RAJA untuk RATU (SUDAH TERBIT)
Re re
Published: 2020
Source: https://www.wattpad.com
11. JANGAN USIR RATU
Terlalu lelah hati ini
Membisikkan namamu
Walaupun semua jadi indah
Saat ada dirimu
Tak pernah ada terucap
Semua tak jelas
Tentang kita
Untuk apa ku arungi samudra
Tapi kau tak ada dalam perahu yang sama
Untuk apa ku taklukan langit gelap
Tanpa kau disini terangi bumiku melangkah
Berjalan di atas jalan yang sama
Tapi menatap arah yang berbeda
Kau tempatkan hatimu di hatiku
Tapi kita tak Satu
Kusimpan harapku
Hingga semua
Habis tanpa tersisa
Arah yang berbeda-Michele Joan
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
11. JANGAN USIR RATU
"Aksara? Kamu ngapain ada disini lagi?" Ratu menatap heran melihat
Aksara yang duduk di atas motornya untuk kedua kalinya.
Rinai yang seolah mengerti langsung pamit pergi kepada Ratu. "Kalau gitu
gue duluan ya, bye Ratu" Belum sempat Ratu membalas, Rinai sudah pergi
berlalu.
"Cepet naik, gerimis nih" Aksara mengadahkan satu tangannya lalu
mendongakan kepalanya ke atas langit.
Ratu mengadahkan tangannya lalu merasakan tetesan air membasahi
telapak tangannya. Ratu tersenyum tipis. Hujan, satu kata yang membuat Ratu
bahagia. Karena hanya Hujan yang masih mau memeluknya disaat tak ada
seorangpun yang menginginkannya.
Aksara turun dari motornya, lalu menghampiri Ratu. "Enggak mau pulang?
Apa udah berubah profesi jadi satpam 24 jam di sini?" Ledek Aksara.
Ratu memandang Aksara kesal. "Mana ada satpam secantik Ratu, catat itu"
Cibir Ratu.
"Lagian dari tadi disuruh naik, malah ngelamun. Lanjutin dirumah aja
mikirin gue nya, gue juga mikirin lo kok kalau sebelum tidur" Aksara
mengusap puncak kepala Ratu.
Ratu menatap Aksara malas."Siapa juga yang mikirin Aksara, kepedean
banget!" Cibir Ratu.
"Ratu"
Deg
Jantung Ratu tiba-tiba berdetak kencang. Ratu sangat mengenali suara itu.
Ratu membalikan tubuhnya dan kedua matanya menangkap manik mata yang
selalu ia rindukan tiap harinya. Raja, ngapain dia disini?, batinnya.
Raja menghampiri Ratu, dan tanpa memperdulikan keberadaan Aksara,
Raja langsung menarik tangan kanan Ratu. Belum sempat beranjak, tangan
kiri Ratu sudah ditarik lagi oleh Aksara. Raja menggertakan rahangnya, Raja
mengingat ucapan Angkasa untuk bisa mengontrol emosinya.
Raja dan Aksara saling bertatapan tajam. Ratu yang merasa bingung pun
tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya Ratu mencoba melepaskan kedua
tangannya yang dicengkram kuat oleh kedua lelaki yang ada disamping kanan
dan kirinya, tapi sia-sia tenaga Ratu tak sekuat itu.
Ratu yang merasakan hujan sudah turun, akhirnya memutuskan untuk
membuka suara. "Lepasin kedua tangan Ratu, Ratu mau pulang"
Raja mengalihkan pandangannya ke arah Ratu. "Lo pulang sama gue, dan
tolong bilangin ke cowok sialan yang ada disamping lo untuk lepasin tangan
lo sekarang juga sebelum kesabaran gue habis" Ucap Raja dingin.
Aksara mengepalkan tangan kirinya. "Naik ke motor sekarang, Ratu!"
Aksara membentak Ratu hingga membuat Ratu terkejut.
Raja menaikan sudut bibirnya. "Jangan pernah bentak-bentak Ratu, karena
cuma gue yang berhak ngebentak dia" Raja menatap tajam Aksara.
Ratu menghela nafas kasar. "Ratu mau pulang sendiri, jadi jangan paksa
Ratu untuk pulang bareng kalian" Ratu menepis kasar kedua tangan lelaki
disampingnya, tapi tak ada hasilnya malah membuat tangannya semakin sakit.
"Mau kalian apasih? Kalau mau berantem jangan bawa-bawa Ratu dong,
enggak liat apa sekarang hujan? Kalian mau Ratu sakit? Kalau Ratu sakit, kita
enggak bisa ketemu. Emang kalian enggak bakal kangen sama Ratu apa?"
Ratu mulai jengah dan segera ingin pulang.
Aksara dan Raja menahan tawa sebisa mungkin demi harga diri mereka
masing-masing. Tidak mungkin mereka memasang wajah manis saat
berhadapan dengan musuh masing-masing.
"Makanya nurut Ratu, sekarang naik ke motor. Gue enggak mau lo sakit"
Aksara menurunkan suaranya dan menatap dengan sorot mata yang memohon
ke arah Ratu.
"Oke, lo boleh pulang bareng cowok sialan ini. Tapi tunggu gue selesai
ngehajar dia sampe babak belur untuk yang kedua kalinya, setelah itu lo
bebas pulang bareng dia" Raja menunjuk ke arah Aksara yang menatapnya
penuh tantangan saat ini.
Ratu meneguk salivanya. Ratu sangat tahu bahwa sekarang Raja tidak
sedang main-main. Ratu memandang ke arah Aksara dengan tatapan maaf.
Ratu tidak ingin Raja dan Aksara berkelahi karenanya.
"Jangan takut sama omongan cowok brengsek itu, percaya sama gue Ratu"
Aksara menatap Ratu penuh harap.
Ratu memejamkan matanya sejenak. Kepalanya sudah sakit saat ini. "Maaf
Aksara, Ratu pulang bareng Raja aja sekarang. Ratu minta maaf" Ratu lalu
menatap Aksara dengan penuh maaf.
Aksara menghela nafasnya kasar lalu melepaskan tangannya dari Ratu.
Biarlah kali ini dirinya mengalah, ia tidak mau Ratu sakit karena
keegoisannya. "Oke, kali ini gue ngalah demi lo. Silahkan pulang bareng dia"
Aksara menunjuk ke arah Raja.
"Ratu minta maaf, Aksara hati-hati ya pulangnya" Ujar Ratu dengan nada
penyesalan.
Raja mengepalkan tangan kirinya saat mendengar ucapan Ratu yang penuh
dengan nada perhatian. Raja tidak rela, Raja tidak akan pernah membiarkan
seorangpun melindungi Ratu. Raja akan membuat Ratu lebih menderita dari
sekarang. Dengan kasar Raja menarik Ratu, lalu membawanya masuk
kedalam mobil.
Mobil melaju dengan kencang membuat Ratu sedikit takut. Raja marah,
itulah yang Ratu rasakan saat ini. Entah alasannya apa, Ratu juga tak
mengerti. Raja yang sudah tidak dapat menahan emosinya pun segera
memberhentikan mobilnya dipinggir jalan
Raja mengusap kasar wajahnya. Pandanganya beralih ke arah Ratu yang
diam menunduk. "RATU! LIAT GUE!" Raja berteriak kepada Ratu.
Ratu menaikan wajahnya lalu memandang Raja dengan penuh takut. Raja
tengah menatap Ratu dengan tajam saat ini, bisa Ratu lihat ada gejolak emosi
di sorot mata Raja.
"Ngapain lo deket-deket sama Aksara? Kalian pacaran?" Raja menurunkan
nada suaranya.
Ratu menggeleng keras, ia tak mau Raja salah paham. "Ratu enggak ada
hubungan apa-apa kok sama Aksara, Raja jangan salah paham ya. Ratu masih
sayang sama Raja kok" Ujar Ratu buru-buru.
"Gue enggak perduli Ratu dengan perasaan lo! Gue cuma enggak mau lo
deket-deket sama Aksara, karena dia itu musuh bebuyutan Geng TEMPUR!
Gue enggak mau lo nyusahin gue dan temen-temen gue! Ngerti lo!" Bentak
Raja dengan kasar.
"Enggak! Ratu tahu sekarang Raja cuma cemburu dengan Aksara, jujur
Raja!" Ratu membalas bentakan Raja dengan tak kalah kasar.
Raja mencengkram lengan Ratu. "Lo ngaca deh! Emang lo itu siapa? Lo
boleh deket sama siapapun gue enggak perduli Ratu, asal jangan Aksara atau
anak Permata!"
Ratu tersenyum kecut mendengar ucapan Raja. "Jangan bohongin perasaan
Raja lagi. Ratu kenal Raja, sekarang ini Raja lagi cemburu. Ratu jelasin
sekali lagi, Ratu enggak ada hubungan apa-apa dengan Aksara"
"Jangan mimpi Ratu! Semua tentang lo udah gue buang jauh-jauh, jangan
terlalu gede kepala. Lo bukan siapa-siapa. Jadi enggak usah banyak berharap
dan pergi dari hidup gue se-segera mungkin!" Raja makin memperkuat
cengkramannya, tak perduli sekarang Ratu sedang meringis kesakitan.
Air mata Ratu jatuh. Entah untuk keberapa kalinya Raja menyuruhnya untuk
pergi. "Jangan pernah nyuruh Ratu untuk pergi dari hidup Raja! Karena Ratu
enggak akan bisa, terlalu banyak kenangan yang enggak sanggup untuk Ratu
lupain. Dan terlalu besar rasa sayang Ratu ke Raja untuk dihilangkan begitu
aja"
"Enggak usah banyak drama Ratu, hati gue enggak akan bisa kayak dulu
lagi hanya karena air mata lo itu!" Ujar Raja lalu melepaskan cengkramannya.
Ratu membalas tatapan Raja dengan sendu. "Ada saatnya Ratu pergi, tapi
enggak sekarang. Mending sekarang kita pulang, besok sekolah. Ratu enggak
mau Raja sakit" Ratu mengusap lembut wajah Raja sejenak, lalu mengalihkan
pandangannya ke kaca mobil disamping kirinya.
Raja, jangan usir Ratu lagi.
Ratu hanya tahu cara mencintai Raja, bukan cara meninggalkan Raja.
Bencilah Ratu sepuas Raja, tapi jangan pernah paksa Ratu untuk pergi
dari hidup Raja, kecuali saat Ratu udah enggak bisa bernafas lagi dan
saat itu lah Ratu pergi dari hidup Raja, selamanya.
Setelah mengantar Ratu, hanya ada kesunyian di hati Raja saat ini. Raja
menatap lurus dan mencengkram stir nya kuat. Benteng kebenciannya terlalu
kokoh hanya untuk dihancurkan oleh air mata Ratu. Raja tidak boleh terlena,
Raja akan tetap membenci Ratu. Dan Raja hanya menyerahkan perasaanya
kepada waktu, sampai waktu berhasil menghapus tentang Ratu sepenuhnya di
hidup Raja.
——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!
JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere
FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan
tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK
RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler
bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo
12. RAJA PERDULI?
Jangan takut sendiri
kamu tak kan lagi sepi
Jangan takut kehilangan
Aku beri kekuatan
Belum saatnya menyerah
Tetap di sampingku
Bila saat engkau jatuh
Dan mulai merasa rapuh
Pundakku siap tersandar
Tanganku selalu menggenggam
Belum saatnya menyerah
Tetap di sampingku
Ini aku-Devano
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
12. RAJA PERDULI?
"Tiap minggu aja Pak Yono enggak masuk, kan enak siang-siang gini
nongkrong di pinggir y, SEGWERRRRR" Panca memandang murid-murid
perempuan yang sedang berolahraga Hmmm di lapangan sekolah.
Angkasa meneguk minuman botol yang ada ditangannya. "Cewek mulu
pikiran lo, dasar playboy cap badak"
Panca melirik Jeha yang sedang mengikat rambutnya di lapangan. "Kalau
diliat-liat, Jeha manis juga ya. Jadi pengen meluk" ujar Panca menggoda.
Dirga menggelengkan kepalanya. "Emangnya dia mau dipeluk sama lo?
Langkahin dulu tuh temennya si Anggi" Dirga menunjuk Anggi yang sedang
duduk tak jauh dari Jeha.
Mendengar nama Anggi, Elang langsung melemparkan pandangannya ke
arah gadis itu. Entah kenapa malah muncul wajah Rinai dipikirannya saat ini.
Ada yang beda dengan perasaannya saat ini. Elang yang selalu mencari-cari
Anggi, Elang yang selalu memperhatikan Anggi tiap saat dan Elang yang
selalu mengabaikan Rinai, pacarnya. Tapi sekarang, seolah berbanding
terbalik. Elang sudah mulai gila.
