Aksara meringis saat seorang gadis yang ada di depannya tengah
mengobati luka di wajahnya, Rinai Hujan. "Duh, pelan-pelan dong." ringis
Aksara.
Rinai berdecak kesal. "Biarin, biar tahu rasa sekalian. Makanya, lain kali
kalau mau bertindak itu dipikir-pikir dulu, punya otak kok enggak digunain!"
cerca Rinai.
Rinai masih menatap Aksara kesal. Ia sempat tak percaya saat mendengar
cerita Aksara secara langsung tentang apa yang telah ia lakukan hingga
wajahnya babak belur seperti sekarang ini, bodoh!
Beruntungnya saat itu, Rinai yang tengah mengisi amunisi dengan batagor
langganannya di pinggir jalan, merasa penasaran karena ada suara ribut-ribut
di sebrang jalan. Betapa terkejutnya ia saat melihat Raja tengah menarik Ratu
untuk naik ke atas motornya dan meninggalkan seorang lelaki yang terkapar di
jalan beserta luka di wajahnya, Aksara Prabudi. Laki-laki terbodoh nomor
dua setelah Elang Guntur tentu saja!
"Cinta itu bisa bikin manusia bodoh. Jadi, jangan salahin gue tapi salahin
itu yang namanya cinta." jawab Aksara santai.
Rinai menjitak kepala Aksara kesal. "Ngeles aja lo udah kayak bajaj!
Cinta memang bodoh, tapi manusia itu lebih bodoh! Mau-mau aja dibodohin
sama yang namanya cinta!" cerca Rinai.
Aksara menghela napas. "Mau gimana lagi? Kita enggak bisa memilih kan
dengan siapa kita ingin jatuh cinta?" balas Aksara.
"Iya, kita memang enggak bisa memilih dengan siapa kita ingin jatuh cinta.
Tapi,—" jeda sejenak. "Kita masih punya pilihan untuk mempertahankan atau
melepaskan." lanjut Rinai.
Aksara memicingkan kedua matanya. "Lo curhat?" tanya Aksara membuat
Rinai sedikit merasa.
Rinai berdeham. "Enggak, gue cuma mau kasih lo wejangan aja, biar lo
bisa berpikir realistis." kilah Rinai.
"Kenapa lo ngelepasin dia?" tanya Aksara tiba-tiba.
Rinai mengernyitkan keningnya. "Maksud lo?" tanya Rinai bingung sambil
masih mengobati luka Aksara.
"Elang." jawab Aksara membuat pergerakan tangan Rinai berhenti.
"Kenapa lo lepasin dia? Lo bisa lihat sendiri kan dia masih sayang sama lo?
Mata lo juga enggak bisa bohong kalau lo masih sayang sama dia." tanya
Aksara sedikit penasaran.
Rinai tersenyum tipis. "Masih sayang, bukan berarti masih ingin kembali
kan?" balas Rinai sambil melanjutkan kembali pergerakan tangannya.
Aksara menyentuh pergelangan Rinai. "Lo diapain sama dia?" Aksara
menatap Rinai perduli. "Dia nyakitin lo?" Pertanyaan yang bodoh.
Rinai menggeleng. "Enggak ada. Elang baik banget kok, cuma gue aja yang
sedikit salah kaprah soal hubungan gue dengan dia." ringis Rinai.
Aksara mendengus. "Baik? Kalau dia baik enggak mungkin lo pergi
ninggalin dia." tanggap Aksara. "Jangan munafik." lanjut Aksara.
Rinai sedikit tersinggung dengan ucapan Aksara. Jelas-jelas Elang lah
yang memutuskan hubungan dengannya terlebih dahulu! "Lo enggak tahu
apa-apa tentang hubungan gue dengan Elang. Berhenti bahas sesuatu yang
bukan ranah lo." ketus Rinai.
"Oh, atau jangan-jangan lo mutusin Elang karena dia terlalu baik? Alasan
klasik." Aksara tertawa mengejek. "Perempuan memang enggak pernah mau
disalahin, punya cowok baik-baik ditinggalin, dan malah lebih memilih
cowok brengsek yang kerjaannya cuma bikin sakit hati sendiri." lanjut Aksara
seolah menyiratkan isi hati.
Cukup sudah, tahu apa Aksara tentang dirinya! Rinai meraih tas yang
ada di atas pangkuannya, lalu memasangkan di kedua pundaknya. "Gue pulang
dulu, udah sore." kata Rinai dengan nada tidak suka.
Melihat Rinai hendak membuka pintu mobil, Aksara segera menyergahnya
dengan mencekal lengan gadis itu. "Tersinggung huh?" sindir Aksara.
Rinai menepis tangan Aksara kasar. "Rasa sakit yang lo alami sekarang ini,
enggak ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang gue punya, Aksara. Jadi,"
Rinai menahan napas. "Kalau lo memang mau jadiin gue sebagai pelampiasan
amarah karena perasaan satu pihak lo itu, selamat lo salah alamat!" teriak
Rinai membuat Aksara merasa telak.
Aksara mengunci mobilnya seketika membuat Rinai menghentakkan kedua
kakinya sambil duduk dengan kasar. "Buka enggak! Gue udah males liat muka
lo! Gue mau pulang!" bentak Rinai.
"Enggak usah diliat kalau gitu. Ribet!" balas Aksara membuat Rinai
tambah kesal setengah mati.
"Gue mau pulang!"
"Gue enggak mau."
"Itu sih bukan urusan gue!"
"Berisik!"
"Gue mau pulang! Gue mau pulang! Gue mau pulang!"
Aksara menarik tubuh Rinai hingga kepala gadis itu membentur dada
bidangnya. "Jangan berisik kalau lo enggak mau bernasib sama kayak Ratu."
kata Aksara membuat Rinai bungkam seketika.
Rinai mendorong tubuh Aksara. Ia langsung memalingkan wajahnya yang
sudah merona dari lelaki itu. Enak aja! Sampai si Panca tobat jadi playboy
juga gue enggak akan mau dicium sama Aksara! Laki-laki nyebelin! Laki-
laki bodoh! Sok ganteng! Narsis! Kesel! Kesel! Kesel! Mamaaaaaaa!.
Rasanya Rinai ingin menumpahkan isi teriakan dari hatinya sekarang juga,
tapi sialnya bungkam adalah pilihan terbaik saat ini. Ia tidak akan rela bila
ciuman pertamanya diambil oleh seorang Aksara. Tidak akan rela! Tidak
akan rela!
Aksara tersenyum puas dalam hati melihat Rinai yang sudah tidak berkutik.
Digertak dikit aja udah takut!. Jujur saja, sebenarnya ia merasa bersalah
karena sudah menyakiti hati gadis itu dengan ucapan yang ia lontarkan. Ia
benar-benar merasa sudah berevolusi menjadi seorang laki-laki pengecut
hari ini. Bisa-bisanya ia menyakiti hati dua orang gadis hanya dalam satu
hari. Hebat sekali Aksara!
***
Tetes demi tetes air hujan mulai turun membasahi bumi dan melengkapi
suasana yang sudah dingin sebelumnya. Langit yang sudah berubah menjadi
gelap seolah mendukung perasaan seorang Raja Gemilang saat ini. Ia marah,
itu tidak perlu kalian tanyakan lagi.
Raja meminggirkan motornya di pinggir jalan, yang terbilang cukup sepi.
"Turun." perintah Raja kepada seorang gadis di belakangnya.
"Eh?" Ratu turun dari atas motor Raja sambil menatap sekeliling bingung.
"Kok turun disini?" tanya Ratu kepada Raja.
Raja menghela napas. "Hujan." jawab Raja membuat Ratu mendongakan
kepalanya sambil mengadahkan satu tangannya.
Raja menarik Ratu untuk berteduh di ruko pinggir jalan yang sudah tutup.
Raja melepaskan jaketnya perlahan lalu memakaikannya di tubuh mungil
Ratu. "Selalu bikin susah." decak Raja.
Ratu menunduk sedih, benarkah ia selama ini hanya membuat susah
orang di sekitarnya saja?. "Maaf Raja." jawab Ratu pelan.
Raja hanya diam sambil menatap lurus dengan sorot mata yang sulit
diartikan. Isi kepalanya seperti ingin meledak saja, karena menahan rasa
emosi dalam dirinya. Harusnya ia tidak usah menggubris rintihan Ratu saat
memukuli Aksara tadi, karena itu membuatnya semakin gila untuk tidak
meluapkan kemarahannya kepada gadis itu saat ini.
Ratu melirik Raja yang sama sekali tidak bersuara. "Raja, Ratu mau
jelasin keja—"
"Enggak ada yang perlu dijelasin." potong Raja cepat. Ia sama sekali tidak
ingin membahas hal itu saat ini.
Ratu menggeleng cepat. "Kita harus selesain masalah ini, Ratu enggak mau
ada salah paham lagi." Ratu mencengkram pelan tangan Raja.
Raja menepis sentuhan Ratu. "Jangan berisik." ketus Raja membuat Ratu
menghela napas lelah.
"Egois." gumam Ratu pelan yang masih bisa didengar oleh Raja. Raja
egois! Raja egois! Kenapa sih enggak pernah sedikitpun mau ngerti isi
hati Ratu?! Apa Ratu segitu susahnya untuk dimengerti?!
Raja memutar tubuh Ratu hingga menghadapnya. "Lebih egois mana dengan
perasaan lo yang bercabang itu?" tanya Raja dingin.
Ratu menatap Raja bingung. "Maksud Raja itu apa? Ratu enggak ngerti."
tanya Ratu kembali.
Raja menaikkan sudut bibirnya. "Jangan pura-pura polos lagi Ratu, semua
itu udah enggak mempan." jawab Raja sinis.
Ratu hanya diam saat mendengar lontaran pedas Raja. Baru saja hari ini ia
merasakan kebahagiaan sebentar karena perubahan sikap Raja, tapi ternyata
semua itu tidak berlangsung lama. Seperti senja yang hanya mampir sebentar
di sore hari dan berhasil membuat sang langit tampak indah sejenak, sebelum
gelap datang menjemputnya.
Raja tertawa getir dalam hati melihat kebungkaman Ratu. "Ternyata benar,
perasaan lo udah sebesar itu untuk Aksara." ucap Raja membuat Ratu
menatapnya seketika.
Ratu mencengkram lengan Raja yang hendak beranjak meninggalkannya.
"Raja! Mau kemana?!" tanya Ratu panik. "Raja jangan salah paham, Ratu bisa
jel—"
Raja menepis Ratu kembali. "Gue udah bilang enggak ada lagi yang perlu
dijelasin!" potong Raja cepat. "Jangan ikutin gue! Tetep disini!" bentak Raja
membuat Ratu menghentikan langkah kakinya.
Raja berjalan menuju motornya, lalu melaju meninggalkan Ratu sendirian
dibawah atap yang melindungi gadis itu dari hujaman derasnya air hujan. Ia
tidak bisa menahan amarah dalam hatinya lagi. Apa dirinya sudah benar-
benar kalah?. "BRENGSEK!!" teriak Raja. Mungkin menghindari gadis itu
sejenak adalah sebuah keputusan yang terbaik untuk saat ini. Mungkinkah?
Ratu berjongkok lalu menenggelamkan tubuhnya bersama tangisnya yang
sudah sesunggukan. "Raja jahat! Raja jahat!" isak Ratu. "Ratu benci sama
Raja! Benci! Benci!" teriak Ratu kesal.
Raja meminggirkan motornya lalu mengusap wajahnya kasar. Sekelibat
potongan kenangan manis antara dirinya dengan Ratu datang begitu saja
membuat pertahanannya hancur saat itu juga. "Siapa yang ngajarin lo untuk
jadi banci kayak gini!" umpat Raja kepada diri sendiri.
Raja menghidupkan kembali mesin motornya, lalu melajukan motornya ke
arah yang berlawanan. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang telah
meninggalkan Ratu sendirian bersama kata-kata tajamnya. Bodoh! Bodoh!
Bodoh!
Raja menghela napas lega saat melihat Ratu masih berada di tempat yang
sama. Ia menghampiri gadis itu yang tengah berjongkok sambil menangis tak
henti. Entah sudah keberapa kalinya ia menjadi alasan dari tangis gadis itu.
Bila memang ia tidak bisa menciptakan kebahagiaan lagi, haruskah ia
relakan penjaga hatinya untuk lelaki lain?
"Bangun."
Ratu mendongakan kepalanya seketika saat mendengar suara berat laki-
laki. Raja?!, Ratu segera berdiri lalu menatap Raja sedih. "Raja?" hening
sejenak. "Baju Raja basah." kata Ratu sambil memperhatikan penampilan
Raja saat ini.
Raja menghela napas. Bisa-bisanya Ratu masih memperhatikannya setelah
apa yang ia telah perbuat kepadanya. "Selalu bikin susah." Raja mengusap
lembut wajah Ratu yang sudah basah karena air matanya.
Sejenak hanya ada suara deras hujan yang menghiasi keheningan antara
mereka berdua, bersama manik mata yang saling beradu satu sama lain. Cinta
itu memang rumit, dan manusia lah yang menciptakan kerumitan itu sendiri.
Andai jatuh cinta bisa memilih, pasti semua tidak akan sesulit ini jalannya.
Raja menatap Ratu sendu sambil masih mengusap wajah gadis itu dengan
lembut. "Kalau bahagia lo adalah saat bersama dia, gue rela lepas lo
sekarang juga." getir Raja. "Untuk apa gue pertahanin lo disaat hati lo bukan
untuk gue lagi. Cewek seperti lo pantas untuk bahagia, Ratu." lanjut Raja
dengan parau.
