The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chitrasintarani67, 2024-04-04 21:21:39

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

244 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD peningkatan aktivitas pada susunan saraf pusat dan bagian bagian organ tubuh pada saat menulis. Piaget menyatakan bahwa proses pembelajaran keterampilan menulis pada siswa sekolah dasar termasuk pada tahapan operasional konkret (Schunk, 2012: 333). Tahapan operasional konkret ditandai dengan pertumbuhan kognitif yang pesat ditandai dengan penguasaan keterampilan-keterampilan dasar siswa yang bertambah secara cepat dan dramatis. Sehingga, dapat diketahui bahwa keterampilan menulis merupakan kemampuan seseorang dalam menginterpretasikan suatu bentuk bahasa ke dalam bentuk lambing-lambang grafik untuk dapat dipahami maksudnya oleh orang lain yang membacanya. Menurut Lerner ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis, yaitu memori, perilaku, motorik, persepsi, kemampuan melaksanakan cross modal, kemampuan memahami instruksi, dan penggunaan tangan yang dominan (Assjari & Sopariah, 2011:231). Nurgiyantoro (2015: 110) menyatakan terdapat indikator keterampilan menulis siswa, sebagai berikut: a) isi gagasan yang dikemukakan, b) organisasi isi, c) tata bahasa, d) gaya bahasa (pilihan struktur dan kosakata), e) ejaan dan tata tulis. Kunci utama dalam membelajarkan menulis imajinatif kepada siswa yaitu dengan mengeksplorasi pengalaman-pengalaman siswa. Kemudian, mengkreasikan tulisan tersebut dengan fantasi dan imajinasi. Sehingga siswa mendapatkan suatu keterampilan dalam mengolah pengalamannya menjadi suatu karya yang kreatif dan imajinatif. c. Cerita Fiksi Pada hakikatnya menulis cerita merupakan kegiatan mengarang, yang penulisannya dipengaruhi oleh hasil ide imajinatif pengarangnya. Menulis cerita menurut Diponegoro merupakan cara menulis yang paling selektif dan


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 245 ekonomis. Tiap bagiannya meliputi kalimatnya, katanya, tanda bacanya, tidak ada bagian yang sia-sia, semuanya mengambil andil yang penting dalam menggerakkan jalan cerita (Nurmina, 2014:10). Cerita fiksi merupakan sebuah karya sastra berupa cerita yang bersifat khayalan atau hanya berdasar rekaan pengarang saja (Nurgiyanto, 2002:2). Sehingga, cerita fiksi adalah sebuah karya sastra berupa narasi yang merupakan khayalan dari penulisnya. Melalui cerita fiksi anak dapat belajar menyikapi apa yang didengar dan dibacanya, serta dapat berimajinasi tentang keadaan atau tempat-tempat yang tergambar pada cerita tersebut, sehingga dapat mengasah daya imajinasi siswa dengan perantaraan buku cerita. Adapun langkah-langkah untuk menulis cerita fiksi, sebagai berikut: a) Menemukan ide cerita, b) Mengembangkan ide cerita, c) Membuat cerita menarik (Nurmina, 2014:13). Cerita fiksi dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur instrinsik (unsur yang membangun dari dalam) dan unsur ekstrinsik merupakan unsur yang mempengaruhi penciptaan dari luar (Muhardi & Hasanuddin W. S., 1992:20). Unsur intrinsik terdiri dari: a) Alur (plot) Alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional. b) Latar (setting) Latar adalah keadaan lingkungan terjadinya cerita meliputi waktu, tempat, maupun, keadaan sosialnya (suasana). c) Tema Tema adalah suatu gagasan yang menjadi dasar dalam penyusunan cerita. d) Amanat Amanat adalah opini, kecendrungan, dan visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan.