Raja memandang ke arah lapangan, kedua matanya mencari sosok gadis
kesana kemari tapi tak menemukannya. Kemana dia?, pikirnya.
Angkasa yang melihat gerak-gerik Raja seolah sudah mengerti siapa yang
temannya cari. "Ratu ada di UKS, percuma lo liatin lapangan sampe berjamur
juga enggak ada tuh cewek" ucap Angkasa.
Dirga dan Panca langsung melirik Raja, sedangkan Elang sedari tadi sudah
memejamkan matanya dan masih berkutat dengan pikirannya tentang Rinai.
Raja yang mendengar ucapan Angkasa langsung beranjak berdiri untuk
menemui Ratu di UKS.
Dirga memicingkan matanya ke arah Raja. "Mau kemana lo?" tanya Dirga.
"Mau ke toilet, kalian ke kantin duluan aja. Nanti gue nyusul" Jawab Raja
kikuk, lalu pergi tanpa menunggu balasan dari teman-temannya.
Angkasa tertawa melihat Raja yang masih saja hidup dengan gengsinya.
"Bener kan yang gue bilang, si Raja itu emang pinter kalau soal akademik.
Tapi bodohnya minta ampun kalau soal cewek" ujar Angkasa.
"Liat enggak muka dia tadi? Udah kayak maling yang abis keciduk" timpal
Dirga. "Gue enggak mau aja si Raja nanti malah nyesel karena tindakannya
sendiri" ucap Dirga.
"Kasian si Raja kalau nanti nasibnya sama kayak orang yang disebelah gue
ini" sindir Panca yang duduk disamping Elang.
Angkasa melirik Elang. "Raganya dimana, pikirannya dimana" Ucap
Angkasa yang jelas membuat Elang tersindir habis-habisan. Angkasa memang
selalu bisa membaca pikiran dan keadaan teman-temannya.
Suara decit pintu UKS terdengar. Raja berjalan menuju bilik paling pojok
yang ditutup dengan tirai. Dibukanya lah tirai tersebut, matanya memandang
seorang gadis yang sedang tertidur lelap dengan damai. Raja meletakan satu
punggung tangannya diatas dahi gadis itu, Ratu. Demam, batinnya. Raja
mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan UKS, dan sepotong
kenangannya akan perkenalan pertamanya dengan Ratu masuk ke dalam
pikirannya begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu.
Raja meletakan kaki Ratu diatas pangkuannya, lalu mengobati telapak
kaki Ratu secara perlahan. "Lo bego atau gimana sih? Emangnya sebelum
lo pake sepatu enggak liat kalau ada paku payungnya?" tanya Raja kesal.
Ratu melipatkan kedua tangannya."Ratu enggak sadar sama sekali,
lagian siapa coba yang isengin Ratu" dengus Ratu.
"Lagian ngapain sih ngeladenin si Fara, buang-buang tenaga aja" Ucap
Raja. "Abis gue selesai ngobatin luka lo, kita langsung pulang aja. Gue
anter lo pulang"
Ratu tertegun. "Ngomong-ngomong, nama kamu siapa ya?" tanya Ratu
kikuk.
"Lo enggak kenal siapa gue? Lo serius?" Raja menatap Ratu dengan
tatapan serius. "Lo," Raja menggantungkan ucapannya. "emang beda"
Lanjutnya lalu tersenyum.
Detik itu juga, bisa dipastikan Ratu terpesona dengan Raja hanya
karena senyuman kecilnya. Raja terkekeh geli, melihat Ratu yang sedang
salah tingkah. "Kenapa? Terpesona dengan senyum seorang Raja?" ledek
Raja.
"Ra..Raja? Jadi nama kamu Raja?" Tanya Ratu.
"Iya, cocok kan sama nama lo. Jangan-jangan kita jodoh lagi" Goda
Raja. "Lo lucu kalau lagi blushing gitu" Raja mencubit hidung Ratu
dengan gemas.
Raja menghentikan ingatannya tentang Ratu dengan paksa. Raja tidak boleh
lemah, semua hanya masa lalu baginya. Raja meletakan kantung plastik berisi
roti dan vitamin di atas nakas, lalu pergi meninggalkan Ratu yang masih
tertidur.
***
Aksara melempar botol minuman yang ada ditangannya dengan kasar.
Emosinya meledak saat mendengar bahwa Angkasa, pemimpin geng
TEMPUR SMA GARUDA menantangnya dan pasukannya di perbatasan
sepulang sekolah nanti. Aksara juga tak mengerti ada masalah apalagi yang
membuat Angkasa murka.
"Gue dihajar abis-abisan! Padahal gue enggak tahu salah gue apa, cuma
karena mereka tau gue anak PERMATA, mereka langsung ngabisin gue saat
itu juga" ucap Edgar bohong.
Aksara memicingkan matanya ke arah Edgar. "Kalau sampe gue tahu lo
nyembunyiin sesuatu, siap-siap lo angkat kaki dari PERMATA" ucap Aksara
tajam.
"Udahlah, mending kita samperin aja mereka. Kita tanya langsung mau
mereka itu apa" Aldi menimpali ucapan Aksara.
Aksara mengusap wajahnya kasar, bukan karena Aksara takut akan
tantangan tersebut. Hanya saja, ia sedang tak ingin mencari masalah dengan
siapa-siapa, karena pikirannya sudah terpenuhi oleh Ratu saat ini. Apa ada
hubungannya dengan Ratu?, pikir Aksara.
"Hai, Aksara"
Aksara menoleh ke arah sumber suara. Risti, seorang gadis berparas cantik
yang sudah dianggap sebagai adik perempuan Aksara sendiri. "Hai, kamu
ngapain disini? Bentar lagi bel istirahat selesai lho" Tanya Aksara.
Risti lalu duduk disamping Aksara. "Aku cuma mau ingetin kamu untuk
jangan lupa ke rumah aku nanti malam, keluarga kita berdua mau makan
malam bersama" Ujar Risti.
Aksara menepuk dahinya. "Aku lupa banget, tapi kayaknya aku enggak bisa
ikut. Soalnya aku harus jemput Ratu" Jawab Aksara menyesal.
Risti memicingkan matanya. "Ratu? Siapa Ratu? Kayaknya aku enggak
kenal deh sama yang namanya Ratu" tanya Risti curiga.
"Nanti kalau ada waktu aku kenalin ya, masih proses nih" Jawab Aksara
salah tingkah. "Titip salam aja buat orangtua kamu, aku minta maaf enggak
bisa ikut" Raja menepuk punggung Risti.
Ada rasa cemburu di hati Risti. Selama ini yang Risti tahu, Aksara tidak
pernah dekat dengan perempuan lain selain dirinya. "Iya deh, kalau gitu aku
masuk kelas dulu" Risti beranjak dari kursinya.
"Selamat belajar adikku yang paling cantik" Aksara mengusap puncak
kepala Risti.
Risti membalas ucapan Aksara dengan senyuman kecut lalu pergi
meninggalkan Aksara. Risti tidak ingin usaha yang sudah ia bangun selama ini
menjadi sia-sia karena seorang perempuan yang bernama Ratu. Risti harus
mencari tahu sejauh mana hubungan Aksara dan Ratu.
"Untuk lo yang bernama Ratu, gue enggak akan biarin lo rebut Aksara
gitu aja dari hidup gue dengan mudah. Siapapun lo, gue pastiin hidup lo
enggak akan tenang mulai sekarang" batin Risti.
"Sampai kapan lo mau nyakitin Risti?" Edgar membuka suara. Entah untuk
keberapa kalinya dirinya menyaksikan pemandangan seperti ini.
Aksara memandang ke arah Edgar. "Maksud lo? Gue enggak ngerti. Enggak
ada yang nyakitin Risti disini" tukas Aksara.
Edgar membalas tatapan Aksara tajam. "Lo enggak sadar kalau Risti itu
suka sama lo dari dulu, apa lo pura-pura enggak tahu?" Tanya Edgar.
"Risti itu udah gue anggap sebagai adik perempuan gue sendiri. Enggak
lebih, kalau lo lupa" Aksara beranjak dari kursinya, lalu pergi menuju kelas.
Ia tidak ingin bertengkar dengan siapapun saat ini, terutama yang menyangkut
tentang Risti. Aksara sangat tahu jelas bahwa Risti menyukainya sedari dulu,
tapi perasaan Aksara tidak lebih dari seorang kakak terhadap adiknya.
Edgar mengeraskan rahangnya. Risti, mantan kekasihnya. Sampai saat ini,
perasaannya untuk Risti tidak berubah sama sekali. Walaupun dirinya
dijadikan sebagai seorang pacar oleh Risti hanya untuk membuat Aksara
cemburu, Edgar tidak pernah sama sekali mempermasalahkan hal itu.
Aldi duduk disamping Edgar, lalu menepuk punggungnya. "Yang namanya
perasaan itu enggak bisa dipaksa, dan yang namanya cinta itu enggak harus
memiliki. Bangun bro, jangan hancurin persahabatan sendiri hanya karena
seorang cewek" ujar Aldi.
Edgar tersenyum tipis. Lalu menatap punggung Aksara dari kejauhan yang
sedang pergi berlalu. "Gue juga enggak tahu sampai kapan gue bisa lepasin
dia" Jawab Edgar pasrah.
"Nikmatin aja prosesnya, biar Tuhan yang ngatur. Lo cukup ikutin aja
alurnya, yakin aja sama gue, yang selama ini menurut lo terbaik belum tentu
dia yang satu-satunya. Lo hanya perlu buka mata lo lebar-lebar, dunia luas
bro" Aldi beranjak dari kursinya, lalu mengulurkan kepalan tangannya ke
arah Edgar.
Edgar tersenyum lalu membalas kepalan tangan Aldi dengan kepalan
tangannya. Aldi benar, sahabat antar lelaki terlalu berarti hanya untuk
dihancurkan oleh seorang perempuan.
Sepertinya gue harus bisa lupain lo mulai dari sekarang, Risti.
——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!
JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere
FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan
tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK
RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler
bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo
13. RAJA DAN AKSARA
Inginku salahkan waktu
Yang menuntunku mengenalnya
Tinggalkan jejak sakitnya hingga bermalam-malam
Walau manis sempat singgah
Tepat sebelum aku kalah
Dalam sesak hatiku selalu bertanya
Masihkah dia mengingatku?
Saat dia sendiri
Masihkah ada namaku didalam hatinya?
Terhapuskah semua jejak itu dibenaknya?
Pekik hati makin lantang
Tertahan mulut yang terbungkam
Lantunkan bait-bait pahit yang letihkan hati
Mentari kini hitam legam
Sepekat perih yang ku telan
Masihkah ada namaku-Mawar Eva
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
13. RAJA DAN AKSARA
Ratu membuka matanya perlahan. Ia meletakkan punggung tanganya di atas
dahinya. Ternyata demamnya sudah mulai turun walaupun kepalanya masih
sedikit sakit. Ratu melirik satu kantong plastik yang ada di atas nakas.
Diraihnya kantong plastik tersebut, lalu dibukanya. Dua buah roti isi srikaya
kesukaannya dan satu botol vitamin rasa jeruk. Ratu tersenyum, sudah jelas ia
tahu siapa pengirimnya.
Raja melirik satu buah roti isi srikaya ditangan Ratu. "Kamu tiap hari
kayaknya beli roti itu terus, jangan-jangan kamu suka lagi sama yang
jual? Ngaku kamu" ledek Raja.
Ratu mencubit perut Raja. "Enak aja, yang Ratu suka cuma Raja.
Enggak ada yang lain!" cibir Ratu.
"Lagian, kamu tiap hari enggak bosen apa makan itu terus" Raja
mengernyitkan dahinya heran.
"Ratu kan enggak bosenan, buktinya Ratu enggak pernah bosen sama
Raja" ujar Ratu lalu melirik Raja nakal.
Raja terkekeh. "Apasih kamu kok mulai centil gini, aku makan baru tau
rasa kamu" Raja mencubit pipi Ratu dengan gemas.
Ratu memanyunkan bibirnya. "Kalau Raja makan Ratu, terus Ratu
hilang dong. Emang Raja sanggup kehilangan Ratu?" ujar Ratu.
Raja menarik tubuh Ratu kedalam pelukannya. "Enggak akan sanggup,
lebih baik aku hilang sekalian aja biar bisa nyusul kamu. Jangan pernah
pergi dari hidup aku ya, Ratu" Raja mengecup puncak kepala Ratu.
Ratu mengangguk dan mengeratkan pelukannya lebih erat. "Ratu
enggak akan pernah pergi dari hidup Raja, meskipun Raja mohon-mohon
untuk Ratu pergi"
Raja tersenyum. "Aku akan nyuruh kamu pergi kalau memang itu yang
terbaik untuk kamu, karena aku cuma mau kamu bahagia" jawab Raja.
