The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Dinas Sejarah Angkatan Darat

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kenamir57, 2022-12-07 08:47:35

PEPERA

Dinas Sejarah Angkatan Darat

Keywords: ebook

dari kapal-kapal patroli Indonesia dengan jarak lebih
kurang 10 km. Kapal perang Belanda menembakkan
peluru-peluru suar (flares) yang menerangi sekitar
tempat kapal-kapal patroli Indonesia, dalam usahanya
untuk mengetahui secara tepat kedudukan kapal-kapal
patroli Indonesia. Sedangkan pesawat-pesawat terbang
Belanda juga menjatuhkan peluru-peluru suar dari udara
tepat di atas kelompok satuan patroli Indonesia
sehingga mereka makin jelas dapat menentukan posisi
sasarannya. Kemudian pesawat-pesawat tempur
Belanda menembaki kapal-kapal patroli Indonesia
dengan meriam-meriam kaliber 12 cm.116)

Tindakan Belanda tersebut jelas suatu
pelanggaran karena mereka sudah berada di perairan
Indonesia. Dalam situasi yang begitu gawat, dimana
kekuatan Belanda jauh melebihi kemampuan kapal
patroli Angkatan Laut Indonesia, Komodor Yos Sudarso
segera mengambil alih pimpinan Komando Patroli.
Komodor Yos Sudarso segera menyampaikan suatu
pesan tempur (battle message) lewat perhubungan radio
yang berbunyi ”kobarkan semangat pertempuran”.
Setelah itu tembakan-tembakan balasan segera
diperintahkan. Demikian pula, Belanda kemudian
memperhebat tembakan-tembakan meriamnya.117)

Saat-saat yang kritis dalam pertempuran ini
(terkenal dengan pertempuran Laut Arafuru) mencapai
puncaknya ketika kekuatan laut dan udara Belanda

116) Ibid, hal. 40-41.
117) Ibid, hal. 41.

91

berusaha untuk mengurung ketiga kapal patroli
Angkatan Laut Indonesia. Komodor Yos Sudarso sebagai
pimpinan Komando Patroli segera mengambil tindakan
untuk menghindarkan kehancuran ketiga kapal patroli
tersebut. Komodor Yos Sudarso memerintahkan kapal-
kapal patroli itu untuk mengadakan gerakan-gerakan
sedemikian rupa, dengan maksud untuk mengalihkan
sasaran tembakan musuh kepada salah satu kapal patroli
saja. Dengan demikian dua kapal yang lainnya, yaitu
Macan Kumbang dan Macan Harimau bisa
menyelamatkan diri. Kapal patroli yang dijadikan
sasaran tembakan musuh oleh Komodor Yos Sudarso
adalah kapal Macan Tutul, dimana dia sendiri berada di
kapal tersebut.

Taktik ini ternyata berhasil, tembakan-tembakan
meriam musuh tertuju kepada kapal RI Macan Tutul dan
kapal RI Macan Kumbang dan kapal RI Macan Harimau
dapat meloloskan diri, sedangkan kapal RI Macan Tutul
tanpa mengenal bahaya yang mengancam hancurnya
kapal itu sendiri, tetap bertahan dengan melakukan
tembakan-tembakan pembalasan.

Pada pukul 21.15 waktu setempat RI Macan Tutul
tampak mulai terbakar akibat tembakan-tembakan yang
bertubi-tubi dari musuh, kemudian kapal RI Macan
Tutul meledak. Dalam keadaan yang demikian Belanda
masih belum puas, dan Belanda kemudian mengerahkan
lampu sorot pada kapal RI Macan Tutul disusul dengan
tembakan-tembakan salvo cepat yang bertubi-tubi
dengan senjata jarak dekat berkaliber 40 mm. Akibatnya
kapal RI Macan Tutul tenggelam kedasar laut. Kemudian

92

musuh mengalihkan tembakan secara membabi buta
kearah kedua kapal patroli Angkatan Laut Indonesia
yang lainnya. Setelah tidak dapat menemui sasarannya,
akhirnya pada pukul 21.55 musuh menghentikan
tembakan. Posisi Pasukan Belanda pada saat itu pada 25
mil sebelah utara timur laut Kepulauan Aru.118)

KRI Macan tutul, Jenis MTB atau kapal cepat torpedo buatan Jerman Barat
yang membuat Komodor Yos Sudarso tenggelam dalam pertempuran Laut
Arafuru 15 Januari 1962. (Sumber : Buku Trikora Pembebasan Irian Barat)

Pertempuran Laut Arafuru tersebut berlangsung
sangat singkat, hanya dalam waktu 20 menit, akan tetapi
berlangsung dengan intensitas yang tinggi. Dalam
pertempuran Arafuru tersebut prajurit-prajurit Angkatan

118)Ibid.

93

Laut Indonesia memperlihatkan semangat juang yang
pantang menyerah sampai detik-detik penghabisan.
Betapa tingginya semangat tempur para prajurit Angkatan
Perang Republik Indonesia, yang telah mampu
mempertahankan kehormatan tanah airnya dengan
melawan kekuatan yang jauh lebih besar. Setelah terjadi
Pertempuran Laut Arafuru ini, maka Indonesia mendapat
keyakinan tentang keharusan menghadapi Belanda secara
militer. Dimana hal ini sebelumnya belum begitu
mendapatkan perhatian yang mendalam baik dari
pemerintah maupun dari tiap-tiap angkatan.

Dalam rombongan para pejabat Markas Besar
Angkatan Laut tersebut, di kapal RI Macan Tutul ikut
rombongan Pasukan Gerilya 300 (PG-300) yang akan
melaksanakan penyusupan kedaratan Papua. PG-300 ini
berkekuatan 111 orang dibawah pimpinan Peltu
Soeripto. Misi dari PG-300 ini adalah melaksanakan
infiltrasi ke Pantai Selatan Papua, dengan tugas :
Membuat paket teritorial didaerah antara Aldoeni –
Oeta yang akan digunakan sebagai pangkalan dalam
menyusun perlawanan rakyat, mengkoordinasikan
gerakan bawah tanah, dan pangkalan untuk
menghubungi daerah perbatasan R.I.

1) Untuk mengisi program Trikora dalam
bentuk merealisasikan segera pemerintahan RI
didaerah yang dijadikan kantong-kantong
teritorial dan sekitarnya, menghapuskan
pemerintahan Belanda dan mendidik pemuda-
pemuda untuk selanjutnya dapat digerakkan
menjadi perlawanan rakyat terhadap Belanda.

94

2) Melaksanakan pengacauan didaerah
musuh dengan tujuan untuk melaksanakan
propaganda yang bersifat politis dan gerakan
militer lanjutan.

3) Mempersiapkan daerah (field drop) untuk
kepentingan gerakan militer yang lebih besar.119)

c. Personel dari PG-300 ini umumnya terdiri dari
putra Papua. Mereka terlebih dahulu dilatih di Ciawi-
Pelabuhan Ratu dan Cisolok. Seperti yang telah
diuraikan di atas, bahwa MTB Macan Tutul berhasil
ditenggelamkan oleh pasukan Belanda, maka sebagian
anggota PG-300 gugur, ada pula yang ditawan pasukan
Belanda, dan yang lain dapat menyelamatkan diri.
Dengan demikian tugas PG-300 dibawah pimpinan
Peltu Soeripto gagal mendarat di Papua.120)

Pasukan PG-300 yang berhasil diselamatkan pada
kejadian tanggal 15 Januari 1962 (MTB Macan Tutul)
diturunkan di Kepulauan Aru. Disini mereka melatih 1
Peleton putra daerah setempat untuk pengganti anggota
yang gugur dan yang tertawan oleh pasukan Belanda.
Pasukan ini kemudian disusun kembali menjadi 1 kompi.
Pada bulan Maret 1962 pasukan ini dipindahkan ke
Dobo, dan dari sini dipindahkan lagi ke Gebe. Sebelum
sampai di Gebe mereka terlebih dahulu singgah di
Ambon. Di Ambon ini mereka mendapat tambahan 4
orang anggota RPKAD. Di Gebe pasukan ini dipecah
menjadi 2 tim, tiap tim berkekuatan 2 Peleton. Tim-1

119) R. Ridhani, Op. Cit, hal. 133-134.
120) Ibid, hal. 134.

95

dipimpin oleh Peltu Nana (Isnana) dan tim-2 dipimpin
oleh Serma Boy Thomas. Para komandan tim dan
peleton ini berasal dari RPKAD.121)

Penyusupan-penyusupan ke daratan Papua ini
kemudian perencanaannya lebih disempurnakan. Pada
tanggal 24 Februari 1962 keluarlah petunjuk operasi No.
POPS 01/SR/2/62. Isi dari POPS 01 ini adalah dengan
jalan terang-terangan mengadakan operasi-operasi
infiltrasi untuk menciptakan dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya secara de-facto daerah-daerah
bebas untuk mendudukkan unsur-unsur kekuasaan
Pemerintah Republik Indonesia di daerah-daerah
Sorong, Fak-fak, Kaimana, dan sekitarnya. Basis-basis
operasi tiap-tiap angkatan ditentukan sebagai berikut :

1) Untuk ADLA di kepulauan An (Uju), Geser
dan Gebe.

2) Untuk ALLA di kepulauan Ambon, Elat
(kepulauan Kai) dan Ternate.

3) Untuk AULA di Letfuan, Amahai, Ambon
dan Morotai.122)

Dalam rangka meningkatkan kegiatan
penyusupan-penyusupan/infiltrasi, pada tanggal 26
Februari 1962 keluarlah keputusan Panglima AD
Mandala No. SP-15/2/1962. Berdasarkan keputusan
tersebut untuk memimpin operasi ini ditunjuklah Letkol
Djoko Basuki, dan kedudukan posnya di Amahai. Untuk

121) Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Op. Cit, hal. 225.
122) M. Cholil, Op. Cit, hal. 61.

