|He is Perfect| "Hmm, ne!" Dengan kesal Namjoon langsung mematikan ponselnya. Ia lantas menatap Seokjin yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Namjoon, mommy menyuruhku untuk pulang bersama denganmu dan juga-" "Ya, aku tahu itu! Pasti itu rencana mereka, tck dasar orang tua memang." Namjoon memotong ucapan Seokjin dan yang di interupsi tadi agak takut dengan kegalakan Namjoon. "Kalau begitu ke rumah siapa?" "Lebih baik Mansion keluarga ku, aku merasa aman dan nyaman disana." Namjoon pun berjalan mendahului Seokjin menuju parkiran mobil. Seokjin terdiam, didalam pikirannya apakah ia tidur seranjang dengan Namjoon?! Wow kalau begitu ia senang bisa memeluk tubuh empuk dan berisi Namjoon lagi. "Ya!! Dasar Namja mesum, jangan menatapku seperti itu. Palli!! Aku mau tidur dan jangan harap tidur dengan ku." Seokjin kembali ciut menatap Namjoon yang tengah tak bersahabat. Ia segera menyusul Namjoon dan pulang menuju mansion keluarga Namjoon. Didalam mobil pun mereka diam hanya suara radio mobil yang menyanyikan lagu dari America. Seokjin sangat menyukai lagu-lagu dari sana, karena terdengar sangat candu 150
|He is Perfect| dan mudah diingat liriknya namun ia sangat lemah akan arti dari bahasa inggris lagu tersebut. Namjoon pun menikmati musik-musik itu, dia tak menduga Seokjin menyukai lagu-lagu yang penuh dengan makna percintaan dan lagu ini masuk ke nominasi Grammy award. Apalagi Penulis lagu dari penyanyi yang terkenal. 'Despacito' (Slowly) 'Quiero respirar tu cuello despacito' (I want to breathe your neck slowly) 'Deja que te diga cosas al oído' (Let me tell you things in my ear) 'Para que te acuerdes si no estás conmigo' (So that you remember if you are not with me) "Huh? Seperti kenal lagu ini." Namjoon mendengar dengan seksama lagu itu. Lama kelamaan didengar membuat otaknya berhenti berpikir dan pipinya bersemu kemerahan. Bagaimana bisa Seokjin suka mendengarkan lagu ini, look at him! Dia bernyanyi dengan senang. Wow merinding disco badan Namjoon. Artinya yang cukup vulgar apalagi MV nya. 'Quiero ver bailar tu pelo' (I want to see your hair dance) 151
|He is Perfect| 'Quiero ser tu ritmo' (want to be your rhythm) 'Que le enseñes a mi boca' (That you teach my mouth) 'Tus lugares favoritos' (Your favorite places) 'Déjame sobrepasar tus zonas de peligro' (Let me bypass your danger zones) 'Hasta provocar tus gritos' (Until you provoke your screams) 'Y que olvides tu apellido' (And that you forget your last name) Namjoon menoleh kearah Seokjin terus-terusan, apakah dia bodoh huh? Gila rasanya lama-kelamaan mendengar lagu itu, apalagi dia fasih berbahasa latin. "Namjoon kenapa menatapku? Dan wajahmu memerah apakah kamu sakit?!" Seokjin langsung memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan demi mengecek keadaan Namjoon. "Kau itu normal atau tidak, huh?!" "Wa-wae bertanya seperti itu Namjoon?" 152
|He is Perfect| "Saat kau mendengarkan lagu apakah tak mencari liriknya?! Itu sangat mengerikan kau tau itu!" "Hmm, Ani. Aku lebih suka langsung menyetelnya berulang-ulang, ya karena memang candu begitu. Memangnya kenapa, sayang?" "Tck, kau tak tahu lagu apa ini?!" Bentak Namjoon dengan wajah memerah malu. "Aniya, Aku tak paham bahasanya, tapi kalau melihat music video nya aku agak mengerti sebenarnya." "What the fuck! I, i can't think anything, s-stop don't continue this conversation. This talk is too far." "Mwoya? Oh! Hohoho, Namjoon malu ya tentang lagu itu?" Goda Seokjin dengan senyum jail. "Hajima!!" "Aku baru ingat kalau Kamu itu bisa jadi duta karena fasih beberapa bahasa, aku jadi paham kenapa kamu menanyakan hal ini. Apakah kamu tidak penasaran sayang bagaimana rasanya?" "Tck, hajima! Aku tak ingin mendengarkan ucapan mu itu!" "Ayo kita coba bagaimana sensasinya, aku melihat di music video mereka sangat menikmati berteriak hingga lupa nama 153
|He is Perfect| mereka sendiri, apalagi membisikkan kalimat kotor bisa membuat orang bergairah." Bisik Seokjin dengan sensual. "Ani!! Jauh-jauh kau dariku!" Namjoon menatap tajam Seokjin yang tengah tergelak. "Aigoo sayang kamu sangat lucu, padahal diluar sana yang seusia lebih muda dari kamu sudah melakukan hal itu. Seharusnya kamu penasaran, hmm." Namjoon terdiam dengan wajah memerah, ya ampun hal gila apakah ini. Tolong selamatkan aku Tuhan. 154
|He is Perfect| |17| Setelah mengganggu Namjoon, Seokjin kembali melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Namjoon. Dia pun sudah mengganti lagu American ke Korean, agar tak terjadi kegaduhan seperti sebelumnya. 'Ckit' Namjoon segera keluar dari mobil milik Seokjin dan melangkahkan kaki jenjangnya ke rumahnya. Seokjin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Namjoon tanpa mengatakan sepatah katapun. Seokjin harus sabar, Ia sadar atas kesalahannya. Jika ingin memulai dari awal lagi dia harus berusaha, andai saja waktu itu Seokjin tahu jika Namjoon mulai mencintai dirinya. Jika saja Jimin tak menceramahi Seokjin kala itu, ia pasti seperti itu selamanya. Mulai hari ini malam ini Seokjin akan 155
