak dibangunkan
dengan minuman kaleng dingin yang di letakan di belakang leher, tapi ya tetap nggak ada
kecupan atau belaian. Melainkan cubitan, yang sumpah mati rasanya sakit banget.

“udah sampai, kebo banget dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun.” Gue melirik sebal
sekaligus malu pada pramugari yang terlihat sedang menahan tawa namun gagal.

***

Sejak jam dua pagi Elang sudah berisik membangunkan gue dengan terus menelepon dan sesekali
mengetuk pintu, sampai akhirnya Andien menorobos masuk dan membangunkan gue dengan
paksa karena dia juga sama terganggunya oleh tingkah Elang.

Siang tadi dia merengek pada gue untuk minta di temani ke Puncak Suroloyo di Pegunungan
Menoreh, Kulonprogo. Katanya dia mau lihat pemandangan sunrise sama seperti yang di lakukan
oleh temannya di Instagram, awalnya nggak gue gubris sama sekali sampai dia mengadu pada
ibu.

“Berisiiiiiikkkkk.” Bisik gue dengan geraman tertahan.

“Nanti keburu nggak dapat momennya.” Gue menatap Elang sebal sambil mengabsen
penampilannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dia sudah siap dengan celana cargo
berwarna army dengan hoodie hitam, rambutnya yang panjang kini sudah dikuncir rapih. Gue
kembali melirik jam pada dinding yang masih menunjukan pukul 2.30 dini hari.

271

Travellove Ainidi

“Dari sini ke Kulonprogo cuma satu jam Elang, sunrise di sini itu jam lima. Mau berangkat jam
empat juga nggak bakal kehilangan momen.”

“kamu kan mandinya lama.”

“Memang siapa yang bilang aku bakal mandi? Orang gila mana yang rela mandi di tengah malam
demi naik gunung?” tangannya terangkat dan menunjuk dirinya sendiri.

“Aku habis mandi,” katanya sambil menyengir.

“Ya berarti kamu gila.” Dia maju satu langkah menghampiri gue dan mendekatkan bibirnya ke
telinga gue.

“Tergila-gila sama kamu,” bisiknya. Nggak lama dia langsung menjauhkan kepalanya sambil
menutup hidungnya, karena gue membalasnya dengan sengaja menghembuskan nafas tepat di
hidungnya.

“Masih tergila-gila nggak?”

“Gosok gigi sana, kamu bau naga!” gue tertawa puas tanpa suara karena takut membangunkan
yang lain, dan melenggang meninggalkan Elang kembali masuk ke dalam kamar untuk cuci muka
dan gosok gigi.

Gue bersyukur sejak tinggal bersama Om Dody, gue nggak perlu lagi bertengkar untuk berebut
kamar mandi dengan si kembar. Karena setiap kamar di rumah ini memiliki kamar mandinya
masing-masing.

Ini kenapa gue menolak dan mengabaikan permintaan Elang untuk melihat sunrise, karena untuk

sampai ke Puncak Suroloyo selain harus melalui jalur yang penuh kelokan dan di apit oleh bukit
juga jurang sepanjang jalan, gue masih harus menaiki 300 anak tangga. Apa dia lupa kalau gue ini
nggak pandai mengatur napas? Belum sampai 50 anak tangga saja gue sudah kehabisan napas
begini.

272

Travellove Ainidi

“Makanya aku udah bangunin kamu dari jam dua dan minta berangkat jam tiga, karena tahu
kamu kalau mendaki butuh waktu lama,” katanya dengan santai.

Kalau sudah tahu gue sulit mendaki gunung kenapa masih minta naik gunung sih? Beruntung gue
sedang sibuk mengatur napas dan menghirup oksigen dari tabung portable yang sudah dia
siapkan. Karena bisa jadi dia sudah gue tendang biar menggelinding ke bawah.

Setelah napas gue sudah kembali teratur, gue mulai menapaki anak tangga satu persatu, tidak
banyak pengunjung yang datang. Membuat gue kembali mengingat- ingat hari apa sekarang,
karena walaupun ini masih hari Selasa dan kebanyakan turis memburu matahari terbit di Gunung
Merapai, tapi jumlah orang yang masih bisa dihitung dengan jari saja yang berlalu lalang ini
sungguh nggak biasa. Elang menyerahkan dua tabung oksegen portable lainnya pada gue di
undakan anak tangga yang entah keberapa tapi keberadaan gue sudah di tengah-tengah dan
hampir sampai.

