The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chitrasintarani67, 2024-04-04 21:21:39

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

94 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD pembelajaran tidak semata-mata menggunakan buku teks saja melainkan menggunakan media kreasi. Tentunya fokus dalam rancangan yang digunakan dalam model wayang dometeran bertumpu pada peningkatan aspek kebahasaan. Model ini tepat digunakan untuk pembelajaran yang berbasis praktik peragaan sehingga dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. Adapun mengenai kelebihan dari model wayang dometeran sebagai berikut. a. Kelebihan Model Wayang Dometeran Berdasar pada paparan pengembangan model wayang dometeran, adapun untuk kelebihan model wayang dometeran sebagai berikut: - Meningkatkan keterampilan berbicara siswa SD - Memberikan kesempatan siswa untuk aktif belajar - Mengasah kreativitas siswa dalam bermain peran - Meningkatkan kerjasama antar siswa - Melatih psikomotorik pada siswa usia SD - Memuat pendidikan karakter dan pengenalan kesenian pada siswa SD Beberapa kelebihan tersebut dapat memberikan manfaat yang diperoleh dalam melaksanakan pembelajaran di kelas II SD. Diterapkannya model tersebut dapat memfasilitasi siswa dengan nuansa belajar yang berbeda, karena pembelajaran tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk ceramah saja namun terdapat nuansa bermain yang dapat menarik minat belajar siswa.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 95 b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Wayang Dometeran Salah satu ciri dari model pembelajaran inovatif ialah memiliki langkahlangkah yang terstruktur, adapun langkah-langkah model wayang dometeran sebagai berikut: - Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyampaikan materi dongeng secara sederhana - Siswa dan guru menyiapkan dongeng yang akan digunakan sebagaiskenario model wayang dometeran - Guru menyiapkan wayang stik yang digunakan untuk bermain peran yang disesuaikan dengan karakter yang dimainkan - Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 anggota - Siswa mempelajari isi dongeng sesuai kelompoknya masing-masing - Kelompok mementaskan isi dongeng dengan menggunakan wayang stik - Guru mendampingi dan mengarahkan peragaan - Kelompok lain mengamati pementasan peragaan isi dongeng - Setelah pementasan selesai guru megevalusi dan menyampaikan kesimpulan pembelajaran. Prediksi Penerapan Model Wayang Dometeran Penerapan model wayang dometeran pada pembelajaran bahasa di kelas II SD dapat memacu kreativitas siswa dalam meningkatkan keterampilan berbicara. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran bahasa Indonesia pada kelas II SD yakni KD 3.8 dan 4.8 yakni meenkankan keterampilan berbicara sesuai isi dongeng fabel. Dari karakteristik pembelajaran tersebut memiliki kesamaan tujuan dari model wayang dometeran yakni meningkatkan aspek keterampilan berbicara. Model wayang dometeran merupakan strategi pembelajaran yang berbasis bermain peran isi dongeng yang menggunakan media wayang stik


96 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD bertujuan untuk melatih keterampilan berbicara siswa SD. Mengingat tujuan pembelajaran KD 3.8 dan 4.8 bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara sesuai isi dongeng bahwa model wayang dometeran menjadi solusi inovatif dalam pembelajaran tersebut. Model wayang dometeran akan mengasah kreativitassiswa belajar aspek kebahasaan. Selain itu model wayang dometeran memberikan kesempatan untuk aktif penuh dalam melaksankan kegitan berbasis bermain peran dan menggunakan media wayang stik. metode bermain peran memiliki kelebihan terutama dalam melatih aspek kebahasaan dalam hal ini berbicara. Kegiatan bermain peran akan memfokuskan siswa untuk mempelajari isi dongeng yang nantinya akan di pentasan. Selain itu pementasan juga dilakukan dengan menggunakan media wayang stik. media wayang stik memberikan intepretasi kepada siswa untuk memerankan karakter yang dimainkan. Seakan-akan siswa akan memeragakan wayang stik dan berdialog sesuai sis dongeng, dengan demikian pelaksanaan pembelajaran menjadi menyenangkan dan guru dapat mengamati kreativitas dan keterammpilan berbicara siswa kelas II SD. Pelaksanaan dari model wayang dometeran guru dapat mengamati perkembangan keterampilan berbicara melalui pementasan isi dongeng secara berkelompok. Pengamatan akan disesuaikan dengan pedoman observasi yang disesuaikan dengan indikator keberhasilan keterampilan berbicara siswa SD. Berbagai manfaat dapat diperoleh dalam melaksanakan penerapan model wayang dometeran, karena selain untuk meningkatkan keterampilan berbicara model ini dapat dijadikan sebagai media pendidikan karakter pada siswa kelas II SD. Pendidikan karakter menjadi tugas semua pihak khususnya seroang guru kelas. penanaman pendidikan karakter akan tumbuh dengan sendirinya pada pelaksanaan penerapan model wayang dometeran, karena isi


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 97 dongeng akan memberikan pesan, nilai moral, dan amanat untuk pembaca. Ketika siswa mempelajari isi dongeng secara tidak langsung siswa akan memahami pesan yang disampaikan dari dongeng, sehingga hal ini menajadi penguatan karakter budi pekerti maupun kebangsaan utuk siswa SD. Penanaman pendidikan karakter juga dapat ditekankan pada penggunaan wayang stik. wayang stik merupakan replika yang mengadopsi kesenian asli daerah yakni wayang kulit. Penggunaan media wayang stik memberikan peran positif bagi pengenalan unsur kebudayaan kepada siswa SD, sehingga berbagai manfaat dapat diperoleh dalam melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran wayang dometeran baik dalam meningkatkan keterampilan berbicara maupun penguatan pendidikan karakter siswa SD.


98 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Daftar Pustaka Al-Qudsy, Muhaimin dan Ulfa Nurhidaya. 2010. Mendidik anak Lewat Dongeng. Yogyakarta : Madania. Beta, Pancana. (2019). Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalaui Metode Bermain Peran. CJPE: Cokroaminoto Journal of Primary Education. Vol. 2, No. 2, hlm, 48-53. Fajrie, Nur. 2013. Media Pertunjukan Wayang Untuk Menumbuhkan Karakter Anak Bangsa. Prosiding Pendidikan Profesi dan Karakter Bangsa dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra, Surakarta: 01 Maret 2013, hlm. 218- 233. Kusnendi, Dedi. 2004. Pendidikan dan media massa. Pembelajaran mendongeng. Jakarta: Gerbang. Mancoro, Nuliyattin. (2015). Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas I Sd Negeri 2 Tatura. Jurnal Kreatif Tadulak, Vol. 4 No. 4, hlm. 306-314. Permana, E. P. (2015). Pengembangan Media Pembejaran Boneka Kaus Kaki Untuk. Pengembangan Media Pemebelajaran Boneka Kaus Kaki Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa KelasII Sekolah Dasar. Vol 2, No. 2, hlm, 133–140. Priyono, Kusumo. 2006, Terampil Mendongeng. Jakarta: Grasindo. Rosanti, Fahrurozi, dan Rosinar. (2019). Meningkatkan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Bermain Peran Di Kelas V Sekolah Dasar Negeri Keagungan 05 Pagi Jakarta Barat. Jurnal Dinamika Sekolah Dasar, Vol. 1, No. 1, hlm, 1-14. Rosanti, Fahrurozi, dan Rosinar. (2019). Meningkatkan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Bermain Peran Di Kelas V Sekolah Dasar Negeri Keagungan 05 Pagi Jakarta Barat. Jurnal Dinamika Sekolah Dasar, Vol. 1 No. 1, hlm, 1-14.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 99 Rosmaya, Elin. (2020). Penggunaan Metode Picture and picture untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara (Materi Dongeng) pada Anak Sekolah Dasar. CARUBAN: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 1, 67-76. Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Rus Media. Sugiarto, Eko. 2015. Mengenal Sastra Lama. Yogyakarta : Andi. Tarigan, H. G.2008. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Angkasa. Widianto, Eko. 2017. Media Wayang Mini Dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bagi Pemelajar Bipa A1 Universitas Ezzitouna Tunisia. Jurnal Kredo, Vol. 1, No. 1, hlm. 120-143. Widyanti, Winda Amalia, Rina Wijayanti, dan Henni Anggraini. 2019. Pengembangan Media Boneka Wayang Family Untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita Pada Anak Kelompok B Di Tk Muslimat Nu 9 Miftakhul Ulum Turen. Prosidingseminar Nasional Pendidikan Dan Pembelajaran Bagi Guru dan Dosen, Malang: (3) Tahun 2019, 1003- 1008. Yanto, Ari. (2015). Metode Bermain Peran (Role Playing) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ips. Jurnal Cakrawala Pendidikan Dasar, Vol. 1 No. 1, hlm, 53-37.


