Travellove Ainidi
“makanya nanya dulu, jangan main lari aja. Kebiasaan,” kata Elang menggerutu.
“kok parkirnya jauh banget? Kan itu di depan gerbang masih luas,”
“Takut kabur.” Sial. Nyesel gue nanya.
Elang mengarahkan mobilnya menuju warkop roti bakar yang letaknya nggak jauh dari kosan gue,
katanya lapar tapi, malah ke warkop. Di luar dugaan, warkop ini tak terlihat ramai, hanya diisi
oleh tiga orang yang sedang meminum kopi sambi mengobrol santai. Elang mengarahkan gue
untuk menempati meja paling ujung yang terlihat sangat sepi dan privat.
Gue memesan ovaltine dan roti bakar sementara Elang memesan paket lengkap indomie telor
kornet dan es teh manis. Gue menatap Elang yang menyandarkan punggung dan menatap mural
yang mengelilingi dinding warkop nampak kekinian.
“Jadi sejak kapan lo rajin jagain gerbang kosan gue?” dia kembali memajukan tubuhnya dan
menopang dagu sambil menatap gue.
“sejak lo punya hobi ngambek dan kabur mulu.” gue hanya meringis kecut mendengarnya.
“Galuh cerita semua sama gue.” Elang sudah lebih dulu menutup mulut gue dengan jarinya
sebelum membiarkan gue mengumpat.
“Kali ini please dengerin gue dulu sampai selesai ngomong. Oke?” memangnya kapan gue pernah
memotong?
“sebenarnya Ayu duluan sih yang cerita, semuanya. waktu lo nangis di kebun kopi Senaru. Galuh
nambahin dan melengkapi cerita begitu dia pulang dari Yogyakarta.” Kalimatnya terpotong oleh
seorang pelayan yang mengantarkan minuman dan makanan pesanan kami.
“Makan dulu deh, nanti kalau dingin malah bikin enek rasanya.” Nggak pakai disuruh dua kali dia
menyantap indomie di dalam mangkuknya dengan lahap. Kan gue jadi nggak enak kalau mau
minta.
151
Travellove Ainidi
“Gimana Andien? Sehat kan?” dia tertawa melihat gue menelan ludah ketika mencium aroma
sedap dari indomi miliknya. Dia menggulung mie dengan garpu sebelum menyodorkannya ke
mulut gue, yang gue terima dengan senang hati.
“Beneran sudah makan atau belum sih?” tanyanya sebal karena gue meminta satu suap lagi.
“udaaaaah. Tadi siang sebelum take off bareng pacar barunya Ibu.” Gue menyerahkan gelas
beirisi es teh manis ke Elang yang sedang tersedak. Gue mengambil sepotong roti bakar
mengabaikan tatapan penuh tanya milik Elang. Seperti paham dia tidak bertanya lebih lanjut dan
menghabiskan makanan miliknya dalam diam. Gue mengaduk gelas ovaltine sambil menunggu
Elang.
“Kasih gue kesempatan sekali lagi La.” Dia menatap gue dengan matanya yang tajam.
“Gue nggak janji bisa jadi laki-laki yang lo idamkan. Tapi, gue janji gue akan berusaha sekuat
tenaga untuk jadi laki-laki yang setia menjaga lo.” Gue mulai menelusuri pinggiran gelas milik
gue.
“lo sadar nggak sih kalau komunikasi di antara kita tuh berantakan banget?” gue mengangguk
setuju.
“Gue yang gagal mengekspresikan maksud gue malah nyakitin hati lo segitu dalamnya. Tapi, lo
juga salah karena nggak bisa terbuka sama gue,” gimana bisa gue mau terbuka kalau sikap lo
sudah sangat menyebalkan sih?
“gue memang nggak pandai mengungkapkan perasaan gue La. Tapi, lo harus tahu kalau gue
sayang banget sama lo sejak lama. Bahkan sejak pertama kali gue melihat lo berteriak dengan
lantang pada kakak tingkat yang sedang menghukum mahasiswi lain.” Dia mengambil tangan gue
yang sedang asik menekuri gelas.
“Sejak saat itu gue nggak bisa menemukan perempuan lain yang menyita penuh pikirkan gue
selain lo La, nggak ada yang mampu buat gue uring-uringan karena nggak dengar kabar lo
152
Travellove Ainidi
seharian. Nggak ada yang mampu buat gue terjaga sepanjang malam setelah melihat lo menangis
karena ulah gue sendiri.” Gue merasakan genggaman pada tangan gue semakin mengerat.
“Cuma lo yang bisa buat gue marah-marah nggak jelas sepanjang hari, setelah tahu kalau
ternyata lo sedang dekat dengan pria lain. Cuma lo yang buat gue merasa jadi manusia paling
hina setelah sadar kalau kata-kata gue melukai hati lo sangat dalam. Dan Cuma lo yang buat gue
sadar kalau ternyata nggak ada ruang yang mampu menghapus lo dari hati gue sampai sekarang,”
“lo tahu nggak? Gue baru ngerti apa itu bahagia waktu gue bisa menghabiskan malam bersama
di Karimunjawa, waktu lo bilang kalau lo masih sayang sama gue. Waktu lo memohon sama gue
untuk tetap tinggal adalah satu-satunya hal yang paling bisa buat gue sesenang itu,”
“Lang, soal Karimujawa gue,”
“iya gue tahu, dan gue mau meminta maaf untuk itu. Maaf karena gue nggak peka, maaf karena
gue nggak pintar baca isi hati lo, maaf karena semua perkataan gue sudah menghancurkan Lo.
Tapi, lo harus tahu kalau kalimat itu juga membunuh gue La,”
“Maafin gue.” Gue hanya sanggup mengangguk, nggak berani ikut bersuara karena takut
merusak suasana.
“Ayo kita coba lagi, Ayo kita mulai lagi dari awal. Dengan benar, gue mungkin sudah terlalu sering
menyakiti hati lo dimasa lalu. Tapi, percayalah dimasa depan gue akan berusaha memberi lo
kebahagian dengan cara yang benar,” Suara Elang kali ini terdengar menjadi lebih berat,
“waktu yang kita lewati sudah terlalu lama untuk menyiksa diri sendiri, gue mungkin nggak akan
sanggup lagi menahan lebih lama. Gue nggak bisa janji kalau tidak melibatkan urusan pekerjaan
pada hubungan ini. Tapi, gue janji akan menjadikan lo prioritas utama dibandingkan pekerjaan
terpenting apapun di dalam hidup gue,”
“Janji?” kata gue untuk memastikan sekali lagi.
153
Travellove Ainidi
“Janji.” Gue menundukan kepala gue di atas meja demi menyembunyikan senyuman yang nggak
bisa lagi gue tahan, disusul suara tawa Elang yang menggema mengisi seluruh area warkop.
Elang tak langsung membuka kunci pada pintu mobilnya setelah berhenti tepat di depan gerbang.
Biasanya gue akan melayangkan protes tapi, kali ini gue hanya bisa membisu melihat dia yang
juga diam tergugu.
“La, kalau sekarang kita pakai aku-kamu keberatan nggak?” gue lantas menggigit lidah gue
dengan keras demi menahan tawa setelah mendengar permintaanya, yang ternyata gagal karena
mendengar dia berdecak sebal.
“Nggak mau tahu pokoknya harus dibiasakan ya. Biar ada bedanya waktu pacaran dan nggak.”
Gue menghapus air mata sebelum menarik nafas dalam-dalam demi meredakan tawa.
“Iya oke, terus kalau lagi di kantor gue –“
“Aku!” koreksinya
“AKU, manggilnya apa? Bapak?” gue kembali tertawa sebelum memberikan sebuah tinju ringan
pada lengan Elang.
“Udah ah! Pulang gih, A…Ku mau istirahat nih capek.” dia menggeleng dan mengangkat
tangannya untuk mengacak rambut gue dengan gemas.
“Peluk dulu baru aku bukain,” Astaga! Gue baru tahu kalau Elang bisa menye-menye menggelikan
seperti ini. bukan menarik gue dalam pelukan dia malah menangkupkan tangannya pada kedua
pipi gue, dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir.
“Biar resmi kalau kita pacaran.” Ingatkan gue untuk daftar senam jantung mulai besok.
154
Travellove Ainidi
21
Prasmanan
“Mbak Mala ulang tahun?” Gue menggeleng pada Hanum yang ikut berdiri di samping gue,
menatap meja yang dijejer dengan aneka jenis makanan di atasnya. Gue di kagetkan dengan
155
Travellove Ainidi
beberapa laki-laki berseragam rumah makan Padang yang terkenal enaknya, mereka sibuk keluar
masuk ruangan satu jam sebelum jam makan siang.
Entah dengan maksud apa tapi, gue tahu ini kerjaanya siapa. Gue menarik ponsel dari kantong
celana gue dan mengambil foto makanan yang tersaji sebelum mengirimkan pesan pada
seseorang yang tadi pagi mengabarkan kalau hari ini harus menghadiri pertemuan di Bogor
seharian.
MalakaP : ini dalam rangka apa sih?
Gue mengedarkan pandangan untuk menghitung jumlah tim gue yang ada di dalam ruangan dan
kembali menatap meja. Jelas jumlah makanannya di peruntukan untuk satu kantor bukan satu
divisi gue, yang cuma berisi 8 orang.
Gue membuka grup chat ‘404 not found’ dan mengirim gambar yang sama
MalakaP : pada makan siang di mana? Di ruangan gue yuk, bantuin.
ChandraDen : on the way..
GaluhG : wkwk si @ChandraDen kalau makanan langsung berubah jadi flash.
GaluhG : . Nggak bisa La.
GaluhG : Gue lagi di pengadilan mau sidang setelah jam makan siang. bungkusin aja ya.
AyuAN : Flash yang ada di Zootopia kan @GaluhG? Si kukang hahaha!
AyuAN : gue lagi di Sudirman La,
AyuAN : tapi, nanti gue suruh anak-anak yang stay di kantor mampir ke rungan lo deh ya.
GaluhG : bukan! Flash yang kalau habis buang air itu harus di pencet biar kesiram.
156
Travellove Ainidi
MalakaP : woi! Ini lagi ngomongin makan, malah ngomongin isi toilet -_-
AyuAN : ini dalam rangka apa by the way?
ElangN : dalam rangka gue ngasih makan pacar, biar nggak kekurangan gizi.
ElangN : Makan yang banyak ya sayang @MalakaP,
Mata gue melebar memastikan sekali lagi kalau Elang membalas pesan gue di privat chat
bukannya di grup chat yang isinya manusia bermulut Firaun semua. Belum ada yang tahu kalau
semalam gue dan Elang mencapai sebuah kesepakatan dalam memperbaiki hubungan.
GaluhG is typing…
AyuAN is typing….
Gue buru-buru menutup aplikasi whatsapp saat mendengar Mas Den membuka pintu ruangan
kami dengan keras sambil berteriak,
“lo balikan???” gue memelototinya dan mengancamnya dengan sebuah tinju sebelum
menyuruhnya menutup mulut. Gue melirik takut pada tim gue yang kini sibuk berbaris dengan
piring di tangan sambil menganguk-anggukan kepala dan bibir yang membulat.
“Gue bawa pasukan.” Dia membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan staffnya masuk ke
dalam ruangan, mereka saling menyapa satu sama lain dan ikut mengantri untuk mengambil
jatah makan siang. Mas Den menghampiri gue yang kini berdiri di tengah ruangan
memperhatikan teman-teman mengambil makanan satu-persatu.
“Kalau gini malah jadi seperti acara prasmanan di nikahan orang nggak sih?” gue bertanya pelan
pada Mas Den, yang di jawab dengan suara tawa dan jempol yang di acungkan ke atas.
