The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tresia - Raja untuk Ratu

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN DIGITAL GRAHA PUSTAKA, 2022-02-16 21:09:03

Raja untuk Ratu

Tresia - Raja untuk Ratu

"RATUUUUU!!!"
"AAAAAAAAAAAAAAAKHHHHH!"
Dirga dan ketiga temannya terlonjak kaget saat mendengar teriakan Raja.
Panca segera menepuk-nepuk dadanya untuk menenangkan jantungnya. Elang
mengusap keringat yang sudah membasahi dahinya dengan lemas sambil
mengatur deru napasnya. Sedangkan Angkasa, saat ini tengah meneguk habis
sebotol air minum yang ada di atas meja tanpa jeda. Dan di sisi lain, Dirga
menatap Raja gusar karena telah membuatnya seperti seseorang yang telah
memakan senjatanya sendiri.
Raja mengernyitkan dahinya heran saat melihat tingkah aneh keempat
temannya. Ditambah lagi Dirga yang saat ini menatapnya dengan kesal yang
membuat Raja makin bingung. Pada kenapa sih?
"Lo semua kenapa sih? Kayak abis ketemu hantu aja!"
celetuk Raja membuat keempat temannya tertohok.
Panca melempar bantal yang ada didektanya ke wajah Raja. "Lo ngapain
sih teriak-teriak?! Teriakin Ratu lagi, lo itu ya, enggak di dunia nyata, enggak
di dunia mimpi, masih aja berantem sama Ratu" cemooh Panca.
"Makanya kalau kangen itu bilang, jangan malah dikasarin" timpal Dirga
kesal.
Angkasa melirik Raja. "Mimpi apaan lo sampai teriak-teriak gitu?" tanya
Angkasa. "Jangan-jangan mimpi yang aneh-aneh ya lo!" Angkasa
memicingkan matanya.
Raja menghela napas tanpa memperdulikan ucapan Angkasa. Ia mengingat
mimpinya sejenak. Dalam mimpi itu, Raja tengah berdiri di dalam hutan sepi.
Ia berjalan kesana kemari untuk mencari jalan keluar, dan saat itu juga tiba-
tiba terdengar suara Ratu tengah memanggil-manggil namanya.
"RAJAA KAMU DIMANA RAJA"
Raja yang mendengar suara Ratu, segera ia mencari asal sumber suara
itu. Tapi, Raja tidak menemukan Ratu sama sekali.
"RAJA TOLONG RATU RAJA!!!"
Raja yang semakin panik, akhirnya membalas teriakan Ratu "RATU
KAMU DIMANA?!!RATUU "
"AKHH SAKITTT!! RAJA TOLONG!"
Raja terus berlari mencari Ratu, tak perduli ia sampai terjatuh dan
terluka. Setelah mencari Ratu kesana kemari, dari kejauhan dengan
samar-samar ia melihat sosok gadis yang sangat dikenalnya. Gadis itu
tengah berdiri diujung tebing yang curam sembari tersenyum kearahnya.

Direntangkannya kedua tangan gadis itu seolah meminta Raja untuk
memeluknya. Raja berjalan perlahan menghampirinya, dan saat Raja
sudah semakin dekat, gadis itu menutup matanya lalu menjatuhkan
tubuhnya sendiri ke jurang, Dan saat itu juga Raja meneriaki nama gadis
itu.

RATUUUUU!!
Raja memijat pelipisnya, ia tak mengerti kenapa dua hari ini bayangan
Ratu gencar menghampirinya. Apakah ini yang dirasakan saat ingin menuju
fase move on? . Yang benar saja? Ia bisa gila bila harus bermimpi buruk tiap
harinya. Mimpi buruk? Raja jadi mengingat sesuatu.
"Raja, ini Ratu bawain nasi goreng kesukaan Raja. Jangan lupa
dimakan ya" Ratu menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna biru muda
kepada Raja yang sedari tadi mengabaikannya.
"Oh iya, Ratu bawain vitamin untuk Raja juga. Jangan lupa diminum ya,
besok kan Raja ada pertandingan. Semangat ya" Raja masih mengabaikan.
"Terus Ratu jug—"
Raja yang makin jengah akhirnya menepis kotak bekal tersebut dengan
kasar hingga berserakan di lantai. "MAKANAN SAMPAH!" teriak Raja
membuat Ratu terkejut.
Ratu menatap nanar nasi goreng yang sudah susah payah ia masak
untuk Raja. "Mau Raja itu apa?! Ratu tau Raja benci banget sama Ratu
sekarang, tapi seenggaknya tolong hargain usaha Ratu untuk perbaikin ini
semua" Ratu terisak, ia tak perduli bahwa saat ini dirinya tengah menjadi
pusat perhatian seisi kantin sekolah.
Raja menuju Ratu yang sedang memungut kotak bekalnya yang telah
berserak bersama dengan isinya di lantai, sembari menangis. Raja
berjongkok lalu sorot tajam matanya bertemu dengan kedua manik mata
Ratu.
"Lo nanya mau gue apa?"
Ratu mengangguk lemah dan menatap Raja sendu.
"Lo pergi dari muka bumi ini secepatnya"
"Karena..."
"Lo itu cuma mimpi buruk di hidup gue, Ratu setia Wijaya"

27.MAJU ATAU BERHENTI SEKARANG?

Give me love like never before
'Cause lately I've been craving more
And it's been a while but I still feel the same
Maybe I should let you go
You know I'll fight my corner
And that tonight I'll call ya
After my blood is drowning in alcohol
No I just wanna hold ya
Give a little time to me or burn this out
We'll play hide and seek to turn this around
All I want is the taste that your lips allow
My, my, my, my, oh give me love

Give me love-Cover by Crossanchorfilm

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]

27.MAJU ATAU BERHENTI SEKARANG?
PRANG!
PRANG!
"BANGSAT!!"
Raja membanting satu-persatu barang yang ada didalam rumahnya. Ia
benar-benar murka, sisi gelapnya sudah menyelimuti dirinya saat ini dan siap
membunuh siapapun kapan saja. Terutama untuk lelaki yang sudah berani
membuat Ratu menjadi seperti ini, Raja Gemilang bersumpah akan
menjemput kematian laki-laki itu beserta orang-orang yang ikut campur
tangan dalam kejadian ini segera mungkin, dengan cara yang kejam dan tanpa
ada kata ampun sekalipun. Satu hal lagi yang perlu diingat, tangannya sendiri
lah yang akan membereskan para bedebah itu.

Panca, Dirga dan Elang hanya bisa menonton tanpa sedikitpun berani
membuka suara saat melihat kegilaan Raja saat ini. Sesekali, mereka
meneguk saliva masing-masing saat melihat Raja dengan gampangnya
menghancurkan guci-guci mahal yang ada di dalam rumahnya, ditambah lagi
yang mereka tahu harga guci-guci tersebut berkisar sekitar lima ratus juta
keatas, sesuai dengan modelnya masing-masing. Raja benar-benar gila!

"Lang! Jemput Rinai kesini sekarang juga!" perintah Raja.
Elang yang hendak ingin protes, segera mungkin ia mengurungkan niatnya
saat melihat Raja tengah menatapnya tajam sambil menggenggam pecahan
guci tajam ditangannya. Baru kali ini Elang benar-benar takut dengan Raja,
The power of Ratu Setia Wijaya!, tanpa ingin membuat Raja makin murka,
dengan segera ia mengambil jaket dan kunci motornya lalu keluar begitu saja.
"Lo," Raja memandang Panca. "Pergi ke rumah Ratu sekarang, dan kasih
penjelasan apapun dengan tante Sinta biar dia enggak khawatir nyariin
anaknya. Gue mau Ratu tinggal disini beberapa hari." ujar Raja.
Tanpa protes sedikitpun Panca segera melaksanakan perintah Raja. Tak
ada yang lebih baik lagi selain menuruti perkataan Raja untuk saat ini, Panca
masih sayang nyawanya!
Tanpa menunggu perintah Raja, Dirga akhirnya memutuskan untuk
bertindak sesuai inisiatifnya sendiri. "Gue ke Warkop dulu kalau gitu, nemuin
Bima dan Gamal." ujar Dirga lalu dibalas anggukan dengan Raja.
Melihat ketiga temannya sudah pergi, dengan langkah lebar ia menaiki
tangga menuju kamarnya untuk melihat keadaan Ratu. Kalau saja ada predikat
laki-laki terbodoh sedunia, ia akan mencalonkan dirinya sendiri saat itu juga!
Angkasa sangat benar, ia memang pintar dalam soal akademik tapi terlalu
bodoh untuk soal perempuan, khususnya dalam hal melindungi perempuan
yang ia cintai. Ia benar-benar gagal!
Ratu mengedarkan pandangan ke seisi ruangan yang sangat awam untuknya
dengan penuh banyak pertanyaan dikepalanya. Saat ini, ia tengah terbaring
diatas ranjang yang menurutnya sangat nyaman dengan masih menggunakan
seragam sekolah ditubuhnya.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan kasur yang empuk seperti ini.
Maklum saja lah, di tempat tinggalnya sekarang ia hanya tidur di bawah
lantai dengan beralas kasur tipis yang sudah disediakan oleh sang pemilik
kontrakan. Tapi, bagaimanapun itu ia tetap bersyukur dibanding harus tidur di
jalan bersama dengan angin malam dan kawan-kawannya, Ia tidak akan
kuat!.

Ratu dimana? Jangan-jangan, Ratu udah di surga? Tapi kok enggak ada
malaikat gantengnya? Ah, semoga aja malaikat gantengnya mirip oppa-
oppa yang selalu diceritain Rinai! Hm.. siapa ya namanya? Cha.. cha eun..
duh siapa sih! Cha-eun-woo? Cha eun woo!! Ah iya iya! Cha eun woooo
oppaaa! Sarangheooo oppa <3

Tiba-tiba, pintu ruangan tersebut terbuka dan membuat Ratu menoleh
seketika. Ia melihat sosok laki-laki tampan dibaluti seragam sekolah yang
sama dengannya, tengah berjalan menujunya. Tuhan, apa dia malaikat surga
untuk Ratu?

Ketika jarak lelaki itu makin dekat dengannya, terlihat jelas sudah wajah
lelaki itu. Ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, Raja? Oh tidak,
bahkan di surga pun ia tidak dibiarkan untuk moveon dengan mudah
begitu saja, sungguh malang kamu Ratu. Bye oppa!

Ratu menatap Raja dengan sedih saat ini. Bahkan, ia belum berpisah
secara baik-baik sebelum ia pergi selamanya dari hidup laki-laki itu. Apa
Raja di bumi baik-baik aja? Dia merasa kehilangan Ratu enggak ya?

Ratu pun terlarut dengan pikirannya sendiri. Masih banyak pekerjaan yang
harus ia lakukan di bumi. Belum lagi soal Bunda dan Ayah, mereka pasti
sudah menangisi dirinya saat ini. Rinai? Aksara? Geng Tempur? Bagaimana
keadaan mereka sekarang? Oh tidak!, Bahkan ia belum sempat
mengundurkan diri dari caffe tempat ia bekerja. Sudahlah, ia harus
menerima dengan lapang dada semua ini.

Bagaikan air yang dilempar sebuah batu, lamunan Ratu buyar begitu saja
saat merasakan tubunya tengah dipeluk hangat dari seseorang. Raja? RAJA
MELUK RATU?!! YA TUHAN, KALAU BEGINI CERITANYA, DARI DULU
RATU SIAP DEH DITELEPORTASI KE SURGA SEGERA MUNGKIN! RAJA
KU SAYANGG I'M COMING!!

Dengan pipi yang sudah bersemu merah, ia membalas pelukan Raja erat
bersama senyuman yang sedari tadi tak henti menghiasi wajahnya. Ratu
memejamkan matanya dan mengendus-ngendus aroma tubuh Raja yang selama
ini sudah lama ia rindukan. Ah, peppermint!

Ratu menghela napas panjang. "Kalau gini sih, Ratu pasti betah tinggal di
sini. Ternyata, surga memang benar-benar indah." ujar Ratu.

Raja melepaskan pelukannya seketika, ia menaikan satu alisnya dan
menatap Ratu dengan heran. Perasaan kalut yang sedari tadi membalutinya
pun tiba-tiba lenyap begitu saja. "Lo baik-baik aja kan?"

Ratu tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan Raja. Ia mengusap wajah
lelaki itu dengan lembut dan memperhatikannya dengan lekat-lekat. "Syukur
deh, Raja yang di surga beda dengan yang di bumi. Berarti, disini Ratu
enggak usah repot-repot cari cara buat moveon" ujar Ratu.

Raja terkekeh geli dalam hati saat mendengar ucapan polos Ratu.
Disentilnya kening Ratu hingga gadis itu meringis sambil memunculkan wajah
cemberutnya yang sama sekali tidak berubah dari dulu hingga sekarang.
Menggemaskan!

"Cewek bodoh! Lo itu masih hidup dan masih tinggal di bumi. Lagian,
mana ada surga yang mau nampung cewek bodoh kayak lo gini!" ujar Raja.

Ratu terlonjak kaget dan bangun seketika saat mendengar ucapan Raja.
Dipandangnya sekali lagi seisi ruangan yang dia anggap surga sebelumnya.
Ja..jadi, Ratu masih hidup? Terus ini dimana? Kok bisa ada Raja?, Ratu
menepuk-nepuk wajahnya berkali-kali.

"Ini di rumah gue." kata Raja seolah bisa membaca pikiran Ratu saat itu
juga. "Lain kali kalau punya masalah, jangan bikin susah orang lain!"

Ratu mencoba mencerna perkataan Raja. Ia tidak benar-benar mengerti
maksud dari ucapan lelaki itu. Sejenak, ia mencoba mengingat-ngingat apa
yang terjadi kepada dirinya, dan kenapa tiba-tiba ia bisa ada di dalam rumah
Raja. Meski kepalanya masih terasa sakit saat ini, sekeras mungkin ia harus
mencoba.

