The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chitrasintarani67, 2024-04-04 21:21:39

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

44 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD d. Anggota Tubuh Manusia Tubuh manusia seperti sebuah mesin yang di rancang unik dan terdiri dari berbagaisistem biologi dan diatur oleh organ dalam tubuh. Tubuh manusia terdiri atas bagian-bagian yang bersatu-padu membentuk satu kesatuan untuk melayanti kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Gambar 1.1. Pecahan Anggota Tubuh (Sumber: https://id.pinterest.com/pin/752030837760946991 ) Gambar 1.2. Tubuh Manusia (Sumber: https://nadiawani96.wordpress.com/tugasan-edup-3053/tema2/bahagian-dan-fungsi-tubuh-badan/bahagian-tubuh-manusia)


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 45 Pengembangan Model PPA Berbasis DIVI Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu pembelajaran yang mengguanakan gambar dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis (Hamdani, 2011: 89). Pembelajaran ini memiliki ciri aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran. Menurut Suprijono (2009: 129), model pembelajaram Picture and Picture adalah suatu model yang menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi bentuk dan urutan yang logis. Huda (2013: 269) menjelaskan bahwa pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran. Pada pembelajaran ini, siswa dibagi ke dalam kelompokkelompok kecil yang masing-masing anggotanya bertugas mewawancarai teman kelompoknya tentang materi yang baru dibahas. Kombinasi model pembelajaran picture and picture dan Artikulasi ini sangat cocok digunakan pada materi mengenal anggota tubuh manusia pada kelas rendah, apalagi memakai bantuan melalui media visual,sehingga ini akan memudahkan siswa dalam memahami kosakata bagian tubuh serta praktik dalam pembelajaran. Sehingga mampu membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran dan mampu bersosialisasi dengan teman sebangku dan sekelasnya. Langkah-langkah model pembelajaran PPA berbasis DIVI antara lain sebagai berikut. a. Pembukaan Sebelum pembelajaran dimulai, diharapkan guru akan membuka kelas dengan berdoa lalu melihat persiapan siswa dalam pembelajaran serta


46 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD memberikan motivasi siswa, ini bertujuan untuk memperkuat keinginan mereka dalam mengikuti proses belajar mengajar. b. Menyampaian kompetensi Guru akan menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai saat pembelajaran, dengan begitu pembelajaran akan terarah guna tercapainya tujuan pembelajaran. c. Menyajikan materi Guru akan memberikan ulasan materi yang akan disampaikan dengan sesuatu yang disenangkan atau disukai oleh siswa, ini bertujuan untuk menarik minat siswa dalam belajar. Pada materi mengenal anggota tubuh, guru akan meminta siswa menjelaskan anggota tubuh keluarganya, seperti perbedaan tinggi seorang ayah dengan ibunya. Ini akan memacu minat belajar siswa, karena dimulai dari orang yang disayanginya. Selain itu juga melalui media visual guru akan manampilkan gambar pecahan anggota tubuh, kemudian meminta siswa untuk menyebut nama-nama anggota tubuh yang sudah ditampilkan oleh guru. Gambar 1.3. Anggota Keluarga (Sumber: https://www.kompas.com/lembaga-keluarga-fungsi?page=all)


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 47 d. Membuat kelompok Setelah itu guru akan membagi kelompok siswa menggunakan teman sebangkunya,satu kelompok terdiri dari dua orang. Ini bertujuan untuk melatih komunikasi siswa lebih aktif dari sebelumnya, sehingga ia mampu berkomunikasi dengan baik. e. Bertukar cerita Dari kelompok yang sudah dibentuk, siswa akan bertukar cerita yang dimulai dari keluarga masing-masing, mereka akan menceritakan yang berkaitan dengan anggota tubuh keluarganya, siswa yang satu akan menyimak cerita dari temannya. Ini akan melatih kemampuan siswa dalam berbicara dan menyimak, tentu akan membantu keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. f. Bertukar peran Setelah guru menyajikan materi anggota tubuh melalui media visual, siswa akan diminta bertukar peran dari kelompok yang sudah dibentuk. Siswa akan mempraktikkan materi yang sudah didapatkan baik dari guru dan teman kelompoknya tadi. Masing-masing kelompok akan bergantian maju, setiap kelompok akan berbagi peran. Siswa pertama akan menjadi alat peraga, ia akan menunjuk bagian dari anggota tubuhnya dan siswa yang kedua akan melapalkan kosakata dari anggota tubuh yang ditunjuknya. g. Menjelaskan kembali Diakhir pembelajaran, guru akan menjelaskan kembali materi yang dibahas sejak awal pembelajaran, sehingga apa yang belum dipahami oleh siswa menjadi bahan evaluasi untuk pembelajaran selanjutnya. h. Kesimpulan/penutup Untuk menutup pembelajaran, guru akan memberikan kesimpulan kepada siswa, untuk memberikan pemahaman yang jelas terhadap materi yang sudah disampaikannya.


48 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Predisksi Pengimplementasian Model PPA Berbasis DIVI Inovasi pembelajaran mengenal anggota tubuh menggunakan model PPA yang berbantuan media visual dalam pelaksanaan pembelajaran menunjukkan perubahan seperti suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan saat proses pembelajaran, selain itu juga siswa akan terlihat aktif, bersemangat, senang, dan fokus. Hal ini disebabkan dalam model PPA ini siswa dituntut bekerja sama dalam kelompok untuk mengenal kosakata anggota tubuh yang diamati dari keluarga serta gambar yang disajikan oleh guru, sehingga siswa memiliki banyak informasi untuk mengenal kosakata anggota tubuh dalam pembelajaran sehingga menjadi berbeda dan menyenangkan serta mudah dimengerti oleh siswa. Perkembangan siswa pada kelas rendah harus diimbangi dengan model pembelajaran yang memadai, sehingga siswa mampu memahami materi yang disampaikan oleh guru. Pada materi mengenal kosakata anggota tubuh ini sangat efektif sekali dengan menggunakan model PPA berbantuan DIVI. Sehingga siswa tidak hanya mendapatkan materi namun mampu mempraktikkannya langsung, dengan model ini siswa juga akan lebih fokus pada pembelajaran karena akan diarahkan pada satu pandangan yakni media tersebut.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 49 Daftar Pustaka Djamarah., & Zain. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta Ekasianto Rico, dkk. Dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Picture And Picture Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Siswa Kelas IV” : Pontianak 2013 Hamdani, M. A. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mustain. 2010. Meningkatkan Hasil Belajar Ekonomi melalui ModelPembelajaran Artikulasi pada Siswa Kls X Madrasah Aliyah (MA)Raudhatul Mubtadiin Kundur Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti (Skripsi). Universitas Islam Riau.Pekanbaru. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Suprijono Agus. 2009. Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Winataputra, U. S. (2001). Model-model pembelajaran inovatif. Jakarta: PAU.


50 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN IV JAS TO MIND: PEMACU IDE KREATIF PUISI SISWA KELAS TINGGI Ramadhani Putri Praswanti, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Kreativitas siswa dalam menulis puisi perlu dikembangkan, mengingat sekolah merupakan sarana bagi pengembangan kreativitas siswa. Kreativitas siswa dapat dibangun dan digali dengan menggunakan strategi yang tepat untuk mendayagunakan pikiran siswa. Salah satu model yang dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis puisi yakni dengan model pembelajaran jas to mind. Tujuan dari penulisan ini untuk mendeskripsikan model pembelajaran jas to mind untuk memacu ide kreatif puisi siswa. Jas to mind merupakan pengkolaborasian antara strategi, teknik dan juga metode dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menemukan dan membangun ide yang tersimpan dalam dirinya. Jas to mind juga memberikan manfaat dalam menulis puisi karena siswa dapat merasakan secara langsung hal yang akan ia jadikan topik dalam pembelajaran sehingga dapat digunakan untuk menggali dan memperoleh informasi untuk menungkan ide kreatif dalam penyusunan dan pelisanan puisi. Di mana model ini memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi dan juga mengenal lingkungannya lebih dalam. Pembelajaran dengan model ini akan menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna, karena model ini mampu memacu keterampilan dan pengetahuan siswa sehingga daya kreativitas siswa akan terlatih. Ada delapan langkah yang dapat digunakan dalam pembelajaran dengan model pembelajaran jas to mind yakni: 1) menentukan tema puisi; 2) memberikan pengantar: 3) eksplorasi lingkungan; 4) pendataan kata-kata onometope; 5) penyusunan puisi; 6) menyunting puisi; 7) membaca puisi; dan 8) memberikan penguatan. Tema dalam puisi ini dikaitan dan disesuaikan dengan lingkungan belajar siswa, yakni mengenai keindahan dan kecanggihan alam sekitar. Kegiatan ini diharapkan mampu memacu kreativitas siswa kelas tinggi dalam


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 51 membuat dan melisankan puisi dengan memadukan kegiatan yang berorientasi dengan lingkungan sekitarnya. Permasalahan Pembelajaran Seiring berkembangnya zaman, kurikulum di tingkat satuan pendidikan juga mengalami modifikasi yang sesuai dengan tutunan zaman dan juga kebutuhan masyarakat. Kurikulum yang berlaku di sekolah dasar pada saat ini yakni kurikulum 2013. Berlakunya kurikulum 2013 juga ikut merubah paradigma pendidikan yang semula berorientasi pada guru atau teacher centerd learning menjadi pada siswa atau students centerd learning. Perubahan paradigma ini juga diimbangi dengan berbagai strategi ataupun model pembelajaran yang mampu menekankan kepada aktivitas siswa pada proses pembelajaran. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mendayagunakan keseluruhan aspek dalam tubuh siswa. Retnawati (2016) mengemukakan bahwa kurikulum 2013 mengharuskan siswa untuk menjadi manusia yang memiliki kretivitas, produktif, inovatif, dan sikap yang luhur. Namun pada kenyataannya tidak seluruh model pembelajaran mampu mengacu kepada keseluruhan aspekaspek tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa perlu adanya modifikasimodifikasi yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran agar pembelajaran lebih efektif dan sesuai dengan tujuan pendidikan. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas di salah satu sekolah di Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus kesulitan yang ia hadapi dalam proses pembelajaran yakni untuk memacu kemampuan berpikir kreatif siswa, salah satunya yakni kreativitas menulis puisi siswa. Penulisan puisi memerlukan kemampuan berpikir kreatif, mengingat dizaman yang serba mudah sepertisaat ini, siswa cenderung lebih menyukai hal yang instant yakni dilakukan dengan plagiasi atau imitasi. Melakukan plagiasi bagi siswa di zaman sekarang inisangat


