The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by soedito, 2019-01-05 17:58:06

BA_JTDU_BABA_V_PELAKSANAAN_PK_YES_XX

BA_JTDU_BABA_V_PELAKSANAAN_PK_YES_XX

dinilai sebagai figur yang memiliki latar belakang
kepemimpinan yang dinilai cakap oleh kawan-
kawan pemuda yang lain. Selanjutnya para calon
PETA ini harus mengikuti pendidikan latihan yang
akan diselenggarakan di Bogor. Dalam
pendidikan PETA Panglima Besar Jenderal Soedir
man merasa tidak asing karena materinya sudah
pernah dialami ketika aktifis di HW. Setelah
mengikuti latihan selama 4 bulan para perwira
PETA dikembalikan ke daerah masing-masing
untuk menjalankan tugas membentuk dan memim
pin barisan PETA. Sesampainya di Cilacap
Panglima Besar Jenderal Soedirman ditugasi untuk
membentuk batalyon atau daidan PETA yang
bermarkas di Kroya tepatnya di desa Karang
mangu dan Panglima Besar Jenderal Soedirman
sebagai Komandan batalyon atau Daidanco
(Sardiman, 2000).

Pada waktu menjadi komandan PETA
Panglima Besar Jenderal Soedirman mencermin
kan sifat-sifat kebapakan, sehingga menjadi
kebanggaan bagi anggota PETA. Para anggota
PETA merasa dilindungi dan juga masyarakat
sangat segan serta hormat kepada kepemimpinan

101

Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dengan kata
lain sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman
tampil sebagai pemimpin yang kharismatik. Hal
inilah yang menjadikan Jepang selalu mewas
padai karena dianggap oleh Jepang dapat
menumbuhkan semangat juang dan kesadaran
nasional di kalangan masyarakat. Bahkan
Panglima Besar Jenderal Soedirman berhasil
memadamkan pembrotakan PETA di Gumilir
Cilacap, sehingga akan menambah ketakutan bagi
Jepang, karena ia sudah nampak bersikap anti
Jepang. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang
tindakan Jepang untuk menyingkirkan para tokoh
komandan PETA yang dianggap membahayakan
Jepang. Cara yang ditempuh dengan memerin
tahkan para komandan PETA untuk mengikuti
latihan di Bogor. Tetapi setelah sampai di Bogor
tidak diberi materi latihan militer, melainkan justru
di tahan di kamp isolasi ditempat yang jauh dari
masyarakat. Melihat gelagat yang tidak baik ini
Panglima Besar Jenderal Soedirman mulai curiga
bahwa Jepang ternyata tidak bersikap baik
melainkan memiliki rasa khawatir kalau para
perwira PETA ini bebas di masyarakat, karena dapat

102

menggerakan pasukan untuk melawan Jepang.
Maka Panglima Besar Jenderal Soedirman dan
kawan-kawan yang diisolasi melakukan tindakan
untuk meloloskan diri dari kamp isolasi tersebut.
Pada akhirnya usaha itu berhasil meloloskan diri di
bawah komando Panglima Besar Jenderal
Soedirman.

Setelah lolos dari kamp isolasi Panglima Besar
Jenderal Soedirman tidak langsung pulang ke

Cilacap, namun ia pergi ke Jakarta, sesampainya
disana ia baru tahu bahwa Indonesia telah
merdeka. Kemudian di Jakarta Panglima Besar
Jenderal Soedirman berhasil menemui Soekarno, ia
ditugasi untuk memimpin perlawanan di Jakarta.
Tetapi Panglima Besar Jenderal Soedirman
menyatakan tidak sanggup, karena ia tidak
mengenal situasi medan Jakarta. Selanjutnya
Panglima Besar Jenderal Soedirman ijin kepada
Soekarno untuk kembali ke Cilacap guna melakukan
perlawanan di Jawa Tengah. Setelah sampai di
Cilacap Panglima Besar Jenderal Soedirman
menghubungi kawan-kawannya untuk membentuk

badan keamanan rakyat (BKR) yang

beranggotakan bekas para anggota PETA. Dalam

103

penyususnan BKR strukturnya juga hampir sama
dengan PETA. Sebagai ketua BKR untuk wilayah
Banyumas adalah Panglima Besar Jenderal
Soedirman. Dengan dibentuknya BKR tugas berat
yang diemban adalah melakukan pelucutan senjata
tentara Jepang. Berkat kepiawian Panglima Besar
Jenderal Soedirman proses pelucutan senjata dari
tangan Jepang di Banyumas berjalan dengan lancar.

Pada tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah
Indonesia mengeluar kan maklumat yang berisi
tentang pembentukan tentara keamanan rakyat
(TKR). Hal atas dasar bahwa pemerintah Indoensia
belum memiliki tentara yang profesional untuk
mempertahankan Kemerdekaan. Setelah dikeluar
kan maklumat pemerintah maka pemerintah
mengang kat Menteri Keamanan Rakyat sebagai
pimpinan tertinggi TKR pada waktu itu ditunjuk
seorang mantan Komandan Peleton PETA yang
bernama Supriyadi untuk menduduki Jabatan
Menteri TKR.

Dengan dibentuknya TKR, di wilayah Banyu
mas juga mulai dibentuk TKR dengan cara
merubah atau melebur para anggota BKR menjadi
TKR. Untuk wilayah karsidenan Banyumas TKR di

104

bagi menjadi dua Resimen yaitu Resiman
Banyumas dan Resimen Purwokerto. Panglima
Besar Jenderal Soedirman sendiri diangkat seba-
gai Komandan Resimen Purwokerto dengan
pangkat Kolonel. Langkah Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang dipercaya sebagai Komandan
Resimen Purwokerto pertama membenahi susunan
organisasi TKR di wilayah Purwokerto termasuk
melengkapi personil TKR. Kedua ia selalu mene
kankan kepada anak buahnya untuk bertindak
disiplin dan mempertebal semangat juangnya, TKR
merupakan tentara rakyat dan sekaligus tentara
pejuang, sehingga wajar apabila perjuangan tentara
adalah demi kepentingan rakyat bukan untuk
penguasa.

Dalam rangka menata kelembagaan TKR pada
tanggal 20 Oktober 1945 pemerintah mengangkat
Mayor Urip Sumoharjo sebagai Kepala Staf Umum
TKR. Sebagai Kasum TKR Mayor Urip Sumoharjo
mengeluarkan kebijakan dengan membagi wilayah
Jawa menjadi 10 divisi yan tergabung menjadi 3
komandemen (Nasution, AH, 1979). Diantaranya
yang termasuk dalam wilayah itu adalah divisi V
yang membawahi karsidenan Banyumas dan

105

Kedu yang dipercaya sebagai komandannya adalah
Kolonel Soedirman. Dengan diangkatnya sebagai
komandan devisi V tugas Panglima Besar Jenderal
Soedirman semakin berat tanggung jawabnya.
Tetapi Panglima Besar Jenderal Soedirman menya
dari bahwa pada saai itu TKR merupakan tulang
punggung dalam mempertahankan kemerdekaan.

5) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sebagai Panglima Besar TKR

Perkembangan TKR semakin besar dengan
adanya minat para pemuda yang ingin menjadi TKR,
namun secara keorganisasian disana sini masih
belum tertata dengan baik mengingat sarana dan
prasarana masih terbatas. Maka persoalan yang
sangat dirasakan adalah susunan kepemimpinan
dalam tubuh TKR yang masih belum memadai
karena belum ada seorang Panglima Besar
(Pangab TKR) yang akan memimpin pucuk
pimpinan tertinggi di TKR. Hal inilah yang menjadi
kendala dalam upaya membentuk tentara Indonesia
yang kuat.