|He is Perfect| terus mencuri hati Namjoon lagi, meskipun itu akan dipenuhi caci makian dari Namjoon. "Selamat datang Tuan muda Seokjin." Ucap semua maid yang ada di rumah Namjoon. Seokjin hanya membalas dengan anggukan saja, ia segera menaiki lantai dua menuju kamar Namjoon. 'Tok-tok' "Namjoon?" Tak ada sahutan dari sang pemilik kamar, lantas Seokjin masuk begitu saja. Ah, ternyata sang pemilik kamar sedang mandi. Terdengar suara kucuran air dari kamar mandi. Seokjin hanya duduk di kursi belajar Namjoon sambil memandangi kamar yang mendominasi warna putih dengan lampu LED warm white yang menghiasi sudut kamar dan atap. Seokjin takjub begitu rapi dan teratur kamar Namjoon. Berasa menonton di SNS milik penggemar-penggemarnya. Seokjin begitu penasaran dengan kotak-kotak yang ada di dekat jendela kamar Namjoon. Ia mendekat dan tiba-tiba setiap kotak itu menyala seperti gelombang, lalu setiap kotak yang menyala terdapat piala. "Wow, yeppeuda.." Mulut Seokjin membentuk huruf O, baru kali ini ia melihat piala sebanyak ini. "Ya!" 156
|He is Perfect| Seokjin menoleh kearah suara panggilan itu. Terlihat Namjoon tengah memakai bathrobe dan rambut basah yang masih menetes. 'Gulp' Eoh aniyo, Seokjin memandang Namjoon tanpa berkedip. Namjoon yang menatap kesal menjadi was-was, peringatan dikepalanya berbunyi. Ini bahaya. "Yak! Yak!" "Eoh, pardon?" "Tck, kenapa masuk ke kamarku?! Kamu itu tidur di kamar tamu tau." "Kenapa tidak tidur berdua? Lagi pula kita sudah pernah kan?" "A-apaan itu?! Aku gak mau, pokoknya kamu tidur di kamar tamu titik!" Namjoon menunjuk pintu kamarnya, menyuruh Seokjin keluar dari kamar. Seokjin menghela nafas pelan, sabar adalah kuncinya. Ia baru mengingat kenangan itu pasti bagi Namjoon itu kenangan buruk. Ia pun melangkah keluar dari kamar Namjoon dengan perlahan. 157
|He is Perfect| Namjoon yang melihatnya merasa iba. "Uh, kenapa aku harus merasa kasihan? Namjoon, jangan kembali mencintainya. Itu pasti akal-akalan dirinya dengan berbuat baik lalu kembali menjadi jahat." Namjoon segera mengunci pintu kamarnya, setelah itu mengganti bathtrobe dengan kaos kebesaran dan celana pendek. Ia terbiasa seperti itu jika ingin tidur maupun bersantai. Jika mengenakan piyama itu merepotkan, lebih enak pakai kaos. Karena kamarnya kedap suara, Namjoon bisa sepuasnya menyetel musik maupun film dengan sekeras-kerasnya. Seperti saat ini Ia menonton film Titanic, ia tak pernah bosan menonton film itu. Karena film itu sangat romantis dan menggairahkan baginya. Just For your information, Namjoon saat berumur 7 tahun pernah menonton situs porno dengan ID Abeoji nya saat di agensi. Dari situ ia ketagihan, tontonnya tak hanya boy and girl namun juga boy and boy. Namjoon serius menatap layar televisi raksasa dengan mulut yang mengunyah Chitato. Sesekali ber-wah menatap peran utama yang sangat tampan itu. 'Tok-tok' Namjoon tak mendengar suara ketukan itu, ya bodoh saja mengetuk pintu diruangan kedap suara dan didalamnya tak bisa mendengar karena suara yang kencang dari film. 158
|He is Perfect| 'Drrrtt' "Tck, nuguya?!" Namjoon mengambil ponselnya di nakas. Panggilan masuk dari Seokjin. Namjoon segera mem-pause filmnya. "Mwo?!" "Mian, kata ketua pelayan rumahmu aku harus tidur denganmu, itu atas perintah Eomma." Namjoon mengerang dengan kesal, aish! Ada-ada saja eomma nya ini. Ia jadi tak bisa menikmati malam yang baik dan tenang hari ini. 'Pip' Namjoon mematikan ponselnya dan menaruhnya dengan kasar di meja nakas. Ia berjalan dengan langkah besar karena kesal. Namjoon melihat Seokjin yang tengah melihat dirinya juga. "Huh!" Namjoon hanya bergumam dengan kesal dan menolehkan kepalanya mengkode Seokjin agar cepat masuk. Namjoon pun menutup kamarnya dan mengunci kembali, jikalau Eomma dan Abeoji nya melihat mereka tidur berdua bisa-bisa di foto dan diunggah. Aigh! Skandal besar akan menyerbu Namjoon habis-habisan, meskipun Namjoon anak 159
|He is Perfect| CEO sukses yang menaungi Bangtan Boys ya menjadi bulan-bulanan masyarakat. Namjoon memilah baju kebesarannya yang ada di lemari pakaian nya. Dia menyerahkan kepada Seokjin. "nih sana mandi, aku tak mau kuman menempel dikasurku." "Oke!" Seokjin pun langsung pergi ke kamar mandi dengan hati senang. "Hah akhirnya tenang kembali, mari kita lanjutkan menontonnya." Namjoon duduk kembali di kasur sambil mengemil. Pertengahan film Seokjin baru saja selesai mandi, ia melihat Namjoon yang sebelah tangannya memegang bungkus raksasa Chitato dan tangan kanan;Namjoon menggigit kuku jarinya. "Apa yang dilihatnya?" Gumam Seokjin penuh penasaran. Ia pun mendudukan dirinya disamping Namjoon lalu melihat kearah televisi raksasa milik Namjoon. 'Oh, Titanic.. Mwo Titanic?!' Batin Seokjin dengan panik, wajahnya memucat. Dia menolehkan kepalanya ke arah Namjoon yang entah ia menjadi memikirkan aneh-aneh. Seokjin mencoba untuk tenang dan mulai menikmati film dewasa itu. Adegannya masih aman berdiri diujung depan kapal, yang dipergunakan untuk pemecah angin. Kedua pemain utamanya sedang menikmati angin sore yang romantis. 160
|He is Perfect| "Hmm?" Namjoon membagi cemilannya kepada Seokjin. "O-oh n-ne." Seokjin mengambil cemilan itu dengan gemetaran. Melihat wajah Namjoon yang begitu tajam, itu terlihat sangat seksi, Man. Lumayan juga untuk menetralkan gemetaran itu, Seokjin mengunyah Chitato sambil menonton film dengan serius. Namun dirinya lagi-lagi harus menahan dirinya melihat adegan dimana aktor Dicaprio menunjukkan hasil gambaran wanita seksi tanpa busana. 'Oh shibal! Kenapa aku harus melihat ini.' Mata Seokjin kembali menatap Namjoon yang sedang mengambil minuman kaleng dari kulkas mini nya. Look at that! Kaos kebesaran yang menutupi paha, padahal Namjoon mengenakan celana tapi tertutup kaosnya. Terlihat seperti tak memakai celana. "Yah, kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Namjoon dengan alis di naikan sebelah. "Anieyo." "Huh aneh, nih." Namjoon menyerahkan minuman kaleng kepada Seokjin dan diterima dengan baik. Seokjin pun segera meminumnya, mungkin bisa mendinginkan otak kotornya. Namjoon pun kembali 161
