The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Pradana Vibri, 2023-10-18 23:31:48

He is Perfect

He is Perfect

|He is Perfect| Namjoon hanya memberontak, Seokjin terlihat gila. Sungguh menakutkan. Apalagi Dia dibawa ke Kamar mandi. Suasana sepi di kelas VIP seakan mendukung kelakuan Seokjin berbuat lebih. 'Tap!' Seokjin menutup kasar pintu kamar mandi dan menyudutkan tubuh mungil Namjoon. Namjoon mewek melihat wajah tegas Seokjin. 'Chuup~' "Ummhh~" Tangan Namjoon memukul pundak Seokjin namun Seokjin menahan tangan Namjoon diatas kepala Namjoon sendiri. "Hajimahhh~ jeball~ aangghh." Lidah Seokjin berhasil masuk lagi ke rongga mulut Namjoon dan mengajak berperang lidah lagi. 'Cplak' 'Cplak' "Nghh~" Tubuh Namjoon lemas dan Seokjin merubah posisinya, duduk diatas toilet yang sudah ditutup dan Namjoon diangkat ke pangkuannya. 100


|He is Perfect| Ciuman Seokjin semakin liar. Namjoon mulai membalas dan berusaha mengimbangi Seokjin. Mata Namjoon mulai tertutup kabut nafsu. "Hnngg~ eunghh~" Seokjin melepas tautan bibir mereka sehingga muncullah benang saliva. Bibir Namjoon terlihat merah mengkilat dan juga membengkak. "Sshh uhh~" Seokjin menyesap leher Namjoon. Namjoon mendongakkan lehernya sambil meremas rambut Seokjin. Satu tanda berwarna merah namun terlihat samar menghiasi leher putih Namjoon. Seokjin pun memundurkan kepalanya dan menatap Namjoon yang begitu needy. "Ayo lagi!! lagi!!" Namjoon merengek karena rasa nikmat itu berhenti. "Sudah cukup itu, kita masih dipesawat, Namjoon-ah." "Aniya! Ayo~ hiks-hiks Seokjin Hyung lagi Hiks." "Aigoo uljima, ayo kita kelu-" "Humpp~" Namjoon langsung menyambar bibir berisi Seokjin. Seokjin terkejut namun dia langsung membalas nya dengan begitu liar. 101


|He is Perfect| |11| "Ahh~ sshh~ hhngg~" Namjoon mencengkram rambut hitam Seokjin. Bunyik kecipak ciuman panas itu menjadi melodi indah bagi pasangan tunangan tersebut. "You're so pretty hmm." Seokjin mengecup bibir bengkak Namjoon. "Jangan berhentihh~" Namjoon mendekatkan kepala Seokjin dan mencium lagi. Seokjin mengelus punggung Namjoon dengan lembut. Tangan kanannya yang menganggur Dia gunakan untuk meremas pantat berisi Namjoon. "Mmmhh~ Hyunghh~ hhh~" 102


|He is Perfect| "Kamu milikku!" Seokjin mengecupi leher Namjoon. Lalu menghisap lembut dan menggigit lembut hingga berwarna merah samar seperti lainnya. "Neehh~ Aku milikmuu~" Namjoon bergerak gelisah di pangkuan Seokjin. Hal itu membuat yang disana menegang. Seokjin pun segera menyudahi kegiatan make out mereka. Seokjin merapikan anak rambut Namjoon yang menutupi dahi ke samping. Wajah memerah, bibir merah membengkak, dan dada naik turun sungguh membuat Namjoon berkali-kali lipat seksi. 'Gulp' Seokjin meneguk ludah dengan sulit, Ia tidak boleh bertindak jauh. Karirnya bisa terancam kalau ada yang mengetahui kalau itu dirinya. Meskipun Seokjin mencintai Namjoon, kalau ia diberi pilihan karir atau tunangannya. Seokjin lebih memilih karir, karena hasil kerja kerasnya sangatlah sulit. Awal Ia menjadi solois sangatlah menyedihkan, caci makian dan black ocean sering Seokjin dapatkan ketika tampil di acara televisi. Kondisi Seokjin agak terguncang kala itu, namun tak patah semangat Seokjin yang merupakan lulusan akting mencoba menjadi pemeran di dalam sebuah drama. 103


|He is Perfect| Disitulah eksistensi Seokjin menanjak naik, wajah tampan dan akting baik menjadi Ia terkenal. Untuk karir soloisnya Ia tak pernah berhenti, setiap membintangi drama Seokjin akan mengisi OST. Yang awalnya memiliki 30 orang fans setelah 3 tahun memiliki jutaan fans. Sering ditipu hingga ditolak acara televisi kini menjadi incaran talkshow televisi hingga brand terkenal. Tawaran drama dari produser drama populer pun membanjiri agensi yang dinaungi Seokjin. Dan banyak aktor maupun aktris yang ingin menjadi lawan mainnya. Produser musik pun menginginkan dirinya bernyanyi di salah satu lagunya Karena Seokjin sering mengisi OST Drama dan beberapa kali menang di acara penghargaan. Suaranya yang unik, falsetto dan high note terdengar menyatu dengan drama yang Ia bawakan. Jadi tak salah bukan Ia lebih memilih karirnya? Karena karirnya yang membuat dirinya menjadi terkenal hingga kancah internasional. Dan itu semua hasil kerja keras, keringat, dan darahnya sendiri. Tak ada keluarganya yang ikut campur dengan karirnya. |He is Perfect| 104


|He is Perfect| Jeju Island 15.00 KST Namjoon mengeratkan mantelnya sambil menutupi area lehernya. Dia berjalan sambil menggeret 2 koper miliknya dan Seokjin. Setelah kejadian di kamar mandi Namjoon menghindari tatapan hingga sentuhan dari Seokjin. hatinya sedikit sakit ketika Seokjin berkata. "Lupakan apa yang terjadi di pesawat, ini murni salahku. Sesuai kesepakatan awal kita hanyalah dua orang asing yang terikat sebuah janji kedua orang tua kita." Saat itu Namjoon menatap Seokjin dengan kilatan mata tajam, tangannya terkepal erat dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Seokjin merasa itu tatapan amarah dan kecewa apa yang telah terjadi di diri Namjoon. Sekali lagi ego nya menang. Selalu memperhatikan, sesekali menggoda, dan hatinya tau berlabuh di Namjoon tapi tak membuat dirinya goyah karir lah yang lebih penting. Namjoon menyesal sekarang kenapa dulu tidak memerhatikan agensi mana Seokjin ikuti, seandainya Dia menerima di kedutaan Korea Selatan pasti tak akan seperti ini. Namjoon memutuskan setelah training menjadi asisten manager, ia akan mengundurkan diri dan bekerja di kedutaan Korea Selatan. 105