96

mempermudah pengendalian komandonya, maka
wilayah tugas infiltrasi tersebut dibagi atas 3 poros, yaitu
utara, tengah dan selatan. Masing-masing poros ini
dipimpin oleh seorang komandan sebagai penanggung
jawab di lapangan. Pembagian ketiga wilayah tersebut
dimaksudkan sebagai jalan pendekat menuju sasaran.
Ketiga wilayah itu adalah :

1) Wilayah selatan (P-101/Hanggada),
dipimpin oleh Mayor Ali Moertopo. Pos wilayah
ini adalah di kepulauan Aru. Kegiatan operasi
dari P-101/Hanggada ini dikendalikan oleh
Angkatan Darat Mandala.

2) Wilayah tengah (P-102/Kapi Jembawan),
dipimpin oleh Letkol Amir Judowinarno. Pos
wilayah ini adalah di pulau Geser. Kegiatan
operasi infiltrasi laut dari wilayah P-102/Kapi
Jembawan ini dikendalikan langsung oleh
Komando Mandala.

3) Wilayah utara (P-103/Hanilo), dipimpin
oleh Mayor Roedjito. Pos wilayah ini adalah di
pulau Gebe. Kegiatan operasi infiltrasi laut dari
wilayah P-103/Hanilo ini dikendalikan langsung
oleh Komando Mandala.123)

Pada tanggal 18 Maret 1962 tim-1 dari PG-300
dibawah pimpinan Peltu Nana diberangkatkan menuju
pulau Waigeo dan Raja Ampat. Tim-1 ini berangkat

123) Op. Cit, hal. 233.

97

dengan menggunakan perahu kole-kole, dilengkapi
mesin tempel dari Ton Tugis Yon Angair-2 ADLA,
dipersenjatai dengan 18 LE (lee enfield), 3 Launcher, 3
Mo ”5”, 4 pistol, 27 PM, 13 Bren dan 86 Garand.
Adapun tugas dari tim-1 ini adalah :

1) Membuat pangkalan di Pitsyor (Teluk
Majalisit, P. Waigeo) pantai utara daerah Kepala
Burung.

2) Membuat jaring komunikasi dan daerah
penerjunan logistik.

3) Menyusun kekuatan gerilya dan melatih
kader-kader gerilyawan.124)

Dalam perjalanan, pasukan Tim -1 ini dipergoki
oleh patroli pesawat Neptune Belanda sehingga arah
perahu terpaksa dibelokkan ke palau Gag, yang
terletak di sebelah barat pulau Waigeo (antara pulau
Gebe dan pulau Waigeo). Pulau Gag merupakan pulau
kecil yang sangat strategis untuk dijadikan sebagai
batu loncatan ke kepulauan lainnya di wilayah Papua
yang dikuasai Marinir Belanda. Dengan demikian
kehadiran Tim-1 dari PG-300 pimpinan Peltu Nana di
pulau Gag ini merupakan suatu ancaman yang sangat
membahayakan kedudukan Belanda di wilayah
Kepala Burung dan kepulauan Raja Ampat.125)

Oleh sebab itu Belanda mengincar kedudukan
kedudukan Tim-1 PG-300 di pulau Gag ini. Setiap hari

124) Ibid, hal. 225-226.
125) R. Ridhani, Op. Cit, hal. 135.

98

pesawat-pesawat udara Belanda melakukan patroli
disekitar pulau Gag. Disamping itu Belanda
menempatkan 2 buah kapal perangnya disekitar pulau
Gag. Akibatnya kedudukan Tim-1 PG-300 makin terjepit
sehingga mereka terdesak ke Bukit Kapur. Kemudian
Belanda membom Bukit Kapur tersebut dari udara dan
dari laut, sehingga pulau Gag menjadi lautan api.
Dengan persenjataan yang sangat terbatas anggota Tim-
1 menghadapi seruan pasukan Belanda tersebut. Pada
tanggal 25 Maret 1962 datang bantuan dari pesawat B-
25 AULA, yang menyerang posisi pasukan Belanda.
Kemudian terjadilah kontak senjata antara kapal perang
Belanda dengan pesawat terbang AULA. Akibat dari
kontak senjata ini sebuah kapal perang Belanda berhasil
dirusak. Dalam peristiwa ini beberapa orang pasukan
Belanda menjadi korban, baik meninggal maupun luka-
luka.126)

Belanda tetap berusaha untuk menghancurkan
Tim-1 PG-300 yang berada di pulau Gag ini. Pada
tanggal 26 Maret 1962 Belanda mendaratkan pasukan-
pasukan marinirnya di pulau Gag. Akibatnya terjadilah
pertempuran yang sengit antara pasukan Tim-1 PG-300
dengan pasukan Belanda. Dalam kontak senjata ini
anggota Tim-1 PG-300 terdesak dan kemudian mereka
melakukan perlawanan dengan taktik gerilya di daerah
pedalaman. Pada tanggal 7 April 1962 Belanda mulai

126) M. Cholil, Op. Cit, hal. 58. Sumber lain menyebutkan bahwa peristiwa kontak senjata
antara pesawat B-25 AULA dengan kapal perang Belanda pada tanggal 24 Maret 1962, dan
pada peristiwa tersebut Peltu Nana tertangkap oleh pasukan Belanda. Lihat Pusat Sejarah
dan Tradisi ABRI, Op. Cit, hal. 226.

99

menggunakan mortir-mortir dalam menyerang
kedudukan Tim-1 PG-300. Pada tanggal 9 dan 10 April
1962 Belanda menjatuhkan 14 buah bom terhadap
kedudukan Tim-1 PG-300. Pada tanggal 11 April
1962 Belanda melakukan penembakan-penembakan
mitraliyur serta roket dari pesawat-pesawat terbangnya
terhadap kedudukan-kedudukan Tim-1 PG-300. Namun
demikian anggota Tim-1 PG-300 tetap dapat bertahan,
dan kemudian mereka mendapat tambahan anggota
sebanyak 29 orang dari penduduk setempat.127)

Setelah hampir 1 bulan bertahan di pulau Gag
dan terjadi perlawanan bersenjata dari Tim-1 PG-300,
pada tanggal 15 April 1962 pasukan marinir Belanda
kembali mengadakan pembersihan secara besar-besaran
terhadap kedudukan Tim-1 PG-300. Pada peristiwa ini
pasukan Belanda kalah siasat, sehingga Tim-1 PG-300
berhasil menyusup dari daerah pedalaman dan bergerak
mendekati pantai. Dalam penerobosan tersebut, Tim-1
PG-300 berhasil membubuh dan mencederai 12 orang
pasukan Belanda.128)

Setelah sampai di pantai timbullah kesulitan baru,
yaitu tidak adanya kapal untuk menyeberangilautan
yang membentang di depan mata, sementara Belanda
melakukan penjagaan laut yang sangat ketat. Peltu Nana
memerintahkan anak buahnya untuk membuat rakit-
rakit dari pelapah sagu dan potongan kayu kering yang
diikat menjadi satu. Dengan mempergunakan rakit-rakit

127) M. Cholil, Ibid, hal. 58-59.
128) Ibid, hal. 59.

100

ini mereka mencoba mengarungi lautan yang luas
tersebut. Hasilnya kurang memuaskan karena rakit-rakit
itu banyak yang tenggelam. Sebagian besar anggota
Tim-1 PG-300 berhasil ditangkap Belanda. Salah satu
yang tertangkap oleh Belanda adalah pimpinan Tim-1,
yaitu Peltu Nana.129)

Pada tanggal 20 Maret 1962 Tim-2 PG-300 yang
beranggotakan 71 orang, dibawah pimpinan Serma Boy
Thomas berangkat dari pulau Ju menuju Tanjung
Dalpele di pulau Waigeo. Diperjalanan mereka
dipergoki oleh pesawat patroli Neptune Belanda,
mengakibatkan Tim-2 PG-300 ini terpaksa mencari
perlindungan ke pulau Bala-bala selama 2 jam. Akhirnya
Tim-2 PG-300 ini dapat meneruskan perjalanan dan
berhasil mendarat di tempat tujuan semula dengan
selamat.130)

d. PG-400.

Penyusupan selanjut dilakukan oleh PG-400
dengan kekuatan 93 orang yang dipimpin oleh Charles
Papilaya. Anggota PG-400 sebagian besar berasal dari
Maluku dan Papua. Mereka ini adalah manan anggota
pasukan infiltrasi RI Macan Tutul yang selamat dari
serangan Belanda.131 PG-400 diberangkat dari pulau
Gebe dengan tujuan Lam-lam. Mereka berangkat

129) R. Ridhani, Op. Cit, hal. 136.
130) Op. Cit, hal. 59. Sumber lain menyebutkan bahwa Tim-2 PG-300 ini berhasil ditawan
oleh pasukan Belanda. Lihat Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Op. Cit, hal. 226-229.
131) R. Ridhani, Ibid. Sumber lain menyebutkan bahwa jumlah anggota PG-400 adalah
sebanyak 39 orang. Lihat Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Ibid, hal. 230.

101

dengan memakai 4 buah perahu motor. Dalam
perjalanan mereka diketahui oleh patroli Belanda,
sehingga terjadilah tembak menembak antara kedua
belah pihak. Dalam kontak senjata tersebut tidak ada
jatuh korban. Kemudian PG-400 ini berhasil sampai
ketujuan dan berhasil membuat kantong-kantong
pertahanan disana. Setelah tercapainya gencatan senjata
antara pemerintah Indonesia dengan Belanda, anggota
PG-400 dibawa ke Sorong, kemudian ke Ambon dan
selanjutnya dibawa ke Jakarta.132)

e. PG-500.

