The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by soedito, 2019-01-05 17:58:06

BA_JTDU_BABA_V_PELAKSANAAN_PK_YES_XX

BA_JTDU_BABA_V_PELAKSANAAN_PK_YES_XX

Keunikan yang harus dikembangkan oleh
Unsoed berbasis kepada landasan pemikiran
sebagai berikut:

(1) IPTEKS pada dasarnya adalah hasil kerja para
ilmuwan yang ditujukan untuk memanfaatkan
sumber daya yang tersedia di alam semesaat
untuk keberlanjutan keberadaan manusia
dalam harmoni dengan alam semesta.

(2) Perguruan tinggi sebagai wadah para ilmuwan
adalah lembaga yang mengemban kewajiban
menghasilkan dan mengembangkan IPTEKS
untuk membangun masyarakat menuju
kesejahteraan secara seimbang dalam rangka
menjaga kelestarian alam semsta.

(3) Pelaksanaan kewajiban perguruan tinggi
mestinya memberikan kontribusi bagi
masyarakat sehingga menumbuhkan rasa
memiliki dan meningkatkan peran masyarakat
dalam mendukung peningkatan kinerjanya.

(4) Kunikan budaya dan kearifan lokal suatu
masyarkat dan bangsa sejatinya adalah
karunia Tuhan YME, sebagai kekayaan alam
semesta, yang diyakini depat dikembangkan

51

agar memberikan kontribusi dan bersinergi
dengan budaya dan kearifan lokal bangsa
lainya guna mewujudkan tatanan kehidupan
masyarakat dunia yang beradab, berkeadilan,
dan sejahtera. Oleh karena itu, upaya Unsoed
dalam mengembangkan sumber daya lokal
dengan budaya dan kearifan lokalnya harus
juga memberikan manfaat bagi masyarakat
nudia secara luas.

Berdasarkan perimbangan tersebut di atas,
maka visi Unsoed 2020 ditetapkan sebagai berikut:
“Unsoed mendjadi world class civic university
yang unggul dalam pengasaan ilmu penge
tahuan, teknologi, dan/atau seni yang relevan
dengan pengbangan sumber daya pedesaan
berkelanjutan dan penggalian serta pemanfaatn
kearifan lokal”

(1) World calass

Mengingat bahwa ilmu pengatahuan bersifat
universal, maka pembelajaran dan inovasi lokal
harus mampu mengkombinasikan manfaat dari
adanya situasi global dan hubungan-hubungan

52

lokal yang berbasis pada kualitas, komunitas, tradisi
dan kepercayaan, serta kemakmuran dalam jangka
panjang. Dengan demikian, Unsoed perlu menggu
nakan wilayah geografis yang menjadi perhatiannya
untuk membentuk identitasnya dalam memberikan
kontribusi kepada masyarakat pada skala lokal
maupun global. Indikator yang menjadi acuannya
adalah mampu menduduki peringkat yang baik
berdasarkan penilaian lembaga yang diakui oleh
dunia pendidikan tinggi internasional. Terkait
dengan hal tersebut, maka Unsoed harus mampu
membangun infrastruktur, kinerja, layanan, dan
keahlian yang berstandar internasional. Unsoed
harus menekankan pentingnya penjaminan dan
budaya mutu yang menjadi kesadaran sivitas
akademika dan seluruh warga kampus. Selain itu,
kebebasan akademik menjadi modal intelektual
untuk menuju otonomi perguruan tinggi di bidang
akademik dan sumber daya yang merupakan
prasyarat untuk mewujudkan universitas berkelas
dunia. Otonomi manajemen akademik dan sumber
daya, keunggulan kinerja, infrastructure, expertise ,
serta terwujudnya penjaminan dan budaya mutu
harus didukung oleh tata kelola universitas yang

53

baik dan bersih (good and clean university
governmence).

(2) Civic University

Lulusan yang dihasilkan oleh Unsoed harus
mampu memahami alam; melakukan perenungan
dan analisis terhadap niali-nilai yang layak
dimasyarakatkan sehingga trampil dalam mengatasi
masalah sampai pada substansinya. Di samping itu,
Unsoed harus menyediakan kesempatan bagi
masyarakat, baik individual, kelompok bisnis,
maupun institusi public, untuk mengakses sumber
daya yang dimilikinya dalam suatu kerja sama yang
selaras dan seimbang. Sehubungan dengan hal itu
Unsoed harus dikelola sedemikan rupa sehingga
dapat memfasilatasi terselenggarnya keterkaitan
universitas dengan wilayah geografis yang menjadi
perhatiannya. Dengan demikian Unsoed harus
mengembangkan kemitraan dengan dunia usaha,
pemerintah dan masyarakat, dan berperan dalam
pengembangkan solusi bagi permasalahan
masyarakat serta dalam perubhan sosial, budaya
dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

54

(3) Unggul

Investasi dan inovasi diarahkan untuk
mengembangkan IPTEKS dalam rangka
mengembangkan Unsoed menjadi pusat unggulan
pemberdayaan masyarakat perdesaan melalui
pengalihan dan penerapan teknologi tepat guna dan
penggalian serta pemanfaatan kearifan lokal.

(4) Sumberdaya perdesaan dan kearifan
lokal

Secara umum telah diketahui bahwa 70%
kantong kemiskinan di Indonesia adalah perdesaan.
Wilayah perdesaan terdiri atas sumber daya alam,
sumber daya manusia, kultur, dan kearifan lokal,
serta sistem tata kelola yang khas perdesaan. Oleh
karena itu Unsoed perlu mengembangkan IPTEKS
untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber
daya perdesaan guna meningkatkan kualitas pere
konomian, pelayanan kebutuhan masyarakat, dan
bagaimana masyarakat diorganisasikan untuk meng
optimalkan sumber daya tersebut. Penggalian dan
pemanfaatan kultur dan kearifan lokal yang dapat
dikembangakan harus dilakukan untuk mengatasi

55

permasalahan masa kini dan mendatang pada
wilayah lokal dan sekaligus dapat memberikan
kontribusi dalam pemecahan permasalahan
regional, nasional, maupun global.

2. Misi

Pelaksanaan misi Unsoed yang pada awalnya
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Banyumas
telah dan terus berkembang cakupannya sesuai
dengan peningkatan kapasitasnya. Da lam sepuluh
tahun terakhir, Unsoed telah menjalin kerja sama
dengan berbagai lembaga di luar negeri dalam
pelaksanaan misinya. Bvaluasi terhadap
pelaksanaan kerja sama tersebut memberikan
indikasi yang kuat bahwa peran Unsoed dalam kerja
sama dengan pihak luar negeri menunjukkan
peningkatan yang semakin besar. Kapasitas
pelaksanaan misi tnt sudah selayaknya hams
dikembangkan guna mewujudkan Unsoed menjadi
world class civic university IWCCU) yang memiliki
fokus pengembangan IPTEKS berbasis perdesaan
dan kearifan lokal, serta mengemban m and at
pemerintah NKR1. Sehubungan dengan hal itu,
maka dirutnuskan misi sebagai berikut.

56

(1) Menyelenggarakan pendidikan guna
menghasilkan lulusan yang bermoral,
berwawasan kebhinnekaan, memiliki
kompetensi akademik yang memadai dan
protesionalisme, keunggulan kompetitif.
kemampuan kepemimpinan dan
kewirausahaan yang berkeadilan sosial dan
beradab, kemampuan memecahkan masalah.
dan berinovasi khususnya dalam
pengembangan sumber daya perdesaan dan
kearifan lokal.

(2) Menyelenggarakan penelitian untuk
pengembangan ilmu dan alih teknologi yang
relevan dengan pengembangan sumber daya
perdesaan dan kearifan lokal.

