The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by soedito, 2019-01-05 17:58:06

BA_JTDU_BABA_V_PELAKSANAAN_PK_YES_XX

BA_JTDU_BABA_V_PELAKSANAAN_PK_YES_XX

4) Apakah saya mengetahui dampak dari perilaku
orang lain pada saya?

5) Apakah saya mengetahui pengaruh perilaku
saya terhadap cara orang lain memberikan
respons?

Anda Akan Melakukannya dengan Lebih Baik
Kalau.......
1) Anda menghargai cara orang-orang

memandang diri mereka sendiri dan orang lain.
2) Anda mengevaluasi penampilan anda dan

memutuskan apakah anda perlu mengambil
tindakan
3) Anda dengan sadar melakukan upaya untuk
memilih pendekatan ‘Saya baik – Mereka baik’.
4) Anda memahami kekuatan perilaku anda.

5) Anda merasakan bahwa bekerja dengan orang

lain lebih mudah dan lebih produktif.

5.5.1.6 Hidup Secara Positif

Dengan memiliki filsafat yang dapat membuat
anda merasa cukup sejahtera, sangat menentukan
cara yang anda ambil untuk mengatur diri. Ada

201

beberapa cara untuk mencapai hal ini, dan
semuanya berhubungan dengan sikap anda
terhadap kehidupan.

1) Bersikap Positif
Anda dapat menentukan cara anda berpikir.

Kalau anda memilih untuk berpikir positif, anda
dapat membuang hanyak sekali emosi yang tidak
dinginkan yang mungkin menghalangi anda untuk
mendapatkan yang terbaik bagi diri anda. Sebagai
contoh, anda dapat berbuat sebagai berikut.
1) Tetap bersikap tenang. Kalau anda

membiarkan orang lain untuk membuat anda
marah, itu berarti mereka menang. Hitunglah
sampai tiga sebelum anda memberikan respons.
Cara demikian akan mencegah anda
mengucapkan kata-kata yang tidak akan anda
ucapkan pada waktu anda sedang rasional.
2) Melupakan hal-hal yang buruk. Kalau anda
membiarkan diri anda memikirkan cara
membalas orang yang telah membuat anda
sedih, sikap itu hanya akan membuat orang
yang menyakiti anda akan menyakiti anda lagi.

202

Pikirkanlah hal lain ketika anda merasa bahwa
pikiran anda mulai rnenuju ke sana. Pada
akhirnya, anda akan dapat melupakan hal itu
dengan sendirinya.
3) Carilah segi kebaikannya. Kalau anda tidak
menyukai sesuatu atau seseorang, carilah sifat
yang anda sukai (biasanya ada satu) dan
fokuskan perhatian pada hal itu.

4) Cerialah. Kalau anda merasa sulit untuk ceria,
berpura-puralah ceria. Dalam waktu singkat,
anda akan mendapati. bahwa anda tidak lagi
berpura-pura.

5) Pandanglah kesulitan sebagai tantangan
atau peluang, dan hadapilah. Dengan cara ini,
anda akan merasa mampu untuk mencapai hasil
positif.

Kalau anda dapat mengembangkan sikap tahan
uji, seperti tanaman yang menahan cuaca dingin
yang membekukan, anda akan merasa jauh lebih
mudah untuk menghadapi apa yang terjadi dalam
hidup anda. Anda dapat melakukannya dengan
tindakan positif. Contohnya sebagai berikut.

203

1) Kalau anda merasa tertekan, bacalah sebuah
buku, mainkan sebuah alat musik, atau telponlah
seseorang. Dengan memusatkan pikiran pada hal
lain selain diri anda, anda tidak akan mungkin
berlama-lama memikirkan masalah anda.

2) Tersenyumlah. Jarang ada orang yang tidak
bereaksi terhadap senyuman. Perasaan anda
tidak hanya akan terhibur oleh reaksi ramah
mereka, tetapi pada waktu anda tersenyum
kegiatan otak anda akan mengaktifkan
endorfin, menyebabkan sistem pertahanan
tubuh anda meredakan rasa sakit, yang
membuat anda tidak bersedih bahkan dapat
merasa lebih baik.

3) Kalau anda tidak mendapatkan dukungan dari

teman atau keluarga yang cocok, carilah
seorang ahli terapi yang handal. Menceritakan
segala persoalan yang sangat pribadi kepada
pihak netral akan bermanfaat dan membuka
pikiran. Seorang ahli terapi yang cakap akan
membantu anda membuat rencana kerja dan
menyusun kerangka waktu untuk mengatasi
rnasalah yang sedang anda hadapi.

204

2) Mengurus Diri Sendiri

Kalau anda mengatur diri secara positif,
mengurus diri anda merupakan satu bagian penting
dari proses itu. Semuanya tentang mendapatkan
pengetahuan mengenai diri sendiri yang mendalam,
tetapi kalau anda tidak mempunyai tenaga, anda
mungkin hanya akan membuang-buang waktu saja.

Pertanyaan pertama untuk diri sendiri bila sampai
pada masalah kesejahteraan pibadi anda adalah, ‘Di
manakah saya dalam antrean untuk mendapat
perhatian?’. Jawabnya kira-kira adalah, ‘Di
belakang’. Bersabarlah.

Anda mungkin mempunyai banyak sekali
kewajiban yang harus dilaksanakan yang lebih
diutamakan dibandingkan dengan memperhatikan
diri anda. Akan tetapi, dengan semua kewajiban
tersebut, ada kebutuhan yang lebih penting dari
semuanya, yakni mengurus diri. Belajarlah untuk
memanjakan diri anda. Ada sejumlah contoh dan
cara yang efektif untuk hal tersebut.

1) Beristirahlah dari kegitan rutin anda, berbuatlah
sesuatu yang paling anda sukai sampai anda
merasa nyaman..

205

2) Pergilah ke tempat yang paling anda sukai.
3) Belilah makanan yang paling anda sukai.
4) Jumpailah seorang teman dan ajaklah makan

ke rumah makan langganan anda.
5) Berliburlah untuk memanjakan diri melakukan

sesuatu, apa saja, yang anda senangi.

3) Menjalani Hidup yang Seimbang

Pepatah lama yang berkaitan dengan seluruh
waktu untuk bekerja dan tanpa bersenang-senang
terutama sangat relevan dengan mengatur diri
sendiri secara efektif. Pada waktu anda bekerja
dengan konsisten, anda perlu memberi izin kepada
diri sendiri untuk mengambil cuti.

Kalau anda mengalokasikan waktu untuk
menikmati kehidupan sosial dan keluarga anda,
anda tidak akan merasa bosan di tempat kerja, dan
anda juga tidak akan menolak untuk bekerja dengan
jam panjang tanpa istirahat. Keseimbangan
memberikan keuntungan bagi kedua dunia tersebut.
Dengan berusaha memisahkan pekerjaan dan
kesenangan anda akan merasa lebih mampu
mengendalikan kehidupan anda, bukannya justru
didominasi.

