The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Microsoft Word - BUKU_AJAR_PEMULIAAN_TERNAK_429_EDIT_Y.doc

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by soedito, 2019-11-02 22:30:25

Microsoft Word - BUKU_AJAR_PEMULIAAN_TERNAK_429_EDIT_Y.doc

Microsoft Word - BUKU_AJAR_PEMULIAAN_TERNAK_429_EDIT_Y.doc

g31 h x31
g32 h x32 y xf4

y

..

g40 h x40

g1……………..g40 anggota keluarga I……….IV
r adalah coefficient relationship pada famili terdiri dari saudara setengah kandung,
maka r = 0,25 ; h2 = heritabilitas = 0,4 t = 0,1 = rh2

Seleksi famili yang telah dikerjakan di atas pada dasarnya adalah akan
mempertahankan atau mengeluarkan individu (anggota famili) atas dasar produksi
rata-rata famili Dengan acara di atas maka 10 ekor anggota famili yang ditahan
adalah seluruh anggota keluarga I/A. Hasil seleksi (respon seleksi) dihitung
dengan menggunakan rumus

Cara kedua
Menggunakan data produksi famili untuk menghitung nilai pemuliaan

individu yang tidak ikut menentukan nilai tengah famili (karena belum

berproduksi). Dengan menggunakan path coefficient dapat digambarkan sebagai

berikut.

g1 h x1

ty

g2 h x2 y

. . xF

g10 h x10

244

Individu g0 belum belum produksi (masih muda) sehingga belum mempunyai
catatan produksi, dan ikut menentukan nilai tengah famili. Tetapi saudaranya g1-
g10 telah mempunyai. Nilai pemulian individu g0 dapat dihitung dengan
menggunkan rumus

NP Keluarga I/A + 8,000………………..+ 8.
NP Keuarga II/B + 6,307………………..+ 6
NP Keluarga III/C - 16,006……………… - 16
NP Keluarga IV/D + 2,173………………..+ 2

Dari rumus dapat dikethui bahwa seleksi dengan menggunkan data nilai
tengah famili akan lebih efektif dibanding dengan seleksi individu apabila r
mempunyai nilai yang tiriggi (setiriggi mungkin) dan t bernilai rendah (sekecil
mungkin). Efisiensi relatif dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.

Efisiensi Relatif ( R) Seleksi cara pertama

Efisiensi Relatif ( R ) Seleksi cara kedua

Kecermatan seleksi dengan menggunakan data nilai tengah famili saudara
setengah kandung dihitung dengan rumus

Seleksi Cara ketiga, Seleksi Famili, Seluruh anggota famili dipilih

Diagram path coeficientnya sebagai berikut

g1 h x1

zr ty

gz g2 h x2 xF

245

zr ty

. g10(n) h x10

Rumus NPfamili sama persis dengan rumus yang dipakai untuk mencari NP

individu yang dipilih secara random dari famili dengan menggunakan nilai tengah

famili (cara pertama).

Seleksi Famili Saudara Sekandung

Apabila anggota famili adalah saudara sekandung maka rumus yang
digunakan untuk menghitung NP individu dengan menggunakan nilai tengah
saudara sekandung, sama seperti pada cara kedua, tetapi nilai r = 0,5.

Diagram path coeficientnya sebagai berikut

Gs ½ g1 h x1
t
½r y
x2 xF
Gd ½ g2 h t
y
½r x10

. g10(n) h

go
r = (½ x ½ ) + (½ + ½ ) = 0,5
t = h r h = r h2 = 0,5 h2

246

Cara keempat Seleksi Kombinasi
Pada seleski Kombinasi, untuk menghitung NP individu digunakan data

produksi individu dan nilai tengah famili secara bersama. Berbeda dengan pada
cara 1-3 pada seleksi kombinasi digunakan regresi ganda (multiple regression).
Data individu dan nilai tengah famili dianggap dua peubah bebas. Rumus yang
diganakan sebagai berikut.
Contoh penggunaan Rumus (periksa data pada Tabel 8.22)

Uji Keturunan (Progeny testirig)

Seleksi atas dasar uji keturunan adalah seleksi yang digunakan untuk
memilih pejantan atau induk (umumnya digunakan untuk memilih pejantan)
dengan menggunakan data kemampuan produksi progeninya. Sesuai dengan
batasan tersebut dapat juga dikatakan bahwa uji keturunan adalah
membandingkan dan kemudian memilih pejantan atau induk berdasar kemampuan
produksi keturunannya.

Nilai yang dihitung dengan uji keturunan hasilnya akan lebih cermat
dibanding dengan cara lain. Dasar uji keturunan ialah bahwa progeni mendapat
separo karakteristik temurun dari tetuanya. Progeni mendapat separo efek gen
yang dapat dijumlahkan atau separo NP tetuanya. Dengan kalimat lain NP tetua
atau kemampuan produksi tetua dapat diduga dari produksi progeni. Makin
banyak progeni yang digunakan maka makin cermat penaksiran NP tetua.

247

Uji keturunan pada sapi dan domba biasanya digunakan untuk menguji
pejantan. Diagram path coeficient uji keturunan sebagai berikut.

GsI ½ g1 h x1
t
½r y
x2 x
½ g2 h t
y
r x10
y
. g10(n) h x1 x
t
GsIV go
½ g1 h x2
½r
½ g2 h

248

r t y
. g10(n) h x10

go
Contoh Menghitung NP dengan Menggunakan Uji Keturunan

Misal 4 pejantan pada Tabel 24 akan dibandingkan dan kemudian dipilih

seekor yang paling unggul.
Kecermatan pendugaan NP dengan uji keturunan dihitung dengan rumus

Perlu diingat bahwa t = korelasi antara data produksi saudara. Apabila
saudara tersebut adalah saudara kandung t = 0,5 h2 . Apabila saudara tersebut

saudara setengah kandung maka t = 0,25 h2. Sebenarnya t = rh2 + C, C adalah

efek faktor lingkungan; C mempunyai nila = 0. apabila faktor lingkungan
pengaruhnya dianggap sama untuk satu keluarga pejantan tetapi berbeda untuk
keluarga pejantan yang lain.

Kemampuan Uji KeturunanKecermatan uji keturunan digunakan untuk
membandingkan kecermatan pendugaan NP memakai data keturunan dengan
memakai data produksi individu.

Kalau grafikan sebagai berikut.

A

249

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Gambar 8.5 Kecermatan Uji Keturunan

Kalau h2 = 0,15 C=0,25 maka (kuk/ksi) tidak dapat melampaui nilai 1
(garis B).

Dari grafik di atas dapat dimengerti bahwa garis B, meskipun menggunakan
data produksi banyak anak tetap tidak dapat menghilangkan pengaruh faktor
lingkungan. Oleh karena itu usaha untuk menghilangkan pengaruh - pengaruh
faktor lingkungan sangat diperlukan. Usaha yang dapat dijalankan adalah dengan
mengadakan mengacakan, dengan maksud semua pedet dari semua pejantan
mendapat perlakuan sesama mungkin. Dengan perkataan lain, semua pedet
dipelihara di bawah pengaruh perlakuan yang sama.

Contoh keadaan C mempunyai nilai = 0 ialah apabila kelompok pejantan
dan keturunan dipelihara di tempat yang berbeda. Tiap kelompok pejantan
tersebut mempunyai faktor lingkungan yang berbeda.

Telah dijelaskan bahwa, dengan pengisian rumus, untuk mencapai
kecermatan yang sama dengan kecermatan seleksi individu dibutuhkan 5 (lima)
ekor progeni apabila C=0 dan h2 = 0,15 serta r = 0,25. Dalam beberapa buku
acuan diuraikan bahwa dengan jumlah progeni tertentu penaksiran NP dengan uji
keturunan memiliki kecermatan yang tiriggi.

250

Menggunakan rumus kecermatan dapat dihitung jumlah progeni yang
dibutuhkan untuk mendapatkan kecermatan uji keturunan sama dengan
kecermatan seleksi individu. Misal diketahui h2 = 0,4 dan r = 0,25 maka
menghitungnya sebagai berikut.

