|He is Perfect| "Uhh~ panas Seokjinhh~ eunghh~" Namjoon menggeliat digendongan Seokjin. "Diam sedikit, tubuhmu itu berat astaga." Seokjin berusaha menyeimbangkan gendongan Namjoon dan juga hormon nya. "Ummhh~ aroma mu sangat wangi Seokjinnhh~" kepala Namjoon berada di ceruk leher Seokjin. 'Cup' Namjoon mencium leher Seokjin lalu mulai menyesapnya dan juga menggigit pelan. "Sshh~ Namjoon kau berada di bawah kendali soju!" Pekik Seokjin saat lehernya digigit oleh Namjoon. 'Bruk' Seokjin sedikit membanting tubuh Namjoon diatas kasur Namjoon sendiri. "Tidurlah ne tidur~" Seokjin berusaha menidurkan Namjoon dan mulai menyelimuti. "Sshh~ shireoohh~ panasshh~" Namjoon mulai melepaskan kaosnya didepan Seokjin yang sedang memelototi dirinya. "Seokjinnhh~ poppo! Poppo!" Namjoon menarik kencang tubuh Seokjin hingga Seokjin menimpa tubuh Namjoon. 50
|He is Perfect| 'Cup' "Ummhh~" Namjoon mencium Seokjin dengan brutal. Sedangkan Seokjin masih terbelalak melihat Namjoon yang sebinal ini. Lambat laun Seokjin melumat kasar bibir tebal Namjoon. "Uummhh~" Lenguh Namjoon terdengar manis ditelinga Seokjin hingga membangkitkan sisi lain Seokjin. 'Cpak' "Namjoon, Kau duluan yang memulai nya." Seokjin menatap Namjoon yang menatapnya sayu. "Seokjiin~ kiss me please~" 'Cup' Seokjin mulai melumat bibir atas Namjoon. Dan Namjoon dengan senang hati membuka mulutnya. Seokjin yang merasakan bibir Namjoon terbuka tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan segera melesakkan lidahnya kedalam. Menyapu deretan gigi rapi itu lalu mengajak lidah Namjoon untuk bertarung. Suara kecipak ciuman itu bergema dikamar luas Namjoon. 51
|He is Perfect| "Shh eungh~" Lenguh Namjoon ketika tangan Seokjin mengelus nipple nya. Tubuhnya sangat sensitif saat ini, karena akibat meminum soju tadi. Tak berhenti disitu, tangan Seokjin menekan tengkuk Namjoon untuk memperdalam ciuman liar mereka. "Akkhh." Namjoon melepas tautan bibir dengan Seokjin. Karena Seokjin mencubit dan menarik nipple nya. "So sexy." Gumam Seokjin melihat wajah memerah dan mulut Namjoon tak bisa berhenti melenguh karena ulah tangannya yang berada di nipple Namjoon. "Aanghh~" Desah Namjoon cukup kencang ketika nipple nya diraup habis oleh Seokjin. "Aahh~ Seokjinnhh~" Namjoon menekan kepala Seokjin ke dadanya agar semakin dihisap oleh Seokjin. Seokjin pun melepas kulumannya terhadap nipple kanan Namjoon. Lalu jari nya menekan nipple memerah itu lalu memutarnya. "Aangghh~ shh~ hisap lagihh~" "No baby saat nya kini aku menandai dirimu. Kau milikku saat ini, tak ada yang boleh menyentuhmu." Seokjin menelusupkan kepalanya ke leher jenjang Namjoon dan mulai menghisapnya. 52
|He is Perfect| "Oouuh~ yasshh~" Namjoon menjambak ringan rambut Seokjin ketika Seokjin mulai menggigit main-main kulit lehernya. "Seokjinhh~ please take off my pants." Namjoon menggeliat kan tubuhnya yang kembali memanas lagi. "Yes baby." Seokjin berucap tepat didepan bibir Namjoon lalu mengecupnya. 'Cup' Dengan satu tarikan Seokjin berhasil melepas celana Namjoon hingga dalamannya. Dan kini Namjoon naked sedangkan Seokjin masih utuh berpakaian. "Uh, panas sekali." Seokjin pun melepas kaos nya. "Engghh~" Namjoon mendesah karena Seokjin memegang penisnya dan mulai mengurutnya dengan tempo sedang. "Aahh~ aahh~ engghh~ please fasterrhh~" Namjoon mendongakkan kepalanya keatas karena Seokjin mempercepat kocokannya. "Baby, call my name." "Aanghh~ Seokjinhh~ ahh ahh~" Seokjin senang melihat wajah memerah itu merintih karena keenakan. Ia mulai menambah stimulus kepada tubuh 53
|He is Perfect| Namjoon dengan menyesap nipple kiri yang belum disentuh nya. "Nyahh~ aanghh~ yess~ fasterhh please." Namjoon menekan kepala Seokjin di dadanya. "A-akuuh~ ingin cummhh~" pekik Namjoon sambil menjambak rambut Seokjin. Rasanya seperti terbang ke euphoria. "Cum saja baby." Seokjin melepas kulumannya dan fokus kepada Namjoon yang mendesah hebat hanya karena blow job darinya. Padahal belum dimasuki sudah seperti bagaimana jika sudah Ia masuki. Setelah Namjoon mendapat pelepasan nya, Ia memekik karena lubangnya dimasuki oleh dua benda keras nan panjang. "Akkh~" Seokjin tak memberi jeda Namjoon untuk menikmati sisa-sisa pelepasan nya. Ia memasukkan kedua jarinya ke dalam hole Namjoon. "Sakit! Akkhh~" Namjoon menggelengkan kepalanya dengan brutal. "Sshh~ ini baru jariku baby belum punya ku." Seokjin mengecup kedua mata Namjoon yang terpejam menahan sakit. 54
|He is Perfect| "Angghh~ Yahh~ disituhh ahh ahh~" Jari Seokjin berhasil menekan titik nikmat milik Namjoon. Seokjin pun langsung mempercepat tusukannya. "Ngahh i wanna cumhh~" Penis Namjoon mulai mengacung tinggi. Ujung nya berwarna merah dan mengkilap akibat precum nya. 'Slurp' Seokjin mengulum penis mungil Namjoon. Ia menghisap dan menggerakkan kepalanya cepat. "Aanggh~ ahh ahh AKKHH~" Namjoon akhirnya cum untuk kedua kalinya. Seokjin membagi cairan milik Namjoon dengan Namjoon. Namjoon mengernyitkan dahinya saat merasakan cairannya sendiri. "Uhuk-uhuk." Namjoon terbatuk dan cairan sisa miliknya mengalir disudut bibirnya. "Hebat sekali baby, cairanmu manis seperti dirimu." Seokjin mengecup bibir Namjoon. 'Cup' 'Drrtt' 55
