The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tresia - Raja untuk Ratu

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN DIGITAL GRAHA PUSTAKA, 2022-02-16 21:09:03

Raja untuk Ratu

Tresia - Raja untuk Ratu

"Lo tenang aja, gue yang jamin kalau dia pasti akan berhasil."
"Good girl! Lo memang paling bisa diandalkan."
"Gue harus pergi ke kelas sekarang, gue enggak mau sampai ada anak
GARUDA yang memergoki kita berdua sekarang ini."
"Jangan lupa bawa cewek itu ke markas malam ini. Bagaimanapun juga,
gue harus cuci otak dia sedikit untuk lebih melancarkan rencana kita."
"Gue enggak akan lupa, dan lo enggak perlu ingetin gue berkali-kali.
Lebih baik lo pergi sekarang."
"Oke, gue harap semua omongan lo itu bisa terjamin. Gue pergi dulu."
Rindu meringkuk lebih dalam sambil mengamati seorang gadis yang ia
yakini adalah si pemilik suara yang ia dengar sedari tadi. Gadis itu muncul
dari belakang gudang tua itu sambil mengedarkan pandangan ke
sekelilingnya, yang menurut Rindu sangat benar-benar mencurigakan. Akan
tetapi ada satu hal yang menjanggal pikirannya sekarang ini, kemana si laki-
laki pemilik suara berat itu?.
Selang sepuluh menit berlalu, dengan situasi yang menurutnya sudah cukup
aman, akhirnya Rindu memberanikan diri untuk berjalan mendekati gudang
tua itu dan memutarinya dengan hati-hati. Ia terkejut saat mendapatkan sebuah
pintu besi berkarat yang telah terbuka menganga dan menampilkan semak
belukar yang tidak begitu lebat. Ia yakin sekali ini adalah jalan keluar rahasia
yang biasa digunakan oleh para murid SMA GARUDA yang ingin membolos.
Ah! Pasti laki-laki si pemilik suara berat itu kabur lewat pintu ini!
"Oh, jadi ini salah satu komplotan cepu di GARUDA?"
***
Angkasa menatap ponselnya dengan gusar. "Si jomblo akut itu kemana
sih?" gerutu Angkasa.
"Santai kali Sa, paling juga dia lagi molor entah dimana." jawab Panca
sambil mengaduk es jeruknya.
Raja mengangguk. "Udah kayak bapak nyariin anaknya aja lo Sa!" ujar
Raja.
Angkasa menghela napas. "Elang juga kemana coba? Main ngilang aja!"
gerutu Angkasa kembali sambil mengedarkan pandangannya.
"Paling juga lagi main bola sama anak kampung sebelah Sa, abis maghrib
juga pulang." jawab Raja asal.
Panca terkekeh geli. "Harusnya lo gandeng terus mereka berdua Sa, biar
pada enggak kabur!" ledek Panca. "Iket pake tali kalau perlu Sa!"

Angkasa menjitak kepala Panca. "Sialan lo! Gue lagi serius Ca, ada yang
perlu gue bicarain sama kalian semua sekarang." ujar Angkasa serius.

Raja mengerutkan keningnya. "Masalah apa?" tanya Raja heran.
Belum sempat Angkasa menanggapi, seorang gadis tiba-tiba datang ke
meja mereka sambil menebarkan senyuman yang menurut Angkasa sangat
menjijikan. Wah ada nenek sihir kesasar!
"Hai, Raja! Gue boleh ya duduk disamping lo."
Raja menoleh seketika. Fara? Ngapain lagi sih ini cewek kesini segala?!.
"Masih banyak kursi kosong. Pergi sana!" jawab Raja ketus.
Tanpa memperdulikan jawaban Raja, Fara segera duduk disamping Raja
sambil memasang sikap merajuk. "Raja kok galak banget sih!" Fara memeluk
lengan Raja.
"WADAWWWWW main pegang-pegang aja! Hati-hati Nek, diamuk
mantannya baru tahu rasa lho!" ujar Panca kepada Fara.
Fara menaikan satu alisnya. "Mantan? Oh, si anak napi itu maksud lo?"
jawab Fara sambil berdecih membuat Raja menggeram.
"EMANGNYA KENAPA KALAU RATU ANAK NAPI?"
Teriakan seorang gadis membuat seisi kantin mengalihkan pandangannya
ke asal sumber suara. Ratu berjalan mendekat ke meja geng TEMPUR tanpa
mengalihkan pandangannya sedikitpun kepada Fara.
Raja tersenyum melihat kedatangan Ratu. Gadis itu sekarang tengah berdiri
sambil melipatkan kedua tangannya dengan sorot mata penuh tantangan.
Hajar sayang!, Raja menyemangati Ratu dalam hati sambil melanjutkan
makan kembali dengan sengaja, ia masih ingin melihat wajah cemburu Ratu
yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
"EH ADA ENENG RATU, BARU JUGA ABANG PANCA OMONGIN,
SEKARANG UDAH MAIN NONGOL AJA! IKATAN BATIN KITA
TERNYATA KUAT JUGA YA!!" ujar Panca menggebu-gebu.
"Waduh, perang dunia sebentar lagi dimulai nih! Siap-siap Ca!" Angkasa
menepuk-nepuk pundak Panca.
Ratu menatap tajam Fara. "Jangan sentuh Raja! Lepasin tangan Fara
sekarang juga!" Ratu meninggikan suaranya.
Fara membalas tatapan Ratu dengan sinis. "Emangnya lo siapa?! Mending
lo pergi sekarang! Lo itu enggak cocok ada disini!" bentak Fara.
Ratu menarik Fara kasar hingga gadis itu meringis. "Berdiri sini, lawan
Ratu!" teriak Ratu geram membuat Angkasa dan Panca ternganga tidak

percaya, selama mereka mengenal Ratu, baru kali ini mereka melihat
kemurkaan gadis itu. Lanjutkan Ratu!

Fara berdiri lalu mendorong tubuh Ratu. "Berani ya lo sama gue!
Emangnya lo itu siapa pake acara larang-larang gue untuk deket-deket
Raja?!" teriak Fara.

Ratu membalas dorongan Fara. "RAJA ITU PACAR RATU!! DIA ITU
CUMA CINTA SAMA RATU!!" teriak Ratu lantang membuat Raja tersedak.
"Sadar diri dong nenek sihir!" ujar Ratu membuat gelak tawa yang mendengar
meledak.

"WADAWWWWWW, JADI LO BENERAN UDAH BALIKAN SAMA
RATU JA?" Panca mengeraskan suaranya dengan sengaja agar Fara bisa
mendengarnya.

Raja mengangguk. "Iya." jawab Raja membuat Ratu tersenyum menang
walaupun sedikit kesal karena sikap cuek Raja saat ini.

"MAKINNNN PANAAAS SAYAAANGGG," ujar Angkasa yang masih
semangat menonton.

Ratu berjalan mendekati Fara. "Ratu kasih tahu ya! Jangan pernah
kecentilan lagi sama Raja! Raja itu pacar Ratu! Sekali lagi Ratu lihat Fara
pegang-pegang Raja, Ratu acak-acak tuh muka Fara yang enggak seberapa!"
teriak Ratu sambil menunjuk-nunjuk wajah Fara.

Angkasa menelan ludah. "Dahsyat, pacar lo bisa ganas juga Ja!" bisik
Angkasa sambil menyikut Raja.

Raja memandang Ratu dengan bangga. Ia tahu Ratu bukanlah sosok gadis
yang lemah. Ratu hanya terlalu baik, benar-benar baik. Sehingga membuat
orang-orang sering memandang gadis itu dengan remeh. Mereka pikir Ratu
sama sekali tidak memiliki rasa berani dalam dirinya untuk melawan siapa
saja yang menindasnya, dan Raja telah membuktikannya bahwa semua itu
salah.

"MANTAAAAP SAYAANGGG LANJUTKAANN!!" teriak Panca sambil
bertepuk tangan. "AKU PADAMU RATUUUUU!!" Panca melemparkan
simbol jari berbentuk hati kepada Ratu.

Fara mengepalkan tangan kuat, wajahnya sudah memerah karena malu saat
ini. Ia menghentakkan kakinya kasar dan berbalik untuk pergi dari tempat itu
segera. Ia benar-benar akan membalas semua ini!

Saat Fara berbalik, tiba-tiba tubuhnya menabrak seorang gadis yang tengah
membawa segelas es jeruk di satu tangannya. Fara terpekik geram saat
melihat seragam sekolahnya sudah basah. "LO ENGGAK PUNYA MATA

HAH?!" teriak Fara sambil menatap gadis yang ada didepannya dengan
tajam.

"Wah makin seru aja nih! Nenek sihir VS Cewek Galak SMA GARUDA!"
ujar Angkasa kepada Raja dan Panca.

Sila membalas tatapan tajam Fara. "Lo kali yang enggak punya mata!
Enggak liat apa ini mata gue ada dua?!" jawab Sila galak. "Kalau berantem
itu jangan di kantin! Percuma ini sekolah punya lapangan segede gaban kalau
enggak dimanfaatin! Ganggu orang yang lagi makan aja!" sindir Sila membuat
Ratu merasa tidak enak hati.

Fara menggertakan giginya keras. "Nyolot juga ya lo jadi adik kelas!
Kurang ajar!" geram Fara lalu melayangkan satu tangannya untuk menampar
wajah Sila.

Panca berdiri lalu menahan tangan Fara dengan reflek. "Lo enggak
mandang ada geng TEMPUR disini? Berani cari masalah lagi?" bisik Panca
dingin membuat Fara sedikit bergidik. "Lo enggak lupa kan siapa yang
berkuasa disini? Gue harap lo sadar tempat lo dimana." Panca bisa
merasakan tubuh Fara sudah gemetar.

Panca menghempaskan tangan Fara kasar. Ia benar-benar muak melihat
kelakuan nenek sihir satu ini. Panca melemparkan pandangannya kepada
kedua temannya yang masih duduk dengan manis sambil menyeruput es jeruk
di tangan masing-masing, tanpa enggan membantunya sama sekali. Sialan
memang!, "Cabut sekarang!" ujar Panca membuat Angkasa dan Raja langsung
beranjak berdiri.

Panca berbalik tanpa melirik Sila sama sekali. Ia tidak ingin gadis galak
itu merasa besar kepala. Belum juga Panca melangkahkan kakinya lebih jauh,
lengannya sudah dicekal terlebih dahulu oleh gadis itu. Panca menghela
napas, lalu menoleh. "Apa?" tanya Panca datar.

"Kita perlu bicara."
———————————————————————-
——————————————————————————

FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS

JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR

DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA

TOKOH!

JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW

PROFIL AUTHOR!

JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere

FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader

Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler

bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

41. MENCINTAI SENDIRIAN

Rose girls in glass vases
Perfect bodies, perfect faces
They all belong in magazines
Those girls the boys are chasing
Winning all the games they're playing
They're always in a different league
Stretching toward the sky like I don't care
Wishing you could see me standing there
But I'm a sunflower, a little funny
If I were a rose, maybe you'd want me
If I could, I'd change overnight
I'd turn into something you'd like
But I'm a sunflower, a little funny
If I were a rose, maybe you'd pick me
But I know you don't have a clue
This sunflower's waiting for you
Waiting for you

Sunflower-Shannon Purser

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT
MEMBACA SEMUA ❤]

41. MENCINTAI SENDIRIAN
Ratu berlari kecil menuju kelasnya sambil menyembunyikan rona merah di
wajahnya. Raja nyebelin!, Raja berhasil membuatnya salah tingkah setengah

mati. "Gimana Ratu enggak makin sayang sama Raja, kalau tiap hari Ratu
dibikin senyum-senyum sendiri begini!" gumam Ratu pelan.

"Ratu!"
Lamunan Ratu akan Raja buyar begitu saja saat mendengar seseorang
memanggil namanya. Ratu menoleh ke sumber suara segera, Rinai?. Ratu
tersenyum lebar. "Rinai!" panggil Ratu sambil berjalan mendekati Rinai.
"Ratu, ada hal penting yang harus gue bicarain sama lo." ujar Rinai sambil
mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, seperti tidak ingin ada siapapun
yang mendengarnya.
Ratu mengerutkan keningnya. "Hal apa Rinai? Rinai enggak apa-apa kan?"
tanya Ratu dengan nada sedikit cemas.
Rinai menggeleng pelan. "Enggak, gue baik-baik aja kok." jeda sejenak.
Rinai menatap Ratu serius. "Ratu, lo harus lebih hati-hati lagi mulai
sekarang. Pulang dari kerja semalam, gue diuntit Sergio sampe di
persimpangan. Beruntungnya gue berhasil bikin dia lengah. Gue takut Ratu,
laki-laki itu enggak bisa kita anggap remeh." ujar Rinai gelisah dengan suara
pelan.
Tubuh Ratu mematung seketika. Sergio?! Apa yang sebenarnya laki-laki
itu mau!. Ratu menatap Rinai dengan sorot panik dan tak kalah takut. "Rinai
baik-baik aja kan?! Sergio enggak ngelukain Rinai kan?! Ratu harus gimana!
Sergio?! Apa mau dia Rinai! Ratu har—"
Rinai mengguncangkan kedua bahu Ratu. "Gue enggak apa-apa, Ratu! Lo
harus tenang sekarang, semakin lo panik, itu akan makin memperbesar rasa
takut lo." Rinai berusaha menenangkan Ratu. Ia tahu gadis itu benar-benar
takut sekarang, dan menurutnya itu adalah hal yang wajar mengingat
bagaimana tindakan Sergio kepadanya.
"Ratu harus bertindak. Mungkin Ratu harus cari Sergio, dan bicarain
masalah ini secara baik-baik dengannya. Ratu harus tahu apa sebenarnya yang
laki-laki itu mau dari Ratu!" ujar Ratu membuat Rinai berdecak kesal.
"Ratu! Sergio itu bahaya, lo enggak akan bisa bicara baik-baik sama dia,
yang ada malah dia nyakitin lo lagi untuk ke sekian kalinya. Belajar dari yang
udah-udah Ratu!" Rinai mulai meninggikan suaranya. Ia tidak akan
membiarkan Ratu disakiti lagi oleh psikopat itu. Tidak akan!
Ratu menghembuskan napas kasar. "Terus, apa yang harus Ratu lakuin
sekarang? Kalau Ratu hanya diam, bisa-bisa bukan Ratu aja yang Sergio
sakitin, tapi orang terdekat Ratu juga pasti akan kena imbasnya, termasuk
Rinai. Ratu enggak mau hal itu terjadi!"