"Pergi Ratu." ucap Raja dengan suara tercekat. "Gue enggak akan
menghalangi jalan lo untuk mencari kebahagiaan itu lagi." lanjut Raja.
"Aksara mungkin leb—"
"Enggak!" bentak Ratu membuat Raja menghentikan ucapannya. Ratu
mengepalkan kedua tangannya sambil menggeleng cepat. "Bagaimana bisa
Ratu bahagia tanpa ada Raja dalam hidup Ratu?" lirih Ratu. "Cuma Raja yang
Ratu punya, selain Ayah." Ratu mulai terisak kembali. "Ratu butuh Raja. Ratu
enggak punya apa-apa lagi, Ratu enggak punya tempat pulang, Ratu enggak pu
—"
Raja tertegun. Hatinya berdesir pilu melihat Ratu yang tengah berusaha
tegar menghadapi semua kesulitan dalam hidupnya. Cukup sudah, Raja
meraih tengkuk kepala Ratu dan memagut bibir gadis itu lembut. Jangan
bicara lagi Ratu, jangan.
Ratu membulatkan matanya segera. Tindakan Raja saat ini benar-benar
membuatnya bungkam dan berhasil mematungkan tubuhnya. Ratu tidak
percaya dengan kenyataan bahwa sudah dua kali ia dicium oleh kedua lelaki
yang berbeda hari ini, dan anehnya kali ini Ratu tidak menolak. Astaga Ratu!!
Raja melepaskan pagutannya. Masih dalam jarak dekat dengan hidung yang
bersentuhan, ia menghujam kedua manik mata gadis itu dengan sorot lembut
dari kedua matanya. Raja mengusap lembut bibir Ratu dengan jarinya.
"Enggak akan gue biarin seorang Aksara meninggalkan satu bekas pun tentang
dirinya dalam hati, pikiran maupun raga lo. Enggak akan, Ratu." tekan Raja.
Raja menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Ia memejamkan
matanya untuk beberapa menit sambil mengusap rambut gadis itu dengan rasa
sayang. Ratu, kalaupun suatu saat jatuh cinta itu bisa memilih, apakah
laki-laki brengsek dan enggak berguna ini yang akan tetap menjadi tujuan
dari perjalanan cerita hidup lo nanti? Semoga saja, iya.
——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!
JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere
FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan
tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK
RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler
bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo
36. SEMAKIN DIPAKSA MAKA AKAN
SEMAKIN GAGAL
그대를 바라볼 때면
모든 게 멈추죠
언제부턴지 나도 모르게였죠
어느 날 꿈처럼 그대 다가와
내 맘을 흔들죠
운명이란 걸 나는 느꼈죠
Ketika aku melihatmu, semuanya terhenti
Aku tidak tahu sejak kapan aku merasa seperti itu
Kamu datang seperti mimpi suatu hari
Hatiku gemetar
Aku merasakan takdirku
I Love You
듣고 있나요
Only You
눈을 감아 봐요
바람에 흩날려 온 그대 사랑
whenever wherever you are
Aku mencintaimu
Dapatkah kamu mendengar kata-kataku?
Hanyalah kamu
Mataku terpejam
Cinta hadir bersama pikiran yang melayang menerawang
Kapanpun, dimanapun dirimu
Always-Yoonmirae OST. Descendants Of The Sun
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT
MEMBACA SEMUA ❤]
36. SEMAKIN DIPAKSA MAKA AKAN SEMAKIN GAGAL
Senja menatap rintik-rintik hujan sambil memeluk tubuhnya sendiri, dan tak
lupa menggosok kedua lengannya pelan untuk mencari sebuah kehangatan.
Sesekali ia menghela napas memikirkan masalah yang terjadi hari ini. Raya,
satu nama yang membuatnya hatinya gundah gulana sedari tadi.
Senja tertawa miris, bagaimana bisa gadis itu berpikir bahwa ia dengan
Angkasa telah menjalin hubungan di belakangnya. Sedalam apapun perasaan
yang ia miliki terhadap Angkasa, itu tidak akan pernah membuatnya berubah
menjadi seorang gadis picik yang dengan tega menusuk sahabatnya sendiri
dari belakang. Tidak akan pernah!
Ia mencintai Angkasa, itu memang benar. Bahkan sebelum Raya bertemu
dengan Angkasa, itu sudah terjadi begitu saja. Andai ia bisa memilih dengan
siapa ia ingin jatuh cinta, tentu bukanlah seorang Angkasa yang akan menjadi
tujuannya.
"Yaampun Senja! Lo ngapain sih bongkar isi tas lo di lorong sekolah
gini, halangin orang yang mau jalan aja!" ujar seorang gadis bernama
Erna, teman satu kelasnya.
Senja tidak menghiraukan cercaan Erna sama sekali. "Topi aku
ketinggalan na, gimana dong?! Bodoh banget sih aku!" rutuk Senja.
Erna menghela napas. "Ceroboh kok enggak sembuh-sembuh! Udah lo
ke UKS aja pura-pura sakit!" usul Erna. "Bel upacara udah bunyi nih!"
lanjut Erna kembali saat bel sudah menggema seantero sekolah.
Senja membereskan isi tasnya dengan rasa repot lalu berdiri sambil
menatap ragu Erna. "Tapi, kalau ketahuan pura-pura sakit gimana?"
tanya Senja takut-takut.
Erna mendengus kesal. "Masa perlu gue ajarin dulu sih? Makanya,
jangan jadi murid teladan terus. Biar wawasan lo enggak disitu-situ aja."
ujar Erna yang tidak membantu sama sekali.
Senja yang hendak membalas ucapan Erna, tiba-tiba terurung bergitu
saja saat merasakan sebuah topi tengah menyentuh dan bertengger di atas
puncak kepalanya. Senja meraih topi tersebut, lalu ditatapanya punggung
seorang lelaki yang tengah berjalan santai menjauhinya dengan perasaan
bingung.
Erna membulatkan matanya. "ASTAGANAGA DRAGON!!! ITU KAN KAK
ANGKASA!!" Erna melirik topi yang ada digenggaman Senja. "LO
BERUNTUNG BANGET SEN!! KALAU JADI LO MUNGKIN GUE UDAH
PINGSAN SEKARANG JUGA!! ASTAGA GUE BOLEH ENGGAK NYIUM
TOPI KAK ANGKASAAA?? DIKITTTTTTT AJA!! YAYAYAYAYAYAYYA??
PLEASE!!!"
Angkasa?. Senja menyentuh dadanya yang sudah terasa gugup. Senja
masih setia menatap lelaki itu yang sekarang sudah bercanda dengan
keempat temannya di pinggir lapangan tanpa memperdulikan ujaran Erna
yang tidak kelar- kelar dan terkesan berlebihan.
Senja memeluk topi Angkasa bersama senyum yang sudah tersimpul di
wajahnya. Saat ini teori jatuh cinta pada pandangan pertama telah
terbukti ada bagi seorang Senja Alana. Ia benar-benar tidak pernah
merasakan hal seperti ini sebelumnya, sama sekali tidak. Angkasa mungkin
jadi laki-laki yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama
kalinya.
Seorang gadis bernama Ranti, menghentikan langkah kakinya saat
mendengar suara ribut dari kedua teman sekelasnya. Ranti menatap Erna
dan Senja secara bergantian, ia lalu memicingkan kedua matanya kepada
Senja yang sedari tadi tidak berhenti senyam-senyum sendiri. Ia mengikuti
sorot mata Senja saat itu juga. Matanya membulat seketika, melihat
seseorang yang sedari tadi tidak luput dari pandangan Senja sedikitpun.
"LO SUKA SAMA ANGKASA?!" tanya Ranti tidak percaya, membuat Erna
yang mendengar segera menceritakan kejadian kilat itu kepadanya.
"JADI LO BENERAN SUKA SAMA ANGKASA?!" tanya Ranti kedua
kalinya membuat kesadaran Senja kembali saat itu juga.
Ranti sangat tahu bahwa Senja adalah tipikal anak pendiam yang sama
sekali tidak pernah membahas atau ikut-ikutan nimbrung bila
membicarakan hal-hal berbau romantisme yang menyangkut dengan para
kaum adam, seperti yang ia lakukan bersama murid perempuan di kelasnya
setiap hari. Bahkan, ia sempat mengira bahwa Senja sama sekali tidak
memiliki rasa ketertarikan dengan laki-laki, atau memiliki penyakit
trauma jatuh cinta karena masa lalu, seperti novel-novel yang ia baca
selama ini. Bayangkan saja? Tidak sedikit murid laki-laki di SMA
GARUDA yang mengejar-ngejar perhatian dari seorang Senja Alana
dengan rasa sabar yang ditahan setengah mati, karena kurangnya rasa
kepekaan yang dimiliki gadis polos itu. Ternyata oh ternyata, Angkasa
Laksmana lah yang berhasil menaklukannya hanya dalam waktu beberapa
detik saat menjelang upacara, dengan sebuah topi sekolah sebagai
perantaranya.
Senja membekap mulut Ranti dengan kilat. "Ranti! Jangan kuat-kuat
dong, gimana kalau ada yang denger!" decak Senja. .
Ranti melepaskan bekapan itu dengan cepat, "WAH BAKAL JADI HOT
NEWS SMA GARUDA NIH!!" usil Ranti lalu kabur begitu saja
meninggalkan Senja yang bertambah panik karenanya.
"RANTIII!! TUNGGU!! Awas kamu ya! RANTII!!" teriak Senja sambil
mengejar Ranti dengan rasa was-was dalam hatinya dan meninggalkan
Erna yang masih berdiri dengan wajah kebingungan.
Senja mengulas senyumnya saat mengingat pertemuan pertamanya dengan
Angkasa. Hari dimana ia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya,
ditambah lagi kejadian itu terjadi pada masa putih abu-abunya. Sampai
menua pun ia akan mengenang hal manis ini seumur hidupnya.
"Segitu asyiknya ngelamunin gue?"
Senja tersentak melihat Angkasa yang saat ini sudah berdiri tegap di
hadapannya sembari membawa satu buah payung ditangannya. "Kak Angkasa
kok ada disini?" tanya Senja sedikit gugup.
Angkasa membuka sebuah payung yang sedari tadi ia bawa dari Warkop.
"Ayok ke Warkop. Gue anterin lo pulang pake mobil Elang." tawar Angkasa.
"Eh?" Senja menggeleng cepat. "Enggak usah kak, sebentar lagi juga
hujannya reda." tolak Senja halus.
Angkasa menghela napas. "Hujan kayak gini pasti bakal awet. Mending
gue anter lo pulang sebelum keburu sore." ujar Angkasa.
"Enggak usah kak, aku enggak mau ngerepotin. Lagian aku juga engg—"
Angkasa menarik tubuh Senja hingga mereka berdua bearada di bawah satu
payung yang sama. Tiba-tiba perasaan Angkasa berubah menjadi gugup, dan
deru napasnya menjadi sedikit tidak teratur. "Jangan keras kepala." kata
Angkasa. "Jangan pernah nolak perintah gue dengan alasan enggak enak
dengan Raya. Gue sama dia udah bubar, jadi tolong jangan bahas Raya lagi."
tegas Angkasa.
Senja mendorong tubuh Angkasa pelan. "Walaupun kakak udah putus
dengan Raya, enggak sepantasnya kita berdua jadi sedekat ini." jawab Senja
yang masih kekeh menolak kehadiran Angkasa.
"Oh, lo risih karena kehadiran gue?" tanya Angkasa.
"Eh?" Senja mengibaskan tangannya. "Enggak kak, bukan gitu maksud aku.
Aku cuma enggak mau ada pertengkaran lagi. Aku harus jaga perasaan Raya,
dia sahabat aku kak." jelas Senja yang merasa tidak enak.
"Jadi, mau lo apa?"
"Aku mau kita jaga jarak."
"Enggak."
"Maaf kak, kita harus jaga jarak. Aku enggak mau pertemanan aku dengan
Raya hancur, hanya karena satu kesalah pahaman." jeda sejenak. "Aku duluan
kak." pamit Senja tanpa perduli dengan hujan yang masih turun dengan deras.
Menjauhi Angkasa adalah keputusan yang terbaik saat ini.
Angkasa mencekal lengan Senja saat itu juga. "Lo enggak berhak ngatur
gue untuk jaga jarak dengan siapapun, termasuk lo sekalipun." tekan Angkasa.
"Gue anter lo pulang sekarang." Angkasa menarik Senja paksa. Jujur ia kesal
mendengar penolakan Senja, yang padahal permintaan Angkasa hanyalah hal
yang sederhana.
"Semakin lo menjauh, semakin keras juga usaha gue untuk mengikis jarak
itu, Senja Alana."
***
Ratu meremas jemarinya dengan perasaan gugup. Saat ini ia tengah berada
di salah satu Rutan tempat sang Ayah, Rama Wijaya ditahan. Sudah dua
minggu ia tidak membesuk Rama. Ia benar-benar tidak memiliki keberanian
walaupun hanya untuk sekedar saling tatap dengan Ayah nya sendiri.
Ratu memegang dadanya yang terasa sakit saat melihat sosok Rama yang
tengah berjalan menujunya sembari melemparkan senyum lebar kepadanya.
Ayah?, lirih Ratu dalam hati.