Periksalah Tabel 8.23 yang menginformasikan hubungan jumlah progeni
dan kecermatan uji keturunan apabila nilai h2, r dan C diketahui.

Tabel 8.23 Kecermatan pendugaan NP dengan menggunakan uji keturunan
h2= 0,15; r = 0,25 dan C = 0

Jumlah progeni Kecermatan

1 0,195
2 0,271
3 0,326
4 0,369
5 0,406
7 0,666
10 0,532
15 0,540
20 0,665

Dalton et al., (1974)

251

Efisiensi Uji Keturunan
Dibandingkan dengan seleksi individu, uji keturunan mempunyai efek

memperpanjang generasi interval. Oleh karena itu perlu diusahakan untuk
memperpendek generasi interval. Rae (1970) menganjurkan menggunakan
pejantan semuda mungkin dan mengumpulkan data produksi seawal mungkin.

Clarke (1971) melaporkan bahwa uji keturunan tergantung pada jumlah
progeni tiap pejantan yang digunakan dan nilai h2. Keefektifan uji keturunan
tergantung pula pada jumlah pejantan yang diuji.

Lasley (1972) memberikan 7 (tujuh) pedoman yang perlu diperhatikan
dalam melakukan uji keturunan, sebagai berikut.
1. Sapi betina harus diacak terhadap pejantan yang dipakai. Mengawinkan

betina unggul yang dipilih dengan pejantan tertentu akan menyebabkan
pendugaan NP pejantan kelewat tiriggi.
2. Ransum dan pemberiannya harus menurut patokan yang telah ditentukan.
3. Efek kandang atau tempat pemerliharaan pedet harus dihilangkan, dengan
cara acak misalnya.
4. Semua kelompok pejantan dan progeninya diusahakan di bawah kondisi
faktor lingkungan, termasuk tempat, sesama mungkin.
5. Sapi betina diusahakan beranak dalam tahun dan musim yang sama.
6. Sedapat mungkin mengikutsertakan seluruh keturunan yang sehat.
7. Sampai batas tertentu, makin banyak progeni yang diikutsertakan, uji
keturunan memberi penaksiran NP yang makin cermat.
Dalton et al., (1974) menyatakan bahwa untuk mencapai kecermatan yang
tiriggi uji keturunan memerlukan beberapa syarat sebagai berikut.
a) Sapi betina diacak menurut umur untuk setiap pejantan.
b) Seluruh pedet (progeni) dipertahankan sampai uji selesai dijalankan.

252

c) Semua sapi harus diperlakukan sama.
d) Setiap pejantan paling sedikit memiliki 10-15 pedet.
e) Pejantan yang dibandingkan paling sedikit 4 ekor.
f) Pejantan selama uji hanya dikawinkan dua kali (untuk menguji

kesuburan).
Mengingat syarat-syarat yang perlu dipenuhi untuk mencapai kecermatan
dan keefektifan uji keturunan seperti yang diharapkan, jelas bahwa pelaksanaan
uji keturunan memerlukan persiapan yang cermat dan tersedianya biaya yang
cukup.

Metode Seleksi untuk Meningkatkan Dua Karakteristik
Produksi

Pada peningkatan produksi sapi potong telah diketahui bahwa produksi sapi
potong tergantung dari beberapa karakteristik produktif. Oleh karena itu telah
dicoba lewat percobaan melakukan seleksi untuk meningkatkan dua karakteristik
produktif atau lebih secara bersamaan. Karena nilai ekonomi relatifnya
karakteristik tersebut tidak sama maka lebih dahulu harus diketahui urutannya.
Ada tiga metodel seleksi untuk meningkatkan karakteristik produktif secara
bersamaan.

1. Seleksi Tandem. Pada metode ini, seleksi dilakukan untuk menaikkan
karakteristik produktif yang pertama sampai mencapai tingkat yang

253

dikehendaki. Kemudian setelah itu seleksi dilakukan untuk karakteristik
kedua dan seterusnya untuk karakteristik yang berikutnya.
2. Independent Culling Levels. Pada metode ini, lebih dahulu ditentukan
tingkat (level) yang dikehendaki untuk setiap karakteristik yang ingin
diperbaiki. Langkah selanjutnya memilih individu, yang memiliki nilai
produksi di atas tingkat tersebut dipertahankan dan di bawah tingkat
tersebut dikeluarkan.
3. Menggunakan Indeks Seleksi. Lebih dahulu ditentukan nilai patokan
untuk tiap karakteristik. Kemudian atas dasar penjumlahan nilai semua
karakteristik individu dipilih untuk dipertahankan atau dikeluarkan.

Contoh Menggunakan Indeks Seleksi
Misal karakteristik yang akan diperbaiki secara bersama adalah berat sapih
(x1) dan derajat pendagingan (x2). Indeks yang dipakai dapat berbentuk:
I = b1 (x1– x1) + b2 (x2 – x2)
Cara menghitung b1 dan b2 telah diuraikan oleh Bogart (1959) atau Lasley
(1972). Misal b1 = 10, b2 = 12. Kalau individu no 1, memiliki x1 = 75 dan x2 =
7, diketahui pula setelah dihitung x1 = 70 dan x2 = 6 maka
I1 = 10 (75-70)+12(7-6) = 62
Setelah semua individu dihitung Indeks seleksinya maka pemilihan individu
didasarkan atas nilai indeks tersebut. Untuk menyusun Indeks diperlukan data
sebagai berikut.
1. Nilai REV setiap karakteristik .
2. Variansi setiap karakteristik.

254

3. Korelasi fenotipik antar karakteristik.
4. Nilai h2 dan
5. Korelasi genetik antar karakteristik.

SELEKSI SAPI PERAH

Pendahuluan
Sapi perah nilai atau harganya ditentukan oleh performans produksinya.

Definisi yang tepat untuk performans produksi berbeda dari satu negara ke negara
lain, bahkan mungkin berbeda pula dalam satu negara. Tetapi dalam semua
batasan tersebut selalu mengandung informasi mengenai kualitas dan kuantitas
susu yang dihasilkan.

Peningkatan mutu genetik di dalam populasi akan diperoleh dengan
menyeleksi sekelompok individu yang memiliki performans tertiriggi dan
menggunakan individu terseleksi tersebut untuk menghasilkan generasi
berikutnya.

Dalam program peningkatan mutu sapi perah, karena peningkatan mutu
genetik lewat individu betina sangat lambat, maka penekanan pada seleksi adalah
memilih calon pejantan.

Peningkatan penggunaan AI telah menyebabkan peningkatan kegunaan
seleksi untuk pejantan. Keuntungan utama penggunaan AI adalah karena AI
memungkinkan menyebarkan secara luas materi genetik terbaik dari beberapa
pejantan dengan cara mengenal lebih banyak ternak betina dibandingkan kawin
alam. Kebutuhan dasar untuk meneruskan program AI ialah karena kebutuhan
untuk menyediakan pejantan dengan meteri genetik unggul dalam jumlah yang
cukup. Carter (1956) menyatakan bahwa di bawah kondisi New Zealand,
peningkatan genetik sebesar 5 kg (10 pound) lemak susu per tahun dapat dicapai

255

dengan cara hanya mempertahankan 5 % pejantan top, apabila nilai pemuliaan
pejantan tersebut dapat di evaluasi dengan benar. Hipotesis ini tidak benar karena
nilai pemuliaan pejantan yang sesunguhanya tidak dapat dihitung dan di samping
itu beberapa faktor mempengaruhi penggunaan yang benar pejantan terse
leksi tersebut.

Pada kondisi sistem penggunaan Al dalam peningkatan mutu genetik sapi
perah, pejantan muda diseleksi awal berdasar informasi yang dimiliki pedigree.
Salanjutnya digunakan dalam uji keturunan untuk menaksir nilai pemuliaanya
secara lebih cermat. Kemudian hasil uji keturunan dipilih yang terbaik untuk
digunakan sebagai proven bulls yang digunakan dalam program Al.

