Travellove Ainidi
karena Mbak Nila salah memesan jadwal penerbangan, kami di haruskan berkumpul di Bandar
Udara Halim Perdana Kusuma pada jam tujuh pagi untuk transit di Surabaya sebelum mendarat
di Lombok.
Satria kini lebih rajin menelpon atau Video Call setiap malam, ketimbang mengirimi gue pesan
sepanjang hari. Katanya karena kebanyakan pesan yang dia kirim selalu gue abaikan, makanya
dia ganti strategi menjadi rutin menghubungi gue di malam hari. Walau kebanyakan gue hanya
sebagai pendengar saja sih, karena bingung juga apa yang mau diceritakan dari kegiatan gue yang
itu-itu saja dalam sehari. Gue hanya bersuara ketika dia bertanya dan tertawa saat dia sedang
berusaha melawak dengan selera humor yang biasa saja.
Gue menghampiri Ayu yang sejak tadi menanyakan keberadaan gue setiap lima menit sekali.
Mukanya datar seperti kertas origami yang siap gue lipat-lipat. Gue berhenti berjalan untuk
menyapa teman-teman yang lain, demi menyelamatkan telinga gue yang sebentar lagi mungkin
akan berdenging mendengar Ayu mengoceh dan mengomel.
Kemudian tatapan gue jatuh kepada seorang perempuan cantik yang kini duduk bersisian dengan
Elang. Bukan hanya cantik, tapi pembawaanya saat berbicara kepada lawannya yang terlihat
anggun, membuat gue mengurungkan niat untuk menyapa mereka dan kembali berjalan
menghampiri Ayu.
“lo pasti mau nanya siapa yang lagi ngobrol sama Elang kan?” gue mengangguk saat Ayu langsung
bertanya sesaat setelah gue duduk di sampingnya.
“Gue juga nggak tahu, tapi katanya dia itu kerja di Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek.” Kedua
alis gue otomastis berkerut mendengarnya.
“Dia ikut rombongan atau Elang baru ketemu di sini?” jangan bilang kita ngumpul di executive
lounge yang nggak biasa terjadi ini karena kehadiran Si Mbak cantik itu.
“Iya dia ikut rombongan kita, tadi sih waktu Elang ngenalin katanya Si Bunga itu adik kelasnya
waktu SMA.” Gue berdecak pelan,
101
Travellove Ainidi
“tadi katanya lo nggak tahu, itu tadi lo udah pintar nyebutin nama sama informasi dasarnya. Tapi,
staff Kemendikbudristek ikut rombongan kita dalam rangka apa? Mau memberikan edukasi
masalah pendidikan?” Ayu hanya mengangkat bahu sebelum menunjuk ke arah Elang dengan
dagunya. Gue menoleh dan mendapati Elang yang sedang melambaikan tangannya memanggil,
itu dia manggil gue atau bukan sih?
“Malaka, sini deh sebentar,” oh manggil gue toh. Gue ikut mengangkat tangan dan
mengacungkan kelima jari gue, meminta waktu sebentar sebelum datang menghampiri
keduanya. Gue berpura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam tas, maksudnya sih mau mencari
alasan untuk nggak berbasa-basi sama Mbak Bunga yang mungkin akan Elang kenalkan karena
gue nggak punya persiapan. Namun sayang, panjang akal Elang nggak bisa gue kalahkan, karena
nggak sabar mereka lantas berjalan menghampiri gue.
“La kenalin. Ini Bunga Zahra dari di Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek.” Gue mengangguk
sambil tersenyum semanis yang gue bisa.
“Halo, Mbak Bunga.” Dia hanya menjawab dengan lambaian tangan.
“Jadi La, Bunga ini adalah salah satu Staf Ahli Bidang Warisan Budaya di Ditjen Kebudayan
Kemendikbudristek. Kebetulan dia sedang melakukan riset ilmu kebudayaan di beberapa daerah.
Salah satunya di NTB, pas banget kita sedang berangkat ke sana jadi gue menyetujui usulan Bunga
untuk berangkat bersama-sama.” Oh ke..be..tu..lan gue berulang kali merapal kalimat itu di
kepala gue.
“Harapan saya sih Mbak, siapa tahu ini bisa jadi awal mula Kelana bekerja sama dengan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia,” gue nggak tahu
kenapa bulu halus di belakang leher gue berdiri semua, saat mendengar suara lembut dan halus
dari Mbak Bunga.
“Nah Bunga, seperti yang tadi aku sampaikan kalau Kelana ini nggak di bangun oleh aku sendiri
tapi juga dengan keempat teman baikku yang lain,” Aku kamu banget nih?
102
Travellove Ainidi
“Salah satunya Malaka, dia juga bekerja di bagian Public Relation and content marketer. Biasanya
semua sponsor dan beberapa pihak lain yang bekerja sama dengan Kelana di handle sama
Malaka, dia juga bertanggung jawab penuh untuk mengiklankan dan mempromosikan semua
konten yang di produksi dengan Kelana. Citra baik atau buruknya Kelana bergantung pada kinerja
Malaka dan timnya”
Apa gue juga harus meperkenalkan Elang sebagai moderator ketimbang founder? lagipula kalau
dia sudah sangat paham soal deskripsi pekerjaan gue, kenapa hanya gue yang nggak dia beritahu
kalau perjalanan kita kali ini bersama seorang tamu yang bekerja di kepemerintahan. Dia ini
sengaja ingin membuat gue terlihat dungu atau bagaimana sih?
“Yang disampaikan sama Mas Elang benar sekali, sebelumnya saya ingin menyampaikan
permohonan maaf kepada Mbak Bunga. Karena sebenarnya saya sama sekali tidak diberitahu
kalau hari ini Mbak ikut bergabung dengan perjalanan kami mewakili Kemedikbudristek. Jadi
nggak ada persiapan apapun yang saya lakukan untuk menyambut kehadiran Mbak Bunga.” Gue
melirik sebal ke arah Elang.
“Oh nggak masalah kok Mbak, kan sudah di wakilkan oleh Mas Elang.” Dia ikut melirik Elang,
hanya saja dengan senyuman lebar.
“Ya tetap saja kan Mbak, kalau begini saya jadi terlihat seperti seorang Public Relation yang nggak
professional. Kalau tahu kan saya bisa menyiapkan beberapa proposal dan bisa
merekomendasikan program yang sepertinya cocok untuk riset yang sedang Mbak Bunga
kerjakan. Karena jujur tim yang berangkat kali ini hanyalah tim yang memproduksi Vlog traveling
biasa. Selain keindahan pada tiap-tiap daerah, nggak ada makna tertentu dari sebuah daerah
yang di sampaikan.
Namun tim lain yang juga bagian dari Kelana memproduksi perjalanan yang sifatnya
menyampaikan Ilmu Warisan Budaya, nah itu biasanya di produksi oleh tim Jejak Safari. Sampai
saat ini mereka masih memegang rekor viewers terbanyak di Kelana sih Mbak Bunga.
103
Travellove Ainidi
Selain kedua pembawa acara yang memiliki visual yang menyegarkan mata, mereka juga mampu
membungkus konten ini menjadi lebih menarik untuk di pelajari. Itu kenapa banyak sekali
pemuda-pemudi yang setia menunggu konten mereka tayang setiap minggunya.” Kedua alis gue
menyatu melihat Elang bergeser dan berdiri di samping Mbak Bunga, memotong Presentasi
dadakan yang sedang gue lakukan.
“Bisa nggak kita bicarakan itu nanti? sekarang ini, Bunga ikut hanya untuk observasi Kelana lebih
dulu. Jadi kita bisa mengerjakan konten lebih santai dan Bunga bisa mengerjakan pekerjaanya
dengan nyaman, itu kenapa gue nggak beritahu lo dan lainnya sejak awal.” Gue menggigit lidah
gue sedikit keras untuk menahan rasa jengkel yang hampir saja meledak. Dia mengajak Bunga
untuk kembali duduk di tempat semula. Gue hanya diam di tempat menatap punggung kokoh
yang semakin lama semakin menjauh.
Sejak dia mendeklarasikan diri akan kembali menjadi Elang yang gue harapkan, bak seorang
canayang. Gimana bisa dia lebih dulu tahu kalau gue berharap dia menjadi apa? Dan itu terbukti,
Elang yang menurut dia sudah seperti yang gue harapkan. Justru berubah menjadi Elang yang
sangat menyebalkan.
Dia memperlakukan gue seperti teman lama yang nggak sengaja bertemu di kantor yang sama,
bahkan di pertemuan jumat malam yang rutin kami lakukan, Elang bersikap seperti gue adalah
perempuan yang nggak sengaja diajak Ayu ikut nongkrong bersama teman-temannya. Dia nggak
pernah lagi menimpali gurauan Galuh mengenai gue, dia hanya menyumbang tawa yang
terdengar sumbang jika itu berhubungan dengan gue.
Dia nggak akan menyapa gue di kantor kalau nggak ada hubungannya dengan pekerjaan. Dia
nggak pernah lagi menanggapi pesan gue kalau itu hanya persoalan remeh-temeh saja, dia nggak
lagi berlama-lama saat gue menghubunginya untuk bertanya berbagai hal. Dia nggak berubah
menjadi Elang yang gue harapkan, dia berubah menjadi Elang yang nggak lagi gue kenal.
Gue bisa merasakan sebuah tangan bersandar di bahu gue sebelum di tepuknya perlahan secara
berulang. Mas Den berdiri di samping gue berusaha menenangkan. Kemudian gue berjalan sambil
104
Travellove Ainidi
memeluk badannya Mas Den yang gempal, tepat saat salah seorang staff maskapai datang
memberi pengumuman bahwa pesawat yang akan kami tumpangi sudah siap terbang.
Baru kali ini gue merasa gagal menjadi public relation, mana yang menjatuhkan gue itu teman
yang ngakunya mengenal gue dengan baik. Sudahlah gue nggak ada persiapan, sekarang mental
gue yang mungkin jadi bahan tertawaan oleh Elang dan temannya yang pakai aku kamu-an.
***
Gue kembali memesan Sate Bulayak juga opak-opak plecing, karena manusia geragas didepan
gue ini menghabiskan hampir semua lauk yang ada di atas meja. Kami tiba di Lombok tepat saat
jam makan siang, jadi gue meminta Pak Syafi’I menepi sebentar ke Dapur Lombok, sebuah rumah
makan yang menyajikan makanan khas Lombok.
Pak Syafi’I adalah seorang pria paruh baya yang akan menemani perjalanan kami selama di NTB.
Dulu beliau juga yang menemani kami berkeliling NTB, dan mengajak kami menyambangi
tempat-tempat indah Nusa Tenggara Barat yang nggak perlu mengeluarkan banyak biaya.
Sebutlah kami berjodoh, kala itu beliau menyapa kelima Mahasiswa sok tahu yang sedang ribut
sendiri di Bandara. Kami yang berangkat ke Lombok tanpa lebih dulu membuat rencana
perjalanan di selamatkan oleh beliau. Pak Syafi’I yang saat itu hanyalah seorang supir taksi
bersedia menjadi tour guide dadakan untuk perjalanan absurd kami.
Gue buru-buru menyambar potongan terakhir ayam taliwang dan menarik mangkuk berisi
Babalung saat melihat Mas Den hendak menyantapnya. Bingung gue sama nih orang kalau sudah
ketemu makanan sudah seperti manusia yang nggak pernah makan bertahun-tahun.
“kan lo lagi pesan sate sama plecing La,” kata Mas Den dengan wajah memelas.
105
Travellove Ainidi
“Nggak! Semua aja lo makan Mas. Lo nggak lihat nih semua piring lauk hampir tandas isinya,
sementara piring gue cuma ada nasi sama sambel doang.”
Dia mengintip mangkuk babalung yang berisi sop atau gulai daging dan iga sapi khas lokal.
“kalau gitu gue dagingnya lo tulangnya deh.” Pengin banget gue timpuk pakai tulang nih orang.
“Tega banget lo Den sama temen sendiri, lo pikir Mala anjing cuma di kasih tulang doang. Nih La
tulang iga gue mau nggak? Masih ada lemaknya dikit nih,” Boleh nggak sih sekali saja gue berkata
kasar sama Si Galuh ini.
Gue mengikuti arah pandang Mas Den yang sedang menoleh ke arah meja Elang juga Mbak
Bunga. Mereka duduk berdua saja di ujung ruangan dengan meja yang masih penuh makanan.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi derai suara tawa Elang yang belakang jarang gue
dengar mengusik pendengaran gue sejak tadi. sesampainya kami di rumah makan Elang langsung
mengarahkan Bunga untuk menempati meja kosong yang letaknya di ujung ruangan dan
memisahkan diri dari kami.
