2 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD HYBRID LEARNING INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR Tim Penulis Ida Zulaeha Panca Dewi Purwati Howin Hendria Santana Ramadhani Putri Praswanti Rekno Handayani Halani Felda Sunbanu Ade Rahayu I Kadek Tony Suantara Dewi Anjarsari Titis Handayani Sabahul Khair Resy Ardiansyah Hilwa Layyina Lintang Ayu Fitriyani Penerbit LPPM UNNES Gedung Prof. Retno Sriningsih Satmoko Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Hak Cipta © pada penulis dan dilindungi Undang-Undang Penerbitan Hak Penerbitan pada LPPM UNNES. Gedung Prof. Retno Sriningsih Satmoko, Kampus UNNES Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh buku ini dalam bentuk apapun tanpa izin dari penerbit. HYBRID LEARNING INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR iv + 262 hal. Cetakan pertama, 2021 ISBN 978-263-967-249 Tim Penulis Ida Zulaeha Panca Dewi Purwati Howin Hendria Santana Ramadhani Putri Praswanti Rekno Handayani Halani Felda Sunbanu Ade Rahayu I Kadek Tony Suantara Dewi Anjarsari Titis Handayani Sabahul Khair Resy Ardiansyah Hilwa Layyina Lintang Ayu Fitriyani Penyunting Prof. Dr. Ida Zulaeha, M.Hum. Dr. Panca Dewi Purwati, M.Pd. Howin Hendria Santana Ramadhani Putri Paraswanti Layout & Desain Cover Rekno Handayani I Kadek Tony Suantara Sabahul Khair Lintang Ayu Fitriyani
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | i PRAKATA Kurikulum merupakan seperangkat rencana, pelaksanaan, dan pengaturan yang berisi tujuan, isi, metode, dan evaluasi tentang pendidikan. Kurikulum berkembang dari era ke era sesuai dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Selain itu, konsep kurikulumberkembang mengikuti perubahan dan perkembangan zaman,serta tuntutan kemajuan zaman. Perkembangan kurikulum di Indonesia sudah berganti 11 kali, dari kurikulum tahun 1947 hingga kurikulum 2013 yang masih berlaku sampaisekarang. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang saat ini berlaku pada sistem pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian yaitu aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Pembelajaran pada kurikulum 2013 di sekolah dasar diintegrasikan menjadi suatu pembelajaran yang utuh berupa tematik integratif. Pembelajaran tematik integratif merupakan pembelajaran yang menggunakan suatu tema untuk mengintegrasikan atau mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran tematik integeratif diterapkan sebagai suatu bentuk perkembangan kurikulum untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Siswa sekolah dasar memiliki karakteristik yang memandang sesuatu secara holistik atau menyeluruh. Salah satu mata pelajaran yang diintegrasikan dalam suatu tema di sekolah dasar adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, lisan maupun tulisan. Pembelajaran Bahasa Indonesia sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki empat aspek berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kegiatan pada pembelajaran Bahasa Indonesia dikelompokkan ke dalam dua kategoti yaitu aspek reseptif, dan aspek produktif. Aspek reseptif merupakan kemampuan siswa dalam memhami bahasa yang dituturkan oleh pihak lain, baik lisan maupun tulisan. Aspek reseptif berkaitan dengan keterampilan menyimak dan membaca siswa. Sedangkan aspek produktif merupakan keterampilan siswa dalam memproduksi bahasa, seperti pada keterampilan berbicara dan menulis. Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan pendidikan di era-modern saat ini. Oleh karena itu, pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, tak terkecuali pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal, diperlukan teknik dan strategi yang tepat dalam pembelajaran. Selain itu, teknik dan strategi dalam pembelajaran dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa sehingga dapat menarik perhatian dari siswa. Berdasarkan hal tersebut, sangat penting untuk menghadirkan inovasi-inovasi pembelajaran sebagai penunjang dalam kegiatan pemerolehan ilmu di sekolah.
ii Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Sehingga kami menyusun buku tentang inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, baik pada kelas rendah maupun kelas tinggi. Buku ini diharapkan mampu meberikan inspirasi pada guru sekolah dasar untuk mengembangkan kegatan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Kami ucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Ida Zulaeha, M.Hum., dan Dr. Panca Dewi Purwati, M.Pd., atas bimbingan dan arahan hingga buku ini dapat diterbitkan dengan baik. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada pihak yang turut berkontribusi positif dalam penerbitan buku ini. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk meningkatkan kualitas buku ini di kemudian hari. Semarang, 03 Januari 2021 Penulis,
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | iii DAFTAR ISI Prakata................................................................................................................ i Daftar Isi ............................................................................................................. iii BAGIAN I KONTRIBUSI POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS TEKS NARASI PADA ANAK FASEOPRASIONAL FORMAL ..................... 1 Ida zulaeha BAGIAN II MODEL SINEKTIRTULA SARANA PENDIDIKAN KARAKTER PEMBELAJARAN MELISANKAN PANTUN PADA SISWA KELAS TINGGI................ 14 Panca Dewi Purwati BAGIAN III MODEL PICTURE AND PICTURE DAN ARTIKULASI BERBASIS MEDIA VISUAL UNTUK PENGENALAN KOSA KATA ANGGOTA TUBUH MANUSIA SISWA KELAS RENDAH....................................................................... 38 Howin Hendria Sananta BAGIAN IV JAS TO MIND: PEMACU IDE KREATIF PUISI SISWAKELAS TINGG..... 50 Ramadhani Putri Praswanti BAGIAN V MODEL WAYANG DOMETERAN: UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA KELAS II SEKOLAH DASAR...................................... 77 Rekno Handayani BAGIAN VI MEDIA KOMIK BERWARNA BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA SEJARAH LOKAL..............................................................................100 Halani Felda Sunbanu BAGIAN VII DRIBEL BAGI PENINGKATAN PEMAHAMAN TEKS EKSPLANASTORI PADA SISWA KELAS TINGGI ..............................................................................110 Ade Rahayu
iv Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN VIII SALINDIA INTERAKTIF DALAM PENINGKATAN MEMAHAMI GAGASAN POKOK DAN PENDUKUNG SISWA KELAS TINGGI ........................... 132 I Kadek Tony Suantara BAGIAN IX SOGUDMASI: MODEL PENGOPTIMALAN KATERAMPILAN MENULIS TEKS NARASI SISWA KELAS V ........................................................... 153 Dewi anjarsari BAGIAN X PEMANFAATAN UTAK-ATIK FENOMENA EBEG DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA.................................................... 173 Titis Handayani BAGIAN XI MATIC STORY PUTRI MANDALIKA BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS TINGGI .......................................... 187 Sobahul Khair BAGIAN XII BIBO SAS BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN..................................................................................................... 200 Resy Ariadsyah BAGIAN XIII PEMANFAATAN MEDIA AIR POPUDUS BERBASIS FIKSI LOKAL SEBAGAI SARANA MERANGSANG SISWA BERPENDAPAT................................ 217 Hilwa Layyina BAGIAN XIV MODEL FISH PIC STORY DALAM PENINGKATAN DAYA IMAJINASI SISWA DALAM MENULIS CERITA FIKSI SISWA KELAS TINGGI.......................... 237 Lintang Ayu Fitriyani GLOSARIUM ..................................................................................................... 258 INDEKS.............................................................................................................. 261
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 1 BAGIAN I KONTRIBUSI POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS TEKS NARASI PADA ANAK FASE OPRASIONAL FORMAL Prof. Dr. Ida Zulaeha, M.Hum. Guru Besar Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Semarang [email protected] Pendahuluan Menulis narasi adalah menceritakan suatu peristiwa atau kejadian secara runtut dan sistematids sesuai dengan kronologi waktu dan peristia kejadiannya secara tulis. Narasi (narration) bermakna kisah atau cerita (Wiyanto, 2004). Kisah atau cerita yang lengkap dengan konteksnya membentuk sebuah wacana narasi. Perwujudan dari wacana narasi, baik tulis mauun lisan adalah teks narasi. Keterampilan menulis teks narasi dibelajarkan di Sekolah Dasar pada kelastinggi, yakni peserta didik kelas lima. Pembelajaran menulis teks narasi bertujuan membiasakan peserta didik terampil mengisahkan atau menceritakan suatu peristiWa atau kejadian secara sistematis dan kronologis (Ayuningsih & Zulaeha, 2019). Dengan keterampilan ini, peserta didik dapat mengembangkan pola berpikir analitis, kreatif, dan solutif yang dimiliki dengan cerdas. Secara kognitif, perkembangan bahasa anak kelas lima Sekolah Dasar termasuk dalam kategori fase operasional formal, yakni usia 11 tahun s.d. dewasa (Hurlock, 1995). Mereka dapat mengelompokkan objek, benda, atau situasi tertentu; mengurutkan sesuatu; memahami konsep sebab-akibatsecara rasional dan sistematis; membaca; dan berhitung dengan baik. Fase operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Fase ini dialami anak pada usia sebelas tahun (saat pubertas) dan berlanjut sampai dengan dewasa. Karakteristik perkembangan anak pada fase ini adalah mampu berpikir secara abstrak; menalar secara logis; dan menarik simpulan dari informasi yang mereka peroleh. Anak-anak pada fase ini dapat memahami hal-hal, seperti cinta, bukti logis, dan nilai-nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ia dapat melihat ada ‘garis merah’ yang menghubungkan keduanya. Secara biologis, pada fase ini muncul saat pubertas yang ditandai oleh berbagai perubahan masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan
2 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD psikoseksual, dan perkembangan sosial meskipun tidak semua anak-anak sepenuhnya mengalami tanda-tanda yang sama karena pola asuh orang tua berkontribusi terhadap perkembangan bahasa mereka. Setiap orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi memiliki sikap dan mental yang baik sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Orang tua sebagai tempat belajar anak yang pertama hendaknya melakukan pengasuhan yang baik agar tujuan tersebut dapat tercapai. Hurlock(1995:59) berpendapat bahwa pola asuh diartikan kedisiplinan. Disiplin merupakan cara masyarakat mengajarkan kepada anak perilaku moral yang dapart diterima kelompok. Tujuannya adalah memberitahu kepada anak mengenai sesuatu yang baik dan buruk serta mendorongnya untuk berperilaku dengan standar yang berlaku dalam masyarakat di lingkungan sekitarnya. Casmini (2007:6) menambahkan bahwa pola asuh orang tua adalah perlakuan orang tua dalam membentuk perilaku anak sehingga dapat sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya dan kelompok individu itu diidentifikasi. Pola asuh orang tua adalah sikap atau cara orang tua dalam mempersiapkan anaknya agar dapat mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri (Gunarsa, 2007:109; Alizadeh, Thalib, Abdullah, & Mansor, 2011) sehingga dapat menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab kepada diri sendiri. Pola asuh merupakan cara atau metode yang dilakukan oleh orang tua untuk menanam kebiasaankebiasaan yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Pengasuhan kepada anak secara umum dapat dilakukan dengan tiga jenis pola (Edmay, 2014; Asfandiyar, 2012), yaitu otoriter, permisif, dan demokratis. Pola asuh otoriter adalah cara mengasuh dengan membatasi dan menghukum. Orang tua mengharuskan anak untuk mengikuti arahan dan menghargai kerja keras serta usaha. Orang tua yang otoriter, menurut Hurlock (1995:95) menerapkan peraturan-peraturan kepada anak dan mereka harus mematuhi peraturan tersebut. Orang tua tidak tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk mengemukakan pendapat tentang adil atau tidaknya dan masuk akal atau tidak peraturan tersebut. Anak yang tidak mematuhi aturan akan diberi hukuman karena orang tua otoriter memiliki anggapan bahwa hukuman merupakan cara efektif untuk mencegah pelanggaran aturan di masa mendatang. Dampaknya, anak mengalami kesulitan untuk masuk atau keluar dari pembicaraan, mengungkapkan pikirannya, tidak mandiri, merasa rendah diri, dan memberontak. Pola asuh permisif ditandai dengan orang tua yang tidak terlalu banyak mengeluarkan aturan, sangat longgar terhadap kedisiplinan, dan apapun diperbolehkan. Anak tidak dibiasakan mandiri dan hampir semua keingingannya dipenuhi. Hal ini berakibat pada kebebasan anak, rakus, penuntut, memiliki kontrol diri yang rendah, kurang bertanggung jawab,
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 3 kurang disiplin, dan tidak memikirkan orang lain. Orang tua dengan pola asuh permisif, menurut Hurlock (1995:93) tidak mengajarkan peraturan kepada anak. Mereka cenderung tidak diberi batas-batas atau kendala-kendala yang mengatur dan apa saja yang boleh dilakukan; diizinkan mengambil keputusan sendiri; tidak dihukum jika melanggar; dan tidak diberi penghargaan ketika mereka berperilaku sosial baik. Berbeda dari pola asuh otoriter dan permisif, pola asuh demokratis ditandai dengan sikap orang tua yang cenderung hangat, menghargai anak, dan penuh perhatian serta kasih saying, seperti ketika anak kalah dalam lomba, orang tua tidak menyalahkan. Orang tua memposisikan dirinya untuk lebih mengerti dan memberi semangat kepada anak. Orang tua lebih menekankan sikap terbuka antara anak dan orang tua. Paraturan disusun dan disepakati bersama. Dampaknya, anak dengan pola asuh ini akan menjadi orang yang bertanggung jawab, mandiri, kreatif, memiliki kontrol diri yang baik, dan dapat berpendapat. Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anaknya berpengaruh terhadap kecerdasan emosional mereka (Karmila, 2013). Pola asuh orang tua merupakan cara yang dilakukan oleh orang dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya dalam mencapai proses kedewasaan yang lebih baik sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan emosional anaknya. Kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan mengekspresikan emosi dan mengatasinya dengan cara yang positif terutama dalam situasi yang penuh tekanan. Seseorang yang memiliki EQ tinggi mampu berkomunikasi dengan efektif, berempati dengan orang lain, mengatasi kesulitan, dan meredakan konflik secara cerdas. Kecerdasan emosional ini dibiasakan melalui proses nonverbal yang membentuk pemikiran dan mempengaruhi kualitas hubungan seseorang dengan orang lain disekitarnya. Proses non-verbal pembiasaan yang dapat dilakukan, salah satunya dengan menulis teks narasi. Seseorang dapat menceritakan suatu peristiwa atau kejadian yang dialaminya atau yang dialami oleh orang lain secara kronologis. Pilihan kata dan kalimat yang digunakan akan memperlihatkan kualitas kecerdasan emosional mereka yang dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya dalam membiasakan anak-anaknya.
4 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Kontribusi Pola Asuh Otoriter terhadap Keterampilan Menulis Teks Narasi pada Anak Awal Fase Operasional Formal Teks Narasi yang ditulis oleh anak pada awal fase operasional formal memperlihatkan karakteristik yang unik. Cerita pengalaman pribadi bersama orang tuanya di rumah ditulis dengan kualitas yang sangat baik. Ide gagasan diungkapkan dengan jelas pada kalimat awal paragraf, Setiap libur aku selalu merasa tidak suka. Kalimat kedua sampai dengan kelima adalah kalimat penjelas yang menceritakan peristiwa atau kejadian yang membuatnya tidak suka dengan libur. Mulai Ibuku selalu memarahi dan menyuruhku membersihkan rumah... sampai dengan…Aku harus mengikutisemua perintah ibuku agar aku tidak dihukum. Pada akhir paragraf, anak awal fase operasional formal ini kembali menegaskan tidak suka libur dengan kalimat yang lengkap, terperinci, dan pilihan kata yang sesuai dengan yang dirasakan …Aku lebih senang sekolah bertemu teman-teman mendapatkan uang saku, dan belajar bersama-sama. Cerita 1. (Aini & Zulaeha, 2020) Alur cerita disajikan dengan jelas sesuai kronologi kejadian atau peristiwa
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 5 yang selalu dialami, yaitu klimaks/komplikasi Setiap libur aku merasa tidak suka, ibuku selalu memarahiku dan menyuruhku membersihkan rumah; evaluasi Sebenarnya aku ingin …; orientasi Namun aku selalu dimarahi jika …; resolusi Aku harus mengikuti semua perintah ibuku agar aku tidak dihukum; dan koda Aku lebih senang sekolah bertemu teman-teman, mendapat uang saku, dan …. Kronologi kejadian atau peristiwa ditandai dengan keterangan waktu kualitas kejadian, baik berupa frasa setiap libur ... maupun kata …selalu…, kadang (- kadang), keterangan evaluatif sebenarnya, keterangan bersyarat jika (memilih), jika (aku), konjungsi antarkalimat namun, dan konjungsi setara penjumlahan dan. Kemampuannya menggunakan kata/frasa yang mencerap panca indera untuk menceritakan suasana otoriter orang tuanya tampak pada ...selalu memarahiku dan menyuruhku…., …selalu dimarahi…, ibu mencubit.., tidak memberi uang jajan. Penanda-penanda formal ini dipahami dan digunakan dalam mengekspresikan perasaan tidak suka dan membuatnya tertekan. Bahkan, berpendapat pun tidak berkesempatan sehingga teks narasi yang ditulisnya benar-benar menjadi ekspresi atau ungkapan perasaan atau emosi yang tertahan. Cerita 2. (Aini & Zulaeha, 2020) Kecerdasan emosional yang diekspresikan dengan penanda-penanda
6 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD formal juga tampak pada cerita 2, yakni penanda kronologi kejadian atau peristiwa dan penanda kebahasaan yang berupa keterangan waktu. Kronologi kejadian atau peristiwa ditandai dengan keterangan waktu kualitas setiap hari, pulang sekolah, sering, dan keterangan waktu kuantitas jam tujuh sampai jam setengah sepuluh, serta keterangan waktu bersyarat jika ….Teks narasi yang ditulis oleh anak fase operasional formal dalam pola asuh otoriter ini memiliki kesamaan alur cerita. Ada keunikan pada koda dalam cerita 2, yakni penulis mengakhiri cerita dengan ungkapan empaty sebagai wujud perasaan berdamai dengan suasana pola asuh dan emosinya. Kontribusi Pola Asuh Permisif terhadap Keterampilan Menulis Teks Narasi pada Anak Awal Fase Operasional Formal Teks Narasi yang ditulis oleh anak pada awal fase operasional formal dalam pola asuh permisif memperlihatkan karakteristik yang unik. Cerita pengalaman pribadi bersama orang tuanya dirumah ditulis dengan kualitas yang kurang baik. Ide gagasan diungkapkan dengan kurang jelas dan kurang tajam pada kalimat awal paragraf, Hari yang paling aku suka adalah hari minggu. Teks narasi yang ditulis oleh anal dalam pola permisif ini berbalik dengan teks narasi yang ditulis oleh anak dalam pola asuh otoriter. Semua kalimat cenderung pendek dan berstruktur sederhana yang terdiri atas Subjek (S) + Predikat (P), SPKeterangan (K), dan SPPelengkap (P), seperti Biasanya aku bangun jam 9. Kalimat kedua sampai dengan ketujuh adalah kalimat penjelas yang menceritakan peristiwa atau kejadian yang membuatnya suka dengan hari Minggu, yaitu Aku bisa bermain sesukaku sampai dengan Setelah sore kita pulang mandi. Seluruh kalimat, kedua sampai ke delapan mendukung gagasan pokok hari Minggu yang paling disuka.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 7 Cerita 3. (Aini & Zulaeha, 2020) Alur cerita disajikan dengan tidak lengkap sesuai dengan kronologi kejadian atau peristiwa yang telah dialami, yaitu orientasi Hari yang paling aku suka adalah ….; evaluasi Biasanya jika jam 12 aku belum pulang ibu mencariku; resolusi Kemudian kita makan bersama ….; dan koda Setelah sore kita pulang mandi. Alur cerita datar, tidak ada klimaks/komplikasi. Kronologi kejadian atau peristiwa ditandai dengan konjungsi antarkalimat penanda waktu, seperti lalu, kemudian, setelah…, dan setelah itu. Penanda keterangan kualitas waktu yang digunakan biasanya dan keterangan bersyarat jika. Kontrubusi Pola Asuh Demokratis terhadap Keterampilan Menulis Teks Narasi pada Anak Awal Fase Operasional Formal Teks Narasi yang ditulis oleh anak dalam pola asuh demokratis pada awal fase operasional formal memperlihatkan karakteristik yang unik. Cerita