100 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN VI MEDIA KOMIK BERWARNA BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA SEJARAH LOKAL Halani Felda Sunbanu, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Pengembangan teknologi yang sangat pesat di Indonesia berdapak kurang baik terhadap minat baca siswa. Siswa sekolah dasar pada zaman sekarang ini memiliki minat mebaca yang sangat kurang di karenakan kemajuan teknologi yang begitu luar biasa. Siswa lebih suka membaca media sosial dibanding membaca buku pelajaran. Berdasarkan latar belakang permasalahan dan beberapa penelitian yang relevan maka pengembangan penggunaan komik berwarna dalam media pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan membaca pada siswa kelas VI pada pembelajaran yang berbasis lokal tentang mengenal sejarah lokal suku Dawan. Media Komik akan dirancang oleh guru memadukan pembelajaran cerita fiksi tentang sejarah masyarakat Dawan pada Kabupaten Timor Tengah selatan Nusa Tenggara Timur. Pengembangan Media Komik berwarna berpadukan materi sejarah yang terkesan membosanakan bagi siswa sehingga pengembangan ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa. Permasalahan Pembelajaran Membaca pada zaman sekarang sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pengetahuan dikarenakan minat membaca pada siswa yang sangat rendah. Pelnulisan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan membaca khususnya pada materisejarah lokal yang terdapat Suku Dawan Nusa Tenggara Timur. Pembelajaran sejarah yang abstrak dan banyak terkesan membuat siswa malas dalam membaca karaena


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 101 penggunaan media yang yang belum kreativ seperti buku bacaan teks tanpa gambar membuat siswa pada zaman digital ini menjadi malas membaca. Guru cenderung menggunakan buku teks tematik terpadu, terbatasnya media untuk materi tersebut. Sehingga siswa kurang memahami hubungan manusia dan lingkungan dengan membaca teks, siswa tidak dapat menyajikan informasi tentang alam dan pengaruh kegiatan manusia dengan bermain peran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Pengembangan Buku bergambar ataunsering di sebut komik yang biasa disajikan dengan gambar hitam putih menjadi berwarna dikemas untuk meceritakan sejarah lokal Suku Dawan Kabupaten Timor tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kemajuan teknologi yang sangat luar biasa di Indonesia berdampak kurang baik terhadap minat membaca siswa. Siswa sekolah dasar pada zaman sekarang ini memiliki minat mebaca yang sangat kurang di karenakan kemajuan teknologi yang begitu luar biasa. Siswa lebih suka membaca media sosial dibanding membaca buku pelajaran. Sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagian kebutuhan yang mendasar. Pada kenyataannya membaca sangat penting dalam proses belajar anak karena dengan membaca, seseorang dapat memperluas pola pikir dan cara pandangnya, dapat menambah pengetahuan dan membentuk sikap berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya anak yang minat membacanya rendah maka akan rendah juga prestasinya. Perkembangan digital yang sangat luas di Indonesia ini menyebabkan siswa lebih senang menggunakan teknologi untuk bermain game, menoton youtobe dan menggunkan media sosial sehingga menyebabkan minat baca pada siswa tersebut menjadi rendah. Berdasarkan latar belakang permasalahan dan beberapa penelitian yang relevan maka pengembangan penggunaan komik berwarna dalam media pembelajaran untuk meningkatkan


102 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD keterampilan membaca pada siswa kelas VI pada pembelajaran yang berbasis lokal tentang mengenal sejarah lokal suku Dawan. Teori Konseptual a. Pengembangan Media Pembelajaran Menurut Arsyad (2011) media pembelajaran adalah adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar sehingga makna pesan yang disampaikan menjadi lebih jelas dan tujuan pendidikan atau pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Hasil belajar adalah hasil yang diberikan kepada siswa berupa penilaian setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menilai pengetahuan, sikap, ketrampilan pada diri siswa dengan adanya perubahan tingkah laku. Media pembelajaran berfungsi sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa untuk memperoleh pesan dan informasi yang berikan oleh guru sehingga materi pembelajaran dapat lebih meningkat dan membentuk pengetahuan bagi siswa. Media pembelajaran merupakan unsur yang penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan sumber belajar yang dapat membantu guru dalam memperkaya wawasan siswa, dengan berbagai jenis media pembelajaran oleh guru maka dapat menjadi bahan dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Pemakaian media pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar hal baru dalam materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga dapat dengan mudah dipahami. Media pembelajaran yang menarik bagi siswa dapat menjadi rangsangan bagi siswa dalam proses pembelajaran. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sangat dibutuhkan dalam lembaga pendidikan formal.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 103 Media pembelajaran dapat digunakan sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai guru harus dapat memilih media pembelajaran yang sesuai dan cocok untuk digunakan sehingga tercapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah. b. Media Komik Novianti & Syaichudin, 2010 mengatakan bahwa media komik adalah media yang tergolong bahan cetak diperlukan proses pencetakan untuk memperbanyak media tersebut serta memerlukan proses editing sebelum mencetaknya. Sedangkan berdasarkan sifatnya media komik pembelajaran mempunyai sifat sederhana, jelas, mudah untuk di pahami oleh siswa. Media komik memiliki nilai yang baik dalam proses belajar mengajar. Menurut Sudjana dan Rivai (2002) menyatakan media komik digunakan dalam proses belajar mengajar yang dapat menciptakan minat para peserta didik, melancarkan proses belajar mengajar dan media komik dapat meningkatkan minat belajar dan nilai apresiasi yang tinggi. Bentuk media gambar yang dimodifikasi dengan tulisan dalam media pendidikan sering disebut dengan komik. Komik adalah suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hubungan kepada pembaca. Kelebihan komik menurut adalah: komik tidak berbahaya dan tidak merusak minat baca anak-anak. Komik dapat memperkaya kecerdasan visual dan bisa mendorong anak belajar mencocokan antara latar belakang dengan kejadian yang dipaparkan dalam cerita. Komik punya peranan yang positif yaitu mengembangkan kebiasaan membaca. Dunia anak-anak penuh dengan imajinasi dan kreasi. Itulah sebabnya sebagian besar anak-anak menyukai gambar, sketsa dan komik. Komik adalah salah satu alat media yang menyenangkan untuk anak belajar. Edukasi melalui media komik ini diharapkan


104 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD mampu membentuk pola pikir yang tepat agar anak mampu memilih jajanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Menurut Sudjana & Rivai (2010, p. 68), peranpokok dari media komik adalah kemampuannya dalam menciptakan minat para siswa dalam pembelajaran. Penggunaan komik dalam pembelajaran sebaiknya dipadukan dengan metode mengajar, sehingga komik akan dapat menjadi media pembelajaran yang efektif. Melalui penokohan dalam komik, nilainilai karakter dapat disampaikan kepada para siswa. Adanya media komik diharapkan akan mempermudah proses belajar mengajar, khususnya dalam merealisasi konsepkonsep pelajaran yang bersifat abstrak. Dalam hal inilah komik berperan besar dalam menyajikan konsep-konsep abstrak tersebut ke dalam contoh yang lebih konkrit dalam kehidupan sehari-hari yang bermuatan nilai-nilai karakter. Pembelajaran dengan menggunakan media komik, sudah banyak diterapkan oleh beberapa negara maju seperti Jepang. Beberapa buku pelajaran sekolah di Jepang ada yang didesain dalam format komik. c. Keterampilan Membaca Menurut Slameto, 2010 mengungkapkan bahwa minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterkaitan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antar diri sendiri dengan suatu diluar diri. Semakin kuat hubungan tersebut maka semakin besar minat. Menumbuhkan mintam membaca siswa sangat penting dalam pembelajaran. Ketika siswa sudah terbiasa dalam membaca akan menambah wawasan siswa dengan mudah. Membaca sanagat dibutuhkan oleh siswa dalam menambah pemahaman siswa. menurut Santosa, 2008:1.5-1.6 Bahasa merupakan alat komunikasi yang memiliki fungsi: Pertama informasi, yaitu untukmenyampaikan informasitimbal


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 105 balik antaranggota keluarga ataupun anggotaanggota masyarakat; Kedua Fungsi ekspresi, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembicara; Ketiga Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat; keempat Fungsi control sosial, bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, Dari empat aspek keterampilan berbahasa tersebut, yang diteliti hanya aspek keterampilan membaca. Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus. Henry Guntur Tarigan (2008:7) mengungkapkan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Hal senada juga dikemukakan oleh Harjasujana (melalui Khuddaru Sadhono, 2012:65) yang menyatakan bahwa membaca merupakan kegiatan merespon lambang-lambang tertulis dengan menggunakan pengertian yang tepat. Samsu Somadayo (2011:4) mengartikan membaca sebagai suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta memahami arti atu makna yang terkandung di dalam bahan tulis. Pearson dan Tierney (1984) menyatakan bahwa kemampuan membaca sebagai proses mental yang aktif melibatkan pengajaran mendapatkan makna teks. Oleh sebab itu, proses memahami teks yang dibaca melibatkan aktivitasaktivitas kognitif, khususnya yang melibatkan kesadaran metakognitif.


106 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Pengembangan Media Komik Berwarna Sebagai Peningkatan Keterampilan Membaca Sejarah Lokal Proses pembelajaran pada masa modern sekarang ini membutuhkan kreativitas guru dalam mengkemas proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik dan siswa dapat memahami materi. Pembelajaran yang kurang kreatif akan mengakibatkan kurangnya minat belajar siswa. Salah satu permasalahan yang berpengaruh dalam proses belajar siswa adalah kurangnya minat membaca siswa sehingga mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa. Ketersediaan buku teks yang tidak dilengkapi dengan gambar terkesan mebosankan bagi siswa. Berdasarkan penelitian relevan dan pengalaman beberapa guru kelas mengatakan bahwa siswa sangat kurang dalam membaca. Permasalahan yang di ambil juga adalah pembelajaran Sejarah atau cerita fiksi yang terkesan monoton dan membosankan membuat siswa tidak tertarik untuk belajar tentang sejarah. Media Komik yang di terapkan dalam pembelajaran secara langsung akan di bantu oleh model pembelajaran agar memaksimalkan pemahaman siswa. Media Komik dapat meningkatkan minat membaca siswa seperti pada penelitian Mei Fita Asry Untari pada tahun 2016 dengan judul Keefektifan Media Komik Terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman Ada Siswa Kelas IV SD penelitian ini berhasil menggunakan media komik untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca di kelas IV Sekolah Dasar. Media Komik yang biasanya digunakan gambarnya msih hitam putih dalam pembelajaran ini penulis memilih media komik itu berawarna agar lebih menarik perhatian siswa dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa. Penerapan dalam pembelajaran dikaitkan dengan seharah lokal Suku Dawan NTT pada KD .


