|He is Perfect| | 1 | "Bagaimana dengan lagu yang kutulis?" "Hm, lumayan juga penulisan liriknya." Dia sedang memeriksa garapan lagu dari seumuran dengannya. "Wah gomapta, Joon-ie. Aku ingin beberapa liriknya ditulis dengan bahasa Inggris, bisakah kau membantuku?" Jungkook mengeluarkan puppy eyes nya. "Apa yang tidak untukmu, Kookie." Namjoon tersenyum dan menampilkan dimple manisnya. "Jadi tambah sayang kalo gini." Jungkook memeluknya sebentar lalu pergi begitu saja dari Lab Genius milik Namjoon. "Hah, dasar kelinci bongsor ada mau nya ternyata. Tapi tak apalah yang penting aku dapat aksesoris Louis Vuitton." Namjoon menggelengkan kepalanya sebentar lalu cekikikan. -He is Perfect- "Namjoon." Panggil seseorang. 1
|He is Perfect| "Nde waeyo, Hyung-ie?" Baru saja Namjoon keluar dari toilet. "Follow me." Lalu meninggalkan Namjoon dibelakangnya. Namjoon merasa cringe dengan Hyung nya yang satu itu. Begitulah jika es diberi nyawa dan ditambah lagi dengan sikapnya yang sulit ditebak. Mungkin ada suatu hal yang harus dibicarakan, pasti penting. Yoongi berhenti di lorong yang begitu sepi, disana terdapat jendela lebar yang langsung menghadap menara Namsan yang terlihat kecil dari kejauhan dan juga hiruk pikuk kota Seoul. "Kim Namjoon, dengarkan aku baik-baik aku tidak mau ada pengulangan kembali atas ucapan ku nanti." Tegas Yoongi. "Uh, o-oke. Algessseupnida Hyung-nim." Entah kenapa Namjoon berbicara dengan formal sekarang. 'Deg-deg' 2
|He is Perfect| Detak jantung Yoongi berpacu dengan cepat. Apalagi saat melihat wajah imut Namjoon saat berbicara formal tadi. "Ekhem, Kim Namjoon saranghaeyo." "Hah.." Mulut Namjoon melongo dengan lebar, matanya berkedip-kedip dengan lucu. 'mwo-mworago, Yoongi Hyung-ie mencintai ku?! What the hell.' Batin Namjoon bergejolak, dia langsung menutup mulutnya saat mendengar instruksi dari seseorang. "Ige mwoya?!" CEO KStar Entertainment yang tak sengaja melihat adegan itu sedang murka. "Apa anda sadar dengan ucapan anda katakan kepada anak saya?" "Jeosong habnida Sajangnim, tapi saya memang menyukai ah ani mencintai anak Sajangnim. Maaf jika saya lancang, saya ingin melamar Kim Namjoon sekarang." Dengan lancar dan tegas ucapan itu terlontar dari mulut Yoongi. "Mwoya?" Gumam Namjoon tak terpecaya jika Yoongi akan melamar sekarang ini juga. Memang Yoongi sangat perhatian sejak awal Namjoon bergabung dengan agensi milik abeoji nya, tapi tidak terlihat secara langsung. 3
|He is Perfect| Namun dia dapat merasakannya ketulusan itu. Dia tak tahu jika Yoongi mencintai dirinya. "Mianhada Yoongi-ssi, Namjoon sudah saya jodohkan dengan seseorang." "Mworago abeoji, kenapa aku dijodohkan?! Aku bisa mencari pasangan hidup ku sendiri, aku bukan anak kecil lagi, abeoji!" Namjoon terkejut dengan ucapan dari abeoji nya sendiri, dia tak terima dengan ucapan itu. "Namjoon jaga sikapmu, abeoji tak terima dengan penolakan. Besok lusa persiapkan dirimu untuk pertunangan dengan anak sahabat abeoji nanti." CEO KStar Entertainment itu langsung meninggalkan kedua nya dengan keadaan terkejut. "Ck, abeoji pokoknya aku tidak mau!!" Teriak Namjoon tetapi tidak diindahkan oleh abeoji nya. Namjoon berlari kearah studionya dengan keadaan marah, Yoongi hanya menatap punggung tegap itu berlalu. Perasaannya berkecamuk hebat, bagaimana tidak? Orang yang dia cintai sudah dijodohkan dengan seseorang. "Hah kenapa ini terjadi, seharusnya sejak dulu aku menyatakan perasaan ini." -He is perfect4
|He is Perfect| "Kenapa harus aku yang dijodohkan. Hello ini abad 21 bukan jaman peradaban, masih ada ya perjodohan aku tak habis pikir." Saat Namjoon keluar dari ruangan nya sambil menenteng tas nya, Jungkook datang menghampiri nya. "Joon, kau mau kemana?" "Aku mau keluar menenangkan diri." Jawab Namjoon sekenanya. "Lalu apa kau akan melewatkan kelas matkul hari ini? Hari ini ada kuis dari dosen Lee." "Ani, nanti aku datang mungkin agak terlambat." Namjoon melewati Jungkook dengan tergesa-gesa saat melihat Yoongi. Dia merasa tak enak, tebal mukanya karena abeoji nya. "Yak, Aku ke kampus dengan siapa? Hari ini aku ingin berangkat bersama mu, Joon." "Mollayo." -He is Perfect5
|He is Perfect| Namjoon mengendarai mobil nya tak tentu arah. Dipikirannya masih terngiang-ngiang ucapan abeoji nya beberapa menit yang lalu. Namjoon mengusak rambutnya dengan kasar lalu mendecih. "God help me." Mobilnya membawanya ke sebuah pantai yang masih terjaga dan sunyi dari orang-orang. Pemandangan nya sangat indah. Namjoon keluar dari mobilnya lalu menendang-nendang pasir pantai dengan brutal. "Uhuk-uhuk, shit kesal sekali aku!" Namjoon duduk berlutut. Liquid nya mengalir indah di pipinya. "Yak, apa kau ingin disangka sebagai orang gila?" Ucap seseorang. Namjoon langsung mengelap air matanya dengan kasar lalu menoleh kesamping. Dia melihat seseorang yang menatap tajam dirinya sambil berkacak pinggang. "Apa masalahmu?! urusi saja hidupmu sendiri." Sarkas Namjoon. "Lihat dirimu yang berantakan dan berteriak-teriak seperti orang gila saja. Bagaimana jika mereka mengira produser lagu ternama dan termuda ini sudah gila?" 6