106

Berdasarkan pertimbangan diatas maka pihak
pimpinan markas tertinggi TKR merencanakan
mengadakan pemilihan seorang perwira tinggi untuk
menjadi Panglima Besar TKR. Untuk menindak
lanjuti rencana tersebut pada tanggal 12
November 1945 diselenggarakan konfrensi besar
TKR di Yogyakarta. Peserta konfrensi adalah
semua para komandan dan resimen TKR divisi
wilayah Sumatra dan Jawa.

Pada waktu konfrensi pemilihan dilakukan
dengan cara mengangkat tangan satu persatu
setelah nama calon disebutkan oleh panitia.
Pemilihan itu dilakukan dengan tiga tahap, setelah
sampai tiga tahap baru dapat diketahui perolehan
suara yaitu Urip Sumoharjo mendapat 21 suara
sedang Panglima Besar Jenderal Soedirman
mendapat 22 suara dan ditambah 6 suara dari
divisi Sumatra. Dengan demikian sebagai
pemenangnya adalah jatuh pada Panglima Besar
Jenderal Soedirman sebagai calon Panglima Besar
Angkatan Perang RI.

Terpilihnya Panglima Besar Jenderal
Soedirman sebagai Panglima Besar (Panglima
Besar ) sangat mengejutkan karena usianya masih

107

sangat muda waktu itu baru berusia 29 tahun sudah
dapat meraih suatu jabatan pemimpin dilingkungan
pemerintahan tingkat nasional. Hal ini merupakan
suatu prestasi yang luar biasa, bahkan sampai saat
ini belum ada yang dapat menandingi prestasi
Panglima Besar Jenderal Soedirman.

6) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Memimpin Pertempuran Ambarawa

Setelah selesai konfrensi para peserta kembali
ke daerah masing-masing untuk melanjutkan tugas
sebagai TKR. Seodirman sesampainya di Purwo
kerto terus melakukan koordinasi dengan para
anggota TKR. Hal ini karena situasi negara yang
semakin panas yang disebabkan oleh kedatangan
tentara Sekutu ke Indonesia. Pada tanggal 19
Oktober 1945 tentara sekutu di bawah pimpinan
Jenderal Bethel mendarat di Semarang. Ketika itu
di Semarang sedang terjadi pelucutan senjata dari
tangan Jepang, sehingga kedatangan Sekutu
menimbulkan kekakacauan. Tetapi sesuai dengan
kebijakan pemerintah pusat, Gubernur Jawa
Tengah Wongsonegoro menyambut kedatangan

108

Sekutu dengan baik. Sebab Sekutu telah berjanji

tidak akan mengganggu kedaulatan Indonesia.

Berdasarkan pertimbangan itu tentara Sekutu

diijinkan masuk untuk mengurus tawanan perang.

Tetapi kenyataannya pasukan Sekutu bersama-

sama NICA bersikap arogan sehingga

menimbulkan ketegangan dan kekacauan serta

tidak aman di Indonesia. Latar belakang inilah yang

menimbul berbagai pertempuran di beberapa

tempat anatara TKR dengan Sekutu. Seperti

pertempuran di Magelang, Ambara, Surabaya dan

Bandung.

Dalam menghadapi pertempuran Panglima

Besar Jenderal Soedirman melakukan koordinasi

dengan para komandan untuk melaksanakan

pertempuran di Ambarawa guna melawan Sekutu.

Pertempuran berlangsung pada akhir bulan

November sampai bulan Desember 1945. Gerakan

penyusupan dan pengepungan terhadap pasukan

Sekutu oleh pasukan TKR mulai menunjukan hasil.

Hal ini dengan dikuasainya benteng pertahanan

Sekutu di Banyubiru oleh para pejuang TKR dan

diserangnya lapangan terbang di Kalibanteng

109

Semarang oleh para pejuang TKR untuk memutus
perbekalan logistik Sekutu.

Kondisi saat itu menurut Panglima Besar
Jenderal Soedirman merupakan waktu yang
sangat menentukan, maka langkah yang dilakukan
ia kembali melakukan koodinasi dan pembicaraan
sirius dengan para komandan sektor, guna
mencanangkan serangan mendadak dengan taktik
Supit Urang. Selanjutnya setelah disepakati

strateginya pada tanggal 12 Desember 1945 pukul

04.30 WIB serangan dilancarkan dan terjadi

pertempuran sengit. Pasukan Sekutu semakin

terdesak mundur dan bertahan di benteng Willem.

Pada tanggal 15 Desember 1945 berhasil

mengepung dan menghancurkan benteng

pertahanan Sekutu, sehingga pasukan Sekutu

dapat dipukul mundur meninggalkan kota

Ambarawa. Demikianlah keberhasilan Panglima

Besar Jenderal Soedirman dalam memimpin

pertempuran di Ambarawa dengan semangat

pantang menyerah dan strategi yang jitu dapat

memenangkan pertempuran Ambarawa.

Setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman
dilantik sebagai Panglima tertinggi TKR pada

110

tanggal 18 Desember 1945 oleh Presiden
Soekarno, maka pada saat itu secara resmi
Panglima Besar Jenderal Soedirman menyandang
pangkat Jenderal. Dengan status Panglima
Tertinggi TKR dengan sendirinya tugas-tugas yang
diemban semakin berat karena yang semula ia
bergulat pada persoalan-persoalan perang dan
taktis, akan beralih pada tugas-tugas perang
strategis, termasuk memikirkan tentang masa depan
keamanan dan mempertahankan Kemerdekaan
Indonesia.

Kebijakan pemerintah dalam menghadapi
konflik-konflik dengan Sekutu dan NICA dilakukan
dengan cara perundingan. Walaupun para
pejuang TKR ingin menyelesaikan dengan cara
pertempuran dengan senjata. Tetapi kenyataannya
Belanda selalu berusaha kembali menjajah
dengan melakukan tindakan-tindakan penyerbuan
terhadap tempat-tempat yang strategis. Pada
tanggal 7 Oktober 1946 perundingan antara
Indonesia dan Belanda untuk menyelesaikan
konflik bersenjata, pada akhirnya disepakiti untuk
melakukan genjatan senjata. Panglima Besar
Jenderal Soedirman selaku Panglima Besar

111

ditunjuk sebagai panitia Gencatan Senjata dengan
Lord Killearn sebagai penengahnya. Dengan
gencatan senjata diharapkan konflik dapat
diselesaikan dengan cara diplomasi. Adapun
penyelesaian diplomasi dilakukan dengan
melaksanakan perundingan Linggarjati dan Renville.
Dalam perundingan antara kedua belah pihak
saling menyetujui. Namun dalam perkembangannya
Belanda tidak mentaati perundingan yang telah
dilakukan dengan pemerintah Indonesia. Belanda
terus berusaha menekan Indonesia dengan
melakukan kosentrasi pasukan secara besar-
besaran di garis demarkasi guna persiapan
melakukan serangan kembali kepada Indonesia.

