The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Blurb



Memulai kembali perjalanan bersama keempat sahabatnya untuk menjelajahi keindahan Indonesia. Memaksa Malaka mengulang kembali kisah yang lama tertidur lelap. Perjalanan ini menyadarkannya kalau kisahnya bersama Elang belumlah usai. Mana yang harus Mala nikmati? Indahnya tempat yang dia kunjungi atau indahnya rasa yang Elang bagi?
“Buat gue yang belum pernah pacaran, sangat mengharapkan perhatian yang dibagi oleh pasangan kebanyakan. Gue juga mau tahu rasanya dicariin kalau nggak ada kabar seharian. Gimana rasanya dicemburuin kalau gue jalan sama teman kerja berduaan. Gue juga membayangkan laki-laki yang akan menyisakan waktunya barang semenit saja buat gue, walau cuma sekedar nanya kapan gue akan makan.”
“Sama Elang, gue nggak merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik di perut gue seperti yang perempuan lain ceritakan.”
– Malaka Prameswara –

“Maafin gue.”
“Ayo kita coba lagi, ayo kita mulai lagi dari awal. Dengan benar, gue mungkin sudah terlalu sering menyakiti hati lo di masa lalu. Tapi, percayalah di masa depan gue akan berusaha memberi lo kebahagian dengan cara yang benar.”
“Waktu yang kita lewati sudah terlalu lama untuk menyiksa diri sendiri, gue mungkin nggak akan sanggup lagi menahan lebih lama. Gue nggak bisa janji kalau tidak melibatkan urusan pekerjaan pada hubungan ini. Tapi, gue janji akan menjadikan lo prioritas utama dibandingkan pekerjaan terpenting apapun di dalam hidup gue.”
– Elang Nirwasita –

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ainidijourney, 2022-02-24 23:31:41

Travellove

Blurb



Memulai kembali perjalanan bersama keempat sahabatnya untuk menjelajahi keindahan Indonesia. Memaksa Malaka mengulang kembali kisah yang lama tertidur lelap. Perjalanan ini menyadarkannya kalau kisahnya bersama Elang belumlah usai. Mana yang harus Mala nikmati? Indahnya tempat yang dia kunjungi atau indahnya rasa yang Elang bagi?
“Buat gue yang belum pernah pacaran, sangat mengharapkan perhatian yang dibagi oleh pasangan kebanyakan. Gue juga mau tahu rasanya dicariin kalau nggak ada kabar seharian. Gimana rasanya dicemburuin kalau gue jalan sama teman kerja berduaan. Gue juga membayangkan laki-laki yang akan menyisakan waktunya barang semenit saja buat gue, walau cuma sekedar nanya kapan gue akan makan.”
“Sama Elang, gue nggak merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik di perut gue seperti yang perempuan lain ceritakan.”
– Malaka Prameswara –

“Maafin gue.”
“Ayo kita coba lagi, ayo kita mulai lagi dari awal. Dengan benar, gue mungkin sudah terlalu sering menyakiti hati lo di masa lalu. Tapi, percayalah di masa depan gue akan berusaha memberi lo kebahagian dengan cara yang benar.”
“Waktu yang kita lewati sudah terlalu lama untuk menyiksa diri sendiri, gue mungkin nggak akan sanggup lagi menahan lebih lama. Gue nggak bisa janji kalau tidak melibatkan urusan pekerjaan pada hubungan ini. Tapi, gue janji akan menjadikan lo prioritas utama dibandingkan pekerjaan terpenting apapun di dalam hidup gue.”
– Elang Nirwasita –

Keywords: Travellove

Travellove Ainidi

Gue melirik jam yang sudah menunjukan pukul dua dini hari, pantas saja gue menguap nggak
berhenti dari tadi. kopi yang dibeli sudah berubah warna menjadi putih karena es di dalamnya
sudah mencair, gue menoleh pada Raya yang sedang melakukan perenggangan pada tubuhnya.

“Ya, kalau kamu sudah selesai pulang aja gih,”

“nanti aja tunggu pagi bu, saya malah takut kalau pulangnya malam gini. Lagian kan besok libur
bu.” Gue mengangguk dan meilirik ponsel gue.

Diingatkan kalau besok hari sabtu, gue jadi teringat pada Elang yang masih setia mendiamkan
gue. Biasanya dia sudah ribut dari jumat malam untuk mengingatkan gue berbagai rencana yang
sudah dia susun untuk kita habiskan bersama.

Gue meraih ponsel, mencoba kembali mengirimnya pesan yang entah sudah berapa kali. Gue
menhetik sebuah kalimat, tapi kemudian gue hapus lagi. Ketik lagi, hapus lagi. Gue sudah
kehabisan akal untuk mengirimnya sebuah pesan demi kemungkinan akan mendaatkan balasan.

MalakaP : Maaf.

Seperti yang gue duga, nggak ada balasan yang gua terima, tapi kemudian gue kembali diingatkan
kalau sekarang sudah pukul dua lebih, mungkin dia juga sudah tidur. Mengikuti Raya gue ikut
meregangkan badan, dan mulai menggeser barang-barang agar bisa merebahkan badan. Raya
datang menawarkan selimut juga bantal yang memang kami simpan di dalam ruangan.

Gue menerimanya dan berterima kasih, kami mulai tidur bersisian.

***

Gue sudah bertekad akan mengunjugi Elang setelah mengantarkan Ayu dan Mas Den ke bandara,
kemarin saat gue pulang keduanya sedang duduk bersisian di sofa yang sama. Ayu memutuskan
untuk menuruti permintaan Mas Den yang ingin mengajaknya berkunjung bertemu orang tuanya
di Malang.

201

Travellove Ainidi

Menurut informasi yang gue dapat, Elang sedang menemani Angkasa mengurus legalitas
kepemilikan perusahaan yang akan dibangunnya. Setelah pulang ke Indonesia Angkasa
mengajaknya Elang bergabung untuk membangun sebuah perusahaan e-commerce yang
berfokus pada karya seni.

Parkiran Senayan City penuh di hari minggu, pasalnya sedang ada sebuah event fashion di mall
ini. nggak ada event aja mall ini selalu ramai pengunjung di akhir minggu, jadi ketika sebuah event
bergengsi ini digelar pengunjung yang datang bisa jadi berkali-kali lipat dari biasanya.

Berbekal status Instagram milik Angkasa, gue jadi tahu kalau mereka sedang menghabiskan
waktu makan siang di sebuah restaurant yang terletak di dalam mall. Setelah berhasil
mendapatkan parkiran, gue berjalan menuju restaurant di lantai lima.

Gue berjalan santai dan berusaha tenang saat memasuki area restaurant, ketiga laki-laki itu
denan mudah gue temukan. Elang sedang duduk bersandar membelakangi gue dengan kaki yang
saling bertumpuk dan tangan yang bersedekap. Ekspresi wajahnya sedikit tidak santai, dia duduk
di antara Galuh dan Angkasa pada masing-masing sisi. Ketiganya duduk menghadap jendela
restaurant yang menampilkan pemandangan Kota Jakarta.

Gue menghentikan langkah dan mengambil kursi tepat di belakang mereka, sial kok gue malah
seperti sedang bermain sinetron sih. Gue menarik nafas demi menenangkan degup jantung yang
sejak tadi berdebar kencang.

Gue menajamkan telinga saat mendengar Angkasa terkekeh ringan, “gue rela terima perjodohan
dengan Chika demi lo dan Malaka, sekarang lo malah dengan enteng bilang kalau hanya
memberinya ganjaran yang setimpal?”

“Apa ini nggak kelewatan Lang? gue nggak suka sama pola pikir lo yang sekarang.” Gue
menyandarkan punggung pada kursi dengan hati-hati bersamaan dengan pertanyaan yang di
ajukan Angkasa.

Apakah mereka sedang membicarakan gue?

202

Travellove Ainidi

“kalau nggak gini dia nggak akan ngerti kan?” jawab Elang dengan helaan nafas yang panjang.

“Jangan bilang lo berubah jadi posesif, jadi super clingy begini cuma mau buat balas dendam
sama Malaka doang. Apa bahasa anak jaman sekarang bro? ghosting? Menghilang pas si cewek
lagi sayang-sayangnya.” Dan tawa mereka bergema.

Gue nggak sanggup lagi mendengar percakapan mereka, telinga gue berdenging mendengar
suara tawa dari ketiganya. Perut gue rasanya mual dan ingin muntah. Jadi gue berjalan cepat
menuju pintu keluar dan berpapasan lagi dengan pelayan yang sebelumnya menyambut
kedatangan gue. Gue menaruh telunjuk di bibir untuk memintanya diam.

Dengan terburu-buru gue berjalan sambil menundukan kepala menuju area parkir.

Gue berusaha sekuat tenaga untuk menyetir dengan tenang walau rasanya sangat sulit sekali,
karena air mata gue jatuh seperti tak mau berhenti.

***

Gue meremas rambut gue dengan kesal sambil menepuk-nepuk kepala demi menghilankan
denyutan yang semakin menjadi-jadi. Telinga gue terasa bising seperti pasar malam. gue kembali
menarik selimut dan bergelung di dalamnya, meratapi kebodohan gue.
Jadi semuanya hanya untuk baalas dendam aja?
Jadi segala sikapnya yang berubah baik hanya untuk menghancurkan hati gue aja?
Jadi semua bentuk perhatian yang dia berikan buat gue itu maksudnya apa? Untuk mendalami
dalamnya lubang yang dia gali di hati gue?
Lalu apa maksudnya dia memberikan gue cincin dan mengajak gue datang bertemu dengan
orangtuanya?
Apa maksudnya dia meminta gue untuk mengajaknya datang menemui ibu?

203

Travellove Ainidi

Maksudnya dia mendesak gue untuk setuju menikah dengan dia itu hanya untuk balas dendam
aja?

Tapi, apa kesalahan yang gue buat sebesar itu? sampai dia menaruh dendam yang begitu keji
pada gue?

Gue melepaskan cincin dan memasukannya ke dalam kotak perhiasan milik gue sebelum gue
masukan kembali ke dalam kotak besar berisi beberapa barang untuk menyamarkan keberadaan
cincin di dalamnya, saat ponsel gue bergetar mendapatkan pesan dari Dhea yang akan datang
untuk mengambil mobil gue untuk dibawanya pulang.

Gue sudah memesan tiket pulang ke Yogyakarta besok pagi. Gue juga sudah menyiapkan surat
pengunduran diri yang akan gue kirim ke HRD by email nanti, Kemungkinan untuk mengajukan
pengunduran diri atas kepemilikan Kelana juga sudah terpikirkan oleh gue. Yang mungkin akan
gue proses setelah sampai di rumah. Gue mengirim pesan pada ibu, memberitahu beliau atas
kepulangan gue besok demi menghindari asumsi-asumsi yang akan muncul seperti yang sudah-
sudah.

Ponsel gue berdering,

“Mbak Dhea sudah di depan.” Gue mematikan sambungan setelah memintanya menunggu
sebentar.

Gue menyapa seorang laki-laki yang gue kenali sebagai pacar Dhea,

“maaf yaa, saya jadi ganggu kalian pacaran deh,” kata gue dengan sedikit rasa bersalah.

“Kalau mau kamu jual juga nggak masalah sih Dhe, asal uang hasil penjualan nggak kamu makan
sendiri.” Kata gue menambahkan seiring dengan kunci dan surat tanda kepemilikan kendaraan
mobil yang gue serahkan pada Dhea.

“Kok mendadak sih Mbak?” tanya Dhea yang entah sudah keberapa kali.

“Karena ibuku juga ngabarinnya mendadak Dhe,”

204

Travellove Ainidi

“Mbak beneran mau dijodohin? Terus nasibnya Mas Elang gimana Mbak?” gue berdecak sebal
dan mencubit gemas lengannya.

“mulai deh drama!” kata gue sebal

“nanti kalau perlu tips awet berhubungan jarak jauh bilang saya ya Mbak,” sahut Dhea asal.

“Ya sudah sana pulang! Nanti keburu malam, malah nggak jadi pacaran lagi. Kasian kan pejuang
hubungan jarak jauh.” Keduanya hanya tertawa mendengar sindiran yang gue lontarkan.

Tanpa di duga Dhea memberikan gue sebuah pelukan yang erat, dengan suara yang sedikit
bergetar dia berbisik pada gue dan meminta gue untuk tetap kuat dalam menghadapi setiap
masalah. Gue mengangguk sambil menggigit bibir dalam gue untuk menahan air mata agar tak
tumpah di depan mereka.

Gue melambai pada Dhea yang melaju membawa mobil gue menyusul pacarnya yang sudah jalan
lebih dulu mengendarai motornya.