|He is Perfect| "Ah-eh, kau tau identitas ku?" Namjoon mendekati orang itu lalu menatap penuh selidik. "Ka-kau bu-bukannya Kim Seokjin?! Aktor sekaligus penyanyi soloist itu?!" Orang itu menyibak rambutnya sambil tersenyum sombong. "Ah~ seterkenal itukah diriku." Namjoon mengernyitkan dahinya. "Ck, sombong sekali." "Yak, Aku lebih tua darimu jaga ucapanmu. Panggil aku Seokjin-ssi." Seokjin menatap tajam Namjoon. "Kudengar dari beberapa artikel, kau itu termasuk salah satu dari orang terpintar se-Korea Selatan ini dengan IQ diatas rata-rata. Kenapa yang kulihat justru sebaliknya, mana ada orang yang tidak tahu identitas mu jika kau masih mengenakan ID Agensimu?" Namjoon mematung setelah mendengar ucapan skakmat dari Seokjin. Namjoon melepas ID nya dan membantingnya ke tanah, seketika teringat kembali ucapan abeoji nya. "Ada apa denganmu, apa kau sudah gila eoh." Namjoon memungut lagi ID nya dan mendecih. "Ck, aku masih waras. Aku hanya sedang kesal saja." 7
|He is Perfect| "Seokjin-ssi!!" Teriak seseorang dari kejauhan "Hah? Waeyo Jimin-ie?" Seokjin pun ikut berteriak saat menyahut panggilan dari manager nya. "Yak, Seokjin-ssi kau itu kemana saja sutradara mencari mu untuk membicarakan adegan selanjutnya." "Mianhada, aku tak sengaja bertemu orang gila jadi-jadian ini." Seokjin merubah wajah nya menjadi sedih dan sok perhatian. Namjoon menatap wajah Seokjin dengan jijik. "Seenak jidat mu mengatakan aku orang gila jadi-jadian." "Kim Namjoon, ne?" Tanya Jimin, dia seperti tak asing dengan pemilik suara itu. "Nde~ oh Park Jimin sunbae-nim uri manikka." Namjoon tersenyum manis saat mengingat Jimin adalah Sunbae nya di High school. "Wah, sekarang kau tumbuh setinggi ini dan semakin terkenal saja. Bahkan tinggiku kalah dari tinggimu, padahal semasa high school kau terlihat pendek dan imut." Ucap Jimin sambil terkekeh. 8
|He is Perfect| "Ey sunbae-nim jangan begitu, semua orang pasti berubah entah itu fisik ataupun sifatnya. Tapi aku tetaplah yang dulu hanya badanku yang berbeda." "Ne~ne~. Hm, kenapa kau disini apa kau tak bekerja di agensi?" Tanya Jimin penasaran. "Aku bekerja di agensi milik abeoji ku dipagi hari. Lalu siang atau sore hari aku akan pergi kuliah di Universitas Cyber Hanyang, sunbae-nim." Namjoon menjeda sesaat, dia mengambil nafas sejenak. "Aku kesini untuk menenangkan diri ku. Abeoji menjodohkan ku dengan anak sahabatnya. Kesal aku dengan abeoji, seenaknya menjodohkan ku dengan seseorang yang tidak ku kenal. Bagaimana kalau dia jahat?" "Perjodohan pada jaman sekarang masih ada ya. Hm, kau mempunyai gelar sabuk hitam di Taekwondo. Kenapa kau tak ajar saja kalau dia berbuat jahat." Jimin terkekeh dengan ucapannya tadi. "Betul juga sunbae-nim katakan. Oh ya, sunbae-nim besok lusa aku ada pertandingan final Taekwondo se-Korea Selatan. Bisakah kau menonton pertandingan final ku nanti." 9
|He is Perfect| "Kalau aku tak ada jadwal aku akan menonton pertandinganmu." Jimin mengelus rambut Namjoon. "Fighting ne." Namjoon hanya mengangguk semangat. 'drrt' Ponsel Namjoon bergetar dan menampilkan log panggilan 'Uri Kook-ie' calling. "Yeoboseyo, waeyo Kook-ie?" "..." "Hm." Namjoon melihat jam mahal yang melingkar di tangannya. "Arra, aku segera kesana." 'pip' "Sunbae-nim aku harus segera ke kampus, aku pamit dulu ne." Namjoon membungkukkan badan nya. "Nde hati-hatilah." Sahut Jimin. Setelah mobil Namjoon hilang dari pandangan, Seokjin menatap horor Jimin. 10
|He is Perfect| "Waeyo menatapku seperti itu?!" Sarkas Jimin. "Kau memberikan rekomendasi yang salah kepada Namjoon." "Hah rekomendasi yang salah, mworago?!" "Kau tau kalau aku yang akan dijodohkan dengan Namjoon lusa nanti. Dan seenak jidatmu menyuruhnya menghajar ku." Seokjin meninggalkan Jimin yang sedang menatap tak percaya kepadanya. Side story~ "Ck, sstt diamlah Hob-ie Hyung." Taehyung menutup mulut si tua setahun darinya dengan tangannya. "Yak kau menginjak kaki ku!" Berontak Hoseok lalu mengelus kaki nya yang hanya beralaskan sandal. "Mian aku tak sengaja, Hyung." Taehyung hanya mencengir saja. "Kenapa kalian berisik sekali, Hyung. Nanti ketauan." Jungkook sangat memperhatikan kejadian yang langka. "Hyung-deul, Yoongi Hyung menyatakan perasaannya pada Namjoon!" 11
|He is Perfect| "Kenapa Namjoon-ie diam saja?" "Entah Hyung mungkin dia belum siap, agak aneh menurut nya mungkin tiba-tiba si es bernyawa mengatakan ini." Sahut sembarangan oleh Taehyung. "Ey, ku adukan Yoongi Hyung baru tau rasa kau dengan beraninya menjelekkan nya dibelakang." Hoseok menyeringai. "Yak, adukan saja nanti aku kabur, Tenang saja. Aduh sstt." Taehyung memegang kepalanya yang habis di pukul Hoseok. "Dasar alien aneh, tak semudah itu kau kabur dari Yoongi Hyung. Yang ada kau dijadikan makanan holy kesayangan nya." "Eh, Namjoon mau kemana?!" Jungkook terkejut ketika Namjoon berlari. "Hah Namjoon kenapa Kook-ie?" Ucap mereka berbarengan. "Kalian berisik sekali jadinya tidak tau kejadian menegangkan tadi." Jungkook mempoutkan bibirnya. "Namjoon sudah dijodohkan kata Sajangnim tadi. Beliau menolak lamaran dari Yoongi Hyung." 12
|He is Perfect| "Mwo~ya~!" Teriak mereka berdua. "Aku akan menyusul Namjoon dulu." Jungkook berlari mengikuti Namjoon. 13