246 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD e) Tokoh dan penokohan. Tokoh adalah pelaku cerita,sedangkan penokohan merujuk pada perwatakan dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita. f) Gaya bahasa Gaya bahasa adalah arah pandang seorang penulis dalam menyampaikan sebuah cerita, sehingga cerita tersebut lebih hidup dan tersampaikan dengan baik pada pembaca atau pendengarnya. g) Sudut pandang Sudut pandang adalah arah pandang seorang penulis dalam menyampaikan sebuah cerita, sehingga cerita tersebut lebih hidup dan tersampaikan dengan baik pada pembaca atau pendengarnya. Sementara itu, unsur ekstrinsik mencakup nilai sosial, nilai kebudayaan, nilai ekonomi, dan nilai keagamaan. Cerita fiksi juga memiliki struktur penulisan. Adapun struktur cerita fiksi menurut Kosasih & Endang Kurniawan (2018:241), sebagai berikut: a) Orientasi, berisi pendahuluan cerita yang meliputi pengenalan tema, tokoh, ataupun latar cerita. b) Komplikasi, berisi tentang masalah yang dialami tokoh utama. c) Resolusi, berisi penyelesaian masalah yang dialami oleh tokoh utama. d. Karakteristik Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Menurut Dirman & Juarsih (2014:59), ciri-ciri siswa pada kelas tinggi (9, 10, 11, atau 12 tahun) adalah sebagai berikut: a) Adanya hubungan positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi. b) Sikap patuh terhadap peraturan-peraturanyang ada, seperti ketika bermain bersama teman.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 247 c) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri. d) Membandingkan dirinya dengan teman. e) Mengaggap tidak penting soal-soal yang susah. f) Menghendaki nilai rapor yang baik. Rentang usia siswa pada kelas IV SD adalah 9 - 11 tahun. MenurutPiaget anak usia SD (7- 12 tahun) berada pada tahap operasional konkrit, yaitu masa ketika aktivitas mental siswa terfokus pada objek-objek yang nyata atau berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Dilihat pada aspek perkembangan bahasa menurut Santrock, siswa pada usia 9–11 tahun perkembangan kosakatanya bertambah, lebih ahli menggunakan aturan sintasksis, dan keterampilan berbicara meningkat (Desmita, 2012:104). Penguasaan dan penggunaan bahasa merupakan kegiatan yang terkoordinasi. Pengajaran yang tepat dapat memfasilitasi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa. Pada aspek kemampuan motorik halus, siswa dalam rentang usia 8 hingga 10 tahun memiliki perkembangan motorik halus yang lebih sempurna, terutama dalam kemampuan menggunakan alat tulis. Menurut Desmita (2012:81), pada rentang usia ini koordinasi motorik halus berkembang, di mana anak sudah dapat menulis dengan baik, ukuran huruf menjadi lebih kecil dan lebih rata. Dari uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa karakteristik perkembangan kognitif, motorik, dan bahasa siswa kelas IV SD memungkinkan mereka untuk dapat mengungapkan ide/gagasan dan imajinasi mereka kedalam bentuk tulisan. Pada usia ini, siswa mampu mengkonstruk pengetahuan yang dimiliki menjadi sebuah gagasan dan menuliskannya secara sistematis. e. Teknik Lanjut Cerita Teknik lanjut cerita merupakan suatu teknik yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bercerita, baik secara lisan maupun