Dia bahkan mengajak Bunga untuk menumpangi mobil yang berisi barang-barang dan hanya di
kendarai oleh Bagas dan Ringga saja. Mulanya gue nggak menaruh rasa curiga saat dia mulai
memisahkan diri sejak di pesawat tadi, manusia dengan ego tinggi itu duduk di bangku bisnis
bersama Bunga mengabaikan kami yang duduk di kelas ekonomi. Dan mulai menyadari kalau dia
sedang mengambil peran gue sebagai Public Relation sejak dia mengabaikan kehadiran kami di
rumah makan ini.
“lo ngeliatin apa sih Mas?” gue menarik ponsel dari kantong dan mengambil gambar wajah Mas
Den yang persis seperti anak yang nggak pernah di kasih makan, sebelum menunjukannya kepada
Galuh yang langsung tertawa terbahak-bahak.
“lo masih mau mengembat makanan bos besar setelah berhasil melenyapkan makanan rakyat
jelata Den?” tanya Galuh di sela-sela tawanya. Lalu tawanya terhenti dan suasana meja tempat
106
Travellove Ainidi
kami makan berubah menjadi hening dan sepi, saat Ayu dengan sengaja menggebrak meja
dengan gelas miliknya.
“Memangnya kalian kenal sama tuh orang? Jangan suka meminta makanan sama orang yang
nggak di kenal Mas Den, sudah seperti orang susah saja. Pesan saja lagi nanti gue yang bayar,”
gue yakin suara lantang Ayu terdengar nggak hanya sampai meja Elang tapi keseluruh penjuru
rumah makan.
Gue menarik gelas di hadapan gue, sambil melirik Galuh yang sedang menggaruk kepalanya yang
gue yakin sama sekali nggak gatal. Dan membiarkan Mas Den menarik mangkuk babalung yang
sejak tadi kami peributkan, sebelum menunduk dan berpura-pura sibuk makan. Gue menerima
piring berisi sate bulayak dan opak-opak plecing yang diserahkan oleh Mas Pelayan dengan takut-
takut.
Tangan gue otomatis menepis tangan Galuh yang hendak mengambil sate bulayak yang tadi gue
pesan.
“Astaga nyicipin satu doang Malaa, pelit amat sih lo kayak Denny,”
“lo siapa sih? gue nggak kenal.” Dia berdengus keras dengan sebal, sebelum mengulurkan tangan
mengajak gue bersalaman.
“Kenalin gue Galuh Gumilang mantan calon adik ipar lo yang kalah berperang karena sudah
keburu ditendang duluan secara terang-terangan.” Mata gue melebar sebelum ikut meledakan
tawa juga. Mungkin ini hanya akal-akalan Galuh saja untuk mencairkan suasana, tapi entah
kenapa gue percaya.
107
Travellove Ainidi
15
Pasir Hitam
Sejak sampai di Passific Ocean Cottege yang berada di Senggigi Lombok, sebagian dari kami
memang nggak ada jadwal kemana-mana. Jadi hari ini di pakai hanya untuk beristirahat saja.
Hanya Gunawan, Ayu, Bagas dan Ringga yang keluar untuk survei ke beberapa lokasi dan
mengurus perijinan yang nggak bisa di lakukan dari Jakarta.
Passific Ocean Cottage ini letaknya dekat dengan pantai Senggigi yang di kenal dengan pasir
pantai berwarna hitam. Mereka memiliki akses khusus dari Cottage menuju bibir pantai, niatnya
sih gue tadi ingin berjalan-jalan menelusuri bibir pantai. Sebelum melihat Elang dan Bunga yang
sudah lebih dulu jalan bersisian sambil bermain riak ombak.
Demi menekan rasa sesak yang perlahan hinggap, akibat melihat Elang meperlakukan Bunga
dengan cara yang nggak biasa. Gue mengurungkan niat bermain di pantai, dan memilih
mengendarai sepedah yang gue pinjam dari penginapan.
108
Travellove Ainidi
Di temani Galuh gue terus mengayuh sepedah menelusuri kota Senggigi, sesekali berhenti di
kedai makan pinggir jalan. Setelah itu kami berhenti di wilayah dataran tinggi Senggigi untuk
mengambil banyak foto dengan pemandangan laut lepas.
Seperti tahu kalau gue sangat nggak nyaman menghabiskan waktu di penginapan. Galuh
mengajak gue berputar ke pinggir pantai yang berada di sisi lain Senggigi demi menikmati langit
senja usai matahari bersembunyi.
“Gal, boleh nggak sih gue nanya soal yang tadi?” Galuh menoleh dan menatap gue bingung.
“yang tadi mana nih?”
“yang di Daur Lombok, waktu pesanan sate gue datang.” Galuh mengangkat telunjuknya dan
meletakannya di dagu nampak berpikir.
“Astaga Malaka, lo kesurupan rohnya Denny apa gimana sih? Gue kan cuma nyicipin dua tusuk
doang. terus mau lo ungkit sampai sekarang?” gue menghembuskan nafas lelah, harusnya gue
tahu kalau bertanya basa-basi dengan Galuh bisa sampai buat emosi diri sendiri.
“lama-lama lo yang gue tusuk ya, nggak usah belaga bego deh. Gue geli kalau mau nanya terang-
terangan.” Dia tertawa lepas merasa puas.
“Kalau gitu nggak usah ditanya, gue juga geli berbagi kisah cinta sama lo La.” Gue juga ogah ikut
campur urusan asmara Galuh, tapi sebagai kakak harusnya gue berhak tahu demi menjaga
kesehatan hati adik gue kelak.
“Awas ya kalau sampai gue dengar Dita nangis karena lo buat patah hati, gue sunat lo pakai
parang tumpul.” Kali ini Galuh yang menghela nafas lelah sebelum berbaring di atas pasir pantai
yang berwarna hitam dan sedikit basah.
“Harusnya lo ngomong gitu ke Dita, dia yang bikin hati gue potek waktu dia berpamitan di malam
sebelum mereka pindah ke Yogyakarta. Lo mau tau nggak dia bilang apa?” gue menggeleng pelan,
109
Travellove Ainidi
tapi sedikit banyak bisa menebak apa yang telah dikatakan oleh Dita, dia itu mirip sama gue kalau
nggak suka bilang nggak suka. Tapi, kalau sudah suka ya diam saja.
Gue kembali menoleh pada Galuh yang tak kunjung menjawab karena sibuk mengeluarkan tawa
rendah.
“Dia bilang dia nggak bisa nyakitin Mbak Lala, waktu gue bilang tolong jangan sembarangan
memberi rasa pada setiap laki-laki yang nanti akan dia jumpai. Dia malah jawab tolong jaga Mbak
Lala dan jangan pernah buat lo sakit hati.” Mata gue berkedip berkali-kali bingung, ini gimana sih
maksudnya gue nggak ngerti.
Pandangan kami bertemu, gue mengikuti arah matanya yang memindai wajah gue sebelum
kembali memandang langit yang mulai berubah warna. Dia diam cukup lama, mungkin sedang
memilah kata yang bisa terserap oleh otak gue yang bekerja agak lambat. Gue ikut terdiam dan
memandang ke arah langit yang sama dengan yang Galuh lihat.
“lo masih ingat La, kasus teman sekolah Si Kembar yang hampir bunuh diri karena diperkosa oleh
teman sekolah mereka?” gue mengangguk dalam diam, jelas gue masih ingat kejadian itu dan
nggak bisa hilang begitu saja. Karena gue yang menemukan korban tergeletak di parkiran sekolah
dengan berlumuran darah.
Waktu itu gue datang ke sekolah si kembar demi memenuhi panggilang guru konseling, Dita
berbuat ulah. Dia memukul teman sekolahnya hingga babak belur dan hampir di keluarkan dari
sekolah. Tepat saat gue membuka pintu mobil usai terparkir di halaman sekolah, gue melihat
percikan darah segar ditembok yang tak jauh dari mobil gue berada. Seperti kesurupan jiwa
Sherlock, bukannya gue abaikan darah itu dan berjalan ke ruangan konseling, gue justru
melangkah menelusuri darah yang jatuh seperti terseret hingga menemukan korban sudah tak
berdaya.
Waktu itu gue berteriak sekencang-kencangnya sebelum jatuh pingsan. Selain melihat korban
yang berlumuran darah, rasa khawatir berlebihan karena takut dia adalah alasan kenapa gue
110
Travellove Ainidi
datang ke sekolah, membuat kepala gue berputar hebat dan hilang kesadaran. Setelah korban di
larikan ke rumah sakit barulah gue tahu kalau dia adalah alasan kenapa Dita berani memukul
teman sekolahnya sampai babak belur nyaris koma.
Gue langsung menghubungi Galuh untuk membela Dita dan juga korban, dan yang kurang ajar
adalah keluarga pelaku nggak terima kalau semua itu adalah perbuatan anaknya. Dia
melimpahkan semua kesalahan pada Dita dan juga korban. Beruntung Galuh mampu menggilas
pelaku dan keluarganya sampai ke akar dan di jatuhi hukuman berat.
“Dita terus menekan gue untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang kuat untuk kasus
temannya, gue nggak yakin lo tahu apa nggak. Tapi, dia datang ke kantor gue hampir setiap hari,
gue bahkan mendadak jadi punya asisten pribadi karena dia terus menempel kemanapun gue
pergi.” Galuh kembali mengeluarkan tawa rendah, lama-lama kok gue serem ya sama ketawanya
Galuh.
“Di tengah jalan Dita nggak sengaja menemukan foto lo yang gue ambil diam-diam dan gue
simpan di dalam laci meja kerja gue.” Pernah ngerasain rasanya disengat lebah di telinga nggak?
Gue juga belum pernah sih, tapi bisa jadi rasanya sama seperti yang sedang gue rasakan sekarang
ini, telinga gue rasanya berdenyut sakit dan terasa panas.
Kami kembali menoleh dan saling memandang satu sama lain secara besamaan. Sial kok malah
jadi kayak main drama sih. Galuh kembali tertawa, kali ini lebih lepas sampai mengeluarkan
sedikit air mata. Ini anak ngerjain gue ya? Dasar gurita kebanyakan tinta, bisa-bisanya gue
percaya begitu saja.
Gue menendang Galuh dengan kencang karena kesal, sebelum tangannya menangkap
pergelangan kaki gue dan menahanya agar diam.
“Itu beneran La, gue memang mencetak foto lo yang gue ambil diam-diam. Tadinya sih gue
umpetin di dalam dompet persis di belakang foto nyokap. Semenjak kerja gue pindahin ke bingkai
dan gue simpan di dalam laci, takut ketahuan sama rekan kerja gue dan dinilai memiliki selera
111
Travellove Ainidi
yang kurang soal perempuan,” gue nggak tahu harus marah atau gimana, yang jelas rasa panas
di telinga gue semakin menjadi.
“Awalnya juga gue kira gue segitu sukanya sama lo, tapi nggak waktu Dita rutin nemenin gue
mengerjakan kasus temannya. Gue nggak ngerti gimana jelasinnya sama lo tapi rasanya beda
dengan yang gue rasain kalau lagi sama lo, gue suka uring-uringan sendiri kalau Dita nggak datang
ke kantor atau nggak ada kabar. Tapi, sayang dia malah mengira kalau –“
“STOP! STOP!” gue mengangkat tangan untuk menutup mulutnya,
“Jangan di lanjutin, anjirlah awkward banget sih Gal!” gue lantas berteriak jijik karena merasakan
basah pada telapak tangan gue yang nggak sengaja merasakan air liurnya yang kemana-mana
akibat tertawa terbahak-bahak.
“lo bisa serius dikit nggak sih? nyesel gue nanya, sumpah.” Tangan gue nggak berhenti memukul
bahu Galuh dengan kesal.
“lagian kan gue bilang nggak usah nanya, lo nggak percaya.” Momen macam apasih ini, kok gue
jadi pengin cepat pulang ke Jakarta ya.
“Tapi, gue serius soal barusan. Dan thanks udah nanya, lega juga gue ternyata. Rasanya seperti
berhasil kentut setelah lama menahan angin yang mengendap di dalam perut gue.” Dia menarik
nafas dalam dan mengeluarkannya kencang.
“Sooo.. dear Kak Lala, karena Kakak sudah mendengar semua isi hati gue, bersediakah Kak Lala
membantu calon adik ipar ini, melancarkan usaha untuk menjalin hubungan dengan adik
tersayang?” eeww… gue mengernyit jijik,
“mau gue tabok nggak?” kini giliran mata gue yang memindai Galuh dari atas ke bawah memberi
penilaian.
“Urus sendiri, gue ogah ikut campur dan jangan berani ya lo jual nama gue sama Dita.” Gue berdiri
dan membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel saat duduk demi menyudahi
112
Travellove Ainidi
percakapan. Seperti mengerti dengan maksud gue dia ikut berdiri dan bersiap kembali ke
penginapan karena langit sudah mulai menghitam.
