The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Pradana Vibri, 2023-10-18 23:31:48

He is Perfect

He is Perfect

|He is Perfect| "Ahh akkhhh!!" "Ahhh sayanghhh!!" Namjoon langsung terjatuh lemas karena kelelahan. Seokjin segera melepas tautannya dan menidurkan Namjoon di pelukannya. "Gomawo sayang." "Hmmm" |He is Perfect| Pagi harinya Namjoon menjadi manja ingin mandi bersama dengan Seokjin. Seokjin senang hati melayani permintaan Namjoon. Setelahnya Namjoon ingin sekali memakai kaos milik Seokjin, Seokjin biasa saja sebenarnya namun terselip rasa heran. Karena apa? Karena Namjoon ingin menghirup aroma Seokjin dengan semaunya tanpa merepotkan tunangannya, jadi dia memakai kaos milik Seokjin yang terlihat kebesaran ditubuh nya. Dan beraroma khas Seokjin. Seokjin menggendong tunangannya ala bridal style menuju dapur, Namjoon mengendus-endus leher Seokjin yang aromanya sangat candu. Seokjin lama-kelamaan menjadi geli, sedari kemarin malam Namjoon selalu seperti itu. 250


|He is Perfect| Dengan hati-hati mendudukkan Namjoon di kursi meja makan namun si manis merengek tak ingin menjauh dari Seokjin. "Namjoon sayangnya Hyung, Hyung ingin masak untuk kita berdua makan. Jadi kamu duduk sini dulu ya?" "Ani, Anieyo!" Kaki Namjoon berayun-ayun di udara dan tangannya masih memeluk leher Seokjin. "Lalu yang masak siapa hm?" "A-aku ingin sup kimchi nabe buatan uri eomma~" "Kenapa tiba-tiba ingin masakan itu sayang? Hyung bisa kok memasakkan untukmu, sayang." "Namjoon ingin yang pedas gurih, dan ingin makan daging juga. Tapi Namjoon juga ingin eomma yang memasakkan makanan itu di apartemen kita." "Pasti eomma sibuk sayang, biar Hyung saja yang masak ya?" "Hiks ani hiks-hiks eomma~" Namjoon menangis karena keinginannya tak dituruti oleh Seokjin. "Eh— jangan menangis Namjoon-ie, baiklah Hyung akan menghubungi eomma agar kesini memasakkan makanan yang sayangnya Hyung inginkan." "Hm, yaksok?" 251


|He is Perfect| "Yaksok." "Gomawo!!" Namjoon mengecup bibir tebal Seokjin secara singkat. Seokjin terkejut lalu terkekeh geli melihat tingkah manja Namjoon yang jarang-jarang ini. Seokjin yang masih menggendong Namjoon pun menuju kamar untuk menghubungi calon mertuanya. Namjoon duduk manis di pangkuan Seokjin sembari mengendus-endus aroma maskulin sang domnian. "Yeoboseyo, eommonim." "..." "Eommonim jeosonghabnida sebelumnya, Namjoon-ie ingin sekali memakan masakan buatan eommonim dan memasaknya langsung disini. Jadi apakah eommonim bisa ke apartemen kami?" "..." "Ah, kamsahabnida eommonim maaf merepotkan. Ne.. ne.. annyeong." 'pip' 252


|He is Perfect| Seokjin menaruh ponselnya di nakas meja lalu memeluk gemas Namjoon yang mendusel di lehernya. Sekitar 15 menit bel apartemen berbunyi, 'Ding-dong' "Sayang, kamu disini dulu ya? Hyung ingin mempersilahkan eomma dan abeoji masuk ke apartemen." "Hng, jangan lama-lama nanti kesini lagi pokoknya." Seokjin menahan tawanya melihat wajah cemberut Namjoon. "Arraseo, cuma sebentar kok." 'cup' Setelah mengecup bibir Namjoon, Seokjin segera menuju pintu depan apartemennya. Mempersilahkan calon mertuanya memasuki apartemen. "Annyeong hasibnika, Eommonim dan Abeonim." "Nde, Yoongi-ya. Oh ya mana Namjoon-ie?" Tanya eomma Kim. "Namjoon-ie sedang di kamar eommonim, maaf sudah merepotkan eommonim dan abeonim repot-repot berkunjung ke apartemen kami." "Ani-aniya, eomma sangat senang kapan lagi bisa berkunjung ke apartemen kalian. Ya sudah eomma akan memasakkan sup 253