248 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD tulisan. Teknik lanjut cerita menstimulus siswa agar dapat mengungkapkan gagasannya dalam merangkai suatu cerita dengan menggunakan cerita yang belum selesai (unfinished story). Setiap siswa memiliki gagasan yang berbedabeda, teknik lanjut cerita ini dapat memunculkan gagasan yang berbeda dari setiap anak tersebut. Menurut Nurmina (2016:19), teknik lanjut cerita diawali dengan membacakan atau memperdengarkan sebuah cerita yang belum selesai kepada siswa. Kemudian siswa diminta melanjutkan cerita itu dengan arahan dari guru. Ada banyak jenis dari teknik lanjut cerita,salah satunya yaitu melengkapi cerita yang belum selesai (unfinished story). Unfinished story merupakan suatu cerita yang sengaja tidak diselesaikan untuk diselesaikan siswa dengan imajinasi masing-masing. Dengan demikian setiap siswa mendapatkan akhir cerita yang berbeda-beda. Berdasarkan penelitian oleh Nasarudin (2019), teknik lanjut cerita dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi. f. Teknik 5W+1H 5W+1H merupakan akronim dari what, who, when, where, why, dan how. Teknik 5W+1H merupakan suatu teknik untuk menghimpun ide-ide dengan berbagai pertanyaan yang telah dibuat. Teknik 5W+1H dapat menstimulus ideide siswa dalam menulis. Teknik 5W+1H ini biasanya digunakan untuk menulis teks berita atau teks hasil wawancara sebgai penunjang dalam penghimpunan informasi di dalam teks. Namun, teknik ini juga dapat digunakan untuk membantu siswa menemukan ide-ide mereka melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam menulis cerita fiksi. Adapun unsur-unsur dari teknik 5w+1H, sebagai berikut: a) What yang berarti apa, meliputi tema apa yang akan digunakan, apa saja yang akan ditulis, dan lain sebagainya.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 249 b) Who yang berarti siapa, meliputi siapa saja yang terlibat, siapa namanya, dan lain sebagainya. Unsur ini untuk menghimpun informasi berkaitan dengan suatu tokoh, baik nama, maupun ciri-cirinya. c) When yang berarti kapan, digunakan untuk menghimpun informasi yang berkaitan dengan waktu terjadinya suatu peristiwa. d) Where yang berarti dimana, digunakan untuk menghimpun informasi yang berkaitan dengan tempat terjadinya suatu peristiwa. e) Why yang berarti mengapa, berhubungan dengan peristiwa sebab-akibat. f) How yang berarti bagaimana, digunakan untuk mengetahui suatu keadaan Ketika peristiwa tersebut terjadi. g. Media Gambar Berseri Media gambar berseri merupakan media visual berisikan beberapa gambar yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan. Gambar berseri berupa urutan gambar yang saling berkesinambungan dari gambar pertama hingga gambar terakhir. Media ini dapat menstimulus ide-ide siswa dalam menulis. Melalui gambar-gambar yang telah disesiakan oleh guru, siswa dapat merangkai kata-kata berdasarkan gambar tersebut hingga membentuk suatu cerita yang utuh. Menurut Hidajati (2013:2), manfaat menggunakan gambar sebagai penunjang siswa dalam mengembangkan paragraf yaitu: a) meningkatkan keterampilan dalam memahami hubungan sebab-akibat yang terdapat pada gambar, b) meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami pesan tersirat pada gambar, c) mengembangkan daya imajinasi siswa, d) melatih kecermatan siswa dalam mengamati sesuatu, dan e) meningkatkan daya interpretasi bentuk visual ke dalam bentuk tulisan. Adapun langkah-langkah dalam menggunakan media gambar berseri, sebagai berikut: a) Guru menyampaikan pengantar, b) guru menunjukan gambar kepada siswa, c) siswa mengidentifikasi gambar,


250 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD kemudian d) siswa menyusun tulisan tentang gambar tersebut (Helda, 2017:220). Pengembangan Fish Pic Story Pembelajaran merupakan suatu sistem interaksi antara guru dan siswa, baik secara langsung, maupun tidak langsung. Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dan guru, serta sumber belajar yang dilakukan pada suatu lingkungan belajar. Pada kegiatan pembelajaran diperlukan penunjang untuk memudahkan interaksi antara siswa dan guru. Salah satu penunjang dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran. Menurut Octavia (2020:13), model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang berisi tentang prosedur sistematik dalam pengorganisasian kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat dikatakan bahwa model pembelajaran merupakan prosedur kegiatan belajar mengajar yang disusun agar berjalan dengan baik, menarik, dan mudah untuk dimengerti. Adapun ciri khusus dari model pembelajaran, yaitu teori logis yang mendasari pengembangan, mencakup apa dan bagaimana siswa belajar, dapat mencapai tujuan pembelajaran, meliputi langkah-langkah pembelajaran, dan lingkungan belajar yang dibutuhkan (Octavia, 2020:13). Model pembelajaran Fish Pic Story berasal dari gabungan nama teknik dan media pembelajaran yang membangunnya, dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Pertama, kata ”Fish” adalah gabungan dari kata Unfinished Story atau cerita yang belum usai yang berkaitan dengan teknik lanjut cerita, dan ”Five W and One H” dari teknik 5W+1H, yang dileburkan membentuk kata “Fish”. Kedua, kata “Pic” dibentuk dari media yang digunakan yaitu gambar berseri atau dalam bahasa Inggris “Serial Pictures”, kata”Pic” sendiri dalam