|He is Perfect| |2| Cyber Hanyang University Namjoon tiba di kampusnya. Dia berlari dengan cepat karena Jungkook bilang Dosen Lee sudah masuk ke kelas. Gedung jurusan Bisnis itu agak jauh dari parkiran dan belum lagi koridor nya sepi sekali. Itu menandakan mata kuliah sedang berlangsung. "Hah~ hah~ Bisa mati aku terlambat ikut kuis." Namjoon hampir sampai di kelasnya. Namjoon sampai di depan pintu kelasnya, perlahan demi perlahan dia membuka pintu itu. Ternyata penghuni disana sedang bermain dan ada yang tidur. "Joon!" "Ah, kamchagiya! Yak, katanya sudah mulai kuis nya." "Hehe, mian lagian kau kenapa sih tiba-tiba pergi dari agensi?" Jungkook mengekori Namjoon lalu duduk disebelahnya. 14
|He is Perfect| "Hm, anieyo." Wajah Namjoon berubah muram. Jungkook menyadari hal itu, pasti Namjoon masih sensitif dengan hal itu. Siapa yang tidak terkejut, tiba-tiba dijodohkan dengan sahabat CEO tersebut. 'sret' Jungkook menyodorkan kotak makan berisi bibimbap. "Makanlah, pasti kau lapar." "Eum, gomawo Kook-ie." Namjoon menyantapnya dengan lahap. "Kook-ie~" "Ne, waeyo?" "Sebenarnya aku dijodohkan dengan sahabat Abeoji." Jungkook berpura-pura terkejut dengan hal itu. "Jinjja?! Wah, masih ada tradisi perjodohan di jaman sekarang ya. Hm, lalu kau bagaimana?" "Mollayo~" Mata Namjoon berkaca-kaca dan bibirnya melengkung ke bawah. Jungkook merengkuh tubuh Namjoon, dielus-elus kepala Namjoon. "Joon-ie, sebenarnya aku tak tahu harus berkata apa. Jeongmal molla. Kupikir pasti ini demi kebahagiaan uri adeul Sajangnim." 15
|He is Perfect| "Geunde, bisa saja kan kalau berhubungan bisnis. Di jaman sekarang kan banyak yang bersaing Kook-ie." Namjoon menatap Jungkook dengan penuh air mata. "Percayalah kepada Sajangnim, Joon. Kalau dilihat-lihat Agensi milik Sajangnim sedang dimasa puncaknya, kau ingatkan banyak yang ingin membeli saham tapi Sajangnim menolaknya." "Ne, ara Kook-ie. Tapi kalo calonku nanti jahat bagaimana?" "Hehe~" Jungkook menyeringai. "Wae?!" Namjoon merasakan hawa berbeda dari Jungkook. "Aniyo Joon-ie. Aku berpikir kenapa kau tak menggunakan Taekwondo mu itu. Patahkan saja tulangnya biar kapok calonmu." Namjoon mengangguk setuju. "Boleh juga, hehe." -He is Perfect- 'Tap-tap' 'Dug' 'Srek' Namjoon dan Jungkook sedang berduel Taekwondo. Duel ini berjalan seimbang. Mereka berdua dijuluki Dua Harimau 16
|He is Perfect| Putih, karena terkenal dengan keganasannya saat bertanding dan juga selalu membawa mendali emas. Mereka berdua membungkukkan badan, tanda penghormatan karena telah bertanding atau berduel. "Hah, lelah juga. Kau masih kuat juga Kook-ie, padahal sudah lama kau tak terjun ke dunia Taekwondo." Namjoon mengambil botol air dingin dan menempelkan pada pipi Jungkook. "Aduh dingin." Jungkook mengelus pipi nya. "Pastinya si Hwanggeum Maknae tak terkalahkan dan serba bisa. Kau tau itu kan?" "Ne, nan arra." Namjoon mengusak gemas rambut Jungkook. "Hm, besok pertandingan final apakah aku bisa?" "Yak, yakinlah pada dirimu. Ini pertandingan terakhirmu, sebentar lagi kita sibuk dengan skripsi. Buatlah kesan yang indah untuk pertandingan final ini, dapatkan medali emas. Fighting." "Oke, fighting!!" -He is Perfect- Hari Final Taekwondo. Gedung olahraga itu sangat riuh akan sorakan. Dua peserta itu sedang memperebutkan medali emas olimpiade tersebut. 17
|He is Perfect| Namjoon sedari tadi hanya menangkis. Tak main-main tenaga lawannya ini. Bagaimana tidak lawannya itu memiliki tubuh yang lebih besar tadinya. 'Akkh' Namjoon terpelanting tetapi Dia segera menyeimbangkan tubuhnya. Dengan cepat Dia melangkah pada lawannya yang sedang lengah itu. 'Dug' 'Tak' Namjoon berhasil melimpahkan lawannya. Namjoon menahan tubuh lawannya dengan cara menduduki nya agar tak bisa bangkit lagi selagi wasit tersebut menghitung hingga selesai. "Pemenang medali emas, Kim Namjoon dari Cyber Hanyang University. Chukae!" Juri tersebut menyerahkan medali emas kepada Namjoon. Tak lama kemudian teman-temannya pun mengerubungi nya. "Joon-ah, chukaeyo!" Jungkook memeluk sahabatnya itu. "Gomawo, Kook-ah. Hah, tak kusangka Aku bisa memenangkan olimpiade ini." 18
|He is Perfect| "Kau terlalu pesimis, aish, ayo kita kebelakang. Membersihkan dirimu dan segera pulang." Jungkook menggiring tubuh tinggi tersebut. "Kenapa terburu-buru, Kita harus merayakan kemenangan ku di restoran Jepang." Namjoon mencoba menghentikan Jungkook yang terus mendorongnya. "Namjoon, apa Kau lupa bahwa kau akan dijodohkan dengan anak sahabat CEO malam ini." Kesal Jungkook. "Mworago? Eoh, Kau tau dari mana Aku dijodohkan?" Namjoon memperhatikan wajah Jungkook dalam jarak dekat. "Eo-eoh itu a-ano Aku tak sengaja menguntit saat Yoongi Hyung menyatakan cinta kepadamu lalu CEO datang dan mengatakan bahwa Kau dijodohkan dengan anak sahabat beliau." Jungkook menjauhkan wajahnya dari wajah berkeringat Namjoon. "Hm~ begitu ya." Namjoon menunduk lesu lantas meninggalkan Jungkook yang masih dengan wajah terkejutnya. "Yak eodiga? Kenapa Kau meninggalkan ku sendiri disini?" Jungkook pun menyusul Namjoon. "Katamu Aku harus membersihkan diri dan segera pulang." "Eoh, ne majjayo. Ya sudah cepat ya, kutunggu di parkiran." 19