|He is Perfect| menonton filmnya dengan tenang tanpa memperdulikan ada tunangannya. "Oh yeah." Gumam Namjoon melihat tokoh namja itu mulai menggambar si Yeoja yang begitu, pasti taulah. Seokjin sudah panas dingin, keringatnya mengalir dari pelipis. Tangannya meremat kaleng soda. "Wow yeppeuda kan Hyung? Eh!" Namjoon menoleh kearah Seokjin yang seakan-akan ingin menerkam dirinya. "Hmm ye yeppeuda, Namjoon." Ucap Seokjin dengan suara deep nya. Mereka berdua saling bertatapan, seakan-akan pandangan mereka terkunci. Seokjin meletakkan kaleng soda ke nakas. Seokjin mendekat kearah Namjoon, mulutnya berada didekat telinga Namjoon. "Lebih cantik lagi jika dirimu telanjang didepan diriku." 'Cup' Wajah Namjoon memerah dengan hebat, matanya terbuka lebar. "Apa yang kau lakukan?!" "Ani, kau yang mencoba menggoda diriku. Jadi tanggung jawab." Seokjin memegang kaleng soda milik Namjoon dan meletakkan di nakas dan langsung mengukung Namjoon. "Eummmhhh ahh.." 162
|He is Perfect| |18| "Eummm ngghhh.." Namjoon mencoba menahan desahannya dengan menggigit bibirnya. Seokjin semakin gencar menjilat dan menghisap kulit leher Namjoon. Ruam kemerahan mulai bermunculan di leher putih Namjoon. Tangan Namjoon berada di dada Seokjin, berupaya menjauhkan Seokjin dari dirinya. Namun sia-sia saja seakan-akan kini lebih kuat Seokjin. Seokjin menatap Namjoon dengan sayu, terlihat semakin panas Namjoon. Mulut yang terbuka dan wajah memerah. 'Chup' "Ngghhh Seokjinnnhh.." "Ummhhh ngghhh cplak cplak" Suara kecipak berciuman bergema di kamar Namjoon. Seokjin mengelus tengkuk Namjoon, merilekskan Namjoon agar tidak tegang dan bisa menikmati ciuman panas ini. Namjoon mulai terlarut dalam ciuman, terbukti tangannya mengalungi leher Seokjin. Seokjin memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman yang memabukkan ini. 163
|He is Perfect| Namjoon membuka matanya yang sayu, melihat Seokjin dengan mata tertutup menikmati belahan bibirnya. merasa ditatap ia segera membuka matanya dan menatap dalam Namjoon. Seokjin melepas ciuman hingga muncul untaian benang saliva yang membentang dari bibirnya ke bibir milik Namjoon. "Kamu tahu? Aku sudah menahan hal ini dan hari ini aku tak mampu menahannya lagi." Seokjin menyatukan dahinya dengan dahi Namjoon. Namjoon yang terlihat terengah-engah, membelalakkan matanya. Ia memutuskan pandangannya dari Seokjin, semburat merah mulai muncul. Seokjin terkekeh dengan suara dalamnya. Ada perasaan aneh yang timbul didirinya saat mendengar kekehan Seokjin, tubuhnya semakin panas. Terdengar musik dari televisi yang sedang memutar film Titanic tadi. Namjoon menatap film yang terlihat ada adegan sex, ia jadi menginginkan hal itu. Apakah seenak itu rasanya? Kata Seokjin banyak anak muda yang sering melakukan itu dengan kekasih mereka. Meskipun menonton tapi Namjoon ingin melakukannya dengan satu orang yang dia cintai. Namjoon meremas kaos belakang Seokjin, hatinya menjadi bimbang. Disisi lain ia sudah kepanasan ingin melakukan sex tapi ia harus memutuskan hubungannya dengan Seokjin. 164
|He is Perfect| Seokjin mengikuti pandangan Namjoon, film itu menayangkan adegan dewasa namun tidak terlalu diperlihatkan. Mereka bercinta didalam kereta kuda, dengan uap panas dari percintaan mereka menutup seluruh kaca kereta kuda yang mewah itu. Seokjin paham tatapan Namjoon melihat film Titanic itu dan ia merasakan remasan lembut dari Namjoon. 'Chup' Kecupan dari Seokjin mengagetkan Namjoon, lantas Namjoon menoleh kearah tunangannya itu. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, kalau kamu tidak menginginkan hal ini aku akan menahan—" 'Chup' "Unghh..." Lenguh Seokjin tiba-tiba saja Namjoon mencium dirinya dengan brutal. Lidah Namjoon menjilati bibir tebal Seokjin, Seokjin pun membuka mulutnya dan lidah Seokjin menjulur menjilati lidah Namjoon dengan main-main tapi Seokjin langsung menarik dirinya. Namjoon merengek karena ciumannya dilepas paksa. "Ngghh andwae..!" 165
|He is Perfect| "Sstt hei sayang," Suara deep Seokjin membuat Namjoon tenang. Seokjin melepaskan Namjoon dari kungkungannya dan mendudukan dirinya lalu menyandarkan punggungnya di heardboard. 'Puk-puk' Seokjin memberi isyarat kepada Namjoon yang sedang tiduran sembari melihat dirinya dengan tatapan sensual. Namjoon pun segera mendudukkan dirinya di pangkuan Seokjin. "Lagi.. cium aku lagi dan hancurkan aku hingga tak bisa berjalan berhari-hari nghhh hyunghh.." "Shit." Gumam Seokjin dengan susah payah menelan ludahnya, damn Namjoon terlihat seperti pelacur yang haus belaian. "Ummpphh Seokjinnnhh ngghh.." 'cplak-cplak' Seokjin mencium kasar Namjoon, menggigit bibir Namjoon hingga lecet dan bengkak. Namjoon mengalungkan tangannya ke sekitar leher Seokjin dan meremas rambut Seokjin. "Hhh Namjoon.." erang Seokjin ketika Namjoon bergerak gelisah di pangkuannya. 166