|He is Perfect| ponsel Namjoon tiba-tiba berdering dan membuat Seokjin sadar kembali. Ia melihat tubuh Namjoon penuh dengan bercak merah yang hampir keunguan karena ulahnya. "Oh, shit apa yang aku lakukan!" Pekik Seokjin. Ia menjambak rambutnya sendiri. "Matilah aku jika Namjoon melaporkan perbuatan ku kepada Mommy." "Seokjinh~ hug me pleasehh~" Namjoon menodongkan kedua tangannya kearah Seokjin. Ia sudah lelah dengan pelepasan nya. "Mianhae Namjoon, aku tak bermaksud. A-aku bodoh memang menodai mu sebelum kita diikat oleh janji." Seokjin mulai memakaikan celana Namjoon. Agak susah karena Namjoon sangat lemas. Jadi dia tak memakai baju. Seokjin pun memeluk Namjoon sambil mengelus punggung nya. Memberi kenyamanan agar Namjoon segera tidur. |6| "Eungh~" Namjoon mulai membuka kedua matanya. Kepalanya pusing sekali sehingga Dia memijat pelan kepalanya. 56
|He is Perfect| "Uh, dingin." Merasa dirinya dingin sepertinya angin sangat nakal karena bisa menembus kedalam bajunya. "Eh, baju?" Namjoon meraba dirinya. "What the fuck! Kenapa Aku telanjang?! Tck, tangan siapa ini-Hoek." Namjoon merasa mual dan segera bangun dari tidurnya lalu menuju kamar mandi. "Hoek uhuk-uhuk Hoek~" "Heung, hoam~ siapa sih pagi-pagi sudah muntah?" Seokjin mengucek mata kanannya sambil menyenderkan tubuhnya ke headboard. "Oh inikan bukan kamarku pantas rasanya disini sangat hangat dan aromanya sangat manis. Hm, seperti vanilla?" Seokjin memperhatikan dengan seksama interior kamar Namjoon. "Hiks Hoek uhuk-uhuk hiks eomma~ mual sekali hiks-hiks." "NAMJOON!" Seokjin berdiri dari atas kasur lalu segera berlari ke kamar mandi. Seokjin langsung mengurut leher bagian belakang Namjoon. "Gwenchanha?" "Gwenchanha? Masih tanya sekarang Aku bagaimana-hoek." 57
|He is Perfect| "Mianhae." Seokjin pun melanjutkan kegiatannya tadi hingga Namjoon sudah selesai memuntahkan isi dari perutnya. 'Jres' Seokjin menghidupkan air kran untuk membersihkan muntahan Namjoon dan juga membersihkan bibir dan sekitarnya. "Cha, sekarang Kamu pakai baju, Aku akan buatkan sup pereda mual." Seokjin menuntun Namjoon hingga Ke tempat tidur dan mendudukkan Namjoon. Seokjin pun menyodorkan kaos nya dan diterima oleh Namjoon yang sedang 'blank'. Hingga Seokjin berlalu Namjoon masih terbengong-bengong mencerna apa yang terjadi malam tadi. "Hu-huh, wae Aku dan Seokjin telanjang dada? Apa yang terjadi sebenarnya heol?! Aku harus cepat ingat detik ini juga." Namjoon berjalan kearah kaca besar yang ada dipojok kamarnya, untuk mematut dirinya. "U-uh wae-waeyo?" Namjoon memegang lehernya yang penuh kissmark berwarna keunguan. Matanya pun berkaca-kaca; satu tetes, dua tetes, hingga bertetes-tetes luruh ke pipi bak porselen itu. 58
|He is Perfect| "Andwae hiks-hiks a-andwae~" Namjoon menggelengkan kepalanya dan air matanya pun mulai berjatuhan. -He is Perfect- "Akhirnya selesai juga." Seokjin meletakan sup pereda mual itu di meja makan. "Heum, kenapa Namjoon tak turun, turun?" Sudah 20 menit Seokjin memasak tapi tak ada tanda tanda Namjoon muncul. Seokjin memutuskan untuk menghampiri Namjoon. "Namjoon?" Kepala Seokjin menyembul dari sisi pintu yang terbuka separuh. "Hiks-hiks." "Yak! Kenapa menangis?! Uljima ne?" Panik Seokjin ketika melihat Namjoon terduduk dilantai tanpa memakai kaosnya yang Ia berikan tadi sambil menangis. Lalu Seokjin berjongkok dan menghapus air mata yang mengalir di pipi gembil Namjoon. "Sstt, uljima ne? Cha~ sekarang kamu pakai baju dulu." Namjoon hanya menurut ketika Seokjin membantunya berpakaian. Setelah itu Seokjin menuntun Namjoon untuk berdiri, tiba-tiba saja Namjoon menangis lagi dengan sumpah serapahnya. 59
|He is Perfect| "Yak nappeun Namja! Hiks Kau apakan Aku semalam hah?! Kau hiks mengambil kesempatan dalam kesempitan kan! Fuck! Berengsek Kau!" Seokjin yang melihatnya saja merasa hatinya seperti diiris. Dia tau itu kesalahannya, salahkan hormonnya yang tak bisa Ia kontrol. Tapi Namjoon kemarin malam sungguh menggoda sekali. "Mian." "Mwo! Mian? Hiks akan ku adukan ke Eomma ku untuk membatalkan pertunangan kita. Hiks eomma~" Namjoon menangis sejadi-jadinya. "Mi-mian, Aku tak sengaja memang hormonku berlebihan ta-tapi Kamu sangat menggoda tadi malam." Sepertinya Seokjin salah berbicara. "Kau bilang aku hiks menggodamu?! Aku memangnya Namja murahan yang suka menggoda?! Hiks Kau keterlaluan Kim Seokjin!" Namjoon membanting tubuh Seokjin. Amarahnya memuncak. 'Brak' "Akh!" "Uhuk," Namjoon menginjak dada Seokjin. "Nam-namjoon jeongmal mianhae. Bukan begitu, kau bukan Namja penggoda 60
|He is Perfect| tapi sungguh malam itu kau sangat menggoda sesuatu yang ada di dalam diriku." Namjoon semakin menekankan injakan kakinya pada dada Seokjin. "Ya-yak! Ampun Namjoon. Kita tak melakukan apapun, kau masih eu~ perawan. Akh sa-sakit! Maksudku perjaka!" Namjoon langsung mengurangi tekanannya. "Kita hanya make out saja. Kau paham kan apa itu make out? Apa kita reka ulang saja hm?" Wajah Namjoon merona mendengar kalimat vulgar dari Seokjin. Namjoon segera keluar dari kamar nya. Seokjin hanya menyeringai mesum melihat tingkah malu-malu Namjoon. "Ya! Namjoon-ah, bagaimana kalau kita re-" "SHUT UP!" Namjoon duduk di kursi dengan wajah seperti tomat. "Hahaha~ kenapa kamu lucu sekali, Namjoon-ie hm?" Seokjin menyusul Namjoon yang duduk di kursi meja makan. Namjoon tak memperdulikan ucapan Seokjin, Dia fokus memakan sup pereda mabuk tersebut. "Not bad kan rasanya? Hoho~ aku kan pandai memasak." 61
|He is Perfect| Namjoon meletakkan sendoknya seraya menundukkan kepalanya. Bibirnya melengkung ke bawah. Seokjin menyadari perubahan yang terjadi pada Namjoon pun kelabakan. "Uh, Namjoon juga pandai memasak kok. Rasanya enak Aku jadi rindu masakan mu." "..." Namjoon menghapus air matanya dengan pelan. "Hey~" Seokjin menangkupkan wajah Namjoon seraya mengusap pipi gembil yang memerah itu. "Uljima. Maafkan atas sikap ku tadi malam hingga pagi ini. Hajar Aku saja jika itu membuatmu tenang." Namjoon menggeleng seraya melepaskan tangan Seokjin dari pipinya. "Aniyo, sudah kumaafkan Kau." Namjoon pun bangkit untuk mencuci mangkok bekas sup tadi. Seokjin hanya melihat Namjoon dengan tatapan sulit diartikan hingga Namjoon kembali ke kamarnya. "Hah~ mianhae." -He is PerfectHari semakin siang sekarang pukul sebelas siang. Sebenarnya Namjoon memiliki beberapa urusan dengan Dekan dan Professor di Fakultasnya tapi terpaksa Ia batalkan karena sudah terlambat dari jam janji dan juga rasa sakit akibat terjatuh kemarin malam. 62