"Ratu, gimana kalau mulai sekarang lo tinggal di rumah gue?, Sergio itu
orang yang nekat, Ratu. Gimana kalau dia sampe tahu, kalau sekarang lo udah
tinggal sendiri? Bisa aja kan dia tengah malam nyusup ke rumah lo dan
nyakitin lo lagi seperti kemarin?!" Rinai mulai panik.

Ratu menggeleng. "Enggak, Rinai. Ratu udah terlalu banyak merepotkan
orang lain. Rinai tenang aja, kontrakan Ratu lingkungannya cukup terbilang
ramai kok. Ratu bisa teriak kalau ada hal yang mencurigakan terjadi." tolak
Ratu.

Rinai mendengus kesal. "Gue harap lo pertimbangin lagi tawaran gue.
Manusia kalau udah dendam, pasti akan gelap mata Ratu." ujar Rinai
berusaha untuk meyakinkan Ratu.

Belum sempat Ratu menanggapi, bel masuk telah berbunyi terlebih dahulu.
"Lebih baik sekarang Rinai ke kelas, jam istirahat udah selesai." ujar Ratu
yang dibalas dengan anggukan Rinai. "Mulai sekarang Rinai harus lebih hati-
hati ya. Kita bicarain masalah ini lagi di caffe nanti." ujar Ratu kembali.

Rinai mengangguk samar. "Kalau gitu gue ke kelas dulu, dan jangan lupa
untuk pertimbangin baik-baik semua ucapan gue. Bye! Selamat belajar!"
Rinai beranjak pergi sambil melambaikan tangannya.

Ratu memandang kepergian Rinai dengan tatapan khawatir. Jujur saja, ia
takut kalau-kalau Sergio memiliki niat untuk menyakiti Rinai. Haruskah ia
berdiam diri sementara Sergio sudah mulai melakukan aksinya secara
perlahan? Sebenarnya dendam apa yang Sergio miliki untuknya? Semua ini
membuat hidupnya bertambah kacau balau.

Ratu berjalan menuju kursinya, sesekali ia melirik kursi Anggi yang sudah
kosong selama tiga hari ini. Kemana sebenarnya Anggi?, semenjak hari
pertengkaran Rinai dan Anggi, gadis itu tidak terlihat lagi. Ratu sangat
merasa bersalah, ia takut semua ucapannya tengah melukai hati Anggi sampai
sekarang ini. Sejujurnya ia ingin sekali bertanya kepada Jeha, tapi melihat
gadis itu bersikap cuek seperti tidak mau tahu apa-apa, ia mengurungkan
niatnya saat itu juga.

Ratu duduk di kursi sambil bersandar ke dinding yang ada disampingnya.
Baru saja ia merasa bahagia karena telah membaiknya hubungannya dengan
Raja, sekarang ia harus merasakan rasa cemas yang lebih luar biasa lagi
karena seorang laki-laki bernama Sergio. Bunda, Ratu harus apa?

Ratu menghela napas lelah sambil mengeluarkan buku beserta alat tulis
yang ada di dalam laci mejanya. Tiba-tiba selembar foto tengah terjatuh ke
lantai membuat Ratu sedikit tersentak. Ia merunduk sesaat lalu diraihnya

selembar foto tersebut dengan cepat. Setelah menegakan tubuh kembali,
merasa penasaran Ratu membalik selembar foto itu dengan hati-hati. Oh
tidak!, Bagaikan petir di siang bolong, Ratu membelalakan matanya bersama
dengan wajah yang sudah memucat. Ini benar-benar gila!

"HAMA PERTAMA SELESAI ✔"
Ratu membaca tulisan tersebut dengan bibir yang gemetar. Bukan karena
tulisan itu yang membuatnya takut, akan tetapi objek yang ada dibalik foto itu.
Ratu memasukan segera selembar foto itu ke dalam tas nya. Ia mengedarkan
pandangan ke sekitarnya sambil memperhatikan satu persatu murid di
kelasnya dengan rasa curiga. Siapa yang dengan sengaja meletakkan foto
ini ke dalam laci Ratu?!
Ratu berpikir keras. Apa semua ini ulah Sergio?, Ia merutuki dirinya
sendiri yang tidak tahu harus berbuat apa. Raja? Haruskah Ratu menceritakan
semua ini kepada Raja? Enggak! Ini terlalu bahaya untuk Raja!. Ratu
merasa benar-benar putus asa. Ia tidak bisa menyangkut pautkan orang lain
lagi. Semakin banyak orang lain yang mengetahui hal ini, semakin gencar juga
Sergio menyakiti orang-orang tersebut. Bunda, tolong Ratu!
"INI YANG AKAN GUE LAKUIN KE SEMUA ORANG TERDEKAT LO!
GUE ENGGAK AKAN MAIN-MAIN!"
Ratu masih mengingat akan ancaman Sergio di hari itu. Rinai benar, Sergio
tidak bisa dianggap remeh lagi. Haruskah ia mempertimbangkan tawaran
Rinai? Ah, Ratu memang hanya bisa merepotkan orang lain saja!. Ratu
menghela napas lelah. Ayah, andai Ayah ada disini bersama Ratu, pasti
Ratu tidak akan setakut ini. Ratu butuh Ayah.
Rasa kesedihan tiba-tiba melanda Ratu. Entah kenapa hidupnya menjadi
berat seperti ini semenjak satu musibah menimpa keluarganya. Seolah-olah
musibah itu adalah sebuah pintu untuk membuka musibah-musibah yang
lainnya agar masuk ke dalam hidupnya. Ratu rindu hidup Ratu yang dulu,
Tuhan.
Melihat guru yang sudah masuk ke dalam kelas, Ratu segera memfokuskan
kembali pikirannya saat itu juga. Masalah ini tidak boleh mengganggu
konsentrasinya untuk belajar. Ia harus mendapatkan beasiswa untuk bisa
melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan. Tahun ini adalah tahun
kelulusannya, ia tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha atau
memikirkan hal lain yang bisa mengganggu belajarnya. Fokus Ratu!
Belum juga sampai sepuluh menit, konsentrasi Ratu terpecah kembali saat
melihat sebuah benda yang tidak asing di dalam kotak pensil merah mudanya.

Ratu menggenggam benda tersebut dengan tatapan sendu. Ginanjar Prabudi.
Ratu membaca ukiran yang ada di bandulan kunci motor itu dalam hati. Ia
tersenyum tipis sejenak. Aksara? Ratu rindu Aksara.

"Iyalah, itu motor kesayangan gue. Itu salah satu kenangan gue dengan
bokap, sebelum beliau pergi meninggalkan dunia"

"Kehilangan nyawa pun gue siap Ratu, apalagi untuk ngelindungin
sesuatu yang berharga di hidup gue. Termasuk lo"

Benar, Ratu memang merindukan Aksara. Ratu Rindu saat melewati
momen bersama lelaki itu seperti dulu. Aksara adalah salah satu sahabat yang
cukup berharga untuknya. Ada rasa sakit tersendiri saat ia melihat sorot luka
dikedua mata Aksara pada hari itu. Ia harus menemui Aksara, bagaimanapun
juga hubungan antara diirnya dengan lelaki itu harus diperbaiki segera.

Ratu menatap kunci motor Aksara sekali lagi sambil tersenyum tipis.
Aksara, walaupun kerjaan Ratu cuma nyakitin Aksara aja. Seenggaknya,
Ratu udah berhasil menyelamatkan salah satu barang yang sangat
berharga bagi hidup Aksara. Aksara pasti seneng, Ratu jamin!

Ratu menyimpan kunci motor tersebut kembali ke dalam tas ranselnya di
tempat yang cukup aman. Ia memejamkan mata sejenak sambil menghela
napas kembali. Bayangan sosok Aksara muncul saat itu juga, membuat
hatinya menghangat.

Terimakasih Aksara, terimakasih karena pernah menganggap Ratu
berharga disaat yang lain membuang Ratu sejauh mungkin dari hidupnya.
Jangan mencintai sendirian lagi Aksara, sudah cukup. Jangan sakiti hati
Aksara lebih jauh lagi.
Sudah waktunya Aksara beranjak.
Semoga Aksara selalu bahagia.

***

"Jadi, cowok yang lo maksud itu ternyata kak Angkasa?!" Erna menatap
Raya tidak percaya.

Raya mengangguk. "Iya, pokoknya gue bakal dapetin kak Angkasa
bagaimanapun caranya!" tegas Raya.

Ranti menatap Senja yang sudah tertunduk diam. "Jaga perasaan Senja
dong Ray! Lo tahu sendiri kan, sebelum lo suka sama kak Angkasa, Senja
udah cinta mati duluan sama itu laki-laki?!" Ranti meninggikan suaranya
membuat Raya menegakan kepala seketika.

Raya melipatkan kedua tangannya dengan gusar. "Terus kenapa?
Perasaan kan enggak bisa dibohongin! Iya enggak Sen?" tanya Raya
kepada Senja. Raya benar-benar tidak terima akan ucapan Ranti
kepadanya.

"Eh? I..iya Ray, itu hak kamu kok untuk suka sama siapa aja. Lagian,
perasaan kan memang enggak bisa dipaksain. Udah ya, kita jangan
berantem lagi. Semangat ya Ray, semoga lancar dengan kak Angkasa."
jawab Senja dengan hati yang berat.

Ranti menghela napas. "Terserah kalian aja deh, tapi gue yakin suatu
saat hal ini pasti akan jadi masalah. Kita tunggu aja hal itu terjadi. Tapi,
satu hal yang perlu kalian ingat masing-masing. Siapapun yang kak
Angkasa pilih, gue harap kalian bisa terima semua itu dengan lapang
dada. Cowok enggak cuma satu di bumi ini, ada banyak dan gampang
dicari. Tapi sahabat? Kalian pikir aja sendiri gimana susahnya untuk
didapetin, gue harap kalian pikir baik-baik lagi semua ucapan gue." Ranti
beranjak dari kursi lalu pergi tanpa permisi dan disusul dengan Erna
selanjutnya.

Raya menatap Senja tajam. "Gue harap lo bisa lupain perasaan sepihak
lo itu secepat mungkin. Gue udah kasih lo ultimatum dari sekarang, jadi
gue enggak akan tanggung jawab lagi kalau suatu saat hati lo sakit sendiri
ngeliat gue dan Angkasa bahagia bersama." ujar Raya penuh penekanan.

Senja mengangguk lemah. "Iya, kalau memang kak Angkasa bahagianya
sama Raya, aku enggak apa-apa kok. Lagian, kak Angkasa juga enggak
kenal aku. Jadi, kamu tenang aja. Aku enggak akan ganggu hubungan
kamu dengan kak Angkasa sama sekali kok." jawab Senja sambil
tersenyum getir.

"Baguslah kalau lo sadar diri. Lo tahu sendiri kan? Gue adalah tipe
orang yang enggak suka berbagi. Kalau memang lo masih mau bersahabat
sama gue, kubur dalam-dalam perasaan lo ke Angkasa dengan segera. Gue
rasa lo cukup pinter untuk mencerna semua kalimat yang keluar dari
mulut gue, Iya kan Senja?" ujar Raya dengan nada penuh penekanan.

Raya dan Senja saling bertukar pandang satu sama lain, entah
persahabatan seperti apa yang mereka jalani saat ini. Sekuat ini kah
ternyata pengaruh seorang Angkasa Laksmana untuk mereka berdua?.
Jadi, siapa yang harusnya lebih baik mengalah?

Satu bulan kemudian, setelah ultimatum Raya terlontar.

"Senja! Senja!" Raya memanggil Senja dengan keras.

Senja menoleh seketika. "Raya? Kamu ngapain lari-lari? Bahaya tahu!"
ujar Senja cemas.

Raya mengguncang kedua bahu Senja kuat. "Senja!! KAK ANGKASA
NEMBAK GUE!!! KAK ANGKASA NEMBAK GUE SENJA!! AKHIRNYA
GUE DAN DIA RESMI JADIAN MULAI SEKARANG!!" teriak Raya lalu
memeluk Senja dengan senang. "GUE BAHAGIA BANGET SENJA!! GUE
BAHAGIA!!"

Senja membalas pelukan Raya dengan mata yang sudah memanas. Ia
tidak menyangka ternyata patah hati rasanya sesakit ini. "Selamat ya Ray,
semoga hubungan kamu dengan kak Angkasa selalu lancar." ucap Senja
yang hampir tercekat.

Raya mengangguk cepat. "Gue enggak akan lepasin kak Angkasa untuk
siapapun! Gue sayang banget sama dia Sen! Gue bahagia akhirnya kak
Angkasa sadar akan keberadaan gue! Gue bahagia.." ujar Raya yang
masih memeluk Senja erat.

"Aku.. aku seneng kalau kamu seneng Ray.." Senja mulai terisak. Ia
benar-benar tidak bisa lagi membendung tangisnya. Ia sakit itu sudah
jelas.