206

Ringkasan (Merasa Nyaman)

Tujuan utama dari mengatur diri adalah merasa
nyaman dan mencapai apa yang anda inginkan.
Ingatlah selalu bahwa anda punya pilihan. Kalau
anda tidak merasa nyaman, dapat jadi ini juga
merupakan pilihan anda sendiri. Jadi, pastikan
bahwa anda memilih sikap yang positif, sikap yang
menentukan keberhasilan anda.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Pikirkanlah apakah anda sudah bersikap positif
terhadap hidup anda dan jawablah pertanyaan
berikut.
1) Apakah saya berusaha untuk mengendalikan

emosi saya?
2) Apakah saya melupakan pengalaman buruk

saya?
3) Apakah saya mengendalikan pikiran negatif

dengan melakukan tindakan positit?
4) Apakah saya sudah mengembangkan sikap

tahan uji?
5) Apakah saya sudah cukup tersenyum?

207

6) Apakah saya mengurus diri dan sesekali
memanjakan diri sendiri?

Anda Akan Melakukanya dengan Lebih
baik bila …

.
1) Anda lebih dapat mengendalikan emosi anda.
2) Anda mengembangkan sikap yang lebih tahan

uji.
3) Anda merasa lebih baik karena anda lebih

banyak tersenyum.
4) Anda meluangkan waktu untuk bersantai dan

melakukan hal-hal yang menarik.
5) Anda mencapai sebagian dari hal-hal yang

paling anda dambakan

5/5/1.7 Pengendalian Diri

Di dalam perjalanan hidup manusia dihadapkan
kepada berbagai permasalahan yang dapat
merubah sifat asli manusia, sebagai hasil interaksi
antara motivasi (kemana tujuan), analisis penalaran
dan tindakan, berkaitan dengan adanya tantangan

208

dan hambatan untuk mencapai apa yang dicita-
citakan.

Ada dua kelompok sifat yang perlu diperhatikan
yakni kelompok sifat yang tercela yang harus selalu
dihindari dan sifat-sifat terpuji yang harus selalu
diupayakan dan diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari untuk dapat meraih apa yang
dikehendaki, tanpa mengganggu berbagai aspek
lingkungan (Murhassan, 1995).

Sifat-sifat tercela yang harus dihindari antara
lain sebagai berikut.

1) Iri hati. Ia selalu merasa tidak senang kalau
temannya memperoleh kebaikan. Ia hatinya kotor
sehingga kurang dapat melihat dengan jelas
bahwa hal yang baik yang ada pada teman atau
tetangga merupakan pantulan dari kotornya hati
sendiri.

2) Dengki. Oleh karena memiliki sifat benci karena
cemburu, hatinya tertutupi dengan sifat serakah
dan benci, maka terefleksi pada sifatnya menjadi
muak bila mendapatkan temannya memperoleh
kebahagiaan.

209

3) Sombong. Ia menilai harga dirinya secara
berlebihan. Ia beranggapan bahwa segala
sesuatu yang ada pada dirinya mutlak merupakan
hasil jerih payahnya. Di dalam hatinya cenderung
mengingkari adanya unsur bantuan dari orang lain
dan bahkan mengingkari anugrah dan kasih
sayang dari Allah ta’ala.

4) Membanggakan harga diri. Ia menganggap
rendah derajat orang lain, karena temannya
berasal dari keluarga miskin atau keluarga
gunung. ‘Saya ini dari darah biru, kakek saya
presiden saya ke kampus dengan mersi dan
kamu jalan kaki’ dan sebagainya.

5) Pemarah. Merupakan ekspresi dari lemahnya jiwa
yang mudah tersinggung. Seseorang hendaknya
berusaha untuk menahan gejolak hati terhadap
sesuatu yang kurang atau belum sesuai dengan
keinginannya.

6) Riya’. Ia sangat mengharapkan sanjungan, pujian
dan dikagumi oleh orang lain. Sebetulnya sifat
riya’ dapat menjerumuskan diri sendiri. Sekiranya
tidak ada orang yang melihat maka ia menjadi
malas berbuat/bertindak.

210

7) Kikir. Ia sangat berat untuk membantu/menolong
temannya yang sangat membutuhkan. Jiwanya
sudah begitu lekat dengan harta bendanya
sehingga menutupi hal yang baik yang perlu
dikerjakan di luar dirinya. Ia bernafsu untuk
menumpuk harta bendanya dan cenderung untuk
tidak mau bersyukur atas kebaikan yang
diperolehnya.

8) Nafsu ingin terhormat dan terkenal. Biasanya
disamping keinginan itu ada tujuan samping yang
hendak diraih yang sebenarnya menjadi tujuan
utama. Setelah tujuan menjadi terkenal tercapai,
tujuan yang tersamar yang merupakan sasaran
utama digapainya. Misalnya setelah
terkenal/terhormat, maka kesempatannya menjadi
leluasa melampiaskan nafsu jeleknya.

9) Menjelekan teman. Ia selalu berusaha untuk
mencari kejelekan orang lain, dijadikan bahan
untuk menjatuhkan martabat temannya.

10) Adu domba. Adalah upaya jahat dari seseorang
untuk menghasut kedua teman yang bersaudara,
agar terjadi diantara kedua teman tadi rasa
curiga, rasa benci dan dendam.

211

11)Malas. Adalah kondisi sifat seseorang yang
cenderung membuang-buang waktu, kurang ada
motivasi untuk melakukan usaha (belajar,
bekerja) atau sebagian besar waktu ia gunakan
untuk kegiatan yang kurang bermanfaat atau
bahkan merugikan bagi dirinya, kelompoknya
atau lingkungannya dan lain sebagainya.

12)Suka berdusta. Adalah sifat yang suka menutupi
kebenaran tentang apa yang diketahui.
Kebiasaan bohong akan berdampak
mengotori/menutupi kepada jiwa/hati yang
semula bersih (jatidiri manusia). Kebiasaan
berdusta akan berdampak kepada buruknya
perilaku dan akan menurunkan martabat
seseorang.

13)Pembual. Adalah sifat yang suka membicarakan
hal-hal yang tidak ada faedahnya atau banyak
omong kosong, atau bahkan banyak
membicarakan hal-hal yang bersifat negatif yang
dapat mengakibatkan permusuhan.

212

Sifat-sifat yang terpuji yang harus kita
miliki antara lain sebagai berikut

1) Pemaaf (taubat). Yakni sifat yang satria untuk
mengakui segala perbuatan yang salah atau
keliru dan adanya motivasi untuk tidak mengulang
kesalahan itu, diikuti dengan permintaan maaf
kepada teman. Bila kesalahan atau kekeliruan itu
ia lakukan dalam rangka pengabdiannya kepada
tuhan Allah ta’ala, maka permintaan maaf dan
berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu
diistilahkan sebagai perbuatan taubat.

2) Hati-hati (cermat). Adalah sikap atau tindakan
yang selalu memperhatikan aturan atau rambu-
rambu dan cara dalam melakukan sesuatu,
sehingga proses perjalanan dan hasil
perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan
(baik kepada teman, atasan atau sekelompok
masyarakat dan dzat yang dipertuhan).