***

Di sebuah ruang tunggu bandara gue kembali memeriksa setiap kalimat yang akan gue kirim ke
Ayu, menjelaksan padanya kalau gue harus pulang ke Yogyakarta untuk jangka waktu yang tidak
di tentukan, meminta maaf padanya karena dengan sangat terpaksa gue harus meninggalkan dia
yang sedang berjuang menjaga kehamilannya seorang diri. Juga berjanji akan hadir saat
waktunya sang jabang bayi lahir.

Setelah yakin pada setiap kalimat gue mengirimkannya pada Ayu, setelahnya gue beralih pada
nomor Elang.

MalakaP : Thanks for everything, goodbye..

Sending…..

205

Travellove Ainidi

Gue terdiam sejenak sebelum memblokir nomornya, dan mulai keluar dari semua grup yang
berhubungan dengan Elang juga Kelana.

Tak butuh waktu lama ponsel gue lembali bergetar,

AyuAN : I’ll see you there soon beb. Please be strong.

GaluhG : stop running Malaka,

Sebuah nomor tak di kenal muncul pada layar ponsel, menelepon gue.

Gue memutuskan sambungan dan mematikan daya pada ponsel gue, tepat saat itu gue menarik
koper gue setelah mendengar pemberitahuan kalau pesawat yang gue tumpangi siap lepas
landas, bersama dengan air mata dan rasa sesak yang bergumul di dalam dada.

Seorang pramugari menepuk bahu gue saat gue berjongkok di Lorong jembatan menuju pintu
masuk pesawat, “Mbak nggak pa-pa?” dengan penuh kesadaran gue menggeleng, dia lantas
membantu gue untuk menempati kursi penumpang setelah melihat nomor yang tertera pada
tiket.

Yang gue sadari selanjutnya adalah, gue menutup wajah dengan telapak tangan, kemudian
menangis sejadi-jadinya bersamaan dengan pesawat yang sedang lepas landas.

27

Propose

Rumah ini terletak di sebuah permukiman yang berada tak jauh dari rumah ibu, rumah dengan
dinding dari batu alam dan di penuhi oleh kaca ini memiliki halaman yang sangat luas. Dari luar
rumah ini nampak kecil tapi, memiliki kebun yang luas dari depan hingga ke belakang. Gue di
sambut dengan berbagai jenis bunga hias saat memasuki halaman depan rumah, dan
menemukan green house di belakang rumah.

206

Travellove Ainidi

Green house itu berisikan aneka macam tanaman sayur, sama dengan milik Ayu hanya lebih besar
dan lebih lengkap, gue menemukan hampir segala jenis macam sayur, bahkan terong ungu,
terong hijau dan terong Belandapun ada. Gue curiga kalau Om Dody juga punya usaha pasar
sayur.

Nggak jauh dari greenhouse ada sebuah kolam ikan dengan banyak pipa yang di tanami sauran
kangkong, sawi, dan salada. Menurut Om Dody ini di sebut aquaponic, atau orang-orang
kebanyakan menyebut salah satu tanaman hidroponik. Beliau menggunakan sistem pertanian
yang memadukan budidaya perikanaan dan budidaya tanaman khususnya sayuran tanpa media
tanah.

Di ujung lahan rumah Om Dody ada kendang yang nggak besar tapi juga nggak kecil, selain ikan
beliau juga memelihara ayam juga bebek. Kalau begini gue yakin kalau beliau nggak pernah pergi
ke pasar sekalipun apalagi swalayan. Semua bahan pangan hampir ada di rumahnya.

Dan ini seru banget, suasana di tempat ini benar-benar nyaman. Udaranya bersih juga sejuk.
Keluar rumah nggak harus berhadapan dengan macet. Jarak rumah satu dengan yang lainnya juga
nggak berhimpitan seperti rumah kebanyakan di Jakarta. jadi nggak perlu pusing dengerin
tetangga yang suka Ghibah. Saking nyamannya buat gue jadi nggak mau pulang.

Saat tahu gue sedang berada di Yogyakarta, Om Dody mengundang kami semua untuk makan
siang bersama di rumahnya. Tidak ada satupun foto keluarga yang gue temukan di dinding
rumahnya, yang terpanjang hanya lukisan dan beberapa piagam pengharagaan. Baru saja gue
ingin bertanya kepada ibu mengenai keluarga Om Doddy. Andien lebih dulu berbisik pada gue
dan menyampaikan kalau beliau masih bujangan dan belum pernah menikah.

Apa gue langsung percaya? Ya tentu nggak dong.

Mungkin gue sekarang bersyukur karena pernah bertemu dengan laki-laki seperti Aji dulu. Dia
mengajarkan gue untuk tetap harus berhati-hati pada laki-laki. Jadi gue membuat daftar

207

Travellove Ainidi

pertanyaan dalam kepala gue yang akan gue tanyakan pada beliau saat kami duduk di meja
makan nanti.

saat kami datang tadi, Om doddy sedang di dapur menyiapkan makan siang untuk kami, gue
pengin bantu tapu takut ganggu karena ibu dan Dita sudah lebih dulu membantunya. Gue hanya
nggak mau merusak momen yang sedang dibangun di antara ketiganya.

Andien dengan setia berdiri di samping gue, mengikuti gue berjalan kesana -kemari menginspeksi
rumah Om Doddy. Mungkin dia takut gue mengambil barang-barang milik Om Dody. Gue
berhenti dan memandang lama pada sebuah lukisan yang terpajang di dinding dekat ruang
makan.

Lukisan yang menggambarkan sosok perempuan yang sedang berdiri di tengah keramaian tengah
menggenggam bungkusan plastik berisi minuman dingin. Parasnya yang familiar terlihat cantik
dengan rambutnya yang di kuncir kuda, gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu dan tas
ransel kecil yang sampai saat ini masih sering gue liat itu sukses mengukirkan senyum gue.

“itu Ibu waktu masih sekolah,” kata Om Dody dari dapur.

Mata gue bergeser pada ibu yang kini sedang menunduk kepala menyembunyikan wajahnya yang
sedang tersipu.

“Lala baru tahu kalau Ibu dulu cupu banget gitu,” sahut gue menggoda ibu.

Ibu mengangkat kepala dan menatap gue dengan sebal sementara Om Dody hanya tertawa
menanggapi.

“Ibu itu dulu primadona di sekolah loh kak,” jawab ibu sebal.

“Iya deh percaya,” jawab gue sambil menjulurkan lidah pada ibu.

“Sudah-sudah ayo makan, sudah matang semua nih masakannya,” potong Om Dody, beliau
kemudian menyerahkan mangkok sayur besar pada gue untuk di letakan pada meja makan.

208

Travellove Ainidi

Om Doddy nggak tanggung-tanggung saat menyiapkan makan siang untuk kami, meja makannya
kini penuh dengan piring juga mangkuk berisi sayur dan lauk-pauk. Ini sudah seperti memberi
makan untuk keluarga besar.

“ini mau ngasih makan satu kampung atau gimana Om?” tanya Andien sambil menyiapkan piring
kosong untuk kami semua.

“Habis kan Om nggak tahu kalian ini sukanya makan apa, masing-masing pasti punya makanan
kesukaan sendiri kan?jadi ya sudah Om masak aja semua,” jawabnya sambil tertawa.

Gue dan Dita dengan kompak menunjuk sebuah mangkuk besar yang berisikan Gudeg,

“ini makanan favorit kita semua, sebenarnya om cukup kasih makan ini dengan sambal aja kita
udah kenyang,” jelas Dita.

Gue menempati kursi di samping Andien, sambil menunggu ibu menyendokan nasi ke dalam
piring kita semua, seperti anak ayam yang menunggu jatah makan dari induknya.

“ini semua pasti nggak ada yang di beli ya Om? Rumah Om lengkap banget gini mau makan apa
tinggal ambil aja, gratis.” Om Dody mengangguk, senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya.
Nggak berbeda dengan ibu, bahkan sejak gue setuju dengan ajakannya datang ke rumah ini
senyum nggak pernah luntur.

Nggak perlu satu RT, makan siang di rumah Om Dody tetap terlihat sangat semarak. Berbagai
macam obrolan nggak berhenti mengalir. Om Dody bercerita bagaimana awal mula dia sampai
tertarik untuk berani dan berternak, selain untuk menyibukan diri yang sudah sibuk itu juga
membantu dia menghilangkan rasa sepi.

Sampai dia bercerita bagaimana dia bisa jatuh cinta pada ibu, dan dengan sabar menunggu sejak
masa sekolah dulu. Dan betapa bahagianya beliau ketika di pertemukan kembali, saat Om Dody
datang ke toko ibu untuk membeli beberapa bibit sayuran juga tanaman hias. Saat dia datang

209

Travellove Ainidi

berkunjung ternyata ibu yang sedang melayani pembeli di toko. Ibu menambahkan kalau sejak
itu Om Dody selalu saja mencari-cari alasan untuk kembali datang ke toko.

Untuk usia mereka yang nggak lagi muda, gue tetap saja merasa iri juga cemburu dengan
keduanya. Binar mata Om Dody saat beliau memandang Ibu jelas memncarkan kekaguman,
bahkan gue bisa melihat cinta yang tulus di sana.

“Om, maaf kalau kurang ajar. Tapi, apa Om nggak kepikiran untuk menikah sejak dulu?” tanya
gue, yang langsung mendapatkan teguran dari ibu.

Om Dody menggeleng, “dulu Om hampir menikah, tapi gagal karena calonnya keburu kabur saat
tahu kalau ibu jatuh sakit dan butuh perawatan intensif. Dia pergi karena takut di suruh jaga ibu.”
Mata gue membeliak nggak percaya, gila sih masih ada ya perempuan seperti itu?

“karena kan Om ini anak tunggal, dan ibu adalah orang tua yang tersisa. Nggak ada lagi yang om
punya, jadi sejak di tinggal lari, Om nggak punya waktu untuk memikirkan menikah selain
menjaga ibu sampai beliau meninggal dua tahun lalu.”

Tangan ibu reflek menyentuh punggung tangan Om Dody, mat ague bergeser pada Dita yang
sedang menatap tangan mereka dengan tatapan yang sulit gue artikan. Mungkin ini masih sulit
untuk di terima oleh Dita. Karena sedikit banyak gue merasakan hal yang sama, gue hanya belum
siap menggeser tempat Ayah untuk siapapun.

Gue merasakan tangan Andien yang di letakan pada paha gue, tanpa menoleh gue menggenggam
tangannya dengan erat. Kami menghabiskan makan dengan obrolan santai yang datang dari Dita,
dia bercerita mengenai kuliahnya dan juga ketertarikannya pada dunia seni.

“Kalau suka seni ngapain ngambil sastra, kamu juga,” tangan gue terangkat menunjuk Andien,

“kalau suka masak ngapain ngambil biologi?” tambah gue mengomel.

210

Travellove Ainidi

Gue mendengar suara tawa tertahan dari kedua orang tua yang sedang kasamaran di seberang
gue. Gue sedikit mendelik dan menatap mereka sebal secara bergantian. Om Dody lantas
mengangkat kedua tangannya meminta ampun.

“Sastra dan seni kan bisa nyambung Kak, kakak aja yang norak,” jawab Dita menggerutu.

“Bisa nyambung dari mananya sih? Terus biologi sama masak bisa nyambung juga?” gue menoleh
pada Andien yang kini hanya diam menatap gue tak peduli.

“Makanya kalau kaka kasih saran tuh di telaah dulu, jangan grasak-grusuk ambil langkah, nanti
kalau sudah salah kan jadi menyesal,”

“IYAAA! IYAA!” keduanya menjawab bersamaan dan berdiri membawa piring kotor masing-
masing ke belakang.

“Tuh gitu tuh kalau dikasih tahu, ngeloyor aja, telinganya disumpal.” Ibu mengambil garpu dan
mendentikan gelas sebelum melemparkannya ke hadapan gue. Gue lantas merapatkan bibir gue
saat ibu mulai bersandar pada kursi dengan tangan yang bersedekap sambil menatap gue dengan
tatapan mematikan.

Begitulah cara ibu kalau melerai kami, hanya cukup diam sambil bertolak atau bersedakap dan
memberikan tatapan membunuhnya pada kami. Nggak perlu teriak-teriak apalagi main tangan,
kami sudah mengkerut.

***

Ada dua buah ayunan yang di buat dari ban mobil besar yang terletak di dekat kendang ayam dan
bebek di belakang rumah Om Dody, ban tersebut di ikatkan dengan tali tambang pada pohon
rambutan hingga menjadi seperti ayunan. Pada tengah ban ada ban dalam yang disulap seperti
jaring, dan berfungsi sebagai alas untuk duduk.

211

Travellove Ainidi

Setelah selesai membantu merapihkan piring kotor juga meja makan, gue menawarkan diri untuk
memberi makan ayam dan bebek pada Om Dody. Dan duduk berayun pada ban yang dibuat Om
Dody sambil melihat Ayam dan Bebek yang berlari kesana-kemari berebut makanan.