Ratu menggeleng. "Sumber kebahagiaan Ratu adalah Raja. Jadi kalau
Raja pergi, Ratu enggak akan bisa bahagia lagi" Ratu memeluk Raja
kencang, ia tak ingin kehilangan Raja.
"Kalau gitu, Aku enggak bisa dong pergi dari kamu. Karena kalau kamu
sedih, aku yang sakit" Raja melepaskan pelukannya, lalu menangkupkan
kedua tangganya ke wajah mungil Ratu. "Aku sayang kamu, Ratu Setia
Wijaya, yang manja, yang ceroboh, yang cengeng, yang hobinya makan
roti isi srikaya tiap hari, dan yang Raja sayang" Raja mencubit kedua pipi
Ratu dengan gemas dan Ratu tersenyum bahagia saat itu juga, sampai
kapanpun Ratu tidak akan melepaskan Raja.
Ratu berjalan menyusuri koridor dengan sebuah senyuman diwajahnya. Ia
memutuskan untuk mengikuti jam pelajaran kembali, karena menurutnya
dirinya sudah lebih sehat saat ini. Sebelum masuk ke dalam kelas, Ratu
memutuskan untuk menemui Raja karena jam istirahat masih tersisa sekitar
lima belas menit lagi. Ratu melihat Raja yang baru saja keluar dari toilet, ia
tersenyum lalu berlari kecil menghampiri Raja.
Ratu menarik lengan Raja. "Raja, tunggu aku mau bicara sebentar" ujar
Ratu.
Raja terkejut saat melihat Ratu. "Ngapain lo megang-megang gue, lepas!"
Raja menepis tangan Ratu.
Ratu mengangkat kantong plastik yang ada ditangannya. "Raja khawatir ya
sama Ratu? Makasih ya, roti dan vitaminnya pasti aku makan kok" Ratu
tersenyum senang.
"Khawatir sama lo? Buang-buang waktu. Gue cuma mau tanggung jawab
aja, karena lo sakit pasti gara-gara gue dan Aksara sialan itu" jawab Raja
dengan dingin.
Ratu menatap Raja sendu. "Apa Ratu harus sakit dulu supaya Raja perduli
sama Ratu?" tanya Ratu lembut.
"Gue enggak perduli sama lo, gue cuma tanggung jawab. Jangan terlena
Ratu" Raja beranjak pergi meninggalkan Ratu yang hanya bisa diam saat
mendengar ucapannya.
Sampai kapan Raja mau bohongin diri sendiri?
***
Saat ini diperbatasan SMA GARUDA dan SMA PERMATA, sudah
dipenuhi oleh dua kubu yang siap tempur untuk memenangkan sebuah harga
diri. Angkasa telah berhadapan dengan Aksara dan saling memandang dengan
tajam. Sedangkan Raja yang ada dibelakang Angkasa sudah siap untuk
menyalurkan emosi yang sudah ia tahan dari semalam. Raja berjanji kepada
dirinya sendiri bahwa hari ini Aksara akan habis dengannya.
"Jadi, sebelum kita mulai, Jelasin gue satu hal kenapa GARUDA nantangin
PERMATA hari ini. Setahu gue masalah kita udah selesai" ucap Aksara.
Angkasa menaikan sudut bibirnya. "Kenapa? Lo takut pulang dengan
kekalahan untuk yang kedua kalinya?" sindir Angkasa.
"Lo pemimpin mereka kan? Harusnya lo ngerti apa yang gue maksud.
Seorang pemimpin enggak hanya butuh otot aja tapi harus ada otak" Aksara
mengetukkan jarinya di kepalanya.
Angkasa menunjuk wajah Edgar. "Lo tanya Edgar anak buah lo yang banci
itu, kenapa dia mukulin temen gue si Elang!" Angkasa menatap tajam Aksara.
Aksara yang terkejut mendengar ucapan dari mulut Angkasa, langsung
menghampiri Edgar dan menarik kerah bajunya. "Brengsek! Lo bohongin gue
hah?!" teriak Aksara.
Aldi yang melihat Edgar sudah ketakutan langsung menarik Aksara kasar.
"Jaga harga diri lo sebagai ketua, urusan Edgar bisa kita urus nanti" bisik
Aldi.
Raja tertawa. "Katanya seorang pemimpin harus punya otak. Jadi, otak lo
kemana sekarang? Digondol kucing?" Sindir Raja diikuti suara tawa teman-
temannya.
Angkasa mengambil alih kembali. "Kali ini gue selametin lo lo semua
karena kebodohan ketua lo sendiri, dan buat lo," Angkasa menggantungkan
ucapannya dan menunjuk wajah Aksara. "Sekali lagi gue denger anak buah lo
berani nyentuh salah satu dari kita walaupun hanya seujung kuku, jangan
harap masih ada rasa kasihan untuk yang kedua kalinya dari seorang
Angkasa" ancam Angkasa.
Angkasa mengetukkan jarinya ke kepala Aksara. "Inget baik-baik ucapan
gue di otak lo, karena seorang pemimpin harus punya otak bukan hanya otot
aja" balas Angkasa.
Angkasa mendorong tubuh Aksara. Melihat Aldi yang hendak menghajar
Angkasa, segera Aksara menghentikannya. "Oke, gue akuin kali ini kesalahan
ada di pihak PERMATA. Tapi, bukan berarti kita hanya diam aja kalau suatu
saat kalian yang nyari masalah duluan. Inget itu" ucap Aksara tajam.
Raja menaikkan satu sudut bibirnya. "Gue tunggu saat itu terjadi" Raja
membuka suara. "Dan pastiin, lo siap mati saat itu juga"
Aksara dan Raja saling menatap dengan sorot penuh tantangan. Mereka
berdua tahu kemana arah pembicaraan tersebut, Ratu. Perempuan itu lah
alasan mereka berdua untuk mempertaruhkan nyawa masing-masing. Dan,
perempuan itu lah yang akan mereka berdua perjuangkan sampai ada salah
satu dari mereka berdua yang mengaku kalah dengan atau tanpa cara yang
terhormat.
Angkasa tersenyum puas. Mengalahkan musuh dengan menghilangkan harga
dirinya, lebih jauh bermartabat, dibanding mengalahkan musuh dengan
menghilangkan nyawanya. Dan, langit sore itu menjadi saksi awal
perperangan antara Raja dan Aksara. Karena, mulai sekarang Raja dan
Aksara tak akan pernah melepaskan seorang Ratu dengan mudah, walaupun
nyawa yang harus dipertaruhkan sekalipun.
Gue memang udah ngelepas lo Ratu, tapi gue enggak akan pernah
biarin seorang Aksara yang akan menjadi sumber bahagia lo setelah
seorang Raja. Itu, enggak akan pernah terjadi. - Raja untuk Ratu.
Gue enggak akan pernah nyerah untuk dapetin lo Ratu, meskipun
seorang Raja adalah segalanya untuk lo, tapi gue yakin bahagia lo adalah
saat bersama dengan seorang Aksara dan bukan dengan seorang Raja. -
Aksara untuk Ratu.
14. SESUATU YANG BERHARGA
barangsiapa yang berbicara dengan sunyi
tentang banyak hal yang kau lalui
siapakah dia yang pergi
seperti saat angin senja berlalu
dan langit dan bintang
bersamamu dimalammu
berdamailah dengan dirimu
dengan dirimu
Barang Siapa-The panas dalam ft Rahmania
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
14. SESUATU YANG BERHARGA
Raja, mencintai kamu adalah hal yang termudah untuk aku lakukan.
Sebaliknya, melupakanmu adalah hal yang tersulit untuk aku rencanakan.
Raja, sayangmu adalah salah satu alasan aku untuk tersenyum.
Sebaliknya, kebencianmu adalah salah satu alasan aku untuk bersedih.
Raja, perdulimu adalah salah satu alasan aku untuk bertahan.
Sebaliknya, acuhmu adalah salah satu alasan aku untuk terjatuh.
Raja, Ratu kangen.
-Ratu
Saat ini Ratu sedang berjalan menyusuri pinggir kota. Entahlah, Ratu juga
tidak tahu kemana langkah kakinya akan membawanya pergi. Andai saja Ratu
sanggup untuk bisa pergi sejauh mungkin, pasti akan ia lakukan sekarang juga.
Tapi, sayangnya tidak. Banyak hal yang tidak bisa Ratu tinggalkan, ralat tidak
sanggup untuk Ratu tinggalkan.
Raja, satu nama yang menyiksa Ratu akhir-akhir ini. Dulu, mencintainya
adalah hal yang sangat mudah. Ratu tidak perlu meminta izin darinya hanya
untuk sekedar mencintainya. Sekarang? Belum meminta persetujuan darinya
pun Ratu sudah ditolaknya secara terang-terangan.
"Raja, setiap kali kamu mengusirku untuk pergi, percayalah saat itu
juga hati aku sudah hancur. Dan dengan pelan aku mencoba mengeratkan
keping hati ku kembali, semua itu karena aku terlalu mencintai kamu
Raja" batin Ratu
"Ratu"
Ditengah lamunan Ratu, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ratu
menoleh kearah sumber suara, Aksara. Lelaki yang akhir-akhir ini hadir
dalam hidupnya. Aksara tersenyum kearahnya, dan perlahan ia menghampiri
Ratu.
"Lo ngapain disini? Lo enggak kerja?" Aksara bertanya kepada Ratu, bisa
Ratu lihat sorot mata khawatir dimatanya.
Ratu menggeleng. "Hari ini Ratu libur, Aksara kenapa bisa ada disini?
Ngikutin Ratu lagi ya?!" Ratu berdecak kesal kepadanya.
"Maaf, gue cuma khawatir. Lo mau kemana sebenernya? Gue capek
ngikutin lo yang dari tadi jalan terus" keluh Aksara.
"Emang ada yang nyuruh Aksara untuk ikutin Ratu? Enggak kan? Jangan
salahin Ratu dong" cibir Ratu. "Ngomong-ngomong Aksara ngikutin Ratu dari
kapan?" tanya Ratu curiga.
"Dari gerbang sekolah lo, makanya gue udah capek banget nih asal lo tau.
Perduli sedikit dong, jadi cewek enggak peka banget" protes Aksara.
"Jangan ke sekolah Ratu lagi, nanti Aksara bisa ketemu Raja. Ratu yang
pusing" Ratu mengeluh kepada Aksara. Ucapan Ratu memang benarlah
adanya, kepalanya sakit setiap melihat Raja dan Aksara bertengkar, yang
menurutnya sangatlah seperti anak kecil.
"Gue enggak takut, dan tolong jangan sebut nama dia kalau kita lagi
berdua" Aksara menatap Ratu dingin.
Ratu menghela nafas lelah. "Jangan ikutin Ratu lagi, Aksara pulang aja
sekarang. Lagian bentar lagi mau hujan nih" ujar Ratu.
"Gue heran, kenapa sih kalau setiap gue ketemu lo selalu aja mau hujan.
Jangan-jangan, lo pake ilmu yang aneh-aneh ya!" Aksara memicingkan
matanya.
Ratu memukul kecil lengan Aksara. "Emang musimnya lagi musim hujan
kali" Ujar Ratu. "Tunggu-," Ratu menggantungkan ucapannya, lalu
mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Motor Aksara mana?" tanya Ratu
heran.
"Gue parkirin di Warkop belakang sekolah lo" jawab Aksara santai yang
membuat Ratu terkejut.
"APA?!!" Pekik Ratu. "Jangan salahin Ratu, kalau sekarang motor Aksara
udah hancur berkeping-keping" ujar Ratu dramatis.
"Apaan sih, enggak usah lebay kali. Lagian disana pasti aman. Dimana-
mana Warkop pasti buka 24 jam, jadi enggak akan ada yang berani maling"
jelas Aksara.
"Maling emang enggak ada, tapi geng TEMPUR pasti selalu ada. Jadi,
selamat buat Aksara" balas Ratu.
Aksara mengusap wajahnya kasar. "Sialan!" umpat Aksara.
"Kalau gitu, gue pergi dulu. Dan lo sekarang langsung pulang, jangan kemana-
mana lagi" ujar Aksara.
"Jangan bilang, kalau Aksara sekarang mau ke Warkop ngambil motor?"
tanya Ratu curiga.
"Iyalah, itu motor kesayangan gue. Itu salah satu kenangan gue dengan
bokap, sebelum beliau pergi meninggalkan dunia" jawab Aksara sendu.
Hati Ratu tersentuh mendengar ucapan Aksara. "Tapi Aksara bisa dihajar
abis-abisan kalau nekat kesana" Ratu menatap Aksara khawatir.