|He is Perfect| kimchi nabe yang diinginkan Namjoon-ie. Aigoo manja sekali." "Lalu aku ngapain sayang?" Tanya Abeoji Kim yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan menantunya dan istrinya. "Kau duduk saja menemani anak-anakmu. Kau itu suka sekali bekerja jarang bertemu anakmu." "Arraseo.." |He is Perfect| "Hyung, lama~ sekali." Namjoon mempoutkan bibirnya, merajuk. "Mian sayang Hyung masih berbicara dengan orang tuamu. Baiklah kita ke ruang tamu menemani Abeoji mu." "Aku tak mau jalan maunya di gendong." Tangan Namjoon bergerak random di udara sambil merengek. "Apa kamu tak malu dengan orang tuamu sudah besar kok masih minta di gendong. Eoh, nanti orang tuamu curiga kalau kita habis melakukan itu." "A-apa Hyung tidak mencintaiku? Hiks hiks aku benci Seokjin Hyung huwaa~" "Eh-ehh, tidak begitu Namjoon. Ya sudah Hyung gendong ini." 254


|He is Perfect| Namjoon terkekeh senang saat Seokjin menggendong dirinya. Dia memeluk mesra leher Seokjin sembari mengusel leher sang Dominan. "Abeoji~" panggil gemas oleh Namjoon. "Ah—astaga Namjoon kasian Seokjin, sayang.." Abeoji Namjoon terkejut melihat anaknya digendong oleh menantunya. "Abeoji bogoshipoo~" Seokjin mendudukkan Namjoon di samping Namwoo dan Namjoon pun langsung memeluk abeojinya. Namun tak berlangsung lama karena Namjoon melepas pelukannya. "Huwek!! Abeoji pakai parfum apa?! Baunya membuat Namjoon mual." Namjoon menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya lalu menjauh dari Abeoji nya. "Hm? Hm" Abeoji Kim mencium aroma tubuhnya. "Abeoji memakai parfum seperti biasanya, ini kesukaan eomma mu." "Tapi baunya tidak enak, perutku mual. Hyung, duduk agak jauh dari Abeoji, ne?" Seokjin hanya mampu menuruti kekasih hatinya, karena melihat raut Namjoon ia merasa kasian. Setelah menggeser posisi namjoon tapi Namjoon tak ingin melepas pelukannya. 255


|He is Perfect| "Aku ingin duduk dipangkuan Hyung!" "Iya-iya sayang aku mengerti." Seokjin sedikit ciut melihat raut garang Namjoon. |26| Namjoon, Seokjin, beserta orang tua Namjoon sedang duduk di meja makan. Eomma menyajikan masakannya kepada anak tunggalnya ini, Namjoon menatap senang sup kimchi nabe tersebut. "Bagaimana sayang kamu senang?" Tanya Seokjin sembari mengelus surai kecoklatan milik tunangannya. "Hump!" Namjoon tersenyum senang lalu mengecup bibir tebal Seokjin tanpa memperdulikan tatapan orang tuanya sendiri. "Ekhem." Abeoji berdehem sedangkan istrinya menatap tak percaya ulah anak kesayangannya. "Abeoji sakit tenggorokan?" Tanya polos dari Namjoon. Muka seokjin sedikit memerah betapa polosnya tunangannya itu. 256


|He is Perfect| "Mari kita mulai acara makan kita, jal meokgeussseumnida." Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang bicara, hanya ada suara dentingan sendok dan mangkok hingga sup tersebut habis. "Namjoon-ie kenapa manja hm?" Tanya lembut eomma. "Hm, Namjoon sedang ingin eomma." Bibir Namjoon maju kedepan, merasa eomma tidak suka saja padahal hanya bertanya. "Kenapa cemberut begitu nanti seperti bebek loh." "Eomma~" rengek Namjoon. "Aigoo~ manjanya anak eomma~ jadi rindu Namjoon yang dulu." Ujar eomma sembari membereskan dapur bersama menantunya. Namjoon hanya duduk di kursi meja makan bersama sang Abeoji yang sedang meminum kopinya. "Seokjin-ah, selama ini apakah Namjoon merepotkan mu? Terlihat ia sangat manja begitu." "Aniya, eommonim. Namjoon itu pintar sekali membagi waktu antara pekerjaan dan rumah, kalau untuk manja baru akhir-akhir ini eommonim. Saya tidak tahu kenapa tapi Saya suka kalau Namjoon manja begitu." "Kenapa suka kalau Namjoon manja, itu merepotkan." 257