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 251 bahasa Indonesia berarti gambar. Kemudian kata “Story” yang berarti cerita, yaitu menggambarkan tujuan model pembelajaran ini agar siswa dapat mengembangkan imajinasinya untuk menulis cerita fiksi. Intinya, kegiatan pembelajaran pada model Fish Pic Story ini membimbing siswa untuk dapat menulis cerita fiksi dengan berbantuan media gambar berseri yang memerlukan daya imajinasi siswa. Namun, media gambar berseri ini dirasa kurang maksimal dalam meningkatkan daya imajinasi siswa dalam menulis cerita fiksi. Sehingga, media ini dikolaborasi dan dadaptasikan dengan teknik lanjut cerita, dan teknik 5W+1H. Media gambar berseri dapat menstimulus siswa dalam mengembangkan ide-ide imajinasinya melalui apa saja yang ada di dalam gambar. Berdasarkan penelitian oleh Hidajati (2013), Gambar yang disajikan dapat berupa gambargambar animasi yang berkaitan dengan lingkungan siswa, agar memberikan daya Tarik tersendiri pada diri siswa. Penggunaan gambar berseri membuat siswa dapat mengamati objek secara mendalam sehingga siswa mudah dan bebas menumbuhkan ide-idenya menjadi sebuah tulisan berdasarkan objek yang diamati. Media ini memiliki beberapa gambar yang saling berkelanjutan, sehingga siswa tidak akan stuck ketika menulis cerita fiksi. Teknik lanjut cerita berperan untuk mendukung penggunaan media gambar berseri, sebagai stimulus awal agar ide imajinatif siswa dapat berkembang. Penelitian oleh Nasarudin (2019), menyatakan bahwa adanya peningkatan menulis karangan narasi dengan menggunakan teknik lanjut cerita. Teknik lanjut cerita menyuguhkan cerita yang belum selesai atau unfinished story baik berupa tulisan maupun lisan. Cerita yang digunakan yaitu cerita yang berkaitan dan sesuai dengan gambar berseri. Cerita yang belum selesai ini akan membantu siswa untuk memulai penulisan cerita fiksi.


252 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sahrawany & Dian Indihadi (2018), teknik kluster 5W+1H dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi karena dapat memunculkan ide-ide siswa dalam menulis karangan narasi. Teknik 5W+1H diterapkan untuk membantu siswa menemukan ide-ide imajinatif pada setiap gambar. Siswa sering kebingungan untuk menemukan apa yang ada pada objek dalam gambar, dengan teknik 5W+1H ini akan membantu siswa dalam menemukan apa saja yang dapat dikembangkan pada objek dalam gambar. Model pembelajaran Fish Pic Story sudah sesuai dengan syarat-syarat pengembangan model pembelajaran. Adapun syarat model pembelajaran menurut Rayanto & Sugianti (2020:92), yaitu mampu mengatasi masalah yang timbul pada pembelajaran, adanya dukungan fasilitas dalam penerapan, dan mudah untuk dilaksanakan oleh siswa dan guru. Pengkolaborasian ini bertujuan untuk memaksimalkan ketercapaian tujuan pembelajaran dengan model tersebut, dan meminimalisir kendala yang akan dihadapi. Adapun Langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Fish Pic Story, sebagai berikut: a. Pengantar Guru memberikan pengantar berupa materi tentang cerita fiksi. Materi ini meliputi pengertian cerita fiksi, unsur-unsur cerita fiksi, dan strukturnya. Pemberian pengantar oleh guru ini sangat penting untuk memberikan arahan sebelum siswa membuat cerita fiksinya. Sebelum memulai menulis cerita fiksi, siswa harus paham tentang cerita fiksi terlabih dahulu. Siswa harus mengerti apa yang dimaksud dengan cerita fiksi, sehingga siswa akan lebih mudah dalam menulis cerita fiksi.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 253 b. Demonstrasi Kegiatan demonstrasi ini dilakukan oleh guru dengan menampilkan gambar seri pertama kepada siswa. Kemudian guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang objek yang ada pada gambar dengan menggunakan 5W+1H. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan model kepada siswa, tentang bagaimana cara membuat pertanyaan pada kegiatan pengamatan gambar. c. Melanjutkan Cerita Guru membacakan sebuah cerita yang belum selesai kepada siswa. Cerita tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat pada kegiatan demonstrasi. Cerita yang dibacakan oleh guru tentu saja merupakan cerita yang belum selesai, dan hanya menggambarkan objek pada gambar seri pertama. Guru meminta siswa untuk menyimak dengan baik cerita yang dibacakan oleh guru. Kemudian, guru meminta siswa untuk menebak cerita selanjutnya. Siswa akan memberikan tanggapan yang berbeda-beda tentang kelanjutan cerita tersebut. Guru harus mampu menampung setiap tanggapan dari siswa, dan tidak boleh menyalahkan tanggapan siswa, karena hal tersebut dapat membunuh ide imajinatif siswa. Pada Langkah pembelajaran ini, guru memberikan contoh kepada siswa tentang bagaimana cara merangkai jawaban pertanyaan tentang objek yang ada pada gambar menjadi sebuah paragraf. d. Membuat dan Menjawab Pertanyaan Pada kegiatan ini, guru memberikan gambar berseri pada setiap siswa. Guru meminta siswa untuk mengisi membuat pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya tentang objek yang ada pada setiap gambar, mulai dari gambar seri kedua hingga gambar seri terakhir. Pertanyaan yang ditulis siswa meliputi 5W+1H. Langkah kegiatan ini bertujuan untuk memunculkan dan menghimpun ide-ide imajinatif siswa.