***
“jadi, seharian tadi beneran nggak kemana-mana?” tanya Satria sekali lagi dari sebrang sana.
Gue menggeleng pelan dan tersenyum melihat Satria yang mengangkat sendoknya dan
disodorkan pada kamera hingga memenuhi layar ponsel gue. Seperti biasa, dia menghubungi
setelah gue menghabiskan makan malam yang gue pesan dari kafe milik penginapan. Satria
sempat menggrutu karena ternyata gue sudah lebih dulu makan, padahal dia ingin kami makan
bersama walau hanya lewat virtual semata.
Karena nggak terbiasa dengan hal seperti ini, gue nggak bisa mencari sebuah pembelaan. Jadi,
gue hanya diam mendengarkan Satria mengomel panjang lebar. Gue melirik Ayu yang duduk
mengambil tempat di samping gue, dan mengabaikan dia yang bertanya siapa yang sedang
bebicara dengan gue tanpa suara. Kebetulan kamar yang gue tempati berdua dengan Ayu ini
persis di depan kolam renang.
Setelah menghabiskan makan malam gue melipir duduk di atas bean bag yang terletak di pinggir
kolam renang. Maksudnya sih ingin menghindari manusia super kepo yang nggak bisa lihat
temannya senang. Tapi, gue lupa kalau manusia kepo itu pasti nggak akan lantas berhenti kalau
rasa penasarannya belum terpuaskan. Kali ini bukan hanya Ayu yang menyusul duduk di pinggir
kolam renang tapi juga Galuh, Mas Den, Ringga juga Mbak Nila dan Bagas.
Ini malah jadi seperti sedang mengadakan rapat terbuka di kolam renang, gue menunggu Satria
selesai berbicara dengan rekan kerja untuk menyudahi panggilan, yang mungkin akan gue
lanjutkan sebelum tidur nanti. Dia memang masih berada di kantor karena tertahan pekerjaan
yang tenggatnya tingal besok.
“Maaf babe, barusan co worker aku minta data pelengkap presentasi. Ohiya jadinya kamu start
jam berapa besok?” gue berusaha menahan mata gue agar tetap fokus ke layar ponsel dan nggak
113
Travellove Ainidi
melirik pada Galuh dan Ayu yang sekarang sedang menahan tawa di susul suara gitar yang di
genjreng Mas Den asal-asalan.
“eh lagi pada main gitar ya?”
“iya nih, lagi pada ngumpul karena mau briefing untuk besok. Nanti kita lanjut lagi setelah aku
selesai briefing gimana Kak? Sekalian nunggu Kak Satria sampai rumah,”
“Oke deh kalau gitu, nanti aku kabarin kalau sudah sampai rumah ya babe?” dia berpamitan dan
meminta gue menyampaikan salam untuk yang lain sebelum memutuskan sambungan.
Tepat setelah itu Elang datang mengambil tempat duduk di sebelah gue dan memaksa gue untuk
berbagi bean bag dengannya. Kemudian di susul Gunawan yang datang belakangan, gue nggak
bohong soal briefing. Kami memang mau melakukannya untuk membahas rundown yang sudah
gue susun untuk perjalanan selama di sini.
Gue mulai menjelaskan perjalanan untuk mendaki Gunung Rinjani via Sembalun. Mas Den
kembali mengingatkan kalau medan mendaki kali ini nggak mudah, jadi dia meminta Mbak Nila
yang notabene memiliki riwayat penyakit asma untuk tinggal di penginapan saja. Mbak Nila
sempat protes, karena sebelumnya Elang sudah lebih dulu meminta Ringga mengecek ulang
perbekalan oksigen untuk gue.
Kemudian Elang menjelaskan kalau gue tidak memiliki riwayat asma, gue hanya kurang pandai
mengatur pernapasan saja. Dan itu benar, kalau kata Mas Den gue itu boros nafas baru sebentar
saja mulai mendaki, nafas gue sudah seperti orang berlari nggak berhenti.
“lagian, Mbak Nila bisa sambil bantu Bunga mengerjakan riset di sini sekalian menemani dia juga
kan?” dengan bersungut-sungut Mbak Nila akhirnya setuju juga.
Nah lain lagi kasus Bunga, dia nggak memiliki riwayat asma, tapi Ayu memenangkan perdebatan
sengit saat makan malam tadi, hingga membuat Bunga memutuskan untuk tidak ikut perjalanan
114
Travellove Ainidi
mendaki besok. Gue kembali mengingatkan diri gue untuk mengorek informasi dari ayu yang
segitu jengkelnya pada Bunga sejak berangkat dari Jakarta.
“Oke, sekarang istirahat yang cukup karena besok Pak Syafi’I jemput kita lepas subuh katanya.”
Dia menoleh ke arah gue sebelum menepuk pundak gue dan berdiri,
“tidur yang cukup babe, jangan kebanyakan begadang.” Dan berbalik pergi menuju kamarnya
“Ayo babe bobok, biar besok nggak capek,” gue melirik Ayu yang mengeluarkan suara sok manja
pada Gunawan,
“gue masuk duluan ya Kak, mengantuk perlu istirahat. Tapi, aku tungguin Kakak dulu deh
sebentar biar boboknya nyenyak,” kata Galuh kepada Mas Den.
Gue menjegal kaki Galuh yang sedang berjalan, hingga membuatnya tercebur ke dalam kolam
renang, dan berlari masuk ke kamar. Mengabaikan teriakan dan umpatan yang dia keluarkan.
115
Travellove Ainidi
16
Sembalun
Sejauh mata memandang, jalan setapak yang ada di depan seolah tanpa ujung. Puncak Rinjani
pun belum terlihat, menandakan perjalanan masih jauh dan panjang. Setelah tiga jam perjalanan
menyusuri jalan setapak, di bantu oleh para porter akhirnya kami sampai di pos satu. Gue
meletakan ransel gue untuk mengurangi sedikit rasa nyeri di bahu, sambil perlahan mengatur
nafas yang hampir habis. Mas Den memberi perintah agar gue duduk tegap dengan kaki lurus
dan membantu gue menghirup oksigen dengan perlahan tapi pasti.
Ini pertama kalinya gue mendaki Gunung Rinjani, terakhir kali gue mendaki Gunung bersama
teman-teman gue adalah ketika kami baru saja menyandang gelar baru yaitu pengangguran
setelah mencopot segala atribut mahasiswa.
Kala itu kami mendaki Gunung Semeru, dan gue hampir kehilangan nyawa karena nafas gue yang
boros hampir habis, hingga mengeluarkan suara tiap kali gue mencoba menarik nafas, dan kami
tidak membawa bekal oksigen sama sekali. Beruntung waktu itu banyak pendaki yang
membantu, jadi gue dan teman-teman mampu mendaki sampai ke Puncak, walau bergerak
sangat lambat.
Belajar dari pengalaman, Mas Den juga Elang membekali gue oksigen kemasan portable nggak
cuma satu tapi, hampir satu kodi. Dengan perlengakapan kamera dan properti lainnya, kami
membutuhkan lebih dari satu porter untuk membantu kami mendaki hingga ke puncak. Sambil
menunggu gue mengatur nafas, Gunawan juga Bagas bergerak untuk mengambil stockshot.
Setelah dua jam beristiahat, kami kembali melanjutkan perjalanan, padang rumput masih
menjadi panorama yang mengiringi kami sepanjang kaki melangkah. Elang nggak berhenti
berteriak untuk mengingatkan kami agar berjalan perlahan saja, nggak kalah cerewet Mas Den
juga nggak berhenti mengingatkan gue untuk tatap bernafas teratur menggunakan hidung bukan
116
Travellove Ainidi
mulut. Kalau begini gue jadi menyesal ikut mendaki, tahu gitu gue menemani Mbak Nila untuk
menjamu Bunga di penginapan.
Dalam perjalanan kami banyak menjumpai pendaki lain, ada yang hanya dengan rombongan
kecil. Adapula yang menggunakan porter seperti kami. Saat sebuah bangunan kecil mulai
nampak, ada seorang pemuda yang memanggil nama gue, dia mengenalkan diri sebagai
Subscriber kanal kami. Ini hal baru buat gue, gue memang sering mendapati beberapa pasang
mata nggak lepas memandang gue sampai dua kali saat gue sedang ada pertemuan dengan klien
di luar kantor.
Pemuda yang kira-kira sumuran dengan Si Kembar meminta ijin untuk mengambil foto bersama
dengan rombongan. Setelah berbasa-basi dan memberikan merchandise kaos bertulisan ‘Kawan
Kelana’ gue menghampiri tim yang sudah lebih dulu sampai di Pos dua. Gue melirik jam di
pergelangan tangan gue yang sudah menunjukan pukul dua.
Dalam hitungan menit Ringga dan Ayu sudah mengeluarkan perlatan memasak. Gue menyelip
dia antara para pendaki yang lain untuk mendapatkan tempat duduk dan bersandar pada
dinding. Pos dua terlihat penuh sesak oleh para pendaki dari berbagai penjuru daerah dan
mancanegara. Sebenarnya para pendaki tidak sebanyak itu, hanya saja karena ukuran pos yang
tidak terlalu besar membuatnya jadi terlihat sempit dan penuh sesak.
Mas Den menghampiri gue dan menyerahkan kopi yang baru saja di buatkan Ayu, dari pada kopi
gue lebih membutuhkan bahunya sih sebenarnya. Jadi gue menarik Mas Den dan memaksanya
menyelipkan badannya yang nggak kecil di samping gue. Gue merapatkan jaket demi melawan
dingin yang menyerang karena kabut mulai datang, sebelum menyandarkan kepala di bahu Mas
Den dan memejamkan mata sejenak.
Tepat pukul setengah empat sore, kami melanjutkan perjalanan setelah hujan yang tadi deras
mulai mereda. Tadi gue terbangun oleh suara riuh rendah dari para pendaki, suasana berkabut
tiba-tiba berubah. Hujan turun dengan derasnya memaksa kami lebih menempel ke dinding dan
117
Travellove Ainidi
merapatkan diri satu sama lain agar tak tekena percikan air. Mas Den bergeser maju ke depan
gue sebelum menarik Ayu ke sebelah gue menggantikan posisinya semula.
“Yu, lo kenapa sih kelihatan banget nggak sukanya sama Bunga? Kan harusnya gue yang jengkel
karena posisi gue di embat sama Elang.” Gue melirik kanan-kiri takut ada Elang di sekitar kami.
Dia menggeser kepalanya jadi lebiih dekat dengan telinga gue, “dia mantannya Gunawan.” Gue
melirik Mas Den yang menduduk disusul bahu yang bergetar karena tertawa diam-diam, dan
langsung mendapatkan hadiah sebuah gigitan dari Ayu.
“Duh sakit Yu!”
Kalau dipikir-pikir selama perjalanan di Lombok ini gue belum mengomel atau mengernyit jijik
karena lihat Ayu dan Gunawan deh. Jadi itu karena moodnya yang anjlok banget ya, kirain hanya
gue saja yang susah payah naikin mood taunya ada temannya.
Mas Den nggak beranjak dari sisi gue, padahal badannya lebih besar harusnya dia yang susah
menanjak, tapi ini malah gue yang nafasnya terngah-engah. Langit hampir menggelap dan
medan yang kami hadapi mulai terjal, berbatu, dan berliku. Gue terus meyakinkan Mas Den juga
Elang kalau gue baik-baik saja, supaya kita bisa mepercepat langkah dan cepat sampai pos tiga
sebelum langit menggelap sempurna.
Suara petikan gitar Mas Den bersama api unggun di bawah langit yang bertabur bintang, seperti
menjadi kegiatan wajib kami saat camping. setibanya di Pos tiga kami langsung mencari lokasi
untuk mendirikan tenda. Tanpa komando, kami mulai bagi tugas. Sebagian mempersiapkan
tenda, sebagian lagi menyiapkan makan malam. Malam ini kami akan bermalam di Pos tiga untuk
mengembalikan kondisi fisik yang terkuras oleh perjalanan panjang.
Elang menawarkan secangkir kopi sebelum mengambil tempat duduk di samping gue. Kami
mendengarkan Mas Den juga Galuh bernyanyi seru walau tak merdu.
118
Travellove Ainidi
“La, Gunawan sudah tidur di dalam tenda yang besar. Artinya Ayu sendirian di dalam, lo masuk
gih istirahat. Perjalanan besok butuh tenaga yang lebih banyak lagi, gue juga nggak mau lo
menghabiskan oksigen sebanyak hari ini,” sepanjang perjalanan ini gue memang sudah
menghabiskan tiga tabung oksigen kemasan portable.