“Gue suka gayanya Elang, kalau begini setiap hari kabarin gue ya? Lumayan, gue jadi bisa
menghemat budget makan siang buat anak-anak gue.” Gue menginjak kakinya dengan keras
sebelum berbalik dan ikut mengantri.
157
Travellove Ainidi
Gue menarik meja portable milik gue ke ujung ruangan, Mas Den menghampiri gue dengan
piringnya yang super penuh. Gue nggak perlu jelasin lagi kan? Mas Den, kalau makan sudah
seperti manusia yang baru pertama kali di sajikan makanan, semuanya dilahap.
“Harusnya duduknya lesehan terus berjejer mengelilingi ruangan,”
“Biar semakin mirip sama tahlilan ya?” tanya gue.
Dia mengangguk dengan senyuman penuh arti, “iya lo yang di yasinin.”
Gue mendorong tangannya yang sedang mengangkat sendok berisi makanan. Mata Mas Den
mendelik tajam karena sebal isi dalam sendoknya gue jatuhkan.
“Jadi drama kumbara antara lo dan Elang akhirnya tamat juga?” gue mengagguk dengan mulut
yang penuh, dan melirik caller id yang tertera di layar ponsel milik Mas Den yang bergetar di atas
meja.
I & U is calling ….
Dan menyemburkan tawa setelah membaca namanya. Gue menopang dagu dengan wajah super
manis menatap Mas Den yang menjawab entah siapapun di seberang sana, hanya dengan
gumaman saja. Semakin lama gue perhatikan wajahnya semakin merah, jadi nggak hanya gue
saja yang sedang berbunga-bunga saat ini?
Tangan Mas Den terangkat den menepuk dahi gue setelah mematikan sambungan telepon dan
melirik gue yang dengan sengaja menaik turunkan kedua alis gue.
“jadi nggak cuma gue nih yang lagi kasmaran?” dia hanya mencibir dan kembali melanjutkan
makannya.
Sejak dulu hingga sekarang hanya Mas Den yang sangat tertutup masalah hati, gue nggak pernah
sekalipun melihat dia menggandeng wanita dan memperkenalkannya pada kami, apalagi
mendengar dia menelepon seorang wanita seperti tadi.
158
Travellove Ainidi
Gue kira di antara kami berlima hanya Galuh dan Ayu saja yang kerjaanya gonta ganti pasangan,
ternyata Si Mas Den juga nggak ada bedanya. Nggak heran sih memang Mas Den ini anaknya
tertutup banget, kami saja baru tahu kalau dia adalah anak dari pengusaha manufaktur yang
sukses mengekspor berbagai furniture ke mancanegara. Kalau kata Galuh anak crazy rich Malang
satu ini pura-pura melarat biar nggak di mintain duit mulu sama gue.
Dia nggak pernah cerita kenapa Mas Den yang bisa saja kerjanya ongkang-ongkang kaki sambil
makan daging berselimut emas di rumahnya, malah lari ke Jakarta bekerja keras sebagai cungpret
dengan penghasilan, yang mungkin hanya cukup untuk mengganti oli mobil mewah Bapaknya.
Pernah dengar peribahasa Hemat Pangkal Kaya? Nah itu satu-satunya hal yang gue yakini kalau
Mas Den beneran anak orang kaya. Pelitnya dia soal makanan mungkin sudah membuatnya
merasa kalau itu adalah sebuah penghematan agar dia tetap menjadi orang kaya.
Setelah selesai makan dan memebantu divisi gue yang jadi terlihat berantakan, Mas Den pamit
kembali ke ruanganya dengan membawa bungkusan, “La, Jangan lupa si Ayu minta dibungkusin.”
Dia melambaikan dan menghilang dibalik pintu. Ha? Perasaan si Ayu nggak ada ngomong apa-
apa sama gue.
***
Elang nggak berhenti mengirimi gue pesan yang sama, dia berulang kali meminta gue agar tetap
menunggunya di kantor dan pulang bersama. Pesan itu nggak berhenti dan terus berlanjut saat
dia sudah selesai meeting dan bersiap pulang. Lima menit berikutnya dia kembali mengirimi gue
pesan dan memberitahu kalau dia sudah di jalan, lima menit kemudian pesannya berisi kalau dia
sedang berhenti di lampu merah. Sampai ratusan kali lima menit nggak ada satupun pesannya
yang gue balas.
159
Travellove Ainidi
Mungkin karena kesal pesannya nggak gua balas, dia kembali menghubungi gue. Kali ini melalui
sambungan video call. Beruntung di dalam ruangan hanya tersisa Hanum dan Raya dari tim
Content marketer.
Gue menjawab teleponnya sambil memasang airpod pada telinga,
“Hai..” sapanya dengan wajah yang memenuhi layar,
“ngapain pakai video call? Kan lagi nyetir.” Setelah berhasil meletakan ponselnya di atas
dashboard kedua tangannya kembali sibuk pada setir mobil.
“Habis pesanku nggak ada yang kamu balas satupun, sekarang temenin aku nyetir aja kalau gitu.”
ya mau di balas apasih memang? Isinya juga hanya ‘aku sudah jalan’, ‘aku di lampu merah’, aku
sudah masuk tol’, aku bla bla bla.
Gue kembali pada layar laptop gue dan mengabaikan pertanyaan yang nggak perlu jawaban itu,
nggak perlu menoleh gue yakin dua wanita yang duduk di seberang gue sedang memasang telinga
lebar penuh rasa penasaran.
“lagi ngerjain apa sih?” gue melirik Elang yang sekarang sedang menatap gue sepenuhnya.
“Iklan untuk konten ‘Makan Bank’ yang mau tayang, kok berhenti?”
“lagi lampu merah, baru keluar tol.” Dia kembali menatap jalanan di depannya, gue kembali pada
layar laptop. Kalau sudah keluar tol mungkin limas belas sampai dua puluh menit lagi dia sampai
di kantor. Artinya gue harus menambah kecepatan gue untuk menyelesaikan konten ini. Tinggal
beberapa approvement aja sih, biar nanti kolom komentar Hanum dan Raya yang mengerjakan
deh.
Tidak sesuai prediksi Elang muncul setengah jam kemudian dari balik pintu dengan menenteng
bungkusan martabak, yang mengeluarkan aroma sedap. Dia menyerahkan bungkusan pada
Hanum, dan di terimanya dengan senang hati.
160
Travellove Ainidi
“Ini sogokan Mas Elang biar Mbak Mala hari ini nggak ikut lembur ya?” Hanum membuka
bungkusan martabaknya, sebelum meletakanya di atas meja yang di siapkan Raya dengan sigap.
“Kalau gitu sogokannya kurang dong Pak, harusnya pizza sama kopi,” kata Raya menambahkan,
hanya Raya yang memanggil kami berlima dengan sebutan Bu atau Pak.
“itu saja belum tentu sanggup kalian habiskan berdua kan?” gue berdiri menghampiri Elang usai
merapihkan barang-barang.
“Mereka itu jelmaannya aja perempuan, tapi kapasitas isi perutnya melebihi Mario kalau lagi
buat konten makan.” Elang tertawa saat melihat Hanum dan Raya kompak mencebikan bibirnya
pada gue.
“Ya sudah, nanti saya pesankan Pizza sama kopi kenangan mantan deh.” Gue menepuk bahunya
karena gemas dengan lawakannya yang garing.
Setelah memberikan pesan apa saja yang harus mereka kerjakan, gue dan Elang berpamitan pada
keduanya. Dan tetap memenuhi janji untuk menambah pesanan makakanan untuk menemani
keduanya sepanjang malam. hanya saja kali ini gue yang bayar, dia sudah banyak mengeluarkan
uang demi memanjakan kami sepanjang hari tadi.
***
Elang menarik gue masuk ke dalam apartemennya yang baru, dia memutuskan untuk pindah dari
rumah orang tuanya di Menteng, ke Apartement kelas menangah yang jaraknya nggak jauh dari
kantor. Sebenarnya pindahnya sudah enam bulan, kenapa gue bilang baru, karena memang
hanya tinggal gue yang belum pernah main ke sini.
Apartemenya lumayan untuk ukuran laki-laki lajang, Apartement dengan tipe dua kamar ini
berhasil Elang rombak menjadi Apartment bergaya studio, nggak ada lagi dinding pemisah antara
ruang tidur, ruang tengah dan dapur. Satu-satunya dinding pemisah di Apartment ini hanya
kamar mandi saja.
161
Travellove Ainidi
Elemen logam dan Kayu mendominasi ruangan dengan cat dinding berwarna abu-abu dan
teracota, lantai dari parket kayu, serta Lampu dengan aksen dari tembaga, dan baja seolah
berhasil menyempurnakan Apartment bergaya industrial yang di huni Elang. Untuk tempat
tinggal seorang laki-laki bujangan seperti Elang, Apartement ini kelewat rapih dibanding kamar
kos gue yang baru akan diganti spreinya kalau gue ingat.
Sesaat setelah Elang menutup pintu di belakangnya, seekor anabul berwarna cokelat keemasan
muncul dari bawah tempat tidur dan berlari menghampiri Elang. Kiwi! Ini anak masih hidup
ternyata. satu tahun lalu sewaktu kami baru saja menjalin hubungan, gue menghadiahi Elang
seekor anak kucing yang gue adopsi dari teman gue.
“Kiwiiiiiii…” Gue sontak berteriak melihatnya berlenggak-lenggok.
“Hai mami!” Si Anabul yang kini bertubuh gumpal, berjalan mengekori Elang mengabaikan
panggilan gue, dia terus mengeong sambil sesekali menempeli kakinya Elang.
Sadar kalau Kiwi sedang menuntut perhatian, tanpa diminta gue langsung menempati sofa yang
di letakan di dekat kaki ranjang yang menghadap tivi. Alih-alih melihat tivi yang baru saja Elang
nyalakan, gue malah sibuk menonton dia yang sibuk wara-wiri bersama Kiwi. Membersihkan
pasir tempat Kiwi buang kotoran, membuang kotorannya ke tempat sampah, mengganti alas
kandang Kiwi, dan mencapur vitamin ke dalam air untuk Kiwi serta menyiapkan makanannya.
Melihat semua itu, membuat gue bangga pada keputusan gue yang memberikannya Kiwi sebagai
hadiah kala itu.
Setelah dilihatnya Kiwi sibuk makan, dia baru mencuci tangannya dan membuka kulkas. Dia
lantas menyerahkan minuman kaleng pada gue dan mengambil tempat di sebelah gue.
“Gimana Apartemenku? Cuma kamu yang belum pernah ke sini.” Dia mengambil kaleng
minuman milik gue untuk membuka penutupnya sebelum dikembalikan lagi pada gue.
“Nice, terlalu seru untuk tempat tinggal seorang laki-laki lajang,”
162
Travellove Ainidi
“Kalau gitu kamu ikut tinggal di sini aja biar semakin seru.” Elang bergeser dan meletakan
tangannya ke belakang punggung gue.
Gue langsung menghidu aroma khas tubuh Elang, Aromanya yang maskulin dan lembut sekaligus
adalah aroma favorite gue sekarang. Wanginya sangat menenangkan tapi, gue nggak lantas
berhenti untuk menjepit hidung gue dengan kedua jari demi menggoda Elang.
Bukannya merasa tersinggung, Elang malah menarik kepala gue dan menempelkannya pada
ketiak dengan sengaja. Sambil tertawa dia mengabaikan teriakan dan pukulan yang gue
layangkan pada punggungnya. Karena terlalu banyak bergerak kalengan minuman yang tadi gue
pegang telah menumpahkan isinya dan membasahi pakaian kami. Nggak sampai basah kuyup sih
tapi, malah jadi lengket.
“Kan jadi lengkeeeett.” Gue kembali melayangkan sebuah pukulan ringan yang berhasil dia tepis.