(3) Menyelenggarakan pengabdian pada
masyarakat yang berbasis hasil penelitian
untuk pemberdayaan masyarakat perdesaan.

(4) Mengembangkan tata kelola universitas yang
mandiri dengan menerapkan budaya dan
penjaminan mutu. prinsip transparansi.
akuntabilitas, dan meritokrasi.

(5) Mengembangkan kerja sama dalam
pengembangan dan penerapan ilmu
pengetahuan. teknologi dan atau seni pada
tingkat lokal, nasional, dan internasional.

57

3) Tujuan

Tujuan pengembangan Unsoed adalah untuk:
(1) menghasilkan lulusan yang bermnral,

berwawasan kebhinnekaan, berkompetensi
akademik dan profesional yang memadai,
berkeunggulan kompetitif berketnampuan
kepemimpinan dan entrepreneurship/
technopreneurship yang berkeadilan sosial dan
beradab, berkemampuan memecahkan
masalah, serta berkompetensi khusus dalam
pengembangan perdesaan, penggalian, dan
pemanfaatan kearifan lokal;
(2) menjadi pusat unggulan pemberdayaan
perdesaan dan teknologi tepatguna;
(3) mewujudkan tata kelala universitas yang
mandiri dengan menerapkan budaya dan
penjaminan mutu, prinsip transparansi,
akuntabilitas, meritokrasi, serta peningkatan
efektivitas pelayanan;
(4) mengembangkan kerja sama pada tingkat lokal,
nasional dan internasional dengan prinsip
kemitraan dalam pengembangan dan
penerapan IPTEKS, pemberdayaan sumber
daya perdesaan. serta penggalian dan
pemanfaatan kearifan lokal.

58

4) Sasaran

Sasaran yang akan dicapai da lam
pengem bangan Unsoed pada tahun 2020 meliputi:

(1) meningkatkan kontribusi unlversitas da lam me
menu hi kebutuhan sumberdaya manusia
berkualitas untuk pengembangan dan
penerapan IPTEKS dengan kompetensi khusus
da lam pengembangan perdesaan, serta
penggalian dan pemanfaatan kearifan local;

(2) meningkatkan kapasitas universitas dalam
penguasaan, invensi, dan inovasi IPTEKS untuk
memecahkan permasalahan kehidupan
manusia;

(3) meningkatkan kualitas pelayanan publik
berbasis IPTEKS yang transparan, akuntabel,
dan aksesibel;

(4) meningkatkan kapasitas kerjasama untuk
mensinergikan potensi sumberdaya yang dimiliki
universitas dengan potensi masyarakat, serta
pengakuan (recognition) masyarakat pada
tingkat lokal. nasional, dan internasional.

59

TATAP MUKA IV (MINGGU IV)
5.4 NILAI KEJUANGAN PANGLIMA BESAR

JENDERAL SOEDIRMAN

1. Deskripsi

Dasar pemikiran dan relevansi penggunaan
nama pokok bahasan tersebut di atas secara
filosofis mengambil dari akumulasi jiwa, semangat
dan nilai kejuangan yang telah ditampilkan oleh
Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dapat
dicontoh dan dapat diaktualisasikan atau
ditanamkan dalam era kekinian oleh seluruh
masyarakat, terlebih oleh civitas akademika Unsoed,
khususnya oleh para Mahasiswa.

Nilai adalah konsep (abstraksi atau gambaran)
mengenai masalah dasar yang sangat penting dan
bernilai dalam kehidupan manusia. Nilai kejuangan
dapat bermakna, nilai yang terkandung dalam usaha
dengan penuh kesukaran dan bahaya untuk
merebut sesuatu (mempertahankan kemerdekaan
negara RI, misalnya), merebutkan sesuatu dengan
mengadu tenaga dan pikiran, dan usaha yang
penuh dengan bahaya (perang, misalnya). Nilai

60

kejuangan tersebut bermakna pula nilai luhur hasil
wujud interaksi sosial termasuk dalam berbagai
persaingan dan konflik.

Nilai kejuangan Panglima Besar Jenderal
Soedirman tersebut dapat diamati, dipelajari,
dimengerti dan difahami, dari fakta yang telah
diterima oleh masyarakat, yaitu sebagai berikut.
1) Panglima Besar Jenderal Soedirman

mempunyai sifat religius, pemimpin dengan

Iman dan Taqwa yang kuat (Panglima Besar

Jenderal Soedirman Sang Mubaligh)

2) Panglima Besar Jenderal Soedirman

mempunyai sifat pendidik yang mendasarkan

pada kemampuan intelektualitas (Panglima

Besar Jenderal Soedirman Sang Pendidik).

3) Panglima Besar Jenderal Soedirman

mempunyai sifat demokrat, yang tetap

menghormati perbedaan pendapat tanpa harus

`memaksakan kehendak, dan beorientasi pada

rakyat (Panglima Besar Jenderal Soedirman

Sang Demokrat).

4) Panglima Besar Jenderal Soedirman

mempunyai sifat prajurit yang disiplin, tegas,
ikhlas dan rela berkorban, kuat berpegang

61

teguh pada prinsip dan cita-cita, pantang
menyerah dalam berjuang, mengutamakan
kepentingan yang lebih besar atau negara,
menjunjung tinggi nama dan kehormatan negara
dalam rangka menum buhkan kesadaran bela
negara (Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sang Prajurit ).

Keempat sifat yang dalam perkembangannya
menjadi nilai kejuangan yang ditampilkan oleh
Panglima Besar Jenderal Soedirman sangat
bermanfaat kalau dapat dinternalisasikan dan
diaktualisasikan oleh civitas akademika (khususnya
mahasiswa baru). Selanjutnya selama mahasiswa
dalam proses pembelajaran di Unsoed diharapkan,
nilai tersebut, akan dapat secara bertahap
ditumbuhkan dan dikembangkan. Hasil yang
diharapkan adalah menjadi suatu jatidiri yang akan
dimunculkan dalam bentuk sikap dan perbuatan
mahasiswa Unsoed dalam hidup keseharian; yang
selanjutnya disebut jatidiri Unsoed. Jatidiri Unsoed
tersebut diharapkan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari jatidiri utuh yang dimiliki oleh
mahasiswa. Dengan demikian selama menjalani

62

proses pembelajaran dan pendewasaan di Unsoed
mahasiswa memiliki unsur jatidiri yang menjadi
perekat diantara mereka dan civitas akademika
yang lain, yaitu jatidiri Unsoed.

Jatidiri tersebut diharapkan dapat muncul dalam
bentuk antara lain, keberhasilan dalam pengelolan
diri ( a.menjaga keseimbangan hidup dan kehidupan,
b.mengerti yang disukai dan tidak disukai, c.mampu
memimpin diri, d. mampu bergaul dengan benar, e.
mampu bekerja efektif, efisien dan produktif, serta f.
mampu berfikir positif).

Jatidiri adalah ciri, gambaran atau keadaan
khusus seseorang; identitas, kepribadian, inti dan
jiwa, semangat, daya gerak dari dalam serta
spiritualitas. Dikatakan juga bahwa jatidiri adalah
kepribadian atau personality yaitu susunan unsur
akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah
laku atau tindakan tiap-tiap individu (manusia).

Jatidiri mempunyai unsur-unsur, 1) pengetahuan
(persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan
fantasi), 2) perasaan (kehendak, keinginan dan
emosi), 3) dorongan (naluri hidup, mencari makan,
meniru, berbakti, dan keindahan).