|He is Perfect| "Aigo~ bagaimana kalian bisa terlambat penerbangan tadi?" Jimin menyambut mereka di depan bandara. "Hanya kecerobohan asisten mu." Jawab singkat Seokjin. Dia membentengi dirinya agar tak terlalu jatuh ke pesona Namjoon. "Arraseo, ya sudah lupakan saja. Untung saja jadwalmu dimulai besok, Seokjin-ssi." Jimin mulai mengendarai mobil menuju hotel. Jimin yang menjemput mereka di bandara. Posisi mereka; Jimin sebagai sopir, Namjoon disamping Jimin, dan Seokjin dibelakang Jimin memperhatikan Namjoon terlihat sekali dia kelelahan dan juga suram. apa yang terjadi dengannya? Batin Jimin. "Namjoon, nanti sekamar denganku. Ada hal yang ingin kubicarakan berdua. Arraseo?" "..." Namjoon hanya mengangguk tanda mengerti. Namjoon semakin merapatkan mantelnya, Ia takut sungguh takut. Walaupun waktu itu pernah melakukan hal lebih dan dalam keadaan mabuk, Seokjin saat itu tak pernah berkata seperti itu. Namjoon berpikir Seokjin mulai membuka hati untuknya, karena sikap tanggung jawabnya membuat Namjoon mulai yakin membuka hatinya sedikit. 106


|He is Perfect| Tapi kali ini Seokjin berbicara seperti, sakit tapi harga dirinya seolah tercoreng. Dia tidak menggoda namun Seokjin sendiri. 'Lebih baik aku meminta pembatalan pertunangan setelah keluar dari Agensi K.' Batin Namjoon. "Joon?" "Namjoon?!" "Kim Namjoon?!" Jimin mengguncangkan bahu sempit Namjoon. "Ahh ye, mwoya?" "Kamu melamun terus dari tadi, apakah kamu sakit, Joon-ah?" Jimin melajukan mobil sewaan setelah lampu merah berubah menjadi hijau. Merasa dua orang ini ada sesuatu yang disembunyikan. Jimin pun fokus mengendarai mobil ini hingga sampai di hotel yang ada di Pulau Jeju. Mobil mereka berhenti tepat di pelataran hotel. Mereka pun turun. Jimin menyerahkan kunci mobil kepada staff hotel untuk di parkirkan di basemen hotel. Namjoon dan Seokjin mengambil koper yang ada di bagasi mobil. Dengan baik hati Seokjin membuka pintu bagasi mobil 107


|He is Perfect| dan menyuruh Namjoon untuk mengambil kopernya terlebih dahulu. Di sudut terkecil hati Seokjin, merasa secuil rasa tak enak karena hal di pesawat tadi. Mungkin dengan hal kecil ini Namjoon mau berinteraksi dengan dirinya. Daripada diam saja, kan Namjoon asisten manager masa diam saja. Harusnya membahas tentang apa saja yang akan dilakukan saat di Jeju nanti. Dan yah begitu Seokjin yang selalu memikirkan karirnya daripada tunangan pilihan orang tuanya dan dia sebagai dominan yang mencintai submissive nya, Namjoon. Sepertinya yang akan menyadarkan dirinya adalah karma. |12| 108


|He is Perfect| Namjoon dan Seokjin baru saja check in di hotel bintang 5 di Jeju. Hotel tak ramai karena ini bukan akhir pekan ataupun hari berlibur. Agensi sepertinya sangat rapi menutupi kegiatan Seokjin kali ini, tak ada yang mengetahui media manapun fans jika Seokjin sedang berada di Pulau Jeju. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju lift. Pasangan tunangan ini berada di belakang sedangkan Jimin di depan pintu lift. Sesekali mereka menatap satu sama lain namun langsung diputus oleh Namjoon. Hal itu dapat dilihat jelas di pantulan pintu lift oleh Jimin. Jimin menerka-nerka pasti ada sesuatu yang besar diantara mereka hingga mereka diam seperti ini. 'Ting!' "Cha, Seokjin-ssi! Gunakan waktu seharian ini untuk beristirahat, jangan keluyuran. Aku tak mengawasimu kali ini karena aku ada konseling dengan junior ku kali in. Arraseo?" "A-arraseo Manajer-nim." Seokjin menatap takut Jimin yang terlihat galak dan dia langsung berpamitan kepada 2 orang ini lalu pergi ke kamarnya. "Kajja kita ke kamar, sepertinya aku ketinggalan informasi." "Ehm." Namjoon berjalan lesu mengikuti Jimin. Kamar mereka berhadapan dengan kamar Seokjin. 109


|He is Perfect| Setelah sampai di kamar Namjoon menata barang bawaannya dibantu dengan Jimin. Jimin semakin yakin jika ada sesuatu yang besar terjadi diantara mereka berdua. Terbukti mata sembab Namjoon. "Namjoon, katakan padaku apa yang terjadi diantara kalian berdua tadi." Jimin mulai serius, deep voice nya muncul. "Aniya, gwenchanayo." "Kim Namjoon matamu tak bisa berbohong. Aku kenal denganmu sejak kita masih sekolah, aku hafal tingkahmu." "Hiks-hiks Jimin~" Akhirnya Namjoon menangis dan Jimin pun langsung memeluk Namjoon. "Katakan padaku apa yang dikatakan Seokjin padamu. Akan ku hajar dia dengan pedangku biar tau rasa jika berani-beraninya menyakiti sahabatku." Namjoon pun menceritakan kejadian sejak Dia dan Seokjin mencari tiket hingga di jemput oleh Jimin. Tak ada satupun terlewatkan saat menceritakan nya. Namjoon pun menunjukkan lehernya beberapa bercak merah. Jimin pun menggelengkan kepalanya. Sudah pusing membicarakan tentang syuting, sekarang ditambah kelakuan artisnya. 110


|He is Perfect| "Tck, anak itu. Aku sampai pusing dengan apa yang diucapkan oleh Seokjin. Apakah hatinya mati?! Seingatku dulu— ups," Jimin menutup mulutnya hampir saja keceplosan. "Dulu apa? Jimin?" Namjoon bertanya dengan sesenggukan. "Em~ itu eung~" "Katakan saja, gwenchana." "Arra-arra, sebenarnya saat kita bertemu di pantai pertama kalinya setelah sekian lama kita bertemu. Seokjin mengatakan padaku jika dirinya telah menyukai mu sejak sekolah menengah." "Mwoya!?" "Hmm~ ini memang benar. Dia bekerja keras untuk menjadi penyanyi biar bisa di kagumi oleh mu. Kau dulukan suka sekali dengan musik hingga bekerja di agensi uri Abeoji. Tapi mengapa semenjak Seokjin terkenal dia menjadi haus akan karir." "..." "Kau tau sendiri kan Seokjin itu dari kalangan orang kaya, apakah masih kurang materi yang ada?" "Kupikir begitu, setelah memahami ucapannya aku paham Seokjin ingin menjaga karirnya yang telah membuatnya 111


|He is Perfect| terkenal. Ia tak ingin karirnya rusak karena pertunangan konyol ini. Jika itu yang Dia mau, aku akan membatalkan pertunangan ini. Daripada aku sakit terus menerus." "Namjoon kau?!" "Ya ku akui aku mulai jatuh cinta dengannya, meskipun agak menyebalkan tapi rasa perhatian dan kasih sayangnya hiks mem-membuat hati hiks menghangat." Namjoon kembali menangis mengingat kenangannya saat hidup satu atap dengan Seokjin. "Orang mana yang tak akan terbawa suasana jika pasangannya berbuat manis seperti itu. Kau tau kan?" Jimin mengangguk, dia tau seluk-beluknya. Karena Namjoon selalu menceritakan kejadian apapun padanya. "Setelah syuting untuk MV terbarunya aku akan keluar dari masa training dan menerima penawaran kedutaan besar Korea Selatan untuk bekerja disana." "Kalau itu mau mu aku akan membantumu keluar dari sini. Karena Sajang-nim sangat menyukaimu karena nilaimu sangat bagus dan ingin mempertahankan dirimu disini. Pasti akan sulit untuk keluar." "Gomawo Min-ah." "Hum." 112