254 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD e. Membuat Cerita Setelah siswa membuat pertanyaan beserta jawaban tentang objek yang ada pada setiap gambar seri, guru meminta siswa menyusun jawaban tersebut menjadi sebuah paragraf. Guru memberikan arahan kepada siswa tentang bagaimana menyusun jawaban-jawaban tersebut menjadi sebuah paragraf dengan tetap memperhatikan unsur-unsur dan struktur cerita fiksi. f. Menyajikan karya Setelah cerita fiksi setiap siswa selesai, guru meminta siswa untuk membacakan cerita fiksi hasil karyanya kepada teman dan guru. Guru membimbing siswa untuk membacanya dengan artikulasi, dan intonasi yang sesuai. Kemudian guru bersama siswa yang lain mengapresiasi hasil karya siswa tersebut, dapat berupa tepuk tangan ataupun ucapan selamat karena telah menyelesaikan karyanya dengan baik. g. Penguatan Materi Setelah semua siswa menampilkan karyanya, guru memberikan penguatan materi kepada siswa dengan melakukan kegiatan tanya jawab oleh guru dan siswa yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang telah terlaksana. Kemudian, guru memberikan rangkuman secara singkat tentang apa yang telah dipelajari selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Langkah kegiatan penguatan materi ini juga dapat merefleksi kegaiatan pembelajaran yang telah terlaksana, sehingga guru dapat memaksimalkan kegiatan pembelajaran selanjutnya. Prediksi Penerapan Inovasi Pengimplementasian model pembelajaran Fish Pic Story akan meningkatkan daya imajinasi siswa dalam menulis cerita fiksi. Hal tersebut


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 255 dikarenakan pada model pembelajaran Fish Pic Story mengkolaborasikan beberapa teknik, dan media pembelajaran yang dapat menstimulus ide-ide imajinasisiswa. Selain itu, kegiatan pada model pembelajaran Fish Pic Story akan membuat siswa aktif dalam pembelajaran, karena siswa dituntut untuk membuat suatu karya berupa cerita fiksi. Penggunaan teknik lanjut cerita dapat membantu siswa untuk mengawali kegiatan menulis cerita fiksi, dan dapat menumbuhkan ide-ide imajinasi siswa. Teknik 5W+1H dapat membantu siswa memunculkan dan mengkontruksi ideidenya. Kemudian, penggunaan media gambar berseri dapat membantu siswa untuk menentukan alur cerita dalam menulis cerita fiksi. Adanya pandemi covid ini membatasi kegiatan pembelajaran, sehingga penyerapan materi oleh siswa tidak dapat maksimal. Dibutuhkan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan dapat memaksimalkan penyerapan materi oleh siswa. Model pembelajaran Fish Pic Story ini dapat diimplementasikan pada pembelajaran daring dengan mengadaptasikan langkah-langkah pembelajaran pada model tersebut, sehingga sesuai dengan kondisi pandemi seperti pada saat ini.