"RATU BENAR-BENAR KECEWA DENGAN KALIAN BERDUA!
SAHABATAN AJA SAMA EGO KALIAN SENDIRI, JANGAN SAMA
RATU!!!!!!"

Ratu mengingat bagaimana pertengkaran Anggi dan Rinai saat di taman
belakang sekolah saat itu. Setelah ia meneriaki kedua sahabatnya, ia segera
berlari menuju halte untuk pulang ke rumah. Pulang? Enggak! Ratu enggak
jadi pulang waktu itu, terus Ratu kemana?

Mata ratu membulat ditangkupkan satu tangannya kemulutnya. Sergio?,
Ratu ingat bagaimana ia mendapatkan sosok laki-laki itu tengah berdiri
menatapnya dengan tajam di sebrang jalan. Saat itu juga, ia berlari cepat
menjauhi laki-laki itu. Tapi, ternyata laki-laki itu tak membiarkan dirinya
pergi dengan mudah. Sergio mengejarnya!

"Udah puas kaburnya?"
"Aku Senja kak, kelas X5! Kenalannya kita lanjutin nanti aja ya! Kita
harus kabur kak!"
Kita harus mencar sekarang! Laki-laki itu berbahaya!"

"KAK DIA MASIH NGEJAR-NGEJAR KITA!!"
"Senja, kita berdua harus berpencar sekarang! Dia cuma mau ngejar
Ratu, Senja harus pergi sekarang!"
"SENJA!!!!!"
"GUE AKAN SELALU BIKIN HIDUP LO MENDERITA, SAMPE LO
MOHON-MOHON KE GUE UNTUK CIPTAIN KEMATAIN UNTUK LO
SENDIRI."
"INI YANG AKAN GUE LAKUIN KE SEMUA ORANG TERDEKAT LO!
GUE ENGGAK AKAN MAIN-MAIN!"
Ratu menggeleng cepat seolah tidak mau percaya dengan apa yang ia ingat.
Senja? SENJA! RATU HARUS CARI SENJA!. Tanpa memperdulikan Raja
sama sekali, dengan cepat ia beranjak berdiri dan hendak pergi mencari
Senja saat itu juga.
Raja menghela napas panjang melihat sikap Ratu. Ia tahu benar gadis itu
ingin mencari Senja saat ini. Raja mencengkram lengan Ratu lalu menarik
gadis itu kedalam pelukannya.
Ratu memberontak seketika. "Lepasin Raja! Ratu harus cari Senja sekarang
juga! Senja Alana X-5, rambutnya panjang, tubuhnya engg—-"
"Dia ada di kamar sebelah." potong Raja. "Dia lagi tidur, dan lo lebih baik
jangan ganggu." ucap Raja sebelum gadis itu memberontak kembali. "Jangan
bikin orang lain tambah susah karena lo."
Hati Ratu mencelos saat itu juga. Ia memang benar-benar menjadi beban
untuk semua orang. Sergio? Laki-laki itu memang sakit jiwa! Ia harus
menyelesaikan permasalahannya dengan laki-laki itu secepat mungkin, agar
tidak ada lagi orang yang terluka karena dirinya.
"Ma..maaf, Ratu enggak ad—-"
"Jangan bikin gue tambah gila, Ratu."
Deg
Ratu mematung saat mendengar perkataan Raja. Gila? Apa Raja
mengkhawatirkan dirinya?. Pelukan Raja yang makin erat pun sangat terasa
ditubuhnya. Bukannya Raja benci Ratu?
"Laki-laki itu," Jeda sejenak. "Gue akan cari dan siksa dia sampai mati,
Ratu. Itu sumpah seorang Raja." Raja menggertakan giginya keras.
Ratu menggeleng cepat dalam pelukan Raja. Ia benar-benar tidak akan
mengizinkan Raja melakukan itu, ia tidak ingin orang yang ia cintai terluka
sedikitpun. "Enggak.. Raja.. jangan," suara Ratu mulai tercekat.

"Walaupun gue harus mati saat dendam gue terbalas, gue akan tetap
memilih kematian itu sendiri Ratu, dibanding gue harus hidup dengan rasa
yang tersiksa, karena sama sekali enggak berbuat apa-apa saat melihat orang
yang gue sayang jadi seperti ini."

"Gue bersumpah Ratu, mau dia lari atau sembunyi ke lubang sekecil
apapun, gue pasti akan cari dia."

Air mata Ratu lolos begitu saja tanpa ia kira. Apa Raja masih
mencintainya? Apa masih ada sosok dirinya dalam hati Raja? Jangan
permainkan Ratu lagi, Raja!

"Jadi, tolong berhenti buat hidup gue makin tersiksa Ratu. Gue.."
Deg
Deg
"Gue enggak sanggup kehilangan lo."
Hah? Apa Ratu tidak salah dengar? Benarkah Raja tidak sanggup
kehilangan dirinya? Selama ini kan Raja hanya selalu mengusirnya!
"Jangan pernah lari kedalam pelukan laki-laki lain, saat lo butuh
perlindungan."
Deg
"Jangan pernah pinjam pundak laki-laki lain, saat lo butuh tempat untuk
numpahin segala kesedihan."
Deg
"Jangan pernah pinjam punggung laki-laki lain, saat lo udah lelah untuk
berjalan."
Deg
"Jangan pernah menggenggam tangan laki-laki lain, saat lo merasa udah
kehilangan arah."
Deg
"Jangan pernah Ratu.."
"Jangan pernah membuat semua janji yang ada didalam cerita kita berdua,
dengan orang lain. Sampai kapan pun, janji-janji itu hanya milik cerita kita,
dan cuma gue dan lo yang berhak membayar semua janji itu."
"Gue emang enggak bisa mencintai lo sepenuhnya seperti dulu lagi, masih
ada luka yang menggerogoti hati gue saat ini."
"Tapi, satu hal yang harus lo tahu dan tanam baik-baik di otak lo yang
kadang bodoh itu. Gue, Raja Gemilang enggak akan biarin laki-laki lain
masuk dalam hati lo, walau sekecil apapun celahnya, termasuk seorang
Aksara sekalipun."

Ratu yang sedari tadi hanya diam, akhirnya membuka suara pelan. "Jangan
egois Raja"

Raja melepaskan pelukannya dan ditatapanya Ratu dengan tajam. "Gue
emang egois Ratu, tapi sayangnya cuma laki-laki egois ini yang lo cinta
dengan bodohnya. Jadi, jangan salahin gue. Salahin diri lo sendiri yang udah
berhasil bikin gue segila ini."

Raja mengusap lembut wajah Ratu. "Sekarang, lo lebih baik istirahat lagi.
Supaya,—" Raja mencubit pipi gadis itu dengan gemas. " Supaya otak lo
enggak konslet kayak tadi. Jangan lupa, lo masih di bumi. Cuma gue yang bisa
izinin lo naik ke surga kapan. Jadi, jangan terlalu banyak berkhayal! Tuhan
pasti lebih dengerin permohonan gue, daripada cewek bodoh kayak lo!"
cemooh Raja, lalu beranjak keluar meninggalkan Ratu yang masih mencoba
mencerna semua perkataan Raja.

Ratu benar-benar merasa gila saat ini. Warna hitam yang membaluti
hubungannya dengan Raja, perlahan berubah warna menjadi abu-abu.
Pertanda baik atau pertanda buruk?

Akankah semua ini membuat dirinya bangkit kembali? Atau malah akan
membawanya jatuh ke lubang yang lebih dalam dari sebelumnya?

Dulu ia membiarkan sang waktu yang bekerja untuk memulihkan
hatinya, tapi sekarang? Waktu benar-benar berhasil mempermainkannya!

Jadi, pertanyaannya adalah.. maju atau berhenti sekarang juga?
Raja membuatnya GILA!
——————————————————————————
LINK GROUP WA RAJA UNTUK RATU :
https://chat.whatsapp.com/JRxQ6obBKr8DRdC26uVc2O

Bisa kalian klik di profile wattpad author ❗ ❤
kalau engga bisa di klik tolong chat author secara personal nanti aku
kirim lagi link nya, soalnya kalau di wall atau comment nanti klik nya

enggak bisa di klik lagi. terimakasih
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @rajaratuwattpad untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @rajaratuwattpad ! ! Disana author akan sering-sering post

spoiler bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

28. SELAMAT TINGGAL PERI PENJAGA

There's a part of me I can't get back
A little girl grew up too fast
All it took was once, I'll never be the same
All the pain and the truth
I wear like a battle wound
So ashamed, so confused
I was broken and bruised
Now I'm a warrior
Now I've got thicker skin
I'm a warrior
I'm stronger than I've ever been

Warrior-Demi Lovato

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]

28. SELAMAT TINGGAL PERI PENJAGA
Aksara mendaratkan pukulan kepada satu persatu anggotanya. Harga
dirinya sebagai seorang pemimpin SAKTA (PASUKAN PERMATA) benar-
benar merasa dijatuhkan. Bisa-bisanya mereka semua bekerja sama untuk
menutupi suatu hal besar darinya.
"SIALAN!!"
"SIAPA YANG PERINTAHIN KALIAN UNTUK TUTUP KASUS INI
DARI GUE?! PEMIMPIN KALIAN YANG SEBENARNYA ITU SIAPA
HAH?!" teriak Aksara.
Semua anggota PASUKAN PERMATA hanya bisa diam tanpa berani
membalas pukulan dari sang ketua. Mereka semua sadar, semua ini memang
murni salah mereka. Aksara Prabudi, sosok ketua yang sangat mereka segani
karena kebijakan dan kesabaran yang ia miliki, kali ini benar-benar

menampakkan sisi liarnya. Bisa mereka lihat ada rasa kecewa yang sangat
dalam dari sorot mata sang ketua kepada mereka semua.

"Gue yang perintahin mereka semua untuk tutup kasus itu dari lo. Jangan
salahin mereka, gue yang salah."

Suara seorang laki-laki dari balik pintu membuat Aksara menoleh dengan
segera, Aldi?. Tanpa aba-aba lagi, Aksara menarik tubuh Aldi dan
menghajarnya dengan bertubi-tubi.

"BANGSAT! GUE ENGGAK PERDULI WALAUPUN LO TEMAN
TERDEKAT GUE SEKALIPUN! LO UDAH BENAR-BENAR SALAH
LANGKAH ALDI!"

Aldi tak berniat sama sekali membalas pukulan Aksara. Ia salah, itu sudah
jelas. Andai saja waktu itu ia tidak berjanji kepada Ratu untuk menutupi hal
ini dari Aksara, pasti lelaki itu tak akan sekecewa ini kepadanya. Tapi mau
apalagi? Laki-laki sejati harus menepati janjinya bukan?

Aksara menghempaskan tubuh Aldi kasar. Ia mengedarkan pandangan
tajam ke seisi markas. "Dimana Sergio?" tanya Aksara dingin.

"Semenjak kejadian itu, Sergio enggak pernah ke markas lagi bang, dia
juga enggak masuk ke sekolah." jawab Bagas.

Aksara tersenyum miring sambil bertepuk tangan keras. "Si banci itu,"
Jeda sejenak. "Benar-benar menjemput kematiannya sendiri." ujar Aksara
membuat semua anggotanya bergidik ngeri.

"Mulai sekarang," Jeda sejenak. "SERGIO ADITYA, BUKAN LAGI

BAGIAN DARI SAKTA!" tegas Aksara membuat seisi markas menatapnya
dengan terkejut. "Ini peringatan untuk kalian semua, jangan karena selama ini
gue sebagai ketua selalu baik dan ngelindungin setiap kesalahan yang
anggotanya perbuat, kalian bisa seenaknya injak harga diri seorang ketua
dengan cara yang tidak sangat amat pantas sebagai seorang laki-laki!"

"Bukan hanya Sergio,"
Seisi markas makin menegang saat mendengar ucapan menggantung dari
Aksara. Mereka benar-benar tidak ingin didepak dari SAKTA. Menjadi
bagian dari SAKTA adalah salah satu kebanggan dari diri mereka sendiri.
Selain itu, SAKTA sudah seperti menjadi keluarga kedua untuk mereka semua
saat ini.
"Galih dan Satria, silahkan keluar dari markas sekarang." lanjut Aksara
membuat seluruh anggota makin terkejut. Reflek semua pandangan mengarah
kepada Satria dan Galih yang saat ini sudah memucat dengan kaki yang sudah
melemas.

Galih menghampiri Aksara lalu menangkupkan kedua tangannya. "Bang,
gue mohon jangan keluarin kita berdua dari SAKTA." mohon Galih. "Kita
berdua bakal berusaha memperbaiki kesalahan kita bang." suara Galih mulai
tercekat.

Satria hanya menunduk terdiam. Keputusan Aksara bagaikan dentuman
keras dihatinya. Perjuangan dirinya untuk menjadi bagian dari SAKTA
tidaklah mudah, begitu juga dengan anggota yang lainnya. Jujur saja, rasa
kecewa pun tak cukup untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

"Sa, tolong jangan ambil keputusan disaat lo lagi emosi kayak gini." Aldi
ikut membuka suara. "Pikirin baik-baik lagi, gue mohon." pinta Aldi.

Semua anggota hanya bisa menunduk sedih. Perbuatan Satria dan Galih
yang membawa Ratu ke markas tanpa persetujuan Aksara memang sangat
salah. Tapi, mereka yakin kedua lelaki itu sangat menyesali perbuatannya.

Tanpa perduli, Aksara membalikan badannya dan berjalan menuju pintu
keluar markas. Mereka yang melihat hanya bisa menatap pasrah dan
menerima dengan lapang dada atas keputusan sang ketua. Mereka tahu,
dibalik semua tindakan pasti ada resiko yang harus dipertanggung jawabkan.

Aksara menghentikan langkah kaki seketika. Tanpa berbalik, ia akhirnya
membuka suara kembali. "Kalian berdua," Jeda sejenak. "Bersihin markas
selama satu bulan penuh, dan jangan pernah menjadi orang bodoh untuk kedua
kalinya." ujar Aksara lalu melanjutkan kembali langkahnya keluar dari
markas.