Gue memang nggak punya penyakit asma, tapi kalau begini gue malah merasa seperti memiliki
penyakit lebih parah dari asma. Gue menoleh pada Elang yang masih menatap gue, wajahnya
terlihat sama lelahnya. Dan kembali menatap Mas Den yang masih menimpali Galuh bernyanyi
tak merdu, seperti tak ada habisnya tenaga mereka. Ketiganya nggak lepas menjaga gue
sepanjang perjalanan, terlebih Mas Den yang nggak beranjak dari sisi gue barang lima menit saja.
Katanya sih dia trauma sama kejadian di Gunung Semeru dulu, kalau tahu begitu kenapa masih
membiarkan gue ikut mendaki lagi kali ini? Atau memang gue saja yang tak tahu diri?
“mikirin apa? Sudah sana masuk,” gue hanya mengangguk pelan sebelum bangkit berdiri dan
berpamitan masuk ke dalam tenda.
***
Gue kira menikmati langit senja saat matahari terbenam hanya bisa didapatkan di lautan saja.
Tapi, dari Gunung Rinjani gue tahu kalau menikmati matahari terbenam dari ketinggian 2000
mdpl jauh lebih berkesan dari yang gue bayangkan. Gue sedang menyantap Mie Instan yang tadi
di buatkan oleh Ayu sambil memandang matahari yang bersiap tenggelam di Danau Segara Anak.
Tenaga gue habis terkuras saat menuju Pos Plawangan Sembalun tadi, kami bahkan berhenti
setiap satu jam sekali karena tertahan oleh gue yang nggak pandai mengatur nafas. Jalan setapak
berpasir juga bebatu dan terjal, medan yang nggak mudah buat gue semakin terengah-engah.
Untuk mencapai Plawangan gue dan tim harus melewati tujuh bukit dengan kemiringan yang
terjal, menurut Mas yang membantu kami para pendaki biasa menyebut tujuh bukit penyesalan.
Waktu gue dengar Si Mas cerita begitu, gue hampir saja menangis merengek minta pulang kalau
nggak ingat perjuangan teman-teman yang lain. Mental yang sudah menipis semakin terkikis saat
119
Travellove Ainidi
gue nggak sengaja mendengar Ayu bertanya kepada pendaki lain, jawabannya malah buat gue
beneran menangis. Dengan santainya mereka bilang kalau tanjakannya nggak bakalan habis.
Setelah lima jam berlalu, akhirnya kami tiba di Pos Plawangan Sembalun. Berbeda dengan Pos
sebelumnya Pos ini terletak di posisi yang jauh lebih tinggi, terbuka, dan hanya punya beberapa
rumpun pepohonan. Artinya angin yang datang bertiup lebih kencang, tapi rasanya penyesalan-
penyesalan yang tadi menggelayut terbayar lunas saat pemandangan Danau Segara Anak sangat
menyejukan mata.
Menurut guide yang membantu kami mendaki, Danau Segara Anak ini adalah danau kawah
Gunung Rinjani. Gue megurungkan niat gue untuk berenang saat mendengar kedalaman danau
mencapai 160 sampai 230 meter. Di tengah-tengah danau, nampak anak Gunung Rinjani
bernama Gunung Baru Jari yang memiliki ketinggian 2.376 mdpl.
kami memutuskan ntuk bersitirahat di Pos ini sebelum melanjutkan perjalanan tengah malam
nanti untuk menemui “Dewi Anjani” di puncak tertinggi Rinjani. Karena sepanjang perjalana gue
hanya fokus dengan mengatur nafas, gue jadi kurang memperhatikan proses pengambilan
gambar untuk konten. Ayu bahkan nggak memberikan gue perintah ini dan itu untuk kebutuhan
konten. Walau sebenarnya gue curiga perjalanan mendaki ini isinya adalah kesengsaraan gue
yang susah payah mendaki.
Tatapan gue bergeser pada Elang juga Ringga yang berjalan menelusuri pinggir danau, untuk
mengumpulkan sampah yang di tinggal oleh para pendaki lain. Sayang banget sih memang, alam
sudah berbaik hati memberikan pemandangan yang segini indahnya tapi, kebanyakan
penikmatnya seperti lupa daratan dengan pergi begitu saja pura-pura lupa membawa kembali
sampah mereka.
Sementara yang lain mengambil gambar memancing di pinggir Danau Segara Anak, bukan Ayu
namanya kalau nggak punya ide yang aneh-aneh. Beruntung kali ini Galuh dan Mas Den yang
menjadi korban. Ayu meminta mereka untuk menangkap ikan menggunakan metode yang di
120
Travellove Ainidi
pakai oleh Suku Sasak di Danau Segara Anak. Suku Sasak menangkap ikan menggunakan kayu
atau bambu runcing untuk menombak ikan yang ukurannya besar.
Gue melambai sekali lagi pada Drone yang terbang di hadapan gue, kalau di pikir-pikir konten
kali ini gue yang paling enak. Yang lain sibuk buat footage ini dan itu, gue hanya duduk diam
memandangi matahari terbenam dari kejauhan. Elang berlari dari pinggir danau dengan kamera
go-pro ditangannya menggantikan drone yang kembali terbang berbalik arah.
“Nih teman-teman Si Malaka yang sepanjang jalan kerjaanya nangis mulu minta pulang, walau
nafasnya banyakan nggak kuatnya tapi dia sukses sampai ke sini. Jadi nggak ada alasan lain untuk
kalian nggak menyambangi tempat ini, jadi gimana La? Nyesel beneran nggak?” lalu dia
mengarahkan kameranya ke arah gue yang nggak siap, dan buru-buru meletakan panci kecil yang
tadi gue pakai untuk makan mie instan.
Gue menggeleng sebelum tersenyum pada kamera, “nggak sih ini beneran keren banget, harus
banget di masukin ke dalam bucket list kalian.” Lalu tangannya terulur mengambil potongan kecil
mie yang menempel di sudut bibir gue sebelum memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.
“amit-amit jorok banget sih!” Gue mendelik kaget, sebelum memukul bahunya. Dia tertawa dan
menarik lurus kaki gue yang terlipat sebelum merebahkan badannya dengan menjadikan paha
gue sebagai bantalan untuk kepalanya. Elang menarik tangannya untuk mengatur kamera.
“La, tahu nggak kalau ‘Kawan Kelana’ ini suka match making kita berlima?” kedua alis gue
menyatu mendengar pertanyaanya yang out of the box.
Ya jelas gue tahu, bacain komentar netijen itu kan bagian dari pekerjaan gue. Nggak sedikit
komentar dari mereka yang menjodohkan gue dengan Elang, Ayu dengan Galuh, atau gue dengan
Galuh. Bahkan ada juga yang berkomentar kalau Mas Den dan Galuh bersaing untuk mengambil
hati Ayu. Dan biasanya gue akan menimpali juga komentar mereka agar menjadi lebih panas lagi,
ini adalah salah satu strategi gue sebagai content markerter agar mereka tetap setia pada setiap
konten Kelana.
121
Travellove Ainidi
Gue mengangkat tangan Elang yang memegang kamera dan mengarahkannya ke gue, “so gengs,
ada nggak dari kalian yang menebak kalau gue dan Elang berpacaran?” gue menunduk dan
mengecup kening Elang , sebelum kembali menatap kamera.
“Ayo tebak jawabannya iya atau nggak? Tulis di kolom komentar yaa, yang benar nanti aku kasih
hadiah merchandise ‘Kawan Kelana’ untuk tiga orang pemenang.” Rasanya seperti gue kembali
kehabisan nafas, saat sebelah tangan ELang yang bebas menarik kembali kepala gue sebelum
membawa bibir gue pada bibirnya, dan menahannya agar kepala gue tak bergerak.
17
Mulai Membuka Diri
122
Travellove Ainidi
Menikmati kopi dengan pemandangan Air terjun Tiu Kelep, dari kebun Kopi yang berada di
sebuah Desa Senaru, di kaki Gunung Rinjani. Seolah melengkapi kegalauan yang sedang gue
rasakan, ingin sekali gue menangis dan menjerit sekencang-kencangnya namun gue tahan kalau
nggak mau jadi pusat perhatian keramaian.
Elang dengan kejamnya membalas sikap gue yang menyebalkan dengan lebih parah. Setelah
menyudahi ciumannya di depan kamera saat kami sedang beristirahat di Danau Segara Anak
kemarin, dia lantas berteriak pada Gunawan dan bertanya apakah gambar kami berciuman sudah
cukup bagus untuk di jadikan konten atau belum. Konten.
Setelah itu dia kembali menjadi Elang yang menurut dia, adalah Elang yang gue harapkan. Dia
kembali mengabaikan gue, seolah apa yang dia lakukan nggak pernah terjadi sama sekali.
Berengsek? Iya kelakuannya benar-benar brengsek, harusnya gue marah, harusnya gue memaki
dia, harusnya gue langsung saja pulang ke Jakarta karena merasa terhina. tapi, gue bisa apa?
Sedikit banyak gue cukup sadar dia begitu karena ada andil gue juga.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika malam tiba, saat kami harus bergerak tengah malam
menuju puncak tertinggi Gunung Rinjani demi mengejar matahari terbit. Elang seolah lupa kalau
gue adalah salah satu bagian dari rombongan, dia meminta tim bergerak cepat mengabaikan gue
yang kesulitan. Dengan penerangan yang terbatas, Galuh dengan setia berjalan perlahan
menuntun gue dari depan bersama Mas Den yang menjaga gue dari belakang.
Beruntung puncak Rinjani ramai pengunjung, seperti sebuah festival di atas Gunung para pendaki
beramai-ramai ingin meraih reward setelah lelah mendaki di medan yang nggak mudah. Dengan
menikmati matahari terbit dari titik tertinggi Rinjani, dengan pemandangan Danau Segara Anak
dan Gunung Batujari di tengah danau. Setelah dengan susah payah kami membuat konten dari
ketinggian, gue melipir dan menyelip di antara keramaian demi menjauh dari rombongan.
Gue butuh ruang untuk diri sendiri, karena mungkin gue udah nggak sanggup lagi menahan air
mata. Tahu kenapa? Tepat saat matahari terbit saat itulah Elang meraih ponselnya dan merekam
video dengan menyebut kalau video itu di tujukan untuk Bunga yang tertinggal di penginapan.
123
Travellove Ainidi
Dia bahkan mengabaikan ajakan kami untuk mengambil foto bersama, dan baru bersedia ketika
gue sudah nggak ada lagi dalam barisan. Selain sukses menjatuhkan martabat gue sebagai Public
Relation di depan Bunga, dia sukses menjatuhkan rasa percaya diri gue, dia menjauhkan gue
seolah gue adalah manusia yang berbau sampah hingga patut di hindari.
Enam jam perjalanan turun melalui jalur Senaru terasa seperti enam minggu untuk gue, karena
ulah kami berdua aura yang menguar dari rombongan Kalana rasanya seperti dua musuh
bebuyutan di paksa berjalan bersama dalam rombongan, kebisuan yang membeku mengisi
perjalanan turun kami. Selain suara Ayu dan Mas Den yang memberi perintah nggak satupun dari
kami yang mengeluarkan suara sekedar menimpali obrolan satu sama lain untuk bercanda.
Gue bahkan nggak tahu keberadaan Elang sekarang. Setelah sampai di kebun kopi Senaru, kami
membuat Scene opening lainnya dengan latar belakang Air Terjun Tiu Kelep. Usai mendapatkan
beberapa footage kali ini dia yang menyelinap bersembunyi entah dimana, atau bisa jadi dia
sudah lebih dulu pulang ke penginapan.
Kami memang memutuskan untuk segera kembali ke penginapan karena waktu yang nggak
cukup panjang. Kami hanya beristirahat sejenak demi menghilangkan penat di kebun kopi ini
sambil menunggu Pak Syafi’I dan temannya datang menjemput kami. Menurut perkiraan mereka
butuh waktu selama dua jam perjalanan dari Senggigi menuju Senaru. Mungkin Elang sudah
sangat tidak tahan berada di dekat gue, makanya dia nggak lagi bisa menunggu barang dua jam
lagi untuk pulang bersama ke penginapan.
Sebuah gelas berisi cairan pekat hitam di julurkan ke hadapan gue, seperti paham gue butuh lebih
banyak kafein Galuh datang membawa gelas kopi lain untuk gue.
“Nggak usah di pikirin, sama seperti lo. dia juga butuh waktu untuk memproses segala hal La,”
katanya tiba-tiba. Gue hanya memberikan senyum sedih sebelum menyesap kopi panas yang tadi
dia berikan.
124
Travellove Ainidi
“Walaupun gue nggak ngerti kenapa segitu kerasnya sikap lo sama dia, tapi tolong kasih dia waktu
lebih banyak.” Tunggu dulu, gue menoleh sepenuhnya ke Galuh.
“Maksud lo tuh gimana ya?” tanya gue yang beneran nggak paham.
“Lo habis nolak dia lagi kan? Ciuman di Segara Anak, kenapa bisa sampai di bilang hanya untuk
konten doang?” ini gue yang bodoh atau gimana sih?