“lagian kamu nggak bisa diam sih,” lah dia yang membekap kepala gue, kenapa jadi gue yang
disalahin.
“aku lapar nih.” Dia menyerahkan beberapa lembar tissue pada gue,
“kamu mau masak nggak? Ada beberapa bahan makanan di kulkas, masakin ya? Sambil nunggu
aku mandi.” Gue mendengus tak percaya.
“Staffku kamu traktir makan segitu banyak seharian ini, aku malah disuruh masak?” dia
menyengir dan mengangguk antusias.
“karena aku kangen dimasakin sama kamu, mau ya? Aku mandi sebentar.” Dia mengecup ringan
sudut bibir gue, sebelum melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Tunggu dulu, ini Apart kan nggak ada pembatasnya. Itu anak tadi masuk ke dalam kamar mandi
bawa baju ganti nggak ya?
163
Travellove Ainidi
164
Travellove Ainidi
22
A Shocking Bittersweet Taste
Sambil menunggu Elang yang sedang mandi, gue mulai mebuka kulkasnya dan mencari bahan
apa saja yang bisa gue olah menjadi sebuah makanan. Gue nggak menemukan satupun jenis
bahan-bahan yang biasa di pakai dalam masakan Indonesia. okelah, karena gue hanya
menemukan spaghetti dan tuna kalengan . dua bahan itu yang akan gue pakai untuk membuat
spaghetti tuna saus pedas.
Setelah memasukan spagethi ke dalam rebusan air, gue mulai menghaluskan tomat dan cabai
rawit sebelum mencincang dua siung bawang putih dan bawang bombay yang gue iris tipis. Gue
menumis tuna bersama semua bumbu yang sebelumnya gue siapkan dengan menambahkan
sedikit saus tiram, saus sambal, garam, juga merica.
Pintu kamar mandi terbuka tepat saat gue sedang meniriskan spaghetti, “hhmmm wangi banget.
Masak apa La?” Elang muncul dengan handuk melilit di pinggang, dan tubuh bagian atas
telanjang. Gue hanya menatapnya sebal, gue tahu banget ini anak lagi menggoda gue. Jadi, gue
berusaha sekuat tenaga untuk nggak terpengaruh pada perut ala roti sobek milik Elang, dengan
bertingkah biasa saja.
“Sengaja ya?” gue kembali sibuk dengan spaghetti yang kini sedang gue campur dengan saus tuna
yang sudah lebih dulu gue masak.
“Apanya?” tanyanya Elang pura-pura polos.
Dengan spatula di tangan, gue menunjuknya dari kepala sampai ke kaki.
165
Travellove Ainidi
“Mau pamer apa gimana sih?” kan, dia menyengir, sialan memang nih anak.
“Kenapa seksi ya?” gue hanya mencebik tak suka,
“Yaa lumayanlaah, berhubung cuma perut kamu doang yang baru aku lihat, aku jadi nggak punya
perbandingan” tangan Elang yang mulanya sedang sibuk mengeringkan rambutnya yang basah
terhenti dengan wajah yang meringis.
“Awas aja kalau berani lihat perut yang lain.” Gue hanya mengangkat kedua bahu,
“Buruan deh pakai baju, terus bantuin aku.” Dengan tampang sok cool gue kembali sibuk pada
spaghetti di wajan. Tapi, nggak lantas memasang telinga untuk mendengar pergerakan Elang
yang sedang membuka drawer dan menarik t-shirt juga celana pendek sebelum masuk kembali
ke dalam kamar mandi.
“kamu mau ganti baju nggak La?” kata Elang yang kembali muncul ke hadapan gue dengan
busana yang lengkap dan terlihat segar. Melihat itu gue jadi tergoda ingin membersihkan diri
juga, gue mengangguk.
“Mau mandi sekalian boleh nggak sih? Tapi, nanti aja setelah makan.” Dia tertawa dan membuka
kulkas dan kembali menarik minuman kaleng.
“Kenapa tadi nggak ikut mandi sama aku aja sekalian?”
“Kamu mau buat ginjalku gagal berfungsi? Dari tadi dikasih soda terus.” Gue mengomel demi
mengabaikan pertanyaanya barusan.
“Memangnya nggak ada teh atau air putih biasa juga nggak masalah loh.” Dia meringis kecut dan
mengembalikannya lagi ke dalam kulkas.
“Air putih aja ya, aku malas masak air,” Kali ini dia membuka salah satu kabinet dan menarik dua
gelas kaca sebelum mengisinya denga air mineral.
166
Travellove Ainidi
Karena pada dasarnya memasak pasta nggak perlu memiliki skill cheff bintang lima, dan nggak
membutuhkan waktu lama. Gue menghidangkan dua piring berisi spaghetti saus tuna di atas
meja, mulanya sih gue pede aja sama masakan gue tapi, waktu gue kembali melirik Kiwi yang
sedang sibuk menjilati tubuhnya usai menghabiskan makanan, gue jadi kepikiran sesuatu.
“Lang, tuna kaleng di dalam kulkas itu bukan makanan untuk Kiwi kan?” gue sudah mendapati
jawabanya saat melihat Elang memasang wajah yang pura-pura terkejut. Dan berusaha menahan
sudut bibir gue yang mulai berkedut menahan tawa untuk mengikuti permainannya.
Namun gagal, tawa gue pecah mendengar jawaban Elang setelahnya, “Nggak masalah aku
memang biasa berbagi makanan sama Kiwi, malah kadang semangkuk berdua.”
Gue masih menunggu Elang menggulung spaghettinya sebelum menyuapkannya ke dalam mulut,
ini gue lakukan bukan untuk menunggu reaksi pertamanya soal rasa. Tapi, demi keselamatan
lambung gue dari kebenaran kalau tuna yang gue pakai bukan milik Kiwi.
Gue membalas tatapan Elang yang memperhatikan gue dengan mulut yang penuh, mungkin
kedua alisnya menyatu karena telah menaruh curiga pada gue yang sekarang sedang senyum-
senyum.
“Dikasih apa ini makanan?” tanyanya disela suapan yang terhenti.
Tuhkan benar, nih anak tuh curigaan, bukan cuma dia sih tapi, kami berlima. Nggak ngerti kenapa
bisa awet berteman sampai bangkotan gini, padahal kerjaanya saling menuduh dan selalu curiga
satu sama lain kalau diantara kami ada yang sedang bersikap manis.
Gue tertawa terbahak-bahak saat melihat dia buru-buru menenggak air di dalam gelas, setelah
berhasil menelan makananya. Nyesel juga gue, tahu gitu tadi beneran gue kerjain sekalian.
“Nggak ada!” jawab gue di sela tawa.
“Pasti Bohong kan?” gue mengangkat tangan gue dan mengacungkan kedua jari gue.
167
Travellove Ainidi
“Suer! Lihat nih aku makan juga.” Mata tajamnya nggak lepas dari tangan gue yang sekarang
sedang sibuk menggulung spaghetti dengan garpu, dia baru kembali makan setelah melihat gue
mengunyah.
“Terus, kenapa tadi nggak langsung ikut makan?malah lihat aku sambil senyum-senyum gitu?”
“Takut beneran pakai tunanya si Kiwi,” sekarang malah dia yang tertawa tebahak, jadi beneran
punya Kiwi? Tawanya kini semakin menjadi melihat gue diam mematung.
“Nggak sayang, beneran bukan punya Kiwi. Punyaku tapi, kadang kalau makanannya habis dia
yang minta tunaku.” Gue mengangkat kening dan menatap Elang selama beberapa saat.
“Coba diulang.”
“Apanya?” tanya Elang bingung dengan permintaan gue. Dia ikut terdiam dan kembali
memandang gue dengan tatapan penuh arti,
“Astaga! Beneran punyaku lho, itu Stock tuna biasa aku pakai untuk buat sandwich kalau sarapan.
Aku cuma bercanda.” Tambahnya sebelum kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Bukan yang itu, tadi kamu manggil aku apa?” dia menatap gue heran sambil mengunyah, dan
kembali fokus pada makanannya tanpa menjawab pertanyaan gue. Dasar nyebelin!
Setelah menghabiskan makanan, dia membersihkan meja dan meminta gue untuk tetap diam.
Nggak perlu disuruh gue juga memang berniat meminta dia yang membersihkan peralatan
makan dan masak yang tadi gue pakai. masa sudah gue yang masak gue juga yang bersih-bersih.
Di mana emansipasi?
Kiwi mengeong lirih dan ikut membuntuti gue yang duduk bersandar di sofa, gue lantas
mengangkatnya ke pangkuan dan bermain dengan bulu-bulu halusnya. Matanya perlahan
merapat saat gue menggaruk pelan kepalanya, enak ya? Kerjaanya cuma makan sama tidur
doang.
168
Travellove Ainidi
Awalnya semua masih terasa aman, Gue batal mandi karena semua perlengkapan mandi milik
Elang berbau laki-laki, setelah gue mengganti pakaian dengan kaos oblong milik Elang. Lalu kami
mencari film-film seru di Netflix, dia mengabaikan semua judul rekomendasi gue.
Iya semuanya judul dari drakor. Dan menjatuhkan pilihan pada A Classic Horror Story, sebuah
film bergenre horror tentang rombongan yang tersesat pada sebuah rumah sekte.
Sofa di Apartment Elang itu ternyata bisa di jadikan sofa bed, kami bergelung di bawah selimut.
Gue berbaring dengan berbantalkan lengannya Elang, dengan tangan yang nggak berhenti
bermain dengan bulu-bulunya Si Kiwi yang sekarang sudah tidur pulas. Gue melirik jam dinding
yang terletak tepat di atas tivi, masih jam Sembilan. Tapi, rasanya sudah seperti seharian.
Gue terkejut pada efek suara yang di keluarkan saat mobil caravan, yang di tumpangi rombongan
menabrak sebuah pohon. Gue lantas merapatkan punggung gue pada dada Elang yang dia
sambut dengan pelukan yang mengerat.
“Rambutmu, wanginya harum. Padahal kan nggak jadi mandi ya tadi.” karena terlalu fokus pada
film yang sedang diputar, gue jadi nggak sadar kalau sejak tadi Elang sibuk memainkan rambut
gue bukannya ikut menonton. Kalau dia nggak ikut nonton kenapa tadi gue nggak dibiarkan saja
nonton drakor sih?
“La, umurmu berapa?” huh? Kenapa tiba-tiba nanya umur, memangnya dia lupa kalau kita
seumuran?
“Sama dengan umurmu,” dia terkekeh di telinga gue sebelum menggigitnya dengan gemas.
“Biasanya kalau perempuan sudah lewat dari usia dua puluh lima tahun pasti sudah menuntut
untuk menikahkan?” gue berdecak nggak suka, memang dia kira gue ini terlahir dari keluarga
yang kolot apa? Mau sampai usia empat puluh tahunpun kalau gue belum bertemu dengan
jodohnya, memang bisa dipaksakan?
169
Travellove Ainidi
“Mamah nyuruh aku buat ngajak kamu datang ke rumah minggu depan.” Katanya tiba-tiba, gue
memutar badan menjadi menghadap Elang.
“Kenapa tiba-tiba? Kamu juga sudah bilang sama tante Rida kalau kita pacarana?” dia
menggeleng sambil tersenyum sebelum menundukan kepala untuk menggigit hidung gue. Yang
gue balas dengan menjambak rambutnya, agar gigitannya terlepas.
“Belum tapi, mamah tahu kalau aku udah nggak tahan pengin balikan, sementara kamu masih
jual mahal.” Dia kembali terkekeh dan mencium pipi gue saat melihat gue mencibirnya.
“Angkasa pindah dari Paris minggu lalu, katanya sekalian makan malam, dia mau ngerayu calon
menantu idamannya ini, supaya mau jadi pacar anaknya yang nggak peka.” Angkasa, itu kakaknya
Elang yang bersekolah di Paris sejak enam tahun lalu. Gue baru tiga kali bertemu dengannya
karena dia juga memang jarang pulang ke Indo.