3) Sederhana. Adalah sikap yang memilik kondisi
cukup dan tidak berlebihan atau bersahaja. Yakni
sikap mengambil jalan tengah atau tidak
berlebihan Banyak pemahaman yang kurang pas

213

bahwa hidup sederhana berarti tidak boleh kaya.
Sederhana yang dimaksud adalah mengendalikan
hawa nafsu yang kurang baik untuk
memanfaatkan terhadap apa yang ia miliki dan ia
perbuat. Bagaimana kekayaan harta benda, ilmu
pengetahuan dan teknologi itu dimanfaatkan
sebesar-besarnya (secara optimal, tidak berlebih)
untuk kepentingan pribadi, keluarga dan
masyarakat.
4) Sabar. Berarti siap melaksanakan kewajiban dan
tanggung jawab yang dibebankan sesuai dengan
kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki. Semua
kegiatan yang harus dihadapi oleh setiap orang
menuntut kesabaran untuk menyelesaikannya
dengan baik dan tidak patah semangat.
5) Syukur. Adalah sikap atau ungkapan (rasa,
ucapan atau tindakan) senang atau lega kepada
seseorang atau kepada yang dipertuhan Allah
ta’ala. Perbuatan syukur akan menimbulkan rasa
senang dan puas dan menunjukkan kesadaran
pengakuan diperlukannya orang lain atau dan
dzat yang dipertuhan.
6) Ikhlas (rela). Adalah tindakan seseorang yang
dibarengi dengan motivasi ibadah. Dalam

214

kegiatan sehari-hari seseorang boleh saja
memperoleh imbalan benda atau jasa, tetapi
dalam fase perencanaan, proses kegiatan sampai
kepada tahapan produksi (hasil) ia laksanakan
dalam rangka motivasi penghambaan kepada
Allah ta’ala.
7) Tawakal. Adalah sikap jiwa seseorang yang
mengkaitkan pada segala kegiatannya,
sepenuhnya bergantung kepada kekuasaan dan
kehendak Allah ta’ala. Ada ungkapan habis akal
baru tawakal. Hal ini menunjukkan cara dan
hubungan yang semestinya ada pada setiap
orang yang harus berikhtiar sambil berserah diri
kepada yang Kuasa. Adalah sikap pemahaman
yang keliru bila seseorang berkeyakinan tidak
usah berusaha karena segala kondisi yang baik
atau buruk dari perikehidupan sudah ditentukan
oleh Allah ta’ala.
8) Disiplin. Adalah sikap seseorang yang berusaha
untuk selalu memenuhi (mentaati) aturan atau
tata tertib.
9) Rindu Tuhan. Adalah sikap seseorang yang

sangat baik. Artinya dimana saja dan kapan
saja serta sedang melakukan kegiatan apa, dia

215

selalu mengkaitkan bahwa dirinya diawasi,
dilayani bahkan disenangi oleh Allah ta’ala.
10) Ingat mati. Mati adalah proses alami yang mesti
terjadi, tetapi hal itu bukan akhir proses
perjalanan hidup. Kita harus mengembangkan
keyakinan bahwa mati adalah fase istirahat
untuk menginternalisasi segala perbuatan (baik
dan jahat) menunggu proses evaluasi kinerja
seseorang sebagai halifah di bumi. Hidup yang
sebenarnya adalah di akhir jaman (akhirat)
yang waktunya tidak berukuran. Setelah
kebangkitan seseorang dari kubur, perilaku
yang jahat atau yang baik sekecil apapun akan
tertimbang Bagi yang sukses melaksanakan
kehalifahannya diberikan kesejahteraan yang
nilainya tidak terbandingkan di dunia.
Sebaliknya yang menelantarkan amanat Allah
akan memperoleh kepedihan hakiki yang
mendalam. Perilaku ingat mati, akan
mendorong seseorang untuk selalu menjaga diri
dari perbuatan tercela dan menggantinya
dengan perbuatan yang terpuji.

216

Ringkasan

Jatidiri merupakan sifat asli manusia sebagai
makhluk yang berakal budi. Agar dapat mencapai
tujuan perikehidupan yang baik maka sebaiknya
setiap individu dapat melaksanakan pengendalian
diri, yakni menghindari sifat-sifat yang tercela dan
mengembangkan sifat-sifat yang terpuji.

Latihan Soal Essay

1. Jelaskan beberapa (minimal 3) upaya yang dapat

anda gunakan untuk mempertahankan

keseimbangan kehidupan anda.

2. Jelaskan beberapa (minimal 3) upaya yang akan

anda lakukan untuk memahami diri sendiri.

3. Jelaskan beberapa (minimal 3) upaya yang akan

anda lakukan sehingga anda dapat bersikap

efektif.

4. Jelaskan beberapa (minimal 3) upaya sehingga

anda dapat memegang kepemimpinan diri anda

sendiri.

5. Jelaskan beberapa (minimal 3) upaya sehingga

anda dapat bergaul baik dengan orang lain.

217

6. Jelaskan beberapa (minimal 3) upaya untuk
hidup secara positif.

Diskusi Kontekstual Pengelolaan Diri

Tujuan

Mendalami pedoman pengelolaan diri

Sifat diskusi

a. Terbuka / bebas
b. Agrumentatif
c. Membahas satu topik

Cara membuat makalah

1. Pilih salah satu topik (sudah disediakan oleh
Dosen)

2. Jumlah halaman minimal 4 halaman maksimal 10
halaman (quarto)

3. Makalah berisi :
• Perumusan masalah
• Analisis masalah
• Pemecahan masalah
• Kesimpulan

218

4. Dierahkan dalam bentuk FIle .doc (File yang
harus dieserahkan, ketidk MS Office 2003, keras
A5, FONT ARIAL NARROW UKURAN 11,
SPASI MUTUAL 1.15. MARGIN KIRI 2.0
KANAN 2.50)

Teknis pelaksanaan diskusi

1. Waktu pelaksanaan 100 menit
2. Satu kelas di bagi dalam tiga kelompok yang

masing–masing kelompok membuat satu
makalah.
3. Masing–masing kelompok menunjuk 6
mahasiswa sebagai tim perumus (ketua,
sekretaris dan anggota) dan sekaligus
mengatur jalannya diskusi.
4. Waktu yang disediakan untuk setiap kelompok,
30 menit (10 menit presentasi, 20 menit diskusi).
5. Diskusi didampingi Dosen pengampu sebagai
nara sumber dan penilai.

Topik Diskusi

a. Mempertahankan keseimbangan kehidupan.
b. Memahami diri sendiri.

219

c. Bersikap efektif.
d. Memegang kepemimpinan diri sendiri.
e. Bergaul baik dengan orang lain.
f. Hidup secara positif.

Daftar Pustaka

Hadiwardoyo, A.P1992. Moral dan Masalahnya.
Penerbit Kanisius. 104 h

Keenan, K., 1996. Pedoman Pengaturan Diri
Sendiri. Catakan Pertama. PT Anem Kosong
Anem, Jakarta. 67 h

Poedjawiyatna,1990. Etika. Filasafat Tingkah
Laku. Rineka Cipta. 185 h

Jacob T., 1998. Hakikat Manusia, Aspek Biologis.
Makalah Internship Dosen-Dosen Ilmu
Budaya Dasar Se Indonesia. Tanggal 18 s/d 27
Agustus 1998. UGM. Jogyakarta.

Lassyo H. 1998. Aspek Aksiologis Hakikat
Manusia. Makalah Internship Dosen-Dosen
Ilmu Budaya Dasar Se Indonesia. Tanggal 18
s/d 27 Agustus 1998. UGM. Jogyakarta.