|He is Perfect| "Bagi saya itu tidak merepotkan. Karena melihat Namjoon yang manja itu sangat jarang bagi saya eommonim." "Arra-arra, eomma paham maksudmu. Namjoon memang pekerja keras mirip sekali dengan Abeojinya, dia sangat gigih dan tujuannya harus tercapai. Melihat kerja kerasnya eomma bangga, dia bisa membawa negara kita ke lembaga Unicef dan juga lagu ciptaannya berhasil masuk peringkat tertinggi di tangga lagu internasional maupun Korea Selatan." "Majjayo eommonim." "Oh ya, Seokjin-ah ada hal yang ingin kutanyakan." "Apa itu eommonim?" "Selain menciummu apakah kalian pernah berbuat lebih? Kalau dilihat perilaku Namjoon sekarang itu seperti tanda-tanda awal kehamilan. Eomma takut jika itu terjadi bisa-bisa nama baik kalian tercoreng." 'Jder' Bagaikan petir menyambar di siang hari, jantung Seokjin berdetak kencang. Seokjin terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk mertua nya. "E—itu kami ha-hanya berciuman saja y-ya berciuman saja haha.." Seokjin tertawa sumbang. "Ah, syukurlah kalau begitu." 258


|He is Perfect| Seokjin merasa tidak lega dengan jawaban mertuanya, karena di otaknya berpikir keras tentang 'tanda-tanda awal kehamilan'. Ige mwoya?! Apalagi mengingat sang ibu itu instingnya lebih tajam dan bisa merasakan hal aneh yang terjadi pada anaknya. Seokjin takut sebenarnya tapi mau bagaimana lagi. |He is Perfect| Tidak terasa jika Minggu ini ada Minggu terakhir bagi pasangan tunangan yang masih dirahasiakan dari publik ini. Jadwal Namjoon sangar sibuk semingguan ini, sedangkan jadwal Seokjin hanya tinggal menunggu keputusan agensi menyetujui Seokjin untuk mengakhiri kontraknya. Untuk urusan brand Cartier sudah selesai dengan cepat, iklannya pun sudah tersebar di seluruh Korea Selatan maupun di negara lain. Sesekali Seokjin terbang kesana kemari untuk menghadiri undangan Brand Cartier maupun brand lainnya. Namjoon tak mempersalahkan itu karena Seokjin itu memang tampan dan tidak heran jika banyak Brand sering mengundangnya. Itu membuat Namjoon lebih serius mengerjakan berkas-berkas di Kedutaan tanpa memikirkan Seokjin. "Hah~ Bagaimana caranya aku mengakhiri hubungan ini?" Namjoon dilema saat ini. 259


|He is Perfect| "Rasanya ada sesuatu yang mengganjal jika aku berjauhan dengan dia, ah jinjja! Kenapa akhir-akhir ini aku sangat manja kepadanya." Namjoon menelungkupkan kepalanya di meja kerja nya sembari memukul meja. Kemudian menenggakan kepalanya dan menyangga kepalanya dengan tangannya di meja. Namjoon tak tahu ada apa dengan dirinya ini. Ia rasa tak bisa berjauhan dari Seokjin, sisi dirinya akan menangisi sang dominannya. Memang tak mempermasalahkan Seokjin sibuk dengan berbagai brand namun setiap malam ia tertidur dengan memeluk bantal milik Seokjin yang aromanya sangat candu bagi dirinya. 'tok' 'tok' "Permisi, Namjoon-ssi maaf mengganggu waktunya karena ada yang mencari anda." Seorang Yeoja menunduk hormat di depan pintu. Lalu ada Namja yang masuk kedalam ruangannya. "Hyung?" "Hai, Namjoon kelihatannya sibuk?" "Untung saja ini kantor Kedutaan kalau sampai ke Agensi Abeoji Hyung akan menjadi headline hot news." 260


|He is Perfect| "Sayang, Hyung merindukanmu maaf jika hampir 6 hari ini tidak di apartemen." "Gwenchana Hyung, lagi pula itu tuntutan pekerjaan lantas aku bisa apa?" Setelahnya perbincangan mereka terhenti karena Namjoon mulai serius mengerjakan berkas-berkas. Seokjin hanya menatap kekasih hatinya yang terlihat serius dan seksi secara bersamaan. "Hyung sebaiknya kamu duduk di sofa, atau mau kupesankan makanan biar tak bosan?" Ujar Namjoon sembari membetulkan letak kacamatanya. "Ani, Hyung sudah membawa makanan sendiri. Lebih baik Namjoon ikut makan. Ini sudah masuk jam makan siang." Namjoon beranjak dari kursinya dan menuju ke tempat duduk Seokjin yang sedang menata beberapa makanan rumahan. "Terlihat enak semua." Mata Namjoon berbinar melihat makanan berkuah merah dan warna warni. "Mommy ku membuatkan khusus untukmu, sayang. Mommy senang sekali mengetahui jika kamu suka makanan pedas-pedas dan manis-manis." "Gomawo~" 261