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 107 • KD 3.9.Menelusuri tuturan dan tindakan tokoh serta penceritaan penulis dalam teks fiksi Media Komik akan dirancang oleh guru memadukan pembelajaran cerita fiksi tentang sejarah masyarakat Dawan pada Kabupaten Timor Tengah selatan Nusa Tenggara Timur. Prediksi Penerapan Pengembangan Media Komik berwarna berpadukan materi sejarah yang terkesan membosanakan bagi siswa sehingga pengembangan ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa dalam meningkatkan keterampilan membaca sisswa. Jika siswa sudah tertarik akan lebih mudah siswa memahami materi tersebut. Langkah- langkah penerapan sebagai berikut 1. Persiapan bagi guru No Pelaksaan 1 Guru melihat Tujuan Pembelajaran 2 Guru menyiapkan konsep Karakter komik 3 Guru mendesain karakter komik 4 Guru memadukan pembelajaran sejarah Lokal Suku Dawan kedapam cerita Fiksi yang di ramkum menjari percakapan dalam komik 5 Memeriksa Kembali 6 Melakukan Pencatakan 2. Penerapan dalam pembelajaran


108 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD No Penerapan 1 Kelas di buka oleh guru seperti biasa dengan tahapan serti biasa ( Doa, Motivasi pembelajaran, Menyampakain Tujuan Pembelajaran) 2 Guru menjelaskan Materi pembelajaran menggunakan Komik tetapi di kemas dalam digital dan di papakarkan di depan kelas 3 Guru membagikan komik di gital kepada setiap siswa 4 Guru memberikan waktu siswa membaca secara mandiri 5 Siswa di berikan kesempatan untuk mendiskusikan materi tersebut bersama teman sebangku 6 Guru memberikan bebrapa pertanyaan 7 Guru memberikan tugas mandiri 8 Kesimpulan bersama-sama


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 109 Daftar Pustaka Ahmat, J. (2013). Penggunaan media komik untuk meningkatkan keterampilan membaca cerita di kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(2), 1-9. HS, H. A. B., Gading, I. K., & Bayu, G. W. (2020). Model Pembelajaran Cooperatif Integrated Reading Composition (CIRC) Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa. Jurnal Pedagogi dan Pembelajaran, 3(2), 233-247. Lestari Suci, dkk. 2009. Media Grafis; Media Komik. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Maharsi, I. (2010). Komik dunia kreatif tanpa batas. Yogyakarta: Kata Buku. Saputro, H. B., & Soeharto, S. (2015). Pengembangan media komik berbasis pendidikan karakter pada pembelajaran tematik-integratif kelas IV SD. Jurnal Prima Edukasia, 3(1), 61-72. Suardani, N. L., Ardana, I. K., & Putra, I. K. A. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran SQ4Rterhadap Keterampilan Membaca dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V Sd Gugus I Denpasar Selatan. MIMBAR PGSD Undiksha, 1(1). Sudjana, N., & Rivai, A. (2010). Media pengajaran. Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo Tristiantari, N. K. D., & Sumantri, I. M. (2016). Model pembelajaran cooperatif integrated reading composition berpola lesson study meningkatkan keterampilan membaca dan menulis. JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia), 5(2), 203-211. Untari, M. F. A., & Saputra, A. A. (2016). Keefektifan media komik terhadap kemampuan membaca pemahaman pada siswa Kelas IV SD. Mimbar Sekolah Dasar, 3(1), 29-39. Wahyuningsih, A. N. (2012). Pengembangan media komik bergambar materi sistem saraf untuk pembelajaran yang menggunakan strategi PQ4R. Journal of Innovative Science Education, 1(1)..


110 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN VII DIRIBEL BAGI PENINGKATAN PEMAHAMAN TEKS EKSPLANATORI PADA SISWA KELAS TINGGI Ade Rahayu, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Minimnya kemampuan menulis siswa dan keterbatasan sarana serta media pembelajaran semakin memperburuk kualitas tulisan siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Teks eksplanasi merupakan teks yang menginformasikan proses terjadinya sesuatu baik fenomena alam atau sosial. Pada tahap memahami dan menulis teks tersebut, siswa merasa kesulitan karena kurangnya informasi dan pengetahuan yang dimilikisiswa maupun guru sebagai fasilitator. Diribel hadir sebagai solusi mengatasi minimnya kemampuan menulis siswa dengan mengkombinasi antara media dan model pembelajaran yang relevan dengan materi teks eksplanasi. Model ini memungkinkan siswa untuk dituntut bekerja sama dalam kelompok mengenai diorama yang telah diamati, sehingga siswa memiliki banyak bahan dan informasi untuk menulis teks eksplanasi dengan media diorama ini siswa akan menjadi lebih aktif menulis dikarenakan adanya media kongkrit yang menggambarkan benda sesuai kejadian yang menjadi topik sehingga pembelajaran menjadi berbeda dan menyenangkan. Berdasarkan analisis kelebihan media diorama, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis teks eksplanasis siswa meningkat sesuai dengan konsep media diorama yang merupakan pemandangan tiga dimensi mini yang bertujuan untuk menggambarkan pemandangan sebenarnya. Permasalahan Pembelajaran Dalam Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia disebutkan bahwa keterampilan berbahasa mencakup empat aspek, yaitu keterampilan mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 111 keterampilan menulis (Depdiknas, 2006:XI). Keempat aspek tersebut merupakan Caturtunggal yang artinya empat aspek keterampilan berbahasa tersebut penting dan harus dikuasai. Dengan kata lain, bila seseorang hanya memilikisatu diantara keempat keterampilan tersebut maka ia tidak dapat dikatakan memiliki keterampilan berbahasa secara utuh. Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai siswa Sekolah Dasar yaitu keterampilan menulis. Dengan memiliki keterampilan menulis, siswa akan dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya berdasarkan informasi yang diterimanya ke dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki dan dikuasai siswa. Namun pada kenyataanya siswa masih mengalami kesulitan dalam menulis. Permasalahan yang dihadapi adalah ketidakmampuan dalam menemukan apa yang hendak ditulis, apa topiknya dan bagaimana memulainya. Siswa juga belum mampu menggunakan bahasa yang baik dan benar. Dapat dilihat pada tulisan siswa yang kurang sesuai dengan aturan-aturan ejaan dalam menulis. Padahal menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berpikir secara kritis (Tarigan, 2009: 21-22). Kemudian, keterampilan menulis merupakan salah satu komponen yang turut menentukan dalam mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Terutama dalam usaha menjadikan siswa yang memiliki kemampuan dan keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Teks eksplanasi adalah salah satu teks yang dipelajari pada jenjang pendidikan dasar yaitu kelas VI pada KD 3.2 dan 4.2. Teks eksplanasi adalah teks yang berisi informasi tentang suatu hal atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Anderson (dalam Lela, 1997:80-81) mengungkapkan teks eksplanasi merupakan suatu jenis teks yang mengungkapkan bagaimana dan mengapa sesuatu itu terjadi. Tujuan dari teks eksplanasi tersebut adalah untuk


112 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD mengungkapkan setiap langkah dari proses bagaimana dan untuk memberi alasan mengapa. Untuk hal yang lebih luas, biasanya teks eksplanasi menjelaskan tentang bagaimana sesuatu itu terjadi, mengapa sesuatu itu terjadi, mengapa suatu benda itu sama atau berbeda, dan bagaimana untuk memecahkan suatu masalah. Mengingat teks eksplanasi tergolong teks yang sulit dan baru bagi siswa SD,siswa-siswa tersebut merasa kesulitan memahami dan memproduksi teks itu sendiri. Selanjutnya, keterbatasan sarana juga menjadi salah satu penghambat guru dalam memperkenalkan kejadian atau fenomena yang baru kepada siswa sehingga pada akhirnya guru hanya menggunakan media seadanya, yaitu berdasarkan buku teks siswa dan pengetahuan guru itu sendiri. Dalam hal ini perlu adanya dilakukan inovasi untuk mengatasi permasalahan kemampuan menulis siswa guru harus berusaha keras dalam menyiapkan inovasi materi dan media pembelajaran untuk siswa sebanyak dan seluas mungkin. Khususnya model dan media pembelajaran yang memudahkan siswa memahami teks eksplanasi. Selain memahami isi dan informasi yang terkandung dalam teks eksplanasi, siswa juga harus diperkaya dengan cuplikan atau video singkat yang menggambarkan kejadian atau fenomena. Dalam penelitian ini upaya yang ditawarkan peneliti untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan model problem based learning berbantuan media diorama. Margetson (dalam Rusman, 2012:230), mengemukakan bahwa problem based learning (PBL) membantu meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif. Penerapan problem based learning menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk belajar menyelesaikan masalah yang terjadi di sekitar mereka. Kelas yang menerapkan


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 113 problem based learning akan menuntut siswa bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah yang ditemukan di dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada siswa sebelum mereka mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Model problem based learning dapat membantu siswa lebih berpikir kritis dalam menganalisis, mencari, dan menemukan jawaban sehingga dapat menulis teks eksplanasi dengan baik dan benar. Rangkaian kegiatan ini relevan digunakan dalam pembelajaran menulis teks eksplanasi karena teks tersebut merupakan bentuk keterampilan mengungkapkan fakta, informasi, dan rangkaian kejadian. Proses yang dikemukakan siswa harus berdasarkan landasan yang kuat, jelas, dan mudah dipahami. Sehingga pernyataan tersebut dapat diterima secara ilmiah dan dapat menjadi jawaban atas permasalahan yang diidentifikasi. Selain penggunaan model problem based learning, untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis teks eksplanasi dapat dibantu menggunakan media. Media adalah segala hal meliputi alat fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran (Gagne dalam Arsyad, 2011: 4). Dalam upaya mencapai tujuan belajar diperlukan perantara yang digunakan agar informasi yang disampaikan guru dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa. Media yang ditawarkan peneliti untuk membantu model problem based learning adalah media diorama. Dengan diterapkannya media ini guru dapat membantu siswa dalam melihat berbagai pandangan, memperluas persepsi dan membuka pikiran tentang ide-ide baru yang konstruktif untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata.