Muqimuddin S., 1996. Tazkiyatun Nafs. CV.

Pustaka Mantik. Solo.

220

Murhassan U. H., 1995. Jalan Menuju Insan Kamil.
Ponpes Attaqwa. Pasuruan.

Parsudi, S. 1984. Manusia, Kebudayaan dan
Lingkungannya. Depdikbud. Jakarta

Sumadi S., 1981. Kepribadian dan Perkembangan
dengan Referensi Khusus Kepada
Mahasiswa, Makalah penataran Bimbingan dan
Konseling Untuk Tenaga Pengajar Perguruan
Tinggi se Indonesia. Dirjen Penti. Jakarta.

Suprapti S., M., 1981. Perilaku Menyimpang.
Makalah Penataran Bimbingan dan Konseling
Untuk Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi se
Indonesia. Depdikbud. Dirjen Penti. Jakarta.

Suprihadi, S. M. H., 1984. Manusia, Alam dan
Lingkungan. Depdikbud.

221

5.6 WAWASAN KEBANGSAAN

1) Deskripsi
Wawasan Kebangsaan pada hakekatnya

adalah hasrat yang sangat kuat untuk kebersamaan
dalam mengatasi segala perbedaan dan diskriminasi.
Wawasan Kebangsaan tidak dilandasi oleh asal usul,
kedaerahan, suku, keturunan, status sosial, agama,
dan keyakinan.

Dilihat dari sejarah bangsa Indonesia bahwa
wawasan kebangsaan kita di mulai sejak timbulnya
kesadaran kebangsaan yaitu sejak berdirinya Boedi
Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Oleh karena itu
Boedi Oetomo merupakan titik awal kebangkitan
nasional.

Gerakan kebangsaan Boedi Oetomo tersebut
kemudian dengan cepat berkembang dan meluas
sehingga menghasilkan sumpah pemuda pada
tahun 1928 yang telah merumuskan paham
kebangsaan secara lebih tegas dan akhirnya
sampailah pada puncaknya dalam proklamasi
kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah proklamasi
kemerdekaan, bangsa Indonesia banyak mengalami
aksi – aksi pemberontakan (DI/TII, PRRI/Permesta,

222

PKI Muso, G30 S/PKI, RMS, Aceh merdeka dan lain
– lain) juga aksi – aksi kekerasan dan brutal yang
berbau sara, sehingga membahayakan persatuan
dan kesatuan bangsa. Adanya aksi – aksi tersebut
menunjukkan betapa pentingnya bangsa Indonesia
memelihara semangat, meningkatkan kesadaran
dan pengertian tentang Wawasan Kebangsaan .

2) Relevansi

Jatidiri Unsoed merupakan jatidiri yang tidak
dapat lepas dari wawasan tentang bangsa sehingga
Wawasan Kebangsaan sebagai materi Jatidiri
sangat berkaitan dengan manusia dan kepribadian,
sejarah, Visi dan Misi Unsoed, nilai kejuangan
Panglima Besar Jenderal Soedirman, pengelolaan
diri, etika dan etika akademik, dan kesadaran hukum.

3) Capaian Pembelajaran Utama

Setelah mengikuti kuliah wawasan kebangsaan
diharapkan mahasiswa memiliki tekad untuk
membina persatuan dalam keanekaragaman;
menyadari dan menerima kemajemukan (agama,
suku, ras, golongan); saling menghargai sebagai
warga negara yang satu dan yang lain; menyadari
kesamaan hakikat hak dan kewajiban; membina
tenggang rasa dan saling menghargai; membina

223

keterbukaan dialog, toleransi, dan kerukunan;
mengupayakan perlakuan yang adil tanpa
diskriminasi; menyadari kesatuan demi kepentingan
umum; bersatu demi mencapai cita-cita bersama
natnun ada peluang bagi individu dan kelompok
untuk berkembang.

5.6.1 Pengertian

Wawasan berasal dari pangkal kata “wawas” plus
akhiran “an”. “Wawas” mempunyai arti pandang,
sedangkan “wawasan” berarti cara memandang,
cara meninjau, cara melihat, cara tanggap inderawi .

Dalam arti luas, wawasan adalah cara pandang
yang bersumber pada falsafah hidup suatu bangsa
dan merupakan pantulan dari padanya yang berisi
dorongan dan rangsangan di dalam usaha
mencapai aspirasi serta tujuan nasional.

Wawasan adalah cara pandang yang lahir dari
keseluruhan kepribadian kita terhadap lingkungan
sekitar, sifatnya adalah subyektif dan bisa kita
pandang sebagai suatu rangkuman dan penerapan
praktis dan pemikiran filsafat yang melatar belakangi
cara pandang tersebut.

224

Bangsa adalah suatu persatuan karakter atau
perangai yang timbul karena persatuan nasib
(OttoBauer 1881 – 1934). Ia lebih menitik beratkan
pengertian bangsa dari karakter, sikap, dan perilaku
yang menjadi jati diri bangsa bersangkutan. Karakter
ini terbentuk karena pengalaman sejarah budaya
yang tumbuh berkembang bersamaan dengan
tumbuh berkembangnya bangsa.

Bangsa adalah suatu nyawa, suatu azas-akal
yang terjadi dari dua hal, yaitu : pertama, rakyat itu
dulunya harus bersama-sama menjalani suatu
riwayat; kedua, rakyat itu sekarang harus
mempunyai kemauan, keinginan hidup menjadi satu.
Dengan demikian faktor utama yang menimbulkan
suatu bangsa adalah kehendak dari masing-masing
warga untuk membentuk suatu bangsa (Ernest
Renan, 1823 – 1892). Bukannya jenis (ras),
bukannya bahasa, bukannya agama, bukannya
persamaan bentuk, bukannya pula batas-batas
negeri yang menjadikan bangsa itu.

Bangsa adalah kesatuan tekad dari rakyat untuk
hidup bersama, mencapai cita – cita dan tujuan
bersama terlepas dari perbedaan etnis, ras, agama
ataupun golongan asalnya. Kesadaran kebangsaan

225

adalah perekat yang akan memikat batin seluruh
rakyat (Moerdiono, 1995).

Masing-masing pendapat ini mengendung
kebenaran, tetapi juga mengendung kelemahan,
sehingga untuk merangkum pendapat-pendapat
tersebut perlu dikutipkan pengertian bangsa
menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, bangsa
menurut hukum adalah rakyat atau orang – orang
yang berada di dalam suatu masyarakat hukum
yang terorganisir. Kelompok orang-orang satu
bangsa ini pada umumnya menempati bagian atau
wilayah tertentu, berbicara dalam bahasa yang
sama (meskipun dalam bahasa – bahasa daerah),
memiliki sejarah, kebiasaan, dan kebudayaan yang
sama serta terorganisir dalam suatu pemerintahan
yang berdaulat.

Dari definisi ini, nampak bahwa bangsa adalah
sekelompok manusia yang : (a) Memiliki cita – cita
bersama yang mengikat mereka menjadi kesatuan;
(b) Memiliki sejarah hidup bersama, sehingga
tercipta rasa senasib sepenanggungan; (c) Memiliki
adat, budaya, kebiasaan yang sama sebagai akibat
pengalaman hidup bersama; (d) Memiliki karakter,

226

perangai yang sama yang menjadi pribadi dan jati
diri; (e) Menempati suatu wilayah tertentu yang
merupakan kesatuan wilayah; dan (f) Terorganisir
dalam suatu pemerintahan berdaulat, sehingga
mereka terikat dalam suatu masyarakat hukum.