Ratu memeluk Rama seerat mungkin, melepaskan rasa rindu dan kesedihan
yang ia pikul akhir-akhir ini. "Ayah, Ratu kangen." kata Ratu. Ratu
melepaskan pelukannya, lalu memperhatikan penampilan Rama saat ini.
"Ayah, kenapa Ayah makin kurus begini? Ayah sakit?" tanya Ratu khawatir.
Rama menggeleng lalu mengajak Ratu untuk duduk. "Ayah sehat, gimana
kabar kamu dan Bunda?" tanya Rama membuat Ratu mematung. "Ratu?"
panggil Rama kembali.
"Eh?" Ratu mengerjapkan matanya berkali-kali. "Aku dan Bunda sehat kok.
"Ayah, ini aku bawain makanan untuk Ayah, nanti jangan lupa dimakan ya."
Ratu mengeluarkan sebuah rantang yang berisi makanan kesukaan Rama
sambil berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Rama meraih rantang tersebut lalu mengusap lembut kepala Ratu.
"Terimakasih Nak." ucap Rama. "Nak, Ayah boleh minta tolong?" tanya Rama
sambil menggenggam jemari mungil Ratu.
Ratu mengangguk cepat. "Boleh, Ayah mau minta tolong apa? Ada yang
perlu Ayah beli?" tanya Ratu.
Rama mengeluarkan secarik kertas dalam saku celananya. "Kalau kamu
nanti ada waktu, tolong temui orang ini dan sampaikan permintaan maaf
Ayah." Rama menyodorkan secarik kertas berisikan sebuah nama beserta
alamat yang sudah tertera kepada Ratu.
"Jam besuk sudah habis." tegur salah satu polisi.
Ratu yang mendengar dengan buru-buru meraih kertas tersebut lalu
memasukannya ke dalam tas ranselnya. "Ayah tenang aja, Ratu akan temui
orang itu nanti." jawab Ratu. "Ayah, Ratu pamit ya. Minggu depan Ratu kesini
lagi." pamit Ratu sambil beranjak dari tempat duduknya.
Rama memeluk Ratu kencang sambil mencium lembut puncak kepala Ratu.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Ayah sayang Ratu. Jangan pernah sedih atau
sakit karena terlalu mikirin Ayah. Jadilah wanita tegar, Ayah yakin kamu bisa
melewati kerikil tajam dalam kehidupan dengan kuat." ujar Rama dengan
suara hampir tercekat.
Ratu membalas pelukan Rama tak kalah erat. "Ratu janji akan selalu
berusaha untuk jadi wanita kuat seperti yang Ayah mau. Makanya, Ayah selalu
jaga kesehatan dengan baik ya. Ratu butuh Ayah." jawab Ratu sambil
berusaha menahan cairan kristal di kedua sudut matanya.
Ratu melepaskan pelukan Rama, lalu mencium punggung tangan Rama
dengan lembut. "Ayah, Ratu pamit ya." pamit Ratu sekali lagi dan dibalas
dengan anggukan beserta senyuman dari Rama.
Ratu berbalik lalu beranjak keluar sambil memukul-mukul kecil dadanya
untuk menahan sesak yang mencekiknya. Ia merasa berdosa besar karena
masih menyembunyikan kepergian Sinta dari Rama. Entah sampai kapan Ratu
akan membohongi Rama, ia tidak ingin kesehatan Rama makin memburuk bila
mendengar kabar duka yang ia simpan dengan rapat itu.
"Kayaknya nangis udah jadi rutinitas wajib lo sehari-hari ya."
Ratu tersentak dan menoleh ke belakang seketika. "Raja? Raja ngapain
disini?" Ratu berjalan mendekati Raja. "Kok Raja enggak bilang kalau mau
kesini?" tanya Ratu heran.
Raja mengusap lembut wajah Ratu. "Mau ngajak lo makan terus anter lo
pulang." jawab Raja. "Ayok." Raja menarik tangan Ratu.
"Eh?" Ratu menahan tangan Raja. "Maaf Raja, Ratu mau ke rumah Helen.
Jadi, lain kali aja ya." jawab Ratu tidak enak.
Raja mengernyit heran. "Ke rumah Helen? Mau ngapain? Di sekolah juga
bisa ketemu." kata Raja.
Ratu menggeleng. "Helen sakit, Ratu mau jenguk Helen. Boleh ya?" tanya
Ratu dengan tatapan memohon.
Raja menghela napas. "Boleh." jawab Raja membuat Ratu mengulas
senyumnya. "Ayok, gue temenin." ujar Raja disusul dengan anggukan dan
sinar binar yang berasal dari kedua manik mata Ratu.
Setelah melewati kemacetan dengan waktu hampir satu jam. Akhirnya Ratu
sampai juga di kediaman Helen yang berada di salah satu komplek
perumahan mewah di Jakarta, bersama dengan Raja. Entah kenapa perasaan
Ratu berubah menjadi gugup, saat salah satu asisten rumah tangga keluarga
Helen yang bernama Siti, memberikan pesan kepadanya untuk menemui Helen
yang tengah menunggunya di kamar, dengan syarat tidak boleh membawa
siapapun ke dalamnya.
Ratu mengangguk setuju lalu memberikan pengertian sedikit kepada Raja.
Ratu berjalan mengikuti Siti dari belakang. Sesekali ia sempat terpukau
melihat interior mewah yang ada di sekelilingnya. Setelah menaiki anak
tangga, sampailah Ratu di depan pintu kamar Helen. Ia mengetuk pintu
terlebih dahulu, lalu dengan sopan ia melangkahkan kedua kakinya masuk ke
dalam.
Hati Ratu merasa teriris saat melihat Helen tengah meringkuk di pojok
kamar dengan tatapan lurus dan kosong. Wajah cantiknya pun sudah memucat
bersama kantung hitam di bawah mata indahnya. "Helen?" panggil Ratu
membuat Helen tersentak.
Ratu berjalan pelan menghampiri Helen, dan menggenggam tangan gadis
itu sambil berjongkok. "Hai, Ratu dat—"
Belum sempat Ratu melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Helen mengguncang
tubuhnya kuat. "Pergi dari sini Ratu!" ucap Helen sambil mengedarkan
pandangan ke sekelilingnya. "Lo harus hati-hati, Ratu! Dia benar-benar
bahaya! Dia enggak main-main dengan semua ini." Helen menatap Ratu
dengan sorot rasa takut.
Ratu menenangkan Helen segera. "Helen, tenang. Ratu enggak ngerti sama
sekali apa maksud Helen. Dia itu siapa?" tanya Ratu cemas.
Untuk sesat hanya ada keheningan. Ratu membiarkan Helen yang tengah
mengatur deru napasnya sendiri sebentar. Setelah melihat Helen yang sudah
mulai tenang, Ratu mulai membuka suara kembali. "Jadi, dia siapa yang
Helen maksud?" tanya Ratu sambil menatap Helen serius.
Helen membalas tatapan Ratu dengan rasa takut sambil menyebutkan satu
nama tanpa ada suara, membuat Ratu membulatkan mata tidak percaya dan
menangkupkan satu tangan ke mulutnya. Dengan membaca gerakan bibir
Helen, Ratu bisa menebak siapa dalang dibalik rasa takut gadis itu. Tidak
mungkin!!
***
Rindu memetik gitar yang ada di atas pangkuannya sambil memejamkan
matanya sejenak untuk menikmati irama yang menembus kedua telinganya.
Hari ini adalah hari pertama ia bekerja sebagai pengisi live music di sebuah
caffe, yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia bersyukur sekali karena
mendapatkan pekerjaan tambahan yang sangat cocok untuknya. Siapa yang
tidak senang jika memiliki hobi yang bisa menghasilkan uang? Orang
bilang, pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar! Dan itu
benar adanya.
I Love You
deutgo ittnayo
Only You
nuneul gama bwayo
barame heutnallyeo on geudae sarang
whenever wherever you are
Rindu melantunkan lagu pertama dari soundtrack k-drama kesukaannya.
Walaupun ia tahu bahwa pengunjung seisi caffe sama sekali tidak mengerti
dengan arti lagu yang ia nyanyikan, tapi ia tetap akan menyanyikannya. Ia
sangat yakin sekali bahwa lagu tersebut pasti tidak asing lagi ditelinga
mereka semua, terutama bagi para kaum hawa yang sedang merasa baper-
bapernya menikmati malam minggu ini bersama pasangannya, dan itu semua
terbukti saat mendengar beberapa pengunjung ikut menyanyi bersamanya.
Tanpa Rindu sadari, dari sudut kanan stage terlihat seorang laki-laki
tengah menatapnya tanpa teralihkan sedikitpun, dan tidak memperdulikan
ketiga teman lelakinya yang masih asyik bercanda satu sama lain. Elang
Guntur. Ia benar-benar merasa terpesona dengan seorang gadis yang tengah
memangku gitar sambil melantunkan sebuah lagu, yang menurutnya indah
walaupun ia sama sekali tidak mengerti makna dari lagu itu sendiri.
Satu hal lagi yang membuatnya makin tidak bisa mengalihkan
pandangannya, gadis yang berhasil membuatnya terpesona itu adalah gadis
yang ia temui sebanyak tiga kali tanpa adanya rasa kesengajaan. Unik bukan?
Angkasa menepuk pundak Elang keras. "Woy! Lama-lama mata lo bisa
keluar gara-gara liatin itu cewek melulu!" celetuk Angkasa membuat Elang
tersentak.
"Dia itu lagi menghayati lagunya Sa, sama kayak gue sekarang ini sampe
mau nangis aja rasanya." ujar Panca membuat Dirga mengernyit heran.
"Kenapa lo? Galau?" tanya Dirga kepada Panca.
Panca mengangguk. "Iya gue galau banget." jawab Panca dengan tatapan
sendu yang dibuat-buat, sontak membuat ketiga temannya menatapnya. Apa?!
Seorang Panca bisa galau?! Wah! Wah!
"Galau kenapa lo?" tanya Angkasa pada intinya.
Panca menatap ketiga temannya saling bergantian, lalu ia menghela
napasnya kasar membuat ketiga temannya makin penasaran. "Gue galau
karena enggak ngerti itu cewek nyanyi lagu apa." jawab Panca tanpa dosa.
"Kenapa enggak pake Bahasa Indonesia aja sih? Bahasa Inggris aja gue bego,
apalagi itu yang Bahasanya bisa bikin lidah melilit!" protes Panca.
Dirga menjitak kepala Panca kesal. "Dasar kutu badak! Emang enggak bisa
serius dikit ya jadi manusia!" decak Dirga.
Angkasa melempar segumpal tisue ke wajah Panca sambil berdecak.
"Suatu saat kalau lo beneran GALAU, enggak ada satupun dari kita yang
bakal percaya!" ujar Angkasa diikuti dengan anggukan setuju kedua temannya.
"Enggak ada yang namanya GALAU dalam kamus Panca Ksatria." Panca
menepuk dadanya dengan percaya diri.
Elang menghela napas. "Jangan asal ngomong. Nanti kalau kejadian, lo
bisa malu karena udah jilat ludah lo sendiri. Belajarlah dari Raja Gemilang."
lontar Elang.
"Lagian, gue yakin banget cewek yang namanya Sila itu bisa bikin hati lo
klepek-klepek sampe modar. Tunggu aja saatnya!" ujar Dirga membuat Panca
meliriknya dengan sinis.
"Enggak usah bahas si cewek bar-bar! Sampe Angkasa balikan sama Raya
juga gue enggak akan sudi jatuh cinta sama itu cewek!" tegas Panca.
Angkasa mendegus kesal. "Enggak usah bahas Raya! Sampe Dirga punya
pacar juga gue enggak akan sudi balikan sama itu cewek!" ujar Angkasa
membuat Dirga melemparkan erlingan tajam kepadanya.
Elang mengangguk antusias. "Ngomong-ngomong nih, diantara kita
berlima, cuma lo doang Ga yang enggak pernah sama sekali ngebahas soal
cewek!" ujar Elang kepada Dirga.
Panca memicingkan kedua matanya kepada Dirga. "Jangan-jangan," jeda
sejenak. "Lo normal kan Ga?" tanya Panca sambil bergidik.
Dirga memiting kepala Panca seketika. "Wah! Cari mati ini anak!" ujar
Dirga. "Nyari pacar itu enggak semudah kayak nyari gorengan di pinggir
jalan!" Dirga melepaskan pitingannya sambil meraih segelas es jeruk yang
ada di atas meja lalu menegaknya.
"Dibawa santai aja, kalau waktunya udah tepat juga nanti dia mampir
sendiri, dan tanpa perlu ada paksaan tentunya." lontar Dirga membuat
Angkasa dan Elang sedikit merasa.
"Segala sesuatu yang dipaksakan itu enggak akan pernah baik hasilnya.
Percaya deh sama gue, semakin lo paksa keinginan lo untuk terwujud,
semakin dekat juga kegagalan lo untuk meraih hal itu." lanjut Dirga serius.
Elang merenungi ucapan Dirga sesaat. Dirga benar, tidak seharusnya ia
memaksakan perasaan Rinai lagi untuk kembali seperti semula sebelum ia
menciptakan luka di hati gadis itu. Rinai pantas untuk bahagia, dan mungkin
bukan dirinya lah yang menjadi sumber dari kebahagiaan itu. Sedangkan
Anggi, ia juga tidak bisa memaksakan perasaanya untuk mencintai kembali
gadis itu, seperti sebelum rasa kehilangan akan sosok Rinai tercipta.