|He is Perfect| Namjoon semakin gencar menggesekkan pantatnya diatas penis Seokjin yang mulai mengeras dibalik celana training. Erangan Seokjin terdengar sangat seksi dan itu membuat gairah Namjoon melonjak. "Ngahh hyungghh, jangan diremasshh.." Seokjin meremas pantat berisi Namjoon yang sangat nakal dengan gemas. "Jangan berhenti menggerakkan pantatmu yang nakal ini." 'Plak-plak!' "Eunghhh Hyungghh.." Seokjin menaikan kaos Namjoon lalu kepalanya mendekat kearah puting tegang Namjoon. Lidah Seokjin bergerak memutari puting kecoklatan milik Namjoon setelahnya mengigit kecil karena gemas ukurannya mini. "Ahhh jangan digi—githh hnggghh.." Namjoon semakin mendekatkan kepala Seokjin kearah dadanya bukan malah menjauhkan. "Slrupp.. slrupp.. hmmhh.." Seokjin menyedot puting Namjoon dengan keras, seakan-akan ada yang keluar dari situ. Puting satunya tak dibiarkan nganggur, Seokjin memilin dan menarik puting Namjoon dengan gemas. 167
|He is Perfect| "Ahhh ahhh.." Kepala Namjoon terpelanting kearah belakang merasakan hisapan dan pilinan pada putingnya, geli-geli perih. Lalu gantian puting sebelah untuk ia hisap dan gigit. Namjoon merasakan euphoria yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, belum lagi jantungnya mulai berdetak kencang. Namjoon mulai lemas, pandangannya makin sayu. Seokjin segera membaringkan Namjoon dengan lembut lalu melepas pakaian yang melekat di badan Namjoon hingga telanjang. Setelahnya ia juga melepaskan pakaian dengan tergesa-gesa. "Suck." Seokjin mendekatkan kedua jarinya di bibir Namjoon dan disambut jilatan panas dari Namjoon. "Ummhhh hnggghh slrupp.. slrupp.." Namjoon mengemut jari Seokjin seakan-akan mengemut permen, Dia menatap polos Seokjin dan membuat Seokjin mengumpat. "Oh shit, sayang kau semakin liar seperti pelacur." Seokjin melepas jarinya dari mulut panas tunangannya. "Akuhh pelacurmu, malam ini aku milikmuhh.." "Fuck!" Namjoon terkekeh seksi, tangannya merangkul Seokjin dengan sensual. Seokjin mulai memasukan jarinya kedalam lubang sempit milik Namjoon. 168
|He is Perfect| "Akhh!! Pelan-pelan enghhh.." kepala Namjoon mendongak merasakan perih dan nikmat ketika Seokjin langsung menggerakkan jarinya lumayan cepat. Seokjin menunduk kearah dada Namjoon, ia merasa ketagihan menghisap puting Namjoon. Desahan Namjoon semakin ribut karena kedua kenikmatan yang ia dapatkan. "Ahhh ahhh Seokjinhhh Hyungghh nggahhh.." "Fast, fasterhhh ahhh ahh ngghhh.." "Aku akanhh kelu—arhh ahh ahhh ahhh.." "Siapa yang mengijinkan mu keluar hanya dengan jariku?" Bisik Seokjin dengan suara deepnya dan langsung saja ia menutup lubang penis Namjoon. "Ngaahhh andwaeehh ahhh ahhh.." "Hahaha lihat Namjoon penismu yang kecil mulai memerah dan membengkak." Seokjin mencubit kecil ujung penis Namjoon dan memilinnya gemas. "Ahhh ahhh Seokjinhhh hiks hiks ngahhh ahh ahh.." Tangan Namjoon menarik kasurnya hingga kusut karena tak tahan dengan cum nya. "Hikss ahhh ngaahhh hikss.." 169
|He is Perfect| Seokjin melepas jarinya dari ujung penis Namjoon dan keluarlah cairan precum lalu tangannya menggenggam penis mungil Namjoon dan menutup lubang Namjoon lagi dengan jempolnya. "Andwaeehh..." Jadi jempol Seokjin bergerak memutar diatas lubang penis Namjoon. Dia terkekeh melihat Namjoon yang merengek, senang mempermainkan Namjoon. "AHHH AHHH SEOKJINHHH!!" Melepas jarinya dari lubang Namjoon dan tanpa aba-aba Seokjin mengocok brutal penis Namjoon. Jari kaki Namjoon sampai tertekuk karena merasa kenikmatan itu. "Ngaahhh terlalu cepatthh ahhh ahhh ampuunnhh ahh ahh.." 'crot-crot' Akhirnya Namjoon cum dan sangat banyak hingga mengotori perutnya sendiri dan tangan besar Seokjin. "Kamu keluar banyak juga.." Seokjin melumuri penisnya dengan cairan milik Namjoon. Namjoon melihat betapa besar penis milik Seokjin dan juga berurat. "Kamu ingin memegangnya?" Seokjin ber-smirk menatap wajah Namjoon yang terlihat terpana menatap penis kekarnya. 170
|He is Perfect| "Ungghh.." Namjoon mengangguk kepalanya. Seokjin menarik Namjoon hingga berlutut dihadapan penisnya. Tangan Namjoon mulai memegang penis Seokjin, ternyata satu tangan saja tak cukup jadi ia harus menggenggam dengan kedua tangannya. "Ahhh sayang tanganmu hangat sekali." Namjoon mendongak menatap Seokjin yang menikmati genggamannya di penis Seokjin. Namjoon berinisiatif mendekatkan kepalanya dan menjilati penis Seokjin. "Ahhh begitu sayangghh kamu pintar sekali.." Seokjin meremas lembut rambut Namjoon. Namjoon menjadi senang atas pujian itu dan ia segera memasukkan penis kekar Seokjin ke dalam mulutnya. "Sshhh hisap terus sayang, kamu sungguh nikmat." Seokjin menggerakkan pinggulnya melecehkan mulut Namjoon. Ia sungguh tak sabaran. "Uummhhh ngghhh!!" Namjoon meremas paha Seokjin ketika semakin brutal menggerakkan penis ke mulutnya. 'Plop' Seokjin melepas penisnya dari mulut Seokjin. "Itu cukup, aku ingin keluar di dalam mu." 171
|He is Perfect| Mulut Namjoon penuh dengan liurnya sendiri dan lidahnya menjulur. Seokjin mendorong Namjoon agar tiduran dan segera menciumi Namjoon sambil menarik tangan Namjoon agar mengalung pada dirinya. "Kalau sakit cakar saja punggung, agar aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan." Suara deep Seokjin membuat Namjoon semakin mengeratkan pelukannya pada Seokjin. "Sshh akh!" Namjoon mengerang kesakitan ketika kepala penis Seokjin mulai memasuki lubangnya sedikit demi sedikit. 'Cup' "Ummpphh!!" Bibir Namjoon kembali ditawan oleh bibir Seokjin. Seokjin melakukannya untuk mengalihkan rasa sakit penyatuan. 'Jleb' "Shh.."Desis Seokjin antara sesak dan nikmat;cakaran dipunggung akibat Namjoon dan juga nikmatnya pijatan dan ketatnya lubang Namjoon yang menandakan dia belum dimasuki oleh siapapun. "Hikss appo.. jebal hiks lepaskan itu menyakitkan hiks.." Namjoon menangis merasakan lubangnya dipaksa dimasuki oleh benda yang besar. "Shhtt, jangan menangis lagi nanti sakitnya akan hilang dan tergantikan oleh rasa nikmat yang akan membuatmu 172