|He is Perfect| |He is Perfect| Selama tiga hari di Pulau Jeju Namjoon selalu berjauhan dengan Seokjin. Dia hanya membantu stylish dengan membawa aksesoris hingga outfit saja. Jimin selalu menghandle Seokjin, mengajak bicara untuk mengalihkan pandangan Seokjin dari Namjoon. Syuting MV berjalan dengan lancar dan cepat. Mereka akan pulang sore hari setelah syuting selesai di siang hari. "Kamsahabnida yeorobundeul, semoga kerja keras kita selama tiga hari ini dapat membuat Saya memasuki peringkat tertinggi di ajang penghargaan di manapun. Sukses besar dapat mengembalikan biaya produksi yang cukup besar kali ini." "Ne!" "Ye!" Para staf agensi bersama Seokjin makan siang bersama di hotel. Merayakan selesainya produksi MV dan juga berdoa agar lagu yang dibawakan Seokjin sukses besar. "Cheers!" "Cheers!" 113


|He is Perfect| Namjoon sengaja memilih meja yang terpisah dengan Seokjin. Jimin pun menemani Namjoon yang satu meja dengan para Noona stylish. Seokjin merasa Namjoon menjaga jarak tiga hari ini. Biasanya hari-harinya dipenuhi ocehan Namjoon, namun sekarang menjadi sepi. Ia tahu karena ini efek perkataannya waktu itu. Ah, bodoh sekali dirinya. Ia menatap Namjoon yang ada di seberang meja, entah kenapa Namjoon terlihat berbeda err agak manis maybe? Namjoon mengenakan kemeja kotak-kotak kuning dan juga biru. Kontras dengan kulit putihnya membuat dirinya lebih bersinar. 'Apa yang kupikirkan? Ahh~ pasti aku kelelahan karena syuting tadi.' Seokjin mengusak rambutnya dengan kasar. Namjoon merasa ada yang memerhatikan dirinya, Ia menoleh ternyata Seokjin menatapnya dengan intens. Pipi Namjoon memerah karena ditatap Seokjin. Seokjin pun menarik sudut bibirnya. Namjoon langsung mengalihkan pandangan, seketika bulu kuduknya merinding. Jimin menatap Namjoon yang terlihat aneh. Lantas Ia menoleh ternyata Seokjin tengah menatap Namjoon secara intens jangan lupa smirk nya. 114


|He is Perfect| Jimin menatap Seokjin dengan tajam, Seokjin merasakan hawa tak enak pun menoleh kearah lain. Itu Jimin menatapnya seakan mengulitinya. 'Awas kau!' Ucap Jimin tanpa suara sambil menggerakkan tangannya di leher sarat membunuh. 'Gulp' Seokjin langsung mengalihkan pandangan. Jimin memang menakutkan walaupun Dia seorang Submissive. Karena dia sabuk hitam di Taekwondo dan Kendo. |He Is Perfect| 18.00 KST Jeju airport Namjoon berada di bawah pengawasan ketat Park Jimin. Seokjin berada dibelakang kedua Namja submissive ini. Mereka menaiki pesawat di kelas VIP. Perjalanan sedikit membosankan bagi Seokjin, biasanya Ia akan berdebat dengan Namjoon. Tapi kali pertama kali Namjoon sama sekali tak berbicara dengannya. Malah sering menghindar dengan wajah pucat dan takut. Seokjin mengusap wajahnya, Ia gusar takut jika Namjoon melaporkannya kepada orang tuanya. Kalau itu terjadi Ia akan di ceramahi sepanjang hari dan bisa jadi diberi hukuman. 115


|He is Perfect| Seokjin menatap Namjoon yang sedang berjalan kearah kamar mandi. Mungkin dengan minta maaf Namjoon tak akan melaporkannya, pikir Seokjin. |13| Seokjin pun menyusul Namjoon untuk meminta maaf atas kejadian 3 hari yang lalu. Dia menggigit kuku jarinya sembari menunggu Namjoon keluar dari kamar mandi. Sedikit cemas. 'Cklek' "O-oh!" Namjoon terkejut karena didepan pintu kamar mandi ada Seokjin yang sepertinya menanti dirinya keluar. "Nam-namjoon em~ sebenarnya aku ingin meminta maaf tentang kejadian 3 hari yang lalu." 116


|He is Perfect| Namjoon hanya menatap Seokjin, jujur saja Dia speechless. Namjoon mengulum bibirnya dan matanya bergerak ke arah lain, tidak menatap Seokjin. Seokjin menatap lamat wajah Namjoon yang terlihat tak yakin dengan ucapannya tadi. Tapi bagaimanapun juga Seokjin harus mendapat maaf dari Namjoon. "Huft~ hm." Gumamnya, Namjoon pun beranjak dari Seokjin sebelum Dia semakin aneh-aneh dan Dia tak bisa mengontrol dirinya seperti sebelumnya. "Jinjjayo?" Seokjin tak habis pikir semudah itu kah? Biasanya Namjoon tak seperti ini, pasti ada adegan kekerasan yang berakhir dirinya encok. Namjoon pun berhenti tanpa menoleh kebelakang Dia mengacungkan jempol. Lalu Dia mulai berjalan lagi. "Woah, sungguh aku di maafkan. Aku jadi lega begitu, jadi mari kita fokus ke Album baru ku." Semangat Seokjin pada dirinya. |He is Perfect| 10.40 KST Agensi K Entertainment Satu hari berlalu setelah acara minta maaf ke Namjoon, Seokjin sangat sibuk di Agensi. Sudah 15 menit ia mereview 117


|He is Perfect| Albumnya mulai dari tampilan outbox album, poster, postcard, 1 random Photocard, Photobook, dan CD nya. "Aku suka dengan semuanya tapi aku minta tambahan Photocard 3 lembar." Ujar Seokjin sambil meneliti Random Photocard. "Maksud Seokjin-ssi nanti di dalam album ada 4 Photocard yang salah satunya random begitu?" "Ne. Aku paham bagaimana seorang fans mengoleksi Photocard, mereka akan mati-matian membeli yang random dengan harga fantastis yang melebihi harga jual album. Jadi aku ingin mereka senang dengan banyaknya Photocard meskipun itu biasa saja." "Algessseupnida Seokjin-ssi, anda sangat memahami sekali tentang koleksi fans." "Yah~ aku suka sekali melihat para fans idol manapun memamerkan Photocard koleksinya. Aku merasa kasian jika membeli mahal-mahal hanya sebuah foto, meskipun itu langka. Jadi aku akan mulai berfoto dengan angel yang menarik dan lagi trend di era sekarang." "Saya jadi tersentuh dengan ucapan Seokjin-ssi. Anda paham betul tapi bukankah mereka bisa mencetaknya sendiri daripada membeli mahal-mahal?" "Itu beda dengan mencetak sendiri. Kenapa mereka membeli mahal-mahal hanya sebuah Photocard? Karena mereka 118