|He is Perfect| "Huft, bosan~" Rengek Namjoon yang sedang tiduran di kasur. "Hump, rasanya sebal sekali dengan Seokjin. Aish awas aja nanti kuhajar Dia." Sungut Namjoon yang tiba-tiba Ia teringat dengan kejadian tadi pagi. "Apa aku ke agensi saja ya? Ah, tapi rasanya sakit sekali jika dibuat gerak. Tapi aku ingin membuat melodi." Namjoon berpikir keras. Jarinya mengetuk dagunya. "Hm~ kubuat disini saja lah. Akan kuminta suruhan Abeoji untuk mengirimkan beberapa perlengkapan studio ku di rumah ke apartemen ini." Namjoon segera mengambil ponsel keluaran terbaru itu dan mengetik pesan kepada Abeoji nya agar menyuruh suruhan beliau mengirimkan perlengkapan yang ada di studionya ke apartemen Seokjin ini. "Ye assa!" Senang Namjoon karena Abeoji nya setuju dengan hal itu dan dalam satu jam akan sampai ke apartemen Seokjin. Jika Namjoon senang dengan idenya, Seokjin sedang dilanda kesedihan. Seokjin berada di ruang tamu apartemen nya, menghafal skrip drama yang akan Ia perankan seminggu lagi. "Yak, michyeoseo Seokjin-ah. Ah, wae?" Seokjin memukul kepalanya dengan kertas skrip itu. 63
|He is Perfect| "Huh, harusnya aku lebih bisa mengontrol hormonku. Tck, sialan memang hormonku. Mau ditaruh mana image ku nanti?" Seokjin tidur selonjoran di karpet. Sudah satu jam Ia seperti itu tak ada niatan untuk bangun dan menghafalkan beberapa kalimat di skrip yang panjang itu. Seokjin sedang asik merutuki kesalahannya. 'Ting tong.' "Uh-huh nugu-ya?" Seokjin pun bangkit dari tidurnya dan segera berjalan kearah pintu apartemennya. 'Cklek' "Kami disuruh untuk mengantarkan barang milik Tuan Muda Namjoon oleh Tuan Kim." Ujar kaku orang suruhan Abeoji Namjoon. Pakaian nya pun mendukung sekali, kaku. Jas hitam, celana hitam, sepatu pantofel hitam, dan jangan lupakan earphone yang menghiasi telinga kanannya. "O-oh, baiklah silahkan masuk. Akan ku panggil kan Namjoon." Seokjin berjalan mendahului, Dia akan memanggil Namjoon. 'Tok' 'Tok' 'Tok' 64
|He is Perfect| "Namjoon-ah, orang suruhan Abeoji mu mengantarkan barang milik mu." 'Cklek' "Eoh, Jinjja? Okey, excusme sir aku mau lewat." Namjoon sedikit mendorong tubuh jangkung Seokjin yang menghalangi jalannya. "Tuan muda Namjoon, sebaiknya ini diletakkan dimana?" "Akan ku tunjukan ruangan nya. Ikutlah aku." Namjoon berjalan menuju kamar kosong. Sebenarnya apartemen ini memiliki 4 ruang kamar. Seokjin duduk di sofa melanjutkan kegiatannya yang tadi tertunda. Pikiran Seokjin melayang, sepertinya Dia akan membuat sesuatu dengan barang-barang yang dibawa suruhan Abeoji Namjoon tersebut. Seokjin berpikir keras. "Mwoya? Heum, oh jangan-jangan Dia akan membuat ruang latihan Taekwondo. Yak, yak habislah aku." -He is Perfect- "Kamsahabnida ne, telah membantuku merangkai alat-alat rekaman dan juga PC nya juga." Namjoon membungkukkan badannya sebagai ucapan terima kasih. 65
|He is Perfect| "Sudah tugas kami, Tuan muda Namjoon." "Alright, kalian boleh kembali. Oh ya jangan bilang pada Abeoji jika aku sedang terluka saat ini. Kalian lihat bukan kaki dan tangan terbalut plester?" "Iya dan kami mengerti Tuan muda Namjoon. Kami pamit." Beberapa orang suruhan Abeoji nya pergi dan kini ia duduk di kursi khususnya. "Hah akhirnya kembali ke profesi sebelumnya." Namjoon mulai menyalakan PC nya. 'Ting' 1 Message unread Abeoji Namjoon, karena kamu sudah wisuda. Abeoji meminta mu untuk mencari pekerjaan di luar sana, ini sebagai langkah pertama menuju kursi CEO. "Oh God! Aku harus mencari pekerjaan diluar sana, tapi passion ku sudah di musik." 'Ting' 2 message unread Abeoji 66
|He is Perfect| Jangan membantah, ini agar kau belajar bagaimana rasa berjuang dari titik nol |7| K Entertainment 09.00 KST "Selamat Anda diterima di K Entertainment sebagai asisten manager. Nilai IPK Anda yang paling tinggi Saya temukan selama ini dan juga hasil interview yang sangat memuaskan." CEO K Entertainment tersebut tersenyum menatap Namjoon sambil sesekali membaca hasil laporan interview Namjoon. "Nde, kamsahabnida Sajang-nim." Namjoon menundukkan kepalanya. Dia merasa tenang karena Ia mendapatkan posisi yang agak tinggi. "Namjoon-ssi, jika Anda lulus magang selama menjadi asisten manager dan juga menunjukkan kinerja yang luar biasa. Anda bisa naik jabatan, Saya percaya sekali Jika anda sangat cerdas dan bijak." "Wah, jinjjayo?! Baiklah Saya akan bekerja secara maksimal hingga masa magang Saya selesai." "Hahaha, nde semoga berhasil. Saya sangat menantikan pegawai seperti Anda bergabung di agensi saya. Oh iya, untuk masalah pekerjaan Namjoon-ssi nanti akan dikirim melalui email." 67
|He is Perfect| "Ne, Sajang-nim." "Kalau begitu pertemuan hari ini selesai. Terima kasih atas kehadiran Namjoon-ssi." "Harus nya Saya yang berterimakasih karena Sajang-nim menerima di agensi terbesar Korea ini. Saya pamit, permisi." Namjoon membungkukkan badannya lalu pergi dari ruangan CEO tersebut. -He is PerfectPagi harinya Namjoon bersiap dengan kemeja putih dan celana kain hitam. Sepatu pantofel hitam mengkilap melengkapi style formalnya hari pertama kerja. "Huft~ tenang Kim Namjoon, fighting pasti kau bisa!" Namjoon mengepalkan kedua tangannya, memberi semangat kepada dirinya. "Kim Namjoon?" Panggil seseorang. "Eoh, ne?" Namjoon terlihat bingung ketika ada yang memanggil namanya. "Eoh! Jimin-ie!" "Annyeong haseyo. Aku adalah Manajer yang akan menjadi pembimbing mu selama magang 3 bulan kedepan." Jimin tersenyum manis. 68