Dalam menghadapi perkembangan yang
semakin memburuk, walaupun Jenderal Soedirman
dalam kondisi sakit, ia tetap melakukan koordinasi
dengan para komandan untuk bersiap siaga
menghadapi serangan dari pihak Belanda.
Kemudian Panglima Besar Jenderal Soedirman
memerintahkan kepada Wakil Panglima yaitu
Kolonel AH Nasution untuk menyusus konsep
Perang Rakyat Semesta dengan TKR/TNI sebagai
kekuatan intinya (Nasution AH, 1979). Karena AH

112

Nasution dipercaya menyusun konsep karena
berpengalaman dalam perang gerilya di Jawa
Barat.

7) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Mengatur Siasat Perang Gerilya

Setelah perintah kilat dikeluarkan, maka strategi
yang digunakan adaIah meninggalkan penerapan
sistem pertahanan linier dan beralih kepada
penerapan strategi perang gerilya; dengan kata lain,
kota Yogya tidak akan dipertahankan dengan
pasukan besar secara linier, tetapi akan beralih ke
perang gerilya berperang dan bertahan di desa -
desa, gunung - gunung dan hutan belantara.
Dengan pasukan - pasukan kecil di luar kota, dan
terus menerus tanpa mengenal waktu dan lelah,
menyerang pasukan pasukan Belanda dimana saja
mereka berada, sesuai dengan Surat Perintah yang
dikeluarkan sebelumnya yaitu Perintah Siasat No. 1
Mei 1948. Strategi inilah yang ternyata di kemudian
hari dapat mengalahkan strategi pihak pemerintah
Belanda untuk menjajah kembaIi Indonesia.

Belanda menghadapi strategi TNI ini tidak dapat
menghancurkan TNI yang didukung serta dilindungi

113

oleh rakyatnya yang ingin merdeka. Memang
mereka dapat memenangkan suatu pertempuran
seperti halnya pertempuran di Yogya. Namun
secara strategis dalam jangka panjang, mereka
akan kalah.

Di Sumatera, TNI bergerak masuk ke hutan -
hutan. Belanda menjadi jera karena biaya perang
mereka semakin lama semakin menjadi besar dan
mahal. Juga jera karena moril tentara mereka makin
lama makin merosot karena jauh dari negaranya
serta memerlukan dana/logistik yang besar dan
cepat, tetapi Juga menuntut loyalitas para perajurit
mereka di dalam melakukan perang yang terus
menerus melawan TNI, yang tiba - tiba menyusup
dan datang dari desa - desa, gunung gunung, dan
hutan - hutan..

9) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Menghindari Perburuan Belanda

Sebagian besar pasukan TNI, sesuai dengan
rencana segera berangkat menuju ke wilayah
gunung Wilis dan Kombang (sebelah timur Kediri).
Dari pegunungan inilah perlawanan TNI terhadap

114

Belanda dapat berjalan sesuai rencana; yaitu
menyerang dari lokasi atau basis di daerah sekitar
pegunungan tersebut. Serangan-serangan dan
pencegatan mendadak terhadap patroli Belanda
yang terus menerus dapat setiap saat dilancarkan.
Setelah Kediri diduduki Belanda, rombongan
secepatnya mendaki lereng gunung Wi1is. Panglima
besar harus ditandu karena jalan yang dapat dilalui
oleh kendaraan sudah tidak ada. Pada tanggal 25-
12-1948 rombongan menuju Karangnongko. Karena
ada perasaan tidak enak dari para pengawal (pak
Tjokropalo dan pak Pardjo) maka markas pak
Dirman dipindahkan ke Posko Kol Sungkono (Divisi
Sungkono). Pada saat yang bersamaan, maka
diciptkan pak Dirman palsu dengan pelakunya yaitu
Let Muda Laut Heru Resser; tujuannya untuk
mengelabui Belanda Selanjutnya pak Dirman tidak
ditandu. tetapi digendong, dan dilaksanakan oleh
Kolonel Tjokropranolo (dua malam lebih pak
Tiokropanolo, tanpa merasa lelah); rombongan
bergerak dari Karangnongko menuju Guoliman.
Ternyata di daerah-daerah ini terdapat banyak
penjagaan dan penghadangan yang ketat dari pihak
musuh. Maka beralih jurusan dan mencoba

115

memotong jalan lewat Ponorogo, Madiun, yang
menurut berita di jaga tidak begitu ketat. Dari
Ngliman menuju ke selatan, yaitu daerah Pulung,
suatu jalan pintas Madiun - Ponorogo. , Tanggal 9 -
Januari - 1949 rombongan sampai di Jambu.

.

10) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Memimpin langsung Perang Gerilya ( Markas
Perang Gerilya)

Tanggal 3l Maret 1949, rombongan berangkat
ke Sobo dan bermalam di rumah Lurah. Keesokan
harinya pindah lagi ke tempat Kebayan Karsosemito
di Sobo, seteIah menilai tempat ini aman. Segala
upaya diusahakan agar keberadaan Pak Dirman di
desa itu tidak sampai di ketahui oleh masyarakat
umum. Mulai sejak saat berada di Sobo beliau
melanjutkan lagi secara teratur memimpin langsung
perang gerilya melawan Belanda.

Di Sobo beliau dapat dengan tenang.bekerja
dan tidak perlu harus berpindah - pindah Iagi.
Bekerja dan mengatur siasat perangnya dengan
lebih seksama. Duduk di atas meja kerja sederhana,
beliau bekerja dengan tekun. Hilang penderitaan

116

dan rasa sakitnya. Seperti orang yang baru bangun
tidur beliau lebih terlihat segar dan bersemangat
tinggi . Air mukanya terlihat lebih jernih. Semakin
hari semakin pulih kesehatannya. Pikirannya mene-
rawang jauh menembus kabut kelabu dan kemelut
yang sedang terjadi Indonesia saat itu; Politiknya,
masyarakatnya, pederitaan serta kea-daan ekonomi
rakyat, dan yang paling utama adalah bagaimana
memenangkan peperangan, serta apa yang akan
terjadi di kemudian hari atau apa yang beliau
lakukan esok hari

Sewaktu Pak Dirman berada di Sobo banyak hal
teknis dan psikologis yang harus beliau selesaikan,
misalnya saja perselisihan yang mcndalam di antara
batalyon - batalyon yang berasal dan berlatar
belakang dari kesatuan-kesatuan ekstrim kiri dan
kanan ataupun TNI murni. Perselisihan ini sampai-
sampai menimbulkan korban di antara mereka.

Dengan satu surat dari Pak Dirman perselisihan
terhenti dan mereka semua dapat dialihkan
perhatiannya tuntuk bertempur melawan musuh
bersamanya yaitu Belanda. Tidak diragukan beliau
memiliki kharisma dan kemampuan diplomasi di
dalam menyelesaikan persoalan sengketa yang

117

timbul di antara kesatuan - kesatuan bersenjata.
Lurah Sobo dan seluruh aparatnya memberikan satu
arti yang sangat penting dan tersendiri dalam
perjuangan Kemerdekaan, khusus bagi keselamatan
Panglima Besar dan rombongan. Betapa tidak
selama 3 bulan 28 hari Lurah Sobo menjamin
logistik dan sekaligus bisa merahasiakan
keberadaan pimpinan TNI. Pak Dirman bisa istirahat
dan juga dapat menjalankan tugasnya dengan baik
karena hubungan dengan para komandan lapangan
dan panglima atau sebaliknya berjalan dengan
teratur dan lancar.