52 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD mudah, karena dapat dilakukan dengan mengakses layanan internet dari gadget yang siswa miliki. Kecenderungan siswa SD untuk melakukan plagiasi ini menjadikan mereka kesulitan untuk membuat puisi yang kreatif dan didasarkan atas ide yang ia temukan. Selain itu pembelajaran puisi yang selama ini dilakukan hanya sebatas pengimajinasian, artinya siswa hanya diberikan sebuah tema dan kemudian diminta untuk menyusun puisi berdasarkan imajinasi yang muncul dalam diri siswa. Tentu hal ini akan menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa, khusunya siswa SD. Mengingat karakteristik dan daya pikir siswa SD masih pada tahap operasional konkret. Pembuatan puisi merupakan salah satu cara siswa mengolah kemampuan berpikir kreatifnya. Pratiwi, Maryaeni, dan Suwignyo (2016) mengungkapkan bahwa menulis puisi dapat dikatakan sebagai proses kreatif, yang mana dimulai dari penemuan ide penulisan, hingga menjadi sebuah puisi yang utuh. Proses pembuatan puisi kreatif inilah yang perlu disoroti dan ditekankan pada proses pembelajaran. Di mana dengan pembuatan puisi yang kreatif memungkinkan siswa untuk menggali ide-ide yang menarik untuk dituangkan dalam sebuah karya puisi. Puisi menjadi penting dalam proses pembelajaran, dimana puisi merupakan materi yang esensial dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keterampilan menulis puisitertuang dalam salah satu kompetensi dasar yang terdapat pada kelas IV dan kelas VI. Pengulangan materi puisi ini mengisyaratkan bahwa keterampilan menulis puisi merupakan sebuah materi yang esensial sehingga diperlukan beberapa kali pelaksanaan. Sebagai materi yang esensial, maka dibutuhkan sebuah inovasi guna menjadikan siswa lebih mudah dalam pengaplikasian dalam pembelajaran. Selain itu dengan


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 53 pembelajaran puisi menjadikan siswa aktif dan mampu mendorong daya imajinasi siswa, membawa siswa berandai-andai dan mampu menyelami daya kreativitasnya. Selama ini pembelajaran di sekolah dasar hanya terbatas oleh ruang kelas, yang diartikan ruang yang dibatasi oleh tembok-tembok dan pembatas lainnya. Padahal makna pembelajaran tidak hanya didapatkan pada pembelajaran di ruang kelas saja, namun juga pembelajaran di alam terbuka, yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar siswa. Pembatasan sumber belajar inilah yang seringkali menjadikan pembelajaran pada kompetensi dasar puisi kurang maksimal. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan maka dibutuhkan sebuah inovasi dalam pembelajaran guna memacu ide kreatif puisi oleh siswa kelas tinggi. Solusi yang dapat diterapkan yakni dengan penerapan model jas to mind. Model jas to mind merupakan pengkolaborasian antara strategi, metode dan model pembelajaran yang telah dikembangkan sebelumnya. Model pembelajaran jas to mind lebih mendekat kepada strategi pembelajaran jelajah alam sekitarsebagai sumber belajarsiswa, namun terdapat beberapa kolaborasi atau inovasi dengan metode dan teknik pembelajaran lainnya sehingga kekurangan yang ada dalam strategi jelajah alam sekitar dalam memacu ide kreatif puisi siswa dapat teratasi. Teori Konseptual Jas To Mind Model pembelajaran jas to mind merupakan model pembelajaran yang mengkolaborasikan strategi, metode dan juga teknik dalam proses pembelajaran. Pengkolaborasian model ini digunakan dengan tujuan peminimalan kendala yang dihadapi siswa dan guru dalam proses pembelajaran pada materi puisi. Berikut teori yang mendukung model pembelajaran ini.


54 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD a. Jelajah Alam Sekitar Jelajah alam sekitar (JAS) merupakan sebuah kegiatan yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar siswa, yang meliputi lingkungan fisik, sosial teknologi, dan budaya yang diamati dan dirasakan siswa sebagai sumber belajarnya. Proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah lebih berfokus pada pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas. Marianti dan Kartijono (2005: 3) menyatakan bahwa jelajah alam sekitar adalah pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kehidupan siswa, baik lingkungan fisik, social, teknologi maupun budaya sebagai objek belajar yang fenomenanya dipelajari melalui kerja ilmiah. Mulyani, dkk (2008) menyatakan bahwa pembelajaran JAS adalah salah satu inovasi pendekatan pembelajaran biologi dan maupun bidang kajian ilmu lain yang bercirikan memanfaatkan lingkungan sekitar dan simulasinya sebagai sumber belajar melalui kerja ilmiah, serta diikuti pelaksanaan belajar yang berpusat kepada siswa. Jelajah alam sekitar merupakan strategi pembelajaran yang dapat menekankan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Belajar di alam sekitar juga dapat memotivasi siswa dan menjadikan proses belajar lebih bermakna. Sejalan dengan hal tersebut, Dalyono (2008: 130) mengatakan bahwa pembelajaran jelajah alam sekitar (JAS) dilaksanakan dengan mengeksplorasi sumber daya alam dan eksplorasi pengetahuan siswa yang dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, tidak membosankan sehingga siswa belajar dengan bersemangat. Pembelajaran dengan model JAS memiliki ciri yakni pengaitan dengan lingkungan sekitar yakni sebagai media dengan kegiatan memprediksi, mengamati, mejelaskan kemudian terdapat pelaporan baik berupa tulisan


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 55 maupun lisan sehingga menimbulkan minat belajar siswa (Salu dan Tadius, 2019). Pembelajaran jelajah alam sekitar sangat erat kaitannya dengan konsep pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan terletak pada objek yang dipelajari oleh siswa berdasarkan atas realitas dalam lingkungan belajarnya. Selama ini banyak siswa yang merasa pembelajaran yang disajikan jauh dengan lingkungannya, namun dengan pembelajaran berbasis jelajah alam sekitar ini siswa dapat mengamati dan juga membangun ide dan gagasannya sendiri tentang pembelajaran menulis puisi. b. Teknik Onomatope Teknik onometope merupakan salah satu teknik untuk merubah suara dari benda-benda yang ada di alam sekitar ke dalam bentuk tulisan. Teknik onometope ini juga banyak digunakan dalam penulisan komik agar pembaca mendapatkan jiwa dari bacaan komik tersebut. Onometope merupakan salah satu cara yang dapat mengajak siswa untuk membentuk sebuah kata baru yang ia dengar dan ia rasakan ke dalam bentuk tulisan. Secara etimologis, kata onometope berasal dari bahasa Yunani “Onomatopoeia”, yang artinya pembentukan kata. Kemudian juga didapatkan pada bahasa Perancis yang terkenal dengan penggunaan istilah onomatope. Teknik onomatope ini dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam menuliskan suara-suara yang ia dengar dengan benda yang membersamainya. Menurut Wardoyo (2013) teknik onomatope berfokus pada kreativitas siswa dalam hal memadukan kata-kata dengan diksi suara yang dipilih oleh siswa. Chaer (2012) juga mendefinisikan onomatope sebagai tiruan bunyi yang merujuk pada kesan atau bunyi dari suatu benda, suatu keadaan, dan tindakan. Senada dengan Kridalaksana (2008) mendefinisikan bahwa onomatope


56 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD merupakan penamaan benda atau perbuatan yang menirukan bunyi kemudian diasosiasikan dengan benda atau perbuatan. Berdasarkan paparan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa teknik onomatope merupakan sebuag teknik dalam menulis puisi yang didasarkan atas menirukan atau mendengarkan bunyi-bunyi yang ada di lingkungan sekitar siswa yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk tulisan secara kreatif. Contoh dari onomatope yakni suara angin (wuzz wuzz), suara motor (nggeng nggeng) dan sebagainya. c. Metode Mind Mapping Mind mapping atau peta pikiran adalah sebuah pendekatan yang memungkinkan siswa mampu membuat catatan mengenai informasi yang ia temukan dengan kerangka yang ia bangun sendiri. Kosmajadi (2015) menyatakan bahwa teknik pemetaan pikiran dapat digunakan karena sesuai dengan usia sekolah dasar untuk melatih daya nalar secara sistematis. Artinya metode peta pikiran ini dapat diterapkan kepada siswa SD agar memiliki daya nalar yang tinggi. Teknik ini cocok dengan karakteristik siswa SD yang mana mereka diminta untuk dapat mengembangkan ide dan gagasan yang ia miliki dalam sebuah kertas. Haliq, Aswanti, dan Fitri (2017) mengemukakan bahwa setiap mind mapping adalah hasil khas pribadi sesorang yang membuatnya dan tidak ada pemetaan yang benar atau salah. Metode ini diharapkan menjadi efektif untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam pembuatan peta pikiran, juga pembuatan puisi. Mind mapping merupakan cara mencatat yang kreatif dan efektif bagi siswa untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak (Puspita dalam Ristiasari, Priyono, & Sukaesih, 2012).


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 57 Berdasarkan urian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode mind mapping merupakan salah satu metode yang dapat menjadikan siswa berpikir kreatif, yang mana dengan metode ini siswa akan menuliskan gagasan atau ide yang ia miliki ke dalam peta pikiran yang ia buat secara kreatif. d. Blended Learning Konsep pembelajaran Blended Learning berasal dari dua kata yakni Blended dan Learning. Blended berasal dari kata Bahasa Inggris yang berarti campuran, sedangkan Learning berarti belajar. Jika digabungkan Blended Learning memiliki arti bahwa pembelajaran dilakukan dengan mencampurkan dua konsep atau pola dalam pembelajaran, yakni dengan pembelajaran tatap muka (face to face) dan pembelajaran online. Mosa, Yoo, dan Sheets (2011) menyatakan bahwa pola belajar yang dicampurkan dalam konsep blended learning yakni terdiri dari unsur utama pembelajaran di kelas dengan pembelajaran online. Amin (2017) menyatakan bahwa konsep blended learning adalah pencampuran antara model pembelajaran konvensional dengan belajar secara online. Konsep pembelajaran blended learning yang mencampurkan beberapa hal dalam proses pembelajaran, yakni pengolaborasian antara model pembelajaran yang dilakukan di dalam sekolah secara tatap muka, dan juga dengan sistem online learning. Lebih lanjut Hussin (2015) menyatakan bahwa dengan model pembelajaran blended learning pengetahuan siswa akan menjadi lebih kuat karena model yang digunakan berupa konvensional melalui pengembangan teknologi dalam pendidikan. Blended learning mulai dipikirkan dan digunakan oleh banyak pengajar, terutama di masa pandemic seperti saat ini. Di masa pandemic perlu adanya sebuah trobosan guna terciptanya pembealajran yang efektif dan tetap menarik bagi siswa. Menurut Sandi (2012) blended learning memadukan berbagai