114 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD TEORI KONSEPTUAL DIRIBEL Model pembelajaran diribel merupakan model pembelajaran yang mengkolaborasikan model dan media pembelajaran yang memudahkan siswa memahami teks eksplanasi. Diribel merupakan akronim dari diorama berbasis problem based learning yang berguna meningkatkan pemahaman siswa kelas tinggi pada teks eksplanasi. Berikut teori yang mendukung model pembelajaran ini : a. Media Pembelajaran Diorama Media diorama merupakan media tiga dimensi atau sering disebut media serba aneka. Asyhar (2012:47) mengungkapkan bahwa media tiga dimensi merupakan media yang tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja dan mempunyai dimensi panjang, lebar dan tebal. Menurut Kustandi dkk (2011:58) Diorama adalah gambaran kejadian—baik yang mempunyai nilai sejarah atau tidak—yang disajikan dalam bentuk mini atau kecil. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa diorama memberikan informasi berupa peristiwa yang disajikan dalam bentuk tiruan lebih kecil dari aslinya. Kita bisa membuat apa saja melalui diorama. Untuk mempermudah dalam membuatnya sebaiknya gunakan skala yang seragam. Diorama merupakan media yang lebih menekankan kepada isi pesan dari gambaran visual dan karakter tokoh dengan bentuk yang lebih hidup. Daryanto (2013: 29) berpendapat bahwa media diorama merupakan salah satu media tanpa proyeksi yang disajikan secara visual tiga dimensional berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya. Media diorama dapat digunakan dalam pembelajaran untuk mewakili benda asli yang sulit disajikan di dalam kelas. Sejalan dengan itu, Munadi (2013:109) berpendapat bahwa media diorama adalah pemandangan tiga dimensi dalam ukuran kecil untuk


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 115 memperagakan atau menjelaskan suatu keadaan atau fenomena yang menunjukkan aktivitas. Degeng dkk (1993:77) mendefinisikan diorama sebagai kotak yang melukiskan suatu pemandangan yang mempunyai latar belakang dengean perspektif sebenarnya, sehingga menggambarkan suatu suasana yang sebenarnya. Diorama merupakan gabungan antara model (tiruan tiga dimensi) dengan gambar perspektif (dua dimensi) dalam suatu penampilan utuh. Menurut Sanaky (2011: 114) diorama adalah sebuah pemandangan tiga dimensi mini yang bertujuan untuk menggambarkan pemandangan sebenarnya. Diorama biasanya terdiri atas bentuk-bentuk sosok atau objek-objek yang ditempatkan di belakang latar dan disesuaikan dengan penyajiannya. Diorama merupakan sajian tentang suatu keadaan dalam ukuran kecil. Diorama dilengkapi dengan patung-patung dan penggambaran lingkungan dengan latar belakang yang dilukiskan di dinding atau ditata di sekitar objek. Hal tersebut bertujuan agar penggambaran suatu keadaan sesuai dengan suasana sebenarnya. Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diorama adalah suatu benda yang di dalamnya berisi dengan tiruan suatu gambaran keadaan lengkap dengan hal yang berada di sekitarnya. Tiruan tersebut dibuat lebih kecil daripada keadaan aslinya. Diorama biasanya digunakan dalam menggambarkan kejadian atau suatu proses agar yang melihatnya tertarik untuk memahami isi dari diorama tersebut. Penggunaan media diorama menurut Sanaky (2011:118) dalam pembelajaran dimulai dengan langkah pertama yaitu menentukan tema yang akan disampaikan kepada siswa. Penentuan tema tersebut sejalan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat guru sebelumnya. Setelah tema telah ditentukan, langkah kedua adalah membuat perencanaan pembuatan diorama terlebih dahulu. Hal ini dimulai dari pemilihan dan pembelian bahan,


116 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD warna, serta menentukan jenis diorama yang akan digunakan. Perencanaan pembuatan bertujuan agar dapat mengetahui kesulitan-kesulitan dalam proses pembuatan diorama. Selain itu, perencanaan bertujuan agar waktu yang digunakan akan efektif dan efisien. Setelah proses perencanaan selesai, langkah ketiga adalah proses pembuatan. Pembuatan diorama sangat memerlukan ketelatenan dan kreatifitas tinggi, sehingga hendaknya mempunyai kedua hal tersebut. Jika tidak memungkinkan, bisa dialihkan kepada seseorang yang ahli dalam pembuatan diorama agar tema yang dibuat sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika diorama tersebut selesai dibuat, maka hendaknya dilakukan simulasi terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada siswa. Hal ini dilakukan agar beberapa kekurangan yang ada dapat diantisipasi pada waktu simulasi agar dalam proses pembelajaran tidak ada kendala yang terlalu besar. Media diorama biasa digunakan pada mata pelajaran ilmu bumi (IPA), ilmu hayat, dan sejarah. Namun dalam penelitian ini, diorama digunakan pada pembelajaran menulis teks eksplanasi untuk memudahkan siswa dalam menuangkan ide dan gagasannya dalam sebuah tulisan. Diorama dapat memberikan rangsangan pada siswa untuk kreatif dalam menulis karena memuat suatu gambaran keadaan yang dapat diamati secara langsung. Keunggulan dari diorama di dalam pembelajaran menulis teks eksplanasi ini karena memuat tema tentang suatu kejadian yang disesuaikan dengan materi pembelajaran. Siswa dapat memperhatikan, menganalisis, dan mendiskusikan tema, lalu membuat tulisan sesuai dengan tema yang ada dalam diorama. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan diorama dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Diorama dapat membangkitkan motivasi dalam


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 117 pembelajaran menulis teks eksplanasisiswa agar dapat menuangkan ide-ide dan gagasannya dalam sebuah tulisan. b. Model Problem Based Learning (PBL) Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dalam pembelajarannya sehingga mampu melatih siswa untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah. Menurut Hosnan (2014:298), problem based learning adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata (autentik) yang tidak terstruktur dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membangun pengetahuan baru. Sanjaya (2012:214-215) menyatakan PBL dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Selanjutnya Duch (dalam Amir, 2010: 21) menjelaskan bahwa Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada tantangan ”belajar untuk belajar”. Siswa bekerja sama di dalam kelompok untuk mencari solusi permasalahan dunia nyata, permasalahan ini sebagai acuan bagi siswa untuk merumuskan, menganalisis dan memecahkannya. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa problem based learning adalah suatu model pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang ada di dunia nyata sehingga siswa mampu merumuskan, menganalisis dan memecahkan masalah itu. Problem Based Learning (PBL) adalah suatu cara memanfaatkan masalah untuk menimbulkan motivasi belajar. Suksesnya pelaksanaan PBL sangat bergantung pada seleksi, desain dan pengembangan masalah. Hal lain yang sangat menentukan adalah tujuan yang ingin dicapai dalam penggunaan model PBL.


118 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD MenurutHosnan(2014:299),”TujuanutamaPBLbukanlahpenyampaian sejumlah besar pengetahuan kepada siswa, melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan kemampuan siswa untuk secara aktif membangun pengetahuan sendiri”. Lebih lanjut, Hosnan (2014:299) menyatakan bahwa PBL juga dimaksudkan untuk mengembangkan kemandirian belajar dan keterampilan sosialsiswa. Kemandirian belajar dan keterampilan sosial itu dapat terbentuk ketika siswa berkolaborasi untuk mengidentifikasi informasi, strategi, dan sumber belajar yang relevan untuk menyelesaikan masalah. Menurut Kunandar (2007:355), tujuan Problem Based Learning (PBL) yaitu sebagai berikut. 1) membantu guru memberikan informasi sebanyakbanyaknya kepada siswa, 2) membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, 3) belajar tentang berbagi peran orang dewasa melalui perlibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, 4) menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan PBL adalah untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektualnya di dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat belajar tentang kehidupan yang lebih luas dan bermakna. Menurut Hosnan (2014:301), problem based learning terdiri atas lima langkah, yaitu: (1) orientasi siswa kepada masalah, guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan perangkat yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya; (2) mengorganisasi siswa untuk belajar, guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut; (3) membimbing penyelidikan individual dan kelompok, guru mendorong siswa