5.6.2 Konsepsi Kebangsaan Indonesia

Konsep kebangsaan merupakan hal yang
sangat mendasar bagi bangsa Indonesia. Dalam
kenyataannya konsep kebangsaan itu telah
dijadikan dasar negara dan ideologi nasional yang
terumus di dalam Pancasila sebagaimana terdapat
dalam Pembukaan UUD 1945. Dengan mempelajari
dan mendalami konsep kebangsaan itu, orang dapat
mengerti siapakah bangsa Indonesia. Konsep
kebangsaan itulah yang membedakan bangsa
Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.
Konsep kebangsaan itulah yang menjiwai dan
merupakan dinamika batin di dalam pertumbuhan
bangsa Indonesia menjadi suatu nation baru, suatu
bangsa yang merdeka, berdaulat dan maju.

Ada sementara kalangan berpendapat, bahwa
konsep kebangsaan Indonesia itu asalnya dari Barat,

227

yang lazim disebut nasionalisme. Hal ini tidak
seluruhnya benar, tetapi kita akui bahwa ada
elemen-elemen dari Barat yang mempengaruhi
maupun membentuk konsep kebangsaan yang
dianut bangsa Indonesia. Antara keduanya terdapat
perbedaan yang mendasar, meskipun di dalamnya
terkandung beberapa substansi yang dapat menjadi
titik temu. Di dalam pertemuannya itu, akulturasi
memegang peranan sangat penting.

Dorongan yang melahirkan kebangsaan kita
bersumber dari perjuangan untuk mewujudkan
kemerdekaan, memulihkan martabat kita sebagai
manusia dan untuk hidup layak bagi kemanusiaan.
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk
merebut kembali kemerdekaan dari belenggu
penjajahan sama tuanya dengan sejarah penjajahan
itu sendiri. Wawasan kebangsaan kita tumbuh
secara perlahan, bermula dari kesadaran
kebangsaan awal dalam tahun 1908 sebagai
kebangkitan nasional pertama bangsa Indonesia,
meletus menjadi kesadaran kebangsaan yang lebih
luas dalam bentuk Sumpah Pemuda tahun 1928 dan
mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang
kemerdekaan 17 Agustus 1945.

228

Wawasan kebangsaan Indonesia menolak
segala diskriminasi suku,ras,asal-usul, keturunan,
warna kulit, kedaerahan, golongan, agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
kedudukan maupun status sosial. Kebangsaan
Indonesia bukan kebangsaan yang mempunyai
konotasi etnis, tetapi justru kebangsaan yang
menemukan titik tolaknya dalam kemanusiaan.
Konsep kebangsaan kita bertujuan membangun dan
mengembangkan persatuan dan kesatuan.

Pada zaman kebangkitan nasional 1908 terjadi
proses bhinneka tunggal ika. Berdirinya Budi Utomo
telah mendorong berdirinya gerakan-gerakan atau
organisasi-organisasi yang sangat majemuk,baik
dipandang dari tujuan maupun dasarnya. Ada yang
berdiri atas dasar keturunan, kesukuan, golongan
maupun campuran. Ada gerakan kedaerahan,
kepemudaan, kewanitaan maupun serikat sekerja.
Ada pula organisasi yang bergerak di lapangan
pendidikan, kebudayaan, keagamaan, perekono
mian, dan politik.

Dengan Sumpah Pemuda, gerakan Kebangkitan
Nasional, khususnya kaum pemuda berusaha

229

memadukan kebhinnekaan dengan ketunggalikaan.
Kemajemukan, keanekaragaman seperti suku
bangsa, keturunan, golongan warna kulit, adat
istiadat, kebudayaan, bahasa daerah, agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetap
ada dan dihormati, tetapi semangat seperjuangan
untuk mengusir penjajahan dan pengakuan
bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu, yakni
Indonesia telah bulat.

Wawasan kebangsaan Indonesia tidak mengenal
adanya warga negara kelas satu, kelas dua,
mayoritas atau minoritas. Hal ini antara lain
dibuktikan dengan tidak dipergunakannya bahasa
Jawa sebagai bahasa nasional, padahal bahasa
Jawa dipergunakan oleh sebagian besar
masyarakat nusantara, tetapi justru bahasa Melayu
yang kemudian berkembang menjadi bahasa
Indonesia.

Sejarah telah pula mencatat, bahwa
kebhinnekaan yang telah berusaha dipadukan
dalam ketunggalikaan itu terus tumbuh bahkan
adakalanya berkembang menuju disintegratif, yang
sangat melemahkan perjuangan bangsa Indonesia.

230

Derasnya pengaruh globalisasi, bukan mustahil
akan memporak porandakan adat budaya yang
menjadi jati diri suatu bangsa dan secara langsung
atau tidak langsung akan melemahkan paham
nasionalisme.

Paham nasionalisme atau paham kebangsaan
adalah suatu paham yang menyatakan bahwa
loyalitas tertinggi terhadap masalah duniawi
(supreme secular loyality) dari setiap warga bangsa
ditujukan kepada negara bangsa. Orang umumnya
menyebut, bahwa revolusi Amerika (1776) dan
revolusi Perancis (1789) merupakan titik awal
lahirnya paham kebangsaan dan abad ke-19 sering
disebut sebagai abad kebangsaan bagi bangsa-
bangsa di Eropa, sedangkan abad ke-20 merupakan
abad kebangkitan nasional bagi bangsa-bangsa di
Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.

Meskipun dalam awal pertumbuhan nasionalisme
atau paham kebangsaan ini diwarnai oleh slogan
yang sangat terkenal, yaitu : liberty, equality,
fraternality, yang merupakan pangkal tolak
nasionalisme yang demokratis, namun dalam
perkembangannya nasionalisme pada setiap
bangsa sangat diwarnai oleh nilai-nilai dasar yang

231

berkembang dalam masyarakatnya masing-masing,
sehingga memberikan ciri khas atau jati diri bagi
masing-masing bangsa.

Untuk dapat memahami jati diri suatu bangsa
perlu dipahami pandangan hidup dan falsafah hidup
yang dianut oleh bangsa bersangkutan. Bagi
bangsa Indonesia, untuk memahami bagaimana
wawasan kebangsaan perlu memahami secara
mendalam falsafah Pancasila yang mengandung
nilai-nilai dasar yang akhirnya dijadikan pedoman
dalam bersikap dan bertingkah laku yang bermuara
pada terbentuknya karakter bangsa.

5.6.3 Wawasan Kebangsaan dan
Tantangannya

Ada beberapa keprihatinan dari kalangan
cendekiawan maupun tokoh masyarakat yang patut
kita catat berkaitan dengan wawasan kebangsaan
ini. Pertama, ada kesan seakan-akan semangat
kebangsaan telah mendangkal atau terjadi erosi
terutama di kalangan generasi muda. Seringkali
disebut bahwa sifat materialistik telah menggantikan
idealisme yang merupakan sukmanya kebangsaan.