58 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD metode dan strategi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi virtual. Jadi pembelajaran dapat diterapkan secara efektif dengan menyesuaikan kondisi yang telah diepakati bersama. Pembelajaran di era 21 ini menjadikan teknologi merupakan salah satu kebutuhan dan suatu keharusan yang harus ada dan menjadi ciri khas dalam proses pembelajaran. Pembelajaran pada era 21 ini tidak hanya memfasilitasi siswa secara tatap muka saja, namun juga secara virtual. Hal ini relevan dengan konsep pembelajaran blended learning yang mengolaborasikan antara model konvensional dan juga virtual. Pembelajaran blended learning merupakan salah satu solusi pembelajaran di kelas yang membosankan dan perkembangan teknologi yang semakin luas pula (Deklar, dkk. 2018). Tujuan pembelajaran blended learning menurut Amin (2017) yakni untuk meningkatkan fleksibilitas bagi guru dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online, sehingga mampu melibatkan para siswa dalam pengalaman interaktif. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa terdapat enam unsur yang harus ada dalam pembelajaran blended learning yakni tatap muka, belajar mandiri, aplikasi, tutorial, kerjasama, dan evaluasi. Berdasarkan paparan tersebut maka pembelajaran dengan konsep blended learning merupakan salah satu solusi untuk mengombinasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran dengan virtual atau online. Pengombinasian ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengatasi kejunuhan siswa dan juga menerapkan teknologi dalam proses pembelajaran, agar siswa terbiasa untuk bijak dalam menggunakan teknologi. e. Karakteristik Puisi Siswa SD Kelas Tinggi Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang artinya“membuat”ataupoeisis“pembuatan”, dandalambahasa Inggrisdisebut


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 59 poem atau poetry, selain itu pengertian puisi juga dikemukakan oleh Waluyo (2003: 25) menyebutkan puisi adalah sebuah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan juga perasaan penyair secara imajinatif yang disusun dengan konsentrasi pada semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan batin puisi. Puisi merupakan sebuah sastra yang mulai dikenalkan kepada anak sekolah dasar. Saleh dalam Sopandi (2010: 3) mengungkapkan bahwa puisi adalah sebuah bentuk karya sastra yang kental dengan musik, bahasa, serta kebijaksanaan dan tradisinya. Kemudian, Kosasih (2012: 97) mendefinisikan bahwa puisi yakni bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun kaya akan makna. Kata-kata yang digunakan juga merupakan kata konotatif atau kiasan yang memiliki lebih dari satu penafsiran. Sementara itu, Nurgiantoro (2013: 312) menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan penggunaan bahasa “terasing”. Terasing mengartikan bahwa dalam penyusunan puisi telah melewati pemilihan diksi dan juga bahasa yang ketat sehingga dapat menghasilkan keindahan di dalamnya. Zulela (2013: 31) menyatakan bahwa puisi siswa SD umumnya menggunakan kata yang sederhana, lugas, jujur, lugu dalam belum mengandung kebohongan di dalamnya. Puisi merupakan sebuah kepaduan dari beberapa unsur. Waluyo dalam Kosasih (2012: 97) menyatakan bahwa secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi ke dalam dua macam, yakni struktur fisik dan struktur batin. Dari berbagai pengertian ahli tentang puisi, dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan sebuah karya sastra yang tersusun atas bait yang penulisannya menggunakan kaidah penulisan yang meliputi pemilihan diksi, rima, irama dan disajikan dengan kata-kata yang sederhana namun kaya akan makna. Puisi


60 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD mengandung keindahan yang dituliskan oleh penyairnya, dan memiliki makna yang mendalam setelah kita membaca dan menghayatinya. Puisi pada siswa sekolah dasar tentunya disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar. Sesuai dengan kompetensi dasar 3.6 dan 4.6 pada kelas IV siswa diminta untuk menuliskan puisi yang bersifat kesenangan serta merupakan ekspresi dan ungkapan dari diri siswa. Kompetensi dasar tersebut mengisyaratkan bahwa karakteristik puisi pada siswa kelas tinggi yakni puisi yang bersifat kebahagiaan, ataupun kekaguman. Selain itu jika dilihat pada tahap perkembangan kognitif siswa sekolah dasar, pada siswa sekolah dasar cenderung memiliki kemampuan berpikir pada tahap konkret, artinya pemerolehan informasi berdasarkan hal-hal yang ada disekitar tempat tinggal siswa. Dari paparan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik puisi pada kelas tinggi yakni mengacu pada lingkungan sekitar. Di mana pada lingkungan sekitar siswa akan menemukan banyak hal yang mampu membangun pengetahuannya untuk menulis puisi secara kreatif. Hal ini disebabkan puisi yang dibuat oleh siswa berdasar atas pengelihatan, dan bukan pengimajinasian. f. Kreativitas Siswa Sekolah Dasar Pembelajaran pada kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada ranah keterampilan siswa, tanpa mengesampingkan ranah sikap dan juga pengetahuan. Kreativitas siswa perlu dibangun dan digali agar siswa mampu mengambil keputusan secara kreatif tanpa ada paksaan dari siapapun. Berpikir kreatif diperlukan bagi siswa SD yang merupakan sebuah tuntutan zaman agar siswa dapat berpikir secara luwes dan fleksibel. Secaraetimologis, kreativitas(creativity)berasaldarikata“mencipta”(to creat) yang berarti mempunyai sifat kreatif (creative). Kreativitas didefinisikan


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 61 sebagai kemampuan sesorang dalam menciptakan sesuatu (ide, cara, produk) yang baru Andheska (2016). Menurut Susongko (2015: 20) kreativitas merupakan karakter manusia yang masih dan sulit untuk didefinisikan. Secara tidak langsung kreativitas merujuk pada sesuatu yang bersifat orisinil dari pikiran pencipta karya. Proses penulisan puisi memerlukan kreativitas yang tinggi. Pratiwi, Maryaeni, dam Suwignyo (2016) mengatakan bahwa proses penulisan puisi disebut sebagai proses kreatif, adalah cara-cara yang ditempuh oleh sesorang dalam menulis puisi mulai dari mendapatkan ide untuk ditulis menjadi sebuah puisi yang utuh. Proses penulisan puisi melibatkan unsur kreativitas karena mengoptimalkan seluruh daya piker dan juga imajinasi yang dimiliki oleh penulis. Menurut Sholikhah, Kartana, dan Utami (2018) kreativitas adalah suatu kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu hal yang baru dan merupakan karakter manusia yang tidak terdefinisi. Menurut Moreno, yang menjadi acuan dalam kreativitas bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah diketahui orang, melainkan produk kreativitas yang merupakan hal baru bagi di sendiri dan tidak harus memiliki kebaruan terhadap orang lain (Slameto, 2010: 146). Kreativitas siswa sekolah dasar perlu dilatih dan dikembangkan, mengingat anak sekolah dasar merupakan individu yang masih senang untuk mencari hal baru dan juga masih mampu untuk mengolah dan menumukan ide-ide baru yang ia miliki. Salah satu cara meningkatkan kreativitas siswa yakni dengan menulis puisi. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan salah satu hal yang bersifat orisinil bagi siswa tersebut, dan tidak berdasarkan sudut pandang orang lain. Kreativitas siswa sekolah dasar perlu dikembangkan agar siswa terbiasa untuk memikirkan hal-hal baru untuk kepentingan menemukan ide-ide kreatif.


62 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD g. Model Pembelajaran Jas To Mind Model pembelajaran jas to mind merupakan salah satu inovasi dalam proses pembelajaran yang mengkolaborasikan strategi, metode dan juga teknik dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan sesuatu keterbaruan dalam kegiatan pembelajaran. Model ini memiliki beberapa ciri yang sehingga mudah untuk diingat dan aplikasikan dalam berbagai materi yang relevan dengan model ini. Ciri pertama dalam model ini yakni mengajak siswa untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar. Artinya pada model ini siswa diajak untuk mengamati dan juga memahami kejadian-kejadian yang ada di lingkungan belajar siswa berdasarkan pengamatan dan juga rasa ingin tahu siswa. Eksplorasi siswa dengan mendata apa yang siswa lihat pada peta pikiran yang dikembangkan sendiri oleh siswa merupakan salah satu ciri dalam model pembelajaran ini. Ciri lain dari model jas to mind yakni pembuatan karya dengan teknik onomatope. Teknik onomatope yang merupakan teknik menuliskan hal-hal yang dilihat oleh siswa melalui panca indera sehingga menjadikan karya yang dihasilkan oleh siswa lebih hidup dengan penggunaan kata-kata indah dan kaya akan makna. Penulisan dengan teknik onomatope ini akan menjadikan siswa mampu menuliskan kata-kata yang kreatif sesuai dengan pemahaman dan juga mengandalkan indera pendengarannya. Selain ketiga ciri tersebut, model jas to mind juga memiliki beberapa karakterstik dalam proses pembelajarannya. Model jas to mind ini memiliki karakter pembelajaran yang berbasis penugasan, artinya dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak habis dan selesai dalam sekali pembelajaran saja, namun juga membutuhkan beberapa kali pertemuan untuk menuntaskan pembelajaran. Selain itu model ini juga mempunyai karakterstik kerja tim guru.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 63 Artinya dalam proses pembelajaran dengan model ini mengharuskan guru untuk membentuk tim atau kelompok agar pembelajaran tetap efektif. Model pembelajaran ini juga memiliki karakteristik mencampurkan konsep pembelajaran tatap muka dengan konsep pembelajaran online. Sehingga siswa tetap mampu menggunakan model pembelajaran ini secara mandiri melalui virtual. Sehingga pembelajaran yang semacam ini menjadi lebih fleksibel dan mampu menarik perhatian siswa, sehingga siswa akan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran ini. Pengembangan Jas To Mind Dalam proses pembelajaran kita mengenal banyak istilah yang hampir memiliki kemiripan makna, yakni model, teknik, strategi, metode dan pendekatan. Model pembelajaran merupakan sebuah rencana yang digunakan dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang disusun secara sistematis dan juga terencana. Joyce & Weil dalam Rusman (2010) mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum atau rencana jangka panjang, untuk merancang bahan-bahan pembelajaran, dan juga membimbing pembelajaran di kelas ataupun di lingkungan belajar lainnya. Model pembelajaran berbeda makna dengan strategi, teknik, metode dan juga pendekatan. Jika model pembelajaran sifatnya lebih terperinci, maka pendekatan merupakan tolak ukur terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada sifat umum, sedangkan strategi pembelajaran yakni turunan dari pendekatan pembelajaran yang di dalamnya terkandung makna perencanaan. Sedangkan metode pembelajaran memiliki arti yang lebih sempit dari strategi, yakni cara dalam mengimplementasian dari rencana yang telah disusun dalam bentuk kegiatan nyata. Turunan dari metode ialah teknik atau gaya