Pada bulan Maret 1962 juga diberangkatkan PG-
500 dengan kekuatan 87 orang dibawah pimpinan
Letnan Muda J. Kumontoy. Anggota PG-500 ini adalah
mantan tentara Permesta yang telah kembali
kepangkuan Ibu Pertiwi. Mereka ini telah terbiasa hidup
di hutan belantara di pulau Halmahera. Dengan
menggunakan 4 buah perahu berukuran antara 2 sampai
4 ton, yang dilengkapi dengan ”outboard motor”
berkekuatan 50 PK, PG-500 berangkat dari pulau Gebe
menuju pulau Waigeo.133)

132) R. Ridhani, Ibid, hal. 137.
133) Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Ibid. Sumber lain menyebutkan bahwa kekuatan PG-
500 adalah sebanyak 37 orang. Lihat R. Ridhani, Ibid. Begitu pula tentang keberangkatan
PG-500 bahwa ada sumber yang menyebutkan PG-500 berangkat dari pulau Gebe tanggal
15 Juli 1962. Lihat M. Cholil, Op. Cit, hal. 59.

102

Tampak Sukarelawati Trikora siap berpartisipasi mengembalikan
Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi. (Sumber : Dokumen Disjarahad)

Di pulau Waigeo PG-500 bertemu dengan
rombongan lain yang bertugas sebagai team
penerangan. Team ini berkekuatan 1 regu yang terkenal
dengan nama rombongan Herlina. Kedua kelompok ini
kemudian bergabung untuk melakukan penyusupan
bersama-sama ke daratan Papua. Kedua rombongan ini
kemudian memasuki Teluk Arugu di sebelah barat laut
Sorong, dan PG-500 pada tanggal 17 Juli 1962 berhasil
masuk Sansopar. Di Sansopar PG-500 melakukan
kegiatan-kegiatan diantaranya menurunkan bendera
Belanda menggantikannya dengan bendera Merah
Putih dengan jalan merobek bagian yang berwarna
biru. Pada tanggal 18 Juli 1962 PG-500 berhasil
menghancurkan instalasi radio Belanda di daerah
tersebut, sehingga hubungan radio Belanda dari daerah

103

itu keluar menjadi terputus. Pada malam harinya
terjadi kontak senjata antara PG-500 dengan pasukan
Belanda, yang mengakibatkan jatuhnya 2 orang korban
dipihak PG-500.134)

PG-500 kemudian meneruskan perlawanan di
daerah Kepala Burung sehingga sering terjadi
pertempuran dengan pasukan Belanda, seperti di
Weru, Baturumah dan Wenari. Pertempuran-
pertempuran tersebut terjadi pada tanggal 6 sampai 15
Agustus 1962. PG-500 ini semula berencana untuk
merebut seluruh wilayah Kepala Burung. Akan tetapi
rencana ini kemudian dihentikan karena adanya
perintah ”cease fire”. Kemudian mereka mengadakan
konsolidasi serta tetap tinggal ditempat kedudukan
masing-masing.135)

f. PG-600.

Pada tanggal 23 Maret 1962 dari Pos Selatan
yang berpusat di kepulauan Aru diberangkatkan PG-
600 dengan kekuatan 31 orang, yang dipimpin oleh
Maksum. Selain PG-600 tersebut juga dikirim pasukan
dari Kompi R/XV dibawah pimpinan Letnan Nussy.
Kedua pasukan ini masing-masing berangkat dari Ujir
dan Karwi menuju arah sungai Jera. Rombongan PG-
600 berangkat dengan mempergunakan 3 buah
perahu. Dalam perjalanan mereka dipergoki oleh
pasukan patroli Belanda dan kemudian mereka

134) M. Cholil, Ibid.
135) Ibid, hal. 59-60.

104

diserang. Akibatnya 7 orang anggota PG-600 yang
berada dalam 1 kapal tongkang gugur dan 24 orang
dibawah pimpinan Octavianus Marani berhasil
mendarat dengan selamat ditempat tujuan. Kejadian ini
terjadi dilautan antara Teluk Etna dan kepulauan Watu
Belah.136)

Berhubung kekuatan pasukan Belanda di Papua cukup
tangguh maka pelaksanaan penyusupan-penyusupan diatur
kembali sesuai dengan situasi yang dihadapi. Oleh sebab itu
kemudian keluarlah Petunjuk Operasi dari Panglima Komando
Mandala No. POPS/02/SR/3/62 Maret 1962. Isi dari Petunjuk
Operasi ini hampir sama dengan POPS No. 01, dengan tugas
lebih mempergiat usaha-usaha infiltrasi dan mengadakan
persiapan-persiapan untuk menghadapi serangan balas dari
pasukan Belanda.137)

Menindaklanjuti Petunjuk Operasi tersebut maka
didatangkanlah pasukan Brigade Infanteri 2/Angkatan Darat
Mandala, yang dipimpin oleh Letkol Sumeru. Pada mulanya
Brigif-2 bermarkas di Jailolo dan karena kesulitan komunikasi
kemudian markasnya dipindahkan ke Ambon. Brigif-
2/Angkatan Darat Mandala berkekuatan 3 batalyon, yaitu :
pertama, Batalyon 515, bermarkas di Jailolo Kedua, Batalyon
516, bermarkas di Gorong (Seram Timur). Ketiga, Batalyon
521, bermarkas di Tual (Maluku Tengah). Sebagian dari
kesatuan-kesatuan tersebut disiapkan untuk melaksanakan

136) Ibid, hal. 60-61. Sumber lain menyebutkan bahwa PG-600 ini adalah bagian dari
Kompi Letnan Nussy, batalyon 700/R. Lihat Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Op. Cit, hal.
231.
137) M. Cholil, Ibid, hal. 61.

105

infiltrasi, yaitu 2 Kompi dari Batalyon 515, 2 Kompi dari
Batalyon 516 dan 1 Kompi dari Batalyon 521.138)

Dalam rangka menambah kemampuan dan kekuatan
Brigif-2/Angkatan Darat Mandala, maka pada brigif ini
diperbantukan 1 Detasemen Pelopor Brimob yang dipimpin
oleh AKP Anton Soedjarwo. Selain itu juga diperbantukan 2
buah kapal, yaitu DKN 901 yang dipimpin oleh IP-I A.A
Hutagaol dan DKN 903 yang dipimpin oleh IP-II E. Piay. DKN
901 kemudian dijadikan Markas Comando Operasi Brigif-
2/Angkatan Darat Mandala (MCO Brigif-2).139)

Selain Brigif-2/Angkatan Darat Mandala, kemudian
juga dikirim Brigade Infanteri-1, yang dipimpin oleh Letnan
Kolonel Inf. Tjiptono Setiabudi dan wakilnya Mayor Inf.
Sabdono. Brigif-1 ini berkekuatan 3 batalyon, dimana 2
batalyon berkualifikasi raiders (Banteng Raiders dan Sumatera
Raiders) dan 1 batalyon infanteri. Salah satu kompi dari
Batalyon 454/Banteng Raiders, yaitu Kompi Kartawi telah
terlebih dahulu diberangkatkan dengan kapal Karangraja.140)

Kedua brigif ini di lengkapi dengan peralatan tempur
dan jaringan komunikasi yang baik. Kepada kedua brigif ini di
B/P kan speed boat fibre glass dari Kompi Speed boat Batalyon
Angair-2 ADLA. Tugas kedua brigif ini adalah menunjang
kegiatan infiltrasi, baik lewat laut maupun udara melalui Pos
101/Hanggada, Pos 102/Kapi Jembawan, Pos 103/Hanila dan
Wahai. Pasukan-pasukan infiltran telah dikumpulkan di pos-

138) Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Op. Cit, hal. 234.
139) Ibid, hal. 234.
140) Ibid.

106

pos ini dan di Wahai, yang akan melakukan penyusupan
secara besar-besaran. Pelaksanaan penyusupan ini akan dibagi
dalam 2 tahap, yaitu infiltrasi melalui laut dan udara.141)

a. Pos 101.

Pos 101/Hanggada (bagian selatan) telah
diperluas sampai ke Tual. Di Pos 101/Hanggada ini
telah disiapkan kekuatan yang berasal dari pasukan
Batalyon 521/Brawijaya dan 1 Kompi dari Batalyon R-
700 (Kompi Nussy). Pasukan ini akan didaratkan di
daerah Kaimana. Pelaksanaan operasi dari Pos
101/Hanggada ini berdasarkan Perintah Operasi Badar
Lumut No. PO-05/PO/SR/6/62 tanggal 28 Juni 1962.
Pada tanggal 28 Juni 1962 dengan menggunakan 5
buah kapal, yang terdiri dari 3 kapal cepat Terpedo
Kelas Rusia dan 2 buah kapal MTB Kelas Jaguar dari
Pos 101/Hanggada direncakan untuk
memberangkatkan Kompi Nussy dari Batalyon R-
700.Disamping itu juga telah disiapkan unsur bantuan
yaitu : AL Karang Raya-(Tender MTB), RI Bunyu-
(Oiler), RI Hasanudin-Bantuan terbatas, DKN 901,
DKN 903-Trooplift dan SAR.142) Pelepasan Kompi
Nussy ini rencananya akan dilaksanakan oleh Panglima
Mandala Mayjen TNI Soeharto, Panglima ALLA
Kolonel (P) Soedomo dan Puskopan ALLA Kolonel (P)

141) Ibid.
142) Kapal-kapal tersebut adalah : RI Ribut dengan Komandan Letnan (P) Sujadi, RI Angin
Gending dengan Komandan Letnan (P) Ktut Temadja, RI Prahara dengan Komandan
Letnan (P) A.M. Sultan, RI Harimau dengan Komandan Mayor (P) Samuel Muda, dan RI
Anoa dengan Komandan Letnan (P) H. Basiri. Ibid, hal. 235.

107

Machmud Subarkah. Ketiga pimpinan Mandala
tersebut sudah berada di atas kapal RI Bunyu.143)

Pada hari H keberangkatan Kompi Nussy

tersebut, recconaisance (Recce) AULA

mengimformasikan bahwa di depan pantai Kaimana

ada kapal-kapal destroyer dan fregat Belanda.