10) Panglima Besar Jenderal Soedirman
Kembali ke Yogyakarta

Menurut Panglima Besar Jenderal Soedirman,
untuk lebih mengetahui situasi yang sebenarnya
terhadap perkembangan Republik, maka satu-
satunya jalan yang terbaik adalah mendekati kota
Yogyakarta. Perintah dan komunikasi akan berjalan
lebih lancar dan moril para perajurit, pejuang dan
rakyat akan lebih tinggi. Demikian pula dalam hal

118

mengambil keputusan akan lebih mudah dan cepat.
Ekses yang terjadipun dengan mudah dapat diatasi.

Perjalanan yang terbaik ke ibu kota Republik itu
adalah melalui Tirtomoyo, walaupun di daerah ini
terdapat amat banyak pasukan Digdo PKI yang tidak
dapat dipandang sudah memihak pada Rl dan taat
pada Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Menghadapi situasi demikian Panglima Besar
Jenderal Soedirman sangat beruntung, karena
peleton CPM pengawal Panglima Besar Jenderal
Soedirman dari kesatuan Sukotjo adalah cukup kuat.
Sungguh berat menghadapi kenyataaan ini, karena
rombongan harus singgah dan bermalam di
Tirtomoyo, walaupun berdekatan dengan markas
PKI-nya Digdo.
Setelah menginap satu ma1am di Tirtomoyo, maka
tanggal 2-7-1949 rombongan melanjutkan
perjalanan menuju ke Eromoko, kurang lebih 2
kilometer jaraknya dari pos Belanda. Perjalanan
dilakukan pada malam hari, sebelum subuh, dan
diteruskan ke desa Krejo, kecamatan Ponjong.
Rombongan menginap semalam lagi dan esok
harinya Pak Harto datang menghadap Panglima
Besar Jenderal Soedirman (tanggal 8 Juli 1949). Di

119

dalam pertemuan antara Pak Harto dan Panglima
Besar Jenderal Soedirman sempat dibicarakan
situasi politik dan militer di sekitar kota Yogya.
Sebenarnya masih ada 3 persoalan yang dihadapi
Panglima Besar Jenderal Soedirman sebelum
beliau masuk kota, antara lain sbb.
(1) Panglima Besar Jenderal Soedirman harus.

Tidak jadinya Belanda melancarkan gerakan
ketiga ini adalah masuk dan tinggal secara
aman di Yogya, jadi harus dipastikan dulu
apakah Belanda sebenarnya masih tetap
berkeinginan melancarkan operasi militernya ke
III sebagai usul para penguasa Belanda. Jadi
kekhawatiran Pak Dirman mengenai
kemungkinan Belanda masih mau menyerang
Indonesia lagi ternyata benarkarena kondisi TNI
yang makin kuat dan juga karena kedudukan
politik yang berubah di pihak Belanda yang lebih
realistis melihat keadaan Indonesia.
(2) Penyelesaian pertikaian Indonesia Belanda,
melalui perundingan yang tidak meremehkan
status TNI.
(3) Bagaimana cara menjalankan gencatan senjata,
karena TNI tidak lagi bertempur dengan garis

120

pertahanan, melainkan bersifat gerilya. Setelah

Panglima Besar Jenderal Soedirman

mendapatkan beberapa informasi dan kepastian

dari Pak Harto, maka rombongan berangkat

dari Ponjong pada pagi hari tanggal 9 Juli 1949.

Pak Harto sendiri, pagi itu juga langsung menuju ke

Yogya mendahului rombo-ngan untuk

mempersiapkan suatu parade akbar untuk

menyambut kedatangan kembaIi Panglima

Besar Jenderal Soedirman ke Yogyakarta yang

direncanakan akan dilaksanakan di lapangan

Alun - alun Lor, depan Sitihinggil Keraton Jogya

pada sore hari itu. Sedangkan Pak Simatupang

dan Pak Suhardjo Hardjowardjojo pada pagi

harinya, tanggal 10 Juli 1949, datang untuk

menjemput Panglima Besar Jenderal

Soedirman dengan sebuah kendaraan sedan

dan Jeep Land Rover di jembatan kali Opak.

Untuk para pengawalnya hanya dapat

disediakan satu atau dua kendaraan pick-up,

karena sudah tidak ada kendaraan lainnya.

Sebagian lagi harus naik truck atau berjalan kaki.

Pembicaraan dalam mobil, antara Panglima Besar
Jenderal Soedirman Pak Simatupang dan Pak

121

Hardjo sangat serius. Kemungkinan adalah usulan
agar Pak Dirman dapat pergi ke Gedung Agung dulu
guna bertemu khusus dengan Presiden dan Wakil
Presiden. Pertemuan ini penting karena akan
menangkal perkiraan dan perhitungan Belanda yang
mengharapkan akan terjadi suatu pertentangan
hebat antara mereka yang bergerilya dan mereka-
mereka yang mau ditawan oleh Belanda pada waktu
Yogyakarta diduduki pada- awal perang
Kemerdekaan Pertama.

Panglima Besar TNI menerima dengan baik
saran-saran yang disampaikan oleh Pak
Simatupang dan Pak Suhardjo Hardjowardjojo, yaitu
beliau tidak akan langsung pergi ke lapangan untuk
menyaksikan parade, tetapi terlebih dahulu akan
mengadakan pertemuan dengan presiden dan wakil
presiden di Gedung Agung Yogya. Bertemu Bung
Karno dan Bung Hatta, dinilai sebagai saat yang
paling bersejarah dan merupakan kejadian yang
sangat penting. Ini menunjukkan kepada dunia luar
dan dalam negeri, bahwa antara mereka yang
bergerilya dan yang bersedia untuk. ditawan oleh
Belanda adalah tetap sebagai pejuang bangsa yang
bersatu. Lebih-lebih dengan diadakannya parade

122

penyambutan yang dipimpin oleh Pak Harto, maka
perhitungan dan politik perpecahan di Indonesia
rekayasaan Belanda secara implisit sudah menguap
ke udara, walaupun secara intern belumlah dapat
dianggap tuntas selama persetujuan Rum royen
belum dirubah, yaitu pengakuan TNI sebagai satu -
satunya kekuatan tentara dari negara RI. Keadaan
ini bukanlah hanya persoalan kehormatan TNI saja,
melainkan di dalamnya juga terkait martabat dan
kedaulatan negara RI. Sebab pengakuan atas
sebauh negara secara otomatis juga harus pula
mengakui keberadaan Angkatan Bersenjatanya.

123

5.4.4 Nilai kejuangan dan Kebesaran
Jiwa Panglima Besar Jenderal
Soedirman

Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah

salah seorang dari sekian banyak tokoh pejuang 45

yang telah mendarmabaktikan jiwa raga dan

kemampuan yang dimilikinya untuk keluhuran cita-

cita bangsa. Kenyataan itu telah kita maklumi

bersama. Perjalanan hidupnya telah menimbulkan

kesan yang mendalam dalam Sejarah Perang

Kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu suatu yang

bijak dan bijaksana kalau kita berupaya supaya

amal bakti Panglima Besar Jenderal Soedirman

dapat diabadikan dan selanjutnya di komunikasikan

atau dimasyarakatkan, khususnya kepada angkatan

dan generasi muda.

Pengabdian Panglima Besar Jenderal

Soedirman kepada Negara Kesatuan Republik

Indonesia yang merdeka dan berdaulat, sangat

singkat ditinjau dari sudut sejarah. Seolah-olah ia

hanya dilahirkan untuk Perang Kemerdekaan.