|He is Perfect| langsung mendapatkannya secara ekslusif di album dan itu item rare di dunia. Apalagi angel foto nya yang menarik, mereka lebih tertarik dengan photocard daripada merch itu sendiri. Dan harga jualnya pun tinggi." "Ne, ne saya paham. Tapi untuk harga album akan naik sedikit, Seokjin-ssi. Set berisi 2 versi album menjadi 62.000 won" "Hah?! Mahal sekali hanya 1 set berisi 2 album tanpa freebies khusus. Aku ingin harga album ini murah entah bagaimana itu tapi tanpa mengurangi kualitasnya." Para staff penanggung jawab pemasaran agensi berdiskusi. Bagaimana bisa dengan item super itu Seokjin meminta harga murah? Era sekarang itu serba mahal. "Aku ada alasan khusus mengenai itu. Tak semua fans membeli album, karena faktor harga album yang mahal. Kebanyakan mereka akan membeli bekas dari orang lain dengan kata lain album only tanpa photocard dan lainnya. Itu tak akan membuat penjualan album meningkat dan tak mendapat posisi teratas." Beginilah para staff agensi yang bekerja dengan Seokjin, mereka akan selalu diberi penyataan logis dan kuat oleh Seokjin. Bahkan CEO pun tunduk terhadap Kim Seokjin ini. Itulah mengapa Seokjin menjadi anak emas di agensi, julukan yang diberikan oleh Kore, fans Seokjin. 119


|He is Perfect| Semua staff langsung terdiam mendengar ucapan Seokjin mengenai fans. Artisnya mereka tak main-main dengan ucapannya hingga menyuarakan perasaan fans. "Algessseupnida kami akan mendiskusikan ini secepatnya. Seokjin-ssi boleh melakukan sesi foto selfie untuk tambahan photocard di album anda." "Ne, aku permisi." Seokjin menundukkan badannya lantas pergi dari ruangan tersebut. 'Cklek' "Tck, aku tak mengerti kenapa semahal itu harganya. Ini lebih mahal dari sebelumnya. Ya Tuhan semoga mereka menurunkan harga agar bisa Kore membelinya dengan mudah tanpa terkejut harganya." Seokjin mulai menelusuri lorong gedung agensi. Mencari spot foto yang bagus, agar bisa sebagus random photocard nya. 'Ckrek' 'Ckrek' Seokjin fokus membidik kamera namun saat menoleh untuk berpose lain Ia menatap Namjoon yang baru saja keluar dari ruangan CEO bersama dengan Jimin. "Yak!" 120


|He is Perfect| Namjoon dan Jimin pun menoleh kearah suara panggilan itu. Dan ternyata itu Seokjin yang memanggil "Seokjin-ssi kenapa kau disini?" Jimin menatap aneh Seokjin yang sedang membawa ponsel, sepertinya sehabis berselca. "Seharusnya itu pertanyaan aku yang menanyakan kepada kalian. Tapi sudah terlanjur begini aku akan menjawab, aku sedang berselca untuk kebutuhan albumku. Lalu kalian kenapa ada disini?" "Ah~ i-itu kau tau kan aku penanggung jawab Namjoon yang sedang magang di agensi ini. Ka-kami tadi em~ itu habis laporan ya laporan hehe kan kemarin kita habis syuting untuk MV terbaru mu." Keringat seukuran biji jagung menuruni pelipis Jimin, ia tertawa canggung. |He is Perfect| 10.30 KST Lorong gedung Agensi K Entertainment Namjoon membulatkan tekadnya untuk keluar dari magang Agensi K Entertainment ini. Dengan ditemani Jimin untuk membantu Dia keluar dari Agensi ini. "Hyeon-ssi, apakah Sajang-nim ada di ruangannya?" "Ada Jimin-ssi, kebetulan beliau sedang kosong sekarang." Yeoja itu memeriksa jadwal sang CEO dengan seksama. 121


|He is Perfect| "Oke, gomawo ne?" "Ne Jimin-ssi." Yeoja itu tersenyum membalas senyum dari Jimin. 'Tok-Tok' "Permisi ini Jimin Manager Seokjin-ssi, Sajang-nim." "Ye, silahkan masuk Jimin-ie." Sahut CEO tersebut dengan lembut. Namjoon dan Jimin pun memasuki ruangan CEO. "Silahkan duduk dan ada hal apa yang membawa kalian kemarin?" "Sebenarnya begini Sajang-nim, Namjoon ingin mengundurkan diri dari magangnya. " Ujar Jimin dengan tegang. Melihat wajah CEO yang ikutan tegang, Jimin jadi takut. "Waeyo? Apakah Seokjin berbuat hal yang tidak baik? Saya bisa memindahkan mu di bagian lain jadi tak perlu khawatir tentang Seokjin." CEO K Entertainment itu nampak tergesa-gesa menjelaskannya, Ia tak ingin kehilangan emas ini. "Em~ bukan begitu Sajang-nim, saya memang ingin keluar ini murni keinginan saya. Sebelumnya Saya minta maaf karena Saya diterima di Kedutaan Korea Selatan, mereka mendesak Saya agar Saya segera bekerja disana." 122


|He is Perfect| Untuk hal itu memang betul, Namjoon tak mengada-ada. Karena Namjoon baru lulus seminggu ini dan sebelum lulus Namjoon sudah ditawari untuk bekerja di kedutaan namun Namjoon belum menjawab hal itu. Kebetulan sekali kemarin Namjoon diundang ke Gedung kedutaan untuk membahas itu. Namjoon bernafas sedikit lega karena mendapat sedikit jalan. "Ahh~ begitu Saya kira Kamu tidak betah bekerja dengan Seokjin karena pasti Kamu tahu dia seperti apa. Kalau seperti itu Saya tidak bisa apa-apa dan Saya turut senang jika kamu bekerja di kedutaan Korea Selatan. Ilmu mu tak akan terbuang sia-sia. Chukahabnida Namjoon." "Hehehe, kamsahabnida Sajang-nim. Seharusnya Sajang-nim tak usah mengucapkan itu." "Kalau begitu Namjoon resmi tak lagi bekerja disini. Kalau ada waktu luang mari kita makan bersama dengan Jiminie juga." "Kalau begitu Saya dan Namjoon pamit dulu Taemin Sajang-nim, hehe.." Jimin tertawa canggung namun berkebalikan dengan didalam hatinya, Sajang-nim kurang ajar memang. "Baiklah, tapi jangan lupa ya?" Taemin tersenyum melihat mereka berdua. CEO muda yang terkenal mesum. Jimin menarik tangan Namjoon hingga menuju lorong yang lumayan jauh namun dekat dengan lift. 123


|He is Perfect| "Jimin, kau dengan Taemin Sajang-nim dekat ya? Kok aku tidak tahu ya." "Aish! Jangan permasalahkan itu, dia itu mesum tau. Kau tau dia suka sekali menggodaku, tck mentang-mentang 1 tahun diatasku dia memperlakukan aku seenak jidatnya." "Woah~ beruntung kau Jiminie karena mendapat daun muda yang kaya raya, hehehe." "Hih, mana sudi aku." "Yak!" Namjoon dan Jimin mendengar panggilan tak sopan itu. Lantas menoleh dan ternyata itu Seokjin. Sedang apa dia disini?! "Seokjin-ssi kenapa kau disini?" Jimin menatap aneh Seokjin yang sedang membawa ponsel, sepertinya sehabis berselca. "Seharusnya itu pertanyaan aku yang menanyakan kepada kalian. Tapi sudah terlanjur begini aku akan menjawab, aku sedang berselca untuk kebutuhan albumku. Lalu kalian kenapa ada disini?" "Ah~ i-itu kau tau kan aku penanggung jawab Namjoon yang sedang magang di agensi ini. Ka-kami tadi em~ itu habis laporan ya laporan hehe kan kemarin kita habis syuting untuk MV terbaru mu." Keringat seukuran biji jagung menuruni pelipis Jimin, ia tertawa canggung. 124