“Kamu lama, aku mau naik duluan aja nanti malah keburu nggak lihat pas mataharinya muncul.”
Gue terperangah menatap Elang yang sudah asik sendiri meninggalkan gue tanpa lagi menoleh.
Tega banget itu anak ninggalin gue sendirian di sini mana gelap lagi.

Gue terus merapalkan doa dan menapaki anak tangga dengan sedikit kencang, peduli amat deh
sama napas gue yang udah hampir habis ini.

Sesampainya di puncak gue menemukan tiga gardu pandang yang tersedia, tapi gue nggak
menemukan Elang di antaranya. Harusnya nggak sulit menemukan Elang karena nggak banyak
orang yang datang, terlebih gardu pandang yang terletak di tengah kosong meolompong.
Seketika rasa panik menghampiri gue, dia nggak mungkin terpeleset dan jatuh kan? Atau nggak
mungkin juga di culik oleh penghuni lain?

Baru gue ingin melangkah menghampriri beberapa rombongan remaja untuk bertanya
keberadaan Elang. Tapi, terhenti karena gue di kejutkan oleh tangan yang melingkar di perut gue.

273

Travellove Ainidi

“Ngumpet di mana?” tanya gue sambil menoleh untuk memastikan kembali kalau yang memeluk
gue benar Elang.

“Di belakang pohon,” Jawab Elang dengan mengedikan dagunya ke sembarang arah.

Nggak mau jadi pusat perhatian gue melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Elang
menuju Gardu pandang yang kosong di tengah.

“Kamu tahu nggak La? katanya dari sini kita bisa lihat empat Gunung sekaligus.” Gue mengangguk
tanpa menoleh.

“Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro.”

“Ada satu lagi.” Kali ini gue menoleh dengan dahi yang meninggi, bukannya tadi dia bilang empat?
Apa gue yang salah dengar.

“Nggak tahu,” jawab gue ragu.

“Candi Borobudur.”

“Entah kamu yang terlalu pintar atau aku yang nggak pernah ikut kelas geografi. Tapi aku nggak
sebego itu sampai nggak tahu kalau candi termasuk keluarga pergunungan.” Elang hanya tertawa
renyah menanggapi nada gue yang mulai sebal.

Dia menarik dan menempatka gue di depannya, tangannya memang nggak melingkar di perut
gue, tapi gue dapat merasakan dagunya yang bersandar di atas kepala gue.

Kami memandang dengan takjub saat matahari muncul dari balik cakrawala, di antara Gunung
Merapi dan Gunung Merbabu sinarnya perlahan menampakan keduanya. Elang menarik tangan
gue dan membalik badan gue hingga menghadap dia sepenuhnya.

“Aku udah minta ijin sama Ibu juga Om Dody lebih dulu La, mereka setuju dan menyambut aku
dengan suka cita. Sekarang aku hanya perlu ijin kamu untuk sealu mendampingi aku menikmati

274

Travellove Ainidi

matahari terbit, matahari terbenam atau bahkan menikmati langit aram temaram sampai usia
kita menua bersama.”

Gue menahan napas terkejut sampai akhirnya tersenyum malu saat dia menarik kantung beludru
yang gue kenali dari kantong celananya.

“So, Malaka Prameswara now I’m begging you to marry me, please.”

Saking terkejutnya gue sampai nggak tahu harus merespon apa,

“Apa aku harus berlutut juga?” gue tertawa dan menggeleng.

“Yes, a thousand time yes Elang Nirwasita.” Dia bergegas menyematkan cincin yang dulu gue
kenakan kembali ke jari manis gue, dengan sambutan sedikit meriah dari gerombolan remaja di
Gardu pandang sebelah. Gue berterima kasih pada penguasa Alam dan seisinya karena sudah
diberi kesempatan untuk berbahagia.