|He is Perfect| ketagihan." Seokjin menciumi seluruh wajah Namjoon dan mengelus kepalanya. Meremas lembut pantat Namjoon untuk mengurangi rasa sakitnya. Setelah beberapa menit Namjoon mulai tenang Seokjin mulai menggerakkan penisnya dilubang ketat Namjoon. "Sshh a-akhh pe—lan-pelanhh.." Namjoon meremas rambut hitam Seokjin. "Ahh Namjoon kamu sangat ketat, sayanghh.." Seokjin bergerak perlahan namun sangat dalam "Ahh!! Apa ituhh?!" Namjoon mendongakkan kepalanya, rasa nikmat yang tak sengaja ditekan oleh penis Seokjin. "Ini? Apakah enak hmm?" Seokjin menumbuk titik yang sama, secepat ini dia menemukan titik manis Namjoon. "Ahh ahhh ohhh yangghh cepathh.." Namjoon menggelengkan kepalanya dengan ribut saat Seokjin menumbuknya dengan dalam lagi dan juga lebih cepat dari sebelumnya. Tangannya meremat bisep Seokjin 'plok' 'plok' 'plok' 173
|He is Perfect| "Moan my name babe." Bisik Seokjin di telingan Namjoon dengan suara deep nya. "Aahh ahhh Seokhh—Jinnhhh fassterrhh ahh ahh.." 'plok' 'plok' Seokjin kembali mencumbu puting tegang Namjoon dan tangan yang satunya digunakan untuk menggoda penis mungil Namjoon Dada Namjoon mulai membusung karena semua kenikmatan yang diberikan oleh Seokjin. Seokjin menatap Namjoon yang memejamkan matanya dengan mulut yang terbuka, mengeluarkan desahan dan juga air liur yang mengalir dari sela bibirnya. "Ahhh ohhh aku mauhh keluarr ahh ahh.." "Keluarkan sayang... Keluarkan.." "Ahhh ahhh ini terlalu nikmat ahhh ahh.." "Nikmat kah sayang??" "Neehh ini sangat enakk aku ingin lagi seterusnya ahhh ahhh.." 174
|He is Perfect| "Apa seenak itu penisku menekan prostatmu sayang ahh fuck." "Ahhh iyaahh aahhh ahhkk!" 'crot-crot' 'plop' Seokjin langsung membalikkan tubuhnya Namjoon menjadi menungging. Doggy style. Tanpa menunggu gelombang klimaks Namjoon selesai, Seokjin langsung menghajar tanpa ampun. 'Jleb' "Ahh ahhh ampunn ahh ahh.." "Ahh fuck ini terlalu enak sayang.." Seokjin mencengkram kuat pinggang Namjoon dan menyodokkan penisnya semakin cepat. 'plok' 'plok' 'plok' Sedangkan Namjoon mendesah dengan ribut dan tangannya menggapai-gapai sprei kasur hingga kusut. 175
|He is Perfect| 'plak-plak' "Ahhh itu menyakitkan ahh ahhh" "Tidak. Buktinya kamu mendesah.." 'plak-plak' "Ahhh janganhh ahh ahh ohh.." "Ohh jangan menjepitku, shhh see pantat seksimu menjadi merah sangat menggiurkan." Seokjin memberi tanda pada pantat Namjoon, itu membuat Namjoon kelenjotan karena geli dan juga nikmat. "Ahhh ampuunnhh ahhh nggaahhh.. Seokjinhhh.." Seokjin mendekat kearah Namjoon, mulai menciumi punggung Namjoon dan memberi tanda di tengkuk Namjoon. Tangannya pun tak diam memilin puting Namjoon. "Ngghh aahh Seokjinhhh ahhh ahhh.." "Enak penisku nyentuh prostat kamu?" Dengan nakal Seokjin mengelus penis Namjoon dan mengulum telinga Namjoon. "Ngaaahh ohhh enak terusss ahhh fasterhhh.." "Anjing lubang kamu memang ternikmat Namjoon." "Ahhh jangan berbicara kasar ahhh ahhh.." 176
|He is Perfect| "Fuck, kenapa sayang?" "Ahhh jangannn ahhh ahhh.." "Sshhh lubang kamu emang ternikmat ahh fuck jangan kamu ketatkan sayang.." "Aahhh aku ingin keluarr.." "Keluar bersama sayang." Namjoon memaju mundurkan pantatnya berlawanan arah dengan Seokjin, itu semakin memperdalam hujaman penis Seokjin. Mulut Namjoon terbuka lebar dengan lidah menjulur dan air liur yang menetes. Penisnya pun mulai mengeluarkan precum. 'plak-plak' 'plak-plak' "Ahhh Seokjinhhh ahhh ahhh ampuunnhh..." "Teruskan goyanganmu Namjoon, lubangmu fuck ahh.." "Ahhh ahhh fasterhhh fasterhhh pleaseeee ahhh ahhh..." 'Plok' 'plok' 177
|He is Perfect| 'Plok' Seokjin semakin mempercepat tumbukannya hingga terdengar di seluruh kamar Namjoon suara kotor itu. Tangannya mencengkram pinggang Namjoon dengan kepala mendongak menikmati remasan dinding rektum Namjoon yang sepertinya akan keluar. "Akhhh Seokjinhhh.." 'crot-crot' "Shhh kamu keluar banyak Namjoon." Seokjin tidak menghentikan hentakannya tadi malah mempercepat lagi, Namjoon yang telah klimaks kembali mendesah kembali. "Ahhh ahhh stoppp aku lelahhh ahhh ahhh.." "Aku belum keluar sayang. Kau nakal sekali sudah keluar duluan." 'plak-plak' "Ahhh ampunn ahhh ahh aku sudah tak tahan ahh ahh hnggghh fassterrhh.." Seokjin menarik perlahan dada Namjoon agar badan Namjoon bangkit dari tengkurap, mendudukkan Namjoon dipangkuan 178
|He is Perfect| nya. Posisi ini membuat penis Seokjin semakin dalam menusuk dirinya. "Ngahhh terlalu dalam ahhh eunghh.." Namjoon meremas tangan Seokjin yang ada di dadanya yang sempat-sempatnya memilin putingnya. Kepalanya mendongak hingga bertumpu pada bahu lebar Seokjin. "Ahh ini posisi yang aku nanti-nanti, penisku semakin dalam memasuki dirimu." Seokjin mencumbu bibir Namjoon dengan kasar. "Ummpphh Seokjin ngghhhh.." Seokjin mulai menggenjot Namjoon dengan sangat cepat, dia juga ingin segera keluar. Sudah 3 ronde tapi dia belum keluar sama sekali. "Ngahhh!! Ahhh ahhh terlalu cepatthh ahhh ahhh..." "Shhh fuck fuck ahh lihat dirimu Namjoon hahaha.." Namjoon menatap dirinya yang pasrah dipangkuan Seokjin dari kaca. Badannya terhentak-hentak karena genjotan Seokjin. 'plok' 'plok' "Hiks ahhh ahhh ampunn hikss ngahhh.." 179