Seluruh anggota yang sempat tercengang, akhirnya bersorak lega saat
mendengar ucapan sang ketua. Aksara memang sosok ketua yang bijak, dan
mereka bersyukur memiliki sosok Aksara sebagai pemimpin mereka. Galih
dan Satria memang pantas diberikan kesempatan, selama ini kedua lelaki itu
memang sama sekali tidak pernah mencari masalah dengan siapapun.
Mungkin, kejadian ini bisa menjadi suatu pelajaran untuk mereka
kedepannya.

Aldi segera merangkul Galih dan Satria yang saat ini tengah merosot lega
sembari mengusap dada masing-masing. Aldi tahu, Aksara hanya memberi
gertakan kepada kedua lelaki itu agar mereka bisa berubah menjadi orang
yang lebih baik dari sebelumnya, dan tidak akan menyia-nyiakan lagi yang
namanya sebuah kepercayaan.

Galih dan Satria pun berjanji tidak akan pernah menjadi orang bodoh untuk
kedua kalinya. Mereka sangat bersyukur masih diberikan kesempatan oleh
Aksara untuk berubah. Aksara memang benar-benar menyadarkan mereka

bahwa semua orang berhak mendapatkan yang namanya kesempatan kedua
untuk berubah dan mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah mereka
perbuat. Terimakasih ketua!

***
Senja membuka mata perlahan, kepalanya terasa sakit saat ini. Ia
mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, ini dimana?. Samar-samar ia
melihat sosok laki-laki berjalan menujunya. Kak Angkasa?
Angkasa menghela napas lega. "Syukurlah lo udah sadar, lebih baik lo
minum dulu." Angkasa membantu Senja untuk bangun dan memberinya
segelas minum.
Senja meneguk segelas air tersebut tanpa jeda, ia benar-benar sangat haus.
"Maaf kak, tapi ini dimana ya?" tanya Senja kepada Angkasa.
"Ini dirumah Raja." jawab Angkasa.
Senja membulatkan matanya. "Apa?! Kak Raja? Kok aku bisa disini sih?"
Senja menatap Angkasa serius.
Angkasa memijit pelipisnya lelah. "Emangnya lo enggak ingat sama sekali
terakhir kali lo ada dimana dan kenapa?" tanya Angkasa.
Senja mulai mengingat-ngingat apa yang terjadi terakhir kali sambil
memegangi kepala nya yang masih terasa sakit. Ia menceritakan kepada
Angkasa mulai dari kenapa ia bisa pulang sesore itu karena menggantikan
tugas piket Raya secara dadakan.
Saat dia pulang, ia memutuskan untuk berjalan menuju persimpangan dan
mencari angkutan umum disana, dan pada saat itu juga, ia melihat seorang
gadis tengah dikejar oleh laki-laki berjaket hitam dengan tubuh yang tegap,
lalu memakai topi beserta masker hingga ia tak bisa mengenali siapa lelaki
itu.
Melihat gadis itu tengah dikasari, tanpa berpikir panjang ia mengambil
sebuah kayu besar dan memukul punggung lelaki itu hingga lengah. Tanpa
basa-basi lagi ia menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi saat itu
juga.
"Aku Senja kak, kelas X5! Kenalannya kita lanjutin nanti aja ya! Kita
harus kabur kak!"
"Kita harus mencar sekarang! Laki-laki itu berbahaya!"
"ENGGAK!! Aku enggak mau ninggalin kak Ratu sendiri! Ayok kita ke
sekolah sekarang, disana pasti aman dan ada satpam!"
Kak Ratu?

Senja membulatkan matanya lalu menatap Angkasa dengan sorot mata
takut. "KAK RATU!!! KAK RATU DIMANA KAK?! Dia..tadi..Enggak! Kak
Ratu pasti.." Senja mulai panik.

Angkasa yang melihat tubuh Senja sedikit gemetar, dipeluknya gadis itu
dan mulai menenangkannya. "Ratu baik-baik aja, dia ada di kamar sebelah"
kata Angkasa sambil mengusap lembut punggung gadis itu.

"GUE AKAN SELALU BIKIN HIDUP LO MENDERITA, SAMPE LO
MOHON-MOHON KE GUE UNTUK CIPTAIN KEMATAIN UNTUK LO
SENDIRI."

"BRENGSEK!!!"
Senja mengingat jelas dengan semua yang terjadi, ia mengingat bagaimana
laki-laki itu memukulnya tanpa ampun dan kasar. Tanpa terasa ia mulai
menangis, ia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Semuanya benar-
benar mengejutkan untuknya. Ia membalas pelukan Angkasa dengan erat tanpa
ia sadari. Syukurlah dia masih hidup.
Melihat Senja masih sedikit terkejut, ia mengurungkan untuk bertanya lebih
banyak saat ini. Ia harus segera mencari tahu siapa lelaki itu dan alasan apa
yang membuatnya sampai nekat untuk menyakiti Ratu.
Angkasa akan benar-benar membalas semua perbuatan laki-laki itu.
Menyakiti orang terdekatnya, sama saja mencari masalah dengannya. Mata
dibalas mata, ia sama sekali tidak akan segan-segan memberi ampun lagi.
Bahkan, iblis yang ada didalam diri Raja saat ini pun belum sebanding
dengan iblis yang sudah bersarang lama dalam dirinya. Tunggu saja saatnya!

RAJA!

RAJA!

RAJA!
Suara teriakan lelaki dari lantai bawah membuat Angkasa melepaskan
pelukannya kepada Senja. Panca?, mendengar laki-laki itu masih berteriak
keras, dengan segera ia beranjak keluar dari kamar dan menghampiri Panca
yang tengah berdiri menatapnya panik dari lantai bawah.
Angkasa memukul keras kepala Panca. "Lo kira ini di Hutan?!" kata
Angkasa kesal.
Raja menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. "Ada apa sih? Lo ngapain
teriak-teriak hah?!" Raja menatap Panca panik.
Panca mencoba mengatur deru napasnya. "Itu.." Panca menepuk-nepuk
dadanya.

"Itu kenapa? Lo kalau ngomong yang jelas dong!" Angkasa mulai emosi
kepada Panca. "Jawab sialan!"

"Tante Sinta Ja..dia.." Panca menggantungkan ucapannya membuat Raja
dan Angkasa makin merasa panik dan gelisah.

Raja menarik kerah baju Panca. "Dia kenapa?! Jawab yang jelas Panca!!"
Raja mengguncangkan tubuh Panca.

"Tante Sinta, meninggal dunia Ja."
Tubuh Raja dan Angkasa menegang seketika, mereka saling bertatapan satu
sama lain dengan sorot mata tak percaya. Angkasa mencoba mencari
kebohongan di sorot mata Panca, tapi ia tidak menemukannya sama sekali.
Panca tidak berbohong.
"ENGGAK!!!"
Suara teriakan seorang perempuan membuat mereka bertiga menoleh ke
asal sumber suara. Ratu! Gadis itu tengah menatap mereka dari lantai atas
sembari menangkupkan satu tangan ke mulutnya. Raja yang melihat, segera
berlari menaiki anak tangga dan memeluk gadis itu kuat. Gadis itu benar-
benar hancur.
Hari ini, bagaikan sebuah akhir dalam cerita hidup Ratu. Peri
penjaganya telah berpulang tanpa sempat berpamitan terlebih dahulu
dengannya. Siapapun, tolong bilang bahwa semua ini hanyalah mimpi
buruk yang hanya mampir sebentar untuk mengingatkan sebuah arti dalam
kebersamaan, dan yang hanya perlu ia lakukan adalah bangun dari mimpi
buruk itu.
——————————————————————————
LINK GROUP WA RAJA UNTUK RATU :
https://chat.whatsapp.com/JRxQ6obBKr8DRdC26uVc2O

Bisa kalian klik di profile wattpad author ❗ ❤
kalau engga bisa di klik tolong chat author secara personal nanti aku
kirim lagi link nya, soalnya kalau di wall atau comment nanti klik nya

enggak bisa di klik lagi. terimakasih
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @rajaratuwattpad untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @rajaratuwattpad ! ! Disana author akan sering-sering post

spoiler bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

29. TAKDIR YANG RUMIT

Born on the wrong side of the ocean
With all the tides against you
You never thought you'd be much good for anyone
But that's so far from the truth
I know there's pain in your heart
And you're covered in scars
Wish you could see what I do
'Cause baby, everything you want
Is everything I need
You're everything to me
Baby, every single part
Is who you're meant to be
'Cause you were meant for me
And you're everything I need

Everything I Need-Skylar Grey

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]

29. TAKDIR YANG RUMIT
Raya menatap sendu layar ponsel miliknya yang menampilkan sebuah foto
kebersamaan antara dirinya dan Angkasa. Semua ucapan Angkasa sangat
benar-benar menyakitkan untuk ia terima. Ia mencintai Angkasa, itu sudah
jelas. Bahkan dari awal pertemuan pertama mereka, ia sudah benar-benar
menambatkan hatinya kepada lelaki itu.
Saat itu Raya tengah berdiri sambil menatap sebuah tembok yang
lumayan tinggi dihadapannya. Bagaimanapun juga, saat ini ia tidak boleh
telat masuk dalam mata pelajaran pak Komar untuk yang kedua kalinya,
bisa-bisa ia berakhir dengan berlari dua puluh putaran keliling lapangan

sekolah sembari membawa kertas karton yang bertuliskan "RATU TELAT
SMA GARUDA" seperti yang kakak kelas perempuannya alami kemarin.

"Lo mau ngapain?"
Suara berat seorang laki-laki membuatnya menoleh seketika. Detik itu
pula, bisa ia pastikan bahwa seorang Raya Indah Lestari ,telah
menemukan tambatan hatinya di masa putih abu-abunya saat ini.
Dengan gugup Raya membuka suara. "Eng.. aku mau manjat kak,
soalnya udah telat kalau harus masuk lewat pintu gerbang sekolah
sekarang."
Laki-laki itu menghela napas. "Naik." kata lelaki itu yang sudah
berjongkok sembari menepuk sebelah pundaknya.
"Eh? Enggak usah kak, nanti baju kakak kotor." tolak Raya seolah
mengerti apa yang lelaki itu maksud.
"Jangan pake lama, gue ada kuis pagi ini!" perintah lelaki itu cepat.
"Eh? I.. iya kak." Dengan hati-hati Raya menaiki pundak lelaki itu.
"Ma..maaf ya kak, kalau berat." kata Raya malu.
Laki-laki itu mengangguk, lalu berdiri pelan dan menaikkan tubuh Raya
dengan hati-hati "Lo tunggu diatas dulu, nanti gue bantu lagi pas turun."
Raya menganggukan kepala mengerti.
Raya sempat menatap lelaki itu tak percaya, saat melihatnya menaiki
tembok dengan mudah dan cekatan. "Sial, laki-laki itu memang sangat
tampan" batinnya dalam hati.
"Turun sekarang." perintah lelaki itu dari bawah.
Raya yang mendengar segera mengangguk lalu memejamkan matanya
untuk menghilangkan rasa takutnya. Tubuhnya sudah siap untuk
berkenalan dengan kerasnya tanah taman belakang sekolah saat ini.
Satu..
Dua..
Tiga..
BUKH
Raya mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kok enggak sakit?" batinnya
dalam hati. Ia mendongakan kepalanya pelan dan terkejut begitu saja saat
melihat lelaki itu tengah menatapnya lekat.
"Lo mau gue gendong sampai kelas?"
"Eh?" Raya yang sudah tersadar kembali, dengan berat hati ia
melepaskan tubuhnya dari lelaki itu. Jujur saja, ia masih sangat ingin

menikmati momen itu sedikit lebih lama. "Sial, apa lagi yang kamu
pikirkan Raya!" batinnya lagi.

Raya menatap lelaki itu dengan gugup. "Ma..makasih kak." kata Raya
yang hanya dibalas anggukan.

Melihat lelaki itu sudah berbalik dan berjalan menjauh, dengan cepat
Raya membuka suara kembali. "Kak! Nama kakak siapa?" teriak Raya.

Tanpa berbalik, laki-laki itu membalas teriakan Raya sambil tetap
melanjutkan langkahnya. "Angkasa Laksmana." jawab laki-laki itu santai
yang masih bisa didengar oleh Raya.

Raya tersenyum lebar sembari menampilkan wajahnya yang sudah
bersemu merah. Pandangannya masih tak lepas dari punggung seorang
laki-laki yang bernama Angkasa Laksmana. Laki-laki yang tanpa permisi
mencuri hatinya begitu saja. Apakah saat ini semesta tengah bekerja sama
untuk mempertemukannya dengan takdirnya? Raya harap iya.

Raya menghentikan lamunannya segera. Ia harus bangun dan bangkit
kembali. Mendapatkan hati seorang Angkasa sangatlah tidak mudah, mungkin
semua murid di sekolah pun sudah tahu bagaimana perjuangan dirinya untuk
mendapatkan perhatian dari lelaki itu. Ia benar-benar tidak rela untuk
kehilangan Angkasa dengan begitu saja! Raya akan mendapatkan Angkasa
kembali! Walaupun ia harus berhadapan dengan geng TEMPUR sekalipun,
semua itu tidak akan mempengaruhi tekatnya saat ini.

***
Aksara mengetuk-ngetukan kedua kakinya didepan sebuah caffe tempat
Ratu bekerja. Malam ini, ia harus benar-benar menemui gadis itu dan
meminta maaf secara langsung dengan apa yang telah diperbuat oleh Sergio
kepadanya. Semua ini benar-benar murni salahnya, andai saja waktu itu ia
tidak usah memperdulikan rengekan manja Risti yang sudah sangat kelewat
batas, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.
Aksara benar-benar merindukan Ratu. Ia sangat ingin memeluk gadis itu
dan menjaganya tiap saat. Ia tahu Ratu tidak sekuat seperti apa yang orang
lain lihat selama ini. Walaupun sampai sekarang gadis itu belum bisa
membalas perasaannya, ia akan selalu tetap setia untuk menjadi perisai
pelindungnya.
"Aksara? Lo ngapain disini?"
Aksara tersenyum saat melihat Rinai keluar dari pintu caffe tersebut. Ia
melambaikan tangannya lalu berjalan menghampiri Rinai. "Gue mau jemput
Ratu. Dimana dia?" tanya Aksara sambil mengedarkan pandangannya.