63

Pemilikan jatidiri Unsoed oleh mahasiswa
diharapkan akan lebih memperkokoh sikap dan
perilaku akademik bagi kepentingan bangsa dan
negara, sehingga diharapkan kelak akan menjadi
sarjana pejuang yang tangguh, ulet dan berdedikasi
tinggj. Disebut jatidiri Unsoed karena jatidiri tersebut
memiliki unsur-unsur utama yang dijiwai oleh nilai
kejuangan Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Soedirman, sehingga selayaknya
dimiliki oleh civitas akademika Unsoed.

2) Relevansi

Materi ini membahas nilai kejuangan Panglima
Besar Jenderal Soedirman, sebagai teladan yang
sangat bermanfaat untuk diinternalisasikan dan
diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian sivitas
akademika Unsoed, khususnya mahasiswa.
Internalisasi dan akutualisasi nilai kejuangan
tersebut diharapkan dapat berlangsung secara
bertahap dan berkelanjutan yang dimulai dari saat
mahasiswa baru mulai mengikuti proses
pembelajaran dan menjalani kehidupan masyarakat
kampus. Aktualisasi tersebut diharapkan dapat
membangkitkan kepercayaan mahasiswa akan
jatidirinya sehingga menumbuhkan self concept

64

yang sangat diperlukan dalam mendukung
efektivitas. etislensi, dan keherhasilan mahasiswa
dalam menyelesaikan studi tepat waktu. dan mampu
menempatkan diri pada teknostruktur yang tepat di
masyarakat setelah purnastudi; dan secara
konsisten menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa
dan ber-ipteks yang diamalkan kepada masyarakat.
bangsa dan negara, sebagaimana tersurat dalam
syair hi nine Unsoed "dharmamu sepenuhnya
sumbangkan membangun nusa".

3) Capaian Pembelajaran Khusus
Pada akhir kuliah mahasiswa mampu

mengaktualisaiskan nilai keuangan Panglima
Besar Jenderal Soedirman.dalam kehidupan
sehari-hari.

5.4.1 Peranan Mahasiswa

Mahasiswa sebagai bagian integral dari Pemuda
Indonesia memiliki kedudukan dan posisi yang
strategis bagi pertumbuhan, perkembangan dan
kelangsungan hidup bangsanya. Kedudukan
mahasiswa dalam kehidupan bangsa ditempatkan
pada dua peran yaitu di samping sebagai generasi

65

muda bangsa juga sebagai generasi muda
intelektulal. Sebagai generasi muda bangsa
mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai calon
pemimpin masa depan, pangemban tongkat estafet
amanat perjuangan bangsa untuk mencapai
masyarakat Indonesia yang hidup dalam keadilan
dan adil dalam kesejahteraan sebagaimana yang
tersurat dalam Pancasila dan Undang Undang
Dasar 1945. Sedangkan peran sebagai generasi
muda intelektual, mahasiswa memikul tanggung
jawab terhadap perkembangan dan implentasi ilmu
pengetahuan dan teknologi serta menumbuh
kembangkan kupeduliannya terhadap upaya
memecahkan masalah bangsa dengan pendekatan
kemampuan intelektual yang dimilikinya. Oleh
karena itu mahasiswa perlu dibangkitkan dan
dikembangkan kesadaran akan peran dan fungsinya
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.

Dari pendekatan historis pada tahun 60-an,
Universitas Jenderal Jenderal Soedirman (Unsoed)
adalah universitas yang didirikan atas dukungan
Angkatan Bersenjata Republik Indenesia (ABRI)
sebagai wujud terima kasih Pimpinan Angkatan

66

Darat (Almarhum Jenderal Achmad Yani) kepada
masyarakat Banyumas yang telah membantu proses
penumpasan gerombolan DI/TII di wilayah operasi
perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Selain itu,
juga sebagai wujud penghormatan dan
penghargaan terhadap jasa-jasa Panglima Besar
Jenderal Soedirman seorang pahlawan bangsa
salah satu putra terbaik kelahiran Banyumas.

Mendasarkan pada hal tersebut di atas,
Universitas Jenderal Soedirman adalah monumen
hidup yang menyandang nama besar dan
keharuman perjuangan Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang sepanjang perjalanan hidup sampai
akhir hayatnya diabdikan untuk kepentingan
masyarakat dan kejayaan bangsa serta negara.
Oleh karena kehormatan menyandang nama besar
tersebut, maka civititas akademika sebagai bagian
komunitas Universitas Jenderal Soedirman,
mempunyai tanggungjawab moral untuk menjaga
nama baik dan ikut berupaya melanjutkan dan
mewujudkan cita-cita juangnya melalui peningkatan
kuantitas serta kualitas pelaksanam Tri Dharma
Peguruan Tinggi.

67

Upaya mewujudkan tanggung jawab dan
sebagai konsekuensi logis penyandang nama besar
Jenderal Soedirman, maka dilakukan lewat
menyamakan pola pikir, sikap dan pola tindak
seluruh anggota keluarga besar Unsoed, sehingga
mampu mencerminkan nilai kejuangannya Upaya
tersebut dirancang dalam bentuk kegiatan panduan
sebagai pembekalan awal terhadap mahasiswa baru.
Upaya yang memiliki tujuan luhur tersebut telah
didukung oleh Pimpinan Universitas dengan
menuangkannya dalam bentuk kegiatan pembinaan
terhadap para mahasiswa baru Unsoed yang dalam
perkembangannya dijadikan tradisi dan pemantapan
jati diri Unsoed.

5.4.2 Aspek Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi

Fungsi utama pendidikan tinggi, merupakan
sumber diturunkannya fungsi pendidikan, penelitian
dan pengabdian kepada masyarakat, lewat usaha
sebagai berikut.

(1) IImu pengetahuan, yaitu usaha manusia untuk
mempelajari, mengerti dan memahami dirinya,

68

tata-hubungan antar pribadi, lingkungan fisik dan
lingkungan spiritual serta keseluruhan interaksi
dan pengaruh antara hal-hal tersebut dengan
waktu, ruang, materi dan energi.

(2) Rekayasa, yaitu usaha untuk memanfaatkan
ilmu pengetahuan dan pengalaman ke dalam
perencanaan agar tata hubungan antar-pribadi
serta lingkungan fisik dapat menunjang
peningkatan kualitas hidup.

(3) Teknologi, yaitu usaha untuk memanfaatkan
ilmu: pengetahuan, pengalaman dan rekayasa
untuk dituangkan. menjadi tata cara atau
prosedur dalam menghasilkan barang dan jasa
yang berguna bagi masyarakat.

8) Mengacu kepada aspek ilmu pengetahun dan
fungsi utama pendidikan tinggi, maka setiap
lembaga pendidikan tinggi berupaya (dengan Tri
Darma Perguruan Tinggi) menghasilkan lulusan
yang memiliki atribut sebagai berikut (UNESCO,
1998).

1) Be flexible (Lentur dan kenyal, mampu melihat
ke depan, dapat belajar dari sejarah).

69

(2) Be able and willing to contribute to innovation
and be creative (Mampu dan berkeinginan
untuk mengembangkan sesuatu yang baru dan
kreatif).

(3) Be able to cope with uncertainties (Mampu
mengatasi masalah-masalah yang tak menentu).

(4) Be interested in and prepared for life-long
learning (Selalu ingin maju dan berkeinginan
untuk selalu belajar selama hayatnya).

(5) Have acquired social sensitivity and
communicative skill (Mempunyai kepedulian
sosial yang tinggi dan kemampuan
berkomunikasi).

(6) Be able to work in team (Memiliki daya saing
dan mampu untuk saling bekerjasama).

(7) Be willing to take responsibilities (Berani
mengambil resiko dan penuh tanggung jawab).