Raya melepaskan pelukannya. Raya menatap Senja dengan tertegun.
"Lo ikhlas kan ngelepasin kak Angkasa untuk gue?" tanya Raya dengan
serius.

Senja mengangguk. "Aku ikhlas." jeda sejenak. "Kamu beruntung Ray,
walaupun aku dan kak Angkasa enggak punya hubungan apa-apa, tapi aku
tahu kok dia itu adalah lelaki yang baik." jawab Senja dengan lapang
dada.

Raya berdeham. "Gue jadi enggak enak sama lo Sen, gue minta maaf
kalau lo jadi sesakit ini." ujar Raya yang entah tulus atau hanya sekedar
basa-basi saja.

Senja menggeleng. "Itu resikonya dari mencintai sendirian. Aku yang
ciptain rasa sakit itu sendiri, bukan kamu ataupun kak Angkasa. Jadi,
kamu enggak perlu minta maaf, karena semua itu adalah salah aku
sepenuhnya. Aku yang mengawali, dan aku yang harus mengakhiri." Senja
menyeka air matanya yang sedari sudah lolos begitu saja. Ia benar-benar
bodoh! Harusnya ia tidak perlu berlebihan seperti ini.

"Ray?"
"Iya?
"Buat kak Angkasa bahagia ya."

Senja berjalan menyisiri lorong sekolah dengan tatapan kosong,
lamunannya akan Raya dan Angkasa makin menjadi akhir-akhiri ini. Ia
bertanya-tanya dalam hati, benarkah bahwa ia hanyalah seorang perusak?.
Sungguh, ia sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk menghancurkan
hubungan asmara sahabatnya itu.
Andai saja perasaan itu bisa kita atur dengan sesuka hati, jangankan untuk
menjalani, mengawali pun rasanya ia sudah enggan bila akhirnya akan
menjadi sesulit ini.

"Gue sayang lo Raya!"
Senja menghentikan langkahnya saat mendengar suara samar dari bawah
sudut anak tangga yang ada di ujung koridor sekolah. Ia merapatkan tubuhnya
segera dibalik dinding yang jaraknya tidak jauh dari sumber suara tersebut.
Raya? Dia lagi bicara sama siapa?
"Jangan ganggu gue lagi! Harus berapa kali gue bilang kalau gue
enggak punya perasaan apa-apa sama lo!"
"Apa semua ini karena si Angkasa sialan itu?! Apa hebatnya dia Ray?!
Lo harus sadar Ray! Siapa yang selama ini selalu ada buat lo!"
"Lo yang harusnya sadar diri! Lo dan Angkasa itu beda jauh! Bahkan
kalian berdua itu enggak pantes hanya untuk sekedar dibandingin!"
"Kita lihat aja nanti, kita lihat apa lo masih bisa bicara selantang ini
disaat Angkasa udah habis ditangan gue sendiri! Lo enggak percaya huh?
Omongan gue bakal terbukti kali ini Ray!"
Senja menahan degup jantungnya yang cepat itu sekuat mungkin. Ia tidak
menyangka bisa terjebak disini dengan isi pembicaraan yang super penting
ini. Kak Angkasa harus tahu!, Ia harus memperingatkan Angkasa untuk lebih
berhati-hati mulai sekarang. Walaupun sebenarnya Angkasa adalah salah satu
orang yang berpengaruh besar di GARUDA dan memiliki dekengan yang
banyak, tak bisa ia pungkiri bahwa rasa khawatir tengah menyelimuti hatinya
saat ini. Ia harus tahu siapa lelaki yang saat ini tengah menjadi lawan
bicara Raya!
Senja memutar otak keras untuk mengingat siapa-siapa saja lelaki yang
mengejar-ngejar Raya. Ah, tapi semua itu malah makin membuatnya
bertambah pusing saja. Terlalu banyak. Iya, terlalu banyak murid laki-laki di
SMA GARUDA ini yang mengidolakan seorang Raya Indah Lestari. Bukan
hanya paras nya saja yang cantik, tapi gadis itu juga terkenal dari kalangan
keluarga yang tajir melintir.
"Sialan! Jangan pernah sentuh Angkasa!"

Senja termangu seketika. Sebegitu besarkah rasa sayang Raya untuk
Angkasa?, Mungkin semua orang benar, dirinya hanyalah sebatas jurang
diantara kebahagiaan kedua orang itu. Sadar diri Senja, kamu itu bukan
siapa-siapa!. Senja menghela napas lalu memutuskan untuk pergi saat itu juga
dengan langkah yang sedikit gontai. Ia tidak boleh ikut campur lagi, karena
pada awalnya, hanya ada Angkasa dan Raya dalam cerita ini, bukan dirinya
atau orang lain.

Raya memandang tajam laki-laki yang ada di depannya saat ini. "Angkasa
enggak salah apa-apa, jangan libatin dia dalam hubungan kita sekarang ini!"
ujar Raya sedikit geram.

"Kenapa? Lo takut kalau omongan gue bener-bener terbukti huh?!" laki-
laki itu menantang Raya.

Raya menaikan sudut bibirnya. "Gimana kalau kita berdua buat sebuah
kesepakatan sekarang? Gue akan pertimbangin perasaan lo sepenuhnya, asal
lo bisa penuhin satu syarat yang gue kasih. Gimana? Tertarik?" Raya mulai
memanfaatkan keadaan. Laki-laki bodoh!

Laki-laki itu berdecih. "Raya, Raya, lo pikir gue bego? Omongan lo mana
bisa dipercaya!"

Raya menghembuskan napas kasar. "Gue serius, lo bisa pegangin omongan
gue kali ini." ujar Raya meyakinkan. "Gimana? TAKE IT OR LEAVE IT?"
tanya Raya dengan penuh penekanan.

"Oke Fine! Jadi, apa syaratnya?"
***
Suasana Warkop saat ini bisa terbilang cukup ramai seperti biasanya,
siapa lagi kalau bukan SAKGAR lah yang menjadi alasannya. Ibu Sri sebagai
pemilik Warkop pun tak jarang merasa kewalahan menghadapi celotehan atau
candaan anggota SAKGAR, yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri tiap
harinya.
"KAU CANTIK HARI INIIIII (JREEENGGG) DAN AKU
SUKAAAAAAAAAAAAA, KAU LAIN SEKALIIIII (JREEENG) DAN
AKU SUKAAAAAAAAAAA.." Panca bernyanyi sambil memainkan ukulele
kepunyaan Gamal di hadapan bu Sri yang saat ini tengah menggoreng pisang
untuk dijual.
Angkasa menepuk dahi keras. "Itu anak kalau ngegombal enggak kenal
kalangan ya." bisik Angkasa kepada Dirga yang ada disampingnya.
Dirga terkekeh. "Lo kayak enggak kenal si Panca aja, jangankan emak-
emak, cowok aja diembat sama dia!" ledek Dirga membuat Angkasa

bergidik.
"Aduh si aa, jaman sekarang mana mempan ngerayu cewek pake lagu!"

ujar Bu Sri sambil menggeleng heran.
Raja mengerutkan kening. "Terus pake apa dong Bu biar mempan? Kali-

kali aja kan Raja bisa ikutin triknya!" ujar Raja penasaran.
"PAKEEEEE FULUSSSSSS DONGGG BIAR HUBUNGAN MAKIN

MULUSSSSSSS" jawab Bu Sri lantang sambil membalik-balikan pisang
gorengnya.

"OALAAHH SI FULUUS TOH! ITU SIH GAMPANGGGG!!,
JANGANKAN SI FULUS YANG ABANG DATENGIN, GAJAHNYA
SEKALIAN ABANG BAWA KESINI KHUSUS UNTUK BU SRIII!!" ujar
Panca sambil menjentikkan kedua jarinya.

Angkasa menjitak keras kepala Panca. "ITU TULUS
BAMBAAAAAANGGGGG!" ujar Angkasa kesal.

Pak Kumis yang tak lain adalah suami Bu Sri hanya menyimak sambil
menggeleng heran. "Halah Bu Bu, dulu Ibu dikasih surat aja udah langsung
kesemsem sama Bapak." ujar Pak Kumis membuat Bu Sri tersipu malu.

"Itu kan dulu Pak, jaman sekarang kan udah beda toh." jeda sejenak.
"Lagian si aa ngapain sih nanya-nanya, udah ada pacar baru ya? Bawa kesini
dong kenalin sama Ibu." ujar Bu Sri kepada Raja.

"AELAHH BUUU, ENGGAK PERLU PAKE ACARA KENALAN
SEGALA, PACARNYA MASIH YANG LAMA BU! ENGGAK ASYIK
KAN? KAYAK ABANG PANCA DONG, BEDA BULAN BEDA PACAR!"
Panca menepuk-nepuk dada dengan bangga.

Bu Sri menangkupkan satu tangan ke mulutnya sambil memasang raut
wajah terkejut dengan berlebihan. Dasar Ibu-ibu tukang gosip!. "JADI SI
AA TEH BALIKAN SAMA SI NENG RATU?! ALAMAAKKK EMANG
JODOH ITU ENGGAK KEMANA YAAA?!!!" ujar Bu Sri dengan heboh.
"HARI INI IBU GRATISIN MIE REBUS DEH BUAT SI AA! IBU TEH
SENENG NGELIAT AA RUKUN LAGI SAMA SI ENENG." lanjut Bu Sri
membuat Raja menggaruk tengkuknya sambil menahan malu.

Panca mendengus kesal. "SI IBU EMANG SELALU PILIH KASIH DEH!,
GILIRAN PANCA BAWA CEWEK KESINI MANA PERNAH
DIGRATISIN, RESIKO ORANG GANTENG YA BEGINI NIH! SELALU
AJA DIPERLAKUKAN DENGAN TIDAK ADIL! Panca duduk lalu meraih
segelas es teh manis yang ada di atas meja dan menegaknya tanpa jeda.

"ALAMAAKKKK KALAU GITU CARANYA BISA BANGKRUT INI
WARKOP, SI AA MAH BEDA MINGGU BEDA JUGA YANG DIBAWA!
BIKIN LIEEEURRRRR!" ujar Bu Sri kepada Panca membuat yang
mendengar tertawa saat itu juga. Lanjutkan Sayang!

Dirga yang tadi menyimak akhirnya memutuskan untuk membuka suara.
Dirga berdeham. "Jadi, lo beneran balikan sama si Ratu, Ja?" tanya Dirga
memastikan kembali.

Raja mengangguk cepat. "LO LO SEMUA MAKAN AJA SEPUASNYA,
HARI INI GUE YANG BAYAR!" teriak Raja kepada SAKGAR, disusul
dengan sambutan sorak sorai para kaum gratisan terutama Panca yang saat ini
sudah naik ke atas kursi sambil bersorak berlebihan. "RAJA! RAJA! RAJA!"

Dirga bertukar pandang dengan Angkasa sambil menyunggikan senyum
kemenangan. Kali ini Raja benar-benar akan habis oleh mereka semua!.
Dirga berdeham kembali. "Ja?" panggil Dirga membuat Raja menoleh.

"Apa?"
"Anak SAKGAR selalu bisa megang omongannya kan?"

——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!

JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere

FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr

@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader

Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler

bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

42. HUBUNGAN YANG BERCABANG

Ain't never felt this way
Can't get enough so stay with me
It's not like we got big plans
Let's drive around town holding hands
And you need to know
You're the only one, alright alright
And you need to know
That you keep me up all night, all night
Oh, my heart hurts so good
I love you, babe, so bad, so bad
Oh, oh my heart hurts so good
I love you, babe, so bad, so bad
Mad cool in all my clothes
Mad warm when you get close to me
Slow dance these summer nights
Our disco ball's my kitchen light
And you need to know
That nobody could take your place, your place
And you need to know
That I'm hella obsessed with your face, your face

ILYSB-Cover by Chlara

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT

MEMBACA SEMUA ❤]

42. HUBUNGAN YANG BERCABANG

"Om telolet ommmm!"
Sherina merogoh saku bajunya cepat saat mendengar sebuah nada pesan
masuk dari ponselnya yang tengah berbunyi saat ini. Kedua manik mata gadis
itu berbinar seketika saat melihat sebuah nama yang tertera di balik layar
ponselnya. Dirga Margantara. Tanpa menunggu basa-basi lagi, ia segera
membalas pesan tersebut sambil merebakan senyumnya dengan lebar.
Nadia menatap Sherina sambil mengerutkan kening dengan heran. "Lo
kesambet Sye? Senyum lo sekarang hampir sebelas dua belas kayak badannya
si Pak Junet."
ujar Nadia kepada Sherina, sembari meledek salah satu guru sejarah di
sekolahnya, yang menurutnya amat sangat sangat menyebalkan. Jangan
diikuti ya!
Sherina mengerucutkan bibirnya. "Nadia kepo banget ih!" cibir Sherina.
Diba merampas ponsel Sherina segera. Dirga Margantara?, "Astaga! Lo
masih aja ngebet sama itu bocah?" tanya Diba dengan gamblang.
Sherina menggaruk tengkuknya sambil tersipu. "Mau gimana lagi, Sye udah
terlanjur klepek-klepek nih sama pesona baby Dirga!" ujar Sherina menbuat
Diba bergidik. Astaga!
"Moveon kali, udah kayak enggak ada cowok lain aja di GARUDA!"
dengus Diba.
Nadia menggeleng heran. "Udah Dib biarin aja, percuma lo nasehatin
orang yang lagi kesemsem, masuk kuping kanan keluar kuping kiri!" ujar
Nadia.
"Masalahnya ini anak kesemsemnya enggak kelar-kelar Nad, gue takut aja
nanti dia jadi gila kalau cintanya enggak kesampean!" jawab Diba sambil
menggeleng heran.
Helen yang menyimak sedari tadi pun sudah tahu siapa orang yang ketiga
temannya itu bicarakan. Dirga Margantara, salah satu anggota penting dari
penguasa SMA GARUDA, plus salah satu orang yang menggagalkan aksi
bodohnya siang tadi. Helen menghela napas putus asa. Duduk dipinggir
lapangan sekolah bersama ketiga temannya di sore hari ini, hanya
membuatnya mengingat akan dunia tari kembali. Ia tertawa getir saat
mengingat impiannya yang sudah menggebu-gebu itu untuk melanjutkan

pendidikan di bidang seni khususnya dunia tari setelah lulus dari bangku
SMA ini. Tidak ada harapan lagi.