Tugasnya berakhir segera setelah Sejarah Bangsa

Indonesia menutup periode Perang Kemerdekaan,

124

untuk selanjutnya menghadap Tuhan Yang Maha
Esa sang pencipta. Namun demikian apakah nilai-
nilai perjuangan Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Soedirman juga berahkir pada saat
ia meninggalkan dunia yang fana ini? Kita semua
pasti bermufakat untuk menjawab, pasti tidak.

Sikap dan perbuatan Panglima Besar Jenderal
Soedirman, sebagai prajurit TNI maupun sebagai
warga negara RI, tanpa disadarinya merupakan
pencerminan Jiwa dan Semangat Juang 45 yang
selanjutnya disebut-sebut sebagai Nilai-nilai 45 dan
Nilai-Nilai TNI 45. Semuanya kejadian itu tidak
dibuat-buat atupun didorong oleh ambisi-ambisi
pribadi. Tetapi benar-benar muncul dari hati
nuraninya yang tulus ihklas. Panglima Besar
Jenderal Soedirman baik sebagai prajurit TNI
maupun sebagai warga negara RI tahu apa yang
harus dicapainya. Bukannya keharuman nama
pribadi, tetapi sebaliknya nilai kehormatan
bangsanya yang hendak dicapainya; ada need of
achievement di dalam perjuangannya. Keadaan
tersebutlah yang membuat masa pengabdiannya
yang sangat singkat itu kaya akan pelajaran bagi
kita semua. Panglima Besar Jenderal Soedirman

125

benar-benar mulai hidupnya dari bawah, setapak
demi setapak sampai ke puncak dan berakhir dalam
suasana yang sangat sederhana. Beban tanggung
jawabnya begitu berat disandangnya dengan penuh
ketulusan sampai-sampai rela dan bersedia
mengorbankan jiwanya.

Kebesaran jiwanya banyak digambarkan melalui
kilasan kejadian atau peristiwa serta penilaian orang
lain (Disjarahad, 1985), contohnya cara beliau
berpesan kepada adiknya sebagai berikut
“ Meskipun kakakmu sekarang Panglima Besar, adik
jangan sekali kali menginginkan pangkat,
kedudukan atau harta dari Panglima Besar.
Pekerjaan dan jabatan harus diusahakan sendiri”.
Dari makna peristiwa tersebut dapat diketahui
pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman
mengenai hubungan kekeluargaan, keihklasan
perjuangan, kepemimpinan dan kehormatan negara.
Di lingkungan masyarakat yang bagaimanapun
keadaannya, di mana dia berada; Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Soedirman
termasuk orang yang rela menerima apa yang
sedang dihadapinya dan menggunakan apa adanya
(dalam bahasa Jawa disebut nrimo dan lugu). Beliau

126

tidak termasuk dalam istilah populer dewasa ini
orang yang lain dulu lain sekarang.

Gambaran kebesaran jiwa dan nilai kejuangan
Panglima Besar Jenderal Soedirman dapat pula
dicermati dari uraian berikut. Panglima Besar
Jenderal Soedirman setelah menjabat pimpinan
organisasi apapun tetap Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang satu itu. Sebagai pimpinan WMPM
Banyumas, ya tetap Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang satu itu. Terpilih sebagai ketua
kepanduan seluruh Banyumas, ya tetap Panglima
Besar Jenderal Soedirman yang satu itu. Diangkat
menjadi kepala sekolah Muhammadiyah dan
menjadi menantu orang kaya ya tetap Panglima
Besar Jenderal Soedirman yang satu itu. Terpilih
menjadi anggota DPR (Coo Sangi In) Karisidenan
dan Ketua Badan Pengumpulan Bahan Makanan, ya
tetap Panglima Besar Jenderal Soedirman yang
satu itu. Menduduki jabatan sebagai Daidanco
(komandan peleton Peta) ya tetap Panglima Besar
Jenderal Soedirman yang satu itu. Oleh Jepang
kemudian diserahi gudang beras dan gudang
perlengkapan pakaian yang isinya bertumpuk
tumpuk, ya tetap Panglima Besar Jenderal

127

Panglima Besar Jenderal Soedirman yang satu itu.
Terpilih sebagai Kepala BKR Banyumas dan
berhasil menguasai gudang senjata dan mesiu ya
tetap Panglima Besar Jenderal Soedirman yang
satu itu. Terpilih sebagai Kepala Tertinggi TKR dan
menjadi Panglima Besar, ya tetap Panglima Besar
Jenderal Soedirman yang dengan sikap hidup,
pribadi serta cara bergaul Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang dibesarkan dan menjadi dewasa
baik fisik maupun tingkah lakunya di Cilacap yaitu
jujur, sederhana, tekun dan taat terhadap agama. Ia
tumbuh menjadi seorang pemeluk Islam yang taat
dan konsekuen serta seorang abdi masyarakat yang
tekun dan jujur. Masyarakat Cilacap menaruh
kepercayaan besar kepada Panglima Besar
Jenderal Soedirman, baik dari kalangan orang tua
maupun dari kalangan pemudanya.

Sebagai seorang Muslim yang taat dan tekun
belajar sehingga terpilih menjadi pempinan HW dan
Pemuda Muhhammadiyah Banyumas, Panglima
Besar Jenderal Soedirman benar-benar memahami
makna -Hizbul Wathon yaitu cinta Tanah Air . Ketika
Tanah Air Indonesia terancam bahaya pendaratan
Jepang, Panglima Besar Jenderal Soedirman terjun

128

dalam LBD (Luch Beschermen Diers), barisan
Pengamanan dan Bahaya Udara yang diadakan
oleh pemerintah kolonial Belanda, tidak untuk
bekerja sama dengan Belanda tetapi semata-mata
karena cinta tanah air.

Harsono Cokroaminoto berpendapat –Panglima
Besar Jenderal Soedirman adalah perpaduan
antara ulama, seorang, jenderal dan seorang
demokrat-. Adik kadungnya menggambarkan watak
Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai Bima
(Werkudara) kalau dalam pewayangan, yaitu jujur,
sederhana, berkata apa adanya dan berjiwa kasatria.
Dalam hal kepemimpinan Panglima Besar Jenderal
Soedirman dapat diumpamakan seperti Kresna,
yang menggambarkan miniatur kebijakan keluarga
Pandawa.

Sebagai seorang pejuang kemerdekaan
Panglima Besar Jenderal Soedirman dikenal
sebagai pejuang kemerdekaan yang tangguh, dan
supel terhadap rekan seperjuangan, tetapi pantang
menyerah bahkan tidak mau kompromi dengan
Belanda.

129

Mohamad Hatta (Mantan Wakil Presiden)
menyebutkan sebagai berikut.
1) Panglima Besar Jenderal Soedirman juga

menjadi kampiun dari semboyan, bahwa salah
suatu negara yang adab dan modern hanya ada
satu tentara sebagai alat negara, oleh karena itu
ia berusaha dengan segala kebijaksanaan yang
ada padanya untuk menghilangkan lasykar-
lasykar sebagai barisan perjuangan yang berdiri
di sebelah TNI.
2) Berkat usahanya itu maka kita mencapai suatu
TNI yang tak mengenal pertentangan antara
Peta dan KNIL.
3) Dengan berpulangnya Panglima Besar Jenderal
Soedirman tentara kita kehilangan Bapaknya
yang sayang pada anak-anaknya.