64 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD pembelajaran. Teknik lebih memiliki arti pengimplementasian dari perencanaan yang dibuat dengan kegiatan yang lebih spesifik. Dari paparan tersebut maka terdapat perbedaan antara model, strategi, pendekatan, metode dan juga teknik. Untuk lebih lanjut model pembelajaran memiliki beberapa karakteristik seperti yang dikemukakan oleh Joyce & Well (1986) yang menyatakan bahwa setiap model pembelajaran memiliki karakteristik umum yang dibedakan atas beberapa unsur, yakni terdapat sintaks atau tahapan pembelajaran, sistem social, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional, dan juga dampak pengiring. Yang paling dominan dalam karakteristik model pembelajaran yakni adanya sintaks atau langkah pembelajaran. Model pembelajaran jas to mind memiliki dua definisi yang berbeda. Dapat diadopsi dari bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Definisi pertama yakni jas to mind merupakan gabungan kata dari jelajah alam sekitar, onomatope, dan juga mind mapping. Yang mana penggabungan kata ini berasal dari kolaborasi antara strategi, teknik dan juga metode dalam model pembelajaran jas to mind. Dapat diartikan bahwa jas to mind merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk memacu ide kreatif dengan cara menjelajahi alam sekitar. Sedangkan makna yang kedua dari jas to mind yakni dapat diartikan dalam bahasa asing yakni jas yang berarti pakaian untuk menghangatkan dan juga to mind atau pola pikir. Dari kedua kata tersebut maka jas to mind dapat diartikan sebagai pakaian siswa untuk menghangatkan atau membangkitkan rasa senang dalam membangun pola piker siswa untuk menyusun ide kreatif puisi karya pribadi berdasarkan eksplorasi siswa terhadap lingkungan alam sekitar.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 65 Model pembelajaran jas to mind merupakan model pembelajaran yang mengolaborasikan antara strategi, metode dan juga teknik dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran jas to mind lebih mengadopsi dan memodifikasi strategi pembelajaran jelajah alam sekitar, yang mana menggunakan alam sekitar siswa sebagai sumber untuk mengeksplorasi atau mengkonstruk pengetahuan siswa. Pembelajaran menulis puisi dengan pemanfaatan lingkungan sekitar siswa memungkinkan untuk meningkatkan aktifitas dan juga menggali kreativitas siswa. Kreativitas siswa tidak hanya dilakukan pada pembelajaran SBdP saja, namun juga melalui ata pelajaran lainnya dan menjadi ciri khas dari setiap mata pelajaran. Selain memodifikasi pembelajaran jelajah alam sekitar, model pembelajaran jas to mind juga dikombinasikan dengan metode mind mapping yakni penggunaan peta pikiran dalam menuangkan ide atau gagasan yang dilakukan siswa saat pelaksanaan jelajah alam sekitar. Penggunaan model pembelajaran jas to mind memungkinkan siswa untuk menuliskan ide-ide kreatifnya ke dalam peta pikiran yang dibuat secara mandiri dan kreatif oleh masing-masing siswa. Pembuatan peta pikiran pada model ini mengarah kepada penuangan ide atau gagasan yang terlihat secara visual menjadi tulisan kreatif. Kelebihan metode mind mapping juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Haliq, Asri, dan Fitri (2019) yang berjudul “Teknik Mind Mapping dalam Menulis Puisi: Studi Eksperimen pada Mahasiswa”. Hasil temuan penelitian didapatkan hasil bahwa metode mind mapping efektif dalam penyusunan puisi, pada subjek yang dikenai perlakuan yakni mahasiswa. Namun dalam pelaksanaan metode peta pikiran dibutuhkan kolaborasi lain dengan teknik menulis lainnya agarsiswa dapatsecara maksimal menuliskan kata-kata dengan diksi yang indah. Untuk itulah bagian yang tak kalah penting dalam model pembelajaran ini yakni dengan memasukkan teknik onomatope,


66 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD yang merupakan teknik menulis dengan mendata bunyi-bunyi atau suara yang siswa lihat pada lingkungan sekitar. Teknik onomatope ini menjadi penting, mengingat siswa akan mendapat perbendaharaan kata yang lebih banyak dalam penggunaan teknik ini. Pemasukan teknik onomatope dalam proses pembelajaran yang mampu memberikan kata-kata indah dalam puisi siswa didukung oleh Adawiah, dkk (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik onomatope dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa kelas X. Dimana terdapat peningkatan skor tes akhir dibandingkan dengan skor pada tes akhir. Proses eksplorasi lingkungan yang dilakukan oleh siswa bersama dengan guru membutuhkan persiapan dan juga pendampingan yang penuh. Mengingat dalam proses eksplorasi lingkungan, memungkinan siswa untuk bermain bersama dengan temannya dan mengakibatkan siswa tidak fokus dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut model pembelajaran ini mengolaborasikan dengan konsep team teaching di mana guru kelas bekerjasama dengan guru lainnya, seperti guru olahraga untuk membantu mengawasi jalannya proses eksplorasi lingkungan. Sehingga siswa tetap akan terkondisikan dan fokus dalam proses pengeksplorasian lingkungan. Model pembelajaran jas to mind juga mengadopsi konsep pembelajaran blended learning di mana dalam proses pembelajaran tidka hanya dapat digunakan untuk tatap muka saja, naumn juga memungkinkan untuk proses pembelajaran secara online. Hal ini tentu relevan dengan kondisi pandemi seperti saat ini yang mana siswa akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mengkonstruk pengetahuannya dari hal-hal yang dekat dengan lingkungan siswa. Model ini memungkinkan siswa untuk dapat memacu ide


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 67 kreatifnya dalam membuat puisi dengan mengeksplorasi lingkungan sekitar rumah bersama dengan orang tuanya. Proses pembuatan hingga pelisanan puisi yang membutuhkan waktu tidak sebentar menjadikan model ini menggunakan metode penugasan. Jadi proses pembelajaran tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah dan di dalam kelas saja, namun juga berupa penugasan untuk dikerjakan di rumah. Penugasan ini membutuhkan tanggung jawab siswa dan juga kerjasama dengan orang tua, mengingat jika dikerjakan di rumah akan memungkinkan siswa meminta bantu orang lain, sehingga tanggung jawab, kejujuran dan juga kerjasama dengan orang tua sangat dibutuhkan Model jas to mind ini yang diterapkan dalam materi puisi dapat mengangkat tema yang berkaitan dengan alam sekitar,sepertiindahnya alamku, kotaku yang hebat, dan sebagainya. Sehingga model ini tidak terbatas oleh lokasi tempat tinggal ataupun lokasi belajar siswa. Model pembelajaran ini juga erat kaitannya dengan teori kebahasaan yakni sosiolinguistik, dimana pembelajaran yang dilakukan dengan mengeksplorasi alam sekitar akan menjadikan siswa lebih dekat dengan kebudayaan yang ada di daerah tempat tinggalnya. Penggunaan kaidah sosiolinguistik dalamproses pembelajaran dengan model jas to mind ini juga memungkinkan siswa untuk mampu menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat setempat. Langkah-langkah dalam model jas to mind untuk memacu ide kreatif puisi siswa SD kelas tinggi sebagai berikut. Pertama, Menentukan Tema Puisi. Siswa diajak untuk berdiskusi tentang tema yang akan ia tulis berdasarkan kondisi alam di lingkungan sekolah. Tema menjadi penting karena menjadi titik awal dalam penyusunan karya puisi yang ingin ia eksplorasi dan ia rangkai. Berdasarkan tema yang telah disepakati siswa akan lebih fokus dalam


68 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD penulisan puisi. Tema yang dapat digunakan dalam lingkungan perdesaan seperti indahnya desaku. Tema lingkungan perkotaan atau industri yakni megahnya kotaku. Tema dalam pembuatan puisi ini disesuaikan dengan lingkungan sekitarsekolah, dimana jika lingkungan sekolah berada di perdesaan, maka dapat menggunakan tema indahnya negeriku, sedangkan jika di daerah perkotaan atau kota industri dapat menggambil tema megahnya kotaku. Pembedaan tema ini disesuaikan dengan karaktersitik dan juga objek yang akan mereka lihat dan rasakan nantinya. Karena tahap berpikir dan bernalar anak usia sekolah dasar masih dalam kondisi operasional konkrit, jadi tema dalam pembuatan puisi harus disesuaikan dengan lingkungan dimana ia belajar. Kedua, Pemberian Pengantar. Pada langkah kedua inisiswa akan diberikan pengantarsebelum nantinya mereka akan mengeksplorasi lingkungan. Pemberian pengantar dimaksudkan agar siswa memiliki gambaran umum mengenai manfaat dan juga hasil akhir dalam pembelajaran ini. Siswa diberikan penjelasan bagaiamana cara menulis puisi yang baik, yakni dengan penggunaan kata-kata yang indah serta berdasarkan apa yang mereka lihat. Manfaat lain dri menulis puisi dari alam sekitar yakni untuk bersyukur atas ciptaan Tuhan serta untuk menambah kecintaan terhadap lingkungan. Siswa juga diberikan contoh mengenai puisi yang bertema sama, sehingga siswa memiliki gambar mengenai puisi yang akan ia tulis. Contoh puisi yang diberikan kepada siswa disesuaikan dengan tema yang akan mereka tuliskan,sehingga tahap berpikirnya tidak jauh membayangkan hal yang jauh darinya. Pada tahap pemberian pengantar ini guru juga memberikan kesepakatan kepada siswa untuk mengikuti pembelajaran ini dengan baik dan tidak digunakan untuk bermain.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 69 Ketiga, Eksplorasi Lingkungan. Setelah penentuan tema, siswa diajak untuk mengeksplorasi lingkungan alam sekitar. Pengeksplorasian ini tentunya dengan panduan dan arah dari guru. Guru dapat mengawasi siswa dalam menjelajah alam sekitar. Sebelumnya guru telah memilih rute atau jalur mana yang harus dilewati siswa. Pemilihan rute diusahakan sesuai dengan tema dan terdapat banyak objek yang dapat dieksplorasi dan dituangkan siswa dalam bentuk tulis nantinya. Proses eksplorasi siswa dapat dilengkapi dengan catatan kecil. Siswa diperbolehkan untuk menuliskan objek-objek penting yang akan ia tuangkan dalam menulis puisi. Catatan ini nantinya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan siswa untuk menambahkan objek dalam puisinya nantinya. Catatan inilah yang dimaksud dengan mind mapping. Siswa diarahkan untuk membuat peta pikiran berdasarkan apa yang telah ia lihat dan ketahui. Dalam tahap eksplorasi siswa diberikan kebebasan untuk bertanya ataupun mencari suatu hal yang ingin mereka cari tahu. Pencarian informasi ini dapat dilakukan dengan komunikasi bersama dengan teman sebaya, bertanya dengan guru atau berkomunikasi dengan masyarakat sekitar, dengan menggunakan bahasa yang santun. Keempat, Pendataan Kata-kata Onomatope Proses berakhirnya eksplorasi lingkungan ditandai dengan siswa mulai memasuki lingkungan sekolah dan bersiap untuk fokus terhadap pemyusunan puisi yang akan ia lakukan. Penyusunan puisi dilakukan setelah pendataan katakata onomatope. Untuk melengkapi peta pikiran yang siswa buat, maka diperlukan pendataan kata-kata onomatope. Pada tahap ini siswa menuliskan bunyi-bunyi yang tadi ia lihat ke dalam peta pikirannya agar didapatkan karya puisi yang lebih Indah. Pada tahap ini tentunya tidak terlalu sulit untuk dilakukan siswa, mengingat siswa sudah mendengar dan merasakan sendiri hal yang lihat,