232

Kedua, ada kekhawatiran ancaman disintegrasi
kebangsaan, dengan melihat gejala yang terjadi di
berbagai negara, terutama kejadian di Yugoslavia,
bekas Uni Soviet, dan negara-negara di Afrika
ternyata paham kebangsaan merosot menjadi
paham kesukuan. Ketiga, ada keprihatinan adanya
upaya untuk melarutkan pandangan hidup bangsa
ke dalam pola pikir yang asing untuk bangsa kita.

Kekhawatiran pertama akan terjawab, ketika
bangsa dan negara kita berada dalam ancaman.
Seberapa jauh bangsa kita terutama generasi
mudanya merasa terpanggil dan bereaksi terhadap
ancaman tersebut atau seberapa jauh kita bisa
mengembangkan semangat menghargai dan
mendahulukan karya bangsa sendiri sebagai
ungkapan nasionalisme atau patriotisme baru.

Kekhawatiran kedua memang perlu mendapat
perhatian serius. Ada gejala mempertentangkan
berbagai perbedaan yang ada pada kita, padahal
sejak semula kita tahu bahwa bangsa ini sangat
majemuk, sangat bhinneka karena itu ada
semboyan bhinneka tunggal ika. Sejarah mencatat,
bahwa betapa kemajemukan itu dapat mendorong
divergensi yang dengan susah payah telah kita atasi,

233

sehingga kita tetap menjadi bangsa yang utuh. Di
sisi lain kita punya keyakinan bahwa disamping ada
potensi divergensi, kemajemukan atau
kebhinnekaan juga merupakan potensi kekuatan
yang besar bagi suatu bangsa.

Kekhawatiran ketiga tidak terlepas dari
kekhawatiran pertama dan kedua. Kesadaran
masyarakat yang makin meningkat sebagai hasil
pembangunan, menyebabkan tumbuhnya sikap
kritis. Ada kesan, bahwa perubahan menuju ke arah
kehidupan yang makin bebas sepertinya boleh
dicapai dengan menghalalkan segala cara dan asal
berbeda.

5.6.4 Peningkatan kualitas pengamalan
Wawasan Kebangsaan

Pengalaman menunjukkan, bahwa kesadaran
kebangsaan itu perlu selalu dipupuk, dikembangkan,
dimasyarakatkan, dibudidayakan serta didukung
oleh institusi politik, ekonomi, sosial budaya, dan
pertahanan keamanan. Kesadaran kebangsaan
adalah kesadaran yang sangat dinamis, artinya ia
bisa tumbuh dengan mantap jika kondisinya sesuai,

234

tetapi juga bisa merosot jika kondisi yang
mendukungnya tidak dipelihara dengan baik.

Kita perlu belajar dari pengalaman bangsa atau
negara-negara lain, baik yang telah berhasil
mewujudkan kesadaran kebangsaan yang mantap
maupun yang masih harus bergulat dengan
prakondisi awal terbentuknya bangsa itu, sehingga
bisa mengambil sisi positif dan menghindari sisi
negatifnya.

Amerika Serikat, sebagai bangsa pertama dalam
artian nation, didirikan oleh 13 buah koloni imigran
dari Inggris yang pada tahun 1776 menyatakan diri
merdeka dari kerajaan Inggris. Dalam Declaration of
Independence, mereka menyatakan pendirian
bahwa semua manusia dilahirkan sederajad dan
dianugerahi oleh Tuhan beberapa hak yang tidak
terpisahkan dari dirinya, seperti hak untuk hidup,
hak untuk merdeka, dan hak untuk mencari
kebahagiaan. Dengan pendirian itulah kemudian
mereka menata negara, pemerintah dan
masyarakatnya. Sekitar satu abad setelah
menyatakan diri merdeka, bangsa ini terlibat dalam
perang saudara (1861 – 1865) terkait dengan
masalah perbudakan. Setelah itu tidak ada lagi

235

gejolak yang besar yang mengancam persatuannya.
Bangsa itu kini sudah berusia 230an tahun, dan
kelihatannya cukup stabil, memiliki dinamika yang
besar serta mampu menyesuaikan diri dengan
perkembangan zaman.

Uni Soviet bisa dijadikan sebagai pembanding.
Bangsa ini dilahirkan menjelang akhir perang dunia
pertama. Pemerintahan baru di bawah V.I. Lennin
menganut paham Marxisme-Leninisme, yang
meyakini secara falsafati bahwa dunia dikendalikan
oleh pertentangan kelas dan bahwa pemerintahan
harus dikendalikan oleh kelas buruh, dengan
mendirikan suatu diktator proletariat. Bangsa ini
mengalami gejolak-gejolak yang hebat serta
rangkaian pembersihan yang memakan banyak
korban. Pada usia sekitar 75an tahun sejak
kelahirannya, negara tersebut “bubar”. Bukan saja
secara ekonomis, tetapi juga secara falsafati,
ideologi dan politik. Kesatuan dan persatuan yang
selama ini terlihat “kokoh”, ternyata tidaklah
melembaga. Republik-republiknya melepaskan diri.
Itulah yang melatar belakangi gerakan perestroika,
glasnot dan demokratisasinya yang digerakkan oleh
Gorbachev.

236

Di Afrika dan Asia, walaupun sudah merdeka dari
penjajahan asing, namun sejumlah negara di kedua
benua itu seperti Libanon, Sri Lanka, Kampuchea,
dan negara Teluk terlibat dalam perang saudara
yang hampir tidak berkeputusan. Faktor
penyebabnya antara lain, bahwa bangsa-bangsa
ini sedang mencari format yang tepat yang mampu
memberi tempat bagi seluruh suku bangsa atau
golongan yang merupakan komponen bangsa
tersebut. Sampai format tersebut diperoleh,
kelihatannya goncangan-goncangan akan terus
terjadi.

Contoh negara negara yang rasa
kebangsaannya hancur menjadikan negara
tersebut pecah karena :
1) Agama yang berbeda. Pakistan (islam) , India

(hindu).
2) Agama yang sama . Pakistan (Islam) ,

Bangladesh (Islam).
3) Etnis yang berbeda. Srilangka (Tamil, Sinhala).
4) Etnis sama. Yaman Utara, Yaman Selatan,

Korea utara, Korea Selatan, Vietnam Utara,
Vietnam Selatan.

237

5) Kesatuan ideologi Komunis Rusia. USSR
pecah menjadi negara negara merdeka (15
Republik baru).

6) Libanon. Kiri (kristen) dan Kanan (Islam), dan
yang Islam pecah menjadi Suni, Syiah.

7) Yugoslavia, pecah menjadi enam Republik.
Bangsa Indonesia juga pernah mengalami

goncangan-goncangan serupa, khususnya antara
tahun 1945 – 1965, bahkan terulang lagi di era
reformasi. Rangkaian pemberontakan pernah
melanda hampir seluruh pelosok nusantara dengan
berbagai alasan dan faktor penyebab.

Dari beberapa kasus tersebut menimbulkan
sebuah pertanyaan : lantas, apa sesungguhnya
esensi kebangsaan itu?. Menurut Moerdiono (1995)
esensi kebangsaan adalah hasrat yang kuat untuk
kebersamaan.

Pada dasarnya kebangsaan itu adalah suatu
persepsi psikologis, yaitu cara memahami
kenyataan yang ada. Persepsi tersebut perlu
didukung oleh kenyataan. Tidak boleh ada jarak
yang terlalu besar antara cara kita memandang
dengan kenyataan.