|He is Perfect| 'cup' "Hahaha, ya sudah mari makan." Namjoon menatap sundubu jjigae berkuah merah dengan bermacam seafood dan ditambah tofu, telur, dan juga sayuran. "Mashita!" "Pastinya sayang, masakan mommy Hyung enak." "Maka nya Hyung bisa memasak dengan enak seperti mommy Kim. Tidak sepertiku tidak bisa memasak dengan enak bisanya menghancurkan." "Sayang, Hyung tak mempermasalahkan hal itu. Hyung suka memasak dan makan, lebih suka lagi jika ada yang menemani makan masakan Hyung." "Tapi tetap saja itu salah! Sebagai seorang istri harusnya aku melayani Hyung bukan Hyung yang melayani istrinya. Hiks-hiks aku bodoh sekali!" Namjoon membanting tempat makan yang berisi sundubu jjigae ke meja dengan keras. Ia bangkit sembari menangis, meninggalkan Seokjin. 'Grep' 262


|He is Perfect| "Sayang hey sayang dengarkan Hyung." Seokjin memeluk erat Namjoon yang memberontak sembari mencibir dirinya sendiri. "Hyung mencintai Namjoon apa adanya tak peduli dengan kekurangan. Setiap manusia itu diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan, maka dari itu Yang Maha Kuasa menciptakan manusia dengan berpasangan. Namjoon pasti tau ini kan?" Namjoon hanya mengangguk tapi air matanya masih meluncur dengan bebas. Dengan telaten Seokjin menghapus air mata Namjoon. "Manusia diciptakan berpasangan agar bisa saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti kita ini Namjoon pintar sekali dalam pengetahuan namun kurang dalam urusan rumah tapi Hyung bisa menangani urusan rumah cuma Hyung bodoh dalam hal pengetahuan di dunia ini." Seokjin tersenyum menatap Namjoon yang mulai tenang, mencoba duduk kembali ke sofa yang disediakan khusus di setiap ruangan gedung. "Tuhan Maha adil mempertemukan kita yang bisa saling melengkapi kekurangan. Jadi mulai saat ini tak usah dipikirkan lebih baik kita pikirkan masa depan bersama anak-anak kita." 'Blush' 263


|He is Perfect| Pipi Namjoon memerah mendengar perkataan akhir Seokjin. Anak-anak kita? "Cha~ mari kita lanjutkan makan, Hyung akan temani Namjoon sampai selesai kerja dan sebenarnya merindukan kamu." 'Blush' Kedua kalinya pipi Namjoon memerah, Seokjin merindukannya? Bagi orang dewasa kalimat 'merindukan' adalah hal yang mengarah intim. Lagi pula mereka terpisah hampir seminggu jadi tak salah Seokjin menginginkan hal itu kepada calon istrinya. "Tapi pelan-pelan ne, Hyung. Namjoon merasakan ada sesuatu di dalam tubuh Namjoon jadi mmm—ya begitu." "Hyung mengerti sayang." "Eh?" "Eh?" "Heeehh~?" "Ada apa sayang?" "Maksud Hyung?" 264


|He is Perfect| "Ani." |27| "Aigoo~ senangnya kita bisa makan bersama." Jujur Jina dengan senyum bahagianya. 265


|He is Perfect| "Makan malam ini merayakan keberhasilan Namjoon membawa negara kita ke Unicef, Jina-ya." Junhui ikutan tersenyum menatap sahabatnya yang sebentar lagi menjadi besan nya. "Eomma~ Namjoon kan belum pidato jadi belum bisa dinyatakan berhasil." "Namjoon-ie aduh kamu itu terlalu berpikir logis, kita anggap saja ya. Mommy yakin kamu membawa kejayaan negara kita dan kamu menjadi terkenal akan kepintarannya." "Aigo~ Kamu semangat sekali memuji menantu mu. Lihat jadi malu-malu kucing lho." Appa Seokjin terkekeh melihat menantunya yang pipiny mulai memerah. "Ya sudah mari kita makan, nanti akan dingin." "Jal meokgeussseumnida!" Kali ini makan malam diadakan di mansion milik appa Seokjin. Hidangan super mewah namun masih khas negara mereka. Jina lah yang meracik bumbu sendiri dibantu dengan maid yang diperintah mengaduk maupun menata masakan itu. "Jadi Namjoon akan berangkat sendiri atau bersama member Bangtan Boys?" Tanya Appa Seokjin dengan menatap Namjoon. 266