Rinai menghela napas sejenak. "Dia enggak masuk kerja hari ini, jadi lebih
baik lo pulang sekarang." jawab Rinai cepat.

Aksara mengernyit heran. "Enggak masuk kerja? Dia libur? Atau dia sakit?
Dia dimana sekarang?" tanya Aksara cemas.

Rinai berdecak kesal. "Lo kalau nanya satu-satu kek! Enggak liat apa ini
mulut gue cuma satu?"

Aksara menggaruk tengkuknya. "Eh? Maaf maaf, soalnya gue khawatir
sama dia. Jadi, kenapa dia enggak masuk kerja?" tanya Aksara sekali lagi.

Rinai terdiam sejenak, ia juga sebenarnya tidak tahu alasan Ratu tidak
masuk kerja hari ini. Apa Ratu benar-benar menghindarinya? Ia sangat
menyesal dengan kejadian yang terjadi di belakang taman sekolah siang tadi.
Andai saja ia bisa menurunkan sedikit ego yang ia miliki, pasti semua akan
baik-baik saja sekarang.

Melihat Rinai tengah melamun, Aksara mengguncang kecil pundak gadis
itu. "Lo kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Aksara.

Rinai tersontak lalu menatap Aksara seketika. "Eh? Ah.. enggak, gue baik-
baik aja kok." jawab Rinai bohong.

Aksara memicingkan matanya kepada Rinai, ia bisa melihat gadis itu
tengah berbohong kepadanya. Tiba-tiba kedua matanya menangkap luka kecil
di sudut bibir gadis itu. "Lo dipukul siapa?!" Reflek Aksara menyentuh bibir
Rinai dengan jarinya.

Rinai menepis tangan Aksara segera. "Masalah cewek." jawab Rinai
cepat.

"Lo abis adu otot sama cewek? Siapa? Jangan bilang Ratu yang mukul lo?
Kalian berdua lagi ada masalah?" tanya Aksara bertubi-tubi.

Rinai tertawa keras. "Ratu? Mukul gue? Analisa macam apa itu? Cowok
bodoh!" ledek Rinai.

Aksara mencubit pipi Rinai gemas. "Lo bilang gue apa tadi? Bodoh? Wah,
minta diculik terus dimasukin ke kandang buaya nih!" ujar Aksara.

Rinai meringis kesakitan lalu dilepaskannya cubitan Aksara secara paksa.
"Sakit tahu! Lagian lo jadi cowok kepo banget sih, udah kayak emak gue aja!"
ujar Rinai sambil mengusap pipinya.

Aksara berdecak kesal. "Bedain dong yang namanya perduli dan kepo!
Dasar bocah!"

"Lo perduli sama gue? Enggak salah denger nih gue? Wah! Jangan-jangan,
kepala lo abis kebentur batu meteor nih!" ejek Rinai.

Aksara menyentil kening Rinai. "Jadi cewek, enggak usah kepedean! Gue
perduli, karena lo sahabatnya Ratu! Coba kalau bukan, mana mungkin lo
sekarang ini bisa berhadapan secara langsung dengan cowok ganteng dan
sepopuler gue! Iya enggak?"

Rinai menatap Aksara tak percaya. "Astaga, pantes aja populasi cowok
narsis di muka bumi ini makin bertambah banyak! Ternyata, ketuanya aja
masih berkeliaran disini." balas Rinai tak mau kalah.

"Gue itu ngomong sesuai dengan kenyataan yang ada. Narsis darimana
coba? Makanya kalau punya mata itu dirawat, masih umur segini kok udah
rabun!" ejek Aksara.

Rinai menatap malas Aksara. "Ya..ya..ya, semerdeka lo aja deh! Gue mau
pulang, capek berurusan sama alien kayak lo!" kata Rinai penuh penekanan.

Aksara tertawa puas melihat gadis itu makin gusar. "Ayok, gue anterin
pulang." tawar Aksara.

Rinai melipatkan kedua tangannya. "Sebelumnya terimakasih atas
penawaran lo, tapi maaf-maaf aja, lebih baik gue jalan kaki ketimbang pulang
sama lo! Gue enggak mau berakhir di kandang BU-A-YA!" jelas Rinai.

"Wah! Maksud lo gue mau nyulik lo gitu? Aduh, gue juga pilih-pilih dulu
kali, kalau mau nyulik cewek! Apalagi cewek model lo gini! Jangan mimpi!"
balas Aksara.

"Rinai."
Belum sempat Rinai menjawab ucapan Aksara. Tiba-tiba suara berat
seorang laki-laki memanggil namanya. Elang? Ngapain dia disini?
Melihat kehadiran Elang, Aksara berdeham seketika. "Oke, kayaknya
buaya lo udah jemput tuh. Gue duluan kalau gitu." bisik Aksara.
Melihat Aksara hendak beranjak, dengan segera Rinai menahan tangan
Aksara membuat laki-laki itu menatapnya heran. "Nyokap gue bilang, nolak
pertolongan orang itu enggak baik. Jadi, gue pulang bareng lo aja deh!" bisik
Rinai dengan sebuah cengiran diwajahnya.
Aksara terkekeh dalam hati. "Lho? Bukannya tadi lo mau jalan kaki? Udah
sana, jalan kaki itu lebih sehat! Apalagi untuk pertumbuhan otak lo sekarang
ini!" ledek Aksara.
Belum sempat Rinai menjitak kepala Aksara, Elang sudah terlebih dahulu
berdiri dihadapannya. Rinai menatap malas Elang. "Ada apa?" tanya Rinai
dingin.
Elang menatap Rinai dengan rasa cemburu disorot kedua matanya. "Ayok
pulang!" Elang menarik tangan Rinai cepat.

"Enggak mau! Lepasin Elang!" berontak Rinai membuat Elang bertambah
gusar.

"Ada hal penting yang harus gue bicarain, jangan keras kepala dulu bisa
enggak?!" bentak Elang.

"Enggak ada hal penting lagi yang perlu kita bicarain! Semua udah selesai
Elang Guntur!" balas Rinai penuh penekanan.

"Selesai? Itu kata lo bukan kata gue! Ayok kita pulang sekarang!" bentak
Elang.

"ENGGAK MAU!!!" teriak Rinai keras.
Aksara yang sudah merasa jengah dengan pemandangan yang ada
dihadapannya, dengan kuat ia menarik satu tangan Rinai yang lain, hingga
gadis itu terhuyung kedalam pelukannya. "Dia pulang bareng gue." Aksara
menatap Elang tajam.
Kedua tangan Elang sudah mengepal keras. Ia benar-benar harus menahan
emosinya saat ini. Semakin ia bersikap keras kepada Rinai, semakin keras
juga gadis itu menjauh darinya. Biarlah kali ini ia mengalah, persetan dengan
Raja yang pasti akan memukulinya nanti.
Tanpa memperdulikan tatapan tajam Elang, Aksara segera membawa Rinai
untuk masuk kedalam mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, ia menghampiri
Elang kembali dengan perasaan malas. Semua ini benar-benar terasa seperti
dejavu untuknya. Bedanya, dulu ia harus berhadapan dengan Raja untuk
memperebutkan Ratu, seorang perempuan yang memang sangat penting
untuknya. Sekarang? Sudahlah, Ia juga tidak mengerti kenapa harus capek-
capek bersikap seperti ini, hanya untuk seorang Rinai Hujan. Si cewek aneh!
Aksara menatap Elang dingin. "Jangan pernah paksa dia untuk menuruti
semua perintah lo lagi, itu pun kalau lo memang masih ingin mempertahankan
dia untuk enggak pergi dari hidup lo saat ini." tekan Aksara lalu pergi begitu
saja meninggalkan Elang yang masih terdiam karena ucapannya. Jatuh cinta
kok sama cewek aneh!
Selama perjalan pulang, hanya ada kecanggungan antara mereka berdua.
Aksara pun tak ingin bertanya lebih jauh tentang hubungan gadis itu dengan
Elang. Menurutnya, itu sama sekali bukan urusan yang harus dicampuri
olehnya. Memikirkan masalah dirinya sendiri saja sudah sangat membuatnya
sakit kepala, dan itu sudah cukup baginya.
"Whiskey Princess drink me under, pull me in
You had me at come over boy, I need a friend

I understand..." Rinai bernyanyi pelan mengikuti sebuah irama lagu yang
diputar oleh Aksara sambil mengetuk-ngetukan jari dikedua lututnya.

Aksara mengernyitkan kening heran. "Lo suka All time low juga?" tanya
Aksara.

Rinai mengangguk antusias. "Banget! Semua albumnya juga gue punya."
jawab Rinai bangga.

Aksara menatap Rinai tak percaya. "Serius lo? Padahal masih jarang lho,
cewek yang suka genre musik seperti ini." ujar Aksara. "Lo emang cewek
unik." lanjut Aksara membuat Rinai tertegun.

Rinai berdeham. "Biasa aja kali, lo nya aja yang pengetahuannya belum
luas. Main lo kurang jauh sih." ledek Rinai.

"Wah! Makin ngelunjak ini anak, gue culik yang jauh sekalian baru tahu
rasa lo!" balas Aksara membuat Rinai terkekeh.

"Silahkan aja, paling juga nanti lo yang repot sendiri." ujar Rinai dengan
santai.

"Oke! Jadi, kalau suatu saat cowok ganteng satu ini tiba-tiba nongol, terus
bawa lo pergi seenak jidat. Lo jangan protes ya!"

"Dasar cowok narsis! Bilang dulu kali kalau mau ajak gue pergi, apa
gunanya yang namanya handphone di dunia ini."

Aksara mencubit pipi Rinai gemas. "Eh cewek aneh! Di dunia ini mana
ada orang yang mau nyulik harus bilang atau minta izin dulu." ujar Aksara.

"Justru karena gue cewek aneh, makanya beda dari yang lain. Makanya
hidup itu jangan monoton atau terpaku sama satu hal aja!" balas Rinai tak mau
kalah.

"Kata siapa hidup gue monoton? Lo aja yang belum merasakan betapa
asyiknya hidup gue sekarang. Makanya, mampir sekali-sekali kalau lagi
lewat."

Rinai menaikkan satu alisnya. "Gue? Masuk ke dalam hidup lo? Ogah!
Bisa masuk rumah sakit jiwa gue, kalau kelamaan sama lo." ejek Rinai.

"Eh cewek aneh! Gue bilang kan tadi MAMPIR bukan nyuruh lo untuk
tinggal. Jadi cewek kepedean banget sih, lagian siapa juga yang mau
kelamaan sama cewek bawel kayak lo ini!"

"Eh asal lo tahu aja ya, bawel-bawel gini udah banyak cowok di sekolah
gue yang antri,sampe gue kewalahan sendiri! Jadi, jangan pernah
meremehkan seorang Rinai Hujan, gue samber petir baru tahu rasa lo!"

Aksara tertawa keras. "Gue kira mata lo doang yang rabun, taunya cowok-
cowok di sekolah lo juga sama. Gue saranin, mending lo banyakin makan

wortel dari sekarang. Biar enggak makin PARAH!" ejek Aksara.
Rinai hanya bisa ternganga tak percaya. Ia sudah benar-benar kalah

melawan Aksara saat ini. "IHHH LO ITU COWOK PALING NYEBELIN
SEDUNIA TAHU ENGGAK!!" Rinai memukul lengan Aksara berkali-kali.

"Eh cewek aneh! Lo enggak liat apa gue lagi nyetir? Lo kalau mau mati
jangan bawa-bawa gue dong! Gue masih mau nikah tahu!" ujar Aksara sambil
meringis kesakitan.

"BODO BODO EMANG GUE PERDULI!! LAGIAN SIAPA JUGA
CEWEK YANG MAU NIKAH SAMA COWOK NARSIS KAYAK LO!!"
teriak Rinai yang masih tak henti memukul Aksara.

Malam itu, langit dan jalan raya yang tengah mereka berdua lewati, diam-
diam tertawa dan saling berbisik seolah-olah sudah berhasil membuat sebuah
awal cerita untuk mereka berdua, yang bahkan sebelumnya sebuah pertemuan
pun tidak terpikirkan sama sekali untuk muncul dalam hidup mereka masing-
masing, walaupun itu hanya untuk sekedar berpapasan atau berbalas sapa
saja.

Takdir manusia itu misterius, dan sangat rumit untuk ditebak. Seperti
juga dengan hati, bisa saja hati yang kalian jaga saat ini, sebenarnya
adalah milik orang lain. Jadi, sudahkah kalian semua yakin dengan hati
yang kalian pilih?

***
"Lo udah gila?! Perbuatan lo ini bisa bikin kita berdua berakhir dipenjara!
Brengsek lo!" teriak seorang gadis kepada seorang laki-laki yang tengah
asyik menghisap sebatang rokok dihadapannya.
Laki-laki itu menyeringai puas. "Ini baru permulaan sayang, belum ada
apa-apanya."
"Gue udah peringatin lo berkali-kali, dari awal tujuan kita itu cuma satu!
Cukup lenyapin cewek bodoh itu secepat mungkin, and see? Lo malah makin
mempersulit semuanya!" geram gadis itu.
"Lo tenang aja, semua udah gue susun serapih mungkin. Lo cukup ikutin
alur yang udah gue buat, dan jangan jadi cewek yang berisik." jawab laki-laki
itu santai.
Gadis itu menunjuk wajah lelaki itu dengan kasar. "Gue peringatin lo
sekali lagi, cukup fokus ke cewek sialan itu! Jangan sentuh orang-orang
disekitarnya, terutama Raja! Simpan semua kalimat gue di dalam otak lo
baik-baik."