275

Travellove Ainidi

Epilog

Gue berterima kasih sekali lagi pada makeup artist yang baru saja mengubah wajah dekil gue
sampai terlihat jelita, dan menolak secara halus tawarannya yang ingin membantu gue untuk
memakaikan kain yang lupa gue jahit bersama kebaya. Alhasil gue harus memakainya dengan
cara tradisional yaitu dililit dan diikat sekuat mungkin agar tak terlepas di tengah-tengah acara
nanti.

“Lagian kenapa nggak di jahit jadi rok aja sih kak? Kan kalau gitu jadi rumit.” Ya namanya juga
lupa.

Gue diam saja tak menjawab Dita yang terus-menerus protes tentang penampilan gue, dari
makeup gue yang terlalu natural, rambut gue yang hanya di cepol seadaanya, sampai model
kebaya gue yang dijahit biasa saja. Belum aja dia merasakan betapa sulitnya menghadiri acara
pernikahan dengan keadaan perut yang membuncit.

Malah kalau bisa nggak usah makeup juga nggak masalah, kalau bukan Dita yang sudah terlanjur
mendatangkan MUA ke rumah tanpa sepengetahuan gue dan Elang. Bisa jadi gue datang tanpa
riasan apapun ke acara resepsi yang di gelar Mas Den juga Ayu untuk yang entah sudah ke berapa
kali. Iya beberapa kali.

Gue nggak tahu apakah ini berlaku untuk semua orang kaya atau hanya berlaku untuk
keluarganya Mas Den saja. Katanya karena Mas Den anak laki-laki satu-satunya acara pernikahan
mereka di gelar secara besar-besaran, dengan dalih agar semua kolega mereka dapat hadir.

Setelah kelahiran Den Bagus, anak laki-laki Ayu setahun lalu, Ayu akhirnya setuju untuk menerima
pinangan Mas Den. Gue tahu pasti semuanya nggak mudah untuk Ayu, tapi gue juga nggak
membenarkan tindakan mereka yang tetap tinggal satu atap tanpa ikatan apapun.

276

Travellove Ainidi

Sebulan yang lalu akhirnya Mas Den berhasil mempersunting Ayu dengan sah secara hukum dan
agama. lalu tiga hari setelahnya mereka menggelar resepsi yang hanya di hadiri oleh keluarga
dan sahabat dekat saja di Bali. Seminggu kemudian keluarganya menggelar acara ngunduh mantu
di Malang, yang nggak bisa gue hadiri karena kondisi tubuh gue yang nggak mumpuni. Di tutup
dengan acara resepsi yang di gelar di Jakarta malam ini.

Gue nggak tahu apa yang di alami ibu hamil yang lain ini sama dengan gue atau nggak, yang jelas
kehamilan gue ini mengalami morning sickness – yang ternyata nggak hanya morning ini – sampai
memasuki minggu ke dua puluh enam. Itu kenapa gue malas untuk berdandan dan merias rambut
gue.

“Benar nggak mau di bantu aja nih Mbak?” tanya tukang rias sekali lagi, dan gue tetap menolak.

“Nggak apa-apa kok Mbak, kalau pakai sendiri malah lebih enak saya, jadi bisa mengukur
seberapa kencanganya ikatan di pinggang.”

Sebuah ketukan pada pintu mengalihkan kami dari perdebatan kain yang sulit gue pakai ini, Dita
mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit, sebelum membukanya lebar dan membiarkan
Elang masuk ke dalam ruangan.

“Cantik banget istriku,” katanya sambil berjalan menghampiri gue.

“Idih Mas Elang ini matanya nyureng atau gimana sih? Lihat aja tuh rambutnya Kak Lala, cuma di
cepol seperti habis keluar dari kamar mandi.” Elang hanya tertawa menanggapi Dita, mungkin
karena sudah terbiasa dengan pertengkaran dan perdebatan kami setiap hari.

“Galuh sudah di depan tuh Ta.”

Nah untuk Andita, sudah tiga bulan lebih Dita ikut tinggal bersama kami. Seperti yang sudah
pernah gue sampaikan pada Galuh. Kalau si anak baru gede ini merubah pikirannya dan
memutuskan untuk bekerja di Jakarta pada detik-detik terakhir Galuh akan cabut ke Yogya.