Perasaan memang tidak bisa dipaksakan, seperti halnya seorang Raja
Gemilang yang selalu memaksakan hatinya untuk membenci seorang Ratu,
begitupun seperti Ratu Setia Wijaya yang selalu memaksakan hatinya untuk
melupakan seorang Raja, dan semua itu hanya berujung dengan kegagalan
dengan rasa sakit sebagai pelengkapnya.
Jadi, sudah saatnya Elang Guntur memutuskan hubungan antara tiga hati
yang selama ini hanya saling menyakiti.
Elang memejamkan mata sejenak.
Rinai, terimakasih karena dulu telah mencintai lelaki brengsek seperti
Elang Guntur dengan rasa sabar yang ditutupi dengan seulas senyum
ketegaran setiap harinya.
Anggi, terimakasih juga karena telah mengajarkan lelaki bodoh seperti
Elang Guntur untuk memperjuangkan sebuah rasa tanpa ada kata
menyerah setiap harinya.
Walau berat, tapi kita harus mengakhiri cerita ini dengan baik-baik.
Walau berat, tapi kita harus menerima rasa kekalahan ini dengan
lapang dada.
Walau berat, tapi kita harus merelakan untuk saling melepas dengan
rasa ikhlas.
Walau berat, tapi kita harus saling melupakan dengan hati yang kuat.
Malam ini,
Cerita kita bertiga sudah selesai.
Semoga kalian bahagia.
Terimakasih karena pernah hadir.
——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!
JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere
FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan
tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK
RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler
bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo
37. SAYANG ATAU ENGGAK?
괜히 틱틱대고 씩씩대고 징징대게 돼
나는 진지한데 찌질하게 시비나 걸게 돼
뭔데 신경 쓰여 다 큰 날 애로 만들어
거꾸로 뒤집을껴, 인연을 연인으로
Kau membuatku begitu marah,dan marah tanpa alasan Aku serius tapi
kau buatku jadi pecundang yang memungut perkelahian denganmu
Mengapa aku perduli begitu banyak tentangmu?
Kau membuat ku seperti anak kecil
Tapi aku akan membalikkan keadaaan
Dari hanya tau satu sama lain untuk menjadi pecinta
널 알게 된 이후 ya
내 삶은 온통 너 ya
사소한 게 사소하지 않게 만들어버린 너라는 별
하나부터 열까지 모든 게 특별하지
너의 관심사 걸음걸이 말투와
사소한 작은 습관들까지
Sejak saat aku berjumpa denganmu
hidupku, semuanya tentangmu
Kau adalah bintang yang merubah sesuatu, yang biasa menjadi luar biasa
Satu demi satu, semuanya jadi istimewa
Hal-hal yang kau inginkan, caramu berjalan atau berbicara, dan setiap
kebiasaan kecilmu
Boy With Luv-BTS ft. Halsey
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT
MEMBACA SEMUA ❤]
37. SAYANG ATAU ENGGAK?
Raja melirik Ratu yang tengah mengaduk-aduk segelas es teh manis tanpa
sedikitpun ada niat untuk menyeruputnya, dengan raut wajah heran. Semenjak
mereka berdua pulang dari kediaman Helen, ia merasa ada perubahan sikap
dari gadis itu. Ratu tidak bisa membohongi seorang Raja!. Tapi untuk saat
ini, Raja sama sekali tidak ingin memaksa gadis itu untuk menjadikannya
sebuah tempat keluh kesah dadakan. Ratu butuh ruang. Raja tahu akan hal itu.
Raja berdeham. "Jangan ngelamunin gue terus, nanti kelabasan." celetuk
Raja membuat Ratu menoleh.
Ratu mengernyit heran. "Ratu enggak ngelamunin Raja." jawab Ratu sambil
menggeleng.
"Terus ngelamunin apa dong?"
"Enggak ngelamunin siapa-siapa."
Raja menghela napas. "Bilang aja kalau lagi ngelamunin Aksara." Raja
mengeluarkan nada cemburunya.
Ratu tersenyum simpul. "Raja cemburu?" ledek Ratu sambil menyikut
tangan Raja. "Ratu seneng deh kalau Raja cemburu!" ujar Ratu kembali.
Raja menaikan satu alisnya. "Seneng? Harusnya lo merasa panik karena
tanduk di kepala gue bakal muncul sebentar lagi." decak Raja.
Ratu tertawa kecil. "Cemburu kan artinya sayang." jawab Ratu. "Raja
sayang Ratu kan?" tanya Ratu sambil menatap Raja penuh harap.
Raja menaikan kedua bahunya. "Enggak tahu." jawab Raja santai membuat
senyum Ratu lenyap begitu saja.
Ratu menghela napas kecewa. "Harusnya Ratu sadar, kalau Raja memang
enggak akan pernah bisa lagi sayang sama Ratu." Ratu meringis.
Belum sempat Raja menanggapi ucapan Ratu, keempat temannya tengah
muncul seketika sambil membawa semangkuk bakso dan segelas es jeruk
ditangannya masing-masing. Raja mendengus kesal dalam hati, kenapa
keempat temannya ini selalu saja muncul di saat momen yang tidak tepat.
"WADAAAWW!! ini hawanya dingin amat ya, berasa lagi di puncak."
ledek Panca yang melihat raut wajah muram Ratu.
Angkasa duduk sambil berusaha menahan tawanya. "Es jeruk gue aja kalah
dinginnya Ca!" Angkasa mengangkat segelas es jeruk ditangannya.
"Brrrr.. Bentar lagi gue kayaknya bakal kena hiportemia Ca!" timpal Elang
berlebihan sambil mengusap-usap kedua lengannya.
"Asep dari kuah bakso gue aja sampe ilang, sangking dinginnya Ca!"
timpal Dirga yang tak mau tertinggal.
Raja yang merasa tersindir, dengan seketika melemparkan tatapan perang
kepada keempat temannya. Ia mengumpat sambil mengucapkan sumpah
serapah dalam hati, bahwa suatu saat ia pasti akan membalas mereka satu
persatu. Cari mati semua!
Ratu merasakan rasa gusar tengah menghampirinya. Ia kesal kepada Raja
setengah mati. Sifat Raja yang berubah-ubah membuat kepalanya makin
bertambah sakit saja. Raja nyebelin! Raja nyebelin! Raja nyebeliiiiiiiiiiiin!
Raja nyebelin!. Ratu yang tidak mau isi hatinya meledak, dengan reflek ia
beranjak dari kursi.
"EHHHH NENG RATU MAU KEMANA? ABANG PANCA KAN BARU
SAMPE, KOK MALAH PERGI SIH? ENGGAK KANGEN SAMA ABANG
PANCA?" Panca menggoda Ratu yang sedang merajuk.
Raja menahan tangan Ratu sambil mengadahkan wajahnya untuk menatap
gadis itu. "Lo kenapa?" tanya Raja dengan bingung. Bingung harus berbuat
apa.
"Enggak apa-apa" ketus Ratu sambil mengalihkan pandangannya dari Raja.
"WADAW SIAGA SATU DIMULAIIII!" celetuk Panca kembali membuat
Raja berdecih.
Raja menghela napas. "Mau ke kelas?" tanya Raja untuk kedua kalinya.
"Enggak tahu."
"SIAGA DUA BROOOOOOO!!" timpal Dirga semangat.
"Pulang sekolah gue anter ya?" tanya Raja kepada Ratu yang masih
merajuk.
"Terserah."
"MAMPUUUSSS! SIAGA TIGAA DATANGGG!!" ujar Angkasa
menggebu-gebu.
Raja melepaskan tangan Ratu. "Yaudah kalau gitu, belajar yang rajin ya di
kelas." ujar Raja sambil melambaikan satu tangannya kepada Ratu membuat
gadis itu menatapnya tak percaya.
"Raja nyebelin!" teriak Ratu sambil menghentakan satu kakinya dengan
kasar, lalu pergi begitu saja membawa rasa kesal yang sudah meledak-ledak.
DEMI DEWA LANGIT , RAJA ADALAH LAKI-LAKI YANG TIDAK PEKA
NOMOR SATU DI DUNIA!.
Raja tercengang sambil menatap kepergian Ratu dengan raut wajah bodoh.
Nyebelin?, ia bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi dengan
gadis itu. Kalau saja ada pilihan, Raja lebih baik mengerjakan sepuluh soal
fisika sekarang juga, dibanding harus berpikir keras untuk memikirkan
persoalan yang terjadi antara dirinya dengan Ratu. Merepotkan!
Elang menepuk pundak Raja sambil tertawa. "Selamat datang di zona
bahaya, Raja Gemilang." ledek Elang membuat Raja makin bingung.
Raja berdecih. "Enggak jelas!"
"Abang Panca kasih tahu ya! Cewek itu punya tiga kata keramat dalam
hidupnya. Kata pertama; ENGGAK APA-APA. Kalau cewek udah ngomong
kayak gitu, berarti itu tandanya ada apa-apa!, kata kedua; ENGGAK TAHU.
Kalau cewek udah ngomong kayak gitu, berarti itu tandanya lo harus cari
tahu!, kata ketiga; TERSERAH. Nah ini nih, kata keramat yang paling horor
bagi kaum kita. Kalau cewek udah ngomong kayak gitu, berarti itu tandanya
lo harus cari seribu cara apapun supaya dia enggak ngambek lagi, APAPUN
ITU. Jelas?" lontar Panca panjang lebar.
Raja berdecak. "Ribet banget sih! Emangnya gue dukun yang bisa tahu
segala hal tanpa perlu dibilang?" dengus Raja.
"Gue kan udah bilang, Raja itu pinter di akademik doang, untuk urusan
cewek bego nya enggak ketolongan!" cemooh Angkasa.
"Dicolong Aksara baru tahu rasa!" celetuk Dirga membuat Raja
menatapnya gusar. "Belajar dari yang udah-udah Ja! Jangan mau jadi cowok
bego untuk kedua kalinya!" peringat Dirga.
"Tenang aja Ja! Selama masih ada abang Panca, semua urusan yang
menyangkut tentang cewek, pasti bisa abang bantu untuk terselesaikan dengan
mudah! Tenang!" Panca menepuk dadanya dengan percaya diri.
Elang berdecih. "Jangan percaya Ja! Nanti yang ada malah makin parah,
Panca kan laki-laki yang enggak punya hati!" sindir Elang.
Dirga mendengus kesal. "Udah-udah enggak usah bahas cewek lagi. Lebih
baik kita bahas soal Sergio." Dirga menatap serius satu persatu temannya.
"Kita enggak boleh lengah lagi!" lanjut Dirga.
Raja memijat pelipisnya. "Itu dia yang gue pikirin dari kemarin. Si banci
itu kabur dan enggak ada yang tahu dimana keberadaannya! Brengsek
memang!" geram Raja.
"Gue bakal minta bantuan dari koneksi gue untuk cari itu banci. Gue yakin
dia masih ada di Jakarta." ujar Elang. "Kita harus lebih hati-hati sekarang,
gue rasa si banci itu enggak bisa dianggap remeh." lanjut Elang serius.
Angkasa tersenyum tipis. "Sayangnya, dia terlalu bodoh untuk mengatur
rencananya sendiri." ujar Angkasa membuat keempat temannya menatapnya
bingung.
"Maksud lo Sa?" tanya Panca serius kepada Angkasa.
Angkasa menghela napas. "Waktu kejadian sore itu, Bima dan Gamal
bilang kalau Sergio kabur dari sekolah lewat jalan belakang. Itu artinya, pasti
ada salah satu atau lebih anak GARUDA yang ngasih tau dia seluk beluk
denah sekolah kita. Kalian tahu sendiri kan, gimana besar dan ribetnya isi
sekolah kita? Anak kelas X aja mungkin butuh waktu setengah semester untuk
bisa beradaptasi akan hal itu. Logikanya, dia yang bukan anak GARUDA, kok
bisa dengan mudahnya kabur gitu aja lewat jalan rahasia yang gue yakinin
banget cuma anak GARUDA yang tahu." jelas Angkasa panjang lebar.
Elang mengangguk cepat. "Gue setuju! Ditambah lagi Bima dan Gamal
bilang, kalau kepergian Sergio itu enggak terlalu lama dari kedatangan kita.
Gue, Dirga dan Panca waktu itu udah mencar kemana-mana, tapi hasilnya
nihil. Kita enggak nemuin dia dimanapun. Otomatis, Sergio memang kabur
dari dinding belakang gudang sekolah yang udah enggak terpakai itu." tambah
Elang dengan yakin.
Raja menggebrak meja kasar. "Sialan! Bisa-bisanya ada cepu di sekolah
kita!" geram Raja.
"Mungkin lebih dari sekedar cepu. Tahu sendiri kan, anak GARUDA
paling anti untuk cari masalah sama kita. Benar-benar berani!" tanggap Dirga.
"Kita enggak bisa biarin orang itu berkeliaran di GARUDA seenaknya. Ini
terlalu berbahaya." ujar Panca dengan nada sedikit cemas. "Gue enggak mau
kejadian yang menimpa Ratu dan Senja, dialami juga oleh murid perempuan
lainnya." lanjut Panca.
Elang menggeleng. "Enggak. Gue yakin target si banci itu hanya orang-
orang terdekat dari Ratu, termasuk juga orang-orang yang dia anggap sebagai
penghalang dari rencana busuk dia, contohnya Senja." Elang berpendapat.