|He is Perfect| "Namjoon akan berangkat dengan jet pribadi Appa, nanti akan jadi rumor." "Namjoon, media sudah tahu kedekatanmu dengan member Bangtan Boys. Tak apa jika ingin berangkat bersama." Terang Abeoji Namjoon. "Aniyo Abeoji, Namjoon ingin sendirian tanpa di ganggu." Ucap Namjoon dengan serius. Seokjin menatap Namjoon yang terlihat gelisah namun terlihat tak ingin di ganggu. Dia menghembuskan nafasnya dengan pelan, dipikirannya hanya berisi keputusan Namjoon tentang kelanjutan hubungan mereka. "Seokjin-ah, kenapa murung hm?" Tanya dengan lembut eomma Namjoon. Perhatian semua orang tertuju kepada dirinya termasuk Namjoon yang menatap sendu dirinya. "Ani, Seokjin hanya pusing sedikit karena memikirkan pekerjaan saya kedepannya." Seokjin tersenyum kaku, jantungnya berasa diremas-remas akan kebohongannya itu. "Seokjin-ah, tak perlu pusing sebentar lagi kan akan meneruskan posisi Appa mu. Fans mu tak mempersalahkan dirimu yang tiba-tiba keluar dari dunia musik karena mereka paham akan paham idolnya perlu mencari tujuan hidupnya." "Ne eommonim." 267


|He is Perfect| "Namun agak disayangkan juga, kamu sangat berpengaruh dalam drama maupun film dan juga menjadi solois. Appa sangat suka dengan vocalmu yang lembut seperti mommy mu tapi perusahaan appa juga berpengaruh dalam Korea Selatan juga. Sudah saatnya appa memberimu perusahaan kepadamu." "Betul juga apa yang dikatakan Seokjoon, appa mu sudah waktunya beristirahat. Seokjin sudah harus berfokus kepada keluarga kecil mu. Namjoon juga perlu kasih sayang dan dukungan darimu. Jika dirimu masih menjadi aktor dan solois Namjoon akan tertekan di semua segi hal." "Baik Abeonim, baik appa." |He is Perfect| 07.00 KST Incheon airport Namjoon memilih penerbangan pagi-pagi sekali dibandingkan member Bangtan Boys pada pukul sembilan nanti. Masker hitam, topi hitam, mantel hitam, dan celana jeans hitam menjadi outfit Namjoon hari ini. Terlihat misterius dan seperti mafia. Sengaja melakukan itu agar media tak mengetahui bahwa itu Kim Namjoon sang Duta yang mewakili negara Korea Selatan bersama grup yang sedang naik daun di tahun kelimanya setelah debut. 268


|He is Perfect| Namjoon berjalan dengan dikawal 2 bodyguard yang juga sedang menyamar dan membawa koper maupun tas Namjoon. "Hah, ternyata lebih enak menaiki jet pribadi karena tak akan diganggu staff maupun orang yang melihat identitas ku." Namjoon bersandar di kursi super duper mewah. Menenangkan pikirannya sembari menghafal teks pidatonya nanti. Namun ketenangannya tak bertahan lama karena bodyguard nya yang tiba-tiba saja dihadapannya. "Ada apa?" "..." Namjoon semakin jengkel dengan ulah bodyguard nya, dia merasa emosinya naik turun tak normal sekali sebenarnya. Mencoba menepis pikiran jeleknya tentang apakah dia benar-benar hamil. Karena tingkah laku dirinya yang mirip seperti ibu hamil. "Saya tak tahu maksud anda dihadapan saya sekarang ini tapi saya mohon anda menjauh dari hadapan saya." "..." "Aish, shibal! Aku tak peduli dengan citra ku sekarang, kau membuat emosi ku meluap memang." Namjoon berdiri sambil menunjuk kearah wajah bodyguard yang bertopi dan bermasker. Namun bodyguard itu memegang 269