238

Hasrat yang sangat kuat untuk kebersamaan itu
tidaklah timbul sendiri, dan sekali timbul memerlukan
perawatan seksama untuk mengimbangi
kecenderungan sentrifugal, baik dari dalam maupun
luar negeri. Proses nation building merupakan
proses yang berlangsung terus menerus.
Bagaimana mewujudkan kebersamaan itu ke dalam
kenyataan, baik dalam bidang ekonomi, sosial
budaya, politik maupun pertahanan keamanan

menjadi kata kuncinya.

Wawasan kebangsaan memiliki tiga dimensi

yang harus dihayati seluruhnya agar tumbuh

kesadaran berbangsa yang bulat dan utuh. Ketiga

dimensi itu adalah : (a) rasa kebangsaan; (b)

paham kebang saan; dan (c) semangat kebangsaan.

Rasa Kebangsaan adalah kesadaran

berbangsa, yaitu rasa persatuan dan kesatuan

yang lahir secara alamiah karena kebersamaan

sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan

aspirasi perjuangan masa lampau serta

kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah

masa kini. Dengan perkataan lain, bahwa rasa

kebangsaan itu tumbuh karena faktor : (a)
persamaan nasib di masa lampau; (b) persamaan

239

kepentingan hari ini; dan (c) prsamaan aspirasi ke
masa datang. Dinamisasi rasa kebangsaan ini
dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang
menjadi wawasan kebangsaan.

Sejarah nasional kita menunjukkan, bahwa
nasionalisme pertama kalinya memang tumbuh dari
kesadaran tentang persamaan nasib di bawah
kolonialisme yang mustinya disusul dengan
nasionalisme gelombang kedua berupa persaan
kebangsaan yang tumbuh untuk mengisi
kemerdekaan guna mengejar ketinggalan dari
bangsa-bangsa lainnya.

Faktanya, kokohnya perasaan kebangsaan
tidaklah bisa diandalkan pada kesadaran
persamaan nasib di masa lampau belaka, karena
sebagian bangsa kita tidak merasakannya secara riil.
Kaum muda, misalnya tidak pernah mengalami
masa lampau itu, sehingga tidak terlalu intens
menghayatinya.

Kebersamaan, yang merupakan ciri khas
kebangsaan juga harus merupakan realita yang
hidup pada saat ini jika perasaan kebangsaan itu
ingin terpelihara. Dengan perkataan lain, perasaan
kebangsaan bukanlah sekedar konsep abstrak,

240

tetapi harus didukung oleh realita sosial. Bangsa
yang dalam konsepnya adalah satu, tetapi dalam
kenyataannya terdiri dari golongan-golongan yang
hanya memperhatikan kepentingannya sendiri,
hanya menunggu waktu untuk pecah berkeping-
keping.

Namun, persamaan kepentingan hari ini terlalu
bersifat sementara untuk menjadi andalan yang kuat
bagi kesinambungan perasaan kebangsaan.
Diperlukan suatu wawasan bersama ke masa depan
yang jauh, yang akan menjadi bintang pembimbing
bagi kebersamaan itu. Inilah fungsi ideologi yang
akan menerangkan kepada semua mereka yang
merasa sebangsa tentang visi masa depan bersama
yang akan mereka tuju dalam berbagai aspeknya.

Suatu bangsa yang ingin berdiri kokoh,
kelihatannya harus memelihara kesadaran yang
kuat tentang sejarah pergerakan kebangsaannya di
masa lampau, lembaga-lembaga kebersama-annya
hari ini, serta visi masa depan yang ingin dicapai
bersama.

Rasionalisasi rasa kebangsaan dan wawasan
kebangsaan akan melahirkan paham kebangsaan
atau nasionalisme, yaitu pikiran-pikiran yang bersifat

241

nasional tentang hakekat dan cita-cita kehidupan
dan perjuangan yang menjadi cirikhas bangsa itu.

Paham kebangsaan atau nasionalisme adalah
suatu paham yang menyatakan bahwa loyalitas
terhadap masalah duniawi dari setiap warga bangsa
ditunjukkan kepada negara dan bangsa.

Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan
tersebut secara bersama akan menumbuhkan
semangat kebangsaan yang merupakan tekad sejati
seluruh masyarakat bangsa itu untuk membela dan
rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara
atau semangat patriotisme.

Setelah kita ungkapkan berbagai hal tersebut,
persoalan kita selanjutnya adalah konsep
kebangsaan yang bagaimana yang tepat untuk
masa kini dan masa depan bangsa Indonesia. Oleh
karena musuh-musuh nasionalisme berupa
feodalisme dan kolonialisme sudah tidak relevan lagi
sekarang, maka wawasan kebangsaan kita harus
ditunjukkan dengan wujud baru namun tetap
mengacu kepada jiwa Pembukaan UUD 1945 yang
menetapkan dasar dan tujuan kemerdekaan
kebangsaan Indonesia.

242

Wawasan kebangsaan Indonesia adalah
wawasan yang memiliki landasan spiritual, moral
dan etik, karena itu bersilakan Ketuhanan Yang
Maha Esa. Ia ingin membangun masa kini dan
masa depan di dunia dan di akherat. Dengan
perkataan lain, wawasan kebangsaan kita tidak
menerima praktik-praktik yang mengarah pada
dominasi dan diskriminasi sosial, baik karena alasan
perbedaan suku, warna kulit maupun agama, karena
sila Ketuhanaan Yang Maha Esa mengajarkan
kepada kita paham kesatuan dan persamaan umat
manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa.

Wawasan kebangsaan Indonesia tidak
menempatkan bangsa kita di atas bangsa lain, tetapi
menghargai harkat dan martabat kemanusiaan serta
hak dan kewajiban asasi manusia, karena itu
wawasan kebangsaan kita mempunyai unsur
kemanusiaan yang adil dan beradab yang mengakui
adanya nilai-nilai universal kemanusiaan. Dengan
perkataan lain, wawasan kebangsaan kita
menentang segala bentuk penindasan oleh suatu
bangsa terhadap bangsa lain, penindasan oleh satu
golongan terhadap golongan lain, penindasan oleh

243

manusia terhadap manusia lain, karena sila
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab mengajak
kepada kita untuk menghormati harkat dan martabat
manusia, untuk menjamin hak-hak asasi manusia.

Sebagai bangsa yang majemuk tetapi satu dan
utuh, wawasan kebangsaan Indonesia jelas
bersendikan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pandangan ini kemudian kita tuangkan dan
mantapkan dalam Wawasan Nusantara.

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka wawasan
kebangsaan kita menentang segala bentuk
sparatisme, baik atas dasar agama maupun suku
karena sila Persatuan Indonesia memberikan
tempat kepada kemajemukan dan sama sekali tidak
akan menghilangkan perbedaan alamiah dan
budaya bangsa kita.

Wawasan kebangsaan Indonesia berakar pada
asas kedaulatan yang berada di tangan rakyat.
Oleh karena itu wawasan kebangsaan Indonesia
adalah paham demokrasi yang bertentangan
dengan paham totaliter. Hal ini mengandung makna,
bahwa wawasan kebangsaan kita menentang

segala bentuk feodalisme dan kediktatoran oleh

mayoritas maupun minoritas, karena sila

244

Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmah
Kebijaksanaan Dalam Permusyarawaratan/
Perwakilan mendambakan perwujudan sebuah
masyarakat yang dekmokratis.