Lelaki itu membuang sebatang rokok yang ada ditangannya, lalu diinjaknya
dengan kasar. Dicengkramnya wajah gadis itu dengan kuat. "Lo pikir gue
takut dengan semua ancaman lo? Sama sekali enggak. Jangan pernah
ngelarang semua hal yang ingin gue lakuin. Jangankan seorang Raja, lo aja
bisa gue mampusin sekarang juga! Jadi, jangan pernah otak-atik semua
rencana yang udah gue susun, kalau lo masih sayang nyawa lo." tegasnya
dengan penuh penekanan.

"Ini terakhir kali gue peringatin lo untuk enggak terlalu ikut campur dalam
masalah ini. Kalau lo mau dendam kita terbalas, lo cukup ikutin semua
perintah gue dan jangan pernah lengah karena cinta bodoh lo itu."

"Jangan terlalu naif, laki-laki sialan itu bahkan enggak pernah melihat
keberadaan lo sama sekali. Bangun dari tidur berkepanjangan lo itu!"

Gadis itu hanya bisa mengangguk lemah. Semua yang dikatakan lelaki itu
memang benar adanya, ia bodoh karena cinta. Seharusnya ia tidak terlena
sejauh ini. Cinta hanya bisa memperlemah seorang manusia, dan cinta itu
sendiri yang hampir membuat dirinya lupa akan tujuan hidupnya.

Raja, kalau memang gue sama sekali enggak bisa milikin lo seutuhnya,
orang lain pun juga enggak akan pernah bisa. Jadi, siapa yang seharusnya
lebih baik untuk dilenyapkan? Cewek sialan yang lo cintai itu, atau diri lo
sendiri? Kita lihat jawabannya nanti, Raja.

Laki-laki itu tersenyum puas, ia benar-benar berhasil memperdaya siapa
saja untuk membantunya dalam melancarkan semua rencananya. Raja? Ada
saatnya nyawa laki-laki itu akan berakhir ditanganya. Ia tidak akan memberi
ampun kepada siapapun yang berani mengganggu mainannya. Dendamnya
sudah membuat hati dan matanya menjadi gelap saat ini.

"Tugas lo selanjutnya, lenyapin satu persatu hama-hama kecil yang ada di
sekitar cewek sialan itu. Mulai dari," jeda sejenak, lelaki itu mengambil
selembar foto dalam saku bajunya. "Mungkin dia bisa menjadi pembuka yang
menyenangkan." lanjut laki-laki itu sambil menyodorkan selembar foto
tersebut.

Gadis itu mengambil dan menatap foto tersebut dengan lekat. Ia tersenyum
puas dalam hati dan sangat menyetujui ide gila ini. Diremuknya selembar foto
tersebut dalam genggamannya, lalu ditatapnya kembali laki-laki yang ada
dihadapannya dengan sebuah seringai menyeramkan yang sudah menghiasi
wajah cantiknya saat ini.

"Rencana yang pintar, Sergio."
——————————————————————————

FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!

JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere

FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti

@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader

Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler

bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

31. HITAM DAN ABU-ABU

Picture perfect memories
Scattered all around the floor
Reaching for the phone 'cause, I can't fight it anymore
And I wonder if I ever cross your mind
For me it happens all the time
It's a quarter after one, I'm all alone and I need you now
Said I wouldn't call but I lost all control and I need you now
And I don't know how I can do without, I just need you now

Need You Now-Lady Antebellum

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]

31. HITAM DAN ABU-ABU
Panca melahap semangkuk bakso yang ada di atas meja dengan nikmat.
Suara bel istirahat yang baru saja menggema, membuat suasana kantin saat ini
makin bertambah riuh saja. Panca melirik ketiga temannya yang saat ini
tengah serius berbincang dan sama sekali lupa untuk menyentuh semangkuk
bakso milik masing-masing yang sudah dingin.
Panca menggeleng heran. "WOYYY! Enggak denger apa itu bakso pada
teriak minta dimakan? Wah! Bakso aja dianggurin apalagi cewek! Pantes
aja......" Panca menggantungkan ucapannya.
Angkasa menatap Panca tajam. "Pantes apa? Lanjutin kalau ngomong." ujar
Angkasa.
Panca bergidik ngeri menatap Angkasa. Angkasa terjangkit efek putus
cinta! "WADAAAAWWWW SEREM AMAT BABANG AANG KALAU
LAGI GAL——"

Angkasa menyumpal mulut Panca dengan tisue yang sudah ia gumpal sedari
tadi. "Wah! Ini mulut kalau rem nya enggak dibenerin bisa bahaya nih!" ujar
Angkasa.

Elang terkekeh geli melihat tingkah absurd kedua manusia yang ada di
depannya. "Si doi bisa galau juga ya ternyata." bisik Elang sambil menyikut
Dirga disampingnya.

"Baguslah kalau gitu, seenggaknya kita jadi tahu kalau si doi itu ternyata
punya hati." ledek Dirga pelan.

Angkasa yang merasa dirinya tengah dibicarakan reflek ia memicingkan
matanya kearah Elang dan Dirga. "Mulut itu ditaro didepan gunanya buat
apa?" tanya Angkasa sinis.

"Pertanyaan bodoh." celetuk Panca tanpa sadar, membuat Angkasa
menyumpal mulutnya kembali dengan tisue yang lebih tebal dari sebelumnya.

"Mulut itu ditaro didepan gunanya buat ngomong didepan bukan
dibelakang! Kayak lo berdua ini nih. Orangnya ada didepan tapi ngomongnya
dibelakang!" ujar Angkasa sambil menunjuk Elang dan Dirga.

"Siapa yang ngomong dibelakang? Emangnya kita lagi pada ngomongin lo?
Tingkat percaya diri yang tinggi." kilah Dirga.

"Lagian lo sensian amat sih, kalau galau jangan segitunya lah Sa!" tambah
Elang. "Makanya, kalau masih sayang itu jangan diputusin!" ujar Elang.

Angkasa menghela napas panjang. "Gue sama sekali enggak nyesel mutusin
itu cewek." tekan Angkasa. "Udah jangan bahas lagi, cewek itu cuma bikin
susah aja!" lanjut Angkasa kembali.

"Jangan gitu Sa, mending lo selesain baik-baik sebelum nasib lo sama
kayak si Elang." sindir Dirga membuat Elang segera menyikutnya kasar.

"Ah udahlah, gue sama sekali enggak mau berhubungan lagi sama dia."
jawab Angkasa cepat.

"Emangnya lo putus kenapa sih? Biasanya juga adem ayem kayak angin
sepoi-sepoi." tanya Dirga penasaran diikuti anggukan setuju oleh Elang.

"Gue udah enggak cocok lagi buat dia." jawab Angkasa bohong. Walaupun
Raya sudah menyakiti hatinya, ia sama sekali tidak ingin meninggalkan jejak
jelek gadis itu kepada orang-orang terdekatnya. Setidaknya, gadis itu pernah
singgah sejenak dan membawa kebahagiaan untuk Angkasa sendiri walaupun
itu hanya sementara.

Elang menatap Angkasa tak percaya. "Sumpah, lo jadi cowok klasik abis!"
tanggap Elang. "Lo yang udah enggak cocok buat dia, atau dia yang udah
enggak cocok buat lo?" Skak.

Panca yang sedari tadi menyimak akhirnya ikut membuka suara. Panca
berdeham. "Berhubung abang Panca ini adalah seorang pakar cinta, abang
Panca mau bagi-bagi wejangan sedikit nih!" ujar Panca menepuk dada.

Melihat ketiga temannya sudah menatapnya dengan serius, dilanjutkannya
kembali ucapannya. "Cocok atau enggak cocok itu bukan masalah yang rumit
untuk diselesaikan dalam suatu hubungan, jangan korbanin hubungan kalian
hanya karena sifat ketidak cocokan kalian masing-masing," ujar Panca diikuti
dengan anggukan samar ketiga temannya. "Kalian mau tahu siapa yang patut
untuk disalahin?" tanya Panca dibalas dengan anggukan cepat ketiga
temannya.

Panca menghela napas panjang. "Diri kalian sendiri," jeda sejenak
membuat ketiga temannya sedikit merenungi ucapan Panca. "Makanya, kalau
punya cewek itu jangan cuma satu! Lebihin dikit kek, jadi orang itu harus
berbagi! Kalau satu udah enggak cocok, kan masih ada yang lainnya. Iya toh?
Repot sendiri kan kalian jadinya, contoh nih abang Panca satu untuk semua!
Hidup damai tentram adil dan sentosa." jelas Panca panjang membuat Dirga
dan Elang memutar mata malas. Dasar playboy cap badak!

Angkasa yang geram karena sudah serius mendengar wejangan Panca yang
ia pikir akan berguna untuk dirinya yang belum pakar akan soal percintaan,
dengan segera ia menarik segulung tisue yang ada didalam kotak diatas meja
tanpa dengan jeda untuk menyumpal mulut sang buaya disampingnya kembali.

Panca yang merasa sebentar lagi akan kena semprot memutuskan untuk
hengkang segera. Byur! Belum juga Panca melangkahkan kakinya, seorang
gadis sudah menabraknya dan menumpahkan es teh manis ke seragamnya.
Sial! Dengan geram Panca melirik gadis itu. Sejenak ia menimang-nimang
saat melihat wajah gadis itu yang menurutnya sangat tidak asing.

Ting! Panca membulatkan mata dengan reflek saat mengingat siapa gadis
yang ada didepannya saat ini. Sila si cewek bar-bar!

"Lo itu bener-bener enggak punya mata ya?! Dua kali gue ketemu lo, dua
kali itu juga gue selalu sial!" Sila berdecak.

Panca mendengus kesal. "Lo enggak bosen apa cari-cari perhatian gue
terus?! Denger ya, lo itu bukan tipe gue sama sekali. Jadi, berhenti berharap
untuk gue notice!" ujar Panca percaya diri membuat ketiga temannya ingin
benar-benar muntah.

Sila menatap Panca tak percaya. "Gue rasa lo harus cepet-cepet cek
kejiwaan deh! Halu lo udah enggak ada obat!" geram Sila.

Panca melepaskan satu persatu kancing kemeja seragam sekolahnya yang
sudah basah. Tindakan Panca tersebut mencuri perhatian seisi kantin,
ditambah lagi teriakan para kaum hawa yang sudah memuja-muja Panca saat
ini.

Panca melemparkan kemeja seragamnya kepada Sila. "Jadi cewek harus
punya tanggung jawab, jangan laki-laki aja yang disalahin! Cuci sampe
bersih!" tukas Panca membuat Sila tak terima. Berbeda dengan murid
perempuan lainnya yang saat ini sudah menatap Sila dengan tatapan iri,
bahkan mereka sampai menawarkan diri masing-masing untuk mencuci baju
tersebut. Kalau enggak bisa meluk Panca, meluk bajunya juga enggak
masalah!

Sila mencengkram baju itu dengan geram. "Enak aja! Lo pikir gu—-"
Tanpa memperdulikan protes berkelanjutan dari Sila, Panca beranjak pergi
dengan rasa jengah. Gadis merepotkan!
"Woy! Gue belum selesai ngomong sama lo! DASAR COWOK SAKIT
JIWA!!!!!" teriak Sila sambil menghentakan kaki kasar yang hanya dibalas
dengan angin lalu. Sialan!!
Sila melemparkan pandangannya kepada ketiga teman Panca yang masih
duduk dengan santai sembari mencoba menahan tawa dalam hati. Sila
melempar kasar baju Panca ke atas meja. "Nih baju temen lo lo pada!
Bilangin sama cowok ngeselin itu, gue SILA PUTRIANA kelas X-2 SMA
GARUDA, mulai sekarang RESMI jadi musuh terbesar dia di sekolah! Oh
iya! Satu lagi, gue bukan PEMBANTU yang harus cuciin baju dia!" Sila
menggebrak meja dengan kasar membuat ketiga lelaki itu menelan ludah.
"Awas kalau lo semua sampe lupa sama pesan gue!" tajam Sila lalu pergi
dengan erlingan tajam.
Sila yang masih geram karena kejadian di kantin tadi, dengan cepat ia
berjalan menuju toilet sekolah untuk menenangkan dirinya. Emosinya sedikit
turun saat air tengah membasahi wajahnya. Ia berusaha untuk menormalkan
deru napasnya sembari menyanggakan kedua tangannya di bibir wastafel.
"Oh, Jadi lo yang namanya Sila."
Suara seorang perempuan membuatnya menoleh seketika. Sila mendengus
kesal saat itu juga, ia yakin gadis yang ada dihadapannya sekarang ini adalah
salah satu fans kesasar si cowok sakit jiwa itu.
Sila menatatap gadis itu dengan menantang. "Siapa lo? Ada masalah?"
ketus Sila.

Gadis itu menepuk tangan sambil tertawa samar membuat Sila menaikan
satu alisnya. Cewek sinting! , merasa sudah bosan dan malas akhirnya Sila
memutuskan untuk hengkang saat itu juga.

Sila menubruk gadis itu dengan sengaja saat melintasinya membuat gadis
itu menyergah Sila dengan mencekal lengannya kuat. Gadis itu menatap Sila
tajam dengan seringaian menakutkan, sedikit membuat Sila memundurkan
langkahnya.