(8) Become entrepreneurial (Memiliki kemampuan
mengakses berbagai informasi untuk berwira
usaha)

(9) Prepare themselves for the internationalization
of the labour market fMampu menyiapkan
dirinya bersaing di pasar kerja).

(10) Be versatile in generic skills which cut across
different disciplines. (Mampu melakukan banyak
hal dengan berbagai disiplin ilmu)

70

Keberhasilan menghasilkan lulusan yang
mempu nyai atribut seperti yang diuraikan tersebut
tergan tung pula pada keberhasilan pengopti
masikan kemampuan mahasiswa di aspek
kecerdasan, ketrampilan dan moral . Mengikuti mata
ajaran Jatidiri Unsoed, memberi peluang secara
awal kepada mahasiswa dalam merangsang wilayah
kercerdasan, ketrampilan dan moral tersebut.

3. Biografi Panglima Besar Jenderal
Soedirman

Panglima Besar Jenderal Soedirman

merupakan salah satu tokoh pahlawan nasional

yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia,

sehingga dapat dikata gorikan sebagai tokoh yang

memiliki nama besar. Namun demikian bukan berarti

bersal dari keturunan orang besar, tetapi justru ia

berasal dari rakyat kecil. Karena orang tuanya

adalah seorang Mandor Tebu di Kalibagor

Banyumas yang bernama Karsid sedang Ibunya

bernama Siyem. Sejak bayi dijadikan anak angkat

oleh keluarga R. Cokrosunaryo yang menjabat

71

sebagai Asisten Wedana (Camat) di Rembang
Purbalingga.

Berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri
Purbalingga No. 50 tanggal 4 Desember 1976,
menetapkan bahwa kelahiran Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Panglima Besar
Jenderal Soedirman itu pada tanggal 24 Januari
1916 bertepatan dengan tanggal 18 Maulud tahun
1336 H (Sardiman, 2000). Adapun tempat
kelahirannya di desa Bantarbarang, Kecamatan
Rembang Kabupaten Purbalingga. Panglima Besar
Jenderal Soedirman kecil tidak lama tinggal di
Rembang Purbalingga, karena Ayah angkatnya
pensiun dari jabatan sebagai Asisten Wedana di
Rembang. Selanjutnya pindah ke Cilacap untuk
melaksanakan tugas barunya sebagai Penasehat
pengadilan Negeri Cilacap. Pada waktu kecil
Panglima Besar Jenderal Soedirman di Cilacap
hidup dilingkungan keluarga priyayi karena ayah
angkatnya adalah seorang keturunan priyayi. Di
samping itu juga hidup dilingkungan wong cilik
karena bapak-ibunya sendiri berasal dari rakyat
kecil. Dari lingkungan masyarakat yang ditempati
adalah masyarakat yang agamis karena ia tinggal

72

di rumah yang dekat Masjid (Surau). Hal inilah yang
mewarnai perilaku Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang sejak kecil sudah biasa prihatin
suka bekerja keras, patuh pada sopan santun dan
taat beribadah.

Pada waktu sekolah Panglima Besar Jenderal
Soedirman dapat memasuki sekolah yang
diselenggarakan oleh pemerintah Kolonial Belanda
yaitu Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau
Sekolah Dasar Belanda. Hal ini berkat ayah
angkatnya yang keturunan priyayi, karena anak-
anak bumi putra yang dapat sekolah di HIS
syaratnya orang tuanya priyayi. Panglima Besar
Jenderal Soedirman termasuk murid yang tidak
menonjol, kecerdasannya biasa saja, ia bukan
murid yang terpadai tetapi juga tidak bodoh. Dari
kelas I sampai dengan kelas V dijalani dengan
lancar tidak ada hambatan. Tetapi pada waktu naik
kelas VI ia merasa kurang cocok bersekolah di HIS
karena faktor lingkungan, sehingga ingin pindah
sekolah lain. Hasrat itu disampaikan kepada orang
tuanya. Namun nasehat orang tua tidak
diperbolehkan pindah sekolah supaya tetap duduk di
kelas VI HIS. Ketika naik kelas VII keinginan pindah

73

ke sekolah lain muncul kembali, akhirnya Panglima
Besar Jenderal Soedirman pindah ke sekolah HIS
Taman Siswa. Tetapi belum genap setahun sekolah
tersebut ditutup karena kekurangan dana untuk
operasinal sekolah. Selanjutnya ia masuk ke
sekolah HIS Wiworotomo sampai menamatkan
pendidikan dasarnya. Selanjutnya ia meneruskan
pendidikan pada Meer Uitgereid Lage Onderwijs
(MULO) Wiworotomo. Perlu diketahui bahwa
lembaga pendidikan Wiworotomo merupakan salah
satu lembaga pendidikan yang dianggap oleh
peme-rintah kolonial sebagai pejoratif wilde scholen
atau sekolah liar (Taufik Abdullah, dkk., 1978).

Selama mengikuti pendidikan di MULO
Wiworotomo Panglima Besar Jenderal Soedirman
banyak memperoleh berbagai pengetahuan tidak
hanya dari segi keilmuan saja tetapi juga segi
patriotisme dan nasionalisme serta militansi sebgai
sikap keagamaan yang kuat. Hal ini berkat pengaruh
para pengasuh atau pendidik di Wiworotomo yang
memiliki jiwa nasionalisme dan militan terhadap
pemerintah kolonial yang selalu menolak untuk
bekerja pada dinas kolonial.

74

Sewaktu belajar di MULO Wiworotomo
Panglima Besar Jenderal Soedirman walaupun ia
pendiam tetapi cepat beradaptasi dengan dengan
teman-teman cepat akrab, bahkan berkat
kedisiplinan, rajin bekerja dan sikap hormat yang
telah tertanam dari kebiasaan di rumah sangat
mendukung dalam pergaulan di sekolah. Pada diri
Panglima Besar Jenderal Soedirman tercermin
sikap keteladanan dalam pergaulan di Sekolah,
sehingga tidak menghe-rankan apabila sering
menjadi perhatian kawan-kawannya di MULO
Wiworotomo. Dimata teman-temannya Panglima
Besar Jenderal Soedirman dikenal sebagai anak
priyayi karena ayahnya seorang pensiunan Asisten
Wedana. Tetapi ia tidak sombong dan juga tidak
mau dipanggil Ndoro seperti layaknya masyarakat
memanggil anak yang memiliki keturunan priyayi.
Bahkan ia lebih suka dipanggil namanya saja dan
suka merendah bersikap santun serta sederhana
(Sardiman, 2000). Selain itu Panglima Besar
Jenderal Soedirman dikenal sebagai siswa MULO
yang cukup menonjol dalam kepandaiannya
sehingga sering dipercaya untuk memimpin
berbagai kegiatan organisasi siswa, diantaranya

75

adalah Ikatan Pelajar Wiworotomo. Berkat
mengikuti oraganisasi ikatan pelajar banyak
kegiatan yang dapat dilaksanakan seperti Olah
Raga dan Kesenian. Dalam olah raga Panglima
Besar Jenderal Soedirman sangat menyukai
Sepak Bola dan Baris-berbaris sedangkan pada
bidang kesenian yang digemari adalah seni
sandiwara yang mementaskan kisah-kisah
keteladanan dan kepahlawanan.