“gue nggak ngerti? Gue nggak ngerti kenapa bisa Elang bilang itu konten doang, dia yang narik
kepala gue untuk mendapatkan sebuah ciuman. Gue juga sama kagetnya Gal, memang gue yang
berulah sebelumnya dengang cium kening dia untuk konten dadakan yang gue buat. Dia marah
karena itu? Dia balas cium bibir gue karena dia marah?” Galuh mengangkat kedua bahunya
sambil menggeleng pelan.
Gue memegang kepala yang mendadak pening hingga sedikit mual, “sebenarnya kejadian waktu
di Karimunjawa itu memang salah gue sepenuhnya, karena alcohol yang ambil alih kesadaran
gue. Gue juga nggak tahu apakah saat itu Elang ikut mabuk atau nggak tapi, harusnya dia bisa
nolak gue atau langsung niggalin gue di kamar bukannya ikut nurutin kemauan gue.” Galuh
meghela nafas panjang dengan suara yang sedikit keras.
“Malaka, biar gimanapun ketiga teman lo ini laki-laki normal, kalau di suguhin perempuan
telanjang setan di dalam diri ya pasti bangun juga, apalagi kalau tuh perempuan orang yang udah
lama kita idam-idamkan, menurut lo Elang masih punya kuasa atas kendali dirinya?” Galuh
mengaduh karena tangan gue melayang menempeleng kepalanya yang kotor.
“Gue nggak telanjang ya!” Galuh mengangkat kedua tangannya meminta ampun.
“Gue juga jijik sama diri sendiri Gal, apa kalian nggak mikirin mental gue yang jatuh waktu itu.
Gue merasa malu sama diri gue, sama Elang, sama kalian. Kayaknya kok gue gagal banget jadi
perempuan.” Rambut gue di tarik Galuh sedikit sakit.
125
Travellove Ainidi
“Lo pikir teman macam apa kita sampai tega nggak mikirin mental temannya yang lagi jatuh,
memangnya kenapa si Ayu sibuk menghubungi lo setiap malam waktu itu, kalau nggak khawatir
sama sekali?, memangnya lo kira kenapa kita nggak maksa datang ke tempat lo, kalau nggak mau
kasih space untuk lo berpikir?”
“ya kalau itu gue juga paham Gal, bukan itu yang lagi gue bicarain. Tapi soal waktu untuk Elang,
nggak cuma Elang yang butuh waktu tapi gue juga butuh waktu,” gue menarik nafas untuk
menenangkan suara gue yang mulai bergetar.
“Gue nggak bermaksud untuk nolak Elang waktu itu tapi, dia yang menolak dirinya sendiri. Dia
itu udah seperti remaja labil tahu nggak? Berasumsi sendiri tanpa konfirmasi ke gue. waktu itu
dia datang ke kosan gue. Hari di mana gue ngerasa lega luar biasa, karena dari semua testpack
yang gue pakai hasilnya negative.” Galuh menghapus setitik air mata yang jatuh dalam diam.
“Waktu itu gue bermaksud membicarakan semua hal yang mengganjal di antara gue dan Elang.
Semua. Termasuk berdiskusi demi mendapatkan solusi terbaik soal hubungan yang mungkin akan
gue jalani bareng dia setelahnya. Gue juga capek nahan perasaan buat Elang selama ini, gue
capek terus-terusan lari dan bersembunyi, gue sudah sangat siap membuka diri waktu itu.” Gue
berhenti sejenak demi menarik nafas yang mulai tersenggal.
“Gue bingung La, kalau kalian masih punya perasaan yang sama ngapain pakai putus segala sih
waktu itu? Gue kira kalian putus setelah tahu kalau perasaan kalian masing-masing nggak bisa di
satuin,” gue diam cukup lama sambil menenangkan diri, mereka memang nggak tahu kalau
putusnya kami karena gue nggak mau jadi penyebab rusaknya persahabatan kami berlima.
“Karena gue sadar diri Gal, hubungan kita dulu isinya cuma berantem doang. Gue selalu
mengeluh kalau dia nggak bisa jadi laki-laki yang gue bayangkan, pokoknya apapun yang dia
lakukan semua selalu berhubungan sama pekerjaan.” Gue tersenyum sedih saat medengar Galuh
mendengus nggak percaya.
126
Travellove Ainidi
“Jadinya malah seperti punya pacar tapi rasa jomblo, sampai gue mulai sadar saat Ayu mengomel
kalau pertemuan kita nggak seasik dulu lagi.” Gue melirik pada Galuh yang sedang menggeleng
dengan wajah yang terheran-heran tapi tetap diam.
“Setiap kali kita ngumpul gue dan Elang selalu bertengkar, sampai nggak sadar kalau suasananya
jadi awkward banget, makanya gue ambil keputusan sepihak untuk menyudahi hubungan gue
dan dia demi menyelamatakan kita.” Gue merasakan air mata yang sempat mereda jatuh sekali
lagi.
“Sampai akhirnya tragedi Karimunjawa terjadi, setelah pulang dari sana gue bergelut dengan diri
sendiri, perasaan takut, kalut, kecewa bergemul jadi satu. Sampai ada momen di mana gue
merasa sudah sangat lelah menyiksa diri gue sendiri, dan memutuskan untuk membuka diri.” Gue
kembali menarik nafas yang mulai tersenggal.
“lo tahu Gal? sebelum sempat ngasih penjelasan apapun dia sudah lebih dulu memotong gue,
dia bilang gue nggak perlu lagi repot main petak umpat karena dia mengerti apa yang gue mau.
Dia hanya ingin gue kembali seperti sedia kala demi kelancaran pekerjaan. Lo dengar Gal?
Pekerjaan! Dia meminta gue untuk berhenti memikirkan rasa malu, jijik dan rasa rendah pada
diri sendiri karena gagal menjaga kehormatan gue sebagai perempuan, dan fokus pada
pekerjaan.”
Gue nggak sanggup lagi berbicara karena tangis gue mulai pecah. Gue memilirik tangan mungil
yang datang memeluk gue dari belakang, sebelum berbalik dan menangis kencang dalam pelukan
yang Ayu sodorkan.
***
Thanks to Ayu Annisa, dia berhasil mengembalikan mood gue yang anjlok menjadi riang gembira
dalam membuat konten di beberapa tempat di Jalur Pink Beach. Dia mengajukan sebuah gagasan
saat kami briefing di malam kami kembali ke penginapan. Dengan sebuah alasan waktu yang kita
127
Travellove Ainidi
punya nggak cukup banyak sementara masih banyak destinasi yang harus di singgahi, dia
meminta pengambilan konten hari ini dibagi menjadi dua tim.
Di sinilah gue sekarang bersama Galuh, Gunawan, Ayu, juga Ringga mengambil Footage untuk
scene free diving di Gili Gambir, sebelum menuju Gili Pasir, usai mengambil gambar di Pink beach.
Sementara tim yang lain pergi ke Gili terawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Sebelum kembali ke
Jakarta besok sore.
Sebagai rasa terima kasih gue pada Ayu Annisa, gue setuju untuk memenuhi obsesinya menjadi
mermaid. Walau gue tahu dia membagi dua tim bukan hanya untuk menyelamatkan mood gue
tapi, karena nggak mau Gunawan dekat-dekat dengan Bunga sih.
“La jangan di lepas dulu, kita ambil gambar lagi di Gili Pasir. Biar sama sepert Ariel waktu dia lagi
ngarep punya kaki.” kok sekarang gue malah menyesal ya.
“Terus melangkah melupakanmu….
Belah hati perhatikan sikapmu….
Jalan pikiranmu buatku ragu…
Tak mungkin ini tetap bertahan….”
Gue menarik kaki Galuh yang sedang berusaha menaiki kapal sambil bernyanyi, agar terjatuh
kembali ke dalam air.
“Kalau nggak dicopot gue susah naik ke kapal Yu, lepas dulu nanti pakai lagi emang nggak bisa?”
Ayu menggeleng sambil menahan senyum. Sial. Harusnya gue tahu kalau nih anak lagi ngerjain
gue.
Setelah semua footage terpenuhi, kami kembali ke penginapan dan berkumpul dengan tim lain
untuk melakukan preview semua gambar yang telah di ambil selama di NTB. Ini memang selalu
kita lakukan setelah menyelesaikan semua agenda. Karena sibuk dengan pekerjaan masing-
masing kami jadi nggak sempat menyambangi Mas Den saat mengedit konten ini. makanya
128
Travellove Ainidi
preview ini dilakukan untuk memberi pesan kepada Mas Den, kira-kira bagian mana yang
sebaiknya di buang.
Di awali dari pertanyaan Bunga mengenai selebgram yang dulu mengerjakan konten ini, dia
bertanya kenapa mereka nggak lagi melanjutkan pekerjaanya. Sampai Mbak Nila menyampaikan
berita kalau salah satu selebgram tersebut sedang tersandung kasus pelecehan seksual.
Sampi kami berdebat memberikan argumentasi masing-masing, ada yang setuju ada yang tidak.
Gue mendebat Bagas yang memberi anggapan, kalau yang mereka lakukan hanya untuk mencari
sensasi demi menaikan namanya. Harusnya nggak perlu sampai menjatuhkan martabatnya
sebagai perempuan kalau hanya untuk menaikan pamor saja.
“Gimmick. Sekarang banyak banget perempuan yang menjual harga dirinya cuma buat gimmick
doang, biar kontennya banyak yang nonton dan jadi terkenal. Harusnya lo yang paling tahu La
masalah ini, sebagai content marketer, lo saja rela melakukan banyak cara untuk menaikan
konten walau harus menjual harga diri lo dan nggak peduli walau di anggap sebagai perempuan
murahan.”
Gue merasa kepala gue mendadak panas. Gue tahu kalau gue salah dengan mencium keningnya
kemarin, bukannya menyesal karena telah menggodanya saat di Karimujawa, dan itu sudah
sangat cukup membuat gue merasa seperti perempuan murahan.
Mendengar dia mengatakannya secara langsung dan memberi gue label sebagai perempuan
murahan. Benar-benar menyinggung harga diri dan menyakitkan hati. Seumur hidup gue nggak
pernah di hina seperti ini di hadapan orang banyak.
Dari balik pandangan gue yang samar-samar karena tertutup air mata, gue melihat Elang jatuh
ke lantai karena mendapat hantaman dari Galuh. Telinga gue berdenging sakit saat mendengar
Ayu yang menjerit saat pukulan mereka saling beradu.
Gue nggak pernah merasa sehina dan semenyedihkan ini, nggak pacaran pun gue tetap jadi
benalu untuk kami.
129
Travellove Ainidi
18
DANG!!
“Duh La, pelan-pelan bisa nggak? Sakit tahu!” gue menekan lebih kencang memar di pelipis
matanya.
Kami sedang berada di sebuah kedai kopi yang terletak di Bandara Internasional Yogyakarta, gue
sedang mengompres memar di pelipisnya Galuh yang berdenyut nyeri dengan es batu yang gue
ambil dari gelas kopi miliknya, sambil menunggu adik gue datang menjemput.
Setelah drama pukul-pukulan dan tangis gue yang meraung-raung sedikit mereda, Mas Den
menyeret kami berdua masuk ke dalam kamar dengan marah. Dia meminta kami untuk tetap di
130
Travellove Ainidi
dalam ruangan sampai emosi yang menggelayuti hilang, bukannya hilang emosi Galuh justru
semakin tersulut.
Tanpa bertanya lebih dulu Galuh mulai memesan tiket pulang ke Yogyakarta pada penerbangan
pertama. Kami bahkan pergi meninggalkan penginapan saat matahari belum datang
membangunkan Kota, dengan meninggalkan pesan untuk Ayu dan Mas Den saja.
Padahal gue sudah berniat untuk berburu oleh-oleh khas Lombok pagi ini sebelum pulang ke
Jakarta bersama tim. Tapi, gue nggak berani mendebat nih orang jika sedang kalut dan marah,
atau bisa jadi wajah gue ikut bonyok juga.
“Lagian lo ngapain pakai ikut pulang ke sini segala?” dia melirik gue sebal,
“ya mau nganterin calon kakak ipar lah, kok gitu saja pakai di tanya? Siapa tahu luka gue bisa
langsung sembuh kalau yang ngobatin calon pacar.” Gue mengernyit jijik mendengarnya sebelum
melemparkan es batu ke wajahnya.
Gue tertawa melihat wajah kecewa Galuh yang terang-terangan setelah melihat yang menjeput
kami di bandara adalah Ibu, bukan si kembar. Gue sengaja nggak mengatakan pada Galuh kalau
si kembar nggak bisa menjemput kami di hari yang produktif seperti ini. dia menatap gue dengan
sebal karena gue kerjain, gue yakin banget sih dia lagi ngerasa bersalah banget sama Ibu yang
mau repot-repot menjemput kami pagi-pagi.