Mendengar imformasi tersebut Panglima Komando

Mandala memerintahkan untuk menunda

keberangkatan Kompi Nussy selama 1 hari. Namun

setelah 3 hari kapal-kapal Belanda tersebut masih

berada di depan pantai Kaimana. Oleh sebab itu

akhirnya Panglima Komando Mandala membatalkan

operasi tersebut. Kemudian Kompi Nussy

diperintahkan untuk kembali ke Wahai.144)

b. Pos 102.

Penyusupan dari Pos 102/Kapi Jembawan
dikirimlah satuan-satuan yang bertujuan untuk
mendapatkan informasi-imformasi intelijen dan
dipusatkan di Gorong/Seram. Kegiatan pasukan-
pasukan penyusup berbentuk team pengintai yang
dilaksanakan berulang kali, yaitu :

1) Team Pengintai I, berangkat pada tanggal

13 Maret 1962 menuju Teluk Patipi dengan tugas

menyebarkan pamflet-pamflet untuk

meningkatkan semangat perjuangan rakyat

setempat. Team tersebut kembali ke Pos pada

143) Ibid.
144) Ibid.

108

tanggal 19 Maret 1962 dengan membawa serta
adik raja Patipi. Adik raja Patipi ini merupakan
utusan Kepala Masyarakat Patipi untuk
menyatakan dukungannya terhadap Pemerintah
Republik Indonesia.

2) Team Pengintai II, juga berangkat pada
tanggal 13 Maret 1962, tetapi baru setengah
perjalanan mereka kembali ke Pos. Hal ini
disebabkan karena peralatan yang dipergunakan
sangat sederhana, yaitu hanya perahu jenis kole-
kole, sedangkan perjalanan yang akan ditempuh
sejauh 140 mil.

3) Team Pengintai III, berangkat pada
tanggal 6 Mei 1962 dengan tujuan mencari
informasi di pulau Missol. Meskipun dengan
susah payah, team ini berhasil mencapai sasaran
dan kembali ke Wahai di Seram Utara dengan
selamat. Sejalan dengan pembentukan
Komando Mandala, maka tugas-tugas mencari
imformasi dengan infiltrasi ini dilanjutkan oleh
Kompi Batalyon 530/R dan Detasemen Pelopor
Brigade Mobil.145)

Setelah dibentuknya Komando Mandala, dari
Pos 102/Kapi Jambawan telah 5 kali dikirim team
penyusupan baik yang dilakukan oleh anggota
Batalyon 530/R maupun oleh anggota Detasemen
Pelopor Brigade Mobil dan semuanya mengalami

145) M. Cholil, Op. Cit, hal. 60.

109

kegagalan. Walaupun sering mengalami kegagalan,
pengiriman team penyusup dari Pos ini tetap
dilanjutkan.

Pada tanggal 4 April 1962 diberangkatkan
kembali 30 orang anggota Menpor Brimob dengan 2
buah perahu yang dilengkapi motor tempel Johnson.
Pasukan ini dipimpin oleh Aiptu Hudaya Sumarya.
Dalam perjalanan tiba-tiba datang badai sehingga 1
buah perahu pecah dan tenggelam. Rombongan
pasukan ini terpaksa kembali untuk menyelamatkan
anggota yang perahunya tenggelam. Pada tanggal 13
Mei 1962 diberangkatkan kembali 30 orang anggota
Menpor Brimob yang dipimpin oleh Aipda Sumarno.
Mereka berangkat dengan perahu layar yang
dilengkapi dengan motor Johnson. Pada pukul 5 pagi,
ketika mereka sudah mendekati pantai sebelum sempat
mendarat di sasaran, mereka ditangkap oleh kapal
perang Belanda sehingga penyusupan ini gagal
kembali.146)

146) Op. Cit, hal. 236.

110

Resimen Pelopor BRIMOB menuju garis depan dalam upaya merebut kembali Irian
Barat (Sumber: Buku 25 Tahun Trikora)

Tanpa mengenal putus asa, pada tanggal 7
Agustus 1962 dari Pos 102/Kapi Jambawan
diberangkatkan 65 orang anggota Menpor Brimob.
Keberangkatan pasukan ini berdasarkan Perintah
Operasi Komandan Brigade-2. Dalam rombongan ini
juga terdapat 5 orang sukarelawan. Pasukan dipimpin
oleh Aipda Hudaya Sumarya. Pasukan ini berangkat
dengan 2 buah speed boat fiberglass dari Batalyon
Angair-2/ADLA. Speed boat ini dipimpin oleh Danton
Capa Suyanto I Kompi speed boat. Keberangkatan
rombongan dilepas oleh AKP Anton Sudjarwo dengan
disaksikan oleh Kas Brigade-2 Letnan Kolonel Witarmin.
Pada pukul 12 malam mereka berhasil mendarat di
Jazirah Onin, Tanjung Fatagar, daerah Rumbati Fak-Fak.
Waktu speed boat yang membawa pasukan akan
kembali, diperjalanan diserang oleh pesawat Neptune

111

Belanda, namun dapat dilindungi oleh pesawat MIG-17.
Akhirnya speed boat tersebut dapat kembali dengan
selamat.147)

Dari Pos 102/Kapi Jembawan ini juga disiapkan
Batalyon 516/Brawijaya, Ki R Kalimantan dan Denpor
Brimob. Batalyon 516/Brawijaya dan Denpor
Kalimantan telah melaksanakan latihan pendaratan
bersama Ton-I Kompi Speed Boat untuk persiapan
infiltrasi. Selain itu juga ada 1 Kompi Batalyon 530/R
yang dilatih menjadi pasukan Para, untuk disiapkan
bertugas di Operasi Naga.148)

c. Pos 103.

Pos 103/Hanilo kemudian diperluas sampai
Patani dan Jailolo. Di pos ini telah disiapkan pasukan
dari Batalyon 515/Brawijaya. Penyusupan pasukan dari
Pos 103/Hanilo dikawal oleh MTB. Penyusupan dari pos
ini tidak berhasil mencapai sasaran.149)

d. Pos Wahai.

Pada tanggal 4 Agustus 1962, 1 Kompi Batalyon
R-700 dibawah pimpinan Thomas Nussy dengan
menumpang KU-ADRI XIV tiba di Wahai. Kompi ini
berasal dari Kodam XV/Pattimura, di Ambon. Pada
tanggal 6 Agustus 1962 keluarlah TR Kas Brigif-2 No. TR
016/MCO/1962. Isi dari TR tersebut adalah menugaskan
Ton-2 Speed Boat untuk membawa Kompi Nussy ke
Pulau Missol. Pada tanggal 7 Agustus 1962, pukul 19.15
waktu setempat, Kompi Nussy dengan kekuatan 99

147) Ibid, hal. 236-237.
148) Ibid, hal. 237.
149) Ibid.

112

orang berangkat menuju kampung We, di Pulau Missol.
Rombongan ini dipimpin langsung oleh Lettu Nussy.
Pasukan ini berangkat dengan menggunakan 3 buah
Speed Boat Fiberglass, yaitu Puntodewo, Sadewo dan
Nakulo, dibawah pimpinan Dan Ton-2 Kompi Speed
Boat, Capa Djamran Hasan. Dalam perjalanan setelah
melewati perbatasan, satu mesin Speed Boat
Puntodewo mengalami kerusakan, sehingga Speed Boat
tersebut berjalan hanya dengan menggunakan 1 mesin.
Dua Speed Boat yang lainnya terpaksa mengurangi
kecepatan. 150 meter menjelang pantai, mesin Speed
Boat Puntodewo yang satu lagi juga mengalami
kerusakan. Capa Djamran Hasan memerintahkan
supaya Speed Boat yang dua terlebih dahulu
mendaratkan pasukan kepantai dan kemudian baru
menarik Speed Boat Putodewo kepantai.150)

Selama menunggu di laut, anak buah Kompi
Nussy yang ada di Speed Boat Puntodewo sedikit panik.
Hal ini disebabkan karena tidak jauh dari sasaran
pendaratan, terlihat kode lampu yang diperkirakan
berasal dari musuh. Capa Djamran Hasan sempat
ditodong dengan senjata oleh 2 orang anak buah Lettu
Nussy, masing-masing berpangkat Sersan dan Kopral.
Sambil menodongkan senjata, kedua anak buah Lettu
Nussy berkata ”Capa Djamran Hasan adalah mata-mata
Belanda”. Untuk mengatasi situasi ini, Capa Djamran
Hasan berkata ”saya ini angkatan 45 dan sudah sering
mengalami pertempuran di mana-mana”. Mendengar
perkataan Capa Djamran Hasan, kemarahan anak buah
Lettu Nussy kemudian menjadi reda. Akhirnya pada

150) Ibid, hal. 237-238.

113

pukul 24.00 waktu setempat, setelah ditarik oleh Speed
Boat Sadewo dan Nakulo, pasukan yang berada di
Speed Boat Puntodewo berhasil didaratkan dengan
selamat. Pada tanggal 8 Agustus 1962, pukul 08.00
waktu setempat ketiga Speed Boat tersebut sampai
kembali di pangkalan semula, Pos Wahai.151)

Baru saja tiba di Pos Wahai, datang lagi perintah
kepada Capa Djamran Hasan untuk membawa 1 Peleton
sisa Kompi Nussy dan 56 orang anggota KKO. Pada
tanggal 11 Agustus 1962, dari Pos Wahai
diberangkatkanlah 1 Peleton sisa Kompi Nussy dengan 2
buah Speed Boat. Sedangkan 56 orang anggota KKO
diberangkatkan dengan 5 buah kapal cepat terpedo.
Kelima kapal cepat yang membawa anggota KKO
tersebut adalah :

1) RI Badai, dengan Komandan Letnan
Muda (P) Wiwoko.

2) RI Angin Gending, dengan Komandan
Letnan Muda (P) Ktut Temadja.

3) RI Angin Ribut, dengan Komandan Letnan
(P) Sujadi.