|He is Perfect| Namjoon hanya mengangguk saja, lalu Jungkook segera keluar dari ruangan itu. Oh, ya pasti ada yang bertanya kenapa mereka berdua bisa sebebas gini? Jungkook memang Idol tapi Dia memakai penyamaran hingga tak ada yang mengenali. Dan untuk Namjoon hanya seorang Produser Lagu dan itupun tak ingin diketahui identitasnya. Hanya nama RM saja yang diketahui publik. Jadi Namjoon bebas saja mengepost foto di sosial media. 'Blam' "Kamjjagiya. Yah, Kau mengagetkan ku." Jungkook yang sedang asik berchatingan dengan Taehyung terkejut. "Mangkanya jangan main ponsel terus." "Apa-apaan ini? Kenapa tak memakai baju yang kau pakai tadi? Yak, Kau akan bertemu langsung dengan calon mertua mu." Jungkook terkejut saat Namjoon masih mengenakan seragam Taekwondo dan masih berkalung medali emas tadi. Hanya saja wajah dan rambut terlihat segar dan bersih. "Aish, shut up. Aku malas sekali lagi pula acara pertemuan ada di rumahku. Kamar mandi tadi penuh jadi aku hanya cuci muka dan keramas di wastafel." "Dasar koala pemalas." Gumam Jungkook dengan kesal. "Aku mendengar mu, kelinci rabies." Namjoon menyenderkan tubuhnya dan berpikir apa yang akan terjadi nanti. 20
|He is Perfect| "Yak!" -He is Perfect- "Kook-ah, Aku takut." Namjoon tak ingin keluar dari mobil Jungkook. "Yak, cepatlah keluar. Liat ada mobil asing di halaman rumah mu. Pasti itu calon mertua mu dan calon suami yang akan dijodohkan dengan mu." "Ah~ aniyo." Namjoon memeluk lengan Jungkook. "Tck, Namjoon perusahaan ada ditangan mu sekarang. Apa kau juga tak ingin membuat kedua orang tuamu bahagia melihat anaknya bersanding dengan calon yang telah dipilihkan?" "Heung, ingin." "Ya sudah cepat keluar sana, ingat semuanya berada ditangan mu." "Okey, hati-hati saat pulang ya?" "Ne." Namjoon pun turun dari mobil SUV Jungkook. Dengan langkah gontai Dia memasuki ke kediamannya. Dengan Tas 21
|He is Perfect| tersampir di lengan kanannya dan tangan kirinya memegang piagam. 'Kriet' "Namjoon pulang~" Ucap Namjoon dengan lesu. Tapi tak ada jawaban dari siapapun. Namjoon pun membuka pintu utama tersebut dengan lebar dan segera masuk. Kepalanya melongok ke arah kanan, dimana dapur berada. Terdapat banyak makanan tersaji. "Eoh, Namjoon calon menantu Mommy!" "Eh?" Namjoon pun menatap lurus kedepan tepat ruang tamu yang terdapat 3 orang dewasa disana. "Igo-igo Namjoon sayang." Perempuan paruh baya melambai kepadanya, menyuruhnya untuk menghampiri nya. "Annyeong haseyo, nyonya." Namjoon membungkuk 90°. "Tak usah terlalu formal, sini duduk sama Mommy." Perempuan paruh baya itu menarik Namjoon untuk duduk disampingnya. "Ige mwoya Mommy?" Tanya Namjoon, sebab Dia masih bingung. 22
|He is Perfect| "Namjoon, mulai sekarang panggil Mommy ya. Lalu didepan Mommy ada suami Mommy panggil saja Appa. Dan yang terakhir ada anak Mommy, Kim Seokjin." "Hah?" Namjoon pun melihat lelaki muda yang memandangnya dengan tajam. "Yak, ige mwoya?!" "KAU!" "KAU!" Namjoon dan Seokjin berteriak bersamaan. Saling menunjuk satu sama lain. "Oh wae Aku dijodohkan dengan lelaki menyebalkan itu?" Bibir Namjoon melengkung ke bawah. "Namjoon sayang jangan sedih, anak Mommy itu baik walaupun nakal. Yak, Seokjin sebenarnya kau apakan Namjoon hingga kalian saling meneriaki satu sama lain?!" "A-ani Mommy, Aku tak melakukan aneh-aneh. Dia saja yang aneh." Bela Seokjin. "Ya teruskan saja sifat menyebalkan mu itu, Seokjin-ah. Mommy sudah peringatkan buang sifat menyebalkan mu itu. Lihat menantu Mommy bersedih karena mu." Mommy Seokjin pun mengelus pundak Namjoon. "Oh ya, Namjoon habis latihan Taekwondo ya?" Appa Seokjin mencoba mengalihkan perhatian Namjoon. 23
|He is Perfect| "Eung anieyo, hari ini ada tanding final Taekwondo nasional." Jawab Namjoon dengan pelan. "Wah, pasti Namjoon-ie menang ya?" Mata Mommy berbinar-binar menanti jawaban dari Namjoon. "Ne, Namjoon mendapat medali emas." Namjoon mengangkat mendali emasnya beserta piagamnya. "Kim Namjoon Kau sudah pulang, sayang?" Eomma Namjoon turun dari lantai atas. "Eoh, eomma." "Yah, apa-apaan itu pakaian mu masih dengan seragam Taekwondo. Cepat ke kamar sebelum Abeoji pulang dan memarahimu." Eomma sangat khawatir jika Namjoon nanti dimarahi. "Ne eomma! Kalau begitu Saya pamit ke kamar dahulu." Namjoon membungkukkan tubuhnya lalu pergi keatas. "Hah~ dasar anak itu." "Hihihi, tak apalah lagipula Namjoon masih muda dan mahasiswa lagi." "Ne arraseo, tapi yang aku takutkan Abeoji Namjoon akan marah dan tak segan-segan memberi pelajaran kepada 24
|He is Perfect| Namjoon karena masih ikut Taekwondo. Sudah beberapa kali Namjoon mendapat hukuman dari Uri Abeoji nya." |3| Kim's House 19.30 KST 'Blam' "Huft, kenapa bertemu dengan Dia lagi? Dia kan aktor sombong yang kutemui waktu itu." Namjoon mendumel sambil meletakan tasnya dan medali emasnya beserta piagamnya. "Ah, sudahlah mandi saja dulu, kita jernihkan pikiran." 25