Keaktifan Panglima Besar Jenderal Soedirman
tidak hanya terbatas di sekolah saja, melainkan di
masyarakat ia aktif mengikuti berbagai kegiatan
kemasyarakatan seperti gotong-royong dan
mengkoordinir para pemuda dilingkungannya
dengan membentuk kesebelasan sepak bola yang
diberi nama “Banteng Muda” Karena sering
melakukan pertandingan sepak bola di berbagai
daerah ia menjadi terkenal di daerah Banyumas. Hal
inilah yang membawa Panglima Besar Jenderal
Soedirman dipercaya sebagai Ketua Persatuan
Sepak Bola Banyumas (Disjarah TNI AD, 1985).

Panglima Besar Jenderal Soedirman juga aktif
dalam organisasi kepanduan milik gerakan

76

Muhammadiyah yang terkenal dengan Hizboel
Wathan (HW). Kelahiran Pandu Muhammadiyah
(HW) diprakarsai oleh pendiri Muhammadiyah yaitu
KH Ahmad Dahlan yang didirikan pada tahun 1920
dengan nama Hisboel Wathan yang artinya
pembela tanah air atau cinta tanah air. Tujuan
didirikan HW adalah untuk membantu orang-orang
tua dan guru-guru dalam mendidik anak-anak
supaya memiliki perilaku berbudi pekerti baik,
berbadan sehat dan bertaqwa kepada Allah ( Gatot
Kartawiyata,1357 H). Dengan lahirnya HW di
Yogyakarta ternyata tumbuh dengan pesat cabang
diberbagai daerah di Jawa seperti HW di Cilacap.
Bergabungnya Panglima Besar Jenderal Soedirman
di HW tidak sekedar kebetulan melainkan ingin
mengembangkan bakat, minat dan hasrat untuk
mendalami ajaran-ajaran dan amalan-amalan Islam.
Disamping itu lingkungan masyarakat tempat tinggal
Panglima Besar Jenderal Soedirman juga
mendorong untuk memasuki kepanduan HW.
Karena lingkungan masyarakat telah mendidik
kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman akan
nilai-nilai dan sikap disiplin, sederhana, kerja keras,
sopan santun dan hormat kepada sesama. Sebagai

77

anggota HW Panglima Besar Jenderal Soedirman
selalu mengikuti berbagai program dan kegiatan,
karena merupakan wadah yang dianggap tepat
untuk mengembangkan dan membina diri. Hal inilah
yang membawa Panglima Besar Jenderal
Soedirman semakin dikenal dikalangan anggota
kepanduan HW Muhammadiyah. Bahkan ia
dipercaya oleh kaawan-kawannya dengan suara
bulat Panglima Besar Jenderal Soedirman terpilih
sebagai ketua HW Muhammadiyah Wilayah
Banyumas. Pada waktu menjadi ketua HW Wilayah
Banyumas perkem bangannya cukup pesat, karena
banyak pemuda Banyumas yang masuk
bergabung menjadi anggota HW.

Kegiatan-kegiatan HW juga semakin menonjol
dengan menyelenggarakan pendidikan rohani yaitu
pendalaman dan pengamalan Islam melalui
pengajian dan rapat-rapat akbar. Dalam bidang
jasmani Panglima Besar Jenderal Soedirman
melakukan kegiatan latihan-latihan rutin berupa
baris-berbaris dan menyelenggarakan perkemahan
dan Jambore (Sardiman, 2000 ).Selain itu juga
dalam kesempatan pembinaan kepada anggota HW
sering menasehati kepada anggota untuk menjadi

78

manusia yang jujur, penuh keimanan dan berahlak
mulia. Ia juga mengajarkan tentang bela negara
kepada anggota HW dan menghimbau agar
supaya HW ikut berjuang untuk melawan penjajah,
dengan cara jihad dalam rangka dapat memperoleh
kemer-dekaan.

1) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sang Pendidik

Setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman
menamat kan pendidikan di MULO pada tahun 1934.
Ia menyadari bahwa sebagai lulusan MULO tidak
berwenang untuk menjadi guru, tetapi ia ingin
menjadi guru agar dapat mendidik generasi muda
bangsa di HIS Muhammadiyah. Kebetulan pada
waktu itu HIS Muhammadiyah Cilacap yang didirikan
oleh R.Moh. Kholil kekurangan guru. Untuk mengisi
lowongan guru sangat kesulitan mendapatkan
tenaga guru yang berasal dari lulusan sekolah guru.
Maka keinginan Panglima Besar Jenderal

79

Soedirman untuk menjadi guru dikabulkan oleh
R.Moh Kholil asal mau belajar untuk menekuni
sebagai guru. Setelah Panglima Besar Jenderal
Soedirman menjadi guru ia banyak menimba
pengetahuan keguruan kepada guru-guru senior
yang pernah mengajar di Wiworotomo ( Disjarah TNI
AD, 1985).

Berkat ketekunan dan kesungguhan Panglima
Besar Jenderal Soedirman dalam waktu singkat
telah menguasai teori-teori dan praktek mengajar,
seperti layaknya seorang guru HIS yang lain.
Walaupun ia tidak punya ijazah pendidikan sekolah
guru secara formal. Bahkan Panglima Besar
Jenderal Soedirman dinilai oleh pimpinan
Muhammadiyah Cilacap sebagai guru yang baik.
Sebetulnya ketertarikan Panglima Besar Jenderal
Soedirman menjadi guru sejak ia menjadi pembantu
guru atau guru kecil saat ia menjadi siswa di MULO
Wiworotomo. Dimata murid-muridnya Panglima
Besar Jenderal Soedirman sangat disenangi
karena ia pandai dalam menyampaikan materi
pelajaran terutama pengetahuan sosial, agama
dan bahasa Belanda. Dalam mengajar kepada
murid-murid sangat menarik dan kelas menjadi

80

hidup tidak membosankan dan diperkaya dengan
ilustrasi yang sesuai dengan persoalan di seputar
kehidupan siswa. Setiap pelajaran yang diberikan
diterangkan dengan baik dengan bahasa yang
mudah diterima oleh siswa-siswa HIS.

Sebagai guru Panglima Besar Jenderal
Soedirman berperan sebagai pengajar dan
pendidik, karena dalam mengajar ia tidak terbatas
pada aspek keilmuan atau semata, tetapi juga pada

aspek nilai. Dengan kata lain tidak hanya

menekankan dari segi aspek kognitif saja

melainkan juga pada aspek afektif, bahkan

melaksanakan aspek psikomotorik. Hal tersebut

dapat dilihat dari apa yang dikerjakan oleh

Panglima Besar Jenderal Soedirman pada waktu

menjadi guru. Dalam proses belajar mengajar

disamping ia menyampaikan mata pelajaran ilmu

pengetahuan sosial, bahasa Belanda, ia juga

menyampaikan mata pelajaran budi pekerti, agama

dan akhlak serta etika sopan santun. Disamping itu

juga ia sering membina pelajaran ketrampilan.

Panglima Besar Jenderal Soedirman

berkeinginan kepada siswa-siswa agar memiliki
jiwa tangguh, berani, tetapi rendah hati, jujur dan

81

konsisten, memiliki semangat juang dan
nasionalisme. Hal ini penting karena guna
menanamkan kepada siswa-siswa untuk memiliki
kesadaran berbangsa dan menjnjung tinggi tanah
airnya.

Keterpanggilan Panglima Besar Jenderal
Soedirman menjadi guru di HIS Muhammadiyah
disamping ingin mengembangkan bakat juga
karena panggilan hati nurani. Ia ingin menyalurkan
pengabdiannya dan kejuangannya dibidang
pendidikan Bumiputra. Sehingga ia merasa senang
menjadi guru karena merupakan pekerjaan yang
mulia yang mengandung nilai ibadah.