8 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD pengalaman pribadi bersama orang tuanya dirumah ditulis dengan kualitas yang sangat baik. Ide gagasan diungkapkan dengan jelas pada kalimat pertama, Kegiatanku pada hari Minggu bersama keluarga. Kalimat kedua sampai dengan kesembilan kalimat penjelas yang menceritakan peristiwa atau kejadian pada hari minggu. Kegiatannya bersama keluarga pada hari Minggu. Alur ceritanya runtut dan datar. Orientasi dimulai kalimat Hari ini hari Minggu sampai dengan Aku sangat senang setiap hari Minggu selalu membersihkan rumah. Cerita ditutup dengan koda Ayah, Ibu, Kak Devi, dan Kak Dian selalu mengajariku untuk membersihkan rumah dengan baik. Cerita 4. (Aini & Zulaeha, 2020) Cerita berikutnya memiliki alur yang berbeda. Cerita dimulai dari
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 9 orientasi Aku dan orang tuaku memiliki peraturan dalam melakukan belajar. Kemudian klimaks Senin sampai Sabtu jam tujuh sampai setengah Sembilan adalah jadwal belajarku; evaluasi Ibuku tidak pernah marah Ketika aku tidak bisa mengerjakan tugas…. dan resolusi …namun aku diminta membaca buku yang ditunjukkan Ibu. Cerita ditutup dengan koda Tugas yang sulit menjadi sangat mudah Ketika belajar bersama Ibu. Kualitas teks narasi yang ditulis oleh sembilan anak dalam pola asuh otoriter memiliki rata-rata skor 88.44, 5; dalam pola asuh permisif dengan ratarata skor 78.60, dan enam belas anak dalam pola asuh demokratis memiliki ratarata skor 81.25. Kualitas teks narasi yang ditulis anak dalam pola asuh otoriter lebih tinggi daripada teks narasi yang ditulis oleh anak dalam demokratis, dan permisif. Sementara itu, kualitas teks narasi yang ditulis oleh anak dalam pola asuh permisif lebih rendah daripada anak dalam pola asuh demokratis. Secara teoretis, anak dalampola asuh otoriter lebih bersikap pasif. Orang tua yang otoriter menerapkan peraturan-peraturan kepada anaknya dan mereka harus mematuhi peraturan tersebut (Hurlock, 1995). Anak-anak merespon cenderung tidak melakukan sesuatu hal dengan perintah, bukan atas inisiatif atau inovasi sendiri tanpa izin. Rerata skor keterampilan menulis teks narasi yang lebih tinggi pada anak dalam pola asuh otoriter ini menjawab kebutuhan mereka untuk mengekspresikan perasaan dan keinginannya. Teks narasi yang dihasilkan merupakan suara hati mereka (Gutiérrez1, 2015). Mereka membutuhkan aktivitas yang memberi kebebasan untuk berekspresi (Mahmudi, 2013), mengungkapkan perasaan dan pikiranya dengan kreatif dalam bentuk teks narasi. Kecerdasan emosional dan kognitif mereka berkembang dengan baik. Ketika mereka diberi kesempatan mengembangkan cara berpikir aktif, berpikir analitis, berpikir kreatif, dan berpikir solutif (Zulaeha, 2016) ternyata mereka
10 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD bisa memecahkan masalah yang dihadapinya sendiri dan mentransfer kebiasaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Arbayah (2013) dan Mustofa (2017) bahwa belajar menemukan sendiri dapat mengembangkan pola berpikir analitis dan solutif, memecahkan masalahnya sendiri dengan cara menemukan. Mereka berusaha berdamai dengan kondisi pola asuh otoriter orang tuanya. Akan tetapi, pada kesempatan yang tepat mereka mengekspresikan diri secara positif dengan terus mencari solusi kreatif atas permasalahan yang dialaminya. Mereka merasa tertantang (Ishak & Lau, 2012; Wulansari & Zulaeha, 2018) oleh suatu kondisi pola asuh untuk bisa keluar dari permasalahan dengan positif. Meskipun demikian, anakanak dalam pola asuh ini tetap memerlukan bimbingan dan arahan agar mereka selamat berada di jalan yang benar. Peran pendidik dan orang-orang di sekitarnya sangat signifikan dalam perkembangan psikis maupun psikologis serta perkembangan bahasa mereka. Penutup Pola asuh orang tua berkontribusi signifikan terhadap keterampilan menulis teks narasi pada anak fase operasional formal. Kemampuan mereka mengenali dan menggunakan penanda-penanda formal, seperti peraturan di keluarga dan sekolah, diekspresikan dalam kalimat-kalimat yang dijalin dengan koheren dan koherensi sehingga menghasilkan teks narasi yang runtut dan cerita yang memiliki alur yang dinamis. Meskipun demikian, pola asuh orang tua ini bukan satu-satunya penentu perkembangan bahasa anak, dalam hal ini keterampilan menulis teks narasi. Faktor lingkungan, pendidikan, dan karakter anak turut berkontribusi terhadap perkembangan pola berpikir mereka. Strategi pembelajaran yang digunakan oleh pendidik di sekolah, bimbingan dan arahan
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 11 oleh orang-orang di lingkungan rumah dan tempat bermain turut berkontribusi terhadap pembentukan pola berpikir analitis dan berpikir solutif dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Kebutuhan kebebasan berekspresi dapat mereka peroleh ketika pendidik memberinya kesempatan menceritakan kehidupannya di rumah bersama orang tuanya dalam bentuk teks narasi. Keinginan-keinginan dan gagasan-gagasan yang terpendam dapat diekspresikan dalam teks narasi yang runtut dan lengkap alur ceritanya. Ini adalah wujud aktualisasi diri positif. Keberhasilan aktualisasi diri ini salah satunya dapat diwujudkan dengan adanya kebebasan menuangkan kreativitas mereka.
12 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Daftar Pustaka Aini, I.N. & Zulaeha, I. (2020). Kefektifan Pembelajaran Menulis Teks Narasi dengan Model Problem Based Learning dan Discovery Learning Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua pada Peserta Didik Sekolah Dasar”. Journal of Primary Education, hidden. Alizadeh, S.,Thalib, M.B.A.,Abdullah,R.,&Mansor, M.(2011).“Relationship between Parenting Style and Children’s Behavior Problems”. Asian Social Science, 7(12):198. Arbayah. (2013). “Model Pembelajaran Humanistik”. Dinamika Ilmu. 13 (2):205. Asfandiyar, Andi Yudha. (2012). Creative Parenting Today: Cara Praktis Memicu dan Memacu Kreativitas melalui Pola Asuh Kreatif. Bandung: Kaifa. Ayuningsih, H. & Zulaeha. I. (2019). “The Effectiveness of Learning Using Short Story Writing Multiliteracy Model with Public Service Advertising Media Based on The Learning Types of Senior High School Students”. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 8 (3):71. Casmini. (2007). Dasar-Dasar Pengasuhan Kecerdasan Anak. Yogyakarta: Pilar Media. Edmay, Lydia V. D., dkk. (2014). “Pola Asuh Demokratis, Kemandirian dan Motivasi Berprestasi pada Peserta Didik”. Pesona Jurnal Psikologi Indonesia. 3 (1): 69. Gutiérrez1, Katia G. C., Puello2 M. N., & Galvis, L.A.P. (2015). “Using Pictures Series Technique to Enhance Narrative Writing among Ninth Grade Students at Institución Educativa Simón Araujo”. English Language Teaching. 8 (5): 59. Hurlock, Elizabeth B. (1995). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga. Ishak, Z. Low, S. F., & Lau, P.L. (2012). “Parenting Style as a Moderator for Students' Academic Achievement”. Journal of Science Education and Technology. 21 (4): 490-491.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 13 Karmila, Mila. (2013). “Pengaruh Metode Bercerita dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecerdasan Emosional”. Jurnal Pendidikan Usia Dini. 7 (2). Mahmudi, Zulaeha, I., & Supriyanto, T. (2013). “Menulis Narasi dengan Metode Karyawisata dan Pengamatan Objek Langsung serta Gaya Belajarnya”. Journal of Primary Education. 2 (1): 182. Wulansari, D. E.&Zulaeha, Ida. (2018). “Keefektifan Pembelajaran Menyusun Teks Eksplanasi dengan Model Investigasi Kelompok dan Problem Based LearningpadaPeserta DidikKelasVIISMP”.Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 7 (2): 27. Zulaeha, Ida. (2016). Teori, Model, dan Implementasi Pembelajaran Menulis Kreatif. Semarang: Unnes Press.
14 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN II MODEL SINEKTURTILA SARANA PENDIDIKAN KARAKTER PEMBELAJARAN MELISANKAN PANTUN PADA SISWA KELAS TINGGI Dr. Panca Dewi Purwati, M.Pd. Dosen PGSD/Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Pantun adalah salah satu puisi khas milik bangsa Indonesia sebagai aset budaya Indonesia bernilai luhur. Pantun berasal dari bahasa Minangkabau yaitu patuntun (Pangesti dkk. 2016) yang beramakna nasihat. Pantun hampir-hampir dilupakan karena sekarang jarang diproduksi. Pada era digital ini sudah selayaknya bangsa Indonesia berupaya mengenal, memiliki pengetahuan, menyelamatkan, dan melestarikan pantun yang sangat berguna untuk membangun karakter bangsa. Standar isi kurikulum 2013 jenjang SD telah berpihak pada konservasi budaya asli Indonesia. Salah satunya muncul pada kurikulum bahasa Indonesia jenjang sekolah dasar kompetensi dasarmelisankan pantun (KD 4.6) di kelas lima (V). Para pendidik seharusnya bersepakat untuk bersungguh-sungguh memfasilitasi pembelajaran sehingga siswa mencapai tujuan pembelajaran, yaitu dapat melisankan pantun hasil karya pribadi. Siswa perlu dibelajarkan dengan model pembelajaran yang tepat sehingga pembelajaran berjalan dengan efektif dengan memberi arah produk pantun siswa tetap memiliki style Indonesia. Menurut Benjamin S. Bloom tujuan pendidikan adalah agar manusia lebih berkualitas segi kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Tujuan itu sejalan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa pendidikan harus berimbang antara pengembangan kemampuan otak, hati, serta pengembangan kekuatan otot (Supriyono, 2002: 1). Demikian juga dengan satu ciri kurikulum 2013, kompetensi pengetahuan harus diimbangi dengan keterampilan, dan sikap. Pengetahuan cara menyusun pantun dilanjutkan dengan keterampilan melisankan pantun yang disyaratkan dalam KD tersebut. Proses pembelajaran diamati agar sikap siswa dapat diidentifikasi. Siswa dalam mewujudkan KD tersebut wajib memiliki simpanan