4) RI Angin Puyuh, dengan Komandan
Letnan Muda (P) Ari Siswadi.

5) RI Prahara, dengan Komandan Letnan
Muda (P) Andi Mappatola Sultan.152)

Komandan Peleton Speed Boat Capa Djamran
Hasan menyarankan formasi pada saat berangkat,

151) Ibid, hal. 238.
152) Ibid, hal. 239.

114

adalah : di depan sekali RI Badai, berurut ke belakang
RI angin Puyuh dan RI Angin Ribut. Di tengah-tengah
Speed Boat Bima dan Nakula. Di belakang kanan RI
Angin Gending dab di belakang kiri RI Prahara. Diantara
RI angin Gending dan RI Prahara agak di belakang Speed
Boat.153)

Di tengah-tengah perjalanan, sekitar pukul 23.00
waktu setempat kapal MTB melihat di layar radar ada
Pesawat Neptune Belanda yang mendekat. Kapal MTB
kemudian melepaskan tembakan ke arah Pesawat
Neptune Belanda tersebut. Suasana menjadi panik,
khususnya para penumpang di Speed Boat. Dalam
waktu yang sangat singkat muncullah Pesawat Neptune
Belanda dan pesawat itu menjatuhkan peluru suar.
Akibatnya sekitar posisi konvoi Speed Boat menjadi
terang benderang. Pada waktu yang bersamaan Kapal
Perang Belanda yang berada di depan konvoi tersebut
melepaskan tembakan dengan meriam dan roket.
Antara MTB dan Speed Boat tidak ada hubungan radio,
sehingga tidak dapat diadakan kontak. Dalam situasi
yang demikian kapal MTB dengan cepat menghilang
guna menghindari tembakan kapal perang Belanda.
Sedangkan kedua Speed Boat tetap dalam formasi
semula. Komandan Peleton Speed Boat Capa Djamran
Hasan mengambil alih pimpinan kapal, dan
memerintahkan kedua Speed Boat untuk menerobos
kepungan kapal Belanda menuju sasaran pendaratan.154)

Speed Boad Nakula yang dipimpin oleh
Komandan Regu-nya Sersan Wagio terus diburu oleh

153) Ibid.
154) Ibid,

115

Pesawat Neptune Belanda menuju Pulau Missol.
Beberapa ratus meter lagi menjelang pantai, Speed Boat
ini kandas dikarang. Komandan Regu Sersan Wagio
memerintahkan semua anggotanya untuk terjun ke laut.
Tidak lama setelah mereka terjun ke laut, sebuah roket
yang ditembakkan dari Pesawat Neptune menghantam
Speed Boat Nakula. Berkat dorongan ombak anak buah
Sersan Wagio ini pada pukul 23.45 waktu setempat
berhasil dengan selamat sampai di pantai, 8 mil dari
Kampung We. Apabila mereka mendarat ditempat yang
direncakan semula, mungkin korban yang jatuh akan
banyak karena tempat tersebut telah dijaga oleh
Pasukan Marinir Belanda.155)

Penumpang Speed Boat Nakula yang selamat
tersebut kemudian mencari kampung terdekat. Dengan
bantuan penduduk yang pro Indonesia akhirnya mereka
dapat menemui induk pasukannya Kompi Nussy.
Selama bergerilya di Pulau Missol, mereka beberapa kali
kontak senjata dengan pasukan Marinir Belanda. Dalam
kontak senjata tersebut sebanyak 16 orang pasukan
Marinir Belanda tewas, termasuk seorang Komandan
Kompinya, yang bernama Lettu Terzee Wostman.
Sedang dipihak pasukan Indonesia 2 orang gugur.
Dalam melaksanakan gerilya di Pulau Missol ini, Kompi
Nussy banyak mendapat bantuan dari penduduk
setempat berupa bahan makanan seperti sagu dan lain-
lain.156)

Penerobosan terhadap kepungan kapal perang
Belanda yang dilakukan oleh Speed Boat Bima yang

155) Ibid, hal. 240.
156) Ibid.

116

dipimpin oleh Komandan Peleton Capa Djamran Hasan
dikejar oleh kapal-kapal perang Belanda. Dibawah
desingan peluru meriam dan roket dari kapal perang
Belanda, Capa Djamran Hasan melarikan Speed Boat di
celah-celah karang. Sekitar pukul 09.00 waktu setempat
mereka sampai di Kepulauan Seram Timur. Kemudian
Speed Boat Bima tersebut kandas di atas karang. Kuatir
akan diganggu oleh gerombolan RMS yang ada di pulau
tersebut, Capa Djamran Hasan memerintahkan anak
buahnya terjun ke laut dan mendorong Speed Boat
keluar dari karang. Dengan bantuan ombak, Speed Boat
berhasil didorong keluar dari karang dan melanjutkan
perjalanan ke Wahai. Pada pukul 11.00 waktu setempat
mereka tiba ditempat tujuan.157)

Sesuai dengan tahap infiltrasi yang dikendalikan
oleh komponen ADLA, Angkatan Laut juga
melaksanakan operasi-operasi penyusupan. Tugas dari
satuan-satuan Angkatan Laut ini adalah :

a. Patroli perang (War Patrol) di perairan
perbatasan wilayah Irian Barat untuk
mengimbangi aktivitas musuh.

b. Pengintaian (Reconnaissance).

c. Pengembangan dan konsolidasi
pangkalan-pangkalan depan bagi persiapan
operasi militer besar yang terletak di perbatasan
Irian Barat.158)

Dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas tersebut, satuan-
satuan Angkatan Laut dikendalikan oleh Komando Depan

157) Ibid, hal. 240-241.
158) M. Cholil, Op. Cit, hal. 63.

117

Angkatan Laut Mandala (Kopanalla). Dalam tugasnya
Kopanalla terdiri atas :

a. Angkatan Tugas (AT) – 11, yang terdiri dari Kapal
Selam RI Nanggala.

b. AT – 12, yang terdiri dari Kapal Fregat RI Surapati
dan RI Imam Bonjol.

c. AT – 13, yang terdiri dari Kapal Selam RI Todak
dan RI Babura.

d. AT – 14, yang terdiri dari Salvage/Tender RI
Rekata.

e. AT – 15, yang terdiri dari Kapal Buruselam RI
Layang dan RI Lumajang.

f. AT – 16, yang terdiri dari Kapal Penyapu Ranjau
RI Pulau Rengat, RI Roma dan RI Pulau Rangsang.

g. AT – 17, yang terdiri dari Kapal Korvet RI
Pattimura dan Kapal Tanker RI Bunju.159)

Pada fase infiltrasi, operasi yang dilaksanakan oleh
Angkatan Laut Mandala (ALLA) terbagi atas beberapa tahap,
yaitu Operasi Show of Force, Operasi Cakra, dan Operasi
Lumba-lumba.

a. Operasi Show of Force. Operasi ini terdiri atas
Operasi Antareja dan Operasi Alugara. Operasi Antareja
adalah Operasi Kapal Selam yang berlangsung antara 28
Februari sampai 2 Mei 1962, dengan unsur RI Nanggala.
Tugas dari operasi ini adalah mengadakan pengintaian
di kota-kota pelabuhan sepanjang pantai Irian Barat.
Selain itu juga melakukan patroli perang ke wilayah

159) Ibid, hal. 63-64.

118

perairan musuh, pengintaian dan penyerangan kapal-
kapal perang musuh apabila keadaan menguntungkan.
Melaporkan tentang posisi dan kegiatan kapal perang
Angkatan Laut Belanda setiap waktu diperlukan.
Sedangkan Operasi Alugara melibatkan unsur-unsur
satuan Kapal Selam RI Wijayadana, RI Hendrajaya dan
RI Alugara. Tugas dari operasi ini adalah
menenggelamkan kapal-kapal perang dan kapal niaga
musuh sepanjang Pantai Utara Irian Barat. Kegiatan ini
merupakan operasi khusus diluar Operasi Jayawijaya,
dan langsung dibawah KSAL. Maksudnya adalah untuk
mengamankan Operasi Amphibi yang akan
dilaksanakan oleh satuan-satuan Operasi Jayawijaya
dari kemungkinan bahaya serangan mendadak, khusus
untuk mencegat dan menghancurkan kapal-kapal
perang Belanda yang akan melarikan diri ke utara.
Kesatuan kapal selam tersebut ditempatkan dalam
rayon-rayon pencegatan di sepanjang pantai utara di
Irian Barat diluar kegiatan satuan Operasi Jayawijaya.
Operasi Alugara ini semulanya direncanakan tanggal 28
Juli sampai 26 Agustus 1962, tetapi pada tanggal 15
Agustus 1962 sudah ditarik karena telah tercapainya
persetujuan antara Pemerintah RI dengan Belanda di
New York.160)

160) Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Op. Cit, hal. 241-242.

119

Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962 menghasilkan kesepakatan
bahwa Belanda akan menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia melalui PBB
serta akan diadakan penentuan pendapat masyarakat Irian Barat. (Sumber:
http://oppb.webs.com)

b. Operasi Cakra. Operasi ini berlangung pada
tanggal 20 Juli sampai 29 Juli 1962. Operasi Cakra
adalah Operasi Kapal Selam, dimana unsur-unsur yang
digunakan adalah :

1) 503 RI Nagabanda, komandannya adalah
Mayor Pelaut Wignyo Prayitno dengan wilayah
pengawasan antara Kotabaru – Biak.
2) 504 RI Trisula, komandannya adalah
Mayor Pelaut Teddy Asikin Nataatmaja dengan
wilayah pengawasan antara Biak-Yapen.

120

3) 505 RI Candrasa, komandannya adalah
Mayor Pelaut Mardiono dengan wilayah
pengawasan antara Numfor-Manokwari.
4) 506 RI Nagarangsang, komandannya
adalah Mayor Pelaut Agus Subroto dengan
wilayah pengawasan daerah Sorong sekitarnya.