4) Figur Panglima Besar Jenderal Soedirman
sukar diganti.

5) Dengan meninggalnya saudara Panglima Besar
Jenderal Soedirman, aku kehiIangan seorang
kawan yang setia.

6) Sering orang menyangka bahwa Panglima
Besar Jenderal Soedirman adalah seorang

130

yang sukar dikendalikan, seorang yang lastig.
Tetapi siapa yang mengenal dia dari dekat
sebagaimana saya mengenalnya, saya
mengakui bahwa Panglima Besar Jenderal
Soedirman adalah seorang yang keras hati yang
suka membela penderiaannya dengan
bersemangat. Tetapi apabila pemerintah telah
mengambil keputusan, ia selalu taat dan
menjalankan keputusan itu dengan sepenuh
tenaganya.
7) Jenderal Panglima Besar Jenderal Soedirman
adalah seorang sangat disiplin yang harus
menjadi contoh dan teladan bagi tentara
seluruhnya.

Sebagai pembanding dan pelengkap uraian di
atas, dari opini masyarakat dapat diperoleh pula
gambaran mengenai kebasaran jiwa dan nilai
kejuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Beberapa opini tersebut diuraikan di bawah ini.

Panglima Besar Jenderal Soedirman mempu
nyai popularitas yang luar biasa di kalangan anak
buahnya. Apalagi karena selama masa gerilya,
Panglima Besar Jenderal Soedirman yang sudah

131

sakit payah masih sanggup juga mengikuti anak
buahnya di peperangan gerilya sehingga sakitnya
yang berbahaya itu tambah parah; dengan wajah
yang pucat Panglima Besar Jenderal Soedirman
seakan-akan mendapat kedudukan yang legendaris.

Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan
serba kekurangan dan kelebihannya sebagai
manusia Panglima Besar Jenderal Soedirman, telah
meletakkan dasar satu tradisi yang gilang gemilang
bagi para perwira dan prajurit Indonesia. Tradisi
kesatria Indonesia yang dapat digunakan setagai
contoh, terutama pula bagi pemimpin yang suka
menyebut dirinya pemimpin pejuang untuk rakyat.
Dia telah :nenunjukkan keteguhan, kebesaran jiwa,
dan keberanianya dalam dua kali peperangan
melawan penjajah Belanda.

Para prajurit dengan meninggalnya Panglima
Besar Jenderal Soedirman kehilangan seorang
Bapak yang dicintai. Angkatan Perang kehilangan
seorang pemimpin dan perwira yang kepemim
pinannya ditaati, karena kejujurannya dan
keteguhan batin, Panglima Besar Jenderal
Soedirman menjadi contoh dan teladan bagi prajurit
yang berjuang. Dalam raga yang lemah, tersimpan

132

kekuatan yang kuat, hingga selama tujuh tahun
dapat pula Panglima Besar Jenderal Soedirman
memimpin perjuangan gerilya, sehingga Republik
yang hendak dimusnahkan oleh Belanda, dapat
berdiri dan timbul dengan megahnya.

Sebagai akhir dari uraian diharapkan kita semua
(lebih-lebih para mahasiswa) dapat terus berjuang
dengan kejujuran, keberanian, ketabahan serta
keuletan yang selalu ditunjukkan oleh Panglima
Besar Jenderal Soedirman.

Rangkuman

Pada saat kekuatan bersenjata kita masih
terpecah dalam kesatuan-kesatuan yang berdiri
sendiri, maka satu satunya kekuatan yang dapat
mengikat kekuatan rakyat kita adalah semangat
patriotisme yang tidak mengenal menyerah
melawan musuh. Panglima Besar Jenderal
Soedirman adalah sosok patriot yang tidak kenal
menyerah. Walaupun kesehatan pribadinya sangat
parah dan terus menerus dikejar-kejar musuh
(Belanda), namun sebagai Panglima Besar, telah
berhasil menanamkan semangat, menggariskan

133

strategi perlawanan Rakyat Semesta dan secara
langsung memimpin perang gerilya. Perlawanan
yang tidak kenal menyerah itu ahkirnya memaksa
Belanda mengembalikan pemerintah Republik
Indonesia sebagai pemerintah yang berdaulat ke
ibukota perjuangan Yogyakarta. Oleh karena itu
Jenderal Panglima Besar Jenderal Soedirman
dihormati sebagai Bapak Tentara Nasional
Indonesia. Selain itu dihormati juga sebagai
Pemimpin Perjuangan yang terkemuka.

Panglima Besar Jenderal Soedirman selaku
Panglima Besar TNI telah dikenal dalam masyarakat
sebagai tokoh pejuang nasional yang berpribadi
luhur, tabah, jujur dan sederhana serta memiliki
wawasan persatuan dan kesatuan yang tinggi. Pada
masa Perang Kemerdekaun beliau menjadi panutan
masyarakat dalam besikap dan bertindak, baik
dalam bidang politik maupun strategi perjuangan
lainnya, demi kejayaan bangsa dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Panglima Besar Jenderal Soedirman, seorang
yang bertaqwa dan taat kepada Tuhan Yang Maha
Esa, jujur dalam pikiran dan perbuatan, mencintai
anak buah, patuh pada kata mufakat, dan setia

134

terhadap sumpah dan janjinya kepada Angkatan
Perang, Tanah Air, Bangsa dan umat manusia. Di
dalam diri beliau kita temukan watak perwira TNI
yang sejati.

Dari contoh-contoh kiprah pengabdiannya,
banyak nilai kejuangannya yang patut dikaji ulang
untuk ditumbuh kembangkan dan dihayati oleh
segenap lapisan masyarakat, lebih-lebih para
mahasiswa, dan bangsa Indonesia, guna
mendukung suksesnya pembangunan nasional di
masa kini dan masa depan.

Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah
pribadi yang mempunyai rasa percaya pada diri
sendiri, beriman, pantang menyerah; memiliki
keberanian dan ketenangan dalam mengambil
langkah-langkah strategis. Ketegasannya dalam
memimpin anak buah, keyakinannya bahwa dengan
perang gerilya Indonesia pasti menang, serta
ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa
membuatnya tetap tegar secara heroik dan patriotik
dalam pengabdiaanya untuk Nusa dan Bangsa
Indonesia.

Disadari sepenuhnya bahwa generasi muda
saat ini sebagian besar tidak mengalami pahit

135

getirnya perang kemerdekaan, sehingga dapat
dipastikan tidak mengenal secara langsung figur
Panglima Besar Jenderal Soedirman. Namun
demikian generasi muda sekarang memiliki
tanggung jawab yang tidak kalah berat dan luhurnya
dari generasi terdahulu; sebagai generasi penerus
perjuangan bangsa yang hidup di tengah-tengah
derasnya arus globalisasi dunia yang menuntut
tekad dan semangat perjuangan yang tinggi, ulet,
trampil dan pratriotik disertai profesionalisme dan
berkemamuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
yang tinggi dalam menghadapi spektrum ancaman
yang jelas akan semakin berat dan kompleks.

Oleh karena itu mempelajari sejarah perjuangan
dan nilai kejuangan Panglima Besar Jenderal
Soedirman teramat penting dan besar manfaatnya
bagi upaya menanamkan motivasi kejuangan
generasi sekarang maupun generasi Indonesia di
masa yang akan datang, benar-benar mengerti dan
menghayati untuk apa negara proklamasi 17
Agustus 1945 didirikan di atas pengorbanan tanpa
pamrih dari para pendahulu.