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 15 memori kosakata yang bagus sebagai hasil literasi. Deskripsi ini merupakan penerapan ideal tentang pembelajaran melisankan pantun yang ideal, harapan semua guru. Fakta yang ada kualitas literasi di Indonesia masih sangat rendah. PISA 2018 melaporkan peringkat Indonesia ada di nomor 7 dari bawah denganangka capaian 382 (Merdeka Belajar Kampus Merdeka 2020). Hasil survey dari studi Most Littered Nation in The Word 2016 bahwa minat baca masyarakat Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara (http://tirto.id/najwa-papa). Di sisi lain, kita sudah masuk pada abad ke-21. Sekarang ini tuntutan kemampuan berliterasi bangsa Indonesia berkaitan erat dengan tingkat keterampilan berbahasa yang berujung kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Ini dua sisi yang tak berimbang. Literasi Indonesia masih rendah, tetapi tuntutan begitu tinggi. Perlu upaya agar kenyataan dan harapan tersambung dengan baik. Salah satunya berliterasi budaya melalui pembelajaran melisankan pantun. Hasil analisis kebutuhan melalui angket terhadap pembelajaran melisankan pantun hasil karya sendiri diperoleh data bahwa umumnya siswa kelas V masih kesulitan menentukan tema, amanat (unsur batin pantun), dan rangkaian kata konkret (unsur lahir pantun) sebagai bentuk nyata satu jenis pantun yang strukturnya tertata sesuai dengan aturan konvensional. Meskipun umumnya guru telah memfasilitasi pembelajaran melisankan pantun dengan pendekatan saintifik yang disarankan kurikulum 2013, ternyata dirasa kurang memberi kesempatan siswa berkreasi. Siswa memiliki keterbatasan menentukan teman dan amanat pantun secara cepat. Fakta permasalahan pembelajaran tersebut diidentifikasi sebelum terjadi wabah covit-19 melanda dunia. Sekarang dengan merebaknya pandemi tersebut, tentu semakin banyak hambatannya. Setidaknya ada lima kegiatan yang dilarang untuk dilakukan selama masih ada pandemi. 1) Menyelesaikan target pekerjaan dan studi dalam komunitas bersama di kantor/kampus /sekolah/dll. 2) Melakukan wisata alam, wisata kuliner, dan lainnya di tempat umum. 3) Melakukan perjalanan ke luar kota/luar negeri. 4) Melakukan olah raga di luar rumah. 5) beribadah/rapat /berdagang/dll bersama-sama di ruang yang sama. Hal ini tentu tidak pernah diharapkan oleh bangsa Indonesia. Bahkan Indonesia berharap akan segera lahir GIE (Generasi Indonesia Emas) yang berkarakter dan siap memberikan berbagai perubahan tahun 2045 (1945-2045). Ini adalah tantangan yang wajib direspon para pendidik. Alokasi waktu pembelajaran melisankan pantun memiliki keterbatasa. Salah satu upaya guru
16 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD bisa memanfaatkan alokasi waktu GLS (gerkan literasi sekolah) yang umumnya sudah ditata hampir semua sekolah setiap hari. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 bahwa kegiatan gerakan literasi sekolah (GLS) melibatkan unsur eksternal dan unsur publik, orang tua, alumni, masyarakat, dunia usaha, dan merupakan komponen penting literasi (Panduan GLS 2016:1). Apabila alokasi GLS diberdayakan secara berkelanjutan (literasi pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran), khususnya pada pembelajaran menulis dan melisankan pantun, tentu akan sangat membantu guru memberikan pembekalan aspek pengetahuan dengan cara menyiapkan modul tentang pembelajaran melisankan pantun yang dapat diunduh siswa sebagai panduan pembelajaran secara mandiri. Pantun sebagai salah satu puisi rakyat memiliki struktur yang sudah distandarkan sejak jenis puisi itu ada. Maka, aliran strukturalisme perlu dijadikan kerangka berpikir yang penting untuk menetapkan bentuk fisik pantun. Masih ada satu lagi yang menjadi modal siswa dalam membuat puisi rakyat, yaitu struktur batin puisi rakyat. Struktur batin puisi memiliki kebebasan sesuai dengan gaya pribadi masing-masing. Maka, aliran stilistika perlu dimaknai bahwa siswa perlu mengembangkan style pribadi dan pandangan hidup bangsanya melalui pantun buatan siswa. Agar berdaya membangun karakter, maka struktur batin penting untuk dikaitkan dengan pandangan hidup bangsa Indonesia. Bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya. Pantun adalah satu sejarah budaya lama Indonesia yang menjadi ciri jati diri bangsa. Di sisi lain, Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang menjadi landasan berpikir, berperilaku, dan menilai kualitas. Kesulitan siswa menemukan tema dan amanat pantun akan efektif bila guru memberikan arah style tema pantun dengan mengarahkannya pada nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan demikian, guru sudah membantu memberikan inspirasi yang mengarah pada produk pantun berjati diri bangsa Indonesia. Lebih dari itu kompetensi menulis dan melisankan pantun merupakan keterampilan menulis sastra yang penting. Keterampilan tersebut sangat diperlukan untuk membangun kepekaan rasa, cipta, dan karsa siswa. Keterampilan menulis puisi adalah satu keterampilan berbahasa yang paling tinggi tingkatannya (Nurhadi 1995:343). Artinya kompetensi pantun perlu dibelajarkan dengan model pembelajaran yang tepat. Karena penciptaan puisi membutuhkan ruang gerak kreativitas siswa yang cukup luas, maka penerapan modelsinektik dalampembelajaran melisankan pantun diprediksisangat efektif.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 17 Modelsinektik (Joyce dkk 2009:253) merupakan model pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kreativitas. Tujuan model ini adalah menumbuhkan kreativitas sehingga diharapkan siswa mampu menghadapi setiap permasalahan yang dihadapinya. Model sinektik mengungkapkan bahwa model pembelajaran ini memberikan siswa kebebasan untuk menuangkan ide dan gagasannya tanpa pemikiran tata bahasa, cara mengawali tulisan, dan lainlain. Maka model sinektik ini akan lengkap bila dilengkapi dengan aliran strukturalisme dan aliran stilistika. Ide/gagasan yang menjadi permasalahan siswa perlu dipantik dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Maka model ini selanjutnya disebut model sinekturtila, perpaduan antara sintagmatik model sinektik yang dilengkapi dengan bahan ajar berupa modul tentang pembelajaran pantun berdasarkan aliran strukturalis dan stilistika (unsur lahir dan unsur batin pantun) dengan pemacu ide berupa nilai-nilai luhur Pancasila (sinekturtila akronim dari sinektik, strukturalis, stilistika, dan Pancasila). Pengembangan model sinekturtila ini diprediksi berdampak positif terhadap proses dan hasil belajar. Pengembangan model sinekturtila untuk memfasilitasi pembelajaran melisankan pantun memiliki dua tujuan pengembangan. 1) Mendeskripsi teori konseptual model sinekturtila. 2) Mendeskripsi pengimplementasian model sinekturtila pada proses belajar menulis dan melisankan pantun. Permasalahan Pembelajaran Banyak masalah dalam pembelajaran kompetensi melisankan pantun. Bahan ajar yang spesifik, model pembelajaran yang tepat, media pembelajaran yang kontekstual, atau bahkan figur guru yang inspiratif sangat dibutuhkan untuk mengatasi plagiasi yang dilakukan siswa. Karena ide kreatif siswa belum dirangsang secara efektif maka kebuntuan siswa tersebut biasanya ditindaklanjuti dengan usaha menyalin atau melakukan plagiasi dengan cara mengambil pantun yang ada di berbagai media/buku. Dampaknya adalah ketika melisankan pantun tersebut maka rasa percaya diri siswa dan penghayatannya kurang maksimal. Hal ini mempengaruhi ketepatan lafal, intonasi, dan ekspresi yang menjadi indikator penilaian pelafalan pantun. Siswa tidak memiliki penjiwaan dalam melisankan pantun ‘buatannya.” Artinya bahwa keberhasilan siswa membuat pantun secara mandiri mampu menjadi kunci keberhasilan melisankan pantun tersebut. Rendahnya kemampuan siswa dalam hal keterampilan menulis dan melisankan pantun karya pribadi sekurang-kurangnya dipengaruhi oleh tiga
18 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD faktor. Pertama, faktor diri siswa. Kedua, keterbatasan guru. Ketiga, sarana prasarana pendukung berhasilnya saat melisankan pantun. Faktor dari siswa adalah ide, batang tubuh pantun, dan konteks. Faktor guru dan sarana prasaran pembelajaran bisa saja tanpa disadari menyebabkan tidak maksimalnya proses dan hasil belajar siswa. Keterbatasan guru sekolah dasar hal yang wajar. Seperti diketahui bahwa guru sekolah dasar wajib menguasaisemua mata pelajaran. Hal ini memungkinkan guru lebih menonjol di satu mata pelajaran tetapi lemah di mata pelajaran lainnya. Namun guru tetap berkewajiban mencari solusi permasalahan pembelajaran. Maka perlu ada upaya guru dalam menyiapkan perangkat, media, sumber bahan, alat evaluasi, yang ditata berdasarkan model pembelajaran yang diprediksi efektif memfasilitasi pembelajaran melisankan pantun. Sarana ruang kelas dapat disiasati dengan penyiapan kelas faktual dan kelas virtual agar pembelajaran berlangsung secara fleksibel dalam rangkaian kegiatan pembelajaran berbasis nilai-nilai luhur Pancasila. Model sinekturtila dikembangkan mengacu pada pendapat Joyce. Model pembelajaran adalah suatu usaha merencanakan satu pola prosedur,sistematis, dan terstruktur yang digunakan sebagai pedoman perencanaan pembelajaran, termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce 2009:4). Modelsinekturtila berupa teori konseptual yang selanjutnya teori tersebut dituangkan secara riel dalam bentuk perangkat pembelajaran. Model pembelajaran diharapkan mampu memberi arah siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dan tentu saja model pembelajaran tersebut perlu dilakukan uji validasi oleh pakar dan praktisi sebelum diimplementasikan. Teori Konseptual dan Implementasi Model Sinekturtila Teori Konseptual Sinekturtila Berikut ini beberapa teori-teori yang digunakan sebagai dasar konseptual dalam menetapkan modelsinekturtila.