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 119 untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan serta pemecahan masalahnya; (4) meembangkan dan menyajikan hasil karya, guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. c. Pengertian Menulis Teks Eksplanasi Semi (2009:2) menyatakan bahwa pada hakikatnya menulis merupakan pemindahan pikiran dan perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa. Jika dalam berbicara pikiran dan perasaan disampaikan secara lisan, dalam menulis bahasa lisan tersebut dipindahkan wujudnya ke dalam bentuk tulis dengan menggunakan grafem. Pikiran, ide dan gagasan penulis dituangkan alam bentuk lambang-lambang tulisan yang nantinya akan dipahami oleh pembaca. Sejalan dengan itu, Thahar (2008:12) mengemukakan bahwa kegiatan menulis adalah kegiatan intelektual dengan mengekspresikan jalan pikiran seseorang melalui tulisan dengan media bahasa yang sempurna. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan ungkapan ekspresi seseorang melalui tulisan dengan lambang bahasa yang sempurna. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa produktif yang memerlukan latihan secara kontinyu agar seseorang mampu menuangkan ide dan gagasan di dalam pikirannya melalui tulisan sehingga pembaca mampu memahami informasi dari tulisan tersebut. Teks eksplanasi adalah teks yang berisi informasi tentang suatu hal atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Anderson (dalam Lela, 1997:80-81) mengungkapkan teks eksplanasi merupakan suatu jenis teks yang mengungkapkan bagaimana


120 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD dan mengapa sesuatu itu terjadi. Tujuan dari teks eksplanasi tersebut adalah untuk mengungkapkan setiap langkah dari proses bagaimana dan untuk memberi alasan mengapa. Untuk hal yang lebih luas, biasanya teks eksplanasi menjelaskan tentang bagaimana sesuatu itu terjadi, mengapa sesuatu itu terjadi, mengapa suatu benda itu sama atau berbeda, dan bagaimana untuk memecahkan suatu masalah. Isi teks eksplanasi berkaitan erat dengan peristiwa alam dan peristiwa sosial. Teks eksplanasi juga memainkan peran berharga dalam membangun dan menyimpan pengetahuan. Penulisan tentang teknologi dan sains sering dinyatakan dalam bentuk teks eksplanasi. Teks eksplanasi memilikistruktur baku sebagaimana halnya jenis teks lainnya. Sesuai dengan karakteristik umum dari isinya, teks eksplanasi dibentuk oleh bagian-bagian berikut. Judul, judul (tajuk) adalah kepala teks yang berisi topik pembicaraan; Identifikasi fenomena, mengidentifikasi sesuatu yang akan diterangkan. Hal itu bisa terkait dengan fenomena alam, sosial, budaya, dan fenomena-fenomena lainnya. Penggambaran rangkaian kejadian, memerinci proses kejadian yang relevan dengan fenomena yang diterangkan sebagai pertanyaan atau bagaimana atau mengapa; Rincian yang berpola atas “bagaimana” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kronologis ataupun gradual. Dalam hal ini fase-fase kejadiannya disusun berdasarkan urutan waktu; Rincian yang berpola atas “mengapa” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kausalitas. Dalam hal ini fase-fase kejadiannya disusun berdasarkan hubungan sebab-akibat; Ulasan (review), berupa komentar atau penilaian tentang konsekuensi atas kejadian yang dipaparkan sebelumnnya. Berdasarkan kaidah kebahasaan secara umum, teks eksplanasi sama dengan kaidah pada teks prosedur. Sebagai teks yang berkategori faktual, teks


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 121 eksplanasi menggunakan banyak kata yang bermakna denotatif. Konjungsi kausalitas (sebab akibat), antara lain,sebab, karena, oleh karena itu, oleh karena itu, sehingga. Konjungsi kronologis (hubungan waktu), seperti kemudian, lalu, setelah itu, pada akhirnnya. Menggunakan keterangan waktu. Keterangan waktu dapat ditentukan melalui penanda waktu seperti jam, hari, bulan, tahun, peristiwa dan sebagainya. Selain itu, keterangan waktu dapat juga ditentukan dengan adanya kata depan pada, di, saat, ketika, sebelum dsb. Mulyadi (2013:176) menjelaskan langkah-langkah menulis teks eksplanasi secara tertulis sama dengan langkah-langkah menulis karangan pada umumnya, hanya saja isinya yang berbeda. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: Menentukan Tema Tulisan. Tahap pertama dalam menulis karangan adalah menentukan tema atau topik. Tahap ini berguna agar tulisan yang nanti akan kita tulis tidak melebar dan penulisannya tidak berulang. Tema yang dapat digunakan untuk menulis teks eksplanasi adalah peristiwa alam seperti banjir, proses terjadinya hujan, tsunami, gempa bumi, pelangi, dan lain-lain, atau peristiwa sosial seperti narkoba, kenakalan remaja, tawuran pelajar, dan lainlain. Mengumpulkan Bahan Tulisan. Pada tahap ini siswa harus mencari bahan/data/informasi berkaitan dengan apa yang akan Ananda tulis. Bahan/ data/ informasi awal ini bisa didapat dengan membaca buku-buku, majalah, koran, ataupun artikel yang berkaitan dengan peristiwa alam atau sosial, wawancara dengan ahli, melihat video serta gambar tentang peristiwa alam dan sosial atau pengamatan langsung terhadap objek jika memungkinkan. Membuat Kerangka Tulisan. Kerangka tulisan berfungsi untuk menjaga sebuah tulisan agar sesuai dengan apa yang direncanakan. Pada tahap ini, yang harus siswa lakukan adalah merinci poin-poin penting apa saja yang akan ditulis dan dikembangkan sesuai dengan tema. Poin-poin tersebut nantinya akan digunakan sebagai acuan untuk membuat sebuah tulisan sehingga harus sesuai


122 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD dengan struktur teks eksplanasi. Misalnya, pada bagian pernyataan umum dibuat poin mengenai pengertian banjir, kemudian pada bagian deretan penjelas dibuat poin penyebab banjir adalah illegal loging, membuang sampah sembarangan, got yang tidak cukup menampung air dan sebagainya. Lalu pada bagian interpretasi dibuat poin tentang penangulangan banjir. Mengembangkan Tulisan. Setelah kerangka karangan dibuat, langkah berikutnya yang ahrus siswa kerjakan adalah mengembangakan kerangka menjadi sebuah tulisan (teks eksplanasi). Tahap ini memerlukan kecermatan siswa dalam menggunakan tanda baca (EBI), pemilihan kata atau diksi, dan kepaduan kalimat. d. Model Diribel Model pembelajaran diribel merupakan salah satu inovasi dalam proses pembelajaran yang mengkolaborasikan media diorama dan model pembelajaran problem based learning untuk menghasilkan sesuatu keterbaruan dalam proses pembelajaran. Model ini memiliki beberapa karakteristik tersendiri yaitu sebagai berikut : Karakteristik pertama dalam model ini adalah model ini dapat memberikan rangsangan pada siswa untuk kreatif dalam menulis karena memuatsuatu gambaran keadaan yang dapat diamatisecara langsung. Sehingga siswa dapat menuangkan ide-ide dan gagasannya dalam sebuah tulisan. Karakteristik kedua dalam model ini adalah menggunakan model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dalam pembelajarannya sehingga mampu melatih siswa untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah. Dalam melatih keterampilan menulissiswa perlu rasanya rangsangan secara nyata terhadap permasalahan yang terjadi sehingg siswa


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 123 dengan mudah untuk menuliskan ide-ideya terhadap permasalahan tersebut berserta cara memecahkan masalahnya. Pengembangan Diribel Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanan yang dilakukan dengan baik. Pemilihan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Arsyad (2011: 75) mengemukakan kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, antara lain: (1) sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, (2) tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi, (3) praktis, luwes, dan bertahan, (4) guru terampil menggunakannya, (5) pengelompokan sasaran, (6) dan mutu teknis. Pemilihan media pembelajaran yang tepat dapat berfungsi sebagai alat bantu dalam proses belajar. Media diorama yang dipilih bersifat praktis, luwes, dan bertahan mengajar yang dapat membangkitkan motivasi dalam belajar siswa. Media diorama juga merupakan salah satu media yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Muedjiono dalam Daryanto (2010:29) mengungkapkan lima kelebihan media diorama sebagai berikut. (a) memberikan pengalaman secara langsung, (b) penyajian secara konkret, (c) dapat menunjukkan objek secara utuh baik konstruksi maupun cara kerjanya, (d) dapat memperlihatkan struktur organisasi secara jelas, dan (e) dapat menunjukkan alur suatu proses secara jelas. Sedangkan kelemahan media diorama adalah tidak bisa menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar, penyimpanannya memerlukan ruang yang besar dan perawatannya cukup rumit. Sebelum pembelajaran menulis teks eksplanasi dengan menerapkan model problem based learning


124 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD berbantuan media diorama dilaksanakan, guru harus mempersiapkan atau menyediakan media diorama yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas yaitu keterampilan menulis teks eksplanasi. Hosnan (2014:301) menjelaskan bahwa ada lima langkah pengaplikasian model PBL di dalam kelas, yaitu sebagai berikut. Pertama, orientasi siswa kepada masalah. Kedua, mengorganisasi siswa untuk belajar. Ketiga, membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Kelima, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Berdasarkan analisis kelebihan media diorama, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis teks eksplanasi siswa menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan model problem based learning berbantuan media diorama. Hal tersebut sesuai dengan konsep media diorama yang merupakan pemandangan tiga dimensi mini yang bertujuan untuk menggambarkan pemandangan sebenarnya. Hal ini senada dengan konsep teks eksplanasi yang berisi proses terjadinya sesuatu. Dalam hal ini, Diorama berbentuk gunung meletus akan memperlihatkan kepada siswa bahwa proses letusan gunung api akan mengeluarkan larva dan menjalar ke seluruh permukaan badan gunung. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah menuliskan prosesnya menjadi teks eksplanasi. Jadi, dapat disimpulkan model problem based learning berbantuan media diorama berpengaruh terhadap keterampilan menulis teks eksplanasi siswa kelas VI SD.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 125 Gambar 2.1 Prototipe Media Diorama Gambar 2.2 Prototipe Media Diorama Gunung Meletus (sumber: https://blog.elevenia.co.id/cara-membuat-gunung-meletus-daribahan-sederhana/ dan Dokumen Pribadi ) Ditinjau dari kelebihan model problem based learning berbantuan media diorama, Diribel ini baik digunakan dalam pembelajaran menulis teks ekspanasi. Hal ini dikarenakan model ini lebih menekankan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Model ini merupakan suatu model pembelajaran yang menuntut siswa untuk mampu bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh temuan positif dan temuan negatif. Temuan positif tersebut ada dua, yaitu (1) siswa kelas VI SD mampu memahami teks eksplanasi berdasarkan media yang dapat dilihat dan dirasakan siswa; dan (2) siswa kelas