Hubungan Panglima Besar Jenderal Soedirman
dengan sejawat guru juga terjalin dengan baik dan
sangat akrab serta selalu bekerja sama dengan
kawan-kawan guru yang lain. Bahkan sering
melaksanakan disikusi dengan guru-guru untuk
membahas persoalan-persoalan siswa dalam
kegiatan belajar mengajar. Disamping itu dimata
kawan-kawan guru Panglima Besar Jenderal
Soedirman dikenal guru yang disiplin dalam
memegang teguh ketertiban sekolah, namun ia tidak

82

kaku, ia sangat arif dan lapang menghadapi dan
menangani berbagai persoalan sekolah.

Berkat ketekunan dan prestasi serta penam
pilan kepemimpinan Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang dapat diterima oleh kawan-kawan
guru ia dapat terpilih dan dipercaya untuk menjadi
Kepala Sekolah di HIS Muhammadiyah. Terpilihnya
Panglima Besar Jenderal Soedirman menjadi
kepala sekolah ia tidak membuat sombong sikap
dan perilaku dalam pergaulan sesama guru, ia
tetap santun tidak ada perubahan seperti saat
sebelum menjadi kepala sekolah. Justru perubahan
yang terjadi adalah Panglima Besar Jenderal
Soedirman memiliki rasa tanggung jawab yang lebih
besar. Karena ia harus mengkoordinasikan guru-
guru dalam meningkatkan proses belajar mengajar.
Ia bertang gung jawab terhadap kemajuan sekolah
dan ia selalu memikirkan tentang kesejahteraan
para guru sekolahnya (Disjarah AD, 1985).iii

2) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sang Mubaligh

83

Kehidupan Panglima Besar Jenderal

Soedirman di masa kecil sudah nampak kelihatan

sebagai seorang anak yang rajin belajar agama. Hal

ini tidak heran karena ia hidup dilingkungan

masyarakat yang agamis, karena dilingkungan

tempat tinggalnya dekat dengan Masjid (Surau).

Disamping itu ia banyak belajar agama dengan

para tokoh agama di Cilacap, diantaranya kepada

R.Moh Kholil seorang tokoh Muhammadiyah di

Cilacap.
Walaupun secara formal Panglima Besar

Jenderal Soedirman tidak pernah megenyam
pendidikan di pesantren, tetapi bakat dan
pengalamannya sering berpidato ia terdorong untuk
menjadi seorang Da’i. yang cukup terkenal di
Cilacap dan Banyumas sekitarnya. Sebelum
menjadi akhi dakwah Sudirman sudah banyak
berpengalaman sebagai aktifis masyarakat yaitu
pemimpin HW, Pemuda Muhammadiyah dan Guru
HIS.

Berkat kedekatannya dengan R. Moh. Kholil
Panglima Besar Jenderal Soedirman sering

bertukar pikiran tentang masalah da’wah Islamiyah.
Selain itu ia juga banyak belajar dengan para Kiai,

84

diantaranya Kiai Markhum seorang Imam Masjid
Besar di Cilacap. Selanjutnya juga banyak belajar
dengan Muh. Saidun seorang guru agama di
MULO Wiworotomo Cilacap. Dari berguru kepada
tokoh agama itu membawa Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Panglima Besar
Jenderal Soedirman berhasil menjadi juru dakwah
yang cukup dikenal Cilacap dan sekitarnya
(Soekanto, 1981).iv

Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam
berdakwah lebih banyak menekankan tentang
ajaran tauhid, kesadaran beragama dan kesadaran
berbangsa. Hal ini dilatar belakangi oleh adanya
kondisi masyarakat yang masih kental dengan adat-
istiadat Jawa yang kadang-kadang bertentangan
dengan ketauhidan, sehingga dikhawatirkan
masyarakat dapat terjerumus kepada kemusyrikan.
Selain itu dalam dakwah juga sering menyampaikan
ceramah yang diikuti contoh-contoh dalam
kehidupan seperti tentang hubungan antar anggota
keluarga, hubu-ngan anak dengan orang tua,
hubungan antar manusia di masyarkat dan
hubungan manusia dengan Tuhan..

85

Panglima Besar Jenderal Soedirman juga
sering berdakwah dengan menyampaikan materi
yang berhubungan dengan kesadaran berbangsa
dalam mensikapi keadaan saat itu. Materi seperti itu
sering disampaikan pada para pemuda dan
generasi HW yang intinya menghimbau supaya
generasi muda menggalang semangat kesadaran
berbangsa untuk berjuang guna kemerdekaan
bangsa. Para pemuda juga harus berani berjuang

jihad fisabililah melawan segala bentuk

kemungkaran. Panglima Besar Jenderal Soedirman

juga sering menekankan bahwa berjuang semata-

mata demi agama, bangsa dan negara. Kepada

generasi muda khususnya kaum laki-laki selalu

menekankan bahwa dalam berjuang harus iklas,

jangan karena pamrih uang dan harta, tetapi tulus

tanpa pamrih demi tegaknya agama, bangsa dan

negara.

Dalam rangka mengembangkan motivasi dan

memantapkan semangat perjuangan kaum muda,

Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam berdak

wah sering menggunakan kisah-kisah sejarah,

sebagai contoh yang dapat diteladani. Misalnya
sejarah perjuangan Nabi Muhammad, bahkan

86

Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah
memberikan contoh keteladanan perjuangan
seorang tokoh panglima Islam yang bernama Tariq
Bin Zaid. Dengan keberanian, keteguhan hati dan
keuletan tokoh ini berhasil meyeberangi Selat
Gibraltar dari Afrika ke Andalusia, sehingga
kepahlawanan Tariq bin Zaid ini pantas untuk
diteladani oleh para pemuda untuk berjuang terus
dalam menegakkan kebenaran. Seperti ungkapan
Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam
dakwahnya mengatakan “barang benar dikatakan
secara benar akan diterima secara benar, dan bagi
para pemuda daripada hidup berkalang dijajah lebih
baik berkalang tanah “ (Sardiman, 2000).

3) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sang Demokrat

Sejak kecil Panglima Besar Jenderal
Soedirman di mata teman-temannya dinilai
memiliki sifat-sifat yang baik dalam bergaul dan
beradaptasi dengan lingkungan dimana ia berada,
ia tidak memilih-milih teman dalam bergaul semua
kawan-kawannya disikapi dengan ramah dan baik.

87

Walaupun ia dikenal sebagai anak angkat seorang
ningrat tetapi ia selalu berisikap rendah hati. Sifat-
sifat yang dimiliki oleh Panglima Besar Jenderal
Soedirman sejak kecil sudah menampakkan sifat
yang egalitarian artinya tidak membeda-bedakan,
tidak eklusif dan menganggap semua teman
diperlakukan dengan baik. Hal inilah yang
menandakan bahwa Panglima Besar Jenderal
Soedirman memilik sifat yang demokrat terhadap
semua kawan-kawan pada waktu kecil.

Ketika remaja sifat demokrat ini mulai kelihatan
pada waktu ia aktifis dalam kegiatan-kegiatan di
Sekolah maupun di masyarakat. Sebagai contoh
ketika Panglima Besar Jenderal Soedirman duduk
di Sekolah HIS dimata teman-temannya sangat
tekun dalam belajar dan sering mengajari teman-
temannya yang belum menguasai mata pelajaran
tertentu, sehingga tidak heran apabila pada waktu
kecil Panglima Besar Jenderal Soedirman dikenal
kebagai “ Guru Kecil” Begitu pula pada waktu ia
duduk di MULO Wiworotomo ia banyak aktif dalam
kegiatan keorganisasian di sekolah seperti
Organisasi Ikatan Pelajar Wiworotomo. Melalui
organisasi inilah Panglima Besar Jenderal

88

Soedirman aktif dalam pertemua-pertemuan,
kesenian dan olah raga. Karena keaktifannya
Panglima Besar Jenderal Soedirman oleh teman-
temannya diangkat sebagai ketua organisasi Ikatan
Pelajar Wiworotomo. Dalam kegiatan tersebut ia
selalu mengutamakan kerja sama dengan teman-
temannya, dan selalu minta pendapat dengan
kawan-kawan dalam melaksanakan kegiatan
kesiswaan.