277

Travellove Ainidi

Beruntung hadiah pernikahan berupa rumah, pemberian orang tua Elang nggak gue tolak, jadi
dia bisa ikut tinggal bersama kami. Kalau nggak diingatkan oleh Elang bagaimana gaya pacaran
Galuh dulu gue mungkin sudah membiarkan Dita tinggal di Apartement Elang yang lama.

“Mau diapain juga tetap cantik,” kata Elang sambil menghadiahi gue sebuah kecupan di pipi
sebelum turun ke perut gue untuk menyapa anaknya.

“Anak Bapak anteng nggak hari ini?” tanya Elang berbisik pada perut gue,

“Dita keluar deh nemenin Mas Galuh, Ayo Mbak Fatma kita keluar aja, nanti mual loh lama-lama
di sini bareng mereka.” Dita keluar bersama tukang rias yang baru gue ketahui namanya itu,
padahal kalaupun dia ikut keluar bersama Dita gue sangat yakin dia akan lebih mual lagi.

“Mana ada antengnya, kamu nggak lihat riasanku biasa aja gini? Karena setiap lima menit sekali
dedek ngajak aku ke toilet mulu.” Elang tertawa dan mengecup perut gue berkali-kali, kegiatan
yang belakang menjadi hobi baru Elang.

Elang berdiri dan menangkup pipi gue dengan kedua tangannya, “itu namanya si dedek pintar,
dia tahu Bapak pasti insecure kalau Ibu perginya terlalu cantik.”

“Berarti sekarang nggak cantik?” kata gue dengan susah payah karena pipi gue semakin diapit
oleh tangannya.

Dia mengecup kening gue.

“Cantik.”

Lalu mengecup kedua mata gue.

“Cantik banget.”

Kecupannya mendarat di hidung gue.

“Terlalu cantik.”

278

Travellove Ainidi

Kemudian bergeser pada kedua pipi gue.
“Sangat cantik.”
Lalu dia diam memandangi mata gue dengan mata yang berbinar dan senyuman yang kini
menular.
“I love you Malaka.”
Lalu bibirnya melumat bibir gue lama, rasa nya selalu sama nggak ada yang berubah. Malah
semakin bertambah. Ciuman Elang semakin hari semakin terasa seperti menikmati kopi di pagi
hari sambil bercerita.
Rasanya kopi dalam cangkir gue belum habis saat Elang menyudahi ciumannya. Jadi gue terus
berusaha menempelkan bibir untuk mencecap rasanya kembali.
“Sayang,” Kata Elang menahan Geli.
“Kain kamu melorot,” bisiknya yang nggak lama menyemburkan tawa juga.
Sial!

***

MyHubby : Aku sudah di loby sayang.

Setelah membaca pesan Elang, gue bergegas merapihkan barang dengan susah payah. Ini adalah
hari terakhir gue bekerja di MATA. Setelah diskusi yang panjang dan cukup alot, Angkasa akhirnya
menyetujui surat resign yang gue ajukan.

279

Travellove Ainidi

Karena nggak mau terus-terusan jadi bahan gossip di kantor, sejak gue setuju untuk bergabung
dan bekerja di MATA, e-commerce milik Angkasa lima tahun lalu. Gue nggak berhenti jadi bahan
gibah karyawan sini terutama perempuan.

Entah itu digossipkan masuk melalui orang dalam – yang ini tentu saja gue benarkan – . Menjadi
simpanan Angkasa, penyebab utama kehancuran rumah tangga Angkasa dan Chika, sampai gue
berusaha merayu Elang karena gagal dapat kakaknya.

Yang gue nggak habis pikir muncul sebuah gosip kalau Abinaya Basupati Pramatya, putra pertama
gue dan Elang adalah hasil dari perselingkuhan gue dengan Angkasa. Karena terlalu sering keluar
makan siang bersama, gue digosipkan main gila di belakang Elang. Padahal keluarnya juga untuk
menemui Elang juga Mbak Gadis untuk makan bersama di rumah Menteng.