Salah satu masalah yang harus dipecahkan adalah mengenai metode se1eksi
awal untuk memilih calon pejantan yang akan diuji dengan uji keturunan.

Bahasan yang akan diuraikan mencakup 1) Faktor-faktor yang mempe-
ngaruhi laju peningkatan mutu genetik per tahun yang dapat dicapai, 2) Obyek
seleksi, 3) Teori Seleksi, 4) Perlatihan

Faktor yang mempengaruhi laju Peningkatan mutu genetik
(dalam program artificial breeding)

Metode seleksi bermacam-macam tetapi prinsip yang mendasari sama.
Secara umum, teori seleksi menunjukkan bahwa peningkatan mutu genetik hasil
seleksi seperti berikut.

Peningkatan genetik per tahun = ( heritabilitas x diferensial seleksi)
dibagi dengan interval generasi

Jelas bahwa peningkatan mutu hasil seleksi meningkat dengan
meningkatnya kecermatan seleksi yang diukur dengan heritabilitas dan dengan
penurunan interval generasi. Karena seleksi deferensial sama dengan iσp , maka

256

simpang baku fenotipik karakteritik juga mempengaruhi laju peningkatan mutu
genetik.

Usaha pertama untuk menilai kepentingan relativ beberapa faktor yang
mempengaruhi laju peningkatan mutu genetik yang diperoleh dengan bantuan
program AI di NZ telah dikerjakan oleh Searle (1962). Dua faktor utama yang
mempengaruhi superioritas progeni betina proven bull dibandingkan dengan yang
bukan turunan proven bull tergantung pada a) intensitas se1eksi untuk penjantan
muda apabila informasi yang dibutuhkan telah tersedia, b) jumlah record per
anak betina untuk pengujian.

Mengacu pada NZ Dairy Board Animal Report (1961) Searle menjelaskan
tambahan superioritas dan progeni betina pejantan muda yang digunakan dalam
seleksi. Ia mensimbolkan jumlah inseminasi per tahun dalam artificial breeding
dengan T (misal 1000) dan dari T tersebut P % (misal 10%) berasal dan proven
bull =10% x l000 =100 inseminasi frozen semennya berasal dan proven bull dan
(T-TP) berasal dan unproven bull =1000 –100 = 900. Selanjutnya jumlah proven
bull disimbolkan Np dan unproven bull dengan Nu dengan rerata inseminasinya
sebesar Ip dan Iu

Menggunakan ketentuan tersebut maka diperoleh persamaan:

PT = jumlah inseminasi dan proven bull
(1-P)T = jumlah inseminasi dan unproven bull
Np = jumlah proven bull
Nu = jumlah unproven bull
Ip = rerata inseminasi per proven bull
Iu = rerata inseminasi per unproven bull

Intensitas seleksi untuk proven bull tergantung pada jumlah replacement
yang dibutuhkan dan jumlah pejantan muda yang tetap hidup pada waktu

257

informasi untuk pembuktian (proof) diperoleh. Berdasar persamaan di atas
maka (intensitas seleksi individu yang dipilh jadi calon tetua) makin sedikit yang
dipilih maka seleksi makin intensif (i σp makin besar). Intensitas seleksi (proporsi
yang dipertahanakan ) diasumsikan sebesar ( 0.25 Np)/(0.7 Nu)

0.25 Np = jumlah proven bull yang harus diganti, akan diganti dari
unproven bull sejumlah N

0.70 Nu = jumlah proven bull yang diperkirakan siap sebagai pupulasi asal
pengganti diseleksi

Persamaan di atas menunjukkan bahwa, apabila faktor yang lain tetap maka
peningkatan rerata inseminasi per proven bull, Ip, akan menurunkan Np, proporsi
yang dipertahanakn makin kecil, berarti akan meningkatkan intensitas seleksi,
ingat persamaan

Apabila Iu ditingkatkan maka akan menurunkan intensitas seleksi, karena dengan
menggunakan persamaan,
dapat diperoleh Nu yang lebih kecil yang berarti bahwa jumlah proven bull yang
digunakan menurun.

Dalam kasus mi diasumsikan sisa unproven bull setiap tahun sebesar 30%.
Oleh karena itu untuk mendapat peningkatan yang lebih baik melalui bantuan Al
maka, proporsi inseminasi (=jumlah anak) dengan unproven bull harus cukup
tiriggi supaya dapat diperoleh jumlah pejantan muda yang cukup banyak untuk di
seleksi sebagai proven bull.

Di pihak lain apabila lebih banyak pejantan muda di uji maka proporsi yang
tiriggi hasil inseminasi harus berasal dan unproven bull, atau setiap ekor
pejantan muda hanya mempunyai jumlah anak yang sedikit waktu diuji. Pada
kenyataannya peningkatan produksi lewat seleksi pejantan tergantung pada

258

1) metode seleksi untuk pejantan muda,
2) proporsi inseminasi (=jumlah anak) dengan pejantan muda tersebut,
3) intensitas seleksi untuk proven bull.

Apabila jumlah pejantan muda yang dibutuhkan diketahui, maka

intensitas seleksi pada waktu selesai diuji tergantung jumlah pejantan yang

dibuktikan (dicoba) keunggulannya.

Pejantan muda (pm) seleksi awal pm terseleksi
pm terseleksi
seleksi pedigree
Progeny tested
diuji keturunan p uji terpilih

peningkatan

kecermatan

penaksiran MP

proven bull digunakan dalam

diuji dilapangan program Al

juga dievaluasi

dgn uji keturunan

Best proven bull terpilih frozen semen diproduksi

Kalau pejantan ini, yang dievaluasi, memiliki NP tiriggi, misal + 100 1,
maka kalau dikawinkan dengan populasi betina yang memiliki rerata produksi X
liter, maka populasi anak betinanya akan memiliki produksi X + 0.5 x 100 l. Jelas
produksi generasi anak akan lebih tiriggi dan produksi generasi populasi
induknya. Makin sedikit jumlah proven bull dibutuhkan maka makin kuat/besar
intensitas seleksi yang digunakan.

Roberstson dan Rendel (1950) menyatakan bahwa untuk memperoleh
peningkatan yang maksimum pada seleksi pejantan maka populasi induk harus
cukup besar dan jumlah inseminasi dan proven bull harus sebanyak mungkin
dapat dilaksanakan. Berarti akan diperoleh progeni proven bull dalam jumlah

259

yang tiriggi pula. Sebagai akibatnya kalau hanya sedikit yang dipakai untuk
pengganti berarti seleksi yang dilakukan sangat ketat.

Jadi peningkatan jumlah inseminasi per proven bull merupakan faktor
utama dalam usaha peningkatan produksi (lewat peningkatan genetik ).

Struktur populasi

Struktur populasi yang dimaksudkan adalah informasi mengenai jumlah
sapi pada waktu mulai dipelihara, kelompok umur, trah, frekuensi gen, fitness,
produksi rata-rata, minimum dan maksimum, dan generasi interval individu yang
menyusun populasi serta informasi (catatan produksi) yang tersedia.

Populasi dapat tersusun dari individu dewasa, muda dan menyusui, dan
yang baru lahir. Salah satu contoh struktur populasi sapi perah di tingkat
peternakan di Indonesia adalah seperti yang dilaporkan oleh (Suhaji, 1992).

Awal pemiliharaan. Di Indonesia masa kini pemilikan sapi perah
umumnya dilatar-belakangi proyek yang dikembangkan oleh Pemerintah seperti
PIR, MEE dan sistem kredit atau gaduhan. Beberapa peternakan merupakan
warisan yang turun temurun. Di pihak lain ada pula yang ingin mencoba
menginfestasikan modalnya (mini tapos dll).

Trah sapi perah. Sampai saat ini sapi perah yang dikembangkan di
Indonesia berdasar pilihan Pemerintah adalah FH, baik asal import jantan
Belanda, Orla maupun Orba, baik dari NZ, Australia maupun Amerika.