Dalam masyarakat Panglima Besar Jenderal
Soedirman juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan seperti gotong royong dan
mengkoordinir kawan-kawan sekampung dalam
membantu setiap keluarga yang punya kerja,
seperti acara perkawinan, kematian dan kegiatan
olah raga sepak bola. Berkat ketekunan ,
kedisiplinan, keramahan dan perhatian kepada
kawan-kawannya ia sering dipercaya untuk
mengkoordinir kegiatan-kegiatan pemuda di
kampungnya.

Pada waktu menjadi Pandu Muhammadiyah
(HW) Panglima Besar Jenderal Soedirman sangat
dikenal karena keaktifannya sebagai anggota HW,
sehingga ia dipercaya untuk memimpin HW di

89

Banyumas dan Jawa tengah. Kepercayaan yang
diamanahkan membuktikan bahwa Panglima Besar
Jenderal Soedirman memiliki sifat yang demokratis,
karena kepemimpinnannya dapat diterima oleh para
anggota HW dari tingkat Banyumas sampai Jawa
Tengah. Menurut Panglima Besar Jenderal
Soedirman sendiri HW dianggap sebagai wadah
untuk membina diri baik secara mental dan fisik
untuk mendewasakan sikap-sikap Panglima Besar
Jenderal Soedirman dalam menjalani kehidupan.
Dari HW inilah yang kemudian menjadi dasar bekal
untuk membela negara dan bangsa Indonesia.

Sewaktu menjadi guru di HIS Muhammadiyah
sifat demokratnya nampak pada waktu kegiatan
belajar mengajar di depan murid-muridnya. Dalam
memberikan materi pelajaran tidak monoton, tetapi
divariasikan dengan tanya jawab dengan murid.
Bahkan ia sering menciptakan kelas itu hidup
dengan memberi kesempatan kepada murid untuk
menyampaikan pendapatnya mengenai materi
pelajaran yang disampaikan kepada siswa-
siswanya. Hal inilah yang menjadikan Panglima
Besar Jenderal Soedirman sebagai seorang guru
yang disenangi oleh siswa-siswanya karena memiliki

90

kemampuan dalam menyampaikan materi pelajaran
sangat mengusai khususnya pengetahuan sosial.

Di mata teman sejawat guru Panglima Besar
Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai guru yang
rajin, disiplin, santun dan selalu menghargai kawan-
kawan guru dan muridnya. Bahkan ia sering
dimintai pendapatnya oleh teman sejawat guru
mengenai persoalan-persoalan dalam kegiatan
belajar mengajar. Dalam menyelesaikan persoalan-
persoalan sekolah ia selalu bekerja sama dengan
kawan-kawan guru dan juga sering minta saran-
saran dari kepala sekolah dalam menangani
masalah-masalah yang dihadapi di sekolahnya.

Berkat prestasi kerajinan dan kedisiplinan
sebagai pendidik serta jiwa kepemimpinannya
Panglima Besar Jenderal Panglima Besar Jenderal
Panglima Besar Jenderal Soedirman terpilih
sebagai Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah
Cilacap. Para dewan guru memilih Panglima
Besar Jenderal Soedirman sebagai Kepala
Sekolah berdasarkan pemikirannya yang sangat
baik dalam rangka memajukan pendidikan
dilingkungan Muhammadiyah. Sebagai Kepala
Sekolah Panglima Besar Jenderal Soedirman tidak

91

pernah otoriter, ia lebih mengedepankan kerja sama.

Segala persoalan diatasi dengan musyawarah

yang dilakukan bersama-sama dengan dewan guru.

Dalam musyawarah apabila ada perbedaan antara

Kepala Sekolah dan Guru, Panglima Besar

Jenderal Soedirman berusaha mencari solusinya

dengan mengkaji akar persoalannya agar supaya

dapat dipecahkan dengan cara saling

menguntungkan (win-win solution). Dalam

mengambil keputusan Panglima Besar Jenderal
Soedirman harus merenungkan secara mendalam
pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh dewan
guru. Hal ini supaya keputusan yang diambil dapat
diterima oleh semua pihak. Dari penuturan rekan
sejawat guru Panglima Besar Jenderal Soedirman
dalam mengambil keputusan memiliki ketepatan
dan pada umumnya dapat memuaskan semua pihak.
Bahkan Panglima Besar Jenderal Soedirman
memiliki kemampuan dan ketepatan dalam
mengambil keputusan yang menguntungkan semua
pihak yang sering dikagumi oleh rekan-rekan guru
(Sardiman, 2000).

Dengan gaya kepemimpinan demikian mencer
minkan sifat yang demokratis dan akomodatif.

92

Dalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah,
Panglima Besar Jenderal Soedirman tetap berpe
gang pada prinsip lebih menekankan pada pendi
dikan yang persuasif. Panglima Besar Jenderal
Soedirman tidak hanya memberikan perintah, tetapi
juga memberikan teladan dalam ucapan maupun
tindakan.

4) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sang Prajurit Pejuang

Komitmen Panglima Besar Jenderal Soedirman
terhadap jiwa kejuangan dalam menghadapi
tantangan saat itu mulai terlihat setelah aktif
dalam kegiatan-kegiatan kepanduan HW. Pada
waktu itu Panglima Besar Jenderal Soedirman
sering memanfaatkan waktu untuk berlatih fisik
maupun mental misalnya latihan olah raga, baris-
berbaris, mencari jejak dan pembinaan mental
keagamaan. Bahkan dalam HW sering melakukan
kemah, jambore dan kegiatan latihan perang-
perangan. Hal inilah menandakan bahwa Panglima
Besar Jenderal Soedirman memiliki jiwa kejuangan
militer.

93

Pada masa akhir pemerintahan kolonial
Belanda di Indonesia tepatnya pada tahun 1941
dibentuk Inheemse Militer dan kepada rakyat mulai
diberi penerangan serta latihan cara menghadapi
bahaya udara. Untuk menertibkan masyarakat
dalam menghadapi bahaya udara itu. Maka dibentuk
Luch Bischermen Diens (LBD) atau “Badan
Penjagaan Udara” yaitu sebuah badan keamanan
yang tugasnya membantu menghadapi bahaya dari

serangan udara. Adapun tujuannya adalah untuk

menghadapi situasi sehubungan dengan pecah

perang Dunia II yang akan meluas ke Asia

(Sardiman, 2000).

Sebagai tokoh masyarakat Panglima Besar

Jenderal Soedirman merasa terpanggil untuk

memasuki LBD di Cilacap. Ia melihat penderitaan

rakyat akibat penjajah kolonial Belanda dan

ancaman akan ada perang dunia II akan semakin

menyengsarakan rakyat. Guna mengatasi kondisi

seperti itu Panglima Besar Jenderal Soedirman

ingin mendarma baktikan diri membantu

mengurangi penderitaan rakyat dengan cara terjun

ke LBD. Berkat ketekunan dan ketulusannya
Panglima Besar Jenderal Soedirman ditunjuk

94

sebagai kepala LBD sektor Cilacap (Disjarah TNI
AD, 1985). Sebagai kepala sektor tanggung jawab
yang diemban oleh Panglima Besar Jenderal
Soedirman adalah menyelamatkan rakyat dari
ancaman perang. Untuk itu ia melakukan
perjalanan keliling ke wilayah di seluruh Cilacap
untuk memberikan penerangan kepada masyarakat
Cilacap tentang cara-cara menyelamatkan diri
apabila terjadi perang dan serangan udara dari
tentara Jepang. Adapun cara menyelamatkan diri
Panglima Besar Jenderal Soedirman menganjurkan
supaya berlindung dilubang-lubang di bawah tanah.
Agar supaya rakyat dapat memahami cara
menghadapi serangan udara, maka Panglima
Besar Jenderal Soedirman memberikan latihan
kepada masyarakat tentang penyelamatan diri
apabila menghadapi bahaya udara.