Pikiran gue melayang pada teman-teman gue yang kini berpencar, dan tentu saja Elang. Gue
memang sudah memblokir nomornya. Tapi beberapa har setelah gue sampai di Yogyakarta ada
nomor lain yang terus menghubungi gue.

Sejak resmi menjadi pengangguran hari-hari gue hanya disibukan dengan membantu ibu di toko
dan membantu Andien memasarkan dagangannya. Sudah dua minggu gue pulang ke Yogya, dan
pertanyaan yang keluar dari ibu hanya berapa lama gue mengambil cuti. Karena belum berani
bilang kalau gue sekarang pengangguran gue, hanya menjawab kalau gue sedang menghabiskan
semua cuti tahunan yang gue punya tanpa menyebut angka.

Ayu menghubungi gue kalau dia masih belum bisa pulang dari Malang karena di tahan oleh
Ibunya Mas Den. Gue masih belum tahu apa yang sedang terjadi di anatara mereka saat ini. ketika
gue menuntut penjelasan dari Ayu, usai gue bercerita tentang apa yang terjadi pada diri gue. Dia
hanya menjawab kalau dia akan bercerita pada waktunya. Dia malah meminta gue untuk tetap
fokus menyembuhkan hati pada diri sendiri.

Galuh terus mengirimkan gue pesan meminta gue kembali dan membicarakan semuanya pada
Elang secara baik-baik. Dan dia juga mencoba menghubungi gue, nggak ada satupun yang gue
respon. Ini memang nggak ada hubungannya dengan Galuh. Tapi, kehadirannya saat gue
mendengar apa yang sebenarnya tujuan Elang, sedikit banyak juga mneyakiti hati gue.

Gue kembali tersadar dari lamunan saat merasakan sebuah tepukan pada bahu gue, Om Dody
berdiri di samping gue dengan secangkir the di tangan. Gue menerima cangkir yang diberikan Om
Dody sebelum dia mengambil tempat pada ayunan satunya.

“Rumah Om seru banget, semuanya ada. Tinggal tambah sapi dan kambing aja deh, biar semakin
lengkap.” Dia terkekeh mendengarnya.

212

Travellove Ainidi

“Om memang ada rencana mau pelihara sapi dan kambing, tapi masih mikir mau buat kandang
di mana,” jawabnya.

Gue mengedarkan tangan gue ke segala penjuru arah, “dengan tanah seluas ini om masih
bingung mau mencari lahan? Sementara di Jakarta dulu kami mau buat jemuran pakaian aja
bingung di mana.” Om dody semakin tertawa karena tangannya yang terangkat gagal menggapai
kepala gue, karena kaki gue menendang tanah untuk mengayunkan ban.

Tangan Om dody menangkap ayunan untuk membantunya berhenti karena gue hampir saja
menumpahkan isi cangkir di tangan gue.

“di balik tembok ini ada lahan kosong yang sedang di jual oleh pemiliknya, gimana menurut kamu
La? Om beli aja nggak?” wah, dia yang punya uang gue yang di mintai saran?

“kalau Lala, punya uang sebanyak Om sih, pasti Lala beli. Lala dulu pernah berkhayal bareng ibu
untuk bangun rumah seperti punya Om ini. Tapi, karena kantong tidak memadai jadi yam impi
hanyalah mimpi,”

“kalau gitu Lala dan adik-adik boleh tinggal di rumah Om.” Gue lantas tertawa mendengarnya,
namun nggak lama gue menghentikan tawa itu dan menoleh pada Om Dody yang sedang
menatap gue dengan serius. Dia berdeham pelan sebelum menlanjutkan.

“Om dan Ibu sudah terlalu tua untuk menjalin hubungan tanpa status La, kemarin kami sudah
meminta ijin pada kedua adikmu, katanya mereka setuju kalau kak Lala juga setuju.” Gue menilik
kedua matanya yang menatap gue penuh ketulusan.

“Jadi, sekarang Om mau minta ijin Lala untuk menikahi Ibu.”

213

Travellove Ainidi

28

A Wedding

Rumah gue dipenuhi dengan keluarga besar Pakde yang datang dari Solo. Niat awalnya adalah
Om Dody datang berasama keluarga besarnya untuk melamar ibu, tapi kata pakdeh mereka
sudah ketuaan untuk pakai acara lamaran. Jadi persingkat saja waktunya dan langsung menikah
dengan menjadikan gue sebagai alasan,
katanya “mumpung kakak belum kembali ke Jakarta tho?”
Padahal kalau gue kembali ke Jakarta memang kenapa? Kan gue masih bisa pulang lagi untuk
menghadiri acara pernikahan mereka.
Gue membuka jalan mereka saat Om Dody meminta ijin untuk menikah pada waktu lalu, dengan
catatan kalau gue hanya mengijinkannya sebagai suami ibu, bukan Ayah. Mungkin ini terdengar
sangat kasar dan tak sopan. Tapi, ini yang bisa gue berikan kepada kedua adik gue agar tetap
menjaga kehadiran ayah untuk raganya yang nggak pernah hadir.
Om Dody meyakinkan gue dengan berjanji nggak akan pernah menyentuh tempat ayah, dia
bahkan berkata kalau dia sama sekali nggak pantas untuk menggeser posisi itu. Dia
membebaskan gue dan si kembar untuk menempatkan beliau sebagai apapun di rumah. Dia
cukup bersyukur bisa dijinkan bersanding bersama ibu.
Jadi, seperti kata pakde mereka sudah terlalu tua untuk menikah dengan menggelar pesta adat
dan sebagainya. Kami mengantar ibu dan Om Dody untuk menikah di KUA, dan melanjutkan

214

Travellove Ainidi

makan-makan sederhana bersama keluarga di rumah makan yang sudah lebih dulu di booking
oleh Om Dody. Untuk mempertemukan kedua keluarga.

Gue menyibukan diri dan sedikit mengabaikan kehadiran Galuh sejak pagi tadi, walau sebenarnya
gue tahu kalau dia hadir untuk mendampingi Dita bukan untuk menjemput gue. Di lihat dari cara
dia menatap gue, terlihat jelas kalau dia menyimpan sejuta pertanyaan dan mungkin makian
untuk gue. Seperti yang sudah dia lakukan dalam pesan-pesannya yang dia kirimkan pada gue.

Tanpa memikirkan perasaan gue dia sibuk menyudutkan gue, karena sudah menjadi pengecut
dengan lari dari masalah. Dia terlalu menyalahkan gue karena betapa egoisnya sikap gue pada
Elang, dengan pergi begitu saja tanpa bicara sepatah katapun. Apa dia lupa kalau dia sendiri yang
bilang ke gue kalau kita perlu mendinginkan kepala dulu sebelum menyelesaikan masalah?

Langkah Galuh yang sedang berjalan menuju gue terhenti karena Andien sudah lebih dulu berdiri
bersama seorang laki-laki sebayanya.

“Kak, kenalin ini dosenku di kampus,” katanya menunjuk laki-laki di sampingnya.

Dosen? Penampilannya terlalu muda untuk di panggil pak dosen sih. Gue menyambut tangannya
yang terulur,

“Hallo, Malaka,”

“Tristan, kebetulan saya keluarga dari Mas Dody,”

Mas?

“nggak nyangka sih kalau ternyata yang dinikahi Mas Dody ternyata ibunya Andien.” Gue sontak
menukar pandang dengan Andien mendengar pernyataannya yang terdengar ganjal di telinga.

“Oh iya Mas Tristan, kalau gitu silahkan dilanjutkan makannya, saya tingal menyambut keluarga
yang lain ya,” kata gue sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.

Ya memang kenapa sih kalau yang dinikahin Om Dody itu nyokap gue?

215

Travellove Ainidi

Sambil menggerutu gue terus berjalan tanpa sadar kalau gue menarik bangku di samping Galuh
dan duduk di sebelahnya. Tanpa menoleh, gue menyambar gelas berisi jus jeruk dingin yang
disodorkan Galuh sesaat setelah gue duduk.

“makan dulu La, lo nyuruh orang pada makan sementara lo sendiri belum makan. Muka lo pucet
banget gitu.” Kemudian Dita meletakan piring berisi nasi lengkap dengan lauknya ke hadapan
gue.

Karena rumah makan ini konsepnya self service jadi semua nasi dan lauk pauk di jejer di meja
panjang seperti prasmanan. Gue sibuk menyambut keluarga dari Solo juga keluarganya Om Dody
sejak pagi sih memang sampai lupa sarapan, atau lupa sejak kemarin.

Entahlah banyak hal yang berseliweran dalam benak gue, sejak dua hari lalu gue selalu menangis
dengan tiba-tiba karena sangat merindukan ayah. Gue menangis sendirian di dalam kamar sejadi-
jadinya hingga terasa sesak. Rasa sesak yang timbul menghilangkan nafsu makan gue sejak itu.

“Mau makeup setebal apapun tetap nggak bisa nutupin mata kakak yang sembab,” kata Dita
yang kini duduk di samping Galuh.

Atau bisa jadi bukan hanya ayah saja yang gue rindukan, tapi juga seseorang yang tertinggal di
Jakarta. seperti tahu gue butuh space ibu membiarkan gue menghabiskan waktu di dalam kamar
seharian, setelah bertanya apakah gue masih tidak terima dengan keputusan ibu untuk menikah,
yang jelas tidak gue benarkan. Gue memberi tahu ibu kalau gue hanya sedang sangat merindakan
ayah tapi bukan berarti gue tidak membiarkan ibu bahagia.

***

Malamnya setelah acara selesai dan seluruh keluarga berpamitan, gue mengantarkan ibu juga
Om Dody ke Magelang, gue menghadiahi keduanya paket bulan madu di Amanjiwo Borobudur
Resort selama tiga hari dua malam di sana. Kalau nggak ingat mereka adalah pengantin baru,
mungkin gue akan memesan satu kamar lagi untuk menginap.

216

Travellove Ainidi

Tapi gue juga nggak mungkin meninggalkan Galuh bersama kedua adik kembar gue di rumah.
Kata Dita Galuh akan pulang besok pagi, itu kenapa gue memperlambat laju mobil gue agar
sampai rumah larut malam. gue berencana akan langsung masuk kamar dan berisitirahat saat
sampai rumah dan bangun terlalu siang besok untuk menghindari Galuh.

Tapi rencana hanyalah rencanan, setibanya gue di rumah gue malah mendapati Galuh duduk di
teras rumah gue sambil menggulir layar ponselnya. Gue melirik jam tangan gue yang menunjukan
pukul setengah dua belas malam.

“lo lagi ngasih makan nyamuk?” tanya gue yang mau nggak mau ikut duduk di sebelahnya.

“Nggak, lagi donor darah,” jawab Galuh sambil menyodorkan gelas kopi yang sudah dingin.

Gue menggeleng, dan menyandarkan punggung pada kursi sambil menghela nafas lelah,

“rasanya badan gue mau remuk.”

Galuh menoleh dan menatap gue lekat, “apa itu artinya lo belum bisa diajak ngobrol sekarang?”

“Really Gal? di jam setengah dua belas malam saat ibu gue baru aja membagi kebahagiaanya?”
gue menggeleng cepat.

“tapi besok pagi gue harus balik ke Jakarta, karena ada sidang siangnya,”

“Ya terus kenapa?” tanya gue lirih.

“Mungkin ada sesuatu yang perlu gue lakukan untuk kalian berdua?” katanya sambil mengangkat
bahu.

“Nggaklah, nanti aja kapan-kapan. Sekarang lo fokus aja dulu buat bantuin Ayu sama Mas Den,”

“Nyerahlah gue kalau soal mereka, Ayu dipaksa nikah sama nyokapnya Denny, karena Denny
ngaku kalau Ayu hamil anaknya. Sementara Ayu menolak keras menikah sama Denny, gue udah
keburu pusing duluan sama cerita semrawut mereka.”

217

Travellove Ainidi

Rasanya seperti nggak sengaja memegang kabel charger dengan aliran listriknya, tidak sakit tapi
mengejutkan.

“lo nggak tahu?” tanya Galuh ketika melihat gue terkejut.

Gue menggeleng kaku, “dia bilang kalau dia akan cerita sama gue pada waktunya, gue nggak tahu
kalau bakal serumit itu,”

Galuh menarik nafas dan ikut menyandarkan punggungnya pada kursi, dia mengangkat kedua
tangannya untuk menyanggah kepalanya, “karena dia tahu kalau masalah lo nggak kalah rumit
La,”

“Apanya yang rumit sih? hubungan Om ibu dan Om Dody bukan masalah Gal, mereka menikah
dan bahagia.” Dia mendengus pelan mendengar gue.