"Jangan lakuin hal bodoh itu lagi. Kehilangan mimpi memang berat,
tapi hidup harus tetap berjalan. Ciptain mimpi baru lagi, beban hidup lo
pasti akan hilang dengan sendirinya."

Entah kenapa hati Helen sedikit menghangat saat mengingat ucapan Dirga
saat itu. Dirga Margantara?, Helen menyebut nama itu dalam hati sambil
tersenyum tipis. Cowok menyebalkan. Helen merasakan ada sesuatu yang
beda dengan perasaanya sekarang ini, entahlah mungkin seorang Dirga telah
memberikan kekuatan tersendiri untuknya.

Drrrt

From: Aldi Mahesa

Jangan lupa makan dan minum obat, pulang sekolah langsung pulang,
awas kalau gue tahu lo keluyuran kemana-mana!

Helen menatap layar ponselnya yang bergetar itu sambil sedikit berdecak.
Aldi Mahesa. Sahabat kecilnya yang selalu bersikap overprotective luar
biasa, bahkan sampai mengalahkan perhatian dari kedua orangtuanya sendiri
menurutnya. Sebenarnya Helen tahu bahwa Aldi memang memiliki perasaan
untuknya sudah dari lama. Helen menyayangi Aldi itu sudah pasti, tapi ia
selalu berusaha untuk menepis perasaan itu jauh-jauh karena tidak ingin
merusak persahabatan yang sudah mereka jalani dari kecil itu. Ia hanya ingin
bersahabat dengan Aldi, tidak lebih. Bahkan dulu ia sempat menjadi mak
comblang dadakan untuk Aldi dan Sherina, agar Aldi bisa cepat-cepat
melupakan perasaanya. Tapi semua itu sia-sia, Aldi dan Sherina hanya
menjalin hubungan hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja.

"Hai Kak,"
Suara dari seorang laki-laki membuyarkan lamunan Helen saat itu juga. Ia
memandang laki-laki itu sambil menggeleng heran, Dia lagi, Dia lagi. Sudah
hampir sepuluh kali laki-laki itu muncul secara tiba-tiba dihadapan ia dan
ketiga temannya hanya untuk mengejar-ngejad salah satu temannya yang tidak
punya rasa peka itu.
"Hai kak Diba."
Diba menaikan satu alisnya sambil memasang wajah jutek yang luar biasa.
"Lo siapa?" tanya Diba tanpa mau berbasa-basi.
Sherina menyikut Diba pelan. "Astaga Diba, dia itu GAMAL adik kelas
kita anak XI IPA 3! Harus berapa kali dia ngajak kenalan? Ini udah ke-8
kalinya lho, masa Diba lupa sih?" bisik Sherina.

Diba mendengus. "Ada apa?" tanya Diba to the point.
Gamal menyodorkan sebotol minuman ber-ion kepada Diba. "Untuk lo,
jangan terlalu capek-capek ya." ujar Gamal membuat Diba mengerutkan dahi.
"Enggak perlu, gue masih punya duit untuk bisa beli sendiri." tolak Diba
cepat.
"Aduh Diba! Jangan jutek-jutek dong, Gamal kan cuma mau ngasih
minuman doang!" jeda sejenak. "Sini Sye ambil aja, makasih ya Gamal." ujar
Sherina sambil merampas sebotol minuman itu dari tangan Gamal.
Gamal mengangguk. "Kalau gitu gue duluan ya, jangan pulang terlalu sore
ya kak. Bentar lagi mau hujan soalnya." ujar Gamal kepada Diba yang tidak
digubris sama sekali lalu pergi begitu saja setelah berpamitan kepada
Sherina, Helen dan Nadia.
"Jangan jutek-jutek kali Dib, diamuk bapaknya baru tahu rasa lo!" ujar
Helen sambil berdecak.
"Belum tahu aja lo si bapaknya Gamal kalau udah ngamuk, muka sama
tanduknya udah mirip banget kayak banteng, diseruduk mampus lo!" ledek
Nadia.
Sherina tertawa geli. "Sye enggak bisa bayangin deh gimana wajah
Angkasa kalau lagi ngamuk, pasti Angkasa tambah keren! Abisnya Angkasa
kan mirip banget sama tokoh-tokoh badboy yang Sye sering baca di wattpad!"
ujar Sye menggebu-gebu.
Diba menaikan satu alisnya. "Terus hubungan si bocah ingusan tadi sama si
Angkasa sok ganteng itu apa? Gue gagal paham sama omongan kalian." ujar
Diba sambil mendengus kesal.
"Si Gamal kan anak SAKGAR Dib! Tahu sendiri lo siapa bapak ketuanya,
makanya jangan jutek-jutek amat lah sama si Gamal." ujar Helen
mengingatkan.
Belum sempat Nadia menimpali, kedua matanya tiba-tiba menangkap
sosok seorang murid laki-laki yang saat ini tengah berjalan sambil menarik
paksa seorang murid perempuan hingga berhenti di sudut tangga ujung lorong
dekat koperasi. Ia memicingkan matanya untuk mengamati laki-laki itu lebih
jelas, Jiro?. Benar laki-laki itu adalah Jiro, Jiro Fernando yang tak lain
adalah mantan kekasihnya. Dari situ juga ia bisa menebak siapa seorang
gadis yang saat ini tengah menjadi lawan bicaranya. Raya Indah Lestari.
Mungkin seisi sekolah ini sudah tahu bahwa Jiro memang gencar sekali
dalam mengejar-ngejar Raya, awalnya Nadia pikir itu hanyalah gosip belaka,
tapi ternyata semuanya benar faktanya, dan itu juga salah satu alasan kenapa

ia mengakhiri hubungannya dengan Jiro, selain ia sudah memiliki perasaan
khusus untuk laki-laki lain yang sampai saat ini masih ia harapkan setengah
mati.

***
"OI ADEK BERJILBAB BIRUUUUUU (OYYYYYYY), CANTIK MANIS
NAN ULAAAAT BULLLUUUUUUU (WADAAAWWW), DAPAAT SALAM
DARI AYAHHH IBUUU (MASAAAAA), TAMAAT SEKOLAH JADI
MENANTUUUUUUU (MANTAAAPPPPP)" Panca menyanyikan lagu yang
tengah viral itu sambil menjadikan salah satu meja sebagai gendangnya
dengan keras, saat melihat seorang perempuan berjilbab biru berjalan masuk
ke dalam Warkop, hingga membuat mulutnya gatal seketika bila tidak segera
meluncurkan aksinya. Sedangkan anggota SAKGAR hanya ikut meramaikan
saja dengan menyahuti nyanyian Panca yang cempreng itu.
Angkasa menggelengkan kepala heran melihat kebiasaan temannya satu itu.
"Gue rasa kita harus cepet-cepet bawa dia berobat deh Ga, gue takut otaknya
makin lama makin konslet!" ujar Angkasa kepada Dirga.
"Biarin aja kali Sa, justru kalau dia diem itu yang malah bikin otaknya
makin bahaya!" ujar Elang. "Bukan Panca namanya kalau tiap hari enggak
bikin heboh orang-orang disekitarnya." lanjut Elang sambil mengaduk-aduk
mie rebusnya.
"Lo kalau mau si Panca diem, bawa aja si cewek galak itu kemari. Selesai
urusan, gitu aja repot." Raja menanggapi ucapan Angkasa tanpa mengalihkan
pandangannya sedikitpun dari layar ponselnya.
Angkasa menghela napas. "Kalau gue bawa itu cewek kemari, yang ada
malah jadi amburadul ini Warkop!" jeda sejenak. "Lo lagi liatin apasih serius
banget dari tadi?" Angkasa melirik ponsel Raja dengan penasaran.
Raja tersenyum sambil menunjukkan sebuah foto yang baru saja diposting
Ratu di instagram. Astaga! Benar-benar bucin!. "Ternyata kalau dilihat-lihat,
gue ganteng juga ya." ujar Raja dengan percaya diri membuat Angkasa
menatapnya tidak percaya.
"Gue enggak mau ya, ada kembaran Panca di geng TEMPUR! Satu aja
udah bikin kepala gue hampir meledak, apalagi dua? Enggak bisa gue
bayangin..." ujar Angkasa berlebihan.
"ENEEEENGGG MAU BELI APAA NENG? GORENGAN? ADAA! MIE
REBUS? JUGA ADAAA! PECEL TEMPEEE JUGA ADAAA!! OH! ATAU
ENENG MAU MINUM AJA? ENENG MAU MINUM APAA? KOPI

ADAAAA! ES JERUKKK JUGA ADAAA! ES TEH MANISSS YANG
MANISNYA KAYAK ENENG JUGA ADAAAA!! TINGGAL PILIH AJA
NENG, TAPI KALAU BINGUNG ENENG BISA KOK PEGANG TANGAN
ABANG PANCA! RELAA ABANG NENG!!" Panca melontar panjang lebar
membuat geng TEMPUR hanya menggeleng pasrah, tapi tidak bagi anggota
SAKGAR yang saat ini malah mendukung aksi Panca tersebut dengan
semangat.

"NENGGGGG BAPAK ENENGGG PASTI JUALAN MARTABAK
YA?!!" Panca mulai mengeluarkan jurus jitunya.

"Eh? Emangnya kenapa kak?" gadis itu menatap Panca dengan
kebingungan.

"ABISNYAAAAA SI ENENGG SPESIALLL BANGET DI HATII
ABANG! JADI PENGEN ABANG MAKANNNNN!! RAWWWWWR!"
jawab Panca membuat gadis itu sedikit bergidik.

Gadis itu tersenyum paksa. "Oh gitu ya, kalau gitu saya permisi dulu deh
ya. Masih banyak kerjaan." ujar gadis itu dengan tidak nyaman.

"EHHH SI ENENG KOK BURU-BURU SIH? KAN KITA BELUM
KENALAN? ABANG JUGA BELUM TAHU KAN RUMAH ENENG
DIMANA??"

"Eh? Buat apa memangnya kak?"
"ADUUH SI ENENG GEMESIN BANGET DEH, YA BUAT
NGELAMAR ENEEENG LAH!! JADI, RUMAH ENENG DIMANA? KALI-
KALI MALAM MINGGU ABANG MAMPIR." modus Panca.
"WADDDAAAAW GERCEP KALI BANGGG." celetuk Bima keras.
"Eh?! Enggak usah kak, Bapak saya galak banget! Jangan deh!"
Panca berkacak pinggang sambil menepuk dadanya. "WAHHH!! JANGAN
NGEREMEHIN ABANG PANCA NENG! BUKAN PANCA KSATRIA
NAMANYA KALAU UDAH MUNDUR SEBELUM WAKTUNYA
PERANG! SOK ATUH KENALIN BAPAK ENENG KE ABANG BIAR
ABANG PANCA BUKTIIN KALAU ABANG PANCA ITU ADALAH
LELAKI SEJATI!!" ujar Panca menggebu-gebu.
"Aduh jangan deh ya kak, saya enggak mau kalau kakak nanti kena damprat
sama Bapak saya."
"EMANGNYA BAPAK CALON MERTUA ABANG SEMENAKUTKAN
APASIH? OTOTNYA GEDE-GEDE?! AH ABANG PANCA ENGGAK
TAKUT NENG! KALAU PERLU ABANG AJAK ADU PANCO SEKALIAN
BIAR ENENG YAKIN SAMA ABANG!! APALAGI? APALAGI?

BREWOKAN? AH! APALAGI ITU! ITU MAH GAMPANG NENG,
TINGGAL ABANG CUKUR AJA ITU SEMAK BELUKAR SAMPE
KUMIS-KUMISNYA SEKALIAN KALAU PERLU, BIAR ENENG TAHU
KESUNGGUHAN ABANG PANCA!"

PLETAK!
Panca meringis saat merasakan pukulan dari gulungan koran bekas yang
ada ditangan seorang laki-laki paruh baya yang ada di belakangnya. Pak
Kumis?!
"Abah! Abah baru pulang dari pasar? Sini Mirna aja yang bawa masuk ke
dalam belanjaannya."
Panca membelalakan mata seketika sambil menelan ludah sedalam-
dalamnya. Kampret!!, membuat gelak tawa seisi Warkop langsung meledak
saat itu juga. Syukurin lo Panca!!
Elang tertawa sampai terbatuk-batuk. "Eh Mirna, tumben ke Warkop.
Enggak sekolah?" tanya Elang membuat Panca melotot terkejut ke arahnya.
Sialan lo Lang! Kenapa enggak bilang dari tadi kalau ini anaknya Pak
Kumis! Kuraaaang hajaaaarrrrr!
"Udah pulang kak, Mirna kesini disuruh Ibu untuk nganterin makan buat
Abah." jawab Mirna sopan.
Pak Kumis berdeham sambil memicingkan kedua matanya. "Saya denger.."
Pak Kumis menggantungkan ucapannya membuat Panca mengucap sumpah
serapah dalam hati. Mampus lo Panca!!!! Enggak bisa ngutang lagi kan lo
jadinya!!!!. "Saya denger, kamu tadi mau mangkas habis kumis saya ini?"
lanjut Pak Kumis sambil membelai kecil kumis kebanggaannya dari sejak
muda dulu itu.
Panca kembali berusaha menelan ludah sebisa mungkin. "EH.. EHHHH
ADUHHH... HAMPURA ATUH NYAKK... ABANG PANCA TEH CUMA
JUST KIDDING! JUSSSSTT KIDDDINGGG!! MANA MUNGKIN LAH
ABANG PANCA MAU CUKUR KUMIS NYA PAK KUMIS SAMPE PAK
KUMIS ENGGAK PUNYA KUMIS! NANTI KADAR KEKASEPANNYA
BISA BERKURANG LITTLE LITTLE ATUHHHH." kilah Panca sekuat
tenaga.
Pak kumis menghela napas sambil menggelengkan kepala heran. "Panca!
Panca! Kamu itu memang paling bisa ya yang namanya bersilat lidah, bisa
kena serangan jantung saya kalau ngehadepin kamu lama-lama. Sudah-sudah,
jangan godain anak saya lagi. Saya enggak mau anak saya nanti jadi ikutan

konslet otaknya kayak kamu sekarang ini!" ujar Pak Kumis membuat gelak
tawa seisi Warkop meledak kembali.