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 19 a) Karakteristik Siswa Kelas Tinggi Karakteristik siswa (Alfin 2015) merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing siswa baik sebagai individu atau kelompok sebagai pertimbangan dalam proses pengorganisasian pembelajaran. Karakteristik siswa penting untuk dipertimbangkan untuk menetapkan desain pembelajaran. Berikut penjelasan tentang perkembangan siswa kelas tinggi jenjang sekolah dasar dari segi sikap sosial emosional, mental, psikomotor, dan kognitif. Ciri khas karakteristik sikap sosial dan emosional siswa kelas tinggi, khususnya kelas V dapat dideskripsikan sebagai berikut. (a) Bersamaan dengan proses kematangan fisik, emosinya pada waktu itu tidak stabil. (b) Karena hasrat bergabung dan adanya perbedaan cara menimbulkan salah paham antara anak satu dan lainnya. (c) Siswa usia ini mudah timbul takjub. (d) Siswa usia ini emosi biasa berontak. (e) Mempunyai tanggapan positif terhadap penghargaan dan puji-pujian. (f) Siswa masa ini punya pandangan kritis terhadap tindakan orang dewasa. (g) Rasa kebanggaan berkembang. (h) Setiap hal yang dikerjakan, menginginkan adanya penghargaan atau pengenalan. (i) Ingin pengenalan atau penghargaan dari kelompok. (j) Siswa mudah memperoleh teman. Mereka lebih senang melakukan kegiatan kelompok dari pada kegiatan yang bersifat perorangan (individual). Karakteristik mental siswa kelas V sudah menunjukkan kemantapan bersikap dan berperilaku. (a) Siswa masa ini gemar bermain. (b) Siswa lebih berminat dalam permainan-permainan dalam tim. (c) Siswa sangat terpengaruh apabila ada kelompok yang menonjol atau mencapai prestasi tinggi. (d) Sementara siswa masa ini mudah putus asa, karena itu usahakan bangun kembali atau bangkit kembali apabila tidak berhasil dalam mencapaisesuatu. (d) Dalam melakukan sesuatu usaha, selalu berusaha mendapat persetujuan dari guru terlebih dahulu. (e) Siswa masa ini pada umumnya memperhatikan soal waktu, karena itu berusaha bekerja tepat pada waktunya. Karakteristik perkembangan psikomotorik tingkat operasional konkrit pada umur 7-11 tahun siswa sudah berkembang motorik kasar dan motorik halus dengan lebih nyata. Siswa telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak. Kecakapan kognitif siswa dapat dikelompokkan ke dalam lima jenis: kombinasivitas/klasifikasi, reversibelitas, asosiativitas, identitas, seriasi. Ada
20 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD empat faktor yang berpengaruh dalam perkembangan kognitif. (a) Lingkungan fisik; kontak dengan lingkungan fisik perlu karena interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru. (b) Kematangan, artinya membuka kemungkinan untuk berkembang, sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi kognitif. (c) Pengaruh sosial, artinya termasuk penanaman bahasa dan pendidikan lingkungan sosial adalah pengalaman seperti itu seperti pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif. (d) Proses pengaturan diri yang disebut equilibrasi. Alih-alih ekuilibrasi mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial, dan jasmani. Ekuilibrasi menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun dengan baik. Siswa dengan karakteristik tersebut sangat efektif bila ditanamkan nilainilai luhur Pancasila dengan rangkaian model sinektik yang memacu kreativitas siswa yang memang sudah mulai tumbuh. Menulis dan melisankan pantun sangat menantang untuk dibelajarkan dengan tata cara yang kreatif dan efektif. b) Menulis dan Melisankan Pantun Kegiatan pembelajaran ini adalah proses belajar menulis dan melisankan pantun sehingga si pembelajar menghasilkan produk: teks pantun dan pembacaan pantun tersebut. Ada sejumlah tahapan/langkah yang harus ditempuh si pembelajar agar menunjukkan kemampuan terampil menulis dan melisankan pantun. Tahap pembelajaran menulis yang efektif sebaiknya berlangsung secara alamiah namun dengan cara yang ilmiah. Kondisi belajar menulis yang ideal adalah dalam suasana yang menggembirakan. De Porter dan Hernacki (2002:9) menyatakan bahwa belajar dapat dan harus menyenangkan agar menghasilkan. Agar proses pembelajaran menulis dan melisankan pantun berlangsung dengan menyenangkan, diperlukan cara inovasi yang tepat. Aktivitas inovasi pembelajaran menurut Fontana (2011:91) meliputi kegiatan penggalian ide dan konsep, pengembangan mengubah ide dan konsep menjadi produk baru, dan penyebaran ide. Kegiatan
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 21 menulis pantun yang berorientasi pada proses dan produk sesuai dengan teori tersebut. Pembaharuan pembelajaran akan mengubah kegiatan kompleks menjadi lebih menyenangkan. Demikian pula pembelajaran menulis dan melisankan pantun, sintakmatik/langkah-langkah pembelajaran yang simpel akan mampu memandu pembelajar mengikuti tahapan secara runtut dan efektif. Untuk mewujudkan konsep tersebut diperlukan satu model belajar yang sesuai dengan tujuan, materi, konteks, dan ketersediaan instrumen atau sarana prasarana belajar. c) Aliran Strukturalisme Aliran Strukturalisme merupakan gerakan intelektual yang dimulai di Prancis tahun 1950-an. Pertama kali aliran strukturalisme diketahui dalam karya Antropologis Claude Levi-Strauss (1908) dan kritik sastra Roland Barthes (1915 – 1980). Menurut aliran strukturalisme ini pengalaman mental yang kompleks sebenarnya adalah struktur yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana. Orientasi aliran ini adalah menyelidiki struktur satu bentuk karya sastra dan mengembangkan aspek pembentukannya. Salah satu karya sastra tersebut adalah puisi rakyat yang tentu memiliki struktur khas. Pendapat Ferdinand de Saussure tentang analisis bahasa lebih mudah untuk dijadikan cara mengkaji bahasa dan kesastraan. Teori yang dikemukakan Saussure meliputi (1) penampang diakronis dan sinkronis, (2) langue/bahasa dan parole/tuturan, (3) penanda/bentuk dan petanda/gagasan, dan (4) sintakmatik dan asosiatif. Bentuk kesastraan yang dimaksud Ferdinand adalah sastra secara umum, berupa prosa, puisi, maupun drama. Struktur semua karya sastra tentu berbeda satu sama lain. Struktur karya sastra berupa puisi ada beberapa kararker yang berbeda dengan prosa, misalnya aspek bunyi, irama, dan tipografi puisi. Menurut Waluyo (2002:27) struktur yang membangun puisi ada dua, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik adalah larik-larik puisi yang bersama-sama membangun bait-bait dalampuisi. Struktur ini membangun kesatuan makna dalam keseluruhan pantun sebagai sebuah teks. Struktur fisik merupakan media untuk mengungkap struktur batin puisi (Kurniawan 2009:93). Hal ini menyiratkan bahwa dalam srukturfisik pantun terdapatstruktur batin pantun. Adapun struktur fisik pantun
22 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD berupa tipografi (bentuk pantun) yang dibangun oleh kata-kata yang dipilih, berimaji, bermajas, dan berrima. Struktur batin pantun berupa tema yang dilengkapi dengan nada, rasa, dan amanat. Struktur batin dapat dikuasai dengan menangkap makna pantun, sesuatu yang ada tetapi berada di luar fisik pantun. Ada tiga pernyataan kaum strukturalis yang berkenaan dengan makna: 1) bahasa adalah sistem tanda yang didasarkan pada kearbitreran, 2) makna kata adalah relasional, dan 3) bahasa adalah konstitusif, mengangkat dunia kita, bukan sekadar rekaman atau nama dari dunia. Makna berhubungan dengan objek dalam pikiran manusia, dan dibangun serta diekspresikan melalui bahasa, belum dimuat dalam sesuatu. Jalan pikiran mengenai bahasa sangat memengaruhi kaum strukturalis, karena memberi mereka modelsebuah sistem yang menunjukkan bahwa satu individual berhubungan dengan individu atau hal lain, sehingga membentuk struktur yang lebih luas. d) Aliran Stilistika Stilistika berasal dari bahasa Inggris “style” yang berarti gaya. Stilistika menurut kamus bahasa Indonesia yaitu ilmu kebahasaan yang memelajari gaya bahasa. Istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stylistics terdiri atas dua kata style dan ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics adalah ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa. Sedangkan menurut C. Bally, Jakobson, Leech, Widdowson, Levin, Ching, Chatman, C. Dalan, dan lain-lain menentukan stilistika sebagai suatu deskripsi linguistik dari bahasa yang digunakan dalam teks sastra. Salah satu aliran stilistika menganggap bahwa struktur puisi (Pradopo 2002:118) berupa susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antarunsurnya terjadi hubungan timbal balik, saling menentukan. Stilistik dibatasi kepada penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra, termasuk puisi. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi secara tradisional gaya bahasa selalu dikaitkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis. Gaya bahasa
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 23 mencakup diksi atau pilihan kata, struktur kalimat, majas, dan citra, pola rima, makna yang digunakan seorang sastrawan. Keraf (2006:115) menjeniskan gaya bahasa berdasarkan dari berbagai sudut pandang. (1) Bahasa berdasarkan pilihan kata berdasarkan pilihan kata. Gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat, sesuai untuk posisiposisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. (2) Gaya bahasa berdasarkan nadanya bahasa. Ada tiga gaya bahasa ditinjau dari nadanya: sederhana, mulia bertenaga, dan gaya bahasa menengah. Gaya sederhana ialah gaya yang biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan dan sejenisnya. Gaya mulia dan bertenaga ialah gaya yang penuh dengan vitalitas dan enersi dan biasanya digunakan untuk menggerakkan sesuatu. Gaya menengah ialah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai. (3) Struktur sebuah kalimat dapat dijadikan landasan untuk meciptakan gaya bahasa. Berdasarkan pilihan kata gaya bahasa dibagi menjadi tiga. Pertama, gaya bahasa resmi, ialah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang digunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Kedua, gaya bahasa tak resmi, ialah yang digunakan dalam cakupan nuansa tidak resmi, dalam cakupan bahasa nonformal. Ketiga, gaya bahasa percakapan, ialah gaya bahasa yang digunakan dalam kata-kata populer dan percakapan. Gaya/style menjadi salah satu penentu sampainya tema atau gagasan (unsur batin) sebuah karya sastra kepada pembaca karya sastra tersebut. Menurut Aminuddin (2002:2) dalam studi retorik dikenal adanya tiga tahapan dalam memaparkan tema/gagasan. Pertama adalah invensi (invention), yakni tahap pelintasan gagasan dan penemuan ide, penciptaan yang sebelumnya tidak ada. Kedua disposisi (disposition), yakni tahap penyusunan gagasan hingga membentuk kesatuan isi tertentu sesuai dengan ide yang ingin disampaikan. Ketiga adalah cara (style) dalam memaparkan isi tuturan yang telah disusun melalui wahana kebahasaan. Maka stilistika sangat penting dilibatkan dalam upaya membangun karya sastra, juga termasuk pantun.