Elang mengangkat tubuhnya dengan mudah dan menopang tubuhnya dengan lengan yang tadi
gue jadikan bantal. Sebelah tangannya yang sebelumnya bertengger di pinggang gue sekarang
sibuk memainkan poni gue yang berantakan.
Gue baru tahu kalau dalam penerangan minim saja Elang masih terlihat sangat menawan, kalau
boleh jujur gue lebih suka melihat rambut Elang yang terlihat berantakan dibanding disisir saat
dia rapi di kantor. Kedua lubang di pipinya tertutup samar oleh janggut tipis yang tumbuh di
sekitar rahang.
Tangan gue terangkat untuk menelusuri kedua alisnya yang tebal, lalu turun ke hidungnya yang
mancung dan ibu jari gue membelai kumis tipis yang menghiasi bibirnya yang gelap tapi terlihat
ranum.
“Kamu manis banget,” ucap gue tak butuh jawaban.
Dia menangkap tangan gue dan mencium telapak tangan gue, “kenapa? Nyesel ya pernah
mutusin aku?”
170
Travellove Ainidi
Gue lantas tertawa mendengar komentarnya, kenapa sekarang nih anak berubah jadi manusia
over percaya diri gini sih? Bukannya nggak suka, sangat suka walau ada beberapa hal yang
menurut gue sangat berlebihan. Tapi, gue yakin seiring berjalannya waktu semua sifat kami yang
saling bertabrakan akan beradaptasi dengan baik.
Tawa gue belum mereda saat Elang mencium bibir gue begitu saja. Kaget? Tentu, tapi semakin
lama gue semakin paham pada bahasa tubuh Elang yang suka memberi kecupan secara tiba-tiba.
Gue membalas ciuman Elang dengan lembut.
Apa gue sudah pernah bilang kalau ciumannya Elang terasa seperti sedang meminum kopi di pagi
hari, rasa pahit juga manis bercampur menjadi satu, hingga membuat gue ingin terus
mencecapnya. Bibir Elang yang mulanya bergerak lembut lama-lama jadi semakin menuntut dan
bergerak sensual.
Gue menarik nafas dalam saat dia menyudahi ciumannya, dia meletakan dahinya pada dahi gue
dan membelai hidung gue dengan hidungnya.
“La, kalau kita….” Elang berkata ragu-ragu, “you know? Can I do it again?” matanya terus menilik
mata gue yang kini terlihat bingung, gue beneran nggak ngerti sama permintaanya yang ingin
melakukannya lagi. Apanya yang lagi?
“Again..?” tanya gue bingung, dia mengangguk
“kamu ngerti kan maksudnya? Karimunjawa.”
Oh! Maksudnya ini dia minta ijin apa boleh dia kembali melakukan kesalahan yang sama-sama
kita lakukan itu? Gue tersenyum sebelum kembali mencium bibir Elang dengan gemas, Elang
terlihat bingung saat gue kembali menarik kepalanya dan menggeleng.
“I’m sorry, I can’t,” jawab gue kemudian.
“Kenapa?” gue lantas terkekeh mendengar jawabanya.
171
Travellove Ainidi
Gue mengecup ringan pipi Elang sebelum mendorong tubuhnya dari atas tubuh gue, memintanya
bergeser agar gue bisa terbangun dan kembali duduk bersandar pada sofa. Bukannya mau
munafik, tapi kejadian di Karimunjawa itu sudah cukup membuat mental gue hancur lebur
berminggu-minggu.
Elang ikut bergerak kaku di sebelah, gue menatapnya yang kini sedang merapihkan rambutnya
dengan tak nyaman sambil bergumam memaki dirinya sendiri. Melihat itu, gue menarik
tangannya dan menggenggamnya dengan erat, berharap melalui genggaman gue dia dapat
merasakan kalau ini murni karena rasa malu pada diri gue sendiri, bukan dirinya.
“Jangan mikir yang aneh-aneh, aku cuma ingin kali ini kita melakukan semuanya dengan benar
Lang.” Dia menggeser tubuhnya hingga duduk dengan menghadap gue dengan sempurna.
“Aku nggak mau ngecewain Ibu apalagi Ayah. Boleh nggak kalau kita melakukan itu setelah
menikah aja?” perlahan senyumnya kembali terbit.
“Ini secara nggak langsung kamu lagi ngelamar aku ya?” gue melepaskan tangannya dengan
kasar.
“Mana ada sejarahnya wanita yang melamar pria,”
“kan emansipasi.” Elang berdiri dan berjalan ke arah drawer yang terletak nggak jauh dari pintu
kamar mandi, sebelum kembali dengan membawa kantung kecil berbahan beludru yang
berwarna hitam. Dia kembali menarik tangan kiri gue sesaat setelah kembali duduk di hadapan
gue.
“Kalau gitu aku aja yang melamar,” sebelah tanganya yang lain mengeluarkan cincin dari
dalamnya.
“Aku nggak mau menunda dan membuang waktu lagi.” Gue merasakan tangan gue yang mulai
gemetar.
172
Travellove Ainidi
“Malaka Prameswara, You HAVE to marry me soon.” Tanpa menunggu jawaban dari gue, dia
lantas menyematkan cincin ke jari gue.
23
Gue kembali mengecek ponsel gue, untuk entah yang ke berapa kali. Elang nggak ada kabar
seharian setelah terakhir kali dia memberitahu gue kalau dia seharian ini akan menemani
Angkasa, berkeliling mencarai Apartment. Habis itu semua pesan gue diabaikan, telepon gue
nggak ada yang diangkat, entah beneran sibuk atau memang masih ngambek.
Kemarin setelah menyematkan cincin ke jari manis gue, gue memang nggak langsung menjawab
karena nggak mau merusak suasana. Tapi setelah dia mengantarkan gue kembali ke kosan gue
baru menyampaikan kalau langkah yang dia ambil terlalu terburu-buru,
173
Travellove Ainidi
Bukan gue nggak mau menikah dengan Elang, gue bahkan nggak bisa memikirkan laki-laki lain
yang pantas menemani gue menghabiskan sisa hidup selain dia. Hanya saja ini terasa terburu-
buru, belum ada dua hari balikan dia udah ngajak nikah.
Jadi gue menangkapnya hanya sebagai tindakan Elang yang Impulsif saja, waktu gue
menyampaikan itu dia nggak lantas membantah dan mengomel sih. Dia masih menjawabnya
dengan tawa, dia baru mengomel ketika gue bertanya apakah cincinya ingin dia simpan kembali
aja. Tanpa mengatakan apa-apa sesaat setelah gue menutup pintu penumpang dia langsung
menancapkan gasnya menjauh tanpa lagi menunggu gue masuk ke dalam lebih dulu.
Sejak itu dia mengabaikan gue, waktu gue tanya apakah dia sudah sampai apartement dengan
selamat dia hanya membalas dengan emoticon jempol saja. Saat pagi tadi gue bertanya apakah
hari ini gue perlu membawa mobil ke kantor atau tidak, dia baru memberitahu kalau dia akan
pergi bersama Kakaknya. Dan mungkin nggak akan sempat kembali ke kantor.
Perhatian gue teralihkan saat Ayu masuk ke dalam ruangan gue tanpa mengetuk pintu terlebih
dahulu. Gue melirik jam tangan gue, masih pukul dua siang nih anak ada di kantor? Hari ini nggak
ada jadwal produksi atau gimana?
“Temenin gue makan siang yuk, lo belum makan kan?” tanyanya sebelum menyapa seluruh tim
yang ada di dalam ruangan hari ini.
“Tahu dari mana gue belum makan?” dia menoleh kepada Dhea,
“dia belum makan kan Dhe?” tanyanya dengan mengangkat tangannya menunjuk gue,
“Kalau popmie termasuk hitungan makan berat, harusnya sih Mbak Mala udah makan sih Mbak,”
dia mendelik pada Dhea karena merasa kalah.
“Itu namanya belum makan, udah ayo dong La, temenin gue makan.” Gue menggeleng heran
tapi, lantas membereskan meja dan mengambil dompet dari dalam tas.
174
Travellove Ainidi
“Ada yang mau menitip nggak? Mumpung Mbak Malaka bawa dompetnya tuh,” eh! Dasar anak
kurang ajar, malah nyemplungin gue ke jurang. Belum tahu apa pembagian deviden masih jauh
dari jangkauan? Dia tertawa terbahak saat seisi ruangan kompak mengeluarkan suara dan
menuliskan beberapa pesanan pada kertas sebelum memberikannya pada Ayu.
“Wah! Gue baru tahu kalau staff lo piranha semua La,” gue mendengus kasar.
“Mereka itu kerongkongannya aja perempuan padahal berjakun semua.” Sebagai pembalasan
gue mengiyakan semua pesanan mereka tapi dengan imbalan sebuah pekerjaan yang dengan
semana-mena gue berikan. Gue buru-buru menarik Ayu keluar ruangan saat mereka menyoraki
gue dan melempari gue dengan gulungan kertas. Dasar anak buah kurang ajar.
Dengan menumpangi mobil Ayu, dia membawa gue ke rumah makan bebek kaleyo yang letaknya
agak jauh dari kantor. Nggak pake basa-basi Ayu langsung memesankan dua bebek goreng
kremes setelah mendapatkan meja. Gue yang nggak punya pilihan menu lain hanya bisa pasrah
dan memesankan dua minuman untuk kami berdua.
“Gue kaget waktu kemarin baca grup, lo berdua udah sayang-sayangan,” gue sudah menebak sih,
Ayu nggak mungkin akan dengan sengaja mengajak gue makan siang di waktu yang sangat
produktif ini.
Belum sempat menjawab, gelas Es jeruk gue sudah lebih dulu disambar oleh laki-laki yang lagi
pengin banget gue siram. Galuh duduk semena-mena di samping gue dengan terus menyedot Es
jeruk dari gelas gue, nampak nggak peduli dengan tatapan mematikan milik gue.
“Panas banget ya Jakarta hari Ini, kalau mau pesen minuman lagi sekalian buat gue ya La, sekalian
sama bebeknya.” Alih-alih menyiram wajahnya, gue malah menimpuknya dengan es batu dari
dalam gelas.
“Jadi, dalam rangka apa kalian bisa dengan murah hatinya meluangkan waktu untuk makan
bebek bersama gue siang ini?” tanya gue ketus.
175
Travellove Ainidi
“Nggak ada, gue nanya di grup lagi pada di mana, terus si Ayu jawab bebek kaleyo. Yaudah gue
ke sini.” Gue langsung membuka ponsel dan membuka grup untuk membenarkan ucapan Galuh.
Benar, dia memang bertanya dan Ayu menjawabnya dengan jujur, hanya saja bukan cuma Galuh
yang menimpali akan menyusul tapi juga Mas Den. Karena dengan sialnya si kanjeng ratu
menambahkan kalau gue sedang mentraktirnya makan siang. Ya pantes aja pada kesenangan
datang menyusul.
“Yu. Lo yang ngajak makan siang kenapa jadi gue yang traktir sih?” bukannya menjawab dia hanya
mengangkat bahu tak acuh, dan kembali menambah pesanan untuk Galuh jua Mas Den yang
katanya sudah hampir sampai.
Mas Den juga bisa-bisanya manusia goa itu menyempatkan diri keluar dari sarangnya hanya demi
sepotong bebek gratis. Gue jadi ragu kalu dia beneran anak crazy rich.
Gue menyenggol kaki Galuh dari bawah meja, “Elang nggak ikut nyusul?” gue bertanya pada
Galuh yang kini sedang menatap gue heran.