70 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD maka dimungkinkan siswa akan dengan lancar menuliskan kata-kata dari pengimplemntasian bentuk yang ia lihat. Kelima, Menyusun Puisi. Setelah siswa melakukan pendataan kata-kata onomatope, langkah selanjutnya yakni menyusun kerangka puisi. Berdasarakan pencatatan hasil eksplorasi terhadap lingkungan, siswa dibimbing untuk mulai menyusun kerangka puisi. Pengembangan kerangka puisi dimulai dari pembuatan judul yang sesuai dengan tema yang kemudian digabungkan. Siswa dibebaskan untuk membuat puisi sesuai dengan apa yang telah mereka temukan pada proses jelajah alam tadi. Judul dalam tema dibuat sesuai dengan tema yang telah disepakati sebelumnya. Pada tahap menyusun puisi ini siswa diminta untuk merenungkan kata-kata dan juga kerangka yang akan ia tulis menjadi puisi yang indah. Penyusunan puisi ini diperlukan konsetrasi dan ingatan siswa terhadap pengeksplorasian lingkungan yang telah ia lakukan, maka dibutuhkan kelas dengan suasana yang tenang dan juga tidak banyak aktivitas di dalamnya. Pada tahap ini guru berfungsi sebagai fasilitator dalam pembelajaran, artinya guru memfasilitasi siswa untuk bertanya jawab dengan guru jika merasa kesulitan ataupun kebingungan. Guru juga mendampingi siswa jika kesulitan dalam mengembangkan dan menentukan pemilihan bahasa yang sesuai. Keenam, Menyunting Kembali Puisi. Tahap selanjutnya yakni melakukan penyuntingan terhadap puisi yang telah ditulis oleh siswa. Pada tahap ini siswa secara mandiri atau secara berpasangan dapat saling menukarkan puisi yang telah ia tulis guna mendapatkan komentar ataupun tambahan yang diperlukan menjadikan puisi lebih terlihat indah. Pada tahap ini guru juga dapat membimbing jalannya proses diskusi dan penyuntingan dengan cara pendekatan kepada siswa. Puisi yang


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 71 telah disunting oleh teman sebangku diharapkan merupakan hasil puisi yang sudah menggunakan kata-kata yang indah sehingga masukan dari teman sebaya dapat digunakan untuk menjadikan puisi lebih bermakna dan lebih indah. Puisi yang telah disunting kemudian dikembalikan kepada pembuatnya untuk dipertimbangkan dan diperbaik sebelum dibacakan di hadapan teman-teman. Ketujuh, Membaca Puisi Tahap keenam yakni dengan membacakan puisi. Membacakan puisi ini dilakukan dengan penuh penghayatan dan mendapat perhatian penuh dari siswa lainnya. Dalam proses membaca puisi siswa membacakan secara lantang puisi karya mereka dengan rasa percaya diri dan pengekspresian yang tepat. Siswa yang telah membacakan puisi mendapat apresiasi dari teman-teman lainnya dengan cara pemberian tepuk tangan. Pemberian tepuk tangan dalam proses akhir pembelajaran ini bertujuan agar siswa lebih termotivasi dan bersemangat karena mendapat apresiasi dari teman sebaya. Setelah siswa membacakan puisi di depan kelas, kemudian siswa tersebut dapat menempelkan puisi hasil karya mereka di papan karya siswa. Setiawan, dkk (2019) menyatakan tujuan kegiatan publikasi yakni untuk pemberian reward (penguatan) bagi siswa sekaligus memotivasi kelas untuk lebih aktif dalam menghasilkan karya tulis dan juga menimbulkan minat baca terhadap hasil karya yang dipajang. Kedelapan, Penguatan Materi Tahap terakhir yakni penguatan mengenai materi. Guru berperan penting dalam memberikan penguatan kepada siswa. Penguatan dilakukan agar tidak terjadi mispresepsi mengenai menulis puisi yang telah dilakukan oleh siswa. Penguatan juga dapat dilakukan untuk merefleksi pembelajaran, dengan cara tanya jawab kepada siswa tentang pembelajaran yang dilakukan hari ini. Jika siswa merasa tertarik dan menjadikan proses pembelajaran menyenangkan


72 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD baginya, maka guru dapat menjadikan strategi belajar tersebut sebagai acuan dalam pembelajaran yang lainnya. Penguatan yang diberikan oleh guru diharapkan mampu menjadikan siswa termotivasi untuk menghasilkan karya baru dan terus mengembangkan kreativitas menulis dalam bidang apapun. Prediksi Pengimplementasian Jas To Mind Pengimplementasian model jasto mind dalam proses pembelajaran akan menjadikan siswa aktif dan juga terpacu untuk mengembangkan ide-ide kreatifnya di dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena siswa didorong untuk berpikir secara kreatif yang mana juga mendayagunakan pikiran siswa sebagai proses pemerolehan informasi dari hal-hal yang mereka lihat sebelumnya. Model ini juga akan mengatasi kejenuhan siswa yang hanya belajar terbatas oleh ruang kelas saja, karena siswa akan diajak berkeliling lingkungan sekitar untuk mengeksplorasi dan juga menemukan hal-hal baru. Pemerolehan bahasa yang akan dituliskan oleh siswa juga sedikit banyak akan terpengaruh dengan kondisi sosial atau kaitannya dengan sosiolinguistik yang ada di daerah siswa. Pembelajaran yang menjadikan siswa aktif dan juga mampu menarik dan mengkonstruk pemikiran siswa memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Di mana dalam proses pembelajaran yang dimulai dari ketertarikan akan menghasilkan sesuatu pengetahuan yang juga akan mudah dimengerti oleh siswa. Pembelajaran yang bermakna akan menjadikan hasil belajar siswa dalam menulis puisi juga meningkat. Di mana siswa akan mampu memahami dan juga memiliki ketertarikan dalam proses pembelajaran. Penambahan metode mind mapping juga akan mampu menjadikan siswa untuk terbiasa dalam penulisan hal-hal yang siswa alami, termasuk dalam


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 73 pembuatan puisi kreatif. Hal ini didorong oleh penelitian yang dilakukan oleh Salmiati (2015) dengan subjek siswa sekolah dasar kelas IV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mind mapping mampu meningkatkan keterampilan menulis paraphrase pada siswa kelas IV sekolah dasar. Model pembelajaran jas to mind ini juga akan menjadikan siswa dekat dengan lingkungan belajarnya, hal ini disebabkan siswa akan lebih dekat sumber belajarnya karena mereka diminta untuk mengekplorasi lingkungan dan menjadi sumber belajar bagi siswa. Tak hanya terbatas pada mendekatkan siswa pada lingkungan sekitar saja, namun dampak yang diberikan pada model ini yakni melatih keberanian siswa dalam mengemukakan pendapatnya. Di mana siswa akan mampu melisankan puisi dengan rasa percaya diri di depan temantemannya, dan juga melatih siswa untuk mampu mengemukakan karyanya di depan teman-teman lainnya. Penerapan model jas to mind ini akan menghasilkan sebuah puisi yang kreatif dan merupakan perwujudan dari apa yang siswa lihat dan siswa rasakan, sehingga puisi yang dihasilkan akan optimal secara fisik dan juga batiniah. Karena siswa mengalami secara langsung hal-hal yang akan ia tuangkan ke dalam puisi karyanya, sehingga puisi yang dihasilkan akan bersifat kreatif dan bebas dari plagiasi, seperti tujuan dalam penulisan puisi karya pribadi.


74 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Daftar Pustaka Adawiah, S.R., Pertiwi, L.L., Sukawati, S., Firmansyah, D. 2018. Pembelajaran Menulis Puisi Dengan Teknik Onomatope Di MA Tanjugjaya. Parole Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 1, No. 6, hlm. 897-904. Amin, Ahmad Kholiqul. 2017. Kajian Konseptual Model Pembelajaran Blended Learning berbasis Web untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Motivasi Belajar. Jurnal Pendidikan Edutama, Vol. 4, No. 2, hlm. 51-64. Andheska, Harry. 2016. Membangun Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran Menulis dengan Memanfaatkan Media Pembelajaran Inovatif. Bahastra, Vol. 36, No. 1, hlm. 55-67. Chaer, A. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Dalyono, M. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Deklara Nanindya,dkk. 2018. “Daya Tarik Pembelajaran di Era 21 Dengan Blended Learning”. Jurnal teknologi Pendidikan, Vol. 1, No. 1 Haliq, A., Asri, A., dan Fitri, S. 2017. Kemampuan Menulis Puisi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Menggunakan Metode Mind Mapping. Proceding of National Seminar. Research Institute of Universitas Negeri Makassar. http://ojs.unm.ac.id/semnaslemlit/article/view/3999. Joyce, B., & Weil, M. 1986. Models of Teaching (Third Edition). New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Kosasih, E. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya. Kridalaksana, H. Mukti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Empat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Marianti, A dan N.E Kartijono. 2005. Jelajah Alam Sekitar (JAS). Dipresentasikan pada Seminar dan Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Desain Inovasi Pembelajaran Jurusan Biologi FMIPA UNNES dalam Rangka Pelaksanaan PHK A2. Semarang: Jurusan Bilogi FMIPA UNNES.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 75 Mosa, A., Yoo, I., & Sheets, L. 2011. A Systematic Review of Healthcare Applications for Smartphones. BMC Medical Informatics and Decision Making, 12, 67. Mulyani, S., A. Marianti, N.E. Kartijono, T. Widianti, S. Saptono, K. K. Pukan, & S.H. Bintari. 2008. Jelajah Alam Sekitar (JAS) Pendekatan Pembelajaran Biologi. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang. Nurgiantoro, B. 2013. Satra Anak, Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: UGM Press. Pratiwi, Yuli Dwi., Maryaeni, dan Suwignyo. 2016. Kreativitas Siswa Dalam Menulis Puisi. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, Vol. 1, No. 5, hlm. 835-843. Retnawati, H. 2016. Hambatan Guru Matematika Sekolah Menengah Pertama Dalam Menerapkan Kurikulum Baru. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 3 (3), 390–403. Ristiasari, T., Priyono, B., dan Sukaesih, S. 2012. Model Pembelajaran Problem Solving dengan Mind Mapping Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Unnes Journal of Biology Education, Vol. 3, No. 1 Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: RajaGrafindo Persada. Salmiati. 2015. Peningkatan Keterampilan Menulis Parafrase Menggunakan Metode Mind Mapping. Jurnal Pelangi, Vol. 8, No. 1. Salu, Benyamin. Tadius. 2019. Pengaruh Metode Pembelajaran Jelajah Alam sekitar (JAS) terhadap Motivasi dan Hasil belajar IPA Siswa Kelas VI SDN 1 Rantepao Kab. Toraja Utara. Jurnal KIP, Vol. 7, No. 3. Sandi, Gede. 2012. Pengaruh Blended Learning Terhadap Hasil Belajar Kimia Ditinjau Dari Kemandirian Siswa. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Vol. 45, No. 3, hlm 241-251. Setiawan, H., Styo, M.W.A., Abdul, A. 2019. Puisi Berbasis Hasil Karya Gambar: Upaya penguatan literasi Siswa SD Kelas Tinggi. Intelegensi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol. 2, No. 1, hlm. 50-60