126 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD VI SD mampu menulis teks eksplanasi berdasarkan media yang dapat dilihat dan dirasakan siswa. Selanjutnya, temuan negatif yang didapatkan dari penelitian ini adalah siswa kesulitan menulis teks eksplanasi sebelum menggunakan model PBL berbantuan media diorama. Hal ini disebabkan siswa sulit mengemukakan informasi sesuai dengan topik teks eksplanasi yang diberikan. Selain itu, siswa belum mendapat bimbingan intensif untuk mengemukakan informasit dalam bentuk teks eksplanasi seperti yang diajarkan saat menggunakan model PBL berbantuan media diorama. Berikut ini merupakan Langkah-langkah Pelaksanaan dari Diribel : Pertemuan Pertama (Melakukan Pretest) 1. Guru memberikan selembar kertas dan meminta siswa menjelaskan gunung meletus sesuai dengan materi yang telah dijelaskan sebelumnya tanpa melihat media Diorama 2. Pemberian Perlakuan dengan Menerapkan Model PBL Berbantuan Media Diorama Gunung Meletus Pertemuan Kedua Kegiatan Awal a) Siswa berdoa dan mempersiapkan diri untuk mengikuti proses pembelajaran. b) Guru mengecek kehadiran siswa. c) Guru memberikan motivasi belajar d) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai. (Tahap 1: Mengorientasi siswa pada masalah).


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 127 Kegiatan Inti a) Siswa melihat media Diorama gunung meletus (Tahap 1: mengorientasi siswa pada masalah). b) Guru membentuk siswa dalam 4 kelompok. Satu kelompok terdiri atas 6—7 siswa. c) Siswa secara bergantian mengamati media diorama gunung meletus yang diberikan oleh guru selama 5 menit untuk tiap kelompok (Tahap 2: mengorganisasikan siswa untuk belajar). d) Guru memainkan media diorama dengan menceritakan peristiwa terjadinya gunung meletus. e) Selanjutnya siswa diberikan LKPD dan siswa mengisi LKPD tersebut sesuai dengan hasil pengamatan. f) Dengan bimbingan guru, siswa mengumpulkan informasi yang dapat dijadikan laporan pengamatan untuk kemudia dijelaskan kembali atau dipresentasikan. (Tahap 3: membimbing penyelidikan kelompok). g) Siswa diminta untuk menuliskan informasi yang mereka peroleh sesuai dengan media diorama gunung meletus yang diamati secara berkelompok, kemudian mendiskusikan hasil kerjanya (mengomunikasikan) dengan kelompok yang lain dan dikonfirmasi oleh guru. (Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya). h) Dengan bimbingan guru, siswa merefkleksi aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan. (Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah). i) Guru memberikan penguatan (mengasosiasi) terkait materi yang telah dibahas. Kegiatan Penutup


128 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD a) Guru memberikan umpan balik. b) Guru bersama-sama siswa membuat rangkuman materi yang telahdipelajari. c) Guru memberikan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas secara berkelompok. d) Guru menjelaskan informasi rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. e) Penutup dan salam. Pertemuan Ketiga (Melakukan Post test) Pada pertemuan ini guru memberikan selembar kertas dan meminta siswa menjelaskan gunung meletus sesuai dengan materi yang telah dijelaskan sebelumnya setelah melihat media Diorama. Berdasarkan uraian tersebut, disimpulkan bahwa guru sangat berperan penting dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan memberikan variasi model pembelajaran kepada siswa agar siswa tidak merasa jenuh dalam belajar, khususnya menulis teks eksplanasi. Salah satu upaya tersebut berupa penggunaan model PBL berbantuan media diorama dalam pembelajaran keterampilan menulis teks eksplanasi. Model ini dapat memicu metode berpikir siswa dalam mengemukakan informasinya ke dalam sebuah teks eksplanasi yang sesuai dengan struktur pembangun teks eksplanasi. Hal ini dikarenakan informasi yang sudah dilihat dan didiskusikan oleh siswa dengan menggunakan model PBL berbantuan media diorama sebelumnya dapat membantu dalam memudahkan siswa menuangkan gagasan ke dalam bentuk teks eksplanasi. Dengan demikian, siswa dapat menulis sebuah teks diskusi lebih mudah dan menyenangkan.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 129 Prediksi Pengimplementasian Diorama Berbasis PBL Inovasi pembelajaran teks eksplanasi menggunakan model problembased learning berbantuan media diorama dalam pelaksanaan pembelajaran menunjukkan suasana yang menyenangkan dan tidak monoton. Saat proses pembelajaran, siswa akan terlihat antusias, bersemangat, aktif, dan serius. Hal ini disebabkan dalam model ini siswa dituntut bekerja sama dalam kelompok mengenai diorama yang telah diamati, sehingga siswa memiliki banyak bahan dan informasi untuk menulis teks eksplanasi sehingga pembelajaran menjadi berbeda dan menyenangkan. Pada masa pandemi ini kegiatan pembelajaran terbatas yaitu melalui daring, sehingga proses belajar-mengajar tidak dapat maksimal. Perlu adanya model pembelajaran yang bisa beradaptasi dengan situasi tersebut. Model pembelajaran Diribel ini dapat diimplementasikan secara daring dengan mengadaptasikan langkah-langkah pembelajaran pada model tersebut seperti mengganti diorama benda dengan visual. Sehigga, model ini mendukung pembelajaran daring seperti saat ini.


130 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Daftar Pustaka Amir, Taufiq. 2010. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning Bagaimana Pendidik Memperdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Apriliani, Ni Kadek Winda, dkk. 2016. Pendekatan Saintifik Berbantuan Media Gambar Berseri Berpengaruh Terhadap Keterampilan Menulis Siswa Kelas I SD. e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha. Vol 4. No 1. Hal : 1-11 Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo. Asyhar, Rayandra. 2012. Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Referensi. Barwick, John. 1998. Targeting Text: Photocopiable Units Based on English Texts Type: Information Reports. Eksplanations. Disscusions.: Upper Level Book . Australia: Blake Education. Daryanto. 2010. Baryadi, Praptomo. 1990. “Teori Kohesi M.A.K Halliday dan Ruqaiya Hasan dan Penerapannya untuk Analisis Wacana Bahasa Indonesia”: (dalam Gatra: Ke Arah Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, No 10/11/12 tahun 1990). Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media. Degeng, I Nyoman Sudana. 1993. Media Pendidikan. Malang : FIP IKIP Malang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Bahasa Indonesia: SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI: Buku Siswa. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kustandi, Cecep dkk. 2011. Media Pembelajaran Manual dan Digital. Jakarta: Ghalia Indonesia. Mulyadi, Yadi. 2013. Bahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya Munadi, Yudhi. 2013. Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta Selatan: GP Press.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 131 Rivai, Ahmad. 1991. Media Pengajaran. Bandung: Bina Baru. Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Bandung: Rajawali Pers. Sadiman, Arief. 2002. Media Pengajaran (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya) Jakarta: PT. Raja Grasindo Persada. Sanaky, Hujair AH. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Safinia Insania Press. Sanjaya, Wina. 2012. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Fajar InterpratamaOffset. Soviana, Devi. 2019. Meningkatkkan Keterampilan Siswa Menulis puisi melalui media kontekstual SDN Bomba Kecamatan Marawola. Jurnal Dikdas. Vol 7. No 1. Hal : 41-51. Stubbs, Sue. 2000. Targetting Text. New South Wales: Blake Education. Sukerti, Ni Komang, dkk. 2014. Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Menggunakan Media Gambar Berseri Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Narasi Siswa Kelas V SDN 3 Dencarik Kecamatan Banjar Tahun Pelajaran 2012/2013. e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha. Vol 2. No 1. Hal : 1-10 Thahar, Harris Effendi. 2008. Menulis Kreatif: Panduan bagi Pemula. Padang: UNP Press Wahyuningtyas, Lela Tti. 2015. Peningkatan Keterampilan Menyusun Teks Eksplanasi dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Menggunakan Video Peristiwa Alam Pada Peserta Didik Kelas XI SMA N 1 Blora. Skripsi Sarjana pada FBS UNNES. Yatim Riyanto. (2010). Paradigma Pembelajaran sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakrta: Prenada Media Group.