Situasi perang dunia II ternyata terus meluas di
Asia dengan adanya perang antara Jepang dengan
Sekutu. Dalam waktu singkat Jepang mulai
berhasil menguasai wilayah di kawasan Asia
Tenggara. Dimana Indonesia juga tidak lepas dari
sasaran Jepang. Pada bulan Pebruari 1942 Sekutu
(Belanda) mulai mendapat serangan dari Jepang

95

yang pada akhirnya Jepang dapat berhasil
menghancurkan Belanda di Indonesia. Hanya
dalam waktu singkat Jepang dapat mengusai
jajahan Belanda di Indonesia pada tanggal 8 Maret
1942 dengan ditandai Belanda menyerah tanpa
syarat kepada Jepang di Kalijati. Dengan demikian
Indonesia beralih dari kekuasaan Belanda menjadi
daerah kekuasaan tentara Jepang.

Pada masa pendudukan tentara Jepang pada
mulanya masyarakat sangat simpati, karena Jepang
banyak mengumbar janji dan melakukan propa
ganda dengan cara memikat rakyat melalui
pernyataan bahwa Jepang adalah saudara tua dan
Jepang akan memperjuangkan kemakmuran
bersama. Hal ini menjadikan harapan bagi
masyarakat Indonesia karena dengan kedatangan
Jepang dapat membebaskan dari belenggu
cengkeraman penjajahan (Sumarmo, 1990).

Harapan tinggal harapan karena rakyat
Indonesia ternyata diperas (ekploitasi) kekayaannya,
sehingga kecewa dan mengalami penderitaan serta
kemiskinan. Melihat keadaan ini Panglima Besar
Jenderal Soedirman tidak tinggal diam ia berusaha
membantu rakyat yang mengalami kekurangan

96

makanan akibat pendudukan Jepang. Untuk
mengatasi bahaya kelaparan rakyat, Panglima
Besar Jenderal Soedirman dan kawan-kawan
mendirikan sebuah badan pengurus makanan
rakyat (BPMR). Melalui badan ini Panglima Besar
Jenderal Soedirman dan kawan-kawan berkeliling
keluar masuk kampung yang dilanda kelaparan
untuk membantu meringankan penderitaan rakyat.
Dengan tindakan tersebut Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Panglima Besar
Jenderal Soedirman dekat dengan rakyat dan
memperjuangkan rakyat agar terbebas dari
kesulitan dan penderitaan akibat pendudukan
Jepang di Indonesia.

Jepang pada 1943 dalam menduduki Indonesia
mulai mengalami bahaya dari ancaman sekutu,
karena dibeberapa tempat di Asia Jepang sudah
mulai terdesak. Hal inilah yang menjadikan Jepang
mulai berubah sikapnya terhadap rakyat Indonesia
yaitu dengan cara menarik simpati terhadap rakyat
Indonesia agar supaya dapat mempertahankan
kedudukannya di Indonesia. Melalui pendirian
organisasi-organisasi yang dibentuk oleh Jepang
seperti Gerakan 3A, Organisasi pusat tenaga rakyat

97

(PUTERA), dan organisasi semi militer (Seinendan
dan Keibodan). Semua organisasi ini sebagai
wahana rekrutmen dan menarik simpati bagi para
pemuda Indonesia untuk kepentingan Jepang dan
menggalang nasionalisme bangsa Indonesia.

Untuk menepis bahwa Jepang di dicap oleh
rakyat Indonesia sebagai penjajah yang diktator
dan otoriter. Maka Jepang mengambil tindakan
politik dengan menciptakan Dewan Perwakilan
yang dinamakan Chuo Sangi in yang berkedu
dukan di Jakarta (Benda, HJ, 1983). Sedang di
tingkat daerah karsidenan dinamakan Syu Sangi
kai.

Di Karsidenan Banyumas yang terpilih sebagai
anggota Syu Sangi kai untuk kabupaten Cilacap
Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Efendi
yang berkedudukan di Purwokerto (Disjarah AD,
1985). Bagi Panglima Besar Jenderal Soedirman
kedudukan sebagai anggota Syu Sangi kai
merupakan amanah yang harus dilaksanakan untuk
memperjuangkan nasib rakyat. Dalam sidang
dewan ia selalu mengusulkan kepada pemerintah
Jepang agar dalam bertindak kepada rakyat
dilakukan secara manusiawi, artinya tidak

98

merampas harta milik rakyat dan berlaku kejam
terhadap rakyat. Panglima Besar Jenderal
Soedirman mengusulkan kepada pemerintah
Jepang agar membantu meringankan beban hidup
rakyat, dengan kata lain ia selalu menyuarakan
kepentingan rakyat.

Melihat situasi dalam perang dunia II yang
mulai merambah ke Asia Tenggara yaitu akan
datang tentara Sekutu untuk membalas kepada
Jepang. Maka Jepang membentuk sistem
benteng pertahanan dan pertahanan di gunung-
gunung dengan cara menggali lubang-lubang
untuk bersembunyi apabila ada serangan. Dengan
bantuan para pekerja Romusha untuk menggali
benteng pertahanan yang akan digunakan untuk
melalukan perang gerilya. Selain itu juga berusaha
untuk membangunan kekuatan tenaga rakyat yang
dapat membantu untuk menghadapi tentara Sekutu.
Dengan menyelenggarakan latihan-latihan kemili
teran di berbagai kota di wilayah karsidenan dan
kabupaten. Melalui organisasi Keibodan dan
Seinendan serta Heiho yang betujuan untuk
menghadapi pertempuran dengan Sekutu. Di
samping itu juga dibentuk pasukan inti penggerak

99

rakyat atau sering dikenal sebagai pembela tanah
air ( PETA) guna mempertahankan daerahnya
masing-masing. Inisiatif pembentukan PETA
sebetulnya atas usul tokoh Gatot Mangkupraja
yang diusulkan kepada pemerintah Jepang.
Karena tujuannya positif sebab menginginkan
supaya ada pasukan dari bumiputra yang dapat
membantu Jepang dan membela tanah air. Pada
akhirnya PETA oleh pemerintah Jepang disetujui
pada tahun 1943 ( Moedjanto, 1988).

Seperti halnya di daerah lain di Cilacap juga
dibentuk PETA dengan merekrut para pemuda
sebagai calon-calon perwira PETA. Dalam
keorganisasian PETA dibagi menjadi tiga
komandan yaitu komandan peleton atau Shodanco,
komandan kompi atau Cudanco dan komandan
batalyon atau Daidanco. Para calon Shodanco
direkrut dari para pemuda yang baru tamat sekolah
menengah, sedangkan para Cudanco diambil dari
para pemuda yang sudah punya kedudukan di
masyarakat, dan Daidanco direkrut dari tokoh
pemuda yang mempunyai pengaruh di masyarakat.

Panglima Besar Jenderal Soedirman pada
saat itu ditunjuk sebagai calon Daidanco, karena

100


Click to View FlipBook Version