Tadi gue mengusulkan untuk menggunakan taksi bandara saja tapi, Galuh memberi gue sejuta
alasan agar di jemput dengan si kembar. Kami berjalanan menghampiri Ibu yang masih di dalam
mobil, Galuh langsung meminta maaf pada Ibu karena sudah merepotkannya pagi-pagi. Dia
memohon agar di beri ijin untuk menyetir sampai ke rumah, mengabaikan pertanyaan Ibu
mengenai wajahnya yang babak belur secara halus.
Gue hanya menggeleng pelan saat Ibu menoleh ke gue untuk mendapatkan jawaban lain.
Bukannya bercerita mengenai wajahnya, Galuh malah bercerita mengenai perjalanan kami di
131
Travellove Ainidi
Lombok, dia mulai mengarang cerita pada Ibu tentang gue yang terus mengomel dan merengek
ingin pulang ke Yogyakarta karena kebelet kawin.
Gue mengomel pada Galuh yang terus mendelik sebal karena gue bohongi, Ibu bercerita kalau
dia di rumah hanya sendirian selama dua minggu belakangan. Si kembar sedang pergi kuliah kerja
nyata di desa yang berbeda, Andien berangkat ke sebuah Desa yang berada di Malang, sementara
Andita berangkat ke Bondowoso. Ya manalah gue tahu kalu si kembar belum pulang dari kegiatan
mereka masing-masing, kan gue nggak tinggal di Yogyakarta.
Setelah dari banadara kami nggak langsung pulang ke rumah, Ibu minta di temani untuk
berbelanja kebutuhan dapur yang mulai menipis sekalian berbelanja untuk keperluan the
twinnies. Gue sih senang-senang saja menemani Ibu kemana saja selama masih terjangkau sama
gue tapi, gue tahu banget kalau wajah sumringah Galuh itu terlalu dibuat-buat senang berkeliling
pasar. Bukan karena dia malas berbelanja melainkan karena malas berkeliling memenuhi
belanjaan dengan wajah yang bengap.
Sadar karena banyak mata yang menoleh pada Galuh sampai dua kali, gue memintanya untuk
menunggu kami di mobil saja, dan berjanji ini akan selesai secepatnya. Rasa iba gue menguap
saat dia menjawab nggak masalah, karena ini bisa jadi kesempatan dia mengambil hati calon
mertua. Kalau orang nggak tahu mungkin yang mendengar pernyataanya barusan mengira dia
sedang jatuh bangun menjalin hubungan dengan gue.
Gue susah payah membujuk Ibu untuk menghabiskan makan siang di luar saja, bukan apa-apa
gue sudah terlalu lapar kalau masih harus menunggu Ibu siap masak. Atau bisa jadi hanya alasan
gue yang sedang nggak berminat membantu Ibu di dapur, katanya kalau hati sedang nggak
karuan dipaksa masak akan berpengaruh pada rasa masakan.
Gue mneyodorkan tangan ke arah Galuh, setelah berhasil mendapatkan meja di rumah makan
khas Yogyakarta yang sedang ramai pengunjung saat jam makan siang.
“Apaan?” tanyanya heran,
132
Travellove Ainidi
“Minta KTP.” Matanya kini mendelik horror.
“Buat apaan?”
“buat pesan tiket pulang untuk lo nanti malam,” tatapan mengerikan milik Galuh kini menular
pada Ibu,
“kamu tuh nggak sopan banget sih kak, orang teman baru datang sudah di suruh pulang.” Gue
melirik sebal pada Galuh yang sedang menjulurkan lidahnya merasa menang.
“tapi, Galuh ini orang sibuk loh Bu, dia kerjaanya banyak banget,”
“nggak kok Bu, kebetulan saya sudah mengajukan cuti, jadi mau istirahat sejenak di sini boleh
kan ya Bu?” yang mendapat acungan jempol dari Ibu.
Halah istirahat ndasmu! Bilang saja mau cari muka sama adik gue dengan wajahnya yang babak
belur, gue yakin seratus persen wajah bonyok itu nggak akan bisa meluluhkan Dita, yang ada
malah mendapatkan cibiran. Gue kembali melirik Ibu yang sedang melihat ponselnya dengan
kaca mata yang bertengger di ujung hidungnya.
“Adik gue baru pulang setelah masa cuti lo habis,”
“kata siapa? Mereka pulang lusa kok,” galuh menjawab dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
“Sok tahu! Mereka pergi saja lo nggak tahu apalagi pulang.” Dia lantas menyodorkan layar
ponselnya pada ke hadapan gue yang berisi percakapan dia dan Dita.
“Ngapain sih Gal, enakan juga pulang istirahat di rumah, kalau di sini nanti lo malah gue
pekerjakan di toko mau?” mulut gue lantas tertutup rapat saat mendengar Ibu berdecak keras
dan menatap gue nggak suka.
“Malaka!” beruntung omelan Ibu terhenti oleh dua orang pelayan yang mengantarkan makanan
pesanan kami.
133
Travellove Ainidi
Bukannya gue nggak suka kalau Galuh beristirahat di rumah bersama gue, hanya saja datang
dengan wajah yang babak belur akan menimbulkan masalah baru untuk gue, di tambah
kepulangan gue ini tanpa kabar dan diluar jadwal kepulangan gue biasanya. Ibu nggak akan
berhenti meneror gue dengan pertanyaanya sampai gue bersedia memberitahu masalah yang
sedang kami hadapi.
Kalau sudah begitu gue harus bercerita dari awal mula permasalahan ini terjadi, ya kali gue mau
bilang sama Ibu kalau gue pulang karena ketololan gue yang gagal menjaga kehormatan gue
sebagai perempuan dengan menggadaikan rasa malu yang selalu ibu tanamkan sejak usia belia.
Kalau Ayah masih ada dan tahu apa yang sudah gue lakukan, bukan hanya nama gue yang di
keluarkan dari daftar keluarga, tapi kemungkinan nama gue di pajang di papan nisan pasti ada.
***
Gue mendengarkan dengan seksama cerita Satria yang dia bagi selama seminggu terakhir, juga
keluhannya mengenai betapa sulitnya dia menghubungi gue selama berhari-hari.
“kan aku sedang di Gunung, jadi sulit mendapatkan sinyal,” gue mengabaikan Galuh yang
mengernyit jijik di sebrang gue.
Kali ini gue yang menghubungi Satria setelah mendapatkan pesannya yang nelangsa karena
nggak kunjung mendapatkan balasan dari gue. Sebelum Galuh datang menyusul gue duduk di
taman belakang rumah dengan membawa dua cangkir teh yang dia seduh sendiri. Sedikit banyak
gue cukup senang saat dia memaksa mengambil alih pekerjaan kecil itu dari Ibu.
Gue nggak pandai bercerita seperti dia, jadi ketika dia bertanya bagaimana perasaan gue selama
bekerja di Lombok gue hanya jawab seperlunya saja.
134
Travellove Ainidi
“Terus kok bisa tiba-tiba langsung Yogyakarta, seingatku kamu nggak ada bilang mau pulangke
sana juga,” seingat gue, gue juga nggak membagi jadwal kerja gue secara mendetail pada
siapapun selain Ibu.
“Karena Ibu sendirian di rumah, si kembar lagi KKn di luar daerah. Sekalian nemenin nih anak
penjajakan sama Dita.” Kemudian gue membelikan kamera yang mulanya menghadap gue jadi
ke Galuh yang sedang memasukan telunjuknya ke dalam hidung.
“Loh Galuh ikut juga? Hai bro, gimana kabar? Sehat kan?” Galuh hanya mengacungkan ibu jarinya
dan menyengir ke arah kamera, gue mendelik tak suka sebelum memutar kamera kembali pada
gue.
“jadi, sampai kapan kamu di Yogyakarta?” gue mengangkat bahu sambil bergumam,
“mungkin lusa sudah pulang, aku masih punya banyak kerjaan,”
“nggak, kita di sini lima hari. Gue sudah gnomon sama HRD kalau lo cuti lima hari sama gue,”
wah, benar-benar nggak bisa dipercaya ini anak. Pulang ke sini nggak nanya gue, ambil cuti nggak
ngomong sama gue. Didiemin makin lama makin ngelunjak ya.
“Kak, perutku kayaknya mules nih. Aku ke toilet dulu ya, kita sambung lagi nanti boleh nggak?”
nggak. Perut gue nggak mules tapi, kepala gue yang rasanya mau Meletus.
“Okedeh, nanti aku video call lagi ya kalau sudah di rumah,” gue mencoba sekuat tenaga
memasang senyum semanis mungkin sambil melambaikan tangan pada kamera.
Gue melemparkan pisang rebus ke arah Galuh yang sedang bersiap pergi masuk ke dalam rumah.
Dia mengaduh karena pisang yang gue lempar cukup keras mengenai kepalanya, dia kembali
duduk ke tempatnya tanpa gue minta.
Gue melipat kedua tangan gue ke depan dada, sambil memilah makian apa yang pantas gue
lontarkan untuk manusia semena-mena di depan gue ini. seperti tahu dia salah, dia hanya duduk
135
Travellove Ainidi
diam menunggu gue meledakan amarah. Galuh ini kalau sudah tahu salah dia akan diam
mendengarkan lawannya menyalurkan emosi sebelum meminta maaf atas kesalahannya.
Dulu pernah satu kali gue dan Dita ikut menghadiri persidangannya, kala itu dia sedang membela
teman sekolah Dita. Galuh yang berbalut jubah dan atributnya dalam persidangan sebagai
pembela, bukan seperti Galuh yang gue kenal, pembawaanya yang tegas, bicara yang lantang dan
argumentasi yang keras membuat gue hampir mengira kalau dia sedang kerasukan setan.
Tapi kalau dia sudah buat salah sama gue dan Ayu, ya gini sudah seperti anak ayam yang
kelaparan. Hanya saja kalau lawannya Ayu dia akan menunduk demi menyematkan telinganya
dari teriakan yang menggelegar. Berbeda dengan gue, gue kalau marah hanya bisa menggerutu
dalam hati saja, kalau mengeluarkan suara yang ada bicaranya malah belepotan.
Dia lantas mengangkat kedua tangannya meminta ampun saat mendengar gue menarik napas
panjang dan menghembuskannya dengan kencang.
“Sorry, gue tahu ini salah karena nggak diskusi dulu sama lo. Tapi, La kita semua sedang
berselimut emosi, lo sedang sakit hati, Elang sedang mengobati luka hati, Denny marah, gue juga
yakin si Ayu lagi uring-uringan sekarang. Kita semua butuh jarak, dan gue mengambil langkah ini
demi menciptakan jarak.” Gue berdecak sebal walau dia ada benarnya juga.
“kalau begini namanya lari dari masalah. Lagian kalau kita semua butuh jarak ngapain lo pakai
ikut pulang ke sini segala?” Galuh meletakan cangkir miliknya setelah menghabiskan isinya.
“Bukan lari dari masalah, tapi mendinginkan kepala sebelum menyelesaikan masalah. Terus
kenapa gue ikut pulang ke sini? Masa gue harus jelasin berkali-kali sih? Lagian kan lo sendiri yang
bilang kalau nggak mau ngurusin kisah cinta gue dan Dita. Sekarang lo mau dengar tujuan
utamanya?” sebenarnya gue jijik sih kalau mau mendengarkan kisah asamara nih anak, tapi kok
ya kepo juga.
136
Travellove Ainidi
Matanya membesar saat melihat gue mengangkat dagu menantangnya bercerita, nahkan ini
pasti di luar dugaanya dia dan gue yakin dia nggak punya alasan lain. Dia menghela nafas dan
menghempaskan punggungnya ke kursi yang dia duduki.
“Gue mau ngerayu Dita yang lagi ngambek. Setelah gue berhasil meyakinkan dia kalau gue dan
lo nggak punya perasaan satu sama lain, dia meminta waktu sama gue untuk memikirkan
hubungan yang gue tawarkan. Tapi, sebelum dia berangkat KKN gue meghubungi kakak
tingkatnya lewat Instagram sesaat setelah gue lihat postingan mereka ngopi di dekat kampus,”
yah kok gue jadi menyesal ya sudah nanya.
Tapi, gue nggak heran juga sih. Gue juga pernah kena semprot waktu menghubungi dia yang
sedang berkumpul dengan teman-temannya dan memintanya pulang karena sudah jam Sembilan
malam. Dita malah membentak gue dan meminta gue mengurus diri sendiri sebelum mendikte
kesalahannya. Dia tahu kalau gue menghubungi dia saat gue juga sedang berkumpul dengan
teman-teman gue.