“Mana gue tahu sih La, kan pacarnya lo bukan gue.” Gue menatap sebal Ayu yang menimpuk gue
dengan gulungan tissue sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ngapain balikan kalau masih jadi pacar rasa jomblo?” Ayu sama Galuh tuh kalau ketemu dua-
duanya minta di sambelin.
“Anaknya lagi ngambek, semua chat dan telepon gue nggak ada yang ditanggapi,” kata gue sebal.
“lha! Si kak Asa ada di Indo?” gue menoleh mengikuti arah pandang Ayu.
Elang dan Angkasa berjalan menghampiri kami bersamaan dengan kedatangan Mas Den di
belakangnya. Seperti nggak terjadi apa-apa Elang lantas menghampiri gue untuk membelai
rambut gue sebelum berbalik menarik kursi dan meja tambahan untuk kami.
176
Travellove Ainidi
Setelah merapatkan meja tambahan Elang meletakan kursi tambahan di sebelah gue, dia
menatap gue dengan senyuman dan mata yang berbinar-binar sebelum memberi kode pada
cincin pemberiannya yang masih bertengger di jari manis gue.
“Kenapa heran? Kan semalam itu aku cuma nanya, kamu aja yang keburu kebaperan,” tak lama
gue mendengar berbagai macam suara aneh yang dikeluarkan oleh teman-teman gue, dari suara
berdecak kesal, suara seperti ingin muntah dan pukulan ringan pada meja.
“Heh!”
“Heh!”
“Heh!”
“Nggak usah bulan madu di sini. Minta diusir ya?” gue merenggut pada protes tajam yang Galuh
layangkan.
“Tadi aja ngedumel karena chat dan telepon nggak ada yang dibalas, sekarang malah sibuk pamer
kemesraan,”
“Di mana letaknya pamer kemesraan sih, kan gue nggak ada pegang-pegangan tangan!” nggak
lama gue merasakan tangannya Elang tersampir pada bahu gue.
“Tuh!”
“Tuh!”
“Tuh!”
Astaga!! Gue hampir saja melempar gelas kepada ketiga teman gue yang sekarang kompak
mengangkat tangan menunjuk kearah gue, kalau nggak dipotong oleh suara tepuk tangan dan
tawa Angkasa yang meriah.
“Gila ya? Kangen juga gue sama bocah-bocah beranjak tua ini,”
177
Travellove Ainidi
“Kak Asa, kali yang tua, harusnya umur Kak Asa tuh sudah punya anak lima,” jawab Ayu
berlebihan.
Lalu acara makan siang kami di warnai dengan kegaduhan yang menyenangkan, dengan gue dan
Elang yang menjadi korban cibiran dari ke empatnya. Meski begitu gue tatap merasa lega juga,
kehadiran gue dan Elang sebagai pasangan, tidak kembali membawa suasana dingin seperti yang
dulu pernah kami ciptakan pada setiap pertemuan.
***
“Makan malamnya hanya sama keluarga inti kan lang? bukan keluarga besar?” gue kembali
melayangkan pertanyaan pada Elang, saat mobilnya memasuki area perkarang rumah orang
tuanya yang jauh dari kata sederhana.
“nggaak sayang, kenapa sih? Nanya terus, Kamu mau makan malam langsung ramai-ramai? Ya
aku sih nggak masalah.” Gue mencibirnya dengan sebal, nggak tahu orang lagi deg-deg kan?
Gue mengikuti Elang turun begitu mobil sudah terpakir, Elang mengambil paper bag yang tadi
gue siapkan untuk orangtuanya. gue nggak tahu sih orang tuanya bakal senang atau nggak, tapi
menurut cerita Elang dan pengalaman gue yang nggak hanya sekali main ke rumahnya. Orang
tuanya ini suka banget ngeteh, terlebih tante Rida yang sudah mencicipi aneka macam merk teh
dari berbagai daerah bahkan mungkin mancanegara.
Gue menyabut uluran tangan Elang dan mengikutinya masuk ke dalam rumah, ruang depan
nampak sepi, begitu pula ruangtengah. Suara riuh rendah baru terdengar saat gue dan Elang
memasuki ruang makan. Orang tua Elang, sedang berbincang dengan sepasang orang tua lainnya
tatapan gue bergeser pada wanita mungil dan cantic yang duduk tepat di sebalh Angkasa.
“Malaka!” gue lantas sedikit berlari menghampiri tante Rida yang menyambut gue dengan sedikit
heboh, hingga mengundang tawa seisi meja.
178
Travellove Ainidi
Gue lebih dulu mencium tangannya sebelum menyambut cipika-cipiki khas tante Rida, dan
beralih mencium tangan Om Tristan. Tangan Tante Rida menyambut tangan gue dengan heboh,
gue kira dia terkejut pada bingkisan yang gue bawa. Tapi, fokusnya malah teralihkan pada cincin
yang melingkar di jari manis gue. Dia berseru senang dan meraih gue masuk ke dalam pelukan.
Gue menoleh pada Elang untuk meminta pertolongan, dia hanya tertawa sambil mengangkat
kedua tangannya tanda menyerah.
“Sudah Mah, ayo kenalan dulu Malaka dengan keluarganya Mas Tama,” gue berterima kasih
dalam diam pada Om Tristan yang sudah dengan sigap membantu melerai pelukan erat tante
Rida.
“Ohiya Mamah sampai lupa, nah Jeng, yang ini Malaka calon isterinya Elang. Mala Ini orang
tuanya Chika pacarnya Angkasa.” gue lantas menyunggingngkan senyum sambil sedikit
membungkukan badan sebelum menghampiri mereka dan mencium tangan keduanya sebagai
tanda rasa hormat gue kepada orang yang lebih tua. Ini adalah tata krama yang ibu ajarkan dan
wajib kami aplikasikan kalau nggak mau namanya di keluarkan dari kartu keluarga.
“Ayo duduk dulu, Mala belum makan kan?”
“ya belum lah mah, kalau sudah nggak Elang ajak ke sini.” Ibu nya mendelik sebal dan menepis
tangan Elang yang ingin menarik gue duduk di sampingnya.
“duduk dekat Mamah,” duh. bukannya gue nggak mau ya. Tapi, kelihatanya kan jadi nggak enak
kalau ada Chika dan keluarganya yang sedang bertamu juga.
“Aku duduk dekat Elang saja ya tante, nggak enak sama yang lain.” Kata gue sedikit berbisik agar
hanya dapat di dengar dengan tante Rida.
“Ya sudah, tapi kamu hutang cerita sama Mamah ya? Sekarang harus belajar panggil Mamah.
Jangan tante terus, Chika saja sudah panggil Mamah lho.” Yang di jawab dengan bisikan yang
nggak kalah pelannya.
179
Travellove Ainidi
Kami menikmati hidangan makan malam dengan di isi obrolan seru dari gurauan bapak-bapak
yang nggak gue pahami ta[I lumayan ucu untuk di dengar. Dari obrolan inilah gue tahu kalau ke
datangan keluarganya Chika tidak di prediksi sama sekali oleh Angkasa. Yang gue pahami kalau
kedua orang tua mereka sedang berusaha mengatur perjodohan di antara keduanya.
Pemahaman itu jadi menimbulkan pertanyaan lain yang muncul di kepala gue, apakah orang
tuanya Elang sesungguhnya juga berniat menjodohkan Elang demi melancarkan hubungan bisnis
yang baik antara dua keluarga? Seperti drama-drama yang gue tonton kebanyakan.
Gue menoleh pada Elang, yang berbisik pada gue untuk menyampaikan kalau setelah acara
makan ini kami pasti akan pindah mengobrol ke ruang tengah. Gue sedikit mengernyit saat tante
Rida menyolek tangan gue dan meminta gue untuk membantunya memyiapkan potongan buah
di dapur. Sadar gue nggak punya kuasa untuk menolak, gue tetap bangkit dan mengikuti tante
Rida ke dapur berbekal tatapan tak suka yang di tunjukan Chika secara terang-terangan.
Sesuai prediksi, bukannya menyerahkan piring yang berisi buah-buahan Tante Rida kembali
menarik tangan gue yang dihiasi cincin pemberian Elang. Beliau lantas menggenggam tangan gue
hangat dengan sedikit terisak.
“Makasih ya Nak, akhirnya kamu terima juga Elang. Mamah tadinya sudah ingin berniat
mendatangi kamu karena sudah buntu. Karena semenjak di putusin kamu Elang berubah seperti
hantu di rumah, kami sangat jarang sekali melihat dia duduk bersama di meja makan. Setiap
pulang kerja dia pasti mengunci pintu kamarnya, dan terus mengabaikan kami.
Elang sialan! Nagapain sih bertingkah seperti remaja labil, bikin gue jadi nggak enak hati aja. Gue
mebalas genggaman tangan tante Rida dengan sedikit remasan tapi tak terlalu kuat, sebelum
menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kepada beliau karena sudah menjadi
dalang atas perubahan sikap Elang.
“Mamah lega banget kamu datang sebagai calonnya Elang, karena kamu tahu nggak La? Si Chika
itu tadinya minta di jodohinnya sama Elang, bukan Angkasa,”
180
Travellove Ainidi
Haa? Gimana?
24
Another blue line
Hari libur di tengah minggu buat cungpret kayak gue adalah sebuah anugerah tersendiri, biasanya
gue akan membuat rencana yang sangat matang dari awal minggu untuk menghabiskan hari di
kosan. Tapi, itu nggak berlaku saat Ayu tiba-tiba saja menelpon gue dengan suara yang parau.
Sambil menangis dia meminta gue untuk datang ke rumahnya.
Jadi, di sinilah gue sekarang. Sedang berjibaku dengan kemacetan Ibu Kota. Padahal tanggal
merah tapi jalanan justru semakin padat saja. Ponsel gue kembali bergetar, kali ini bukan Ayu
yang menelpon tapi Elang, gue memang menyampaikan pada Elang mengenai Ayu yang
menelpon gue sambil menangis.
Berbeda denga budak koorporat lainnya, untuk rumah produksi seperti Kelana nggak semua
tanggal merah dan akhir minggu karyawan bisa mendapatkan libur. Untuk timnya Ayu biasanya
mereka malah yang paling sibuk kalau sudah tanggal merah. Pun Elang, terlebih dia. Elang
181
Travellove Ainidi
biasanya hanya libur di akhir minggu saja, walau nggak jarang juga weekend dipakai Elang untuk
mengadakan pertemuan dengan beberapa klien demi keharmonisan hubungan sebuah kerja
sama.
Sementara gue? Gue dan staff memutuskan untuk menjadi karyawan biasa-biasa saja, libur di
akhir minggu dan libur ditanggal merah, karena pekerjaan kami nggak ada hubunganya dengan
jadwal produksi.
“Hallo?” sapa gue tepat sebelum dering ponsel gue berhenti.
“kamu sudah sampai rumah Ayu?” tanya Elang dari seberang sana.
“Belum, aku kena macet. Kamu mau nyusul? Nggak usah dulu kali ya, nanti kalau dia sudah agak
tenang baru kamu menyusul dengan yang lain. Gimana?” seperti kebiasaan kami, kalau masalah
perempuan biar kami selesaikan dulu berdua baru mereka bertiga akan menyusul setelahnya.
“Aku baru dikasih tahu sama mamah, kalau Gunawan sekarang di Aussie. Bukan sekedar
mengunjungi orang tuanya. Tapi, pulang,” Jelas Elang dengan suara yang sedikit gamang,
“aku nggak tahu penyebab utamanya apa, tapi kepulangan dia yang tiba-tiba mungkin ada
sangkut pautnya sama Ayu,” tambahnya.
Maksudnya dia Gunawan pulang ke Bali itu gimana sih? Dia nggak balik lagi gitu? Perasaan gue
nggak ada mendengar berita soal Gunawan yang resign dari Kelana. Atau dia main kabur aja gitu?
Tapi, kenapa?