|He is Perfect| "Ahh~ arraseo, arraseo. Ya sudah aku pergi dulu." Seokjin meninggalkan mereka berdua dan memasuki lift. Namjoon dan Jimin bernafas lega. Untung saja Seokjin tidak memberikan pertanyaan aneh kepada mereka. Bisa-bisa habislah mereka berdua. "Eh, Namjoon tolong kamu ikut aku. Sebagai asisten Manajer kamu harus selalu ada disisiku." Seokjin membuka kembali pintu lift. "Mianhae aku tak bisa menemani mu, karena aku ada urusan mendadak dengan petinggi." "Bukannya kamu tidak diperbolehkan bekerja di sana?" "Seokjin, Namjoon bukan untuk kesana tapi bertemu dengan petinggi Negara Korea Selatan kita ini. Jadi tolong jangan menyuruhnya." "Wae, bukanlah pekerjaan tetap pekerjaan? Ku adukan kepada Taemin-nim kalau begitu." "Adukan saja siapa takut, yang ada kau akan diceramahi si mesum." Jimin ber-smirk menatap Seokjin yang terkejut. "Tck." "Eits." 125


|He is Perfect| "Apalagi?!" Seokjin merasa kesal karena melihat wajah menyebalkan Jimin. "Kami ikut naik lift sampai basement tapi." "Tck, iya-iya." Mereka bertiga pun satu lift. Keadaan hening tak ada yang membuka topik pembicaraan. Seokjin menatap Namjoon yang sedang berkaca di pintu lift. Ia baru menyadari jika Namjoon mengenakan setelan jas formal berwarna hitam. Itu sangat pas di lekukan badan Namjoon dan terlihat manis sekaligus tampan. Dan jangan lupa poni yang ditata separuh menutupi dahi lalu kacamata mewah itu melengkapi penampilan Namjoon hari ini. Namjoon merasa ia sedang ditatap oleh seseorang pun menoleh kearah samping. Seokjin sedang menatapnya begitu dalam seolah-olah terpesona dengan penampilannya. 'Ting!' Pintu lift pun terbuka namun kedua pasangan ini tetap saling menatap. Jimin yang merasa Seokjin tak keluar pun mulai menatap. "Yah! Keluar sana, sudah sampai ditujuan mu sekarang." "Huft, iya-iya aku keluar sekarang. Dasar bantet cerewet." 126


|He is Perfect| "Yak!" "Kamu jangan manis-manis ketika keluar, riasan mu itu berlebihan tau." Bisik Seokjin kepada Namjoon. Namjoon hanya menatap Seokjin tanpa mengatakan apapun. Jimin yang mendengarnya pun langsung menendang Seokjin hingga keluar dari Lift. "Apa yang kau katakan tadi?! Aku tidak salah dengarkan?! Dasar Namja tak tau diri, awas aja ini belum seberapa kau tau." Jimin pun langsung menekan tombol tutup. "Gwenchana Jimin, aku tau ini berlebihan tapi sudah jadi style aku kok. Orang-orang juga senang jika melihat ku begini." Jimin menatap sendu Namjoon yang sedang tersenyum manis. Tidak seperti biasanya Namjoon berlemah lembut setelah dikatai seperti itu. Dulu Namjoon langsung menggunakan kekerasan jika ada yang mengejeknya. 127


|He is Perfect| |14| 19.00 KST Mansion Kim (Rumah Namjoon) Namjoon memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Hari ini begitu panjang mulai dari pengunduran dirinya dari K Entertainment lalu menghadapi ocehan Seokjin setelahnya rapat kecil dengan Petinggi Negara. 128


|He is Perfect| Lusa nanti Namjoon akan diangkat resmi menjadi anggota kedutaan di Korea Selatan. Kenapa begitu mudah diterima? Karena Namjoon pernah menjadi duta Korea Selatan sewaktu masih SMA dulu, berkat kecerdasannya dan juga fasih dibeberapa bahasa. Lalu sewaktu Kuliah dia magang di Kedutaan di bagian bahasa inggris, dan kinerjanya memuaskan. Presiden Moon Jaein pun memberi hak istimewa kepada Namjoon jika setelah selesai menamatkan S3 nya Beliau akan menempatkan Namjoon di kedutaan Korea Selatan. Namjoon keluar dari mobilnya. Ia memilih pulang kerumah karena merasa lelah jika menghadapi Seokjin. Apalagi jika Ia ketahuan keluar dari Agensi yang dinaungi Seokjin, habis sudah. "Aku pulang!" "Oh, Namjoon?!" "Namjoon-ie, kenapa kamu pulang kesini?" Eomma Namjoon pun langsung memeluk anak kesayangannya ini. "Eomma, Abeoji. Namjoon ingin tinggal disini selama seminggu ya, juseyo~" Namjoon menundukkan badannya, sedikit dramatis agar Orang tuanya memperbolehkan dirinya tinggal disini. "Eh waeyo Namjoon-ie? Apakah Seokjin berbuat yang tidak-tidak?!" 129


|He is Perfect| "Tenang eomma, Namjoon hanya ingin tinggal disini karena kangen kalian." "Ya sudah mau bagaimana lagi, Abeoji juga kangen anak kesayangannya kok." "Hehe sayang Abeoji." Namjoon memeluk Abeoji nya. "Oh jadi Namjoon-ie cuma kangen sama Abeoji saja ya." Eomma pura-pura merajuk. "Ani, Namjoon juga kangen eomma." Namjoon pun memeluk eomma nya. "Wah, Eomma baru sadar kamu memakai setelan formal. Apakah baru pulang dari agensi K Entertainment?" "Aniya, Namjoon tidak jadi kerja disana." "Apakah ada masalah, Namjoon?" Tanya Abeoji Namjoon dengan khawatir. "Aniya, Namjoon hanya magang 3 hari tapi kedutaan Korea Selatan mendesak Namjoon agar Namjoon bekerja disana." Namjoon tersenyum bahagia sembari menjelaskannya. "Itu bagus sekali, Namjoon. Bekerja di kedutaan itu suatu kehormatan bagi keluarga kita." 130


|He is Perfect| "Ne majjayo, Abeoji. Dan yang paling Namjoon suka, besok lusa Namjoon akan diangkat resmi sebagai anggota kedutaan besar Korea Selatan oleh presiden Moon Jaein. Karena itu permintaan beliau sendiri dan juga hak istimewa yang Namjoon punya. Dengan mudah Namjoon bekerja di kedutaan." "Neomu johayo, uri adeul!!" Abeoji memeluk Namjoon dengan bahagia. Tak disangka anaknya yang sering Ia kerasi karena selalu menekuni musik bisa menjadi orang hebat dan juga beruntung karena ditunjuk langsung oleh presiden. "Hari ini Eomma akan memasak makanan spesial untuk Namjoon!" "Yey, kalau begitu Namjoon mandi dulu eomma." Namjoon pun langsung menaiki tangga menuju kamarnya. |He is Perfect| Gedung Kedutaan Korea Selatan 08.00 KST "Setelah mengucap janji dan ikrar sebagai anggota Kedutaan Korea Selatan, Saya Moon Jaein Presiden Korea Selatan menyatakan bahwa Kim Namjoon resmi menjadi anggota Kedutaan Korea Selatan." Pelantikan tersebut diadakan secara live di seluruh stasiun televisi. Siapa sih yang tidak kenal dengan anak emas Korea Selatan? Semua kenal pastinya. 131