|He is Perfect| "Mohon bantuannya, Manager Park." Namjoon membungkukkan badannya. "Ne Algessseupnida Kim Sajang-nim, hehehe." Jimin terkekeh melihat Namjoon yang memelototi dirinya. "Sstt! Jangan sebut aku seperti itu nanti kalo ada yang mendengarnya bisa gawat." Namjoon meremas rambutnya dan matanya melotot. "Ye, ye Namjoon-ah. Tapi kenapa kau malah bekerja disini?" Jimin memiringkan kepalanya sambil menatap Namjoon bingung. "Huft, ini perintah dari Abeoji. Pokoknya aku terpaksa berada disini, Kau taukan passion ku dimana? Untuk mendapatkan kursi CEO aku harus memulai dari nol." "Uh-huh, ya sudah jalani saja Namjoon. Sekurangnya satu tahun bekerja disini." "Ih, itu lama sekali, Minnie. Ku pikir 3 bulan magang dan 4 bulan bekerja disini cukup lah. Setidaknya aku punya pengalaman dan jabatan ku naik disini. Karena Sajang-nim K Entertainment menjanjikan ku jika setelah magang selesai dan kinerja sangat bagus Aku bisa naik jabatan." "Sajang-nim cepat percaya padamu karena kau itu jenius Namjoon. Jadi setahun atau satu setengah tahun bekerja disinilah dulu. Nanti orang-orang disini akan curiga jika kau anak CEO agensi besar itu dan mengira kau itu mata-mata 69
|He is Perfect| yang dikirim dari agensi uri Abeoji." Jimin berbisik tepat di telinga Namjoon, ini sangat rahasia. "Hooh lah~ betul sekali yang kau bilang ini. Kenapa aku tak terpikirkan sama sekali." Jimin menatap malas Namjoon. "Tck, percuma punya IQ 148 ya." "Aish, apa yang kau bilang!" "Sstt, tenang anak baru. Mari kita bertemu dengan artis besar kita." Jimin merolling malas matanya jika membicarakan ini. Karena artis itu sedari tadi menatap mereka dengan tatapan tajam. "Huh, artis besar?" "Annyeong Manager-nim yang cerewet." "Sekali lagi kau bilang aku cerewet, pedang naga ku bisa menebas masa depanmu, arraseo?" Jimin menatap tajam seseorang itu. 'Hah! Suara ini!' Batin Namjoon lantas Ia menoleh dengan kaku untuk melihat orang tersebut. "Hah." Suara tercekat melihat sosok jangkung yang menatap angkuh dirinya. 70
|He is Perfect| "Annyeong, apa kau asisten manager yang baru itu?" Tanya Seokjin dengan nada yang kelewat santai. "N-ne annyeong haseyo, Seokjin-ssi." Namjoon menundukkan badannya, dihatinya sudah banyak sumpah serapah. 'What the fuck! Wae Aku bekerja dengan Seokjin, hah?!' Namjoon menegakkan badannya dan menatap horor Seokjin. Jimin yang melihat itupun hanya bisa menghela nafas berat. 'Hah, hari-hari kedepan pasti akan menyusahkan jika melihat kedua pasangan tunangan fenomenal ini.' "Manajer Park, hari ini jadwal ku pemotretan untuk brand chilsung chider saja kan?" Tanya Seokjin untuk mengalihkan suasana panas ini. "O-oh, jakkaman." Jimin membuka tabletnya dan membuka jadwal Seokjin hari ini. "Pagi ini jam 09.00 pemotretan untuk brand chilsung chider lalu jam 14.00 siang rapat pembacaan naskah drama mu dengan aktris sekaligus penyanyi solo, Lee Jieun." "Oke, lumayanlah jadwal hari ini hanya dua itu saja. Kalo begitu ayo kita siap-siap untuk pemotretan ku di lantai 3 gedung agensi ini." Seokjin berjalan menjauhi kedua orang ini. "Huft, selalu saja seenaknya sendiri. Yak, Namjoon aku tak pernah menyangka jika kau bertunangan dengan nya." 71
|He is Perfect| Namjoon hanya terbengong melihat Seokjin yang berjalan menjauhi mereka setelah menanyakan jadwalnya. "Oi, Namjoon dengar tidak?!" Jimin menepuk pundak Namjoon dengan keras "Ah, appo. Iya-iya aku dengar kok. Hari ini aku akan mengerjakan apa saja?" "Akan aku jelaskan sambil berjalan saja ya? Tapi kau sudah tahukan jadwal Seokjin untuk 3 bulan ini?" "Ne, aku tahu karena aku mendapatkan email tentang semua Seokjin kerjakan." "Itu aku yang mengirimkannya astaga, apakah kau tak membaca user name email itu?" Tanya heran Jimin, bagaimana temannya ini tak tau itu dia. "Oh itu kau! Tapi user name nya tertulis 'MinJimie' begitu." Namjoon menggedikan bahunya. "Oh i-iya juga ya. Emm~ marganya beda hehe." Jimin menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Marga? Min? Oh! I see." "Mw-mwo?" Keringat seukuran biji jagung melintasi dahi Jimin. 72
|He is Perfect| "Hehehe." Namjoon menatap Jimin dengan smirk. "Aku ingat jika kau menyukai seorang rapper dari Agensi Abeoji ku dan karena marganya 'Min' berarti itu—" "Sstt, diamlah. Tutup mulutmu jika kau tau itu Dia. Hah~" Jimin melepaskan tangannya dari mulut Namjoon. Dia berjalan dengan lesu. "Jangan patah semangat dong. Kau kan sering sekali ikut fansight AgustD bahkan kau satu-satunya pretty boy favoritnya. Aku ingat sekali fansight sebulan yang lalu kau memberikan gelang couple kepadanya dan dipakai hingga sekarang." "Eoh, jinjja!? Bukannya Yoongi Hyung itu menyukaimu?" Nada bicara terdengar putus asa, Jimin masih ingat jika enam bulan yang lalu Yoongi menembak Namjoon. "Aish, anak ayam ini. Yoongi Hyung menyerah dengan cintanya, Dia merelakan aku dengan Seokjin Hyung dan akan menganggap diriku ini sebagai adiknya. Hingga sekarang perlakuan dirinya kepadaku seperti adik dan kakak. Kau tak usah khawatir." "Uhum." "Jika ada waktu longgar akan kuajak Yoongi Hyung dan Seokjin Hyung makan malam bersama. Eotteoke?" "Jinjjayo?!" Mata Jimin berbinar sangat lucu seperti anak anjing. 73