24 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD e) Model Sinektik Menurut Trianto (2007:3) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran diorganisasikan untuk membantu menjawab banyak permasalahan sehari-hari. Model pembelajaran menurut Joyce dan Weil (2009:30) tidak saja berupa perencanaan model interaksi pembelajaran, lebih dari itu model pembelajaran juga meliputi perencanaan materi ajar dan sumber belajar yang digunakan baik secara klasikal maupun mandiri. Sinektik digagas oleh Gordon (dalam Joyce 2011: 252) berdasarkan empat gagasan yang sekaligus juga menyaingi pandangan-pandangan konvensional tentang kreativitas. Pertama, karena kreativitassangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, proses kreatif tidak selamanya serius. Ketiga, penemuan yang dianggap inovasi atau kreatif sama rata di semua bisang seni, sains, teknik, dan ditandai oleh proses intelektual yang sama. Keempat, bahwa penemuan (pola pikir kreatif) individu maupun kelompok tidak berbeda. Model sinektik dapat diterapkan dalam pembelajaran melisankan pantun memiliki perbedaan dengan penerapan model sinektik lainnya. Pembeda setiap model pembelajaran dapat diidentifikasi berdasarkan lima unsur model, yaitu: struktur pembelajaran, sistem sosial, sistem pendukung, dampak instruksional, dampak pengiring. Struktur pembelajaran model sinektik salah satu didasarkan membuat sesuatu yang baru (creating something new). Sesuatu yang baru, misalnya pantun yang kekinian, dirancang untuk membuat hal familiar menjadi asing, membantu melihat masalah-masalah hidup, mengemukakan gagasan kreatif, mengemukakan hasil-hasil pantun lama dengan cara yang baru dengan pandangan kreatif. Model sinektik bertujuan mengembangkan kreativitas individu dalam aktivitas tim. Kreativitas individu dapat dimulai membuat produk bersama tim kecil terlebih dahulu. Setelah memiliki pengalaman bersama tim, berikutnya secara mandiri setiap pembelajar menghasilkan produk puisi rakyat hasil inovasi dan kreativitas secara mandiri.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 25 Setiap model ditandai berdasarkan lima unsur model, yaitu: (1) struktur pembelajaran, (2) sistem sosial, (3) sistem pendukung, (4) dampak instruksional, dan (5) dampak pengiring. Demikian model sinektik, kelima unsur model tersebut dapat dideskripsi sebagai berikut. Baik model-model maupun strategistrategi pengajaran sinektik (Zulaeha 2016:258) sebenarnya disusun dengan mudah untuk memprakarsai rangkaian pembimbingan dan mekanisme operasional. f) Nilai-Nilai Luhur Pancasila Sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila memuat nilai-nilai mulia. Nilai dalam Pancasila menjadi asas dalam sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, nilai-nilai itu juga senantiasa menjadi tolok ukur (Zamroni 2013:10). Artinya, nilai-nilai Pancasila merupakan sesuatu yang diidealkan, yang hendak dicapai dalam kehidupan nyata kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mengenal, memahami, menulis, dan melisankan teks puisi rakyat menunjukkan menjunjung tinggi nilai persatuan. Menghargai dan berusaha melestarikan salah satu budaya bangsa berarti menunjukkan sikap cinta tanah air dan bangsa. Dalam kegiatan berlatih menulis, dibutuhkan tema pemicu yang penting, mendasar, dan mudah diidentifikasi oleh semua orang Indonesia. Upaya menawarkan nilai-nilai Pancasila sebagai tema pantun buatan siswa adalah solusi yang baik untuk menanggulangi kebuntuan ide. Nilai-nilai tersebut penting, mendasar, dan sangat berguna untuk mengatur sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Ada lima nilai utama, yaitu: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Berpedoman lima nilai Pancasila diprediksi proses berlatih menulis puisi rakyat lebih efektif karena tema utama dan amanat dengan cepat ditemukan. Siapa pun yang mau menulis puisi rakyat akan lebih fokus dalam mempersiapkan unsur batin, yang sesungguhnya unsur terpenting dalam menulis puisi rakyat. Bila tema dan amanat yang sesuai dengan rasa dan nada sudah teridetifikasi, tinggal satu langgah menuju produksi, mempersiapkan unsur lahir puisi, yaitu kata-kata untaian larik dan bait pantun.
26 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Setelah tema dan amanat dengan dapat ditemukan, selanjutnya memnyiapkan unsur fisik, yaitu kata-kata yang akan ditata dalam larik dan bait puisi. Maka penulis pantun membutuhkan pemahaman tentang aspek kebahasaan, utamanya adalah kelas kata, klausa, dan kalimat. g) Kelas Kata, Klausa, dan Kalimat Puisi lama Indonesia berupa gurindam dan puisi lama lainnya menurut Alisjahbana (2004:75) terjadi dari sebuah kalimat majemuk, yang dibagi menjadi dua larik bersajak. Hal ini menyiratkan bahwa menyusun gurindam membutuhkan kalimat majemuk. Kalimat majemuk minimal terdiri atas dua klausa. Klausa membutuhkan minimal fungsi subjek dan predikat. Menentukan fungsi kalimat membutuhkan pengetahuan tentang kelas kata. Maka menyusun gurindam setidak-tidaknya membutuhkan keterlibatan kelas kata, klausa, dan kalimat. Hal ini menandakan bahwa menyusun pantun membutuhkan modal sintaksis berupa kata, klausa, dan kalimat yang dituliskan tanpa harus menaati ejaan. Kelas kata digunakan untuk menyusun satu klausa sebagai baris-baris pantun, umumnya ada dua kelas kata yang tinggi penggunaannya, yaitu nomina (kata benda) dan verba (kata kerja). Rangkaian keduanya akan menjadi lebih logis dan lengkap jika dilengkapi dengan satu kelas kata, umumnya adjektiva (kata sifat) atau adverbial (kata keterangan). Karena dalam satu larik (atau dapat disebutsatu klausa) pantun umumnya dibatasi maksimal 12 suku kata. Beberapa unsur kelas kata tersebut sangat penting untuk ‘dihadirkan’ dalam larik-larik pantun. Deretan kata tersebut antara lain nomina, verba, adjektiva, adverbial, atau lainnya. Deretan kata-kata dapat secara spontan disusun siswa dengan berdasarkan tema dan amanat yang telah mereka tetapkan. Deretan kata tersebut berupa rancangan mula-mula. Selanjutnya, sesuai dengan tahapan berlatih menulis puisi rakyat, kata-kata tersebut dapat diganti dengan kata lain bahkan kelas kata lain sehingga memenuhi struktur setiap jenis pantun yang akan dibuat (strukturalisme) dan sesuai dengan style/gaya diri (stilistika). Berdasarkan beberapa kerangka teori tersebut maka dapat dinyatakan model sinekturtila adalah model pembelajaran yang sintagmatiknya
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 27 berdasarkan model sinektik yang diintegrasikan dengan struktur khas pantun dan keunikan isi berbasis nilai-nilai luhur Pancasila. Model sinekturtila dalam pembelajaran melisankan pantun ditetapkan berdasarkan penjabaran lima unsur model pembelajaran. Kelima unsur model tersebut meliputi: struktur pembelajaran/urutan sintakmatik, sistem sosial, sistem pendukung, dampak instruksional, dan dampak pengiring. Tabel 1 Karakteristik Model Sinekturtila No Unsur Uraian 1 Sintak matik Berupa fase rangkaian kegiatan pembelajaran yang dimulai dari (1) Penetapan tema yang bersifat umum. (2) pembatasan ruang lingkup tema. (3) Rumusan kerangka pantun dengan tema dan amanat berdasarkan nilai Pancasila. (4) Pengembangan kerangka pantun dengan amanat negatif sebagai balasan/jawaban bait sebelumnya. (5) Produk teks pantun bernuansa nasihat dan laranga. (6) Penyuntingan produk pantun berdasarkan aspek struktur, rima, aspek bahasa. 2. Sistem Sosial Siswa mendapat teman diskusi untuk menyusun kerangka, menyunting, mampu menghasilkan produk, dan melisankan pantun buatan sendiri. 3. Prinsip Reaksi Pembelajar aktif mengidentifikasi tema, amanat, menyusun deretan kelas kata, merevisi kerangka, dan menghasilkan pantun, dan melisankan pantun buatan pribadi. Siswa berlatih menulis pantun dan melisankannya dengan melibatkan intelektual, emosional, dan kreativitasnya. 4. Sistem Penunjang Kerangka teoretis, format tema, dan deretan kelas kata sebagai draff baris-baris pantun, dan sarana prasarana untuk melisankan pantun. 5. Dampak Dampak instruksional: produktivitas tim/individu, menulis dan melisankan pantun. Dampak pengiring: harga diri, petualang berpikir analogi, dan pencapaian keterampilan menulis pantun.
28 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Selanjutnya model sinekturtila direalisasikan dalam bentuk perencanaan perangkat pembelajaran yang akan digunakan sebagai pedoman pelaksanaan memfasilitasi pembelajaran di kelas.Perangkat tersebut meliputi silabus, RPP, sistem penilaian (yang dapat diunduh guru) dan modul Gerakan Literasi Sekolah tentang pembelajaran melisankan pantun (yang dapat diunduh siswa untuk melakukan pembelajaran mandiri). h) Implementasi Model Sinekturtila Model sinekturtila melibatkan pembelajaran secara tim maupun individu melalui enam langkah pembelajaran. Guru dapat menyesuaikan dengan kondisi yang ada Disarankan bila siswa belum memperoleh pengalaman menggunakan fase ini, sebaiknya dimulai pembelajaran bersama tim terlebih dahulu, baru kemudian secara mandiri. Sintagmatik pembelajaran model sinekturtila meliputi enam fase. 1) Penetapan tema. 2) Pembatasan ruang lingkup tema. 3) Rumusan kerangka pantun dengan amanat positif (wajib dilakukan). 4) Pengembangan kerangka pantun dengan amanat negatif (ditinggalkan). 5) Produk pantun bernuansa dua tujuan. 6) Penyuntingan pantun berdasarkan aspek struktur, rima, aspek bahasa. Secara sederhana dapat diperjelas dengan rangkaian kegiatan pembelajaran sebagai berikut. Pertama, kegiatan pramenulis pantun meluputi tiga kegiatan. (a) Pemberian modul untuk digunakan siswa pada kegiatan GLS. Yang ideal modul diberikan pada awal semester sebagai salah satu sumber literasi siswa. (b) Pembentukan tim pembelajaran melisankan pantun. (3) Arahan/motivasi guru untukmengondisikan siswa belajartentang kompetensi tersebutsecara mandiri. Kedua, kegiatan saat menulis pantun. Pembelajaran sesuai dengan sintagmatik pembelajaran. Rangkaian kegiatan pembelajaran melisankan pantun ada tiga kali tatap muka (faktual atau virtual) dengan alokasi waktu dua jam pelajaran. Dan ada satu kali tatap muka lagi untuk kegiatan penialaian melisankan pantun. Ketiga, kegiatan pascamenulis pantun
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 29 Ada empat hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk pascamenulis pantun. (1) Menyunting. Revisi ulang untuk kesekian kalinya penting dilakukan untuk memastikan bahwa produk pantun sudah memenuhi syarat. Sangat jarang seorang penulis bisa membuat karya sekali jadi. Umumnya membutuhkan penyuntingan. (2) Berdiskusi dengan teman-teman tentang permasalahan yang dihadapi saat menulis. Beberapa kendala atau kesulitan yang adapi bisa diperbincangkan dengan teman agar ada masukan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. (3) Mencoba melakukan perenungan. Seperti yang dilakukan novelis Budi Darma (Siswanto 2008:41), satu hasil perenungan justru menghasilkan produk tulisan sastra lagi yang selanjutnya. (4) Merencanakan membuat antologi pribadi/tim berisi pantun. Penilaian proses pembelajaran dilakukan dengan cara mengamati saat siswa mengikuti proses pembelajaran. Sarana penilaian berupa jurnal terbuka yang digunakan guru untuk mencatat dua nilaisikap yang telah ditetapkan, misal dua nilai karakter disiplin dan bertanggung jawab. Kedua nilai karakter tersebut ditulis sebagai hasil pengamatan dalam jurnal setiap tatap muka. Adapun olahan hasil pengamatan proses pembelajaran berupa rumusan deskripsi capaian SB (Sangat Baik), B (Baik), C (Cukup), dan K (Kurang). Berikutnya masuk pada inti penilaian produk hasil belajar pantun meliputi nilai pengetahuan dan nilai keterampilan. Indikator nilai pengetahuan dan keterampilan menulis pantun dilakukan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kriteria Ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan disesuaikan kondisi sekolah masing-masing. Namun sesungguhnya proses pembelajaran melisankan pantun sudah dipenuhi dengan suasana pembelajaran yang berkarakter. Ada nilai kejujuran dalam berkarya, ada nilai kerja sama dan saling menghargai, nasionalis dari tematema pantun, dan nilai karakter lainnya. Inilah yang menjadi dasar bahwa model sinekturtila sesungguhnya sangat efektif untuk menerapkan pendidikan karakter dalam pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia. Aktivitas pembelajaran dalam setiap fase kegiatan melisankan pantun dapat dideskripsikan dalam tabel berikut ini.