|He is Perfect| Namjoon pun mulai melepaskan pakaian Taekwondo nya serta lainnya. Lalu merendamkan dirinya di bathtub berisi sabun yang berwangi lembut. Vanila bercampur aroma maskulin. "Eoh, kok sudah berisi air dan sabun aroma kesukaan ku?" Namjoon baru menyadarinya. "Jangan-jangan pakaian ku juga telah disiapkan? Tck, memang benar-benar disiapkan perjodohan ini. Cih demi perusahaan pastinya." Namjoon mulai nyaman tiduran di bathtub, rasa lelah dan bebannya terangkat. Air hangat nya melemaskan otot tubuhnya yang kaku dan sakit selepas tanding final Taekwondo tadi. Sampai-sampai Namjoon tertidur hanya selama beberapa menit dikarenakan ada suara ketukan pintu. 'Tok-tok' "Tuan muda, apakah sudah selesai? Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu Tuan muda." "Tck." Decakan keras keluar dari bibir tipis nan merah Namjoon. "Ye, jakkamanyo." Namjoon keluar dari bathtub lantas pergi ke bilik berkaca bening, membilas dirinya dengan air hangat. Setelah selesai dengan mandinya Namjoon segera keluar dan melihat isi lemari nya dan ternyata tak ada satupun pakaian di lemarinya. Lantas kemanakah pakaiannya pergi? 26
|He is Perfect| "Oh God, Aku harus pakai apa jika tak ada pakaian sama sekali di lemari ku?" Namjoon melihat di sekeliling kamarnya dan di meja belajarnya terdapat suit satu setel. "Apakah ini yang akan kupakai? Hah, ya sudahlah aku pakai saja." -He is Perfect- "Oh hihihi begitu kah? Bagus jika seperti itu." "Mau bagaimana lagi Seokjin itu anaknya susah sekali dibilangin. Semoga saja kalau dengan Namjoon bisa nurut hihi." "Eomma?" Kedua wanita itu menoleh kearah Namjoon yang sudah berbalut dengan suit yang manis.  "Ommo! Manisnya Namjoon.. Kalau begitu kita langsung ke gereja saja, Nami. Lihat uri adeul neomu neomu kiyowo!" Mommy Seokjin sangat gemas dengan penampilan Namjoon. 'ew.. Aku manis heol aku tampan! Apa tak lihat tatanan rambut ku yang ku perlihatkan dahiku sendiri?' Batin Namjoon. "Ya, Jina. Uri adeul juga tampan loh, Aku juga ingin hari ini kita langsung laksanakan pernikahan bagi mereka berdua. 27
|He is Perfect| Sayang sekali kalau ini dilewatkan." Eomma Namjoon juga sama gemasnya. "Mommy, kita tak akan ke gereja kan? Mommy lupa ya kalau Aku tak boleh terikat hubungan apapun?" Seokjin sudah jengah dengan keadaan ini.  "Seokjin-ah apakah Kau tak bisa lihat Mommy senang sedikit begitu? Dasar anak kurang ajar, mentang-mentang jadi penyanyi dan aktor terkenal sudah seenaknya sendiri." "Namjoon-ie, sini duduk kita makan malam bersama." "Ne, eomma." Namjoon lantas berjalan kearah meja makan. Dan benar saja perjodohan ini memang sangat dipersiapkan pasti jauh-jauh hari. "Jangan deket." Seokjin berujar sinis. "Cih, dasar artis sombong. Kenapa Aku nge-fans padamu? Sekarang Aku tahu sifatmu yang asli, me-nye-bal-kan." Ejek Namjoon. Seokjin dan Namjoon duduk bersampingan, mereka berbicara dengan bisik-bisik. "Tck, bocah diamlah. Awas saja kau menyenggol karier ku." "Oh aku takut~" Ucap Namjoon main-main. "Yang ada Kau ku patah-patah kan dengan tangan ku ini." 28
|He is Perfect| 'Ctak!' Sumpit mahal yang dipegang Namjoon pun patah. Namjoon menyeringai melihat wajah Seokjin yang memucat. "Yak, kalian kenapa bisik-bisik? Nanti saja berduaannya, sekarang makan." Tegur Mommy Seokjin, heran melihat kedua anak Adam yang tengah asik dalam bisik-bisik. "Aigoo~ sudah beberapa sumpit yang kau patahkan, Kim Namjoon." Abeoji Namjoon geleng-geleng dengan kelakuan Namjoon. "Jeongmal mianhae, Saya hanya melemaskan otot-otot jari saja. Hehe." Namjoon pun mengambil sumpit baru. -He is Perfect- "Malam ini malam yang berbahagia. Demi ikrar perjanjian kami melaksanakan perjodohan antara Kim Namjoon dengan Kim Seokjin. Untuk kalian berdua majulah kehadapan Abeoji." Abeoji Namjoon membawa kotak beludru warna biru tua yang berisi cincin. "Abeoji, Namjoon masih kecil loh..." Namjoon pun memanyunkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca. "Namjoon, Kau tak bisa membatalkan pertunangan ini! Pertunangan ini adalah ikrar antara keluarga Kim Gwangsan dan Kim Gangneung sebagai perwujudan atas dasar persahabatan." Jelas Abeoji Namjoon. 29
|He is Perfect| "Tapi saya setuju dengan pendapat Namjoon. Saya tidak diperbolehkan memiliki hubungan sesuatu selama berkarier." Seokjin berucap dengan tegas. "Seokjin! Jangan permalukan klan Gwangsan cepat laksanakan pertunangan mu!" Tiba-tiba Appa Seokjin membentak. "Cepat ambil cincin itu dan kenakan." Perintah Abeoji Namjoon. Dengan rasa terpaksa Seokjin mengambil cincin perak yang terlibat mahal itu. Namjoon dengan tangan gemetaran menunjukkan jemarinya dihadapan Seokjin. Seokjin pun memasangkan cincin perak tersebut ke jemari manis Namjoon. Setelah itu Namjoon pun melakukan hal yang sama. Keempat orang dewasa itu bertepuk tangan karena pertunangan akhirnya telah dilaksanakan. "Dengan ini kalian menjadi pasangan tunangan. Jaga cincin itu, karena itu dari leluhur kita." Pesan Abeoji Namjoon. "Ne." Jawab mereka berdua dengan bersamaan. "Sekarang waktunya berfoto." Mommy Seokjin mengambil ponselnya dan mulai memotretnya. 30
|He is Perfect| "Seokjin-ah rangkul pinggang Namjoon dong. Masa kaku kayak gitu." Eomma Namjoon gemas dengan pasangan Kim tersebut. "Tck, jangan nempel-nempel ya!" Bisik Namjoon tepat ditelinga Seokjin. "Eoh, siapa yang mau nempel-nempel. Aku tidak suka ya asal kau tahu." "Nah begitu bagus." "Setelah ini Seokjin dan Namjoon pulang ya, sudah malam ini." Eomma Namjoon mengelus kepala Namjoon dengan lembut. "Oh, eomma rumah ku ada disini kenapa harus pulang lagi?" "Namjoon sayangnya Mommy, mulai saat ini hingga seterusnya kamu tinggal bersama Seokjin di apartemen yang kami sudah siapkan." "HAH APA?!" Mereka berteriak keras. "Wah-wah jangan berteriak ini sudah malam. Eomma tidak tuli." "Tapi Eomma kenapa harus tinggal dengan si sombong. Kami kan belum sah pasangan suami istri." Keluh Namjoon. "Betul itu, kami hanya bertunangan saja." 31