Rahang Angkasa mengeras saat mendengar nama Senja, ia benar-benar
akan membalas apa yang telah Sergio perbuat terhadap gadis itu. Tunggu
saja tanggal mainnya, Sergio!. "Jadi, lebih baik kita patahin dulu satu
persatu kaki tangan dia di sekolah ini." kata Angkasa dingin. "Baru setelah
itu, kita babat banci itu sampe mampus dan tanpa ampun!" Angkasa
menggertakan gigi tanpa disadari.
Raja mengepalkan tangan kuat. "Mereka benar-benar cari mati. Baiklah,
dengan senang hati gue akan anterin mereka satu persatu menuju nerakanya
masing-masing." tambah Raja dengan seringai tajam.
Panca, Elang dan Dirga saling bergidik ngeri melihat raut wajah Raja dan
Angkasa yang menurut mereka sedikit menakutkan saat ini. Sergio akan
benar-benar habis!, mereka sangat yakin sekali akan hal itu. Mereka sudah
sangat mengenal bagaimana sifat tempramental yang dimiliki oleh Raja dan
Angkasa. Kedua lelaki itu tidak akan pernah melepaskan siapapun yang sudah
merusak salah satu bagian dari hidup mereka masing-masing, sebelum
mereka menghabisi orang tersebut sampai puas. Tidak percaya? Bisa kita
buktikan nanti!
"Jadi, hal pertama apa yang harus kita lakuin untuk nemuin kumpulan para
ranjau itu disini?" tanya Panca serius.
"Enggak ada." jawab Angkasa cepat.
Elang mengernyit heran. "Enggak ada? Yang bener aja Sa! Kita enggak bisa
biarin hal ini terlalu lama." ujar Elang disusul anggukan Panca.
"Tenang aja, sikap bungkam kita pasti akan membuat mereka saling
meledak karena ranjau yang sudah mereka pasang sendiri." Angkasa tertawa
remeh.
Raja mengangguk mengerti. "Sikap bungkam kita juga lah yang akan
membuat mereka menampakan satu persatu batang hidung mereka masing-
masing." timpal Raja tajam.
"Dan tanpa perlu ada rasa susah payah dari kita tentunya." tutup Dirga yang
sudah mengerti maksud dari isi pembicaraan tersebut.
Elang dan Panca saling bertukar pandang dengan kening yang berkerut.
Entah mereka yang terlalu bodoh atau ketiga temannya lah yang terlalu pintar,
hingga membuat mereka berdua terlihat seperti orang yang kebingungan. Ah!
Ternyata tampan saja tidak cukup untuk bisa masuk geng TEMPUR!
***
Bel pulang sekolah sudah menggema. Raja berjalan dengan terburu-buru
menuju kelas Ratu. Belum juga sampai, dari kejauhan Raja melihat Ratu
tengah melintasi lapangan berjalan ke arah gerbang sekolah. Raja sempat
berdecak karena Ratu sama sekali tidak menerapkan perintahnya untuk
menunggunya di kelas, sebelum ia menjemputnya.
Raja akhirnya berlari kecil menyusul Ratu hingga keluar gerbang. Bisa
Raja lihat, wajah Ratu benar-benar sangat masam. Ratu masih merajuk. Raja
bisa menebaknya dengan sempurna. Raja mengacak rambutnya kasar, karena
benar-benar bingung harus berbuat apa. Bahkan rumus matematika saja
kalah rumitnya dibandingkan dengan isi hati perempuan!
Raja berhasil menyusul Ratu, lalu berjalan disampingnya segera hingga
membuat gadis itu menoleh. "Kamu, Ratu ya?" tanya Raja dengan muka
bodohnya. "Aku ramal, kamu pasti lagi ngambek!" lanjut Raja dengan nada
menggoda.
Ratu melirik Raja dengan masam. Apaan sih! Emangnya Raja itu Dilan!
Jauh kali!. Ratu tetap berjalan sambil melipatkan kedua tangannya dengan
muka angkuh tanpa menggubris Raja sedikitpun. Sekali-kali Raja memang
harus diberikan pelajaran! Memangnya cuma Raja aja yang bisa marah?
Ratu juga bisa kali!
Raja terkekeh dalam hati melihat raut wajah Ratu, yang justru baginya
adalah hal yang menggemaskan. Raja berdeham. "Ratu, kamu cantik, tapi aku
belum mencintaimu. Enggak tahu deh kalau bentar lagi, udah cinta belum ya?"
usil Raja kembali.
Ratu mendelik tajam. Gimana mau cinta?! Sayang juga enggak! Ngajak
balikan juga enggak! Emangnya Ratu itu jemuran yang bisa digantung
seenaknya?!. Ratu kembali melanjutkan langkahnya tanpa mau memandang
Raja. Emangnya enak diginiin?!
Raja menghela napas melihat sikap cuek Ratu. Raja menahan tangan Ratu
lembut, membuat Ratu menghentikan langkahnya. "Jangan ngambek lagi dong,
lo jelek kalau lagi ngambek gini!" ujar Raja membuat Ratu menghentakan
kakinya.
"Iya! Ratu memang jelek, makanya Raja enggak pernah sayang lagi sama
Ratu! Pergi aja sana!" bentak Ratu keras.
Raja mengusap wajah kasar. Salah lagi, salah lagi!. "Lo enggak berhak
untuk ngusir gue, lo itu bukan siapa-siapa." balas Raja datar.
Hati Ratu mencelos begitu saja mendengar kalimat andalan seorang Raja
Gemilang. "Iya, Ratu memang bukan siapa-siapa!" Ratu menepis kasar tangan
Raja sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
Raja menarik lembut kembali tangan Ratu. "Lihat gue." kata Raja yang
masih diabaikan. "Lihat gue, Ratu!" Raja meninggikan suaranya membuat
Ratu tersentak lalu menatapnya.
Raja menatap Ratu serius. "Gue tahu alasan lo ngambek kayak gini, karena
kejadian di kantin tadi siang kan?" tanya Raja yang hanya dibalas dengan
diam. "Gue anggep jawaban lo adalah iya. Gue enggak ngerti sebenarnya
salah gue dimana. Tapi tolong, jangan bersikap kayak bocah gini! Kita bisa
bicarain ini baik-baik." ujar Raja membuat Ratu menunduk malu sambil
menggigit bibirnya.
Raja mengusap lembut puncak kepala Ratu. "Waktu lo tanya gue sayang lo
atau enggak, jawaban gue adalah enggak tahu. Tapi itu adalah jawaban yang
benar-benar ada di hati gue, Ratu." jeda sejenak, Ratu menahan sakit di
dadanya. "Lo mau tahu alasan dari jawaban gue itu apa?" tanya Raja
membuat Ratu mengangguk samar.
Raja menghela napas. "Itu semua karena gue enggak ngerti dengan
perasaan gue sendiri. Gue enggak tahu apa yang gue rasain sekarang ini,
adalah rasa sayang atau bukan. Tapi yang jelas, lo udah berhasil bikin gue
gila hampir setiap saat." Raja mengangkat dagu Ratu. "Mungkin yang gue
rasain ini lebih dari sekedar rasa sayang," jeda sejenak. "Gue cinta sama lo,
Ratu. Gue merasa mau mati jika harus kehilangan lo." ungkap Raja lega.
Ratu tertegun. Ia menatap Raja sedikit tidak percaya. Ratu salah denger
enggak sih?! Kalian bisikin Ratu dong!. Ratu berdeham sambil meremas-
remas jemarinya, lalu menundukkan kepalanya segera. Ia yakin sekali
wajahnya pasti sudah merah merona seperti kepiting rebus saat ini. RATU
HARUS JAWAB APA???!!
Raja tersenyum simpul. "Ratu?" panggil Raja.
"Hm." jawab Ratu yang masih menunduk. Ia benar-benar tidak ingin Raja
melihat wajahnya saat ini. Ratu gengsi! Ratu gengsi!
"Ratu?"
"Iya."
"Ratu?"
"Apa, Raja?"
"Ratu?"
Ratu berdecak, lalu mendongakan kepalanya. "Ada apa Raja?!" tanya Ratu
kesal.
"Balikan yuk?"
——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!
JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere
FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan
tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK
RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler
bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo
38. HARI RAJA DAN RATU
새로운 세상 문이 열려있죠
그대 안에 있네요
한걸음 넘어 눈이 부시게
펼쳐진 세상이 날 반기죠
Pintu telah dibuka untuk dunia baru
Kau berada di sana
Satu langkah lebih, dunia mempesona
Itu menyapaku
그대 곁에 다가가 안기고 싶어요
머물고 싶죠 그대라는 세상에
I owe you I miss you
I need you I love you
영원토록 그대 품에
Aku ingin pergi ke kamu, ke dalam pelukanmu
Aku ingin tinggal di duniamu
Aku berhutang padamu aku merindukanmu
Aku butuh kamu, aku mencintaimu
Selamanya dalam pelukanmu
You're My World-Yoon Mirae OST. The Legend Of the Blue sea
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT
MEMBACA SEMUA ❤]
38. HARI RAJA DAN RATU
Rinai melirik Ratu sambil mengernyit. Sudah seharian ini ia melihat gadis
itu tengah senyam-senyum sendiri. Padahal sudah semalaman ia
mempersiapkan mental untuk menghadapi kemurkaan Ratu kepadanya, karena
kesalahan yang ia ciptakan akhir-akhir ini. Tetapi, yang ia dapat malah
senyuman lebar dari gadis itu, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan,
dirinya sudah meminta maaf secara langsung dan berharap Ratu memarahinya
saja agar ia bisa tenang untuk tidak berpikir macam-macam dengan
persahabatan mereka yang ia kira sudah berada di ujung tanduk ini. Benar-
benar memusingkan!
Rinai berdeham. "Bahagia banget kayaknya, awas itu gigi jadi kering gara-
gara senyum melulu." tegur Rinai sambil mengelap meja.
Ratu menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Rinai bisa aja deh!" jawab Ratu salah tingkah sambil memukul kecil lengan
Rinai.
Rinai menatap Ratu tidak percaya. "Sumpah, lo nyeremin abis! Lo sakit?"
Rinai menyentuh dahi Ratu dengan punggung tangannya. "Normal." lanjut
Rinai.
Ratu tersipu malu. "Ratu enggak sakit kok! Ratu cuma lagi bahagia." ujar
Ratu. "Oh iya! Rinai lagi mau makan apa? Ratu traktir deh!" tanya Ratu
antusias.
"Traktir?" Rinai menaikan satu alisnya. "Ulang tahun lo kan masih lama."
jawab Rinai heran.
"Ini bukan traktiran ulang tahun, tapi....." Ratu mengulum senyumnya.
"Tapi?"
"Ratu balikan sama Raja! Ratu balikan sama Raja, Rinai! Akhirnya pucuk
dicinta ulam pun tiba.." Ratu menangkupkan kedua tangannya di wajah
mungilnya sambil memekik sesekali. "Aduh, tolong Ratu butuh oksigen
sekarang juga!!" Ratu memukul kecil dadanya berkali-kali dengan berlebihan.
Ratu bucin!
Rinai tercengang. "Apa? Balikan?! Kapan lo ngajak dia balikan? Kok gue
enggak tahu? Terus dia kok mau lo ajak balikan lagi?" tanya Rinai bertubi-
tubi.
Ratu berdecak kesal. "Enak aja! Bukan Ratu yang ajak Raja balikan, tapi
Raja sendiri yang minta!" ujar Ratu membuat Rinai menatapnya tidak
percaya.
"Apa? Raja yang ngajak lo balikan? Kok bisa? Bukannya dia benci banget
sama lo? Emang dasar labil itu anak!"
"Namanya juga perasaan, kan bisa berubah-ubah."
Rinai menghela napas. "Terus? Lo langsung mau waktu dia ngajak lo
balikan?" Rinai memicingkan kedua matanya. "Jangan bilang..."
Ratu mengangguk cepat. "Mau dong! Siapa coba yang bisa nolak pesona
Raja!" jawab Ratu lantang.
Rinai menepuk dahi seketika. "Astaga! Jual mahal dikit kek! Harusnya lo
jawab ajakan dia besok atau lusa atau bahkan seminggu berikutnya kalau
perlu! Gimana sih lo?!" cerca Rinai.
"Emangnya Ratu itu Rinai, sok jual mahal padahal dalam hatinya masih
berharap! Awas nanti Elang diambil orang lagi, baru tahu rasa!" cibir Ratu.
Rinai berdecih. "Siapa juga yang mau balikan sama Elang? Cerita gue
sama dia itu udah selesai, alias udah TUTUP BUKU!" tegas Rinai.
Ratu menghela napas. "Ratu dukung semua keputusan Rinai. Tapi, Ratu
cuma mau kasih saran jangan sampai karena hal ini, pertemanan Rinai dengan
Elang jadi putus begitu aja." Ratu mengusap pundak Rinai.
"Semua itu butuh waktu, Ratu. Udah jangan bahas soal gue dengan Elang
lagi. Jadi, nasib si Aksara gimana?" Rinai mengalihkan pembicaraan.
Ratu memijit pelipisnya. "Soal itu, Ratu juga enggak tahu harus bagaimana.
Aksara pasti marah, Ratu enggak tega nyakitin hati dia." jawab Ratu dengan
nada sendu. Sebenarnya ada rasa penyesalan yang menghinggap hatinya saat
mengucapkan kata benci kepada Aksara. Harusnya ia bisa menahan rasa
emosinya saat itu dengan baik. Tapi apa boleh buat, dia hanyalah manusia
biasa yang masih banyak kekurangan. Maafin Ratu, Aksara!