“Menjawab pertanyaan atas kenapa mata lo terlalu sembab dan wajah lo pucat, Dita juga cerita
ke gue kalau dia sering mergokin lo nangis setiap malam sejak lo pulang ke Yogya.” Gue
menggaruk hidung gue yang tak gatal, dasar Dita ember.

Gue memukul lututnya agak keras sebelum bangkit berdiri, “ngantuk gue, besok lo flight jam
berapa?”

Karena Galuh tak menjawab dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, gue melambai dan
meninggalkanya masuk ke dalam mengabaikan perkataan Galuh selanjutnya,

“pikirin juga perasaan Elang La.”

Gue langsung menutup pintu kamar di belakang gue, tanpa lebih dulu membersihkan diri gue
melepas sepatu dan langsung menarik selimut, dan berusaha memejamkan mata tanpa
menangis.

***

218

Travellove Ainidi

Bangun pagi di hari minggu itu hampir nggak pernah terjadi di hidup gue. Gue sudah bersiap
dengan kaos oblong juga celana pendek serta rambut yang di cepol bersiap untuk packing semua
barang-barang yang akan dipindahkan ke rumah Om Dody. Namun setelah gue membuka pintu
kamar, Om Dody datang bersama pasukan pengengkut barang.

“Eh anak gadis ibu sudah bangun, tumben.” Suara ibu bergema tepat di telinga gue,

“kan mau bantu-bantu packing,” kata gue pura-pura polos.

Om Dody tertawa sambil berjalan menghampiri gue, “Nggak usah kak, Om sudah pakai jasa
pengangkut barang. Kamu masuk ke mobil aja gih, adik-adikmu sudah nunggu mau cari sarapan
di luar katanya biar ibu dan Om aja yang mengawasi mereka.”

Niat baik Om Dody yang mengajak kami untuk pindah ke rumahnya, sejak dua minggu seteleah
pernikahan mereka gue sambut dengan suka cita. Kami juga setuju untuk menyewakan rumah
ini. Nggak semua barang yang ada di rumah ini akan ikut pindah, karena terlalu banyak, jadi
barang-barang yang besar seperti lemari, meja makan juga tempat tidur akan di tinggal untuk di
jadikan fasilitas penghuni yang akan menyewa nanti.

“Bu, Lala ikut bantu packing deh, itu semua yang ngerjain kan mas-mas. Masa mereka mau
packingin daleman Lala. Nanti dicolong lagi,” kata gue berbisik sepelan mungkin di telinga ibu.

“lho, memangnya belum kamu masukan ke dalam tas yang kemarin ibu kasih?” gue menggeleng
pelan sambil mengambil langkah mundur, takut dijitak.

“Astaga Lala! Kan dari kemarin sudah ibu suruh kerjakan, kamu ngapain aja sih? Kerjaanya juga
cuma main ponsel dan nonton drama doang juga!” kan, untung gue beneran mengambil langkah
mundur, kalau nggak bisa jadi gue beneran digetok.

“Adikmu itu lho sudah nunggu sejak tadi, mana kelaparan, kalau tahu gitu kan ibu suruh aja
mereka jalan berdua. Kalau di kasih tahu sekarang dua-duanya pasti cemberut,” tambah ibu.

219

Travellove Ainidi

“kan maksud Lala biar sekalian kerja bu, mana Lala tahu kalau Om Dody mau memakai jasa
pindahan begitu,” jawab gue sambil cemberut biar nggak semakin dimarahi.

“Ya sudah sana bereskan, biar nanti ibu yang bilang sama si kembar. Duh! kamu itu.” Walau nggak
sampai di getok tapi tangan ibu tetap melayang memukul bahu gue sedikit kencang.

Saat gue berbalik, gue menemukan Om Dody yang sedang meringis menatap gue. Gue hanya
menyengir meminta maaf.

“Sabar ya Om, nanti setiap pagi rumah Om pasti berubah jadi pasar pagi, pasar siang, pasar
malam atau pasar festival. Isinya ya kalau nggak ibu yang mengomel pasti karena si kembar yang
bertengkar atau kadang Lala juga ikut menyumbang teriakan.” Om Dody mengangkat keningnya
tinggi, mungkin dia sudah mulai menyesal.

“Justru itu yang Om tunggu La, Om ini lho cita-citanya ingin punya rumah yang ramai. Kalau gini
kan rumah om nggak hanya ramai sama suara ayam dan bebek aja toh?” katanya sambil berlalu
meninggalkan gue.

29
Banyan Pangarep

220

Travellove Ainidi

Sudah genap sebulan gue di Yogya, dan sudah pasti menimbulkan banyak peresepsi seisi rumah.
Lima hari di rumah saja mereka sudah banyak bertanya kenapa gue menghabiskan waktu lama
untuk pulang ke Yogya. Jadi gue nggak heran kalau sekarang Ibu dengan sengaja menyiapkan
makan siang dengan menu kesukaan gue tanpa kehadiran si kembar juga Om Doddy. Tujuannya
apalagi kalau bukan ingin bertanya apa yang sedang terjadi dengan anakanya ini.

Gue menahan tangan ibu yang hendak mengambil piring gue yang kosong untuk diisi nasi.

“Lala aja bu, sudah tua gini masa masih diambilin,” kata gue yang menyendokan nasi ke dalam
piring.

“Mau umurmu seratus tahun sekalipun, buat ibu ya masih tetap masih kecil kak.” Gue tertawa
sambil menggeleng pelan.

“Adik-adikmu malah rebutan setiap hari minta disuapi sama Ibu,” Tambahnya.

“Kalau mereka mah nggak usah ditanyalah, memang manja.” Gue mendumal sambil menyendoki
makanan ke dalam mulut.

Dan berhenti mengunyah saat melihat ibu menopang dagu bukannya ikut makan bersama gue,
“Ibu nggak ikut makan?”

Ibu menggeleng sambil menyengir, “Sudah tadi makan siang sama Om Dody.” Ibu mengangkat
keningnya saat gue berdecak tak percaya.

“Iya deh yang lagi kasmaran,” kata gue meledek,

“Kan kamu juga punya pacar, kenapa iri?” gue tersedak makanan gue sendiri dan menerima gelas
yang disodorkan.

“Mana ada pacar sih bu, Lala jomblo. Sudah Jomblo pengangguran lagi.” Gue menggigit lidah gue
salah tingkah, melirik ibu yang sedang menatap gue menunggu penjelasan gue selanjutnya.

221

Travellove Ainidi

Gue meletakan sendok dan garpu di atas piring dengan rapih, sebelum kembali meraih gelas dan
meneguk isinya sampai habis. Kami terdiam cukup lama, gue masih bingung harus dari mana gue
mulai menjelaskan pada ibu. Sementara ibu dengan sabarnya diam menunggu gue berbicara.

“Lala minta maaf bu, karena nggak mendiskusikan ini lebih dulu sama ibu.” gue merasakan
kehangatan yang ibu alirkan melalui tangannya yang kini menggenggam tangan gue di atas meja,
seolah memberi kekuatan kalau semua akan baik-baik saja.

“Apapun itu Ibu yakin kamu punya alasan kuat untuk bisa sampai pada keputusan ini, kalau kakak
nggak keberatan boleh nggak ibu tahu apa alasannya? Tapi, kalau sekiranya kakak belum mampu
membicarakannya pada Ibu sekarang, ya nggak masalah juga,” jawabnya, nadanya nggak
berubah. Masih tenang seperti sedia kala, seperti menunjukan kalau ibu sudah menduga hal ini.

“Mau dengar cerita remaja ibu dengan Om Dody dan Ayah nggak?” tanya ibu, gue diam tidak
menolak juga tidak mengiyakan.

Gue menatap pelupuk mata ibu dengan hati-hati, “apa…” gue berhenti sejenak, mengigit bibir
bawah gue untuk kembali petimbangkan tawaran ibu.

“Apa cerita ini akan menyinggung Lala bu?” ibu mengangkat kedua bahunya tak acuh.

“Ibu nggak tahu, yang bisa mengendalikan perasaan kamu ya hanya diri kamu sendiri, kalaupun
ibu ceritanya hanya soal Ayah, nggak ada jaminan kan kalau kamu juga nggak akan tersinggung?”
jawab ibu.

Telak tepat sasaran.

Ibu benar, perasaan setiap orang hanya dapat dikendalikan dengan orang tersebut. Kalimat itulah
yang menggiring gue untuk bercerita pada ibu. Gue menceritakan semuanya pada ibu dari awal
sampai akhir. Bahkan gue menceritakan kebodohan gue yang terjadi saat kami bertugas di
Karimunjawa.

222

Travellove Ainidi

Gue sudah bersiap menerima amukan ibu, tanpa diduga ibu langsung berlari menghampiri gue
dan memberikan pelukannya. Untuk pertama kalinya gue merasakan kelegaan yang luar biasa.
Rasa sesak yang kerap muncul ketika gue mengingat kembali kejadian itu nggak lagi hadir di
antara tangisan gue kali ini.

Ibu melerai pelukannya dan menangkupkan kedua tanganya pada pipi gue, dia terdiam cukup
lama, menatap dalam gue, sebelum memberikan gue kecupan pada seluruh wajah gue.

“ibu tetap bangga sama kamu nak,” bisiknya serak di telinga gue.

Ibu kembali menangkupkan kedua tangannya pada wajah gue, “Are you really ok?”

Sekali gue menatap ibu dengan putus asa. Lalu dengan penuh kesadaran gue dengan sekuat
tenaga menahan isak dan menggeleng pada ibu. Ibu menarik gue kembali dalam pelukannya, dan
kami menangis sejadi-jadinya, bersama. Untuk rasa sakit gue.

Pada momen ini gue menyadari kalau serusak apapun anaknya ibu akan selalu datang untuk
mengulurkan tangan dan memberikan pelukan. Sejauh apapun anaknya pergi ibu akan tetap
datang untuk sekedar bertanya apakah kami dalam keadaan baik atau tidak. Maka guepun yakin
pada keputusan untuk membiarkan ibu menikah dengan Om Dody adalah keputusan tepat.

***

Hidup gue perlahan kembali seperti semula. Kalau saat pertama kali gue pulang sering kali
merasakan kemacetan pada otak, atau tahu-tahu menangis dalam diam saat menonton drama
komedi. Maka kali ini perlahan semuanya berjalan normal. Meski masih terasa sulit karena
bayang-bayang Elang masih kerap datang menghantui.

Gue memutuskan untuk membantu ibu juga Andien mengembangkan usaha mereka.
Memasarkan produk meraka masing-masing dengan menambahkan beberpa strategi.
Bermodalkan uang tabungan yang gue punya gue menawarkan kerjasama pada keduanya,
memindahkan toko The Twinnies ke tempat yang lebih besar.

223

Travellove Ainidi

Sama seperti The Twinnies, Cake Of The Box juga mengalami kemajuan yang pesat. Terkadang
Andien kewalahan dengan jumlah pesanan yang membeludak di tengah skripsi yang sedang dia
selesaikan. Apalagi yang bisa gue lakukan selain memuji kerja keras yang Andien lakukan? Nggak
mungkin juga gue mengambil alih dapurnya kalau menggoreng donat saja terkadang kelewat
matang.

Mengusung konsep Lunch Box Cake, Andien menjual pastry dengan packaging seperti kotak
bekal makan siang, lengkap dengan minuman yang juga dia buatnya sendiri. Selain konsepnya
yang unik harganya yang agak miring juga sukses menarik minat para muda-mudi Yogyakarta.
Dalam sehari Aniden mengirim kan lebih dari seratus box paling sedikit.

Jadi gue menawarkan diri untuk membantunya mengembangkan usahanya dengan management
yang tertata rapi, Andien setuju dan mulai mencari pattisier untuk membantunya di dapur.
Sementara gue dan Dita mengurus penjualan dan pemasaran, untuk itu gue membutuhkan tempat
yang lebih luas bukan sebuah ruangan sebesar kamar kos milik The twinnies. Ibu setuju untuk
memindahkan toko ke tempat yang lebih besar dan terletak di dekat rumah yang kini kami
tempati bersama Om Dody.

Di bantu dengan beliau pula kami berhasil menyulap sebuah rumah sederhana menjadi toko
bunga juga toko kue yang saling bersisian.

Kenapa nggak menggunakan rumah kami sebelumnya saja?

Rumah itu sudah terlanjur gue rubah menjadi sebuah penginapan dengan harga miring untuk
para pelancong dengan budget rendah, sebelum ide ini datang. Kesibukan baru ini berhasil
membantu gue menyembuhkan luka, walau nggak sepenuhnya hilang tapi setidaknya gue
teralihkan.

Karena sibuk mengurus kedua toko, juga penginapan sederhana gue jadi nggak punya waktu
memikirkan semua urusah yang gue tinggal di Jakarta. sesekali membantu Dhea melengkapi
beberapa dokumen yang sebelumnya di pegang oleh gue.

224

Travellove Ainidi

Apakabar keempat teman gue sekarang?