30 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Tabel 2 Langkah Menulis dengan Model Sinekturtila No Fase Aktivitas Pembelajaran Menulis dan Melisankan Pantun 1. Mendeskripsi kondisi saat ini Kelas/komunitas dibagi menjadi lima tim dan diberi label silasila Pancasila (Tim Ketuhanan, Tim Kemanusiaan, Tim Persatuan, Tim Kerakyatan, dan Tim Keadilan). Setiap tim menetapkan kerangka pantun yang akan dibuat, tema, dan pembatasan ruang lingkup tema. 2. Analogi langsung Setiap tim mulai membuat analogi langsung dengan cara membuatrumusan kerangka pantun dengan amanat positif minimal satu bait. 3. Analogi personal Memperbaiki kerangka pantun tahap 1 berdasarkan aspek sruktur, rima, dan keunikan style/gaya bahasa pribadi sesuai tema timnya. 4. Merespons pertanyaan konfliks Pengembangan kerangka pantun tahap 2 (dengan amanat negatif), minimal satu bait. Kerangka yang sudah siap minimal dua bait berupa kerangka pro-kontra (berisi nasihat dan larangan). 5. Analogi Langsung Lanjut Mengembangkan kerangka lengkap (pro-kontra) tersebut menjadi produk pantun esuai dengan jenisnya berdasarkan tahap 1 dan 2. Setiap jenis pantun dibuat minimal dua bait. 6. Review hasi analogi Melakukan penyuntingan pantun berdasarkan aspekstruktur, rima, dan gaya bahasa pribadi. Produk puisi rakyat dilanjutkan dengan publikasi dengan cara melisankan pantun tersebut secara bergantian. Rangkaian kegiatan tersebut dapat dilakukan di kelas faktual (tatap muka di luar jaringan) maupun kelas virtual (tatap muka di dalam jaringan, misalnya menggunakan zoom meeting). Bila guru hanya membaca teori-teori tersebut kelihatannya sangat sulit dipraktikkan. Padahal sesungguhnya sangat sederhana bila diterapkan dalam pembelajaran. Pantun membutuhkan kata-kata. Maka yang disiapkan guru
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 31 adalah kata-kata yang dalam pikiran siswa sesuai dengan batasan tema yang sudah sudah ditetapkan sebagai langkah awal pembelajaran. Tema utamanya nilai-nilai Pancasila. Maka dibutuhkan tabel tema-tema bersumber nilai luhur Pancasila. Tabel ini memudahkan siswa untk dapat memilih tema pantun yang akan dibuatnya. Tabel tersebut dapat dideskripsikan seperti berikut ini. Tabel 3 Tabel Pilihan Tema-Tema Pancasila untuk Menulis Pantun No Sila BNP (Butir-Butir Nilai Pancasila) 1 Ketuhanan 1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing- asing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 2. Hormat menghaormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup. 3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain. 2 Kemanusian 5.Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. 6. Saling mencintai sesama manusia. 7. Mengembangkan sikap tenggang rasa. 8. Tidak semena-mena terhadap orang lain 9. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. 10. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. 11. Berani membela kebenaran dan keadilan. 12. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormti dan bekerjasama dengan bangsa lain.
32 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD 3 Persatuan 13. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. 14. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. 15. Cinta Tanah Air dan Bangsa. 16. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia. 17. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika. 4 Kerakyatan 18. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat 19. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. 20. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingn bersama. 21. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan. 22. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah. 23. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. 24. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan 5 Keadilan 25. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong. 26. Bersikap adil 27. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 28. Menghormati hak-hak orang lain. 29. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 33 30. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. 31. Tidak bersifat boros 32. Tidak bergaya hidup mewah 33. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum. 34. Suka bekerja keras. 35. Menghargai hasil karya orang lain. 36. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuanyang merata dan berkeadilan sosial. Ada 36 butir nilai-nilai Pancasila yang dapat digunakan siswa sebagai sumber inspirasi tema dan amanat dalam menetapkan calon janin pantun. Penjabaran nilai-nilai Pancasila yang lain dapat dilakukan karena perilaku positif berpedoman nilai luhur Pancasila sesungguhnya sangat luas. Ada dua alasan yang melandasi penetapan 36 butir nilai Pancasila tersebut. Pertama, berdasarkan batasan yang telah dibuat para ahli di bidang Pancasila. Kedua, sebagai upaya untuk memudahkan menyusun tabel tema pilihan yang berguna sebagai modal utama menulis pantun. Pengembangan Model Sinekturtila Model sinekturtila direncanakan akan dikembangkan lebih lanjut menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan model ADDIE (Branch, R. M. 2009). Model ADDIE terdiri atas lima tahapan: (1) Analyze; (2) Design, (3) Develop; (4) Implement; dan (5) Evaluate. Model ADDIE digambarkan sebagai proses desain pengembangan yang bersifat iteratif dimana hasil evaluasi formatif tiap tahap dapat menjadi masukan bagi perancang untuk kembali ke tahapan-tahapan sebelumnya. Produk akhir satu tahapan merupakan awal dari tahapan berikutnya. Secara garis besar, tahap-tahap perencanaan pembelajaran daring model ADDIE (Branch, 2009) sebagai berikut. (1) Tahap Analysis/Analisis. Langkah analisis terdiri atas empat tahap yaitu analisis kinerja, analisis siswa, analisis materi pembelajaran dan analisis tujuan pembelajaran. (2) Tahap Design/Desain. Langkah kedua yang dilakukan yaitu merancang (desain), ibarat bangunan maka sebelum dibangun harus ada rancang bangunan di atas kertasterlebih dahulu. Tahapan desain terdiri atas dua
34 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD tahap, yaitu tahap desain model pembelajaran sinekturtila dan tahap desain perangkat pembelajaran model sinekturtila. (3) Tahap Development/Pengembangan. Pengembangan dalam Model ADDIE berisi kegiatan realisasi rancangan model pembelajaran sinekturtila. Tahap-tahap yang dilakukan peneliti dalam mengembangkan model sinekturtila adalah sebagai berikut: melakukan pengembangan prototipe model sinekturtila, melakukan validasi model sinekturtila kepada tim ahli dan praktisi, dan memperbaiki model sinekturtila sesuai dengan saran dan masukan dari tim ahli dan praktisi. (4) Tahap Implementation/Implementasi. Pada tahapan implementasi dalam penelitian ini merupakan tahapan untuk mengimplementasikan model sinekturtila yang telah dikembangkan pada situasi yang nyata di kelas. Setelah diimplementasikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran kemudian dilakukan evalusi awal untuk memberikan umpan balik pada penerapan pengembangan media sinekturtila berikutnya. (5) Tahap Evaluation/Evaluasi. Evaluasi merupakan langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Berdasarkan tahapan implementasi, modelsinekturtila perlu dievaluasi. Pada tahap evaluasi dilakukan revisi akhir terhadap produk yang dikembangkan berdasarkan saran dan masukan dari tim ahli, praktisi, dan siswa yang diberikan selama tahap implementasi. Prediksi Pengimplementasian Model Sinekturtila Penerapan model sinekturtila perlu direalisasi setelah model tersebut dikembangkan secara ilmiah. Adapun prediksi penerapan model sinekturtila dapat dideskripsikan sebagai berikut. Pertama, model sinekturtila berupa model pembelajaran dengan sintagmatik sinektik yang berpusat pada kegiatan membangun struktur pntun berbentuk deret kelas kata konkret (unsur fisik/struktural) yang disusun berpedoman pada tema (unsur batin) bersumber nilai luhur Pancasila sebagai ungkapan jiwa nasionalis yang menjadi jati diri gaya hidup bangsa Indonesia (stilistika) yang memberikan kemudahan siswa. Maka diprediksi siswa mampu menghasilkan produk pantun buatan sendiri tanpa harus melakukan plagiasi karya orang lain. Nilai pengetahuan dan keterampilan dapat diperoleh guru melalui desain pembelajaran model sinekturtila ini. Bahkan produk pantun yang
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 35 dihasilkan siswa pun memberikan gambaran pantun yang memilik karakter khas bangsa Indonesia. Kedua, proses pembelajaran melisankan pantun dengan penerapan model sinekturtila ditetapkan berdasarkan penjabaran enam fase proses belajar. Nilainilai karakter akan tercapai dalam proses pembelajaran yang ditetapkan guru sesuai dengan konteks kelas yang dihadapinya. Maka model sinekturtila ini sangat penting untuk ditindaklanjuti dalam penelitian pengembangan sesuai perencanaan yang diharapkan.