"HAJAAAAR AJAAAA BEHHHHH!!! JANGAN KASIH KENDOOR!!"
ujar Angkasa kepada Pak Kumis membuat Panca melotot.

"TEMPUR TERUSSSS SAMPEEE MAMPUSSS BEEEHHHHH!!!"
timpal Elang dengan puas.

"Sudah-sudah, mending sekarang saya goreng pisang
saja di dapur, daripada disini bisa-bisa darah tinggi saya ikutan kumat juga
gara-gara kalian. Dasar anak muda jaman sekarang!. ujar Pak Kumis sambil
memijat kepalanya lalu beranjak pergi menuju dapur.

Panca mengusap-usap dadanya sembari menormalkan deru napasnya.
"Dahsyaat! Film AVENGER aja kalah tegangnya bos dibandingin sama
tatapan maut doi!" ujar Panca sambil membuka tutup botol air mineral yang
ada di atas meja lalu menegaknya hingga habis. NGERI KALI AKU BANG!!

"Makanya Ca! Lain kali kalau mau ngegombal itu pinteran dikit! Anak
SMP lo embat, ya bisa ngamuk Bapaknya!" ujar Dirga sambil menyeruput
kuah mie rebusnya.

"Panca mana pernah milih-milih kalau udah ngegombal Ga! Banci di taman
lawang aja dia ajak kenalan!" ledek Raja membuat Panca melemparkan botol
kosong minumnya ke arah Raja.

Elang melirik ponsel Dirga yang sedari tadi bergetar di atas meja dan
menampilkan sebuah beberapa pesan dilayarnya. Sherina Halim?, Elang
mengerutkan dahinya. "Lo lagi deket sama Sherina?" tanya Elang kepada
Dirga membuat ketiga temannya menoleh. DIRGAAA? DEKETTT SAMA
CEWEK???? HMMMM

"Biasa aja." jawab Dirga cuek.
Angkasa mengerutkan dahi. "Sherina? Sherina si anak pom-pom?" tanya
Angkasa penasaran yang dibalas hanya dengan gumaman Dirga.
Raja memicingkan kedua matanya. "Sejak kapan lo mau repot-repot
nanggepin chat dari cewek?" tanya Raja curiga.
"Sejak tadi, emangnya kenapa sih? Lagian, gue enggak ada hubungan apa-
apa sama dia." Dirga mulai gerah.
"Setahu gue Sherina itu mantannya si Aldi anak SAKTA, gue enggak mau
SAKGAR ribut-ribut lagi karena urusan cewek. Cukup satu orang aja
biangnya." sindir Angkasa membuat Raja mengumpat. Wah kurang ajar nih
si Sasa! Gue jadiin sambel juga lu!

Dirga menghela napas. "Gimana mau ribut-ribut, punya hubungan aja
enggak. Santai aja lah." ujar Dirga lalu menegak minumannya.

Elang mengangguk setuju. "Lagian, kita perlu hati-hati sekarang sama
perkumpulan pom-pom satu itu. Gue yakin banget si cepu itu bersarang
disana!" ujar Elang yakin.

"Kita lihat aja sampe mana itu cepu bisa nyembunyiin bangkai busuknya,
main-main kok sama kita." timpal Raja dengan nada meremehkan.

"Gue berani jamin bukan Sherina orangnya. Dia itu cewek lemot, jadi
enggak mungkin otaknya bisa sampe untuk soal ginian." ujar Dirga sambil
sedikit mengejek.

Angkasa menaikan sudut bibirnya. "Emangnya lo yakin kalau cuma satu
otak yang dipake? Gue rasa kita udah cukup berpengalaman untuk soal yang
beginian Ga."

Belum sempat Raja menambahkan ucapan Angkasa, kedua matanya sudah
menangkap seorang laki-laki yang sudah tidak asing baginya terlebih dahulu.
Samudera Brawijaya, salah satu orang kepercayaaan geng TEMPUR, saat ini
tengah berjalan masuk ke dalam Warkop dengan sedikit terengah-engah.
"Kenapa lo?" tanya Raja heran kepada Sam yang sudah duduk didepannya.

Sam menormalkan deru napas sebentar. "Anak GUNDAR ngirim surat
tantangan terbuka untuk SAKGAR bang. Besok siang sepulang sekolah,
dipersimpangan jalan cendana." ujar Sam serius.

Angkasa mengerutkan dahi. "GUNDAR? Setahu gue SAKGAR enggak ada
masalah sama mereka semua!" ujar Angkasa. "Atau dari kalian ada yang cari
masalah tanpa sepengetahuan geng TEMPUR?!" Angkasa meninggikan suara.

Sam menggeleng cepat. "SAKGAR sama sekali enggak punya masalah
sama mereka bang, tapi anak GARUDA ada. Makanya GUNDAR ngirim
surat tantangan ke SAKGAR secara terbuka ke kita sekarang." jawab Sam
dengan jelas.

Elang menaikan satu alisnya. "Anak GARUDA? Siapa?" tanya Elang
kepada Sam.

"Bintang, kelas X-1 Bang." jawab Sam.
"Bintang? Bintang Sadewa yang sifatnya sebelas dua belas sama si Raja
itu?" tanya Panca membuat Raja berdecak.
Sam menggaruk tengkuknya. "Sedikit sih bang." jawab Sam takut-takut.
MIRIPP BANGETT BANG MIRIP!!!
"BERANGKAAATIN SAA!!!!" ujar Elang.
"TEMPUR TERUSSS SAMPE MAMPUSSSS SAAA!!" timpal Panca.

"Mau dia anggota SAKGAR atau bukan, sekalinya anak GARUDA
diganggu, kita harus turun tangan Sa!" tambah Dirga.

Raja berdecak. "Tanpa kalian ceramah juga si Sasa pasti tahu apa yang
harus dia lakuin. Kayak baru kenal di kapal aja!" ujar Raja kepada ketiga
temannya.

Angkasa menghela napas. "Itulah gunanya gue ciptain SAKGAR. Untuk apa
SAKGAR berdiri kalau cuma untuk ajang keren-kerenan doang?" ujar
Angkasa lalu beranjak berdiri.

"BIMA!"
"Hadir bang!!"
"KUMPULIN SEMUA ANAK SAKGAR SEKARANG JUGA."

***

"BUSEETTTT!! Kusut amat itu muka lu bang, udah kayak baju yang belum
disetrika aja!" ledek Satria kepada Aksara.

Aksara berdecak. "Diem Sat, Gue lagi enggak mood untuk bercanda."
jawab Aksara sambil memijat pelipisnya. Rinai, Rinai!, gadis itu sudah
menghantui pikirannya dari semalam.

"Cerita dulu coba sama adik lo yang paling ganteng ini! Ada masalah apa
si lu bang? Gue tebak pasti ini urusan cewek!" tebak Galih benar.

Aksara menghembuskan napas kasar tanpa mau menggubris ucapan Galih.
Rinai! Rinai!, Aksara mengumpat dalam hati karena sedari semalam ia tidak
bisa menepis gadis itu dalam pikirannya. Cewek aneh, ngeselin, enggak mau
kalah!!

"Lo dimana?! Pulang sekarang?!"
Aksara yang sedari tadi hanya diam, langsung membuka suara saat
mendengar bentakan Aldi kepada seseorang yang sedang ia hubungi. "Kenapa
lo? Helen lagi?" tanya Aksara yang sudah tahu sekali jawabannya.
Aldi mengangguk sambil memutuskan sambungannya. "Ini cewek keras
kepalanya bener-bener enggak ada obat!" ujar Aldi kesal.
"Makanya cepet dipatenin bang, biar punya hak buat ngelarang-ngelarang!"
sindir Satria. "Jangan malah temennya yang diembat!" lanjut Satria membuat
Aldi menjitak kepalanya keras.
"Kalau bukan karena Helen yang minta, gue juga enggak akan mau kali
pacaran sama si Sherina! Manjanya enggak ketolongan!" ujar Aldi.

Galih berdeham. "Ngomong-ngomong lo punya kontaknya si Nadia enggak
bang?" tanya Galih kepada Aldi.

Aldi menaikan satu alisnya. "Nadia temennya si Helen? Banci amat lo,
samperin sana ke GARUDA minta nomornya langsung! Gimana si lo!" ujar
Aldi menantang.

"Yaelah bang, gue juga mau kal—"
"AKSARAAA!!!"
Suara manja dari seorang gadis berhasil memotong ucapan Galih seketika.
Aksara menggerutu dalam hati, ia sangat mengenali siapa pemilik suara
tersebut. "Kenapa Risti?" tanya Aksara dengan malas.
Risti memeluk tubuh Aksara cepat. "Anterin aku pulang ya, aku enggak
bawa mobil hari ini. PLEAAASEEEEEE!!" ujar Risti manja sambil
mendongakan kepalanya.
Aksara menghembuskan napas kasar. "Enggak bisa Risti, aku masih ada
urusan." jawab Aksara sambil berusaha melepaskan pelukan Risti yang
sangat membuatnya tidak nyaman. "Gimana kalau kamu minta anterin Edgar
aja?" tanya Aksara memberi usul.
Risti menggeleng cepat. "Enggak mau! Aku maunya dianter sama kamu!"
jawab Risti kesal.
"Edgar lagi ada urusan di luar bang." kata Satria membuat Risti yang
mendengar tersenyum puas.
Aksara mendengus kesal. "Kemana dia?" tanya Aksara kepada Satria.
"Biasalah bang, kemana lagi kalau enggak PARTTTYYYYYYYY!!" jawab
Satria membuat Aksara mengangguk mengerti. Benar-benar kebiasaan buruk
seorang Edgar Ganesha!
Aksara mengambil kunci mobilnya cepat membuat Risti bersorak riang
dalam hati. "Lo anter Risti, gue masih ada urusan yang harus dikelarin." ujar
Aksara kepada Satria membuat Risti menganga tidak percaya. Ia harus
menyelesaikan masalahnya dengan Rinai saat ini juga.
"Aku pulangnya mau sama kamu! Bukan sama si DIA!!" Risti
menghentakan kaki kasar sambil menunjuk wajah Satria. "Aksara! Kamu
denger kan sama apa yang aku bilang!" ujar Risti yang sama sekali tidak
digubris.
"Pulang sama gue aja, enggak akan gue culik kok!" ujar Satria sedikit
jengah.
"Enggak! Enggak mau!"

Aldi mendengus kesal. Dasar cewek manja!, "EH?! AKSARA?! WOY
MAU KEMANAAA LO?! GUE IKUTTTTTTTTT!" teriak Aldi saat melihat
Aksara sudah berjalan keluar dari markas sambil menenteng jaketnya
membuat Risti makin tersulut emosi.

"MAU NYARI PAWANG HUJAN!!"
"HAH? NGAPAIN LO NYARI-NYARI PAWANG?!! WAH MAKIN
STRES INI ANAK!"
Aksara terus berjalan tanpa menggubris teriakan Aldi dan rengekan manja
dari Risti. Ia merasa kepalanya makin sakit saja saat ini, dan semua itu
karena seorang gadis bernama Rinai Hujan, Ia benar-benar butuh seorang
pawang agar gadis itu segera pergi dari pikirannya sekarang juga. Benar-
benar merepotkan!!!!!!!!!!!!!!!!

——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!

JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere

FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii

@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader

Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler

bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

43. TERUNTUK KAMU YANG PERNAH
SINGGAH

Tell me somethin', girl
Are you happy in this modern world?
Or do you need more?
Is there somethin' else you're searchin' for?
I'm falling
In all the good times I find myself
Longin' for change
And in the bad times I fear myself
Tell me something, boy
Aren't you tired tryin' to fill that void?
Or do you need more?
Ain't it hard keeping it so hardcore?
I'm falling
In all the good times I find myself
Longing for change
And in the bad times I fear myself
I'm off the deep end, watch as I dive in
I'll never meet the ground
Crash through the surface, where they can't hurt us
We're far from the shallow now

Shallow-Lady Gaga & Bradley Cooper

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT

MEMBACA SEMUA ❤]

43. TERUNTUK KAMU YANG PERNAH SINGGAH
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY
BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAAYYYYY, HAAAPPPPPY BIRTHDAAAAY
RATUUU!!!"

Ratu memandang terkejut kedua sahabatnya, Anggi dan Jeha yang saat ini
tengah berdiri di dalam kamarnya sembari memegang sebuah kue dan
balon berwarna merah muda di tangan mereka masing-masing, tepat saat
pergantian hari dimulai.

Ratu beranjak dari ranjangnya menuju kedua sahabatnya. "Kalian kok
bisa disini? Ini tengah malam tahu! Kalian enggak dicariin sama orangtua
kalian? Nanti pulangnya gimana?" Ratu tak berhenti bertanya membuat
kedua sahabatnya gemas.