|He is Perfect| "Eit-eit, kalian akan tinggal bersama agar kalian bisa memahami sifat satu sama lain. Dengan begitu chemistry kalian akan terbentuk." Mommy yang menjelaskan. "Yasudah kami pulang kalau begitu. Terima kasih atas jamuan hari ini." Appa Seokjin pamit untuk pulang. "Gwenchanha, kami sungguh berterima kasih seharusnya." Abeoji Namjoon membungkuk dan dibalas oleh Appa Seokjin. "Seokjin-ah, ini kunci mobil baru mu. Gunakan dengan baik dan ingat hanya boleh ditumpangi oleh Namjoon saja." Appa Seokjin memberikan kunci mobil yang berupa remot tersebut kepada Seokjin. "Eomma bagaimana dengan mobil dan juga motor ku?" Namjoon mempunyai motor yang biasa digunakan balap motor. Sstt, diam ya kalian Namjoon itu suka balap motor sebenarnya. "Besok mobil akan diantarkan ke apartemen kalian. Untuk motor biar disini saja." Jelas eomma. "Ah.. Eomma kok mobil saja motor nya?" Namjoon memelas. "A-a-a.. Mau balapan lagi?" "Eoh, eomma sejak kapan Namjoon balapan motor?" Tanya kikuk Namjoon. 32
|He is Perfect| "Sudahlah kalian segera pulang, istirahat besok kalian akan beraktivitas lagi." Usir Eomma Namjoon. 33
|He is Perfect| |4| Sudah enam bulan ini Seokjin dan Namjoon tinggal bersama di apartemen Hannam Hills, apartemen yang sangat elite. Apartemen tersebut sangat aman dari para Sasaeng ataupun Paparazi. Bahkan media paling berbahaya, Dispacth belum mencium jejak hubungan dari Seokjin sang aktor sekaligus penyanyi solois terkenal dengan Namjoon sang Produser musik terkenal membuat lagu untuk para idol yang terkenal. Hubungan mereka belum ada perkembangan sama sekali. Saat di apartemen pun mereka hanya berbicara seperlunya saja. Untuk urusan memasak Namjoon hanya bisa memasak Bulgogi, Samgyeopsal, dan juga nasi goreng kimchi. Seokjin tak mempermasalahkan makanan yang mereka makan yang tiap hari hanya tiga menu itu saja. Yang penting enak dan tidak beracun. Tak jarang Seokjin yang memasak Dia tak ingin mati muda dengan darah tinggi akibat selalu dimasakan daging. Seokjin itu pintar masak, kadang Namjoon insecure karena tak bisa masak se-handal Seokjin. Hannam Hills apartemen 17.00 KST "Terima kasih atas makanannya." 34
|He is Perfect| Namjoon pun mencuci piring dan lainnya. Sedangkan Seokjin mengelap meja makan. Itupun mengalir secara alami sifat saling tolong menolong. "Hyung, Aku berangkat dulu." Pamit Namjoon dengan segera Ia memakai sepatu nya. "Namjoon-ah, hari ini biar Aku saja yang mengantar mu." Seokjin pun segera mengambil ponsel hitamnya dan juga mengambil kunci mobilnya. "Aniyo, Aku ingin berangkat sendiri. Hari ini aku pulang malam karena ada acara prom night untuk perayaan kelulusan kami sekampus." "Nah, maka dari itu Aku mengantarkan mu saja, yang ada kamu balapan motor." Ucap Seokjin dengan tegas. "Hu-huh. Nde, arraseo Hyung." Jawab Namjoon dengan lesu. Sebenarnya Dia merasa kesal, karena hari ini memang ada yang menantang dan taruhan nya 1 juta won. Ah, kalian pasti terkejut Namjoon memanggil Seokjin dengan sebutan Hyung. Itu terjadi setelah satu bulan mereka tinggal bersama, Seokjin yang menyuruhnya. Chyber Hanyang University 35
|He is Perfect| Mobil Maserati Ghibli itu memasuki halaman Chyber Hanyang University. Banyak pasang mata menoleh kearah mobil paling mewah tersebut. "Inilah yang kubenci ketika diantar Seokjin, tck." Gumam Namjoon namun masih terdengar ditelinga Seokjin. "Bersenang-senanglah dengan temanmu. Jangan lupa hubungi Aku ketika acara prom night selesai." Seokjin mengelus kasar rambut karena saking gregetan nya kepada Namjoon. "Tck, jangan diberantakin!" Namjoon pun keluar dari mobil mewah milik Seokjin. Tak lupa Ia membanting pintu mobil sebagai pelengkap amarahnya. "Huft, dasar aktor menyebalkan." Namjoon pun melangkahkan kakinya menuju ruang rektor karena ada sesuatu yang harus Dia ambil. -He is Perfect- Chyber Hanyang University 21.30 KST "Namjoon, hari ini jadikan?" Tanya Jackson sahabat karib Namjoon. "Ne, jadi mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk mendapatkan 1 Juta won." Namjoon dan Jackson berjalan kearah parkir motor khusus mahasiswa. 36
|He is Perfect| "Geunde, motor kesayangan mu dimana?" Jackson celingak-celinguk mencari motor hitam kesayangan Namjoon tersebut. "Eung~ Eo-eomma melarangku menggunakan motor itu. Ja-jadi rencana ku ingin meminjam motor mu saja. Bolehkan?" "Huh~ boleh lah aku kan sahabat mu." "Gomawo~" Balap motor itu akan diadakan di pinggiran kota Seoul. Jalanan luas yang sepi pantas sekali untuk tempat adu kecepatan mesin beroda dua tersebut. Kali ini yang mengadakan taruhan dari kubu mahasiswa paling nakal dan sering langganan skors. Dan kebetulan mereka satu kampus. "Joon-ah, igo-igo." Sehun melambaikan tangannya ketika melihat Namjoon mengendarai motor dengan membonceng Jackson. "Namjoon, dimana motor kesayangan mu?" Tanya Sungwoon karena Namjoon datang bersama Jackson mengendarai motor Jackson. "Eomma nya melarang Namjoon menggunakan motornya." Jawab Jackson dengan cepat. 37