"Kehilangan nyawa pun gue siap Ratu, apalagi untuk ngelindungin sesuatu
yang berharga di hidup gue. Termasuk lo" Aksara mengusap pipi Ratu
lembut.
"Gue pergi dulu ya, lo hati-hati" Aksara pamit lalu pergi meninggalkan Ratu
yang belum sempat menjawab ucapannya.
Ratu memandang Aksara yang tengah berlari dengan perasaan yang
khawatir. Bagaimanapun, Aksara adalah salah satu teman yang baik untuknya.
Akhirnya Ratu memutuskan untuk menyusul Aksara.
***
Aksara mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Aldi untuk menemuinya
di Warkop belakang SMA GARUDA. Aksara berlari sembari menggengam
erat kunci motornya, kalau saja motor itu bukanlah pemberian dari mendiang
sang Ayah, Aksara tak akan pernah merasa khawatir dan panik seperti ini.
Raja yang melihat sebuah motor yang sangat dikenalnya tengah terparkir di
depan Warkop atau bisa disebut markasnya pun langsung menendang motor
tersebut hingga terjatuh.
Angkasa yang melihatnya segera beranjak dan menghampiri Raja. "Lo
kenapa? Motor siapa yang lo tendang?" tanya Angkasa.
Panca langsung mengamati motor tersebut, dan melihat sebuah sticker
SMA PERMATA yang tertempel dibagian dekat tangki bensinnya. "Motor
anak PERMATA nih! Sialan, kenapa bisa disini?" umpat Panca.
"Motor Aksara" Jawab Raja yang masih menatap motor tersebut. "Gue
yakin banget ini motor udah keparkir dari tadi" ujar Raja.
"ANCURIN MOTORNYA SEKARANG!" Teriak Angkasa. Secara tidak
langsung, Angkasa merasa sedang ditantang secara terang-terangan. "Abis lo
Aksara" gumam Angkasa.
Anggota PASUKAN GARUDA lainnya yang mendengar perintah
Angkasa, segera beranjak dari kursinya lalu melaksanakan perintah Angkasa.
Dihancurkannya lah motor Aksara saat itu juga sampai semua bagian terlepas
begitu saja dan serpihan kaca lampu pun sudah berserakan dimana-mana.
Aksara yang melihat motornya sedang dihancurkan dari kejauhan pun
segera berlari dan memukuli satu-persatu orang yang sedang menyentuh
motornya. Aksara sakit dan Aksara marah, sekelibat bayangan tentang
mendiang sang Ayah muncul begitu saja.
"BANGSATT!!! APA YANG LO SEMUA LAKUIN HAH! GUE MATIIN
LO SEMUA!!" teriak Aksara.
Raja menghampiri Aksara lalu mendaratkan pukulannya hingga Aksara
terjatuh. "HARUSNYA KITA YANG NANYA, KENAPA MOTOR SIALAN
LO ADA DI SINI HAH?! NYARI MATI LO?!" balas Raja.
Aksara yang mendengar Raja mengejek motornya dengan kata sialan,
emosinya saat itu juga meledak. Diraihnya lah kerah baju Raja, lalu tanpa
aba-aba dibalasnya pukulan Raja hingga terjatuh.
Angkasa yang melihat teman-temannya ingin membantu Raja, saat itu juga
langsung ditahannya. "Biarin, kita bukan banci yang mainnya keroyokan" ucap
Angkasa.
Raja mengusap darah yang ada disudut bibirnya. Dengan brutal ia balas
pukulan Aksara bertubi-tubi, hingga Aksara terkulai lemah untuk yang kedua
kalinya ditangannya.
Ratu yang melihat Raja sedang menghajar Aksara tak henti dari kejauhan,
dengan segera ia berlari menghampiri Raja dan Aksara. "BERHENTI
RAJA!!!!" teriak Ratu yang membuat Raja menghentikan gerakannya.
15. RATU MENANGIS LAGI
aku yakin diantara kita
masih ada cinta yang membara
bagaimana caranya oh sayangku
kuingin juga kau mengerti
bagaimana caranya ??
haruskah kuteteskan air mata dipipi
haruskah kucurahkan segala rasa dihati
oh haruskah kau kupeluk dan tak kulepas lagi
agar tiada pernah ada kata berpisah
Masih Ada-Glen Fredly
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
15. RATU MENANGIS LAGI
Raja menatap tajam Ratu. "Lo enggak usah ikut campur Ratu" ucap Raja
dingin lalu dengan kasar didorongnya lah tubuh Aksara ke tanah.
Ratu meletakan kepala Aksara dipangkuannya. "AKSARA!! BANGUN!!
AKSARAAA!!" Ratu menepuk-nepuk wajah Aksara dengan kedua tangannya
sambil menangis.
Panca yang melihat Raja semakin emosi, dengan cepat ia menarik tubuh
Ratu untuk menjauhi Aksara. "Ratu, ikut gue. Kita pergi dari sini" ujar Panca.
Ratu menepis tangan Panca. "Kita harus bawa Aksara ke Rumah Sakit
Panca! Dia bisa mati" Ratu makin menangis.
"AKSARA!"
Aldi terkejut melihat keadaan Aksara, matanya memanas. "BRENGSEK!!
LO SEMUA BERANI MAIN KEROYOKAN HAH!!" teriak Aldi.
Angkasa menarik kerah kemeja sekolah Aldi. "Kita bukan banci yang
mainnya keroyokan kayak kalian" Angkasa lalu menunjuk Aksara. "Temen lo
ini dengan belagunya, masuk ke dalam daerah GARUDA secara terang-
terangan. Jadi, jangan salahin gue kalau Aksara habis dengan Raja untuk yang
kedua kalinya"
Ratu yang mendengarnya pun merasakan hatinya sangat sakit saat ini,
Dirinya merasa tak mengenal seorang Raja yang sekarang. Tiba-tiba
Pandangan Ratu terhenti oleh sebuah kunci motor berbandul kayu kecil
dengan ukiran sebuah nama, "Gunawan Prabudi". Ratu yakin itu adalah nama
mendiang Ayah Aksara, diraihnya lah kunci motor tersebut dan dengan erat ia
genggam, lalu dimasukkannya ke dalam saku bajunya.
Ratu mengguncangkan tubuh Aksara. "Aksara, bangun. Ayo, kita pergi dari
sini" lirih Ratu.
Samar-samar Aksara melihat Ratu. Disentuhnya lah wajah gadis itu dengan
lembut. "Ratu.. pergi dari sini" ucap Aksara.
Ratu menggeleng lemah. "Enggak Aksara, kita pulang sama-sama" Ratu
membersihkan darah di kedua sudut bibir Aksara.
Emosi Raja yang sedari tadi ia sudah tahan saat ini meledak dan tak
terkendali lagi. Ditariknya lah tubuh Ratu kasar. "LO NGAPAIN NANGISIN
DIA SIALAN?! KELUAR LO DARI GARUDA SEKARANG JUGA!
PENGKHIANAT!" teriak Raja.
Angkasa yang melihat Raja sudah tak terkendali, dihempaskannya lah tubuh
Aldi. "Lo bawa ketua sialan lo ini sekarang juga, sebelum nyawa dia
melayang!" ucap Angkasa tajam.
Aldi yang melihat kondisi Aksara sudah lemah, segera ia mengangkat tubuh
Aksara lalu membopongnya untuk pergi dari tempat itu secepatnya. Ratu yang
melihat Aksara sudah dibawa pergi, dengan kasar ia menepis tangan Raja.
Ratu ingin menyusul Aldi dan Aksara saat itu juga. Belum juga langkah Ratu
beranjak, Raja kembali mencengkram lengannya kuat hingga Ratu meringis
kesakitan.
Ratu mencoba melepaskan cengkraman Raja. Tapi semua sia-sia. Raja
terlalu kuat "LEPASIN RATU!! RATU MAU NYUSUL AKSARA!!" teriak
Ratu.
Raja menggertakan giginya, rahangnya pun sudah mengeras. "BANGSAT!
AKSARA SIAPA LO HAH?! BERANI LO SEKARANG NGEBANTAH
GUE, RATU!" Teriak Aksara. "KITA PULANG SEKARANG!"
Elang yang geram melihat tingkah Raja, akhirnya memutuskan untuk ikut
andil dalam kejadian ini. Elang melepaskan cengkraman tangan Raja, dan
menarik Ratu yang sudah menangis menjauh dari Raja. "Cukup Raja, lo udah
nyakitin Ratu!" ucap Elang dingin.
"Lepasin Lang, sebelum lo bernasib sama dengan Aksara" ucap Raja
dingin. "Gue enggak mau yang namanya mukul temen sendiri, tapi sekarang
gue enggak segan-segan mukul lo kalau menyangkut Ratu"
Angkasa menarik kerah Raja. "Lo mukul Elang, saat itu juga lo bukan
bagian dari kita lagi. Gue enggak pernah ngajarin temen-temen gue untuk adu
otot hanya karena cewek" Angkasa menatap tajam Raja.
Angkasa menghempaskan tubuh Raja. Lalu menghampiri Ratu yang berada
di samping Elang, lalu memeluknya lembut. Tangis Ratu pecah saat itu juga,
ia menangis sejadi-jadinya. Angkasa menepuk-nepuk punggung Ratu untuk
menenangkannya.
Perasaan Raja saat ini campur aduk. Raja marah melihat sikap Ratu
terhadap Aksara, dan Raja kecewa dengan dirinya sendiri yang tak bisa
mengontrol emosinya. Elang menghampiri Raja lalu merangkulnya. Dan
mengguncang kecil tubuh Raja seolah menyiratkan bahwa semua akan baik-
baik saja.
Angkasa masih memeluk Ratu erat. Ia memang tidak tega bila melihat
seorang perempuan menangis. Apalagi penyebabnya karena kebodohan salah
satu teman yang ia anggap penting.
"KAK ANGKASA! KAKAK NGAPAIN?!"
Suara teriakan perempuan membuat Angkasa dan yang lainnya menoleh ke
arah sumber suara, Raya Indah Lestari. Adik kelas yang sedang digosipkan
karena kedekatannya dengan Angkasa saat ini. Panca dan Dirga yang melihat
raut wajah Angkasa menjadi panik langsung terkekeh geli. Pemandangan yang
amat sangat langka bagi mereka semua.
Angkasa melepaskan pelukannya terhadap Ratu dengan lembut. "Raya? Lo
ngapain disini? Bukannya lo udah pulang?" tanya Angkasa kepada Raya yang
ada dihadapannya saat ini dengan kikuk.
Melihat Raya yang tengah memandangi Ratu, segera ia membuka suara
cepat sebelum Raya salah paham. "Lo jangan cemburu, ini enggak seperti
yang lo bayangin kok. Jadi jangan salah paham ya" jelas Angkasa.
Raya memicingkan matanya kepada Angkasa. "Cemburu? Kakak kepedean
banget sih" cibir Raya.
"Kakak ya yang bikin dia nangis?!" Raya menunjuk ke arah Ratu. "Kak
Angkasa banci!, beraninya sama cewek!" Raya memukul kepala Angkasa
dengan sebuah botol minuman plastik yang ada ditangannya.
Teman-teman Angkasa tercengang melihat Raya yang berani memukul
kepala Angkasa. Percayalah, hari ini akan mereka catat sebagai hari
bersejarah di sepanjang hidup para anggota geng TEMPUR. Hari dimana
Angkasa Laksmana tak berkutik dihadapan seorang perempuan.
Angkasa mengusap kepalanya. "Enggak Raya! Bukan gue yang bikin Ratu
nangis, tapi si Raja" Angkasa menunjuk Raja. "Mana mungkin gue bikin
cewek nangis!" ujar Angkasa.
Raya tertawa mendengar ucapan Angkasa. "Tapi dua hari yang lalu kakak
udah bikin aku nangis tuh, kakak amnesia hah?!" tanya Raya terang-terangan.
Saat ini adalah saat yang tersiksa bagi teman-teman Angkasa. Dengan
sekuat tenaga mereka menahan tawa, terutama Panca ingin rasanya ia
meluapkan tawanya saat ini juga. Tapi maaf-maaf saja, Panca masih amat
sayang dengan wajah yang menurutnya setampan Aliando itu, jadi diam
adalah pilihan terbaik saat ini.
Raja menghampiri Ratu yang sedang memperhatikan perdebatan antara
Angkasa dan Raya. Raja menarik tangan Ratu. Ratu pun menoleh ke arah
Raja. "Ayo kita pulang" ucap Raja dingin.