"Lebih baik jujur walaupun itu menyakitkan, dibanding lo terus-terusan
bikin dia berharap padahal sebenaranya harapan itu sama sekali enggak ada."
jeda sejenak. "Dia itu laki baik-baik, walaupun sok ganteng! Narsis!
Sombong! Pecicilan! Nyebelin! Seenaknya! Enggak mau ngalah! Ego—"
Ratu memicingkan matanya lalu memotong ucapan Rinai saat itu juga.
"Tunggu-tunggu, kok Ratu sedikit mencium bau-bau kejanggalan ya?" tanya
Ratu dengan nada curiga.
Rinai berdeham. "Apa-apan sih lo, gue kan cuma mau kasih tahu aja, kalau
dia itu sebenarnya laki baik-baik, walaupun banyak kurangnya." jawab Rinai
sambil menahan rasa gugup. "Gue enggak ada apa-apa sama dia." lanjut Rinai
kembali.
"Ada apa-apanya juga enggak apa-apa kok." jawab Ratu cepat. "Atau
jangan-jangan, udah ada apa-apanya?" goda Ratu sambil mencolek lengan
Rinai.
Rinai mencubit pipi Ratu gemas. "Jangan ngomong yang aneh-aneh deh!"
decak Rinai. "Udah ah, mending sekarang kita pulang." ajak Rinai yang
disusul dengan anggukan setuju dari Ratu.
Ratu meregangkan ototnya sejenak sambil berjalan keluar dari caffe.
Senyumnya langsung tersimpul saat melihat sosok laki-laki tengah berdiri
sambil melambaikan tangan ke arahnya. Sebelum Ratu menghampiri Raja,
Ratu memutuskan untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Rinai yang tengah
mengunci pintu caffe.
"Rinai! Ratu pulang duluan enggak apa-apa?"
"Oh, lo udah mau pulang? Pulang bareng gue aja, kebetulan gue enggak
bawa motor. Kita bisa naik taksi dari persimpangan." tawar Rinai.
Ratu menggeleng. "Pacar Ratu udah jemput! Tuh dia!" Ratu menunjuk Raja
sambil melemparkan senyum lebarnya ke arah lelaki itu.
Rinai tertawa mendengar kata "pacar" keluar dari mulut Ratu. Benar-
benar menggelikan! , Rinai menghela napas. "Oke deh, lo hati-hati ya. Salam
buat Raja, bilangin ke dia, kalau sampe dia nyakitin lo lagi, gue obrak-abrik
itu markas SAKGAR!" ancam Rinai membuat Ratu terkekeh.
"Siap Ibu ketua!" jawab Ratu dengan sikap hormat. "Ratu duluan ya! Rinai
hati-hati!" ujar Ratu sambil berlari kecil menghampiri Raja segera, membuat
Rinai menggelengkan kepalanya heran. Mereka balikan atau baru pertama
kali pacaran sih?
Raja menyambut Ratu dengan senyuman geli yang ia tahan sedari tadi.
Pacarnya benar-benar menggemaskan!. "Ngapain lari-lari sih, enggak liat
ini jalan licin begini?" decak Raja sambil mengacak-acak rambut Ratu.
Ratu menggaruk tengkuknya. "Abisnya, Ratu enggak sabar ketemu Raja."
jawab Ratu dengan polosnya.
Raja tersenyum sambil melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh
mungil Ratu. "Gue enggak mau lo sampe luka, cuma karena enggak sabar
untuk ketemu gue."
Ratu tersenyum malu. "Abisnya, Ratu udah kebiasaan ngejer-ngejer Raja."
jawab Ratu membuat Raja sedikit merasa kesal kepada dirinya sendiri.
"Jangan ngejer-ngejer gue lagi, gue enggak akan lari lagi dari lo." Raja
menarik tubuh Ratu pelan dan mendekapnya. "Kali ini, biar gue yang
perjuangin hubungan kita. Lo enggak perlu ngapa-ngapain, cukup sayangin
gue aja."
Ratu mengulum senyumnya. "Kalau itu sih, dari dulu juga udah Ratu
lakuin." jawab Ratu malu-malu.
Raja mengecup lembut puncak kepala Ratu sambil melepas pelukannya.
Raja berdeham. "Jadi, tuan putri mau makan dulu atau langsung pulang?"
tanya Raja dengan manis.
Ratu terkekeh geli. "Makan! Ratu laper banget nih." jawab Ratu sambil
mengusap-usap perutnya. "Bakso kayaknya enak!" lanjut Ratu semangat.
Raja menggeleng. "Enggak! Makan nasi." tolak Raja cepat. "Tadi siang kan
kita udah makan bakso di kantin." dengus Raja.
Ratu melipatkan kedua tangannya. "Enggak mau! Ratu mau makan bakso
pokoknya!" Ratu merajuk.
"Makan nasi, Ratu!."
"Enggak mau! Enggak mau! Maunya makan bakso!"
Raja menghela napas lalu naik ke atas motornya. "Naik." ucap Raja kepada
Ratu.
Ratu mengangguk sambil menggigit bibirnya. "Raja marah ya?" tanya Ratu
dengan hati-hati.
Raja menggeleng. "Enggak."
"Raja pasti marah, buktinya Raja langsung jutek."
"Enggak."
"Bohong, Raja marah."
"Enggak, Ratu."
"Ratu kerjaannya memang selalu bikin Raja marah ya." Ratu meringis.
Raja menghela napas. "Enggak, gue enggak marah." jawab Raja sedikit
kesal. Salah lagi, salah lagi!
Ratu menunduk lesu. "Iya, Raja memang marah. Maaf ya Raja." ucap Ratu
dengan sendu.
"Gue enggak marah, Ratu!" Raja meninggikan suaranya. Astaga sabar Raja,
sabar. Jangan sampai tiga kata keramat itu keluar lagi!
"Raja marah."
"Enggak, sayang."
Ratu menatap Raja seketika. Sayang? Aduh, Ratu salah dengar enggak
sih?!, Ratu berdeham. "Jadi, Raja beneran enggak marah?" tanya Ratu
memastikan sambil menahan gugupnya.
Raja menarik tangan Ratu. "Enggak, cepet naik. Nanti keburu kabur
mamang baksonya." jawab Raja. Situasi mulai aman! Kerja yang bagus
Raja!
Ratu mengangguk cepat lalu naik ke atas motor Raja. "Oke! Let's go!"
teriak Ratu semangat. "Ayok jalan, kok diem aja? Nanti mamang baksonya
keburu pulang lho." ujar Ratu heran karena Raja masih belum menjalankan
motornya. "Raja?"
"Peluknya mana?"
"Eh?"
"Peluk. Gue enggak mau sampe sakit karena kedinginan." ujar Raja sedikit
gugup. "Enggak liat gue enggak pake jaket? Makanya lain kali jangan pakai
baju pendek lagi! Harus berapa kali sih gue bilang?!" Raja menyembunyikan
rasa malunya.
"Raja marah?"
Astaga! Jangan lagi Tuhan. Raja menarik kedua tangan Ratu lalu
melingkarkannya dipinggang Raja. "Minta peluk pacar sendiri aja susah
banget."
Ratu mengulum senyumnya lalu memeluk Raja dari belakang dengan erat
segera. Dia benar-benar merindukan punggung lelaki ini. Rasanya beribu-
ribu kembang api tengah meledak dalam hatinya sekarang juga. Ah kalau
jodoh memang enggak kemana!. Hari ini benar-benar akan ia catat dalam
sejarah hidupnya dan ia tandai sebagai hari Raja dan Ratu, hari dimana Raja
Gemilang berhasil memporak porandakan hatinya dengan kuat. Ia tertawa geli
sendiri mengingat bagaimana detik-detik, sebelum ia dan Raja resmi
berpacaran kembali.
"Ratu?"
"Iya."
"Ratu?"
"Apa, Raja?"
"Ratu?"
Ratu berdecak, lalu mendongakan kepalanya. "Ada apa Raja?!" tanya
Ratu kesal.
"Balikan yuk?"
Ratu mengerjapkan matanya berkali-kali. "Eh? Ba.. balik? Balik
kemana maksud Raja?" Ratu menatap Raja gugup.
Raja tersenyum geli. "Balikan. Bukan balik kemana. Ngerti?" tanya
Raja sekali lagi.
Ratu meremaskan jemarinya sambil mengetuk-ngetukan kakinya di
tanah. "Ratu.. Ratu.." Aduh, Ratu! Tinggal jawab IYA aja lama banget!!
"Ratu?"
Raja menggenggam jemari Ratu sambil mengusap pelan. "Pacaran lagi
yuk?" Raja menatap Ratu dengan serius. "Mau kan?"
Oh tidak!, rasanya Ratu saat ini ingin berjingkrak setinggi-tingginya.
"Ra.. Raja, serius?" tanya Ratu gugup.
Raja mengangguk. "Serius." jeda sejenak. Raja menyentuh wajah Ratu
lembut. "Gue enggak mau cowok lain yang hapus air mata lo disaat lo
sedih, gue enggak mau cowok lain yang meluk lo disaat lo butuh tempat
untuk bercerita, dan gue enggak mau cowok lain yang jadi tempat lo
bersandar disaat lo udah lelah untuk hadapin segala sesuatu masalah
yang ada. Gue enggak rela, Ratu" lontar Raja panjang lebar membuat
Ratu menatapnya dengan tercengang.
"Jadi," Raja menahan napas. Sial! Kenapa gue jadi gugup gini sih? Lo
cuma ngajak balikan Raja, bukan ngajak pacaran seperti pertama kalinya!
"Sayang, kayak dulu lagi mau ya?"
Hati Ratu berdesir seketika. Ia memeluk Raja erat sambil berusaha
menahan air mata dikedua sudut matanya. Ratu bahagia. Itu sudah jelas.
Ia membayangkan bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan kembali
hati Raja dulu. Semua tidak sia-sia. Dibalik sikap dingin dan mulut tajam
Raja, ia sudah tahu bahwa masih ada rasa sayang yang Raja tutup dengan
rapat untuknya, dan tugasnya adalah hanya cukup bersabar dan mencari
waktu yang tepat untuk membukanya. Usaha keras memang tidak akan
mengkhianati sebuah hasil!
"Iya, Ratu mau!"
***
Rinai berjalan menuju persimpangan sambil sesekali menoleh ke belakang.
Ia merasa benar-benar sedang diikuti oleh seseorang. Akhirnya ia
memutuskan untuk mempercepat langkahnya dan melintasi jalan yang ramai
akan orang-orang berlalu lalang.
Merasa masih diperhatikan, tanpa berpikir panjang lagi ia segera masuk ke
dalam sebuah caffe 24 jam yang kebetulan ia lewati. Ia masuk ke dalam toilet
perempuan untuk bersembunyi sejenak. Selang beberapa menit setelah
menurutnya situasi sudah aman, ia keluar sambil mengedarkan pandangannya
dengan hati-hati.
Rinai membelalakan kedua matanya saat melihat sosok laki-laki yang
perawakannya sangat ia kenali. Sergio!. Benar, laki-laki itu adalah Sergio. Ia
membuka tas nya segera dengan tangan gemetar lalu mengeluarkan ponselnya
saat itu juga. Sial! Baterai habis!
Melihat Sergio berlalu lalang dengan kebingungan, Rinai memanfaatkan
kelengahan lelaki itu untuk beranjak segera mungkin. Oh tidak! Ia merasa
seperti sedang berada di dalam sebuah film saja!
Setelah keluar dari caffe tersebut, Rinai menyisiri jalan raya dengan
berlari cepat. Ini gila! Benar-benar gila!, Ratu benar, Sergio memang sangat
menakutkan. Deru napasnya sudah tidak beraturan lagi, sekelibat ia mengingat
bagaimana cerita Ratu saat Sergio memperlakukannya dengan buruk. Sergio
brengsek!
Saat Rinai menyeka keringat di dahinya, tiba-tiba lengannya dicekal oleh
seorang dan berhasil membuatnya memekik keras. Tubuhnya melemas saat
melihat siapa yang ada didepannya saat ini. Aksara?!
"Lo kenapa?!" tanya Aksara khawatir melihat wajah Rinai yang memucat.
Rinai memeluk Aksara tanpa sadar, dan dengan kencang. "Aksara..gue
takut." ujar Rinai dengan suara tercekat.
Aksara membalas pelukan Rinai. "Enggak usah takut, ada gue disini."
jawab Aksara sambil mengusap lembut punggung Rinai. "Ayok, gue anter lo
pulang." Aksara melepaskan pelukannya lalu menarik gadis itu menuju
mobilnya yang ia parkir sedikit jauh dari lokasi mereka berdua sekarang.
Rinai tertegun melihat jemarinya tengah digenggam Aksara dengan kuat. Ia
memperhatikan punggung tegap laki-laki itu dari belakang sambil berjalan.
Entah kenapa, hatinya berdesir kuat saat Aksara menoleh ke belakang lalu
tersenyum lembut kepadanya. Tidak! Ini salah! Benar-benar salah!
Rinai menghentikan langkah kakinya membuat Aksara menatapnya heran.
"Gu..gue, pulang sendiri aja." kata Rinai sedikit gugup.
Aksara menghela napas. "Enggak." Ia menarik kembali tangan Rinai dan
melanjutkan langkahnya. "Jangan keras kepala." lanjut Aksara.
"Ratu balikan sama Raja." Entah jin apa yang memasuki tubuh Rinai,
kalimat itu keluar begitu saja tanpa ia sadari. Buru-buru ia menutup mulutnya.