Karena sakit hati, setelah mendamprat si pelaku dan memberinya ganjaran yang setimpal, berita
itu akhirnya membawa gue pada keputusan ini. Nggak enak dengan Angkasa juga Mbak Gadis,
isterinya. Pacar pertama Angkasa yang dia nikahi setelah gagal bersama Chika.

Kalau Elang sudah nggak perlu di tanya lagi, dia menanggapi semua gossip itu dengan rajin
menjemput gue dan menyambut gue dengan mesra secara terang-terangan seperti yang dia
lakukan sekarang ini.

“Aku aja yang bawa,” kata Elang yang sudah menyambar dua tas jinjing di tangan gue sambil
merangkul gue dengan sebelah tangannya, dan sesekali mengecup kepala gue. Mulanya gue risih
tapi lama-lama ya senang juga.

“Kok Mas Abi nggak ikut?” tanya gue yang baru sadar kalau Elang ternyata datang sendiri.

“Udah keduluan Dita yang jemput,” jawab Elang yang kini melepas rangkulannya dan berpura-
pura menggaruk kepalanya yang gue yakin nggak gatal sama sekali.

Gue menatap Elang dengan sebal, “Dita sudah janji kalau nggak bakal bawa Abi main bareng Jeff.”

280

Travellove Ainidi

“Janjinya Dita itu nggak bisa di pegang, waktu lalu dia juga janji begitu sama aku, terus waktu aku
lagi bacain dongeng sebelum tidur bukannya nanya kenapa Simba dikucikalkan kawanannya, dia
malah merengek meminjam ponselku dan memintaku untuk mengunduh PUBG!!” kata gue yang
terus saja mengomel sampai nggak sadar kalau kami sudah tiba di parkiran.

Elang tertawa dan membukakan pintu penumpang untuk gue sebelum berputar ke sisi
pengemudi.

“Nanti aku pastiin lagi kalau dia nggak main bareng Jeff,” jawab Elang santai.

“Untuk sekarang aku mau menyelesaikan suatu misi,” tambahnya.

“Misi apa?” tanya gue nggak penasaran sama sekali.

“Misi mewujudkan panggilan Mas pada Abi menjadi kenyataan, aku sudah pesan kamar.” tawa
gue kemudian pecah. Gue sudah menebak bahkan sejak semalam, ada pesan dari bank yang
melaporkan kalau Elang sudah melakukan transaksi atas nama gue.

“Aku baru aja berhenti kerja, sekarang kamu malah mau ngerjain aku?” dia mengangguk senang
dengan cengiran khasnya yang entah kenapa selalu berhasil membuat jantung gue bekerja lebih
kencang.

***

“Terus jadinya kamu pulang jam berapa?” tanya gue sekali untuk memastikan.

“Sebelum makan malam sudah sampai rumah, aku janji.” Gue tersenyum senang, nggak perlu
pakai janji gue juga percaya. Sesibuk-sibuknya Elang kalau sudah bilang mau pulang jam berapa
dia pasti tepati.

Seminggu belakangan ini Elang memang sedang disibukan dengan project baru, pasalnya Kelana
bekerja sama dengan rumah produksi Animasi untuk menggarap film Animasi dalam Negeri yang
berbasis petualangan.

281

Travellove Ainidi

Selain gue dan Ayu, ketiga pemilik Kelana kembali pada posisinya masing-masing. Ayu yang
mengaku semakin keteteran mengurus ketiga anaknya, sementara gue yang masih nggak punya
mental untuk kembali ke sana.

“Memangnya kamu masak apa sih?” tanya Elang mengembalikan lamunan gue.

“Masak sop kambing.”

“kamu yang masak?”

“Ya jelas abangnya dong, masa aku.” dia tertawa renyah di ujung sana.

“Kenapa tiba-tiba sop kambing?”

“Soalnya aku baru aja beli baju tidur baru,” jawab gue dengan suara berbisik untuk menggoda
Elang.

“kalau gitu aku pulang sekarang aja deh.”

“Boleh, selama pekerjaanmu beneran udah selesai. Aku nggak mau di ganggu dering telepon saat
udah jalan setengah.”