|He is Perfect| "Oh~" "Aigu, kalian seperti paduan suara saja." Namjoon terkekeh melihat reaksi 2 sahabat lainnya. "Yasudah Kau segera bersiap-siap. Kenakan ini biar aman, kudengar mereka suka bermain curang." Sehun menyerahkan sarung tangan dan juga jaket kulit. "Ah, aniya. Aku pastikan tak akan jatuh dijalanan." Namjoon pun tancap gas menuju garis start. "Yah! Michyeoseo!" Teriak Sehun sambil mencak-mencak. "Kita doakan saja Namjoon selamat dan memenangkan balap kali ini." Ucap tenang Jackson. "Yak! Bagaimana bisa tenang berita itu sudah menyebar ke penjuru kampus kita. Lihat Namjoon hanya mengenakan kemeja lengan pendek. Bagaimana kalo tangan nya terluka." Sungwoon mengguncangkan bahu Jackson. "Yak-yak!" Jackson melepaskan dirinya dari Sungwoon. Namjoon melihat kearah lawannya dan ternyata itu adalah Eric Nam dari jurusan Teknik. "Oh, jadi lawan ku bocah kutu buku ya hm menarik." "Haha, lihat saja bocah kutu buku ini mengalahkan mu di arena ini." 38
|He is Perfect| Eric menggertakan giginya, menahan amarah mendengar ucapan Namjoon. Dia memikirkan cara untuk menyingkirkan Namjoon di arena balap nanti. "Set." "Dul." "Hana." "Go!" Namjoon berhasil mendahului Eric. Namjoon tergolong sangat hebat dalam urusan balapan meskipun Ia berada di posisi laki-laki carier. Pasti tahukan apa itu? Dengan lihai Namjoon melewati belokan tajam dan juga menghalangi Eric yang ingin menyalipnya. "Tck, Aku harus berhati-hati kali ini. Aku merasa Dia akan mencelakai ku."Namjoon menambah laju motor milik Jackson tersebut. "Hey, bocah." Eric telah berada disampingnya. Dan tiba-tiba saja Eric menyudutkan dirinya. "Mworago?!" "Kali ini Gue yang menang. Bye bocah kutu buku." Eric mulai mendekati Namjoon dan membuat Namjoon oleng untuk menghindari pohon didepannya. 39
|He is Perfect| 'Brak' Dengan sekuat tenaga Namjoon menendang motor Eric hingga terjatuh. Dan kini mereka sama-sama terjatuh. "Sshh, appo~" rengek Namjoon. "Fuck!" Pekik Eric. Dia terjatuh di tumpukan sampah. "Wlek~ bodo amat, annyeong Aku pergi dulu." Dengan tertatih-tatih Namjoon mulai menaiki motor itu dan melakukannya. Sedangkan di tempat finish yang juga tempat start tadi, teman-teman Namjoon sedang menanti. Biasanya tak berlangsung lama tapi entah kenapa ini sangat memakan waktu. Apakah ada yang terjadi diantara mereka berdua. "Kemana saja mereka? Lama sekali sih." Sungwoon bersedekap dada sambil menggigiti kuku. "Aku takut jika Namjoon terkena masalah dengan Eric." Sehun melihat kearah jalanan untuk 'Brum~' Namjoon dengan kecepatan tinggi menuju garis finish. "Itu Namjoon!" Jackson melihat Namjoon dari jauh. 40
|He is Perfect| "Ah, syukurlah~ hatiku tenang jika Namjoon tiba duluan." Sungwoon melambai-lambai kearah Namjoon dengan senyum terpatri manis. "Namjoon! Namjoon! Namjoon!" Sehun menyoraki Namjoon yang telah tiba digaris finish. 'Brum' 'Ckit' "Sshh~ akhirnya Aku menang Chingu-ya." Namjoon turun dari motor dengan tertatih-tatih. "Yak! Kim Namjoon eotteoke- eotteoke hoo!" Jackson langsung memapah Namjoon dan mendudukkan Namjoon di kap mobil Sehun. "Yak! Yak! Aku sudah bilang kan kalau mereka itu memang suka bermain curang." Pekik Sungwoon hingga terdengar oleh teman-temannya Eric. "Yah! Pelankan suaramu mereka mendengarnya. Pabo." Jackson menegur Sungwoon. "Ini-ini cepat bersihkan luka mu sebelum infeksi." Tadi Sehun mengambilkan kotak P3K yang ada di mobilnya. "Biar aku saja, aku kan sering menjadi tim kesehatan ketika angkatan kita sedang ada kegiatan." Sungwoon mulai membersihkan luka Namjoon. 41
|He is Perfect| "Sshh~ pelan-pelan ini sakit." Air mata Namjoon menggenangi matanya. "Huufftt~ kutiup nih biar rasa sakitnya berkurang." Sungwoon membersihkan luka siku kiri Namjoon terlebih dahulu lalu setelahnya baru lutut kiri Namjoon. "Sudah-sudah Aku harus pulang ini sudah larut malam." Namjoon berdiri dari duduknya namun agak terhuyung. "Yak! Bocah kutu buku tangkap ini." Eric melemparkan tas berisi uang 1 juta won lalu pergi begitu saja. "Hehe~ gomawo." Namjoon menerima lemparan tas itu dengan baik. "Jackson, ini buat perbaikan motor mu. Jeongmal mianhae karena Aku membuat rusak motor mu." "Ani, aniyo. Aku bisa memperbaiki motor ku dengan uang ku sendiri." Jackson menolak uang taruhan tersebut. "Oh ayolah~ Aku tak enak. Terima saja ya~ kalo sisa buat kalian makan-makan saja. Eotteoke?" "Uhm, buat makan-makan sisanya aja." Sungwoon mulai mengompori Jackson. "Itu lumayan lho rusak motormu." Sehun pun ikut mengompori. "Huh, yaudah Aku terima ne?" 42
|He is Perfect| "Ne." "Namjoon pulang dengan Sehun ya, tidak memungkinkan kalau kamu ikut Jackson." Sungwoon menatap Namjoon dengan kasihan. "Oke arraseo." |5| ⚠️Warning slightly containing mature scene Bagi hard shipper JinNam, jaga jantung nya, ya :) Dan buat yg dibawa 17 lewati saja ya, bahaya nanti dosa:) . 43