76 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Sholikhah. Z., Kartana. T.J., Utami. W.B. 2018. Efektifitas Model Pembelajaran Open-Ended Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Kreativitas Siswa. JES_MAT, Vol. 4, No. 1, hlm. 35-46. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sopandi. 2010. Memahami Puisi. Bogor: Quadra. Susongko, P. 2015. Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan. Tegal: Universitas Pancasakti Tegal. Waluyo, Herman J. 2003. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Wardoyo, S. 2013. Teknik Menulis Puisi. Yogyakarta: Graha Ilmu. Zulela. 2013. Pembelajaran Bahasa Indonesia Apresiasi Sastra di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 77 BAGIAN V MODEL WAYANG DOMETERAN: UNTUK MENIGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA KELAS II SEKOLAH DASAR Rekno Handayani, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah dalam hal ini kelas II SD salah satunya yakni bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Aspek keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan kebahasaan yang penting untuk dikuasai oleh siswa kelas II SD. Untuk mendukung kreativitas dalam perkembangan berbicara hendaknya pelaksanaan pembelajaran tidak hanya dengan menggunakan metode ceramah dan bahan ajar buku saja, melainkan harus ditekankan inovasi yang menarik untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas II SD. Pembelajaran yang menekankan aspek kebahasaan berbicara dapat dicarikan solusi inovatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Upaya kreatif dalam melaksanakan pembelajaran salah satunya yakni dengan menerapkan model wayang dometeran. Model wayang dometeran ialah sebuah model yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan mengombinasikan antara sastra dongeng, metode bermain peran, dan penggunaan wayang stik. Model wayang dometeran menjadi salah satu model belajar inovatif yang bernuansa kooperatif learning, bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada kelas II SD. Pembelajaran yang dirancang menggunakan model wayang dometeran akan memfokuskan kegiatan bermain peran dari cerita dongeng yang dibantu oleh media wayang stik. Melalui kegiatan bermain peran yang diperagakan dengan media wayang stik akan memicu keterampilan berbicara siswa pada kelas II SD. Disini siswa diberikan kesempatan seolah-olah menjadi sebuah pemeran sehingga siswa dapat berdialog sesuai isi dongeng. Pembelajaran menggunakan model wayang dometeran akan memberikan nuansa baru dan lebih inovatif karena disini pembelajaran akan memberi kesempatan siswa untuk bermain peran yang dibantu oleh media wayang stik. Media wayang stik menjadi daya tarik sendiri karena siswa cenderung senang dalam memainkan replika wayang yang di desain khusus. Selain itu pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model wayang


78 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD dometeran akan sekaligus menanamkan pendidikan karaker kepada siswa kelas II. Isi dongeng yang mengandung nilai moral dapat dijadikan media penanaman karakter pada siswa SD. Selain itu peran penggunaan media wayang stik sekaligus akan mengenalkan kesenian tradisional yang dikemas secara unik kepada siswaa, sehingga model tersbut memiliki kelebihan tersendiri. Sesuai dengan hal tersebut maka model wayang stik efektif digunakan untuk meningkatkan kreativitas siswa kelas II SD dalam aspek berbicara sekaligus penanaman pendidikan karakter bagi siswa. Permasalahan Pembelajaran Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar tentu bertujuan untuk melatih keterampilan berbahasa pada siwa. Keterampilan berbahasa pada siswa sekolah dasar baik siswa kelas rendah maupun siswa kelas tinggi diharapkan mampu menguasai dasar-dasar keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa dengan baik dan benar ditekankan pada siswa SD dengan tujuan siswa mampu melatih dan mengembangkan sejak dini, sehingga hal tersebut dapat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu muatan pelajaran utama yang akan disampaikan kepada siswa, karena pembelajaran bahasa merupakan pengantar atau penghela dari setiap kegiatan pembelajaran lainnya. Adapun bahasa Indonesia sendiri memiliki empat keterampilan yang harus dimiliki siswa, empat keterampilan tersebut diantaranya ialah mentimak, berbicara, membaca, dan menulis. Tentu siswa akan dapat berkomunikasi dengan baik ketika siswa memiliki keterampilan berbahasa. Melihat permasalahan tersebut siswa salah satu keterampilan berbahasa yang penting untuk dikuasai siswa SD khususnya kelas II ialah keterampilan berbicara. Disini keterampilan berbicara akan berfungsi sebagai alat komunikasi yang akan digunakan siswa kelas II SD untuk menyampaikan pesan, perasaan,


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 79 gagasan, dan informasi kepada lawan bicaranya khususnya dalam proses pembelajaran di lingkungan sekolah. Sebagai mahluk sosial tentu keterampilan berbicara memiliki kedudukan penting dalam kehidupan bermsayarakat. Tidak hanya itu berbicara merupakan komunikasi yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti menyampaikan informasi, meminjam barang, menyampaikan rasa terimakasih, dan lain sebagainya. Menurut Tarigan (2008) berbicara ialah kemampuan untuk mengucapkan berbagai bunyi artikulasi atau kata sebagai pengekspresian, pernyataan, dan penyampaian pikiran, perasaan, dan gagasan. Sesuai dengan pendapat tersebut sehingga berbicara dapat diartikan sebagai kemampuan dalam mengungkapkan ekpresi, perasaan, pesan, informasi, atau pikiran yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut untuk memiliki keterampilan bebicara dengan baik dan benar tidaklah mudah seorang siswa kelas II SD harus selalu belajar dan berlatih agar dapat mahir dalam berbicara. Siswa kelas II SD diharapkan dapat berlatih dan praktik dengan baik sehingga ketika menyampaikan pesan atau berkomunikasi dengan lawan bicaranya dapat tersampaikan dengan baik. Menurut Haryadi dalam Rosmaya (2020) bahwa terdapat fungsi berbicara dainataranya ialah (1) pemenuhan kebutuhan seharihari, (2) sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan berbagai keperluan, (3) sebagai alat ekpresi, demokrasi, dan ungkapan perasaan, (4) alat yang digunakan untuk penyampaian pengetahuan dan ide seseorang, (5) terakhir ialah untuk peredam kecemasan. Keterampilan berbicara seyogyanya memang diajarkan kepada siswa sejak dini, karena hal tersebut sesuai dengan tahap perkembangan siswa yakni meniru, sehingga usia SD menjadi momen yang tepat untuk melatih keterampilan berbicara. Guru memiliki peran utama dalam mengajarkan keterampilan berbicara siswa. Seorang guru dapat menggunakan berbagai


80 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD strategi dalam melaksanakan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran bahasa akan tercapai secara maksimal. Pembelajaran bahasa Indonesia dikelas II menekankan keterampilan berbicara ialah pada KD 3.8 dan 48, dimana KD 4.8 siswa kelas II ditekankan untuk menceritakan kembali isi dongeng. Sesuai hal tersebut maka salah satu cara yang dapat digunakan guru dalam melatih keterampilan berbicara siswa kelas II yakni dengan menggunakan dongeng anak, karena dongeng sudah disesuaikan dengan karkateristik KD di kelas II yang ada. Sesuai dengan paparan permasalahan tersebut maka dibutuhkan ide inovatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun ide kreatif pembelajaran yang dapat diterapkan yakni model wayang dometeran. Model wayang dometeran merupakan inovasi dari pengombinasian karya sastra dongeng, metode bermain peran, dan media wayang stik. Model wayang dometeran akan membantu dan menjadi pembelajaran inovatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II. Model pembelajaran tersebut menekankan siswa akan memainkan peran dari isi cerita dongeng yang dibantu dengan media wayang stik. kegiatan pembelajaran akan dilaksanakan berpusat pada siswa, sehingga siswa langsung dapat memainkan peran dari isi dongeng yang berbantuan media wayang stik, sehingga siswa seakan-akan menjadi sebuah lakon dengan tugasnya masingmasing untuk memainkan karakter yang diperankannya. Model wayang dometeran diharapkan dapat memberikan stimulus positif terhadpa siswa kelas II SD dalam meningkatkan atau menanamkan keteramapilan berbicara pada siswa. Mengingat pentingnya keterampilan berbicara oleh siswa dan perlunya strategi pembelajaran yang kebaruan sehingga model wayang dometeran menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang dapat dijadikan pedoman. Selain itu penggunaan media wayang stik


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 81 menjadi salah satu pengenalan sejak dini tentang sebuah karya budaya asli yang harus dipahami oleh siswa usia SD. Adanya penggunaan wayang stik yang diadopsi dari karya seni wayang kulit menjadi nilai lebih dalam penanaman pendidikan karakter bagi siswa SD. Benang merah dari ide kreatif yakni model dometeran yakni menekankan siswa untuk melatih dan mengasah keterampilan berbicara secara berkelompok dan didampingi oleh guru, sehingga hal tersebut diharapkan mampu memfasilitasi pembelajaran yang bertujuan untuk menanamkan keterampilan berbicara siswa SD. Teori Konseptual Model Wayang Dometeran Model wayang dometeran merupakan salah satu karya inovasi pembelajaran bernuansa seni pertunjukan sastra yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD. Model wayang dometeran memfokuskan pengolaborasian antara sastra dongeng yang dijadikan sebagai materi, selanjutnya metode bermain peran dan wayang stik sehingga disebut atau akronim dari model wayang dometeran. Sebagai model yang dinilai memiliki sifat inovatif, maka berikut teori yang melandasi model wayang dometeran: a. Keterampilan Berbicara Menurut Tarigan (2008) berbicara ialah kemampuan untuk mengucapkan berbagai bunyi artikulasi atau kata sebagai pengekspresian, pernyataan, dan penyampaian pikiran, perasaan, dan gagasan. Sedangkan menurut Rosanti (2019) berbicara selain menghasilkan bunyi juga memiliki tujuan pengekspresian, penyampaian ide, perasaan, dan gagasan kepada lawan bicara menggunakan intonasi, nada, dan gestur tubuh. Sesuai dengan pendapat ahli berbicara merupakan sebuah kemampuan untuk menyampaikan suatu hal yang disampaikan secara lisan dengan tujuan tertentu. keterampilan berbicara menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai siswa sekolah