Pada awal tahun 1962 kapal selam RI Nagabanda diberangkatkan
dari Surabaya menujuTeluk Halmahera, dalam operasi Cakra
berhasil menerobos pertahanan Belanda di Irian Barat. (Sumber :
Buku Trikora Pembebasan Irian Barat).

Maksud dilaksanakannya Operasi Cakra adalah
untuk memperoleh keunggulan di laut sebagai persiapan
Operasi Amphibi dalam rangka Operasi Jayawijaya.
Tugas dari kapal-kapal selam tersebut adalah
melaksanakan pengintaian di kota-kota pelabuhan
penting di irian Barat dengan jalan perburuan bebas

121

(free hunting) dan perang perbatasan. Sesuai dengan
tugasnya, keempat kapal selam tersebut ditempatkan di
Kotabaru (sekarang Jayapura), Biak, Manokwari, dan
Sorong. Pengintaian dilakukan secara rahasia, dan setiap
ada perubahan atau sesuatu yang mencurigakan, segera
dilaporkan kepada pimpinan, agar pimpinan
memperoleh data tentang musuh yang mutakhir. Data-
data tentang musuh ini diperlukan untuk Operasi
Amphibi, agar pasukan yang didaratkan tidak
terdadak.161)

c. Operasi Lumba-lumba. Pada tanggal 25 Juli 1962
keluarlah Perintah Operasi Panglima Mandala nomor :
7/PO/SR/6/62, tentang Pelaksanaan Operasi Lumba-
lumba. Unsur-unsur yang digunakan dalam operasi ini
adalah :

1) RI Candrasa, dengan komandan Mayor
Pelaut Mardiono.

2) RI Nagarangsang, dengan komandan
Mayor Pelaut Agus Subroto.

3) RI Trisula, dengan komandan Mayor
Pelaut Teddy Asikin Nataatmaja.162)

Tugas dari Operasi Lumba-lumba ini adalah
mendaratkan tim khusus RPKAD di Teluk Tanah Merah,
suatu pantai dekat Kotabaru. Tugas dari Pasukan Khusus
RPKAD ini adalah :

161) Ibid, hal. 242-243.
162) Ibid, hal. 244.

122

1) Sabotase obyek-obyek vital untuk
melumpuhkan kekuatan Belanda, sehingga
pasukan yang akan didaratkan pada Operasi
Jayawijaya tidak menemui banyak perlawanan.
Tim khusus RPKAD untuk tugas sabotase ini
didaratkan dengan RI Nagarangsang.

2) Mempersiapkan rakyat setempat agar ikut
mengangkat senjata melawan Belanda. Tim
khusus RPKAD untuk tugas pemerintahan
sipil/menyiapkan rakyat setempat ini didaratkan
dengan RI Candrasa.163)

Tim -2/DPC-RPKAD sedang menjalani latihan di atas kapal selam
(Sumber : Buku Trikora Pembebasan Irian Barat)

Tim khusus RPKAD ini berjumlah sebanyak 45
orang, yang berasal dari Tim-2 Detasemen Pasukan
Khusus (DPC) dibawah pimpinan Lettu Dolf
Latuhamina. Tim khusus ini telah beberapa lama berada

163) Ibid.

123

di atas kapal RI Bengawan di Supu-supu, bagian utara
Pulau Halmahera. Keseluruhan anggota Tim Khusus
RPKAD dinaikkan ke atas ketiga kapal selam tersebut
diatas. Tiap kapal selam mengangkut 15 orang anggota
tim. Komandan tim Lettu Dolf Latumahina naik kapal
selam Trisula.164)

Ketiga kapal selam yang membawa tim khusus
RPKAD tersebut dikawal oleh dua buah kapal selam
lainnya. Sasaran pendaratan adalah Teluk Tanah Merah,
dekat kampung Deprape. Tim ini direncakan akan
menyusun pangkalan gerilya di gunung Cyclope.
Keberangkatan ketiga kapal selam ini kemudian
diketahui oleh Belanda, sehingga ketika kapal selam
memasuki Teluk Galvin ditembaki oleh pasukan Belanda
dari kapal fregat Heversum dengan bom laut. Akibat
serangan pasukan Belanda tersebut kapal selam RI
Nagarangsang mengalami kerusakan, sehingga terpaksa
kembali kepangkalan. Dua kapal selam RI yang lain terus
melanjutkan pelayaran menuju sasaran. Ketika kedua
kapal selam RI itu berada di Teluk Tanah Merah
dihadang oleh kapal perang Belanda. Pasukan Belanda
menembakkan peluru suar, sehingga daerah tempat
kedudukan kedua kapal selam RI itu menjadi terang
benderang. Komandan Tim Khusus RPKAD Lettu Dolf
Latumahina meminta kepada Mayor (Pelaut) Teddy
Asikin untuk mengalihkan sasaran pendaratan ke
Hollandia. Permintaan Komandan Tim Khusus RPKAD
ini ditolak oleh Mayor (Pelaut) Teddy Asikin. RI

164) Ibid, hal. 244-245.

124

Candrasa sempat mendaratkan anggota Tim Khusus
RPKAD dengan sekoci karet. Akan tetapi sebuah sekoci
karet pecah dan terdampar, sehingga mereka ditawan
Belanda, diantaranya adalah Lettu Drs. Wijoso.
Sedangkan sebuah kapal lainnya tidak sempat
melaksanakan tugasnya karena selalu kontak dengan
pesawat Neptune dan Freegat Belanda.165)

Operasi Lumba-lumba sedang berlangsung,
Persetujuan New York ditandatangani. Namun RI
Candrasa tetap melaksanakan tugas untuk menjaga
kemungkinan apabila Belanda ingkar janji terhadap
Perjanjian New York tersebut. Belanda melaksanakan
penjagaan yang sangat kuat dengan menggunakan kapal
patroli anti kapal selam dan dengan pesawat-pesawat
Neptune. Pada tanggal 21 Agustus 1962, RI Candrasa
berhasil mendaratkan semua Tim Khusus RPKAD di
Teluk Tanah Merah, dekat Hollandia.166)

Unsur-unsur Angkatan Udara juga melaksanakan
infiltrasi-infiltrasi ke wilayah Irian Barat. Untuk menghadapi
operasi-operasi dalam rangka pembebasan Irian Barat tersebut
telah dilakukan penambahan kekuatan unsur-unsur Angkatan
Udara, dengan tujuan :

a. Melumpuhkan kekuatan udara Belanda guna
memperoleh keunggulan udara. Penambahan kekuatan
untuk tujuan ini adalah berupa pesawat-pesawat
pemburu strategis dan taktis TU-16 KS, TU-16, IL-28, dan

165) Ibid, hal. 245. Sumber lain menyebutkan bahwa RI Candrasa berhasil mendaratkan
semua Tim Khusus RPKAD dengan selamat, lihat M. Cholil, Op. Cit, hal. 66.
166) Ibid.

125

pesawat-pesawat pembom konvensional B-25 dan B-
26.

b. Mempertahankan keunggulan di udara yang
telah dicapai dengan pesawat tempur MIG-17 dan MIG-
21. Pesawat ini dilengkapi dengan peluru kendali dari
udara ke udara, untuk menandingi pesawat-pesawat
Belanda yang menggunakan peluru kendali jenis Side
Winders.

c. Keperluan pengangkutan udara. Untuk
keperluan ini dipakai pesawat transport bantuan, yaitu
jenis C-130 Hercules, C-47 Dakota dan IL -14 Avia.167)

Setelah diumumkannya Trikora, dibentuklah kesatuan-
kesatuan tempur (KT) yang ditempatkan di pangkalan-
pangkalan bagian timur dekat perbatasan Irian Barat. KT yang
dibentuk tersebut adalah :

a. KT Senopati, yang dibentuk pada awal bulan
Februari 1962 dan dipimpin oleh Mayor Udara Ch.
Lantang. KT Senopati ini berkedudukan di Pangkalan
Udara Morotai dan terdiri dari pesawat-pesawat IL-28,
MIG-17, B-25/26, C-47 Dakota, albatros/Catalina dan
Helikopter. Tugas dari KT Senopati adalah :
Mempersiapkan diri dalam rangka operasi-operasi fisik
(ditekankan kepada kemampuan pesawat, awak
pesawat serta rencana operasi dalam suatu perang
terbuka), sehingga pada 1 Juni 1962 sudah dalam
keadaan siap tempur.

167) M. Cholil, Op. Cit, hal. 66-67.

126

b. KT Baladewa, dipimpin oleh Mayor Udara
Najoan dan berkedudukan di Pangkalan Udara
Hasanuddin (Makasar). KT Baladewa ini merupakan
Kesatuan Transportasi yang terdiri dari 6 buah pesawat
angkut C-47 Dakota. Tugas dari KT Baladewa adalah:

1) Mengangkut personel dan logistik.

2) Mengangkut bala bantuan ke tempat-
tempat yang dianggap terancam bahaya.

3) Mengangkut korban-korban dengan
ambulance kedaerah aman apabila terjadi
pertempuran-pertempuran udara.

4) Melakukan tugas SAR bersama-sama Flight
Albatros dan Helikopter.

5) Jika diperlukan, menyiapkan penerbangan-
penerbangan peninjauan dari Pangkalan dan
Komando atau Staf Angkatan Udara Mandala.

c. KT Bima Sakti, berkedudukan di Pangkalan
Udara Letfuan dan dipimpin oleh Mayor Udara
Sudarman. KT Bima Sakti ini terdiri atas 4 pesawat B-25,
2 pesawat B-26, 6 pesawat P-51 Mustang, dan 1 pesawat
Catalina. Tujuan dibentuknya KT ini adalah untuk
mengimbangi kekuatan bala bantuan Belanda yang
dikirim ke Irian Barat setelah terjadinya pertempuran di
Pulau Gag pada tanggal 25 Maret 1962. Tugas dari KT
Bima Sakti adalah :

1) Melindungi patroli Angkatan Laut
diperbatasan.