|He is Perfect| Namjoon dengan setelan jas hitam formal dan hiasan lencana kehormatan, jangan lupakan kacamata yang menghiasi wajah rupawan lalu memamerkan dahinya. Semua Yeoja pasti akan terpincut keindahan seorang Namja ini. Salah satu staf mengikuti presiden yang sedang menuju ke Namjoon. Lalu Presiden memasangkan pin setelah itu menjabat tangan Namjoon karena telah bergabung dengan kedutaan. Mereka berdua tersenyum senang dan tulus dihadapan puluhan kamera. Acara pun dilanjutkan hingga penutupan. Para wartawan sangat terkejut karena CEO K-Star Ent. Melihat pelantikan Kim Namjoon sebagai anggota Kedutaan. Lantas ada apakah beliau kemari? Namjoon berbincang-bincang dengan para petinggi negara lali membawa mereka kehadapan orang tuanya untuk diperkenalkan. "Ini kedua orang tua saya. Kim Namwoo dan Kim Junhui." "Ah, bukankah anda CEO K-Star yang menaungi Bangtan Boys?" Tanya presiden Moon Jaein. "Ya, itu saya Kim Namwoo imnida." Abeoji Namjoon pun mem-bow lalu dibalas presiden Moon Jaein. "Tak kusangka Namjoon-ie anak, Anda." Ketua kedutaan Korea sangat terkejut, siapa yang tidak terkejut jika Namjoon 132


|He is Perfect| adalah anak dari CEO K-Star yang memiliki grup idol terkenal di Korea maupun luar negeri. "Haha, Saya memang sengaja menyembunyikan keberadaan anak saya. Karena memang saya ingin dan juga agensi yang saya bangun bisa setara dengan 3 agensi terbesar di Korea, sehingga banyak sekali yang mengincar anak semata wayang saya." "Algessseupnida, Kim-Nim. Pasti para media tak menyangka bahwa anak anda ini anak emas Korea Selatan." "Majjayo, anda pasti sangat bangga memiliki anak sehebat Namjoon-ie." "Ne, saya sangat bangga meskipun passion Namjoon-ie di musik tapi dia sangat pintar dalam pelajaran dan bahasa." "Pintar di musik? Apakah Namjoon pernah terlibat di agensi anda, Kim-Nim?" Tanya Moon Jaein, sedikit tertarik pribadi Namjoon. "Ah~ Namjoon-ie selalu terlibat, Presiden. Kalau anda tahu nama Ruch Randa di penghargaan manapun, ya itu nama panggung anak saya." "Oh saya tau itu, Ruch Randa selalu berhasil membawa penghargaan produser terbaik namun dia selalu memakai penutup wajah. Jadi selama ini kami tak tahu bagaimana wajah aslinya dan ternyata Ruch Randa itu anak anda?!" 133


|He is Perfect| Ketua kedutaan berbicara agak cepat dan terkejut dengan fakta itu. "Tak salah saya memilih Namjoon. Memang karena Ia cerdas dan dapat diandalkan untuk urusan negara. Dia memang sangat-sangat jenius melebihi dari Albert Einstein." Puji Moon Jaein. "Dengan bergabungnya anak saya di kedutaan besar Korea Selatan bisa menjadikan Korea Selatan lebih baik dan bisa memperkenalkan budaya negara kita." "Saya sebenarnya ingin menggandeng salah satu grup yang anda asuh, agar bisa membantu Namjoon memperkenalkan budaya negara kita." "Ah~ Bangtan Boys ya Presiden-nim." "Ye, mereka sangat dicintai oleh fans dibelahan dunia. Mereka juga kunci sukses kita di negara ini." "Ini suatu kehormatan bagi saya, presiden." |He is Perfect| Mansion Kim (Rumah Seokjin) 08.00 KST "Sayang, kamu menonton saluran politik?" 134


|He is Perfect| "Oh, ne. Aku penasaran anak muda yang dilantik menjadi Duta Korea Selatan." Mommy Kim menonton dengan serius. Karena wajah yang akan dilantik presiden itu tidak di perlihatkan, hanya belakang tubuhnya terkadang sampingnya.  "Tak biasanya kamu seperti ini," Appa Kim heran melihat istrinya, biasanya dia akan menonton saluran berita gosip idol KPop kalau tidak menonton performance Bangtan Boys kesukaannya. "Aku pulang!" "Ah! Seokjin kau pulang? Namjoon mana?" Tanya Appa Kim. Seokjin mendudukan dirinya di samping Mommy yang sedang serius menonton. "Namjoon ada urusan beberapa hari ini Appa. Mommy kenapa menonton saluran politik?" "Hanya penasaran, Jinie." "Penasaran bagaimana Mommy? Kan Mommy tidak paham isi dari politik, lagi pula Mommy biasanya suka menonton Bangtan Boys itu." "Penasaran dengan orang yang akan di Lantik menjadi Duta Korea Selatan itu. Anak muda itu bernama Kim Namjoon." 135


|He is Perfect| "Mommy di Korea Selatan itu banyak yang memiliki nama yang sama. Itu bukan tunanganku Mommy, karena Dia sedang ada urusan dengan petinggi." "Tak mungkin ada yang menyamai nama menantuku. Karena kakeknya bisa memprediksikan sekilas tentang masa depan, makan beliau memberi nama itu. Kau tau arti nama Namjoon itu sesuatu berhubungan dengan negara ini." "Namjoon memang sepenting itu ya? Memang Dia berurusan dengan petinggi apa?" Appa Kim pun ikut duduk bersama anaknya dan istrinya. "Namjoon berurusan dengan petinggi-" "Saya Moon Jaein Presiden Korea Selatan menyatakan bahwa Kim Namjoon resmi menjadi anggota Kedutaan Korea Selatan." Kamera saluran televisi tersebut menyorot wajah tampan nan manis Namjoon yang sedang tersenyum.   "Itukan menantuku!" "Ah, Mommy jangan berteriak ditelinga ku!" "Mwoya?! Kenapa Namjoon ada disitu!!" 136


|He is Perfect| "Kenapa mereka tidak mengabariku jika Namjoon dilantik menjadi Duta Korea Selatan?!" Mommy Jina tak terima jika keluarganya tidak diberikan kabar ataupun ikut diundang ke upacara pelantikan Namjoon. Mommy pun mencoba menghubungi Sahabatnya, Junhui. Namun panggilannya selalu dialihkan, sepertinya ponsel Junhui di matikan. "Sayang tenang ya? Jangan emosi dulu, pasti mereka punya alasan tersendiri mengapa tidak mengabari kita." "Tapi Seokjoon kita ini sahabat mereka sejak dulu dan kita sudah menjodohkan anak kita dan mereka. Ah! Seokjin pasti kau melakukan sesuatu terhadap Namjoon kan?!" Mommy menatap tajam anaknya. "A-ani Mommy." Seokjin gugup melihat Mommy nya yang sebentar lagi akan meledak emosinya. "Sstt, tenang sayang. Aigoo yeobo nanti kita kerumahnya, kita tanya kenapa mereka tidak memberitahukan kepada kita kalau Namjoon dilantik menjadi Duta Korea Selatan." "Hm~ arraseo. Berarti Nama Kim Namjoon sangat tepat dengan dirinya, karena dilantik menjadi Duta Korea Selatan, kan sayang?" "Ya kamu benar sayang." 137