132 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN VIII SALINDIA INTERAKTIF DALAM DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI GAGASAN POKOK DAN PENDUKUNG PADA SISWA KELAS TINGGI I Kadek Tony Suantara, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Pendidikan berperan penting dalam mencerdaskan suatu bangsa membentuk siswa menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, berilmu, bertanggung jawab, taat hukum dan menjadi warga negara yang demokratis. Masa pandemi ini pendidikan mengalami berbagai permasalahan, salah satunya adalah kurangnya minat belajar siswa pada pembelajaran bahasa indonesia pada materi gagasan pokok dan gagasan pendukung di kelas IV sekolah dasar. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti menggunakan media pembelajaran PPT interaktif diselingi dengan game crossword puzzle. Menggunakan PPT interaktif ini guru dan siswa secara tidak langsung dapat berinteraksi membuat pembelajaran lebih baik karena di masa pandemi tidak dapat melaksanakan pembelajaran secara luring apalagi pada zona merah untuk menekan laju penyebaran virus covid 19 ini. Dengan ditambahkan game crossword puzzle ini membuat pembelajaran menjadi lebih menarik karena siswa dapat bermain dan merefleksikan pembelajaran yang sudah disampaikan kedalam soal crossword puzzle ini. Penelitian ini didukung dengan berbagai hasil dari jurnal penelitian lain yang berhubungan dengan variable pada penelitian ini. Sehingga diperoleh asumsi bahwa pembelajaran menggunakan PPT interaktif disertai game crossword puzzle berpengaruh terhadap minat belajar siswa SD kelas 4 pada muatan materi gagasan pokok dan gagasan pendukung pada bacaan deskripsi dengan kearifan lokal di Bali.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 133 Permasalahan Pembelajaran Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pembangunan suatu Negara. Pendidikan berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Peningkatan mutu pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitassumber daya manusia. Suatu negara dikatakan maju atau tidaknya dapat dilihat dari seberapa tinggi kualitas pendidikan yang masih ada di negara tersebut. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan perkembangan dan perwujudan diri individu, terutama bagi pembangunan bangsa dan negara. Melalui pendidikan dapat dibentuk peradaban bangsa yang cerdas dan bermartabat. Pendidikan berperan dalam membentuk siswa menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, berilmu, bertanggung jawab, taat hukum dan menjadi warga negara yang demokratis. Namun dalam masa pandemi ini, pembelajaran dibatasi dengan peraturan pemerintah nomor 21 tahun 2020 yang berisi tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ditetapkan pada 31 Maret 2020. Pemerintah Daerah (Pemda) dapat melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk satu provinsi atau kabupaten/kota tertentu. PSBB dilakukan dengan pengusulan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Menteri Kesehatan. Dalam peraturan ini proses pembelajaran disekolah dari luring berubah menjadi daring agar penyebaran covid bisa di tekan penyebarannya. Pembelajaran baik di sekolah dasar , di sekolah menengah pertama , di sekolah mengengah atas dan diperguruan tinggi yang bersifat daring ini menimbulkan berbagai masalah salah satunya di sekolah dasar. Di sekolah dasar kenyataan di keadaan realnya tidak berjalan lancar dikarenakan banyak dari siswa yang tidak mempunyai mobilitas dalam melakukan pembelajaran daring, namun ada juga yang mempunyai mobilitas dalam pembelajaran tetapi tidak digunakan secara maksimal, Ini


134 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD dibuktikan pada hasil observasi yang menunjukan hasil bahwa siswa saat pada masa pandemi banyak yang tidak ikut dalam pembelajaran online.Adapun beberapa faktor yang ditemukan saat dalam proses observasi salah satunya. Guru hanya memaparkan materi dan tugas berupa soal sehingga siswa menjadi bosan saat mengikuti kelas online dan membuat beberapa siswa memilih tidak mengikuti kelas online dan bermain game di ponsel mereka. Sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran bahsa indonesia secara daring untuk meningkatkan minat belajar siswa. Melalui surat edaran dari kemendikbud no 15 tahun 2020 tentang pedoman pembelajaran dari rumah dalam masa darurat penyebaran covid ini di atur untuk pembelajaran yang dilakukakan secara daring dari rumah dan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Dengan surat edaran ini membuat sistem belajarpun berubah. Kurikulum yang ada di indonesia selalu berubah beserta perangkat kurikulumnya untuk menyesuaikan berdasarkan perubahan zaman. Widaningsih (2019 :141) menyatakan seiring berubahnya sistem pendekatan pembelajaran dan bergesernya tujuan pendidikan, memasuki abad 21 tugas dan peranan guru memiliki pengaruh dalam proses pembelajaran. Untuk menjadikan siswa menjadi individu cerdas yang mandiri, unggul, dan tangguh yang mampu bertahan di abad 21 sehingga inovasi dalam bidang pendidikan sangat diperlukan. Sebaik apapun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung kualitas guru yang kreative dan memenuhi syarat maka semua akan sia-sia. Apabila proses pembelajaran dikelola oleh guru yang profesional maka kurikulum dan sistem yang tidak baik akan tertopang. Di masa pandemi ini guru harus bisa memanfaatkan media yang ada untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dibutuhkan suatu media untuk menarik perhatian siswa dan sekaligus menjadi sarana bermain sambil belajar. selain itu juga dapat diselingi suatu permaianan


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 135 crossword puzzle yang membuat PPT interaktif itu lebih menarik karena terdapat permainan crossword puzzle pada pembelajaran tersebut . Selain menjadi sebuah media permainan , crossword ini juga dapat meningkatkan daya ingat siswa menjadi jauh lebih lama, otomatis pembelajaran yang sudah disampaikan dapat tersimpan lebih lama Ariwibowo (2016). Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi pada media pembelajaran di SD. Inovasi dalam artikel ini saya menerapakan power point interaktif diselingi crossword puzzle yang di sesuaikan dalam muatan Bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan materi kelas IV tentang gagasan pokok dan gagasan pendukung pada teks deskripsi dengan kearifan lokal. Penulis memilih menggunakan PPT interaktif di selingi dengan game crossword puzzle dikarenakan dengan menggunakan PPT interaktif ini sangat baik dilakukan pada masa pandemi untuk meningkatkan minat belajar siswa, dengan ditambahkan game crossword puzzle setelah dilaksanakan pembelajaran siswa dapat merefleksikan pembelajaran yang sudah di dapat dengan game crossword puzzle ini , yang tentunya saat menggunakan PPT interaktif akan terjadi suatu interaksi antara guru dan siswa, setelah terjadi interaksi agar lebih menarik minat belajar siswa maka setelah pembelajaran akan diberikan suatu game permainan crossword puzzle untuk sebagai sarana refleksi pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui PPT Interaktif disertai Game Puzzle Dalam Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas IV SD Pada Muatan gagasan pokok dan gagasan pendukung pada teks deskripsi berbasis kearifan lokal di bali.


136 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Teori konseptual PPT Interaktif Disertai Game Puzzle Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Masa Pandemi ini memerlukan media pembelajaran yang fleksible dapat digunakan di mana saja, salah satu media yang dapat digunakan pada masa pandemi ini adalah PPT Interaktif disertai Game Puzzle. Pengkolaborasian media ini digunakan dengan tujuan untuk menarik minat belajar siswa bagi siswa yang malas mengikuti kelas online dan sarana bermain anak sambil merefleksikan kembali pembelajaran yang telah dilakukan sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. a. Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Pendidikan bahasa indonesia merupakan salah satu mata pelajaran di semua jenjang pendidikan, terutama di Sekolah Dasar (SD). Pembelajaran bahasa indonesia di SD memiliki peran yang sangat banyak terutama dalam hal berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Peran bahasa indonesia ini sangat sentral untuk bisa berkomunikasi dengan seluruh ras, suku, agama, daerah yang ada di indonesia. Bahasa indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa dimuat dalam Pasal 36 Tahun 1945 “menyebutkan Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia” Bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia bersumber dari bahasa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan dinamika peradaban bangsa. Mengingat pentingnya bahasa indonesia dalam kehidupan manusia, maka setiap individu harus mengembangkan kemampuan berbahasa yaitu melalui pembelajaran bahasa indonesia disekolah.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 137 Di sekolah dasar terdapat tingkatan kelas yaitu kelas rendah meliputi kelas 1,2,3 dan kelas tinggi yang meliputi kelas 4,5, dan 6. Pembelajaran bahasa indonesia yang dilakukan pun memiliki perbedaan antara kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah memiliki karakteristik yang memerlukan media kongkrit dalam pembelajarannya namun tidak menutup kemungkinan kelas tinggi juga membutuhkan suatu media kongkrit untuk menambah pemahaman siswa dalam belajar bahasa indonesia. Dalam masa pandemi ini penerapan pembelajaran bahasa indonesia tidak dapat berjalan dengan maksimal karena pertemuan di dalam kelas dibatasi karena di atur dalam peraturan pemerintah nomor 21 tahun 2020 yang berisi tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019. b. Teks Deskripsi Dengan Kearifan Lokal Kalimat deskripsi merupakan suatu jenis tulisan yang berkaitan dengan suatu penulis untuk memberikan perincian objek yang digambarkan. Menurut Kurniasari (2014: 141) deskripsi adalah berisikan pengalaman yang digambarkan atau diproyeksikan secara jelas. Pengalaman tersebut bisa dalam bentuk suatu objek yang dimana ketika membaca dan mendengar seolah olah pembaca ataupun pendengan merasakan sendiri seperti melihat langsung kejadian atau pristiwa yang di deskripsikan. Senada dengan pendapat Sandra (2016) Kalimat deskripsi adalah kalimat yang berisi penjelasan mengenai gambaran sifat-sifat dari suatu objek atau benda yang sedang di deskripsikan Pada bacaan deskripsi ini akan dipadukan dengan kearifan lokal yang berasal dari Bali. Di Bali terdapat banyak deskripsi deskripsi tentang wisataya yang terkenal sampai manca negara, ada juga banyak tempat tempat wisata yang dapat dideskripsikan agar pembaca mengetahui apa saja yang ada