|He is Perfect| "Ye jinjja. Akan ku bicarakan dengan Seokjin Hyung-ie dulu." Jimin tiba-tiba terkejut mendengar panggilan Namjoon kepada Seokjin. "Namjoon, seberapa dekat dirimu dengan Seokjin? Kau memanggilnya dengan lembut." "Eung, itu kami pernah kisseu—" Namjoon membekap mulutnya sendiri tak percaya jika dirinya keceplosan. "Oh-ho~ sudah kisseu-kisseu ya. Baguslah kalau begitu, berarti hubungan kalian berjalan baik tak seperti di drama-drama lainnya." "N-ne begitulah." "Aigoo, koala bongsor ini malu-malu." "Aish!" |8| 74
|He is Perfect| Namjoon terperangah melihat Seokjin yang begitu tampan dan maskulin ketika berpose. Ini benar-benar berbeda 180° ketika di apartemen. 'Gulp' "Aish, Jinjja ada apa dengan diriku?" Gumam Namjoon dengan gelisah dia berjalan kearah sudut ruangan yang berisi pakaian dan diatasnya ada AC. Sejenak dia mendinginkan dirinya. "Ya! Kenapa Kau disini, asisten baru?" Seringai Seokjin terlihat mengerikan. "A-ah ne itu a-aku hanya memastikan pakaian anda, Seokjin-ssi." Mata Namjoon bergulir ke segala arah pokoknya jangan menatap Seokjin. "Huh, bagus. Kalo begitu bantu aku berganti pakaian." 'JDER!' Namjoon langsung mematung dengan wajah pucat. 'Ah, Andwae!!' Pekik Namjoon dalam hati. "Waeyo, kau terdiam asisten baru?" Seokjin semakin mendekati Namjoon. Namjoon tengah terpojok! "Jeo-jeosong habnida, bi-bisakah Anda agak menjauh?" Tanya Namjoon dengan nada bergetar. 75
|He is Perfect| "Hn." Seokjin sudah cukup bermain dengan tunangannya, kasihan melihat wajahnya yang terlihat ketakutan. Tapi seru juga hahaha. 'Sret' Seokjin melepas kaosnya dan sekarang nampaklah tubuh atletis nya. 'Oh, shit roti sobek nya terlihat sempurna!' Namjoon terlena dengan pemandangan didepannya. "Ekhem!" Seokjin tahu jika Namjoon suka dengan pemandangan diperutnya. "Jeoseong hamnida, i-ini kemeja nya." Namjoon pun mengambil dan menyerahkan kemeja berwarna putih. Seokjin pun memakai nya. "Tolong kancing kan." "Ne?" Namjoon jadi dungu mendadak. "Tolong kancing kan kemeja ini." Perintah Seokjin dengan deep voice nya. "N-ne." Namjoon pun mengancingkan kemeja itu dengan merapalkan segala doa. "Oh ternyata kau ada disini, Seokjin." Jimin berjalan kearah mereka berdua dengan dua nunna stylish. 76
|He is Perfect| "Sekarang waktunya memperbaiki riasan wajah mu." Seokjin agak menunduk agar nunna stylish itu bisa menggapai wajahnya dan rambutnya. Setelah selesai memperbaiki riasan Seokjin pun segera menuju set foto disebelah set pertama tadi. "Huh~" Namjoon bernafas lega. "Wae?" Jimin tersenyum dengan misterius. "A-ani." Namjoon hanya tersenyum kaku. "Ah~ pasti kalian habis ehem-ehem ya?" Well Jimin semakin menjengkelkan di mata Namjoon. "Enggak ya! Sembarangan kalau berbicara." "Iya-iya aku hanya bercanda saja. Segitu nya marah." Jimin hanya tersenyum manis melihat wajah memerah Namjoon. "Oh ya, Jimin?" "Hm?" "Setelah ini kita pulang kan?" "Kau lupa ya, Seokjin mempunyai jadwal di jam dua siang. Pembacaan naskah drama dengan penyanyi solo sekaligus aktris, Lee Jieun." 77
|He is Perfect| "O-oh ya mianhae Aku lupa." -He is Perfect15.45 KST K Entertainment "Mianhae, Aku tak bisa selalu bersamamu." Seokjin membaca dengan penuh penghayatan. "Geunde, Youngjae dengan janjimu jika Kau akan selalu bersama ku entah apapun yang terjadi." Jieun pun, dia aktris populer sebelum Seokjin debut. "Ah, itu mianhae aku mengingkari janji itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena keluarga ku sudah mengatur pertunangan dengan kolega bisnis keluarga Jung. Jebal mengertilah, carilah Namja yang baik jangan seperti ku." "Ani! Aku hanya ingin dirimu! Kajja, kita temui keluarga mu. Katakan jika aku adalah kekasihmu, pasti mereka mengerti." Suara Jieun terdengar menyayat hati. Namjoon yang melihat ikut terenyuh. 'Kenapa drama ini hampir sama dengan kehidupan ku?' Batin Namjoon. "Tidak bisa Yerin, terlalu bahaya untuk dirimu. Aku takut terjadi sesuatu pada dirimu." 78
|He is Perfect| "..." Suara isakan dari Jieun, karena memang di skrip drama tertulis jika pemeran menangis. "Stop." Gamdok-nim menghentikan pembacaan naskah drama ini. "Kalian taukan setelah pemeran Yerin menangis, Youngjae menangkupkan pipi Yerin dan menciumnya. Saya ingin melihat dan memberi arahan untuk gaya ciumannya." "Hah?!" Pekik Namjoon dengan lirih. Memang segini kah pembacaan teks. Dirinya tak rela melihat tunangannya mencium selain dirinya. 'Eh, apa-apaan sih pikiran ku?! Namjoon kamu itu tak mencintai Seokjin.' Namjoon menggelengkan kepalanya. Jimin yang melihat Namjoon pun jadi bingung. "Yah, Namjoon ada apa dengan dirimu?" Lirih Jimin. "Anieyo, a-aku hanya pusing." Namjoon berbohong padahal dipikiran nya sekarang tentang Seokjin. "Oh oke." Namjoon pun mulai melihat adegan ciuman antara Seokjin dengan Jieun. Tanpa disadari tangannya mengepal kuat. Seokjin mulai menangkupkan pipi Jieun, matanya menatap Jieun. 79
|He is Perfect| "Mianhae geurigo saranghae." Seokjin mencium Jieun. "Ya seperti itu lumat bibir Jieun-ssi, itu menandakan seberapa besar cintanya Youngjae ke Yerin." Arahan Gamdok-nim drama ini pun diikuti patuh oleh keduanya 'Cplak' 'Cplak' "Cukup. Lalu kecup bibirnya dan satukan dahi kalian lalu menangislah. Ini akan menjadi scene bagus di akhir drama." "Tck, berasa drama porno." Namjoon pun keluar dari ruangan. Lama-lama ruangan ini panas. Seokjin sempat melirik Namjoon yang keluar dari ruangan ini. 'Aku tahu kau pasti mencintai ku, Namjoon.' Dilain tempat Namjoon duduk dengan mempoutkan bibirnya dengan kesal. Entah kenapa dihatinya terasa sakit. 'Tes' "Oh wae air mata ku keluar?!" Dengan kasar Namjoon menghapus air matanya. "Namjoon!" Panggil Jimin. "Ne?" 80