Raya menepis kecil tangan Raja. "Kak Ratu pulang sama aku aja" Raya
mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Kalian semua cowok-cowok
emang kerjaannya cuma bisa nyakitin cewek aja. Kalau berantem enggak
salah-salah pada sok jago semua, tapi kalau udah buat salah sama cewek
langsung pada kicep. Makin lama gengsi kalian sama gede kayak otot yang
kalian bangga-banggain itu, yang padahal enggak ada menariknya sama
sekali. Emangnya cewek itu boneka apa yang bisa kalian atur gitu aja? Liat
aja nanti, kalian rasain sendiri tuh gimana kesiksanya ditinggal perempuan
yang selama ini kalian perlakuin seperti boneka! Rasanya, Hidup segan mati
pun tak mau! Cepet sadar sebelum telat"
Raya tersenyum puas melihat kumpulan lelaki yang ia anggap bodoh
sekarang seperti mati kutu. Khususnya untuk Raja, Angkasa, Elang, Panca dan
Dirga.
Mereka hanya bisa diam seperti telah habis menelan sebuah duri dan
menyangkut di kerongkongan masing-masing. Ucapan Raya memang berhasil
menyindir mereka habis-habisan.
Setelah meluapkan unek-uneknya, Raya lalu menarik tangan Ratu dan
membawanya pergi bersamanya. Ratu pun menurut, ia tidak ingin pulang
bersama Raja saat ini. Bagaimanapun juga, Ratu masih takut dengan Raja.
Karena, selama ia bersama Raja, tak sekalipun Raja berani membentak Ratu
secara kasar seperti tadi.
Raja yang hendak ingin mengejar Ratu, segera Angkasa menghentikannya.
"Tenang aja, gue pastiin dia enggak akan nemuin Aksara hari ini" ujar
Angkasa. "Mending kita cabut sekarang, sakit kepala gue mikirin cewek"
keluh Angkasa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi. Seorang Aksara benar-benar
berhasil membuat mood mereka sangat buruk. Termasuk Raja yang saat ini
memutuskan untuk pulang, ia benar-benar membutuhkan istirahat. Pikiran dan
hatinya sangat kacau sekarang, dan seorang Ratu lah yang menjadi
penyebabnya.
18. PESONA SEORANG RATU
I'm all out of faith
This is how I feel, I'm cold and I am shamed
Lying naked on the floor
Illusion never changed
Into something real
Wide awake and I can see the perfect sky is torn
You're a little late
I'm already torn
Torn-Natalie Imbruglia
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
18. PESONA SEORANG RATU
Ratu berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan sebuah earphone yang
terpasang dikedua telinganya. Sudah dua hari ini dirinya tak melihat sosok
Raja. Tentu saja ada rasa rindu di dalam hatinya. Bukannya Ratu tidak ingin
menemuinya, hanya saja Ratu masih belum berani untuk berhadapan atau
hanya sekedar menyapa Raja sejak kejadian yang melibatkan Aksara saat itu.
Ngomong-ngomong soal Aksara, laki-laki itu menghilang tak ada kabar. Ratu
sudah menghubungi nomor ponselnya, dan hasilnya selalu nihil.
Ratu berjalan sembari memandang lurus dengan tatapan kosong di sorot
matanya. Ratu tersenyum tipis saat mengingat kenangannya dengan Raja di
setiap sudut sekolahnya. Saat itu hanya ada canda dan tawa yang menghiasi
hubungan mereka, dan saat itu hanya ada seorang Raja yang selalu
menyayanginya, tidak ada Raja yang pemarah, tidak ada Raja yang dingin dan
tidak ada Raja yang acuh.
Ratu terdiam sejenak, ia menatap sudut anak tangga tempat dimana dirinya
dan Raja pernah saling berbagi cerita. Raja yang selalu mengacak-acak
rambutnya saat ia gemas, dan Ratu yang selalu berdecak kesal saat Raja
melakukan hal itu.
Ratu merapihkan rambutnya yang telah diacak-acak oleh Raja.
"Rajaaa! Rambut Ratu jadi berantakan nih, nanti cantiknnya Ratu
berkurang gimana?" decak Ratu.
"Aku enggak suka kamu cantik-cantik, nanti kamu banyak yang lirik.
Bisa repot aku" ujar Raja.
"Ratu kan enggak mau kebanting kalau lagi jalan berdua sama Raja,
lagian Ratu cantik juga untuk Raja dan bukan untuk yang lain" balas Ratu
tak mau kalah.
Raja mencubit hidung Ratu gemas. "Mau rambut kamu berantakan, mau
muka kamu kucel, dan mau kamu gendutan juga kamu tetep cantik di mata
aku. Jadi, enggak usah pake dandan segala kalau ke sekolah. Aku enggak
mau kamu digodain, terus berpaling deh dari aku. BIG NO"
"Adanya juga Raja yang akan berpaling dari Ratu. Raja kan populer di
sekolah, banyak lagi cewek yang antri bahkan rela untuk jadi yang kedua"
keluh Ratu.
Raja mengusap wajah Ratu lembut. "Aku punya satu aja sayangnya
enggak abis-abis, jadi ngapain nyari yang lain. Jangan mikir yang macem-
macem ah!" tukas Raja.
Tiba-tiba lamunan Ratu terhenti. Sosok laki-laki dengan tubuh yang tegap,
hidung yang mancung, mata yang tajam, rahang yang tegas, dan rambut yang
sedikit acak-acakan yang tak mengurangi ketampanannya sedikitpun, tengah
menuruni anak tangga dengan satu botol minuman ditangan kanannya. Kedua
mata mereka masing-masing bertemu. Mereka saling memandang untuk
sejenak, dan tanpa ada suara yang mengisinya.
Raja yang sedang menuruni anak tangga untuk menyusul teman-temannya,
langkah kakinya seketika terhenti saat melihat Ratu yang saat ini tengah
menatapnya dari bawah anak tangga. Raja bisa melihat ada sorot kerinduan
di manik mata gadis itu, secepat mungkin Raja memutuskan pandangannya
kepada Ratu. Tanpa ada rasa perduli, ia melanjutkan langkah kakinya dan
melewati Ratu begitu saja. Itu lebih baik menurutnya.
Ratu tersenyum getir saat Raja melewatinya tanpa ada kata sapa sama
sekali. Biarlah, yang penting rasa rindu Ratu sedikit berkurang walau hanya
sekedar melihat wajah Raja, meskipun itu hanya sebentar. Ratu menghela
nafasnya, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju lapangan sekolah.
Raja kamu ingat?, dulu kita tak pernah sedetikpun melewatkan sebuah
kata sapa saat bertemu. Dan, sekarang hanya selalu ada kata selamat
tinggal yang keluar dari mulutmu.
***
"Si Arjun temannya Rohit,
Kepalanya botak amat kelimis.
Walaupun kopi rasanya pahit,
Kalau lihat kamu terasa manis"
Panca melantunkan sebuah pantun yang diambilnya dari mbah gugel
sembari tak henti memandang Helen. "NENG HELEN I LOVE YOU
FULLLL" teriak Panca dari pinggir lapangan.
Angkasa melempar batu kecil ke arah Panca. "Enggak usah malu-maluin!"
tukas Angkasa.
Dirga melirik Panca heran. "Kemarin Linda sekarang Helen, banyak amat
cabangnya itu hati" sindir Dirga.
Panca pun mulai berpidato. "Lo semua harus tahu, seorang Panca Ksatria
tidak pernah memakai hatinya kalau udah menyangkut tentang perempuan.
Karena mereka hanya bisa bikin kita lemah. Liat aja tuh si Raja, kalau deket
diusir giliran jauh dikangenin" ujar Panca sembari melirik Raja.
"Gue doain deh suatu saat lo ngerasain yang namanya patah hati, biar lo
cepet tobat jadi playboy. Gue heran deh sama koleksi lo, mereka enggak
milih-milih dulu kali ya kalau deket sama cowok" ujar Dirga.
Panca membusungkan dadanya lalu menepuknya. "Jangan salah, gue ini
bagaikan suatu anugerah di hidup mereka dan bagaikan sebuah mata air di
tengah gurun sahara" jawab Panca percaya diri.
Raja dan yang lainnya rasanya ingin muntah saat itu juga kalau bisa.
Mereka heran dengan tingkat kenarsisan yang dimiliki Panca yang menurut
mereka tingkatannya sudah sangat tidak wajar. Panca Ksatria, playboy SMA
GARUDA dan termasuk salah satu laki-laki yang populer di kalangan para
siswi. Bahkan menurut informasi, kumpulan para mantan Panca di SMA
GARUDA mempunyai perkumpulan tersendiri. Teman-temannya pun tak
mengerti apa yang sebenarnya para perempuan lihat dari seorang Panca.
Bahkan mereka dulu sempat berpikir kalau Panca sebenarnya menggunakan
ilmu dari dunia lain untuk membuat para perempuan dengan mudah jatuh
kedalam pelukannya, dan tentu saja hal itu dibantah oleh Panca habis-
habisan.
Siang itu cuaca bisa dibilang cukup terik. Ratu dan anggota klub lainnya
tengah berlatih di lapangan sekolah. Ratu memperhatikan gerakan mereka
satu persatu-satu, lalu memeragakannya sesuai irama. Sebenarnya ada
beberapa gerakan yang ingin Ratu ubah, tapi dirinya merasa tidak enak untuk
mengutarakannya.
"Baru sehari lo ikut kita latihan, tapi gerakan lo udah luwes banget. Emang
gue enggak salah milih orang" ujar Helen puas.
"Menurut lo sendiri gimana? Ada kekurangan enggak dari kita? Kita butuh
saran yang membangun, lo enggak usah takut untuk bilang" timpal Nadia.
Ratu menggigit bibirnya. "Sebenarnya ada, tapi Ratu enggak enak untuk
bilang. Ratu kan anggota baru, dan latihan juga baru sehari" jawab Ratu tidak
enak.
Diba merangkul Ratu. "Walaupun lo anggota baru, tapi lo udah kita anggap
keluarga. Jadi, utarain aja semua pendapat lo" tukas Diba.
Hati Ratu menghangat saat mendengar sebuah kata keluarga yang keluar
dari mulut Diba. Sudah lama dirinya tidak dianggap sebagai bagian dari
keluarga lagi oleh teman-teman terdekatnya. Dan saat ini, mereka yang ada
disekitar Ratu dengan hangat menyambutnya.
Ratu mengangguk semangat. "Oke, Jadi ada beberapa gerakan yang
menurut Ratu enggak sesuai dengan porsinya atau terlihat berlebihan.
Khususnya dibagian yang menurut Ratu adalah highlight dari penampilan
kita...."
Ratu menjelaskan beberapa bagian yang menurut Ratu harus diubah dengan
jelas. Anggota yang lainnya pun menerima pendapat Ratu secara terbuka.
"Oke, Ratu akan nunjukkin beberapa gerakan yang menurut Ratu lebih cocok
ada dibagian itu, tapi sebelumnya Ratu minta maaf kalau kalian enggak suka.
Ratu cuma mau usaha aja dan enggak mau buat kalian semua kecewa" ujar
Ratu.
Helen dan yang lainnya tersenyum saat mendengar ucapan tulus dari Ratu.
Helen berjalan ke sisi kiri lalu menghidupkan sebuah tape yang ada di atas
meja. "So, let's show your skill right now, lady" ucap Helen.
Ratu mengangguk lalu melangkah mundur sampai mendapatkan space yang
menurutnya cukup untuk membuat dirinya nyaman. Musik pun mengalun,
gerakan demi gerakan Ratu tunjukkan. Rambut yang Ratu biarkan terurai
begitu saja membuat dirinya makin terlihat mempesona. Mereka yang melihat
Ratu tengah menari merasakan bahwa Ratu yang ada dihadapan mereka
adalah Ratu yang berbeda. Tidak ada yang namanya Ratu dengan raut wajah
polosnya yang seperti anak-anak, justru yang terlihat adalah raut wajah yang
dewasa dengan sorot mata yang tajam dan terkesan sangat seksi.
Helen tersenyum puas, dirinya sekali lagi memang tidak salah saat
memutuskan Ratu untuk menjadi bagian dari klubnya. Ratu benar-benar
membabat habis musik yang mengalun dengan gerakannya yang sempurna.
Anggota yang lainnya pun dibuat tercengang dengan penampilan Ratu,
gerakan yang menurut mereka tadinya terasa sudah sangat bagus dan saat ini
disempurnakan oleh sang Ratu.
Raja yang sedang duduk tak jauh dari lapangan bersama yang lainnya pun
ikut tertegun melihat penampilan Ratu saat ini. Tatapan Raja tak teralih sama
sekali dari sosok Ratu, ini adalah kedua kalinya Raja melihat Ratu menari,
dan Raja masih tetap terpesona. Tidak dipungkiri, Ratu berhasil membuat
orang disekitarnya terkagum-kagum.