Bodoh! Bodoh!
Aksara mematung. "Oh, baguslah." jawab Aksara sekuat mungkin, lalu
melangkah kembali dengan berat. Jangan tanyakan lagi sehancur apa
perasaannya saat ini. Padahal ia sudah mempersiapkan hati sebelumnya,
untuk menghadapi hal ini sekuat mungkin, tapi tetap saja sakit tetap terasa.
Ratu sudah kembali lagi bersama Raja, dan yang harus ia lakukan
sekarang adalah belajar untuk merelakan.
"Maaf, enggak seharusnya lo denger hal ini dari mulut gue." ucap Rinai
dengan nada yang menyesal.
"Enggak masalah. Mau dari mulut siapapun itu, keadaan juga enggak akan
berubah." Aksara tertawa getir.
Rinai memegang dadanya. Entah alasan apa yang membuatnya merasa
sesak saat ini. "Gue tahu kok apa yang lo rasain sekarang." Rinai berusaha
untuk menghibur Aksara.
Aksara menghentikan langkah kakinya lalu membalikan badan. Aksara
menatap Rinai sedikit tajam. "Tahu apa lo tentang isi hati gue?" tanya Aksara
dengan nada remeh.
"Gue memang enggak tahu isi hati lo seperti apa, tapi gue pernah ada di
posisi lo seperti sekarang ini. Jadi, gue ngerti apa yang lo rasain sekarang.
Bahkan, lebih dari itu." jawab Rinai dengan parau. "Lo hanya perlu belajar
untuk bangkit." lanjut Rinai kembali.
Aksara menaikan sudut bibirnya. "Jangan samain hati gue dengan hati
seorang pengecut seperti lo, yang selalu mengelak perasaanya sendiri." sindir
Aksara.
Rinai tersentak akan ucapan Aksara. "Gue bukan pengecut, dan gue enggak
pernah mengelak perasaan gue sendiri." jawab Rinai dengan nada tidak
terima.
"Oh ya? Bahkan sampai sekarang pun gue masih bisa lihat bagaimana
besarnya perasaan lo untuk Elang."
"Enggak usah bahas Elang. Gue udah bilang kan, masih sayang bukan
berarti masih ingin kembali?. Jangan pernah biarin masa lalu lo, mempersulit
hidup lo sekarang ini."
Aksara berdecih. "Udah gue duga, cewek kayak lo memang benar-benar
enggak punya hati. Mungkin bagi lo melupakan seseorang itu gampang, tapi
bagi gue enggak. Hal itu lah yang membuat gue tambah yakin kalau perasaan
gue memang enggak bisa disamain dengan perasaan yang lo punya." jeda
sejenak. "Lo memang pantes ditinggal Elang."
Hati Rinai mencelos. Air matanya lolos begitu saja tanpa seizinnya. Ia
menepis tangan Aksara kasar. "Lo benar, perasaan kita memang enggak bisa
disamain."
Rinai berbalik dan menyebrang jalan sambil berlari, lalu menaiki sebuah
taksi yang sudah terparkir di pinggir jalan. Ia melihat Aksara masih berdiri
mematung dari balik kaca sebelum taksi yang ia tumpangi melaju pergi.
Hatinya sakit, Aksara tidak mengejarnya.
Tahu apa Aksara akan perjalanan cerita antara ia dan Elang?!,
Hubungan ia dengan Elang, adalah hubungan yang sangat menyakitkan hingga
rasa sakit itu berhasil melenyapkan cinta yang ia jaga dan miliki selama ini.
Ia mengingat bagaimana Elang memutuskan hubungannya secara sepihak di
hadapan banyak orang, hanya untuk meyakinkan Anggi bahwa ia serius
kepada gadis itu.
Satu tahun ia menjalani hubungan dengan Elang hanya untuk membuat
seorang gadis bernama Anggi merasakan rasa cemburu terhadapnya. Satu
tahun ia bersabar menghadapi lontaran atau sikap tajam dari Elang, hanya
untuk mempertahankan hubungannya yang ia pikir makin lama akan makin
membaik. Satu tahun ia berusaha untuk meluluhkan hati Elang dengan segala
rasa perhatian yang ia curahkan mati-matian, yang ia pikir akan berhasil
menghancurkan kerasnya dinding yang laki-laki itu pasang dengan tinggi. Tapi
ternyata, semuanya sia-sia. Elang sadar disaat waktu yang sudah terlambat.
Disaat hatinya sudah mengeras, dan mati rasa.
Aksara benar, tidak seharusnya ia menyamakan perasaanya dengan
lelaki itu. Jelas beda.
——————————————————————————
——————————————————————————
FOLLOW INSTAGRAM @WATTPADRERE DAN @RERETRSS
JOIN GROUP LINE RUR? BUKA PROFILE WATTPAD AUTHOR
DAN KLIK LINKNYA! YUK KITA SERU-SERUAN BARENG PARA
TOKOH!
JANGAN LUPA BACA SEQUEL ELANG! BUKA DAN FOLLOW
PROFIL AUTHOR!
JANGAN LUPA TONTON VIDEO KECIL DARI RAJA UNTUK RATU
DI INSTAGRAM @wattpadrere
FOLLOW INSTAGRAM
@wattpadrere
@reretrss
@raja.gemilang
@ratusetiawijaya
@elang.gunturr
@fara.aradila
@raja.gemilang
@angkasa_laksmana
@nadiaa_saraswatii
@senjaalana
@rinaihujann
@raya_indahh
@anggi_ppitaloka
@rinduserunii
@dirga_margantara
@panca.kstria
@diba_saidira
@aldimahesa_
@ristisekaar
@sila_putriana
@sherina.halim
@aksaraprabudi
@helen_adisti
@jehavictoria
@gamal_kusuma
@bimaorlandoo_
@jiroofernando
@gengtempur
@garudacheerleader
Post bagian mana yang paling kalian suka di part ini di instastory, dan
tag @wattpadrere untuk author repost ❗
JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW INSTAGRAM RAJA UNTUK
RATU @wattpadrere ! ! Disana author akan sering-sering post spoiler
bagi yang enggak sabar liat part selanjutnya! ❤
I love u xoxo
39. MURKANYA SEORANG RATU
You can be amazing
You can turn a phrase into a weapon or a drug
You can be the outcast
Or be the backlash of somebody's lack of love
Or you can start speaking up
Nothing's gonna hurt you the way that words do
And they settle 'neath your skin
Kept on the inside and no sunlight
Sometimes a shadow wins
But I wonder what would happen if you
Say what you wanna say
And let the words fall out
Honestly I wanna see you be brave
With what you want to say
And let the words fall out
Honestly I wanna see you be brave
Brave-Cover By Savannah Outten
[JANGAN LUPA FOLLOW & VOMMENT YA, KARENA ITU BERHARGA
BANGET BUAT AUTHOR ❤ DAN JANGAN LUPA PUTAR MULMED
YANG SUDAH AUTHOR SEDIAKAN UNTUK KALIAN, SELAMAT
MEMBACA SEMUA ❤]
39. MURKANYA SEORANG RATU
Dirga berjalan menaiki anak tangga menuju rooftop SMA GARUDA, ia
benar-benar merasakan kantuk yang luar biasa. Mungkin tidur sejenak tidak
masalah, dan sesekali bolos tidak apa lah untuk dirinya yang selalu rajin
seperti Raja. Dirga terkekeh geli saat melihat ponselnya yang sedari tadi
tidak berhenti bergetar karena masuknya pesan-pesan tidak bermutu dari
keempat temannya yang saling mengumpat mencari keberadaanya. Biarlah, ia
memang butuh tidur saat ini dan menghindari para lelaki berisik itu memang
benar-benar keputusan yang terbaik. Terutama untuk manusia bernama
Panca Ksatria!
Saat ia membuka pintu, samar-samar ia melihat seorang gadis tengah
berdiri dengan memakai sebuah kruk di tangan kanannya. Dirga mengamati
gerak-gerik gadis itu dari belakang dengan rasa penasaran. Gadis itu
menghempaskan kruk yang ia pakai dengan kasar, hingga membuat Dirga
sedikit terkejut. Rasa gelisah pun tiba-tiba menerkam Dirga seketika, saat
mendapatkan gadis itu tengah berusaha menaiki pondasi pembatas atap
dengan menggunakan satu tangannya sebagai penyangga tubuhnya. Dia mau
bunuh diri?!, Dirga membelalakan matanya dan dengan reflek ia berlari
mendekati gadis itu lalu menariknya dengan kasar. Benar-benar gila!
Dirga menghela napas lega karena berhasil menggagalkan rencana bodoh
seorang gadis yang saat ini sudah menimpah tubuhnya dengan mata terpejam
sambil menahan rasa takutnya, membuat punggung Dirga terasa sakit karena
terbentur lantai secara tiba-tiba dengan kasar. Dirga diam-diam mengamati
lekuk wajah gadis itu secara seksama. Helen?, Dirga mengenali siapa gadis
ini. Si ketua cheers SMA GARUDA, yang beberapa hari ini menjadi viral
karena berita cedera yang ia alami. Kalau saja ia terlambat untuk menarik
gadis ini, bisa dipastikan dirinya pun akan menjadi viral karena telah
menjadi saksi aksi bunuh diri dari salah satu siswi SMA GARUDA, yang
mungkin wajahnya akan tertempel di berbagai koran dan terpampang nyata di
layar tv kalian di rumah. Tidak bisa dibayangkan!
"Mau sampe kapan lo di atas gue?" Dirga membuka suara membuat Helen
tersentak sambil mengerjapkan kedua matanya berkali-kali.
"Dirga?" tanya Helen dengan raut wajah kebingungan.
Dirga menghela napas. "Gue kira otak lo udah konslet sepenuhnya." sindir
Dirga.
Helen buru-buru bangun dari atas tubuh Dirga lalu mengambil kruknya
dengan tertatih. Setelah kesadarannya kembali, dilemparkannya pandangan
tajamnya ke arah Dirga. "Ngapain sih lo disini?!" bentak Helen tiba-tiba.
Dirga bangun sambil mendengus kesal. "Harusnya gue yang nanya, ngapain
lo ada disini?! Mau bunuh diri?" ujar Dirga gamblang.
Helen merasa telak. "Bukan urusan lo!" jawab Helen dengan nada tinggi.
"Lain kali, jangan pernah ikut campur dengan urusan gue!" ujar Helen sambil
berusaha berjalan dengan susah payah dengan kruknya untuk pergi
meninggalkan Dirga.
Dirga mencekal lengan Helen yang hendak beranjak pergi. "Tingkat
kepedean lo tinggi banget ya. Gue bukannya mau ikut campur, kalau aja bukan
gue satu-satunya orang yang jadi saksi dari aksi lo itu, gue enggak akan mau
repot-repot untuk nolongin lo! Jelas?" cerca Dirga panjang lebar.
Helen berdecih. "Nolongin? Lo itu hanya makin memperburuk keadaan!"
teriak Helen. "Kalau aja lo enggak ada, mungkin beban hidup gue udah hilang
saat ini!" teriak Helen dengan suara yang mulai bergetar.
Sudut bibir Dirga tertarik. "Hilang? Lo pikir di neraka nanti beban hidup
lo enggak berat?! Punya otak itu dipake, jangan dijadiin pajangan doang!"
bentak Dirga membuat Helen terdiam.
Dirga menghela napas. Ia benar-benar tidak bisa bersikap kasar kepada
perempuan. "Jangan lakuin hal bodoh itu lagi. Kehilangan mimpi memang
berat, tapi hidup harus tetap berjalan. Ciptain mimpi baru lagi, beban hidup
lo pasti akan hilang dengan sendirinya." ujar Dirga sambil mengusap puncak
kepala Helen. "Sepertinya sekarang lo lagi butuh waktu untuk sendiri, kalau
gitu gue cabut dulu sekarang." lanjut Dirga lalu beranjak perlahan
meninggalkan Helen yang masih termangu.
Dirga melangkahkan kakinya, sambil memijat-mijat pelan pelipisnya.
Sudah dua kali ia menjadi seorang penggagal aksi bunuh diri yang dilakukan
oleh dua orang yang berbeda. Sebelum Helen, ia pernah menggagalkan aksi
bunuh diri seorang laki-laki yang tengah ingin meminum satu botol obat tidur
di dalam kamarnya dengan sembunyi-sembunyi, hingga membuat ketiga
temannya memukuli laki-laki itu habis-habisan. Laki-laki itu yang bukan lain
adalah Raja Gemilang, si dingin yang selalu mengaku jagoan, padahal pernah
menjadi seorang pengecut di masa lalunya.
"Sialan! Apa yang mau lo lakuin bangsat!" teriak Dirga sambil
mencengkram kerah baju Raja.
Angkasa yang mendengar teriakan dari Dirga, segera masuk ke dalam
kamar Raja diikuti dengan Elang dan Panca. Ia membelalakan matanya
saat melihat pil obat tidur yang jumlahnya cukup banyak tengah
berserakan di lantai bersama dengan botol yang tutupnya telah terbuka.
Sialan!
Angkasa menarik Raja dari cengkraman Dirga dengan kasar hingga
terlepas. "BANCI! KELUAR AJA LO DARI SAKGAR SEKARANG JUGA!"
Angkasa mendaratkan satu pukulan pembuka ke wajah Raja.
Raja berdecih. "PERGI LO SEMUA! JANGAN GANGGU GUE SIALAN!"
teriak Raja keras.