Okelah, gue akan berusaha menjadi kakak yang open minded. Gue mengangguk perlahan
menyetujui dan membiarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan selama tidak ada yang di
rugikan. Gue mengambil cangkir milik gue sebelum berdiri dan bersiap pergi. Tapi, pertanyaan
berikutnya yang keluar dari mulut Galuh menghentikan langkah gue hingga membuat seluruh
tubuh gue rasanya membeku di tempat.
“La, kalau memang lo ingin membuka diri untuk Elang sekarang, lalu kenapa lo masih meladeni
Satria dan seolah memberikan dia harapan? Lo malah terlihat nggak lebih baik dari Elang.”
There’s feel lika Dang! Inside my head.
137
Travellove Ainidi
19
Mengurai benang
Gue hanya menopang dagu dengan kedua tangan sementara Aji sibuk membungkus semua
pesanan yang harus di antarkan. Gue perpanjang lima hari cuti jadi satu minggu, Si Andien harus
dilarikan ke rumah sakit saat pulang dari KKN dua hari dari kedatangan gue.
Dia pulang dengan wajah yang sangat pucat dan telapak tangan yang dingin, setelah di bawa ke
rumah sakit gue baru tahu kalau dia memiliki riwayat penyakit asam lambung yang parah. Sialnya,
karena dia sedang berada di luar daerah dan jauh dari kota, dia menahan sakitnya seharian
sampai tiba di Yogyakarta. Beruntung kondisi yang hampir fatal masih bisa terselamatkan, namun
138
Travellove Ainidi
Andien harus menjalani operasi karena Esofagusnya mengalami penyempitan dan peradangan
yang parah.
Sementara Galuh sudah kembali ke Jakarta kemarin, mungkin Galuh dan Dita telah mencapai
sebuah kesepakatan. Gue sih nggak bertanya hasilnya tapi, kalau di lihat dari senyum yang nggak
turun-turun gue yakin hasilnya mungkin baik. Apalagi dia nggak berhenti memanggil gue kakak,
gue senang untuk mereka walau mungkin kepala gue juga akan ikut sakit melihat tingkah
keduanya.
Gue harus berterima kasih pada Galuh atas keputusannya yang semena-mena mengambil cuti
untuk kami. Karena selama gue di rumah, gue lebih sering tertampar oleh kenyataan kalau
ternyata banyak sekali hal yang gue lewatkan karena ketidakkadiran gue di rumah. Gue baru tahu
kalau Andien si anak yang paling pendiam dan tenang adalah seorang perokok aktif, diamnya
Andien di sebabkan karena besarnya beban pikiran yang dia bawa. Ibu baru bercerita pada gue
kalau Andien adalah penengah di rumah, dia menempatkan diri sebagai tameng untuk Ibu.
Dia melindungi Ibu dari amukan Andita dan gue, karena Ibu sedang menjalani hubungan lain
dengan sahabat lamanya semasa sekolah. Dia tahu kalau gue akan mengamuk kalau tahu, karena
Dita sudah sering melakukannya setiap waktu. Itu kenapa Andien tidak memiliki tempat mengadu
selain rokok, lagipula dari mana sih dia tahu kalau gue akan mengamuk. Mungkin gue akan
kecewa saat mendengarnya tapi, besarnya cinta gue untuk Ayah tidak mengalahkan besarnya
cinta untuk Ibu.
Kalau memang Ibu sudah menemukan seorang yang tepat untuk menemaninya menghabiskan
masa tua, gue nggak akan menghalanginya selama dia tidak menghilangkan posisi Ayah di hidup
kami. Tapi, ternyata lain hal dengan Dita, saat Om Dodi datang ke rumah sakit untuk menjenguk
Andien dia mengamuk pada Ibu dan mengusir beliau dengan sangat kasar dan melakukan
penolakan terang-terangan.
Nggak sampai di sana, bahkan saat Andien di pulangkan ke rumah Dita masih terus mengomel
dan mendiamkan Ibu karena sakit hati dan merasa tertipu berkali-kali, gue nggak suka sama sekali
139
Travellove Ainidi
melihat sikapnya pada Ibu. Gue tidak pernah mengajarkan kedua adik gue kurang ajar kepada
orang tua seperti itu. Karena itu pula gue mengusir Galuh pulang ke Jakarta sama kasarnya
dengan perlakuan Dita, sebelum melayangkan tangan gue pada pipinya saat dia juga berteriak
kurang ajar pada gue.
Dita hampir saja ikut mengemasi barangnya untuk ikut ke Jakarta bersama Galuh kalau gue tidak
mengancamnya dengan pisau yang gue hunuskan ke leher Ibu. Ya gue sadar itu memang sebuah
langkah yang berlebihan, gue hanya tidak menemukan cara lain waktu itu untuk menghukum
Dita lebih jauh lagi.
Dengan bersimbah air mata gue mengancam Dita, “Kalau gitu Kakak akan mengirim Ibu menyusul
Ayah untuk menuruti permintaan kamu.” Yang di jawab dengan sebuah teriakan dari Andien
karena melihat gue menggoreskan sedikit luka pada leher Ibu.
Kalimat yang meluncur dari mulut gue saat itulah yang membuat gue menghabiskan malam di
the twinnies, karena gue merasa berdosa pada Ibu, bagaimana gue tidak bisa menjadi seorang
anak, dan kakak yang baik di rumah, bagaimana gue gagal menjadi manusia yang bisa di andalkan
di rumah. Bagaimana bisa gue dengan percaya diri menganggap kalau gue sudah sangat bekerja
keras menjaga keluarga gue. Padahal yang gue lakukan hanya sibuk memenuhi materi saja bukan
kasih dan sayang apalagi bentuk perhatian.
Galuh berpamitan pulang pada gue dengan memberikan sebuah pelukan erat, bukannya merasa
sakit hati karena gue usir dengan sangat kasar. Dia malah meminta maaf untuk semua masalah
yang sedang gue hadapi sekarang. Dia memohon pada gue untuk tidak menyelesaikan masalah
dengan kepala yang sedang mendidih, karena dia tidak mau kehilangan sahabatnya lebih jauh
lagi.
Perhatian gue teralihkan pada pintu toko yang terbuka, dan Andien muncul dari balik pintu.
Gimana bisa sih nih anak masih kasih gue senyuman segitu manisnya, padahal gue sudah
melakukan kesalahan yang nggak bisa di maafkan.
140
Travellove Ainidi
“Kak, makan yuk. Tadi Ibu masak nasi campur kesukaan kakak. Andien juga bawa éclair buat
kakak.” Dia mengangkat bungkusan di tanganya sebelum kembali menutup pintu toko yang gue
beri sign close sejak kemarin.
Gue menghindari tatapan Andien demi menyelamatkan air mata yang mungkin akan keluar sekali
lagi. Dia menghampiri meja kasir dan mulai menyiapkan rantang berisi makanan yang tadi dia
bawa. Mulanya gue kira makanan itu dia bawa untuk Aji juga tapi, kini gue tahu maksud dan
tujuan dia membawa makan siang. Saat dia menyerahkan selembar uang seratus ribu pada Aji
dan memintanya untuk membeli makan siang untuk dirinya sendiri di luar.
Kami berdua makan dalam diam gue menghabiskan nasi campur buatan Ibu, semua masakan Ibu
nggak ada yang gagal. Sampai makanan di piring gue hampir habis Andien masih belum buka
suara mengenai keadaan di rumah. Gue nggak tahu gimana keadaan Dita sekarang, gue juga
nggak berani bertanya bagaimana keadaan dirinya sendiri yang belum sepenuhnya pulih.
Dia menyodorkan éclair ke hadapan gue, “cicipin, ini aku buat sendiri. Kalau menurut kakak enak,
rencananya mau aku jual online.” kini dia yang menopang dagu dengan wajah yang antusias saat
gue mengigitnya, dia ini menuruni keahlian memasak Ibu, memang nggak semua menu makanan
yang di buat Andien enak. Tapi, semua jenis Pastry yang dia buat rasanya nggak kalah enak sama
buatan patissiere ternama.
Saat gue gigit filling éclair rasa greentea lumer di dalam mulut gue, seperti yang gue bilang
sebelumnya semua pastry buatan Andien nggak pernah gagal. Kali ini rasanya beneran seenak
toko pastry yang sering gue sambangi di Jakarta Selatan.
“Enak banget. Pastry buatan kamu memang nggak pernah nggak enak, kamu mau jual Pastry?
Mau kakak buatin toko kayak gini juga nggak?” dia menggeleng dengan senyuman yang nggak
lepas sejak awal.
“Aku udah punya modal sendiri, memang nggak besar dan nggak bisa sampai bangun toko seperti
ini sih. Tapi, cukup kok buat beli alat masak yang aku perlu. Karena mau aku jual online ya aku
141
Travellove Ainidi
jualannya dari rumah dulu. Boleh kan kak?” yang buat gue bingung dari nih anak, kalau senang
masak kenapa nggak sekolah masak, malah ambil jurusan biologi,
“selama kamu nggak ada rencana buat kue dari katak, kakak nggak masalah.” Dia tertawa renyah,
serenyah tawa milik seseorang yang gue rindukan di Jakarta.
“Kamu tuh kenapa nggak minta di sekolahin masak aja sih dek? Kakak masih sanggup cari uang
untuk biaya sekolah walau kamu harus berangkat ke Perancis sekalipun.” Dia masih setia
menggeleng.
“belajar masak jaman sekarang bisa lewat internet kak, lagian kalau aku berangkat sekolah ke
luar negeri siapa yang mau jaga Ibu di sini?” gue meletakan potonga éclair yang tersisa.
“Maaf ya, Kakak nggak bisa jaga kalian dengan benar. Pulang bukannya bawa senang malah buat
keributan. Kamu pasti kecewa banget ya sama kakak?” dia kembali menggeleng (lagi) kali ini
sedikit tegas dan senyumannya mulai hilang.
“Aku malah bangga dan kagum banget sama kakak, kakak sudah menghabiskan banyak waktu
demi kami, mengorbankan banyak hal untuk kami. Buktinya kakak rela hidup jauh dari Ibu, rela
nggak mendapatkan perhatian penuh dari Ibu seperti yang kami dapatkan, kakak rela bekerja
sekeras itu demi menyekolahkan kami dan menghidupi kami dengan fasilitas yang layak di sini.”
Gue menatap mata Andien yang kini terlihat sendu dan sedikit berair.
“Walau kami nggak pernah ketemu Ayah tapi, dari kakak aku tahu sebaik dan sehebat apa Ayah
dulu. Maaf karena aku nggak lebih dulu cerita sama kakak soal Om Dodi. Tapi kak, aku janji kalau
Om Dodi nggak akan menggeser posisi Ayah, menggantikan Ayah apalagi menghilangkan nama
Ayah dari hati Ibu,” suara kini mulai bergetar.
“Aku yakin beliau mampu menjaga Ibu saat nanti kita semua nggak bisa sepenuhnya menjaga
Ibu lagi kak, Aku juga yakin kalau cinta Ibu untuk Ayah lebih besar da – “ gue memotong
pembicaraanya dengan menarik Andien dalam pelukan dan membiarkan dia menangis
sekencang-kencangnya.
142
Travellove Ainidi
Harusnya gue yang meminta maaf karena telah lalai pada peresaan mereka semua, gue yang
salah karena telah memberikan beban mental seberat ini untuk di pikul Andien seorang diri.
Harusnya gue yang meminta maaf karena gagal menjaga mereka. Gue terus mengecupi kepala
Andien dengan penuh penyesalan.
***
Gue menghentikan mobil saat gue melihat laki-laki dengan berpenampilan rapi, dengan kemeja
berwarna hitam dan celana sedengkul berwarna khaki berdiri di depan lobi sebuah hotel.. Entah
benar dinas luar atau memang sengaja datang tapi, saat gue menyampaikan kalau ada sesuatu
yang ingin gue bicarakan ketika kembali ke Jakarta. Satria menghubungi gue dan memberitahu
kalau dia sedang dinas ke Yogyakarta, dan meminta bertemu hari ini meski dia tahu kalau besok
gue sudah kembali ke Jakarta.
“Hai Kak,” gue menyapa Satria tepat setelah dia masuk ke dalam kursi penumpang.
“hai babe, gimana adikmu? Sudah sehat kan? Nih aku bawa sedikit untuk orang di rumah. Kita
mau ke rumahmu atau makan di luar?” lihatkan? Ini alasan kenapa gue lebih banyak jadi
pendengar dari pada bercerita kalau sudah bersama dia. Gue nggak punya kemampuan berbicara
seperti dia.
“Kita makan di luar saja ya kak? Kebetulan keadaan di rumah belum kondusif,”
“oh ya nggak masalah sih tapi, gimana ya? Bukannya mau memaksa sih, menurutku aku pasti
terlihat nggak sopan kalau sudah datang ke sini tapi, malah nggak mampir ke rumah Ibumu.” Gue
berusaha untuk tetap fokus menyetir,
“aku belum ngomong sih ke orang rumah kalau kakak mau datang, maaf ya.” Dia menghela nafas
kasar, setelah sebulan mengenal Satria, sedikit banyak gue jadi paham sama sifatnya yang sangat
143
Travellove Ainidi
sensitive. Sebentar-sebentar mengomel, apa saja yang tidak sesuai dengan pendapatnya pasti
diprotes.