"Iya, gue ada masalah sama lo."
***
Raja menuruni anak tangga dengan cepat sambil menatap Ratu yang tengah
mengikat tali sepatunya dengan tatapan heran. "Lo mau kemana?" tanya Raja
membuat Ratu terlonjak.
Ratu berdiri seketika. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama
sekali. "Eh? Itu, Ratu mau pulang." jawab Ratu tidak enak.
Raja berdecak kesal. "Sopan santun lo kemana? Main nyelonong aja."
Ratu menatap Raja dengan rasa bersalah. "Maaf Raja, soalnya Ratu kira
Raja lagi sekolah." jawab Ratu apa adanya.
Raja menghela napas. "Tunggu disini jangan kemana-mana. Gue ambil
kunci mobil sebentar." kata Raja.
Ratu menahan tangan Raja dengan reflek. "Eh? Ratu bisa pulang sen—"
"Lo enggak berhak untuk nolak." potong Raja cepat.
Ratu hanya bisa menatap Raja pasrah yang tengah berjalan menuju
kamarnya. Ia benar-benar merasa telah merepotkan semua orang terdekatnya,
terutama Raja.
Semalaman ia merenungi kesedihan panjangnya hingga membuatnya terlelap
tanpa disadari. Luka dalam hati Ratu akan kehilangan sang Bunda memang
belum sembuh sepenuhnya, tapi ia sadar kalau ia tidak bisa terus-menerus
tenggelam akan kehancurannya sendiri.
Raja menarik tangan Ratu menuju halaman parkir rumahnya. Belum sempat
Raja membuka pintu mobilnya, sosok seorang wanita tua telah berdiri
menatapnya tidak suka di teras rumahnya. Ratu berdiri sambil menatap
bergantian Raja dan wanita tua itu dengan heran.
"Masuk ke mobil Ratu." perintah Raja tanpa mengalihkan tatapannya dari
wanita tua itu.
"Eh? Tapi itu—"
"Gue bilang masuk Ratu!" bentak Raja membuat Ratu segera menurutinya.

Melihat wanita tua itu hendak menghampirinya, tanpa mengurangi rasa
sopan santun, Raja segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan
kasar membuat Ratu terkejut saat itu juga. Sejenak Raja membalas tatapan
tidak suka wanita itu dengan tajam dari balik kaca mobilnya, sebelum ia
melajukan mobilnya cepat.

Selama perjalanan hanya ada keheningan yang menghiasi suasana. Ratu
sedari tadi hanya menunduk sembari memainkan jemarinya di atas pangkuan.
Ia juga sama sekali tidak berani untuk bertanya kepada Raja tentang siapa
wanita tua yang mereka lihat tadi walaupun sebenarnya ia sudah penasaran
setengah mati.

Ratu menghela napas panjang. Setelah dipikir-pikir, dari awal mula ia
menjalani hubungan dengan Raja, ia sama sekali tidak pernah berkunjung ke
rumah Raja atau diperkenalkan dengan keluarganya secara langsung oleh
lelaki itu. Raja juga selalu berusaha mengalihkan pembicaraan setiap kali
Ratu mencoba untuk membahas tentang latar belakang keluarganya. Apa yang
sebenarnya Raja sembunyikan?

Raja memarkirkan mobilnya di salah satu restoran yang sering ia kunjungi
bersama Ratu saat mereka berdua masih menjalin hubungan. Entahlah, ia juga
sama sekali tidak mengerti akan pikirannya sendiri kenapa membawa Ratu
kesini lagi, setelah sekian lama.

Ratu menatap heran restoran tersebut dari balik kaca mobil. "Raja? Kita
ngapain kesini? Ratu kan mau pulang." ujar Ratu.

"Gue laper." jawab Raja cepat sambil melepaskan seatbelt.
Ratu menghela napas. "Yaudah kalau gitu Ratu lanjut naik angkot aja dari
sini." kata Ratu membuat Raja mendengus kesal.
"Kita makan dulu, abis itu gue anter lo pulang."
"Enggak usah Raja, lagian Ratu juga enggak punya uang untuk makan di
tempat ini lagi." Ratu meringis.
Raja yang sudah sangat lapar karena menahan makan dari semalam, segera
ia melepas seatbelt Ratu hingga jarak wajahnya dengan gadis itu berdekatan.
Sejenak, kedua mata mereka saling beradu dengan sebuah sorot rindu
didalamnya.
Ratu menahan napasnya mati-matian saat itu juga. Melihat wajah tampan
Raja secara jelas membuat hatinya berdesir kuat. Matanya membelalak saat
Raja mengikis jarak yang sudah sangat dekat itu dengan perlahan. Ia menelan
ludah saat Raja menatap tajam kepadanya. Bagi Ratu, tingkat kekerenan Raja

saat ini benar-benar makin bertambah! Beruntungnya Ratu pernah jadi
pacar Raja!, batin Ratu konyol.

Ratu mencengkram kuat rok sekolah yang ia pakai saat hidung mereka
berdua sudah saling bersentuhan, yang membuat deru napas Ratu semakin
memburu. Bisa ia pastikan Raja bisa mendengarnya.

"Jangan berisik, atau lo yang gue makan." kata Raja lalu tanpa dosa
membuka pintu mobil dan keluar.

Ratu membuang napas lega sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. Ini
benar-benar gila!, bahkan ia merutuki dirinya sendiri yang sempat berpikir
bahwa Raja akan menciumnya detik itu juga. Ratu menutupi kedua wajahnya
sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menahan rasa malunya.
Raja nyebelin!

Raja yang kesal karena Ratu tidak juga keluar dari mobil, akhirnya dengan
paksa ia menarik Ratu untuk keluar. Raja terkekeh geli melihat Ratu yang
sudah salah tingkah dan tidak berani untuk menatapnya. Tanpa disadari
senyum tipis juga sudah muncul di wajah Raja, dan sialnya Ratu melewatkan
pemandangan itu begitu saja.

Saat ini mereka berdua tengah duduk sambil menunggu pelayan membawa
buku menunya. Ratu mengedarkan pandangannya dengan sendu, dulu hampir
seminggu tiga kali ia dan Raja selalu makan di restoran ini. Selain karena
rasanya enak, tempat ini juga pas untuk dipakai bersantai sejenak. Lamunan
Ratu pun terhenti saat melihat seorang pelayan berjalan menuju mereka
sambil menenteng dua buku menu ditangannya.

Belum sempat pelayan itu menyodorkan buku menunya, Raja sudah
membuka suara untuk menyebutkan pesanannya. Membuat pelayan tersebut
mencatat segera.

"Saya pesan satu porsi sop buntut, satu porsi sate ayam, dua porsi nasi
putih, satu porsi roti bakar keju, terus untuk minumannya saya pesan dua
gelas jus buah naga dan tolong jangan terlalu banyak pakai susu. Oh iya,
untuk sate ayamnya juga tolong jangan kasih bumbu kacang ya mba, diganti
aja sama bumbu kecap." ujar Raja tanpa jeda.

Ratu menatap Raja tak percaya. Bahkan sampai sekarang, Raja masih ingat
menu andalan kesukaan mereka berdua di tempat ini. Ditambah lagi, Raja
juga masih ingat bahwa dirinya memiliki alergi dengan yang namanya kacang.
Hati Ratu sedikit menghangat, setidaknya tidak semua memori tentang Ratu
terlupa oleh lelaki itu hingga saat ini.

Sembari menunggu pesanan mereka datang. Raja memutuskan untuk
membuka obrolan serius kepada Ratu. "Jadi, kapan lo punya rencana untuk
kasih tahu Ayah lo tentang keadaan yang sekarang?" tanya Raja serius.

Ratu tersentak mendengar pertanyaan Raja. Ayah? Sudah hampir dua
minggu ini ia tidak bertemu sama sekali dengan sosok itu. Bagaimana kabar
Ayah? Ia benar-benar merutuki dirinya sendiri yang sudah lengah untuk
mengurusi Ayahnya. Ratu emang enggak berguna!

Ratu menggeleng lemah. "Enggak tahu, mungkin enggak sekarang. Ayah
punya sakit jantung, dan Ratu enggak mau kondisi kesehatan Ayah terganggu
disana." jawab Ratu.

Raja mengerti akan keputusan Ratu. Mungkin sekarang bukanlah waktu
yang tepat, walaupun mau tidak mau suatu saat Ayah Ratu harus tahu hal ini.
Raja menatap Ratu dengan rasa getir dalam hatinya. Ia menatap lekat tubuh
gadis itu yang sudah semakin kurus, ditambah lagi redupnya keceriaan gadis
itu, yang sudah lama tak ia lihat lagi.

"Lo masih berhubungan dengan Aksara?" tanya Raja tiba-tiba membuat
Ratu tersentak.

Aksara?
Ratu menggigit bibirnya seolah bingung untuk menjawab apa. "Masih."
jawab Ratu apa adanya.
"Lo suka sama dia?" tanya Raja dengan gamblang.
Suka? Entahlah, semenjak Aksara menyatakan perasaan kepadanya malam
itu, hati Ratu jadi makin dilema sampai saat ini. Aksara adalah laki-laki yang
baik dan lembut, tapi apakah semua itu menjamin bahwa Ratu sudah
memiliki perasaan khusus terhadapnya?
Rahang raja mengeras saat melihat kebungkaman Ratu. Apa sekarang Ratu
sudah menyukai Aksara?, sial! Ia tidak akan membiarkan perasaan itu
berlanjut lebih jauh! Ia tidak rela!
"Jangan pernah ketemu dia lagi." Nada cemburu Raja keluar begitu saja
tanpa seizinnya.
"Eh? Tapi, Ratu cum—"
"Gue enggak suka dibantah Ratu." potong Raja cepat. "Gue ke toilet dulu."
Raja beranjak dari kursi tanpa perduli dengan protes berkelanjutan yang akan
dilontarkan oleh gadis itu.
Ratu menghela napas panjang melihat sikap Raja yang sangat sulit ditebak
olehnya. Apa Raja cemburu?, Ah, Semua ini benar-benar membingunkan isi
kepalanya.

Drrt
Ratu melirik ponsel milik Raja yang bergetar diatas meja, ia bisa melihat
pesan masuk dari Angkasa di layar ponsel yang tidak terkunci itu. Sejenak ia
mengamati pesan tersebut dengan samar tapi masih bisa terlihat.
Sejam lagi gue tunggu di Warkop. Kita bakar markas SAKTA sekarang.
SAKGAR udah pada siap!
Tubuh Ratu langsung bergeming. Markas SAKTA?, Ratu menangkupkan
satu tangannya dengan mata menbulat. Apa semua ini ada hubungannya
dengan Sergio? Sial! Ia sampai lengah akan lelaki sakit jiwa itu!
Melihat Raja yang sudah keluar dari toilet dan berjalan menujunya. Segera
ia membenahi diri dan menampilkan sikap biasa saja saat lelaki itu sudhah
duduk dihadapannya.
Ratu menatap tidak berselera saat makanan yang mereka pesan sudah
datang. Pikirannya sudah benar-benar meracau saat ini. Apa yang harus ia
lakukan?, sempat ia melirik Raja yang sedang tersenyum puas saat membaca
pesan dari Angkasa. Bagaimana ini? Bagaimana kalau Raja bertemu
dengan Sergio? Tidak! Itu benar-benar bahaya!
Raja benar-benar mempercepat makan siang mereka berdua saat ini. Ratu
benar-benar sangat merasakannya, bahkan mereka berdua sama sekali tidak
membuka obrolan walau sekecil apapun itu. Setelah selesai membayar semua
pesanan, hati Ratu makin dibuat takut saat Raja menarik tanganya untuk buru-
buru berjalan cepat menuju parkiran.
Selama perjalanan, Ratu tak henti-hentinya memandang Raja yang tengah
fokus menyetir dengan sorot mata khawatir didalamnya, dan pastinya tanpa
laki-laki itu sadari.
"INI YANG AKAN GUE LAKUIN KE SEMUA ORANG TERDEKAT LO!
GUE ENGGAK AKAN MAIN-MAIN!"
Rentetan kalimat yang keluar dari mulut Sergio muncul begitu saja dalam
benak Ratu. Enggak! Sergio enggak boleh sedikitpun sentuh Raja!. Ratu
meremas-remas jemarinya yang sudah berkeringat itu.
Takut. Rasa itu yang sudah membasahi sekujur tubuh Ratu saat ini. Dan
rasa itu juga yang membuat Ratu dengan berani memeluk Raja yang sedang
menyetir, hingga membuat laki-laki itu tersentak dan meminggirkan mobilnya.
Raja merasa panik saat merasakan pelukan kencang dari Ratu. Ia merasa
bersalah karena tidak memperhatikan gadis itu sejak makan siang tadi. Semua
itu karena ia tengah diburu-burui oleh pesan Angkasa yang sedari tadi masuk
tanpa henti.

"Lo kenapa?!" tanya Raja panik.
Ratu makin mengencangkan pelukannya. "Raja, jangan pergi. Ratu mohon."
pinta Ratu.
Raja mengernyit heran. "Pergi? Siapa yang mau pergi?" tanya Raja.
"Jangan pergi ke markas SAKTA, Ratu mohon." pinta Ratu hati-hati.
Raja melepaskan pelukan Ratu saat itu juga. Ditatapnya gadis itu dengan
serius. "Lo baca pesan dari Angkasa?" tanya Raja telak. "Siapa yang ngajarin
lo untuk enggak sopan kayak gini?!" bentak Raja.
Ratu menatap Raja dengan takut. "Ratu minta maaf kalau Ratu udah
lancang. Tapi tolong kali ini turutin apa kata Ratu. Jangan kesana Raja,
disana bahaya." Ratu menggenggam tangan Raja kuat.
Raja melepaskan genggaman Ratu kasar. "Jangan pernah atur-atur gue
Ratu. Berapa kali gue harus ngajarin lo untuk tahu diri dan enggak gede
kepala?" Ratu menatap Raja sesak. "Tolong inget status lo sekarang, lo itu
bukan siapa-siapa gue lagi Ratu." lanjut Raja dingin.
Tanpa memperdulikan Ratu yang sudah menangis, Raja menghidupkan
mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanan kembali. Raja mencengkram
stir dengan kuat. Marah, itu yang Raja rasakan saat ini. Raja merasakan Ratu
tengah meremehkan kemampuannya untuk menjaga dan melindungi gadis itu.
Sesekali ia melirik Ratu yang masih menangis kecil sambil menunduk dan
meremas jemari mungil diatas pangkuannya. Sial! Lagi dan lagi, gue bikin lo
nangis!, marah Raja dalam hati.