127

2) Menghancurkan sasaran-sasaran di Irian
Barat yang akan ditentukan lebih lanjut oleh
Panglima AULA.
3) Memberikan bantuan tempur kepada
Angkatan-angkatan lainnya.
4) Mengadakan pemotretan udara di atas
daratan Irian Barat.168)

Panglima Mandala Mayjen TNI Soeharto (berkacamata) sedang memeriksa medan
operasi diatas sebuah pesawat terbang didampingi Komodor Leo Wattimena pada

pertengahan Agustus 1962. (Sumber : Buku 25 Tahun Trikora)

Pelaksanaan infiltrasi lewat udara dilaksanakan oleh
AULA yang dipimpin Panglima AULA Komodor Udara Leo

168) Ibid, hal. 67-68.

128

Wattimena dan diawasi langsung oleh Panglima Mandala
Mayjen Soeharto. Operasi-operasi infiltrasi tersebut adalah :

a. Operasi Banteng Ketaton. Operasi ini
berdasarkan Perintah Operasi (PO) Panglima Mandala
No. 01/PO/SR/4/1962, tanggal 11 april 1962. Operasi ini
dilaksanakan pada tanggal 26 April 1962 dengan
diterjunkannya pasukan RPKAD dan PGT dengan
sasaran Kaimana dan Fak-fak.

Operasi ini dibagi atas 2 tahap, yaitu :

1) Operasi Banteng I (Banteng Putih),
dipimpin oleh Mayor Udara Nayoan, dengan
sasaran Fak-fak. Operasi ini menerjunkan satu tim
RPKAD/PGT-AU yang berjumlah 42 orang
dibawah pimpinan Letda Agus Hernoto. Operasi
ini menggunakan 3 pesawat Dakota.

2) Operasi Banteng II (Banteng Merah),
dipimpin oleh Kapten Penerbang Santoso, dengan
sasaran Kaimana. Operasi ini menerjunkan 1 tim
RPKAD/PGT-AU yang berjumlah 40 orang
dibawah pimpinan Letda Heru Sisnodo. Operasi
Banteng Ketaton dilakukan pada pagi hari
menjelang fajar menyingsing. Pasukan berangkat
dari lapangan terbang Laha/ Ambon pukul 03.00
dan penerjunan dilakukan pada pukul 05.00 di
dekat Desa Pasir Putih. Pertama kali diterjunkan
adalah logistik baru kemudian anggota pasukan.
Pelaksanaan operasi penerjunan dari udara ini
didahului dengan penerbangan penipuan

129

(deception flight). Pada saat Operasi Banteng ini
dilaksanakan pada tanggal 26 April 1962 tersebut,
selain 6 buah pesawat Dakota yang bertugas
pada hari itu terbang pula 15 buah pesawat AU
lainnya di udara perbatasan Irian Barat. Tujuan
dari 15 buah pesawat tersebut adalah untuk
melakukan desepsi (penipuan) terhadap
pesawat-pesawat Belanda ke arah lain. Pesawat-
pesawat deceptor tersebut sengaja terbang tinggi
sekali agar Belanda dapat melihat dari radarnya.
Apabila Belanda melihat pada radarnya, dapat
dipastikan mereka akan memberitahukan
skadron pemburu yang ada di Jeffman/sorong
dan Kaimana, dan meminta untuk diadakan
pengejaran terhadap pesawat-pesawat tersebut.

Dalam penerjunan ini dua orang anggota
mengalami cedera patah kaki dan alat
komunikasi (radio) rusak, sehingga tidak dapat
digunakan. Dua orang anggota yang patah kaki
dititipkan kepada penduduk. Sikap penduduk
cukup baik, rupanya mereka telah dibina oleh
Belanda, sehingga kedua orang anggota tersebut
mereka serahkan kepada Belanda. Persiapan
logistik yang dibawa cukup untuk satu bulan.
Anggota pasukan ini membawa senjata
Kalashnikov (AK-47) dan dibekali juga dengan
mata uang gulden Papua.

Cara anggota pasukan ini mendekati
sasaran adalah dengan mengikuti pasukan

130

Belanda bila terjadi kontak dan menggunakan
penduduk setempat sebagai penunjuk jalan.
Penduduk yang dijadikan penunjuk jalan ini
ditengah jalan sering melarikan diri. Dalam
perjalanan menuju sasaran sering terjadi kontak
senjata dengan Belanda. Anggota yang gugur
ditinggalkan dan diberi tanda, sedangkan
senjatanya disembunyikan. Bagi mereka yang
sudah tidak sanggup meneruskan perjalanan
karena kekurangan makanan juga ditinggalkan.
Pada saat itu makanan sangat sulit didapat. Kalau
menjumpai tanaman rakyat yang dapat dimakan
seperti talas atau pisang, selalu ditinggalkan uang
gulden sebagai pembayarannya. Dalam
perjalanan tim ini bertemu dengan salah seorang
anggota Banteng Raiders yang tersesat dari induk
pasukannya.

Jarak antara kampung Pasir Putih dan
Kaimana sekitar 20 Km, dan ada jalan setapak.
Belanda mencegat para gerilyawan melalui laut
dan pada tempat-tempat tertentu Belanda
menurutkan anggotanya untuk mengadakan
patroli. Semakin dekat ke Kaimana semakin
sering terjadi kontak senjata. Setiap terjadi
kontak senjata, pasukan gerilyawan semakin
terpecah dalam kelompok-kelompok kecil.

Belanda tidak menduga sebelumnya
bahwa Indonesia akan melakukan Raid Infiltrasi
melalui udara, mengingat rimba raya Irian Barat

131

tidak mungkin dijadikan pangkalan gerilya.
Setelah kejadian itu, kalangan militer Belanda
mulai goyang dan tidak yakin lagi atas
pertahanan udaranya karena dengan mudah
dapat ditembus oleh pesawat-pesawat Dakota.
Sebaliknya, pihak Indonesia semakin yakin
bahwa sasaran-sasaran pokok dapat direbut
secara langsung, kekuatan pasukan dapat
dihemat dan pasukan dipusatkan untuk pukulan
yang menentukan.

Kendala utama yang dihadapi oleh para
gerilyawan adalah tiadanya dihutan-hutan yang
dilalui tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan.
Perkampungan penduduk yang ada disekitar
Kaimana telah dijaga ketat oleh pasukan Belanda
dan mata-mata. Kekurangan makanan
menyebabkan kondisi fisik pasukan menjadi
lemah, gerakan menjadi lambat, dan akhirnya
upaya pengamanan kurang diperhatikan.
Pengalaman Lettu Sarip (pada waktu itu
berpangkat Prada) yang diterjunkan di Kaimana.
Menurut Sarip keadaan medan dan perlawanan
Belanda sebenarnya tidak berat, yang berat
dihadapi oleh pasukan gerilya adalah sulitnya
mendapatkan makanan atau tumbuhan yang
dapat dimakan. Akibatnya kondisi fisik menjadi
lemah. Setiap terjadi kontak dengan Belanda,
pasukan menjadi terpecah-pecah dalam
kelompok-kelompok kecil.

132

Masih pengalaman dari Prada Sarip,
dalam suatu kontak senjata dengan Belanda, ia
bersama tiga orang temannya yaitu Sabaruddin,
Ijang Supardi dan Sumartono terpisah dengan
induk pasukannya. Kemudian mereka berusaha
mendekati suatu perkampungan penduduk untuk
mendapatkan makanan. Rupanya kedatangan
mereka telah ditunggu pasukan Belanda,
sehingga terjadilah kontak senjata. Kelompok
kecil yang empat orang itu terpecah lagi, dan
Prada Sarip tinggal sendirian. Pasukan Belanda
terus melakukan pengejaran. Akhirnya dalam
keadaan kondisi fisik yang lemah Prada Sarip
tertembak dan ditawan Belanda.

Belanda kemudian membawa Prada Sarip
ke Kaimana dan ditahan dalam sel Kantor Polisi
Kaimana. Setelah menjalani interogasi, ia
kemudian dikirim ke Biak, dan kemudian dibawa
ke Pulau Wundi. Di penjara di Pulau Wundi ini
Prada Sarip bertemu dengan Kapten Kartawi,
pasukan Peltu Nana, Serma Boy Thomas, Kapten
Udara Djalaluddin dan Co-Pilot Kandar.

Anggota pasukan yang dipimpin oleh
Letda Heru Sisnodo sampai terjadinya gencatan
senjata terus melakukan gerilya disekitar kota
Kaimana. Berita gencatan senjata diterimanya
melalui pamplet yang dijatuhkan dari udara.
Letda Heru Sisnodo tidak percaya terhadap isi
pamplet tersebut. Ia menduga bahwa itu hanya

133

tipu muslihat Belanda saja. Pada suatu hari ketika
berada di tepi pantai, datang sebuah kapal
Belanda yang memberitahukan bahwa telah
terjadi gencatan senjata antara Indonesia dan
Belanda, dan meminta supaya pasukan anggota
Letda Heru Sisnodo naik kekapal tersebut.
Permintaan tersebut pada mulanya ditolak oleh
Letda Heru Sisnodo karena masih belum percaya.
Untuk dapat mengetahui keadaan yang
sebenarnya, Letda Heru Sisnodo minta bantuan
Belanda membelikannya sebuah radio. Setelah
mendapat radio dan mendengar adanya
pengumuman pemerintah, barulah ia yakin.
Namun ia tetap tidak mau naik kekapal Belanda
tersebut. Letda Heru Sisnodo dan pasukannya
berjalan kaki menuju Kaimana. Di Kaimana ia
bertemu dengan Mayor Untung. Sampai saat
gencatan senjata tersebut, pasukan Letda Herus
Sisnodo tinggal 16 orang (dari semula 40 orang),
diantaranya dua orang dari PGT, termasuk
Kopral John Salaki.169)

b. Operasi Garuda. Operasi ini dilaksanakan
berdasarkan Perintah Operasi Panglima Mandala No.
02/PO/SR/5/62, tanggal 13 Mei 1962. Daerah sasaran
penerjunan adalah Fak-fak dan Kaimana. Operasi
Garuda ini dibagi dalam dua penerbangan, yaitu :

169) Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Op. Cit, hal. 246-249.