Struktur umur. Dalam populasi besar (sapi perah) umumnya umur anggota
populasi dapat dikelompok ke dalam kelompok umur di bawah 1 th, >1 sd =<2
th, >2 sd =<3, >3 sd =<4 dst. Umumnya sapi perah di Indonesia mulai beranak
pada umur 2 tahun dan terus dipertahankan sampi umur 8 - 11 tahun. Umumnya

260

jumlah sapi ber-umur muda lebih rendah dibanding kelompok umur yang sudah
berproduksi.

Tabel 8.24 Contoh kelompok umur

Kelompok Jumlah Umur Rataan Umur Jumlah
terendah umur tertiriggi laktasi
1 1
2 1 8.7 9 9.3 7
3 7 8.4 8 8.4 6
4 10 6.1 7 7.9 5
5 34 5.2 6 6.8 4
6 38 3.7 5 6.1 3
7 48 3.0 4 5.4 2
Total 139 2.0 3 3.4 1

Berdasarkan informasi pada tabel dapat di susun kelompok umur menjadi 7
kelompok 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3. Komposisi umur yang sebenarnya sbb: Jumlah
1 1 7 10 34 38 48 = 139

Informasi yang tersedia. Berdasar sistem perkawinan, serta struktur populasi
maka informasi yang tersedia di

dalam populasi dapat berupa catatan produksi tetua (pedigree), saudara,
famili dan keturunan. Jumlah catatan produksi dapat satu atau lebih.

Tergantung pada tipe perusahan maka informasi tersebut tidak terekam
dengan baik atau sekedar direkam tanpa tujuan untuk penggunaan dalam seleksi.
Di UPT umumnya sudah terekam dengan baik hanya penggunaannya yang belum
optimal. Informasi yang tersedia hanya dapat digunakan kalau ditangani dengan
cara tertentu sesuai syarat dalam program pencatatan produksi (recording, manual

261

atau dengan bantuan fasilitas komputer). Informasi yang tersedia dan yang
terekam dengan baik sangat berguna untuk menaksir nilai pemuliaan individu.

Tatalaksana

Tata perkandangan. Sederhana sampai yang maju serta modern.
Umumnya masih bertipe kandang pola lama peninggalan jaman Belanda.

Tata perkawinan. Perkawinan secara alam maupun menggunakan Al
terdapat di seluruh peternakan sapi perah rakyat dan Pemerintah.

Tata produksi. Perawatan beranak, awal pemerahan, penyapihan
pengeringan, penjualan susu, pedet ataupun induk yang tak dipertahankan
bervariasi dari peternak yang satu ke peternak yang lain.

Pencatatan produksi. Pencatatan produksi pada umumnya belum
dilaksanakan dengan benar. Demikian juga pemanfaatan catatan produksi untuk
keperluan seleksi.

Pengertian dan Tujuan Seleksi

Pengertian
Selection is the proccess of deciding which animals inreneratioan will be
allowed to become parents of the next~eneration and how many progeny will be
permitted to have (Warwick dan Legates, 19..)
‘as a proccess in which certain individuals in a populalion are prefered to others
for the production of the next genration selection is two kinds, natural or that due
to natural forces, and artificial or that due to the efforts of ati (Lasley, 19.. )
Seleksi merupakan suatu proses pengambilan keputusan. Manusia dalam
usaha pengatur pewarisan karakteristik (gen) tidak banyak yang dapat dilakukan,

262

yang dapat dilakukan adalah menetapkan kelompok ternak yang diberi
kesempatan menghasilkan banyak produksi (berarti lebih banyak mewariskan),
diberi kesempatan menghasilkan lebih sedikit progeni (berarti lebih sedikit
mewariskan), tidak diberi kesempatan beranak (berarti tidak mewariskan dalam
populasi).

Menetapkan pejantan dan betina yang akan dikawinkan atau dengan
perkataan lain, menetapkan sistem perkawinan yang akan digunakan. Proses
pengambilan keputusan sampan diperoleh hash tersebut disebut seleksi. Berdasar
apa yang dilakukan tersebut maka peningkatan produksi dengan peningkatan
mutu genetik dilaksanakan dengan seleksi dan sistem perkawinan.
Pokok bahasan di bawah ini adalah bagaimana cara melaksanakan seleksi,
khususnya pada sapi perah.

Tujuan seleksi

Meningkatkan rerata populasi dengan meningkatkan rerata mutu genetik
populasi dan efisiensi produksi dan reproduksi dan generasi ke generasi
berikutnya.

Prinsip seleksi

Memilih individu yang ditaksir memiliki mutu genetik yang tiriggi dengan
tolok ukur nilai pemuliaannya. Selanjutnya menyisihkan atau nengeluarkan dan
populasi individu yang ditaksir memiliki mutu genetik yang rendah.

263

Dasar seleksi

Seleksi dilaksanakan berdasar hash pengukuran yang dilaksanakan pada
individu anggota populasi.

Ciri seleksi

Tidak dapat menaksir secara langsung nilai pemuliaan individu untuk
karakteristik yang akan ditingkatkan

Asumsi yang digunakan
1. Karakteristik yang akan ditingkatkan dengan seleksi dipengaruhi oleh faktor

genetik dan lingkungan sedemikian rupa sehingga efek gen pada setiap
lokus relatif kecil dibandingkan variansi total. Persamaan matematik yang
digunakan

VP = VA + VD + VI +VE

2. Karakteristik kuantitatif yang dilibatkan dalam seleksi terdistribusi normal
atau dapat ditransformasikan ke distribusi normal ( misal dengan log).
Efek seleksi
Seleksi tidak menciptakan gen baru, tetapi memungkinkan individu yang

memiliki gen tertentu lebih banyak mewariskan gen-nya (lebih banyak
progeninya). Oleh karena itu menyebabkan frekuensi gen yang disukai di dalam
populasi naik.

264

Pelaksanaan Seleksi
Seleksi dapat dilaksanakan pada setiap fase daur hidup individu (setiap
saat). Tetapi seleksi, khususnya pada ternak, dipengaruhi oleh faktor ekonomi.
Peningkatan mutu genetik yang optimum mungkin sangat mahal, oleh karena itu
disusun program seleksi yang ekonomis.

Langkah-langkah operasional
Sebelum melaksanakan seleksi persyaratan yang harus dilaksanakan adalah

melaksanakan (program) pencatatan produksi. Produksi yang dicatat adalah
untuk karakteristik yang akan ditingkatkan atau diperbaiki.

Pemilihan karakteristik
Pemilihan karakteristik didasarkan pada
1. REV (realtive economic value) nya,
1. heritabilitasnya,
2. korelasi (genetik) dengan karakteristik lain.

Pengukuran karakteristik
1. Menetapkan cara pengukurannya,
2. waktu pengukuran,
3. cara pencatatan hasil pengukuran,
4. cara pengkoreksian data,
5. pelaksanaan
Melaksanakan perhitungan atau penaksiran
1. Menetapkan metode seleksi yang akan digunakan,

265

2. menetapkan intensitas seleksi (proporsi individu yangdipilih untuk tetua
generasi yang akan datang),

3. menyiapkan informasi yang akan digunakan,
4. mengkoreksi data produksi,
5. menaksir nilai pemuliaan seluruh individu, (dg h2 dan t yang ditetapkan atau

ditaksir),
6. menjenjangkan nilai pemuliaan,

7. memilih individu sesuai intensitas seleksi, berdasarkan nilai pemuliaan,
8. memeriksa individu yang terpilih,
9. bila diperlukan mengadakan penggantian individu yang terpilih, tetap

berdasar pada jenjang nilai pemuliaan,
10. menghitung seleksi diferensial,
11. menghjtung generasi interval,
12. menghitung respons seleksi,
13. menghitung kecermatan, efisiensi dan efektifitas seleksi.

Parameter genetik yang diperlukan

Parameter genetik (besaran yang dimiliki populasi)yang dibutuhkan dalam
menghitung selama melaksanakan seleksi adalah heritabilitas, repitabilitas dan
korelasi genetik.

Heritabilitas. Adalah besaran yang menggambarkan proporsi variansi
fenotipik yang disebabkan oleh variansi genetik. Apabila variansi genetik yang
dimaksud hanya variansi genetik aditif maka heritabilitas yang ditaksir adalah
heritabilitas dalam arti sempit (h2).