256 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Daftar Pustaka Assjari, Musjafak & Eva Siti Sopariah. 2011. Penerapan Latihan Sensorimotor Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Pada Anak Autistic Spectrum Disorder. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 17, Nomor 2: 225- 243. Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Dirman & Cicih Juarsih. 2014. Karakteristik Peserta Didik: Dalam Rangka Implementasi Standar Proses Pendidikan Siswa. Jakarta: PT Rineka Cipta. Helda, Trisna. 2017. Menulis Teks Cerita Pendek Berbantuan Media Gambar Berseri Siswa Kelas VII SMP Islam Khaira Ummah Padang. Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Volume 3, Nomor 2: 216-238. Hidajati, Ratna Lestari. 2013. Penggunaan Media Gambar Berseri untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Narasi Siswa KelasIV SDN Putat Gede II/95 Surabaya. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Volume 1, Nomor 1: 1-4. KBBI, 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). (Online) Available at: http://kbbi.web.id/pusat, Diakses 10 November 2020. Kosasih & Endang Kurniawan. 2018. Jenis-Jenis Teks. Bandung: Penerbit Yrma Widya. Liang, Chaoyun, dkk. 2012. The Exploration of Indicators of Imagination. The Turkish Online Journal of Educational Technology, Volume 11, Nomor 3: 366-374. Mardika, Tiwi. Analisis Faktor-Faktor Kesulitan Membaca Menulis dan Berhitung Siswa Kelas 1 SD. Jurnal Dinamika Pendidikan Dasar, Volume 10, Nomor 1: 28-33. Muhardi & Hasanuddin W S. 2006. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: Citra Budaya Indonesia.


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 257 Muzakki, Akhmad. 2011. Pengantar Teori Bahasa Sastra. Malang: UIN Maliki Press. Nasarudin, H. 2019. Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Narasi dengan Menggunakan Metode Meneruskan Cerita pada Siswa Kelas VI SDN 5 Sengkol Tahun Pelajaran 2017/2018. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, Volume 3, Nomor 2: 100-119. Nugraheni, Aninditya Sri & Dhyajeng A S. 2016. Peningkatan Daya Imajinasi Melalui Menulis Kreatif Pantun Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Kebondalem Kidul I Klaten. Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, Volume 1, Nomor 2: 15-26. Nurgiyantoro, B. 2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: BPFE. Nurmina. 2014. Menulis Kreatif Cerita Fiksi Anak. Jupendas, Volume 1, Nomor 2: 10-14. Octavia, Shilphy A. 2020. Model-Model Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish Publisher. Putri, Irmayani. 2018. Analisis Kesulitan Belajar Menulis pada Siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Rantau Selamat Kec. Rantau Selamat Kab. Aceh Timur. Jurnal Edukasi Kultura, Volume 5, Nomor 1. Rayanto, Yudi Hari &Sugianti. 2020. Penelitian Pengembangan Model ADDIE dan R2D2: Teori dan Praktek. Pasuruan: Lembaga Academic & Research Institute. Sahrawany, Esy & Dian Indihadi. 2018. Implementasi Teknik Kluster 5W+1H dalam Keterampilan Menulis Karangan Narasi. Pedadidaktika, Volume 5, Nomor 3: 18-26. Schunk, Daleh H. 2012. Teori-teori Pembelajaran: Perspektif Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


258 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD GLOSARIUM Teknik lanjut cerita : teknik yang menstimulus siswa agar dapat mengungkapkan gagasannya dalam merangkai suatu cerita dengan menggunakan cerita yang belum selesai (unfinished story). Teknik 5W+1H : tuatu teknik untuk menghimpun ide-ide dengan berbagai pertanyaan yang telah dibuat, meliputi what, who, when, where, why, dan how. fish pic story : model pembelajaran yang mengkolaborasikan teknik lanjut cerita, teknik 5W+1H, dan media gambar berseri agar dapat menstimulus daya imajinasi siswa dalam menulis cerita fiksi. Media gambar berseri : media visual berisikan beberapa gambar yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan. AIR : model pembelajaran AIR merupakan singkatan dari Auditory, Intellectually, Repetition. Popudus : media pembelajaran POPADUS singkatan dari Pop Up Kudus yang di dalam media materinya mengenai cerita fiksi yang dikaitkan dengan kearifan lokal. Pop-up Book : Pop-up Book merupakan buku yang memiliki unsurtiga dimensi dan memberikan visualisasi cerita yang menarik. Adopsi : pengambilan sesuatu hal penting untuk digunakan dan diterapkan Antikorupsi : sikap yang melawan atau menentang tindakan korupsi Bau Nyale : tradisi unik yang sudah menjadi budaya masyarakat di Pulau Lombok