|He is Perfect| |15| Malam pun tiba, Keluarga Namjoon sedang diundang makan malam dengan Presiden dan juga ketua kedutaan besar Korea Selatan. Acara makan malam mereka sangat private, penjagaan ketat agar media tak merusuhi. Presiden memilih restoran yang terletak di pinggir kota yang jarang dikunjungi semua orang. Biasanya restoran itu akan di booking oleh para petinggi perusahaan maupun negara. Keluarga Namjoon pun turun di depan perusahaan, langsung disambut ajudan presiden. Namjoon melihat sekeliling restoran yang sangat sepi, dia tersenyum karena ketenangan yang ia butuhkan karena dari pagi sampai sore ia sering diburu media untuk dimintai penjelasan. "Junhui!" "Jina?!" Kedua perempuan berumur itu saling menatap. Namjoon terkejut melihat Seokjin ada disana dengan wajah datarnya. 138


|He is Perfect| "Ah, akhirnya aku bertemu denganmu, Junhui." Ucap Jina dengan lega. "Eoh, ada apa ya Jina?" "Junhui Kim apa kamu lupa ya kalau kita ini—" "Em, jeosonghabnida Presiden sudah menunggu Anda, Namjoon-ssi." Tegur ajudan presiden. "Oh n-ne, Eomma Abeoji. Namjoon akan masuk dulu. Em, Mommy dan Appa Saya masuk dulu karena presiden telah menunggu saya." Namjoon membungkukkan badannya lantas pergi mengikuti ajudan. 'Duk' "Awh!" Seokjin kesakitan karena kakinya ditendang Mommy. "Sana ikutin Namjoon, dasar suami gak berbakti." Bisik Mommy. "Hmm." Seokjin menatap malas Mommy nya dengan diam-diam Seokjin menyusul Namjoon masuk kedalam restoran. Mommy pun mengalihkan perhatian Eomma Namjoon agar tak melihat Seokjin menyusul Namjoon kedalam. "Lebih baik kita bicara di tempat lain, Junhui." 139


|He is Perfect| "Aish, Jina disini tempatnya aman. Dan lebih aman lagi kita makan malam didalam saja." "Eoh, dengan presiden kah?!" "Hmm, kalau boleh." "Boleh-boleh pastinya. Aku belum pernah melihat secara dekat presiden Korea Selatan kita ini." "Ya sudah kita masuk saja, eh mana Seokjin?" "Em, tadi dia ingin ke toilet. Nanti agar kuberi tau lewat pesan saja. Kajja kita masuk." Jina menggandeng Junhui agar segera masuk. |He is Perfect| Seokjin berjalan dengan cepat menghampiri Namjoon yang sedang menaiki tangga. "Namjoon-ah?" "Eh?" Namjoon menoleh ke sumber suara itu. "Jakkamanyo." "Waeyo?" Tanya Namjoon yang terdengar sinis. "Aniya," 140


|He is Perfect| "Lalu kenapa menyusul? Aku ada urusan penting dengan presiden." Ucap Namjoon dengan angkuh, Dia merasa masih sakit hati atas perlakuan Seokjin saat di pesawat saat itu. 'Namjoon terlihat berbeda dari 3 hari yang lalu. Apakah dia belum bisa memaafkan aku? Tapi kata dia sudah memaafkan.' Batin Seokjin bergejolak tanpa disadarinya Seokjin menatap Namjoon seolah-olah ada peluru yang menembus kepala Namjoon. "Ya! Tatapan mu itu apa-apaan?! Dasar Namja!" "Ta-tapi kamu juga Namja." "Tck, terserah ku. Sana kamu pergi, jangan mengikuti kegiatan ku yang penting." Namjoon pun melangkah ke atas dengan cepat. "Namjoon!" Seokjin memegang tangan Namjoon dengan cepat. "Tck, apaan lagi sih?! Kamu itu selalu menggangguku! I hate you!" Namjoon menyentak tangan Seokjin dan segera menuju meja yang ada di pojokan dekat jendela yang mengarah ke sungai Han. "Namjoon, maafkan aku. Aku tak bermaksud berkata seperti itu, Aku bodoh memang." Seokjin menatap Namjoon yang berhenti dari jalannya. 141


|He is Perfect| "Mwoya?" Namjoon menoleh kearah Seokjin yang tengah menatap sendu dirinya. "Ya, aku bodoh berkata seperti itu di pesawat kemarin. Dan aku, aku tahu kalau kamu mengundurkan diri dari agensi yang menaungi ku." "Mwo-mwo, berkata apa kamu itu?! Sana pergi, aku akan berpura-pura tak mendengarnya." "Namjoon, aku serius." "Aku juga serius!!" "Eoh, ternyata asal suara itu dari kamu ya, Namjoon-ie." "Eoh, jeosonghabnida Presiden-nim atas ketidaknyamanan ini, akan saya segera selesaikan." Namjoon mem-bow presiden 90' karena mereka berdua cekcok ditempat yang tidak seharusnya. "Maafkan saya presiden, itu ulah saya yang terus memaksa Namjoon berdebat." Seokjin pun ikut mem-bow. "Wah Seokjin-ssi, Anda ada disini? Ada urusan apa dengan Namjoon-ie?" Presiden tersenyum menatap kedua pasangan ini. Penasaran ada apa dan apa yang diperdebatkan mereka berdua. "Aniya, ini hal biasa yang terjadi diantara teman, Presiden-nim." Jawab Namjoon dengan cepat. 142


|He is Perfect| "Ah, benarkah? Sepertinya kalian sungguh serius untuk seukuran teman." Moon Jaein tersenyum jail kepada dua pasangan ini. "Jangan dengarkan ucapan Namjoon, Presiden-nim. Sebenarnya Saya ingin meluruskan masalah saya dengan tunangan Saya ini." "Apa?! Namjoon-ie tunangan Seokjin-ssi?!" "Ani, Aniya Presiden-nim! O-oh jeosonghabnida karena berbicara dengan nada lantang." Namjoon segera membungkukkan badannya. "Kalau memang kalian sepasang tunangan pasti ada cincin couple kan?" Tanya Presiden dengan kalem. "Ada kok Presiden-nim, ini." Seokjin menunjukkan jari manis kirinya yang terdapat cincin tunangan. "Aku, aku tak mempunyai nya." Namjoon menunjukkan jari-jarinya yang tak memakai aksesoris. "Mw-mwo?" Lirih Seokjin melihat jari Namjoon. "Michyeosseo! Kemana cincin itu Namjoon?! Itu turun temurun dari keluarga ku!" "Kenapa membentakku?! Kita saja tidak bertunangan kok!" Namjoon tak kalah menatap tajam Seokjin. 143