|He is Perfect| ujung jari Namjoon dan menurunkan jemari yang menunjuk dirinya. Membuka penyamaran nya dan membuat Namjoon terkejut. "Yak, Michinyeon! Bagaimana kau bisa menyamar sebagai— huwek!!" Namjoon menahan gejolak di perutnya lalu meninggalkan namja tersebut untuk memuntahkan isi perutnya. "Huwek— uhuk-uhuk —huwek.." "Namjoon-ie gwenchanayo?" "Uhuk-uhuk eomma.. ini mual sekali!" Namjoon terus memuntahkan namun yang keluar hanya cairan bening tanpa ada makanan yang keluar dari perutnya. Leher Namjoon dipijat perlahan untuk membantu memuntahkan isi perutnya. 'crass' Namja yang menjadi bodyguard itu membantu membersihkan bibir Namjoon dari cairan muntahan tanpa merasa jijik sekalipun. "Bagaimana bisa Hyung—menyamar sebagai bodyguard ku?" "Sayang, mana mungkin aku meninggalkan calon istriku pergi sendiri. Hyung meminta pada abeonim untuk menjadi 270


|He is Perfect| bodyguard mu, abeonim sangat senang akan hal itu karena aku bisa mengawasi calon istriku di Amerika nanti." Bodyguard itu—Seokjin memapah Namjoon menuju kursinya kembali. Tapi Namjoon tak ingin kembali ke kursinya, jadi meminta Seokjin membawa dirinya ke kamar pribadinya di pesawat jet ini. "Hyung, jangan tinggalkan aku." Namjoon memegang tangan Seokjin sembari menunjukkan wajah cemberutnya. "Arraseo, jadi calon istriku ini ingin bermanja ya?" "Hum, elus perutku Hyung rasanya perutku bergejolak terus." Seokjin mengelus perut Namjoon dengan lembut sembari mencium pucuk kepala Namjoon sayang. Bibirnya membentuk lengkungan, muncullah senyum bahagia. Jadi memang benar Namjoon sedang masa sensitif karena yang pasti Namjoon sedang mengandung anak darah dagingnya. Hampir 2 Minggu memperhatikan tingkah laku Namjoon yang seperti sedang hamil, dengan begini Namjoon tak mungkin meminta putus tunangan ini. |He is Perfect| New York, USA 15.00 P.M 271


|He is Perfect| Perjalanan menggunakan pesawat jet memang cepat, 7-8 jam melewati udara. Jika menggunakan pesawat maskapai akan memakan waktu 12-13 setengah jam. Belum lagi menyesuaikan waktu dan diri karena perbedaan waktu yang sangat jauh. Namjoon terkena jet lag dan terus mual. Seokjin menatap prihatin tunangannya yang pucat ini, padahal besok pagi adalah hari bersejarah bagi dirinya dan warga Korea Selatan. Berpidato dengan Unicef di markas besar PBB, perihal bullying dan mencintai diri sendiri. Sebenarnya Unicef sudah lama melirik Namjoon untuk dijadikan duta besar. Untuk Bangtan Boys tersendiri baru terlirik satu tahun ini karena lagunya yang sejalan dengan otak Unicef. Dengan koneksi orang dalam, mereka mudah memasuki hotel tanpa diketahui media maupun fans mereka masing-masing. Penjagaan super ketat sengaja Appa Seokjin lakukan, mengingat salah satu cabang perusahaannya disana sangat mudah mengaturnya. Gedung berlantai 7 dipilih oleh Namjoon agar bisa melihat langit New York. Dengan kamar suite room yang begitu luas dan terdapat meja makan dan ruang berkumpul yang terpisah. "Namjoon tiduran dulu ya? Kalau ada apa-apa panggil Hyung, Hyung akan membereskan koper kita dan mengabari keluarga kita." 272


|He is Perfect| "Arraseo Hyung." Seokjin menyelimuti Namjoon lalu mengelus kepala Namjoon hingga tertidur. Sakit sekali melihat sang terkasih jatuh sakit seperti ini. Seokjin segera menepis pikiran negatifnya dan melakukan pekerjaannya ini. Sekitar pukul tujuh malam Namjoon terbangun dari tidurnya selama 4 jam. Perutnya keroncongan minta diisi makanan. Perlahan turun dari ranjang tempat tidur dengan mata yang setengah terbuka. Ia melihat Seokjin sedang tertidur di sofa ruang berkumpul, habis apa dia hingga tertidur di sofa. Namjoon melangkah dengan perlahan mendekati sang Dominan. Mengecup pelan bibirnya dan memposisikan dirinya di pelukan Seokjin. Mendusel di lehernya, menghirup aroma Seokjin yang memabukkan. Seokjin mendesah lirih karena tidurnya terganggu. Membuka sedikit kelopak matanya terlihat Namjoon sedang mengamankan tidurnya dipelukan dirinya. Seokjin tersenyum melihat tingkah manja Namjoon, segera ia elus punggung Namjoon. "Em, sayang kamu lapar tidak?" "Uh-huh, ingin makan tangsuyuk sama Jajangmyeon Hyung." "Tak ingin lagi?" 273