|He is Perfect| "Aigoo lesu sekali dirimu. Hm, setelah ini jadwal Seokjin selesai. Kamu boleh pulang." Jimin tersenyum manis, mau tak mau Namjoon ikut tersenyum. "Ada apa denganmu tiba-tiba keluar dari ruangan?" Tanya Jimin penasaran. "Em~ gwenchanha, aku hanya merasa panas saja didalam sana. Mangka dari itu aku keluar untuk menyejukkan diriku, Min." "Hm, kukira kau cemburu melihat tunangan mu bercumbu dengan Yeoja." "Mwo?! Bercumbu?! Mereka hanya berciuman biasa." Bentak Namjoon namun dijawab kekehan oleh Jimin. "Iya-iya mereka hanya berciuman bukan bercumbu. Santai saja Namjoon jika menjawab, aku terkejut mendengarnya. Berasa dirimu cemburu saja." Dan timbullah senyum menjengkelkan itu. "Tck, diamlah." "Kamsahabnida." Ucap Jieun seraya keluar dari ruangan. "Ne kamsahabnida." Seokjin pun berucap juga sambil mem-bow. 81
|He is Perfect| "Semoga kita menjadi teman yang baik setelah drama ini." Ujar Jieun seraya tersenyum. "Kupikir begitu. Yasudah saya pulang dulu, Jieun-ssi." Seokjin pun meninggalkan Jieun yang masih menatapnya dengan senyum bahagia. Namjoon yang menatap Jieun pun mendengus kasar. Tak sengaja mata Namjoon dan Seokjin bertemu. Namjoon langsung memalingkan wajahnya sedangkan Seokjin hanya terkekeh. "Ayo Namjoon." Ajak Jimin yang berjalan disamping Seokjin. "Hm." Namjoon pun menyusul mereka berdua. Setelah memasuki lift Seokjin memutar tubuhnya menghadap Namjoon. "Ya asisten baru, nanti pulang bersamaku—" "A—" "Aku tak menerima penolakan!" Seokjin langsung memotong ucapan Namjoon. "Cih, awas saja kubanting kau!" Gumam Namjoon. Jimin yang mendengarnya hanya tersenyum senang. Senang sekali melihat Seokjin sangat perhatian dengan sahabat sekolah nya dulu. 82
|He is Perfect| -He is perfect- 'Blam' Namjoon menutup pintu mobil dengan kasar. Seokjin hanya menggelengkan kepalanya. "Saat sampai di apartemen tolong masakan sesuatu, aku sangat lapar. Ne?" Seokjin menatap wajah kesal Namjoon. "Hm." Namjoon hanya menatap sekilas Seokjin lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. "Gomawo." Seokjin mengelus rambut Namjoon dengan sayang. "Hm." Wajah Namjoon pun memerah akibat perlakuan Seokjin. Perjalanan menuju apartemen hanya 15 menit saja, karena jalanan sore hari ini agak macet. 'Pip, pip, pip~' Seokjin membuka sandi apartemen nya. "Mandilah dulu baru kau memasak." Seokjin pun meninggalkan Namjoon yang sedang berjalan lesu dibelakangnya. Setelah Seokjin tak terlihat. Namjoon mulai mencak-mencak. 83
|He is Perfect| "Aish, Jinjja!! Menyebalkan!!" Namjoon meletakkan tasnya dilantai tanpa memikirkan barang berharga didalamnya. "Awas saja kau, Seokjin. Dan kenapa hatiku sakit melihat nya berciuman dengan Yeoja. Oh wae~" Namjoon berjongkok dan menulungkupkan kepalanya di kedua kaku sambil meremat rambutnya. |9| Setelah makan malam, Namjoon duduk termenung didepan televisi yang menayangkan kartun Pororo. Seokjin sedang mencuci piring. Mereka menerapkan peraturan jikalau yang satu sudah masak jadi yang satu nya tinggal membersihkan peralatan dapur. By the way, itu peraturan baru ditetapkan saat Namjoon diterima di Agensi yang sama oleh Seokjin. 'Drrtt' 'Drrtt' 84
|He is Perfect| Ponsel Namjoon berbunyi dan muncul tampilan panggilan dari Eomma. Namjoon tak menyadari panggilan tersebut. Seokjin yang kebetulan habis mencuci peralatan dapur melewati belakang Namjoon dan melihat panggilan di ponsel tersebut. 'Pip' "Yeoboseyo eommoni." Seokjin mengangkat panggilan itu. "Eoh, yeoboseyo Seokjin-ah! Namjoon kemana malah kamu yang mengangkat panggilan Eomma?" "Namjoon ada disini Eommoni sedang melihat televisi. Entah kenapa tak mendengar panggilan." Jujur Seokjin, agak aneh Namjoon yang terlihat termenung jauh dari kata melihat televisi. "Oh~ yasudah biarkan saja Dia melihat kartun kesukaannya. Eomma hanya ingin menanyakan kabarnya saja, sudah seminggu tak mengabariku." "Namjoon-ie baik-baik saja Eommoni. Jangan khawatir Eommoni, Seokjin selalu menjaga Namjoon-ie." "Gomawoo Seokjin-ah Eomma jadi tenang, karena Namjoon itu anaknya keras kepala, Dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Tolong jaga Namjoon ya. Eomma tutup teleponnya. Annyeong." "Nde, Eommoni annyeong." 85
|He is Perfect| 'Pip' Seokjin menatap Namjoon sendu. Saat berbicara dengan Eomma Namjoon, terdengar nada risau seperti firasat kalau anaknya sedang dalam masalah. 'Hm, Eomma mu mengkhawatirkan mu, Namjoon. Ada apa denganmu?' Seokjin duduk disamping Namjoon menatap wajah Namjoon yang menatap televisi dengan pandangan kosong. Tangan Seokjin bergerak mengelus kepala Namjoon dengan lembut. "Uh?" Namjoon menatap dengan wajah terkejut namun dengan cepat berganti dengan wajah sedih. "Waeyo Namjoon?" Seokjin menatap Namjoon bingung. 'Sret' Namjoon berdiri dan berlari ke kamarnya. Seokjin melihat air mata itu meluncur di pipi Namjoon. Ada apa dengan anak itu? "Aku jadi bingung kenapa tiba-tiba menangis. Tapi memang benar firasat seorang Eomma tak meleset, apa ada yang salah dengan hari pertamanya bekerja?" Seokjin berpikir keras, hal apa yang membuat Namjoon begitu sedih. Padahal selama sehari ini Namjoon mengikuti dirinya. 86
|He is Perfect| 'Ting' Sepintas pikirannya menampilkan saat tadi pembacaan naskah drama. "Eoh? A-apakah benar Namjoon cemburu?" Wajah Seokjin memerah dan bibirnya terbentuk senyuman. Tangannya memegang dadanya, tepat jantung berada. "Astaga! Tapi itu benar? Jangan senang dulu Seokjin, um~ tapi sudah setahun kami seatap seharusnya Dia mulai mencintai diriku." Seokjin mulai terkekeh geli. "Semoga saja Namjoon benar-benar mencintai diriku. Setidaknya cintaku tak bertepuk sebelah tangan." |He is Perfect| Pagi harinya Namjoon bangun lebih pagi, dengan wajah kusut dan muka bengkak karena kemarin menangis hingga tertidur. Dia menuju dapur, memasak bibimbap menu sederhana dan cepat. Membuat 2 porsi, yang satu Namjoon makan dan yang satu Ia letakan di meja makan dengan sticky note tertulis. - - - - - - - - - - - - - - -- - - - Sarapan untukmu, mian hanya bisa memasak ini #Namjoon 87