Gue hanya berkomunikasi dengan Ayu yang sekarang sudah hamil besar, Galuh datang sesekali
untuk mengunjungi Dita. Gue bersyukur dia tidak lagi membawa Elang dalam pembicaraan kami.
Atau mungkin dia juga lelah karena gue terus menghindarinya tiap kali menyembut nama Elang
di hadapan gue.

Sampai retina gue dengan tak sengaja menangkap sebuah gambar akun Instagram milik Bunga,
gue nggak pernah ingat kalau kami saling berteman di sosial media. Dia mengunggah sebuah
gambar sepasang cangkir gelas dan juga tangan yang saling bersisian, memang tak saling bertaut
tapi kedua tangan itu berjajar dengan serasi.

Dengan sebuah caption “It’s a lovely cup” memang nggak ada yang istimewah dari tulisan itu,
pun tak ada nama akun lain yang di tautkan, tapi karena gue mengenali jam tangan yang
menempel pada pergelangan tangan salah satunya adalah milik Elang, kepala gue seperti kembali
berputar dan dada yang kembali terasa sesak.

a lovely cup …

Lovely ..

Love.

Feels like, there’s no love for me anymore.

Atau memang nggak pernah ada?

Kalau gini dia nggak akan ngerti,

Menghilang pas lagi sayang-sayangnya.

Semua percakapan menyakitkan itu kembali berputar di kepala gue, kenapa? Sebesar apa
kesalahan gue sampai dia tega menghancurkan gue seperti ini? gue bahkan menyerahkan satu-
satunya yang paling berharga yang gue punya. Apa karena itu? Karena dia juga merasa gue telah

225

Travellove Ainidi

menggodanya? yang gue sadari selanjutnya adalah Dita berlari menghampiri gue yang sedang
berjongkok sambil menangis di dalam ruang kerja gue yang berdinding kaca.

Setelah berhasil di tuntun Dita untuk duduk di sebuah sofa kecil, dia keluar ruangan dan
membiarkan gue menangis dalam diam sendirian. Memberi gue ruang.

***

Gue selalu suka sama vibes kota ini. terutama saat berjalan atau hanya sekedar duduk meminum
secangkir kopi khas Yogya di sebuah kedai kopi tradisional. Atau menikmati nasi kucing dengan
lauk pauknya yang hanya di dapatkan di angkringan. Jalanan di kawasan Malioboro selalu ramai
dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun asing. Baik siang maupun malam. biasanya itu tidak
mengurangi keinginan gue untuk tetap berjalan menelusuri jalan ini sampai ke Tugu.

Sayang gue harus menunda keinginan itu karena kedatangan gue kali ini untuk memenuhi ajakan
Om Dody yang minta di temani menjemput temannya di sini sebelum berangkat bersama-sama
ke tempat pameran yang digelar oleh prodi Desain Interior ISI Yogyakarta. Om Dody diminta
datang ke pameran yang di selanggarakan di Gallary Jogja sebagai Kurator.

Beliau sih mengajak gue dengan dalih minta di supiri, padahal gue sudah mencuri dengar
percakapannya dengan ibu yang meminta mengajak gue demi menghibur diri karena sudah dua
hari kembali mengunci diri di dalam kamar.

Tiga jam setelah sampai gue berjalan menelusuri Gallary untuk menikmati karya seni yang di
pamerkan. Gue meninggalkan Om Dody yang sedang berdiskusi bersama dua pelukis lainnya di
ruangan yang disediakan khusus oleh penyelenggara.

Bukan cuma memamerkan karya-karya terbaik mahasiswa desain interior aja, di sini juga ada
karya-karya dari anak muda se-Indonesia. Pameran ini bertemakan Residensial, di mana setiap
ruangan didesain dengan detail dan mengedukasi.

226

Travellove Ainidi

Nggak hanya memamerkan lukisan, ada beberapa ruang yang diisi dengan karya seni lainnya
seperti dalam ruangan yang baru aja gue masuki sekarang, karena penasaran dengan nama yang
tertera pada pintu ruangan ‘Kriya’ yang baru gue ketahui artinya sebagai suatu karya seni yang di
buat dari benda estetis dengan fungsi yang domestik.

Yang ada dikepala gue adalah ruangan ini akan diisi oleh aneka bentuk jenis benda yang terbuat
dari tanah liat. Tapi nggak setelah gue memasuki ruangan dan langsung menangkap sebuah
pohon tanpa daun yang di ukir dengan di hiasi banyak sekali orgami dalam berbagai bentuk yang
tergantung pada setiap ranting. Sepintas terlihat seperti pohon beringin yang daun dan akarnya
di gantikan oleh origami.

Ruangan ini di kelilingi oleh dinding yang di penuhi oleh seni kriya lainnya, keempat sisinya
memamerkan bentuk seni yang berbeda-beda. Pada dinding dekat pintu gue disambut oleh
beberpa karya yang terbuat dari pecahan kaca yang dirubah menjadi bermacam-macam bentuk.
Pada sisi dinding lainnya ada sepasang tangan raksasa yang di letakan disamping kanan dan kiri
dinding.

Tangan itu dibuat seperti sedang menyangga dinding yang memajang keramik yang tertempel
pada dinding tanpa takut akan jatuh. Sementara pada kedua sisi lainnya ada karya seni batik yang
dibingkai dan pajang. Juga ada seni wayang kulit yang di pajang di dalam kotak kaca seperti
akuarium.

Seorang pemuda datang menghampiri gue saat gue kembali berdiri dibawah pohon, untuk
melihat lebih dekat. Origami yang menghiasi terikat oleh tali dan di gantungkan pada ranting
pohon yang ternyata terbuat dari bahan kardus.

Gue menoleh pada seorang pemuda yang sebaya dengan si kembar berdiri di samping gue. Dan
membalas senyum ramahnya, dilihat dari batik yang di kenakan gue yakin dia salah satu panitia
yang sedang bertugas.

227

Travellove Ainidi

“Ini namanya pohon Banyan Pangarep Mbak, atau kalau mau keren the tree of hopes. Mbak
pernah menonton film Avatar?” gue mengangguk riang.

“Nah kalau di film itu ada tree of soul, Mas Nugraha menciptakan tree of hopes, Pohon Banyan
Pangarep,”

“Nugraha?” tanya gue hati-hati, karena memang gue nggak memiliki ilmu seni jadi gue juga ngga
familiar dengan para pekerje seni.

“Mas Nugraha salah satu Almuni ISI yang dulu kerap ikut pameran Mbak, beliau sempat vakum
karena melanjutkan sekolah diluar Negeri.” Gue mengangguk mengerti, bisa dibilang mulai
sedikit tertarik mendengarkan cerita si Mas yang memakai kartu identitas dengan nama Arga ini.

“Origami yang tergantung isinya adalah sebuah harapan yang di tulis di kertas origami, para
pengunjung dibebaskan untuk menggantukan kertas origaminya di pohon ini, Mbak mau ikut?”
mungkin karena melihat gue terdiam cukup lama, Arga tersenyum geli,

“tanpa mengurangi rasa hormat pada setiap penganut agama juga tanpa maksud merusak adat,
origami ini hanya sebuah harapan yag dibuat untuk melengkapi suatu seni aja kok Mbak.” Gue
menyemburkan tawa setelah mendengar Arga, padahal bukan itu yang ada didalam kepala gue,

“saya lagi nggak mikirin itu kok mas, mana berani sih saya mikir sampai ke sana. Saya lagi
ngebayangin aja sih Mas, kalau misal nih saya membuat pengharapan yang kemudian di
gantungkan di pohon ini. apakah harapan saya akan terus tergantung tanpa terwujud?”

Mulanya gue berpikir kalau Arga ini tersinggung dengan alasan gue, tapi sesaat kemudian Arga
tersenyum sambil mengangkat tangan dan mengacungkan jempolnya ke belakang gue,

“Itu Mbak, Ada Mas Nugraha mau saya kenalkan? Sebentar.” Dia langsung berlalu meninggalkan
gue.

Gue menoleh pada pria yang dimaksud oleh Arga, seorang pria berbadan tinggi dengan rambut
yang sedikit gondrong dan memiliki mata yang sama dengan laki-laki yang sangat gue kenal ini

228

Travellove Ainidi

mengenakan kemeja putih dan celana kulot hitam. Dia menoleh ke arah gue setelah Arga
menghampirinya, dia juga sama terkejutnya seperti gue. Tapi, langsung tergantikan dengan
senyuman lebar. Tangannya terangkat dan melambai senang.

“Elang yang sibuk nyariin lo, ketemunya malah sama gue.”

“Gue juga nggak tahu kalau seorang Angkasa Nugraha adalah seorang seniman yang kerap ikut
pameran.”

30
Remediasi

Kopi Klotok adalah salah satu sajian kopi tradisional dengan metode penyajian yang mirip seperti
kopi Turki. Kopi Klotok dibuat dengan cara merebus air bersama dengan bubuk kopi dan dimasak
di atas panci dengan tungku arang. Diseduh dengan cara tradisional. Dengan memasak bubuk
kopi dalam panci panas kemudian baru disiram air sampai mendidih sehingga menghasilkan
bunyi "klotok-klotok". Dari sini lahirlah nama kopi klotok.

Dua gelas kopi klotok juga sepring penuh tempe mendoan hangat yang siap dicocol pada
mangkuk kecil berisi sambal kecap. Menemani gue dan Angkasa menghabiskan sore di kedai kopi
tradisional dengan pemandangan hamparan sawah. Ini sudah rokok kedua yang Angkasa hisap
tapi nggak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. sial. Mau ngomelin gue aja mikirnya
lama banget.

Gue berpamitan pada Om Dody untuk menemani Angkasa ‘ngopi’ di sebuah kedai kopi tradisional
di Kaliurang. Seperti sebuah bakat terpendam, Angkasa juga sukses mengejutkan Om Dody saat
gue datang menghampirinya bersama Angkasa, bedanya Om dody nggak hanya terkejut dengan
kehadiran mantan mahasiswanya itu tapi juga kedekatan yang terjalin diantara gue dan Angkasa.

229

Travellove Ainidi

Lain hal dengan Angkasa, bukannya terkejut dia malah heran karena gue juga mengenal Om
Dody, bahkan datang bersamanya, apalagi sampai meminta ijin. Katanya dia hampir mengira
kalau Om Dody ini adalah sugar daddy gue, kalau gue nggak menjelaskan dan mengenalkan Om
Dody sebagai suami Ibu.

Dengan suka cita dia mengijinkan gue pergi bersama Angkasa, nggak pakai pikir panjang gue
langsung menyetujui ajakannya untuk menyambangi kedai kopi tradisional yang terkenal dengan
keasriannya ini. kepulan asap dari kedua gelas kopi kami perlahan menghilang, mendoan hangat
yang tersaji sudah mulai dingin. Tapi Angkasa hanya sibuk menghisap rokoknya dalam diam
seperti tak menyadari kalau dia datang bersama gue bukan sendirian.

“Jadi?” tanya gue mencoba percakapan.

“Apa lo tahu kalau Elang nggak suak langit senja?” katanya tanpa menoleh,

“Aram temaram, dia suka langit dengan warna yang hanya bisa dinikmati sesaat,” jawab gue.

“Langit senja juga hanya bisa dinikmati sesaat,” kata Angkasa, yang kali ini menoleh dan menatap
gue dengan matanya yang tajam. Sebuah tatapan yang sama dengan yang dimiliki Elang.

“Walau hanya bisa dinikmati sesaat tapi, mampu meninggalkan kesan yang mendalam,” meski
nggak ngerti ke mana arah dan tujuan pembicaraan ini gue berusaha mengimbangi permainan
kata Angkasa semampunya.

Dia mengangguk sambil menghembuskan asap nikotin keluar dari mulutnya, “gue pernah janji
sama Elang akan pulang, setelah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit saat langit aram
temaram. Umurnya waktu itu masih tujuh tahun, anak kelas satu sd itu mampu menyelamatkan
gue dari maut waktu kita main di pinggir sumur. Singkat cerita gue tercebur ke dalam sumur dan
Elang dengan sekuat tenaga menahan gue yang sudah nggak sadarkan diri dengan tambang yang
biasa digunakan untuk menimba air.”

230

Travellove Ainidi

“Elang dengan rajin menghitung jumlah langit aram temaram yang dia temui tapi gue nggak
kunjung kembali, harusnya dia kecewa karena setelah puluhan kali dia menghitung gue nggak
juga pulang. Tapi kecewanya lenyap karena terpana pada kombinasi warna yang disajikan langit
diwaktu itu,” Angkasa mematika api pada putung rokoknya, mengambil gelas kopi miliknya dan
menyeruput isinya perlahan.