|He is Perfect| . . Hannan Hills apartemen 'Klik' Namjoon pun berhasil membuka sandi pintu apartemen miliknya dan Seokjin dengan bersusah payah menahan rasa pedih ditangan dan kakinya. "Ugh! Rasanya sangat panas dan pedih. Hiks eomma appo hiks." Namjoon mencoba duduk dengan pelan lalu melepaskan sepatunya. "Aigh! Susah sekali hiks." Setelah berhasil melepas sepatunya Namjoon mencoba berdiri. Lalu Dia berjalan kearah ruang tamu sekaligus ruang keluarga. "Baru pulang jam segini?" "Ah- hiks kamjjagiya!" 'Snif-snif' Seokjin duduk di sofa dengan pandangan tajam. "Kenapa tak menghubungi ku? Ah, pasti Kau ikut balapan liar?" 'Snif-snif' 44
|He is Perfect| Namjoon hanya menundukkan kepalanya sambil meringis kesakitan. Baru kali ini mendengar deep voice Seokjin. Dia takut. "Sekarang ganti pakaian mu dengan lengan pendek. Dan kemari lagi. Palli!" "N-ne." Jawab Namjoon dengan terkejut. Dan segera mungkin Ia berjalan kearah lorong kamarnya berada. Seokjin menunggu Namjoon dengan agak lama, entah apa yang dilakukan Namjoon. Karena belum datang, Seokjin mengambil kotak P3K. "Seokjin Hyung." Panggil pelan Namjoon. "Hm." Seokjin pun menghampiri Namjoon yang sedang berdiri dan menatapnya takut. 'Sial kenapa Dia terlihat err~ menggoda.' Batin Seokjin melihat Namjoon yang mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek yang mengekspos kulit putih nan halus nya. 'Gulp' Rambut Namjoon nampak setengah basah dan rambut itu ditarik kearah belakang hingga menampilkan jidat nya. Beberapa helai rambut menghiasi jidatnya. 45
|He is Perfect| "Eum~ Hyung?" Namjoon heran melihat Seokjin yang menatapnya seakan-akan ingin menelanjangi dirinya. "Du-duduk lah, ekhem." Seokjin sadar apa yang dia lihat karena intrupsi suara dari Namjoon. "Tck, bagaimana kamu bisa terjatuh hm?" Tanya Seokjin dengan lembut, tak lupa kontak mata dengan Namjoon. "Eum~ itu A-aku hampir dicelakai oleh musuh ku." Namjoon yang melihat mata hitam kelam Seokjin merasa ada yang aneh. Jantungnya berdetak lebih kencang dan pipinya mulai menghangat. Dengan telaten Seokjin mengobati luka itu. "Oh iya? Berarti musuh mu suka berbuat curang. Lalu bagaimana dengan balapnya? Apakah kamu menang?" "Hu'um, si Eric itu dirumorkan kalau suka bermain curang ketika balap motor. Dan- dan Aku berhasil memenangkan balap tadi, tadi saat sebelum jatuh aku sempat menendang motornya dan akhirnya kamu jatuh bersama. Hehe~" Mata Namjoon menyipit karena terkekeh. Seokjin melongo menatap wajah cerah Namjoon dan suara tawanya terdengar lembut. "Uh-huh, bagus kalau begitu. Hyung harap ini terakhir kalinya, ne arratji?" Seokjin pun selesai menutup luka itu dengan rapi. 46
|He is Perfect| "Uhm, ne arratji. Sebenarnya Aku sudah berjanji jika setelah berhasil mendapat gelar sarjana ku yang kedua ini, aku akan berhenti balap liar." Ucap Namjoon dengan sungguh-sungguh. "Hm, bagus kalau begitu. Aku akan memanaskan sup Kimchi kesukaan mu, setelah ini makan ya?" Seokjin membereskan peralatan P3K itu. "Ne! Gomawo Hyung." Namjoon tersenyum dan menampilkan lesung pipi yang manis itu. "Ne~" Seokjin mengelus rambut Namjoon dengan lembut lalu mulai beranjak ke arah dapur. Namjoon memegang dada kirinya dan wajahnya pun memanas. "Uh, kenapa dengan jantungku sih? Kok berdetak cepat dan wajahku rasanya sangat panas." "Wae Seokjin Hyung sangat lembut dan baik? Biasanya hanya nada datar saat berbicara. Hm, mungkin Dia salah makan obat ya?" "Namjoon-ie, Makanlah sup kimchi nya sudah kuhangatkan. Aku ke kamar dulu, ne?" Seokjin meletakan mangkok berukuran sedang itu dimeja makan marmer itu. "Ne, Hyung." -He is Perfect47
|He is Perfect| "Neomu mashita masakan Seokjin Hyung. Aku merasa insecure karena tak bisa memasak tak seenak Dia." Namjoon melengkung bibirnya ke bawah. "Eh-eh, apa yang kupikirkan. Aigo, apa peduliku ini hanya perjodohan." Namjoon pun bangkit dari duduknya dan menuju dishwasher. "Huh, aku ingin meminum yang segar-segar rasanya." Namjoon berjalan dengan tertatih-tatih menuju lemari es. 'Klek' "Hum~ ini apa ya? Kucoba saja daripada penasaran." Namjoon membuka penutup botol kaca berwarna hijau itu. "Aromanya seperti buah tapi hampir membusuk begitu." Tanpa peduli itu apa Namjoon meminumnya. Satu tegukan Dia mengernyitkan dahinya, rasanya pahit tapi kemudian rasa manis itu muncul. Dia meminumnya lagi. Sementara itu Seokjin keluar kamar, Dia melupakan Soju nya yang Dia letakan di lemari es. Seokjin melihat Namjoon meminum minuman dari botol kaca hijau. 'Aneh sekali Namjoon, segitu sukanya dengan minuman itu.' Batin Seokjin melihat Namjoon yang sedang meneguk soju nya. 48
|He is Perfect| "Hah, soju?! Yak, Kim jangan minum itu!" Seokjin mengambil paksa botol soju buah itu. 'Slurp' Namjoon menyesap sisa soju buah dibibir nya. "Yak! Wae~ Kau mengam-hik-bil minuman hik itu." Ucap Namjoon dengan cegukan karena mabuk. "Yak! Yak! Menjauhlah dariku, mulutmu bau soju." Seokjin mendorong pelan tubuh Namjoon. Dia melihat botol soju nya yang berisi sedikit itu. "Ahh~ sshh~ tubuhku rasanya panasshh~" Namjoon menggeliatkan tubuhnya dan ingin melepaskan kaosnya. "Yak! Jangan lepas kaos mu disini." Seokjin meletakan botol soju itu di atas lemari es dengan segara lalu mencoba menghalangi Namjoon yang ingin melepaskan kaosnya. "Eunghh~" Lenguh Namjoon ketika pinggangnya yang terekspos itu terkena tangan besar Seokjin. 'Sial-sial!' Teriak Seokjin dalam hati saat mendengar lenguhan Namjoon. 'Greb' Seokjin menggendong Namjoon ala bridal style. Dia ingin membawa Namjoon ke kamarnya. 49