136

Buku acuan

Benda, HJ, 1983, Bulan Sabit dan matahari terbit
(Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan
Jepang, Pustaka Jaya, Jakarta

Dinas Sejarah TNI AD, 1965. Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Soedirman Prajurit TNI Teladan

Gatot Kartawiyata, 1943, Oeraian dan Riwayat
Hizboel Wathan, Almanak Muhammadiyah,
Yogyakarta

Moedjanto, 1988, Indoensia Abad 20, Kanisius,
Yogyakarta.

Muhaimin, Yahya, 1971 Perkembangan Militer

dalam Politik di Indonesia 1945-1966

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Nasution AH, 1979, Sekitar Perang Kemerdekaan
Indonesia, A ngkasa, Bandung.

Sardiman, 2000, Panglima Besar Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Soedirman Kader
Muhammadiyah, Adicita Karya Nusa,
Yogyakarta

.

137

Soekanto, 1981, Perjalanan Bersahaja Jenderal
Panglima Besar Jenderal Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Soedirman,
Pustaka Jaya, Jakarta.

Sumarmo, AJ, 1990, Pendudukan Jepang dan
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, IKIP
Semarang Press, Semarang

Tarjo, N.S.S., 1984. Dari Atas Tandu Panglima

Besar Jenderal Panglima Besar Jenderal

Panglima Besar Jenderal Panglima Besar

Jenderal Soedirman Memimpin Perang

Rakyat Semesta. Yayasan Wiratama,

Yogyakarta.

Tjokropranolo, 1992. Panglima Besar TNI Jenderal
Panglima Besar Jenderal Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Soedirman,
Pemimpin Pendombrak Terakhir Penjajah di
Indonesia. PT Surya Persindo.

Taufik Abdullah, 1978, Manusia dalam Kemelut
Sejarah, LP3ES, Jakarta.

138

Latihan

1) Jelaskan nilai kejuangan Panglima Besar
Jenderal Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Panglima Besar Jenderal
Soedirman yang dapat diamati, dipelajari,
difahami oleh masyarakat.

2) Jelaskan secara lengkap unsur jatidiri.
3) Uraikan peranan mahasiswa sebagai generasi

muda.
4) Tuliskan atribut yang diharapkan dimiliki oleh

para lulusan perguruan tinggi.
5) Tuliskan secara ringkas riwayat hidup Panglima

Besar Jenderal Panglima Besar Jenderal
Panglima Besar Jenderal Panglima Besar
Jenderal Soedirman.
6) Kemampuan dan atau kepandaian apa yang
dimiliki Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Panglima Besar Jenderal
Panglima Besar Jenderal Soedirman sehingga
mampu berhasil memimpin perang gerilya
meskipun fisiknya lemah.
7) Uraikan nilai kejuangan dan kebesaran jiwa
Panglima Besar Jenderal Panglima Besar

139

Jenderal Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Soedirman .
8) Uriakan penilaian tokoh masyarakat terhadap
pribadi Panglima Besar Jenderal Panglima
Besar Jenderal Panglima Besar Jenderal
Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Mempelajari sejarah Panglima Besar Jenderal
Panglima Besar Jenderal dapat

9) B:S. Menghilangkan mitos yang

menggambarkan bahwa seorang pahlawan

adalah seorang yang harus serba sempurna,

fisiknya kuat dan dalam segala hal tanpa cacat.

10) Panglima Besar Jenderal Soedirman baik

sebagai prajurit TNI maupun sebagai warga

negara RI tahu apa yang harus dicapainya.

Bukan keharuman nama pribadi, tetapi nilai-nilai

kehormatan bangsanya. Ada

( _____________ ) dalam perjuangannya;

membuat pengabdiannya yang sangat singkat

kaya akan pelajaran bagi kita semua.

140

11) Cokroaminoto (19..) menyatakan bahwa

Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah

perpaduan antara (_______________),

seorang jenderal dan seorang ( )

12) Adik Panglima Besar Jenderal Soedirman

menyatakan bahwa watak Panglima Besar

Jenderal Soedirman sebagai Bima,(_________),

sederhana dan berkata apa adanya. Dalam

kepemimpinannya Jenderal Soedirman dapat

diumpakan seperti Kresna.

13) Sikap dan perbuatan Panglima Besar Jenderal

Soedirman tanpa disadarinya merupakan

pencerminan jiwa dan semangat juang 45,

disebut (_________) dan atau (________)

14) Berdasar pendapat, pernyataan masyarakat dan

tokoh masyarakat maka Panglima Besar

Jenderal Soedirman

(1) Memiliki rasa percaya diri

(2) Memiliki keberanian yang luar biasa

(3) Memiliki ketenangan dalam memutuskan

(4) Memiliki ketegasan dalam memimpin

(5) Memiliki wawasan (__________________)

141

5.5 Pengelolaan Diri

1) Deskripsi singkat

Pengertian Pengelolaan diri yang dimaksud
adalah suatu pengaturan atau penataan bagi setiap
individu dalam mengarungi kehidupan sepanjang
hayatnya

Kegiatan pengelolaan diri belum banyak
dilakukan oleh setiap individu, termasuk mahasiswa,
apalagi dijadikan suatu kebiasaan yang melekat
dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang
mengganggap bahwa kehidupan tidak perlu dikelola
dengan khusus, karena kehidupan tersebut pasti
akan jalan dengan sendirinya. Masalah yang
dihadapi adalah bagaimana menjadikan perbuatan
yang akan diperbuat lebih baik dari apa yang telah
dilakukan.

Pedoman pengelolaan diri ada enam pedoman
yaitu :
1) Keseimbangan hidup, 2) Memahami diri sendiri,
3) Bersikap Efektif, 4) Memegang kepemimpinan, 5)
Bergaul dengan orang lain, dan 6) Hidup secara
positif. Pedoman ini akan membantu kita untuk
mendapatkan apakah yang akan kita perbuat lebih

142

baik, memuaskan atau seperti yang kita inginkan
atau kita butuhkan.

2) Relevansi
Materi pertama membahas pedoman penge

lolaan diri, merupakan telaah yang sangat menarik
dan penting bagi mahasiswa baru. Menarik dan
penting karena mahasiwa baru akan dapat
mengetahui atau mengukur kesiapannya dalam
memasuki lingkungan kehidupan baru (lingkungan
akademik kampus perguruan tinggi) yang membu
tuhkan pengelolaan diri yang benar. Pedoman
pengelolaan diri memberikan motivasi mahasiswa
untuk dapat berhasil dalam kehidupan, studi dengan
tepat waktu dan tingkat kualitas hasil studi yang
memadai; lewat memahami dan mengkaji serta
mengaplikasikan pedoman untuk 1) Keseimbangan
hidup, 2) Memahami diri sendiri, 3) Bersikap Efektif,
4) Memegang kepemimpinan, 5) Bergaul dengan
orang lain, dan 6) Hidup secara positif, 7)
Pengendalian diri.

143

3) Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pedoman

pengelolaan diri dalam kehidupan (1) Keseim
bangan hidup, 2) Memahami diri sendiri, 3) Bersikap
Efektif, 4) Memegang kepemimpinan, 5) Bergaul
dengan orang lain, dan 6) Hidup secara positif, 7)
Pengendalian diri.