Jeha berdecak kesal. "Mending lo sekarang cepet tiup ini lilin, tangan gue
udah pegel tahu megangin ini kue dari tadi!" cibir Jeha membuat Ratu
mengangguk.

Melihat Ratu yang hendak meniup lilinnya, dengan segera Anggi
mencegahnya yang membuat Ratu mengernyit heran. "Make a wish dulu
kali, kayak enggak pernah ulang tahun aja lo!" ujar Anggi.

Ratu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. "Eh iya, Ratu
sempat lupa," cengir Ratu. Ratu memejamkan matanya sejenak, "Tuhan,
doa Ratu enggak banyak-banyak kok, bener deh cuma satu doang. Tolong
jadiin Raja sebagai jodoh Ratu kelak, tapi kalau misalnya ternyata Raja
bukanlah jodoh Ratu, tolong pikir-pikir lagi dong Tuhan. Ratu enggak mau
Raja mati. Karena kata Raja, Ratu itu oksigennya. Kasihan Raja, Tuhan.
Dia udah cinta mati banget sama Ratu, udah itu aja doa Ratu, semoga
Tuhan mempertimbangkan secara matang-matang ya, Amin" Ratu
membuka matanya lalu meniup lilin yang ada dihadapannya sembari
menepuk-nepuk kecil tangannya.

Jeha menjitak kecil kepala Ratu. "Dimana-mana yang namanya make a

wish itu dalam hati, kalau lo ucapin dengan narsis kayak tadi itu sama aja
sia-sia. Lo mau jagain jodoh orang?" cibir Jeha membuat Ratu gusar.

"Enak aja! Raja itu cuma untuk Ratu. Lagian, emangnya Raja bisa nemuin
cewek semanis Ratu? Enggak akan bisa! Ratu yakin banget deh pokoknya
kalau Raja itu adalah jodoh Ratu." Jawab Ratu percaya diri membuat Jeha
dan Anggi bergidik.

Jeha memandang langit-langit kamarnya sambil tersenyum timpul. Ia rindu.
Ia rindu saat menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya seperti dulu.
Walaupun sekarang ia telah memiliki seorang Bima dalam hidupnya, tidak
bisa dipungkiri ada waktu dimana dadanya terasa sesak, kepalanya menjadi
sakit, dan pikirannya menjadi sempit saat ia mengetahui kondisi kedua
sahabatnya sekarang ini. Mungkin orang lain sudah mencapnya sebagai
sahabat yang buruk, atau sahabat yang brengsek karena telah meninggalkan
kedua sahabatnya disaat justru ialah orang yang paling dibutuhkan untuk
memberikan uluran tangannya.

Untuk Ratu, ia sadar bahwa dirinya memang benar-benar salah karena
tidak bersikap netral akan perpecahan Anggi dan Ratu saat itu. Bukan,
bukannya ia tidak menyayangi Ratu, ia hanya berpikir bahwa Anggi lah yang
lebih memerlukan keberadaannya dibandingkan Ratu yang sudah memiliki
banyak sahabat di luar sana selain mereka berdua, ia yakin bahwa Ratu pasti
tidak akan pernah merasa sendirian seperti yang selama ini Anggi alami
selama hidupnya. Tapi ternyata ia salah, justru Ratu pun ikut terluka
karenanya.

Untuk Anggi, ia sedikit menyesal karena telah menyakiti hati gadis itu
secara tidak langsung akan ucapannya. Ia tersulut emosi pada hari itu, ia tidak
bisa menerima keputusan bodoh Anggi yang justru bisa membahayakan
hidupnya sendiri karena hal itu. Sungguh, ia benar-benar menyayangi Anggi
seperti ia menyayangi Ratu. Bahkan, Sudah beberapa hari ini ia meminta
bantuan kepada Bima untuk mencari informasi akan keberadaan Anggi yang
sudah tiga hari ini tidak menginjakkan kakinya ke sekolah dan tanpa ada
kabar sama sekali hingga sedikit berdampak untuk kesehatannya sekarang ini.

Astaga, gue kangen banget sama kalian berdua. Jeha memeluk boneka
beruang yang tak lain adalah hadiah dari kedua sahabatnya itu disaat ia masuk
ke dalam ranking sepuluh besar di kelasnya. Apa yang harus ia lakukan
untuk merekatkan kembali persahabatan yang sudah sangat renggang ini?
Mungkin saat ini bukan jarak lagi yang sudah terkikis, tapi semua

kenangan mereka selama ini pun mungkin sudah luntur seluntur lunturnya.
Ia menyesal, itu sudah jelas.

****
Anggi berjalan keluar dari sebuah klub malam yang ada di Jakarta dengan
rasa yang sudah sangat jengah. Ia sudah lelah menghadapi hingar bingar dari
dunia malam tersebut. Sampai kapan ia harus ia menjalani hidupnya yang
seperti ini? Sampai kapan?. Ia merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi
didunia ini. Ia pikir ia akan selalu baik-baik saja hidup tanpa sebuah keluarga
di dalamnya, nyatanya tidak. Ia kesepian, bahkan seorang Elang pun sudah
enggan untuk singgah di hidupnya kembali walaupun itu cuma sesaat.
Anggi, Anggi, mana mau Elang sama lo lagi?!, Anggi tersenyum getir.
Bila saja ada kategori wanita terbodoh sedunia, ia yakin pasti seorang
ANGGI PITALOKA lah yang akan memenangkannya. Jangan harap Elang
akan kembali kepadanya, itu tidak akan mungkin. Sejujurnya, selama ini ia
selalu setia membalas perasaan Elang tanpa laki-laki itu sadari. Ia hanya
malu, ia merasa tidak pantas untuk disandingkan dengan Elang selama ini.
Laki-laki itu sempurna, dan sudah jelas berasal dari kalangan keluarga mana.
Sedangkan dirinya? Ia hanyalah seorang anak yang selama ini dibesarkan di
sebuah panti asuhan, tanpa tidak tahu siapa kedua orangtuanya sendiri. Miris
bukan? Bagaimana bisa ia pantas untuk disandingkan dengan Elang?,
ditambah lagi sekarang ia harus bekerja sebagai lady escort secara paksa
untuk mempertahankan pantinya agar tidak tergusur, dan itulah salah satu
penyebab runtuhnya persahabatan dirinya dengan Jeha. Maaf Jeha, ia benar-
benar tidak punya pilihan.
"Sampe kapan lo mau kerja disini?"
Anggi menatap tajam seorang laki-laki yang ada didepannya saat ini. Laki-
laki itu tengah melipatkan kedua tangannya sambil menatapnya dengan tatapan
yang sulit diartikan. Edgar Ganesha, sudah seminggu ini laki-laki itu
berkeliaran disekitarnya tanpa ia ketahui tujuannya apa.
"Mau ngapain lo disini? Mau mukulin Elang dengan cara pengecut lagi
kayak yang lo lakuin waktu itu?" tanya Anggi gamblang.
Elang berdecak kesal. "Gue enggak pernah sama sekali ada niat untuk
nyelakain Elang. Itu semua ulah temen-temen gue, jangan sangkut pautin gue
lagi soal itu." ujar Edgar meluruskan.
Anggi berdecih. "Gue enggak sebodoh itu hanya untuk percaya dengan
semua ucapan klasik lo itu!" ujar Anggi tanpa mau melepaskan tatapan
tajamnya.

Edgar menghela napas lelah. "Terserah lo mau percaya atau enggak, itu
bukan urusan gue." jeda sejenak. Edgar mengedarkan pandangan ke
sekelilingnya. "Gue mau lo berhenti untuk kerja di tempat ini sekarang juga.
Wilayah ini udah enggak aman lagi untuk lo." bisik Edgar berusaha
memperingati.

Anggi tertawa remeh. "Enggak usah sok perduli sama gue deh! Gue enggak
kenal lo itu sebenarnya siapa, jadi jangan ganggu-ganggu hidup gue lagi! Dan
berhenti untuk nguntit gue tiap hari! Asal lo tahu, gue enggak bego untuk bisa
pahamin arti dari gerak-gerik lo itu!" cerca Anggi.

"Kepala lo itu terbuat dari batu atau apasih?! Gue enggak mungkin sampe
seminggu ini repot-repot nguntit lo kalau enggak ada maksud penting
dibaliknya. Gue harap otak lo juga enggak sekeras batu untuk bisa cerna
semua ucapan gue, Anggi." Edgar mulai meninggikan suaranya.

Anggi menatap Edgar dengan tatapan bingung sedikit penasaran. Maksud
penting?. "Gue enggak ngerti maksud lo itu apa, tapi tolong jangan sangkut
pautin gue dalam masalah yang lo punya. Jadi mulai sekarang jangan pernah
usik hidup gue lagi!." ujar Anggi yang tak mau memusingkan ucpaan Edgar.

Edgar membuka jaketnya lalu memakaikannya ke tubuh Anggi yang sudah
terbaluti mini dress itu, tanpa mau menggubris ucapan Anggi yang sudah
bleber kemana-mana dan tak karuan, membuat Anggi sedikit termangu. "Gue
tahu lo itu cewek baik-baik, tapi kerja disini enggak akan membuat hidup lo
semakin membaik Anggi. Lo enggak takut gimana kalau anak-anak sekolah lo
tahu kalau lo nyari nafkah di tempat seperti ini?! Gue tahu kalau lo enggak
pernah ngelakuin hal aneh-aneh disini, tapi gimana pandangan orang-orang di
luar disana? Apa mungkin mereka mempunyai pikiran yang sama dengan gue?
Enggak mungkin Anggi." ujar Edgar panjang lebar yang masih berusaha untuk
membujuk Anggi. Ia harus benar-benar menjauhkan Anggi dari tempat ini,
semua ini ia lakukan bukan karena ia memiliki perasaan khusus terhadap
gadis itu, tapi memang ada satu hal yang mau tidak mau harus ia sendiri yang
turun tangan untuk menyelesaikannya.

Anggi membalas tatapan Edgar dengan sedikit nanar. "Andai gue bisa,
tanpa perlu harus lo kasih tahu juga gue akan langsung hengkang dari tempat
ini. Tapi apa daya, gue bukan apa-apa, gue cuma cewek lemah yang sedang
terjebak dengan keadaan." ujar Anggi sedikit getir. Sial ia kelepasan!

"Terus? Lo masih mau selamanya cuma jadi cewek lemah? Lo masih mau
keadaan mempermainkan lo dengan sedemikian rupa tanpa perduli dengan
apa yang lo rasain sekarang ini? Lo masih mau? Jangan bodoh Anggi!"

"Gue enggak tahu tujuan lo itu sebenarnya apa dengan bicara kayak gini ke
gue," jeda sejenak. "Tapi, ada satu hal yang menjanggal di otak gue sekarang
ini." Anggi melangkahkan kakinya mendekati Edgar. "Ada hubungan apa lo
dengan laki-laki bertopi hitam yang akhir-akhir ini sikapnya sebelas dua
belas kayak lo, sama-sama nguntit! Ada hubungan apa huh?"

***
Ratu berjalan menuju pintu keluar caffe sembari memakai jaket kepunyaan
Raja dengan erat ditubuhnya. Ia rindu Raja. Malam ini Raja tidak bisa
menjemputnya pulang kerja karena ada kepentingan mendadak bersama geng
TEMPUR. Jujur saja sebenarnya ia merasa takut pulang malam-malam begini
sendiri, ditambah lagi cerita Rinai tadi siang yang membuat dirinya merasa
parno seharian takut-takut Sergio muncul dan menyakitinya kembali.
Ratu sedikit termangu saat mendapatkan sosok laki-laki yang baru saja tadi
siang ia rindukan tengah berdiri di depan caffe sambil menatapnya dengan
sorot mata yang sulit diartikan. Aksara?. Ratu berjalan mendekati Aksara
dengan perasaan gugup. "Aksara ngapain disini?" tanya Ratu sedikit
canggung.
Aksara mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Rinai dimana?" tanya
Aksara membuat Ratu memicingkan mata.
"Rinai? Ada apa Aksara cari Rinai?" tanya Ratu sedikit curiga.
Aksara menggaruk tengkuknya. "Ada yang perlu gue bicarain sama dia."
jeda sejenak. "Lo mau pulang? Ayok gue anter, itu pun kalau lo masih mau."
tawar Aksara sedikit tidak enak.
Ratu merogoh ranselnya lalu mengeluarkan sebuah benda yang selama ini
Ratu simpan untuk Aksara. "Maaf Ratu baru bisa balikin ini ke Aksara
sekarang." Ratu menyodorkan sebuah kunci motor milik Aksara membuat
lelaki itu sedikit mematung.
Aksara meraih kunci motornya dengan tangan sedikit gemetar. Ia
menggengam kunci motor itu kuat dan menciumnya sejenak. Papa, Aksa minta
maaf. Aksara menahan air matanya agar tidak lolos dengan sekuat tenaga.
"Terimakasih Ratu, gue hutang budi sama lo." ujar Aksara dengan suara
sedikit tercekat.
Ratu menggeleng pelan. "Enggak Aksara, Ratu tulus kok bantu Aksara.
Jadi, jangan sedih lagi ya?" Ratu menjulurkan jari kelingkingnya kepada
Aksara.
Aksara tersenyum senang, dibalasnya uluran jari kelingking Ratu dengan
cepat. "Jadi, kita baikan nih?" tanya Aksara memastikan. "Lo enggak marah

lagi kan? Lo bisa pukul gue sekarang sepuas lo asal lo bisa maafin
kebodohan yang gue lakuin pada hari itu." ujar Aksara dengan nada menyesal.