|He is Perfect| - - - - - - - - - - - - - - -- - - - "Huft, fighting Namjoon. Kau pasti bisa." Namjoon kembali ke kamarnya dan segera mandi. Sesampai di gedung agensi, Namjoon segera menemui Jimin. Kemarin sudah janji bertemu di jam sembilan tepat. "Namjoon." Panggil Jimin di tempat duduk Lobi agensi. "Jimin!" Namjoon berlari kecil kearah Jimin. "Kamu datang sendirian kah?" "Ne," "Ey~ tak usah bersedih hati ini kita akan berlibur." Hibur Jimin, Dia tau kalau Namjoon itu cemburu dengan pembacaan naskah drama kemarin. "Hah, berlibur? Jadi kita enggak kerja dong." Semangat Namjoon. "Hmm~" Jimin tersenyum misterius dan Namjoon pun tak curiga. |He is Perfect| "Schedule ku hari ini ke Jeju kan?" Tanya Seokjin ke Jimin sedangkan Namjoon menundukkan kepalanya enggan menatap Seokjin. 88
|He is Perfect| "Ya benar sekali kau Seokjin, hari ini kita akan berangkat ke Jeju untuk syuting MV terbaru mu. Nanti kita akan di Jeju selama 3 hari, jadi kerahkan tenaga mu agar selama syuting MV mu agar cepat selesai. Benarkan Namjoon?" Jimin mengerling nakal ke Namjoon. Namjoon gelagapan menatap Jimin lalu tanpa sengaja menatap Seokjin yang juga menatap dirinya penasaran. "O-oh majja." Cicit Namjoon segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Jadi nanti jam 11.00 kita bertemu di bandara Incheon, aku harus mengurus sesuatu disini. Namjoon selalu disamping Seokjin ya, nanti ku kirim jadwal selengkapnya selama 3 hari kedepan." "Baiklah aku mengerti." Jawab Namjoon dengan lesu, padahal niatnya ingin menjaga jarak dengan Seokjin. Hatinya bertalu-talu dan ada sedikit terasa sakit. Aneh sekali pikir Namjoon. |He is Perfect| Incheon airport Tempat tunggu Disinilah Namjoon dan Seokjin berada. Jadwal keberangkatan Seokjin tak diumumkan oleh pihak agensi atas permintaan 89
|He is Perfect| Aktor tersebut. Ia butuh ketenangan dan menghirup udara bebas. Sementara itu Namjoon gelisah, baru pertama kali ini Dia berpergian sendiri dengan jarak jauh. Biasanya Namjoon ditemani oleh Eomma ataupun Abeoji nya saat bepergian jauh. Ia takut jika terjadi sesuatu dan menyusahkan staff ataupun tunangannya. Pasti tunangannya itu memarahinya jika Namjoon melakukan kesalahan. Karena memang Seokjin orangnya tegas dan tak suka keributan. "Seokjin Hyung?" Tanya Namjoon dengan ragu. "Ye?" Seokjin menatap Namjoon dengan serius. "A-aku ingin ke toilet, boleh kah?" "Kenapa harus bertanya seperti itu? Kalau ingin tinggal ijin saja, memang aku ibu mu?!" Meskipun terdengar biasa saja namun kalimat itu menusuk tajam. "..." Namjoon hanya menunduk takut. "Kenapa diam saja, sana pergi nanti mengompol disini malu-maluin tahu?!" Bentak Seokjin tapi tak terdengar keras. "Ne." Namjoon langsung pergi ke toilet. Takut mendengar nada bentak Seokjin, meskipun sudah terbiasa itu terdengar mengerikan. 90
|He is Perfect| Seokjin itu seperti memiliki dua kepribadian, kadang kasar dan tak ingin dibantah kadang lembut dan perhatian. Namjoon bingung jika Seokjin seperti itu, apakah Seokjin memang memiliki gangguan mental? "Huft, lega nya. Selalu seperti ini kalau sedang gelisah." Namjoon menekan tombol flush toilet, selepas itu membenarkan pakaiannya dan- 'Klek' "Wae tak bisa dibuka?!" 'dok-dok!' Namjoon mencoba mendobrak pintu kamar mandi sambil memutar knop pintu. "Ah jebal buka~" Namjoon berusaha membuka pintu. "Yang ada diluar tolong bantu buka pintu ini!" 'Dok-dok!' Namjoon mengetuk pintu dengan keras, tenang Namjoon kan atlet jadi tak merasa sakit. "Jakkamanyo akan saya buka." Terdengar suara dari luar. "Ah ne!" 91
|He is Perfect| 'Klek!' "Anda tak apa tuan?" Tanya petugas kebersihan bandara tersebut. "Ne gwenchana, kamsahabnida telah membukakan pintu ini." "Ah bukan apa-apa Tuan, ini kecerobohan saya tak memberi tanda bahwa pintu ini rusak. Mianhada." "Eh eh jangan membungkuk, tak apa itu kan wajar. Aku aja selalu ceroboh hehe." "N-ne tuan." "Yasudah aku harus kembali ke ruang tunggu, sekali lagi terimakasih ya." Namjoon meninggalkan kamar mandi itu. Namjoon pun berjalan dengan santai, Dia berpikir kalau jadwal penerbangan masih 15 menit lagi, masih lama. Tapi entah kenapa Dia merasa cemas dan kepikiran Seokjin. Lantas Namjoon melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "What the fuck, pesawatnya!" Namjoon pun berlari menuju ruang tunggunya. Disana sudah ada Seokjin yang berdiri dengan bersedakap dada memandangi dirinya dengan tajam. 92
|He is Perfect| "Habis darimana saja?" "Mianhaeyo Hyung, tadi aku terjebak di kamar mandi karena pintunya macet." "Tck, kau tau jam berapa sekarang?" "Jam 11.25." jawab Namjoon dengan nada polos. Seokjin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, antara gemas dan kesal. "Kita sudah terlambat 5 menit yang lalu Kim Namjoon, astaga bagaimana ini?" "A-aku akan cari tiket Seokjin Hyung, mianhae jika menyusahkan mu." Namjoon membungkuk tubuhnya lantas meninggalkan Seokjin diruang tunggu. |10| Incheon Airport Loket Pembelian Tiket 93