5.5.1 Pedoman Pengelolaan Diri

5.5.1.1 Mempertahankan Keseimbangan
Hidup

Mengatasi pelbagai tuntutan kehidupan
bagaikan memainkan bola dalam suatu permainan
sirkus; seperti pemain bola dalam sirkus, hampir
semua pemain harus tetap mempertahankan
keseimbangan gerakan sejumlah bola, agar bola
tersebut tetap melayang di udara pada waktu yang
sama. Ada tiga bidang pengaturan dalam mengatasi
tuntutan kehidupan yang merupakan hal penting
yaitu 1) kehidupan kerja, 2) kehidupan
keluarga/rumah tangga, dan 3) kehidupan pribadi.

144

Kesulitannya adalah bahwa jarang sekali ketiganya
berada dalam harmoni.

Kalau dapat mengatasi dua di antara ketiga
bidang tersebut di atas setiap saat, maka dianggap
cukup berhasil. Kalau dua bidang atau lebih di
antaranya menimbulkan masalah, anda mungkin
mendapati bahwa anda menghabiskan hampir
seluruh tenaga anda untuk mengatasi masalah.
Anda hanya tinggal mempunyai sangat sedikit waktu
untuk anda sendiri dan pasti semakin berkurang lagi
waktu yang tersedia untuk meninjau kembali cara
anda dalam mengatur diri anda sendiri.

1) Memikul Terlalu Banyak Tanggung Jawab

Hampir semua orang memikul terlalu banyak
tanggung jawab. Banyak di antara mereka yang
mau menerima tugas ini dengan senang hati. Akan
tetapi, kalau anda memang orang yang mampu,
tertumpuknya tanggung jawah yang dihebankan
kepada anda disebabkan karena anda dianggap
mampu menyelesaikan pekerjaan. Ini berarti bahwa
anda mempunyai agak lebih banyak pekerjaan yang
harus anda tangani dibandingkan dengan yang
sebetulnya anda inginkan.

145

Yang lebih parah lagi adalah, kalau anda
sampai gagal melaksanakan apa yang diharapkan
orang dari anda, mereka dapat bersikap tanpa
ampun. Ini akan terasa tidak adil karena jelas bahwa
.anda melakukan terlalu banyak hal. Anda mungkin
hanya tak pandai mengatakan tidak, atau, anda
mungkin membiarkan orang lain terlalu bergantung
pada bantuan anda.

Menerima terlalu banyak pekerjaan, dapat
mencegah anda untuk mengatur diri dengan baik.
Anda perlu menanyakan kepada diri anda apakah
semua tanggung jawab itu memang diperlukan:
apakah semua itu dipaksakan terhadap anda, atau
apakah semua itu anda ciptakan sendiri karena
anda mengira bahwa itulah yang diharapkan orang
dari anda. Jika demikian, anda harus memutuskan
tanggung jawab yang memang mau anda terima
dan yang harus anda coret untuk meringankan
beban anda.

146

2) Terperangkap Kebiasaan

Dengan bekerja secara rutin dapat memberi
anda pandangan yang keliru mengenai rasa aman.
Anda merasa bahwa anda sudah bekerja dengan
sebaik-baiknya karena anda melakukan hal yang
sudah biasa anda kerjakan dan anda begitu sibuk,
terlalu sibuk, mungkin, untuk melakukan perubahan
aktif yang dapat membantu anda untuk mengatur
diri dengan lebih baik.

Anda mungkin sudah terhanyut dalam suatu
situasi. Menemui diri anda berharap dapat
melakukan kegiatan tertentu yang tidak pernah
secara resmi anda sepakati sejak awal. Tanpa
menyadarinya, anda mungkin sudah tenggelam
dalam kebiasaan tersebut sehingga sulit untuk
melihat betapa anda terperangkap.

Bahkan, seandainya anda memang menyadari
bahwa anda terperangkap dalam kebiasaan, jumlah
usaha yang anda perlukan untuk mengubah
rutinitas anda akan tampak berada di luar
jangkauan, terutama bila anda tidak yakin akan
manfaat yang dapat anda peroleh dari usaha itu.
Biasanya, itulah sebabnya mengapa anda merasa
jauh lebih mudah untuk terus melanjutkan

147

kebiasaan, dibandingkan dengan mengambil langka
untuk mengubahnya.

3) Mcngatasi Masalah dengan Tidak Baik
Cara anda mengatasi masalah merupakan hal

yang sulit ditentukan. Menyadari bahwa anda
mungkin tidak dapat mengatasi masalah sebaik
yang anda kehendaki, merupakan langkah pertama.
Kurang teraturnya organisasi diri, sering merupakan
gejala dari suatu kenyataan bahwa anda
menghadapi masalah dengan tidak baik. Contoh
sebagai berikut.
(1) Sering meletakkan barang di tempat yang

bukan tempatnya.
(2) Tidak mempunyai cukup waktu untuk

membahas masalah sampai tuntas.
(3) Berjanji untuk mengerjakan sesuatu dan gagal

untuk memenuhi.
(4) Mendapati tidak satu tenaga ekstra pun yang

telah dikeluarkan mengubah jumlah pekerjaan
yang tersisa.

148

Kalau anda mengenali salah satu dari tanda di
atas, anda perlu berupaya mengorganisir diri anda
dengan lebih baik. Menjadi terorganisir secara baik
tergantung pada seberapa baik anda dapat
mengatur diri. Akan tetapi, dalam keadaan tertekan,
biasanya respons yang umum adalah merasa
bahwa anda tidak mempunyai waktu untuk
mengonganisir karena anda terlalu sibuk melakukan
pekerjaan yang harus diselesaikan. Cara tersebut
bukanlah pendekatan yang sangat produktif, karena
kalau anda tidak mengorganisir diri, anda tidak
akan pernah merasa mudah dalam menyelesaikan
apapun. Manfaat dari upaya mengorganisir diri
adalah anda akan mampu menghadapi masalah
apapun dengan lebih baik.

Langkah selanjutnya adalah memutuskan
apakah pekerjaan yang sedang anda kerjakan
memang ingin anda kerjakan. Mempraktekkan hal
ini lebih sulit, terutama kalau anda belum memilah
milah kegiatan anda; mana yang perlu, mana yang
dibebankan pada diri sendiri, dan mana yang
dipercayakan pada anda.

149

4) Menyadari Stres
Kalau anda merasa belum mengorganisir diri

dengan sangat baik, anda mungkin bekerja dengan
kondisi stres berat tanpa menyadarinya. Bahkan,
anda mungkin tidak mengetahui bahwa hal ini
mempengaruhi anda, serta tidak memahami
mengapa anda merasa bahwa semuanya terus
menerus berada di luar kontrol.

Sebagian stres memang baik. Anda perlu
dimotivasi untuk dapat bangkit dari tempat tidur dan
pergi ke tempat kerja. Pada saat tingkat kecemasan
anda tinggi yang rnenyebabkan anda tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan, diperlukan tindakan untuk
mengatasinya

Mungkin, posisi yang ditargetkan sudah
digantikan. Ini dapat berada di dalam atau di luar
kehidupan kerja anda, misal kejadian yang
berkenaan dengan hal-hal yang berada di luar
kontrol anda. Terlibat dengan terlalu banyak hal
baru, terlalu banyak kertas kerja, dan lain-lain juga
dapat mengakibatkan stres. Ada beberapa tanda
peringatan yang dapat menunjukkan hal tersebut.
(1) Selalu harus mengemukakan alasan setiap kali

pekerjaan tidak terselesaikan pada waktunya

150


Click to View FlipBook Version