Wawasan kebangsaan Indonesia memiliki cita-
cita keadilan sosial, bersumber pada rasa keadilan
dan menghendaki kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Hal ini mengandung maksud, bahwa wawasan
kebangsaan kita mencita-citakan perwujudan
masyarakat adil dan makmur karena dituntun oleh
sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Wawasan kebangsaan harus mampu menjawab
tantangan dan peluang yang terbuka dihadapan kita.
Untuk menjawab berbagai tantangan yang timbul
bangsa Indonesia menggunakan pendekatan atau
sudut pandang, yang akhirnya berkembang menjadi
sudut pandang atau pola pikir falsafah Pancasila.
Sudut pandang tersebut adalah : (a) Monodualistik
dan monopluralistik; (b) Keselarasan, keserasian,
keseimbangan; (c) Integralistik, kebersamaan; dan
(d) Kekeluargaan.

Monodualistik adalah suatu paham yang
menganggap bahwa hakekat sesuatu adalah
merupakan dua unsur yang terikat menjadi satu

245

kebulatan. Manusia terdiri atas pria dan wanita,
kehilangan salah satu unsur maka eksistensi
manusia akan punah. Manusia terdiri dari unsur
jasmani dan rokhani sebagai satu kesatuan.

Dalam memandang manusia menurut paham
monodualis, maka : (a) Manusia adalah makhluk
Tuhan yang mengadakan hubungan serasi antara
pencipta dan ciptaannya; (b) Manusia terdiri atas
unsur jasmani dan rokhani yang merupakan
kesatuan tak terpisahkan dan masing-masing unsur
memiliki dharmanya sendiri-sendiri; (c) Manusia
akan mengalami hidup duniawi dan akherat; dan (d)
Manusia merupakan bagian dari masyarakat/
bangsanya.

Hubungan antara manusia sebagai pribadi
dengan masyarakatnya terjalin dalam keselarasan,
keserasian dan keseimbangan. Masing-masing
individu diakui secara penuh harkat dan
martabatnya dalam mencapai kebahagian bersama
dan merupakan bagian tak terpisahkan dari
masyarakatnya.

Monopluralistik adalah paham yang mengakui
bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai unsur
beraneka ragam, seperti suku, adat dan budaya,

246

agama, namun semuanya terikat menjadi satu
kesatuan.

Pancasila memandang atau mengharapkan
segala hal ihwal terjadi dalam situasi selaras, serasi,
dan seimbang. Hal ini didasarkan atas realita
bahwa ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berlangsung
dalam situasi selaras, serasi, dan seimbang.

Keselarasan adalah keadaan yang
menggambarkan suasana yang tertib, teratur, aman,

damai sehingga akan timbul ketentraman lahir dan

batin. Hal ini akan terwujud apabila masing-masing

melaksanakan tugas sesuai dengan dharmanya.

Benturan-benturan tidak perlu terjadi, segalanya

berlangsung secara wajar dalam perkembangan

alam dan masyarakatnya.

Keserasian adalah keadaan yang

menggambarkan terpadunya unsur-unsur yang

terlibat dalam kehidupan bersama. Alam semesta

terdiri atas segala macam makhluk mulai dari benda

alam, tumbuhan, hewan, manusia yang semuanya

terikat menjadi satu kesatuan. Unsur yang satu

tergantung unsur yang lain, ketiadaan salah satu

unsur akan menimbulkan kehilangan, kejanggalan,
dan bahkan akan mengganggu eksistensi

247

keseluruhan. Antara individu dan masyarakat
merupakan suatu kesatuan yang tersusun serasi.

Keseimbangan adalah keadaan yang
menggambarkan bahwa masing-masing unsur yang
terlibat dalam hidup bersama dalam hubungan
bersama, diperlakukan sepatutnya. Masing-masing
mendapat perlakuan sesuai dengan kodrat, harkat,
martabat, tugas, hak dan kewajiban, sehingga
tercipta suatu suasana keadilan.

Paham Integralistik yang dikemukakan oleh
George Willelm Friedrisch Hegel (1770-1831) antara
lain menyatakan, bahwa ini untuk mengenal
sesuatu harus dicari kaitan dengan yang lain. Untuk
mengenal manusia harus dikaitkan dengan
masyarakat dimana ia hidup dan untuk mengenal
masyarakat harus dicari kaitannya dengan proses
historis.

Paham Integralistik yang dianut bangsa
Indonesia bersumber dari pemikiran Prof. Mr.
Soepomo. Menurut aliran pikiran Integralistik Prof.
Mr. Soepomo : (a) Negara adalah tidak untuk
menjamin kepentingan seseorang atau golongan
akan tetapi menjamin kepentingan masyarakat
seluruhnya sebagai kesatuan; (b) Negara adalah

248

suatu masyarakat yang integral. Segala golongan,
segala bagian, segala anggotanya berhubungan
erat satu sama lain dan merupakan satu kesatuan
masyarakat yang organik; dan (c) Negara tidak
memihak kepada sesuatu golongan yang paling kuat
atau yang paling besar, tidak menganggap
kepentingan seseorang sebagai pusat, akan tetapi
negara menjamin keselamatan hidup bangsa
seluruhnya sebagai persatuan yang tak dapat
dipisahkan.

Cara berpikir integralistik (berpikir inklusif)
berpandangan bahwa : (a) Kebahagiaan yang dapat
saya capai dengan memberikan kemungkinan pada
orang lain untuk mencapai kebahagiaan juga; (b)
Survival hanya mungkin juga diperjuangkan tidak
untuk kepentingan individu saja, melainkan untuk
semua orang. Dapat bertahan hidup dengan jalan
hidup bersama; (c) Kesejahteraan yang tidak merata
adalah kesejahteraan yang terancam punah. Siapa
yang menginginkan kesejahteraan bagi dirinya
harus berjuang untuk kesejahteraan semua orang.

Penerapan nilai kebersamaan dalam kehidupan
menuntut pada setiap manusia untuk
mengendalikan diri. Pengendalian diri akan

249

mengarahkan aktivitas pribadinya menuju
terselenggaranya kehidupan yang selaras, serasi
dan seimbang demi tercapainya kehidupan bersama
yang adil, makmur, sejahtera dan bahagia lahir batin.
Kepentingan pribadi atau golongan harus
merupakan motivasi terbinanya kesejahteraan
bersama.

5.6.5 Membangun wawasan kebangsaan
Indonesia pada setiap diri anak bangsa.

Dengan ciri :

1) Adanya rasa ikatan yang kokoh dalam satu

kesatuan dan kebersamaan diantara sesama

anggota masyarakat tanpa membedakan

suku ,agama ,ras maupun golongan.

2) Saling membantu antara sesama komponen

bangsa demi mencapai tujuan dan cita-cita

bersama.

3) Tidak membangun primodialisme dan

eksklusifisme.

4) Membangun kebersamaan.

5) Mengembangkan sikap berpikir dan berperilaku

positif dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara.

250


Click to View FlipBook Version