Ratu menatap Aksara lekat. "Bagaimana bisa Ratu marah lama-lama sama
Aksara?" jeda sejenak. "Saat Ratu jatuh dulu, Aksara dengan mudahnya
mengulurkan tangan untuk Ratu agar bisa bangkit lagi, dan Ratu enggak
sejahat itu untuk bisa dengan mudahnya membuang Aksara dari bagian hidup.
Jadi, Aksara masih mau kan jadi sahabat Ratu?"

Aksara mengangguk sambil tersenyum walaupun tidak bisa dipungkiri
masih ada rasa sakit dihatinya saat mendengar ucapan Ratu. Aksara tidak
punya harapan lagi. "Bilang sama gue kalau dia bikin lo nangis lagi, gue
akan jadi orang pertama yang siap mukulin dia saat itu juga." ujar Aksara
dengan penuh penekanan.

Ratu mengangguk cepat. "Siap! Pokoknya Aksara akan selalu jadi salah
satu tempat pengaduan Ratu mulai sekarang!" jawab Ratu sambil sedikit
terkekeh. "Ngomong-ngomong, Rinai sakit." kata Ratu membuat Aksara
sedikit tersentak.

"Sakit? Terus dia dimana sekarang?!" Aksara bertanya cemas membuat
Ratu mengulum senyumnya.

"Ada di rumahnya. Aksara kesana aja, mungkin dia sakit karena Aksara."
ujar Ratu asal. Maaf ya Rinai.

Aksara menghela napas. "Kalau gitu gue temuin dia dulu. Lo mau ikut?"
tanya Aksara yang dibalas dengan gelengan. "Oke kalau gitu," jeda sejenak,
"Ratu? Gue boleh minta satu hal?" tanya Aksara hati-hati.

Ratu mengangguk. "Boleh. Aksara mau apa?" tanya Ratu sedikit ingin tahu.
Hening sejenak.
"Izinin gue untuk mengakhiri rasa sepihak ini dengan sebuah pelukan."
Aksara menatap Ratu dengan sedikit sendu. Sialan, kenapa gue jadi alay
gini sih!
Ratu tersenyum lalu mengangguk. "Iya Aksara, mari kita akhiri perasaan itu
dengan sebaik mungkin." jawab Ratu menyetujui.
Aksara menarik tubuh Ratu segera lalu memeluk gadis itu dengan erat.
Sial!!. Aksara benar-benar sakit. Sungguh, Ratu adalah cinta pertamanya.
Gadis itu benar-benar memiliki tempat dan arti sendiri dalam hidupnya.
Aksara memejam sejenak untuk mengingat kembali memori bahagianya
dengan Ratu. Ia harus pamit, ia yang mengawali berarti ia yang harus
menyudahi.
"Anak Garuda? Hebat. Tanpa perlu dicari, mangsa datang sendiri"

"Lepas! Ratu enggak kenal kamu"
"Oh, jadi nama lo Ratu. Gue Aksara"
Aksara tersenyum getir mengingat pertemuan pertamanya dengan Ratu.
Saat itu ia mulai percaya akan filosofi "jatuh cinta pada pandangan
pertama" dalam hidupnya. Andai ia datang terlebih dahulu dalam hidup Ratu,
sudah pasti ia akan jaga setengah mati hubungan ini seumur hidupnya.
"Aksara? Aksara ngikutin Ratu?!"
"Enggak usah takut, gue enggak bakal gigit lo" ujar Aksara.
"Terus? Ngapain Aksara ada disini?"
"Gue dari tadi ada dibelakang lo, tapi lo nya aja yang enggak sadar!
Jangan jalan sendirian sambil dengerin musik, apalagi dijalan raya gini,
bahaya"

"Pegangan, gue enggak mau nanti ditengah jalan tiba-tiba lo ketiup
angin. Nanti gue susah nemuin cewek kayak lo lagi"
"Aksara mau modus ya sama Ratu? Enggak mempan tau"
"Yaudah terserah, jangan salahin gue kalau nanti ditengah jalan tau-tau
lo udah di atas aja terbang kayak balon"
"Aksara curang!"

"Lo tahu? Gue akan hancurin siapapun orang itu yang udah buat wajah
cantik lo jadi kayak gini, gue enggak perduli walaupun lo larang gue
setengah mati. Orang itu udah buat gue lemah Ratu, gue lemah liat lo
terluka"
"Lima hari gue enggak ketemu lo, kenapa lo jadi tambah kurus gini?,
jangan-jangan lo galauin gue ya karena sangking kangennya. Oke deh,
kalau gitu gue akan tanggung jawab. Sekarang kita makan yang banyak!"

"Emangnya, Ratu ngerepotin Aksara banget ya?"
"Iya, lo ngerepotin gue banget. Gue enggak bisa tidur sampe subuh
gara-gara mikirin lo terus. Besoknya gue disuruh hormat bendera deh
gara-gara kesiangan, lo itu bener-bener NGE-RE-PO-TIN"
Aksara melepaskan pelukannya sambil menahan sesak di dada. Patah hati
pertama ini pasti akan selalu terkenang dalam hidupnya. Aksara menatap
Ratu setegar mungkin, matanya sudah memanas saat ini. Begitupun Ratu, ia
tahu di hati kecil gadis itu pasti sudah ada rasa sakit tersendiri yang ia miliki
untuknya.

"Ratu?"
"Iya?"
Hening sejenak.
...
...
"Gue pergi ya, jangan pernah sedih lagi, nanti bumi akan ikut menangis.
Maaf, laki-laki bodoh ini belum bisa jadi tempat akhir dari ujung cerita yang
rumit ini. Terimakasih Ratu, terimakasih karena pernah merasa perlu."
Aksara mengusap lembut wajah Ratu, lalu berbalik dan berjalan menuju
mobilnya dengan patah hati sedalam-dalamnya. Ia menyeka air mata yang
sudah lolos begitu saja di wajahnya. Lemah lo Ra!. Benar, Aksara merasa
lemah karena Ratu. Terserah bila kalian saat ini bilang bahwa Aksara
berlebihan atau pengecut sekalipun, tapi itulah kenyataannya. Ia tidak perduli.
Laki-laki juga punya perasaan kan?

TERUNTUK KAMU YANG PERNAH SINGGAH
Ada terlalu banyak memori bahagia dikepalaku saat mengingat setiap
rinci tentangmu.
Memori dimana waktu pertama kali kedua mata kita beradu tanpa
menunggu semesta bersetuju.
Memori dimana waktu pertama kali aku tahu siapa nama dibalik
seseorang yang membuatku terpaku.
Memori dimana waktu aku berpikir bahwa aku berhasil menempati hati
kecilmu, yang ternyata itu cuma khayalanku.
Hingga sampai, satu memori menyakitkan singgah karena ulahmu, dan
berhasil mengalahkan sebuah rasa yang aku cipta tanpa ikut campur
tanganmu.
Silahkan pergi,
Biarkan saja memori itu tinggal bersamaku.
Aku yang urus.
Terimakasih.
Terimakasih karena pernah merasa perlu.

(buka instagram @rajaratuwattpad untuk melihat videonya)

Ratu menatap nanar punggung Aksara. Ia tidak bisa membayangkan
bagaimana sakitnya perasaan laki-laki itu saat ini. Maaf Aksara, Maaf
karena Ratu lebih memilih melepas daripada mempertahankan. Aksara
pantas bahagia, dan bukan Ratu lah yang menjadi sumbernya. Selamat
tinggal Aksara, Ratu akan rindu.

"Lo bisa kejar dia sekarang, kalau lo enggak rela."
Ratu tersentak lalu menoleh ke belakang seketika. Raja?!. Ratu berjalan
mendekati Raja segera, ia takut Raja akan menjadi salah paham akan
perpisahannya dengan Aksara.
"Berhenti! Tetap disitu!" bentak Raja membuat Ratu menghentikan langkah
dengan reflek.
Ratu menatap Raja panik. "Raja?! Raja jangan salah paham, tadi itu Ratu
cum—"
"Kalau bahagia lo bukan saat bersama gue, lo bisa pergi Ratu. Jangan
bertahan dengan laki-laki brengsek satu ini yang bisanya cuma bikin lo nangis
tanpa henti."
"Raja! Jangan ngom—"
"Walaupun laki-laki satu ini brengsek setengah mati, tapi laki-laki ini
masih punya hati, Ratu. Pergilah, jangan buang waktu berharga lo lagi hanya
untuk berpura-pura bahagia. Jangan, Ratu."
Raja berbalik lalu berjalan meninggalkan Ratu. Bukan hanya Aksara yang
sakit, tapi ia juga. Bahkan, ia yakin sekali rasa sakit yang ia alami lebih besar
dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang Aksara miliki.
Lagi dan lagi, selalu seperti ini.
Ratu berlari mengejar Raja. Enggak! Ratu enggak mau lagi kehilangan
Raja!. Ratu memeluk Raja dari belakang dengan erat membuat Raja sedikit
terkejut. Ratu membenamkan kepalanya di punggung tegap Raja sambil
terisak. Baru saja kemarin dengan lantangnya ia menunjukkan rasa
beraninya kepada Fara, tapi sekarang? ia sudah kembali menjadi Ratu
yang lemah lagi, seperti kerupuk yang baru saja disiram dengan segelas
air. Ratu lemah!
"Harus berapa kali Ratu memohon kepada Raja untuk Raja enggak pergi
dari hidup Ratu? Harus bagaimana lagi Ratu meyakinkan Raja kalau cuma
Raja lah yang Ratu butuhkan dalam hidup Ratu? Harus bagaimana lagi Raja?

Harus bagaimana lagi Ratu berusaha untuk mempertahankan hubungan ini
dengan sebaik mungkin?"

"Udah enggak terhitung berapa kali Raja berbalik meninggalkan Ratu
sendiri, udah enggak terhitung berapa kali Raja setengah mati berusaha
mengusir Ratu tanpa memikirkan hati Ratu yang makin lama makin terkoyak
tanpa ampun ini, udah enggak terhitung Raja."

"Untuk apa Raja singgah kembali kalau hanya untuk meninggalkan Ratu
untuk kesekian kali? Untuk apa Raja? Selemah itu kah perasaan yang Raja
miliki untuk Ratu?"

"Ratu.. Ratu"
"Ratu capek Raja.."
"Raja.."
Hening sejenak.
...
...
"Apa Ratu harus nyerah?"

——————————————————————
1 KATA UNTUK PART INI !
LINK GROUP WA RAJA UNTUK RATU :
https://chat.whatsapp.com/JRxQ6obBKr8DRdC26uVc2O
FOLLOW INSTAGRAM
@rajaratuwattpad
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria

@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@edgar.ganesha
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader

MASIH ADA TOKOH GALIH dan SERGIO yang belum ada
roleplayer nya.
CHAT AUTHOR YA UNTUK YANG MINAT.

Bisa kalian klik di profile wattpad author ❗ ❤
kalau engga bisa di klik tolong chat author secara personal nanti aku
kirim lagi link nya, soalnya kalau di wall atau comment nanti klik nya

enggak bisa di klik lagi. terimakasih
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @rajaratuwattpad untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @rajaratuwattpad ! ! Disana author akan sering-sering post

spoiler bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

44. RAJA DAN RATU SATU SAMA

Say you love me
As much as I love you
Would you hurt me, baby?
Could you do that to me, yeah?
Would you lie to me, baby?
'Cause the truth hurts so much more
Would you do the things that drive me crazy?
Leave my heart still at the door?

I can't help it, I'm just selfish
There's no way that I could share you
That would break my heart to pieces
Honestly the truth is

If I could just die in your arms
Wouldn't mind
'Cause every time you touch me
I just die in your arms
Feels so right
So baby, baby, please don't stop, no

Die In Your Arms-Cover By Madilyn Bailey

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT
MEMBACA SEMUA ❤]

44. RAJA DAN RATU SATU SAMA
"Apa Ratu harus nyerah?"
Raja melepaskan kedua tangan Ratu yang sudah melingkar dipinggangnya,
tanpa mau berbalik menatap Rau. "Kalau itu bisa membuat rasa sakit lo
hilang, lakuin Ratu." jawab Raja tanpa berpikir panjang.
Ratu tertawa getir. "Baru juga kita balikan, sekarang Ratu diputusin lagi.
Gini banget nasib Ratu." ujar Ratu sekuat mungkin membuat Raja mengernyit.
"Gue enggak mutusin lo." Raja berbalik.
"Tapi?"
Raja menghela napas. "Gue cuma ngasih lo opsi. Kalau emang bertahan
sama gue itu hanya bisa membuat lo terus-terusan sakit, lo bisa pergi Ratu.
Gue enggak akan maksa lo untuk tetap tinggal lagi." jelas Raja.
"Itu sama aja Raja mutusin Ratu."
"Gue enggak mutusin."
"Mutusin."
"Enggak sayang."
"Enggak usah sayang-sayang deh, basi!" ketus Ratu membuat Raja
tersentak. Bagus, ada peningkatan.
"Emang sayang kok."
"Kalau sayang enggak akan nyuruh ninggalin."
"Terus gimana dong?" tanya Raja cuek sambil memancing emosi Ratu
dengan sengaja.
Ratu menghentakan satu kakinya dengan kasar. "Raja itu punya otak enggak
sih?!" bentak Ratu. Raja hanya memanggut. Terusin sayang, keluarin
semuanya, hajar aja kalau perlu. Raja membatin.
Ratu berdecih sambil berkacak pinggang. "Gelarnya si enggak salah-salah,
"MURID SEGUDANG PRESTASI!!", tapi soal kayak beginian otaknya
KOSONG MELOMPONG!!" Ratu mulai tidak terkontrol.
Raja memanggutkan kepalanya kembali. IYA SAYAANGG?! TERUSSSS
APALAGI APALAGIII?!!. Raja tetap diam, seperti seorang anak kecil yang
saat ini tengah dimarahi oleh Ibunya karena telah jajan sembarangan.
Ratu semakin tersulut emosi. Ditambah lagi hari ini adalah hari pertama
sang bulan datang mengunjunginya. "JUAL AJA ITU OTAK KALAU UDAH
ENGGAK ADA GUNANYA!" bentak Ratu kembali. MANTAPPP
SAYANGGG!