82 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD dasar, karena melalui keterampilan berbicara dengan baik dan benar siswa akan mudah menyampaikan apa yang dirsakan. Hal tersebut sejalan dengan Permana (2015) menjelaskan bahwa berbicara merupakan sebuah jenis keterampilan berbahasa secara lisan yang memiliki sifat produktif. Keterampilan berbicara menjadi salah satu keterampilan yang perlu ditingkatkan pada siswa SD baik kelas rendah maupun kelas tinggi. Hal ini penting untuk ditingkatkan karena berbicara menajdi alat komunikasi yang digunakan dalam pelakanaan pembelajaran, jadi melalui keterampilan berbicara yang baik akan meudahkan siswa dalam bertkar pikiran maupun diskusi di dalam kelas. selain itu keterampilan berbicara juga tidak serta merta mudah untuk dikuasai siswa SD. Perlu adanya latihan dan praktik secara baik untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Berdasar urian tersebut siswa dapat melatih ketrampilan berbicara melalui pembelajaran yang disajikan oleh guru di dalam kelassehingga siswa akan berlatih keterampilan berbicara dengan baik. b. Dongeng Anak Dongeng merupakan karya sastra yang menceritakan suatu hal yang tidak nyata dengan tujuan penyampaian pesan moral bagi pembaca atau pendengar. Dongeng biasanya berisi cerita khayalan kehidupan binatang atau khidupan para peri dilangit untuk media hiburan bagi anak khsuusnya siswa SD. Cerita dongeng memiliki tokoh atau karakter didalamnya terdapat juga tokoh baik dan tokoh jahar, serta tokoh pendukung lainnya. Dongeng biasanya berisi percakapan sebagai alur cerita yang memiliki nilai pesan moral. Menurut Sugiarto (2015: 159) dongeng ialah cerita yang berdasar pada angan-angan atau khayal dimana cerita tersebut diceritakan secara turun temurun serta antar generasi. Sedangkan menurut Priyono (2006) dongeng merupakan cerita khayal atau


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 83 cerita yang mengada-ada serta bersifat fiktif yang bertujuan untuk media menyampaikan pesan moral. Sesuai dengan penjelasan tersebut dongeng dapat diartikan sebuah karya yang berisi cerita yang fiktif atau tidak nyata, umumnya dongeng disajikan kepada siswa SD dengan tujuan pembelajaran keterampilan berbahasa sekaligus media yang tepat untuk menyampaikan pesan. Didukung oleh temuan penelitian Mancoro (2015) dengan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan selama dua siklus disimpulkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan berbicara pada siswa kelas kelas I SD Negeri 2 Tatura setelah pembelajaran menggunakan dongeng Belajar menggunakan dongeng merupakan salah satu upaya mempelajari bahasa yang baik dan benar. Dongeng akan memberikan sajiaan pada pembaca tentang cerita cerita yang akan memberikan manfaat bagi pembacanya. Selain itu dongeng juga bermanfaat untuk mengasah keterampilan bahasa siswa SD baik keterampilan menulis, membaca, berbicara, dan menyimak. Berbagai keterampilan tersebut dapat di tingkatkan melalui dongeng yang disajikan oleh guru. Kemudian berkaitan dengan dongeng menurut Kusneidi (2004) terdapat lima jenis dongeng yang dapat dielajari oleh siswa diantaranya sebagai berikut: 1. Legenda Legeda merupakan dongeng yang menceritakan sebuah asal-usul sebuah tempat, tentu didalam isi legenda terdapat cerita-cerita yang bersifat fiksi yang dapat menarik minat anak dalam meningkatkan keterampilan berbahasa, adapun contoh cerita legenda diantaranya asal-usul rawa pening, legenda danau toba, legenda tangkuban perahu. 2. Fabel Fabel merupakan dongeng yang menceritakan kehidupan binatang namun isinya menceritakan seolah-olah mampu menirukan manusia seperti berbicara dengan hewan lainya. Fabel menjadi salah satu jenis dongeng yang sering


84 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD digemari para siswa SD karena di dalamnya mengandung cerita yang dapat meningkatkan daya imajinasi dan daya khayal pada siswa sehingga siswa akan lebih menyukai fabel, adapun contoh fabel yang sering digunakan dalam pembelajaran diantaranya kura-kura dan kelinci yang sombog, buaya dan si kancil, dan sang kodok. 3. Mite Mite merupakan salah satu dongeng yang menceritakan kehidupan para dewa dan tokoh yang memiliki kesaktian tinggi. Mite biasanya diakitkan dengan hal-hal mistis sehingga akan menarik pembaca dalam berlatih kebahasaan. Adapun contoh dari cerita mite diantaranya nyi roro kidul, dan Dewi Sri. 4. Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan salah satu dongeng yang menceritakan peristiwa penring di suatu daerah tertentu. cerita rakyat menjadi salah satu dongeng yang digemari siswa SD karena di dalamnya menceritakan sebuah cerita yang menarik. Cerita rakyat biasanya memiliki nilai atau pesan moral yang baik kepada pembacanya, contoh dari cerita lain ialah cerita malin kundang. 5. Pelipur Lara Pelipur lara merupakan dongeng yang sering digunakan untuk mengisi waktu luang atau menghibur orang yang sedang sedih. Biasanya dongeng ini akan menyajikan cerita yang menari dan membuat pembacanya kembali ceria ketika membaca karya sastra pelipurlara. Beberapa jenis dongeng tersebut terutama fabel dapat dijadikan sebagai salah satu media yang digunakan dalam meningkatkan keterampilan berbahasa siswa sekolah dasar. Dongeng menjadi salah satu materi yang tepat karena dongeng memiliki karakteistik yang menyenangkan untuk dibaca. Siswa sekolah dasar lebih suka membaca bacaan yang menyenangkan dari pada paragraf yang


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 85 membosankan, sehingga dongeng menjadi media yang tepat untuk meningkatkan minat belajar siswa SD dalam meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. menurut Al-qudsy (2010) terdapat manfaat yang dapat diperoleh ketika siswa mempelajari dongeng sebagai bahan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, diantaranya sebagai berikut (1) Meningkatkan imajinasi siswa, (2) Meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, (3) Sebagai penanaman nilai moral, (4) Pendidikan karakter bagi siswa, (5) Sebagai media hiburan siswa, (6) Meningkatkan daya konsentrasi siswa, (7) Merangsang rasa ingin tahu siswa terhadap isi cerita, (8) Meningkatkan minat membaca siswa, (9) Memberikan kerekatan hubungan antara orang tua dengan anak. Berdasarkan uraian tersebut berbagai manfaat dapat diperoleh siswa melalui pembelajaran yang menggunakan dongeng sebagai bahan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. dongeng dapat dijadikan sebagai salah satu media yang tepat untuk berinovasi dalam mengembangkan keterampilan berbahasa khususnya keterampilan berbicara. Melalui berbagai strategi yang dikembangkan oleh guru dapat dijadikan metode guru dalam melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa, sehingga dongeng diharapkan dapat dijadikan rujukan oleh para guru untuk berinovasi dalam meningkatkan mutu ketarampilan berbicara siswa SD. c. Metode Bermain Peran Metode pembelajaran bermain peran marupakan salah satu cara yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswa SD. Metode pembelajaran bermain peran termasuk dalam strategi pembelajaran yang bersifat kooperatif learning. Disini siswa diminta memerankan sebuah tokoh dalam cerita dengan tujuan meningkatkan keterampilan berbahasa siwa khususnya keterampilan berbicara siswa SD. Menurut Rosanti (2019) metode bermain peran merupakan pola pembelajaran berbasis bermain dimana siswa


86 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD akan memerankan tokoh tertentu, disinisiswa akan menghayati beberapa peran yang dimainkannya, metode bermain peran akan secara langsung membuat siswa aktif dan kreatif dalam mengikuti pemelajaran serta siswa akan dilatih, diasah untuk terampil dalam berbicara dengan baik dan benar. Sedangkan menurut. Sesuai dengan pendapat para ahli dapat ditarik benang merah bahwa metode pembelajaran bermain peran merupakan sebuah metode kooperatif dimana siswa akan mendapatkan tugas berpura-pura memainkan peran dari salah satu karakter yang terdapat dalam cerita. Metode bermain peran akan memberikan manfaat terutama dalam upaya inovasi peingkatan keterampilan berbicara siswa. Siswa akan secara langsung melatih keterampilan berbicaranya melalui peragaan tokoh yang dimainkan. Penggunaan metode bermain peran didukung oleh Beta (2019) hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas V di SDN 65 Pajalesang Kota Palopo hal ini dipengaruhi penggunaan metode bermain peran yang digunakan untuk pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia. Biasanya metode ini menggunkan salah satu cerita atau dongeng untuk dijadikan bahan yang akan diperankan. Metode bermain peran juga akan membuat siswa menjadi aktif dalam mengikuti pembelajaran, sehingga dalam upaya peningkatan keterampilan berbicara metode pembelajaran bermain peran sangat tepat untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD. Menurut Yanto (2015) terdapat beberapa kelebihan dalam penerapan metode pembelajaran diantaranya yakni melatih (1) keterampilan bahasa lisan siswa, (2) meningkatkan kerjasama, (3) melatih kreativitas siswa, (4) melatih daya ingat siswa.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 87 d. Media Wayang Stik Media wayang merupakan salah satu media pembelajaran inovatif yang sering digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran di SD khusunya pada muatan bahasa Indonesia untuk meningkakan keterampilan bahasa siswa. keberadaan dari media pembelajaran wayang sudah digunakan sejak lama namun keberadaannya masih tetap eksis, karena media wayang cenderung mudah digunakan dan bersifat fleksibel tergantung kebuutuhan, umumnya media wayang dirancang atau di desain sesuai dengan karakter tokoh baik diambil dari tokoh cerita diksi maupun fiksi seperti tokoh pandawa, tokoh kartun, tokoh binatang, dan tokoh pahlawan, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Menurut Widyanti (2019) asal kata wayangan yakni dari kata bayangan atau dalam bahasa jawa disebut wayangan, yang mengartikan bahwa ide kreatif dalam menggambarkan wujud tokoh. Penggunaan media wayang memiliki sifat yang ekpresif, dimana wayang akan mengapresiasikan atau menggambarkan karakter watak tertentu dengan sifat yang dimiliki dari karakter yang di wayangkan. Kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di SD erat kaitanya dengan penggunaan media wayang sebagai representasi watak yang diperankan. Media wayang akan menghadirkan sesuatu yang konkrit yang dpat dijadikan sebagai media belajar atau alat peraga. Penggunaan media wayang sering dikaitkan dengan teks cerita baik teks diksi maupun fiksi. Salah satau jenis teks cerita fikssi yang sering digunakan yakni cerita dongeng anak atau fabel. Dongeng fabel memiliki karakteristik yang sejalan ketika diperankan menggunakan media wayang yang digunakan dalam meningkatkan keterampilan berbahasa khususnya berbicara. Widianto (2017) mengemukakan bahwa media wayang merupakan sebuah replika yang berasal dari kebudayaan jawa yakni wayang kulit. Selain itu tidak hanya sebuah replika saja namun media