“diantara kita berdua Elang itu anak yang kuat, Tangguh juga tegar La. Kalau posisi waktu terjebur
ke dalam sumur ditukar, gue nggak akan kepikiran untuk menahan tali tambang itu La, gue
mungkin akan lebih dulu lari untuk meminta pertolongan dengan nyawa Elang yang menjadi
taruhan, tapi karena dia nggak mau mempertaruhkan nyawa gue dia tetap bertahan sampai
bantuan untuk kami datang,”

“Dan gue berhutang sebesar itu pada Elang, tapi setelah itu apakah dia mengharapkan balas budi
dari gue?” Angkasa menggeleng takjub.

“Dia tetap berdiri pada kakinya sendiri dan nggak membiarkan gue merasa berhutang budi. Gue
kagum sama kemampuannya yang mampu menyelesaikan masalah dengan tenang dan kepala
dingin.” Berbeda dengan Elang yang mampu menelan gue dengan tatapannya, tatapan Angkasa
memiliki efek tinju pada gue, rasanya seperti ada denyutan tak kasat mata di sekujur tubuh.

“Dan kemampuan itu menghilang seiring keberadaan lo yang juga menghilang tanpa kabar.” Apa
tadi tangannya bergerak cepat untuk menghujam jantung gue dengan belati. Karena rasanya
jantung gue gagal bekerja.

“Seperti Merapi yang sedang memuntahkan laharnya, dia marah pada semua orang. Semua
orang La. Termasuk nyokap, bokap gue. Dia hampir nggak pernah pulang ke Apartementya
apalagi ke rumah karena menyibukan diri dan memperjuangkan Kelana yang kalian tinggalkan
gitu aja,” kata Angkasa tanpa berusaha menyembunyikan amarahnya.

231

Travellove Ainidi

Gue tertampar pada setiap kalimat yang baru saja Angkasa muntahkan, rasanya terdengar seperti
gue adalah dalang utamanya. Atau memang gue penjahatnya? Gue memberanikan diri untuk
mengangkat kepala dan membalas tatapan Angkasa sama tajamnya.

“Gue dengar, gue ada di sana dan mendengar percakapan lo dan Elang.” Kata gue sama
dinginnya.

“dengar ap – “ Angkasa terdiam, keningnya berkerut nampak berpikir keras.

Kemudian dia menarik napasnya tajam dengan mata yang membeliak kaget menatap gue. Ya!
There you are! Apa sekarang lo masih punya alasan untuk memojokan gue.

“Astaga Malaka!” kedua tangannya menyangga kepalanya yang menunduk.

“Apa lo yakin sudah mendengar semua percakapannya atau hanya sepenggal?” belum sempat
menjawab Angkasa tertawa keras.

“Karena kalau lo dengar semua percakapan kami. Gue yakin bukannya kabur lo malah akan
berlari kencang memeluk Elang.”

“Bagian mana dari percakapan kami yang lo dengar,” tanya Angkasa sekali lagi.

Gue nggak mengerti.

“Elang berusaha mewujudkan keinginan lo sebagai pacar yang penuh perhatian, posesif, apa lagi?
Cemburuan. Dia menempatkan lo sebagai prioritas dalam hidupnya La. Tapi apa respon lo? Dia
mengeluh sama gue karena respon yang lo berikan selalu biasa aja. Seperti semua yang sudah
dilakukan Elang ya biasa aja, nggak ada istimewanya.” Gue tercenung mendegarnya.

“Sampai dia mendesak lo untuk menikahinya karena dia pikir hanya dengan cara itu lo bisa
percaya kalau memang secinta itu dia sama Lo. Dan lagi. Respon yang lo berikan justru rasa takut
dan siap untuk pergi. Yang memang sudah lo buktikan sekarang.”

232

Travellove Ainidi

Gue terdiam. Mencoba meresapi kalimat Angkasa sekali lagi. sekalipun masih ada sebagian dari
diri gue yang menganggap semuanya nggak masuk diakal.

“Jadi lo lari karena lo mendengar kalau dia sedang membalas dendam dengan mendiamkan lo?”
Angkasa tertawa melihat gue menggeleng dan mengangguk bersamaan.

“Gue dengar waktu lo bilang kalau Elang berencana pergi saat gue lagi sayang-sayangnya.” Gue
mengangkat tangan berusaha menghentikan Angkasa yang hendak memotong kalimat gue.

“Waktu itu gue juga sedang memiliki masalah yang ngejelimet di kepala gue Kak, saat Elang
meminta gue segera mengajak dia bertemu ibu untuk meminta ijin menikahi gue. Di waktu yang
sama rumah gue masih berkabut karena Dita nggak setuju sama hubungan yang sedang terjalin
antara Ibu dan Om Dody. Ayu juga sedang tertimpa masalah yang sama besarnya, gue hanya
nggak mau bersenang-senang di atas penderitaan orang yang gue sayang.” Jelas gue dengan
suara yang sedikit bergetar.

“Gue pikir Elang ngerti, tapi dia terus mendiamkan gue, sampai gue mendengar sepenggal
percakapan kalian.” Angkasa menyerahkan tissue pada gue yang mulai terisak,

“itu yang juga dipermasalahkan Elang La, karena lo nggak berusaha membagi masalah lo sama
dia. makanya dia mendiamkan lo. Elang merasa kalau dia nggak ada artinya dihidup lo.” Dia
menghela napas dan bersandar pada kursi. Ketegangan di wajanya mulai luntur.

“Gue harus ingetin lagi kalau kesalahpahaman ini murni kesalahan lo atau sekarang lo udah sadar
sendiri.” Gue mengangguk karena sudah nggak mampu lagi menjawab. Suara gue hilang tertelan
oleh isak.

***

Gue mendorong Trolly yang dipenuhi koper-koper sambil celingukan mencari keberadaan Galuh,
yang katanya sudah sampai di bandara sejak setengah jam yang lalu. Nggak lama sebuah pesan

233

Travellove Ainidi

dari Galuh datang dan mengatakan kalau dia sedang menunggu gue di dalam mobil yang
terparkir. Dia membagikan lokasinya sekarang, yang baru gue pahami kalau gue yang disuruh
menghampiri bukan dia yang datang bersama mobilnya. Dasar nggak mau repot!

“nanti gue dikira supir,” jawabnya ringan, dia membawa mobilnya keluar dari area bandara,

“bilang aja malas!” jawab gue kesal.

Dia terkekeh, “jadi wangsit mana yang berhasil membawa lo kembali ke Jakarta?”

“Gue ketemu Angkasa di Yogya, dia cerita semuanya sampai ke akar-akar.” Jawab gue sekenanya,
malas mengulang cerita yang mengundang tangis ini.

“Padahal kalau waktu itu lo kasih gue kesempatan untuk mencoba merayu lo, nggak perlu waktu
sampai berbulan-bulan gini kan buat memperbaiki hubungan kalian.” Gue meliriknya dengan
tajam.

“Angkasa juga cerita kalau Elang banting tulang sendirian mempertahankan Kelana, lo kemane?”
tanya gue mulai sewot.

Tangannya terulur menarik sejumput rambut gue kencang, “Bukan gue yang lari dari tanggung
jawab ya! Dia nggak mengijinkan gue datang ke kantor, si kampret itu malah sibuk nolak ajakan
gue buat ketemu, asal lo tahu!” jawabnya sebal

“Dan harusnya ini juga jadi peringatan buat lo kalau mungkin nggak akan mudah juga buat lo buat
ketemu dia.” Tambahnya.

Nggak perlu diingatkan gue juga sudah paham, Angkasa sudah lebih dulu memberi peringatan
pada gue, kalau butuh sedikit kerja keras untuk memperbaiki hubungan ini.

Galuh menurunkan gue di rumah Ayu yang gue juga gue tempati dulu, bahkan penghuninya saja
belum sempat pulang.

234

Travellove Ainidi

Kelembaban dan bau tak sedap yang sangat pekat menyambut gue tepat saat gue membuka
pintu rumah yang lama dibiarkan kosong ini. sarang laba-laba terlihat di setiap sudut rumah,
kotoran dan debu menempel pada semua barang di dalam rumah. Gue meletakan semua koper
gue ke dalam kamar yang gue tempati sebelumnya.

Gue mulai berkeliling rumah untuk mengecek keberadaan barang-barang, semuanya masih sama
seperti yang terakhir kali gue tinggalkan, kebun tanaman sayur milik Ayu mati semua dan
membusuk, beberapa merambat kusut tak tentu arah.

Beruntung Galuh berinisiatif mampir ke supermarket lebih dulu untuk membeli kebutuhan dapur
juga pembersih rumah, walau kemungkinan mengisi kulkas akan membutuhkan waktu lama.
Karena bau busuk yang sangat menyengat datang dari sana.

Gue mulai mengeluarkan semua perlengkapan pembersih yang gue butuhkan dan mulai
membersihkan rumah satu persatu. Sampai gue baru menyadari keberadaan kardus besar yang
tergeletak di bawah jendela dekat pintu masuk.

Tanpa pikir panjang, gue membawa kardus yang tidak terlalu berat, tapi juga tidak ringan ini ke
dalam rumah, sebelum membongkarnya. yang gue sesali kemudian, bukan hanya sesal ada
sesuatu yang menyengat dan memilin hati gue.

Kardus ini berisikan pakaian-paakaian dan beberapa barang milik gue yang sengaja gue tinggal di
apartment Elang, karena sering menginap di sana. Jadi begini ya rasanya menyesal, begini
rasanya kalah sebelum berperang. Kok rasanya gue pengin balik lagi ke Yogya setelah melihat
kardus ini ya. Apa Elang sudah sangat berniat melupakan dan melepaskan gue?

Dengan air mata yang mulai turun gue mencoba mencium pakaian di dalamnya, tidak ada bau
apak. Aromanya masih menguarkan parfume lemari yang sering gue letakan ke dalam lemari
miliknya. Artinya kardus ini belum lama datang. Apa Elang juga tahu kepulangan gue? Dia sengaja
mengirimkan semua barang gue agar gue nggak punya alasan untuk datang?

***

235

Travellove Ainidi

Hampir satu jam gue menatap pintu unit yang berbulan-bulan lalu sering gue kunjungi.
Menunggu sampai pemilik unit itu muncul di hadapan gue. Beruntung security di bawah
mengenali gue, dengan mudahnya gue berhasil merayunya untuk meminjamkan kartu akses agar
gue dapat naik ka lantai ini, dengan alasan ingin memberi kejutan untuk Elang.

Gue mendengar pintu lift terbuka, sebelum akhirnya gue berhadap-hadap dengan Elang untuk
pertama kalinya setelah berbulan-bulan tak berjumpa. Saat mata kami saling bertemu nggak ada
satupun dari kami yang mampu mengeluarkan satu katapun. Seluruh memori yang gue lalui
dengan Elang, semua perlakukan Elang terhadap gue kembali berputar di kepala gue.

Dan berhasil membuat gue tersadar kalau kesalahan yang gue lakukan sangatlah fatal. Gue
menlan ludah dengan susah payah dan mencoba membuka suara terlebih dahulu.

“Hai, can we talk?” tanya gue serak.

Sejurus kemudian gue terpaku di tempat, rasanya seperti separuh nyawa gue pergi saat menatap
sosok perempuan yang muncul di belakangnya, perempuan berparas cantik dan pembawaanya
yang anggung itu menyunggingkan senyum yang terasa pahit di hati gue.

Bunga mengangkat tangannya dan melambai menyapa gue dengan penuh kemenangan. Tanpa
menjawab pertanyaan gue, Elang berjalan melewati gue dan membuka kunci Apartemennya.
Dengan tangan yang gemetar gue menahan diri untuk tidak menyambut uluran tangan Bunga
yang mengajak bersalaman.

Setelah berhasil membuka pintu unitnya, Elang terus berjalan masuk tanpa menoleh lagi ke gue.
Dari sanalah gue menyadari kalau kedatangan gue memang sudah sangat terlambat. Tapi,
kalimat Angkasa kembali terngiang di telinga gue.

Ini nggak akan mudah, lo harus bekerja keras untuk memenangkan hati dia kembali.

236

Travellove Ainidi

31
Ujian mandiri

Meski kaki gue rasanya seperti jelly, gue tetap memaksakan langkah menuju lift. Gue menatap
setiap angka yang menghitung mundur setiap lantai. Ada rasa tembaga yang gue rasakan di
dalam mulut gue, dan sedikit mengurai gigitan pada bibir dalam gue yang mulai berdarah.
Jangan menangis.
Gue terus merapal kalimat yang sama berulang-ulang. Nggak gue nggak akan membiarkan diri
gue menangis di sini. Terlebih di depan bunga.
“Malaka,” suara Bunga kembali datang dari balik pintu unit Elang.
“Nggak jadi masuk? Itu di tunggu Mas Elang,”
Mas Elang.
Gue menggeleng sambil berusaha tersenyum, “nggak Mbak, nanti aja. Kalau sekarang takut
ganggu.” Dia mengankat keningnya, ada sedikit senyuman sinis di sudut bibirnya. Tipis. Tapi, gue
mampu melihanya dengan jelas.
“Padahal saya nggak keberatan loh, ini kamu sendiri ya yang nggak mau,” katanya dan mulai
menutup pintu unit itu kembali tanpa menunggu.