|He is Perfect| "Hm? Pizza ah ani hamburger dengan ayam krispi dari McD ya ya ya?" "Oke, tapi jangan makan banyak-banyak makanan cepat saji ya itu tak baik untuk kesehatan." "Huum" 274


|He is Perfect| |28| 08.45 a.m New York, Markas besar PBB Namjoon sedang gugup saat ini. Hari ini adalah hari bersejarah bagi dirinya dan negaranya. Keluar dari mobil bersama orang penting dari Korea Selatan dan juga Amerika. Beberapa kamera menyorot dirinya untuk dijadikan dokumenter behind scene. Berjalan perlahan hingga bertemu Bangtan Boys di lorong gedung. Mereka juga sama disorot kamera dan juga di wawancarai oleh staff. "Annyeong haseyo, yeorobun-deul." "Annyeong haseyo, Namjoon-ie!" Namjoon terkekeh mendengar seruan para member yang bersemangat menyapa balik. Kamera menyorot obrolan mereka, seberapa gugup nya mereka saat ini dan juga bercandaan. 275


|He is Perfect| Netizen sudah tahu kedekatan Namjoon dengan Member Bangtan Boys karena ada rumor jika Namjoon adalah produser dan penulis lagi di agensi K-star entertainment. Mengaitkan beberapa foto yang sangat persis dengan Namjoon saat member Bangtan Boys jalan bersama dan juga saat Runch Randa berada di panggung awards. Para fans senang Namjoon menjadi sahabat dekat Bangtan Boys. Namjoon dan juga member Bangtan Boys memasuki gedung yang biasa digunakan untuk rapat penting untuk masa depan dunia ini. Dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disediakan dan juga pendengar untuk menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Korea. Tangan Namjoon menjadi sangat dingin sesekali meremas kecil kertas pidatonya. Ia hanya fokus di moderator yang menyampaikan beberapa kata. Jantung bertalu-talu mendengar panggilan dirinya dan juga Bangtan Boys untuk menyampaikan pidato tentang love myself. Langkah Namjoon sangat tergesa-gesa, meninggalkan member Bangtan Boys yang masih bangkit dari kursi. "Thank you, Mr. Secretary General, UNICEF Executive Director, Excellencies and distinguished guests from across the world." "My name is Kim Namjoon, South Korean youth ambassador and also a friend of the Bangtan boys. It’s an incredible honour to be invited to an occasion with such significance for today’s young generation. 276


|He is Perfect| Member Bangtan Boys melihat Namjoon dengan serius sembari memahami meskipun hanya sedikit. Sebagai grup idol naik daun dan tingkatan hampir internasional mereka agak malu karena tidak fasih bahasa inggris tapi tetap bersyukur memiliki teman seperti Namjoon yang membantu mereka. Beberapa orang di gedung PPB sangat terkagum-kagum melihat gaya bicara Namjoon yang seakan-akan menghipnotis. Berkharisma dan tampan sangat cocok jika dijadikan idol pikir mereka. "I would like to ask all of you. What is your name? What excites you and makes your heart beat? "Tell me your story. I want to hear your voice, and I want to hear your conviction. No matter who you are, where you’re from, your skin colour, gender identity: speak yourself. "Find your name, find your voice by speaking yourself. Semua orang setuju sekali dengan ucapan Namjoon kali ini. Ini sangat penting bagi kalangan anak remaja yang sedang dirundung/di bully. Memang saat ini banyak kasus pembullyan dan mengakibatkan mereka putus sekolah karena rasa trauma. Seharusnya mereka percaya diri dengan apa yang di diri mereka dan menunjukkan apa yang istimewa di dirinya agar 277


|He is Perfect| sang perundung menjadi mundur tak melakukan hal tak menyenangkan lagi "I’m Kim Namjoon, South Korean youth ambassador and also a friend of the Bangtan boys." "What is your name? Speak Yourself!" Semua orang di gedung PPB bertepuk dengan riuh di akhir pidato Duta Korea Selatan, Kim Namjoon. Sedangkan ke lima member Bangtan Boys memberikan senyum bangga kepada Namjoon yang sedang menatap mereka. Setelahnya mereka kembali ke tempat duduk awal mereka memasuki gedung PBB ini. Namjoon berterimakasih kepada Tuhan karena berhasil membawakan pidato meskipun agak terlalu cepat. "Namjoon-ie johayo!!" "You're the best! Tak salah presiden memilihmu sebagai Duta Korea Selatan." "Chukae untuk Namjoon dan kita!!" |He is Perfect| 13.45 a.m The Ritz Carlton hotel 278