Untuk kesekian kali, Raja melontarkan kata "bukan siapa-siapa" dengan
mudah. Kalau Ia bisa memilih, lebih baik warna hitam lah yang menyelimuti
hubungan mereka berdua saat ini. Karena hitam berarti menyiratkan dirinya
untuk belajar melepaskan secara perlahan tangan lelaki itu, dan semua itu
memberinya sebuah kepastian tersendiri.

Ia benar-benar tersiksa dengan hubungan abu-abu ini! Sikap lembut Raja
bak malaikat kadang membuatnya kembali berharap bahwa warna putih itu
akan segera datang kembali, tapi harapan itu berubah menjadi ketersia-siaan
saat Raja menampakan wujud iblisnya kembali.

Jadi, lebih baik mana?
Melepaskan atau mempertahankan?
Melepaskan dan mempertahankan adalah dua tindakan yang berbeda tapi
dengan satu rasa yang sama.
Sama-sama bikin sakit.

Sama-sama bikin enggak sanggup.
Bedanya,
Satu harus pergi dengan kenangan.
Satu harus tinggal karena kenangan.

——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!

JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere

FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_

@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader

Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler

bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

34. MENYAKITI TAPI TIDAK INGIN
MELEPASKAN

I'm so tired of love songs, tired of love songs
Tired of love songs, tired of love
Just wanna go home, wanna go home
Wanna go home, whoa
So tired of love songs, tired of love songs
Tired of love songs, tired of love
Just wanna go home, wanna go home
Wanna go home, whoa
Party
Trying my best to meet somebody
But everybody around me's fallin' in love to our song
I, I, oh I, yeah
Hate it
Taking the shot 'cause I can't take it
But I don't think they make anything that strong
So I hold on
I, I, oh I, yeah

I'm So Tired-Cover by Jonah Baker

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, ITU BERHARGA BANGET
BUAT AUTHOR❤]

Double up untuk kalian di hari ulang tahun author besok! Anggap aja
ya ini traktirannya lol!

34. MENYAKITI TAPI TIDAK INGIN MELEPASKAN

Setelah mengisi amunisi dari kantin. Geng TEMPUR memutuskan untuk
bermain basket sebentar di lapangan sekolah. Sudah bisa dipastikan saat ini
mereka berlima tengah menjadi pusat perhatian kembali oleh para kaum hawa
SMA GARUDA.

"HALLO CANTIKK." tegur Panca kepada salah satu siswi yang tengah
berjalan melintasi lapangan membuat gadis itu salah tingkah setengah mati.

Angkasa menggeleng heran dengan penyakit tebar pesona Panca yang tidak
ada obatnya. "Harusnya cewek galak di kantin kemarin yang lo panggil Ca!
Lumayan kan ada tontonan gratis lagi!" ujar Angkasa.

Panca menatap Angkasa malas. "Maksud lo Sila?! Idih Mana ada cantik-
cantiknya itu cewek!" balas Panca sambil bergidik.

"Sila? Oh jadi udah kenalan, gercep juga kayak tikus tanah." sindir Elang.
"Malu-malu tapi mau ternyata." lanjut Elang.

Panca berdecak kesal. "Gue mau sama dia? Sampe si mail nikah sama si
meimei juga gue enggak akan pernah mau! Bisa rugi abang Panca!" balas
Panca penuh ejekan.

"Enggak boleh gitu Ca! Kemakan omongan baru tahu rasa lo!" peringat
Dirga. "Lagian kayaknya itu cewek juga benci banget sama lo, iya kan?"
tanya Dirga sambil melirik Angkasa dan Elang disusul dengan anggukan
setuju kedua lelaki itu.

Raja menatap bingung keempat temannya. "Kalian ngomongin apa sih?"
tanya Raja yang dari tadi ikut menyimak.

"Wah Ja! Lo pasti nyesel karena udah ngelewatin tontonan seru di kantin
kemarin! Bayangin aja, siapa lagi cewek yang berani ngegebrak meja geng
TEMPUR sambil ngelempar baju si Panca yang super bau itu, sampe kena
muka seorang Angkasa Laksmana! Gue acungin empat jempol!" ujar Dirga
antusias.

Angkasa yang mendengar bukannya marah malah ikut mengangguk setuju
dengan ucapan Dirga. "Rasanya gue mau rekrut itu cewek jadi bagian
SAKGAR sekarang juga." celetuk Angkasa membuat keempat temannya
menoleh.

"Enak aja! Gue orang pertama yang bakal demo depan Warkop buat nolak
itu cewek jadi bagian SAKGAR!" tanggap Panca cepat.

Dirga terkekeh geli. "Ide bagus tuh Sa! Lumayan kan bakal ada hiburan
gratis tiap hari!" timpal Dirga setuju.

Raja ikut mengangguk. "Boleh juga, lagian selama ini belum ada satupun
murid perempuan yang kita rekrut untuk jadi anggota SAKGAR" tambah Raja

dengan sengaja. Pembalasan ini belum seberapa Panca!
"Enggak bisa! Sesuai peraturan, selama SAKGAR berdiri, kita sama

sekali enggak diperbolehkan untuk merekrut murid perempuan karena itu bisa
aja buat mereka terkena bahaya!" sergah Panca cepat. Sebenarnya bukan itu
alasan Panca, jujur saja ia sama sekali tidak perduli dengan Sila. Ia hanya
tidak ingin berurusan kembali dengan cewek bar-bar itu!

Angkasa melipatkan kedua tangannya. "Tapi kan ketua SAKGAR itu gue,
jadi gue berhak dong ubah peraturan yang udah gue buat sendiri." jawab
Angkasa yang sengaja membuat Panca makin kesal.

Raut wajah Panca memerah. "Enggak! Pokoknya gue enggak mau! Kalau
sampe itu terjadi, gue bakal mogok kumpul!" rajuk Panca seperti anak kecil.

Tawa keempat temannya meledak saat itu juga. Mereka benar-benar
berhasil membuat Panca meledak kesal. Pemandangan yang sangat amat
jarang untuk mereka lihat. Katanya playboy? Kok naklukin satu cewek aja
enggak bisa!

Panca yang merasa dikerjai, dengan sigap ia mengejar keempat temannya
yang sudah kabur begitu saja. Panca benar-benar akan memiting kepala
mereka satu-persatu nanti, termasuk sang ketua sekalipun. "WOI KUTU
BADAK SINI LO!" teriak Panca sambil berlari. "WAH CARI MATI LO
SEMUA!" teriak Panca lagi.

Elang yang berlari sambil menahan tawanya, sesekali ia menengok ke
belakang untuk melihat raut wajah Panca yang menurutnya sangat konyol itu.
Karena fokusnya sudah hilang, tanpa sengaja tiba-tiba Elang menubruk tubuh
seorang gadis yang menurutnya sendiri cukup keras.

Elang terlonjak lalu dengan segera ia membantu gadis itu berdiri. "Lo
enggak apa-apa?" tanya Elang panik.

Gadis itu mendongakan kepalanya. "Iya, saya baik-baik aja." jawab gadis
itu sambil melepaskan tangan Elang darinya.

Elang terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Lho?Ini cewek ngapain
disini?. "Ayok gue anter lo ke UKS, lutut lo kayaknya berdarah." ujar Elang
sambil mengesampingkan rasa penasarannya.

Gadis itu menggeleng cepat. "Terimakasih, tapi saya bisa sendiri.
Permisi." tolak gadis itu halus, lalu pergi begitu saja meninggalkan Elang
tanpa menunggu persetujuan lelaki itu terlebih dahulu.

Elang menatap punggung gadis itu sambil menghela napas. Udah dua kali
itu cewek nolak bantuan gue! Astaga Elang Guntur, pesona lo sepertinya
udah enggak manjur!. Ia benar-benar merutuki nasibnya saat ini.

***
Ratu masuk ke dalam kelas X-5 dengan langkah ragu. Suasana yang gaduh
seketika menjadi hening karena kehadirannya, dan tentu saja itu membuatnya
kikuk setengah mati. Seisi kelas pun memandang Ratu dengan tatapan yang
berbeda-beda, ada yang menatapnya dengan rasa kagum, iri, tidak suka, atau
dengan tatapan rasa bangga karena kelasnya tengah didatangi salah satu murid
populer di SMA GARUDA.
Kedua manik mata Raya berbinar saat melihat kedatangan Ratu. Pasti Ratu
tengah mencarinya saat ini, ia yakin sekali Angkasa telah meminta bantuan
kepada gadis untuk memperbaiki hubungan mereka yang sudah renggang ini.
Raya beranjak dari kursi lalu menghampiri Ratu segera. "Kak Ratu!"
panggil Raya semangat.
Ratu tersenyum lebar. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan gadis
manis ini. "Raya? Raya apa kabar? Raya sehat kan?" tanya Ratu.
Raya merasa senang akan perhatian yang diberikan Ratu. Jelas sekali,
membuat seisi murid perempuan di kelasnya menatapnya dengan tatapan iri.
"Raya baik kok! Kak Ratu ada perlu apa kesini? Pasti cari Raya ya!" ujar
Raya penuh percaya diri.
Ratu mencubit gemas pipi Raya. "Ratu bukan cari Raya, tapi Ratu senang
bisa ketemu Raya disini." jawab Ratu lembut.
Raya memiringkan kepalanya. "Terus? Kak Ratu cari siapa dong?" tanya
Raya heran.
"Ratu ca—"
"Kak Ratu?"
Belum selesai Ratu melanjutkan ucapannya, seseorang tengah memanggil
namanya. Ratu menoleh ke belakang seketika, Senja! Ratu memeluk gadis itu
dengan reflek, ia belum sempat mengucapkan rasa terimakasih secara
langsung kepada gadis itu.
Seisi kelas dibuat terkejut dengan pemandangan tersebut. Raya
mengepalkan tangan kuat sambil menatap Senja dengan rasa dengki.
Permainan lo sungguh hebat, Senja Alana!
Ratu membawa Senja keluar kelas seketika sampai lupa akan keberadaan
Raya saat itu juga. "Senja, kamu baik-baik aja kan? Apa masih ada yang
luka? Ratu khawatir banget." Ratu menangkupkan kedua tangannya di wajah
polos Senja.
Senja melepas tangkupan Ratu dengan lembut. "Kak Ratu, aku udah sehat
kok. Bisa Kak Ratu lihat sendiri sekarang, bahkan berat badan aku aja naik

dua kilo lho!" jawab Senja sambil tersenyum lebar. Ia benar-benar tidak
ingin membuat Ratu makin khawatir, ditambah lagi ia tahu beban yang dipikul
gadis itu sangat banyak.

Ratu bernapas lega. "Syukurlah, Ratu mikirin Senja terus akhir-akhir ini.
Ratu berterima kasih banget karena Senja udah berani nolongin Ratu waktu
itu." ujar Ratu.

Senja tersenyum kepada Ratu. "Sama-sama kak, udah ya kakak jangan
mikirin Senja lagi. Aku baik-baik aja kak, kakak harus lebih banyak jaga
kesehatan kakak dibanding terus mikirin aku." jawab Senja tulus.

Ratu mengangguk. "Iya, Senja juga harus lebih hati-hati ya mulai sekarang.
Selalu kabarin Ratu ya kalau ada apa-apa." peringat Ratu.

"Siap Ibu Negara!" jawab Senja sambil memasang sikap hormat membuat
Ratu terkekeh.

Ratu seketika melirik seorang gadis yang ada disamping Senja sedari tadi
tanpa ia sadari. "Ini..?" tanya Ratu sambil mengamati wajah gadis itu.

"Oh! Ini sahabat aku dari kampung kak. Namanya, Rindu Seruni. Kenalin
kak." ujar Senja yang sudah merangkul kedua bahu Rindu.

Rindu mengulurkan tangannya. "Saya Rindu kak, salam kenal." ucap Rindu
sopan.

Ratu tersenyum lembut. "Ratu." jeda sejenak. "Tapi kok Ratu kayak enggak
pernah lihat Rindu ya." ujar Ratu sambil menimang-nimang ingatannya
sendiri.

"Rindu anak baru kak. Ini hari pertamanya sekolah disini." jawab Senja
cepat. "Lagian, kalaupun Rindu bukan anak baru, kak Ratu juga enggak akan
mungkin bisa kenal dengan anak kampung seperti kita. Kak Ratu kan populer,
kakak enggak malu ngobrol sama kita?" ujar Senja tidak percaya diri.

Ratu mencubit pipi Senja gemas. "Ratu enggak bolehin Senja ucapin
kalimat itu lagi. Ratu juga bukan siapa-siapa di sekolah ini, Ratu cuma anak
napi. Senja tahu hal itu kan? Jadi, jangan pernah merasa rendah lagi ya."
tegas Ratu.

Senja dan Rindu tertegun mendengar lontaran kalimat dari mulut Ratu yang
menurut mereka sangat gamblang. Mereka mengagumi Ratu yang tidak merasa
malu dengan kondisi yang ia miliki sekarang. Ditambah lagi, dari segala
kelebihan yang gadis itu punya, ia tetap selalu ramah kepada siapapun dan
tidak pernah memperdulikan sebuah status dalam pertemanan. Bisa mereka
pastikan, bila ada suatu perkumpulan yang berisi penggemar dari seorang
RATU SETIA WIJAYA, dengan sukarela mereka akan mendaftarnya saat ini.

Ratu menepuk jidatnya, ia lupa harus menghampiri Rinai segera. "Sebentar
lagi bel istirahat mau selesai, kalau gitu Ratu pamit dulu ya. Oh iya, Rindu
selamat datang ya di sekolah ini. Semoga Rindu betah!" ujar Ratu lalu dengan
buru-buru pergi tanpa menunggu balasan dari kedua adik kelasnya itu.

Rindu menatap kagum punggung Ratu yang makin menghilang. "Jadi ini
yang namanya manusia berwujud bidadari." kata Rindu yang diikuti dengan
anggukan setuju dari Senja yang masih ikut menatap kepergian Ratu.