237

Travellove Ainidi

Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, gue berjalan cepat masuk ke dalamnya. Mengabaikan
entah teriakan siapa yang meminta gue untuk menahan pintunya. Gue menghapus air mat ague
yang mulai jatuh dengan sedikit kasar.

Jangan menangis Malaka.

Jangan menangis.

Di dalam taksi gue duduk mengkeret dekat pintu, walau sudah berusaha sekuat tenaga air mata
gue terus berjatuhan dan semakin sulit dihentikan. Gue terus menoleh kea rah jendela untuk
menyembunyikan air mata dari sopir taksi.

Gue menghapus air mata cepat-cepat saat taksi mulai memasuki komplek rumah, dengan
terburu-buru gue mengeluarkan dompet dan mengambil dua lembar uang seratus ribuan. Tanpa
menunggu kembalian gue bergegas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Gue mematikan ponsel sebelum gue masukan kembali, dan melempar tas gue asal ke sembarang
arah. bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci kaki dan mencuci muka. Gue
menutup semua jendela dan tiarai agar menghalau cahaya masuk ke dalam rumah. Baju yang
gue kenakan telah berganti menjadi baju tidur, lalu gue mulai menarik selimut.

Gue mensugestikan diri supaya cepat terlelap, mengalihkan bayang-bayang Elang dan Bunga
menjadi domba-domba imajiner yang mulai gue hitung satu persatu.

Berhasil.

Berjam-jam kemudian gue terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa lelah, bukan hanya
tubuh tapi hati dan pikiran gue juga rasanya sangat lelah. Kepala gue berdenyut dan terasa sangat
berat. Kegelapan menyergap saat gue mencoba membuka mata, perlu waktu beberapa saat buat
gue menyadari keberadaan gue dan mengulang lagi kejadian hari ini. memang nggak ada air mata
lagi, tapi efeknya kepala gue rasanya semakin berdenyut kencang.

238

Travellove Ainidi

Dengan susah payah gue memaksakn diri bangun dari tempat tidur untuk menyalakan semua
lampu rumah, langit di luar sudah menghitam. Bukan hanya kepala tapi perut gue juga rasanya
sangat perih sekali. Gue baru ingat kalau seharian ini gue belum mengisi perut gue dengan
apapun.

Gue menimang-nimang untuk menyalakan kembali ponsel, yang gue pahami selanjutnya untuk
apa gue mematikan ponsel, memangnya siapa yang gue harapkan untuk menghubungi gue.
Benar saja. Selain pesan dari grup keluarga juga telepon dari ibu nggak ada notifikasi lain yang
masuk ke dalam ponsel gue.

Gue membuka aplikasi layanan antar, untuk memesan makanan juga beberapa obat penghilang
nyeri. Nggak sampai setengah jam ponsel gue menyala, sebuah pemberitahuan dari aplikasi yang
mengatakan kalau driver yang mengantar pesanan gue sudah sampai di depan.

Nggak ada yang salah sama nasi goreng yang gue pesan, hanya selera gue yang sedang
menghilang. Setelah berhasil menghabiskan setengah porsinya gue menyimpan sisa nasi goreng
ke dalam wadah. Karena kepala yang berdenyut semakin menjadi, gue menenggak analgetik dan
antipiretik sebelum kembali merebahkan diri ke tempat tidur.

Mencoba untuk memejamkan mata tanpa memikirkan apapun, dan berharap denyutan itu akan
hilang saat gue terbangun nanti.

***

Galuh menghela napas yang entah sudah keberapa kali. Setelah mengambil mobil gue yang gue
titipkan di rumah Dhea, gue datang ke kantor Galuh tanpa memberitahu terlebih dahulu, dan
memaksanya keluar menemani gue jalan-jalan menghabiskan waktu.

239

Travellove Ainidi

Mulanya gue meminta dia untuk menemani gue menonton di GI. Tapi, yang terjadi adalah dia
mengekori gue keluar masuk toko sambil menggerutu. Dan berakhir di sebuah toko sepatu
karena mata gue menangkap flatshoes berwarna putih gading.

“Cari yang lain dulu aja deh, mana tahu di toko yang lain ada yang lebih murah dan bagus.” Gue
menarik tangan Galuh yang sudah melotot dan terlihat ingin memaki. Walau terlihat semakin
ogah-ogahan tapi dia tetap mengikuti gue.

“Ngapain sampai muter-muter gini sih La?” dia mengangkat beberpa kantong belanja milik gue
yang dia pegang.

“Segini masih kurang?” tambahnya sewot.

Gue mulai masuk ke toko sepatu lainnya, dan berdiri di depan patung wanita yang memakai
sepatu berwarna sama dengan yang tadi. Gue menunjuk tag harga yang menggantung pada
Galuh, “Kalau ada yang murah kenapa nggak?”

“Harganya cuma beda sepuluh ribu Malaka, astaga!”

“sepuluh ribu juga lumayan kan buat bayar parkir.”

Galuh mendengus tak percaya, dan berbalik meninggalkan gue untuk duduk pada sebuah
ottoman yang di letakan di depan kaca oleh pohak toko. Setelah meminta pelayan toko untuk
mengambilkan sepatu yang gue maksud, gue menyusul Galuh dan menuggu sepatunya datang
untuk lebih dulu gue coba.

“Kalau isinya mau belanja ngapain pakai alasan mau ngajak gue nonton segala sih?”

“ya kita tetap nonton habis gue belanja, tenang aja kenapa sih.”

“Nggak, gue ogah nonton sambil bawa kantong belanja lo yang nggak sedikit ini. Ribet.”

“Ya terus maunya gimana sih? Sama aja lo. Ribet.”

240

Travellove Ainidi

“Makan, gue lapar, emang lo nggak lapar? Udah lewat dari jam makan siang nih,” katanya sambil
melihat jam tangannya.

Gue hanya menganggukan kepala setuju, biar cepat. Kalau nggak gitu nih anak bakal terus
mengomel. Setelah membayar sepatu yang tadi, gue menepati janji untuk memberi makan
Galuh. Gue setuju saat Galuh meminta makan di tempat yang dia pilih.

Setibanya di lantai lima, tepat di seberang restaurant Jepang yang di pilih Galuh, ada sebuah toko
yang menjual blues dan berbagai model pakaian kerja wanita. gue meinta Galuh untuk lebih dulu
masuk ke dalam restaurant sementara gue ijin menyambangi toko itu sebentar.

“terserah,” katanya sebal.

Gue mulai memilih beberapa baju, dan mencoba satu-satu. Gue memang berniat untuk kembali
bekerja di Kelana, beruntung gue belum mengajukan pengunduran diri dari direksi pemilik
Kelana. Jadi gue menggunakan kesempatan ini untuk mencoba kembali, dengan harapan dari
sanalah gue kembali mendapatkan perhatian Elang.

Licik?

Mungkin. Tapi gue nggak punya pilihan lain.

Setelah mencoba semua pakian yang tadi gue ambil, gue memisahkan beberapa untuk gue
kembalikan ke tempatnya dan sisanya di bawa ke kasir. Tepat saat gue keluar dari ruang ganti
gue melihat Tante Rida sedang berdiri di kasir bersama seorang perempuan yang sebaya
dengannya.

Gue terdiam menimang-nimang apakah sebaiknya gue menghampiri beliau atau tidak. Tapi
kemudian gue berbalik dan kembali masuk ke dalam ruang ganti, saat perempuan lainnya yang
lebih muda datang menghampiri keduanya. Perempuan yang sama dengan yang gue temui di
Apartemen Elang kemarin.

241

Travellove Ainidi

Setelah lima belas menit gue menunggu di dalam kamar ganti gue baru memberanikan diri keluar
dan memastikan kalau mereka sudah pergi. Bukan tante Rida dan Bunga yang gue temui, Galuh
berdiri di Lorong dekat ruang ganti. Dia meringis menatap gue, entah apa maksudnya.

“lama banget sih?”

Gue lantas mengangkat beberapa pasang baju yang gue pegang.

“Yang dicobain banyak, gue kan harus memadu padankan satu-satu Gal.”

“Terus yang di beli cuma satu?”

“Kalau lo mau beliin semua juga boleh.” Galuh mengacungkan jari tengahnya dan berbalik keluar
toko.

Gue berakhir membeli semua pakaian yang gue coba karena sudah terlanjur malu, bayar sendiri.
Mungkin karena takut beneran gue palak, Galuh menunggu gue di luar toko. Emang dasar pelit
tuh anak. Gue jadi mikir, apa dia jga sama pelitnya kalau jalan sama Dita?

“Kita makan di luar aja ya.”

“yah kenapa?”

“Nggak usah pura-pura bego. Gue tahu lo udah lihat nyokapnya Elang jalan sama Bunda dan calon
besan, makanya lo ngumpet di dalam kan?” gue meringis kecut.

“Lo lihat juga?” Galuh mengangguk pelan.

“Di Restaurant mau nyamperin Elang yang udah nunggu duluan.”

Gue menghentikan langkah gue, dan terdiam cukup lama. Kepala gue rasanya blank seperti
sebuah ponsel yang mengalami kemacetan karena terlalu banyak membuka aplikai. Tangan
Galuh kemudian merangkul tangan gue dan menepuk-nepuknya pelan sebelum menggiring gue
berjalan ke parkiran.

242

Travellove Ainidi

***

Empat pasang mata kini sedang menatap gue yang sedang berdiri sambil menyengir di ambang
pintu ruangan yang dulu berada dibawah naungan gue. Hari ini gue memenuhi janji temu dengan
Reza, kepala HRD Kelana. setelah mengirimkan cv ke email beliau, dia meminta gue datang untuk
mendatangi kontrak kerja. Sebut saja gue curang karena gue bisa kembali ke Kelana dengan
menggunakan kekuasaan gue sebagai salah satu pemilik Kelana.
Selain Dhea nggak ada yang tahu kalau gue berencana kembali lagi ke kantor ini. gue tertawa
melihat reaksi mereka yang berbeda-beda.
“LAH!” gue terlonjak kaget mendegar suara yang justru datang dari belakang gue.
“Mbak Mala ngapain?” tanya Bagas yang sama terkejut melihat gue.
Gue mengangkat tangan dan melambai padanya, “lah lo ngapain di sini?” tanya gue.
Dia mengangkat segelas kopi dingin di tangannya, yang langsung gue sambar tanpa bertanya.
“Mbak itu kan kopi buat Raya,” Katanya sebal.
Gue menyengir dan melirik ke dalam untuk melihat keberadaan Raya yang sudah nggak terlihat.
“tuh lihat Raya nggak ada, buat gue aja ya.”
“Kalau Mbak Mala balik lagi, berarti konten Vlog Taveling di pegang kalian berlima lagi ya?”
Gue mengangkat bahu tak acuh,
“Iya aja deh Mbak, talen yang sekarang nggak asik. Pelit banget mana belagu lagi.” Gue tertawa
menanggapi keluhan Bagas, meminta pergi kembali ke ruanganya karena ini masih jam kerja.
gue duduk di tempat yang biasanya gue jadikan sarang seharian kalau banyak konten atau para
sponsor yang di tangani. Menyapa mantan teman satu tim gue yang sebentar lagi balikan sama

243

Travellove Ainidi

atasannya ini. dari Dhea gue tahu kalau selama kepergian gue belum ada yang menggantikan
posisi gue, selama ini posisi gue dipegang oleh dan Elang sepenuhnya.

“Pantesan aja Mbak Dhea nyiapin makanan sebanyak itu, ternyata mau ada tamu istimewa,” kata
Hanum sambil menunjuk meja yang sekarang di penuhi oleh berbagai aneka jenis makanan
ringan.

“Sekarang anaknya kemana?” tanya gue celingukan yang sejak gue datang nggak kelihatan bang
hidungnya.

“Lagi dipanggil ke ruangannya Pak Elang, sekarang dia kerjaanya bolak-balik mulu selama Ibu
nggak ada,” jawab Raya yang kini duduk mepet tembok demi menyembunyikan tubuhnya.

“Jadi kamu punya fans baru nih sekarang? Eh bukan ya fans lama tapi baru berani menampakan
taringnya,” tanya gue yang di jawab oleh gemuruh tawa seisi ruangan.

Gue mengambil ponsel gue yang bergetar dan membaca isi pesan yang baru saja dikirimkan oleh
Reza, dia meminta gue untuk menemuinya di ruang meeting. Tanpa berpikir panjang gue lantas
berpamitan pada mantan tim gue untuk menghadap Reza di ruang meeting.