Panca yang sedang duduk langsung berdiri saat melihat pemandangan yang
menurutnya sayang untuk dilewatkan. "OH MY LORD, GUE KALAU JADI SI
RAJA, GUE JAGA TUH SI RATU TERUS GUE SAYANG-SAYANGIN
DEH, BIAR ENGGAK LEPAS. RAJA EMANG BEGO" ujar Panca yang
masih tak mengalihkan pandangannya.
Angkasa meneguk salivanya. "Damn! She's so sexy right now!" umpat
Angkasa.
Raja melemparkan pandangan tajam ke Angkasa. Angkasa yang menyadari
arti tatapan membunuh Raja, dengan kikuk ia menggaruk tengkuknya yang
padahal tidak gatal sama sekali.
"Bentar lagi pasti ada yang nyesel terus bikin video sambil nangis-nangis,
terus dikasih judul "Alasan kita selesai.." Bener enggak Ja?" ledek Elang
yang hanya dibalas sebuah abaian oleh Raja.
Dirga menepukan tangannya saat Ratu menyelesaikan gerakannya. "Gue
yakin abis ini si Fara pasti meledak-ledak kayak air dimasukin ke dalam
minyak panas. Gue berani taruhan!" ujar Dirga.
Fara yang melihat penampilan Ratu dari atas balkon kelasnya langsung
merasa geram saat itu juga. Harga dirinya seperti dijatuhkan oleh seorang
Ratu. Berani-beraninya Helen menerima anggota baru saat ini, padahal sudah
tertera jelas aturan yang mengatakan bahwa anggota baru akan diseleksi
setiap pergantian semester. Semua hal ini membuktikan bahwa Helen telah
menyatakan bendera perang untuknya dengan menggunakan Ratu sebagai
alatnya. Dan, tentu saja Fara tidak akan tinggal diam begitu saja .
"Bukan Fara namanya kalau enggak bisa bikin hidup kalian menderita.
Terutama untuk lo Helen, lo salah udah cari masalah sama gue. Kalau
Ratu adalah suatu alat yang lo pakai untuk menghancurkan gue, kita lihat
gimana nanti gue buat alat yang lo punya itu rusak dan jadi enggak
berguna." batin Fara.
19. RATU TIDAK BAIK-BAIK SAJA
And I'd give up forever to touch you
'Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now
And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
And sooner or later it's over
I just don't wanna miss you tonight
And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's meant to be broken
I just want you to know who I am
Iris-Cover by Kina Grannis
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
WARNING: PART INI MENGANDUNG SEDIKIT ADEGAN
KEKERASAN (BAGI PEMBACA BELUM CUKUP UMUR TOLONG
JANGAN DIBACA)
19. RATU TIDAK BAIK-BAIK SAJA
Seorang gadis berambut panjang dengan tubuh yang mungil, sedari tadi
berdiri sembari memperhatikan sebuah gerbang sekolah yang ada
disebrangnya, Ratu. Gadis itu tengah menunggu sosok laki-laki yang sudah
menghilang tanpa kabar beberapa hari ini. Ratu mencengkram rok sekolahnya
dengan gugup, jujur saja saat ini dirinya bisa dibilang nekat karena
mendatangi kandang musuh sekolahnya sendiri. Ratu mengetuk-ngetukan
sepatunya ke tanah, sudah hampir satu jam Ratu menunggu sosok Aksara.
Tiba-tiba tanganya merasakan sedang dicengkram kuat oleh seseorang. Ratu
yang terkejut seketika langsung menoleh.
"Lo anak GARUDA kan?! Berani banget lo kesini! Oh gue tahu, lo pasti
salah satu mata-mata suruhan geng TEMPUR ya?!" tekan lelaki itu.
"Satria, jangan cari masalah disini. Mending kita bawa ke markas aja, biar
kita sidak rame-rame" ujar lelaki yang satunya.
Satria menyeringai dan menatap Ratu tajam. "Lo kadang pinter juga, Galih"
Jawab Satria. "Nona cantik, ikut kita sekarang ya, dan jangan berisik kalau lo
mau aman" ancam Satria.
Ratu menggeleng, suaranya tercekat. "Ratu.. bukan mata-mata, lepasin
Ratu" lirih Ratu. "Ratu janji enggak akan kesini lagi, Tolong.. maafin Ratu"
Ratu menangkupkan kedua tangannya.
Satria memandang Galih dengan tatapan yang bisa diartikan oleh Galih,
Satria tertarik dengan gadis yang ada di cengkramannya saat ini. Tanpa
memperdulikan ucapan dan tangisan Ratu, Satria dan Galih langsung menarik
paksa Ratu dan memasukannya ke dalam mobil.
Sampailah mereka saat ini disebuah rumah kontrakan yang disebut sebagai
markas pasukan PERMATA. Ratu masuk kedalam rumah tersebut dengan
perasaan takut, dilihatnya beberapa laki-laki berseragam sekolah sedang
asyik bermain kartu dan minum kopi. Kehadiran Ratu pun membuat mereka
seisi ruangan memperhatikan dirinya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Anak GARUDA nih! Angkasa bego juga ternyata, merintahin mata-mata
yang klemer kayak gini!" ujar Satria. "Enaknya diapain nih?!" tanya Satria
kepada teman-temannya.
Salah satu laki-laki yang tadinya sedang asyik bermain kartu seketika
beranjak berdiri dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Ratu. Ditatapnya
Ratu dengan tajam hingga membuat tubuh Ratu gemetar.
Sergio menyentuh wajah Ratu. "Nama gue Sergio, siapa nama lo gadis
cantik?" tanya Sergio.
Ratu menepis tangan Sergio yang sudah berani menyentuhnya. "Jangan
sentuh Ratu!" bentak Ratu.
Sergio tertawa, lalu ditariknya tubuh Ratu dengan kasar ke dalam
pelukannya. Diangkatnya wajah Ratu lalu diusapnya bibir Ratu. Emosi Ratu
memuncak, dirinya tak pernah merasa sehina ini. Didorongnya tubuh Sergio
dengan kasar hingga Sergio sedikit terhuyung.
"JANGAN PERNAH SENTUH RATU! RATU ENGGAK SUDI!!" teriak
Ratu sembari menangis.
BUKH
Sergio mendaratkan pukulannya ke wajah Ratu. Seisi ruangan tersebut
terkejut melihat tindakan Sergio. Ratu tersungkur lemah seketika, pipi kirinya
lebam dan sudut bibirnya sudah berdarah.
"PEREMPUAN SIALAN!!! GUE ABISIN LO SEKARANG JUGA!!"
teriak Sergio.
Sergio menarik kerah baju Ratu, hingga Ratu berdiri. Dijambaknya rambut
Ratu, dan dengan kasar Sergio hempaskan tubuh Ratu hingga terbentur
dinding. Sudut mata Ratu berdarah karena terbentur sebuah pigura besi. Ratu
melemas dan tubuhnya terjatuh ke lantai kembali, melihat Ratu semakin
lemah, diinjaknya kuat tangan Ratu hingga menimbulkan lebam.
Satria yang melihat Sergio sudah gelap mata, ditariknya tubuh Sergio dan
dihempaskannya dengan kasar. "LO GILA!!! DIA ITU CEWEK!! KITA
BUKAN BANCI BANGSAT!!!" teriak Satria.
Galih yang melihat Ratu sudah melemas, diguncangkannya lah tubuh gadis
itu agar tersadar. "Hey, bangun! Gue mohon! Ratu! Bangun Ratu!" panik
Galih.
Suara deru mobil yang tengah terparkir di garasi memenuhi seisi ruangan
yang mencengkam tersebut. Aldi yang baru saja mengantar pacarnya pulang
ke rumah. Segera bergegas menuju markas PERMATA karena ada hal penting
yang akan diurusnya. Saat ia masuk, betapa terkejut dirinya melihat sosok
perempuan yang sangat dikenalnya tengah terkapar dilantai dengan lebam
diwajahnya. Diangkatnya lah tubuh Ratu segera, ditepuk-tepuk wajah gadis
tersebut agar sadar.
"RATU!! RATU LO KENAPAA!!! SADAR RATU INI GUE ALDI!! GUE
MOHON RATU BUKA MATA LO!!" teriak Aldi.
"BANGSAT!! SIAPA YANG NGELAKUIN INI?! JAWAB LO SEMUA!!"
teriak Aldi kepada teman-temannya, tapi tak ada satupun yang menjawab.
Aldi mengedarkan pandangan tajam ke sekitarnya. "LO PADA ENGGAK
MAU JAWAB? GUE PASTIIN LO SEMUA ABIS DITANGAN AKSARA!"
ancam Aldi.
Melihat teman-temannya sudah ketakutan, Galih membuka suara. "Sergio
yang ngelakuin ini semua" jawab Galih.
"BRENGSEK!!! DIMANA DIA SEKARANG!!!" teriak Aldi.
"Dibawa Satria, gue yakin Satria udah ngehajar dia habis-habisan" jawab
Galih untuk menenangkan Aldi.
"MASALAH INI BELUM SELESAI, DAN GUE PASTIIN LO SEMUA
YANG ADA DISINI AKAN BERURUSAN DENGAN AKSARA!!
TERUTAMA SERGIO!!" Aldi mengancam seisi ruangan.
Aldi pun menggendong tubuh Ratu dan membawanya keluar menuju
mobilnya. Ratu perlahan membuka matanya, lalu tersenyum tipis saat melihat
Aldi tengah menggendongnya. Ternyata dia masih diberikan kesempatan
untuk hidup, batinnya. Dibaringkannya tubuh Ratu didalam mobilnya.
"Bodoh! Disaat gini lo masih bisa senyum!! Gue bawa lo ke Aksara
sekarang" ujar Aldi.
Ratu menggeleng. "Ra.. Ratu mohon, jangan kasih tahu siapapun" lirih
Ratu. Ratu hanya tidak ingin menimbulkan masalah lagi karena
kecerobohannya.
"Enggak bisa Ratu! Ini udah kelewat batas!!" bentak Aldi.
Ratu mencengkram lemah tangan Aldi. "Ratu mohon ke Aldi, kali ini aja"
mohon Ratu. "Anterin Ratu ke rumah aja sekarang, Ratu.. Ratu enggak kuat,
Ratu.. Ratu mau ketemu Bunda..Ratu..Ratu takut Aldi" isak Ratu.
Aldi yang melihat Ratu menangispun merasa tidak tega, dipeluknya tubuh
Ratu dan diusapnya lembut wajah lebam Ratu. Aldi mengangguk. "Oke, gue
bawa lo pulang tapi sebelumnya kita obatin dulu luka lo" ujar Aldi yang
dibalas anggukan lemah oleh Ratu.
***
Risti memeluk tubuh Aksara. "Aksara, kamu temenin aku disini aja ya. Aku
takut dirumah sendirian" ujar Risti.
Aksara melepaskan pelukan Risti pelan. "Aku harus ke markas, udah tiga
hari aku enggak kumpul sama mereka" jawab Aksara.
Risti menggeleng. "Kalau aku kenapa-kenapa gimana? Kan ponsel kamu
masih rusak, jadi aku enggak bisa kan hubungin kamu" rengek Risti.
Aksara menghela nafas panjang. "Iyaudah, aku disini sampai om dan tante
pulang" jawab Aksara terpaksa.
Risti memeluk Aksara senang, hari ini dirinya memang ingin menghabiskan
waktu bersama Aksara tanpa ada yang mengganggunya. Sedangkan Aksara
sudah sangat jengah dengan sikap Risti yang akhir-akhir ini sikap manjanya
keterlaluan.
***
"Lo ngapain si dari tadi mondar-mandir enggak jelas?!" tanya Dirga
kepada Raja yang jengah melihat tingkah Raja saat ini.
Raja yang mendengar ucapan Dirga pun tak mengerti apa yang sebenarnya
terjadi dengan dirinya. Ada perasaan tidak enak yang saat ini ia rasakan.
Entah hanya perasaanya saja atau memang ada sesuatu hal yang terjadi tanpa
dirinya ketahui?
Raja mengusap wajahnya kasar. "Gue juga enggak tahu, perasaan gue
enggak enak aja tiba-tiba" jawab Raja.
Angkasa yang sedang melahap mie rebus buatan Bi Jum langsung
menghentikan makannya dan memandang Raja heran. "Lo punya utang kali,
coba inget-inget. Makanya kalau beli apa-apa tuh langsung bayar! Jangan-
jangan lo punya utang ya di Warkop!" ujar Angkasa.
Raja melempar bantal yang ada diruang tamu rumahnya ke arah Angkasa.
"Sialan lo! Mana pernah gue ngutang, emangnya gue Panca!" balas Raja.
Panca yang mendengar namanya disebut, langsung membuka suara.
"Ngutang itu bagus, itung-itung Bu Sri (Pemilik Warkop) nabung sama gue.