|He is Perfect| "Fuck menangis lah Namjoon kamu terlihat seksi jika begitu, seperti pelacur yang menginginkan lubangnya dihancurkan." "Ahhh hiks ahhh aku pelacur mu... Fuck me ahhh.." "Ohh shit jadi binal heee.." "Ahhhh hancurkan aku Daddy ahhh ngaaahhh." "Lihat penisku mengobrak-abrik lubang laparmu." Namjoon menatap kaca dan melihat bagaimana penis Seokjin dengan cepat menusuk lubangnya. Pipinya memerah melihat adegan kotor itu. "Aku ingin keluar ahhh ahhh.." "Aku juga baby. Kita keluar bersama sayang." "Ahhh ahhh Seokjinhhh!!" "Ahhh Namjoon!!" 'crot-crot' 'crot-crot' Seokjin mencium pucuk kepala Namjoon dengan sayang, tangannya mengelus pipi Namjoon yang sedang terpejam 180
|He is Perfect| menikmati euphoria nya. Badan mereka sama-sama terengah-engah karena kegiatan sex mereka. 'chup' Seokjin mencumbu bibir Namjoon dengan lembut sambil melepas penisnya dari lubang nikmat Namjoon. "Ahhh ummpphh.." Namjoon merasa kosong sekarang tapi lubangnya mengeluarkan banyak sperma milik Seokjin. Badannya dibaringkan dengan lembut oleh Seokjin. 'cplak' "Sekarang tidur besok saja mandinya." Seokjin memeluk tubuh telanjang Namjoon. Yang dipeluk pun menyamankan badannya. After care Seokjin memang terbaik, dia tak meninggalkan dirinya setelah sex tadi. 181
|He is Perfect| |19| Sinar matahari menembus jendela yang menandakan hari sudah siang. Sang dominan menggeliatkan badannya, matanya mengerjap karena silau. Tangannya mengusap matanya namun ada yang aneh, tangan kirinya terasa berat dan kebas. Seokjin menoleh ternyata sang Tunangan manisnya tengah tertidur dengan kepala mendusel ke lehernya. Namja tampan itu tersenyum mengusap punggung si manis dengan lembut dan mencium pucuk kepalanya. 'Drrrtt' "Huh, siapa pagi-pagi menelepon?" Seokjin mengambil ponselnya yang ada di nakas. Terlihat nama Manager Jimin sedang memanggil. "Yeoboseyo, wae menelepon ku pagi-pagi ini?" 182
|He is Perfect| "Yakk!! Pagi kepalamu itu! Ini sudah jam 10.00, Kim. Kau ada dimana hah? Di apartemen tidak ada, jangan-jangan kau pergi ke club." "Aisshh, suara cempreng mu itu membuat telingaku rusak saja. Tidak usah menge-rapp dan aku tidak di club ya!" "Awas saja kau membuat masalah! Segera ke agensi karena ada diskusi dengan brand." "Mianhae, aku tak bisa ke agensi hari ini. Ganti saja lusa atau kapan diskusinya." "Yakkk!! Jangan seenaknya sendiri, kau kira itu kantor Appa mu hah?! "Siapa yang mengatakan itu kantor Appa ku? Sebentar lagi aku akan mengundurkan diri dari sana, tolong persiapkan semua berkasnya, jebal.." "Kim?" "Ye, waeyo?" "Kau sehat? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" "Jimin sekarang aku sadar apa yang Namjoon rasakan, karir ku saat ini bukanlah apa-apa dibandingkan perasaan Namjoon kepadaku. Lebih baik aku menggantikan posisi Appa di perusahaan." 183
|He is Perfect| "Oh oke, lalu bagaimana dengan syuting drama nya?" "Aku tak ingin menjadi pemeran disana, katakan bahwa aku tak bisa karena ada keperluan mendesak. Kalau masalah brand mungkin aku bisa tapi itu akan menjadi pekerjaan terakhirku." "Aku turut senang namun juga sedih tapi aku lebih bahagia jika kau sadar akan perasaan Namjoon, Kim. Kuharap kalian langgeng selamanya. Akan ku usahakan untuk mengurus berkas pengunduran dirimu." "Gomawo, Ji. Meskipun kau lebih kecil dariku tapi kau seperti saudaraku." "Eoh, so cheesey. By the way kau dimana? Kau belum mengatakannya." "Ku Tutup dulu panggilannya, nanti ku kirimkan sebuah foto dimana aku berada." "Huft, oke kalau begitu. Annyeong." "Ye." 'pip' Seokjin membuka aplikasi kameranya dan mengganti modenya menjadi kamera depan. Mencari angle yang bagus untuk dikirim kepada Jimin. 184
|He is Perfect| 'ckrek' Seokjin yang terlihat mendekap Namjoon dengan tubuh bagian atas polos dan Namjoon yang terlihat meringkuk dipelukannya dengan punggung yang terekspos. Seokjin mengirimkan foto selca tadi ke Jimin. 'Drrtt' Seokjin terkekeh melihat panggilan yang berasal dari Jimin, cepat sekali di melihat foto selca tadi. Dia sangat penasaran bagaimana reaksi Jimin. "Yakk!! Kau apakan hobae ku tersayang hah?!!" "Hahaha, santai saja Jimin kayak tidak pernah tahu saja." "What the fuck!! K-kau ma-making love with Namjoon?!" "Yes I'm." "Bajingan kau Kim, pasti kau memaksanya kan?!" "Ututu Jimin kasar sekali sih hahaha tak memaksa sebenarnya dia yang menggodaku lebih dulu. Jadi jangan bangunkan singa yang tengah tertidur." "Sialan! Setelah ini kau harus lebih perhatian kepada Namjoon, karena pihak bawah seperti kami akan sangat sensitif setelah making love." 185
|He is Perfect| "Arraseo, Manager-nim." "Yasudah ku tutup telepon ini, karena aku harus mengurus jadwalmu dan pembatalan kontrakmu. Annyeong." "Ye annyeong." 'pip' Seokjin meletakkan kembali ponselnya lalu menatap Namjoon sembari mengelus lembut pipi gembilnya. "Aigoo, kenapa aku baru tahu sekarang jika kamu sedang tidur sangat imut. Padahal dari sekolah menengah hingga sekarang aku menyukaimu namun karena aku gila pekerjaan hingga lupa jika aku menyakitimu. Maafkan Aku Namjoon, Aku janji mulai sekarang kamu adalah prioritasku hingga kita menua nanti." 'Chuu' Seokjin melumat kecil bibir Namjoon karena tak ingin mengganggu tidur nyenyak Namjoon. Siapa sangka lumatan tersebut dibalas oleh Namjoon dan kini bibir Namjoon terbuka dengan lidah menjulur menjilati bibir Seokjin. Want more it. "Mmpp ngghh.." 'cplak-cplak' 186