Tepukan keras dari tangan Raya membuat Senja dan Rindu menoleh ke
belakang. Senja menatap Raya dengan tatapan gelisah. Sepertinya Raya
benar-benar menyatakan sebuah peperangan untuknya.

Raya tersenyum sinis kepada Senja. "Gue akui permainan lo memang
hebat. Selain Angkasa, lo juga ahli ngambil hati orang terdekatnya." sindir
Raya.

Senja mengerutkan keningnya. "Aku enggak ngerti kamu ngomong apa, tapi
yang jelas aku enggak mau ribut sama kamu, Raya." jawab Senja berusaha
mengalah.

Raya menatap Senja dengan muak. "Sayangnya, lo udah cari ribut dengan
gue, Senja Alana." ucap Raya dingin.

Senja menghela napas lelah. "Aku udah bilang, semua ini hanya salah
paham Raya. Aku sama sekali enggak ada hubungan khusus dengan kak
Angkasa." jelas Senja untuk kesekian kali.

Raya tertawa remeh. "Gue enggak sebego itu hanya untuk percaya dengan
semua ucapan lo! Tunggu aja Senja, lo akan terima akibat dari semua ini. Gue
enggak main-main kali ini." ancam Raya membut Senja sedikit bergidik.

"Aku tahu kamu orang baik Raya. Jadi, aku enggak akan cemas dengan
semua ancaman kamu." jawab Senja berusaha untuk tenang.

"Dan kecewanya orang baik itu lebih menakutkan, Senja Alana." tukas
Raya dingin.

Raya mendekati Senja lalu menyelipkan rambut gadis itu ke belakang
telinga kirinya. "Simpan tangis lo dengan baik-baik, karena gue bisa pastiin
betapa panjang beratnya beban hidup lo nanti." tekan Raya lalu beranjak
masuk kelas kembali.

***
Bel pulang sekolah tengah berbunyi menimbulkan kegaduhan sorak sorai
dari seluruh murid yang otak nya sudah cukup lelah menampung segala isi
materi hari ini. Ratu buru-buru membereskan buku yang tergeletak di atas

mejanya, dan dengan segera ia berlari keluar kelas menuju gerbang sekolah.
Ia tidak ingin Raja menjadi kesal karena menunggu keleletannya.

Saat Ratu sampai di gerbang sekolah, betapa terkejutnya ia melihat
seorang laki-laki yang sangat ia kenali tengah berdiri tegap di depan pos
satpam sambil mengedarkan pandangannya kemana-mana.

Segera Ratu menghampiri laki-laki itu. "Aksara! Aksara ngapain disini?!"
tanya Ratu panik. Bisa gawat kalau Raja lihat!

Aksara menghela napas lega saat melihat seorang gadis yang ia cari sedari
tadi sudah berdiri di depannya. Sungguh, saat ini rasanya ia ingin memeluk
gadis itu seerat mungkin. Tapi sayangnya ia masih terlalu waras untuk tidak
melakukannya di tempat seperti ini.

Aksara memegang kedua bahu Ratu. "Ratu! Lo enggak apa-apa kan?!"
Aksara menatap Ratu khawatir. "Apa yang terjadi Ratu?! Jelasin ke gue!"
tanya Aksara tidak sabar.

Ratu melepaskan cengkraman Aksara. "Aksara! Ratu baik-baik aja." jawab
Ratu. "Lebih baik Aksara sekarang pergi dari sini. Ratu enggak mau kalau
sampai geng TEMPUR lihat Aksara ada di sini." ujar Ratu cemas sambil
mengedarkan pandangannya, takut-takut Raja melihat.

Aksara menarik tangan Ratu tanpa menggubris ucapan gadis itu sedikitpun.
"Kita perlu bicara Ratu, gue yang anter lo pulang." kata Aksara membuat
Ratu terkejut.

Oh tidak!. Ratu mencoba sekuat tenaga melepas cengkraman Aksara tapi
semua sia-sia. "Aksara lepas dulu, kita bisa bicarain ini nanti." ujar Ratu
terengah-engah. Raja! Bagaimana ini!

Aksara menarik Ratu masuk ke dalam mobilnya. Ia memang sudah sangat
tidak waras saat ini. Biarlah, ia benar-benar tidak sanggup menahan rindunya
kepada gadis itu. "Jangan berisik Ratu!" bentak Aksara kepada Ratu yang
sedari tadi meronta. Sebegitu tidak inginkah gadis ini bertemu dengannya?

"Aksara, Ratu mohon turunin Ratu disini. Ratu masih ada urusan yang
harus diselesaikan." pinta Ratu yang sama sekali tidak digubris. "Aksara,
tolong jangan bikin Ratu marah!" lanjut Ratu kesal.

"WOY!! BERHENTI GUE BILANG!! SIALAN!!"
Ratu terlonjak saat melihat Raja tengah menggedor-gedor kaca mobil
Aksara dari atas motornya. Jantung Ratu saat ini sudah seperti ingin copot
saja. "Raja! Raja! Aksara tolong berhenti!" teriak Ratu.
Aksara kesal saat mendengar Ratu menyebut nama lelaki itu. Ia sebenarnya
sudah melihat Raja tengah mengejar mobilnya dengan menggunakan motor

dari balik kaca spionnya sedari tadi. Merasa jengah karena Ratu tidak
berhenti meneriakinya, akhirnya ia meminggirkan mobilnya kasar.

Aksara mencengkram bahu Ratu kuat. "Gue cuma mau ketemu lo Ratu!
Cuma itu! Apa segitu susahnya nurutin permintaan gue? HAH?!" teriak
Aksara.

Ratu menghela napas. "Ratu udah bilang kan, Aksara boleh ketemu Ratu.
Tapi enggak sekarang, Ratu ada urusan Aksara." jelas Ratu sebisa mungkin.

Aksara tertawa miris. "Urusan? Urusan dengan cowok sialan ini!" Aksara
menunjuk Raja dari balik kaca mobilnya.

"BRENGSEK! Keluar lo Aksara! Banci!" teriak Raja yang saat ini sudah
menendang keras mobil Aksara.

Emosi Raja tambah tersulut saat melihat Aksara tengah mencengkram
kedua bahu Ratu hingga gadis itu ketakutan dari balik kaca mobil. Dengan
bringas ia menendang kasar mobil Aksara kembali. Tak perduli saat ini ia
tengah menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya. Aksara brengsek!

"Aksara tolong jangan seperti ini." lirih Ratu yang sudah takut dengan
tatapan tajam Aksara. Ini bukan Aksara yang Ratu kenal!

"Kapan lo sadar akan keberadaan gue Ratu?! Lo enggak tahu gimana
tersiksanya hidup gue, yang selalu mikirin keadaan lo tiap harinya! Tolong
Ratu, lihat gue." ujar Aksara yang sudah tidak tahan.

Ratu memejam sejenak. Ia bingung harus bagaimana menanggapi semua
ucapan Aksara. "Maaf Aksara, bukannya Ratu enggak perduli dengan
perasaan Aksara. Tapi,—" suara Ratu tercekat.

Aksara mengguncangkan tubuh Ratu. "Gue sayang sama lo Ratu! Tinggalin
Raja! Gue lebih baik dari dia! Gue enggak akan pernah nyakitin lo sama
sekali! Gue bisa bikin lo lebih bahagia Ratu!" teriak Aksara meyakinkan
Ratu.

Ratu tertegun mendengar semua perkataan Aksara. Tidak! Ini tidak bisa
dibiarkan!, Ratu tidak ingin lebih jauh menyakiti hati Aksara. Dia adalah
laki-laki yang baik, dan pantas mendapatkan perempuan yang sangat jauh
lebih baik darinya.

Ratu menatap Aksara sendu. "Aksara, Ratu minta maaf." jeda sejenak. Ratu
menahan napas seketika. "Ratu.. Ratu masih sayang Raja." lanjut Ratu parau.

Hancur. Hanya satu kata itu yang mewakili perasaan Aksara saat ini.
Tidak! Aksara tidak akan melepas Ratu begitu saja!, rasa egois Aksara
tengah memimpin dirinya saat ini.

Ratu mulai terisak kecil. Ia tidak sanggup menyakiti lelaki baik seperti
Aksara. Tapi mau bagaimana lagi, Ia tidak bisa membohongi perasaannya.
Maaf Aksara, maafin Ratu.

"Aksara? Ratu minta maaf sekali la—"
Aksara yang sudah sangat tidak ingin mendengar kata apapun dari mulut
Ratu. Diraihnya tengkuk kepala gadis itu, dan tanpa permisi ia mencium bibir
Ratu secara paksa. Pecah sudah pertahanan Aksara!
Ratu membelalakan matanya, bisa ia lihat saat ini Raja tengah menyaksikan
mereka berdua dengan tubuh mematung. Ratu bisa melihat ada luka dalam
sorot kedua mata Raja. Raja, maafin Ratu.
Ratu mendorong tubuh Aksara kasar. Plak! , satu tamparan keras mendarat
di wajah lelaki itu. "RATU BENCI AKSARA!" teriak Ratu sambil menangis.
Sakit, itu yang Ratu rasakan saat ini. Harga dirinya benar-benar hancur
sebagai seorang perempuan. Biarlah kalau kalian bilang ini berlebihan, ia
tidak perduli.
Aksara tak berkutik lagi. Ia memang pantas mendapatkan tamparan keras
dan ucapan tajam Ratu, sangat pantas. "Keluar." kata Aksara dingin.
Ratu yang mendengar segera membuka pintu mobil tersebut dan
menutupnya kasar. Ia memutari mobil Aksara dan menghampiri Raja saat itu
juga. "Raja, ayok kita pergi dari sini." Ratu menarik tangan Raja secara
paksa.
"BANGSAT!!"
Raja menepis tangan Ratu kasar. Dibukanya pintu mobil Aksara, ditariknya
laki-laki itu keluar dan dipukulinya Aksara tanpa ada kata ampun. Raja sudah
sangat gelap mata, luka di hatinya seakan makin melebar melihat apa yang
Aksara lakukan terhadap Ratu.
Raja mencengkram kerah baju sekolah Aksara. "GUE BAKAL
MAMPUSIN LO SEKARANG JUGA! SIALAN!!" teriak Raja.
Aksara sama sekali tidak melawan, ia memang pantas dipukuli seperti ini.
Ia memang pengecut, bisa-bisanya ia menyakiti Ratu dengan cara hina seperti
itu. Maafin gue, Ratu. Maafin keegoisan gue yang masih ingin berusaha
memiliki lo seutuhnya, walaupun gue udah terlanjur buat lo sakit seperti
ini. Maafin gue Ratu, gue enggak bisa berhenti.
Aksara menatap Raja tajam. "Lakuin sepuas lo. Tapi satu hal yang harus lo
tahu, gue enggak akan nyerah karena hal ini." ucap Aksara. "Gue dan lo itu
sama. Sama-sama udah bikin Ratu sakit, tapi dengan egoisnya kita berdua
masih sangat ingin memiliki dia seutuhnya." lanjut Aksara.

Raja tertohok. Tidak dipungkiri apa yang Aksara katakan memang benar,
berkali-kali sudah ia menyakiti Ratu dengan cara mengusir gadis itu tiap saat
dengan kata tajamnya, tapi berkali-kali itu juga rasa egois selalu datang
menghujamnya. Raja tidak sanggup melepasnya.

Melihat Raja yang hendak mendaratkan pukulannya kembali, dengan segera
Ratu menyergahnya. "Raja, Ratu mohon berhenti.. Ratu mohon." lirih Ratu
sambil memeluk pinggang lelaki itu. "Pulang Raja, ayok pulang." isak Ratu.

Hati Raja berdesir pilu mendengar isakan Ratu. Ia pun segera
mengurungkan kembali niatnya untuk memukuli Aksara, semua ini karena
Ratu. "URUSAN KITA BELUM SELESAI!! SEKALI LAGI LO BAWA
CEWEK GUE DENGAN SEENAKNYA, ENGGAK ADA LAGI KATA
AMPUN UNTUK LO!" teriak Raja penuh penekanan lalu ditariknya Ratu
untuk segera beranjak meninggalkan Aksara yang sudah terkapar di jalan
sambil menahan ringisannya.

Aksara menatap punggung Ratu pilu, Apa yang harus gue lakuin supaya lo
bisa menyambut kehadiran gue, Ratu?. Bagaimana bisa dengan mudahnya
langkah kaki lo berjalan menjauh pergi, disaat itu adalah salah satu hal
tersulit untuk dilakukan dalam hidup gue saat ini? Bagaimana bisa, Ratu?

——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!

JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere

FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya

@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader

Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan

tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK

RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler

bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo

35. ANDAI JATUH CINTA BISA MEMILIH

In your eyes In your mind 사랑이 그려져
우리 멀리 있어도 가려진 데도 Love is you
바람결에 날리운 그리움이 내 마음을 전해주길

Di matamu, di pikiranmu,
cinta sedang digambar. Meskipun kita terpisah,
meskipun kita tersembunyi, cinta adalah dirimu.
Kuharap kerinduan yang datang bersama angin
dapat memberitahumu tentang hatiku

Love is the moment 니가 오던 그날 그 순간
두 눈에 맺혀 가슴에 맺혀 자꾸 떠올라
Love is the moment 니가 가던 그날 그 순간
잊을 수 없어 자꾸 떠올라

Cinta adalah momen,
hari, momen saat dirimu datang. Kau memenuhi pandanganku, kau
memenuhi hatiku dan aku terus memikirkanmu. Cinta adalah momen,
hari, momen saat kau pergi. Aku tak dapat melupakannya,
aku terus memikirkannya

Moment-Changmin OST. The heirs

[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT
MEMBACA SEMUA ❤]

35. ANDAI JATUH CINTA BISA MEMILIH
"Selain narsis ternyata lo bodoh juga ya."


Click to View FlipBook Version