Kami sampai di sebuah rumah makan yang menyajikan beragam masakan khas daerah. Setelah
memesan makanan untuk masing-masing, gue yang masih bingung bagaimana harus memulai
pembicaraan ini dengan Satria hanya bisa termengu. Mendengarkannya yang masih sibuk
menyindir gue, karena nggak langsung mengajaknya mampir ke rumah untuk bertemu keluarga
gue, padahal dia sudah repot membawa oleh-oleh dari Jakarta untuk Ibu dan adik-adik gue.
“Kak Maaf,”
“Iya nggak masalah kok tapi, lain kali kal – “
“Kalau pertemuan kita dan hari ini tetap berjalan bisa nggak kalau kita hanya tetap jadi rekan
kerja biasa saja?” bukan maksudnya mau nggak sopan tapi, kalau nggak langsung di potong yang
ada gue nggak jadi ngomong. Dan pertemuan isinya pasti hanya Satria yang terus mengomel saja.
“Maksudnya gimana?”
“jadi gini, aku nggak bermaksud mau mempermainkan kakak, toh selama ini kita masih
penjajakan saja kan? Jadi dari pada aku terus-menerus memberikan harapan palsu untuk kakak,
jadi lebih baik aku tegasin dari sekarang saja kan?”
“loh kan kemarin kamu sudah setuju waktu aku tanya mau deketin kamu,”
“bukannya kakak meminta ijinnya hanya untuk melanjutkan pendekatan kakak yang sempat
tertunda?” kok gue jadi ikutan sebal ya waktu dia berdecak keras.
“kamu ini bebal atau gimana sih La? Ya kalau sudah begitu, tujuanku apalagi kalau bukan
menjalani hubungan dengan kamu sih?” loh menjalani hubungan kan juga butuh penjajakan lebih
dulu, kok malah ngatain gue bebal. Karena sebal gue hanya menjawabnya dengan mengangkat
bahu dan meminta maaf sekali lagi.
144
Travellove Ainidi
“jadi maksudnya kamu nggak mau melanjutkan masa penjajakan ini lagi sama aku?” gue
menggeleng tegas, sebenarnya gue sudah bersiap untuk mendengarkan semua keluhan atau
mungkin saja dia berniat mengungkit segala hal yang sudah dia lakukan untuk gue tapi, tebakan
gue meleset,
“nggak ada lagi yang tersisa buat gue La?” gue? Oke.
“Maaf ya kak, aku cuma nggak mau nyakitin hati orang lain lagi, dari pada aku gantungin harapan
ke kakak padahal hati aku isinya orang lain,”
“Elang?” gue tersenyum sedih pada tebakannya yang tepat sasaran.
Dia mengangguk dalam diam, mungkin sedang menahan kesal pada gue, nggak masalah gue
ngerti kok perasaanya.
“Oke, tapi kalau bisa sih kita bukan hanya rekan kerja tapi juga teman La. Biar gimanapun kita
memang beneran teman masa kuliah kan?” lagi. Gue memberikannya senyum sedih penuh
penyesalan tapi tetap bersyukur karena pada akhirnya dia mengerti maksud gue.
Kami menghabiskan makan siang dengan mengbrol masalah pekerjaan dan sedikit menyelipkan
candaan mengenai perilaku gue waktu kuliah dulu. Lalu mengantarnya kembali ke penginapan
karena ternyata dia memang benar sedang tugas dinas di Yogyakarta, dan harus menghadiri rapat
kerja nanti malam.
Tepat saat Satria melambai dan menghilang masuk ke dalam hotel, saat itulah ponsel gue
bergeta,r sebuah pesan datang dari Elang.
Elang N : Maaf.
***
145
Travellove Ainidi
20
Let’s Begin Again.
Setelah drama dengan si kembar berhasil mereda berkat kerja keras Andien, gue kembali ke
rumah dan meminta maaf kepada Ibu karena sudah sangat kurang ajar telah menghunuskan
pisau padanya. Sama halnya dengan Andien Ibu malah ikutan menangis dan meminta maaf
karena nggak memberitahu gue mengenai ini.
146
Travellove Ainidi
Bagaimana dengan Dita? Gue juga berhasil menenangkan dia, setelah meminta maaf karena
sudah menamparnya, gue menjelaskan panjang lebar soal kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi di masa depan kalau kita semua nggak berada di samping Ibu. Walau nggak mudah tapi
dia menerima juga pada akhirnya dengan mengajukan beberapa persyaratan kepada Ibu.
“kalau kita makan siang di luar bareng Om Dodi sebelum aku balik ke Jakarta gimana bu?” Ibu
menghentikan kegiatannya yang sedang mengaduk sebuah adonan yang entah mau dibuat apa.
“Memangnya keburu?” gue mengangguk meyakinkan, jadwal penerbangan pesawat yang gue
tumpangi masih pukul setengah empat,dan gue bisa check in sendiri by online.
“Lala belum sempat bertemu dan berkenalan dengan beliau,”
“Atau kita makan siangnya dekat bandara saja bu, biar kakak nggak buru-buru, sekalian antar
kakak ke bandara.” Gue tersenyum pada Dita sebelum membelai kepalanya dengan sayang.
Mungkin ini adalah momen yang sangat langka terjadi di rumah, gue membelai adik-adik gue itu
seperti disuruh membelai rambut singa, sulitnya minta ampun. Itu hanya terjadi disaat kami usai
bertengkar atau saat gue berhasil mendamaikan keduanya yang habis berperang.
Tapi, yang sudah-sudah sih nggak akan bertahan lama, saling lempar tatapan tajam atau saling
berteriak dengan melempar barang akan terjadi kembali selang lima menit kemudian. Seperti
sekarang, gue menggaruk hidung gue yang nggak gatal ketika melihat Andien sedang menatap
gue tajam, karena dia melihat gue mencomot éclair yang baru saja dia keluarkan dari oven.
“itu buat dijual kak,” kata Ibu berbisik pelan, gue lantas mengeluarkan potongan yang baru saja
gue gigit dari mulut dan meletakannya kembali ke wadah.
“KAKAK JOROK BANGET!!” gue lantas tertawa dan berlari ke dalam kamar untuk menghindari
penjepit makanan yang dia lemparkan ke arah gue.
***
147
Travellove Ainidi
“Kakak sudah pesan gudeg, kamu oseng-oseng mercon saja biar bisa nyicipin.” Dita tetap
memesan gudeg mengabaikan gue.
“Kak Lala tuh kebiasaan banget! celamitan,” nggak lama gue mendengar Om Dodi menambah
oseng-oseng mercon ke dalam pesanan. Yang tentu saja langsung diprotes oleh si kembar,
mereka meminta untuk nggak perlu menuruti permintaan gue soal makanan dan menjelaskan
kebiasaan jelek gue yang hanya akan mencicipi sedikit kemudian makanan tersebut akan
tergeletak begitu saja.
“kan bisa dimakan sama-sama nanti.” gue menjulurkan lidah kepada si kembar.
Sambil menunggu makanan datang kami mengobrol banyak hal, gue menimpali dengan sedikit
candaan agar kebekuan yang tercipta antara Om Dodi dan Dita sedikit mencair. Om Dodi adalah
seorang dosen sebuah Institut kesenian Yogyakarta. Ibu dengan antusias bercerita kalau beliau
sangat pandai melukis, selain menjadi dosen beliau juga berprofesi sebagai kurator di beberapa
galeri seni di Yogyakarta dan Bali.
Dita baru tertarik oleh pembicaraan ini, ketika Om Dodi bercerita kalau dia juga aktif memberikan
seminar, menerbitkan artikel, dan menjadi pembicaran pada konferensi akademik. Dia memberi
tahu kepada si kembar kalau dia pernah beberapa kali mengisi seminar mengenai sejarah seni,
arkeologi, antropologi, atau klasika di kampus mereka. Dan Dita baru teringat kalau dia pernah
menghadiri salah satunya diawal perkuliahan mereka, lalu terjadilah percakapan seru di antara
keduanya.
Perlahan tapi pasti gue yakin kalau Dita mampu menerima kehadiran Om Dodi sepenuhnya.
tatapan gue bergeser pada Andien yang ternyata juga sedang memperhatikan gue. Gue lantas
memberikan senyum untuknya, senyum yang biasa gue bagi saat ingin menyampaikan kepada
mereka kalau semua akan baik-baik saja. Gue melirik Ibu yang juga sedang tersenyum
mendengarkan percakapan mereka yang semakin lama semakin terdengar seru, mengabaikan
kami yang nggak mengerti apa isi pembicaraan yang terjadi.
148
Travellove Ainidi
Kapan terakhir kali gue melihat muka Ibu sangat berseri seperti sekarang? Seingat gue sih hampir
nggak pernah. Kalau nggak salah ingat sih, mungkin saat Ibu dengan antusias mengajak gue
memberitahu Ayah kalau ada Ibu sedang mengandung si kembar. Bukan Ibu nggak pernah
tersenyum atau bahagia, nggak kok. Ibu mampu bangkit setelah kepergian Ayah, hanya saja
wajahnya nggak bersinar seperti sekarang.
“Kalau gitu Om harus ngajarin Dita menggambar, dia buat garis lurus aja mencong,”
“sok tahu! Gimana bisa mencong kalau pakai penggaris. Lagian memang kakak bisa gambar?” gue
mengangkat kedua bahu tak acuh.
“loh ya jelas nggak bisa dong, itu kenapa kakak ambil public relation. Karena kakak nggak bisa
gambar.” Dita meringis kecut pada jawaban gue yang absurd.
***
Kegalauan yang menggelayuti gue sepanjang minggu tentang Elang semakin menjadi, tepat pukul
tujuh malam taksi yang gue tumpangi sampai di depan kosan gue. Berbagai rencana yang gue
susun untuk menemui Elang berseliweran di dalam kepala gue seakan lenyap seketika, sampai
saat gue melihat laki-laki itu duduk di depan teras kosan gue.
Gue menyeret langkah gue dengan berat menghampiri Elang yang sepertinya nggak menyadari
kehadiran gue. Dia tengah menunduk menatap layar ponselnya dengan sebatang rokok yang
terselip d tangan kirinya. Elang mendongak pada suara koper yang gue seret semakin
mendekatinya dan membagi senyum pada gue, senyum yang sama dengan yang gue rindukan.
“Sekarang ganti profesi jadi penjaga kosan gue ya?” dia mematikan rokok di asbak yang gue kenali
sebagai milik Pak Sobri, pemilik warung kecil yang terletak di sebrang jalan.
149
Travellove Ainidi
“Kok cepet banget sampenya?” gue yakin akan mengalami penuaan dini saking banyaknya
kerutan yang gue timbulkan di dahi gue.
“Memang tahu dari mana kalau gue pulang hari ini?” dia menatap jam tangannya,
“udah makan belum?” Gue mengangguk dengan wajah masam pada Elang yang bukannya
menjawab, malah nanya balik.
“Gue belum,” ya teruuus? Kan gue nggak nanya.
“Temenin,” tambahnya.
“Lo nungguin gue di sini, tanpa tahu kepastian gue pulang atau nggak cuma untuk minta di temani
makan?” dia mengangkat kedua bahunya tak acuh sebelum mengambil alih koper dari tangan
gue. Dia berdecak karena gue hanya diam di tempat nggak lantas membuka pintu kamar gue.
“Kalau mau makan ayam cepat saji, mending pesan antar aja dari pada drive thru lagi,” kata gue
sambil mengorek isi tas gue demi mencari kunci kamar.
“Nggak,” dia bergeser, memberi jalan untuk gue membuka pintu “buruan,” tambahnya.
Dia meletakan koper ke dalam kamar secara asal-asalan sementara gue berjalan mendahuluinya
menuju mobil milik gue. Tapi, belum sampai mobil, gue menoleh ke belakang karena tak
mendengar suara langkah yang mengikuti gue. Itu anak masih diam saja di depan kamar gue
dengan tangan yang terlipat di dada.
Dia baru mengangkat tanganya dan menunjuk keluar gerbang karena gue juga ikut terdiam
sambil bertolak pinggang. Kenapa nggak bilang dari tadi kalau kita nggak naik mobil gue. Lagian
perasaan gue tadi nggak lihat ada mobil dia terparkir di luar deh.
Rasanya jantung gue gagal berfungsi saat dia menarik tangan gue ke dalam genggaman, dia
menggandeng tangan gue menuju mobil milikinya yang ternyata terparkir di ujung jalan. Kenapa
harus parkir jauh ke ujung?
150