“dia resign? Kok aku nggak tahu?” tanya gue bingung.
“Iya, dan yang nyebelin itu dia mengirim surat resign melalui email yang dia kirim saat sudah di
sana dan aku baru tahu.” What the hell?
“kamu menyusul kan?”
182
Travellove Ainidi
“iya, Denny sudah di jalan aku kasih tahu begitu kamu telepon tadi.” gue mendengar suara
terbukanya pintu mobil, mungkin dia juga sedang bersia.
“tahan dulu, biar aku dulu yang ngobrol sama Ayu. Jangan langsung diserbu,”
“Oke, biar aku sama yang lain nunggu di depan dulu deh,”
“Ya sudah aku hampir sampai nih. Nanti ku kabarin ya?” gue memutus sambungan, berbagai
macam scenario berseliweran dalam kepa gue. Apapun itu gue hanya nggak habis pikir dengan
sikap Gunawan yang tidak gentleman.
Gue memarkiran mobil di carport rumah Ayu yang nampak kosong, kemana mobilnya? Pintu
rumahnya terbuka bersamaan dengan gue yang membuka pintu mobil, Ayu berdiri di ambang
pintu dengan penampilan yang sangat berantakan. Bahkan lebih berantakan saat Neneknya
meninggal. Gue menebak dari mata yang sembab dan hidung yang memerah kalau dia habis
nangis sepanjang malam.
Tanpa lagi bertanya gue menghampiri dia dan memeluknya, membiarkannya menangis sekali
lagi. Gue membawanya masuk ke dalam rumah sebelum menutup pintu di belakang gue. Gue
nggak mau jadi tontonan para tetangganya.
Cukup lama gue membiarkannya menangis dan membasahi baju gue dengan air mata dan cairan
dari hidungnya. Dan gue cukup bersyukur karena sudah membawa bagpack berisikan baju ganti
dan perlengkapan menginap lainnya.
gue membaringkan Ayu pada sofa yang berada di ruang tengahnya, sementara gue ke dapur
untuk mengambilkannya air minum. Saat kembali Ayu sedang berlari ke kamar mandi dan
memuntahkan isi perutnya. Gue sedikit terkejut mendengar suara gelas yang terlepas dari tangan
gue. Bukannya mengambil langkah menghampiri Ayu, gue malah memegang kepala gue yang
sedikit pening.
183
Travellove Ainidi
Gue meyakinkan diri gue yang sedang mendadak menjadi dokter obgyn ini kalau semuanya akan
baik-baik saja, dan meyakinkan kembali kalau praduga gue itu salah. Gue menghampiri Ayu yang
masih berusaha memuntahkan isi perutnya yang sudah kosong.
Dengan tangan yang sedikit gemetar gue memijat belakang lehernya. Tepat saat itu dia berbalik
dan kembali masuk ke dalam rengkuhan gue, hanya saja kali ini kami menangis bersama.
“You will be okay,” bisik gue, sambil mengecup rambutnya berkali-kali, tanpa melepaskan
pelukan gue, dia sedikit mengurai pelukan gue, dengan sebelah tangan yang berusaha meraih
sesuatu dari dalam laci sebelum menyerahkannya ke gue.
Sebuah alat yang bebulan-bulan lalu juga hampir menghancurkan gue, bedanya milik Ayu
memiliki dua garis. Dan entah mengapa melihat garis itu seolah memancing emosi gue sampai ke
ubun-ubun karena teringat informasi dari Elang mengenai kepulangan Gunawan ke kampung
halamanya.
Tunggu sebentar!
Gue kembali mengerjapkan mata demi melihat sekali lagi sebuah tanda yang berawarna coklat
kekuningan yang cukup besar di belakang bahu kanan Ayu, gue lantas menarik sebelah tangan
Ayu yang tadi menyerahkan testpack dengan kasar. Sebuah tanda dengan warna yang sama juga
tercetak di pergalangan tangan Ayu.
Brengsek!
Gue mengabaikan tangis Ayu yang semakin menjadi dan tangannya yang mencoba menahan
tangan gue saat hendak melepaskan bajunya. Gue hampir saja berteriak saat dia menangkupkan
kedua tangannya pada tangan gue dengan wajah yang memohon.
“Lepas!” kata gue berdesis.
“Atau gue gunting.” Gue menarik bajunya dengan kasar saat tangannya mulai mengurai tangan
gue.
184
Travellove Ainidi
Kepala gue yang pening semakin berputar dengan telinga yang berdengin, saat melihat luka
lebam yang lebih besar dengan warna biru sedikit keunguan pada rusuk sebalah kiri Ayu.
“Sejak kapan? Apa dia sering begini ke lo?” gue menutup mulut gue dengan kedua tangan yang
gemetar saat Ayu menjawabnya dengan menganggukan kepala.
“Kenapa lo nggak bilang ke gue sih Yu?” tanya gue tak percaya.
“Apa menurut lo gue masih punya kesempatan untuk cerita sama lo yang sedang sibuk dengan
kubangan masalah lo sendiri?” jawabnya di sela tangis.
What?
“Gue nggak mau menambahkan masalah baru buat lo La.” Gue menggeleng tak percaya. Rasanya
amarah gue semakin bertumpuk saja dan hampir meledak.
“Nggak seharusnya lo bilang gitu, ini bukan masalah sepele Ayu. Harusnya lo bilang ke gue! ke
KITA saat dia menjatuhkan tangannya pertama kali. Harusnya lo laporin dia ke polisi, perkarakan
dia. Tinggalin dia saat itu juga, bukannya terus menjalin hubungan dan menyembunyikan sikap
dia yang brengsek itu,” kata gue yang masih sangat berusaha untuk tidak berteriak.
“lo nggak akan ngerti La, lo ngak akan pernah ngerti,” jawab Ayu yang semakin terisak.
“Kalau gitu buat gue ngerti!” kata gue berteriak.
Tepat saat itu gue mendengar suara pintu yang dibuka dan derap langkah beberapa orang, yang
gue duga adalah ketiga teman gue yang lain. Gue lantas menutup pintu kamar mandi dengan
terburu-buru, dan mengabaikan tatapan khawatir Mas Den dari sedikit celah pintu yang hampir
tertutup.
Suara ketukan pada pintu terdengar bersamaan dengan suara kunci pintu kamar mandi yang gue
buka, setelah memakaikan bajunya kembali, gue membantu Ayu berdiri sebelum menghadapi
ketiga laki-laki yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi.
185
Travellove Ainidi
Wajah ketiganya merah padam saat gue sedikit menyingkap baju Ayu demi menunjukan
beberapa luka memar di tubuhnya. Gue mendengar suara Elang yang mengumpat kasar, suara
Galuh yang menahan napas dengan mata yang mendelik merah, dan suara tinju pada dinding
yang di layangan Mas Den.
“Gunawan?” tanya Galuh dingin.
Gue mengangguk sebelum menyodorkan tangan gue yang menggenggam testpack milik Ayu.
“BANGSAT!”
***
Gue mencari-cari keberadaan Dhea yang baru saja mengabari kalau dia sudah sampai di loby
rumah sakit. Sudah tiga hari Ayu di rawat di rumah sakit. Lebam yang berada di rusuk sebelah kiri
menyebabkan keretakan pada tulang rusuknya, tidak parah hanya sebesar satu helai rambut.
Tapi, karena dia sedang mengandung kami bertiga memutuskan untuk merawatnya di rumah
sakit.
Karena hanya kami yang dia punya sebagai keluarganya, jadi gue bekerja sambil menjaga Ayu di
rumah sakit, bersama Galuh yang juga sedang sibuk wara-wiri menyiapkan berkas perkara yang
Ayu alami. Sementara Elang terbang menjemput Gunawan ke Bali. Dan dari Elanglah gue tahu
kalau menghilangnya Mas Den sejak dua hari ini ternyata juga pergi ke sana.
Elang mengomel karena ketika sampai dia sudah mendapati Mas Den di tempat tinggal Gunawan
dengan wajah yang babak belur, begitupula dengan Gunawan dia bahkan sudah terkapar di lantai
tak berdaya. Mas Den lebih dulu berangkat ke Bali menggunakan pesawat pribadi milik
keluarganya. Kalau tahu Mas Den pergi menggunakan pesawat pribadi, Elang tidak perlu repot-
repot memesan tiket komersial.
186
Travellove Ainidi
Gue menerima dokumen dan juga surat kuasa untuk Dhea yang akan menangani klien selama
gue merawat Ayu di rumah sakit.
“Gimana keadaan Mbak Ayu, Mbak?” tanya Dhea begitu kami menempati salah satu kursi di
ruang tunggu rumah sakit.
“Sudah membaik, harusnya sih sore ini sudah boelh pulang. Nggak ada yang tahu dia di rumah
sakit kan?” Dhea menggeleng dengan wajah yang masam.
Selain kami berempat hanya Dhea yang tahu kalau Ayu sedang di rawat di rumah sakit, itupun
gue nggak memberitahu apa penyebab Ayu masuk rumah sakit. Galuh meminta kami semua
untuk menutup rapat keberadaan Ayu, menurutnya dengan begitu setidaknya nggak hanya luka
lebam yang bisa kami obati tapi, juga mentalnya yang masih sangat terguncang.
Dia juga meminta gue untuk tinggal di rumah Ayu sementara waktu, harus ada yang menemani
dan menjaganya selama menjalani kehamilan. Yang tentu saja di tolak mentah-mentah oleh Ayu,
gue dan dia sempat saling berteriak di rumah sakit. Dan baru berhenti saat pihak rumah sakit
datang menegur kami dengan gue keluar sebagai pemenang.
Imbasnya dia mengabaikan gue sepanjang hari.
“Mungkin gue akan terus work from home sampai beberapa minggu ke depan ya Dhe, terus
jadwal keberangkatan tim vlog traveling tolong di undur. Sampai nanti ada keputusan lebih lanjut
lagi ya? Nanti gue kirim email ke Raya soal perubahan jadwal tayang.” Gue menatap Dhea yang
hanya mendengarkan gue dengan tatapan kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Mbak, maaf kalau Dhea lancang. Tapi, apa sakitnya Mbak Ayu ada hubunganya dengan
Gunawan yang mengundurkan diri?” tanyanya hati-hati.
Ge menghela nafas sambil menyandarkan punggung pada kursi,
“kok bisa kamu menyimpulkan begitu, memangnya Gunawan resign?” gue bertanya balik pura-
pura dungu.
187
Travellove Ainidi
Dhea berdecak sebelum ikut menyenderkan punggungnya pada kursi,
“dari anak HRD, mereka bilang kalau Gunawan mengajukan pengunduran diri dengan tidak sopan
dan sangat kasar. Dia lagi jadi hot topic di kantor.”
Gue diam nggak tahu harus merespon apa, yang gue khawatirkan kalau Dhea akan lanjut
menjelaskan kalau Ayu juga jadi bagian dari hot topic di kantor. Gue melirik jari telunjuk Dhea
yang sedang menggaruk-garukan lututnya dengan gelisah.
Gue hafal sikap Dhea yang satu itu, dia sering begitu kalau sedang marah karena menghadapi
klien yang menjengkelkan. Tapi, tak bisa melawan karena dia hanya seorang karyawan.
“Ada apa Dhe?” tanya gue sambil menangkap tangannya yang nggak bisa diam.
“Sebenarya Dhea udah lama mau ngomong ini ke Mbak Mala. Tapi, nggak berani karena sudah
lebih dulu di ancam oleh Gunawan,”
“Dhea pernah mergokin Gunawan menarik paksa Mbak Ayu masuk ke dalam ruangan editing dua
yang jarang dipakai,” Dhea mengaduh karena karena gue meremas tangannya sedikit kencang
saat mendengar nama si bajingan disebut.
“Sorry,” kata gue melepaskan tangannya.