36 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Daftar Pustaka Alfin, Jauharoti. (2015). Analisis Karakteristik Siswa Pada Tingkat Sekolah Dasar. Prosidding Halaqoh Nasional & Seminar Internasional Pendidikan Islam : UIN Sunan Ampel Surabaya. Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Bangka.tribunnews.com/2018 diunduh tanggal 29 April 2018. Bangkapos.com 28 April 2018 diunduh tanggal 30 April 2018. Branch, R. M. (2009). Instructional design: The ADDIE approach. New York: Springer Science & Business Media. De Porter, Bobbi dan Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning. Bandung: Kaifa. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP. Jakarta: Kemendikbud RI. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2020. Buku Panduan Merdeka BelajarKampus Merdeka. Jakarta: Kemendikbud RI. Direktorat Pembinaan SMP. 2017. Panduan Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan SMP. Jakarta: Kemendikbud RI. Fontana, Avanti. 2011. Innovative We Can. Jakarta: Cipta Inovasi Sejahtera. Joyce, Bruce dkk. 2009. Models of Teaching. Model-model Pengajaran. Edisi kedelapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kurniawan, Heru. 2009. Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nurhadi. 1995. Tata Bahasa Pendidikan: Landasan Penyusunan Buku Pelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 37 Pangesti, Wiedarti dkk. 2016. Desain Induk Gerakan Literasi di Sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud RI. Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Permendikbud RI Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik dan Sastra Modern. Yogyakarta: Gama Media. Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Gramedia. Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Zamroni, Akhmad. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas VIII. Surakarta: PT Masmedia Zulaeha, Ida. 2016. Pembelajaran Menulis Kreatif. Semarang: Penerbit UNNES PRESS.Buana Pustaka. Waluyo, H.J. 200. Apresiasi Puisi: Panduan untuk Pelajar da Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
38 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN III MODEL PICTURE AND PICTURE DAN ARTIKULASI BERBASIS MEDIA VISUAL UNTUK PENGENALAN KOSAKATA ANGGOTA TUBUH SISWA KELAS RENDAH Howin Hendria Santana, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Siswa kelas rendah, khususnya kelas 1 Sekolah Dasar, masih rendah kemampuannya dalam mengenali kosakata anggota tubuh. Hal ini dikarenakan kelas satu masih peralihan dari tingkat TK, belum sepenuhnya mengingat dan menguasai anggota tubuh dan fungsinya secara baik. Pada kelassatu juga siswa masih asyik dalam dunia permainannya. Hal ini memaksa guru harus mampu membawa proses pembelajaran pada kelas rendah dengan karakteristik mereka masing-masing agar siswa bisa mengikuti proses pembelajaran yang menyenangkan. Pendidikan tidak terlepas dengan istilah pembelajaran di sekolah. Sudjana (2009:43) menyatakan bahwa proses pembelajaran merupakan suatu proses terjadinya interaksi guru dan siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yakni belajarsiswa dan kegiatan mengajar guru. Pembelajaran yang baik tentu bisa menumbuhkan semangat siswa mencapai tujuan belajar. Guru memegang peran sentral dalam mengatur proses interaksi antara siswa dan lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pengajaran. Fakta tentang siswa kelas 1 Sekolah Dasar yang masih rendah kemampuannya dalam mengenali kosakata anggota tubuh perlu dicarikan solusi agar dapat diatasi oleh guru. Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, dan analisis kebutuhan diprediksi model pembelajaran Picture and Picture dan Artikulasi (PPA) berbasis Media Visual (DIVI) dapat menyelesaikan masalah tersebut. Metode pembelajaran aktif menggunakan gambar yang dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan yang sistematis, seperti menyusun gambar secara berurutan, menunjukkan gambar (Suprijono, 2009) diprediksi efektif
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 39 untuk membantu guru memaksimalkan proses belajar siswa. Dengan adanya gambar-gambar yang berkaitan dengan materi belajar siswa lebih kreatif dan dapat mencapai tujuan akhir dari proses pembelajaran sehingga standar kompetensi dan kompetensi dasar dari aspek menulis dalam pembelajaran KD 3.4 dapat tercapai. Permasalahan Pembelajaran Di era berkembang pesatnya teknologi, kurikulum di tingkat satuan pendidikan juga mengalami modifikasi yang sesuai dengan tutunan zaman dan kebutuhan masyarakat. Kurikulum yang berlaku di sekolah dasar pada saat ini yakni kurikulum 2013. Berlakunya kurikulum 2013 juga ikut merubah paradigma pendidikan yang semula berorientasi pada guru atau teacher centerd learning menjadi pada siswa atau students centerd learning. Perubahan paradigma ini juga diimbangi dengan berbagai strategi ataupun model pembelajaran yang mampu menekankan kepada aktivitas siswa pada proses pembelajaran. Memiliki kemampuan berpikir dan tindakan yang efektif serta kreatif dalam ranah abstrak dan konkrit sebagai pengembangan diri dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mendayagunakan keseluruhan aspek dalam tubuh siswa. Retnawati (2016) mengemukakan bahwa kurikulum 2013 mengharuskan siswa untuk menjadi manusia yang memiliki kretivitas, produktif, inovatif, dan sikap yang luhur. Namun pada kenyataannya tidak seluruh model pembelajaran mampu mengacu kepada keseluruhan aspek-aspek tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa perlu adanya modifikasi-modifikasi yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran agar pembelajaran lebih efektif dan sesuai dengan tujuan pendidikan, sehingga dengan modifikasi tersebut diharapkan guru mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan juga siswa cepat memahami materi yang disampaikan oleh guru.
40 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran tentu dialami oleh setiap guru, seperti salah satu guru di SDN 01 Teko Lombok Timur yang mengalami kesulitan saat menjelaskan bagian-bagian anggota tubuh manusia, menggunakan media sederhana seperti poster yang menggambarkan tubuh manusia, tentu ini kurang efektif jika dilihat dari ukurannya yang kecil serta jarak pandang dengan tempat duduk siswa yang jauh tentu akan mengurangi kefokusan siswa dalam memperhatikan dan menyimak, tentu guru harus mampu menghadirkan media pembelajaran yang mampu menarik minat siswa dalam memperhatikan serta kefokusan akan berpusat pada media tersebut. Selain itu juga,sistem pembelajaran masih belum melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Kebiasaan siswa kelas rendah terutama kelas I SD masih asyik dalam dunia permainannya, artinya siswa belum bisa diajak dalam proses pembelajaran yang serius serta menegangkan. Ini akan membuat mentalsiswa melemah serta takut dalam proses pembelajaran di kelas. Sebagai guru harus mampu memahami karakteristik siswa, dengan memahami siswa maka guru akan bisa memulaikan pembelajaran dari apa yang disukai oleh siswa tersebut, sehingga akan berlangsungnya proses pembelajaran yang sesuai dengan harapan. Mengenal kosakata anggota tubuh tentu membutuhkan pemahaman dan kefokusan siswa yang lebih, karena ada saja siswa yang belum menguasai kosakata disetiap anggota tubuh, terkadang ada yang terbalik penyebutannya seperti dagu dan dahi serta punggung dan pundak, bahkan ada yang tidak tahu sama sekali kosakata dari anggota tubuh yang tidak terlihat. Pembelajaran mengenal kosakata anggota tubuh ini tentu tidak efektif dengan sekedar menjelaskan begitu saja tanpa melibatkan siswa dengan aktif dalam praktik
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 41 langsung dalam pembelajaran, sehingga harus ada model pembelajaran yang mengacu keaktifan siswa serta media pembelajaran yang membantu siswa dalam praktik tentang materi tersebut. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan maka dibutuhkan inovasi dalam pembelajaran guna untuk memacu keaktifan siswa dalam kelas. Solusi yang bisa dilakukan yakni Kombinasi model PPA berbasis DIVI untuk mengenal kosakata bagian tubuh pada siswa kelas 1 SD. Teori Konseptual PPA Berbasis DIVI Model pembelajaran PPA merupakan model pembelajaran yang mengkolaborasikan model dan media pembelajaran yang memudahkan siswa dalam memahami dan mengenal kosakata anggota tubuh. PPA merupakan proses pembelajaran melaui gambar yang mudah dipahami oleh siswa dalam penyajian materi anggota tubuh pada kelas rendah. Berikut teori yang mendukung model pembelajaran PPA berbasis DIVI ini. a. Model Picture and Picture Model pembelajaran picture and picture merupakan sebuah model dimana guru menggunakan alat bantu atau media gambar untuk menerangkan sebuah materi atau memfasilitasi siswa untuk aktif belajar. Dengan menggunakan alat bantu atau media gambar, diharapkan siswa mampu mengikuti proses pembelajaran dengan fokus dan baik serta dalam kondisi yang menyenangkan. Sehingga apapun pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik dan mampu meresap dalam pikiran, serta dapat diingat kembali. Pendapat lain juga mengatakan Picture and picture adalah suatu model pembelajaran aktif dengan menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan yang sistematis. Hakikatnya metode pembelajaran aktif untuk mengarahkan potensi siswa terhadap materi yang dipelajarinya (Suprijono, 2009:125). Model pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai
42 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk chart dalam ukuran besar. Menurut Ahmadi (2011:58) Picture and picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis. Picture and picture ini berbeda dengan media gambar dimana picture and picture berupa gambar yang belum disusun secara berurutan dan yang menggunakannya adalah siswa, sedangkan media gambar berupa gambar utuh yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. b. Model Artikulasi Menurut Mustain (2010: 30) artikulasi adalah apa yang kita definisikan sebagaistruktur-struktur dalam otak yang melibatkan kemampuan bicara (area kemampuan bicara), membaca atau pemprosesan kata lainnya dan area gerak tambahan (menulis, membuat sketsa, dan gerak-gerak ekspresif lainnya). Artinya, artikulasi merujuk kepada apa-apa saja yang berkaitan dengan berbicara atau melakukan sesuatu akibat dari pemprosesan hasil kerja otak. Penerapan model artikulasi dalam pembelajaran juga melibatkan kemampuan berbicara serta gerak ekspresi akibat kegiatan berpikir siswa. Model artikulasi berbentuk kelompok berpasangan, di mana salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan kelas perihal hasil diskusinya dan guru membimbing siswa untuk memberikan kesimpulan. Huda (2013: 269) menjelaskan bahwa pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran. Pada pembelajaran ini, siswa dibagi ke dalam kelompok-
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 43 kelompok kecil yang masing-masing anggotanya bertugas mewawancarai teman kelompoknya tentang materi yang baru dibahas, hal ini dilakukan bergantian. Kemudian tiap kelompok menyampaikan hasil kegiatan kelompok kepada kelompok yang lain. Skill pemahaman sangat diperlukan dalam model pembelajaran ini. c. Media Visual Media pembelajaran ini memfokuskan indra penglihatan saat proses belajar mengajar. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan berbagai macam teknologi, salah satunya menggunakan alat proyeksi atau proyektor. Keunggulan dari media pembelajaran menggunakan alat bantu visual ini ialah dapat menarik perhatian, memperjelas sajian, ide serta menggambarkan ide pokok yang mudah diingat. Selain itu, proses belajar mengajar menggunakan media visual ini juga dapat dicerna dengan baik oleh siswa siswi. Sehingga hal ini menjadi salah satu jenis media pembelajaran yang menyenangkan. Kemudian menurut Djamarah dan Zain (2002) media adalah sumber belajar dan dengan mengutip Winataputra (2001) menggabungkan sumber belajar menjadi lima kategori, adalah manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan. Dilihat dari penjelasan diatas bisa dikatakan bahwa media pembelajaran yaitu media alat untuk menggapai tujuan pembelajaran tersebut, alat tersebut berupa buku, koran, majalah, televise, radio dan lain sabagainya, termasuk perbuatan yang dapat di contohkan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar media merupakan salah satu hal penting sebagai pendukung untuk memberikan pesan pembelajaran kepada siswa, karena media pembelajaran merupakan sebuah alat atau perangkat yang di perlukan oleh guru untuk menyampaikan informasi berupa ilmu pengetahuan kepada siswa.