"SEKARANG TERSERAH RAJA AJA DEH MAU DIBAWA KEMANA
HUBUNGAN INI! RATU PUSING!!!" ujar Ratu membuat Raja
menggumamkan sebuah irama lagu dengan pelan yang masih bisa didengar
oleh Ratu. MAUUU DIBAWA KEMANAAAA HUBUNGAN KITAAA???

"RAJAAA!!!!!" teriak Ratu makin kesal. "Raja itu punya kuping enggak
sih?! Selain enggak punya otak ternyata Raja budek juga ya?! RAJA ITU
NYEBELIN TAHU ENGGAK! RATU ENGGAK SUKA RAJA! RATU
BENCI RAJA!!! POKOKNYA RATU ENGGAK MAU KENAL RAJA
LAGI!! PERGI AJA SANA TERSERAH!! " teriak Ratu dengan gamblang
dan disusul dengan rasa penyesalan sesudahnya.

"Udah marah-marahnya?"
Ratu mengangguk samar. Ia berusaha menormalkan gejolak emosi beserta
deru napas dalam dadanya. Ratu benar-benar mulai gila!. Andai saja ia
adalah seekor singa, pasti Raja sudah ia terkam tanpa ampun saat ini juga.
"Gimana perasaan lo kalau suatu saat lo liat gue pelukan sama cewek lain
dengan mata kepala lo sendiri?"
Deg.
"Raja salah paham, Ratu itu cum—"
"Gue tahu." potong Raja. "Gue denger semuanya." lanjut Raja.
"Konteksnya beda Raja." kata Ratu. Ia benar-benar sudah bingung
bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada Raja.
Raja memanggut memahami. "Oke, kalau suatu saat Fara minta pelukan
perpisahan kayak lo dengan Aksara, gue harap lo enggak keberatan." ujar
Raja membuat Ratu langsung menatapnya.
"Enggak!" protes Ratu cepat. Enak saja!
Raja menaikan satu alisnya. "Kenapa? Enggak rela? Itu yang gue rasain
saat ini, Ratu. Bukan lo doang yang punya hati. Gue juga." Raja menatap Ratu
lekat.
"Aksara bukan orang seperti Fara, Raja." bela Ratu membuat Raja
berdecih.
"Mereka berdua itu sama, Ratu. Sama-sama ingin memiliki seseorang yang
sudah termiliki."
"Jangan samain Aksara dengan Fara! Ratu enggak suka!" bentak Ratu tiba-
tiba. Ratu kelepasan.
Raja tertawa getir. "Oh, oke. Gue rasa kalimat lo barusan udah bisa
menjelaskan bagaimana isi perasaan lo ke cowok sialan itu." ujar Raja
membuat emosi Ratu naik kembali.

"KENAPA SI RAJA ITU SELALU BIKIN ASUMSI SENDIRI! KENAPA
SIH HATI RAJA ITU BATU BANGET! ENGGAK BISA YA SEKALI-KALI
NGERTIIN PERASAAN RATU WALAUPUN ITU CUMA SEDIKIT?!
RATU ENGGAK MINTA BANYAK KOK! KALAU GINI TERUS
MENDING KITA BREAK AJA SEKALIAN!" teriak Ratu tanpa sadar. Lagi-
lagi Ratu kelepasan.

"Yakin mau break?" tanya Raja dengan nada sesantai mungkin.
"Yakin."
"Enggak akan kangen?"
"Eng..Enggak!"
"Enggak akan nyariin lagi?"
"Apasih Raja! Enggak!"
Raja memanggut. "Oke, kalau gitu. Gue harap lo enggak akan ngamuk kalau
liat si Fara nemplokin gue melulu kayak nyamuk mulai besok. Lo sendiri kan
yang ngajak break?" tanya Raja memastikan.
Ratu menatap Raja tidak terima. "Enggak! Raja itu masih pacar Ratu! Jadi
enggak boleh deket-deket sama Fara!" protes Ratu kembali. Raja sialan!.
"Ratu cuma ngajak BREAK, bukan PUTUS!"
"Terus abis break langsung putus? Gue enggak mau buang-buang waktu,
Ratu." jeda sejenak. "Lagian, siapa tahu Fara bisa berubah kalau gue bimbing
dia sedikit demi sedikit. Lo sendiri kan yang bilang kalau gue itu cocok sama
dia? Mungkin gue akan pertimbangin Fara mulai sekarang." ujar Raja yang
tentu saja bercanda.
Ratu menggigit bibirnya. Aduh, gimana dong?! AH BODO AMAT!! RATU
UDAH ENGGAK PERDULI!!!! PERGI AJA SANA SAMA SI NENEK SIHIR
ITU! BIAR DIRACUNIN SEKALIAN!! EH... TAPI-TAPI ARGHH!! RATU
PUSING!! RATU ENGGAK RELA!!.
Ratu berdeham. "Ya.. yaudah kalau gitu, enggak jadi break-nya." jawab
Ratu tidak tahu malu membuat Raja tertawa geli dalam hati. ENGGAK APA-
APA RATU, ENGGAK USAH MALU, MASIH ADA SI PANCA MANUSIA
YANG LEBIH MALU-MALUIN DI DUNIA INI, ENGGAK APA-APA RATU,
SANTAIIIII...
Raja menarik tubuh Ratu ke dalam pelukannya. Hening sejenak, Raja
mengusap punggung Ratu pelan untuk menurunkan emosi gadis itu sekarang
ini. Ia marah, itu sudah jelas. Ia marah saat melihat laki-laki lain menyentuh
miliknya dengan mudah. Sudah tidak terhitung berapa kali ia melihat

kemesraan Ratu dan Aksara tanpa tidak sengaja. Apa Raja tidak berhak
untuk marah?

"Gue cemburu."
"Gue cemburu lihat lo disentuh laki-laki lain. Gue enggak rela, Ratu.
Bukan lo aja yang terluka, tapi gue juga. Walaupun gue terkesan cuek, dingin,
arogan atau seenaknya, tapi gue juga manusia yang punya hati sama kayak
kalian semua."
"Waktu gue nyuruh lo pergi, gue enggak main-main Ratu. Gue enggak mau
lo terus-terusan sakit kalau harus maksain hubungan ini. Bukan karena gue
enggak sayang, gue selalu sayang sama lo, Ratu. Gue cuma mau lo bahagia,
itu aja enggak lebih."
"Kalaupun memang lo bener-bener minta break. Oke, gue akan nurutin apa
mau lo. Mungkin lo memang udah capek saat ini, gue tahu lo butuh waktu.
Biar gue sekarang yang gantian berjuang untuk lo. Gue udah bilang kan, lo
enggak perlu ngejer-ngejer gue lagi. Gue enggak akan lari. Gue pergi bukan
berarti gue mau ninggalin lo, Ratu. Lo enggak perlu ngelakuin hal apa-apa
lagi. Udah cukup gue buat lo sampai secapek ini. Udah cukup."
Ratu menggeleng pelan. "Ratu enggak mau break." Ratu menjawab lontaran
panjang lebar Raja dengan satu kalimat singkat. Ia sudah tahu kemana arah
pembicaraan tersebut.
"Tadi katanya minta break?"
"Enggak jadi."
"Kenapa enggak jadi?"
"Ratu masih sayang sama Raja."
"Gue juga, walaupun lo bilang sayang gue basi."
"Maaf.."
Raja melepaskan pelukannya, lalu menangkupkan kedua tangannya di
wajah mungil Ratu. "Lain kali kalau memang punya unek-unek, keluarin aja
kayak tadi. Kalau perlu hajar sekalian, biar puas. Jangan kebiasaan mendem
segala sesuatu itu sendirian. Enggak baik." ujar Raja lembut lalu melepaskan
tangkupannya.
"Jadi, Ratu boleh ngehajar Raja?"
Raja mengangguk. "Boleh, dengan senang hati gue akan terima. Bahkan
kesalahan yang selama ini gue perbuat ke lo aja enggak pantes kalau hanya
dibalas dengan sebuah pukulan. Lo mau bunuh gue sekalian juga gue akan
terima, ya walaupun gue tahu lo pasti enggak akan sanggup." ujar Raja
percaya diri.

Ratu menghela napas. "Oke, Ratu sekarang mau pukul Raja. Kalau muka
Raja nanti sampe biru-biru, jangan salahin Ratu ya? Raja sendiri lho yang
minta." ujar Ratu sambil mengepalkan tangan kuat.

Raja mengangguk, lalu memejamkan matanya. "Pukul gue sepuas lo, kalau
perlu harus lebih keras daripada pukulan si para kutu badak itu, keluarin
semua amarah terpendam lo selama ini. Gue siap." ujar Raja.

"Oke, Ratu cuma mau ingetin Raja kalau ini pasti bakal sakit. Jadi, Ratu
enggak mau kalau nanti-nanti Raja ngerengek kesakitan sama Ratu. Ratu pasti
akan tutup kuping!" ujar Ratu dibalas dengan anggukan Raja. "Kalau gitu Ratu
mulai ya..." Raja mengangguk kembali lalu memejamkan mata serapat-
rapatnya. Tenang Raja, tenang.. walaupun kata orang, murkanya seorang
perempuan itu melebihi ganasnya seekor singa yang sedang kelaparan, lo
pasti bisa lewatin ini semua... lo pasti bisa!

Hening sejenak.
....
....
....
....
....
Cup. Ratu menjinjitkan kedua kakinya lalu mengecup bibir Raja dengan
seberani mungkin, membuat Raja membuka mata terkejut, lalu menatap Ratu
dengan tatapan tidak percaya beserta mulut yang sudah terbungkam. Raja
sama sekali tidak bisa bersuara. "Satu sama." kata Ratu sambil menyengir.
Ratu memundurkan langkah kakinya. "Ratu enggak mau buang-buang tenaga
cuma untuk mukulin Raja, mending tenaganya Ratu simpen buat ngelawan si
nenek sihir." jeda sejenak, Ratu memundurkan kembali langkahnya lebih jauh.
"Oh iya! Mau tahu enggak? Muka Raja sekarang ini lucu banget lho, Ratu
sampe enggak kuat lagi mau tahan ketawa Ratu. Maaf ya Raja!
HAHAHAHA!" Ratu meledek Raja sambil tertawa keras lalu berbalik dan
mulai berlari untuk menghindari Raja yang tanduknya sudah mulai terlihat.
HAHAHA RAJA DAN RATU SATU SAMAAA!!
Wah, luar biasa. Melihat Ratu yang seenaknya kabur setelah melakukan
ritual kecilnya, Raja tidak tinggal diam. Ia mengejar Ratu sambil mengumpat
dalam hati. Sial gue kecolongan!, "RATUUUU!!!!! JANGAN KABURRR!
WAH UDAH MULAI NAKAL YA!!!! HEYYY SAYANGGGGGGGGGG!!
BERHENTIII!!! JANGAN LARIIIII!!!!! ENGGAK MAU ABANG RAJA
BALESSSS NIH?!!!!!" teriak Raja tanpa tahu malu lagi.

Sedangkan dari kejauhan, masih ada sosok Aksara yang mengamati kedua
pasangan itu diam-diam dari dalam mobilnya dengan rasa sakit yang ia tahan
sekuat mungkin. Memang dari awal cerita ini hanya milik Raja dan Ratu,
bukan miliknya ataupun orang lain. Aksara menghela napas lalu
menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melaju pergi meninggalkan kedua
pasangan yang terlihat tengah berbahagia itu.

"Lo pantas bahagia, Ratu."

***
Pagi itu geng TEMPUR menghabiskan waktu bersama di rooftop SMA
GARUDA bersama dengan beberapa cemilan yang sebelumnya mereka beli
di kantin sekolah. Rapat guru memang adalah salah satu surganya para murid-
murid yang sudah jengah karena terus-terusan belajar tanpa henti. Mereka
memang butuh menyegarkan otak sejenak, khususnya untuk anggota geng
TEMPUR yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional dan mengikuti
tes untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Ah, mereka tidak
sabar.
Elang meregangkan ototnya sambil membuang napas kasar. "HHHHHHH
otak gue bisa mampet lama-lama kalau tiap hari harus berkutat sama
kumpulan para soal yang mengerikan itu." keluh Elang.
"Nikmatin aja." jawab Raja sambil menegak sebotol air mineral.
Angkasa menghela napas. "Enggak kerasa ya, sebentar lagi kita harus cabut
dari GARUDA." kata Angkasa membuat suasana sedikit terasa sendu.
Panca yang sedari tadi mencoret-coret bukunya dengan tidak jelas,
akhirnya ikut membuka suara. "Bisa berkurang deh stok cogan di GARUDA."
celetuk Panca yang masih narsis seperti biasanya.
"Pak Kumis sama Bu Sri pasti merdeka banget, karena enggak ada lagi
yang bakal ngerusuhin Warkop mereka, kayak kita-kita ini." ujar Dirga
membuat mereka tertawa kecil.
"Namanya hidup, harus tetap berjalan. Lagian, walaupun kita semua cabut
dari GARUDA, geng TEMPUR pasti akan selalu ada." ujar Raja bijak.
Elang menyunggingkan senyumnya. "Masih inget kan sama perjanjian
sakral yang udah kita berlima buat? Gue harap diantara kita semua enggak
ada yang tiba-tiba amnesia dadakan sampe harus gue ingetin lagi untuk kedua
kalinya." timpal Elang sambil berusaha mengingatkan.


Click to View FlipBook Version