Kkalau variànsi genetik termasuk variansi genetik non-aditif maka heritabilitas
yang ditaksir adalah heritabilitas dalam arti luas (H2).

266

Dalam seleksi maka yang dibutuhkan adalah heritabilitas dalam arti
sempit. Dibutuhkan karena diperlukan untuk menaksir nilai pemuliaan individu
dan tanggapan seleksi.

Repitabilitas. Besaran yang menunjukkan besarnya proporsi variansi
fenotipik yang disebabkan oleh variansi genetik dan pengaruh faktor lingkungan
temporer.

Ditaksir dengan rumus

Dalam seleksi t dibutuhkan untuk menaksir MPPA (the most probable
producing ability) dan NP individu.

MPPA (the most probable producing ability). MPPA diperlukan untuk
memilih individu yang akan dipertahankan atau dikeluarkan pada periode
produksi yang akan datang.

Ditaksir dengan rumus

Nilai Pemuliaan
Nilai pemuliaan adalah nilai yang menggambarkan jumlah efek gen rata
dan seluruh gen yang dimiliki individu.

Taksiran nilai pemuliaan pada dasarnya ditaksir dengan rumus

NP = P + bGP (Pi - P)

Tergantung dan informasi yang digunakan maka rumus tersebut dapat
dikembangkan lebih lanjut dalam penaksiran NP individu dengan menggunakan
informasi yang berbeda.

Informasi yang dapat digunakan untuk menaksir nilai pemuliaan
dikelompokkan menjadi

1) informasi milik individu ,

267

2) informasi milik pedigree,
3) informasi milik saudara,
4) informasi milik famili,
5) informasi milik progeni,
6) informasi kombinasi 1-4.

Berdasarkan informasi yang digunakan tersebut maka metode seleksi
dibedakan menjadi seleksi individu, pedigree, famili, progeni test dan seleksi
kombinasi atau seleksi menggunakan indeks. Metode seleksi akan diuraikan
lebih lanjut di bab Metode seleksi.

Menaksir nilai pemuliaan

Penaksiran nilai pemuliaan dilakukan dengan menggunakan rumus yang
dapat dijabarkan dengan bantuan path coefficient analysis.

Diagram path coefficient serta rumus untuk penaksiran nilai pemuliaan
adalah sbb:

1. Menggunakan informasi milik individu
a. satu catatan produksi

h

G1 P1

t.

G2 P2 P

..

Gn h Pn

Nilai pemuliaan individu G1

dengan prinsip yang sama maka dapat diperoleh rumus untuk menaksir nilai
pemuliaan individu berdasar sumber informasi 1 - 5 silahkan periksa Tabel 8.25

268

Tabel 8.25 Rumus untuk menaksir nilai pemuliaan

Informasi yang Rumus/Persamaan
digunakan

Teori Seleksi

Di dalam suatu populasi, meskipun gen merupakan unit pewarisan dan
generasi ke generasi, tetapi yang dapat dipilih atau ditolak dalam seleksi bukan
gen tetapi individu (ternak). Oleh karena itu individu dapat dikatakan sebagai
unit terkecil dalam seleksi. Unit yang lebih besar adalah famili, galur dan bangsa.
Berdasar pengertian tersebut maka seleksi adalah memilih individu untuk tetua
generasi yang akan datang.

Apa yang terjadi dapat dijelaskan dengan Gambar 1.

z

P Ps
*p = titik pemenggalan

269

Po

Gambar 8.6. Populasi awal seleksi dan hasil seleksi

P = nilai tengah populasi
Ps = nilai tengah individu terpilih
Po= nilai tengah populasi progeni tetua terpilih
b = proporsi populasi yan dipilih
p*= titik pemenggalan
z = f(p*) tiriggi ordinat pada p*
S = seleksi diferensial

Diasumsikan bahwa P tersebar normal dengan frekuensi individu mengikuti
persamaan

Berdasar persamaan tersebut dapat dimengerti bahwa kalau S naik maka i
naik sedang b turun

Contoh

b i

0,80 0,35
0,50 0,80
0,40 0,91
0,20 1,41
0,10 1,76
0,01 2,66

b = 0,80 artiriya indlvidu yang dipertahankan untuk generasi yang akan
datang 80%

Menaikkan proporsi individu yang dipertahankan 10 x lipat, dari 0,01
menjadi 0,10 akan menurunkan i sebesar 50% (1.76/2,66)

Respon seleksi

Pengertian. Respons seleksi atau tanggapan seleksi adalah selisih rerata
nilai fenotipik populasi progeni tetua terpilih dengan rerata nilai fenotipik

270

populasi asal tetua terpilih dipilih. Kelompok individu yang terpilih untuk tetua
generasi yang akan datang mempengaruhi atau mengubah rerata populasi dengan
2 (dua) jalan. Pertama, individu terpilih tersebut akan mewariskan sebagian
keunggulannya kepada anaknya, sehingga menaikkan kemampuan produksi
generasi yang akan datang. Kedua, sebagian keunggulan individu terpilih tersebut
akan tetap berada dalam populasi selama mereka tetap dipertahankan dan akan
berproduksi. Sebagai hasilnya maka produksi pada periode produksi dalam
generasi yang sedang berjalan (current genration, Laktasi I, II, III dan
seterusnya) akan dinaikkan.

Respon seleksi dalam gcnerasi yang sedang berjalan

Respons seleksi dalam generasi yang sedang berjalan , Rc = current
respons) dihitung dengan rumus

Rc = r S atau Rc = r i σP
(r = repitabilitas)

Respons seleksi untuk generasi yang sedang berjalan dihitung atas dasar

keunggulan kelompok individu terpilih dalam waktu periode tertentu, misal 10

tahun. Kenaikan rerata nilai pemuliaan akibat seleksi bersifat kumulatif, baik

dalam generasi yang sedang berjalan maupun generasi yang akan datang.
Kalau respons per tahun = Ry maka selama sepuluh tahun untuk generasi

yang sedang berjalan selama 10 tahun = 10 Rc sedangkan berdasar tanggapan
pada generasi yang akan datang maka diperoleh

1 Ry + 2 Ry + 3 Ry + 4 Ry + 5Ry…….+ 10 Ry = 55 Ry

Maka jumlah seluruh respons (Rt)

Rumus umum Rt = 55 Ry + 10 Rc

271

Respon seleksi pada generasi yang akan datang

Karena tujuan seleksi adalah peningkatan rerata populasi dari generasi ke
generasi yang berikutnya, maka respons seleksi pada generasi yang akan datang
yang lebih dipentingkan dalam seleksi.

Tanggapan seleksi untuk generasi yang akan datang (selisih rerata
fenotipik generasi progeni tetua terpilih dengan rerata populasi asal tetua
terpilih dipilih) dihitung dengan rumus:

∆G = R = h2S
untuk satu generasi setelah seleksi

Nilai h2 dapat dianggap konstan untuk keperluan penaksiran respons seleksi
meskipun pada kenyataannya tidak demikian. Rumus dapat digunakan apabila
pemilihan tetua telah dilaksanakan meskipun seleksi belum selesai karena S
sudah dapat dihitung. S, diferensial seleksi, diperhitungkan baik untuk individu
jantan maupun betina (SM dan SF SMP = ½ (SM + SF )

Apabila seleksi sudah selesai maka tanggapan seleksi dapat dihitung
dengan rumus

∆G = R = Po-Pt

Apabila i dan σP dianggap konstant maka h2S dapat digunakan untuk
menghitung tanggapan seleksi pada n generasi. Rumus lain adalah

∆G = R= h2 i σP atau
∆G = R= h (σG/σP) i σP= h i σG

272

S = seleksi diferensial
i = intensitas seleksi
h2 = heritabalitas
σP = simpang baku fenotipik

Dapat lebih mudah dimengerti dengan bantuan gambar di bawah mi

Tetua terpilih

Pt Ps
S = seleksi diferensial

Po R=Responseleksi
Gambar 8.7. Respon seleksi

S = ukuran keunggulan rerata tetua terpilih, sama dengan selisih rerata tetua

terpilih dengan rerata populasi asal tetua terpilih dipilih (=Ps-Pt).
Pt = nilai tengah populasi asal tetua terpilih dipilih
Ps = nilai tengah tetua terpilih
Po = nilai tengah populasi progeni tetua terpilih
R =h2S
R =h2(Ps-Pt) ; R =(Po-Pt).