“Ya ampun sayang, sudah stop. Nanti aku beneran pengin pulang sekarang. Sudah ya? Kita
ketemu nanti malam. Oke?”

Gue mengangguk setuju, padahal dia nggak lihat juga gue mengangguk tapi tetap mengucapkan
salam sebelum memutuskan sambungan. Gue kembali melirik baju tidur yang baru aja gue beli,
dan menatap Mas Abi yang sedang sibuk bermain.

“Mas Abi,” panggil gue hati-hati, Abi ini seperti gue suka sebal kalau diganggu saat sedang
konsentrasi.

“Hhmm?” tuhkan apa gue bilang.

282

Travellove Ainidi

“Masa Ibu panggil jawabnya begitu, bukannya Abi ini anak pintar?” kedua alisnya mengeryit
dengan wajah yang di tekuk lucu.

“Iya Ibu?” gue tersenyum gemas meski sedikit mendengar nada sarkas dari suaranya.

“Mas Abi mau bantu Ibu nggak?” kali ini dia menatap gue bingung, matanya melirik-lirik tak tentu
arah, lalu kemudian tangannya yang gembil terangkat dan menunjuk jam dinding di belakang
gue.

“Masih dua, Ibu bilang sampai tiga.” Haa?

“Bukan itu makasudnya sayang, Ibu nggak minta Mas Abi beresin mainannya.” Duh gimana
ngomongnya ya, kadang gue suka salah ngomong sama nih anak, memang cuma Elang
pawangnya.

“Maksudnya Ibu mau minta tolong, Mas Abi bantu Ibu buat kejutan untuk Bapak.” Kedua
matanya membesar terkejut, badannya tegak, tanganya terangkat menutupi mulut. Sumpah mati
rasanya pengin banget gue gigit-gigit gemas nih anak.

“Bapak bedey?” tanyanya pada gue sambil berbisik, mungkin karena takut ketahuan. padahal
nggak ada siapa-siapa juga di rumah selain kita berdua.

Gue mengangguk antusias, iyain aja biar cepat, mungkin yang menempel di kepalanya adalah
kalau kejutan itu artinya ulang tahun. Karena baru sebulan lalu gue meminta dia melakukan hal
yang sama, membuat pesta kejutan untuk Bapaknya. Abi mengangguk-ngangguk mengacungkan
kelima jarinya sambil terkekeh, maksudnya oke.

Sesuai janji Elang tiba sepuluh menit sebelum jam makan malam, gue buru-buru mengikatkan
tali balon nitrogen pada tangan Abi, dan memintanya menyambut Bapak di meja makan. Dengan
antusias dia berlari ke ruang makan dan berdiri tapat di depan meja yang menghadap dapur.

“Hai sayang,” dia menyambut pelukan gue di depan pintu dan mendaratkan kecupan di pipi.

“Katanya beli baju tidur baru?” gue mengangguk sambil menyengir penuh arti.

283

Travellove Ainidi

“Kenapa nggak di pakai? Mas Abi belum tidur?” kemudian dia celingukan mencari Abi.

“Nanti juga kamu lihat sendiri, sabar dikit dong. Mas Abi belum tidur, lagi nungguin kamu di ruang
makan.”

“Ohya?” dia kembali mengecup gue di sudut bibir sebelum melepaskan pelukan dan berjalan
menuju ruang makan.

Gue berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menatap Elang yang sedang mengeja tulisan pada
baju tidur Abi yang baru.

“I’m going to be a big brother.” Katanya sekali lagi sambil menatap gue, lalu gue mengedikan dagu
menunjuk balon yang tadi gue ikat pada tangan Abi.
“Coba kamu pecahin balonnya.” Elang menarik laci di bawah meja dapur untuk mengambil pisau roti.
“bedeeeeeyyy Bapaaaak!” teriak Abi kegirangan saat Bapaknya memecahkan balon dan menjatuhkan
potongan kertas juga testpack dan foto hasil USG.
Elang mengangkat Abi ke dalam pelukannya dan mereka teriak kergirangan bersama.
“I love you Ibu,” teriak keduanya bersamaan.

***

284

Travellove Ainidi

285

Travellove Ainidi

286

Travellove Ainidi

287


Click to View FlipBook Version