Panca yang notabenenya adalah tipe lelaki manis dan jarang marah,
kali ini siapapun yang melihatnya pasti tidak akan mempercayainya.
Panca mendorong Angkasa kasar agar tidak menghalangi jalannya untuk
menghampiri Raja, membuat Angkasa mengumpat samar. Panca
membenturkan tubuh Raja ke dinding. "CARI MATI LO HAH?!" teriak
Panca geram sambil mencekik leher Raja. "LAWAN GUE JA! SEGINI AJA
KEMAMPUAN LO HAH?!"
"Ca! Udah!, bisa mati si Raja lama-lama!" teriak Elang sambil
berusaha melepaskan cekikan Panca, membuat Raja terbatuk-batuk.
"Sabar Ca! Jangan selesain masalah ini pake otot dan emosi!" ujar Elang
dengan napas berderu.
Raja berdecih. "BIARIN AJA LANG! BIARIN GUE MATI SEKALIAN!
UDAH ENGGAK ADA GUNANYA GUE HIDUP SEKARANG!" teriak Raja
keras.
Elang mendaratkan pukulannya dengan reflek ke wajah Raja yang sudah
lebam itu hingga tersungkur. "SIALAN LO! UDAH GUE BANTUIN
BUKANNYA BILANG TERIMAKASIH! TAHU GITU ENGGAK AKAN DEH
GUE LARANG SI KUTU BADAK INI BUAT NYEKIK LO SAMPE MATI
SEKALIAN!" geram Elang sambil menunjuk muka Panca dengan emosi.
Angkasa menggeleng heran. "Lo gimana sih Lang?! Belum juga satu
menit lo bilang ke Panca untuk jangan pake otot dan emosi, kenapa
sekarang malah lo yang jadi beringas gini?!" ujar Angkasa yang malah
membuat Elang menyengir. Astaga! Bisa meledak kepala Angkasa lama-
lama!
Panca menjitak kepala Elang. "Kok lo ngatain gue kutu badak?! Mata lo
katarak? Mana ada kutu badak yang ganteng kayak gue!" gusar Panca.
"Susah ya jadi orang ganteng, ada aja yang iri!" lanjut Panca dengan
percaya diri.
Angkasa menjitak kepala Panca tak kalah keras membuat Elang
menjulurkan lidahnya dengan raut wajah meledek kepada Panca.
"Sekarang bukan waktunya untuk bercanda, Panca Ksatria!" Angkasa
meninggikan suaranya.
Panca mendengus kesal. "Siapa yang lagi bercanda sih?! Memang
kalian semua itu enggak ada yang pernah bisa ngerti isi perasaan gue!
Kalian pikir enggak capek apa jadi orang ganteng?! Bela aja si Elang
terus!" Panca melipatkan kedua tangannya sambil memasang raut wajah
gusar. Panca sedang merajuk, dan itu malah membuat gelak tawa mereka
keluar begitu saja, termasuk Raja.
Dirga menggeleng heran sambil berjalan mendekati Raja. Dirga
berjongkok lalu membangunkan tubuh Raja hingga lelaki itu terduduk.
"Gimana? Otak lo udah sehat?" tanya Dirga membuat Raja berdecak.
Angkasa menjitak kepala Raja keras hingga lelaki itu meringis. "Biar isi
kepala lo bener lagi!" ujar Angkasa kesal.
Panca menepuk pundak Raja. "Lo enggak sendiri Ja, masih ada abang
Panca dan ketiga kutu badak ini di bumi." ujar Panca yang masih gusar.
"Ya, walaupun mereka enggak ada gunanya sih, tapi bisalah kalau untuk
sekedar disuruh-suruh." lanjut Panca membuat ketiga temannya
melemparkan erlingan perang kepadanya.
Raja tersenyum getir. "Harusnya gue yang berada di posisi itu." jawab
Raja dengan nada penyesalan.
Elang menghela napas. "Semua ini udah berjalan sesuai takdirnya Ja,
lo enggak bisa terus-terusan nyalahin diri lo sendiri." jeda sejenak.
"Bangkit Ja, gue tahu lo bukan laki-laki yang lemah." Elang mengacak
rambut Raja.
"Gini aja deh, biar lo enggak lesu-lesu amat, gimana kalau abang
Panca kenalin sama salah satu koleksi cewek yang abang Panca punya?
Dijamin aduhay pokoknya!" tawar Panca menggebu-gebu membuat yang
mendengar memutar mata dengan malas.
Angkasa berdecak. "Raja itu masih gagal moveon, jadi apa yang lo
lakuin itu enggak akan mempan." ujar Angkasa kepada Panca.
Elang mengangguk setuju. "Raja itu bukan playboy kayak lo, yang
seminggu sekali kudu ganti cewek! Kena tulah baru tahu rasa lo Ca!"
"Enggak usah lo pusing-pusing cari cewek lain, bawa aja si Ratu kesini,
kelar deh urusan!" ucap Dirga gamblang.
"Enak aja! Enggak sudi gue punya urusan lagi sama itu cewek!" decak
Raja kesal. "Enggak usah bahas dia deh! Bikin tambah sakit kepala aja!"
dengus Raja.
"Nanti juga balikan." celetuk Panca.
Raja berdecih. "Sampe si Elang cinta beneran sama si Rinai juga gue
enggak akan sudi balikan lagi sama si benalu itu!" ujar Raja dengan
gamblang.
"Sialan lo! Jangan bawa-bawa gue, emangnya lo pikir gue bakalan
cinta sama Rinai? Aduh, maaf-maaf aja, kalau sampe itu terjadi rela deh
gue diapain aja sama kalian!" ceplos Elang tanpa sadar. Mampus deh gue,
ini mulut enggak punya rem apa ya!
"Wah! Wah! Hati-hati lo Lang kalau ngomong! Anak SAKGAR selalu bisa
megang omongannya lho!" ujar Dirga.
Elang berdecih. "Gue bukan banci kali! Emangnya si Raja yang
kerjaannya cuma ngomong doang!" pancing Elang untuk mencari sekutu.
Temenin gue dong Ja!, Elang membatin.
Raja berdiri dengan gusar. "Seorang Raja Gemilang enggak akan
pernah ngejilat ludahnya sendiri!" jawab Raja yang sudah terpancing.
Angkasa menaikan satu alisnya. "Oh ya? Terus jaminan apa yang bisa lo
kasih untuk kita?" tanya Angkasa dengan nada menantang.
Raja melipatkan kedua tangannya sambil menatap satu persatu
temannya dengan angkuh. "Simak baik-baik ucapan gue, GUE ENGGAK
AKAN PERNAH SUDI BALIKAN SAMA CEWEK BENALU BERNAMA
RATU, dan kalau memang khayalan lo lo pada itu terjadi, oke gue
bakal........."
Dirga terkekeh mengingat kejadian haru campur menggelikan itu. Ah, dia
benar-benar ingin menemui para kutu badak itu dengan segera!. Walaupun
mereka memiliki sifat dan tingkah aneh yang berbeda-berbeda, justru itu lah
yang sebenarnya menyatukan mereka, hingga persahabatan mereka selalu
adem ayem sampai sekarang. Ia berharap persahabatan ini akan terjalin
selamanya. Bukan sampai Raja Gemilang kembali dengan Ratu, bukan
sampai Angkasa Laksmana menemukan pengganti baru, bukan sampai Elang
Guntur berhasil meluluhkan hati Rinai kembali, bukan sampai Panca Ksatria
si playboy cap badak itu bertobat dan mengalami hal pahit bernama galau
dalam hidupnya, dan bukan sampai dirinya sendiri, Dirga Margantara
menemukan sang tambatan hati. Tentu saja, bukan.
Persahabatan itu tidak bisa diukur dengan apapun.
Tidak bisa diukur dengan seberapa besar materi yang kamu miliki
sehingga kamu pantas atau tidak walau hanya untuk sekedar duduk
bersama.
Tidak bisa diukur dengan seberapa bagus paras yang kamu miliki
sehingga kamu pantas atau tidak walau hanya untuk sekedar berjalan
dengan sisi yang berdampingan di tempat yang ramai.
Tidak bisa diukur dengan seberapa pintar otak yang kamu miliki
sehingga kamu pantas atau tidak walau hanya untuk sekedar saling
berbincang atau beradu argumen satu sama lain.
Jadi, bersahabatlah dengan sikap apa adanya saja.
***
"Aduh, lagi jamannya sih temen makan temen."
"Muka polos enggak menjamin kelakuan bagus bos!"
"Jadi cewek munafiknya enggak ketolongan!"
"Cih! Benar-benar enggak tahu diri!"
Senja meremas-remas jemarinya sambil berusaha mengabaikan bisikan-
bisikan berisi hinaan untuknya dari beberapa murid perempuan di kelasnya.
Ia tidak mengerti sama sekali bagaimana bisa berita tersebut menjadi panjang
seperti ini dan menjalar kemana-mana.
Tidak ingin pikirannya makin kacau, akhirnya Senja memutuskan untuk
pergi ke toilet sebentar. Mungkin membasuh wajahnya dengan air bisa
meringankan sedikit sakit di kepalanya sekarang. Akan tetapi, saat ia hendak
berjalan menuju keluar kelas, seorang siswi bernama Wati, yang tak lain
adalah teman satu bangku Raya tengah menghalau kakinya hingga membuat
tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai dan menimbulkan gelak tawa dari para
nenek sihir yang membencinya.
"Senja! Lo enggak apa-apa kan?"
Senja tersentak melihat Raya yang saat ini sudah berdiri sambil
mengulurkan tangannya dengan menampakan raut wajah khawatir yang sangat
dibuat-buat. Benar-benar palsu, Ia tahu benar bahwa Raya sedang melakoni
sebuah peran dalam skenario yang telah ia ciptakan sendiri saat ini. Ia pun
yakin bahwa pastilah Raya yang menyebarkan gosip yang tidak-tidak
tentangnya ke orang lain, sehingga bisa menimbulkan kericuhan seperti
sekarang ini. Sungguh licik!
"Aduh Raya, jangan terlalu baik deh sama orang!"
"Raya itu memang dasarnya baik, si cewek munafik itu aja yang enggak
tahu diri!"
"Harusnya dia bersyukur karena Raya masih ada sikap perduli! Kalau
gue jadi Raya, udah gue hempas jauh-jauh deh si anak kampung itu!"
"Urat malunya udah putus kali! Sadar diri dong, cewek munafik kayak
lo itu enggak pantes untuk bersaing dengan Raya!"
"Kak Angkasa ditawarin apasih sama dia? Heran deh! Bisa-bisanya kak
Angkasa ngebuang berlian hanya demi mungut cewek sampah kayak dia!"
Sakit. Itu yang Senja rasakan saat ini. Serendah itu kah yang mereka
pikirkan tentang dirinya?. Ia berusaha berdiri sekuat mungkin tanpa
menggubris uluran tangan dari Raya. Tidak mau berlama-lama lagi, akhirnya
ia melanjutkan langkahnya kembali menuju keluar kelas sambil menahan
cairan kristal di kedua sudut matanya.
Rindu memperhatikan gerak-gerik Raya yang menurutnya sangat janggal.
Sedari tadi ia hanya diam bukan karena ia tidak ingin membantu Senja, tapi
menurutnya Raya lah yang harus lebih perlu diselediki saat ini. Menurutnya,
Raya adalah sosok gadis yang tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Gadis
itu benar-benar seperti duri dalam mawar.
Rindu tersenyum puas dalam hati saat memergoki Raya tengah menyeringai
tajam secara samar, saat Senja berlalu pergi. Itu semua membuktikan bahwa
analisa ia sedari tadi tidaklah salah. Bisa ia rasakan bahwa saat ini Raya
tengah melemparkan tatapan dingin kepadanya, tapi maaf-maaf saja, Saya
tidak takut.
Saya memang dari kampung, tapi saya bukan gadis bodoh yang tidak
bisa menyadari rencana licik kamu sekarang ini!
Rindu beranjak dari kursi. Ia memutuskan untuk mencari Senja sekarang
juga. Ia yakin sekali gadis itu tengah menangis dengan sembunyi-bunyi saat
ini. Menjalin persahabatan dengan Senja sedari kecil, membuatnya bisa
mengenali bagaimana sifat sahabatnya itu, lebih dalam dari yang lain.
Rindu melangkahkan kakinya dengan kelimpungan, ia benar-benar tidak
menemukan Senja dimana-mana. Bahkan ia sudah menunggu gadis itu di
depan pintu toilet perempuan sedari tadi, tapi hasilnya nihil.
Bel istirahat yang menggema akhirnya membuat Rindu bernapas lega. Itu
berarti ia masih mempunyai waktu untuk mencari Senja lebih lama lagi. Ia
menyeka butiran keringat yang sudah menghiasi dahinya saat ini, sejenak ia
mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia mengerutkan keningnya. Saya
lagi dimana sih?!, Rindu tersesat. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak
sadar kemana langkah kakinya membawa tubuhnya sedari tadi.
Suara sayup-sayup tengah menembus kedua daun telinga Rindu secara tiba-
tiba. Merasa penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan mendekati
sumber suara yang menurutnya berasal dari belakang gudang tua yang sudah
ia lihat sedari tadi. Ia pun bersembunyi di balik semak dengan hati-hati.
"Oke! Gue kasih cewek itu waktu selama satu bulan, tapi kalau sampai
kerja dia enggak bagus, siap-siap aja keluarganya yang akan kena
imbasnya!"