“Karena Mbak Ayu menangisnya nggak wajar, dan Gunawan menariknya dengan kasar jadi Dhea
ikuti mereka.” Dhea diam sejenak dengan menelan ludah dengan susah payah.
“Dan melihat Gunawan sedang mendorong Mbak Ayu ke dinding, dan sebelah tangannya
menampar wajahnya berkali-kali.”
Gue diam menunggu Dhea mengeluarkan ponsel dan terus menggerakan jarinya pada layar
ponsel seperti sedang mencari sesuatu. Pandangan gue mengabur saat dia menunjukan rekaman
yang dia maksud pada ponselnya.
188
Travellove Ainidi
“Aku juga sempat mendengar Gunawan marah karena nggak di beri jatah Mbak Ayu, Mbak,”
tambah Dhea dengan suara berbisik.
25
Kura-Kura Mangga
Elang datang bertepatan dengan box terakhir turun dari mobil pengangkut barang yang gue
sewa, gue resmi pindah ke rumah Ayu. Sewaktu gue bilang mau mengambil beberapa barang dari
kosan, dia sendiri yang menyuruh gue untuk membawa semua isi kamar dan meminta gue untuk
pindah sepenuhnya.
“Telat banget datangnya, sengaja ya? Biar nggak di suruh angkut-angkut barang?” tanya gue pada
Elang yang sedang menenteng bungkus makanan di tangan.
Dia tertawa, “iya dong, takut debu.” Gue mendelik tak suka mendengar jawabanya, walau gue
tahu itu hanya gurauan.
Dia menyerahkan bungkusan dari tangannya dan beralih mengangkat dus yang mau gue angkat
dari teras ke kamar. Gue mengekorinya dari belakang, dan bersandar pada kusen pintu sambil
tersenyum melihat interaksi antara Elang dan Ayu.
“Ih! Pulang sana, udah nggak adalagi barang yang mau diangkut.” Walau nggak kembali
sepenuhnya, keadaa Ayu kini perlahan membaik. Meski terkadang gue mendapati dia menangis
sesenggukan di tengah malam.
189
Travellove Ainidi
Sewaktu dia di rawat di rumah sakit dua minggu lalu, dokter menyampaikan bahwa usia
kehamilan Ayu sudah memasuki minggu ke enam, usia yang sangat rawan terlebih kandungannya
sangat lemah karena kurangnya asupan pada sang Ibu. Gue bersyukur Mas Den nggak pernah
sekalipun absen datang kerumah Ayu, nggak hanya Mas Den sih tapi, kita semua. Gue curiga
kantor Kelana pindah lokasi.
Gue membawa bungkusan yang Elang bawa ke belakang untuk di siapkan, ada hikmah dari setiap
peristiwa. Salah satunya seperti sekarang, kami jadi hampir setiap hari makan malam bersama di
rumah Ayu. Sebenarnya nggak hanya malam sih, kadang malam kadang siang. Sesempatnya
mereka aja.
“hai.” Gue sedikit terkejut saat merasakan tangan Elang melingkar di perut gue, dia meletakan
dagunya di kepala gue sebelum meninggalkan kecupan ringan pada leher gue yang sedikit
berkeringat.
“hai, aku keringetan, belum mandi pasti bau kecut.” Bukannya melepas pelukan dia malah
semakin mengeratkanya dan kembali meninggalkan kecupan-kecupan ringan pada tengkuk
sampai gue kegelian, dan berusaha melepaskan diri namun sulit karena pelukan Elang semakin
mengerat. Suasana romantis ini berubah menjadi acara gelut antara gue dan Elang.
Dia baru melepaskan pelukannya saat gue berhasil menarik salah satu tangannya dan
mengigitnya sedikit kencang. Yang tentu saja dia balas dengan gigitan di tempat yang sama, dia
lantas membantu gue menyiapkan makan malam untuk kami berlima. Kami hanya tinggal
menunggu Galuh yang katanya sudah hampir sampai.
“Aku juga ada bawa mangga pesanan Ayu sayang, tapi ketinggalan di mobil. Mau tolong ambilin
nggak? Aku mules,” pinta Elang sambil menyerahkan kunci mobil.
Gue berbalik dan meninggalkan meja makan yang terletak di dapur mungil Ayu untuk mengambil
mangga yang dimaksud Elang. Tapi, langkah gue terhenti saat tak sengaja mencuri dengar
190
Travellove Ainidi
percakapan Ayu dan Mas Den yang sedari tadi sibuk mengeluarkan barang-barang gue dari
kardus di dalam kamar yang akan gue tempati.
“Justru gue mampu membesarkan anak ini karena besarnya rasa cinta gue buat lu Ay,” gue sontak
menutup mulut agar tak mengeluarkan suara karena terkejut.
“Apa masih bisa lo bawa gue bertemu keluarga lo? Gue yang sudah sekotor ini nggak mungkin
pantas jadi bagian dari kalian.” gue jadi teringat panggilan telepon yang masuk waktu lalu saat
Mas Den makan siang bersama di ruangan gue.
I&U itu maksudnya Ayu?
“mau sampai kapan lo terus lari dari gue? Apa lo masih nggak sadar juga kalau yang sedang terjadi
dengan lo sekarang ini karena lo terlalu sibuk lari, sampai mengabaikan peringata gue soal
keselamatan lo?” gue menoleh saat merasakan sebuah tangan menarik gue menjauh dari dindng
kamar.
Elang menarik kursi dan menyuruh gue duduk dengan diam, dia berjalan kembali ke dapur
membawa piring-piring yang berisi makanan yang kami siapkan tadi. Gue kembali bangkit dan
menghampiri Elang untuk membantunya menyiapkan sisa piring dan peralatan makan di atas
meja makan.
“Kamu udah tahu soal mereka?” tanya gue pelan saat dia kembali ke dapur untuk membantu
gue.
“Dari awal kita kuliah, sama seperti aku ke kamu,” jawab Elang ringan.
Gue hanya terdiam menatap punggungnya yang semakin menjauh, saking terkejutnya dengan
pernyataan Elang barusan. Bukan soal kami tapi, soal Mas Den dan juga Ayu. Kenapa gue nggak
tahu sama sekali soal ini? sial ternyata persahabat antara laki-laki dan perempuan itu beneran
bullshit ya?
191
Travellove Ainidi
Elang kembali muncul dengan kotak beirsi buah mangga yang gagal gue ambil tadi. kemarin
malam Ayu merengek pada gue untuk membelikannya buah mangga dan memotongnya pola
seperti cangkang kura-kura. Bukannya gue nggak bisa membuatkan pola itu, yang gue nggak bisa
adalah mencari buah mangga di tengah malam saat musim buah mangga belum tiba. sebagai
gantinya gue membuatkannya puding rasa mangga yang gue buat secara instan, dan dijual di
minimarket manapun.
Gue mengambil satu buah mangga saat Elang mulai mengupas satu persatu, dan mulai
memotong dengan pola cangkang kura-kura seperti yang Ayu minta. Rasa manis yang menyengat
langsung tersebar di dalam rongga mulut gue saat Elang menyuapkan satu potong mangga yang
sudah selesai dia kupas.
“mmmm.. manis banget, ini manis semua dong berarti?” tanya gue pada Elang yang sedang sibuk
mengunyah,
“yang aku dengar Ibu hamil itu sukanya mangga yang asam, si Ayu kok malah suka yang manis
gini ya?”
“kalau dia minta yang Asam, mau nyari di mana aku? ini aja kalau bukan ke toko buah yang besar
nggak mungkin aku dapat,” gue menggeleng saat dia mengangkat garpunya dan menawarkan
kembali mangga pada gue.
“terlalu manis, aku nggak suka,”
“masa sih?” dia maju selangkah dan mengecup bibir gue sebelum mengecap seperti baru saja
sedang mencicipi rasa pada sebuah makanan.
“tapi, bibir kamu rasanya lebih manis,”
“memang kamu pikir bibirku ini buah?” kataku heran,
“ya udah aku balikin lagi sini.” Belum sempat bibirnya hinggap di bibirku, suara pukulan pada
meja di belakang kami menginterupsi.
192
Travellove Ainidi
“Heh!”
“Heh!”
“Heh!”
“Mau berbuat mesum di rumah orang ya kalian? Minta dibungkus nih anak berdua.” Gue
mendorong tubuh Elang yang semakin ingin menggoda Galuh yang baru saja datang. Gue
mencoba memicingkan mata untuk menegaskan kembali kalau luka yang mengeluarkan sedikit
darah pada bibir Galuh yang pecah itu baru saja dia dapatkan.
“lo habis berantem sama siapa?” tanya gue dan mengangkat tangan gue menunjuk bibirnya.
Elang bergegas menuju kulkas untuk mengambil es batu dan membungkusnya dengan plastik
sebelum dia berikan pada Galuh.
“hari ini sidang putusan Gunawan,” kata Elang menjelaskan.
Terus hubungannya sama lukanya Galuh itu apa? Dia habis bertengkar dengan Gunawan dalam
persidangan? Memangnya boleh? Yang ada ini malah ikutan di adili.
“lo adu jotos sama Gunawan? Di pengadilan?” Galuh mengangguk dengan wajah yang meringis.
“Memangnya boleh? Sejak kapan seorang Galuh berpikir menggunakan otot? Kemana perginya
si otak itu?” dia berdecak keras, mungkin karena sebal melihat gue yang mengomel sambil
bertolak pinggang seperti emak-emak kehabisan garam.
“Si brengsek itu ngomong yang bukan-bukan soal Ayu waktu dia jalan melewati gue saat mau di
bawa ke dalam tahanan, emosi gue kesulut dan melayangkan tinju ke wajahnya, luka ini gue
dapat dari mantan dosen gue yang lagi bertugas jadi hakim persidangan bukan dari Gunawan
yang nggak sanggup lagi bangkit dari satu kali tinju yang gue layangkan.” Dari cara dia menopang
kepala dengan kedua tangannya gue tahu dia sedang terkena masalah akibat ulahnya.
193
Travellove Ainidi
“Memangnya dia ngomong apa sampai lo lupa menahan diri?” tanya Elang yang kini duduk di
samping Galuh.
“Dia bilang gue nggak pantas membela perempuan yang gemar menjual selangkangan demi
uang.”
Suara pintu yang berdebam mengagetkan kami. Mas Den berdiri terdiam di depan pintu kamar
yang baru saja dia tutup dengan kencang. Dia dengar juga? Gue menarik nafas demi
melonggarkan dada gue yang semakin terasa sesak, manusia bajingan. Kalau gue jadi Galuh, gue
mungkin nggak hanya menghajarnya tapi juga merobek mulutnya saat itu juga.
Nggak lama Ayu muncul dari balik pintu,
“boleh geser sedikit nggak sih Mas? Badan lo ngalangin jalan.”
Dia meninggalkan pukulan yang terdengar nyaring pada lengan Mas Den demi menggeser
badannya. Dia berjalan sambil berteriak girang saat melihat piring berisi irisan mangga yang dia
idam-idamkan sejak kemarin. Menilik dari sikapnya sekarang gue menduga kalau Ayu belum
sempat mendengar apa yang baru saja Galuh katakan.
***
“Aku sudah di parkiran sayang,” kata Elang dari seberang telepon.
Elang bersikeras menjemput gue dari pertemuan dengan beberapa talent yang akan
menggantikan kami pada program vlog traveling.
Ayu resmi di rumahkan sampai dia melahirkan bayinya, Mas Den resmi memindahkan ruangan
editing ke rumah Ayu dan hampir saja jadi penghuni lain di sana kalau Ayu nggak berteriak setiap
malam untuk mengusirnya pulang.