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 259 Dawan : Salah Satu Suku di Nusa Tenggara Timur Diribel : model Pembelajaran Diorama berbasis Problem Based Learning Ebeg : kesenian kuda kepang dari Banyumas dan sekitarnya Eksplanasi : teks yang berisi informasi tentang suatu hal atau fenomena yang terjadi di masyarakat Eksplorasi : kegiatan penjelajahan atau pencarian untuk menemukan pengetahuan yang lebih banyak. Fenomena : hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah Instant : pemerolehan sesuatu hal yang bersifat seketika atau saat ini juga Kolaborasi : proses partisipasi beberapa orang, kelompok, dan organisasi yang bekerja sama untuk mencapai hasil yang diinginkan. Literasi : kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis Mandalika : seorang putri yang lahir dari sebuah kerajaan dipulau Lombok bernama kerajaan Tonjang Beru Manipulasi : upaya kelompok atau perseorangan untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa orang itu menyadarinya Matic story putri mandilika : sebuah model pembelajaran yang menggabungkan antara model talking stick yang dalam pelaksanaannya diperkuat dengan cerita putri mandalika


260 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD MMT : teknologi digital printing yang dimana akan digunakan untuk melakukan percetakan menggunakan bahan plastic Picture and picture : Model pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. QR Code : kode batang dua dimensi berisi data optik yang dibaca mesin Salindia Interaktif : Powerpoint Interaktif Student Centered Learning : Sistem pembelajaran berpusat pada siswa Sunting : pengarahan karya atau naskah siswa dalam rangka untuk mendapat perbaikan Talking Stick : metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk Asli Amerika untuk mengajak semua orang untuk berbicara atau menyampaikan pendapat pada suatu forum. Teacher Centered Learning : pembelajaran yang bersifat satu arah selama proses belajar, yaitu model pembelajaran dengan lebih banyak mendengarkan materi oleh guru yang ada di dalam kelas. Virtual : penggunaan teknologi yang dilakukan pada proses pembelajaran


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 261 Antikorupsi 126, Artikulasi 5, Bahasa Indonesia 162, Blended Learning 18, Cerita Fiksi 184, Cerita Rakyat 43, Crossword Puzzle 92, Daya Imajinasi 181, Dongeng Anak 41, Diribel, iii, 66, 70, 78, 81, 82, 85, 212 INDEKS Media Pembelajaran 58, Media POPUDUS 167, Media PPT Interaktif 91, Media Ular Tangga 126, Media Visual 6, Media Wayang Stik 45, Membaca Permulaan 148, Metode Bermain Peran 44, Metode Struktural Analitik Sintaksis 149, Mind Mapping 18, Diorama, 66, 68, 69, 70, 71, 72, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85 Edukasi, 60, 200, 205 Eksplanasis, 66 Ekpresi, 38 Esensial, 14, 182 Fabel 42, Fenomena Ebeg 128, Fleksibel Grafem 75 Jas to Mind 23, Jelajah Alam Sekitar 15, Kearifan Lokal 169, Keterampilan Berbicara 40, Keterampilan Membaca 60, Keterampilan Menulis 111, Konkrit, 2, 30, 46, 47, 61, 137, 169, 187 Mite 43, Model Audiotory, Intellectually Repetition 164, Model Dribel 77, Model Fish Pic Story 189, Model Pembelajaran 136, Model Sogudmasi 115, Model Talking Stick 137, Model Wayang Dometeran 48, Modifikasi, 2, 12, 13 Pelipur Lara 43, Picture and Picture 4, Poeisis, 21 Problem Based Learning 71, Spontaneous Group Discussion 107, Teknik 5W+1H 188,


262 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Konstruktif, 69 Konteks, 73, 93 Legenda 42, Matic Story Putri Mandalika 139, Media Bibo SAS 152, Media Big Book 150, Media Diorama 68, Media Film Animasi 108, Media Gambar Berseri 189, Media Komik 59, Onomatope, 17, 18, 24, 26, 28, 31, 32 Teks Deskripsi 90, Teks Eksplanasi 74, Teknik Lanjut Cerita 187, Teks Narasi 113, Teknik Onomatope 17. Terasing, 21


Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 263 View publication stats


Click to View FlipBook Version