134

1) Garuda Merah, dengan pesawat Dakota.
Penerjunan dilaksanakan pada tanggal 15 Mei
1962. Pasukan yang diterjunkan adalah kompi
dari Yon 454/Para sebanyak 38 orang, dibawah
pimpinan Kapten Kartawi. Daerah sasaran adalah
Fak-fak.

2) Garuda Putih, dengan pesawat Dakota.
Penerjunan pertama dilaksanakan pada tanggal
15 Mei 1962. Pasukan yang diterjunkan sebanyak
27 orang. Penerjunan kedua pada tanggal 17 Mei
1962 dan pasukan yang diterjunkan juga
sebanyak 27 orang. Pasukan ini berasal dari
Kompi-4 Yon 454 dan PGT, dibawah pimpinan
Lettu Idris. Daerah sasaran adalah Kaimana.

Dalam Operasi Garuda ini unsur KT Baladewa
sangat berperan memberangkatkan pesawat dari Lanud
Pattimura/Laha. Setelah selesai melaksanakan
penerjunan pasukan, pesawat-pesawat Dakota kembali
ke pangkalan dengan pengawalan pesawat B-25 dan P-
51. Waktu kembali ke pangkalan ini, diperjalanan
mereka mendapat tembakan dari kapal perang
Belanda. Berkat ketangkasan dan keberanian awak
pesawat, serangan dari musuh tersebut dapat
dielakkan dan semua pesawat kembali kepangkalan
dengan selamat.170)

Pada tanggal 17 Mei 1962 pasukan kembali
diterjunkan dengan sasaran Sorong dan Kaimana.

170) Ibid, hal. 249

135

Setelah selesai menerjunkan pasukan, pesawat kembali
ke pangkalan. Pada waktu kembali ke pangkalan ini,
mereka diserang oleh Pesawat Belanda. Rombongan
yang dari Sorong dapat menyelamatkan diri dan selamat
sampai di Sorong. Akan tetapi rombongan yang dari
Kaimana terpaksa melakukan tembak menembak
dengan Neptune Belanda. Pesawat B-25 dapat bertahan
dan menghidarkan diri ke daerah lain. Akan tetapi
pesawat Dakota T-440 dan T-480, karena sebagai
pesawat angkut dan tidak dipersenjatai tidak mampu
memberikan perlawanan, sehingga tidak dapat
menghindarkan serangan lawan.

Pesawat Dakota T-440 dengan pilot Kapten
Udara (Pnb) Djalaluddin secara tiba-tiba disergap oleh
pesawat Neptune Belanda. Satu-satunya cara untuk
menyelamatkan diri atau untuk menghindarkan
serangan-serangan pemburu musuh adalah dengan
melakukan manuver. Akhirnya salah satu motor
pesawat tertembak oleh musuh dan kemudian ekor
pesawat hancur, sehingga pesawat tidak dapat lagi
dikendalikan. Kapten Udara (Pnb) Djalaluddin
kemudian mendaratkan pesawat secara darurat di laut
(sebelah timur Batubelah). Usaha Pendaratan darurat
ini berhasil dilakukan dengan baik dan awak pesawat
keluar dari pesawat guna menyelamatkan diri
dengan harapan mendapat bantuan dari Unsur SAR
udara ataupun dari Angkatan Laut sendiri. Harapan ini
ternyata meleset, karena yang menemui mereka adalah

136

sebuah kapal perusak musuh. Seluruh awak pesawat T-

440 ditawan Belanda.171)

Sedangkan pesawat Dakota T-480 yang
diterbangkan oleh Kapten Udara (Pnb) Hamsana dan
pesawat B-25 M-421 dalam penerbangan kembali ke
pangkalan juga ditembaki oleh pesawat Neptune
Belanda. Pesawat Belanda terlebih dahulu bermaksud
untuk menghancurkan pesawat pembom B-25 dan
kemudian memaksa agar pesawat Dakota T-480 untuk
mendarat di lapangan terbang Belanda atau
dihancurkan. Akan tetapi Pesawat pembom B-25 dan
pesawat Dakota T-480 memberikan perlawanan yang
sengit, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri dan
usaha Belanda gagal untuk menghancurkan mereka.172)

Sehubungan dengan tertembaknya pesawat
Dakota T-440 dan tertawannya Kapten Udara (Pnb)
Djalaluddin, malam itu juga Kolonel (Pnb) Rusmin
Nuryadin selaku Ko Ops menghadap KSAU Omar
Dhani. Kolonel (Pnb) Rusmin Nuryadin meminta
kepada KSAU supaya pesawat Dakota tidak lagi
dipergunakan untuk pendropan pasukan di daratan Irian
Barat dan diganti dengan pesawat Hercules. Alasannya
menurut Kolonel (Pnb) Rusmin Nuryadin adalah untuk
menghilangkan efek psikologis yang ditimbulkan karena
jatuhnya pesawat Dakota. KSAU keberatan untuk
menggunakan pesawat Hercules, karena apabila kita
menggunakan pesawat Hercules berarti kita telah

171) Ibid, hal. 249-250.
172) Ibid, hal. 250.

137

melakukan perang terbuka. Saran ini ternyata
mengundang perdebatan sengit antara KSAU Omar
Dhani dengan Kolonel (Pnb) Rusmin Nuryadin tentang
penggunaan pesawat Hercules ini. Akhir dari perdebatan
tersebut KSAU mengizinkan dipergunakannya pesawat
Hercules untuk menerjunkan pasukan.173)

Pada tanggal 19 Mei 1962 Operasi Garuda
Merah menerjunkan pasukan sebanyak 79 orang.
Kemudian pada tanggal 25 Mei 1962 Operasi Garuda
Putih menerjunkan pasukan sebanyak 68 orang.
Kedua kegiatan penerjunan tersebut telah
menggunakan pesawat Hercules. Pesawat jenis ini
dapat terbang jauh ke belakang garis musuh untuk
mengelabui radar dan penerjunan dilakukan pada
waktu penerbangan pulang. Operasi penerjunan ini
cukup berhasil, sehingga Belanda dan seluruh dunia
umumnya menjadi gempar.174)

Operasi Serigala.

Operasi ini dilaksanakan berdasarkan Perintah
Operasi (PO) Panglima Mandala No. 03/PO/SR/5/62,
tanggal 13 Mei 1962. Operasi Serigala dilaksanakan oleh
PGT/AURI dengan sasaran daerah Sorong dan
sekitarnya. Operasi Serigala ini terbagi dalam dua tahap
kegiatan penerjunan, yaitu :

1) Penerjunan dilaksanakan pada tanggal 17
Mei 1962 dengan pesawat Dakota. Pasukan yang

173) Ibid.
174) Ibid.

138

diterjunkan sebanyak 39 orang di Teminabuan,
dibawah pimpinan Letnan Udara II Manuhua.
Pasukan yang diterjunkan ini ternyata
mendaratnya di atas asrama tentara Belanda,
sehingga pertempuran tidak dapat dielakkan.
Pertempuran berkobar demikian sengitnya
sampai beberapa hari. Disaat-saat kritis, berkat
keuletan para gerilyawan mereka berhasil
mengkonsolidasikan pasukan. Pada tanggal 21
Mei 1962 para gerilyawan ini berhasil
mengibarkan Bendera Merah Putih sebagai
lambang terbentuknya wilayah Republik
Indonesia di daerah tersebut.

2) Penerjunan dilaksanakan pada tanggal 19
Mei 1962 dengan pesawat Hercules. Pasukan
yang diterjunkan sebanyak 81 orang di Sansopor,
dibawah pimpinan Letnan Muda Udara Suhadi.
Pasukan yang diterjunkan ini juga jatuh di atas
asrama tentara Belanda, sehingga kembali
mengakibatkan terjadinya kontak senjata dengan
tentara Belanda.175)

c. Operasi Kancil.

Operasi ini menurut rencana semula akan
dilaksanakan pada tanggal 15, 16, dan 17 Mei 1962.
Berhubung cuaca yang yang kurang baik, maka kegiatan
operasi mengalami penundaan beberapa hari. Sesuai

175) Ibid, hal. 251.

139

dengan namanya, tugas dari operasi ini adalah
mengadakan pengintaian dan pemotretan.

Pada tanggal 15 Mei 1962 dua buah pesawat B-
25 berangkat dari Pangkalan Udara Laha, Ambon
menuju daerah Sorong mencari kemungkinan daerah
penerjunan (dropping zone). Pada tanggal 17 Mei 1962
dimulailah penerjunan pasukan dengan samaran
”kancil”. Pembagian kelompok penerjunan diatur
sebagai berikut :

1) Kancil I, daerah sasaran adalah Fak-fak.
Operasi ini menggunakan tiga buah pesawat C-
47/Dakota untuk mengangkut satu kompi
pasukan dan dikawal oleh dua buah pesawat P-
51 Mustang. Pesawat Mustang ini diterbangkan
oleh Mayor Udara (Pnb) Loeli Wardiman dan
Kapten Udara (Pnb) Iskandar.

2) Kancil II, daerah sasaran adalah Kaimana.
Operasi ini menggunakan tiga buah pesawat C-
47/Dakota untuk mengangkut satu kompi
pasukan dan dikawal oleh pesawat B-25.
Pesawat B-25 ini diterbangkan oleh Kapten
Udara (Pnb) M. Abdulkadir.

3) Kancil III, daerah sasaran adalah Sorong.
Operasi ini menggunakan tiga pesawat B-25.
Pesawat ini diterbangkan salah satunya oleh
Mayor Udara (Pnb) Soedarman.176)

176) Ibid, hal. 251-252.

140


Click to View FlipBook Version