|He is Perfect| Namjoon tiduran di sofa dengan lesu, tubuhnya tidak bisa diajak kompromi mudah sekali lelah. Seokjin melepaskan kacamata, jam tangan, melonggarkan dasi, dan melepaskan alas kaki milik Namjoon. Seokjin sangat pengertian melihat Namjoon sangat kelelahan pasti efek dari hamilnya. Seokjin sangat yakin 100%. Karena ia tak pernah menggunakan pengaman sama sekali saat bercinta dan terus berulang-ulang. Salahkan saja hormonnya Seokjin. "Namjoon, Hyung sudah siapkan makan siang." "Um~ mianhae kalau Namjoon merepotkan Hyung." "Aniya, jakkamanyo biar Hyung bawa sini." Namjoon merubah posisinya menjadi duduk dan melepaskan jas nya. Menyisir rambutnya yang agak panjang ke belakang, sudah waktunya potong rambut seharusnya. Seokjin meminta asisten appa nya yang berada di cabang perusahaan untuk membelikan bahan-bahan makanan Korea ke hotel. Mencegah Sasaeng maupun fans mengetahui dirinya disini bersama Namjoon. "Nasi goreng kimchi, kimchi jeon, dan tangsuyuk. Kita makan siang yang simpel saja ya, nanti malam kita kencan di restoran yang sudah ku reservasi." 279


|He is Perfect| "Hyung gomawo, ini terlihat enak apalagi harumnya—huwekk!" Saat Namjoon mengendus aroma nasi goreng kimchi tiba-tiba dia mual. Padahal ini termasuk dalam list kesukaannya dan hampir sering memasaknya. "Yeobo gwenchana?" "Hyung, jauhkan nasi goreng kimchi itu aku mual mencium aromanya." Ujar Namjoon seraya menutup hidung dan mulutnya. "Uh, sayang apakah kamu tidak merasa aneh?" Seokjin menjauhkan nasi goreng kimchi nya. "Aneh bagaimana Hyung?" "Akhir-akhir ini kamu suka mual dan cepat lelah sepertinya. Apakah tidak apa-apa?" "Ehm~ gwenchana! Jangan khawatirkan aku Hyung gwenchanayo." Seokjin merasa ragu dengan jawaban Namjoon namun dihatinya berbicara yakin akan Namjoon mengandung anaknya. Namjoon sendiri berpikir keras atas pertanyaan Seokjin, tak ayal jika dirinya tak curiga pada tubuhnya sendiri. "Namjoon? Namjoon-ah? Sayang?" "Ah ye—ye Hyung ada apa?" 280


|He is Perfect| "Kamu ingin makan ini saja atau tambah?" "Se-sebenarnya aku ingin sejenis makanan myeon." "Myeon? Ingin ramyeon? Biar Hyung buatkan ramen Naruto saja ya, tidak baik jika mengonsumsi instan." "Uhm, mianhae Hyung Namjoon merepotkan Hyung." "Gwenchana, Hyung suka memasak apalagi memasakan masakan untuk dirimu." Selagi Seokjin sibuk dengan masakannya dan pastinya akan lama membuatnya. Namjoon menghubungi bodyguardnya untuk membelikan alat tes kehamilan. 'Ting-tong' "Uh, siapa yang bertamu di siang hari begini? Seharusnya tempat ini aman." Gumam Seokjin sembari berjalan menuju pintu. "Biar aku saja Hyung, itu bodyguard ku." "Arraseo," Hanya selang 10 menit bodyguardnya sudah sampai di kamar hotelnya dan membawa bungkusan paper bag mungil yang berisi barang permintaan Namjoon. 281


|He is Perfect| "Jangan bilang siapa-siapa dan apakah tempat ini aman dari Sasaeng?" "Tempat ini aman Namjoon-ssi dan saya pastikan tidak bilang kepada siapapun. Saya permisi." Namjoon segera berjalan menuju ke kamar mandi dan mencoba alat tes kehamilan. Jantung Namjoon berdetak kencang menunggu hasil tes tersebut. "Mwo—mwoya?!" 282


|He is Perfect| |29| 283


Click to View FlipBook Version