194
Travellove Ainidi
Gue kembali berkutat dengan segudang pekerjaan gue, bersama Elang yang berubah menjadi
manusia paling posesif yang sangat meresahkan. Bukan hanya merasahkan tapi juga
menyebalkan, dia selalu bersikeras menjemput gue setiap kali gue meeting di luar kantor. Dia
akan marah-marah sepanjang hari kalau gue nggak langsung membalas pesannya, nggak peduli
saat itu gue tengah melakukan presentasi.
Dia berubah menjadi cerewet bahkan sampai mengalahkan cereweetnya ibu, kalau gue mulai
lupa dan sedikit mengabaikan jam makan. Dia mewajibkan gue memberinya kabar mengenai
aktivitas gue selama 24 jam, dia menuntut gue untuk memberinya panggilan sayang dari pada
memanggilnya dengan nama, dan keanehan-keanehan lainnya yang sangat meresahkan gue.
Menanggapi itu gue hanya bisa diam dan bersabar demi mengurangi dan menghindari terjadinya
pertengkaran. Walau rasa dongkol lebih sering mendominasi isi kepala gue, seperti sekarang.
Belum ada lima menit dia sampai di parkiran sudah membombardir gue dengan pertanyaan
apakah gue sudah keluar restaurant atau belum.
Gue sedikit berlari menghampiri mobil Elang yang terparkir sedikit jauh dari pintu enterance
restaurant.
“Hai sayang,” sapa gue begitu masuk ke dalam mobil.
Gue menghela nafas lelah saat tangannya menyambar safety belt dari tangan gue dan
memasangkannya, dia tersenyum sebelum mengecup kening gue dan kembali ke kursinya,
“akutuh bisa pakai sendiri loh, Lang,”
“Sayang,” jawab Elang mengoreksi.
“S.A.Y.A.N.G” kataku gue mulai jengkel.
Elang hanya terkekeh dan mulai menjalankan mobil keluar dari halaman parkir.
195
Travellove Ainidi
“Kita makan di Apart kamu aja boleh nggak sih? Aku capek banget hari ini, kalau makan di rumah
yang ada aku malah nggak bisa istirahat karena sibuk ngurusin bos-bos besar yang nggak biasa
cuci piring.” Dia menoleh sebenatar sebelum kembali fokus pada jalanan.
“nginep aja sekalian ya? Mau nggak? Besok berangkat dari sana aja.” Gue mengangguk setuju.
Semenjak Mas Den pindahin ruang editing, gue memang jadi sering menginap di tempatnya
Elang. Dan berakhir menaruh beberpa pasang baju kerja di sana demi memudahkan gue. Nggak
ada yang terjadi selama gue menginap, Elang mampu menepati janjinya untuk tidak mengulang
kesalahan yang sama sampai hubungan kami di sahkan oleh hukum dan Agama.
Sesampainya di Apartement, Elang dengan sigap menyiapkan makanan yang tadi sempat kami
beli untuk dimakan di Apartment. Sementara gue kembali membuka laptop untuk mengirimkan
beberapa dokumen kepada Dhea juga Hanum untuk kelengkapan kontrak dengan beberapa
pihak besok pagi.
Perhatian gue terlaihkan pada Elang yang sedang menopang dagunya memandang gue dari meja
makan. Karena nggak enak hati gue lantas mematikan laptop dan menghampiri dia.
“udah?” tanyanya
“udah, maaf ya itu harus di bawa sama anak-anak besok pagi,” kata gue mulai menyendoki
makanan yang sebelumnya telah di siapkan Elang.
“memangnya kamu nggak jadi berangkat pagi?” gue menggeleng dengan malas.
“Jumat besok kamu ada jadwal pertemuan penting nggak sayang?” tanya Elang tiba-tiba
“kenapa memang? Nggak ada sih kalau nggak salah ingat,”
“mau ngajak kamu pulang ke Yogyakarta, kamu sudah sebulan belum pulang kan?” oh.
“sama kamu?” tanya gue,
196
Travellove Ainidi
“kalau boleh, lagian aku kok merasa ada yang salah setiap kali lihat cincin di jari manis kamu.”
Kedua alis gue menyatu, bingung dengan maksud Elang,
“aku belum minta ijin sama ibu dengan benar untuk mengajak anakanya menikah.”
Urusan menikah bukanlah perkara mudah, terlebih hubungan gue dan Elang masih kalah dengan
usia jagung yang baru tumbuh. Tapi, gue juga nggak bisa menguji kesabaran Elang terus menerus,
dia pasti sadar kalau selama ini gue selalu berusaha mengalihkan topik ini.
Terlalu banyak urusan yang harus gue selesaikan lebih dulu, urusan bersama ibu, urusan si
kembar, masalah Ayu, masalah kantor, and many more. Gue nggak mau merasakan kebahagian
ini seorang diri, gue juga ingin orang-orang yang gue sayang turut merasakan kebahagiaan yang
gue rasakan. Dan itu akan sulit didapat kalau masalah yang mereka hadapi sedang tidak mudah,
Sementara Elang seperti sangat tidak ingin menunda lebih lama lagi.
“hei,” suara Elang mengembalikan gue dari lamunan.
“kenapa?” tanya Elang sekali lagi.
Gue menggeleng dengan memberinya senyuman semanis yang gue punya.
“biar aku yang cuci piring ya?” dia terkekeh dan memberikan remasan pada tangan gue sebelum
melepaskannya.
“Piringmu aja masih penuh gitu, padahal tadi kamu yang minta makan nasi goreng gila.” Elang
kembali menyendokan makanan ke dalam mulutnya.
“kamu itu selalalu begitu everytime I came up with this topic.” Gue meringis kecut,
“bukan begitu,” jawab gue membela,
“memang begitu. Kamu itu selalu kebakaran jenggot kalau aku udah mulai bahas-bahas soal
pernikahan.” Elang meletakan sendokan di atas piring dan menyandarkan punggungnya ke kursi
dengan tatapan tajam miliknya.
197
Travellove Ainidi
“kamu itu sebenarnya anggap hubungan kita itu apa sih?”
“minta restu hari ini bukan berarti menikah besok pagi Malaka, aku mau minta ijin sama ibu
karena memang begitu seharusnya kan? Itu jaminan yang bisa aku kasih ke kamu, sejauh mana
keseriusan aku menjalani hubungan kita.” Elang melipat kedua tangannya ke dada.
“Sekarang apa boleh aku minta jaminan dari kamu? sejauh mana kamu serius menjalani
hubungan ini sama aku?”
What??
26
Erupsi
Jumat malam gue pulang ke rumah setelah seharian meeting di luar kantor bersama Dhea, dan
mendapati Mas Den juga Ayu sedang duduk dengan wajah yang sangat serius pada sofa di ruang
tengah. Saking seriusnya mungkin mereka sampai nggak sadar kalau gue berdiri di ambang pintu.
Ada banyak scenario yang berputar di kepala gue sekarang. Tapi, baiknya gue mengambil langkah
mundur dan berbalik meninggalkan mereka kembali melanjutkan urusan mereka.
Gue kembali melajukan mobil keluar dari perkarangan rumah, nggak tahu mau menghabiskan
malam di mana. Yang jelas menginap di apartment Elang bukanlah sebuah pilihan. Elang kembali
menjadi menyebalkan. Sejak makan malam di tempatnya kemarin dia kembali mengabaikan gue.
Bahkan ketika gue berpamitan pulang dari tempatnya dia hanya mengangguk, dan bertanya
apakah gue sudah mendapatkan taksi online atau belum. Seperti memberitahu gue kalau dia
nggak berminat mengantar gue pulang. Nggak ada ajakan makan siang bareng, nggak ada
pertanyaan di mana dia harus menjemput gue saat selesai bekerja. Dia bahkan mengabaikan
pesan gue.
198
Travellove Ainidi
Ini benar-benar menyebalkan, dia selalu berasumsi sendiri, menyimpulkan sendiri tanpa lebih
dulu bertanya pada gue. Saat dia bertanya soal jaminan yang dia minta, belum sempat gue jawab
dia sudah lebih dulu bangkit dari meja makan, berpamitan ke bawah untuk mencari udara
sebentar. Dan nggak kembali sampai gue ketiduran.
Karena kesal terus diabaikan gue membalasnya dengan ikut mendiamkan dia. Terserah, mau
sampai akan dia akan terus bersikap kekanakan seperti ini?
Gue membawa mobil gue kembali ke kantor, mungkin gue akan menginap di kantor saja mala
mini. Halaman parkir masih ramai dengan kendaraan karyawan lain. Mungkin mereka juga akan
menghabiskan malam di kantor.
Gue mendapati Raya sedang duduk menopang dagu dengan mata yang terpejam saat gue
membuka pintu ruangan divisi gue. Ini anak lembur sendirian? Dia berteriak kaget melihat gue
berjongkok di depan wajahnya sama-sama menopang dagu.
“Astaga Bu Mala! Saya kira hantu loh. Hampir saya pukul pakai laptop saya.” Gue hanya tertawa
melihat mengelus dada dengan napas yang sedikit terengah-engah.
“habis gemas saya.” Gue bergeser dan meletakan tas sebelum mengeluarkan pouch bag untuk
membersihkan riasan wajah gue.
“Ibu kok balik ke kantor lagi?” tanya Raya dengan kesadaran penuh.
“Mau nemenin kamu lembur dong, pesen makanan gih Ya, apa aja nanti saya yang bayar. Saya
mau ke toilet sebentar.”
Dengan wajah sumringah dia mengiyakan permintaan gue dan mulai menggulirkan jarinya pada
layar ponsel. Setelah kembali dengan wajah yang bersih dari riasan, gue mulai membuka laptop
dan fokus untuk membantu Raya menyelesaikan beberapa iklan yang akan disisipkan di beberapa
konten yang sudah di produksi.
199
Travellove Ainidi
Tim Kamilah yang akan bertugas membuat Script untuk footage iklan pada masing-masing
konten. Setiap konten yang di produksi memiliki sponsorship masing-masing. Biasanya pihak
sponsor memilih pada konten mana produknya akan di iklankan. Jadi, gue bersama tim yang akan
memisahkan iklan untuk tiap konten agar tidak berkesinambungan satu sama lain sesuai dengan
isi kontrak yang sudah ditanda tangani kedua belah pihak.
Raya kembali dengan sebuah kotak Pizza juga dua gelas kopi yang akan menemani kerja kami
malam ini, menerima kopi dan mengabiakan tatapan penuh pertanyaaan milik Raya. Gue yakin
sih dia masih heran kenapa gue kembali ke kantor untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan
pada Hari Jumat malam yang sama sekali nggak pernah gue lakukan.
Hampir semua staff gue tahu kalau Jumat malam adalah jadwal gue bersama teman-teman dan
tidak boleh di ganggu sama sekali dengan pekerjaan. Tapi, sekarang gue malah datang dengan
suka rela.
“Ya, untuk iklan mie instan ini dia harus ada di setiap konten kecuali ‘Makan Bank’ kan?” gue
bertanya diantara suapan pizza milik gue.
“Tapi bisa nggak sih untuk setiap konten scriptnya di bedain? Jangan semua sama gini.” Raya
kembali menatap layar laptopnya dan menelaah dengan seksama.
“Bukannya Mbak Mala kemarin yang bilang samain aja biar gampang?” gue mengangkat kening
gue tinggi.
“Bedain sedikit jangan sama persis kayak gini neng, kalau kayak gini nanti pihak klien mikirnya
kita malas lagi,” walaupun memang kadan ada benarnya juga sih.
“kamu lagi kerjain apa sekarang?” tanya gue saat melihatnya hanya diam kebingungan.
“Iklan kopi buat konten ‘Jejak Safari’ yang mau produksi dua hari lagi,”
“itu saya aja yang ngerjain deh, kamu kerjain iklan mie instan dulu ya?” Raya mengangguk setuju
dan kami mulai tenggelam dengan pekerjaan masing-masing.
200