|He is Perfect| Namjoon menuju ke loket pembelian tiket pesawat dengan langkah terburu-buru. "cheogiyo, tiket menuju Pulau Jeju penerbangan pagi ini masih ada tidak ya?" "Jeosonghamnida, tiket menuju Pulau Jeju untuk pagi ini telah habis. Adanya untuk penerbangan jam 12.00 siang." Ujar Yeoja di loket tersebut. Namjoon pun mengucapkan terima kasih dan menjauhi loket. Namjoon tidak bisa berpikir lagi, Dia takut dimarahi oleh Seokjin. Entah bagaimana nasibnya sekarang? Karena posisinya sebagai asisten Manager, sebagian beban Manager ada dipundaknya sekarang. Apalagi namjoon diberi posisi untuk selalu dekat sang aktor. "Aish! Cepat sekali kamu berjalan. Bagaimana dengan tiketnya? Apakah sudah dapat?" "Maaf aku tak bisa mendapatkan tiket untuk pagi ini, tiket tersedia di jam 12.00 siang nanti." ujar Namjoon dengan kepala menunduk "Ahh~ Jinjja! Schedule ku jadi terlambat ini. Otteoke? Berpikirlah Jin." Seokjin memijat pangkal hidungnya, berpikir keras. Sedangkan Namjoon hanya menatap sang Solois saja. "Kamu beli jam 12.00 itu di kelas VIP, sedangkan aku akan menghubungi Manager Park agar schedule ku bisa mundur 3 jam." 94
|He is Perfect| "Arasseo Hyung-nim." Namjoon pun segera menuju loket dan membeli tiket kelas VIP. Namun Ia terpikirkan satu hal. "Tiket menuju Pulau Jeju dengan kelas VIP ingin dibayar cash atau dengan kartu Tuan?" 'Jdeerr!!' "Ah itu pakai blackcard saja." Namjoon mengeluarkan kartu blackcard nya. Batinnya meringis tapi salah Namjoon sendiri. "Kamsahabnida semoga perjalanannya lancar, Tuan." "Ne~" Namjoon pun pergi dari loket dan mencari Seokjin. |He is Perfect| 12.00 Incheon airport Solois sekaligus aktor tersebut jalan mendahului sang asisten manager. Karena Namjoon sedang membawa koper miliknya dan juga milik Seokjin. Untung saja tak ada orang yang mengenali Seokjin. Jadi mereka aman sampai di kursi VIP dan ternyata disana hanya ada mereka berdua. Dewi Fortuna mendukung mereka. 95
|He is Perfect| "Ah lega nya." Gumam Seokjin, Ia duduk di kursi sambil menyamankan dirinya di kursi kelas VIP tersebut. Sedangkan Namjoon bersusah payah meletakkan 2 koper besar. Sudah badan Namjoon itu kecil, harus membawa 2 koper besar tersebut. Untung saja ada Pramugara tampan lewat dan membantu Namjoon meletakkan 2 koper besar itu. "Mari saya bantu." "Oh~ kamsahabnida kamu penyelamatku." Namjoon tersenyum manis hingga lekukan pipi nya timbul. "Ahaha sudah jadi tugas Saya, tuan." Pramugara tersebut berbadan tinggi kekar jadi sangat mudah meletakkan koper besar itu di kabin pesawat. Namjoon melihat pramugara tersebut tanpa berkedip, dia jadi iri karena bentuk tubuh nya tinggi kekar sedangkan Ia tinggi namun kecil. 'Huh, aku ingin nge-gym saja biar mudah karena Seokjin Hyung senang sekali merepotkan ku.' "Tuan?" Panggil beberapa kali pramugara tersebut karena melamun namun melihat dirinya dengan intens. "E-eh jeosonghamnida." Namjoon membungkuk kan tubuhnya dengan kikuk dan pergi meninggalkan pramugara tersebut. Namun kesialannya masih berlanjut. 96
|He is Perfect| "Akh!" Namjoon yang tak melihat depannya, tertabrak entah sesuatu hingga ia terpental dan untung saja pramugara tersebut dengan sigap menangkap tubuh Namjoon. "Uh, mianhaeyo aku tak melihatmu, Hyung." "Tck." Seokjin lah yang ditabrak oleh Namjoon. Dengan cuek Seokjin pergi meninggalkan Namjoon yang berada dipelukan Namja asing. "Anda tidak apa-apa, Tuan?" Pramugara tersebut menatap khawatir Namjoon. "Gwenchanayo, hanya tertabrak sedikit kok." Namjoon tersenyum untuk melegakan sang Pramugara tersebut. Itu tak luput dari pandangan Kim Seokjin. Tangannya mengepal erat dan terlihat telinganya memerah. Tanda Ia sedang menahan emosi. Setelah insiden tersebut Seokjin menjadi lebih pendiam sedangkan Namjoon tersenyum setiap saat sambil membalas chat dari teman agensinya. "Hahaha." Namjoon tertawa terpingkal-pingkal hingga tubuhnya ambruk ke sisi kanan Seokjin. Seokjin sedari tadi hanya menatap gumpalan putih yang ada diluar jendela pesawat. Tubuhnya tersentak ketika tubuh Namjoon limbung kearahnya. 97
|He is Perfect| 'Aigoo, apakah anak ini tak memakai sabuk pengaman?' Batin Seokjin menatap wajah Namjoon yang terlihat senang. "Ah~ jinjja Yoongi Hyung sangat manis hm~" Ucap Namjoon tanpa sadar. Seokjin yang mendengarnya menjadi panas, Ia tahu jika Yoongi itu menyukai karena Abeoji Namjoon sendiri yang bilang. Maka dari itu salah satu alasan lainnya mereka berdua di tunangkan. Seokjin menatap wajah Namjoon dengan tajam. Otaknya merekam raut bahagia dan senyum manis, juga tawa yang merdu. Namjoon malah menyamankan posisi menjadi tidur menyamping sambil mengetik di ponselnya. 5 cm jarak wajah Seokjin dari Namjoon. Namjoon merasa ada nafas hangat menerpa wajahnya. Menyingkirkan ponselnya lantas memelototi Seokjin. Semakin mendekat dan mendekat, Namjoon menahan bahu Seokjin namun Seokjin mencekal tangan Seokjin. "Uh jakkamanyo." Cicit Namjoon saat hidung mereka bersentuhan. 'Chuu~' "Hmm!!" Namjoon menggeram disela ciuman mereka. 98
|He is Perfect| Seokjin malah menggigit bibir bawahnya Namjoon dan melesakkan lidahnya kedalam rongga mulut Namjoon. "Umhhh~" Namjoon mengerang ketika lidah Seokjin bertarung dengan lidahnya. Saliva mereka bercampur hingga keluar dari dari sudut bibir Namjoon. Seokjin menikmati French Kiss paksaan nya, rasa cemburu menguasai dirinya. Dan hari ini hari terburuk nya karena tertinggal oleh pesawatnya. "Ngghh~ Seokhh~ Jinhhh~" 'Cplak' 'Cplak' "Pwaahh~" Nafas Namjoon tersengal-sengal karena kekurangan oksigen, ciuman mereka berdurasi 3 menit. Seokjin menatap Namjoon yang wajahnya memerah dan menatap sayu dirinya. Namjoon langsung bangkit dari tidurnya dan menjauh ke sudut kursi. Seokjin sadar yang apa ia lakukan, karena melihat Namjoon yang terlihat menggoda padahal Namjoon biasa saja. Seokjin memegang tangan Namjoon dan menariknya pergi dari kursi penumpang. 99