138 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD ditempat wisatanya itu. Adapun ciri ciri dari kalimat deskripsi menurut Kurniasari (2014) adalah 1. Isinya menggambarkan suatu benda, tempat, makhluk hidup, atau sesuana tertentu. 2. Penggambaran yang dilakukan dengan menggunakan panca indra yang digunakan diantaranya indra pengelihatan, indra pendengaran, indra penciuman, indra pengecapan, atau indra perabaan. 3. Tujuan membaca paragraf deskripsi, yakni seolah-olah orang yang membaca atau diceritakan ikut merasakan dan melihat sendiri objek yangdimaksud. Jadi dari pendapat tersebut dapat disimpulkan kalimat deskripsi adalah kalimat yang berisikan penjelasan suatu objek, benda atau suatu pristiwa yang digambarkan secara jelas dan memiliki ciri ciri ada isi yang menggambarkan suatu benda, kejadian atau objek dan dapat digambarkan dengan semua indra yang ada pada tubuh manusia. c. Media PPT Interaktif Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran, harus senantiasa mengupayakan peningkatan kualitasnya untuk mencapai kemajuan, penggunaan media pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran di tingkat SMP akan mempengaruhi perkembangan life skill siswa (Pengambangan media pembelajaran Budi Setiawan).Fungsi media pembelajaran secara umum adalah sebagai sarana alat bantu mempermudah guru dalam menyampaikan pesan (bahan ajar) kepada siswa,serta membantu konsentrasi siswa dalam memahami bahan ajar yang disampaikan oleh guru, meningkatkan efesiensi proses pembelajaran dan tercipta pemebalajaran yang efektif (efektivitas penggunaan media sulastri). Teknologi informasi pada saat ini memiliki peran penting dalam setiap aspek kehidupan,salah satunya dalam bidang pendidikan (Sanjaya, 2016).


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 139 Adanya perkembangan teknologi diharapkan mampu menjadikan pendidikan lebih maju dan berkembang (Diyan & Upik, 2016). Multimedia interaktif merupakan satu bentuk teknologi informasi yang digunakan dalam optimasi kegiatan belajar mengajar (Sanjaya, 2016). Kehadiran media pembelajaran interaktif dalam proses belajar mengajar telah membuat suasana berbeda dalam kelas, karena materi yang dulunya diajarkan dengan ceramah dan hanya monoton dapat divariasikan dengan menampilakan tanyangahn berupa integrasi teks, suara, gambar bergerak dan video (Putri & Sibuea, 2014). Menurut Asrul (2010) Pembelajaran interaktif memiliki karakteristik yang meliputi: (1) dapat digunakan secara tidak urut maupun linear sesuai dengan apa yang dikehendaki siswa, (2) konsep disajikan secara realistic dalm konteks pengalaman siswa, (3) menerapkan prinsip ilmu pengetahuan dan kontruktifis dan (4) materi disajikan secara interaktif. Media interaktif yang dimaksudkan yaitu media interaktif Microsoft PowerPoint. Media pembelajaran Microsoft PowerPoint dapat menampilkan informasi berupa tulisan, gambar, animasi, serta suara sehingga siswa dapat lebih tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran (Nurlatifah, n.d.) d. Crossword Puzzle atau Teki Teki silang MenurutFatnoah,dkk(2013)“MediaTTSmerupakanpermainanbahasa dengan cara mengisi kotak-kotak dengan huruf-hurufsehingga membentuk kata yang dapat dibaca baik secara vertikal maupun horizontal”.Senada dengan Hamidah (2020) Teka-teki silang adalah suatu permainan mengisi ruang-ruang kosong berbentuk kotak dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Media permainan teka-teki silang ( TTS ) adalah salah satu media yang dapat digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media permainan ini dapat membuat suasana lingkungan belajar lebih


140 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD menyenangkan, menambah kosakata baru, dan mampu membuatsuasana kelas lebih kondusif. Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan pengertian dari media permainan teka-teki silang adalah suatu media pembelajaran permainan bahasa dengan cara mengisi kotak – kotak dengan hurufsehingga membentuk kata yang tepat yang dapat mengusir kebosanan, melatih ejaan dan membuat suasana kelas menjadi lebih kondusif dan menyenangkan. Menurut Ariwibowo (2016) keunggulan dari media permainan teka-teki silang adalah sebagai berikut. 1. Mengusir kebosanan Mengerjakan teka-teki silang merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan. Teka-teki silang dapat merangsang siswa untuk berpikir kritis dan kreatif sehingga mereka merasa tertantang untuk menyelesaikan teka-teki silang tersebut. 2. Menambah perbendaharaan kosakata Pemecahan teka-tekisilang melibatkan beberapa keterampilan termasuk kosakata dan penalaran. Untuk menjawab teka-teki silang, seseorang harus mampu mengidentifikasi dan memahami istilah-istilah yang digunakan. Hal ini sering kali melibatkan siswa dalam memperoleh kosakata baru. 3. Meningkatkan kemampuan mengeja Jawaban pada teka-teki silang terbatas pada kosakata tertentu yang dibubuhkan pada kotak dengan jumlah tertentu. Jawaban yang tepat menuntut ketelitian dan kejelian dalam hal ejaan karena apabila terdapat kesalahan fonem yang keliru, maka akan berpengaruh pada kotak jawaban lain. 4. Mengajarkan problem solving


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 141 Teka-teki silang juga dapat dianggap sebagai sejenis permainan intelektual linguistik yang dalam beberapa cara mirip dengan perdebatan verbal. Mengisi teka-teki silang biasanya dilakukan dengan soal yang lebih mudah terlebih dahulu karena jawaban tersebut dapat sebagai alat bantu dalam menjawab pertanyaan lain yang bersinggungan dalam kotak yang sama. 5. Tidak pernah usang Teka-teki silang dapat dikatakan telah menjelma sebagai hobi favorit nasional karena teka-teki ini merupakan permainan yang menarik bagi segala usia. Itulah sebabnya, teka-teki silang kerap kita jumpai di media cetak seperti surat kabar, majalah, bahkan pada buku teks pelajaran dan LKS siswa. Teka-teki silang juga dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif lebih singkat sehingga tidak menghabiskan banyak waktu. 6. Menyelesaikan TTS sebagai pengalaman sukses. Teka-teki silang merupakan salah satu model teka-teki (model lain seperti Sudoku, Scrabble, Word Search). Mengerjakan teka-teki merupakan salah satu cara “terbaik” untuk melatih otak. Aktivitas ini dapat meningkatkan fungsi kerja otak melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan berikut pengalaman-pengalaman baru. Bagi siswa, sebagaimana diungkap Laksmi, dkk. (2014) “memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun sendiri pemikirannya”. Selain itu, karena menyelesaikan teka-teki silang membutuhkan penalaran dan memori otak, kita akan merasa puas apabila kita mampu menyelesaikan teka-teki silang tersebut dengan baik. Pengalaman ini terasa seperti saat kita mampu menjuarai lomba atau kuis tertentu. Jadi dari paparan tersebut dapat disimpulkan manfaat permainan tekateki silang adalah permainan yang mengusir kebosanan di kelas, membuat siswa bermain sambil belajar karena teka - teki silang dapat meningkatkan kemampuan mengeja, menambah perbendaharaan kata, problem solving dan


142 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD dapat melatih otak untuk meningkatkan fungsi kerja otak melalui pertanyaanpertanyaan yang diberikan berikut pengalaman-pengalaman baru. Berdasarkan permasalahan yang ditemukan pada masa pandemi ini adalah kurangnya minat siswa dalam pembelajaran khususnya matapelajaran bahasa indonesia pada materi gagasan pokok dan gagasan pendukung di kelas 4. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan suatu inovasi pembelajaran penerapan power point interaktif diselingi permainan crossword puzzle . Penggunaan media power point interaktif ini mampu menarik perhatian siswa dan mampu meningkatkan minat belajarsiswa pada materi gagasan pokok dan gagasan pendukung pada teks deskripsi. Dengan power point interaktif ini secara tidak langsung guru dan siswa dapat berinteraksi walau dipisahkan jarak karena pandemi covid ini. Dengan diselingi permainan crossword puzzle iniselain siswa bermain, siswa juga merefleksikan kembali pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dengan crossword puzzle ini mampu membantu siswa dalam menemukan jawaban dengan tepat sesuai kolom yang tersedia secara sistematis dan terarah, yakni dengan menjawab pertanyaan mulai dari yang mendatar, dan menurun dimana setiap jawaban yang sesuai akan menuntun siswa untuk menjawab pertanyaan selanjutnya dengan benar sehingga dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di masa pandemi. Pengembangan inovasi pembelajaran PPT Interaktif Disertai Game Crossword Puzzle a. Media PPT Interaktif Pada pembelajaran bahasa indonesia Kompetensi Dasar 3.1Mencermati gagasan pokok dan gagasan pendukung pada teks deskripsi yang diperoleh dari


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 143 Gambar 3.3 Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari mana gagasan pokok dan gagasan pendukung pada teks deskripsi teks lisan, tulis, atau visual. Guru meminta siswa untuk memperhatikan power poin Interaktif yang di tampilkan Gambar 3.1 Guru memberikan pertanyaan untuk di jawab siswa. Gambar 3.2 Ketika siswa sudah menjawab guru menampilkan jawaban yang benar. Pada gambar 3.1, siswa di beri pertanyaan yang otomatis membuat siswa penasaran dengan jawaban yang ada pada slide, dan memancing perhatian siswa sehingga fokus terhadap power point interaktif. Kemudian pada slide berikutnya siswa akan diberikan bacaan. Guru meminta siswa untuk mencari mana gagasan pokok dan mana gagasan pendukung pada teks deskripsi.


Click to View FlipBook Version