|He is Perfect| Namjoon melepas pagutan bibir mereka dan menatap Seokjin. "Apakah benar kau akan lebih mencintaiku dari yang dulu?" "Eo-eoh ne, aku selalu mencintaimu dari dulu namun aku selalu abai karena sifat gila kerjaku. Aku sadar dan aku mulai kini akan selalu memperhatikan dirimu tanpa memikirkan pekerjaanku. Karena kamu lebih penting." "Semulanya aku benci padamu karena sifat arogan dan sombong mu itu namun lama-kelamaan tumbuh cinta di hatiku. Tapi kamu menyakiti hatiku hiks-hiks kamu egois, arogan, dan sombong dengan bodohnya aku masih mencintaimu hiks. Kini hiks kamu meminta aku untuk mencintaimu lagi, apakah aku bisa hiks apakah aku akan hiks mempercayaimu kali ini?" Seokjin menangkupkan wajah Namjoon, ibu jarinya menghapus air mata Namjoon yang mengalir. "Maafkan sikap ku selama ini, kamu tidak bodoh tapi aku yang bodoh. Aku mencintaimu tapi aku gila kerja dan lebih mencintai pekerjaanku. Jebal uljima itu membuat hatiku sakit." 'Cup-cup' Seokjin mengecup kedua mata Namjoon, kening, lalu di bibir Namjoon namun agak lama. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Namjoon dan itu membuat Namjoon terbuai kelembutannya. 187
|He is Perfect| "Aku ingin memutuskan ikatan pertunangan kita ini. Aku tak ingin jatuh lagi. A-aku takut mencintai seseorang. Itu rasanya menyakitkan." Cicit Namjoon. 'Jder' Bagaikan petir menyambar di siang hari, Seokjin menatap tak percaya Namjoon. Bagaimana bisa dia bilang seperti itu. "Sayang, jangan bercanda. A-aku sungguh minta maaf. Jebal yeobo.." Seokjin mencumbu bibir Namjoon. 'Chup' "Ummhhh Seokjin Hnggghh.." 'cplak-cplak' "Stophh hmmhh ngahh.." Seokjin tak membiarkan Namjoon berbicara, dia terus mencumbu bibir Namjoon dan memilin putingnya. Kedua tangan Namjoon ditahan diatas kepalanya sendiri oleh satu tangan Seokjin. "Huummmppp haah hahh hahh.." Seokjin melepas pagutannya, menatap Namjoon yang terengah-engah. Ibu jarinya menyeka bibir Namjoon yang terdepat jejak liur entah milik siapa. 188
|He is Perfect| "Jebal, please, jangan putuskan pertunangan ini. Aku janji akan memperbaiki sikapku ini." Namjoon menutup kedua matanya seraya menggelengkan kepalanya. Seokjin yang menatapnya hanya bisa mengeraskan eksepsinya lalu memeluk erat Namjoon. "Tolong beri aku waktu, agar membuatmu percaya padaku lagi." "Akan aku beri waktu satu bulan, tetapi jika kamu gagal kita harus memutuskan pertunangan kita ini. Aku tak mau merasa kesakitan lagi aku, aku ingin bebas. Kumohon mengertilah." "Kamu ingin bebas sayang?" Namjoon hanya mengangguk matanya tak menatap Seokjin. Ia tak sanggup menatap mata yang memancarkan kesedihan mendalam itu. "Kamu boleh melakukan apapun yang kamu lakukan, Aku takkan melarang mu tapi jangan putuskan pertunangan kita." 'tes' 'tes' 'tes' Namjoon merasa bahu telanjangnya kejatuhan tetesan air, Ia menjauhkan badan Seokjin darinya sebisa mungkin. Namjoon 189
|He is Perfect| terkejut Seokjin menangis dalam diam, ia segera menangkupkan wajah Seokjin sambil menghapus air mata yang mengalir. "Uljima.." "Huks mianhae.. jeongmal mianhae huks." "Sstt uljima, tolong mengerti lah. Hyung tadi aku mengatakan jika aku akan memberikanmu waktu 1 bulan untuk menyakinkan diriku. Pergunakan waktu itu sebaik mungkin." "Arraseo, aku akan berusaha keras untukmu." |20| 190
|He is Perfect| Seokjin menyeka air matanya yang mengalir, Namjoon menatapnya dengan senyum sendu. Namjoon mendekat kearah Seokjin dan mengecup bibir sang dominan dengan lembut. 'kruk' "Hngg.." Namjoon memegang perutnya yang berbunyi, "Kajja kita mandi, pasti kamu lapar karena semalam aku hajar hingga mendesah kenikmatan." Terkutuk lah mulut Seokjin, wajah Namjoon memerah tadi bertambah merah. Tangan Namjoon melayang kearah dada Seokjin. Memukul dengan pelan dan terdengar suara kekehan dari Dominan. Namun tiba-tiba saja sang dominan meninggalkan dirinya, Namjoon kembali melanjutkan tidurnya. Dia masih mengantuk. "Hung?" Namjoon terkejut ketika tubuhnya melayang dan bersentuhan dengan kulit Seokjin. "Aku harus bertanggung jawab atas perbuatan ku semalam, kamu pasti tak bisa berjalan karena lubang mu sakit oh! Nanti akan ku obati lubangmu pasti cepat sembuh." "..." 191
|He is Perfect| Namjoon merona hebat karena ucapan vulgar Seokjin, dasar Namja gila! Namjoon menyembunyikan wajahnya di dada bidang Seokjin. Ia juga tak bisa membalas ucapan Seokjin yang vulgar, yang ada nanti diteruskan. Seokjin menggendong Namjoon ke dalam kamar mandi lalu dirinya menaiki bathtub dan duduk dengan Namjoon berada di pangkuannya. Tangannya mengambil sabun cair beraroma mint milik Namjoon lalu menuangkan kedalam air hangat yang sudah dia isi tadi. Namjoon hanya terduduk diam sambil menatap Seokjin yang sedang sibuk. Pipinya merona kembali karena mereka sama-sama telanjang dan posisi yang agak intim. "Sudah puas menatap wajah tampanku hm?" "A-ANIYA!! A-aku tak menatap wajahmu tau!" Namjoon memalingkan wajahnya kearah lain. Suasana pun berubah menjadi hening hanya terdengar suara kecipak air karena Seokjin sedang menyabuni dirinya sendiri. Beda dengan Namjoon yang hanya main-main dengan air sabun dan duduk tenang diatas pangkuan Seokjin. Membuat gelembung dari air sabun, hah seperti anak kecil saja. Setelah selesai dengan keramasnya, Seokjin menatap Namjoon yang sedang bermain-main. Apakah tak dingin jika berlama-lama berendam di air? Dengan inisiatif sendiri Seokjin membasahi tubuh Namjoon dengan air sabun di 192