Di sana sudah ada Reza, Dhea juga Elang. Entah ini hanya perasaanya saja atau bukan tapi wajah
ketiganya terlihat tegang. Terutama Dhea yang kini sedang menatap gue nanar. Ada apa?

Gue melirik pria yang kini mengenakan kemeja cokelat tua yang duduk di hadapan Dhea, gue
merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perut saat melihat wajahnya yang mengeras.
Sebuah potongan adegan-adegan drama yang terjadi anatara gue dan Elang berhasil memompa
jantungnya jadi lebih bersemangat.

“Halo,” sapa gue dengan senyuman tipis dan mengambil tempat di sebelah Dhea berhadap-
hadap dengan Reza.

“Hai Mala, Apa kabar?” jawab Reza sedikit kaku.

244

Travellove Ainidi

“kita langsung aja pada pokok permasalahan,” senyum gue perlahan menghilang setelah
mendengar suara Elang yang dingin dan tajam.

“Reza sudah menyampaikan maksud kedatangan Mbak Malaka pagi ini di Kelana.”

Mbak Malaka.

Gue berusaha mengontrol raut wajah gue agar tetap terlihat tenang.

“Posisi yang Mbak Malaka pinta sudah terisi, kebetulan kami sedang tidak membutuhkan Public
Relation Mbak.” Tambah Elang jauh lebih galak dari yang seharusnya.

Lalu gue melihat Elang mengambil setumpuk kertas dari stopmap bening dari atas meja. Mata
gue terbelalak kaget ketika Elang melempar kertas-kertas itu ke hadpan gue dengan gusar.
Selama tiga detik gue hanya terdiam dan menatap Elang dengan tajam. Yang gue sadari
selanjutnya gue menarik kertas-kertas itu dan membaca isinya.

Surat pemberhentian atas kepemilikan Kelana. di sana tertulis jelas kalau semua dana dan asset
milik Kelana telah di kirim ke rekening gue secara terperinci sesuai dengan besarnya saham yang
gue miliki.

“Kelana bukan kebun binatang yang bisa lo kunjungi sesuka hati.”

Di tempatnya Dhea sudah membeku saking shocknya, terlihat jelas kalau kemarahan Elang ini di
luar dugaannya. Gue yakin kalau Dhea tahu lebih dulu tentang ini dia pasti akan meminta gue
untuk menunda kedatangan ke kantor.

Gue benar-benar sakit hati, gue tahu yang gue lakukan ini sangat salah. Tapi tidakkah Elang
kelewatan? Memangnya nggak bisa dia menjelaskan ini dengan baik dan mendiskusikan
bersama. Bukannya memutuskan secara sepihak dan melempar gue dengan kertas-kertas itu
yang rasanya bagai di tampar dan di lecehkan di depan karyawannya.

Dengan emosi yang bergejolak di dada, gue memungut kembali harga diri gue satu persatu. Gue
mengumpulkan kertas yang tadi Elang lemparkan.

245

Travellove Ainidi

“Oke, terima kasih banyak untuk pemberitahuannya Pak Elang.”

Tanpa menunggu respon Elang, gue membungkuk memberinya hormat sebelum keluar dari
ruang meeting. Mengabaikan teriakan Dhea yang memanggil namanya, khawatir akan ikut
meledak. Gue berjalan dengan cepat menuju parkiran dan meninggalkan Kelana.

32
Welcome Back Home

Rasa sakit di kepala gue semakin menjadi, denyutannya nggak tertahankan. Tadinya gue berniat
untuk menyetir sendiri ke dokter, tapi untuk bangun dari tempat tidur saja gue nggak sanggup
apalagi menyetir. Jadi memutuskan untuk mengirimi Galuh pesan, meminta tolong padanya
mengantar gue ke rumah sakit. Nggak perlu waktu lama pesan gue dijawab dengan deringan
telepon.
“Sakit Apa La?”
Ya kalau gue tahu, gue nggak akan meminta lo untuk mengantar gue ke rumah sakit kan? Jawab
gue dalam hati karena malas bersuara, kepala gue ini bergerak sedikit saja langsung
menghasilkan denyutan. Jadi gue hanya menggumam sekenanya.
“Tunggu sebentar gue udah di jalan, pintu rumah jangan di kunci.”
Oh! Gue lupa kalau pintu rumah masih terkunci sejak gue pulang dari Kelana kemarin,
“Nggak bisa,” kata gue berbisik terengah-engah.

246

Travellove Ainidi

“Haa?” gue menjauhkan ponsel karena Galuh sedikit berteriak.

“Nggak bisa bangun gue. Sakit.”

“Astaga Malaka. Tunggu sepuluh menit lagi gue sampai.”

Gue melemparkan ponsel ke sembarang arah setelah Galuh memutuskan sambungan telepon.
Denyutan di kepala gue semakin menjadi, perut gue rasanya seperti dipilin, tenggorokan gue
terasa kering. Gue kembali menarik selimut sampai menutupi kepala, karena cahaya dari lampu
kamar dan celah jendela menyelilaukan mata.

“Hasil darah lo udah keluar. Kata dokternya lo kena Tipus, artinya lo harus istirahat total selama

seminggu di rumah sakit. Nggak usah sok-sokan minta pulang, nggak ada yang bisa jagain lo di
rumah sendirian.” Gue mendengarkan Galuh yang terus mengomel sejak masuk kamar rawat usai
mengurus administrasi.

“Lagian lo itu terlalu pintar untuk dibilang bego La,” duh nih anak ngomong apasih?

“Patah hati boleh, tapi jangan bego. Ngapain lo sampai nyiksa diri sendiri sampai nggak makan
gitu?”

Gue bukan dengan sengaja menunda makan, sejak mood gue dibuat berantakan oleh Elang. Gue
seperti malas untuk mengerjakan yang lain, nggak ada air mata yang keluar. yang datang hanya
rasa malas, kemarin gue menghabiskan hari dengan menonton beberapa judul film secara
marathon. Sampai malam tiba, karena terlalu malas dan mengantuk gue mengabaikan perut gue
yang keroncongan untuk tidur.

Dan paginya gue merasakan sakit kepala, gue mengira kalau dibawa tidur sakitnya akan hilang
seperti yang sudah-sudah. Ternyata malah semakin parah sampai gue mendapati Galuh datang
bersama dengan tukang kunci yang dia boyong dari kios kecil pinggir jalan.

Galuh terlonjak kaget karena tangan gue dengan tiba-tiba menarik lengannya,

247

Travellove Ainidi

“Lo nggak bilang sama Ibu kan?” dia berdecak dan melepaskan tangan gue dengan kesal.

“Gue bilang sama Dita tapi nggak bilang sama Ibu. Udah lo istirahat aja nggak usah mikirin yang
lain dulu.”

“Gal, gue kok pengin makan nasi padang ya?” gue lantas merapatkan mulut gue karena Galuh
melirik gue tajam dan memberi ancaman dengan kepalan tangannya.

Hari ketiga di rumah sakit gue mendapati Galuh datang dengan pelipis dan sudut bibir yang

memar. Gue nggak perlu repot bertanya karena sudah bisa menebak ulah siapa itu.

“Dia datang menemui gue dan dengan santainya bilang kalau Kelana akan dia olah sendirian.
Sorry La, gue baru tahu kalau dia melakukan hal yang sama ke lo sebelumnya. Kami berakhir
saling memberi pukulan sebagai salam terakhir.” Gue menghela napas pelan sebelum tersenyum.

Lalu Galuh menyodorkan layar ponselnya yang di penuhi oleh wajah Ayu, nggak jauh beda dengan
Galuh wajah kesalnya cukup mampu menggambarkan kalau dia sama tersinggungnya.

“Yu, lo masih di Malang kan?” tanya gue sambil mengambil alih ponsel Galuh dari tangannya

Ayu mengangguk sambil menghapus air matanya dengan kasar, “kalau gitu lo habis main tonjok-
tonjokan sama siapa dong? Kok muka lo ikutan bengep?” gue mendengar suara Mas Den yang
terkekeh di sampingnya. Nggak lama wajahnya menyembul di layar dan melambai pada gue.

“Gue baru tahu kalau seorang Malaka bisa sakit juga.” Tanya Mas Den dari seberang sana,

“Ya iyalah Malaka juga manusia,” jawab Ayu “udah sana ah,” Ayu mendorong tubuh Mas Den
dengan kasar yang di balas dengan gigitan di bahu.

“Bisa nggak usah main drama bollywood di depan gue nggak?” walau sebal tapi gue senang juga
melihat keduannya yang terlihat baik-baik saja.

Gue ssedikit melirik Galuh yang juga sedang berusaha menahan senyumnya di samping.

248

Travellove Ainidi

Setelah berbincang nggak tentu tema, Galuh memutuskan acara reuni yang di gelar secara virtual
dan dadakan ini. dengan berjanji akan segera mengunjungi mereka ke Malang setelah gue keluar
dari rumah sakit. Dengan menabahkan syarat kalau Mas Den harus menjemput kami dengan
pesawat pribadi milik keluarganya. Mendengar itu Ayu memutus sambungan dengan semena-
mena.

“She look happy,” kata gue saat tatapan kami bertemu,

“She is happy.” Kata Galuh sambil tersenyum.

“Pun gue dengan Dita, Nyokap dengan suaminya. Lo nggak perlu lagi pusing mengkhawatirkan
kita La, setiap manusia memilik masalah dan jalan keluarnya masing-masing.” Tangannya terulur
dan menarik tangan gue dalam genggaman.

Gue membalas tatapan Galuh, “apa rencana lo setelah ini La?” tanya Galuh.

Lalu pandangan gue bergeser pada lebam di pelipis dan sudut bibir Galuh, sebelum menarik
napas dengan kencang dan berusaha mengeluarkan sesak dalam dada.

“Nggak tahu, yang pasti gue harus menyelesaikan masalah gue lebih dulu dengan Elang apapun
hasilnya, gue baru bisa memutuskan apakah gue akan kembali ke Yogya atau nggak.” Gue
meringis saat genggaman tangan Galuh mulai mengerat.

“Gal, biar gimanapun kita bersahabat sejak lama kan? Terima atau nggak gue punya andil besar
dalam masalah ini, atau bisa jadi guelah penyebab utamanya.” Gue membalas genggaman tangan
Galuh untuk lebih meyakinkannya.

“Gue harus tetap menyelesaikan ini secara baik-baik, meski nanti hasilnya nggak sesuai ekspetasi
gue, setidaknya gue bisa pulang dan melanjutkan hidup gue di Yogya dengan tenang kan?”
senyumnya mulai mengembang dan mengangguk setuju.

“Tolong kabari gue apapun hasilnya, gue sih berharapnya kalian bisa berakhir baik walau
keenyataanya sulit.” Gue mengangkat bahu tak acuh.

249

Travellove Ainidi

Entah, dari kejadian ini gue sudah mulai belajar merelakan dan melepaskan Elang. Mungkin
memang jalan kita yang nggak searah, bisa jadi kita di takdirkan hanya untuk bersahabat aja. Gue
juga semakin menyadari, semakin gue memaksakan keadaan akan semakin banyak hati yang di
korbankan.

Sudah cukup gue menjadi penjahat di dalam kehidupan orang lain. Selain pasrah nggak ada lagi
yang bisa gue lakukan, dan harus segera berhenti untuk berusaha mengubah keadaan.
Setidaknya gue sudah mencoba.

“La,” Galuh kembali membuka suara setelah kami terdiam cukup lama, karena sibuk dengan
pemikiran masing-masing.

“hhmm?”

“Sebenarnya gue juga ada rencana untuk pindah kerja ke Yogya.” Gue mengangkat kening gue
tinggi-tinggi, berita ini mengejutkan gue. Dan menyemburkan tawa setelah terdiam cukup lama.
Gue melepaskan tangan Galuh dengan kasar.

“Buat ngejar Dita.” Galuh mengangguk dengan wajahnya yang sok serius itu.

“Dia bilang dia nggak punya niatan sedkitpun untuk datang ke Jakarta.”

“Nggak usah bingung, si anak baru gede itu akan berubah pikiran seiring berjalannya waktu. Lo
nggak perlu sampai meninggalkan Hanum di Kota besar sendirian cuma gara-gara omongan Dita
yang absurd itu.” Galuh menggeleng pelan.

“Hanum diminta pulang ke Batam untuk bantuin nyokap jagain bokap yang mulai sakit-sakitan
La,” katanya pelan.

“Kalau lo juga pulang ke Yogya, gue sama siapa di sini La? Semua teman gue berpencar keluar
daerah. Jadi ya mending gue kejar tambatan hati kan, lagian gue udah mulai memasukan surat
lamaran di beberapa firma hukum di sana kok.” Gue mengernyit jijik.

250


Click to View FlipBook Version