Daripada duitnya dihabisin buat poyah-poyah sama dia, kan mending
ditabung sama gue" kilah Panca.
Elang yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala, temannya
satu itu memang pintar sekali dalam hal jawab menjawab. Elang lalu melirik
Raja. "Daripada lo mondar-mandir enggak jelas, mending kita billiard aja,
udah gatel nih tangan gue. Ayolah, Udah kayak cewek mau PMS aja lo" ujar
Elang.
"Iya, lagian itu cuma perasaan lo doang Ja. Jangan dipikirin amat lah, udah
kayak emak-emak lagi mikirin tupperware-nya aja lo" timpal Panca.
Raja mengangguk lalu menghampiri Elang dan Panca ke meja billiard yang
ada di rumahnya. Sedangkan Angkasa dan Dirga masih sibuk menyantap mie
rebus Bi Jum yang menurut mereka nikmatnya tiada tara.
Raja membuang perasaan tak enaknya jauh-jauh. Benar apa kata Panca,
semua itu hanya perasaannya saja. Semoga, pikirnya. Saat ini ia ingin
menikmati waktu bersama teman-temannya tanpa memikirkan hal yang hanya
menambah bebannya.
***
Sinta tengah menatap putrinya dengan hati yang menangis. Wajah cantik
putrinya dipenuhi lebam di sebelah kiri, sudut mata dan bibirnya pun terluka.
Sinta menarik lembut tangan Ratu, dan mengusap memar yang ada ditangan
putrinya dengan lembut. Akhir-akhir ini dirinya terlalu larut dalam kesedihan
hingga tidak pernah memperhatikan putrinya.
Malam itu Sinta menangis, merutuki kebodohannya sebagai seorang Ibu
yang selalu bertindak tanpa berpikir. Dan selalu bertingkah bahwa tidak ada
lagi harapan dihidupnya saat ini disaat putrinya sedang berjuang untuk
bangkit. Sinta menyelimuti putrinya dengan pelan. Lalu beranjak keluar
menuju kamarnya.
Ratu tengah tertidur saat ini. Setelah Aldi mengobati luka dan lebamnya,
Aldi mengantarkan dirinya pulang kerumah dan menemui sang Bunda lalu
menjelaskan bahwa Ratu telah terserempet sebuah motor, dan pengendara
tersebut kabur begitu saja. Ada rasa sakit dihati Ratu saat berbohong kepada
sang Bunda, tapi itu jauh lebih baik daripada Ratu harus jujur yang akan
membuat sang Bunda sakit karena khawatir memikirkannya.
Sakit ditubuh Ratu mulai terasa saat ini, luka dan lebam yang ada di
wajahnya pun makin perih. Dahinya makin berkeringat, deru nafasnya pun tak
beraturan. Sudut matanya sudah berair, Ratu menangis dalam tidurnya.
"Ra..Raja.. tolong"
"Sakit Raja.."
"Kamu dimana.. Raja.."
"Raja.."
Malam itu Ratu meracau, hanya nama Raja lah yang ia sebut dalam
keadaan sadar ataupun tidak. Hanya sosok Raja lah yang ia panggil saat
dirinya merasa takut. Hanya Raja yang ada dihidupnya, bukan laki-laki lain.
Raja, Ratu butuh Raja.
Ratu takut, Raja.
Kamu ada dimana? Ratu sakit, Raja.
Raja, jangan tinggalin Ratu, Raja.
21. RINAI, DIMANA RAJA?
But I wake up with this anger
And the pain won't let me be
And the smile I share
Is only there for show
I can't let go
I need it to remind me
I can't let go
Oh, I just repeat the past
I Can't let go- Cover by Marie
[VOMMENT & FOLLOW KALIAN BERHARGA BANGET BUAT AUTHOR
❤]
21. RINAI, DIMANA RAJA?
Sakit ditubuh Ratu makin terasa. Ia terpaksa tidak masuk sekolah hari ini,
dan sore harinya ia memutuskan untuk tetap bekerja seperti biasa, dirinya tak
ingin kehilangan pekerjaannya, bagaimanapun juga sekarang Ratu adalah
tulang punggung di keluarganya. Rinai marah besar saat melihat keadaan Ratu
saat ini, Rinai berjanji akan mencari tahu siapa yang sudah menabrak Ratu
dengan bantuan Om Badai, Ayah Rinai. Tapi semua itu dicegah oleh Ratu
secepatnya, sebenarnya Ratu merasa tidak enak karena telah berbohong
kepada Rinai. Ratu hanya tidak ingin sahabatnya menjadi khawatir akan
dirinya.
"Lo keluar duluan aja, biar gue yang beresin meja. Tinggal dikit lagi kok"
ujar Rinai.
Ratu menggangguk lalu melepas efron yang masih tergantung ditubuhnya.
"Ratu tunggu Rinai didepan ya" ujar Ratu yang dibalas satu jempol oleh
Rinai.
Ratu mengambil tas dan jaketnya, lalu berjalan menuju pintu keluar caffe.
Langkah kaki Ratu terhenti saat melihat sosok laki-laki yang beberapa hari ini
tak ada kabar sama sekali, Aksara. Dirinya saat ini tengah berdiri sambil
bersandar di mobilnya. Senyum Aksara mengembang saat melihat Ratu sudah
keluar dari caffe dan berdiri sembari menatapnya. Aksara melambaikan
tangannya, lalu berjalan menghampirinya.
Ratu buru-buru memakai jaketnya untuk menutupi lebam di tangannya.
Seketika Ratu menyentuh wajahnya dan dirinya bertambah panik karena lupa
memakai masker yang sudah ia siapkan dari rumah. Belum sempat Ratu
merogoh tasnya, Aksara sudah berdiri dihadapannya. Ratu pun memutuskan
untuk menunduk saja.
"Hai, gue tau kok lo pasti kangen gue. Jangan nunduk malu-malu gitu dong.
Enggak mau meluk nih?" goda Aksara.
"Maaf, Ratu duluan ya Aksara" Ratu lalu buru-buru pergi meninggalkan
Aksara. Melihat sikap aneh Ratu, dengan cepat Aksara menarik tangan Ratu.
"AHHHK SAKIT" teriak Ratu spontan. Lebam yang ada ditangannya saat
ini memang masih terasa sangat sakit walaupun sudah ia kompres semalaman.
Aksara terkejut dan mengangkat tangan Ratu, lalu mengendurkan jaketnya
keatas. Mata Aksara terbelalak melihat lebam besar di tangan Ratu. Aksara
langsung mengangkat wajah Ratu. Rasanya saat ini seperti ada bom yang
meledak didalam diri Aksara dan menghancurkannya. Aksara menatap tajam
Ratu. "SIAPA YANG BIKIN LO KAYAK GINI? Jawab gue Ratu" tanya
Aksara dingin.
Ratu terdiam. Dirinya tak mungkin mengatakan bahwa temannya lah yang
membuat Ratu menjadi seperti ini. Ratu tidak ingin ada perkelahian lagi,
sudah cukup. "Ratu ditabrak motor" jawab Ratu bohong.
"Lo salah orang kalau mau bohong Ratu, gue tau banget ini bekas pukulan.
SIAPA YANG NGELAKUIN INI RATU!! JAWAB SIALAAN!!!!" teriak
Aksara.
"CUKUP AKSARA!!"
Rinai yang baru keluar dari caffe segera menghampiri Ratu saat melihat
Aksara tengah meneriaki gadis itu. Rinai melepaskan cengkraman Aksara
dipundak Ratu. Dengan tatapan tajam Rinai memandang Aksara.
"Pergi dari sini sekarang" ucap Rinai dingin.
Aksara menggeleng. "Enggak, sampai sebelum gue tahu siapa penyebab
dari ini semua!" jawab Aksara sembari menunjuk wajah Ratu.
"Aku enggak bohong Aksara, tolong jangan berlebihan. Aku baik-baik aja,
jadi aku mohon kamu pergi dari sini sekarang juga" mohon Ratu.
"GUE BILANG GUE ENGGAK AKAN PERGI SEBELUM TAU
PENYEBABNYA!! LO ENGGAK USAH BOHONG RATU!!!!" teriak
Aksara dengan emosi.
Rinai mendorong tubuh Aksara kasar lalu membentaknya."Berhenti
nyakitin Ratu! Lo dan Raja itu sama aja, enggak ada yang lebih baik dari
kalian berdua! Buktinya, kalian aja enggak bisa jagain Ratu!" Rinai dengan
cepat menarik tangan Ratu dan membawanya pergi.
Aksara mengusap wajahnya kasar. "FINE RATU, KALAU LO ENGGAK
MAU BUKA SUARA. ENGGAK MASALAH. GUE AKAN CARI TAHU
SEMUA INI, DAN GUE PASTIKAN ORANG ITU AKAN HABIS
DITANGAN GUE SENDIRI" teriak Aksara.
Ada rasa takut didalam hati Ratu saat mendengar ucapan Aksara. Rinai
menggengam erat jemari Ratu, dan tanpa menoleh kebelakang keduanya
segera pergi menjauh dari Aksara.
Aksara memijit pelipisnya, dirinya harus mencari tahu hal ini se-segera
mungkin. Hati Aksara sakit melihat keadaan Ratu, ia tidak bisa
membayangkan bagaimana Ratu bisa mendapatkan lebam-lebam di wajah dan
tangannya. Aksara bodoh, itulah kata yang pantas untuknya saat ini. Aksara
bersumpah, ia akan menemukan dalang dari semua ini, dan ia tidak akan
segan-segan untuk menghabisi orang itu dengan tangannya sendiri.
Rinai menyodorkan satu botol minuman kepada Ratu. Saat ini mereka
berdua tengah duduk didepan minimarket 24 jam yang tidak jauh dari caffe
tempat mereka bekerja. Rinai mencoba menenangkan Ratu. Sebenarnya
banyak pertanyaan yang ada dikepala Rinai saat ini, tapi mungkin sekarang
bukanlah waktu yanh tepat untuk menanyakannya.
"Kita makan aja yuk, di persimpangan sana ada pecel lele yang katanya
enak lho!" Rinai mencoba mencairkan suasana.
Ratu memandang Rinai lalu mengangguk. "Boleh, Ratu juga belum makan
dari siang tadi" jawab Ratu membuat Rinai senang.
Rinai beranjak dari kursi. "Yaudah kalau gitu yuk kita kesana, cacing-
cacing diperut gue udah pada demo nih" keluh Rinai sembari mengusap-usap
perutnya.
"Oke, Ratu juga enggak mau cacing-cacing yang ada diperut Rinai jadi
pindah ke perut Ratu! Kasihan nanti cacing-cacingnya bisa jadi kurus,
soalnya Ratu makannya dikit kalau Rinai kan makannya banyak" ledek Ratu
membuat Rinai mencubitnya kesal. Rinai memang selalu bisa membuat
perasaan Ratu lebih baik, kalau saja Rinai adalah laki-laki mungkin Ratu
sudah jatuh cinta dengannya, tapi maaf saja dirinya sungguh masih normal
walaupun Raja sering menyakitinya. Terkadang, Ratu juga sering merutuki
kebodohan Elang yang tak pernah menyadari kehadiran Rinai dihidupnya.
Laki-laki memang tidak peka!
Ratu beranjak berdiri dengan satu botol air minum ditangan kanannya. Saat
Ratu berbalik, Pandangan Ratu menangkap sosok laki-laki di sebrang jalan
yang saat ini tengah menatapnya tajam, Sergio?. Ratu memundurkan langkah
kakinya, tubuhnya gemetar dan botol minuman yang digenggam Ratu, terjatuh
begitu saja.
Rinai segera mengikuti arah pandangan Ratu saat melihat ada yang aneh
dari sikap gadis itu. Rinai mengernyitkan dahinya heran, Siapa dia?. Rinai
menoleh ke arah Ratu. "Ratu, lo kenal sama dia?" Rinai menunjuk laki-laki
itu.
Ratu tidak memperdulikan ucapan Rinai sama sekali. Ratu yang melihat
Sergio tengah menyebrang jalan, dengan tubuh yang sudah lemas Ratu segera
berlari dan meninggalkan Rinai yang kebingungan. Ratu memegangi dadanya
yang bergemuruh cepat, dahinya saat ini sudah berkeringat dan bibirnya
sudah memucat.
"Nama gue Sergio, siapa nama lo gadis cantik?"
"JANGAN PERNAH SENTUH RATU! RATU ENGGAK SUDI!!"
"PEREMPUAN SIALAN!!! GUE ABISIN LO SEKARANG JUGA!!"
Ratu sesekali menoleh ke belakang, ingatan akan Sergio yang memukuli
Ratu muncul begitu saja. Ratu mengigit punggung tangannya untuk menahan
rasa takutnya. Entahlah, bisa disebut Ratu trauma.