|He is Perfect| bathub dan Namjoon tidak merespon tindakan Seokjin malah sibuk dengan gelembungnya. Seokjin mengambil shower untuk membasahi rambut Namjoon. Lagi-lagi Namjoon tak merespon, Seokjin pun mendekatkan dirinya agar air shower untuk membasahi rambut Namjoon tak mengenai muka manisnya. Dengan telaten Seokjin membersihkan rambut Namjoon tak lupa memberi pijatan lembut. Alhasil Namjoon memejamkan matanya menikmati pijatan lembut Seokjin. 'Chup' Seokjin mencuri kecupan tapi yang dicium pun hanya bersikap seperti 'bodo amat'. Seokjin pun gemas dengan sikap Namjoon yang seperti anak kecil ketika dimandikan oleh ibunya. Dirasa cukup Seokjin membilas rambut Namjoon dengan perlahan. Namjoon yang mengerti, mendongakkan kepalanya agar air sampo tidak mengenai wajahnya. Seokjin terkekeh lalu mengecup leher putih Namjoon yang telah berubah menjadi titik-titik merah keunguan karena ulahnya. Rambut Namjoon telah bersih dari busa sampo, Seokjin pun mengusap badan Namjoon. Menyabuninya. "Ngghhh.." 193
|He is Perfect| Dengan jail ibu jari Seokjin menyentuh dan memutar puting Namjoon. Namjoon menatap tajam Seokjin, Seokjin hanya tersenyum tampan dia sangat gemas dengan nipple Namjoon yang ukurannya lumayan besar daripada miliknya. "Aku gemas dengan putingmu hehe.." "Jangan main-main, cepat selesaikan mandinya." "Aigoo, dari tadi kamu yang main, sayang. Aku yang memandikanmu dengan sabar." "Mwo?! Kau tak ikhlaskan?!" "Eo-eoh aniyo. Aku ikhlas kok sayang," "Huft.." "Namjoon." "Mwo?!" "E-etto, bagian bawahmu kamu bersihkan sendiri atau aku yang—" "A-AKU SENDIRI!" Wajah Namjoon memerah dan Seokjin yang speechless dengan teriakan Namjoon. Namjoon yang ingin berpindah tak bisa karena bagian selatannya sakit, ia berdesis belum lagi kaki susah digerakkan rasanya lemas. 194
|He is Perfect| "Sa-sayang gwenchanayo?" "Appo.." "Tak usah berpindah disini saja, aku tak akan melihatmu saat membersihkannya. Kututup saja mataku, lihat." Seokjin menutup kedua matanya dengan tangannya. Namjoon mencondongkan perlahan tubuhnya, ia percaya dengan perkataan Seokjin. Namjoon mengalami kesulitan karena rasanya sakit dan sperma Seokjin perlahan turun ketika dia duduk dipangkuan Dominan. Seberapa banyak sebenarnya, ah pasti banyak tapi bagaimana caranya? :( "Hyung.." "Humm??" "Appo.. Ayo lanjutkan saja di bilik pembilasan." Seokjin membuka matanya ia hanya merasakan pergerakan gelisah, apakah Namjoon tak melakukannya? "Arraseo, chaa~" Seokjin berdiri keluar dari bathtub dan menggendong koala Namjoon. Membawa dirinya dan tunangannya ke bilik pembilasan. 195
|He is Perfect| Seokjin menghidupkan air shower dengan pengatur hangat. Ia menatap Namjoon dalam gendongannya yang tengah terpejam menikmati air hangat yang menerpa dirinya. Seokjin semakin tergoda dengan Namjoon yang terlihat seksi. 'Cup' "Ngghhh Seokjinnnhh mmpphhh.." "Mmmppp ngaahhh hahhh cplak-cplak mmmhhh..." "Kamu begitu seksi sayang.." "Kamu mau membunuhku ya!!?" "Sayang, aku ingin lagi." "Hah apa?!" "Jangan pura-pura tidak tahu sayang, kita lakukan disini rasanya mainstream sepertinya." Penis Seokjin mengeras bersentuhan dengan belahan pantat Namjoon. Namjoon semakin malu, ia hanya memeluk Seokjin dengan erat. Sebenarnya ia sedikit terangsang ketika melihat tubuh atletis Seokjin ketika membawanya ke bilik ini. Sudah basah ditambah berotot lagi. "Ngghh jangan Hyung.." Suara Namjoon menjadi mendayu, perlahan penis mungilnya menegang. 196
|He is Perfect| "Lihatlah penis imut mu sudah terbangun." "Kiss me!" "chuup, mmpphhh ngaahh annghhh.." "cplak-cplak ngghhh ahhh sshhh Hyuungghh.." Dua jari Seokjin menusuk lubang Namjoon yang ketat dan basah karena sperma miliknya masih berada didalam lubang Namjoon. 'Clok-clok' "cplak-lubangmu masih terdapat spermaku? Apakah kamu tak ingin membersihkan cairanku? Kamu sangat nakal Namjoon." "Ahhh ahhh Seokjinhhh sshhh ngaahhh fasterhhh ahhh.." "Aku ingin memasuki mu, tak sabar penis ku merasakan lubang hangat nan sempitmu, sayang." Penis Seokjin menekan-nekan lubang Namjoon hingga lubang itu berkedut-kedut. Seokjin mempermainkan penisnya di sekitar lubang Namjoon, mencelupkan ujung penisnya lalu mengeluarkan kembali. Terkadang memutarnya, itu membuat Namjoon frustasi akan kenikmatan yang diberikan Seokjin "Palli masukan..!" "Apa yang dimasukkan hmm?" 197
|He is Perfect| "Penis besar dan panjang milikmu ngghhh.." "Seperti ini sayangku?" 'Jleb' "AHHH terlalu dalammhh ngahhh ahhh.." kepala Namjoon mendongak dengan tangan meremas pundak Seokjin. 'jleb' 'jleb' "Ahhh ahhh ampuunnhh jangan ahhh disituuhhh ahhh.." "Ahh sshhh aku menemukan titik manismu, ini terlalu nikmat. Ini akan jadi posisi favorit ku ahh.." Seokjin semakin menggila, gerakannya semakin cepat membuat Namjoon terengah-engah. "Ngaahhh ahhhh ahhh hikss fasterhhh ahh aahhh..." 'plok' 'plok' 'plok' Penyatuan mereka terdengar basah dan liar. Suara tamparan kulit terdengar dipenjuru kamar mandi yang luas ini. 198
|He is Perfect| "Aahhh aakuuu ingin keluarr aahhh ahhh.." "Keluarkan Namjoon, tapi jangan harap setelah ini minta ampun sshhh ahhh.." "Aahhh hahh ahhhh akkhhh.." 'crot-crot' Sperma Namjoon mengotori perut milik Seokjin dan miliknya. Namun Seokjin tak menghentikan hentakannya. "Ahhh berhenti dulluuuhh aahhh aku masih sensitif ngaahhhh aahhhh ngghhhh..." Badan Namjoon terhentak-hentak digendongan Seokjin. Namjoon memukul dada Seokjin agar menghentikan gerakannya. "Sshhh sebentar lagi aku keluar." Seokjin membawa Namjoon ke sisi tembok, menempelkan punggung Namjoon ke tembok dan menghujam lubang Namjoon dengan keras. "AHHH AHHH AMMPUUNNNHHH NGAHHH SEOKJINNNHH AHHH AHHH.." Namjoon berteriak karena hujaman Seokjin. 199