|He is Perfect| "Kkeut!" Presiden menepuk tangannya sekali. Dan langsung saja atensi 2 namja itu beralih ke presiden. "Aigoo, selesaikan dengan cara kepala dingin ya? Tak baik dengan emosi dan Namjoon, aku percaya kamu bisa menyelesaikan ini karena kamu itu bijak dan pintar. Kalau begitu ayo kita makan bertiga. Aku ingin dengar sejauh mana hubungan kalian." Namjoon hanya menundukkan kepalanya, rencana untuk memutuskan pertunangan ini semakin sulit. Sepertinya Presiden Moon sangat antusias dengan pertunangan mereka. Seokjin tersenyum menatap Presiden, lalu ia menatap Namjoon yang terlihat suram. Sebenarnya Ia terheran-heran dengan sikap Namjoon yang menurutnya berubah. Dalam 3 hari bisa merubah sifat?! Konyol, sungguh! Dari saat Namjoon dilantik, seharusnya sebagai pasangan dia memberi tahu dirinya. Yah meskipun nanti Seokjin akan bersembunyi, ah maksudnya Ia akan tetap mendukung Namjoon walaupun dari rumah, menonton televisi. Seokjin tak mau bersusah-susah kesana dan berakhir menjadi bulan-bulanan netizen. Ia masih ingat jika memberi aturan untuk tidak memberikan informasi tentang hubungannya dengan Namjoon. Malah ia sendiri yang memberi tahu tentang status mereka kehadapan orang nomer 1 di Korea Selatan. Entah apa yang terjadi pada diri Seokjin sehingga bisa mengatakan seperti itu. 144


|He is Perfect| 'Grep' "Eoh?" "Ayo kita menerima ajakan Presiden Moon, sayang." Seokjin menggenggam tangan Namjoon dengan lembut seraya tersenyum tampan. "Mwo?" Cicit Namjoon dengan wajah memerah. Presiden Moon Jaein hanya tersenyum melihat kedua Namja yang terlihat jatuh cinta namun terhalang ego. |16| Seokjin menatap Namjoon sambil tersenyum, lalu menarik lembut tangan Namjoon yang berada di genggamannya. 145


|He is Perfect| Sedangkan si empunya menatap tak percaya dengan wajah memerah. What the hell?! So cringe bruh! "Terima kasih telah mempersilahkan saya untuk bergabung makan malam dengan anda dan duta Korea Selatan." Seokjin menundukkan badannya setelah itu tersenyum menatap Presiden. Akhirnya mereka berdua pun duduk dihadapan presiden sembari menunggu makan malam tiba. "Gwenchana, saya senang bisa makan malam dengan pangerannya Korea Selatan, Seokjin-ssi adalah contoh baik di Korea Selatan. Semua warga negara tahu akan itu." Presiden menatap Seokjin dengan teduh namun saat melihat Namjoon yang tengah menatap Seokjin dengan wajah julid lantas beliau tersenyum. 'Huh, contoh yang baik apaan?! Dia itu egois, semaunya sendiri, kejam, dan tidak berperike-Namjoon-nan!' "Namjoon, tak baik seperti itu. Dia itu tunanganmu yang akan menjadi pasangan sehidup semati kamu." Tegur Presiden dengan lembut. "Geunde Presiden sebenarnya dia tidak seperti itu." Namjoon tanpa sadar merengek. "Hahaha lucu kamu, Namjoon. Saya paham kok tentang pemikiran kamu tadi." 146


|He is Perfect| "Jeongmal mianhae jika selama ini aku keterlaluan, Namjoon. Kau taukan sifatku dan karakterku siapa apa? Aku terlalu fokus untuk berkarier hingga aku tak memikirkan perasaanmu. Aku sadar sebentar lagi karirku sebagai solois dan aktor akan berhenti karena harus menggantikan Appa di perusahaan." Seokjin menatap Namjoon dengan tatapan bersalah, ia raih tangan Namjoon dan menggenggamnya. Namjoon yang mendengar sedikit luluh. 'Pada akhirnya dia sadar juga, tapi aku tak boleh luluh. Aku harus mencapai keinginanku untuk melepas hubungan yang tak sehat ini, meskipun harus menentang keluargaku.' Namjoon segera menarik tangannya dan memutuskan pandangannya dari Seokjin. "Aku tak percaya dengan perkataanmu, kau selalu berkata manis tapi setelah itu kau menjadi iblis yang tak mengenal rasa kasih sayang." "Ne arraseo, kamu pasti sulit memaafkan aku. Tapi akan aku buktikan bahwa aku telah sadar akan kesalahanku selama ini." Seokjin menatap Namjoon dengan semangat berapi-api. Namjoon melirik Seokjin, dalam hatinya gelisah. Ia takut untuk jatuh kedalam paras Tampan Seokjin untuk sekian kalinya. Dia masih takut. Tak lama kemudian pelayan restoran membawa banyak hidangan hingga memenuhi meja makan khusus untuk 4 orang 147


|He is Perfect| itu. Namjoon menatap piring berisi makanan dengan mata berbinar-binar, apalagi menatap ayam pedas manis dan japchae kesukaannya. Namun Namjoon sungkan untuk mengambilnya, dia kalau sudah dihadapkan dengan kesukaannya pasti akan lupa daratan. Hahaha so cute. Seokjin paham dengan apa yang Namjoon rasakan, Ia tahu seperti apa nafsu makan Namjoon ketika bertemu dengan makanan kesukaannya. Lantas ia mengambilkan ayam pedas manis 2 potong dan japchae berisi setengah piring. Nasi putih tidak terlihat lagi karena penuh dengan lauk kesukaan Namjoon. Namjoon speechless dengan apa yang Seokjin lakukan. Ia jadi malu karena isian piringnya, kalau dirumah tak apa ini makan malam bersama orang penting. Mau ditaruh mana mukanya, hancur sudah image Namjoon yang keren akan kejeniusannya. "Silahkan dimakan, jangan malu-malu Namjoon. Tunanganmu sangat perhatian lho ia tahu apa makanan kesukaanmu." "A-ah ne," Namjoon dengan perlahan menyantap makanan yang dihidangkan oleh tunangannya. |He is Perfect| "Kamsahabnida Presiden-nim atas undangan makan malam ini." Namjoon membungkukkan badannya dan diikuti Seokjin. 148


|He is Perfect| "Ne, saya senang bisa mengetahui apa yang tak bisa diduga, itu sungguh menyenangkan. Lain kali kalian akan ku undang ke rumah putih." "Ah, ne kamsahabnida." "Ya sudah saya pulang dulu, kalian jikalau pulang hati-hati ini sudah hampir larut malam." Setelah melewati berjam-jam yang menyiksa, Namjoon akhirnya bisa bernafas lega. Ia ingin segera pulang dan menidurkan dirinya di kasur lebarnya dengan tenang. 'Drrt' "Yeoboseyo, eomma?" Namjoon mengangkat panggilan yang berasal dari eomma nya. Ternyata hari ini bukan keberuntungan Namjoon, karena orang tuanya dan orang tua seokjin sedang keluar bersama tak tau akan pulang jam berapa. Namjoon disuruh untuk pulang bersama Seokjin. "Ahh! Eomma, Namjoon tak mau. Aku ingin tidur tanpa diganggu siapapun juga, mood ku jelek sekali eomma. Rasanya ingin makan seseorang." "..." 149


Click to View FlipBook Version