Apabila yang dipentingkan adalah respons per tahun maka rumus di atas
arus dibagi dengan interval generasi. Interval generasi adalah rerata umur tetua

273

waktu beranak. Hubungan antara tetua terpilih dengan dengan progeninya dapat
digambarkan sebagai berikut.
S = diferensial seleksi
R = selection respons = gentic gain = tanggapan seleksi

Dapat pula dijelaskan dengan persamaan lain

Po=Pt + bop(Ps-Pt)
Po=Pt + h2 S

Faktor yang mempengaruhi respons seleksi

Diferensial seleksi
Pengertian. Diferensial seleksi (S) adalah selesih rerata produksi individu
terpilih dengan rerata populasi asal tetua terpilih dipilih. Berdasar teori bahwa
karakteristik terdistribusi normal maka S dapat diketahui kalau:
1. Proporsi individu yang terpilih untuk tetua akan datang diketahui.
2. Jumlah individu dalam populasi diketahui
Metode penaksiran S dan proporsi individu yang terpilih dengan
menggunakan Standardized Selection Diferential (SSD) dapat digunakan untuk
semua karakteristik. SSD dapat dihitung dengan bantuan tabel yang tersedia.

Tabel 8.26 SSD yang diperoleh dan intensitas seleksi yang berbeda

Persentase SSD
Terpilih (untuk populasi besar)

90 0,20

274

80 0,35 Lush (1945)
70 0,50
60 0,64
50 0,80
40 0,97
30 1,16
20 1,40
10 1,75
5 2,06
4 2,15
3 2 ,27
2 2,42
1 2,67

Faktor yang mempengaruhi S. Diferensial seleksi dipengaruhi oleh 1)
proporsi populasi yang terpilih untuk generasi yang akan, 2) simpang baku
karakteristik yang di1ibatkan dalam seleksi.

Contoh σP = 2 unit S = 2 x 0,80 = 1,60 unit
Populasi A 50 % dipilih σP = 2 unit S = 2 x 1,40 = 2,80 unit
Populasi B 20 % dipilih σP =1 unit S = l x 1,40 = 1,40 unit
Populasi C 20% dipilih

Berdasar rumus S = i σP, i = (z/b) maka dapat dimengerti kalau S
dipengaruhi oleh simpang baku karakteristik yang dilibatkan dalam seleksi.
Seleksi diferensial harus dihitung pada individu jantan dan betina, apabila seleksi
dilakukan untuk individu jantan dan betina, kemudian dihitung untuk mid
parent. Rumus yang digunakan

Contoh

Misal diketahui 4 % pejantan muda dan 30 % calon induk dibutuhkan untuk

calon pengganti.

275

σP = 1,2 kg (berat sapih)
Penghitungan SMP

(SM) 4 % ———> 2,15 σP = 2,15 x 1,2 = 2,58 kg
(SF) 30 % ———> 1,16 σP = 1,16 x 1,2 = 1,40 kg

SM + SF 2,58 + 1,40
SMP = = = 2 kg

2 2

R = h2 S

Lebih lanjut mengenai seleksi diferensial dan intensitas seleksi
S = i σP
R = h2 i σP

R
— = a genralised measure of the response
σP
Dapat digunakan untuk membandingkan respons seleksi secara umum,

respons seleksi dalam populasi yang berbeda dengan menggunakan kriteria

seleksi yang berbeda pula.

S
— = a genralised measure of the selection differential
σP

= standardised selection differential
= i, intensity of selection, intensitas seleksi

Dapat digunakan untuk membandingkan metode yang berbeda dalam
melaksanakan seleksi.

R = h2 i σP
R = i σA h

Persamaan tersebut, R, sering digunakan untuk membandingkan metode
seleksi karena i hanya tergantung pada proporsi populasi yang terpilih.
Menggunakan asumsi bahwa nilai fenotipik terdistribusi normal maka i dapat
dihitung atau ditetapkan dengan menggunakan tabel.

276

Tabel 8.27 Nilai S/σP untuk populasi kecil (Van Vlek, 19..)

Jumlah yg Jumlah sample
diseleksi

98765432
1 1,49 1,42 1,35 2,27 1,16 1,03 0,85 0,56
2 1,21 1,14 1,06 0,96 0,83 0,67 0,42
3 1,00 0,91 0.82 0,70 0,55 0,34
4 0,82 0,72 0,62 0,48 0,29
5 0,66 0,55 0,42 0,25
6 0,50 0,3S0,23
7 0,35 0,20
8 0,19

Contoh Menghitung Generasi Interval

Induk disisihkan (di-cull) dari populasi umur ± 8,5 th

Kelompok umur 1 2 3 4 5 67
I Umur induk waktu 2 3 4 5 6 7 8 th

beranak 143 143 143 143 143 143 143 ekr
Jumlah induk

LF (Gnerasi Interval ) = 143 (2+3+4+5+6+7+8) / (7*143) = 5 th

Kelompok umur 12

II Umur pejantan waktu beranak 2 3 th

Jumlah pejantan 20 20 ekr

LM (Gnerasi Interval ) = 20 (2+3) / (2*20) = 2,5 th

277

Kalau kelompok umur diubah

Kelompok umur 1 234
3 4 5 th
III Umur pejantan waktu beranak 2 10 10 10 ekr

Jumlah pejantan 10

LM (Gnerasi Interval ) = 10 (2+3+4+5) / (4*10) = 3,5 th

Dari I dan II LMP = 5 + 2,5 / 2 = 3,75 th

Dari I dan III LMP = 5 + 3,5 / 2 = 4,25 th

Berdasar contoh di atas maka diperoleh informasi tentang struktur
hubungan pengaruh umur terhadap interval generasi.

Menghitung SM, SF dan SMP

Misal diasumsikan Net reproduction rate = 50 %

Jumlah induk = 20 ekor per tahun (II) per kelompok

Jumlah individu yang dipakai seluruhnya adalah

2 x 20 = 40 ekor

Pejantan/ induk = 20 : 143 (I)

Angka banding seks progeni = 1:1

Jumlah progeni yg diperoleh dari (1000) induk 250 + 250 = 500

Pada Model II

Per tahun dibutuhkan 20 ekor pejantan
Akan dipilih dari 250 calon pejantan (progeni)

Maka iM dapat dicari dgn bantuan tabel i
dengan persentase pejantan terpilih 20 / 250 = 8% (0.08)

diperoleh iM = 1.86 SM = 1.86 σp
Pada Model I

Per tahun dibutuhkan 143 ekor induk
Akan dipilih dan 250 calon induk (progeni)
Maka iF dapat dicari dgn bantuan tabel i

278

dengan persentase induk terpilih 143 / 250 = 57% (0.57)
diperoleh iF = 0.69

Sehingga iF = 0.69 σp iMP = 1.89 + 0.69 / 2
SMP = 1.24 σp iMP = 1.24

Menggunakan
Induk dengan 7 kelompok umur (I)
Pejantan yang digunakan 2 kelompok umur (III)

Jumlah induk dibutuhkan per tahun 142 ekor
Jumlah pejantan yang dibutuhkan per tahun 10 ekor
Induk pengganti dipilih dari 250 calon induk (progeni betina)
Pejantan pengganti dipilih dari 250 calon pejantan (progrni jantan)

Dengan bantuan tabel diperoleh

iM = 2,15 iF = 0,69 iMP = 1,48
SM = 2,15 σp
SF = 0,69 σp
SMP = 1,48 σp

Respon Seleksi per tahun
iMPσph2

Ry =
LMP

LMP (I,II) = 3,75 th
LMP (I,III) = 5,25 th

Kenaikan i tidak berarti apabila diikuti dengan kenaikan L (generasi
interval)

279

SELEKSI FAMILI
FAMILY SELECTION
Seleksi Famili (Family Selection)

280

Seluruh anggota famili dipilih atau disisihkan berdasar rerata nilai fenotipik
famili, dengan demikian maka perbedaan yang ada di dalam famili (sama sekali)
tidak diperhatikan Famili yang digunakan dapat berupa saudara tiri atau
sekandung

Pertimbangan penggunaan seleksi famili
1. Heritabilitas karaktenistik rendah
2. Penggunaan (dasar) rerata nilai fenotipik famili berarti menghilangkan

pengaruh faktor lingkungan yang dimiliki anggota famili, berarti
bahwa rerata famili merupakan indikator yang baik untuk rerata nilai
genotipik famili
Faktor yang menurunkan efektivitas
1. Apabila pengaruh faktor lingkungan yang berlaku umum menyebabkan
perbedaan yang menyolok antar individu di dalam populasi.
2. Efektivitas seleksi dipengaruhi oleh ukuran (besar kecilnya) famili.