88 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD wayang dapat digunakan dalam meningkatkan keterampilan berbahasa. Media wayang yang sering digunakan oleh para siswa untuk memeragakan suatu karakter diadopsi dari kebudayaan asli yang dimiliki oleh nusantara, sehingga selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa media wayang juga dapat digunakan dalam pengenalan budaya lokal sejak usia SD. Fajrie (2013) menekankan bahwa salah satu media pembelajaran tematik inovatif untuk siswa SD yang dapat digunakan ialah media wayang sebagai karya seni. Mengingat keragaman budaya nusantara yang tidak akan pernah habis, sehingga tentunya sebagai seorang guru harus memanfaatkan kekayaan budaya yang dimiliki bangsa. Hal itulah yang mendasari adanya penggunaan media wayang sebagai penanaman pengetahuan dan penanaman karakter oleh generasi yang akan datang. Sesuai dengan filosofisnya wayang merupakan sebuah puncak kesenian yang dimiliki oleh nusantara dengan atensi yang menonjol dari karya seni lainnya sehingga wayang merupakan salah satu media yang tepat untuk dibelajarkan kepada siswa SD khususnya pembelajaran bahasa Indonesia. Berpedoman bahwa media wayang memiliki karakter yang selaras dengan pembelajaran bahasa. Salah satu keterampilan berbahasa yakni berbicara, yang dimana penting untuk ditingkatkan oada usia SD. Kelas II SD merupakan usia perkembangan pra operasional sehingga dalam mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia membutuhkan media konkrit yang menarik untuk meningkatkan keterammpilan berbicara. Media yang dapat digunakan ialah wayang stik. Wayang stik merupakan sebuah karya berbentuk replika yang berasal dari watak atau karakter yang dimainkan dalam hal ini tokoh dri cerita dongeng fabel. Wayang stik akan dapat digunakan sebagai media unik untuk bercerita dongeng oleh praktik bermain peran siswa SD, sehingga disini wayang stik di rancang


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 89 untuk kebaruan pembelajaran. Wayang stik menjadi media yang dibuat menggunakan stik es cream dan cetakan gambar yang diambil dari tokoh dalam isi dongeng yang digunakan. Seperti karakter buaya, kelinci, dan tokoh pendukung lainnya. Menggunakan wayang stik menjadi efektif dan dapat melatih psikomotorik siswa kelas rendah. Selain itu media wayang tepat untuk dikombinasikan dengan metode bermain peran sehingga hal ini menjadi nilainilai inovatif daam pembelajaran. e. Karakteristik Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas II SD Secara umum karakteristik pembelajaran pada siswa kelas II ialah cenderung menekankan pada kemapuan siswa untuk menguasai kemampuan membaca menulis, dan berbicara. Salah satu keterampilan yang sukar untuk dikuasai ialah keterampilan berbicara siswa. hal ini sesuai degan KD 3.8 dan 4.8 yang menekankan penggalian informasi dan menceritakan kembali isi dongeng. Berkaitan dengan KD 4.8 menceritakan kembali isi dongeng cenderung kepada kemampuan berbicara siswa, adapun untuk KD sebagai berikut. Tabel 1. KD membaca dan bercerita dongeng kelas II SD KD. 3 (Pengetahuan) KD. 4 (Keterampilan) 3.8 Menggali informasi dari dongeng binatang (fabel) tentang sikap hidup rukun dari teks lisan dan tulis dengan tujuan untu kesenangan 4.8 Menceritakan kembali teks dongeng binatang (fabel) yang menggambarkan sikap hidup rukun yang telah dibaca secara nyaring sebagai bentuk ungkapan diri Sesuai dengan paparan KD tersebut maka salah satu karakteristik dari pembelajaran di kelas II ialah mengacu pada KD 4.8 yakni keterampilab berbicara dengan menceritakan kembali isi dongeng. Hal inisesuai dengan isi pembahasan


90 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD bahwa dongeng dengan menggunakan metode bermain peran merupakan salah satu inovasi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan keterampilan berbicara siswa. penerapan KD tersebut memerlukan strategi yang kreatif dari seorang guru sehingga siswa kelas II akan mudah untuk menguasai keterampilan berbicara yang hendak dicapai. f. Model Wayang Dometeran Model pembelajaran merupakan sebuah strategi belajar yang tersetuktur dan memiliki langkah-langkah sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran. Model pembelajaran ditekankan untuk memiliki karakteristik berpusat pada siswa atau student center learning. Salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia yakni model wayang dometeran. Model tersebut marupakan sebuah strategi belajar inovasi yang mengombinasikan antara teks dongeng, metode bermain peran, dan penggunaan media wayang stik. disebut dengan wayang dometeran diadopsi dari penamaan atau akronim dari dongeng, metode bermain peran, dan media wayang stik. model pembelajaran tersebut menekankan pembelajaran yang menyenangkan yang dilaksanakan secara berkelompok. Pembelajaran yang dilaksanakan secara kooperatif diharapkan dapat memicu kreativitas siswa dalam meningkatkan keterampilan berbahasa siswa SD khusunya keterampilan berbicara siswa kelas II. Model wayang dometeran akan menggunakan dongeng anak sebagai objek materi yang dipelajarisecara bersama. Dongeng dinilai dapat memberikan manfaat positif untuk menarik minat belajar bahasa di lingkungan SD, karena berisi cerita fiksi yang menarik untuk dipelajari oleh siswa. penggunaan karya dongeng memberikan nuansa belajar berbasis sastra, selain itu dongeng juga


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 91 memuat nilai moral dan pesan bagi pembaca atau pendengar, sehingga disini dongeng memiliki peran positif bagi siswa khususnya kelas II SD. Dongeng anak atau fabel akan menceritakan sebuah cerita tidak nyata dalam kehidupan binatang yang seakan-akan dapat berinteraksi antar binatang lainnya, sehingga ahal tersebut akan menarik pehatian siswa. Selain penggunaan sastra dongeng model wayang dometeran merupakan model yang menekankan penggunaan metode bermain peran. Metode bermain peran merupakan metode dimana siswa seakan-akan diminta untuk memerankan salah satu karakter dalam teks dongeng. Penggunaan metode bermain peran diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbahasa di tingkat SD. Metode bermain peran akan menekankan siswa untuk memerankan dan memberikan kesempatan siswa melatih keterampilan bericara sesuai dialog karakter yang ada di dalam isi dongeng. Selanjutnya model wayang dometeran yakni menekankan penggunaan media wayang stik dalam melaksanakan pembelajaran. Wayang stik merupakan sebuah karya berbentuk replika yang berasal dari watak atau karakter yang dimainkan dalam hal ini tokoh dri cerita dongeng fabel. Wayang stik akan berfungsi sebagai media pemeran tokoh atau karakter pada isi dongeng yang digunakan. Selain itu wayang stik juga akan berfungsi sebagai daya tarik siswa dalam minat belajar. Bentuknya yang unik dan dapat diperagakan akaan membuat siswa senang dalam memainkannya. Media wayang stik dapat dibuat dengan menggunakan limbah kardus yang ditempel foto karakter isi dongeng kemudian diberikan stik yang akan dipegang oleh siswa. manfaat lain dari penggunaan media wayang stik ialah dapat melatih psikomotorik pada siswa kelas rendah sehingga media wayang stik tepat untuk diterapkan dalam pemebelajaran bahasa Indonesia di kela II SD.


92 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Karakteristik model wayang dometeran diantaranya sebagai berikut, (1) pembelajaran dilaksanakan secara berkelompok, (2)siswa sebagai pusat belajar, (3) menekankan penggunaan dongeng, metode bermain peran, dan media wayang stik, (4) melatih kereativitas berbicara siswa SD, (5) memuat nilai moral dalam pelaksanaan pembelajaran. Sesuai dengan urian tersebut maka model pembelajaran wayang dometeran dinilai efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II SD. Model wayang dometeran memiliki nilai kebaruan yang belum pernah ada sebelumnya karena mdoel tersebut merupakan dari pengembangan karya sastra, metode belajar, dan kesenian sehingga dalam penerapannya model wayang dometeran memiliki niali kebaruan yang dapat diterapkan untuk pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas II SD. Pengembangan Model Pembelajaran Wayang Dometeran Sebagai upaya untuk melaksanakan pembelajaran di tingkat SD yang inovatif diperlukan strategi khusus dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran hendaknya tidak dilaksanakan secara terus menerus menggunakan metode konvensional saja, melainkan perlu dikreasikan dengan , strategi, pendekatan, metode, dan model inovatf. Adanya penggunaan pedoman pembelajaran yang inovatif dapat memicu kreativitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia pada tingkat SD. Pembelajaran inovatif memiliki ciri-ciri siswa sebagai pusat pembelajaran dan guru sebagai fasilitas yang membantu siswa. hal tersebut dapat diaplikasikan untuk menumbuhkan kreativitas dan motivsi belajar siswa SD,sehingga dibutuhkan pembelajran yang berbasisinovatif. penggunaan model pembelajran dinilai menajdi solusi efektif dalam melaksanakan pembelajaran


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 93 pada tingkat SD. Menurut Shoimin (2014) fungsi model pembelajaran sebagai pedoman bagi pengajar atau guru dalam melaksanakan pembelajaran. Sesuai dengan pendapat tersebut model pembelajaran memiliki peran penting dalam melaksanakan pembelajaran. Salah satu pengembangan model pembelajaran dalam upaya peningkatan kemampuan berbicara siswa SD yakni model wayang dometeran. Model wayang dometeran merupakan pengembangan dari teks dongeng, metode bermain peran, dan media wayang stik yang disatu padukan sehingga menjadi model inovasi baru. Definisi dari model pembelajaran wayang dometeran dapat diartikan sebagai model yang menekankan pemeragaan isi dongeng oleh siswa yang menggunakan media wayang stik. Dimensi lain dari model wayang dometeran diambil dari akronim wayang stik, dongeng, dan metode bermain peran, sehingga model tersebut disebut dengan model wayang dometeran. Model tersebut difokuskan untuk pembelajaran yang dirancang untuk siswa kelas rendah aSD pada pemebalajaran yang menekankan ketarampilan berbicara siswa. berdasarkan uraian tersebut maka model wayang stik merupakan strategi pembelajaran yang menekankan peragaan isi dongeng oleh siswa yang berbantuan media wayang stik untuk mengasah aspek kebahasaan. Penggunaan model wayang dometeran akan berdampak positif bagi perkembangan kemampuan berbicara kelas II SD. Model tersebut memberikan kesempatan kepada siswa seluas-luasnya untuk meningkatkan aspek keterampilan kebahasaan melalui penggunaan dongeng, metode bermain peran, dan media wayang stik. Aktivitas pembelajaran akan berfokus pada praktik peragaan peran dengan menggunakan media wayang stik yang diambil dari cerita dongeng anak. Berbagai elemen yang digunakan dapat berdampak positif bagi minat belajar siswa SD, karena penggunaan media replika wayang stik mampu memberi nuansa seni yang dapat dimainkan oleh siswa, sehingga


Click to View FlipBook Version