Rinai segera berlari menyusul Ratu dan tidak memperdulikan laki-laki
yang sudah ada dihadapannya.
Rinai mengedarkan pandangannya untuk mencari Ratu, Setelah
menemukannya, dicekalnya tangan Ratu hingga membuat Ratu terpekik. Ratu
memandang Rinai dengan sorot ketakutan. Rinai menangkupkan kedua
tangannya ke wajah mungil Ratu. Deru nafas Rinai sudah tidak beraturan,
"Ratu?! Lo enggak apa-apa kan?!"
Perasaan Ratu lega saat melihat Rinai, segera ia memeluk gadis itu erat,
tangis yang sudah Ratu tahan sedari kemarin pecah saat itu juga, Ratu
menangis dengan sesunggukan.
"Ratu.. Ra.. Ratu butuh Raja, Rinai.. Ratu takut" Isak Ratu. "RAJA..
RAJA.. Rinai dimana Raja". Ratu menangis dalam pelukan Rinai hingga
tubuhnya melemas.
Mata Rinai berkaca-kaca, Ratu yang selama ini ia kira adalah sosok gadis
yang kuat, tapi kenyataannya adalah tidak. Ratu lemah, sama seperti dirinya.
Ratu dan dirinya lemah karena mencinta.
Setelah Ratu mulai tenang, Rinai membawanya untuk duduk dibangku yang
ada dipinggir jalan. Bagaimanapun Rinai harus tahu apa yang sebenarnya
terjadi dan siapa laki-laki tadi yang membuat ia berlari ketakutan seperti ini.
Rinai mencengkram lembut kedua pundak Ratu. Ditatapnya Ratu dengan
serius. "Tolong ceritain ke gue apa yang sebenarnya udah terjadi". Ratu
terdiam, Rinai menghela nafasnya panjang. "Lo anggep gue apa Ratu? Segitu
enggak pentingnya gue dihidup lo?" Rinai menatap sendu membuat Ratu
tertegun.
Ratu yang melihat ada sorot kesedihan dimata Rinai, akhirnya ia
memutuskan untuk menceritakan semuanya. Cerita pun mengalir begitu saja
dari awal pertengkaran antara Raja dan Aksara, hingga nekatnya Ratu untuk
menghampiri Aksara dan berakhir dengan pertengkarannya antara Sergio,
laki-laki yang sudah memukulnya dengan kasar tanpa ada rasa kasihan.
Rinai menangkupkan satu tangannya kemulutnya. Matanya terbelalak saat
mendengar cerita Ratu. Dilihatnya lah wajah Ratu yang masih lebam dan
sedikit luka. Mata Rinai memanas, Rinai tidak bisa membayangkan
bagaimana takutnya Ratu saat itu. Dipeluknya Ratu segera, Rinai sangat
menyayangi Ratu sudah seperti saudara. Ia merutuki diri sendiri yang tidak
becus menjaga sahabatnya, Rinai menyesal karena akhir-akhir ini pikirannya
tak bisa lepas dari seorang Elang dan tanpa sadar melupakan sahabatnya.
Rinai berjanji kepada dirinya sendiri saat itu juga untuk lebih memperhatikan
Ratu, karena dirinya tahu benar bagaimana kondisi keluarga dan lingkungan
Ratu yang sudah tidak sama lagi. Maafin gue, Ratu.
Malam itu, di persimpangan jalan raya. Langit malam menjadi saksi akan
tulusnya persahabatan antara Ratu dan Rinai. Ratu menyadari, satu sahabat
yang akan selalu ada sudah sangat cukup untuknya. Ratu tidak egois, dirinya
tidak meminta lebih. Mengingat Jeha dan Anggi, Ratu pun tak mengharapkan
mereka untuk kembali seperti dulu lagi. Ratu mengerti, semua tak akan sama
lagi.
***
Sergio membanting stir dengan kasar. Kalau saja Ratu tidak sedang
bersama dengan temannya, sudah Sergio pastikan saat ini Ratu sudah ada di
dalam mobilnya sembari menangis ketakutan. Sergio mengepalkan tangannya
saat mengingat pembicaraan dirinya dengan Satri. Sergio tidak menyangka
bahwa sosok Ratu sebegitu penting dimata orang terdekatnya.
Satria mendaratkan pukulannya ke wajah Sergio. "BRENGSEK!! LO
COWOK APA BANCI MAN! ENGGAK ADA SEJARAHNYA PASUKAN
PERMATA MUKUL CEWEK! LO MENCORENG NAMA BAIK KITA
SEMUA!" teriak Satria.
Sergio memandang tajam Satria. "Gue enggak akan gelap mata kalau
dia bukan seorang Ratu" jawab Sergio dingin membuat Satria tidak
mengerti.
Satria menarik kerah kemeja sekolah Seegio. "Maksud lo apa? Lo punya
dendam apa dengan dia? Ada hubungan apa lo sama dia?! Jawab
brengsek!" bentak Satria.
Sergio menyeringai. "Lo terlalu banyak tanya Sat. Enggak baik kalau
terlalu mencampuri urusan orang lain" bisik Sergio. "Satu lagi yang perlu
lo semua tahu, Gue enggak pernah nyesel dengan apa yang gue perbuat,
jadi percuma lo teriak-teriak gini"
Satria menggeleng tak percaya. "ABIS LO DITANGAN AKSARA" tekan
Satria. "Dan disaat itu terjadi, gue enggak akan bantu lo sama sekali".
Satria menghempaskan tubuh Sergio, lalu pergi meninggalkannya.
Sergio menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. Dengan tatapan
penuh tantangan ia menatap punggung Satria yang sudah menjauh.
"Dengan senang hati, gue tunggu" gumam Sergio.
Setelah kejadian waktu itu, entah kenapa Sergio selalu ingin bertemu
dengan Ratu. Menyakiti Ratu sudah seperti menjadi candu baginya. Jangan
salah sangka kalau Sergio melakukan ini karena dirinya tertarik dengan Ratu,
sama sekali tidak. Sergio menyakiti Ratu tentu saja ada alasannya,
bagaimanapun juga dirinya tidak akan pernah melepaskan Ratu untuk
merasakan kebahagiaan. Tidak akan.
22. MIMPI BURUK RAJA
Waiting here for someone
Only yesterday we were on the run
You smile back at me and your face lit up the sun
Now I'm waiting here for someone
My shadow's dancing
Without you for the first time
My heart is hoping
You'll walk right in tonight
Tell me there are things that you regret
'Cause if I'm being honest I ain't over you yet
That's all I'm asking
Is it too much to ask?
Too much to ask-Cover by Freecoustic
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]
22. MIMPI BURUK RAJA
Angkasa mengetuk-ngetukan jarinya diatas meja sambil menatap Elang
gusar. "Lo bisa cepet enggak sih nyalin tugas si Raja? Gue mau nonton bola
nih bentar lagi, dan gue enggak mau ya nonton bola sambil ngerjain tugas!"
Elang berdecak kesal. "lo enggak liat apa tangan gue cuma ada dua? Kalau
gue tahu ni ya tugasnya sebanyak ini, udah dari jauh hari gue cicil ini tugas!
Sial emang" keluh Elang.
Panca lalu melirik Elang. "Udah kayak utang aja pake dicicil segala,
makanya jangan pikirin cewek mulu. Dulu aja diusir-usir, eh sekarang
dikejer-kejer. Sama aja lo kayak si Raja." cemooh Panca.
Angkasa melempar kacang kepada Raja yang sedang tertidur pulas. "Woy
Ja! Bangun! Jam segini udah tidur, enggak liat apa lo diluar sana banci masih
dandan." ujar Angkasa yang sama sekali tidak membuahkan hasil.
Elang menggelengkan kepalanya. "Lo kayak enggak kenal dia aja, Raja
kalau udah tidur enggak ada bedanya sama orang yang lagi pingsan!" ejek
Elang.
BRUKH
Tiba-tiba sebuah pigura yang ada di dinding kamar Dirga terjatuh. Angkasa
dan yang lainnya segera saling bertukar pandang, kecuali Dirga. Sedangkan
Raja masih asyik di dalam dunia mimpinya.
"Itu pigura kenapa bisa jatuh sendiri ya? Jangan-jangan...." Panca
menggantungkan ucapannya.
"Perasaan gue jadi enggak enak, bulu kuduk gue jadi merinding gini"
Angkasa mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar Dirga.
Elang melempar bolpoin ke arah Angkasa. "Lo enggak usah mulai ngomong
yang aneh-aneh deh!" ujar Elang gusar. Sejujurnya Elang memang sangat
penakut bila menyangkut dengan hal-hal yang berbau mistis.
Dirga terkekeh dalam hati saat melihat reaksi teman-temannya. Dirga
memang sudah berniat ingin mencabut pigura tersebut, karena paku yang ada
dibelakangnya memang tidak terpasang dengan kencang. Tapi, ternyata dia
kelupaan sampai hari ini. Tiba-tiba, sebuah ide usil masuk ke dalam
pikirannya, dirubahnya-lah raut wajahnya menjadi serius. Ditatapnya ketiga
temannya satu persatu. "Kalian jangan berisik, si Susi pasti keganggu sama
kalian." bisik Dirga yang masih bisa didengar oleh ketiga temannya.
Elang meneguk salivanya. "Su..susi? Siapa itu?" Elang bertanya dengan
gagap.
Bulu kuduk Angkasa makin bergidik setelah mendengar ucapan Dirga.
"Apa-apaan sih lo Ga! Gue tambah merinding nih! Sialan lo" kesal Angkasa.
Dirga menghela nafas. "Gue serius, dia bener-bener keganggu sama kalian.
Soalnya kalian berisik dari tadi, tapi kalau kalian enggak percaya ya enggak
masalah. Gue cuma ngasih tahu aja." jelas Dirga.
Angkasa menatap Dirga serius. "Emangnya, Susi itu siapa?" tanya Angkasa
penasaran.
Dirga menghela napas. "Susi itu, anak perempuan dari pemilik rumah ini,
sebelum akhirnya rumah ini dibeli sama kedua orangtua gue. Tapi, sayang....."
Dirga menggantungkan ucapannya membuat ketiga temannya makin penasaran.
Panca yang sedari tadi merasa biasa saja, akhirnya mulai tertarik dengan
pembicaraan tersebut. "Kenapa dengan susi? Terus dia ada dimana?" tanya
Panca serius.
Dirga membuka suara kembali. "Susi bunuh diri, karena hamil diluar
nikah" jawab Dirga dengan mimik wajah sedih yang dibuat-buat.
Panca meneguk salivanya. "Bu..bunuh diri? Lo jangan cerita yang aneh-
aneh deh Ga" Panca mulai berkeringat.
"Iya, susi bunuh diri dikamar ini" jawab Dirga membuat ketiga temannya
bergeming. "Laki-laki yang ngehamilin Susi kabur, makanya Susi benci
banget sama yang namanya laki-laki, apalagi yang playboy" ujar Dirga
membuat Panca tertohok
Angkasa dan Elang menghela nafas lega. "Untung gue bukan playboy, jadi
gue pasti aman" ujar Elang yang diikuti dengan anggukan Angkasa.
Belum sempat Elang merasakan ketenangan, Dirga melanjutkan kembali
ucapannya."Tapi Susi seneng sama cowok ganteng Lang, lo tahu sendiri kan
diantara kita semua, lo yang paling ganteng?" Elang kembali bergeming.
"Sebenaranya, Susi sekarang lagi berdiri disamping salah satu diantara kita"
Dirga melanjutkan ucapannya.
Angkasa kembali berkeringat. "Sumpah Ga, kalau lo ketahuan bohong sama
gue. Abis lo sekarang!" Angkasa mengancam Dirga.
"Memangnya, Su..Susi lagi berdiri dimana?" Panca tergagap kembali.
Sungguh saat ini Dirga ingin tertawa sekencang-kencangnya melihat wajah
bodoh ketiga temannya. Preman kok takut hantu. Dirga mulai membuka
suaranya kembali. "Susi.. sekarang, ada di..."
Angkasa, Panca dan Elang saat ini sudah sangat mempersiapkan mental
mereka. Suasana yang tadinya hangat, tiba-tiba berubah menjadi dingin
mencekam, dan semua itu karena yang namanya Susi. Anak perempuan yang
benci dengan cowok playboy tapi sukanya sama cowok ganteng. Aneh
bukan? Jaman sekarang mana ada cowok ganteng tapi enggak playboy?
Mimpi aja deh.
"Susi.. ada di....." Dirga menggantungkan ucapannya kembali membuat
ketiga temannya kesal dan ingin melahapnya segera.
Deg
Deg
Deg
"Dia ada di sam- "