281

Gambaran perbedaan metode seleksi

1 23 45 B C D
A

A, B, C dan D terdiri dari 5 (lima) famili, masing-masing memiliki 5 (lima)
Anggota.

Rata-rata famili
Individu yang akan dipilih
Individu yang tidak terpilih

A = individu dipilih berdasar SELEKSI INDIVIDU
B = individu dipilih berdasar SELEKSI FAMILI
C = individu dipilih berdasar WITHIN –FAMILY-SELECTION
D = individu dipilih berdasar WITHIN-FAMILIY-SELECTION

Pada kondisi D WITHIN-FAMILIY-SELECTION paling menguntungkan;
Variasi antar famili besar dan variasi di dalam famili kecil

282

Kecermatan Seleksi

(Accuracy of Selection)

Statistically the accuracy of selection is presented by the correlation of the

Genotype of individual with the Phenotypic (Average)

Lasley (19..)

Contoh

KECERMATAN h

SELEKSI INDIVIDU G P

rGP= h

Efisiensi relatif

(Relative efficiency)
Efisiensi relatif dihitung dengan angka banding respons seleksi, hasil seleksi
dengan suatu metode, dengan respons seleksi hasil seleksi individu

Contoh

Relativ efisiensi seleksi dengan menggunakan n record individu
dihitung sebagai berikut.

I. Seleksi Famili

Rumus

II. Seleksi dalam Famili (Within-family Selection)

Rumus

283

Taksiran hw2 dihitung dari pemecahan variansi between dan within family dalam
famili yang besar sbb:

Konsep heritabilitas yang diterapkan pada rerata famili atau deviasi dalam
famili mengintroduksikan prinsip baru. Heritabiiitas tersebut secara sederhana
adalah proporsi variansi fenotipik rerata family atau deviasi dalam famili yang
terdiri dan variansi aditif. Konsep heritabilitas ini dapat dinyatakan dalam
heritabilitas individu (karakteristik) = h2. Korelasi antar anggota famili dan
jumlah inidividu dalam famili dapat diperoleh dari pengamatan. Diasumsikan
famili cukup besar sehingga rerata famili dapat ditaksir dengan tepat (tanpa
error).

Dibahas lebih dahulu variansi fenotipik. Korelasi intraklas = t, antar
anggota famili, sama dengan komponen antar kelompok dibagi dengan vaniansi
total.

Pemecahan variansi aditiv antar dan dalam famili dapat diekspresikan
dengan cara yang sama. Korelasi antar NP dilambangkan r.

Vaniansi aditiv antar Famili = r VA ( t σ2T= t VP )

Variansi aditiv dalam Famili = (l-r)VA

Pemecahan variansi dalam famili dan antar famili

Komponen teramati variansi variansi
aditiv fenotipik

284

Between family, σ2 VB r VA tVP
Within family, σ2 VW (l-r)VA (1-t)VP

Konsep heritabilitas menghasilkan

III. Seleksi Saudara (Sib Selection)

Kriteria yang digunakan adalah rerata famili tetapi indvidu yang akan
dipilih tidak ikut menentukan rerata famili.

IV. Seleksi Kombinasi (Combmed Selection)

Model yang digunakan

Efisiensi Relatif

Seleksi individu dengan N catatan produksi untuk nilai t yang

berbeda

Jumlah catatan t = 0.05 t = 0.10 t = 0.25 t = 0.50 I

2 1.28 1.35 1.26 1.15
5 2.04 1.89 1.58 1.29
10 2.63 2.29 1.75 1.35
25 3.37 2.71 1.89 1.39
50 3.81 2.91 1.94 1.40
100 4.10 3.03 1.97 1.41
200 4.27 3.09 1.98 1.41
500 4.39 3.13 1.99 1.41

Grossman (1975)

285

TABLE 8.12 The ralative accuracy of progeny test as compared to selection
on the basis of individual performance

Number Heritabilitas karakteristik
of 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
progeny
0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50
1 0.70 0.69 0.68 0.67 0.66 0.65 0.65 0.64 0.64
2 0.85 0.83 0.81 0.79 0.78 0.76 0.76 0.73 0.72
3 0.97 0.93 0.90 0.88 0.85 0.83 0.81 0.79 0.77
4 1.07 1.02 0.98 0.95 0.91 0.88 0.86 0.83 0.81
5 1.16 1.10 1.04 1.00 0.96 0.93 0.89 0.87 0.84
6 1.23 1.16 1.10 1.05 1.00 0.96 0.92 0.89 0.86
7 1.31 1.22 1.15 1.09 1.03 0.99 0.95 0.91 0.90
8 1.37 1.27 1.19 1.12 1.08 1.01 0.97 0.93 0.90
9 1.43 1.31 1.22 1.15 1.09 1.03 0.99 0.95 0.91
10 1.67 1.49 1.35 1.25 1.17 1.10 1.04 0.99 0.95
15 1.84 1.60 1.44 1.31 1.22 1.14 1.08 1.02 0.97
20 1.98 1.69 1.49 1.36 1.25 1.17 1.10 1.04 0.99
25 2.09 1.75 1.54 1.39 1.27 1.18 1.11 1.05 1.00
30 2.18 1.80 1.57 1.41 1.29 1.20 1.12 1.06 1.01
35 2.25 1.84 1.60 1.43 1.31 1.21 1.13 1.07 1.01
40 2.32 1.88 1.62 1.44 1.32 1.22 1.14 1.07 1.02
45 2.37 1.90 1.64 1.46 1.33 1.22 1.14 1.08 1.02
50 2.57 2.00 1.69 1.49 1.35 1.25 1.16 1.09 1.03
75 2.69 2.05 1.72 1.52 1.37 1.26 1.17 1.10 1.04
100

286

Uji Keturunan
Keuntungan dan kerugian

Faktor yang mempengaruhi respon seleksi
1. Kecermatan seleksi (RGP)
2. Intensitas seleksi ( I ), ( σP)
3. Generasi interval

Keuntungan menggunakan Uji Keturunan diperoleh kalau

1. Heritabilitas (h2) karakteristik rendah
2. Karakteristik Sex limited

Kerugian

1. Intensitas seleksi lebih rendah
2. Membutuhkan seleksi pendahuluan untuk memilih calon pejantan yang

akan diuji (biasanya menggunakan uji performans atau direct pedigree
selection)
3. Menaikkan jumlah calon yang akan diuji akan menurunkan jumlah
progeni per jantan ( fasilitas terbatas) —> berakibat menaikkan
intensitas seleksi tetapi menurunkan kecermatan ( rGP)
Apabila struktur famili dalam populasi digunakan, maka rerata nilai
fenotipik setiap famili dapat dihitung. Rerata tersebut disebut rerata famili (family

287

mean). Misal dalam suatu populasi individu dikelompokkan ke dalam famili, full
sibs atau half sibs, dan semua individu memiliki catatan produksi serta rerata
setiap famili telah dihitung informasi yang tersedia tersebut memberikan peluang
untuk melakukan seleksi dengan menggunakan rerata famili.

Pertama mari kita amati masalah yang berhubungan dengan informasi
tambahan dan saudara. Misal seekor individu memiliki nilai pada batas untuk
dapat diseleksi dan dikeluarkan dari populasi, dia memiliki saudara yang memiliki
nilai tiriggi sehingga menyebabkan rerata famili menjadi tiriggi.

Kita dapat menginterpretasikan keadaan tersebut dengan dua cara.

a) Produksi individu rendah disebabkan karena pengaruh jelek faktor
lingkungan. Rerata famili yang tinggi memberikan informasi bahwa NP nya
individu lebih baik dibanding dengan nilai fenotipiknya

b) Atau dapat dikatakan bahwa rerata famili yang tinggi disebabkan karena
pengaruh faktor lingkungan umum yang baik, mungkin disebabkan oleh induk
yang baik, individu tersebut juga ikut mendapat pengaruhnya. Berdasar
interpretasi tersebut maka NP individu kurang baik dibanding nllai
fenotipiknya.

Pada kasus 1 harus diartikan bahwa informasi dari saudara lebih baik
sehingga kita akan memilih individu tersebut. Pada kasus 2 harus diartikan bahwa
informasi dari saudara kurang berguna oleh karena itu individu tersebut ditolak.

Pertanyaan yang harus dijawab, interpretasi 1 atau 2 yang
benar ?

Ada tiga hal yang perlu diketahui :

1. Macam famili (Full Sib atau Half Sib)

288

2. Jumlah anggota famili
3. Korelasi fenotipik antar karakteristik

Pemilihan metode cukup sederhana tetapi menerangkan pilihan tersebut
yang tidak sederhana. Oleh karena itu perlu mengetahui berbagai metode
seleksi dengan menggunakan informasi saudara.
4. Apabila progeni per pejantan ditambah maka kecermatan akan tinggi
tetapi akan memperpanjang interval generasi sehingga akan menurunkan
respon seleksi.

Contoh Go Po
(S) Beranak

5Th

GS GO1 P1 P
2 th 3 th

rt

S GOn Pn

6 th Go(calon pejantan terpilih
berdasar NP pejantan

Kecermatan Uji Keturunan

Dapat diukur dengan
1. Regresi NP pejantan (yang diuji) terhadap rerata progeni

289

2. Menggunakan ½ bGP = bFP

bFP = (¼ nh2)/(1+(n-1) ¼h2 )
bFP = perubahan rata-rata NP progeni akan datang untuk setiap satu unit

perubahan rerata NP progeni sekarang
1. Menggunakan informasi saudara (famili)

Nilai fenotipik individu, P, yang diukur sebagai deviasi dari nilai tengah
populasi terdiri dari dua bagian.
a. Deviasi rata-rata famili dari nilai tengah populasi

(Pf - P) = Pf
b. Deviasi nilai individu dari rerata famili

(Pi – Pf) = Pw
P = (Pf + Pw)
Seleksi yang akan dilakukan tergantung pada perhatian yang diberikan
terhadap bobot dari kedua bagian tersebut. Kalau seleksi berdasar hanya pada
nilai individu maka berarti memberi bobot yang sama pada Pf dan Pw individu
tersebut. Seleksinya disebut seleksi individu (individual selection). Dapat pula
kita hanya mendasarkan rerata famili saja maka metode seleksinya disebut
(family selection) = Seleksi Family. Dapat pula kita hanya mendasarkan pada
deviasi dalam family, Pw, maka metode dan seleksi tersebut disebut seleksi
dalam famili (within-family selection).

c. Korelasi NP pejantan dengan rerata progeni

290

Kecermatan seleksi uji keturunan dengan menggunakan bFP

Σ Progeni --------------------heritabilitas -----------------------
(n) 0.2 0.3 0.4 0.5

1 0.050 0.075 0.100 0.125
2 0.095 0.140 0.182 0.222
3 0.136 0.196 0.250 0,300
4 0.114 0.245 0.308 3.364
5 0.200 0.288 0.377 0.417
6 0.240 0.327 0.400 0.462
7 0.269 0.362 0.438 0.500
8 0.296 0.393 0.471 0.533
9 0.321 0.422 0.500 0.563
10 0.345 0.448 0.526 0.588
20 0.513 0.619 0.590 0.141
30 0.612 0.709 0.769 0.811
40 0.678 0.764 0.816 0.851
50 0.725 0.S02 0.8.47 0.877

Kecermatan seleksi uji keturunan mengukur juga efisiensi seleksi apabila
kecermatan tersebut tidak tergantung pada diferensial seleksi. Interval generasi
biasanya tidak demikian, apabila jumlah pejantan yang akan diuji sudah
ditetapkan dan jumlah progeni juga ditetapkan (sesuai dengan fasilitas yang
tersedia) maka makin banyak progeni diuji makin sedikit progeni pejantan.

Contoh

Misal akan memilih 4 calon pejantan, fasilitas tersedia untuk
400 progeni karakteristik B S = 0,4

Pejantan Progeni rGP I rGP x I

10 40 0.900 4/10=0.97 (0.97)(0.900)=0.88

291

40 10 0.725 4/40=1.75 (1.75)(0.725)=1.27

Lebih baik menguji pejantan lebih banyak meskipun kurang cermat.

Cara yang ketiga, seleksi berdasarkan Pf dan Pw, Pf dan Pw diberi bobot
yang berbeda, metode seleksi demikian disebut seleksi menggunakan kombinasi
optimum (combmed selektion) = seleksi kombinasi. Metode ini diharapkan
dapat memberikan respon yang optimum sedangkan ketiga metode dimuka
merupakan kasus yang khusus dari seleksi kombinasi dengan memberi bobot 1
atau 0 pada Pf atau Pw Pada dasarnya seleksi kombinasi merupakan metode yang
terbaik tetapi perbedaannya dengan 3 metode tersebut tidak pernah terlalu tiriggi.

Tetapi meskipun demikian superioritasnya tidak melebihi 10 % pada famili

dengan 2 anggota (RR) superioritas S K mencapai 20 % apabila t = 0.875.

Berdasar nilai t tersebut dapat dikatakan bahwa superioritas S K mempu

nyai range untuk nilai yang sempit 0.75 0.875.

Secara umum dapat dikatakan bahwa hanya sedikit tambahan yang diperoleh

dengan seleksi kombinasi dibandingkan dengan metode yang lain yang lebih

sederhana.

Expected Response

(respon harapan)

292

Tabel Heritabilitas dan respon harapan pada metode seleksi yang
berbeda

Metode Heritabilitas Respon Harapan
Seleksi

Individu h2 R =iσPh2

Informasi yang dapat digunakan untuk seleksi
calon pejantan

Apabila seleksi ditujukan untuk karakteristik yang memiliki heritabilitas
yang tinggi maka seleksi individu akan memberikan hasil yang cukup
memuaskan. Tetapi sex limitted karakteristik seperti produksi susu dan kadar
lemak susu, hanya dapat diukur pada ternak betina. Sehingga pejantan hanya
dapat dievaluasi untuk karakteristik tersebut dengan menggunakan informasi dari
kerabat betinanya. Kerabat tersebut dapat tetua, saudara tiri dan atau progeninya.
Informasi dan progeni pejantan merupakan informasi yang paling cermat untuk
menaksir nilai pemuliaan pejantan. Sedangkan informasi milik pedigree lebih
penting digunakan untuk menaksir nilai pemuliaan calon pejantan.

Informasi dan kerabat atau saudara dapat digunakan secara terpisah atau
dikombinasikan. Prinsip penggunaan berbagai informasi untuk menaksir nilai
pemuliaan pada dasarnya adalah menggunakan metode regresi (sederhana dan
ganda). Peubah bebasnya adalah hasil pengukuran karakteristik, nilai fenotipik,
baik pada individu dan atau dan kerabat. Peubah tak bebasnya adalah nilai

293


Click to View FlipBook Version
Previous Book
1612 King James "She" Bible H314
Next Book
1612 King James "She" Bible H314